September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 9

 

“Maafkan aku, tadinya kusangka…“ “Kau sangka apa?”

“Dari atas tadi kulihat engkau memeluk seorang wanita, kelihatan kalian seperti sedang bercinta-cintaan dan bermesra-mesraan.”

Kian Bu sudah mendapatkan kembali sifatnya yang nakal dan suka menggoda orang. “Andai kata benar demikian, mengapa?”

Kedua pipi itu berubah merah dan matanya bersinar marah. “Aku sih tidak peduli! Akan tetapi karena kau bilang hendak mencarikan obat untuk Suma Kian Lee, dan melihat kau bermain gila, maka aku sudah menegurmu.”

“Obat? Ahh, benar! Agaknya aku sudah menemukan tempatnya, berkat petunjuk dari Cui-ma,” berkata demikian, Kian Bu lalu melangkah menuju ke goa yang ditunjuk oleh Cui-ma tadi.

Hwee Li cepat mengikutinya dan mereka berdiri di depan goa besar yang agak gelap karena sinar matahari tidak dapat langsung masuk ke dalamnya. Akan tetapi lambat laun mata mereka sudah menjadi biasa dan ketika mereka memasuki goa, kelihatanlah oleh mereka banyak sekali kerangka kecil di situ.

“Hemmm, Cui-ma bilang bahwa goa ini penuh tengkorak bayi dan anak kecil. Agaknya inilah goa Tengkorak itu…,“ kata Kian Bu sambil memandang tengkorak dan tulang tulang yang berserakan.

“Tidak ada tengkorak bayi atau anak kecil. Ini adalah tengkorak dan kerangka binatang, semacam monyet, hanya mukanya seperti anjing. Hemmm, tidak salah lagi, ini adalah kerangka binatang baboon yang tubuhnya monyet dan mukanya anjing. Ini agaknya menjadi kuburan mereka.”

“Dan Cui-ma bilang di sini terdapat mata iblis…,“ kata pula Kian Bu.

Mereka masuk terus ke dalam goa yang agak panjang itu. Tiba-tiba Hwee Li berseru, “Ihhhhh…” dan otomatis tangannya memegang tangan Kian Bu.

Pemuda ini pun terkejut sehingga dia pun membalas pegangan tangan itu. Mereka saling berpegang tangan dan jantung mereka berdebar tegang. Jauh di sebelah dalam, di tempat gelap, nampak banyak mata yang mencorong dan bersinar-sinar memandang ke arah mereka! Bukan mata manusia, bukan pula mata binatang, dan agaknya itulah mata iblis yang ditakuti oleh Cui-ma.

Tiba-tiba Hwee Li tertawa dan melepaskan tangannya. “Ahhh, memang benda yang berkilau dan mengeluarkan sinar, akan tetapi lihatlah, sinarnya tidak pernah bergerak. Bukan mata, melainkan benda- benda bersinar.”

“Benar engkau, Nona. Dan agaknya inilah yang kucari-cari. Lihat, bukankah sinarnya berubah-ubah dan seperti warna pelangi? Inilah jamur panca warna itu! Dan menurut penuturan Sai-cu Kai-ong, jamur itu hanya mengeluarkan sinar di tempat gelap, kalau di tempat terang tidak bersinar.”

Kian Bu mendekat, berjongkok dan menggunakan tangannya mencabuti jamur-jamur itu. Jamur-jamur itu masih bersinar-sinar di tangannya ketika dia bawa keluar, akan tetapi setibanya di luar, jamur-jamur itu kehilangan sinarnya dan berubah sebagai jamur biasa saja!

“Inilah obatnya, tidak salah lagi!” Kian Bu berseru dan menoleh ke arah kuburan Cui-ma sambil berkata, “Terima kasih, Cui-ma, engkau telah menyelamatkan kakakku.”

“Belum tentu,” tiba-tiba Hwee Li berkata. “Kalau kau tidak dapat keluar dari sini dan cepat-cepat memberikan jamur itu kepada kakakmu, mana bisa dia tertolong? Mari, kuantar kau naik.”

Hwee Li mengeluarkan suara melengking dan burung garuda itu menyambar turun lalu hinggap di atas batu di depan gadis itu. “Siluman Kecil…“

“Namaku Suma Kian Bu, Nona.”

“Sebaiknya sekarang kukenal sebagai Siluman Kecil saja. Kau akan kubantu agar dapat naik ke sana.”

“Terima kasih, Nona. Akan tetapi…“ Kian Bu meragu karena dia merasa ‘ngeri’ kalau harus duduk membonceng lagi. Dia tidak berani tanggung kalau tidak akan bangkit birahinya lagi duduk berhimpitan dengan nona yang amat cantik itu.

“Kau kira akan membonceng? Aku pun tidak mau…!” “Kalau aku duduk di depan…”

“Huh, di depan pun berbahaya. Seorang cabul seperti engkau!”

“Kalau begitu kau tinggalkan saja aku di sini, Nona, aku akan mencari jalan ke luar sedapatku dan aku tidak mau menyusahkanmu.”

“Sombong!” Hwee Li lalu meloncat dengan gerakan ringan sekali ke atas punggung garudanya dan burung itu pun terbang ke atas. Hwee Li menjenguk ke bawah sambil berteriak, “Kau bergantunglah pada ini!” Dan sehelai sabuk sutera merah muda meluncur ke bawah.

Kian Bu tersenyum. Memang banyak akalnya nona ini, pikirnya dan karena dia harus cepat-cepat dapat kembali ke kakaknya, maka dia pun lalu meloncat dan menangkap ujung sabuk sutera itu, bergantung di udara. Gadis itu mengeluarkan suara melengking dan burungnya terbang ke atas dengan cepat sekali. Tubuh Kian Bu tetap bergantung dan diam-diam pemuda perkasa ini merasa ngeri juga. Ia tahu bahwa nyawanya berada di telapak tangan nona itu karena sekali saja nona itu melepaskan sabuk, betapa pun tinggi kepandaiannya, dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan nyawanya lagi.

Untuk keluar dari tempat itu, belum tentu akan dapat dilakukannya dalam waktu berhari hari karena dia harus akan mencari-cari jalan lebih dulu, tetapi dengan menggantung pada sabuk sutera itu, dalam waktu beberapa menit saja dia sudah tiba di atas tebing dan dia meloncat turun. Burung garuda itu terbang perlahan-lahan, berputaran di atas kepalanya dan gadis itu menjenguk ke bawah. “Siluman Kecil, kau cepat bawa obat itu kepada kakakmu!”

Kian Bu menjura ke arah gadis itu dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Engkau sungguh amat baik, Nona. Engkau telah menolong aku dan berarti engkau telah menyelamatkan nyawa kakakku. Aku menghaturkan terima kasih atas bantuanmu.”

“Aku tidak membantumu! Kalau tidak ingat kepada kakakmu, apa kau kira masih hidup setelah apa yang kau lakukan di atas punggung garuda kemarin?”

Wajah Kian Bu terasa panas dan menjadi merah sekali. “Nona, semua itu terjadi tanpa kusengaja, apakah kau tidak dapat memaafkan aku?”

“Sudahlah, cepat pergi dan obati kakakmu.” “Tapi tinggalkan dulu namamu, Nona.” “Aku tidak ingin menjadi kenalanmu.”

“Akan tetapi kalau kakakku bertanya siapa adanya dewi kahyangan yang menolongnya bagaimana aku akan menjawab?”

Disebut dewi kahyangan, Hwee Li tersenyum. “Engkau memang perayu besar! Katakan saja bahwa lima enam tahun yang lalu aku pernah mengobati luka di paha kakakmu!” Setelah berkata demikian dia menepuk punggung garudanya yang terbang cepat ke atas.

Kian Bu menjadi bengong. Pernah kakaknya dahulu bercerita betapa ketika kakinya terluka parah, terkena ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, paha kakaknya yang terluka itu diobati dan disembuhkan oleh seorang gadis cilik yang bernama Kim Hwee Li, yaitu puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka! Jadi gadis cantik jelita itu adalah puteri ketua Pulau Neraka!

“Engkau Kim Hwee Li dari Pulau Neraka?” Dia berseru nyaring ke arah burung garuda yang sudah terbang tinggi. Tidak ada jawaban kecuali suara melengking nyaring yang makin menjauh, entah lengking gadis aneh itu ataukah lengking garuda…..

********************
Kian Bu melakukan perjalanan cepat sekali, akan tetapi ketika dia tiba di perbatasan Propinsi Ho-nan di mana tempo hari pasukan kerajaan berada, kini tempat itu telah menjadi sunyi dan tahulah dia bahwa pasukan itu telah meninggalkan tempat itu. Dan hal itu memang benar. Setelah Pangeran Yung Hwa selamat sampai di istana kaisar, kaisar lalu memerintahkan agar pasukan kembali ke kota raja.

Kaisar tidak ingin melihat timbulnya perang saudara yang baru, karena pasukan lebih diperlukan untuk menjaga perbatasan dengan negara tetangga dan melindungi tanah air dari serbuan orang-orang liar terutama dari utara dan barat, dari pada dipergunakan untuk perang saudara. Ada pun mengenai tanda- tanda dan sikap-sikap memberontak dari para gubernur, akan diserahkan kepada orang-orang pandai dari kerajaan untuk mengatasi dan membereskannya.

Setelah mendapatkan kenyataan bahwa pasukan telah meninggalkan tempat itu, Kian Bu teringat akan pesan Sai-cu Kai-ong, maka tanpa membuang waktu lagi dia langsung pergi dengan cepat menyusul ke puncak Bukit Nelayan, yaitu bukit di tepi sungai sebelah selatan kota Pao-teng di mana Sai-cu Kai-ong tinggal.

Beberapa hari kemudian, setelah tiba di puncak Bukit Nelayan, benar saja dia bertemu dengan Sai-cu Kai- ong dan kakaknya juga berada di situ, berbaring di dalam sebuah kamar dan keadaannya tidaklah separah ketika dia tinggalkan berkat perawatan yang baik dari seorang ahli pengobatan yang pandai, yaitu Sai-cu Kai-ong. Kakek itu girang dan kagum sekali menerima jamur panca warna dari Kian Bu.

“Benar…, benar inilah jamur yang mukjijat itu… aihhh, Suma-taihiap, sungguh engkau hebat sekali, dan kakakmu tentu akan sembuh dengan cepat berkat obat ini,” kata kakek itu sambil membawa masuk jamur itu untuk dibuatkan ramuan obat.

Kian Bu memandang girang dan menoleh ketika kakaknya berkata, “Bu-te, engkau telah bersusah-payah untukku. Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, adikku.”

Kian Bu duduk di atas bangku dekat pembaringan kakaknya, wajahnya berseri gembira dan dia berkata, “Lee-ko, kau tidak semestinya mengucapkan terima kasih kepadaku, karena yang berjasa mendapatkan jamur mukjijat itu bukanlah aku…“

“Aku tahu, memang Locianpwe Sai-cu Kai-ong juga telah melimpahkan budi kepadaku, akan tetapi engkau yang bersusah payah mendapatkannya, padahal menurut cerita Locianpwe itu, amat sukarlah mendapatkannya dan engkau telah berhasil dalam waktu singkat.”

“Ah, sama sekali bukan aku. Kalau tidak ada pertolongan orang itu, kiranya belum tentu satu bulan lagi aku sudah dapat kembali, bahkan belum tentu bisa mendapatkan jamur itu.”

“Ah, begitukah? Siapakah penolong yang budiman itu, adikku?” “Dia adalah seorang yang amat kau kenal baik, Koko.” “Siapa?”

“Pacarmu!”

Kian Lee terkejut dan mengerutkan alisnya memandang wajah adiknya yang berseri dan kemudian dia tersenyum. Meski adiknya ini telah mengalami banyak sekali perubahan, rambutnya putih semua persis seperti keadaan ayah mereka si Pendekar Super Sakti, wajah adiknya itu sudah nampak dewasa dan ‘matang’, namun ternyata adiknya masih belum kehilangan sifat kebengalannya!

“Kian Bu, jangan main-main kau!” katanya menegur karena dia mengira bahwa yang dimaksudkan oleh Kian Bu itu tentulah Ceng Ceng, atau Lu Ceng, atau kini telah menjadi isteri Kao Kok Cu putera sulung Jenderal Kao Liang yang dulu berjuluk Topeng Setan. Ketika mendengar adiknya menyebut ‘pacarmu’, terbayanglah wajah Ceng Ceng, akan tetapi Kian Lee cepat-cepat mengusir bayangan itu karena maklum bahwa tidak semestinyalah kalau dia membayangkan wajah isteri orang lain!

Melihat wajah kakaknya menjadi agak muram, Kian Bu segera teringat dan maklum, maka cepat-cepat dia menyambung, “Bukan dia maksudku, Lee-ko, akan tetapi dara cantik jelita yang menjadi pacarmu dalam cinta pertamamu. Hayo, masa kau lupa lagi siapa yang menerima cinta pertamamu?”

Kian Lee masih mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa adiknya ini bengal dan suka menggoda orang, terutama menggoda wanita-wanita muda. Dia sendiri jarang bergaul dengan wanita, dan selama hidupnya, baru satu kali dia jatuh cinta, jatuh cinta benar benar dan ternyata yang dicintanya itu, Ceng Ceng, keponakan tirinya sendiri! Ceng Ceng adalah puteri gelap dari mendiang Wan Keng In, sedangkan Wan Keng In itu adalah anak kandung dari ibunya sendiri, jadi satu ibu lain ayah dengan dia! Tentu saja tidak mungkin dia berjodoh dengan Ceng Ceng dan kenyataan itu sebenarnya banyak menolongnya, karena kalau tidak, tetap saja dia akan patah hati, malah lebih parah lagi karena ternyata Ceng Ceng mencinta seorang laki-laki lain, yaitu Kao Kok Cu!

“Aku tidak mengerti siapa yang kau maksudkan itu, Bu-te,” katanya menggeleng kepala.

Kian Bu tertawa. “Dia sendiri tidak mau memperkenalkan namanya. Akan tetapi dia adalah seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali Koko, galak dan lincah, menunggang seekor garuda, pakaiannya serba hitam dan ilmu kepandaiannya hebat.”

Kian Lee tetap tidak dapat menduga siapa adanya gadis itu. “Siapakah dia, Bu-te? Katakanlah, siapa dia dan mengapa kau tadi mengatakan bahwa dia adalah pacarku.”

“Dia tidak bilang begitu, Koko, maafkan aku. Akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia dahulu pernah menolongmu dan mengobati pahamu yang terluka parah lima enam tahun yang lalu…”

“Aihhh…! Dia…?” Tentu saja Kian Lee teringat baik akan peristiwa itu.

Lima tahun lebih yang lalu dia terluka oleh ledakan senjata rahasia Mauw Siauw Mo-li, dan dia tentu akan tertawan musuh dan tidak berdaya dalam keadaan luka itu kalau tidak ditolong oleh seorang gadis cilik yang manis dan mungil, murid keponakan Mauw Siauw Mo-li sendiri, gadis yang muncul bersama banyak kucing, Kim Hwee Li atau puteri tunggal dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka! Terbayanglah dia wajah anak yang cantik itu.

“Benar dia, tentu kau ingat sekarang bukan, Koko?” tanya Kian Bu sambil tersenyum dan menyelidiki wajah kakaknya. Dia tahu bahwa kakaknya telah patah hati karena kasih tak sampai dan dia akan senang kalau kakaknya ini mendapatkan seorang pacar baru, dan gadis pakaian hitam itu memang hebat!

“Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka?” Kian Lee menegaskan.

“Benar, dialah orangnya yang memungkinkan aku secepat ini memperoleh jamur itu untukmu, Koko.” Kian Bu lalu menceritakan semua pengalamannya ketika dia mencari jamur dan bertemu dengan Hwee Li yang memboncengkannya turun ke bawah tebing itu. Tentu saja dia tidak berani menceritakan tentang peristiwa memalukan dan lucu ketika dia terserang oleh nafsu birahi yang bangkit ketika dia dibonceng di belakang tubuh Hwee Li dan betapa Hwee Li menjadi marah-marah dan menyerangnya sehingga dia terjatuh ke bawah.

“Dia… dia cinta padamu, Koko.”

“Hushhhhh…!” Kian Lee membentak dengan muka berubah merah. “Jangan menyalah tafsirkan kebaikan orang, Bu-te. Apakah karena dia dahulu pernah mengobati pahaku, kemudian sekarang membantumu mencari jamur panca warna, kemudian kau anggap kebaikan hatinya itu sebagai tanda jatuh cinta? Kau sungguh terlalu merendahkan kebaikan orang, Bu-te.”

“Bukan begitu, Lee-ko. Aku tentu saja tidak akan sembarangan bicara kalau tidak ada bukti-bukti nyata. Buktinya menyatakan bahwa dia cinta kepadamu.”

“Hemmm, kau masih bengal seperti dulu, Kian Bu. Hayo, apa buktinya?” Kian Lee mendesak.

“Ketika dia mengobati pahamu dahulu tentu saja aku tidak dapat membuktikannya, apa lagi ketika itu dia tentu masih kecil, belum dewasa, maka tidak patut bicara tentang cinta. Akan tetapi sekarang, hemmm… dia telah menjadi seorang dara dewasa yang cantik jelita dan manis sekali, Koko…“

“Hal itu belum menjadi bukti bahwa dia cinta padaku, agaknya padamulah dia jatuh hati, Bu-te, karena engkau selalu pandai merayu wanita!”

“Tidak, Lee-ko, dengarlah dulu ceritaku. Kukatakan tadi bahwa dia menolongku dengan membonceng garudanya turun ke dasar tebing. Nah, ketika dalam penerbangan itu dia bertanya mengapa kau terluka, dan dia tadinya sudah menunjukkan pula bahwa hanya karena mendengar Suma Kian Lee terluka saja maka dia mau membantuku. Ketika aku berterus terang mengatakan bahwa kau terluka oleh pukulanku, sebelum aku sempat menceritakan bahwa hal itu kulakukan tanpa sengaja dia sudah menjadi begitu marah dan dia menyerangku sampai aku terjungkal dari atas punggung garudanya!”

“Ahhh…!” Kian Lee terkejut sekali

“Untung burung itu telah terbang rendah dan hampir sampai di dasar tebing sehingga aku selamat. Akan tetapi bukankah hal itu jelas membuktikan bahwa dia cinta padamu sehingga ketika dia mendengar engkau luka terpukul olehku dia lalu marah dan hendak membunuhku?”

“Hemmm, dia ganas…!” Kian Lee berkata lirih. Tentu saja dia tidak memikirkan gadis itu, melainkan memikirkan bahaya yang mengancam adiknya.

“Akan tetapi dia sudah kuceritakan bahwa perkelahian antara kita adalah karena tidak tahu, maka dia berbaik kembali dan mau mengantarku naik dengan garudanya setelah aku berhasil menemukan jamur itu.”

“Karena petunjuk wanita gila itu seperti yang kau ceritakan tadi? Ahh, sungguh hebat pengalamanmu, adikku. Siapa kira di tempat itu kau bertemu dengan pelayan Ibu Tek Hoat yang menceritakan peristiwa hebat yang menimpa diri Ang Siok Bi itu. Entah Tek Hoat sudah mendengar atau belum bahwa ibunya dibunuh oleh Mohinta dan teman temannya dari Bhutan.”

Percakapan mereka terhenti karena munculnya Sai-cu Kai-ong yang datang bersama Siauw Hong dan Gu Sin-kai. Siauw Hong membawa periuk obat yang terisi godokan obat yang berwarna hijau.

“Ahh, Suma-taihiap,” kata Sai-cu Kai-ong kepada Kian Bu. “Kakakmu tidak boleh diajak bicara terlalu banyak. Dia harus banyak istirahat karena luka yang dideritanya amat hebat. Jamur panca warna ini akan menyelamatkannya, akan tetapi dia harus banyak beristirahat.”

Kakek ini lalu mengambil periuk dari tangan Siauw Hong dan memberi minum ramuan jamu panca warna yang telah digodok dengan obat-obat lain itu kepada Kian Lee. Rasanya pahit dan baunya tidak sedap, agak amis dan wengur, akan tetapi ada hawa yang hangat menjalar dari perut setelah Kian Lee menghabiskan obat semangkok itu.

“Sekarang, beristirahatlah, Taihiap,” kata Sai-cu Kai-ong kepada Kian Lee. “Setiap hari Taihiap harus minum obat, ramuan ini tiga mangkok, pagi siang dan sore.” Maka mulailah Kian Lee minum obat campur jamur mukjijat itu, dilayani oleh Siauw Hong yang menggodokkan obatnya dan Kian Bu yang menjaganya siang malam.

Pada hari keempat, pagi-pagi sekali atas perkenan Sai-cu Kai-ong, Suma Kian Bu memondong tubuh Kian Lee yang belum boleh banyak bergerak itu keluar dari kamar, menuruni puncak dan menuju ke tepi sungai. Kian Bu menurunkan tubuh kakaknya di atas rumput hijau. Hawa amat nyaman di pagi hari itu, apa lagi setelah matahari pagi yang murni dan jernih itu mulai melimpahkan cahayanya yang keemasan.

“Sekarang tiba saatnya engkau menceritakan semua pengalamanmu, Bu-te. Mengapa selama lima tahun ini engkau tidak pernah pulang ke Pulau Es dan ke mana saja engkau pergi? Mengapa pula rambutmu menjadi putih semua seperti itu? Apakah memang karena engkau mewarisi warna rambut Ayah, ataukah ada terjadi hal lain?”

Mendengar pertanyaan kakaknya itu, tiba-tiba saja wajah Siluman Kecil itu menjadi muram kembali. Kalau tadinya semenjak dia mencari obat jamur dan bertemu dengan Hwee Li, hampir pulih kembali kegembiraannya dan hampir nampak kembali sifat-sifat Kian Bu yang lincah gembira, kini dia kembali muram seperti wajah Siluman Kecil selama ini!

Dia menarik napas panjang dan berkata lirih dan lambat, “Aku telah tenggelam di dalam kedukaan hebat, Koko. Semenjak aku melihat pencurahan kasih sayang dari Puteri Syanti Dewi kepada Ang Tek Hoat di dalam hutan, semenjak aku melihat kenyataan bahwa puteri yang kucinta dengan sepenuh jiwa raga itu ternyata mencinta orang lain, aku tak dapat menahan guncangan batin karena kecewa dan duka, dan aku tenggelam di dalam kesedihan seperti hampir gila dan tidak ingat apa-apa lagi…“

Kian Lee menarik napas panjang dan memegang tangan adiknya penuh kasih sayang dan belas kasihan. “Aku tahu, adikku. Aku telah mengenal pula perasaan itu. Sekarang lanjutkanlah ceritamu.”

“Aku seolah-olah menjadi bosan hidup. Alam di sekelilingku berubah seperti neraka dan aku tidak ingin kembali ke Pulau Es, tidak ingin bertemu siapa pun juga kecuali bertemu dengan malaikat maut yang boleh mencabut nyawaku. Aku pergi merantau ke mana pun kakiku membawaku, tanpa tujan, tanpa kemauan dan yang ada hanya perasaan merana dan sengsara.”

“Ahhh, kasihan sekali kau, Bu-te. Tidak kusangka seorang yang segagah dan selincah engkau, yang selalu gembira dan nakal, ternyata masih begitu lemah setelah tertimpa kekecewaan cinta…” Kian Lee memandang dengan sinar mata terharu sekali.

“Aku sendiri pun merasa heran, Koko. Tadinya kuanggap bahwa cinta terhadap wanita hanya merupakan permainan belaka. Akan tetapi cintaku terhadap Syanti Dewi sungguh lain sama sekali. Puteri itu telah menguasai seluruh jiwa ragaku, setiap bulu di tubuhku seperti telah mencintainya dan tidak mau berpisah lagi dari sisinya, maka begitu terjadi perpisahan dan kenyataan bahwa aku tidak dapat mendekatinya, aku jatuh dan hancur lebur. Akan tetapi biarlah kulanjutkan ceritaku agar tidak membosankan engkau yang mendengar aku merengek-rengek tentang cintaku yang gagal, Koko. Dengarlah…..”

Kian Bu lalu bercerita. Dengan hati patah dan hancur dia lalu berkelana, naik turun gunung, menyeberangi sungai dan telaga, masuk keluar hutan-hutan besar dan lebat, sama sekali tidak mempedulikan lagi dirinya sehingga pakaiannya compang-camping, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat, rambutnya terurai riap- riapan tanpa pernah dibereskan. Karena membiarkan dirinya tenggelam dalam duka sedemikian rupa, dan mungkin karena ditambah dengan keturunan, dalam waktu beberapa bulan saja sudah tumbuh rambut putih di kepalanya.

Pada suatu hari, tanpa disadarinya dia tiba di perbatasan Propinsi Ho-pei sebelah selatan dan mendaki sebuah bukit. Karena dia tidak mempedulikan apa-apa lagi, maka dia tidak peduli pula akan cegahan orang-orang ketika dia tiba di bawah bukit. Orang orang itu memperingatkannya agar tidak naik ke bukit itu, karena menurut mereka, bukit itu berada di bawah kekuasaan kakek dewa yang menghuni di gedung tua di puncak bukit itu dan kakek dewa itu amat galak, tidak memperkenankan sembarangan orang mendekati gedungnya.

Akan tetapi Kian Bu tidak mempedulikan itu semua, bahkan dia seperti sengaja hendak menempuh bahaya karena baginya pada waktu itu, kalau kematian datang, hal itu dianggapnya baik sekali! Dia seperti orang nekat dan dengan sembarangan saja dia lalu mendaki bukit yang sunyi itu pada waktu matahari mulai tenggelam.

Senja kala mendatangkan sinar layung yang kemerahan di permukaan bukit, membuat segala sesuatu seperti menyala kekuningan, terang sekali dan sesungguhnya amatlah indahnya. Namun bagi seorang yang sedang dilanda kedukaan hati dari pikirannya sendiri, tidak ada apa-apa yang indah, adanya hanya mengesalkan dan menjemukan hati belaka.

Jelaslah bahwa indah dan buruk hanyalah penilaian yang sesuai dengan keadaan hati seseorang belaka. Kenyataannya tidaklah baik atau buruk, melainkan ya sudah begitu, apa adanya, tidak baik tidak buruk, tidak indah tidak jelek. Hanya pikiran dan hati sendirilah yang memberi penilaian, sesuai dengan suka dan tidak suka, menyenangkan dan tidak menyenangkan, menguntungkan dan merugikan.

Ketika malam mulai datang, gelap menyelimuti cahaya terakhir dari matahari, Kian Bu menghentikan langkahnya dan duduklah dia di atas batu di pinggiran jurang, melamun, kadang-kadang merenung ke dalam kegelapan, kadang-kadang pula dia berdongak memandang langit yang terhias bintang-bintang muda yang berkedap-kedip lemah di langit yang masih muda warnanya. Pikirannya kosong, melayang- layang tanpa arah tujuan tertentu, suasana menjadi lengang dan kesepian menyelimutinya, menimbulkan ketrenyuhan hati yang makin merana.

Dia tidak tahu di mana dia berada. Sebenarnya pada saat itu dia telah berada di wilayah Pegunungan Tai- hang-san, di salah sebuah di antara puncak bukit-bukit di sekitar pegunungan itu. Tiba-tiba terdengar suara suling melengking, memecah kesunyian malam, menyelinap di antara suara belalang dan jengkerik serta binatang-binatang kecil yang biasa meramaikan suasana keheningan malam.

Kian Bu tertarik oleh suara suling itu. Sungguh nyaring sekali suara suling itu, peniupnya tentu seorang yang pandai. Seperti ada daya tarik luar biasa pada suara suling itu. Kian Bu lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah suara itu. Sementara itu, bintang bintang di langit mulai nampak lebih terang karena langit makin tua warnanya, dan bintang-bintang itu kelihatan seperti permata-permata indah tergantung pada beludru hitam yang bersih. Tidak begitu gelap keadaan di tempat itu sehingga Kian Bu dapat melihat seorang kakek yang duduk bersandarkan batang pohon dan meniup suling.

Suara suling itu terhenti seketika dan kakek itu meloncat, di tangan kanannya nampak sebatang tongkat dan sebatang suling yang putih berkilau, yang telah diselipkan di ikat pinggangnya. Kakek itu tinggi kurus dan usianya tentu sudah enam puluh lima tahun lebih. Sikapnya agung dan gagah ketika dia berdiri dengan kaki yang terpentang lebar, tongkatnya melintang dan kedua matanya memandang Kian Bu penuh perhatian dan kecurigaan.

“Siapa kau? Mau apa naik ke bukit ini yang berada di bawah kekuasaan kami? Hayo cepat kau pergi dari sini sekarang juga!” bentak kakek itu.

Kian Bu mengerutkan alisnya. “Apakah engkau ini yang dinamakan orang di bawah sana sebagai kakek dewa?” tanyanya.

Kakek itu mendengus dan menggerakkan tongkatnya yang panjang. “Kalau benar mau apa?”

“Hemmm, kalau benar begitu, namamu saja kakek dewa, akan tetapi sikapnya lebih menyerupai kakek iblis.”

“Bocah keparat! Berani engkau memaki Gin-siauw Lo-jin (Kakek Suling Perak)? Hayo pergi, aku masih sabar dan dapat mengampunimu. Aku tidak mau ribut dengan seorang bocah masih ingusan.”

Kian Bu yang memang sedang murung itu, menjadi marah. “Kakek sombong, kalau aku tidak dapat mengalahkan engkau lebih baik aku mati saja!”

Ucapan yang sebenarnya keluar dari hati yang kesal itu tentu saja membuat Gin-siauw Lo-jin menjadi marah bukan main. “Bocah tak tahu diri! Pergi!” bentaknya, dan tangan kirinya menampar. Dia mengira bahwa Kian Bu adalah seorang pemuda ugal-ugalan dari bawah gunung, maka dia bermaksud untuk menampar pundaknya agar pemuda itu takut dan lari. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat pemuda itu tidak mengelak atau menangkis.

“Plakkk!” Tubuh kakek itu terhuyung dan hampir roboh! Maklumlah kakek itu bahwa dia berhadapan dengan seorang pandai yang agaknya memang datang untuk mengacau, maka sambil berseru keras dia sudah menggerakkan tongkat panjangnya menyerang.

“Wuuuuuttttt…! Wirrrrr…!”

Kian Bu juga kaget. Bukan main lihainya tongkat itu, gerakannya teramat cepat dan mengandung angin pukulan yang dahsyat. Ternyata bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang benar-benar amat lihai, maka dia pun tidak mau mengalah begitu saja. Cepat dia mengelak dan balas menyerang. Terjadilah perkelahian yang seru dan kakek itu berkali-kali mengeluarkan seruan kaget ketika melihat betapa tongkatnya membalik dan telapak tangannya panas ketika bertemu dengan lengan pemuda itu.

“Keparat!” bentaknya.

Dengan sepenuh tenaganya karena penasaran, dia mengarahkan hantaman tongkatnya pada kepala Kian Bu. Sekali ini dia menyerang untuk membunuh! Kian Bu menanti sampai tongkat itu menyambar dekat, kemudian dia menggerakkan kedua lengannya memapaki dari kanan kiri dengan gerakan menggunting.

“Krekkk-krekkkkk!” Tongkat panjang itu patah-patah menjadi tiga potong dan bagian tengahnya terlempar jauh.

“Ehhhhhh…!” Kakek yang mengaku berjuluk Gin-siauw Lo-jin itu berseru keras saking kagetnya dan marahnya.

Dia adalah murid pertama dari Sin-siauw Sengjin (Kakek Dewa Seruling Sakti) yang menjadi ahli waris dari pendekar sakti Suling Emas, dan tongkatnya itu adalah sebuah benda pusaka yang selama puluhan tahun berada di dalam tangannya dan belum pernah terkalahkan. Akan tetapi kini patah menjadi tiga bertemu dengan lengan pemuda ini! Tentu saja dia menjadi penasaran, malu dan hal ini membuat ia marah bukan main.

Kemarahan sudah pasti timbul karena penonjolan kepentingan pribadi tersinggung, dan penonjolan kepentingan pribadi selalu mengejar kesenangan baik lahir mau pun batin. Salah satu di antara kesenangan batin adalah bayangan betapa pandainya diri sendiri. Membayangkan bahwa diri sendiri pandai, gagah perkasa, berkuasa dan sebagainya adalah menyenangkan dan kalau bayangan ini dirusak oleh kenyataan, maka akan menjadi marahlah batin.

Demikian pula halnya kakek Gin-siauw Lo-jin itu. Selama ini dia merasa dirinya sangat hebat, tongkatnya amat hebat, akan tetapi kenyataan bahwa tongkatnya patah-patah bertemu dengan lengan pemuda itu membuatnya marah bukan main.

“Bocah setan, engkau datang mengantar nyawa!” serunya dan nampak berkelebat sinar putih ketika dia mencabut suling perak dari ikat pinggangnya.

Ketika dia dan Suma Kian Lee, kakaknya, meninggalkan Pulau Es untuk pergi ke kota raja mencari enci- nya, yaitu Puteri Milana, oleh ayah ibu mereka di Pulau Es, mereka dilarang membawa senjata. Dan memang dua orang pemuda Pulau Es itu tidak lagi membutuhkan senjata. Seorang yang sudah memiliki ilmu kepandaian setingkat mereka memang sebenarnya tidak memerlukan lagi senjata.

Selain kedua lengan dan kedua kaki mereka merupakan senjata yang ampuh, bahkan setiap buah jari tangan mereka merupakan senjata ampuh, juga setiap benda yang mereka temukan dapat saja mereka pergunakan sebagai senjata. Kini, melihat kakek itu mencabut suling perak yang tadi ditiupnya, Kian Bu bersikap waspada. Dia adalah seorang yang sedang tenggelam ke dalam kekecewaan dan kedukaan, tentu saja melihat orang yang dianggapnya keterlaluan itu dia menjadi marah.

“Sing-sing-singgggg…!”

Sinar perak berkelebatan seperti kilat yang menyambar-nyambar dahsyat, disertai bunyi berdesingan yang nyaring.

“Bagus!” Kian Bu berseru kagum karena memang hebat gerakan suling itu.

Cepat dia mengelak ke sana-sini dan kemudian terkejutlah dia ketika dia melihat cara suling itu digerakkan. Dia mengenal gerakan itu. Cepat dia menghindarkan diri dan karena penasaran dia tidak balas menyerang melainkan mengelak ke sana-sini untuk mempelajari gerakan lawan lebih lanjut. Tidak salah lagi, itulah gerakan dari jurus-jurus Pat-sian Kiam-hoat!

Dan ilmu ini adalah sebuah di antara ilmu-ilmu keistimewaan kakaknya, Suma Kian Lee, yang mewarisinya dari ibunya, yaitu Lulu yang pernah menjadi ketua Pulau Neraka, bahkan yang mewarisi kitab-kitab ilmu silat peninggalan pendekar sakti Suling Emas! Dia sendiri mengenal dan dapat memainkan Ilmu Pat-sian Kiam-hoat karena selain dia menerima petunjuk dari ibu tirinya itu, juga ibunya sendiri, Puteri Nirahai adalah seorang wanita yang serba bisa dan telah mempelajari semua Ilmu, termasuk ilmu dari Suling Emas ini!

Setelah kakek itu menyerangnya sampai sepuluh jurus dan dia yakin bahwa ilmu yang dimainkan itu adalah Pat-sian Kiam-hoat, dia meloncat ke belakang sambil berseru, “Bukankah yang kau mainkan itu Pat-sian Kiam-hoat?”

Kakek itu tertegun dan memandang kepadanya dengan heran, kemudian tersenyum mengejek karena mengira bahwa pemuda yang lihai itu merasa takut. “Hemmm, kau sudah mengenal ilmu silatku yang hebat? Bagus, kalau begitu lekas kau berlutut minta ampun dan mengenalkan dirimu agar engkau tak akan menjadi setan penasaran tanpa nama, tewas di ujung suling mautku,” kata kakek itu yang merasa mendapatkan kembali harga dirinya.

“Hemmm, maling hina! Dari mana engkau mencuri Ilmu Pat-sian Kiam-hoat?” Kian Bu membentak marah.

Kakek itu terkejut dan tentu saja dia menjadi marah sekali. Dikiranya pemuda itu menjadi gentar mengenai ilmunya, tidak tahu malah menghinanya dan mengatakannya maling! Terngiang bunyi di dalam telinganya, merah pandang matanya karena darahnya sudah naik ke kepala saking marahnya.

“Bocah lancang bermulut busuk, mampuslah!” bentaknya dan dia sudah menggerakkan lagi suling peraknya, kini dengan gerakan yang lebih dahsyat lagi sampai suling itu mengeluarkan suara melengking nyaring seperti ditiup mulut!

Kian Bu cepat mengelak, akan tetapi kini dia mengelak lalu membalas serangan lawan dengan pukulan Swat-im Sin-ciang.

“Wusssss…!”

Kakek itu pun mengelak karena kaget sekali betapa hawa yang sedang menyambarnya membawa rasa dingin yang menyusup tulang, lalu sulingnya kembali menghujankan serangan.

Pertandingan itu cukup hebat karena memang suling kakek itu amat lihai. Akan tetapi bagaimana pun juga, dia bertemu dengan pemuda Pulau Es, putera Pendekar Super Sakti yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi sekali, maka lewat tiga puluh jurus lebih, hawa sakti dari Hwi-yang Sin-ciang yang panas itu menyambar dadanya dan Gin-siauw Lo-jin berteriak keras dan roboh terguling dalam keadaan pingsan dan dengan suling masih tergenggam tangan.

Kian Bu memandang tubuh yang rebah pingsan itu, diam-diam merasa heran bagai mana kakek ini dapat menguasai ilmu simpanan dari ibu tirinya yang mewarisi ilmu-ilmu dari Suling Emas, kemudian dia menghapus peluhnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak mempedulikan lagi kakek itu karena sudah mulai tenggelam lagi dalam kedukaannya.

Akan tetapi ketika dia berjalan di lereng bukit itu, di bawah sinar bintang-bintang di langit, peristiwa pertemuannya dengan kakek yang pandai ilmu peninggalan Suling Emas itu membuat dia ingat kepada Suma Kian Lee, kepada ibu tirinya, kepada ayah bundanya sendiri dan kepada Pulau Es dan bangkitlah rasa rindu di dalam hatinya. Teringat kepada mereka semua yang tercinta membuat hatinya makin merasa prihatin, merasa betapa sunyi hidupnya, betapa sengsara hatinya dan pemuda ini kemudian menjatuhkan diri duduk di atas rumput, terasa lemah seluruh tubuh dan dia duduk bersemedhi sampai pagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah disadarkan oleh kicau burung yang riang gembira menyambut datangnya pagi hari yang cerah dan indah. Akan tetapi tidak terasa keindahan itu di hati Kian Bu yang sedang gundah gulana. Dia teringat akan kakek yang dirobohkannya semalam dan hatinya segera merasa menyesal. Tidak ada persoalan hebat antara dia dan kakek itu, akan tetapi dia telah merobohkannya dan meninggalkannya rebah pingsan. Jangan-jangan kakek yang sudah tua itu akan tewas karenanya. Dia menyesal sekali. Bukan wataknya untuk membunuh orang begitu saja, padahal tidak ada persoalan penting di antara mereka. Teringat akan ini Kian Bu cepat bangkit dan pergi mendaki bukit itu lagi menuju ke tempat di mana dia berkelahi dengan kakek itu semalam.

Akan tetapi ketika dia tiba di tempat itu, di situ sunyi saja dan kakek itu sudah tidak ada lagi di tempat dia rebah semalam. Yang ada hanya burung-burung beterbangan sambil berkicau riuh-rendah. Padahal dia tahu betul bahwa di situ tempatnya, bahkan tongkat panjang yang patah-patah milik Gin-siauw Lo-jin pun masih berada di situ. Agaknya kakek itu sudah siuman lalu pergi dari situ. Kian Bu menarik napas lega. Baik kalau kakek itu tidak mati!

Tetapi belum puas hatinya jika belum dapat bertemu untuk menyatakan penyesalannya dan minta maaf. Lebih baik dia berkenalan dengan kakek itu dan bertanya secara baik baik tentang Ilmu Silat Pat-sian Kiam-hoat itu. Siapa tahu masih ada hubungan atau pertalian perguruan antara kakek itu dengan ibu tirinya! Kalau memang benar demikian, bukankah berarti bahwa dia telah merobohkan kerabat atau kawan sendiri? Dia merasa makin menyesal dan mulailah dia mencari-cari di sekitar tempat itu. Akan tetapi sunyi saja di sekeliling situ, sunyi yang amat indah karena pagi itu memang cerah sekali.

Tiba-tiba dia mendengar suara orang bersenandung, lapat-lapat terdengar olehnya. Cepat Suma Kian Bu melangkah menuju ke arah suara itu yang makin lama makin nyata. Kiranya itu adalah suara wanita yang amat merdu dan kiranya bukan nyanyian yang disenandungkan itu, melainkan doa yang dinyanyikan dengan suara yang amat merdu dan halus. Tak lama kemudian nampaklah orangnya yang berdoa itu dan kiranya dia adalah seorang nikouw (pendeta Buddha wanita) yang sedang memetik daun obat.

Nikouw itu sudah tua, tentu sudah hampir enam puluh tahun usianya. Tubuhnya masih ramping, wajahnya masih berkulit halus dan putih, masih nampak nyata bekas-bekas kecantikan seorang wanita, dan sekarang wajah itu nampak agung dan suci, di bawah kerudung yang berwarna kuning. Seorang nikouw tua yang berwajah lembut, yang memetik daun obat sambil berdoa, begitu bahagia nampaknya. Tiada bedanya antara dia dan burung yang sedang berkicau di atas dahan pohon, asyik dengan keriangan menyambut pagi yang indah!

Ah, nikouw itu agaknya tidak asing dengan tempat ini. Tentu dia tahu di mana dia dapat bertemu dengan Gin-siauw Lo-jin! Berpikir demikian, Kian Bu lalu membalikkan tubuh hendak menghampiri, akan tetapi pada saat itu, nikouw tadi pun agaknya sudah selesai memetik daun obat dan melangkah pergi. Dan terkejutlah pemuda Pulau Es itu. Sekali berkelebat, nikouw tua itu seperti terbang saja cepatnya meninggalkan tempat itu! Bukan main cepat dan ringannya gerakan kedua kaki nikouw itu yang seolah- olah dapat terbang di atas rumput, pergi sambil terus bersenandung!

Tentu saja Kian Bu menjadi kagum bukan main. Mengapa bermunculan begitu banyak orang pandai di tempat ini, pikirnya. Gin-siauw Lo-jin itu sudah hebat, bahkan pandai memainkan ilmu silat tinggi Pat-sian Kiam-hoat. Dan nikouw ini pun bukan main ilmu ginkang-nya, seolah-olah pandai terbang saja.

Dia menjadi penasaran dan mengerahkan ginkang-nya untuk lari mengejar. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia tidak mampu menandingi kecepatan gerakan nikouw itu!

Nikouw itu seperti terbang di atas rumput-rumput, mendaki bukit dan dia terus mengejar, mengerahkan seluruh kepandaiannya karena Kian Bu merasa penasaran sekali. Dia telah dilatih ginkang oleh ayah dan ibunya sendiri, padahal ayahnya adalah seorang ahli dalam Ilmu Soan-hong-lui-kun, yaitu gerakan kijang yang kecepatannya tiada keduanya di dunia ini! Biar pun dia sendiri tidak mungkin dapat mewarisi Ilmu Soan-hong-lui-kun yang hanya dapat dimainkan oleh seorang yang berkaki tunggal seperti ayahnya, namun dia telah memiliki ginkang yang hebat, tidak kalah oleh kecepatan ibunya, Puteri Nirahai yang terkenal itu. Namun, kini dia tidak mampu menyusul nikouw tua itu!

Kian Bu merasa malu dan heran sekali dan mengerahkan seluruh tenaganya, namun maklumlah dia bahwa dia benar-benar jauh kalah cepat. Akan tetapi nikouw itu berhenti di dekat puncak bukit dan mulai memetik daun-daun obat yang lain lagi, tetap sambil bersenandung seolah-olah larinya yang amat cepat tadi sama sekali tidak membuatnya lelah, padahal Kian Bu sendiri agak terengah karena mengerahkan seluruh tenaga. Teringatlah pemuda ini akan niatnya bertanya kepada nikouw itu tentang Gin-siaw Lo-jin. Kini lebih mantap lagi hatinya bahwa dia harus minta maaf kepada kakek itu karena ternyata bahwa bukit ini benar- benar dihuni oleh orang-orang pandai sekali.

“Maafkan saya, Suthai…“

Nikouw itu menoleh dan tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat dan keranjang terisi daun obat itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas tanah, menggelinding sampai ke dekat kaki Kian Bu! Sejenak nikouw itu hanya berdiri bengong memandang wajah Kian Bu, lalu dia berkata lirih, “Omitohud…!”

Seruan ini agaknya menyadarkannya dari kekagetan atau keharuan itu dan dia tersipu sipu memandang ke arah keranjang yang isinya tumpah semua itu.

“Maaf, Suthai, saya telah mengagetkan Suthai…,“ kata Kian Bu yang cepat mengambil keranjang itu dan mengumpulkan dauh-daun yang berserakan, lalu memasukkannya kembali ke dalam keranjang, serta menyerahkannya kepada nikouw itu penuh hormat.

Nikouw itu memandang dengan mata tetap membayangkan keheranan dan penuh rasa tertarik, memandang Kian Bu sejak tadi dari atas ke bawah, lalu menarik napas panjang dan bibirnya berkemak- kemik membaca doa yang tidak terdengar.

“Ah, tidak… sama sekali tidak. Sicu siapakah?” Suara itu halus sekali dan sinar mata itu penuh kelembutan sehingga Kian Bu seketika merasa suka dan hormat sekali kepada nikouw tua ini.

Akan tetapi dia yang sudah melakukan kelancangan merobohkan orang di tempat yang dihuni orang-orang pandai ini segera menjura tanpa berani memperkenalkan namanya, melainkan bertanya. “Kalau saya boleh mengganggu kesibukan Suthai, saya ingin bertanya apakah Suthai tahu di mana saya dapat bertemu dengan Gin-siauw Lo-jin?”

“Gin-siauw Lo-jin? Ahhh, di puncak itulah tempat tinggalnya,“ jawab nikouw itu sambil menuding ke arah puncak bukit, tetapi matanya tetap saja tidak pernah meninggalkan wajah Kian Bu yang rambutnya panjang terurai dan dibiarkan awut-awutan itu.

Kian Bu menjadi girang sekali dan kembali dia menjura, “Banyak terima kasih atas petunjuk Suthai, dan sekali lagi maaf atas kelancangan saya mengganggu kesibukan Suthai.”

Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu membalikkan tubuh dan berjalan mendaki puncak. “Nanti dulu… Sicu… siapakah Sicu?” terdengar nikouw itu bertanya.

Kian Bu menoleh dan merasa tidak enak. Dia telah berbuat salah di tempat itu, bagai mana harus memperkenalkan nama? Akan tetapi, nikouw itu demikian ramah dan halus budi, tidak mungkin pula tidak menjawab. “Suthai, saya she Suma…, maaf!”

Dia lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat naik ke atas puncak. Sama sekali dia tak tahu betapa jawaban itu membuat nikouw ini kembali menjadi pucat sekali wajahnya, matanya terbelalak dan tangan kirinya otomatis menyentuh dada kiri.

“Omitohud… omitohud… omitohud…“ berulang-ulang ia memuji dan tidak mempedulikan lagi keranjangnya yang jatuh untuk kedua kalinya. Kini dia telah melangkah perlahan lahan naik ke puncak, sepasang matanya memandang ke arah bayangan Kian Bu dan mulutnya masih terus menyerukan pujian untuk Sang Buddha.

Sementara itu, Kian Bu sudah mendaki puncak dengan cepat dan tibalah dia di depan sebuah rumah yang besar dan kuno. Rumah itu kelihatan sunyi saja seperti tidak ada penghuninya, akan tetapi ketika dia menghampiri pintu depan, terdengarlah suara dari dalam, suara yang berwibawa dan mengandung tenaga khikang amat kuat, “Inikah pemuda yang kau ceritakan itu?”

“Benar, Suhu.”

Kian Bu terkejut. Suara yang menyebut ‘suhu’ itu adalah suara Gin-siauw Lo-jin! Dan kini keluarlah dua orang dari dalam rumah kuno itu yang bukan lain adalah Gin-siauw Lo-jin bersama seorang kakek yang lebih tua lagi, yang usianya tentu sudah ada tujuh puluh lima tahun, namun masih bersikap agung dan gagah. Kian Bu merasa tidak enak sekali melihat dua orang kakek itu memandang padanya dengan muka membayangkan kemarahan, maka cepat-cepat dia menjura dengan sikap hormat.

“Locianpwe, saya Suma Kian Bu datang untuk minta maaf atas semua kejadian malam tadi,” katanya dan ucapan ini ditujukan kepada Gin-siauw Lo-jin.

Akan tetapi yang menjawabnya adalah kakek yang lebih tua itu, yang berkata dengan suara kereng, “Orang muda, semalam kau telah mengalahkan muridku yang pertama, berarti bahwa engkau sungguh sangat lihai. Dan sekarang engkau muncul pula di sini, sungguh engkau bernyali besar. Apakah engkau hendak menyatakan bahwa engkau berani pula bertanding ilmu melawan kami yang mewarisi ilmu dari pendekar maha sakti Suling Emas?”

Kian Bu mengerutkan alisnya. Dia telah merendahkan diri, telah mengalah dan datang untuk minta maaf, akan tetapi ucapan dari kakek tua ini sungguh di luar dugaannya. Tersembunyi kesombongan besar dalam ucapan itu! Dan juga dia merasa penasaran dan curiga. Bukankah pewaris ilmu-ilmu dari Suling Emas adalah orang tuanya di Pulau Es? Bukankah kitab-kitab ilmu dari pendekar Suling Emas terjatuh ke tangan ibu Lulu, ibu tirinya dan bahkan pusaka suling emas menurut ibunya pernah dipakai sebagai senjata oleh ibunya sendiri? Mengapa kakek ini sekarang mengaku sebagai pewaris pusaka Suling Emas? Namun, sebagai seorang pemuda yang terdidik baik, dia masih mampu menahan diri.

“Maaf, Locianpwe, saya datang bukan untuk mengajak bertanding ilmu dengan siapa pun juga,” jawabnya dengan suara agak kaku.

“Hemmm, kalau begitu kau takut?”

Sepasang mata Kian Bu bersinar dan mengandung kemarahan ketika dia memandang kepada kakek tua itu. Benar-benar besar kepala dan sombong si tua bangka ini, pikirnya gemas.

“Tidak ada persoalan takut atau berani, Locianpwe. Saya datang untuk menyatakan penyesalan saya atas peristiwa yang terjadi semalam dan saya mau minta maaf.”

“Hayo lekas berlutut dan minta ampun dengan pai-kwi (menyembah dengan berlutut) sebanyak delapan kali, baru kami pikir-pikir apakah dapat mengampunimu!” Kakek itu membentak lagi.

Berkobar kemarahan di dalam hati Kian Bu. Dia mengangkat dada dan berdiri dengan sikap menantang. “Saya Suma Kian Bu selama hidup tidak pernah bersikap pengecut! Saya selalu berani menanggung semua perbuatan saya. Jangan harap Locianpwe akan dapat melihat saya merendahkan diri seperti itu!”

“Ha, kau menantang?”

“Terserah penilaian Locianpwe kepada saya.”

“Orang muda, engkau memang bernyali besar. Hemmm, engkau tak tahu dengan siapa engkau berhadapan. Aku adalah Sin-siauw Sengjin, dan dia ini adalah muridku yang pertama. Aku adalah pewaris dari pendekar maha sakti Suling Emas dan biasanya, sekali aku turun tangan tentu lawanku akan mati. Tetapi, aku masih menaruh kasihan kepadamu…“

“Cukup, Locianpwe. Aku tidak takut akan segala ancaman, tidak takut mati. Akan tetapi tentang mewarisi pusaka pendekar Suling Emas, hal itu kiranya masih harus diselidiki lebih dulu! Kalau memang benar pusaka itu ada pada tangan Locianpwe, maaf kalau saya berani mengatakan bahwa Locianpwe tentu telah mencurinya!”

“Keparat!” Gin-siauw Lo-jin marah sekali dan sudah menerjang maju dengan pukulan tangan kanan. “Desssss…!”

Tubuh Gin-siauw Lo-jin terpental dan tentu dia sudah terbanting ke atas tanah kalau saja tangan kiri Sin- siauw Sengjin tidak diulur dan dengan cekatan sekali kakek ini menangkap leher baju muridnya dan mencegah muridnya terbanting. Gerakan kakek itu cepat sekali sehingga mengagumkan Kian Bu, sebaliknya Sin-siauw Sengjin juga terbelalak melihat betapa tangkisan orang muda itu membuat muridnya terpental!

“Orang muda, engkau benar-benar berani sekali. Terpaksa aku tidak memandang lagi usia, dan bersiaplah untuk menandingi pewaris ilmu-ilmu Suling Emas!”

Orang ini terlalu menonjol-nonjolkan diri sebagai pewaris Suling Emas, pikir Kian Bu dengan hati mendongkol. Jelas bahwa dia telah mengaku-aku saja, atau kalau melihat betapa muridnya dapat mainkan Pat-sian Kiam-hoat, agaknya kakek ini telah mencuri kitab-kitab itu dari Pulau Es!

“Baiklah, ingin aku melihat sampai di mana kehebatan ilmu-ilmu yang palsu itu.”

Sin-siauw Sengjin sudah marah sekali dan karena dia maklum betapa lihainya pemuda itu, maka dia sudah mencabut suling emas yang terselip di pinggangnya dan menerjang maju.

“Swinggggg… singgggg…!”

Kian Bu terkejut. Sinar emas berkilauan itu memang hebat bukan main dan matanya terbelalak memandang ke arah suling emas di tangan kakek itu yang tadi hampir saja mengenai kepalanya kalau saja dia tidak cepat-cepat mengelak. Dari mana kakek ini mendapatkan senjata pusaka ampuh itu? Apakah benar itu suling emas, senjata dari pendekar sakti Suling Emas ratusan tahun yang lampau, seperti yang diceritakan oleh ibunya?

Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berheran-heran lebih lama lagi karena sinar emas itu bergulung-gulung dan sudah menerjangnya dari segala jurusan dengan amat dahsyat! Kian Bu cepat mengelak dan membalas dengan melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang tidak kalah dahsyatnya. Namun ternyata kakek itu gesit sekali, juga ketika dengan lengan kiri menangkis, dari lengannya menyambar hawa sinkang yang amat kuat, bahkan tidak kalah kuatnya dari tenaga sinkang yang dikuasai oleh Kian Bu sendiri sehingga keduanya terhuyung ke belakang! Kakek itu makin terkejut, akan tetapi juga Kian Bu merasa kaget dan berhati-hati.

Makin lama, makin terheran-heranlah Kian Bu melihat betapa kakek itu dengan suling emasnya memainkan ilmu-ilmu yang dikenalnya sebagai Pat-sian Kiam-hoat, Lo-hai Kun-hoat, dan akhirnya suling itu mengeluarkan bunyi melengking dan mendengung dengung seperti ditiup orang ketika kakek itu membuat gerakan corat-coret aneh sekali.

Kian Bu mengenal gerakan ini sebagai ilmu mukjijat Hong-in Bun-hoat, ilmu yang amat ampuh dari pendekar Suling Emas, yang amat sukar dipelajari, bahkan ibu tirinya, Lulu sendiri pun belum dapat menguasainya secara sempurna! Ilmu ini didasari kepandaian sastra, kepandaian menulis huruf indah dan dari gerakan corat-coret huruf inilah maka diciptakan ilmu silat yang amat mukjijat ini.

“Kau… kau pencuri…!” teriaknya kaget.

Terpaksa dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena kakek itu ternyata amat lihai. Setiap huruf yang digerakkan oleh sulingnya mengandung tenaga dahsyat dan mengeluarkan bunyi lengkingan aneh sekali. Beberapa kali Kian Bu sampai terhuyung karena terdorong oleh hawa yang amat tajam dan aneh. Dia sudah berusaha untuk membalas dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang secara berselang-seling, namun kakek yang lihai itu dapat pula menghindarkan diri.

Bukan main hebatnya pertandingan itu. Mati-matian dan seru, sama kuat dan seratus jurus lewat dengan cepatnya. Kian Bu menjadi penasaran dan juga terheran-heran. Tidak banyak dia menemui lawan berat selama perantauannya, dan ternyata kakek ini hebat sekali, sungguh pun dia masih tidak percaya bahwa ilmu-ilmu Suling Emas yang dimainkannya itu adalah ilmu-ilmu yang asli, karena pada dasarnya terdapat beberapa perbedaan dengan ilmu-ilmu yang dikenalnya sebagai ilmu-ilmu peninggalan dari Suling Emas.

Menurut ibunya, kemukjijatan Ilmu Hong-in Bun-hoat terletak pada bunyi suling yang ketika dimainkan seperti ditiup orang dan mengeluarkan lagu yang amat indah dan hal ini amat mempengaruhi lawan. Akan tetapi, walau pun suling emas di tangan kakek ini juga mengeluarkan suara melengking-lengking dan seperti berlagu, namun sama sekali tidak dapat disebut indah karena bagi telinganya terdengar sumbang! Betapa pun juga, harus diakuinya bahwa sukar baginya untuk dapat mengimbangi kecepatan kakek itu dan dia mulai terdesak hebat.

Maklum bahwa kalau dilanjutkan, tentu dia yang akan celaka akibat kalah cepat oleh gerakan suling, maka Kian Bu kemudian mengambil keputusan untuk menggunakan pukulannya yang paling ampuh dan paling hebat. Kalau dia tidak dapat merobohkan lawan, tentu dia yang akan roboh. Gulungan sinar emas itu terlalu cepat baginya!

Maka tiba-tiba pemuda ini lalu mengeluarkan pekik dahsyat yang melengking nyaring, kemudian kedua tangannya mendorong ke depan dengan inti tenaga sinkang yang bertentangan, yaitu yang kanan melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang panas sedangkan sedetik kemudian yang kiri mendorong dengan pukulan Swat-im Sin-ciang. Bukan main hebatnya dua pukulan ini yang sedemikian hebatnya sehingga pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang panas itu mampu untuk memukul hangus lawan, sedangkan pukulan Swat-im Sin-ciang yang amat dingin dapat membikin beku darah dalam tubuh lawan.

“Ihhhhh…!” Kakek itu berseru keras.

Dia pun mendorongkan kedua lengannya untuk menahan serangan hawa pukulan mukjijat itu, dan sulingnya dia sambitkan ke depan pada saat dia mendorongkan kedua tangannya. Suling Emas itu meluncur melalui bawah lengan kiri Kian Bu seperti kilat menyambar.

“Desssss… tukkkkk…!”

Tubuh kakek itu terlempar ke belakang dan dia menggigil, sedangkan Kian Bu sendiri terpelanting dan roboh terguling karena suling itu dengan kuatnya telah menotok ketiak kirinya sehingga dia roboh dan merasa betapa separuh tubuhnya yang kiri menjadi lumpuh sama sekali!

“Ughhh… ughhh…!” Sin-siauw Sengjin terbatuk dan dia muntahkan darah segar, akan tetapi dia segera memejamkan mata dan mengatur pernapasan sehingga sebentar saja pulih kembali kekuatannya. Dia membuka mata dan menghampiri Kian Bu yang masih rebah miring dengan sinar mata penuh keheranan dan penasaran. Suling Emasnya yang menggeletak di atas tanah, lalu dipungutnya kembali dan diamat- amatinya.

“Saya… saya… mengaku kalah, akan tetapi… tunggu lima tahun lagi… saya pasti akan mencari Locianpwe dan membuat perhitungan… ahhhhh…,“ Kian Bu mengeluh karena totokan itu hebat bukan main dan agaknya bukan hanya menghentikan jalan darahnya, melainkan merusak banyak jalan darah di tubuhnya yang sebelah kiri.

Mendengar ucapan Kian Bu itu, Sin-siauw Sengjin mendengus, lalu dia berkata, “Orang muda ini terlalu berbahaya…,” seperti berkata kepada muridnya atau kepada dirinya sendiri, lalu nampak sinar emas berkelebat dan sulingnya sudah menyambar ke arah tubuh Kian Bu yang sudah tidak berdaya itu.

Kian Bu berusaha menangkis dengan tangan kanannya yang masih dapat digerakkan, namun suling yang mengarah ke kepala itu tertangkis meleset dan masih mengenai tengkuknya.

“Desss…!” Kian Bu mengeluh dan roboh pingsan!

“Omitohud…!” Sesosok bayangan berkelebat dan demikian cepat gerakan bayangan ini sehingga tahu-tahu nikouw itu telah berada di situ, berlutut dan memeluk tubuh Kian Bu yang sudah tidak bergerak lagi, dari mulut, hidung, dan telinganya mengalir darah!

Kakek itu dan muridnya terkejut, akan tetapi segera mengenal siapa adanya orang yang demikian cepat gerakannya itu. Sin-siauw Sengjin kemudian berkata, “Kiranya Kim Sim Nikouw dari Kwan-im-bio. Hemmm, mengapa kau mencampuri urusan kami?”

“Siancai… siancai… siancai…!” Kim Sim Nikouw berkata halus. “Seorang yang gagah perkasa seperti Locianpwe, mengapa bisa berlaku rendah, menyerang orang yang sudah tidak berdaya lagi? Mengapa di hari tua tidak mencari jalan terang, melainkan menambah kegelapan yang kelak hanya akan menggelapkan perjalanan sendiri? Omitohud… semoga semua manusia sadar akan dosa-dosanya… Omitohud…!”

Wajah kakek itu menjadi pucat, lalu merah dan tanpa berkata apa-apa dia memasuki rumah gedungnya, diikuti oleh muridnya. Terdengar daun pintu dibanting keras dan nikouw itu lalu memondong tubuh Kian Bu dan dibawa pergi. Agak berat juga baginya memondong tubuh pemuda itu, maka lalu dipanggulnya. Dengan gerakan kaki yang cepatnya luar biasa, nikouw itu lalu berlari seperti terbang menuju ke lereng sebelah barat dari Gunung Tai-hang-san, tidak begitu jauh dari puncak bukit itu.

Perlahan-lahan Kian Bu membuka matanya akan tetapi lalu ditutupnya kembali karena pandang matanya berkunang dan dia melihat cahaya merah kuning biru menari-nari menyilaukan matanya. Sentuhan jari tangan halus di dahinya dirasakan hangat dan menenangkan, lalu dibukanya kembali kedua matanya. Tubuhnya lemah sekali dan dia segera teringat akan keadaan dirinya. Dia teringat bahwa dia telah roboh oleh Sin-siauw Sengjin. Tubuhnya mati sebelah!

Kini pandang matanya berusaha menembus kesuraman itu dan nampaklah segores wajah yang lembut, sepasang mata yang memandangnya penuh kasih sayang. Mata ibunya? Siapa lagi orangnya yang memiliki mata sebening dan seindah itu, semesra itu memandangnya kalau bukan mata ibunya? Siapa lagi yang dapat mengangkatnya dari jurang maut kalau bukan tangan ibunya? Jari tangan siapa yang menyentuh demikian halus dan lembutnya di dahinya tadi, yang mengusir semua kepeningan kalau bukan jari tangan ibunya?

“Ibuuuuu…,” Dia memanggil dengan suara bisikan panjang.

Mulut itu tersenyum dan sepasang mata yang bening itu menjadi basah! Ibunya menangis? Belum pernah dia melihat mata ibunya menjadi basah. Ibunya bukan orang cengeng, melainkan seorang wanita perkasa yang belum pernah dilihatnya menangis!

Kian Bu membuka lebar matanya dan kini dia dapat melihat lebih terang. Kiranya bukan ibunya yang duduk di tepi pembaringannya, melainkan seorang nikouw berkerudung kain kuning. Seorang nikouw yang pernah dijumpainya di lereng bukit, nikouw pemetik daun obat yang memiliki ginkang amat luar biasa itu, yang seolah-olah pandai terbang!

“Suthai…,” Kian Bu memanggil lirih.

“Omitohud… terima kasih kepada kemurahan Sang Buddha…! Engkau sudah siuman, Suma-sicu? Aihhh, betapa khawatir hati pinni (aku) melihat engkau menggeletak begitu lama seperti… seperti… sudah tak bernyawa lagi…,” Nikouw itu menghapus dua titik air mata dari bawah matanya dengan ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar.

Pada saat Kian Bu hendak bangkit duduk, dia mengeluh karena tubuhnya yang separuh tidak dapat digerakkan. Nikouw itu lalu cepat mencegah dengan menggerakkan tangan dan memegang pundaknya, merapatkan duduknya.

“Jangan bergerak dulu… lukamu amat parah dan hebat…”

“Ouhhhhh…!” Kian Bu mengeluh lagi. Kini pandang matanya sudah terang dan pulih kembali dan dia teringat akan semuanya. “Sudah berapa lama saya berada di sini, Suthai?”

“Sudah tiga hari tiga malam engkau rebah tak bergerak, seperti mati. Syukur pagi hari ini kau siuman, itu pertanda baik sekali.”

“Jadi… Suthai yang menolong saya…?”

Nikouw itu menaruh telunjuk ke depan mulut. “Sssttt… janganlah banyak bicara dulu, anakku. Kau harus banyak beristirahat dan memulihkan kembali kesehatanmu. Jangan khawatir, selama berpuluh tahun ini tidak percuma pinni mempelajari ilmu pengobatan. Pukulan keji Sin-siauw Sengjin tidak akan membunuhmu. Pinni yang membawamu ke sini, anakku, dan sekarang beristirahatlah.”

Nikouw itu cepat mengambil sebuah mangkok dari meja dan membantu Kian Bu untuk bangkit duduk dengan merangkul pundak pemuda itu dan memberinya minum tajin dari mangkok itu sampai habis.

“Nah, kau tidurlah sekarang, aku akan mengumpulkan dan memasak obat untukmu,” kata nikouw itu setelah merebahkan kembali Kian Bu dan menyelimutinya. Kian Bu memaksa senyum dan memejamkan matanya, sebentar kemudian dia pun sudah tidur pulas.

Beberapa hari kemudian, Kian Bu sudah sadar benar, namun tubuhnya masih setengah lumpuh. Meski dia sudah dapat bangkit duduk namun dia belum dapat turun dan belum dapat menggerakkan kaki dan tangan kirinya. Ketika pagi hari itu dia melihat nikouw itu datang dan seperti biasa melayaninya untuk makan bubur, buang air dan sebagainya, Kian Bu tak dapat menahan rasa keharuan dan terima kasihnya. Ingin dia menjatuhkan diri berlutut di depan nikouw itu, namun kaki kirinya tidak mengijinkannya. Melihat setiap hari nikouw itu merawatnya, membuangkan air kencing dan kotorannya, membersihkan tubuhnya, menyuapkan makanan, memberi obat, sungguh tak ubahnya seperti seorang ibu sendiri! Dan nikouw itu selalu menyebutnya ‘anakku’!

“Nah, sekarang bahaya telah lewat!” pada pagi hari itu nikouw tua itu berkata dengan wajah berseri. “Engkau sudah tidak terancam maut lagi dan kini tinggal memulihkan tenaga.”

“Akan tetapi kaki tangan kiri saya belum dapat bergerak…”

“Jangan khawatir. Memang pukulan-pukulan itu hebat sekali, dapat menghancurkan seluruh rangkaian urat-uratmu. Untung Swat-im Sin-kang di tubuhmu melindungimu, anakku. Pinni yakin engkau akan sembuh kembali sama sekali.”

“Betapa, besar budi Suthai kepada saya…” Kian Bu berkata dan matanya terasa panas karena dia merasa terharu sekali.

Nikouw tua itu kini duduk di tepi pembaringan dan memegang lengannya. “Sekarang engkau sudah tidak terancam bahaya. Bolehlah kita bicara. Suma Kian Bu, katakanlah sejujurnya, siapa nama ayahmu?”

“Ayah? Ayah bernama Suma Han…”

“Han Han… ahhh, sudah kuduga… wajahmu, sikapmu… dan Swat-im Sin-ciang itu…! Dugaanku tidak salah… ahhh, Han Han…” Dan nikouw itu menghapus air matanya, mulutnya tersenyum ketika dia memandang pemuda itu melalui air matanya. “Engkau puteranya! Hemmm, sudah pinni duga dan engkau juga anakku, Suma Kian Bu, engkau anakku…”

“Apa maksudnya ini, Suthai?” Kian Bu bertanya penuh keheranan. Dia adalah anak Suma Han dan Puteri Nirahai, mengapa nikouw ini mengaku dia sebagai anaknya?

Nikouw itu kembali menghapus air matanya dan melihat betapa mulutnya tersenyum di antara tangisnya, mengertilah Kian Bu bahwa tangis wanita itu bukan karena berduka, melainkan karena terharu dan gembira!

“Jangan salah mengerti anakku. Tentu saja engkau anak dari Suma Han dan… ehhh, siapa ibumu?” “Ibu adalah Puteri Nirahai.”
“Hemmm, pantas… pantas…! Kuulangi lagi, janganlah kau salah mengerti. Tentu saja engkau anak ayah bundamu itu, dan aku… aku hanyalah bekas sahabat baik ayahmu, bahkan dahulu… dahulu sekali… puluhan tahun yang lalu, saat namaku masih Kim Cu, di antara ayahmu dan aku masih ada pertalian saudara seperguruan. Karena itu aku mengenal pukulan Swat-im Sin-ciang yang kau gunakan tadi. Dan dahulu… dahulu… sekali… aku dan ayahmu senasib sependeritaan, dan aku… aku mencintanya. Namun nasib memisahkan kami, dan kini nasib pula yang mempertemukan aku dengan engkau, puteranya! Karena engkau adalah puteranya, maka engkau seakan-akan juga anakku sendiri, Kian Bu.”

Kian Bu mendengarkan penuh keharuan. Nikouw ini pada waktu mudanya tentu cantik jelita. Dan mencinta ayahnya! Akan tetapi mereka dipisahkan oleh nasib!

“Bagaimana keadaan ayahmu, Kian Bu?” tanya nikouw itu sambil mengusap air mata untuk ke sekian kalinya.

“Baik, Suthai. Baik sekali. Ayah dan ibu dan semua keluarga berada di Pulau Es, dan saya… telah beberapa lama meninggalkan Pulau Es.”

“Jadi ayahmu hidup bahagia?” Kian Bu mengangguk.

“Terima kasih kepada Sang Buddha yang maha kasih!” Nikouw itu berseru. “Betapa bahagianya mendengarkan dia dalam keadaan sehat dan bahagia!”

Kian Bu memandang wanita itu dan ada sesuatu yang membuatnya terharu sekali, dan yang memaksanya bertanya, “Di wakktu muda dahulu, Suthai… mencinta ayahku?”

Nikouw itu memandangnya, mengangguk dan menarik napas panjang. “Sampai detik ini tak pernah aku berhenti mencintanya.”

“Dan ayah… apakah ayah juga membalas cinta kasih Suthai?”

Nikouw itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Dia suka dan kasihan kepadaku, akan tetapi cinta? Mungkin sekali, ya, aku yakin bahwa dia tidak mencintaku seperti aku mencintanya…”

“Dan Suthai tidak menderita sengsara? Tidak berduka, bahkan bergembira mendengar berita tentang ayah?” Kian Bu makin terheran.

“Puluhan tahun aku telah menderita, akan tetapi sudah lama pinni sadar bahwa semua penderitaan itu bukanlah akibat cinta, melainkan akibat dari iba diri. Seorang yang mencinta, barulah benar-benar dikatakan bahwa cintanya itu murni, apa bila dia merasa bergembira kalau melihat orang yang dicintanya itu bahagia, baik orang itu menjadi jodohnya atau pun tidak. Pinni gembira mendengar dia bahagia, Han Han seorang yang amat baik…,” dan dia berhenti sebentar. “Entah berapa puluh tahun setiap hari pinni bersembahyang mohon belas kasihan dari Kwan Im Pouwsat agar kehidupan Han Han diberkahi dan dia dapat hidup berbahagia. Ternyata doa pinni telah terkabul, dia hidup berbahagia dan mempunyai putera yang seperti engkau. Tentu saja pinni merasa gembira sekali…”

“Ahhh, betapa mulia hatimu, Suthai. Cintamu terhadap ayah demikian suci murni… dan sekarang Suthai telah menyelamatkan nyawa saya… ahh, bagaimana saya akan dapat membalas semua budi Suthai ini, budi Suthai yang telah dilimpahkan dalam cinta kasih yang demikian suci murni terhadap ayah dan dalam pertolongan kepada saya?”

“Budi? Membalas budi? Omitohud… manusia selalu mengikat dan melibatkan diri dalam budi dan dendam, itulah biang segala pertentangan! Tetapi, karena hal itu telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan manusia dan telah dianggap sebagai tingkat kemanusiaan, maka supaya hatimu jangan merasa penasaran dan jangan merasa berhutang budi, baiklah kau balas dengan cara… mau kuanggap sebagai anakku. Ketahuilah Kian Bu, ketika engkau baru siuman tempo hari dan menyebut ibu kepadaku, aku seperti lupa diri, lupa bahwa aku adalah seorang nikouw, dan aku merasa seakan-akan engkau adalah anakku sendiri.”

Kian Bu menggigit bibirnya. Bukan main wanita tua ini! Demikian halus perasaannya, demikian mulia hatinya dan siapakah yang tidak akan merasa bangga kalau mempunyai seorang ibu seperti wanita tua ini? Tanpa ragu-ragu dia lalu menggerakkan tangan kanannya menyentuh dada sambil berkata, “Ibu…”

Kim Sim Nikouw merangkulnya dan menangis!

Sampai lama nikouw itu menangis sambil memeluk Kian Bu, lalu dia dapat menekan perasaannya, duduk dan dengan muka basah air mata namun bibirnya tersenyum dan sinar matanya bercahaya, dia mengelus dahi pemuda itu. “Terima kasih, anakku, terima kasih. Percayalah, aku akan menyembuhkanmu, engkau akan dapat bergerak lagi seperti sedia kala.”

“Terima kasih, Ibu. Akan tetapi sungguh aneh, aku belum mengetahui nama Ibu.” Kian Bu tertawa, Kim Sim Nikouw juga tertawa dan suasana menjadi gembira.

“Dulu aku bernama Kim Cu, anakku, akan tetapi sekarang aku adalah Kim Sim Nikouw, ketua dari Kwan- im-bio ini dengan beberapa orang nikouw pembantu yang menjadi murid-muridku pula dalam hal keagamaan dan melayani orang-orang yang datang untuk bersembahyang ke kuil ini.”

“Aku ingin sekali cepat sembuh, Ibu.”

“Jangan khawatir, akan tetapi kita harus bersabar, anakku. Kiranya tidak percuma aku mempelajari pengobatan selama puluhan tahun ini.”

“Aku harus cepat sembuh agar dapat mencari Sin-siauw Sengjin,” kata Kian Bu sambil mengepal tinju kanannya.

Kim Sim Nikouw mengerutkan alisnya dan memandang wajah anak angkatnya itu. “Kau mendendam karena kekalahan itu dan hendak membalasnya?”

Kian Bu juga memandang dan ketika bertemu pandang mata yang sinarnya lembut dan penuh teguran itu, dia cepat-cepat menggeleng kepalanya, “Tidak, Ibu. Bukan karena kekalahan itu, melainkan karena aku harus merampas kembali kitab-kitab peninggalan pendekar sakti Suling Emas yang telah dicurinya.”

Kim Sim Nikouw membelalakkan matanya. “Apa maksudmu?”

“Jelas bahwa Sin-siauw Sengjin itu seorang penipu atau seorang pencuri. Dia dapat memainkan ilmu-ilmu dari Suling Emas, padahal sepanjang pengetahuanku, ilmu-ilmu itu terjatuh ke tangan ibu tiriku yang berada di Pulau Es. Tentu dia telah mencurinya, atau mungkin juga dia memalsukan ilmu-ilmu itu. Maka, setelah sembuh aku harus menghadapinya lagi dan membongkar rahasia ini.”

Nikouw itu mengerutkan alisnya. “Ahh, dia amat lihai. Bahkan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang yang kau pergunakan pun tidak mampu mengalahkannya.”

“Betapa pun, setelah sembuh, akan kucoba lagi menandinginya, Ibu.”

“Kau dapat belajar, anakku! Dan jangan kira bahwa ibumu ini selama ditinggalkan oleh ayahmu puluhan tahun ini hanya menganggur saja! Tidak, aku telah mempelajari teori ilmu-ilmu baru, anakku.”

“Aku telah melihat bahwa ginkang ibu amat luar biasa.”

“Itu satu di antaranya. Aku telah mempelajari ilmu meringankan tubuh itu dan telah menciptakan Ilmu Jouw- sang-hui-teng (Ilmu Terbang di Atas Rumput), akan tetapi itu belum dapat diandalkan untuk menandingi kakek itu. Dahulu aku bersama ayahmu pernah mempelajari Ilmu Swat-im Sin-ciang dari Ma-bin Lo-mo, dan aku tahu bahwa ayahmu telah pula mempelajari Ilmu Hwi-yang Sin-ciang yang menjadi lawannya. Biar pun aku bukan ahli Hwi-yang Sin-ciang, namun aku tahu akan sifat-sifatnya dan aku telah mencoba untuk menggabungkan kedua sinkang yang berlawanan itu. Aku sendiri tidak berhasil melatihnya, tetapi menurut perhitunganku, maka baik Hwi-yang Sin-ciang mau pun Swat-im Sin-ciang tidak akan mampu menandinginya.”

“Ah, kalau begitu Ibu harus mengajarkannya kepadaku!” Kian Bu berseru dengan girang sekali, akan tetapi alisnya lalu berkerut karena ketika dalam kegirangannya itu dia mencoba bergerak, ternyata kaki tangan kirinya masih lumpuh. “Ah, mana mungkin aku dapat belajar dalam keadaan begini?”

“Kau harus bersabar, anakku. Keadaanmu memang parah dan kurasa dalam waktu setahun barulah boleh diharapkan engkau akan sembuh. Dan mempelajari Jouw-sang Hui-teng bukanlah hal yang mudah, memerlukan waktu lama, latihan dan ketekunan. Apa lagi melatih penggabungan kedua sinkang yang berlawanan itu. Aku sendiri sudah mencoba sampai belasan tahun, namun belum juga berhasil.”

“Ahhh, kalau begitu akan sukar sekali! Dan aku ingin secepatnya menemui Sin-siauw Sengjin!” “Hemmm, lupakah kau bahwa engkau berjanji akan menemuinya lagi setelah lewat lima tahun?” “Apa? Apakah maksudmu, Ibu?” Kian Bu berseru kaget.

Nikouw itu tersenyum. “Agaknya pukulan kakek itu hebat sekali hingga engkau sampai tidak ingat lagi apa yang kau ucapkan. Engkau telah berjanji kepadanya bahwa engkau mengaku kalah dan dalam waktu lima tahun lagi engkau akan membuat perhitungan.”

“Ahh, kenapa begitu lama?”

“Malah sebaiknya begitu, anakku. Engkau bisa menunggu sampai sembuh sama sekali, lalu engkau masih banyak waktu untuk berlatih dan meningkatkan kepandaianmu agar kelak kalau engkau menghadapinya, engkau tidak akan kalah lagi. Pula, janji seorang pendekar pasti tidak akan diingkari sendiri, bukan?”

Suma Kian Bu menarik napas panjang dan terpaksa dia membenarkan kata-kata ibu angkatnya itu dan semenjak hari itu, dia dirawat dan diobati oleh Kim Sim Nikouw yang amat tekun itu…..

“Demikiahlah, Lee-ko, riwayatku semenjak kita saling berpisah dan itu pula sebabnya mengapa aku tidak pernah pulang ke Pulau Es.” Kian Bu mengakhiri ceritanya. “Selama kurang lebih tiga tahun itu aku memperdalam ilmu kepandaian di bawah pimpinan ibu angkatku itu, Kim Sim Nikouw, dan selain aku dapat sembuh sama sekali, aku juga dapat menguasai Jouw-sang-hui-teng. Dari ilmu ginkang yang sudah diajarkan oleh ibu angkatku ini, aku lalu menciptakan Ilmu Sin-ho-coan-in (Bangau Sakti Menerjang Mega), yaitu ginkang istimewa itu kugabungkan dengan dasar-dasar gerakan dari ilmu ayah Soan-hong-lui-kun.”

Semenjak tadi Kian Lee mendengarkan penuh perhatian, dengan hati terharu dan kagum. “Dan pukulanmu yang membuat tubuh seperti disiram air panas itu…?” tanyanya kagum.

“Itulah hasil dari melatih diri menggabungkan dua tenaga Hwi-yang Sin-ciang dengan Swat-im Sin-ciang, yang teorinya diberikan oleh ibu angkatku. Memang amat sukar dan berbahaya sekali melatih penggabungan itu sehingga engkau dapat melihat sendiri rambutku.”

“Hemmm, rambutmu lalu menjadi putih semua?” Kian Lee memandang kepala adiknya itu. “Itu disebabkan melatih sinkang mukjijat itu?”

“Sebagian dari sebab itu, sebagian pula mungkin karena akibat pukulan Sin-siauw Sengjin, dan sebagian pula karena kedukaan yang menyiksaku selama itu. Setelah selesai berlatih selama tiga tahun dan berhasil, aku masih harus menanti dua tahun lagi untuk memenuhi janjiku terhadap Sin-siaw Sengjin. Maka dalam waktu dua tahun itu aku berusaha untuk menentang kejahatan di sekitar daerah Ho-nan sehingga banyak orang kang-ouw mulai mengenalku dan memberi julukan Siluman Kecil kepadaku.”

Kian Lee mengangguk-angguk. “Sudah lama aku mendengar dan mengenal namamu itu, Bu-te. Semenjak aku mendengar nama itu memang aku sudah ingin sekali bertemu dengan orangnya, sungguh pun aku sama sekali tidak menyangka bahwa engkaulah orangnya. Pertama-tama, aku ingin bertemu karena ketika aku terancam bahaya, orang orang yang tunduk kepadamulah yang menolongku, dipimpin oleh Nona Phang Cui Lan. Dan kedua kalinya aku ingin sekali bertemu dengan Siluman Kecil untuk menegurnya.”

Kian Bu memandang kepada kakaknya dengan heran. “Menegurnya?”

“Benar, dan sekarang aku akan langsung menegurmu, Bu-te. Aku mengenalmu sebagai seorang yang suka menggoda orang, terutama sekali kepada wanita. Akan tetapi apa yang kau lakukan terhadap Nona Cui Lan sungguh keterlaluan!”

“Ehh, ada apa dengan dia?” Kian Bu bertanya dengan mata terbelalak.

“Dia seorang gadis yang begitu baik, lemah lembut, halus budi pekertinya, hatinya penuh dengan cinta kasih yang murni terhadap dirimu, namun engkau melupakan dia begitu saja dan membiarkan dia merana. Bagaimana engkau dapat bersikap demikian kejam terhadap seorang gadis yang sebaik dia, Bu-te?”

Kian Lee lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Cui Lan di istana Gubernur Ho-nan, kemudian tentang keberanian gadis itu ketika menolong Gubernur Ho-pei dan ketika mengerahkan teman-teman untuk menyelamatkannya, tentang pengakuan gadis itu kepadanya, akan cinta kasihnya terhadap Siluman Kecil yang dinyatakan dalam nyanyiannya yang penuh kerinduan.

Mendengar semua penuturan Kian Lee yang disertai teguran keras itu, Kian Bu lalu menundukkan mukanya dan berulang kali dia menarik napas panjang. Setelah Kian Lee berhenti bercerita dan menegurnya, dia berkata, “Justeru karena aku tahu bahwa dia mencintaku maka aku sengaja menjauhkan diriku, Koko. Aku sudah tahu dari semula ketika aku menolongnya bahwa gadis itu jatuh cinta kepadaku, maka aku sengaja menjauhkan diri bahkan bersikap tidak manis kepadanya dengan maksud agar dia membenciku karena hanya itulah yang kukira dapat mengobati cintanya yang hanya sepihak. Koko yang baik, salahkah aku kalau Cui Lan jatuh cinta kepadaku? Salahkah aku kalau aku tidak dapat membalas cintanya? Salahkah aku kalau sampai saat ini pun aku masih mencinta Syanti Dewi dan tidak mungkin jatuh cinta kepada orang lain? Koko, apakah hanya untuk tidak merusak hati Cui Lan aku harus pura-pura membalas cintanya dan bersikap palsu?”

Kian Lee menjadi terharu dan memegang tangan adiknya yang wajahnya menjadi agak pucat. Dia menghela napas.

“Tentu saja tidak, adikku. Asal kau tidak mempermainkannya, dan mendengar ceritamu, agaknya memang engkau tidak pernah menggodanya dan bukan salahmu kalau dia mencintamu tanpa dapat kau balas karena engkau mencinta orang lain. Aihh, mengapa kita berdua menjadi korban cinta dan mengalami banyak kesengsaraan karena cinta? Sungguh kasihan sekali Nona Phang Cui Lan, dan kasihan pula engkau, adikku…”

“Lee-ko, tidak perlu engkau mengasihani dia atau aku. Dan setelah aku bertemu dengan ibu angkatku, Kim Sim Nikouw, baru terbuka mataku bahwa memang selama ini kita berdua amat lemah, bahkan sampai saat ini pun aku masih melihat kelemahanku sendiri dalam persoalan cinta. Kita sebenarnya bukanlah mencinta orang lain, tetapi mencinta diri sendiri, Koko. Karena itulah maka kita menderita ketika orang yang kita cinta tidak membalas cinta kita, dan kita berduka karena kita kehilangan orang yang kita cinta. Cinta kasih seperti yang terdapat dalam hati ibu angkatku, itulah baru cinta kasih yang suci murni namanya, dan sungguh ayah kita berbahagia sekali dicinta oleh seorang seperti ibu angkatku itu.”

“Memang luar biasa sekali Kim Sim Nikouw seperti yang kau ceritakan itu, adikku. Dan agaknya seperti dia pulalah Nona Phang Cui Lan, dan mudah-mudahan dapat pula mengatasi tekanan batinnya karena cinta tidak terbalas seperti nikouw itu. Dan aku girang mendengar bahwa engkau tidak menggodanya, Bu-te.”

“Ahh, aku bukan lagi adikmu yang suka menggoda orang seperti lima tahun yang lalu, Lee-ko. Aku sudah cukup banyak menderita karena wanita, dan agaknya akan sukar bagiku untuk jatuh cinta lagi kepada wanita lain.”

Biar pun mulutnya berkata demikian, namun tanpa disadarinya sendiri, tahu-tahu wajah Hwee Li yang sangat cantik itu terbayang di depan matanya! Dia cepat melawan ini dengan kata-kata, “Dan aku akan mencontoh ibu angkatku, aku akan berbahagia sekali kalau mendengar bahwa Syanti Dewi dapat hidup berbahagia di samping orang yang dicintanya, yaitu Ang Tek Hoat. Kasihan dia, mungkin dia belum tahu bahwa ibunya telah tewas oleh orang-orang Bhutan.” Dia lalu menceritakan lagi tentang wanita gila, bekas pelayan dari Ang Siok Bi, ibu Ang Tek Hoat itu.

Mendengar penuturan ini, Kian Lee menarik napas panjang. “Sungguh aku khawatir sekali bahwa kenyataannya tidak seperti yang kau harapkan itu, adikku.”

“Apa maksudmu, Lee-ko?”

“Tentang kebahagiaan Syanti Dewi di samping Tek Hoat itu. Belum lama ini telah aku bertemu dengan Ang Tek Hoat, dan agaknya dia telah tersesat lagi. Dia membantu orang-orang jahat, bahkan dia tidak segan- segan untuk mengeroyok aku di tempat kediaman penjahat-penjahat.”

Kian Lee lalu menceritakan semua pengalamannya, mengenai perjalanannya mencari adiknya itu, lalu pertemuannya dengan Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya yang menyerangnya dan menuduhnya mencuri harta pusaka Jenderal Kao dan juga menculik keluarganya. Kemudian tentang pengalamannya ketika dia berada di istana Gubernur Ho-nan, dan selanjutnya ketika dia mengawal Phang Cui Lan dan Gubernur Ho-pei sampai pertemuannya dengan Tek Hoat dan dia dikeroyok dan dirobohkan.

Mendengar cerita kakaknya itu, bermacam perasaan mengaduk di hati Kian Bu. Dia terharu sekali mendengar akan sepak terjang Phang Cui Lan yang patut dipuji, dan dia marah dan khawatir mendengar betapa Ang Tek Hoat membantu Hek-eng-pangcu, dan betapa Tek Hoat telah menjatuhkan fitnah kepada dirinya yang dikatakan merampas harta benda keluarga Kao Liang. Akan tetapi kekhawatirannya lebih besar dari pada kemarahannya terhadap Tek Hoat, yaitu khawatir tentang diri Syanti Dewi.

“Apakah yang telah terjadi dengan Syanti Dewi?” katanya dengan alis berkerut. “Andai kata Syanti Dewi berada di sisi Ang Tek Hoat, tidak mungkin orang itu melakukan penyelewengan! Kalau Tek Hoat sudah kumat lagi gilanya, hal itu tentu berarti bahwa Syanti Dewi tidak lagi berada di dekatnya. Tentu telah terjadi sesuatu!” Dia mengepal tinju dan kelihatan gelisah. “Dan aku sendiri yang akan menghajar Tek Hoat kalau dia menghancurkan kehidupan Syanti Dewi!”

“Tenanglah, Bu-te. Dalam keadaan seperti kita sekarang ini yang belum tahu semua persoalannya, tidak baik untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan dan dugaan-dugaan, apa lagi mengandung kemarahan di dalam hati terhadap seseorang. Bahkan aku sendiri yang sudah dia jatuhkan dalam pengeroyokan, aku masih ingin tahu mengapa dia melakukan hal itu, karena aku yakin bahwa tentu ada sesuatu yang mendorongnya berbuat demikian.”

“Hemmm, aku sudah tahu bahwa dia jahat, Koko. Tetapi…” Kian Bu tidak melanjutkan kata-katanya karena dia maklum bahwa Tek Hoat adalah keponakan kakaknya ini, keponakan langsung dari ibunya, karena Tek Hoat adalah cucu kandung dari ibu Kian Lee. Karena teringat akan hal ini maka dia diam saja.

Mereka kemudian saling menceritakan pengalaman masing-masing selanjutnya. Kian Bu bercerita tentang pembalasannya yang berhasil terhadap Sin-siauw Sengjin, dan tentang pusaka-pusaka Suling Emas yang agaknya sebagian telah sempat dicuri oleh Ang-siocia dan menurut tantangan gadis itu, dia akan menanti di pantai Po-hai di teluk sebelah utara.

“Hemmm, banyak persoalan yang harus kita hadapi, adikku. Urusan Jenderal Kao Liang masih belum beres, muncul pula urusan warisan Suling Emas yang juga harus kita jernihkan.”

“Akan tetapi engkau belum sehat benar, Lee-ko. Biarlah kita menanti sampai engkau sudah sehat benar, dan nanti kita bersama menyelidiki persoalan-persoalan itu sampai beres. Nah, itu dia tabibmu sudah menyusul!”

Benar saja, muncullah Sai-cu Kai-ong. “Wah, jangan lama-lama membiarkan diri ditiup angin sejuk, Kian Lee taihiap!” Kakek itu segera menegur. “Mari kita pulang dan sudah waktunya Taihiap minum obat!” Kemudian dia berkata kepada Kian Bu, “Dan aku membutuhkan beberapa macam ramuan obat yang telah habis dan obat-obat itu hanya bisa dibeli di kota besar. Maka, kuharap engkau suka menemani Siauw Hong untuk mencari dan membelikan ramuan obat untuk kakakmu itu, Kian Bu taihiap.”

“Tentu saja saya akan suka sekali pergi, Locianpwe. Akan tetapi, Locianpwe, kami dua kakak beradik yang sudah menerima banyak budi Locianpwe, menganggap Locianpwe sebagai paman sendiri, maka harap buang saja sebutan taihiap kepada kami,” kata Kian Bu.

“Benar apa yang dikatakan adikku, Locianpwe,” sambung Kian Lee.

“Ha, kalau begitu kalian harus membuang sebutan locianpwe dan sebut saja paman kepadaku.” Mereka bertiga tertawa dan Kian Lee lalu dipondong lagi oleh adiknya, kembali ke tempat tinggal kakek itu yang seperti istana kuno dikelilingi tembok tebal seperti benteng.

Ketika tiba di pintu gerbang dan melihat kedua orang kakak beradik itu memandang kagum, Sai-cu Kai-ong berkata, “Biarlah kelak kalau Kian Lee telah sembuh, kalian akan kubawa berkeliling dan melihat-lihat rumah peninggalan nenek moyangku ini.”

Mereka memasuki pintu gerbang yang terjaga oleh beberapa orang anak buah Sai-cu Kai-ong yang berpakaian pengemis dan setelah perlahan merebahkan kakaknya di atas pembaringan dalam kamar, Kian Bu lalu berangkat bersama Siauw Hong mencarikan obat-obat yang dibutuhkan oleh kakek itu…..
********************

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Puteri Syanti Dewi yang bernasib malang itu. Kita melihat dia yang terakhir berada di dalam gedung dari Hwa-i-kongcu Tang Hun, majikan Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Pegunungan Lu-liang-san dekat belokan Sungai Huang-ho. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tang Hun sastrawan yang juga ahli silat dan sihir murid Durganini ini tergila-gila kepada Syanti Dewi dan memaksa puteri itu untuk menikah dengan dia.

Akan tetapi di tengah-tengah keramaian pesta pernikahan itu, secara aneh sekali Syanti Dewi telah hilang tanpa diketahui jejaknya! Bahkan Siang In, dara jelita yang gagah perkasa dan pandai ilmu sihir yang berusaha menolong dan membebaskan Syanti Dewi, juga tidak tahu ke mana perginya puteri itu. Bukan dia saja, malah Ang Tek Hoat, yang dengan bantuan anak buah Hek-eng-pang berusaha membebaskan Syanti Dewi, juga hanya dapat membebaskan Syanti Dewi palsu, sedangkan dia pun tidak tahu ke mana lenyapnya Syanti Dewi yang asli!

Ke manakan perginya Syanti Dewi? Dan bagaimana caranya dia dapat lenyap dari penjagaan yang amat ketat itu, bahkan lenyap dari pengejaran seorang dara perkasa seperti Siang In, dan dari pencarian seorang sakti seperti Ang Tek Hoat yang masih dibantu oleh banyak anak buah Hek-eng-pang? Mari kita ikuti pengalaman Syanti Dewi semenjak dia berada di dalam kamar sebagai calon pengantin itu…..

Seperti kita ketahui, Syanti Dewi merasa gembira dan lega ketika bertemu dengan Siang In yang mengunjunginya di dalam kamarnya. Kalau dalam beberapa hari itu dia selalu termenung berduka, tidak mau mandi, tidak mau makan, tidak mau berganti pakaian, setelah Siang In mengunjunginya dan tahu bahwa gadis yang luar biasa itu akan menolong dan membebaskannya, kegembiraan membuat dia seketika merasa lapar sekali dan dia segera memesan makan minum kepada pelayan-pelayannya sehingga para pelayan itu menjadi heran dan juga girang sekali.

Dari dapur yang khusus didatangkan hidangan-hidangan, diantar oleh seorang koki tua agak gemuk yang berwajah riang dan dibantu oleh para pelayan yang menghidangkan masakan-masakan istimewa di atas meja dalam kamar sang puteri atau calon pengantin wanita itu. Syanti Dewi yang memang sudah lapar itu cepat makan dan minum, akan tetapi terkejutlah dia ketika tiba-tiba dia mendengar suara berbisik di telinganya, “Perut kosong jangan terlalu cepat diisi, dan jangan terlalu banyak.”

Dia menoleh ke kanan kiri. Di situ hanya ada lima enam orang pelayan wanita, dan koki itu ternyata masih berdiri di sudut tanpa dipedulikan oleh para pelayan. Pada saat dia bertemu pandang dengan kakek yang berpakaian koki itu, secara mendadak kakek itu mengedipkan sebelah matanya. Syanti Dewi terkejut dan dia seperti sudah mengenal wajah koki itu.

Tahulah dia bahwa suara bisikan yang didengarnya tadi, tentu adalah suara koki itu yang entah bagaimana dapat menjadi bisikan di dekat telinganya tanpa didengar oleh para pelayan agaknya. Tetapi sebagai seorang yang sudah banyak bergaul dengan orang-orang yang memiliki kesaktian hebat, seperti pendekar sakti Gak Bun Beng, bekas tunangannya Ang Tek Hoat, puteri sakti Milana, dan banyak lagi orang dari golongan hitam yang berilmu tinggi, Syanti Dewi tidak lagi merasa heran dan tahulah dia bahwa koki itu adalah seorang yang berilmu tinggi!

“Harap kau suruh mereka itu keluar, kecuali pelayan yang berbaju biru itu,” kembali terdengar bisikan tadi.

Syanti Dewi tentu saja tidak mempercayai suara itu begitu saja, biar pun dia seperti pernah mengenal wajah koki itu, akan tetapi anehnya, ada pengaruh mukjijat yang membuat dia tidak dapat menolak lagi!

Seperti di luar kehendaknya sendiri, dia lalu berkata, “Kalian semua keluarlah, kecuali engkau yang baju biru. Aku tidak suka makan ditunggui banyak orang.”

Para pelayan itu tersenyum dan mereka pun lalu pergi meninggalkan kamar itu, tanpa mempedulikan koki tua yang masih berdiri seperti arca di sudut kamar.

“Kau tutupkan daun pintunya, kunci dari dalam.” Kembali Syanti Dewi berkata kepada pelayan baju biru seperti bukan atas kehendaknya sendiri. Pelayan baju biru yang cantik itu mengangguk, lalu menutupkan daun pintu dan menguncinya, kemudian dia kembali duduk di dekat sang puteri untuk melayaninya.

Kini kakek yang berpakaian koki itu melangkah maju mendekati meja, dipandang penuh perhatian dan dengan hati mulai curiga oleh Syanti Dewi. Agaknya baru sekarang pelayan baju biru itu melihat kakek ini. Dia terkejut dan heran. “Ihhh, kau masih di sini? Tidak boleh, hayo cepat keluar…”

Akan tetapi tiba-tiba tangan kakek itu bergerak ketika melihat kenyataan pelayan itu lari ke pintu, dan tahu- tahu dia telah menjambak rambut pelayan itu, diseretnya mendekati meja di mana Syanti Dewi masih bengong, lalu terdengar kakek itu berkata lirih namun dengan nada penuh ancaman, “Jangan berteriak, jangan banyak ribut, kalau tidak akan kuhancurkan kepalamu! Kau diam dan menurut saja kalau ingin selamat!”

Tiba-tiba sebuah totokan di tengkuk pelayan tua membuatnya lemas dan tidak dapat bergerak lagi, hanya matanya saja yang terbelalak memandang dengan penuh rasa takut. Dicobanya untuk mengeluarkan suara, akan tetapi sekali tekan pada leher wanita itu oleh jari tangan kakek aneh tadi, si pelayan tidak dapat mengeluarkan suaranya sama sekali seperti orang gagu!

“Hemmm, apa artinya ini? Siapa engkau?” Syanti Dewi bangkit berdiri dan memandang tajam.

“He-he-he, kau lupa lagi kepadaku, Puteri?” Kakek itu melepaskan penutup kepalanya seperti yang biasa dipakai oleh koki untuk mencegah rambut kepalanya rontok dan masuk ke dalam masakan. Kini kelihatan kepalanya yang botak dan sedikit rambutnya yang putih. Biar pun sudah lima tahun tidak berjumpa lagi dengan kakek ini dan biar pun kakek ini sekarang agak gendut perutnya, tapi melihat wajah yang tersenyum-senyum itu teringatlah Syanti Dewi.

“Ah, bukankah Locianpwe ini guru Siang In? Locianpwe See-thian Hoatsu…?” tanyanya dengan heran. “Ha-ha-ha, ternyata ingatanmu kuat sekali, Puteri! Benar, Siang In adalah muridku.”

Hati Syanti Dewi girang sekali. Beberapa tahun yang lalu ketika dia dikejar-kejar oleh Raja Tambolon dan anak buahnya, dia pernah ditolong dan diselamatkan oleh kakek yang pandai ilmu sihir ini dan dari percakapannya dengan Siang In dia tahu bahwa kakek ini adalah guru Siang In. Maka tentu saja dia menjadi girang dan kini menaruh kepercayaan kepada kakek ini. (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali)

“Locianpwe, baru saja Siang In juga datang dan berjanji hendak membawaku keluar dari sini…”

“Itulah sebabnya mengapa aku datang sendiri, Puteri Syanti Dewi. Keadaan di sini amat berbahaya dan terlalu banyak orang pandai menghendaki dirimu. Rencana Siang In tentu akan gagal kalau aku tidak cepat turun tangan. Sekarang kau diamlah saja dan menurut segala petunjukku.”

Syanti Dewi tidak terkejut mendengar itu sebab dia maklum bahwa dia berada di tempat berbahaya, maka dia lalu mengangguk.

“Cepat kau tanggalkan pakaian luarmu,” bisik kakek itu, dan ketika Syanti Dewi melihat kakek itu mulai menanggalkan pakaian luar pelayan yang ditotoknya itu, mengertilah dia maksudnya dan tanpa ragu-ragu lagi dia membalikkan tubuhnya dan menanggalkan pakaian luarnya. Dia tidak perlu merasa malu dalam keadaan seperti itu, apa lagi yang melihat dia dalam pakaian dalam yang tipis itu hanya seorang kakek sakti yang sudah amat dipercaya.

“Aih, sukarnya…!” Kakek itu mengomel ketika dia mencoba untuk mengenakan pakaian luar Syanti Dewi pada pelayan itu sehingga Syanti Dewi yang cepat sudah mengenakan pakaian luar pelayan itu segera membantunya. Kakek itu memang cerdik. Yang tadi dipilihnya adalah seorang pelayan yang selain cantik juga memiliki bentuk tubuh yang hampir sama dengan bentuk tubuh Syanti Dewi sehingga ketika pakaian mereka saling ditukar, dapat pas sekali.

Setelah selesai, kakek itu lalu berbisik, “Cepat kau atur rambutnya seperti sanggul rambutmu dan tambah bedak di mukanya biar wajahnya seputih wajahmu.”

Syanti Dewi cepat melakukan semua perintah itu, kemudian See-thian Hoat-su sendiri menggunakan alat penghias yang terdapat di dalam kamar itu untuk mengubah bentuk bibir, alis serta mata Syanti Dewi dengan menggunakan pemerah bibir dan penghitam. Sebentar saja, ketika dia selesai dan Syanti Dewi melihat bayangannya sendiri dalam cermin, puteri ini hampir tertawa geli melihat betapa dia sudah berubah menjadi seorang wanita yang bermata sipit, alisnya tebal dan mulutnya lebar, mukanya ada beberapa totol hitam yang melenyapkan semua kemanisannya.

“Mari cepat…,” kata kakek itu dan dia segera menarik pelayan yang sudah mengenakan pakaian Syanti Dewi, mendudukkannya di atas kursi, lalu dia memandangnya dengan sinar mata penuh pengaruh yang amat kuat sambil berkata, “Kau tidak akan dapat bicara semalam ini dan akan menurut saja apa yang dilakukan orang-orang kepada dirimu!” Setelah menanamkan kata-kata ini melalui sihir ke dalam benak pelayan itu, See-thian Hoat-su lalu menggandeng tangan Syanti Dewi dan di bawa menyelinap ke luar melalui jendela, tidak lupa untuk lebih dulu meniup padam lilin yang bernyala di atas meja.

Akan tetapi baru saja mereka meloncat ke luar dan menutupkan daun jendela, Syanti Dewi menahan seruan kaget dan memegang lengan kakek itu. Dua orang pengawal berjalan dengan langkah tegap ke arah mereka! Tetapi, kakek itu sudah menggerakkan kedua tangannya ke arah dua orang pengawal itu. Mereka memandang, terkejut dan berdiri seperti patung dengan mata terbelalak, sama sekali tidak dapat bergerak sampai kakek itu menggandeng tangan Syanti Dewi dan menariknya pergi dari situ.

Setelah kakek dan puteri itu lenyap, barulah keduanya sadar, saling pandang dan merasa terheran-heran. “Ehh, kenapa kita berdiri bengong di sini?” tanya yang seorang.

“Heran, aku merasa seperti baru saja terjadi sesuatu, akan tetapi ternyata tidak ada apa-apa. Seperti mimpi saja,” kata yang kedua.

“Hemm, agaknya kita tadi sudah terlalu banyak minum arak.” Dan mereka melanjutkan perondaan mereka.

Sementara itu, See-thian Hoat-su mengajak Syanti Dewi bersembunyi di tempat gelap, di ruangan dekat dapur yang penuh dengan pot-pot bunga dan pohon-pohon katai. Hwa-i-kongcu Tang Hun memang mempunyai kegemaran mengumpulkan bunga-bunga dan pohon-pohon katai yang aneh dan indah dalam pot-pot kuno dan dikumpulkan di ruangan itu. Bukan ruangan tertutup, akan tetapi cukup gelap dan Syanti Dewi merasa heran sekali mengapa penolongnya itu mengajaknya bersembunyi, dan di tempat terbuka seperti itu.

“Kenapa kita tidak lari…?” bisiknya.

“Sssttttt… kita tunggu sampai terjadi keributan,” jawab See-thian Hoat-su.

Syanti Dewi hendak bertanya mengapa mereka bersembunyi di tempat terbuka seperti itu, akan tetapi dia mengurungkan niatnya bicara karena pada saat itu muncul tiga orang yang berjalan ke arah tempat itu. Mereka berjalan sambil bercakap-cakap, dan ternyata mereka adalah dua orang tamu yang agaknya melihat-lihat, diantar oleh salah seorang pengawal.

“Ini adalah kumpulan-kumpulan bunga-bunga aneh dan pohon-pohon katai yang disayang sekali oleh Kongcu,” si pengawal menerangkan.

Mereka melihat-lihat bunga itu, bahkan seorang dari mereka mendekati Syanti Dewi dan mencium-cium, mendengus-dengus.

“Hemmm, wangi…!” katanya. “Sayang agak gelap tempat ini sehingga kita tidak dapat mengagumi bunga- bunga ini dengan jelas.”

“Besok saja kita melihat-lihat lagi ke sini,” kata tamu kedua dan mereka berjalan pergi.

Syanti Dewi sudah gemetar saking tegang dan gelisahnya. Rambutnya tadi dicium-cium oleh orang itu dan dia disangka bunga! Dia terheran-heran, akan tetapi ketika dia menoleh kepada kakek itu yang terkekeh geli, mengertilah dia bahwa peristiwa aneh itu adalah akibat permainan sihir kakek ini. Tentu tiga orang yang tadi datang telah melihat mereka berdua seperti bunga dalam pot, maka rambutnya dicium oleh seorang di antara mereka. Teringatlah dia akan permainan sihir dari Siang In yang membuat dara itu kelihatan seperti sebuah kursi bagi orang lain!

“Kenapa kita harus menunggu sampai terjadi keributan, Locianpwe?” Dia berbisik.

Kakek itu menarik napas panjang. “Siang In terlalu sembrono. Dia tidak melihat bahwa di sini hadir orang dari Nepal yang memiliki kekuatan sihir lebih hebat dari pada dia. Kalau kita lari sekarang dan ketahuan, banyak bahayanya akan gagal karena di depan orang itu tentu saja tidak mungkin mengandalkan kekuatan sihir.”

Saat yang dinanti-nanti oleh kakek See-thian Hoat-su itu ternyata tidak lama. Tiba-tiba terdengarlah canang dipukul bertalu-talu tanda bahaya dan disusul teriakan-teriakan nyaring. Dari tempat sembunyi itu, mereka melihat berkelebatnya banyak wanita-wanita pelayan dan melihat pula seorang pelayan wanita tua yang cantik memondong Syanti Dewi palsu tadi dengan gerakan ringan sekali. Lalu terdengar keributan di ruangan pesta, disusul padamnya lampu-lampu dan ributnya suara orang bertempur!

“Sekarang…!” Kakek itu berbisik dan dia menggandeng tangan Syanti Dewi, diajaknya melarikan diri melalui jalan belakang.

“Heiii, siapa…?” Akan tetapi dua orang itu sudah jatuh terjungkal oleh kakek See-thian Hoat-su sebelum dua orang pengawal itu dapat melihat jelas. Dengan cepat See-thian Hoat-su lalu memondong tubuh Syanti Dewi dan dibawanya melompati pagar tembok di taman belakang. Tanpa banyak halangan karena semua orang sedang sibuk berkelahi dan mengejar-ngejar penculik Syanti Dewi palsu, See-thian Hoat-su dapat membawa pergi puteri itu dari puncak Bukit Naga Api.

Setelah pergi jauh, Syanti Dewi berkata, “Locianpwe, bagaimana dengan Siang In? Kenapa kita tidak menanti dia?”

Kakek itu menurunkan tubuh Puteri Bhutan dan menyeka peluhnya, lalu memandang ke angkasa yang indah penuh bintang. “Ahhh, dia kini bukan anak kecil lagi, tentu dapat menjaga diri sendiri.”

“Akan tetapi… tentu dia akan mencari-cari Locianpwe dan saya…”

“Dia tidak tahu bahwa aku berada di sini, dan biarlah dia mencarimu untuk meluaskan pengalamannya, ha- ha-ha!” Kakek yang aneh itu tertawa.

Syanti Dewi tak membantah lagi. Kakek ini mempunyai watak yang luar biasa anehnya dan dia tahu bahwa memang orang-orang sakti di dunia kang-ouw ini mempunyai watak yang kadang-kadang mendekati watak orang gila!

“Lalu… lalu kita akan pergi ke mana, Locianpwe?” tanyanya penuh keraguan.

“Ke tempatku di pantai Po-hai. Akhirnya Siang In tentu akan ke sana pula kalau dia tidak berhasil mencarimu. Dan kulihat engkau diperebutkan banyak orang, Puteri, maka untuk sementara waktu ini, kiranya akan lebih aman kalau kau berada di sana bersamaku.”

Syanti Dewi tidak membantah lagi. Dia meninggalkan Bhutan bersama Siang In, dan biar pun dia berniat mencari Tek Hoat, namun mencari seorang diri saja mana mungkin berhasil? Di bagian dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang jahat yang amat lihai, dan tanpa seorang teman seperjalanan yang sakti seperti Siang In, dia merasa ngeri dan tidak sanggup untuk mencari Tek Hoat sendirian saja. Pula, kini dia ikut bersama guru dari Siang In, berarti dia berada di tangan yang aman dan tentu banyak harapan akan berjumpa kembali dengan gadis ahli sihir itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, peristiwa penculikan atas diri Syanti Dewi dari gedung Hwa-i- kongcu Tang Hun itu menimbulkan kegegeran hebat.

Rombongan Hek-eng-pang yang dipimpin oleh Yang-liu Nionio sendiri berhasil menculik Syanti Dewi tanpa mereka sadari bahwa yang mereka culik adalah yang palsu. Mereka telah mengorbankan banyak anak buah dan Syanti Dewi telah diserahkan kepada Ang Tek Hoat yang melarikannya, akan tetapi kemudian ternyata Syanti Dewi itu hanyalah seorang pelayan! Seperti kita ketahui, saking marahnya Yang-liu Nionio lalu membunuh pelayan itu dan kemudian mayatnya dilemparkan kepada Siang In oleh Tek Hoat yang merasa gemas dan berkhawatir akan diri kekasihnya.

Siang In sendiri juga terkejut ketika melihat mayat yang disangkanya Puteri Bhutan itu ternyata hanya seorang pelayan. Tahulah, dia bahwa Syanti Dewi telah lenyap tanpa dia ketahui siapa penculiknya. Jelas bukan Tek Hoat, bukan pula salah satu wanita dari rombongan Hek-eng-pang, namun jelas sudah lenyap dari rumah Hwa-i-kongcu. Habis, siapakah yang telah menculiknya? Dia merasa penasaran sekali dan mulai melakukan pengejaran dan penyelidikan.

Sementara itu, seperti telah diceritakan pula di bagian depan, dalam pesta pernikahan Hwa-i-kongcu itu terdapat pula seorang tamu yang amat lihai, bahkan tamu itu telah membuyarkan kekuatan sihir dari Siang In ketika gadis yang menyamar sebagai penari dan pemain sulap ini memperlihatkan kepandaiannya. Orang itu adalah Gitananda, kakek tokoh Nepal yang tinggi besar, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut itu.

Seperti kita ketahui, Gitananda juga mencoba untuk menahan diri Yang-liu Nionio yang dianggapnya telah menculik pengantin perempuan, akan tetapi Yang-liu Nionio yang dibantu banyak anak buahnya itu dapat meloloskan diri dan Gitananda tidak berani melakukan pengejaran dalam gelap karena dia tahu bahwa hal itu amat berbahaya, mengingat bahwa rombongan penculik itu terdiri dari orang-orang pandai.

Gitananda adalah seorang di antara pembantu-pembantu Ban Hwa Sengjin, koksu dari Nepal yang mengemban tugas untuk menghubungi pembesar-pembesar yang condong untuk menentang kekuasaan kaisar. Koksu Nepal yang cerdik itu maklum bahwa untuk memperkuat kedudukannya, dia harus menghubungi tokoh-tokoh kang-ouw di dunia timur ini, dan sedapat mungkin berbaik dengan tokoh-tokoh dari golongan hitam.

Oleh karena itulah, maka dia menyebar para pembantunya, dan ketika mendengar akan pernikahan di puncak Naga Api, yaitu pernikahan dari Hwa-i-kongcu Tang Hun yang didengarnya sebagai ketua Liong- sim-pang, seorang pemuda yang selain kaya raya, juga amat lihai, bahkan akhir-akhir ini kabarnya menjadi murid Durganini, tentu saja dia tidak mau melewatkan kesempatan baik itu dan mengutus Gitananda mewakilinya dan menghadiri pesta itu. Durganini adalah seorang nenek ahli sihir dari India dan Ban Hwa Sengjin sudah mengenalnya.

Sebetulnya, ketika Gitananda mendengar bahwa yang menjadi pengantin puteri adalah Syanti Dewi dari Bhutan, dia terkejut sekali. Betapa akan senangnya koksu kalau sampai dia bisa mendapatkan puteri itu. Puteri itu dapat dipergunakan untuk memaksa Pemerintah Bhutan tunduk kepada Nepal! Tetapi tentu saja dia tidak boleh membikin marah Hwa-i-kongcu, lebih-lebih Durganini, maka Gitananda juga tak mau mengganggu pengantin puteri.

Akan tetapi ketika terjadi penculikan atas diri pengantin puteri, tentu saja Gitananda melihat kesempatan yang sangat baik! Puteri itu diculik orang, kalau saja dia mampu merampasnya kembali dari tangan penculik. Bukan untuk diserahkan kembali kepada Hwa-i-kongcu, sungguh pun hal itu akan berarti melepaskan Liong-sim-pang sebagai sahabat. Kiranya akan lebih penting lagi diri Puteri Bhutan itu bagi Nepal, dari pada persahabatan Liong-sim-pang. Pula, kalau dia bisa mendapatkan puteri itu di luar tahu Liong-sim-pang, bukankah tetap akan menjadi sahabat untuk dapat bekerja sama sewaktu-waktu jika keadaan membutuhkan karena Hwa-i-kongcu sudah melihat sendiri betapa dia telah membantu untuk melawan para penculik, biar pun tidak berhasil.

Dia harus dapat mengejar penculik dan merampas kembali Puteri Bhutan, tentu saja tanpa diketahui oleh Hwa-i-kongcu! Maka setelah para penculik itu kabur, Gitananda melakukan pengejaran dengan seenaknya karena dia perlu untuk diam-diam kembali ke kamarnya, lalu pergi lagi turun dari puncak ke tempat yang sunyi.

Pada esok harinya, pagi-pagi sekali Gitananda melepaskan seekor burung berwarna hijau yang paruhnya merah, burung kecil yang menjadi burung peliharaannya, amat terlatih dan merupakan burung yang amat cerdik. Dengan dalih ingin memeriksa kamar pengantin wanita yang terculik malam tadi, dia berhasil memasuki kamar pengantin dan berhasil pula memperoleh sehelai saputangan yang tadinya dipakai oleh Syanti Dewi, dari seorang pelayan yang disogoknya dengan sepotong emas! Kini dia melepaskan burung itu yang membawa robekan saputangan di antara paruhnya yang merah dan kuat.

“Carilah sampai dapat!” teriak Gitananda sambil melepaskan burung itu.

Burung hijau itu terbang seperti kilat cepatnya ke atas, tinggi sekali, lalu mulai terbang tinggi berputar membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin luas. Binatang yang cerdik itu mulai mencari-cari, menggunakan nalurinya mengandalkan benda yang berada di paruhnya. Sepasang matanya yang kecil melirak-lirik ke bawah, tajam sekali.

Gitananda menanti sampai hampir menjelang tengah hari. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya di atas rumput ketika dia melihat sinar hijau melayang telah kembali! Benar saja, burung hijau itu terbang sampai tiba di atas tempatnya berdiri, lalu melepaskan robekan saputangan dan mengeluarkan suara mencicit.

“Burung yang baik, kau telah menemukan dia?”

Burung itu mencicit dan terbang ke atas lagi. Gitananda lalu mengikutinya dan burung itu sengaja terbang tidak terlalu cepat sehingga Gitananda yang memiliki ilmu berlari cepat itu dapat mengikutinya dari bawah! Dan burung itu terbang menuju ke timur! Jenggotnya yang panjang berkibar-kibar, ujung sorbannya juga berkibar sehingga kakek ini nampak gagah dan juga aneh, seperti seorang dewa dalam dongeng.

Sementara itu, See-thian Hoat-su yang sedang berjalan seenaknya bersama Syanti Dewi, ketika keluar dari sebuah hutan kecil, tiba-tiba melihat seekor burung hijau yang terbang berputaran di atas mereka. Mula-mula Syanti Dewi yang melihat burung itu. Dara bangsawan ini sedang memandang ke atas, seolah- olah hendak mencari berita dari awan-awan di angkasa di mana adanya Ang Tek Hoat pada saat itu.

“Eh, burung apakah itu demikian aneh?” katanya sambil menuding ke atas.

See-thian Hoat-su juga memandang ke atas dan dia mengerutkan alisnya. Biar pun usianya jauh lebih tua, akan tetapi kakek ini memiliki sepasang mata yang terlatih baik sekali dan dia dapat mengerahkan kekuatan pandang matanya untuk melihat jauh sehingga burung itu nampak jelas olehnya.

“Puteri, katakan, apakah engkau mempunyai sehelai saputangan kuning?” tiba-tiba dia bertanya sambil memandang ke arah burung hijau yang terbang berputaran itu.

“Saputangan kuning…?” Tentu saja Syanti Dewi merasa kaget dan heran mendengar pertanyaan tiba-tiba yang janggal itu.

“Ya… ya, saputangan sutera kuning. Apakah engkau memakai benda itu ketika berada di puncak Naga Api, di tempat tinggal Hwa-i-kongcu?”

“Benar… akan tetapi kutinggalkan di kamar…”

“Ah, celaka…! Benar, dia tentu burung mata-mata!” teriak See-thian Hoat-su dengan kaget, apa lagi ketika dia melihat burung itu tiba-tiba saja meluncur cepat sekali ke barat, tentu akan melapor kepada majikannya bahwa dia telah menemukan orang yang dicarinya!

“Kita harus cepat pergi dari sini!” Berkata demikian, kakek itu memondong tubuh Syanti Dewi dan dibawanya berlari cepat sekali sehingga Syanti Dewi memejamkan matanya karena merasa ngeri.

Saking khawatirnya kalau-kalau dia akan tersusul oleh para pengejarnya yang dia tahu tentu terdiri dari orang-orang pandai sehingga membahayakan keadaan Syanti Dewi, maka See-thian Hoat-su tidak mempedulikan pandangan para penghuni dusun-dusun yang dilewatinya. Tentu saja orang-orang dusun itu terkejut dan terheran-heran melihat seorang dara cantik jelita dipondong dan dibawa lari oleh seorang kakek botak yang larinya seperti setan!

Lebih-lebih lagi keheranan mereka ketika tidak beberapa lama kemudian, muncul pula seorang kakek berkulit hitam, tinggi besar, kepalanya memakai sorban, jenggotnya panjang sampai ke perut dan dengan suara kaku dan asing kakek ini bertanya kepada mereka apakah mereka melihat seorang dara yang cantik jelita, yang kulitnya putih kemerahan, matanya lebar seperti sepasang bintang, sikapnya lemah lembut, halus budi dan agung, lewat di dusun itu.

“Ah, kami melihat seorang dara cantik jelita, akan tetapi dia dipondong dan dibawa lari seorang kakek botak…”

“Yaaa! Itulah dia! Ke mana mereka pergi?” Gitananda bertanya dengan girang karena dia tidak merasa ragu lagi bahwa itulah dara yang dicarinya dan benar saja, agaknya Sang Puteri Bhutan itu dilarikan seorang penculik!

Kini para penghuni dusun merasa ragu-ragu karena mereka kurang percaya kepada orang asing bersorban yang bicaranya kaku ini, akan tetapi Gitananda cepat berkata, “Agaknya kalian belum tahu. Kakek botak itu adalah seorang penjahat besar, seorang penculik! Dan dara yang diculik itu adalah seorang puteri! Puteri Raja Bhutan dan aku adalah seorang petugas yang akan menolong sang puteri. Harap kalian cepat memberi tahu, ke mana mereka itu pergi?”

Tentu saja para penghuni dusun merasa kasihan sekali kepada sang puteri dan berpihak kepada orang asing ini yang hendak menolong sang puteri yang terculik penjahat, maka berebutlah mereka memberi tahu ke mana arah larinya kakek botak yang memondong dan menculik sang puteri. Setelah mendengar bahwa kakek botak itu melarikan sang puteri menuju ke timur, Gitananda cepat melakukan pengejaran bersama burung hijaunya. Maka ramailah para penghuni dusun itu membicarakan peristiwa yang aneh itu sehingga cerita tentang kakek botak yang seperti iblis menculik Puteri Bhutan lalu dikejar oleh kakek seperti dewa hitam tersiar luas di dusun itu dan bahkan keluar sampai ke dusun-dusun lain.

Sementara itu, See-thian Hoat-su yang memondong tubuh Syanti Dewi melakukan perjalanan cepat sekali menuju ke timur dan akhirnya, beberapa hari kemudian setelah melakukan perjalanan yang hampir tidak pernah ditundanya kecuali kalau malam gelap sekali dan untuk makan, tibalah kakek ini bersama Syanti Dewi di Goa Tengkorak. tempat pertapaan See-thian Hoat-su selama bertahun-tahun ini.

Syanti Dewi merasa lega ketika kakek itu mengatakan bahwa mereka telah tiba di tempat pertapaan yang tersembunyi, dan dia lalu memeriksa tempat itu. Tempat yang amat indah akan tetapi juga menyeramkan. Goa besar itu dalamnya seperti sebuah rumah saja, amat lebar dan dibagi-bagi menjadi beberapa buah kamar, bahkan ada tempat dapurnya yang terisi perabot dapur lengkap. Goa itu terletak di antara batu-batu karang yang besar-besar sehingga tersembunyi, dan menghadap ke luar Teluk Po-hai.

Suara ombak memecah di batu-batu karang terdengar setiap saat siang dan malam, merupakan dendang yang tiada hentinya sehingga menciptakan suasana yang aneh dan berbeda sekali dari suasana di darat dan pegunungan. Angin bersilir terus jarang berhenti, dan di atas goa itu adalah sebuah bukit batu karang yang di bagian atasnya ditumbuhi bermacam pohon yang tahan hidup di tepi pantai. Di sebelah kiri goa terdapat air tawar yang bercucuran dari celah-celah batu yang pecah oleh akar-akar pohon, air yang merupakan berkah bagi penghuni goa karena memudahkan pengambilan air tawar yang amat dibutuhkan. Goa itu sendiri kalau dilihat dari jauh memang berbentuk seperti tengkorak manusia.

“Jangan terlalu jauh meninggalkan goa,” kata See-thian Hoat-su yang memanggil kembali Syanti Dewi yang berjalan-jalan di sekitar tempat itu sampai ke pantai Po-hai. “Sekarang belum aman benar. Siapa tahu orang yang mempunyai burung hijau dapat mengejar sampai ke sini. Siapa pun mereka, jangan harap akan dapat merampasmu dari sampingku, Puteri. Akan tetapi kalau kau berkeliaran terlalu jauh, dan mereka menculikmu, tentu saja aku tidak tahu dan tidak berdaya untuk mencegah mereka.”

Mendengar itu, Syanti Dewi tidak lagi berani pergi jauh dan mulailah puteri ini bekerja membersihkan goa, kemudian memasak air dan menanak nasi yang semua bahannya terdapat di tempat itu. Biar pun dia seorang puteri raja, namun pengalaman beberapa tahun yang lalu ketika dia meninggalkan Kota Raja Bhutan membuat dia tidak canggung melakukan pekerjaan rumah, bahkan untuk hidup secara sederhana sekali. Melihat kecekatan puteri ini, diam-diam See-thian Hoat-su merasa kagum sekali. Seorang puteri raja namun demikian gapah memainkan sapu dan pengebut bulu ayam, dan demikian cekatan untuk bergaya di dalam dapur! (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali)

Malam itu Syanti Dewi menyalakan lilin sebagai penerangan di dalam goa. Heran dia mengapa di sebelah dalam goa itu tidak ada angin, padahal kalau dia berdiri di depan goa, angin bersilir tiada hentinya. Namun di dalam goa, api lilin tidak bergoyang sedikit pun, tanda bahwa di situ tidak dimasuki angin sama sekali! Tentu saja dara ini tidak tahu bahwa hawa bersifat seperti air, hanya akan mengalir masuk tempat yang berlubang dan ada tembusannya. Goa itu merupakan lubang yang rapat di bagian belakangnya sehingga telah penuh dengan hawa dan tidak memungkinkan lagi hawa lain dari luar mengalir masuk.

Setelah mereka makan dengan sederhana, yaitu hanya nasi dengan lauk panggang ikan yang ditangkap oleh See-thian Hoat-su dari teluk, makan malam sederhana yang amat lezat karena hati tenang dan perut lapar ditambah tubuh yang lelah, mereka lalu mengaso. Saking lelahnya setelah berlari sambil memondong Syanti Dewi beberapa hari lamanya, sebentar saja See-thian Hoat-su sudah tidur mendengkur.

Namun Syanti Dewi tidak dapat tidur. Hatinya gelisah memikirkan nasibnya. Memang benar bahwa dia telah selamat dan aman di tangan guru Siang In, akan tetapi kapankah dia dapat berjumpa dengan Siang In? Dan terutama sekali, kapankah dia akan dapat bertemu dengan Tek Hoat dan bagaimana sikap Tek Hoat kalau berhadapan dengan dia? Teringat akan semua pengalamannya, Syanti Dewi menarik napas panjang. Apa lagi yang akan dialaminya selanjutnya?

Baru beberapa bulan yang lalu dia masih menjadi seorang puteri di istana ayahnya, hidup bahagia sekali dan menghadapi masa depan gilang gemilang, dengan Ang Tek Hoat sebagai tunangannya yang gagah perkasa dan amat dicintanya, dan pernikahan antara mereka hanya tinggal menanti saatnya saja. Akan tetapi tiba-tiba saja terjadi malapetaka yang amat hebat, yaitu datangnya ibu kandung Tek Hoat yang membikin marah ayahnya dengan pengakuannya yang menggemparkan, yaitu bahwa Ang Tek Hoat adalah seorang anak haram.

Ayahnya marah dan memutuskan pertunangan itu sehingga Tek Hoat merasa malu dan lolos dari Bhutan! Dia menarik napas panjang. Dia amat mencinta Tek Hoat, mencinta pribadinya. Apa artinya riwayat hidup keluarga pemuda itu baginya? Dia dulu pun sudah tahu bahwa Tek Hoat pernah menjadi orang tersesat, bahkan membantu pemberontak. Akan tetapi, bukankah pemuda itu sudah sadar dan kembali ke jalan benar? Betapa pun juga, dia mencinta Tek Hoat, dan dia tidak peduli apa pun yang menjadi latar belakang riwayat hidup ayah dan ibu pemuda itu.

“Syanti Dewi…!” Tiba-tiba dia mendengar suara halus datang dari luar Goa Tengkorak.

Suara seorang wanita yang halus memanggilnya! Mimpikah dia? Syanti Dewi bangkit duduk dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika dia melirik ke arah kamar di sebelah kamarnya, dia masih mendengar suara dengkur See-thian Hoat-su. Dia harus berhati-hati. Bukankah kakek itu mengatakan bahwa boleh jadi orang-orang jahat yang hendak merampasnya kembali datang ke tempat itu?

“Enci Syanti Dewi…!” Kembali terdengar bisikan yang terdengar olehnya seperti desis seekor ular.

Siapakah dia? Siang In? Hanya Siang In yang menyebutnya enci Syanti Dewi! Akan tetapi mungkinkah Siang In? Dia curiga sekali. Kalau benar Siang In, mengapa harus memanggilnya dengan suara lirih dari luar goa? Bukankah goa ini adalah tempat tinggal See-thian Hoat-su, kakek yang menjadi gurunya sendiri? Mengapa gadis itu tidak mau langsung masuk saja menemuinya dan memanggil dari luar secara mencurigakan?

Syanti Dewi sudah banyak mengalami hal-hal hebat dan tahulah dia bahwa orang-orang jahat di dunia kang-ouw amat licik dan curang, dan oleh karena itu dia tetap saja diam mendengarkan, tidak mau tergesa- gesa keluar. Kembali sunyi keadaannya, sunyi yang menegangkan hati Puteri Bhutan itu. Tidak lama kemudian, terdengarlah lagi suara itu, kini agak keras biar pun masih dengan suara mendesis agar tidak terlalu nyaring dan terdengar oleh kakek yang sedang tidur.

“Kalau benar bahwa yang berada di dalam itu Puteri Syanti Dewi, harap ke luar, adikmu Candra Dewi berada di sini!”

Syanti Dewi terkejut, jantungnya berdebar keras. Candra Dewi! Ceng Ceng! Dia tidak ragu-ragu lagi karena dia mengenal suara itu. Turunlah dia dari atas pembaringan dan dengan berindap-indap dia keluar dari kamarnya, terus berjalan keluar goa yang gelap karena penerangan hanya ada di dalam kamarnya dan di kamar See-thian Hoat-su saja.

Di luar goa juga gelap, remang-remang karena hanya diterangi bintang-bintang di langit. Dia melihat sesosok tubuh seorang wanita berdiri di luar goa itu. Syanti Dewi tidak berani segera ke luar, mengintai dulu dan jantungnya berdebar penuh kegirangan ketika dia mengenal bahwa orang itu memang Candra Dewi atau Ceng Ceng adanya!

Wanita itu memang benar Lu Ceng atau Ceng Ceng, atau nyonya Kao Kok Cu si Naga Sakti dari Gurun Pasir! Dahulu, ketika dia masih tinggal di Bhutan, Ceng Ceng diakui adik oleh Syanti Dewi dan diberi nama Candra Dewi. Seperti telah diceritakan di bagian depan, wanita perkasa ini bersama suaminya, si Naga Sakti dari Gurun Pasir Kao Kok Cu, terpaksa meninggalkan tempat mereka yang terasing dari dunia ramai, jauh di utara di gurun pasir, memasuki dunia ramai di selatan untuk mencari putera mereka yang hilang! Mereka mencium jejak putera mereka itu dibawa orang ke selatan, namun sampai sekian lamanya belum juga mereka berhasil menemukan kembali Kao Cin Liong, putera mereka yang berusia lima tahun itu. Kini

Ceng Ceng kembali melakukan penyelidikan dengan terpisah dari suaminya, karena dengan melakukan penyelidikan terpisah, lebih banyak harapan untuk mendapatkan kembali jejak yang hilang itu. (baca Kisah Sepasang Rajawali)

Di dalam perjalanannya melakukan penyelidikan dan mencari puteranya itulah Ceng Ceng mendengar desas-desus di dalam dusun-dusun yang dilaluinya tentang seorang puteri yang terculik oleh seorang penjahat dan dikejar-kejar oleh seorang kakek seperti dewa. Ketika dia mendengar bahwa ada ‘Puteri Bhutan’ dilarikan iblis dan dikejar dewa, dia masih belum menduga bahwa itu adalah Syanti Dewi. Akan tetapi ketika dia teringat bahwa beberapa hari yang lalu dia melihat Mohinta, putera panglima tua di Bhutan yang pernah dikenalnya, berkeliaran dengan beberapa orang pembantunya, mulailah dia curiga. Jangan- jangan Syanti Dewi yang lagi-Iagi menimbulkan geger di tempat ini!

Karena hatinya merasa penasaran, dia lalu melakukan pengejaran pula dan akhirnya dia tiba di depan Goa Tengkorak pada malam hari itu. Tetapi dia tidak berani lancang menyerbu ke dalam, maka dia lalu menggunakan tenaga khikang-nya untuk memanggil, karena wanita sakti ini yakin bahwa kalau mendengar suaranya, tentu Syanti Dewi akan keluar, kalau memang benar Syanti Dewi puteri yang terculik itu.

“Adik Ceng…!” Syanti Dewi yang kini tidak ragu-ragu lagi itu berseru sambil lari keluar. “Enci Syanti…!”

Dua orang wanita ini saling rangkul. “Aihhh, kiranya benar engkau, Enci Syanti!”

“Adik Candra… betapa girangnya hatiku bertemu denganmu…“

Pada saat itu, dari balik batu besar meloncat sesosok bayangan yang tinggi besar dan bayangan ini langsung menerkam ke arah Ceng Ceng. Wanita perkasa ini cepat-cepat mendorong tubuh Syanti Dewi, “Enci, menjauhlah!” katanya dan dia cepat membalik, menggerakkan lengannya untuk menangkis karena mengelak sudah tidak sempat lagi. Serangan bayangan hitam itu cepat bukan main.

“Desssss…!”

Tangkisan Ceng Ceng yang dilakukan dengan cepat itu mengandung tenaga sinkang mukjijat. Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali dituturkan betapa nyonya ini di waktu belum menikah dahulu, bersama Topeng Setan yang ternyata adalah Kao Kok Cu yang sekarang menjadi suaminya, telah berhasil memperoleh anak naga yang diperebutkan seluruh orang kang-ouw di Telaga Sungari, walau pun untuk itu Kao Kok Cu telah mengorbankan sebelah lengannya yang dicaplok oleh naga di telaga itu.

Setelah Ceng Ceng minum darah anak naga untuk mengobati luka dan penyakit yang dideritanya, tidak saja dia sembuh dari lukanya di sebelah dalam tubuhnya, akan tetapi juga dia telah memperoleh tenaga mukjijat dari khasiat darah anak naga itu. Tentu saja setelah dia menjadi isteri Kao Kok Cu, dia telah dilatih oleh suaminya yang sakti itu dan kini dia telah dapat menguasai tenaga mukjijat itu dengan baiknya, di samping ilmunya yang sudah memperoleh kemajuan pesat sekali.

Tubuh Gitananda, kakek tinggi besar yang menyerangnya itu, sampai terlempar jauh ketika lengan mereka saling bertemu dengan kerasnya. Kakek itu terkejut bukan main, sama sekali tidak mengira bahwa wanita yang diserangnya memiliki sinkang sedemikian dahsyatnya.

Tadi kakek ini hanya mengintai dan menanti kesempatan baik untuk merampas Syanti Dewi. Dia tidak berani sembrono menyerbu ke dalam goa dan hanya menanti saat baik selagi puteri itu keluar sendiri. Munculnya seorang wanita yang memanggil-manggil dari luar goa membuat dia terheran-heran, akan tetapi giranglah hatinya melihat Syanti Dewi benar-benar keluar dari dalam goa dan cepat dia lalu menerjang wanita itu dengan maksud merobohkannya kemudian melarikan Syanti Dewi. Tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika wanita itu menangkis dengan tenaga yang demikian hebatnya sehingga tubuhnya terlempar ke belakang sampai jauh!

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan Ceng Ceng harus cepat mengelak karena dari dalam goa sudah muncul seorang kakek yang menyerangnya kalang-kabut dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin berputaraan. Tahulah dia bahwa lawannya adalah seorang yang lihai, maka Ceng Ceng lalu membalas dengan tamparan-tamparan kedua tangannya yang ampuh. Terjadilah pertempuran

yang amat seru dan dahsyat di depan goa, di dalam cuaca yang remang-remang itu dan mereka berdua lebih mengandalkan ketajaman pendengaran mereka untuk mengikuti gerakan lawan dari pada ketajaman pandangan mata yang tentu saja amat berkurang di dalam cuaca remang-remang itu.

Syanti Dewi tadi merasa terkejut sekali ketika dia didorong ke pinggir oleh Ceng Ceng, dan dia melihat betapa Ceng Ceng tadi diserang oleh kakek tinggi besar. Kemudian, melihat Ceng Ceng diserang kakek botak dari dalam goa, dia terkejut. Kakek itu adalah See-thian Hoat-su! Dia segera melangkah maju dan bibirnya telah bergerak untuk berseru agar mereka berhenti berkelahi karena mereka bukanlah musuh, akan tetapi tiba-tiba ada bayangan hitam menyambar. Syanti Dewi berusaha untuk mengelak, akan tetapi tingkat kepandaian silatnya jauh sekali dibandingkan dengan tingkat Gitananda dan sekali kakek itu menepuk tengkuknya, tubuh Syanti Dewi menjadi lemas dan pingsanlah puteri itu. Gitananda cepat memondongnya dan menyelinap pergi di dalam kegelapan malam.

Ceng Ceng dan See-thian Hoat-su yang sedang bertanding dengan hebat itu sama sekali tidak melihat bahwa Syanti Dewi dirobohkan dan dibawa pergi orang lain. Mereka masih saling serang dengan hebat dan sungguh-sungguh karena mereka mendapatkan kenyataan bahwa lawan masing-masing amat lihai.

“Plak-plakkk!”

Untuk ke sekian kalinya kedua telapak tangan mereka saling bertemu dan tubuh Ceng Ceng terdorong mundur, akan tetapi See-thian Hoat-su juga merasa betapa tubuhnya tergetar hebat! Dia terkejut sekali, maklum bahwa wanita yang dilawannya memiliki sinkang yang amat mukjijat dan kalau saja pertandingan itu dilanjutkan beberapa kali mengadu tenaga seperti itu, amatlah berbahaya bagi jantungnya yang dapat tergetar dan rusak!

Maka dia kemudian mulai berkemak-kemik, hendak menggunakan ilmu sihirnya untuk mengalahkan lawannya. Kalau saja cuaca tidak segelap itu, dengan pengaruh pandang matanya agaknya dengan mudah dia akan dapat menguasai lawan ini. Akan tetapi cuaca amat gelap dan dia kini hendak menggunakan sihir, akan tetapi justeru pada saat itu lawannya mendesaknya dengan pukulan-pukulan ampuh sehingga belum beranilah kakek ini membagi tenaganya untuk menggunakan sihir oleh karena sekali saja terkena pukulan wanita itu tanpa dilawan dengan sinkang sepenuhnya, akan sangat berbahaya baginya.

Sementara itu, Ceng Ceng juga makin terkejut dan heran. Disangkanya bahwa yang menculik Puteri Bhutan itu seorang penjahat biasa saja. Kiranya puteri itu benar Syanti Dewi dan penculiknya ternyata adalah seorang yang berkepandaian tinggi! Hal ini membuat dia menjadi marah bukan main dan dia sudah mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan sinar mengerikan, hijau kehitaman. Itulah pedang Ban- tok-kiam (Pedang Selaksa Racun) yang bukan main ampuhnya.

Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah dituturkan bahwa Ceng Ceng menerima pedang itu dari seorang iblis betina berjuluk Ban-tok Mo-li dan betapa pedangnya itu pernah terampas oleh Tambolon dan kawan-kawannya yang tewas dalam perang oleh Tek Hoat dan para orang gagah, Ceng Ceng akhirnya berhasil memperoleh pedangnya kembali dan semenjak dia menikah, pedang itu selalu disimpannya saja dan tidak pernah dipergunakannya.

Hanya ketika puteranya lenyap, dan dia bersama suaminya meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk mencarinya, dia membawa Ban-tok-kiam, hanya untuk berjaga-jaga saja karena dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, sebenarnya dia tidak usah memerlukan bantuan pedangnya. Akan tetapi, melihat ada orang menculik Syanti Dewi dan orang itu sedemikian lihainya, Ceng Ceng menjadi marah dan mencabut Ban-tok-kiam yang mengerikan itu.

“Ihhhhh…!” See-thian Hoat-su adalah seorang ahli silat tingkat tinggi, juga seorang ahli sihir yang amat pandai, akan tetapi dia bergidik juga ketika melihat berkelebatnya cahaya hijau kehitaman yang mendirikan bulu roma itu.

“Penculik hina dina!” Ceng Ceng lalu memaki. “Engkau telah berani menculik kakakku, Puteri Syanti Dewi dari Bhutan, maka engkau pun akan tewas di tanganku!” Berkata demikian, wanita perkasa itu sudah menerjang dan terdengar suara bercicit nyaring ketika Ban-tok-kiam meluncur ke depan mencari korban dengan ganasnya!

“Heiii… nanti dulu…!” See-thian Hoat-su mencelat ke belakang, berjungkir balik sampai empat kali dan ketika dia turun, dia mengangkat kedua lengan ke atas sambil berseru, “Nanti dulu, nanti dulu!”

“Kau mau bicara apa lagi?” Ceng Ceng membentak, matanya memandang tajam dan mengeluarkan sinar seperti mata seekor naga berapi hingga kembali See-thian Hoat-su terkejut dan merasa ragu-ragu apakah dia akan mampu menguasai lawan yang memiliki mata seperti itu dengan sihirnya.

“Engkau mengaku kakak kepada Syanti Dewi? Dan menuduh aku menculiknya? Aneh… sungguh aneh sekali. Heiii, Sang Puteri, ke sinilah dan coba jelaskan keanehan ini! Benarkah aku penculik? Dan benarkah dia ini adikmu?”

Akan tetapi, tentu saja tak ada jawaban terhadap teriakan See-thian Hoat-su itu karena Syanti Dewi sudah tidak berada di tempat itu lagi. Mendengar kata-kata kakek itu, Ceng Ceng juga terkejut, lalu dia menoleh dan mencari Syanti Dewi.

“Enci Syanti Dewi…! Enci Syanti, di mana kau? Keluarlah!” teriaknya pula.

Akan tetapi sia-sia belaka. Mereka berdua berteriak memanggil-manggil dan mencari cari, namun Puteri Bhutan itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

“Celaka…!” See-thian Hoat-su membanting-banting kakinya. “Selagi kita berdua saling hantam, ada orang ketiga yang datang dan membawanya lari!”

Ceng Ceng terkejut dan membenarkan dugaan itu. “Dia tentu belum lari jauh. Mari kita berpencar dan mengejar!” Tanpa menanti jawaban, tubuhnya berkelebat lenyap dari situ. See-thian Hoat-su juga meloncat dan mencari-cari.

Sia-sia saja mereka berdua mengejar dan mencari sampai malam berganti pagi. Akhirnya mereka kembali ke depan goa dan saling berjumpa di depan goa dengan alis berkerut. Kini mereka dapat saling memandang dengan jelas dan Ceng Ceng merasa seperti pernah melihat wajah kakek botak berambut putih itu.

“Siapakah Locianpwe? Dan bagaimanakah Locianpwe dapat membawa Enci Syanti ke sini?” tanyanya sambil memandang tajam.

See-thian Hoat-su bersungut-sungut. “Kalau kau benar-benar adiknya, mengapa datang malam-malam seperti pencuri? Kalau datangmu biasa saja di waktu siang hari, tentu aku tidak menyerangmu dan Sang Puteri tidak akan lenyap. Akan tetapi sudahlah! Aku adalah See-thian Hoat-su, dan siapakah Nona yang masih muda akan tetapi memiliki kepandaian hebat sekali dan memiliki pedang yang demikian mengerikan?”

Ceng Ceng membelalakkan matanya. “Aihhh! Kiranya Locianpwe See-thian Hoat-su!” Tentu saja dia pernah mendengar nama ini, bahkan pernah pula melihat orangnya ketika terjadi perang melawan Tambolon dan pasukannya, karena kakek inilah yang merobohkan nenek Durganini dan membawanya pergi.

“Saya adalah adik angkat dari Enci Syanti Dewi, yaitu dahulu ketika saya masih tinggal di Bhutan. Sekarang saya telah menjadi isteri dari suami saya yang dikenal sebagai si Naga Sakti dari Gurun Pasir.”

“Aaahhhhh…!” Kiranya begitukah? Pantas saja kepandaianmu hebat sekali, Toanio! Dan maafkan kalau aku menyerangmu tadi karena kusangka engkau adalah penculik yang membayangi kami sampai di sini.”

“Sayalah yang harus minta maaf, Locianpwe, dan saya menyesal sekali karena saya tahu sekarang, bahwa saya salah duga dan saya yang menyebabkan lenyapnya Enci Syanti Dewi. Tidak salah lagi, tentu ini perbuatan dewa hitam itu!”

“Dewa hitam? Apa pula maksudmu, Toanio?” See-thian Hoat-su bertanya, akan tetapi melihat wajah nyonya muda itu nampak lesu dan muram, juga kelihatan lelah sekali, dia cepat berkata, “Mari kita bicara di dalam, Toanio. Agaknya banyak hal yang perlu saling kita tuturkan.”

Memang Ceng Ceng merasa lesu dan muram wajahnya, hal ini karena dia selama ini berada dalam kecemasan memikirkan nasib puteranya yang lenyap dan belum juga dapat dia temukan. Kini ditambah lagi menghadapi urusan Syanti Dewi lenyap diculik orang, tentu saja dia merasa semakin gelisah dan berduka. Maka ketika kakek itu mempersilakan dia masuk ke dalam goa besar, dia hanya mengangguk dan mereka lalu memasuki tempat itu.

Setelah duduk berhadapan, Ceng Ceng lalu menceritakan betapa dia mendengar tentang Syanti Dewi dari orang-orang dusun di sepanjang jalan yang menceritakan bahwa mereka melihat seorang dara cantik dipondong dan dilarikan oleh seorang kakek, dan betapa kemudian muncul seorang kakek hitam bersorban yang memberi tahu mereka bahwa puteri itu adalah Puteri Bhutan yang diculik oleh seorang jahat. Penghuni dusun lalu menyebar luaskan berita itu dengan cerita bahwa Puteri Bhutan diculik setan dan dikejar oleh seorang dewa hitam yang hendak menolong sang puteri.

“Mendengar puteri itu disebut Puteri Bhutan, saya sudah merasa tertarik sekali, dan menduga bahwa Enci Syanti Dewi yang dimaksudkan, maka saya pun lalu melakukan pengejaran. Ketika saya memanggil Enci Syanti Dewi keluar, kami bertemu dan sempat berangkulan. Pada saat itulah saya diserang orang dari belakang. Saya mendorong Enci Syanti Dewi ke pinggir dan menangkis serangan orang itu sehingga dia terlempar ke belakang. Akan tetapi lalu Locianpwe muncul dan menyerang saya. Karena mengira bahwa tentu Locianpwe adalah sekutu dari penyerang pertama itu, maka saya tidak mempedulikan dia lagi dan melayani Locianpwe yang ternyata lebih lihai. Siapa kira, agaknya orang itulah yang disebut dewa hitam dan yang mempergunakan kesempatan selagi kita bertempur, lalu dia melarikan Enci Syanti.”

See-thian Hoat-su mengerutkan alisnya yang putih. “Orang hitam bersorban? Siapa gerangan dia? Apakah dia datang dari pesta itu dan terus membayangiku?”

“Pesta apa yang Locianpwe maksudkan?” Ceng Ceng bertanya.

Kakek itu menarik napas panjang. “Sebaiknya kuceritakan dari permulaannya,” katanya. “Ketika itu aku sedang bertapa dan mengundurkan diri di goa ini setelah muridku yang bernama Siang In kuperbolehkan untuk merantau dan meluaskan pengalaman. Akan tetapi tiba-tiba datanglah nenek gila yang pernah menjadi isteriku itu…“ dia berhenti dan menghela napas panjang.

“Nenek Durganini…?” Ceng Ceng bertanya menegaskan, karena sesungguhnya dia sudah tahu bahwa yang dimaksudkan tentulah nenek itu.

“Siapa lagi kalau bukan dia?” Nenek gila itu mengganggu aku yang sedang siulian, datang-datang mengamuk dan hampir saja membunuhku kalau aku tidak segera sadar dari siulian. Dia datang dan marah- marah, katanya dia mendengar dari muridku bahwa aku hendak menghajarnya, maka dia datang dan menantang-nantang! Aku maklum bahwa tentulah muridku yang bengal itu yang menjadi gara-gara, akan tetapi aku pun mengerti bahwa tentu ada sebabnya yang amat memaksa maka Siang In sampai menggunakan akal itu untuk memancing Durganini datang ke sini. Maka aku berhasil menyabarkan hatinya dan si nenek gila itu mulai bercerita tentang Syanti Dewi.”

“Ahhh…? Sungguh heran mengapa Enci Syanti yang sudah pulang ke negerinya itu tiba-tiba dapat berada di sini lagi.”

“Aku pun baru mendengar tentang itu dari Puteri Syanti Dewi ketika aku membawanya lari ke sini. Akan tetapi biarlah kulanjutkan ceritaku. Durganini menceritakan bahwa dia telah mempunyai seorang murid baru, yaitu Hwa-i-kongcu Tang Hun, ketua dari Liong-sim-pang yang tinggal di puncak Bukit Naga Api di Pegunungan Lu-liang-san. Secara kebetulan saja Tang Hun ini bertemu dengan muridku, Siang In, yang melakukan perjalanan bersama Puteri Syanti Dewi. Tang Hun jatuh cinta dan menangkap Syanti Dewi dan hendak dijadikan isterinya. Siang In tidak mampu melindunginya karena di situ terdapat isteriku si nenek gila itu, maka Siang In lalu menggunakan akal, membohongi nenek itu dan mengatakan aku berada di sini dan hendak menghajarnya.” Kakek itu menarik napas panjang dan tersenyum geli teringat akan kenakalan muridnya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo