October 1, 2017

Kisah Para Pendekar Pulau Es Part 25

 

“Harap paduka ketahui bahwa ilmu silat dan ketangguhan Louw-sicu ini sangat boleh diandalkan untuk membantu hamba dalam penyerangan itu.”

Kaisar Kian Liong juga bukanlah seorang yang asing dalam hal ilmu silat. Di waktu mudanya kaisar ini sebagai seorang pangeran suka sekali merantau dan berkenalan dengan orang-orang kang-ouw. Oleh karena itu, sekali melihat pertandingan tadi, walau pun hanya segebrakan, namun dia sudah tahu bahwa Louw Tek Ciang adalah orang yang memiliki kekuatan lebih besar dari pada jenderalnya itu. Tentu saja Kaisar Kian Liong menjadi girang sekali dan segera memerintahkan jenderal Cao dibantu oleh Tek Ciang untuk segera berangkat mempersiapkan pasukan yang kuat agar pada waktunya dapat melakukan pengepungan dan penyergapan.

Berita tentang dipersiapkannya pasukan besar oleh Jenderal Cao ini dan ditangkapnya Gan-ciangkun sekeluarga, sampai pula ke telinga Jenderal Kao Cin Liong. Jenderal muda ini terkejut bukan main, apalagi mendengar bahwa pasukan itu sudah berangkat pagi-pagi sekali. Dia cepat memberi tahukan hal ini kepada isterinya dan ayah ibunya yang masih berada di rumahnya, juga kepada Puteri Milana dan Gak Bun Beng.

Mendengar ini, keluarga ini pun terkejut sekali. Para pendekar itu harus diselamatkan, apalagi kalau diingat bahwa Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu bersama isteri mereka hadir pula dalam pertemuan di Hutan Cemara itu. Maka, berangkatlah mereka dengan cepat mengejar pasukan pemerintah agar dapat tiba di hutan itu lebih dulu dari pada para prajurit pemerintah.

Kita kembali ke hutan itu. Para pendekar yang tahu bahwa hutan itu sudah dikepung pasukan yang besar, sebagian menjadi panik juga.

Akan tetapi Sim Hong Bu sudah meloncat ke depan dan berseru. “Harap saudara sekalian tenang dan siap mempertahankan diri. Inilah ujian pertama bagi kita dan demi perjuangan yang suci, kalau perlu kita siap mengorbankan nyawa!”

Ucapan ini segera disambut dengan gembira dan bangkitlah semangat para pendekar itu. Mereka sudah mencabut senjata masing-masing dan bersiap menghadapi serbuan pasukan besar yang sudah mengepung hutan itu.

“Kita berpencar dan bersembunyi, memecah-belah kekuatan mereka serta membuka jalan darah untuk menyelamatkan diri!” kembali Sim Hong Bu berseru. Ternyata dalam keadaan terancam bahaya itu pendekar ini memperlihatkan ketenangan, ketabahan dan kepandaiannya untuk memimpin.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring. “Tahan dulu….!” dan muncullah Kao Cin Liong, Kao Kok Cu, Wan Ceng, Puteri Milana, Gak Bun Beng yang masing-masing mengangkat tangan memberi isyarat kepada mereka semua agar tenang.

“Saudara-saudara, dengarlah dulu sebelum turun tangan!”

Yang bicara ini adalah Puteri Milana. Wanita yang sudah nenek-nenek ini nampak masih anggun dan gagah, suaranya nyaring penuh wibawa, membuat semua pendekar terkejut dan memandang kepada rombongan yang baru tiba ini. Melihat mereka ini, Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu bersama isteri mereka juga bergabung.

“Siapakah mereka itu….?” Bi Eng bertanya kepada Ceng Liong yang masih berdiri di dekatnya.

Ceng Liong juga terkejut melihat hadirnya semua keluarganya itu. Dia melihat betapa Ciang Bun juga kini sudah menggabungkan diri dengan mereka. Hampir lengkaplah keluarga para pendekar Pulau Es berkumpul di situ! Mendengar pertanyaan kekasihnya, Ceng Liong menjawab lirih.

“Mereka adalah keluarga para pendekar Pulau Es….”

“Ahhh….? Yang mana ayahmu dan ibumu….?” gadis itu bertanya penuh kagum karena rambongan itu memang nampak gagah perkasa.

“Itulah ayah dan ibu, dan itu bibi Puteri Milana bersama suaminya, dan di sana itu paman Suma Kian Lee dan isterinya.”

“Siapakah orang gagah berpakaian panglima itu?”

“Dia itu kakak iparku, Jenderal Kao Cin Liong bersama enci Suma Hui, isterinya. Dan kakek berlengan satu itu adalah Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu bersama isterinya pula….”

“Ahhh….!” Bi Eng tiada hentinya mengeluarkan seruan kaget dan kagum. Dia sudah pernah mendengar nama-nama itu yang disebut dan dikagumi ayah ibunya, dan baru sekarang ia dapat melihat mereka semua.

Munculnya keluarga para pendekar Pulau Es ini memang mengejutkan semua orang, terutama sekali mereka yang sudah mengenal beberapa di antara anggota keluarga itu. Pimpinan Pek-lian-kauw yang baru saja mengalami kekalahan dan penghinaan sudah mengenal pula Puteri Milana yang menjadi musuh besar mereka.

Ci Hong Tosu bangkit dan mengangkat tongkatnya sambil berseru. “Mereka itu adalah keluarga Pulau Es! Mereka sudah mengkhianati kita! Tentu merekalah yang membawa pasukan pemerintah. Siapa tidak mengenal Puteri Milana, puteri Mancu yang dahulu sudah banyak membasmi teman-teman kita yang berjuang untuk mengusir penjajah?”

Teriakan tosu ini tentu saja membangkitkan amarah di dalam hati para pendekar, akan tetapi karena yang bicara adalah tosu Pek-lian-kauw yang tadi sudah memperlihatkan perangai buruk, sebagian besar para pendekar masih ragu-ragu.

“Saudara sekalian, dengarkan dulu kata-kataku baru kalian boleh mengambil keputusan apa yang akan kalian lakukan!” Puteri Milana berkata lagi dengan lantang. “Rencana kalian untuk memberontak adalah suatu perbuatan bodoh yang waktunya tidak tepat. Apa yang akan kalian capai dengan pemberontakan? Hanya perang besar yang akan membuat rakyat jelata menderita. Puluhan ribu orang akan tewas, rakyat kehilangan keluarga, harta benda dan ketenteraman hidup. Karena itu, sebelum terlambat, kami datang untuk memperingatkan dan menyadarkan kalian supaya menyerah dan jangan melawan!”

“Kami adalah patriot-patriot yang tidak takut mati. Kami berjuang untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan Bangsa Mancu. Engkau seorang puteri Mancu tentu saja membela pemerintahan bangsamu!”

“Aku bukan puteri Mancu. Aku puteri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es….”

“Tetapi ibumu puteri Nirahai, puteri Mancu!” bentak kepala rombongan Pek-lian-pai.

“Cu-wi, dengarlah baik-baik!” Kini Cin Liong yang berseru nyaring. “Lihatlah aku. Aku adalah Jenderal Kao Cin Liong, tetapi aku datang bukan sebagai pemimpin pasukan untuk menyerbu kalian, melainkan datang untuk menyadarkan kalian. Sebagai seorang panglima aku tahu benar akan keadaan pemerintah. Di bawah pimpinan Sri Baginda Kaisar Kian Liong, harus kita akui bahwa negara mengalami kemajuan dan taraf hidup rakyat tidak sengsara. Lagi pula pemerintah ini selalu menentang golongan jahat dan melindungi rakyat.”

“Engkau penjilat orang Mancu! Huhh, tidak tahu malu!” terdengar pula teriakan dari golongan Pat-kwa-pai dan Thian-lian-pai.

Akan tetapi Cin Liong masih bersikap tenang. “Cu-wi adalah orang-orang yang gagah perkasa, bukan orang-orang ceroboh yang tidak memperhitungkan setiap tindakan. Kita harus memakai perhitungan apa untungnya dan apa ruginya kalau kita mau bertindak. Camkanlah, kalau kalian melakukan pemberontakan, ruginya sudah jelas. Rakyat akan menderita karena perang, karena perang mengakibatkan kematian dan kehilangan, juga menimbulkan meraja lelanya kejahatan karena kurang adanya penjagaan keamanan. Juga, keadaan pemerintah sekarang amat kuatnya, setiap pemberontakan sama artinya dengan bunuh diri. Apalagi kalian sekarang sudah dikepung oleh sepuluh ribu orang pasukan! Melawan berarti mati semua. Dan apakah keuntungannya memberontak tidak pada saatnya yang tepat? Cita-cita boleh muluk, akan tetapi andai kata dapat menang, hal yang sungguh tidak mungkin terjadi dalam keadaan seperti sekarang di waktu rakyat belum siap. Dan seandainya menang, belum tentu kalian akan mendapatkan seorang pengganti kaisar yang baik, sebaik sri baginda kaisar sekarang ini!”

“Aha, enak saja bagimu untuk bicara, Jenderal Kao Cin Liong. Lantas tindakan kami seperti apakah yang akan kau anggap gagah? Apakah kita harus berlutut menyerahkan diri dan minta ampun kepada orang Mancu? Ha-ha-ha, itukah yang akan kau anggap sebagai perbuatan gagah?”

Kao Cin Liong memandang kepada kakek yang bicara ini. Kakek ini bukan lain adalah Bu-taihiap! Pernah terjadi sesuatu antara dia dan keluarga ini, suatu perasaan tidak enak ketika dia menolak perjodohan yang dikehendaki keluarga itu antara dia dan Bu Siok Lan, seorang puteri dari Bu-taihiap….. (baca cerita ’Suling Emas Naga Siluman’).

Dengan sikap ramah Cin Liong memberi hormat kepada Bu Seng Kin atau Bu-taihiap. “Harap Bu-locianpwe suka melihat kenyataan dan tidak mendahulukan prasangka. Saya bersama semua keluarga Pulau Es datang bukan untuk menentang cu-wi, juga bukan untuk membantu pemberontakan, tetapi untuk mengingatkan akan bahayanya rencana cu-wi ini.”

“Nanti dulu, orang muda!” Tiba-tiba terdengar suara Sim Hong Bu lantang. Orang gagah ini telah melangkah maju dan dengan sinar mata mencorong dia menentang rombongan keluarga Pulau Es. “Aku merasa heran sekali melihat betapa keluarga para Pendekar Pulau Es dapat bersikap seperti ini!” Dia menatap tajam ke arah Suma Kian Bu yang pernah dihubunginya. “Kalau kita takut menghadapi bahaya dan kematian dalam suatu perjuangan, berarti kita pengecut dan bukan patriot sejati. Setiap perjuangan tentu akan menjatuhkan korban. Setiap pembaharuan harus berani meruntuhkan lebih dulu yang lama. Siapa yang tidak tahu akan hal ini? Kerugian dan kematian yang diderita dalam setiap perjuangan merupakan pupuk bagi perjuangan itu sendiri!”

Kini Suma Kian Bu yang dipandang tajam oleh Sim Hong Bu, maju dan menjura kepada Sim Hong Bu. “Saudara Sim memang seorang gagah perkasa dan tidak ada seorang pun meragukan kegagahanmu dan jiwa patriotmu. Saudara Sim, seperti pernah kita bicara, aku sendiri pun mengerti tentang jiwa patriot yang kini berkobar di hati kalian. Bahkan aku menyetujui kalau negara dibebaskan dari penjajahan. Akan tetapi, kini aku pun melihat bahwa hal itu harus dilakukan dengan perhitungan yang amat masak, tidak secara sembrono saja. Kita harus dapat melihat keadaan dan ingatlah, perjuangan ini adalah perjuangan rakyat, bukan perjuangan beberapa gelintir pendekar saja. Untuk gerakan yang amat besar itu dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar jujur dan mencinta rakyat. Cobalah saudara lihat, apakah orang-orang seperti dari Pek-lian-kauw dan perkumpulan lain yang selalu memberontak karena kepentingan pribadi itu dapat dijadikan teman seperjuangan? Nah, karena itu, aku Suma Kian Bu mewakili seluruh keluarga para pendekar Pulau Es untuk minta pengertian dan kesadaran cu-wi dan menyerah saja tanpa perlawanan.”

“Bukan berarti kita takut, melainkan kita sadar dan bertindak bijaksana menghindarkan jatuhnya banyak korban dengan sia-sia,” sambung Suma Kian Lee.

“Saya sendiri yang akan menghadap sri baginda mintakan ampun bagi kita semua!” kata Jenderal Kao Cin Liong.

“Aku pun akan menghadap sri baginda, memohon agar sri baginda membebaskan cu-wi semua dan menghabiskan urusan ini. Bagaimana pun juga, cu-wi belum memberontak, baru mengadakan pertemuan dan jika cu-wi tidak melawan pasukan yang mengepung, maka dosa cu-wi tidaklah begitu besar.”

“Omong kosong!” Tiba-tiba Bu-taihiap berseru dengan suaranya yang amat keras. “Heh, para keluarga pendekar Pulau Es, dengarlah baik-baik! Aku sudah banyak mendengar akan kehebatan dan nama besar keluarga Pulau Es, juga aku sudah lama mendengar kehebatan nama Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, akan tetapi tidak kusangka bahwa mereka ini ternyata hanyalah penjilat-penjilat kaisar atau pengecut- pengecut lemah. Kalau memang kalian hendak menjadi antek kaisar Bangsa Mancu, majulah, kami tidak takut mati. Mati bagi kami merupakan suatu kebanggaan karena kami mati untuk membela bangsa dan tanah air!”

Ucapan Bu-taihiap ini kembali membangkitkan semangat para pendekar dan mereka bersorak menyambut ucapan ini. Akan tetapi banyak pula di antara mereka yang tidak terbawa emosi dan dapat mempergunakan akal budinya untuk melihat kebenaran dalam ucapan para keluarga pendekar Pulau Es tadi. Dan mereka ini lalu menggeser tempat berdiri mereka, mendekati kelompok keluarga pendekar Pulau Es di mana termasuk pula keluarga Kao. Sebagian lagi yang dibakar emosi berdiri di belakang Bu-taihiap yang berdiri gagah bersama empat orang isterinya.

“Kita lawan sampai mati….!” Bu Seng Kin berseru dan kembali disambut sorak-sorai oleh seratus orang lebih mereka yang mendukungnya.

Sim Hong Bu yang sudah terbakar pula semangatnya oleh sikap Bu-taihiap, meloncat ke depan, di samping Bu-taihiap dan menghunus pedangnya. Nampak sinar berkilat mengerikan ketika Pek-kong Po- kiam dicabutnya dan dia pun berteriak. “Kita adalah patriot-patriot sejati! Sekaranglah saatnya kita membuktikan bahwa kita berjuang bukan guna kepentingan diri sendiri, bahkan rela berkorban nyawa!”

Sikap Sim Hong Bu ini segera menambah semangat mereka. Kembali para pendekar menyambut dengan sorak-sorai. Melihat ini, Sim Houw putera Sim Hong Bu juga lalu melompat ke dekat ayahnya dan bersikap gagah penuh semangat.

“Eng-moi….!” Tiba-tiba Ceng Liong berseru keras melihat Bi Eng tiba-tiba saja meloncat pula ke depan, ke dekat guru dan tunangannya. Muka dara itu pucat, akan tetapi sinar matanya penuh semangat dan dia pun sudah melolos suling emasnya.

Pada saat itu terdengar bunyi terompet susul menyusul dan pasukan yang mengepung itu mulai bergerak maju memasuki hutan cemara itu. Penyergapan dimulai! Tadi, Kao Cin Liong menemui Jenderal Cao Hui dan minta Cao-goanswe menangguhkan dulu penyergapan karena dia hendak membujuk dan menyadarkan para pendekar.

Cao-goanswe amat segan kepada rekannya ini. Maka dia memberi waktu selama habis terbakarnya sebatang hio. Dan agaknya waktu yang ditangguhkan itu sudah lewat dan sekarang terpaksa Gao- goanswe mulai menggerakkan pasukannya menyerbu ke dalam hutan!

Melihat ini, Puteri Milana cepat berseru. “Saudara-saudara yang sadar harap berdiri di belakang kami!”

Mereka yang tadi merasakan benarnya omongan keluarga para pendekar Pulau Es, segera berkumpul di belakang keluarga itu dan Puteri Milana segera minta kepada keluarganya untuk berdiri mengelilingi mereka untuk memberi perlindungan. Ada pun para pendekar lainnya yang mendukung Sim Hong Bu dan Bu-taihiap, sudah mencabut senjata masing-masing. Mereka berpencaran untuk menyambut serbuan para prajurit pemerintah.

“Liong-ji….!” Teng Siang In berseru keras pada waktu melihat puteranya meloncat dan menyelinap bersama para pendekar yang hendak melawan pasukan!

“Ibu, aku harus melindungi Eng-moi!” hanya itulah jawaban Ceng Liong.

Ibu ini diam-diam merasa khawatir sekali. Dia tadi melihat betapa puteranya berdiri di dekat seorang gadis gagah yang juga ikut maju bersama para pendekar melawan pemerintah dan tahulah ibu ini bahwa tentu puteranya itu telah jatuh hati kepada gadis pemberontak itu.

Diam-diam dia merasa gelisah sekali, tetapi karena dia pun bertugas melindungi para pendekar yang sudah sadar dan tidak melawan, ia tidak dapat meninggalkan tempat itu. Lagi pula, apa yang dapat dilakukannya kalau memang puteranya itu jatuh cinta kepada gadis pemberontak itu dan kini puteranya hendak melindunginya?

Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena pada saat itu pertempuran sudah terjadi dengan amat serunya. Ketika ada pasukan yang menghampiri rombongan mereka yang mengelilingi para pendekar yang tak ingin melawan, Milana dan Ceng Liong bergantian berseru. “Jangan serang kami! Kami orang sendiri!”

Para prajurit tentu saja mengenal Jenderal Kao Cin Liong dan juga sebagian besar prajurit yang sudah bertugas lama mengenal Puteri Milana, maka pasukan tidak ada yang berani menyerang rombongan yang memang tidak melawan ini. Akan tetapi, pasukan menghadapi perlawanan yang amat hebat dari para pendekar yang dipimpin oleh Bu-taihiap dan Sim Hong Bu!

Biar pun jumlahnya jauh lebih banyak, namun kini pasukan itu menghadapi orang-orang yang selain memiliki ilmu kepandaian silat, juga bersemangat tinggi dan para pendekar itu melakukan perlawanan nekat dan mati-matian. Mereka telah terbakar semangatnya oleh sikap dan kata-kata Bu-taihiap dan Sim Hong Bu sehingga mereka itu tidak ingat apa-apa lagi kecuali melawan dan melawan!

Hutan Cemara yang biasanya sunyi dan bersih itu, kini telah berubah menjadi tempat yang gaduh dan kotor oleh darah! Bagaikan orang-orang membabat rumput saja, para pendekar itu mengamuk dan para prajurit itu roboh bergelimpangan. Terutama sekali amukan Bu-taihiap dan keempat orang isterinya. Segera mayat para prajurit berserakan dan bertumpuk-tumpuk di sekitar mereka.

Tak kalah hebatnya adalah amukan Sim Hong Bu dan puteranya, Sim Houw. Pedang Pek-kong Po-kiam di tangan Sim Hong Bu bagaikan telah berubah menjadi seekor naga, seekor naga yang haus darah. Darah muncrat-muncrat dan membanjiri tanah ketika pendekar ini mengamuk dengan pedangnya.

Sim Houw yang baru saja kembali dari gemblengan yang diterimanya dari pendekar sakti Kam Hong, juga mengamuk hebat. Dia bahkan lebih lihai dari pada ayahnya dan walau pun pedangnya bukan merupakan sebuah pusaka yang sehebat dan seampuh Pek-kong Po-kiam, akan tetapi pedang itu dapat bergerak lebih hebat lagi.

Hanya saja, agaknya pemuda ini tidak begitu bernafsu untuk membunuh lebih banyak orang, maka gerakannya tidak begitu ganas dan walau pun setiap orang lawan yang menghadapinya tentu roboh, akan tetapi pedangnya tak menjatuhkan korban sebanyak yang roboh oleh Pek-kong Po-kiam di tangan ayahnya.

Pedang Pek-kong Po-kiam (Pedang Pusaka Sinar Putih) memang tidaklah sedahsyat pedang Koai-liong Po-kiam yang telah diminta kembali oleh Cu Han Bu, akan tetapi pedang ini pun bukan pedang biasa. Sim Hong Bu memperoleh pedang ini dari seorang tosu pertapa yang merasa kagum akan semangat perjuangannya.

Sementara itu, Bi Eng juga mengamuk dengan suling emasnya. Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu dara ini berhadapan dengan Ceng Liong!

“Eng-moi, jangan….!” kata pemuda itu.

Bi Eng terpaksa menghentikan gerakan suling emasnya ketika ia melihat pemuda yang dicintanya itu menghadang di depannya.

“Liong-ko, minggirlah. Biarkan aku membantu para pejuang!” kata Bi Eng, suaranya gemetar dan matanya basah. Gadis ini memang sedang merasa gelisah dan bingung sekali. Tidak disangkanya bahwa terjadi perpecahan di antara para pendekar, terutama sekali antara gurunya dan keluarga Ceng Liong!

“Eng-moi, jangan…. demi aku…. demi cinta kita, jangan kau lanjutkan….!” Ceng Liong berkeras menahannya.

Suling emas itu digengam erat-erat di tangan kanan Bi Eng. Ia menghadapi kekasihnya dengan muka pucat.

“Koko, kenapa engkau menentangku? Menentang kami? Kenapa….? Jangan halangi aku dan minggirlah, biarkan aku melawan para penjajah, aku tidak takut mati….!”

“Eng-moi, ingatlah, sadarlah. Lihatlah baik-baik. Kalau keluarga Pulau Es memang mau menentang kalian, tentu kami sudah bergerak dan melawan kalian. Apakah kalian akan mampu berbuat banyak kalau begitu? Lihatlah, kami diam saja. Kami tidak membantu kalian, akan tetapi kami pun tidak menentang kalian. Eng- moi, marilah. Mari engkau ikut pergi denganku, Eng-moi. Kita pergi jauh sekali, meninggalkan semua kerusuhan dan keributan, semua bunuh-membunuh yang haus darah ini. Lihatlah, tidak mengerikankah semua ini….?” Ceng Liong membuka kedua tangannya menunjuk ke empat penjuru. Memang amat mengerikan melihat mayat-mayat berserakan dan darah membanjir di sekitar tempat itu.

Akan tetapi, Bi Eng yang dikuasai semangat perlawanan yang hebat itu tidak mudah dibujuk.

“Koko, aku harus melawan mereka! Aku harus mempunyai setia kawan terhadap para pendekar. Dan engkau…. engkau seorang gagah perkasa, mari berjuang bersamaku, koko!”

“Tidak, Eng-moi, ingatlah, engkau keliru. Mereka semua itu keliru. Sekarang aku sudah sadar bahwa semua ini merupakan perbuatan tergesa-gesa dan gegabah, tidak pernah diperhitungkan masak-masak dan tiada gunanya lagi. Mari kita berdua pergi saja dari sini, Eng-moi….”

“Tidak, koko, aku harus membunuh anjing-anjing Mancu itu, sebanyak mungkin!” Gadis itu menggerakkan sulingnya sehingga nampak sinar berkelebat.

“Aih, Eng-moi, kenapa engkau tidak mendengarkan kata-kataku? Baiklah, Eng-moi, jika memang engkau begitu haus darah, nah, ini dadaku. Kau bunuhlah aku lebih dulu dari pada melihat engkau akhirnya akan tertawan atau terbunuh dan membuat aku menjadi menyesal dan berduka.” Suma Ceng Liong melangkah maju mendekati gadis itu.

Wajah Bi Eng menjadi pucat sekali. Suling yang sudah diangkatnya itu turun kembali, matanya terbelalak memandang wajah Ceng Liong. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan akhirnya gadis yang gagah perkasa dan penuh semangat itu menjadi bingung dan gelisah, lalu menangis!

“Kam-siocia (nona Kam), apakah orang ini mengganggumu?” terdengar bentakan dan nampak sinar berkilat menyambar ke arah leher Ceng Liong.

Pemuda ini terkejut, tahu bahwa yang menyerangnya adalah seorang yang amat lihai, maka dia pun melempar tubuh ke belakang dan pedang itu meluncur bagaikan kilat menyambar.

Penyerangnya itu adalah Sim Houw, pemuda putera Sim Hong Bu yang menjadi calon suami atau tunangan Bi Eng! Pemuda itu memang hebat sekali. Begitu serangannya luput, pedangnya sudah membalik dan meluncur lagi seperti kilat menyambar-nyambar, pedangnya lenyap membentuk sinar bergulung-gulung menyilaukan mata. Inilah ilmu pedang gabungan dari Koai-liong Kiam-sut dan Sin-sauw Kiam-sut yang dipelajarinya dari pendekar sakti Kam Hong. Memang belum sempurna benar dia menggabung kedua ilmu itu, akan tetapi biar pun belum sempurna, keampuhannya sudah hebat. Sinar pedang itu bergulung-gulung dan mengeluarkan suara seperti suling ditiup!

Tentu saja Ceng Liong merasa terkejut sekali. Cepat dia pun menggerakkan tubuhnya mencelat ke sana- sini untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya maut yang memancar dari sinar pedang lawan itu. Dia sudah mengenal kehebatan Sim Hong Bu, akan tetapi tidak pernah disangkanya bahwa putera pendekar itu sedemikian hebatnya ilmu pedangnya.

Juga terjadi semacam keraguan dan kebingungan di dalam hati Ceng Liong. Dia sudah mengenal pemuda ini sebagai calon suami kekasihnya. Maka, kini dia merasa tidak enak hati sekali. Bagaimana pun juga, dia sudah merampas calon isteri pemuda ini, maka ada semacam perasaan bersalah terhadapnya dan kini dia merasa sungkan untuk melawan.

Maka, biar pun Sim Houw menyerangnya bertubi-tubi, Ceng Liong hanya berloncatan ke sana-sini untuk mengelak saja, masih merasa ragu-ragu untuk membalas. Padahal, kalau hanya bertahan saja tanpa balas menyerang terhadap seorang lawan seperti Sim Houw, sungguh amat berbahaya sekali. Pedang pemuda itu bagaikan seekor naga mengamuk dan sebentar saja gulungan sinar pedang itu menutup semua jalan keluar Ceng Liong. Pemuda ini masih bertahan, melempar dirinya ke belakang dan bergulingan di atas tanah.

“Brettttt….!”

Biar pun kulit tubuhnya belum tersayat, akan tetapi ujung bajunya terobek ujung pedang. Barulah Ceng Liong benar-benar merasa terkejut sekarang. Jarang ada lawan yang akan mampu merobek ujung bajunya dengan pedang, dan hal ini saja membuktikan bahwa lawannya benar-benar amat tangguh.

“Tringgg….!”

Tiba-tiba nampak api berpijar ketika pedang di tangan Sim Houw yang masih terus mengejar Ceng Liong itu tertangkis sebatang suling emas.

“Nona Kam…. kau…. kenapa….?” Sim Houw terkejut sekali dan terbelalak memandang wajah Bi Eng.

Biar pun gadis ini dengan resmi menjadi tunangannya, bahkan di antara mereka masih ada hubungan perguruan karena dia digembleng ayah gadis itu dan sebaliknya gadis itu menjadi murid ayahnya, namun mereka berdua tidak pernah bergaul dan Sim Houw adalah seorang pemuda pemalu yang tidak pernah bergaul dengan wanita. Oleh karena itu dia merasa sungkan dan malu dan menyebut gadis itu dengan sebutan ‘nona’. Tentu saja pemuda ini merasa kaget dan heran sekali melihat betapa tunangannya itu malah menangkis pedangnya yang hendak menyerang laki-laki yang membuat tunangannya tadi nampak bingung dan menangis!

“Sim-koko, jangan serang dia!” kata Bi Eng dengan mata masih basah dengan air mata.

Pada saat itu empat orang prajurit pemerintah datang menerjang. Pedang di tangan Sim Houw dan suling di tangan Bi Eng bergerak membentuk sinar dan robohlah empat orang prajurit itu tanpa dapat bangun mau pun bergerak lagi.

“Eng-moi, mari kita pergi….!” kata Ceng Liong.

Bi Eng nampak ragu-ragu dan Ceng Liong lalu memegang tangan gadis itu, menariknya pergi dari situ. Melihat ini, Sim Houw memandang bengong dan bingung.

Pada saat itu, terdengar teriakan ayahnya. Sim Houw cepat membalikkan tubuhnya dan terkejut bukan main melihat ayahnya dikeroyok oleh puluhan orang perwira dan prajurit pemerintah. Di antara para perwira yang rata-rata lihai itu terdapat seorang lelaki yang gerakannya aneh dan lihai sekali, yang memainkan sebatang pedang, dan membuatnya terkejut karena dia seperti mengenal gerakan-gerakan yang mirip dengan Koai-liong Kiam-sut!

Ayahnya bukan hanya terdesak, tetapi agaknya sudah terluka parah. Tubuhnya mandi darah dan biar pun pedang Pek-kong Po-kiam masih amat hebat dan merobohkan lagi beberapa orang, namun luka-luka di tubuhnya akibat anak panah dan bacokan-bacokan membuat ayahnya terhuyung-huyung.

Kiranya, betapa pun lihainya Sim Hong Bu, menghadapi pengeroyokan puluhan orang yang tidak pernah berkurang jumlahnya karena setiap kali ada yang roboh, ada pula penggantinya yang maju, akhirnya kakek ini kehabisan tenaga serta kecepatannya berkurang sehingga dia terluka oleh beberapa batang anak panah dan senjata lawan. Apalagi ketika Louw Tek Ciang membantu belasan orang perwira yang mengeroyok pendekar ini, keadaan Sim Hong Bu benar-benar repot.

“Ayah….!” Sim Houw berteriak dan lari menghampiri tempat dimana ayahnya terkurung ketat itu.

Dia pun mengamuk. Pedang di tangannya mengeluarkan suara melengking-lengking dan banyak prajurit dan perwira roboh oleh sinar pedangnya. Akibat kehebatan pemuda ini, Tek Ciang sendiri menjadi terheran-heran dan kagum bukan main. Tadi pun ia telah mengenal Kai-liong Kiam-sut.

Sebagai murid keluarga Cu, tentu saja dia sudah mendengar tentang Sim Hong Bu yang dianggap murid bahkan menantu durhaka dari keluarga Cu itu. Maka ketika tadi dia mengeroyok pendekar itu, dia mengenal gerakan Koai-liong Kiam-sut yang mempunyai dasar-dasar gerakan mirip dengan ilmu pedang yang dipelajarinya dari keluarga Cu, dan melihat suami Cu Pek In itu, timbul keinginan hati Tek Ciang untuk membunuhnya.

Guru-gurunya sudah bercerita tentang kehebatan ilmu pedang itu dan sekarang dia pun mendapatkan kenyataan betapa lihainya pendekar itu. Akan tetapi sesudah dia dan kawan-kawannya hampir berhasil merobohkan Sim Hong Bu, tiba-tiba muncul pemuda yang amat lihai itu.

“Ayahhh….!” Sim Houw merangkul ayahnya ketika berhasil membuat para pengeroyok ayahnya kocar- kacir.

“Houw-ji…. aku sudah terluka…. tinggalkan aku dan selamatkanlah dirimu…. engkau tidak boleh mati…. kelak engkau harus melanjutkan perjuanganku…. menyusun tenaga baru….” Sim Hong Bu terengah-engah menahan nyeri dan dia tetap gagah, pedangnya melintang di depan dada.

“Tidak, ayah…. aku harus melindungimu….”

Pada saat itu, Louw Tek Ciang yang merasa penasaran karena ingin sekali merampas pedang pusaka, sudah menghimpun pembantu-pembantu yang lihai dan mengepung lalu menerjang ayah dan anak itu. Sim Houw menyambut dan terjadilah perkelahian seru antara Sim Houw dan Tek Ciang.

Sim Houw terkejut bukan main mendapat kenyataan betapa lawannya ini amat tangguh, bukan hanya mampu menahan serangan pedangnya, bahkan mampu membalasnya pula dengan amat hebat! Lebih terkejut lagi ketika kini dia dapat melihat semakin nyata bahwa dasar-dasar gerakan ilmu pedang dari orang ini sangat mirip dengan Koai-liong Kiam-sut!

Maka dia pun cepat memutar pedangnya dan begitu dia mainkan gabungan Koai-liong Kiam-sut dan Sin- siauw Kiam-sut, Tek Ciang mengeluarkan seruan kaget dan terdesak hebat! Suara melengking-lengking yang keluar dari pedang pemuda itu mengingatkan dirinya akan suara tiupan suling keluarga Kam yang pernah membuatnya kalah.

Sementara itu, keadaan Sim Hong Bu makin payah. Oleh karena sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, orang tua yang gagah perkasa ini semakin berkurang tenaganya dan menghadapi pengeroyokan para perwira, biar pun dia masih berbahaya dan dapat merobohkan lawan yang terlalu dekat dengannya, namun dia menerima pula beberapa kali tusukan tombak dan tubuhnya semakin terhuyun-huyung.

Melihat keadaan ayahnya ini Sim Houw memutar pedangnya meninggalkan Tek Ciang dan melindungi ayahnya. Pedangnya membentuk gulungan sinar yang panjang dan luas, membuat para pengeroyok Sim Hong Bu kocar-kacir lagi. Akan tetapi, tiba-tiba Tek Ciang bersama kawan-kawannya datang menyerbu.

Sim Houw merangkul ayahnya dan ayah ini berkata. “Houw-ji, pergunakan pedang ini, pergunakan Pek- kong Po-kiam….”

Sim Houw bertukar pedang dengan ayahnya. Begitu dia memutar Pek-kong Po-kiam, akibatnya sangat hebat. Empat orang perwira terjungkal dan Tek Ciang sendiri terpaksa melompat mundur sampai jauh. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sim Houw untuk memondong ayahnya yang sudah lemah itu dengan lengan kiri, lalu meloncat pergi.

“Pemberontak, hendak lari ke mana kau?” Louw Tek Ciang yang menginginkan pedang pusaka itu melakukan pengejaran.

Akan tetapi Sim Houw bersama ayahnya sudah menghilang di antara banyak prajurit yang masih bertempur dengan seru itu. Tek Ciang menjadi kecewa dan marah, lalu membantu para prajurit yang masih mengepung para pendekar.

Keluarga Bu-taihiap juga mengamuk dengan hebatnya. Pendekar yang sudah tua ini lihai bukan main, bertempur sambil tertawa-tawa gembira. Juga empat orang isterinya adalah wanita-wanita yang hebat. Tang Cun Ciu yang dahulu terkenal dengan julukan Cui-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa), bekas isteri tokoh keluarga Cu yang lihai, kini biar pun sudah berusia enam puluh tahun, masih ganas dan lihai. Juga Cu Cui Bi yang bekas nikouw itu pun mengamuk di samping suaminya.

Puteri Nandini, puteri Nepal yang menjadi seorang di antara isteri-isteri Bu-taihiap juga mengamuk dengan hebat. Wanita ini pernah menjadi panglima Nepal dan memang sejak dahulu ia bermusuhan dengan pemerintah, maka kini ia memperoleh kesempatan melampiaskan dendamnya dan mengamuk, membunuh banyak sekali prajurit yang berani mendekatinya. Isteri ke empat adalah seorang bongkok bernama Gan Cui yang juga lihai sekali. Nenek ini pun mengamuk dan keluarga Bu yang terdiri dari lima orang ini telah merobohkan puluhan orang prajurit pemerintah.

Selain keluarga Bu ini, juga para pendekar yang tadi tidak dapat dibujuk oleh keluarga para pendekar Pulau Es mengamuk. Termasuk di antara mereka ini adalah orang-orang Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan Thian-li-pai yang sejak dulu memang merupakan musuh-musuh lama pemerintah.

Perang kecil itu terjadi di Hutan Cemara dan biar pun ratusan orang prajurit pemerintah roboh dan tewas, namun satu demi satu para pemberontak itu dapat dirobohkan karena kehabisan tenaga atau kehabisan darah dari luka-luka mereka.

Mulailah sebagian dari mereka mencari jalan untuk melarikan diri. Karena melihat bahwa perlawanan mereka akan sia-sia saja, di antara mereka itu pun mulai menyelinap dan mencari kesempatan menyelamatkan diri dari pembantaian para prajurit.

Akan tetapi Bu-taihiap bersama empat orang isterinya tidak mau mundur selangkah pun! Bu-taihiap yang sudah tua itu agaknya tahu bahwa usianya tidak akan lama lagi dan dia memilih mati sebagai seorang pejuang yang gagah perkasa. Agaknya keempat orang isterinya itu sangat setia kepadanya dan juga berpendirian sama, maka mereka pun mengamuk di samping suami mereka itu, sedikit pun tidak ingin mundur.

Akan tetapi, seperti juga para pendekar yang lain, tenaga keluarga Bu-taihiap ini ada batasnya. Biar pun banyak sekali prajurit yang roboh tewas di tangan mereka, akan tetapi saking banyaknya jumlah lawan, mereka pun mulai kehabisan tenaga dan mulai terkena senjata lawan sehingga luka-luka. Akhirnya, seorang demi seorang dari empat isteri Bu-taihiap itu pun roboh dan Bu Seng Kin sendiri akhirnya pun roboh. Dia dan isteri-isterinya telah mempertahankan diri sampai titik darah terakhir dan tewas sebagai pejuang-pejuang yang amat gagah perkasa.

Perihal mereka ini, dan perihal pertempuran di Gunung Hutan Cemara itu akan selalu dikenang oleh para patriot di sepanjang masa. Mereka yang akhirnya berhasil lolos dari Hutan Cemara itulah yang kemudian bercerita tentang kegagahan keluarga Bu-taihiap dan pertempuran di Hutan Cemara itu terkenal dengan nama Banjir Darah Di Hutan Cemara.

Di antara seratus lebih orang yang melawan pasukan pemerintah, hanya ada belasan orang saja yang berhasil lolos dan selebihnya tewas dengan tubuh hancur di bawah hujan senjata. Akan tetapi, korban para pejuang yang jumlahnya kurang dari seratus orang itu ditebus dengan nyawa hampir seribu orang prajurit Mancu!

Louw Tek Ciang merasa gemas sekali melihat betapa keluarga Pulau Es telah berhasil menyadarkan cukup banyak pendekar yang kemudian hanya digiring ke kota raja oleh Jenderal Cao seperti yang diminta oleh Kao Cin Liong dan Puteri Milana. Tek Ciang tidak berani membantah, bahkan dia tidak berani memperlihatkan mukanya di depan keluarga Pulau Es, melainkan mendahului pasukan pulang ke kota raja.

Pada saat keluarga Pulau Es diperkenankan menghadap kaisar bersama para pendekar yang urung memberontak, barulah Tek Ciang menyelinap di antara para panglima. Ketika Cin Liong dan Suma Hui melihat Louw Tek Ciang berada di antara para panglima menghadap kaisar, mereka terkejut bukan main. Juga Suma Kian Lee mengerutkan alisnya dan para keluarga Pendekar Pulau Es ini pun diam-diam tahu siapakah yang menjadi pengkhianat sehingga pertemuan antara pendekar itu sampai diketahui kaisar dan disergap. Tentu iblis itulah yang menjadi biang keladinya.

Akan tetapi keluarga Pulau Es tidak tahu apa yang telah terjadi dan bagaimana iblis itu memperoleh kepercayaan kaisar. Hanya seorang di antara para pendekar yang berada di situ, yaitu Kwee Cin Koan, yang mengerutkan alisnya.

Pada waktu berada di Hutan Cemara, sebelum pasukan menyerbu, dia berkesempatan bertemu dengan wakil Kun-lun-pai dan dia mendengar bahwa kekasihnya, Can Kui Eng, terbunuh oleh susiok-nya sendiri. Ketika dia bertanya dengan hati hancur tentang surat titipannya yang ditujukan kepada seorang panglima di kota raja, para wakil Kun-lun-pai tidak tahu. Mereka hanya menceritakan bahwa juga sebuah kitab pelajaran lenyap dari kamar perpustakaan Kun-lun-pai.

Ketika keluarga Pulau Es muncul dan menyadarkan para pendekar, Kwee Cin Koan dan lima orang sute- nya dari Kong-thong-pai juga ikut sadar. Mereka menggabung dengan keluarga Pulau Es, apalagi karena semangatnya telah menjadi setengah lumpuh oleh berita tentang kematian kekasihnya.

Wakil-wakil Kun-lun-pai yang dapat melihat keadaan, ikut di dalam rombongan keluarga Pulau Es pula. Saat berada di dalam rombongan itu dan hanya menyaksikan terjadinya pertempuran, wakil-wakil Kun-lun-pai yang sempat melihat Louw Tek Ciang di antara para perwira, memberi tahu kepada Kwee Cin Koan bahwa orang itu adalah seorang tamu Kun-lun-pai yang menyaksikan terbunuhnya Can Kui Eng.

Oleh karena itulah, ketika mereka semua dibawa menghadap kaisar, Kwee Cin Koan mengerutkan alisnya dan memandang kepada Louw Tek Ciang dengan bermacam perasaan. Orang itulah yang tahu tentang kematian kekasihnya dan agaknya hanya orang itu yang akan dapat memberi keterangan dengan jelas. Para wakil Kun-lun-pai agaknya tidak mau banyak bicara tentang kematian Can Kui Eng dan dia sendiri pun merasa sungkan untuk mendesak.

Kaisar Kian Liong merasa sedih mendengar pelaporan tentang penyerbuan di Hutan Cemara. Dia merasa penasaran sekali mendengar betapa tokoh-tokoh pendekar yang dikenalnya, bahkan tokoh-tokoh yang dikagumi dan yang pernah menolongnya ketika dia masih pangeran dahulu seperti Bu-taihiap dan isteri- isterinya, turut pula menjadi pemberontak dan tewas oleh pasukannya.

“Penasaran! Penasaran!” Kaisar menepuk-nepuk pahanya dengan wajah amat murung. “Kenapa mereka memberontak? Kenapa para pendekar yang dulu selalu melindungiku, kini malah memberontak dan memusuhi aku?”

“Maaf, sri baginda,” tiba-tiba Puteri Milana berkata sesudah memberi hormat kepada kaisar. “Sesungguhnya mereka itu sama sekali tidak memusuhi paduka secara pribadi.”

Kaisar memandang kepada nenek itu dengan alis berkerut. “Bibi Milana, engkau yang termasuk pendekar, akan tetapi pernah pula menjadi panglima kerajaan, jelaskanlah apakah yang menyebabkan mereka memberontak kalau mereka tidak membenci dan memusuhi aku?”

Wanita itu kembali memberi hormat. “Hamba tahu benar bahwa para pendekar itu pada umumnya sayang kepada paduka, menjunjung tinggi keadilan dan memuji dengan kagum kebijaksanaan paduka di dalam pemerintahan. Akan tetapi, sejak dahulu, para pendekar itu merasa tidak senang melihat betapa tanah air mereka terjajah. Itulah sebabnya mengapa mereka memberontak.”

Kaisar Kian Liong menjadi lemas dan menundukkan muka sampai lama, berulang kali menarik napas panjang. Jauh di lubuk hatinya dia dapat merasakan apa yang diderita oleh para pendekar itu. Dan apa yang dapat dilakukannya? Penjajahan dari bangsanya, Bangsa Mancu, terhadap seluruh Tiongkok ini dilakukan oleh nenek moyangnya dan dia hanya sebagai keturunan yang melanjutkan pemerintahan saja. Namun dia sudah berusaha untuk mendirikan pemerintahan yang baik adil dan bijaksana. Bagaimana pun juga, tidak mungkin dia menghapus rasa tidak suka karena dijajah itu dari hati para pendekar.

“Dan bagaimana dengan para pendekar yang kalian bawa menghadap itu?” tanya kaisar kemudian, dengan sinar mata kesal memandang kepada mereka yang menghadap, berlutut di situ dan menundukkan muka.

“Hamba dan Panglima Kao Cin Liong berhasil menyadarkan mereka dan selanjutnya terserah kepada paduka,” kata Puteri Milana.

Kaisar menoleh kepada panglima muda Kao Cin Liong dan kaisar mengerutkan alisnya. Dia teringat akan laporan Louw Tek Ciang. Tadinya dia sendiri mencurigai Jenderal Kao ini dan keluarga Pulau Es, akan tetapi ternyata sekarang bahwa keluarga Pulau Es yang telah menyadarkan sebagian para pendekar dan karena itu maka pertempuran tidaklah sehebat kalau mereka semua memberontak. Sukar dibayangkan betapa hebatnya dan betapa banyaknya prajurit yang akan tewas sekiranya keluarga Pendekar Pulau Es ikut pula memberontak!

“Bagaimana, Kao-ciangkun? Apa keteranganmu tentang semua peristiwa ini?”

Cin Liong melirik ke arah Tek Ciang, lalu memberi hormat dan berkata dengan suara lantang, sedikit pun tidak terlihat takut. “Harap sri baginda maafkan kalau hamba bicara secara terus terang saja. Sebetulnya, para pendekar yang mengadakan pertemuan di Hutan Cemara itu sama sekali belum melakukan perbuatan memberontak. Pendekar-pendekar itu hanya ingin mengadakan pertemuan untuk memilih seorang bengcu di antara mereka. Memang, harus diakui bahwa sebagian besar dari mereka mempunyai jiwa patriot dan merasa tidak suka akan penjajahan. Akan tetapi, pada waktu mereka mengadakan pertemuan itu, sama sekali belum ada rencana pemberontakan apa lagi gerakan memberontak.”

Kaisar mengangguk-angguk. “Boleh jadi demikian, tetapi mereka telah bersekongkol dengan Jenderal Gan!”

“Hamba tidak tahu akan hal itu, sri baginda. Yang hamba ketahui bahwa para pendekar itu mengadakan pertemuan dan begitu hamba mendengar tentang persekutuan dengan Jenderal Gan dan ditangkapnya panglima itu, hamba bersama keluarga Pulau Es segera pergi ke Hutan Cemara untuk menyadarkan mereka. Sayang bahwa sebagian dari mereka tidak mau dibujuk sehingga terjadi pertempuran itu. Akan tetapi, hamba telah berjanji kepada mereka yang sadar untuk memintakan ampun kepada paduka dan hamba percaya akan kebijaksanaan paduka untuk mengampuni saudara-saudara yang sama sekali belum memperlihatkan perbuatan memberontak ini.”

“Hamba juga memohonkan ampun bagi mereka,” kata pula Puteri Milana dan perbuatan ini diturut pula oleh para keluarga Pulau Es.

Kaisar Kian Liong menghela napas panjang. “Baiklah, kami mengampuni mereka, akan tetapi mereka akan dicatat dan kalau sampai ketahuan mengadakan persekutuan untuk memberontak lagi, kami akan bertindak dan tidak akan dapat mengampuni mereka lagi.” Para pendekar lalu menghaturkan terima kasih atas kebijaksanaan kaisar. Mereka lalu diperkenankan keluar dari istana.

Peristiwa di Hutan Cemara itu tak habis sampai di situ saja. Kao Cin Liong yang merasa betapa semenjak itu sikap kaisar berubah terhadap dirinya, dan karena dia sendiri pun merasa betapa batinnya terpecah antara kesetiaan kepada kaisar dan setia kawan kepada para pendekar dan patriot, tidak lama kemudian lalu mengajukan permintaan untuk mengundurkan diri.

Permohonan yang kedua kalinya ini tidak ditolak oleh kaisar. Bukan hanya peristiwa itu saja yang mendorong Kao Cin Liong mengundurkan diri, melainkan ada sebab lain lagi, yaitu ketika dia mendengar bahwa Louw Tek Ciang diberi anugerah oleh kaisar dengan diangkat menjadi seorang pembesar militer yang bertugas di utara!

“Si keparat itu!” Isterinya, Suma Hui mengepal tinju. Wajahnya nampak membayangkan kebencian. “Kalau tidak membalasnya sekarang, kalau sampai dia menjadi pembesar, maka usahaku membalas kepadanya tentu akan mudah dicap pemberontak.”

Demikian antara lain isterinya mengeluh dan akhirnya Kao Cin Liong memaksakan diri mengajukan permohonan kepada kaisar untuk meletakkan jabatannya. Setelah urusan itu selesai, ia bersama isterinya mulai melakukan penyelidikan dan mencari kesempatan untuk dapat menyergap Louw Tek Ciang dan membalas dendam sebelum orang itu memegang jabatannya di utara…..

********************

“Ayah….!” Sim Houw mengeluh dengan sedih.
Ayahnya terluka berat dan hampir kehabisan darah karena luka-lukanya. Sekarang dia meletakkan tubuh ayahnya di bawah pohon dan dia sendiri berlutut di dekat ayahnya. Dia berhasil melarikan ayahnya dari hutan di mana terjadi pertempuran dan kini berada di tempat aman, di sebuah hutan di balik bukit yang penuh hutan.

“Ayah, bagaimana keadaanmu?”

Sim Hong Bu membuka matanya dan memandang kepada puteranya. Mukanya pucat sekali, sepasang mata itu pun telah kehilangan sinarnya. Dia menggerakkan tangannya dan Sim Houw mendekatkan mukanya. Hatinya seperti diremas melihat ayahnya yang sudah demikian payah keadaannya. Ayahnya menggerakkan bibir dan dia mendengar bisikan-bisikan ayahnya.

“Houw-ji, kau…. kau melihat…. Bi Eng….?”

Sim Houw mengerutkan alisnya, teringat betapa Bi Eng membela pemuda yang dia tahu adalah seorang anggota keluarga Pulau Es.

“Tadi aku tahu, ayah, akan tetapi dia pergi, entah ke mana.” Hatinya tidak senang. Mengapa ayahnya yang keadaannya separah itu bicara tentang gadis itu?

“Houw-ji…. kau melihat Suma Ceng Liong….?” “Siapa dia, ayah? Aku tidak tahu….”

“Dia…. dia cucu Pendekar Super Sakti…., dia…. dia saling mencinta dengan Bi Eng…. ahh, aku menyesal sekali…. mengapa dahulu mengikatkan perjodohan antara kalian….”

“Ayah, perlu apa bicara tentang hal itu? Aku sama sekali tidak memikirkan tentang perjodohan itu!”

“Benarkah….? Benarkah itu, anakku? Benarkah bahwa ternyata engkau…. engkau tidak mencinta Bi Eng….?”

Sim Houw menjadi makin heran. Dia mengerutkan alisnya. Apakah karena luka-lukanya yang parah membuat ayahnya berubah pikiran? Kalau tidak demikian, kenapa ayahnya menanyakan hal yang bukan- bukan?

“Ayah, kami belum sempat bergaul dan saling mengenal. Biar pun kami sudah saling bertunangan, akan tetapi tanpa saling mengenal mana mungkin ada cinta?”

Anehnya, mendengar ucapan itu, wajah orang tua itu nampak girang! “Bagus, bagus…. ahhh, senang hatiku mendengar hal ini…. Houw-ji, engkau…. engkau pergilah menemui pendekar Kam Hong dan…. terus terang saja…. kau putuskan tali perjodohan itu dengan resmi….”

Sim Houw membelalakkan matanya. “Ayah, apa…. apa maksudmu?”

Dia masih bingung dan heran, tidak tahu sama sekali mengapa ayahnya membicarakan hal perjodohan yang harus dia putuskan itu.

Ayahnya yang sudah payah keadaannya itu memegang lengan puteranya dengan kuat untuk beberapa detik lamanya, lalu pegangannya mengendur. “Dengar baik-baik…. Bi Eng saling mencinta dengan Suma Ceng Liong…. aku telah melihat dan mendengarnya sendiri…. dan aku tidak menghendaki engkau mengalami nasib yang sama dengan ayahmu…. Ingatlah, nak…. aku dan ibumu…. juga menikah tanpa rasa cinta…. dan akibatnya kau tahu sendiri kami berpisah…. sebelum terlambat, putuskan tali perjodohan itu dan…. dan jangan sekali-kali…. kau menanamkan permusuhan dengan…. keluarga Suma….” Kakek itu tidak kuat lagi, terkulai lemas.

“Ayaaaahhh….!” Sim Houw menjerit dan merangkul ayahnya yang sudah tidak bernapas lagi itu.

Baru pada detik inilah pemuda itu merasakan kedukaan yang hebat, rasa kesepian dan sendirian ditinggalkan pergi satu-satunya orang yang sangat dicintanya. Ibunya tidak pernah mempedulikannya, bahkan terlalu galak terhadap dirinya dan semenjak ayah dan ibunya berpisah seperti yang didengarnya dari ayahnya, diam-diam dia merasa tidak senang kepada ibunya yang membiarkan ayahnya terbuang dari Lembah Naga Siluman. Dan kini ayahnya meninggalkannya untuk selamanya, bahkan meninggalkan pesan yang juga menyakitkan hatinya itu.

Dia harus melepaskan ikatan jodohnya dengan puteri gurunya! Memang, dia belum pernah jatuh cinta, dan terhadap Bi Eng dia hanya merasa kagum saja, apalagi karena tadinya menganggap gadis itu sebagai calon isterinya. Akan tetapi, dia belum pernah merasa jatuh cinta kepada gadis itu.

“Ayah….!” Kembali dia mengeluh dan menggerakkan jari-jari tangannya, dengan lembut merapatkan mata dan mulut jenazah ayahnya yang masih hangat.

Pada saat itu teringatlah Sim Houw akan sikap Bi Eng dalam hutan cemara itu. Dan sikap pemuda yang diserangnya. Kini dia dapat menduga bahwa tentu pemuda Pulau Es yang dibela oleh Bi Eng itulah pemuda yang bernama Suma Ceng Liong dan oleh ayahnya dikatakan saling mencinta dengan Bi Eng. Mengertilah dia akan sikap Bi Eng sekarang. Tentu tunangannya itu dibujuk oleh pemuda Pulau Es untuk tidak melawan pasukan dan gadis itu berada dalam kebingungan dan keraguan.

“Suhu….!”

Sim Houw menengok kaget. Karena duka dan tenggelam dalam renungannya sendiri, pemuda yang lihai itu sampai tidak tahu bahwa ada dua orang menghampirinya. Kiranya Bi Eng dan Ceng Liong sudah berdiri di belakangnya, dalam jarak lima meter. Sim Houw merasa betapa seluruh tubuhnya gemetar. Rasa duka yang amat hebat bergelombang menerjang hatinya dan dia pun memejamkan hatinya, lalu menunduk dan memegangi pundak ayahnya, menahan air matanya yang akan tumpah lagi.

“Suhu….!” Sekali lagi Bi Eng berseru.

Kini gadis itu pun lari menghampiri, kemudian menjatuhkan diri berlutut di dekat jenazah gurunya. Dia tidak dapat menahan air matanya yang menetes-netes turun membasahi pipinya. Sejenak dia terisak. Gurunya adalah seorang yang sangat sayang kepadanya, maka kini melihat gurunya rebah menjadi mayat, tentu saja hal ini amat mengejutkan dan menyedihkan hatinya.

Setelah tangisnya mereda, Bi Eng memandang kepada Sim Houw dengan mata basah. “Apakah yang telah terjadi? Mengapa…. suhu….”

“Tenangkan hatimu, sumoi. Ayah sudah tewas sebagai seorang patriot yang berjiwa besar, tewas dalam membela tanah air dan bangsa dari tangan penjajah!” Ucapan Sim Houw itu lantang dan memang dia sengaja bicara keras agar terdengar oleh Suma Ceng Liong. Sebetulnya, tak perlu dia bicara keras karena sejak tadi Ceng Liong berada di situ, bahkan kini pemuda itu berlutut pula tak jauh dari jenazah itu.

“Sim-locianpwe tewas sebagai orang besar yang gagah perkasa, sungguh makin besar rasa kagum dan hormatku kepadanya,” kata Suma Ceng Liong seperti bicara kepada diri sendiri.

Sim Houw menoleh dan melihat pemuda itu dia bangkit berdiri dan bertanya kepada Bi Eng yang masih terus berlutut, “Kam-sumoi, aku melihat dia ini yang kau bela di Hutan Cemara. Siapakah dia? Maukah engkau memperkenalkan aku dengannya?”

Wajah gadis itu berubah menjadi merah sekali. Akan tetapi Bi Eng adalah seorang gadis yang memang memiliki dasar watak yang amat gagah dan tabah. Ia berani berbuat dan berani bertanggung jawab, apa pun resikonya ia berani menghadapinya. Maka ia pun bangkit dan sejenak ia memandang kepada Ceng Liong, kemudian menghadapi Sim Houw. Ia tidak tahu mengapa Sim Houw yang biasanya menyebutnya siocia (nona) itu sekarang berubah menjadi sumoi (adik seperguruan), maka dia pun menyebut suheng kepadanya.

“Sim-suheng, dia ini adalah…. Suma Ceng Liong, dia dan aku adalah…. sahabat baik.”

Sim Houw memandang kepada Ceng Liong. Keduanya saling pandang dan kini Ceng Liong juga sudah bangkit berdiri. Sinar mata Sim Houw penuh selidik, sedangkan sinar mata Ceng Liong menunduk seperti orang yang merasa bersalah.

“Kam-sumoi, bagaimana pun juga, kita berdua oleh orang tua kita masing-masing telah ditunangkan. Sebagai orang yang dicalonkan sebagai suamimu tentu saja aku berhak mengetahui keadaan sebenarnya dari perasaan hatimu, bukan?”

“Sim-suheng, apa maksudmu?” Bi Eng bertanya, memandang tajam.

“Sumoi, katakanlah terus terang. Apakah engkau mencinta saudara Suma Ceng Liong ini?”

Tentu saja pertanyaan yang merupakan serangan langsung ini sangat mengejutkan Bi Eng. Tidak disangkanya tunangannya itu akan mengajukan pertanyaan seperti itu, dan karena datangnya pertanyaan begitu tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka, dia menjadi terkejut dan sejenak dia bungkam tanpa mampu mengeluarkan jawaban!

“Sumoi, aku berhak mengetahui, bukan?” Sim Houw mendesak, penasaran.

Bi Eng sudah dapat menguasai lagi hatinya dan ia pun mengangguk. “Benar, suheng,” jawabnya kemudian dengan suara tegas sehingga Ceng Liong merasa terharu bukan main.

Kini Sim Houw membalikkan tubuh menghadapinya. Ceng Liong sudah bersiap untuk menghadapi serangan karena dia tahu bahwa pemuda ini merupakan lawan yang amat tangguh. Akan tetapi Sim Houw tidak membuat gerakan menyerangnya sama sekali, melainkan bertanya, suaranya tetap tenang dan tegas.

“Saudara Suma Ceng Liong, apakah engkau mencinta sumoi Kam Bi Eng?”

Ceng Liong mengangguk perlahan. “Saudara Sim, terus terang saja, dahulu, di waktu remaja kami pernah saling bertemu dan berkenalan. Baru dalam Hutan Cemara kami saling jumpa lagi dan…. dan kami saling jatuh cinta. Ya, aku memang mencintanya, saudara Sim.”

Sim Houw menarik napas panjang. “Bagus, aku menghargai kejujuran kalian berdua. Sekarang bereslah sudah….” dan dia pun berlutut kembali dekat jenazah ayahnya.

“Sim-suheng…. kau…. kau maafkan aku….” Bi Eng mendekati dan berkata lirih dengan hati kasihan.

Akan tetapi Sim Houw menoleh kepadanya dan terseyum, lalu menggelengkan kepala. “Sumoi, tidak ada apa-apa yang perlu dirisaukan atau dimaafkan. Aku pun harus jujur kepadamu. Sesungguhnya, pertalian antara kita hanya dibuat oleh orang-orang tua kita, sedangkan di antara kita sendiri tidak pernah ada apa- apa. Kita bahkan belum pernah berkenalan atau bergaul, jadi…. bagiku tidak mengapalah kalau diputuskan juga. Akan tetapi, oleh karena hal ini menyangkut nama orang tua, yang memutuskannya haruslah orang tua pula. Maka, aku akan mengurus jenazah ayah lebih dulu, setelah itu aku akan menghadap suhu atau ayahmu dan minta diputuskannya tali perjadohan antara kita.”

Bi Eng dan Ceng Liong menjadi girang sekali. “Suheng, betapa bijaksana hatimu….”

Kembali Sim Houw tersenyum pahit dan menggeleng kepala. “Aku bertindak biasa saja, sesuai dengan pesan terakhir ayahku….”

“Suhu….?” Bi Eng bertanya kaget.

“Dia melihat dan mendengar percakapan kalian, dialah yang memberi tahu kepadaku dalam pesan terakhir bahwa kalian saling mencinta dan dia pula yang menyuruh aku memutuskan tali perjodohan.”

“Ah, suhu…. suhu…. sebelum meninggal…. dia marah kepadaku, suheng?” tanya Bi Eng cemas.

Gurunya amat sayang kepadanya. Hatinya akan merasa menyesal sekali kalau sebelum meninggal dunia gurunya itu mengandung hati marah dan menyesal kepadanya. Akan tetapi, legalah hatinya ketika pemuda itu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, sumoi. Ayah adalah orang yang juga sudah mengalami penderitaan pahit dalam pernikahannya dan karena itu dia menjadi bijaksana. Dia tahu bahwa pernikahan tanpa cinta kasih kedua pihak tak akan mendatangkan kebahagiaan. Oleh karena itu bahkan ayah yang menganjurkan agar aku membatalkan ikatan perjodohan ini secara resmi.”

“Ahhh, suhu sungguh bijaksana, semoga arwahnya diterima oleh Thian….,” kata Bi Eng terharu sekali, akan tetapi juga girang dan berterima kasih kepada mendiang suhu-nya.

“Nah, pergilah, sumoi. Pergilah lebih dulu ke rumah orang tuamu, aku akan menyusul kemudian setelah selesai mengurus jenazah ayah.”

“Tidak, suheng. Aku akan membantumu mengurus jenazah suhu.”

“Jangan, sumoi. Pergilah dan tinggalkan aku sendiri bersama ayah…. ahhh, tinggalkan aku…. sendirian bersama ayah….!”

Pemuda itu menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Agaknya kedukaan yang mencekam hatinya sudah memuncak, membuat pemuda itu tidak kuat bertahan lagi. Melihat ini, Ceng Liong menyentuh lengan kekasihnya dan memberi isyarat untuk pergi dari situ.

Hidup manusia akan selalu bergelimang duka apabila batin tidak bebas seluruhnya dari pada ikatan-ikatan. Ikatan dengan orang lain seperti isteri, anak-anak, keluarga. Ikatan dengan benda, kekayaan, kepandaian, kedudukan, nama dan sebagainya. Selama batin terikat, maka sekali terjadi perpisahan akan timbullah duka. Dan perpisahan ini pasti terjadi, baik dengan jalan orang atau benda yang terikat di batin kita itu mati atau hilang, atau sebaliknya kita sendiri yang meninggalkan mereka ketika kita mati. Dan mati berarti perpisahan, berpisah dari semuanya. Maka, apabila batin terikat, kita takut menghadapi kematian, takut akan kehilangan semua itu, takut kehilangan ketenteraman yang kita dambakan.

Cinta bukan berarti pengikatan batin. Cinta tidak akan menimbulkan duka. Pengikatan batin timbul karena nafsu, karena si aku yang ingin memiliki segala yang menyenangkan dan membuang segala yang tidak menyenangkan.

Kebebasan batin dari ikatan bukanlah berarti bahwa kita menjadi tidak peduli terhadap keluarga kita, terhadap orang-orang lain, terhadap pekerjaan, harta milik, nama dan sebagainya itu. Bukan berarti kita tidak acuh terhadap kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang manusia yang hidup bermasyarakat, berkeluarga di dunia ramai ini. Sama sekali tidak demikian. Kebebasan batin berarti batin yang tidak terikat oleh ikatan-ikatan lahiriah itu karena kewaspadaan melihat bahwa ikatan-ikatan hanya akan menimbulkan duka, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain…..

********************

Rombongan itu jelas sekali dapat dikenal sebagai rombongan pembesar. Kereta-kereta yang megah itu diberi tanda pangkat dan tiga buah kereta yang tertutup itu dikawal oleh pasukan yang jumlahnya tiga losin. Meski hanya tiga losin orang prajurit yang mengawal tiga buah kereta itu, namun para prajurit itu nampak tegap-tegap dan memang mereka adalah prajurit-prajurit pilihan dari kota raja yang sekarang sedang bertugas mengawal Louw-ciangkun, pembesar militer yang baru saja diangkat oleh kaisar dan kini sedang menuju ke tempat dia bertugas, yaitu di kota Shen-yang, jauh di utara.

Louw Tek Ciang, pembesar militer itu, adalah orang amat cerdik. Dia tahu bahwa dirinya terancam bahaya setelah dia mengkhianati para pendekar di Gunung Cemara. Oleh karena itu, sebelum berangkat ke tempat tugasnya, dia telah membuat persiapan yang dianggapnya cukup matang. Dia mengutus seorang prajurit untuk mengundang keluarga Cu ke kota raja. Sambil menanti kedatangan guru-gurunya, diam-diam dia juga sudah mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh yang pernah menjadi persekutuan untuk mencari kedudukan.

Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang pernah bersekutu dengan Yong Ki Pok, gubernur di Sin-kiang yang memberontak. Gerombolan orang ini masih selalu menanti-nanti saat yang baik dan akhirnya mereka dapat berhubungan dengan Louw Tek Ciang yang sudah memperoleh kedudukan baik itu. Pembesar muda ini dapat mereka pergunakan sebagai tangga atau batu loncatan ke arah kedudukan yang lebih menguntungkan.

Di lain pihak, Tek Ciang yang cerdik itu dapat mempergunakan kepandaian mereka untuk melindungi dirinya. Yang berhasil dihubungi oleh Tek Ciang dan sudah menanti di luar kota raja untuk bergabung dengannya adalah Thai-hong Lama, yaitu Lama jubah merah dari Tibet yang lihai sekali itu. Juga Pek-bin Tok-ong, tokoh Go-bi yang tidak kalah lihainya.

Bahkan dua orang asing yang merupakan tokoh-tokoh pula dalam persekutuan itu, yaitu Siwananda bekas Koksu Nepal, dan Tai-lu-cin raksasa Mongol, juga ikut serta dalam persekutuan bekerja sama dengan Tek Ciang. Empat orang tokoh lihai ini menyelundup ke dalam pasukan pengawal karena Tek Ciang cukup cerdik untuk menyembunyikan mereka, bukan hanya dari mata orang luar yang akan menaruh curiga, akan tetapi juga dari mata Cu Han Bu, Cu Seng Bu dan juga Cu Pek In yang datang memenuhi undangannya ke kota raja.

Keluarga Cu itu merasa gembira dan bangga sekali melihat kemajuan yang dicapai Louw Tek Ciang. Dua orang tokoh keluarga Cu itu biar pun agak kecewa mendengar bahwa Tek Ciang belum sempat membalaskan kekalahan mereka kepada pendekar Kam Hong, juga merasa menyesal sekali mendengar bahwa murid baru mereka yang ke dua, yaitu Pouw Kui Lok, telah tewas.

Akan tetapi kekecewaan ini terobati ketika Tek Ciang menjanjikan bahwa kelak dia tentu akan dapat membalas kekalahan itu karena dia sedang menyempurnakan ilmu Sin-liong Ho-kang untuk melawan lengkingan suara suling dari keluarga Pendekar Suling Emas itu. Juga hati dua orang kakek ini terhibur ketika mereka diajak oleh Tek Ciang untuk ikut pergi ke Shen-yang, tempat di mana dia akan bertugas sebagai seorang panglima baru.

Tentu saja Cu Pek In juga gembira bukan main dan tanpa malu-malu atau ragu-ragu lagi wanita ini memperlihatkan kemesraannya terhadap Tek Ciang, kini berterang di depan ayah dan pamannya. Di antara kedua orang ini memang sudah ada hubungan cinta ketika Tek Ciang belajar ilmu di Lembah Naga Siluman. Kini, setelah Tek Ciang menjadi seorang panglima, tentu saja Cu Pek In mengharapkan untuk menjadi isteri yang sah dari pria yang sepuluh tahun lebih muda darinya itu.

Demikianlah, pada suatu pagi yang amat cerah, berangkatlah Louw Tek Ciang bersama rombongannya. Dia duduk di sebuah kereta bersama Cu Pek In dan biar pun hal ini sesungguhnya amat janggal, namun Cu Han Bu yang sudah prihatin melihat hubungan puterinya putus dengan menantunya, dan diam-diam mengharapkan puterinya itu akan dapat menjadi isteri murid barunya yang kini menjadi panglima, pura- pura tidak tahu dan diam saja.

Cu Han Bu sendiri bersama adiknya, Cu Seng Bu, duduk di kereta ke dua sedangkan barang-barang mereka ditaruh di dalam kereta ke tiga. Tiga buah kereta ini dikawal oleh tiga losin pasukan pilihan yang sengaja dipilih oleh Tek Ciang dari pasukan keamanan di kota raja.

Ketika rombongan tiba di luar tembok kota raja muncullah empat orang tokoh petualang itu di tempat yang dijanjikan. Tek Ciang keluar sebentar dari kereta untuk menyambut mereka. Empat orang itu lalu diberi kuda-kuda pilihan yang sudah disediakan, kemudian mereka berempat turut pula dalam pasukan pengawal, diterima sebagai empat orang ‘pengawal-pengawal pribadi’ Louw-ciangkun!

Lewat tengah hari, rombongan ini melalui sebuah bukit yang sunyi. Ketika mereka tiba di tanah datar yang diapit hutan, tiba-tiba mereka dihadang oleh beberapa orang yang berdiri di tengah jalan dan mereka mengangkat tangan ke atas memberi isyarat agar rombongan itu berhenti.

Ketika para pengawal yang berada di depan mengenal seorang di antara mereka yang berdiri menghadang, mereka terkejut, lalu menghentikan kuda dan memberi isyarat ke belakang agar rombongan berhenti. Seorang perwira pasukan pengawal segera turun dari atas kudanya dan memberi hormat kepada orang yang dikenalnya itu.

Orang itu adalah Kao Cin Liong! Biar pun dia kini sudah tidak menjadi panglima lagi, sudah mengundurkan diri dan berpakaian biasa, tetapi para prajurit itu mengenalnya. Nama Kao Cin Liong ini amat populer di antara prajurit sebagai seorang panglima yang disegani dan dikagumi. Maka, begitu melihat bahwa yang menghadang dan menyuruh mereka berhenti itu adalah bekas jenderal itu dan beberapa orang tua yang nampak gagah, pasukan pengawal itu segera berhenti.

Ketika kereta terpaksa dihentikan oleh kusirnya karena para pengawal di depan juga menghentikan kuda, Tek Ciang merasa heran. Dia pun menjenguk keluar dari jendela. Dapat dibayangkan alangkah kaget rasa hatinya ketika dia melihat orang-orang yang menghadang di depan itu. Kao Cin Liong, Suma Hui, Suma Kian Lee dan isterinya, Kao Kok Cu dan isterinya, dan seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Pemuda itu adalah Kwee Cin Koan, murid Kong-thong-pai, kekasih Can Kui Eng.

Celaka, pikirnya. Biar pun dia sendiri mempunyai kepandaian tinggi, juga dua orang gurunya she Cu yang lihai berada di situ, bersama Cu Pek In, dan masih dibantu oleh empat orang tokoh yang sakti, akan tetapi dia merasa gentar juga menghadapi para penghadang itu, terutama sekali terhadap Suma Kian Lee bersama isteri dan Si Naga Sakti Gurun Pasir bersama isteri.

Maka dia lalu menoleh ke belakang, memikirkan jalan lari atau kembali ke kota raja untuk melapor dan mengerahkan bala tentara menghadapi mereka itu. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat jalan mundur sudah dipotong pula. Di situ berkumpul banyak sekali pendekar, agaknya para pendekar yang lolos dari pengepungan di Hutan Cemara!

“Pemberontakan! Serbu mereka….!” Bentak Tek Ciang kepada pasukan pengawalnya.

Teriakan ini mengejutkan Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang segera berloncatan keluar. Juga Cu Pek In meloncat keluar mencabut sulingnya, sedangkan empat orang kakek yang menyelinap di antara para pengawal sudah bersiap-siap pula. Akan tetapi, perwira dan para prajurit pengawal itu sendiri diam saja tidak bergerak!

“Pasukan pengawal, serbu para pemberontak yang menghadang di depan!” Tek Ciang mengulangi perintahnya.

Akan tetapi para prajurit itu tidak bergerak, dan perwiranya pun tidak memberi aba-aba menyerang, bahkan dia yang sudah turun dari kuda itu lari menghampiri Tek Ciang, lalu berkata.

“Ciangkun, mereka bukan pemberontak, melainkan Kao-goanswe dan beberapa orang locianpwe yang hendak bicara dengan Louw-ciangkun!”

Dua orang she Cu itu juga sudah menghampiri Tek Ciang dan mendengar pelaporan perwira itu. Cu Han Bu berkata kepada muridnya. “Kalau mereka ada urusan, lebih baik kita temui saja dan dengarkan apa kehendak mereka menghadang perjalanan kita.”

Tek Ciang merasa serba salah dan karena di situ terdapat keluarga Cu, dia pun tidak dapat berbuat lain kecuali menurut, akan tetapi lebih dahulu dia membakar hati kedua orang gurunya.

“Harap suhu ketahui bahwa kita sudah terkurung dari depan dan belakang. Mereka adalah pemberontak- pemberontak yang menentang pemerintah dan mereka tentu akan mengganggu teecu yang baru saja diangkat menjadi panglima.”

“Jangan takut, kalau memang mereka pemberontak, kita hancurkan di sini bersama pasukan pengawal!” kata Cu Han Bu.

“Akan tetapi suhu tidak tahu siapa mereka! Mereka adalah komplotan keluarga yang hendak mencelakakan teecu. Seperti pernah teecu ceritakan kepada ji-wi suhu, isteri teecu dirampas oleh Jenderal Kao Cin Liong dan sekarang dialah yang menghadang di sana bersama bekas isteri teecu, bekas kedua mertua teecu dan juga orang tua jenderal itu. Mereka tentu akan mencelakai teecu.”

Cu Han Bu mengerutkan alisnya. Memang pernah Tek Ciang bercerita bahwa ia pernah menikah akan tetapi isterinya itu dirampas oleh seorang jenderal muda. Isterinya, juga kedua orang mertuanya memilih jenderal itu yang berkedudukan tinggi. Karena Tek Ciang sebagai muridnya yang berbakat itu telah menjadi seorang duda, maka diam-diam mengharapkan agar murid ini dapat berjodoh dengan puterinya yang juga dapat dibilang sudah menjadi janda karena sudah berpisah dari suaminya. Maka, kini mendengar bahwa keluarga bekas isteri dan jenderal yang merampas isteri muridnya itu yang menghadang, tentu saja hatinya sudah diliputi rasa tidak senang.

“Jangan takut, aku akan membantumu!” katanya membesarkan hati dan mereka bertiga, diikuti pula oleh Cu Pek In, segera berjalan menuju ke depan di mana tujuh orang itu berdiri di tengah jalan.

Diam-diam, empat orang pembantu Tek Ciang juga sudah mendekati tempat itu, bersiap untuk membantu kalau diperlukan. Di antara mereka dan Tek Ciang, memang sudah ada persetujuan bahwa mereka tak akan sembarangan keluar memperlihatkan diri kalau tidak dimintai bantuan. Hal ini untuk mencegah adanya kecurigaan dari siapa pun juga datangnya.

Sejak tadi Suma Hui hanya memandang pada Tek Ciang seorang, tidak mempedulikan lain orang yang datang bersama musuh besarnya ini. Begitu Tek Ciang bersama rombongannya tiba di situ, Suma Hui sudah mencabut keluar sepasang pedangnya dan dengan sikap gagah wanita ini berdiri melintangkan sepasang pedang di depan dada, sambil membentak. “Louw Tek Ciang, kami datang untuk mengadu nyawa denganmu! Bersiaplah!”

Menghadapi Suma Hui, tentu saja Tek Ciang tak merasa takut sedikit pun juga. Tapi dia merasa gentar menghadapi yang lain-lain, maka ia berusaha menarik sikap angkuh dan membentak. “Keluarga pemberontak! Berani kau menghadang perjalananku? Tahukah kalian bahwa aku adalah seorang pembesar pemerintah, seorang pejabat militer yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat tugas?”

“Louw Tek Ciang, tidak perlu banyak cerewet. Engkau tahu bahwa urusan antara kita adalah urusan pribadi, sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah!” Suma Hui membentak dan kelihatannya wanita ini sudah marah sekali, penuh dendam yang ditahan-tahan sejak bertahun-tahun.

Diam-diam keluarga Cu merasa heran sekali. Wanita ini, kalau benar bekas isteri Tek Ciang, telah melakukan perbuatan tidak mengenal malu, lari dari suami untuk menjadi isteri Jenderal Kao Cin Liong, akan tetapi wanita itu kini kelihatannya begitu marah dan penuh dendam kepada Tek Ciang, bekas suaminya yang ditinggalkan!

Tek Ciang merasa tersudut, akan tetapi dia tersenyum mengejek sambil memandang wajah Suma Hui yang belum pernah menjadi isterinya yang sesungguhnya itu. “Hemm, Suma Hui, jangan dikira aku takut melawanmu. Akan tetapi apakah hanya engkau yang akan maju menandingiku, ataukah engkau hendak mengandalkan pengeroyokan orang-orang lain?”

“Keparat Louw Tek Ciang! Fitnah yang dahulu pernah kau jatuhkan kepada diriku sudah patut kau tebus dengan nyawamu!” bentak Kao Cin Liong sambil mengepal tinjunya dan memandang marah.

“Iblis busuk, aku pun sudah terlalu lama menitipkan nyawamu kepadamu, sekarang harus kucabut nyawamu untuk perbuatanmu yang terkutuk terhadap keluarga kami!” Tiba-tiba Suma Kian Lee membentak pula dan sepasang mata pendekar ini mencorong mengeluarkan sinar berkilat.

“Biarkan aku yang akan menghancur-lumatkan kepala iblis jahanam ini!” Kim Hwee Li membanting kakinya dengan marah.

Melihat betapa semua orang memusuhi dan hendak membunuh muridnya, tentu saja Cu Han Bu, Cu Seng Bu dan juga Cu Pek In menjadi penasaran dan marah. Dua orang kakek Cu sudah melangkah maju dan Cu Han Bu dengan alis berkerut lalu berkata, suaranya lantang berwibawa.

“Bagus! Sudah lama kami mendengar bahwa keluarga Pulau Es adalah orang-orang gagah dan pendekar- pendekar sejati, akan tetapi kiranya hanyalah orang-orang yang mengandalkan jumlah banyak untuk mengeroyok orang lain! Sungguh mengherankan sekali!”

“Siapa mau mengeroyok dan siapa mengandalkan jumlah banyak? Cih, tak tahu malu! Lihat saja, siapa yang lebih banyak membawa kawan? Boleh kalian maju satu demi satu, semua akan kami tandingi satu lawan satu!” Kim Hwee Li sudah membentak dan melangkah maju.

Akan tetapi Suma Kian Lee dapat menduga bahwa dua orang kakek itu tentu bukan orang sembarangan. Dia sudah mengenal kelicikan Tek Ciang dan dia khawatir kalau-kalau Tek Ciang mengelabui tokoh sakti untuk diadu domba dengan pihaknya. Maka dengan tenang dia meraba lengan isterinya dan memberi isyarat agar supaya isterinya bersabar, kemudian dia sendiri menjura kepada dua orang kakek itu.

“Maaf, saya Suma Kian Lee adalah keturunan Pulau Es. Supaya tidak terjadi kesalah pahaman, saya ingin tahu siapakah ji-wi dan hendaknya ji-wi ketahui bahwa antara kami dan iblis busuk Louw Tek Ciang ini terdapat urusan pribadi yang tidak mungkin dapat dicampuri orang lain.”

Mendengar bahwa pria yang gagah dan bersikap tenang itu adalah Suma Kian Lee, putera Pendekar Super Sakti yang terkenal, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu memandang penuh perhatian. Mereka berdua sudah mendengar cerita murid mereka Louw Tek Ciang, bahwa Tek Ciang menjadi murid dan kemudian menjadi mantu pendekar ini, akan tetapi betapa kemudian isterinya itu, dengan persetujuan ayahnya, menyeleweng, bahkan lalu menjadi isteri jenderal Kao Cin Liong. Oleh karena itu, biar pun diam-diam mereka kagum kepada putera Pendekar Super Sakti ini, namun di dalam hati mereka sudah terkandung rasa tidak suka. Karena itu, Cu Han Bu tersenyum pahit.

“Ahhh, kiranya kami berhadapan dengan pendekar Suma yang terkenal? Maaf, kami berdua hanya orang- orang biasa saja, namaku Cu Han Bu dan ini adikku Cu Seng Bu. Biar pun antara kalian dan Louw Tek Ciang terdapat urusan pribadi, tetapi mengingat bahwa Tek Ciang telah menjadi murid kami, maka urusan pribadinya berarti juga urusan kami.”

Suma Kian Lee yang tidak pernah atau jarang sekali merantau, tidak mendengar nama keluarga Cu. Akan tetapi dari sikap mereka dia dapat menduga bahwa dua orang she Cu ini tentu memiliki kepandaian tinggi dan bukan golongan orang jahat. Besar sekali kemungkinannya mereka berdua ini dikelabui pula oleh Tek Ciang sehingga mereka sampai mengambil murid seorang jahat macam Tek Ciang.

“Biarkan mereka membantu murid mereka yang jahat, kami tidak takut!” Kim Hwee Li sudah membentak marah, akan tetapi kembali suaminya menyentuh lengan isterinya agar isterinya bersabar.

“Pendapat ji-wi kami hormati, bahwa urusan pribadi murid berarti juga urusan pribadi gurunya. Akan tetapi kami kira para pendekar bijaksana tidak akan ada yang membela muridnya kalau mengetahui bahwa muridnya itu menyeleweng dan jahat, sebaliknya mereka tentu akan menghukum muridnya. Dan kami percaya bahwa ji-wi termasuk pendekar bijaksana, bukan golongan sesat yang saling membantu dalam kejahatan.”

Dua orang kakek Cu itu saling pandang, lalu mereka menoleh dan memandang kepada murid mereka dengan alis berkerut dan mata penuh selidik. “Tek Ciang, katakanlah, ada urusan pribadi apakah yang terjadi antara engkau dan keluarga Suma ini? Mengapa mereka menganggap engkau jahat? Hayo ceritakan semua sejujurnya. Kalau engkau benar, sampai mati pun akan kami bela.”

Tek Ciang memandang kepada dua orang gurunya dan jantungnya berdebar tegang. Akan tetapi wajahnya tidak memperlihatkan perubahan dan dia masih merasa yakin bahwa dua orang she Cu itu tentu akan membantu dan membelanya karena selain dia adalah murid mereka yang mereka andalkan, juga dia tahu sekali bahwa Cu Han Bu mengharapkan dia menjadi suami puterinya yang janda itu.

“Ji-wi suhu, tentu saja mereka menjelek-jelekkan teecu, hal itu tidaklah mengherankan sama sekali. Seperti yang pernah teecu beri tahukan kepada suhu berdua, teecu pernah diterima menjadi murid Suma Kian Lee, bahkan diambil menantu, dijodohkan dengan Suma Hui, yaitu wanita itu. Akan tetapi, setelah muncul Jenderal Kao Cin Liong yang sekarang sudah bukan jenderal lagi, tali perjodohan kami diputuskan dan isteri teecu itu dirampas oleh Kao Cin Liong dengan persetujuan isteri dan mertua teecu sendiri. Agaknya mereka hendak membunuh teecu karena tidak ingin rahasia busuk mereka tersiar dan merusak nama besar keluarga para pendekar Pulau Es!” Dengan senyum mengejek Tek Ciang memandang kepada Suma Hui, Cin Liong dan yang lain-lain, lalu disambungnya. “Coba kalian bantah kebenaran ceritaku tadi. Bukankah Suma Hui telah dijodohkan dengan aku? Bukankah ia kini malah menjadi isteri Kao Cin Liong?”

Tek Ciang yang cerdik ini merasa yakin bahwa keluarga Suma itu tak akan mempunyai alasan lagi untuk membantahnya. Alasan satu-satunya hanyalah menceritakan tentang peristiwa memalukan yang terjadi antara Suma Hui dan dia, dan dia yakin bahwa aib itu sampai mati sekali pun pasti tidak akan diceritakan mereka kepada orang lain.

Kini dua orang kakek Cu itu kembali menghadapi Suma Kian Lee. Dengan hati lega mereka melihat betapa keluarga itu nampak diam saja, seolah-olah menandakan bahwa keterangan murid mereka tadi benar. “Bagaimana sekarang, saudara Suma? Setelah mendengar keterangan murid kami, beranikah kalian menyangkal kebenarannya? Dan kalau semua keterangannya tadi benar, berarti kalianlah yang jahat, bukan murid kami!” demikian kata Cu Han Bu dengan sikap kereng.

Suma Kian Lee sekeluarga saling pandang, juga Kao Kok Cu yang biasanya tenang sekali itu pun kini kelihatan merah mukanya.

Tiba-tiba Suma Hui melangkah maju. Dengan sikap gagah ia berkata lantang. “Kalian hanya baru mendengarkan keterangan sepihak. Dengarlah keteranganku akan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Iblis busuk ini, jahanam keji ini, telah….”

“Hui-ji….!” Suma Kian Lee berseru untuk mencegah puterinya.

“Biarlah, ayah. Tidak tahukah ayah bahwa jahanam ini sengaja menceritakan semua itu karena dia mengira bahwa kita tak akan berani membuka rahasia itu?” Setelah berkata demikian Suma Hui melanjutkan lagi sambil memandang dua orang kakek Cu. “Kalian orang-orang tua yang mudah dikelabui jahanam ini, dengarkanlah baik-baik. Mula-mula jahanam ini mengelabui ayah, memikat hati ayah sedemikian rupa hingga ayah percaya kepadanya, bahkan mengambilnya sebagai murid. Ayah telah mengorbankan semua ilmu dari Pulau Es untuk diberikan kepada jahanam ini. Akan tetapi tahukah kalian apa yang diperbuat jahanam ini? Ayah demikian terpikat dan tertipu sehingga ayah mengikat tali perjodahan antara aku dan dia. Ayah berniat memungut menantu kepadanya! Akan tetapi, aku tidak mencintanya karena aku sudah mencinta Kao Cin Liong. Dan pada suatu malam…. dengan bantuan tokoh sesat Jai-hwa Siauw-ok yang juga menjadi gurunya, jahanam busuk yang menjadi murid kalian ini membiusku dengan asap beracun, kemudian dia…. memperkosa diriku dan sengaja membisikkan nama Kao Cin Liong kepadaku yang berada dalam keadaan setengah sadar.”

“Suhu, jangan percaya obrolan perempuan ini. Seorang isteri yang sudah menyeleweng meninggalkan suami dan kemudian menikah lagi dengan pria lain, mana bisa dipercaya omongannya?” Tek Ciang membantah.

“Diam!” Bentak Cu Han Bu kepada muridnya. “Biarkan dia melanjutkan penuturannya, benar mau pun tidak!”

“Kami sekeluarga terkena tipunya,” Suma Hui melanjutkan. “Sehingga kami sekeluarga memusuhi Kao Cin Liong dan hampir terjadi kesalah-pahaman antara keluarga kami. Aku sendiri bertahun-tahun memusuhi dan mendendam kepada Kao Cin Liong yang merupakan satu-satunya pria yang kucinta. Baru rahasia kebusukannya terbuka ketika kami dinikahkan. Aku melihat tonjolan daging berambut di punggungnya, sama seperti yang terdapat pada punggung orang yang memperkosa diriku! Dia pun sudah mengaku, akan tetapi dia dapat melarikan diri karena bantuan Jai-hwa Siauw-ok, gurunya….”

“Suhu, jangan percaya! Mereka ini adalah pemberontak-pemberontak, Jenderal Kao Cin Liong telah berhenti dari jabatannya sebab dia bersekongkol pula dengan pemberontak-pemberontak! Keluarga Pulau Es adalah pemberontak-pemberontak! Prajurit pengawal, tangkap mereka!”

“Para prajurit yang gagah, kalian mundurlah!” Tiba-tiba dengan suara lantang Kao Cin Liong membentak. “Kalian sudah mengenal siapa aku, sebaliknya baru kini mengenal manusia jahanam ini. Biarkan kami menyelesaikan urusan pribadi, karena tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah!”

Mendengar bentakan Kao Cin Liong dan melihat bekas jenderal muda itu, para prajurit pengawal menjadi bimbang. Mereka tak berani menentang bekas jenderal yang mereka kagumi itu.

“Ji-wi locianpwe,” kata Kao Cin Liong kepada dua orang kakek she Cu. “Kami sekalian bukanlah pemberontak….”

“Kalau bukan pemberontak, mereka tentu pengkhianat-pengkhianat yang menyebabkan matinya para pendekar yang mengadakan pertemuan di Gunung Hutan Cemara!” Tek Ciang berseru lantang. “Ji-wi suhu, ketahuilah bahwa ratusan orang pendekar dan para patriot yang sedang mengadakan pertemuan di Hutan Cemara telah dikhianati oleh keluarga Pulau Es yang menentang mereka, sehingga mereka terbasmi oleh pasukan pemerintah….”

“Bohong! Ahhh, manusia keji, penyebar kejahatan dan kebohongan. Tuhan pasti akan menjatuhkan hukuman kepadamu!” Tiba-tiba terdengar bentakan dan majulah seorang pemuda gagah perkasa. Pemuda ini adalah Kwee Cin Koan. Dia segera menghampiri kelompok orang yang sedang bersitegang itu.

Tek Ciang mengenal pemuda ini yang bukan lain adalah Kwee Cin Koan, pemuda kekasih Can Kui Eng yang menyerahkan surat rahasia kepada mendiang gadis murid Kun-lun-pai itu. Dia mulai merasa khawatir, namun semua perbuatannya di Kun-lun-pai tidak diketahui pemuda ini, takut apa?

Cin Koan memberi homat kepada mereka semua. “Cu-wi locianpwe yang terhormat, saya adalah Kwee Cin Koan, murid Kong-thong-pai yang telah menyelidiki dengan seksama dan tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Cu-locianpwe, saya tahu bahwa ji-wi adalah tokoh-tokoh Lembah Naga Siluman di barat, dan agaknya, seperti juga halnya Suma-locianpwe, ji-wi telah dikelabui oleh iblis Louw Tek Ciang ini. Dia pun dapat pula mengelabui para tosu Kun-lun-pai sehingga dia diberi pinjam untuk mempelajari kitab Sin-liong Ho-kang. Cu-wi locianpwe, dengarlah ceritaku….”

“Engkau seorang di antara pemberontak yang dapat melarikan diri. Pengawal, tangkap dia!”

“Diam!” Bentak Cu Han Bu dengan marah, lalu memandang kepada para prajurit. “Siapa berani mengganggu dia akan berhadapan dengan aku!” Lalu katanya kepada Kwee Cin Koan. “Orang muda, teruskan ceritamu!”

“Saya berterus terang saja bahwa saya adalah seorang di antara para pendekar dan patriot yang berkumpul di Hutan Cemara. Beberapa pekan yang lalu saya membawa sepucuk surat dari kawan-kawan kami yang ditujukan kepada Gan-ciangkun di kota raja, yang maksudnya mohon petunjuk dan kerja sama dengan panglima itu untuk dapat menentang pemerintah penjajah. Surat itu saya serahkan kepada…. kekasih saya yang bernama Can Kui Eng, murid Kun-lun-pai dengan pesan agar ia yang membawa surat itu ke kota raja dan menyampaikan kepada Gan-ciangkun setelah ia selesai menjaga Louw Tek Ciang yang sedang mempelajari kitab Kun-lun-pai itu tanpa meninggalkan kuil.” Pemuda itu berhenti sebentar karena apa yang hendak diceritakan masih amat menyakitkan hatinya.

Pemuda ini sudah melakukan penyelidikan ke Kun-lun-pai dan bersama para tosu dari Kun-lun-pai, akhirnya dia dapat menduga apa yang telah terjadi ketika melihat betapa Louw Tek Ciang membantu pasukan yang menyergap para pendekar. Mudah saja diduga apa yang telah terjadi dan pemuda itu menjadi marah bukan main, mati-matian dan nekat dia hendak menghadang Louw Tek Ciang untuk membalas dendam. Dan kebetulan dia bertemu dan bergabung dengan rombongan keluarga Pulau Es!

“Tidak ada kabar ceritanya kekasih saya itu sampai terjadinya pertemuan di Hutan Cemara dan penyergapan pasukan pemerintah di mana saya melihat jahanam ini ikut membantu pasukan pemerintah. Saya yang ikut menyerah bersama keluarga Pulau Es lalu mengadakan penyelidikan ke Kun-lun-pai dan…. saya mendengar bahwa kekasih saya itu tewas dan diperkosa oleh paman gurunya sendiri bernama Pouw Kui Lok yang kemudian dibunuh oleh Louw Tek Ciang….”

“Apa? Kui Lok kau bunuh….?” Cu Han Bu membentak, kaget bukan main mendengar cerita ini.

Wajah Tek Ciang berubah pucat, lalu merah kembali. “Suhu, dia memperkosa gadis murid Kun-lun-pai itu, maka teecu menjadi marah. Kemudian kami berkelahi sampai dia terbunuh oleh teecu….”

“Bohong….!” bentak Cin Koan. “Jahanam ini memang pandai berbohong sehingga para tosu Kun-lun-pai sendiri juga telah tertipu olehnya. Setelah dia muncul dengan pasukan pemerintah, barulah kami semua tahu karena dapat menduga apa yang telah terjadi. Surat buat Gan-ciangkun itu berada pada Kui Eng, bagaimana bisa terjatuh ke tangan jahanam ini dan digunakannya untuk mengkhianati para pendekar? Dia membawa surat itu ke kota raja, menghadap kaisar dan melapor. Setelah penyergapan berhasil, dia lalu mendapat anugerah pangkat. Dialah yang memperkosa kekasih saya, dan dia pula yang membunuhnya, merampas surat rahasia itu. Mungkin perbuatannya itu ketahuan oleh Pouw Kui Lok, maka dibunuhnya orang itu, dan kitab pelajaran Sin-liong Ho-kang juga dicurinya!”

Wajah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu menjadi pucat, dan wajah Cu Pek In merah sekali bahkan kedua matanya menjadi basah.

“Benarkah semua itu? Louw Tek Ciang, benarkah semua yang kudengar itu? Benarkah cerita keluarga Pulau Es dan benarkah cerita pemuda Kong-thong-pai ini?”

“Tidak, orang ini pembohong besar dan harus kubunuh sekarang juga!”

Tek Ciang sudah menerjang ke depan, menyerang Kwee Cin Koan dengan hebatnya. Terdengar suara mencicit karena ia telah menyerang dengan Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang dahsyat, ilmu yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok. Agaknya dia ingin sekali membunuh pemuda itu dengan sekali pukul. Serangan ini dahsyat bukan main dan agaknya betapa pun lihainya, Kwee Cin Koan tentu akan roboh kalau saja Cin Liong tidak cepat bergerak ke depan dan menangkis.

“Dukkk….!”

Cin Liong merasa betapa lengannya tergetar hebat. Ia terkejut. Ia sudah menggunakan Sin-liong-ciang- hoat yang ampuh untuk menangkis, akan tetapi lengannya masih juga tergetar. Memang pada saat itu, kepandaian Tek Ciang sudah mencapai tingkat yang tinggi. Dia pernah digembleng oleh Suma Kian Lee, menjadi murid Jai-hwa Siauw-ok, kemudian malah digembleng oleh keluarga Cu di Lembah Naga Siluman, bahkan akhir-akhir ini dia mempelajari ilmu sakti Sin- liong Ho-kang dari Kun-lun-pai.

Melihat majunya Kao Cin Liong, hati Cu Han Bu tidak senang. Muridnya itu, bagaimana pun salahnya, tadi menyerang pemuda yang membeberkan kebusukan, dan majunya Kao Cin Liong dianggapnya sebagai pengeroyokan.

“Mengandalkan jumlah banyak untuk mengeroyok sungguh tidak bisa kudiamkan saja!” katanya.

Kakek ini pun menggerakkan tangannya menyerang ke arah Cin Liong. Angin kebutan lengan bajunya menyambar dahsyat ke depan dan tahulah Cin Liong bahwa kakek yang menyerangnya ini memiliki kepandaian hebat. Maka dia pun sudah bersiap-siap. Akan tetapi pada saat itu terdengar angin menyambar pula dari belakangnya.

“Perlahan dulu!” Kiranya Kao Kok Cu sudah pula menggerakkan tangan tunggalnya ke depan.

Angin pukulan yang amat kuat menyambar dan bertemu dengan angin pukulan yang dilancarkan Cu Han Bu. Akibatnya, tokoh Lembah Naga Siluman itu merasa betapa hawa pukulannya membalik sehingga dia terkejut bukan main. Dipandangnya laki-laki gagah berlengan buntung itu. Dia tahu betapa lihainya orang berlengan satu, ayah Jenderal Kao Cin Liong ini, akan tetapi dia berkata dengan suara lantang, penuh ejekan.

“Ayah membela anak tanpa melihat kebenaran lagi. Apakah itu gagah namanya?”

Dengan sebelah tangannya, Kao Kok Cu memberi hormat. “Sobat she Cu, perlahan dulu bicara dan pergunakanlah kesadaran dan kewaspadaanmu. Semua cerita tentang muridmu seperti yang kau dengar tadi adalah benar belaka. Perbuatannya atas diri Suma Hui juga benar. Jika tidak benar, tidak mungkin puteraku mengawininya. Muridmu adalah seorang yang berhati busuk dan licik, banyak orang menjadi korban tipuannya. Apakah engkau juga membiarkan dirimu tertipu dan terbawa-bawa oleh kejahatan dan kebusukannya?”

Wajah Cu Han Bu berubah merah sekali. Memang dia sudah merasa bimbang ragu atas diri muridnya setelah mendengar cerita-cerita tadi, akan tetapi kekecewaan membuat dia masih berusaha untuk menghilangkan keraguan itu dan membela muridnya. Kini dia membalikkan tubuh, melotot memandang muridnya.

“Louw Tek Ciang, demi Tuhan, mengakulah sejujurnya! Benarkah semua cerita yang kudengar tadi?”

Tek Ciang menjadi pucat mukanya, sebentar berubah merah lalu pucat lagi. Dia merasa tersudut. Walau pun dia tidak takut karena mengandalkan pasukannya dan empat orang tokoh sakti yang berada di dalam pasukan itu, akan tetapi tentu saja dia sangat mengharapkan bantuan dua orang gurunya ini untuk menghadapi keluarga Pulau Es yang demikian tangguhnya, apalagi pihak lawan dibantu oleh Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya.

Selagi Tek Ciang kebingungan dan belum menjawab pertanyaan Cu Han Bu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan di antara para prajurit pengawal terjadilah perkelahian yang hebat. Yang sedang berkelahi adalah Kao Cin Liong yang dikeroyok oleh empat orang pembantu Tek Ciang yang menyelundup di antara para pasukan dan menutupi pakaian mereka dengan pakaian seragam pasukan.

Kiranya tadi Cin Liong telah mempergunakan kesempatan untuk mendekati para perwira pasukan dan meminta kepada mereka agar jangan bergerak dan jangan mencampuri urusan pribadinya. Dalam kesempatan itulah sang perwira yang masih kagum dan hormat terhadap bekas jenderal muda ini membisikkan adanya empat orang aneh yang diselundupkan pembesar baru itu di dalam pasukan. Kao Cin Liong merasa curiga lalu mencarinya.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati jenderal muda ini ketika dia melihat empat orang itu. Tentu saja dia mengenal mereka, bekas komplotan pemberontak yang pernah digagalkan pasukan pemerintah. Maka sambil berseru keras dia pun maju menerjang dan disambut oleh empat orang itu. Karena keempat orang itu memang lihai sekali, dikeroyok empat Cin Liong kewalahan dan mundur terus mendekati kelompok keluarga Pulau Es.

Dia meloncat ke depan Cu Han Bu sambil berkata. “Lihatlah, locianpwe. Siapa yang bersembunyi di dalam pasukan pengawal itu? Mereka adalah Thai-hong Lama, Pek-bin Tok-ong, Siwananda, dan Tai-lu-cin, empat orang yang pernah bersekongkol dengan pemberontak! Jahanam Louw Tek Ciang ini telah bersekongkol dengan pemberontak-pemberontak yang terdiri dari golongan sesat!”

Tentu saja semua orang terkejut, akan tetapi yang lebih kaget dan marah adalah Cu Han Bu dan Cu Seng Bu. Bagaimana pun juga, mereka adalah pendekar-pendekar yang tentu saja tidak suka kepada golongan hitam dan kini murid mereka, bahkan yang diharapkan menjadi suami Cu Pek In, telah bersekongkol dengan tokoh-tokoh jahat itu! Kenyataan ini melenyapkan keraguan mereka bahwa memang mereka telah tertipu, mereka telah keliru mengambil murid!

“Pasukan pengawal, maju dan serbu mereka ini….!” Tek Ciang yang sudah terpojok itu memberi aba-aba dengan keras.

Akan tetapi, perwira pemimpin pasukan itu diam saja seperti patung dan para prajurit yang melihat komandan mereka diam saja, juga tak ada yang berani bergerak. Memang hati mereka sudah condong memihak Kao Cin Liong, maka diamnya komandan mereka itu membuat mereka lega. Mereka tidak suka menentang bekas jenderal itu, segan dan takut.

“Louw Tek Ciang, segera berlututlah engkau di depan kami dan sebagai murid kami, mengakulah terus terang!” Cu Han Bu membentak.

Akan tetapi Tek Ciang yang sudah melihat betapa keadaannya terhimpit dan hanya mengandalkan empat orang pembantunya yang kini sudah berdiri di situ dengan sikap siap berkelahi, tentu saja tidak sudi untuk berlutut dan menyerah begitu saja.

“Ji-wi suhu, kalau tidak mau membantuku, persetan dengan kalian!”

“Louw Tek Ciang, engkau sungguh jahat!” Terdengar teriakan Cu Pek In dengan suara mengandung isak.

Wanita ini tiba-tiba saja menyerang Tek Ciang dari belakang, menggunakan sulingnya menotok ke arah tengkuk. Akan tetapi, biar pun Pek In merupakan puteri tunggal Cu Han Bu, dalam hal ilmu kepandaian ia masih jauh di bawah tingkat Tek Ciang. Serangan berupa totokan maut dengan suling ke arah tengkuk itu dihadapi Tek Ciang dengan tenang saja.

Dia memutar tubuh sambil menggerakkan kedua tangannya, dengan jari-jari terpentang. Terdengar suara bercuitan dan tiba-tiba saja tubuh Cu Pek In terpelanting dan wanita ini tewas seketika karena dia telah menjadi korban serangan Kiam-ci yang amat hebat, dilakukan dengan kedua tangan dari jarak dekat sekali. Semua orang terkejut dan tidak dapat mencegah karena peristiwa ini begitu tiba-tiba dan tidak terduga- duga.

Sepasang mata Cu Han Bu terbelalak dan wajahnya pucat sekali memandang tubuh puterinya yang kini menggeletak tak bernyawa, dari lehernya mengucur darah, juga dari dadanya!

“Kau…. kau…. keparat…. kau membunuh puteriku?” Cu Han Bu mengeluarkan teriakan marah lalu menerjang dan menyerang muridnya itu.

Cu Seng Bu yang semenjak tadi juga sudah marah sekali, melihat kakaknya maju menyerang bekas murid itu, dia pun lalu menyerang dengan sengit.

Cu Han Bu terkenal dengan julukan Kim-kong-sian dan dia mempergunakan senjatanya yang berupa sabuk emas. Sabuk itu berubah menjadi segulungan sinar emas yang lihai sekali dan karena inilah dia dijuluki Dewa Sinar Emas. Sedangkan adiknya, Cu Seng Bu dijuluki Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan) karena memiliki ginkang yang amat hebat sehingga ketika dia menyerang maju, tubuhnya lenyap, hanya nampak berkelebatnya bayangannya saja.

Akan tetapi, Tek Ciang sama sekali tidak gentar menghadapi serangan kedua orang gurunya ini. Dia mengelak cepat dari sambaran sabuk emas di tangan Cu Han Bu dan pedang lemas di tangan Cu Seng Bu. Bagaimana pun juga, dia sudah mengenal dasar-dasar gerakan ilmu silat dua orang tokoh Lembah Naga Siluman itu. Dan ketika dia membalas, dia mempergunakan ilmu-ilmu pukulan dari Pulau Es yang sama sekali tidak dikenal oleh kakak beradik she Cu itu sehingga mereka berdua terdesak!

Karena maklum betapa lihainya dua orang lawan ini, Tek Ciang juga sudah mencabut pedangnya. Pedang di tangan kanan itu bergerak cepat dan lihai sekali karena dia telah menggunakan ilmu silat pedang Siang- mo Kiam-hoat yang dulu dipelajarinya dari Suma Kian Lee. Siang-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) ini seharusnya dimainkan dengan sepasang pedang. Akan tetapi karena Tek Ciang hanya memegang sebatang pedang, dia menggunakan tangan kirinya untuk mengimbangi dengan Ilmu Kiam-ci, yaitu Jari Pedang dan tangan kirinya itu pun tidak kalah lihainya dari pada tangan kanan yang memegang pedang!

Tek Ciang memang amat pandai mengombinasikan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari bermacam aliran. Maka, karena dia sudah mengenal gerakan kedua orang she Cu yang mengeroyoknya sebaliknya dua orang itu tidak mengenal gerakan-gerakannya, biar pun dikeroyok dua, Tek Ciang sebaliknya malah mendesak bekas guru-gurunya itu.

Ketika Cin Liong dan Suma Hui hendak maju, Kao Kok Cu memberi isyarat kepada putera dan menantunya itu untuk menahan diri. Dan Cin Liong mengerti akan isyarat ayahnya. Tentu ayahnya mengingat bahwa Tek Ciang telah diangkat sebagai seorang pejabat tinggi oleh kaisar dan kini ada banyak saksi, yaitu pasukan pengawal yang berada di situ. Biarkanlah pejabat baru itu kini berkelahi melawan dua orang bekas gurunya sehingga para saksi itu akan melihat sendiri sehingga kelak keluarga Pulau Es tidak akan disalahkan sebagai pemberontak-pemberontak yang membunuh pejabat pemerintah!

Akan tetapi, Suma Hui yang menaruh dendam yang amat besar terhadap Tek Ciang, orang yang nyaris membuat hidupnya berantakan dan rusak, memandang dengan sinar mata berapi-api. Hatinya menjadi semakin panas melihat betapa Tek Ciang menghadapi kedua orang lawannya dengan menggunakan ilmu pedang dari Pulau Es.

Serang-menyerang terjadi dengan amat serunya. Melihat betapa dua orang kakek Cu itu semakin terdesak, bahkan Cu Seng Bu terluka pangkal lengan kirinya, robek bajunya dan berdarah karena sambaran Kiam-ci, hati Suma Hui menjadi semakin marah. Dua orang kakek itu biar pun lihai tidak mengenal gerakan pedang Tek Ciang. Akan tetapi ia tentu saja sudah mengenal baik Siang-mo Kiam-hoat itu dan bahkan dia dapat melihat kelemahan-kelemahannya.

Tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke udara, dan ketika tubuhnya tiba di atas Tek Ciang, ia membalikkan tubuh meluncur ke bawah dan pedangnya menyambar ke arah ubun-ubun kepala Tek Ciang!

Pada saat itu, Tek Ciang sedang menghadapi serangan lawan dan memang ubun-ubun kepalanya merupakan satu-satunya daerah yang terbuka. Terkejutlah Tek Ciang. Jika ia berusaha menangkis atau mengelak dari serangan di atas itu, tentu dia akan terancam oleh senjata dua orang she Cu.

Ia teringat akan ilmu barunya. Tiba-tiba saja mulutnya mengeluarkan suara melengking yang amat hebat. Menggetarkan jantung semua orang yang hadir. Bahkan Suma Hui yang sedang menyerang itu terkejut dan serangannya menyeleweng, tidak mengenai ubun-ubun kepala melainkan mengenai pundak, dan itu pun hanya menyerempet saja sehingga merobek baju dan melukai kulit.

Akan tetapi lengkingan suara yang mengandung Ilmu Sin-liong Ho-kang itu memang dahsyat sekali, demikian hebatnya terasa oleh dua orang kakek Cu sehingga mereka tertegun dan tubuh mereka bagaikan dimasuki getaran kuat yang membuat mereka lumpuh selama beberapa detik. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tek Ciang sebaik- baiknya. Dia telah dapat miringkan tubuh sehingga pedang Suma Hui hanya melukai pundaknya, dan melihat dua orang kakek itu masih tertegun, pedang di tangan kanan dan jari-jari tangan kirinya menyambar seperti kilat.

Dua orang kakek Cu mengeluarkan teriakan keras. Pedang di tangan kanan Tek Ciang telah menembus perut Cu Han Bu, sedangkan Cu Seng Bu terkena pukulan Kiam-ci tepat pada dadanya. Keduanya merupakan serangan mematikan dan kalau bukan dua orang kakek Cu itu yang terkena, tentu roboh seketika.

Akan tetapi dua orang kakek itu hanya berteriak dan dengan mata melotot keduanya menubruk ke depan, dari kanan kiri Tek Ciang. Hal ini sama sekali tidak terduga oleh Tek Ciang dan dia tidak memperoleh kesempatan untuk mengelak sama sekali. Tahu-tahu dua pasang tangan dengan jari-jari mencengkeram telah menerkam kepalanya dan dua puluh buah jari tangan menancap ke dalam kepala!

Tek Ciang mengeluarkan teriakan mengerikan dan tubuhnya terguling, membawa dua tubuh lain itu dan tubuhnya berkelojotan, dengan kaki dan tangan meregang. Akan tetapi tubuh dua orang kakek itu tidak bergerak, kaku dan kedua tangan mereka masih mencengkeram kepala, dua pasang mata itu masih melotot mengerikan! Akhirnya tubuh Tek Ciang pun diam tak bergerak lagi setelah nyawanya melayang bersama dua orang kakek yang masih terus mencengkeram kepalanya itu.

Suma Hui yang berdiri dekat suaminya berbisik. “Puas sudah hatiku….!”

Kao Cin Liong menarik napas panjang. Dia tahu akan perasaan hati isterinya. Dan dia merasa girang bahwa isterinya tadi hanya membantu saja robohnya Tek Ciang, tidak langsung menjadi pembunuh Tek Ciang. Betapa pun juga, harus diakui bahwa robohnya Tek Ciang diawali dengan serangan Suma Hui tadi.

Melihat Tek Ciang roboh, empat orang pembantunya itu menjadi gentar. Mereka tadi sudah melihat betapa pasukan itu tidak taat lagi kepada Tek Ciang dan tidak berani melawan bekas Jenderal Kao Cin Liong. Kini, melihat Tek Ciang tewas, mereka pun merasa tiada gunanya melawan lagi dan mereka saling pandang, lalu membalikkan tubuh hendak pergi dari situ. Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan Cin Liong sudah menghadang mereka.

“Perlahan dulu, sobat. Kalian tidak boleh pergi dan harus menjadi tawanan pasukan!”

Empat orang itu terkejut dan maklum bahwa mereka takkan mungkin lolos kalau tidak menggunakan kekerasan, maka mereka pun segera mencabut senjata masing-masing dan menerjang bekas jenderal itu. Akan tetapi Suma Hui, Suma Kian Lee, Kim Hwee Li, Kao Kok Cu, dan Wan Ceng sudah maju. Menghadapi keluarga yang sakti itu, empat orang tokoh sesat itu tidak dapat berbuat banyak. Dalam waktu tiga puluh jurus lebih saja, mereka berempat sudah dapat dirobohkan, dibelenggu oleh pasukan dan dibawa kembali ke kota raja.

Atas permintaan Kao Cin Liong, komandan pasukan melapor kepada atasannya yang melanjutkan kepada kaisar bahwa Panglima Louw Tek Ciang di tengah jalan bertengkar dengan dua orang gurunya dan dalam perkelahian itu dia tewas, demikian pula kedua orang gurunya. Ditambahkan pula bahwa ternyata pembesar baru itu telah bersekongkol dengan empat orang pemberontak yang dapat ditawan…..

********************

Suma Ceng Liong bersama Kam Bi Eng pergi ke puncak Bukit Nelayan, menghadap Kam Hong dan Bu Ci Sian. Dengan terus terang dan berani mereka berdua menghadap suami isteri ini dan menceritakan segala hal tentang diri mereka, tentang pertemuan di Hutan Cemara, tentang tewasnya Sim Hong Bu dan juga tentang cinta kasih antara mereka dan tentang pertemuan mereka dengan Sim Houw.

Mula-mula Kam Hong dan isterinya terkejut sekali. Terutama sekali Kam Hong, yang mengerutkan alisnya dan memandang marah. Apalagi setelah kini Sim Hong Bu gugur, dia marah karena harus memegang teguh perjanjiannya dengan sahabat itu.

“Bi Eng, bagaimana engkau dapat mengharapkan aku melanggar janji terhadap seorang sahabat yang telah meninggal dunia?” katanya dengan nada lebih banyak menegur dari pada bertanya.

“Ayah, suhu Sim Hong Bu sendiri yang telah menyetujui seperti yang kami dengar dari Sim Houw suheng.”

“Sudahlah, aku baru mau mempertimbangkannya kalau aku sudah mendengar sendiri penuturan Sim Houw!”

Biar pun dengan hati yang tidak enak, Suma Ceng Liong tinggal di rumah kekasihnya itu. Sikap tuan dan nyonya rumah yang pendiam membuat dia merasa canggung sekali, akan tetapi demi cintanya terhadap Bi Eng, dia pun mempertahankan diri. Apalagi sikap Bi Eng amat manis dan gadis ini selalu membesarkan hatinya.

Akhirnya, saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Sim Houw datang berkunjung. Pemuda ini menjatuhkan diri berlutut di depan guru atau juga calon mertuanya dan tidak dapat menahan cucuran air matanya. Kam Hong dan isterinya merasa terharu sekali.

“Kami telah mendengar tentang kematian ayahmu, Sim Houw. Akan tetapi, usaplah air matamu. Ayahmu tewas sebagai seorang pendekar dan patriot sejati yang gugur dalam perjuangan yang patut. Tidak perlu ditangisi dan bukan sikap seorang pendekar kalau mudah saja mencucurkan air matanya.”

“Maaf, suhu, maafkan kelemahan teecu,” jawab Sim Houw.

Seperti yang sudah direncanakan dengan isterinya, apalagi di situ tidak terdapat Bi Eng dan Ceng Liong yang sedang berburu di hutan, Kam Hong memancing. “Sim Houw, setelah ayahmu meninggal dunia, kami merasa perlu untuk mempercepat pelaksanaan pernikahanmu dengan Bi Eng….”

“Tidak, suhu….! Maafkan teecu, suhu, akan tetapi…. ikatan perjodohan antara teecu dan sumoi itu tidak mungkin dilanjutkan….”

Kam Hong pura-pura kaget dan marah. “Sim Houw! Omongan apa yang kau keluarkan ini? Apa maksudmu?”

“Suhu, sebelum meninggal, ayah berpesan kepada teecu agar teecu menghadap suhu dan menyatakan bahwa ikatan perjodohan itu agar diputuskan.”

Kam Hong mengangguk-angguk. Jika begitu puterinya tidak berbohong. “Apa alasannya mendiang ayahmu berpesan seaneh itu?”

“Sederhana saja alasannya, suhu, yaitu bahwa sumoi tidak berjodoh dengan teecu, maksud teecu…. ehhh, sumoi dan teecu tidak saling mencinta….”

Inilah keterangan yang dikehendaki Kam Hong dan isterinya. “Sim Houw, katakan sekali lagi, apakah benar-benar engkau tidak mencinta Bi Eng?” tanya Bu Ci Sian.

Sim Houw merasa bingung dan takut menghadapi pertanyaan ini. Dia harus mengaku sejujurnya bahwa dia kagum sekali dan suka kepada Bi Eng. Siapa orangnya tidak akan suka dan kagum kepada gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga amat manis itu? Akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu apakah dia mencinta Bi Eng, suatu perasaan yang belum pernah dirasakannya. Yang jelas, mendengar bahwa Bi Eng mencinta pemuda lain, dia tidak merasa duka atau marah.

“Subo, maafkanlah teecu. Tentu saja antara teecu dan sumoi terdapat rasa sayang sebagai saudara seperguruan, akan tetapi tentang cinta…. sumoi telah mencinta seorang pemuda lain. Bagaimana teecu dan ia dapat saling mencinta? Dan menurut ayah, jodoh tanpa cinta hanya akan berakhir dengan duka nestapa.”

Mendengar ucapan pemuda ini, wajah Bu Ci Sian berubah pucat. Dahulu, dahulu sekali, pada waktu Sim Hong Bu, ayah pemuda ini, masih menjadi seorang pemuda, Hong Bu pernah mati-matian jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi ia tidak membalas cintanya dan dia mencinta Kam Hong. Kemudian Sim Hong Bu menikah dengan Cu Pek In. Ia pun menarik napas panjang dan tenggelam dalam kenangan.

Kam Hong merasa lega sekali mendengar penjelasan muridnya ini. Jadi benar semua keterangan puterinya. Puterinya saling mencinta dengan Suma Ceng Liong, cucu dalam Pendekar Super Sakti dari Pulau Es itu. Dan putusnya tali perjodohan puterinya dengan Sim Houw ini pun sudah sah, karena disetujui oleh Sim Hong Bu dan oleh Sim Houw sendiri.

“Baiklah, kalau begitu kami menjadi yakin, Sim Houw. Ketahuilah bahwa sebetulnya kami telah mendengar kesemuanya itu dari Bi Eng.”

“Ahh, jadi sumoi sudah pulang dan menceritakan semua kepada suhu dan subo? Dan pemuda itu…. ehhh, maksud teecu, saudara Suma Ceng Liong….”

“Dia pun sudah berada di sini. Mereka berdua sudah menceritakan semuanya kepada kami, akan tetapi kami masih merasa penasaran dan ingin mendengar dari engkau sendiri, Sim Houw.”

Wajah pemuda itu berseri gembira. “Ahhh, kalau begitu hati teecu menjadi lega dan gembira. Mereka itu betul-betul saling mencinta dan pemuda itu amat gagah dan jujur, menjadi calon jodoh sumoi yang amat baik.”

Sim Houw tidak lama berada di puncak Bukit Nelayan. Setelah bertemu dan beramah tamah dengan Bi Eng dan Ceng Liong dan makan bersama dari hidangan hasil buruan sepasang muda mudi itu, dia pun berpamit dan mendapat doa restu dari suhu beserta subo-nya yang merasa terharu dan kasihan, juga kagum terhadap murid itu.

Perjodohan antara Kam Bi Eng dan Suma Ceng Liong tak mengalami banyak kesulitan. Suma Kian Bu dan Teng Siang In segera datang berkunjung ke puncak Bukit Nelayan setelah mendengar permintaan Ceng Liong untuk mengajukan pinangan dan diterima dengan senang hati dan gembira oleh Kam Hong dan isterinya.

Beberapa bulan kemudian, pernikahan antara kedua orang muda itu pun dirayakan dengan amat meriah, dihadiri pula oleh orang-orang gagah dari segenap penjuru dan di dalam perayaan ini berkumpullah semua keluarga para pendekar Pulau Es dengan lengkap.

Kam Hong dan isterinya merasa bangga dan berbahagia sekali dapat berbesan dengan keluarga Pulau Es apalagi setelah mereka mendengar penuturan mantu mereka tentang riwayatnya sampai dia menjadi murid Hek-i Mo-ong dan diajak menyerbu ke Bukit Nelayan. Mereka yang tadinya merasa tidak senang melihat pemuda itu menjadi murid Hek-i Mo-ong, kini berbalik menjadi kagum.

Demikianlah, cerita ini diakhiri dengan kebahagiaan yang dinikmati oleh keluarga Pulau Es. Suma Hui telah menjadi isteri Kao Cin Liong dan hidup bahagia. Suma Ceng Liong hidup berbahagia pula bersama isterinya, Kam Bi Eng.

Dan biar pun Suma Ciang Bun masih merasa kehilangan Gangga, tetapi dia semakin matang dan makin dapat mengenal diri sendiri. Perlahan-lahan dia membiarkan dirinya berubah melalui kewaspadaan…..

>>>>> T A M A T <<<<<

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo