September 18, 2017

Jodoh Rajawali Part 13

 

Tiba-tiba sinar mata Tek Hoat menjadi keras dan mengancam sehingga Mauw Siauw Mo-li sendiri menjadi terkejut.

“Mauw Siauw Mo-li! Enak saja kau bicara. Kalau kini engkau tidak mau menunjukkan tempat itu, aku akan memaksamu!”

“Ehhh…?” Wanita itu membelalakkan mata. “Aku sudah membantumu dan kau sekarang hendak memaksa? Sungguh tidak tahu aturan engkau ini!”

“Mo-li, ingat. Siapa yang dulu membujuk aku untuk melakukan perjalanan bersamamu? Siapa yang berjanji akan menemukan kembali Syanti Dewi? Engkau sudah membawa aku sampai di sini, dan kalau engkau sekarang meninggalkan aku, berarti engkau telah menipuku! Dan aku bukan orang yang mudah saja ditipu tanpa membalas!”

“Kau kira aku takut?”

Tek Hoat tersenyum mengejek. “Tentu saja tidak. Aku tahu siapa adanya Mauw Siauw Mo-li. Tetapi aku yakin akan dapat menghajarmu, Mo-li. Senjata rahasia peledakmu itu tidak menakutkan Si Jari Maut!”

Sikap yang gagah, pandang mata yang tajam penuh ancaman, ditambah nama julukan Jari Maut itu mengingatkan kepada Mauw Siauw Mo-li bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, dan kalau sudah marah, kekejamannya amat mengerikan sehingga dia mendapat julukan Si Jari Maut. Memang dia tidak takut, tetapi dia melihat bahayanya kalau sampai memusuhi pemuda ini. Dan pula, dia masih belum putus asa. Tadi, bukankah jantung pemuda perkasa ini berdebar dan bukankah ketika mulut mereka bertemu tadi, terasa olehnya betapa bibir pemuda itu membalas kecupannya? Akan tiba saatnya pemuda yang keras hati ini akan bertekuk lutut dan menyerahkan diri dalam pelukannya, dan betapa akan manis dan nikmatnya penyerahan itu setelah berkali-kali ditolaknya. Maka dia pun tersenyum kembali dan sepasang matanya kehilangan sinar kemarahannya.

“Hemmm, kita sudah lama bersahabat, sudah jauh melakukan perjalanan bersama. Akan luculah kalau tiba-tiba kita berhadapan sebagai musuh. Baik, Tek Hoat, aku akan terus membantumu, dan kalau sampai aku membantumu berhasil mendapatkan kembali puteri itu, bagaimana sikapmu kepadamu?”

“Aku akan menganggapmu sebagai seorang sahabat baik dan aku akan berterima kasih kepadamu, Mo-li.” “Hanya itu saja? Apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan terima kasihmu?”

“Heemmm… aku tidak tahu. Mungkin aku akan membalasmu dan menolongmu kalau sewaktu-waktu kau membutuhkan bantuan.”

“Aku hanya membutuhkan bantuanmu agar engkau suka bersikap manis kepadaku, Tek Hoat. Tak tahukah engkau bahwa aku sangat suka kepadamu? Kalau sudah berhasil, kau balas saja dengan sikap manis dan memenuhi hasrat cintaku, ya?”

Tek Hoat tidak sudi menjanjikan itu, akan tetapi dia tidak ingin banyak bicara tentang itu lagi, maka dia menjawab, “Kita lihat saja nanti, Mo-li. Yang penting sekarang, hayo kau tunjukkan tempat tinggal Raja Maling yang menculik Syanti Dewi.”

“Nanti dulu, Tek Hoat. Engkau masih muda dan engkau sembrono. Biar pun engkau memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dalam hal ini engkau sama sekali tidak boleh sembrono. Hek-sin Touw-ong adalah seorang tua yang amat lihai. Aku sendiri sudah pernah menandinginya dan dalam hal kesaktian dia agaknya tidak kalah olehmu. Bahkan dulu suheng-ku, Hek-tiauw Lo-mo, pernah bentrok dengan dia dan suheng selalu memperingatkan kepada anak buahnya agar jangan sampai bentrok dengan Raja Maling itu. Suheng sendiri merasa segan untuk bermusuhan dengan kakek sakti itu, maka dalam hal ini, kita tidak boleh sembrono menyerbu ke sana begitu saja karena hal itu mungkin sekali membuat kita celaka dan puteri itu tidak akan tertolong pula.”

“Hemmm, aku tidak takut. Habis kalau kita tidak menyerbu ke sana, bagaimana kita dapat menolong Syanti Dewi?”

“Tentu kita tidak akan membiarkan saja, kita akan menyerbu ke sana. Akan tetapi tidak sekarang. Aku akan mencari kawan-kawanku di pantai ini. Mereka akan membantu kita dan dengan bantuan mereka, maka aku baru berani mengajakmu menyerbu. Bukankah ketika kau berusaha menolong puteri itu dari benteng Liong-sim-pang, engkau pun membutuhkan bantuan Hek-eng-pang?”

“Ketika itu lain lagi keadaannya, Mo-li. Liong-sim-pang adalah benteng dan selain kuat, juga mempunyai banyak anggota, maka aku membutuhkan bantuan Hek-eng-pang. Akan tetapi sekarang, kita hanya menghadapi seorang kakek…“

“Hemmm, kau tidak tahu kakek macam apa yang kita hadapi. Kita harus menggunakan bantuan kawan- kawanku itu agar mereka memancingnya keluar dari sarangnya hingga engkau akan mudah merampas kembali puteri itu.”

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Sebetulnya dia tidak menyukai cara yang curang ini, akan tetapi yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Syanti Dewi, maka dia tidak mau mengecewakan wanita iblis yang hendak membantunya ini, maka dia tidak ingin membantah lagi.

“Mari kita mencari kawan-kawanku itu!” “Siapakah mereka?”

“Siapakah mereka? Ha-ha-ha, mereka pun amat terkenal di wilayah ini, Tek Hoat, sungguh pun sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan Raja Maling. Mereka adalah raja-raja di perairan Teluk Po-hai! Marilah!”

Ang Tek Hoat pergi mengikuti wanita itu menuju ke utara dan memasuki hutan di pantai Po-hai. Hutan itu sunyi sekali dan tak nampak seorang pun manusia sehingga kelihatan menyeramkan sekali. Belum lama mereka memasuki hutan itu, mendadak terdengar suitan-suitan nyaring di sana-sini. Suara-suara suitan itu susul-menyusul dan agaknya saling menjawab, makin lama makin dekat sehingga akhirnya terdengar di sekeliling mereka, dari depan, belakang, kanan dan kiri. Mereka telah dikepung oleh suara-suara itu. Tek Hoat bersikap waspada, akan tetapi Mauw Siauw Mo-li tertawa-tawa saja.

“Lihat, betapa cepatnya mereka itu tahu akan kedatangan kita dan telah berkumpul mengurung. Bukankah berguna sekali bantuan-bantuan seperti mereka itu?”

Tiba-tiba terdengar seruan nyaring, “Berhenti kalian berdua yang berjalan dalam hutan! Kalian telah memasuki daerah kami tanpa ijin!”

Mauw Siauw Mo-li dan Tek Hoat berhenti, dan wanita itu berseru nyaring, “Lo Kwa, bukankah engkau yang bicara itu? Keluarlah, jangan main kucing-kucingan!”

Ucapan wanita ini diikuti suasana sunyi, agaknya semua orang yang mengurung tempat itu menjadi terkejut dan heran. Lalu terdengar seruan yang mengandung keheranan dan juga kegembiraan, “Lauw- lihiap…!”

Bermunculanlah kini belasan orang laki-laki dari empat penjuru, berloncatan keluar dari balik-balik pohon dan semak-semak. Mereka itu rata-rata adalah laki-laki kasar dan tinggi besar, nampaknya kuat dan keras. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki yang usianya antara tiga puluh lima tahun, bertubuh tegap dan berwajah tampan akan tetapi mukanya tertutup brewok.

“Lihiap…!” Pemimpin gerombolan ini melangkah maju dan menjura kepada Lauw Hang Kui sambil tersenyum lebar.

Diam-diam Ang Tek Hoat terheran-heran melihat mereka itu menyebut lihiap (pendekar wanita) kepada Siluman Kucing ini. Dia tidak tahu bahwa julukan itu hanyalah julukan yang diberikan oleh mereka yang menganggap wanita ini sebagai iblis, akan tetapi gerombolan bajak-bajak laut dari Po-hai yang bersarang di dalam hutan ini merupakan sahabat-sahabatnya yang tentu saja menganggapnya sebagai seorang wanita perkasa yang patut disebut lihiap!

Lauw Hong Kui menghampiri laki-laki tampan itu, kemudian mengangkat tangan kirinya dan mengusap dagu yang penuh jenggot itu. “Aihhh, Lo Kwa, hampir aku tidak dapat mengenalimu lagi. Ihhh, aku baru mau bicara berdua denganmu kalau kau sudah membuang semua brewokmu yang menggelikan itu!” katanya dengan sikap genit dan manja.

Orang she Kwa yang tadi disebut Lo Kwa (Kwa yang Tua) itu tertawa dan menangkap lengan Hong Kui, ditariknya dan hendak dipeluknya wanita itu. Tetapi sambil tersenyum manja Hong Kui melepaskan dirinya dan berkata, “Kau cukur dulu semua brewokmu!”

Orang she Kwa itu tertawa dan semua anak buahnya juga tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, kedatanganmu mendatangkan cahaya kegembiraan di hutan yang gelap ini, Lauw-lihiap!” kata orang she Kwa itu.

“Akan tetapi aku adalah Siluman Kucing, apakah kalian tidak takut?” Lauw Hong Kui berkata sambil bertolak pinggang, senyumnya lebar dan dia kelihatan gembira sekali, merasa berada di antara teman- teman baiknya.

“Hidup Lauw-lihiap!”

“Selamat datang, Mauw Siauw Mo-li!”

“Biar besok pagi aku mampus, aku rela asal semalam suntuk boleh membelai kucing!” “Aku pun bersedia!”

Riuh-rendah suara mereka dan pernyataan kagum mereka dinyatakan secara terang terangan, bahkan ada yang mengeluarkan pernyataan kasar dan tidak sopan, akan tetapi semua itu agaknya sudah biasa di antara mereka dan Lauw Hong Kui juga menyambutnya dengan tersenyum saja.

“Akan kulihat nanti siapa di antara kalian yang patut untuk menghiburku,” katanya.

Tek Hoat merasa muak juga, dan diam-diam dia merasa malu juga, kenapa dia pernah merasa tertarik dan timbul birahinya terhadap wanita ini. Padahal wanita ini benar-benar merupakan siluman yang tak tahu malu, seorang wanita yang biasa mempermainkan pria seperti kucing mempermainkan tikus lebih dulu sebelum diterkam dan dibunuhnya!

“Lo Kwa, di mana para Ong-ya?”

Pertanyaan ini membuat Tek Hoat menjadi maklum bahwa orang she Kwa ini hanya seorang bawahan saja, dan kini iblis betina ini menanyakan para ong-ya, yaitu para raja bajak!

“Semua sedang berada di sarang, Lihiap. Tentu mereka akan menjadi gembira sekali mendengar akan kedatanganmu. Marilah kita ke sana, ataukah kita berdua bersenang senang dulu?” kata orang she Kwa itu sambil memandang dengan mata mengandung penuh gairah.

“Hushhh, brewokmu itu menggelikan. Dan mungkin kelak kalau ada waktu bagiku, boleh kita bersenang- senang. Mari antar aku kepada para Ong-ya.”

“Tapi, dia ini…?” Orang she Kwa itu menuding ke arah Tek Hoat dengan pandang mata tidak senang dan penuh curiga.

Diam-diam Tek Hoat merasa mendongkol juga. Sejak tadi sama sekali tidak diacuhkan dan kini dicurigai. Kalau tidak ingat akan kepentingannya, tentu sekali pukul dia sudah membunuh bajak-bajak ini.

Agaknya Hong Kui dapat mengerti juga akan kegemasan hati Tek Hoat dengan melihat wajah dan sinar matanya, maka dia lalu berkata, “Dia ini adalah sahabatku yang akan menjadi tamu agung kalian. Jangan kau main-main, Lo Kwa, dialah yang berjuluk Si Jari Maut!”

“Ahhhhh…?” Agaknya orang she Kwa ini sudah pernah mendengar julukan ini, maka dia memandang dengan mata terbelalak dan mukanya berubah pucat.

“Maaf, kami tidak tahu…,“ katanya.

“Sudahlah, mari kita jalan,” kata Tek Hoat tidak sabar.

Di sepanjang perjalanan memasuki hutan itu, dengan ramahnya Hong Kui bercakap cakap dengan orang she Kwa dan beberapa orang anak buah bajak yang muda-muda, beramah-tamah dan kadang-kadang mereka berkelakar dengan omongan-omongan yang kotor sehingga Tek Hoat merasa makin muak.

Tibalah mereka kini di tengah hutan yang berada di tepi tebing yang agak tinggi. Dari sini nampak Teluk Po-hai terbuka luas di depan. Memang tempat ini merupakan tempat yang paling indah dan juga paling tepat untuk dijadikan sarang para bajak laut itu karena dari tepi tebing mereka dapat melihat keadaan di seluruh Teluk Po-hai, melihat perahu-perahu yang seperti semut-semut kecil hitam di teluk itu. Dari sini mereka dapat melihat dan mengenal kapal-kapal besar yang patut mereka hadang dan mereka bajak, juga mereka dapat mengadakan pengawasan terhadap anak buah mereka. Tempat yang amat cocok untuk menjadi sarang bajak laut.

Bajak laut itu terdiri dari tiga puluh orang lebih, dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang disebut twa- ong dan ji-ong sebagai ketua atau raja pertama dan kedua. Mereka itu bernama Ma Khong dan Ma Ti Lok, dua orang kakak beradik yang bertubuh tinggi besar, kokoh kuat, dan memiliki ilmu golok yang cukup hebat sehingga mereka sejak belasan tahun telah terkenal sebagai kepala-kepala bajak yang ditakuti dan disegani. Kini mereka hanya mau membajak kapal-kapal asing, tidak mau mengganggu perahu perahu nelayan dan pedagang pedalaman karena mereka tidak berani menghadapi hukuman pemerintah. Akan tetapi hal ini malah menguntungkan mereka karena para pedagang dan nelayan tidak segan-segan untuk ‘membagi hasil keuntungan’ kepada mereka asal para bajak itu tidak mengganggu pekerjaan mereka itu.

Ketika melihat munculnya Hong Kui, Ma Khong dan Ma Ti Lok menjadi gembira bukan main, demikian pula para anak buah mereka. Tek Hoat dapat mudah saja menduga bahwa di antara Hong Kui dan dua orang kakak beradik yang gagah dan cukup tampan itu tentu terdapat hubungan gelap, dan juga dengan banyak anak buah mereka termasuk orang she Kwa tadi.

Dugaan itu memang benar. Lauw Hong Kui adalah seorang wanita yang gila laki-laki, seorang wanita yang diperhamba oleh nafsu birahinya sehingga menjadi tidak normal lagi. Dia merasa tersiksa kalau terlalu lama tidak ditemani pria, maka ketika dia melakukan perjalanan bersama Tek Hoat yang tidak mau melayaninya, dia merasa amat tersiksa.

Dan wanita yang seperti iblis betina ini memiliki kebiasaan yang mengerikan pula, yaitu dia akan membunuh setiap orang pria yang sudah memuaskannya semalam suntuk, yaitu pria yang asing baginya karena dia tidak mau kalau pria itu akan menceritakan semua pengalamannya dan membuat namanya sebagai seorang wanita tercemar. Akan tetapi, tentu saja dia tidak akan membunuh pria-pria yang menjadi sahabatnya, yang akan merahasiakan dan menjaga namanya seperti para bajak yang telah menjadi teman-temannya sejak belasan tahun yang lalu ini.

Ada pula yang dibunuhnya secara tidak disengaja, yaitu kalau dia bertemu dengan seorang pria yang benar-benar memuaskan hatinya dan amat menyenangkannya sehingga dia akan terus merayu pria ini, dan memaksanya bermain cinta sampai pria itu tewas! Dan dengan ilmunya yang luar biasa, Siluman Kucing ini bisa saja memaksa pria melayani dan memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam itu sampai pria itu mati.

Ketika Hong Kui memperkenalkan Ang Tek Hoat sebagai Si Jari Maut, dua orang kepala bajak itu bersikap hormat kepada pemuda ini. Mereka kemudian mengadakan pesta perjamuan untuk menyambut kedatangan Hong Kui dan Tek Hoat. Mereka makan minum dengan gembira dan beberapa kali Tek Hoat memberi isyarat kepada Hong Kui untuk cepat menceritakan maksud kedatangan mereka. Akan tetapi Hong Kui akhirnya berbisik kepadanya, “Tidak perlu tergesa-gesa, nanti setelah makan minum selesai.”

Tek Hoat merasa mendongkol, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat memaksa. Setelah ruangan itu dibersihkan dan mereka duduk mengobrol, barulah Hong Kui berkata kepada dua orang kepala bajak itu, “Twa-ong dan Ji-ong, sebetulnya kedatangan kami ini selain terdorong oleh rasa rindu hatiku terhadap semua teman di sini, juga kami bermaksud minta bantuanmu untuk urusan sahabatku Si Jari Maut ini, urusan yang amat penting.”

Ma Khong dan Ma Ti Lok memandang kepada Tek Hoat penuh perhatian. Pemuda sakti ini pun balas memandang mereka. Ma Khong adalah seorang laki-laki bertubuh besar dan agak pendek, usianya kurang lebih empat puluh tahun, matanya lebar dan memiliki kumis lebat. Adiknya, Ma Ti Lok, berusia tiga puluh lima tahun, tubuhnya kekar dan jangkung, mukanya bersih tak ada brewoknya karena tercukur rapi, rambutnya panjang dan hitam dijalin menjadi kuncir besar. Seperti juga kakaknya, tubuhnya berotot dan nampaknya kuat sekali.

Di lain pihak, kedua orang kepala bajak itu memandang Tek Hoat dengan ragu-ragu, karena mereka merasa sukar untuk percaya apakah pemuda yang kelihatan amat muda dan lemah ini benar-benar Si Jari Maut yang demikian menggemparkan? Tentu saja mereka bukan tidak percaya bahwa mungkin saja seorang pemuda yang kelihatan lemah memiliki kepandaian hebat, karena mereka tahu bahwa Lauw Hong Kui, seorang wanita yang cantik jelita itu pun kepandaiannya hebat bukan main, masih jauh melebihi kepandaian mereka sendiri.

“Urusan apakah itu, Lihiap?” tanya Ma Khong akhirnya sambil memandang wanita itu.

“Ketahuilah, Ang-taihiap ini mempunyai seorang sahabat baik, seorang wanita yang terculik dan karena penculiknya membawanya ke daerah Po-hai, maka kami minta bantuan kalian untuk merampas kembali sahabat Ang-taihiap ini.”

Dua orang kepala bajak itu saling pandang, lalu tersenyum lebar dan berkatalah Ma Khong. “Ahhh, itu urusan kecil sekali, Lihiap. Tentu saja kami mau membantu. Siapakah penculik itu yang berani mati sekali, berani mengganggu sahabat Si Jari Maut, padahal ada Lihiap pula di samping Si Jari Maut?”

“Jangan bilang bahwa urusan ini kecil, Twa-ong, sebelum kalian mengetahui siapa penculik itu.” “Siapakah dia?” tiba-tiba Ma Ti Lok bertanya sambil memandang tajam penuh selidik.

“Kalau orang biasa, agaknya kami tidak perlu minta bantuan kalian. Menurut dugaanku, penculik itu bukan laln adalah Hek-sin Touw-ong…“

“Ahhhhh…!” Dua orang Saudara Ma itu melonjak kaget dan bangkit berdiri dari bangku mereka dan muka mereka berubah pucat. “Tidak mungkin…!”

“Apanya yang tidak mungkin? Dia yang menculik ataukah kalian yang membantu kami?” tanya Lauw Hong Kui.

“Kedua-duanya…!” kata Ma Khong yang sudah duduk kembali dan dia belum pulih kembali ketenangannya karena dia bersama adiknya benar-benar terkejut mendengar disebutnya nama Hek-sin Touw-ong Itu. “Yang pertama, tidak mungkin Touw-ong sudi melakukan penculikan terhadap seorang wanita, dan keduanya, andai kata benar dia yang melakukannya, tidak mungkin bagi kami untuk mencampurinya. Kami selamanya tidak pernah dan tidak akan mencampuri urusan Touw-ongya karena locianpwe itu pun tidak pernah mengganggu kami,” jelas bahwa Ma Khong kelihatan jeri sekali terhadap nama itu.

“Kalian tidak tahu siapa wanita yang diculiknya itu, Twa-ong dan Ji-ong. Dengarlah, wanita yang diculiknya itu, sahabat dari Ang-taihiap ini, adalah seorang puteri dari Kerajaan Bhutan, bukan sembarang wanita belaka. Baru-baru ini, puteri itu terjatuh ke tangan ketua Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Lu-liang- san, tempat yang amat kuat seperti benteng dan Liong-sim-pang dipimpin orang-orang pandai dan mempunyai banyak sekali anak buah. Namun, seorang kakek mampu menculiknya dari tempat itu dan jejaknya menuju ke pantai Po-hai. Siapa lagi kalau bukan Hek-sin Touw-ong yang melakukan penculikan itu?”

Mendengar ini, kedua orang kepala bajak itu saling pandang dan mengerutkan alis, berpikir keras. “Agaknya tidak mungkin Touw-ong yang melakukan penculikan,” kata Ma Ti Lok. “Biar Touw-ongya dan puterinya berilmu tinggi dan tentu saja bukan merupakan pantangan bagi mereka untuk mencuri apa saja yang mereka sukai, namun agaknya tak masuk di akal kalau Touw-ongya menculik wanita, walau pun wanita itu seorang puteri kerajaan sekali pun!”

“Benar,” kata pula Ma Khong. “Agaknya bukan dia…”

“Habis siapa lagi kalau bukan dia? Hanya dia seorang saja kakek berilmu tinggi yang berada di pantai Po- hai,” kata Hong Kui.

“Ah, bukan hanya dia,” kata Ma Khong. “Ada seorang lagi dan kurasa dia inilah yang melakukan penculikan. Ya benar, tidak salah lagi. Tentu kakek aneh itu yang bertapa di tepi pantai sebelah ujung utara, di tempat yang sangat sukar didatangi orang, yaitu di Goa Tengkorak.”

“Hemm, siapa dia?” tanya Hong Kui.

“Seorang kakek tua renta yang kabarnya aneh dan lihai bukan main, bahkan orang orang pernah melihat dia menghilang seperti setan, dan… berjalan di atas air!”

“Bohong…!” kata Hong Kui.

“Mungkin bohong mereka itu, akan tetapi jelas bahwa kakek itu amat lihai, mungkin juga pandai bermain sihir, dan karena kami pun tidak mengenal benar siapa dia dan orang macam apa adanya dia, maka besar kemungkinan dialah yang melakukan penculikan,” kata Ma Khong.

“Kalian berdua tentu suka membantu kami, bukan? Kumaksudkan, membantu aku!” tanya Hong Kui sambil mengerling tajam.

“Tentu… tentu…!” Mereka berdua menjawab serentak.

“Kalau begitu, harap kalian membawa anak buah dan mengantar kami mencari kakek aneh di Goa Tengkorak itu untuk menyelidiki.”

“Baik,” jawab mereka.

“Dan jika kemudian ternyata bahwa bukan kakek aneh itu yang menculik Puteri Bhutan, kalian harus membantu kami menyelidiki keadaan Hek-sin Touw-ong.”

“Akan tetapi… ini… ini…” Ma Khong dan Ma Ti Lok menjawab penuh keraguan dan jelas membayangkan perasaan takut-takut.

“Kalian tak mau membantu aku?” Hong Kui mendesak dan kini senyumnya menantang. “Kami tentu saja mau membantu Lihiap!” tiba-tiba Ma Ti Lok berkata.

“Benar, kami suka membantu Lihiap, dan harap Lihiap suka menghargai bantuan kami ini yang sesungguhnya kami lakukan dengan nekat demi rasa sayang kami kepada Lihiap. Sungguh kami tidak berani main-main terhadap Touw-ong, akan tetapi demi Lihiap… kami mau melakukan segalanya, asal Lihiap tidak melupakan kami dan malam ini…“

Lauw Hong Kui tertawa. “Hi-hik, kalian sungguh bodoh! Pernahkah aku Lauw Hong Kui melupakan kebaikan orang? Kalian adalah sahabat-sahabatku yang baik, dan aku sudah rindu kepada kalian. Akan tetapi nanti kalau urusan ini sudah selesai dengan baik, tunggu saja dan lihatlah betapa aku adalah seorang yang tahu terima kasih, yang mengenal budi dan kutanggung kalian berdua tidak akan menyesal telah membantu aku. Akan tetapi nanti kalau sudah berhasil, karena malam ini… hemmm, aku ingin dilayani oleh dia itu.” Tiba-tiba Lauw Hong Kui menuding ke arah seorang pelayan pria yang sejak tadi memang menarik perhatiannya.

Tek Hoat ikut memandang bersama dua orang kepala bajak itu. Pria yang ditunjuk oleh Lauw Hong Kui itu adalah seorang pria muda, usianya paling banyak enam belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan wajahnya tidak tampan namun gagah dan membayangkan kejantanan. Dia berpakaian sederhana sebagai seorang pelayan, namun kesederhanaan pakaiannya itu tidak menyembunyikan tubuhnya yang mulai dewasa, kekar dan kuat. Sepasang matanya lembut dan sejak tadi dia memandang kepada Lauw Hong Kui penuh kekaguman karena sudah banyak dia mendengar dari kawan-kawannya di tempat itu tentang kehebatan wanita ini, hebat ilmu silatnya, hebat pula kepandaiannya merayu pria.

“Ah, si A-cun itu? Dia seorang yang baru di sini, baru belajar. Belum ada dua tahun dia ikut kami…, ehhh, dia masih bodoh dan hijau…“

“Hi-hik, justeru kebodohan dan kehijauannya itu menarik hatiku dan malam ini dia akan melayani aku. Ada pun kalian berdua, tunggu sampai selesai urusan yang kalian bantu, tentu kalian akan mendapatkan bagian sepenuhnya.” Wanita itu lalu bangkit berdiri, menoleh kepada Tek Hoat dan berkata, “Tek Hoat, kau bercakap-cakaplah dulu dengan mereka, aku akan pergi dan mengaso.” Dia lalu menghampiri pemuda pelayan yang di sebut A-cun tadi, menggandeng tangannya dan berkata, “Marilah, kau tunjukkan aku di mana bagian-bagian yang paling indah di daereh ini.”

Pelayan muda itu memandang dengan mata terbelalak, kelihatan bingung dan gugup, akan tetapi dia tidak membantah ketika ditarik dan diajak pergi oleh Hong Kui, diikuti suara ketawa dua orang kepala bajak itu yang memandang dengan mata mengandung iri.

Malam itu, Tek Hoat rebah di atas pembaringan dalam kamar tamu dengan hati gelisah memikirkan Syanti Dewi. Benarkah kakek yang aneh seperti setan itu yang menculik kekasihnya? Ataukah si Raja Maling? Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya ketika dia membayangkan keadaan Syanti Dewi yang menderita bermacam kesengsaraan. Melakukan perjalanan jauh dari Bhutan, mungkin menyusulnya, dan tiba di tangan orang-orang jahat, bahkan hampir dikawin oleh Hwa-i-kongcu secara paksa dan kini entah berada di tangan siapa dan di mana dan bagaimana keadaannya. Semua ini terjadi karena ibunya yang muncul di Bhutan!

Ahh, dia tidak akan menyalahkan ibunya yang telah meninggal. Ibunya yang meninggal dalam keadaan demikian menyedihkan, terbunuh oleh orang dan sampai kini pun dia belum berhasil memecahkan rahasia pembunuhan terhadap ibunya itu. Dia terpaksa menunda penyelidikannya ketika muncul persoalan Syanti Dewi. Dia harus lebih dulu menyelamatkan kekasihnya itu, baru ia akan melanjutkan usahanya mencari pembunuh ibunya.

Malam itu sunyi sekali di hutan itu. Akan tetapi bagi para anggota bajak yang beringas di malam hari itu dan mengadakan penjagaan di sekitar sarang mereka, kadang-kadang mereka itu mendengar suara yang aneh, suara seperti rintihan seekor kucing, yang terdengar jauh di luar hutan itu. Mereka hanya saling berbisik-bisik dan tertawa, akan tetapi tidak berani mendekati tempat dari mana suara itu terdengar, karena mereka maklum bahwa itulah suara Siluman Kucing yang sedang mempermainkan korbannya, yaitu A-cun yang masih muda remaja itu.

Baru pada keesokan harinya, setelah mereka melihat Mauw Siauw Mo-li dengan wajah berseri dan segar, rambut kusut dan bibir tersenyum datang menggandeng A-cun, mereka para penjaga itu, atas isyarat wanita itu, menghampiri dan mereka memapah A-cun yang keadaannya payah, hampir pingsan, pucat dan seperti orang mabuk itu. Mereka cepat menggotong pemuda remaja itu ke kamarnya dan membiarkan pemuda remaja itu tidur setelah memaksa pemuda itu minum obat yang diberikan Mauw Siauw Mo-li.

Tek Hoat yang mendengar akan hal ini sama sekali tidak mengambil peduli. Begitu dia terbangun dan membersihkan badan, dia lalu mencari dua orang kepala bajak itu dan bertanya tentang usaha mereka menyelidiki ke Goa Tengkorak. Ternyata Hong Kui sudah siap pula bersama dua orang kepala bajak. Biar pun semalam suntuk tidak tidur, wanita itu kelihatan segar dan wajahnya berseri, bibirnya tersenyum, dan hanya mukanya agak pucat. Dia telah memperoleh kepuasan setelah berhari-hari melakukan perjalanan bersama Tek Hoat, setelah banyak malam dilewatkan dengan gelisah sendirian tanpa kawan, dan ternyata pemuda remaja anak buah bajak itu bukan hanya memenuhi harapannya, bahkan melampaui yang diharapkannya sehingga dia merasa gembira dan puas.

Mereka melakukan perjalanan berempat dan agar dapat melakukan perjalanan cepat, Ma Khong dan Ma Ti Lok mengajak mereka naik perahu dan menyusuri tepi pantai menuju ke utara. Ketika perahu itu melewati tebing yang amat tinggi, Ma Khong menuding ke atas tebing dan berkata, “Di sanalah tempat tinggal Hek- sin Touw-ong. Tidak kelihatan dari sini, di atas tebing itu terdapat sebuah rumah gedung yang menjadi tempat tinggalnya. Terus terang saja, kami sendiri belum pernah pergi ke tempat itu. Siapa pula orangnya yang berani mendekati tempat tinggal Touw-ongya? Mudah mudahan saja dugaan kami benar bahwa kakek aneh di ujung pantai itu yang menculik Puteri Bhutan itu sehingga kita tidak perlu mendatangi Touw- ong.”

Setelah hari menjadi sore, baru mereka mendarat di ujung utara dari pantai teluk itu dan mereka menuju ke daerah yang penuh dengan batu dan goa, daerah yang merupakan tebing dan pegunungan batu kapur. Tidak lama kemudian, tibalah mereka di depan sebuah goa yang bentuknya memang seperti tengkorak manusia, goa yang sangat menyeramkan. Akan tetapi sunyi saja di tempat itu dan ketika mereka memasukinya, mereka mendapatkan goa itu kosong. Memang ada tanda-tanda bahwa goa itu pernah ditinggali manusia, bahkan agaknya belum lama penghuninya meninggalkan tempat itu.

Mereka memeriksa Goa Tengkorak itu dan tiba-tiba Tek Hoat berdiri termenung di depan dinding goa sebelah kiri, memandang dan membaca tulisan yang diukir dengan indahnya di dinding batu itu. Dia melihat guratan-guratan huruf kecil-kecil itu dengan teliti dan diam-diam dia merasa kagum karena dari bekasnya dia dapat menduga bahwa orang itu menggurat-guratkan jari tangannya untuk menuliskan huruf- huruf itu! Dia membaca dengan hati tertarik.

‘Sayang, sungguh amat sayang…, belum pernah aku bertemu seseorang yang setelah melihat kesalahan sendiri, lalu benar-benar menyesalkan kesalahannya itu dan benar benar memperbaiki dirinya sendiri!’

Tek Hoat membaca tulisan itu berkali-kali dan termenung. Dia merasa seperti pernah mendengar kata-kata itu, akan tetapi karena pelajarannya tentang sastra memang tidak begitu mendalam, maka dia lupa lagi di mana dan bilamana.

“Hi-hi-hik, orang tolol yang menuliskan itu. Mana di dunia ini ada orang yang mampu melihat kesalahan sendiri?”

Akan tetapi Tek Hoat tidak mempedulikan ejekan Mauw Siauw Mo-li itu dan dia malah termenung. Keluhan orang yang menuliskan kata-kata di dinding batu itu memang merupakan kenyataan. Adalah mudah melihat kesalahan sendiri, akan tetapi sukarlah untuk memperbaiki diri sendiri sungguh pun dari penglihatan itu selalu timbul penyesalan. Sesungguhnya, tulisan itu adalah petikan dari ujar-ujar dalam kitab Lun Gi bagian kelima dan pasal kedua puluh tujuh, ujar-ujar dari Nabi Khong Cu dan kata-kata itu berasal dari Nabi Khong Cu sendiri.

Memang sudah menjadi kebiasaan kita untuk merasa menyesal setelah kita melihat kesalahan sendiri. Akan tetapi, biasanya penyesalan itu bukan datang karena benar benar kita menyadari akan kesalahan sendiri, melainkan penyesalan yang timbul karena akibat buruk yang timbul karena kesalahan perbuatan kita itu! Jadi, sama sekali bukan penyesalan akan perbuatan kita yang salah, melainkan penyesalan karena kita dirugikan oleh perbuatan itu sebagai akibatnya.

Misalnya, kita melakukan sesuatu perbuatan yang salah, yaitu mencuri. Akibatnya, kita tertangkap dan dihukum. Menyesallah kita, akan tetapi penyesalan ini timbul karena JATUHNYA HUKUMAN itulah atas diri kita. Oleh karena keadaan seperti inilah maka di lain kesempatan, kita dapat saja mengulangi perbuatan itu asal saja tidak terlihat ancaman hukumannya. Itulah sebabnya maka Nabi Khong Cu tidak pernah melihat orang yang melihat kesalahan sendiri lalu benar-benar menyesalkan perbuatannya dan benar-benar memperbaiki dirinya sendiri. Perbaikan diri sendiri yang dimaksudkan TIDAK MENGULANGI lagi perbuatannya yang salah itu.

Mempelajari atau menghafal ayat-ayat suci saja sesungguhnya tidak ada artinya sama sekali bagi jalannya kehidupan. Yang penting adalah menyelami sedalam-dalamnya segala hal yang berhubungan dengan kahidupan kita. Kalau kita melakukan suatu kesalahan tidak hanya cukup untuk disesalkan saja, melainkan kita hadapi secara menyeluruh. Kita selidiki diri kita sendiri mengapa kita melakukan kesalahan itu, apa yang mendorongnya dan apa yang menimbulkan terjadinya hal itu. Kalau kita selalu waspada akan gerak- gerik diri sendiri setiap saat, maka akan timbul kesadaran yang menyeluruh, bukan kesadaran sepintas lalu yang didapat dari membaca ayat.

Kesadaran membaca ayat hanya terbatas pada saat membaca ayat itu saja, untuk kemudian dilupakan lagi sehingga di waktu kita memikirkan atau melakukan sesuatu menurut pikiran, ayat-ayat itu sama sekali terpendam dan terlupa. Dan biasanya, ayat ayat itu yang kesemuanya amat muluk-muluk dan baik, hanya teringat oleh kita kalau kita ingin menasehati orang lain saja, sebaliknya sama sekali terlupa kalau kita melakukan segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayat-ayat itu seperti nyanyian-nyanyian merdu yang hanya mampu menggerakkan hati nurani kita pada saat kita mendengarnya atau membacanya, dan apakah artinya itu bagi kehidupan kita kalau hanya dinikmati sepintas lalu saja tanpa adanya PENGHAYATAN DALAM HIDUP?

Mengetrapkan ayat-ayat suci di dalam kehidupan sehari-hari pun hanya merupakan kepalsuan yang dipaksa-paksakan belaka, mungkin dengan tujuan agar kita dipuji, agar kita menjadi orang baik dan sebaiknya. Kebaikan tidak mungkin dilatih, karena kalau kebaikan itu muncul karena dilatih, maka dia bukan kebaikan lagi melainkan kepalsuan. Kebaikan adalah kewajaran, tidak dilatih tidak dibuat-buat, tidak mencontoh ini atau itu, melainkan keadaan bebas dari kekotoran. Kalau kebusukan-kebusukan sudah tidak ada maka muncullah kebaikan, wajar seperti kalau awan-awan gelap sudah sirna maka nampaklah sinar matahari. Melatih kebaikan hanya akan menciptakan manusia-manusia munafik.

Yang penting, mengenal diri sendiri lahir batin, mengenal kekotoran-kekotoran dan kebusukan-kebusukan diri sendiri dengan mengamatinya setiap saat, dengan waspada setiap saat akan segala gerak-gerik lahir batin diri sendiri. Pengamatan seperti ini adalah tanpa pamrih sama sekali, tanpa pengejaran akan sesuatu, tanpa ingin menjadi baik, tanpa adanya aku yang berpamrih, tanpa adanya aku yang mengejar dan menginginkan apa pun. Yang ada hanya batin mengamati diri sendiri, gerak-geriknya setiap saat yang menimbulkan segala macam perbuatan, tanpa ada keinginan mengubah, memperbaiki, mengendalikan, dan keinginan-keinginan ini tentu tidak ada kalau YANG MENGAMATI tidak ada pula!

Sampai lama mereka berempat memeriksa keadaan di dalam goa Tengkorak, akan tetapi tetap saja mereka tidak menemukan sesuatu. Tidak ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa Syanti Dewi pernah berada di dalam goa itu.

“Jelas bahwa bukan penghuni goa ini yang menculiknya. Tentu Hek-sin Touw-ong!” kata Tek Hoat. “Kalau begitu kita akan menyelidiki ke rumah Raja Maling itu,” kata Mauw Siauw Mo-li.

Dua orang Saudara Ma itu kelihatan gentar. “Kalau begitu kita sebaiknya pulang dulu, kami akan mengerahkan anak buah kami.”

“Tidak perlu,” kata Tek Hoat sambil mengerutkan alisnya. “Kita berempat sudah cukup. Kalian hanya menunjukkan saja jalan menuju ke gedung itu, setelah bertemu dengan Hek-sin Touw-ong, serahkan saja kepadaku untuk menghadapinya.”

“Tapi… tapi dia amat sakti, dan puterinya juga amat lihai. Kami… kami tidak berani. Kalau engkau gagal, Taihiap, kami pun tentu akan celaka.”

“Jangan takut, Twa-ong. Ang-taihiap cukup kuat untuk menghadapi Touw-ong, dan selain itu ada aku di sini, bukan?” kata Hong Kui. Karena takut kepada wanita itu, akhirnya dua orang itu terpaksa menurut.

Malam itu mereka bermalam di dalam goa Tengkorak.

Hong Kui tidak mempedulikan dua orang kepala bajak yang membuat api unggun di dalam goa itu. Dia mendekati Tek Hoat dan berusaha merayu pemuda ini. Akan tetapi Tek Hoat menjadi merah mukanya dan marah. Hampir saja dia memukul wanita tak tahu malu itu dan akhirnya dia keluar, lebih suka tidur di luar goa yang dingin dari pada di dalam goa di mana dia menghadapi godaan Hong Kui yang amat mengganggunya.

Tak lama kemudian dia mendengar suara dua orang kepala bajak itu tertawa-tawa, dan menjelang tengah malam, kembali dia mendengar rintihan suara kucing itu yang amat memuakkan hatinya. Dia pergi menjauh dari goa, tidur di antara batu-batu karang, menerawang ke langit yang penuh bintang dan mengenangkan semua kehidupannya yang telah lalu. Timbul perasaan malu di dalam hatinya.

Teringat akan tulisan di dinding batu, sekarang dia melihat betapa dia telah memenuhi kehidupan yang lalu dengan segala hal yang amat memalukan dan jahat. Betapa dia dapat mengubah itu semua setelah dia bertemu dengan Syanti Dewi, bahkan di Bhutan dia telah menjadi seorang terhormat, sebagai panglima dan calon suami Syanti Dewi. Cinta kasihnya terhadap Syanti Dewi selain membuat dia hidup bahagia, juga membuat dia hidup bersih, jauh dari pikiran kotor sama sekali. Bahkan dia mulai menganggap dirinya berharga dan patut menjadi cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es dan menjadi calon suami Syanti Dewi yang berbudi mulia.

Akan tetapi terjadi perubahan. Dia terusir dengan cara yang amat merendahkan dari Bhutan. Dia lalu meninggalkan Syanti Dewi dan kebahagiaannya hancur, kehidupannya hancur dan hatinya juga remuk- redam. Dia menjadi tidak peduli akan kehidupannya, apa lagi setelah melihat ibunya terbunuh. Dia tidak peduli lagi apakah dia hidup melalui jalan kotor atau bersih. Dia tidak peduli!

Akan tetapi sekarang, kembali dia terombang-ambing antara kehancuran hidupnya dan pertemuannya kembali dengan Syanti Dewi. Bagaimana jika mereka bertemu kembali? Apakah dia masih berharga untuk puteri itu? Apakah puteri itu dapat mencintanya? Dia mulai merasa menyesal! Penyesalan yang timbul karena kekhawatirannya akan kehilangan Syanti Dewi lagi! Dia telah melalui jalan kotor dan sesat!

Dengan hati gelisah, akhirnya dia dapat pulas juga dan dapat-lapat seperti dalam mimpi dia mendengar rintihan suara kucing itu yang amat dibencinya. Dia sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan dirinya diseret ke dalam lumpur kehinaan oleh Mauw Siauw Mo-li! Dia harus membuktikan bahwa dirinya masih berharga untuk mencinta Syanti Dewi!

********************

“Suhu, lihat apa yang kudapatkan ini!” Ang-siocia atau Kang Swi Hwa berkata bangga di depan kakek itu sambil membuka buntalan besar yang dibawanya masuk ke dalam gedung besar di tebing itu, buntalan yang tadi diseret masuk oleh dua orang pelayan yang menyambut kedatangannya bersama beberapa orang pelayan lain.

Rumah itu merupakan gedung besar dan sama sekali tidak pantas menjadi rumah seorang yang berjuluk Raja Maling! Rumah itu teratur rapi, biar pun tidak terlalu mewah namun amat menyenangkan dengan hiasan-hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan huruf-huruf indah. Pot-pot kembang kuno menghias di sudut-sudut ruangan, lantainya bersih dan kesemuanya menunjukkan bahwa rumah itu terpelihara dan penghuninya suka akan kebersihan.

Ada kurang lebih sepuluh orang pelayan bekerja di luar dan dalam rumah, kesemuanya walau pun berpakaian pelayan namun sebetulnya adalah anak buah Hek-sin Touw-ong dan mereka terdiri dari orang- orang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan ilmu mencuri yang lihai. Akan tetapi tentu saja sekarang mereka tidak lagi mencuri, setelah menjadi anak buah dan pelayan dari Raja Maling itu.

Kakek yang berjuluk Hek-sin Touw-ong itu adalah seorang lakl-laki tua berusia enam puluh tahun lebih. Mukanya hitam seperti dicat, sesuai dengan julukannya si Raja Maling Bermuka Hitam. Sebenarnya, sudah sejak bertahun-tahun yang lalu kakek ini menjalankan pekerjaannya sebagai Raja Maling, yaitu ketika dia masih beroperasi di perbatasan Ho-nan dan Ho-pei. Namanya amat terkenal di daerah itu dan semua kaum pencuri tunduk kepadanya dan menganggapnya sebagai datuk atau raja.

Karena kepandaiannya yang hebat, dan oleh karena semua pencuri menganggapnya sebagai raja, kemudian karena mukanya hitam, maka dia memperoleh julukan Hek-sin Touw-ong. Akan tetapi sesungguhnya dia bukanlah maling sembarang maling! Dia hanya mau melakukan pencurian di dalam istana-istana saja! Dan biar pun mukanya hitam, ternyata hatinya tidaklah sehitam mukanya.

Kakek yang terkenal dengan julukan Raja Maling ini terkenal dermawan dan suka menolong orang-orang yang menderita kekurangan dan kesengsaraan. Pernah dia mencuri satu peti besar terisi ratusan tail uang emas milik gubernur di Ho-nan dan menggunakan seluruh uang itu untuk membeli ratusan ton gandum untuk dibagikan kepada rakyat yang kelaparan di daerah lembah Huang-ho di perbatasan antara Ho-nan dan Ho-pei pada saat Sungai Huang-ho mengamuk dan membanjiri! Perbuatannya ini menimbulkan kegemparan. Selain dia dimusuhi oleh para pembesar, juga perbuatannya itu menimbulkan rasa kagum dalam hati para pendekar.

Ketika kakek itu mendengar akan kedatangan muridnya, dia cepat keluar menyambut di ruangan tengah dengan wajah berseri-seri. Kakek ini amat sayang kepada muridnya, bahkan murid itu juga sekaligus menjadi anak angkatnya, sungguh pun Swi Hwa masih belum dapat mengubah sebutan ‘suhu’ kepadanya. Sudah berbulan-bulan muridnya pergi merantau, dan kini muridnya pulang dan membawa ‘oleh-oleh’ yang demikian banyaknya. Ketika buntalan dibuka dan kakek itu melihat tumpukan perhiasan emas permata, uang dan juga kitab-kitab, dia terbelalak dan menatap wajah muridnya dengan alis berkerut.

“Swi Hwa, apa yang telah kau lakukan? Dari mana engkau memperoleh semua benda berharga ini?”

Biar pun dia berjuluk Raja Maling, akan tetapi kakek ini selalu melarang muridnya untuk melakukan pencurian, apa lagi pencurian kecil-kecilan yang akan merendahkan nama mereka, sungguh pun muridnya sudah pandai sekali dalam hal ilmu mencuri dan ilmu menyamar.

Gadis itu tertawa. “Suhu, harap jangan mengira, bahwa aku sembarangan saja mencuri segala macam benda. Benda-benda ini bukan benda-benda sembarangan, juga bukan milik orang-orang sembarangan pula.”

“Hemmm, kantung itu terisi uang tidak berapa banyak dan kau bilang bahwa itu bukan benda sembarangan?” Gurunya mencela dan menegur.

“Benar, Suhu. Hanya sekantung uang yang tidak berharga. Akan tetapi tahukah Suhu dari siapa aku mengambil kantung ini? Hemmm, Suhu tentu tidak akan pernah dapat menerkanya. Kantung ini kuambil dari buntalan yang dibawa oleh pendekar Siluman Kecil!”

“Wahhhhh…!” Suhu-nya terbelalak dan memandang kepada muridnya dengan heran.

Tentu saja dia sudah mendengar akan nama pendekar yang baru muncul dalam waktu beberapa tahun ini, yang namanya amat terkenal di antara para tokoh besar dunia hitam, bahkan amat disegani. Dia pernah mendengar betapa ilmu kepandaian pendekar Siluman Kecil itu amat hebat dan kini muridnya berani mencopet kantung uangnya!

Melihat kekagetan dan keheranan suhu-nya, Swi Hwa menjadi bangga dan senang, maka dia lalu menuding ke arah peti terbuka yang terisi barang-barang perhiasan emas permata.

“Dan Suhu lihat peti itu! Isinya adalah harta pusaka dari keluarga yang amat terkenal pula. Keluarga panglima besar kota raja, Jenderal Kao Liang!”

“Ehhh…?” Sepasang mata Raja Maling itu semakin terbelalak lebar ketika mendengar laporan itu.

Nama Jenderal Kao malah lebih terkenal lagi dari pada nama Siluman Kecil. Siapa yang tidak mengenal nama jenderal yang amat hebat itu? Baru mendengar namanya saja orang menjadi gentar dan segan, akan tetapi muridnya ini berani mencuri harta pusaka keluarga jenderal itu!

Hati Swi Hwa semakin besar dan bangga. “Dan kitab-kitab ini, Suhu. Tentu Suhu tidak akan dapat menerka dari mana aku mencurinya. Kitab-kitab ini adalah milik si tua renta yang amat lihai itu, Sin-siauw Sengjin…“

“Apa…?!” Sekali ini kakek itu hampir berteriak dan mukanya berubah, lalu tiba-tiba dia tertawa bergelak dan membuka-buka kitab itu. “Ha-ha-ha-ha-ha! Lucu…! Lucu sekali! Muridku, anakku, hayo cepat kau ceritakan bagaimana engkau dapat melakukan semua itu, terutama sekali kitab-kitab palsu ini!”

“Palsu?” Swi Hwa mengerutkan alisnya. “Bagaimana Suhu tahu bahwa ini palsu? Aku mengambilnya langsung dari rumah Sin-siauw Sengjin sendiri setelah dia dikalahkan oleh Siluman Kecil.”

Kembali kakek itu terkejut. “Sin-Siauw Sengjin dikalahkan oleh Siluman Kecil? Bagai mana pula itu? Ahhh, Swi Hwa, ceritakan… ceritakan…!”

Melihat kegembiraan gurunya, Swi Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya. Mula-mula dia menceritakan tentang keluarga Jenderal Kao Liang yang membawa keluarganya pulang ke kampung halamannya di selatan, kemudian betapa muncul beberapa kelompok gerombolan yang hendak membunuh dan hendak merampok keluarga itu. Dalam keributan ketika para kelompok gerombolan itu saling bertempur sendiri, dia lalu menggunakan kesempatan itu untuk merampas peti terisi harta pusaka itu dan melarikannya. Kemudian dia menceritakan tentang penyamarannya sebagai tukang penjual sepatu dan berhasil mencopet kantung uang milik Siluman Kecil, dan akhirnya dia menceritakan pula bagaimana dia telah mencuri kitab-kitab pusaka milik Sin-siauw Sengjin. Akan tetapi tentang dia masuk menjadi pengawal Gubernur Ho-nan dan tentang rahasianya yang terbuka oleh Siauw Hong, dia sama sekali tidak berani menceritakan kepada suhu-nya.

Kakek itu mendengarkan penuturan muridnya dan berkali-kali dia berseru kagum. Apa lagi ketika dia mendengar tentang pertandingan antara Siluman Kecil dan Sin-siauw Sengjin sampai kakek Suling Sakti itu kalah, berulang kali dia mengeluarkan suara heran dan memuji. “Hebat… hebat sekali orang muda yang berjuluk Siluman Kecil itu. Tadinya kukira bahwa Sin-siauw Sengjin tidak ada lawannya. Kiranya dia kalah oleh seorang pemuda. Ha-ha-ha-ha!” Kelihatan kakek ini girang sekali mendengar tentang kekalahan Suling Sakti itu.

“Suhu, tadi Suhu mengatakan bahwa kitab-kitab ini palsu, padahal Suhu sendiri belum memeriksanya dengan teliti. Benarkah itu?”

“Ha-ha, tentu saja, Swi Hwa. Aku sudah mengenal baik siapa kakek tua bangka itu! Kalau kitab-kitab peninggalan Suling Emas dapat dicuri orang begitu saja, tentu ilmu ilmu itu tidak akan menjadi rahasia sampai sekarang. Kau boleh bakar kitab-kitab itu, karena semua itu palsu, apa lagi kalau telah dia tinggalkan begitu saja.”

“Betapa pun juga, aku telah merampasnya dari dalam rumahnya, Suhu.”

“Ha-ha-ha, itulah yang sangat menggirangkan hatiku. Kalau saja dia mendengar bahwa rumahnya kemasukan maling dan maling itu adalah engkau, muridku, ha-ha-ha… ingin aku melihat mukanya, ha-ha- ha!” Kakek itu tertawa-tewa, akhirnya lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Muridku, anakku, apa yang telah kau lakukan ini benar-benar hebat dan amat mengagumkan hatiku. Aku girang dan puas mempunyai murid seperti engkau. Tetapi engkau telah bermain-main dengan api, anakku. Kurasa perbuatanmu ini akan berekor dan siapa tahu akan ada orang-orang pandai yang mencarimu di sini untuk merampas kembali benda-benda ini. Oleh karena itu, sebaiknya kalau kita segera menyembunyikan di tempat aman.”

“Di goa rahasia di tebing?”

Kakek itu mengangguk dan mereka lalu membawa benda-benda itu ke tepi tebing, lalu mereka merayap turun melalui tebing yang sangat curam itu dan menyembunyikan benda-benda itu di dalam sebuah goa di tebing yang tertutup oleh batu dan tumbuh tumbuhan sehingga kalau bukan mereka yang sudah mengenal tempat itu, kiranya tidak mungkin orang lain akan dapat mencari dan menemukan tempat itu.

Malam itu, di meja makan, Swi Hwa dengan hati-hati lalu menceritakan pengalamannya kepada gurunya. Tanpa menyinggung perasaan hatinya yang mula-mula tertarik kepada Siluman Kecil, dia akhirnya menceritakan juga tentang petualangannya saat memasuki sayembara di Ho-nan.

“Ehhh, Swi Hwa, apa yang kau lakukan itu? Mau apa engkau memasuki sayembara untuk menjadi pengawal?” tegur gurunya.

Swi Hwa memang amat dimanja oleh gurunya ini dan sejak kecil dia menganggap gurunya sebagai ayah sendiri. Oleh karena inilah, maka biar pun ketika datang tadi dia tidak berani bercerita tentang semua itu, namun akhirnya dia bercerita juga karena dia tidak dapat menahan semua itu di dalam hatinya dan dia tidak mempunyai orang lain untuk diajak bicara.

“Suhu, aku hanya ingin meluaskan pengalaman saja. Apa lagi aku terbawa oleh orang orang lain yang melakukan perjalanan bersamaku. Dan Siluman Kecil juga melakukan perjalanan bersama, maka aku pun ingin memperlihatkan kepandaian.”

“Hemmm… kau seorang wanita sungguh terlalu berani beraksi di depan umum.” Lalu dia memandang tajam. “Apakah sebabnya maka kau ingin agar orang-orang mengetahui kepandaianmu?”

“Suhu, tentu saja dengan maksud untuk mengangkat nama Suhu!” “Ehhh, bocah lancang! Apa kau mengaku bahwa kau muridku?”

Ditegur begitu oleh gurunya, Swi Hwa terkejut. “Aku… aku… hanya mengaku sebagai wakil Suhu dalam pertemuan di lembah Huang-ho…“

“Itu memang atas kehendakku. Engkau kusuruh mewakili aku menghadiri pertemuan itu di sana. Akan tetapi tidak di tempat umum!”

“Suhu, maafkan, aku… aku hanya mengakui nama dan nama Suhu di depan… ehhh, Siluman Kecil ketika aku mengambil kitab-kitab Sin-siauw Sengjin.”

Gurunya menarik napas panjang. “Kau sungguh mencari penyakit. Nah, karena sudah terlanjur, bagaimana nanti sajalah, akibatnya kita hadapi bersama. Lanjutkan ceritamu.”

Setelah mulai menuturkan tentang sayembara itu, Swi Hwa tentu saja tidak dapat menutupi apa-apa lagi dan kata-kata pun mulai lancar keluar dari mulutnya. Dibukanya segala peristiwa itu kepada suhu-nya. Betapa dia terlibat dalam urusan perebutan Pangeran Yung Hwa yang ditawan oleh Gubernur Ho-nan, betapa dia terpukul oleh Siluman Kecil.

“Ahhh, engkau benar-benar sembrono sekali, muridku. Untung engkau tidak sampai terpukul mati oleh pendekar itu,” kata kakek itu dengan mata terbelalak, terheran-heran akan petualangan muridnya yang berani itu.

Swi Hwa lalu menceritakan bahwa perkelahian itu membuat dia tidak suka lagi tinggal di gubernuran, apa lagi karena teman-temannya telah pergi, yaitu si gagu yang ternyata adalah kakak sendiri dari Siluman Kecil, Siauw Hong, Siluman Kecil dan seorang kakek gagah perkasa yang dia mendengar dari para pengawal adalah seorang tokoh bernama Sai-cu Kai-ong yang memimpin pasukan untuk menyelamatkan Pangeran Yung Hwa.

Mendengar nama ini, Hek-sin Touw-ong menjadi makin heran, matanya terbelalak dan dia berseru, “Sai-cu Kaiong…? Ahhh… betapa aneh dan kebetulan…!”

”Apa maksudmu, Suhu?”

Gurunya menarik napas panjang. “Tidak apa-apa, aku kenal dengan tua bangka itu, kelak engkau pun akan tahu sendiri. Teruskan, teruskan, ceritamu makin menarik.”

“Setelah aku pergi meninggalkan gubernuran Ho-nan oleh karena aku tidak ingin lagi melanjutkan sebagai pengawal gubernur, setelah terjadi peristiwa perebutan Pangeran Yung Hwa itu, aku bertemu dengan Jenderal Kao Liang yang sedang diserang oleh seorang wanita berpakaian hijau yang amat lihai. Melihat jenderal yang sudah kudengar kegagahannya itu roboh, aku merasa kasihan dan aku lalu membantunya, kuserang wanita baju hijau yang lihai itu, Suhu.”

Gurunya mengangguk-angguk. “Sekali ini kau benar, muridku. Pertama, karena engkau telah melakukan kesalahan terhadap jenderal itu dengan mencuri harta pusakanya, maka sudah selayaknya engkau menebusnya dengan membantunya, apa lagi engkau belum mengenal wanita penyerangnya itu.”

“Akan tetapi dia lihai bukan main, Suhu! Pukulan Kiam-to Sin-ciang yang kupergunakan tidak merobohkannya…“

“Ahhh, ilmumu belum cukup tinggi untuk dapat menggunakan Kiam-to Sin-ciang dengan sempurna.”

“Pada saat itu, muncul pula Siluman Kecil dan Siauw Hong. Mereka melerai, akan tetapi aku sudah terpukul oleh wanita baju hijau itu sehingga aku roboh pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi…”

”Ahhh, begitu hebat dia? Siapakah wanita itu?”

“Aku tidak tahu, Suhu. Usianya lebih tua dua tiga tahun dari pada aku, pakaiannya serba hijau, wajahnya cantik dan sikapnya dingin. Pukulannya itu hebat bukan main, aku merasa betapa seluruh tubuhku seperti dimasuki salju yang dinginnya menyusup tulang sumsum dan menyerang rongga dada sehingga aku tidak kuat dan roboh tidak ingat apa-apa lagi.”

Kakek itu mengerutkan alisnya. “Dingin…? Hemmm, tentu dia memiliki ilmu pukulan berdasarkan tenaga Im yang sangat kuat. Lalu bagaimana, Swi Hwa? Kemudian apa yang terjadi denganmu?”

Mendadak wajah gadis itu menjadi merah sekali. Dia sudah kepalang basah, sudah menceritakan segala- galanya kepada gurunya, maka sukarlah untuk menyembunyikan peristiwa yang terjadi atas dirinya, apa yang dilakukan oleh Siauw Hong itu. Teringat akan ini tiba-tiba saja gadis itu merasa amat malu dan terhina, lalu menangis!

Tentu saja Hek-sin Touw-ong menjadi terkejut sekali. Dia memandang muridnya dengan sinar mata penuh selidik, lalu dia bertanya, “Apakah yang menimpa dirimu, muridku? Mengapa engkau menangis?” Suaranya mengandung kekhawatiran karena mendengar muridnya roboh pingsan lalu kini menangis itu, dia menyangka bahwa jangan-jangan terjadi hal yang buruk atas diri muridnya.

Swi Hwa menyusut air matanya dan setelah tangisnya mereda dan hatinya mulai tenang kembali, dia melanjutkan ceritanya, “Pukulan itu membuat aku pingsan, Suhu. Aku tidak tahu apa-apa lagi. Ketika aku siuman kembali, aku telah berada di bawah pohon, di atas rumput terlentang dan… dan…“

“Ya? Bagaimana?” Gurunya bertanya dengan tangan terkepal karena hatinya tegang menanti lanjutan cerita muridnya itu.

“Ketika aku siuman kembali, aku melihat dia duduk di dekatku dan… dan tangannya diletakkan di… di atas dadaku, Suhu…“ Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

“Dia? Dia siapa?” “Siauw Hong…“

“Keparat! Berani benar dia!” Kakek itu membentak marah.

“Suhu tentu mengerti betapa kaget dan malu rasanya hatiku. Tangannya itu meraba dadaku di balik bajuku… maka aku kemudian bangkit dan memukulnya sekuat tenaga sehingga dia terlempar dan mungkin dia mampus!”

“Bagus! Benar itu! Kalau dia belum mampus, biar aku yang akan mencarinya dan memukulnya sampai mampus benar-benar! Laki-laki keparat dia itu! Siapa sih Siauw Hong itu?”

“Dia adalah pemuda yang melakukan perjalanan bersama aku dan Siluman Kecil, yang juga memasuki sayembara dan diterima menjadi pengawal, akan tetapi ketika terjadi keributan perebutan Pangeran Yung Hwa, dia membantu Siluman Kecil.”

“Hemmm, jadi dia memiliki kepandaian juga, ya? Orang macam apa dia berani berbuat kurang ajar seperti itu?”

“Dia… dia masih muda, mungkin tidak lebih tua dari pada aku, Suhu, dan dia dikenal sebagai pangeran pengemis…“

“Pengemis??” Gurunya makin penasaran. Anak angkatnya, muridnya yang tersayang itu diganggu oleh seorang pemuda pengemis?

“Ya, dia seorang pengemis aneh, dan ternyata kemudian bahwa dia adalah murid dari kakek pengemis aneh yang memimpin pasukan memperebutkan Pangeran Yung Hwa itu, Suhu.”

”Siapa? Murid siapa?” Muka kakek itu berubah.

Swi Hwa terkejut melihat perubahan muka gurunya. “Dia murid Sai-cu Kai-ong…“ “Ahhhhh…! Ya Tuhan…!”
“Ada apakah, Suhu? Mengapa Suhu demikian kaget?”

Kakek itu masih terbelalak, kemudian dia memegang lengan gadis itu dengan cepat sehingga gadis itu menjadi kaget dan takut kalau-kalau gurunya marah. Belum pernah gurunya marah kepadanya, akan tetapi sikapnya sekarang benar-benar mengagetkan hatinya.

“Hayo katakan, apakah dia melakukan hal itu, meraba dadamu, untuk berbuat kurang ajar dan melanggar susila? Apakah dia berusaha… memperkosamu?”

Sekarang Swi Hwa yang memandang dengan mata terbelalak. “Memperkosa? Apa maksudmu, Suhu? Sama sekali tidak! Dia meraba dadaku untuk menyembuhkan aku, terasa olehku dia menyalurkan sinkang yang sangat kuat dan mengusir hawa dingin akibat pukulan gadis pakaian hijau itu.”

“Ahhh…!” Kakek itu tertegun dan menjadi melongo. “Jadi dia malah menolongmu? Kalau dia menyelamatkanmu dengan mengobati lukamu, mengapa pula kau menghantamnya sampai… mungkin dia mati?”

Wajah Swi Hwa menjadi merah dan dia menunduk. “Habis… habis dia… meraba dadaku dan aku malu karena rahasiaku terbuka. Tadinya dia dan mereka semua mengira aku seorang pemuda sejati Suhu, aku selalu menyamar. Ketika aku melihat dia meraba dadaku, di balik baju, tentu saja aku merasa malu dan marah karena rahasiaku terbuka dan aku lalu memukulnya, kemudian aku melarikan diri, dan pulang ke sini.”

Kakek itu menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal. “Ahh, aku menjadi bingung, Swi Hwa. Sebentar aku marah, sebentar aku khawatir, dan kemudian aku terheran dan bingung lagi. Jadi pemuda yang mengobatimu dan juga yang berani meraba dadamu itu adalah murid Sai-cu Kai-ong?”

“Benar, Suhu.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Aaahhhhh… kekuasaan Thian sungguh amat hebat dan luar biasa, penuh rahasia ajaib…“

“Maksud Suhu?”

“Swi Hwa, engkau adalah seorang gadis yang sudah cukup umur. Sudah menjadi kewajibanku sebagai guru dan ayah angkatmu untuk memikirkan perjodohanmu…“

“Ah, Suhu! Harap jangan bicara tentang itu!” Swi Hwa berseru dan mukanya menjadi merah sekali. Dia teringat kepada Siluman Kecil, pemuda yang amat dikagumi itu, akan tetapi hatinya kecewa dan tawar kembali melihat betapa Siluman Kecil sama sekali tidak memperhatikannya, bahkan memusuhinya!

“Swi Hwa, hanya ada tiga peristiwa dalam kehidupan manusia yang kuanggap penting, bahkan yang diakui kepentingannya oleh semua orang, menjadi pusat perhatian dan didatangi sanak keluarga dan handai- taulan. Pertama adalah kelahiran, kedua adalah pernikahan dan ketiga kematian. Usiamu sudah hampir sembilan belas tahun, sudah cukup untuk memikirkan tentang jodoh. Dan setelah kau menceritakan tentang pemuda murid Sai-cu Kai-ong itu, hemmm… timbul pikiranku untuk menyelidikinya lebih jauh dan melihat kalau-kalau dia berjodoh denganmu.”

“Suhu…!”

“Swi Hwa, bagi seorang wanita terhormat dan bersusila, merupakan pantangan besar untuk membiarkan tubuhnya diraba oleh laki-laki, kecuali oleh suaminya tentu saja! Siapa berani merabanya berarti telah melakukan penghinaan dan hanya layak ditebus dengan nyawa. Oleh karena itu, pemuda bernama Siauw Hong yang telah meraba tubuhmu itu pun hanya mempunyai dua pilihan, pertama menjadi jodohmu atau kedua dia harus dibunuh!”

“Tapi… tapi… dia telah menolongku, Suhu, dia telah mengobatiku.”

“Nah, itulah sebabnya mengapa aku pun hendak menyelidiki dia. Aku pun lebih condong untuk menjodohkan dia denganmu, apa lagi mengingat bahwa dia adalah murid seorang seperti Sai-cu Kai-ong yang biar pun berkepala besar dan berhati baja, namun kurasa tentu dapat memilih seorang murid yang baik.”

“Akan tetapi, Suhu, aku belum…!”

“Ssshhhhh…!” gurunya memberi isyarat agar muridnya diam dan dia lalu meloncat ke luar dari kamar itu, diikuti oleh Swi Hwa yang juga mendengar suara ribut-ribut di luar rumah itu.

Ketika mereka tiba di luar rumah, mereka terkejut bukan main melihat para pelayan mereka telah menggeletak di sana-sini dalam keadaan tertotok, pingsan atau terluka! Pelayan-pelayan mereka adalah orang-orang yang cukup lihai, akan tetapi bagaimana dalam waktu singkat saja mereka roboh semua?

Hek-sin Touw-ong yang baru muncul itu mendadak meloncat ke samping ketika dia melihat bayangan orang berkelebat dan sinar hijau menyambarnya. Dia mengelak dan memandang. Ternyata yang menyerangnya adalah seorang wanita cantik yang pesolek, dari pakaiannya tersebar bau semerbak harum dan pedangnya yang bersinar hijau itu lihai sekali.

Segera dia mengenal wanita ini dan dia berseru marah, “Mauw Siauw Mo-li, mau apa kau? Berani benar kau mengacau di tempatku?”

“Tek Hoat, cepat…!” Mauw Siauw Mo-li sudah berseru;

Dan tanpa mempedulikan pertanyaan Hek-sin Touw-ong, dia sudah menerjang lagi dan mengirim serangan-serangan kilat kepada lawannya. Hek-sin Touw-ong adalah seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi karena dia maklum bahwa adik seperguruan Hek-tiauw Lo-mo ini adalah seorang yang amat lihai maka dia tidak berani sembrono menyambut serangan pedang itu, melainkan mengelak lagi dan mulai membalas dengan tendangan kilat yang dapat dielakkan pula oleh wanita itu.

Sementara itu, Tek Hoat yang datang bersama Mauw Siauw Mo-li sudah berkelebat ke sebelah dalam rumah. Dia melihat bayangan merah berkelebat dan di dalam keadaan remang-remang itu dia pun mengira bahwa wanita itu adalah Syanti Dewi. Bukan main girang rasa hatinya.

“Syanti Dewi…!” Dia berseru dan meloncat menghampiri, hendak memeluk dara itu. “Wuuuttttt… wirrrrr…!”

Tek Hoat terkejut bukan main karena dara yang dikira Syanti Dewi itu mengelak dan cepat menghantamnya dengan tangan kiri yang mengandung hawa tajam dan kuat sekali. Dia cepat meloncat ke belakang dan memandang. Kiranya dara itu sama sekali bukanlah Syanti Dewi, sungguh pun harus diakuinya bahwa dara itu juga cantik jelita.

Dara itu adalah Ang-siocia atau Swi Hwa yang tentu saja menjadi marah sekali melihat pemuda ini datang- datang hendak memeluknya. Dari tempat itu dia melihat suhu-nya telah bertanding melawan seorang wanita cantik yang mainkan pedang bersinar hijau secara hebat sekali, dan dia dapat melihat pula para pelayan suhu-nya telah rebah di sana-sini. Tahulah dia bahwa ada orang-orang jahat menyerbu, maka dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Tek Hoat dengan sengit dan dahsyat.

Tek Hoat terkejut dan kagum juga menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis cantik ini, akan tetapi karena dia sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat menemukan kembali Syanti Dewi yang disangkanya diculik oleh Hek-sin Touw-ong dan disembunyikan di gedung itu, cepat mengerahkan kepandaiannya, memapaki serangan Swi Hwa dengan dorongan tangan kirinya yang mengandung tenaga sakti Inti Bumi.

“Aihhh…!” Swi Hwa menjerit, ketika tubuhnya dilanda angin dahsyat yang amat kuat dan membuat dia terjengkang, dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya telah ditotok secara luar biasa sekali dan dia lantas menjadi lemas, tidak dapat berdaya lagi seperti kehilangan tenaganya.

“Hayo katakan, di mana adanya Syanti Dewi?” Tek Hoat menghardik. Akan tetapi gadis itu melotot kepadanya penuh kemarahan.

“Tidak tahu!” Gadis itu menjawab dengan keras pula.

Dua bayangan berlari datang dan mereka itu adalah Ma Khong dan Ma Ti Lok. Kedua orang ini tadinya gentar sekali ketika mendatangi rumah gedung milik Hek-sin Touw-ong itu, akan tetapi setelah mereka melihat bagaimana dengan amat mudahnya Ang Tek Hoat dan Lauw Hong Kui merobohkan para penjaga atau pengawal itu, kemudian melihat Lauw Hong Kui sudah bertempur dengan hebat lawan Hek-sin Touw- ong sedangkan Tek Hoat dengan amat mudahnya merobohkan murid Raja Maling, hati mereka menjadi besar dan mereka lalu berlari memasuki gedung itu.

Melihat mereka, Tek Hoat lalu berkata, “Hayo bantu aku mencari ke dalam gedung. Geledah semua kamar sampai kalian mendapatkan puteri yang disembunyikan itu!” Setelah berkata demikian, dia sendiri sudah mendahului mereka lari memasuki gedung untuk mencari Syanti Dewi.

Banyak sudah kamar dimasukinya, akan tetapi dia tidak juga menemukan Syanti Dewi.

“Syanti Dewi…! Syanti…! Ini aku, Tek Hoat…!” Dia berteriak-teriak akan tetapi tidak pernah ada jawaban. Dia melihat pula kedua orang Saudara Ma itu ikut mencari-cari, namun belum juga berhasil.

Tiba-tiba dia mendengar teriakan keras yang dikenalnya sebagai suara Hong Kui, “Tek Hoat…, tolonggggg…!”

Cepat Tek Hoat berloncatan dan lari ke luar. Ternyata Hong Kui terdesak hebat oleh kakek bermuka hitam yang benar-benar amat lihai itu. Bahkan pedang wanita itu telah terlempar ke atas lantai dan kini Hong Kui terdesak mundur, setiap pukulan tangan kakek itu mengeluarkan bunyi mencicit nyaring dan biar pun Hong Kui sudah mengelak ke sana-sini dengan cepat, namun tetap saja lengan kiri dan pundak kanannya keserempet pukulan sakti itu sampai berdarah seperti terluka oleh pedang tajam. Itulah pukulan Kiam-to Sin-ciang yang mukjijat!

“Wuuuttttt…!”

Tek Hoat sudah menghantam ketika dia tiba di tempat itu. Melihat ada sambaran angin dahsyat dari samping, kakek itu meninggalkan Hong Kui dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya sambil dikerahkannya tenaga Kiam-to Sin-ciang yang membuat kedua lengannya kuat dan mengandung hawa tajam seperti pedang atau golok itu.

“Plakkkkk!”

Benturan dua tenaga mukjijat yang amat hebat itu membuat kakek itu terpelanting, akan tetapi Tek Hoat kaget melihat kulit lengannya lecet berdarah!

“Ahhhhh…!” Hek-sin Touw-ong terkejut setengah mati.

Baru kali ini dia bertemu dengan seorang pemuda yang bukan hanya dapat menghadapi tenaga Kiam-to Sin-ciang tanpa membuat lengannya terluka hebat, akan tetapi juga mampu membuat dia terpelanting dan hampir roboh! Dengan marah dia lalu menerjang dan terjadilah perkelahian hebat antara Tek Hoat dan kakek muka hitam itu. Hong Kui yang tadi terdesak hebat, kini sudah mengambil kembali pedangnya dan dengan marah dia mengeroyok kakek itu untuk menebus kekalahannya dan membalas luka-luka yang dideritanya di lengan dan pundak.

Kakek itu kini sudah kewalahan dan bingung menahan serangan yang mengandung tenaga Inti Bumi yang dahsyat itu apa lagi ketika Tek Hoat mulai mempergunakan Ilmu Toat-beng-ci, melakukan totokan-totokan dengan satu jari, dia terkejut bukan main dan teringat akan nama seorang muda yang menggemparkan dunia kang-ouw.

“Si Jari Maut…!” teriaknya.

Tetapi pada saat itu pedang bersinar hijau di tangan Hong Kui telah menyambar ganas ke arah lehernya. Cepat dia menghindarkan diri dengan mengelak dan merendahkan tubuhnya, akan tetapi karena pada saat itu Tek Hoat juga sudah menyerangnya, maka sebuah totokan mengenai punggungnya dan kakek itu mengeluh, roboh terguling dalam keadaan tidak mampu bergerak lagi. Kalau orang lain yang terkena totokan Tek Hoat itu, tentu akan tewas seketika. Namun kakek itu cukup tangguh sehingga dia tidak tewas, hanya tertotok dan lumpuh.

“Hek-sin Touw-ong, hayo katakan di mana adanya Syanti Dewi!” Tek Hoat mengancam dengan jari tangan di atas ubun-ubun kepala kakek itu.

Hek-sin Touw-ong adalah seorang yang keras hati dan tidak takut mati. Dirobohkan oleh pemuda itu sudah merupakan hal yang amat memalukan, maka dia menjawab dengan jengkel, “Mau bunuh, lekas bunuh, tidak perlu banyak cakap!”

“Aku tidak akan membunuhmu, aku mencari Syanti Dewi. Kau tidak berhak menculiknya dan menyembunyikannya. Hayo katakan, di mana Syanti Dewi? Di mana?!” Tek Hoat berteriak-teriak seperti orang gila.

“Aku tidak tahu!” jawab kakek itu dan membuang muka dengan gerakan lemah karena kedua kaki tangannya lumpuh.

Tek Hoat bangkit berdiri dan menarik napas panjang, memandang kepada Hong Kui. “Aku tidak melihat Syanti Dewi di dalam,” katanya dengan hati kecewa bukan main.

“Hemmm, biar pun tidak ada Syanti Dewi, akan tetapi di dalam rumah maling ini tentu banyak barang berharga. Sebaliknya kubunuh saja dia!”

Hong Kui lalu menggerakkan pedangnya membacok ke arah leher Hek-sin Touw-ong. Kakek itu membelalakkan mata, menanti datangnya maut dengan mata terbuka.

“Wuuuttttt… tranggggg…!”

“Eh, Tek Hoat, mengapa kau?” Hong Kui meringis dan memegangi pergelangan tangan kanannya yang terasa nyeri karena tadi terpukul oleh pemuda itu sehingga pedangnya terlempar dan berkerontangan di atas lantai.

“Kau tidak boleh sembarangan membunuh, tidak boleh selagi aku di sini!” bentak Tek Hoat yang merasa mendongkol sekali karena ternyata petunjuk dari wanita itu tidak menghasilkan dia menemukan kembali Syanti Dewi. Dia merasa tertipu.

Pada saat itu, terdengar jerit wanita dari dalam. Mendengar ini, Tek Hoat cepat berlari masuk, diikuti oleh Hong Kui yang sudah menyambar kembali pedangnya. Jantung pemuda itu berdebar tegang karena dia mengira bahwa itu adalah suara jeritan Syanti Dewi.

Akan tetapi betapa kaget dan kecewanya, juga marah sekali, ketika dia tiba di tempat di mana dia tadi meninggalkan Swi Hwa yang roboh tertotok, dia melihat Ma Khong dan Ma Ti Lok sedang hendak menggagahi dara itu dan mereka telah merobek pakaiannya sehingga gadis itu tadi menjerit.

Terasa pening kepala Tek Hoat saking marahnya.

“Bedebah…!” Dia berseru dan tubuhnya meluncur ke depan. Dua kali jari tangannya bergerak dan dua tubuh Ma Khong dan Ma Ti Lok terpelanting, berkelojotan dan tewas seketika dengan dahi mereka ada tanda jari hitam!

“Tek Hoat, kau terlalu!” Hong Kui membentak marah. “Kau membunuh teman sendiri!” “Mereka layak mampus! Engkau juga!” Tek Hoat menghardik dan memandang marah.

“Keparat kau, manusia tidak mengenal budi!” Lauw Hong Kui tidak lagi dapat menahan kemarahannya dan dia menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi, dengan cepat Tek Hoat mengelak dan mendorong dengan tangan kirinya. Angin kuat menyambar dan Hong Kui terhuyung ke belakang. Wanita ini makin marah dan meloncat keluar dari dalam rumah.

“Keluarlah kau kalau jantan!” tantangnya.

Tek Hoat yang kecewa dan marah itu meloncat mengejar. Ketika tiba di luar, Hong Kui menggerakkan tangannya dan sebuah benda hitam menyambar ke arah Tek Hoat. Pemuda ini maklum bahwa itulah senjata rahasia yang paling ampuh dari Mauw Siauw Mo-li. Lawan yang kurang hati-hati dan berani menangkis senjata rahasia ini, tentu akan celaka, setidaknya tentu akan terluka. Maka dia mengelak dan membiarkan benda itu lewat.

“Darrr…!” Benda itu meledak ketika terbanting ke atas lantai dan dinding di dekatnya jebol.

Dua kali lagi Mauw Siauw Mo-li menyambitkan senjata-senjata rahasia peledaknya, namun semua dielakkan oleh Tek Hoat dan pemuda ini secepat kilat telah mengirim serangan dengan hantaman kedua tangannya dengan menggunakan tenaga dahsyat Inti Bumi. Mauw Siauw Mo-li berusaha mengelak, namun tetap saja dia terhuyung dan sebelum dia dapat menyelamatkan dirinya, sebuah tendangan kaki Tek Hoat mengenai pinggulnya.

“Bukkk! Aughhh!” Wanita itu menjerit dan tubuhnya terbanting ke atas lantai. Dia bangkit dan menggosok- gosok bukit pinggulnya yang terasa nyeri.

“Kau kejam sekali, Tek Hoat. Kubunuh kau kalau aku mendapat kesempatan!” teriaknya marah.

“Mo-li, kalau aku tidak ingat bahwa engkau telah membantuku selama ini, jangan harap kau dapat pergi dari sini dengan masih bernyawa. Sekarang, pergilah dan jangan berani memperlihatkan mukamu yang tak tahu malu itu kepadaku lagi!” Tek Hoat berkata.

“Uhhh…!” Bedebah, manusia sombong kau!” Mauw Siauw Mo-li memaki, memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia tidak berani bergerak menyerang. Akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan lari sambil berteriak melengking nyaring, semakin lama suaranya makin jauh sampai hanya terdengar seperti suara kucing terpijak ekornya.

Semua ini terlihat oleh Hek-sin Touw-ong. Dia melihat pula betapa Tek Hoat cepat lari menghampiri muridnya, menotok membebaskan gadis itu, lalu Tek Hoat menghampiri dia dan membebaskan pula totokannya.

Hek-sin Touw-ong bangkit berdiri, mengurut kedua lengannya yang terasa kaku, lalu dia memandang kepada pemuda itu dengan penuh keheranan.

“Kau… kau Si Jari Maut?” tanyanya.

Tek Hoat mengangguk. “Maafkan kalau aku telah mengganggumu, Touw-ong. Akan tetapi, tadinya aku mengira bahwa engkau telah menculik Puteri Bhutan.”

“Puteri Bhutan?” Kakek itu berkata dan mengerutkan alisnya. “Sungguh aneh, betapa banyak orang mencari Puteri Bhutan!”

“Apa maksudmu…?”

“Swi Hwa, jangan!” tiba-tiba kakek itu berteriak dan dengan tenang Tek Hoat miringkan tubuhnya, membiarkan pedang yang ditusukkan oleh Swi Hwa itu lewat di samping tubuhnya, kemudian dia menggunakan jari tangannya membabat ke bawah.

“Trakkk!” Pedang itu patah dan Swi Hwa menjerit karena tangannya terasa nyeri dan gagang pedang itu terlepas.

“Swi Hwa, jangan sembrono kau!” kembali Touw-ong membentak. Gadis itu meloncat ke samping gurunya sambil memegangi tangan kanannya dan memandang kepada Tek Hoat dengan mata berapi dan penuh kemarahan.

“Hek-sin Touw-ong, apa maksudmu mengatakan bahwa banyak orang mencari Puteri Bhutan?”

“Baru-baru ini, See-thian Hoat-su kakek ajaib penghuni Goa Tengkorak juga datang ke sini dan menanyakan apakah aku melihat Puteri Bhutan dilarikan orang. Ketika aku mengatakan bahwa aku tidak melihatnya, dia lalu pergi. Dan sekarang, engkau dan Mauw Siauw Mo-li datang mencari Puteri Bhutan pula.”

Hati Tek Hoat kecewa sekali. “Aku telah dibohongi oleh wanita jalang itu. Jadi engkau benar tidak pernah melihat puteri itu, Touw-ong?”

“Guruku sudah bilang tidak melihatnya, mengapa banyak cerewet lagi?”

Tek Hoat menarik napas panjang. Dia maklum mengapa gadis ini marah-marah, karena betapa pun juga, kedua orang Saudara Ma itu tadinya datang bersama dia sebagai kawan-kawannya.

“Sudahlah, maafkan aku kalau kalian tidak tahu!” Berkata demikian, sekali berkelebat Tek Hoat sudah lenyap dari depan mereka.

“Jahat dia…!” Swi Hwa berkata.

“Sssttt…!” Gurunya memegang tangan muridnya agar jangan bergerak. Kemudian dia menoleh kepada mayat kedua orang she Ma itu, menggelengkan kepala dan berkata, “Sungguh hebat sekali kepandaian Si Jari Maut. Pantas saja dia terkenal sekali, kiranya memang dia amat hebat. Entah tenaga apa yang dia pergunakan tadi sehingga aku sendiri kewalahan menghadapinya. Sayang ada wanita iblis tadi yang ikut membantu, kalau tidak, aku ingin sekali bertanding dengan pemuda hebat itu.”

“Siapa sih Puteri Bhutan yang dicarinya itu, Suhu?”

“Entah. Ah, sungguh aneh sekali peristiwa ini, Swi Hwa. Engkau mencuri barang-barang dari tiga orang sakti, akan tetapi yang datang bukannya Jenderal Kao, Siluman Kecil atau Sin-siauw Sengjin, melainkan Si Jari Maut dan Mauw Siauw Mo-li! Untung masih baik kesudahannya. Ahhh, peristiwa ini semakin mendorong hatiku untuk cepat-cepat menjumpai Saicu Kai-ong…“

Kakek itu lalu menolong para anak buahnya yang tertotok, pingsan dan ada pula yang terluka. Kemudian mereka mengurus mayat dua orang penyerbu itu. Beberapa hari kemudian, Hek-sin Touw-ong bersiap-siap untuk menghubungi Sai-cu Kai-ong, tokoh yang sebetulnya telah lama menjadi sahabatnya, akan tetapi yang selama belasan tahun ini tidak pernah lagi berhubungan dengan dia…..

********************

Kita kembali melihat keadaan di lembah Huang-ho, di dalam markas besar perkumpulan Kui-liong-pang yang kini dipergunakan oleh Pangeran Liong Bian Cu sebagai benteng. Telah diceritakan di bagian depan betapa Jenderal Kao Liang sendiri telah berada di dalam cengkeraman Pangeran Liong Bian Cu, membuat jenderal gagah perkasa itu tidak berdaya karena seluruh keluarganya berada di dalam tangan Pangeran Nepal itu. Apa lagi ketika jenderal ini melihat betapa Puteri Bhutan, anak angkatnya, juga menjadi tawanan di tempat itu. Terpaksa dia bekerja sungguh-sungguh dan membangun tempat itu menjadi sebuah benteng yang amat kuat. Dia sudah berjanji dan sebagai seorang gagah dia akan memegang janjinya, yaitu membuat tempat itu menjadi benteng yang tidak akan dapat dibobolkan musuh dan dia sendiri yang akan mengatur penjagaan mempertahankan benteng itu di saat yang perlu!

Ketika benteng itu masih belum selesai benar dibangun di bawah pimpinan Jenderal Kao, tempat itu telah mengalami serangan dan telah membuktikan kehebatan Jenderal Kao dalam mempertahankan tempat itu. Serangan ini datang di waktu malam hari, terdiri dari lima puluh orang yang dipimpin tiga orang kakek yang amat lihai.

Peristiwa itu terjadi di malam terang bulan dan biar pun benteng itu belum selesai dibangun, namun tali-tali rahasia yang dipasang oleh Jenderal Kao telah membunyikan genta memberi tahu bahwa ada serombongan orang datang dari utara menuju ke lembah itu! Tali-tali rahasia itu menjadi satu dengan akar- akar dan ranting-ranting pohon sehingga ketika dilanggar oleh rombongan orang itu, menggerakkan genta di dalam benteng dan segera para penjaga bersiap dan melakukan penjagaan ketat, diatur sendiri oleh Jenderal Kao Liang yang sudah melatih anak buah Kui-liong-pang dan anak buah Pangeran Nepal itu menjadi pasukan yang tangkas dan hebat! Semua ini ditonton dengan kagum oleh Liong Bian Cu, Hek-hwa Lo-kwi, Hek-tiauw Lo-mo, Gitananda, dan Ban hwa Sengjin yang lebih banyak tinggal di dalam gedung, bersikap tenang akan tetapi dia selalu menerima laporan dari Gitananda akan segala yang terjadi di luar kamarnya.

Siapakah para penyerbu itu? Mereka ini bukan lain adalah para anggota Liong-sim-pang yang dipimpin sendiri oleh Hwa-i-kongcu Tang Hun, dibantu oleh tiga orang kakek lihai, yaitu Hak Im Cu, Ban-kin-swi Kwan Ok, dan Hai-liong-ong Ciok Gu To. Seperti kita ketahui Hwa-i-kongcu Tang Hun merasa amat kecewa, penasaran dan marah sekali ketika Syanti Dewi yang akan menjadi isterinya itu tiba-tiba lenyap di tengah-tengah pesta pernikahannya! Dia merasa kecewa karena kehilangan calon isteri yang cantik jelita, akan tetapi yang lebih menyakitkan hatinya lagi, dia merasa malu.

Dia telah mengundang banyak tamu, di antaranya banyak tokoh-tokoh kang-ouw dan banyak pembesar penting, dan ditengah pesta itu, pengantin wanitanya diculik orang begitu saja! Hal ini merupakan tamparan hebat bagi mukanya, kehormatannya, dan dia tidak akan berhenti sebelum bisa mendapatkan kembali pengantinnya. Oleh karena itu, dia mengerahkan seluruh anak buah Liong sim-pang untuk melakukan penyelidikan dan pencarian. Bahkan dia mengandalkan harta bendanya yang besar untuk disebarkan di antara orang-orang kang-ouw agar mereka suka membantunya dan tidak lupa dia menjanjikan hadiah yang akan dapat membuat orang mendadak menjadi kaya raya kalau bisa menemukan jejak puteri itu!

Karena usahanya yang mati-matian ini, maka boleh dibilang semua orang kang-ouw tahu belaka bahwa Hwa-ikongcu Tang Hun menjanjikan hadiah besar itu, maka semua orang memasang mata dan telinga untuk ikut mencari. Akan tetapi, ketika Syanti Dewi berada bersama See-thian Hoat-su, lalu terampas oleh Gitananda dan disembunyikan di tempat rahasia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sehingga sia-sia saja Tang Hun mencari dan mengerahkan banyak orang. Setelah puteri itu oleh Gitananda dibawa ke lembah Huang-ho dan puteri itu kelihatan oleh semua anggota Kui-liong-pang dan para anak buah Hek- tiauw Lo-mo dan Pangeran Nepal, ada saja yang kemudian membocorkan berita ini sehingga akhirnya sampai juga ke telinga Hwa-i-kongcu Tang Hun.

Tentu saja Tang Hun menjadi marah sekali dan juga girang karena akhirnya dia tahu di mana adanya pengantinnya itu. Mendengar bahwa Puteri Bhutan itu ditawan oleh perkumpulan Kui-liong-pang, dia lalu mengumpulkan semua anak buahnya, dan dibantu oleh tiga orang kakek lihai itu dia memimpin sendiri pasukannya menuju ke lembah Huang-ho dan malam itu dia menyerbu Kui-liong-pang. Sama sekali dia tidak tahu bahwa tempat itu kini sedang dibangun sebagai benteng yang kokoh kuat oleh bekas panglima besar Jenderal Kao, dan lebih lagi dia tidak menyangka bahwa kedatangan mereka telah diketahui dan Jenderal Kao, yang merupakan seorang ahli perang amat pandai itu, dan yang telah mempersiapkan sambutan hangat atas penyerbuannya!

Dengan hati-hati sekali tiga orang kakek lihai yang membantu Tang Hun itu memimpin pasukan memasuki lembah dari utara. Hak Im Cu, kakek tosu, seorang di antara tiga pembantu itu, bertugas sebagai penunjuk jalan, oleh karena tosu ini pernah datang mengunjungi lembah ketika di situ diadakan pertemuan antara orang-orang kang-ouw. Tentu saja Hak Im Cu tidak dapat mengambil jalan rahasia, seperti pada waktu dia mengunjungi tempat itu dulu, melainkan mengambil jalan liar yang telah diperhitungkan sebagai jalan paling aman untuk menyerbu lembah itu. Satu-satunya halangan adalah sungai yang mengurung lembah itu, sungai yang terjadi ketika .lembah itu dibanjiri air ketika diadakan pertemuan dahulu. Akan tetapi mereka telah siap dengan alat-alat untuk berenang dan menyeberang.

Ketika mereka tiba di tepi sungai, giranglah hati mereka bahwa di situ tidak terdapat penjagaan sehingga mereka dapat menyeberang dengan mudah, menggunakan perahu-perahu darurat. Dan betapa girang hati mereka ketika melihat bahwa pagar tembok di seberang sungai itu ternyata masih baru dibangun dan belum selesai sehingga tempat itu terbuka. Yang lebih menggirangkan lagi, tidak ada penjagaan di situ sehingga setelah bersembunyi dan mengintai sampai lama, kemudian yakin bahwa tempat itu sunyi tidak ada penjaga, mereka lalu bergerak merayap dan memasuki daerah lembah. Atas pimpinan Tang Hun sendiri, mereka lalu berindap-indap dan memecah diri menjadi kelompok-kelompok terpisah menghampiri rumah besar yang mereka kira tentu menjadi bangunan pusat di mana berdiam ketua Kui-liong-pang dan di mana puteri itu dikeram!

Tang Hun telah mendengar bahwa ketua Kui-liong-pang adalah seorang kakek sakti berjuluk Hek-hwa Lo- kwi, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Akan tetapi, dengan adanya tiga orang kakek sakti yang membantunya, tentu saja dia tidak merasa takut. Apa lagi setelah kini dia bersama pasukannya mampu mengepung rumah besar itu, mempersiapkan anak panah dan api yang mereka nyalakan secara serentak, merupakan obor-obor yang bernyala terang dan menerangi seluruh tempat itu, Tang Hun merasa yakin bahwa dia akan dapat memaksa tuan rumah mengembalikan pengantinnya. Dengan sikap garang dia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, diapit oleh tiga orang kakek dan para pengawalnya, menghadap ke pintu depan dari rumah besar itu lalu berteriak lantang, “Hek-hwa Lo-kwi, ketua Kui-liong-pang! Keluarlah dan mari kita bicara!”

Di antara cahaya obor yang amat banyak dan amat terang, semua mata ditujukan ke arah daun pintu besar itu dan tiba-tiba daun pintu terbuka dari dalam. Muncullah beberapa orang dari sebelah dalam pintu itu dan Tang Hun memandang dengan terheran-heran ketika melihat bahwa yang memimpin rombongan orang itu adalah seorang kakek botak berjubah merah yang bersikap penuh wibawa, berpakaian indah dan sikapnya seperti seorang bangsawan tinggi.

Di kanan dan kiri kakek botak ini berjalan dua orang kakek lainnya yang keadaannya mengerikan dan menyeramkan. Yang di sebelah kiri adalah kakek tinggi kurus bermuka tengkorak yang dia duga tentulah Hek-hwa Lo-kwi karena dia sudah mendengar akan kakek yang berpakaian serba hitam, mukanya yang seperti tengkorak itu putih seperti kapur. Sedangkan yang berada di sebelah kanan kakek botak itu adalah seorang kakek raksasa yang amat buas kelihatannya. Dia tidak tahu bahwa itulah Hek-tiauw Lo-mo. Akan tetapi dia segera mengenal kakek berkulit hitam, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut, memegang sebatang tongkat itu. Itulah Gitananda, kakek Nepal yang dulu hadir pula di dalam pesta pernikahannya. Gitananda berjalan di belakang kakek botak itu!

Tetapi Tang Hun tidak mempedulikan mereka semua itu dan dia hanya memandang kepada Hek-hwa Lo- kwi dan sambil mengangkat dada dia berkata, “Hek-hwa Lo-kwi, karena engkau adalah ketua dari tempat ini…“

“Hwa-i-kongcu, biar pun aku adalah ketua dari Kui-liong-pang, akan tetapi pada saat ini yang memimpin kami adalah Ban-hwa Sengjin, koksu dari Nepal ini, yang mewakili Pangeran Liong Bian Cu. Kau boleh bicara dengan beliau!” kata Hek-hwa Lo-kwi sambil menunjuk ke arah kakek berkepala botak yang bersikap dingin dan tenang itu.

Tang Hun mengerutkan alisnya, merasa bahwa belum apa-apa dia sudah keliru dan salah duga. Akan tetapi mendengar itu, tentu saja perhatiannya kini beralih pada kakek botak yang kini juga bertanya kepadanya, suaranya tenang dan jelas biar pun masih ada nada asing.

“Jadi engkau adalah Hwa-i-kongcu Tang Hun ketua dari Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Pegunungan Lu-liang-san? Selamat datang, Tang-kongcu, ada keperluan apakah engkau datang bersama pasukanmu di waktu malam begini tanpa memberi tahu lebih dulu kepada kami?”

Tang Hun merasa serba salah. Kiranya kakek ini adalah koksu dari Nepal! Nama ini mulai terkenal akhir- akhir ini, bahkan ketika dia mengadakan pesta pernikahan, dia mengirim undangan kepada koksu itu yang berada di gubernuran Ho-nan, dan koksu itu diwakili oleh kakek Gitananda. Juga ketika mendengar bahwa kakek ini adalah Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal, tiga orang kakek yang mengiringkan Hwa-i-kongcu menjadi kaget bukan main. Tetapi, karena sudah terlanjur menyerbu dan kini sudah mengurung rumah itu, Hwa-i-kongcu Tang Hun yang ingin merampas kembali pengantinnya, tetap bersikap angkuh dan tidak mau kalah wibawa.

Dia menjura dengan sikap hormat. “Ah, kiranya Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal yang memimpin tempat ini? Sungguh kebetulan sekali! Sengjin tentu telah mengetahui akan peristiwa yang terjadi di tempat tinggal saya pada waktu pesta pernikahan saya, karena kalau tidak salah, wakil Sengjin yang sekarang juga berdiri di belakang Sengjin, yaitu Kakek Gitananda, pada waktu itu juga hadir. Terjadilah keributan pada waktu itu dan pengantin wanita diculik orang.”

“Hemmm, kami sudah mendengar akan hal itu. Lalu mengapa?” tanya koksu itu dengan sikap tidak acuh.

Sikap itu membuat Tang Hun merasa tidak enak. Kalau koksu ini sudah tahu, tentu tahu pula bahwa dia datang untuk menuntut dikembalikannya Syanti Dewi, akan tetapi koksu itu pura-pura tidak tahu saja!

“Maaf, Ban-hwa Sengjin,” katanya dan keangkuhannya mulai menurun karena dia benar-benar merasa gentar menghadapi koksu yang berwibawa ini dan tempat itu terlalu sunyi sehingga mencurigakan. “Karena saya mendengar bahwa pengantin saya berada di lembah ini, maka saya datang bersama teman-teman saya untuk menjemput calon isteri saya itu. Harap saja Sengjin mengingat persahabatan antara kita dan suka menyerahkan pengantin saya kepada saya.”

Ban-hwa Sengjin mengangkat mukanya, sikapnya makin angkuh dan dia berkata dengan suara yang nadanya menantang, “Memang Puteri Bhutan berada di sini dan kami tak bersedia menyerahkan dia kepadamu, Tang-kongcu. Sebaiknya Kongcu cepat membawa pasukan Kongcu pergi dari tempat ini!”

Tang Hun mengerutkan alis. Jantungnya berdebar tegang. Kiranya benar pengantinnya berada di tempat ini! Hatinya girang akan tetapi juga tegang karena sikap Koksu Nepal ini agaknya hendak menentangnya!

“Ban-hwa Sengjin! Puteri itu adalah calon isteri saya, pengantin saya. Sudah sepatutnya kalau dikembalikan kepada saya!”

“Kami tidak bersedia menyerahkan beliau kepadamu. Habis engkau mau apa?” Inilah tantangan!

Hwa-i-kongcu yang mengandalkan bantuan tiga orang kakek sakti dan anak buahnya, tentu saja mulai menjadi marah. Biar pun kakek botak ini adalah Koksu Nepal yang kabarnya amat lihai dan berkuasa, akan tetapi pada saat itu dialah yang berada dalam kedudukan menang. Tempat itu telah dikurungnya! Dan dia pun masih mengandalkan gurunya yang biar pun tidak ikut di dalam pasukan itu, namun secara aneh dan diam diam, gurunya tentu melindunginya pula!

“Ban-hwa Sengjin, harap suka memikirkan baik-baik. Ketahuilah bahwa kalian semua telah terkepung. Lihat betapa pasukan kami telah siap dengan anak panah dan api, sekali saja saya memberi aba-aba, rumah ini akan dibakar dan kalian semua akan dihujani anak panah. Saya tidak menghendaki hal itu terjadi, maka sebaiknya supaya puteri itu cepat diserahkan kepada kami dan kami akan pergi sekarang juga.”

“Benarkah itu? Apakah bukan engkau dan pasukanmu yarig sudah berada dalam kepungan kami? Tang- kongcu, tengoklah di belakang kalian dan di atas.” Kakek botak itu berkata sambil menudingkan jari telunjuknya ke belakang pasukan Tang Hun dan ke atas genteng rumah dan pohon-pohon.

Hwa-i-kongcu Tang Hun cepat menengok, demikian pula tiga orang kakek pembantunya dan mereka terkejut bukan main. Ternyata di belakang mereka terdapat pasukan yang lengkap dengan anak panah yang sudah ditodongkan ke arah mereka, dan selain pasukan itu, juga kini muncul banyak orang-orang di atas genteng dan di pohon-pohon sekitar tempat itu, semua mementang gendewa dan menodongkan anak panah ke arah mereka. Karena mereka membawa obor, maka mereka merupakan sasaran empuk sekali sedangkan pihak musuh yang bersembunyi itu memang amat sukar diserang!

Wajah Hwa-i-kongcu menjadi pucat sekali. “Bagaimana, Hwa-i-kongcu? Apakah masih akan dilanjutkan persiapan pertempuran ini? Kalau kami memberi aba-aba, sekali serbu saja akan habislah anak buahmu. Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara sebagai sahabat?”

Hwa-i-kongcu memandang pada tiga orang kakek pembantunya. Mereka pun kelihatan gentar sekali, maka tahulah pemuda ini bahwa dia benar-benar sudah kalah sebelum perang!

“Sudahlah, mari kita bicara sebagai sahabat, Sengjin!”

Mendengar ini, Hek-hwa Lo-kwi tertawa bergelak, dan Ban-hwa Sengjin berkata ke arah tempat gelap, “Kao-goanswe, pihak lawan telah menjadi kawan, sebaiknya tarik mundur pasukanmu!”

Dari tempat gelap itu muncul seorang laki-laki tua yang tinggi tegap dan gagah sekali. Dengan gerakan yang gagah dia mengangkat sebatang pedang ke atas dan tanpa bersuara, lenyaplah pasukan yang mengepung tempat itu tadi, juga mereka yang muncul di atas genteng dan di pohon-pohon juga lenyap dalam gelap.

Diam-diam Hwa-i-kongcu terkejut bukan main. Kiranya pihak musuh sudah siap sedia dan dia bersama pasukannya benar-benar telah terjebak.

“Hwa-i-kongcu, kalau benar-benar kau datang sebagai sahabat, harap perintahkan anak buahmu untuk melemparkan senjata mereka,” kata Ban-hwa Sengjin.

Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak melihat jalan lain. Melawan berarti bunuh diri, karena mereka telah dikurung. Maka dia lalu mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru lantang, “Buang senjata kalian semua! Kita datang sebagai sahabat!”

Pasukannya tadi pun melihat bahwa merekalah yang terkepung, bukan mereka yang mengepung, maka mereka tadi sudah merasa gentar sekali. Kini mendengar perintah majikan mereka, semua orang membuang gendewa dan anak panah, bahkan banyak pula yang melolos pedang dan golok, lalu melemparkannya ke atas tanah.

Melihat ini Ban-hwa Sengjin mengangguk-angguk puas. “Tang-kongcu, engkau sungguh dapat melihat gelagat. Tidak tahukah engkau bahwa engkau telah berada di tepi jurang maut? Engkau belum mengenal tempat ini dan tidak mengetahui keadaan kami, maka berani memandang rendah. Ketahuilah bahwa pemimpin penjagaan benteng kami ialah Jenderal Kao Liang, bekas panglima besar kerajaan. Apakah kau belum mendengar nama besarnya?”

Tang Hun mengangguk-angguk, hampir tidak percaya. Benarkah Jenderal Kao Liang kini berkerja sama dengan mereka ini?

“Engkau sudah melihatnya namun masih belum percaya. Kau kira siapakah panglima yang menjebak dan mengurungmu tadi? Marilah, mari kita bicara di ruangan tamu, dan kami akan memberi penjelasan agar engkau tahu bahwa bersahabat dengan kami akan menguntungkan pihakmu.” Lalu dia memandang. “Suruh pasukanmu beristirahat dan bermalam di dalam rumah ini. Mereka akan menerima hidangan sekedarnya.”

Dengan perasaan yang makin terheran-heran Hwa-i-kongcu mendapatkan kenyataan bahwa rumah besar yang di kurungnya itu adalah rumah kosong! Sama sekali bukanlah bangunan induk, tempat tinggal para pimpinan tempat itu! Melainkan rumah besar yang berada di depan. Dengan mengiringkan rombongan tuan rumah, diterangi oleh obor obor besar yang dipegang oleh barisan selosin orang, Hwa-i-kongcu dan tiga orang kakek pembantunya lalu meninggalkan pekarangan rumah besar itu setelah menyuruh semua anak buahnya menanti di situ.

Dan mereka kini masuk ke dalam lembah, melalui tembok yang tebal dan terjaga kuat, kemudian melewati pagar-pagar tembok lain dan baru setelah melewati tujuh lapis pagar tembok yang semua terjaga dan memiliki liku-liku yang aneh dan tidak mudah dilalui orang luar yang belum mengenal rahasia tempat itu, mereka tiba di pusat lembah itu. Dan Tang Hun mengeluarkan seruan tertahan saking kagumnya. Di tengah-tengah itu, barulah terdapat bangunan-bangunan seperti istana dan keadaan di situ terang benderang karena banyaknya lampu penerangan yang dipasang di seluruh tempat.

Melalui barisan penjaga yang kelihatan gagah dan bertubuh tegap, mereka memasuki ruangan depan sebuah rumah besar. Seorang yang berpakaian perwira menyambut rombongan ini dan setelah memberi hormat kepada Ban-hwa Sengjin, dia berkata, “Pangeran menanti rombongan di ruangan tamu!”

Ban-hwa Sengjin menoleh kepada Tang Hun. “Hemmm, pangeran berkenan menerima Kongcu, hal ini baik sekali! Silakan.”

Makin terbelalak mata Hwa-i-kongcu Tang Hun ketika dia memasuki ruangan tamu. Dia sendiri adalah seorang kaya raya dan rumahnya seperti istana. Namun dibandingkan dengan keadaan rumah besar ini, dia merasa iri. Mewah sekali keadaan di rumah ini dan ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang besar, dia melihat seorang pemuda yang berpakaian indah telah duduk seorang diri di situ, di kepala sebuah meja besar. Dia tidak mengenal pemuda itu, akan tetapi melihat kulitnya dan wajahnya, dia menduga bahwa pemuda itu tentu seorang peranakan Nepal.

Ketika dia melihat Ban-hwa Sengjin memberi hormat dengan membungkuk, sedangkan Gitananda yang semenjak tadi diam saja memberi hormat sambil berlutut, juga Hek-hwa Lo-kwi dan kakek raksasa yang lain itu semua turut memberi hormat, sedangkan para pengawal juga memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki kemudian mundur dengan tertib, dia menduga bahwa tentu pemuda ini bukan orang sembarangan dan agaknya dialah yang disebut pangeran oleh perwira tadi.

Hak Im Cu, tosu tinggi kurus, seorang di antara tiga orang pembantunya yang menjadi penunjuk jalan ke lembah itu karena dia pernah mengunjungi lembah ini ketika di situ diadakan pertemuan, berbisik di belakangnya, “Kongcu, beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Raja Nepal.”

Ban-hwa Sengjin mendengar bisikan itu, tersenyum dan berkata, “Benar, hendaknya Cu-wi ketahui bahwa beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Sri Baginda Raja Nepal.”

Mendengar ini, Hwa-i-kongcu Tang Hun dan tiga orang pembantunya cepat-cepat maju memberi hormat dengan menjura sampai dalam. Pangeran Liong Bian Cu tersenyum ramah dan mengangguk kemudian menggerakkan lengan kanannya mempersilakan. “Duduklah, Tang-kongcu dan Sam-wi Lo-enghiong. Duduklah sebagai tamu terhormat dan mari kita bicara sebagai sahabat-sahabat!”

Tang Hun dan tiga orang pembantunya segera duduk. Tiga orang pembantu Tang Hun itu bukanlah sembarang orang. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi dan sudah mengalami banyak hal yang hebat. Namun keadaan di ruangan itu membuat mereka kagum dan juga berhati-hati, karena belum pernah mereka menjadi tamu pangeran dan koksu dari negara Nepal yang serba asing. Mereka memandang ke arah pangeran yang tampan namun aneh itu, dan kepada Ban-hwa Sengjin yang duduk di sebelah kanan pangeran.

Gitananda yang matanya tajam seperti mata burung rajawali itu, dan sangat cekung, berdiri di belakang Ban-hwa Sengjin seperti pengawal dan memang sesungguhnya, Gitananda bertugas sebagai pembantu dan pengawal koksu itu. Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi duduk di sebelah kiri Pangeran Liong Bian Cu, dan pada saat itu, dari luar datang seorang laki-laki tua yang melangkah lebar dengan gagah, setelah tiba di dekat meja, dia langsung memberi hormat kepada Pangeran Liong dengan menjura dan menganggukkan kepala, pemberian hormat yang singkat dan tidak terlalu merendah, kemudian dia mengambil tempat duduk di kursi paling kiri, duduk diam seperti patung.

Itulah lenderal Kao Liang dan Hwa-i-kongcu melihat dengan pandang mata kagum akan tetapi juga terheran-heran. Dia tentu saja sudah mendengar akan nama besar jenderal ini. Seorang panglima sejati yang sejak turun-temurun sangat setia kepada kerajaan, gagah perkasa dan pandai, sudah membasmi entah berapa banyak pemberontakan. Akan tetapi sekarang jenderal itu duduk semeja dengan seorang Pangeran Nepal dan agaknya bekerja kepada pangeran ini!

Sementara itu, Pangeran Liong Bian Cu yang sudah mendengar semua laporan tentang penyerbuan Tang Hun, kini sambil tersenyum memandangi empat orang tamunya satu demi satu. Dia melihat Tang Hun sebagai seorang pemuda yang berwajah tampan, pesolek dan cerdik.

Pemuda ini usianya sudah tiga puluh tahun namun masih kelihatan amat muda, bajunya kembang- kembang indah, sepasang matanya tajam berpengaruh. Rambut kepalanya terhias sebuah hiasan rambut seekor naga kecil dengan sepasang mata mutiara mencorong, juga di bajunya yang berkembang terhias mainan emas terukir berbentuk naga yang sama. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah, terhias emas dan permata, sarungnya ukir-ukiran burung hong dan liong, ronce roncenya merah dari bulu halus. Seorang kongcu yang hebat, pikir pangeran ini. Kalau saja kepandaiannya sehebat keadaan lahiriahnya, dia dapat menjadi pembantu yang baik, pikirnya pula. Kemudian dia melayangkan pandang matanya kepada tiga orang pembantu kongcu itu.

Tosu itu usianya kurang lebih enam puluh tahun. Wajahnya bengis tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya sederhana dan pedangnya tergantung di punggung, gagangnya menonjol di belakang pundak kanan. Kelihatannya sederhana saja, akan tetapi melihat sinar matanya dan gerak-gerik tubuhnya yang amat ringan, dapat diduga bahwa tosu ini tentu pandai sekali ilmu silatnya. Dugaan itu memang benar karena Hak Im Cu, tosu itu, memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali ginkang-nya yang membuat dia dapat bergerak seperti terbang saking ringan dan cepatnya.

Orang kedua ialah seorang kakek yang usianya juga sudah enam puluhan tahun, tinggi besar dengan muka kehitaman. Gerak-geriknya kasar namun tubuhnya membayangkan tenaga yang amat kuat. Memang Ban-kin-kwi Kwan Ok ini, sesuai dengan julukannya, yaitu Setan Bertenaga Selaksa Kati, adalah seorang yang amat kuat dan mempunyai tenaga gajah. Dia pun seperti Hak Im Cu, menjadi pembantu Hwa-i- kongcu karena dia dapat bergelimang dalam kemewahaan dan kekayaan.

Ada pun pembantu ketiga adalah seorang kakek gundul pendek gemuk, namun melihat pakaiannya, biar pun kepalanya gundul, dia bukanlah seorang hwesio. Kepalanya itu gundul karena penyakit kulit kepala, bukan digundul. Kakek yang usianya juga sudah enam puluh tahun lebih ini juga bukan orang sembarangan, melainkan seorang yang ahli dalam ilmu bermain di air, dan selain itu, juga dia memiliki sinkang yang kuat, seorang ahli lweekeh yang tangguh.

Setelah puas memandangi empat orang tamunya, sementara itu pelayan mulai datang menyuguhkan arak dan kue-kue. Atas isyarat Pangeran Nepal itu, seorang pelayan segera maju dan dengan sikap menghormat pelayan ini lalu menuangkan arak di dalam cawan-cawan di depan rombongan tuan rumah dan empat orang tamu itu.

“Silakan minum Tang-kongcu dan para Lo-enghiong!” kata Liong Bian Cu sambil mengangkat cawannya, diikuti oleh Koksu Nepal, Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi dan Jenderal Kao Liang. Gitananda tidak pernah minum arak, pula dia adalah seorang pengawal pribadi koksu, maka dia tentu saja tidak ikut berpesta melainkan berdiri di belakang koksu itu dengan tenang dan sikap penuh kewaspadaan.

Setelah para tamunya minum arak, Pangeran Nepal itu kemudian memandang kepada Hwa-i-kongcu dan bertanya, “Sekarang, harap Tang-kongcu suka mengatakan kepada kami dengan terus terang akan maksud kunjungan Kongcu yang amat mendadak ini.”

Hwa-i-kongcu Tang Hun memandang pada pangeran itu. Pangeran Nepal itu demikian ramah sikapnya, maka timbul kembali harapannya. Siapa tahu, pangeran yang ramah ini akan dapat memaklumi keadaannya, maka cepat dia menjawab dengan sikap amat menghormat, “Harap Paduka suka memberi maaf kepada kami bahwa kami berani datang berkunjung tanpa lebih dulu minta ijin Paduka. Sesungguhnya, telah beberapa lama saya kehilangan calon isteri saya yang lenyap pada saat sedang diadakan pesta pernikahan kami di tempat kediaman kami, yaitu di Puncak Naga Api. Kemudian kami mendengar bahwa isteri saya itu berada di sini, oleh karena itu saya datang dengan rombongan, bermaksud untuk menjemput pengantin saya.” Setelah berkata demikian, wajah pemuda yang tampan dan pesolek itu memandang kepada Pangeran Nepal itu dengan penuh harapan.

Pangeran itu tersenyum dan bertanya, “Tang-kongcu, siapakah nama pengantinmu itu?” “Namanya… Syanti Dewi…”

Mendadak pandangan mata pangeran itu menjadi tajam sekali dan jantung Tang Hun berdebar. Pangeran ini memiliki sepasang mata yang aneh, tajam dan menyeramkan. Sorbannya yang besar itu tengahnya, di atas dahi, dihias dengan sebuah mutiara yang besar dan bercahaya, berkilau-kilauan agak kebiruan. Mutiara yang amat besar dan amat jarang terdapat. Akan tetapi agaknya, dari dua buah mata yang kehitaman itu mencorong sinar yang lebih menyilaukan dari pada mutiara itu.

“Tang-kongcu,” kini suara pangeran itu berbeda dengan tadi, tidak lagi ramah dan halus melainkan kaku dan dingin, “Tahukah engkau siapa adanya Syanti Dewi?”

Mendengar pertanyaan itu Tang Hun terkejut dan kini dia baru melihat betapa ada tiga pasang mata yang memandang dengan sinar mata tajam dan penuh ancaman, yaitu tiga pasang mata dari pangeran itu sendiri, Koksu Nepal dan kakek Gitananda! Dengan gugup dia menjawab, “Saya… saya hanya mendengar dia dari Bhutan dan…“

“Dia adalah Puteri Syanti Dewi, puteri tunggal dari Raja Bhutan! Dan tahukah kau apa artinya ini? Berarti engkau hendak menghina Bhutan dan karena Bhutan serumpun dengan Nepal, maka engkau seolah-olah hendak menghina Nepal!”

“Tidak… bukan begitu maksud saya,” Tang Hun berkata cepat. “Sebetulnya saya tidak tertarik oleh kebangsaannya, melainkan oleh pribadinya, maka…“

“Cukup, Tang-kongcu!” Tiba-tiba terdengar suara Ban-hwa Sengjin, Koksu Nepal itu. “Hendaknya Tang- kongcu membuang jauh-jauh pikiran itu kalau Kongcu ingin selamat. Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan adalah menjadi tamu agung kami di sini, apakah Kongcu berani hendak menghina dan mengganggu beliau?”

Tang Hun terkejut bukan main. Tidak pernah terpikir olehnya sedemikian jauhnya. Dia memang mendengar bahwa Syanti Dewi berasal dari Bhutan dan kabarnya seorang puteri, akan tetapi hal itu tidak begitu penting baginya, apa lagi karena bagi dia dan sebagian besar di antara bangsanya, bangsa-bangsa asing di barat hanyalah bangsa bangsa yang derajatnya rendah! Baginya yang terpenting adalah kecantikan Syanti Dewi yang membuatnya tergila-gila. Dia tidak peduli apakah dara itu puteri raja ataukah puteri pengemis! Tetapi ternyata persoalannya tidaklah sesederhana yang disangkanya dan dia kini dianggap melakukan penghinaan terhadap bangsa Bhutan dan Nepal!

“Ah, maafkan saya…, saya tidak tahu sama sekali akan hal itu… dan setelah mendengar penjelasan Paduka Pangeran dan Koksu, tentu saja saya tahu diri dan tidak akan melanjutkan keinginan saya.”

“Bagus! Ternyata Tang-kongcu adalah seorang yang bijaksana dan dapat diajak bersahabat!” Pangeran Liong Bian Cu berseru girang. “Kami pun jauh-jauh datang dari barat sekali-kali bukan mencari lawan, melainkan mencari kawan untuk bersama-sama menghadapi Kerajaan Ceng. Bagaimana Tang-kongcu, dapatkah kami mengharapkan bantuan Kongcu dan Liong-sim-pang?”

Wajah Tang Hun yang tadinya agak muram karena lenyapnya harapan hatinya untuk dapat memperisteri Syanti Dewi, kini berseri. Dia melihat kesempatan yang baik sekali untuk mencari kedudukan dan tentu saja menambah besarnya kekayaannya. Sekarang, biar pun kaya raya namun dia tidak memiliki kedudukan, bukan bangsawan melainkan orang biasa. Agaknya hal inilah yang tidak memungkinkan dia menikah dengan seorang puteri! Berbeda tentu kalau dia memiliki kedudukan tinggi di samping harta kekayaan, kekuasaan dan kepandaiannya.

“Tentu saja saya merasa terhormat sekali dan suka membantu perjuangan Paduka Pangeran. Memang telah lama saya mendengar betapa kaisar yang tua amat lemah, kekacauan terjadi di mana-mana dan bahkan kabarnya Gubernur Ho-nan…“ Tiba-tiba dia berhenti dan memandang Jenderal Kao Liang yang duduk sambil menundukkan mukanya seolah-olah sama sekali tidak ingin mencampuri percakapan itu dan tidak ingin mendengarkan pula.

Melihat ini, Pangeran Nepal itu tertawa. “Lanjutkan, Tang-kongcu, dan jangan khawatir terhadap Jenderal Kao karena dia pun menjadi korban kelaliman kaisar yang menjadi boneka di bawah pengaruh pembesar- pembesar jahat.”

Tang Hun menarik napas panjang. “Saya hanya mendengar desas-desus saja bahwa Gubernur Ho-nan juga memperlihatkan sikap menentang kaisar dan banyak komandan di perbatasan yang tidak merasa puas…”

“Berita itu memang benar, Kongcu. Bahkan kami juga telah mengadakan persekutuan dengan Gubernur Ho-nan.”

“Ahh, bagus sekali…!”

“Kami hanya menanti saat yang tepat saja untuk mulai dengan gerakan kami, gerakan serentak dari segenap penjuru untuk menyerbu kota raja. Maka kalau engkau suka membantu, Tang-kongcu, kami akan menerima dengan kedua tangan terbuka.”

“Tentu saja saya akan membantu, akan tetapi… apakah imbalannya kelak?” Tang Hun adalah seorang yang cerdik, maka melihat betapa pangeran ini sudah bersikap terbuka kepadanya, dia maklum bahwa dia tidak akan dapat melepaskan diri dari pengaruh pangeran ini. Setelah dipercaya mendengarkan pengakuan itu semua, tentu Pangeran Nepal itu tidak akan mau melepaskan dia begitu saja dalam keadaan hidup, kecuali kalau dia menyatakan kesanggupannya untuk membantu, akan tetapi dia pun bersikap terbuka dan lebih dulu menanyakan imbalan atau ganjarannya kelak!

Koksu Nepal mengangguk-angguk dan matanya melirik ke arah Tang Hun. “Hemmm, Tang-kongcu memang seorang yang cerdik. Akan tetapi sekali lagi, jangan Kongcu mengharapkan diri Puteri Bhutan, karena ketahuilah bahwa di samping beliau menjadi tamu agung kami, juga Puteri Bhutan adalah seorang sandera yang tidak ternilai harganya. Melalui Sang Puteri itu kami bermaksud menundukkan Bhutan. Maka, siapa pun yang mengganggu sandera kami itu, berarti menghalangi perjuangan kami.”

“Ahh, Koksu. Setelah mendengar penjelasan tadi, saya sudah membuang pikiran untuk mendapatkan Sang Puteri itu.”

“Bagus, kalau begitu Tang-kongcu boleh melegakan hati. Jika perjuangan kita bersama ini berhasil baik kelak, tentu kami tidak akan melupakan Kongcu dan andai kata Kongcu menghendaki kedudukan, Kongcu tinggal memilih saja!” kata Pangeran Liong Bian Cu dengan suara dan wajah serius.

Tang Hun menjadi girang sekali dan menghaturkan terima kasih. Kemudian dia berkata, “Setelah saya menjadi pembantu pergerakan Pangeran, tentu saja semua anak buah Liong-sim-pang juga ikut pula membantu. Pangeran boleh mengandalkan mereka sebab mereka adalah orang-orang yang telah dilatih dan masing-masing prajurit mempunyai kepandaian silat yang lumayan. Akan tetapi tiga orang pembantu saya ini harap diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka.”

Pangeran Nepal itu kini memandang kepada tiga orang kakek itu penuh selidik, lalu dia berkata dengan suara dingin, “Sebagai pembantu-pembantu pribadi, harus dipilih orang yang benar-benar lihai seperti Tang-kongcu sendiri. Segala orang yang hanya memilki kepandaian biasa saja cukup bergabung di dalam pasukan Liong-sim-pang sebagai komandan-komandan pasukan. Kami khawatir gagal kalau dibantu oleh sembarangan orang saja.”

“Ehh, harap Paduka jangan memandang rendah kepada mereka bertiga ini, Pangeran! Tingkat kepandaian mereka tidak lebih rendah dari pada tingkat kemampuan saya sendiri!” Tang Hun berseru dengan khawatir. Dia mengenal tiga orang pembantunya itu sebagai orang-orang kang-ouw yang mempunyai keangkuhan hingga ucapan Pangeran Nepal itu tentu saja amat merendahkan dan menghina.

Akan tetapi, tiga orang pembantunya itu juga bukan orang-orang bodoh. Mereka adalah orang-orang pengelana di dunia kang-ouw yang sudah makan asam garam di dunia kang-ouw, sudah banyak pengalaman dan dapat menilai orang-orang pandai. Melihat keadaan Pangeran Nepal itu dan para pembantunya, mereka maklum bahwa mereka berada di goa naga dan biar pun mereka merasa dipandang rendah, namun mereka tidak menjadi marah karena mereka tahu bahwa sang pangeran ini belum mengenal mereka!

“Apa yang dikatakan oleh Pangeran sungguh tepat. Pinto hanyalah seorang tosu miskin yang tidak bisa apa-apa, hanya mengandalkan sebatang pedang untuk hidup, mana bisa diandalkan?” Setelah berkata demikian, Hak Im Cu, tosu berwatak bengis bertubuh tinggi kurus itu mencabut pedangnya. Melihat ini, Ban-hwa Sengjin dan Gitananda memandang dengan mata memancarkan sinar aneh, akan tetapi Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo, dua orang kakek iblis dari dunia hitam itu, hanya memandang tak acuh.

“Yaaah, pinto hanya dapat mengandalkan pedang untuk mencari sesuap nasi beserta lauk-pauknya!”

Pada saat itu, baru saja pelayan-pelayan datang menghidangkan nasi dan sayur mayur memenuhi meja itu. Kini, begitu Hak Im Cu bangkit dan menggerakkan pedangnya, nampak sinar berkelebatan dan seolah- olah ada bayangan puluhan batang pedang menyambar-nyambar dan disusul dengan mulut tosu itu mengganyang semua masakan yang ‘dipungut’ oleh ujung pedangnya!

Pedang-pedang itu digunakan seperti sebatang sumpit, ditusukkan ke dalam mangkok mangkok dan piring- piring yang ada masakannya, demikian cepatnya sehingga pedang berubah menjadi bayangan puluhan batang dan biar pun mangkok yang berdiri di ujung, yang agaknya menurut ukuran tak mungkin dapat dicapai pedang, dapat juga dijumput! Tiba-tiba tosu itu menghentikan gerakannya dan sudah duduk kembali, mulutnya masih mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.

Ban-hwa Sengjin mengangguk-angguk dan Pangeran Liong Bian Cu bertepuk tangan memuji. “Bagus, kepandaian Totiang hebat sekali dan patut menjadi pembantu kami!”

Memang demonstrasi tadi biar pun kelihatan sederhana namun sudah membuktikan bahwa tosu ini memiliki ilmu pedang yang hebat dan ginkang yang luar biasa. Hanya dengan ginkang luar biasa saja dia mampu bergerak sedemikian cepatnya sehingga seolah-olah dia tidak meninggalkan tempatnya ketika dia bangkit berdiri, padahal tanpa bergerak dari situ tidak akan mungkin dia dapat mengambil makanan di ujung meja yang terletak agak jauh. Cara dia menusuk setiap makanan dengan ujung pedang dan membawanya ke mulut, demikian cepat, dan tidak ada sedikit pun kuah yang tercecer!

“Pinto Hak Im Cu hanya seorang biasa dan terima kasih atas kepercayaan Paduka,” Hak Im Cu berkata sambil mengangguk.

Pangeran Liong Bian Cu tentu saja girang sekali melihat bahwa para pembantu Tang Hun itu ternyata adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka dia menoleh kepada dua orang kakek lain yang duduk di jajaran tamu itu. “Hak Im Cu totiang telah memperlihatkan kepandaian dan mengagumkan sekali, harap Ji-wi Locianpwe jangan sungkan dan suka pula memperlihatkan kepandaian untuk menggembirakan pertemuan ini.”

Ban-kin-kwi Kwan Ok yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam itu lalu bangkit berdiri dan menjura ke arah Pangeran Nepal itu. “Saya Kwan Ok hanyalah seorang kasar dan bodoh, hanya mengandalkan tenaga sehingga dijuluki orang Ban-kin-swi. Kalau Paduka memperkenankan, saya akan coba mengangkat arca singa di sudut itu.”

Pangeran Liong Bian Cu memandang dengan mata terbelalak. Arca singa di sudut itu adalah arca yang sangat berat, dan untuk mengangkatnya dibutuhkan tenaga gabungan paling sedikitnya enam orang laki- laki dewasa yang kuat. Maka dia tersenyum sambil mengangguk dan kakek raksasa itu lalu menghampiri arca singa, diikuti pandang mata semua orang. Hanya Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo yang cuma melirik dan bersikap tidak peduli.

Setelah menghampiri arca, Ban-kin-swi Kwan Ok menyingsingkan dengan bajunya, kemudian membungkuk dan kedua tangannya memegang arca itu, digoyang-goyang seperti hendak menaksir beratnya. Kemudian tiba-tiba dia membentak keras dan hanya dengan tangan kanan memegang kaki belakang arca itu, dia mengangkat arca itu naik ke atas kepalanya! Melihat ini, Pangeran Liong Bian Cu kagum dan tahulah dia bahwa Ban-kin-swi benar-benar seorang yang memiliki tenaga gajah! Kakek itu kini melempar lemparkan arca itu ke atas, dilempar, disambut lagi dan mempermainkan benda berat itu seolah- olah baginya hanya merupakan sebuah bola yang ringan saja. Kemudian dia menurunkan arca itu di tempatnya dan menghampiri meja dengan napas dan muka biasa, hanya di dahinya terdapat sedikit peluh.

“Bagus…! Kini Pangeran Liong Bian Cu berseru memuji dan merasa gembira. Senang juga hatinya memperoleh pembantu-pembantu yang sehebat ini. “Kwan-lo enghiong patut pula menjadi pembantu kami.” Pangeran ini lalu menoleh kepada kakek ketiga, yaitu Hai-Liong-ong Ciok Gu To, kakek berkepala gundul botak yang bertubuh gemuk pendek itu.

Kakek gundul yang suka tertawa ini tersenyum lebar, kemudian memandang kepada Hwa-i-kongcu Tang Hun. “Heh-heh-heh, saya hanya seorang tua bangka nelayan yang hanya pandai berenang. Karena tak memiliki kepandaian apa-apa, saya mengandalkan nasib ke tangan Tang-kongcu. Oleh karena itu sekarang pun saya hanya turut kepada Tang-kongcu saja yang sudah menanam banyak budi dan kebaikan terhadap saya. Tang-kongcu, saya menyerahkan urusan dengan Pangeran Liong ini kepada Kongcu dan untuk itu, saya menghaturkan terima kasih dengan secawan arak!” Sambil berkata demikian, kakek gundul gemuk ini lalu bangkit berdiri, menyambar guci arak di atas meja dengan tangan kanan, menyambar cawan arak di depan Tang Hun dengan tangan kiri, kemudian dia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan.

Semua orang memandang dan Pangeran Liong terkejut melihat betapa arak di cawan sudah penuh, namun masih dituang juga sehingga arak itu terus menaik melebihi bibir cawan. Hebatnya, arak itu tidak sampai meluber tumpah! Kelebihan arak di atas bibir cawan itu membulat seperti telur, bergoyang-goyang namun tidak tumpah. Kini kakek itu menyerahkan cawan yang araknya terlalu penuh itu kepada Tang Hun.

“Ha-ha-ha, Hai-liong-ong Ciok Gu To lo-enghiong sungguh membikin saya merasa amat sungkan dan malu!” Tang Hun juga bangkit berdiri dan menerima cawan itu dengan tangan kanan.

Semua orang memandang dengan tegang karena maklum bahwa Ciok Gu To telah mempergunakan sinkang yang amat kuat untuk ‘menahan’ sehingga arak yang terlalu penuh itu tidak sampai meluber, maka kalau sampai cawan itu berganti tangan, tentu araknya akan meluber tumpah dan mengotori lengan baju Tang Hun.

Akan tetapi, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu. Kalau Tang Hun menerima cawan itu dan Ciok Gu To melepaskan tangannya, cawan itu berada tangan kanan Tang Hun dan araknya sama sekali tidak tumpah bahkan kini Tang Hun sengaja memiringkan cawan itu dan arak di dalam cawan tetap saja tidak tumpah! Padahal, arak itu sudah hampir keluar dari dalam cawan, seperti telur direbus lunak akan tetapi tertahan oleh sesuatu. Pertunjukan ini saja sudah membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, pemuda pesolek ini bahkan lebih kuat dari pada Hai-liong-ong Ciok Gu To!

“Biarlah arak ini saya minum demi keselamatan Pangeran!” kata Tang Hun sambil mengacungkan cawan, kemudian sekali tenggak arak itu lenyap ke dalam perutnya.

Liong Bian Cu bertepuk tangan memuji. Hatinya girang bukan main dan dia merasa sudah puas dengan semua demonstrasi ringan itu, karena sebagai seorang ahli dia pun sudah dapat menilai bahwa empat orang itu jelas bukan orang-orang sembarangan dan akan merupakan pembantu-pembantu yang amat baik. Maka dia lalu mempersilakan mereka semua makan minum dalam suasana yang amat gembira.

Selagi mereka berpesta gembira, dan hanya Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo saja yang bersikap biasa dan sama sekali tidak menghormati tamu, juga Jenderal Kao Liang yang makan minum dengan sikap tak peduli, muncullah kepala pengawal yang berlutut dan melapor kepada Pangeran Liong bahwa rombongan orang Bhutan yang dipimpin oleh Panglima Mohinta mohon menghadap.

Pangeran Liong Bian Cu mengerutkan alisnya, saling memandang dengan Ban-hwa Sengjin, kemudian dia berkata kepada Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo.

“Harap Ji-wi Locianpwe suka menemani para tamu bersama Jenderal Kao Liang. Kami bersama Koksu ada kepentingan lain untuk menerima tamu.”

Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lomo mengangguk. Jenderal Kao Liang diam saja dan Liong Bian Cu lalu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu, didampingi koksu yang dikawal oleh Gitananda yang setia.

Panglima muda dari Bhutan, Mohinta itu, telah menanti di ruangan tamu bersama tujuh orang pengikutnya yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi dari Bhutan. Bagaimana tokoh Bhutan muda itu dapat tiba di tempat ini?

Seperti kita ketahui, setelah Syanti Dewi berhasil melarikan diri dari Bhutan bersama Siang In, panglima muda yang mencinta Syanti Dewi dan mengharapkan puteri itu menjadi isterinya ini segera melakukan pengejaran dan dia menyebar banyak sekali penyelidik. Dia melakukan pengejaran dengan para penyelidiknya menuju ke timur dan dia selalu didampingi oleh tujuh orang pembantu yang semuanya memiliki kepandaian cukup tinggi itu untuk mencari jejak Syanti Dewi.

Seperti yang dituturkan oleh Cui Ma, bekas pelayan Ang Siok Bi ibu dari Ang Tek Hoat kepada Kian Bu dan Hwee Li, pelayan yang menjadi gila karena ketakutan dan karena duka itu, dalam pengejarannya mencari jejak Syanti Dewi, akhirnya Mohinta malah menemukan tempat sembunyi Ang Siok Bi. Mengingat bahwa Ang Siok Bi adalah ibu Ang Tek Hoat yang dibencinya, maka Mohinta lalu turun tangan membunuh wanita yang malang itu.

Dia terus melakukan penyelidikan, mendengar bahwa Syanti Dewi terjatuh ke tangan Hwa-i-kongcu Tang Hun ketua Liong-sim-pang di Puncak Naga Api. Dia menyusul ke sana, akan tetapi terlambat karena mendengar bahwa puteri yang dicarinya itu telah diculik orang lagi dari tempat itu. Mohinta mencari terus, tanpa mengenal lelah. Dia bukan hanya mencinta puteri yang memang amat cantik jelita itu, akan tetapi di samping cintanya ini terdapat pula keinginan yang mendorong dia berusaha memperisteri Syanti Dewi, yaitu kalau dia dapat menjadi mantu raja, tentu kelak dia mempunyai harapan besar untuk menjadi Raja Bhutan! Ambisi inilah yang membuat dia tidak mengenal lelah mencari Syanti Dewi dan tidak akan berhenti sebelum puteri itu terdapat olehnya.

Setelah mencari-cari siang malam dan mengerahkan seluruh pembantunya yang banyak tersebar di daerah Ho-pei dan Ho-nan, di mana untuk terakhir kalinya dia mendengar akan jejak Syanti Dewi, akhirnya dia mendengar bahwa puteri itu telah tertawan oleh Pangeran Bharuhendra dari Nepal! Berita ini mengejutkan hati Mohinta! Tertawannya Puteri Syanti Dewi oleh pangeran cucu Raja Nepal itu benar-benar amat mengejutkan dan mengkhawatirkan hatinya.

Dia maklum siapa adanya Pangeran Bharuhendra yang juga bernama Liong Bian Cu itu, seorang Pangeran Nepal yang berilmu tinggi dan berkuasa besar. Bahkan dia mendengar bahwa pangeran itu ditemani oleh guru negara, yaitu pendeta Lakshapadma yang juga disebut Ban-hwa Sengjin, bahkan kabarnya Gitananda, pendeta yang amat lihai itu pun menemani Sang Pangeran Nepal. Hilanglah harapannya untuk merampas Syanti Dewi dengan menggunakan kekerasan.

Akan tetapi Mohinta adalah seorang muda yang cerdik dan dia segera memperoleh akal yang amat baik, bukan hanya untuk mendapatkan kembali puteri cantik yang sudah membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi bahkan mendapatkan jalan untuk menguasai Bhutan mengandalkan bantuan Nepal yang selama ini menjadi musuh Bhutan!

Ketika Pangeran Bharuhendra yang kita kenal sebagai Liang Bian Cu itu muncul bersama pendeta Lakshapadma yaitu Ban-hwa Sengjin, Koksu Nepal dan diikuti oleh Gitananda, Mohinta dan tujuh orang pengikutnya cepat menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Kemudian Mohinta bangkit sebagai seorang militer dan berkata, “Harap Paduka sudi memaafkan kalau hamba dan para pengikut berani mengganggu Paduka di tengah malam begini.”

Pangeran Liong Bian Cu memandang dengan penuh perhatian, lalu berkata, “Duduklah dan ceritakan siapa engkau, serta apa pula yang menjadi maksudmu datang kepadaku. Harap bicara secara jujur dan terbuka karena kalau tidak demikian, saat ini juga kami akan menyuruh pengawal membunuh kalian.”

Mohinta lalu menceritakan niatnya, yaitu bahwa dia disuruh oleh Raja Bhutan untuk mencari Syanti Dewi dan bahwa dia tahu di mana adanya puteri itu. Akan tetapi dia siap untuk membantu Pangeran Nepal untuk menguasai Bhutan dengan menggunakan Puteri Syanti Dewi sebagai sandera.

“Dengan adanya puteri itu di tangan kita, Paduka tidak perlu mengerahkan bala tentara untuk menyerbu Bhutan. Cukup hamba yang akan menggulingkan raja dengan bantuan Paduka dan selanjutnya, hamba yang tanggung bahwa Bhutan akan tunduk terhadap Nepal dan memenuhi segala tuntutan dan perintah dari Nepal.” Demikian antara lain Mohinta berkata.

Semua penuturannya didengarkan oleh Pangeran Liong Bian Cu dan Ban-hwa Sengjin. Kemudian Koksu Nepal itu berkata dengan suara tenang, dalam bahasa Nepal yang dimengerti oleh Mohinta karena ada persamaan bahasa antara mereka.

“Mohinta, engkau sudah bersiap untuk mengkhianati rajamu sendiri! Engkau sudah berniat hendak membantu kami yang selama ini dianggap musuh oleh Kerajaan Bhutan. Tentu ada pamrih tertentu tersembunyi di dalam pengkhianatanmu ini. Apakah pamrih itu? Apakah yang kau inginkan dalam persekutuan antara engkau dan kami?”

Wajah Mohinta menjadi merah, jantungnya berdebar tegang. Akan tetapi dia maklum akan kelihaian dan kecerdikan Koksu Nepal itu, maka dia tahu pula bahwa membohongi terhadap mereka amatlah berbahaya. Menghadapi orang-orang Nepal yang amat kuat ini, jalan satu-satunya hanyalah mendekati, bukan memusuhi.

“Maaf, Koksu. Sudah tentu dalam setiap tindakan terdapat pamrih yang mendorongnya. Benarlah wawasan Koksu bahwa ada pamrih dalam hati saya jika saya menawarkan diri untuk membantu Nepal menggulingkan Raja Bhutan. Pertama, saya ingin memperoleh Puteri Syanti Dewi sebagai isteri saya kalau kita berhasil. Kedua, saya mengharapkan kebijaksanaan dan ganjaran dari Raja Nepal agar saya dapat menggantikan kedudukan raja di Bhutan.”

Pangeran Liong Bian Cu tersenyum. “Hemmm, besar sekali ambisimu, orang muda. Lalu, untuk semua anugerah yang kau harapkan itu, apa saja yang dapat kau berikan kepada kami?”

“Ayah hamba adalah kepala panglima di Bhutan. Biar pun ayah hamba tidak akan mencampuri urusan pemberontakan, bahkan mungkin menentang, akan tetapi hamba dapat menguasai sebagian besar dari bala tentara yang dipimpin oleh ayah. Dan hamba adalah seorang kepercayaan dari raja, maka kalau hamba yang berkuasa di Bhutan, tentu hamba dapat membantu Paduka untuk menghadapi Kaisar Ceng, Tibet, dan lain lain.”

Tiba-tiba Ban-hwa Sengjin mengangkat tangan memberi isyarat kepada mereka semua untuk diam, lalu sekali berkelebat kakek ini telah meloncat ke jendela, membuka daun jendela. Akan tetapi tidak ada siapa pun di balik jendela itu, maka dia lalu menutupkan lagi daun jendela dan kembali ke ruangan.

“Aman,” katanya, “Tadinya saya kira mendengar suara sesuatu yang mencurigakan.”

Mereka lalu melanjutkan perundingan. Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu, Hwee Li berbisik-bisik di dekat telinga Puteri Syanti Dewi di dalam kamar puteri itu dan Syanti Dewi mendengarkan dengan wajah pucat. Tadi memang Hwee Li yang mencuri dengar ketika Liong Bian Cu mengadakan perundingan dengan Mohinta, dan karena dara ini mengerti bahasa mereka, maka dia dapat mendengar kesanggupan Mohinta untuk menggulingkan Raja Bhutan dan bersekongkol dengan Pangeran Nepal itu. Mendengar penuturan yang dibisikkan oleh Hwee Li, Syanti Dewi terkejut dan marah sekali. Akan tetapi apa yang kini dapat dilakukannya terhadap Mohinta? Dia sendiri berada di situ sebagai seorang tawanan.

“Bibi Syanti Dewi, apakah kau ingin agar aku memukul remuk kepala Mohinta itu?” tanya Hwee Li ketika dia melihat wajah puteri itu pucat dan tubuhnya agak menggigil.

“Jangan, Hwee Li. Hal itu berbahaya sekali. Kau sendiri seorang tawanan.”

“Aku yakin mudah saja bagiku untuk membunuh pengkhianat itu, Bibi. Dan kalau Liong Bian Cu menjadi marah kepadaku, biarlah, malah kebetulan, biar dia benci padaku dan mengurungkan niatnya yang gila untuk menikah dengan aku!”

Syanti Dewi merangkulnya. “Tenanglah, Hwee Li. Kita semua berada di dalam keadaan yang amat gawat. Lihat betapa Jenderal Kao Liang sendiri tidak berdaya, keluarganya masih ditawan di sini semua. Lihat betapa benteng ini dibuat amat kuatnya dan Liong Bian Cu mengumpulkan banyak orang pandai. Bahkan orang-orang Liong-sim-pang itu pun menjadi sahabat mereka! Akan ada peristiwa besar, kegegeran besar dan ancaman berbahaya bagi kerajaan bangsamu. Jangan pikirkan urusanku, urusan kecil saja. Baik sekali engkau telah mendengarkan tadi sehingga aku tahu akan isi perut pengkhianat Mohinta itu. Kalau tiba saatnya Bhutan terancam, aku dapat bertindak dengan tepat. Yang penting, kita harus dapat lolos dari sini, Hwee Lee, itulah yang penting, bukan membunuh orang rendah macam Mohinta itu.”

Hwee Li mengangguk dan berbisik, “Ahhh, kalau tidak terjadi sesuatu yang mukjijat, bagaimana mungkin kita dapat lolos? Penjagaan terlampau ketat, orang-orang sakti terlampau banyak di sini dan setelah benteng ini selesai dibangun oleh Jenderal Kao yang amat ahli dalam hal itu, lenyaplah harapan kita untuk dapat lolos dan keluar dari dalam benteng.”

“Kita tidak boleh putus harapan. Banyak sekali teman-teman kita yang gagah perkasa di luar benteng. Aku yakin bahwa sewaktu-waktu mereka tentu akan muncul, seperti pada waktu yang sudah-sudah. Mereka tidak akan membiarkan kita celaka.”

“Hemmm, mereka siapa?” tanya Hwee Li.

“Pertama-tama tentulah Siang In yang cantik dan cerdik, dan… Tek Hoat…“

“Dan Siluman Kecil! Juga Suma Kian Lee! Ah, kenapa aku lupa bahwa mereka itu tentu tidak akan diam saja melihat kita ditawan orang-orang jahat?”

“Dan di sana masih ada pula adikku, Candra Dewi atau Ceng Ceng, dan suaminya yang amat sakti…”

“Ahh, kenapa aku pun lupa kepada Subo dan Suhu? Hi-hik, betapa tolol aku. Tentu saja Subo dan Suhu akan dengan mudah mengobrak-obrik mereka semua ini!”

“Dan masih ada lagi Bibi Puteri Milana! Dan pendekar sakti Paman Gak Bun Beng, dan keluarga Pulau Es…“

“Wah-wah, kita mengharap terlampau jauh dan terlalu banyak, Bibi. Bagaimana kalau tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempedulikan kita dan tidak ada yang datang menolong?”

“Mustahil… akan tetapi… setidaknya harapan itu menghibur hati kita…,“ jawab Syanti Dewi sambil menarik napas panjang lalu duduk termenung, ditemani oleh Hwee Li yang di tempat itu menjadi temannya yang paling baik, paling akrab sehingga dapat saling menghibur.

Memang benar seperti yang dikatakan oleh dua orang dara itu. Setelah Liong-sim-pang bersekutu dengan Pangeran Liong Bian Cu, pembangunan benteng itu menjadi makin lancar karena anak buah Liong-sim- pang ikut dikerahkan pula untuk membantunya. Dan juga Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak sayang-sayang atau segan-segan untuk membantu dengan keuangan, membeli bahan-bahan bangunan secara royal.

Mohinta dan para pengawalnya juga tinggal di benteng lembah itu, akan tetapi dia selalu bersembunyi dan tidak mau bertemu dengan Syanti Dewi karena dia menganggap belum waktunya untuk bicara dengan puteri itu, sungguh pun hatinya merasa amat rindu terhadap dara yang dianggapnya pasti akan menjadi isterinya itu. Rencananya bersama Pangeran Nepal untuk memberontak dan menggulingkan Raja Bhutan, yaitu ayah dari Puteri Syanti Dewi, membuat dia merasa tidak enak untuk bertemu dan bicara dengan Syanti Dewi karena puteri yang menjadi tawanan itu tentu akan merasa heran dan akan mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sukar dijawabnya, di antaranya mengapa dia justeru berada di situ dan menjadi teman dari Pangeran Nepal dan yang menawan puteri itu.

Hwee Li adalah seorang dara yang amat cerdik. Setelah usahanya yang gagal untuk membunuh Liong Bian Cu, dan melihat betapa pangeran itu tidak mendendam dan tetap mencintanya, dia tahu bahwa usahanya telah mencapai puncak dan jalan buntu. Dia tidak boleh mencoba lagi karena kalau sampai dia menimbulkan rasa benci dalam hati pangeran itu, dia tidak akan tertolong lagi. Kalau hanya dibunuh saja bukan apa-apa baginya, tetapi dia merasa ngeri kalau membayangkan betapa dengan kekuasaannya, pangeran itu bisa saja memaksanya dan memperkosanya.

Dia kini mengandalkan cinta kasih pangeran itu untuk berada dalam keadaan aman dan tidak terancam keselamatannya. Dia yakin bahwa karena cintanya, pangeran itu tidak akan memaksanya menyerahkan diri sebelum menikah, dan sebagai seorang pangeran negara besar, tentu pangeran itu akan melaksanakan pernikahannya di negerinya, di Nepal. Maka masih banyak waktu baginya dan masih banyak harapan untuk meloloskan diri, asal dia pandai membawa diri dan tidak memancing kebencian pangeran itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak boleh bersikap terlalu manis karena kalau sampai pangeran itu memuncak rindu dan birahinya terhadap dia, bisa berabe dan berbahaya!

Karena sikap Hwee Li yang tidak memberontak lagi, juga Syanti Dewi bersikap tenang dan sabar, maka kini mereka diperbolehkan untuk mengunjungi keluarga Jenderal Kao Liang di dalam rumah tahanan mereka. Pertemuan yang amat akrab dan mengharukan dan kini pertemuan-pertemuan itu merupakan hiburan besar bagi kedua pihak.

Kao Kok Tiong sering kali nampak termenung di rumah tahanan itu, diam-diam dia amat mengkhawatirkan keadaan ayahnya. Jenderal ini tidak boleh menemui keluarganya, hanya diperbolehkan melihat dari jauh bahwa keluarganya selamat dan diperlakukan dengan baik. Kok Tiong maklum betapa hati ayahnya tersiksa hebat. Ayahnya terpaksa membantu pemberontak! Demi keselamatan keluarganya!

Dia tahu bahwa andai kata ayahnya belum dipecat dan kini masih menjadi Panglima Kerajaan Ceng, sampai mati pun ayahnya tidak akan tunduk kepada pemberontak. Biar andai kata seluruh keluarganya disiksa dan dibunuh di depan hidungnya, ayahnya pasti takkan sudi untuk membantu pemberontak. Dan sekarang, karena dia bukan Panglima Ceng lagi, dia terpaksa tunduk, untuk menyelamatkan keluarganya, akan tetapi tentu saja dengan batin tersiksa. Kok Tiong sendiri sangat dicurigai oleh Pangeran Nepal sehingga dia dimasukkan dalam rumah tahanan keluarganya, tidak diperkenankan keluar dan bicara dengan ayahnya.

Keadaan seperti itu lewat sampai berbulan-bulan dan benteng besar yang dibangun atas petunjuk Jenderal Kao Liang itu, yang dikerjakan siang malam, mulai mendekati kesempurnaannya. Hati para tawanan itu jadi

semakin gelisah, harapan mereka untuk memperoleh pertolongan dari luar semakin menipis, sungguh pun belum habis sama sekali. Selama waktu-waktu itu, untuk menghibur diri, Syanti Dewi memperdalam ilmu silatnya dari Hwee Li, sebaliknya, Hwee Li mempelajari banyak hal dari sang puteri, dari menyulam, melukis, menari dan bernyanyi…..

********************

Pelayan rumah penginapan itu buruk sekali mukanya. Tek Hoat sendiri sampai merasa heran dan kasihan mengapa ada seorang pria demikian buruk mukanya, rusak oleh penyakit cacar. Selain muka itu hitam dan bopeng, berlubang-lubang seperti kulit pohon dimakan rayap, juga matanya besar sebelah, hidungnya berbentuk besar dan melengkung, bibirnya tebal sekali dan basah, dahinya sempit seperti dahi monyet. Pendeknya, muka yang sama sekali tidak ada manisnya, biar pun tidak menakutkan, namun sukar menimbulkan rasa suka di hati, apa lagi karena sepasang mata itu mempunyai sinar yang liar seperti mata seekor anjing kelaparan.

Akan tetapi pelayan itu ternyata ramah sekali. Setelah Tek Hoat membayar uang sewa kamar di meja pengurus, peraturan yang harus ditaati semua tamu, yaitu pembayaran di muka, pelayan itu lalu mendapat tugas untuk mengantar Tek Hoat di kamar yang disewanya dan melayaninya. Setelah pelayan itu sambil menyeringai dan membungkuk bungkuk mempersilakan dia mengikutinya, baru diketahui oleh Tek Hoat bahwa pelayan itu pincang kakinya dan ketika dia memperhatikan, ternyata kaki kirinya cacat, ada luka yang sudah mulai mengering di dekat tumit sehingga dia tidak dapat memakai sepatu, melainkan memakai sandal kayu yang mengeluarkan bunyi teklak-teklik ketika dia berjalan timpang.

“Heh-heh, di sinilah kamar Kongcu. Sunyi, karena kebetulan malam ini kurang tamu, Kongcu. Lihat, kamar di kanan kiri Kongcu juga kosong, jadi… heh-heh, aman deh!”

Tek Hoat yang memasuki kamar itu, yaitu sebuah kamar sederhana dengan sebuah pembaringan cukup besar untuk seorang saja, sebuah meja dan tempat air untuk cuci muka, cepat menengok dan memandang muka buruk itu ketika mendengar ucapan itu.

“Cukup aman? Apa pula maksudmu?” tanyanya sambil menaksir usia orang. Sukar menaksir usia wajah yang buruk itu. Mungkin tiga puluh, mungkin pula sudah lima puluh tahun lebih.

“Heh-heh-heh, aman, tidak akan ada yang mengganggu atau mendengar suara dari dalam kamar ini.” “Suara? Suara apa yang kau maksudkan?” Tek Hoat bertanya lagi sambil mengerutkan alisnya.

Kembali orang itu menyeringai, lalu mengambil baskom tempat air yang berwarna biru itu. Dia berjalan ke pintu membawa baskom itu, lalu menoleh dan menyeringai sambil tertawa. “Tentu saja orang yang berpacaran mengeluarkan suara, bukan? Dan tentu akan merasa sungkan kalau di sebelah ada orang lain yang ikut mendengarkan.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo