September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 3

 

Potongan-potongan genteng itu menimbulkan suara berisik ketika menimpa pot-pot bunga di bagian depan bangunan itu. Tentu saja semua pengawal terkejut dan semua orang menoleh ke tempat itu sehingga tidak ada seorang pun yang memperhatikan atau melihat ketika Siang In cepat sekali meloncat dan terus berlari dan akhirnya melayang turun ke dalam taman.

Dengan hati lega Siang In menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak di dalam taman itu. Dia telah berhasil meninggalkan kamar Syanti Dewi tanpa diketahui orang dan kini akan menuju ke kandang kuda seperti yang telah direncanakan di dalam kamar Sang Puteri. Dari peta yang dibuat oleh Syanti Dewi, kini dia telah hafal akan keadaan dan lorong-lorong di kompleks istana itu.

“Heiiiii, berhenti…!”

Siang In terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa ada dua orang pengawal yang bersembunyi di belakang batang pohon besar sehingga hampir saja dia bertumbukan dengan mereka.

“Srat! Srattt!” Dua orang pengawal itu telah mencabut pedang masing-masing.

“Aihhh, mengapa kalian demikian galak? Mengagetkan orang saja!” Siang In tersenyum manis bukan main, suaranya pun merdu dan genit, matanya bersinar-sinar sehingga kedua orang pengawal itu terpesona dan dalam waktu beberapa detik tidak mampu bergerak hanya menatap wajah yang cantik jelita itu dengan bengong.

Waktu yang hanya beberapa detik ini cukup sudah bagi Siang In. Dua kali payungnya bergerak dan dua orang itu roboh tanpa dapat mengeluarkan suara atau berkutik lagi karena mereka telah tertotok secara tepat sekali oleh ujung payung di tangan Siang In yang cepat sudah menyelinap maju. Kini dia berlaku hati- hati sekali sehingga dia tidak sampai ketahuan oleh para penjaga lain.

Akhirnya tibalah dia di bagian kandang kuda dan gudang rumput, di sebelah belakang istana. Dia menyelinap dan mengintai. Dilihatnya ada empat orang penjaga di dalam gudang rumput, maka dia lalu menyambar lampu minyak yang tergantung di samping gudang, kemudian dia bersenandung!

Tentu saja empat orang penjaga yang sedang melewatkan malam dingin dengan bermain kartu, karena mereka ini pun menerima perintah agar malam itu mereka tidak tidur, menjadi terheran-heran mendengar senandung yang merdu itu. Suara wanita di tempat itu? Sungguh aneh.

“Aihhh, kiranya di antara kalian ada yang mempunyai simpanan wanita di sini, ya?” penjaga yang gendut tertawa. “Hayo, siapa yang menyimpan wanita yang sekarang bersenandung itu?”

“Aih, suaranya begitu merdu…,” kata penjaga yang kurus.

“Aku tidak mempunyai kenalan wanita di sini,” kata yang ketiga. “Aku pun tidak…,“ kata yang keempat.
“Kalau begitu… siapa…?“ Mereka saling pandang dan mata mereka terbelalak karena teringatlah mereka akan dongeng tentang siluman cantik.

“Jangan-jangan dia…?”

“Ahhhhh, mana ada siluman pandai bersenandung semerdu itu. Apa pun adanya dia, mari kita ke luar menyelidiki. Suaranya terdengar dekat, agaknya di depan gudang,” kata Si Gendut yang menjadi pemimpin dan keluarlah empat orang itu, berindap-indap keluar dari gudang, tangan mereka memegang tombak garpu yang biasanya dipakai untuk menumpuk rumput kering.

Akan tetapi baru saja mereka tiba di luar pintu gudang dan celingukan karena tidak melihat sesuatu, dari jendela gudang itu ada sebuah lentera yang dilemparkan ke dalam gudang. Lentera menimpa tumpukan rumput kering dan tentu saja dalam sekejap mata rumput kering itu terbakar! Empat orang itu terkejut mendengar suara api di belakang mereka.

Cepat mereka menengok ke dalam gudang dan melihat api sudah berkobar besar di dalam gudang itu. Mereka terkejut dan juga merasa ngeri. Kalau saja mereka tadi belum keluar, agaknya kini akan sukar meloloskan diri dari api yang tentu mudah berkobar memakan rumput kering itu.

“Kebakaran…!” “Tolonggg… kebakaran…!”

Segera mereka memukul kentongan sambil berteriak-teriak dan sebentar saja suara kentongan dan berita kebakaran di gudang kandang kuda itu sudah terdengar di seluruh kompleks istana. Apa lagi ketika semua kuda telah terlepas dari kandangnya dan kini berlarian ke sana-sini oleh karena ketakutan melihat api. Tentu Siang In pula yang telah melepaskan kuda-kuda itu dengan membuka pintu-pintu kandang dan mencambuki binatang-binatang itu ke luar kandang mereka.

Panik dan gegerlah seluruh istana! Orang-orang berlari ke sana-sini, berserabutan dan bingung.

“Jangan panik! Dan jangan tinggalkan tempat penjagaan masing-masing!” Panglima Mohinta dibantu oleh beberapa orang perwira berlari ke sana-sini menenangkan para pengawal.

Akan tetapi tetap saja terjadi kepanikan hebat, bukan hanya karena kebakaran itu, melainkan kepanikan lain yang terjadi mulai dari taman di belakang kamar Syanti Dewi. Selagi para pengawal di sekitar taman itu yang jumlahnya paling banyak ada lima puluh orang yang tadinya berada di mana-mana dan kini berkumpul, menjadi agak bingung mendengar teriakan-teriakan kebakaran dan bunyi kentongan, tiba-tiba di tempat gelap muncul seorang wanita muda yang sangat cantik, yang tersenyum-senyum kepada mereka dari jauh dan melambaikan tangan.

“Itu dia… siluman itu!” teriak seorang di antara mereka yang pernah bertemu dengan Siang In. “Lihat dia membawa payung!”

Mendengar ini, para pengawal yang merasa tabah karena terdiri dari banyak orang itu berlari menghampiri. Akan tetapi Siang In tertawa terkekeh lalu membalikkan tubuhnya dan lari menyelinap di antara pohon- pohon dan semak-semak. Gerakannya amat ringan dan cepat, lincah bukan main sehingga untuk beberapa lamanya dia dapat bermain kucing-kucingan dengan mereka, kadang-kadang menghilang bersembunyi di balik semak-semak atau di balik pohon-pohon, bahkan kadang-kadang dia meloncat seperti seekor burung terbang ke dalam pohon dan ketika beberapa orang pengawal yang mencarinya lewat di bawah pohon, dia melempari mereka dengan buah-buah mentah lalu melompat ke lain pohon dan berlari lagi.

Dengan gangguan-gangguan ini, Siang In berhasil membikin kacau lima puluh orang itu dan kini mereka semua tercurah perhatiannya kepada Siang In yang sebentar muncul sebentar lenyap itu. Bahkan Siang In kini lari tidak begitu cepat meninggalkan taman, tentu saja segera dikejar oleh semua pengawal yang seolah-olah kini berlumba untuk menangkap siluman yang amat cantik jelita itu. Siang In sengaja memperlambat larinya dan membiarkan dirinya hampir tersusul.

Setelah dia mendengar suara derap para pengawal itu dekat di belakangnya, tiba-tiba dia berhenti, membalik sambil mengeluarkan suara melengking nyaring yang tidak menyerupai suara manusia. Begitu dia membalik, semua pengejarnya terbelalak ngeri melihat wajah yang putih polos, wajah setan tanpa mata hidung mulut! Dan selagi mereka bengong dengan muka pucat, Siang In menubruk ke depan, menggerakkan payungnya dan robohlah enam orang sambil mengaduh-aduh karena ujung payung itu secara nakal sekali telah menusuk pundak dan paha mereka, tidak membahayakan namun cukup mendatangkan rasa nyeri.

“Hi-hi-hik!” Siang In tertawa lagi sambil membalikkan dan melanjutkan larinya, makin menjauhi taman. Tentu saja para pengawal segera mengejarnya dengan marah.

Berhasillah Siang In mengacaukan para pengawal dan Syanti Dewi yang sudah siap dan mendengar keributan kebakaran, maklum bahwa saat baginya sudah tiba. Memang tanda kebakaran itu merupakan isyarat baginya untuk mulai meloloskan diri. Karena itu puteri ini lalu cepat keluar dari kamarnya melalui jendela dan hal ini bukan merupakan hal yang sukar baginya karena Syanti Dewi juga bukanlah seorang puteri yang lemah, melainkan seorang yang telah mempelajari ilmu silat pula sehingga lolos dari jendela merupakan pekerjaan yang mudah.

Dia mendengar suara ribut-ribut di taman itu, maka tahulah dia bahwa Siang In sedang ‘mengerjakan’ para pengawal yang berjaga di taman. Maka dia lantas menyelinap di belakang pohon, mengintai dari tempat gelap dan setelah suara teriakan para pengawal makin menjauhi taman, tanda bahwa Siang In yang cerdik itu telah berhasil memancing mereka ke luar dari taman, Sang Puteri cepat berlari menyelinap di antara kegelapan pohon-pohon di taman, membawa buntalannya dan terus menuju ke luar taman melalui jalan rahasia yang menembus ke pinggir tembok kota raja!

Sementara itu, Siang In dengan lincahnya mempermainkan para pengawal yang kini makin banyak berdatangan dan mengepungnya. Ketika para pengejarnya belum begitu banyak, dia masih dapat menggunakan sihirnya yang mempengaruhi para pengejarnya. Kadang-kadang dia berdiri begitu saja di dekat pohon dan mereka yang mengejarnya tidak dapat melihatnya karena mereka melihat gadis itu seperti sebatang pohon dan melewatinya begitu saja. Kadang-kadang ketika mereka sudah mengepung gadis itu, mendadak saja gadis itu lenyap berubah menjadi asap atau ‘terbang’ begitu saja ke angkasa di depan mata mereka!

Tentu saja semua ini hanyalah pengaruh sihir yang dikerjakan oleh Teng Siang In dan menguasai pikiran mereka semua. Akan tetapi ketika yang mengejarnya makin banyak, sihir Siang In tidak begitu manjur lagi! Ada sebagian yang melihat dia ‘terbang’ sehingga menjadi bengong, akan tetapi sebagian lagi yang tidak terpengaruh, melihat gadis itu sebetulnya hanya menyelinap saja untuk melarikan diri dan mereka ini terus mengejar, dan tentu saja perbuatan mereka ini sekaligus menyadarkan mereka yang terkena pengaruh sihir. Mulai sibuklah Siang In berlari ke sana ke mari dan dikejar oleh para pengawal yang dipimpin oleh Panglima Mohinta sendiri.

“Kejar! Tangkap dia!” Mohinta berteriak-teriak ketika melihat betapa gadis itu kadang-kadang melawan dan merobohkan para pengeroyok dengan gerakan silat yang amat hebat.

Mulailah Siang In mencari kesempatan untuk meloloskan diri. Menurut perhitungannya, saat ini Syanti Dewi tentu telah lolos. Akan tetapi celaka baginya, kini tiga ratus orang pengawal memusatkan kekuatan untuk mengurungnya dan tidak memberi kesempatan baginya untuk keluar dari dalam lingkungan istana! Kemana pun lari, tentu dia bertemu dengan pasukan pengawal yang amat banyak jumlahnya! Dan dia tidak akan mungkin terus bermain kucing-kucingan seperti itu, karena kalau sampai malam berganti pagi dan dia masih berada di istana, dia akan celaka! Ilmu silatnya dan ilmu sihirnya tidak mungkin dapat dia pergunakan menghadapi bala tentara Bhutan yang tentu akan dikerahkan untuk menangkapnya!

Kemarin masih ada Syanti Dewi yang melindungi dan menyembunyikannya, akan tetapi sekarang, para pengawal sudah menduga bahwa dia hanyalah seorang manusia biasa yang pandai ilmu sihir. Bahkan kini Mohinta telah mengundang jago-jago ilmu sihir yang banyak pula terdapat di Bhutan untuk menandinginya sehingga ketika dia mencoba menggunakan sihirnya ketika dia bertemu dengan sepasukan pengawal yang ditemani seorang pendeta, sihirnya melempem dan tidak berhasil sama sekali! Hanya berkat ilmu silatnya yang cukup tinggi sajalah dia mampu lolos!

Napasnya agak terengah dan keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya ketika Siang In menyelinap ke dalam sebuah ruangan kosong untuk beristirahat sejenak serta mengumpulkan kekuatan dan mencari akal. Akan tetapi baru saja dia masuk dan menghapus peluh dengan saputangan, muncul seorang laki-laki tinggi besar berpakaian panglima yang gagah sekali. Orang ini sudah setengah tua, usianya kurang lebih empat puluh lima tahun, tubuhnya tegap dan gagah, tangannya memegang sebatang golok. Melihat laki- laki ini, Siang In terkejut, akan tetapi juga girang dan wajahnya berseri.

“Paman Jayin…!”

Panglima itu memang Panglima Jayin, seorang panglima yang setia kepada Kerajaan Bhutan dan di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan betapa panglima ini yang telah berhasil membawa pulang Syanti Dewi dari timur, dan panglima ini masih terhitung suheng dari Ceng Ceng karena dia pernah menerima gemblengan dari kakek pendekar wanita itu.

Panglima Jayin terkejut dan heran mendengar dara muda yang cantik, yang disangka siluman dan dikejar- kejar ratusan orang pengawal itu menyebutnya paman. Panglima ini baru saja tiba dari tugasnya ke luar kota raja dan begitu mendengar bahwa istana dikacau oleh seorang gadis lihai yang disangka siluman, dia bergegas pergi ke istana dan ikut pula mencari ‘siluman’ itu.

Panglima ini adalah seorang yang sudah berpengalaman. Tentu saja dia tidak percaya bahwa istana diganggu siluman. Dia menduga bahwa tentulah yang mengganggu atau mengacau itu seorang tokoh kang-ouw atau seorang penjahat. Bahkan tadinya dia menduga bahwa yang mengacau adalah Ang Tek Hoat, tetapi dugaan ini dilenyapkan oleh berita bahwa pengacau atau siluman itu adalah wanita.

Dengan kecerdikannya, Panglima Jayin tidak ikut mengejar-ngejar dengan ribut, tetapi dia menyelinap ke tempat-tempat sunyi karena dia mempunyai perhitungan bahwa orang jahat yang dikejar-kejar itu tentu akan mencari tempat-tempat sunyi untuk beristirahat. Perhitungannya itu ternyata cocok sekali, dan dengan girang dia melihat seorang dara menyelinap masuk ke dalam ruangan kosong itu. Akan tetapi terkejut dan terheranlah dia ketika dara asing yang dia yakin tentulah si pengacau itu langsung saja menyebutnya paman!

Sejenak mereka berpandangan dan dara itu tersenyum manls, senyum kekanak-kanakan yang manis akan tetapi penuh dengan sifat menggoda seperti seorang anak nakal. “Ehhh, Paman Panglima Jayin, sudah lupa lagikah engkau kepadaku?” kembali dara itu berkata ramah sambil tersenyum.

Kini ada sesuatu pada diri dan sikap lucu serta nakal dari dara itu yang mengingatkan kepada panglima ini bahwa dia memang pernah bertemu dengan dara ini, akan tetapi dia sudah lupa lagi kapan dan di mana. “Nona, siapakah engkau?”

“Aku adalah Teng Siang In, murid dari See-thian Hoat-su. Kami dulu pernah membantu kalian ketika mengawal Syanti Dewi ke Bhutan.”

Jayin teringat dan dia mengangguk-angguk. “Ahhh, kiranya Nona! Akan tetapi apakah Nona pula yang menggegerkan istana dan dianggap sebagai siluman?”

“Hi-hik-hik, inilah yang disangka siluman!” Siang In mengeluarkan kedok dan sekali tangannya mengusap muka, mukanya berubah menjadi polos mengerikan.

Jayin terbelalak lalu tersenyum. “Aihh, Nona sungguh nakal sekali! Apa perlunya Nona mempermainkan kami dan mengacau istana?”

Siang In sudah melepaskan kedoknya lagi dan kini dengan sikap serius, sungguh tidak pantas bagi wajahnya yang cantik namun jenaka sifatnya itu, dia berkata, “Paman Jayin, apakah engkau tidak merasa kasihan kepada Puteri Syanti Dewi? Apakah dulu Paman bersusah payah membawanya pulang ke Bhutan hanya untuk menyiksanya sehingga dia akan mati tenggelam dalam kedukaan seperti seekor burung dalam sangkar?”

“Ehhh, apa maksudmu berkata seperti itu, Nona?” Jayin bertanya marah dengan alis berkerut.

“Hemmm, jangan kau pura-pura tidak tahu, Paman. Tidak tahukah engkau bahwa Puteri Syanti Dewi setiap hari berduka, bahwa Sang Puteri masih mencintai Tek Hoat dan sama sekali tidak mencinta Mohinta? Tidak tahukah Paman akan hal itu?”

Jayin terkejut dan sejenak dia tak dapat menjawab. Akhirnya dia menghela napas dan berkata, “Tentu saja aku tahu, Nona. Aku tidak buta, akan tetapi apakah yang dapat kulakukan?”

“Paman Jayin, dahulu engkau adalah seorang gagah perkasa yang budiman, yang amat sayang kepada Syanti Dewi. Apakah sekarang Paman sudah berubah? Apakah Paman tidak ingin melihat dia berbahagia?”

“Bagaimana saya dapat membuat dia berbahagia?”

“Dengan membiarkan dia lolos dari istana untuk pergi mencari dan berkumpul kembali dengan kekasihnya, yaitu Ang Tek Hoat.”

“Hemmm… apakah kau menganjurkan aku berkhianat?”

“Siapa yang suruh kau berkhianat? Terus terang saja Paman Jayin, sejak dahulu aku menganggapmu sebagai teman. Namun sekarang aku sedang berusaha meloloskan Puteri Syanti Dewi dari istana. Bahkan sekarang pun dia sudah lolos. Kalau engkau hendak menghalangi, hemmm… terpaksa kini aku akan menganggap engkau sebagai musuh!” Berkata dengan demikian, gadis yang cerdik itu sudah siap dengan payungnya, akan tetapi sesungguhnya ini hanya aksi belaka, karena dia sama sekali tidak ingin melukai panglima ini, dan yang dia persiapkan adalah kekuatan sihirnya karena kalau perlu dia akan menguasai panglima ini dengan sihirnya.

Panglima Jayin tercengang. Tahulah dia sekarang mengapa gadis ini mengacau istana. Dan semenjak Tek Hoat pergi tanpa pamit dari Kota Raja Bhutan, kemudian melihat keadaan Sang Puteri, memang di dalam hati panglima yang setia ini sudah timbul penyesalan hebat. Namun tentu saja dia tidak berdaya untuk membantu Syanti Dewi. Dan sekarang, secara tidak terduga-duga, muncul nona ini yang hendak menolong Syanti Dewi. Kalau dia menghalangi, sama saja artinya dengan dia hendak memaksa Syanti Dewi hidup menderita selamanya!

Pada saat itu, terdengar suara hiruk-pikuk dari jauh yang makin lama makin mendekati tempat itu. “Dia tadi berkelebat ke sini!”

“Cari sampai dapat!”

“Geledah semua tempat, semua tempat kosong!”

Jayin dan Siang In masih saling berpandangan. “Apa kau yakin Puteri telah lolos dari istananya?” tiba-tiba Jayin bertanya.

“Sudah pasti!”

“Kalau begitu, aku akan memancing mereka menjauhimu menuju ke istana Syanti Dewi di utara dan kau dapat melarikan diri ke bagian selatan. Cepat kau temani Sang Puteri dan bantulah dia agar bertemu dengan kekasihnya agar dia hidup berbahagia.”

Siang In tersenyum dan menjura. “Sungguh engkau hebat, Paman! Sudah kusangka bahwa engkau memang seorang yang gagah perkasa dan budiman.”

“Sudahlah selamat berpisah…!” kata Jayin.

“Mari selidiki di dalam sini!” terdengar suara Mohinta tiba-tiba.

“Heiiiii, siluman! Kau hendak lari ke mana?!” Tiba-tiba Jayin membentak marah. Dengan golok terhunus dia menyerbu ke luar, mengejutkan Mohinta dan para anak buahnya.

“Ehh, Paman. Panglima!” Mohinta berseru.

“Mohinta! Cepat, siluman itu lari ke sana! Ehh, kenapa kalian mengejar-ngejar di sini? Celaka! Tentu siluman itu akan menculik Sang Puteri! Dan kalian meninggalkan istana Sang Puteri! Celaka, aku melihat siluman itu tadi lari ke arah istana Sang puteri!” Jayin mendahului yang lain-lain, melompat dan lari ke arah istana Syanti Dewi.

Mohinta terkejut dan baru teringat, maka dia pun kemudian berlari cepat mengejar Jayin, diikuti oleh para pengawal.

“Ini adalah pancingan!” Sambil berlari Panglima Jayin berseru. “Siluman itu memancing kalian meninggalkan penjagaan di istana Sang Puteri. Betapa bodohnya kalian!”

“Celaka…!” Mohinta menjadi pucat dan mempercepat larinya ke arah istana kecil itu.

Seperti berlomba lari saja mereka menuju ke istana, langsung ke kamar Sang Puteri dan memang semua pengawal yang menjaga di situ tadi telah lari mengejar Siang In. Mohinta bernapas lega melihat pintu kamar Sang Puteri masih terkunci dari dalam.

“Ahhh, syukur Adinda Syanti Dewi masih di dalam, tentu masih tidur nyenyak,” katanya sambil tersenyum lega.

“Bodoh! Coba ketuk, buka! Siapa tahu…!” Jayin melangkah maju dan mengetuk pintu perlahan-lahan sambil memanggil. Akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Ketukan diperkeras dan akhirnya pintu itu digedor-gedor oleh Mohinta yang sudah menjadi pucat sekali mukanya. Namun tetap saja tidak ada jawaban.

“Bongkar pintunya…!” Jayin yang bersikap seperti orang kebingungan itu memerintah. Pintu kamar dibongkar, dipaksa terbuka dan mereka menyerbu ke dalam kamar yang ternyata sudah dalam keadaan kosong!

“Celaka…! Adinda…! Adinda Syanti Dewi…!” Panglima Mohinta mencari-cari di dalam kamar itu, lalu menjenguk keluar jendela, akan tetapi keadaan di luar jendela pun sunyi.

“Nah, apa kataku tadi!” Panglima Jayin marah-marah. “Sungguh tolol kalian semua yang dapat dipancing meninggalkan tempat ini oleh penjahat. Jelas bahwa penjahat itu sudah menyamar sebagai siluman, mengacau dan membakar kandang agar semua pengawal terpancing ke sana, kemudian dia dengan leluasa telah masuk ke dalam kamar ini dan menculik Sang Puteri.”

“Aduh, Paman Panglima Jayin, bagaimana baiknya sekarang?” Panglima Mohinta yang merasa cemas dan duka itu mengeluh.

“Agaknya tidak mungkin penjahat dapat melarikan Sang Puteri keluar dari lingkungan istana. Mohinta, kau perkuatlah penjagaan di sekitar istana, jangan sampai ada orang dapat keluar atau masuk. Aku sendiri yang akan melaporkan hal ini kepada Sri Baginda sekarang juga!”

Mohinta cepat mengerahkan semua pasukan untuk berjaga-jaga dan mencari-cari, akan tetapi tentu saja tanpa hasil karena pada saat itu, Syanti Dewi dan Siang In telah pergi jauh meninggalkan tembok tebal yang mengurung Kota Raja Bhutan.

Gegerlah istana Bhutan. Sri Baginda menjadi marah sekali dan juga sangat gelisah memikirkan puterinya yang untuk kedua kalinya diculik orang. Dahulu, kurang lebih lima tahun yang lalu, Sang Puteri bersama Ceng Ceng juga lenyap, sampai setahun lebih baru berhasil ditemukan. Sekarang, Sang Puteri lenyap pula, bahkan sekarang lenyap dari dalam kamarnya! Maka, ketika Panglima Mohinta mohon perkenan Sri Baginda untuk pergi mencari Sang Puteri, Sri Baginda segera menyetujuinya. Panglima Mohinta lalu mengumpulkan jagoan-jagoan dari Bhutan, tokoh-tokoh yang berilmu tinggi untuk menemaninya pergi mencari jejak Sang Puteri Syanti Dewi.

Keadaan Syanti Dewi benar-benar seperti seekor burung yang tadinya terkurung dalam sangkar dan kini terlepas dari kurungan, terbang bebas di udara. Kesehatannya pulih kembali, dalam waktu satu bulan saja melakukan perjalanan, wajahnya sudah menjadi segar kemerahan, sepasang matanya yang tadinya sayu kini bersinar-sinar penuh semangat dan gairah hidup dan biar pun pakaiannya tidak seindah dan semewah ketika dia berada di istana, namun hal ini sama sekali tak mengurangi kecantikannya, bahkan dia kelihatan segar dan cantik sekali, dengan mata bersinar, mulut tersenyum dan wajah berseri-seri.

Dia telah berhasil menyelinap keluar dari tembok kota raja setelah bertemu dengan Siang In di tempat yang telah dijanjikan oleh mereka, dan berkat kelihaian Siang In, Sang Puteri dapat dibawa keluar tembok kota dan dengan cepat mereka melarikan diri ke timur.

Memang bukan perjalanan yang mudah yang mereka tempuh selama sebulan ini. Naik turun gunung- gunung yang tinggi dan liar, masuk keluar hutan-hutan yang amat besar dan gelap. Namun, karena di sampingnya ada Siang In, pula karena memang puteri ini pernah mempelajari ilmu silat dan telah banyak mengalami hal-hal yang hebat, maka perjalanan ini tidaklah terlalu sukar dan sengsara baginya. Sebaliknya malah, dia benar-benar merasa seperti hidup baru, merasa gembira dan penuh harapan yang muluk-muluk, yaitu harapan untuk dapat bertemu kembali dengan pria yang dicintanya, ialah Ang Tek Hoat.

Makin akrab saja hubungan di antara dua orang dara yang sifat dan wataknya bagaikan bumi dan langit itu. Syanti Dewi adalah seorang wanita yang berwatak lembut, halus budi, halus perasaan, pandai mengekang perasaan, dan memiliki keagungan seseorang puteri. Sebaliknya, Teng Siang ln adalah seorang wanita yang berwatak periang jenaka, bahkan bengal dan suka menggoda orang, suka tertawa, jujur, polos dan tidak begitu mempedulikan tentang peraturan dan sopan santun, perasaannya sudah mengeras oleh gemblengan hidup, dan walau pun dia termasuk seorang dara yang suka berpakaian indah dan suka pula bersolek, namun pada dasarnya dia amat sederhana.

Betapa pun besar perbedaan watak antara mereka, akan tetapi mereka dapat segera menjadi sahabat yang akrab sekali. Syanti Dewi benar-benar merasa seolah-olah dia mendapatkan pengganti Ceng Ceng! Memang ada persamaan antara Ceng Ceng dan Siang In, persamaan dalam hal watak periang, agak binal dan jujurnya. Akan tetapi Ceng Ceng tidaklah sebinal Siang In!

Betapa pun juga, dengan adanya Siang In di sampingnya, perjalanan yang amat sukar itu tidak terasa oleh Syanti Dewi dan dia dalam waktu sebulan itu saja sudah mengenal benar-benar watak Siang In. Biar pun kelihatan binal dan terpengaruh oleh keindahan yang membawa keanehan, kadang-kadang kelihatan keras, namun pada hakekatnya dara ini memiliki watak yang amat baik, setia dan jujur!

“Enci Syanti, ajari aku nyanyian yang kemarin kau nyanyikan ketika kita mandi di telaga itu! Kau sudah berjanji.“

Mereka tengah duduk beristirahat di sebuah hutan yang amat indah. Hutan itu berada di pegunungan yang jauh dari dusun-dusun, hutan yang liar dan tentu amat jarang terinjak kaki manusia. Akan tetapi ternyata alam memiliki daya cipta yang tak dapat terukur oleh otak manusia. Pohon-pohon besar kecil tumbuh dengan subur dan amat nyeni seolah-olah diatur saja, berkelompok dan memiliki keindahan sendirl-sendiri yang khas, namun juga merupakan suatu kesatuan yang amat indah, yang tidak terpisahkan. Agaknya, sebatang pohon saja dipindahkan, akan hambarlah keindahan kesatuan itu. Kembang-kembang dan rumput-rumput seolah-olah tumbuh di tempat yang memang sudah semestinya, begitu serasi, begitu cocok sehingga suasana di hutan itu menjadi indah membahagiakan hati.

Dua orang dara yang benar-benar sadar atau tidak terpengaruh oleh keindahan yang membahagiakan itu, dan yang kini beristirahat melepaskan lelah di bawah sebatang pohon besar, merasa bergembira pula dan bercakap-cakap dengan asyiknya sampai terdengar Siang In minta diajari nyanyian.

“Adikku yang manis, engkau sudah begini pandai, mempunyai banyak macam ilmu-ilmu yang aneh-aneh, tetapi kulihat engkau masih selalu haus akan pelajaran-pelajaran. Betapa rajinnya engkau, In-moi.” Syanti Dewi memuji sambil meletakkan tangannya ke atas pundak dara itu.

Siang In tersenyum. “Selama ini, aku hanya mempelajari hal-hal yang kasar saja, Enci. Ilmu silat, ilmu memukul orang. Huh! Dan ilmu sihir, ilmu menipu orang. Wah, tidak ada yang baik dan hanya bisa menyusahkan orang lain saja. Akan tetapi engkau sebagai seorang puteri benar-benar memiliki banyak kepandaian yang dapat menyenangkan orang lain, dan aku ingin sekali mempelajarinya, Enci.”

“Akan tetapi, aku mempelajari segala macam kepandaian nyanyi, tari, bermain musik dan lain-lain itu bukan untuk menyenangkan sembarang orang, adikku. Aku bukannya ingin menjadi seorang penari atau penyanyi umum.“

“Aku tahu, Enci. Tentu engkau hanya mau bernyanyi atau menari di depan orang yang kau cinta. Bukankah begitu?”

Dengan kedua pipinya berubah merah, Syanti Dewi mengangguk.

“Aku pun demikian, Enci. Aku minta diajar bernyanyi sebab aku suka sekali mendengar senandungmu kemarin itu, dan aku… hemmm, aku pun tidak akan mau sembarangan memamerkan nyanyian di depan orang lain!”

Wajah itu berseri dan mata yang halus pandangnya itu menatap wajah Siang In penuh selidik. Akan tetapi yang dipandang hanya tersenyum saja.

“Aihhh, kalau begitu engkau juga tentu sudah mempunyai seorang pilihan hati, seorang kekasih, adikku!”

Siang In menggeleng kepala. “Belum, Enci. Pilihan hati… hemmm, ya, mungkin saja, siapa tahu… akan tetapi kekasih? Belum! Enci dengan Ang Tek Hoat, nah, itu baru namanya kekasih, karena saling mencinta.”

Tiba-tiba pandang mata Syanti Dewi berubah, penuh kekhawatiran. “Adikku yang manis, apakah… apakah cintamu hanya sepihak…?”

Kembali Siang In menggeleng dan tersenyum. “Tidak ada cinta, baik dari pihak mana pun, Enci. Aku sendiri tidak tahu benar apakah aku telah mencinta seseorang. Banyak memang pria yang menyatakan cinta padaku, baik melalui pandangan matanya, melalui rayuannya…“

“Aku percaya. Engkau sungguh cantik jelita seperti bidadari!”

“Tidak ada sepersepuluhmu dalam kecantikan, Enci. Akan tetapi kalau hanya seperti itu cinta yang diagung-agungkan itu, seperti para pria yang menyatakan cinta melalui pandang mata atau rayuan mulut penuh nafsu itu, hihhh…“ Siang In bergidik. “Lebih baik aku tidak mengenal cinta!”

Syanti Dewi memandang tajam. “Hemmm… janganlah engkau berkata begitu, In-moi. Kalau benar engkau belum mempunyai kekasih, habis siapa yang kau cari-cari itu? Dulu di Bhutan engkau pernah bilang bahwa engkau datang ke Bhutan mencari seseorang siapakah dia itu yang kau cari-cari?”

Terjadi perubahan, akan tetapi hanya pada sinar mata dara itu yang tiba-tiba menjadi bersinar-sinar seperti orang gembira, akan tetapi juga bisa jadi seperti orang marah. Dia mengangguk. “Memang aku sedang mencari seseorang yang tadinya kusangka berada di Bhutan atau sekitarnya. Akan tetapi mungkin aku salah sangka dan dia mungkin tidak berada di barat.”

“Siapakah dia, In-moi? Mungkin saja aku mengenalnya dan tahu di mana dia berada.” “Enci mengenalnya, tentu. Dia adalah Suma Kian Bu.“

“Ehhh…? Dia…?” Sejenak puteri itu termenung, teringat akan pemuda gagah perkasa, putera Majikan Pulau Es yang jatuh cinta kepadanya itu! Seorang pemuda hebat dan andai kata di dunia ini tidak ada Ang Tek Hoat, betapa akan mudahnya dia jatuh cinta kepada seorang seperti Suma Kian Bu!

“Tahukah Enci di mana adanya dia?”

Syanti Dewi dalam keadaan masih termenung menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu, tentunya di Pulau Es, di ternpat tinggal orang tuanya, In-moi. Suma Kian Bu adalah seperti kakakku sendiri, seperti saudaraku sendiri. Katakanlah kenapa engkau mencari dia? Kuharap saja tidak ada permusuhan di antara kalian.“

Siang In menggeleng kepalanya. “Tidak ada permusuhan apa-apa.“ “Kalau begitu kalian saling mencinta! Wah, syukurlah…!”

“Juga tidak, Enci. Tidak ada permusuhan, juga tak ada ikatan itu karena selama ini kami tidak pernah saling jumpa, hanya ada sedikit penasaran dan aku ingin sekali bertemu dengan dia untuk menanyakan suatu hal agar rasa penasaran di hatiku dapat lenyap.”

“Syanti Dewi mengerutkan alisnya dan merasa khawatir. “Penasaran? Urusan apakah itu yang membuat engkau penasaran, adikku? Bolehkah aku mengetahuinya? Aku khawatir sekali…”

“Ahh, tidak apa-apa, Enci Syanti. Hanya rasa penasaran karena suatu perbuatan yang dia lakukan kepadaku, lima tahun yang lalu,” jawab Siang In dan mendadak wajahnya berubah merah.

Tentu saja puteri itu menjadi makin penasaran. “In-moi, perbuatan apakah yang dia lakukan kepadamu sampai membuatmu penasaran? Atau… engkau kurang percaya kepadaku untuk memberitahu…“

“Ahhh, mengapa tidak percaya, Enci Syanti Dewi?” Siang In merangkul. “Tidak ada rahasia, perbuatan itu hanyalah… eh, lima tahun yang lalu dia… eh, dia pernah mencium bibirku.”

“Ihhh…!” Syanti Dewi terkejut bukan main! Dara ini menceritakan hal seperti itu demikian jujurnya, seolah- olah itu ‘bukan apa-apa’!

“Kenapa kau terkejut, Enci?” Siang In memandang penuh selidik.

“Tidak apa-apa…“ Syanti Dewi mengatur napasnya yang agak memburu. “Hanya… jika sudah begitu… berarti kalian saling mencinta.”

Siang In menggeleng kepala. “Bagaimana engkau dapat memastikan begitu?”

“Ya… karena… pria yang mau mencium seperti itu, berarti dia mencinta, dan kalau kau mau menerima ciuman itu, berarti engkau pun mencintanya.”

“Hemmm… aku tidak tahu apakah aku cinta padanya, dan aku tidak tahu pula apakah dia cinta padaku. Akan tetapi, terus terang saja, ciuman itu membuat aku sering kali tidak bisa tidur, Enci Syanti.”

Syanti Dewi menutupi mulutnya, menahan ketawa. Anak ini benar-benar jujur bukan main, pikirnya dengan hati terharu. Jujur dan polos, murni bagaikan setangkai mawar hutan yang mulus tak pernah ternoda.

“Itulah tandanya bahwa kau jatuh cinta kepada Kian Bu koko, adikku.”

“Ah, tidak. Belum tentu. Aku tidak yakin apakah aku cinta padanya. Memang aku sering kali membayangkan ciuman itu, tetapi dengan hati penasaran. Maka aku ingin sekali bertemu dengan dia untuk menanyakan artinya, untuk bertanya kepadanya mengapa lima tahun yang lalu itu dia menciumku seperti itu!”

Syanti Dewi menggeleng-geleng kepalanya. Selama hidupnya baru kini dia bertemu dengan seorang gadis seperti Siang In, juga dalam kitab-kitab lama belum pernah dia bertemu dengan cerita tentang seorang gadis seperti Siang In!

“Jadi jauh-jauh engkau bersusah-payah mencari Kian Bu koko, hanya untuk bertanya tentang itu?”

“Benar, akan tetapi sudahlah, Enci. Hatiku menjadi tidak enak dan amat kecewa karena kenyataannya perjalananku sia-sia belaka, tak dapat bertemu dia. Baiknya aku bertemu denganmu dan dapat membantumu lolos dari sangkar emas di istana Bhutan itu. Sekarang kau ajarkan lagu yang kau nyanyikan kemarin itu.”

“In-moi, lagu itu adalah lagu lama dari Bhutan, dan sebetulnya untuk menyanyikannya harus diiringi musik dan dinyanyikan sambil menari.”

“Bagus sekali! Aku pun senang menari, bahkan aku pernah belajar menari, Enci. Biar kau ajarkan sekalian tariannya.”

“Musiknya?”’

“Asal kau ajarkan pada aku iramanya, dapat digantikan dengan irama ketukan batu.”

Syanti Dewi tertawa. Memang, inti dari musik adalah iramanya, dan andai kata tidak ada alat musik, asal iramanya dibunyikan dengan tepuk tangan, ketukan batu atau apa pun jadilah! Dia lalu mengajarkan iramanya yang sederhana saja seperti semua irama dari segala macam musik di dunia ini.

“Lagu ini bernama HARAPAN JUMPA KEKASIH. Nah, kau iringilah dengan irama yang baik dan teratur, dan dengarkan nyanyiannya, lihat gerak tariannya kalau kau ingin pula mempelajarinya.”

Terdengarlah ketukan-ketukan batu berirama di dalam hutan itu, kemudian terdengarlah suara halus merdu dari Syanti Dewi yang bernyanyi sambil menari. Kata-kata dalam lagu itu memang tepat sekali dengan keadaan dan suara hati Sang Puteri sendiri.

Kekasih telah lama pergi
tak tahu bila akan jumpa kembali namun hati pantang membeku tak mengenal putus harapan selama hayat dikandung badan cintaku tak pernah padam
jika tiada kesempatan jumpa di dunia di akhirat kita akan saling bersua harapan jumpa kekasih
kubawa sampai mati…..

“Hebat, Enci! Hebat sekali, baik nyanyiannya mau pun tariannya. Cepat, kau yang mengiringi dengan irama, selagi aku masih ingat.”

Gembira bukan main hati kedua orang dara itu dan ketika Siang In belajar menyanyi dan menarikan lagu Harapan Jumpa Kekasih itu, Syanti Dewi yang bengong dan kagum! Kiranya di samping kepandaian silat dan sihirnya yang hebat, dara ini pun memiliki suara yang nyaring merdu seperti burung kenari, dan tubuhnya yang padat ramping itu memang telah jelas memiliki gerakan yang lemas dan lemah gemulai sehingga ketika dia menari, benar-benar amat indah dan mengandung daya pikat yang mempesonakan.

Gerak-gerik tarian Syanti Dewi mengandung kehalusan dan masih terselubung oleh tradisi sopan santun yang telah mendarah daging dalam diri puteri itu, akan tetapi tidak demikian dengan Siang In. Gadis ini bebas dari segala ikatan tradisi, gerakannya wajar dan tidak terkekang maka setiap anggota tubuhnya seolah-olah ‘hidup’ dan menari-nari sehingga menimbulkan daya tarik yang menggairahkan!

Demikianlah, dengan asyiknya dua orang dara itu menari dan bernyanyi di dalam hutan. Siang In belajar penuh semangat, kadang-kadang Syanti Dewi masih turun tangan mengajarnya bagaimana harus menggerakkan tangan dan jari-jari tangan yang benar, bagaimana harus menggerakkan kaki melangkah. Puteri itu memberi petunjuk dengan penuh ketelitian dan Siang In makin gembira mempelajarinya sampai akhirnya dia dapat menangkap inti dari nyanyian dan tarian itu. Sejak kecil, Siang In mempelajari ilmu silat dan sesungguhnya orang yang berbakat pula mempelajari ilmu tari, karena di dalam gerakan ilmu silat memang terkandung inti gerakan ilmu tari pula. Oleh karena itu, dengan mudah saja dara yang memang bertubuh ramping dan lemas ini menguasai tarian Harapan Jumpa Kekasih itu.

Tiba-tiba Siang In menangkap tangan Syanti Dewi dan ditariknya puteri itu menyelinap ke balik semak- semak belukar yang tinggi. Tentu saja puteri itu terkejut bukan main, akan tetapi melihat Siang In memberi isyarat dengan jari tangan ke depan mulut, dia pun tidak berani bertanya dan maklum bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres. Melihat pandang mata Siang In ditujukan ke barat, dia pun menoleh dan kini setelah dia memusatkan perhatiannya, dia pun mendengar lapat-lapat derap kaki kuda datang dari jurusan itu.

Tidak lama mereka menanti. Derap kaki kuda makin keras dan segera kelihatan belasan orang penunggang kuda membalapkan kuda lewat di hutan itu dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Syanti Dewi saat melihat bahwa rombongan berkuda itu ternyata dipimpin oleh Panglima Mohinta! Seketika wajahya menjadi pucat dan tangannya yang memegang tangan Siang In menggigil. Disangkanya bahwa dia telah terlepas dari bahaya karena telah meninggalkan Bhutan selama satu bulan. Siapa kira, ternyata dia dikejar dan kini para pengejarnya telah tiba di situ!

Setelah derap kaki kuda itu menghilang ke jurusan timur, barulah Syanti Dewi bernapas lega dan Siang In kemudian berkata, “Aihhhh, tidak kusangka monyet-monyet itu akan bisa menyusul secepat itu. Dan tunanganmu sendiri yang memimpin pasukan pengejar.”

“Dia bukan tunanganku! Jangan menyebut-nyebut lagi dia sebagai tunanganku, In-moi. Engkau tahu bahwa tunanganku adalah Ang Tek Hoat!”

“Maaf, Enci Syanti. Sekarang kita tidak boleh lalai. Mereka telah mengejar, tentu mereka telah mendengar tentang kita dari dusun terakhir yang kemarin dulu kita lewati untuk membeli roti kering. Kalau mereka nanti tiba di dusun depan dan tidak mendengar tentang kita, tentu mereka akan kembali lagi dan mencari kita di sepanjang jalan.”

“Tapi mereka hanya belasan orang banyaknya. Dengan kepandaianmu…“

“Hemmm, apa engkau tidak melihat pendeta lama jubah kuning yang tadi menunggang kuda di samping tunang… ehh, Panglima Mohinta itu?”

“Ya, aku melihatnya dan aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Siapa dia dan mengapa, In-moi?”

“Ketika lewat tadi, aku sempat melihat sinar matanya dan tentu dia itu seorang jagoan undangan. Agaknya dari Tibet dan melihat sinar matanya, aku dapat menduga bahwa dia tentu seorang yang lihai dan tidak mudah dipengaruhi oleh kekuatan sihir. Tentu saja aku tidak takut kepada mereka, akan tetapi aku harus melindungimu, Enci. Dan agaknya akan sukarlah kalau aku harus melawan mereka sambil melindungimu. Aku tidak ingin melihat usaha kita gagal setelah kita berhasil pergi sejauh ini dari Bhutan. Mari kita mengambil jalan lain saja, bukan jalan umum.”

“Terserah kepadamu, In-moi.”

Siang In lalu mengubah rencana perjalanannya, tidak melanjutkan melalui jalan umum ke timur melainkan membelok ke utara melalui jalan liar, naik turun gunung dan jurang yang amat liar, akan tetapi yang menjamin mereka bahwa pasukan berkuda itu tidak akan mungkin dapat mencari jejak mereka. Siasat Siang In berhasil baik. Memang tepat perhitungannya.

Ketika Mohinta dan anak buahnya tiba di dusun depan dan mereka tidak mendengar adanya dua orang gadis itu lewat di dusun ini, Mohinta dan kawan-kawannya segera kembali dan mencari-cari di dalam hutan di mana dua orang tadi bernyanyi dan menari. Namun Mohinta kehilangan jejak mereka dan terpaksa dia membawa rombongannya terus mengejar dan mencari ke timur. Mohinta dapat menduga bahwa tentu Syanti Dewi akan berusaha mencari bekas kekasihnya, Ang Tek Hoat, maka dengan mencari pemuda itu, dia percaya akhirnya akan dapat pula menemukan Syanti Dewi.

Setelah melakukan perjalanan yang amat jauh, sukar dan melelahkan, namun mereka berdua selalu berada dalam keadaan gembira, terutama sekali karena watak jenaka dan periang dari Siang In telah menular kepada Syanti Dewi, akhirnya pada suatu senja mereka tiba di kaki sebuah di antara pegunungan yang mempunyai banyak puncak. Itulah Pegunungan Lu-liang-san yang menjadi tapal batas Propinsi Shen- si di barat, Ho-nan di selatan, dan Shan-si di utara.

Lebih dari sepekan mereka berdua melakukan perjalanan melalui air Sungai Wei-ho, dan di kota Sian, yaitu ibukota Propinsi Shen-si, mereka mendarat dan melakukan perjalanan darat. Tujuan mereka adalah Kota Raja Peking di utara. Setelah berjalan beberapa hari lamanya, pada senja hari itu mereka tiba di kaki puncak dan mereka memandang ke atas puncak di mana nampak sebuah kota yang dikelilingi tembok, mereka merasa lelah sekali karena anehnya, setelah melakukan perjalanan sehari lamanya mereka tidak juga bertemu dengan kota atau dusun! Baru sekarang mereka melihat kota di puncak bukit itu, dan di depan agak jauh nampak mengalir Sungai Kuning yang amat lebar.

“Hari sudah gelap dan sudah dua hari kita tidak makan nasi,” kata Siang In, “Kalau melanjutkan ke depan, kita terhalang Sungai Kuning yang lebar. Bagaimana kalau kita naik ke puncak itu? Kelihatannya di atas itu adalah sebuah kota kuno yang besar dan kita bisa mencari penginapan di sana dan makan sepuasnya di rumah makan.”

Syanti Dewi yang merasa sudah lelah sekali itu mengangguk. “Terserah kepadamu, In-moi. Aku setuju saja. Hanya lain kali lebih baik kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja. Perjalanan melalui air yang telah kita tempuh, demikian enak dan membikin malas hingga begitu diganti dengan perjalanan darat, kaki ini menjadi seperti mau patah-patah rasanya. Padahal, sebelum itu, dipakai berjalan sampai sebulan lebih tidak apa-apa.”

Siang In tersenyum dan menggandeng puteri itu. “Kasihan engkau, Enci Syanti, dan kasihan kedua kakimu yang mungil itu. Biasanya kalau pergi dekat saja engkau tentu menggunakan joli atau kereta, dan biasanya kalau terasa capai, tentu ada pelayan-pelayan yang memijatinya. Sayang, kalau ada Tek Hoat, tentu….“

“Hushhh, genit kau…!” Syanti Dewi mencubit lengan Siang In dan dara ini menjerit-jerit minta ampun. Dengan kelakar itu Siang In berhasil membuat puteri itu melupakan kelelahannya dan mereka bersendau- gurau sambil mendaki jalan naik ke puncak itu.

Sungguh kasihan kedua orang dara cantik jelita itu. Mereka tertawa-tawa bersenda gurau, membayangkan bahwa mereka akan tiba di sebuah kota atau dusun besar di mana mereka akan dapat melepaskan lelah di rumah penginapan, mandi air hangat dan makan masakan yang lezat-lezat. Mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa mereka itu seolah-olah dua ekor anak domba yang berdaging empuk dan yang sedang menuju ke goa yang penuh dengan harimau dan naga!

Tempat apakah yang dikurung tembok di atas puncak itu? Bagi wilayah itu, bahkan hampir semua orang- orang kang-ouw di Propinsi-propinsi Shan-si, Ho-nan dan Shen-si, tempat itu telah amat terkenal, disegani dan tidak sembarangan orang kang-ouw berani mendatangai tempat itu, apa lagi sejak beberapa tahun akhir-akhir ini. Puncak bukit itu merupakan daerah berbahaya dan gawat, bahkan di sekitar itu, orang-orang tidak lagi berani tinggal sehingga dusun-dusun itu ditinggalkan orang. Inilah sebabnya mengapa selama sehari perjalanan Siang In dan Syanti Dewi tidak pernah melihat kota atau dusun.

Puncak itu dinamakan puncak Hwee-liong (Naga Api) dan yang kelihatan seperti dusun itu sesungguhnya adalah sekelompok bangunan yang dikurung dinding tembok yang kuat seperti benteng saja. Tempat itu menjadi markas sebuah perkumpulan yang amat terkenal, yaitu Perkumpulan Liong-sim-pang (Perkumpulan Hati Naga). Yang menjadi ketuanya, atau lebih tepat menjadi pemiliknya karena sesungguhnya perkumpulan itu didirikan oleh seorang yang amat kaya raya, adalah seorang laki-laki yang terkenal dengan julukan Hwa-i-kongcu (Pemuda Baju Kembang), bernama Tang Hun dan memang dia merupakan keturunan terakhir dari keluarga Tang yang kaya raya dan seolah-olah sejak turun-temurun menjadi raja kecil yang menguasai semua tanah di daerah itu.

Mengapa pemuda bernama Tang Hun ini sampai mendirikan Perkumpulan Liong-sim-pang? Karena selain kaya raya dia pun sejak kecil suka sekali akan ilmu silat, bahkan kini ia terkenal sebagai seorang yang amat tangguh dan lihai, apa lagi setelah sejak beberapa tahun ini dia berguru kepada seorang nenek hitam yang kini tinggal di puncak itu sebagai seorang yang dipuja-puja. Sejak berguru kepada nenek hitam ini kabarnya kepandaian Hwa-i-kongcu menjadi hebat bukan main karena selain silat nenek itu amat tinggi, juga terutama sekali nenek itu seorang ahli sihir yang menurunkan sebagian dari kepandaian ini kepada muridnya itu! Dan selain dia sendiri amat lihai, juga Hwa-i-kongcu mempunyai pembantu-pembantu yang sakti dan setia.

Sebagai seorang majikan atau ketua dari sebuah perkumpulan, apa lagi karena amat kaya raya, tentu saja Hwa-i-kongcu membentuk pasukan sebagai anak buah Liong-sim-pang. Anak buahnya berjumlah lima puluh orang, dan rata-rata memiliki kepandaian lumayan, sebab mereka yang masuk menjadl anggota harus lulus melalui ujian tertentu. Bahkan setelah menjadi anak buah Liong-sim-pang mereka ini mendapat pendidikan khusus dari para pembantu Hwa-i-kongcu.

Melihat namanya, perkumpulan ini didirikan oleh Tang Hun dengan maksud untuk mengangkat diri sendiri sebagai majikan atau ketua perkumpulan orang-orang gagah yang berhati naga! Akan tetapi, sudah menjadi kelajiman di dunia bagian mana pun juga, baik dalam bentuk pangkat, kedudukan, dan kepintaran, harta benda, mau pun kekuatan, selalu mendatangkan kekuasaan dan kekuasaan inilah yang menimbulkan kesombongan, kesewenang-wenangan dan penindasan. Maka tidak lama kemudian, nama Liong-simpang menjadi tersohor dan ditakuti orang karena para anak buahnya mengandalkan kekuasaan itu untuk menang sendiri terhadap pihak lain.

Hwa-i-kongcu Tang Hun sendiri tentu saja merasa dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal-hal yang remeh. Dia sudah kaya raya, maka tidak pernah dia melakukan pemerasan atau merampas harta. Akan tetapi dia memiliki kesenangan lain, yaitu wanita cantik!

Dengan berbagai jalan, baik menggunakan kekayaannya, ketampanannya, atau kalau perlu kepandaiannya, dia mengumpulkan banyak wanita cantik di dalam gedungnya dan celakanya, pemuda mata keranjang dan hidung belang ini adalah seorang pembosan sehingga kumpulan wanita di gedungnya selalu berganti. Yang sudah membosankan, dan biasanya hal ini takkan pernah terjadi lebih dari beberapa bulan saja, kemudian dipulangkan begitu saja dan dia mulai berkeliaran lagi mencari penggantinya. Kamar- kamarnya selalu penuh dengan wanita cantik yang jumlahnya paling sedikit ada sepuluh orang!

Hwa-i-kongcu sendiri biar pun usianya sudah tiga puluh tahun namun dia kelihatan amat muda, seperti seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun. Wajahnya tampan dan selalu putih karena dibedaki dengan bedak harum. Dia pesolek sekali, dengan pakaian seperti seorang sastrawan yang selalu berwarna-warni dan berbunga-bunga, pakaian dari sutera yang mahal dan mewah.

Karena kelihatan masih amat muda, tampan dan ganteng serta kaya raya, pandai ilmu sastra dan silat, maka tentu saja dengan mudah dia dapat memikat hati wanita-wanita cantik. Akan tetapi, begitu wanita- wanita itu berhasil diperolehnya dan dibawa ke dalam gedungnya, wanita-wanita itu menyesal bukan main dan barulah mereka sadar bahwa mereka telah memasuki neraka karena pria yang tampan itu memiliki watak yang amat aneh dan kejam, yang suka menyiksa wanita demi untuk memuaskan nafsu birahinya dan menganggap wanita hanya sebagai barang permainan belaka, sebagai pemuas nafsu belaka!

Sampai berusia tiga puluh tahun, Hwa-i-kongcu ini tidak pernah menikah. Hal ini adalah karena dia berwatak pembosan dan terutama sekali karena dia amat tinggi hati, merasa bahwa di dunia ini tidak ada wanita yang cukup berharga untuk menjadi isterinya yang sah! Semua wanita itu hanya mau dijadikan barang permainannya untuk sementara saja.

Demikianlah, di luar kesadaran atau dugaan mereka, kini Siang In dan Syanti Dewi sedang mendaki bukit itu menuju ke tempat seperti itu! Tentu saja para penjaga di atas tembok yang seperti benteng itu sudah melihat akan adanya dua orang yang mendaki bukit. Sepasukan anak buah Liong-sim-pang yang jumlahnya selosin orang segera bergegas turun dari puncak untuk menghadang dua orang yang berani lancang naik ke puncak itu.

Siang In dan Syanti Dewi sudah tidak bergurau lagi karena mendaki jalan naik itu cukup melelahkan, membuat mereka terutama Syanti Dewi menjadi kecapaian, keringatnya membasahi seluruh tubuh dan nafasnya agak memburu.

“Ihhhhh…“ Puteri itu mengeluh. “Kelihatan dekat, tapi kalau dijalani kenapa tidak juga sampai-sampai!”

Siang In tertawa. “Enci, kita sudah melewati gunung-gunung yang jauh lebih tinggi dan sukar dari pada bukit kecil ini, akan tetapi kau tidak pernah mengeluh. Hal itu adalah karena kau tergesa-gesa ingin lekas- lekas tiba di puncak itu, maka menjadi lama dan kelihatan jauh…“

Tiba-tiba Siang In menghentikan kata-katanya, lalu memegang tangan puteri itu dan menghentikan langkahnya. Syanti Dewi terkejut dan memandang ke depan. Tampak olehnya serombongan orang berjalan cepat turun dari atas. Bukan rombongan orang, melainkan sepasukan orang karena mereka itu berjalan dengan berbaris rapi seperti pasukan saja! Dan pakaian mereka juga seragam. Setelah mereka datang agak dekat, nampaklah bahwa pakaian mereka itu seragam dengan baju kuning dan celana hitam, dan di dada mereka terdapat lukisan seekor naga.

Syanti Dewi menjadi gelisah dan memegang tangan Siang In, akan tetapi gadis ini hanya tersenyum dan berkata lirih. “Tenanglah, Enci, biar aku menghadapi badut-badut itu.”

Pasukan itu berhenti di depan mereka dan Si Tinggi Kurus yang agaknya menjadi komandan pasukan menyerukan aba-aba dan mereka lalu berpencar menghadang ke depan dua orang dara itu, berdiri berjajar memenuhi jalan. Mereka memandang dengan mata terbelalak, terheran-heran ketika melihat bahwa dua orang yang naik dan mereka curigai itu ternyata adalah dua orang dara yang memiliki bentuk badan dan wajah yang aduhai! Sampai bengong mereka memandang, karena sesungguhnya, selama mereka hidup, belum pernah mereka bertemu dengan dua orang dara yang begini cantik jelitanya! Seolah-olah dua orang bidadari yang baru turun dari kahyangan!.

Melihat dua orang wanita cantik, komandan pasukan segera pasang aksi. Ia mengebut-ngebutkan pakaian seragamnya, membusungkan dadanya yang tipis hingga tubuhnya menjadi melengkung seperti huruf S atau seperti seekor ular sendok bergaya, kemudian melangkah maju dengan langkah seorang jenderal dan dia berdehem dua kali sebelum bicara. Suaranya lantang dibesar-besarkan akan tetapi tetap saja sumbang karena memang si jangkung ini suaranya kecil parau.

“Heiiiii! Kalian dua orang Nona Muda ini siapakah, dari mana dan hendak ke mana?” Si jangkung ini bertanya dengan suara mengandung nada-nada seperti orang bernyanyi, dan tentu saja nyanyian sumbang!

Melihat lagak orang ini mau tidak mau hati Syanti Dewi merasa geli dan dia menutupi mulutnya untuk menyembunyikan senyumnya. Akan tetapi Siang In tersenyum lebar, bahkan tidak menahan suaranya terkekeh kecil. Inilah perbedaan antara dua orang dara cantik itu. Syanti Dewi sejak kecil sudah dikurung oleh semacam kebiasaan, tradisi, dan sopan santun sehingga setiap gerak-geriknya terbentuk oleh suasana di dalam istana. Di lain pihak, Siang In sudah biasa hidup bebas, maka dia tidak merasa kurang sopan untuk tersenyum atau tertawa sesuka hatinya.

“Kami adalah dua orang pelancong, dari belakang hendak ke depan, hik-hik!” Siang In menjawab sambil terkekeh.

“Ha-ha-ha, Nona ini lucu!” “Lucu dan manis, heh-heh.” “Kedua-duanya cantik jelita!”

“Hushhh, diam kalian!” Si jangkung membentak ke belakangnya dan para anak buahnya berhenti bicara. Sungguh pun mereka masih menyeringai gembira dan pandangan mata mereka kadang-kadang melayang mengagumi wajah dua orang dara itu, kemudian pandang mata mereka meraba-raba ke seluruh anggota tubuh yang menggairahkan Itu. Hal ini terasa sekali oleh Syanti Dewi yang cepat menundukkan muka dengan alis berkerut.

“Nona, jangan kau main-main! Kalian berdua berhadapan dengan Jiu Koan, seorang tokoh Liong-sim-pang! Hayo lekas mengaku baik-baik, jangan sampai aku bertindak kasar terhadap kalian dua orang dara-dara muda.”

“Nanti dulu, mengaku ya mengaku, akan tetapi kalian ini mau apakah? Kami tidak melakukan apa-apa yang merugikan kalian, mengapa kalian menghadang perjalanan kami? Kami hendak pergi ke kota di puncak itu.”

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Semua anggota pasukan tertawa dan Siang In mengerutkan alisnya, lalu memandang ke arah kota berdinding tebok itu.

“Mengapa kalian tertawa!?” tanyanya.

“Di atas itu bukan kota Nona, melainkan markas dari perkumpulan kami, Liong-sim-pang. Dan kalian berdua telah melanggar wilayah kami, tentu saja kami menghadang kalian,” kata pula si jangkung bernama Jiu Koan dan mengaku tokoh Liong-sim-pang itu. Padahal tentu saja dia hanya seorang petugas rendahan yang paling tinggi berpangkat kopral.

Siang In dan Syanti Dewi saling pandang dan merasa terkejut serta kecewa. Kiranya mereka telah salah duga! Akan tetapi mendengar bahwa mereka itu adalah anak buah perkumpulan yang bernama Hati Naga, dia merasa dadanya lapang.

Hati Naga berarti keberanian. Hanya orang-orang gagah saja yang mau menggunakan nama seperti itu. Dan orang gagah tentu bukan orang-orang jahat. Maka cepat dia menjura dan berkata, “Aihh, kalau begitu harap Cu-wi (Anda Sekalian) suka memaafkan kami yang salah terka dan salah jalan. Kami kira yang di atas itu sebuah kota atau dusun. Setelah kami mengetahui akan kesalahan kami, biarlah kami kembali dan harap maafkan kami.”

“Eh-eh, nanti dulu, Nona!” Jiu Koan membentak ketika melihat Siang In dan Syanti Dewi hendak pergi dan membalikkan tubuh mereka. Dia memberi isyarat dan dua belas orang pasukannya itu berpencar lalu membentuk lingkaran mengurung dua orang dara itu.

“Hemmm… kalian mau apa?” Siang In tersenyum. Dia menyembunyikan kemarahannya dibalik senyum manis.

“Kalian sudah melanggar wilayah kami, tidak boleh begitu saja sebelum ikut dengan kami untuk menghadap Kongcu.”

“Hemmm, siapa itu Kongcu?” tanya Siang In. “Kongcu adalah majikan dan ketua kami.”
“Kongcu pasti akan senang sekali melihat kalian, heh-heh!” “Tentu saja, dan kita akan mendapatkan hadiah!”
Mereka tertawa-tawa dan lenyaplah keyakinan di hati Siang In bahwa dia berhadapan dengan anggota- anggota perkumpulan orang gagah. Lagak mereka ini tiada bedanya dengan penjahat-penjahat kecil atau sebangsa perampok liar saja.

“Kalau kami tidak mau?” tanyanya.

“Ha-ha, mau tidak mau kalian harus ikut bersama kami,” jawab Jiu Koan.

Siang In melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung Jiu Koan dan bertanya, “Eh, siapa namamu tadi? Jiu Koan?”

“Benar.”

“Jadi engkau ini seorang jagoan Liong-sim-pang? Nah, sekarang begini saja orang she Jiu. Kalau kau memang jagoan, aku tantang kau untuk bertanding. Kalau aku kalah, biar kami akan menyerah dan ikut bersama kalian ke atas sana. Tetapi kalau aku menang, kalian harus membiarkan aku pergi. Bagaimana?”

Jiu Koan memandang dengan mata terbelalak. Gadis ini menantangnya? Akan tetapi dia seorang yang cerdik pula. Kalau gadis ini berani menantangnya, agaknya gadis yang membawa payung ini memiliki kepandaian. Kalau dia mempertaruhkan kebebasan mereka, amatlah berbahaya. Akan tetapi gadis kedua itu, yang kelihatan lemah lembut, tentu tidak bisa silat.

“Baik, akan tetapi karena kalian berdua, maka haruslah kalian berdua pula yang maju, masing-masing melawan seorang pembantuku dan aku. Kalau kalian berdua menang, biarlah kalian boleh pergi. Akan tetapi, seorang saja yang kalah, dia harus ikut kami ke atas untuk menghadap Kongcu.”

“Baiklah,” jawab Siang In sambil berkedip kepada Syanti Dewi yang ingin membantu. “Kau ajukan jagomu biar dilawan temanku ini.” Dan dia menggunakan ilmunya sehingga hanya Syanti Dewi saja yang mendengar bisikannya, “Enci, kau lawanlah saja, aku akan membantumu dan tidak mungkin kau kalah.”

Syanti Dewi mengangguk. Memang dia pernah mempelajari ilmu, bahkan ilmu silatnya telah memperoleh kemajuan hebat saat dia mendapat petunjuk-petunjuk dari pendekar sakti Gak Bun Beng beberapa tahun yang lalu (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali). Akan tetapi selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah berlatih karena semangatnya seperti telah hilang terbawa pergi oleh Tek Hoat. Maka untuk bertanding tentu saja gerakannya kaku dan memang puteri ini bukan seorang yang suka berkelahi!

Jiu Koan lalu memberi isyarat dan majulah seorang laki-laki tinggi besar bermata lebar. Usianya tentu belum ada empat puluh tahun dan kedua lengannya nampak penuh dengan lingkaran otot-otot besar karena dengan bajunya digulung sebatas siku. Dia ini tersenyum menyeringai, agaknya girang sekali mendapat kesempatan untuk bertanding melawan dara cantik seperti bidadari itu. Sudah terbayang dalam benaknya betapa dia akan memperoleh kesempatan untuk memeluk dara itu.

Syanti Dewi merasa agak ngeri berhadapan dengan raksasa ini, akan tetapi dia pun bersiap sedia dan memasang kuda-kuda. Ketika Si Tinggi Besar meliihat betapa dara cantik ini dapat memasang kuda-kuda ilmu silat, dia bersikap hati-hati dan berkata, “Nona manis, lebih baik kau menyerah dan mengaku kalah.”

“Tidak perlu banyak cakap, majulah!” Syanti Dewi berkata.

“Ha-ha, hendak kulihat apakah kau akan mampu bergerak dalam dekapanku!” Raksasa itu tertawa dan menubruk cepat sekali ke arah Syanti Dewi.

Puteri ini amat terkejut, tak disangkanya orang tinggi besar itu dapat bergerak demikian cepatnya. Akan tetapi dia dapat mengelak dengan meloncat ke kanan sambil mengirim tendangan ke arah lambung lawan. Dalam perjalanan yang jauh ini, puteri Bhutan itu sengaja memakai sepatu kulit yang dipasangi besi di ujungnya, maka tendangannya itu bukanlah tidak berbahaya.

“Ehhh!” Lawannya berseru kaget juga karena hampir saja lambungnya tercium sepatu.

Dia mengelak sambil berusaha menangkap kaki itu, akan tetapi Syanti Dewi sudah menarik kembali kakinya. Raksasa itu kini menyerang dengan marah, tidak lagi hanya berusaha menangkap Sang Puteri, tetapi juga menggunakan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Karena kaki dan tangannya memang besar dan panjang, repot jugalah Syanti Dewi mengelak ke sana ke mari.

“Kau hendak lari ke mana sekarang?” Raksasa itu berseru keras, tangan kanannya diulur untuk mencengkeram ke arah rambut kepala Syanti Dewi.

Puteri ini cepat merendahkan tubuh mengelak, dan selagi ia membalas dengan pukulan ke arah muka raksasa itu, lawannya sama sekali tidak menangkis atau mengelak, agaknya akan menerima pukulan itu begitu saja, akan tetapi kedua tangannya kini mencengkeram ke arah kedua buah dada Sang Puteri!

“Aihhh…!” Syanti Dewi menjerit dan cepat melempar tubuh ke belakang.

Dia berjungkir-balik dan terbebas dari serangan yang kasar itu, akan tetapi karena kurang latihan, ketika berjungkir-balik itu tubuhnya agak terhuyung-huyung hampir jatuh. Kesempatan itu dipergunakan oleh si raksasa untuk menyerbu ke depan.

Pada saat itu, Siang In menggerak-gerakkan tangannya ke arah si raksasa sambil berseru, “Laki-laki tidak sopan, jangan kau main curang dan kurang ajar!”

Suaranya melengking nyaring dan mengandung daya tarik yang luar biasa sehingga si raksasa itu memandang kepadanya. Inilah kesalahannya karena begitu dia bertemu pandang dengan dara itu, otomatis dia telah terjatuh ke dalam pengaruh sihir Siang In.

“Eh… eh… mana…?” Raksasa itu bingung karena secara tiba-tiba saja dia tidak melihat lagi dara cantik yang menjadi lawannya.

“Plak! Plak!”

Dua kali pipinya ditampar orang, ditampar oleh tangan yang tidak kelihatan sampai menjadi merah dan terasa panas sehingga dia terhuyung ke belakang.

Syanti Dewi sendiri merasa telapak tangannya panas ketika menampar muka orang itu. Dia melihat lawannya berdiri bingung dan tahulah puteri ini bahwa Siang In mulai membantunya, maka dia kemudian melangkah maju, dan memukul ke arah dada orang dengan tinju tangannya yang kecil.

“Buk-buk-bukkk!” Tiga kali dia memukul dan raksasa itu berteriak kaget dan terhuyung-huyung lagi ke belakang.

Semua temannya menjadi bengong. Apa yang terjadi dengan raksasa itu? Tadi jelas tampak oleh mereka bahwa nona cantik itu yang terdesak hebat, kenapa kini kawan mereka itu seperti orang bingung dan dengan mudah saja ditampar dan ditonjok?

Si raksasa itu memang bingung dan ngeri. Jelas bahwa dia ditampar dan ditonjok, akan tetapi dia sama sekali tidak dapat melihat lawan yang menampar dan menonjoknya itu. Dia masih berusaha menggunakan kedua lengannya yang panjang untuk memukul sana-sini, mencengkeram sana-sini, namun hanya mengenai angin saja karena Syanti Dewi sudah menjauhkan diri. Teman-teman orang itu menjadi makin kaget dan heran melihat raksasa itu memukul dan mencengkeram tempat kosong di depannya, padahal lawannya berada di sebelah kirinya!

“Takkk! Aughhhhh… aduhhhhh…!”

Raksasa itu mengangkat kaki kirinya, memegangi tulang kakinya dengan tangan dan berloncatan dengan kaki kanan. Hanya orang yang pernah digajul (ditendang dengan ujung sepatu) tulang keringnya saja akan mengerti bagaimana perasaan si raksasa di saat itu. Tulang kering kakinya dicium oleh ujung besi sepatu Syanti Dewi, tentu saja nyeri bukan main, kiut-miut rasanya, bernyut-nyutan sampai terasa di dalam sumsum.

“Dukkk…! Aduhhh…!”

Dan si raksasa roboh terpelanting ketika tulang kering kaki kanannya yang berloncatan itu ditendang lagi oleh Syanti Dewi. Dia mengelus-elus dua kakinya yang sudah menjadi biru dan bengkak itu.

Siang In menggerakkan tangannya. Kini si raksasa telah dapat melihat lagi Syanti Dewi yang berdiri di depannya, bertolak pinggang dengan bangga karena kemenangannya yang amat mudah itu.

Siang In meloncat ke depan sambil tersenyum. “Nah, jelas bahwa temanku memperoleh kemenangan! Hayo, orang she Jiu. Sekarang kau majulah!”

Jiu Koan masih terheran-heran oleh kekalahan temannya. Dia lalu memandang ke arah Syanti Dewi dengan pandang mata penuh selidik. Apakah yang sudah terjadi, pikirnya. Temannya itu bukan seorang lemah atau tolol, akan tetapi dalam pertandingan tadi, temannya telah bersikap lebih dari pada tolol! Setelah dia memberi isyarat dan si raksasa itu oleh teman-temannya diangkat minggir, Jiu Koan lalu berkata, “Kemenangan temanmu mencurigakan!”

“Ehh-ehh-ehh, sudah jelas kawanmu kalah, engkau masih mencari alasan!” Siang In mengejek.

“Benar, akan tetapi sungguh tak wajar! Tendangan-tendangan yang dilakukan temanmu tadi sebetulnya bukan apa-apa, sungguh tidak mungkin bisa mengalahkan kawanku itu kalau saja dia dalam keadaan wajar. Mungkin dia sedang sakit atau ada sesuatu yang mengganggunya.“

”Ah, omong kosong! Sudah kalah masih mencari-cari alasan kosong. Orang she Jiu, ketahuilah bahwa kami berdua adalah ahli-ahli menggunakan kaki untuk mengalahkan lawan! Temanku tadi menggunakan keahliannya itu dan telah merobohkan kawanmu, maka jangan banyak alasan. Kalah ya kalah saja, habis perkara!”

Muka Jiu Koan menjadi merah sekali. “Bagus!” bentaknya marah. “Kalau begitu coba kau kalahkan aku dengan keahlian kakimu itu!”

Diam-diam Siang In harus mengakui kecerdikan orang ini, akan tetapi dia tersenyum dan menjawab, “Baik, engkau lihat saja, aku tidak akan menggunakan kedua tanganku untuk mengalahkanmu, cukup dengan kedua kakiku saja!”

Ucapan dara ini dianggap terlalu sombong oleh Jiu Koan, maka kemarahannya meluap dan dia membentak, “Bocah sombong, kau boleh lihat betapa aku akan menangkap kedua kakimu dan merobek celanamu agar kau tidak bersikap sombong lagi!”

Baru saja orang ini berkata demikian, tiba-tiba kaki kiri Siang In yang menjadi marah mendengar kata-kata itu sudah melayang dengan kecepatan yang tidak terduga-duga.

“Plakkk!”
\
Kaki itu sudah menendang dagu Jiu Koan sehingga orang ini terhuyung ke belakang sambil memegangi dagunya, matanya terbelalak kaget dan juga marah. Dia kemudian menggereng seperti seekor harimau terluka, kemudian dia menyerbu ke depan dengan kedua tangannya menyerang dari kanan kiri, menghujamkan pukulan dan cengkeraman bertubi-tubi.

Namun, kini Siang In sudah mengetahui bahwa lawannya itu lebih besar lagak dari pada kepandaiannya, maka dengan mudah saja ia menggunakan ginkang-nya yang istimewa untuk mengelak ke kanan kiri. Jika menghadapi seorang lawan seperti ini saja memang baginya tidak perlu menggunakan kedua tangan, apa lagi menggunakan sihirnya. Dia mengelak sambil membalas dengan tendangan kakinya dan tiap kali kakinya bergerak, kalau tidak ada bagian tubuh yang kena tertendang, tentu lawannya itu terhuyung ketika menangkis, karena tendangan kaki dara itu mengandung kekuatan yang amat hebat.

Baru saja berjalan belasan jurus pertandingan itu, Jiu Koan sudah terdesak terus dan tak mampu menyerang lagi karena kedua kaki lawannya bergerak seperti kilat cepatnya, bergantian kanan kiri menyambar dan menghajarnya. Memang Siang In tadi berkata tidak berlebihan bahwa dia adalah seorang ahli menggunakan sepasang kakinya. Oleh gurunya ia telah diberi ilmu silat yang mendasarkan atas permainan kaki dan dinamakan ilmu tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Puyuh) hingga kedua kakinya dapat melakukan tendangan berantai yang bertubi-tubi.

Terdengar bunyi bertubi-tubi ketika tubuh Jiu Koan dihajar oleh tendangan-tendangan kaki yang kecil mungil itu. Tentu saja kini keadaannya berbeda dengan ketika Syanti Dewi melawan raksasa tadi. Syanti Dewi yang pernah belajar ilmu silat tentu mengerti pula bagaimana cara untuk menggunakan kaki menendang, akan tetapi dia sama sekali bukanlah ahli seperti Siang In. Tadi dia dengan mudah menendangi tulang kering kaki lawannya karena lawannya itu tidak dapat melihatnya oleh kekuatan sihir Siang In. Kini, biar pun Jiu Koan berusaha mengelak dan menangkis, namun datangnya tendangan- tendangan yang bertubi dan amat cepat itu sukar dihindarkan dan akhirnya, sebuah tendangan kilat bersarang di perutnya.

“Bukkk!”

Dan kini tubuh Jiu Koan terjengkang, terbanting ke atas tanah di mana dia meringis dan mengaduh-aduh, memegangi perutnya yang menjadi mulas dan nyeri bukan main.

“Tangkap mereka! Bunuh…!” Jiu Koan berteriak-teriak.

Dia bangkit sambil memegangi perutnya, kemudian tangan kanannya mencabut golok yang tergantung di pinggangnya. Juga semua anak buahnya mencabut senjata masing-masing. Melihat ini, Syanti Dewi menjadi cemas juga dan cepat dia mendekati Siang In.

Akan tetapi Siang In malah melangkah maju. “Kalian ini anggota-anggota Perkumpulan Hati Naga, apakah tidak mengenal seekor naga asli? Lihat baik-baik siapa aku!”

Syanti Dewi memandang penuh perhatian kepada tiga belas orang itu dan terjadilah keanehan. Tiga belas orang itu terbelalak memandang kepada Siang In, muka mereka menjadi pucat sekali, kemudian didahului oleh Jiu Koan mereka membuang senjata mereka dan lari tunggang langgang! Syanti Dewi cepat menoleh dan dia melihat betapa dara itu masih biasa saja tubuhnya, akan tetapi kepalanya yang cantik jelita itu kini telah berubah menjadi kepala seekor naga yang menyeramkan! Tentu saja Syanti Dewi juga ketakutan dan menjauhkan dirinya. Karena dia tidak langsung dikuasai sihir, maka dia hanya melihat kepala Siang In saja yang berubah menjadi naga, tidak seperti tiga belas orang itu yang melihat seekor naga yang lengkap, yang mengancam untuk menerkam mereka.

“Enci, kau kesinilah, aku tidak apa-apa,” kata Siang In tersenyum lucu dan ketika Syanti Dewi menoleh, ternyata Siang In sudah biasa kembali.

“Aihhh, kau menakutkan aku…,“ katanya.

Pada saat itu pula terdengar suara melengking panjang dan suara ini disusul bentakan, “Kembalilah kalian penakut-penakut menjemukan!”

Mendengar suara ini, Jiu Koan dan dua belas orang anak buahnya berhenti dan mereka cepat menjura kepada seorang pemuda yang baru muncul.

“Ampun, Kongcu… ada… ada siluman…,” Jiu Koan berkata akan tetapi dia menoleh dan memandang ke arah dua orang gadis itu, dan ternyata mereka adalah dua orang gadis cantik yang tadi dan tidak nampak ada naga di situ. Tanpa mempedulikan Jiu Koan lagi pemuda tampan itu segera bertindak menghampiri Siang In dan Syanti Dewi.

Dua orang dara itu pun memandang penuh perhatian dan mereka dapat menduga bahwa tentulah orang ini yang disebut kongcu dan menjadi majikan atau ketua dari Perkumpulan Liong-sim-pang yang markasnya seperti benteng di puncak bukit itu.

Ketika pemuda itu yang bukan lain adalah Hwa-i-kongcu Tang Hun melihat bahwa yang ribut-ribut di situ adalah dua orang dara yang demikian cantik jelitanya, diam-diam dia merasa terkejut, terheran dan juga girang sekali. Jantungnya sudah bergoncang hebat karena dia harus mengakui bahwa selama hidupnya belum pernah dia melihat wanita sedemikian hebat dan cantiknya seperti dua orang dara ini! Sejenak dia bengong dan pandangan matanya seperti terasa oleh dua orang gadis itu, menggerayangi wajah dan tubuh mereka.

Siang In memandang sambil tersenyum, penuh perhatian. Pemuda itu memang tampan, bahkan terlalu tampan dan wajah yang dibedaki putih, alis yang dipertebal dengan cat alis, bibir yang di beri sedikit pemerah bibir dan pipi yang agak kemerahan itu mendekati kecantikan wajah seorang wanita. Pemuda itu pesolek sekali, pakaiannya serba indah dan terbuat dari sutera mahal, bajunya berkembang-kembang dan biar pun pemuda itu berdiri dalam jarak empat meter darinya, dia masih dapat mencium bau wangi semerbak datang dari tubuh pemuda itu!

Diam-diam Siang In bergidik. Pemuda ini betul-betul mengerikan! Usianya tentu tidak lebih dari dua puluh tahun, pikirnya. Dia tidak tahu bahwa Tang Hun sesungguhnya sudah berusia tiga puluh tahun.

“Enci, mari kita pergi,” kata Siang In, menggandeng tangan Syanti Dewi dan mengajak untuk turun kembali dari lereng bukit itu karena dia merasa tidak enak menyaksikan pandang mata pemuda pesolek yang mengerikan itu.

“Eh-eh, harap perlahan dulu, Ji-wi Siocia (Nona Berdua)…!” Terdengar suara halus dan ada angin menyambar dari samping mereka.

Kembali Siang In terkejut karena ternyata pemuda pesolek itu kini telah berdiri di depan mereka, tanda bahwa pemuda itu memiliki ginkang yang hebat juga! Sekarang mereka berhadapan dekat dan bau harum semerbak makin menyengat hidung kedua orang dara itu.

Siang In pura-pura tidak mengenal orang itu dan dia bertanya, “Siapa engkau dan perlu apa engkau menghadang perjalanan kami?”

Hwa-i-kongcu Tang Hun menjura dengan sikap hormat dan dengan tersenyum ramah dia berkata, “Harap Ji-wi Siocia suka memaafkan anak buah kami jikalau mereka itu lancang dan membikin Jiwi tidak senang hati.”

“Hemmm, anak buahmukah mereka itu?”

“Benar, Nona. Saya adalah Tang Hun, majikan atau ketua dari Liong-Sim-pang dan di atas itu adalah tempat tinggal kami”.

“Ah, kiranya begitu? Memang anak buahmu tadi kurang ajar terhadap kami, akan tetapi telah kami beri hajaran kepada mereka. Kalau kau hendak membela mereka…“

“Aihhh, tidak sama sekali, Nona! Bahkan kalau mereka itu berani kurang ajar terhadap tamu-tamu kami yang terhormat, mereka patut dihukum. Jiu Koan, ke sini kau!” pemuda itu membentak dan Jiu Koan, komandan pasukan itu cepat-cepat datang menghampiri ketuanya dengan sikap takut dan hormat.

“Siap, Kongcu,” katanya dengan berdiri tegak seperti prajurit.

“Aku melihat tadi engkau dan seorang lagi bertanding melawan Nona ini. Siapa yang seorang lagi? Panggil sini!”

Jiu Koan berteriak memanggil temannya, si raksasa yang tadi telah digajul kedua tulang kering kakinya oleh Syanti Dewi. Raksasa ini pun datang menghadap dengan sikap hormat dan takut.

“Mereka berdua inikah yang telah mengganggu, Ji-wi?” Tang Hun bertanya sambil kini memandang kepada Syanti Dewi.

Puteri ini yang dipandang oleh sepasang mata yang mempunyai sinar tajam dan aneh itu bergidik lalu mengangguk. Sinar mata pemuda ini amat tajam dan aneh, hampir setajam mata Siang In, akan tetapi kalau mata Siang In tajam lembut dan jujur, mata orang ini tajam akan tetapi mengandung gairah nafsu- nafsu yang mengerikan.

“Baik, kalian lihatlah, Ji-wi Siocia. Aku menghukum mereka karena kekurang ajaran mereka. Kupenggal kepala mereka!”

Syanti Dewi terkejut bukan main melihat pemuda itu mencabut pedang dan dengan satu kali gerakan kilat, pedangnya itu berkelebat membacok ke arah leher dua orang itu.

“Wuuuttttt… crak-crakkk!” Dan leher kedua orang itu terbabat putus, lalu kepala mereka terpental dan darah muncrat-muncrat!

“Ihhh…!” Syanti Dewi menjerit dan meloncat ke belakang dengan hati penuh kengerian. Akan tetapi Siang In memegang lengannya dan berbisik, suaranya berwibawa sekali.

“Tidak apa-apa, Enci. Lihat lagi baik-baik, badut itu hanya membohongi kita.”

Syanti Dewi terheran, mengangkat mukanya dan benar saja. Dia melihat dua orang tadi masih berdiri dan tidak terjadi sesuatu dengan leher mereka! Pemuda itu tersenyum.

“Tang-pangcu, kami bukan anak kecil. Tidak perlu kau menipu kami dengan sulapan yang hanya pantas kau pertunjukkan di pasar itu. Dan kami pun tidak ingin melihat dua ekor babi ini disembelih!” Berkata demikian, Siang In menggerakkan tangan ke arah dua orang anak buah Liong-sim-pang itu dan kini pemuda itu terbelalak dan meloncat ke belakang karena tiba-tiba dia melihat dua orang pembantunya itu berubah menjadi dua ekor babi!

“Aihhhhh…, bukan main…!” Dia lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya, kelihatan mengerahkan sinkang dan seluruh tenaga batinnya, barulah dia melihat kedua orang pembantunya itu kembali menjadi manusia seperti biasa.

“Hebat…!” Dia berseru lagi dan sekarang dia saling pandang dengan Siang In. Dia lalu menjura. “Engkau amat hebat, Nona. Marilah kita naik ke puncak, kita bicara di sana. Ji-wi adalah tamu-tamu agung kami.”

Akan tetapi Siang In menggeleng kepala. “Terima kasih. Kami akan pergi saja.”

“Mana bisa begitu, Nona? Bukankah kalian sudah naik sampai ke sini? Kemana lagi jika bukan hendak mengunjungi Liong-sim-pang?” Pemuda pesolek itu bertanya heran.

Siang In menggeleng kepala dan berkata, “Maaf, sesungguhnya bukan niat kami untuk mengunjungi Liong- sim-pang atau siapa pun juga. Dari bawah bukit tadi kami mengira bahwa yang di atas itu adalah sebuah dusun atau kota, maka hendak kami kunjungi. Kemudian kami bertemu dengan orang-orangmu dan terjadi salah paham. Sekarang biarkan kami pergi dan kami akan menganggap Liong-sim-pang perkumpulan orang-orang gagah yang tidak suka mengganggu wanita.”

Pemuda itu menjura dengan hormat. “Maaf, Ji-wi Siocia. Mungkin orang-orangku telah berlaku lancang, tetapi sekali lagi aku mengundang kalian menjadi tamu kehormatan kami. Hari sudah hampir malam dan Ji- wi akan kemalaman di jalan. Maka sebaiknya bermalam ditempat kami ini.”

Akan tetapi, bujukan ini tak dapat menundukkan hati dua orang gadis itu. Dari pandang mata pemuda itu saja mereka sudah dapat menduga bahwa pemuda seperti ini tidak boleh dipercaya.

“In-moi, mari kita pergi saja,” Syanti Dewi berkata.

“Pangcu, kami berterima kasih atas undangannmu, akan tetapi kami akan pergi saja. Selamat berpisah…”

Pada saat itu, terdengar suara ketawa yang melengking panjang dan terkejutlah Siang In karena dia mengenal suara ini. Syanti Dewi juga terkejut karena ada suara ketawa namun tiada orangnya. Dia menoleh ke arah Siang In dan mengikuti arah pandangan mata temannya itu. Segera tampak olehnya ada asap hitam yang bergumpal-gumpal dan bergulung-gulung yang datang dari atas, kemudian setelah tiba di situ, asap itu membuyar dan tampaklah seorang nenek tua India yang berpakaian serba hitam, sudah tua sekali, berdiri di situ. Syanti Dewi terkejut karena dia pun mengenal nenek ini yang dulu merupakan pembantu dan guru mendiang Tambolon, raja liar yang sakti itu.

“Subo…!” Siang In juga cepat memberi hormat dengan menjura ke arah nenek itu.

Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan dengan jelas siapa adanya nenek ini. Seorang nenek India ahli sihir yang berilmu tinggi sekali, isteri dari See-thian Hoatsu, yaitu guru Siang In. Oleh karena itu, Siang In menyebut subo (ibu guru) kepada nenek itu.

“Ehh, ehhh, Subo, siapakah Nona ini dan mengapa menyebutmu Subo?” Hwa-i-kongcu bertanya dengan heran, kaget dan juga girang.

“Ho-ho, dia itu adalah murid See-thian Hoatsu,” kata Si Nenek sambil tertawa sehingga mulutnya yang tidak ada giginya sama sekali itu terbuka seperti goa gelap.

“Aih, kiranya masih Sumoi-ku sendiri!” Tang Hun berseru girang.

“Hehh, bocah, siapa namamu? Aku sudah lupa lagi!” Nenek itu dengan kata-katanya yang logatnya kaku bertanya.

“Teecu (Murid) Teng Siang In…“

“Oya, Siang In! Mana tua bangka gurumu itu? Biar kuketuk kepalanya, hoho!” Durganini celingukan ke kanan kiri.

“Suhu sedang bertapa di Goa Tengkorak di Po-hai, Subo…“

“Hi-hik, dia tentu akan mampus dan menambah jumlah tengkorak di sana.” Tiba-tiba dia memandang ke arah Syanti Dewi yang sejak tadi menunduk dengan jantung berdebar. “Hei! Ini… bukankah ini Puteri Bhutan itu?”

Siang In terkejut, tidak menyangka bahwa nenek itu mengenali Syanti Dewi. Memang Durganini seorang yang aneh, kadang-kadang pikun sekali, akan tetapi kadang-kadang ingatannya tajam.

“Benar, Subo…“

“Wah, kebetulan. Tang Hun, Inilah Puteri Syanti Dewi dari Bhutan! Dialah yang paling tepat menjadi permaisurimu. Hayo bawa dia!”

Tang Han juga terkejut dan girang sekali. Memang sudah lama dia mencari wanita yang kiranya cocok untuk menjadi isterinya yang syah, yang dapat dibanggakannya. Ketika tadi bertemu dengan dua orang dara ini, seketika dia telah jatuh cinta kepada keduanya dan wanita-wanita seperti mereka inilah yang kiranya pantas menjadi isterinya. Siapa tahu, yang satu masih sumoi-nya sendiri dan yang lain adalah Puteri Bhutan yang amat terkenal itu karena pernah nama puteri itu disebut-sebut oleh seluruh dunia kang- ouw sebagai puteri asing yang pernah menggegerkan negara. Kiranya orangnya demikian cantik seperti bidadari dan kini gurunya sendiri menganjurkan agar dia memperisteri puteri itu! Tentu saja tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Tang Hun sudah maju dan mengulur tangan hendak menangkap lengan Puteri Syanti Dewi.

“Tahan…!” Siang In berseru marah.

“Ho-ho, Siang In, kau mau apa? Sudah sepantasnya kau datang membawakan calon isteri untuk Suheng- mu! Bawa dia, Tang Hun,” kata Durganini.

Tang Hun menyambar lengan Syanti Dewi. Puteri ini tentu saja tidak sudi menyerah begitu saja. Dia mengelak dan tangannya menampar ke arah muka Tang Hun. Akan tetapi pemuda ini tertawa, membiarkan pipinya ditampar dan pada saat itu juga, dia telah menotok Syanti Dewi yang menjadi lemas dan memondong tubuh yang padat menggairahkan itu.

“Keparat…!” Siang In menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba dia berhenti sebab ada asap hitam menghadangnya seperti tirai. Dia tidak dapat maju, hanya melihat Syanti Dewi dipondong dan dibawa lari oleh pemuda itu naik ke puncak bukit. Sedangkan kini dari atas datang banyak sekali anak buah Liong-sim- pang menuju ke tempat itu.

“Hi-hik, bocah tolol. Apakah engkau mau melawan aku?” Durganini tertawa mengejek.

Hati Siang In mendongkol sekali. Sesungguhnya dia tidak takut menghadapi nenek ini karena dia maklum bahwa biar pun nenek ini memiliki sihir yang amat hebat, melebihi kepandaian gurunya sendiri, namun dalam hal ilmu silat dia dapat mengatasinya dan dia sudah mendapat petunjuk dari See-thian Hoat-su bagaimana untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan ilmu sihir lawan yang lebih handal. Akan tetapi, anak buah Liong-sim-pang begitu banyak. Mana mungkin dia seorang diri akan dapat menang? Bahkan dia tentu akan tertawan sehingga celakalah mereka berdua kalau dia juga sampai tertawan. Tidak, dia harus tetap bebas agar dapat mencari akal untuk menolong Syanti Dewi.

“Subo, kau terlalu!” teriaknya. “Kau hanya berani menggangguku. Suhu berkata bahwa kalau Suhu bertemu Subo, kalau Subo berani datang ke Goa Tengkorak di pantai Po-hai, Suhu akan menggunduli kepalamu!”

Nenek itu menjerit, suaranya melengking saperti suara iblis dari neraka layaknya. Akan tetapi Siang In yang sudah menduga bahwa nenek itu akan marah, telah membalikkan tubuhnya dan mengerahkan ginkang-nya untuk lari secepatnya menuruni bukit. Nenek itu mengejar, akan tetapi seperti telah diduga oleh Siang In, nenek yang sudah amat tua itu tak mampu menyusulnya dan dari belakang juga tak mampu menggunakan sihirnya.

Dia sudah tahu dari gurunya bahwa nenek Durganini mempunyai pantangan besar, yaitu tidak mau diganggu rambutnya yang dibanggakannya, rambut yang panjang dan sampai dia tua renta pun rambutnya tetap hitam. Maka secara sengaja Siang In tadi mengatakan bahwa gurunya hendak menggunduli kepalanya, maka tentu saja nenek itu menjadi marah karena merasa dihina dan dengan gemas dia mengejar Siang In.

Karena dia tak mampu menyusul dara yang larinya cepat sekali itu, sehingga napasnya sampai hampir putus tetap saja tidak mampu menyusul, nenek yang marah sekali ini melanjutkan perjalanannya menuju ke pantai Po-hai untuk mencari bekas suaminya, See-thian Hoat-su yang katanya hendak menggunduli kepalanya. Ia hendak membalas penghinaan itu kepada si kakek yang katanya bertapa di Goa Tengkorak. Dan memang inilah maksud Siang In membohongi nenek itu agar si nenek sakti itu meninggalkan benteng Liong-sim-pang!

Malam itu, Siang In duduk dengan bingung dan termenung di bawah bukit, di dalam sebuah hutan. Hatinya gelisah sekali dan kadang-kadang dia mengepal tinjunya. Dia bersumpah bahwa kalau sampai pemuda pesolek murid Durganini itu mengganggu Syanti Dewi, memperkosa puteri itu, dia akan menyiksa dan membunuhnya!

Tetapi hatinya agak lapang ketika dia menyelidiki pada keesokan harinya, menangkap seorang penjaga di dekat tembok benteng dan memaksanya mengaku, dia mendengar bahwa Hwa-i-kongcu tidak mengganggu Sang Puteri, hanya mengumumkan bahwa dua minggu lagi Hwa-i-kongcu akan merayakan pernikahannya dengan Syanti Dewi dan mengundang semua kenalan dan tokoh-tokoh kang-ouw sambil menanti kembalinya Nenek Durganini yang semalam telah pergi entah ke mana.

Mendengar ini Siang In kemudian mencari akal untuk dapat menolong puteri itu dari cengkeraman pemuda pesolek itu. Dia tidak berani sembrono memasuki benteng untuk menolong sendiri, karena selain pemuda pesolek itu juga pandai ilmu sihir sehingga mungkin sihirnya tidak banyak menolong, juga dia mendengar bahwa di dalam benteng itu Hwai-kongcu mempunyai pembantu-pembantu banyak orang pandai dan anak buah Liong-sim-pang juga tidak kurang dari lima puluh orang banyaknya. Dia harus mencari akal dan agaknya, menurut perhitungannya, sebelum hari pernikahan tiba, Syanti Dewi akan aman. Pemuda pesolek itu tentu tidak akan mau merusak keadaan dan suasana pengantin baru, tentu tak akan memperkosa gadis yang dicalonkannya menjadi isterinya yang syah…..

********************

Sekarang kita tinggalkan dulu Teng Sian In yang sedang mencari akal untuk dapat menyelamatkan Syanti Dewi dan marilah kita kembali mengikuti pengalaman Suma Kian Lee yang telah kita tinggalkan, karena dua peristiwa itu sejalan dan agar jangan sampai salah satu di antaranya tertinggal jauh.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, terjadi keributan di taman istana Gubernur Ho-nan, di mana Gubernur Kui Cu Kam, yaitu Gubernur Ho-nan, menyambut datangnya utusan kaisar yang bukan lain adalah putera kaisar sendiri, yaitu Pangeran Yung Hwa yang masih muda belia itu.

Keributan di dalam taman terjadi ketika ada penghinaan dari mereka yang bersikap anti kaisar kepada utusan sehingga mengakibatkan pertempuran antara para pengawal utusan dan pihak yang anti kaisar. Pertempuran yang hebat terjadi antara jagoan-jagoan Ho-nan yang diam-diam menentang kaisar dan para pengawal utusan. Jagoan-jagoan Ho-nan dibantu oleh seorang tokoh kaum sesat yang berjuluk Mauw Siauw Mo li yang cantik genit, sedangkan para pengawal istana itu dibantu oleh jagoan-jagoan Gubernur Ho-pei yang bertugas sebagai pengiring utusan kaisar ke Ho-nan.

Seperti telah kita ketahui, diam-diam Suma Kian Lee hadir pula di dalam pesta itu dan menyaksikan pertempuran-pertempuran tanpa campur tangan. Akan tetapi ketika dia melihat Pangeran Yung Hwa, utusan kaisar itu melarikan diri dikejar oleh Perwira Su Kiat yang pernah bentrok dengan dia di celah-celah tebing ketika dia hendak ditangkap tempo hari. Tentu saja Suma Kian Lee tidak dapat tinggal diam lagi. Betapa pun juga, ayahnya adalah menantu kaisar dan dia terhitung adalah cucu kaisar.

Biar pun sudah amat jauh karena yang berdarah keluarga kaisar adalah ibu tirinya, ibu Kian Bu, akan tetapi Pangeran Yung Hwa itu masih sedarah dengan Nirahai, ibu tirinya, dengan demikian masih ada hubungan darah pula dengan Suma Kian Bu, adik tirinya! Oleh karena itu pangeran ini harus ditolongnya, apa lagi pada saat itu Pangeran Yung Hwa merupakan seorang utusan kaisar yang sebetulnya tidak boleh diganggu oleh siapa pun karena mengganggu utusan sama dengan mengganggu yang mengutusnya.

Pada saat itu, Pangeran Yung Hwa hampir terpegang oleh perwira tinggi besar bernama Su Kiat itu yang telah mengulur tangan kanannya yang panjang untuk menangkap pundak Sang Pangeran sambil berseru, “Pangeran, perlahan dulu…!”

“Plakkk!”

Dari belakang Kian Lee menampar perlahan pundak Su Kiat, akan tetapi cukup hebat akibatnya karena tubuh yang tinggi besar itu terpelanting dan pingsan seketika!

“Keparat, kiranya engkau pun mata-mata dari Ho-pei!” terdengar bentakan keras dan tiba-tiba ada angin menyambar dahsyat dari belakangnya.

Kian Lee cepat mengelak dan ternyata yang menyerangnya itu adalah kakek berambut merah tadi, yang menyerangnya dengan guci araknya. Hebatnya, bukan hanya guci arak itu yang menyambar ke arah kepalanya, tetapi juga dari mulut guci itu muncrat arak wangi yang seolah-olah hidup, yang menyambar ke arah matanya! Namun serangan dari kakek bernama Wan Lok It dan berjuluk Ho-nan Ciu-lo-mo ini dengan cepat dapat dihindarkan oleh Kian Lee.

“Singgg…!” Sinar hijau menyambar dari arah kiri Kian Lee.

Sekali ini Kian Lee terkejut karena pedang yang bersinar hijau itu benar-benar amat berbahaya, sangat cepat dan mendatangkan angin dingin. Dia segera membuang diri dan menggerakkan kakinya untuk menendang agar si pemegang pedang tidak dapat melanjutkan serangan. Pemegang pedang itu dengan gesitryya dapat pula mengelak dan ketika Kian Lee memandang, ternyata penyerangnya itu adalah wanita cantik yang agaknya menjadi pembesar para panglima di Ho-nan, yaitu Mauw Siauw Mo-li.

Kian Lee masih diserang oleh beberapa orang lain yang memiliki kepandaian cukup tinggi, namun dia masih dapat mengelak dan balas memukul tanpa menggunakan pukulan maut karena memang dia tidak ingin bermusuhan dengan para jagoan ini dan kalau tadi dia turun tangan hanyalah karena dia melihat Pangeran Yung Hwa melarikan diri dan dikejar oleh Perwira Su Kiat.

Sambil menghadapi pengeroyoknya yang lihai dan jumlahnya ada enam orang itu, Kian Lee memperhatikan keadaan di situ dan melihat bahwa Pangeran Yung Hwa sudah digandeng oleh Gubernur Kui Cu Kam dari Ho-nan, dan gubernur ini bersikap seolah-olah hendak menghentikan pertempuran dan hendak melerai, lalu menarik Pangeran Yung Hwa untuk menyelamatkan diri. Juga dia melihat Gubernur Hok Thian Ki, yaitu Gubernur Ho-pei yang sudah tua itu berlari-lari dan dikejar oleh beberapa orang jagoan Ho-nan pula. Kian Lee menjadi bingung, akan tetapi karena dia sendiri pun dikepung dan dikeroyok, maka dia harus menyelamatkan diri sendiri lebih dulu.

Pemuda perkasa itu memang tadi salah menduga. Dia melihat Pangeran Yung Hwa melarikan diri karena pangeran ini hendak menyingkir dari keributan dan pertempuran itu. Dan Perwira Su Kiat mengejarnya bukan untuk mencelakai pangeran itu. Gubernur Ho-nan belumlah begitu nekat untuk mencelakakan utusan kaisar, bahkan gubernur itu hendak melindungi Pangeran Yung Hwa agar jangan sampai pangeran itu ikut celaka dalam penyergapan yang sebenarnya ditujukan untuk menawan Gubernur Ho-pei. Dia ingin menawan Gubernur Hok Thian Ki dan mempergunakannya sebagai sandera untuk dapat menguasai sebagian daerah Ho-nan di perbatasan antara Ho-nan dan Ho-pei.

Gubernur Hok Thian Ki yang melihat bahaya cepat berusaha menyelamatkan diri, lari dan dilindungi oleh Tok-gan Sin-ciang Liong Bouw, yaitu si mata satu tinggi besar yang merupakan pengawal pribadinya, juga dibantu dua orang pengawal lain. Belasan orang pengawal Ho-nan mengejarnya dan ditahan oleh Tok-gan Sin-ciang bersama dua orang kawannya, sedangkan Gubernur Hok yang tua itu terus melarikan diri, menyelinap di sebuah lorong gelap. Melihat betapa para pengawalnya terus mundur sambil menahan serbuan para pengeroyoknya, Gubernur Hok cepat-cepat menyelinap memasuki sebuah kamar dan segera menutupkan pintu kamar itu.

“Taijin, cepat ke sini…“ Suara halus ini mengejutkannya.

Gubernur itu tadi tidak memperhatikan dan mengira kamar itu kosong. Tetapi ternyata kamar itu kamar tamu yang tadinya ditinggali oleh Kian Lee, dan wanita muda yang menegurnya itu bukan lain adalah Phang Ciu Lan, yaitu pelayan cantik yang melayani Kian Lee! Gubernur Hok membalikkan tubuh dan siap untuk melawan, akan tetapi ketika melihat bahwa yang menegurnya hanya seorang pelayan muda yang cantik, hatinya menjadi lega.

“Sssttttt… harap kau diam dan menolongku… aku hanya ingin bersembunyi… mereka mengejar untuk membunuhku,” katanya terengah-engah oleh karena tadi dia berlari-lari dengan hati tegang. Di luar kamar masih terus terdengar suara beradunya senjata dan teriakan-teriakan orang bertempur, akan tetapi masih agak jauh.

“Saya mengerti, Taijin. Biar pun saya hanya pelayan di sini, tetapi saya memperhatikan semua dan mengenal Taijin. Bukankah Taijin adalah Hok-taijin, gubernur dari Ho-pei?”

“Benar, anak baik. Biarkan aku bersembunyi di sini sampai aman.“

“Justeru kalau bersembunyi di sini tidak akan aman, Taijin. Sebaiknya Taijin cepat dapat pergi dari tempat ini, pergi dari Ho-nan dan kembali ke utara.”

“Tapi… tapi bagaimana?”

“Saya akan membantu Taijin, tetapi Taijin harus menyamar. Marilah, Taijin.“

Dengan tabah sekali wanita muda itu lalu membantu Gubernur Ho-pei itu melakukan penyamaran. Dicukurnya kumis gubernur tua itu dan jenggotnya yang panjang dipotong pendek, rambut kepala diawut- awut dan topi kebesarannya dlilepas, lalu rambutnya digelung biasa secara sederhana dan diikat dengan kain kepala yang kotor. Kemudian Cui Lai menyerahkan seperangkat pakaian tukang kebun dan menyuruh gubernur itu berganti pakaian sebagai tukang kebun.

“Bagaimana dengan Pangeran…?” Gubernur yang setia itu mengeluh dan merasa khawatir sekali. “Jangan khawatir, Taijin. Saya yakin Pangeran yang menjadi utusan Kaisar tidak akan apa-apa“ “Eh, engkau seorang pelayan, bagaimana tahu ?”

“Saya memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka, Taijin, antara gubernur dan Ouw-teetok dan juga para pengawal. Pangeran tidak akan diganggu, akan tetapi memang Paduka yang akan ditawan.“

“Celaka…!”

“Jangan khawatir, kini tidak akan ada yang mengenal Paduka. Mari, saya antar ke luar,“ Cui Lan menggandeng tangan pembesar tua itu.

“Nanti dulu…!” Pembesar itu berhenti, lalu membalik kepada Cui Lan dan dirangkulnya dara itu penuh keharuan. “Nona… kau seorang pelayan, akan tetapi… ahh, berhasil atau tidak usahamu ini percayalah bahwa aku Hok Thian Ki selamanya tak akan melupakan pertolonganmu ini!”

Cui Lan menjadi terharu. “Sudahlah, Taijin. Saya berani melakukan ini karena saya memperoleh suatu keyakinan dari seorang yang saya puja bahwa hidup haruslah diisi dengan perbuatan yang berguna, yaitu antaranya menolong orang yang berada di pihak yang benar. Marilah!”

Dia menggandeng tangan pembesar itu dan ditariknya keluar, lalu mereka menyelinap di antara rumah- rumah dan pohon-pohon serta di antara orang-orang yang masih ribut bertempur tanpa ada yang mempedulikan mereka. Siapa juga yang akan mempedulikan seorang pelayan dan seorang tukang kebun di saat geger seperti itu?

“Kita harus melalui taman…”

“Tempat pertempuran itu?” Gubernur Hok terkejut.

“Benar, akan tetapi hanya di sana terdapat pintu belakang untuk lolos. Pula, sebagai tukang kebun berada di taman, Paduka tidak akan menarik perhatian dan kecurigaan. Mariliah, Taijin…”

Mereka berjalan terus memasuki taman di mana benar saja masih terjadi pertempuran hebat antara para pengawal utusan kaisar, para jagoan Ho-pei serta para prajurit pengawal Ho-nan yang sangat banyak. Juga nampak Kian Lee masih dikurung oleh Mauw Siauw Mo-li, Bun Hok Ti pengawal Ouw-teetok yang mata keranjang itu, Ho-nan Ciu-lo-mo jagoan dari Ho-nan, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh pengawal yang berkepandaian tinggi karena mereka melihat betapa lihainya pemuda tampan yang tadinya menjadi tamu mereka akan tetapi ternyata kini membantu pihak Ho-pei itu.

Kian Lee memang sengaja mengamuk untuk menarik tenaga-tenaga yang terkuat dari Ho-nan agar mengeroyoknya sehingga dengan demikian, pihak Ho-pei akan dapat meloloskan diri. Dengan ilmunya yang tinggi, kalau mau tentu saja dia bisa mengirim pukulan-pukulan maut dan menewaskan banyak orang. Akan tetapi pemuda ini tidak bermaksud membunuh, hanya merobohkan saja beberapa orang tanpa membunuhnya. Tetapi menghadapi orang-orang seperti Mauw Siauw Mo-li dan Ho-nan Ciu-lo-mo, tentu saja tidak akan mudah merobohkan mereka tanpa membunuhnya.

Sambil menghadapi pengeroyokan itu, menggunakan kaki tangannya untuk menangkisi senjata-senjata yang menyambar, juga mengelak ke sana-sini, pandang mata Kian Lee masih terus mencari-cari. Bagaimana dengan Pangeran Yung Hwa? Bagaimana pula dengan Gubernur Ho-pei? Demikian pikirnya dengan hati khawatir juga.

Tiba-tiba dia mengenali wajah Cui Lan. Terkejutlah dia. Apa yang dilakukan oleh gadis pelayan cantik itu di dalam taman, tempat yang telah menjadi medan pertempuran itu? Dan siapa yang jalan tergesa-gesa bersama pelayan itu? Pada saat itu, Cui Lan juga menengok dan memandang ke arah pemuda yang dilayaninya tadi, pemuda yang amat baik dan sopan.

“Aiiiiihhh…!” Cui Lan menjerit ketika melihat Si Rambut Merah, yaitu Ho-nan Ciu-lo-mo, dengan dahsyat menggerakkan guci araknya menghantam dan mengenai dada Kian Lee yang agak terpecah perhatiannya memandang Cui Lan.

“Desssss…!”

Kian Lee terkejut. Tubuhnya sudah terlindung sinkang yang otomatis bekerja, dan dia tidak mengalami luka parah, namun tetap saja dia terlempar ke belakang dan karena dia berdiri membelakangi kolam besar di taman itu, otomatis dia jatuh ke dalam kolam.

“Byuuuuurrr…!”

“Aiiiiihhhhh…!” Kembali Cui Lan menjerit dan banyak orang menoleh ke arah suara jeritan itu.

Akan tetapi karena yang menjerit itu hanyalah seorang pelayan yang berdiri bersama seorang tukang kebun, maka mereka tidak memperhatikan lagi, juga pada waktu itu si tukang kebun sudah memegang tangan Cui Lan dan diajaknya pergi dari situ dengan cepat, menyelinap ke dalam gelap.

Tok-gan Sin-ciang dan dua orang temannya juga sudah mengamuk di dalam taman. Mereka tadi dapat memancing para pengeroyoknya untuk menjauhi tempat di mana Gubernur Ho-pei bersembunyi dan kini, Tok-gan Sin-ciang biar pun hanya bermata sebelah, namun dia mengenal ‘tukang kebun’ yang tadi berdiri di sana bersama pelayan itu. Dia berteriak girang dan terus mengamuk, agar pihak musuh tidak memperoleh kesempatan memperhatikan tukang kebun itu!

Sedangkan komandan pasukan pengawal yang gagah perkasa, yaitu komandan Pasukan Garuda yang melihat betapa pemuda perkasa yang membantu pihaknya itu terjengkang ke dalam air kolam, dia cepat meloncat dan terjun ke dalam air. Komandan ini adalah seorang yang pandai renang, maka dia khawatir akan keadaan pemuda yang membantu pihaknya itu, maka dia ingin menolong.

Tetapi, sebetulnya Kian Lee tidak apa-apa dan bagi pemuda yang lahir dan dibesarkan di Pulau Es ini tentu saja bergerak di air bukan merupakan hal yang asing baginya. Melihat komandan yang perkasa itu berenang menghampirinya, Kian Lee lalu berkata, “Tidak apa-apa, Ciangkun!”

“Awas…!” Komandan itu berseru ketika melihat banyak sekali anak panah menyambar ke arah Kian Lee.

Akan tetapi dengan tenang Kian Lee menggerakkan kedua tangannya dan anak-anak panah itu runtuh semua, membuat Sang Komandan menjadi kagum bukan main. Akan tetapi sekarang, anak-anak panah itu bukan hanya menyerang Kian Lee, melainkan juga menyerangnya! Terpaksa dia menyelam dan ternyata bahwa di tepi kolam telah berdiri pasukan panah yang siap untuk menyerang mereka berdua dengan anak panah mereka!

Sibuk jugalah Kian Lee dan komandan itu. Biar pun Kian Lee amat lihai, namun berada di air tentu saja gerakannya tidak leluasa. Dia dapat menangkis atau menyelam, juga komandan yang cukup tangguh itu dapat pula menyelam untuk menghindarkan diri dari sambaran anak-anak panah, akan tetapi mereka berdua pun tidak bisa naik ke darat!

“Kita harus mencari jalan ke luar!” Kian Lee berseru dan komandan itu mengangguk lalu menyelam lagi karena dia sudah dijadikan sasaran anak panah.

Mereka mulai berenang menjauh ke tengah. Kolam itu cukup luas dan dalam, dan ternyata di pinggir timur terdapat pintu air, agaknya untuk membuang atau menguras air itu. Kalau saja airnya tidak sedalam ini, tidak setinggi tubuhnya, tentu dia akan dapat menggunakan dasar kolam untuk berpijak dan meloncat ke dalam, pikir Kian Lee.

Tiba-tiba Kian Lee terkejut bukan main melihat munculnya Mauw Siauw Mo-li di antara para pemanah itu. Tadi Kian Lee sudah merobohkan beberapa orang anggota pasukan itu dengan menangkapi anak panah dan menyambitkannya ke arah mereka.

“Hentikan anak-anak panah itu, kalian orang-orang tolol. Lihatlah, aku akan membunuh mereka dengan ini!” Dan wanita cantik itu melontarkan sebuah benda ke arah Kian Lee!

“Celaka…!” Kian Lee berseru.

Dia mengenal sekali benda itu karena dia tahu bahwa Mauw Siauvv Mo-li, sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka ini selain amat lihai ilmunya, juga mernpunyai senjata rahasia yang amat mengerikan, yaitu senjata peledak! Kalau sampai senjata itu meledak di kolam, dia dan komandan pasukan pengawal Kuku Garuda itu tentu akan celaka dan tewas!

Pemuda ini memang memiliki dasar watak yang tenang sekali. Walau pun menghadapi ancaman bahaya yang amat besar ini, bahaya maut baginya, namun dia masih dapat bersikap tenang dan ketenangannya inilah yang menyelamatkannya, karena di dalam ketenangan itu terkandung kewaspadaan dan kecerdasan yang luar biasa, yang dapat bergerak lebih cepat dari apa pun juga di dunia ini.

Dalam waktu beberapa detik itu saja, ketika benda itu melayang ke arahnya, Kian Lee telah dapat mempergunakan kecerdasannya dan membuat perhitungan yang amat tepat. Dia lalu mengulur tangan, maklum bahwa benda itu akan meledak setiap bertemu dengan benda keras, maka dia mengerahkan sinkang membuat telapak tangannya selunak kapas, lalu begitu benda itu menempel di tangannya, dia cepat melontarkan benda itu ke arah pintu air di timur!

“Blaaarrrrr…!”

Sinar kilat menyilaukan mata memecahkan kegelapan dan api muncrat ketika benda peledak itu menghancurkan pintu air. Karena pintu air yang pecah dengan mendadak ini, air kolam membanjir ke arah pintu air itu, dan arus yang terjadi karena sedotan air yang mengalir turun itu sedemikian kuatnya sehingga seorang yang perkasa seperti Suma Kian Lee sendiri pun sampai tersedot dan hanyut oleh arus yang amat kuat itu. Apa lagi si komandan yang biar pun gagah namun masih jauh di bawah Kian Lee tingkatnya. Keduanya tak kuasa menahan diri, hanyut oleh arus air yang amat kuat, melewati pintu air dan terus disedot masuk ke saluran air di bawah tanah yang memang menjadi pembuangan air kolam itu dan semua air yang datang dari seluruh bagian istana.

Suma Kian Lee menangkap tangan komandan yang mengeluh karena terbentur-bentur batu, lalu mereka berdua membiarkan diri mereka hanyut sambil meraba ke depan untuk melindungi diri dari benturan tiba- tiba. Sementara itu melihat betapa dua orang itu selamat, Mauw Siauw Mo-li dan Wan Lok It Si Setan Arak menjadi penasaran sekali.

“Kita hadang mereka di sungai, di mana saluran itu memuntahkan airnya dan kita bunuh mereka di sana kalau mereka belum mampus!” teriak Wan Lok It. Bersama beberapa orang pengawal dia kemudian cepat berlari menuju ke tempat itu, yaitu ke sungai yang mengalir di pinggir dan luar kota.

Kian Lee dan komandan pasukan Kuku Garuda itu terus hanyut dan setelah agak jauh ternyata arus air tidak lagi begitu kencang, dan karena saluran itu melebar, maka air pun menjadi dangkal. Hanya setinggi pinggang. Maka mereka lalu berjalan kaki dengan hati-hati di tempat gelap itu, mengikuti aliran air. Gelap pekat di terowongan saluran air ini, sampai tangan sendiri pun tidak dapat mereka lihat.

“Eh, apakah di depan itu?” Tiba-tiba komandan pasukan Kuku Garuda itu berseru.

Kian Lee juga sudah melihat benda-benda yang berkelap-kelip mengeluarkan sinar kehijauan itu. Begitu kecil dan banyak, bergerak-gerak, dan agaknya benda-benda itu tentulah kunang-kunang. Akan tetapi bagaimana terdapat kunang-kunang, di dalam terowongan, di atas air? Biasanya binatang-binatang kecil ini hanya terdapat di kebun-kebun dan ladang-ladang di mana terdapat padi atau gandum. Mereka merasa heran sekali, dan mereka lalu berjalan mendekati makin lama makin dekat dan betapa pun mereka membelalakkan mata, tetap saja mereka tak dapat melihat benda atau binatang apakah yang berkerlapan seperti kunang-kunang itu.

“Ehh, baunya…!” Tiba-tiba Kian Lee terkejut sekali. Teringatlah dia akan ular-ular merah di Pulau Es yang juga mengeluarkan bau seperti ini, wangi-wangi amis, tanda ular beracun atau sejenis binatang lain yang beracun.

“Awasss…!”

Akan tetapi terlambat. Komandan itu yang ingin tahu binatang apa yang mengeluarkan sinar berkeredepan itu telah mengulur tangan untuk menangkap seekor, akan tetapi ‘kunang-kunang’ itu bergerak dan tahu- tahu tangannya telah digigit oleh seekor ular!

“Aduhhhh…!” Dia menangkap dengan tangan kedua, dari rabaannya tahulah dia bahwa yang menggitnya adalah seekor ular, maka diremasnya ular itu sampai hancur. “Celaka, aku digigit ular…!”

Dan memang yang mereka sangka kunang-kunang itu ternyata adalah mata ular-ular yang banyak sekali terdapat di dekat mulut terowongan saluran air itu! Kini ular-ular itu bergerak cepat dan mengeroyok mereka!

“Kerahkan singkang melindungi tubuh!” Kian Lee berseru.

Mulailah dia menggunakan kedua tangannya untuk memukul-mukul ke depan sehingga ular-ular yang berdekatan dengan mereka mati semua dan bangkai mereka hanyut oleh air. Kian Lee lalu memasukkan kedua tangannya ke air untuk memungut batu-batu kecil dari dasar terowongan itu, dan dengan batu-batu ini dia menyambiti ular-ular itu yang mudah saja dia ketahui dari mata mereka yang bersinar-sinar. Bagaikan lampu-lampu kecil, setiap terkena sambitan batu, lampu itu padam, tanda bahwa sambitan itu tepat mengenai kepala ular dan membuatnya tewas seketika. Akan tetapi komandan itu tidak dapat membantunya karena lengan kirinya sudah terasa lumpuh dan kaku, tanda bahwa dia telah terkena racun gigitan ular tadi yang mulai memperlihatkan pengaruhnya.

“Celaka…!” serunya. “Lenganku lumpuh…“

Kian Lee meraba lengan itu, lalu dia menotok pundak dan ketiak sang komandan untuk menghentikan jalan darah agar racun ular tidak terus menjalar ke jantung. Kemudian dia minta pinjam pedang komandan itu, dan sambil meraba-raba dia merobek kulit daging tangan yang tergigit dan menyuruh komandan itu menyedot dan meludahkan sendiri darah dari luka itu.

“Biar pun bukan merupakan pengobatan yang manjur, namun sementara cukup untuk menyelamatkan nyawamu, Ciangkun,” katanya.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di sebelah depan. Di samping suara orang-orang, juga terdengar suara batu-batu besar di lempar dan menimpa air. Telinga Kian Lee yang tajam dapat menangkap suara Si Setan Arak rambut merah, Ho-nan Ciu-Io-mo yang tertawa dan berkata nyaring, “Tutup mulut saluran itu, ha-ha-ha, biar mereka mati seperti tikus-tikus dalam selokan!”

Kian Lee maklum apa yang terjadi.

“Cepat, kita harus mencapai mulut terowongan sebelum ditutupi!” Dia berkata sambil menarik tangan komandan itu.

Akan tetapi, komandan itu mengeluh dan tidak dapat berjalan cepat di dalam air itu dan ternyata setelah mereka tiba di mulut terowongan, dengan rabaan tangan tahulah mereka bahwa mereka telah terlambat. Terowongan itu telah tertutup oleh batu-batu besar, tidak mungkin lagi dapat mereka lewati dan hanya sedikit air saja yang dapat lolos keluar, karena terbendung air ini, air mulai naik perlahan-lahan! Selain air mulai naik, juga hawa dari ular-ular beracun menimbulkan bau yang menyesakkan dada…..

********************

Kita tinggalkan dulu Kian Lee dan komandan pasukan pengawal istana yang terkurung di dalam terowongan yang gelap pekat dan terancam maut, dan mari kita mengikuti perjalanan Gubernur Hok Thian Ki dari Ho-pei yang menyamar sebagai tukang kebun dan melarikan diri bersama Phang Cui Lan. Mereka dapat berlari cepat melalui tempat-tempat gelap sehingga dapat lolos dari perhatian para penjaga dan pengawal yang sedang kacau dan sibuk bertempur itu sehingga mereka dapat keluar dari tembok kota.

Karena mereka itu hanya seorang tukang kebun dan seorang pelayan yang diaku anak oleh tukang kebun, dalam keadaan ribut-ribut itu semua nafsu kebengalan mereka agaknya menjadi padam dan hal ini memudahkan Gubernur Ho-pei dan Cui Lan untuk meloloskan diri dari tembok kota. Pagi-pagi sekali mereka telah keluar dari pintu gerbang kota dan langsung menuju ke utara, ke perbatasan. Kini Gubernur Hok yang memimpin perjalanan dan gubernur ini berkata bahwa kalau mereka sudah melintasi batas propinsi berarti dia akan selamat dan akan dapat menyuruh pejabat setempat untuk mempersiapkan pengawal dan kereta untuk melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, belum jauh mereka berjalan tiba-tiba Gubernur Hok memegang lengan Cui Lan, kemudian menarik gadis itu menyelinap di balik semak-semak belukar karena dia mendengar derap kaki kuda. Benar saja, tidak lama kemudian muncul belasan orang pengawal Gubernur Ho-nan yang lewat dengan cepatnya di jalan itu. Setelah mereka pergi jauh, Gubernur Hok menghela napas panjang.

“Berbahaya sekali…“ Dia mencegah Cui Lan yang hendak berdiri. “Kita bersembunyi dulu di sini, siapa tahu mereka segera kembali…“

Cui Lan duduk di atas rumput di balik semak-semak itu. “Habis, bagaimana baiknya, Taijin?”

“Kalau mereka itu sudah kembali, kita boleh melanjutkan perjalanan, akan tetapi kalau belum terpaksa kita harus mencari tempat persembunyian di dekat jalan ini untuk melihat sampai mereka kembali.”

Akan tetapi mereka tidak perlu menanti terlalu lama, karena hanya sejam kemudian nampak belasan orang itu sudah kembali menjalankan kuda mereka perlahan-lahan dan mata mereka menengok ke kanan kiri mencari-cari! Ketika lewat di dekat mereka, Gubernur Hok dan Cui Lan mendengar komandan pasukan itu berkata, “Tidak mungkin mereka sudah pergi jauh dari sini! Tidak mungkin! Seorang tua dan seorang gadis lemah tentu mereka bersembunyi dan kita harus terus mengawasi jalan ini. Sewaktu-waktu mereka pasti akan muncul. Si tua itu kita serahkan kepada gubernur dan kita menerima hadiah, sedangkan si pelayan yang kabarnya cantik itu hemmm… dia harus dihukum karena melarikan Gubernur Ho-pei, dihukum mesra!”

“Eh, Twako. Mana ada hukuman mesra?”

“Kau tahu sendiri, ha-ha-ha! Kabarnya dia masih perawan!” Dan mereka tertawa-tawa sampai suara mereka lenyap dan mereka pergi jauh. Wajah Cui Lan sebentar merah sebentar pucat, kedua tangannya menggigil ketika dipegang oleh Gubernur Hok yang juga kelihatan pucat.

“Celaka, kalau begitu kita tidak bisa lewat jalan ini. Kita harus mengambil jalan liar, akan tetapi, aku tidak tahu jalan…” kata Si Gubernur tua dengan khawatir. “Baiknya, biarlah aku menyerahkan diri saja agar jalan ini aman. Lalu engkau terus melarikan diri ke Ho-pei. Biar aku mereka tangkap asalkan engkau jangan…”

“Aihhh, mengapa demikian, Taijin? Tidak boleh Taijin mengorbankan diri untuk saya…“ “Engkau seorang wanita…“

“Hanya seorang pelayan…“

“Bagiku engkau bukan sekedar pelayan, melainkan seorang penolong, seorang wanita muda yang berani dan berbudi. Nona, siapa namamu?”

“Phang Cui Lan…“

“Nah, Cui Lan, kita berpisah di sini. Aku akan berjalan ke selatan, biar mereka tangkap dan bawa ke Ho- nan. Kemudian engkau boleh melanjutkan perjalanan ke utara dan di sana engkau boleh melaporkan kepada pembesar setempat bahwa aku ditahan oleh Gubernur Ho-nan. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu kembali, Cui Lan, agar aku bisa membalas budimu.”

Gubernur tua itu lalu bangkit berdiri, meloncat ke atas jalan raya dan melangkah dengan tabahnya menuju ke selatan. Cui Lan memandang dengan mata basah air karena dia merasa kasihan dan khawatir sekali kepada pembesar itu. Baru sekarang dia bertemu dengan pembesar yang demikian manis budi, seakan- akan sikapnya seperti seorang ayah saja baginya.

“Taijin…!” Tiba-tiba gadis itu memanggil dan dia bangkit berdiri.

Gubernur Hok berhenti, membalikkan tubuhnya dan memandang heran melihat gadis itu sudah keluar dari tempat persembunyian, lalu naik ke jalan raya dan menghampirinya.

“Eh, Cui Lan, jangan keluar!”

“Cepat, Taijin, saya mendapat akal. Mari!” Gadis itu memegang tangan Hok-taijin dan menariknya kembali ke tepi jalan dan kembali seperti tadi mereka bersembunyi di balik semak-semak belukar yang cukup lebat hingga dapat menyembunyikan mereka sama sekali dari jalan raya itu.

Dengan suara bisik-bisik Cui Lan berkata, “Taijin, keputusan yang Taijin, ambil tadi terlalu berbahaya. Sudah pasti bahwa jika Taijin tertawan, keselamatan Taijin terancam bahaya hebat. Saya teringat akan pesan seorang yang saya puja-puja, yaitu apa bila sewaktu-waktu saya menghadapi bahaya, saya boleh pergi ke rumah seorang pemburu yang bertempat tinggal di tepi hutan, tak jauh dari sini. Saya kira sekaranglah waktunya untuk pergi ke sana dan minta tolong seperti pesan orang itu.”

Gubernur Hok Thian Ki mengerutkan alisnya. “Cui Lan, engkau hendak melakukan perbuatan berbahaya demi menyelamatkan aku. Akan tetapi justeru aku akan menyeret engkau seorang wanita muda yang tak tahu apa-apa dan tak berdosa ke dalam bahaya. Siapakah orang yang meninggalkan pesan itu? Apakah dapat dipercaya?”

“Taijin, saya tidak dapat mengatakan siapa dia, tetapi dia boleh dipercaya sepenuhnya, untuk itu saya berani tanggung dengan nyawa saya!”

“Ah… betapa bahagianya orang itu yang mendapatkan kepercayaan mutlak seperti itu dari orang seperti engkau.“

Kedua pipi gadis itu menjadi merah, namun matanya berseri tanda bahwa dia girang sekali mendengar pujian dari pejabat yang amat tinggi kedudukannya ini.

“Marilah, Taijin, sebelum mereka kembali ke sini!” Dia lalu bangkit, memegang tangan orang tua itu dan kembali mereka berjalan setengah berlari, tersaruk-saruk, tergurat dan kena lecutan semak-semak yang mereka terjang, melalui jalan liar menuju ke sebuah hutan di lereng gunung yang nampak dari situ.

Yang seorang biar pun laki-laki adalah orang yang sudah lanjut usianya dan tak pernah melakukan pekerjaan berat, yang seorang lagi biar pun masih muda remaja hanyalah seorang gadis lemah, maka ketika mereka akhirnya tiba di dekat hutan, napas mereka memburu terengah-engah, muka beserta leher mereka penuh keringat dan kedua kaki mereka gemetar saking lelahnya.

“Wah, aku tidak kuat lagi…“ Gubernur Hok Thian Ki mengeluh.

“Saya juga capai, Taijin, akan tetapi sudah dekat. Kurasa di sana itulah tempatnya, lihat ada genteng rumah di sana.”

Tiba-tiba terdengar bunyi ramai di bawah. Ketika mereka menoleh, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati mereka melihat belasan orang mengejar mereka dari bawah lereng gunung.

“Celaka, mereka adalah para pengawal yang mengejar kita!” Cui Lan berseru kaget dan mukanya menjadi pucat sekali. “Mari, Taijin…!” Gadis itu seakan-akan memperoleh semangat baru dan rasa capainya lenyap sama sekali karena dia sudah menggandeng tangan pembesar itu lagi dan menariknya, mengajaknya lari ke arah hutan.

“Heiiiii! Berhenti…!” Teriakan-teriakan para pengejar mulai terdengar dan kedua orang pelarian ini makin mempercepat larinya.

“Auhhhhh…!” Tiba-tiba Gubernur Hok tersandung dan terguling roboh. Untung dia tidak sampai terjerumus ke dalam jurang yang ada di dekat mereka karena Cui Lan sudah merangkulnya dan membantunya berdiri.

“Auhhhhh… kakiku…“ Pembesar itu terpincang-pincang, akan tetapi terus digandeng Cui Lan, dipapahnya menuju ke rumah yang sudah berada di depan mereka.

“Mari, Taijin…!” Cui Lan menariknya dan mereka berdua berlari menuju ke rumah yang bentuknya aneh itu.

Sebuah rumah yang kokoh kuat, berbentuk segi empat seperti sebuah peti besar. Rumah itu berdiri di tebing sebuah sungai yang airnya tenang dan cukup lebar. Yang luar biasa pada rumah itu adalah bahwa berbeda dengan rumah biasa, rumah ini tidak mempunyai jendela, hanya ada sebuah daun pintunya yang terbuat dari pada besi! Benar-benar seperti sebuah rumah penjara saja, penjara yang aneh di pinggir hutan!

Akan tetapi karena para pengejar sudah berada dekat di belakang mereka, Cui Lan dan Gubernur Hok tentu saja tidak lagi memperhatikan rumah aneh ini dan langsung saja mereka menghampiri pintu besar yang terbuat dari pada besi itu dan menggedor-gedor sekuat tangan mereka dapat bertahan. Akan tetapi, tidak ada yang menjawab dari dalam, apa lagi membuka daun pintunya.

“Bukalah… bukalah…!” Tolonglah kami…!” Berulang kali Cui Lan menggedor daun pintu dengan kepalan tangannya sampai punggung tangannya berdarah!

“Cukup, Nona. Agaknya rumah ini kosong…“ Gubernur Hok memegang tangan yang berdarah itu. Cui Lan menangis terisak-isak dan gubernur itu dengan terharu kemudian mencium punggung tangan yang berdarah itu.

“Tenanglah, kita masih hidup dan kita akan menghadapi ini bersama…,“ bisiknya.

Empat belas orang pengawal itu telah tiba dan mengurung mereka sambil tertawa-tawa mengejek ketika mereka tadi menggedor-gedor pintu dan tidak ada yang menjawab. Juga mereka mentertawakan gubernur itu ketika dia tadi mencoba untuk menarik dan membuka pintu yang kokoh kuat itu. Ejekan-ejekan dilontarkan ke arah Gubernur Hok dan godaan-godaan kotor dan cabul mereka lemparkan kepada Cui Lan.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring, suara anak-anak yang masih belum pecah suaranya, bening dan halus, “Heiiiii, jangan menghalang di depan pintu orang, aku mau lewat!”

Karena munculnya anak kecil itu begitu tiba-tiba, semua pengawal itu menjadi terkejut dan di luar kesadaran mereka, mereka itu bergerak memberi jalan kepada seorang anak laki-laki kecil yang datang dari belakang mereka.

Anak ini menghampiri pintu, memandang kepada Gubernur Hok dan Cui Lan, kemudian berkata lirih, “Mari ikut dengan aku!”

Anak itu meraba sesuatu di dekat pintu dan terdengar suara berkeret keras, daun pintu besi terbuka dan cepat anak itu menarik tangan keduanya masuk ke dalam. Seperti digerakkan oleh tangan raksasa yang tidak nampak, daun pintu itu menutup kembali dengan suara keras berderak!

Para pengawal Gubernur Ho-nan itu cepat mengejar. Mereka lalu mendorong-dorong, menarik-narik, menggedor-gedor, namun pintu itu tidak dapat dibuka, dan juga tidak dibuka dari sebelah dalam. Biar pun empat belas orang itu telah menyatukan tenaga, namun tetap saja mereka tidak mampu membuka pintu besi itu.

Marahlah para pengejar itu. Mereka berteriak-teriak bahwa kalau dua orang itu tidak mau keluar, rumah itu akan dibakar! Komandan mereka dengan suara lantang lalu memerintahkan anak buahnya mengumpulkan kayu di sekeliling rumah itu dan setelah cukup lalu dia berteriak lagi, suaranya lantang menembus celah- celah yang ada memasuki rumah itu, “Heiiiii! Kalian yang berada di dalam. Kalau kalian tidak cepat keluar, kalian akan terbakar hidup-hidup di dalam!”

Tentu saja Cui Lan, Gubernur Hok, dan bocah itu mendengar suara ini dari dalam dan Cui Lan yang takut kalau-kalau anak itu akan membuka pintu, segera berkata, “Anak baik, tolonglah kami… jangan kau buka pintunya, mereka itu hendak membunuh kami berdua…!”

Bocah itu memiliki sifat-sifat yang gagah. Mendengar ini, dia membusungkan dadanya yang masih kecil sambil berkata dan menepuk dada, “Percaya padaku, aku tidak akan menyerahkan kalian kepada orang- orang jahat itu!”

Mereka yang berada di dalam mendengar suara kayu terbakar dan melihat sinar terang di luar rumah, ada asap masuk dan hawa panas mulai terasa oleh mereka. Anak itu lalu lari mengambil air dan menyiramkan di bagian yang ada sinar api membakar di luar tembok rumah. Cui Lan dan Gubernur Hok membantunya, akan tetapi usaha mereka itu tiada gunanya. Air itu tidak dapat langsung menyerang api yang menyala di luar rumah tembok tebal itu dan memang api tidak dapat masuk pula, akan tetapi hawa panas mulai menyerang makin hebat ke dalam!

Rumah itu kecil saja, terbuat dari tembok tebal dan dibagi menjadi empat buah kamar. Tidak ada pintu lain kecuali pintu depan itu, dan tidak ada jendela. Yang ada hanyalah lubang-lubang hawa yang amat kecil di bagian atas. Tentu saja kini rumah itu mulai terasa seperti dipanggang.

Tiga orang itu mulai mandi peluh, sekujur tubuh mereka basah, juga pakaian mereka mulai basah kuyup seolah-olah mereka bertiga baru saja jatuh ke dalam air sungai atau kehujanan! Akan tetapi napas mereka mulai megap-megap. Rasa panas hampir tidak tertahankan lagi.

“Bukalah… bukalah… kalian berdua tidak layak mati untukku…, bukalah…“ “Jangan, Taijin… Paduka akan celaka…“

“Tidak, Cui Lan, aku akan lindungi kau sedapatku.“

Tetapi anak itu yang tadi kelihatan berkeliaran dan tidak mendengarkan pembicaraan mereka, kini datang mendekat.

“Harap kalian jangan gugup,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kamar. “Ini kamarku dan Ayah, ini kamar kedua orang Pamanku, masing-masing satu, dan kamar yang sudut itu adalah kamar… Ibuku dahulu! Mari kita dobrak dan buka kamar itu!”

Daun pintu yang satu ini digembok dan dikunci, sukar sekali dibuka. Dengan tenaga seadanya, bocah itu dibantu oleh Cui Lan dan Gubernur Hok berusaha untuk membuka pintu itu, menggunakan segala alat yang ada seperti palu dan linggis untuk merusak gembok.

Mengapa bocah itu berkeras hendak membuka kamar ini? Padahal, sejak kecil ayahnya melarang dia membuka pintu itu yang selalu ditutup dan digembok? Barusan anak ini teringat akan cerita seorang di antara kedua pamannya, yang seperti juga ayahnya adalah pemburu-pemburu yang mencari binatang di hutan-hutan untuk dijual kulit dan dagingnya.

Menurut cerita pamannya itu, ayahnya adalah seorang suami yang cemburunya amat besar. Karena cemburunya itulah maka ayahnya membuat rumah aneh seperti penjara itu dan setiap kali ayahnya pergi berburu, rumah itu ditutup dan ibunya seperti dikurung di dalam penjara. Akhirnya ibunya tidak tahan dan setiap kali ayahnya pergi berburu, ibunya itu menggali terowongan sedikit demi sedikit, sampai bertahun- tahun lamanya sehingga akhirnya dia berhasil membuat terowongan dari kamarnya itu menembus ke dinding tebing sungai! Maka, pada suatu hari kaburlah isteri ini meninggalkan anaknya yang masih kecil.

Teringat oleh cerita inilah maka bocah itu lalu berusaha mati-matian untuk membuka daun pintu kamar ibunya itu. Akhirnya, setelah tangan mereka terasa sakit semua, gembok itu dapat dipatahkan. Cui Lan girang sekali, cepat dia mendorong pintu kamar itu dan gadis ini melangkah mundur dengan mata terbelalak karena terkejut melihat tiga orang laki-laki yang bertubuh tegap dan berpakaian kasar berdiri di belakang pintu kamar itu dengan mata terbelalak marah!

“Ayah…! Paman…!” Bocah itu berseru dengan girang, akan tetapi begitu melihat wajah ayahnya yang beringas dan teringat bahwa dia telah melanggar pantangan ayahnya, dia menjadi ketakutan dan mundur- mundur berlindung di belakang Cui Lan!

Ayah bocah itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka bengis sekali. Dia tidak memakai baju, hanya bercelana hitam. Dadanya penuh bulu, cambang bauknya membuat wajahnya makin seram kelihatannya. Tangan kirinya memegang sebatang kapak dan tangan kanannya memegang gendewa besar.

“Keparat, kau berani membuka pintu ini? Kubunuh kau… dan dua orang asing ini yang berani lancang memasuki rumahku!” Pemburu kasar itu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dan hendak mengejar anaknya. Dia bukan hanya marah kepada anaknya yang dianggapnya telah mendatangkan bencana, rumahnya dikepung pengawal dan dibakar, juga berani membuka pintu kamar yang dirahasiakan, namun kemarahannya meluap ketika dia melihat Cui Lan yang cantik. Semenjak isterinya minggat, setiap kali melihat perempuan cantik, hati pemburu ini seperti dibakar rasanya dan dia membenci setiap wanita cantik!

“Sabar dulu, Saudara!” Cui Lan cepat melindungi bocah itu dan menentang si pemburu dengan berani. Dia penasaran sekali. Masa ada ayah yang hendak membunuh anaknya hanya karena membuka pintu kamar itu saja? Kamar itu pun hanya kamar yang kosong!

”Anak ini tidak bersalah. Dia terpaksa membuka kamar untuk menyelamatkan kami. Kalau mau bunuh, bunuhlah aku, akan tetapi aku benar-benar menyesal mengapa aku datang ke sini seperti yang dipesankan oleh Siluman Kecil.”

Mendengar ini, kapak di tangan pemburu itu terlepas ke atas lantai dan mukanya segera berubah pucat sekali, juga kedua orang paman bocah itu kelihatan terkejut dan cepat melangkah maju.

“Kau… kau bilang… Siluman Kecil…?” Suara pemburu tinggi besar itu agak gemetar.

Cui Lan merasa mendapat hati. Jelas bahwa disebutnya Siluman Kecil itu membuat tiga orang itu menjadi terkejut dan ketakutan. “Benar!” katanya lantang. “Dulu Siluman Kecil pernah berpesan kepadaku bahwa jika aku berada dalam kesukaran, aku boleh minta bantuan para pemburu yang datang tinggal di rumah ini!”

“Ah, maaf… maaf… kami tidak tahu bahwa Siocia (Nona)…“

“Sudahlah, aku hampir tak kuat bertahan!” Cui Lan berkata dan cepat dia menggandeng tangan Pembesar Hok. “Dan dia pun sudah tidak kuat! Tolonglah kami terhindar dari mala petaka ini.”

“Mari…!” Ayah bocah itu berkata dan cepat dia membuka sebuah tutup di lantai kamar kecil itu.

Ternyata terdapat sebuah lubang seperti sumur, sebuah terowongan dan semua orang lalu memasuki terowongan ini. Tidak terlalu panjang terowongan ini dan kiranya inilah terowongan yang dahulu dibuat oleh ibu bocah itu. Tadi, ketika pulang dari berburu dan melihat rumah mereka dikurung para pengawal dan dibakar dari luar, mereka terkejut sekali. Mereka adalah pemburu-pemburu yang berpengalaman, dan melihat bahwa pasukan itu adalah pasukan pengawal, mereka tidak berani sembrono.

Untuk menolong puteranya yang berada di dalam rumah, pemburu itu lalu mengajak dua orang adiknya untuk memasuki rumahnya melalui terowongan buatan isterinya dulu itu dan demikianlah, ketika mereka tiba di dalam kamar, tepat sekali Cui Lan membuka daun pintu kamar yang berhasil mereka rusak gemboknya. Begitu melihat Cui Lan dan kakek itu, dan melihat anaknya merusak gembok daun pintu kamar itu, marahlah si pemburu dan nyaris dia membunuh mereka bertiga kalau saja Cui Lan tidak cepat menyebut nama Siluman Kecil!

Kini mereka tiba di mulut terowongan di tebing sungai. Dengan bantuan mereka, Cui Lan dan Gubernur Hok dapat meloncat ke dalam air dan karena tempat itu tak nampak dari atas tebing, maka para pengawal yang masih tertawa-tawa di luar rumah yang mereka bakar itu, mereka dengan mudahnya dapat menyelamatkan diri.

Dengan menggunakan sebuah perahu para pemburu, mereka menjauhi tempat itu dan setelah melakukan perjalanan setengah hari keluar dan masuk hutan, akhirnya mereka tiba di dalam sebuah hutan lebat di mana terdapat sebuah pondok yang dibuat oleh tiga orang pemburu itu dan yang digunakan pada waktu mereka memburu binatang.

Hampir patah-patah rasanya kaki Cui Lan dan Gubernur Hok ketika mereka akhirnya dapat melempar tubuh mereka ke atas lantai pondok yang ditilami daun-daun kering itu. Gubernur Hok saking lelahnya sudah tidak dapat bertahan lagi, langsung dia tertidur pulas!

Setelah membuat api unggun, memasak air dan nasi yang memang tersedia di situ, dibantu oleh bocah kecil, pemburu dan dua orang adiknya lalu duduk pula di atas lantai dan bertanyalah ayah bocah itu kepada Cui Lan. “Kami tidak hendak mencampuri urusan Siocia dan Lopek ini, dan oleh karena Siocia mengenal beliau, maka kami akan menolong sampai sekuat tenaga kami. Jika Siocia tak keberatan, kami ingin mengetahui kenapa Siocia dan Lopek ini dikejar-kejar para pengawal itu? Bukankah para pengawal itu adalah pengawal-pengawal dari gubernuran?”

Cui Lan adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Dia bukan seorang pelayan biasa tapi puteri seorang kepala kampung yang terpelajar juga.Karena itu, ditambah pula dengan wataknya yang memang halus dan pribadinya yang tinggi, dara ini dapat bersikap tenang dan cerdik menghadapi keadaan yang bagaimana pun juga. Dia maklum bahwa mereka masih berada di wilayah Ho-nan, dan sungguh pun bagi dirinya sendiri tidak perlu dia menyembunyikan diri, namun tidak demikian halnya dengan Gubernur Ho-pei ini. Keadaan diri pembesar ini harus disembunyikan, maka dia sudah cepat mengarang cerita sambil menjawab pertanyaan itu.

“Benar seperti yang kalian duga. Mereka memang adalah pengawal-pengawal di istana gubernur. Dan aku bernama Phang Cui Lan, seorang pelayan di istana Gubernur Kui, melayani isteri beliau. Akan tetapi pada suatu hari, aku akan dikawinkan oleh gubernur dengan seorang pelayan beliau. Karena sejak kecil aku sudah ditunangkan, aku tidak mau, akan tetapi tentu saja tidak berani menolak dengan terus terang. Maka aku lalu minggat dengan bantuan Pamanku ini yang menjadi tukang kebun di sana.” Dia berhenti sebentar karena pada saat itu, Gubernur Hok agaknya telah sadar dan mendengarkan cerita itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo