September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 19

 

“Enci yang baik, apakah buruknya rambut putih?” Kian Bu berkata untuk menghibur hati enci-nya, tetapi kata-kata itu bahkan dirasakan seperti menikam hati wanita perkasa itu.

“Aihhh, sungguh mengharukan sekali, Kian Bu. Pertemuan mengharukan antara enci yang mencinta dan adiknya…“

Mendengar suara wanita yang nyaring dan bernada seperti mengejek ini, Milana cepat melepaskan rangkulannya dan memandang. Dia tadi memang melihat bahwa adiknya datang bersama seorang dara berpakaian hitam yang amat cantik jelita, akan tetapi pertemuannya dengan adiknya itu membuat dia lupa kepada dara itu dan kini setelah dara itu mengeluarkan suara yang demikian mengejek, dia cepat memandang dengan alis berkerut, sinar matanya tajam menyambar dengan penuh selidik kepada dara yang berdiri dengan sikap tenang dan lagak yang angkuh itu.

Memang Hwee Li, dara itu, marah sekali menyaksikan pertemuan antara enci dan adik yang demikian mengharukan dan mereka berdua itu seolah-olah sudah melupakan dia, seolah-olah dia tidak ada di situ! Maka dia sengaja mengeluarkan kata-kata mengejek tadi. Bagi Hwee Li, dia memang tidak mengenal apa artinya takut, apa artinya sopan santun. Biar di dalam istana sekali pun, di depan kaisar sekali pun, dia tetap akan mengeluarkan apa pun yang berada dalam pikirannya melalui mulut tanpa sungkan sungkan dan ragu-ragu lagi.

“Siapakah dia ini?” Milana bertanya.

Kian Bu yang juga mendengar ucapan Hwee Li tadi cepat-cepat memperkenalkan gadis itu kepada enci- nya. “Enci, dia ini adalah Kim Hwee Li, puteri Hek-tiauw Lo-mo…“

“Ehhh…? Hek-tiauw Lo-mo dari Pulau Neraka? Pantas! Dia puteri dari iblis jahat itu! Kenapa kau ajak dia ke sini, Bu-te?” Milana menjadi merah mukanya dan matanya melotot memandang kepada Hwee Li, siap untuk menerjang dan menyerang gadis itu.

“Dia… dia bukan musuh, Enci, bahkan dia telah beberapa kali menolongku, menolong Lee-ko. Dia adalah sahabat baikku, Enci, dan dia bukanlah puteri Hek-tiauw Lo-mo, maksudku bukan anak kandungnya, hanya anak angkat…“

“Anak angkat pun bukan, bahkan tua bangka iblis itu adalah musuh besarku, pembunuh dari ibu kandungku!” Hwee Li melanjutkan.

Agar jangan menimbulkan salah sangka karena sikap Hwee Li yang kasar itu, Kian Bu cepat-cepat menceritakan semua hal mengenai Hwee Li kepada enci-nya, betapa dia pernah tertawan di dalam benteng dan diselamatkan oleh Hwee Li, kemudian dia menceritakan tentang keadaan di dalam benteng lembah. Dalam penuturan ini, Hwee Li yang mengetahui lebih banyak tentang lembah, juga menambah cerita Kian Bu dan setelah bercakap-cakap, Milana mendapat kenyataan betapa Hwee Li adalah seorang dara yang polos, jujur dan terbuka, juga pemberani dan tidak suka untuk berpalsu-palsu dengan sopan santun buatan.

Ketika mendengar keadaan di dalam benteng lembah, Milana sangat terkejut. Betapa benteng itu dibangun oleh Jenderal Kao yang dipaksa oleh karena seluruh keluarganya tertawan di situ, betapa putera Kao Kok Cu dan Ceng Ceng juga berada di situ. Malah Puteri Syanti Dewi juga turut tertawan di lembah dan mereka telah gagal dalam usaha mereka untuk menyelamatkan Syanti Dewi.

Akan tetapi yang paling mengejutkan hati Milana adalah keadaan di lembah yang telah menjadi benteng amat kuat itu. Apa lagi ketika dia mendengar bahwa Pangeran Liong Bian Cu, keturunan dari Pangeran Liong Khi Ong yang memberontak, sekarang telah mengumpulkan orang-orang sakti dan memaksa Jenderal Kao membentuk barisan amat kuat di benteng yang kuat pula itu, maklumlah dia bahwa keadaannya benar-benar amat gawat.

“Ah, sungguh celaka! Kiranya keturunan dua orang Pangeran Liong yang memberontak itu telah menimbulkan pemberontakan pula yong lebih berbahaya. Karena benteng itu didirikan di antara Propinsi Ho-nan dan Ho-pei, maka keadaannya jadi lebih berbahaya dari pada pemberontakan kedua pangeran Liong beberapa tahun yang lalu. Kao Kok Cu dan Ceng Ceng juga baru saja datang melapor, maka sebaiknya kalian berdua juga cepat pergi menyusul mereka, membantu mereka yang menyelidiki lembah. Aku akan mengerahkan pasukan, lebih dulu menyerbu Ho-nan untuk menaklukkan Gubernur Ho-nan karena dari sanalah sumbernya tenaga bantuan kepada para pemberontak.”

Kian Bu dan Hwee Li tidak lama tinggal di kota raja. Mereka lalu berangkat lagi untuk kembali ke lembah, untuk membantu Kok Cu dan Ceng Ceng karena mereka pun maklum bahwa tempat itu sangat berbahaya, membutuhkan bantuan orang-orang sakti dan juga membutuhkan serbuan pasukan yang kuat sekali untuk dapat menghancurkan pemberontakan-pemberontakan dan juga menyelamatkan semua orang yang tertawan di situ.

Setelah kedua orang muda itu pergi, Milana kemudian mengirim utusan, cepat-cepat memberitahukan kepada suaminya tentang keadaan yang berbahaya itu. Dia menulis surat kepada suaminya, menceritakan semuanya dan mengharapkan suaminya untuk turun tangan pula membantu, agar suaminya langsung menuju ke lembah karena dia hendak memimpin pasukan menyerbu Propinsi Ho-nan lebih dulu…..

********************

Pagi yang amat sunyi di tepi Sungai Huang-ho. Kao Kok Cu dan Ceng Ceng, isterinya, duduk di atas batu- batu besar yang memenuhi sepanjang tepi sungai itu. Batu-batu sebesar kerbau yang halus dan keputihan. Bagian tepi sungai ini sunyi sekali, karena jalan menuju ke situ tertutup oleh semak-semak belukar dan hutan-hutan yang lebat. Sudah lama juga, tidak kurang dari satu pekan lamanya, suami isteri itu berada di tepi Sungai Huang-ho. Dari tempat yang mereka pergunakan sebagai tempat melewatkan malam ini dapat nampak tembok benteng lembah yang kokoh kuat. Mereka berdua bercakap-cakap.

Semenjak terjadinya peristiwa penyerbuan, kini tembok benteng itu oleh Pangeran Liong Bian Cu diperkuat penjagaannya, tidak hanya penjagaan di setiap pintu gerbang dan perondaan di sepanjang tembok benteng, akan tetapi juga di atas tembok dipasangi alat-alat rahasia, jebakan-jebakan dan juga banyak disembunyikan pasukan-pasukan panah dan orang-orang pandai untuk mencegah masuknya mata-mata musuh. Suami isteri ini telah menyelidiki selama beberapa hari dan mendapat kenyataan bahwa tempat itu memang kokoh kuat, dan juga penuh dengan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ceng Ceng sudah tidak sabar menanti lebih lama lagi. Suaminya mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi, dan dia sendiri pun tidak akan mudah dikalahkan orang. Mengapa suaminya belum juga mau menyerbu masuk, padahal keluarga suaminya semua berada di dalam benteng itu?

“Kalau menyelinap secara diam-diam tidak mungkin, marilah kita serbu saja dari pintu gerbang. Apa sih sukarnya merobohkan puluhan orang penjaga di sana? Kalau kita sudah berada di dalam, kita akan bertindak melihat suasana dan keadaan. Kalau mereka mau diajak bicara baik-baik, kita tuntut dibebaskannya seluruh keluarga, kalau mereka berkeras, kita turun tangan saja mengamuk!” Ceng Ceng berkata sambil duduk di atas batu dan matanya yang tadi melamun memandang ke arah tembok benteng, kini memandang suaminya dengan alis berkerut. Dia sudah tidak sabar lagi untuk lebih lama menanti.

Kok Cu menggeleng kepalanya. “Isteriku, dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana keselamatan seluruh keluarga terancam, amat tidak bijaksana kalau kita menggunakan kekerasan begitu saja. Memang tentu mudah bagi kita untuk menyerbu masuk, akan tetapi kalau tempat itu penuh dengan pasukan musuh, dan banyak pula terjaga oleh orang-orang pandai, bagaimana kita akan dapat membebaskan semua keluarga ayah itu? Sebelum kita bergerak, kalau mereka itu mengancam keselamatan keluarga ayah, apa yang dapat kita lakukan? Harap kau bersabar. Kita menanti kesempatan baik, kalau ada di antara anggota pasukan yang keluar dan dapat kita tangkap, kita akan dapat memaksanya menceritakan semua keadaan sehingga kita dapat melakukan tindakan yang tepat.”

Ceng Ceng hendak membantah, tetapi suaminya memberi isyarat dengan matanya dan ketika Ceng Ceng mencurahkan perhatian, dia pun kemudian mendengar suara yang mencurigakan di sebelah belakang, dari dalam hutan kecil yang lebat itu. Suami isteri ini masih duduk dengan tenang, akan tetapi waspada dan semua syaraf di tubuh mereka menegang. Keduanya makin yakin bahwa penjagaan di sekitar tembok benteng itu memang amat kuat dan cermat sehingga agaknya kehadiran mereka telah diketahui oleh pihak musuh!

Dugaan mereka ini ternyata benar, segera terdengar suara sebelum orangnya nampak. “Ha-ha-ha, Ngo-te, sungguh akhir-akhir ini Sam-ko menjadi penakut sekali. Hanya dua orang laki-laki dan wanita muda di sini. Sepasukan orang saja cukup untuk menangkap mereka, mengapa mesti menyuruh kami? Ha-ha-ha, ini namanya menangkap dua ekor ikan teri menggunakan jala yang besar! Ha-ha-ha!”

Lalu terdengar suara kedua, suara orang yang agaknya malas bicara, “Su-ko, kuku ibu jari perempuan itu untukku!”

“Ha-ha-ha, dia cantik juga, Ngo-te. Engkau memang beruntung hari ini!”

Ceng Ceng dan Kok Cu masih duduk ketika nampak dua bayangan berkelebat. Mereka berdua terkejut. Melihat cara bayangan itu berkelebat sedemikian cepatnya, suami isteri ini maklum bahwa yang datang bukanlah orang-orang biasa, melainkan dua orang yang termasuk orang-orang yang berilmu tinggi sekali, bukan tokoh-tokoh kang-ouw umum saja yang mampu bergerak seperti itu. Maka suami isteri ini cepat bangkit berdiri dan memandang kepada dua orang itu dengan mata terheran-heran karena yang berdiri di depan mereka adalah dua orang yang amat aneh bentuk tubuhnya.

Yang seorang amat jangkung hingga Kao Kok Cu sendiri yang sudah termasuk seorang pria yang tinggi, agaknya hanya sampai di bawah pundak kakek jangkung itu! Dan yang seorang lagi, yang kepalanya gundul, berpakaian hwesio, adalah seorang yang amat gendut akan tetapi juga amat pendek, begitu pendeknya sehingga paling-paling sampai di dada Ceng Ceng tingginya. Benar-benar seorang tosu jangkung dan seorang hwesio pendek yang aneh, karena keadaan tubuh keduanya amat berlawanan, yang seorang tinggi kurus dan yang kedua gendut pendek.

Sebaliknya, Su-ok Siauw-siang-cu dan Ngo-ok Toat-beng Siansu sama sekali tidak mengenal suami isteri itu, karena biar pun namanya terkenal di seluruh dunia persilatan sebagai seorang tokoh sakti seperti dalam dongeng, namun Kok Cu dan isterinya jarang sekali meninggalkan Istana Gurun Pasir. Ketika melihat betapa cantiknya Ceng Ceng, seketika kumatlah penyakit Ngo-ok Toat-beng Siansu dan dia sudah memandang kepada Ceng Ceng dengan penuh nafsu, terutama memandang kepada ibu jari tangan Ceng Ceng dengan kukunya yang mengkilap dan terpelihara baik-baik itu.

“Su-ko, aku tidak tahan lagi. Kau lihatlah pertunjukan yang menarik!” kata si jangkung dengan suara serak. Yang dimaksudkan dengan pertunjukan menarik adalah betapa dia dengan cara sadis memperkosa wanita di depan Su-ok, kemudian mencabut kuku ibu jari wanita yang telah diperkosanya lalu dibunuhnya.

“Heh-heh-heh, senang sekali, aku suka menonton. Kau juga, lengan buntung?” tanya si gendut pendek kepada Kok Cu. Senang karena dia melihat si lengan buntung ini akan dipaksa menyaksikan isterinya diperkosa sampai mati secara kejam sekali oleh si jangkung.

Tetapi Kok Cu diam saja, wajahnya yang tampan sama sekali tidak memperlihatkan apa-apa, juga Ceng Ceng hanya berdiri memandang si jangkung, hanya sepasang matanya yang mengeluarkan sinar kilat dan diam-diam Ceng Ceng sudah mengerahkan tenaganya yang mukjijat dan kedua tangannya yang berkulit putih halus itu tanpa diketahui orang kini telah berubah menjadi dua tangan maut yang mengandung Ilmu Ban-tok Sin-ciang (Tangan Sakti Selaksa Racun)!

Tiba-tiba si jangkung melangkah maju dan Kok Cu berbisik kepada isterinya, “Berhati hatilah.” Lalu suami ini malah menyingkir dari samping isterinya.

Ceng Ceng berdiri dengan kedua kaki terpentang dan sepasang matanya tidak pernah meninggalkan si jangkung yang memandang kepadanya dengan mata seperti terpejam. Setelah jarak di antara mereka tinggal kurang dari dua meter, si jangkung berhenti dan kedua mata sipit itu bergerak-gerak mengamati tubuh Ceng Ceng dari atas ke bawah, lalu dia mengangguk-angguk puas, dan begitu kakinya yang panjang melangkah dan tubuhnya bergerak, tahu-tahu ada dua lengan panjang sekali menyambar dari kanan kiri, menubruk ke arah kedua pundak Ceng Ceng!

Ngo-ok yang jangkung itu tentu saja memandang rendah kepada Ceng Ceng dan mengira bahwa wanita cantik yang menjadi calon korbannya ini sekali tubruk saja tentu akan menyerah dan dapat dipeluknya. Akan tetapi sekali ini, Si Jahat Nomor Lima ini benar-benar kecelik sekali. Wanita cantik yang ditubruknya dengan menggunakan dua lengan panjangnya itu sama sekali tidak mengelak atau meloncat mundur, bahkan Ceng Ceng melangkah maju dan kedua tangannya dihantamkan ke arah dada dan lambung Ngo- ok!

“Wuuuttttt…!”

Melihat pukulan yang mengeluarkan suara aneh dan nampak sinar menghitam dari tangan itu, Ngo-ok terkejut bukan main. Maklumlah dia bahwa pukulan itu adalah pukulan yang mengandung racun amat hebatnya. Tidak percuma dia menjadi datuk kaum sesat, maka tentu saja dia segera mengenal pukulan ini. Dia mengeluarkan suara teriakan serak dan tubuhnya ditarik ke belakang, terpaksa kedua tangannya ditarik pula untuk melindungi tubuhnya.

“Duk! Dukkk!”

Kedua lengan Ceng Ceng dapat ditangkisnya, akan tetapi akibatnya, tubuh si jangkung terlempar ke belakang dan kedua lengannya terasa panas sekali! Dan pada saat itu, Ceng Ceng sudah melangkah maju pula dan melancarkan pukulan-pukulan saktinya.

“Aaahhhhh…!”

Si jangkung kaget setengah mati dan cepat dia sudah berjungkir balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, tangan dan kakinya sibuk menangkisi pukulan-pukulan Ceng Ceng yang menjadi agak bingung juga melihat tubuh yang tiba-tiba membalik itu.

Melihat ini, maklumlah Su-ok bahwa orang-orang muda yang disangkanya lemah ini ternyata adalah orang- orang pandai. Mengertilah dia sekarang mengapa koksu telah memerintahkan dia dan Ngo-ok untuk menangkap dua orang ini. Maka tanpa banyak cakap lagi, dia pun sudah meloncat ke depan Kok Cu, tubuhnya berjongkok dan karena tidak ingin membuang waktu untuk segera merobohkan laki-laki berlengan buntung lalu membantu Ngo-ok, si pendek gendut ini begitu menyerang telah menggunakan Ilmu Pukulan Katak Buduk yang amat lihai itu.

Angin pukulan dahsyat disertai bau amis menyambar ke arah Kok Cu. Akan tetapi pendekar sakti ini bersikap tenang saja. Ketika pukulan itu sudah datang dekat, tiba-tiba lengan kiri yang buntung, yang hanya tinggal lengan bajunya saja itu segera bergerak menyambar ke depan lalu bergoyang-goyang dan pukulan Katak Buduk itu membuyar! Dan tiba-tiba tangan kanan pendekar itu sudah menyelonong ke atas kepala Su-ok, mengancam hendak mencengkeram kepala yang botak itu!

Su-ok terkejut, cepat melempar dirinya ke atas batu dan menggelundung, lalu meloncat dan menyerang lagi dengan pukulan Katak Buduk. Akan tetapi sekali ini, Kok Cu menerima pukulan itu dengan dorongan tangan kanannya. Pertemuan dua tenaga dahsyat itu hebat bukan main dan akibatnya, Su-ok terpental ke belakang dan dadanya terasa sesak!

“Tahan…!” katanya terengah. “Apakah… apakah Sicu ini Si Naga Sakti Gurun Pasir?”

Mendengar pertanyaan ini, Ngo-ok mengeluarkan seruan aneh dan dia pun cepat meloncat ke belakang sambil membalikkan tubuhnya lagi, memandang dengan kaget kepada laki-laki buntung lengan kirinya itu. Kok Cu mengangguk.

“Bukankah kalian ini Su-ok dan Ngo-ok dari Im-kan Ngo-ok? Hemmm… jadi kalian inikah yang telah menculik keluarga ayahku?” Di dalam suara itu terkandung ancaman hebat dan sepasang mata itu kini mencorong, membuat dua orang datuk kaum sesat itu diam diam menjadi jeri sekali.

Su-ok lalu berkemak-kemik, mengerahkan tenaga khikang untuk menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit, yaitu mengirim suara dari jauh untuk memberi tahu kepada koksu. Juga Ngo-ok membantunya sehingga dua orang aneh itu hanya berdiri seperti patung, dan hanya bibir mereka yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara. Tentu saja Kok Cu tahu artinya ini dan dia hanya tersenyum mengejek karena dia tahu bahwa dua orang itu belum mahir benar dalam ilmu ini.

Dugaan pendekar ini memang benar. Su-ok dan Ngo-ok demikian kaget dan gentar mendengar bahwa si lengan buntung ini adalah Naga Sakti Gurun Pasir, maka mereka tidak berani menyerang lagi dan segera mengirim berita kepada koksu melalui ilmu mengirim suara dari jauh. Tak lama kemudian, terdengarlah lapat-lapat suara koksu yang ditujukan kepada pendekar itu dan isterinya.

“Koksu Negara Nepal mengundang Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya untuk memasuki benteng lembah!”

Mendengar ini, Kao Kok Cu lalu mengangkat mukanya menghadap ke arah banteng. Dadanya yang bidang itu mekar dan tiba-tiba terdengar suaranya, tidak keras akan tetapi suara itu mengandung getaran hebat dan suara itu dapat mencapai tempat jauh sekali, “Kami datang memenuhi undangan Koksu Nepal!”

Su-ok dan Ngo-ok saling pandang dengan muka pucat. Barusan cara Naga Sakti itu mengeluarkan suaranya saja sudah menunjukkan bahwa pendekar ini memiliki tenaga sinkang yang jauh lebih kuat dari pada mereka. Orang yang sudah dapat berteriak seperti itu, menunjukkan kekuatan sinkang yang sukar diukur lagi berapa dalamnya! Untung bahwa mereka tadi tidak lancang terus menyerang karena keduanya maklum bahwa mereka bukanlah tandingan Si Naga Sakti dan isterinya ini.

“Heh-heh-heh, maafkan kami…heh-heh, kami tidak tahu bahwa Sicu adalah Si Naga Sakti dari Gurun Pasir. Heh-heh, koksu sudah mengundang Ji-wi, mari kita antarkan…,“ kata Su-ok yang pandai bicara dengan sikap ramah, sedangkan Ngo-ok hanya makin cemberut saja karena untuk ke sekian kalinya kembali dia gagal memperoleh seorang wanita yang telah membangkitkan birahinya!

“Kalian jalanlah lebih dulu,” kata Kok Cu dengan sikap dingin.

Dua orang kakek itu lalu berkelebat cepat. Mereka sengaja menggunakan ginkang mereka untuk bergerak cepat agar suami isteri itu tertinggal di belakang dan agar suami isteri itu minta kepada mereka jangan terlalu cepat. Akan tetapi ketika mereka menoleh, mereka melihat betapa suami isteri itu sudah berada dekat sekali di belakang mereka tanpa kelihatan mengerahkan tenaga sedikit pun juga, padahal mereka berdua sudah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan mereka.

Karena mereka berjalan dengan pengerahan tenaga ginkang, sebentar saja mereka telah tiba di pintu gerbang. Di sini, dua orang kakek itu berjalan dengan langkah biasa dan ketika meiewati pintu gerbang yang terjaga oleh pasukan yang kuat, Su-ok dan Ngo-ok mengangkat dada dan berjalan dengan lagak dua orang panglima yang menang perang atau dua orang yang telah berhasil ‘menawan’ seorang pendekar sakti seperti Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya! Mereka lalu mempersilakan Kok Cu dan isterinya untuk berjalan di depan.

Kok Cu dan Ceng Ceng juga tidak takut. Mereka melihat betapa tembok benteng itu tebal dan terjaga kuat dan diam-diam mereka terkejut menyaksikan betapa benteng itu berlapis-lapis dan luar biasa kuatnya. Memang tidak mudahlah bagi pasukan untuk menyerbu tempat ini, apa lagi kalau penjagaan dilakukan sedemikian ketatnya.

Juga nampak pasukan yang berjaga-jaga secara teratur sekali, ada pasukan tombak, pasukan golok, pasukan pedang dan pasukan panah. Di atas tembok juga berjajar pasukan-pasukan yang siap menangkis setiap penyerbuan dan diam-diam Kok Cu menahan napas. Hebat memang penjagaan di benteng ini dan dia merasa lega bahwa pasukan pemerintah dipimpin oleh seorang ahli seperti Puteri Milana. Biar pun demikian, dia masih menyangsikan apakah pasukan pemerintah akan dapat membobol benteng yang sedemikian kuatnya ini.

Lalu dia terkejut dan mulai mengerti! Agaknya ayahnya yang berdiri di belakang semua ini! Siapa lagi kalau bukan ayahnya yang mampu menciptakan benteng sekuat dan sehebat ini? Ahhh, tentu ayahnya dipaksa, dan oleh karena keluarga ayahnya menjadi tawanan, maka ayahnya kemudian menurut saja untuk menyelamatkan keluarganya! Benarkah dugaannya ini? Dia masih ragu-ragu. Tak mungkin ayahnya mau membantu musuh, lebih baik mati, demikian tentu pendirian ayahnya.

Suami isteri pendekar itu makin terkejut ketika mengenal orang-orang pandai di dalam benteng, di antaranya mereka melihat Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lokwi, tiga orang tua yang mereka duga tentulah Twa-ok, Ji-ok, dan Sam-ok karena mereka sudah pernah mendengar bagaimana rupanya Im-kan Ngo-ok. Masih banyak pula orang-orang yang kelihatan memiliki kepandaian tinggi akan tetapi yang tidak mereka kenal. Mereka semua itu dipimpin oleh Sam-ok yang berpakaian sebagai seorang pembesar, yang bertubuh raksasa berkepala botak, mengenakan mantel merah dan pakaiannya mewah. Inilah tentu Koksu Nepal, pikir Kok Cu sambil memandang penuh perhatian.

Ketika melihat orang-orang yang bermacam-macam bentuknya itu menyambut, Kok Cu lalu bertanya, “Apakah kami berhadapan dengan Koksu Nepal yang mengundang kami?”

Ban Hwa Sengjin, yaitu Sam-ok dari Im-kan Ngo-ok, atau Koksu Negara Nepal, menjura dengan sikap hormat. Diam-diam dia merasa kagum bukan main kepada pendekar lengan buntung ini. Sejak tadi dia sudah memperhatikan dan memang pria berlengan buntung sebelah ini patut menjadi seorang pendekar sakti. Dia masuk bersama isterinya dengan tangan kosong dan suami isteri itu melangkah dengan gagahnya, tenang dan sedikit pun tidak kelihatan gentar. Sikap ini bukan hanya mengagumkan hati Sam- ok, akan tetapi iuga mencengangkan semua tokoh yang sebelumnya memang sudah gentar mendengar nama Naga Sakti Gurun Pasir itu.

“Selamat datang di benteng kami, Sicu,” kata koksu. “Tidak salah perkiraan Sicu, saya adalah Koksu Nepal…“

“Hemmm, kalau begitu Sam-ok dan Im-kan Ngo-ok?” mendadak Ceng Ceng bertanya karena dia melihat betapa Im-kan Ngo-ok berdiri berjajar, di sebelah kanan koksu itu nampak nenek Ji-ok dan kakek Twa-ok, sedangkan Su-ok dan Ngo-ok berdiri di sebelah kiri koksu.

“Li-enghiong berpemandangan awas benar!” kata koksu memuji. “Tidak salah, selain sebagai Koksu Nepal, saya juga menjadi Sam-ok dari Im-kan Ngo-ok. Ji-wi telah melihat sendiri betapa kuatnya keadaan kami, dengan bantuan semua tokoh yang pandai dari dunia kang-ouw.”

“Apa maksudmu mengundang kami?” Kok Cu bertanya singkat dan tegas.

“Sicu, kami atas nama Pangeran Bharuhendra dari Nepal menyampaikan undangan kepada Sicu berdua, mengajak Sicu berdua untuk bekerja sama…“

“Hemmm, apa hubungannya Pangeran Nepal dengan kami? Mengapa pula pangeran dari Nepal membuat benteng di sini? Apakah Pangeran Nepal berhubungan dengan mereka yang hendak memberontak terhadap kaisar?”

Semua orang saling pandang. Pendekar ini bicaranya tegas dan terus terang, penuh keberanian dan keangkuhan.

Akan tetapi koksu tersenyum. “Sicu, hendaknya Sicu rnenyadari keadaan. Pangeran Bharuhendra adalah juga Pangeran Liong Bian Cu, putera dari mendiang Pangeran Liong Khi Ong, yang hanya melanjutkan cita-cita besar ayahnya, yaitu menumbangkan kekuasaan sekarang yang lemah dan lalim untuk membentuk suatu pemerintahan yang kokoh kuat dan bijaksana. Banyak orang yang sudah membantu perjuangan ini…”

“Hanya pengkhianat-pengkhianat saja yang mau membantu pemberontakan!” cela Ceng Ceng. “Kami tidak sudi bekerja sama dengan pemberontak!” sambung Kok Cu.
“Sicu, ingatlah. Apakah Sicu juga masih hendak bersetia kepada kaisar yang begitu sewenang-wenang, memecat dan mengusir orang yang berjasa besar seperti ayahmu, Jenderal Kao itu? Ingat, bahkan ayahmu pun kini sudah bekerja sama dengan kami. Lihat benteng ini, ayahmulah yang membangun! Lihat pasukan-pasukan itu. Ayahmulah yang membentuk dan melatih sehingga keadaan kami begini kuat.”

“Tidak! Ayahku kalian paksa maka sudi melakukan semua ini!” bentak Kok Cu marah dan kini matanya mencorong seperti mata seekor naga sakti sehingga semua orang menjadi gentar sekali. “Dan pula, siapa percaya bahwa ayahku berada di sini membantu kalian?” Dengan ucapan ini Kok Cu memang hendak melihat bukti bahwa ayahnya masih dalam keadaan selamat.

“Sicu agaknya belum percaya kepada kami? Lo-mo, harap kau panggil Jenderal Kao ke sini!” Mendengar perintah ini, Hek-tiauw Lo-mo mengangguk dan pergi. Jantung Kok Cu berdebar tegang.

Tidak lama kemudian Hek-tiauw Lo-mo datang kembali, dan bersama dia datang pula Jenderal Kao Liang. Kok Cu membalikkan tubuh dan memandang kepada ayahnya, sukar dibayangkan bagaimana perasaan hati pendekar sakti ini karena pada wajahnya yang tampan dan keras itu tidak terbayang sesuatu. Ceng Ceng juga memandang kepada ayah mertuanya dengan muka berubah agak pucat, akan tetapi juga wanita ini yang sudah pandai menguasai perasaannya, tidak berkata apa-apa.

Agaknya Jenderal Kao itu tadi tidak diberi tahu oleh Hek-tiauw Lo-mo mengapa dia dipanggil. Tadinya ia berjalan dengan langkah tenang saja di samping Hek-tiauw Lo-mo menuju ke tempat itu. Akan tetapi begitu dia melihat puteranya itu, tiba-tiba langkahnya terhenti dan matanya terbelalak memandang ke arah wajah Kok Cu, wajahnya berubah pucat sekali dan tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, membelakangi puteranya itu untuk menyembunyikan air mata yang keluar dari sepasang matanya. Dia tidak mau dilihat puteranya mengeluarkan air mata, akan tetapi kakek ini tidak dapat menahan tangisnya ketika melihat puteranya karena berbagai perasaan mencengkeram hatinya. Ada rasa haru, duka, dan juga malu bahwa puteranya tentu telah melihat, mendengar betapa dia kini telah menghambakan diri kepada pemberontak! Lalu dengan langkah perlahan dan kepala menunduk, Jenderal Kao pergi lagi meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi.

Kok Cu mengerti dan merasa terharu sekali. Dia tahu betapa hancur hati ayahnya, dan dia tahu pula bahwa ayahnya melakukan hal itu karena terpaksa, karena tidak ingin melihat keluarganya tersiksa atau terbunuh! Dia tahu bahwa tentu koksu itu, Orang Jahat Nomor Tiga dari Im-kan Ngo-ok yang dia tahu tentu tidak segan-segan melakukan apa saja yang paling keji sifatnya, untuk memaksa ayahnya dengan jalan mengancam para keluarga yang sudah tertawan di tempat itu. Maka setelah ayahnya pergi dan lenyap di tikungan, dia kemudian membalik dan kembali menghadapi koksu dan para pembantunya dengan sinar mata penuh tantangan.

“Koksu, engkau telah berhasil memperdayai ayahku, memaksa ayahku untuk bekerja untukmu dengan ancaman keluarga ayah. Akan tetapi jangan harap engkau akan dapat membujuk aku untuk membantu pekerjaanmu yang terkutuk ini!” katanya dengan suara tenang dan tegas dan di dalam suara itu saja koksu ini telah mengerti benar bahwa memang tidak mungkin dapat membujuk seorang yang berhati keras dan teguh seperti Naga Sakti Gurun Pasir itu.

“Apa pun yang kau tuduhkan, kenyataan adalah bahwa ayahmu, Jenderal Kao Liang, telah bekerja sama dengan kami,” kata Koksu Nepal. “Oleh karena itu sekali lagi, kami harap agar engkau dan isterimu suka bekerja sama dengan kami, Sicu. Andai kata tidak secara suka rela, tentu engkau akan melakukannya dengan bijaksana, melihat keadaan yang tak mungkin dapat diubah lagi. Sicu dan Li-enghiong, kalian lihat siapakah yang di sana itu!” Koksu Nepal itu menuding ke belakang dua orang suami isteri itu yang segera membalikkan tubuhnya memandang.

Hampir saja Ceng Ceng mengeluarkan teriakan ketika dia melihat siapa yang berada di sana, berdiri dengan sepasang mata terbelalak, dijaga oleh Hek-tiauw Lo-mo berdua Hek-hwa Lo-kwi yang tentu akan turun tangan dengan keji kalau sampai suami isteri ini bergerak. Juga Kok Cu memandang dengan sepasang mata terbelalak ketika dia melihat puteranya di situ. Sungguh sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa putera mereka yang terculik itu ternyata juga berada di situ pula!

Sekarang mengertilah Kok Cu betapa makin berat penanggungan ayahnya. Dengan seluruh keluarga, termasuk puteranya pula di tangannya, tentu saja koksu memiliki senjata yang amat ampuh dan kuat untuk memaksa ayahnya melakukan apa pun juga. Betapa pun, dia menganggap ayahnya terlalu lemah! Apa artinya pengorbanan ayahnya itu kalau dia harus melakukan sesuatu yang demikian hina? Bukankah noda dan aib yang dilakukan ayahnya itu akan mencemarkan nama seluruh keluarganya. Mengapa ayahnya tidak melihat hal ini?

“Ayah…! Ibu…!” Cin Liong berseru dan air matanya lalu bercucuran dari kedua mata anak itu. Akan tetapi dia telah diancam tidak boleh mendekati orang tuanya.

Seperti diremas-remas rasa jantung Ceng Ceng. Seperti hendak terbang dia mendekati puteranya, mengamuk dan kalau perlu mengadu nyawa. Akan tetapi ketika dia merasa betapa lengannya dipegang oleh suaminya, datang pula kekuatan di hatinya dan dia menelan ludah, lalu memandang kepada puteranya dengan batin yang lebih tenang.

“Cin Liong, kau tenanglah dan jangan menangis. Pada suatu hari, ayah ibumu pasti akan dapat membawamu pulang!” kata Kok Cu, suaranya tenang sekali dan sama sekali tidak mengandung kekhawatiran sehingga semua orang yang menyaksikannya menjadi kagum bukan main.

Koksu memberi isyarat kepada Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang mengajak Cin Liong pergi lagi, akan tetapi tiba-tiba anak itu membalikkan tubuhnya dan berkata lantang, “Ayah, yang menculikku adalah laki-laki berambut keemasan dan wanita baju hijau itu!” Anak itu menudingkan telunjuknya kepada laki-laki dan wanita yang berdiri tidak jauh dari Koksu Nepal, akan tetapi dua orang kakek iblis itu sudah memondong dan menariknya pergi dari situ.

Akan tetapi teriakan Cin Liong itu cukup bagi Ceng Ceng untuk memutar tubuh dan memandang kepada Liong Tek Hwi dan Kim Cui Yan, dengan sinar mata seperti hendak menelan bulat-bulat kedua orang itu sehingga dua orang itu merasa agak ngeri juga.

“Kenapa kalian menculik puteraku? Kenapa?” bentak Ceng Ceng, sinar matanya berapi api.

Baik Liong Tek Hwi mau pun Kim Cui Yan tidak menjawab, hanya memandang kepada koksu karena mereka tahu bahwa yang dapat menanggulangi dua suami isteri yang sakti ini hanyalah koksu.

“Sicu dan Li-enghiong, Ji-wi hendak mengetahui sebabnya? Nah, dengarlah baik-baik. Kongcu ini adalah putera dari mendiang Pangeran Liong Bin Ong, sedang sumoi-nya ini adalah puteri dari mendiang Panglima Kim Bouw Sin! Nah, tentu Ji-wi tahu betapa keluarga Kim Bouw Sin dihukum dan dibasmi karena Jenderal Kao, dan juga betapa Pangeran Liong Bin Ong gagal dan tewas, satu antara lain juga karena Jenderal Kao. Semua orang menaruh dendam kepada Jenderal Kao Liang, oleh karena itulah maka terjadi penculikan-penculikan terhadap keluarga Kao dan juga terhadap puteramu, Sicu. Akan tetapi, kami bukanlah orang-orang yang buta oleh dendam dan sakit hati. Tidak, kami adalah orang-orang yang mementingkan perjuangan. Oleh karena itu, Sicu, maka sampai sekarang pun keluarga Kao dan puteramu masih dalam keadaan selamat semua, tidak ada seorang pun yang mengalami luka atau tewas.”

“Koksu, engkau dan semua orang yang bersangkutan tentu tahu belaka bahwa tidak ada permusuhan pribadi antara ayahku dan ayah mereka. Kematian Kim Bouw Sin atau Pangeran Liong bukan karena bermusuhan dengan ayahku. Ayahku adalah seorang panglima yang bertugas membasmi pemberontakan sedangkan mereka itu adalah pemberontak-pemberontak. Kalau sampai mereka kalah dan tewas, hal itu tentu saja tidak boleh disalahkan kepada ayahku. Andai kata ayahku tewas dalam melaksanakan tugas, tentu aku pun tidak menaruh dendam pribadi kepada lawannya di medan perang! Oleh karena itu, sekarang aku datang bersama isteriku dan aku menuntut agar ayahku dan semua keluarga dibebaskan sekarang juga, untuk mana kami tentu akan berterima kasih sekali.”

“Hemmm, Kao-sicu, permintaanmu itu tentu saja tak mungkin kami laksanakan,” kata koksu. “Perjuangan kami belum selesai. Kami terpaksa saja menahan keluarga Kao agar Jenderal Kao suka membantu kami sampai kami berhasil. Dan setelah berhasil, tentu akan kami bebaskan semua, bahkan akan memberi ganjaran dan penghargaan atas jasa-jasa keluarga Kao kepada kami.”

“Koksu keparat! Hayo kau maju lawan aku. Kita bertanding dengan taruhan keluarga Kao!” Tiba-tiba Ceng Ceng membentak nyaring dan melangkah maju dengan kedua tangan terkepal.

Akan tetapi Sam-ok atau Koksu Nepal adalah seorang datuk sesat yang sudah banyak pengalaman. Dia tentu saja tidak jeri menghadapi Ceng Ceng, akan tetapi melihat kehadiran Si Naga Sakti Gurun Pasir di situ, dia tidak mau dipancing untuk bertanding satu lawan satu. Dia tahu bahwa di situ tidak ada seorang pun yang akan sanggup menandingi Si Naga Sakti. Bahkan Twa-ok sendiri pun agaknya tidak akan menang.

“Li-enghiong, kami menghargai sekali kegagahanmu. Akan tetapi ketahuilah bahwa urusan tawanan bukan urusan pribadiku, melainkan urusan seluruh isi benteng. Kalau engkau dan suamimu hendak menggunakan kekerasan, tentu kalian akan berhadapan dengan kami semua berikut seluruh pasukan kami!”

Kembali Ceng Ceng merasa tangannya dipegang oleh suaminya dan ia teringat bahwa menggunakan kekerasan tidak akan ada gunanya, maka dia mundur, biar pun matanya masih berapi-api ditujukan kepada koksu.

“Baiklah, kami akan mundur dan kami akan berusaha menggunakan kepandaian kami untuk dapat membebaskan keluarga kami dari tempat ini. Akan tetapi kalau sampai ada seorang saja di antara keluarga Kao yang celaka selagi mereka menjadi tawanan di tempat ini, maka Im-kan Ngo-ok yang bertanggung jawab dan kelak tentu akan berhadapan dengan kami! Camkanlah ini!”

Setelah berkata demikian, Kok Cu mengajak isterinya meninggalkan tempat itu. Koksu dan semua orang memandang dengan hati ngeri, dan dua orang suami isteri itu melangkah pergi diikuti oleh pandang mata mereka semua.

Melihat ini, Hek-hwa Lo-kwi yang sejak tadi sudah memandang dengan marah dan yang sudah mengumpulkan anak buah Kui-liong-pang yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang, cepat memberi aba-aba dan majulah dua puluh lima orang Kui-liong-pang, yaitu mereka yang termasuk tokoh- tokohnya yang berkepandaian, dipimpin oleh Khiu Sek, bekas pangcu dari Kui-liong-pang dan Hoa-gu-ji, tokoh kedua dari Kui-liong-pang yang kemudian keduanya menjadi pembantu-pembantu Hek-hwa Lo-kwi.

Hek-hwa Lo-kwi penasaran sekali karena dia sudah mengenal Ceng Ceng dan tahu bahwa biar pun wanita itu lihai, namun dia sanggup melawannya, apa lagi kalau dibantu oleh anak buahnya, biar pun di situ ada Si Naga Sakti!

Melihat Hek-hwa Lo-kwi dan anak buahnya menghadang, Si Naga Sakti tenang saja, akan tetapi Ceng Ceng sudah mendamprat, “Hek-hwa Lo-kwi iblis tua bangka bosan hidup! Mau apa kau menghadang kami?”

“Ha-ha-ha!” Hek-hwa Lo-kwi tertawa. “Kalian dua orang manusia yang sombong sudah memasuki lembah kami, tentu tidak akan mudah keluar begitu saja!” Lalu kakek ini melambaikan tangan kepada para anak buahnya dan berkata, “Tangkap mereka!”

Kok Cu masih sempat berbisik kepada isterinya, “Jangan membunuh!” dan isterinya yang sedang marah itu terpaksa mengangguk karena Ceng Ceng juga teringat betapa nyawa anak mereka dan keluarga Kao berada di tangan musuh.

Ketika dua puluh lima orang itu menyerbu dengan senjata mereka, suami isteri itu bergerak maju dan terjadilah pertempuran yang amat luar biasa.

Yang mula-mula menubruk maju adalah Khiu Sek dan Hoa-gu-ji. Dua orang tokoh pertama dan kedua dari Kui-liong-pang sesudah Hek-hwa Lo-kwi ini sesungguhnya cukup lihai. Khiu Sek adalah seorang bertubuh kecil yang permainan cambuknya lihai sekali. Cambuk hitam bercabang di tangannya itu adalah senjatanya yang istimewa. Ada pun Hoa-gu-ji, sesuai dengan julukannya, yaitu Kerbau Belang, memiliki tenaga besar. Tubuhnya tinggi kurus dan dia memegang senjata yang istimewa pula, yaitu sebatang dayung panjang yang amat berat.

Dua orang tokoh Kui-liong-pang ini adalah penjahat-penjahat yang biasa menghina wanita. Mereka memang sudah mendengar nama besar Si Naga Sakti, maka mereka hendak menyerahkan lawan berat itu kepada ketua baru mereka, sedangkan mereka sendiri memilih yang lunak dan menyenangkan, yaitu Ceng Ceng. Maka dengan ganas dan sangat dahsyat, keduanya sudah menerjang Ceng Ceng.

Akan tetapi, apa yang terjadi benar-benar membuat semua orang terkejut setengah mati. Mereka melihat dua orang tokoh Kui-liong-pang itu menyerang dari kanan kiri, dan ternyata wanita itu sama sekali tidak mengelak, bahkan dia menggunakan lengannya yang berkulit putih halus dan kecil itu untuk menangkis dayung, sedangkan sambaran cambuk itu didiamkannya saja. Tetapi setelah cambuk menyambar dekat kepalanya, dia tiba-tiba saja merendahkan tubuhnya, tangannya yang tadi menangkis sudah bertemu dengan dayung dan terus tangan itu menangkap dayung, menariknya sehingga dayung bertemu cambuk dan dilibat oleh ujung cambuk.

Tentu saja kedua orang tokoh Kui-liong-pang yang sudah berpengalaman itu cepat menarik senjata masing-masing, akan tetapi pada saat yang hanya beberapa detik saja ketika kedua senjata mereka bertemu itu telah dipergunakan oleh Ceng Ceng untuk melepaskan dayung, menggerakkan kedua tangan ke bawah dan tubuhnya meluncur ke bawah seperti hendak menelungkup.

“Plak! Plak!”

Kedua tangannya berhasil menghantam paha dua orang lawan itu secara bergantian dengan jari-jari tangan terbuka, kemudian dia sudah berjungkir balik dan meloncat bangun lagi, tidak mempedulikan dua orang yang mengaduh-aduh dan memegang paha yang terpukul tadi karena Ceng Ceng bukan menggunakan pukulan sembarangan saja, melainkan menggunakan pukulan yang disertai dengan sinkang yang amat kuat dan panas!

Memang berkat darah anak naga, yaitu ular luar biasa yang pernah dimakannya, hawa beracun di tubuhnya telah hilang. Namun hal ini bukan berarti bahwa kepandaiannya tentang pukulan beracun hilang pula. Maka dua orang tokoh Kui-liong-pang yang kena pukulannya di paha itu merasa betapa bagian yang terpukul itu selain panas juga gatal gatal dan mereka berloncatan seperti dua ekor monyet menari-nari. (baca Kisah Sepasang Rajawali)

Tentu saja semua orang menjadi terkejut. Kepandaian dua orang itu, biar pun bagi para tokoh sakti di situ tidaklah terlalu tinggi, akan tetapi bagi orang-orang kang-ouw, mereka telah termasuk orang-orang yang tangguh. Kini, dalam segebrakan saja mereka telah dibuat tidak berdaya oleh nyonya muda yang cantik itu.

Pada saat itu, Hek-hwa Lo-kwi telah menyerang Kao Kok Cu. Seperti telah diketahui, Hek-hwa Lo-kwi belum lama ini menyempurnakan semacam ilmu yang dikuasainya, yaitu ilmu pukulan beracun yang bernama Pek-hiat-hoatlek. Memang bekas pelayan dari Dewa Bongkok ini adalah seorang yang ahli tentang racun, dan ilmu pukulannya yang baru itu amatlah jahat dan kejinya. Dan melihat bahwa pemuda lengan buntung itu adalah murid dari bekas majikannya, maka begitu menyerang dia telah menggunakan ilmu barunya itu!

Akan tetapi dia sama sekali tidak tahu bahwa tingkat kepandaian Kok Cu sudah amat tinggi, bahkan tak lagi berselisih jauh dibandingkan dengan kepandaian gurunya sendiri! Maka menghadapi serangan yang luar biasa itu, yang mendatangkan angin dahsyat dan yang mengepulkan uap putih, Kok Cu bersikap tenang-tenang saja dan beberapa kali dia mengelak karena dia sedang memperhatikan isterinya.

Ceng Ceng kini mengamuk seperti seekor singa betina. Dia menerjang ke kanan kiri, menghantam atau menendang siapa saja yang berdekatan sehingga gegerlah dua puluh lebih anggota Kui-liong-pang itu. Terdengar teriakan susul-menyusul dibarengi robohnya beberapa orang yang tidak dapat bangkit lagi setelah terkena tamparan atau tendangan dari nyonya yang sedang marah itu. Andai kata Ceng Ceng tidak ingat akan pesan suaminya, tentu mereka yang dirobohkannya itu akan tewas semua, termasuk dua orang tokoh Kui-liong-pang tadi. Akan tetapi dia tahu akan maksud suaminya. Dia tidak boleh membunuh agar semua orang tahu akan kelihaian mereka berdua dan juga akan iktikad baik mereka sehingga keluarga yang ditawan takkan mengalami gangguan.

Setelah melihat betapa isterinya baik-baik saja dan tidak melanggar pesannya, Kok Cu kemudian mencurahkan perhatiannya terhadap lawannya. Dia harus memperlihatkan kelihaiannya! Dia maklum bahwa serangan Hek-hwa Lo-kwi ini selain dimaksudkan untuk mencegahnya keluar, juga untuk mengujinya dan semua mata dari Im-kan Ngo-ok tentu sedang mengikuti gerakan-gerakannya dengan teliti.

Oleh karena itu, tiba-tiba pendekar sakti ini mengeluarkan suara melengking yang amat dahsyat, yang menggetarkan semua orang, bahkan beberapa orang yang kurang kuat segera terguling roboh dan mereka yang kuat pun tergetar hebat sampai terguncang jantung mereka, kemudian tiba-tiba tubuh dari pendekar itu meluncur ke depan seperti seekor naga ke arah Hek-hwa Lo-kwi. Kakek iblis ini terkejut dan cepat dia menyambut dengan pukulan Pek-hiat hoat-lek yang dahsyat. Pendekar berlengan tunggal itu sama sekali tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kanannya mendorong.

“Desssss…!”

Tubuh Hek-hwa Lo-kwi terpental sampai jauh, terbanting roboh pingsan! Kemudian, Kok Cu membantu isterinya mengamuk dan dalam waktu yang singkat sekali, semua orang Kui-liong-pang sudah roboh dan kedua orang suami isteri itu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke pintu gerbang pertama dari dalam, di mana terdapat banyak penjaga, akan tetapi karena tidak ada komando dari atas, para penjaga itu pun diam saja dan tidak ada yang berani mengganggu ketika Kok Cu dan Ceng Ceng lewat. Setelah melalui beberapa lapis tembok benteng yang berpintu gerbang, akhirnya suami isteri itu dapat keluar dari pintu gerbang paling luar dan mereka melangkah cepat meninggalkan benteng itu.

Setelah mereka jauh meninggalkan benteng dan memasuki sebuah hutan yang sunyi, mereka berhenti dan Ceng Ceng lalu menjatuh diri di atas rumput di bawah pohon sambil menangis! Kok Cu berdiri memandang isterinya dan untuk beberapa saat lamanya dia membiarkan isterinya menumpahkan semua kedukaannya melalui tangis. Dia tahu betapa isterinya itu sudah berbulan-bulan ditekan oleh penderitaan batin yang hebat, yang amat mengkhawatirkan keadaan putera mereka. Dan sekarang isterinya menangis karena guncangan batin, karena perasaan marah, khawatir dan juga girang melihat bahwa puteranya itu ternyata masih hidup dalam keadaan sehat, akan tetapi berada di tangan musuh dan mereka tidak berdaya untuk membebaskan putera mereka itu!

Tiba-tiba Ceng Ceng menghantamkan tangannya ke batang pohon di sampingnya. “Braaakkkkk!” pohon itu tumbang!

“Kubunuh mereka semua! Kubunuh seorang demi seorang jika sampai Liong-ji mereka ganggu…!” teriaknya dengan kalap.

Kini Kok Cu merangkul isterinya dan berkata tenang, “Mereka takkan berani, isteriku. Mereka justeru akan menjaga baik-baik semua keluarga kita sebagai sandera, mereka takkan berani mengganggu anak kita…“

Ceng Ceng memandang wajah suaminya, lalu mengeluh dan ibu muda ini menjadi terkulai lemas dan pingsan di dalam pelukan suaminya! Terlampau hebat kemarahan, ketegangan dan kekhawatiran selama ini menekan hatinya. Kok Cu dengan tenang merawat isterinya sehingga guncangan perasaan itu tidak sampai mengakibatkan hal yang buruk atas diri wanita itu.

Setelah Ceng Ceng siuman kembali dan sudah agak tenang, Kok Cu lalu berkata, “Kita tentu saja dapat menyerbu ke sana dan mengamuk, tetapi apa artinya kalau akhirnya mereka bahkan membunuh keluarga kita? Kita harus sabar, menanti kesempatan baik dan kesempatan itu baru akan tiba apa bila Bibi Milana telah menyerbu benteng itu. Selagi keadaan kacau dan semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi serbuan pasukan Bibi Milana, kita menyelinap ke dalam dan kita bebaskan keluarga kita.”

“Akan tetapi, benteng itu sedemikian kuatnya. Kiranya tidak akan mudah saja bagi Bibi Milana untuk membobolnya. Apa lagi… yang mengatur dan menjaga adalah… adalah…” Tak sampai hatinya untuk menyebut nama mertuanya.

Kok Cu mengangguk-angguk. “Memang ayah adalah seorang ahli siasat perang yang takkan mudah dilawan begitu saja oleh Bibi Milana. Akan tetapi, aku tidak percaya kalau ayah benar-benar hendak berkhianat. Hanya karena tidak tega melihat keluarga celaka maka ayah sengaja pura-pura menyerah, akan tetapi tentu ayah mempunyai suatu rencana lain yang menjadi rahasianya. Kita harus bersabar dan menunggu, kiranya tidak akan lama Bibi Milana datang bersama pasukannya.”

Demikianlah, suami isteri pendekar itu menunggu di tempat persembunyian di sekitar tembok benteng dan Ceng Ceng terpaksa menurut karena ia maklum bahwa pendapat suaminya itu memang tepat. Akan tetapi, suaminya harus setiap hari menghiburnya dan di dalam keadaan menderita batin ini, sepasang suami isteri menjadi makin rapat, makin dekat dan makin mesra hubungannya karena dalam hati mereka timbul rasa iba satu kepada yang lain. Juga di dalam diri masing-masing mereka menemukan hiburan yang setidaknya meringankan penderitaan batin masing-masing itu…..

********************

Barisan yang besar di bawah panji Puteri Milana itu bergerak dengan teratur dan tertib sekali memasuki wilayah Propinsi Ho-nan. Tidak seperti biasanya kalau ada pasukan besar lewat dengan tujuan perang, sekali ini pasukan-pasukan berjalan tertib dan tidak pernah terjadi pelanggaran-pelanggaran. Biasanya, dusun-dusun yang dilalui oleh pasukan tentu akan menderita karena ada saja ulah anggota pasukan yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dan kekerasan-kerasan. Hal ini adalah karena adanya disiplin yang kuat, ketertiban yang tidak perlu ditekankan lagi oleh para pimpinannya, karena semua dewan pimpinan sendiri juga amat tertib.

Ketertiban di dalam kelompok atau golongan haruslah dimulai dari atas. Biasanya, yang di atas selalu menekankan dan menghendaki agar kaum bawahan berdisiplin dan tertib, sedangkan mereka sendiri yang merasa berkuasa tidak memperhatikan disiplin dan ketertiban diri mereka sendiri. Hal ini adalah tak mungkin karena manusia itu condong untuk mencontoh dan yang dicontoh selalu tentulah yang berada di atas. Kalau sang pemimpin korup, mana mungkin anak buahnya tidak korup? Dan untuk melenyapkan sifat buruk dari bawahan, yang di atas haruslah melenyapkan lebih dulu sifat buruknya sendiri.

Jika atasan bersih, barulah dia berhak dan dapat menunjukkan kekotoran bawahannya dan membersihkannya. Sebaliknya, kalau dia sendiri kotor, mana mungkin dia mampu membersihkan bawahannya? Tentu dia sendiri juga merasa sungkan dan malu karena si bawahan tentu hanya akan mentertawakannya saja dan melawan dengan menunjuk kekotorannya pula.

Pasukan dari kota raja ini hanya mengalami sedikit perlawanan saja dari pasukan yang dipimpin oleh Gubernur Ho-nan. Ketika para komandan di Ho-nan mendengar bahwa pasukan itu selain amat besar dan kuat juga dipimpin oleh Puteri Milana, sebelum bertempur nyali mereka sudah menjadi kecil dan semangat mereka menjadi lemah.

Hal ini tentu saja juga menjalar kepada anak buah mereka sehingga ketika Milana menggerakkan pasukannya dan mulai terjadi pertempuran, anak buah pasukan Ho-nan hanya bertempur dengan setengah hati saja, kemudian mereka melarikan diri mundur, terus digiring dan ditekan oleh pasukan kota raja. Akhirnya pasukan kerajaan memasuki Ibu Kota Propinsi Ho-nan.

Juga di sini perlawanan amat tidak berarti karena belum apa-apa gubernurnya sudah ketakutan. Kesombongan-kesombongan yang sudah diperlihatkan oleh para komandan ternyata tidak ada kenyataannya ketika musuh sudah berada di depan pintu. Yang nekat melakukan perlawanan segera roboh dan disapu bersih dalam waktu singkat saja sehingga akhirnya sebagian besar pasukan yang sebetulnya merupakan pasukan kerajaan pula yang dibawa menyeleweng dan memberontak oleh gubernur, menakluk dan menyerah. Sebagian lagi masih terus mengawal Gubernur Kui Cu Kam melarikan diri, meninggalkan Lok-yang menuju ke lembah Huang-ho di mana terdapat sekutunya dalam benteng yang kuat.

Setelah menduduki kota Lok-yang, Milana lalu memberi kesempatan kepada pasukan pasukannya untuk beristirahat. Dia memerintahkan untuk membiarkan para anak buah pasukan berpesta makan minum sepuasnya, tetapi melarang siapa pun mengganggu penduduk sehingga para penduduk kota Lok-yang yang sudah ketakutan dikarenakan membayangkan bahwa tentu mereka akan dirampok habis-habisan oleh para tentara kerajaan, menjadi lega dan berterima kasih.

Dengan suka rela para penduduk, terutama yang kaya, lalu mengeluarkan kekayaan mereka untuk menjamu dan menyenangkan hati pasukan kerajaan yang telah menang perang. Mereka tahu bahwa semua ini berkat pimpinan Puteri Milana yang terkenal itu. Dan anehnya, begitu sadar bahwa kebersihan mereka dikagumi penduduk, para anggota pasukan itu sendiri merasa sungkan dan enggan melakukan pelanggaran, karena kebersihan mereka itu merupakan kebanggaan mereka! Dan kebanggaan ini pun mendatangkan suatu perasaan senang yang luar biasa.

Milana sendiri beristirahat di dalam kamarnya, di bekas rumah gedung gubernur. Ketika seorang pengawal memberi laporan bahwa suaminya, pendekar Gak Bun Beng datang menyusul, Milana cepat menyambut suaminya dengan hati girang. Mereka kemudian bercakap-cakap di dalam kamar. Kiranya begitu menerima berita isterinya, Gak Bun Beng menitipkan kedua putera kembarnya, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, kepada kepala dusun di lereng bukit, dan dia sendiri cepat menyusul isterinya ke kota raja. Ketika mendengar berita bahwa pasukan isterinya sudah menyerbu ke Ho-nan, dia pun cepat menyusul dan malam itu dia dapat bertemu dengan isterinya di rumah Gubernur Ho-nan yang telah ditinggalkan oleh penghuninya yang lari mengungsi ke lembah.

Ketika Milana menceritakan kepada suaminya tentang penuturan Suma Kian Bu dan Kim Hwee Li tentang kekuatan di lembah Huang-ho yang ternyata dipimpin oleh pangeran dari Nepal yang dibantu oleh banyak orang pandai, bahkan bentengnya dibangun dan dipimpin oleh Jenderal Kao Liang yang terpaksa menyerah karena semua keluarganya ditawan, Bun Beng menjadi terkejut bukan main.

“Aihhh, kalau begitu berbahaya sekali! Jadi pangeran dari Nepal itu adalah putera dari pangeran tua Liong yang memberontak dahulu itu? Ah, dia melanjutkan pemberontakan ayahnya?”

“Dan agaknya dia tidak kalah licik dan cerdiknya dibandingkan ayahnya. Buktinya dia telah dapat memaksa Jenderal Kao untuk membantunya, dan menurut Kian Bu, dia dibantu oleh orang-orang pandai yang berilmu tinggi, sedangkan Koksu Nepal yang memimpin benteng itu sendiri juga memiliki kepandaian hebat. Oleh karena itulah maka aku sengaja mengundangmu, karena untuk menyerbu benteng yang dipimpin oleh Jenderal Kao, dan mendengar betapa banyaknya orang pandai di dalam benteng itu, terus terang saja, tanpa engkau di sampingku, aku merasa agak jeri juga.”

Ketika Bun Beng mendengar bahwa juga Kao Kok Cu si Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, Ceng Ceng, sudah lebih dulu pergi menyelidik ke benteng, dan bahwa putera mereka pun menjadi tawanan, mendengar pula betapa Kian Bu juga sudah menyelidik ke sana, dia lalu mengambil keputusan untuk mendahului pasukan.

“Sebaiknya aku pun pergi dulu menyelidik ke sana, karena sesungguhnya aku belum percaya benar bahwa orang seperti Jenderal Kao Liang itu dapat berkhianat dan sudi membantu musuh yang memberontak, betapa pun dia tertekan dan betapa terancam pun keselamatan keluarganya. Dia bukanlah seorang lemah.”

Milana juga setuju dengan usul suaminya itu dan semalam itu Bun Beng bermalam di kamar isterinya. Suami isteri ini saling melepaskan rindu mereka dan saling menasehati agar berhati-hati karena keduanya akan menghadapi bahaya dalam penyerbuan ke lembah itu.

Pada keesokan harinya, Bun Beng bertemu dengan Kao Kok Han dan dari pemuda ini dia mendengar lagi penuturan yang lebih jelas tentang Jenderal Kao. Setelah berpamit dari isterinya, Bun Beng lalu berangkat, melakukan perjalanan secepatnya menuju ke lembah Huang-ho, mendahului pasukan yang pada hari itu juga diatur oleh Milana untuk berangkat ke benteng di lembah itu…..

********************

Malam terang bulan yang indah sekali, apa lagi di tempat sunyi di tebing pinggir Sungai Huang-ho yang penuh dengan batu-batu besar dan bersih itu, tempat persembunyian Kok Cu dan Ceng Ceng. Biar pun musuh pernah menemukan mereka di situ, namun suami isteri ini tidak takut dan mereka tetap menanti di situ, yaitu tempat yang paling menyenangkan bagi mereka di sepanjang tepi sungai, karena dari situ mereka dapat melihat tembok benteng, dan tempat ini selain indah, juga amat sunyi dan bersih. Hanya kini mereka selalu berjaga dengan bergilir, tidak pernah lengah karena maklum akan kelihaian musuh-musuh yang berada di dalam benteng.

Malam itu terang bulan, karena bulan sedang purnama. Di permukaan bumi tidak ada angin, akan tetapi di angkasa awan-awan berarak dengan cepat, tanda bahwa di atas sana terdapat angin yang menggerakkan awan-awan sehingga kadang-kadang awan putih tipis menyembunyikan bulan yang menjadi agak suram cahayanya. Akan tetapi karena awan itu bergerak cepat, hanya sebentar saja bulan muncul lagi dengan lebih berseri.

Kao Kok Cu nampak duduk bersila di atas sebuah batu besar, sedang tenggelam dalam siulian (semedhi) yang hening.

Semedhi akan kehilangan artinya jika di dalamnya tersembunyi pamrih untuk mencapai atau memperoleh sesuatu. Semedhi adalah keadaan hening dan bersih, bersih dari segala macam pamrih, hening karena berhentinya segala pikiran. Keheningan barulah benar-benar hening kalau datang tanpa diundang, kalau ada tanpa diadakan, kalau tidak dibuat agar supaya hening. Di waktu segala keinginan dan pamrih berhenti, maka keheningan akan ada dan itulah semedhi yang sesungguhnya. Bukan acuh tak acuh, bukan tidur duduk, melainkan sadar dan waspada akan segala sesuatu, di luar dan di dalam diri, mengamati apa adanya tanpa keinginan, untuk mengubah, menerima atau pun menolak, tanpa menilai, tanpa membenarkan atau menyalahkan. Tanpa ‘aku’ yang bersemedhi, itulah semedhi yang sebenarnya.

Ceng Ceng juga duduk tidak jauh dari suaminya, akan tetapi dia tidak dapat duduk diam karena pikirannya selalu teringat akan puteranya, akan keluarga suaminya. Dia merasa gelisah karena sudah hampir sepekan dia dan suaminya duduk menanti di tempat itu. Sampai berapa lama dia harus menanti, membiarkan puteranya terancam bahaya di dalam tangan musuh-musuh yang dia tahu adalah orang-orang yang amat kejam dan jahat itu? Dia tidak dapat beristirahat seperti suaminya, makin lama semakin merasa gelisah sehingga akhirnya dia turun dari atas batu dan berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai. Malam itu memang indah sekali, namun sayang, bagi seorang yang sedang kacau batinnya oleh kegelisahan seperti Ceng Ceng, tidak ada apa pun yang kelihatan indah di dunia ini.

Tiba-tiba sepasang mata Ceng Ceng mengeluarkan sinar dan tubuhnya yang tadinya kelihatan lemas itu tiba-tiba saja menjadi cekatan. Dia melihat sesuatu yang tentu saja menimbulkan kecurigaannya. Melihat bayangan manusia berkelebat tak jauh dari situ. Tentu musuh yang datang! Atau mata-mata musuh yang mengintai! Kemarahannya bangkit dan dengan gerakan ringan dan cepat sekali Ceng Ceng sudah bergerak melakukan pengejaran, menyelinap di antara pohon-pohon dan batu-batu. Akan tetapi bayangan itu dapat bergerak amat cepat dan sekali berkelebat, bayangan itu menyusup dan lenyap di balik semak- semak belukar.

Ceng Ceng makin curiga, akan tetapi karena dia maklum akan kelihaian orang-orang di dalam benteng dan dia yakin bahwa yang nampak bayangannya tentulah orang dari dalam benteng, dia bersikap hati-hati sekali dan menyelidik dengan jalan memutar. Bulan kadang-kadang tertutup awan sehingga cahayanya menjadi remang-remang saja. Dengan langkah satu-satu dan amat waspada, Ceng Ceng memutari semak- semak di mana dia melihat bayangan tadi lenyap. Seluruh perhatian dicurahkannya melalui pendengaran dan penglihatannya.

Tiba-tiba ada sambaran angin dari belakang dan ketika secepat kilat dia membalik, dari sudut matanya Ceng Geng melihat bayangan orang menyerangnya dengan totokan yang cepat dan hebat. Akan tetapi Ceng Ceng memang sejak tadi sudah siap sedia, maka diserang seperti itu dia tidak menjadi gugup. Dia miringkan tubuh mengelak dan tangannya membalas dengan tamparan kilat ke dada penyerangnya itu.

Orang itu terkejut bukan main, agaknya tak mengira bahwa yang diserangnya itu selain dapat mengelak, juga dapat membalas dengan tamparan yang sedemikian hebatnya, terbukti dari sambaran angin yang menandakan sinkang yang dahsyat. Maka dia pun menggerakkan lengannya menangkis.

“Dukkkk…!”

Keduanya terhuyung ke belakang dan mereka kaget bukan main mengetahui betapa kuatnya lawan. Ceng Ceng cepat memandang, akan tetapi karena bulan masih tertutup awan, cuaca remang-remang dan dia hanya melihat seorang pria yang berdiri di depannya, seorang pria yang memiliki sepasang mata yang tajam bersinar.

“Manusia curang, siapakah engkau? Mengakulah sebelum engkau mati tanpa nama!” bentak Ceng Ceng dengan marah sekali.

Orang itu kelihatannya terkejut mendengar suara ini. “Ehhh…? Kau…?!“ Pada saat itu awan telah meninggalkan bulan dan cahaya bulan yang terang menyinari wajah kedua orang yang saling pandang itu. Keduanya kini kelihatan makin kaget.

“Kau Ceng Ceng…!”

“Tek Hoat…!”

Memang orang itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat! Seperti telah kita ketahui, pemuda ini terus-menerus mengikuti jejak Puteri Syanti Dewi setelah dia gagal merampas Syanti Dewi dari puncak Naga Api sarang dari perkumpulan Liong-sim-pang yang diketuai oleh Hwa-i-kongcu Tang Hun. Dia dibantu oleh Siluman Kucing Mauw Siauw Mo-li yang katanya tahu di mana harus mencari Syanti Dewi. Akan tetapi sebetulnya Siluman Kucing itu pun tidak tahu, hanya menduga-duga saja dan sebenarnya wanita cabul itu bermaksud untuk mendekati pemuda ini dan kalau mungkin mencengkeram pemuda lihai ini untuk menjadi korban nafsu birahinya.

Akan tetapi, seperti telah diceritakan di bagian depan, Tek Hoat yang mulai sadar akan kesesatannya itu, apa lagi setelah dia berjumpa dengan seorang pelacur yang sudah membuka matanya, dia malah mempermainkan Siluman Kucing dan meninggalkannya pergi untuk mencari sendiri jejak Syanti Dewi. Akhirnya dia mendengar tentang keadaan di lembah Huang-ho dan dia menaruh hati curiga.

Dia pernah menyerang lembah itu sebagai sarang dari perkumpulan Kui-liong-pang untuk memenuhi permintaan ketua Hek-eng-pang, bersama dengan Siluman Kucing yang menjadi guru dari ketua Hek-eng- pang, hingga mereka akhirnya dapat membobol bendungan air dan membuat lembah itu tenggelam dalam genangan air bah setelah tanggul atau bendungannya itu dijebolkan oleh alat-alat peledak dari Mauw Siauw Mo-li.

Kini dia mendengar berita angin bahwa lembah itu telah berubah menjadi benteng yang kuat. Dia merasa curiga sekali dan ingin tahu, maka dia lalu menyelidiki ke lembah. Siapa tahu kalau-kalau Syanti Dewi yang seperti lenyap ditelan bumi itu berada di tempat itu, pikirnya. Hal ini memasuki pikirannya ketika dia mendengar bahwa banyak tokoh kaum sesat kabarnya juga berada di dalam benteng itu. Andai kata Syanti Dewi tidak berada di situ, setidaknya dia akan dapat bertanya kepada para tokoh sesat itu dan tentu ada di antara mereka yang tahu di mana adanya Syanti Dewi dan siapa yang telah menculiknya.

Malam itu dia tiba di dekat benteng lembah dan selagi dia berjalan dan hendak mulai dengan penyelidikannya, dia melihat bayangan orang yang gerakannya cepat sekali dan mengejarnya. Maka kemudian dia menyelinap dan menyerang bayangan itu untuk menotoknya, karena dia menduga bahwa bayangan itu tentulah mata-mata dari dalam benteng. Akan tetapi betapa kagetnya ketika bayangan itu sedemikian lihainya, dan makin kagetlah dia pada saat cahaya bulan menyinari wajah yang cantik itu, wajah dari Ceng Ceng, saudara tirinya seayah berlainan ibu!

Ibu dari Ceng Ceng adalah Lu Kim Bwee, sedangkan ibu dari Tek Hoat bernama Ang Siok Bi. Ketika kedua orang wanita itu masih gadis, mereka telah tertimpa malapetaka dan aib. Mereka itu dicemarkan oleh seorang laki-laki yang berilmu tinggi sehingga keduanya mengandung. Dari kandungan itulah terlahir Ceng Ceng dan Tek Hoat.

Karena mereka terlahir sebagai akibat perkosaan, maka mereka berdua menggunakan she ibu mereka masing-masing. Ceng Ceng menggunakan she Lu sedangkan Tek Hoat menggunakan she Ang. Ayah kandung mereka, yaitu pria yang mencemarkan ibu masing-masing itu bukanlah orang sembarangan, karena dia adalah putera tiri dari Pendekar Super Sakti yang bernama Wan Keng In (baca cerita Sepasang Pedang Iblis dan Kisah Sepasang Rajawali).

Ketika masih kecil, baik Ceng Ceng mau pun Tek Hoat tidak tahu akan rahasia itu karena ibu masing- masing tidak mau menceritakan aib itu kepada anak masing-masing. Baru setelah kedua orang anak ini menjadi dewasa, di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, mereka bertemu dan bahkan mereka hampir saling jatuh cinta. Kemudian terbukalah rahasia itu dan keduanya baru tahu bahwa mereka berdua sesungguhnya adalah saudara tiri, seayah berlainan ibu! Dan keduanya sesungguhnya adalah she Wan.

“Ahhh, kusangka engkau seorang mata-mata dari benteng!” seru Tek Hoat. Ceng Ceng cemberut. “Engkaulah yang kukira mata-mata dari dalam benteng!”

Keduanya kemudian tersenyum dan saling pandang. Memang keduanya mempunyai perasaan suka satu sama lain, apa lagi setelah mereka tahu bahwa mereka adalah saudara seayah. Dalam pandang mata mereka itu terdapat keharuan karena memang keduanya tidak mempunyai saudara lain, bahkan tidak bersanak kadang lagi.

“Bagaimana keadaanmu…?” Keduanya bicara berbareng dan dengan pertanyaan yang sama. Kemudian keduanya tersenyum dan pada saat itu muncullah Kao Kok Cu.

Di dalam siulian tadi, Kok Cu mendengar suara isterinya, maka dia pun cepat meloncat turun dan mencari. Dia merasa heran sekali melihat isterinya berhadapan dengan seorang pria dan ketika dia tiba di situ, segera dia mengenal Tek Hoat.

“Ahh, kiranya engkau, Tek Hoat!” katanya.

Tek Hoat memandang wajah Kok Cu penuh perhatian. Di dalam Kisah Sepasang Rajawali diceritakan bahwa antara Tek Hoat dan Kao Kok Cu sesungguhnya terdapat hubungan yang tidak asing lagi, akan tetapi sesungguhnya baru sekarang inilah Tek Hoat sempat mengenal dan memandang wajah Kok Cu, karena dahulu Kok Cu selalu memakai topeng yang amat buruk sehingga dia pun hanya dikenal sebagai Si Topeng Setan. Setelah memandang wajah suami Ceng Ceng itu dia menarik napas panjang.

“Ah, kiranya engkau adalah seorang yang gagah dan tampan, Topeng Setan!” katanya. “Aku girang sekali bahwa saudaraku ini memperoleh seorang suami hebat seperti engkau.”

Akan tetapi hanya sebentar saja Tek Hoat kelihatan gembira dengan pertemuan ini. Segera wajahnya muram kembali, apa lagi karena dia teringat betapa keadaannya jauh dibandingkan dengan Ceng Ceng yang berbahagia dengan suaminya, sedangkan dia, sampai sekarang pun belum juga dapat mengetahui di mana adanya Syanti Dewi.

“Bagaimana engkau sampai tiba di sini?” tanya Ceng Ceng.

“Aku memang perantau yang bisa berada di mana saja. Akan tetapi kalian? Mau apa di sini?” Tek Hoat balas bertanya karena dia tidak suka menceritakan keadaan dirinya.

“Ahh, engkau tidak tahu, Tek Hoat. Malapetaka besar menimpa keluarga kami,” kata Ceng Ceng dan dia lalu bercerita tentang keluarga Kao dan juga puteranya yang diculik orang dan ditawan di dalam benteng itu.

Kok Cu tidak sempat mencegah isterinya bercerita, apa lagi dia merasa kurang enak karena dia maklum bahwa isterinya sangat suka kepada saudara tirinya itu. Dia melihat betapa Ang Tek Hoat mendengarkan dengan penuh perhatian dan kadang-kadang mengeluarkan seruan kaget mendengar betapa orang-orang pandai seperti Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi, bahkan Im-kan Ngo-ok yang terkenal itu semua berkumpul di dalam benteng! Bukan tidak mungkin Syanti Dewi berada di situ pula sebagai tawanan, pikirnya. Dia tidak dapat memikirkan hal lain kecuali Syanti Dewi.

Setelah Ceng Ceng selesai bercerita, Tek Hoat menegur, “Kalau begitu, kenapa kalian tidak segera masuk dan menolong mereka yang tertawan?”

“Ah, kami sudah masuk, akan tetapi kami melihat betapa keluarga kami terancam, maka kami hendak menanti saat baik untuk menolong mereka,” jawab Ceng Ceng, akan tetapi jawaban ini seolah-olah tidak didengar oleh Tek Hoat. Dia lalu bangkit berdiri, dan berkata kepada suami isteri itu.

“Aku pergi dulu…!”

“Engkau hendak ke mana?” Kok Cu menegur. “Aku akan mencoba masuk ke dalam benteng itu!”

“Tek Hoat, jangan…!” Ceng Ceng berkata. “Keadaannya amat berbahaya, engkau akan celaka di sana sebelum berhasil…“

“Aku tidak takut!” jawab Tek Hoat dengan sikapnya yang keras kepala.

Ceng Ceng merasa terharu sekali. Dia mengira bahwa Tek Hoat kini telah berubah menjadi seorang yang berwatak pendekar gagah, yang merasa penasaran mendengar tentang ditawannya Cin Liong dan keluarga Kao lainnya, dan bermaksud untuk nekat memasuki benteng dan menolong keluarga yang tertawan itu.

“Tek Hoat, tidak perlu kau mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Keluarga kami terlalu banyak untuk dapat kau selamatkan seorang diri saja. Sebaiknya tunggu kesempatan dan kelak bergerak bersama kami.”

Sebetulnya, niat dari Tek Hoat itu amat cocok dengan niat di hati Ceng Ceng yang juga sudah tidak sabar lagi menanti kesempatan, dan ingin dia mengajak suaminya untuk bersama dengan Tek Hoat malam itu juga menyerbu benteng. Akan tetapi ucapan Tek Hoat sungguh tidak diduganya sama sekali.

“Aku harus mencari Syanti Dewi, sekarang juga!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Tek Hoat sudah lenyap dari situ.

Ceng Ceng termangu-mangu, kemudian mengepal tinjunya dan merasa mendongkol sekali. “Ahhh, kiranya dia hendak mencari Enci Syanti Dewi? Hemmm, tidak sempat kutanya dia mengapa dia meninggalkan Enci Syanti Dewi di Bhutan dan sekarang pura pura ribut mencarinya, hemmm…,“ Ceng Ceng marah dan mendongkol karena kecewa. Tadinya dia kira Tek Hoat mau membela keluarga suaminya, tidak tahunya pemuda itu sama sekali tidak memikirkan tentang keluarga Kao, dan keinginannya memasuki benteng itu tidak lain hanya untuk mencari Syanti Dewi.

Kok Cu maklum akan kejengkelan hati isterinya, dia merangkul isterinya dan berkata, “Kasihan dia. Dia menderita tekanan batin yang hebat sekali, hal itu dapat kulihat dari wajahnya.”

“Hemmm, mungkin dia kembali menjadi jahat lagi…,“ kata Ceng Ceng, membayangkan kembali cerita tentang ayah kandungnya, seorang manusia yang amat jahat!

Dia merasa beruntung bahwa dia menjadi isteri seorang bijaksana seperti Kok Cu, karena kalau dia teringat akan pengalamannya dahulu, setelah menjadi murid Ban-tok Mo-li, mungkin saja dia pun menjadi seorang tersesat yang jahat, seperti mendiang ayah kandungnya. Dan mendadak dia bergidik, lalu menyembunyikan mukanya dalam rangkulan lengan kanan suaminya…..

********************

Malam telah larut, lewat tengah malam. Bulan purnama telah condong ke barat dan malam itu dingin serta sunyi sekali. Akan tetapi, sesosok bayangan berkelebatan seperti setan di bawah tembok benteng. Bayangan orang itu bukan lain adalah Tek Hoat yang telah meninggalkan Ceng Ceng dan suaminya. Ceng Ceng tidak melihat Syanti Dewi di dalam benteng, akan tetapi siapa tahu? Dan seandainya dia tidak menemukan Syanti Dewi di situ, tidak pula bisa memperoleh kabar tentang puteri itu, setidaknya dia akan dapat menuntut agar putera Ceng Ceng dibebaskan.

Dia tidak perlu banyak berjanji kepada suami isteri itu, akan tetapi kalau di sana tidak ada Syanti Dewi, dia tentu akan membebaskan putera Ceng Ceng! Saudara tirinya itu kelihatan demikian gelisah, dan diam- diam dia merasa amat kasihan kepada Ceng Ceng. Dia tidak takut biar pun di sana ada Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi dan yang disebut Im-kan Ngo-ok yang tidak dikenalnya itu. Biar semua iblis dan setan berkumpul di sana, dia tidak takut!

Ketika dia mulai mendekati tembok benteng, Tek Hoat yang berpenglihatan tajam itu mengerti bahwa ada bayangan yang mengikutinya. Orang yang membayanginya itu juga amat cepat gerakannya. Mula-mula dia menduga bahwa bayangan itu tentulah Ceng Ceng atau Kok Cu, akan tetapi setelah dia melihat sekelebatan, dia tahu bahwa bayangan itu bukan Ceng Ceng, karena orang itu tinggi besar tidak seperti bentuk tubuh Ceng Ceng dan lengannya lengkap tidak seperti lengan Kok Cu.

Namun karena bayangan itu hanya mengikutinya, maka dia pun tak mempedulikan dan melanjutkan gerakannya meloncat naik ke atas tembok benteng seperti seekor burung garuda terbang saja. Loncatannya tidak mungkin dapat mencapai di atas tembok yang demikian tingginya, akan tetapi seperti seekor cecak terbang, dia hinggap di tembok dan menggunakan kaki tangannya menempel tembok, kemudian terus merangkak ke atas menggunakan sinkang-nya yang membuat telapak tangannya menyedot dan menempel dinding, menahan tubuhnya. Dengan cepat dia merayap seperti seekor cecak dan akhirnya dia dapat mencapai pinggiran tembok dan meloncat naik ke atas tembok benteng yang tinggi itu.

Akan tetapi baru saja dia berdiri, kakinya telah menginjak alat jebakan dan dari bawah menyambar belasan batang anak panah ke arah tubuhnya! Namun, Tek Hoat telah siap waspada dan begitu mendengar bunyi berdesir dari bawah, dia telah meloncat ke atas dan mengelak, lalu turun lagi di atas dinding tembok di depan. Kiranya semenjak benteng itu kebobolan, Im-kan Ngo-ok telah memasang jebakan-jebakan di atas tembok benteng dan satu di antara alat jebakan itu tadi terinjak oleh Tek Hoat.

Tek Hoat terus berloncatan di atas tembok benteng yang berlapis-lapis itu, dari tembok pertama ke atas tembok kedua. Dia melihat bayangan di belakangnya masih tetap mengikutinya, akan tetapi dia tidak peduli dan terus meloncat ke tembok sebelah dalam. Tiba-tiba dia terkejut sekali ketika tembok yang diinjaknya bergoyang dan melesak ke bawah! Karena secara tiba-tiba tubuhnya terjeblos ke bawah, tentu saja dia tidak dapat meloncat lagi ke atas dan ketika dia memandang ke bawah, ternyata di bawahnya telah menanti ujung-ujung tombak yang meruncing.

Dari atas, ujung-ujung tombak itu kelihatan menyeramkan dan orang yang terjatuh ke tempat itu tentu akan tembus-tembus tubuhnya oleh puluhan batang tombak itu. Untuk meloncat ke lain tempat sudah tidak mungkin lagi, maka mau tidak mau Tek Hoat harus terus meluncur ke bawah! Dia cepat mengerahkan ginkang-nya dan ketika ujung-ujung tombak itu telah dekat sekali, dia menggunakan ujung kakinya menotol ujung tombak dan mengenjot ke atas untuk mematahkan tenaga luncuran tubuhnya, kemudian dia turun lagi dan hinggap dengan kedua kakinya ke atas ujung dua batang tombak.

Akan tetapi tombak itu terpasang kuat sekali, terpaksa dia mengerahkan tenaganya dan mematahkan tenaga luncuran tubuhnya, kemudian dia turun lagi dan hinggap dengan kedua kakinya ke atas ujung dua batang tombak seperti seekor burung saja! Dengan berjongkok tangannya mencabut sebatang tombak. Akan tetapi tombak itu terpasang kuat sekali, terpaksa dia mengerahkan tenaganya dan mematahkan gagang tombak itu, lalu dia mengenjot tubuhnya meloncat ke atas. Ketika dia tidak mencapai atas tembok, dia menggunakan tombak patahan tadi untuk menyodok dinding dan dengan tenaga sodokan ini dia dapat berpoksai lagi ke atas. sehingga akhirnya dapat juga dia hinggap di atas tembok kembali.

“Bagus sekali…!” Pujian ini terdengar dari bayangan yang masih mengikutinya dari jauh. Akan tetapi Tek Hoat tidak peduli lagi dan melanjutkan penyelidikannya, meloncat terus ke tembok sebelah dalam lagi.

Sekarang Tek Hoat telah tiba di lapisan tembok benteng yang paling dalam. Tiba-tiba terdengar suara berdering-dering ketika kakinya menyangkut tali rahasia dan Tek Hoat melihat pasukan berbondong- bondong datang ke sebelah dalam tembok. Bahkan ada pasukan dua puluh orang lebih yang menghujankan anak panah ke arah dia berdiri di atas tembok. Akan tetapi, Tek Hoat sama sekali tidak menjadi gentar, dia malah terus meloncat ke dalam sambil memutar tombak yang dicabutnya dari tempat jebakan tadi dan semua anak panah dapat ditangkisnya dan runtuh ke bawah. Dengan ringan kakinya menginjak tanah di tengah-tengah lapangan di sebelah dalam benteng itu dan sebentar saja dia sudah terkurung oleh pasukan penjaga yang banyak sekali. Akan tetapi, pemuda ini berdiri tenang dan sepasang matanya bersinar-sinar menyeramkan.

Tidak ada anggota pasukan yang berani menyerang karena selain tidak ada perintah dari atasan, juga mereka maklum bahwa yang datang ini adalah seorang pemuda yang lihai sekali, seperti Si Naga Sakti dan isterinya yang juga datang ke benteng ini beberapa hari yang lalu. Menghadapi orang-orang sakti seperti ini bukanlah tugas mereka dan memang benar saja, tak lama kemudian terdengar aba-aba dari komandan mereka untuk membuka jalan dan nampaklah Koksu Nepal dan para pembantunya menghampiri tempat itu dan berhadapan dengan Tek Hoat yang memandang kepada rombongan ini dengan sikap tenang dan sinar mata tajam penuh selidik.

“Ha-ha-ha, dia adalah Si Jari Maut! Semenjak tadi aku sudah mengenalinya!” Tiba-tiba terdengar suara dan muncullah Hek-hwa Lo-kwi. Juga Hek-tiauw Lo-mo yang turut datang bersama Koksu Nepal segera mengenal pemuda itu.

“Ang Tek Hoat si Jari Maut, mau apa kau berkeliaran ke sini?” bentaknya.

Tek Hoat memandang kepada Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, lalu terdengar dia berkata dengan sikap angkuh dan tenang, “Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, apakah kalian menjadi pimpinan di sini ataukah hanya sebagai pembantu-pembantu belaka? Kalau begitu, siapakah pemimpinnya? Aku mau berbicara dengan pemimpin benteng ini.”

Begitu mendengar julukan Si Jari Maut, biar pun dia belum pernah mendengar julukan yang memang belum lama terkenal di dunia kang-ouw ini, namun koksu sudah merasa kagum. Orang yang mendapat pujian dari dua orang kakek iblis itu tentulah bukan orang biasa, dan pemuda ini masih begini muda, dan cekatan pula, buktinya dapat melalui jebakan-jebakan dengan begitu mudah. Maka dia lalu melangkah maju dan tersenyum lebar.

“Kami, koksu dari Nepal, adalah yang mewakili Pangeran Bharuhendra memimpin benteng ini. Ang-sicu sudah memerlukan malam-malam datang ke tempat ini, ada keperluan apakah?” tanyanya dengan sikap ramah.

Sinar bulan tenggelam, akan tetapi sebagai gantinya, banyak obor dinyalakan untuk membantu penerangan lampu yang banyak tergantung di tempat itu sehingga Tek Hoat dapat mengamati wajah banyak orang itu. Kini dia berhadapan dengan Ban Hwa Sengjin dan setelah sejenak memandang wajah kakek ini dengan penuh selidik, dia lalu berkata dengan lantang, “Kiranya yang memimpin adalah koksu dari Nepal! Sungguh hebat benteng ini, dan kulihat banyak orang-orang pandai membantu di sini. Koksu, aku sama sekali tidak mau mencampuri urusan pemberontakan. Aku datang untuk urusan pribadi, yaitu aku mencari Puteri Bhutan…”

“Ahhh, Puteri Syanti Dewi?” Koksu Nepal itu memotong sambil tersenyum lebar.

“Benar!” Jantung Tek Hoat berdebar keras. “Bukankah dia berada di sini? Aku datang untuk mencari dia!” “Ah, tentu saja sang puteri berada di sini, Ang-sicu. Beliau berada di sini sebagai tamu agung!”

Tek Hoat mengerutkan alisnya. “Hemmm, siapakah yang tidak tahu bahwa Nepal selamanya tidak pernah bersahabat dengan Bhutan?”

Mendengar ini, Koksu Nepal terkejut dan tiba-tiba Gitananda berbisik dalam bahasa Nepal kepada koksu itu. Wajah koksu itu menjadi berseri. “Aha, kiranya engkau adalah panglima muda yang amat terkenal di Bhutan, yang pernah akan menjadi mantu Raja Bhutan itu? Ah, sungguh kebetulan sekali! Agaknya engkau telah meninggalkan Bhutan dan tidak tahu bahwa antara Bhutan dan Nepal telah terjadi persahabatan. Buktinya, Puteri Syanti Dewi kini menjadi tamu kami, diantar oleh panglimanya.” Dia lalu bicara kepada Gitananda untuk memanggil Mohinta.

Tek Hoat terkejut melihat munculnya panglima muda Bhutan itu di situ. Sebaliknya, ketika melihat Tek Hoat, Mohinta menjadi marah sekali dan bersama para pengikutnya, dia sudah melolos senjata dan hendak menyerang. Akan tetapi koksu mengangkat tangannya dan memberi isyarat kepada Mohinta untuk mundur.

“Ang-sicu, kau lihat sendiri, Panglima Mohinta dari Bhutan sendirilah yang mengawal Sang Puteri Syanti Dewi dan menjadi tamuku. Kita semua adalah merupakan satu keluarga, mengingat bahwa Sicu juga sudah berjasa untuk Bhutan. Nah, sekarang katakanlah, apa maksud kedatanganmu? Sebagai kawan ataukah sebagai lawan?”

Semua orang terkejut dan merasa heran mendengar ucapan koksu yang mengaku bahwa Puteri Bhutan itu berada di situ sebagai tamu. Padahal, bukankah puteri itu telah terculik orang dan sampai kini belum diketahui di mana adanya? Akan tetapi tidak ada orang yang tahu akan kelicikan koksu ini. Dia memang sengaja mengatakan bahwa Syanti Dewi masih berada di situ, karena dia mempunyai rencana yang dianggapnya baik sekali untuk dapat menahan pemuda yang lihai ini agar dapat membantunya.

“Terserah kepada koksu akan menganggap aku sebagai kawan atau lawan. Maksud kedatanganku sudah jelas, yaitu aku ingin melihat Puteri Syanti Dewi dalam keadaan selamat.”

“Ha-ha-ha, permintaan yang amat mudah, Ang-sicu. Tentu engkau bisa maklum bahwa keselamatan sang puteri sepenuhnya berada di tangan kami. Kalau Sicu mau membantu kami, sudah pasti sang puteri akan selamat…“

“Sudah kukatakan bahwa aku tidak hendak mencampuri urusan pemberontakanmu!” Tek Hoat memotong cepat.

“Baiklah, setidaknya asal engkau suka berjanji bahwa engkau tidak akan membantu pihak musuh kami dan bahwa engkau suka melindungi Puteri Syanti Dewi di sini.”

“Tentu saja aku akan suka melindunginya dari siapa pun juga!” jawab Tek Hoat. “Akan tetapi biarkan aku lebih dulu bertemu dengan dia.”

“Ang-sicu, hendaknya Sicu maklum bahwa setelah Sicu berada di dalam benteng, maka kamilah yang menentukan segala sesuatu, karena betapa pun lihainya Sicu, seorang diri saja tidak berdaya terhadap kami. Sicu baru saja datang, tentu tidak baik kalau bertemu dengan sang puteri. Akan tetapi tunggulah satu dua hari, kalau memang Sicu benar-benar mau tinggal di sini melindunginya dan memperlihatkan iktikad baik bahwa Sicu bukan mata-mata musuh kami, barulah Sicu akan dapat bertemu dengan Puteri Syanti Dewi.”

Tek Hoat memandang ke sekeliling. Dia melihat bahwa selain Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, juga terdapat banyak orang yang kelihatan berilmu tinggi. Semua tokoh ini sudah berbahaya, apa lagi ditambah dengan banyak pasukan dan keadaan benteng yang kokoh kuat, memang kalau dia menggunakan kekerasan hal itu adalah bodoh sekali. Apa lagi setelah ada kepastian bahwa Syanti Dewi berada di situ dan dalam keadaan selamat, apa lagi yang dikehendakinya? Dia harus bersabar sampai dia benar-benar bertemu dengan Syanti Dewi. Setelah bertemu barulah dia akan mencari akal bagaimana untuk dapat membawa keluar puteri itu dari benteng ini. Kalau hal ini tidak mungkin, setidaknya dia berdekatan dengan wanita yang dicintanya itu dan dapat melindunginya dari gangguan siapa pun juga dengan taruhan nyawanya.

“Baiklah, asal benar-benar dia berada di sini, aku akan melindunginya di sini dan tidak akan mencampuri urusan kalian dengan musuh-musuh kalian,” katanya.

Tek Hoat lalu diberi sebuah kamar dan diam-diam gerak-geriknya selalu diikuti. Pemuda ini pun tidak memperlihatkan sikap mencurigakan karena dia hanya menanti sampai dia dapat dipertemukan dengan kekasihnya. Satu dua hari, kata koksu. Baik, dia akan bersikap baik selama dua hari sampai dia benar- benar melihat sang puteri dalam keadaan selamat.

Sementara itu, kalau semua orang merasa heran, koksu dengan tenang lalu memanggil pembantunya yang amat ahli dalam hal itu, yaitu Ang-siocia dan gurunya, yaitu Hek-sin Touw-ong. Adanya dua orang yang pandai melakukan penyamaran inilah yang membuat koksu tanpa ragu-ragu mengatakan kepada Tek Hoat bahwa Syanti Dewi memang berada di situ sebagai tamu!

“Pemuda selihai itu sebaiknya kalau berpihak kepada kita,” kata koksu kepada para pembantunya setelah Ang-siocia hadir bersama gurunya, “atau setidaknya, dalam menghadapi masa gawat ini, sebaiknya kalau dia di sini dan tidak membantu musuh. Karena itulah aku menggunakan dalih adanya Puteri Syanti Dewi untuk menahan dia di sini, dan untuk melaksanakan akal ini, aku mengharapkan bantuan Ang-siocia, dan tentu saja Hek-sin Touw-ong.”

Dara itu saling pandang dengan gurunya. Semenjak berada di dalam benteng, mereka itu tidak pernah melihat kesempatan untuk melarikan diri karena biar pun mereka itu dianggap pembantu-pembantu, akan tetapi seperti juga Jenderal Kao, mereka adalah pembantu-pembantu yang dicurigai sehingga selalu terjaga dan tidak pernah dibolehkan keluar dari benteng.

“Memang hal itu mudah dilakukan karena kami melihat di sini banyak wanita Nepal yang potongan wajahnya agak mirip dengan sang puteri sehingga mudahlah untuk meriasnya sampai tidak akan ada bedanya dengan wajah sang puteri sendiri,” kata Touw-ong.

“Menghias mukanya memang mudah sekali, juga pakaian dan gerak-geriknya, akan tetapi meniru suaranya harus dilakukan oleh seorang yang mengenal betul cara sang puteri bicara,” kata Ang-siocia. “Kalau benar Ang Tek Hoat itu dahulu adalah tunangan sang puteri, tentu dia akan dapat mengenal cara wanita itu bicara.”

“Bagus!” kata Ban Hwa Sengjin berseru girang. “Soal cara bicara dan lagaknya, di sini terdapat Mohinta yang akan mampu melatihnya karena dia tentu hafal akan kebiasaan sang puteri bicara dan bersikap.”

Mohinta mengangguk-angguk, sungguh pun di dalam hatinya dia tidak setuju kalau Tek Hoat diterima sebagai sekutu di tempat itu. Menurut keinginannya, pemuda itu sebaiknya dibunuh saja! Akan tetapi, tentu saja dia tidak berani membantah kehendak Koksu Nepal yang bertindak demi kepentingan benteng.

Mudah saja bagi Ang-siocia dan gurunya untuk menyulap seorang dayang Nepal yang menjadi pelayan Pangeran Bharuhendra, menjadi Puteri Syanti Dewi. Biar pun baru satu kali guru dan murid ini melihat Syanti Dewi, namun ingatan mereka kuat sekali, dan pula di situ terdapat Mohinta dan para bekas dayang yang melayani sang puteri sehingga mereka ini dapat memberi petunjuk.

Dalam waktu satu dua jam saja berubahlah seorang dayang menjadi Puteri Syanti Dewi dari Bhutan! Dari rambut sampai ke kakinya, persis sekali! Kini tinggal melatih dayang itu untuk bersikap dan bicara seperti Syanti Dewi dan hal inilah yang lebih sukar sehingga membutuhkan waktu dua hari di bawah pimpinan Mohinta, baru dayang itu dapat meniru dan agak mirip dengan gerak-gerik dan cara bicara Puteri Bhutan itu. Oleh karena itu, Koksu Nepal memesan kepada dayang itu untuk bicara seperlunya saja dan wanita ini sudah dilatih sampai hafal betul apa yang harus diucapkannya kalau dia sebagai Puteri Syanti Dewi bertemu dengan Ang Tek Hoat!

Demikianlah, setelah dua hari lamanya menanti di situ, akhirnya Ang Tek Hoat ditemui oleh koksu dan kakek ini tertawa lebar. “Ha-ha-ha, girang hati kami melihat bahwa engkau ternyata tidak memperlihatkan sikap yang buruk, Sicu. Maka, sekarang kami memenuhi janji untuk mempertemukan engkau dengan Puteri Bhutan. Tentu saja hanya terbatas, pokoknya Sicu dapat membuktikan bahwa dia selamat di sini dan dapat bicara sepatah dua patah kata.”

Tek Hoat tidak lagi memperhatikan syarat itu karena hatinya sudah berdebar penuh ketegangan dan juga kegirangan. Sejak dia meninggalkan Bhutan, hatinya menderita hebat oleh rasa rindunya kepada Syanti Dewi dan dia sudah merasa putus asa karena tidak mungkin dia akan dapat bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Maka ketika dia mendengar bahwa Syanti Dewi meninggalkan Bhutan dan berada di timur, dia mencari cari sampai akhirnya sekarang tiba saatnya dia akan bertemu muka, berhadapan dan bicara dengan kekasihnya itu! Jantungnya berdebar-debar dan dia hanya dapat mengangguk kepada Ban Hwa Sengjin dengan perasaan berterima kasih.

Mereka menuju ke satu bagian di dalam benteng itu dan dari dalam sebuah pintu di pondok besar, muncullah Syanti Dewi dengan gerak-geriknya yang lemah lembut dan harus diiringkan oleh beberapa orang dayang. Ketika Syanti Dewi melihat Tek Hoat, dia mengeluarkan seruan tertahan dan berhenti melangkah, lalu memandang dengan mata terbelalak kemudian menundukkan mukanya, lalu jari-jari tangannya mempermainkan ujung bajunya. Kebiasaan sang puteri kalau sedang merasa tegang, kebiasaan yang amat dikenal oleh Tek Hoat!

“Dewi…!” Tek Hoat berseru lirih dan melangkah maju, lehernya seperti dicekik rasanya karena terharu dan juga girang. Ternyata kekasihnya itu benar-benar dalam keadaan selamat dan hal ini amat menggirangkan hatinya! “Terima kasih kepada Thian bahwa engkau masih dalam keadaan sehat dan selamat!” Hanya demikianlah Tek Hoat dapat berseru dengan girang sekali.

“Ang Tek Hoat,” terdengar sang puteri berkata dengan suara agak gemetar, tanpa mengangkat mukanya. “Mau apakah engkau minta bertemu dengan aku…?” Dalam suara itu terkandung kedukaan dan kemarahan.

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Biasanya, Puteri Syanti Dewi menyebutnya koko atau kanda, kini menyebut namanya begitu saja. Dia dapat mengerti bahwa tentu sang puteri ini marah kepadanya, dan dia dapat mengerti mengapa puteri ini marah kepadanya.

“Dinda Syanti Dewi, engkau tahu… betapa berat hatiku berpisah… dan betapa kaget hatiku mendengar engkau berada di sini, meninggalkan Bhutan. Aku hanya ingin melihat engkau selamat dan bahagia…“ Tek Hoat mengeluarkan isi hatinya tanpa malu dan sungkan lagi sungguh pun di situ terdapat empat orang dayang dan juga terdapat Ban Hwa Sengjin. Bahkan dia melihat bayangan beberapa orang berkelebatan tak jauh dari situ. Dan memang diam-diam empat orang Im-kan Ngo-ok lainnya bersiap-siap tidak jauh dari tempat itu, menjaga kalau-kalau Tek Hoat melihat penyamaran itu.

Puteri palsu itu sengaja menyebut Tek Hoat dengan namanya saja karena hal ini sudah diperhitungkan baik-balk oleh Mohinta yang mengatur percakapan itu! Maka berkatalah puteri itu sesuai dengan hafalannya, “Ang Tek Hoat, engkau telah pergi tanpa pamit, bahkan telah menimbulkan kemarahan di hati ayahku, oleh karena itu sesungguhnya sudah tidak ada apa-apa lagi antara kita. Akan tetapi kalau engkau memperlihatkan bantuan untuk menghadapi musuh dari Pangeran Nepal, baru aku mau mengenalmu lagi. Nah, sampai jumpa pula… dan semoga kau berhasil!” Setelah berkata demikian, puteri palsu itu membalikkan tubuhnya dan diiringkan oleh para dayang dia masuk, kembali ke dalam pondok.

“Syanti…! Syanti Dewi…!” Tek Hoat berseru akan tetapi sesuai dengan petunjuk yang telah diterimanya, puteri itu tidak mau berhenti atau menoleh. Daun pintu ditutupkan oleh para dayang dan ketika Tek Hoat melangkah ke depan, Ban Hwa Sengjin sudah mendekatinya dan menegurnya.

“Sicu, pondok ini khusus untuk sang puteri, tidak ada pria yang boleh masuk. Marilah kita bicara. Saya kira sang puteri sudah cukup jelas bicara.”

Seperti orang yang kehilangan semangat Tek Hoat mengikuti Koksu Nepal dan dengan ucapan Syanti Dewi masih terngiang di telinganya, apa lagi kata-kata terakhir “semoga kau berhasil!” berkesan di dalam hatinya. Dia mendengarkan bujukan-bujukan Koksu Nepal dan akhirnya dia menyetujui untuk melindungi sang puteri di dalam benteng itu dan akan membantu menghalau musuh yang membahayakan keselamatan Syanti Dewi sedapat mungkin!

Selagi koksu membujuk Tek Hoat, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan datanglah penjaga melapor bahwa pasukan Gubernur Ho-nan datang berlari-larian, nampaknya ketakutan dan mengalami kekalahan! Mendengar ini, Ban Hwa Sengjin cepat pergi melapor kepada Pangeran Bharuhendra yang cepat keluar dan pintu gerbang dibuka lebar untuk menyambut datangnya sang gubernur bersama pasukannya yang melarikan diri dari Lok-yang itu.

Dengan muka pucat dan napas terengah-engah Gubernur Kui Cu Kam menceritakan betapa pasukan besar yang dipimpin oleh Puteri Milana telah menggempur Lok-yang dan telah menduduki semua kota, dan tentu akan segera menyerbu ke lembah.

Dalam pertemuan ini, dengan singkat Tek Hoat diperkenalkan kepada sang pangeran oleh Koksu Nepal. Pangeran Liong Bian Cu sudah mendengar laporan lengkap tentang Tek Hoat, maka ia pun menyatakan kegirangannya jika pemuda itu suka membantunya. Kemudian, pangeran memerintahkan supaya semua pembantunya dikumpulkan dan diadakanlah persidangan kilat untuk mengatur rencana dan siasat menghadapi musuh yang sudah mengancam.

Kepada Jenderal Kao Liang yang juga diharuskan hadir, sang pangeran berkata, “Sekarang tiba saatnya engkau memperlihatkan kepandaianmu dan memenuhi janjimu, Jenderal Kao!”

Jenderal yang tua itu dengan wajah muram mengangguk. “Saya akan memperlihatkan bahwa janji saya akan tetap saya penuhi, dan tidak akan ada pasukan mana pun yang mampu membobol benteng ini!” Jenderal Kao Liang lalu berpamit mundur untuk mulai mengatur penjagaan dan membagi-bagi tugas kepada para komandan bawahannya.

Pangeran Liong Bian Cu lalu mengajak Gubernur Kui Cu Kam untuk bicara di dalam, sedangkan persidangan itu dilanjutkan oleh Koksu Nepal yang membagi-bagi tugas kepada para tokoh pembantunya untuk memperkuat kedudukan benteng di sebelah dalam, karena kedudukan di sebelah luar seluruhnya menjadi tanggung jawab Jenderal Kao Liang.

Sibuklah semua orang yang menanti dengan jantung berdebar tegang karena para pasukan gubernur yang melarikan diri ke benteng itu bercerita betapa kuatnya pasukan kota raja yang dipimpin oleh Puteri Milana yang memang terkenal pandai sekali dalam hal memimpin pasukan itu. Puteri Milana ini memang mengingatkan kaum tua kepada Puteri Nirahai, ibunya, yang dahulu juga merupakan seorang panglima besar yang amat pandai. Tek Hoat juga memperoleh bagian dalam pembagian kerja itu, yaitu dia harus melindungi bagian bangunan di mana juga tinggal Puteri Syanti Dewi. Tentu saja pemuda ini menerima tugas itu dengan girang dan dia pun bersungguh-sungguh, karena dia akan melindungi sang puteri dengan taruhan nyawanya.

Pada keesokan harinya, muncullah pasukan kerajaan yang telah dinanti-nanti dengan hati penuh ketegangan oleh semua orang di benteng itu! Pasukan yang besar dan berbaris rapi, dipimpin oleh Puteri Milana. Dari atas menara di tembok benteng sudah nampak debu mengepul tinggi ketika pasukan itu datang dari jauh, kemudian makin lama nampaklah barisan itu seperti serombongan semut yang bergerak dengan teratur. Jantung mereka yang memandang dari atas menara berdebar tegang karena gerakan pasukan besar itu memang amat menyeramkan.

Di atas tebing bukit yang tinggi dari mana orang dapat melihat tembok benteng di kejauhan, Puteri Milana memberi isyarat kepada pasukannya untuk berhenti. Pembawa bendera menggerak-gerakkan bendera sebagai isyarat dan barisan itu pun berhenti.

Puteri Milana menunggang seekor kuda besar berbulu hitam, diiringkan oleh beberapa orang panglima dari kota raja. Gagah dan cantik sekali puteri ini, seorang wanita berusia empat puluh tahun namun kelihatan masih muda, dengan wajah yang cantik dan matang, kelihatan angker dan mendatangkan rasa hormat ketika dia duduk dengan tenang di atas kuda yang besar itu, memegang kendali dengan tangan kiri.

Pakaiannya tertutup oleh baju perang bersisik baja berwarna kuning emas, sehelai mantel merah menutupi pundak dan punggungnya. Rambutnya disanggul ke atas dan ekor rambut berjuntai ke belakang diikat dengan pita kuning. Sebatang pedang dengan sarung pedang terukir indah tanda bahwa pedang itu adalah pedang kebesaran dari kota raja, dari istana, tergantung dipinggang kirinya. Hati setiap orang prajurit tentu akan penuh semangat kalau memandang kepada pemimpinnya seperti itu!

Milana membagi-bagi barisannya dalam pasukan-pasukan yang diberi nama Pasukan Serigala, Pasukan Harimau, Pasukan Naga, dan lain nama binatang yang perkasa pula. Para komandan masing-masing pasukan memakai lukisan binatang yang menjadi tanda pasukannya, demikian pun setiap pasukan membawa bendera lambang pasukan berupa gambar binatang itu. Hal ini untuk memudahkan mereka saling mengenal dan sifat setiap pasukan disesuaikan pula dengan lambang binatang yang menjadi nama mereka.

Setelah semua pasukan berhenti, Milana mengamati keadaan benteng yang nampak dari jauh dan kelihatan sunyi itu. Dia sudah mempelajari keadaan tempat di sekitar benteng itu dari gambar yang dibuat oleh para penyelidik, maka kini dia memandang untuk mempelajari keadaan itu sesuai dengan gambar yang pernah dipelajarinya. Memang sebuah benteng yang amat kuat, pikirnya. Dan hatinya terasa perih kalau dia teringat bahwa benteng itu dibuat atas petunjuk Jenderal Kao Liang! Keadaan benteng yang angker, sunyi dan kelihatan kokoh kuat itu benar-benar menggiriskan hati, berbeda dengan benteng- benteng lain di mana kelihatan anggota pasukan penjaga hilir-mudik dan kelihatan sibuk. Tidak, benteng ini seperti kosong saja, bahkan dari luar tak nampak seorang pun penjaga.

Milana masih duduk di atas pelana kudanya dan memandang ke arah benteng dengan alis berkerut dan sinar mata melamun. Dari sebelah kanannya datang seorang Panglima Pasukan Serigala yang melapor dengan suara tegas, “Laporan, Panglima! Para penyelidik melaporkan bahwa benteng itu tak dapat diserang dari belakang karena membelakangi tebing sungai yang penuh rawa-rawa liar dan berbahaya. Kanan dan kirinya tertutup jurang yang dalam. Laporan selesai!”

Milana mengangguk-angguk. “Hemmm, jadi cocok dengan keterangan dalam gambar. Kalau begitu, siapkan pasukan, jalan satu-satunya hanyalah menyerang dari depan untuk mencoba sampai di mana ketangguhan lawan. Akan tetapi, kalau ternyata pihak lawan kuat sekali, jangan memaksakan diri, tunggu tanda untuk mundur agar jangan sampai kehilangan banyak anak buah menjadi korban!”

Komandan itu lalu mundur dan Milana memberi perintah kepada pemegang bendera isyarat untuk menyampaikan perintahnya. Pemegang bendera itu berdiri di atas batu besar dan menggerakkan benderanya dengan gerakan-gerakan tertentu agar terbaca oleh semua komandan. Perintah dari Panglima Puteri Milana adalah agar Pasukan Serigala maju menyerang pintu gerbang depan benteng itu sedangkan pasukan pasukan lain hanya bersiap di kanan kiri sesuai dengan kedudukan mereka tanpa ikut menyerang, hanya melindungi kalau-kalau Pasukan Serigala terdesak agar membantu mereka mundur dengan selamat.

Pasukan Serigala yang terdiri dari sepuluh ribu orang itu lalu dikerahkan dan mulailah pasukan ini menyerang dan menyerbu benteng dari pintu gerbang depan. Setelah jarak mereka mulai dekat dan sejauh sasaran anak panah, tiba-tiba dari atas tembok benteng itu berhamburan datang anak panah dan batu-batu bagaikan hujan menyambut mereka! Hal seperti ini tidak mengejutkan pasukan yang sudah berpengalaman itu dan memang sudah mereka duga lebih dulu. Maka mereka pun cepat mengangkat perisai masing masing untuk melindungi diri dan mereka terus menyerbu sambil bersorak-sorak, dan pasukan-pasukan bagian panah lalu membalas dengan melepaskan anak panah mereka ke tembok benteng, tubuh mereka dilindungi oleh teman yang mengangkat perisai besar. Hiruk-pikuk bunyi anak panah dan batu menimpa perisai-perisai itu.

Puteri Milana menyaksikan penyerbuan Pasukan Serigala itu dengan seksama sambil memandang ke arah atas tembok benteng. Dari menara tembok itu dia melihat bendera merah dikibarkan dan tiba-tiba anak panah dan batu yang meluncur bagaikan hujan dari atas tembok itu berhenti. Pasukan Serigala masih menyerbu terus, kini sudah mulai menaiki lereng menuju ke pintu gerbang.

“Perintahkan mereka mundur!” Tiba-tiba Milana berseru dan pemegang bendera lalu memberi isyarat, disusul bunyi tambur sebagai perintah kepada pasukan itu.

Namun terlambat, karena tiba-tiba saja pintu gerbang terbuka dan dari dalam pintu gerbang itu keluar batu- batu besar bergulingan ke bawah lereng, juga dari atas tembok dilempar-lemparkan batu-batu sebesar kepala orang ke bawah sehingga batu-batu ini pun bergulingan ke bawah menyambut pasukan musuh!

Diserang secara bertubi-tubi dan mendadak ini, Pasukan Serigala menjadi terkejut. Mereka berusaha menyingkir dan berloncatan ke sana-sini, akan tetapi banyak pula di antara mereka yang tertimpa dan tertumbuk batu-batu besar sehingga ramailah suara mereka yang diserang oleh batu-batu ini. Terpaksa mereka mundur secara tidak teratur dan dalam penyerbuan pertama ini Pasukan Serigala kehilangan dua ratus orang lebih. Milana melihat dari atas dan nampak olehnya betapa pintu gerbang tertutup kembali dan bendera merah di atas menara itu bergerak-gerak memberi tanda. Tembok benteng musuh kembali menjadi sunyi dan tidak nampak seorang pun prajuritnya!

Milana menarik napas panjang. Hebat, pikirnya. Benar-benar Jenderal Kao Liang telah bekerja untuk musuh! Baik, dia pun harus melawan dengan kekerasan!

Dia memberi kesempatan agar Pasukan Serigala memulihkan tenaga dan mengatur kembali keberesan pasukan itu. Kemudian terdengar aba-abanya nyaring, “Lepaskan panah berapi!”

Pasukan anak panah lalu berindap-indap memencar dari depan, kanan dan kiri, dan tak lama kemudian berluncuranlah anak panah yang membawa api menuju ke benteng itu. Akan tetapi, karena benteng itu berlapis-lapis, maka anak-anak panah berapi itu hanya mengenai tembok benteng di sebelah dalam, tidak mengenai bangunan-bangunan di dalam benteng. Betapa pun juga, hujan anak panah berapi itu membuat para prajurit di dalam benteng terpaksa berlindung dan memadamkan api begitu anak panah itu menimpa tembok sebelah dalam. Sementara itu, diam-diam Milana lalu memberi perintah kepada pasukan untuk menggali lubang-lubang naik ke lereng itu.

Kemudian, tiba-tiba Puteri Milana memerintahkan tiga pasukan, yaitu Pasukan Harimau, Pasukan Naga, dan Pasukan Singa untuk menyerbu dari kanan kiri dan tengah, didahului oleh pasukan yang mengerjakan penggalian-penggalian itu. Kembali hujan anak panah dan batu, yang dibalas oleh serangan anak panah dari pasukan kerajaan. Seperti juga tadi, ketika pasukan penyerbu sudah mulai naik ke lereng, batu-batu besar berjatuhan dari atas dan keluar dari pintu gerbang. Akan tetapi kini pasukan-pasukan itu sudah siap. Cepat mereka bertiarap ke dalam lubang-lubang itu sehingga batu-batu yang menggelundung itu melewati tubuh mereka. Ada pula yang terkena, akan tetapi tidak begitu banyak dan sebagian besar pasukan selamat dan setelah hujan batu mereda, mereka terus mendaki naik sambil menggali lubang-lubang berikutnya.

Siasat Milana ini berhasil dan akhirnya tiga pasukan itu dapat bergabung dan sambil bersorak-sorak mereka lari menuju ke depan. Akan tetapi, tiba-tiba mereka disambut oleh teriakan yang mengejutkan dan dari dalam tanah di depan tembok benteng itu terbuka lubang-lubang dan ternyata di situ terdapat pasukan-pasukan pendam yang sudah lama menanti. Begitu keluar dari tempat persembunyian mereka, pasukan pendam ini melepaskan anak panah dari kanan kiri, sedangkan pasukan inti menyerbu dari tengah, dan kini pintu gerbang terbuka dan bersama dengan bunyi tambur dan teriakan-teriakan menggegap-gempita, keluarlah pasukan besar menyerbu dari tengah, menghimpit pasukan kerajaan dari kanan kiri dan tengah.

Terjadilah pertempuran yang hebat, akan tetapi pasukan kerajaan sama sekali tidak mampu untuk mendesak musuh. Bahkan mereka yang coba untuk mendekati tembok, menerima siraman-siraman air panas dari atas tembok sehingga mereka terpaksa mundur kembali! Melihat ini, kembali Milana memerintahkan mundur semua pasukan. Serangan yang kedua itu pun gagal dan ternyata lebih dari seribu orang anak buah pasukan tewas!

Setelah dua kali kegagalan ini, dan melihat betapa tembok benteng itu kembali sunyi, Milana lalu menarik mundur pasukannya dan membiarkan mereka mengaso. Dia sendiri lalu mengadakan perundingan dengan para panglima kerajaan menghadapi benteng musuh yang demikian kuatnya.

Dia tahu atau dapat menduga bahwa yang menggerakkan bendera merah di menara itu tentulah Jenderal Kao, atau setidaknya tentulah pembantu jenderal yang pandai itu. Untuk menyerbu secara nekat dan membobolkan benteng dengan kekerasan, agaknya lebih dulu akan mengorbankan banyak sekali prajurit dan hasilnya pun belum dapat menyakinkan, mengingat betapa kuatnya penjagaan di benteng itu.

Malam tiba dan Milana masih melakukan perundingan dan mencari siasat bersama para panglima pembantunya, terus mencari-cari kemungkinan untuk menyerbu dengan lain cara…..

********************

Sementara itu, pendekar Gak Bun Beng yang mendahului pasukan isterinya, sedang menyusup-nyusup melalui hutan di sepanjang tepi Sungai Huang-ho dan dia melihat Kok Cu dan Ceng Ceng yang bersembunyi di tepi sungai. Dia lalu muncul di depan suami isteri pendekar itu.

Kok Cu dan isterinya terkejut sekali ketika tiba-tiba melihat bayangan berkelebat. Orang yang datang ini sama sekali tidak mereka ketahui, tanda bahwa orang ini hebat sekali ilmunya. Akan tetapi ketika Ceng Ceng melihat siapa adanya orang itu, dia girang bukan main.

“Paman Gak Bun Beng…!” serunya ketika melihat pria yang berdiri sambil tersenyum di depannya itu.

Juga Kok Cu menjadi girang dan cepat dia memberi hormat. Melihat pendekar ini, hati Ceng Ceng menjadi besar dan cepat dia bertanya, “Paman, kapankah pasukan Bibi Milana akan menyerbu ke sini?”

“Dalam satu dua hari ini, kini telah berangkat setelah menduduki Lok-yang.”

“Ahhh, Paman. Benteng itu kuat bukan main, dipimpin oleh…,“ Ceng Ceng tidak mampu melanjutkan karena merasa tidak enak kepada suaminya.

“Aku sudah tahu. Jenderal Kao Liang, ayah mertuamu itu terpaksa oleh karena semua keluarganya ditawan, bukan? Tentu ada apa-apanya ini. Aku akan menyelidiki lebih dulu ke dalam, dan sebaiknya kalian menanti sampai pasukan kerajaan menyerbu. Ehhh, apakah kalian tidak bertemu dengan Suma Kian Bu? Dia telah lebih dulu meninggalkan kota raja menuju ke sini!”

Kok Cu dan Ceng Ceng saling pandang dengan heran lalu menggeleng kepala. “Kami bertemu dengan Ang Tek Hoat yang mencari Puteri Syanti Dewi dan dia memasuki lembah, entah apa jadinya dengan dia.” Ceng Ceng kemudian menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Tek Hoat. Mendengar hal ini, Gak Bun Beng mengerutkan alisnya.

“Sungguh aneh sekali, mengapa Syanti Dewi kembali dapat terbawa-bawa dalam pemberontakan ini dan dia berada di lembah? Ahh, benteng di lembah itu mengandung banyak rahasia, dan hal ini makin mendorongku untuk lebih dulu masuk menyelidiki ke sana.”

“Keadaan mereka kuat sekali… Paman Gak,” kata Kok Cu yang merasa agak kaku menyebut paman kepada pendekar itu, akan tetapi karena memang pendekar itu adalah suami dari Puteri Milana, bibi dari isterinya, maka dia pun menyebut paman. “Di sana terdapat Im-kan Ngo-ok, Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi, dan banyak lagi tokoh tokoh kaum sesat. Karena putera kami juga tertawan di sana, maka kami terpaksa menahan diri dan mencari kesempatan untuk dapat menyelundup masuk dan menolong semua keluarga ayah.” Lalu Si Naga Sakti ini bercerita tentang puteranya yang juga terculik dan tahu-tahu sudah dibawa oleh penculik itu ke dalam benteng dan menjadi tawanan bersama keluarga ayahnya pula.

Mendengar ini, Gak Bun Beng menggelengkan kepalanya dengan kagum dan juga penasaran sekali. “Ahhh, agaknya Pangeran Liong Bian Cu putera Pangeran Liong Khi Ong yang ternyata juga menjadi Pangeran Nepal ini ternyata lebih cerdik dan berbahaya dari pada ayahnya dahulu. Untuk mencapai cita- citanya, dia tidak segan-segan menggunakan segala macam kecurangan untuk memaksa Jenderal Kao membantunya dan membuatmu tidak berdaya pula dengan menguasai puteramu.”

“Kalau hanya seorang anggota keluarga saja yang ditawan, kami berdua tentu sanggup untuk menyelamatkannya, akan tetapi anggota keluarga sedemikian banyaknya, tidak mungkin menggunakan kekerasan menolong mereka semua,” kata Kok Cu dengan penasaran.

“Paman Gak, kalau Paman sudah berhasil memasuki benteng, harap Paman sudi mengamat-amati keadaan putera kami, Kao Cin Liong.”

Gak Bun Beng mengangguk. Dia maklum bahwa bagi Kok Cu tak mungkin mengajukan permintaan seperti itu karena selain puteranya, juga ayah bundanya, dan keluarga ayahnya semua tertawan di sana, akan tetapi bagi Ceng Ceng sebagai seorang ibu, tentu saja yang diingat hanyalah keselamatan puteranya.

“Jangan khawatir, tentu saja aku akan berusaha sedapat mungkin agar mereka itu tidak sampai terancam.” Bun Beng lalu bangkit berdiri. “Nah, sebaiknya memang kalau kalian menanti sampai pasukan kerajaan menyerbu sehingga dalam kekacauan itu mereka tidak begitu memperhatikan kalian. Sebelum itu, kehadiran kalian di sana hanya membahayakan keselamatan keluarga kalian yang ditawan. Sampai jumpa,” Setelah berkata demikian, Gak Bun Beng lalu meloncat pergi. Diam-diam Ceng Ceng merasa berbesar hati setelah bertemu dengan pendekar itu karena dengan adanya bantuan pendekar sakti itu, keselamatan puteranya lebih terjamin.

Ke manakah perginya Kian Bu dan Hwee Li? Mereka itu beberapa hari lebih dulu dari Gak Bun Beng meninggalkan kota raja menuju ke benteng di lembah Huang-ho, kenapa setelah Bun Beng sudah tiba di situ, dua orang muda ini belum kelihatan bayangannya? Ternyata mereka berdua itu mengambil jalan memutar. Mereka berdua sudah mengerti benar akan kekuatan di dalam benteng, dan sedikit banyak Hwee Li sudah mengenal keadaan di sekeliling benteng itu.

Maka mereka lalu mencari akal, yaitu hendak menyelidiki benteng itu dari samping, melalui jurang yang amat curam dan sukar, oleh karena itu mereka menggunakan waktu berhari-hari untuk mencari jalan melalui tempat yang amat sukar dan tak mungkin dilalui oleh pasukan atau manusia biasa itu. Sampai beberapa hari lamanya Kian Bu dan Hwee Li mencari-cari jalan rahasia yang menurut Hwee Li terdapat di sekitar jurang itu, namun tanpa hasil. Kian Bu mencela Hwee Li, mengatakan bahwa mungkin tidak ada jalan rahasia itu dan Hwee Li menjadi uring-uringan.

“Aku belum gila,” jawabnya marah. “Kalau tidak ada, perlu apa aku bersusah payah mengambil jalan ini? Memang pintu rahasia itu belum kulihat di sebelah sini, akan tetapi aku sudah tahu di sebelah dalamnya menembus di taman, di belakang rumpun bambu kuning.”

Mereka duduk di atas batu, menyeka peluh karena hari amat panas dan mereka sudah lelah sekali.

Mendadak Kian Bu meloncat berdiri. “Aku pergi dulu sebentar…,“ bisiknya, matanya terus mengincar ke kiri, di mana terdapat semak-semak belukar.

“Mau apa? Ada apa?” Hwee Li bertanya.

“Sssttt, kulihat berkelebatnya bayangan kelinci gemuk di sana tadi. Perutku lapar, aku akan menangkapnya untuk makan.” Kian Bu lalu berjingkat-jingkatan bergerak cepat tanpa suara mencari kelinci yang baru saja dilihatnya. Sebentar saja bayangan pemuda itu sudah lenyap di balik semak-semak.

Hwee Li merasa panas hatinya karena agaknya keterangannya tentang jalan atau pintu rahasia itu tak dipercaya oleh Kian Bu. Dia bangkit berdiri, membanting-banting kakinya dan mulailah dia mencari lagi, mencari sendiri karena hatinya merasa penasaran sekali. Ditelitinya setiap batu, setiap rumpun alang-alang atau semak-semak. Sampailah dia di tepi jurang dan tiba-tiba dia tertegun memandang ke kanan, kemudian cepat tubuhnya bergerak memutar, matanya terbelalak dan mukanya perlahan-lahan berubah merah, tanda bahwa dia mulai marah sekali melihat apa yang sedang terjadi di seberang jurang itu!

Apakah yang sedang dilihatnya? Yang menimbulkan kemarahan hati Hwee Li ternyata adalah Suma Kian Lee dan Teng Siang In! Seperti telah kita ketahui, dua orang muda ini pun setelah lolos dari tangan Im-kan Ngo-ok lalu pergi menyelidiki benteng. Akan tetapi karena mereka maklum bahwa menyelidiki dari depan amatlah berbahaya, mereka lalu mengambil jalan memutar dan menyelidiki dari samping, melalui jurang jurang seperti yang dilakukan oleh Kian Bu dan Hwee Li.

Ketika mereka harus menyeberangi sebuah jurang yang amat berbahaya, keduanya menggunakan akal. Untuk meloncati jurang itu tidaklah mungkin karena di seberang sana terdapat semak-semak berduri sehingga tidak diketahui bagaimana keadaan tanah di tepi jurang di seberang. Oleh karena itu, Kian Lee lalu mengumpulkan akar-akar yang panjang dan kuat, disambung-sambungnya, kemudian dia mengikatkan ujungnya pada sebuah batu sebesar kepala orang dan melontarkan batu itu ke seberang sampai akar yang merupakan tambang itu melibat pada sebatang pohon dan ditariknya sehingga menegang dan cukup kuat untuk dipakai sebagai jembatan menyeberang.

Dan keduanya sedang menyeberangi tali dari akar yang kuat itu ketika Hwee Li melihat mereka. Biar pun Siang In memiliki ginkang yang amat tinggi dan baginya merupakan pekerjaan amat mudah untuk menyeberang dan berjalan di atas tali itu, jangankan hanya sepanjang itu, meski lima kali lebih panjang pun sanggup dilakukannya, akan tetapi dara ini ternyata merupakan seorang yang mudah merasa ngeri kalau berada di tempat yang curam, maka begitu dia mulai melangkah dan melihat ke bawah, dia menjerit tertahan, “Aihhh… aku… aku ngeri…!” Dan dia lalu menggerakkan payungnya, dibukanya payung itu dan dipergunakannya untuk membantu keseimbangan tubuhnya! Padahal kalau dia tidak merasa ngeri, sambil berlari biasa pun dia sanggup melintasi jurang itu melalui tambang.

Melihat wajah dara itu mendadak menjadi pucat, Kian Lee menjadi tidak tega dan juga khawatir kalau-kalau saking ngerinya dara itu menjadi pingsan dan hal itu tentu saja amat berbahaya. Karena itulah, dia pun kemudian berjalan di belakang dara itu dan memegang tangan kiri Siang In sehingga Siang In menyeberangi tali akar itu dengan tangan kanan memegang payung dan tangan kiri digandeng oleh Kian Lee. Dan pemandangan inilah yang membuat wajah Hwee Li menjadi merah saking marahnya. Cemburu menyesakkan dadanya. Dia melihat Kian Lee bergandeng tangan demikian mesranya dengan seorang dara cantik yang memegang payung, seorang dara yang genit! Tanpa disadarinya, tangan kanannya sudah menyambar sebuah batu sebesar kepala orang!

Menurut hatinya yang panas karena cemburu, ingin dia melontarkan batu itu untuk menyambit tali itu agar putus, akan tetapi dia teringat bahwa kalau tali itu putus, bukan hanya dara itu yang akan terjatuh ke dalam jurang, akan tetapi juga Kian Lee! Maka ketika dia melihat betapa di ujung jurang itu terdapat tempat dangkal penuh lumpur, yaitu setelah hampir tiba di tepi jurang, dia menanti sampai dua orang itu berada di atas genangan lumpur itu, lalu dia menyambitkan batu di tangannya.

“Crottttt…!”

Batu itu menimpa air lumpur dan tentu saja air lumpur itu muncrat ke atas dan Siang In yang berada di depan itu paling banyak terkena lumpur pakaiannya. Tentu saja kedua orang itu terkejut bukan main. Ketika Siang In menoleh dan melihat bahwa yang menyambitkan batu sehingga air lumpur memercik ke pakaiannya itu adalah seorang gadis pakaian hitam yang cantik manis dan yang berdiri sambil bertolak pinggang dan sengaja mentertawakannya dengan mengejek, menjadi panas perutnya. Dia lupa akan kengeriannya, melepaskan tangan Kian Lee dan dengan sekali lompat dia telah tiba di tepi jurang melampaui semak-semak berduri, lalu langsung dia berlari menghampiri Hwee Li!

“Bocah setan, engkaukah yang melempari lumpur itu tadi?” bentak Siang In marah sekali. Payungnya masih terbuka dan kini ujungnya yang runcing itu ditodongkan ke depan. “Kalau kutusukkan payungku ini, mampus kau karena kelancanganmu itu!”

“Ehh, ehh, engkau mau membunuh aku? Bocah iblis, mudah saja kau bicara! Sebelum payung bututmu itu bergerak, lehermu sudah putus oleh pedangku ini!” Setelah berkata demikian, sekali tangan kanannya bergerak Hwee Li telah mencabut pedangnya!

“Bocah siluman gunung! Kau sudah berbuat kurang ajar, melempar lumpur sampai pakaianku kotor semua, masih berani membuka mulut lancang dan kotor? Sungguh selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan anak kurang ajar macam engkau!” Siang In menjadi makin marah.

“Engkau siluman jurang! Memang pantas berlepotan lumpur! Memang aku melempar batu ke lumpur, habis kau mau apa? Apakah tempat ini milikmu? Aku mau melempar ke mana pun aku suka, kau peduli apa?” Hwee Li menantang.

“Bocah ingusan kau harus dihajar!”

Siang In marah sekali, tangan kirinya sudah bergerak menampar ke arah pipi Hwee Li. Tamparannya itu cepat bukan main, seperti kilat menyambar, tetapi Hwee Li adalah seorang ahli silat tinggi, maka dengan miringkan tubuh saja dia dapat menghindarkan diri dan kontan keras tangan kirinya juga bergerak menampar ke arah pipi Siang In.

“Syuuuuuttt…!” Siang In cepat melangkah mundur untuk mengelak.

“Ehh, tahan dulu…! Jangan berkelahi, tahan dulu…!” Kian Lee datang dan pemuda ini tentu saja segera mengenal Hwee Li dan dia berteriak melerai ketika melihat betapa dua orang dara itu sudah saling tampar dan kini bahkan menggerakkan senjata mereka!

Melihat munculnya Kian Lee yang melerai, hati Hwee Li menjadi makin panas dan dalam nada suara Kian Lee itu dia menangkap sikap Kian Lee yang membela dan berpihak pada wanita yang cantik itu. Cemburunya naik ke kepala. Dia membelalakkan matanya, memandang kepada dara itu. Benar cantik sekali, dan pakaiannya juga indah. Seorang gadis pesolek yang sinar matanya genit! Melototlah dia kepada Kian Lee, seperti hendak ditelannya bulat-bulat pemuda itu.

“Kau…! Kau boleh sekalian maju membelanya, boleh dikeroyok dua aku tidak akan surut selangkah pun!” bentaknya dan pedangnya sudah digerakkan menyerang Siang In.

“Bocah bermulut lancang dan kurang ajar!” Siang In juga sudah marah sekali dan dia menganggap dara berpakaian hitam itu benar-benar tidak tahu sopan santun serta sombong sekali, maka dia cepat menggerakkan payungnya dan menangkis.

“Cringgg… Tranggg…!”

Bunga api berpijar ketika ujung payung bertemu dengan ujung pedang dan berkali-kali mereka sudah mengadu senjata dan saling serang dengan hebatnya!

“Eh-eh, apa yang terjadi ini…?” Tiba-tiba Kian Bu telah datang dengan loncatan kilat, di tangan kirinya dia memegang seekor kelinci gemuk.

“Bu-te…!”

“Ohhh, Lee-ko…!” Kian Bu girang bukan main melihat kakaknya, akan tetapi matanya terbelalak memandang kepada dua orang dara yang sedang bertanding hebat itu.

Dia kagum juga melihat Siang In yang dapat mengimbangi gerakan pedang Hwee Li yang ganas, dan melihat gadis itu memainkan payungnya dengan gaya yang demikian indah seperti orang menari, teringatlah dia. Gadis berpayung! Tentu saja! Mana mungkin dia dapat melupakan seorang gadis seperti Siang In? Apa lagi seorang gadis yang pernah diciumnya? Gadis itu kini makin dewasa dan makin cantik jelita!

Karena bingung dan khawatir melihat pertandingan dengan senjata itu, Kian Bu tanpa disadarinya sendiri melepaskan kelinci yang tadi dengan susah payah ditangkapnya dan dia mendekati tempat pertempuran itu sambil berseru, “Nanti dulu! Tahan senjata! Aihhh, berbahaya sekali…!”

Siang In meloncat ke belakang dan tentu saja dia segera mengenal Siluman Kecil! Dan setelah kini dia melihat wajah Siluman Kecil, hampir dia menjerit! Itulah dia orang yang dicarinya selama ini! Suma Kian Bu! Tapi dia itu Siluman Kecil. Lihat rambutnya yang putih semua!

“Kau… Siluman Kecil ataukah Suma Kian Bu…?” tanyanya dengan suara tertahan-tahan dan mukanya berubah agak pucat.

Kian Bu tersenyum dan menjura. “Kedua-duanya, boleh pilih yang mana pun…“

Kini tahulah Siang In bahwa orang yang selama ini dicari-carinya bukan lain adalah Siluman Kecil! Dan Siluman Kecil kini agaknya bersama dara cantik berpakaian hitam ini, buktinya kini Siluman Kecil berdiri di dekat dara berpakaian hitam itu, kelihatan memihaknya. Sungguh aneh sekali, dia merasa betapa hatinya panas bukan main, panas dan marah.

“Bagus! Kau boleh maju sekalian mengeroyokku!” katanya dan dengan hebat dia sudah menerjang maju dengan payungnya, menyerang Hwee Li.

“Siluman jahat!” Hwee Li juga memaki dan pedangnya bergerak menangkis, lalu dia balas menyerang yang juga dapat ditangkis oleh Siang In.

Terjadilah pertandingan yang amat seru, sengit, namun sedemikian indah gerakan kedua orang dara yang sama cantiknya ini sehingga dua orang kakak beradik dari Pulau Es itu sampai melongo dan amat tertarik. Terdapat persamaan gerakan dari kedua orang dara itu, keduanya seperti sedang menari-nari, bukan sedang berkelahi, apa lagi karena senjata Siang In adalah sebatang payung yang dapat terbuka dan tertutup. Dan gerakan Hwee Li juga indah sekali. Hal ini tidaklah aneh karena selama dia tinggal bersama Puteri Syanti Dewi, Hwee Li diajari menari oleh Puteri Bhutan itu dan memang Hwee Li suka sekali menari sehingga gerakan silatnya tanpa disadarinya sendiri telah kemasukan gerak tari yang indah, namun tidak kehilangan keganasannya!

Kakak beradik itu saling pandang dari jauh dan keduanya mengangguk, seolah-olah dengan pandang mata mereka itu keduanya sudah sepakat untuk membiarkan dua orang dara yang sama cantik jelita dan sama pandainya menari dan bersilat itu melanjutkan pertandingan mereka dan mereka berdua diam-diam menjaga untuk melindungi dan mencegah kalau sampai ada bahaya mengancam keduanya dari perkelahian itu!

Siang In yang sudah menjadi marah dan kini juga penuh dengan hati panas melihat betapa Kian Bu yang dicari-carinya selama ini ternyata berduaan dengan dara cantik ini, membuat kemarahannya bertumpuk- tumpuk, kini mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa, permainan payungnya yang didapatnya dari gurunya, yaitu See-thian Hoat-su kakek yang bertapa di Goa Tengkorak. Memang senjata payung adalah senjata yang istimewa dan karena keanehannya ini maka membingungkan lawan. Apa lagi ketika payung itu terbuka tertutup seperti permainan pedang yang dilindungi tameng, bahkan batangnya yang bengkok itu dipergunakan oleh Siang In untuk mengait leher lawan, sejenak Hwee Li menjadi terdesak dan dibikin kacau permainan pedangnya. Akan tetapi tentu saja Siang In tidak dapat merobohkannya, apa lagi menerobos lingkaran sinar pedang yang hebat itu, hanya mampu mendesak dara pakaian hitam itu.

“Serang gagang payungnya, serang bagian tengah tubuhnya!” Tiba-tiba Kian Bu berkata lirih namun terdengar jelas oleh Hwee Li dan juga tentu saja oleh Siang In.

Mendengar ini, Hwee Li melihat lowongan itu dan begitu gagang pedang menyambar ke arah gagang payung, Siang In menjadi sibuk dan cepat dia menarik payungnya ke belakang. Kesempatan itu dipergunakan oleh Hwee Li dengan baik.

“Haiiittttt…!” bentaknya dan dia menekuk lengan kirinya, menyikut perut Siang In! “Ihhhhh…!” Siang In terkejut dan mengangkat kakinya mengelak.
Nyaris perutnya kena disikut! Hwee Li menang angin dan terus mendesak dengan pedangnya sehingga Siang In terpaksa mundur-mundur sambil memutar payungnya yang terbuka seperti perisai. Kini berbalik terdesaklah Siang In dan hatinya makin panas, makin sakit melihat kenyataan betapa Kian Bu, pemuda yang selama ini dicari carinya sampai dia jauh-jauh pergi ke Bhutan, pemuda yang seringkali membuatnya bangun dari tidur karena mimpi, pemuda yang pernah menciumnya, selain gulang gulung dengan dara pakaian hitam yang cantik jelita ini, juga membantu dara ini dan memberi petunjuk sehingga hampir saja dia mati! Betapa kejam hati pemuda itu! Siang In merasa kedua matanya panas dan dia menahan air matanya ketika dia terus memutar payungnya melindungi tubuhnya dari serangan pedang yang amat ganas dari lawannya.

Mendadak terdengar Kian Lee berkata, “Pertahanan bawahnya lemah, pergunakan tendangan untuk menghalau desakan!”

Juga suara Kian Lee ini jelas terdengar oleh kedua orang dara itu. Siang In menjadi girang dan cepat dia menggunakan kedua kakinya menendang secara bertubi-tubi dengan Ilmu Tendangan Soan-hong-twi. Kedua kakinya bergerak dengan cepat sekali dan payungnya tetap menahan pedang Hwee Li di bagian atas. Terkejutlah Hwee Li. Terkejut dan juga marah bukan main. Kian Lee telah membantu perempuan ini! Hampir dia menjerit dan menangis! Jelas bahwa Kian Lee mencinta perempuan cantik ini, tentu Kian Lee telah terpikat oleh kegenitan wanita ini! Dia terpaksa mundur lagi agar jangan sampai terkena tendangan.

Pertandingan itu menjadi makin seru dan makin indah, juga lucu. Kadang-kadang Kian Bu memberi petunjuk kepada Hwee Li, dan sebaliknya Kian Lee memberi petunjuk kepada Siang In. Sebetulnya, kedua orang kakak beradik ini memberi petunjuk tanpa maksud untuk mencelakakan seorang di antara kedua dara itu, melainkan merasa sudah sepatutnya memberi petunjuk teman seperjalanan yang terdesak.

Biar pun mereka memberi petunjuk, namun di dalam hati mereka tidak berpihak, bahkan selalu menjaga untuk segera turun tangan mencegah kalau sampai ada yang terancam bahaya terluka. Tetapi, tanpa mereka sadari, sikap mereka ini makin menghancurkan hati dua orang dara itu yang terus bertanding mati- matian dengan hati dibakar cemburu dan kebencian!

Kalau dibuat perbandingan tingkat kepandaian silat antara dua orang dara itu, harus diakui bahwa tingkat kepandaian Hwee Li sedikit lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Siang In. Hwee Li semenjak kecil sudah digembleng oleh seorang yang amat tinggi kepandaiannya seperti Hek-tiauw Lo-mo. Sebagai anak angkat yang dicintanya, tentu saja kakek iblis itu menurunkan semua ilmunya kepada Hwee Li.

Kemudian, Hwee Li menjadi murid dari Ceng Ceng, isteri dari Si Naga Sakti Gurun Pasir. Sungguh pun menurut janjinya dahulu Hwee Li hanya akan berguru tentang racun dan pukulan beracun, akan tetapi karena Ceng Ceng kini tidak lagi menyukai ilmu itu, guru ini telah menurunkan ilmu-ilmu silat, bahkan telah ‘membersihkan’ ilmu silat dari kaum hitam yang dipelajari oleh dara itu dari ayah angkatnya.

Maka tidaklah mengherankan apa bila dalam pertempuran ini, akhirnya Hwee Li yang dapat mendesak Siang In dengan sinar pedangnya yang memang hebat sekali itu. Sifat dari ilmu pedang yang dimainkan oleh Hwee Li masih amat ganas dan dahsyat, sungguh pun Ceng Ceng sudah banyak menyuruhnya membuang bagian-bagian yang terlalu ganas dan keji. (baca Kisah Sepasang Rajawali)

Karena memang kalah dalam hal mainkan senjata, akhirnya Siang In yang sudah marah dan tak mau kalah itu kemudian menggunakan kekuatan sihirnya. Dia berkemak-kemik, mengerahkan kekuatan batinnya dan memandang dengan sepasang matanya yang bersinar-sinar, lalu terdengar dia bersuara seperti orang bersenandung, “Nona pakaian hitam yang galak, engkau sudah lelah dan menyerahlah kepada nonamu, berlututlah…“

Aneh sekali, mendengar senandung ini, tiba-tiba saja Hwee Li merasa tubuhnya lemas dan kehilangan tenaga. Pada saat itu, hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut kalau saja tidak terdengar suara Kian Bu yang mengeluarkan bunyi melengking panjang. Suara lengking yang aneh dan perlahan, akan tetapi penuh getaran dan seketika Hwe Li merasa biasa kembali dan pedangnya kembali menjadi ganas. Kembali Siang In merasa hatinya tertusuk, karena untuk ke sekian kalinya Kian Bu membantu Hwee Li.

Tadinya, kedua kakak beradik ini hanya ingin menonton permainan silat yang indah itu dan saling membantu supaya tidak sampai ada yang celaka, akan tetapi lambat-laun mereka berdua terseret pula dan masing-masing merasa heran.

Kian Lee mulai memandang dengan terheran-heran dan dengan hati penuh pertanyaan. Adiknya itu membela Hwee Li mati-matian, dan mereka berdua juga sudah melakukan perjalanan bersama, kelihatan begitu mesra! Dan memang adiknya itu mempunyai watak yang cocok sekali dengan Hwee Li. Ah, mengapa dia begitu bodoh? Tidak salah lagi, adiknya itu, Kian Bu, tentu jatuh cinta kepada puteri Hek- tiauw Lo-mo ini!

Dia tidak tahu bahwa diam-diam Kian Bu juga menduga demikian. Kakaknya melakukan perjalanan bersama dengan Siang In dan kakaknya membantu Siang In mati-matian. Siang In memang cantik jelita dan demikian menarik, maka sudah sepatutnyalah kalau kakaknya itu jatuh cinta kepada dara itu. Diam- diam dia merasa bersyukur sungguh pun ada perasaan aneh menyelinap di dalam hatinya.

Mengapa tidak kepada Hwee Li kakaknya mencinta? Dia tahu benar bahwa Hwee Li cinta kepada kakaknya! Hwee Li telah begitu berterus terang kepadanya bahwa dara ini amat mencinta Kian Lee, kakaknya. Dan kini melihat gejala-gejalanya, agaknya Kian Lee jatuh hati kepada dara berpayung yang memang sejak dulu pandai bergaya itu, cantik jelita, manis dan memikat sehingga sukar mencari keduanya dara seperti Siang In!

“Cukuplah, In-moi, cukuplah… kita adalah orang-orang sendiri, tidak perlu berkelahi…!” Akhirnya Kian Lee meloncat di antara kedua orang dara itu dan melerai. Juga Kian Bu meloncat di depan Hwee Li.

Melihat betapa Kian Lee menyebut ‘ln-moi’ demikian mesranya kepada dara itu, Hwee Li tak dapat menahan lagi kemarahannya dan dia lalu membalikkan diri dan lari dari situ sambil terisak menangis! Melihat ini, Kian Bu menjadi khawatir sekali dan juga mengejar dengan cepat. Akan tetapi Hwee Li tidak mau berhenti dan terus berlari, biar pun dihibur dan dibujuk oleh Kian Bu untuk berhenti.

“In-moi, mereka itu bukanlah orang lain…“

Akan tetapi baru berkata sampai di sini, Siang In yang hatinya makin panas melihat Kian Bu mengejar Hwee Li, juga membalikkan tubuhnya dan lari sambil menangis pula. Kian Lee terkejut dan cepat mengejar. Demikianlah, dua orang gadls itu melarikan diri ke jurusan yang berlawanan, dikejar oleh kedua orang pemuda itu yang tidak sempat untuk bicara lagi. Dua orang pemuda yang menjadi bingung sekali.

Setelah napasnya hampir putus karena berlari terus sambil menangis, akhirnya Siang In berhenti dan menjatuhkan dirinya di atas rumput. Muka dan lehernya penuh peluh dan mukanya agak pucat. Kian Lee juga duduk di atas rumput, hatinya menyesal sekali mengapa pertandingan itu berakibat sedemikian berlarut-larut.

“Jadi… jadi Siluman Kecil itu adalah adikmu, Suma Kian Bu itu?” Akhirnya Siang In berkata dengan terengah-engah.

“Benar, sudahkah engkau mengenalnya?” Kian Lee balas bertanya. “Dan dara itu…, siapakah dia?”

“Ahh, dia itu bernama Kim Hwee Li, dia… puteri dari Hek-tiauw Lo-mo.”

“Hemmm, pantas! Dan adikmu itu… Siluman Kecil itu agaknya jatuh cinta kepadanya, ya?”

Kian Lee merasa sukar untuk menjawab. Dia tidak tahu dengan pasti, tetapi melihat betapa tadi Kian Bu membantu dara pakaian hitam itu…! “Yah, agaknya begitulah,” jawabnya tanpa dipikir panjang karena apa salahnya menjawab demikian, pikirnya. “Mari kita jumpai mereka.”

“Tidak sudi! Kalau aku bertemu dengan perempuan itu, akan kubunuh dia!” tiba-tiba Siang In berkata, suaranya penuh kebencian.

Kian Lee terkejut bukan main dan mengangkat muka memandang wajah yang cantik itu dengan penuh selidik. Tidak biasa Siang In marah-marah seperti ini! Maka dia pun mengambil keputusan untuk tidak mempertemukan kedua orang dara yang sedang diamuk kemarahan itu.

Memang Hwee Li telah berlaku keterlaluan, pikirnya, melemparkan batu itu sehingga pakaian Siang In menjadi kotor. Dia tidak mengerti mengapa dara itu berbuat seperti itu. Dia menarik napas panjang karena menduga bahwa Hwee Li masih berwatak kekanak kanakan dan mungkin ketularan watak Hek-tiauw Lo- mo! Sayang, pikirnya. Dara itu tidak jahat seperti ayahnya, mudah-mudahan saja Kian Bu akan dapat mendidik dan menuntunnya ke jalan benar.

Sementara itu, Hwee Li akhirnya juga berhenti karena kehabisan napas. Dia duduk menangis. Kian Bu duduk di depannya, tidak dapat membuka mulut karena dia tahu bahwa Hwee Li marah bukan main. “Dia… dia telah jatuh cinta kepada gadis siluman itu!” teriaknya dan kembali dia menangis.

Kian Bu menarik napas panjang. Dia sendiri juga meragukan kakaknya, mungkin saja kakaknya jatuh cinta kepada Siang In. Memang dara itu amat cantik jelita! “Belum tentu, hanya dugaan saja…,“ katanya menghibur Hwee Li.

Dia tahu kini bahwa Hwee Li marah-marah karena cemburu, “Lebih baik kita jumpai mereka dan kita bicara dengan baik-baik. Gadis itu bukan musuh…“

“Hemmm, agaknya engkau sudah kenal dia. Siapakah dia?” “Namanya Teng Siang In, dia murid dari See-thian Hoat-su…“

“Hemmm, kakek tukang sihir itu? Pantas saja dia menjadi siluman! Kalau aku bertemu dengan dia, harus kubunuh siluman itu!”

Melihat kemarahan dan kebencian Hwee Li, Kian Bu beranggapan bahwa memang belum waktunya menemui kakaknya dan Siang In, karena kalau hal itu terjadi, sukarlah untuk menahan gadis ini mengamuk! “Kalau begitu, mari kita melanjutkan perjalanan. Kalau engkau tidak dapat menemukan jalan rahasia itu, sebaiknya kita langsung saja naik ke atas tembok benteng.”

Pada saat Kian Bu bicara dengan Hwee Li dan Kian Lee bicara dengan Siang In itulah tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk dari jauh. Itulah suara pasukan-pasukan dari kerajaan yang mulai menyerbu benteng dan seperti kita ketahui, penyerbuan dua kali dalam sehari yang diatur oleh Puteri Milana itu mengalami kegagalan…..

********************

Kali ini Puteri Milana merasa pusing bukan main. Benar-benar dia dibuat tidak berdaya oleh Jenderal Kao karena segala usahanya untuk menggempur benteng itu selalu gagal dan anak buahnya selalu dipukul mundur. Agaknya siasat apa pun yang digunakannya, telah diketahui belaka oleh Jenderal Kao sehingga tidak ada hasilnya sama sekali.

Ketika beberapa hari kemudian kembali dia mengusahakan penyerbuan besar-besaran. Di antara hujan anah panah, terlihat sebatang anak panah yang diikat sehelai surat. Seorang prajurit memungut anak panah ini dan cepat menyerahkan surat yang dibawa oleh anak panah itu. Puteri Milana cepat membacanya dan ternyata surat itu adalah tulisan dari Jenderal Kao Liang sendiri!

Panglima Puteri Milana!
Jangan menyerang. Kepung saja rapat-rapat. Kami akan bakar gudang ransum. Tunggu gerbang dan menara meledak, baru serbu. Kalau tidak menurut ini, takkan berhasil.
Jenderal Kao Liang

Puteri Milana merasa girang membaca surat ini, akan tetapi juga meragu. Apa maksud jenderal itu? Bagaimana kalau berita yang dikirim ini palsu? Akan tetapi, Jenderal Kao menyebut ‘kami’, siapa tahu jenderal itu telah berhubungan dengan suaminya yang dia percaya tentu telah berhasil menyelundup ke dalam benteng.

Memang tidak salah dugaan panglima wanita ini. Dengan kepandaiannya yang tinggi, tentu tidak begitu sukar bagi Gak Bun Beng untuk menyelundup masuk dengan cara merayap tembok dan menghindarkan diri dari jebakan-jebakan yang dipasang di atas tembok. Dia tidak begitu sembrono sehingga dia dapat menyelinap masuk ke dalam benteng itu tanpa diketahui oleh seorang pun. Benarkah tidak diketahui oleh seorang pun?

Kiranya tidak demikian, karena betapa pun lihainya Bun Beng, tetap saja dia tidak tahu bahwa tanpa disadarinya sendiri kakinya menginjak alat rahasia yang akibatnya hanya Jenderal Kao seorang yang mengetahui akan kedatangannya! Jenderal ini ketika membangun benteng dan membuat alat-alat jebakan dan alat-alat rahasia, diam-diam memasang semacam alat rahasia yang kalau dilanggar oleh penyelundup, hanya dia seorang yang mengetahuinya. Dan begitu mengetahui, dia sudah cepat berhubungan dengan Hek-sin Touw-ong dan Ang-siocia secara rahasia pula!

Bagaimana pula ini? Ternyata Ang-siocia dan suhu-nya yang amat cerdik itu, dengan kepandaian mereka menyamar dan mendandani orang, telah dapat menarik hati koksu dan mereka berdua selamat dan diampuni dari dosa-dosa mereka ketika mereka menyamar sebagai Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi dahulu itu, bahkan mereka lalu diangkat sebagai pambantu-pambantu yang selalu diawasi gerak-geriknya. Mereka, seperti juga Jenderal Kao, tidak boleh keluar, akan tetapi kecerdikan Ang-siocia tidak memungkinkan koksu dan kaki tangannya mengetahui betapa guru dan murid ini secara diam-diam mengadakan hubungan rahasia dengan Jenderal Kao Liang!

Touw-ong dan Ang-siocia segera tahu akan duduknya semua perkara, dan tahu pula bahwa jenderal itu membantu pihak pemberontak hanya karena terpaksa oleh keadaan, yaitu karena semua keluarganya tertawan. Maka, dengan cerdik Ang-siocia kemudian menghubungi jenderal ini yang segera menaruh kepercayaan besar kepada mereka dan diam-diam dua orang ini menjadi pembantu-pembantu Jenderal Kao Liang yang seperti telah diduga oleh puteranya sendiri dan oleh Gak Bun Beng dan para orang gagah lainnya, diam-diam mempunyai rencana yang hebat terhadap para pemberontak yang telah memaksanya berkhianat itu!

Maka, ketika Jenderal Kao tahu akan kedatangan orang pandai, karena hanya orang pandai sekali sajalah yang tidak sampai melanggar jebakan-jebakan, hanya tanda rahasia untuk dirinya sendiri, cepat dia memberi tanda rahasia kepada Ang-siocia dan gurunya untuk ‘menyambut’ kedatangan orang pandai itu dan dia menunjukkan di mana tempat orang pandai itu datang yang diketahuinya dari alat rahasia yang oleh Bun Beng telah dilanggar itu.

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa kagetnya Bun Beng ketika baru saja dia melayang turun di tempat yang amat sunyi, di taman yang indah dalam benteng itu, suara wanita yang halus menegurnya, “Selamat datang, sahabat!”

Baru saja berhenti bicara mulut Ang-siocia, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena orang itu dengan kecepatan kilat telah menotoknya tanpa ia mampu bergerak sama sekali. Ang-siocia terkejut bukan main dan dengan tidak berdaya sama sekali dia merasa betapa tubuhnya dipondong dan dibawa ke belakang sebuah gudang, di mana terdapat lampu penerangan. Orang itu memeriksanya di bawah lampu dan ketika melihat bahwa dia benar-benar seorang wanita muda yang cantik, orang itu kembali membawanya menyelinap ke dalam gelap lalu membuka totokannya, akan tetapi jari-jari tangan yang kuat menempel di tengkuknya dan orang itu berkata, “Jawablah baik-baik. Kalau berteriak, sekali tekan kau akan mati!”

“Sialan dangkalan…!” Ang-siocia atau Kang Swi Hwa itu mengomel dan merengut, mengerling kepada laki- laki setengah tua yang lihainya bukan alang kepalang itu.

Laki-laki itu adalah Bun Beng dan dia merasa sungkan juga harus menggunakan kekerasan terhadap seorang wanita yang ternyata adalah seorang gadis muda yang cantik. Akan tetapi dia berada di sarang musuh, di dalam benteng yang berbahaya dan kedatangannya yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati itu ternyata telah ketahuan oleh gadis ini! “Hayo kau cepat bawa aku kepada Jenderal Kao, dan jangan sampai ketahuan oleh penghuni lain dari benteng ini. Awas, nyawamu berada di tanganku!”

Akan tetapi jawaban gadis itu benar-benar mencengangkan Bun Beng. “Justeru aku menyambutmu adalah atas perintah Jenderal Kao Liang yang sudah mengetahui akan kedatanganmu. Akan tetapi ternyata kau bukan manusia baik-baik, melainkan seorang yang kasar dan kejam. Tidak, aku tidak mau membawamu kepada Jenderal Kao, karena agaknya engkau berniat buruk. Biar pun kau seribu kali membunuh aku, aku Ang-siocia yang sudah berani memasuki sarang naga dan harimau ini tentu tidak takut mampus!” Marah sekali Ang-siocia, bukan hanya karena dia diancam dan diperlakukan dengan kasar, akan tetapi melihat kenyataan betapa dia sama sekali tidak berdaya, tidak berkutik ketika ditangkap dan di bawa ke tempat terang lalu diseret lagi ke tempat gelap, dibebaskan totokannya dan kini tengkuknya diancam. Seperti ayam yang sama sekali tidak berdaya! Padahal biasanya dia amat mengandalkan kepandaiannya!

“Ahhh, maafkan aku… siapakah engkau?” Bun Beng bertanya.

“Hemmm, orang kasar. Engkaulah yang harus lebih dulu memperkenalkan diri, baru aku akan mempertimbangkan apakah engkau pantas untuk kubawa kepada Jenderal Kao ataukah tidak.”

Menghadapi gadis yang ternyata berani mati ini, Bun Beng merasa tidak berdaya. Akan tetapi dia sudah amat tertarik, karena kalau gadis ini adalah pembantu Jenderal Kao, bahkan tadi menyatakan bahwa gadis ini sudah berani memasuki goa harimau dan naga, maka berarti bahwa gadis ini bukanlah kaki tangan dari musuh!

“Namaku adalah Gak Bun Beng, Jenderal Kao tentu mengenalku.”

Sepasang mata yang jeli itu terbelalak. “Gak… Gak-taihiap…?” Ang-siocia berseru dengan kaget sekali. “Ahhh, maafkan aku yang tidak mengenal Taihiap, mari kita cepat pergi dari sini, menemui suhu. Taihiap harus cepat menyamar, sesuai dengan rencana kami atas perintah Jenderal Kao,” bisiknya.

Tanpa ragu-ragu lagi Ang-siocia menggandeng tangan pendekar itu dan dibawanya pergi menyelinap melalui semak-semak dan memasuki pintu belakang sebuah pondok. Mereka tiba di dalam sebuah kamar dan di situ telah menanti seorang kakek yang mukanya hitam. Kakek itu segera menjura dan berkata, “Selamat datang, Gak-taihiap, kami sungguh lega dan girang sekali melihat Taihiap datang.”

Bun Beng memandang penuh perhatian akan tetapi dia tidak mengenal kakek dan gadis ini, walau pun kini dia dapat melihat wajah mereka dengan jelas. Gadis itu benar-benar seorang gadis muda yang cantik dan lincah, nampak gagah dan berani, sedangkan kakek itu biar pun mukanya hitam, namun memiliki sepasang mata yang tajam.

Bun Beng segera menjura kepada mereka. “Agaknya Ji-wi telah mengenalku, akan tetapi maaf kalau aku tidak mengenal siapa Ji-wi dan apa hubungan Ji-wi dengan Jenderal Kao.”

Sebelum guru dan murid itu sempat menjawab, terdengar pintu depan diketuk orang! Guru dan murid itu kelihatan terkejut dan terdengar Touw-ong bertanya, “Siapa di luar?”

“Touw-ong, apakah Ang-siocia di dalam?”

Mendengar suara Ngo-ok, guru dan murid itu makin kaget dan Bun Beng dengan tenang dan waspada mengamati gerak-gerik mereka.

“Aku di sini. Ada apakah, Siansu?” tanya Ang-siocia.

“Aku disuruh oleh koksu untuk memanggilmu, Ang-siocia. Ada urusan penting hendak dibicarakan. Sekarang juga!” terdengar suara dari luar itu.

Ang-siocia memandang gurunya yang mengangguk, dan gadis itu lalu melangkah menuju ke depan untuk membuka pintu depan. “Dia itu Ngo-ok Toat-beng Siansu, saya harus membayangi dan melindungi murid saya, harap Taihiap tunggu di sini!”

Tentu saja Bun Beng belum percaya sepenuhnya kepada guru dan murid yang belum dikenalnya itu, maka dia berkata, “Biar aku yang membayangi.”

Touw-ong terkejut bukan main dan seperti yang dialami oleh muridnya tadi, tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya telah lemas karena tertotok! Sebetulnya, tingkat kepandaian Touw-ong sudah cukup tinggi dan kiranya tidaklah akan demikian mudah bagi Bun Beng untuk menotok kakek itu dengan sekali gerakan saja, akan tetapi gerakan Bun Beng tadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh kakek itu sehingga dia hanya melihat tangan pendekar itu berkelebat dan tahu-tahu dia telah roboh lemas. Akan tetapi Si Raja Maling ini tidak menjadi heran karena dia sudah mendengar nama besar pendekar Gak Bun Beng ini sebagai seorang pendekar yang luar biasa tinggi ilmunya.

Ang-siocia sudah membuka pintu dan mengikuti kakek tinggi seperti pohon bambu itu keluar dari pondok. Nona ini memang sengaja bersicepat agar Ngo-ok tidak melongok ke dalam di mana terdapat seorang asing. Dia tidak tahu betapa Bun Beng malah telah merobohkan gurunya dan kini bagaikan bayangan setan telah mengikutinya dengan diam-diam dari jarak tidak terlalu jauh, akan tetapi dengan amat hati-hati karena Gak Bun Beng sudah terkejut sekali ketika mendengar dari Si Raja Maling tadi bahwa si jangkung itu adalah Ngo-ok Toat-beng Siansu.

Tentu saja dia pernah mendengar nama Im-kan Ngo-ok dan tidak disangkanya sama sekali dia akan melihat seorang di antara mereka berada di tempat ini. Memang dia dan Milana belum mendengar bahwa Im-kan Ngo-ok berada di dalam benteng lembah, bahkan Kian Bu dan Hwee Li sendiri pun belum tahu maka kedua orang muda ini tidak menceritakan tentang adanya Im-kan Ngo-ok itu kepada Milana. Baru dari Ceng Ceng dan suaminya dia mendengar tentang mereka.

Di tempat yang sunyi, tiba-tiba Ang-siocia berhenti dan menegur si jangkung yang berjalan di depannya, “Ehh, kita mau ke mana?”

“Ke sana! Koksu menanti di sana,” jawab si jangkung itu sambil menuding ke arah sebuah pondok.

“Aneh, kenapa koksu tidak menanti di tempat tinggalnya sendiri?” Ang-siocia mengomel akan tetapi dia melangkah terus bersama si jangkung.

Setelah mereka tiba di depan pondok yang sunyi itu, tiba-tiba si jangkung membuka pintu dan berkata, “Mari kita menemui koksu.” Dia lalu memegang lengan gadis itu dan menariknya masuk, menutupkan kembali pintu itu, lalu dia menyeringai.

Ang-siocia terkejut bukan main. Pondok itu kosong dan melihat sikap si jangkung itu, jelaslah apa kehendaknya. “Mau apa kau? Mana koksu? Biarkan aku keluar!” teriaknya, akan tetapi tiba-tiba tangannya sudah disambar oleh tangan Ngo-ok.

“Nona, sudah lama aku tergila-gila kepadamu!”

“Eh, lepaskan aku!” bentak Ang-siocia, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya terangkat ke atas dan dipegang oleh sebelah tangan saja, dia tidak berdaya melepaskan diri sama sekali, sedangkan tangan yang lain dari si jangkung itu bergerak hendak merenggut pakaian Ang-siocia.

Dara itu terkejut setengah mati, kakinya menendang ke depan, ke arah perut si jangkung itu. “Desss…! Hukkk…!”

Ngo-ok melepaskan tubuh Ang-siocia dan tubuhnya terhuyung ke belakang, matanya terbelalak memandang ke arah gadis itu. Tak disangkanya bahwa tendangan nona itu sedemikian kuatnya sehingga perutnya seketika terasa mulas! Dia tidak tahu bahwa sebenarnya yang menghantam perutnya bukanlah kaki atau tendangan Ang-siocia melainkan sambaran angin pukulan yang dilakukan oleh Gak Bun Beng dari luar pondok.

Pendekar ini mengintai dari jendela dan pada saat Ang-siocia menendang, dia telah membantunya dengan pukulan jarak jauh, tepat mengenai perut si jangkung yang amat lihai itu. Orang lain yang disambar angin pukulan jarak jauh dari Gak Bun Beng, tentu akan remuk isi perutnya, akan tetapi Ngo-ok hanya merasa mulas saja sebentar!

Marahlah Ngo-ok dan kini dia memandang kepada Ang-siocia dengan mata disipitkan dan mukanya berubah menyeramkan.

“Tunggu!” Ang-siocia yang cerdik cepat berseru. “Ingat, aku telah menerima janji dari Sam-ok atau koksu bahwa kalau perjuangan ini selesai, aku akan diambil selir olehnya. Kau sama sekali tidak boleh ganggu aku!”

Mendengar ini, Ngo-ok terkejut, akan tetapi dia lalu menyeringai. “Kalau begitu, aku takkan membunuhmu, hanya mendahuluimu apa salahnya? Heh, tendanganmu boleh juga.”

Ang-siocia sudah merasa heran sendiri betapa tendangannya tadi dapat membuat terlepas pegangan kakek jangkung itu, bahkan membuatnya terhuyung. Akan tetapi kini melihat kakek itu melangkah maju, dia menjadi gentar. “Kalau kau memaksaku, aku akan menceritakan kepada koksu, hendak kulihat apakah dia tidak akan marah dan menghukummu!”

Mendengar ini, Ngo-ok menjadi ragu-ragu. Dia kena digertak dan dia mulai melihat bahaya kalau dia memaksa. “Ah, Nona Manis, mari layani aku sebentar… aku tidak akan menyakitimu…“

Akan tetapi Ang-siocia sudah lari ke pintu. “Kalau kau tidak menyentuhku, aku tidak akan bicara apa-apa kepada koksu!” katanya sehingga ketika Ngo-ok hendak mengejar, si jangkung ini kembali tertegun dan meragu.

Ang-siocia terus berlari cepat dan teringat akan ini, Ngo-ok mengejar, akan tetapi begitu keluar dari pintu pondok, dia jatuh menelungkup! Dia cepat bangkit dan mencaci-maki ambang pintu, akan tetapi diam-diam dia merasa heran sekali bagaimana dia, seorang ahli berlari cepat dengan kaki yang panjang dan langkah yang tinggi, dapat tersandung pada ambang pintu sampai jatuh menelungkup?

“Setan…!” dia mengomel lalu pergi dari situ. Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang membuatnya jatuh menelungkup tadi bukanlah ambang pintu melainkan Gak Bun Beng!

Ang-siocia memasuki pondoknya dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat gurunya rebah dalam keadaan tertotok. Selagi dia hendak menolong, tiba-tiba dari belakangnya, Gak Bun Beng sudah memegang lengannya dan pendekar ini lalu bertanya, “Apa artinya janji koksu mengambilmu sebagai selir itu?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo