October 1, 2017

Kisah Para Pendekar Pulau Es Part 5

 

Di dalam kisah Suling Emas dan Naga Siluman telah diceritakan bahwa sepasang suami isteri pendekar ini, setelah menikah belasan tahun lamanya, baru mendapatkan seorang keturunan. Putera mereka itu mereka namakan Ceng Liong, karena mereka berhasil memperoleh keturunan setelah menggunakan obat mustika ular hijau.

Dan seperti kita ketahui, Ceng Liong diantarkan oleh orang tuanya ke Pulau Es untuk memperdalam ilmu silatnya di bawah bimbingan langsung dari Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya. Juga untuk menemani kakek dan kedua orang nenek mereka yang sudah tua itu.

Pada siang hari itu, Suma Kian Bu dan Teng Siang In baru pulang dari ladang. Pakaian mereka masih basah oleh keringat dan ujung celana mereka masih berlepotan lumpur. Mereka berdua duduk di serambi depan menikmati air teh hangat yang dihidangkan oleh seorang pelayan mereka.

Sejenak mereka duduk minum teh tanpa berkata-kata. Terasa sunyi sekali oleh mereka semenjak putera tunggal mereka meninggalkan mereka. Sudah enam bulan lamanya Ceng Liong meninggalkan tempat itu. Kadang-kadang Teng Siang In duduk termenung penuh kerinduan kepada puteranya. Bahkan kadang- kadang, kalau sedang seorang diri, dia suka menumpahkan rasa rindunya melalui deraian air mata. Tentu saja Suma Kian Bu tahu akan hal ini. Sudah kurang lebih seperempat abad lamanya dia menjadi suami Teng Siang In, maka tentu saja dia dapat mengikuti setiap perubahan air muka isterinya itu.

Ketika mereka berdua duduk minum teh pada siang hari itu, dia pun sudah maklum bahwa kembali isterinya telah kumat rindunya. Di ladang tadi pun isterinya sudah diam saja, kehilangan kegembiraannya. Padahal isterinya adalah seorang wanita yang lincah dan biasa bergembira.

“In-moi, kenapa kau diam saja sejak tadi?” tanya sang suami yang bahkan sampai hampir tua pun masih terus menyebut In-moi (dinda In) kepada isterinya, sebutan yang mesra dan penuh kasih.

Teng Siang In menunduk lalu menarik napas panjang untuk menahan air mata yang sudah membikin panas kedua matanya, lalu menjawab, “Suamiku, apakah engkau tidak merasakan kesepian yang mencekam hati ini?”

Jawaban itu sudah cukup bagi Suma Kian Bu. Dia lalu mengangguk-angguk. “Kesepian semenjak anak kita pergi? Aku pun merasakan hal itu, isteriku dan diam-diam aku pun merasakan penderitaan batin yang amat tidak enak ini.”

Pendekar ini maklum akan isi hati isterinya. Bagi dia sendiri, sesungguhnya dia tidaklah begitu menderita dan ucapannya tadi hanya untuk menghibur keresahan hati isterinya. Pendekar ini yang memiliki kebijaksanaan seperti ayahnya, sudah mengerti bahwa semua bentuk kesenangan mendatangkan ikatan, dan semua bentuk pengikatan ini mendatangkan kesengsaraan.

Kalau kita sayang akan sesuatu itu, baik sesuatu itu merupakan benda, manusia, atau pun hanya nama, maka timbullah pengikatan di dalam batin. Kita tidak ingin kehilangan sesuatu yang menyenangkan itu dan kita akan menjaganya kuat-kuat untuk melawan kemungkinan kehilangan itu. Kalau perlu kita siap mempergunakan kekerasan untuk mempertahankan sesuatu itu.

Akan tetapi, memiliki tidaklah berdiri sendiri. Memiliki sudah pasti disambung dengan kehilangan. Karena itulah muncul usaha keras untuk menjaga atau mempertahankan agar tidak sampai kehilangan dan di sini menjadi sumber pula dari pada rasa takut. Takut akan kehilangan sesuatu yang disayangnya, sesuatu yang menyenangkan. Oleh karena itu, seorang bijaksana tidak mau terikat oleh apa pun juga, selalu berada dalam keadaan bebas. Cinta kasih sejati tidaklah mengikat atau diikat. Hanya kesenangan dan nafsu sajalah yang mengikat.

Teng Siang In juga bukan seorang wanita lemah yang cengeng. Agaknya ia merasakan bahwa sikapnya itu tidak semestinya, maka ia pun menarik napas panjang. “Suamiku, aku tahu bahwa sikapku ini bodoh. Ceng Liong berada di Pulau Es, di dalam tangan yang kokoh kuat, dekat dengan orang tua bijaksana yang

mencintanya sehingga tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan keadaannya. Akan tetapi hati ini, hati seorang ibu ini…. maafkanlah kelemahanku.”

Suma Kian Bu memegang lengan isterinya dan tersenyum menghibur. “Aku maklum, isteriku, dan aku tidak menyalahkanmu. Karena kita pun tidak terikat oleh apa-apa di tempat ini, marilah kita berdua pergi ke Pulau Es untuk menengok Ceng Liong sekalian berpesiar.”

Hampir saja Teng Siang In terlonjak kegirangan mendengar usul dari suaminya ini. Dia meloncat bangun, merangkul suaminya dan mencium pipinya. “Terima kasih….! Ahhh, betapa girang hatiku! Engkau memang seorang suami yang baik sekali!”

“Siapa bilang aku suami buruk?” Pendekar itu tertawa, rasa gembira di dalam hatinya melihat kegirangan isterinya itu agaknya jauh lebih mendalam dari pada kegembiraan isterinya.

“Kapan kita berangkat? Kapan?”

“Kapan saja. Kalau kau kehendaki, sekarang pun boleh.”

“Sekarang? Ahhh, agaknya aku sudah tidak bisa menunda lebih lama lagi. Mari kita berkemas, suamiku!” Dan tanpa menjawab wanita itu berlari-lari seperti seorang anak kecil yang kegirangan ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka bawa melakukan perjalanan jauh itu.

Pada waktu suami isteri itu sedang mengemasi pakaian dan bekal yang akan mereka bawa pergi ke Pulau Es, tiba-tiba pelayan mereka memberi tahu bahwa di luar ada dua orang tamu yang ingin bertemu dengan mereka.

“Siapa mereka dan ada keperluan apa?” Teng Siang In bertanya sambil mengerutkan alisnya karena dalam keadaan seperti itu ia tidak ingin diganggu.

Pelayan yang sudah membantu mereka semenjak lahirnya Ceng Liong itu menjawab dengan wajah berseri. “Yang seorang adalah nona Suma Hui dan yang seorang lagi saya tidak kenal, dia seorang pemuda.”

“Suma Hui….?” Suami isteri itu saling pandang dengan wajah kaget, heran dan juga gembira.

Suma Hui juga pergi ke Pulau Es bersama dengan Ciang Bun dan juga Ceng Liong. Maka, seperti menerima aba-aba saja, keduanya lalu meninggalkan kamar itu sambil berlari dan meninggalkan pelayan wanita setengah tua itu yang menggelengkan kepala sambil tersenyum, tak merasa terlalu heran menyaksikan sikap kedua orang majikannya yang memang aneh itu.

Ketika sepasang suami isteri itu tiba di ruangan depan di mana Suma Hui dan Cin Liong dipersilakan duduk, Suma Hui cepat bangkit berdiri dan segera menubruk Teng Siang In sambil menangis.

“Bibi…. paman…. ah, sungguh celaka….!” Dan gadis ini sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Siang In yang hanya dapat saling pandang dengan suaminya, terkejut dan juga gelisah.

“Hui-ji (anak Hui)…. ada apakah? Apa yang telah terjadi, nak?” Teng Siang In bertanya sambil mengguncang-guncang pundak gadis itu.

Yang ditanya semakin terisak dan mengguguk. “Bibi…. sungguh celaka, mala petaka telah menimpa kita….” Dan tangisnya membuat ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Melihat ini, Suma Kian Bu mengerutkan alisnya. “Suma Hui….!” Suaranya membentak penuh wibawa sehingga sangat mengejutkan hati Cin Liong. “Sudah patutkah sikapmu itu?” Suara ini penuh teguran karena Suma Kian Bu merasa tidak puas melihat sikap keponakannya sebagai seorang cucu majikan Pulau Es yang telah memperlihatkan kelemahan yang seperti itu.

Akan tetapi, Suma Hui yang telah digulung oleh perasaan duka, tetap tidak mampu mengeluarkan suara dan masih terus sesenggukan.

“Suma Hui….!” Suara Suma Kian Bu makin penasaran.

Melihat Suma Hui dibentak dan gadis itu semakin berduka, Cin Liong merasa kasihan dan dia pun menjura sambil berkata, “Sesungguhnya begini….”

“Siapa engkau?” Suma Kian Bu memotong ucapan Cin Liong dan memandang tajam wajah yang tampan dan gagah itu, diam-diam dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan. “Dan bagaimana engkau dapat datang bersama Suma Hui?” Tentu saja dia merasa tidak senang melihat keponakannya itu, seorang gadis dewasa, muncul bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

Kini Suma Hui yang seperti bangkit dari tangisnya dan menjawab cepat, “Paman, dia adalah keponakanku sendiri….”

“Keponakanmu….?” Teng Siang In memotong, terbelalak, tentu saja terheran dan tidak dapat percaya bahwa Suma Hui bisa mempunyai seorang keponakan yang menurut taksirannya tentu jauh lebih tua dari pada gadis itu.

“….namanya Kao Cin Liong,” sambung Suma Hui.

“Ahhh….! Jenderal muda putera Ceng Ceng itu?” Suma Kian Bu berseru, wajahnya berseri. “Jadi engkaukah putera Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir?”

Cin Liong kembali memberi hormat kepada pendekar yang masih terhitung paman kakeknya ini! “Harap maafkan kelancangan saya. Sebetulnya saya baru pulang dari Pulau Es dan mengalami segala peristiwa yang terjadi di sana, sampai dapat datang ke sini bersama dengan bibi Hui….”

“Mari kita duduk di dalam dan bicara.”

Suma Kian Bu mengajak Cin Liong dan Teng Siang In juga menggandeng Suma Hui yang masih menangis itu. Mereka berempat lalu duduk di ruangan dalam dan kini Suma Hui sudah mulai dapat menguasai hatinya yang berduka.

“Nah, sekarang ceritakanlah semuanya,” kata Suma Kian Bu.

Bersama isterinya dia menanti untuk mendengarkan penuturan itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Cin Liong memandang kepada Suma Hui seolah hendak bertanya apakah dia yang akan bercerita. Suma Hui yang juga melirik kepadanya menggeleng kepala sedikit lalu ialah yang mulai bercerita.

Setelah menarik napas panjang, mengerahkan tenaga batin untuk menekan perasaan duka yang mencekik, ia lalu memandang kepada paman dan bibinya sejenak, kemudian dengan suara lirih namun jelas, seolah-olah mengatur agar kedua orang tua itu tidak sampai terkejut, ia pun berkata, “Paman dan bibi, harap jangan terkejut. Pulau Es telah tertimpa bencana hebat, diserbu oleh puluhan orang penjahat yang dipimpin oleh lima orang datuk kaum sesat.”

“Nanti dulu, katakan siapa lima orang datuk itu?” Suma Kian Bu memotong.

“Menurut penyelidikan kami terutama Cin Liong, kami ketahui bahwa mereka itu adalah Hek-i Mo-ong, Ngo- bwe Sai-kong, Eng-jiauw Siauw-ong, Jai-hwa Siauw-ok dan wanita yang berjuluk Ulat Seribu….”

Suma Kian Bu mengangguk-angguk dan mengerutkan alis. Nama-nama besar di dunia hitam, terutama sekali Hek-i Mo-ong.

“Lanjutkan ceritamu.”

“Mula-mula kami bertiga, saya, adik Ciang Bun dan adik Ceng Liong, sedang berlatih silat ketika muncul Ngo-bwe Sai-kong dan anak buahnya hendak membunuh kami bertiga. Nenek Lulu datang dan menghajar mereka. Nenek Lulu dikeroyok dan berhasil memukul mundur musuh, bahkan berhasil menewaskan Ngo- bwe Sai-kong yang lihai. Akan tetapi nenek Lulu…. ia sendiri terluka parah dan setelah dapat masuk ke dalam istana, ia…. ia meninggal dunia karena luka-lukanya….”

“Aihhh….!”

Teng Siang In menahan jeritnya dan mukanya menjadi pucat, lalu berubah merah sekali karena marah. Sementara itu, Suma Kian Bu memejamkan matanya. Wajahnya tidak menunjukkan sesuatu, hanya nampak dia menarik napas panjang.

“Lanjutkan…. lanjutkan….,” katanya tanpa membuka matanya.

“Sisa para penyerbu itu lalu dihajar oleh nenek Nirahai sehingga mereka lari cerai-berai meninggalkan pulau. Malamnya kami tiga orang anak melakukan penjagaan dan muncul Cin Liong dalam keadaan luka- luka pula. Dia mendarat di Pulau Es dan hampir saja terjadi salah paham karena pada waktu itu kami bertiga tidak mengenal bahwa dia adalah keponakan kami.”

Suma Kian Bu mengangkat tangan dan membuka matanya, memandang kepada Cin Liong. “Hentikan dulu ceritamu, Hui-ji, dan kau ceritakanlah bagaimana engkau dapat sampai ke Pulau Es dalam keadaan luka- luka, Cin Liong.”

Cin Liong lalu menceritakan pengalamannya secara singkat namun jelas sekali. Dia menceritakan betapa dia bertugas menyelidiki keadaan dan betapa dia mengikuti rombongan penjahat yang hendak menyerbu Pulau Es, dan betapa di tengah pelayaran dia ketahuan dan hampir saja tewas ketika dia terlempar ke dalam lautan, namun akhirnya dia berhasil juga mendarat di Pulau Es walau pun sedikit terlambat, yaitu rombongan pertama dari kaum sesat telah menyerang ke pulau yang mengakibatkan tewasnya nenek Lulu.

“Demikianlah, saya lalu dibawa menghadap kakek buyut Suma Han dan bersama dengan keluarga Pulau Es saya lalu ikut melakukan penjagaan.” Cin Liong mengakhiri ceritanya.

“Dialah yang banyak berjasa, paman. Kalau tidak ada dia, mungkin keadaan kami akan menjadi lebih parah lagi. Seperti yang telah diduga oleh nenek Nirahai, gerombolan penjahat itu datang lagi menyerbu, dipimpin oleh Hek-i Mo-ong dan tiga orang datuk lainnya. Kekuatan mereka berpuluh orang dan kami semua, kecuali kakek Suma Han yang tetap duduk bersila di dekat peti mati nenek Lulu, kami semua dipimpin oleh nenek Nirahai lalu mengadakan perlawanan mati-matian. Akan tetapi, pihak musuh terlampau banyak. Walau pun kami sudah merobohkan banyak orang, tetap saja kami kalah kuat. Nenek Nirahai telah berhasil menewaskan Si Ulat Seribu, dan Cin Liong berhasil pula membunuh Eng-jiauw Siauw-ong yang lihai. Kemudian…. sesuai dengan perintah nenek Nirahai, Cin Liong membawa kami bertiga bersembunyi karena keadaan gawat….”

Suma Kian Bu dapat mengerti akan siasat ibu kandungnya. “Hemm, tentu disuruh bersembunyi di ruangan bawah tanah, bukan?”

“Benar, paman. Aku sungguh tidak setuju sama sekali dan ingin aku mengamuk terus. Akan tetapi, Cin Liong mentaati perintah nenek Nirahai dan aku ditotoknya. Memang, kalau tidak disembunyikan, kami bertiga dan Cin Liong tentu telah tewas semua, akan tetapi sedikitnya dapat menambah jumlah kematian pihak musuh.”

“Lanjutkan, lanjutkan….!”

“Setelah kami keluar dari tempat persembunyian, ternyata musuh sudah pergi semua, bahkan mereka membawa pergi teman-teman yang tewas dan luka. Akan tetapi…. akan tetapi…. kami melihat nenek Nirahai telah tewas pula di samping peti mati nenek Lulu….” Sampai di sini Suma Hui tak dapat menahan tangisnya dan kembali ia terisak-isak lalu sesenggukan.

Teng Siang In menggigit bibirnya. Wanita ini tidak menangis, artinya tidak mengeluarkan suara menangis walau pun air matanya bercucuran membasahi kedua pipinya. Juga Suma Kian Bu hanya termenung dengan muka tidak menunjukkan sesuatu. Semua ini terlihat oleh Cin Liong dan pemuda ini teringat akan kegagahan Ceng Liong dan menjadi kagum.

Melihat keadaan keponakannya itu, Suma Kian Bu menarik napas panjang. Dia tidak dapat menyalahkan keponakannya itu. Sebagai seorang gadis, Suma Hui cukup gagah dan pengalaman yang amat menyedihkan itu tentu saja mengguncang perasaan gadis itu.

“Cin Liong, sekarang engkaulah yang melanjutkan ceritanya,” katanya kepada pemuda itu.

Cin Liong memandang kepada Suma Hui yang masih sesenggukan dengan sinar mata penuh kasih sayang dan rasa iba, dan hal ini sama sekali tidak lewat begitu saja dari pengamatan Suma Kian Bu, akan tetapi pendekar ini diam saja.

“Ketika kami memasuki ruangan, kami melihat nenek buyut Nirahai telah tewas di dekat peti mati nenek buyut Lulu, sedangkan kakek buyut masih duduk bersila di tempat semula. Biar pun kami tidak melihat dan tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi melihat betapa semua musuh telah pergi dan kakek buyut masih duduk bersila, maka besar sekali kemungkinannya kakek buyut telah berhasil mengusir mereka, entah dengan cara bagaimana. Kami semua melakukan penjagaan dan kemudian baru kami tahu, biar pun ada suara kakek buyut yang memesan agar jenazah mereka kami bakar di kamar sembahyang, dan agar kami semua cepat meninggalkan pulau senja hari itu juga dan kami diharuskan kembali ke rumah masing- masing, baru kami tahu bahwa sesungguhnya kakek buyut Suma Han juga telah meninggal dunia….”

“Ayahhh….!” Seruan ini pendek saja namun menggetarkan seluruh rumah itu dan Cin Liong merasa terkejut sekali.

“Ayaaahh…. ohhh, ayaahhh….!” Teng Siang In menubruk suaminya, menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Keduanya menangis tanpa suara!

Cin Liong menatap wajah Pendekar Siluman Kecil itu dan hatinya tergetar. Wajah yang gagah itu nampak menakutkan sekali. Dengan memberanikan diri dia pun berkata lirih, “Mendiang kakek buyut meninggalkan pesan bahwa kematian adalah wajar, tidak perlu diributkan atau disusahkan….”

Terdengar helaan napas panjang dan pendekar itu seperti baru sadar dari mimpi buruk. Dia memandang kepada Cin Liong dan berkata lirih, “Terima kasih, Cin Liong. Begitulah hendaknya. Isteriku, lekas keringkan air matamu yang tiada gunanya itu dan mari kita mendengarkan penuturan mereka ini lebih lanjut.”

Kini Suma Hui yang sudah dapat menguasai hatinya melanjutkan cerita itu. “Paman dan bibi, setelah kami melakukan perintah terakhir dari kakek, kami berempat meninggalkan pulau dengan perahu dan dari jauh kami melihat betapa istana itu terbakar, kemudian…. sungguh mengejutkan dan mengherankan sekali…. kebakaran itu menjalar terus dan dalam waktu semalam itu, seluruh pulau terbakar habis!”

“Hemmm….!” Suma Kian Bu mengangguk-angguk, kembali dia maklum akan maksud ayahnya yang hendak melepaskan semua ikatan dengan dunia.

“Dan pada keesokan harinya, pulau itu sudah lenyap! Pulau Es telah tenggelam!” gadis itu melanjutkan ceritanya.

Kembali Suma Kian Bu mengangguk-angguk. Memang Pulau Es adalah sebuah pulau yang aneh, maka peristiwa itu pun tidaklah luar biasa.

“Kemudian bagaimana dengan kalian berempat?” tanyanya

Dan kini ayah dan ibu ini kembali dicekam rasa gelisah karena kenyataannya kini, dari empat orang itu tinggal dua orang, Ciang Bun dan Ceng Liong tidak ada bersama mereka. Ini berarti bahwa tentu telah terjadi sesuatu dengan kedua orang anak itu.

“Kami berempat melanjutkan pelayaran untuk menuju ke daratan besar, akan tetapi di tengah lautan kami dihadang dan dikepung oleh puluhan orang penjahat, sisa mereka yang agaknya melarikan diri dari Pulau Es, dipimpin oleh Hek-i Mo-ong dan Jai-hwa Siauw-ok.”

“Kedua nama jahanam itu takkan pernah kulupakan!” kata Teng Siang In dengan sinar mata berapi-api.

“Kami diserang dan perahu kami digulingkan. Kami membela diri mati-matian, akan tetapi Cin Liong terlempar le laut, demikian pula Ciang Bun, padahal ketika itu badai sedang mengamuk. Saya sendiri tertawan oleh Jai-hwa Siauw-ok dan dibawa lari, sedangkan menurut keterangan Cin Liong kemudian, adik Ceng Liong juga tertawan dan dibawa pergi oleh Hek-i Mo-ong.”

“Ahh….!” Teng Siang In meloncat bangun dan mukanya menjadi merah sekali, sepasang matanya mencorong. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan anakku, aku bersumpah untuk merobek-robek kulit Hek- i Mo-ong dan mencincang hancur dagingnya!”

“In-moi, tenanglah, tidak baik membiarkan perasaan menguasai batin,” terdengar Suma Kian Bu berkata dan nyonya itu lalu terduduk kembali, wajahnya kini agak pucat akan tetapi sepasang matanya masih berapi-api dan kedua tangannya dikepal.

“Hui-ji, lanjutkan ceritamu.”

“Saya dilarikan oleh si jahanam Jai-hwa Siauw-ok dan nyaris mengalami bencana dan aib yang hebat. Untung muncul Cin Liong yang tiba pada saat yang tepat menolongku dan sayang sekali bahwa si keparat itu berhasil melarikan diri dari kejaran kami. Kami lalu langsung pergi ke sini untuk melaporkan kepada paman dan bibi.”

“Dan Ciang Bun? Ceng Liong?” Teng Siang In bertanya.

Suma Hui mengerutkan alisnya, wajahnya diselimuti kedukaan dan ia menggelengkan kepala. “Kami tidak tahu, bibi. Yang diketahui oleh Cin Liong hanya bahwa Ciang Bun terlempar ke lautan dan Ceng Liong ditawan Hek-i Mo-ong. Jahanam Siauw-ok itu pun bercerita demikian kepadaku.”

“Kita harus mencarinya sekarang juga!” Teng Siang In berkata sambil memandang kepada suaminya.

Suma Kian Bu yang sudah mengenal baik watak isterinya maklum bahwa andai kata dia menolak sekali pun, tentu isterinya akan berangkat sendiri. Memang mereka harus cepat melakukan pengejaran dan mencari Ceng Liong untuk dirampas kembali, dan bagaimana pun juga, mereka memang sudah berkemas- kemas untuk pergi merantau ke Pulau Es.

“Baik, kita mencarinya hari ini juga. Cin Liong dan Hui-ji, kalian hendak pergi ke mana?” “Paman, saya harus cepat-cepat pulang ke Thian-cin memberi kabar kepada ayah dan ibu.” “Saya akan menemani bibi Hui.”

Suma Kian Bu mengangguk dan bersama isterinya dia mengantar pemuda dan pemudi itu sampai ke pintu depan. Setelah mereka berdua berpamit dan menjura untuk yang terakhir kalinya, Suma Kian Bu memandang kepada mereka dengan sinar mata tajam, lalu berkata, “Cin Liong dan Suma Hui, jalan yang kalian tempuh penuh rintangan, akan tetapi berjalanlah terus, doa restuku bersama kalian dan semoga Thian memberkahi kalian.”

Cin Liong dan Suma Hui balas memandang dan wajah mereka seketika menjadi merah. Mereka menjura lagi dan hampir berbareng keduanya berkata, “Terima kasih….”

Kemudian mereka pergi meninggalkan suami isteri yang dicekam rasa gelisah karena mendengar putera tunggal mereka ditawan Hek-i Mo-ong, datuk kaum sesat yang telah mereka dengar akan kekejamannya. Setelah kedua orang muda itu lenyap di sebuah tikungan jalan, Teng Siang In menoleh kepada suaminya.

“Engkau juga melihat bahwa mereka itu saling mencinta?” “JeIas sekali!”

“Dan engkau malah mendorong mereka! Mana mungkin hal itu berlangsung? Mereka adalah bibi dan keponakan!”

“Bukan urusan kita, melainkan urusan mereka berdua. Aku hanya percaya kepada cinta kasih, tidak percaya kepada semua peraturan-peraturan yang kaku. Nah, mari kita berangkat, isteriku.”

Suami isteri pendekar ini meninggalkan pesan kepada pelayan wanita yang membantu rumah tangga mereka, meninggalkan uang, juga meninggalkan pesan agar hati-hati menjaga rumah, kemudian mereka pun pergi. Karena mereka tidak tahu ke mana Hek-i Mo-ong melarikan Ceng Liong, dan tidak tahu harus melakukan pengejaran ke jurusan mana, maka mereka mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja karena di tempat ramai inilah pusat segala macam berita tentang dunia kang-ouw.

Karena mereka melakukan pencarian tanpa arah tertentu, maka mereka melakukan perjalanan lambat, melakukan penyelidikan dengan teliti, menanyai orang-orang dan tokoh-tokoh persilatan di sepanjang jalan, walau pun hati mereka gelisah dan ingin sekali mereka cepat-cepat menemukan kembali putera mereka…..

********************

Sebagaimana kemudian tercatat di dalam sejarah, Kaisar Kian Liong merupakan kaisar yang paling besar, paling bijaksana, dan paling lama menduduki tahta Kerajaan Ceng dibandingkan dengan semua kaisar Bangsa Mancu. Kaisar ini akan memerintah selama enam puluh tahun!

Memang Kaisar Kian Liong inilah merupakan satu-satunya kaisar yang berhasil dalam pemerintahannya. Kebesarannya bahkan menandingi kebesaran kakeknya, yaitu Kaisar Kang Shi (1663-1722). Kalau kakeknya itu memegang kendali pemerintahan dengan kedua tangan besi, Kian Liong menggunakan satu tangan besi dan yang sebelah pula tangan bersarung sutera.

Pemberontakan-pemberontakan yang muncul memang ditindasnya dengan tangan besi, tetapi kaisar ini mengatur pemerintahan di dalam dengan lembut sehingga sebagian besar rakyat mencintanya. Tentu saja, tidak ada orang yang mampu memuaskan hati semua orang lain.

Karena Kian Liong memperhatikan nasib rakyat dan menggunakan kekerasan bukan saja terhadap pemberontakan akan tetapi juga terhadap para penjahat, maka diam-diam para penjahat itu kehilangan tempat berpijak. Hal ini, terutama mereka yang menjadi korban operasi dan gerombolannya dihancurkan, menimbulkan dendam dan sakit hati, juga kebencian terhadap Kaisar Kian Liong yang masih muda.

Inilah sebabnya mengapa bukan jarang kaisar ini mengalami serangan-serangan gelap ketika melakukan perjalanan. Ketika dia masih menjadi seorang pangeran, Kian Liong sudah biasa merantau dan menyamar sebagai rakyat biasa sehingga dia mampu menyelami keadaan kehidupan rakyat seperti kenyataannya, bukan hanya mendengar pelaporan-pelaporan saja yang biasanya palsu karena para pejabat yang melapor selalu melaporkan yang baik-baik untuk mencari muka.

Dan semenjak masih menjadi pangeran, banyak sudah usaha para penjahat untuk melenyapkan atau membunuh pangeran ini. Tetapi, betapa pun banyaknya penjahat yang anti, masih banyak mereka yang pro dan yang melindungi dan membela pangeran itu. Apalagi kini, sebagai seorang kaisar tentu saja dia selalu dikelilingi dan dilindungi oleh para pengawal istana.

Ketika itu, sudah dua tahun Kaisar Kian Liong menduduki tahta kerajaan dan sudah banyaklah kemajuan- kemajuan yang dicapai dalam pemerintahannya. Baru saja bala tentara kaisar berhasil melakukan pembersihan ke selatan dan di sepanjang pantai timur. Kini, ada kabar angin yang mendesas-desuskan bahwa di utara dan barat mulai ada gerakan-gerakan pemberontakan.

Sang kaisar telah menugaskan panglima yang amat dipercayanya, yaitu Jenderal Muda Kao Cin Liong, untuk melakukan penyelidikan. Dia percaya bahwa jenderal muda itu akan dapat menemukan kenyataan- kenyataan mengenai berita yang tidak baik itu dan dengan hati tenang, Kaisar Kian Liong pada suatu hari pergi berpesiar ke Telaga Teratai di sebelah selatan kota raja.

Dia bermaksud untuk merayakan hasil operasi pembersihan di timur dan selatan itu, karena setiap kali usahanya membebaskan rakyat dari tekanan dan kesengsaraan berhasil, hatinya gembira sekali. Perjalanan dilakukan dengan kereta yang dikawal oleh pasukan pengawal.

Dalam perjalanan pesiar ini, Kaisar Kian Liong ditemani oleh belasan orang dayang dan juga tiga orang selirnya yang muda-muda dan cantik-cantik. Sampai dua tahun setelah menjadi kaisar, dia belum mempunyai seorang permaisuri, hanya mempunyai tiga orang selir itu yang belum juga ditambahnya walau pun para pembesar dengan usaha mereka mencari muka banyak yang menawarkan dara-dara cantik jelita untuk menambah kumpulan selir-selirnya.

Telaga Teratai itu sesungguhnya adalah sebuah telaga buatan yang mengambil airnya dari Terusan Besar, dibuat sebuah telaga yang indah dikelilingi taman bunga dan telaga itu terhias dengan bunga-bunga teratai yang mekar sepanjang masa. Beberapa buah perahu besar mewah milik istana dipergunakan untuk pesiar oleh Kaisar Kian Liong.

Akan tetapi, tidak seperti kaisar lain yang mengutamakan kesenangan dengan hiburan tari-tarian, makan enak, kemudian bersenang-senang dengan para wanita cantik, Kaisar Kian Liong mempunyai cara bersenang-senang yang lain lagi. Kesenangannya amat bersahaja, seperti kesenangan rakyat jelata. Para dayang dan pengawal menahan rasa geli hati mereka tanpa merasa heran sedikit pun ketika perahu kaisar telah tiba di tengah telaga, Kaisar Kian Liong lalu mulai dengan hobby-nya, yaitu mengail ikan!

Orang yang tidak biasa mengail ikan, tidak akan mengetahui apa sebabnya banyak sasterawan, filsuf, dan orang-orang besar di jaman dahulu suka mengail ikan. Akan tetapi mereka yang mempunyai hobby ini akan dapat merasakan bahwa di dalam keasyikan mengail ini orang akan menemukan kedamaian hati, ketenteraman, dan kebahagiaan yang hanya dapat dinikmati orang dalam keadaan sunyi dan hening.

Orang yang mengail dihanyutkan di dalam keheningan yang penuh harapan, kejutan tiba-tiba yang amat menggairahkan hati apabila umpan pancingnya disambar ikan, ketegangan yang mendebarkan jantung apabila ikan itu meronta-ronta dengan kuatnya untuk melepaskan diri, dan akhirnya kepuasan yang membanggakan apabila ikan itu dapat dinaikkannya ke atas, menggelepar di bawah kakinya. Inilah kepuasan seorang pemenang dan hasil dari pada kesabaran dan ketekunan.

Seorang pengail ikan dapat saja menganggap pekerjaan memburu binatang di hutan sebagai pekerjaan kejam, atau seorang yang memiliki hobby mengail ikan menganggap kejam orang yang berburu binatang sebagai hobby saja. Berburu binatang merupakan suatu perkosaan, pikir mereka, karena kita berburu binatang tertentu yang dikejar-kejar sampai dapat dan dibunuh di bawah mata dengan darah dingin.

Akan tetapi tidak demikian dengan mengail ikan. Kita mengail ikan tanpa ditujukan kepada ikan tertentu, bahkan tanpa kesengajaan untuk menangkap ikan tertentu. Yang terkena umpan adalah ikan yang kebetulan menyambar umpan itu, jadi…. salahnya ikan itu sendiri atau tergantung kepada nasib sang ikan atau juga kepada kerakusannya! Tentu saja ini adalah pendapat seorang yang suka mengail ikan!

Kaisar Kian Liong kelihatan gembira sekali karena ternyata di telaga itu terdapat banyak ikan rakus! Sebentar saja umpan pancingnya disambar ikan yang cukup besar dan setelah dia berhasil menarik ikan itu ke atas perahu dan ikan itu dilepas dari pancing oleh pembantunya, kemudian mata kail dipasangi umpan baru, sebentar saja dia telah menarik ikan lain. Berturut-turut kailnya mengena dan sebentar saja dia telah berhasil memancing belasan ekor ikan yang cukup besar!

Kaisar ini sama sekali tidak tahu betapa sebelum mengail, para thaikam yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati kaisar telah lebih dulu melepaskan banyak ikan-ikan besar di tempat itu. Terjadi pula kelucuan yang tidak diketahui oleh kaisar muda itu, yakni bahwa di antara ikan yang terdapat olehnya itu ada beberapa ekor ikan yang sebetulnya hanya bisa didapatkan di Sungai Yang-ce!

Di tepi telaga buatan itu terdapat banyak rakyat yang sengaja datang untuk menonton perahu kaisar. Bahkan ada pula yang memberanikan diri naik perahu. Memang telaga buatan itu pada hari-hari biasa dibuka dan kaisar memperbolehkan rakyat untuk bermain-main di situ. Bahkan kaisar yang sudah biasa dengan rakyat itu tidak pula melarang rakyat bermain-main pada saat dia sedang berlibur di situ.

Hal ini sesungguhnya membuat para komandan pengawal mengerutkan kening karena tidak setuju, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani menentang. Sebaliknya, rakyat berterima kasih dan memuji sikap kaisar yang sama sekali berbeda dengan kaisar-kaisar lain, yang biasanya amat congkak dan tidak sudi berdekatan dengan rakyat, apalagi rakyat kecil yang miskin.

Di antara beberapa orang nelayan yang mendayung perahu mencari ikan di telaga itu, terdapat seorang wanita muda yang pakaiannya seperti nelayan, memakai caping lebar untuk melindungi wajahnya yang manis dari sengatan sinar matahari yang mulai naik tinggi. Perlahan-lahan, perahu wanita nelayan ini makin mendekati perahu kaisar.

Para pengawal yang awas memasang mata, melihat nelayan wanita ini, akan tetapi karena ia hanya seorang wanita nelayan yang sendirian saja dalam sebuah perahu kecil, asyik memancing ikan pula, maka mereka tidak menaruh kecurigaan. Pula, apa yang dapat dilakukan oleh seorang wanita muda terhadap kaisar yang dijaga ketat oleh para pengawal?

Memang benar bahwa kaisar tidak dikerumuni terlalu banyak pengawal, dan di perahu itu pun hanya terdapat enam orang pengawal, akan tetapi itu pun sudah cukup kalau diingat bahwa mereka berada di atas perahu di tengah telaga, sedangkan di pantai telaga berkumpul pasukan pengawal. Selain itu, juga para anak buah perahu bukanlah orang lemah dan dapat pula membantu jika timbul keadaan bahaya. Kalau terlalu banyak perahu nelayan yang berani mendekat perahu kaisar, tentu para pengawal akan melarangnya. Akan tetapi hanya sebuah perahu kecil seorang nelayan wanita saja tidak menjadi soal.

Tetapi para pengawal ini sama sekali tidak tahu bahwa di antara perahu-perahu nelayan yang berada agak jauh dari perahu kaisar itu terdapat penumpang-penumpangnya yang amat mencurigakan. Dari sikap, bentuk tubuh dan pakaian mereka, jelaslah bahwa mereka itu bukan nelayan biasa. Sama sekali bukan nelayan karena mereka adalah orang-orang kang-ouw, kaum sesat yang menaruh hati dendam terhadap kaisar karena mereka adalah orang-orang yang menjadi korban pembersihan, bekas raja-raja bajak dan perampok yang telah kehilangan anak buah dan mata pencaharian mereka, kehilangan kerajaan kecil mereka.

Ada lima orang penjahat besar di perahu-perahu kecil terpisah dan para pengawal tidak tahu betapa tidak lama kemudian perahu-perahu itu kosong dan para penghuninya lenyap. Barulah para pengawal itu menjadi panik dan geger ketika tiba-tiba ada lima orang yang pakaiannya basah kuyup berloncatan masuk ke dalam perahu dengan tangan memegang senjata tajam!

Pada saat itu, Kaisar Kian Liong sedang menghadapi panggang ikan hasil kailnya tadi dan melihat munculnya lima orang ini, tentu saja kaisar menjadi terkejut dan heran. Namun, bukan baru sekali ini saja kaisar itu menghadapi ancaman bahaya. Ketika masih menjadi pangeran, sudah sering kali dia menghadapi ancaman maut, maka sekali ini pun dia bersikap tenang saja. Bahkan kaisar muda ini melanjutkan makan minum sambil nonton betapa enam orang pengawalnya sudah menerjang dan menyambut lima orang penyerbu gelap itu.

Akan tetapi, ternyata lima orang penyerbu ini rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Mereka itu terlalu kuat bagi enam orang pengawal dan berturut-turut, sudah ada tiga orang pengawal yang roboh mandi darah!

“Ha-ha-ha, Kaisar Kian Liong, engkau hendak lari ke mana sekarang?” seorang di antara para penyerbu yang bertubuh seperti raksasa bermuka hitam itu kini mengangkat golok besarnya dan menyerbu ke arah kaisar yang sedang makan daging ikan.

Kaisar itu maklum bahwa tidak ada jalan lari baginya, maka dia pun melanjutkan makan, bangkit pun tidak dari tempat duduknya!

Melihat ketenangan orang itu, si penjahat menjadi termangu-mangu dan ragu-ragu, memandang ke kanan kiri untuk melihat apa yang menyebabkan kaisar begitu tenang seolah-olah ada yang diandalkan. Penjahat ini sudah mendengar betapa kaisar ini sejak menjadi pangeran dahulu selalu dilindungi oleh para pendekar dan menurut dongeng dilindungi oleh dewa-dewa yang tidak nampak!

Kaisar Kian Liong tersenyum melihat keraguan orang itu. “Orang kasar, apa sebabnya engkau hendak membunuh kami?”

Penjahat itu nampak marah lagi. “Engkau menjadi kaisar bertindak sewenang-wenang terhadap golongan kami, menindas dan membasmi golongan kami. Maka kami harus membunuhmu!”

“Ahhh, lalu apa untungnya kalau engkau membunuhku? Tetap saja kalian akan hidup sengsara karena ulah kalian sendiri. Bertobatlah dan bertindaklah di atas jalan yang benar dan kalian akan menemukan kehidupan baru….”

“Tak perlu banyak cakap lagi!” Si penjahat yang agaknya sudah menemukan kembali keganasannya itu melompat ke depan, mengayun goloknya.

“Trrangggg….!”

Bunga api berpijar menyilaukan mata kaisar yang melindungi mukanya dengan kedua tangan agar bunga api itu tidak mengenai mukanya. Dia melihat munculnya seorang wanita muda berpakaian nelayan yang memakai caping lebar sehingga sukar bagi kaisar untuk dapat melihat muka wanita itu yang tertutup caping. Wanita itu memegang sebatang pedang dan tadi telah meloncat ke perahu sambil menangkis sambaran golok penjahat raksasa itu.

Kini terjadilah perkelahian di atas perahu. Wanita muda itu lihai sekali permainan pedangnya sehingga penjahat tinggi besar menjadi kewalahan juga. Penjahat itu kalah lincah dan sinar pedang yang bergulung- gulung itu mendesak dan menghimpitnya, membuat dirinya hanya mampu menangkis sambil mundur- mundur saja.

Akan tetapi, segera datang penjahat-penjahat lain dan karena tidak lama kemudian semua pengawal yang berjumlah enam orang itu telah roboh semua, si wanita nelayan terpaksa melawan kelima orang penjahat itu sambil terus melindungi kaisar! Ia memutar pedangnya, berloncatan ke sana-sini menghadang agar mereka tak dapat mengganggu kaisar.

Betapa pun pandai dan gagahnya wanita itu, ia tidak mampu menandingi lima orang penjahat yang ganas itu dan dia sudah menerima beberapa kali bacokan sehingga pakaiannya mulai penuh dengan bercak- bercak darah. Melihat ini, kaisar menjadi marah dan tidak tega.

“Kalian berlima ini sungguh orang-orang jahat kejam dan tidak tahu malu, mengeroyok seorang wanita. Hentikan pengeroyokan itu!”

Akan tetapi, lima orang penjahat itu menghendaki nyawa kaisar dan si wanita menjadi penghalang, tentu saja mereka tidak mempedulikan bentakan-bentakan kaisar. Karena merasa bahwa ia tidak akan mampu mempertahankan diri lebih lama lagi, wanita itu lalu berkata dengan suara gemetar.

“Sri baginda, larilah…. larilah dari sini selagi ada kesempatan….!”

Akan tetapi, biar pun dia sendiri bukan pendekar, Kaisar Kian Liong sejak dulu memiliki watak yang gagah. Ada seorang wanita yang membela dan melindunginya terancam bahaya maut, bagaimana mungkin dia mau melarikan diri begitu saja meninggalkan wanita itu sendiri saja menghadapi maut? Dia lalu bertepuk tangan dan berkata kepada para anak buah perahu yang berdiri dengan bingung.

“Jangan diam saja. Bantulah wanita ini menghadapi penjahat!”

Mendengar perintah kaisar, barulah belasan orang anak buah perahu itu berbondong-bondong maju dengan senjata seadanya. Ada yang membawa tombak ikan, ada yang membawa dayung, dan tukang masak datang bersenjatakan pisau dapur yang besar. Mereka juga bukan orang-orang lemah, akan tetapi tentu saja bukan apa-apa bagi lima orang penjahat lihai itu. Sebentar saja mereka pun sudah terlempar ke sana-sini terkena tendangan para penjahat dan kembali wanita itu dikeroyok.

“Desss….!”

Sebuah pukulan yang keras sekali dengan sebuah ruyung mengenai punggung wanita itu. Wanita itu mengeluh dan muntah darah, dan pada saat itu pula, sebatang golok membacok lambungnya. Darah muncrat dan wanita itu pun terhuyung. Namun, dengan pedangnya ia juga masih mampu menghalau sebatang golok yang menyambar ke arah kaisar! Wanita itu sungguh gagah perkasa dan mati-matian melindungi kaisar.

“Bunuh perempuan ini lebih dulu, baru kita sembelih kaisar!” kata si tinggi besar dan kini mereka semua menerjang ke arah wanita yang sudah lemah itu.

Si wanita memutar pedangnya untuk melindungi diri, namun karena tenaganya sudah lemah, ia terlempar ke belakang, jatuh menimpa pangkuan kaisar! Kaisar merangkulnya, tidak peduli akan darah wanita itu yang membasahi lengan dan jubahnya. Dan kaisar terkesiap kaget ketika caping itu terbuka dan wajah yang manis itu nampak.

“Li Hwa….!” Kaisar Kian Liong berseru dan memandang terbelalak. “Kau…. kau…. Li Hwa….!”

Wanita itu mencoba untuk tersenyum. “Ampunkan hamba…. hamba tidak berhasil…. menyelamatkan paduka….”

“Li Hwa….!” Kaisar mendekap kepala itu dan merangkulnya ketat.

Lima orang penjahat itu tertegun menyaksikan peristiwa ini, akan tetapi segera si tinggi besar berseru, “Bunuh mereka!”

Lima orang itu menyerbu, seperti lima ekor anjing yang hendak memperebutkan tulang, menerjang ke arah kaisar yang duduk memeluk tubuh wanita nelayan itu.

“Wuuuutttt…. blaarrrr….!”

Lima orang penjahat itu terlempar ke belakang dan terbanting jatuh. Mereka merasa seperti disambar halilintar saja dan ketika mereka bangkit berdiri dan menggoyang-goyang kepala mengusir pening, mereka melihat di situ telah berdiri seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh enam tahun, berpakaian sederhana dengan rambut riap-riapan, sepasang matanya mencorong seperti mata naga, dan di sebelahnya berdiri pula seorang wanita berusia beberapa tahun lebih muda, namun masih nampak cantik dan bertubuh ramping padat, berpakaian rapi dan pesolek, di punggungnya tergantung sebuah payung.

Sepasang suami isteri ini bukan lain adalah pendekar sakti Suma Kian Bu yang dikenal sebagai Pendekar Siluman Kecil dan isterinya yang bernama Teng Siang In. Akan tetapi karena memang selama belasan tahun Suma Kian Bu dan isterinya tidak pernah berkecimpung di dunia kang-ouw dan tidak membuat nama besar, maka lima orang penjahat itu pun tidak mengenal mereka.

Dan inilah celakanya bagi para penjahat itu. Apa bila mereka mengenal suami isteri pendekar itu, tentu mereka akan lari tunggang-langgang tidak berani melawan, meloncat ke air telaga dan berenang ke perahu masing-masing seperti yang mereka lakukan ketika mengadakan penyerbuan tadi.

Akan tetapi, kini mereka bangkit dan memandang marah, lalu menghampiri suami isteri itu dengan sikap mengancam. Mereka adalah kumpulan orang-orang kasar yang hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian sendiri saja, tak tahu diri dan tidak melihat bahwa terjangan Suma Kian Bu tadi saja sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka sama sekali bukanlah tandingan pendekar sakti ini.

Mereka sudah hampir berhasil, sudah menyudutkan kaisar yang demikian tidak berdaya lagi. Sekali menggerakkan golok saja sudah cukup untuk membunuh kaisar dan kini muncul dua orang penghalang yang tak disangka-sangka, tentu saja mereka menjadi penasaran. Mereka maju menghampiri dan membagi kelompok, tiga orang menghampiri Suma Kian Bu dan dua orang menghampiri Teng Siang In.

Para anak buah perahu yang tadi dipukul jatuh bangun, sekarang berdiri berkelompok. Dengan tubuh babak-belur mereka memandang ke depan, dengan penuh harapan mereka berpihak kepada suami isteri yang muncul pada saat yang tepat itu.

Sambil mengeluarkan teriakan-teriakan buas, para penjahat maju menyerang. Seorang penjahat yang memegang sebatang tombak panjang menubruk dan menusuk ke arah perut Suma Kian Bu.

Pendekar ini tidak bergerak dari tempat dia berdiri, melainkan menyambut tusukan itu dengan tangannya, menangkap ujung tombak dengan mudah dan sekali betot, orang itu terbawa mendekat. Begitu kedua tangan pendekar sakti ini bergerak, tombak panjang itu seperti benda lunak saja dilibat-libatkan pada tubuh pemiliknya sehingga penjahat itu terbelit tombaknya sendiri, tidak mampu bergerak seperti ayam ditelikung.

“Plakkk!”

Tangan pendekar sakti itu menampar dan tubuh penjahat yang sudah tidak mampu bergerak itu terlempar keluar dari perahu, jatuh menimpa air yang muncrat tinggi dan tubuh itu pun tenggelam karena dibebani tombak dan kedua lengannya tidak mampu bergerak!

Orang pertama yang menyerang Teng Siang In ialah seorang penjahat berperut gendut dengan kepala botak. Dia memegang ruyung besar. Orang inilah yang tadi menggebuk punggung wanita nelayan itu. Sekarang, dengan ruyung yang besar dan berat itu dia menyerang kepada Teng Siang In. Nyonya pendekar ini pun tak bergerak dari tempat ia berdiri, tetapi sepasang matanya yang tajam berpengaruh itu menatap ke arah wajah si gendut, mulutnya yang manis berkemak-kemik dan telunjuk kanannya menuding.

Terjadilah keanehan yang luar biasa dan membuat para anak buah perahu itu bengong terlongong. Si gendut berkepala botak itu tiba-tiba berhenti menyerang, melotot dan ruyung yang dipegang oleh tangan kanannya itu tiba-tiba saja digerakkan memukuli kepalanya sendiri yang botak. Terdengar bunyi tak-tok- tak-tok disusul keluhan dan teriakannya dan kepala botak itu sebentar saja bocor semua, berdarah dan benjol-benjol.

Tangan kiri orang itu berusaha mencegah tangan kanan, akan tetapi tetap saja tangan kanan itu menggerakkan ruyung, makin lama semakin keras menghantami kepalanya sendiri. Orang itu kebingungan, ketakutan dan kesakitan, berlari ke tepi perahu akan tetapi ruyung di tangannya masih saja terus memukulinya, dan pada pukulan terakhir terdengar suara keras.

“Prakkk!”

Dia pun terguling keluar dari perahu, menimpa permukaan air dan tenggelam karena pukulan terakhir tadi agaknya telah membuat kepala botaknya retak-retak! Melihat ini, mulailah para anak buah perahu percaya akan kehehatan sepasang pendekar itu dan mereka pun bersorak gembira.

Penjahat ke dua yang menyerang Suma Kian Bu adalah seorang penjahat tinggi kurus yang bersenjata sebatang golok. Melihat betapa kawannya dilempar ke telaga oleh pendekar itu, dia berseru marah dan goloknya lalu ditusukkan ke depan, ke arah perut pendekar itu. Seperti tadi, Suma Kian Bu tetap tidak bergerak dari tempatnya melainkan menggunakan jari telunjuk menyentil ke arah golok yang segera menyeleweng arahnya dan pemegangnya terhuyung. Namun, penjahat itu membalik dan kembali menusukkan goloknya dari samping ke arah lambung.

Kian Bu menggunakan dua jari tangan menangkap atau menjepit ujung golok dan sekali dia mengerahkan tenaga, terdengar suara nyaring dan golok itu pun patah menjadi dua! Sebelum penjahat itu hilang kagetnya, Kian Bu menggerakkan tangannya dan patahan golok yang dijepitnya itu menyambar dan langsung amblas memasuki perut si penjahat yang terbelalak dan berteriak keras. Kian Bu menangkap punggung bajunya dan sekali tangannya bergerak, tubuh penjahat itu menyusul temannya terlempar ke air telaga, terus tenggelam oleh karena patahan golok yang terbenam dalam perutnya itu telah merenggut nyawanya.

Penjahat ke empat yang menyerang Teng Siang In juga mengalami nasib yang sama buruknya. Dia menggunakan sebatang pedang yang diputar-putar ke atas kepala dan ketika dia menerjang maju, Siang In berkata halus, “Monyet busuk, engkau bermain-main dengan seekor ular apakah tidak takut digigit?”

Bagi para anak buah perahu yang enak nonton perkelahian aneh itu, terjadilah suatu pemandangan yang aneh luar biasa. Mereka melihat betapa penjahat berpedang yang menyerang nyonya pendekar itu tiba-tiba menjerit, memandangi pedangnya di tangan yang diangkat tinggi-tinggi, matanya terbelalak ketakutan dan berkali-kali dia menjerit seolah-olah melihat pedangnya sendiri sebagai sesuatu yang menakutkan!

Dan memang sesungguhnya demikian. Seperti tadi ketika menghadapi lawan pertama, nyonya pendekar ini tidak mau mengotorkan tangan menandinginya dengan ilmu silat, tetapi sudah menggunakan ilmu sihirnya. Yang pertama tadi, ia membuat si penjahat memukuli kepala sendiri dengan ruyung sampai remuk. Kini, ia menyihir lawan membuat si lawan itu tiba-tiba saja melihat pedangnya yang berada di tangan itu berubah menjadi seekor ular besar ganas yang menyembur-nyembur dan hendak menggigit hidungnya. Tentu saja dia menjadi ketakutan dan panik melihat ular yang dipegangnya sendiri pada ekornya itu. Selagi dia masih kebingungan, sebuah sepatu runcing menyambar ke arah pusarnya.

“Dukkk!”

“Ahhhh….”

Penjahat itu berteriak, matanya mendelik dan tubuhnya terlempar keluar perahu, lalu menimpa air telaga mengikuti teman-temannya ke neraka!

Si raksasa tinggi besar yang menjadi pimpinan lima orang itu menjadi terkejut setengah mati melihat betapa empat orang temannya tewas dalam keadaan demikian aneh, dan tak disangkanya bahwa mereka itu demikian mudahnya jatuh oleh sepasang pendekar setengah tua ini. Matanya terbelalak memandang kepada suami isteri itu bergantian kemudian dia mengkirik dan membalikkan tubuh, lalu lari hendak meloncat keluar dari perahu yang mengerikan hatinya itu.

“Eh, ehhh, nanti dulu! Berikan dulu golok itu padaku!” Teng Siang In berkata halus.

Akan tetapi sungguh aneh sekali, raksasa itu menghentikan langkahnya, membalik dan menghampiri Siang In, menyerahkan golok besar itu seperti seorang anak penurut yang taat sekali! Siang In menerima golok dan orang itu terbelalak, seolah-olah terkejut dan terheran melihat kelakuannya sendiri dan seperti baru sadar, dia lalu membalik dan lari.

Tubuhnya melayang keluar dari perahu ketika dia meloncat. Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar berkelebat menyilaukan mata dan sebatang golok terbang menyambar ke arah leher penjahat itu. Nampak darah muncrat dan ketika tubuh raksasa itu menimpa air, ternyata kepalanya telah terpisah dari badannya oleh goloknya sendiri yang tadi dilontarkan oleh Teng Siang In.

Para anak buah perahu itu bersorak, tetapi mereka juga bergidik ngeri menyaksikan betapa suami isteri ini membunuh lima orang penjahat itu dengan sadis. Mengapa suami isteri pendekar ini menjadi demikian kejam dan sadis terhadap para penjahat? Bukan hanya karena para penjahat itu memang merupakan orang-orang berbahaya yang sudah berani mencoba untuk membunuh kaisar, namun terutama sekali karena telah terjadi perubahan besar di dalam batin suami isteri pendekar ini yang tentu saja mempengaruhi tindakan mereka.

Hal ini terjadi sejak mereka berdua mendengar dari Cin Liong dan Suma Hui tentang terculiknya putera tunggal mereka, Ceng Liong, oleh Hek-i Mo-ong dan terutama sekali mendengar bahwa ayah bunda mereka dan Pulau Es telah terbunuh dan terbasmi oleh datuk-datuk sesat itu. Sejak itu, mereka berdua merasa sakit hati sekali, mendendam kepada dunia penjahat yang membuat mereka sampai hati melakukan kekejaman tadi.

Dendam membuat kita menjadi kejam. Hal ini dapat kita buktikan sendiri dengan melihat sendiri keadaan batin kita. Dendam melahirkan kebencian dan kebencian inilah yang memungkinkan perbuatan kejam karena kebencian membuat kita ingin melihat yang kita benci itu menderita sehebat mungkin!

Sekali diracuni dendam, hati seorang pendekar seperti Suma Kian Bu atau Teng Siang In sekali pun, akan berubah menjadi sadis dan kejam, tentu saja kejam terhadap mereka yang menimbulkan dendam itu. Dan kebencian merupakan suatu penyakit.

Jangan dikira bahwa setelah orang yang dibencinya lenyap, lalu kebencian itu pun akan berakhir atau lenyap dengan sendirinya. Kebencian itu akan tetap ada di batin, tinggal menanti bahan bakarnya saja untuk dapat berkobar lagi. Tentu sekali waktu akan muncul bahan bakar itu yang berupa orang atau golongan yang akan dibencinya lagi. Karena kebencian adalah penonjolan ke-akuan yang paling parah, kebencian timbul karena si aku merasa dirugikan sehingga timbul dendam dan benci yang membuat si aku ingin sekali melihat yang dibenci itu menderita dan ‘terbalas’.

Setelah menghajar kelima orang penjahat itu, Kian Bu dan Siang In membalik dan menghadapi kaisar.

Akan tetapi kaisar muda itu memangku tubuh yang sudah lunglai itu sambil menangis dan menciuminya! Kemudian terdengar Kaisar Kian Liong yang sudah mengenal baik suami isteri pendekar itu berkata, “Suma-taihiap, tolonglah…. tolong selamatkan nyawa kekasihku ini….”

Mendengar ucapan ini, Kian Bu dan Siang In terkejut, cepat menghampiri, berlutut dan memeriksa keadaan wanita itu. Akan tetapi mereka hanya dapat saling pandang setelah mengadakan pemeriksaan. Keduanya maklum bahwa nyawa wanita itu tidak mungkin dapat diselamatkan lagi.

Bagian dalam tubuhnya luka hebat oleh pukulan keras, dan juga lambungnya terluka parah oleh bacokan senjata tajam. Belum lagi seluruh tubuhnya yang terhias luka-luka yang cukup dalam dan parah. Mereka berdua memandang dengan hati iba dan diam-diam mereka pun heran mendengar betapa kaisar menyebut wanita nelayan itu kekasih.

Memang sesungguhnyalah bahwa wanita itu adalah seorang gadis yang semenjak lama menjadi kekasih hati Kaisar Kian Liong, yaitu sejak kaisar ini masih menjadi seorang pangeran.

Beberapa tahun yang lalu, orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai yang mendendam kepada Kaisar Yung Ceng, menyerbu istana. Di antara mereka terdapat seorang murid Siauw-lim-pai wanita yang bernama Souw Li Hwa yang pada waktu itu baru berusia delapan belas tahun. Ia pun mendendam pada kaisar yang masih terhitung susiok-nya sendiri karena gurunya menderita sengsara ketika isteri gurunya itu pada suatu hari diperkosa oleh kaisar!

Souw Li Hwa ikut rombongan para hwesio Siauw-lim-pai untuk membalas dendam dan menyerbu istana. Akan tetapi, orang-orang Siauw-lim-pai itu roboh dan tewas semua kecuali Souw Li Hwa yang berhasil melarikan diri. Di dalam istana ini, selagi dikejar-kejar, Souw Li Hwa bertemu dengan Pangeran Kian Liong yang segera menolongnya, menyembunyikannya, bahkan mengawalnya keluar istana sampai selamat.

Ternyata sang pangeran itu sudah jatuh cinta kepada Souw Li Hwa. Sebelum berpisah, pangeran itu memberikan sebuah cincin dan sang pangeran berjanji bahwa kelak dia akan berjodoh dengan Souw Li Hwa setelah menjadi kaisar. Peristiwa ini diceritakan dengan jelas dalam cerita Suling Emas dan Naga Siluman.

Souw Li Hwa masih sadar dan gadis ini pun melihat sikap sepasang suami isteri itu. Ia pun maklum bahwa dirinya tak mungkin dapat ditolong lagi, maka ia pun berkata lemah, “Sudahlah…. sri baginda…. hamba…. hamba tak mungkin dapat hidup….”

“Li Hwa…. ah, Li Hwa, kenapa selama ini engkau tidak datang kepadaku? Ini…. ah, ini cincinku masih kau bawa…. tapi kenapa engkau tak pernah muncul….?” Kaisar muda itu menarik sebuah tali yang tergantung pada leher Li Hwa, ternyata cincin pemberiannya tergantung pada tali itu.

“Sri baginda…. hamba hanya seorang…. rendah…. mana berani hamba…. mengganggu seorang…. mulia seperti paduka….?”

“Ahhh, Li Hwa kekasihku. Akulah yang bersalah, aku sudah melupakanmu…. terlalu banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sampai aku terlupa padamu…. padahal, cintaku padamu tak pernah padam. Li Hwa, kau maafkan aku….”

“Sudahlah, sri baginda…. hamba merasa bahagia…. pada saat terakhir…. masih dapat berjumpa dengan paduka…. masih dapat membela paduka…. ahhh, hamba puas…. ternyata paduka masih mencinta….” Gadis itu menghentikan kata-katanya, napasnya terengah-engah.

Melihat wajah itu makin memucat dan tubuh yang dipangkunya makin lemas terkulai, Kaisar Kian Liong menjadi panik. “Taihiap…. ahhh, tolonglah dia….”

Namun Kian Bu dan isterinya hanya menarik napas panjang. “Luka-lukanya terlampau parah, sri baginda.”

Jawaban ini cukup bagi Kian Liong. Dia merangkul dan menciumi muka yang pucat itu sambil menangis. “Li Hwa…. ahhh, Li Hwa, jangan mati…. mari hidup di sampingku sebagai isteri tercinta….”

Souw Li Hwa membuka kembali matanya dan kini sepasang matanya bersinar layu, walau pun bibirnya mengarah senyum dan wajahnya berseri. “Sri baginda…. kekasih hamba…. hamba rela mati…. hamba…. berterima kasih…. hamba cinta….” Dan ia pun terkulai karena nyawanya telah melayang.

“Li Hwa….!”

“Sri baginda, ia telah tiada….” Siang In berkata halus dan mengambil mayat itu dari pangkuan kaisar.

Kaisar Kian Liong memejamkan matanya dan sejenak dia duduk seperti itu, air matanya turun dari kedua mata yang dipejamkan, dan dia menguatkan hatinya. Kemudian dia membuka mata, bangkit berdiri dan melihat betapa para pengawal, sepasukan besar yang tadinya berjaga di tepi telaga, sudah tiba di situ menggunakan perahu mereka, dia cepat memberi perintah, “Tangkap semua penjahat-penjahat itu dan beri hukuman berat kepada mereka!”

Menerima perintah dari kaisar yang berduka dan marah ini, para pengawal menjadi bingung, tetapi mereka segera turun tangan, ada yang meloncat ke air dan menyelam, mencari lima orang penyerbu tadi. Akan tetapi, mereka hanya mampu menangkap lima mayat saja karena lima orang penjahat tadi telah mati semua.

Suma Kian Bu dan isterinya mengawal Kaisar Kian Liong kembali ke istana di kota raja, dan jenazah Souw Li Hwa juga diangkut ke kota raja di mana kaisar menganugerahi pangkat selir pertama kepada wanita yang telah mati itu. Jenazahnya dikubur dengan upacara kebesaran dan dibuatkan nisan yang besar dan megah.

Setelah ikut menghadiri upacara pemakaman sebagai penghormatan kepada Souw Li Hwa, suami isteri Suma Kian Bu mohon diri meninggalkan istana dan mereka pun mulai melakukan penyelidikan di kota raja tentang diri Hek-i Mo-ong yang telah menculik dan melarikan putera mereka. Namun, tidak ada orang yang mendengar tentang datuk itu dan tentu saja hal ini makin menggelisahkan hati suami isteri itu. Mereka makin giat menyelidiki dan mengambil keputusan tidak akan berhenti mencari sebelum mereka berhasil menemukan putera mereka…..

********************

Peralihan dari kehidupan ke kematian merupakan rahasia besar yang mentakjubkan. Kalau memang kematian sadah saatnya tiba, maka ada saja yang menjadi lantaran dan kematian itu tak dapat ditolak dengan cara bagaimana pun juga. Betapa pun pandainya manusia, namun semua harus tunduk terhadap hukum alam ini, ialah kehidupan tentu berakhir dengan kematian dan tidak ada kekuasaan yang dapat mencegahnya atau memperpanjang waktu tibanya kematian.

Jika sudah tiba saatnya, biar hendak bersembunyi di lubang semut, tetap saja kematian datang menjemput. Sebaliknya, kalau saat kematian belum tiba, biar kita berada di bawah ancaman maut yang bagaimana hebat pun, yang nampaknya tidak mungkin kita dapat keluar dengan selamat, namun ada saja lantarannya yang membuat kita terluput dari pada cengkeraman maut dan masih dapat hidup terus.

Sudah terlalu banyak contoh-contoh mengenai kematian yang datang tiba-tiba tanpa tersangka-sangka. Banyak pula cerita tentang orang-orang yang selamat dan luput dari kematian padahal sudah terkurung maut dan agaknya tak ada harapan untuk lolos lagi.

Ada orang yang semenjak mudanya menjadi prajurit sampai tua, puluhan tahun berada dalam kepungan maut, setiap saat mungkin saja maut merenggut nyawanya, namun ternyata dia selamat, terluka pun tidak, sampai dia mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai prajurit karena sudah bosan atau lelah. Pulang ke kampung, tergigit seekor nyamuk saja bisa mendatangkan penyakit yang akan menyeretnya ke lubang kubur!

Inikah yang disebut nasib? Terserah. Nasib hanya sebuah kata yang muncul karena kita kehabisan akal untuk dapat mengerti. Dan ada atau tidak adanya yang disebut nasib, yang penting kita harus selalu menjaga diri, bukan karena takut mati, melainkan untuk memelihara badan dan batin kita agar tetap sehat dan jauh dari bencana.

Dilihat keadaannya, ketika perahu yang ditumpangi para cucu penghuni Pulau Es itu terguling dan mereka disambut oleh badai yang mengamuk, sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan mati semua. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Ceng Liong yang terjatuh ke tangan datuk-datuk kaum sesat yang kejam dan jahat, ternyata tidak terbunuh, bahkan dibawa oleh Hek-i Mo-ong sebagai muridnya! Suma Hui dan Cin Liong ternyata juga tidak tewas walau pun Suma Hui telah dilarikan oleh seorang penjahat cabul yang kejam dan Cin Liong diombang- ambingkan ombak yang membadai. Demikian pula dengan Suma Ciang Bun. Pemuda ini tidak tewas ditelan badai seperti yang dikhawatirkau saudara-saudaranya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, seperti juga Cin Liong, Ciang Bun terlempar keluar perahu dan disambut oleh air laut bergelombang. Seorang ahli renang yang bagaimana pandai pun tidak akan mungkin dapat melawan gelombang dahsyat dalam badai itu. Apalagi Ciang Bun yang kepandaiannya di dalam air terbatas.

Dia mencoba untuk berenang mendekati perahu, akan tetapi tubuhnya terseret makin menjauh dari perahu. Dia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak minum terlalu banyak air laut. Tubuhnya terbawa ombak, diangkat tinggi-tinggi sampai dia merasa diterbangkan ke langit, lalu dihempaskan ke bawah, dalam sekali dan hanya berkat tubuhnya yang terisi tenaga sinkang kuat saja maka isi perutnya tidak sampai remuk ketika dia berkali-kali dibanting oleh gelombang.

Bagaimana pun juga, tenaga manusia adalah terbatas. Ketika Ciang Bun sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, dalam kegelapan tangan kirinya bertemu dengan sepotong papan kayu. Bagaikan bertemu dengan pusaka, tangan kirinya itu mencengkeram kuat-kuat dan dipeluknya papan kayu itu. Dia bergantung dalam keadaan setengah pingsan, membiarkan dirinya dibawa ke mana pun juga oleh papan kayu yang dipermainkan gelombang membadai itu.

Kalau memang belum tiba saatnya untuk mati, dalam ancaman maut, di tengah lautan bergelora yang sedang dilanda badai itu, tiba-tiba ada saja muncul sepotong papan kayu yang menjadi lantaran sehingga memungkinkan Ciang Bun terlepas dan lolos dari cengkeraman maut.

Untung bagi Ciang Bun bahwa agaknya nalurinya timbul pada saat yang gawat itu. Kalau tidak demikian, agaknya tentu dalam keadaan setengah sadar itu dia sudah melepaskan cengkeramannya pada papan kayu itu. Akan tetapi, entah kekuatan apa yang menggerakkan pemuda ini sehingga tanpa disadarinya, kedua tangannya tidak pernah melepaskan papan kayu itu.

Air lautan tidak mengganas lagi, bahkan amat tenang dan kegelapan telah terganti sinar cerah matahari pagi ketika Ciang Bun sadar betul dari keadaan setengah pingsan itu. Dia teringat bahwa dia terapung- apung di tengah lautan, maka rasa gentar menyentuh hatinya dan cepat-cepat dia menarik tubuhnya ke atas dan dengan sudah payah dia duduk di atas papan kayu yang tidak berapa besar itu. Dia menggigil karena merasa dingin. Cepat-cepat pemuda ini mengerahkan Hwi-yang Sinkang untuk melawan hawa dingin dan sebentar saja tubuhnya sudah terasa hangat dan nyaman. Akan tetapi berbareng dengan itu, muncul pula rasa lelah, lapar dan mengantuk.

Di samping perasaan yang bercampur aduk ini, dia pun teringat kepada Cin Liong, Ceng Liong dan Suma Hui. Pertama-tama dia membayangkan wajah Ceng Liong dan hatinya merasa berduka sekali karena dia khawatir kalau-kalau adik keponakannya itu tewas. Kemudian, wajah Cin Liong terbayang dan dia pun merasa kasihan sekali kepada pemuda perkasa yang telah banyak berjasa terhadap keluarganya itu. Baru kemudian dia teringat kepada enci-nya, Suma Hui dan kesedihannya bertambah.

Sejak mereka tinggal bersama di Pulau Es, Ciang Bun merasa lebih dekat dengan Ceng Liong dari pada dengan enci-nya, bahkan dalam setiap percakapan dan perbantahan dia selalu membela kepada Ceng Liong. Kemudian, ketika muncul Cin Liong jenderal muda yang gagah perkasa itu, timbul rasa kagum yang mendalam di hati pemuda itu.

Memang akhir-akhir ini terjadi suatu perubahan dalam batin Ciang Bun, perubahan yang dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya. Ketika dia masih kecil, perasaannya biasa saja, akan tetapi semenjak dia menjadi remaja, semenjak dia tinggal di Pulau Es dan hidup bertiga dengan Ceng Liong beserta Suma Hui, tanpa disadarinya timbul suatu perubahan.

Dia merasa suka sekali untuk berdekatan dengan Ceng Liong, bahkan ketika Cin Liong muncul, ada daya tarik yang luar biasa pada diri jenderal muda itu baginya, yang membuat dia kadang-kadang merasa malu dan bingung. Selain ini, juga dia ingin selalu kelihatan rapi dan elok seperti enci-nya. Padahal Suma Hui sendiri termasuk dara yang sederhana sehingga dalam hal berpakaian, Ciang Bun lebih rapi dari pada kakaknya.

Apakah gejala ini timbul karena semenjak kecil dia hanya berdua saja dengan enci-nya sebagai saudara kandung yang tunggal? Selalu berdekatan dengan kakak wanita sehingga dia meniru-niru enci-nya dan mempunyai ciri-ciri seperti seorang wanita? Dia sendiri tidak sadar dan juga tidak tahu, akan tetapi yang diketahuinya hanyalah bahwa setelah menginjak usia lima belas tahun, dia merasa tertarik sekali kepada lelaki dan menyukai wajah dan bentuk tubuh laki-laki yang jantan.

“Aduh, lapar sekali perutku….!” Ciang Bun mengeluh, mengusir renungan memedihkan tentang saudara- saudaranya yang tidak diketahuinya bagaimana keadaannya itu, masih hidup atau sudah mati.

Mendadak dia mendengar suara orang, teriakan-teriakan gembira. Cepat dia menoleh dan alangkah girangnya ketika dia melihat adanya dua orang muda sebaya dengan dia yang sedang bermain-main di atas air lautan yang tenang. Dan Ciang Bun tertegun, terbelalak, juga mengkirik melihat betapa dua orang muda remaja itu, seorang pria dan seorang lagi wanita, sedang berlari-larian di atas air lautan!

Bukan manusia, pikirnya. Mana mungkin ada manusia pandai berlari-larian di atas air? Walau pun dia pernah menyaksikan mendiang kakeknya, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, melakukan hal ini untuk beberapa detik lamanya. Akan tetapi dua orang muda-mudi itu bermain-main, berloncatan dan berlarian sambil tertawa-tawa!

“Kalau bukan sebangsa dewa lautan, tentu peri atau siluman….,” bisik Ciang Bun dalam hatinya dan tentu saja dia merasa tengkuknya meremang. Dia mengucek matanya akan tetapi ketika membuka mata dan memandang lagi, pemuda dan dara itu masih ada, bahkan kini mereka mendekat ke arahnya.

“Heii, lihat….! Ada bekas-bekas perahu pecah!” teriak si dara.

“Benar, tentu ada perahu pecah dan tenggelam semalam, dilanda badai. Jangan-jangan para penumpangnya tewas semua…. haiii, lihat, apa itu? Bukankah dia manusia di atas papan itu?”

“Benar, koko! Seorang pemuda dan dia masih hidup!” teriak si dara dan mereka lalu menggerakkan tubuh dan meluncur mendekati Ciang Bun.

Ciang Bun memandang dengan mata terbelalak. Baru sekarang dia tahu bahwa kedua orang itu sama sekali bukan berlari di atas air, melainkan menggunakan alas kaki kayu yang panjang runcing dan mereka itu berdiri di atas alas kaki kayu panjang itu, dan dengan menggerakkan kedua lengan ke belakang dan mengayun tubuh ke depan, alas kaki yang seperti dua perahu kecil itu meluncur ke depan!

Akan tetapi, untuk dapat mengatur keseimbangan tubuh di atas dua perahu kecil itu dan untuk dapat bergerak demikian leluasa, tentu membutuhkan keringanan tubuh dan latihan yang hebat, juga tenaga sinkang amat diperlukan ketika mengayun tubuh ke depan. Jelaslah bahwa dua orang muda itu bukan orang-orang sembarangan. Hal ini tentu saja menimbulkan kagum dalam hati Ciang Bun. Akan tetapi bukan itu saja yang membuatnya bengong terlongong. Dua orang itu kelihatan demikian eloknya!

Yang perempuan berusia sekitar lima belas tahun, tubuhnya yang ramping dan ranum itu amat indah. Ciang Bun kagum sekali akan keindahan tubuh dara yang mengingatkan dia akan keindahan tubuh enci-nya. Akan tetapi wajah dara itu baginya jauh melampaui enci-nya dalam hal kecantikan. Seraut wajah yang cantik jelita dan manis sekali, dengan sepasang mata yang seperti bintang, hidung mancung dan mulut yang amat manis.

Akan tetapi, hanya sebentar saja sepasang mata Ciang Bun menatap dan mengagumi wajah dan tubuh dara itu, yang hanya mengenakan pakaian pendek dan ringkas dan basah karena air lautan sehingga pakaian itu menempel ketat pada tuhuhnya, mencetak tubuh yang menggairahkan itu. Namun, semua itu hanya lewat tanpa meninggalkan kesan mendalam di hati Ciang Bun.

Kini dia terpesona, ya, amat terpesona memandang ke arah pemuda yang meluncur di samping dara itu. Pemuda itu berusia dua tiga tahun lebih tua darinya, sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun dan pemuda itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek sebatas lutut yang terbuat dari kulit harimau.

Wajahnya yang agak kecoklatan karena kulitnya terbakar sinar matahari, nampak amat gagah dan tampan, sepasang matanya juga mencorong seperti bintang, hidungnya mancung dan mulutnya juga manis seperti mulut si dara, hanya dagu pemuda ini membayangkan kejantanan yang membuat Ciang Bun benar-benar terpesona. Apalagi tubuh yang telanjang bagian atas itu, nampak demikian gagah, tegap, bidang dan mengandung kekuatan yang mentakjubkan.

Baru sekarang Ciang Bun melihat bentuk tubuh yang demikian tegap dan gagahnya. Tanpa disadarinya, jantungnya berdegup aneh, hatinya tertarik sekali dan tiba-tiba saja dia merasa sungkan dan malu-malu.

“Eh, apa yang kau lihat? Apakah engkau belum pernah melihat orang?” Tiba-tiba gadis remaja itu bertanya sambil terkekeh kocak.

Pemuda yang bertelanjang baju hanya memandang sambil tersenyum ramah. Bukan pertanyaan dara itu yang membuat Ciang Bun gugup, melainkan tatapan mata dan senyuman pemuda itu.

“Aku…. aku…. ahh, aku belum pernah melihat orang-orang yang bermain-main di atas lautan seperti kalian ini….”

“Hi-hi-hik….!” Dara itu tertawa terkekeh geli. “Ha-ha-ha-ha….!” Pemuda itu pun tertawa.

Sikap mereka demikian gembira, suara ketawa mereka demikian bebas sehingga Ciang Bun yang biasanya pendiam dan serius, terseret oleh kegembiraan mereka dan dia sama sekali tidak merasa tersinggung karena dua orang itu sama sekali tidak seperti mentertawakannya. Maka dia pun ikut pula tertawa ha-ha-he-heh walau pun dia tidak tahu apa sebenarnya yang mereka tertawakan.

“Ha-ha-ha-ha!” Dia tertawa.

Melihat pemuda di atas papan itu tertawa menyeringai dengan muka mengandung keheranan dan tidak mengerti, dua orang muda itu makin geli dan ketawa mereka makin keras.

Ketawa itu seperti tangis. Kalau dibiarkan berlarut-larut akan semakin keras, akan tetapi akhirnya akan habis tenaganya dan berhenti sendiri. Dua orang muda yang tadinya berdiri di atas alas kaki kayu panjang itu, selalu harus mengatur keseimbangan tubuh mereka, mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan mengerahkan tenaga pada kaki. Ketika mereka tertawa-tawa, mulailah keseimbangan tubuh mereka goyah dan mereka pun maju mundur, meluncur ke kanan kiri dan akhirnya dara itu tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya lagi dan terpelanting.

“Byuurrrr….!” Air muncrat tinggi.

“Heiii….!” Si pemuda berteriak dan dia pun terpelanting dan jatuh pula.

Air muncrat semakin tinggi. Melihat betapa dua orang itu terpelanting dan jatuh ke air, Ciang Bun merasa geli sekali. Dia pun terkekeh ketawa. Kini dia ketawa ada sebabnya, ada yang ditertawakan, tidak seperti tadi dia tertawa hanya karena terseret oleh suara ketawa dan sikap dua orang muda itu. Kini dia tertawa seorang diri sambil memandang ke air di mana kedua orang itu tadi terjatuh.

Suara ketawanya makin berkurang dan akhirnya bahkan terhenti sama sekali. Matanya terbelalak dan alisnya berkerut penuh kegelisahan. Dua orang muda yang terpelanting tadi terus tenggelam dan tidak muncul lagi! Tentu saja Ciang Bun menjadi gelisah dan kaget sekali, mengira bahwa mereka itu tentu tenggelam terus! Sungguh aneh sekali!

Dua orang yang begitu pandai bermain di atas air, apakah tidak pandai berenang sehingga mati tenggelam? Dia sendiri lemas dan lelah sekali, akan tetapi melihat mereka berdua itu tenggelam dan tidak timbul lagi, tanpa ragu-ragu Ciang Bun lalu meloncat ke air, melupakan kelelahan dan kelemasan tubuhnya, kemudian menyelam dan mencari-cari dengan membuka matanya di dalam air.

Dia merasa matanya perih, akan tetapi karena sinar matahari cerah, dia dapat melihat ke bawah cukup jelas. Dan apa yang dapat ditangkap dengan pandang matanya membuat dia merasa mukanya panas karena malu. Dua orang muda yang disangkanya tenggelam dan mungkin mati itu sedang berenang di dalam air dengan amat lincahnya, agaknya mengejar ikan-ikan besar seperti berlomba!

Tahulah dia bahwa dia telah salah sangka dan bahwa dua orang muda itu memang benar-benar memiliki ilmu dalam air yang luar biasa seperti setan-setan air saja, maka dia pun cepat-cepat naik kembali ke permukaan air. Setelah kepalanya tersembul, dia menarik napas dalam-dalam dan agak terengah karena lama juga dia tadi menahan napas. Dengan mengandalkan sinkang-nya, memang dia dapat bertahan lebih lama dari pada orang biasa.

Akan tetapi dia merasa lelah sekali dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat sepotong papan yang telah menyelamatkannya semalam kini sudah terbawa air sangat jauh dari situ. Mati-matian dia lalu berenang mengejar, akan tetapi tenaganya semakin lemas dan dia merasa tidak mampu menyusul papan yang hanyut itu.

Tiba-tiba, selagi dia merasa bingung, karena tanpa papan itu dia takkan dapat lama bertahan di permukaan air, apalagi setelah tenaganya makin lemas itu, papan itu seperti hidup dan bergerak membalik dan meluncur ke arahnya! Tentu saja dia merasa terkejut dan heran, akan tetapi yang terutama girang sekali. Ditangkapnya papan itu dan dia pun naik kembali ke atasnya, duduk terengah-engah dan menyusut air laut dari rambut dan mukanya.

Dia memandang ke air dan kekaguman hatinya bercampur heran dan khawatir. Kedua orang muda itu sudah demikian lamanya berada di dalam air, bagaimana mereka kuat bertahan? Tentu mereka memiliki sinkang yang luar biasa tinggi dan kuatnya. Siapakah mereka itu dan mengapa berada di tengah lautan? Dia tidak melihat perahu di sekeliling tempat itu.

Kembali Ciang Bun bergidik. Manusiakah mereka? Dia mengingat kembali percakapan antara mereka dan hatinya meragu. Pertanyaan gadis itu menunjukkan bahwa mereka manusia, akan tetapi sikap mereka yang terbuka dan aneh, lalu keadaan mereka yang seolah-olah hidup di lautan, kepandaian mereka yang luar biasa dalam air!

Tiba-tiba air bergerak dan muncullah dua orang yang sedang dijadikan bahan renungan itu. Sepasang sepatu itu berada di punggung masing-masing, terikat dengan belitan tali ke dada, dan kini kedua tangan mereka memegang dua ekor ikan yang sebesar betis, gemuk dan montok, yang masih menggelepar- gelepar.

“Nih, sobat, kau bawakan ikan-ikanku!” kata pemuda itu dan tubuhnya yang berada di air itu meluncur cepat ke arah papan di mana Ciang Bun duduk.

Ciang Bun memandang kagum. Pemuda itu menggunakan kedua tangan memegangi ikan, jadi tentu hanya mempergunakan kedua kakinya untuk berenang, namun tubuhnya dapat meluncur sedemikian cepatnya, jauh lebih cepat dibandingkan dengan dia sendiri kalau berenang, walau pun mempergunakan kaki tangannya. Akan tetapi dia menerima dua ekor ikan itu, memegangnya dengan kuat-kuat karena ikan-ikan itu menggelepar dan meronta.

Pemuda itu lalu mengambil sepotong tali dan memasukkan tali melalui mulut ikan-ikan itu. Si dara juga berenang mendekat dan empat ekor ikan itu kini sudah diuntai pada tali dan dipegang oleh Ciang Bun.

“Kalau begini mereka tidak akan mati dan masih segar dagingnya setelah kita sampai pulau,” kata pemuda itu sambil memandang wajah Ciang Bun. “Engkau tentu sudah lapar sekali, bukan?”

Wajah Ciang Bun menjadi merah dan dia pun mengangguk.

“Ke pulau? Pulau manakah?” “Pulau kami, yaitu Pulau Nelayan.”

Ciang Bun terkejut. “Pulau Nelayan? Jadi kalian tinggal di Pulau Nelayan?”

“Heii, orang muda aneh, apa yang kau ketahui tentang Pulau Nelayan kami?” gadis itu bertanya, sepasang matanya yang jeli itu menatap penuh keinginan tahu.

Ciang Bun mengangguk. “Mendiang kakekku pernah bercerita tentang Pulau Nelayan, akan tetapi katanya pulau itu sudah disapu bersih oleh badai dan menjadi pulau kosong tidak ada penghuninya lagi, sudah puluhan tahun….”

Dua orang muda itu kelihatan terkejut mendengar ini dan mereka mendekat, kini mereka memegangi papan di mana Ciang Bun duduk, pandang mata mereka penuh selidik.

“Sobat baik, siapakah mendiang kakekmu yaug mengetahui rahasia daerah lautan ini?” tanya pemuda ganteng itu.

“Mendiang kakek adalah Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.”

“Aihhh….!” Dua orang muda itu melepaskan papan dan mundur, kemudian keduanya menjura ke arah Ciang Bun dengan pandang mata takjub dan penuh rasa hormat dan kagum. “Kiranya engkau ini adalah cucu Majikan Pulau Es, Suma-locianpwe….?” kata pemuda itu.

“Dan kami melihat pulau itu terbakar dan lenyap dari jauh….,” sambung si dara sambil terbelalak memandang wajah Ciang Bun.

“Benar, pulau kami terbakar, kakek dan dua nenek kami tewas dan kami, yaitu aku dan saudara- saudaraku, naik perahu meninggalkan pulau, di tengah lautan diserbu musuh, perahu kami pecah dan kami cerai-berai…. ahh….!” Ciang Bun menunduk sedih teringat akan nasib keluarga Pulau Es dan nasib saudara-saudaranya yang belum diketahuinya bagaimana.

“Aihh! Mari cepat ikut bersama kami ke pulau. Kakek tentu akan terkejut mendengar tentang Pulau Es itu. Mari ikut dengan kami ke Pulau Nelayan, Suma-taihiap!” kata pemuda itu.

Ciang Bun memandang, mukanya berubah merah. “Harap jangan menyebutku taihiap. Namaku Ciang Bun, usiaku lima belas tahun.”

“Dan namaku Liu Lee Siang berusia tujuh belas tahun, ini adikku Liu Lee Hiang, lima belas tahun.” “Kalau begitu engkau kusebut twako dan adikmu kusebut siauw-moi,” kata Ciang Bun ramah. “Bun-hiante….!” Lee Siang menyebut girang.

“Bun-koko….!” Dara itu pun menyebut dengan sikap agak malu-malu, namun ia pun tersenyum dan wajahnya yang manis itu berseri.

“Kita tidak mempunyai perahu, bagaimana kita dapat berlayar ke Pulau Nelayan kalian?” tanya Ciang Bun.

“Hi-hik!” Lee Hiang tertawa. “Bukankah sekarang engkau sudah naik kereta dan tinggal menggunakan dua ekor kuda saja untuk menarikmu?”

“Kereta? Kuda….? Apa maksudmu, siauw-moi?”

Lee Hiang tertawa manis, ketawanya bebas lepas, tidak seperti gadis-gadis kota yang kalau tertawa terkendali dan ditutup-tutupi, seolah-olah tertawa merupakan perbuatan yang memalukan.

“Itu keretamu, dan kami berdua adalah kudanya!”

Kakak beradik itu lalu melepaskan alas kaki kayu berbentuk perahu-perahu kecil itu dari punggung, lalu memasang pada kaki mereka, mengikat dengan tali-temali itu dan mereka berdua lalu meloncat dan sudah

berdiri di atas air. Lee Siang menggunakan sehelai tali, agaknya pemuda ini membawa banyak tali di pinggangnya, dan mengikat ujung papan kayu yang diduduki Ciang Bun.

“Bun-hiante, harap suka berpegang kuat-kuat pada keretamu!” Lee Siang berkelakar menyebut papan itu kereta.

Ciang Bun mengangguk dan memegangi papan. Kedua orang kakak beradik itu lalu menggerak-gerakkan kedua tangan seperti orang mendayung dari depan ke belakang, tubuh membungkuk rendah ketika kedua tangan mulai digerakkan dan pada saat kedua tangan ditarik ke belakang, tubuh berdiri dan kedua kaki diisi tenaga mendorong ke depan. Tubuh kedua orang muda itu pun meluncur ke depan dan papan kayu yang diduduki Ciang Bun ikut tertarik dan melaju! Ciang Bun kagum bukan main. Memang keadaan mereka seperti dia menunggang kereta ditarik dua ekor kuda saja.

“Siang-twako, kenapa kalian bermain-main demikian jauhnya?” Ciang Bun bertanya.

“Apa katamu, Bun-hiante?” Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya Lee Siang balas bertanya sambil menoleh.

Ciang Bun maklum bahwa dia bicara melawan angin, maka dia sekali lagi mengulang pertanyaannya, kali ini mengerahkan khikangnya sehingga suaranya dapat menembus tiupan angin dari depan.

“Heiii! Khikang-mu kuat bukan main, hiante!” Lee Siang memuji.

Pemuda ini tidak perlu berteriak keras karena suaranya bahkan terbawa angin dan mudah ditangkap oleh Ciang Bun yang berada di belakangnya.

“Kami bermain jauh dari pulau karena kami ingin menangkap ikan-ikan itu yang hanya terdapat di daerah tadi. Setiap hari kami makan daging ikan, maka harus berganti-ganti agar tidak bosan.”

“Ikan-ikan yang kami tangkap itu adalah ikan sirip emas, selain lezat juga besar khasiatnya untuk memulihkan tenaga dan menghilangkan lelah. Sengaja kami tangkap untukmu, Bun-twako!” berkata pula Lee Hiang.

“Ahh, kalian sungguh baik sekali. Dan ilmu kalian dalam air amat luar biasa, membuat aku kagum bukan main.”

“Engkau pun hebat, Bun-hiante. Engkau mampu melawan badai sampai selamat, dan dalam keadaan lelah engkau masih menyelam dan mencoba untuk mencari kami. Itu saja sudah menunjukkan bahwa engkau pantas menjadi majikan Pulau Es!” kata Lee Siang.

Wajah Ciang Bun menjadi merah. Kiranya mereka tadi melihatku, pikirnya. Kini dia pun tidak merasa heran lagi mengapa papan kayu yang sudah hanyut itu tiba-tiba saja dapat membalik dan meluncur ke arahnya. Kiranya merekalah yang membuatnya.

Tak lama kemudian nampaklah sebuah pulau. Kiranya pulau itu tidak jauh dari situ, hanya di daerah ini keluar kabut yang seolah-olah menyelimuti pulau dan tidak tampak dari jarak agak jauh. Sebuah pulau kecil yang tidak begitu subur, walau pun ada juga tumbuh-tumbuhan di situ. Apa lagi karena tiga penghuninya memang sengaja mengolah tanah di pulau itu dan menanam sayur-sayuran yang berguna bagi mereka.

Mereka disambut oleh seorang kakek yang berdiri di pantai. Kakek ini berpakaian sederhana serba hitam. Usianya sekitar enam puluh lima tahun dan kulit mukanya juga coklat seperti kulit muka Lee Siang karena banyak terbakar sinar matahari. Tangan kirinya membawa sebatang dayung besi yang sesungguhnya merupakan senjatanya yang ampuh.

Wajah yang penuh kerut-merut itu berseri ketika melihat datangnya dua orang cucunya yang tercinta. Akan tetapi alisnya berkerut ketika dia melihat dua orang cucunya itu datang bersama seorang pemuda tampan.

Tidak pernah ada orang luar boleh memasuki pulaunya selama ini dan kedua orang cucunya juga tahu bahwa dia tidak menghendaki ada orang luar berkunjung ke pulau itu. Kenapa sekarang mereka itu lancang pulang membawa seorang tamu?

Begitu tiga orang muda itu mendarat, kakek ini segera menegur cucunya, “Lee Siang dan Lee Hiang, kenapa kalian pulang bersama seorang asing?”

Lee Siang memandang agak gelisah, akan tetapi Lee Hiang segera berlari menghampiri kakeknya dan memegang lengan kakek itu. Memang Lee Hiang itu agak manja dan kakeknya amat sayang kepadanya.

“Kong-kong jangan marah dulu. Kami berani membawanya ke sini karena pertama, dia terapung-apung di tengah lautan, dan kedua, dia ini adalah Suma Ciang Bun, cucu dalam dari Pendekar Super Sakti, majikan Pulau Es.”

“Ahhh….!” Seperti juga kedua cucunya tadi, ketika mendengar disebutnya nama itu, kakek ini juga terkejut sekali dan sikap galaknya serta merta lenyap.

“Jadi Kongcu (tuan muda) ini cucu dari Suma-locianpwe? Tapi…. tapi kulihat Pulau Es terbakar kemarin malam….” Dia memandang ke timur dengan sikap termenung.

“Memang benar, kong-kong. Menurut cerita Bun-ko, katanya Suma-locianpwe bersama dua orang isterinya telah tewas dan pulau terbakar. Bun-twako dan saudara-saudaranya naik perahu menjauh pulau, akan tetapi di tengah pelayaran mereka diserang musuh dan perahunya pecah.”

Mendengar ini tiba-tiba kakek itu menjatuhkan diri berlutut dan menghadap ke arah timur.

“Ahh, siapa menduga bahwa Suma-locianpwe bertiga mengalami nasib seperti itu. Semoga arwah beliau bertiga memperoleh tempat yang penuh damai.”

Lalu kakek itu bangkit dan menghampiri Ciang Bun, merangkulnya. “Suma-kongcu, mari kita ke pondok dan ceritakanlah semua yang terjadi kepadaku. Kakekmu itu adalah junjunganku pula. Dahulu, sebelum burung-burung rajawali di Pulau Es mati semua, kakekmu kadang-kadang suka datang ke pulau ini menunggang burung rajawali. Akan tetapi semenjak burung-burung itu tidak ada, kabarnya mati semua, Suma-locianpwe tidak pernah datang dan akhirnya pulau ini dilanda badai hebat dan putuslah hubungan antara kakekmu dan pulau ini.”

Mereka lalu pergi membawa empat ekor ikan itu ke sebuah pondok di tengah pulau itu. Pondok itu terbuat dari kayu dan batu karang, namun cukup kokoh kuat dan cukup besar, dengan tiga buah kamar dan di sebelah dalamnya sangat bersih dan terawat sehingga menyenangkan untuk ditempati.

Setelah tiba di pondok, Ciang Bun diberi pakaian oleh Lee Siang dan segera berganti pakaian. Biar pun agak kebesaran, namun kering dan enak dipakai. Setelah berganti pakaian, tiga orang itu sibuk di dapur untuk masak ikan dan mempersiapkan makan. Lee Siang dan Lee Hiang tadinya mencegah, akan tetapi Ciang Bun memaksa untuk membantu hingga akhirnya mereka masak-masak sambil bercakap-cakap. Sementara itu, kakek itu masih termenung memikirkan nasib Pulau Es di dalam ruangan sebelah dalam.

Setelah makanan siap, mereka pun makan minum. Hidangannya sederhana saja, hanya nasi dengan masakan daging ikan sirip emas dan beberapa macam sayur sederhana. Akan tetapi karena perutnya lapar sekali, Ciang Bun makan dengan lahapnya. Sikap tuan rumah yang baik dan ramah membuat dia tidak malu-malu lagi dan memang benar ucapan Lee Hiang tadi, daging ikan sirip emas itu lezat sekali.

Setelah makan, barulah mereka bercakap-cakap di ruangan depan sambil melepaskan pandangan mata ke arah pantai, ke sebelah timur yang menjadi arah letaknya Pulau Es.

Ciang Bun sudah percaya benar kepada mereka ini, terutama percaya kepada Lee Siang dan Lee Hiang, maka dia pun menceritakan segala yang terjadi di Pulau Es, sejak penyerbuan datuk-datuk kaum sesat, sampai munculnya Kao Cin Liong, jenderal muda yang banyak berjasa membantu keluarga kakeknya, kemudian tentang tewasnya kedua neneknya dan kematian kakeknya yang penuh rahasia itu. Kemudian diceritakan pula ketika perahu mereka diserang oleh gerombolan datuk jahat sehingga dia terlempar ke lautan yang sedang diamuk badai, terpisah dari tiga orang muda lainnya.

Kakek dan dua cucunya itu mendengarkan dengan amat tertarik dan mereka ikut merasa marah dan penasaran kepada datuk jahat yang kejam itu. Kakek itu mendengar tanpa pernah mengganggu dan setelah Ciang Bun selesai bercerita, barulah dia menarik napas panjang penuh penyesalan, lalu berkata, “Suma-kongcu….”

Akan tetapi Ciang Bun cepat memotong, “Harap locianpwe jangan menyebut kongcu kepadaku….”

Kakek itu tersenyum sedih. “Kakekmu adalah seorang pendekar sakti yang kujunjung tinggi, dan dua orang nenekmu itu, yang seorang pernah menjadi ketua Pulau Neraka, dan yang seorang lagi masih berdarah keluarga kaisar! Sudah semestinya kalau aku menyebutmu kongcu.”

Ciang Bun termenung. Kakek ini biar pun sederhana, namun memiliki kemauan yang teguh dan akan percuma sajalah kalau dibantahnya. “Terserah padamu, locianpwe,” katanya.

“Suma-kongcu, apakah engkau mengenal datuk-datuk kaum sesat yang menyerbu Pulau Es itu?”

“Jenderal muda Kao Cin Liong yang terhitung keponakanku itu mengenal seorang di antara mereka, yaitu pemimpin yang berjuluk Hek-I Mo-ong Phang Kui….”

Kakek itu meloncat berdiri dari bangkunya dan wajahnya berubah, matanya terbelalak. “Ahh…. pantas saja kalau begitu!”

“Apa maksudmu, locianpwe?”

“Tadinya aku sudah merasa terheran-heran dan hampir tidak percaya mendengar ceritamu bahwa keluarga Pulau Es dapat dikalahkan dan ditewaskan oleh musuh, walau pun Suma-locianpwe sendiri tidak turun tangan. Kiranya yang memimpin gerombolan itu adalah Hek-I Mo-ong! Aku mengenal nama itu! Seorang datuk yang kabarnya memiliki kesaktian yang amat tinggi, juga memiliki sihir kuat. Aku tidak merasa penasaran lagi, apa lagi mendengar bahwa di antara mereka banyak yang roboh oleh kedua orang nenekmu yang sakti.”

“Kalau saja Bun-ko sudah lebih dewasa, tentu semua penjahat itu akan mati sebelum mereka berhasil membasmi Pulau Es!” kata Liu Lee Hiang sambil mengepal tinju.

“Suma-kongcu, namaku adalah Liu Ek Soan. Apakah kakekmu sewaktu masih hidup tidak pernah menyebut namaku?” kakek itu bertanya kepada Ciang Bun.

Ciang Bun menggeleng kepala. “Kong-kong pernah bercerita tentang Pulau Neraka, Pulau Nelayan dan lain-lain, dan menurut kong-kong, Pulau Nelayan telah dilanda dan disapu bersih oleh badai yang dahsyat. Agaknya kong-kong menganggap bahwa semua penghuninya telah habis.”

Kakek yang bernama Liu Ek Soan itu mengangguk-angguk. “Mungkin begitu dan memang aku sendiri pun masih merasa heran, kenapa di antara seratus lebih penghuni pulau ini, hanya aku dan dua orang cucuku ini yang selamat secara aneh.”

Kakek Liu Ek Soan lalu bercerita. Belasan tahun yang lalu, pada suatu malam, tanpa diduga-duga badai yang amat dahsyat mengamuk di daerah itu. Belum pernah ada badai sehebat itu dan Pulau Nelayan yang datar itu dilanda badai. Air laut naik tinggi ke pulau, menyapu seluruh pulau dan menyeret apa saja yang berada di pulau itu.

Habis binasalah seluruh penghuni pulau itu. Rumah-rumah mereka pun terseret bersih dan pulau itu menjadi gundul dan kosong sama sekali. Akan tetapi, Liu Ek Soan yang menjadi ketua pulau itu, orang yang terpandai di antara semua penghuni Pulau Nelayan, berhasil menyelamatkan diri walau pun dia sendiri terseret sampai jauh sekali ke tengah lautan.

Dalam keadaan setengah mati, Liu Ek Soan berhasil kembali ke pulau itu, berduka dan ngeri menyaksikan keadaan pulau. Seluruh keluarga dan tetangganya habis musnah. Tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan juga girang hatinya ketika pada keesokan harinya muncul sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh dua orang cucunya, yaitu Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang, yang pada waktu itu baru berusia enam tahun dan empat tahun.

Kiranya dua orang kakak beradik ini, pada sore harinya sebelum badai datang, telah berperahu dan mencari ikan, akhirnya tertahan di sebuah pulau kosong kecil dan tidak berani pulang karena ombak mulai bergelora. Malam itu, sambil menangis keduanya berangkulan di tengah pulau kosong.

Badai mengamuk hebat, akan tetapi pulau kosong itu merupakan bukit dan air laut tidak sampai menyapu permukaan bukit. Baru pada keesokan harinya ketika laut tenang kembali, keduanya turun dari atas bukit menuju pantai di mana mereka tidak melihat lagi perahu mereka.

Dua orang anak-anak itu sudah biasa dengan lautan, bahkan sebelum mereka mampu berjalan kaki, mereka sudah pandai berenang! Maka ketika mereka melihat ada perahu kosong lain terapung-apung agak jauh dari pantai, Lee Siang lalu meloncat ke air, berenang dan menuju ke perahu itu. Dia tidak tahu bahwa itu adalah satu di antara perahu-perahu dari Pulau Nelayan yang tersapu air laut dalam amukan badai semalam.

Didayungnya perahu ke pantai dan bersama adiknya dia lalu pulang ke Pulau Nelayan. Dan di pulau ini mereka mendapatkan sisa bencana itu, seluruh permukaan pulau sudah menjadi gundul dan hanya ada seorang manusia di situ yang menyambut mereka, yaitu kakek mereka, Liu Ek Soan yang merangkul mereka sambil menangis sesenggukan. Ayah bunda mereka, paman-paman dan bibi mereka, saudara- saudara misan mereka, para tetangga, semua habis lenyap ditelan gelombang samudera mengganas.

“Demikianlah, kongcu. Kami bertiga selamat dan agaknya tidak ada seorang pun yang tahu akan hal ini. Aku lalu merawat dan mendidik kedua orang cucuku ini, kami hidup sederhana dan cukup bahagia di pulau kami.”

Ciang Bun memandang kagum. “Dan berkat pendidikan locianpwe, kini Siang-twako dan Hiang-siauwmoi menjadi orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.”

“Ahhh, Suma-kongcu terlalu memuji. Dalam hal ilmu silat, mana mungkin kami dapat dibandingkan dengan kongcu sebagai cucu Suma-locianpwe di Pulau Es? Kami hanya mempelajari sedikit ilmu dalam air.”

“Itulah yang amat mengagumkan hatiku. Mereka berdua ini dapat bergerak di air seperti ikan saja, begitu kuat menyelam lama dan dapat bergerak di permukaan air sedemikian gesit dan ringannya. Sungguh mengagumkan dan aku ingin sekali mempelajari ilmu itu.”

“Bun-ko, kenapa engkau tidak tinggal di sini bersama kami dan belajar bersama kami?” tiba-tiba Lee Hiang berkata dengan sinar mata berseri.

“Benar, dan kong-kong tentu akan suka sekali mengajarkan ilmu dalam air kepadamu, Bun-hiante!” Lee Siang menyambung.

Pemuda ini pun suka sekali kepada Ciang Bun yang tampan gagah dan pendiam itu, apalagi mengingat bahwa selama mereka hidup di pulau itu, jarang mereka bertemu dengan manusia lain, apalagi bersahabat. Dua orang muda itu rindu akan persahabatan dan munculnya Ciang Bun merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan hati mereka.

Lain lagi yang dipikirkan kakek Liu Ek Soan. Tadi Ciang Bun menuturkan keadaannya dan kakek ini amat tertarik. Pemuda gagah ini adalah cucu Pendekar Super Sakti, putera Suma Kian Lee, keturunan Pendekar Super Sakti dan Lulu yang pernah menjadi ketua Pulau Neraka. Pemuda ini adalah keturunan pendekar besar dan alangkah baiknya, alangkah akan bangga dan puas rasa hatinya kalau cucunya yang terkasih, Liu Lee Hiang, dapat berjodoh dengan pemuda ini!

Dia akan berbesan dengan keluarga Pulau Es. Hebat! Dan hal itu bukan tidak mungkin terjadi kalau pemuda ini belajar di Pulau Nelayan. Cucunya itu cukup cantik manis dan usia mereka sebaya, hubungan mereka yang baru sehari itu sudah nampak demikian akrab. Mengapa tidak?

“Tentu saja aku akan merasa gembira sekali dapat membimbing Suma-kongcu dalam ilmu bergerak di air,” katanya dengan wajah berseri. “Dan untuk itu sebaiknya kalau Suma-kongcu sementara waktu tinggal di sini bersama kami. Bagaimana pendapatmu, kongcu?”

Suma Ciang Bun memandang kepada Lee Siang. Dia merasa suka sekali kepada pemuda ini dan rasanya dia akan merasa kehilangan sekali kalau sampai berpisah dari pemuda hebat itu. Dan dia pun suka kepada Lee Hiang, sedangkan kakek itu pun amat baik dan mengenal keluarga Pulau Es. Kalau dia memiliki ilmu dalam air seperti mereka, agaknya dia tidak perlu takut lagi menghadapi amukan badai seperti semalam.

“Baiklah, locianpwe. Aku akan senang sekali tinggal di sini untuk sementara waktu dan mempelajari ilmu itu.”

“Tetapi, harap kongcu jangan menyebut locianpwe atau suhu kepadaku, sungguh aku merasa malu kalau kau sebut begitu, terlalu tinggi bagiku….”

“Lalu aku harus menyebut bagaimana?”

Kakek itu tertawa dan sekali menggerakkan tangan kanan, dayungnya menancap di atas tanah batu karang itu sampai seperempatnya lebih. Ini saja sudah membuktikan bahwa kakek itu memiliki tenaga sinkang yang kuat! “Ha-ha-ha, engkau sebaya dengan dua orang cucuku, bagaimana kalau engkau pun menyebut kakek kepadaku?”

Ciang Bun menjadi girang sekali “Baik, Liu-kong-kong, akan tetapi karena kong-kong menyebut nama mereka begitu saja, maka kepadaku juga sebaiknya kalau kong-kong menyebut namaku tanpa pakai embel-embel kongcu segala macam.”

“Ha-ha-ha, baik sekali, baik sekali, Ciang Bun, engkau sungguh seorang anak yang baik dan pantas menjadi cucu Majikan Pulau Es.”

Demikianlah, mulai hari itu, Ciang Bun tinggal di Pulau Nelayan bersama Liu Ek Soan, Lee Siang dan Liu Lee Hiang. Dengan tekun dia mempelajari ilmu dalam air, dibimbing dengan penuh perhatian oleh Liu Ek Soan, dan dibantu pula oleh Lee Siang dan Lee Hiang. Seperti yang diidam-idamkan oleh kakek itu, pergaulan antara cucu keluarga Pulau Es dan cucunya berjalan lancar dan mereka Nampak akrab sekali.

Bahkan pada bulan-bulan berikutnya, pandangan kakek yang sudah berpengalaman ini dapat melihat dengan jelas bahwa cucunya perempuan, Lee Hiang, telah jatuh hati pada Ciang Bun! Akan tetapi kakek ini merasa ragu apakah cucu Pendekar Super Sakti itu juga ‘ada hati’ kepada dara itu.

Ciang Bun orangnya pendiam dan sukar menjenguk hatinya. Sikapnya pada Lee Hiang memang baik dan ramah, tetapi tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pemuda ini tertarik kepada dara yang sedang manis-manisnya bagaikan bunga sedang mekar semerbak itu. Sikap Ciang Bun biasa saja, bahkan nampaknya pemuda ini lebih akrab dan lebih dekat dengan Lee Siang dari pada Lee Hiang!

********************

“Bun-koko, mari kita latihan menyelam dan mencoba untuk menangkap belut laut yang lincah itu. Dasar- dasar ilmu bergerak dalam air telah kau pelajari dari kong-kong, hanya tinggal mematangkan latihan saja,” kata Lee Hiang yang berdiri di atas perahu kecil itu bersama Ciang Bun, sedangkan Lee Siang melatih diri dengan alas kaki kayunya.

Dia berlatih membuat lompatan-lompatan jauh dan nampaknya pemuda ini sudah mahir sekali. Sejak tadi Ciang Bun yang sudah agak letih berlatih itu duduk di atas perahu memandang ke arah Lee Siang penuh kagum.

Mendengar ajakan dara itu, dia mengangguk. “Baiklah, siauw-moi. Akan tetapi belut itu terlalu cepat dan gesit untukku. Lagi pula, tubuhnya sangat licin sehingga sukar untuk ditangkap.”

“Aku akan membantumu, koko. Memang belut itu sukar ditangkap dan aku sendiri pun tanpa dibantu takkan dapat menangkapnya. Dia harus dihadang dari depan belakang, dan dalam kebingungan dia baru dapat ditangkap sebab jika bingung dia menyusupkan kepalanya ke dalam lumpur sehingga kita tinggal menangkap ekornya saja. Tapi dia merupakan bahan latihan bergerak dalam air yang baik sekali.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo