October 1, 2017

Kisah Para Pendekar Pulau Es Part 23

 

Akan tetapi hubungan itu pun seperti putus pada saat dia naik tahta dan Nyonya Fu melahirkan seorang putera keturunan Kian Liong! Hanya kadang-kadang saja Kaisar Kian Liong mengadakan pertemuan dengan kekasihnya yang masih menjadi kakak iparnya itu.

Setelah menjadi kaisar, kesukaan Kian Liong akan wanita-wanita cantik bahkan semakin menjadi. Tak dapat disangkal bahwa dia melakukan tugasnya sebagai kaisar dengan amat baik, memerintah dengan bijaksana dan adil. Namun, kesukaannya akan wanita menimbulkan banyak persoalan, bahkan rasa kebencian kepada sebagian orang, terutama para pendekar yang memang sudah tidak suka melihat bangsanya dijajah oleh Bangsa Mancu.

Orang pertama yang memperoleh bagian kemuliaan saat Pangeran Kian Liong menjadi kaisar adalah Thaikam Siauw Hok Cu. Begitu pangeran itu naik tahta menjadi kaisar, thaikam ini lalu diangkat menjadi Kepala Thaikam dan diberi nama Hok Sen. Thaikam Hok Sen ini terkenal dalam sejarah sebagai seorang thaikam yang berhasil menumpuk kekayaan yang luar biasa banyaknya dan menikmati kedudukan tinggi dan mulia selama Kian Liong menjadi kaisar sampai puluhan tahun!

Peristiwa yang belum lama ini terjadi, kembali membuat hati para pendekar menjadi marah. Agaknya, setelah berusia tiga puluh tahun lebih dan hidupnya sudah dikelilingi banyak sekali wanita cantik yang seolah-olah berlomba memperebutkan perhatian dan cintanya, Kaisar Kian Liong belum juga merasa puas.

Memang demikianlah kalau manusia sudah menjadi hamba nafsunya sendiri. Nafsu itu dapat tumbuh menjadi keinginan apa saja, dalam makanan, tontonan, pemuasan sex, penumpukan harta, pengejaran kedudukan dan sebagainya. Sekali saja manusia sudah dicengkeram dan menjadi hamba nafsu, maka dia tidak akan mengenal puas.

Memang segala macam nafsu itu menjurus ke arah kepuasan, tetapi, kepuasan seperti itu tidaklah dapat bertahan lama, segera disusul oleh kekecewaan dan kekurangan, ingin yang lebih hebat, lebih enak, lebih besar, lebih banyak dan selanjutnya. Justru pengejaran kepuasan inilah yang meniadakan kepuasan yang sesungguhnya, karena harapan selalu lebih besar dari pada kenyataan.

Kaisar Kian Liong yang sudah dikelilingi banyak wanita cantik itu masih kurang puas, masih menghendaki sesuatu yang lebih dari pada semua yang telah ada itu!

Sudah menjadi hal yang wajar bahwa di dalam suatu pemerintahan terdapat banyak orang-orang berambisi yang ingin mencari kedudukan bagi dirinya sendiri. Pengejaran kedudukan ini menimbulkan pelbagai cara yang curang dan kotor, di antaranya sifat menjilat. Dalam sebuah pemeritahan, selalu ada dan banyak saja orang-orang yang suka menjilat sebagai jalan untuk memperoleh imbalan. Menjilat untuk menyenangkan atasan agar atasan membalas jasanya dengan kenaikan pangkat, dengan hadiah dan sebagainya.

Demikian pula dengan Kaisar Kian Liong. Setelah kelemahannya diketahui orang, maka banyaklah para pembesar korup yang mendekatinya dan menjilat-jilat dengan cara menyuguhkan gadis-gadis cantik yang mereka dapatkan dengan berbagai cara, kadang-kadang dengan cara yang kotor pula. Gadis-gadis itu mereka haturkan kepada kaisar dengan harapan kaisar akan merasa senang dan tentu akan memberi imbalan jasa yang lumayan. Apalagi kalau sampai gadis pemberian mereka itu kelak memperoleh kedudukan penting, tentu sang gadis tidak akan melupakan orang yang mula-mula membawanya kepada kaisar!

Pada suatu hari, seorang di antara para penjilat kaisar yang melihat kebosanan kaisar terhadap para wanita cantik yang ada, memberi tahukan pada kaisar bahwa di Sin-kiang terdapat seorang wanita yang luar biasa cantiknya! Wanita itu di seluruh Sin-kiang terkenal dengan sebutan Puteri Harum!

“Apakah ia masih gadis?” Kaisar Kian Liong segera saja memperlihatkan sikap tertarik sekali.

“Sayang bahwa ia telah menikah dengan seorang kepala suku di Sin-kiang, sri baginda, dan dia adalah puteri kepala suku Ho-co. Akan tetapi, hamba sendiri pernah melihatnya dan hamba berani bersumpah bahwa selama hidup hamba, belum pernah hamba melihat seorang wanita secantik itu! Tiada cacat- celanya sedikit pun juga dan tubuhnya mengeluarkan bau harum, bukan keharuman yang dibuat dengan minyak. Kabarnya sejak kecil ia diberi minum semacam obat rahasia yang membuat keringat dan tubuhnya berbau harum. Dan ia masih amat muda, sri baginda, baru dua puluh lima tahun dan belum mempunyai anak.”

Selanjutnya si penjilat ini menggambarkan kecantikan Puteri Harum dengan kata-kata bermadu, membuat Kaisar Kian Liong tergila-gila dan sampai beberapa hari dia tidak dapat tidur nyenyak atau makan enak. Yang terbayang hanyalah Sang Puteri Harum dari Sin-kiang itu!

Akhirnya Kaisar Kian Liong tidak dapat menahan lagi kerinduan hatinya. Dia tergila-gila mendengar adanya seorang wanita yang memiliki kecantikan sedemikian luar biasa seperti yang belum pernah didengarnya sebelumnya, apalagi dilihatnya. Maka, dengan nekat dia lalu memanggil Jenderal Cao Hui, seorang jenderal kepercayaannya untuk membawa pasukan besar dan menyerbu ke Sin-kiang.

Dia tidak mau mengutus Jenderal Kao Cin Liong karena terhadap jenderal muda ini dia merasa malu. Perasaannya meyakinkan hatinya bahwa jenderal Kao Cin Liong tentu akan menentang dan tidak akan menyetujui rencana gila itu, menyerbu ke barat dan mengadakan perang hanya untuk merampas seorang wanita!

Pasukan yang dipimpin Jenderal Cao Hui itu berhasil menyerbu Sin-kiang, membunuh banyak prajurit suku bangsa Ho-co, dan menawan Sang Puteri Harum, dibawa ke timur dan pada suatu hari, tercapailah idam- idaman hati Kaisar Kian Liong untuk berhadapan dengan sang puteri!

Tentu saja peristiwa ini mendatangkan rasa penasaran dan kemarahan besar di antara para pendekar. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berani menentang karena bukankah yang diserbu itu hanyalah suku bangsa terpencil di barat yang tidak termasuk bangsa pribumi Han?

Kaisar Kian Liong terpesona menatap kecantikan asing dari sang puteri yang menangis ketika dihadapkan kepadanya sebagai tawanan. Tubuh yang ramping padat itu, kulit yang putih halus kemerahan, bibir yang merah basah, mata yang lebar dan indah bening kebiruan, hidung yang mancung, bulu mata yang panjang- panjang melengkung. Sungguh kecantikan yang berbeda sama sekali dengan kecantikan yang biasa dia lihat. Apalagi bau harum yang jelas tercium oleh hidungnya walau pun sang puteri itu duduk bersimpuh di atas lantai. Seluruh ruangan itu seolah-olah baru saja disiram sebotol minyak harum atau seakan-akan ruangan itu berubah menjadi taman bunga-bunga mawar yang baru mekar!

“Thian Yang Agung….,” kaisar itu berbisik dekat Hok Sen, sang kepala thaikam sambil menatap tanpa berkedip. “Ia tentu seorang bidadari yang turun dari sorga….”

“Hamba yakin memang demikian, sri baginda, dan hanya paduka sajalah yang patut mendampinginya….,” bisik thaikam yang pandai menyenangkan hati itu.

Pada saat itu juga, Kaisar Kian Liong menganugerahkan pangkat Selir Harum kepada sang puteri tawanan, menghadiahkan banyak pakaian dan perhiasan, juga ditempatkan di dalam kamar terindah di dalam istana, menjadi selir baru yang paling dicinta.

Akan tetapi, Puteri Harum tidak mau menyerahkan diri dan hanya menangis. Ia berduka sekali mengingat akan kematian ayahnya dan suaminya. Berbagai macam cara para dayang menghiburnya, namun dia tetap menangis dan tidak mau bersolek, tidak mau melayani Kaisar Kian Liong. Hal ini tentu saja membuat sang kaisar menjadi kecewa sekali.

Akan tetapi, kembali kepala thaikam Ho Sen yang muncul sebagai penasehatnya. Atas nasehat sang thaikam yang pandai itu, kaisar Kian Liong segera memerintahkan orang-orangnya membangun sebuah bangunan istana kecil mungil yang baru, yang diberi nama Istana Bulan Indah. Bukan hanya merupakan sebuah istana yang indah, akan tetapi juga modelnya dibuat seperti bangunan di Sin-kiang, dan untuk menghibur hati selirnya, kaisar juga memerintahkan orang-orangnya membangun sebuah kota tiruan di dekat istana, sebuah kota yang lengkap dengan kuil dan para penghuninya yang semua beragama dan berpakaian orang-orang Sin-kiang.

Di loteng Istana Bulan Indah, Puteri Harum dapat melihat semua ini sehingga agak terhiburlah kedukaan hatinya. Dia merasa seolah-olah dia masih berada di kampung halamannya. Dia berterima kasih dan hatinya tergerak oleh kebaikan hati kaisar kepada dirinya. Akhirnya dia pun menyerahkan dirinya kepada Kaisar Kian Liong dengan suka rela dan semenjak itu, Puteri Harum menjadi selir terkasih dari kaisar itu.

Demikianlah, semua ulah kaisar ini menambahkan rasa tidak suka di hati para pendekar yang ingin memberontak, walau pun tentu saja masih teramat banyak mereka yang setia kepada Kaisar Kian Liong…..

********************

“Pouw-sute, engkau tentu tidak lupa akan pesan mendiang suhu dan juga peraturan Kun-lun-pai yang telah dipegang teguh selama ratusan tahun. Engkau tahu bahwa tiada seorang pun murid Kun-lun-pai, tanpa terkecuali, yang boleh membuka dan membaca kitab ilmu pusaka Sin-liong Ho-kang. Bagaimana mungkin engkau mengharapkan pinto untuk melanggar peraturan itu?” Ucapan ini keluar dari mulut Hong Tan Tosu, ketua Kun- lun-pai di Tung-keng.

Tosu tinggi kurus yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun ini adalah suheng dari Pouw Kui Lok dan dia mengetuai kuil yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai itu, di mana dahulu Kui Lok diambil murid oleh suhu mereka. Seperti kita ketahui, Pouw Kui Lok menuruti permintaan suheng-nya yang baru, yaitu Louw

Tek Ciang, untuk berusaha mempelajari ilmu larangan dari Kun-lun-pai itu dalam tekadnya untuk menandingi ilmu meniup suling yang ampuh dari keluarga Kam.

Pouw Kui Lok dan Louw Tek Ciang disambut dengan ramah oleh ketua kuil itu yang merasa gembira melihai sute-nya dan sahabatnya itu telah kembali setelah mengikuti keluarga Cu yang sakti ke Lembah Naga Siluman di barat. Akan tetapi, ketika Kui Lok menyatakan keinginan hatinya untuk meminjam sebentar kitab Sin-liong Ho-kang untuk dipelajari isinya, tosu tua itu terkejut dan mencela sute-nya.

Mendengar ucapan ini, Kui Lok tidak mampu menjawab dan Tek Ciang cepat-cepat maju memberi hormat kepada tosu tua itu. “Harap totiang sudi memaafkan Pouw-sute. Sesungguhnya, bukan sute yang menginginkan kitab itu untuk dipelajari, karena sute adalah seorang yang menjunjung tinggi peraturan perguruan Kun-lun-pai. Yang amat membutuhkan bantuan Kun-lun-pai untuk dapat sekedar mempelajari Sin-liong Ho-kang itu adalah saya sendiri, totiang. Pouw-sute hanya mencoba membantu saya saja untuk memintakan ijin dari totiang.”

“Siancai, siancai….!” Tosu itu mengangguk-angguk. “Louw-sicu, hendaknya sicu suka memaafkan pinto. Ketahuilah bahwa ilmu itu oleh perguruan kami dianggap sebagai ilmu yang keji dan sesat, kalau digunakan hanya akan mengancam keselamatan nyawa manusia lain saja. Yang mau mempergunakan ilmu seperti itu hanyalah iblis-iblis yang berwatak curang. Oleh karena itu, semua murid Kun-lun-pai dilarang keras mempelajari ilmu itu. Kalau murid sendiri saja tidak boleh mempelajarinya, apalagi orang luar. Harap sicu suka memaafkan dan tidak menjadi kecil hati.”

Kembali Tek Ciang memberi hormat. “Maaf, totiang. Saya pun cukup mengerti dan bisa menerima alasan yang totiang kemukakan itu. Akan tetapi tentu totiang sependapat dengan saya bahwa keji tidaknya suatu ilmu, sesat tidaknya, tergantung sepenuhnya pada penggunaannya, bukan? Betapa pun keji kelihatannya suatu ilmu, jika digunakan untuk kebaikan, tentu menjadi ilmu yang baik pula.”

“Siancai, ada benarnya memang pendapat Louw-sicu itu. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa adanya suatu ilmu amat mempengaruhi pemiliknya. Bagaimana orang dapat melakukan suatu perbuatan keji kalau tidak memiliki ilmu keji itu sendiri? Sebaliknya, biar pun hati seseorang tadinya tidak mempunyai niat keji, kalau sudah memiliki ilmu yang keji itu, mudah saja terbujuk untuk melakukan perbuatan keji menggunakan ilmu itu. Tiada bedanya dengan kekuatan. Orang tidak akan melakukan pemukulan kalau tidak memiliki kekuatan, sebaliknya, setelah memiliki kekuatan, akan timbul dorongan untuk mempergunakan kekuatan itu memukul atau menindas orang lain. Nah, karena itulah, sicu, maka murid-murid Kun-lun-pai tidak diperkenankan mempelajari ilmu itu.”

Tek Ciang mengerutkan alisnya. Sukar memang membujuk tosu yang agaknya kukuh ini. Akan tetapi Tek Ciang adalah seorang yang cerdik dan licik sekali. Dia tidak memperlihatkan kekecewaan atau pun kemendongkolan hatinya, melainkan tersenyum ramah. Lalu dengan suara halus dia bertanya.

“Hong Tan totiang, saya tahu bahwa totiang adalah sahabat baik sekali dari para suhu kami di Lembah Naga Siluman, yaitu para tokoh keluarga Cu. Tentu persahabatan itu berdasarkan rasa kagum akan kegagahan masing-masing.”

Tosu tinggi kurus itu memandang dengan alis berkerut, tidak mengerti ke mana arah tujuan kata-kata pemuda ini. Akan tetapi dia mengangguk. “Tentu saja, mereka adalah keluarga yang sakti dan gagah perkasa, dan pinto ikut merasa gembira sekali bahwa Pouw-sute dapat menerima gemblengan keluarga Cu.”

“Totiang, di antara sahabat, baru dapat dikatakan akrab dan benar kalau di situ terdapat kesetiaan dan pembelaan, bukan?”

“Tentu, tentu….” Tosu itu mengangguk-angguk.

“Jadi, andai kata ada suatu mala petaka menimpa keluarga para suhu kami di Lembah Naga Siluman, tentu totiang akan sudi membela dan membantu mereka?”

“Tentu saja, selama tenaga pinto yang sudah tua dan lemah ini mengijinkan. Akan tetapi ada apakah yang telah terjadi dengan mereka, sicu?” Dan tosu ini pun menoleh dan memandang kepada Kui Lok yang hanya menundukkan mukanya, maklum akan siasat yang dijalankan oleh Tek Ciang.

“Nah, baru sahabat saja sudah akan membela dan membantu, totiang. Apalagi murid-murid seperti kami ini. Ketahuilah bahwa kami, saya dan Pouw-sute, sedang memikul tugas yang dibebankan oleh kedua suhu

Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, akan tetapi kami berdua telah gagal dan harapan satu-satunya kami hanyalah bantuan totiang melalui ilmu Sin-liong Ho-kang itu.”

“Apa yang telah terjadi? Pouw-sute, apakah yang telah terjadi dengan keluarga Cu di Lembah Naga Siluman? Coba ceritakan kepada pinto.”

Tosu itu sekarang menoleh kepada sute-nya untuk minta penjelasan untuk meyakinkan hatinya. Biar pun dia sudah mengenal Louw Tek Ciang yang menjadi sahabat sute-nya dan kini bahkan menjadi suheng dari sute-nya itu karena mereka berdua berguru kepada keluarga Cu, namun dia belum mengenal benar keadaan Tek Ciang sehingga keterangan pemuda itu tidak mungkin dapat diterimanya begitu saja.

“Suheng, memang apa yang dikatakan oleh suheng Louw Tek Ciang itu benar. Setelah tiga tahun menerima pelajaran ilmu di Lembah Naga Siluman, kedua orang suhu di sana mengutus kami berdua untuk mencari dan menebus kekalahan kedua suhu dari seorang musuh mereka. Suhu tidak mengikatkan kami dengan urusan pribadi di antara mereka, hanya suhu minta agar kami berdua sebagai murid- muridnya menebus kekalahan yang pernah mereka derita dari orang itu. Kami berdua sudah memenuhi perintah suhu, bertemu dengan lawan itu, akan tetapi kami berdua gagal karena lawan memiliki ilmu semacam Sin-liong Ho-kang. Sebab itulah maka suheng mengajakku untuk menghadap ke sini dan mohon diberi kesempatan mempelajari ilmu Sin-liong Ho-kang, hanya untuk dipakai melawan ilmu dari lawan itu.”

Kakek itu mengerutkan alisnya dan nampak bimbang. “Siapakah lawan yang dapat mengalahkan orang- orang gagah dari keluarga Cu itu?” Dia memang merasa heran sekali mendengar ada lawan yang mampu mengungguli pendekar-pendekar seperti Cu Han Bu dan Cu Seng Bu.

“Dia adalah orang she Kam dan tentu totiang belum mengenalnya. Dia sombong sekali! Sebaiknya kalau totiang tidak mengenal agar tidak terlibat dalam urusan pribadi antara keluarga Cu dan keluarganya. Kami pun hanya melaksanakan tugas dan kalau kami belum dapat mengalahkannya, bagaimana saya dan Pouw-sute masih ada muka untuk menghadap para suhu di Lembah Naga Siluman? Oleh karena itu, sekali lagi, mohon kerelaan hati totiang untuk menolong kami, atau lebih tepat lagi, menolong keluarga Cu dari rasa malu kalau sampai dua orang murid dan wakil mereka kembali dikalahkan oleh musuh lama itu.”

Tosu tua itu merasa terdesak dan tersudut. Tentu saja dia merasa tidak enak sekali kalau menolak pemintaan bantuan yang pada hakekatnya adalah membantu para sahabatnya, keluarga Cu itu. Padahal dahulu, di waktu mudanya, pernah Cu Han Bu menolongnya dari kekalahan, bahkan mungkin sekali kematian dari tangan seorang musuh yang tangguh. Andai kata Louw Tek Ciang datang seorang diri, tentu ia memiliki alasan untuk menolak, dan hatinya tidak akan bimbang ragu. Akan tetapi kini Tek Ciang datang menghadap bersama Pouw Kui Lok yang tentu saja sudah amat dipercayanya.

“Louw-sicu, biar bagaimana pun juga, murid Kun-lun-pai tidak boleh mempelajari ilmu itu….” “Totiang, saya bukan murid Kun-lun-pai!”

“Maksud pinto adalah Pouw-sute, dia tidak boleh sama sekali mempelajari ilmu itu, tepat dan sesuai dengan sumpahnya sebagai murid Kun-lun-pai yang taat. Dan biar pun tidak ada peraturan melarang orang luar mempelajari ilmu itu, akan tetapi kalau pinto berikan kepadamu, berarti pinto yang bertanggung jawab jika sampai kelak ilmu itu digunakan untuk membunuh orang….”

“Totiang, apakah totiang tidak percaya kepada saya dan tidak percaya pula kepada Pouw-sute? Tadi sudah kami ceritakan bahwa kami membutuhkan ilmu itu hanya untuk menandingi ilmu yang serupa dari musuh keluarga Cu.”

“Baiklah, Louw-sicu. Pinto mengingat akan kebaikan-kebaikan keluarga Cu, memberi kesempatan kepadamu untuk mempelajari ilmu itu. Akan tetapi ada syarat-syaratnya.”

“Apakah syaratnya, totiang?”

“Pertama, sicu harus bersumpah dahulu bahwa ilmu itu hanya dipelajari khusus untuk menghadapi ilmu musuh keluarga Cu itu. Dan ke dua, ilmu itu hanya khusus dipelajari di dalam ruangan perpustakaan di mana kitab itu disimpan, sama sekali kitab itu tidak boleh dibawa keluar dari ruangan perpustakaan. Dan ke tiga, sicu hanya pinto beri waktu satu bulan saja untuk mempelajarinya. Setelah lewat sebulan, sicu sudah harus meninggalkan ruangan perpustakaan itu dan…. maaf, meninggalkan pula kuil ini agar tidak mengingatkan pinto bahwa pinto telah melakukan pelanggaran.”

“Baiklah, totiang dan terima kasih atas kebaikan hati totiang. Saya akan bersumpah sekarang juga.”

Louw Tek Ciang kemudian diajak ke depan meja sembahyang dan di depan meja sembahyang ini Tek Ciang mengucapkan sumpahnya dengan suara lantang. “Teecu Louw Tek Ciang bersumpah, bahwa teecu yang diberi kesempatan mempelajari ilmu Sin-liong Ho-kang, akan mempergunakan ilmu itu untuk menghadapi ilmu suara suling dari keluarga Kam, dan tidak untuk keperluan lain. Kalau teecu melanggar sumpah ini, semoga teecu dijatuhi hukuman tewas di tangan musuh-musuh teecu!”

“Cukup, sicu,” kata tosu tua itu dengan hati lega.

Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu bahwa diam-diam Tek Ciang mentertawakan sumpah itu. Orang seperti Tek Ciang ini mana bisa mengucapkan sumpah dengan bersungguh hati? Dia hanya bersumpah sebagai siasat saja. Bahkan Pouw Kui Lok sendiri pun tidak menduga akan hal ini. Demikian pandainya Tek Ciang membawa diri dan bersandiwara.

“Pouw-sute, engkaulah yang harus mengawasi supaya Louw-sicu memenuhi janjinya dan tidak membawa kitab itu keluar dari ruangan perpustakaan, bergilir dengan murid keponakanmu.”

Tosu itu mengambil sebuah genta dan membunyikan genta itu. Terdengar suara nyaring berkeloneng dan tak lama kemudian dari pintu belakang muncullah seorang gadis yang berpakaian ringkas dan membawa pedang di punggungnya. Gadis ini memakai pakaian ringkas sederhana, wajahnya tidak dirias, tanpa bedak dan gincu, bahkan rambutnya pun hanya digelung secara sederhana sekali.

Akan tetapi harus diakui bahwa gadis ini manis bukan main, dan tubuhnya padat dan ramping. Seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang manis dan juga kelihatan gagah dengan gerak gerik yang tangkas. Gadis itu maju dan berlutut di depan Hong Tan Tosu dan terdengar suara halus merdu dari bibirnya yang merah.

“Suhu memanggil teecu? Ada perintah apakah, suhu?”

Tosu tua itu tersenyum, agaknya bangga kepada muridnya yang selain manis juga amat berbakti ini. “Kui Eng, selama ini engkau belum pernah bertemu dengan susiok-mu (paman gurumu) Pouw Kui Lok karena ketika tiga tahun yang lalu dia datang, engkau sedang memperdalam ilmu di Kun-lun-san. Nah, ini dia, berilah hormat kepada paman gurumu.” Tosu itu menuding kepada Pouw Kui Lok yang memandang kagum kepada murid keponakannya yang baru sekali ini dilihatnya.

Gadis bernama Can Kui Eng itu bangkit dan menoleh kepada Pouw Kui Lok. Biar pun ia seorang gadis dewasa dan paman gurunya itu ternyata masih muda, namun ia tidak kelihatan canggung atau malu-malu. Sambil tersenyum sopan dia memberi hormat kepada Pouw Kui Lok.

“Pouw-susiok, terimalah hormatnya Can Kui-Eng, murid keponakanmu.”

Kui Lok cepat membalas penghormatan itu. “Ahh, kiranya suheng mempunyai seorang murid perempuan yang begini gagah. Dan sudah pernah digembleng di Kun-lun-san pula? Nona….”

“Susiok, seorang paman guru tidak menyebut nona kepada murid keponakannya.” Gadis itu memotong dan wajah Kui Lok menjadi merah. Biar pun usianya sudah dua puluh tiga tahun kurang lebih, akan tetapi pengalamannya terhadap wanita masih nol.

“Baiklah, Kui Eng. Dan perkenalkan ini adalah suheng-ku sendiri, akan tetapi bukan saudara seperguruan di Kun-lun-pai, melainkan dari guru yang lain, namanya Louw Tek Ciang.”

Kui Eng memberi hormat pula dan sepasang matanya yang bening itu memandang penuh selidik, lalu alisnya agak berkerut. Ada sesuatu pada pandang mata pria ini yang membuat dia merasa tidak enak dan gelisah. Tek Ciang menyambut penghormatan itu dengan senyum memikat.

“Kui Eng, engkau kupanggil dan kuberi tugas. Engkau bersama susiok-mu bertugas untuk menjaga dan mengamati agar supaya Louw-sicu bisa mempelajari kitab Sin-liong Ho-kang dengan tenang di dalam kamar perpustakaan selama satu bulan. Dan kitab itu sama sekali tidak boleh dibawa keluar dari dalam kamar perpustakaan….”

“Sin-liong Ho-kang….?” Gadis itu terbelalak dan menatap wajah suhu-nya dengan penuh kekagetan dan penasaran. “Dia…. sicu ini hendak mempelajari ilmu larangan itu….? Tapi, tapi, suhu….”

“Kui Eng, sudahlah. Ini adalah urusan dan tanggung jawab pinto sendiri. Engkau tentu yakin bahwa semua keputusan yang pinto ambil sudah melalui pertimbangan yang matang. Mulai sekarang engkau tinggal melaksanakan tugas jaga bergiliran dengan susiok-mu, menjaga agar Louw-sicu ini memenuhi janjinya, mempelajari kitab itu hanya selama satu bulan dan sama sekali tidak boleh membawa kitab itu keluar dari dalam ruangan perpustakaan.”

“Baik, suhu! Akan teecu jaga agar dia tidak melanggar janjinya!” Ucapan yang bernada keras ini saja sudah membuktikan bahwa di dalam hatinya, gadis itu merasa tidak senang kepada Louw Tek Ciang, juga merasa tidak senang melihat betapa suhu-nya kini mengijinkan orang luar mempelajari ilmu larangan itu, padahal setiap orang murid Kun-lun-pai tidak diperkenankan mempelajarinya. Tetapi Louw Tek Ciang menghadapi sikap gadis ini dengan senyum ramah saja.

Demikianlah, terhitung mulai hari itu, Tek Ciang mulai memasuki ruangan perpustakaan dan membuka- buka kitab kuno yang sudah kekuningan itu, mempelajari ilmu yang dinamakan Sin-liong Ho-kang. Ilmu ini berdasarkan kekuatan khikang yang keluar dari pusar, mengerahkan tenaga khikang ini melalui suara gerengan yang mengandung getaran amat kuatnya.

Ilmu ini serupa dengan ilmu Sai-cu Ho-kang dan sebagainya, kekuatan yang terkandung dalam gerengan dan auman binatang-binatang buas yang melumpuhkan korban hanya dengan suara gerengan dahsyat itu, akan tetapi Sin-liong Ho-kang ini lebih hebat lagi. Bukan hanya getaran hebat yang terkandung dalam gerengan dahsyat menggelegar, tetapi juga siapa yang sudah menguasainya dengan baik, akan dapat mengeluarkan suara dari jauh, mengirimkan suara dari jauh untuk dapat didengar oleh orang yang ditujunya saja tanpa didengar orang lain. Bahkan orang yang menguasai ilmu itu dapat mengeluarkan suara yang tinggi melengking sampai hampir tidak terdengar, akan tetapi semakin halus suara itu, makin hebatlah getarannya dan amat berbahaya bagi lawan!

Akan tetapi, Tek Ciang mendapatkan kenyataan bahwa untuk dapat menguasai ilmu ini secara sempurna, dibutuhkan waktu yang lama, sedikitnya setengah tahun! Maka dia pun segera mempelajari teori-teorinya saja untuk dilatih kelak. Memang dia licik dan cerdik.

Tahulah dia bahwa tosu tua itu sudah menggunakan akal. Pada lahirnya saja memberi ijin kepadanya untuk mempelajari ilmu itu, tetapi pada hakekatnya tosu itu berkeberatan. Buktinya dia hanya diberi waktu satu bulan, waktu yang hanya cukup untuk menghafal teori atau isi kitab. Juga larangan berlatih di luar kamar perpustakaan merupakan bukti bahwa tosu itu memang berkeberatan dia menguasai ilmu larangan itu karena untuk dapat berlatih, orang membutuhkan udara terbuka, bukan dalam kamar.

“Tua bangka sialan!” gerutunya, akan tetapi tentu saja Tek Ciang tidak menyatakan sesuatu kepada Kui Lok, apalagi kepada Kui Eng, gadis yang bertugas menjaga dan mengamatinya itu.

Penjagaan itu dilakukan secara bergilir oleh Kui Lok dan murid keponakannya. Dan dia mendapat kenyataan bahwa Kui Eng memang seorang murid Kun-lun-pai yang lincah dan cekatan, memiliki ginkang yang mengagumkan dan ilmu pedangnya juga lihai. Jika Kui Lok hanya melakukan penjagaan untuk patut- patut saja karena tentu saja dia sudah amat percaya kepada Tek Ciang sehingga tidak berjaga dengan sesungguhnya, tidak demikian dengan gadis itu.

Kui Eng berjaga dengan sikap sangat waspada dan sungguh-sungguh, seolah-olah dia menganggap bahwa Tek Ciang seorang yang tidak dapat dipercaya dan amat perlu diawasi! Melihat sikap gadis ini, diam-diam Tek Ciang mendongkol sekali dan dia pun bersikap hati-hati, tidak berani melanggar janjinya terhadap ketua cabang Kun-lun-pai itu.

Kurang lebih sepuluh hari sudah Tek Ciang dengan tekun mempelajari ilmu dari kitab kuno itu, hanya meninggalkan ruangan perpustakaan tanpa kitab itu bila ada keperluan makan atau mandi dan ke belakang saja. Bahkan tidur pun ia lakukan di dalam ruangan itu!

Pada suatu malam pelajaran dalam kitab itu sudah sampai pada bagian cara berlatih menghimpun tenaga khikang yang harus dilakukan di udara terbuka, di bawah sinar bulan purnama! Dan malam itu kebetulan bulan sedang purnama, jadi sesungguhnya amat tepat untuk memulai latihan di luar kuil! Akan tetapi, hatinya merasa penasaran dan mendongkol sekali karena dia sudah terikat oleh janji dan pada malam itu, yang melakukan perjagaan adalah gadis yang amat tekun mengamatinya itu!

“Sialan….!” gerutunya dalam hati.

Kalau bukan gadis itu yang berjaga, tentu dia akan dapat menyelinap keluar barang satu dua jam untuk mempraktekkan ajaran di dalam kitab, yaitu cara menghimpun tenaga khikang di bawah sinar bulan purnama.

“Mengapa tidak?” Demikian hatinya berbisik. “Gadis itu, bagaimana pun juga hanyalah murid keponakan Pouw Kui Lok, masih amat muda dan kepandaiannya pun tak berapa tinggi.”

Pikiran ini membuat Tek Ciang mulai gelisah. Kalau dia dapat menggunakan ilmunya untuk menyelinap tanpa diketahui, atau membuat gadis itu tak berdaya untuk beberapa lama, misalnya dengan menotoknya pingsan, bukankah dia akan memperoleh banyak kesempatan untuk mencoba dengan latihan menghimpun khikang.

Tek Ciang memperhatikan sekeliling. Biasanya, gadis itu berjaga di luar perpustakaan, berkeliaran di sekitar kamar perpustakaan, terutama sekali di depan pintu, dan di depan jendela. Akan tetapi keadaan di sekeliling kamar itu kini sepi saja.

Dengan menahan napas, Tek Ciang dapat mengikuti setiap gerakan di luar kamar itu dengan pendengarannya yang terlatih. Sunyi. Tidak ada orang di luar kamar itu! Ke mana perginya gadis itu, pikirnya dan dia pun mulai bangkit dan berindap-indap ke jendela, mengintai ke luar. Sepi sekali dan cuaca amat indahnya, karena sinar bulan purnama membuat malam itu terang dan sejuk.

Setelah menyimpan kitab itu, Tek Ciang keluar dari dalam kamar perpustakaan. Dia tidak berani membawa kitab itu keluar sebelum dia yakin benar bahwa tidak ada orang melihatnya. Akan tetapi benar-benar sunyi, tidak nampak bayangan Kui Eng. Malam itu sudah menjelang tengah malam dan tentu penghuni lainnya sudah tidur. Ke manakah perginya gadis itu? Benarkah kali ini Kui Eng meninggalkannya dan tak mengawasinya?

Akan tetapi ketika dia keluar dari kuil, dia melihat dua bayangan berkelebat ke samping kuil di mana terdapat sebuah kebun dan ladang yang penuh dengan pohon-pohon buah dan tanaman sayuran. Tek Ciang merasa curiga karena gerakan dua orang yang amat cepat itu mengandung rahasia. Kalau orang Kun-lun-pai, kenapa harus menyelinap ke tempat gelap? Dia pun menggunakan kepandaiannya, menyelinap dan memasuki kebun itu sambil mencurahkan perhatian. Akhirnya dia melihat dua orang berdiri berhadapan di bawah pohon dan dia cepat menyelinap mendekati dan mengintai.

Kiranya seorang di antara mereka adalah Kui Eng! Dan gadis itu berada dalam pelukan seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar dan gagah. Tek Ciang tersenyum sinis. Hemm, pikirnya, kiranya gadis itu meninggalkannya untuk berpacaran di kebun ini! Akan tetapi, ketika dia mendengarkan percakapan mereka yang berbisik-bisik itu, dia tertarik dan lupa akan pertemuan mesra itu.

“Eng-moi, urusan ini tidak bisa ditunda lagi. Pertemuan rahasia itu akan diadakan dua minggu lagi di hutan cemara sebelah selatan kota raja. Dan engkau harus menghadiri bersamaku. Penting sekali, Eng-moi.”

“Aihh, Koan-koko, alangkah inginnya aku pergi bersamamu menghadiri pertemuan para pendekar patriot itu di sana. Memang sekarang inilah saatnya para pendekar harus membebaskan tanah air dari penjajah Bangsa Mancu! Akan tetapi, ahhh…. orang she Louw yang menjemukan itu….!”

“Siapa? Mengapa? Apakah yang terjadi sehingga engkau begini lama bertahan di kuil suhu-mu ini?”

“Tanpa kusangka-sangka, datang susiok-ku bersama seorang temannya di kuil ini dan dia oleh suhu diperbolehkan untuk mempelajari Sin-liong Ho-kang selama satu bulan. Dan aku diberi tugas mengawasinya supaya dia tidak melatih ilmu itu di luar ruangan perpustakaan. Aku tidak dapat meninggalkan tugas ini dan baru berjalan dua belas hari, masih delapan belas hari lagi….”

“Kalau begitu akan terlambat!”

“Harus bagaimana, koko, aku tidak mungkin dapat meninggalkan tugas ini. Dan berterus terang kepada suhu juga berbahaya. Sudah kukatakan kepadamu bahwa Kun-lun-pai masih bersikap ragu-ragu, belum mau menyambut rencana pemberontakan para patriot yang hendak mengenyahkan para penjajah itu.”

Mendengar suara gadis itu yang demikian kecewa dan berduka, si pemuda kemudian mendekap dan mencium pipinya dengan mesra, dengan sikap menghibur. “Sudahlah, Eng-moi, tidak perlu engkau berduka. Biarlah aku yang akan menghadiri pertemuan itu dan kelak kusampaikan semua hasilnya kepadamu. Juga masih ada tugas untukmu dari kawan-kawan. Biar pun engkau tidak akan dapat menghadiri pertemuan itu, akan tetapi biarlah kuserahkan tugas yang lebih penting lagi kepadamu, setelah engkau bebas dari tugasmu di sini.”

“Tugas apakah itu, koko?” Si gadis nampak bersemangat.

“Begini….” Suara itu kini bisik-bisik perlahan, akan tetapi masih dapat tertangkap oleh pendengaran Tek Ciang yang amat tajam. “….ini ada satu surat untuk Gan-ciangkun, seorang panglima yang mendukung para patriot. Surat ini membujuk Gan-ciangkun untuk mencari akal guna menarik jenderal Muda Kao Cin Liong menjadi sekutu kita, atau kalau pun dia menolak, agar dicarikan akal supaya jenderal itu dapat dienyahkan. Sebab, selama ia masih mendukung kaisar, gerakan kawan-kawan kita akan terhalang. Nah, surat ini penting sekali, bukan? Dengan begitu, biar pun engkau tidak dapat hadir dalam pertemuan itu, tugasmu ini bahkan lebih penting lagi.”

“Aihh, Koan-ko…. tapi…. tapi aku…. tugas ini demikian besar dan aku…. ihhh, gemetar tanganku dan berdebar jantungku, apakah kau pikir aku…. cukup berharga untuk tugas sepenting itu?”

Kembali pemuda itu menciumnya, lalu melepaskan pelukannya, mengambil sesampul surat kemudian menyerahkan sampul panjang itu kepada Kui Eng. “Sudahlah, Eng-moi. Engkaulah orang yang paling tepat untuk menyampaikan surat itu. Tidak akan ada orang lain mencurigaimu, dan sekarang kita harus berpisah….”

“Koan-ko, baru saja kita bertemu…. aku masih rindu….”

“Ssttt, sayang, bersabarlah. Kita telah berjanji akan menikah jika perjuangan ini selesai bukan? Nah, selamat tinggal dan simpan baik-baik surat itu.” Setelah berkata demikian, pemuda tinggi besar itu berkelebat dan lenyap di balik bayangan pohon-pohon.

Kui Eng menoleh ke kanan kiri, lalu menyimpan surat di balik bajunya dan pergi dari situ. Ketika dara ini tiba di luar ruangan perpustakaan dan menjenguk dari jendela, dia melihat Tek Ciang masih sibuk membaca kitab!

Ketika ia hendak meninggalkan jendela itu, Tek Ciang menoleh dan sambil tersenyum berkata, “Nona, masuklah sebentar.”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Dia menaruh curiga kepada orang yang sinar matanya berkilat dan kalau memandang kepadanya jelas membayangkan nafsu dan kurang ajar itu. Beraninya orang ini menyuruh ia masuk!

“Ada urusan apakah?” tanyanya dari luar jendela sambil memandang tajam.

“Masuklah, nona, aku mengetahui sesuatu yang sangat penting tentang Koan-kokomu itu!”

Wajah yang manis itu seketika menjadi pucat, lalu merah dan tanpa banyak bicara lagi sekali loncat ia sudah melayang masuk ke ruangan itu melalui jendela yang terbuka, berdiri di depan Tek Ciang dengan kedua tangan bertolak pinggang. “Apa kau bilang? Koan-koko siapa yang kau maksudkan itu?”

Tek Ciang bangkit berdiri menghadapi nona itu sambil tersenyum lebar. “Nona manis, tidak perlu berpura- pura lagi. Lebih baik kau serahkan saja surat untuk Gan-ciangkun itu kepadaku!”

Seketika wajah gadis itu menjadi pucat dan di lain saat dara itu sudah mencabut pedang dari punggungnya. Akan tetapi, baru saja pedang tercabut, tubuhnya sudah terkulai lemas karena secepat kilat Tek Ciang sudah mendahuluinya, menotok jalan darahnya membuat Kui Eng roboh lemas tak mampu berkutik lagi.

Tek Ciang menyambut pedangnya sebelum senjata itu jatuh ke atas lantai dan dia pun menotok jalan darah di leher gadis itu untuk mencegah gadis itu mengeluarkan suara. Lalu direbahkannya tubuh gadis itu ke atas lantai. Kui Eng tidak pingsan, hanya tidak mampu bergerak, tidak mampu bersuara. Gadis itu hanya memandang saja ketika jari- jari tangan yang nakal itu membukai kancing bajunya dan nampaklah sampul surat panjang itu di atas buah dadanya yang tidak tertutup lagi. Tek Ciang mengambil sampul surat itu sambil tersenyum lebar dan cepat memasukkan sampul surat itu ke dalam saku jubahnya.

“Hemm, nona manis, engkau dapat bicara apa lagi sekarang? Engkau pemberontak hina, ya?” Dan secara kurang ajar sekali, bukan karena tertarik melainkan karena ingin menggoda dan menghina gadis itu, tangannya menggerayangi tubuh orang.

Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan Kui Lok telah berdiri di situ dengan mata terbelalak melihat Tek Ciang tengah jongkok di dekat tubuh Kui Eng yang bajunya telah terbuka sehingga nampak dadanya.

“Louw-suheng, apa…. apa artinya ini….?” Dia begitu kaget dan heran sehingga sukar mengeluarkan kata- kata.

“Sute, nanti saja kuceritakan. Ia terluka, yang penting sekarang kita harus mengobatinya lebih dulu. Penjahat datang melukainya dan aku hanya berhasil mengusir penjahat itu. Lekas kau periksa nona Kui Eng, sute….”

Pouw Kui Lok terkejut sekali mendengar itu dan kecurigaannya terhadap suheng-nya itu lenyap. Dengan penuh kekhawatiran dia berjongkok dan memeriksa tubuh keponakan muridnya dengan teliti. Akan tetapi hatinya lega mendapat kenyataan bahwa Kui Eng tidak terluka, hanya merasa heran bukan main karena ternyata gadis itu lumpuh dan gagu karena tertotok. Kui Lok mengerahkan tenaganya hendak menotok dan mengurut leher dan punggung gadis itu agar totokannya terbebas. Akan tetapi pada saat itu ada angin menyambar dahsyat dari belakang kepalanya.

“Wuuuttt…. crettt….!” Jari tangan yang amat kuat itu menyambar dan menusuk ke arah tengkuk Kui Lok.

Kui Lok terkejut sekali dan berusaha mengelak, akan tetapi karena pada saat itu dia sedang mencurahkan seluruh perhatian kepada murid keponakannya yang sedang dia coba untuk membebaskan totokannya, dan karena serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dari jarak sangat dekat, biar pun ia sudah mengelak, tetap saja jari tangan yang amat kuat itu menyambar dan mengenai bawah tengkuknya.

“Oughhh….!” Kui Lok hanya dapat mengeluarkan suara itu, kemudian terpelanting dan dan dia pun tak sadarkan diri.

Demikian hebatnya ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang tadi dipergunakan Tek Ciang untuk memukul sute-nya sendiri. Biar pun pukulan itu tidak mengenai sasaran dengan tepat, namun pukulan pada pangkal tengkuk itu mengguncangkan isi kepala dan pendekar Kun-lun-pai itu pun roboh pingsan.

Tek Ciang terpaksa memukul sute-nya karena dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat mengelak lagi dari kenyataan tentang surat yang dirampasnya. Kini dia menghadapi keadaan yang amat gawat. Dia harus bertindak cerdik, pikirnya dan sepasang matanya bergerak liar ketika otaknya diperas untuk mencari akal agar dia dapat mengatasi kegawatan ini dengan selamat. Lalu nampak dia menyeringai kejam, kemudian dia pun mengayunkan lagi jari tangannya, dengan ilmu pukulan keji Kiam-ci dia menotok ke arah pelipis kepala Pouw Kui Lok.

Kelihatannya hanya perlahan saja totokannya itu, akan tetapi tubuh Kui Lok terkulai karena pada saat itu juga dia telah tewas! Sungguh menyedihkan sekali bahwa seorang pendekar demikian gagahnya seperti Kui Lok terpaksa harus mati konyol, mati secara mengecewakan sekali di bawah tangan suheng-nya sendiri yang keji dan curang.

Setelah mendapat kenyataan bahwa sute-nya telah tewas, Tek Ciang menyeringai. Kini dia membalik kepada Kui Eng yang biar pun dalam keadaan tak berdaya, tidak mampu bergerak mau pun bersuara, tapi dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan muka pucat sekali. Kini manusia yang sudah seperti kemasukan iblis jahat itu menubruk.

Hati Kui Eng menjerit, namun tidak ada suara keluar dari mulutnya dan biar pun ia ingin meronta dan melawan, namun kaki tangannya lemas dan hanya mampu bergerak-gerak sedikit saja.

Terjadilah perbuatan yang amat terkutuk, perbuatan yang bagi Tek Ciang biasa saja karena dia pun sudah amat terlatih untuk melakukan perkosaan terhadan wanita-wanita semenjak dia menjadi murid Jai-hwa Siauw-ok!

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan hati Can Kui Eng yang dalam keadaan sadar namun tidak mampu bergerak ini menghadapi mala petaka yang menimpa dirinya. Ia diperkosa tanpa bisa bergerak maupun berteriak. Mala petaka yang lebih mengerikan dari pada maut. Gadis itu tidak kuat menahan kehancuran hatinya dan ia pun pingsan. Hal ini lebih baik baginya karena ia tidak tahu atau merasakan lagi apa yang diperbuat manusia iblis itu terhadap dirinya.

Setelah selesai dengan perbuatan yang sangat terkutuk itu, Tek Ciang melanjutkannya dengan kekejaman yang lebih hebat lagi. Dia mencabut pedang gadis itu, menaruh gagang pedang dalam kepalan tangan kanan Kui Eng, kemudian dia memaksa tangan yang mengepal gagang pedang itu untuk menusukkan pedang ke dada sendiri.

Sungguh amat kasihan nasib gadis Kun-lun-pai itu. Baru saja dia mengalami perkosaan yang menghancurkan hati dan kini ia dipaksa untuk membunuh diri! Pedangnya sendiri, didorong oleh Tek Ciang, menusuk dan menembus dada sendiri. Darah bercucuran dan tubuh itu berkelojotan sedikit lalu rebah dan tewas. Baiknya gadis itu mengalami semua itu dalam keadaan pingsan sehingga mengurangi penderitaannya.

Tek Ciang menyeringai puas. Dia lalu membuka-buka pakaian yang menempel di tubuh jenazah Kui Lok, mengawut-awut rambut mayat itu sehingga keadaan pemuda itu bagai orang yang baru saja melakukan perkosaan. Tek Ciang sendiri telah merapikan pakaian dan rambutnya, dan setelah memeriksa lagi dengan teliti keadaan dua mayat itu, dia lalu berteriak-teriak sambil meloncat keluar ruangan perpustakaan.

“Tolong….! Pembunuhan….! Tolonggg….!”

Dia melakukan ini setelah menyambar kitab pelajaran Sin-liong Ho-kang, dan bersama surat dalam sampul untuk Panglima Gan di kota raja dia menyembunyikan di tempat aman, yaitu di balik baju dalamnya.

Teriakan-teriakannya itu mengejutkan semua penghuni kuil dan berserabutanlah para tosu berlari keluar dari kamar masing-masing. Juga Hong Tan Tosu sendiri nampak berlari-lari datang ke tempat itu. Dengan muka pucat Tek Ciang menutupi muka sendiri dan membiarkan para tosu itu melihat sendiri dua tubuh yang sudah menjadi mayat menggeletak di lantai kamar penpustakaan.

Tentu saja kematian Pouw Kui Lok dan Can Kui Eng amat mengejutkan mereka semua, terutama sekali Hong Tan Tosu. Kakek ini memandang dengan muka pucat sekali. Sute-nya telah tewas dan nampaknya tidak mengalami luka, sedangkan muridnya yang terkasih menggeletak mandi darah, dadanya tertembus pedangnya sendiri dan tangan kanannya masih memegang gagang pedang itu. Dilihat sepintas lalu saja jelaslah kalau gadis itu telah membunuh diri dengan pedang sendiri.

Dan melihat keadaan pakaian Kui Eng yang hampir telanjang bulat, dan pakaian Kui Lok yang setengah telanjang, tidak sukar diduga apa yang terjadi antara kedua orang itu. Inilah yang membuat Hong Tan Tosu pucat dan penasaran. Sute-nya berjinah dengan muridnya? Ah, dia tidak percaya akan hal itu. Sute-nya adalah seorang pendekar sejati, dan muridnya juga seorang murid yang sangat patuh. Akan tetapi, agaknya kenyataan menunjukkan demikian.

“Louw-sicu, apakah yang telah terjadi? Apakah yang terjadi dalam kamar ini?” Akhirnya dia menghampiri Tek Ciang dan mengguncang pundak pemuda yang masih menangis itu.

Dengan mata merah karena tangis, atau lebih tepat karena dia gosok-gosok dengan punggung tangan, Tek Ciang memandang tosu itu dengan muka sedih sekali. “Ahhh, totiang, bagaimana aku harus bercerita? Aihhh…. mengapa hal ini menimpa diri kami? Aku…. aku telah membunuh Pouw-sute yang kusayang…. Ahhh, totiang, kalau aku berdosa, silakan totiang menjatuhkan hukuman kepadaku….” Dia pun terisak menangis.

Tosu tua itu mengerutkan alisnya. “Siancai…. segala hal telah terjadi. Sebelum tahu apa yang terjadi dan apa sebabnya, pinto tidak dapat menghakimi. Ceritakanlah, apa yang telah terjadi di sini dan mengapa pula engkau membunuh Pouw-sute?”

“Totiang, sungguh aku masih merasa bingung dan tidak tahu mengapa sute tiba-tiba saja dapat melakukan semua itu seperti orang kemasukan setan! Karena aku merasa lelah setelah membaca kitab sejak pagi, aku pergi keluar untuk mencari hawa sejuk. Kitab kutinggalkan di atas meja dan aku pun berjalan-jalan di luar kuil, bahkan sampai ke luar dusun, sampai tubuh terasa segar kembali. Kurang lebih satu setengah jam aku pergi meninggalkan kuil. Ketika aku kembali, aku terkejut sekali melihat sute…. sute….” Dia berhenti dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Siancai….! Lanjutkanlah, sicu dan kuatkan hatimu,” kata tosu tua itu hampir tidak sabar.

“Aku melihat dia…. dia sudah memperkosa nona Kui Eng! Begitu saja, di atas lantai kamar perpustakaan ini. Entah sebelum itu apa yang terjadi aku tidak tahu. Setahuku hanya bahwa mereka melakukan penjagaan seperti yang totiang perintahkan. Ah, masih ngeri dan bingung aku mengenang semua itu….”

“Lanjutkan, sicu. Lanjutkan….!” Hong Tan Tosu mendesak, sedangkan para tosu lain yang menjadi pengurus kuil juga ikut mendengarkan dengan muka pucat. Mereka tidak pernah menyangka bahwa peristiwa memalukan seperti ini akan dapat terjadi di kuil mereka. Suatu aib yang amat mencemarkan.

“Ketika aku datang, Pouw-sute sudah mengakhiri perbuatannya yang biadab itu. Tentu saja aku langsung menegurnya, akan tetapi dia malah marah dan menyerangku seperti orang gila. Totiang maklum betapa lihainya sute, maka aku pun terpaksa melayaninya dan pada saat itu, aku melihat nona Kui Eng mengeluarkan pedang dan membunuh diri. Melihat ini, aku menjadi marah sekali kepada sute yang masih menyerangku, maka aku pun lalu membalas serangannya dan akhirnya aku berhasil memukulnya roboh. Bukan niatku membunuhnya, akan tetapi…. ah, dia terlalu kuat untuk dapat dirobohkan begitu saja….”

Hong Tan Tosu menunduk dan memandang pada dua mayat yang masih menggeletak di situ. Di dalam hatinya dia meragukan kebenaran cerita Tek Ciang. Ingin dia berteriak untuk menyangkal, tidak percaya akan apa yang diceritakan mengenai perbuatan Kui Lok. Akan tetapi, apa yang dilihatnya di dalam kamar itu, keadaan dua mayat itu, jelas merupakan kenyataan akan kebenaran cerita Tek Ciang.

Melihat keadaan pakaian mereka, dan melihat pedang yang menusuk dada Kui Eng sendiri sedangkan tangan gadis itu menggenggam gagangnya, merupakan bukti yang sukar untuk disangkal.

“Dan yang lebih mengejutkan hatiku, totiang, kitab Sin-liong Ho-kang yang tadinya aku tinggalkan di atas meja telah lenyap….”

“Apa….?” Kini tosu tua itu benar-benar terkejut dan pandang matanya kepada Tek Ciang penuh keraguan serta kecurigaan. “Sicu, harap engkau jangan main-main. Engkaulah yang selama ini membaca kitab itu! Mengenai muridku dan suteku, katakanlah ada buktinya sehingga ceritamu dapat pinto percaya. Akan tetapi hilangnya kitab Sin-liong Ho-kang, bagaimana cara membuktikannya bahwa benar-benar kitab itu hilang? Dan siapa yang akan dapat mengambilnya?”

Wajah Tek Ciang menjadi merah dan dia bangkit berdiri. “Totiang, aku bukanlah orang yang tidak mau bertanggung jawab. Aku yakin sekali bahwa kitab itu tentu ada yang mengambilnya, tentu sebelum aku kembali ke dalam kamar ini. Bahkan aku mempunyai dugaan yang amat menyakitkan hati.”

“Hemm, dugaan apakah?”

“Mau tidak mau aku harus menduga bahwa memang Pouw-sute telah kemasukan iblis, telah berubah sama sekali. Agaknya dia sendiri yang menyembunyikan kitab itu, lalu dia melakukan perbuatan terkutuk terhadap nona Kui Eng di kamar ini. Agaknya memang dia sengaja melakukan semua itu dengan maksud untuk menjatuhkan fitnah atas diriku, kemudian, dengan menuduh aku menyembunyikan kitab dan memperkosa nona Kui Eng. Untung aku datang terlebih dahulu sehingga memergoki perbuatannya yang laknat itu….”

“Louw-sicu! Jangan menuduh yang bukan-bukan terhadap sute yang sudah tidak ada! Apa buktinya bahwa dia yang menyembunyikan kitab?”

“Memang kini tidak ada buktinya, totiang. Akan tetapi aku akan mencarinya, dan aku bersumpah bahwa aku akan menemukan kitab itu dan mengembalikannya kepadamu. Nah, selamat tinggal!” Tek Ciang lalu meloncat ke luar dan dalam sekejap mata saja dia pun lenyap dari situ.

Hong Tan Tosu ingin mencegah, tetapi dia maklum bahwa tidak ada di antara mereka yang akan mampu menyusul pemuda itu, apalagi menandinginya. Pula, apa alasannya untuk menahan Tek Ciang yang sudah bersumpah untuk mencari dan mengembalikan kitab? Dia pun hanya dapat menyesal dan berduka, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengurus kedua jenazah…..

********************

Apa yang disampaikan pemuda tinggi besar yang menjadi pacar Kui Eng kepada gadis itu memang benar dan sudah menjadi rahasia para patriot yang hendak mengadakan pertemuan untuk mulai mengatur pergerakan mereka dan mengangkat seorang bengcu (pemimpin rakyat) agar perjuangan mereka dapat teratur dan tidak simpang siur.

Pemuda tinggi besar itu adalah seorang pendekar muda she Kwee dari perguruan Kong-thong-pai yang bertemu dan berkenalan dengan Kui Eng dalam perantauan, di mana keduanya secara kebetulan menghadapi dan menentang gerombolan perampok yang mengganas di sebuah dusun. Perkenalan itu disusul dengan rasa cinta kedua pihak.

Sebagai seorang pendekar muda yang penuh semangat mendukung gerakan para patriot yang hendak menumbangkan kekuasaan penjajah, sebentar saja Kwee Cin Koan, demikian nama murid Kong-thong-pai itu, memperoleh kepercayaan di antara para tokoh patriot dan karena itu, tidak mengherankan kalau dia menerima tugas menghubungi Gan-ciangkun melalui sepucuk surat. Dan tidak aneh pula kalau Cin Koan mengoperkan tugas itu kepada Kui Eng, kekasihnya yang agaknya tidak mempunyai kesempatan hadir dalam pertemuan para pendekar dan patriot. Tentu saja sama sekali pendekar ini tidak pernah membayangkan bahwa kekasihnya akan tertimpa mala petaka demikian hebatnya sampai menewaskannya.

Di sebelah selatan kota raja terdapat hutan-hutan yang cukup lebat, yang berkelompok-kelompok di sepanjang kaki Pegunungan Tai-hang-san, berbaris bagai benteng sebelah barat. Dan di antara hutan- hutan ini terdapatlah sebuah hutan yang berada di atas bukit, penuh dengan pohon cemara dan karena itu maka hutan ini dinamakan Hutan Cemara.

Hutan Cemara tidak begitu disuka oleh binatang-binatang hutan, karena selain kurang rimbun, juga cemara tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dimakan, buahnya tidak, daun mau pun batangnya pun tidak. Karena itu hutan ini sunyi dari binatang, bahkan jarang terdapat burung-burung di situ, kecuali burung yang terbang lewat.

Hutan-hutan lain yang mempunyai tumbuh-tumbuhan liar dan lebat, dengan semak-semak belukar dan rimbun, penuh dengan binatang-binatang dan para pemburu juga lebih suka berkeliaran di dalam hutan- hutan liar ini untuk berburu binatang. Pencari-pencari kayu pun jarang memasuki hutan pohon cemara yang dibiarkan sunyi dan kering, jarang sekali nampak ada orang memasuki hutan ini.

Akan tetapi justru kesunyian hutan inilah yang membuat para patriot yang hendak mengadakan pertemuan memilih tempat ini. Tempat itu selain sunyi, juga jauh dari kota mau pun dusun. Dan di sekitar pegunungan itu terdapat banyak hutan liar di mana para pemburu suka berkeliaran sehingga kedatangan para pendekar di tempat seperti itu tidak akan menimbulkan perhatian.

Pada hari itu, tempat yang amat sunyi itu nampak ramai dengan hilir mudiknya orang-orang yang datang dari segala jurusan. Dan mereka ini adalah pendekar-pendekar dan orang-orang gagah, dapat dikenal dari pakaian dan sikap mereka. Ada pula yang berpakaian aneh-aneh dan nyentrik, berpakaian pertapa, sasterawan, bahkan ada yang berpakaian pengemis!

Biar pun di antara mereka belum terbentuk suatu perkumpulan dan belum teratur, akan tetapi mereka semua sudah maklum sendiri dan mereka datang ke tempat itu tidak secara berkelompok sehingga tidak menyolok mata dan tidak menarik perhatian. Dan rata-rata mereka berwajah gembira karena selain menghadiri suatu pertemuan antara patriot yang sehaluan, juga mereka itu mendapatkan kesempatan untuk saling kenal dan bertemu dengan tokoh-tokoh yang namanya sudah lama mereka kagumi.

Di antara banyak pendekar tua muda laki perempuan yang berdatangan ke tempat itu, kelihatan seorang pemuda berusia paling banyak dua puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah perkasa. Wajahnya selalu tersenyum, sepasang matanya bersinar-sinar dan dia kelihatan periang dan lincah jenaka. Tidak ada seorang pun di antara para pendekar yang mengenal pemuda ini dan memang tidak aneh karena pemuda ini adalah seorang tokoh baru yang belum lama berkecimpung di dunia kang-ouw dan namanya masih belum dikenal orang banyak.

Akan tetapi kalau orang mengetahui siapa dia, tentu dia akan menjadi pusat perhatian karena pemuda ini adalah salah seorang keturunan Para Pendekar Pulau Es. Ia adalah Suma Ceng Liong, yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah bundanya, ilmu-ilmu dari Pulau Es, bahkan telah pula digembleng oleh raja iblis Hek-i Mo-ong selama bertahun-tahun!

Para pendekar yang berdatangan ke hutan itu, ada yang bertemu dengan Ceng Liong dalam perjalanan, akan tetapi mereka tidak saling mengenal dan mereka hanya memandang kepada pemuda itu dengan kagum, menduga-duga siapa adanya pemuda yang wajahnya cerah akan tetapi memiliki pandang mata yang mencorong seperti mata naga itu.

Dan Ceng Liong yang selalu rendah hati, tidak mau mendekati mereka, segan kalau harus memperkenalkan diri karena dia tahu bahwa setiap orang pendekar setelah mendengar bahwa dia she Suma, tentu lalu mengaitkannya dengan keluarga Pulau Es. Apalagi kalau mereka tahu bahwa dia benar- benar cucu asli dari Pendekar Super Sakti di Pulau Es, tentu pandang mata mereka berubah, penuh kagum, juga mengandung iri!

Semuda itu, karena memiliki kesadaran yang tinggi dan selalu waspada membuka matanya, Ceng Liong sudah dapat melihat kepalsuan-kepalsuan yang menguasai hati dan tindakan manusia tanpa disadari lagi oleh manusia.

Manusia semenjak dahulu telah mempunyai kebiasaan turun-temurun untuk membentuk gambar-gambar dari diri sendiri atau pun dari diri orang-orang lain. Penilaian-penilaian muncul dalam hati setiap orang terhadap orang lain, dan penilaian ini biasanya amat kuat dipengaruhi oleh keadaan orang yang dinilainya itu, kedudukannya, kekayaannya, kepintarannya, nama keluarganya atau namanya sendiri. Bahkan ada pula yang menilai seseorang hanya dari tindakannya pada suatu saat, tindakan yang langsung dirasakan akibatnya oleh yang menilai!

Tentu saja hal ini menimbulkan penilaian-penilaian palsu, menimbulkan sikap menjilat-jilat kepada yang dinilainya tinggi dan ada sikap memandang sebelah mata atau menghina kepada yang dinilainya rendah. Juga terdapat penilaian palsu terhadap seseorang yang melakukan satu perbuatan saja yang akibatnya langsung dirasakan si penilai. Kalau akibat perbuatan orang itu menguntungkan si penilai, maka orang itu dicap sebagai orang baik, dan kalau sebaliknya merugikan, dicap sebagai orang jahat. Dan penilaian ini biasanya membentuk gambar orang itu, gambar orang baik atau gambar orang jahat.

Tentu saja penilaian seperti ini palsu adanya. Baik buruknya seseorang tidak mungkin dinilai dengan hanya satu perbuatannya saja. Bahkan tak mungkin dapat dinilai melihat perbuatannya itu saja tanpa melihat latar belakang dan sebab perbuatan itu sendiri.

Sudah lajim bahwa pengaruh Im-yang menguasai hampir seluruh manusia di dunia ini, pengaruh ganda yang disebut baik dan buruk. Perbuatan yang dianggap baik dan buruk itu silih berganti dilakukan manusia, mungkin hari ini baik, mungkin juga besok buruk, mungkin hari ini pemarah dan besok menjadi ramah. Mungkin hari ini penuh kecurangan dan besok amat jujur atau sebaliknya. Karena kita sudah biasa menilai berdasarkan untung rugi kita, berdasarkan rasa senang tidak senang kita, maka akibatnya tidak ada sesuatu pun benda di dunia ini, yang mati atau yang hidup, yang hanya mempunyai satu sifat saja. Kesemuanya itu mempunyai sifat ganda, baik dan buruk, berguna dan tidak berguna.

Mengapa kita tidak berhenti saja menilai dan menghadapi segala sesuatu seperti apa adanya? Kalau batin kita bersih dari pada penilaian, maka kita baru dapat menghadapi siapa pun dengan hati dan pikiran bebas. Kita tak akan membeda-bedakan antara orang kaya atau miskin, pintar atau bodoh, berkedudukan tinggi atau rendah, menguntungkan atau merugikan lagi. Dan tidak ada pula sikap menjilat-jilat dan menghormat di samping sikap meremehkan dan memandang rendah.

Kalau kita sudah bebas dari pada penilaian, maka kita berhadapan dengan MANUSIA saja, tanpa embel- embel yang mengotori diri manusia itu dengan sebutan kedudukan, kekayaan, kehormatan, bangsa, agama dan sebagainya. Tanpa penilaian kita tak akan menciptakan gambaran-gambaran tentang diri sendiri mau pun manusia lain. Lenyaplah gambaran AKU yang selalu benar atau dia dan kamu yang selalu salah.

Mengapa kita tak berhenti saja menilai orang lain dan menujukan seluruh kewaspadaan ke arah diri sendiri, mengamati diri sendiri setiap saat sehingga nampak jelas oleh kita betapa pikiran menciptakan AKU yang selalu ingin senang, ingin menang, ingin benar. Dan melihat betapa pikiran yang penuh keinginan inilah yang dapat menjerumuskan kita sendiri, yang meniadakan dan merusak ketenangan hidup, yang meniadakan bahagia, yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antara manusia, menciptakan iri hati, cemburu, dengki dan dendam?

Karena hari pertemuan seperti yang ditentukan masih kurang dua hari lagi, Ceng Liong berjalan-jalan di sekitar tempat itu dan melihat-lihat keadaan. Selama ini timbul rasa ragu dalam hatinya. Meski dia sudah mendengar penjelasan ayahnya, juga penjelasan orang gagah Sim Hong Bu tentang perjuangan para patriot, tentang penjajahan negara dan bangsa oleh Bangsa Mancu, namun dia masih ragu-ragu apakah itu merupakan jalan yang benar kalau melakukan pemberontakan terhadap Kaisar Kian Liong. Dia teringat betapa tadinya para pendekar mendukung Kian Liong sebelum menjadi kaisar. Dan kini, sikap dan keinginan hendak memberontak terhadap kaisar ini sungguh masih agak sukar untuk diterima begitu saja.

Katakanlah memang benar bahwa kaisar itu suka berenang dalam kesenangan dengan wanita-wanita cantik. Katakanlah bahwa dia memiliki isteri dan selir yang jumlahnya banyak. Namun, apa hubungannya kelemahan pribadi ini dengan roda pemerintahan? Bagaimana pun juga, dia dapat mengerti bahwa pemberontakan yang benar adalah satu perjuangan yang mencakup seluruh nasib bangsa, menentang pemerintahannya, bukan karena kebencian pribadi. Jadi, bukan kelemahan pribadi kaisar itulah yang mendorong pemberontakan, melainkan karena pemerintahannya, yaitu pemerintah penjajah!

Betapa pun baiknya Kaisar Kian Liong, tetap saja dia seorang penjajah, seorang asing, seorang berbangsa Mancu yang menjajah Bangsa Han. Nampak olehnya kini betapa semua pejabat tinggi adalah orang-orang Mancu belaka. Memang ada pula orang-orang Han yang menduduki pangkat, namun kekuasaannya terbatas. Bahkan ada peraturan-peraturan dari pemerintah Mancu yang dianggap menghina bangsa pribumi, seperti keharusan mengenakan kuncir dan sebagainya. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk ikut menghadiri pertemuan itu, walau pun tetap saja hatinya diliputi keraguan.

Karena masih ada waktu dua hari, malam itu Ceng Liong berjalan seorang diri menjauhi Hutan Cemara yang dijadikan tempat pertemuan, menuju ke sebuah bukit kecil tak jauh dari situ. Malam itu terang bulan dan tempat yang sunyi dan indah itu menarik perhatiannya. Bagaimana pun juga keraguan hatinya, ingatan bahwa keluarga Pulau Es masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar Mancu, membuat hatinya terasa agak nelangsa dan dia ingin menyendiri.

Untung bahwa neneknya sudah meninggal, pikir Ceng Liong sambil berjalan menuju ke bukit kecil yang nampak dari jauh seperti diliputi cahaya emas dari sinar bulan purnama. Nenek Nirahai adalah seorang puteri Mancu, pikirnya. Andai kata neneknya itu masih hidup dan melihat dia, cucunya, kini turut menghadiri pertemuan orang-orang yang hendak memberontak terhadap kerajaan, apa yang akan dikata oleh neneknya itu? Ada perasaan malu terhadap neneknya itu ketika Ceng Liong teringat akan hal ini.

Mengapa manusia terpecah-pecah dan terpisah-pisah menjadi bangsa ini dan bangsa itu, beragama ini dan beragama itu, kelompok ini dan kelompok itu? Perpecahan dan pemisahan-pemisahan ini selalu menimbulkan pertentangan.

Setelah tiba di dekat puncak bukit itu, berjalan perlahan mendaki sambil menikmati pemandangan yang mentakjubkan di bawah bukit, tiba-tiba Ceng Liong mendengar sayup-sayup suara orang laki-laki bernyanyi. Dia mencurahkan perhatiannya kepada suara yang datang melayang dari puncak bukit itu dan dapat menangkap kata-kata nyanyian itu dengan jelas. Suara itu cukup merdu, akan tetapi di dalam suara nyanyian terkandung getaran orang yang sedang dirundung kedukaan atau kegetiran hati.

Masa bodoh bulan tak bersinar Masa bodoh bintang tak berpijar Asal kau cinta padaku!

Tak peduli burung tak menembang Tak peduli bunga tak berkembang Asal kau cinta padaku!

Masa bodoh bumi tak berputar Tak peduli dunia akan kiamat
Masa bodoh matahari tak bercahaya Tak peduli langit tiada awan
Asal kau cinta padaku, sayang Asal kau cinta padaku!

Ceng Liong tertegun dan hatinya tersentuh keharuan. Ada sesuatu dalam nyanyian itu yang membuat hatinya terharu. Dia seperti dapat ikut merasakan betapa mendalam perasaan cinta menguasai hati penyanyi itu. Dan betapa suara itu mengandung getaran-getaran duka atau kekecewaan.

Hati Ceng Liong merasa terharu dan tertarik, maka dia pun menggerakkan kakinya. Dengan hati-hati ia mendaki bukit kecil itu mencari penyanyi itu. Akhirnya ia melihatnya. Seorang laki-laki yang duduk sendirian di puncak bukit, laki-laki yang sedang menatap bulan purnama seolah-olah kepada bulanlah dia tadi bernyanyi.

“Kak Ciang Bun….!” Ceng Liong berseru memanggil dengan gembira sekali ketika dia menghampiri orang yang sedang bersunyi sendiri itu dan mengenalnya. Biar pun laki-laki itu kini bukan pemuda remaja lagi, tidak seperti keadaannya sembilan tahun yang lalu, akan tetapi Ceng Liong masih ingat akan bentuk wajahnya yang tampan.

Laki-laki itu menoleh dengan kaget. Akan tetapi ketika dia melihat Ceng Liong, sejenak dia terbelalak, lalu meloncat berdiri, membalikkan tubuh menatap wajah Ceng Liong dengan ragu-ragu. Memang orang itu adalah Ciang Bun dan kini dia memandang kepada Ceng Liong dengan hati bimbang. Dia mengenal wajah Ceng Liong, akan tetapi perubahan yang terjadi atas diri Ceng Liong memang amat besar.

Ketika bertemu dengan adik misannya ini untuk yang terakhir kalinya, yaitu semenjak mereka berdua meninggalkan Pulau Es, Ceng Liong adalah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Dan sekarang, Ceng Liong sudah menjadi seorang pemuda gagah perkasa, bertubuh tinggi tegap, berusia hampir dua puluh tahun!

“Kau…. kau….,” dia berkata ragu.

Ceng Liong melangkah lebar menghampiri sampai berada tepat di depan Ciang Bun, tersenyum lebar dan memandang dengan mata bersinar dan wajah berseri. “Bun-ko, apakah engkau lupa kepadaku, adikmu Ceng Liong?”

“Ceng Liong….? Ahhh, Ceng Liong ….!” Ciang Bun maju dan merangkul.

Keduanya berangkulan dengan hati gembira bukan main. Ciang Bun menjadi demikian terharu sampai kedua matanya menjadi basah. Melihat ini, diam-diam Ceng Liong lalu merasa heran. Kakak misannya ini sampai kini masih saja memperlihatkan kehalusan perasaannya.

Ciang Bun meraba pundak dan dada Ceng Liong, memandang kepada adiknya itu penuh kagum.

“Liong-te…. aihh, siapa bisa mengenalnya kalau engkau sekarang sudah begini besar? Lihat, engkau tidak hanya lebih besar dari pada aku, bahkan lebih tinggi. Engkau begini gagah perkasa, ahhh, adikku, aku bangga sekali melihatmu!”

“Bun-toako, sudah hampir sepuluh tahun kita tidak pernah saling jumpa. Tidak kusangka akan bertemu denganmu pada saat tadi aku mendaki bukit ini, mencari penyanyi yang suaranya begitu menarik hatiku. Kiranya engkaulah yang bernyanyi tadi. Toako, kenapa hatimu begitu berduka?”

Ciang Bun menarik napas panjang. Pertanyaan itu tentu saja membuat dia teringat akan keadaan dirinya, teringat akan Gangga. Dan begitu dia teringat kepada gadis yang telah meninggalkannya itu, dia pun teringat bahwa Gangga pernah menyebut nama Ceng Liong dan dia pun memandang dengan penuh perhatian dan alisnya berkerut.

“Liong-te, sebelum kita bicara lebih banyak, jawablah dulu pertanyaanku ini. Benarkah bahwa engkau telah menjadi murid iblis tua Hek-i Mo-ong….?”

Tentu saja Ceng Liong terkejut mendengar ini, tetapi dia tersenyum dan mengangguk-angguk. “Bun-toako, hal itu merupakan cerita yang panjang sekali. Tanpa mendengar seluruh keadaan pada waktu itu, hanya mendengar bahwa aku menjadi muridnya, tentu akan menimbulkan rasa penasaran….”

“Jadi benarkah berita itu? Liong-te, benarkah itu? Tentu saja aku merasa penasaran setengah mati! Liong- te, engkau sendiri juga mengetahui bahwa kakek iblis itu bersama kawan-kawannya telah melakukan penyerbuan ke Pulau Es yang lalu mengakibatkan tewasnya kakek dan dua orang nenek kita, bahkan telah mengakibatkan tenggelamnya Pulau Es dan kau…. kau…. bahkan lalu menjadi muridnya?”

“Sabar dan tenanglah, toako dan mari dengarkan dahulu keteranganku tentang hal itu. Dengarlah ceritaku semenjak kita saling berpisah di tengah lautan itu. Aku melihat enci Hui dilarikan penjahat, serta melihat engkau dan juga Cin Liong terlempar ke dalam lautan dan aku sendiri lalu dibawa oleh Hek-i Mo-ong sebagai seorang tawanan.”

Ceng Liong lalu menceritakan semua pengalamannya dan sebab-sebabnya mengapa dia sampai menjadi murid Hek-i Mo-ong, musuh besar yang mencelakakan kakek dan kedua neneknya di Pulau Es. Ia menceritakan semua peristiwa yang dialaminya sampai pada saat Hek-i Mo-ong tewas di tangan kakek itu sendiri yang seolah-olah membunuh diri, karena dalam keadaan terluka parah kakek itu nekat menyerang pendekar Kam Hong. Diceritakannya betapa kakek iblis itu telah melimpahkan budi kepadanya hingga sukarlah baginya untuk menganggap kakek itu sebagai musuh.

Setelah mendengar semua cerita adik misannya, Ciang Bun yang mendengarkan sejak tadi dengan hati amat tertarik itu mengangguk-angguk dan beberapa kali menarik napas panjang. Memang, dia sendiri pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya kalau dia dilimpahi budi pertolongan dan kasih sayang oleh kakek iblis itu.

“Bun-toako, dari manakah engkau mendengar bahwa aku telah diambil murid oleh Hek-i Mo-ong?” kini Ceng Liong bertanya.

Ciang Bun baru sadar dari lamunannya. Sekarang dia teringat bahwa Ceng Liong belum bercerita kepadanya tentang pertemuan adiknya itu dengan Gangga Dewi seperti yang pernah dikatakan gadis Bhutan itu kepadanya, meski tadi Ceng Liong juga menceritakan bahwa adiknya itu diajak merantau oleh Hek-i Mo-ong sampai jauh ke wilayah barat, ke Pegunungan Himalaya bahkan sampai ke negara Bhutan.

“Liong-te, aku mendengarnya dari seorang gadis bernama Gangga Dewi….,” katanya memandang tajam. Wajah adik misannya ini di bawah sinar bulan purnama sungguh nampak gagah sekali.

“Gangga Dewi….?” Ceng Liong berseru kaget dan girang. “Ahhh, Gangga Dewi gadis Bhutan itu….” “Liong-te, engkau kenal padanya?”

“Kenal! Tentu saja!” Ceng Liong tertawa ketika dia teringat kepada anak perempuan bernama Gangga Dewi yang galak itu. “Ha-ha, tentu saja aku kenal, toako. Bukankah ia bernama juga Wan Hong Bwee, puteri Bhutan itu? Bukankah ia masih ada hubungan keluarga pula dengan kita?”

Kini Ciang Bun benar-benar terkejut bukan main. “Puteri Bhutan? Wan Hong Bwee dan masih ada hubungan keluarga dengan kita? Bagaimana ini, Liong-te, aku tak tahu sama sekali. Ceritakanlah kepadaku siapa sesungguhnya gadis itu.”

“Ha-ha-ha, dia tidak pernah bercerita kepadamu? Wah, memang sungguh bengal anak itu! Ketahuilah, toako, Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee itu adalah puteri tunggal dari Wan Tek Hoat dan Puteri Syanti Dewi.”

“Ahhh…. ahhh…. maksudmu Wan Tek Hoat cucu mendiang nenek Lulu, jadi…. masih kakak tiriku sendiri?” Ciang Bun benar-benar terkejut karena tidak pernah menyangka sama sekali.

Kenapa gadis Bhutan itu tak pernah menceritakan tentang keadaan dirinya? Ayah gadis itu, Wan Tek Hoat, sudah amat dikenal namanya oleh para cucu Pulau Es. Dia pun telah mendengar bahwa pendekar yang masih terhitung kakak tirinya itu menikah dengan Puteri Syanti Dewi, puteri istana Bhutan dan kini tinggal di Bhutan.

Jadi kalau begitu, Gangga adalah keponakannya sendiri, biar pun keponakan yang jauh. Dan tentu saja Gangga sudah tahu akan semua ini. Bukankah Gangga mengatakan bahwa dia sudah mengenal Ceng Liong dan tahu pula bahwa dia sendiri adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Akan tetapi gadis itu tidak pernah menyinggung keadaan dirinya, dan kini gadis itu telah pergi!

“Dan bagaimana dengan engkau sendiri, toako? Apa yang telah kau alami sejak engkau terlempar ke dalam lautan dari perahu kita yang diserang penjahat itu? Dan mengapa pula engkau tidak hadir dalam pesta pernikahan enci Hui?”

Kembali Ciang Bun menarik napas panjang dan termenung, kelihatan berduka sekali sehingga Ceng Liong memandang khawatir, tak berani mendesak melainkan menunggu saja kakak misannya itu bicara.

Akhirnya Ciang Bun berkata dengan nada suara yang lesu, “Tidak ada apa-apa yang menarik dalam hidupku, Liong-te, kecuali kemuraman dan kekecewaan. Seperti kau lihat, aku masih hidup sekarang karena ketika aku terlempar ke lautan dari perahu kita yang diserbu penjahat sepuluh tahun yang lalu itu, aku berhasil meloloskan diri dari cengkeraman maut. Dan selanjutnya, aku hanya terombang-ambing antara kedukaan dan mala petaka yang menimpa keluargaku….” Pemuda itu menarik napas panjang.

Ceng Liong mengangguk-anggukkan kepala. “Bun-toako, aku juga menghadiri perayaan pernikahan enci Hui dan pada saat itu aku mendengar bahwa engkau belum lama pergi meninggalkan kota raja, dan aku sudah mendengar dari keluargamu tentang segala yang telah terjadi, yang menimpa diri enci Hui. Akan tetapi untunglah bahwa enci Hui telah menjadi isteri Jenderal Cin Liong yang gagah perkasa dan baik hati.”

“Engkau benar, Liong-te. Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat hadir di waktu pernikahan enci Hui dirayakan, karena aku…. pada waktu itu aku sedang gila mengejar bayangan kosong…. dan sampai sekarang aku belum pulang. Biarlah, adikku, biarlah nasib membawa diriku seperti sebuah layang-layang putus talinya dan tertiup angin badai ke angkasa raya tanpa tujuan….”

Melihat betapa pemuda itu kembali tenggelam ke dalam kedukaan, Ceng Liong merasa kasihan sekali. Dia dapat menduga bahwa tentu kakak misannya ini menderita tekanan batin yang hebat sekali sehingga seperti orang kebingungan. Maka dia pun berusaha menggembirakan hati kakaknya itu. Suaranya meninggi gembira ketika dia bertanya, “Toako, bagaimana engkau dapat berkenalan dengan Hong Bwee?”

“Hong Bwee….?”

“Ya, atau yang bernama Gangga Dewi itu! Ia tinggal di Bhutan, apakah engkau pernah merantau sampai ke Bhutan pula?”

Ciang Bun menggelengkan kepala dan menjawab lesu. “Tidak di Bhutan, aku bertemu dengannya ketika ia merantau sampai ke kota raja….”

“Aihhh….! Anak itu memang luar biasa! Pemberani dan juga tentu saja lihai,” kata Ceng Liong, masih belum puas melihat kakak misannya demikian murung dan berusaha untuk menggembirakan hatinya. “Waah, toako, tak kusangka engkau kini gemar bernyanyi dan suaramu hebat pula! Dan nyanyianmu tadi, wah, romantis sekali, toako. Ehmm, siapa sih gadis yang begitu kau cinta sehingga untuk memperoleh cintanya, engkau tidak peduli segala hal lain yang terjadi?”

Akan tetapi, mendengar ucapan yang nadanya bergurau itu, Ciang Bun malah menarik napas panjang. Pertanyaan itu seperti menyeretnya kembali ke alam kenangan yang penuh dengan bayangan Gangga yang meninggalkannya. Dan bertemu dengan Ceng Liong dia merasa bertemu dengar saudara sendiri, dengan orang yang dapat dipercaya sepenuhnya, bahkan orang yang dapat pula dijadikan tempat penumpahan segala rasa dukanya.

“Liong-te, semua keadaan diriku ini, yang seperti orang gila ini…. bukan lain adalah karena dia pula…. orang Bhutan itu….”

“Hong Bwee….?” Kata Ceng Liong terbelalak memandang wajah kakaknya.

“Gangga…. dialah yang membuatku merana…. ah, tidak, Liong-te, bukan dia sebabnya, melainkan diriku sendiri, keadaanku sendiri. Dia tidak boleh disalahkan, bahkan sudah sepatutnya kalau dia meninggalkan aku, penuh kemuakan dan kebencian….” Ciang Bun menutupi muka dengan kedua tangannya karena teringat sepenuhnya akan semua itu membuat dia berduka sekali.

Dan Ceng Liong memandang dengan penuh keheranan, apalagi melihat betapa diam-diam kakak misannya itu telah menangis di balik kedua tangan yang menutupi muka! Kakak misannya ini bukan anak kecil lagi, sudah dewasa, gagah perkasa dan dia tahu bahwa kakaknya ini memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi sekarang menangis, karena seorang gadis! Menangis seperti anak kecil, atau seperti seorang wanita.

Dia tidak tahu harus berbuat apa, harus berkata apa untuk menghibur hati Ciang Bun karena dia sendiri terlalu kaget dan heran mendengar pengakuan kakak misannya yang tak disangka-sangkanya itu. Agaknya kakaknya ini telah jatuh cinta kepada Hong Bwee atau Gangga Dewi, dan agaknya gadis Bhutan itu menolaknya dan meninggalkannya.

“Bun-toako, apa yang telah terjadi antara engkau dan Gangga Dewi? Maukah engkau menceritakannya kepadaku?”

Sampai lama Ciang Bun menundukkan mukanya, lalu ia melangkah menjauh dan duduk di atas akar pohon, tetap menunduk dan seperti orang melamun jauh. Rahasia dirinya hanya pernah dia buka kepada kakaknya saja, yaitu Suma Hui. Akan tetapi Suma Hui adalah seorang wanita, belum tentu dapat ikut merasakan penderitaan batinnya secara tepat. Dan Ceng Liong adalah saudara misan yang tiada bedanya dengan saudara sendiri karena dia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. Apa salahnya kalau dia berterus terang kepada Ceng Liong? Siapa tahu, adik misan yang sejak kecil banyak akalnya ini akan mampu membantunya dan mencari jalan yang terbaik untuknya.

“Liong-te, ke sinilah, duduk di sini dan marilah kau dengarkan ceritaku, mudah-mudahan engkau akan dapat membantuku memikirkan bagaimana aku harus melanjutkan hidup ini,” akhirnya dia berkata.

Mendengar kata-kata itu, Ceng Liong terkejut bukan main. Suara kakak misannya begitu serius. Tentu telah terjadi hal yang amat hebat kepada diri kakaknya ini dan dia merasa gelisah juga dan cepat dia menghampiri, lalu duduk di atas batu berhadapan dengan Ciang Bun yang duduk di atas akar pohon yang menonjol dari permukaan tanah. Untuk beberapa lamanya mereka saling pandang dan keadaan amatlah sunyinya.

Langit bersih tiada awan sehingga sinar bulan purnama menerangi tempat itu seperti pagi yang cerah. Hawa udara sejuk dan bahkan dingin, akan tetapi dua orang pemuda perkasa itu tidak menderita akibat hawa dingin. Pada saat mereka berdiam diri, yang terdengar hanyalah suara jengkerik dan belalang mengurung diri mereka dari segenap penjuru.

Kemudian terdengar suara lirih Suma Ciang Bun, berbisik-bisik menceritakan keadaan dirinya, kelainan yang terdapat dalam batinnya. Betapa dia amat suka, bahkan tergila-gila dan mudah sekali bangkit gairahnya terhadap pria lain, sedangkan terhadap wanita dia tidak mempunyai perasaan suka itu, kecuali rasa suka seperti seorang sahabat, sama sekali tidak ada gairah terhadap wanita.

Meski Ceng Liong adalah seorang pemuda gemblengan yang tidak mudah terguncang perasaannya, mendengar penuturan kakak misannya ini dia terkejut dan juga prihatin sekali, di samping perasaan heran yang tidak terbayang pada wajahnya.

Ciang Bun lalu melanjutkan ceritanya tentang diri sendiri, betapa dia berjumpa dengan seorang pemuda bernama Ganggananda yang membuatnya jatuh cinta, bahkan tergila-gila. “Ahhh, betapa pun aku menyadari bahwa perasaanku terhadap Ganggananda itu adalah tidak wajar, adikku. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku adalah seorang pria, dan aku jatuh hati, benar-benar aku tergila-gila kepada seorang pemuda lain, seorang pria lain. Namun aku tidak mampu melawan gejolak dalam hatiku, kesadaranku seolah-olah sudah membutakan diri, tidak mau peduli lagi karena gairah dan hasrat hatiku terhadap Ganggananda tidak mungkin dapat dibendung lagi….”

Pemuda itu diam dan berulang kali menarik napas panjang, beberapa kali membuka mulut seperti hendak melanjutkan namun tidak ada suara keluar dari mulutnya, seolah-olah dia tidak kuasa untuk melanjutkan.

Suma Ceng Liong merasa kasihan sekali melihat keadaan kakak misannya itu dan dia pun menyentuh tangan Ciang Bun sambil berkata. “Sudahlah, Bun-toako, kalau engkau merasa berat untuk melanjutkan, tidak perlu kau bicara lagi. Aku sudah mengerti, atau setidaknya aku akan berusaha untuk mengerti.”

“Tidak, aku harus menceritakan seluruhnya. Aku sudah kuat, Liong-te, dengarlah baik-baik.”

Suma Ciang Bun kemudian melanjutkan, betapa dia bertahan diri untuk tidak membuka cintanya terhadap Ganggananda karena khawatir kalau-kalau pemuda Bhutan itu akan merasa muak dan jijik kepadanya, lalu membencinya karena keadaannya yang tidak wajar itu. Akan tetapi betapa akhirnya dia tidak kuat bertahan dan mengakui cintanya, siap menerima segala akibatnya andai kata Ganggananda kemudian menjadi jijik dan membencinya. Akan tetapi, sebaliknya dialah yang terpukul.

“Betapa terkejut dan hancurnya perasaanku, Liong-te. Betapa bingung dan malu rasa hatiku saat Ganggananda membuka rahasia bahwa dia adalah seorang wanita bernama Gangga Dewi dan sama sekali bukan pemuda seperti yang selama itu kuduga! Dan aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya bahwa aku tidak suka wanita! Ah, ia menjadi marah-marah, tentu ia amat benci kepadaku dan ia lalu meninggalkan aku, Liong-te….! Dan aku…. aku merasa malu, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, dan aku merana, aku bahkan tidak mau pulang walau pun aku tahu bahwa enci Hui merayakan pernikahannya. Aku adalah seorang manusia sampah…. membikin malu saja….”

“Bun-toako!” Terdengar suara Ceng Liong seperti membentak, menggeledek sehingga mengejutkan Ciang Bun. “Begitukah sikap seorang pendekar yang gagah perkasa? Begitu cengeng penuh dengan iba diri, merasa seolah-olah diri sendiri menjadi orang yang paling sengsara di permukaan bumi ini?”

Ciang Bun terkejut sekali. Baru sekarang ini dia mendengar orang bicara seperti itu kepadanya dan sepasang mata adik misannya itu mencorong menakutkan! Dan sikap Ceng Liong itu seketika menggugah semangatnya, seperti mengguncangnya dari tidur pulas dan mimpi buruk. Dia melihat Ceng Liong bangkit berdiri dan dengan sepasang mata bersinar memandang kepadanya.

“Bun-toako, bagaimana pun juga, apa pun juga yang terjadi atas dirimu, engkau harus berani menghadapi kenyataan! Katakanlah bahwa engkau mengalami atau menderita kelainan, yang berbeda dengan pria pada umumnya, akan tetapi bagaimana pun juga keadaanmu itu adalah suatu kenyataan dan segala kenyataan adalah benar dan tidak dapat diubah hanya dengan tangisan dan keluhan belaka!”

Kata-kata itu seperti tusukan-tusukan pedang yang terasa benar di hatinya, membuat Ciang Bun perlahan- lahan bangkit berdiri. Hiburan-hiburan baginya tiada artinya lagi. Akan tetapi kata-kata yang keluar dari mulut Ceng Liong ini sama sekali bukan hiburan, melainkan pisau-pisau yang melakukan operasi membuka segalanya sehingga nampak olehnya, nampak olehnya kenyataan yang ada pada dirinya.

“Ceng Liong…. adikku…. engkau benar. Lalu…. lalu apa yang harus kulakukan, adikku?”

“Toako, aku bukan gurumu dan engkau bukan muridku. Kalau engkau hanya mengekor saja pada pendapat orang lain, termasuk pendapatku, engkau akan terlibat pula dalam pertentangan batin, akan diputar-putar antara rasa benar dan salah. Keadaan itu adalah keadaanmu sendiri, badanmu sendiri, dan hanya engkau sendiri yang dapat merasakan, maka engkau sendiri pula yang dapat menentukan baik buruknya, engkau sendiri yang bisa mengambil ketentuan, akan melanjutkan atau menghentikan. Mengertikah, toako?”

Ciang Bun mengangguk-angguk dan dia mulai memandang adik misannya itu dengan penuh kagum. Baru sekarang dia merasa semangatnya tergugah, tidak tenggelam di dalam kemurungan dan kekecewaan, tenggelam dalam perasaan yang nelangsa dan putus asa. Kini matanya seperti dibuka dan dia dipaksa berhadapan dengan kenyataan sesungguhnya yang ternyata tidaklah begitu mengerikan atau menakutkan seperti kalau dibayangkan. Keadaan dirinya bukanlah suatu keadaan yang sudah rusak sama sekali. Tidak! Benar Ceng Liong. Badan ini adalah badannya, berikut baik buruknya dan cacat celanya. Dialah yang berkuasa atas badan ini. Tidak sepatutnya kalau batinnya terseret dan tenggelam oleh keadaan badannya!

“Ahh, terima kasih, Liong-te, terima kasih. Kata-katamu merupakan minuman pahit akan tetapi sungguh bermanfaat sekali bagiku, seperti cambuk tetapi dapat menggugahku dari tidur nyenyak! Selama ini aku bersikap terlalu lemah dan baru nampak olehku sekarang!”

“Toako, keadaanmu itu sebenarnya tidak perlu diributkan benar. Kelainan pada dirimu itu tidak lebih dari kelainan dalam nafsu birahi atau nafsu kelamin belaka. Dan nafsu itu bukanlah satu-satunya urusan dalam hidup ini bukan? Lebih baik kita melupakan hal yang sudah lalu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kenyataan setiap saat. Hanya kenangan lama saja yang menimbulkan gelisah dan duka. Mari kita bergembira, toako!”

Ciang Bun merangkul adik misannya itu kemudian memandang wajahnya dari dekat, memandang penuh kagum. “Ahh, tak kusangka adikku yang dahulunya seorang anak yang bengal itu kini menjadi seorang pemuda yang batinnya jauh lebih dewasa dari pada aku, dan baru sekarang aku melihat betapa diriku selama ini tersiksa oleh batinku sendiri. Batinku selalu tenggelam dalam keluhan dan kesengsaraan yang kubuat sendiri. Engkau memang benar. Hidup ini bukan hanya urusan nafsu birahi semata dan cintaku yang sudah-sudah itu hanyalah nafsu birahi belaka karena aku pun menyadari bahwa cinta kasih yang murni tidak membeda-bedakan dan tidak memilih-milih. Tetapi terus terang saja, adikku. Setelah aku mengetahui bahwa Gangga seorang gadis, dan aku mengamati perasaanku, aku hampir merasa yakin bahwa aku memang cinta padanya, tidak peduli dia itu pria atau wanita. Akan tetapi…. ahh, sudahlah. Ia tentu sudah benci kepadaku dengan perasaan muak dan jijik, pula, kalau kupikir-pikir lagi, seorang gadis sehebat dia itu memang tidak layak kalau menjadi sisihan seorang laki-laki sinting macam aku yang tidak lumrah pemuda biasa ini.”

Ceng Liong tersenyum. Ucapan itu nadanya bukan keluhan lagi dan wajah Ciang Bun tidaklah muram seperti tadi lagi.

“Toako, kalau ia membencimu, kalau ia merasa jijik dan muak, itu tandanya ia tidak cinta padamu. Dan dalam urusan jodoh, cinta haruslah ada di kedua pahak, bukan? Kalau hanya kita yang mencinta setengah mati akan tetapi sang gadis tidak, untuk apa dilanjutkan? Berarti hanya penyiksaan batin sendiri, bukan?”

“Cocok! Dan aku tidaklah begitu tolol membiarkan diriku tersiksa sendirian. Ha-ha-ha, engkau seperti dewa penolong yang menyingkirkan batu yang tadinya menindih hatiku, Liong-te.” Ciang Bun tertawa dan mungkin baru sekali inilah dia dapat tertawa dengan sepenuh hatinya semenjak dia ditinggalkan Gangga Dewi.

“Yang menyingkirkan adalah engkau sendiri. Orang lain atau aku tidak mungkin dapat menyingkirkannya, paling banyak hanya mampu membantu menunjukkannya saja. Nah, sekarang ceritakanlah, toako. Bagaimana engkau dapat berada di sini? Apakah engkau juga ingin menghadiri pertemuan antara para pendekar di tempat ini?”

Ciang Bun mengangguk-angguk dan kini dia bercerita dengan suara yang wajar dan bebas.

“Aku merantau tanpa tujuan dan aku membatalkan niatku menyusul ke Bhutan. Dalam perantauan itu aku mendengar berita angin bahwa para pendekar akan mengadakan pertemuan di Hutan Cemara ini, maka aku pun segera pergi ke sini.”

“Tahukah engkau, toako, apa yang akan dilakukan atau dibicarakan para pendekar dalam pertemuan di Hutan Cemara ini?”

Ciang Bun menggeleng kepala dan memandang wajah adiknya dengan alis berkerut. “Aku tidak tahu, hanya mendengar bahwa para pendekar akan mengadakan pemilihan seorang bengcu (pemimpin rakyat).”

“Para pendekar mengadakan pertemuan di sini untuk membicarakan urusan tanah air yang dijajah Bangsa Mancu, toako. Membicarakan tentang rencana perjuangan untuk memberontak dan membebaskan negara dan bangsa dari penjajah Mancu dan untuk itu agaknya memang akan diadakan pemilihan seorang bengcu yang akan memimpin gerakan itu.”

Sepasang mata Ciang Bun terbelalak. “Pemberontakan….? Para pendekar hendak melakukan pemberontakan….?”

“Kenapa kau terkejut, toako?” tanya Ceng Liong, teringat akan kekagetan hatinya sendiri ketika untuk pertama kalinya dia mendengar dari pendekar Sim Hong Bu. Dia ingin tahu akan isi hati dan perasaan kakak misannya ini mengenai pemberontakan menentang pemerintah Mancu ini.

“Kenapa pula tidak terkejut?” Ciang Bun balas bertanya. “Kita sama sekali tidak boleh mencampurinya kalau seperti itu maksud pertemuan para pendekar itu!”

“Kenapa, toako?”

“Engkau masih bertanya lagi kenapa, Liong-te? Jelas bahwa kita tidak mungkin dapat mencampuri urusan pemberontakan, apalagi ikut-ikut memberontak! Ingat saja kepada mendiang nenek Nirahai! Ingat saja kepada bibi Milana dan sekarang lebih lagi kalau aku mengingat bahwa enci Hui telah menjadi isteri Jenderal Kao Cin Liong!”

Suma Ceng Liong menghela napas. Persis benar perasaan kakak misannya ini dengan perasaan hatinya sendiri saat untuk pertama kali dia membantah ayahnya dan pendekar Sim Hong Bu.

“Mula-mula aku pun berpendapat begitu, toako. Akan tetapi ayahku sendiri menyetujui rencana para pendekar itu. Setelah bercakap-cakap, aku pun dapat melihat kebenaran pendapat mereka yang hendak menentang pemerintah Mancu.”

Ceng Liong lalu menerangkan kepada kakak misannya tentang para patriot yang ingin membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajahan Mancu dan dalam perjuangan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan tidak dikenal kepentingan pribadi.

“Boleh jadi kaisar sekarang, walau pun seorang Bangsa Mancu, merupakan seorang kaisar yang baik, akan tetapi bagaimana pun juga baiknya, dia termasuk ke dalam alat dari bangsa asing yang menjajah bangsa kita. Dalam perjuangan ini kita tidak memusuhi pribadi-pribadi, dan juga kita bukannya berjuang untuk kepentingan pribadi, melainkan perjuangan rakyat terhadap penjajah.”

“Hemm, kalau begitu, engkau datang untuk ikut dalam pertemuan itu, berarti ikut pula merencanakan…. pemberontakan?” Ciang Bun bertanya, wajahnya menjadi agak pucat mendengar urusan yang amat gawat itu.

Ceng Liong tersenyum. “Toako, seperti juga engkau, dan kuharapkan juga seperti semua orang muda, aku pun tidak mudah puas menerima suatu pendapat begitu saja. Aku datang untuk melakukan penyelidikan, meneliti keadaan dan mengenal orang-orang yang hendak memimpin perjuangan itu, apakah benar-benar mereka itu adalah para pendekar-pendekar dan patriot-patriot sejati yang hendak menyumbangkan jiwa raga demi kepentingan bangsa, ataukah hanya segerombolan orang yang suka bertualang mencari keuntungan diri pribadi belaka.”

Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya perlahan. “Aku bingung, Liong-te. Aku tidak tahu apakah aku dapat mencampuri urusan pemberontakan. Semua terjadi demikian mendadak. Sebelum mendengar keteranganmu ini, aku bahkan sama sekali tak pernah membayangkan akan adanya rencana pemberontakan. Tetapi engkau benar. Sebelum mengambil keputusan, sebaiknya kalau aku pun melihat dan mendengar lebih dulu, menyelidiki dahulu dengan teliti.”

“Bagus, begitulah seyogianya, toako. Dan mengingat bahwa kita berdua adalah anggota keluarga Pulau Es, dan karena kita berdua masih ragu-ragu dan bermaksud menyelidik, lebih baik kalau kita berpencar. Sebaiknya kalau kita menyembunyikan nama keluarga kita agar tidak mudah dikenal orang. Bagaimana pun juga, semua pendekar tahu belaka bahwa keluarga para pendekar Pulau Es masih mempunyai hubungan, bahkan memiliki darah keluarga kaisar Mancu! Kenyataan ini tentu akan menimbulkan kecurigaan dan mendatangkan hal-hal yang mungkin tidak baik.”

Ciang Bun mengangguk, “Baik, adikku. Dan tempat ini kita jadikan tempat pertemuan kita. Kita akan berpencar dan melakukan penyelidikan sendiri-sendiri secara terpisah, kemudian pada malam harinya kita bertemu di sini dan membanding-bandingkan hasil penyelidikan kita.”

Dua orang kakak beradik misan ini kemudian saling berpisah meninggalkan bukit itu, mengambil jalan yang bertentangan…..

********************

“Huh, tikus-tikus macam kalian ini tidak patut menyebut diri pendekar-pendekar!”

Bentakan itu dikeluarkan oleh seorang gadis yang berdiri sambil bertolak pinggang, menghadapi tiga orang laki-laki yang menyeringai gembira. Pagi itu masih agak gelap, matahari masih terlampau rendah untuk dapat mengusir kegelapan yang ditimbulkan oleh pohon-pohon yang lebat dalam hutan itu.

Seorang gadis yang usianya antara delapan belas atau sembilan belas tahun. Tubuhnya padat ramping dan tingginya sedang. Pakaiannya sederhana, bukan saja potongannya melainkan juga terbuat dari kain kasar, akan tetapi justru pakaian sederhana ini bahkan menonjolkan kecantikannya dan keindahan bentuk tubuhnya. Rambutnya yang hitam panjang itu dikuncir dua dan digelung ke atas, tanpa perhiasan, hanya ditusuk dengan dua potong bambu sebesar sumpit.

Sepatunya dari bahan kulit, menutupi seluruh kaki sampai ke betis. Melihat sikap dan dandanannya, mudah diduga bahwa ia adalah seorang gadis yang biasa melakukan perjalanan jauh, biasa menempuh dan menghadapi bahaya, seorang gadis kang-ouw. Namun tidak nampak sebuah pun senjata menempel di tubuhnya.

Sepasang matanya tajam bersinar-sinar, apalagi pada saat ia sedang marah seperti itu. Cuping hidungnya yang kecil mancung itu dapat bergerak-gerak sedikit, dan mulutnya yang cemberut itu berbibir merah basah, tanda bahwa dia sehat dan segar. Kedua pipinya, pada tonjolan pipi di tepi bawah mata nampak merah sekali bagaikan diberi pemerah muka, padahal pipi itu merah asli seperti juga bibirnya.

Tiga orang laki-laki itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Biar dimaki oleh gadis itu, mereka tetap bergembira dan tersenyum-senyum genit. Dari pandang mata mereka, sikap dan bau mulut mereka, mudah diketahui bahwa mereka sedang mabok atau kebanyakan minum arak di pagi itu.

Sepagi itu sudah mabok, ini merupakan tanda orang-orang yang sudah menjadi hamba minuman keras. Dalam keadaan mabok seperti itu, biasanya orang tidak lagi sadar akan apa yang mereka lakukan, meniadakan sopan santun dan watak-watak asli mereka akan nampak keluar tanpa hambatan.

“Heh-heh, nona manis. Apa salahnya kalau kami mengajak engkau bersenang-senang di pagi hari yang sunyi dan sedingin ini? Ha-ha-ha!” seorang di antara mereka yang matanya sipit sekali berkata.

“Bercumbu sedikit tiada salahnya, nona. Kami para pendekar pun suka bermain cinta, hi-hi-hik!” kata orang ke dua yang hidungnya bengkok seperti hidung burung kakatua.

“Ha-ha-ha, benar, benar! Pendekar pun lelaki biasa yang suka bercanda dengan gadis cantik seperti engkau, nona. Dan tahulah engkau? Kedua pipimu begitu merah dan apa artinya kalau seorang gadis manis merah pipinya?” Orang ke tiga yang jenggotnya lebat berkata.

“Artinya?” sambung yang pertama. “Artinya gadis itu minta dicium pipinya, ha-ha-ha!” Mereka bertiga tertawa bergelak, terbahak-bahak sambil memegangi perut.

“Ha-ha, akan tetapi jangan engkau yang mencium. Mukamu penuh brewok, kasihan ia akan mati kegelian,” kata pula yang sipit dan kembali mereka tertawa-tawa.

Gadis itu membanting-banting kakinya. “Keparat! Kalian bertiga ini pantasnya anggota gerombolan penjahat, sama sekali tidak pantas berada di tempat ini, di antara para pendekar yang mengadakan pertemuan. Kalau tidak ingat bahwa mungkin sekali kalian ini pendekar-pendekar yang tersesat dan bahwa sekarang akan diadakan pertemuan antara para orang gagah, tentu sudah kuhancurkan mulut kalian yang busuk itu!” Sambil berkata demikian, gadis yang menahan kemarahannya itu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

Akan tetapi, tiga orang itu menggerakkan tubuh mereka dan tahu-tahu mereka sudah berlompatan menghadang di depan gadis itu. Dari cara mereka bergerak melompat, dapat diketahui bahwa tiga orang pria ini adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang lumayan.

“Wah, wah, nanti dulu, nona!” kata yang bermata sipit, yang paling tua dan agaknya menjadi pimpinan di antara mereka.

“Kalian mau apa?!” bentak gadis itu dengan kemarahan yang hampir tidak dapat dia pertahankan lagi.

“Nona manis, engkau sungguh tidak adil. Kami bertiga bertemu denganmu, menjamah pun tidak, mengganggu pun tidak, hanya memuji-muji kecantikanmu. Untuk pujian itu, sudah sepatutnya kalau kami menerima hadiah. Sebaliknya, engkau memaki-maki dan menghina kami. Karena itu, tidak boleh engkau pergi sebelum kami menerima ganti rugi atas perlakuanmu yang tidak adil kepada kami.”

“Hemm, apa yang kalian kehendaki?”

“Tidak banyak, hanya masing-masing dari kami menerima satu ciuman saja darimu.” Si mata sipit menyeringai dan dua orang temannya mengangguk-angguk dengan jakun turun naik karena mereka sudah membayangkan betapa akan sedapnya menerima sebuah ciuman dari dara yang manis dan jelita ini.

Kini kemarahan dara itu tidak dapat ditahannya lagi. Mukanya menjadi merah dan matanya mencorong seolah-olah mengeluarkan api. “Keparat jahanam bermulut busuk! Sekali lagi, pergilah sebelum aku terpaksa menghajar kalian!”

“He-he-he, ia mau menghajar kita!” si mata sipit tertawa.

Dua orang kawannya tertawa pula. “Biarlah, dihajar oleh tangan yang halus itu aku siap! Sudah lama aku tidak diusap tangan halus.”

“Dan aku pun ingin dipijiti jari-jari mungil itu, heh-heh-heh!”

“Pergilah….!” Gadis itu menggerakkan tubuhnya dan kaki tangannya bergerak cepat sekali.

“Plak! Plak! Plak!” terdengar suara beberapa kali dan tubuh tiga orang itu terpelanting, dibarengi keluhan mereka.

Mereka terbelalak, masing-masing meraba pipi mereka yang menjadi bengkak oleh tamparan nona tadi. Yang membuat mereka terkejut adalah cepatnya tangan itu bergerak, sehingga berturut-turut mereka kena ditampar tanpa mereka dapat mengelak atau menangkis sama sekali. Dan karena tamparan itu memang membuat pipi bengkak dan muka panas, nyeri rasanya, ditambah lagi rasa malu karena sudah ditampar oleh seorang gadis muda, tiga orarg itu pun menjadi marah.

“Berani kau memukul kami?”

Mereka bangkit berdiri dan mengepung gadis itu, kemudian, sambil berteriak marah mereka mulai maju. Dari serangan mereka dapat dilihat bahwa mereka masih memiliki niat kotor sebab serangan mereka itu bukan pukulan, tapi cengkeraman-cengkeraman. Agaknya mereka itu ingin membalas tamparan si nona dengan cengkeraman untuk menangkap tubuh yang denok itu atau merobek pakaiannya!

Akan tetapi, mereka kecelik kalau mengira bahwa mereka berhadapan dengan seekor domba betina muda. Nona itu ternyata memiliki gerakan yang amat gesit dan dengan lincahnya tubuh yang ramping itu berloncatan ke sana-sini dan semua terkaman itu hanya mengenai angin belaka. Kemudian, kaki yang kecil itu bergerak tiga kali berturut-turut. Untuk ke dua kalinya, tiga orang setengah mabok itu terpelanting dan mengaduh-aduh! Si dara itu sama sekali bukan seekor domba betina muda yang lunak dagingnya, melainkan seekor macan betina yang galak dan kuat.

Baru sekarang tiga orang itu sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang dara yang lihai. Akan tetapi, dasar mereka memang memiliki watak yang buruk, mereka tidak menyadari kesalahan mereka, sebaliknya dengan penuh kemarahan ketiga orang itu bangkit lagi dan mereka mencabut senjata mereka, yaitu sebatang golok tipis dan dengan senjata di tangan mereka kini mengurung si dara dengan wajah bengis.

Akan tetapi, gadis itu sama sekali tidak nampak gentar menghadapi ancaman tiga orang laki-laki yang memegang golok itu. Bahkan dia berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang dan memandang dengan senyum simpul mengejek, akan tetapi matanya bersinar-sinar penuh kemarahan. Agaknya ia sama sekali tidak khawatir karena dalam dua gebrakan tadi saja gadis ini sudah yakin benar bahwa tiga orang lawannya hanya galak aksinya saja akan tetapi sesungguhnya merupakan gentong-gentong kosong yang nyaring suaranya.

“Hemm, kalian memang perlu dihajar lebih keras lagi agar bertobat!” katanya dengan senyum tak pernah meninggalkan wajah yang manis.

Tiga orang itu kini telah kehilangan selera mereka untuk menggoda dan berbuat kurang ajar. Sekarang yang ada di dalam benak mereka hanyalah membalas dan kalau perlu membunuh gadis yang telah membikin malu mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat mereka terpelanting roboh tadi.

“Haiiiittt….!”

Si mata sipit sudah menerjang dengan gerakan goloknya yang membentuk gulungan sinar terang. Dua orang temannya agaknya tidak mau ketinggalan dan dari kanan kiri mereka pun menyerang dengan golok mereka. Sungguh tiga orang ini tidak tahu malu, menyerang seorang gadis bertangan kosong dengan golok mereka secara keroyokan seperti itu.

Tapi gadis itu sungguh luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan di antara sinar golok. Tiga orang itu menjadi semakin bernafsu ketika golok mereka membabat udara hampa saja dalam penyerangan pertama mereka. Maka mereka lalu menyusulkan serangan-serangan berikutnya yang datang dengan bertubi-tubi.

Gadis itu tetap mengelak ke sana-sini mencari kesempatan untuk membalas dan kurang lebih sepuluh jurus kemudian, mendadak dia mengeluarkan suara melengking nyaring sekali. Tiga orang pengeroyoknya terkejut, sejenak seperti menjadi lumpuh oleh suara yang menusuk telinga dan menyayat perasaan hati mereka itu. Dan pada saat itulah si gadis lihai menurunkan tangan membalas.

Tiga kali dia memukul dan tiga orang itu roboh berpelantingan sambil mengaduh-aduh dan golok mereka terlepas dari tangan kanan karena lengan kanan itu seketika lumpuh dan pundak mereka nyeri. Kiranya gadis itu tadi memukul ke arah pundak kanan dan membuat tulang pundak mereka remuk. Tentu saja lengan itu langsung menjadi lumpuh seketika.

“Hemm, aku masih mengampuni nyawa kalian, dan mudah-mudahan pelajaran ini membuat kalian bertobat!” kata si gadis dengan kata-kata yang tegas.

Akan tetapi, pada saat itu bermunculan belasan orang dikepalai oleh dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu dan yang memegang sebatang tongkat baja. Melihat tiga orang yang mengaduh-aduh itu, belasan orang ini lantas mengurung si gadis yang memandang dengan sikap tenang namun waspada. Dua orang kakek itu menghampiri tiga orang yang terluka, lalu menggunakan jari tangan mereka menotok beberapa jalan darah dekat pundak untuk mengurangi rasa nyeri. Kemudian mereka bangkit lagi dan menghadapi si gadis yang berdiri dengan sikap tenang itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo