October 1, 2017

Kisah Para Pendekar Pulau Es Part 6

 

“Baiklah, mari!” kata Ciang Bun yang sudah bergerak hendak meloncat ke air.

Akan tetapi lengannya dipegang oleh jari-jari tangan halus itu. Dia menoleh dan dua pasang mata saling bertemu. Sepasang mata Lee Hiang penuh kemesraan, akan tetapi mata Ciang Bun memandang biasa saja, agak heran.

“Ada apakah, Hiang-moi?”

“Engkau lupa penutup telingamu,” kata dara itu yang tiba-tiba wajahnya berubah merah karena pertemuan pandang mata itu amat berkesan di hatinya yang menjadi berdebar penuh ketegangan aneh.

“Ahh, engkau benar. Pelupa sekali aku!” kata Ciang Bun.

Dia pun memasang alat pelindung telinganya. Untuk melakukan penyelaman sampai lama di dalam lautan, telinga perlu dilindungi dan ditutup agar tidak rusak oleh tekanan air. Setelah itu, kedua orang itu lalu meloncat ke air dan menyelam. Bagaikan dua ekor ikan saja, mereka menyelam dan berenang di dalam air.

Ciang Bun hanya mengenakan sebuah celana pendek yang ringkas dan tubuh bagian atasnya telanjang. Kulitnya putih halus mengkilat ketika tubuhnya meluncur di dalam air itu. Kini dia telah pandai menyelam dan berenang dalam air, melawan tekanan air dan gerakan ombak. Memang pada dasarnya dia memiliki sinkang yang amat kuat, maka setelah diberi petunjuk oleh kakek Liu, sebentar saja dia telah menguasai ilmu itu dan berkat sinkang-nya, dia malah lebih kuat menahan napas dibandingkan dengan kakak beradik Liu itu! Hanya dia belum dapat memiliki kelincahan seperti mereka karena kalah biasa dan kalah latihan.

Juga pandang mata Lee Hiang di dalam air lebih tajam dan awas dibandingkan Ciang Bun. Hal ini pun karena kebiasaan dan latihan. Mereka berdua mencari-cari dan Lee Hiang menjadi penunjuk jalan.

Tiba-tiba dara itu memberi isyarat dan menuding ke depan. Nampak seekor belut merah berenang perlahan di depan. Dari isyarat tangannya, Lee Hiang menyatakan bahwa dara itu hendak menghadang dari depan dan ia menyuruh Ciang Bun menghadang dari belakang. Ciang Bun memberi isyarat bahwa dia telah mengerti.

Dara itu lalu mempercepat gerakannya, meluncur dan mengambil jalan memutar untuk mendahului belut itu, kemudian membalik dan menghadang di depan! Belut itu panjang, ada satu meter panjangnya dan sebesar lengan dara itu. Melihat ada makhluk aneh menghadang, belut itu cepat membalikkan tubuhnya. Akan tetapi Ciang Bun mendatangi dan mengembangkan kedua lengannya, jari-jari tangannya terbuka dan siap untuk menangkap kalau belut itu lewat di dekatnya.

Melihat ini, belut itu kembali membalik dan paniklah dia ketika melihat di depan dan belakangnya ada makhluk besar yang hendak menangkapnya. Dia meluncur ke kiri, akan tetapi Lee Hiang sudah mendahuluinya dan menyambar dengan tangan kanan. Belut itu mengelak dan membalik, akan tetapi sudah ada pula Ciang Bun yang menyergapnya. Secepat kilat, Ciang Bun mencengkeram dan dia berhasil menangkap belut itu pada perutnya.

Belut itu meronta dan membelit hendak menggigit, tapi Lee Hiang sudah menangkapnya pula, tepat pada lehernya. Karena belut itu kuat dan tubuhnya mengeluarkan lendir yang licin, dua orang muda itu dengan susah payah mempertahankan agar belut itu tidak terlepas kembali.

Dalam pergumulan ini, tanpa disengaja tubuh mereka saling merapat dan tahu-tahu lengan Ciang Bun sudah melingkari pinggang Lee Hiang dan lengan dara itu merangkul lehernya. Kemudian tiba-tiba saja mulut Lee Hiang sudah bertemu dengan mulut Ciang Bun.

“Ihhh….!” Pemuda itu terkejut bukan main, seluruh tubuhnya menggigil dan dia pun melepaskan tubuh belut itu dan mendorong tubuh Lee Hiang! Belut itu terlepas dan melarikan diri, sedangkan pelukan mereka pun terlepas.

Ciang Bun berenang ke atas dengan jantung berdebar, sedangkan Lee Hiang juga berenang menyusulnya. Tiba-tiba Lee Hiang terkejut sekali melihat sinar putih meluncur dari arah kiri. Sekali pandang saja tahulah apa benda itu, akan tetapi Ciang Bun yang masih belum mengenal benar keadaan di lautan itu, melihat adanya seekor belut putih yang panjangnya ada satu meter akan tetapi lebih kecil dari pada yang tadi, timbul kegembiraannya dan cepat dia menyambar dan menangkap belut itu.

“Pratttt!” Belut itu mengelak dan tiba-tiba mencambukkan dirinya ke lengan Ciang Bun.

Pemuda itu tersentak kaget dan tak ingat apa-apa lagi. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam dan pandang matanya gelap, dia lunglai tak sadarkan diri. Melihat ini, Lee Hiang cepat menyambarnya, menarik tangannya dan dibawanya berenang naik. Setelah dia menyembulkan kepala di permukaan air dan menarik kepala Ciang Bun yang pingsan itu dengan menjambak rambutnya, dia melihat kakaknya duduk di dalam perahu dan beristirahat.

“Siang-ko….! Cepat…. Bun-ko dilecut belut petir! Tolongggg….!”

Mendengar ini dan melihat Ciang Bun yang pingsan, Lee Siang cepat meloncat dan berenang menghampiri, membantu adiknya membawa Ciang Bun naik ke dalam perahu kecil mereka. Melihat Ciang Bun rebah terlentang dengan muka pucat kebiruan dan napas nampaknya berhenti sama sekali, matanya terbelalak dan tidak bersinar lagi, Lee Hiang menjerit dan menubruk tubuh itu dan menangis.

“Bun-ko….! Bun-ko…. ah, Bun-ko, jangan mati…. jangan tinggalkan aku, Bun-ko….!” Ia menangis sesenggukan.

Tangan Lee Siang yang kuat menariknya dan terdengar suara pemuda itu yang kereng, “Hiang-moi, kong- kong tentu akan memukulmu kalau melihat sikapmu yang cengeng ini! Tenanglah dan aku akan mencoba menolongnya seperti yang pernah diajarkan oleh kong-kong.”

Lee Hiang melepaskan rangkulannya, dan duduk agak menjauh, akan tetapi ia belum berhenti menangis sesenggukan dan memanggil-manggil nama Ciang Bun. Sementara itu, Lee Siang segera memeriksa nadi lengan Ciang Bun dan dengan lega mendapat kenyataan bahwa urat nadi itu masih berdetak, walau pun lemah sekali. Kalau tidak cepat ditolong, tentu urat nadi itu akau berhenti berdetak pula.

Maka tanpa ragu-ragu dia lalu mengangkat kepala Ciang Bun dengan menaruh tangan kiri pada bawah tengkuk, membuka mulut Ciang Bun, menggunakan tangan kanan menutup lubang hidung pemuda itu dan merapatkan mulutnya ke mulut Ciang Bun yang terbuka. Maka ditiupnyalah sekuat tenaga ke dalam mulut Ciang Bun.

Dada Ciang Bun bergerak mekar. Ketika tiupan dihentikan dan Lee Siang melepaskan ‘ciumannya’, dada itu mengempis lagi. Akan tetapi pernapasan Ciang Bun belum juga berjalan. Lee Siang mengulangi tiupannya itu sampai berkali-kali. Akhirnya pernapasan Ciang Bun mulai berjalan, mula-mula amat lemah akan tetapi sudah berjalan kembali, melegakan hati Lee Siang yang menghentikan usahanya.

“Bun-koko…. sadarlah, jangan mati…. aku…. aku cinta padamu, Bun-ko!”

Suara inilah yang pertama-tama terdengar oleh Ciang Bun. Ia telah sadar kembali akan tetapi belum membuka matanya, bahkan kini hampir tidak berani membuka matanya ketika mendengar suara Lee Hiang itu. Lee Hiang menangis! Dan bilang cinta padanya! Hatinya merasa tegang dan tidak enak sekali. Lalu dia teringat akan pengalamannya tadi.

Dia berhasil menangkap belut bersama Lee Hiang, akan tetapi dara itu menciumnya! Mencium mulutnya! Dan ketika dia berenang hendak naik, dia melihat seekor belut putih yang hendak ditangkapnya. Lalu tiba- tiba dia merasa dirinya seperti dibakar dan tidak ingat apa-apa lagi.

Ciang Bun membuka mata, melihat Lee Hiang masih menangis dan melihat Lee Siang merangkulnya. Jantungnya berdebar senang. Begitu senang dia karena rangkulan Lee Siang ini! Akan tetapi dia juga merasa malu dan sungkan, lalu bangkit duduk dan bertanya, “Apakah yang terjadi? Di mana…. ehh, belut itu….?”

Lee Hiang memegang tangan kirinya dengan kedua tangan meremas-remas tangan itu. Ciang Bun merasa semakin tidak enak dan ingin menarik tangannya, akan tetapi takut kalau-kalau menyinggung perasaan Lee Hiang, maka didiamkannya saja.

“Bun-ko, tahukah engkau bahwa engkau tadi nyaris tewas sehingga aku menjadi amat khawatir?”

Ciang Bun memandang wajah yang manis itu, yang kini sudah tersenyum akan tetapi pipinya masih basah, bukan hanya basah air laut melainkan juga air mata. “Apa yang terjadi?”

“Belut putih yang kau tangkap itu adalah belut beracun yang amat jahat, namanya belut petir. Belut itu tidak menggigit, melainkan melecut dengan ekor dan tubuhnya yang mengandung kekuatan membakar seperti petir. Biasanya, orang yang terkena lecutan belut itu tentu akan mati. Dia tidak pernah menyerang kalau tidak diserang lebih dulu dan karena engkau hendak menangkapnya, maka dia menyerangmu. Ahhh, kukira tadi engkau sudah…. sudah…. mati, koko. Untung ada Siang-ko yang pernah belajar cara menyembuhkan orang yang belum mati dilecut binatang itu.”

Lee Siang juga menyambung. “Dan untung sekali bahwa engkau memiliki sinkang yang amat kuat, hiante. Lecutan belut itu mengandung kekuatan membakar yang amat hebat, seperti orang kalau disambar petir. Karena jantungmu amat kuat berkat sinkang-mu, maka hanya pernapasanmu saja yang terhenti, akan tetapi jantungmu masih berdetak lemah. Aku hanya tinggal membantu pernapasanmu saja.”

“Membantu pernapasan?” Ciang Bun bertanya heran.

“Ya, membantu agar pernapasanmu pulih dan bekerja kembali karena tadinya terhenti oleh guncangan hebat akibat lecutan belut petir itu. Kalau jantungmu berhenti, baru aku akan membantu gerakan jantungmu dengan totokan dan pijatan yang kuat. Hal itu amat berbahaya karena mungkin saja dapat mematahkan beberapa ujung tulang igamu! Syukur engkau selamat berkat kekuatan sinkang-mu.”

Ciang Bun memandang dengan rasa kagum. “Ahh, kalau begitu aku berhutang nyawa kepadamu, twako.”

Lee Siang menggerakkan tangan dengan jengah “Aihhh, mengapa engkau begitu sungkan? Sudah sepatutnya kalau aku yang tahu sedikit akan cara pengobatan itu menolongmu.”

“Aku pun ingin belajar ilmu itu, twako. Siapa tahu, lain kali aku perlu menolong seorang di antara kalian, atau orang lain.” Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan, “Bagaimana sih cara pengobatan itu? Apa menggunakan obat? Bagaimana engkau bisa membantu pernapasan orang lain bekerja kembali setelah napas itu berhenti? Apakah dengan totokan-totokan tertentu?”

“Tidak, melainkan dengan cara meniupkan hawa ke dalam paru-parumu melalui mulut,” jawab Lee Siang. “Ehhh….? Bagaimana caranya? Coba kau beri contoh, twako, bagaimana cara engkau menolongku tadi?”

Mendadak saja Lee Siang kelihatan jengah dan malu-malu, sedangkan Lee Hiang tersenyum-senyum aneh.

“Hei, kalian kenapa?”

“Pengobatan itu dilakukan dengan cara mencium….,” dara itu berkata jenaka.

“Ehhh? Jangan main-main, siauw-moi, aku sungguh ingin belajar dan ingin tahu cara pengobatan yang aneh akan tetapi dapat menyelamatkan nyawa manusia ini.”

“Siang-koko, kenapa tidak kau beri contoh saja dia ini. Biar puas hatinya,” Lee Hiang menggoda. Lee Siang menghela napas. “Baiklah, hiante. Kau rebahlah seperti tadi ketika engkau pingsan.”

Setelah Ciang Bun merebahkan diri terlentang, pemuda itu berkata. “Mula-mula engkau periksa pernapasan dan detik nadinya. Engkau tadi dalam keadaan pingsan. Napasmu terhenti sama sekali, akan tetapi detik nadimu masih berdenyut walau pun lemah. Itu berarti bahwa paru-parumu berhenti bekerja akan tetapi jantungmu masih bekerja. Lalu aku mengangkat lehermu begini, maksudnya supaya lubang kerongkonganmu terbuka lebar. Lalu aku menutupi kedua lubang hidungmu dan meniupkan hawa ke dalam paru-parumu begini….”

Biar pun sungkan untuk mengajari pemuda itu, Lee Siang lalu menutup mulut Ciang Bun yang dibukanya itu dengan mulutnya sendiri dan dia pun meniup keras-keras!

Ciang Bun terbelalak, akan tetapi jantungnya berdebar dan suatu perasaan yang amat mesra merayapi seluruh tubuhnya. Tidak seperti ketika Lee Hiang menciumnya di dalam air tadi, kini dia merasa senang sekali beradu mulut dengan Lee Siang! Akan tetapi dia terbatuk-batuk ketika pemuda itu meniupkan hawa dengan kuat ke dalam paru-parunya. Hal ini terjadi karena ia terkejut dan tentu saja timbul perlawanan dari kerongkongannya.

Lee Hiang memandang dan tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Lee Siang tersenyum saja. “Nah, usaha itu kau ulangi terus sampai si korban dapat bernapas sendiri, atau sampai paru-paru itu bekerja kembali, hiante. Sedangkan kalau nadinya sudah tidak berdenyut lagi yang berarti jantungnya terhenti karena guncangan hebat itu, engkau totok dia di sini.” Dia meraba dua jalan darah di pungung dan atas lambung dan menambahkan, “Kemudian engkau tekan dan pijit arah jantung dari dada depan, dan ini mungkin saja akan mematahkan ujung tulang iga, akan tetapi hal itu tidak berbahaya. Usaha ini adalah untuk meughimpit dan mendorong jantung agar jantung yang bekerja seperti pompa itu dapat bergerak dan bekerja kembali.”

Akan tetapi perhatian Ciang Bun sudah kurang dapat dipusatkan. Jantungnya berdebar keras ketika dia memandang Lee Siang, terutama memandang ke arah mulut itu, ke arah bibir yang baru saja menempel pada bibirnya. Mukanya menjadi merah sekali dan kakak beradik itu tentu saja mengira bahwa merahnya muka itu karena tersedak ketika ditiup tadi.

“Bun-ko, kau belajarlah yang baik agar lain kali kalau aku yang menjadi korban belut petir, engkau sudah dapat menolongku,” kata Lee Hiang dengan wajah berseri dan bibir tersenyum nakal.

“Ehhh, bocah nakal! Mengapa engkau jadi ingin benar ditolong Bun-hiante?” kakaknya menggoda.

“Aku memang lebih senang dicium oleh Bun-ko dari pada oleh orang lain!” jawab Lee Hiang dengan polos dan jujur.

Kakak dara itu tertawa. “Ha-ha-ha, agaknya engkau sungguh jatuh cinta mati-matian kepada Bun-hiante. Bagaimana dengan engkau, Bun-te?”

Ciang Bun menundukkan mukanya yang berubah merah sekali dan dia mengerutkan alisnya. Kakak beradik ini sungguh terlalu terbuka dan polos, bicara soal cinta begitu saja dan dara ini menyatakan keinginan diciumnya, menyatakan cintanya begitu terang-terangan, sedangkan kakaknya tak menegurnya bahkan membantu dan mendorongnya bicara tentang cinta. Dia sendiri tentu saja merasa malu dan jengah, dan tidak dapat menjawab sama sekali.

Melihat ini, kakak beradik itu hanya tersenyum, bahkan Lee Siang lalu tertawa keras. “Ha-ha-ha, Bun- hiante nampak malu-malu, jangan sampai kita membuat dia bingung, Hiang-moi. Marilah kita pulang agar kong-kong tidak mengharap cemas.”

Mereka berperahu kembali ke pulau dan Ciang Bun menjadi termenung seorang diri, memikirkan keadaan dua orang kakak beradik ini, juga memikirkan keadaan batinnya sendiri yang mengalami gejolak amat hebatnya, membuat matanya terbuka dan dia melihat hal-hal aneh terjadi pada dirinya yang membuatnya cemas dan gelisah.

Tentu saja kepolosan dan kejujuran kakak beradik itu membuat Ciang Bun terkejut dan heran bukan main, bahkan ada kesan di hatinya bahwa mereka itu tidak sopan!

Apakah soal cinta, bahkan soal sex, merupakan hal yang tidak patut untuk dibicarakan secara terbuka? Benarkah bahwa membicarakan hal itu secara jujur merupakan hal yang ‘tidak sopan’? Tentu saja tidak sopan kalau diukur dari ukuran kesopanan umum, tidak susila jika dipandang dari kacamata kesusilaan umum. Akan tetapi bagaimanakah sesungguhnya?

Mengapa tata kesusilaan kita mengharamkan kejujuran terhadap dua hal ini, terutama perihal sex? Bukankah cinta dan sex merupakan hal-hal yang erat kaitannya dengan kehidupan, bahkan merupakan kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindarkan oleh setiap orang manusia sehingga merupakan suatu kewajaran dalam hidup? Mengapa lalu diharamkan pengertian tentang itu sehingga kita menjauhkan anak- anak dari pengertian tentang hal itu?

Tak perlu dibantah lagi bahwa membicarakan cinta dan sex dengan maksud untuk bicara cabul, untuk main-main, adalah hal yang sama sekali tidak patut. Membicarakan apa pun juga, jika pamrihnya hanya untuk main-main dan mengandung dasar pemikiran dan bayangan kotor atau cabul, jelas tiada manfaatnya, bahkan merusakkan kejernihan batin. Akan tetapi, bagaimana kalau membicarakannya tanpa dasar kotor seperti itu, melainkan bicara seperti kita membicarakan sesuatu yang tidak terpisah dari pada kehidupan itu sendiri?

Pandangan tradisionil nenek moyang kita memang sengaja mengharamkan percakapan tentang cinta dan sex sebagai sesuatu yang memalukan, tentu saja pada mulanya dimaksudkan untuk membuat kita malu untuk melanggarnya. Akan tetapi, pandangan macam ini lalu menimbulkan suatu pandangan yang tidak menguntungkan terhadap sex, seolah-olah sex merupakan suatu perbuatan yang tidak pantas, memalukan, dan membongkar sesuatu yang kotor yang kita lakukan! Inilah yang menyebabkan semua orang menutup mulut tentang sex dan merahasiakan perasaan cintanya terhadap orang berlainan kelamin, hanya karena sudah tumbuh dalam batinnya pendapat tradisionil itu.

Sudah tiba saatnya bagi kita untuk mengubah pandangan yang keliru ini. Kita harus berani membuka mata bahwa persoalan cinta dan sex adalah persoalan hidup yang menyangkut kehidupan setiap orang manusia. Setiap orang anak pada saatnya pasti akan memasuki tahap ini dan dari pada mereka memasukinya dengan membuta, dari pada mereka memperoleh keterangan-keterangan yang menyesatkan tentang cinta dan sex dari orang lain, dari pada mereka memperoleh pengertian melalui percakapan-percakapan yang berdasarkan pandangan cabul dan kotor, alangkah baiknya kalau mereka, anak-anak itu mendengarnya dari orang tua atau pendidikan sendiri, dengan cara yang terbuka dan jujur, tanpa didasari kecabulan.

Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang sejak kecil hidup di pulau kosong bersama kakeknya, dan mereka itu hanya sekali waktu saja bertemu dengan orang-orang lain jika kebetulan mereka ikut kakek mereka untuk berbelanja ke daratan besar atau ke pulau-pulau lain. Mereka mendapatkan pendidikan bun (tulisan) dan bu (silat) dari kakek mereka sendiri.

Akan tetapi kakek mereka cukup bijaksana untuk memberi pengertian kepada mereka tentang cinta antara pria dan wanita dan tentang hubungan antara pria dan wanita, walau pun secara sederhana. Kemudian, dengan menyaksikan hubungan-hubungan kelamin antara binatang-binatang di sekitar tempat itu, antara ikan-ikan, burung-burung dan binatang hutan yang mereka dapatkan di kepulauan lain, kedua orang kakak beradik ini tumbuh dengan pengertian tentang cinta dan sex secara wajar.

Mereka tahu bahwa hubungan itu antara kakak dan adik adalah hal yang tidak baik, tak wajar dan menurut kakek mereka, berbahaya bagi kesehatan mereka, maka mereka menganggapnya sebagai hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan. Pengertian ini membuat cinta mereka sebagai kakak beradik tidak dipengaruhi birahi sama sekali. Namun, mereka sudah biasa untuk bicara tentang cinta, bahkan tentang sex, secara terbuka dan tanpa malu-malu, seperti kalau mereka bicara tentang penderitaan lapar dan haus, dan tentang kenikmatan makan dan minum. Keterus terangan inilah yang membuat Ciang Bun menjadi terkejut, heran dan juga malu dan canggung.

Malam itu Ciang Bun tak dapat memejamkan matanya. Selama tiga bulan ini dia tinggal di pulau itu dan merasa betah sekali karena tiga orang penghuni pulau itu amat baik kepadanya. Dia tidur sekamar dengan Lee Siang. Akan tetapi malam ini dia gelisah! Dia merasa akan datangnya sesuatu yang mungkin akan merubah seluruh kehidupannya.

Peristiwa siang tadi sungguh mendatangkan kesan yang amat mendalam, ketika dia dicium Lee Hiang, lalu ketika Lee Siang ‘menciumnya’ untuk mengajarnya melakukan pertolongan kepada korban lecutan belut petir. Akhirnya ketika tanpa malu-malu lagi Lee Hiang menyatakan cintanya kepadanya, bahkan diperkuat oleh ucapan-ucapan Lee Siang!

Lee Hiang jatuh cinta padanya! Cinta seorang wanita terhadap seorang pria. Dia sudah banyak mendengar dan membaca tentang cinta, antara pria dan wanita ini. Akan tetapi, mengapa dia merasa bingung? Apakah dia tidak mencinta Lee Hiang? Dia suka sekali pada Lee Hiang yang jenaka dan cantik manis, lincah dan merupakan seorang sahabat yang amat menyenangkan.

Akan tetapi, terus terang saja dia sama sekali tidak merasa tertarik atau terangsang oleh Lee Hiang, bahkan ketika dara itu menciumnya di dalam air, dia merasa terkejut, malu dan tidak senang! Sebaliknya, ketika Lee Siang mengajarkan cara pertolongan itu dan beradu mulut dengan dia, dia merasa begitu terangsang dan senang, begitu nyaman dan…. dia sendiri tidak tahu perasaan apa lagi yang mengaduk hatinya. Pendeknya dia merasa mesra dan senang sekali!

Kini teringatlah dia betapa setiap malam, kalau Lee Siang sudah tidur nyenyak, sering kali dia duduk dan memandangi wajah dan tubuh temannya itu dengan perasaan yang luar biasa. Dan setelah teringat akan semua itu, teringat pula akan perasaan aneh yang menyelinap di hatinya ketika pemuda itu ‘menciumnya’.

Ciang Bun merasa terkejut, bingung dan gelisah. Kini dia melihat kenyataan aneh dan mengejutkan yang berada dalam batinnya, yaitu bahwa dia sama sekali tidak pernah tertarik kepada kaum wanita! Memang dia dapat melihat keindahan tubuh wanita dan kecantikan wajah wanita, akan tetapi semua itu sama sekali tidak menimbulkan gairah, sama sekali tidak mendatangkan kemesraan dan tidak mempunyai daya tarik baginya.

Sebaliknya, dia sangat tertarik kepada Ceng Liong, kepada Kao Cin Liong dan kini dia arnat tertarik kepada Lee Siang! Bahkan ketika pemuda itu ‘menciumnya’, dia merasa amat senang. Bangkit rangsangan gairahnya, terasa amat mesra dan menyenangkan.

“Ya Tuhan….!” Ciang Bun berseru di dalam hatinya sendiri ketika dia melihat kenyataan ini.

Birahinya tidak dapat terangsang oleh wanita, melainkan oleh pria! Dengan bingung dan gelisah melihat kenyataan yang amat membedakan antara dirinya dengan kaum pria pada umumnya ini, Ciang Bun lalu menutupi muka dengan kedua tangannya dan dia pun menangis!

Tiba-tiba dua buah tangan yang kuat dengan lembut memegang pundaknya dan Lee Siang bertanya halus, “Bun-te, engkau kenapakah? Mengapa engkau menangis?”

Dalam keadaan sedang berduka, pertanyaan seorang yang disayang dapat menambah keharuan hati. Ciang Bun juga demikian. Dirangkul pundaknya dan ditanya dengan suara penuh kekhawatiran itu, air matanya makin deras mengalir dan dia pun balas merangkul dan menyembunyikan mukanya di atas dada yang bidang itu.

Diam-diam Lee Siang merasa heran dan kasihan sekali. Heran melihat bagaimana pemuda yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat gagah perkasa ini dapat bersikap begini lemah, menangis seperti seorang wanita cengeng. Akan tetapi dia juga merasa kasihan melihat kedukaan Ciang Bun dan mengira bahwa tentu pemuda ini menangisi nasib keluarganya, yaitu kematian kakek dan para neneknya di Pulau Es dan kehilangan saudara-saudaranya yang belum diketahuinya bagaimana nasibnya itu.

Maka, karena merasa iba, ketika merasa betapa Ciang Bun merangkul dan menangis di dadanya, dia pun mendekapnya dan mengelus rambutnya untuk menghibur. Hal ini justru membuat Ciang Bun menjadi semakin terharu dan dia mengangkat mukanya yang basah, memandang kepada Lee Siang. Melihat wajah yang tampan itu memandang penuh kekhawatiran, Ciang Bun kembali merangkul.

“Siang-twako…. ahhh, Siang-twako….” keluhnya.

Lee Siang memeluk. “Bun-te, adikku yang baik, kau tenangkanlah hatimu, kuatkanlah hatimu….”

Dalam rangkulan pemuda itu, Ciang Bun merasa demikian senang dan terhibur, akan tetapi dia teringat akan janggalnya perasaannya sendiri ini. Teringat bahwa dia pun seorang pria, maka dia pun kembali diingatkan akan keadaannya yang luar biasa itu, keadaan yang membuatnya berduka dan menangis. Maka dia pun meronta dan sekali merenggutkan tubuhnya, dia telah terlepas dari pelukan Lee Siang.

“Tidak…. tidak…. jangan….!” Dan dia pun meloncat dan berlari keluar dari kamar, terus keluar dari pondok itu.

“Bun-hiante….!” Lee Siang tadi terpental ketika pemuda itu meronta, dan dia memanggil dengan khawatir, akan tetapi melihat pemuda itu lari keluar, dia tidak berani mengejar, takut kalau-kalau akan membuat Ciang Bun menjadi marah dan tersinggung hatinya.

Lee Siang keluar dari dalam kamarnya, lalu menghampiri kamar adiknya. Dia berpikir bahwa dalam keadaan seperti itu, orang yang paling tepat untuk menghibur hati Ciang Bun hanyalah Lee Hiang. Adiknya itu mencinta Ciang Bun dan dia pun hampir merasa yakin bahwa pemuda itu tentu membalas cinta ini. Adiknya amat cantik manis, dan hubungan antara mereka itu pun nampak demikian akrabnya.

Lee Hiang belum tidur dan dara ini terkejut sekali ketika mendengar cerita kakaknya bahwa Ciang Bun berduka dan menangis dan kini keluar dari dalam pondok.

“Agaknya dia teringat akan keluarga Pulau Es dan dilanda duka yang amat besar sampai dia lupa akan kegagahannya dan menangis seperti anak kecil. Sudah kucoba menghiburnya akan tetapi gagal, malah dia lari keluar pondok. Adikku, kalau memang engkau mencintanya, engkau harus dapat menghibur hatinya. Kasihan sekali dia.”

“Baik, koko, akan kuusahakan agar dia terhibur. Kasihan Bun-ko.” Dan Lee Hiang pun lalu keluar dari dalam pondok mencari pemuda yang dicintanya itu.

Ciang Bun duduk termenung di tepi laut, menghadap ke timur di mana nampak bulan mengambang di atas air. Indah bukan main. Akan tetapi tiada keindahan baginya di saat itu. Bahkan keindahan itu menambah keharuan hatinya, karena dia teringat akan Pulau Es, teringat akan keluarga kakeknya yang binasa.

Tetapi semua kenangan itu ditelan oleh gelombang kesedihannya karena kenyataan yang dihadapinya. Aku seorang manusia yang tidak lumrah, pikirnya. Akan tetapi, tiba-tiba darah pendekar di tubuhnya memberontak. Dia tidak boleh bersikap lemah! Ibunya tentu akan marah-marah dan mentertawakannya. Ibunya adalah seorang pendekar wanita yang amat keras hati, yang kuat dan sama sekali tidak lemah, bahkan ibunya membenci kelemahan.

Ketika dia masih kecil, kalau dia terjatuh atau mengalami nyeri dan menangis, ibunya marah-marah dan mengatakan bahwa tangis hanya pantas bagi seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Tangis hanya tanda iba diri dan kelemahan batin, demikian kata ibunya.

Ciang Bun yang duduk di atas pantai berpasir itu mengepal tinju. Kenapa dia begini lemah? Kenapa dia tidak berani menghadapi kenyataan ini dan melawannya? Dia tahu bahwa perasaannya yang berlainan dengan laki-laki biasa ini, yang condong untuk lebih menyukai pria dari pada wanita, adalah sesuatu yang tidak lumrah dan dia harus dapat melawan dan menundukkannya. Akan diperlihatkannya bahwa dia adalah seorang laki-laki sejati!

“Bun-koko….! Ehh, Bun-ko, engkau sedang mengapa di situ?”

Ciang Bun menoleh. Lee Hiang telah berdiri di situ, di belakangnya. Cahaya bulan yang baru tersembul dari permukaan air itu menyorotkan cahaya kemerahan dan menimpa kepala dara itu, membuat wajah itu berada di dalam cahaya kemerahan yang indah. Seorang dara yang cantik manis dengan tubuh yang sedang ranum padat dan nampak menggairahkan. Mengapa dia tidak tertarik? Bodoh! Demikian Ciang Bun mencela diri sendiri dan dia pun bangkit berdiri.

“Hiang-moi….,” katanya perlahan.

“Bun-ko…. ah, Bun-ko, engkau membikin aku khawatir sekali. Siang-koko bilang bahwa engkau berduka dan keluar dari pondok. Aku mencari-carimu dan melihat engkau duduk termenung di sini.” Dara itu menghampiri dan merangkul pinggang pemuda itu dengan mesra, mengangkat mukanya memandang. “Bun-koko, janganlah berduka, Bun-ko, ada Lee Hiang di sini yang akan ikut memikul semua kedukaanmu….” Bukan main lembut dan mesranya sikap dan ucapan dara itu.

Aku seorang laki-laki sejati, demikian Ciang Bun menguatkan hatinya dan dia memaksa diri, memeluk tubuh dara itu. “Hiang-moi, engkau seorang dara yang baik sekali.”

“Bun-ko….!” Lee Hiang berkata girang dan mempererat dekapannya pada pinggang pemuda itu.

Aku harus memperlihatkan kejantananku, pikir Ciang Bun dan dia pun mempererat rangkulannya. Ketika wajah dara itu terangkat ke atas, menengadah dan memandang kepadanya dengan sinar mata lembut, dengan mulut setengah terbuka, Ciang Bun lalu menundukkan mukanya dan menutup mulut itu dengan mulutnya sendiri, mencium bibir yang menantang itu.

Ciuman itu membuat tubuh Lee Hiang menggigil dan rintihan halus mendesah keluar dari kerongkongannya. Bagi Ciang Bun sendiri, terjadi hal yang sungguh membuatnya ngeri. Mulut yang panas itu, bibir yang lunak lembut itu, ketika bertemu dengan bibirnya dalam sebuah ciuman mesra, mendatangkan rasa muak!

Bukan, bukan kelembutan seorang wanita yang dia dambakan, sama sekali bukan. Dia merindukan kejantanan seorang pria, mulut yaug kuat akan tetapi lembut, bukan lunak menyerah macam mulut wanita ini. Dia tidak tahan lagi dan cepat dia merenggutkan dirinya, melepaskan pelukan.

“Tidak….! Tidak….! Jangan….!” Dan dia pun, seperti tadi ketika meninggalkan Lee Siang, melarikan diri meninggalkan Lee Hiang yang berdiri bengong dengan wajah berohah pucat dan mata terbelalak.

“Bun-koko….!” Ia berteriak dan mengejar.

Sesosok bayangan lain muncul dan ikut mengejar Ciang Bun. Bayangan ini adalah Lee Siang. Pemuda ini tadi mengintai dan ikut bergembira melihat betapa adiknya dan Ciang Bun berciuman di pantai. Akan tetapi, dia ikut terkejut melihat perubahan pada diri Ciang Bun dan ketika Ciang Bun melarikan diri dan dikejar oleh adiknya, dia pun ikut mengejar dengan hati khawatir.

Ciang Bun berdiri di tepi pantai utara, berdiri seperti arca memandang jauh ke depan, tanpa bergerak sama sekali, wajahnya pucat dan matanya sayu.

“Bun-koko….!”

“Bun-hiante….!”

Dia membalik, memandang kepada dua orang kakak beradik itu dengan muka pucat dan dia pun menghardik, “Pergilah kalian! Jangan dekati aku….! Pergiiii….!”

Terdengar Lee Hiang terisak dan Lee Siang menahan napas saking kagetnya melihat sikap pemuda yang mereka sayang itu. Ciang Bun biasanya bersikap ramah dan halus, akan tetapi mengapa sekarang begitu berubah sikapnya, menjadi kasar dan seperti orang yang marah sekali?

Akan tetapi Lee Siang mempunyai pandangan yang jauh dan bijaksana. Dia memegang lengan adiknya dan berkata lirih, “Baiklah, kami pergi, kami hanya ingin menghiburmu, Bun-te. Marilah, adikku!” Dia pun setengah menyeret tubuh Lee Hiang meninggalkan Ciang Bun sendirian.

Sejenak Ciang Bun masih berdiri tegak dengan sikap marah seperti tadi, memandang ke arah dua sosok bayangan yang pergi dengan lemas itu. Kemudian, terasalah seluruh tubuhnya lemas seperti dilolosi urat- uratnya dan dia pun terkulai, jatuh berlutut di atas pasir.

“Ya Tuhan, ampunilah hamba….!” Dia mengeluh dengan hati penuh penyesalan.

Dan semalam itu dia duduk bersila di pantai, tidak pernah beranjak dari tempat itu. Dia bingung sekali. Ketika berada dalam pelukan Lee Siang, terjadi perang dalam batinnya. Perasaannya senang akan tetapi pikirannya menentang. Sebaliknya, saat dia memeluk dan mencium Lee Hiang, pikirannya mendorong akan tetapi perasaannya menentang keras. Dia menjadi bingung, menyesal dan berduka.

Liu Ek Soan menerima laporan tentang keadaan Ciang Bun dari dua orang cucunya. Kakek ini menarik napas panjang. “Keturunan keluarga Pulau Es sudah tentu memiliki keanehan-keanehan watak yang tidak kita mengerti. Biarkanlah saja, jangan ganggu. Besok baru aku akan bicara dengannya.”

Pada keesokan harinya kakek itu menghampiri Ciang Bun yang masih duduk bersila di tepi pantai dan menegur halus, “Ciang Bun, sepagi ini engkau sudah berada di sini dan kelihatan susah hatimu, anak baik?”

Ciang Bun menoleh lalu berkata dengan sedih, “Liu-kong-kong, hari ini aku mohon diri darimu. Aku akan pergi untuk mencari saudara-saudaraku yang terpisah dariku atau aku akan pulang dan melaporkan semua hal itu kepada orang tuaku.”

Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian menarik napas panjang. “Kami akan merasa kehilangan, Ciang Bun. Akan tetapi bagaimana lagi, memang sepatutnya kalau engkau melaporkan semua yang terjadi kepada orang tuamu. Sudah tiga bulan lebih engkau di sini. Semua dasar ilmu dalam air telah engkau kuasai, tinggal melatih dan memahirkan saja. Akan tetapi ada suatu hal yang amat penting yang ingin kubicarakan denganmu, anak baik.”

“Hal apakah itu, kong-kong?”

“Tentang engkau dan Lee Hiang! Anak itu telah mengaku kepadaku bahwa ia amat mencintamu dan engkau pun tentu tahu akan hal ini. Maka, jika kiranya engkau dan orang tuamu tidak menganggap kami terlalu rendah, aku ingin sekali menjodohkan Lee Hiang denganmu.”

Ciang Bun menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. Kalau dia tidak ingat akan kebaikan kakek ini dan dua orang cucunya, tentu dia akan menolak keras pada saat itu juga. Akan tetapi dia tidak tega untuk menyinggung perasaan kakek ini, maka dia pun cepat berkata,

“Aku masih terlalu muda untuk memikirkan soal perjodohan, Liu-kong-kong. Pula, soal perjodohan tergantung kepada ayah bundaku. Aku sendiri tak dapat membicarakannya.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Memang benar sekali ucapanmu itu. Pada suatu hari aku tentu akan menghadap orang tuamu di Thian-cin untuk membicarakan urusan ini. Aku hanya memberi tahu kepadamu agar engkau mengetahuinya lebih dulu. Namun, kalau engkau hendak pergi mencari saudara-saudaramu atau menuju ke daratan besar, biarlah Lee Siang dan Lee Hiang mengantar dan menemanimu.”

“Tidak, Liu-kong-kong, tidak usah! Aku akan pergi sendiri. Aku tahu bahwa letak daratan berada di barat dan sekarang, setelah aku menerima pelajaran tentang ilmu dalam air darimu, aku tidak lagi takut menghadapi badai.”

Kakek itu tidak dapat membantah lagi dan ketika Lee Siang dan Lee Hiang diberi tahu, mereka berdua segera datang menemui Ciang Bun. Begitu melihat mereka, Ciang Bun segera berkata, suaranya penuh penyesalan. “Siang-twako dan Hiang-moi, harap kalian berdua sudi maafkan sikapku semalam….”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bun-te. Antara kita sendiri, mana perlu sungkan dan maaf? Hanya aku menyesal bahwa kami tidak dapat menghibur hatimu yang sedang duka.”

“Sudahlah, semua itu karena kebodohanku sendiri, twako.” Ciang Bun menghela napas.

“Bun-koko…. benarkah engkau…. engkau hendak pergi?” Lee Hiang bertanya, suaranya mengandung kedukaan, tidak seperti biasa suaranya selalu lincah jenaka.

Ciang Bun memandang wajah dara itu dan diam-diam dia merasa kasihan kepada dara yang jatuh cinta kepadanya ini. Dia merasa yakin bahwa dia tidak mungkin dapat membalas cinta kasih Lee Hiang atau wanita yang mana pun juga di dunia ini. Cintanya terhadap Lee Hiang hanya cinta seperti seorang kakak terhadap adiknya, atau paling-paling seperti cinta seorang sahabat saja, cinta tanpa daya tarik dan gairah.

“Benar, siauw-moi, aku harus pergi melaporkan semua peristiwa yang terjadi kepada ayah bundaku.” “Kau pergi…. untuk selamanya…. dan tidak akan kembali lagi ke sini….?”

“Ah, kenapa engkau berkata demikian, adikku?” Ciang Bun berkata ramah. “Selagi kita masih hidup, tentu saja terbuka banyak kesempatan bagi kita untuk saling berjumpa lagi.”

“Tapi, kapan, koko….? Ahhh, aku tentu akan merasa kehilangan sekali…. hidup akan terasa hampa dan tidak menyenangkan tanpa engkau di pulau ini. Aku akan merana dan berduka…. ah, Bun-ko yang tercinta, bagaimana engkau tega meninggalkan aku? Aku ikut….!” Dan Lee Hiang memandang dengan air mata mulai membasahi kedua matanya.

Ciang Bun merasa kasihan sekali. Dia maju menghampiri dan memegang kedua tangan dara itu, sikap dan perasaannya seperti seorang kakak terhadap adiknya tersayang.

“Adikku yang baik, jangan menangis. Engkau bukan seorang dara yang cengeng dan engkau tahu bahwa aku tidak mungkin dapat melupakan engkau, Siang-twako, dan juga Liu-kong-kong. Kelak kita pasti akan bertemu kembali.”

Lee Hiang sesenggukan dan menangis di atas dada Ciang Bun. Pemuda ini sekarang tak lagi merasa canggung karena dia menganggap dirinya sebagai seorang kakak yang menghibur adiknya yang tersayang. Dielusnya rambut kepala dara itu dan dihiburnya dengan kata-kata halus sampai akhirnya Lee Hiang terhibur dan berhenti menangis.

“Bun-ko, kalau sampai lama engkau tidak datang, aku tentu akan pergi menyusul dan mencarimu!” katanya.

“Aihh, moi-moi, jangan bodoh. Kong-kong tentu akan menguruskan perjodohan kalian!” kata Lee Siang, tidak tahu betapa ucapannya itu menusuk perasaan Ciang Bun dan membuat pemuda itu merasa amat tidak tenang hatinya.

Akhirnya, Ciang Bun berangkat naik sebuah perahu, dibekali perlengkapan secukupnya oleh kakek Liu, berikut petunjuk yang jelas arah mana yang harus ditempuhnya untuk mencapai pantai daratan besar.

“Angin bertiup dengan baiknya dan udara amat baik, kalau tidak keliru perhitunganku, dalam waktu dua hari semalam engkau akan mencapai daratan, Ciang Bun,” kata kakek itu.

Dengan diantar oleh lambaian tangan dan tatapan mata tiga orang pulau itu, berikut air mata yang menetes-netes turun dari kedua mata Lee Hiang, berangkatlah Ciang Bun dan dia pun memandang ke arah pulau itu sampai lambat-laun tiga buah titik di atas pulau yang makin mengecil itu tidak dapat nampak lagi. Perahunya meluncur cepat ketika layarnya terkembang penuh.

Sambil mengemudikan perahu, pemuda ini termenung. Terjadi keadaan yang sangat bertentangan antara lahir dan batinnya. Matanya melihat betapa perahunya meluncur cepat menuju ke arah tertentu, demikian lancar dan penuh harapan. Akan tetapi mata batinnya melihat betapa masa depan kehidupannya tak menentu dan suram. Keadaan ini membuat mulutnya bergerak, perasaan dan pikirannya menciptakan sebuah sajak keluhan.

Perahuku meluncur laju menuju arah tertentu
angin kencang layar terkembang di depan terang cemerlang!
Namun betapa suram jalan hidupku hati gelisah tak menentu
gelap pekat meraba-raba tak tahu harus ke mana?

********************

“Ayah….! Ibu….!”

Melihat Sama Hui datang bersama seorang pemuda tampan dan dari pekarangan dara itu sudah lari menghampiri mereka sambil menangis, hati Suma Kian Lee dan isterinya diliputi kekhawatiran yang timbul dari kejutan dan keheranan. Mereka mengenal puteri mereka yang cerdik, lincah dan galak, keras hati dan tidak mudah menjadi lemah, tidak mudah menangis cengeng menghadapi apa pun juga. Kalau sekarang puteri mereka sampai demikian sedihnya, tentu telah terjadi sesuatu yang amat hebat. Puteri mereka berada di Pulau Es bersama Ciang Bun, akan tetapi sekarang puteri mereka itu pulang tanpa Ciang Bun, bahkan bersama seorang pemuda asing, dan dara itu menangis seperti itu!

Suma Kian Lee, ayah Suma Hui, adalah seorang pendekar sakti, putera dari Pendekar Super Sakti Suma Han dengan Lulu. Berbeda dengan Suma Kian Bu, pendekar ini orangnya serius, pendiam, tenang dan sabar. Isterinya bernama Kim Hwee Li, dahulu seorang gadis petualang yang gagah perkasa dan berani, yang berkecimpung di dalam dunia kaum sesat namun tak pernah ikut menjadi jahat, seperti mutiara yang terendam di lumpur, tetap cemerlang bahkan lebih cemerlang.

Akan tetapi, hidup di antara kaum sesat itu membuat hatinya menjadi keras sekali dan tidak pernah merasa takut, sedangkan ilmu kepandaiannya juga amat hebat. Ia berusia kurang lebih empat puluh tiga tahun sekarang, empat tahun lebih muda dari suaminya. Tetapi, dengan pakaiannya yang terbuat dari sutera hitam itu, ia masih nampak ramping dan padat, wajahnya masih tetap cantik dan nampak jauh lebih muda dari pada usianya yang sesungguhnya.

Mereka hidup dengan tenang di Thian-cin, sebuah kota di selatan kota raja. Seperti telah kita ketahui, kedua orang anak mereka, yaitu Suma Hui dan Suma Ciang Bun, menemani kakek nenek mereka di Pulau Es sambil memperdalam ilmu mereka.

Tentu saja suami isteri ini merasa kesepian setelah dua orang anak mereka pergi ke Pulau Es dan hampir setiap hari mereka membicarakan dua orang anak mereka dengan hati rindu. Mereka tidak menyangka bahwa pagi hari itu, selagi mereka duduk di serambi depan, mereka akan melihat puteri mereka pulang dalam keadaan yang sedemikian mengherankan dan mengkhawatirkan.

Suami isteri itu menyambut Suma Hui dengan rangkulan dan ciuman. Kalau Suma Kian Lee bersikap tenang-tenang saja, tidak begitu dengan Kim Hwee Li. Setelah merangkul dan menciumi pipi puterinya, ibu ini membentak, “Apa-apaan engkau ini, Hui-ji? Hayo hentikan kecengenganmu ini dan ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi denganmu! Dan mana Ciang Bun?”

“Nanti dulu,” kata Kian Lee. “Hui-ji, perkenalkan dulu siapa orang muda yang datang bersamamu ini.”

Suma Hui juga memiliki kekerasan hati seperti ibunya, maka sebentar saja ia sudah dapat menguasai hatinya dan menghentikan tangisnya. “Ayah, ibu, dia ini adalah Kao Cin Liong, putera dari enci Wan Ceng.”

“Aihhh….! Jadi engkau ini putera Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu?” Kim Hwee Li berseru girang.

“Hemm, kalau begitu dia masih cucu keponakanku sendiri, bukan orang lain. Mari kita masuk dan bicara di dalam,” kata Kian Lee dengan sikapnya yang tenang.

Kao Cin Liong memandang kepada sepasang pendekar itu dengan kagum. Sikap kakek pamannya itu sungguh mengagumkan, begitu tenang dan terkendali, sebaliknya suami isteri pendekar itu pun membayangkan keagungan dan wibawa yang gagah perkasa. Hatinya terasa gentar dan mengecil kalau dia teringat bahwa dia telah jatuh cinta dengan Suma Hui dan dia gentar membayangkan bagaimana suami isteri pendekar ini akan bersikap kalau mendengar akan urusan cintanya itu. Maka dia pun cepat menjura dengan hormat.

Sebenarnya dia harus menyebut cek-kong (kakek paman) kepada pendekar ini, akan tetapi dia tidak berani dan menyebut locianpwe, sebutan yang menghormat dalam dunia persilatan terhadap orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya.

“Terima kasih, locianpwe.”

Mereka pun memasuki ruangan dalam. Setelah pelayan mengeluarkan air teh, Hwee Li menutupkan pintu yang menembus ruangan itu sebagai tanda bahwa para pelayan tidak diperkenankan masuk atau mendekat. Setelah itu berkatalah nyonya ini, “Nah, sekarang ceritakanlah apa yang terjadi.”

“Ohh, ibu, telah terjadi mala petaka yang amat hebat menimpa keluarga kita….” Suma Hui mengeluh, “peristiwa yang amat buruk….”

“Setiap peristiwa yang terjadi pun terjadilah. Setiap penilaian baik atau buruk hanya menipiskan kewaspadaan,” kata Kian Lee mencela pendapat puterinya. “Ceritakan saja selengkapnya dan jangan menilai.”

Akan tetapi Hwee Li sudah memegang lengan puterinya dan cengkeramannya itu kuat sekali sehingga kalau bukan puterinya yang dicengkeram, tentu tulang lengan itu akan patah atan setidaknya kulit lengan itu akan terluka! “Hayo cepat katakan, apa yang telah terjadi?”

Karena maklum akan watak ibunya yang dikenalnya dengan baik, yaitu tidak sabaran dan menjadi kebalikan dari watak ayahnya, Suma Hui tidak mau membuat ibunya kehilangan kesabaran, maka ia pun langsung saja menceritakan inti semua peristiwa dengan kata-kata lirih, “Kakek dan kedua orang nenek telah tewas, Pulau Es telah terbakar habis dan lenyap, adik Ciang Bun terjatuh ke dalam lautan berbadai dan lenyap, sedang adik Ceng Liong dilarikan oleh Hek-i Mo-ong!”

Suma Kian Lee adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan berbatin kuat, tenang dan bijaksana, sedangkan isterinya adalah seorang pendekar wanita yang gagah dan tabah, tidak mengenal takut. Akan tetapi, berita yang diucapkan dari mulut puteri mereka sekali ini sungguh terlalu amat hebat!

Wajah Kian Lee menjadi pucat dan alisnya berkerut, matanya memandang jauh dengan kosong dan dia tidak dapat mengeluarkan suara, sedangkan isterinya juga terbelalak pucat, mulutnya terbuka dan mulut itu ditutup dengan punggung tangan seolah-olah nyonya ini hendak menahan jeritnya. Suasana menjadi sunyi dalam beberapa detik, kesunyian yang mengerikan dan suasana menjadi tegang penuh getaran.

“Tidak….! Tidak mungkin….! Siapa yang melakukan itu? Siapa? Hayo katakan, siapa yang melakukan kebiadaban itu? Akan kuhancurkan kepalanya, kupecahkan dadanya, kupatahkan kaki tangannya!” Nyonya itu bangkit dan mengepal tinjunya, dan Cin Liong mendengar suara berkerotokan pada buku-buku jari tangan yang masih halus itu! Bukan main hebatnya nyonya ini, pikirnya kagum dan juga gentar.

Melihat keadaan isterinya tercinta itu, Kian Lee melangkah maju dan memegang kedua tangan Hwee Li. Nyonya yang seperti tidak sadar ini merasakan hawa yang hangat menggetar memasuki kedua lengannya dan ia pun tersadar, lalu menoleh memandang suaminya dan tiba-tiba ia terisak, merangkul suaminya dan menangis tanpa suara di dada suaminya. Kian Lee memejamkan kedua matanya dan mengelus rambut isterinya, menepuk-nepuk bahu isterinya, suatu gerakan yang sebenarnya untuk menepuk hatinya sendiri setelah mendengar akan kematian ayah bundanya di Pulau Es itu.

“Tenanglah…. mati hidup adalah wajar, bukan kita yang menguasainya….,” katanya lirih sekali sehingga seperti bisikan dan tidak kentara kalau suaranya tergetar.

Hanya sebentar saja nyonya itu menangis tanpa suara, hanya pundaknya bergoyang sedikit. Kini ia telah mengangkat mukanya dari dada suaminya dan bukti tangisannya hanyalah baju suaminya yang menjadi basah dan matanya yang agak merah. Akan tetapi kini tidak nampak setetes pun air mata pada mata atau pipinya ketika ia duduk kembali.

“Hui-ji, kini ceritakanlah selengkapnya terjadinya peristiwa itu,” Kian Lee berkata dengan suara yang lirih dan lesu.

Dan untuk kedua kalinya, pertama kali kepada Suma Kian Bu dan isterinya, dan kedua kalinya kini kepada ayah bundanya, Suma Hui menceritakan peristiwa di Pulau Es itu, didengarkan oleh ayah bundanya dengan penuh perhatian. Tentang penyerbuan para datuk, tentang kedatangan Kao Cin Liong dan kemudian tentang kematian dua orang neneknya yang disusul kematian aneh dari kakeknya. Kemudian tentang penyerbuan para datuk dan anak buahnya atas perahu mereka sehingga mereka cerai-berai dan tentu saja Suma Hui menceritakan dan menonjolkan peran Cin Liong yang telah banyak berjasa itu. Bahkan dara itu menceritakan dengan teliti tentang jasa dan pertolongan Cin Liong kepadanya ketika dia ditawan oleh Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng.

“Kalau tidak ada Cin Liong yang menyelamatkan aku, mungkin hari ini aku hanya tinggal nama saja,” demikian dara itu menutup kata-katanya sambil mengerling ke arah Cin Liong.

“Bibi Hui terlalu memuji-muji saya, sesungguhnya saya merasa menyesal sekali tidak dapat melindungi para paman kecil sehingga tidak diketahui bagaimana dengan nasib mereka sekarang,” Cin Liong merendahkan diri.

“Jadi di antara lima orang datuk itu, tiga telah tewas dan yang masih hidup adalah Hek-i Mo-ong yang melarikan Ceng Liong dan Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng itu?” tanya Kim Hwee yang seolah-olah hendak mencatat kedua nama itu baik-baik dalam ingatannya.

“Betul, ibu,” kata Suma Hui. “Aku pun kelak harus dapat membalas sakit hati ini kepada dua orang datuk sesat itu, mencari adik Ciang Bun dan menolong adik Ceng Liong.”

“Mudah saja engkau bicara,” kata Suma Kian Lee. “Mereka adalah orang-orang lihai, kalau tidak mana mungkin kedua orang nenekmu sampai tewas? Lagi pula, nama Hek-i Mo-ong sudah amat tersohor karena ilmu-ilmunya yang hebat. Engkau tinggal di rumah, aku sendiri yang akan mencari Ciang Bun.”

“Aku juga pergi!” kata Kim Hwee Li. “Biar Kian Bu dan isterinya menyusul dan mencari Ceng Liong sedangkan kita pergi mencari anak kita yang hilang. Perkara balas dendam, kelak kita rundingkan bersama keluarga Pulau Es.”

Kian Lee tak dapat membantah keinginan isterinya. Cin Liong lalu berkata dengan sikap hormat, “Karena sudah berhasil menemani bibi Hui sampai di rumah, perkenankan saya untuk melanjutkan tugas saya. Dan saya berjanji untuk ikut juga mendengarkan berita tentang paman-paman kecil Ciang Bun dan Ccng Liong.”

“Tugasmu sebagai jenderal?” tanya Kim Hwee Li tertarik.

“Benar, locianpwe. Saya ditugaskan oleh sri baginda kaisar untuk menyelidiki berita tentang pergerakan- pergerakan para pemberontak di barat dan utara. Saya ke Pulau Es juga hanya kebetulan saja dalam perjalanan saya melakukan tugas itu, ketika saya melihat rombongan anak buah para datuk itu sedang membicarakan tentang Pulau Es. Sekarang saya akan melapor dulu ke kota raja, kemudian melanjutkan perjalanan ke barat.”

Kian Lee mengangguk-angguk. “Jika memang begitu, tak sepatutnya kami menahanmu, Cin Liong. Dan kami sekeluarga mengucapkau terima kasih atas segala bantuanmu, baik terhadap keluarga Pulau Es mau pun terhadap Hui-ji.”

“Saya kira tak perlu demikian, locianpwe, mengingat bahwa di sana terdapat pula nenek buyut Lulu dan agaknya sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu keluarga Pendekar Super Sakti Suma Han locianpwe dari serbuan para penjahat. Nah, saya mohon diri, locianpwe.” Dia memberi hormat kepada Suma Kian Lee dan Hwee Li, kemudian menghadapi Suma Hui.

“Bibi Hui, selamat tinggal….”

“Cin Liong….!” kata Suma Hui ketika ia melihat pemuda itu melangkah keluar, lalu ia meragu dan akhirnya ia lari menghampiri dan berbisik, “Bagaimana dengan urusan kita….?”

“Jangan khawatir, sebelum pergi ke barat, aku akan memberitahukan orang tuaku,” bisik Cin Liong kembali, lalu dia menjura lagi dan pergi dari situ, meninggalkan Suma Hui yang berdiri termangu-mangu dan merasa betapa hatinya perih dan sepi ditinggal pemuda yang semenjak beberapa lama menemaninya dan telah memenuhi hatinya itu. Ia tidak tahu betapa suami isteri itu saling pandang dengan penuh arti, dan Suma Kian Lee membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba.

Malam itu Kim Hwee Li merangkul puterinya dan mereka bicara bisik-bisik di dalam kamar gadis itu. “Hui-ji, engkau cinta padanya, bukan?”

Dalam pelukan ibunya, Suma Hui mengangguk. Suasana sunyi dan tegang karena Suma Hui maklum betapa pentingnya pengakuannya itu bagi ibunya dan ia menantikan datangnya teguran ibunya.

Setelah hening beberapa lama, terdengar suara ibunya, akan tetapi bukan suara marah sehingga debar jantung di dalam dada Suma Hui menjadi tenang. “Hui-ji, sudah kau yakini akan cintamu itu?”

Kembali Suma Hui hanya mengangguk tanpa mengangkat mukanya yang tersembunyi di dalam rangkulan ibunya. Setelah semua peristiwa hebat yang dialaminya selama beberapa hari berturut-turut ini, kini dia merasa aman sentosa dalam rangkulan ibu kandungnya.

Kembali sunyi sejenak. Dan sekarang kembali suara ibunya terdengar halus tanpa kemarahan, “Akan tetapi dia keponakanmu dan dia menyebutmu bibi!”

Meski ibunya tidak terdengar marah, akan tetapi jawaban halus ini bagi Suma Hui tetap saja merupakan kata-kata yang sifatnya menentang, maka ia pun merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ibunya dan bangkit berdiri lalu mundur, memandang kepada ibunya yang duduk di atas pembaringannya itu dari jarak dua meter. Sampai beberapa lamanya dua orang wanita yang hampir serupa wajahnya itu saling pandang, dan barulah Suma Hui merasa yakin bahwa ibunya tidak marah dan tidak menentangnya. Maka ia pun menubruk ibunya, duduk lagi dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya dengan sikap manja.

“Akan tetapi dia lebih tua dariku, lebih pandai, lebih berpengalaman, dan lebih segala-galanya, ibu. Ia adalah seorang jenderal muda kepercayaan kaisar, ia gagah perkasa, berilmu tinggi, dan bijaksana, berbudi baik. Dialah yang membantu keluarga kakek di Pulau Es, dan dia jugalah yang menyelamatkan aku dari bencana besar. Pula hanya kebetulan saja dia itu terhitung keponakanku, padahal, hubungannya sudah amat jauh!”

“Memang sesungguhnya demikian. Kakek dari Cin Liong, kakek luar, yaitu ayah dari ibunya yang bernama Wan Keng In, hanyalah kakak tiri ayahmu, seibu berlainan ayah. Jadi, kalau pun ada hubungan darah antara engkau dan dia, hanyalah melalui darah nenekmu saja, akan tetapi pihak kakek, sama sekali berlainan.”

Mendengar ini, Suma Hui lalu bangkit dan memandang ibunya penuh harapan. “Kalau begitu, ibu setuju?”

Kim Hwee Li menahan rasa panas di kerongkongannya dan ia seperti menelan kembali air matanya. Bagaimana pun juga, sebagai seorang ibu, hatinya dilanda keharuan yang mendalam membicarakan urusan perjodohan puterinya sebagai anaknya yang pertama. Lalu ia memandang wajah puterinya dan mengangguk. “Ibu sih setuju saja.”

“Ibuuu….!” Suma Hui merangkul dan menciumi pipi ibunya. “Ibu memang seorang yang amat berbudi….! Terima kasih, ibu.”

Kim Hwee Li mengejap-ngejapkan matanya dan bahkan mengusap dua titik air mata dengan ujung lengan bajunya. Di depan anaknya perempuan, dia tidak begitu malu menitikkan air mata walau pun sejak kecil ia melarang anak-anaknya menangis.

“Jangan bergirang-girang dulu, Hui-ji. Aku tahu, ayahmu amat memperhitungkan urusan pertalian darah. Bahkan kalau aku tidak salah dengar, dahulu kabarnya pernah ayahmu sebelum bertemu dengan aku, sudah jatuh hati kepada Ceng Ceng. Akan tetapi begitu mengetahui bahwa Wan Ceng ialah keponakan tirinya, segera perasaan itu dibuangnya jauh-jauh. Entah bagaimana pendapatnya kalau mendengar bahwa kau saling mencinta dengan orang yang masih terhitung keponakanmu sendiri. Aku khawatir, ayahmu tidak akan senang mendengarnya.”

“Akan tetapi…. ayah tidak layak menghalangi kebahagiaan hidupku, ibu!” kata Suma Hui, sikapnya keras.

Kim Hwee Li menarik napas panjang. Dia mengenal watak anaknya yang keras, dan suaminya walau pun pendiam dan tenang, akan tetapi juga di dasar hatinya memiliki kekerasan dan pendirian yang teguh. Maka ia telah dapat melihat bayangan yang tidak menyenangkan dalam peristiwa ini.

“Mudah-mudahan saja tidak akan timbul pertentangan dalam keluarga kita sendiri oleh karena urusanmu ini, Hui-ji. Aku akan berusaha melunakkan hati ayahmu.”

“Terima kasih, ibu…. engkau baik sekali! Ahh, aku amat mencintamu, ibu….!” Suma Hui kembali merangkul ibunya dan beberapa lamanya ibu dan anak ini saling melepas rasa rindunya dan juga membicarakan nasib Ciang Bun yang belum ada beritanya itu dengan hati khawatir.

Pada malam hari itu juga, agak larut, tidak lama setelah Kim Hwee Li keluar dari kamar puterinya, terjadi percakapan berbisik-bisik di dalam kamar suami isteri itu.

“Tidak! Tidak mungkin dan tidak boleh! Sungguh tak tahu aturan sekali. Apakah mereka sudah buta sehingga tidak melihat bahwa mereka melakukan pelanggaran yang amat besar dan amat memalukan? Nama keluarga kita akan hancur oleh perbuatan yang tidak sopan itu. Aib akan menimpa nama kita. Anak kita itu perlu ditegur dan juga pemuda itu akan kutegur dengan keras!”

Dengan muka merah Suma Kian Lee berkata setelah mendengar keterangan isterinya bahwa puterinya saling mencintai dengan Kao Cin Liong, hal yang memang sudah disangkanya ketika pemuda itu berpamit kepada Suma Hui dan yang membuat dia merasa tidak enak sekali. Dialah yang tadi menyuruh isterinya menyelidiki persoalan itu untuk meyakinkan hati, dan kini mendengar laporan isterinya bahwa memang benar puterinya jatuh cinta kepada pemuda yang menjadi keponakannya sendiri, dia marah bukan main.

“Akan tetapi, hubungan keluarga itu sudah jauh sekali, hanya melalui mendiang nenek Lulu,” isterinya mencoba untuk membantah.

“Jauh atau dekat, Kao Cin Liong itu adalah keponakan Hui-ji dan menyebutnya bibi. Apa akan dikata orang- orang kalau mendengar bahwa anak kita berjodoh dengan seorang keponakannya sendiri? Muka kita seperti dilumuri kotoran! Dan engkau tahu, nama dan kehormatan lebih berharga dari pada nyawa!” Makin bicara, makin marahlah Kian Lee. “Panggil Hui-ji ke sini, biar malam ini juga kutegur anak itu!”

“Tenanglah, suamiku. Hui-ji baru saja mengalami hal-hal yang amat mengerikan. Biar ia beristirahat. Mungkin karena kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan Cin Liong, apalagi karena Cin Liong telah menolongnya dari tangan Jai-hwa-cat, maka ia tertarik dan jatuh hati. Akan tetapi, belum tentu hal itu berakhir dengan perjodohan. Kita harus ingat bahwa Cin Liong juga mempunyai orang tua dan kurasa, ayah bundanya pun belum tentu setuju kalau mendengar putera mereka hendak berjodoh dengan seorang bibinya. Biarlah kita menunggu perkembangan. Jika benar mereka itu datang meminang, masih banyak waktu bagimu untuk menolak pinangan itu.”

“Kalau Kao Kok Cu dan Wan Ceng berani datang meminang anak kita, berarti mereka menghinaku dan aku akan menghajar mereka!” kata pula Kian Lee semakin panas.

Isterinya kemudian merangkulnya. “Ihh, jadi pemarah amat engkau? Makin tua semakin pemarah, sungguh tidak baik itu. Sudahlah, marilah kita tidur. Kita masih mempunyai kepentingan lain yang lebih mendesak, yaitu cepat mencari dan menemukan anak kita Ciang Bun.”

Diingatkan akan Ciang Bun, Kian Lee terdiam dan termenung penuh kegelisahan dan kedukaan. Akan tetapi, isterinya yang amat mencintanya itu pandai menghibur hatinya sehingga akhirnya sepasang suami isteri pendekar itu pun tertidur.

Tetapi, keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kian Lee sudah berkata kepada isterinya, “Isteriku, sebelum kita berangkat mencari Ciang Bun, kita harus lebih dulu mengatur sebaiknya untuk Hui-ji.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, niatku yang pernah terpendam di hatiku untuk menjodohkan Hui-ji dengan Louw Tek Ciang, akan kulaksanakan.”

“Putera Louw-kauwsu (guru silat Louw) itu? Ahh, suamiku, apakah itu bijaksana? Hui-ji belum berkenalan dengan dia.”

“Sudah kupikir masak-masak semalam. Kuyakin lebih bijaksana dari pada membiarkan dia jatuh cinta kepada keponakannya sendiri. Tek Ciang itu kulihat cukup baik dan berbakat dalam ilmu silat. Juga engkau tahu Louw-twako adalah sahabatku terbaik di kota ini dan dia adalah seorang ahli silat murid Siauw-lim-pai yang cukup baik, berwatak gagah pula.”

“Tapi…. bagaimana pun juga, ilmu silatnya masih jauh di bawah tingkat Hui-ji, apakah hal ini tidak akan mengecewakan kelak?”

“Hal itu tidak perlu kau khawatir, aku akan mengambilnya sebagai murid dan aku sendiri akan menggemblengnya sehingga dia cukup pantas menjadi suami Hui-ji.”

“Ahhh….!” Kim Hwee Li mengerutkan alisnya.

Melihat kekhawatiran isterinya, Kian Lee memegang pundaknya dan berkata dengan tegas. “Isteriku, demi kebahagiaan anak kita di kemudian hari, demi menjaga baik nama dan keturunannya, kita harus berani bertindak bijaksana dan tepat. Hari ini juga aku akan pergi mengunjungi Louw-twako untuk bicara soal itu, dan kalau kita pergi mencari Ciang Bun, kita boleh undang Tek Ciang agar sementara tinggal di sini menemani Hui-ji. Dengan demikian mereka punya kesempatan untuk saling berkenalan. Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali?”

“Hemm, aku tidak yakin. Kukira semua ini kau lakukan bukan untuk Hui-ji, melainkan untuk menjaga nama kehormatanmu sendiri.”

“Apa bedanya? Kehormatan kita adalah kehormatan Hui-ji pula. Kebahagiaan kita juga kebahagiaannya. Dia masih muda dan perlu dibimbing, baik dalam urusan cinta dan jodoh sekali pun. Percayalah, aku tidak akan bertindak salah, isteriku.”

“Sesukamulah,” akhirnya sang isteri menjawab, walau pun hatinya merasa tidak enak karena ia belum yakin betul akan kebenaran ucapan suaminya.

Suma Kian Lee, pendekar sakti itu, bagaimana pun juga hanyalah manusia biasa yang dapat terjerumus ke dalam pendapat yang keliru seperti terjadi kepada sebagian orang besar, orang-orang tua di dunia ini. Orang-orang tua seperti Suma Kian Lee itu terlalu memandang rendah kepada anaknya sehingga seolah- olah merasa dapat mengatur kehidupan dan kebahagiaan anaknya. Seolah-olah kebahagiaan dalam kehidupan itu adalah sesuatu yang dapat diatur.

Dia lupa bahwa kehidupan seseorang adalah mutlak milik si orang itu sendiri, tidak peduli orang itu adalah anaknya. Tiap orang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, dan si orang itu sendirilah yang dapat merasakan kebahagiaan hidupnya.

Orang boleh saja mengatur untuk mengadakan kesenangannya, seperti kekayaan, kedudukan, termasuk pula suami yang dianggap sempurna dan sebagainya. Akan tetapi semua itu hanyalah bayangan khayal belaka dan hanya berlangsung sementara saja.

Siapa yang berani memastikan bahwa bagi seorang wanita, mempunyai suami yang muda, kaya, pandai dan berkedudukan itu pastilah akan mendatangkan bahagia? Atau sebaliknya bagi seorang pria mendapatkan isteri yang muda dan cantik jelita, pintar dan halus budi itu pun akan mendatangkan bahagia?

Kebahagiaan dalam perjodohan hanya mempunyai satu syaratnya, yaitu cinta kasih! Tanpa ini, segala macam kesenangan yang terdapat dalam perjodohan itu akan luntur dan besar kemungkinannya akan berakhir dengan percekcokan dan kesengsaraan.

Orang-orang tua banyak yang tidak sadar bahwa cintanya terhadap anaknya sudah menyeleweng ke arah cinta terhadap diri sendiri atau keinginan untuk mencari kepuasan diri sendiri. Itulah sebabnya mengapa orang-orang tua selalu memilihkan sesuatu bagi anaknya, dengan keyakinan bahwa pilihannya itu tentu akan cocok bagi anaknya, tentu akan membahagiakan anaknya! Padahal pada dasarnya, yang dapat dipilihnya itu yang dapat menyenangkan hatinya sendiri.

Orang tua seperti ini akan merasa senang jika yang dipilih anaknya itu yang disukainya pula, dan akan merasa tidak senang dan menentang kalau yang dipilih anaknya itu tidak mencocoki seleranya. Dia lupa bahwa selera anaknya itu, biar pun keturunannya sendiri belum tentu sama dengan seleranya sendiri.

Kalau orang tua sungguh-sungguh mencinta anaknya, dia harus berani membiarkan anaknya itu bebas menentukan jalan hidupnya, bebas memilih segala hal mengenai hidupnya, jodohnya, agamanya, pekerjaannya, sahabatnya, dan sebagainya. Tentu hal ini bukan berarti orang tua harus diam saja tak acuh dan tak peduli. Sama sekali bukan demikian.

Bahkan sebaliknya orang tua harus selalu waspada dan kalau dia melihat anaknya itu bertindak menuju ke arah hal yang membahayakan kehidupannya, adalah menjadi kewajibannya, berdasarkan cinta kasih, untuk mengingatkan anaknya, menantunya. Ini bukan berarti memaksanya menuruti kemauan orang tua dalam menentukan jalan hidup.

Akan tetapi, Suma Kian Lee agaknya merasa yakin bahwa tindakannya benar kalau dia dengan kekerasan menentang pilihan hati puterinya. Bahkan mengusahakan supaya puterinya itu berjodoh dengan orang lain yang dipilihnya, yang menurut anggapannya, cocok menjadi suami anaknya dan kelak akan berbahagia…..

********************

Pilihan Suma Kian Lee itu adalah seorang pemuda berusia Sembilan belas tahun, dan bernama Louw Tek Ciang. Pemuda ini cukup tampan, bahkan kelihatan menarik karena kulit mukanya yang putih bersih. Matanya tajam membayangkan kecerdikan, mulutnya selalu tersenyum dan sikapnya ramah. Biar pun tubuhnya agak pendek, namun tegap dan gagah, apalagi karena pemuda ini selalu berpakaian yang bagus-bagus dan agak pesolek.

Ayahnya bernama Louw Kan atau terkenal di kota Thian-cin sebagai Louw-kauwsu (guru silat Louw) karena kakek berusia lima puluh tahun yang sudah menduda ini membuka sebuah perguruan silat yang diberi nama Pek-eng Bu-koan (Perguruan Silat Garuda Putih) di mana dia mengajarkan ilmu silat cabang Siauw-lim-pai dengan memungut bayaran.

Semenjak berusia lima tahun, Tek Ciang telah kematian ibunya, dan ayahnya tidak pernah menikah lagi. Dia merupakan anak tunggal yang tentu saja amat dimanja oleh ayahnya. Sejak kecil dia telah digembleng ilmu silat oleh ayahnya sendiri, dan ternyata Tek Ciang memiliki bakat yang amat baik. Di antara murid- murid ayahnya, tidak ada yang dapat menandinginya dalam ilmu silat dan bahkan dia mulai mewakili ayahnya dan membimbing murid-murid ayahnya.

Ketika dia berusia delapan belas tahun, terjadi gejolak batin yang amat hebat dalam diri pemuda ini, tanpa diketahui oleh ayahnya atau pun oleh dirinya sendiri. Ketika itu, untuk ke sekian kalinya, Tek Ciang bertanya kepada ayahnya tentang ibunya.

“Ayah dulu pernah bilang bahwa ada suatu rahasia besar tentang kematian ibu dan jika aku sudah dewasa, baru ayah akan menceritakan rahasia itu. Ayah, aku sangat rindu kepada ibu yang sudah tidak dapat kuingat wajahnya, akan tetapi aku masih ingat bahwa ibu adalah seorang wanita yang cantik. Ceritakanlah, ayah, mengapa ibu mati muda?”

Louw-kauwsu mengerutkan alisnya, dan sambil mengisap huncwe (pipa tembakau) yang panjang, wajahnya berubah menjadi muram. Kemudian, setelah menghembuskan asap tembakaunya, dia berkata, “Memang ibumu itu wanita yang amat cantik, paling cantik bagiku di dunia ini dan aku amat mencintainya. Akan tetapi sayang…., batinnya tidaklah secantik wajahnya, hatinya tidak sebersih kulitnya.”

“Kenapa, Ayah?” Tanya Tek Ciang kaget.

“Ia adalah wanita berhati palsu, seorang isteri yang menyeleweng dan menyakitkan hati suaminya, seorang wanita yang gila lelaki.”

“Isteri menyeleweng? Gila lelaki?” pemuda itu bertanya bingung mengapa ayahnya yang katanya mencintai isterinya itu kini memakinya dengan kata-kata keji.

“Ya, cintanya terhadap suaminya hanya di mulut saja dan diam-diam dia melakukan penyelewengan, berjinah dengan pria lain. Mula-mula suaminya masih mengampuninya. Akan tetapi penyakit itu tidak dapat sembuh, berulang kali dilakukannya perjinahan itu dengan lelaki demi lelaki. Ia memang gila lelaki sehingga akhirnya, perbuatan yang kotor dan keji itu membuatnya mati terbunuh.”

Tek Ciang mendengarkan dengan muka pucat dan mata terbelalak, dan dia kaget bukan main mendengar ucapan terakhir dari ayahnya itu.

“Terbunuh? Jadi ibu mati terbunuh? Siapa yang membunuhnya, Ayah?” “Suaminya yang entah berapa kali disakiti batinnya.”

Makin pucat wajah Tek Ciang ketika dia bangkit dari tempat duduknya. “Jadi…. jadi…. ayah sendiri yang membunuh ibu?”

Louw-kauwsu menarik napas panjang. “Duduklah, anakku. Memang aku sendiri yang membunuhnya, demi cintaku kepadanya. Karena kalau tidak dibunuh, dia akan terus melakukan hal yang amat tidak sepatutnya itu. Tentu saja bukan tangan ini yang dahulu membunuhnya. Pada penyelewengan terakhir saat tertangkap basah, aku membuatnya berjanji bahwa kalau sekali lagi ia berjinah dan ketahuan, ia akan bunuh diri. Nah, baru beberapa bulan saja, ia telah berjinah lagi dan saat ketahuan olehku, ia lalu membunuh diri, mungkin karena takut atau karena malu. Aku cinta padanya, bahkan aku tidak mau menikah lagi sejak ia meninggal

karena aku takut kalau-kalau penyiksaan terhadap perasaanku akan terulang lagi. Jarang ada wanita yang dapat dipercaya, Tek Ciang, oleh karena itu engkau harus berhati-hati sekali dalam memilih jodoh. Dari pada tersiksa hatinya setelah menikah, lebih baik tinggal membujang selama hidup.”

Percakapan dengan ayahnya itulah yang menimbulkan guncangan hebat dalam batin Tek Ciang dan tanpa disadarinya, dia memandang rendah kepada kaum wanita, bahkan ada timbul semacam kebencian! Akan tetapi, hal ini tumbuh di bawah sadar dan dia sendiri tidak merasakannya, karena pada lahirnya, dia suka melihat wanita-wanita cantik dan bukan tergolong seorang pemuda alim.

Dengan para murid ayahnya yang sudah dewasa, kadang-kadang dia pergi bermain-main dan ada kalanya pula dia terbawa oleh teman-teman itu pergi mengunjungi tempat pelesir dan bergaul dengan pelacur- pelacur sehingga dalam hal permainan cinta, Tek Ciang bukanlah pemuda yang hijau. Akan tetapi, dia bersikap halus dan kelakuannya sopan seperti seorang terpelajar, maka tidak seorang pun yang akan menduga bahwa sebetulnya pemuda ini tidak asing di antara para pelacur kelas tinggi di kota Thian-cin.

Tek Ciang terlalu cerdik untuk membiarkan dirinya terlihat oleh umum di tempat-tempat pelacuran itu. Maka ayahnya sendiri pun tak tahu bahwa putera tunggalnya itu bukanlah seorang perjaka tulen dan kadang- kadang menghamburkan uang di tempat pelesir itu.

Juga dia tidak tahu bahwa biar pun pada lahirnya begitu halus, ramah dan sopan, namun setelah berada berdua saja dengan seorang pelacur di dalam kamar, pemuda itu dapat bersikap lain, menjadi kejam dan suka mempermainkan wanita pelacur sesuka hatinya, suka menghinanya dan agaknya menikmati penderitaan lahir batin seorang wanita pelacur. Maka, pemuda ini tersohor sebagai pemuda yang kejam dan tidak disukai di kalangan para pelacur, walau pun dia memang royal dengan uangnya.

Louw Kam atau Louw-kauwsu bersahabat dengan pendekar sakti Suma Kian Lee. Tentu saja guru silat ini mengenal siapa pendekar itu, dan selain kagum, juga amat hormat kepadanya. Maka, dia merasakan sebagai kehormatan besar sekali dapat berkenalan bahkan bersahabat dengan pendekar sakti itu.

Saling berkunjung di antara mereka sering terjadi, dan perkenalannya dengan pendekar ini sungguh amat menguntungkan dirinya. Perguruannya makin maju karena para murid itu berpendapat bahwa seorang guru silat yang menjadi sahabat pendekar sakti Suma Kian Lee, tentu memiliki kepandaian silat yang tinggi. Bahkan kalau ada yang diam-diam memusuhi guru silat ini, akhirnya menjadi gentar melihat hubungan yang akrab antara Louw-kauwsu dan pendekar sakti itu. Oleh karena hubungan persahabatan ini maka martabat Louw-kauwsu ikut terangkat.

Demikianlah perkenalan kita dengan keluarga Louw ini…..

Pada suatu pagi, Louw-kauwsu merasa girang sekali melihat munculnya Suma Kian Lee di depan pintu rumahnya. Akan tetapi alisnya berkerut ketika ia melihat wajah pendekar itu nampak agak muram yang berarti bahwa hati sahabat yang dihormatinya itu tentu sedang kesal.

“Ah, selamat pagi, Suma-taihiap!” kata guru silat itu dengan ramah. “Silakan masuk dan duduk. Sungguh gembira sekali hati saya menerima kunjungan taihiap sepagi ini.”

“Terima kasih, Louw-twako,” kata Suma Kian Lee dan mereka pun duduk menghadapi minuman teh panas sebagai sarapan pagi di atas meja.

“Eh, kenapa taihiap memakai pakaian berkabung?” Tiba-tiba guru silat itu terkejut ketika melihat pakaian serba putih dan tanda berkabung yang dipakai oleh pendekar itu.

Pendekar itu menarik napas panjang. Dia tidak ingin menceritakan tentang mala petaka yang menimpa keluarga ayah bundanya di Pulau Es, akan tetapi pakaian berkabung yang dipakainya itu tentu saja tidak dapat disembunyikan. Mengingat bahwa guru silat ini adalah sahabat baiknya dan juga bahkan mungkin akan menjadi calon besannya, maka dia mengambil kebijaksanaan untuk berterus terang saja.

“Anak perempuan kami pulang dari Pulau Es kemarin….”

“Ahh, Siocia sudah pulang? Tentu telah membawa ilmu-ilmu yang luar biasa dari Pulau Es!” teriak guru silat itu dengan kagum.

“Ia membawa berita buruk, yaitu bahwa ayah ibuku telah meninggal dunia.”

“Ahhh….!” Guru silat itu terkejut bukan main, cepat bangkit berdiri dan menjura dengan hormat kepada pendekar itu sambil berkata, “Maafkan saya, taihiap, karena tidak tahu maka berani bicara sembarangan. Semoga saja Thian dapat menerima arwah orang tua taihiap dan memberi tempat yang baik.”

“Terima kasih, Louw-twako. Kematian adalah hal yang wajar saja dan kami pun dapat menerimanya dengan tenang. Akan tetapi, dalam perjalanan pulang, terjadi mala petaka di perahu yang mengakibatkan puteraku hilang….”

“Ahhh!” Untuk kesekian kalinya guru silat itu terkejut. “Suma-kongcu hilang? Ke mana dan bagaimana?” “Dia tercebur ke lautan, terpisah dari enci-nya dan sampai kini belum ada kabar-kabar tentang dia.”

“Siancai….! Sungguh saya ikut merasa berduka sekali, taihiap. Bagaimana mala petaka menimpa demikian berturut-turut?”

“Memang itulah nasibku sekarang ini. Aku dan isteriku akan melakukan perjalanan untuk mencari anakku yang hilang itu dan sebelum aku pergi, aku ingin membicarakan hal penting yang pernah kusinggung dahulu itu, twako, yaitu tentang perjodohan antara puteri kami dan puteramu.”

Berdebar kencang jantung dalam dada Louw Kam. Hal itu memang menjadi idamannya selama ini. Pernah secara iseng-iseng pendekar ini bicara tentang kemungkinannya tali perjodohan itu dan tentu saja dia akan merasa girang dan bangga sekali untuk dapat berbesan dengan pendekar sakti ini. Mempunyai mantu cucu Pendekar Super Sakti! Tentu saja cucu pendekar itu tidak dapat disamakan dengan perempuan- perempuan biasa macam isterinya itu. Biar pun jantungnya berdebar kencang penuh kegembiraan, namun sikapnya biasa dan tenang saja.

“Bagaimanakah kehendak taihiap? Sejak dahulu kami hanya dapat menanti keputusan taihiap dan tentu saja pihak kami setuju sepenuhnya, bahkan merasa memperoleh kehormatan besar sekali kalau anakku yang bodoh itu terpilih untuk menjadi calon jodoh puteri taihiap yang mulia.”

“Tak perlu memuji atau merendah, twako. Manusia ini di permukaan bumi sama saja, dan kelebihan orang dalam suatu hal tidak perlu dijadikan alasan untuk mengangkatnya tinggi-tinggi. Kami merasa setuju dengan puteramu, tetapi…. maafkan pernyataanku ini, agaknya kelak akan merupakan kepincangan yang kurang sehat kalau ilmu silat antara mereka berselisih jauh.”

Wajah guru silat itu menjadi merah dan dia menutupinya dengan tertawa. “Ah, biar saya latih seratus tahun lagi, takkan mungkin tingkat kepandaian Tek Ciang akan dapat menandingi tingkat Suma-siocia.”

“Bukan maksudku untuk merendahkan, twako. Tetapi kenyataannya memang demikian, yaitu bahwa puteriku dalam ilmu silat jauh lebih pandai dari pada puteramu. Akan tetapi kulihat puteramu itu pun memiliki bakat yang baik sekali, maka andai kata engkau memperkenankan, kalau dia menjadi muridku dan menerima bimbinganku sehingga dia dapat menyamai tingkat Hui- ji, alangkah akan baiknya itu….”

Louw-kauwsu cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat. “Laksaan terima kasih saya kepada taihiap! Tentu saja saya setuju sepenuhnya dan agaknya sudah menjadi anugerah bagi anakku yang bodoh untuk memperoleh nasib sebaik ini. Heii! Tek Ciang….! Di mana engkau? Ke sinilah!”

“Jangan beri tahukan dia tentang perjodohan itu lebih dulu, twako,” kata Suma Kian Lee berbisik sebelum pemuda itu muncul dari belakang.

Melihat pendekar itu, Tek Ciang segera menjura dengan sikap hormat dan sopan.

“Ahhh, kiranya Suma-locianpwe yang hadir. Harap locianpwe dalam keadaan baik saja dan terimalah hormat saya,” katanya ramah.

“Terima kasih, Tek Ciang,” jawab Suma Kian Lee senang melihat sikap pemuda yang sopan itu. Seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah, sayang agak pendek, dan pakaiannya selalu rapi dan bagus.

“Tek Ciang, cepat engkau berlutut pada Suma-taihiap dan menyebut suhu. Dia hendak mengangkatmu sebagai muridnya!” kata Louw-kauwsu dengan girang.

Mendengar ucapan ayahnya ini, Louw Tek Ciang terkejut bukan main dan memandang kepada pendekar itu. Suma Kian Lee mengangguk dan tersenyum kepadanya. Tek Ciang adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Dia maklum bahwa kalau dia menjadi murid pendekar ini, selain kemungkinan besar untuk memperoleh ilmu yang hebat, juga namanya akan terangkat dan tak seorang pun di kota Thian-cin, bahkan sampai di kota raja yang akan berani menentangnya! Maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suma Kian Lee, memberi hormat sampai delapan kali dan menyebut “Suhu!” berkali- kali.

Kian Lee membangunkan pemuda itu dan berkata, “Tek Ciang, engkau adalah murid pertama dariku. Selama ini aku belum pernah menerima murid dan hanya mengajarkan ilmu-ilmuku kepada kedua orang anakku saja. Sekarang, melihat kebaikan ayahmu dan besarnya bakatmu, aku suka membimbingmu mempelajari ilmu silat.”

“Terima kasih, suhu. Segala petunjuk dan bimbingan suhu pasti akan teecu taati dan junjung tinggi.” “Sekarang keluarlah dulu dari ruangan ini karena aku hendak bicara urusan penting dengan ayahmu.”

Tek Ciang kembali menghaturkan terima kasih, kemudian pergi dari tempat itu dengan sikap patuh sekali. Setelah pemuda itu pergi dan dengan pendengarannya yang tajam Kian Lee merasa yakin bahwa pemuda itu sudah pergi jauh ke belakang rumah, dia pun berkata, “Louw-twako, biarlah sementara ini perjodohan antara puteramu dan anakku tidak diumumkan dulu, akan tetapi kita berdua telah menyetujui untuk menjodohkan mereka. Dan demi kebaikan mereka berdua, kurasa mereka berdua harus dipertemukan dan diperkenalkan. Maka, aku akan mengajak puteramu untuk tinggal di rumahku, dan selama aku dan isteriku pergi mencari putera kami, biarlah anakku yang memberi petunjuk-petunjuk dalam latihan dasar. Dengan demikian, ada dua keuntungan, yaitu pertama, anakku tidak akan bersendirian saja di rumah dan ke dua, mereka dapat saling berkenalan sebelum perjodohan diumumkan. Bagaimana pendapatmu, Louw-twako?”

Louw-kauwsu yang sudah kegirangan dan merasa amat beruntung itu tentu saja merasa setuju sekali dan berkali-kali dia mengangguk. Demikian girang hatinya sehingga guru silat ini tidak lagi mampu berkata- kata! Betapa tidak? Putera tunggalnya yang amat disayangnya itu selain akan dipungut mantu juga diangkat menjadi murid pertama dan tunggal oleh pendekar sakti Suma Kian Lee! Peristiwa itu tentu saja akan mengangkat namanya setinggi langit. Baru menjadi sahabat dekatnya pendekar itu saja dia sudah merasakan keuntungan besar di bidang nama, kedudukan dan pekerjaannya. Apalagi kalau puteranya menjadi murid, bahkan mantu Suma-taihiap!

“Jika begitu, sebaiknya kalau Tek Ciang hari ini juga berangkat ke rumahku, membawa bekal pakaian karena kami harus segera bersiap-siap. Dalam seminggu ini kami sudah akan berangkat pergi mencari puteraku, Louw-twako. Dan selama kami pergi dan putera twako menemani anakku di rumah, harap twako suka berbaik hati untuk kadang-kadang lewat di rumah kami melihat-lihat keadaan.”

“Jangan khawatir, taihiap. Mulai hari ini, rumah keluarga taihiap sama dengan rumah yang menjadi tanggung jawab saya sendiri. Pasti akan saya bantu jaga seperti rumah saya sendiri selama taihiap berdua bepergian.”

Setelah Suma Kian Lee pulang, Louw-kauwsu menyuruh puteranya segera berkemas. Dia memberi banyak nasehat kepada puteranya itu. “Tek Ciang, engkau memperoleh berkah yang jauh lebih berharga dari pada harta benda apa saja di dunia ini. Engkau diangkat menjadi murid putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Tahukah engkau apa artinya itu? Berarti bahwa kalau engkau belajar dengan baik-baik, kelak engkau akan menjadi seorang pendekar sakti yang hebat! Bahkan seluruh nasib hidupmu di kemudian hari tergantung pada saat-saat inilah. Suma-taihiap menghendaki supaya engkau berangkat ke rumahnya sekarang juga. Engkau akan diberi latihan dasar dan disuruh berlatih dengan petunjuk dari Suma-siocia, karena gurumu itu bersama isterinya akan melakukan perjalanan jauh dan meninggalkan engkau di sana bersama puteri mereka. Berhati-hatilah engkau di sana, jagalah rumah itu seperti rumahmu sendiri, bersikaplah sopan terhadap Suma-siocia dan semua pelayan di sana. Berusahalah agar semua orang menyukaimu, Tek Ciang. Dengan demikian, engkau tidak akan membikin malu aku sebagai ayahmu.”

Tek Ciang tersenyum. Ayahnya ini bersikap seperti memberi nasehat kepada seorang anak kecil saja! Tentu saja dia sudah tahu apa yang harus dibuatnya agar suhu-nya suka kepadanya. Dan tentu saja dia sudah mendengar akan Suma-siocia, dara remaja yang kabarnya selain lihai dan sakti, juga memiliki kecantikan yang amat menggairahkan! Ah, betapa beruntungnya dia! Berlatih diri di bawah petunjuk seorang dara remaja yang lihai dan cantik jelita!

Akan tetapi, pemuda yang cerdik ini pandai menyembunyikan perasaannya, dan dia pun mengangguk taat. “Baik, ayah. Aku akan mengingat semua nasehatmu.”

Ketika Tek Ciang tiba di rumah keluarga Suma, Kim Hwee Li dan juga Suma Hui sudah mendengar dari Suma Kian Lee tentang pemuda itu yang diangkat menjadi murid dan akan tinggal di rumah itu selama suami isteri itu pergi mencari Ciang Bun.

“Ayah,” Suma Hui membantah ketika ayahnya memberitahukan perihal pemuda yang belum dikenalnya itu. “Apakah ilmu keluarga kita akan diturunkan kepada orang luar?”

Ayahnya mengerutkan alis. “Hui-ji, di dalam keluarga kita tidak ada peraturan yang melarang bahwa kita tidak boleh memberikan ilmu-ilmu Pulau Es kepada orang luar. Ayah dari Louw Tek Ciang, yaitu Louw- kauwsu, adalah seorang sahabat baikku. Dia seorang yang bersih namanya dan aku melihat putera tungggalnya itu pun memiliki bakat yang amat baik, juga sikapnya baik. Karena itu aku mengangkatnya menjadi murid. Agar kelak dia dapat menerima ilmu-ilmu dariku secara sempurna, maka dia harus lebih dahulu berlatih sinkang dan semedhi yang bersih, maka dia akan tinggal di sini melatih dasar-dasar sinkang dari kita. Karena aku dan ibumu akan pergi mencari Ciang Bun, maka aku minta engkau mewakili aku dan kadang-kadang memberi petunjuk kepadanya kalau dia berlatih.”

Mendengar kata-kata ayahnya yang diucapkan dengan nada sungguh-sungguh, Suma Hui mengangguk. Ia belum memperoleh kepastian dari ibunya tentang sikap ayahnya terhadap urusannya dengan Cin Liong, maka dari itu ia berpendapat bahwa sebaiknya, sebelum urusan pribadinya itu dibikin terang, ia tidak membuat ayahnya marah. Bagai mana pun juga, hatinya seperti merasa tidak rela ayahnya mengangkat seorang murid.

Ketika Tek Ciang muncul dengan buntalan pakaiannya dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayah ibunya dan menyebut mereka suhu dan subo dengan sikap menghormat sekali, Suma Hui terkejut. Tak disangkanya bahwa murid yang diangkat oleh ayahnya itu ternyata adalah seorang pemuda dewasa yang lebih tua darinya! Seorang pemuda yang cukup ganteng dan gagah, dan sikapnya amat sopan.

Pemuda itu sedikit pun tidak pernah melirik kepadanya dan hanya menunduk ketika memberi hormat kepada suami isteri pendekar itu.

“Bangkitlah, Tek Ciang. Perkenalkan, ini adalah puteri kami yang bernama Suma Hui,” kata Kim Hwee Li yang sudah diberi tahu oleh suaminya tentang ‘siasat’ suaminya untuk mendekatkan kedua orang muda itu. Hwee Li menyuruh pemuda itu bangkit untuk dapat melihat lebih jelas wajah dan perawakan pemuda yang oleh suaminya telah dipilih untuk menjadi calon mantunya ini.

“Terima kasih, subo,” berkata Tek Ciang sambil memandang kepada suhu-nya dengan ragu-ragu, seolah- olah dia tidak berani bangkit sebelum menerima perintah suhu-nya.

Melihat ini, diam-diam Suma Kian Lee menjadi girang. Bocah ini sungguh amat taat dan bijaksana, berhati- hati dalam sikap agar tidak menyinggung hati gurunya, menandakan bahwa dia amat teliti dalam melakukan tindakan dan menentukan sikap!

“Bangkit dan duduklah, Tek Ciang,” katanya halus.

Baru pemuda itu bangkit dan menjura kepada suhu dan subo-nya. “Terima kasih, subo.”

Kemudian dia baru menoleh kepada Suma Hui, akan tetapi hanya sekelebatan saja dia berani menatap wajah itu, wajah yang membuat jantungnya berdebar kencang walau pun baru melihat sekelebatan saja, kemudian dia pun cepat menjura kepada dara itu.

“Suma-siocia (nona Suma), saya Louw Tek Ciang yang bodoh menghaturkan hormat kepada siocia.”

Sepasang alis Kim Hwee Li berkerut sebentar. Pemuda ini terlalu sopan, pikirnya, begitu amat sopan sehingga berkelebihan dan cenderung kepada sikap bermuka-muka dan menjilat. Tentu saja dia segera menekan perasaannya karena dugaan itu pun masih membuat dia ragu.

Sebaliknya, Suma Hui merasa canggung juga diperlakukan dengan sikap yang demikian merendah dan menghormatnya. Ia cepat membalas penghormatan itu.

“Terima kasih, Louw-kongcu (tuan muda Louw),” katanya.

“Hemm, buang saja cara panggilan yang sungkan-sungkan itu!” Suma Kian Lee berkata sambil tersenyum. “Hui-ji, dia adalah murid ayahmu dan biar pun dia murid baru, akan tetapi dia lebih tua darimu dan juga engkau puteriku, bukan muridku. Maka, biar pun sebagai murid tingkatmu lebih tinggi, namun sepatutnya engkau menyebutnya suheng. Dan engkau Tek Ciang, engkau harus menyebut sumoi kepada Hui-ji.”

Kembali Louw Tek Ciang menjura kepada Suma Hui dan tetap saja dia tidak berani mengangkat muka memandang langsung, dan suaranya halus sopan merendah ketika dia berkata, “Maafkan saya, sumoi (adik perempuan seperguruan), saya hanya mentaati perintah suhu, walau pun sesungguhnya saya tidak berani lancang.”

Bagaimana pun juga, sikap pemuda ini menyenangkan hati Suma Hui. Pemuda ini jelas tidak kurang ajar, dan matanya juga tidak jelalatan ketika memandang kepadanya, tidak seperti mata laki-laki lain yang kalau memandang kepadanya seperti mata seekor singa kelaparan. Maka ia pun menjura dan berkata manis, “Tidak mengapa Louw-suheng, kurasa ayah benar sekali dan panggilan ini terasa lebih mudah, bukan?”

“Tek Ciang, dalam beberapa hari ini aku dan subo-mu akan pergi merantau untuk beberapa lamanya. Karena itu, sebelum aku pergi, aku akan menurunkan beberapa latihan dasar untuk mempelajari sinkang dan semedhi. Harus kau perhatikan baik-baik karena dasar latihan sinkang ini adalah pokok dari pada ilmu- ilmu yang akan kuturunkan kepadamu. Kalau latihan dasar keliru, maka kelak dalam mempelajari ilmu-ilmu dariku engkau pun tak akan dapat menguasainya dengan sempurna. Karena itu, engkau harus selalu tekun berlatih dan teliti, jangan sampai keliru. Di sini ada sumoi-mu yang akan dapat memberi petunjuk sewaktu- waktu kalau engkau merasa ragu-ragu.”

“Baik, suhu. Sumoi, saya mengharapkan petunjuk-petunjuk dari sumoi, dan untuk itu sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih kepadamu.”

“Aku bersedia membantumu, suheng. Harap jangan sungkan bertanya,” jawab Suma Hui yang mulai merasa suka kepada pemuda yang sopan dan halus budi ini.

Hanya Kim Hwee Li yang sejak tadi tidak berkata apa-apa, karena nyonya ini masih merasa tidak puas melihat sikap pemuda itu yang dianggapnya tidak wajar dan terlalu sopan, seperti dibuat-buat. Ia hanya mengharapkan bahwa sikap itu adalah sikap yang sewajarnya dan bahwa pemuda itu memang seorang yang sopan dan halus budi, bukannya dibuat-buat karena di baliknya terkandung suatu pamrih tertentu.

“Sekarang pergilah ke kamarmu dan simpan pakaianmu, lalu kita pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) untuk mulai dengan teori-teori dasar latihan sinkang,” kata pula Suma Kian Lee. “Hui-ji, suruh pelayan datang mengantar suheng-mu ke kamarnya yang sudah disediakan untuknya itu.”

“Baik, ayah.” Melihat sikap ayahnya yang gembira, hati Suma Hui juga menjadi gembira. Ayahnya tidak kelihatan marah, padahal ibunya tentu sudah menyampaikan kepada ayahnya itu perihal urusannya dengan Cin Liong dan ini berarti bahwa ayahnya itu tidak menjadi marah atau menentang. Hal itu pun mendatangkan kegembiraan dalam hati Suma Hui dan ia melakukan perintah ayahnya dengan hati senang pula.

Demikianlah, dalam beberapa hari itu Suma Kian Lee memberi dasar latihan sinkang dengan sungguh- sungguh kepada Tek Ciang. Biar pun pemuda ini pernah mempelajari semedhi dan latihan sinkang dari ayahnya, akan tetapi dasar latihan yang diberikan oleh suhu-nya itu amat berbeda, juga amat sukar sehingga dia harus bersungguh-sungguh kalau dia ingin mengerti benar-benar.

Memang pemuda ini cerdik dan berbakat sekali sehingga walau pun latihan itu tidak mudah dan membutuhkan perhatian dan pengerahan semua kemauan dan kejujuran hati, akhirnya dia dapat juga mengerti. Selagi ayahnya memberi petunjuk, Suma Hui juga hadir dan gadis ini diam-diam harus memuji ketekunan murid ayahnya ini dan ia pun yakin bahwa seorang murid seperti Tek Ciang ini pasti kelak akan menjadi seorang ahli silat keluarga Pulau Es yang baik dan belum tentu akan kalah tinggi tingkatannya dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Seminggu kemudian, suami isteri itu berangkat meninggalkan rumah mereka, memulai dengan perjalanan mereka yang tanpa tujuan tempat tertentu, seperti orang meraba-raba di dalam kegelapan. Bagaimana pun juga, sungguh amat sukar mencari seorang anak yang hilang di tengah lautan yang demikian luasnya. Setelah memberi pesanan banyak nasehat kepada puterinya dan muridnya, Suma Kian Lee dan isterinya pun berangkatlah dengan menunggang dua ekor kuda.

Louw-kauwsu sering kali lewat di depan rumah keluarga Suma dan karena kakek ini ingin sekali agar puteranya jangan sampai ‘gagal’ menjadi mantu pendekar sakti Suma Kian Lee, maka berlawanan dengan kekerasaan hatinya sendiri dia pun diam-diam membisikkan urusan pertalian jodoh itu kepada puteranya!

“Tek Ciang, engkau harus pandai-pandai membawa diri. Ketahuilah, engkau bukan saja telah diangkat menjadi murid oleh Suma-taihiap, akan tetapi juga bahkan telah diangkat menjadi calon mantu, berjodoh dengan Suma-siocia. Akan tetapi hal ini masih belum diresmikan, maka engkau pun pura-pura tak tahu sajalah. Aku menceritakan padamu agar engkau pandai-pandai membawa diri.” Demikianlah bisikannya dan mendengar ini tentu saja Tek Ciang menjadi semakin girang.

Dan pemuda ini memang terlalu amat cerdik untuk dapat terpeleset oleh tindakan yang kurang hati-hati maka dia selalu bersikap penuh hormat dan sopan terhadap Suma Hui sehingga tiada alasan sedikit pun juga bagi dara ini untuk merasa tidak suka kepada suheng-nya ini. Maka dengan sungguh-sungguh Suma Hui juga memberi petunjuk-petunjuk kepada suheng-nya ini sehingga Tek Ciang dapat melatih dasar sinkang itu dengan baik…..

********************

“Hyaaaaatttt, ahh…! Hyaaaaatttt, ahh…!”

Lengkingan ini terdengar berkali-kali, menggema di sekeliling tempat yang amat sunyi itu, dari bagian belakang sebuah pondok yang berdiri terpencil di bukit rimbun itu. Itulah bukit Pegunungan Ci-lian-san yang terdapat di perbatasan Sin-kiang dengan Cing-hai.

Sebuah pondok kayu yang nampak masih baru di antara puing-puing banyak bangunan yang pernah kebakaran. Dan pondok ini memang baru saja dibangun oleh Hek-i Mo-ong yang dibantu oleh muridnya yang baru, yaitu Suma Ceng Liong!

Puing-puing itu adalah bekas sarang Hek-i-mo-pang, yaitu Perkumpulan Iblis Baju Hitam yang pernah dipimpinnya akan tetapi yang dihancurkan oleh tiga orang pendekar pada waktu itu, ialah Bu Ci Sian, Kam Hong, dan Sim Hong Bu, bahkan kemudian bekas sarang itu dibakar oleh rakyat yang tinggal di bawah gunung. (baca kisahSuling Emas dan Naga Siluman)

Karena tempat itu sunyi dan indah, Hek-i Mo-ong mengajak muridnya tinggal di situ, membangun sebuah pondok kayu yang cukup kuat biar pun sederhana dan mulailah dia melatih ilmu-ilmu yang dahsyat kepada muridnya yang baru berusia sepuluh tahun lebih itu.

Lengkingan nyaring berulang-ulang yang terdengar dari belakang pondok itu adalah lengking suara Ceng Liong! Dan kalau ada orang yang berani melongok ke dalam tanah daratan di belakang pondok itu, tentu dia akan bergidik. Akan tetapi siapa yang berani mengunjungi tempat itu?

Sebelum Hek-i Mo-ong pulang ke situ pun tiada orang yang berani mendekat. Rakyat yang membakar sarang itu hanya melampiaskan dendam mereka terhadap gerombolan yang sudah banyak mengganggu mereka itu. Akan tetapi setelah membakar, mereka pun cepat-cepat pergi, tak berani berlama-lama di situ apalagi saat mereka mendengar berita bahwa Hek-i Mo-ong sendiri tidak nampak mayatnya di antara anak buahnya, berarti bahwa iblis itu masih belum mati. Maka yang tinggal di tempat mengerikan itu hanyalah puing bersama tulang-tulang dan tengkorak anak buah Hek-i-mo-pang yang berserakan di tempat yang kini menjadi tanah datar, di belakang pondok batu itu.

Apakah yang sedang dilakukan oleh guru dan murid di belakang pondok itu? Mereka sedang berlatih dengan cara yang aneh dan mengerikan. Hek-i Mo-ong sendiri nampak sedang bersemedhi dengan cara yang aneh, yaitu dengan jungkir balik. Semedhi jungkir balik ini memang tidak mengherankan dan sudah banyak dilakukan orang, yaitu dengan kepala di atas tanah, kedua kaki lurus ke atas, kedua tangan menopang kepala.

Semedhi seperti ini amat baik untuk melancarkan jalan darah, untuk memperbanyak dan memperlancar jalannya darah ke dalam kepala untuk memulihkan kembali ketidak seimbangan antara hawa Im dan Yang di dalam tubuh. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Hek-i Mo-ong itu lain dari pada yang lain.

Kepalanya memang di bawah dan kedua kakinya tegak lurus ke atas, tetapi kepalanya tidak berada di atas tanah, melainkan di atas sebuah tengkorak! Dan kedua lengannya bersedakap di depan dadanya, dan dia pun tidak berjungkir balik dengan diam saja, melainkan tubuhnya yang berjungkir balik itu berloncatan!

Kepalanya itu meloncat dan hinggap di atas sebuah tengkorak lainnya dan demikian seterusnya, berpindahan dari tengkorak yang satu ke tengkorak yang lain.

Semuanya terdapat sembilan buah tengkorak yang diletakkan di atas tanah dengan membentuk garis bintang Sim-seng (Bintang Hati) yang terdiri dari tiga titik dengan tiga buah tengkorak dan bintang Jui-seng (Bintang Mulut) yang terdiri dari enam buah tengkorak. Dia berpindah-pindah dengan berloncatan seperti itu, dan terdengar suara dak-duk-dak-duk saat kepalanya bertemu dengan sebuah tengkorak berikutnya, seperti seorang anak kecil bermain loncat-loncatan.

Tak jauh dari situ, Ceng Liong juga berlatih dengan ilmu pukulan yang diajarkan gurunya. Setiap kali berteriak “hyaaaaaatt!” dia berlari menyerbu ke arah sepotong tulang, baik itu tulang kaki atau tengkorak atau tulang-tulang lainnya, dan begitu tiba dia berteriak “ahh!” dan tangannya dengan jari-jari terbuka, agak melengkung seperti cakar, mencengkeram ke arah tulang-tulang itu. Dan tulang-tulang itu pun berlubang! Nampak lubang-lubang kecil bekas cengkeraman jari-jari tangannya!

Itulah Ilmu Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang) yang sangat keji karena selain jari-jari tangan itu dilatih untuk dapat menembus tulang, juga serangan jari itu membawa hawa beracun yang lama-lama terkumpul dari hawa dalam tengkorak-tengkorak dan tulang-tulang mayat itu ketika berlatih! Meski masih kecil, Ceng Liong adalah putera Pendekar Siluman Kecil dan cucu Pendekar Super Sakti, sejak kecil sudah digembleng dengan hebat dan lebih dari itu, dia telah menerima warisan sumber tenaga sakti dari mendiang kakeknya. Oleh karena itu, kini mudah saja bagi Hek-i Mo-ong untuk menggerakkan sumber tenaga sakti itu dan mempergunakannya untuk mempelajari ilmu-ilmu sesat darinya. Tentu saja Ceng Liong belum tahu apa artinya ilmu bersih dan ilmu kotor, hanya merasa suka kalau diberi pelajaran ilmu- ilmu baru yang aneh dan dahsyat.

Agaknya kakek iblis itu telah merasa cukup berlatih dengan loncatan-loncatan itu, maka tiba-tiba tubuhnya meloncat agak tinggi dan membuat poksai (salto), terus turun dan kini dia berdiri dengan biasa sambil tersenyum memandang kepada muridnya yang berlatih itu. Kakek itu nampak mengerikan sekali. Tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa itu nampak kuat dan kokoh. Pakaian sampai ke sepatunya serba hitam hingga rambutnya yang putih nampak menyolok.

“Cukup, Ceng Liong. Sekarang engkau harus membantuku melakukan latihan yang amat penting.” Berkata demikian, kakek ini lalu mengumpulkan tengkorak-tengkorak di tempat itu dan mulai menumpuki tengkorak- tengkorak itu dengan cara-cara tertentu, bersusun teratur dengan tengkorak-tengkorak itu seperti saling mengisap tengkuk tengkorak di atasnya dan semua terlentang. Paling bawah diatur sepuluh buah, lalu di atasnya sembilan buah, terus delapan buah, dan seterusnya setiap tingkat berkurang satu sampai paling atas hanya sebuah tengkorak saja.

“Latihan bagaimana, Mo-ong ?” Ceng Liong bertanya.

Memang anak ini tidak menyebut suhu kepada gurunya, melainkan menyebut Mo-ong (Raja Iblis) begitu saja karena dia memang sudah berjanji bahwa dia mau menjadi murid akan tetapi tidak mau menyebut suhu dan tidak mau mempelajari kejahatan. Dan bagi seorang datuk kaum sesat yang berwatak aneh seperti Hek-i Mo-ong, sebutan Mo-ong sebaliknya dari pada suhu ini justru menggembirakan hatinya. Makin aneh keadaannya, makin sukalah datuk ini, dan dia akan berbangga kalau orang-orang lain mendengar bahwa muridnya menyebutnya Mo-ong begitu saja, tanda keanehan mereka yang lain dari pada orang lain!

“Aku hendak berlatih Ilmu Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun) bagian yang paling akhir. Selama aku berlatih, keadaan diriku kosong dan sama sekali tidak berdaya andai kata ada musuh datang menyerang. Dengan pukulan sederhana saja aku bisa mati! Oleh karena itu, engkau harus berjaga-jaga dan engkau lindungi aku selama aku berlatih. Ingat, selama hawa api itu masih di luar badan dan belum kutarik kembali, berarti aku masih tak berdaya dan engkau harus melindungiku dari serangan lain dari luar.”

Translator / Creator: doroboneko88