September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 4

 

“Kami berdua melarikan diri dan berhasil lolos dari kota, akan tetapi ketika tiba di dekat hutan tempat tinggal kalian itu, kami melihat para pengawal istana gubernuran mengejar kami. Maka kami lalu lari ke rumah kalian dan kebetulan sekali putera kalian berada di pintu dan membantu kami masuk. Selanjutnya, kalian ketahui.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk dan ayah dari bocah itu kemudian mengangkat muka, memandang kepada Cui Lan dengan kagum. “Ahhh, sungguh hebat engkau, Nona. Engkau adalah seorang wanita yang setia kepada tunangan. Aku kagum dan aku merasa girang telah dapat menolongmu. Kemudian, mengenai perkenalanmu dengan beliau itu…, bolehkah kami mendengarnya?”

Cui Lan merasa ragu-ragu untuk menceritakan pengalamannya dengan Siluman Kecil, apa lagi karena perasaan hatinya terhadap Siluman Kecil itu akan disimpannya sebagai rahasia hidupnya dan hanya satu kali dia menceritakan rahasia itu kepada Kian Lee! Kini, ditanya oleh tiga orang kasar ini, dia menjadi ragu- ragu, akan tetapi kecerdikannya kembali menolongnya, “Siluman Kecil… pendekar itu pernah menolong kami ketika kami diganggu perampok…“

“Nona adalah seorang pelayan di gubernuran, bagaimana bisa diganggu perampok?” seorang di antara dua paman bocah itu terheran-heran.

Kini Gubernur Hok yang telah sadar betul dan sejak tadi mendengarkan percakapan itu, bangkit duduk dan berkata, “Kalian tidak tahu. Keponakanku ini baru saja menjadi pelayan di gubernuran, bahkan sejak peristiwa itulah dia menjadi pelayan. Ada pun saya yang sudah lama menjadi tukang kebun di taman istana Kui-taijin, Gubernur Ho-nan.” Dia terbatuk-batuk lalu menghirup air teh yang dihidangkan oleh bocah itu, kemudian melanjutkan, “Pada waktu itu saya mendengar bahwa Nyonya Gubernur membutuhkan seorang pelayan yang boleh dipercaya. Saya lalu menawarkan keponakan saya Cui Lan ini dan karena sudah lama saya bekerja di gubernuran, penawaran saya diterima dan saya lalu pergi ke dusun untuk menjemput keponakan saya ini. Nah, dalam perjalanan kami ke kota itulah kami dihadang segerombolan perampok dan kami tentu celaka kalau tidak ditolong oleh beliau.” Gubernur itu tentu saja tidak pernah tahu tentang ‘beliau’ itu, akan tetapi dari percakapan tadi dia mengerti bahwa yang disebut oleh Cui Lian sebagai ‘Siluman Kecil’ dan oleh tiga orang pemburu disebut sebagai ‘beliau’ itu tentu seorang pendekar atau seorang yang luar biasa yang pernah menolong Cui Lan dan yang amat ditakuti oleh tiga orang kasar itu.

“Demikianlah…,” Cui Lan menyambung hati-hati dan mengerling ke arah ‘pamannya’ sambil tersenyum dengan penuh rasa syukur dan dibalas oleh gubernur yang kini selain menjadi tukang kebun juga menjadi paman itu, “Dalam kesempatan itulah pendekar itu memperkenalkan namanya sebagai Siluman Kecil dan berpesan bahwa apa bila aku tertimpa bahaya, aku boleh minta bantuan kalian yang disebutnya sebagai pemburu-pemburu gagah yang tinggal di pinggir hutan itu.”

Tiga orang pemburu itu tersenyum girang dan bangga bukan main karena mereka disebut ‘pemburu gagah’ oleh Siluman Kecil! Tentu saja sebutan itu adalah tambahan Cui Lan sendiri!

“Kami girang sekali telah dapat membantu Nona yang ternyata menjadi sahabat baik beliau,” kata si ayah bocah itu.

“Karena kami telah memperkenalkan diri, yaitu namaku Phang Cui Lan dan Pamanku ini…“ “Aku bernama Hok An, kakak dari Ibu Cui Lan,” sambung sang gubernur.

“Maka kami harap kalian suka menceritakan pula kepada kami siapakah kalian ini dan bagaimana pula kalian dapat berhubungan dengan beliau.” Kini Cui Lan juga menyebut beliau kepada Siluman Kecil, karena dia merasa ngeri juga menyaksikan sikap yang begitu takut kepada pendekar pencuri hatinya itu.

“Maaf, aku dan adikku ini tidak pandai bicara, hanya adikku paling kecil itu yang agak bisa bicara. Kun-te, kau berceritalah!” Pemburu berewok itu menyuruh adiknya yang termuda, dan berceritalah laki-laki yang usianya kurang lebih dua puluh delapan tahun, berwajah cukup tampan dan bertubuh gagah itu sungguh pun tidak sebesar kakaknya yang tertua.

Mereka itu adalah kakak beradik. Yang tertua, yang berewok dan ayah dari bocah itu bernama Sim Hoat dan seperti telah diceritakan oleh puteranya yang bernama Sim Hong Bu tadi, isteri Sim Hoat yang tersiksa batinnya oleh suaminya yang pencemburu itu minggat dan meninggalkannya. Dan ada pun orang kedua itu adalah adiknya yang bernama Sim Tek. Kalau Sim Hoat berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, Sim Tek berusia tiga puluh tahun sedangkan adik terkecil yang tidak pendiam seperti dua orang kakaknya, yaitu yang bercerita itu adalah Sim Kun, berusia dua puluh delapan tahun. Semenjak kecil mereka itu telah menjadi pemburu-pemburu yang ulung karena mereka memang keturunan pemburu.

Mereka mulai mengenal Siluman Kecil kira-kira dua tahun yang lalu. “Memang nama beliau muncul sekitar dua tahun yang lalu.” Sim Kun melanjutkan ceritanya. “Tadinya tidak ada nama julukan itu di dunia kang- ouw. Pada waktu itu, terjadi pertikaian dan perebutan wilayah perburuan di antara para pemburu di sekitar perbatasan tiga Propinsi Ho-nan, Ho-pei, dan Shen-si. Ratusan orang pemburu terpecah menjadi tiga kelompok dan saling berebutan, hingga sering terjadi pertumpahan darah untuk memperebutkan wilayah perburuan itu. Pada suatu hari, muncullah beliau dan dengan kesaktian yang luar biasa beliau mengalahkan dan menundukkan semua pemburu untuk menghentikan permusuhan dan membagi-bagi wilayah perburuan secara adil menurut wilayah propinsi masing-masing. Semenjak saat itulah kami semua mentaati perintah itu karena setiap kali ada pelanggaran, si pelanggar tentu akan menerima hukuman hebat dari beliau dan sampai sekarang kami saling menghormati wilayah masing-masing dan dapat bekerja sama dengan baik. Itulah sebabnya, ketika mendengar bahwa Nona adalah sahabat beliau, kami sangat girang dan bersedia membela Nona sampai titik darah terakhir!”

Cui Lan merasa terharu bercampur kagum terhadap kehebatan pendekar yang sangat dipujanya itu. Juga diam-diam Gubernur Ho-pei menyesalkan mengapa dirinya sebagai gubernur tidak tahu akan adanya hal itu, dan tidak mengenal pula pendekar yang demikian besar jasanya mendamaikan pertikaian antara para pemburu kasar itu.

“Pertolongan kalian bertiga cukup berharga bagi kami dan kami berdua menghaturkan terima kasih,” kata Cui Lan. “Akan tetapi kalau kalian memang suka menolongku, aku minta dengan sangat sukalah kalian menyelidiki tentang seorang penolong kami pula yang dikeroyok di taman istana gubernuran.”

“Tentu saja, kami siap melakukan segala permintaan Nona!” kata Sim Hoat karena dia dan adik-adiknya yakin bahwa kelak mereka tentu akan dipuji oleh Siluman Kecil atas pertolongan mereka terhadap nona cantik ini. Siapa tahu kalau-kalau nona cantik ini selain pernah ditolong, juga menjadi kekasih pendekar ajaib itu! Dan memang sudah sepatutnya karena nona ini cantik sekali!

“Begini, Sim-twako,” Cui Lan yang amat pandai itu segera menyebut twako sehingga si pemburu yang kasar merasa makin girang dan akrab. “Di taman rumah gubernuran ada seorang pemuda yang terlibat dalam pertempuran. Ketika kami berdua melarikan diri memang sedang terjadi keributan dan hal itu menolong kami, akan tetapi ada seorang pemuda yang baik kepada kami, yang terlibat dalam pertempuran dan dikeroyok oleh para pengawal gubernuran. Harap Sam-wi (Kalian Bertiga) sudi membantuku menyelidiki bagaimana kabarnya dengan pemuda itu.”

“Ah, mudah saja itu! Siapa namanya?” tanya Sim Hoat. “Namanya Suma Kian Lee.”

“Suma…?” Tiga orang kasar itu saling pandang. “Mengapa?” Cui Lan bertanya heran.

“Tidak apa-apa, hanya pernah dahulu beliau bertanya kepada kami semua apakah kami bertemu atau mendengar adanya seorang she Suma. Ahhh, mungkin hanya kebetulan saja dan pertanyaan itu sudah hampir dua tahun. Baiklah, Nona Phang, kami akan segera menyelidikinya dan harap Nona dan Hok-lopek suka menanti saja di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Daerah ini aman dan tidak mungkin para pengawal dapat mencari sampai ke sini. Hong Bu akan melayani semua keperluan kalian selama kami pergi.”

Mereka bertiga segera pergi dengan cepat dan menjelang malam mereka telah kembali membawa berita yang membuat wajah Cui Lan menjadi pucat sekali dan juga Gubernur Hok yang mendengar dari Cui Lan betapa pemuda itu membantunya melawan para pengawal lihai dari Ho-nan merasa khawatir sekali. Berita itu adalah bahwa Suma Kian Lee dan komandan pasukan Kuku Garuda dari istana terjebak di dalam terowongan saluran air dan bahwa kini kedua mulut saluran air dari kolam di taman istana sampai ke jalan keluar itu telah ditutup dan di jaga oleh banyak pasukan pengawal.

“Padahal menurut pendengaran kami, di dalam terowongan itu terdapat banyak ular-ular beracun.” Sim Hoat melanjutkan ceritanya.

“Aihhhhh…!” Cui Lan mendekap mukanya dengan kedua tangannya dan memejamkan mata, ditahannya tangisnya. Dia ngeri membayangkan betapa pemuda yang amat tampan, amat baik dan yang sikap dan gerak-geriknya mengingatkan dia akan pendekar yang dipujanya itu kini terbenam di air saluran dan dikeroyok ular-ular beracun!

“Apakah kalian tidak dapat menolongnya?” Tiba-tiba Gubernur Hok berkata, suaranya lantang dan penuh semangat. “Percayalah, kalau kalian dapat membantunya kelak aku akan memberi ganjaran yang amat besar kepada kalian!”

“Ganjaran? Lopek memberi ganjaran?” Sim Hoat bertanya dan gubernur itu terkejut dan menyadari kesalahan bicaranya. Akan tetapi kembali Cui Lan yang cekatan dan cerdik itu sudah cepat menolongnya.

“Sim-twako, yang dimaksudkan oleh Pamanku adalah ganjaran dari beliau. Karena tentu kami kelak akan menceritakan kepada beliau betapa hebatnya kalian, betapa gagahnya kalian dan mati-matian telah membantu kami. Tentu beliau tidak akan melupakan jasa kalian dan akan memberi ganjaran…“

“Bagus! Kami tentu saja dapat membantunya kalau mengerahkan teman-teman kami!” Sim Hoat sudah terlampau girang mendengar ucapan Cui Lan itu.

“Tek-te (Adik Tek) hayo cepat kau lepaskan tanda rahasia!”

Sim Tek mengangguk dan dengan gendewa di tangan dia kemudian keluar dari dalam pondok, melepaskan anak panah berapi dan tak lama kemudian, berturut-turut dari empat penjuru nampak sinar- sinar kuning melayang di udara sebagai sambutan atas anak panah berapi kuning yang dilepaskan oleh Sim Tek tadi.

Malam itu juga, datanglah dari empat penjuru orang-orang yang bersikap kasar-kasar menakutkan, para pemburu yang sudah biasa hidup di hutan dan hidup dengan liar. Sampai menjelang pagi, di tempat itu sudah berkumpul dua puluh orang yang terdiri dari macam-macam orang, akan tetapi yang rata-rata berperawakan tinggi besar, kuat dan kasar sehingga Cui Lan merasa ngeri juga.

Akan tetapi, biar pun tadinya banyak di antara mereka yang meringis memperlihatkan gigi seperti seekor harimau bertemu domba ketika melihat Cui Lan yang cantik, begitu mendengar dari tiga saudara Sim bahwa dara itu adalah sahabat ‘beliau’, otomatis sikap mereka berubah menjadi lunak dan menghormat biar pun sikap hormat ini kasar pula!

Maka berundinglah mereka dan Cui Lan juga menghadiri perundingan itu dengan hati tabah. Diam-diam Gubernur Hok makin kagum melihat sepak terjang Cui Lan. Gadis ini memang mempunyai sifat-sifat yang mengejutkan dan luar biasa. Seorang pelayan saja kini ternyata dapat bersikap sedemikian hebat, bukan hanya suka menolong dia yang tidak dikenalnya sama sekali dengan taruhan nyawa, tetapi juga kini memperlihatkan kesetiaan yang luar biasa kepada seorang yang dianggapnya baik, yaitu kepada Suma Kian Lee.

Mulai terbukalah mata pembesar ini betapa selama usianya yang enam puluh lima tahun ini, dia tadinya seperti orang buta saja yang memandang kepada orang-orang yang berkedudukan rendah seperti pelayan dan lain-lain, yang dianggapnya adalah manusia-manusia yang berderajat rendah, berpengetahuan dangkal, berpribudi tipis dan lebih mendekati binatang dari pada seorang manusia yang luhur dan mengenal apa artinya hidup dan apa artinya perikemanusiaan dan sebagainya!

Sekarang terbukalah matanya bahwa di dunia ini banyak terdapat orang-orang yang tadinya dikira rendah, hina dan bodoh, yang ternyata bahkan lebih manusiawi dari pada orang-orang besar, lebih memiliki kejujuran, kesetiaan, kewajaran dari pada orang-orang besar yang merasa dirinya penuh pengetahuan dan kepandaian! Bahkan di dalam diri orang-orang kasar seperti para pemburu itu dia menemukan sifat-sifat yang jauh lebih agung dari pada sifat para pembesar, bangsawan, cendekiawan yang biasa menjilat ke atas dan menginjak atau merendahkan ke bawah!

Orang-orang kasar dan liar itu bukan seluruhnya pemburu, bahkan ada yang tadinya menjadi kepala perampok, bajak sungai dan lain-lain. Akan tetapi mereka semua adalah kepala-kepala dan pemimpin- pemimpin rombongan mereka, dan mereka semua telah tunduk kepada Siluman Keicl, maka begitu melihat tanda anak panah berapi kuning sebagai tanda bahwa seorang ‘sahabat’ Siluman Kecil minta bantuan, mereka cepat datang! Di antara mereka, banyak yang belum pernah berjumpa dan belum kenal, akan tetapi mereka kelihatan rukun karena semuanya merasa berada di bawah pengaruh Siluman Kecil yang mereka anggap sebagai manusia dewa itu!

Cui Lan tentu saja seram melihat muka-muka liar dan kasar itu mengelilinginya. Di antara mereka itu, dua orang adik Sim Hoat kelihatan tampan dan ganteng, setidaknya bersih dan umum! Kini dara itu yang diperkenalkan oleh Sim Hoat sebagai sahabat Siluman Kecil yang mohon bantuan mereka, segera menceritakan niatnya untuk menyelamatkan Suma Kian Lee yang terjebak ke dalam terowongan saluran air dan terancam nyawanya itu.

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang menanyakan siapa adanya Suma Kian Lee itu, sungguh pun mereka juga tercengang karena teringat bahwa dulu Siluman Kecil pernah menanyakan she Suma, seperti juga seperti juga yang dialami oleh ketiga orang saudara Sim. Mereka datang untuk membantu nona yang menjadi sahabat Siluman Kecil dan mereka tidak perlu tahu urusan apa itu. Demikianlah kesetiaan mereka terhadap sahabat-sahabat Siluman Kecil, dan andai kata seorang di antara mereka juga mengalami malapetaka, tentu teman-teman ini semua juga akan membelanya mati-matian seperti kalau mereka akan membela Siluman Kecil. Demikian dalam Siluman Kecil menanam rasa setia kawan kepada orang-orang kasar ini.

“Tidak mungkin kita akan menang melawan pasukan-pasukan pengawal Gubernur Ho-nan,” Sim Hoat menyatakan pendapatnya.

“Menang kalah sih bukan soal dan kami pun bukannya takut, hanya amat tidak baik jika golongan kami nanti dicap sebagai pemberontak-pemberontak!” kata salah seorang yang matanya lebar sekali.

“Beliau tentu akan marah kepada kami kalau kami memberontak terhadap kerajaan, memberontak terhadap Gubernur Ho-nan tidak ada bedanya dengan memberontak terhadap pemerintah!” sambung seorang yang mukanya seperti monyet besar dan berbulu!

Cui Lan mengangkat tangannya dan mereka semua terdiam! Gubernur Hok makin kagum, kagum kepada pendekar yang berjuluk Siluman Kecil yang ternyata memiliki pengaruh hebat itu, dan juga kagum terhadap Cui Lan yang tadinya hanya seorang pelayan akan tetapi kini memiliki sifat seperti seorang pemimpin!

“Saya tidak mengharapkan saudara-saudara untuk membunuh diri, apa lagi untuk memberontak. Saya hanya minta bantuan saudara sekalian untuk menyelamatkan pemuda itu yang terjebak di dalam terowongan yang kedua pintunya telah ditutup itu. Dengan membobol terowongan, kalau dia masih hidup tentu dia akan dapat keluar dari situ.”

“Bagus! Nona cerdik bukan main!” “Akal yang baik sekali!”

“Aku setuju!”

Mereka bicara lagi tidak karuan seperti sekawan burung tidur dikejutkan sesuatu.

“Akan tetapi mana mungkin membobol terowongan tanpa diketahui oleh para pasukan pengawas.”

Pertanyaan dari seorang di antara mereka ini membungkam mulut mereka semua dan dua puluh pasang mata yang menyeramkan itu semua ditujukan kepada Cui Lan. Bahkan Gubernur Hok sendiri pun menujukan pandang matanya kepada dara itu karena terus terang saja, biar pun dia seorang gubernur, jadi seorang pembesar yang memiliki kepandaian dan kecerdikan tentunya, kini sama sekali merasa tidak berdaya!

“Saya sudah mengenal jalan terowongan itu. Tempat yang terbaik untuk digali adalah di kebun belakang sebuah kuil. Tempat itu tertutup dan mana mungkin ada pengawal akan memeriksa sebuah kuil? Hanya saya khawatir kalau-kalau penjaga kuil tidak setuju!”

“Kita paksa kepala gundul itu!” “Kita serbu saja kuil ltu!”

Kembali Cui Lan mengangkat tangannya. “Saya harap saudara sekalian tidak berbuat ceroboh. Melakukan perbuatan menolong di dalam ibu kota ini amatlah berbahaya dan harus memakai kecerdikan. Tidak boleh bertindak sendiri-sendiri dan saya mengangkat Saudara Sim Kun untuk memimpin kalian. Kalian, walau pun lebih pandai dari pada Saudara Sim Kun, harus menurut perintah dan petunjuknya.”

Tentu saja Sim Kun girang bukan main dan memang tepatlah pilihan Cui Lan. Dara ini melihat bahwa di antara mereka, hanya Sim Kun yang tidak begitu liar dan memiliki kecerdikan, maka dia memilih pemuda ini.

“Sekarang kita rundingkan bagaimana kita akan dapat menguasai kuil itu untuk sehari saja,” kata pula Cui Lan.

“Kita serbu!”

“Kita bunuh hwesio-hwesio-nya!”

Sim Kun mengangkat tangan ke atas dan mereka semua membungkam. Jelas bahwa mereka telah mentaati perintah Cui Lan tadi dan telah menganggap Sim Kun sebagai pemimpin mereka, yaitu dalam urusan menolong pemuda dalam terowongan itu saja tentunya, bukan pemimpin seterusnya!

“Harap kalian jangan mempunyai pendapat sendiri-sendiri dan dengarlah siasat kita bersama yang baik dan tidak ngawur,” kata Sim Kun.

“Tentu Kun-twako sudah mempunyai akal, bukan?” Cui Lan bertanya dengan cerdik melihat sikap pemuda itu yang dia sebut ‘twako’ pula sehingga wajah pemuda itu berseri gembira.

“Begini,” katanya. “Kita harus menyelundup ke dalam ibu kota dan kita akan menyamar sebagai orang- orang dusun yang hendak bersembahyang di kuil itu. Kemudian, dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, kita tangkap semua hwesio dan membuat mereka tidak berdaya, dan kemudian…” Dengan suara bisik-bisik Sim Kun melanjutkan penuturannya tentang rencana siasatnya.

Sampai lama semua orang mendengarkan dengan serius, kemudian meledaklah suara ketawa mereka. Gubernur Hok diam-diam menarik napas. Siasat mereka ini tidak kalah oleh siasat kelompok perwira- perwira perang yang mengatur siasat!

“Aku percaya kalian tak akan gagal, hanya pintaku agar kalian tidak sampai melakukan pembunuhan, apa lagi terhadap hwesio-hwesio itu. Saya dan Paman Hok akan menanti di sini bersama Hong Bu,” kata Cui Lan akhirnya.

Siang hari itu juga, berangkatlah serombongan petani dengan berpencar ke kota dan memasuki ibu kota tanpa dicurigai karena mereka itu adalah petani-petani biasa. Seperti yang telah direncanakan, petani- petani yang masuknya berpencar, secara berpencar pula memasuki sebuah kuil di pinggir kota, sebuah kuil besar dan karena biasanya orang pergi ke kuil di waktu pagi dan malam, maka siang hari itu agak sunyi. Orang-orang kota yang datang bersembahyang hanya beberapa orang. Mereka ini pun segera pergi meninggalkan kuil, enggan berdesakan dengan orang-orang dusun kasar dan berbau apek yang baru saja memasuki kuil untuk bersembahyang.

Di antara dua puluh orang dusun yang memasuki kuil itu, ada sepuluh orang yang kepalanya tertutup ikat kepala sehingga tidak nampak rambutnya sama sekali. Para hwesio pengurus kuil yang jumlahnya dua belas orang itu sibuk melayani orang-orang dusun ini yang bertanya ini itu dan minta ini itu sehingga mereka sibuk melayani dengan pisah-pisah.

Tidak ada suara terdengar ketika hwesio-hwesio itu dirobohkan dengan totokan-totokan, diikat dan sepuluh orang yang kepalanya ditutupi tadi kini menanggalkan ikat kepala dan ternyata bahwa kepala mereka sudah digunduli licin seperti kepala para hwesio! Cepat mereka lalu menanggalkan jubah hwesio-hwesio itu dan muncullah kini sepuluh orang hwesio baru menjaga dan melayani kuil, sedangkan dua belas orang hwesio itu setelah diikat kaki tangannya dan disumpal mulutnya lalu dilempar ke dalam gudang di belakang dan dikunci dari luar!

Hwesio-hwesio baru itu tentu saja canggung dan kaku ketika ada tamu yang datang bersembahyang, akan tetapi dengan cerdiknya mereka itu menceritakan bahwa mereka memang hwesio-hwesio baru yang dilatih melayani tamu dan kalau ada pelayanan yang kurang memuaskan mereka mohon maaf! Selagi mereka ini sibuk melayani tamu-tamu yang mulai berdatangan karena hari mulai senja, yang lain-lain sibuk menggali lubang di kebun belakang kuil dipimpin oleh Sim Hoat, karena Sim Kun yang cerdik itu pun termasuk seorang di antara ‘hwesio-hwesio’ baru itu!

Sementara itu, keadaan Suma Kian Lee dan komandan Pasukan Kuku Garuda itu benar-benar amat sengsara. Karena di dekat pintu air dekat sungai itu jalan keluarnya telah ditutup dan air makin lama makin naik tinggi, terpaksa Kian Lee lalu kembali ke hilir sambil meraba-raba karena keadaannya sangat gelap. Berbeda dengan tadi ketika berjalan mengikuti aliran air, kini perjalanan kembali amatlah sukarnya. Selain air naik makin tinggi, juga Kian Lee harus memapah komandan yang lumpuh separuh badannya itu.

Akhirnya sampai juga dia di pintu air yang dihancurkan oleh senjata peledak tadi, di taman istana gubernuran. Akan tetapi betapa kaget hatinya melihat bahwa lubang di tempat ini pun telah ditutup! Dia dan komandan itu sekarang benar-benar seperti tikus terjebak, tidak bisa keluar lagi dan air di saluran dalam terowongan itu semakin lama semakin tinggi! Walau pun air dari kolam sudah habis, akan tetapi karena saluran itu menampung air pembuangan dari semua bagian istana, tentu saja makin lama makin bertambah, dan yang bertambah jauh lebih banyak dari pada yang dapat mengalir keluar melalui celah- celah batu yang menutup mulut terowongan. Maka dengan sendirinya air naik makin tinggi!

Tadi ketika air masih setinggi lutut, bahkan ketika mencapai pinggang, Kian Lee masih dapat ke sana-sini untuk mencari-cari, kalau-kalau terdapat jalan keluar lain di samping dua mulut terowongan depan dan belakang yang sudah ditutup itu. Akan tetapi, yang ada hanya lubang-lubang kecil yang merupakan cabang terowongan dari mana air mengalir dari segala jurusan. Akan tetapi sekarang air sudah sampai di bawah leher! Sukar sekali untuk maju dan dengan setengah berenang. Sambil menggandeng tangan komandan itu, Kian Lee tidak mau menyerah begitu saja dan selalu mencari bagian yang dangkal. Dia maklum bahwa kalau air sudah memenuhi saluran itu mereka berdua akan tewas, akan tetapi sebelum mereka mati dia harus berdaya dan mencari jalan keluar.

Mereka tidak mengenal waktu karena di dalam terowongan itu cuaca selalu gelap. Dan melihat betapa pemuda itu tiada hentinya hilir-mudik sambil menggandeng lengannya dengan susah payah, komandan pasukan Kuku Garuda itu berkata lemah, “Taihiap… tidak ada gunanya lagi… dari pada menghabiskan tenagamu yang tinggal sedikit itu… lebih baik… mari kita hadapi maut dengan tenang…“

“Aku tidak takut mati, Ciangkun. Akan tetapi sebelum hayat meninggalkan badan kita pantang menyerah begitu saja!”

Komandan itu menarik napas panjang, kagum akan semangat pemuda ini yang tak kunjung pandam. “Akan tetapi mati hidup di tangan Tuhan, Taihiap.”

“Mungkin engkau benar, Ciangkun, akan tetapi kita pun telah diberi perlengkapan untuk berusaha sekuat tenaga mempertahankan hidup dan itu harus kita pergunakan, apa lagi menghadapi ancaman maut seperti sekarang ini.”

Terpaksa komandan itu tidak mampu membantah dan dia pun memaksa tubuhnya yang hampir tidak kuat lagi mengikuti kemana pun pemuda itu bergerak. Mereka sama sekali tak menyangka bahwa sudah dua hari mereka berada di dalam terowongan itu bergulat dengan maut! Tidak tahu bahwa saat itu sudah menjelang malam yang ketiga!

“Taihiap… sebelum kita mati… aku ingin sekali mati sebagai salah seorang sahabatmu. Perkenalkanlah, saya bernama Souw Kee An… dan siapakah nama Taihiap?” berkata Panglima Pasukan Kuku Garuda itu yang sudah bertahun-tahun menjadi komandan pasukan pengawal di istana, bahkan ternyata dia adalah adik dari pengawal kaisar yang bernama Souw Kee It yang muncul dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali.

Tentu saja Suma Kian Lee tidak merasa keberatan sedikit pun, maka dengan sejujurnya dia menjawab, “Namaku adalah Suma Kian Lee, Ciangkun.”

Panglima itu terkejut dan memandang ke arah Suma Kian Lee sungguh pun dia tidak melihat apa-apa kecuali kehitaman yang padat. “Suma…? Suma Kian Lee…? Ahhh… Keluarga Suma dari Pulau Es ?”

Kian Lee menghela napas. Dia tidak perlu menyembunyikan diri lagi, apa lagi terhadap seorang panglima pengawal istana. Pula, apa sih bedanya keluarga Pulau Es dengan orang biasa dalam menghadapi kematian secara tidak berdaya itu?

“Kau benar, Ciangkun.”

“Ahhh…! Mataku seperti buta tidak mengenal orang pandai! Ahhh, Suma-taihiap, kau maafkan saya…“

“Sudahlah, Ciangkun. Dengar… aku seperti mendengar sesuatu…!” Tiba-tiba Kian Lee tidak bergerak dan mengerahkan tenaga pendengarannya untuk menangkap suara itu. Komandan Souw Kee An juga tidak bergerak dan memasang telinga mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Dukkk! Dukkk! Dukkk!”

Suara ini terus-menerus terdengar, makin lama makin keras seolah-olah ada sesuatu yang memukul-mukul di atas mereka. Kian Lee belum dapat menduga suara apa yang terdengar itu, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, apa pun menarik perhatian dan lalu bergerak mencari-cari sambil memapah Souw-ciangkun, menuju ke arah suara sampai dia tiba tepat di bawah suara itu. Suara itu makin terdengar keras dan karena bergema di seluruh terowongan maka terdengar menyeramkan sekali.

Tiba-tiba tangan Panglima Souw mencengkeram lengan Kian Lee di dalam air yang sudah mencapai leher mereka itu. “Suara orang menggali di atas kita!” teriaknya dengan suara serak dan tergetar penuh harapan.

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi, Ciangkun. Tidak perlu terlalu mengharap karena yang mengharapkan mungkin akan kecewa. Kita tidak tahu siapa yang menggali itu, kawan ataukah lawan. Oleh karena itu kita bersiap-siap saja dan kalau nanti lubang sudah terbuka dan ternyata mereka adalah lawan, kuharap Ciangkun suka bersembunyi di sini saja dulu, dan biarkan aku yang meloncat keluar menghadapi mereka.”

“Baik, Suma-taihiap.”

Suara itu makin keras saja dan akhirnya nampaklah sebuah lubang! Dan terdengarlah suara orang-orang di atas, kemudian lubang itu makin lebar. Hawa segar memasuki terowongan itu dan dua orang itu menarik napas dalam-dalam. Di atas lubang itu pun hitam, akan tetapi tidak segelap di bawah, dan setelah lubang itu cukup besar, mulailah nampak bayang-bayang muka orang di atas lubang dan jauh tinggi sekali nampak berkelap-kelipnya bintang-bintang! Pemandangan ini sungguh amat menyedapkan mata kedua orang itu. Akan tetapi mereka tetap tidak bergerak, sungguh pun seluruh urat syaraf mereka menegang. Setiap ada kesempatan harus dia pergunakan sebaiknya, pikir Suma Kian Lee. Kalau yang di atas itu pihak musuh, dia harus menyergap dan menyerbu keluar dan sekarang dia akan melawan mati-matian!

Sebuah kepala nampak di lubang yang besar itu, lalu terdengar suara parau kasar, “Apakah ada yang bernama Suma Kian Lee di bawah sana?”

Suara ini bergema dengan aneh, seperti suara iblis dari neraka saja layaknya. Kian Lee tidak menjawab, menanti perkembangan selanjutnya karena dia tidak tahu siapakah mereka itu dan mendengar suaranya, di atas itu terdapat banyak sekali orang!

Pertanyaan itu diulang lagi, dengan suara yang lebih keras dan ada lanjutanya, “Apakah ada yang bernama Suma Kian Lee di bawah sana? Kami diutus oleh Nona Phang Cui Lan, sahabat Siluman Kecil, untuk menolongmu!”

“Suma Kian Lee berada di sini!” Kian Lee menjawab, suaranya nyaring hingga terdengar oleh semua orang yang berada di atas. Mereka itu kelihatan girang karena ada suara-suara tertawa lega.

“Kalau begitu naiklah melalui tali ini!” terdengar suara yang kasar parau itu lagi, lalu nampak sehelai tali besar diturunkan dari lubang, seperti seekor ular.

“Taihiap, biarkan saya naik dulu. Kalau ini merupakan jebakan, biarlah saya dulu…“ “Tidak, aku akan naik dulu, Ciangkun.”

“Taihiap, kalau ini jebakan dan kau naik dulu kemudian kau terjebak, berarti kita berdua akan mati. Sebaliknya, kalau aku yang naik dulu dan terjebak, hanya aku yang akan mati karena Taihiap dapat mengetahui dan menghindarkan jebakan itu. Biarkan aku naik dulu!”

“Engkau gagah sekali, Ciangkun. Akan tetapi jangan khawatir, aku tidak akan mudah mereka celakakan di atas sana. Pula, aku yakin mereka itu tentu orang-orang yang hendak menolong, apa lagi tadi menyebut nama Phang Cui Lan, dan andai kata mereka itu adalah musuh, perlu apa susah-susah menolong kita? Mereka tentu tahu bahwa membiarkan kita begini saja, kita akan mati sendiri.”

Panglima itu tidak membantah lagi dan Kian Lee lalu menyambar tali dan merayap naik, tentu saja dia sudah siap dengan sinkang melindungi tubuh dan satu di antara kedua tangannya bebas dan siap untuk menghadapi serangan. Tali itu ditarik dari atas dan ketika Kian Lee meloncat ke luar, dia melihat belasan orang laki-laki yang berpakaian seperti petani dan ternyata mereka itu benar-benar hendak menolong karena tidak ada seorang pun yang kelihatan hendak menyerangnya.

Kian Lee lalu menurunkan lagi tali itu ke dalam lubang sambil berseru ke bawah. “Souw-ciangkun, sekarang naiklah!”

Dengan satu tangannya, panglima itu bergantung kepada tali dan ditarik ke atas oleh Kian Lee. Setelah keduanya berada di atas, Kian Lee dan Souw-ciangkun menjura pada belasan orang itu dan Kian Lee berkata, “Banyak terima kasih atas pertolongan Cu-wi sekalian. Sekarang, di manakah adanya Nona Phang Cui Lan?”

Tanpa banyak cakap Sim Hoat dan teman-temannya lalu berkata, “Mari kita pergi!” dan Kian Lee berdua panglima itu terheran-heran melihat hwesio-hwesio ikut pula bersama rombongan mereka dan jumlah mereka yang menolong itu ada dua puluh orang!

Kiranya hwesio-hwesio yang jumlahnya sepuluh orang itu hanya hwesio-hwesio palsu karena di tengah jalan mereka menanggalkan pakaian hwesio dan di bawah jubah ini ternyata mereka berpakaian seperti petani pula. Kian Lee dan Panglima Souw juga diberi pakaian petani itu, dan dengan menggotong Souw- ciangkun yang tidak dapat berjalan, mereka berangkat meninggalkan kota. Dengan cepat mereka menuju ke hutan di mana Cui Lan dan Gubernur Hok menanti.

Air mata bercucuran dari sepasang mata Cui Lan yang bening ketika dia melihat orang-orang kasar itu berhasil menyelamatkan Kian Lee, dan pemuda ini pun dengan hati terharu memegang tangan dara itu. “Terima kasih… terima kasih… Cui Lan,” katanya berulang-ulang.

“Jangan kepada saya, Kongcu, melainkan kepada dia…” “Siluman Kecil?”
Cui Lan mengangguk dan kedua pipinya merah.

“Sekali waktu aku pasti akan bertemu dengan dia dan menghaturkan terima kasihku.”

Souw-ciangkun ketika bertemu dengan Gubernur Ho-pei, yang tidak dikenal oleh Kian Lee, segera menjura dengan penuh hormat sambil berkata, “Syukur bahwa Taijin ternyata dapat diselamatkan, akan tetapi Pangeran…“ Dan komandan pengawal ini mengeluh karena begitu dipakai bergerak, tubuhnya terasa sakit- sakit dan dia tentu terguling roboh kalau tidak cepat disambar oleh Kian Lee dan dibaringkan.

“Engkau harus kuobati dulu, Ciangkun. Kalau tidak bisa berbahaya!” Kian Lee kemudian membawa komandan itu ke dalam kamar di pondok, membaringkannya di atas lantai yang bertilam daun kering, kemudian dia sendiri duduk di dekatnya dan menggunakan sinkang untuk mengusir hawa beracun dari tubuh panglima itu.

Hanya dalam waktu beberapa jam saja, pendekar muda ini telah berhasil membersihkan hawa beracun dari tubuh Souw-ciangkun, dan biar pun tubuhnya masih terasa lemah, namun Souw-ciangkun sudah sehat kembali. Mereka berdua lalu makan nasi yang dihidangkan oleh Cui Lan dan Hong Bu, makan dengan lahapnya karena selama tiga hari mereka itu sama sekali tidak makan apa-apa.

“Kemanakah perginya orang-orang yang menolong kami semalam?” tanya Kian Lee ketika melihat keadaan yang sunyi di pondok itu.

Cui Lan menggelengkan kepala. “Mereka telah pergi semua, tak mungkin dapat ditahan lagi. Mereka berkumpul dan menolong Kongcu atas permintaanku itu karena nama Siluman Kecil. Setelah tugas mereka selesai, tugas yang akan mereka lakukan dengan taruhan nyawa demi Siluman Kecil, kini mereka lalu pergi. Urusan kita selanjutnya tidak mereka pedulikan karena mereka hanya mau bergerak karena mengingat pendekar itu.” Lalu Cui Lan menceritakan pengalamannya sejak ia melarikan Gubernur Ho-pei sampai bertemu dengan para pemburu dan nyaris saja dia dan Hok-taijin mati terbakar hidup-hidup.

“Bukan main Siluman Kecil itu!” Kian Lee memuji penuh kagum.

“Akan tetapi bagi saya, yang lebih hebat adalah Nona Phang Cui Lan ini, Taihiap,” kata Gubernur Hok yang sudah mendengar dari Souw-ciangkun tentang kegagahan Suma Kian Lee membantu pihak istana menentang para jagoan Ho-nan. “Dia ini hanyalah seorang gadis muda yang lemah, namun sepak terjangnya sungguh tidak kalah oleh seorang pendekar yang perkasa!”

“Ah, Taijin bisa saja memuji orang…“ Cui Lan menunduk dengan muka merah.

“Memang, saya pun mengerti, Taijin,” kata Kian Lee. “Memang engkau patut menjadi sahabat baik Siluman Kecil, Cui Lan.”

“Sudahlah, Suma-kongcu. Kalian hanya membuat saya merasa malu saja, sebaiknya sekarang dipikirkan bagaimana dengan nasib Pangeran utusan Kaisar itu dan para pengawal beliau.”

“Aku pun sedang memikirkan hal itu dan karena Souw-ciangkun sendiri masih lemas, biarlah aku sendiri yang menyelidiki ke sana malam ini.”

“Aihhh…, itu berbahaya sekali, Kongcu!” Cui Lan berseru sambil matanya terbelalak penuh khawatir. “Kami dengan susah payah membantu Kongcu keluar dari terowongan maut itu dan sekarang Kongcu malah hendak ke kota yang penuh dengan bahaya itu!”

Kian Lee merasa terharu. Dara ini benar-benar seorang wanita yang memiliki watak halus dan berbudi mulia. Berbahagialah pria yang dicintai oleh seorang wanita seperti Cui Lan ini, pikirnya dan diam-diam dia agak iri juga kepada Siluman Kecil dan juga diam-diam berjanji pada diri sendiri bahwa kelak tentu Siluman Kecil akan berhadapan dengan dia sebagai lawan. Hanya seorang yang berhati mati saja yang tidak akan menerima cinta kasih seorang dara berperasaan halus dan berbudi mulia seperti Cui Lan!

“Ahhh, Cui Lan, engkau belum tahu siapa adanya Suma-taihiap ini! Engkau masih menganggap dia seorang pemuda terpelajar yang lemah. Ha-ha!” kata Gubernur Hok.

“Nona Phang, ketahuilah bahwa Suma taihiap ini tidak kalah saktinya dengan pendekar yang berjuluk Siluman Kecil itu!” kata pula Souw Kee An.

“Ahhh…!” Sepasang mata itu memandang Kian Lee penuh selidik dan pemuda ini tersenyum, diam-diam menyesal mengapa panglima itu lancang mulut sehingga selain mengejutkan juga dapat menurunkan pandangan nona itu yang teramat tinggi terhadap Siluman Kecil.

“Jangan percaya kepadanya, Cui Lan, Souw-ciangkun hanya suka berkelakar. Nah, aku harus berangkat sekarang juga. Harap Taijin dan Cui Lan menanti di sini, dan kau lindungi dia dulu, Souw-ciangkun. Setelah aku kembali, baru kita berunding lagi bagai mana baiknya. Syukur-syukur kalau aku berhasil menolong dan membawa Pangeran Yung Hwa ke sini.”

Maka berangkatlah Kian Lee, diiringkan pandang mata penuh harapan oleh Gubernur Hok dan Souw- ciangkun, akan tetapi pandang mata Cui Lan penuh kekhawatiran…..

********************

Tidaklah sukar bagi Kian Lee untuk menyelundup masuk ke dalam kota Lok-yang di Ho-nan. Dengan ilmunya yang tinggi, mudah saja dia meloncati dinding tembok di sekeliling kota dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk menuju ke istana Gubernur Ho-nan.

Malam itu sunyi. Semenjak peristiwa keributan yang terjadi di taman istana, memang keadaan ibu kota menjadi sunyi dan penduduk banyak yang merasa takut keluar malam. Penjagaan diperketat, tetapi dengan mudah Kian Lee menggunakan ginkang-nya meloncat ke atas pagar tembok istana dan terus meluncur ke dalam. Dengan sigap dia telah menotok roboh seorang penjaga yang sedang meronda di dekat taman, lalu menyeretnya ke semak-semak dan mengancamnya, “Kubunuh kau kalau kau berani berteriak!”

Di dalam keadaan yang remang-remang itu, penjaga ini tidak dapat melihat muka Kian Lee dengan jelas, dan andai kata dapat melihat pun, dia tidak akan mengenal wajah pemuda ini yang baru satu kali datang sebagai tamu dan belum banyak dikenal, kecuali oleh pasukan yang dulu menghadangnya.

“Ampun, Hohan…!” penjaga itu memohon.

“Aku tak akan membunuhmu asal engkau suka menceritakan di mana adanya Pangeran Yung Hwa!” Kian
Lee mengancam.

“Ampun… siapa Pangeran Yung Hwa…? Saya tidak tahu, Hohan…“

Kian Lee mengerutkan alisnya. “Kau tidak kenal? Pangeran yang menjadi utusan Kaisar tempo hari…”

“Ah, kalau beliau tentu saja saya tahu. Yang menjadi utusan Kaisar dan kemudian terjadi keributan di taman?”

“Ya, benar. Di mana dia ditahan?”

“Ditahan? Saya sungguh tidak mengerti apa maksudmu, Hohan.”

“Bukankah kau sendiri bilang terjadi keributan di taman ketika Pangeran itu muncul, lalu diserang dan ditangkap?”

“Ahh, sama sekali tidak, Hohan. Memang terjadi keributan antara jagoan-jagoan Ho-nan melawan jagoan- jagoan Ho-pei, akan tetapi tidak ada yang berniat buruk terhadap Pangeran utusan Kaisar. Bahkan pada keesokan harinya pun utusan itu telah kembali ke kota raja dengan pengawalan ketat.”

“Bohong! Kubunuh kau kalau membohong!” “Saya… saya tidak berani membohong Hohan!”

Kian Lee menjadi bingung, lalu dia menotok lagi agar orang itu tidak mampu bergerak atau mengeluarkan suara, kemudian dia meninggalkannya di balik semak-semak dan karena penasaran, Kian Lee lalu mencari dan akhirnya dia berhasil menyergap dan menangkap seorang perwira pengawal seperti yang dilakukannya kepada prajurit itu. Akan tetapi, keterangan perwira pengawal ini pun sama dengan apa yang didengarnya dari si prajurit. Sungguh mengherankan!

Suma Kian Lee menjadi penasaran sekali. Para prajurit dan perwira itu tentu saja sudah diperintahkan untuk membuat pengakuan seperti itu setiap kali ada penyelidik datang hendak menolong Pangeran Yung Hwa. Betapa bodohnya dia! Satu-satunya orang yang akan dapat dia paksa membebaskan Pangeran Yung Hwa hanyalah si gubernur sendiri. Dia harus menangkap Gubernur Kui Cu Kam dan memaksanya membebaskan Pangeran Yung Hwa! Dia sudah memperhitungkan bahayanya.

Menurut penglihatannya kemarin dulu ketika terjadi pertempuran, yang patut dianggap lawan berat hanya beberapa orang, yaitu Mauw Siauw Mo-li dan Ho-nan Ciu-lo-mo serta beberapa orang panglima pengawal saja. Bahkan baginya, hanya dua orang itulah yang merupakan lawan yang cukup tangguh, namun dia yakin akan dapat mengatasi mereka berdua.

Yang dikhawatirkan hanya kalau semua pasukan dikerahkan. Tentu saja tidak mungkin dia dapat menghadapi pengeroyokan ratusan orang pasukan, apa lagi di dalam istana yang masih asing baginya. Kalau sampai demikian halnya, tentu akan gagal usahanya menangkap gubernur itu. Yang penting adalah menyelundup dan kemudian diam-diam menangkap gubernur itu, karena kalau gubernur itu sudah ditawannya, tentu yang lain-lain akan mundur teratur. Juga dia akan membawa pula gubernur yang memberontak itu sebagai tawanan ke kota raja!

Dengan keputusan hati yang bulat ini Kian Lee lalu melayang naik ke atas wuwungan istana, mendekam karena khawatir kalau-kalau di atas genteng terdapat pula penjaga-penjaga. Ternyata dugaannya betul, namun hanya terdapat dua orang yang menjaga di menara untuk mengamati keamanan di atas genteng- genteng.

“Aku harus merobohkan mereka dulu, baru dapat bergerak dengan leluasa mencari kamar gubernur,” pikir Kian Lee.

Bagaikan seekor kucing saja, dia bergerak-gerak di atas genteng tanpa mengeluarkan suara, menghampiri tempat pejagaan di menara itu, sedikit pun tidak diketahui oleh dua orang penjaga yang sedang bercakap- cakap.

“Ah, kenapa kita masih harus melakukan penjagaan yang begini ketat? Sampai-sampai semua atap harus diawasi seolah-olah ada musuh yang akan terbang ke sini,” seorang di antara mereka mengeluh.

“Ah, siapa tahu!” bantah orang kedua. “Semenjak utusan Kaisar itu datang dan pulang, kita harus berjaga- jaga karena sudah pasti pihak Ho-pei tidak mau tinggal diam begitu saja. Demikian yang kudengar dari para perwira.”

Kian Lee yang sudah siap untuk menerjang itu menunda gerakannya dan merasa makin heran. Dua orang ini sedang bercakap-cakap tanpa paksaan dia, tetapi toh mereka menyatakan bahwa utusan kaisar sudah pulang. Bagaimana ini? Benarkah Pangeran Yung Hwa tidak menjadi tawanan Gubernur Ho-nan?

Dua orang itu kini membalikkan tubuh untuk memeriksa keadaan di sekeliling mereka dan pada saat itu Kian Lee meloncat. Dua kali tangannya bergerak, dua orang penjaga itu roboh pingsan karena tengkuk mereka kena disambar oleh jari tangan Kian Lee. Cepat pendekar ini menotok mereka sehingga untuk waktu yang agak lama mereka akan lumpuh dan menyumpal mulut mereka dengan robekan baju mereka sendiri, kemudian dia berloncatan di atas genteng mencari-cari kamar gubernur.

Selagi dia mencari-cari dan mengintai, tiba-tiba dia mendengar suara ketawa yang mengejutkan hatinya. Suara ketawa macam itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki khikang tinggi dan amat kuat! Suara itu bergema dan menggetarkan genteng yang diinjaknya, lalu dia mendengar suara orang bercakap- cakap dari arah datangnya suara ketawa itu. Dengan hati tertarik dan amat hati-hati karena dia tahu bahwa ada orang pandai di bawah sana, Kian Lee lalu menghampiri tempat itu dan mendekam di atas genteng lalu mengintai ke bawah.

Akan tetapi, berbeda dengan ruangan-ruangan lain, ruangan di bawah ini ternyata rapat dan di bawah genteng itu terdapat langit-langit sehingga dia tidak dapat melihat ke dalam ruangan. Kian Lee mendongkol sekali karena kini dia merasa yakin bahwa sang gubernur yang dicari-cari itu berada di bawah genteng ini! Hal ini dapat dia ketahui karena suara yang besar dan mengandung tenaga khikang amat kuat, agaknya suara orang yang tertawa tadi, berkata dengan nyaring.

“Percayalah, Kui-taijin, semua akan berjalan dengan baik menurut rencana!” kemudian dia mendengar langkah kaki yang berat sekali, seperti gajah berjalan, dan suara itu terdengar lagi, “Harap Taijin beristirahat dan besok kita sambung lagi perundingan kita.”

Kian Lee cepat melayang turun dari atas genteng, bersembunyi di balik dinding dan mengintai. Dilihatnya seorang laki-laki yang tubuhnya sangat besar, seperti raksasa, kepalanya botak dan besar sekali, keluar dari ruangan itu. Raksasa ini sukar ditaksir usianya, tetapi tentu sudah lebih dari setengah abad. Sungguh pun tubuhnya besar sekali namun gerak-geriknya lemas dan gesit, pakaiannya mewah dengan memakai sehelai jubah mantel berwarna merah dan sepatunya memakai tapal baja. Langkahnya lebar dan tetap, kadang-kadang mengeluarkan bunyi seperti seekor gajah lari, kadang-kadang tidak berbunyi sama sekali seperti seekor harimau melangkah. Sebentar saja kakek ini lenyap dan diam-diam Kian Lee menarik napas panjang. Orang itu sudah jelas merupakan lawan yang amat tangguh, taksirnya.

Akan tetapi karena yang dicarinya berada di kamar itu, dia tidak mempedulikan lagi kakek raksasa itu, dan mengintai dari jendela. Ruangan itu luas, merupakan ruangan perundingan agaknya, dengan banyak kursi dan meja yang panjang besar. Hatinya girang bukan main ketika dia melihat sang gubernur kini duduk seorang diri di sudut ruangan itu, di atas kursi dan menghadapi sebuah meja, agaknya sedang menuliskan sesuatu di atas buku yang terletak di atas meja, di depannya. Inilah kesempatan yang baik, pikir Kian Lee. Lebih baik dia cepat turun tangan sebelum ada pengawal datang.

Dengan gerakan kilat, Kian Lee menerobos melalui pintu dari mana kakek raksasa tadi keluar dan sedetik kemudian dia telah berdiri di tengah ruangan itu, memandang kepada Gubernur Kui Cu Kam yang masih duduk di atas kursi. Akan tetapi, tiba-tiba gubernur itu menoleh, memandang kepadanya dan mendadak kursi yang diduduki gubernur itu berikut mejanya amblas ke dalam lantai!

“Heiiiii!” Kian Lee terkejut dan meloncat, akan tetapi ketika dia tiba di sudut tempat itu, meja dan kursi berikut sang gubernur telah lenyap dan lantai itu telah tertutup kembali!

“Ha-ha-ha-ha!” Suara ketawa yang menggetarkan seluruh ruangan itu terdengar dan ketika Kian Lee menengok, ternyata kakek botak raksasa itu telah berdiri di ambang pintu, berdiri tegak dengan dua kaki terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan perutnya yang besar bergoncang-goncang ketika dia tertawa.

Mengertilah Kian Lee bahwa dia telah tertipu, maka dengan marah dia lalu meloncat ke depan, kemudian menggerakkan kedua tangannya mendorong kakek raksasa itu sambil membentak, “Pergilah!”

Kian Lee adalah seorang pemuda yang berwatak halus dan dia sama sekali tidak mau membunuh orang begitu saja. Dia tak mengenal kakek ini, sungguh pun dia tahu bahwa kakek ini adalah kaki tangan Gubernur Ho-nan yang agaknya tadi telah mengetahui akan kedatangannya dan mengatur siasat untuk menjebaknya di ruangan itu. Maka ketika dia menyerang untuk meloloskan diri, dia hanya menggunakan setengah tenaga sinkang-nya karena dianggapnya itu sudah cukup dan agar jangan sampai dia melukai orang dan membahayakan keselamatan orang itu.

Kakek itu dengan kedua kaki masih terpentang lebar, agaknya memandang rendah kepada pukulan kedua tangan pemuda itu. Buktinya, dia sama sekali tidak mengelak dari pukulan itu, juga tidak menangkis, melainkan juga menggerakkan kedua tangannya menyambut dengan pukulan telapak tangan yang didorongkan.

Kian Lee terkejut sekali. Dia mengenal keampuhan pukulannya sendiri yang dilakukan dengan tenaga Swat-im-sin-kang, yaitu Tenaga Sakti Inti Es yang amat ampuh, tenaga sakti dari ayahnya yang dilatihnya di Pulau Es. Karena dia tidak ingin mencelakakan orang, maka kembali dia mengurangi tenaganya dengan agak menahan pukulan kedua tangannya yang mendorong itu.

“Desssss…!”

Akibat benturan dua pasang telapak tangan itu, tubuh Kian Lee lalu terjengkang dan terlempar sampai jauh ke dalam ruangan itu!

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Kakek raksasa itu tertawa bergelak, suara ketawanya menggetarkan ruangan dan tadi ketika bertemu tenaga sakti, tubuhnya hanya bergoyang sedikit saja!

Dan pada saat itu, kelihatan dua orang menubruknya dan mereka ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li dan Ho-nan Ciu-lo-mo! Kiranya dua orang ini juga telah bersembunyi di balik pintu-pintu rahasia dan begitu melihat dia terjengkang dan bergulingan, mereka sekarang menubruk dengan serangan maut mereka. Mauw Siauw Mo-li menggunakan pedangnya yang bersinar hijau itu menusuk ke arah dadanya, sedangkan Ho-nan Ciu-lo-mo menggunakan guci arak menghantam ke arah kepalanya!

Akan tetapi biar pun tubuhnya terlempar dan bergulingan, Kian Lee sama sekali tidak terluka. Kalau dia terpental, hal itu hanyalah karena dia hanya menggunakan tenaganya sedikit saja, hanya kurang dari setengahnya dan ternyata, di luar dugaannya, kakek botak raksasa itu benar-benar lihai bukan main! Kiranya kalau dia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, baru dia akan dapat menandingi kakek itu! Betapa bodohnya!

Dengan ginkang-nya yang sangat hebat, yang hanya kalah oleh ilmu mukjijat ayahnya yang disebut Gerakan Angin dan Petir, yaitu gerakan khas ayahnya sebagai seorang pendekar kaki tunggal yang terkenal sebagai Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Kian Lee menggerakkan tubuhnya melesat dari bawah hingga hanya nampak bayangan berkelebat dan dua serangan maut itu hanyalah mengenai tempat kosong! Nyaris dia celaka, pikirnya dan karena tahu bahwa usahanya gagal sama sekali, tubuhnya mencelat lagi ke arah daun jendela yang masih tertutup.

“Brakkk!”

Daun jendela pecah kena terjangan tubuhnya dan terdengar pekik kesakitan ketika empat orang pengawal di luar jendela itu kena diterjang pula oleh kaki Kian Lee hingga mereka terpental dan terguling-guling. Kiranya di luar ruangan itu telah menanti banyak sekali pengawal! Kian Lee tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Sebelum kakek raksasa yang lihai bersama dua orang lihai tadi keluar, dia sudah meloncat ke atas genteng dan melarikan diri.

Teriakan disusul sambaran anak panah sama sekali tiada artinya bagi Kian Lee yang melarikan diri secepatnya. Untung bahwa kakek raksasa itu, mungkin karena tubuhnya yang terlalu berat dan besar, tidak memiliki ginkang yang terlalu tinggi sehingga tidak mengejarnya. Di antara mereka, yang ginkang-nya paling lihai adalah Mauw Siauw Mo-li, tetapi wanita ini agaknya tidak berani mengejar sendirian karena dia pun maklum bahwa pemuda itu luar biasa sekali dan amatlah berbahaya kalau dia berhadapan seorang diri saja melawan pemuda itu.

Sambil melarikan diri, Kian Lee merasa heran dan menduga-duga siapa adanya kakek yang lihai itu. Ketika terjadi keributan tempo hari, dia tidak melihat kakek itu dan andai kata pada waktu itu terdapat kakek itu di pihak Gubernur Ho-nan, agaknya dia tidak akan dapat lolos dengan selamat, juga Gubernur Ho-pei dan Cui Lan tidak akan dapat lolos demikian mudahnya.

Tentu saja pemuda ini tidak mengenal kakek raksasa itu, bahkan seluruh tokoh dunia kang-ouw agaknya juga tidak ada yang mengenalnya, kecuali mereka yang pernah pergi ke negeri Nepal, jauh di barat, di sebelah selatan Pegunungan Himalaya. Kakek ini adalah utusan dari negeri Nepal dan selain utusan, juga dia adalah seorang yang berpangkat tinggi di negeri itu, yaitu sebagai kok-su (guru negara). Selain berkedudukan tinggi dan dipercaya oleh Raja Nepal, kakek ini memiliki kepandaian yang hebat, karena dia masih peranakan Han dan dahulu di waktu mudanya dia memperoleh pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dan setelah dia merantau ke Nepal dia dapat meraih kedudukan tinggi berkat kepandaiannya itu.

Ketika mendengar betapa pemberontakan dua orang Pangeran Liong yang gagal itu mengakibatkan kemunduran sinar kekuasaan Kaisar Kang Hsi yang sudah tua, maka Kerajaan Nepal yang tadinya juga menjadi negara taklukan atau lebih tepat lagi sebagai negara yang mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng- tiauw (Mancu), kemudian berusaha mendekati daerah-daerah yang menentang kaisar untuk bersekutu! Untuk memberontak sendiri, Nepal merasa kurang kuat, akan tetapi kalau ada gubernur yang memberontak, mereka akan membonceng. Demikianlah, ketika mendengar akan sikap Gubernur Kui Cu Kam dari Propinsi Ho-nan yang kelihatan mulai menjauhkan diri dari pemerintah pusat, raja mengirim utusan untuk mendekatinya.

Utusan itu adalah kakek itu, yang di timur mengaku berjuluk Ban-hwa Sengjin. Nama ini memang sudah terkenal di wilayah Tiongkok bagian barat, dari Tibet sampai ke wilayah Secuan. Baru sekarang Ban-hwa Sengjin membawa belasan orang pengawal pilihan yang menjadi pembantu-pembantunya untuk berkunjung ke Ho-nan dan kebetulan sekali dia mendengar akan keributan di gubernuran itu.

Tadi Ban-hwa Sengjin sedang mengadakan perundingan dengan Gubernur Kui, dan dia yang berilmu tinggi dapat mengetahui bahwa ada orang pandai datang mengintai, maka diam-diam dia lalu memberi isyarat kepada gubernur dan sang gubernur juga cepat membunyikan alat rahasia untuk memberi tahu kepada kepala pengawal. Lalu diaturlah oleh Ban-hwa Sengjin untuk menjebak musuh, akan tetapi ternyata pemuda yang lihai itu berhasil juga meloloskan diri.

Cui Lan girang bukan main melihat Suma Kian Lee kembali dalam keadaan selamat, akan tetapi Gubernur Ho-pei dan Komandan Souw Kwe An kecewa melihat pemuda itu kembali seorang diri saja tanpa membawa Pangeran Yung Hwa.

“Bagaimana dengan Sang Pangeran?” Gubernur Hok bertanya gelisah.

Kian Lee lalu menceritakan pengalamannya ketika dia mendengar pengakuan para pengawal yang ditawannya dan juga percakapan antara dua orang penjaga yang semua menyatakan bahwa Pangeran Yung Hwa telah kembali ke kota raja pada keesokan harinya setelah terjadi keributan di dalam taman! Tentu saja dua orang pembesar itu menjadi terheran, akan tetapi juga ragu-ragu untuk percaya berita itu.

“Sebaiknya kalau Souw-ciangkun cepat-cepat kembali ke kota raja,” kata gubernur itu, “Kalau benar Pangeran telah kembali dengan selamat, syukurlah. Kalau belum, maka perlu cepat melaporkan kepada Kaisar agar dapat diambil tindakan terhadap Gubernur Ho-nan yang khianat itu!”

“Sebaiknya begitu,” kata Kian Lee. “Dan saya akan mengantarkan Hok-taijin kembali ke Ho-pei. Perjalanan itu masih amat berbahaya karena saya menduga bahwa sebetulnya yang dijadikan sasaran oleh Gubernur Ho-nan adalah Paduka Gubernur.”

Pembesar tua itu mengangguk dan menarik napas panjang. “Kalau orang she Kui itu hanya mencoba untuk menawan atau membunuh aku, masih tidak mengapa karena memang dia bermaksud buruk terhadap Ho- pei di perbatasan. Tetapi kalau dia hendak memberontak, aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menggempurnya!”

“Lalu bagaimana dengan Nona Phang?” tanya Souw-ciangkun yang bagaimana pun merasa berhutang budi kepada nona itu, karena kalau tak ada bantuan nona itu, belum tentu dia masih hidup saat ini.

“Jangan Sam-wi memikirkan saya…,“ kata Cui Lan.

“Ah, mana bisa demikian? Engkau harus dilindungi juga karena engkau tentu dicari-cari oleh Gubernur Ho- nan setelah mereka semua tahu bahwa aku lolos oleh bantuanmu. Kalau engkau suka, kau ikut bersamaku, Nona. Engkau… kalau kau… suka aku akan mengangkatmu sebagai anakku, anak angkatku!” Ucapan ini keluar dengan suara yang sungguh-sungguh, bahkan sepasang mata orang tua itu berlinang air mata.

Melihat ini, Cui Lan menunduk. Dia terharu sekali dan sampai lama dia tidak mampu menjawab. Akhirnya keluar juga suaranya yang lirih dan tergetar saking terharunya.

“Saya… hanya seorang pelayan… bagaimana mungkin menerima penghormatan yang demikian besar? Menjadi puteri… seorang gubernur…?”

“Nona Cui Lan! Cepat kau haturkan terima kasih kepada Gihu-mu (Ayah Angkatmu). Engkau lebih dari pantas untuk menjadi seorang puteri gubernur, bahkan aku melihat engkau tidak kalah oleh puteri-puteri istana!” kata Kian Lee yang merasa girang sekali atas niat yang amat baik dari gubernur itu.

“Dan lagi, bukankah engkau sendiri yang mengakui saya sebagai paman?” Gubernur itu menggoda.

Dengan air mata berlinang Cui Lan tersenyum, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gubernur itu sambil berkata, “Gihu…“

“Anakku! Cui Lan, sekarang kau anakku!” Gubernur itu mengangkat bangun dara itu dan merangkulnya dengan girang.

Souw-ciangkun juga girang sekali dan cepat-cepat dia menjura bersama Kian Lee, mengucapkan selamat kepada ayah dan anak itu yang dibalas dengan gembira pula oleh Gubernur Hok dan Cui Lan. Kemudian komandan pasukan pengawal istana itu berpamit dan meninggalkan tempat itu untuk cepat kembali ke kota raja. Meski pun perjalanan ke kota raja melalui Propinsi Ho-pei pula, akan tetapi demi keselamatan mereka sendiri, mereka melakukan perjalanan terpisah karena gubernur itu harus tetap melakukan penyamaran sebelum mereka keluar dari wilayah Propinsi Ho-nan.

Kian Lee lalu mengawal Gubernur Hok Thian Ki dan Phang Cui Lan dengan hati-hati. Dia maklum bahwa tentu Gubernur Ho-nan tidak akan berhenti demikian saja dan terus mengerahkan anak buahnya untuk mencari musuhnya itu. Dan dugaan ini memang benar karena pada hari itu juga, menjelang senja, ketika Kian Lee meninggalkan dua orang itu di dalam hutan dan dia sendiri menyelidiki keadaan, dia melihat sepasukan pengawal gubernur dipimpin sendiri oleh Perwira Su Kiat lewat di dekat hutan itu! Maka terpaksa dia melakukan perjalanan dengan hati-hati sekali, melewati hutan-hutan dan gunung-gunung sehingga perjalanan keluar dari Propinsi Ho-nan itu makan waktu jauh lebih lama dari pada kalau menggunakan perjalanan biasa.

Biar pun masih muda, usianya baru sekitar dua puluh dua tahun, namun Suma Kian Lee adalah seorang yang telah mengalami banyak hal-hal yang hebat. Sejak berusia tujuh belas tahun dia sudah meninggalkan Pulau Es bersama adiknya, Suma Kian Bu, dan mengalami banyak hal sampai akhirnya dia disuruh pulang ke Pulau Es oleh ayahnya untuk memperdalam ilmu kepandaiannya. Dan sekarang dalam perjalanannya mencari adiknya yang selama itu belum pernah pulang ke Pulau Es, dia juga mengalami hal-hal hebat, bahkan nyaris nyawanya berakhir di terowongan air! (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali)

Maka kini dia dapat melakukan pengawalan dengan baik dan teliti terhadap dua orang yang terhormat dan disuka itu, yaitu Hok Thian Ki Gubernur Ho-pei dan Phang Cui Lan, gadis cantik yang biar pun lemah tidak berkepandaian silat, akan tetapi sesungguhnya memiliki jiwa yang gagah, penuh keberanian, kecerdikan, dan kebijaksanaan itu.

Ketika tiba di tepi sungai yang mengalir ke timur, mereka telah melakukan perjalanan tiga hari, perjalanan yang lambat namun aman. “Lebih baik kita mengambil jalan melalui sungai, tidak terlalu melelahkan Cui Lan,” usul Gubernur Hok. “Apa lagi saya rasa, di sekitar perbatasan antara Ho-nan dan Ho-pei tentu penuh dengan pasukan yang menjaga. Melalui sungai ini, kita akan memasuki daerah Propinsi Shan-tung, kemudian dari situ kita ke barat memasuki Propinsi Ho-pei. Selain lebih aman, juga tidak terlalu melelahkan.”

Sebetutnya Kian Lee kurang setuju karena bagi seorang ahli silat seperti dia, di darat merupakan daerah yang leluasa dan aman baginya kalau menghadapi bahaya, tidak seperti kalau di air. Akan tetapi dia memang melihat Gubernur Hok dan Cui Lan sudah amat lelah melakukan perjalanan kaki itu, sungguh pun dara itu sama sekali tidak pernah mengeluh. Maka dia menerima usul ini dan dari seorang nelayan sungai mereka lalu membeli sebuah perahu yang cukup besar, yang ada biliknya untuk berteduh.

Perjalanan dengan perahu memang mengasyikkan dan memang kakek dan gadis itu dapat melepaskan kelelahan mereka. Lagi pula, karena perjalanan mereka menurutkan aliran air sungai, maka juga tidak perlu mendayung, hanya mengemudikan perahu saja yang tidak makan banyak tenaga. Baru berlayar setengah hari saja Gubernur Hok telah mulai memancing ikan dengan alat pancing yang dibelinya dari nelayan, sedang Cui Lan juga memasak air sambil bersenandung!

Benar juga usul Hok-taijin, pikir Kian Lee. Biar pun perjalanan menjadi memutar, keluar ke arah timur melalui propinsi atau wilayah perbatasan dengan Shan-tung, namun tidak melelahkan dan kalau sudah tiba di wilayah Ho-pei, tentu pembesar setempat akan dapat menyediakan kereta untuk gubernur dan anak angkatnya itu.

Malam itu mereka menginap di sebuah dusun di tepi sungai dan dalam kesempatan ini, Cui Lan berbelanja bahan makanan untuk dimasak di atas perahu. Kemudian, pagi-pagi sekali mereka sudah kembali di perahu mereka. Akan tetapi betapa kagetnya hati mereka ketika melihat seorang kakek tua yang bertubuh kate kecil bersama tujuh orang laki-Iaki yang kelihatan gagah, kasar dan menyeramkan telah berdiri di dekat perahu mereka itu.

Kian Lee yang seperti juga Hok-taijin dan Cui Lan telah menyamar, memakai pakaian seperti nelayan, dengan cepat mendekati mereka dan siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Pandang matanya yang tajam dan dapat melihat bahwa kakek kate kecil ini bukan sembarang orang, melainkan orang yang biasa mengandalkan tenaga dan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka. Namun dia bersikap tenang dan pura-pura tidak tahu akan kedatangan mereka, lalu membantu Hok-taijin dan Cui Lan memasuki perahu dan dia sendiri mulai melepaskan tali perahu itu dari akar pohon di pantai.

“Ehh, sobat, apakah ini perahumu?” tiba-tiba kakek tua kecil itu bertanya. Aneh sekali, orangnya kecil akan tetapi suaranya besar dan dalam. Matanya yang kecil sipit menatap wajah Kian Lee dengan tajam penuh perhatian.

Kian Lee pura-pura kaget mendengar suara besar nyaring itu dan dia menengok, lalu mengangguk, “Benar, Loya (Tuan Tua).”

“Kamu hendak berlayar ke arah mana?” tanya Si kakek, sedangkan tujuh orang laki-laki bertubuh kuat itu melirik ke dalam bilik perahu di mana Cui Lan sedang sibuk mengatur barang belanjaannya dan Hok-taijin pura-pura menggulung tali pancingnya, padahal kedua orang ini sudah berdebar penuh ketegangan karena mereka mengira bahwa delapan orang itu tentulah mata-mata dari Gubernur Ho-nan.

“Kami hendak ke hilir…“

“Bagus! Kami delapan orang juga mempunyai keperluan untuk cepat pergi ke hilir, maka kami akan nunut perahumu dan kami akan membayar mahal.”

“Maaf, Loya. Kami bukan tukang perahu, kami hanya nelayan-nelayan yang baru habis berbelanja dan…“

“Kami tahu! Akan tetapi perahumu ini cukup besar untuk dapat memuat kami. Apakah kamu tidak bersedia menolong kami dengan bayaran mahal?”

“Hemmm, Twako, kenapa tidak dorong saja dia ke air?” Seorang di antara mereka yang berkumis tebal berkata marah.

“Hushhh, jangan menggunakan kekarasan, Ang-kwi. Kita kini bukan di daerah sendiri!” Kakek tua itu menegur Si Kumis Tebal yang disebut Setan Merah itu. “Bagaimana, sobat? Apakah kamu masih juga menolak?”

Kian Lee memutar otaknya. Jika dia menolak, jelas tentu akan terjadi keributan dengan mereka. Dia tidak takut, tetapi kalau dia merobohkan mereka, terutama kakek yang tentu lihai ini, berarti dia membuka rahasianya sebagai nelayan biasa dan hal ini akan menimbulkan kecurigaan. Masih baik kalau orang-orang ini tiada hubungannya dengan Gubernur Ho-nan. Kalau mereka melapor, bisa celaka.

“Baiklah jika memang Loya dan Cuwi sekalian mempunyai keperluan penting,” akhirnya dia berkata dan mengedipkan matanya kepada Cui Lan dan Hok-taijin. Cui Lan lalu duduk di sudut dalam bilik itu, sebagian ditutupi oleh Hok-taijin yang diam-diam merasa khawatir sekali.

Kakek tua itu memasuki bilik dan karena bilik itu sempit, hanya dia dan dua orang termasuk Si Kumis Tebal yang dapat ke bilik, sedangkan lima orang yang lain terpaksa duduk di luar bilik, di papan perahu.

Kian Lee mengemudikan perahu ke tengah. Kalau sampai terjadi keributan, pikirnya, dan hal itu agaknya bukan tidak mungkin melihat sikap mereka dan cara pandang mata mereka yang penuh nafsu ke arah Cui Lan, maka sebaiknya dia merobohkan mereka di tengah sungai, jauh dari pantai sehingga tidak kelihatan oleh orang-orang lain.

Si Kumis Tebal memang semenjak tadi memandang kepada Cui Lan, secara terang-terangan tidak seperti teman-temannya yang lain. Kemudian dia memandang kepada Hok-taijin dan bertanya, “Orang tua, apakah dia ini anakmu?” Hok-taijin mengangguk dan bibirnya bergerak membenarkan. “Hah, cantik sekali!”

“Dan dia itu mantuku,” kata pula Hok-taijin sambil menunjuk ke arah Kian Lee.

Hal ini dia lakukan dengan harapan bahwa jika mendengar anaknya telah menikah dan menjadi isteri orang lain, tentu Si Kumis Tebal akan merasa sungkan untuk menggoda. Akan tetapi agaknya gubernur tua ini tidak tahu dengan siapa dia berhadapan! Dia berhadapan dengan segerombolan bajak sungai!

Kakek kecil kate itu adalah seorang bajak sungai yang sangat terkenal di sepanjang Sungai Huang-ho karena dia adalah Huang-ho Lo-cia yang amat ditakuti dan yang mempunyai banyak anak buah! Dia memakai julukan Lo-cia karena biar pun dia sudah tua, namun tubuhnya kecil seperti kanak-kanak, maka dia memakai julukan Lo-cia, tokoh dalam cerita Hong-sin-pong yang memang seorang manusia dewa yang bertubuh anak-anak, namun luar biasa lihainya itu. Dan tujuh orang itu adalah sebagian dari anak buahnya!

Maka, Si Kumis Tebal berjuluk Setan Merah atau Ang-kwi itu menyeringai ketika Hok-taijin memperkenalkan Kian Lee. Dia memandang ke arah Kian Lee, lalu meludah di lantai perahu, “Cuihhh! Mengapa pula setangkai mawar yang demikian indahnya hanya diberikan kepada seorang nelayan kotor?” katanya.

Tentu saja Hok-taijin tak berani berkata apa-apa lagi dan Cui Lan menjadi merah sekali mukanya, merah saking marahnya mendengar penghinaan yang tadi dilontarkan orang kasar itu kepada Kian Lee. Tentu Kian Lee juga mendengar ini, akan tetapi pemuda itu pura-pura tidak mendengar apa-apa.

Melihat betapa Kian Lee tetap saja mengemudikan perahu tanpa memperlihatkan suatu perasaan apa pun pada mukanya, diam-diam Cui Lan menjadi makin kagum kepada pemuda ini, juga merasa kasihan. Pemuda itu adalah pelindungnya pada saat itu, juga pelindung Gubernur Ho-pei, maka bolehlah dibilang jiwa raganya dan jiwa raga ayah angkatnya itu berada di tangan Kian Lee. Kini pemuda itu sudah mengalami penghinaan luar biasa karena dia. Dia maklum bahwa kalau tidak karena dia, penghinaan semacam itu yang dilontarkan oleh seorang kasar seperti itu, tentu tidak akan didiamkan saja oleh pendekar sakti ini.

Cui Lan kemudian menuangkan secangkir teh dan keluar dari bilik menghampiri Kian Lee dengan cangkir air teh di tangan.

“Minumlah…,“ katanya halus sambil menyodorkan cangkir teh itu.

Kian Lee tersenyum, menerima cangkir teh dan meminumnya. Tanpa menggerakkan bibir, terdengar dia berkata lirih sekali, hanya untuk telinga Cui Lan, “Tenanglah dan jangan takut selama aku berada di sini.”

Tiba-tiba Si Kumis Tebal bangkit berdiri dan dengan langkah gagah ia menghampiri Cui Lan yang masih berdiri di dekat Kien Lee. Mukanya yang merah itu seperti muka orang mabuk dan agaknya muka inilah yang membuat dia dijuluki Ang-kwi (Setan Merah) dan agaknya dia merupakan pembantu yang penting juga dari Huang-ho Lo-cia karena di antara tujuh orang pengikut kakek pendek kecil itu, dialah yang nampaknya paling berani.

“Eh, Manis, kami juga minta secangkir teh! Tidak patut kalau pihak tuan rumah minum sendiri sedangkan tamu-tamu tidak disuguhi. Harganya berapa akan kami bayar, dan kalau dijual dengan orangnya sekali pun akan kubayar tunai, Manis! Heh-heh!” Teman-temannya tertawa mendengar ini dan sikap teman-temannya itu membuat Si Kumis Tebal makin berani.

“Berapa harga secangkir tehmu, Manis? Berapa harga sebuah ciuman di mulutmu itu? Dan berapa harga semalam? Ha-ha-ha!”

“Sobat, harap jangan mengganggu dia!” Kian Lee berkata dan Cui Lan makin mepet kepada Kian Lee untuk minta perlindungan.

“Siapa menggoda siapa?!” Si Kumis Tebal mengejek dan tangannya yang besar dan lengannya yang panjang bergerak, jari-jari tangannya dengan cara kurang ajar hendak mencubit pinggul Cui Lan.

Dara ini menjerit dan Kian Lee menggerakkan tangan, tidak tampak oleh orang di situ saking cepatnya dan tahu-tahu Si Kumis Tebal berteriak dan tubuhnya terjungkal keluar dari perahu.

“Byuuuuurrrrr…!”

Air mucrat tinggi dan Si Kumis Tebal gelagapan, namun sebagai seorang bajak sungai tentu saja dia pandai renang dan cepat dia telah menguasai diri, memegang pinggiran perahu.

“He, kenapa Si Ang-kwi…?” Orang-orang berteriak.

“Keparat, kau berani pukul aku?” teriak Ang-kwi yang sudah merangkak naik ke dalam perahu. “Siapa yang pukul?” Kian Lee bertanya, tersenyum.

“Kau berdiri tidak benar, terpeleset dan jatuh sendiri, bilang suamiku yang pukul. Tidak tahu malu!” Cui Lan juga berkata.

Teman-teman Ang-kwi tertawa, akan tetapi Ang-kwi masih marah dan melompat tinggi hendak menghajar Kian Lee. Akan tetapi pada saat itu terdengar kakek kecil itu berseru, “Jangan ribut! Lihat di depan itu!”

Tujuh orang anak buahnya memandang ke depan dan melihat tiga buah perahu sedang meluncur dari samping menghadang mereka, akan tetapi masing-masing perahu hanya didayung oleh seorang laki-laki. Melihat perahu-perahu itu dan pendayung tunggalnya, tiba-tiba tujuh orang itu bersorak. Mereka mengenal perahu-perahu mereka itu.

“Ha, itu perahu kita sendiri!”

“Lebih enak dari pada perahu sempit ini!” “Kita pindah saja!”

“Akan tetapi wanita itu baik kita bawa saja!” kata Ang-kwai.

Hok-taijin yang sudah mempelajari cara mengemudikan perahu dari Kian Lee, dan atas isyarat Kian Lee cepat pergi mendekati pemuda itu, menggantikan Kian Lee memegang kemudi perahu sedangkan Kian Lee sendiri lalu memberi isyarat kepada Cui Lan agar dara ini memasuki bilik yang sudah kosong karena semua orang itu telah keluar dari bilik dan berdiri di kepala perahu. Setelah Cui Lan memasuki bilik, Kian Lee duduk di depan bilik menjaga!

Setelah tiga buah perahu itu berdekatan, mereka berloncatan ke atas perahu-perahu itu. Akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika dari dalam bilik-bilik tiga buah perahu itu bermunculan wanita-wanita cantik yang lantas menyambut mereka dengan pedang di tangan!

“Heiii…“

“Celaka…!” “Kita terjebak!”

“Lawan mereka! Mereka itu adalah orang-orang Hek-eng-pang!” teriak Huang-ho Lo-cia dan dia sendiri lalu meloncat ke sebuah di antara tiga perahu itu untuk menghadapi pimpinan wanita-wanita Hek-eng-pang itu yang bersenjatakan siang-kiam (sepasang pedang). Kakek ini sudah melolos joan-pian dari pinggangnya, dengan senjata ini dia menerjang wanita itu yang menyambut dengan siang-kiam-nya.

Kiranya mereka itu memang benar adalah orang-orang Hek-eng-pang, dan wanita yang memegang siang- kiam itu bukan lain adalah Kim-hi Niocu, kepala dari Pasukan Air. Tiga buah perahu itu adalah perahu- perahu milik bajak sungai anak buah Huang-ho Lo-cia yang mereka rampas. Hal ini merupakan pembalasan mereka karena beberapa hari yang lalu dua orang anggota Hek-eng-pang menjadi korban pembajakan anak buah Huang-ho Lo-cia, bahkan mereka itu selain dirampas senjata dan barang- barangnya, juga telah diperkosa oleh beberapa orang anak buah Huang-ho Lo-cia. Karena itu, kini mereka datang untuk membikin pembalasan, merampas perahu, membunuh beberapa orang bajak, memaksa tiga orang bajak mendayung perahu mereka dan mereka kini menghadang kedatangan Huang-ho Lo-cia dan tujuh orang pembantunya!

Setiap perahu itu ternyata ditumpangi oleh lima orang wanita Hek-eng-pang dan karena wanita-wanita itu juga memiliki kepandaian lumayan, maka untuk menghadapi setiap orang bajak cukup dilayani oleh seorang di antara mereka, sedangkan yang lain-lain lalu menyerbu dan berloncatan ke perahu Kian Lee! Melihat Kian Lee duduk di depan bilik perahu, mereka lalu menyerang, akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika dorongan-dorongan tangan pemuda itu demikian kuatnya sehingga angin dorongannya saja sudah membuat dua orang di antara mereka terlempar ke dalam air!

Sementara itu pertandingan berlangsung dengan seru. Ternyata bahwa para anggota bajak itu tidak kuat menahan gerakan lawan mereka yang semua terdiri dari wanita-wanita itu. Seorang demi seorang terlempar ke sungai dan mereka yang telah terlempar ini tidak mampu mengganggu perahu-perahu itu karena lawan mereka juga mengejar dengan terjun ke air dan terus menyerang mereka. Kiranya permainan di air dari wanita-wanita itu pun hebat, tak kalah oleh para anggota bajak! Hal ini tidaklah mengherankan karena mereka itu adalah anggota-anggota Hek-eng-pang bagian Pasukan Air yang tentu saja terlatih baik untuk berkelahi di air!

Sekarang hanya tinggal kakek kecil tua itulah yang masih melawan. Kim-hi Niocu harus mengakui keunggulan kakek ini. Biar pun tadi dia dibantu oleh empat orang anggotanya, namun empat orang itu terpaksa mundur dan terluka karena senjata joan-pian di tangan kakek itu hebat juga. Gerakannya cepat dan joan-pian yang merupakan senjata lemas (ruyung lemas) itu menyambar-nyambar seperti ular. Kim-hi Niocu terus terdesak hebat, bahkan pahanya telah kena dilecut ujung joan-pian sehingga celananya robek dan kulit pahanya yang putih terluka mengeluarkan darah.

“Pangcu… harap bantu…!” Akhirnya Kim-hi Niocu menjerit.

Tersingkaplah tirai di perahu itu dan sebuah kepala seorang wanita berusia lima puluh tahun akan tetapi cantik tampak. Kim-hi Niocu melompat ke belakang dan dengan sikap tenang nenek cantik itu keluar dari bilik perahu, tangan kirinya memegang sebatang ranting yang-liu yang masih hijau segar, masih ada daun- daunnya yang kecil runcing.

“Ehmm, agaknya Huang-ho Lo-cia sendiri yang muncul di sini?” tanya nenek itu sambil memandang dan menggerak-gerakkan ranting itu di depan mukanya yang masih cantik.

Sementara itu melihat betapa anak buahnya telah terlempar ke air dan kini masih terus dikejar oleh wanita- wanita itu, Huang-ho Lo-cia menjadi marah. Dia memandang nenek itu dan walau pun belum pernah melihat wajahnya, namun dia menduga bahwa tentu nenek itulah yang terkenal sebagai ketua Hek-eng- pang dan dia membentak.

“Dan engkau tentu Hek-eng-pangcu?”

Nenek itu tersenyum mengejek dan mengangguk. “Engkau memang lagi berhadapan dengan Yang-liu Nionio!” katanya dan kembali ranting yang-liu (semacam cemara) itu dipakai membelai mukanya.

“Hek-eng-pangcu! Apa sebabnya engkau dan anak buahmu yang berada di Gunung Cemara, yang tidak pernah ada urusan dengan kami, hari ini merampas perahu dan menyerang kami? Apakah kalian tidak mengenal lagi sopan santun dan setia kawan antar golongan kang-ouw dan liok-lim?”

“Bajak tua, kau masih belum menyadari dosa sendiri? Anak buahmu mengandalkan banyak orang telah mengeroyok dua orang anak buahku, tidak hanya merampas barang milik mereka akan tetapi juga telah memperkosanya dan menghina mereka! Untuk itu, dalam sehari harus ada dua nyawa anak buahmu yang menebusnya. Sudah lewat empat hari, maka kami telah mencabut nyawa delapan anak buahmu dan merampas perahu. Kebetulan sekarang kita berhadapan, hayo kau lekas berlutut dan minta ampun kepadaku, mengangguk-angguk tiga belas kali barulah aku mau mengampuni nyawa tikusmu!”

Bukan main marahnya kakek kecil itu. Dia memang sudah mendengar akan perbuatan anak buahnya itu dan dia sudah menghukum anak buahnya yang bersangkutan, yang dianggap melakukan perbuatan lancang, berani mengganggu anggota Hek-eng-pang yang berarti mengganggu orang segolongan dan mencari permusuhan. Akan tetapi, dua orang wanita Hek-eng-pang masih menghinanya dan menuntut agar dia berlutut dan minta ampun. Ini benar-benar merupakan penghinaan yang luar biasa.

“Hek-eng-pangcu, sungguh engkau keterlaluan!” bentaknya dan joan-pian di tangannya sudah bergerak cepat, mengeluarkan bunyi meledak dan menyambar ke arah kepala nenek itu.

“Plak-tak-tak-takkk!” Joan-pian itu tiga kali terpental oleh tangkisan ranting cemara yang kecil itu!

Huang-ho Locia terkejut bukan main. Hanya sebatang ranting kecil lemas, namun telah dapat membuat joan-pian di tangannya terpental! Akan tetapi karena sudah tersudut, dia berlaku nekat. Sambil mengeluarkan suara bentakan nyaring ia menubruk, mengirim serangan yang dahsyat.

“Trak-trak-desssss…!”

Cepat sekali gerakan ranting yang-liu di tangan nenek itu setelah menangkis dua kali, tangan kanannya menghantam dengan jari terbuka dan tepat mengenai dada kakek kate itu sehingga kakek ketua bajak itu terjengkang di atas papan perahu. Dia merasa dadanya panas sekali dan dari mulutnya tampak darah segar mengalir melalui pinggir bibirnya.

“Hemmm, kami sudah membunuh delapan orang-orangmu, itu sudah cukup dan tepat untuk waktu empat hari. Empat kali dua nyawa, karena itu kami tidak membunuhmu, hanya memberi pelajaran agar kelak kalian tidak lancang berani mengganggu Hek-eng-pang. Nah, pergilah!” Kaki nenek itu menendang dan tubuh kakek kate itu terlempar ke air!

Para anggota Hek-eng-pang yang kini sudah naik ke perahu setelah menghajar babak-belur ketujuh orang pembantu Huangho Lo-cia, sekarang tertawa terkekeh-kekeh, mentertawakan kakek itu yang karena terluka, dengan susah payah berenang ke tepi menyusul anak buahnya.

“Pangcu, di perahu itu terdapat seorang yang telah merobohkan banyak teman kita,” Kim-hi Niocu berkata sambil jarinya menuding ke arah perahu Kian Lee yang kini sudah dikepung atau dihadang oleh tiga orang perahu itu.

Tadi Kim-hi Nio-cu sendiri sudah meloncat ke perahu itu, tetapi ketika dia menyerang Kian Lee dengan pedangnya, pemuda itu menangkis dengan dayung perahu dan sekali tangkis saja Kim-hi Niocu terkejut dan jeri, maka begitu melihat ketuanya yang juga menjadi gurunya itu telah mengalahkan kepala bajak, dia lalu melaporkan kepada nenek yang lihai itu.

“Ehhh…?!” Si nenek berseru dengan alis berkerut, kemudian kedua kakinya yang kecil mengenjot tubuhnya dan mencelatlah tubuhnya itu ke atas perahu Kian Lee.

Ketika kedua kakinya turun ke atas papan perahu, sedikit pun tidak terjadi guncangan sehingga pemuda Pulau Es ini maklum bahwa nenek itu memang memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaian para bajak dan para wanita Hek-eng-pang yang tadi menyerbu ke perahunya. Maka ia bersikap waspada dan cepat bangkit berdiri ketika melihat nenek itu berdiri di perahunya, namun sikapnya tetap tenang.

Ketika nenek itu melihat bahwa yang berada di perahu itu hanyalah seorang kakek nelayan, seorang nelayan muda dan seorang wanita yang kelihatan ketakutan dan kini bersembunyi di dalam bilik perahu, hanya si nelayan muda yang berdiri menghadapinya dengan sikap bodoh dan tenang, dia maklum bahwa mereka ini bukanlah anggota bajak dan bahwa mungkin tadi perahu mereka ini dipakai oleh para bajak dan mereka dipaksa oleh Huang-ho Lo-cia, Maka dia memandang rendah.

“Nelayan, apakah ini perahumu?” tanyanya dengan suara bernada halus karena melihat bahwa tiga orang itu adalah orang-orang biasa saja.

“Benar,” jawab Kian Lee dan si nenek mulai merasa tidak senang akan sikap Kian Lee yang dianggapnya terlalu tenang dan terlalu berani, tidak lekas-lekas berlutut dan minta ampun kepadanya.

“Kami bukan perampok atau pun bajak,” kata si nenek lagi, “Harap kau jangan khawatir. Akan tetapi kami memerlukan perahumu ini karena perahu kami yang tiga buah itu terlalu kecil. Mari kau antarkan kami sampai ke kaki Gunung Cemara, dan kami akan memberi upah selayaknya.”

Kian Lee maklum bahwa biar pun mereka ini bukan bajak, namun dibandingkan dengan para bajak tadi mereka ini mungkin lebih berbahaya lagi! Maka dia menggeleng kepala dan berkata, “Satu kali saja kami membawa orang-orang tadi dan kami sudah menemui kesukaran. Tidak, kami mau melanjutkan perjalanan kami sendiri, harap kalian jangan mengganggu kami.”

Nenek itu memandang dan matanya berkilat. Belum pernah dia dibantah orang, apa lagi yang membantahnya hanya seorang nelayan biasa saja! Akan tetapi untuk langsung turun tangan terhadap seorang nelayan juga dia merasa enggan dan hal itu akan amat merendahkan dirinya.

“Jangan banyak membantah, orang muda. Aku melihat engkau seorang nelayan yang masih muda dan baik. Kalau kau tidak mau mengantarkan kami, terpaksa aku akan memaksa kalian bertiga meninggalkan perahu ini sekarang juga seperti yang telah dilakukan oleh para bajak tadi. Nah, pikir baik-baik. Bukankan lebih baik mengantarkan kami dan menerima upah selayaknya?”

Akan tetapi Kian Lee, seorang pendekar yang tidak biasa mengalah dan merendahkan diri terhadap siapa pun juga, yang tidak pernah merasa takut, saat itu lupa bahwa dia harus mengalah demi keselamatan Cui Lan dan Gubernur Hok. Dia merasa betapa dia dipandang rendah sekali, maka dia tetap menggeleng kepala.

Nenek itu mulai penasaran. “Kau tetap membantah? Kalau begitu, biarlah kau terjun ke air dan biar nelayan tua itu yang mengantar kami!” Sambil berkata demikian tangannya bergerak mendorong ke arah Kian Lee. Tentu saja dia tak menggunakan tenaga terlalu keras karena bukan maksudnya untuk melukai seorang nelayan, hanya untuk menakut-nakutinya saja. Kalau nelayan itu sudah terlempar ke air, tentu akan tobat dan akan suka mengantarkannya.

“Plak!” Kian Lee menangkis dan nenek itu terkejut bukan main.

Tangkisan itu membuat lengannya bergetar! Maklumlah dia mengapa tadi Kim-hi Niocu melaporkan bahwa nelayan muda ini telah merobohkan beberapa orang anak buahnya. Kiranya ada ‘isinya’ juga pemuda ini, pikirnya. Tetapi tetap saja dia memandang rendah dan mengira bahwa pemuda itu hanyalah seorang nelayan yang pernah memperoleh bimbingan seorang ahli silat maka mempunyai sedikit kemampuan.

“Berani kamu melawanku? Nah, terimalah ini!”

Sekarang dia menyerang dengan tangan kanannya, mendorong ke arah dada Kian Lee, akan tetapi juga hanya mengerahkan separuh tenaganya saja karena dia tetap belum berniat membunuhnya. Kian Lee melihat serangan ini dan dia pun cepat mendorongkan tangannya memapaki.

“Desss…! Eihhhhh…!” Hek-eng-pangcu yang berjuluk Yang-liu Nionio itu menjerit kaget ketika dia terhuyung ke belakang dan hanya dengan berjungkir-balik saja dia mampu menghindarkan tubuhnya terjengkang.

Matanya terbelalak dan kemudian menyipit ketika dia memandang kepada Kian Lee penuh perhatian. Mukanya menjadi merah sekali, merah karena malu dan marah. Dia yang terkenal sekali dan ditakuti banyak orang kang-ouw, yang tadi dengan amat mudahnya membuat kepala bajak Huangho Lo-cia yang tersohor itu roboh dalam satu gebrakan saja, kini dibuat terhuyung oleh seorang nelayan muda!

Dengan suara mendesis seperti seekor ular marah, nenek itu lalu membentak, “Bocah, kau sudah bosan hidup!”

Kini dia menyerang benar-benar! Ranting yang-liu di tangannya, yang amat ampuh dan yang membuat dia dijuluki Yang-liu Nionio kini bergerak, berubah menjadi sinar hijau menyambar ke arah kepala Kian Lee. Pemuda itu segera mengelak, maklum bahwa meski pun hanya merupakan sebatang ranting yang-liu namun kalau digerakkan dengan pengerahan sinkang yang kuat dapat menjadi senjata yang ampuh.

Lima kali berturut-turut sinar hijau itu terus menyambar-nyambar ke arah kepalanya dan selalu dapat dielakkan dengan baik oleh Kian Lee. Mendadak tangan kanan nenek itu memukul dadanya dari depan, sekali ini dengan pengerahan tenaga sepenuhnya oleh karena dia sekarang benar-benar ingin membunuh pemuda yang telah membikin malu padanya, membuatnya terhuyung tadi. Kian Lee juga memapakinya dengan tangan kiri, mengerahkan sinkang Swat-im Sin-kang yang amat dahsyat itu, tentu saja dengan mengendalikan tenaganya karena dia pun tidak ingin membunuh orang.

“Desssss…!”

Kini tubuh nenek itu benar-benar terjengkang di atas papan perahu dan dengan mata terbelalak mulutnya mendesis-desis dan tubuhnya menggigil karena dia diserang hawa dingin yang menusuk tulang. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Yang-liu Nionio. Dia memandang ke arah Kian Lee dengan mata terbelalak.

“Sssss… siapa engkau…?” tanyanya karena kini dia sadar bahwa nelayan muda itu benar-benar seorang yang amat hebat kepandaiannya, dan dia terheran-heran kenapa orang sehebat ini datang bersama kawanan bajak tadi. Dia khawatir sekali kalau-kalau pemuda ini kawan dari bajak-bajak tadi dan tentu akan membalas dendam.

“Aku? Aku adalah seorang nelayan, engkau sudah mengetahuinya, Toanio,” katanya.

Tiba-tiba Yang-liu Nionio memberi isyarat dengan tangannya dan Kim-hi Niocu segera mengeluarkan suara melengking. Itulah isyarat untuk para anak buahnya dan dengan pimpinan dia sendiri, Kim-hi Niocu dan anak buah atau pasukannya itu meloncat terjun ke air. Kian Lee terkejut ketika merasa betapa perahu yang ditumpangi itu bergerak-gerak dan Cui Lan menjerit ngeri.

“He-heh-heh, orang muda yang aneh!” Hek-eng-pangcu berkata. “Bagaimana sekarang, apakah engkau masih hendak berkeras dan tidak mau menyerah? Kalau begitu, kami akan menenggelamkan perahumu!” Nenek itu meloncat ke perahunya sendiri.

“Tahan!” Kian Lee terpaksa berseru.

Dia sendiri tidak takut menghadapi mereka di air sekali pun. Akan tetapi Cui Lan dan Gubernur Hok tentu akan celaka karena mereka tidak pandai berenang. Pula, kalau dia melindungi mereka berdua di air sambil menghadapi pengeroyokan orang-orang Hek-eng-pang itu, rasanya berat juga dan amat membahayakan keselamatan Cui Lan dan Hok-taijin.

“Baiklah, aku menyerah.”

“Suruh nelayan tua dan nona itu pindah ke perahu sini dulu!” Nenek yang cerdik itu membentak. Dia memang sudah dapat menduga bahwa pemuda hebat itu hanya mau menyerah karena mengkhawatirkan keselamatan dara muda dan kakek yang kelihatan lemah itu.

Kian Lee terpaksa mengangguk ke arah Cui Lan dan Hok-taijin karena di atas sungai itu tidak ada lain jalan. Hanya menyerah sajalah yang paling aman. Mereka itu tentu tidak akan mengganggu Cui Lan dan Hok-taijin selama dia tak melawan, karena yang mereka butuhkan hanya perahu itu saja.

Cui Lan dan Hok-taijin lalu meninggalkan perahu itu dan pindah ke perahu si nenek. Betapa pun juga, Cui Lan bersikap tenang karena yang menawannya adalah wanita-wanita, bukan laki-laki kasar seperti para bajak tadi. Empat orang anggota Hek-eng-pang, dipimpin oleh Kim-hi Niocu sendiri lalu berlompatan ke atas perahu Kian Lee setelah melihat bahwa dua orang kawan pemuda itu berpindah perahu.

“Mari berangkat!” Nenek itu berseru dan bergeraklah empat buah perahu itu meluncur ke depan dengan cepatnya.

Kim-hi Niocu mendekati Kian Lee yang memegang kemudi perahu. Sambil tersenyum manis kepala Pasukan Air yang cantik itu menatap wajah Kian Lee dengan penuh kagum. Seorang nelayan muda yang demikian tampan dan gagah, memiliki kepandaian hebat sehingga mampu menandingi ketua atau gurunya, benar-benar sukar ditemukan di dunia ini!

Melihat wanita cantik berusia tiga puluh tahun yang berpakaian serba hitam dan basah kuyup sehingga pakaian itu melekat di tubuhnya memperlihatkan semua lekuk lengkung tubuh yang sedang masak- masaknya, Kian Lee mengalihkan pandang matanya, tidak mau melihat bentuk tubuh yang agaknya sengaja dipamerkan padanya itu. Melihat ini, Kim-hi Nio-cu tersenyum lebar, kemudian terkekeh geli karena dia menganggap sikap Kian Lee itu sikap seorang muda yang masih hijau dan malu-malu. Padahal pemuda itu sudah mempunyai isteri! Kemudian dia teringat bahwa isteri pemuda itu kini berada di perahu lain, maka dia menganggap bahwa sikap Kian Lee itu tentu karena marah dan khawatir akan nasib isterinya.

“Jangan kau khawatir, asal engkau tidak membangkang perintah Pangcu, isterimu itu tentu tidak akan diganggu.”

“Isteri? Dia bukan isteriku,” jawab Kian Lee.

Karena Cui Lan tidak terancam seperti ketika para bajak laut tadi hendak kurang ajar, maka dia tidak perlu lagi mengaku sebagai suami dara itu, pikirnya.

“Ahhh…!” Kim-hi Niocu berseru kaget dan girang. Jadi pemuda ini benar-benar masih perjaka, pikirnya kagum.

“Dan kakek itu?”

Kian Lee teringat bahwa dua orang itu, terutama Hok-taijin, harus menyembunyikan keadaan dirinya, maka dia menjawab cepat, “Dia adalah sahabatku, sedang gadis itu puterinya. Kami sedang mencari ikan ketika bajak-bajak itu memaksa kami membawa mereka sampai bertemu dengan kalian.”

“Dan kau begitu gagah dan berkepandaian tinggi…!”

Kian Lee tersenyum mengejek. “Dan tidak berdaya karena kecurangan kalian!”

Kim-hi Niocu tertawa kecil, menutupi mulut dengan gaya genit. “Kami golongan wanita, selain menggunakan ilmu silat juga harus menggunakan akal dan siasat menghadapi kaum pria. Hi-hi-hik. Ehh, pemuda yang lihai, siapakah namamu?”

“Tidak perlu mengenal namaku, kuberitahu pun kau takkan mengenalku.”

“Wah-wah, tanpa nama bagaimana dapat menyebut dan memanggilmu?” Kim-hi Niocu tertawa genit karena dia makin tertarik kepada pemuda yang aneh ini.

“Hemmm, engkau sebut saja aku si Nelayan,” kata Kian Lee yang memang tidak ingin memperkenalkan namanya sembarangan saja.

“Ehh, Nelayan Muda, ya, kusebut kau Nelayan Muda, yang tampan dan gagah!”

Kian Lee merasa jemu dan membuang muka, selanjutnya tidak melayani lagi semua kata-kata Kim-hi Niocu yang jelas amat tertarik kepadanya.

Pelayaran itu makan waktu cukup lama juga, sampai sehari semalam barulah si nenek memerintahkan semua perahu ke pinggir. Selama itu, Kian Lee, Cui Lan dan Hok-taijin tidak mendapat gangguan, dan diajak makan bersama dengan baik, hanya Kian Lee yang selalu diganggu oleh rayuan Kim-hi Niocu yang sama sekali tidak dilayaninya dan karena wanita itu maklum akan kelihaian pemuda itu, maka dia pun sama sekali tidak berani menggunakan paksaan.

Semua orang mendarat dan beberapa orang anggota Hek-eng-pang yang dipimpin oleh Kim-hi Niocu lalu menodongkan pedang mereka ke punggung Cui Lan dan Hok-taijin. Karena ini maka Kian Lee tidak berdaya sama sekali dan dia pun ikut mendarat, akan tetapi dia tetap bersikap tenang.

Nenek itu sekarang menghadapinya, memandang dengan penuh perhatian, kemudian berkata, “Orang muda, kami merasa kagum sekali padamu dan kami mengundangmu untuk datang berkunjung ke markas kami di puncak Bukit Cemara.” Setelah berkata demikian, nenek itu membalikkan tubuhnya dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk berangkat.

“Tapi, Pangcu…!” Kian Lee membantah.

Kim-hi Niocu mendorong Cui Lan dan Hok-taijin ke depan dan dari jauh dia berkata kepada Kian Lee, “Nelayan Muda, tidak ada yang boleh membantah kehendak Pangcu, apa lagi beliau mengundangmu secara baik-baik sebagai seorang tamu. Jangan sampai kami terpaksa harus menggunakan kekerasan terhadap dua orang kawanmu ini.”

Karena Cui Lan dan Hok-taijin ditodong, maka terpaksa Kian Lee mengangguk dan mengikuti perjalanan mereka. Dia maklum bahwa selama dia tidak membantah, tentu dua orang itu selamat dan karena permintaan mereka itu pun bukan hal yang tidak patut, melainkan mengundangnya datang berkunjung, dia pun tidak keberatan. Pula, dia pun ingin mengenal markas perkumpulan yang semua anggotanya terdiri dari wanita-wanita yang memiliki kepandaian lumayan ini.

Belum jauh mereka berjalan, baru tiba di sekitar kaki bukit, mereka telah disambut oleh serombongan wanita yang dipimpin oleh seorang wanita muda berpakaian serba hitam seperti Kim-hi Niocu, mukanya putih dan manis dan rombongan ini segera memberi hormat kepada Hek-eng-pangcu dengan hormat. Kiranya mereka itu adalah Pasukan Tanah yang dipimpin oleh Liong-li.

Tiba di lereng bukit mereka disambut oleh Pasukan Kayu dan Kian Lee merasa makin kagum. Kiranya perkumpulan Hek-eng-pang itu sungguh pun merupakan perkumpulan kaum wanita, namun mempunyai disiplin yang baik dan semua anggotanya kelihatan gagah dan patuh kepada pimpinan mereka.

Setelah mereka tiba di puncak di mana terdapat markas perkumpulan itu yang berupa sebuah perkampungan yang dikelilingi tembok seperti benteng dan mereka memasuki pintu gerbang, Kian Lee menjura ke arah nenek itu dan berkata, “Saya kira cukup sampai di sini saja dan harap Pangcu suka membiarkan kami bertiga kembali ke perahu kami.”

Hek-eng-pangcu yang tadi merasakan kelihaian pemuda itu sudah merasa tertarik dan ingin sekali dia mendapatkan seorang pembantu selihai itu, maka mendengar ucapan itu dia menjawab dengan suara dingin. “Kami bermaksud baik, hendak menjamu Sicu sebagai seorang tamu yang terhormat. Bawa mereka ke dalam!” perintahnya kepada Kim-hi Niocu yang segera menggiring Cui Lan dan Hok-taijin ke dalam, tentu saja di bawah todongan pedangnya.

Cui Lan menoleh dan memandang ke arah Kian Lee dengan alis berkerut dan melihat pemuda itu seperti orang marah. Dia khawatir kalau-kalau pemuda itu menjadi marah dan mengamuk, maka cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum menenangkan hati Kian Lee. Kian Lee menarik napas panjang dan diam-diam dia memuji Cui Lan yang dalam segala hal selalu bersikap tenang dan tidak putus harapan, sama sekali tidak kelihatan khawatir.

Setelah dua orang itu ‘disimpan’, nenek itu sendiri kemudian mempersilakan Kian Lee memasuki ruangan luas di sebuah gedung pusat di mana akan diadakan pesta untuk merayakan kemenangan mereka yang berhasil membalas penghinaan yang ditimpakan kepada dua orang anggota mereka. Kian Lee dipersilakan duduk di meja nenek itu sendiri dan tak lama kemudian hidangan-hidangan pun dikeluarkan.

“Saya harap Pangcu tidak melupakan dua orang kawan saya, karena kalau mereka itu sengsara, bagaimana pun saya tidak suka makan minum,” kata Kian Lee.

“Hemmm, Sicu benar-benar seorang gagah perkasa yang tahu akan rasa setia kawan. Sungguh aku merasa kagum sekali. Jangan Sicu khawatir, dua orang kawanmu itu tidak akan mengalami suatu kesengsaraan apa pun dan mereka saat ini juga dijamu seperti Sicu, hanya tempatnya yang berbeda. Mari minum untuk persahabatan kita, Sicu.”

Tiba-tiba seorang anggota Hek-eng-pang datang melapor bahwa di luar datang seorang tamu yang hendak bertemu dengan pangcu.

“Siapa dia? Liong-li, kau lihat siapa dia dan apa niatnya!”

Liong-li, kepala Pasukan Tanah yang hadir dalam pesta itu bersama keempat orang kepala pasukan lainnya, cepat bangkit dan berjalan cepat keluar bersama anggota yang melaporkan itu dan tak lama kemudian dengan wajah berubah lalu mendekati nenek itu dan berbisik, “Pangcu, dia… dia itu yang datang… Si Jari Maut.“

“Ahhh…? Persilakan dia masuk!” katanya dengan wajah berubah.

Dia dahulu telah mendengar laporan Kim-hi Niocu dan Liong-li tentang seorang pemuda lihai bukan main yang memesan kepada wanita itu agar mengatakan kepada ketuanya bahwa dia akan datang berkunjung dan kalau si ketua bertanya disuruh mengatakan bahwa dia adalah seorang yang biasa membunuh dengan jari tangan! Hek-eng-pangcu sudah mendengar bahwa orang muda selihai itu yang biasa membunuh dengan jari tangan tentulah Si Jari Maut yang beberapa tahun yang lalu namanya menggetarkan dunia kang-ouw. Kini ternyata pemuda itu benar-benar muncul! Padahal tadinya, diam-diam di dalam hatinya timbul dugaan bahwa pemuda nelayan itulah Si Jari Maut karena menurut berita, Si Jari Maut itu yang memiliki kesaktian hebat adalah seorang pemuda yang tampan. Sekarang kiranya bukan pemuda yang duduk di depannya ini.

“Aku sudah di sini, Pangcu!” Tiba-tiba terdengar suara tenang, dingin dan tegas.

Kian Lee terkejut bukan main ketika dia menoleh dan melihat bahwa orang yang masuk itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!

“Saudara Ang…, kau di sini…?”

Tentu saja Kian Lee menegur dengan perasaan ragu-ragu dan heran karena sepanjang pengetahuannya, Ang Tek Hoat telah menjadi panglima di Bhutan, juga bahkan telah menjadi calon suami Puteri Syanti Dewi. Akan tetapi mengapa kini tiba-tiba berada di tempat ini dan mengaku lagi julukannya yang telah lama ditinggalkannya itu, julukan ketika Si Jari Maut ini masih menggunakan nama Gak Bun Beng, suheng-nya, ketika pemuda ini memburuk-burukkan nama Gak Bun Beng dengan segala macam kejahatan karena menganggap Gak Bun Beng seorang musuh besarnya? Dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali diceritakan dengan jelas tentang peristiwa itu.

Pemuda itu memang Ang Tek Hoat. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dia pernah bertemu dengan Kim-hi Nio-cu dan Liong-li ketika ia menolong dua orang putera Jenderal Kao Liang yang terancam keselamatannya oleh dua orang dari Huang-ho Kui-liong-pang, kemudian dia mengatakan kepada dua orang kepala pasukan Hek-eng-pang itu bahwa dia akan mengunjungi ketua mereka. Ketika dia memandang kepada pemuda yang menyebutnya pada she-nya itu segera dia mengenal putera Pulau Es itu, putera Majikan Pulau Es!

Bahkan dia pun tahu bahwa Suma Kian Lee ini terhitung masih paman tirinya sendiri. Suma Kian Lee adalah putera dari neneknya, Lulu dan Suma Han si Pendekar Super Sakti, sedangkan mendiang ayahnya yang amat jahat itu, Wan Keng In, adalah putera Lulu bersama seorang she Wan. Akan tetapi, mengingat akan pesan ibunya yang kini telah tewas dengan cara yang menyedihkan sekali, walau pun dahulu dia tidak setuju dengan pesan ibunya, yaitu bahwa dia harus membalas dendam kepada keluarga Pulau Es, kini melihat Suma Kian Lee dia teringat akan ibunya dan hatinya menjadi dingin terhadap keluarga yang dibenci oleh ibunya itu. Dengan sikap dingin dan acuh tak acuh dia mengangguk kepada Kian Lee.

Tentu saja Kian Lee menjadi heran menyaksikan sikap Tek Hoat ini. Bukankah pemuda yang tadinya tersesat itu kabarnya telah menjadi baik kembali? Bukankah pemuda itu sudah maklum bahwa dia masih terhitung pamannya sendiri? Akan tetapi jelas bahwa sikap Tek Hoat seperti sikap seorang musuh! Ada apa pula ini?

“Aihhh… Ji-wi (Anda Berdua) sudah saling mengenal?” Hek-eng-pangcu terkejut dan heran, memandang kepada Kian Lee dengan kagum. Kiranya pemuda ini bukan orang sembarangan, bukan seorang nelayan biasa melainkan seorang sahabat dari Si Jari Maut yang amat tersohor itu!

Tek Hoat tersenyum mengejek dan sambil memandang kepada Suma Kian Lee, dia berkata, “Siapa yang tidak mengenal Suma Kian Lee, saudara dari Suma-kongcu yang merampas harta pusaka yang kalian cari- cari itu?”

Mendengar ini, nenek itu dan semua anak buahnya berteriak kaget dan otomatis segera mereka bergerak mengepung Kian Lee.

“Hemmm, bagus! Kiranya engkau adalah saudara dari Suma-kongcu yang mencuri harta keluarga Jenderal Kao? Kiranya engkau memang sengaja hendak menyelidiki dan memata-matai kami? Hayo katakan di mana harta itu. Kalau kau tidak mengaku, jangan harap akan dapat lolos dari tempat ini!” Yang-liu Nionio mengangkat tangannya dan salah seorang anak buahnya melemparkan sebatang ranting pohon yang-liu yang segar kepadanya.

Kian Lee memandang kepada Tek Hoat yang kini tersenyum-senyum dan duduk di atas sebuah kursi sambil minum arak dan bersikap sebagai orang yang sedang menonton dan menikmati pertunjukan yang menyenangkan hati. Bermacam perasaan mengaduk hati Kian Lee.

Pertama, dia ingat akan Cui Lan dan Hok-taijin yang masih terancam keselamatannya. Kedua, dia merasa heran mendengar adiknya, Suma Kian Bu, merampok harta benda Jenderal Kao. Mungkinkah ini? Akan tetapi kalau tidak, mengapa Jenderal Kao dan dua orang puteranya menyerang dia? Benarkah Kian Bu kini telah tersesat dan menjadi seorang perampok? Ketiga, dia merasa gembira juga mendengar tentang Suma-kongcu yang tentu saja Kian Bu adanya, kalau tidak siapa lagi? Berita itu menandakan bahwa Kian Bu masih hidup dan berada di sekitar daerah ini. Keempat, dia juga heran dan tidak mengerti melihat sikap Tek Hoat.

“Apakah artinya ini? Aku tidak tahu sama sekali tentang harta pusaka Jenderal Kao!” teriaknya penasaran melihat dirinya dikepung oleh para anak buah Hek-eng-pang.

“Tidak perlu menyangkal lagi, orang muda. Engkau adalah saudara dari Suma-kongcu yang merampas harta pusaka Jenderal Kao, tetapi engkau menyamar sebagai seorang nelayan miskin. Hal ini saja sudah bisa membuktikan bahwa engkau sedang melakukan penyelidikan. Sekarang lekas mengaku, di mana saudaramu itu menyembunyikan harta pusaka itu, kalau tidak, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan.”

Kian Lee menjadi marah. Apa pun yang dilakukan andai kata benar adiknya merampas harta pusaka keluarga Jenderal Kao, tentu telah diperhitungkan oleh adiknya itu dan tentu ada alasannya yang kuat. “Pangcu, kau hendak menggunakan kekerasan bagai mana? Silakan!”

Yang-liu Nionio memberi isyarat dengan ranting pohon yang-liu di tangan kirinya itu dan terdengarlah teriakan nyaring dari mulut lima orang wanita cantik, yaitu Kim-hi Niocu, Liong-li dan tiga orang kepala pasukan yang semua telah berkumpul di situ. Lima orang wanita cantik ini maju mengepung diiringi pasukan masing-masing yang terdiri dari dua belas orang sehingga ketika itu ada enam puluh orang wanita mengepung Kian Lee dari lima penjuru, semuanya memegang senjata!

“Hemmm, kalian sungguh nekad dan gila!” Kian Lee membentak. “Aku sungguh tidak tahu-menahu tentang harta pusaka yang kalian maksudkan itu, akan tetapi kalau kalian memaksa dan hendak bertanding, majulah!”

Kembali kelima orang wanita cantik itu kini bergerak secara teratur sekali, membentuk lingkaran dan bergerak-geraklah lingkaran yang berlapis dua itu, yang sebelah dalam bergerak dari kanan ke kiri sedangkan yang sebelah luar bergerak sebaliknya dari kiri ke kanan. Senjata mereka berbeda, yang depan menggunakan golok dan pedang akan tetapi barisan lingkaran kedua menggunakan tombak dan senjata bergagang panjang.

Yang-liu Nionio dan lima orang muridnya itu hanya berdiri di luar lingkaran, menonton dan mengatur barisan. Ketika Kian Lee melirik, ia melihat Tek Hoat masih duduk minum arak sambil tersenyum-senyum sehingga hatinya merasa mendongkol bukan main.

“Seranggggg…!” Terdengar teriakan nenek itu.

Lingkaran dalam itu segera menghentikan gerakannya memutari tubuh Kian Lee dan berkelebatanlah pedang dan golok, menimbulkan sinar menyilaukan mata menyambar ke arah Kian Lee dari semua jurusan! Pemuda ini tentu saja tidak dapat mengelak ke kanan atau kiri atau belakang karena senjata- senjata itu datang dari semua jurusan. Namun dia menggunakan keringanan tubuhnya dan tiba-tiba tiga puluh orang wanita dari barisan lingkaran pertama itu terkejut karena pemuda itu telah lenyap dari tengah- tengah mereka. Kiranya Kian Lee telah mencelat ke atas.

Nenek ketua Hek-eng-pang yang memimpin langsung penyerbuan itu berteriak lagi dan kini lingkaran pertama mundur dan lingkaran kedua yang maju, menggunakan tombak mereka untuk menyambut tubuh Kian Lee yang melayang turun!

Pemuda ini terpaksa menggerakkan kedua tangannya, didorongkan ke sekelilingnya dan lingkaran pemegang tombak dan senjata panjang itu menjadi kalang kabut karena mereka terhuyung-huyung sebelum senjata mereka sempat menyentuh tubuh pemuda itu sehingga Kian Lee dapat turun ke atas lantai dengan selamat, akan tetapi kini dua barisan lingkaran itu telah mengepungnya lagi.

Wajah pemuda itu menjadi merah dan sinar matanya mulai bercahaya. Seperti juga adiknya, Suma Kian Lee memiliki sepasang mata seperti mata ayahnya, Pendekar Super Sakti, yaitu tajam sekali sinarnya. Hanya bedanya, kalau sinar mata Pendekar Super Sakti mengandung keanehan yang mukjijat, daya sihir yang kuat dan berwibawa, mata dua orang puteranya itu hanya tajam saja, hanya membayangkan kewajaran dan keberanian yang luar biasa.

“Kalian memaksa hendak menggunakan kekerasan? Baiklah!” Kata-katanya ini disusul dengan gerakan tubuhnya.

Kedua tangannya mendorong ke sana-sini dan terdengarlah teriakan-teriakan dan jerit-jerit para wanita yang mengepung itu karena enam puluh orang wanita itu seperti daun-daun kering diamuk badai, terpelanting ke sana-sini, terhuyung dan ada yang langsung terjengkang roboh. Senjata mereka terpental dan mencelat ke mana-mana sehingga menimbulkan suara gaduh ketika terbanting ke atas lantai.

Dalam waktu singkat saja Kian Lee telah membuat enam puluh orang anggota Hek-eng-pang itu mundur ketakutan, barisan mereka telah rusak dan biar pun tidak ada di antara mereka yang tewas, namun semuanya telah dibikin takut dan kaget oleh hawa pukulan yang menyambar dari kedua tangan pemuda itu, hawa pukulan rasa panas yang luar biasa dan menakutkan. Memang tadi untuk membuyarkan lingkaran yang dengan ketat mengurungnya, Kian Lee sudah menggunakan tenaga sakti Hwi-yang Sin- kang yang panas.

Tentu saja kelima orang kepala pasukan itu menjadi kaget setengah mati menyaksikan betapa enam puluh orang anak buah mereka dibikin kocar-kacir semudah itu oleh Kian Lee. Mereka tahu bahwa pemuda itu memang hebat, akan tetapi ketika guru mereka memberi isyarat, mereka berlima menemani guru mereka mengurung Kian Lee.

Sekarang pemuda itu dikurung oleh enam orang, yaitu Nenek Yang-liu Nionio ketua Hek-eng-pang dan lima orang muridnya yang masing-masing menjadi kepala pasukan di perkumpulan itu. Jumlah murid langsung dari nenek ini hanya ada belasan orang saja dan yang lima ini merupakan murid-murid utama, maka tentu saja mereka berlima telah memiliki kepandaian yang lumayan. Kalau kelima orang muridnya itu masing-masing memegang senjata tajam seperti siang-kiam, golok, pedang dan lain-lain, adalah Si nenek itu sendiri hanya membawa sebatang ranting yang-liu tadi karena memang itulah senjatanya yang paling ampuh, di samping pukulan atau cengkeraman tangannya yang terkenal yaitu Hek-eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda Hitam yang mengandung racun berbahaya.

“Bentuk barisan mengepung! Jaga dua orang itu agar jangan lolos!” Tiba-tiba nenek itu berseru kepada semua anak buahnya yang kocar-kocir tadi.

Biar pun takut-takut, enam puluh orang itu sudah berkumpul dan membentuk lingkaran lebar mengurung ruangan itu. Beberapa orang murid ketua itu sendiri yang memimpin penjagaan terhadap Cui Lan dan Hok- taijin agar supaya tidak kabur dan menodongkan senjata mereka kepada dua orang tawanan ini.

“Hek-eng-pangcu, engkau sungguh keterlaluan!” Tiba-tiba Kian Lee membentak dan tubuhnya sudah bergerak menyerang ke depan.

Yang-liu Nionio lalu menggerakkan rantingnya dan kelima orang muridnya juga sudah menubruk dengan serangan dalam berbagai gaya. Kian Lee menggerakkan tubuhnya, mengelak, menangkis kemudian balas menyerang dengan hebatnya sehingga terjadilah pertandingan yang amat seru dan ramai.

Kalau saja Kian Lee bermaksud membunuh mereka berenam, tentu saja dia tidak akan membutuhkan terlalu banyak waktu. Namun pemuda ini tidak suka membunuh, maka ia hanya mempertahankan diri, kemudian kalau dia membalas, itu pun dilakukan dengan hati-hati agar jangan sampai membunuh orang.

Kian Lee adalah seorang pemuda yang selalu berhati-hati dan sikapnya bijaksana. Dalam keadaan marah sekali pun dia tetap tenang dan waspada, tidak mau diseret oleh arus kemarahannya dan ia masih sadar bahwa para murid Yang-liu Nionio ini hanyalah mentaati perintah guru mereka, maka dia pun bersikap lunak terhadap mereka. Yang diincarnya adalah Yang-liu Nionio, maka ketika dia memperoleh kesempatan baik, saat nenek itu menggerakkan ranting untuk melecutnya, dia tidak menangkis, membiarkan ranting itu melecut lehernya, dan dengan pengerahan tenaganya dia lalu menangkis cengkeraman tangan nenek itu yang ditujukan ke arah lambungnya.

“Plakkk! Aughhhhh…!”

Nenek itu melompat jauh ke belakang sambil memegangi lengan kanan dengan tangan kirinya, mengaduh- aduh karena biar pun tulang lengannya tidak patah, namun hawa dingin yang menusuk tulang menjalar dari lengan itu sampai masuk ke dalam dadanya! Kemudian nenek itu lari keluar dari kepungan anak buahnya, menghampiri Tek Hoat yang masih menonton dengan sikap acuh tak acuh.

“Mengapa Sicu diam saja? Bantulah kami! Bukankah Sicu datang sebagai tamu kami?” katanya.

Tek Hoat tersenyum dan memandang ke arah Kian Lee yang masih dikepung anak buah Hek-eng-pang itu, kemudian menghadapi nenek itu. “Aku sanggup mengalahkan dia dan membantumu, akan tetapi aku tidak pernah membantu orang-orang seperti engkau tanpa imbalan.”

“Apa imbalannya? Katakan!” Nenek itu mendesak karena melihat betapa anak buahnya kini telah mulai terlempar ke sana-sini oleh amukan Kian Lee.

“Kalian harus membantuku menyerbu Liong-sim-pang “

“Apa? Liong-sim-pang di puncak Naga Api?” Nenek itu terbelalak dan kelihatan khawatir sekali.

Siapa yang tidak mengenal nama Hwa-i-kongcu, ketua perkumpulan Liong-sim-pang yang amat lihai dan memiliki banyak anak buah dan memiliki tempat yang juga amat kuat seperti benteng istana itu?

“Aku hendak membebaskan seseorang yang tertawan di sana. Bagaimana, mau atau tidak?” Tek Hoat bertanya, sambil tetap tersenyum.

Terdengar suara menjerit dan tubuh Kim-hi Niocu yang terlempar itu jatuh berdebuk di depan kaki Yang-liu Nionio.

“Pangcu… aduhhhh… kami tidak kuat menghadapinya,“ Kim-hi Niocu mengeluh sambil mengelus pinggulnya yang tadi terkena ditendang kaki Kian Lee.

“Baiklah, kami menerima syaratmu, orang muda. Nah, kau robohkan dia dan kami akan membantumu menyerbu Liong-sim-pang!” Akhirnya nenek itu berkata dengan cepat.

“Mundurlah kalian semua!” Tiba-tiba Tek Hoat membentak dengan suara mengandung getaran khikang kuat sehingga biar pun yang memerintah mereka ini bukan ketua atau kepala mereka, melainkan seorang pemuda yang belum mereka kenal, akan tetapi bentakan Tek Hoat itu membuat mereka semua mundur, apa lagi karena memang mereka telah merasa jeri sekali terhadap Kian Lee.

Dua orang pemuda itu sekarang berdiri saling berhadapan. Keduanya sama tampan dan sama gagahnya, dan mereka kini bukan lagi pemuda lima tahun yang lalu. Ang Tek Hoat telah berusia dua puluh tiga tahun, dan Suma Kian Lee sudah berusia hampir dua puluh dua tahun. Mereka telah menjadi seorang laki-laki, seorang yang sudah dewasa dan matang, bukan lagi seorang pemuda remaja seperti ketika mereka pernah saling bertemu empat lima tahun yang lalu.

Keadaan menjadi penuh ketegangan dan ini dirasakan oleh Yang-liu Nionio dan semua murid dan anak buah mereka yang kini menjadi penonton, tidak bergerak. Bahkan mereka yang ditugaskan menjaga Cui Lan dan Hok-taijin, kini juga membawa dua orang tawanannya itu keluar di bawah todongan senjata, untuk menyaksikan pertandingan yang tentu akan terjadi hebat sekali antara Si Jari Maut yang nama besarnya telah mereka dengar melawan pemuda nelayan yang ternyata adalah saudara dari Suma-kongcu yang mereka cari-cari itu.

“Ang Tek Hoat, apa artinya ini? Benarkah engkau hendak membantu kaum sesat ini untuk menentang aku? Ketahuilah bahwa aku melindungi dua orang yang tidak berdosa itu!” Dia menunjuk ke arah Cui Lan dan Hok-taijin yang berdiri di sudut ruangan dengan pedang ditodongkan di punggung mereka.

Cui Lan memandang dengan penuh perhatian. Wajahnya yang cantik membayangkan kekhawatiran ketika dia memandang Kian Lee.

“Suma Kian Lee, dahulu kita bukan sahabat, sekarang bukan pula teman! Aku tidak membantu siapa-siapa melainkan saling menukar jasa. Kalau kau enggan bertanding melawan aku, penuhilah permintaan Hek- eng-pangcu.”

“Ang Tek Hoat, tidak kusangka engkau ternyata sama sekali tidak berubah sejak dulu! Engkau tidak juga bertobat dan kembali menjadi orang baik-baik!” Kian Lee menegur dengan suara penuh penyesalan karena betapa pun juga, pemuda di depannya ini adalah cucu kandung ibunya sendiri!

Tek Hoat tertawa, tertawa yang pahit sekali karena matanya tidak ikut tertawa bahkan mulutnya menyeringai seperti orang menderita nyeri. “Ha-ha-ha, memang aku bukan orang baik-baik, tidak seperti keluarga Pulau Es yang bersih dan terhormat! Dan aku pun tidak ingin menjadi orang baik-baik yang sombong seperti keluarga Pulau Es! Tak perlu banyak cakap, Suma Kian Lee, kau menyerah dan memenuhi permintaan ketua Hek-eng-pangcu atau harus melawan aku.”

“Hemmm, kau tentu mengira aku takut padamu! Majulah!” Kian Lee menantang, sedikit pun tidak merasa takut. Empat lima tahun yang lalu, memang Tek Hoat merupakan seorang tandingan yang lihai bukan main. Akan tetapi selama lima tahun ini dia telah melatih diri di bawah bimbingan ayahnya di Pulau Es dan telah memperoleh kemajuan pesat sekali.

“Kalau begitu terpaksa aku merobohkan engkau!” Tek Hoat berkata dan sebelum kata terakhir habis diucapkan, tangannya sudah menyambar dan sebuah tamparan yang seperti kilat cepatnya menyambar ke arah kepala Kian Lee.

“Plak-plak-plak-plakkkkk!”

Empat kali Tek Hoat menyerang dan empat kali pula ditangkis oleh Kian Lee. Keduanya merasa betapa lengan lawan mengandung tenaga yang amat kuat, akan tetapi yang terkejut sekali adalah Tek Hoat. Dia maklum akan kelihaian putera Pulau Es ini, maka tadi serangannya sudah dilakukan dengan sepenuh tenaganya, dengan tenaga yang dinamakan tenaga Inti Bumi yang dipelajarinya dari kitab peninggalan Bu- tek Siauw-jin datuk kedua dari Pulau Neraka. Namun, tangkisan Kian Lee mnembuat tenaga mukjijat itu buyar dan dia merasakan hawa dingin menghantamnya, membuatnya tergetar dan terguncang!

Akan tetapi, Tek Hoat dapat cepat mengusir hawa dingin itu dan sekarang dia telah menerjang dengan hebat dan dahsyat, mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya yang dahulu dipelajarinya dari kitab peninggalan Cui-beng Koai-ong, datuk pertama dari Pulau Neraka dan Bu-tek Siauw-jin. Dia menyerang dan memang pemuda ini memiliki watak yang ganas, maka serangan-serangannya itu pun bukan hanya sekedar untuk mengalahkan lawan, melainkan mengandung cengkeraman maut untuk membunuh!

Menyaksikan keganasan sepak terjang Ang Tek Hoat, diam-diam Kian Lee mengeluh. Pemuda ini benar- benar telah tersesat dan seperti seekor harimau yang haus darah, pikirnya. Tentu saja dia tidak mau melayani nafsu membunuh Tek Hoat ini dan dia lebih banyak melindungi dirinya dengan menangkis atau mengelak, hanya kadang-kadang membalas dengan serangan yang hebat pula, tetapi serangannya selalu diperhitungkan agar jangan sampai membunuh orang. Dia tidak suka membunuh orang, apa lagi Ang Tek Hoat cucu ibu kandungnya sendiri, keponakannya sendiri. Dia ingin mengalahkan Tek Hoat tanpa membunuhnya. Dan inilah sebabnya mengapa pertandingan itu menjadi ramai dan seimbang.

Kalau dibuat perbandingan, kedua orang pemuda ini sama-sama mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dan tinggi, sukar dicari bandingnya di dunia ini. Hanya bedanya, sejak kecil Suma Kian Lee dibimbing oleh Pendekar Super Sakti, ayahnya sendiri, maka tentu saja ilmunya lebih matang dan murni, tidak seperti Ang Tek Hoat yang biar pun menemukan kitab-kitab yang mengandung ilmu-ilmu tinggi, namun dipelajarinya sendiri tanpa bimbingan langsung orang pandai, maka ilmunya tidak lagi murni tapi bercampur dengan ilmu-ilmu lain pernah di pelajarinya sebelum dia memperoleh kitab-kitab peninggalan dua orang datuk Pulau Neraka itu (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).

Maka, dalam kematangan ilmu, Kian Lee masih lebih menang setingkat. Akan tetapi kemenangan setingkat ini tidak banyak artinya karena Kian Lee tidak mau melakukan serangan yang mematikan, sedangkan Tek Hoat yang maklum akan kehebatan lawan telah bertanding dengan nekat. Baginya kali ini bukanlah merupakan pertandingan adu kepandaian, melainkan suatu perkelahian mengadu nyawa. Inilah yang membuat Kian Lee kehilangan kemenangan tingkatnya dan pertandingan itu berjalan seimbang dan amat hebatnya.

Angin pukulan yang didorong oleh tenaga sakti mereka terdengar bersuitan dan terasa oleh para anggota Hek-eng-pang yang berdiri jauh, membuat pakaian mereka berkibar dan kulit mereka nyeri, kadang-kadang terasa dingin sekali dan kadang-kadang juga terasa panas sekali. Hawa dingin dan panas ini timbul dari dua macam sinkang yang dipergunakan, yaitu Swat-im Sin-kang dan Hwi-yang Sin-kang. Menghadapi dua macam sinkang yang saling bertentangan ini, diam-diam Tek Hoat mengakui bahwa dalam hal kekuatan sinkang, dia benar-benar kewalahan menghadapi lawannya. Dan hal ini bukan karena kalah tekun berlatih, melainkan selain kalah bimbingan juga kalah murni.

Tek Hoat mengandalkan ilmu silatnya yang aneh, yang didapat dari peninggalan kitab kedua orang datuk Pulau Neraka. Mendadak dia berseru keras, suaranya melengking nyaring sekali sehingga ada empat orang wanita anggota Hek-eng-pang yang kurang jauh berdirinya roboh terjungkal dan pingsan karena jantung mereka tergetar! Tubrukan Tek Hoat ini merupakan jurus serangan yang amat dahsyat. Mula-mula tangan kirinya yang menyambar ubun-ubun lawan dengan membentuk cakar, akan tetapi dalam detik selanjutnya, tangan kanannya mencuat dari bawah lengan kiri itu menyambar ke arah ulu hati lawan dengan totokan dua jari tangan. Keduanya adalah serangan maut yang dilakukan hampir bersamaan waktunya.

Kian Lee menghadapi cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala itu dengan miringkan tubuh atas yang agak ditarik ke belakang, tangan kanannya menangkis, lalu melihat tangan kanan lawan menotok ke arah ulu hatinya, dia cepat pula meloncat ke samping sambil menangkis dengan tangan kirinya.

“Hyaaattttt…!”

Tiba-tiba tubuh Tek Hoat meluncur dengan kaki kanannya, melakukan tendangan maut ke arah leher lawan. Tendangan ini sangat cepat dan kuat sekali datangnya, tubuhnya mencelat ke udara dan dari atas kakinya meluncur ke arah lawan.

“Haaaiiiiittttt…!” Kian Lee juga berteriak dan tubuhnya mencelat pula ke atas memapaki. “Desssss…!”
Dua pasang kaki yang sama kuatnya bertemu di udara dan keduanya terlempar ke atas lantai lagi. Kian Lee berjungkir balik tiga kali dan Tek Hoat agak terhuyung, mukanya berubah pucat. Diam-diam Tek Hoat merasa menyesal mengapa dia tidak mempunyai lagi pedangnya yang diandalkannya, yaitu Cui-beng- kiam. Kalau dia masih mempunyai pedang yang dulu terampas oleh Hek-tiauw Lo-mo, ketua Pulau Neraka itu, tentu dia dapat mempergunakan pedangnya itu menghadapi Kian Lee yang begini lihai.

Pertandingan dilanjutkan, akan tetapi tetap saja mereka berimbang karena Kian Lee tetap tidak mau menggunakan tenaga sepenuhnya atau pukulan yang mematikan. Hal inilah yang membuat panas hati Tek Hoat. Dia tahu bahwa pemuda Pulau Es itu tidak mengerahkan seluruh tenaga, bahkan beberapa kali terasa olehnya Kian Lee sengaja mengurangi kecepatan dan tenaganya. Dia pun merasa penasaran dan marah sekali, karena dia merasa seperti dipandang ringan!

Saking marahnya, Tek Hoat lalu mengambil keputusan untuk mengadu nyawa! Mereka telah bertanding lebih dari seratus jurus tanpa ada yang kalah, dan mata nenek ketua Hek-eng-pang sendiri sampai silau menyaksikan pertandingan itu dan merasa bahwa sebenarnya tingkat kepandaiannya kalah jauh oleh dua orang pemuda perkasa itu.

“Suma Kian Lee manusia sombong! Bersiaplah untuk mampus!” teriak Tek Hoat dan dia menyerang makin ganas.

Melihat serangan ini, Kian Lee cepat-cepat menghindarkan diri dengan mengelak dan menangkis, kemudian untuk menahan serbuan lawan, dia membalas dengan pukulan ke arah dada Tek Hoat. Dia maklum dan yakin bahwa pukulan ini tentu membuat Tek Hoat mengelak atau menangkis sehingga dia akan dapat membalas dengan desakan pukulan-pukulan berantai.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika Tek Hoat tidak mengelak mau pun menangkis, melainkan menerima begitu saja pukulannya itu, akan tetapi pada saat yang sama, kedua tangan Tek Hoat memukul ke arah paha dan lehernya.

Suma Kian Lee yang terkejut itu mengeluarkan bunyi melengking yang amat nyaring, membuat lima orang anggota Hek-eng-pang kembali terjungkal pingsan. Maklum bahwa tidak mungkin dia menghindarkan diri dari dua pukulan sekaligus karena tangan kirinya sedang memukul dada Tek Hoat, Kian Lee menggerakkan tangan kanan menangkis pukulan ke arah lehernya yang lebih berbahaya dan terpaksa membiarkan pahanya terpukul.

“Plakkk! Desssss…!”

Dada Tek Hoat terkena dorongan tangan Kian Lee dan pada saat yang sama, paha Kian Lee terkena pukulan keras dari tangan kanan Tek Hoat. Akibatnya, Tek Hoat terlempar ke belakang sampai tiga meter jauhnya dan dia terhuyung-huyung sedangkan Kian Lee roboh pingsan karena kakinya di bagian paha terkena pukulan beracun. Pukulan ini hebat sekali karena merupakan pukulan jari tangan Tek Hoat yang biasanya membunuh orang sehingga dia dijuluki Si Jari Maut, yaitu pukulan yang disebut Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa). Paha itu menjadi biru dan hawa pukulan berancun menyerang ke atas, membuat putera Pulau Es itu roboh pingsan.

Tek Hoat memejamkan mata dan mengatur pernapasannya. Kalau saja tadi Kian Lee tidak mengurangi tenaganya, tentu sudah putus nyawanya! Dia tahu akan hal ini dan menarik napas panjang, lalu menyusut darah yang menetes dari ujung bibirnya.

“Kongcu…!” Cui Lan yang ditodong pedang itu tidak peduli dan dia sudah lari menubruk tubuh Kian Lee yang disangkanya mati, berlutut sambil menangis. Kemudian, melihat Nenek Yang-liu Nionio dan Tek Hoat menghampiri, dia lalu bangkit berdiri dan dengan air mata bercucuran, dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Tek Hoat.

“Engkau… pemuda tiada guna! Engkau hanya menjadi tukang pukul orang! Sungguh malu hidup seperti engkau, pemuda yang tampan dan gagah namun di dalamnya jahat seperti sebutir buah yang berulat! Dan kau…” Dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Yang-liu Nionio, “Kau seorang wanita yang berhati busuk, dan engkau pengecut besar yang harus merasa malu karena beraninya hanya mengandalkan pengeroyokan saja!”

“Diam, bocah lancang mulut!” Seorang anak buah Hek-eng-pang yang tadi bertugas menjaga Cui Lan kini sudah mengejar dan tangannya diayun keras.

“Plakkk!” Pipi kiri Cui Lan kena ditampar.

Kulit pipi yang halus putih itu menjadi merah sekali dan dara itu terhuyung ke belakang, akan tetapi bibirnya tersenyum mengejek dan dengan keberanian luar biasa dara ini memandang mereka semua sambil berkata, “Kalian boleh membunuh aku dan aku akan mati sebagai seorang terhormat, tidak seperti kalian yang akan hidup sebagai manusia-manusia hina dan kotor!”

“Bangsat, tutup mulutmu!” Anggota Hek-eng-pang itu menjadi makin marah dan kini dia mengayun tangan, tidak menampar seperti tadi melainkan memukul ke arah mulut Cui Lan dengan kuat.

“Krekkk… aduuuhhhhh…!”

Anggota Hek-eng-pang yang memukul itu menjerit dan memegangi tangan kanannya yang patah tulangnya ketika bertemu tadi dengan tangkisan tangan Tek Hoat!

“Hemmm, apa artinya ini?” Yang-liu Nionio menegur dengan alis berkerut, memandang pada Tek Hoat dengan heran dan penasaran. “Dia memaki-maki kita, sudah sepatutnya dihajar!”

“Siapa yang memaki? Apa yang di katakannya itu benar belaka, kenapa kita mesti marah? Pangcu, janji kita hanya aku merobohkan Suma Kian Lee dan dia sudah roboh, aku tidak suka ditambah dengan penyiksaan atau pembunuhan orang! Dan sekarang juga engkau harus mengerahkan orang-orangmu untuk ikut dan membantuku.” Di dalam suara Tek Hoat terkandung perintah yang mengancam.

Nenek itu menelan kembali kemarahannya dan memberi isyarat kepada Kim-hi Niocu. “Kau bawa mereka bertiga ke tempat tahanan. Pisahkan mereka dan pergunakan yang dua itu sebagai sandera agar pemuda ini tidak sampai lari.” Kemudian setelah Kian Lee yang masih pingsan itu digotong pergi, Cui Lan dan Hok- taijin digiring meninggalkan ruangan itu.

Hek-eng-pangcu kemudian mengumpulkan orang-orangnya dan akhirnya memilih tiga pasukan. Pasukan Tanah yang dipimpin oleh Liong-li, Pasukan Kayu dan Pasukan Api, semua berjumlah tiga puluh enam orang ditambah ketiga orang kepala pasukan lainnya, mengiringkan dia sendiri dan Tek Hoat meninggalkan puncak Bukit Cemara.

Kiranya Ang Tek Hoat telah mendengar, bahkan sudah menerima undangan, bahwa Hwa-i-kongcu Tang Hun, ketua dari Liong-sim-pang di puncak Naga Api, Pegunungan Lu-Iiang-san di dekat belokan Sungai Huang-ho, akan menikah dan calon isterinya itu adalah seorang puteri dari Bhutan yang amat cantik jelita! Mendengar ini, jantung Tek Hoat berdebar keras, timbul kekhawatirannya karena dia menduga keras bahwa Puteri Bhutan yang cantik jelita itu sudah pasti adalah Syanti Dewi. Kalau tidak, siapa lagi?

Memang banyak wanita muda, puteri-puteri Bhutan yang cantik jelita, akan tetapi puteri-puteri itu tidak akan meninggalkan istana Bhutan. Kemungkinan satu-satunya hanyalah Syanti Dewi yang entah mengapa dan bagaimana telah dapat sampai di tempat itu dan agaknya ditawan Liong-sim-pang.

Tek Hoat maklum akan kekuatan Liong-sim-pang, dan kalau hanya sendirian saja tidak mungkin dia akan dapat menolong Puteri Bhutan itu, maka dia lalu mengundang ketua Hek-eng-pang dengan maksud untuk minta ‘bantuan’ mereka. Kebetulan sekali dia melihat Suma Kian Lee dan ketika ketua Hek-eng-pang dan anak buahnya tidak mampu mengalahkan Kian Lee, timbul akalnya untuk memaksa mereka membantunya.

Akan tetapi sungguh tidak disangkanya, melawan Kian Lee hampir saja dia celaka dan biar pun akhirnya dia bisa merobohkan putera Pulau Es itu, dia sendiri juga menderita luka yang cukup parah dan dalam keadaan seperti itu, tentu saja amat berbahaya kalau dia bertemu dengan lawan tangguh. Untungnya dia kini dibantu oleh pasukan-pasukan Hek-eng-pang dan ketua mereka…..
********************
Seluruh perkampungan Liong-sim-pang dihias dengan meriah, mulai dari pintu gerbang tembok yang seperti benteng itu, sampai menara yang berdiri di luar tembok sebagai tempat jaga, juga sampai di sepanjang saluran air yang mengelilingi tembok benteng. Suasana perkampungan Liong-sim-pang yang seperti benteng dan biasanya muram dan menyeramkan itu kini nampak meriah, tanda bahwa orang-orang yang menjadi penghuni sedang bersenang-senang dan bersuka-ria. Dan memang hari itu merupakan hari gembira, untuk menyambut para tamu karena malam itu merupakan malam ‘midodareni’, yaitu menyambut hari pernikahan sang ketua Liong-sim-pang yang akan dilangsungkan besok pagi.

Sejak pagi hari dari tadi para tamu sudah membanjiri tempat itu dan mereka itu harus melalui satu-satunya jembatan yang menuju ke pintu gerbang tembok benteng karena jalan lain tidak ada lagi untuk memasuki benteng perkampungan Liong-sim-pang yang dikelilingi saluran air lebar itu. Para penjaga dengan ketat melakukan penjagaan dan pengawasan di pintu gerbang sehingga tidak ada orang luar dapat menyelundup masuk dan para tamu itu membawa undangan sebagai tanda pengenal.

Menjelang senja rombongan pemain opera yang memang dipesan oleh Liong-sim-pang menyeberang jembatan itu menuju ke pintu gerbang. Mereka terdiri dari tujuh orang wanita dan belasan orang pria, sebagian pemain dan ada pula yang sebagai penabuh musik. Para penjaga yang memeriksa semua orang yang masuk memperhatikan para pemain opera ini dengan sikap ceriwis, cengar-cengir dan tersenyum- senyum penuh aksi karena tujuh orang wanita anggota rombohgan itu memang cantik-cantik. Terutama sekali seorang di antara mereka, yang termuda dan memakai pakaian berwarna ungu, bukan main cantiknya!

Cantik jelita dan manis sekali, dengan gayanya yang manja dan memikat, lenggangnya yang berliak-liuk seperti lemasnya batang pohon yang-liu sedang tertiup angin. Kedua lengannya yang agak melengkung seperti gendewa itu bergerak seperti orang menari kalau dia melenggang, dan senyumnya yang manis membuat semua penjaga mabuk kepayang itu tak pernah meninggalkan belahan bibir yang membuat orang ingin menjadi buah anggur agar dikecup oleh bibir itu!

Gerak-gerik dara muda yang jelita ini membuat para penjaga ingin sekali mencubitnya, memeluknya, pendeknya saking tertariknya membuat mereka menjadi gemas, seperti kalau kita melihat seorang anak kecil yang genit dan montok bersih. Saking tidak dapat menahan gairahnya melihat gerak-gerik dara jelita ini, seorang di antara para penjaga itu sambil berpura-pura memeriksa bawaan mereka, menggerakkan tangannya ingin meraba pinggul yang penuh itu. Akan tetapi… tangannya hanya meraba angin karena secara cepat sekali gadis itu menggerakkan pinggulnya mengelak. Si penjaga menjadi makin penasaran, kini terang-terangan dia mengulur tangannya meraba ke arah dada. Kembali gadis itu miringkan tubuh dan rabaan itu pun mengenai tempat kosong. Melihat ini, teman-temannya mentertawakan.

“Ha-ha, si A-kiong menangkap katak akan tetapi luput!” A-kiong makin penasaran dan dia hendak merangkul.

“Jangan kurang ajar kalian!” Tiba-tiba gadis itu membentak, suaranya halus akan tetapi nyaring dan mulutnya masih tersenyum, akan tetapi anehnya, semua penjaga termasuk komandannya menjadi gemetar ketakutan seakah-olah mereka itu dimarahi seorang jenderal! Dengan muka pucat ketakutan komandan itu lalu memberi isyarat agar rombongan penari dan pemain opera itu cepat-cepat masuk.

Setelah rombongan itu masuk, si komandan dan anak buahnya saling pandang dengan heran dan bengong. Tidak mengerti mengapa mereka tadi begitu ketakutan mendengar bentakan si dara jelita tadi, yang memiliki wibawa luar biasa sekali dan bentakan tadi mengguncangkan jantung mereka menimbulkan rasa takut yang hebat.

“Ihhhh… seperti siluman saja…!” seorang akhirnya berkata dan mendengar ini, semua orang bergidik. Memang mereka semua pernah mendengar bahwa siluman selalu mengubah diri menjadi seorang dara cantik sekali untuk memikat pria yang kemudian akan dlhisap darahnya sampai habis!

“Hihhh… jangan-jangan benar siluman…“

Pada saat mereka dicekam perasaan yang menyeramkan karena memang hari telah mulai menjadi gelap. Untunglah datang serombongan wanita lain yang membuyarkan keseraman itu. Rombongan wanita ini dipimpin oieh seorang wanita yang cantik, dan anggota rombongan yang jumlahnya dua puluh empat orang itu pun terdiri dari wanita-wanita yang cantik. Pimpinan rombongan itu, yang usianya sekitar tiga puluh tahun memperlihatkan sehelai surat undangan dan sesampul surat yang ditujukan kepada Hwa-i-kongcu Tang Hun.

“Kami adalah utusan dari sahabat Tang-kongcu, yaitu Si Jari Maut,” berkata pemimpin rombongan itu.

Melihat kartu undangan itu, para penjaga tentu saja menaruh kepercayaan, apa lagi mendengar nama orang yang mengutus mereka, Si Jari Maut, cepat-cepat mereka mempersilakan semua wanita itu masuk tanpa ada yang berani bersikap kurang ajar. Rombongan ini bukan lain adalah para anggota Hek-eng-pang yang menyamar, dipimpin oleh Liong-li, kepala Pasukan Tanah dan membawa surat Ang Tek Hoat untuk Hwai-kongcu.

Setelah rombongan pemain opera diterima sendiri oleh Hwa-i-kongcu dan diantar oleh para pelayan untuk berhias dan bersiap-siap untuk mulai pertunjukan mereka malam nanti, kini rombongan wanita itu pun diterima oleh Hwa-i-kongcu sendiri. Liong-li yang sudah berhias sebagai seorang pelayan yang cantik, berlutut dan menghaturkan selamat, serta menyerahkan surat dari Ang Tek Hoat.

“Aihhh, dari Si Jari Maut?” Hwa-i-kongcu berseru bangga. “Mengapa beliau tidak muncul sendiri?”

Sudah lama dia mendengar nama Si Jari Maut dan mengaguminya, tetapi belum pernah bertemu dengan orangnya. Surat itu segera dibukanya dan dengan wajah berseri dia membaca bahwa Si Jari Maut menghaturkan selamat atas pernikahannya, dan minta maaf bahwa berhalangan hadir, akan tetapi mengirim dua puluh lima orang wanita untuk membantu pelayanan dalam pesta itu.

“Ha-ha-ha-ha! Si Jari Maut sungguh mengagumkan sekali, dapat mengumpulkan begini banyak wanita cantik dan begitu memperhatikan keperluan kami sehingga mengirim bantuan pelayan!” Dia kemudian memanggil kepala pelayan dan memerintahkan kepala pelayan untuk menerima dua puluh lima orang wanita itu dan agar diberi tugas dalam pelayanan malam nanti dan besok pagi.

Malam pun tibalah. Para tamu sudah berkumpul di sebuah ruangan yang luas sekali, ruangan yang menyambung pada taman indah di mana juga penuh dengan kursi-kursi untuk para tamu. Suara musik sudah semenjak sore tadi dibunyikan oleh rombongan pemain opera, sungguh pun opera itu sendiri belum dimulai.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo