September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 5

 

Para pelayan yang sebenarnya adalah anggota-anggota Hek-eng-pang yang menyamar itu mulai pula dengan tugas yang sesungguhnya. Di antara mereka memang ada yang membantu para pelayan Liong- sim-pang melayani para tamu mempersiapkan minuman, hidangan dan lain-lain. Akan tetapi sebagian pula di antara mereka mulailah meryelidiki dan mencari-cari di mana adanya Puteri Bhutan seperti yang diceritakan oleh Tek Hoat, puteri yang akan menjadi pengantin besok pagi dan yang harus mereka culik itu.

Dua puluh empat orang ini adalah dari Pasukan Tanah dan Pasukan Kayu, sedangkan Pasukan Api bertugas mempersiapkan ‘jalan keluar’ untuk teman-temannya itu apa bila mereka telah berhasil menculik sang puteri. Tek Hoat sendiri yang masih menderita luka bekas gempuran tenaga melawan Suma Kian Lee, menanti di luar tembok dan sudah mempersiapkan kuda untuk melarikan puteri itu. Dia maklum bahwa dalam keadaan terluka, amat berbahaya kalau dia sendiri masuk ke dalam. Selain dia tentu akan dikenal, juga tidaklah mungkin untuk melawan banyak orang pandai dalam keadaan terluka, maka dia mengandalkan kecerdikan para temannya, yaitu wanita-wanita dari Hek-eng-pang itu.

Sementara itu, Syanti Dewi yang selalu mengharapkan pertolongan dari Siang In, masih berada dalam kamarnya dan dia tidak membantah ketika para pelayan menghias dan merias dirinya di dalam kamarnya. Diam-diam dia masih mengharapkan kemunculan gadis luar biasa yang telah berhasil meloloskan dirinya dari istana ayahnya itu. Dia akan menanti sampai saat terakhir, yaitu sampai besok malam. Kalau sampai besok malam Siang In atau siapa saja tidak datang menolongnya, kalau sampai tiba saatnya dia menyerahkan diri kepada Hwa-i-kongcu, pemuda tampan pesolek yang mengerikan hatinya itu, maka dia akan membunuh diri!

Ketika dia mendengar dari para pelayan yang merias bahwa malam itu di dalam pesta akan diadakan pertunjukan tari-tarian dan permainan opera, dan bahwa sang bintang panggung amat cantik jelita dan jenaka, hati Syanti Dewi tertarik sekali. Dia menduga bahwa tentu Siang In gadis yang cerdik itu menyamar sebagai pemain opera, maka dia lalu minta kepada seorang di antara para pelayan untuk memanggil bintang opera itu karena dia ingin bertemu dan bicara tentang tarian.

Permintaan ini disampaikan oleh si pelayan kepada Hwa-i-kongcu dan tentu saja calon suami yang merasa beruntung akan memperisteri seorang puteri raja lalu mengijinkan permintaan itu. Apa lagi karena pelayan yang melayani calon isterinya itu merupakan pelayan-pelayan kepercayaannya, ya pelayan ya selir, maka dia tidak menjadi curiga dan lalu diperintahkan kepada seorang pengawalnya untuk menyampaikan permintaan calon mempelai puteri itu kepada pimpinan rombongan opera. Pimpinan opera lalu berbisik kepada bintang panggung, si dara cantik jelita tadi. Sambil tersenyum gembira bintang panggung ini lalu mengikuti si pelayan meninggalkan kamar rias itu.

Liong-li dan kawan-kawannya mencari-cari namun belum berhasil menemukan di mana adanya kamar sang puteri. Tetapi tiba-tiba Liong-li melihat seorang pelayan bersama seorang dara cantik jelita berjalan lewat. Diam-diam dia lalu mengikuti mereka dari jauh. Karena dia pun berpakaian pelayan, maka para pengawal yang berjaga-jaga di seluruh tempat itu tidak ada yang menaruh curiga kepadanya.

Dara cantik yang diiringkan oleh pelayan itu lincah dan jenaka sekali, di sepanjang jalan bicara dan memuji-muji keindahan rumah gedung seperti istana milik Hwa-i-kongcu yang kaya raya itu. Liong-li terus membayangi mereka dari jauh, melewati gang-gang, kamar-kamar, ruangan-ruangan terbuka, pendapa- pendapa dan taman-taman. Kiranya sang puteri itu berada di tempat yang demikian tersembunyi!

Akhirnya tibalah mereka di sebuah bangunan kecil yang mungil dan langsung masuk ke dalamnya. Bintang panggung itu lalu diajak masuk ke dalam kamar. Kini mereka berdiri saling pandang, si bintang panggung dan Syanti Dewi. Syanti Dewi kecewa bukan main. Memang bintang panggung itu cantik jelita, dan bentuk tubuhnya seperti bentuk tubuh Siang In yang ramping, tetapi mukanya bukanlah Sian In! Akan tetapi bintang panggung itu cepat menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Saya menghaturkan selamat kepada mempelai puteri, semoga hidup bahagia dan dikarunia banyak putera dan berumur panjang!”

Mendengar suara ini, Syanti Dewi terkejut bukan main. ltulah suara Siang In! Dia dapat menenangkan hatinya dan berkata, “Terima kasih.” Lalu puteri itu menoleh kepada para pelayannya yang jumlahnya lima orang itu, berkata, “Harap kalian keluar dari kamar ini dulu, aku ingin bicara seenaknya dengan seniwati ini. Kalian tunggu saja panggilanku dan menanti di luar.”

Para pelayan itu saling pandang, tersenyum dan segera mengundurkan diri. Mereka mendapat pesan yang amat keras dari majikan mereka agar sebaiknya melayani sang puteri dan agar memenuhi semua permintaannya. Tentu saja permintaan untuk hanya berduaan dengan bintang panggung yang cantik itu tidak menimbulkan kecurigaan hati mereka dan mereka pun mundur dan keluar dari dalam kamar itu.

Setelah yakin bahwa mereka hanya berdua, Syanti Dewi memandang tajam wajah cantik itu dan bertanya, “Siapakah engkau?”

Bintang panggung itu tersenyum lebar. “Enci, apakah engkau lupa akan suaraku?”

“Ah, Siang In…!” Syanti Dewi lalu maju merangkul dan mereka berangkulan sejenak, dua titik air turun dari mata Syanti Dewi yang merasa girang bukan main itu, “Kukira engkau takkan muncul lagi, adikku… hampir lenyap harapanku…“

“Jangan khawatir, Enci. Aku pasti akan berusaha segera menolongmu keluar dari sini sedapatku. Akan tetapi, banyak orang pandai di sini, kita harus berhati-hati dan Enci bersikap yang wajar saja. Aku melihat keanehan di sini. Pelayan-pelayan bantuan itu demikian banyaknya, katanya mereka itu adalah utusan dari Si Jari Maut.“

“Ahhhhh…!” Muka Syanti Dewi menjadi pucat mendengar nama julukan ini. “Dia…?”

Siang In mengangguk. “Namun aku masih curiga. Sikap mereka mencurigakan sekali. Tetapi mungkin mereka ini akan dapat membantu kita, memudahkan aku membawamu keluar dari sini, Enci Syanti Dewi. Kau tinggallah di sini, bersikaplah tenang dan wajar dan percayalah kepadaku.”

Syanti Dewi merangkul dan mencium pipi dara itu, lalu menatap wajah itu dengan penuh keheranan. “Bagaimana mukamu bisa begini berubah sama sekali?”

Siang In tersenyum, meraba dengan kedua tangannya ke bawah dagu, kemudian sekali dia menarik, mukanya berubah menjadi muka Siang In sendiri! Kiranya mukanya ditutup oleh sehelai ‘kedok’ yang amat tipis, setipis kulit manusia, akan tetapi kedok itu sama sekali mengubah mukanya dengan kecantikan yang sama sekali berbeda! Mulutnya menjadi lebar, hidungnya lebih mancung, pipinya lebih montok dan dahinya lebih lebar, matanya agak sipit. Tentu saja Syanti Dewi sendiri tidak mengenalnya.

“Aku harus menyamar sebaiknya, dan kalau tidak, mana mungkin aku bisa mengelabuhi mata Hwa-i- kongcu yang berminyak itu?”

“Berminyak? Apa ada mata berminyak?” Syanti Dewi terheran karena dia sendiri belum pernah memandang mata calon suaminya secara teliti!

“Hi-hi-hik, berminyak dan berkeranjang! Mata minyak dan mata keranjang, hidungnya belang! Hi-hik!”

Syanti Dewi tertawa geli dan terkejutlah dia betapa dalam sedetik saja dia sudah bisa tertawa! Berdekatan dengan gadis ini memang membuat orang tidak dapat tidak menjadi gembira. Dia sendiri seketika melupakan kenyataan bahwa sesungguhnya dia masih menjadi tawanan, seperti seekor burung masih berada di dalam sangkar tertutup. Hatinya masih geli ketika dia melihat Siang In mengenakan kembali kedoknya yang luar biasa itu dan makin gelisah dia teringat betapa Siang In juga mempunyai kedok yang kalau dipasang tentu akan membuat para pelayannya menjerit-jerit!

“Eh, In-moi, bagaimana kalau kau meminjamkan kedokmu yang polos itu kepadaku dan mengajari aku bagaimana untuk memakainya?”

“Wah, Enci Syanti. Engkau ini aneh-aneh saja. Untuk apa kedok setan itu untukmu?”

“Kalau tidak ada jalan lain, di waktu si hidung belang itu datang kepadaku, aku akan memakai kedok polos itu, hendak kulihat apakah…“ Syanti Dewi tidak dapat menahan ketawanya.

“Apakah hidungnya masih belang atau tidak? Hi-hik, Enci. Tentu akan lucu sekali dan ingin memang aku melihat bagaimana dia akan lari tunggang-langgang melihat isterinya bermuka polos seperti itu, hi-hi-hik. Akan tetapi berbahaya sekali, Enci. Sudahlah, aku harus kembali ke tempat pertunjukan, dan akan kuatur nanti bagaimana baiknya untuk menolongmu sambil melihat perkembangan. Selamat berpisah untuk sebentar, Enci.”

Syanti Dewi merangkul dan mencium kedua pipinya yang sudah tertutup kedok, namun masih halus dan menarik kemerahan itu. “Nyawaku berada di tanganmu, adikku,” bisik Syanti Dewi.

Siang In tersenyum dan melangkah mundur. “Hi-hi-hik, apa kau kira aku ini Giam-lo-ong (Raja Akherat)? Sampai nanti, Enci…“ Dan pergilah dia keluar dari kamar.

Para pelayan yang berada di luar dan tadi hanya mendengar betapa calon majikan mereka itu tertawa-tawa dengan sripanggung itu, cepat masuk kembali dan mereka melihat wajah yang tadinya agak pucat itu kini berseri dan yang mengherankan hati mereka, kalau selama ini jarang sekali sang puteri ini mau makan, kini Syanti Dewi menyambut kedatangan mereka dengan kata-kata yang menggirangkan mereka.

“Cepat ambilkan nasi dan masakan yang paling enak. Bukankah malam ini ada pesta? Aku pun ingin pesta sendiri!”

Sementara itu, pada saat itu para tamu mulai dengan pesta. Hidangan makanan kecil mulai dikeluarkan dan para tamu menikmati pertunjukan tari-tarian yang ditarikan oleh enam orang penari yang cantik-cantik. Semua orang memandang ke arah Siang In yang baru kembali dan ada yang kecewa mengapa dara yang paling cantik dan yang menjadi sripanggung itu tidak pula ikut menari.

Setelah para penari itu selesai menari, banyak tamu yang berteriak meminta agar sri panggung juga menari! Pemimpin rombongan itu, seorang tua yang juga menabuh alat musik, yaitu meniup suling, segera bangkit berdiri dan berkata dengan hormat bahwa sripanggung akan main sebagai Kauw Gee Thian Si Raja Monyet dalam cerita See-yu yang akan dipentaskan malam itu, dan karenanya tidak dapat ikut menari. Pemimpin ini khawatir kalau-kalau dara cantik itu tidak pandai menari.

Siang In baru kemarin masuk perkumpulannya. Karena gadis itu memiliki kepandaian bermain sulap, maka diterimanya gadis ini sebagai anggota rombongaannya, namun sebagai pemain opera, bukan sebagai penari. Dia hanya tahu bahwa gadis itu memiliki wajah cantik jelita, tubuh yang indah, memikat, pandai main sulap dan tari silat.

Akan tetapi tiba-tiba Siang In berkata, “Lopek, biarkanlah aku menari sendiri!” Dan dia bangkit, lalu menjura ke arah para tamu yang menyambutnya dengan tepuk tangan riuh.
“Cuwi sekalian, baru saja saya dipanggil oleh calon mempelai puteri dan beliau telah mengajarkan sebuah tarian asing kepada saya. Maka saya akan mencoba tarian itu untuk dinikmati oleh Cuwi sekalian, sebagai persembahan dari mempelai puteri!” Semua orang bersorak gembira dan Hwa-i-kongcu juga mengangguk- angguk dengan gembira dan bangga!

Siang In lalu mulai bernyanyi dengan suaranya yang merdu dan halus, dan mulai pula tubuhnya bergerak- gerak menari. Para penabuh musik dari rombongan itu baiknya ialah ahli-ahli yang sudah berpengalaman puluhan tahun, maka ketika mereka mendengar nyanyian yang asing itu, biar pun tidak dapat mengikuti lagu itu seluruhnya, setidaknya mereka dapat memperdengarkan irama untuk membayangi nyanyian dan tarian itu, perlahan-lahan sehingga dengan iringan yang sayup sampai ini, suara nyanyian itu menjadi makin jelas dan gerak tarian itu makin menonjol. Itulah nyanyian dan tarian yang dipelajari oleh Siang In di dalam hutan dari Syanti Dewi.

Memang indah sekali! Baik nyanyiannya mau pun tariannya, dan lebih-lebih suaranya dan gerakannya! Memang harus ada perpaduan antara lagu dan yang menyanyikannya, juga antara tarian dan yang menarikannya. Dan semua penonton terpesona, bahkan ada yang sampai lupa diri, bengong terlongong, semangatnya seperti diterbangkan oleh alunan suara Sian In, diayun oleh gerak kaki tangan yang lemah gemulai itu!

“Ini tarian Kerajaan Bhutan!” Tiba-tiba terdengar teriakan orang.

Hanya beberapa orang saja yang memperhatikan ini dan ternyata yang berteriak itu adalah seorang laki- laki yang kepalanya memakai sorban dan memang dia adalah seorang tamu yang berkebangsaan Nepal. Dia memandang dengan kagum sekali, dan menggerak-gerakkan tongkat yang dipegangnya sehingga tongkatnya itu mengeluarkan bunyi tak-tok-tak-tok namun iramanya cocok sekali dengan nyanyian dan tarian Siang In itu. Bahkan kemudian suara pukulan tongkatnya inilah yang dijadikan pedoman bagi para pemain musik untuk mengiringi nyanyian dan tarian itu. Dan si kakek Nepal ini menggeleng-gelengkan atau menggoyang-goyang kepala menurutkan irama musik sehingga jenggotnya yang panjang sampai ke perut itu pun bergoyang-goyang amat lucunya!

Setelah Siang In menyelesaikan nyanyian dan tariannya, tepuk tangan lalu meledak di ruangan itu dan semua anggota opera itu pun bertepuk tangan memuji, terutama kakek pemimpin yang merasa girang, seolah-olah dia telah memperoleh mutiara yang tidak ternilai harganya! Tentu rombongannya kini akan terkenal dan laris dengan adanya sri panggung ini, pikirnya.

Kini permainan opera pun dimulai. Pementasan ini hanya beberapa adegan saja dari cerita See-yu yang panjang, yaitu di waktu Kauw Cee Thian Si Raja Monyet itu sedang mempermainkan enam orang Siluman Laba-laba yang menjadi enam orang wanita cantik. Siang In lalu memakai topeng monyet dan mulailah ia menari-nari seperti seekor monyet yang membawa sebatang tongkat panjang, yaitu tongkat Kim-kauw- pang, senjata ampuh dari Si Raja Monyet.

Di sini Siang In memperlihatkan kemahirannya bermain sulap! Dia maklum bahwa guru dari Hwa-i-kongcu, Nenek Durganini, adalah seorang ahli sihir yang luar biasa, dan bahwa saat itu Durganini tidak ada di situ karena nenek itu telah kena dia akali dan agaknya telah pergi untuk mencari suhu-nya, See-thian Hoatsu, maka kini gadis ini berani memperlihatkan kepandaian dalam ilmu sihir. Kalau ada nenek itu di situ, tentu dia tidak berani banyak bertingkah!

Tongkat itu, seperti tongkat Kim-kauw-pang yang sesungguhnya dalam cerita See-yu, digerakkan untuk bermain sulap. Dia sebagai Kauw Cee Thian lalu menyulap tongkat itu menjadi kecil seperti sebatang pensil yang dapat ia selipkan di atas daun telinganya! Kemudian ia menyulapnya menjadi besar sampai panjangnya menjadi tiga kali lipat panjang biasa. Siang In lalu bermain silat, diputar-putarnya tongkat itu sedemikian rupa sampai lenyap bentuk tongkatnya dan yang nampak hanyalah gulungan putih yang amat indah. Tentu saja semua orang bertepuk tangan memujinya.

Akan tetapi, dasar Siang In adalah seorang dara yang lincah dan bengal, kadang-kadang timbul sifat yang ugal-ugalan sehingga dia suka menggoda orang. Pada saat itu timbul kerakusannya akan pujian setelah melihat semua orang terheran-heran dan memujinya. Dia lalu membuat api dengan tongkatnya. Suasana menjadi seram karena pada adegan yang menceritakan pembakaran itu, tahu-tahu dari tongkatnya muncul api berkobar-kobar. Dan semua orang terbelalak kaget ketika melihat betapa gadis cantik itu kini bermain sebagai Sun Go Kong atau Kauw Cee-Thian yang beralih rupa, berkali-kali berteriak akan berganti rupa, dan dia benar-benar telah beralih rupa di depan mata mereka!

“Lihat, aku akan menjadi seekor harimau!” terdengar dara itu berseru dan… “Hauwww!” Di situ nampak seekor harimau dan si Kauw Cee Thian itu lenyap!

Bahkan pada akhir pertunjukan, semua orang menjadi panik dan di samping merasa kagum mereka juga memandang dengan mata terbelalak, muka pucat dan kepala pening ketika si Kauw Cee Thian itu mencabut bulu tubuhnya, meniup bulu-bulu itu dan muncullah belasan orang Kauw Cee Thian lain di atas panggung!

Suasana menjadi sunyi. Bahkan para pemain opera lainnya menjadi terbelalak, lalu terdengar para pelayan menjerit saking takut dan ngerinya, dan pada saat itu tiba-tiba saja terdengar bunyi kelenengan yang nyaring sekali. Begitu terdengar suara ini, semua penglihatan aneh itu pun lenyaplah! Bayangan-bayangan Kauw Cee Thian ciptaan dari bulu itu pun lenyap dan di atas panggung Si Raja Monyet yang dimainkan oleh gadis itu terhuyung-huyung.

Baiknya suara kelenengan itu berhenti dan Siang In dapat menyelinap di antara kawan-kawan anggota opera sambil menanggalkan topeng monyetnya. Untung dia memakai kedok sehingga tldak kelihatan betapa muka yang sesungguhnya dari gadis ini agak pucat. Dia tadi telah diserang oleh suara kelenengan yang mengandung daya mukjijat untuk memusnahkan semua sihirnya! Diam-diam dia melirik ke arah orang Nepal tadi, yang kini sudah menyimpan kembali kelenengannya. Hemmm, dia seorang ahli, aku harus waspada, bisik hati Siang ln.

“Bagus! Bagus sekali pertunjukan tadi!” Si orang Nepal itu bangkit sambil berkata dalam bahasa Han yang agak kaku namun cukup lancar, tanda bahwa biar pun dia belum dapat melenyapkan lidah asingnya, namun dia sudah mempelajari bahasa daerah ini dengan baik dan telah menguasai sepenuhnya. “Kepandaian sripanggung tadi memang hebat, dan saya Gitananda dari Nepal benar-benar merasa beruntung dapat melihat kepandaian yang amat hebat dari seorang yang masih begitu muda. Sekarang, untuk meramaikan pesta biarlah saya yang bodoh menyumbangkan sedikit permainan, jika Hwa-i-kongcu mengijinkannya!” Sambil berkata demikian, dia menjura ke arah tuan rumah.

Hwa-i-kongcu yang duduk dan sejak tadi memperhatikan permainan Siang In dengan penuh keheranan dan kekaguman itu mengangguk. Diam-diam Hwa-i-kongcu terheran-heran. Dia sendiri adalah murid seorang ahli sihir dan bagi dia, sihir yang diperlihatkan oleh sripanggung tadi bia pun tidak aneh, namun amat mengherankan hatinya karena kalau sripanggung itu dapat menguasai para penonton dengan ilmu sihirnya, maka sri panggung itu bukan orang sembarangan! Dan agaknya kakek Nepal ini pun seorang ahli sihir pula!

Kalau saja subo-nya tidak pergi! Tentu saja bagi subo-nya, semua pertunjukan tadi hanya berupa permainan kanak-kanak saja, sungguh pun bagi dia sendiri sudah merupakan kepandaian yang tidak mudah dilakukan.

Kini Kakek Gitananda melangkah ke tengah ruangan itu, membawa tongkatnya dan membawa pula sebuah kotak kecil. Setelah mengangguk keempat penjuru seperti lagak seorang ahli sulap sedang berdemonstrasi, dia lalu melemparkan kotak itu ke atas, lalu tongkatnya diacungkan ke atas menyambar kotak itu yang disangganya dan dibawanya berkeliling. Kemudian ia kembali ke tengah ruangan dan tiba- tiba ia menarik tongkatnya dan… kotak itu masih tetap terapung di udara tanpa penyangga! Kakek itu lalu duduk bersila di bawah kotak yang terapung itu dan membawa tongkat ke mulutnya, meniup dan… terdengarlah suara suling yang merdu, seolah-olah dia sedang meniup sebatang suling, bukan tongkat!

Semua orang terpesona memandang kearah kakek itu kemudian menahan napas ketika melihat kotak di udara itu terbuka tutupnya, dan dari dalam kotak muncullah seekor ular kobra! Kulitnya yang hitam coklat kekuningan itu berkilat, matanya kemerahan dan lehernya mekar, mulutnya mendesis-desis, akan tetapi ular itu lalu mulai menari-nari mengikuti suara suling tongkat! Lucu dan juga indah karena tubuh ular begitu lemasnya ketika menari-nari, tidak kalah dengan lemasnya pinggang sripanggung yang ramping tadi!

Dengan gerakan melenggang-lenggok ular itu melayang keluar dari kotak, lalu turun ke atas lantai di depan si kakek Nepal, lalu kepalanya berubah menjadi dua, tiga, empat dan akhirnya nampaklah ular kobra itu memiliki tiga belas buah kepala yang semuanya diangkat dan kemudian menari-nari menurut bunyi suling yang ditiup kakek itu, suling yang sebetulnya hanyalah sebatang tongkat. Tidak lama kemudian, ketika suara suling meninggi, ular kobra berkepala tiga belas itu lalu melayang ke atas, kembali memasuki kotak dan turunlah kotak itu perlahan-lahan ke atas pangkuan si kakek Nepal yang juga menghentikan tiupan pada tongkatnya.

Tentu saja permainannya yang luar biasa itu disambut tepuk tangan riuh, dan si kakek Nepal bangkit berdiri, menjura keempat penjuru dan matanya yang seperti menjuling di atas sebatang hidung melengkung itu mengerling ke arah Siang In yang diam-diam juga terkejut bukan main, maklum bahwa kakek Nepal itu merupakan seorang lawan yang amat tangguh dalam ilmu sihir.

Hidangan besar dan arak mulai membanjiri meja-meja para tamu dan mulailah para tamu bergembira makan dan minum arak. Minuman keras itu membuat mereka menjadi gembira dan obrolan di antara mereka menjadi makin terlepas dan bebas. Kini di atas panggung diadakan pertunjukan pelawak dan lawakan mereka membuat para tamu yang mulai terpengaruh minuman keras itu tertawa bergelak. Suasana menjadi meriah dan gembira sekali. Para anggota Hek-eng-pang yang menyamar sebagai pelayan-pelayan yang dikirim oleh Si Jari Maut sebagai sumbangan kepada Hwa-i-kongcu, dengan sigapnya membantu pelayanan hidangan untuk para tamu sedangkan sebagian pula mulai menyelidiki tempat persembunyian pengantin wanita yang harus mereka culik.

Di panggung kini terjadi pertunjukan yang amat menarik, yaitu kekuatan minum arak! Dan kembali kakek Nepal yang bernama Gitananda dan yang tadi telah bermain sulap, memperlihatkan kepandaiannya yang hebat. Dia menantang jago-jago minum untuk adu kuat minum arak melawan dia dan sudah ada tiga orang roboh pingsan karena mabuk melawan Gitananda. Mereka digotong ke luar.

Kini yang menghadapinya adalah seorang kakek bertubuh pendek, perutnya sebesar gentong dan kepalanya botak. Orang ini terkenal sebagai ‘setan arak’ di antara kawan-kawannya dan perutnya yang gendut luar biasa dan kepalanya yang botak itu kabarnya juga karena kebanyakan minum arak!

Cawan demi cawan diminum oleh Gitananda dan lawannya yang baru ini. Setiap cawan yang memasuki mulut mereka langsung diikuti sorak-sorai para tamu yang menonton pertandingan yang menggembirakan ini.

“Ahhh, aku haus sekali, sungguh tidak memuaskan minum dari cawan yang kecil ini. Kesinikan dua guci penuh!” tiba-tiba Gitananda bertepuk tangan dan seorang pelayan segera berlari mengambilkan dua guci penuh arak yang digotong oleh empat orang pelayan dan diletakkannya dua buah guci arak itu ke atas meja. Gitananda tertawa memandang kepada lawannya yang gendut.

“Bagaimana kalau kita minum dari guci ini saja?”

Si gendut tersenyum. “Silakan kau dulu!” dia menantang.

Gitananda lalu mengangkat guci itu, menempelkan bibir guci ke mulutnya dan segera terdengarlah suara menggelogok ketika dia menuangkan isi guci ke dalam perut melalui mulutnya. Lama sekali dia minum sampai akhirnya guci itu kosong dan dia meletakkan guci itu di atas meja. Semua orang mengeluarkan seruan kaget, heran dan kagum sekali. Satu guci arak itu biasanya dihabiskan oleh delapan orang atau satu meja untuk satu kali perjamuan. Akan tetapi sekarang ditenggak habis sekaligus oleh kakek Nepal ini. Sungguh merupakan hal yang luar biasa.

“Ha-ha-ha, giliranmu!” kata Gitananda kepada Si gendut.

Dengan dorongan kawan-kawannya, akhirnya Si gendut yang terkenal sebagai setan arak itu pun mengangkat gucinya dan seperti yang dilakukan oleh lawannya tadi, dia pun menenggak arak itu langsung dari gucinya. Lebih lama lagi dia minum, mukanya sampai ke botak-botaknya menjadi merah dan ketika akhirnya dia menghabiskan arak itu, gucinya terlepas dari tangannya dan jatuh menggelinding ke atas lantai. Si gundul botak itu sendiri tertawa aneh, lalu bangkit. Perutnya yang gendut menjadi makin besar dan matanya menjadi merah. Suara ketawanya menunjukkan bahwa dia telah menjadi mabuk!

“He-he-heh… kau hebat… heh-heh, aku mengaku kalah deh…“ Si gendut bangkit berdiri, terhuyung kembali ke kursinya, akan tetapi hampir dia jatuh. Untuk menahan tubuhnya, tangannya diulur untuk meraih pinggang seorang dayang atau seorang pelayan wanita yang sedang lewat membawa baki.

Akan tetapi pelayan itu, yang bukan lain adalah salah seorang anggota Hek-eng-pang, dengan mudah mengelak dengan menggerakkan pinggul dan miringkan tubuh. Tentu saja karena raihan tangannya dielakkan, tubuh si gendut mendoyong ke depan. Akan tetapi ternyata setan arak ini bukan hanya kuat minum arak, melainkan juga pandai ilmu silat dan biar pun dia mabuk sekali, dalam keadaan mendoyong hampir jatuh itu kedua tangannya dapat bergerak cepat ke samping untuk merangkul, sekali ini rangkulannya ditujukan kepada buah pinggul yang menonjol besar itu.

Semua tamu tertawa menyaksikan ini. Akan tetapi dengan gerakan lincah, si pelayan itu kembali mengelak. Masakan yang berada di dalam mangkok di atas bakinya sama sekali tidak tumpah, dan sekali ini si gendut tidak dapat mencegah lagi tubuhnya yang limbung. Dia jatuh! Kembali semua orang menertawakannya.

“Ehhhhh!” Si Gendut yang merasa malu karena ditertawakan menjadi marah kepada pelayan itu. Begitu dia terguling, kakinya mencuat untuk menyerampang kaki si pelayan agar jatuh bersama dia. Akan tetapi kembali dia keliru karena pelayan itu meloncat dan kembali dapat menghindarkan diri, terus menyelinap pergi. Para tamu bertepuk tangan memuji kelincahan pelayan wanita itu.

Sementara itu, Hak Im Cu, seorang tosu tinggi kurus yang wajahnya bengis, yang amat tinggi ilmu silatnya dan terkenal sebagai seorang ahli ginkang dan menjadi seorang di antara pembantu-pembantu utama Hwa-i-kongcu, dengan secara diam-diam menjaga keamanan bersama dua orang temannya untuk menjamin keselamatan Hwa-i-kongcu dan Liong-sim-pang. Mereka bertiga sesungguhnya bukanlah anggota Liong-sim-pang, melainkan tamu-tamu, juga mereka bertiga merupakan sahabat-sahabat dan pembantu-pembantu utama.

Di samping tosu Hak Im Cu ini, masih ada dua orang lainnya yang tidak kalah lihainya. Yang pertama adalah Ban-kin-kwi Kwan Ok, yang sebaya dengan Hak Im Cu, berusia kurang lebih enam puluh tahun. Berbeda dengan Hak Im Cu yang tinggi kurus dan ahli ginkang, Kwan Ok ini, sesuai dengan julukannya, yaitu Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati) bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dan tenaganya sekuat gajah!

Ada pun yang kedua atau orang ketiga di antara tiga sekawan ini adalah Hai-liong-ong Ciok Gu To, juga usianya kurang lebih enam puluh tahun, tubuhnya gemuk pendek dan kepalanya gundul akan tetapi dia bukan seorang pendeta, melainkan seorang bekas bajak tunggal yang amat terkenal karena selain ahli bermain di air juga dia seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam kuat sekali.

Memang tadinya tiga orang ini bukan merupakan sahabat-sahabat. Tetapi, ketiganya diundang oleh Hwa-i- kongcu dan menjadi pembantu utama, tentu saja mereka menjadi sahabat yang memiliki keahlian berbeda- beda. Dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, tiga orang lihai ini pernah muncul di Telaga Sungai, ketika terjadi perebutan anak ular naga di telaga tersebut dan biar pun tiga orang ini lihai sekali, namun karena di telaga itu berkumpul banyak sekali orang-orang pandai, mereka tidak berhasil mendapatkan anak naga itu.

Demikianlah keadaan singkat tiga orang pembantu utama Hwa-i-kongcu yang kini telah berada di tempat pesta itu. Sejak semula, mereka sudah agak curiga ketika mendengar bahwa Si Jari Maut mengirim sumbangan berupa wanita-wanita pelayan yang cantik-cantik itu, maka diam-diam mereka, terutama sekali tosu Hak Im Cu, memasang mata dan mencurahkan perhatian kepada para pelayan itu.

Peristiwa yang terjadi ketika seorang pelayan hendak dirangkul setan arak yang gendut, melihat cara pelayan itu menghindarkan diri, membuat Hak Im Cu menjadi makin curiga. Jelas bahwa pelayan itu memiliki ilmu silat cukup tinggi sehingga dapat menghindarkan tubrukan dan terkaman si gendut demikian mudahnya dan dalam gerakannya mengelak itu, baki tidak terguling bahkan kuah dalam mangkok tidak tumpah. Walau pun yang mengirim Si Jari Maut yang terkenal, namun pelayan-pelayan yang pandai ilmu silat sungguh mencurigakan. Apa lagi pemimpin pelayan itu, yang cantik dan agung dan yang kini tidak nampak.

Hak Im Cu lalu menghubungi dua orang temannya, mereka berbisik-bisik, lalu dengan tergesa-gesa ketiganya pergi menuju ke belakang untuk menyelidiki dan jikalau perlu mengumpulkan pelayan-pelayan sumbangan itu untuk memeriksa mereka. Akan tetapi pada saat itu pula terdengar suara terompet dan canang dipukul gencar. Itulah tanda bahaya dan tak lama kemudian terdengarlah teriakan-teriakan bahwa pengantin puteri diculik orang! Gegerlah keadaan dalam pesta itu ketika suara berisik ini terdengar dan mereka mendengar bahwa pengantin puteri diculik orang.

Keributan ini disusul oleh keributan lain yang lebih meributkan lagi ketika para pelayan wanita itu, dengan menggunakan batu-batu yang memang sudah mereka persiapkan sebelumnya, ada pula yang menggunakan mangkok piring, menyambit ke arah lampu-lampu di seluruh tempat sehingga lampu-lampu itu pecah dan padam. Keadaan menjadi gelap gulita dan tentu saja para tamu menjadi panik, kecuali mereka yang mempunyai kepandaian tinggi, karena mereka ini maklum bahwa terjadi hal hebat dan cepat mereka menggunakan kepandaiannya untuk bersiap-siap turun tangan membantu pihak tuan rumah.

Tentu saja Siang In juga terkejut bukan main. Dia sama sekali tidak mengira bahwa akan terjadi hal seperti itu. Ketika teman-temannya para penari menjerit dan berkumpul menjadi satu dalam keadaan ketakutan, dia sendiri cepat meloncat dan menyelinap di antara orang-orang yang sedang panik, melihat para pelayan wanita menyambiti lampu-lampu dengan ketepatan seorang ahli. Dia kemudian memaki kebodohan sendiri yang tidak menduga bahwa pelayan-pelayan wanita itu ternyata adalah orang-orang yang mempunyai niat sama dengan dia, yaitu menculik sang puteri! Dia berlari terus menuju ke tempat tinggal Syanti Dewi dan benar saja, tepat seperti yang dikhawatirkannya, sang puteri telah lenyap dan di situ terdapat Hwa-i-kongcu dan para pembantunya. Hwa-i-kongcu marah-marah dan memaki-maki para pengawalnya yang dikatakannya tolol.

“Kejar! Isteriku harus dapat dirampas kembali!” teriaknya marah-marah.

Dari tempat persembunyiannya, Siang In bisa melihat betapa tosu tinggi kurus, raksasa tinggi besar muka hitam, dan si gemuk pendek berkepala gundul itu berkelebat dengan kecepatan yang sangat mengejutkan, dan melakukan pencarian atau pengejaran tanpa mengeluarkan kata-kata apa pun. Dia terkejut. Kiranya Hwa-i-kongcu dibantu orang-orang pandai. Namun toh Syanti Dewi dapat diculik orang. Hal ini menunjukkan betapa lihainya si penculik yang agaknya dibantu oleh para pelayan wanita.

Dia meninggalkan tempat sembunyinya untuk melakukan pengejaran pula. Dia harus mendapatkan Syanti Dewi karena agaknya, terjatuh ke tangan siapa pun juga, kecuali ke tangannya, tentu Puteri Bhutan itu akan celaka. Ketika dia ke luar, ternyata di sana sini telah terjadi pertempuran-pertempuran hebat antara wanita-wanita pelayan dan para pengawal dan anak buah Hwa-i-kongcu.

Kini jelaslah sudah bahwa pelayan-pelayan wanita itu adalah serombongan orang yang menyamar untuk menculik sang puteri! Dan ternyata mereka itu terdiri dari orang-orang lihai, sama sekali bukan lawan para pengawal Hwa-i-kongcu atau anggota-anggota Liong-sim-pang biasa saja. Hanya tiga orang lihai tadi yang dapat mengatasi mereka dan mulailah ada beberapa orang wanita pelayan roboh dan selebihnya lalu melarikan diri, dikejar oleh tiga orang itu dan para anak buah Liong-sim-pang.

Tamu-tamu makin panik dan sebagian besar menyelamatkan diri dengan sembunyi di balik semak-semak atau pohon-pohon di dalam taman, dan ada pula yang begitu saja memasuki kamar-kamar, tidak peduli kamar siapa, ada pula yang menyelinap ke dalam dapur, tidak peduli pakaian dan mukanya penuh hangus. Hanya yang berkepandaian saja membantu para anggota Liong-sim-pang melakukan pengejaran pada rombongan wanita pelayan yang ternyata merupakan gerombolan penculik itu.

Ternyata orang-orang Hek-eng-pang amat cerdik, dan sebelum melakukan penculikan, sebagian di antara mereka telah mengatur ‘jalan lari’ untuk kawan-kawannya. Sekarang, mereka mengikuti jalan yang mereka buat, dan dipimpin oleh Hek-eng-pangcu sendiri, yaitu Yang-liu Nionio, mereka berserabutan memasuki taman melalui jalan yang sudah direncanakan semula.

“Penculik-penculik hina, hendak lari ke mana kalian?” Hak Im Cu mengejar dan tosu ini paling cepat larinya karena dia memang seorang ahli ginkang yang hebat.

“Liong-li, bawa dia ini!” Yang-liu Nionio berteriak dan melemparkan tubuh Syanti Dewi yang sudah ditotoknya itu ke arah muridnya itu. Liong-li menyambut tubuh itu dan terus melarikan diri, sedangkan Yang-liu Nionio menyambut serangan pedang Hak Im Cu dengan ranting yang-liu yang tadi dipegangnya.

“Singgg… trakkkkk!” Pedang itu tertahan oleh ranting dan keduanya lalu bertempur seru.

Sementara itu, melihat pengantin wanita dilarikan seorang pelayan dan belasan pelayan lain, para pengawal cepat mengejar. Liong-li lari bersama teman-temannya, meloncati jalan di antara semak-semak. Para pengawal atau anak buah Liong-sim-pang mengejar.

“Blarrrrr…!”

Terjadi ledakan keras dan empat orang anak buah Liong-sim-pang terlempar ke sana sini oleh ledakan itu. Kiranya di situ sudah dipasang jebakan semacam ranjau oleh orang-orang Hek-eng-pang yang tadi meloncati tempat itu. Anak buah Liong-sim-pang yang tidak tahu tentu saja berlari biasa dan menginjak ranjau itu.

Bersama bunyi ledakan, Yang-liu Nionio diikuti oleh beberapa orang anak buahnya juga lari karena Ban- kin-kwi Kwan Ok dan Hai-liong-ong Ciok Gu To telah tiba di situ. Melihat adanya tiga orang yang amat lihai ini, Yang-liu Nionio mengajak anak buahnya lari dan mereka menyelinap di semak-semak belukar di luar taman.

“Keparat jangan lari!” Hak Im Cu memaki dan mengejar.

Akan tetapi tiba-tiba semak-semak itu terbakar dan nyalanya demikian besar karena ternyata semak- semak itu telah disiram minyak. Terpaksa tiga orang lihai ini tidak berani menerjang api dan harus mengambil jalan memutar. Mereka melihat wanita tua cantik memegang ranting itu bersama lima orang wanita pelayan lain menyeberangi jembatan di luar taman. Tentu saja dengan cepat mereka mengejar.

Wanita-wanita itu telah tiba di seberang jembatan dan baru saja Hak Im Cu dan kawan kawannya tiba di jembatan dan meloncat ke atasnya, tiba-tiba jembatan itu ambruk! Tentu saja ini pun buatan para anggota Hek-eng-pang. Untung bahwa yang berada di jembatan itu adalah Hak Im Cu bertiga yang tentu saja dapat meloncat kembali ke belakang dan tidak sampai ikut terjatuh bersama jembatan itu.

Hak Im Cu dan teman-temannya, juga para anak buah Liong-sim-pang cepat mengejar para wanita yang telah tiba di tembok yang mengelilingi tempat markas Liong-sim-pang itu. Dengan gerakan-gerakan yang sangat ringan mereka meloncat ke atas tembok, didahului oleh Liong-li yang memondong tubuh Syanti Dewi.

“Ha-ha-ha, kalian hendak lari kemana?” Tiba-tiba terdengar suara ketawa dan kiranya di atas tembok, di menara penjagaan, telah nongkrong seorang tinggi besar bersorban yang bukan lain adalah Gitananda, tokoh aneh dari Nepal tadi!

“Liong-li, lari…!” Yang-liu Nionio berteriak dan dia sendiri menggunakan ranting yang-liu, langsung menubruk dan menyerang kakek Nepal itu.

Si kakek Nepal terkejut karena tahu bahwa serangan nenek cantik ini cepat dan kuat bukan main, maka dia pun menggerakkan tongkatnya menangkis dan mereka segera bertempur di dalam menara penjagaan itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Liong-li untuk berloncatan pergi ke tempat di mana Tek Hoat dan para anak buah Hek-eng-pang yang lain sudah siap dengan kuda mereka.

Hak Im Cu dan kawan-kawannya tidak mempedulikan nenek yang masih bertanding melawan orang Nepal itu, oleh karena bagi mereka yang terpenting adalah merampas kembali pengantin wanita yang terculik. Maka mereka lalu mengerahkan para anak buah Liong-sim-pang untuk mengejar melalui pintu gerbang sedangkan mereka bertiga sendiri melakukan pengejaran dari atas dengan berlompatan.

Melihat bahwa anak muridnya dan para anak buah Hek-eng-pang sudah berhasil keluar dari tembok, Yang- liu Nionio cepat mendesak kakek Nepal dengan gerakan ranting yang-liu dan ketika kakek itu menangkis dengan tongkatnya, tangan kirinya melakukan pukulan atau cengkeraman mautnya, yaitu Hek-eng-jiauw- kang yang hebat bukan main. Dari jari-jari tangannya yang dibentuk seperti kuku garuda itu menyambar hawa dahsyat sekali.

“Ehhhhh…!” Gitananda terkejut dan cepat meloncat ke belakang, akan tetapi dia melihat nenek cantik itu pun meloncat jauh dan melarikan diri di dalam gelap.

Karena malam itu gelap dan penerangan dari atas tembok tidak seberapa besar, maka kakek Nepal yang hanya menjadi tamu ini tak mau membahayakan dirinya. Dia maklum bahwa mengejar seorang lawan pandai di tempat gelap amatlah berbahaya, maka dia pun melakukan pengejaran seenaknya saja, dengan sikap amat berhati-hati.

Kini terjadilah kejar-kejaran di luar tembok dan di tempat terbuka di daerah Pegunungan Lu-liang-san, di malam gelap itu. Akan tetapi sebentar saja, para wanita yang memang sebelumnya sudah mengatur jalan dengan cerdiknya, dapat melarikan diri di tempat gelap dan terus dikejar oleh para anggota Liong-sim-pang yang dipimpin oleh Hak Im Cu dan kedua orang temannya, bahkan kemudian Hwa-i-kongcu, pengantin pria yang gagal itu pun melakukan pengejaran sendiri…..

********************

Kita tinggalkan dulu para penculik Syanti Dewi yang melarikan diri dan dikejar oleh anggota Liong-sim- pang, dan juga secara diam-diam dikejar pula oleh seorang gadis cantik, yaitu Siang In dan mari kita kembali mengikuti keadaan Suma Kian Lee yang menjadi tawanan Hek-eng-pang.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Suma Kian Lee tidak berdaya dan menjadi setengah tawanan dari Hek-eng-pang dikarenakan Hek-eng-pang mengancam akan membunuh Cui Lan dan Gubernur Hok kalau dia melawan. Akan tetapi munculnya Ang Tek Hoat membuka rahasianya dan akhirnya, dalam pertandingan melawan Tek Hoat dia dikeroyok dan roboh pingsan.

Ketika Kian Lee sadar kembali, dia telah berada di dalam sebuah kamar dan dijaga oleh empat orang wanita anggota Hek-eng-pang yang cantik-cantik. Begitu siuman, dia lalu bangkit duduk dan siap untuk mengamuk. Akan tetapi seorang wanita cantik yang dia tahu merupakan seorang di antara kepala-kepala pasukan di Hek-eng-pang, muncul dan langsung berkata, “Harap kau suka tenang, Kongcu. Kalau tidak, terpaksa kedua orang kawanmu itu kami bunuh!”

Teringat akan Cui Lan dan Hok-taijin, Suma Kian Lee tenang kembali dan dia bangkit duduk kemudian berkata, “Sesungguhnya, apakah yang kalian kehendaki dariku?” Dia memandang ke kanan kiri dan bertanya lagi, “Mana ketua kalian itu? Dan mana pula Tek Hoat? Suruh mereka bicara dengan aku!”

“Pangcu sedang pergi dan aku yang diberi tugas untuk minta agar kau mengaku saja semuanya, Suma- kongcu. Bukankah sudah jelas bahwa yang merampas harta keluarga Kao adalah seorang pemuda yang dikenal pula sebagai Suma-kongcu dan menjadi saudaramu? Nah, sekarang, demi keselamatan dua orang kawanmu itu, terutama dara cantik jelita yang selalu menanyakan keadaan dan mengkhawatirkan keselamatanmu itu, yang agaknya adalah… ehhh, kekasihmu.“

“Jangan bicara sembarangan!” Kian Lee menghardik dan mukanya berubah merah.

Dia tahu betapa lembut dan halus perasaan Phang Cui Lan, dan betapa dara itu masih mengkhawatirkannya, akan tetapi hal itu bukan berarti dara itu cinta kepadanya karena hati dan cinta kasih dara itu telah ditumpahkan kepada Siluman Kecil!

“Maaf, Kongcu. Sekarang, demi keselamatan mereka, harap Kongcu berterus terang saja. Di mana adanya harta itu dan supaya dikembalikan kepada kami untuk ditukar dengan dua orang kawanmu.”

“Kalian adalah orang-orang bodoh yang suka menuduh orang secara ngawur saja!” Kian Lee berkata dengan nada menyesal. ”Aku bukanlah orang-orang macam kalian yang suka membohong, apa lagi menghendaki barang orang lain. Sesungguhnya, aku sama sekali tidak tahu tentang harta itu. Kalau kau tak keberatan, ceritakanlah kepadaku apa yang telah terjadi?”

Wanita cantik itu tersenyum, seolah-olah dia tahu bahwa Kian Lee berpura-pura. Lalu dia menarik napas panjang dan berkata, “Kongcu, engkau membuat tugas kami menjadi lebih berat lagi. Mengapa masih pura-pura tidak tahu kalau yang melakukan ini adalah saudaramu sendiri?”

Kian Lee menahan kesabarannya. “Aku memang mempunyai saudara yang kini sedang kucari-cari, tetapi saudaraku bukanlah perampok atau penculik! Nah, sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa dalam hal ini. Kau mau menjelaskan atau tidak terserah!”

Melihat sikap ini, wanita itu menjadi ragu-ragu dan dia pun bercerita, “Kami mendengar bahwa keluarga Jenderal Kao Liang telah mengundurkan diri dan hendak pulang ke kampung membawa harta yang besar. Karena rombongannya akan lewat tidak jauh dari sini, maka pangcu kemudian memerintah kami untuk menghadang dan merampas harta pusaka itu. Kami sudah hampir berhasil, akan tetapi ternyata banyak pihak lain yang juga mengandung niat yang sama dengan kami. Mereka adalah orang-orang lembah, yaitu perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang yang selalu menjadi musuh besar kami. Kemudian dalam perebutan harta pusaka keluarga Kao itu muncul pula pengawal-pengawal kerajaan yang menyamar, dan kami mendengar pula nama Suma-kongcu. Karena kami tidak berhasil merampas harta, juga pihak Kui-liong- pang tidak pula, sedangkan para pengawal itu telah kami hancurkan, maka tinggal Suma-kongcu itulah yang mencurigakan dan tentu dia yang telah merampas harta pusaka keluarga Kao.”

“Hemmm, dan di mana adanya keluarga Kao sendiri?”

Wanita itu tersenyum dan mencibirkan bibirnya yang merah. “Mereka terculik dan kami tidak tertarik oleh hal itu. Kami hanya mementingkan harta pusaka dan karena jelas bahwa harta itu dirampas oleh Suma- kongcu, sedangkan engkau adalah saudaranya, maka kami mengharap bantuanmu untuk mengembalikan harta itu kepada kami sebagai penukaran diri dua orang kawanmu.”

Akan tetapi Kian Lee sudah tidak mempedulikan omongan wanita itu lebih lanjut karena dia sudah melamun! Kini mengertilah dia mengapa hal-hal aneh itu terjadi kepadanya. Jenderal Kao dan kedua orang puteranya menyerangnya, tentu mereka itu pun sudah mendengar bahwa Suma kongcu yang tentu saja kalau memang benar demikian adalah adiknya, Kian Bu, yang mencuri harta mereka dan menculik keluarga mereka. Pantas saja jenderal itu dan dua orang puteranya menyerang dia! Tentu ini fitnah belaka! Tidak mungkin adiknya, Suma Kian Bu, kini telah berubah menjadi garong! Apa lagi menjadi penculik!

Ini tentu fitnah! Dan dia berkewajiban untuk membongkar rahasia ini. Dia harus dapat menemukan keluarga Jenderal Kao dan menemukan harta yang dirampas orang, bukan hanya untuk membantu keluarga Jenderal Kao itu melainkan juga untuk membersihkan nama adiknya dari fitnah. Akan tetapi sebelum dapat mencari keluarga Jenderal Kao dan harta pusakanya itu, lebih dulu dia harus dapat meloloskan diri dari tempat ini tanpa membahayakan Cui Lan dan Gubernur Hok.

Ahh, betapa banyaknya hal yang masih harus dia kerjakan, betapa banyaknya halangan dihadapinya dalam perjalanannya kali ini. Masih ada lagi tugas yang juga amat penting, yaitu menyelidiki dan membebaskan Pangeran Yung Hwa!

“Biarkan aku bicara sendiri dengan Tek Hoat dan dengan ketua kalian,” akhirnya dia berkata. “Terjadi salah duga atau fitnah keji dalam hal ini,” hanya demikian jawabnya dan akhirnya wanita itu pun meninggalkannya, mengatakan bahwa ketua Hek-eng-pang yang pergi bersama Si Jari Maut belum pulang.

Sampai hari menjadi malam, ketua Hek-eng-pang dan Si Jari Maut belum juga pulang dan malam ini terjadilah peristiwa hebat di puncak Gunung Cemara. Di waktu malam gelap itu, secara tiba-tiba orang- orang lembah, yaitu musuh besar perkumpulan Hek-eng-pang, datang menyerbu! Mereka ini adalah orang- orang Huang-ho Kui-liong-pang yang datang secara tidak terduga-duga dan menyerang perkampungan Hek-eng-pang dengan hebat, membakari rumah di situ.

Pihak Hek-eng-pang tentu saja melakukan perlawanan sekuatnya, akan tetapi karena sebagian besar di antara mereka pergi bersama ketua mereka, maka jumlah mereka kalah banyak, dan juga tanpa adanya ketua mereka, para anggota Hek-eng-pang ini lemah semangatnya. Akhirnya mereka melarikan diri cerai- berai mencari keselamatan, meninggalkan rumah-rumah mereka yang menjadi lautan api!

Tentu saja Kian Lee yang terkejut oleh penyerbuan ini, cepat meninggalkan tempat tahanannya. Para wanita yang menjaga kamar tahanan juga sudah tidak ada lagi dan di dalam keributan itu, Kian Lee tidak mau ikut campur, tetapi langsung saja dia mencari Cui Lan dan Gubernur Hok. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia tiba di tempat tahanan dua orang itu, dia melihat dua orang penjaganya, yaitu wanita- wanita anggota Hek-eng-pang yang ditugaskan menjaga dan menodong mereka telah menggeletak tewas dan di dalam kamar itu tidak lagi nampak bayangan Cui Lan dan Hok-taijin. Kian Lee lalu berlari ke sana- sini mencari-cari, akan tetapi dia tidak dapat menemukan jejak dua orang itu.

Ketika melihat orang-orang Huang-ho Kui-liong-pang meninggalkan Gunung Cemara sambil bersorak- sorak seperti barisan tentara menang perang, Kian Lee diam-diam membayangi mereka. Tetapi, gerombolan orang-orang dari lembah itu menggunakan perahu-perahu melanjutkan perjalanan mereka dan terpaksa Kian Lee lalu membayangi terus di sepanjang pantai sungai.

Sampai pagi hari, perahu-perahu itu terus meluncur dan Kian Lee juga terus menerus membayanginya. Tibalah mereka di sebuah dusun di pinggir sungai dan perahu–perahu itu berhenti mendarat. Namun tidak semua anggota Kui-liong-pang mendarat sehingga Kian Lee tidak tahu di mana adanya Cui Lan dan Gubernur Hok, di perahu yang mana. Selagi dia ragu-ragu dan menduga-duga, siap untuk menyerbu dan menolong Cui Lan dan Gubernur Hok, tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan orang di belakangnya.

“Ehh, inilah dia pemuda itu!”

Kian Lee cepat menengok dan dia melihat Ho-nan Cui-lo-mo Wan Lok It, tokoh jagoan dari Gubernur Ho- nan itu, yang gendut dan rambutnya merah, tak pernah melepaskan guci araknya! Bersama kakek ini, ada pula belasan orang anak buahnya dan agaknya mereka tiba di dusun ini dalam usaha mereka mencari-cari Gubernur Hok dan juga dia sendiri. Kian Lee terkejut dan diam-diam dia mengharapkan agar Gubernur Hok dan Cui Lan jangan keluar dari tempat mereka, karena kalau sampai ketahuan, tentu akan ditangkap dan sukar baginya untuk melindungi mereka.

Ciu-lo-mo sudah menerjang dengan guci araknya sebagai senjata, dibantu belasan orang itu yang sudah mengurung Kian Lee. Pemuda ini menganggap bahwa andai kata Cui Lan dan Gubernur Hok ditawan orang-orang lembah, keadaan mereka lebih aman dari pada kalau ditawan oleh orang-orang ini, karena orang-orang lembah itu belum tahu siapa adanya Hok-taijin, sedangkan orang-orang ini adalah kaki tangan Gubernur Ho-nan.

Maka dia lalu melompat merobohkan dua orang anak buah Si Setan Arak Tua dari Ho-nan itu dan melarikan diri, untuk memancing mereka menjauhi perahu-perahu itu yang diduganya menawan Cui Lan dan Hok-taijin. Benar saja, Cui-lomo dan anak buahnya cepat melakukan pengejaran. Setelah berjarak cukup jauh, barulah Kian Lee membalik dan menghadapi mereka dengan tenang, menanti kedatangan mereka dan mengambil putusan untuk memberi hajaran kepada mereka.

Tetapi, begitu orang-orang itu tiba di depannya dan sebelum mereka menyerangnya terdengar bentakan halus, “Omitohud…! Tahan senjata… pinni hendak bicara…!”

Semua orang menengok ke arah datangnya suara itu dan muncullah seorang nikouw (pendeta wanita) tua yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, tubuhnya kecil dan mukanya pucat, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar yang membuat Kian Lee mengenal bahwa nikouw itu bukan sembarang orang. Nikouw itu memegang sebatang tongkat panjang dan dengan pandang mata menyelidik, dia bertanya kepada Ho- nan Ciu-lo-mo dengan suara nyaring, “Apakah kalian orang-orang Kui-liong-pang?”

Ciu-lo-mo Wan Lok It memandang marah, akan tetapi karena dia berhadapan dengan seorang nikouw, dia menahan kemarahannya dan berkata, “Harap Lo-suthai jangan menduga sembarangan dan mengira kami adalah orang-orang dari perkumpulan kotor itu. Kami adalah pasukan dan utusan dari Kui-taijin, yaitu Gubernur Ho-nan!” Ciu-lo-mo mengangkat dada untuk membanggakan kedudukannya sebagai utusan gubernur.

Akan tetapi sungguh celaka. Ketika nikouw itu mendengar bahwa dia adalah utusan Gubernur Ho-nan, wajah nikouw itu menjadi merah dan sinar matanya menunjukkan kemarahan. “Bagus! Sungguh kebetulan sekali. Justeru kalian inilah orang-orang yang harus pinni cari. Hayo lekas katakan, di mana adanya Phang Cui Lan? Apa yang terjadi dengan dia?”

Ho-nan Cui-lo-mo Wan Lok It adalah seorang jagoan Ho-nan yang sama sekali tidak mengenal nikouw ini. Maka tentu saja dia tidak menjadi takut, bahkan dia menghadapi kemarahan nenek ini dengan muka tidak senang. Apa lagi sekarang nenek itu menyebut nama Phang Cui Lan, yaitu gadis pelayan istana gubernur yang telah berkhianat dan membantu larinya Gubernur Ho-pei, musuh dari Gubernur Ho-nan.

“Hemmm… nikouw tua…,“ katanya, kini berkurang nada hormatnya. “Apa maksudmu menanyakan gadis pelayan yang berkhianat itu?”

Nikouw itu makin marah. “Kau ini siapa? Dan apa kedudukanmu di gubernuran?”

Ditanya demikian, Wan Lok It menepuk dadanya. “Belum mengenal aku? Inilah Ho-nan Ciu-lo-mo Wan Lok It. Aku adalah pengawal pribadi Gubernur Ho-nan! Gadis bernama Phang Cui Lan itu adalah seorang pengkhianat, apa maksudmu menanyakan gadis itu?”

“Omitohud! Sungguh kebetulan sekali. Tentu orang-orang macam engkau inilah yang membujuk gubernur untuk mencelakai gadis itu. Pinni telah mendengar bahwa gadis itu dikejar-kejar oleh orang-orangnya gubernur, bahkan hendak membunuhnya. Benarkah begitu?”

“Benar sekali! Dan apakah engkau tahu di mana dia bersembunyi? Kalau kau berani melindunginya, engkau juga akan celaka!”

“Omitohud, sungguh berani mati! Ehhh, Setan Arak, Nona Phang itu adalah seorang sahabat pendekar Siluman Kecil yang dititipkan Gubernur Ho-nan, dan sekarang berani kalian hendak membunuh dia! Bukankah dengan demikian gubernur tidak menghargai beliau? Awas, kalau sampai terjadi sesuatu dengan nona itu, gubernur dan semua kaki tangannya tentu tidak akan bebas dari hukuman!”

Kian Lee merasa kagum dan heran mendengar ucapan nikouw itu. Kiranya nikouw tua yang lihai dan berwibawa ini juga merupakan seorang pembantu dari pendekar yang terkenal dengan sebutan Siluman Kecil! Dia kagum karena selain pendekar itu memiliki banyak pembantu dan namanya amat dikenal dan disegani semua orang, juga ternyata bahwa pendekar itu mempunyai rasa setia kawan yang besar, dan juga semua kawan kawannya demikian tunduk dan setia kepadanya. Betapa banyaknya orang yang setia kepada pendekar itu, dari seorang gadis cantik jelita dan halus budi seperti Cui Lan, sampai kepada orang- orang kasar seperti para pemburu yang menolongnya keluar dari terowongan saluran air itu dan nikouw tua yang menimbulkan rasa hormat ini.

Namun orang yang sudah biasa mengandalkan kepandaiannya sendiri, kedudukannya dan banyak kawan seperti Cui-lo-mo tidak merasa takut menghadapi nikouw itu, bahkan dia menjadi marah sekali. Tentu saja dia sudah mendengar akan nama Siluman Kecil yang kabarnya muncul seperti siluman, membasmi orang- orang jahat akan tetapi tidak pernah dapat dilihat dengan nyata orangnya itu, yang pernah pula membasmi penjahat yang mengganggu Propinsi Ho-nan dan juga dihormati oleh gubernur sendiri. Tetapi dia sendiri belum pernah melihat sendiri kelihaiannya, maka tentu saja dia tidak mau tunduk begitu mudah, apa lagi yang muncul hanya seorang nikouw tua sepertl itu, yang berani mengeluarkan kata-kata keras bernada mengancam terhadap gubernur beserta kaki tangannya!

“Ehhh, nikouw tua! Hati-hati engkau bicara, atau kau kutangkap sebagai seorang kaki tangan pengkhianat!” “Hemmm, Setan Arak. Kalau kau berani, boleh coba kau tangkap pinni!” jawab nikouw itu.

“Bagus! Engkau yang menantang, jangan nanti persalahkan aku dan mengatakan aku tidak menghormat seorang pendeta wanita tua!” Ho-nan Cui-lo-mo lalu menerjang maju dengan gucinya, menyerang nikouw itu.

“Trang-trang-tringgggg…!”

Tongkat nikouw itu menangkis guci dan ketika ada arak muncrat dari guci itu ke arah mukanya, nikouw itu hanya meniup dan arak itu pecah dan buyar. Kemudian tongkatnya membalas. Ternyata serangan balasan nikouw itu pun kuat sekali hingga mengejutkan Ho-nan Ciu-lo-mo. Maklum bahwa nenek itu ternyata merupakan lawan yang cukup tangguh, dia lalu meneriaki anak buahnya untuk maju mengeroyok.

“Sungguh tidak tahu malu!” Kian Lee membentak dan pemuda ini telah melompat maju, mengamuk dan dalam beberapa gebrakan saja para anak buah dari gubernuran itu cerai-berai dan kacau-balau, bahkan Si Setan Arak sendiri terdorong mundur oleh hawa pukulan yang keluar dari tangan Kian Lee.

Wan Lok It bukan orang bodoh. Dia memang sudah tahu bahwa pemuda itu lihai, akan tetapi dengan mengandalkan belasan orang anak buahnya yang merupakan pengawal pengawal pilihan dari gubernuran, hatinya lantas menjadi besar dan dia tadi hendak menangkap pemuda itu. Namun siapa tahu, di situ muncul nikouw yang juga lihai dan dengan majunya nikouw itu bersama si pemuda yang lihai, tentu saja dia dan kawan kawannya merasa kewalahan dan akhirnya larilah mereka sambil menyeret teman teman yang terluka.

Nikouw itu memandang kepada Kian Lee dengan kagum kemudian berkata memuji, “Omitohud! Pinni sungguh keliru dan tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata. Kongcu memiliki kepandaian yang amat tinggi dan tadi pinni sudah berani mengkhawatirkan keselamatan Kongcu. Sungguh menggelikan!”

Kian Lee menjura kepada nikouw tua itu dan berkata, “Suthai membela Nona Phang, hal itu saja sudah menunjukkan bahwa Suthai adalah seorang sahabat. Kini saya pun sedang mencari dia dan hendak menolongnya dari cengkeraman orang-orang jahat.”

“Ohhhhh… begitukah? Di mana dia dan bagaimana Kongcu bertemu dengan dia?”

“Marilah kita mengejar perahu-perahu yang tadi berlabuh di dusun sana, Suthai. Kalau tidak salah, Nona Phang dan seorang… paman dibawa di dalam salah sebuah di antara perahu-perahu itu. Mari kita mengejar dan nanti saya ceritakan kepada Suthai tentang pertemuan antara kami.”

Kian Lee dan nikouw tua itu mengejar dan ternyata bahwa perahu-perahu itu telah lama pergi. Kiranya begitu melihat keributan di darat, perahu-perahu itu tidak jadi singgah dan melanjutkan perjalanan cepat- cepat hingga tidak nampak lagi. Kian Lee lalu mengajak nikouw itu mengejar dengan cepat di sepanjang pinggir sungai.

Dalam perjalanan ini dia menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Phang Cui Lan dan dengan singkat dia lalu bercerita bahwa Cui Lan bersama dengan seorang kakek melarikan diri dari gubernuran Ho-nan, dikejar-kejar dan dia sendiri terjerumus ke dalam terowongan saluran air. Diceritakannya betapa dia telah ditolong oleh Cui Lan yang mengerahkan teman-temannya para pemburu sehingga dia selamat.

“Ahhh… kiranya Kongcu yang ditolong itu? Pinni mendengar dari para pemburu tentang itu, dan dari mereka itulah pinni jadi tahu bahwa nona Phang dikejar-kejar dan hendak dibunuh, maka sekarang pinni mewakili beliau untuk menegur gubernur Ho-nan dan untuk menyelamatkan Nona Phang.”

”Maksud Suthai beliau Si Siluman Kecil?” Kian Lee bertanya.

“Siapa lagi?” Nenek itu mengangguk. “Lalu bagaimana, harap Kongcu lanjutkan.”

“Saya mengantar Nona Phang untuk mengungsi ke Ho-pei, akan tetapi di tengah jalan kami ditangkap oleh gerombolan Hek-eng-pang. Karena mereka itu mengancam hendak membunuh Nona Phang, terpaksa saya menyerah. Dan malam tadi, Hek-eng-pang diserang oleh gerombolan lain yang menjadi musuh mereka. Saya dapat terbebas, akan tetapi ketika saya mencari Nona Phang, dia telah lenyap. Mungkin sekali ditawan oleh gerombolan yang melarikan diri dengan perahu-perahu itu. Sayang, sebelum saya berhasil mendapatkan apakah Nona Phang berada di perahu itu, muncul si Setan Arak yang mengenal saya ketika terjadi keributan di gubernuran Ho-nan dan dia menyerang saya sehingga perahu-perahu itu sempat pergi.”

Nikouw itu mendengarkan dengan penuh perhatian. ”Ahhh, kalau begitu Kongcu telah banyak membela dan melindungi Nona Phang dan dengan demikian maka bolehlah dibilang Kongcu adalah seorang sahabat juga dari beliau.”

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, akan tetapi belum juga dapat menyusul perahu-perahu itu. Hati Kian Lee makin tertarik kepada tokoh yang berjuluk atau dijuluki Siluman Kecil itu.

“Suthai, siapakah sebenarnya Siluman Kecil itu? Siapa namanya dan dia datang dari mana?”

Tiba-tiba nikouw tua itu berhenti dan memandang kepada Kian Lee dengan sinar mata penuh selidik dan kecurigaan. Akan tetapi melihat sikap Kian Lee tenang-tenang dan biasa saja, dia menjawab, “Pinni juga tidak tahu banyak. Yang pinni ketahui hanyalah bahwa beliau sering kali datang ke kuil kami dan bercakap- cakap dengan Subo. Beberapa hari yang lalu beliau datang dan setelah bercakap-cakap dengan Subo, pinni dipanggil dan diserahi tugas untuk menyelidiki keadaan Nona Phang.” Nikouw itu menghentikan ceritanya dan jelas bahwa dia enggan untuk banyak bicara tentang tokoh itu. Tentu saja sikap ini bahkan makin menarik hati Kian Lee.

“Telah lama saya mendengar nama besar Siluman Kecil. Ingin sekali saya bertemu dengan orangnya dan berkenalan,” katanya.

“Hemmm, tidak mudah!” Nikouw itu menggelengkan kepala dan mereka melanjutkan perjalanan. “Sungguh sangat sukar bertemu dan berkenalan dengan beliau, mungkin sama sukarnya dengan mendaki puncak Thai-san! Beliau tidak suka bertemu orang, bahkan dengan sahabat-sahabat yang amat dipercayanya pun jarang bertemu.”

Setelah itu, nikouw tua yang mengaku berjuluk Liang Wi Nikouw itu tak mau lagi bicara tentang Siluman Kecil. Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat, namun anehnya, mereka tidak juga dapat menyusul rombongan perahu itu. Akan tetapi mereka terus mengejar dengan cepat sekali.

Hari telah sore. Matahari telah condong ke barat dan sinarnya kehilangan teriknya yang hebat. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw tiba di daerah yang berbatu-batu, batu karang yang tajam meruncing dan sukar dilewati. Namun berkat ginkang mereka, keduanya masih dapat melanjutkan perjalanan, sungguh pun dengan hati-hati dan meloncat dari batu ke batu.

Terdengar suara air bergemuruh. Kiranya dibagian yang berbatu-batu itu merupakan tebing yang curam sekali dan air sungai itu kini menjadi air terjun yang amat terjal. Keduanya mendekati dan menjenguk ke bawah. Tinggi sekali tempat itu dan air sungai itu terjun ke tempat yang dalamnya sampai ratusan meter! Air yang menghantam batu batu di bawah berubah menjadi uap dan dari atas kelihatan gelap seolah-olah mereka berdiri di atas awan.

Jauh sekali di bawah, di sekitar air terjun yang tertutup awan air itu, nampak dikelilingi tebing yang amat curam dan agaknya tidak mungkin di datangi manusia. Dan di antara tebing-tebing itu, seolah-olah dikelilingi tebing yang curam, terdapat tanah datar yang luas dan nampaklah beberapa petak rumah yang dlingkari tembok seperti benteng yang berdiri di tanah datar itu.

“Ahh, ada perkampungan di sana!” Nikouw itu berkata.

“Dan agaknya perahu-perahu yang lenyap itu telah disembunyikan dan sangat boleh jadi bahwa perkampungan di bawah itulah perkampungan orang-orang yang menyerang Gunung Cemara, yang disebut orang-orang lembah atau pun Perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang.”

“Akan tetapi, sungai ini bukan Sungai Huang-ho,” nikouw itu berkata heran.

“Memang bukan, akan tetapi saya rasa merupakan cabang Sungai Huang-ho dan mereka itu adalah bajak- bajak Sungai Huang-ho, maka memakai nama demikian. Kalau saya tidak salah menduga, Suthai, di sanalah adanya Nona Phang dan Paman Hok.”

“Siapa Paman Hok itu?”

Kian Lee tidak mau sembrono membuka rahasia Gubernur Ho-pei, maka dia menjawab, “Seorang pekerja di Gubernuran Ho-nan yang membantu Nona Phang melarikan diri.”

“Kita harus dapat turun ke sana untuk menyelidiki,” kata Liang Wi Nikouw. “Memang benar, akan tetapi bagaimana kita dapat turun ke sana?”

Mereka lalu mencari-cari jalan turun, akan tetapi tidak ada jalan turun yang merupakan jalan manusia, juga mereka tidak berhasil menemukan jalan rahasia. Jalan turun satu satunya menuju ke perkampungan di bawah sana itu hanya menuruni tebing curam itu!

“Nona Phang harus ditolong!” kata si nikouw tua. “Kalau terpaksa, kita harus mendaki tebing dan turun ke sana.”

Kian Lee mengangguk. “Tebing ini biar pun curam, namun terdiri dari batu karang yang runcing dan kuat. Kita dapat merayap turun. Akan tetapi kalau dilakukan di waktu cuaca masih terang, amat berbahaya, Suthai. Kalau kita sedang merayap lalu diserang dari bawah atau dari atas, bagaimana kita dapat menyelamatkan diri? Lebih baik menanti sampai cuaca mulai gelap. Nah, baru kita merayap turun.”

Nikouw itu mengangguk-angguk. “Kongcu benar dan cerdik, biarlah kita menanti sampai gelap.”

Mereka lalu mencari tempat duduk untuk menanti datangnya gelap dan mereka mencari batu yang agak datar di antara batu-batu karang yang kasar dan runcing itu. Dengan duduk bersila di atas batu yang datar, mereka mengaso, melepaskan lelah dan menanti sampai matahari tenggelam di barat. Liang Wi Nikouw sudah duduk bersila dan tidak lama kemudian tenggelam dalam semedhi.

Tiba-tiba batu itu bergerak. Bahkan bergeser! Cepat-cepat Kian Lee menyambar lengan nikouw itu, dibawanya meloncat turun dan mereka lalu bersembunyi di balik batu karang yang besar, dan mengintai dengan mata terbelalak heran dan kaget. Batu yang tadi mereka duduki itu terus bergeser, terdengar suara berderit dan ternyata di bawah batu itu terdapat sebuah lubang yang besar. Sebuah mulut terowongan! Kiranya batu yang mereka jadikan tempat mengaso itu merupakan sebuah pintu rahasia!

Terdengar suara orang dan muncullah belasan orang dari dalam lubang, dikepalai oleh seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih yang bertubuh kecil dan pendek. Orang ini sikapnya tenang dan angkuh, tanda bahwa ia adalah orang yang memiliki kekuasaan di antara teman-temannya itu. Dan kenyataannya memang demikianlah.

Dua orang anak buahnya cepat-cepat membersihkan permukaan batu yang menjadi pintu itu dengan sapu tangan, mengebut bersih debu yang menempel di atas batu itu dan mempersilakan kakek bertubuh kecil pendek itu untuk duduk di situ. Sedangkan dua belas orang anak buah itu hanya duduk sembarangan saja di sekitar tempat itu.

“Ji-pangcu (Ketua kedua), apakah para tamu sudah akan datang?” seorang yang duduk paling dekat bertanya.

Kakek kecil itu mengangguk. Dengan mata disipitkan dia memandang ke depan, seperti merenung jauh. “Tadi sudah ada tanda rahasia bahwa mereka akan datang, maka kita harus bersiap-siap menyambutnya di sini.”

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw masih bersembunyi di balik batu karang besar sambil mendekam, mengintai dan mendengarkan dengan perasaan tegang. Mereka sudah bersepakat untuk tidak akan sembarangan turun tangan sebelum dapat menyelamatkan Nona Phang dan ‘paman’ Hok, karena kalau mereka itu belum diselamatkan lebih dulu, tentu sukar bagi mereka untuk turun tangan.

Tak lama kemudian, dari jauh terdengar suara suitan nyaring sekali. Orang yang disebut Ji-pangcu itu bangkit berdiri, kemudian dia pun mengeluarkan suara melengking nyaring sebagai sambutan. Diam-diam Kian Lee menilai bahwa orang tua yang pendek kecil ini memiliki khikang yang cukup tangguh, maka dia makin berhati-hati.

Terdengar kini suara kaki kuda berderap dan tak lama kemudian, muncullah seorang kakek yang diiringkan oleh dua puluh orang yang berpakaian seperti jago-jago silat. Kakek itu bersikap gagah dan segera disambut oleh Ji-pangcu. Setelah saling menjura, kakek pemimpin rombongan ini mengeluarkan sehelai kartu yang cepat diterima oleh Ji-pangcu.

Setelah membaca tulisan di atas kartu itu, Ji-pangcu segera menjura lagi dan berkata dengan hormat, “Kiranya Boan-wangwe (Hartawan Boan) yang datang! Selamat datang di Lembah Kui-liong-pang!”

Kakek yang disebut Hartawan Boan ini memandang kakek kecil pendek dengan penuh perhatian, kemudian tertawa, “Ha-ha-ha, biar pun baru sekarang saling berjumpa, tetapi kami telah mendengar nama besar dari Khiu-pangcu (Ketua Khiu). Benarkah dugaan kami?”

Kakek pendek kecil itu pun lalu tertawa. “Tepat sekali dugaan Boan-wangwe. Silakan masuk!”

Ji-pangcu atau juga disebut Khiu-pangcu itu mempersilakan dengan tangan kanannya dan masuklah Hartawan Boan bersama anak buahnya melalui pintu terowongan itu, diantar oleh salah seorang di antara dua belas anak buah yang berjaga di luar pintu terowongan itu.

Boan-wangwe itu sebenarnya adalah seorang bekas kepala bajak yang amat terkenal, lihai dan juga berpengaruh. Akan tetapi kini dia tidak pernah menjadi pembajak lagi karena dia sudah menjadi seorang pedagang besar, dagangannya adalah… ikan yang dihasilkan oleh sungai cabang Huang-ho itu. Akan tetapi dia sendiri bukanlah nelayan dan semua nelayan dari belasan desa di sepanjang sungai itu harus menjual ikan hasil tangkapan mereka kepada Boan-wangwe! Tentu saja dengan harga rendah! Dan tidak ada seorang pun berani menentangnya.

Boan-wangwe selain terkenal mempunyai banyak tukang pukul jagoan, juga terkenal murah hati dalam hal memberi pinjaman dengan bunga-bunga yang mencekik leher. Dan hampir semua nelayan sudah mempunyai hutang padanya. Dia bersedia memberi hutang berupa jala, perahu dan lain-lain keperluan dengan janji bahwa semua hasil tangkapan nelayan itu harus disetorkan kepadanya dengan pengganti sedikit uang lelah! Pendeknya, hartawan she Boan bekas kepala bajak ini merupakan seorang pemeras hebat di sepanjang sungai itu dan kekuasaannya seperti raja saja di kalangan para nelayan.

Kian Lee dan nikouw tua itu mengintai terus dan tak lama kemudian, kembali terdengar suitan nyaring dan seperti juga tadi, Ji-pangcu menjawab dengan suara melengking. Kiranya suitan nyaring itu adalah tanda rahasia dari penjaga di sebelah depan untuk memberi tahu akan datangnya tamu. Muncullah rombongan kedua dan rombongan ini terdiri dari sepuluh orang yang mengawal dua orang yang memikul sebuah tandu. Cara mereka datang juga amat aneh dan mengagumkan karena dua orang pemikul tandu itu memikul sambil berloncatan dengan tubuh ringan dan gesit bukan main, demikian pula sepuluh orang pengikut atau pengiring itu, semuanya menggunakan ginkang yang mengagumkan berloncatan dengan ringan sekali seolah-olah yang datang ini adalah sekumpulan burung yang aneh atau sekumpulan kucing yang berloncatan dari batu ke batu dengar gerakan yang cepat sekali!

Setelah tiba di depan Ji-pangcu, tandu atau joli diturunkan dan keluarlah seorang gadis yang cantik sekali, berpakaian serba merah muda yang mentereng dan di punggungnya terdapat sebatang pedang yang gagang dan sarungnya terukir indah, dihias dengan ronce-ronce merah tua.

Melihat gadis cantlk ini, Ji-pangcu segera menyambut sambil tertawa. “Selamat datang, Ang-siocia! Kiranya Siocia yang datang mewakili Hek-sin Touw-ong (Raja Maling Sakti Hitam)?”

Nona itu tersenyum manis dan menjura. “Benar, Khiu-pangcu. Suhu sedang banyak urusan maka mengutus aku untuk mewakilinya.” Dia mengeluarkan sebuah kartu nama seperti tadi dan segera diperkenankan masuk dengan penuh keramahan dan diantar pula oleh seorang anak buah Kui-liong-pang.

Senja mulai mendatang dan cuaca makin gelap. Akan tetapi, setelah malam tiba, bulan muncul sore-sore dan langsung menjadi pengganti dari matahari sehingga meski pun cuaca tidak seterang siang hari, namun cukup terang karena langit bersih dari awan mendung. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw masih bersembunyi karena maklum bahwa tentu masih ada tamu-tamu lain, buktinya Ji-pangcu masih menanti di situ bersama anak buahnya. Mereka diam-diam merasa heran sekali karena tidak mengerti apa yang terjadi di lembah bawah sana hingga orang-orang aneh berdatangan mengunjunginya.

Tidak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki tinggi besar, tanpa pengawal. Juga kedatangannya didahului oleh suitan tanda rahasia. Ji-pangcu cepat menyambutnya dan ternyata pendatang baru ini adalah kenalan lama karena mereka berjabat tangan dan bersendau-gurau. Oleh Ji-pangcu, orang itu disebut Toat-beng Sin-to Can Kok Ma (Golok Sakti Pencabut Nyawa), seorang perampok tunggal yang terkenal. Seperti yang lain-lain, perampok tunggal tinggi besar ini diperkenankan masuk setelah menyerahkan surat pengenal atau surat berupa kartu rahasia. Kemudian banyak lagi orang-orang aneh berdatangan dan mereka semua itu agaknya merupakan orang-orang golongan hitam atau kaum sesat yang rata-rata memiliki sikap aneh dan kepandaian tinggi. Ada pula serombongan yang datang dengan perahu-perahu mereka.

Kemudian, sampai lama tidak ada lagi tamu datang dan Kian Lee diam-diam menduga bahwa agaknya kini semua tamu sudah datang. Demikian pula dengan Ji-pangcu dan anak buahnya, mereka mulai tidak sabar dan kelihatan ingin segera masuk ke dalam terowongan itu karena menanti di situ berarti dikeroyok nyamuk yang banyaknya bukan main.

Tiba-tiba terdengar suara riak air dan muncullah beberapa buah perahu dari dalam air! Dan belasan orang berlompatan dari permukaan air sambil menyeret perahu mereka. Hebatnya, pemimpin mereka, seorang kakek yang rambutnya awut-awutan dan terdiri dari dua warna, meloncat sambil mengempit perahunya dengan kedua kaki, bagai orang menunggang kuda dan kini perahu itu mendarat dengan empuknya di atas batu karang, seolah-olah batu karang itu hanya kasur saja!

Kian Lee terkejut sekali. Orang ini pun kepandaiannya hebat, pikirnya. Namun sebelum hilang kagetnya, dia melihat bayangan hitam meluncur turun dari atas dan hampir saja pemuda ini berseru saking herannya. Dia mengenal benda itu, yang sama dengan burung Rajawali Pulau Es. Benda yang meluncur itu, yang orang lain hanya kelihatan sebagai tanda hitam yang meluncur turun, dikenal oleh Kian Lee sebagai seekor burung juga, burung yang besar sekali, akan tetapi bukan rajawali, melainkan garuda yang agak berbeda dengan Rajawali Pulau Es, akan tetapi sama besarnya! Dan ketika burung itu melayang setinggi pohon, tiba-tiba dari atas punggung burung itu melayang turun sesosok bayangan manusia dan dengan enaknya orang ini hinggap di atas batu karang di depan Khiu pangcu.

“Kau boleh pergi!” Suara itu merdu sekali, ditujukan kepada burung yang masih tetap melayang-layang dan burung itu memekik kegirangan, lalu terbang pergi. Ternyata dia adalah seorang gadis yang berpakaian serba hitam yang luar biasa cantiknya, demikian cantiknya sampai Khiu-pangcu dan anak buahnya menjadi bengong!

Dengan gerakan sembarangan gadis itu melayang pergi. Tampak sebuah tali yang panjang berwarna hitam meluncur turun dari burung itu dan kini tali itu tepat mengenai tangan si gadis dan melingkar-lingkar. Khiu-pangcu dan anak buahnya makin terkejut. Ternyata benda itu bukan tali melainkan dua ekor ular hitam! Akan tetapi dua ekor ular yang panjang bukan main, sungguh pun besarnya hanya sebesar ibu jari kaki.

Gadis itu menengok ke kanan kiri dan pada saat sinar bulan menimpa wajahnya yang benar-benar luar biasa cantiknya itu, Suma Kian Lee terkejut dan berbisik lirih, “Ahhh… dia…?”

Liang Wi Nikouw berbisik, “Engkau kenal padanya, Kongcu?” “Tidak… ehh, rasanya sudah pernah melihatnya…“

“Pinni pun belum pernah jumpa, akan tetapi melihat burung itu, dan ular-ular itu, pinni pernah mendengar Subo bercerita tentang ketua Pulau Neraka dan puterinya. Agaknya dialah puteri dari Pulau Neraka yang tadinya pinni kira hanya dongeng belaka.”

Makin yakin kini hati Kian Lee. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Hwee Li! Puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka. Ahhh, lima tahun tidak bertemu, kiranya Hwee Li telah menjadi seorang gadis yang luar biasa… cantiknya dan juga lihainya. Namun cara gadis itu muncul, dan ular-ular itu membuat Kian Lee bergidik ngeri.

Kakek yang mengepalai rombongan perahu itu, setelah melompat turun dari atas batu karang dan meninggalkan perahunya di situ, cepat menghormat kepada Khiu-pangcu, agaknya tidak mempedulikan gadis yang baru turun dari burung garuda tadi, dan dia menyerahkan kartu undangan seperti yang lain-lain tadi. Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan, gadis itu pun sudah melemparkan kartu undangan itu ke arah Khiu pangcu. Kartu undangannya berputar seperti hidup kemudian menyambar turun ke arah tangan Khiu-pangcu yang sedang diulur untuk menerima kartu undangan yang sedang diserahkan oleh kakek pemimpin rombongan perahu.

“Plakkk! Ahhhhh…!”

Khiu-pangcu terkejut karena mendadak saja ada kartu undangan menimpa tangannya yang diulur dan berbareng dia menerima pula kartu undangan yang diserahkan oleh kakek itu.

Kini kakek yang mengerutkan alisnya menyaksikan perbuatan nona itu, melangkah ke arah lubang terowongan, namun ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu nona cantik itu pun sudah mendahuluinya hendak memasuki lubang terowongan! Kiranya nona ini tidak mau didahului orang!

“Ah, aku yang datang lebih dulu!” Kakek itu menjadi penasaran dan kakinya menendang sebongkah batu besar yang berat sekali. Batu itu meluncur dan menghalang di depan si gadis cantik sehingga menutupi lubang.

“Brakkkkk!”

Gadis itu menggerakkan tangan kirinya ke arah batu dan batu sebesar perut kerbau hamil itu pecah berantakan! Dengan mata melotot, gadis itu pun menendang sebongkah batu besar yang langsung menyambar ke arah kakek itu. Kakek itu mendengus, bukan menyambut dengan tangan atau mengelak, melainkan menyambut dengan kepalanya!

“Dukkk!” Batu karang besar itu kena disundul kepalanya dan lalu mencelat ke kiri, jauh sekali dan pecah berhamburan menimpa batu karang lain!

“Huhh, hendak kulihat sampai di mana kerasnya kepalamu!” Gadis itu sudah melangkah maju dan kakek itu pun dengan marah sudah siap menandinginya.

“Bocah tak tahu aturan!” bentaknya.

Khiu-pangcu cepat-cepat melerai di antara mereka dan segera menjura. “Harap Ji-wi suka menghabiskan perkara kecil ini di antara orang-orang sendiri. Nona, sahabat ini adalah Tiat-thouw Sin-go (Buaya Sakti Berkepala Besi), dan bernama Thio Sui Lok, ketua Sin-go-pang (Perkumpulan Buaya Sakti). Dan Saudara Thio, Nona ini mewakili Locianpwe Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka. Oleh karena itu, harap saudara suka mengalah.”

Biar pun hatinya masih penasaran, tetapi mendengar nama Hek-tiauw Lo-mo, terkejut juga hati si Kepala Besi itu dan dia diam saja, namun matanya masih bersinar marah. “Silakan, Nona,” kata Khiu-pangcu.

Sambil mendengus dan mengerling ke arah rombongan perahu itu, tak lupa tersenyum mengejek, nona cantik jelita itu lalu memasuki pintu terowongan dan menghilang.

“Sombong…, dasar bocah sombong…!” Thio Siu Lok yang selamanya dihormat orang dan baru sekarang menerima perlakuan yang tidak menghormat, bersungut-sungut akan tetapi akhirnya dia masuk juga bersama anak buahnya.

Melihat sikap Hwee Li, Kian Lee menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang. Masih teringat dia betapa dahulu, dia terluka oleh senjata rahasia peledak dari Siluman Kucing Mauw Slauw Mo-li yang menjadi bibi guru gadis itu sendiri, kemudian dia telah diselamatkan, disembunyikan dan diobati oleh seorang gadis cilik yang jenaka dan cerdik. Gadis cilik itu adalah Hwee Li yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa, akan tetapi masih saja belum hilang sifatnya seperti kanak-kanak yang bengal dan suka menggoda orang. Namun dia harus mengakui bahwa gadis itu sekarang sangat lihai. Pukulannya yang menghancurkan batu tadi benar-benar mengejutkan dan mengerikan.

Kini agaknya para tamu telah datang semua, atau demikian persangkaan Khiu-pangcu karena buktinya dia meninggalkan tempat itu dan masuk melalui terowongan sambil meninggalkan pesan kepada belasan orang anak buahnya agar suka berjaga di situ kalau-kalau masih ada tamu yang datang terlambat.

“Kalau kalian sudah mendengar tanda dari bawah, barulah kalian semua masuk dan tutup pintu terowongan,” demikian pesan pangcu kedua dari Huang-ho Kui-liong-pang itu kepada para anak buahnya yang berjumlah dua belas orang.

“Baik, jangan khawatir, Ji-pangcu!” jawab seorang di antara mereka yang kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah lucu sekali. Agaknya si kumis panjang ini adalah kepala regu penjaga itu.

Kian Lee melihat kesempatan baik ini, kemudian berbisik kepada Liang Wi Nikouw itu yang mengangguk- angguk. Kian Lee lalu mengambil beberapa butir batu kerikil kecil dan menggunakan jari tangannya menyentil sebutir batu kerikil ke arah siku seorang penjaga yang berdiri dekat kepala regu kumis panjang itu, pada saat si kumis panjang sedang membetulkan sepatunya. Batu kerikil itu tepat menotok siku si penjaga dan otomatis lengannya bergerak ke depan.

“Plakkk!” Tanpa dapat dicegah lagi tangannya memukul ke depan dan mengenai kepala si kumis panjang.

“Eh, setan! Kau berani menempiling kepalaku, hehh?” Si penjaga tak dapat menjawab karena dia sendiri tidak mengerti mengapa tangannya secara tiba-tiba tanpa dapat dikendalikannya lagi tadi bergerak menampar kepala si kumis di depannya itu. Si kumis panjang marah dan mengayun tangannya menampar pipi bawahannya.

“Plokkkkk!”

Pipi yang digablok itu menjadi merah, akan tetapi anehnya, pada saat pipinya digablok, penjaga itu mengerahkan kaki kanannya ke depan, padahal bukan niatnya demikian. Ternyata Kian Lee telah menyentil sebutir kerikil lain yang mengenai sambungan lutut penjaga itu sehingga secara otomatis kakinya menendang ke depan.

“Ngekkkk…!” Kebetulan sekali gerakan kaki itu membuat lutut si penjaga menghantam selangkangan si kepala penjaga berkumis panjang.

“Aduhhhhh…!” Si kumis panjang menggunakan tangan kiri mendekap selangkangannya dan meringis kesakitan, marahnya bukan kepalang dan dengan tangan kiri mendekap selangkangan sambil terpincang- pincang, dia menggunakan tangan kanannya secara serabutan memukuli penjaga itu.

Seorang penjaga lain yang menyaksikan perkelahian ini cepat meloncat untuk melerai. Akan tetapi selagi dia meloncat, sebutir kerikil menyambar dan mengenai punggungnya. Seketika tubuhnya menjadi lemas, dia kehilangan tenaganya dan tanpa dapat dicegah lagi dia menubruk si kepala penjaga yang sedang marah.

“Bresssss…!”

“Ehh, keparat…! Kalian mengeroyok! Pemberontakan!” Kepala penjaga itu kini menjadi marah sekali dan dia mengamuk, setiap ada anak buahnya mendekat tentu dipukulnya karena dia menyangka bahwa mereka itu hendak mengeroyoknya.

Kacau-balau di depan pintu terowongan itu. Semua penjaga berusaha menenangkan si kepala penjaga yang mereka sangka kemasukan roh jahat! Dan karena keributan ini, mereka sama sekali tidak melihat betapa ada dua sosok bayangan yang amat cepat gerakannya telah berkelebat menyelinap masuk ke dalam lubang terowongan itu tanpa memperlihatkan kartu undangan!

Kian Lee dan Liang Wi Nikouw berjalan memasuki terowongan dengan cepat, namun dengan hati-hati sekali. Lorong terowongan itu menurun dan agak gelap karena hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak yang dipasang di sepanjang dinding terowongan. Setiap sepuluh meter terdapat seorang penjaga yang berdiri dengan tombak di tangan. Penjaga pertama yang mendengar ada keributan di luar, lupa akan tugasnya memeriksa kartu undangan.

“Apakah yang terjadi di luar?” tanyanya.

“Di luar ada pemberontakan. Cepat saudara ke luar!” kata Kian Lee.

Penjaga itu terkejut dan cepat berlari ke luar. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw terus saja berjalan masuk. Kepada penjaga kedua dan ketiga, Kian Lee berhasil menarik perhatian mereka dengan berita pemberontakan itu sehingga mereka pun bergegas berlari keluar menyeret tombak mereka.

Akan tetapi penjaga keempat yang berada di sebuah tikungan, menghardik, “Harap Ji-wi perlihatkan kartu undangan Ji-wi!” Penjaga ini agaknya sudah merasa kesal berjaga terus di situ, maka biar pun sikapnya masih menghormat namun suaranya sudah tidak ramah lagi terhadap para tamu.

Kian Lee pura-pura merogoh saku dan mendekati penjaga itu. Tangannya keluar dari saku bukan untuk menyerahkan kartu undangan, melainkan untuk bergerak cepat sekali menotok sehingga penjaga itu roboh sebelum sempat berteriak. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw terus masuk makin dalam dan kini para penjaga makin berkurang, jarak penjaga makin jauh sehingga mudah bagi Kian Lee untuk merobohkan setiap orang penjaga tanpa ada yang mengetahuinya.

Akhirnya mereka keluar dari terowongan dan tiba di tempat terbuka, di lembah itu yang ternyata penuh dengan bangunan rumah-rumah yang dibagi menjadi dua kelompok, dipisahkan oleh sebuah lapangan yang luas yang terletak di tengah-tengah. Kian Lee dan Liang Wi Nikouw menyelinap di antara bangunan- bangunan itu sambil memeriksa keadaan dengan hati-hati sekali. Dengan isyarat tangannya, Kian Lee mengajak nikouw tua itu untuk meloncat naik ke atas wuwungan sebuah bangunan besar dan dari atas wuwungan ini mereka mengintai. Sinar bulan cukup terang sehingga mereka dapat meneliti keadaan di lembah itu.

Kelompok bangunan di sebelah kiri terdiri dari rumah-rumah biasa dengan kebun-kebun yang rimbun dan subur, di mana selain terdapat banyak pohon-pohon yang berbuah, juga terdapat sayur-sayuran dan bunga-bungaan. Akan tetapi kelompok kedua yang berada di sebelah kanan itu sangat aneh bentuknya. Rumah-rumah di kelompok ini bangunannya seperti tempurung yang tertelungkup dan tidak nampak pintu atau jendela biasa, hanya kelihatan sebuah lubang yang agaknya merupakan pintu. Anehnya, di sekitar rumah-rumah luar biasa ini tidak terdapat sebatang pun pohon atau tumbuh tumbuhan. Bahkan tanahnya kelihatan putih kering ditimpa sinar bulan, retak-retak seperti tanah kapur.

Dari wuwungan itu nampak para tamu berkumpul di lapangan, yaitu lapangan luas di antara dua kelompok rumah itu. Selain penerangan yang didapat dari sinar bulan, juga di situ dipasangi banyak lampu dan lentera besar sehingga cuaca cukup terang. Para tamu yang banyak juga jumlahnya telah berkumpul di situ, duduk di kursi yang diatur menjadi lingkaran besar yang ke semuanya menghadap ke tengah lapangan di mana terdapat semacam panggung yang menjadi tempat duduk pihak tuan rumah dan para tamu kehormatan.

Kian Lee mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi dia tidak menemukan Cui Lan dan Hok-taijin di antara para tamu. Kembali dia memandang ke arah panggung dan melihat Khiu-pangcu dan beberapa orang lain yang tidak dikenalnya. Banyak orang aneh di situ, di antaranya terdapat seorang yang bertubuh tinggi tegap, usianya tidak lebih dari tiga puluh tahun, kulitnya gelap coklat, hidungnya mancung agak melengkung dan matanya cekung ke dalam, alisnya tebal, dan jelas bahwa dia bukanlah orang Han asli, melainkan ada miripnya dengan orang India.

Di belakangnya duduk banyak pengawalnya, rata-rata bertubuh tinggi dan lengannya berbulu. Kian Lee menduga bahwa mereka ini tentu orang-orang Nepal, melihat dari pakaian dan juga sorban mereka. Hanya orang muda berpakaian indah di depan itulah yang tidak bersorban. Selain mereka, masih banyak terdapat orang-orang aneh yang dilihatnya tadi memasuki terowongan.

Dengan hati-hati Kian Lee lalu mengajak Liang Wi Nikouw turun dan mempergunakan kesempatan selagi para tamu masih hilir-mudik karena agaknya pertemuan itu belum dimulai, untuk menyelinap masuk di antara para tamu dan memilih tempat duduk di bagian para tamu perorangan yang tidak merupakan rombongan. Dengan demikian, maka mereka bercampur dengan tamu-tamu yang tidak saling mengenal sehingga mereka pun tidak menarik perhatian, sungguh pun ada beberapa orang di antara mereka yang memandang ke arah Liang Wi Nikouw dengan curiga.

Namun Liang Wi Nikouw yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia menghadiri pertemuan orang- orang dari golongan hitam, maka sengaja dia tersenyum-senyum dan ‘memasang’ muka bengis, sehingga semua orang menduga bahwa dia pun seorang anggota kaum sesat yang bersembunyi di balik kedok nikouw! Dia dan Kian Lee lalu menanti dengan hati berdebar, tidak tahu apa yang akan terjadi dan mengapa demikian banyaknya tokoh-tokoh lihai dari golongan hitam berkumpul di situ.

Akan tetapi yang dicari-cari oleh Kian Lee sejak tadi adalah Cui Lan dan Hok-taijin dan selagi dia menduga- duga di mana kiranya dua orang itu ditahan, tiba-tiba terdengar bunyi canang dipukul di tengah-tengah lapangan itu. Semua orang memperhatikan ke tengah lapangan karena bunyi canang itu menandakan bahwa pertemuan mulai dibuka.

Bulan bersinar terang tanpa halangan awan, menimpa muka semua tamu yang diangkat memandang ke arah panggung untuk menanti siapa yang akan muncul sebagai pembuka acara dan terutama sekali untuk melihat wajah tuan rumah. Tiada seorang pun di antara para tamu itu yang pernah bertemu dengan ketua Huang-ho Kui-liong-pang, sungguh pun mereka semua telah mendengar bahwa ketua itu adalah seorang yang luar biasa lihainya, seorang aneh yang baru kurang lebih dua tahun ini menjadi ketua Kui-liong-pang.

Tadinya, ketua dari Kui-liong-pang adalah Khiu-pangcu itulah. Akan tetapi semenjak munculnya tokoh aneh yang berilmu tinggi itu bersama belasan orang anak buahnya yang rata-rata juga berilmu tinggi, Khiu Sek lalu menggabungkan diri dan tokoh luar biasa itu diangkat menjadi ketua pertama sedangkan dia sendiri cukup puas menjadi ketua kedua saja. Maka kini semua tamu ingin sekali melihat bagaimana macamnya ketua yang kabarnya merupakan seorang tokoh luar biasa itu.

Tetapi ternyata yang bangkit berdiri dari kursinya dan kini berjalan ke tengah panggung adalah Khiu Sek atau Khiu-pangcu sendiri. Setelah menjura keempat penjuru, memberi hormat kepada semua tamu

kehormatan yang duduk di panggung, Khiu-pangcu lalu berkata, “Cu-wi sekalian yang terhormat. Pertama- tama atas nama pangcu kami dan seluruh perkumpulan Kui-liong-pang, kami menghaturkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Cu-wi sekalian. Sebelum maksud undangan kami kepada Cu-wi kami bentangkan secara jelas, lebih dahulu kami ingin memperkenalkan perkumpulan kami kepada Cu-wi.”

Selanjutnya, dengan suara lantang Khiu-pangcu lalu memperkenalkan perkumpulannya, betapa dua tahun yang lalu perkumpulannya menjadi makin kuat setelah memperoleh seorang ketua baru yang amat sakti. Betapa kemudian rombongan dari Gunung Cemara, perkumpulan wanita Hek-eng-pang menjadi iri dan timbul bentrokan di antara mereka sehingga terjadi pertempuran besar.

“Karena munculnya seorang tokoh rahasia yang hanya kami kenal dengan sebutan Siluman Kecil, pertempuran itu dapat dihentikan dan ketua kami berkenan mengampuni Hek-eng-pang. Akan tetapi akhir- akhir ini mereka kembali mencari gara-gara dengan mencoba untuk merebut mangsa kami, yaitu harta pusaka dari keluarga Jenderal Kao Liang yang mengundurkan diri.” Kembali Khiu Sek menceritakan lagi semua peristiwa mengenai perebutan harta pusaka keluarga Jenderal Kao itu.

“Gara-gara ikut campurnya pihak Hek-eng-pang yang hendak merebut mangsa kami, maka semua usaha menjadi gagal dan baru-baru ini kami telah mengirim pasukan untuk menghukum Hek-eng-pang dan membakar tempat mereka! Betapa pun juga, mangsa kami itu telah lolos dan harta pusaka itu lenyap tanpa bekas. Kami dan Hek-eng-pang yang bentrok sendiri tidak ada yang mendapatkannya.”

“Hi-hi-hik!” Suara tertawa merdu seorang wanita itu memecahkan kesunyian sehingga terdengar jelas sekali.

Semua orang menengok ke arah suara ini, juga Khiu-pangcu dengan alis berkerut menoleh ke arah gadis cantik jelita yang berpakaian serba merah muda itu, karena yang tertawa adalah gadis cantik ini. Biar pun dia sudah tidak tertawa lagi, akan tetapi gadis ini masih menutupi mulutnya dengan tangan, dan matanya berseri menahan kegelian hatinya.

Merah muka Khiu Sek karena dia merasa ditertawakan. Akan tetapi, sebagai seorang tuan rumah, dia berusaha keras menahan kemarahannya dan dengan suara lantang dia menegur, “Harap Ang-siocia suka menjelaskan mengapa mentertawakan kami?” Lalu ditambahkannya untuk memperkenalkan nona itu kepada para tamu, “Cu-wi sekalian, yang baru saja tertawa adalah Ang-siocia, murid yang mewakili gurunya hadir di sini, yaitu Hek-sin Touw-ong!”

Mendengar nama Hek-sin Touw-ong, semua orang memandang kagum. Raja Maling itu terkenal sekali, dan baru kini mereka melihat bahwa Raja Maling yang menyeramkan itu mempunyai seorang murid yang sedemikian cantiknya, yang pakaiannya serba merah muda dan rapi sehingga kelihatan seperti seorang gadis bangsawan saja!

Melihat dia diperkenalkan dan ditegur, Ang-siocia, gadis she Ang yang hanya dikenal sebagai Nona Ang (Ang-siocia) itu, bangkit berdiri dan berkata lantang, sama sekali tak kelihatan jeri, “Itulah jadinya kalau dua ekor anjing memperebutkan tulang! Keduanya babak-bundas akan tetapi tulangnya dibawa kabur orang lain!”

Tentu saja Khiu-pangcu menjadi makin marah dan penasaran. Tadi dia ditertawakan dan sekarang dirinya malah disamakan dengan anjing! Akan tetapi dia masih menahan kemarahannya, hanya bertanya dengan suara yang nadanya kaku dan dingin, “Kalau menurut pendapatmu, bagaimana baiknya, Nona?”

“Menurut pendapatku? Tentu saja lebih baik kalau kedua ekor anjing itu berdamai dan tulang itu dimakan bersama-sama, dengan demikian berarti menambah persahabatan dan perut keduanya bisa kenyang, hi- hi-hik!”

Semua orang tertawa dan Khiu-pangcu sendiri tersenyum, kemarahannya lenyap dan dia menjura kepada semua orang. “Apa yang diucapkan oleh Ang-siocia tadi memang benar dan tepat sekali. Karena itu pula maka pangcu kami mengirim undangan kepada Cu-wi sekalian, yaitu untuk menyatukan semua golongan dari kita para pencari nafkah yang mengandalkan modal kepandaian silat seperti kita semua ini. Dan dengan adanya persatuan di antara kita, maka diharapkan tidak akan terjadi lagi bentrokan-bentrokan yang mengakibatkan kelemahan golongan kita sendiri. Kita dianggap golongan hitam, nah, kalau tidak ada persatuan di antara kita, tentu golongan putih yang menyebut diri mereka sendiri para pendekar itu akan merasa girang sekali dan mereka akan mudah untuk memusuhi dan mengalahkan kita.”

Segera terdengar suara teriakan-teriakan menyatakan persetujuan mereka. Hal ini tidak mengherankan karena seperti pada umumnya, manusia di dunia ini tidak ada yang dapat melihat keadaan sendiri, tidak dapat menyadari akan kesalahan dan kejahatan sendiri sehingga kaum itu pun tidak merasa bahwa mereka adalah penjahat-panjahat! Mereka menganggap bahwa ‘pekerjaan’ mereka itu adalah usaha mencari nafkah, dan para pendekar yang memusuhi mereka adalah yang sejahat-jahatnya orang karena merintangi pekerjaan mereka! Tentu saja usul persatuan ini mereka sambut dengan gembira karena memang sudah terlalu sering mereka ditentang dan di kejar-kejar oleh para pendekar.

“Akan tetapi, siapa yang akan memimpin kita?” terdengar suara lantang bertanya.

Khiu-pangcu mengangkat kedua tangan untuk menenangkan suasana yang menjadi hiruk-pikuk itu. Setelah semua orang diam dia lalu berkata, “Yang berhak memimpin kita sudah tentu adalah orang yang memiliki kepandaiannya paling tinggi di antara golongan kita semua.”

“Kalau guruku berada di sini tentu kursi pimpinan jatuh di tangannya!” terdengar gadis cantik berpakaian merah itu berseru.

Khiu-pangcu tersenyum lebar. “Nona, dan Cu-wi sekalian, hendaknya maklum bahwa kursi pimpinan itu tidak diperebutkan sekarang. Untuk itu tentu saja harus diadakan undangan khusus sehingga yang hadir adalah tokoh-tokoh pertama dari golongan kita. Sekarang yang penting bagi kita adalah bahwa semua pihak setuju untuk berdiri di bawah satu golongan. Dengan demikian, semua hasil karya kita dapat kita pergunakan bersama dan mereka yang hasilnya besar dapat menolong mereka yang sedang sepi pasarannya. Dan kalau seorang di antara golongan kita diusik oleh golongan putih, kita harus saling membantu dan memusnahkan pihak musuh. Dengan demikian, bukankah kedudukan kita menjadi kuat dan tidak ada sembarang pendekar yang berani untuk mengganggu?”

“Benar…!”

“Setuju…!”

Kembali suasana menjadi berisik sekali. Tiba-tiba, terdengar suara tertawa yang amat nyaring, suara yang mengatasi semua suara berisik itu, suara ketawa yang menggema dan mengaung menggetarkan jantung. Terang bahwa itu adalah suara ketawa yang mengandung tenaga khikang amat kuatnya.

Semua orang terkejut dan serentak menoleh ke tengah lapangan karena suara ketawa itu terdengar dari mulut seorang peranakan Nepal yang muda dan duduk di kursi bagian tamu kehormatan itu. Tentu saja semua orang terkejut dan marah, karena suara ketawa itu terdengar seperti meremehkan, dan kiranya yang mentertawakan mereka hanya seorang peranakan Nepal!

Khiu-pangcu juga merasa penasaran, segera menghadapi pemuda peranakan Nepal itu dan dengan suara hormat karena orang itu merupakan tamu agung, tetapi bernada teguran, dia bertanya, “Apakah Kongcu (Tuan Muda) tidak menyetujui persatuan ini?”

Pemuda jangkung berkulit coklat itu bangkit berdiri dan menjura, lalu terdengar dia berkata dengan suara lantang, “Kami sangat menyetujui, harap Khiu-pangcu tidak salah sangka. Hanya saja kami merasa sangat kecewa dan kasihan melihat cara-cara kalian mencari nafkah yang begitu remeh.”

“Haiiiii!!” Semua orang berseru marah karena tersinggung oleh ucapan itu, bahkan ada yang sudah bangkit berdiri dengan sikap mengancam.

Hanya tokoh-tokoh besar lainnya, seperti Ang-siocia, lalu gadis cantik jelita yang sama sekali tidak mengacuhkan semua itu dan bermain-main dengan ularnya, kepala bajak sungai yang tadi ribut dengan gadis pembawa ular, yaitu Tiat-thouw Sin-go, perampok tunggal Toat-beng Sin-to, raja kaum nelayan Boan-wangwe, mereka ini tetap duduk diam dan bersikap tenang, sesuai dengan kedudukan mereka yang tinggi.

“Harap Cu-wi jangan salah paham,” berkata peranakan Nepal itu dengan sikap tenang sekali. Sekarang dia berdiri di panggung dan menghadapi semua tamu dengan penuh wibawa. “Saya tidak memandang rendah kepada Cu-wi, hanya ingin menyatakan bahwa apa yang Cu-wi lakukan dan kerjakan itu sungguh tak sesuai dengan jerih payah Cu-wi sekalian. Cu-wi bersusah payah mencari mangsa, menunggu mereka lewat dan menanti datangnya kesempatan, menghadapi bahaya maut, dan semua itu Cu-wi lakukan hanya untuk sejumlah barang yang tidak berarti, bahkan kadang-kadang gagal seperti yang diceritakan oleh Khiu- pangcu ketika memperebutkan harta pusaka keluarga Jenderal Kao itu. Bukankah cara bekerja seperti itu amat remeh dan tidak memadai?”

Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, si perampok tunggal yang tinggi besar itu agak merasa tersinggung juga. Dia memandang dengan mata melotot, lalu berkata dengan suara yang lantang dan kasar karena memang dia terkenal seorang yang kasar, jujur tidak mau menggunakan banyak aturan, “Apakah kau mempunyai usul yang lebih baik?”

Pemuda peranakan Nepal itu menoleh kepada si tinggi besar ini sambil tersenyum, lalu berkata, “Tentu saja dan usulku amatlah baik, tentu saja kalau Cu-wi sekalian setuju. Akan tetapi usul saya ini usul yang amat penting dan gawat, maka hanya akan saya terangkan kalau semua pimpinan sudah hadir, tidak seperti sekarang ini. Baru pihak tuan rumah saja, yang keluar hanyalah wakilnya, yaitu Khiu-pangcu, bukan ketuanya sendiri, mana bisa disebut lengkap untuk mendengarkan usul kami yang amat penting dan menyangkut masa depan kita semua ini?”

Khiu-pangcu menjura kepada orang itu. “Maaf, pangcu kami kini sedang menyelesaikan ilmunya yang baru sehingga selama ini tidak pernah keluar dan mewakilkan segala sesuatu kepada saya. Andai kata pangcu kami sudah dapat keluar, apakah kiranya perempuan-perempuan dari Gunung Cemara itu masih berani banyak tingkah? Itulah sebabnya maka pangcu kami tidak dapat hadir.”

Mendadak terdengar suara ledakan keras dan rumah tempurung terdepan meledak. Rumah itu hancur berantakan dan keluarlah seorang kakek yang berpakaian hitam, agak terhuyung dengan mukanya yang putih pucat seperti kapur. “Khiu Sek, jangan mengecewakan tamu, ini aku sudah datang!”

Kini dari rumah-rumah tempurung itu bermunculan pula orang-orang yang mukanya putih seperti kapur dan itulah para pengikut ketua baru ini yang menyeramkan. Mereka itu semua agak terhuyung karena terlampau lama berdiam di rumah tempurung itu untuk memperdalam ilmu mereka sesuai dengan petunjuk sang ketua.

Melihat kakek ini, Kian Lee berdebar dan dia memandang dengan mata terbelalak karena tentu saja dia mengenali kakek ini. Dia itu bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi, ketua dari Lembah Bunga Hitam, tokoh sesat yang amat sakti dan yang merupakan ahli racun yang luar biasa itu! Di dalam cerita kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan tentang diri kakek ini yang dahulunya adalah seorang pelayan dari Dewa Bongkok dan yang kemudian melarikan diri karena tersangkut dalam pencurian kitab pelajaran ilmu yang mukjijat.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Baru sekarang mereka dapat menyaksikan ketua dari Kui-liong-pang yang ternyata amat menyeramkan itu. Ilmu apa gerangan yang dipelajari oleh kakek ini sehingga tadi rumah tempurung itu meledak dan hancur berantakan?

Khiu-pangcu bersama semua anak buah Kui-liong-pang menjatuhkan diri berlutut untuk memberi hormat kepada pangcu mereka, sedangkan para tamu juga bangkit berdiri untuk menghormat. Kian Lee yang juga ikut bangkit berdiri melihat betapa Hwee Li masih enak-enak saja duduk bermain-main dengan ularnya, seolah-olah kemunculan kakek itu sama sekali tidak diketahuinya! Benar-benar bocah itu masih seperti dulu, aneh dan bengal!

Hek-hwa Lo-kwi kini menghampiri tempat duduk yang telah disediakan untuknya sambil mengangguk ke kanan kiri kepada para tamu, kemudian dia menghadapi peranakan Nepal itu sambil berkata, suaranya menggetar dan mengandung gema yang meraung aneh, “Nah, sebelum Sicu ceritakan apa usul yang amat penting itu, hendaknya lebih dulu memperkenalkan diri. Maaf kalau kami tidak mengenal Sicu.”

Pemuda peranakan Nepal itu menjura dengan hormat dan berkata, “Sungguh beruntung sekali kami semua dapat bertemu dengan Pangcu yang telah kami kenal namanya yang besar. Dan kami menghaturkan selamat atas berhasilnya Pangcu mempelajari ilmu baru. Perkenankan kami memperkenalkan diri kami.”

Dengan suara halus dan lantang sehingga semua orang dapat mendengarnya, orang muda peranakan Nepal itu lalu memperkenalkan dirinya dan mendengar penuturannya, Kian Lee menjadi tertarik sekali dan mendengarkan penuh perhatian. Kiranya pemuda itu adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong!

Dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali dituturkan betapa Pangeran Liong Khi Ong dan kakaknya, Pangeran Liong Bin Ong, telah mengadakan persekutuan untuk mengadakan pemberontakan, namun akhirnya pemberontakan itu gagal dan kedua orang pangeran tua itu telah tewas.

Liong Khi Ong mempunyai seorang selir berbangsa Nepal, dan sebenarnya selir ini masih seorang puteri Nepal, anak Raja Nepal yang juga lahir dari seorang selir dan yang dihadiahkan kepada Pangeran Liong Khi Ong sebagai tanda persahabatan antara Nepal dan Kerajaan Ceng-tiauw yang pada waktu itu luas sekali daerahnya sehingga merupakan negara besar yang dihormati negara-negara tetangga termasuk Nepal.

Dan dari selir Nepal inilah Liong Khi Ong mempunyai putera, yaitu pemuda ini yang memakai nama Liong Bian Cu. Ketika Liong Khi Ong tewas, pemuda ini bersama ibunya melarikan diri ke barat, kembali ke Nepal di mana dia memperdalam kepandaiannya dengan menjadi murid dari Ban-hwa Sengjin, yaitu koksu (guru negara) Nepal yang lihai itu.

Setelah memperkenalkan diri dan para tamu memandang dengan kagum karena tidak menyangka bahwa peranakan Nepal ini ternyata adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong yang amat terkenal di kalangan dunia hitam karena dahulu pangeran itu banyak menerima tenaga bantuan kaum sesat, bahkan ketua Kui-liong-pang ini pun mengenalnya dengan baik, maka pemuda itu lalu menceritakan usulnya dengan suara lantang.

“Dari pada kita bekerja secara kecil-kecilan dengan resiko besar, lebih baik sekalian kita melakukan pekerjaan yang besar. Sudah basah kepalang mandi! Dari pada kita dikejar kejar pemerintah dan orang- orang dari golongan putih, kita mendahului mereka! Kita kumpulkan kawan-kawan yang banyak sehingga menjadi barisan yang kuat, lalu kita serbu kota demi kota, kita sita seluruh kekayaannya, dan kita duduki kotanya. Bukankah itu lebih cepat dan berhasil dari pada kita menunggu lewatnya mangsa seperti seekor harimau kelaparan menunggu lewatnya seekor kelinci? Kita taklukkan kota demi kota dan kita paksa penduduknya yang laki-laki, muda-muda dan kuat-kuat untuk menjadi anggota kita, yang menolak kita bunuh semua! Wanita-wanitanya yang cantik kita bagi bagi. Dengan demikian, akhirnya kita akan menjadi suatu kekuatan yang amat besar dan daerah kita akan makin luas. Jika sudah kuat benar, kita hancurkan para gubernur. Kita kuasai propinsi dan tujuan terakhir adalah kota raja. Kita mendirikan kerajaan sendiri, kerajaan kaum hitam!”

Sejenak suasana menjadi sunyi karena mereka yang mendengarkan rencana itu terlalu kaget dan heran. Bahkan Hek-hwa Lo-kwi sendiri kelihatan menunduk, merenung dan mengelus jenggotnya. Kemudian meledaklah kebisingan di situ karena semua orang bicara sendiri, saling berdebat, ada yang setuju, ada yang menolak dan ada juga yang ketakutan.

Akhirnya Hek-hwa Lo-kwi mengangkat tangan kanan ke atas dan semua orang diam. Lalu terdengar ucapan kakek ini, “Usul yang dikemukakan oleh Liong-sicu bukan hal remeh dan main-main, bahkan hal yang amat baik. Memang pekerjaan kita selalu dibayangi oleh bahaya. Tentu saja makin besar bahayanya, makin besar pula hasilnya, dan kalau kita bersatu, mengapa takut bahaya? Aku sendiri setuju dengan usul itu dan akan mendukung pelaksanaannya!”

Ucapan ini disambut oleh tepuk tangan dan sorak-sorai dari mereka yang tadi setuju, sedangkan yang menolak dan yang ragu-ragu terseret dan hanyut oleh suara setuju ini sehingga mereka pun menjadi besar hati.

Kini Liong Bian Cu, pemuda peranakan itu mengangkat tangan dan semua orang berhenti membuat berisik. “Apakah ada di antara Cu-wi yang mengajukan usul lain?”

Terdengar suara merdu nyaring dan gadis berpakaian merah muda, yaitu Ang-siocia, telah berdiri dan berkata, “Bicara memang mudah saja, akan tetapi pelaksanaannya tidaklah semudah menggoyangkan lidah dan bibir!” Memang dara ini biasa bicara dengan tajam. “Kota-kota itu tentu dijaga dan dilindungi oleh pasukan prajurit yang sudah terlatih dan pandai berperang. Mana bisa orang-orang kita yang tidak terdidik perang seperti mereka itu dapat menyerbu kota dan menang pula? Kepandaian kita hanyalah kepandaian pribadi untuk dipakai dalam pertempuran perorangan atau paling hebat hanya menghadapi keroyokan belasan sampai puluhan orang. Mana mungkin dapat berguna dalam perang antara ribuan orang dan pula pihak pasukan pemerintah tentu diperlengkapl dengan senjata dan perlengkapan yang lebih sempurna?”

Hek-hwa Lo-kwi mengangguk-angguk. “Alasan yang baik dan kuat sekali. Bagaimana jawabanmu, Liong- sicu?”

“Tidak perlu khawatir!” tiba-tiba seorang kakek berusia enam puluh tahun, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut, tangannya memegang tongkat kayu cendana, berseru.

Dia ini adalah Gitananda, orang Nepal yang pernah menghadiri pesta pernikahan gagal dari Hwa-i-kongcu Tang Hun di puncak Naga Api. Memang Gitananda adalah seorang di antara utusan-utusan Kerajaan Nepal yang mencari kemungkinan menghubungi orang-orang yang hendak memberontak terhadap Kerajaan Ceng-tiauw, dan sekarang Gitananda bertugas untuk mengawal dan menemani Liong Bian Cu. “Hendaknya Cu-wi sekalian maklum bahwa Kongcu kami ini adalah seorang ahli perang yang tentu akan mampu mendidik kawan-kawan dan membentuk barisan-barisan yang kuat!”

Liong Bian Cu bangkit dan menjura keempat penjuru. “Saya tidak ingin memamerkan diri, akan tetapi terus terang saja, sebagai putera mendiang Ayah yang juga ahli dalam siasat perang, tentu saja saya sudah rnempelajari ilmu perang dan saya pasti dapat membentuk pasukan-pasukan istimewa yang terlatih baik. Dan tentang perlengkapan, jangan khawatir karena Raja Nepal adalah kakek saya. Cu-wi sekalian tak perlu gelisah, dan saya berjanji bahwa kalau kelak kita berhasil, Cu-wi sekalian tentu akan menjadi pembesar-pembesar tinggi yang hidup terhormat dan mulia!”

“Nanti dulu!” Tiba-tiba Hek-hwa Lokwi berkata sambil bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling. “Aku ingin sekali mendengar pendapat sahabat lamaku, Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka. Ataukah dia tidak hadir dan tidak mengirim wakilnya?”

Semua orang yang mendengar nama ini terkejut, dan Tiat-thouw Sin-go ketua para pembajak itu mengerling ke arah gadis cantik jelita berpakaian serba hitam yang masih duduk bermain-main dengan ularnya tadi.

“Akulah wakilnya!” tiba-tiba gadis itu berkata sambil bangkit berdiri.

Semua orang menoleh dan menahan napas menyaksikan seorang gadis yang demikian cantik moleknya. Wajahnya putih halus kemerahan, dengan rambut yang disanggul indah sekali, dihias dengan batu-batu permata mahal, sepasang matanya seperti bintang pagi, jernih dan lebar akan tetapi mengandung sinar yang tajam menyeramkan. Hidungnya mancung serta mulutnya selalu tersenyum, amat manis dan jelita. Tubuhnya kelihatan ramping padat dengan lekuk lengkung yang menggairahkan, yang sukar disembunyikan oleh pakaian sutera serba hitam itu. Akan tetapi yang membuat orang menjadi merasa ngeri dan kehilangan gairah adalah ketika melihat dua ekor ular yang melingkar-lingkar di kedua lengan yang halus mulus itu.

“Hemmm!” Hek-hwa Lo-kwi menatap dengan tajam, akan tetapi memandang rendah kepada gadis muda itu. “Kalau engkau wakilnya, Nona, apa yang akan dikatakan oleh Hek-tiauw Lo-mo tentang usul tadi?”

Gadis itu yang bukan lain adalah Kim Hwee Li itu, puteri Hek-tiauw Lo-mo, tersenyum sehingga sekelebatan nampak rongga mulutnya yang merah terhias kilatan gigi putih. “Apa yang hendak dikatakan? Aku tidak tahu. Aku hanya diutus untuk mendengarkan saja tanpa membuka mulut dan akan kusampaikan semua ini kepadanya.”

Hek-hwa Lo-kwi berkata kepada Liong Bian Cu, “Dahulu Hek-tiauw Lo-mo pernah membantu Ayahmu, Liong-sicu. Kiranya sekarang pun dia akan setuju dengan usulmu itu.”

“Mudah-mudahan begitu,” Liong Bian Cu berkata dan matanya masih terus memandang kepada Hwee Li, agaknya peranakan Nepal ini tertarik sekali kepada gadis yang luar biasa cantiknya itu.

“Tentu saja dia mau kalau kelak setelah berhasil dia yang menjadi rajanya!” kata Hwee Li sambil duduk dan bermain main dengan ularnya.

Kian Lee tidak dapat lagi menahan senyumnya. Bukan main gadis ini. Berani sekali dan sikapnya seolah- olah memandang mereka semua itu seperti semut saja! Akan tetapi, dia sendiri masih gelisah memikirkan Cui Lan dan Hok-taijin. Sebaiknya kalau dia sekarang mulai menyelidiki di mana adanya dua orang yang dicarinya itu. Akan tetapi, mengingat bahwa yang hadir di situ adalah orang-orang yang berilmu tinggi sehingga akan berbahaya bagi dua orang kawannya itu kalau sampai ketahuan, dia terpaksa memberi isyarat kepada Liang Wi Nikouw untuk bersabar.

Mereka ini tentu tidak tahu siapa Hok-taijin, sehingga gadis dan kakek itu hanya merupakan tawanan yang tidak penting, yang mereka ambil dari Gunung Cemara ketika mereka membasminya. Kalau sampai dia turun tangan dan ketahuan, tentu mereka akan sadar bahwa dua orang itu merupakan orang-orang penting dan kalau sampai mereka tahu bahwa kakek itu adalah Gubernur Ho-pei, maka akan berbahayalah!

Hidangan mulai dikeluarkan dan sambil bercakap-cakap membicarakan rencana besar yang diusulkan oleh Liong Bian Cu, mereka makan minum. Sementara itu, para tokoh yang penting di atas panggung kehormatan mulai berunding sambil makan minum dan akhirnya diputuskan bahwa sebelum diadakan pemilihan pemimpin yang harus seorang yang terpandai di antara mereka, yang akan merupakan seorang bengcu (pemimpin rakyat), untuk sementara dibentuklah panitia pimpinan atau pengawas yang terdiri dari Hek-hwa Lo-kwi sendiri, Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, Boan-wangwe, dan Tiat-thouw Sin-go beserta Gitananda sebagai wakil pihak orang Nepal. Ketika hal ini diumumkan, semua orang setuju.

Makan minum dilanjutkan dan Liong Bian Cu yang menganggap mereka semua itu sebagai calon-calon pembantunya untuk melanjutkan ‘perjuangan’ mendiang ayahnya dalam kegembiraannya ingin sekali melihat kelihaian mereka. Maka setelah minum beberapa cawan arak yang cukup menghangatkan hatinya, dia bangkit berdiri dan berkata lantang.

“Cuwi sekalian! Kita telah bersepakat untuk bersatu dan kita merupakan kesatuan orang-orang yang gagah dan memiliki kepandaian! Oleh karena itu, dalam pertemuan ini sudah selayaknya kalau kita memperlihatkan kepandaian masing-masing, bukan untuk menyombongkan diri melainkan sebagai perkenalan. Dan pertunjukan ini akan saya mulai lebih dulu dengan memperlihatkan sedikit kemampuan saya yang saya pelajari dari guru saya yang terhormat, yaitu Ban-hwa Sengjin, koksu dari Nepal!”

Tentu saja ucapan ini disambut dengan gembira oleh semua orang. Mereka adalah orang-orang yang suka berkelahi, suka akan ilmu silat, maka setiap pertunjukan silat tentu saja menggembirakan hati mereka. Apa lagi karena mereka maklum bahwa di antara mereka terdapat banyak sekali orang-orang pandai.

Dengan langkah lebar Liong Bian Cu yang oleh orang-orangnya disebut Liong-kongcu itu menghampiri sebuah batu besar yang berada di tempat itu. Batu itu sebesar kerbau, tentu berat sekali. Akan tetapi dengan mudah dan ringan Liong-kongcu mengangkatnya dan melontarkannya tinggi ke atas. Dia menggosok kedua telapak tangannya, kemudian cepat dia menggerakkan kedua lengannya dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka memukul dan mendorong ke arah batu itu.

Terdengarlah suara bercuitan dari tangan kanannya dan dari tangan kirinya keluar suara mendesis. Di sekitar tempat dia berdiri menyambar-nyambar hawa yang panas dan dingin. Yang panas keluar dari tangan kanannya sedangkan yang dingin keluar dari tangan kirinya. Ketika kedua tangan itu bergerak memukul, batu itu tidak dapat meluncur jatuh, melainkan terapung di udara seperti tertahan oleh tenaga mukjijat, dan batu itu mulai terputar, semakin lama semakin cepat sehingga mengeluarkan suara mengaung seperti gasing. Tak lama kemudian nampak debu mengepul, pecahan batu dan pasir berhamburan ke mana-mana.

Liong-kongcu tersenyum, menghentikan gerakan kedua tangannya dan meloncat ke belakang ketika batu itu jatuh berdebuk ke atas tanah. Dan semua orang melongo ketika melihat betapa batu yang tadinya kasar itu kini telah menjadi halus seperti dibubut, bentuknya bulat seperti telur!

Kian Lee yang sejak tadi memandang penuh perhatian, diam-diam memuji. Itulah tenaga Im-yang Sin- ciang yang cukup hebat. Sungguh pun tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, namun pemuda itu sudah boleh juga dan hal itu tidak mengherankan karena pemuda itu, menurut pengakuannya tadi adalah murid dari koksu dari Nepal, yaitu Ban-hwa Sengjin yang pernah dia jumpai di istana Gubernur Ho-nan!

Pemuda ini mulai mengerti apa tugas orang-orang Nepal ini. Dia dapat menghubung-hubungkannya dengan kehadiran Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal di istana Gubernur Ho-nan, lalu kehadiran mereka ini di sini, hendak membentuk barisan pemberontak! Apa lagi ketika mendengar bahwa Liong-kongcu ini adalah putera mendiang Pangeran Liong Khi Ong, maka tentu saja apa yang dilihat dan didengarnya semua itu tidaklah terlalu mengherankan. Suatu persekutuan pemberontak agaknya hendak bangkit lagi bertujuan mengacaukan negara.

Para tamu bersorak memuji kelihaian pemuda peranakan itu, dan Liong-kongcu kini memandang ke arah Hwee Li sambil tersenyum bangga. Akan tetapi senyumnya hilang dan alisnya berkerut ketika dia melihat gadis berpakaian hitam yang menggoncangkan hatinya itu sama sekali tak ikut bersorak memuji, bahkan bibirnya tersenyum mengejek, seolah-olah apa yang dipertunjukkannya tadi tidak ada artinya sama sekali bagi nona itu.

Selagi Liong-kongcu hendak minta kepada Hwee Li agar memperlihatkan kelihaiannya, tiba-tiba dia didahului oleh Ang-siocia yang sudah bangkit berdiri dan menghampirinya. “Hik-hik, sungguh lumayan juga kepandaianmu. Ingin sekali aku bertanding denganmu karena ilmu kita hampir bersamaan. Engkau memiliki pukulan tajam, aku pun juga. Akan tetapi aku akan mempergunakan pedang, lihatlah!”

Dia mencabut sebatang pedang yang tadi tergantung di punggungnya, pedang yang bersarung dan bergagang indah, yang dihias ronce merah tua di gagangnya. Kemudian gadis berpakaian merah muda ini mengeluarkan suara melengking panjang. Pedangnya lalu bergerak dengan cepat, bertubi-tubi ke arah batu yang bulat halus seperti telur itu.

Cepat sekali gerakan pedangnya, sampai nampak sinar menyilaukan mata dan ketika sinar itu lenyap, ternyata pedangnya telah kembali memasuki sarungnya di punggung nona itu dan dengan tenang dia berdiri memandang ke arah batu. Batu itu tiba-tiba roboh terpotong-potong seperti irisan kue keranjang! Tipis dan lebar. Tentu saja semua orang melongo dan bertepuk tangan memuji.

“Hi-hi-hik, hampir sama bukan?” kata Ang-siocia kepada Liong-kongcu. “Kalau guruku yang melakukannya, tidak usah memakai bantuan pedang, cukup dengan telapak tangan saja. Itulah pukulan Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok).”

Ang-siocia terkekeh lagi dengan bangga, kemudian dia menghampiri batu yang sudah terpotong-potong itu dan menggunakan kakinya untuk mencukil dan melemparkan batu itu ke arah sungai yang mengalir tak jauh dari tempat itu, sebuah sungai yang menjadi sambungan dari air terjun. “Lebih baik batu-batu ini dilempar ke sungai!”

Tentu saja perbuatannya ini tak lain mengandung maksud untuk mendemonstrasikan kekuatan kakinya dan memang hebat sekali. Potongan-potongan batu itu beterbang ke depan.

“Heiii, jangan dibuang! Sayang…!”

Nampak bayangan berkelebat cepat sekali mendahului batu-batu itu dan ketika dia membalik, dia menggunakan tangannya menuding dan menangkapi potong-potongan batu yang seperti roda bentuknya itu lalu menumpuknya kembali di atas tanah. Semua orang memandang tumpukan batu itu dan terdengar seruan-seruan kagum karena batu batu yang bentuknya seperti roda itu kini telah berlubang tepat di tengah-tengahnya, sehingga bentuknya seperti gilingan tahu dan ternyata bahwa ketika menangkap batu batu itu, kakek ini menggunakan jari tangannya melubangi batu-batu itu tepat di tengah tengah. Kakek ini bukan lain adalah Tiat-thouw Sin-go, yang ternyata bukan hanya kepalanya yang keras melebihi batu, melainkan juga jari tangannya amat kuat. Tentu saja perbuatannya itu pun dimaksudkan untuk mendemonstrasikan kepandaiannya dan kembali semua tamu memuji.

Akan tetapi sebelum orang lain mendemonstrasikan kepandaiannya, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras dan disusul suara canang dipukul bertalu-talu tanda bahaya dan nampaklah beberapa orang penjaga datang berlari-lari dengan muka pucat menghadap pangcu mereka. Ketika melihat bahwa Hek-hwa Lo-kwi sudah hadir di situ, mereka itu serta merta menjatuhkan diri berlutut.

“Celaka… Pangcu…!”

“Tolol! Pengecut!” Khiu-pangcu memaki. “Hayo lekas lapor, ada apa?!”

“Di luar pintu terowongan… orang-orang Gunung Cemara datang menyerbu…!” “Huh, begitu saja ribut!” Khiu-pangcu membentak.

“Tapi, Ji-pangcu. Mereka itu dipimpin oleh ketua mereka, Yang-liu Nionio dan dua orang yang luar biasa lihainya. Tanpa menyentuh orang, mereka berdua telah merobohkan dan membunuh banyak kawan kita! Mereka adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik yang mengeluarkan suara seperti kucing… huuuh-huhhh…!” para penjaga itu menggigil ketakutan.

“Hemmm, sungguh orang-orang Hek-eng-pang tak boleh diberi ampun kali ini!” Hek-hwa Lo-kwi membentak marah sekali dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar dia pergi menuju ke pintu terowongan, diikuti oleh para tamu yang ingin melihat apa yang selanjutnya akan diperbuat oleh ketua yang baru saja keluar dari pertapaannya itu. Juga mereka ini mengharapkan akan menyaksikan pertandingan yang hebat antara Hek-hwa Lo-kwi melawan tokoh-tokoh pimpinan Hek-eng- pang.

Akan tetapi belum juga mereka memasuki pintu terowongan, tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan keras di sebelah luar terowongan itu dan nampak api mengebul di atas tebing arah mulut terowongan di atas. Semua orang terkejut sekali, apa lagi ketika mendengar gemuruhnya suara air menyaingi suara gemuruh air terjun. Cepat mereka semua mundur kembali menjauhi pintu terowongan dan tak lama kemudian, dari pintu terowongan itu menyembur air yang amat kuat dan derasnya. Beberapa orang penjaga terowongan terlontar seperti daun-daun kering dihanyutkan air bersama dengan semburan air yang deras itu.

Semua orang menjadi panik karena maklum bahwa entah secara bagaimana, pihak musuh telah berhasil membobolkan sungai di atas dan mengalirkan airnya memasuki mulut terowongan di atas hingga menggenangi lembah itu! Tentu saja terjadi kepanikan hebat. Orang-orang cepat mencari perahu-perahu yang banyak terdapat di situ. Akan tetapi karena banyaknya orang dan kurangnya perahu, mereka banyak tidak kebagian dan terpaksa mereka menebang pohon-pohon dan bambu-bambu untuk dijadikan pengapung atau semacam rakit. Air makin meninggi dan keadaan makin kacau. Mereka yang telah berhasil memperoleh perahu sudah cepat-cepat menyelamatkan diri melalui sungai.

Di dalam suasana yang kacau-balau dan hiruk-pikuk itu, Kian Lee bertindak cepat sekali. Dia melihat Hoa- gu-ji, tokoh Kui-liong-pang tinggi kurus yang tadi mengepalai para pelayan yang mengeluarkan hidangan. Kian Lee menduga bahwa orang ini tentu seorang di antara para anggota pimpinan, maka begitu melihat kesempatan, secepat kilat dia menubruk dan merobohkan orang tinggi kurus ini dengan totokan, kemudian menyeretnya ke tempat gelap.

Hoa-gu-ji adalah seorang yang mempunyai kepandaian cukup lihai, maka dapatlah dibayangkan alangkah kaget dan herannya melihat betapa ada orang yang mampu merobohkannya demikian mudahnya! Dia tadi hanya melihat seorang pemuda tampan mendekatinya dan tahu-tahu tubuhnya menjadi lemas dan ketika dia hendak berteriak, pemuda itu menepuk tengkuknya dan lenyaplah suaranya! Kini Hoa-gu-ji benar-benar merasa ketakutan ketika dia diseret di tempat gelap dan dia melihat bahwa di situ telah menanti seorang nikouw tua yang tadi dilihatnya menjadi seorang di antara para tamu di situ.

“Hayo cepat katakan, di mana adanya dua orang tawanan yang kalian bawa dari Gunung Cemara!” Kian Lee membentak sambil menyentuh ubun-ubun kepala orang itu dan dengan tangan kiri membebaskan totokan pada lehernya sehingga orang itu dapat mengeluarkan suara lagi.

“Ta… tawanan… yang mana…?” Hoa-gu-ji bertanya, jantungnya berdebar tegang karena jari-jari tangan yang menyentuh ubun-ubunnya itu benar-benar merupakan ‘todongan maut’ baginya, maka dia tidak berani main-main.

“Seorang gadis dan juga seorang laki-laki tua yang kalian bawa dari tempat tahanan Hek-eng-pang. Cepat jawab!”

“Ahhh… mereka itu?”

Setelah jelas bahwa orang ini mengetahui tentang dua orang temannya, Kian Lee lalu membebaskan totokan pada tubuh Hoa-gu-ji dan sambil mencengkeram leher bajunya, dia menghardik, “Hayo antarkan kami ke sana!”

Hoa-gu-ji mengangguk-angguk. Dia maklum bahwa dia tidak berdaya karena selain pemuda ini luar biasa lihainya, juga teman-temannya sedang sibuk menyelamatkan diri dari serangan air yang membanjiri lembah. Akan tetapi, Kian Lee menjadi repot juga karena air sudah mulai naik sampai ke paha.

“Kita membuat rakit dulu!” kata Liang Wi Nikouw.

Nenek ini kemudian mengumpulkan kayu dan bambu yang banyak hanyut di situ, bekas orang-orang tadi membuat rakit. Dibantu oleh Hoa-gu-ji, mereka membuat rakit dengan cekatan, lalu cepat mereka menuju ke kelompok bangunan yang sudah digenangi air setinggi perut. Akhirnya tibalah mereka di sebelah kamar tahanan dan dengan hati lega Kian Lee melihat Cui Lan dan Hok-taijin berpegang kepada ruji-ruji besi tempat tahanan itu dengan muka pucat dan ketakutan karena air sudah terus naik!

“Kongcu… syukur engkau cepat datang…!” Cui Lan terisak penuh kegembiraan melihat munculnya pemuda itu.

Untung lampu di atas tempat tahanan masih belum padam sehingga keadaan di situ cukup terang. Kian Lee cepat menotok lumpuh Hoa-gu-ji dan membawanya loncat naik ke atas wuwungan rumah dan melemparkan tubuh itu di atas wuwungan karena dia yakin bahwa air tidak mungkin sampai naik ke wuwungan. Kemudian bersama Liang Wi Nikouw dia membongkar pintu tahanan dan menolong gadis dan pembesar itu naik rakit dan mereka lalu mendayung rakit itu keluar dari situ. Di luar air sudah naik sampai ke dada orang. Bangunan-bangunan kecil roboh terlanda air, akan tetapi bangunan besar di mana tadi Kian Lee melemparkan Hoa-gu-ji ke atas wuwungan cukup kokoh dan tentu akan dapat bertahan.

“Ahhh… Taihiap… sungguh kami sudah hampir putus asa…” Hok-taijin berkata. “Untung aku bersama dengan Cui Lan, anakku yang gagah perkasa ini… dialah yang selalu membesarkan hatiku… kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi gila…“

Kian Lee memandang kepada Cui Lan dengan sinar mata kagum, sementara gadis itu menunduk dengan air mata berlinang.

“Cui Lan, ini adalah Liang Wi Nikouw yang diutus oleh Siluman Kecil untuk menyelidiki keadaanmu dan menolongmu,” kata Kian Lee sambil memandang gadis itu.

Seketika wajah yang menunduk itu bergerak, diangkat dan biar pun air matanya masih berlinang, namun bibirnya tersenyum dan wajahnya berseri. “Aihhh…? Suthai yang baik, benarkah itu?”

Nikouw itu mengangguk dan tersenyum.

“Di mana dia? Bagaimana dengan dia? Baik-baik sajakah dia?” tanyanya seperti air hujan.

Nikouw itu mengangguk-angguk lagi. “Dia mengkhawatirkan keadaanmu, Nona, maka mengutus pinni menyelidiki. Kiranya engkau benar-benar terancam bahaya, untung ada pemuda perkasa ini yang menolong.”

Karena mereka masih berada dalam bahaya, maka Cui Lan tidak berani banyak bertanya lagi. Juga dia merasa malu untuk banyak bertanya tentang pendekar luar biasa itu, maka dia kini hanya menunduk sedangkan Kian Lee yang dibantu oleh nikouw yang biar pun sudah tua namun masih kuat itu untuk mendayung rakitnya menuju ke sungai, di mana juga terdapat kesibukan dari mereka yang menyelamatkan dirinya.

Sementara itu, jauh di atas tebing nampak tiga orang berdiri menonton semua keributan di lembah. Tentu saja tidak kelihatan jelas benar karena hanya dibantu dengan sinar bulan. Akan tetap melihat lampu-lampu bergerak ke sana sini dengan kacau dan teriakan-teriakan orang di bawah terdengar sampai di atas, tiga orang itu cukup puas dan menonton sambil tersenyum.

Mereka itu bukan lain adalah Hek-eng-pangcu Yang-liu Nionio, Ang Tek Hoat, dan Mauw Siauw Moli. Bagaimana mereka bisa berada di sana? Mari kita ikuti perjalanan Tek Hoat yang kita tahu melakukan usaha menculik Syanti Dewi dari puncak Naga Api, tempat tinggal Hwa-i-kongcu itu…..
********************

Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah Ang Tek Hoat berhasil membantu Yang-liu Nionio ketua Hek-eng-pang merobohkan Kian Lee, pemuda itu lalu dibantu oleh Yang-liu Nionio dan beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke puncak Naga Api menculik Syanti Dewi yang menjadi tawanan di sana dan hendak dipaksa menikah dengan Hwai-kongcu Tang Hun, murid dari Durganini yang kaya raya dan lihai itu.

Dan walau pun Hek-eng-pang mengorbankan beberapa orang anggotanya, akhirnya mereka berhasil melarikan Syanti Dewi yang oleh Yang-liu Nionio dilemparkan kepada muridnya, Liong-li dan kemudian dibawa keluar di mana telah menanti Ang Tek Hoat bersama beberapa orang anak buah Hek-eng-pang yang siap dengan beberapa ekor kuda yang baik.

Tentu saja Tek Hoat menjadi girang sekali melihat bahwa kekasihnya telah berhasil diselamatkan. Akan tetapi dia teringat akan perlakuan Raja Bhutan ayah puteri itu terhadap dirinya dan penghinaan lima tahun yang lalu itu masih membuat hatinya terasa panas, apa lagi kalau dia teringat betapa sengsaranya hatinya selama ini yang selalu terkenang dengan penuh kerinduan kepada wanita yang dicintanya itu. Maka, setelah kini dengan susah payah dia dapat bertemu kembali dengan $yanti Dewi, dia tidak mau lekas-lekas memperkenalkan diri lebih dulu.

Karena cuaca masih gelap sekali, mudah baginya untuk tidak memperkenalkan diri dan tidak membuka suara. Dia hanya menerima puteri yang tertotok itu dari tangan Liong-li, kemudian dengan mendudukkan wanita yang dicintainya itu di atas punggung kuda, dia melompat di belakang Syanti Dewi dan membalapkan kuda secepatnya, diikuti oleh Yang-liu Nionio, Liong-li dan lain anak buah Hek-eng-pang, menuju kembali ke Gunung Cemara. Untuk membingungkan para pengejarnya, mereka lalu berpencar menjadi tiga rombongan dan Tek Hoat masih tetap bersama Yang-liu Nionio dan Liong-li, sedangkan rombongan lain bertugas untuk menghilangkan jejak ketua dan rombongannya ini.

Tentu saja Hwa-i-kongcu Tang Hun yang dibantu oleh tiga orang sakti Hak Im Cu, Ban-kin-kwi Kwan Ok, dan Hai-liong-ong Ciok Gu To terus melakukan pengejaran, akan tetapi mereka ini dibikin bingung dan akhirnya juga berpencar menjadi dua rombongan yang membelok ke kanan kiri, tidak tahu bahwa puteri itu dilarikan terus ke depan oleh Ang Tek Hoat dan rombongannya. Hal ini adalah karena jejak kaki kuda mereka telah dihapus oleh anak buah Hek-eng-pang yang cerdik itu.

Hanya ada satu orang yang tidak mudah diakali oleh anak buah Hek-eng-pang. Orang ini adalah Siang In! Ketika terjadi keributan di tempat pesta, Siang In yang pergi meninggalkan rombongan penari itu cepat- cepat mencari-cari dan ketika jelas bahwa Syanti Dewi diculik orang, dia pun cepat melakukan pengejaran. Dia amat cerdik, sudah menduga bahwa tentu rombongan penculik itu membawa keluar Syanti Dewi, maka dia telah mendahului pergi ke kandang kuda, mencuri seekor kuda dan menggunakan kesempatan selagi ribut-ribut itu menjalankan kudanya keluar dari benteng yang terjaga.

“Aku sri panggung rombongan penari, hendak membantu mencari pengantin puteri yang terculik!” katanya dan karena penjaga tadi melihat betapa dara cantik jelita ini pandai main sulap, mereka membiarkan Siang In keluar.

Dara ini mengintai dan melihat ada rombongan orang membawa kuda menanti di luar tembok, maka dia pun bersembunyi. Saat para penculik wanita rombongan orang-orang Hek-eng-pang itu keluar dan membawa lari Syanti Dewi, dia pun membalapkan kudanya membayangi dari jauh. Dia cukup hati-hati dan dapat menduga bahwa orang-orang itu tentu memiliki kepandaian, maka dia tidak berani sembrono turun tangan di situ, apa lagi dia tahu bahwa tentu pihak Hwa-i-kongcu tidak akan tinggal diam dan melakukan pengejaran, sehingga andai kata dia berhasil merampas Syanti Dewi dari tangan para penculik, dia pun tidak akan terlepas dari tangan Hwa-i-kongcu dan para pembantunya yang lihai itu. Untuk menggunakan sihirnya, dia teringat akan orang Nepal yang lihai tadi, maka sekali ini dia harus bersikap hati-hati sekali.

Sementara itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Ang Tek Hoat memeluk pinggang Syanti Dewi yang duduk di depannya. Pelukan yang penuh kemesraan dan seluruh kerinduan hatinya dicurahkan pada sentuhan mesra itu. Namun dia tetap membisu dan hanya membalapkan kudanya bersama Yang-liu Nionio dan Liong-li.

Hatinya lega karena tidak terdengar derap kaki banyak kuda mengejarnya. Hanya kadang-kadang terdengar derap kaki seekor kuda di belakang, akan tetapi tentu saja hal ini dianggap ringan. Andai kata benar ada satu orang yang mengejar, tentu saja bukan merupakan halangan. Dia sendiri masih belum berani menggunakan terlalu banyak tenaga sebagai akibat luka dalam ketika bertanding melawan Kian Lee, akan tetapi Liong-li dan terutama Yang-liu Nionio yang menunggang kuda di dekatnya bukanlah orang-orang yang lemah.

Karena tidak ada pengejar, hati mereka tenang dan mereka berhenti di dalam sebuah kuil tua yang berada di tepi jalan untuk membiarkan kuda mereka mengaso. Tanpa banyak cakap Tek Hoat memondong tubuh Syanti Dewi dan merebahkan dara itu di atas lantai dalam kuil, kemudian dia membebaskan totokannya dan meninggalkannya pergi.

Syanti Dewi mengeluh dan kemudian menangis terisak-isak. Malam hampir lewat dan waktu itu sudah menjelang subuh. Sudah terdengar kokok ayam jantan di kejauhan. Udara dingin sekali. Syanti Dewi menggigil, akan tetapi Tek Hoat hanya berdiri di luar, bermacam perasaan teraduk di hatinya. Dia merasa rindu, merasa girang, merasa kasihan, akan tetapi juga mendongkol dan marah. Ingin dia memeluk, membisikkan kata-kata cinta, menciumi wanita yang selama ini amat dirindukannya itu. Ingin dia menghiburnya, membuatnya gembira dan tertawa, karena dia yakin bahwa tentu Syanti Dewi akan merasa girang sekali bertemu dengan dia.

Dia tahu bahwa puteri itu belum dapat menduga siapa adanya orang yang menolongnya bebas dari tangan Hwa-i-kongcu! Akan tetapi karena rasa sakit di hatinya oleh ayah gadis itu, dia masih ‘menjual mahal’ dan mengambil keputusan untuk menjumpai Syanti Dewi pagi nanti kalau cuaca sudah terang. Dia akan muncul begitu saja mengagetkan hati puteri itu. Tersenyum dia membayangkan betapa Syanti Dewi tentu akan menjerit, dan lari memeluknya kalau puteri itu tiba-tiba melihat dia muncul di dalam kamar kuil rusak itu!

Ada pun Yang-liu Nionio dan Liong-li lalu membuat api unggun di dalam kuil, tidak mau mencampuri urusan Tek Hoat bersama Syanti Dewi. Mereka membicarakan tentang beberapa orang anggota mereka yang diduga tewas dalam penyerbuan itu, dan juga membicarakan tentang orang-orang pandai yang muncul di dalam pesta Hwa-i-kongcu.

Tidak lama kemudian, sinar matahari pagi mulai mengusir kabut dan hawa dingin dan tiba-tiba Hek-eng- pangcu bersama muridnya itu mendengar suara teriakan Tek Hoat dari sebelah dalam kuil. Mereka terkejut dan cepat melompat ke dalam dan mereka melihat Tek Hoat dengan muka pucat berdiri di ambang pintu, memandang ke arah puteri yang telah mereka culik semalam. Puteri itu duduk bersimpuh di atas lantai sambil menangis dan Si Jari Maut yang biasanya tenang dan gagah perkasa itu kini berdiri dengan mata terbelalak memandang puteri itu, mukanya pucat sekali.

“Celaka…!” Tek Hoat berseru marah.

“Kenapa? Apa yang terjadi…?” Yang-liu Nionio bertanya. “Bodoh! Tolol semua! Dia bukan…“
“Bukan apa?”

“Dia bukan puteri itu!” Ang Tek Hoat mengepal tinju sambil memandang kepada ketua Hek-eng-pang dengan mata melotot. “Kalian telah tertipu! Ini bukan Puteri Syanti Dewi!”

“Tapi…!” Yang-liu Nionio membantah, terheran-heran. Dia sendiri yang menculik wanita ini dari dalam kamar pengantin wanita. Tidak bisa salah lagi.

Liong-li cepat meloncat dan menarik pundak wanita yang mengempis itu. ”Diam kau! Hayo ceritakan siapa engkau dan di mana adanya pengantin puteri!” hardiknya sambil mengguncang-guncang pundak wanita muda yang cantik itu.

“Ampunkan saya…“ Wanita itu meratap. “Saya adalah seorang pelayan dari Kongcu dan malam tadi… ada… ada seorang kakek muncul dan menyeret saya, mengancam akan membunuh kalau saya berteriak, lalu mendadak saya menjadi lumpuh, bahkan untuk mengeluarkan suara pun tidak mampu… dan… kakek itu melucuti pakaian saya dan memaksa saya memakai pakaian ini… saya tidak tahu apa-apa… dan tiba- tiba saja saya dilarikan sampai di sini…“

“Di mana pengantin puteri?” Tek Hoat membentak, tidak sabar.

“Saya tidak tahu… harap ampunkan saya… saya tidak tahu apa-apa…“ “Hemmm, siapa kakek itu? Bagaimana macamnya?”

“Saya hanya tahu dia kakek tua, entah siapa…“

“Sialan!” Yang-liu Nionio meludahi muka wanita itu, tangannya bergerak dan wanita itu roboh tak berkutik lagi karena kepalanya telah pecah oleh ketukan jari tangan ketua Hek-eng-pang yang merasa dipermainkan dan menjadi marah sekali. Dia telah bekerja bersusah payah, telah kehilangan beberapa orang anggota perkumpulannya pula, dan hasilnya adalah puteri palsu!

Pada saat itu terdengar suara dari luar, “Heiii, Ang Tek Hoat! Biarkan aku bertemu dan bicara dengan Enci Syanti Dewi! Aku belum puas kalau belum mendengar dari mulutnya sendiri bahwa dia suka ikut dengan orang seperti engkau! Enci Syanti, ini aku, Siang In. Keluarlah dulu dan kita bicara sebentar!”

“Huh!” Tek Hoat mendengus marah dan dia menyambar punggung baju mayat pelayan yang telah dibunuh oleh Yang-liu Nionio dan Liong-li yang terkekeh mengejek ke arah Siang In.

Siang In terkejut bukan main melihat tubuh wanita yang disangkanya Syanti Dewi itu terlempar ke arahnya. Dia mengelak dan tubuh itu terbanting ke atas tanah. Cepat dia memeriksa dan menahan napas lega. Kiranya bukan Syanti Dewi yang dibawa kabur oleh Tek Hoat!

“Hemmm… kalau begitu, siapa yang menculik Syanti Dewi! Ke mana perginya? Orang lihai macam Tek Hoat dan nenek cantik itu masih dapat ditipu orang. Dan kalau melihat Hwa-i-kongcu dan orang-orangnya sudah melakukan pengejaran dan pencarian ke mana-mana, jelas bahwa Enci Syanti Dewi benar-benar telah lenyap. Akan tetapi siapa yang membawanya dan kemana?”

Dengan hati penasaran Siang In lalu melompat ke atas kudanya dan kembali ke daerah puncak Naga Api untuk menyelidiki hilangnya Syanti Dewi yang penuh rahasia itu.

Demikianlah, dengan marah dan kecewa Ang Tek Hoat kembali ke Gunung Cemara bersama Yang-liu Nionio dan Liong-li. Dan ketika mereka tiba di sana, mereka melihat bahwa Gunung Cemara telah dibasmi dan dibakar oleh musuh, yaitu orang-orang dari lembah perkumpulan Huang-ho Kui-liong-pang! Tentu saja Yang-liu Nionio menjadi marah dan berduka sekali ketika para anggota Hek-eng-pang yang tadinya melarikan diri itu berdatangan sambil menangis.

“Orang muda! Kau lihat apa yang terjadi dengan kami karena kami pergi membantumu. Tempat kami dibasmi musuh. Kalau kau tidak membantu kami melakukan pembalasan, sungguh-sungguh aku harus menyebutmu seorang yang tidak mengenal budi!” ketua yang sedang marah dan sakit hati itu berkata kepada Tek Hoat.

Ang Tek Hoat juga merasa sangat tidak senang dengan peristiwa itu. “Jangan khawatir, Pangcu. Aku tentu akan membantumu.”

“Bagus! Kalau begitu, kelak kami pun akan melakukan penyelidikan, siapa yang telah menculik pengantin puteri dari puncak Naga Api itu,” Yang-liu Nionio berkata. “Akan tetapi, karena anak buahku banyak yang tewas, aku harus minta bantuan dari Subo.” Dia lalu menulis sepucuk surat dan menyuruh Liong-li naik kuda yang kuat untuk cepat minta bantuan gurunya yang dia tahu berada di istana gubernuran di Propinsi Ho-nan.

Sepekan kemudian muncullah Mauw Siauw Mo-li di tempat itu. Tentu saja Ang Tek Hoat menjadi terkejut melihat wanita cantik yang genit ini, karena dia sudah mengenalnya dahulu ketika dia membantu pemberontakan Pangeran Liong Khi Ong. Juga Mauw Siauw Mo-li terkejut dan girang bertemu dengan pemuda tampan yang gagah ini. (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali)

“He-he-heh, bukankah engkau Tek Hoat Si Jari Maut? Aku mendengar bahwa engkau telah menjadi seorang panglima dan mantu raja di Bhutan! Bagaimana sekarang dapat berkeliaran di sini?”

Tek Hoat cemberut dan tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata, “Hemmm, kiranya engkau guru dari Yang-liu Nionio? Sungguh tak kusangka!”

“Pangcu, bagaimana engkau dapat bergaul dengan pemuda ini? Ketahuilah, dia pernah menjadi musuhku beberapa tahun yang lalu, hi-hik-hik!” katanya kepada muridnya yang lebih tua dari pada dia itu, maka dia menyebutnya pangcu!

Yang-liu Nionio terkejut bukan main. “Ahh… teecu tidak tahu… dia… dia telah membantu teecu dan sekarang pun hendak membantu teecu lagi menghadapi orang-orang dari Kui-liong-pang.”

Mauw Siauw Mo-li tertawa dan memandang wajah Tek Hoat yang tampan dan muram itu sambil berkata, “Tidak mengapa. Ada waktunya menjadi musuh, ada waktunya pula menjadi sahabat, bukan? Nah, ceritakan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Kui-liong-pang yang bosan hidup itu.”

Yang-liu Nionio lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa perkumpulannya bermusuhan dengan Kui-liong-pang dan akhir-akhir ini berebutan pusaka keluarga Jenderal Kao dan betapa ketika dia pergi membantu Tek Hoat untuk menculik pengantin dari Hwa-i-kongcu, orang-orang Kui-liong-pang lalu datang membasmi dan membakar tempat itu.

“Hemmm, sungguh-sungguh mereka itu harus mampus. Jangan khawatir, aku akan membantumu membasmi mereka. Akan tetapi, sungguh mati aku merasa heran sekali mengapa engkau pergi menculik pengantin puteri, Ang-sicu?” tanyanya kepada Tek Hoat, memandang heran.

Tek Hoat sebenarnya tidak suka kepada wanita yang cabul dan genit ini, dan pandang mata wanita itu kepadanya pun sudah membuat dia merasa muak. Akan tetapi dia tahu pula bahwa Mauw Siauw Mo-li adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan selama Syanti Dewi masih belum dapat olehnya dan terancam keselamatannya di tangan orang-orang sesat, dia perlu bantuan orang-orang seperti wanita ini. Maka dengan terus terang dia menjawab, “Pengantin puteri itu adalah Puteri Syanti Dewi.”

“Ehhh…?” Mauw Siauw Mo-li membelalakkan matanya dan wanita yang usianya sudah empat puluh tahun ini masih belum kehilangan daya tariknya. Dengan rasa bingung dia lalu bertanya, “Bagaimana ini? Bukankah dia sudah kembali ke istana Bhutan?”

Ang Tek Hoat menggelengkan kepalanya. Dia tidak suka menceritakan riwayatnya yang menyedihkan dan memalukan itu kepada orang lain, apa lagi kepada seorang wanita seperti Mauw Siauw Mo-li ini. Maka dia menjawab singkat, “Aku pergi dari Bhutan, dia menyusul dan tertawan oleh Hwa-i-kongcu, akan dipaksa menjadi isterinya.”

Mauw Siauw Mo-li mengangguk-angguk, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran sekali. Dia mendengar bahwa pemuda ini telah menjadi menantu raja, berarti sudah memperoleh kedudukan yang mulia, akan tetapi mengapa sekarang berkeliaran lagi ke sini dan wajahnya begitu murung? Sungguh dia tidak mengerti sama sekali, akan tetapi dia pun tidak berani mendesak karena tahu bahwa pemuda yang tampan dan lihai ini mempunyai watak yang amat aneh.

Demikianlah, Tek Hoat dan Mauw Siauw Mo-li lalu bersama Yang-liu Nionio dan semua sisa anak buah Hek-eng-pang pergi ke lembah yang menjadi sarang Kui-liong-pang dan atas usul Tek Hoat yang melihat keadaan di situ, Mauw Siauw Mo-li lalu menggunakan senjata peledaknya untuk membobol tempat itu sehingga air sungai menyerbu lembah melalui terowongan yang juga telah diledakkan.

Kini mereka bertiga memandang dengan hati puas ke bawah, ke arah lembah yang kebanjiran itu sehingga seluruh penghuni dan para tamunya harus bergegas-gegas menyelamatkan diri dengan perahu-perahu dan rakit-rakit darurat. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi Tek Hoat lalu membalikkan tubuh sambil berkata, “Aku pergi!”

“Terima kasih, dan kami akan menyebar anak buah kami untuk menyelidiki di mana adanya pengantin puteri itu!” kata Yang-liu Nionio. Tek Hoat tidak menjawab dan terus berkelebat pergi.

“Nanti dulu, Ang-sicu!” Bayangan lain juga berkelebat pergi dan ternyata Mauw Siauw Mo-li mengejarnya.

Tek Hoat mengerutkan alisnya, akan tetapi dia membalik dan memandang tokoh sesat itu sambil bertanya, “Engkau mau apa?”

“Ang-sicu, tiga hari yang lalu ketika aku meninggalkan Lok-yang menerima undangan muridku, ketika tiba di dusun Khun-kwa, aku berpapasan dengan seorang gadis yang bertanya-tanya kepada orang-orang di jalan tentang seorang kakek yang membawa seorang gadis dengan paksa. Aku merasa curiga kepada gadis itu karena aku merasa seperti pernah melihatnya, maka kemudian aku bersembunyi dan mengintai. Ketika aku mendengar gadis itu menceritakan ciri-ciri gadis yang dibawa dengan paksa oleh kakek itu, aku teringat bahwa gadis yang diculik itu tentulah gadismu yang dahulu kau pertahankan mati-matian, yaitu Syanti Dewi.”

Tentu saja Tek Hoat menjadi tertarik sekali dan wajahnya memancarkan harapan baru. Dia melangkah dekat dan bertanya, “Mo-li, siapa yang menculik dia?”

Wanita itu tersenyum lebar dan memang dia masih manis sekali. “Mana aku tahu? Akan tetapi, kalau kau mau pergi bersama aku mencarinya, mungkin saja kita dapat temukan gadis itu dan dari dia kita tentu akan mendapat tahu siapa yang menculik puterimu itu. Dengan kerja sama antara kita, apa pun akan dapat kita lakukan dengan berhasil, bukan?”

Tek Hoat yang amat mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya tidak dapat menolak dan berkata singkat, “Baiklah, mari kita pergi!”

Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan berjalan pergi di samping pemuda tampan itu. Dia menoleh dan berkata kepada muridnya, “Engkau bawa anak buahmu menyingkir dan bersembunyi dulu sebelum mendapatkan tempat baru yang baik. Aku pergi dulu!”

Maka berangkatlah wanita cantik yang hatinya sejak dahulu memang sudah tergerak oleh ketampanan dan kegagahan Tek Hoat ini bersama Tek Hoat yang terpaksa harus menerimanya sebagai teman seperjalanan dalam usahanya mencari kembali Syanti Dewi yang lenyap…..

********************

Biar pun yang mereka tumpangi hanya sebuah rakit yang terbuat dari kayu dan bambu yang diikat secara kasar dan tergesa-gesa, namun karena yang memegang dayung adalah Kian Lee dan Liang Wi Nikouw, maka rakit itu dapat meluncur cepat, memasuki sungai bersama dengan orang-orang lain yang berserabutan meloloskan diri dari ancaman air yang membanjiri lembah. Banyak perahu dan rakit yang bermacam-macam terapung di situ. Di depan rakit mereka meluncur perahu besar yang ditumpangi oleh rombongan Boan-wangwe yang memang menggunakan perahu besar yang oleh anak buahnya sudah dipersiapkan itu. Tentu saja dengan cara ‘membeli’ dari para anak buah Kui-liong-pang. Dalam keadaan ribut-ribut itu pun pengaruh dan kekuasaan uang masih nampak sehingga rombongan yang kaya raya ini masih mampu memperoleh perahu yang terbesar dan terbaik dengan cara menyogok bagian pengurus perahu-perahu dari Kui-liong-pang.

Tentu saja para tamu yang tidak pernah melihat dan mengenal Cui Lan dan Hok-taijin, tidak memperhatikan empat orang di atas rakit itu, yang mereka anggap juga tamu-tamu yang sama-sama melarikan diri.

“Minggir…!” Seruan yang keras sekali ini terdengar dari belakang rakit!

Suma Kian Lee, Liang Wi Nikouw, Cui Lan dan Hok-taijin terkejut dan memandang sebatang balok besar yang meluncur dengan cepatnya ke arah mereka dari belakang. Di atas balok besar ini duduk Toat-beng Sin-to Can Kok Ma, si perampok tunggal yang tinggi besar dan tangannya memegang sebatang golok besar yang menyeramkan oleh karena golok ini di dekat punggungnya mempunyai sembilan buah lubang sedangkan di gagang golok dipasangi tali panjang yang melibat-libat lengan kakek itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo