September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 7

 

“Ucapan Subo benar sekali!” Hwee Li berkata dengan wajahnya yang tetap berseri cerah dan gembira. “Tidak mungkin ada orang lenyap begitu saja seperti ditelan bumi! Kita pasti akan dapat menemukan kembali Adik Cin Liong, dan teecu (murid) akan menjelajahi seluruh dunia golongan hitam untuk menyelidiki, kalau-kalau saja di antara mereka ada yang melihat putera Subo.”

Ucapan dan sikap Hwee Li amat menghibur suami isteri yang sedang kebingungan dan dilanda kegelisahan itu namun tetap saja hidangan masakan di depan mereka itu hampir tidak dapat tertelan kalau mereka mengingat betapa anak mereka yang hilang itu usianya baru empat lima tahun dan betapa akan sengsaranya bagi anak sekecil itu untuk merana seorang diri, apa lagi perginya dari Istana Gurun Pasir itu melalui padang pasir yang luas, panas dan amat berbahaya…..
********************

Pagi yang cerah. Sinar matahari yang masih menciptakan bayangan-bayangan panjang memuntahkan cahayanya dengan langsung ke bumi, tanpa halangan awan karena langit nampak biru muda dan bersih sekali, bersih dan amat tinggi. Sinar matahari di saat itu mengandung daya hidup yang mukjijzat di dalam kehangatan yang tidak terlalu panas, namun kehangatan yang dapat menembus apa saja dan memberi daya hidup kepada bumi dan apa saja yang berada di permukaannya.

Awan-awan putih yang agaknya menjauh, tidak berani menghalangi berkah yang berlimpahan itu berarak di angkasa, bergerak perlahan-lahan seperti bermalas-malasan, namun semua gerakan itu teratur rapi dan selalu berubah bentuknya, seolah-olah ada tangan gaib yang mengatur awan-awan itu, memilih dan memisah-misahkannya, mengumpul-ngumpulkannya, untuk digiring ke tempat yang membutuhkan hujan kelak.

Tidak ada angin berkelisik. Daun-daun yang bermandikan cahaya matahari nampak kekuningan seperti bermandikan cahaya keemasan, berseri-seri mengelilingi bunga bunga yang mencuat di sana-sini, dan kupu-kupu bersayap kuning dan putih juga turut menyemarakkan suasana yang penuh dengan suka cita di pagi hari itu. Berkelompok kelompok kecil burung-burung terbang lewat di udara tanpa suara, menuju ke sawah ladang di mana terdapat makanan berlimpah bagi mereka.

Orang-orang yang berpakaian seperti penduduk dusun membawa bermacam-macam barang dagangan hasil kebun mereka, berlalu-lalang di jalan raya itu pergi ke dan pulang dari kota An-yang yang menjadi pasar bagi barang dagangan hasil bumi mereka. Yang berangkat dan memikul barang dagangan, kelihatan tergesa-gesa dan berjalan separuh berlari tanpa bicara, akan tetapi yang pulang ke dusun berjalan seenaknya sambil mengobrol membicarakan hasil penjualan mereka dan belanjaan mereka.

Siluman Kecil yang sudah keluar dari pintu gerbang kota An-yang, kini berdiri di luar tembok kota, memandang air yang mengalir di tepi tembok. Air itu memasuki kota dari sebelah barat dan keluar dari selatan. Ketika memasuki kota, air itu bersih dan jernih, akan tetapi setelah keluar dari kota, air itu menjadi keruh, penuh dengan sampah sampah dan segala kekotoran kota yang dicampakkan ke dalamnya. Kekeruhan air ini tidak akan berlangsung lama, karena beberapa mil jauhnya setelah meninggalkan kota, air sungai itu sudah akan menjadi jernih kembali.

Melihat setangkai daun hijau yang agaknya rontok sebelum waktunya hanyut pula di air itu, Siluman Kecil mengikutinya dengan pandang matanya dan dia menarik napas panjang. Keadaannya seperti daun itu. Daun muda yang sudah hanyut seorang diri mengikuti ke mana air mengalir. Tidak tahu akan apa jadinya dengan dirinya. Seperti juga dia! Hanya mengikuti jalan peristiwa yang dijumpainya di jalan hidupnya. Siluman Kecil termenung dan tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara orang wanita yang cukup nyaring.

Kun Cu Souw Ki Wi Ji Heng. Put Goan Houw Ki Gwee!

Siluman Kecil mengerutkan alisnya. tentu saja dia hafal pula akan ujar-ujar itu karena dia pernah mempelajari semua pelajaran dari Nabi Khong Cu. Dia masih ingat bahwa ujar-ujar yang dinyanyikan mulut wanita itu adalah ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong, ayat pertama dari bagian ketiga belas, yang berarti,

‘Seorang kuncu (budiman) bertindak sesuai dengan kedudukannya, tidak menginginkan hal-hal di luar dari kedudukannya.’

Siluman Kecil menarik napas panjang. Dia telah mengalami banyak sekali hal-hal yang amat pahit dalam kehidupannya.

Kalau direnungkan secara mendalam, memang karena manusia menginginkan hal-hal yang tidak ada padanya, menginginkan sesuatu yang belum ada, yang tidak dimilikinya, yang berada di luar jangkauannya, dan KEINGINAN inilah yang menjadi biang keladi segala macam penyakit dan kesengsaraan hidup.

Dia menarik napas panjang lagi…..

Sesungguhnyalah, bukan hanya seperti yang disadari oleh Siluman Kecil bahwa keinginan menjadi biang keladi kesengsaraan hidup. Bahkan keinginan itulah yang membuat kita kehilangan kebahagiaan! Betapa tidak?

Keinginan membuat mata kita buta terhadap segala keindahan yang telah kita miliki. Keinginan membuat kita meremehkan dan tidak dapat melihat keindahan yang sudah berada pada kita. Contohnya : Biar pun kita telah memegang sebutir buah apel di dalam tangan, namun kalau kita menginginkan buah anggur yang belum ada, mata kita seperti buta akan kelezatan buah apel yang sudah berada di tangan, menganggapnya tidak enak dan tidak memuaskan dan yang paling memuaskan adalah buah anggur yang kita inginkan, yang belum ada itulah!

Karena itu mari kita mencoba untuk membuka mata dan melihat segala sesuatu yang sudah ada pada kita, melihat keindahannya, tanpa membanding-bandingkan dengan yang belum ada, tanpa membayangkan yang lain-lain, maka kita akan dapat melihat keindahan dan akan terbuka mata kita bahwa sesungguhnya selama ini kita hanya diombang-ambingkan oleh pikiran kita yang selalu haus akan hal-hal yang belum ada pada kita! Kita selalu beranggapan bahwa kebahagiaan berada di sana, yang harus kita kejar-kejar, sama sekali kita tidak pernah mau melihat, apa yang berada di sini, yang sudah ada pada kita. Kita seperti mengejar-ngejar bayangan kita, biar dikejar sampai selama hidup pun tidak akan dapat tersusul, kita tidak pernah mau berhenti dan menyelidiki apa gerangan bayangan itu, lupa bahwa bayangan itu adalah kita sendiri, karena kitalah yang menciptakan bayangan yang kita kejar-kejar itu!

Siluman Kecil sadar kembali dari lamunannya ketika dia mendengar suara tadi bernyanyi terus.

Cai Shang Wi, Put Leng He. Cai He Wi, Put Wan Shang.

Siluman Kecil mengangguk-angguk, dan diam-diam menterjemahkan ujar-ujar itu dalam hatinya. “Dalam kedudukan tinggi, dia tidak menghina yang di bawah. Dalam kedudukan rendah, dia tidak menjilat yang di atas.”

Betapa sukarnya mencari seorang kuncu (budiman) seperti itu! Sudah lajim di dunia ini, orang selalu memandang rendah kepada orang-orang yang lebih rendah kedudukannya daripada kita. Kita suka menginjak dan meremehkan orang-orang yang berada di bawah kita, kita merasa jijik kepada kaum jembel, kita menjebikan bibir terhadap orang-orang miskin dan papa, kita merendahkan mereka yang bekerja kasar dan yang mempunyai kedudukan jauh lebih rendah dari pada kita.

Sebalikya, sudah menjadi KESOPANAN masyarakat bahwa kita selalu bersopan santun pada orang-orang yang tinggi kedudukannya, kita bermanis muka kepada orang-orang kaya, kita menjilat-jilat kepada pejabat tinggi. Betapa palsunya kita ini! Betapa kejamnya kita ini! Namun kita marah kalau dinyatakan bahwa kita tidak memiliki perikemanusiaan!

Siluman Kecil makin dalam tenggelam dalam renungannya. Dia mengenal ujar-ujar itu yang merupakan ayat ketiga dari bagian ketiga belas itu, dan dia masih ingat pula akan bagian selanjutnya, yang berbunyi, ‘Dia memperbaiki diri sendiri dan tidak mencari kesalahan orang lain, maka dia tidak mempunyai penyesalan apa pun. Ke atas dia tidak menyalahkan Thian dan ke bawah dia tidak menyalahkan manusia lain.’

Setelah suara itu berhenti bernyanyi, Siluman Kecil menoleh. Timbul keinginan tahunya untuk melihat siapa gerangan yang di tempat seperti itu menyanyikan ujar-ujar yang mengandung sari pelajaran amat tinggi itu. Dan dia tertegun. Di bawah sebatang pohon yang rindang nampak seorang nenek tua sedang duduk di atas tanah berumput, menghadap barang dagangannya yang bertumpuk di atas tikar terhampar. Seorang nenek tua penjual sepatu rumput rupanya! Dan nenek itulah yang tadi bernyanyi.

Memang harus diakui bahwa ujar-ujar dari Nabi Khong Hu Cu dikenal oleh semua orang yang pernah bersekolah, sungguh pun sebagian besar orang hanya mengenalnya sebagai ujar-ujar belaka tanpa menghayati isinya, tanpa meneliti diri sendiri apakah ujar-ujar yang setiap hari keluar dari mulutnya, terus- menerus diulang-ulanginya itu ada pula terkandung dalam langkah hidupnya sehari-hari.

Akan tetapi, mendengar ujar-ujar itu dinyanyikan oleh seorang nenek penjual sepatu rumput, dinyanyikan di tempat seperti itu, yaitu di luar kota di bawah pohon, sungguh merupakan hal yang amat janggal didengar. Biasanya, ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu atau ujar-ujar dari Agama Buddha hanya didengar di sekolah- sekolah, di kuil-kuil, atau dibicarakan di antara ‘orang-orang pandai’ sebagai bahan untuk berbantahan dan mempertahankan pendirian dan pentafsiran masing-masing, dan sebenarnya diperalat untuk membanggakan kepintarannya!

Melihat nenek itu menghadapi dagangannya dan kelihatan sama sekali tidak laku, terbukti dari bertumpuknya sepatu rumput itu dan tidak ada seorang pun di antara orang-orang yang lalu-lalang itu menengok ke arah nenek itu, apa lagi membeli dagangannya, Siluman Kecil merasa kasihan. Nenek itu kelihatannya miskin, pandang matanya sayu, dan siapa tahu sudah berapa hari nenek itu tidak makan. Tubuhnya begitu kurus! Siluman Kecil cepat menghampiri dan berjongkok di depan dagangan nenek itu.

“Nenek, apakah ada sepatu yang ukurannya cocok untuk kakiku?” tanyanya, sambil memandang wajah keriputan itu.

Akan tetapi dari sinar matanya, Siluman Kecil tahu bahwa nenek itu agaknya tidak mengerti atau mungkin juga tidak mendengar. Ketika nenek itu menaruh tangan di belakang daun telinganya, mengertilah dia bahwa nenek ini adalah seorang yang sudah berkurang pendengarannya atau agak tuli.

“Apakah ada yang cocok dengan ukuran kakiku?” tanyanya pula dengan suara lebih keras.

“Oh, tentu ada… ada…! Nah, ini agaknya cocok!” Nenek itu menyerahkan sepasang sepatu dan memandang wajah Siluman Kecil yang sebagian tertutup rambut putih penuh perhatian. “Agaknya Kongcu akan pergi ke selatan juga! Memang lebih enak pakai sepatu rumput, apa lagi di selatan sana banyak hujan. Lebih hangat jika memakai sepatu rumput.”

Siluman Kecil mengukur sepatu itu dengan kakinya. Memang cocok. Agaknya pedagang sepatu ini sudah biasa mengira-ngira ukuran kaki orang yang datang membeli sepatunya. “Berapa harganya?” Dia bertanya.

“Memang banyak yang ke sana. Kemarin banyak orang muda yang membeli sepatu saya pula, mereka hendak pergi ke selatan,” jawab nenek itu dan Siluman Kecil baru sadar bahwa pertanyaannya yang kurang keras tadi telah didengar lain oleh Si Nenek, maka jawabannya pun kacau.

Dia mengeluarkan uang tembaga dan mengangkat sepatu itu. Harganya berapa?” “Ohhh…“ Nenek itu tertawa dan nampak mulut yang ompong!

Setelah nenek itu memberi tahu harga sepatu yang ternyata hanya beberapa potong uang tembaga, Siluman Kecil membayarnya tanpa menawar. Padahal dia tahu bahwa biasanya pedagang seperti ini menawarkan dagangannya dengan harga dua kali lipat dan biasanya pihak pembeli pasti juga menawar harga itu.

Nenek itu kelihatan girang menerima pembayaran Siluman Kecil dan berkata, “Terima kasih. Mudah- mudahan Kongcu akan diterima menjadi prajurit.”

“Apa? Prajurit apa?” Siluman Kecil terheran mendengar itu.

“Eh, apakah Kongcu bukan hendak pergi ke selatan seperti mereka itu untuk memasuki ujian penerimaan prajurit?”

“Hemmm, ada apakah di selatan sana?”

“Kongcu belum tahu? Kabarnya Gubernur Ho-nan sedang mengadakan ujian untuk menerima calon-calon prajurit pengawal. Gajinya besar, kedudukannya tinggi, dan mereka yang terpilih akan dijadikan pengawal gubernur, atau kalau untung malah bisa diangkat menjadi calon pengawal pribadi.”

Tiba-tiba percakapan terhenti karena ada serombongan orang menghampiri nenek itu untuk membeli sepatu rumput. Yang membeli sepatu hanya dua orang, yaitu seorang kakek bertubuh tinggi tegap dan seorang setengah tua yang sikapnya pendiam dan matanya bersinar tajam. Sedangkan di belakang dua orang kakek ini terdapat sepuluh orang lain yang berpakaian ringkas dan sikapnya juga pendiam. Kakek berusia enam puluhan tahun yang bertubuh tinggi tegap itu melirik ke arah Siluman Kecil dan pandang matanya tajam penuh selidik. Siluman Kecil menundukkan muka, pura-pura memilih sepatu dan membiarkan rambutnya yang panjang itu menutupi mukanya seperti tirai.

Setelah memilih sepatu dan membayar harganya, kakek itu bertanya kepada si nenek pedagang sepatu, “Apakah banyak orang yang lewat ke sini dan menuju ke Ceng-couw, ibu kota Ho-nan?” Suaranya besar, tegas dan berwibawa.

“Banyak sekali… banyak orang-orang muda yang hendak melamar pekerjaan pengawal. Agaknya Sicu semua ini juga hendak ke sana?”

Kakek itu hanya menggumam, kemudian bangkit berdiri dan bersama ternan-temannya meninggalkan tempat itu.

“Wah, sungguh banyak sekali yang ingin melamar sebagai pengawal,” kata Si Nenek. “Tentu ramai sekali di Ceng-couw sana, wah, kalau aku bisa berdagang sepatu di sana, tentu laris sekali!”

“Kenapa kau tidak membawa sepatumu dan berdagang di sana saja?” kata Siluman Kecil sambil bangkit berdiri pula.

“Oh, jadi Kongcu juga ingin ke sana?” tanya nenek itu yang kembali salah dengar.

Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Repot juga bicara dengan seorang tuli. Dia hanya mengangguk- angguk sebagai jawaban, tidak mau lagi berteriak-teriak karena terdengar seperti orang cek-cok saja sehingga tentu akan banyak menarik perhatian mereka yang lewat di jalan itu. Akan tetapi, jawabannya dengan anggukan itu membuat si nenek menjadi gembira dan nenek itu pun bangkit berdiri.

“Kalau begitu, sebaiknya Kongcu naik kuda ke sana! Mungkin besok pagi sudah dimulai ujian itu dan Kongcu tentu akan ketinggalan kalau berjalan kaki. Di sini terdapat seorang pedagang kuda yang bagus- bagus dan harganya pun murah. Dia masih keponakanku sendiri. Saya tinggal bersama dia di sana juga. Marilah kuantarkan Kongcu ke sana melihat-lihat. Baru kemarin dia pulang membawa dua ekor kuda peranakan Mongol yang amat baik.”

“Tapi aku sudah biasa berjalan kaki, Nek. Aku tidak ingin membeli kuda.” Siluman Kecil hendak melangkah pergi, akan tetapi dia melihat seorang pengemis muda duduk tak jauh dari tempat itu.

Wajah pengemis ini menarik hatinya karena wajah itu terlalu tampan untuk seorang pengemis, dan sinar mata pengemis ini tidak seperti para pengemis lainnya. Semua pengemis selalu memiliki pandangan mata sayu, baik dibuat-buat atau tidak, tetapi sinar mata pengemis ini tajam berseri-seri dan sedikit pun tidak kelihatan duka terbayang di dalamnya! Keadaan ini menimbulkan keharuan di hati Siluman Kecil dan dia lalu memberikan kelebihan uang pembelian sepatu tadi kepada si pengemis muda tanpa mengeluarkan kata-kata. Pengemis itu menerima pemberian ini, membungkuk sedikit sebagai tanda terima kasih, akan tetapi mulutnya diam saja! Bahkan ada bayangan keangkuhan di sinar matanya!

Siluman Kecil merasa makin heran dan tertarik.

“Kongcu akan menyesal setengah mati kalau tidak membeli kuda itu!” Kembali nenek itu mendesak dan ketika Siluman Kecil menoleh, ternyata nenek itu sudah menggulung tikarnya dan membungkus semua sepatunya tanda bahwa dia sudah kukut (berkemas untuk pulang).

“Sudahlah, Nek. Aku tidak punya uang…ehh, uangku tidak akan cukup untuk membeli seekor kuda peranakan Mongol yang bagus.”

“Aaahhhh, Kongcu sungguh merendah! Kongcu mempunyai banyak uang…ehh, maksud saya, seorang seperti Kongcu yang melakukan perjalanan jauh tentu kaya raya, tentu Kongcu akan mampu membeli seekor kuda yang baik. Apakah Kongcu tidak rela memberi sedikit keuntungan kepada keluarga kami?”

Siluman Kecil terkejut. Dia memang membawa banyak uang, pemberian seorang hartawan yang pernah ditolongnya sebagai bekal dan terima kasih atas bantuannya. Bagaimana nenek ini bisa tahu?

Akan tetapi, mungkin juga sebagai seorang pedagang, nenek ini memiliki pandangan tajam tentang hal itu. Tertarik juga hatinya. Memang selama ini banyak sekali hal-hal yang menarik hatinya. Dia selalu tertarik oleh urusan orang-orang lain. Apakah hal ini menunjukkan gejala bahwa dia sudah tidak tertarik lagi kepada diri sendiri?

“Baiklah, Nek. Aku hendak melihat kuda yang kau puji-puji itu. Akan tetapi tidak perlu kau mengemasi dagangan untuk mengantar aku. Katakan saja di mana adanya tempat keponakanmu itu, dan aku akan mencarinya sendiri ke sana. Tidak perlu kau harus mengorbankan daganganmu yang menjadi tidak laku hanya untuk mengantarkan aku.”

“Kongcu, biar saya yang mengantar Kongcu ke sana. Saya juga tahu tempat pedagang kuda itu. Bukankah yang Nenek maksudkan itu adalah Paman Ciok pedagang kuda di sebelah barat jembatan hijau itu?” tiba- tiba pengemis muda itu berkata.

Nenek itu mengangguk dan mengerling ke arah Siluman Kecil. “Benar di sana…“

“Kalau begitu, biar ia ini yang mengantarku, Nek. Terima kasih!” kata Siluman Kecil dan dia lalu pergi bersama si pengemis muda.

Siluman Kecil makin tertarik kepada pengemis ini. Sungguh tidak seperti pengemis pengemis umumnya. Memang pakaiannya penuh tambalan, tetapi pakaian itu bersih dan jelas bahwa pakaian itu belumlah begitu butut sehingga perlu ditambal-tambal. Agaknya seperti pakaian yang masih baru akan tetapi sengaja ditambal-tambal! Hal ini tentu saja mencurigakan hatinya dan membuat dia menjadi tertarik. Jangan-jangan bocah pengemis ini mempunyai maksud tertentu dan sengaja mendekatinya, pikirnya. Banyak sekali orang-orang yang memusuhinya di dunia ini, apa lagi sejak dia dikenal sebagai Siluman Kecil dan banyak menolong orang-orang yang tertindas sehingga otomatis dia dimusuhi oleh mereka yang ditentangnya. Akan tetapi, tentu saja dia tidak merasa gentar, hanya tertarik kepada pribadi pengemis cilik ini.

“Siapakah namamu?”

Pengemis itu terkejut, akan tetapi lalu menjawab dengan suara tenang, “Nama saya Hong, dan orang- orang memanggil saya Siauw-hong (Hong Kecil).”

“Kenapa? Engkau tidak begitu kecil tubuhmu.”

“Entahlah, Kongcu. Sejak kecil saya disebut Siauw-hong.”

“Hemmm, di mana tempat tinggalmu?” “Saya tidak mempunyai tempat tinggal.” “Dan ayah bundamu?”

Siauw-hong menggeleng kepala. “Tidak punya.”

Siluman Kecil mengerutkan alisnya, kemudian tiba-tiba dia berhenti, memegang pundak pengemis cilik itu dan menggunakan jari-jarinya untuk menotok jalan darah dekat leher, jalan darah kematian. Pengemis itu terkejut, cepat-cepat dia miringkan tubuh sehingga pegangan itu meleset dan totokan itu luput.

“Ha, sudah kuduga. Engkau pandai ilmu silat tinggi!” Siluman Kecil berseru. “Dan Kongcu adalah Siluman Kecil!” pengemis cilik itu berkata.

“Hemmm, ternyata engkau bukan bocah pengemis sewajarnya, seperti pakaianmu yang tambal-tambalan akan tetapi bersih dan masih baru. Hayo katakan, mau apa engkau membayangi aku?” Siluman Kecil menghardik.

Pengemis muda itu menjura. “Maafkan saya, Taihiap. Sesungguhnya bukan maksud saya hendak membayangi, hanya karena sudah lama saya mendengar nama Taihiap dengan penuh kekaguman, maka begitu melihat Taihiap tadi, saya sudah menduganya dan saya ingin mengenal dan berdekatan dengan Taihiap. Saya sungguh tidak memiliki maksud buruk dan hendak mengantar Taihiap kepada rumah pedagang kuda itu.”

“Bagaimana engkau berpakaian pengemis? Apa maksudnya?”

“Maaf, memang saya sengaja dan ini merupakan syarat menjadi murid dari guru saya. Ketahuilah bahwa sejak kecil saya diserahkan oleh kakek saya yang sekarang entah berada di mana, kepada guru saya itu, dan setelah saya menjadi muridnya, saya diharuskan berpakaian pengemis untuk memenuhi kebiasaan nenek moyang dari guru saya.”

“Hemmm, mengapa begitu?” Siluman Kecil makin tertarik.

“Guru saya adalah keturunan pengemis, Taihiap. Oleh karena itu, biar pun sekarang guru saya tidak menjadi pengemis, akan tetapi semua muridnya diharuskan berpakaian pengemis sebelum tamat belajar untuk menghormati leluhurnya.”

Siluman Kecil memandang tajam. Dari gerakan anak ini ketika mengelak tadi, dia maklum bahwa anak ini memiliki dasar ilmu silat tinggi, bukan ilmu silat sembarangan saja, maka guru anak ini tentulah seorang tokoh besar pula.

“Siapakah gurumu itu, Siauw-hong?”

“Maaf, Taihiap, akan tetapi guru saya tidak pernah mau menyebutkan namanya.”

Siluman Kecil mengangguk-angguk. Dia bisa memaklumi akan hal ini karena memang demikianlah, makin tinggi pengertian seseorang, makin rendah hati pula wataknya di samping keanehan-keanehan yang tidak lumrah manusia biasa. Maka dia pun tidak mau mendesak lagi untuk menghormati pendirian guru pengemis cilik ini.

Akhirnya mereka tiba di tempat si pedagang kuda. Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, bermata sipit dan berkumis pendek, menyambut kedatangan mereka dan ketika mendengar bahwa Siluman Kecil datang untuk melihat kuda keturunan Mongol itu setelah diberi tahu oleh nenek penjual sepatu rumput, dia tersenyum lebar. “Memang benar, Kongcu. Dan kalau bukan bibi saya yang memberi tahu, tidak sembarangan orang akan saya persilakan melihat dua ekor kuda dagangan saya itu. Kuda simpanan, kuda tunggangan raja-raja di daerah Mongol!”

Sambil memuji-muji kudanya, orang itu mengantar Siluman Kecil dan Siauw-hong ke kandang kuda. Dan memang dua ekor kuda itu merupakan kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan jelas kelihatan kuat sekali. Yang seekor berbulu hitam mulus sedangkan yang kedua berbulu putih. Warna bulu mereka begitu mulus dan

terang sehingga sangat menyolok perbedaan warna bulu mereka. Yang putih adalah kuda betina sedangkan yang hitam adalah seekor kuda jantan yang kelihatan galak.

“Coba Kongcu lihat tanda di paha kiri mereka ini!” kata si tukang kuda.

Siluman Kecil melihat dan di paha kedua ekor kuda itu, di paha belakang yang kiri, terdapat capnya, yaitu ukiran kepala naga yang tentu saja kasar karena dibuat dengan menempelkan besi membara yang bergambarkan kepala naga di bagian paha itu.

“Apa artinya gambar ini?” tanya Siluman Kecil.

“Itu adalah tanda bahwa sepasang kuda ini adalah bekas milik raja Mongol, seorang di antara raja-raja liar di antara suku bangsa Nomad di Mongol sana dan agaknya raja itu memuja naga. Atau mungkin juga dua ekor kuda ini adalah keturunan Liong-ma (Kuda Naga) yang terkenal itu. Pendeknya, bukan kuda sembarangan, Kongcu, dan kalau Kongcu dapat memiliki seekor kuda ini, Kongcu sungguh beruntung. Akan tetapi, saya anjurkan Kongcu memilih yang putih.”

“Yang betina? Mengapa?”

“Karena dua ekor kuda ini memang mempunyai keanehan. Yang putih ini agaknya hanya mau menjadi jinak kalau dinaiki oleh seorang pria! Sedangkan yang jantan, yaitu yang hitam ini, hanya mau menjadi jinak kalau dinaiki oleh seorang wanita!”

“Ah, sungguh luar biasa!” Siluman Kecil berseru dan pengemis kecil itu tertawa. “Ha-ha-ha, kalau begitu mereka adalah kuda-kuda yang cabul!” seru Siauw-hong.

“Hushhhh, jangan sembarangan saja kau, Siauw-kai (Pengemls Cilik)!” Pedagang kuda itu menghardik. “Omongannya itu ada benarnya,” kata Siluman Kecil membela Siauw-hong.

“Tidak, Kongcu. Sama sekali tidak benar. Dua ekor kuda ini bukanlah kuda cabul, akan tetapi adalah kuda yang sudah terlatih matang di tempat asalnya. Dengan wataknya yang aneh itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tentu kuda hitam ini dahulu adalah kuda tunggangan seorang permaisuri dan dilatih sedemikian rupa, sehingga dia tidak mau ditunggangi seorang pria, maka hanya sang permaisuri sajalah yang dapat menungganginya. Mana boleh kuda tunggangan seorang permaisuri ditunggangi seorang pria? Dan demikian pula dengan kuda putih ini, tentu dahulunya menjadi kuda tunggangan seorang raja.”

Siluman Kecil mengangguk-angguk. Biar pun cerita itu agaknya terlalu dibuat-buat, akan tetapi masuk akal juga.

“Saya tidak percaya!” Tiba-tiba Siauw-hong berkata. “Saya yakin bahwa kuda hitam itu lebih baik karena dia jantan. Lebih baik Kongcu memilih yang jantan saja.”

“Eh, kau berani tidak percaya kepadaku, Siauw-kai? Kau menyuruh Kongcu naik kuda hitam kemudian dibantingkan?” bentak si tukang kuda.

“Masa dibantingkan! Kuda itu kelihatan begitu jinak!” Siauw-hong membantah. “Kalau tidak percaya, boleh kau coba naik di punggungnya!” tantang si tukang kuda. “Baik, akan saya tunggangi dia!” Siauw-hong menerima tantangan itu.

“Siauw-hong, apakah kau bisa menunggang kuda?” Siluman Kecil bertanya khawatir.

Siauw-hong tersenyum dan anak ini kelihatan tampan sekali kalau tersenyum. “Jangan khawatir, Taihiap, sejak kecil saya sudah biasa menunggang kuda dan entah sudah ada berapa ratus ekor kuda jantan yang saya tunggangi, maka saya tidak percaya kalau ada kuda jantan tidak mau ditunggangi seorang pria!”

“Kau bocah sungguh bermulut besar. Boleh kau coba si Hitam, akan tetapi Kongcu ini menjadi saksi dan saya tidak mau dipersalahkan kalau nanti kau dibantingkan dan punggungmu patah,” kata si tukang kuda.

Siauw-hong tertawa, lalu dia menuntun kuda hitam itu keluar kandang. Kelihatan si Hitam ini memang cukup jinak dan menurut saja ketika dituntun keluar. Dengan gerakan cekatan tanda bahwa dia memang biasa menunggang kuda, Siau-whong lalu meloncat ke atas punggung kuda hitam yang tinggi itu. Dan mulailah si Hitam itu memperlihatkan keliarannya. Dia meringkik keras, mendengus-dengus marah lalu berloncatan ke atas, berdiri di atas kedua kaki, meloncat lagi dan membuat punggungnya jadi melengkung, bergerak ke kanan kiri dan membuat gerakan dengan punggung untuk melemparkan Siauw-hong yang duduk di atas punggungnya.

Siauw-hong ternyata memang seorang ahli menunggang kuda. Kalau lain orang yang menunggangi punggung kuda hitam yang mengamuk itu, tentu takkan dapat bertahan lama dan sudah terlempar sejak tadi. Akan tetapi Siauw-hong juga memperlihatkan kelihaiannya. Meski beberapa kali tubuhnya kelihatan hampir terlempar dari punggung, namun ternyata dia masih dapat turun lagi duduk di atas punggung sambil memegangi kendali dengan cekatan.

Siluman Kecil menonton dengan hati tegang. Kembali dia dibuat kagum, sekali ini dibuat kagum oleh Siauw-hong dan juga oleh kuda itu. Benar-benar seekor kuda yang amat aneh, terlatih baik sekali dan penuturan pedagang kuda ini ternyata tidak bohong. Kuda jantan ini benar-benar tidak sudi ditunggangi oleh seorang pria! Sekarang kuda itu mengeluarkan suara ringkikan yang rendah mirip gerengan harimau dan tiba-tiba dia membanting diri ke kanan dan membuat gerakan bergulingan!

“Awas, Siauw-hong…!” Mau tak mau Siluman Kecil memekik. Dia sudah siap menolong karena keadaan pengemis muda itu benar-benar amat berbahaya.

“Kuda iblis…!” Siauw-hong berteriak dan tubuhnya terlempar, tetapi dengan gerakan pok-sai (salto) dia berhasil turun ke atas tanah dengan kaki lebih dulu. Dia mengebut ngebutkan pakaiannya dan mengomel, “Taihiap, kuda iblis itu berbahaya sekali!”

Pedagang kuda tertawa menyeringai, tetapi tidak berani bicara sembarangan karena dia pun sekarang tahu bahwa pengemis cilik itu bukan orang sembarangan setelah dia melihat betapa pengemis itu tadi dapat menyelamatkan diri secara luar biasa. Dia menuntun kuda hitam yang sudah jinak kembali begitu punggungnya tidak ditunggangi orang!

“Kuda yang baik sekali!”

Mereka bertiga menoleh dan melihat seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, berpakaian mentereng dan bersikap lincah memasuki tempat itu dan memuji si kuda hitam yang liar tadi, Siluman Kecil memandang penuh perhatian. Pemuda itu usianya tentu masih amat muda, mungkin baru belasan tahun, tetapi sinar matanya memandang penuh perhatian, dan melihat pakaiannya yang indah dan serba baru, mudah diduga bahwa pemuda ini tentulah putera seorang hartawan besar atau setidaknya putera seorang bangsawan! Tubuhnya kecil, akan tetapi kelihatan gesit, tanda bahwa pemuda hartawan ini tentu ‘berisi’, yaitu pernah berlatih silat. Di belakang pemuda ini berjalan seorang anak laki-laki yang membawa buntalan.

Pedagang kuda itu bermata tajam, tentu saja dia segera mengenal seorang hartawan. Maka sambil menuntun kuda hitam dia menghampiri dan menjura, “Kuda yang manakah yang Kongcu anggap baik?” tanyanya.

“Mana lagi kalau bukan kuda yang kau tuntun itu,” jawab si pemuda tampan sambil memandangi kuda hitam dengan mata bersinar-sinar. “Ini kuda Mongol tuan!” serunya sambil mendekati kuda itu, mengelus leher kuda itu dengan tangannya.

“Apakah Kongcu ingin membeli kuda?” tanya pula si pedagang kuda.

“Benar, aku membutuhkan dua ekor kuda untuk aku dan pelayanku ini, karena aku hendak pergi ke Ceng- couw, untuk memasuki ujian pengawal gubernur!”

Siluman Kecil merasa tertarik sekali. Benar dugaannya bahwa pemuda ini tentu memiliki kepandaian silat, kalau tidak tentu tidak akan ikut-ikut memasuki ujian pengawal.

Pedagang kuda itu tersenyum lebar dan matanya berseri girang. Hari baik rupanya hari ini bagi dia. Sepagi itu sudah banyak orang datang hendak membeli kuda!

“Kongcu tidak salah kalau mencari kuda di sini!” katanya.

“Aku suka sekali dengan kuda hitam ini, berapa harganya? Akan kubeli dia!” kata si kongcu yang masih mengelus-ngelus kuda itu.

Si pedagang kuda kelihatan kaget. “Ohhh, jangan yang ini, Kongcu! Apakah Kongcu tadi tidak melihat betapa liarnya dia? Kuda ini pantang ditunggangi oleh seorang pria. Dia adalah bekas tunggangan seorang permaisuri suku Nomad di Mongol, sudah terlatih untuk menolak kalau ditunggangi seorang pria. Sebaliknya, kuda putih itu pantang ditunggangi seorang wanita. Maka, kalau Kongcu membutuhkan kuda, sebaiknya yang putih itu…ehh, kalau belum jadi dibeli oleh Kongcu itu yang datang lebih dulu.”

Pemuda tampan itu sekarang memandang kepada Siluman Kecil, menghampiri dan tersenyum, lalu menjura. Tentu saja Siluman Kecil juga cepat membalas penghormatan orang itu. “Apakah engkau juga hendak membeli kuda putih itu, Sobat?” Pertanyaan ini diajukan dengan sikap ramah sekali sehingga biar pun Siluman Kecil tidak ingin berkenalan dengan orang itu, terpaksa dia menjawab dengan anggukan kepala.

“Agaknya engkau hendak melakukan perjalanan cepat dan jauh pula, Sobat.” “Saya…kami hendak pergi ke selatan…!”

“Ahh! Betapa kebetulan sekali! Tidak dicari-cari, di sini bertemu dengan seorang teman seperjalanan! Sobat yang baik, kalau begitu mari kita melakukan perjalanan bersama. Sungguh menyenangkan sekali! Aku bisa mendapatkan seorang teman untuk bercakap cakap di perjalanan!”

Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Dia tidak ingin melakukan perjalanan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Pula, memang selama ini dia selalu menjauhkan diri dari pergaulan umum.

“Terima kasih atas kebaikan saudara,” jawabnya. “Akan tetapi saya masih mempunyai banyak kepentingan lain.”

Penolakan halus diterima oleh pemuda tampan itu dengan senyum. “Tidak mengapa. Engkau boleh menyelesaikan semua kepentinganmu lebih dahulu, baru kita berangkat bersama.”

Siluman Kecil tidak menjawab lagi, melainkan menoleh kepada pedagang kuda itu. “Paman, berapakah harganya kuda putih itu?”

“Tiga ratus tael perak,” jawab si pedagang kuda.

“Wah, masa ada kuda harganya sekian?” Siauw-hong berseru. “Biasanya, seekor kuda tidak akan lebih dari seratus tael perak harganya!”

Si pedagang kuda menyeringai. “Siauw-kai, walau pun omonganmu itu ada benarnya, akan tetapi dua ekor kuda ini bukanlah kuda biasa! Coba dibayangkan, berapa biayanya mengambil dua ekor kuda ini dari tempat asalnya! Kongcu, harganya tiga ratus tael perak, tidak boleh kurang satu tael pun.”

Siluman Kecil tidak tahu akan harga kuda, akan tetapi terdengar pemuda tampan itu berkata, “Tiga ratus tael tidaklah mahal untuk seekor kuda seperti itu.”

Mendengar ini, Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Uang baginya bukan apa-apa, apa lagi uang itu adalah pemberian orang untuk bekal. Dia tidak membutuhkan banyak uang, justeru hanya memberatkan saja.

Tiba-tiba dia terkejut bukan main dan baru teringat bahwa dia tidak merasakan sesuatu yang berat di buntalannya! Karena dia tidak pernah memikirkan uang, dan jarang sekali membawa uang banyak, maka dia tidak merasakan perbedaan itu! Dia mengangkat buntalannya, menimbang-nimbang dan jantungnya berdebar. Benar saja, buntalannya sudah tidak berat lagi! Padahal seingatnya, uang bekal yang diberikan oleh hartawan itu kepadanya amat berat! Cepat dia membuka buntalannya dan dia menahan napas. Uang itu telah lenyap! Dia telah diberi beberapa potong uang emas dan banyak uang perak oleh hartawan itu, yang rasanya cukup banyak untuk membeli kuda itu. Akan tetapi ternyata uang itu lenyap sama sekali, tidak ada sisanya barang satu potong pun! Dan dia tidak merasakan kehilangan itu!

“Celaka…!” serunya.

“Taihiap, ada apakah…?” Siauw-hong bertanya sambil mendekati. “Uangku lenyap!”

“Ahhh…!” Siauw-hong juga memandang bingung.

Pemuda tampan itu menghampiri Siluman Kecil dan bertanya, “Sobat, apa yang telah terjadi?”

Siluman Kecil menggeleng kepala. “Entah bagaimana, uangku yang berada di dalam buntalan ini lenyap semua tanpa kusadari. Aku lupa bahwa aku membawa uang, maka ketika lenyap aku tidak tahu…”

“Hemmm…” Si pedagang kuda berkata dan alisnya berkerut, matanya memandang penuh kecurigaan kepada Siluman Kecil dan Siauw-hong.

“Kalau begitu, biarlah aku yang membayarnya! Hei, pedagang kuda, berikan kuda putih itu kepada sobatku ini dan kuda hitam itu kubeli, lalu sediakan dua ekor kuda lain untuk pembantu-pembantu kami!” Pemuda itu cepat mengeluarkan sekantung uang emas dari buntalannya yang tadi dibawa oleh kacungnya.

“Ah, tidak usah, Saudara… biar kami jalan kaki saja…,“ kata Siluman Kecil.

“Sobat yang baik, kita sudah menjadi sahabat dan calon teman seperjalanan, mengapa banyak sungkan?” “Aku tidak mau menerima pemberian dari orang yang tidak kukenal dan…”

“Kalau begitu perkenankan, aku she Kang, bernama Swi,” katanya. “Tetapi…”
“Kalau kau segan menerima pemberianku, biarlah kuda itu kau pinjam saja!”

Siluman Kecil tidak dapat menolak lagi, merasa tidak enak kalau harus menolak terus kebaikan orang yang kelihatannya demikian tulus dan ikhlas.

“Kalau begitu, baiklah, Saudara Kang Swi. Terima kasih atas kebaikanmu,” katanya sambil menjura.

“Akan tetapi saya bukanlah pembantu Taihiap ini, saya hanya mengantarnya sampai ke sini saja,” kata Siauw-hong.

Pemuda tampan itu menoleh kepadanya. “Aku melihat engkau tadi pandai sekali menunggang kuda, tentu engkau pandai pula merawat kuda, bukan? Nah, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai perawat kuda? Berapakah gaji yang kau minta, tentu akan kupenuhi.”

Siauw-hong mengangkat dadanya dan menjawab, “Saya menerima permintaan Kongcu, tetapi bukan karena besarnya gaji, melainkan karena saya memang ingin meluaskan pengalaman ke selatan.”

“Jadi kau terima?” tanya kongcu itu dengan girang, tetapi ada sinar keheranan melihat sikap pengemis muda itu, yang demikian angkuh sikapnya. “Paman, cepat pilihkan dua ekor kuda lain selain si Putih dan si Hitam ini, dan hitung berapa yang harus kubayar kepadamu.”

Tentu saja si pedagang kuda menjadi girang bukan main. Sungguh mujur dia. Hari ini bertemu dengan kongcu yang kaya dan begini royal, membeli kuda tanpa menawar lagi! Tentu saja dia tidak mau mencelakakan seorang langganan yang begini royal, maka dia berkata, “Akan saya pilihkan seekor kuda yang terbagus untuk Kongcu…“

“Aku sudah memilih si Hitam ini!” jawab kongcu itu.

“Ahhh, jangan, Kongcu! Baru saja Siauw-kai ini hampir terbanting mati oleh kuda itu!”

Siauw-hong juga berkata, “Sebaiknya Kongcu mengambil lain kuda. Kuda hitam ini adalah kuda iblis, atau kuda porno…“

“Ehh, kuda porno (cabul)…?” Kongcu itu bertanya dan memandang Siauw-hong dengan alis berkerut.

“Habis, kuda jantan ini hanya mau ditunggangi seorang wanita! Cabul dia!” Siauw-hong berkata dan memandang kepada kuda hitam itu dengan hidung dikernyitkan.

Kongcu itu tertawa. “Kalian semua tidak tahu rahasianya. Aku sudah pernah memiliki seekor kuda seperti ini dan kalau tidak tahu rahasianya, memang jangan harap dapat menjinakkan dia.”

“Kau hendak mengatakan bahwa kau dapat menundukkan dia?” Siluman Kecil bertanya penuh keheranan.

Dia melihat sendiri tadi betapa Siauw-hong yang merupakan seorang ahli menunggang kuda, hampir celaka. Apakah pemuda halus yang kaya raya dan royal ini memiliki ilmu menunggang kuda yang lebih mahir dari pada Siauw-hong? Agaknya tak mungkin. Dia sendiri pun harus mengakui bahwa dalam menunggang kuda, belum tentu dia mampu menandingi Siauw-hong dan dia akan berpikir dua kali untuk menunggangi kuda liar macam si Hitam itu.

“Tentu saja,” kata pemuda royal itu tersenyum. “Kalau tidak, untuk apa kubeli?” “Tapi… tapi dia benar-benar berbahaya sekali,” kata Siluman Kecil.

“Aku mengerti bagaimana harus menguasainya, harap kau jangan khawatir, Sobat.”

Namun ketika pemuda tampan itu hendak memegang kendali kuda hitam dari tangan pedagang kuda, si pedagang berkata ragu, “Wah, bagaimana kalau sampai Kongcu terbanting jatuh dan… dan celaka? Siapa akan membayar kuda-kuda saya?”

Kongcu itu tertawa. “Hitunglah dan akan kubayar sekarang juga. Kalau seandainya nanti aku dibanting mati oleh kuda ini, kau tidak akan rugi apa-apa.”

Wajah pedagang kuda itu menjadi merah. “Bukan… bukan maksudku begitu… tetapi sebaiknya Kongcu jangan mencoba-coba untuk menunggang ini, dia sungguh tidak mau ditunggangi oleh pria.”

Akan tetapi pemuda itu tidak melayaninya lagi, melainkan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar empat ekor kuda. Kemudian dia berkata sambil menuntun si Hitam, “Kalian semua lihatlah bahwa aku tidak sedang main-main. Aku tahu bagaimana harus menundukkan kuda Mongol yang terlatih ini.”

Setelah berkata demikian, dia lalu mengusap-usap kepala kuda hitam itu, mendekatkan mulutnya pada telinga kiri kuda itu dan mengeluarkan kata-kata asing dalam bahasa Mongol. Mulutnya komat-kamit dan terdengar kata-kata aneh seperti mantra.

Siluman Kecil mengerti juga bahasa Mongol, akan tetapi karena bahasa dari suku bangsa Nomad banyak sekali macamnya, maka dia tidak merasa heran mendengar bahasa yang mirip bahasa Mongol akan tetapi tidak dimengertinya, yang keluar dari mulut pemuda tampan itu. Akan tetapi dia melihat betapa kuda hitam itu menggoyang goyangkan ekornya ke kanan kiri dan kelihatan gembira dan jinak! Kemudian, dengan gerakan ringan sekali tanda bahwa pemuda tampan itu memiliki ginkang yang tinggi, pemuda itu meloncat ke atas punggung kuda. Semua orang, terutama Siuaw-hong, memandang dengan hati berdebar tegang, menduga bahwa tentu si Hitam itu akan meloncat-loncat, meringkik dan membungkukkan punggung. Akan tetapi sungguh aneh! Kuda itu tetap berdiri diam dan tenang-tenang saja, bahkan ekornya masih bergoyang goyang!

Pemuda tampan itu tertawa. “Nah, masih tidak percayakah kalian kepadaku? Kuda ini memang terlatih untuk menentang ditunggangi pria, akan tetapi ada rahasianya untuk menjinakkan dia dan aku mengenal rahasia itu. Sobat, marilah kita berangkat. A-cun, dan kau, Siauw-kai…“

“Nama saya Siauw-hong, Kongcu!” kata Siauw-hong, tidak senang disebut Siauw-kai (Pengemis Cilik). “Dan saya tidak pernah mengemis.”

“Ahhh, engkau seorang bocah aneh, tidak kalah anehnya dengan kuda ini dan sahabat itu!” Si pemuda tampan menunjuk ke arah Siluman Kecil yang sudah meloncat naik ke atas punggung si Putih. Dan memang benar kata-kata si pedagang kuda, Si Putih itu tenang-tenang saja ketika punggungnya ditunggangi oleh Siluman Kecil, seorang pria!

Mereka berempat lalu berangkat meninggalkan si tukang penjual kuda yang terus berdiri bengong, masih terheran-heran menyaksikan mereka. Baru hari itu dia memperoleh keuntungan besar di samping keheranannya bertemu dengan orang-orang yang begitu aneh. Si pengemis yang pandai menunggang kuda, si kongcu yang masih muda akan tetapi sudah putih semua rambutnya, dan si kongcu royal yang ternyata seorang ahli yang luar biasa dalam menaklukkan kuda hitam itu! Akhirnya dia menggeleng-geleng kepala dan berjalan masuk sambil menggenggam uang emas yang memenuhi saku bajunya.

Sementara itu, Siluman Kecil yang menunggang kuda si Putih menjalankan kudanya berendeng dengan pemuda tampan bernama Kang Swi yang menunggang kuda si Hitam. Mereka menjalankan kuda secara perlahan-lahan karena Siluman Kecil sedang melamun dan agaknya Kang Swi juga tidak tergesa-gesa. A- cun, kacung dari Kang Swi, dan Siauw-hong, menjalankan kuda di belakang mereka dan Siauw-hong kelihatan gembira sekali, sikapnya sama sekali tidak seperti seorang jembel biar pun pakaiannya tambal- tambalan, melainkan seperti seorang jenderal perang menunggang kuda dan memeriksa barisan!

Siluman Kecil mengerutkan alisnya, mengingat-ingat dan memutar otak, mencari-cari ke mana lenyapnya uangnya yang banyak itu. Sungguh memalukan, juga mengherankan. Dia bukan seorang anak kecil yang pelupa, bukan pula seorang yang lemah sehingga uang yang berada di dalam buntalan pakaiannya dapat lenyap begitu saja! Dia adalah seorang pendekar yang amat terkenal, dijuluki orang Siluman Kecil, akan tetapi pada kenyataannya uangnya dicuri orang dari dalam buntalannya tanpa dia ketahui! Sungguh menggemaskan!

Dia mengepal tinju. Tanpa disadarinya, mulutnya mengeluarkan suara, “Hemmmm!”

Terdengar suara tertawa ditahan dan ketika dia menoleh, dia melihat Kang Swi melirik ke arahnya sambil tersenyum-senyum, senyum yang kelihatan seperti orang mengejek.

“Huh, bocah ini sikapnya manja dan sombong bukan main!” pikirnya. Akan tetapi tentu saja dia merasa tidak enak kalau memperlihatkan rasa gemasnya karena betapa pun juga, hartawan muda ini telah membelikan kuda untuknya dan Siauw-hong!

“Tidak mungkin uang itu lenyap begitu saja,” bisik hatinya dan kembali dia tenggelam dalam renungan.

Ketika dia membayar sepatu rumput, uang itu masih ada. Dia ingat benar. Dan sesudah itu, dia hanya berdekatan dengan si nenek penjual sepatu rumput yang agak tuli dan pengemis muda, Siauw-hong itu. Siau-whong tidak mungkin mengambil uangnya, biar pun dia tahu bahwa Siauw-hong juga bukan anak biasa, melainkan seorang anak yang memiliki kepandaian. Siauw-hong bukan pencuri uangnya. Anak ini kelihatan jujur dan tidak membawa apa-apa di dalam bajunya yang penuh tambalan itu, dan semenjak bertemu di tempat penjual sepatu rumput, anak ini tidak pernah berpisah dari sampingnya. Bukan, bukan Siauw-hong yang mencuri uang itu.

Kalau begitu, tidak ada orang lain, tentu si nenek itu! Si nenek yang mencurigakan sekali sekarang, sikapnya yang ramah dan aneh, bicaranya yang membujuk-bujuk, yang sering harus dia dekati karena tidak mendengar kata-katanya, gerak-geriknya yang aneh dan akhirnya nenek itu tadi menggulung tikarnya hendak kukut dan mengantar dia ke tempat pedagang kuda. Dan sekarang dia teringat betapa nenek itu kadang-kadang tidak mendengar omongannya, akan tetapi kadang-kadang seperti tidak tuli, sikapnya aneh dan penuh rahasia. Menjual sepatu rumput di luar kota, di jalan yang hanya dilalui orang-orang dusun yang tidak akan pernah mau membeli sepatu seperti itu, seolah-olah memang sengaja menghadangnya!

Teringat akan semua itu, tiba-tiba dia menghentikan kudanya. “Ehh, ada apakah?”

“Saya harus kembali sebentar!” Siluman Kecil berkata.

“Hemmm, mau mencari uangmu yang hilang?” Kang Swi bertanya sambil tersenyum simpul. “Tak ada gunanya. Ke mana engkau hendak mencari uangmu itu di dunia yang begini luas?” Dia mengebutkan ujung bajunya dengan sikap agung-agungan.

“Siauw-hong, nenek itu!” Siluman Kecil menoleh kepada pengemis muda dan Siauw-hong juga mengangguk, seolah-olah baru ingat bahwa mungkin sekali uang majikannya itu dicuri oleh nenek penjual sepatu rumput yang aneh itu.

“Mungkin sekali, Taihiap!” kata Siauw-hong.

“Terlambat, Sobat!” kata kongcu tampan itu sambil menggerak-gerakkan cambuknya. “Dia sudah pergi.

Bukankah kau maksudkan nenek si penjual sepatu rumput yang tuli itu? Lihat, sepatu yang dipakai A-cun itu adalah sepatu terakhir yang saya beli darinya,” katanya menunjuk ke belakang dan Siluman Kecil melihat sepatu rumput yang dipakai oleh kaki kacung itu.

Siluman Kecil memandang dengan sinar mata penuh selidik kepada Kang Swi. Dia harus berhati-hati. Pemuda tampan ini tidak kalah anehnya dari pada si nenek penjual sepatu rumput! Seorang pemuda yang sikapnya begitu baik kepadanya, yang tahu segala!

“Hemmm, Saudara Kang, bagaimana kau tahu bahwa nenek itu yang kumaksudkan?”

Kang Swi tertawa. “Ha-ha, jangan kau memandang kepadaku seperti itu, Kawan! Aku menjadi takut karenanya! Kau memandang kepadaku seolah-olah akulah si pencuri uangmu itu! Tentu saja aku tahu. Begitu mudahnya! Jangan engkau memandang ringan kepadaku. Lihat, engkau memakai sepatu rumput yang baru, dan kau tadi menyebut nenek, maka setiap orang pun tentu akan dapat menduga nenek yang mana yang kau maksudkan,” jawabnya dengan sikap tenang sekali.

Siluman Kecil mengangguk-angguk. “Engkau sungguh cerdik.”

“Sama sekali tidak. Hanya aku menggunakan otak dan engkau yang terlalu memandang ringan kepadaku. Bukan hanya itu saja, aku pun dapat menduga siapa adanya engkau, Sahabatku!”

“Eh?” Siluman Kecil kembali menatap wajah tampan itu dengan tajam. “Siapa kiranya?”

“Aku berani bertaruh seribu tael bahwa engkau adalah pendekar yang dijuluki orang Siluman Kecil.”

Siluman Kecil cepat menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya yang putih itu sebagian menutupi mukanya. Dia terkejut dan tercengang. Benar-benar pemuda ini aneh dan cerdik bukan main. Dia harus berhati-hati!

“Bagaimana kau tahu? Menggunakan otak pula ataukah hanya kira-kira saja?”

“Aku tidak pernah mau bertindak ceroboh. Segalanya harus kupikirkan masak-masak baru aku berani mengambil kesimpulan. Dengar alasanku, Sobat. Aku sudah sering mendengar tentang Siluman Kecil, yang kabarnya masih muda akan tetapi rambutnya sudah putih semua. Sekarang, aku bertemu dengan engkau. Engkau masih muda, rambutmu seperti benang-benang perak, gerak-gerikmu penuh rahasia, dan Siauw-kai… ehhh, Siauw-hong itu menyebutmu Taihiap. Siapa lagi kau kalau bukan Siluman Kecil yang tersohor itu?”

“Saudara Kang Swi, engkau memang cerdik sekali,” Siluman Kecil kembali memuji. “Aku harus kembali dulu untuk mencari nenek itu.”

“Taihiap… hemmm, setelah benar bahwa engkau adalah Siluman Kecil, aku harus menyebutmu Taihiap! Taihiap, percuma saja kalau kau hendak mencari nenek itu.”

“Mengapa kau berkata demikian?”

“Seorang yang dapat mencuri uangmu tanpa kau ketahui, tentulah bukan orang yang sembarangan, dan dia tentu tahu bahwa dia telah mencuri uang dari Taihiap, maka setelah berhasil, apakah dia akan menanti di sana sampai Taihiap kembali ke sana dan menghajarnya? Kurasa dia tidaklah begitu bodoh, Taihiap, dan sekarang ini tentu dia sudah pergi jauh sekali, jauh dari kota An-yang. Mencari dia di sana sama dengan membuang-buang waktu, sedangkan kita harus cepat tiba di Ceng-couw karena besok ujian itu sudah dimulai!”

Siluman Kecil terpaksa membenarkan pendapat ini, tetapi mendengar ucapan terakhir itu dia berkata, “Aku tidak ingin mengikuti ujian itu.”

“Ahhh, tentu saja tidak. Mana mungkin seorang pendekar sakti seperti Taihiap hendak merendahkan dlri menjadi seorang pengawal? Akan tetapi, kurasa amat penting bagi Taihiap untuk pergi secepatnya ke Ceng-couw jika Taihiap hendak menyelidiki tentang lenyapnya uang Taihiap itu.”

“Ehhh?” Siluman Kecil memandang heran dan tidak mengerti.

“Taihiap, setiap orang yang memiliki kepandaian tentu akan tertarik oleh sayembara memasuki ujian pengawal itu, dan kurasa nenek tuli itu pun tidak terkecuali. Kurasa di Ceng-couw itulah satu-satunya tempat di mana Taihiap dapat mengharapkan untuk bertemu kembali dengan dia.”

Siluman Kecil mengangguk dan memandang kagum. “Kau benar, mari kita berangkat!”

Dan dia pun membedal kuda putih itu dengan cepat. Kongcu tampan itu tertawa dan membedal si Hitam untuk mengejar. Keduanya membalapkan dua ekor kuda itu sampai akhirnya mereka terpaksa berhenti dan menanti dua orang pelayan yang berteriak-teriak karena tertinggal jauh.

Ternyata kemudian oleh Siluman Kecil betapa menyenangkan melakukan perjalanan dengan Kang Swi, pemuda kaya yang royal itu. Mereka selalu makan di rumah makan besar dan kongcu itu memesan masakan-masakan yang termahal dan terbaik, bersikap royal sekali dan ternyata dia merupakan seorang dermawan besar. Setiap orang pengemis yang meminta selalu diberi uang yang tidak tanggung-tanggung banyaknya. Siauw-hong yang menjadi tukang kuda sampai mengacungkan jempolnya saking girang dan kagum terhadap Kang Swi.

“Kang-kongcu benar-benar seorang yang dermawan!” ia memuji. “Saya ikut menyatakan terima kasih atas kebaikan Kongcu terhadap para pengemis itu.”

Akan tetapi Kang Swi tersenyum dan tidak kelihatan bangga, malah menjawab, “Aku dapat mencari uang dengan mudah sekali. Begini banyak uang untuk aku sendiri apa gunanya? Lebih baik kubagi-bagi kepada mereka yang membutuhkan!”

Siluman Kecil merasa makin kagum terhadap teman seperjalanan yang amat aneh ini. Memang bocah itu manja dan agak sombong, pikirnya, tinggi hati dan penuh rahasia, akan tetapi harus diakuinya bahwa Yang Swi memang berwatak dermawan.

Yang amat kagum dan senang hatinya adalah Siauw-hong. Baru sekarang dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa di dunia ini banyak pula orang-orang yang berbaik hati. Dalam beberapa hari saja dia sudah bertemu dengan tiga orang yang selain gagah perkasa dan aneh, juga amat baik.

Pertama-tama dia bertemu dengan laki-laki berlengan sebelah yang menjamu para pengemis cilik dengan royal, kemudian ada Siluman Kecil yang telah tersohor sebagai seorang pendekar budiman, dan kini pemuda yang sikapnya penuh lagak dan agung-agungan ini ternyata lebih baik hati lagi.

Kota Ceng-couw di Propinsi Ho-nan hari itu kelihatan ramai sekali, jauh lebih ramai dari pada biasanya. Banyak orang luar kota membanjiri kota ini dan pagi-pagi sekali sudah banyak orang berduyun-duyun memasuki halaman yang luas di depan istana gubernur. Mereka semua ingin menonton ujian pemilihan calon pengawal dan prajurit.

Gubernur Ho-nan, yaitu Kui Cu Kam, tinggal di Lok-yang, yaitu kota yang menjadi ibu kota Ho-nan, tetapi dia mempunyai istana di Ceng-couw dan di kota inilah pemilihan prajurit itu diadakan. Seperti telah diketahui, Gubernur Ho-nan ini diam-diam memiliki keinginan untuk menanam kekuasaannya di Ho-nan, lepas dari kedaulatan kaisar.

Untuk keperluan ini, selain bersekongkol dengan semua pihak yang anti kerajaan, juga dia berusaha mengumpulkan orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi sebanyak mungkin. Untuk keperluan itu pula maka dia lalu memerintahkan untuk mengadakan sayembara pemilihan calon pengawal di Ceng-couw itu dan untuk urusan ini, dia telah menugaskan kepada Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It, jagoannya yang terkenal lihai itu, untuk membantu pembesar di Ceng-couw dalam mengawasi jalannya sayembara atau ujian pemasukan pengawal itu.

Karena banyaknya tamu dari luar kota, bukan hanya mereka yang ingin memasuki sayembara akan tetapi juga mereka yang ingin menonton, maka kota Ceng-couw menjadi sibuk sekali. Semua rumah penginapan, besar kecil, penuh dengan tamu, juga semua warung makan penuh dengan tamu sehingga banyak penduduk kota Ceng-couw hari itu benar-benar mengalami panen besar!

Karena banyaknya orang-orang aneh, jagoan-jagoan kang-ouw, memasuki kota Ceng-couw di hari itu, maka munculnya Siluman Kecil dan Kang Swi bersama dua orang pembantu mereka, tidak begitu menyolok dan menarik perhatian banyak orang, meski pun dua ekor kuda mereka, si Hitam dan si Putih, menimbulkan kekaguman banyak orang, terutama mereka yang mengenal kuda baik.

Akan tetapi, Kang Swi sejak tadi bersungut-sungut dan marah-marah karena semua rumah penginapan telah penuh. Sukar bagi mereka untuk memperoleh kamar di rumah penginapan. Akhirnya Kang Swi turun tangan sendiri, tidak mengandalkan dua orang pelayan itu untuk menanyakan kamar di rumah penginapan. Dia mendatangi sebuah rumah penginapan yang besar dan langsung dia menemui pemilik rumah penginapan itu.

“Saudara Kang, bukankah tadi A-cun dan Siauw-hong sudah menanyakan dan di situ sudah penuh pula?” Siluman Kecil menegur temannya itu ketika mereka turun dari atas punggung kuda di depan sebuah rumah penginapan besar.

“Hemmm, ingin kulihat sendiri apakah benar-benar sudah penuh semua, Taihiap.”

“Sssttttt, harap Saudara Kang jangan menyebut aku Taihiap di tempat ramai ini, hal itu hanya akan menarik perhatian orang saja,“ Siluman Kecil berkata.

Kang Swi tersenyum, senyum pertama sejak dia merengut dan marah-marah karena belum memperoleh kamar tadi. Matanya lalu berkedip-kedip menggoda, “Kenapa sih? Bukankah Taihiap memang pendekar sakti yang terkenal itu?”

“Sudahlah, aku tidak ingin dikenal orang.”

“Kalau begitu, karena engkau lebih tua dari pada aku, aku akan menyebutmu Twako (Kakak), akan tetapi siapa namamu?”

“Kau boleh menyebutku Twako, dan aku…aku tidak punya nama.”

Kang Swi tertawa lagi. “Engkau sungguh seorang manusia aneh penuh rahasia, Twako. Nah, aku akan mencari kamar.” Dia lalu berjalan memasuki penginapan besar itu sambil membawa kantung uangnya. Tak lama kemudian keluarlah dia dengan wajah berseri.

“Aku berhasil mendapatkan sebuah kamar!” teriaknya.

“Ehh! Tadi saya sendiri yang menanyakan dan para pengurus itu bilang kamar telah penuh semua!” Siauw- hong berseru dengan penasaran.

“Tentu saja, memang penuh semua,” kata Kang Swi.

“Ehh, Kang-kongcu… kalau begitu…“ Siauw-hong berkata heran.

“Yang kusewa adalah kamarnya. Kamar pemilik rumah penginapan itu sendiri. Dia mau mengalah dan bersama isterinya dia rela tidur di gudang malam ini dan menyerahkan kamarnya untukku.” Dia tertawa dan sikapnya penuh lagak kemenangan.

Diam-diam Siluman Kecil dapat menduga. “Tentu dengan kekuasaan uang,” pikirnya. Entah berapa puluh kali lipat dari harga biasa pemuda royal ini menyewa kamar itu.

“Akan tetapi sayang, kamarnya hanya satu untukku sendiri, dan untuk kalian bertiga terpaksa aku menyewakan sebuah kandang kosong karena memang sudah tidak ada kamar kosong lagi. Maaf, Twako.”

“Hemmm…!” Siluman Kecil menggumam. “Di kandang atau di mana pun tidak ada bedanya bagiku.”

Pelayan muncul dan empat ekor kuda itu digiring ke kandang, juga tiga orang laki-laki itu. Kandang yang disulap menjadi kamar untuk mereka bertiga itu sudah dibersihkan dan lantainya ditutupi rumput kering. Bau rumput kering dan tahi kuda kering memang tidak begitu busuk, bahkan mempunyai kesedapan yang khas, akan tetapi tetap saja hati Siluman Kecil merasa mendongkol juga.

Kurang ajar, pikirnya. Sungguh sekali ini dia tidak dihargai orang sama sekali! Dia, yang di mana-mana disambut orang dengan penuh penghormatan, kini tidur di kandang kuda, sedangkan pemuda royal berpakaian mewah dan banyak uangnya itu tidur sendirian di dalam kamar besar! Kalau dilanjutkan begini, pada suatu hari aku tentu akan menampar kepala yang sombong itu, pikirnya. Dan hal itu amat tidak baik karena pemuda itu, betapa pun juga telah bersikap baik kepadanya, tidak sayang membelikan kuda untuk dia dan Siauw-hong dengan harga mahal.

“Aku harus cepat-cepat pergi menghindarinya,” katanya dalam hati.

Dengan hati mengkal Siluman Kecil meninggalkan A-cun dan Siauw-hong di dalam kandang kuda itu dan dia keluar. Malam gelap, langit hitam pekat, akan tetapi banyak lampu dipasang di sekitar penginapan itu. Siluman Kecil melangkah keluar dengan niat hendak mencari warung untuk makan dan minum arak menghangatkan badan, karena malam itu dingin sekali sehingga perutnya terasa amat lapar.

“Ahhh…“ Tiba-tiba dia mengeluh dalam hati dan merogoh semua saku bajunya untuk mencari kalau-kalau ada sisa uang di dalam salah saku bajunya. Namun percuma dan dia sudah menduganya. Semua sakunya kosong. Dia tidak mempunyai uang sepeser pun! Mana mungkin membeli makanan dan minuman? Mencuri? Mudah saja baginya, akan tetapi hal itu tidak sudi dia melakukannya. Minta? Hemmm, sedangkan seorang bocah jembel seperti Siauw-hong saja tidak sudi mengemis, apa lagi dia!

“Twako! Kau ada di sini?” Tiba-tiba terdengar teguran orang dan wajah Siluman Kecil bersungut-sungut di dalam gelap. Pemuda congkak itu sudah berada disampingnya sambil tersenyum-senyum, seolah-olah mengerti akan kesukarannya, yaitu ingin makan minum akan tetapi tidak mempunyai uang! Dia hanya mengangguk, tidak ingat bahwa di dalam kegelapan mungkin saja pemuda she Kang itu tidak dapat melihat jawabannya tanpa kata itu.

“Twako, mari kita mencari minuman!” Kang Swi berkata dengan nada suara gembira. Sebelum Siluman Kecil sempat menjawab, tangannya sudah digandeng dan ditarik oleh pemuda itu dan diajak memasuki sebuah warung arak yang berada di sebelah rumah penginapan.

Muka Siluman Kecil terasa panas. Untung bahwa waktu itu malam, maka penerangan lampu warung yang kemerahan menyembunyikan perubahan mukanya yang menjadi merah. Bagaimana dia dapat menolaknya biar pun hatinya merasa amat tidak enak? Pemuda ini boleh jadi congkak dan agung-agungan, akan tetapi harus diakuinya amat ramah dan akrab. Mereka memasuki warung itu dan memilih tempat duduk di sudut. Seperti biasa, secara royal sekali Kang Swi menanyakan masakan-masakan istimewa dari warung itu dan memesan macam-macam masakan dan arak yang paling baik!

Siluman Kecil diam-diam menegur diri sendiri, mengapa setelah berhadapan dengan pemuda ini, melihat sikapnya yang demikian ramah, semua ketidak-senangan hatinya lenyap sama sekali! Malah dia mendapatkan dirinya makan minum dengan lahapnya, karena selain perutnya lapar, juga hawa yang dingin dan masakan yang lezat membuat dia menjadi seorang pelahap! Dan seperti biasa, yang diketahuinya semenjak dia melakukan perjalanan dengan Kang Swi, pemuda tampan ini makan sedikit sekali.

“Kenapa makanmu sedikit amat?” Dia pernah bertanya siang tadi.

“Habis, kalau sebegitu saja sudah kenyang, perlu apa banyak-banyak?” jawab yang ditanya. “Pantas tubuhmu kecil!”

Dan sekarang, pemuda itu juga makan sedikit saja, biar pun hampir semua masakan dicobanya. Akan tetapi pemuda itu minum arak dengan lagak seorang jagoan minum.

“Agaknya engkau kuat minum arak, Kang-hiante,” berkata Siluman Kecil melihat wajah yang gembira itu.

Kang Swi tersenyum dan diam-diam Siluman Kecil harus mengakui bahwa pemuda ini memang tampan sekali. Kalau tersenyum tampak deretan gigi yang putih bersih, kecil dan rata. Mulutnya berbentuk indah. Seperti mulut wanita saja.

“Ah, kau kira hanya engkau yang kuat minum, Twako? Mari kita bertanding minum arak, agar diketahui siapa di antara kita yang lebih kuat.”

“Hmmm, engkau bisa mabuk nanti,” Siluman Kecil menjawab sambil tersenyum melihat lagak pemuda yang seperti anak-anak itu.

“Eh, ehh, engkau memandang rendah. Nah, mari kita coba. Berapa banyak pun engkau minum, akan kuimbangi, Twako!”

Siluman Kecil telah dapat menduga bahwa pemuda tampan ini memang bukan orang sembarangan, dan tentu memiliki kepandaian, akan tetapi karena sikapnya yang baik dan ramah, tentu saja dia merasa tidak enak kalau harus menguji kepandaiannya, biar pun dia ingin sekali tahu sampai di mana kelihaiannya. Maka sekarang dia memperoleh kesempatan untuk menguji kekuatan minum pemuda itu dan bagi seorang ahli silat tinggi hal ini sudah dapat dipakai ukuran akan kekuatan tenaga dalam seseorang.

“Baiklah, aku akan minum tiga cawan berturut-turut.” Siluman Kecil lalu minum tiga cawan arak berturut- turut.

Sambil tertawa dan dengan sikap memandang ringan, Kang Swi juga minum tiga cawan arak dan cara dia minum memang menunjukkan dia seorang ahli, sekali teguk saja setiap cawan lenyap memasuki perutnya yang kecil.

Siluman Kecil tersenyum. “Kau memang ahli minum,” katanya dan sekarang dia minum berturut-turut lima cawan arak! Lalu dia memandang kepada temannya itu yang juga tersenyum dan tanpa berkata apa-apa pemuda tampan itu lalu dengan gerakan tangan cepat sekali minum sampai tujuh cawan arak berturut- turut!

“Aku melebihi dua cawan, Twako,” katanya sambil tersenyum lebar.

Siluman Kecil terkejut juga. Gerakan tangan pemuda itu demikian cepatnya dan walau pun sudah menghabiskan tiga dan tujuh cawan arak, akan tetapi sedikit pun jari-jari tangannya tidak pernah kelihatan gemetar dan jari-jari tangan itu masih tetap tenang ketika meletakkan kembali cawan kosong di atas meja. Padahal dia yang baru minum delapan cawan sudah merasakan betapa hawa arak yang keras sudah naik ke dalam kepalanya yang tentu saja dapat ditekannya keluar dengan tenaga sinkang-nya. Dia memandang wajah yang tersenyum ramah itu. Tidak enak juga kalau sampai Kang Swi diujinya terus sehingga menjadi mabuk, pikirnya. Sekarang pun sudah jelas bahwa dugaannya tidak salah. Pemuda ini memiliki sinkang yang cukup kuat. Biarlah dia minum lima cawan lagi.

“Kau memang hebat,” katanya dan kini dia minum lagi lima cawan arak.

Akan tetapi Kang Swi memegang guci araknya. “Mengapa bersikap sungkan, Twako? Kita sama-sama kuat minum. Mari kita habiskan arak dari guci masing-masing.” Dan pemuda tampan itu lalu mengangkat guci araknya, menempelkan bibir guci di mulutnya yang dibuka, kepalanya ditengadahkan dan guci itu lalu dimiringkan, araknya dituang dan seperti pancuran memasuki mulutnya yang ternganga sampai habislah arak dari dalam guci itu. Ketika dia menaruh kembali guci kosong ke atas meja, jari-jari tangannya masih tidak gemetar sama sekali sungguh pun mukanya yang putih itu menjadi agak kemerahan dan kepalanya agak bergoyang-goyang!

Siluman Kecil terkejut. Dia sudah menduga bahwa pemuda tampan itu memang memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi tidak disangkanya sedemikian kuatnya. Maka gembiralah hatinya karena ternyata teman seperjalanannya ini adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Dia pun lalu minum semua arak dari gucinya.

Setelah kemasukan arak yang masing-masing tidak kurang dari tiga puluh cawan, Siluman Kecil melihat betapa wajah yang kemerahan itu makin berseri dan sikap Kang Swi makin gembira! Kiranya ada pula sedikit hawa arak mempengaruhi pemuda ini dan diam-diam Siluman Kecil merasa girang karena bagaimana pun juga dialah yang menang dalam pertandingan ini. Pemuda itu biar pun belum dapat dikatakan mabuk, akan tetapi caranya bicara dan tersenyum sudah lebih ringan dan lebih gembira dari biasa, tanda bahwa dia telah dipengaruhi hawa arak.

Mendadak pemuda itu tertawa sambil memandang keluar. Siluman Kecil juga lantas memandang dan ternyata yang ditertawakan oleh Kang Swi itu adalah seorang laki-laki yang jalannya pincang. Orang ini mukanya penuh dengan kumis dan cambang bauk, amat lebat hampir menyembunyikan semua mukanya sehingga sukar ditaksir berapa usianya. Begitu masuk, orang ini lantas duduk di sudut bagian depan dan sama sekali tidak mempedulikan para tamu lainnya yang mulai berdatangan untuk makan malam.

Kemudian, dengan gerak tangannya dia memanggil pelayan. Ketika pelayan itu sudah berdiri di depannya, si pincang itu membuat gerakan-gerakan tangan memesan nasi dan arak. Dari gerakannya dan dari suaranya yang hanya ah-ah-uh-uh itu tahulah Siluman Kecil bahwa orang itu, selain pincang, juga gagu.

“Heh-heh-heh!” Kang Swi tertawa-tawa melihat tingkah laku si gagu itu ketika memesan makanan dan minuman, membuat gerakan seperti orang sedang makan dan minum.

Siluman Kecil mengerutkan alisnya. Bocah ini terlalu lancang dan sembrono, pikirnya, mentertawakan orang begitu saja, apa lagi cara tertawanya begitu terpingkal-pingkal seolah-olah pemuda tampan itu melihat suatu hal yang luar biasa lucunya. Padahal, apakah lucunya seorang gagu memesan makanan dan minuman? Tentu saja harus menggunakan gerak tangan!

“Hemmm, Hiante, jangan sembarangan mentertawakan orang!” tegurnya. “Apakah kau tidak melihat langkahnya tadi biar pun terpincang-pincang? Dan lihat sinar matanya! Hati-hatilah, jangan menghina orang, kurasa dia bukan orang sembarangan!”

“Ha-ha-ha!” kembali Kang Swi tertawa dan masih terdengar terkekeh biar pun dia sudah mendekap mulutnya. “Bagaimana tidak akan tertawa melihat yang selucu itu? Hi-hik, Twako… apakah kau tidak tahu, heh-heh…“ Kang Swi kembali tertawa dan menutupi mulutnya sambil memejamkan mata menahan kegeliannya.

Tangis dan tawa biasanya amat menular. Melihat Kang Swi tertawa terpingkal-pingkal seperti itu, biar pun dia sendiri masih belum mengerti apa yang ditertawakannya, tanpa disadarinya Siluman Kecil juga tersenyum dan ikut gembira. “Apa sih yang lucu?” dia bertanya, kini menjadi ingin sekali untuk mengetahuinya.

“Twako, hi-hik-hik aku tidak mentertawakan pincangnya atau gagunya, akan tetapi… heh-heh…“

“Ada apa sih?”

“Mungkin orang lain dapatlah dia kelabui, akan tetapi aku!” Kang Swi menepuk dada dengan lagak sombong. “Di depan hidung seorang ahli seperti aku dia berani main gila, ha-ha-ha! Kumisnya terlalu ke atas dan agak miring penempelannya, dan cambangnya terlalu penuh di bagian pipi kiri. Ha-ha-ha, kalau tidak pandai menyamar, permainan itu sungguh berbahaya!”

Pemuda ini terus tertawa ha-ha-hi-hi dan Siluman Kecil maklum bahwa biar pun tidak sampai mabuk, terlalu banyak arak itu membuat Kang Swi menjadi terlalu gembira sehingga dia khawatir kalau-kalau sampai menimbulkan persoalan. Betapa pun juga, dia kini memperhatikan orang itu dan setelah mendengar kata-kata Kang Swi tadi, dia baru dapat melihat hal-hal yang hanya dapat diketahui oleh seorang ahli itu. Dan agaknya, temannya ini benar! Mencurigakan sekali si pincang itu. Mendengar orang tertawa, si pincang menengok, akan tetapi karena terhalang oleh pilar dan pot bunga, dia tidak melihat Siluman Kecil dan Kang Swi.

Siluman Kecil juga terpaksa ikut tertawa, lalu bertanya lirih, “Apakah kau mengenal dia?”

Kang Swi menggeleng kepala sambil tersenyum-senyum, pringas-pringis seperti orang sinting. Melihat keadaan temannya ini, Siluman Kecil merasa khawatir kalau-kalau ulahnya yang biasanya memang aneh dan kadang-kadang ugal-ugalan itu kini ditambah oleh pengaruh arak akan menimbulkan keributan, maka dia lalu bangkit dan mengajak kembali ke rumah penginapan.

Kang Swi tidak membantah, dibayarnya harga makanan dengan royal, dan mengatakan bahwa uang kembalinya agar dibagi-bagi di antara para pelayan, kemudian dia berjalan bersama Siluman Kecil pergi meninggalkan warung, setelah sekali lagi tertawa ke arah si pincang, sedangkan Siluman Kecil menyembunyikan mukanya di balik rambutnya yang putih panjang.

Akan tetapi ketika mereka tiba di depan rumah penginapan, terdengar teriakan tertahan, “Siluman Kecil…!”

Siluman Kecil dan Kang Swi terkejut dan cepat menoleh. Mereka masih sempat melihat dua orang prajurit dengan mata terbelalak dan muka pucat melarikan diri tergesa-gesa dari situ, menyelinap di antara orang banyak.

Siluman Kecil menarik napas panjang dan berbisik, “Sungguh tidak enak sekali. Di sini banyak orang mengenalku.”

Kang Swi tersenyum. “Twako, agaknya di kota ini banyak terdapat orang-orang yang ketakutan melihat wajahmu yang tampan dan gagah…“

“Hemmm, tidak perlu mengejek!” Siluman Kecil menegur.

“Ahh, aku salah bicara. Mereka takut mendengar namamu yang tersohor.”

“Sudahlah, aku pun tidak mempunyai keperluan di sini. Malam ini aku akan pergi saja,” kata Siluman Kecil.

“Eh-ehh, apakah kau akan merelakan saja uangmu dibawa lari oleh nenek itu? Kurasa hanya di tempat keramaian besok sajalah kita dapat menemukan nenek itu.”

“Bukankah ujian sudah dimulai hari ini?”

“Tidak, sudah kuselidiki. Hari ini hanya diadakan pemilihan di antara para pelamar, pemilihan dari mereka yang berkepandaian tinggi untuk dipertandingkan besok, untuk memperebutkan kedudukan pengawal pribadi gubernur yang hanya akan dipilih tiga empat orang banyaknya. Selebihnya hanya akan diterima sebagai prajurit pengawal kalau memenuhi syarat. Jadi besoklah orang-orang kang-ouw akan bermunculan dan tentu kita akan dapat menemukan nenek itu.”

“Tetapi aku banyak dikenal orang, hanya akan menimbulkan keributan saja.” Siluman Kecil yang biasanya menyendiri itu merasa tidak enak kalau mengingat akan hal itu.

“Twako, Jangan khawatir. Aku tadi mentertawakan penyamaran konyol si pincang itu bukan karena sombong, tetapi karena aku benar-benar seorang ahli dalam mendandani orang. Kalau Twako besok kudandani, agaknya orang tuamu sendiri tidak akan dapat mengenalmu lagi, Twako. Dengan menyamar, Twako akan dapat menonton dengan leluasa, juga akan dapat mencari nenek penjual rumput itu.”

Siluman Kecil menghela napas. Dia merasa kalah bicara dengan pemuda lincah ini. “Baiklah…,“ katanya.

“Dan maafkan aku, Twako. Bukan sekali-kali maksudku untuk merendahkan Twako dengan menyewakan kandang kuda, akan tetapi apa boleh buat, kamar telah habis dan aku… sejak kecil aku tidak bisa tidur sekamar dengan orang lain. Ataukah Twako yang memakai kamarku itu dan biar aku tidur di luar saja?”

“Ahhh, tidak…! Jangan…! Pakailah kamar itu sendiri, aku sudah biasa tidur di alam terbuka. Akan tetapi sungguh mengherankan. Mengapa sih kau tidak bisa tidur berdua dengan orang lain dalam satu kamar?”

“Sudah sejak kecil… aku tidak bisa tidur kalau ada orang lain dalam kamarku.“

Siluman Kecil terseret oleh sikap dan keanehan temannya itu, maka dia lalu menggoda, “Hemmm, kalau begitu bagaimana kelak kalau kau kawin?”

“Ihhh! Twako sungguh ceriwis! Siapa yang mau kawin?” Setelah berkata demikian, Kang Swi berkelebat pergi, memasuki rumah penginapan dengan gerakan cepat.

Siluman Kecil tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. Pemuda itu seperti anak kecil saja. Siauw-hong agaknya lebih dewasa dari pada Kang Swi. Maka dia pun kemudian memasuki kandang kuda dari pintu pekarangan samping dan ternyata A-cun dan Siauw-hong sudah tidur. Siluman Kecil lalu duduk melakukan siulian dan ternyata enak mengaso di atas tumpukan rumput kering itu dan mendapatkan hembusan angin semilir yang lembut dan yang dapat memasuki kandang kuda…..
********************

Pada keesokan harinya, keadaan di kota Ceng-couw menjadi makin ramai. Memang keramaian sayembara itu terjadi pada hari ini, di mana para pelamar yang mempunyai kepandaian tinggi akan memperebutkan kedudukan pengawal-pengawal pribadi dari gubernur. Di antara ratusan orang pelamar, setelah diuji ketangkasan dan tenaganya kemarin, hanya ada belasan orang saja yang dicalonkan, dan tentu saja bagi mereka yang belum sempat diuji, kalau memiliki kepandaian, diperkenankan juga mengikuti pertandingan adu kepandaian itu.

Pekarangan yang merupakan alun-alun di depan istana gubernur sudah penuh dengan manusia yang ke semuanya mengelilingi sebuah panggung yang tinggi dan luas, yang sengaja dibangun untuk keperluan itu. Karena panggung itu tinggi, maka walau pun mereka yang kebagian tempat agak jauh pun dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di atas panggung. Dan di tempat duduk kehormatan yang berada di depan istana, duduklah Gubernur Ho-nan sendiri, yaitu Gubernur Kui Cu Kam, dikelilingi oleh para pengawalnya dengan ketat untuk menjaga keselamatan gubernur ini.

Sedangkan Cui-lo-mo Wan Lok It yang mengatur sayembara pemilihan pengawal itu, sejak kemarin sudah sibuk dan kini dia kadang-kadang kelihatan di dekat panggung, kadang-kadang tidak kelihatan karena si rambut merah dan pemabuk ini terkadang mengadakan perondaan sendiri untuk menjamin kelancaran pemilihan itu, juga harus menjaga keamanan gubernur yang kebetulan berkenan menyaksikan pula pemilihan calon pengawal-pengawalnya itu.

Setelah matahari naik tinggi dan Gubernur Kui Cu Kam telah duduk di tempatnya, bersama dengan para pembesar-pembesar dan para pembantunya, tambur dan canang dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahwa sayembara akan dimulai. Seperti semut-semut yang sibuk, orang-orang yang menonton bergerak mendekati panggung.

Kang Swi yang sudah siap dengan dandanan ringkas dan dengan pedang di punggung, sejak tadi telah siap dan kini dia mendatangi kandang kuda bersama seorang kakek keriputan. Kakek tua ini bukan lain adalah Siluman Kecil yang telah ‘disulap’ menjadi kakek oleh tangan Kang Swi yang ternyata memang benar-benar pandai sekali merias penyamaran itu, dan ternyata pemuda tampan ini sudah membawa perlengkapan untuk merias dan membuat penyamaran-penyamaran. Ternyata bahwa dia memang benar seorang ahli, maka tidak mengherankan kalau dia dapat mengetahui penyamaran si pincang yang gagu itu dan mencela penyamarannya.

Siluman Kecil menjadi kagum bukan main ketika dia melihat bayangan wajahnya sendiri yang sudah berubah menjadi seorang kakek itu di dalam cermin. Dia memuji kelihaian Kang Swi akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum saja.

“Sekarang kau tidak khawatir akan dikenal orang lagi, Twako, dan dengan leluasa kau dapat mencari nenek itu di antara penonton.”

A-cun, pelayan atau kacung pengiring Kang Swi, lama memandang dengan bengong terlongong kepada kakek tua yang datang bersama majikannya itu. Dia tidak berani bertanya kepada majikannya siapa adanya kakek itu, hanya dia merasa heran dari mana datangnya kakek itu yang memasuki kandang bersama majikannya.

“Ehh, A-cun, di mana adanya Siauw-hong?” tanya pemuda tampan itu ketika dia tidak melihat si pengemis muda di situ.

“Dia? Ahh, sejak tadi dia sudah pergi, Kongcu. Katanya dia hendak nonton keramaian.”

“Hemmm, kalau begitu engkau tinggallah di sini menjaga kuda-kuda kita, A-cun, kami hendak pergi nonton keramaian juga,” kata Kang Swi yang segera mengajak Siluman Kecil pergi. Kang Swi tidak lupa membawa pedangnya yang digantung di punggungnya sehingga dia kelihatan gagah sebab pagi hari itu dia mengenakan pakaian yang ringkas.

Setelah tiba di depan istana gubernur, ternyata di situ telah berkumpul banyak orang dan di atas panggung itu tengah terjadi pertandingan yang ramai, diikuti oleh sorak-sorai para penonton yang sudah terdengar dari tempat jauh. Siluman Kecil lalu memisahkan diri untuk mencari nenek pencuri uangnya dan mereka saling berjanji akan berjumpa kembali nanti di rumah penginapan. Kang Swi sendiri kemudian menyelinap di antara penonton untuk mendekati panggung.

Ternyata pertandingan di atas panggung telah selesai. Seorang yang bertubuh gemuk pendek dirobohkan oleh seorang pemuda tinggi kurus. Pemuda tinggi kurus ini memang istimewa sekali. Dia bukan merupakan seorang di antara para calon yang kemarin terpilih, melainkan seorang yang baru muncul di antara penonton. Akan tetapi secara berturut-turut dia telah mengalahkan sepuluh orang calon terpilih dan masing-masing dirobohkan dalam waktu belasan jurus saja!

Si gemuk pendek yang terakhir itu pun dirobohkannya dalam waktu sepuluh jurus, maka tentu saja kemenangan-kemenangannya disambut oleh sorak-sorai para penonton yang merasa kagum terhadap pemuda tinggi kurus berpakaian sederhana itu. Sekarang, atas perintah Ho-nan Ciu-lo-mo yang dapat menilai kepandaian orang, pemuda kurus itu dipersilakan untuk beristirahat lebih dulu. Pemuda itu mengangguk dan turun dari atas panggung, lenyap di antara para penonton.

Ketika Kang Swi tiba di dekat panggung, pemuda tinggi kurus itu sudah turun sehingga pemuda tampan dan royal ini tidak sempat melihat wajah pemuda yang sudah menang sepuluh kali itu. Kini pengatur pertandingan, seorang perwira tinggi besar dan tua, yaitu bukan lain adalah Su-ciangkun yang bernama Su Kiat, seorang di antara pengawal Gubernur Ho-nan, setelah menyuruh mundur pemuda tinggi kurus, lalu memanggil dengan suara nyaring nama seorang calon yang kemarin dipilih. Muncullah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang bertubuh kecil, yang muncul di panggung dengan muka agak pucat dan sikap yang sungkan dan jeri.

Memang hati si kecil ini sudah jeri ketika menyaksikan betapa selain para calon, ternyata di antara banyak penonton itu terdapat orang pandai seperti pemuda tinggi kurus tadi. Oleh karena itu, belum juga bertanding, hatinya sudah merasa jeri dan dia kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri. Dengan sikap sungkan-sungkan dan merendah dia lalu berdiri menanti di atas panggung, dengan kedua pundak ke muka sehingga tubuhnya kelihatan makin kecil lagi.

Sebuah nama dipanggil lagi dan muncullah orang kedua, juga seorang calon yang kemarin telah dipilih, yang mukanya kuning pucat dan mulutnya selalu tersenyum masam. Setelah diberi tanda oleh Perwira Su Kiat, mereka bergebrak dan bertanding. Akan tetapi, belum sampal dua puluh jurus, si kecil menang dan orang bermuka kuning pucat itu terlempar ke bawah panggung, disambut sorak-sorai penonton yang merasa kagum bahwa laki-laki yang pemalu dan bertubuh kecil itu ternyata lihai juga.

Berturut-turut maju sampai lima orang calon, akan tetapi semuanya dikalahkan oleh si kecil yang lihai dan yang kini mulai menemukan kembali kepercayaannya kepada diri sendiri setelah berturut-turut memperoleh kemenangan. Habislah semua calon yang terpilih kemarin.

“Kini kesempatan dibuka kembali kepada para orang gagah yang hadir di antara penonton dan yang belum sempat didaftar kemarin, untuk turut mengikuti sayembara pertandingan dan dipersilakan naik ke atas panggung!” kata Perwira Su Kiat dengan suaranya yang menggeledek.

“Biar saya mencobanya!” Terdengar jawaban yang tidak kalah nyaringnya dan dari bawah panggung melayanglah sesosok tubuh yang tinggi besar. Semua penonton tertegun ketika melihat seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa dan kepalanya gundul, bukan gundul karena dicukur, melainkan memang gundul karena botak!

Dengan mulut menyeringai lebar, raksasa gundul ini menghampiri si kecil, lalu berkata, “Anak yang baik, lebih baik kau meloncat turun saja dengan tubuh utuh dan mengalah kepadaku.”

Biar pun tadinya si kecil ini merasa jeri, tetapi kini setelah memperoleh kemenangan berturut-turut selama lima kali, hatinya sudah menjadi besar dan tentu saja dia marah sekali mendengar dirinya disebut ‘anak yang baik’ oleh raksasa itu. Terdengar suara ketawa di antara para penonton mendengar ucapan itu dan si kecil menjadi merah mukanya. Maka tanpa banyak cakap lagi, dia lalu menyerang dengan pukulan kedua tangannya. Gerakannya memang gesit bukan main dan kemenangannya yang berturut turut tadi pun mengandalkan kegesitannya itulah.

“Buk! Buk! Buk!”

Secara bertubi-tubi dan cepat bukan main, dua tangan jagoan kecil itu telah melakukan pukulan, dan anehnya si raksasa gundul itu menerima semua pukulan yang tepat mengenai perut dan dadanya itu tanpa menangkis atau mengelak, seolah-olah semua pukulan itu tidak dirasakannya sama sekali! Dan memang semua pukulan si kecil itu seperti mengenai karet saja, membalik dan selagi si kecil terkejut setengah mati, tiba-tiba raksasa itu tertawa, tangannya yang besar dengan lengan yang panjang itu lantas saja menyambar.

“Plakkk!”

Sebuah tamparan mengenai bawah telinga si kecil dan dia mengeluh kemudian roboh pingsan! Tentu saja peristiwa mengejutkan ini disambut oleh sorak-sorai para penonton. Si kecil tadi demikian lihainya, akan tetapi dengan sekali tamparan saja dia roboh pingsan oleh raksasa gundul itu. Maka dapat dibayangkan betapa lihainya si raksasa gundul ini! Dan tentu akan ramai sekali kalau raksasa gundul yang kebal ini diadu dengan pemuda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali tadi.

Agaknya Perwira Su Kiat juga berpendapat demikian. Dia sudah mencari-cari dengan pandang matanya ke arah menyelinapnya pemuda tinggi kurus tadi. Tetapi tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan seorang pemuda tampan telah melompat dengan gerakan indah dan ringan ke atas panggung, menghadapi si raksasa gundul.

Pemuda tampan ini tersenyum lebar dan memandang si raksasa dengan sinar mata berkilat. Di punggung pemuda ini kelihatan tergantung sebatang pedang dan pakaian pemuda ini biar pun ringkas namun amat perlente dan serba indah. Karena pemuda tampan ini berperawakan kecil ramping, maka berhadapan dengan raksasa gundul nampak perbedaan yang amat menyolok sekali. Yang satu kecil dan kelihatan halus lemah, sedangkan yang kedua tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat. Sungguh bukan merupakan lawan yang seimbang!

“Ha-ha, anak kecil mengapa ikut-ikutan dan ingin bertanding?” “Lebih baik pulang, nanti dicari ibumu!”

“Belajar lagi sepuluh tahun baru datang ke sini!”

Teriakan-teriakan penonton yang dilontarkan kepada pemuda yang kelihatan masih remaja dan tampan itu disambut oleh pemuda itu dengah senyum simpul. Pemuda ini bukan lain adalah Kang Swi, pemuda tampan royal yang datang bersama Siluman Kecil. Dengan sikap tenang Kang Swi melangkah maju menghadapi si raksasa gundul.

“Heh, kau anak kecil yang lebih pantas membaca kitab dari pada berada di sini!” Si gundul berteriak. “Benar, turun saja!”

“Buat apa mengantar nyawa sia-sia!”

“Mati konyol nanti! Sayang ketampananmu!”

Kang Swi tersenyum. Senang hatinya. Dia merasa yakin akan dapat mengalahkan raksasa gundul ini, maka makin hebat orang mengkhawatirkan dirinya, makin baiklah karena kemenangannya nanti akan terasa lebih nikmat. Dia menjura keempat penjuru dengan lagak yang angkuh, sehingga Perwira Su Kiat yang juga memandang rendah pemuda remaja ini lalu berseru, “Hayo kalian berdua cepat memulai!”

Raksasa gundul itu kemudian melangkah maju. “Bocah sombong, biarlah kau boleh memukulku, tanpa kulawan pun engkau akan kalah dan kedua tanganmu akan patah patah dipakai memukul tubuhku.”

Banyak orang tertawa menyambut ucapan raksasa ini.

“Benarkah?” Kang Swi bertanya. “Hendak kucoba sampai di mana sih tebalnya kulitmu maka kau berani berkata demikian. Nah, coba kau terimalah ini!” Tangan kiri Kang Swi menyambar ke depan secara sembarangan.

“Syuuuttttt, plakkkkk!”

“Aughhh…!” Raksasa gundul itu jatuh berlutut dan kedua tangannya memegangi dada yang terkena tamparan Kang Swi.

Tangan pemuda halus itu rasanya seperti tusukan pedang tajam yang dapat menembus kekebalannya, dadanya terasa nyeri bukan main, panas dan perih. Semua penonton tadinya menyangka bahwa raksasa itu pura-pura saja untuk mempermainkan lawan, akan tetapi ketika mereka melihat wajah itu berkerut- merut menahan nyeri, kemudian muka raksasa itu menjadi merah dan matanya melotot marah, mereka terkejut dan terheran-heran. Benarkah tamparan yang perlahan itu membuat si raksasa yang kebal itu kesakitan?

Sikap raksasa gundul itu menjawab keraguan mereka ketika si raksasa mengeluarkan suara gerengan marah dan tiba-tiba tubuhnya yang tadi berlutut itu menerjang ke depan. Gerakannya seperti seekor singa marah menerkam kambing, kedua lengan yang panjang itu dikembangkan, jari-jari tangan membentuk cakar hendak menerkam, matanya melotot dan mulutnya terbuka mengerikan!

Dengan gerakan yang indah dan ringan sekali, Kang Swi sudah meloncat ke samping tepat pada saat kedua tangan lawan sudah hampir dapat mencengkeramnya dan pada detik itu juga, kaki kanannya menendang ke arah lutut dan tangannya dengan jari terbuka menyambar ke arah lambung.

“Dukkk! Plakkk!”

Tak dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu terjelungkup ke depan dengan terpaksa, dan hidungnya mencium lantai panggung sehingga ketika dia merangkak bangun, hidungnya berdarah dan mulutnya menyeringai karena selain lututnya terasa nyeri, juga lambungnya mendadak menjadi mulas! Akan tetapi, dia menjadi makin penasaran dan marah, apa lagi ketika mendengar para penonton bersorak riuh rendah.

Tadi, ketika raksasa itu jatuh berlutut, para penonton masih belum yakin benar akan kelihaian Kang Swi, akan tetapi robohnya raksasa itu untuk kedua kalinya, kelihatan jelas oleh para penonton sehingga meledaklah pujian mereka terhadap Kang Swi. Tidak mereka sangka bahwa pemuda tampan yang masih muda sekali itu demikian hebatnya, dengan mudah saja dalam dua gebrakan telah merobohkan raksasa itu dua kali!

“Arghhhhh…!” Seperti suara seekor singa menggereng, raksasa gundul itu menyerang dan kini serangannya itu merupakan serangan maut yang mengerikan karena dia bukan hanya menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram dari kanan kiri, akan tetapi juga mempergunakan kepalanya yang gundul botak itu untuk menyeruduk ke arah dada Kang Swi!

“Hemmm…!” Kang Swi berseru mengejek dan tiba-tiba ketika dia menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat ke atas dengan gerakan cepat tak terduga sehingga serangan si raksasa itu luput dan tubuhnya terhuyung ke depan. Kang Swi yang meloncat tinggi ke atas itu kini sudah meluncur turun sambil membalikkan tubuh dan kakinya menginjak tengkuk lawan sambil mengerahkan tenaganya.

“Hekkk!” Tubuh tinggi besar itu terdorong ke bawah dan karena tadi dia menggunakan tenaga untuk menyeruduk, maka begitu diinjak tengkuknya, tenaga serudukannya bertambah dan kepalanya kini menyeruduk ke bawah dengan kekuatan dahsyat.

“Brakkkkk…!”

Kepala itu menancap di lantai papan panggung, masuk sampai ke lehernya dan kedua kakinya bergerak- gerak di atas panggung! Terdengar suara ketawa di sana-sini dari mulut mereka yang suka akan tontonan yang menyeramkan, akan tetapi banyak pula yang meringis dan merasa ngeri, mengira bahwa kepala botak itu pecah atau paling tidak tentu akan robek-robek.

Kang Swi mendekati, kakinya menendang. “Bukkk!”

Tubuh itu tercabut dan terlempar ke luar panggung, jatuh berdebuk di bawah panggung dalam keadaan pingsan, dirubung banyak orang dan mereka ini terheran-heran karena kepala botak itu sama sekali tidak terluka, sungguh pun orangnya pingsan. Maka meledaklah sorak dan pujian yang dilontarkan orang kepada Kang Swi.

Diam-diam Perwira Su Kiat terkejut sekali. Hari ini dia telah banyak sekali melihat orang yang kepandaiannya jauh melampaui tingkatnya! Apa lagi perwira ini, bahkan Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It sendiri yang merupakan jagoan kepercayaan Gubernur Ho-nan terkejut melihat kepandaian Kang Swi. Pemuda tampan itu benar-benar hebat, entah mana lebih lihai dibandingkan dengan pemuda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali pertandingan tadi.

Maka Ciu-lo-mo segera memberi isyarat kepada Su Kiat untuk memanggil pemuda tinggi kurus tadi, dan dia sendiri lalu duduk dan minum arak dari gucinya dengan hati penuh kegembiraan dan ketegangan hendak menyaksikan pertempuran yang tentu akan amat menarik antara kedua orang pemuda itu.

Sementara itu, Gubernur Kui Cu Kam sendiri mengangguk-angguk dan memuji, dia merasa senang kalau mendapatkan seorang pengawal yang lihai dan tampan seperti Kang Swi itu.

“Orang muda tinggi kurus yang telah menang sepuluh kali tadi, kini dipersilakan naik ke panggung!” Su Kiat berseru dengan suara lantang.

Dia harus mengulang panggilannya sampai tiga kali, barulah kelihatan pemuda tinggi kurus itu naik ke atas panggung. Sikapnya seperti orang yang amat ragu-ragu sehingga mengherankan hati semua orang. Apakah pemuda tinggi kurus itu takut melawan pemuda tampan yang telah mengalahkan si raksasa gundul itu?

Kang Swi sendiri terkejut dan terheran-heran ketika dia memandang wajah pemuda itu karena ternyata bahwa pemuda kurus itu bukan lain adalah tukang kudanya sendiri! Siauw-hong! Dia memang sudah menduga bahwa tukang kudanya itu adalah seorang pengemis muda yang memiliki kepandaian, akan tetapi sungguh sama sekali tidak disangkanya bahwa Siauw-hong yang hanya kebetulan saja bertemu dengan Siluman Kecil, kini ikut pula memasuki sayembara dan menurut ucapan perwira itu tadi telah menang sepuluh kali!

“Harap Ji-wi enghiong suka memperkenalkan kepada Taijin dan semua tamu yang terhormat!” terdengar Perwira Su Kiat yang mendapatkan isyarat dari Ciu-lo-mo berseru dari sudut panggung.

Siauw-hong dan Kang Swi segera menghadap ke arah tempat kehormatan, menjura ke arah para pembesar di situ dan terdengarlah Kang Swi berkata dengan suara lantang, “Hamba bernama Kang Swi!”

Siauw-hong juga menjura dan berkata, suaranya lirih, tidak selantang suara pemuda royal itu, “Hamba bernama Siauw-hong!”

Su Kiat lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangannya. “Karena calon-calon lain sudah habis, maka untuk menentukan siapa pemenangnya, harap ji-wi enghiong suka mulai dengan pertandingan ini. Silakan!”

“Kongcu…“ Siauw-hong berkata sambil memandang kepada calon lawannya dengan sinar mata penuh keraguan.

“Hemmm, kiranya engkau, Siauw-hong?” Kang Swi berkata lirih. “Benar, Kongcu”.

Kang Swi memandang kepada Siauw-hong dengan penuh perhatian dan diam-diam merasa tertarik sekali. Wajah itu kini tidak kotor seperti biasa, melainkan bersih dan pakaiannya, biar pun sederhana dan tidak mewah, namun rapi dan tiada tambalannya seperti kemarin. Wajah itu tampan sekali, biar pun agak kurus. Dipandang seperti itu, Siauw-hong merasa canggung dan malu.

“Harap maafkan, Kongcu, sebenarnya… saya sudah tamat belajar maka saya berhak menanggalkan pakaian pengemis itu. Saya… saya ingin mencari pengalaman, maka saya memasuki sayembara ini, tidak saya sangka akan berhadapan dengan Kongcu sebagai saingan.” Dia tersenyum, hanya sebentar saja senyumnya karena dia segera memandang dengan wajah serius kembali.

Kang Swi tertawa. “Bagus! Aku senang sekali kalau aku dapat menguji kepandaianmu, Siauw-hong. Marilah!”

“Silakan Kongcu mulai,” kata Siauw hong yang bersikap hormat dan merendah. “Nah, jagalah seranganku!”

Kang Swi menerjang maju dengan cepat dan Siauw-hong juga sudah bergerak cepat sekali mengelak dan balas menyerang. Gerakan pemuda pengemis ini mantap dan cepat, dari lengannya menyambar hawa pukulan yang membuktikan bahwa dia telah memiliki kekuatan sinkang yang cukup hebat. Kang Swi si pemuda tampan yang royal itu terkejut bukan main karena baru terbuka matanya bahwa tukang kudanya itu, yang dianggap sebelumnya hanya pernah belajar silat saja, ternyata merupakan seorang ahli silat kelas tinggi! Apa lagi ketika Siaw-hong mainkan ilmu silat yang penuh mengandung serangan-serangan totokan maut amat aneh dan cepat, dia sampai terdesak mundur!

Akan tetapi, pemuda hartawan she Kang ini mempunyai semacam watak yang buruk, yaitu dia selalu terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri sehingga sedikit congkak dan memandang remeh kepandaian orang lain. Kini, biar pun sudah jelas padanya bahwa kepandaian Siauw-hong sama sekali tidak boleh dipandang ringan, namun dia bersikap sebagai seorang yang tingkatnya lebih tinggi hendak menguji kepandaian orang yang lebih rendah tingkatnya, maka dia sengaja main mundur dan hendak ‘menguras’ kepandaian orang!

Karena kekurang hati-hatian yang timbul dari kecongkakan inilah, ketika dia menangkis sambil mengelak, tanpa dapat dicegahnya lagi lengan dekat sikunya kena tertotok dan hampir saja dia berteriak karena untuk beberapa detik lamanya, lengan yang tertotok itu menjadi lumpuh!

Namun, memang orang she Kang ini lihai bukan main. Tubuhnya sudah mencelat ke atas, tinggi sekali seperti seekor burung terbang, berjungkir balik sampai empat kali di udara dan ketika dia turun kembali, lengannya sudah sembuh dan kini baru dia tahu bahwa Siauw-hong benar-benar amat berbahaya kalau diberi kesempatan. Oleh karena itu, dia lalu menyerang dan mengeluarkan ilmu simpanannya. Dari kedua tangannya yang terbuka itu menyambar hawa yang mengeluarkan suara bersuitan seperti gerakan sebatang pedang tajam. Siauw-hong berseru kaget dan cepat mengelak ke sana-sini.

Di bawah panggung, menyelinap di antara banyak orang, Siluman Kecil juga kagum sekali. Dia belum berhasil menemukan nenek penjual sepatu rumput yang dianggapnya mencuri uangnya itu, maka dia berkesempatan pula menonton pertandingan antara dua orang yang dikenalnya dengan baik itu, dan terkejutlah Siluman Kecil.

Tidak disangkanya bahwa mereka, terutama sekali Siauw-hong yang tak mau mengaku siapa gurunya itu, ternyata adalah orang-orang yang benar-benar amat lihai, bukanlah ahli-ahli silat sembarangan saja! Dan kini dia memandang dengan penuh perhatian ilmu silat yang mukjijat dari Kang Swi, maklum bahwa pukulan-pukulan yang mengandung hawa tajam bersuitan itu benar-benar amat berbahaya sekali. Dia telah dapat menduga bahwa kalau dilanjutkan, selain Siauw-hong tentu kalah, juga pukulan itu mungkin saja mencelakakan pengemis muda itu. Dia pasti tidak akan mendiamkan saja kalau sampai Kang Swi mencelakai Siauw-hong dalam pertandingan mengadu ilmu itu, pikirnya.

Perkiraan Siluman Kecil memang tidak salah. Siauw-hong terkejut setengah mati ketika melihat cara lawan menyerangnya. Hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi bersuitan itu dan ketika dia memberanikan diri menangkis dengan pengerahan sinkang, lengan bajunya robek-robek bagai terbabat pedang dan kulit lengannya terluka berdarah seperti disayat pisau tajam! Tentu saja dia meloncat ke belakang dan menjura. “Saya mengaku kalah!”

Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It yang tadi pun menonton pertandingan itu, merasa kagum dan juga girang karena dua orang ini benar-benar patut untuk menjadi rekannya dan menjadi pengawal-pengawal pribadi Gubernur Ho-nan karena kepandaian mereka boleh diandalkan! Akan tetapi selagi dia ingin memanggil kedua orang itu untuk menghadap gubernur, kelihatan ada orang meloncat naik ke atas panggung. Melihat ini, Siauw-hong yang sudah merasa kalah itu segera mundur dan diajak turun oleh Ho-nan Ciu-lo-mo yang mempersilakan dia menanti di bawah panggung.

Sementara itu, ketika Kang Swi melihat siapa yang meloncat ke atas panggung untuk menghadapinya, dia tersenyum lebar. “Aihh, kiranya badut sandiwara itu yang muncul!” Dia mengejek, dan orang pincang yang gagu itu hanya memandang tajam, kemudian dengan gerak tangan dia menantang.

Para penonton yang berada di sekeliling panggung memandang heran, ada pula yang tertawa. Bagaimana orang bercambang bauk yang baru datang ini demikian berani mati? Mungkin juga pernah belajar ilmu silat, akan tetapi melihat bahwa dia hanya seorang gagu dan seorang yang kakinya pincang pula, mana mungkin dapat melawan pemuda tampan yang ternyata amat lihai itu?

Akan tetapi, Kang Swi yang juga ingin sekali tahu sampai di mana kelihaian orang gagu dan pincang yang dia duga menyamar itu, tanpa membuang waktu segera menyambut tantangan dengan kata-kata nyaring, “Kau majulah!”

Si gagu sudah menerjang dengan pukulan sembarangan. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan yang berada di tempat itu, seperti Siauw-hong, Kang Swi sendiri, Ciu-lo-mo, Siluman Kecil dan orang-orang lain terkejut karena mereka ini maklum betapa di balik pukulan sembarangan itu tersembunyi hawa pukulan yang amat kuat.

Kang Swi yang menangkis pukulan itu segera mengetahuinya karena tangkisannya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang-nya ternyata bertemu dengan tenaga sakti yang amat dahsyat dan yang membuat dia terhuyung! Marahlah pemuda tampan ini. Sambil berteriak keras dia menerjang, langsung saja dia mengeluarkan ilmu pukulan yang mengandung hawa tajam bersuitan tadi.

Akan tetapi sekali ini dia sungguh-sungguh bertemu tanding. Biar pun si gagu itu tidak mengeluarkan ilmu- ilmu tertentu yang dapat dikenal orang, melainkan hanya bergerak sembarangan saja, bahkan gerakannya meniru gerakan lawan, namun tetap saja Kang Swi menjadl kewalahan! Pukulan-pukulannya dengan mudah dapat dielakkan atau ditangkis tanpa mengakibatkan apa-apa karena hawa pukulan mukjijat yang tajam itu ternyata lenyap ditelan hawa pukulan dari lawannya, bahkan beberapa kali dia dibuat terhuyung ke belakang, terpelanting ke samping atau hampir jatuh terjerumus ke depan. Seolah-olah dia tidak berdaya dan dipermainkan oleh serangkum tenaga dahsyat yang menguasainya.

Celakanya, secara aneh sekali tenaga si gagu itu kadang-kadang mengandung hawa panas membakar dan kadang-kadang dingin membekukan sehingga Kang Swi benar benar menjadi bingung dan penasaran. Karena jelas bahwa dia kalah angin, dan betapa pun dia mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaganya tetap saja dia terdesak, dia merasa tersinggung kehormatannya, maka Kang Swi meraba gagang pedangnya dengan maksud menggunakan senjatanya itu.

“Uh-uh-uhhh!” terdengar si gagu berseru keras dan tiba-tiba saja Kang Swi terpelanting roboh, dan dia hanya merasa betapa kakinya terangkat dan dia tidak dapat mencegah lagi tubuhnya terpelanting!

Sorak-sorai menyambut kemenangan si gagu ini. Akan tetapi Kang Swi menjadi amat marah. Dia meloncat bangun dan hendak mencabut pedangnya, akan tetapi ternyata Ho-nan Ciu-lo-mo telah berada di situ dan berkata, “Silakan Ji-wi ikut bersama kami menghadap gubernur!” Dan ternyata Siauw-hong juga sudah diajak oleh Wan Lok It ini. Sementara itu, Perwira Su Kiat mengumumkan bahwa kini telah terpilih tiga orang yang dianggap patut menjadi pengawal-pengawal pribadi di istana gubernur, yaitu yang pertama adalah si gagu, kedua adalah Kang Swi, dan ketiga adalah Siauw-hong.

Para penonton menyambut pengumuman ini dengan sorak-sorai memuji sedangkan tiga orang yang dipilih itu sudah diajak menghadap gubernur dan berlutut di depan Gubernur Ho-nan, Kui Cu Kam yang merasa girang memperoleh tiga orang yang demikian gagah perkasa sehingga hal itu akan lebih memperkuat kedudukannya. Sang gubernur segera memuji-muji mereka bertiga dan menyatakan bahwa hari itu juga dia akan mengajak mereka bertiga kembali ke Lok-yang dan mereka itu langsung saja bertugas sebagai pengawal-pengawal istananya.

Perwira Su Kiat masih sibuk untuk mengadakan pemilihan calon-calon prajurit dan selagi para penonton masih memenuhi tempat itu, diam-diam Siluman Kecil menyelinap di antara banyak orang. Tidak ada orang yang menaruh curiga kepadanya. Siapa yang akan mencurigai seorang kakek sederhana dan biasa saja, seorang kakek yang menjadi seorang di antara ribuan orang penonton itu?

Siluman Kecil melihat seorang yang pakaiannya penuh tambalan seperti pengemis menyelinap di antara banyak penonton dan hatinya tertarik sekali. Pengemis yang usianya setengah tua ini pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi bersih. Serupa benar dengan pakaian Siauw-hong sebelum pemuda itu berganti pakaian untuk mengikuti sayembara, sewaktu Siauw-hong masih menjadi seorang pengemis muda pula. Pakaian yang agaknya masih baru namun sudah penuh tambalan.

Lebih tertarik lagi hatinya pada saat dia melihat betapa ada seorang kakek, agaknya terus membayangi pengemis itu dan ternyata olehnya bahwa kakek ini adalah Ho-nan Ciu-lo-mo yang sudah dikenalnya. Siapa yang tidak mengenal jagoan Ho-nan itu? Tentu saja dia sudah mengenal baik Ho-nan Ciu-lo-mo, apa lagi pernah dia menjadi tamu kehormatan Gubernur Ho-nan ketika dia membersihkan Ho-nan dari para penjahat sehingga dia memperoleh kehormatan diterima sebagai tamu kehormatan oleh gubernur dan dia sekalian menitipkan Phang Cui Lan kepada sang gubernur.

Melihat betapa Ciu-lo-mo membayangi atau lebih tepat mengejar pengemis setengah tua itu, Siluman Kecil merasa tertarik sekali dan dia pun cepat membayangi mereka berdua. Dan benar saja dugaannya. Ketika pengemis setengah tua itu telah keluar dari pekarangan semacam alun-alun yang penuh dengan penonton itu, dan agaknya dia maklum bahwa dia dibayangi oleh Ciu-lo-mo, pengemis itu lalu melarikan diri dengan gerakan cepat sekali. Ciu-lo-mo juga cepat mengejarnya dan diam-diam Siluman Kecil yang masih menyamar sebagai seorang kakek itu pun mengejar dari jauh, ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan oleh Ciu-lo-mo terhadap pengemis itu.

Suasana di kota agak sunyi karena semua orang tertarik untuk menonton sayembara di depan istana, maka pengemis itu yang berlari cepat dikejar oleh Ciu-lo-mo juga dapat bergerak leluasa dan akhirnya yang berkejaran itu menuju ke pintu gerbang kota di sebelah utara. Pengemis itu ternyata dapat berlari cepat sekali sehingga sampai sekian lamanya belum juga Ciu-lo-mo mampu menyusulnya. Ketika melihat betapa pengemis itu akan lolos melalui pintu gerbang, Ciu-lo-mo cepat mengerahkan khikang-nya dan berteriak memberi perintah kepada para penjaga pintu gerbang untuk menutupkan pintu gerbang.

“Tutup pintu gerbang…! Jangan biarkan dia lolos…!” Suaranya menggema sampai jauh dan para penjaga pintu gerbang dapat mengenali suara Ciu-lo-mo. Apa lagi ketika para penjaga yang berjaga di menara pintu gerbang melihat dari atas betapa Ciu-lo-mo datang berlari dari jauh mengejar seorang pengemis yang juga berlari cepat sekali, mereka cepat-cepat memutar alat yang menggerakkan pintu gerbang itu. Pintu besi yang amat tebal dan berat itu bergerak perlahan dari kanan kiri, berderit-derit suaranya ketika bergerak di atas landasan besi.

Karena tergesa-gesa didorong oleh perintah Ciu-lo-mo, maka empat orang sekaligus maju memutar alat untuk menggerakkan daun pintu besi yang dua buah dan yang maju dari kanan kiri itu. Dua buah daun pintu itu sudah hampir tertutup, tinggal dua jengkal lagi ketika pengemis itu akhirnya tiba di sana. Empat orang penjaga menghadangnya dengan tombak di tangan, akan tetapi dengan beberapa kali gerakan kaki tangannya, empat orang penjaga itu terlempar ke kanan kiri dan pengemis itu bagaikan burung terbang cepatnya sudah menerjang ke arah pintu yang masih dua jengkal terbuka. Dia menggunakan kedua tangan menahan dua buah daun pintu.

Terjadilah adu tenaga antara empat orang penjaga yang memutar alat penutup pintu dan si pengemis. Empat orang itu mengerahkan seluruh tenaga untuk memutar alat yang tiba-tiba macet itu, akan tetapi sia- sia belaka. Dua orang penjaga maju lagi dan menyerang si pengemis yang mempertahankan daun pintu dengan golok, akan tetapi dua kali kaki pengemis itu menendang dan dua orang penjaga itu terlempar serta terbanting roboh. Kini pengemis itu mengeluarkan suara nyaring dan tiba-tiba tubuhnya menyelinap melalui renggangan yang sebetulnya terlalu kecil untuk dilalui tubuhnya itu. Ternyata dia telah mempergunakan ilmu Sia-kut-hoat yang amat hebat sehingga dia dengan mudah dapat menerobos celah dua daun pintu itu dan lolos ke luar dari pintu gerbang, tepat pada saat Ciu-lo-mo telah tiba di situ.

“Tolol! Buka pintu!” teriak Ciu-lo-mo ketika melihat daun pintu itu kini lantas tertutup setelah tidak ditahan lagi oleh tangan pengemis.

Mendengar bentakan ini, empat orang penjaga itu terkejut dan cepat memutar lagi alat pembuka daun pintu. Ciu-lo-mo lalu menerobos keluar dan melanjutkan pengejarannya. Para penjaga hanya melongo dan memandang dengan bingung ketika mereka melihat seorang kakek lain cepat berlari keluar dari pintu gerbang, tidak lama setelah Ciu-lo-mo lewat. Tentu saja kakek ini adalah Siluman Kecil yang terus saja membayangi mereka berdua.

Setelah keluar dari kota, kini pengemis itu berlari makin cepat lagi, akan tetapi Ciu-lo-mo yang merasa penasaran mengejar secepatnya sehingga setelah tiba di lereng bukit, dia hampir berhasil menyusul pengemis itu. Tiba-tiba pengemis itu berhenti, mengeluarkan busur dan meluncurkan anak panah yang meletus ketika melayang sampai di tempat yang tinggi. Itu adalah tanda rahasia dan tentu saja Ciu-lo-mo menjadi makin curiga.

Kiranya sekarang pengemis itu tidak lari lagi, bahkan menyambut kedatangan Ciu-lo-mo dengan sikap tenang. Mereka berhadapan dan Ciu-lo-mo membentak, “Mata-mata laknat! Engkau tentu seorang mata- mata, hayo cepat berlutut dan menyerah dengan baik-baik dari pada harus kupaksa dengan kekerasan!”

“Setan Arak, siapa yang takut kepadamu?” Pengemis setengah tua itu membentak.

“Mata-mata hina!” Ho-nan Ciu-lo-mo marah sekali dan guci arak di tangannya langsung menyambar ganas ke arah kepala pengemis itu.

Pengemis itu cepat mengelak dan balas menyerang dengan sebuah tongkat pendek yang ujungnya bercabang. Gerakannya gesit dan juga mengandung tenaga dahsyat maka cepat Ciu-lo-mo menangkis dengan guci araknya.

Tenaga mereka seimbang karena benturan dua macam senjata itu membuat keduanya terjengkang akan tetapi tidak sampai roboh. Melihat hal ini, Ciu-lo-mo tentu saja terkejut. Tak disangkanya bahwa pengemis itu demikian lihai, maka dia cepat menubruk dan mengirim serangan bertubi-tubi dengan guci arak dan dengan tangan kirinya. Pengemis itu pun bergerak cepat, mengelak, menangkis dan balas menyerang. Kini terjadilah pertandingan yang seru, dan dari balik sebuah pohon yang besar, Siluman Kecil hanya menonton tanpa mencampuri pertandingan itu karena dia pun tidak mengenal siapa adanya pengemis setengah tua yang cukup lihai itu.

Tiba-tiba Ciu-lo-mo mengeluarkan suara melengking nyaring dan guci araknya menyambar dari bawah menghantam ke arah dada lawan. Serangan ini dahsyat sekali dan ketika pengemis itu menggerakkan tongkatnya untuk menangkis, dia terkejut bukan main melihat sinar keemasan menyambar ke arah mukanya. Itulah arak yang muncrat dari dalam guci, yang merupakan senjata rahasia yang amat aneh dan berbahaya.

“Ahhhhh…!” Pangemis itu menarik kepalanya ke belakang dan gerakan ini membuat tangkisannya menjadi kurang tepat.

“Trakkkkk…!”

Tongkatnya patah dan dia terlempar ke belakang. Akan tetapi dia cepat sudah meloncat bangun dan melempar diri ke kiri sehingga terhindar dari pukulan maut yang disusulkan oleh Ciu-lo-mo.

“Tahan…!” Tiba-tiba terdengar bentakan halus.

Pada saat itu Ciu-lo-mo kembali sudah menyerang, akan tetapi dia merasa betapa ada serangkum hawa yang amat kuat mendorongnya dari samping membuat dia hampir roboh dan cepat-cepat dia melompat ke belakang dengan kaget sekali, lalu mengangkat muka memandang.

Ternyata yang muncul adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah, bersama seorang setengah tua yang juga bersikap gagah walau pun pakaian mereka sederhana. Siluman Kecil yang mengintai dari balik pohon, tadi kagum bukan main menyaksikan betapa kakek tua itu mendorong Ciu-lo-mo dari jarak cukup jauh menggunakan tenaga sinkang yang amat hebat, dan dia mengenali kakek ini sebagai kakek pembeli sepatu rumput dari nenek penjual sepatu rumput, kakek yang memimpin rombongan beberapa orang. Dia lalu menduga-duga, siapa gerangan kakek tua yang memiliki kepandaian tinggi ini.

Sementara itu, Ciu-lo-mo terkejut bukan main ketika dia mengenal laki-laki setengah tua, karena dia tahu bahwa laki-laki itu bukan lain adalah Panglima Souw Kee An, komandan Pasukan Garuda yang dulu mengawal Pangeran Yung Hwa! Komandan yang lolos ketika dikepung dan telah terjerumus ke dalam selokan air di bawah tanah.

Dan kini komandan Souw Kee An datang bersama kakek tua yang kelihatan lihai ini, maka tentu saja dia menjadi gentar. Menghadapi pengemis itu saja, dia sudah merasa agak sukar memperoleh kemenangan, dan dia tahu bahwa kepandaian komandan Souw itu juga tinggi, setidaknya berimbang dengan dia. Padahal kakek yang tadi hampir merobohkannya dengan dorongan dari jarak jauh itu sudah jelas merupakan lawan yang amat berat.

Ciu-lo-mo tidak akan menjadi orang kepercayaan Gubernur Ho-nan kalau saja dia, di samping kepandaiannya yang tinggi, tidak cerdik pula. Dia tahu bahwa menggunakan kekerasan merupakan kebodohan, maka dia cepat menjura ke arah komandan Souw Kee An dan menebalkan muka berkata ramah, “Ahhh, kiranya Souw-ciangkun yang datang! Kalau Cu-wi ada keperluan dengan taijin, silakan menghadap selagi taijin masih berada di Ceng-couw. Saya tadi mengejar dia karena sikapnya mencurigakan dan saya mengira dia seorang mata-mata musuh.”

“Hemmm, memang dia mata-mata yang kami suruh menyelidiki ke Ceng-couw!” Tiba tiba kakek tinggi tegap yang gagah itu berkata, suaranya menggeledek dan penuh wibawa. “Dan memang kami ingin bicara dengan Gubernur Ho-nan, Kui Cu Kam taijin. Akan tetapi kami tidak sudi memasuki perangkap yang kalian pasang di Ceng-couw, seperti yang telah kalian lakukan terhadap Pangeran Yung Hwa. Ciu-lo-mo, cepat kau sampaikan kepada Gubernur Kui, kalau dia ingin damai, dia harus menemui kami di sini, bukan di istananya. Kalau tidak, maka terpaksa kami akan menghancurkan istananya dan menangkapnya sebagai seorang tawanan pemberontak!”

Biar pun dia tidak berani memperlihatkan sikap secara berterang karena dia merasa kedudukannya saat itu kalah kuat, namun di dalam hatinya Ciu-lo-mo mengejek kata kata yang dianggapnya terlalu sombong ini.

Tiga orang ini berada di wilayah Propinsi Ho-nan, akan tetapi berani mengeluarkan kata-kata sesombong itu!

Agaknya kakek tua itu dapat juga membaca isi hati Ciu-lo-mo, maka mendadak dia mengeluarkan suara menggereng seperti seekor singa marah. Suaranya terdengar demikian keras sehingga bumi sekitar tempat itu seperti tergetar karenanya. Siluman Kecil sendiri yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi menjadi terkejut dan diam-diam dia kagum sekali, di dalam hati memuji kekuatan khikang kakek ini yang ternyata mahir ilmu Sai-cu Ho-kang (Ilmu Auman Singa). Ilmu seperti ini kalau dipergunakan untuk menyerang lawan, sekali mengaum saja cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat dan wibawanya melebihi singa tulen yang kalau hendak menangkap mangsa didahului dengan auman yang cukup membikin pingsan atau lumpuh binatang yang akan menjadi korbannya.

Ciu-lo-mo juga kaget setengah mati, apa lagi ketika dia mendengar suara yang gegap gempita, suara banyak sekali orang dari balik bukit. Keringat dingin membasahi leher dan dahi jagoan Ho-nan itu karena dia mengerti apa artinya itu. Kiranya kakek luar biasa ini bukan hanya datang sendirian, melainkan membawa bala tentara yang entah berapa banyaknya!

“Di sana terdapat selaksa prajurit pilihan yang sudah siap untuk menghancurkan daerah ini dan menangkap Gubernur Ho-nan kalau dia tidak mau hadir di sini. Nah, cepat kau pergilah!” kata kakek itu dengan sikap penuh wibawa kepada Ciu-lo-mo.

Ciu-lo-mo bersikap hormat, jantungnya berdebar penuh ketegangan. Kakek ini dapat memimpin pasukan yang begitu besar, tahu-tahu sudah memasuki Propinsi Ho-nan tanpa ada penjaga tapal batas yang datang memberi kabar. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek ini memang hebat luar biasa dan bahwa Propinsi Ho-nan terancam bahaya hebat. Dia menjura dengan hormat dan berkata, “Baiklah, saya akan menyampaikan pesan itu kepada Kui-taijin. Akan tetapi bolehkah saya mengetahui siapa gerangan Locianpwe, agar saya dapat memperkenalkan kepada Kui-taijin?”

Kakek itu tidak menjawab, bahkan memandang pun tidak kepada Ciu-lo-mo. Adalah komandan Souw Kee An yang menjawab, “Ketahuilah olehmu, Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It. Beliau ini adalah utusan yang dipercaya oleh Sri Baginda Kaisar untuk menuntut pertanggungan jawab Gubernur Ho-nan atas peristiwa yang terjadi di Ho-nan tempo hari. Dunia kang-ouw mengenal beliau sebagai Sai-cu Kai-ong (Raja Pengemis Singa) dan secara tidak resmi seluruh perkumpulan kai-pang (persatuan kaum pengemis) memujanya sebagai seorang pemimpin dan pengawas.”

Siapakah sebenarnya kakek yang hebat ini? Memang kakek ini hanya terkenal di antara para tokoh dunia pengemis saja, sungguh pun dia tidak pernah berpakaian pengemis. Kakek yang berjuluk Sai-cu Kai-ong dan dianggap sebagai raja oleh seluruh pengemis yang bagaimana rendah sampai tinggi pun ini, dari yang lemah sampai yang sakti ini, sebenarnya bernama Yu Kong Tek dan memang nenek moyangnya dahulu merupakan tokoh-tokoh pengemis yang hebat-hebat. Yu Kong Tek ini masih keturunan dari Yu Jin Tianglo, ketua perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang yang amat terkenal di jaman Suling Emas!

Yu Jin Tianglo mempunyai putera Yu Kang, kemudian Yu Kang mempunyai putera Yu Siang Ki (baca cerita Mutiara Hitam) yang menikah dengan Song Goat puteri seorang berilmu yang berjuluk Si Raja Obat (Yok- ong) dan kemudian suami isteri ini hidup sebagai orang-orang biasa dan membuka sebuah toko obat. Biar pun Yu Siang Ki sudah tidak mengurus perkumpulan pengemis, bahkan telah mengundurkan dlri dari dunia pengemis, namun dia selalu masih menghargai kedudukan nenek moyangnya. Oleh karena itu, turun- menurun keluarga Yu ini masih menggunakan tradisi nenek moyang mereka, yaitu di waktu muda mengembara sebagai seorang pengemis untuk menggembleng diri lahir batin!

Sampai kepada Kakek Yu Kong Tek, tokoh ini pun tidak pernah melupakan tradisi nenek moyangnya dan walau pun dia sekarang sebagai seorang kakek tidak lagi berpakaian pengemis, namun dia memakai julukan pengemis, yaitu Sai-cu Kai-ong! Dan biar pun dia tidak langsung menjadi raja pengemis, namun namanya dikenal dan dihormati oleh seluruh kaum pengemis, dari anggota terkecil sampai dengan para ketua perkumpulan yang berkepandaian tinggi.

Bagi para pembaca yang telah membaca cerita Suling Emas dan cerita Mutiara Hitam, tentu akan bertemu dengan nenek moyang Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek ini. Karena nenek moyangnya di pihak ayah adalah seorang ahli silat yang sakti, sedangkan dari pihak ibu adalah seorang ahli pengobatan, maka Yu Kong Tek ini selain mewarisi ilmu silat tinggi, juga mahir ilmu pengobatan. Dia jarang muncul, namun akhirnya dapat menjadi kepercayaan kaisar karena komandan Souw Kee An yang memperkenalkan namanya kepada kaisar.

Semenjak istana ditinggalkan oleh Puteri Milana, kaisar kehilangan orang kepercayaan yang memiliki kesaktian, maka banyak ponggawa yang setia memperkenalkan banyak orang-orang pandai, akan tetapi Sai-cu Kai-ong memperoleh kepercayan kaisar dan dalam kesempatan ini kepandaian dan kesetiaan tokoh ini diuji oleh kaisar dengan mengutusnya untuk membereskan kekacauan di Ho-nan.

Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It tidak mengenal kakek ini. Tokoh Ho-nan berambut merah yang lihai ini hanya pernah mendengar bahwa di kalangan para pengemis terdapat seorang tokoh yang dijunjung tinggi dan dihormati oleh para pengemis, yang besar sekali pengaruhnya secara turun-temurun dan ilmu silat keluarga tokoh ini kabarnya amat hebat, bahkan menurut dongeng, tidak kalah hebatnya oleh ilmu silat keluarga Suling Emas!

Menurut dongeng yang didengarnya, antara keluarga tokoh pengemis itu dan keluarga Suling Emas, dahulu, ratusan tahun yang lalu, memang terdapat hubungan yang amat erat, bagai keluarga saja. Seperti dikabarkan orang, ilmu keluarga Suling Emas katanya terjatuh ke tangan keluarga Pulau Es, dan ilmu keluarga pengemis aneh itu entah terjatuh ke tangan siapa. Apakah benar kakek ini keturunan dari keluarga pengemis aneh itu? Hatinya penuh ketegangan dan setelah memberi hormat dan berjanji akan menyampaikan semua kepada majikannya, Ciu-lo-mo lalu pergi meninggalkan mereka.

Setelah jagoan Ho-nan yang berambut kemerahan dan membawa guci arak itu pergi, pengemis setengah tua yang tadi bertanding melawan Ciu-lo-mo segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek gagah itu. “Suhu!”

Kakek yang berjuluk Sai-cu Kai-ong itu memandang muridnya dan bertanya, “Bagai mana hasil penyelidikanmu?”

Pengemis setengah tua itu adalah murid pertama dari Sai-cu Kai-ong dan dia pun hanya menggunakan nama julukan saja, sungguh pun dia masih memperkenalkan she-nya (nama keturunannya), yaitu she Gu. Dia berjuluk Gu Sin-kai (Pengemis Sakti she Gu). Mendengar pertanyaan gurunya, Gu Sin-kai kemudian menceritakan tentang pemilihan pengawal yang diadakan oleh Gubernur Ho-nan, sampai dia dicurigai dan dikejar oleh Ho-nan Ciu-lo-mo tadi.

“Selain itu, teecu juga melihat suatu keanehan luar biasa, Suhu,” sambungnya. “Teecu melihat sute, akan tetapi sungguh mengherankan, teecu melihat bahwa sute memasuki sayembara pula dan dia berhasil dipilih sebagai pengawal gubernur tingkat ketiga, yaitu sesudah seorang pincang gagu dan seorang kongcu yang tampan.”

Dia kemudian menceritakan jalannya pertandingan pemilihan pengawal itu, dan Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya yang tebal.

“Ahhhhh…! Memang telah kuberitahukan bahwa dia telah tamat belajar dan dia sudah bebas untuk menjadi pengemis atau orang biasa, akan tetapi sungguh tidak kuduga mengapa dia mengangkat diri menjadi pengawal Gubernur Ho-nan yang tersesat itu!”

Siluman Kecil yang masih mengintai dan terus mendengarkan menjadi maklum bahwa ternyata Sai-cu Kai- ong yang gagah perkasa itu adalah guru dari Siauw-hong! Maka dia merasa tidak enak untuk mengintai terus, apa lagi ketika guru dan murid itu mulai membicarakan urusan mereka sendiri. Dia tidak perlu mendengarkan terus karena bagi dia masih banyak urusan menanti, yaitu mencari nenek pencuri dan kemudian mencari pencuri kitab-kitab pusaka Suling Emas. Maka keluarlah Siluman Kecil dari tempatnya bersembunyi dan dia berjalan pergi.

“Eh, apakah dia itu temanmu?” Tiba-tiba Sai-cu Kai-ong bertanya kepada Gu Sin-kai. “Teecu tidak mengenal dia, tidak tahu pula bahwa dia berada di sini.”

“Ahhh…!” Sai-cu Kai-ong mengeluarkan suara gerengan seperti singa dan tahu-tahu tubuhnya mencelat ke depan.

Karena dia menaruh curiga kepada kakek yang diam-diam menyelinap pergi dari tempat persembunyiannya itu, langsung saja Sai-cu Kai-ong mengulurkan tangannya hendak mencengkeram pundak Siluman Kecil dan menangkapnya untuk diperiksa. Dia sedang memimpin pasukan dengan tugas amat penting dari kaisar, maka tentu saja kakek sakti itu harus bersikap waspada terhadap semua gerak – gerik musuh yang mungkin sudah menyebar banyak mata-mata, dan di antaranya barangkali adalah kakek yang hendak ditangkapnya itu.

“Wuuuttttt…!” Tangan Sai-cu Kai-ong seperti cakar singa yang menyambar, cepat dan kuat bukan main menuju ke pundak kiri Siluman Kecil.

“Plakkkkk!”

Tanpa menoleh, Siluman Kecil menggerakkan tangannya menangkis sehingga kedua tangan bertemu di udara. Keduanya tergetar dan Sai-cu Kai-ong yang tubuhnya masih melayang tadi, cepat berjungkir-balik dan turun ke atas tanah dengan mata terbelalak lebar! Sungguh tidak disangkanya bahwa orang itu mampu menangkis cengkeramannya dan bukan hanya mampu, bahkan dia merasa betapa lengannya tergetar hebat! Juga Siluman Kecil merasa lengannya tergetar, tanda bahwa Sai-cu Kai-ong memang benar seorang sakti yang memiliki sinkang kuat sekali.

Sai-cu Kai-ong makin curiga. Orang yang dapat menangkis dengan kekuatan seperti itu, malah agaknya jauh lebih kuat dari pada Ciu-lo-mo tadi, tentulah seorang yang benar benar merupakan mata-mata pilihan dari Gubernur Ho-nan dan merupakan bahaya bagi tugasnya. Maka dengan cepat dia sudah menerjang lagi, kini menambah tenaga dalam gerakan tangannya. Di lain pihak, ketika tadi dia merasakan betapa lengannya sendiri tergetar hebat dalam pertemuan tangan tadi, Siluman Kecil menjadi gembira dan ingin sekali dia menguji kehebatan guru Siauw-hong itu. Maka ketika melihat kakek gagah itu menyerang dengan cepat dan kuat, dia pun segera bergerak mengelak dan lalu balas menyerang tidak kalah hebatnya.

“Plakkk! Plakkk!” Kembali ada pertemuan tenaga yang dahsyat melalui dua pasang telapak tangan dan keduanya terdorong mundur.

“Uhhhh…!” Sai-cu Kai-ong makin penasaran, mendengus keras dan menyerang lagi. Akan tetapi, Siluman Kecil sudah lenyap dari depannya seperti setan dan tahu-tahu telah menyerangnya dari atas, mencengkeram ke arah batok kepalanya.

“Hebat…!”

Sai-cu Kai-ong menggerakkan tubuhnya miring dan tangannya menyambar, yang dapat ditangkis oleh Siluman Kecil yang selanjutnya mengeluarkan ilmunya yang mukjijat, yaitu gerakan yang amat cepat seperti berkelebatnya kilat, seperti seekor burung yang beterbangan ke sana-sini dengan kecepatan yang menakjubkan. Namun, dia harus mengakui puka bahwa daya tahan kakek itu pun hebat sekali sehingga setelah dia berkelebatan dan bertanding sampai lima puluh jurus, barulah dia berhasil melubangi ujung lengan baju kakek itu.

“Bukan main…!” Sai-cu Kai-ong melompat ke belakang dan memeriksa lengan bajunya yang sudah bolong!

Kalau tidak menghadapinya sendiri tentu dia takkan percaya. Meski hanya merupakan kekalahan tipis saja, akan tetapi ternyata bahwa kakek di depannya ini sudah dapat mengalahkannya! Sungguh sukar dipercaya.

Tidak mungkin kiranya kalau Gubernur Ho-nan memiliki mata-mata yang seperti itu kepandaiannya, sedangkan orang kepercayaan gubernur itu saja, si Ciu-lo-mo, tingkat kepandaiannya baru setingkat dengan muridnya, Gu Sin-kai. Dan di lain pihak, Siluman Kecil juga kagum karena kembali dia dapat bertemu dengan seorang yang sakti! Kalau mereka berdua bertanding sungguh-sungguh, dia masih belum dapat memastikan apakah dia akan dapat mengalahkan kakek ini dengan mudah. Maka kini dia merasa ragu-ragu untuk maju, hanya menanti gerakan lawannya.

“Sabar, tahan dulu! Siapakah engkau dan mengapa engkau mengintai di sini?” tanya Sai-cu Kai-ong sambil memandang kakek di depannya itu penuh perhatian.

Siluman Kecil menjura dan menjawab, “Maaf, saya tidak sengaja mencampuri urusan Locianpwe. Saya kebetulan lewat, hanya orang lewat biasa saja… maaf.” Siluman Kecil menjura lagi dan memutar tubuhnya hendak pergi dari situ.

“Sahabat yang baik, tunggu dulu!” Sai-cu Kai-ong berseru. Kakek ini sungguh luar biasa, pikirnya, berwatak demikian sederhana dan merendah, kepandaiannya begitu tinggi namun masih menyebut dia ‘locianpwe’.

“Setelah kita bertemu di sini, setelah tanpa disengaja kita saling menguji kepandaian, apakah sahabat menganggap saya masih terlalu rendah untuk dijadikan kenalan? Saya disebut orang Sai-cu Kai-ong dan saya merasa kagum sekali kepadamu yang memiliki kepandaian hebat. Bolehkan saya mengetahui namamu yang terhormat?”

Siluman Kecil menggeleng kepalanya yang penuh rambut putih menutupi mukanya yang keriputan. “Saya tidak bernama…saya tidak mempunyai nama…“

Sai-cu Kai-ong tidak merasa heran mendengar ini. Dia maklum bahwa makin tinggi kepandaian orang, makin seganlah dia memperkenalkan namanya. Dia sendiri pun tidak pernah menyebutkan namanya sendiri dan membiarkan orang lain menamakannya. Tidak pernah nama aslinya, yaitu Yu Kong Tek, dikenal orang.

“Sahabat yang baik, biar pun engkau tidak sudi memperkenalkan nama, akan tetapi dengan hormat saya mengundangmu untuk menemani kami. Harap saja engkau orang tua tidak akan menolak undangan kami.”

Siluman Kecil sebetulnya tidak suka untuk berkenalan dengan orang banyak. Akan tetapi, mendengar tentang urusan Pangeran Yung Hwa tadi, dia merasa tertarik sekali dan sebetulnya ingin juga dia mengetahui bagaimana perkembangan urusan yang menyangkut diri pangeran itu, maka tanpa banyak cakap dia lalu mengangguk. Sai-cu Kai-ong girang sekali dan dia lalu bersama Siluman Kecil, diiringkan oleh Gu Sin-kai dan Panglima Souw Kee An, kembali ke perkemahan para pasukan di balik bukit, di mana dia menjamu Siluman Kecil dan bercakap-cakap tentang ilmu silat.

Makin gembiralah hati Sai-cu Kai-ong mendengar betapa tamunya itu ternyata luas sekali pengetahuannya tentang ilmu silat. Sebaliknya, Siluman Kecil terkejut ketika mendengar pengakuan tuan rumah bahwa kakek gagah itu ternyata adalah keturunan dari para pendiri Khong-sim Kai-pang dan nenek moyangnya menjadi sahabat-sahabat baik dari keturunan Pendekar Sakti Suling Emas! Siluman Kecil mendengarkan pula penuturan tentang lenyapnya Pangeran Yung Hwa yang tadinya menjadi utusan kaisar, lenyap pada saat terjadi keributan besar di taman bunga istana Gubernur Ho-nan. Yang menceritakan urusan ini adalah Perwira Souw Kee An.

Menjelang sore hari itu, penjaga melaporkan bahwa di kejauhan muncul kurang lebih seribu orang prajurit dari Ho-nan dan utusan pasukan itu datang menyampaikan berita bahwa Gubernur Ho-nan telah datang untuk menemui pimpinan pasukan kota raja yang diutus oleh kaisar dan ingin bicara! Mendengar ini, Sai-cu Kai-ong mengangguk-angguk.

“Baik sekali kalau dia datang bicara,” katanya di hadapan Siluman Kecil, Souw Kee An, dan Gu Sin-kai. “Aku pun tidak akan merasa senang kalau harus menggempur Ho-nan dan mengorbankan banyak prajurit dan rakyat yang tidak berdosa.” Kakek gagah ini lalu memerintahkan penjaga untuk membawa utusan pasukan gubernur itu menghadap.

Setelah prajurit yang bermuka pucat itu menghadap, Sai-cu Kai-ong kemudian berkata, “Sampaikan kepada Gubernur Kui Cu Kam, bahkan saya akan menantinya di puncak bukit, dan saya mempersilakan dia datang tanpa pasukan, hanya bersama satu orang pengawal saja. Pergilah!”

Prajurit itu pergi dan Sai-cu Kai-ong berkata, “Sahabat yang baik, sekarang aku minta kepadamu untuk menemaniku menemui gubernur.”

“Baik, Kai-ong,” jawab Siluman Kecil. “Saya pun ingin sekali mendengar bagaimana nasib pangeran itu.” Siluman Kecil kini menyebut tuan rumah itu Kai-ong, karena Sai-cu Kai-ong menolak ketika disebutnya locianpwe. Sedangkan Saicu Kai-ong hanya menyebut Siluman Kecil ‘sahabat’ saja karena Siluman Kecil masih tetap berkeras tidak mau memperkenalkan namanya.

Berangkatlah dua orang itu ke puncak bukit. Dan mereka melihat bahwa dari depan, ada dua orang pula yang mendaki puncak bukit kecil itu dan ternyata mereka itu adalah Gubernur Kui Cu Kam sendiri yang dikawal oleh seorang kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, kepalanya botak, mantelnya lebar dan berwarna merah darah, dan mulutnya selalu menyeringai lebar dengan lagaknya yang congkak. Orang ini bukan lain adalah Ban Hwa Sengjin, koksu dari Nepal yang telah bersekutu dengan Gubernur Ho-nan!

Setelah empat orang ini saling berjumpa di puncak bukit itu, mereka tidak saling memberi hormat, melainkan saling pandang dengan sinar mata penuh selidik. Akhirnya, Gubernur Ho-nan bertanya, “Menurut pelaporan Ciu-lo-mo, engkau mengundang kami datang ke sini. Apakah urusannya?”

Dari suaranya, jelas bahwa gubernur ini marah sekali karena sesungguhnya dia datang dengan terpaksa karena khawatir mendengar ancaman itu, bahwa kalau dia tidak mau datang maka Ho-nan akan diserbu. Menurut para penyelidiknya, memang ada sepuluh ribu orang prajurit kota raja siap di balik puncak bukit ini!

Sai-cu Kai-ong mengangguk dan berkata, “Gubernur Kui Cu Kam, kami memenuhi perintah kaisar untuk menuntut agar engkau suka membebaskan Pangeran Yung Hwa dan memberi penjelasan akan sikapmu yang tidak layak itu!”

Suara Sai-cu Kai-ong menggeledek dan muka gubernur itu menjadi agak pucat. Akan tetapi, Ban Hwa Sengjin hanya tersenyum mengejek dan memandang rendah, bahkan dia menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan lumpur dari bawah sepatunya pada sebongkah batu karang. Nampak bunga api berpijar ketika bawah sepatunya bertemu dengan batu karang dan ujung batu karang itu pun hancur lebur oleh injakan sepatunya yang dilapis tapal baja! Tentu saja suara tapal baja mengenai batu karang itu nyaring dan mengganggu dan memang inilah yang dimaksudkan oleh Ban Hwa Sengjin untuk memperlihatkan sikap bahwa dia sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada dua orang kakek di depannya itu.

Gubernur Kui tersenyum dan matanya yang sipit menyambar penuh kecerdikan. “Kalau memang manusia she Hok dari Ho-pei itu sudah mengadu ke sana, penjelasan dari kami apa lagi artinya? Tentu keadaan yang sebenarnya sudah diputar balikkan oleh orang she Hok Gubernur Hopei itu. Di antara dia dan kami memang sudah lama ada pertikaian mengenai wilayah di perbatasan, dan pertikaian itu lalu meletus ketika dia mengantar Pangeran Yung Hwa sebagai utusan kaisar. Keributan antara dia dan kami serta para pembantu kami kedua pihak tak dapat dicegah lagi. Sudah tentu saja dia memutar balikkan kenyataan dan mendongeng di kota raja bahwa pihak kami sengaja hendak mencelakakan Pangeran Yung Hwa. Padahal, pihak orang she Hok itulah yang sengaja memancing timbulnya keributan di taman istana kami agar dapat menggunakan sebagai bahan fitnah.”

Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya. Dia pribadi tentu saja tidak akan berpihak kepada Gubernur Ho-nan ini atau kepada Gubernur Ho-pei, dan dia tidak pula mengetahui apa urusannya antara mereka berdua. Tetapi sebagai utusan, ia hanya akan melaksanakan apa yang menjadi tugasnya.

“Gubernur Kui, penjelasanmu tentu akan kami sampaikan kepada Sri Baginda Kaisar. Sekarang, kami harap engkau suka membebaskan Pangeran Yung Hwa agar beliau dapat kembali ke kota raja bersama kami.”

Gubernur itu kembali tersenyum, lalu berkata dengan lantang, “Anggapan bahwa kami menangkap Pangeran Yung Hwa tentu timbul oleh karena fitnah yang dilontarkan oleh Gubernur Ho-pei itu. Padahal, kami hanya melindungi Pangeran Yung Hwa karena kami tahu bahwa pihak Ho-pei tentu berusaha sekuat mungkin untuk dapat membunuh pangeran itu sehingga kemudian kami pula yang akan dituduh sebagai pembunuhnya. Pangeran Yung Hwa kami lindungi dan dalam keadaan selamat. Tentu akan kami bebaskan dan setelah mendengar perjelasan kami ini, maka pengiriman pasukan dari kota raja itu sungguh tidak pada tempatnya dan harap sekarang juga ditarik mundur kembali.”

“Hemmm, mudah saja menarik mundur pasukan. Akan tetapi saya hanya akan menarik mundur pasukan kalau sudah melihat Pangeran Yung Hwa dibebaskan dan berada di antara kami.”

“Orang tua yang tinggi hati! Kami dengar bahwa engkau bukanlah seorang panglima, dan menurut Ciu-lo- mo, engkau hanyalah seorang kang-ouw yang mempunyai julukan Sai-cu Kai-ong.”

“Memang benar demikian,” jawab kakek itu tenang.

“Mengapa orang seperti engkau tidak mempercayai kami?” bentak gubernur itu, marah bukan main bahwa seorang ‘raja pengemis’ saja berani tidak percaya kepadanya.

“Tidak ada soal percaya atau tidak percaya, Kui-taijin. Kami hanya menjalankan tugas yang akan kami pertahankan sampai detik terakhir. Kami ulangi bahwa kami baru akan menarik mundur pasukan kalau Pangeran Yung Hwa sudah diserahkan kepada kami.”

Gubernur itu menoleh kepada Ban Hwa Sengjin dan sampai beberapa lamanya mereka bertemu pandang, kemudian Gubernur Kui berkata, “Baiklah, kau tunggu saja. Besok akan kami bebaskan Pangeran Yung Hwa. Hari sudah mulai gelap, kami akan kembali dulu.”

Setelah berkata demikian, gubernur itu mengangguk kepada Ban Hwa Sengjin. Koksu dari Nepal yang bertubuh seperti raksasa itu lalu memondong tubuh Gubernur Kui, lalu dia berlari cepat sekali menuruni bukit itu. Gerakannya gesit dan larinya seperti terbang saja.

“Hemmm, raksasa itu lihai sekali dan gubernur itu amat cerdik,” kata Sai-cu Kai-ong dan Siluman Kecil mengangguk.

“Saya kira juga ada sesuatu yang direncanakannya,” kata Siluman Kecil.

Sai-cu Kai-ong mengajak Siluman Kecil kembali ke perkemahan dan dia mengadakan rapat kilat di antara para pembantunya. Semua pembantunya juga menyatakan rasa curiga mereka terhadap Gubernur Kui, maka akhirnya diambil keputusan bahwa Sai-cu Kai-ong sendiri, dibantu oleh Gu Sin-kai, pergi menyelidiki ke istana Gubernur Kui di Lok-yang dan atas permintaan Sai-cu Kai-ong, Siluman Kecil mau juga menemani mereka. Berangkatlah mereka bertiga pada malam hari itu juga menuju ke Lok-yang.

********************

Malam itu suasana sangat sunyi di istana gubernuran di kota Lok-yang. Karena menurut keterangan dari Ho-nan Ciu-lo-mo bahwa Gubernur Kui sedang sibuk dengan urusan penting dan belum sempat berbicara dengan tiga orang jagoan yang terpilih sebagai pengawal-pengawal pribadi, maka tiga orang yang memenangkan sayembara yang diadakan di Ceng-couw itu kini diserahi tugas menjaga keamanan di istana gubernuran, ditemani oleh Ciu-lo-mo sendiri.

Seperti diceritakan di bagian depan, yang memang dalam pertandingan itu adalah tiga orang, yaitu pertama adalah laki-laki pincang yang gagu, yang kedua adalah Kang Swi pemuda royal itu, dan ketiga adalah Siauw-hong, yaitu pengemis muda yang tadinya menjadi tukang kuda dari Kang Swi. Setelah menang dalam sayembara, Kang Swi lalu memberikan keempat ekor kudanya kepada A-cun, kacungnya itu, dan lalu menyuruh kacungnya itu pergi.

Kang Swi yang berwatak ugal-ugalan dan manja, juga agak angkuh itu, masih merasa penasaran karena dia hanya jatuh nomor dua, dinyatakan kalah oleh si pincang gagu! Padahal, siapakah si gagu itu? Orang yang sama sekali tidak punya nama! Benar-benar tidak punya nama karena si gagu itu tidak bisa menjawab ketika ditanyai namanya, dan ketika disuruh tuliskan namanya, dia menggeleng-geleng kepala dan menggoyang goyangkan tangannya sebagai tanda bahwa dia tak dapat menulis. Pincang, gagu, dan buta huruf! Akan tetapi toh dianggap pengawal nomor satu dan dia berada di bawahnya!

Karena malam itu sunyi dan mereka menanti berita dari gubernur, maka mereka merasa kesal juga. Setelah makan malam, Ciu-lo-mo lalu mengajak mereka bermain kartu. Akan tetapi, dalam permainan ini pun si gagu amat bodoh dan sukar diajari sehingga Kang Swi merasa makin tidak senang.

“Aku berani bertaruh bahwa kumismu itu palsu, Gagu!” katanya.

Karena tidak punya nama, maka laki-laki pincang gagu yang menjadi yang nomor satu atau juara di antara tiga pengawal baru yang terpilih itu, disebut Gagu. Dan si Gagu ini biar pun tidak pandai bicara, rupanya dapat mengerti semua kata-kata orang yang ditujukan kepadanya. Akan tetapi ternyata orangnya pendiam, sabar dan sama sekali tidak mau melayani terhadap goda-godaan dan gangguan-gangguan dari Kang Swi.

“Kang-sicu, harap kau suka hentikan godaan-godaanmu itu. Jangan sampai dia menjadi marah dan terjadi keributan antara engkau dan dia,” Ciu-lo-mo akhirnya menegur Kang Swi yang terus-menerus menggoda Gagu.

“Hemmm, kalau dia marah aku pun tidak takut,” kata Kang Swi.

“Bukan soal takut, akan tetapi kalau sampai terjadi keributan di sini, bukankah hal itu tidak baik sekali?” Ciu-lo-mo menasehatinya.

Akan tetapi, di dalam hatinya Kang Swi masih merasa penasaran dan marah karena dikalahkan oleh orang gagu dan pincang ini, maka dia tetap saja membantah. “Mana dia berani ribut-ribut? Akan kubuka kedoknya kalau dia ribut-ribut. Dia ini orang palsu, entah darimana dia. Kalau dia berani ribut, akan kuajak keluar dia dan dalam pertandingan sungguh-sungguh, tentu pedangku mampu membuka kedoknya!”

Ciu-lo-mo mengerutkan alisnya dan tiba-tiba si gagu menggebrak meja, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan mereka bertiga. Kang Swi juga bangkit, akan tetapi Ciu-lo-mo berkata, “Kang-sicu, harap kau jangan mencari keributan di sini. Biarlah dia sendiri dan jangan mengganggu lagi!” Suaranya mulai terdengar keras hingga mau tidak mau Kang Swi menengok kepadanya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo