August 22, 2017

Istana Pulau Es (Part 21)

 

 

“Heiiii, Nona…” Tunggu…!” Melihat dara perkasa yang telah mengguncang jantungnya itu melompat pergi, Suma Hoat cepat meloncat pula mengejar.

“Apakah dia mata-mata?” tanya Siangkoan Lee.

“Mata-mata hidungmu!” Suma Hoat memaki. “Dia sahabatku! Katakan kepada Ayah nanti aku datang menghadap!” Tanpa menoleh Suma Hoat melanjutkan pengejarannya terhadap bayangan hitam yang meloncat-loncat ke atas genteng rumah-rumah penduduk itu.

“Heii, Nona! Tunggu, aku mau bicara…!”

Maya mengerutkan kening. Kalau dia menggunakan ginkang-nya, biar pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin pemuda itu dapat menyusulnya. Juga kalau dia menghadapi pemuda itu, biar pun dia tahu bahwa pemuda itu cukup lihai namun dia percaya akan dapat membunuhnya. Akan tetapi, kalau hal itu terjadi, Si Pemuda tentu akan mengejar dan berteriak-teriak, dan kalau sampai dia kedapatan oleh para penjaga, padahal malam telah hampir pagi, dia bisa celaka. Maya mengigit bibir menahan kesabaran hatinya, demi keselamatannya sendiri. Mengingat bahwa pemuda ini adalah putera Suma Kiat yang amat dibencinya, ingin dia menggerakkan pedang membunuhnya!

Dia terpaksa berhenti dan membalikkan tubuh. “Engkau mau bicara apakah?”

Kebetulan sekali mereka berhenti di atas genteng rumah yang terkena sorotan sinar dari bawah sehingga wajah dara itu tampak jelas di bawah sinar remang-remang. Sekali lagi jantung di dalam dada Suma Hoat seperti jungkir-balik. Wajah ini… luar biasa cantiknya. Kecantik-jelitaan yang aneh, asing dan belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis berwajah seperti ini.

“Nona, maafkan aku… setelah Nona tadi menolongku, bagaimana aku dapat membiarkan kau pergi begitu saja sebelum aku menghaturkan terima kasih?”

“Aku tidak mengharapkan terima kasih,” jawab Maya singkat.

“Akan tetapi, setelah Nona menolongku, tidak mungkin aku bersikap begitu tak kenal budi. Setidaknya, harap Nona sudi berkenalan. Namaku Suma Hoat, dan siapakah Nona yang cantik jelita seperti bidadari namun berkepandaian setinggi langit?”

Berkerut alis Maya. Laki-laki ceriwis, pikirnya, sungguh pun dia harus mengakui bahwa putera Jenderal Suma Kiat ini ternyata amat tampan, suaranya halus gerak-geriknya menarik.

“Aku melihat seorang dikeroyok, lalu datang membantu. Hal itu biasa saja. Aku melakukannya bukan untuk memancing terima kasih, bukan pula mengharapkan perkenalan. Sudahlah…!”

Melihat gadis itu sekali mencelat melayang ke wuwungan di depan, Suma Hoat terkejut dan takut kalau-kalau takkan dapat bertemu lagi, maka dia pun cepat mengejar sambil berseru, “Nona, tunggu…!”

Maya berhenti dan membalikkan tubuh, membentak, “Engkau mau apa lagi?!”

Suma Hoat kini sudah tergila-gila benar menyaksikan sikap yang demikian keras, sifat yang liar dan penuh kewibawaan, namun juga amat manis. Maka dia mengambil keputusan untuk dapat berkenalan dengan dara ini. Cinta kasihnya yang pertama terhadap Ciok Kim Hwa putus, kemudian cinta kasihnya yang kedua, cinta kasih murni terhadap Khu Siauw Bwee juga gagal karena gadis itu telah mencinta orang lain dan dia tidak berani bermain gila terhadap gadis yang ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es itu. Kini dia merasa jatuh cinta untuk ke tiga kalinya, bukan cinta birahi seperti terhadap semua wanita yang pernah dipermainkannya, melainkan cinta sungguh-sungguh! Dia tidak mau gagal lagi sekarang.

“Nona, aku berniat baik, mengapa Nona menolak perkenalan? Kalau aku tidak berniat baik terhadap dirimu, tentu aku sudah berteriak bahwa Nona adalah seorang mata-mata dan Nona akan dikepung oleh ribuan orang tentara!”

“Hemm, begitukah? Kalau begitu mampuslah engkau!” Pedang rampasan di tangan Maya menyambar ganas merupakan sinar kilat menyambar ke arah leher Suma Kiat.

Pemuda ini terkejut bukan main. “Aahhhh…!”

Ia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik dengan cepat. Kembali sinar pedang menyambar dan keringat dingin keluar membasahi dahi Suma Hoat ketika dengan pengerahan ginkang sekuatnya kembali dia melempar diri ke kiri sambil mengebutkan ujung lengan bajunya ke belakang.

“Brettt!” Ujung lengan baju itu buntung karena benar seperti dugaannya, sinar pedang itu kembali telah menerjangnya untuk ketiga kalinya dengan gerakan yang bukan main cepatnya.

“Tahan, Nona…!” Ia meloncat ke belakang, loncatan yang indah sekali karena tubuhnya masih menghadap kepada Maya. “Aku sudah memperlihatkan niat baik dengan tidak membuka rahasiamu, apakah engkau seorang yang begitu kejam dan tidak mengenal budi, membalas iktikad baik orang dengan serangan maut?”

Maya diam-diam kagum juga. Tiga kali dia menyerang sungguh-sungguh, dengan jurus-jurus maut, namun pemuda itu masih mampu menyelamatkan diri, hal itu berarti bahwa pemuda itu telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Can Ji Kun. Dan ucapan yang halus penuh teguran itu, betapa pun juga membuat kedua pipinya merah. Ingin dia memperkenalkan diri dan terus menyerang, membunuh pemuda ini karena bagi dia, seluruh keluarga Suma Kiat harus dibunuh!

Akan tetapi dia teringat akan pekerjaannya sebagai penyelidik, maka dia berkata angkuh, “Aku tidak membutuhkan iktikad baikmu, dan aku pun tidak takut kalau engkau hendak membuka rahasia!”

Bukan main, pikir Suma Hoat. Gadis ini benar-benar angkuh, seperti seorang puteri kaisar saja! Seorang dara yang ilmu kepandaiannya amat tinggi, wajahnya amat cantik jelita, dan wataknya amat tinggi pula!

“Dengarlah dulu, Nona. Nona adalah seorang mata-mata, berarti Nona memusuhi Kerajaan Sung, dan aku pun adalah seorang yang tidak memihak Kerajaan Sung. Dengan demikian, kita berada di satu pihak. Dan penjagaan di sini amat ketat dan kuat. Nona tidak dapat bergerak leluasa, apa yang akan dapat Nona selidiki? Bahkan banyak bahayanya Nona akan terkepung dan celaka. Akan tetapi aku dapat bergerak leluasa dan aku dapat menyelidiki dan memberi tahu kepadamu apa yang kau ingin ketahui. Aku suka membantumu, Nona. Nah, apakah Nona masih hendak membunuhku?”

Maya memutar otaknya. Pemuda putera musuh besar ini harus dibunuh, akan tetapi apa yang dikatakannya mengandung kebenaran. Dia harus bersikap cerdik. Sebagai seorang panglima perang yang sudah biasa menahan perasaan pribadi demi siasat dan keuntungan pihaknya, Maya lalu berkata, “Begitukah? Ucapanmu harus dibuktikan lebih dulu. Sekarang apa yang hendak kau lakukan dengan aku, setelah engkau tahu bahwa aku adalah seorang mata-mata?”

Wajah Suma Hoat girang bukan main. “Pertama-tama, Nona harus mempunyai tempat persembunyian yang baik dan aku mempunyai sebuah rumah kecil yang kosong dan yang takkan ada yang berani mengganggu atau memasukinya. Nona boleh mempergunakan rumahku itu sebagai tempat bersembunyi. Hanya di waktu malam saja Nona dapat melakukan penyelidikan dan di waktu siangnya Nona boleh bersembunyi di situ. Kemudian, aku dapat membantu mencari keterangan yang sekiranya tak dapat Nona peroleh sendiri. Bagaimana?”

Maya kembali terdiam dan berpikir, kemudian dia berkata sambil menurunkan pedangnya, “Kalau aku tidak dengar tadi bahwa engkau adalah putera Jenderal Suma Kiat yang kutahu bukanlah seorang pembesar yang setia terhadap Kerajaan Sung, tentu aku tidak percaya omonganmu. Betapa pun juga, ketahuilah bahwa di samping aku menerima penawaranmu, aku tetap tidak percaya kepadamu dan sedikit saja engkau memperlihatkan sikap mencurigakan, aku pasti akan membunuhmu. Jangan engkau kira bahwa aku tidak dapat melakukannya! Nah, tunjukkan di mana rumah itu!”

 

“Mari, Nona! Aku tak perlu bersumpah, akan tetapi Suma Hoat bukanlah seorang yang biasa mengeluarkan kata-kata yang berlainan dengan isi hati! Bukan seorang pengecut yang untuk menolong nyawa sendiri melakukan penipuan-penipuan rendah!” Dia meloncat dan dara perkasa itu pun meloncat di belakangnya.

Untuk menguji nona itu, Suma Hoat mengerahkan seluruh ilmunya berlari cepat, namun betapa pun cepatnya dia berloncatan dan berlari, bayangan gadis itu tetap berada di belakangnya! Diam-diam dia makin kagum, dan di lain pihak, Maya juga kagum karena pemuda ini benar-benar lihai sekali.

Rumah kecil itu memang milik Jenderal Suma Kiat yang mempunyai banyak rumah di kota Siang-tan. Rumah itu kosong dan sebagai rumah pembesar itu, tentu saja tidak akan ada yang berani mengganggunya.

Setelah mereka memasuki rumah itu dan duduk berhadapan di ruangan dalam, Suma Hoat berkata, “Siang ini harap Nona bersembunyi di sini. Nona sudah mengenalku, harap Nona suka memperkenalkan diri dan menceritakan kedudukan Nona agar aku dapat mencarikan keterangan yang Nona kehendaki.”

Maya mengerutkan alisnya. Malam telah berganti pagi dan sinar matahari yang mulai menyinari ruangan itu membuat ia dapat melihat wajah Suma Hoat dengan jelas. Wajah yang tampan dan sama sekali tidak kelihatan jahat, bahkan wajah yang akan menarik hati wanita mana pun! Akan tetapi pertanyaan itu tidak menyenangkan hatinya. Dia tidak mungkin mengakui dirinya sebagai Panglima Pasukan Maut, hal ini terlalu berbahaya karena kalau Suma Hoat mengetahui, belum tentu dia mau memegang janji. Dia terlalu penting bagi Kerajaan Sung yang akan mempertaruhkan apa saja untuk menangkap panglima wanita yang telah banyak merugikan Kerajaan Sung itu.

“Suma Hoat, ingatlah bahwa bukan aku yang menghendaki kerja sama ini, melainkan engkau! Aku hanya berjanji bahwa kelak aku akan memperkenalkan diri kepadamu, akan tetapi untuk saat ini, cukup untuk kau ketahui bahwa aku adalah seorang mata-mata dari barisan Mancu, tanpa nama! Masih belum terlambat bagimu untuk kau menarik diri, aku pun tidak terlalu mengharapkan bantuanmu!”

Suma Hoat terbelalak, bukan hanya oleh kata-kata yang keras dan penuh keangkuhan ini, melainkan juga karena terpesona oleh wajah yang kini tampak jelas olehnya. Kulit muka itu agak kecoklatan karena tertimpa sinar matahari, namun wajah itu benar-benar luar biasa cantiknya, terutama sekali matanya yang bersinar-sinar seperti bintang pagi, mulutnya yang manis dalam gerakan apa pun juga. Dari seluruh kepribadian gadis ini mengakibatkan getaran di hatinya, getaran yang dirasainya ketika ia bertemu dengan Khu Siauw Bwee. Tak salah lagi, dia jatuh cinta untuk ketiga kalinya, dan mungkin yang terakhir ini paling parah! Rasanya dia rela berkorban apa pun juga untuk dapat menjadi suami gadis ini!

“Baiklah, aku tidak boleh terlalu banyak mengharap sebelum memperlihatkan kemauan baikku, Nona. Hanya aku yakin bahwa Nona bukanlah seorang berbangsa Mancu, dan juga bukan seorang gadis Han…”

“Cukup semua ini. Kalau kau memang hendak membantuku, aku ingin mengetahui kekuatan yang menjaga benteng Siang-tan ini, berapa besar bala tentaranya, siapa komandan-komandannya, dari mana akan didatangkan bala tentara kalau benteng terdesak, dan apa macamnya jebakan-jebakan dan barisan pendam di luar tembok benteng, dari mana datangnya pasukan inti kalau musuh datang, di mana ditempatkannya barisan panah.”

Suma Hoat melongo. Benar-benar seorang mata-mata yang hebat, pikirnya, dan agaknya menguasai benar pekerjaan perang!

”Aku akan berusaha mendapatkan keterangan-keterangan itu, Nona. Di kamar belakang sebelah kanan terdapat bahan-bahan makan dan minum untukmu. Aku akan pergi mencari keterangan untukmu, malam nanti aku akan datang. Harap Nona jangan meninggalkan tempat ini sebelum gelap.”

Maya mengangguk, akan tetapi sebelum Suma Hoat tiba di pintu dia memanggil. ”Tunggu dulu!”

Suma Hoat membalik dan menatap wajah itu, beberapa kali menelan ludah. Bibir itu! Mata itu! Ingin dia berlutut dan menyatakan cinta kasihnya di saat itu juga! Akan tetapi, menghadapi seorang wanita seperti ini, dia tidak boleh lancang dan sembrono. Dan sekali ini dia tidak boleh gagal, cinta kasihnya harus mendapat sambutan, kalau tidak, dia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi kalau kembali cintanya berantakan!

“Ada pesan apakah, Nona?”

“Hanya sebuah pertanyaan yang kuminta kau jawab dengan sebenarnya, karena kalau kau membohong tiada gunanya. Kenapa engkau melakukan ini semua? Kenapa engkau membantu aku, padahal aku tahu pasti bahwa engkau bukanlah seorang sekutu Kerajaan Mancu?” Setelah bertanya demikian, sambil menanti jawaban Maya memandang dengan sinar mata tajam yang seolah-olah menembus dan menjenguk isi hati pemuda itu.

Suma Hoat merasa silau dan karena memang dia tidak menyembunyikan sesuatu, memang perasaannya terhadap gadis itu sudah jelas dan wajar, maka dia menentang sinar mata tajam itu sambil menjawab dengan hati terbuka sehingga suaranya tenang dan jujur. “Aku sengaja membantumu bukan karena engkau mata-mata Mancu, Nona, juga bukan karena dalih dan pamrih apa pun juga, melainkan semata-mata karena aku ingin membantumu karena aku kagum kepadamu, dan karena ada dorongan di hatiku yang membuat aku ingin berkorban apa juga demi untukmu. Nah, sampai jumpa!”

Suma Hoat membalikkan tubuhnya tanpa menanti reaksi dari pertanyaannya yang hampir membuka rahasia hatinya itu. Dia sudah nekat dan pasrah andai kata gadis itu menjadi marah dan menyerangnya. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu, sehingga ketika tiba di luar rumah hati Suma Hoat lega bukan main, bukan lega karena dia tidak diserang atau dibunuh, melainkan lega penuh harapan karena kalau gadis itu tidak marah, berarti dia sudah menang separuh!

Memang Maya tidak berbuat sesuatu. Gadis itu telalu heran mendengar jawaban yang ia yakin bukan bohong itu. Terlalu heran dan terlalu kaget sehingga dia hanya duduk melongo sampai pemuda itu lenyap dari depannya. Barulah ia sadar dan menarik napas panjang. Gila! Putera Suma Kiat menaruh hati cinta kepadanya! Hemmm, berkali-kali dia digoda cinta kasih pria, dari Can Ji Kun yang masih harus diragukan cintanya yang mungkin palsu, sampai Pangeran Bharigan yang tak dapat diragukan lagi cinta kasihnya. Namun mana mungkin dia memperhatikan, apa lagi membalas cinta kasih pria lain kalau hatinya sudah dia serahkan sebulatnya kepada suheng-nya, Kam Han Ki?

Hampir Maya menitikkan air mata ketika ia teringat akan suheng-nya, teringat betapa pertemuannya dengan suheng-nya amat menyakitkan hati. Dia sudah mengaku cinta, sudah rela meninggalkan semua ini, melupakan semua dendamnya, tidak lagi mencampuri urusan dunia, ikut sehidup semati dengan suheng-nya di Pulau Es, memadu cinta sampai hayat meninggalkan raga, asal saja suheng-nya tidak membagi kehidupan mereka berdua dengan kehadiran Siauw Bwee.

Akan tetapi suheng-nya tidak mau! Sungguh menyakitkan hatinya dan menurut patut, tidak seharusnya dia mati-matian mencinta orang yang begitu tak tahu dicinta! Sudah sepatutnya kalau dia memperhatikan, mungkin membalas cinta kasih yang murni dari Pangeran Bharigan, atau memperhatikan sinar mata mengandung kasih yang begitu mesra dan menggairahkan yang terpancar dari mata Suma Hoat!

“Alhh, Suheng…, Suheng…!” Ia mengeluh, hatinya merintih, namun kekerasan hatinya membuat dia pantang menitikkan air mata.

Ia melupakan kedukaan hatinya dengan mencurahkan pikiran kepada tugasnya sebagai mata-mata. Apa pun yang akan terjadi dengan gejolak hatinya, yang terang pekerjaannya akan berhasil baik dengan bantuan seorang putera jenderal! Bahkan kalau dia bisa mempengaruhi Suma Hoat untuk membujuk Jenderal Suma Kiat membantu penyerbuan pasukan Mancu dari dalam kota Siang-tan, tentu akan mudah menalukkan kota benteng yang amat kuat ini!

— dunia-kanguw.blogspot.com —

Kedua orang panglima pembantu Maya yaitu Kwa-huciang dan Theng-ciangkun, berhasil menyelamatkan diri dari kepungan. Dengan menyamar sebagai pengemis mereka dapat menyelinap di antara banyak pengemis yang berkeliaran di kota itu, yang berkelompok di emper-emper kuil, di bawah jembatan, di pasar-pasar.

 

Berbeda dengan dua orang ini, Ji Kun dan Yan Hwa tidak sudi untuk menyamar sebagai ngemis dan bercampur dengan orang-orang yang berbaju kotor, berbadan kotor dan berbau apek itu. Di dalam keadaan terancam ini, timbul cinta kasih antara Ji Kun dan Yan Hwa sehingga ke mana pun mereka lari bersama, saling melindungi dan tak mau saling berpisah.

Memang demikianlah sifat dan watak kedua orang ini. Di waktu ada bahaya saling menolong dan saling melindungi tanpa mengingat akan keselamatan diri sendiri, namun dalam keadaan bebas dan damai, keduanya selalu bertengkar dan tak mau saling mengalah. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa Sepasang Pedang Iblis yang berada di tangan mereka itu mengeluarkan pengaruh mukjizat dan jahat sekali, yang menambah persaingan di antara mereka karena dengan mengandalkan pedang masing-masing, mereka tidak mau mengalah dan hal inilah yang merupakan penghalang rasa cinta kasih mereka yang sebetulnya amat mendalam itu.

Ketika kedua orang murid Mutiara Hitam ini berhasil lolos dari kepungan para prajurit, mereka bersembunyi di wuwungan rumah lalu berunding sebentar. Tak lama kemudian mereka berhasil menyambar dua orang prajurit yang berada di tempat terpisah, melucuti pakaian mereka dan dengan mengenakan pakaian prajurit mereka menyelinap di dalam kegelapan malam, kemudian berhasil lolos ke luar dari kota melalui pintu gerbang sebelah selatan, yaitu pada saat diadakan penggantian penjaga. Barulah para penjaga tahu bahwa dua orang di antara mereka adalah palsu ketika Ji Kun dan Yan Hwa berlari cepat meninggalkan pintu gerbang. Pengejaran dilakukan, akan tetapi tak mungkin pasukan itu dapat menandingi ilmu lari cepat dua orang murid Mutiara Hitam ini. Apa lagi malam yang gelap segera menelan bayangan mereka.

Setelah berlari jauh, dua orang muda itu meninggalkan pakaian prajurit dan duduk mengaso dalam sebuah hutan, di atas akar pohon menonjol. Yan Hwa agak terengah-engah dan gadis ini membereskan rambutnya yang tadi awut-awutan karena tadi disembunyikan dalam topi prajurit. Melihat rambut sumoi-nya terurai, Ji Kun segera memeluknya dan menciumnya. Yan Hwa tertawa dan balas mencium dengan mesra. Pengalaman berbahaya tadi mendekatkan hati mereka dan ciuman-ciuman mereka menambah mesra perasaan hati. Akan tetapi ketika Ji Kun hendak berbuat lebih jauh lagi, Yan Hwa mendorong dadanya dengan halus.

“Ihhh…! Tugas belum selesai ingin yang bukan-bukan!”

Ji Kun tertawa. Buyarlah hasrat hatinya. Sambil mempermainkan rambut kekasihnya yang panjang hitam dan gemuk, dia berkata, “Kita telah bebas. Sungguh berbahaya sekali!”

“Malu kita melarikan diri terbirit-birit seperti dua ekor tikus. Enci Maya dan yang lain-lain tentu sedang sibuk melakukan penyelidikan di dalam kota, sedangkan kita berada jauh di luar kota, enak-enakan. Sungguh harus malu!” Yan Hwa mencela.

”Aihh, bukankah kita sudah bersepakat untuk lari keluar kota? Engkau tidak mau menyamar sebagai pengemis.”

“Ihh, jijik!”

“Kita terpaksa lari ke luar karena keadaan amat berbahaya. Dengan keributan seperti itu dan penjagaan amat ketat di dalam kota, biar pun kita berada di sana juga tak mungkin dapat bekerja. Pula, apakah hanya di dalam kota saja yang perlu diselidiki? Kurasa menyelidiki di luar tembok benteng tidak kalah pentingnya, menyelidiki barisan pendam mereka, dan pertahanan pertama mereka. Selain itu, kalau keadaan di kota sudah mereda, masuk lagi ke sana apa sukarnya bagi kita?”

“Habis, sekarang kita mau apa?” Yan Hwa bertanya.

Ji Kun tertawa, “Menanti sampai matahari terbit, baru nanti mencari jalan menyelidiki ke dekat tembok benteng. Sekarang, sambil menanti, mau apa lagi, Sumoi yang manis?”

 

Dia memeluk lagi dan sekali ini Yan Hwa juga timbul kasih sayangnya, melayani cumbu rayu suheng-nya. Keduanya tenggelam dalam gelombang asmara, akan tetapi Yan Hwa yang rebah dengan telinga menempel tanah tiba-tiba mendorong dada kekasihnya.

“Ada barisan datang…!”

Ji Kun terkejut. Keduanya melompat bangun, lalu dengan cekatan seperti dua ekor burung, mereka melompat ke atas, menyambar dahan pohon dan dalam beberapa detik saja dua orang yang lihai itu telah berada di puncak pohon tertinggi, mengintai ke sana-sini. Akhirnya mereka melihat lampu bergerak-gerak di selatan, dan akhirnya beberapa pasang lampu itu berhenti.

“Apakah itu?” Yan Hwa bertanya.

“Menurut suaranya tentu derap kaki kuda, dan lampu-lampu itu tak salah lagi, tentu lampu kendaraan kereta. Mereka berhenti di sana, hayo kita menyelidiki!”

Dengan cepat sekali, tanpa mengeluarkan suara, kedua orang muda itu mendekati tempat itu dan melihat bahwa rombongan yang berhenti itu adalah rombongan terdiri dari empat buah kereta yang dikawal ketat oleh pasukan pengawal sejumlah lima puluh orang. Ketika tenda-tenda kereta yang berkumpul itu tersingkap, dengan heran sekali Yan Hwa dan Ji Kun melihat gadis-gadis cantik yang duduk di dalam joli kereta, setiap kereta terisi enam orang gadis cantik. Mereka itu kelihatan berduka, ada pula yang menangis terisak.

Ji Kun dan Yan Hwa menyelinap di antara pohon-pohon, mendekati komandan dan para pembantunya yang duduk mengelilingi api unggun, mendengarkan percakapan mereka.

”Dalam keadaan terancam penyerbuan barisan Mancu, mengumpulkan siuli (gadis cantik calon selir pangeran atau raja), sungguh mementingkan kesenangan sendiri saja,” seorang perwira mengeluh.

“Hati-hati dengan mulutmu!” Komandan pasukan yang berpakaian panglima membentak bawahannya, “Bukan tidak ada gunanya kalau Suma-goanswe menyuruh kita mengumpulkan gadis-gadis cantik untuk Pangeran Ci Hok Ong di Siang-tan. Kita hanyalah pelaksana, perlu apa memusingkan sebab-sebabnya?”

“Akan tetapi, mengapa kita bermalam di sini, tidak langsung terus ke Siang-tan?” tanya seorang perwira lain.

“Hemm, orang-orang kang-ouw tentu tidak membiarkan perampasan wanita-wanita cantik ini, dan hutan-hutan di depan amat besar. Lebih aman melewatkan malam di sini, besok pagi baru melanjutkan perjalanan. Kalau kita disergap di dalam hutan, tentu akan sulit mempertahankan penumpang-penumpang itu. Jumlah mereka sudah dihitung, dan kita akan celaka kalau sampai hilang seorang saja. Suma-goanswe tentu akan menghukum kita!”

Ji Kun dan Yan Hwa saling pandang di dalam gelap, kemudian Ji Kun mendekatkan mulutnya di telinga kekasihnya dan berbisik, “Kesempatan baik untuk kita!”

Ia lalu berbisik-bisik mengatur rencana. Sumoi-nya mengangguk-angguk, sehingga pipinya yang halus itu menyentuh dan mengusap hidung dan mulutnya, membuat Ji Kun tidak tahan untuk tidak mencium pipi itu. Sebuah cubitan dari Yan Hwa memperingatkannya dan mereka lalu berpencar, siap melaksanakan rencana yang dibisikkan Ji Kun tadi.

Tak lama kemudian terdengar pekik kesakitan dan seorang di antara pengawal yang sedang berdiri menjaga di sebelah kanan roboh. Keadaan menjadi kacau dan semua pengawal lari ke tempat itu di mana terdapat Ji Kun mengamuk di dalam gelap. Para perwira cepat menghunus golok dan mengepung, akan tetapi sekali melompat, Ji Kun telah lenyap ke dalam kegelapan hutan kecil itu karena dia melihat bayangan sumoi-nya yang berkelebat.

 

Memang seperti direncanakan semula, ternyata sumoi-nya telah berhasil menculik seorang di antara gadis siuli dari kereta terdepan. Terdengar jerit para siuli lainnya dan ketika para pengawal melihat bahwa yang terculik adalah gadis yang paling cantik, mereka menjadi bingung, marah dan khawatir bukan main.

Panglima pasukan marah-marah dan terdengar bentakan-bentakannya, “Hayo cari dia! Kalau tidak dapat terampas kembali, nyawa kita menjadi taruhan!”

Akan tetapi para pengawal sudah dibikin gentar oleh ketangkasan Ji Kun tadi dan mereka menyaksikan bayangan yang melarikan siuli tadi pun seperti iblis saja. Pula mereka berada di hutan yang gelap, ke mana harus mencari? Betapa pun juga karena takut kepada komandan mereka, takut pula kalau kehilangan itu akan dilimpahkan kepada mereka, dengan obor di tangan para pengawal itu mencari di sekitar tempat itu.

Namun Yan Hwa dan Ji Kun sudah berada jauh di tengah hutan besar dan gadis cantik itu kini tidak takut lagi. Bahkan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Yan Hwa dan Ji Kun sambil berkata,

“Terima kasih atas pertolongan Ji-wi, entah bagaimana saya dapat membalas budi pertolongan Ji-wi yang membebaskan saya dari mala-petaka ini.”

Cuaca pagi kemerahan membuat Ji Kun dapat meneliti wajah gadis itu yang sesungguhnya cantik manis. Dia lalu memegang kedua pundak gadis itu, diangkatnya bangun sambil tersenyum. “Manis, kami tidak mengharapkan balasan dan aku akan cukup puas kalau engkau membalasnya dengan sebuah ciuman!” Berkata demikian, dia memeluk dan mengecup bibir gadis itu yang tentu saja menjadi tersipu-sipu, dan ketika Ji Kun melepaskan pelukannya, gadis itu terhuyung ke belakang dan menangis.

“Suheng! Engkau… engkau…!” Yan Hwa membentak marah tangannya meraba gagang pedang.

“Eiiitt, Sumoi. Engkau cemburu?”

“Tentu saja! Hanya sebegitukah cintamu kepadaku? Engkau pernah tergila-gila kepada Enci Maya dan sekarang… katakan, siapa yang kau cinta? Gadis ini?”

“Wah-wah, apakah engkau anak kecil? Tentu saja hanya engkau yang kucinta, sedangkan yang lain-lain termasuk gadis ini, hanya tubuhku saja yang tertarik, bukan hatiku. Apakah engkau tidak mernbolehkan suheng-mu bersenang-senang sedikit?”

“Hemmm… laki-laki ceriwis mata keranjang! Lihat saja nanti pembalasanku kalau ada kesempatan. Eh, bocah, kami telah menyelamatkanmu dan sekarang bersembunyilah di sini. Jangan pergi ke mana-mana sebelum lewat hari ini atau engkau akan tertawan lagi dan mendapat hukuman. Kami pergi!”

Yan Hwa dan Ji Kun meloncat dan berkelebat pergi meninggalkan gadis itu yang menjadi ketakutan sekali dan menangis di antara semak-semak belukar di mana dia ditinggalkan seorang diri. Dia seorang gadis yang lemah, dan biar pun dia kini telah dibebaskan, namun ditinggalkan seorang diri di tempat itu, tentu saja dia ketakutan dan tidak tahu ke mana harus pergi. Untuk kembali ke kampungnya, dia tidak mengenal jalan.

Ketika beberapa orang anak buah pasukan pengawal mencari-cari sampai pagi dan tiba di pinggir hutan besar, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita muda yang cantik sedang sibuk mengumpulkan kayu kering. Wanita ini bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang sengaja memperlihatkan sikap terkejut dan takut melihat datangnya tujuh orang pengawal berikut seorang perwira pengawal itu. Dia menjerit, melepaskan kayu-kayu kering yang dikumpulkannya lalu melarikan diri. Tentu saja dia berlari biasa seperti lari seorang gadis lemah dan sebentar saja ia telah tertangkap, kedua lengannya dipegang dari kanan kiri oleh dua orang pengawal.

 

“Ha-ha-ha-ha, engkau hendak lari ke mana?” Seorang di antara mereka berkata.

”Ehhh…, ini bukan dia!” Perwira pengawal berseru kaget setelah melihat Yan Hwa. “Dia hanya seorang gadis dusun, akan tetapi… hemmm, aku berani bertaruh dia tidak kalah cantik menarik dari pada siuli yang lenyap tadi!”

 

“Benar, dia jelita sekali!” Para anak buahnya berkata dan semua mata memandang Yan Hwa dengan kagum.

Kedua pipi Yan Hwa menjadi merah dan dia pura-pura meronta sambil berteriak, “Kalian siapakah? Mengapa aku ditangkap?”

“Anak baik, engkau tinggal di mana?” Perwira itu bertanya.

“Aku tinggal di sebuah dusun di luar hutan di seberang sana. Aku mencari kayu bakar untuk di jual…” Yan Hwa menjawab ketakutan, matanya yang indah bening terbelalak.

”Apakah engkau melihat orang-orang di dalam hutan besar ini?”

Yan Hwa menggeleng kepala.

“Hemmm…,” Sang Perwira menggosok-gosok jenggot pendeknya. “Bawa dia kepada Ciangkun, kurasa jalan satu-satunya hanyalah menggantikan yang hilang dengan dia ini.”

Yan Hwa menjerit-jerit ketika dipaksa ikut bersama mereka menuju ke rombongan kereta dan di situ dia menjadi tontonan semua pengawal. Panglima yang memimpin pasukan pengawal mendengarkan laporan perwira dan mengangguk-angguk. “Memang tidak ada jalan lain yang lebih baik lagi. Eh, Nona muda. Siapa namamu?”

“Nama saya Yan Hwa, she Ok,” jawab Yan Hwa yang tidak khawatir memperkenalkan nama aslinya karena namanya memang tidak terkenal.

“Dengar, Ok Yan Hwa. Engkau ingin mati atau hidup?” Suara panglima itu terdengar kereng dan penuh ancaman.

Dengan sinkang-nya yang sudah tinggi tingkatnya, Yan Hwa dapat membuat jalan darahnya terhenti sehingga mukanya menjadi pucat. “Saya… saya ingin hidup, Tai-ongya…”

“Hushh! Aku bukan kepala perampok!” bentak Si Panglima yang disebut tai-ong (raja besar), sebutan yang biasa dipergunakan orang terhadap kepala perampok. “Sebut aku Tai-ciangkun, mengerti?”

“Baik, Tai-ciangkun…”

“Kalau engkau ingin hidup, mulai sekarang engkau harus menjadi seorang di antara gadis-gadis cantik di dalam kereta ini untuk dipersembahkan kepada Pangeran Ciu Hok Ong di Siang-tan. Engkau tidak boleh menceritakan tentang peristiwa malam ini kepada siapa pun juga. Katakan bahwa engkau adalah seorang di antara mereka yang kami pilih. Kalau engkau menurut, engkau akan hidup mewah dan mulia di istana Pangeran, mungkin menjadi selir Pangeran yang terkasih, sedikitnya menjadi pelayan istana. Kalau menolak, sekarang juga kusembelih lehermu sampai putus!”

“Iihhh… ampun… ampun, Tai-ciangkun… hamba tidak berani menolak, hanya… hamba harus memberi tahu ayah ibu dulu di dusun…”

“Tidak usah! Tinggal pilih, sekarang juga, ingin mati atau hidup?”

Yan Hwa menangis akan tetapi mengangguk-angguk. “Baik, Tai-ciangkun… hamba… hamba menurut…”

Yan Hwa disuruh memasuki kereta terdepan dan dipaksa berganti pakaian yang indah. Semua siuli memang diharuskan berpakaian indah dan panglima itu masih mempunyai beberapa potong pakaian untuk perlengkapan. Setelah itu, komandan pasukan mempersiapkan orang-orangnya untuk memberangkatkan rombongan kereta itu.

 

Akan tetapi, kembali terjadi kekacauan ketika rombongan itu baru saja berangkat. Tiba-tiba dua ekor kuda yang menarik kereta terdepan meringkik keras lalu membedal ke depan seperti dikejar setan. Sia-sia saja kusirnya berusaha menahan kedua kuda yang kabur itu, bahkan kini panglima itu sendiri bersama beberapa orang pembantunya membalapkan kuda untuk mengejar dan menyelamatkan kereta itu. Kalau sampai kereta terguling dan lima orang siuli di dalamnya celaka, benar-benar mereka menghadapi kesulitan besar!

Melihat panglima itu dan pembantu-pembantunya mengejar, dua ekor kuda penarik kereta yang kabur itu menjadi makin binal. Kusirnya berteriak-teriak dengan panik, menarik-narik kendali kuda, namun tetap tidak berhasil menghentikan kaburnya dua ekor kuda itu.

Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bukan lain adalah Ji Kun. Dia lari dari samping menangkap kendali kuda, meloncat ke atas punggung kuda. Diam-diam dia mencabut dan membuang dua buah duri yang tadi menancap di dekat ekor kuda, kemudian dia menarik kendali kuda dan menggunakan kekuatan tangan, diam-diam mengerahkan sinkang-nya, kakinya menjapit perut kuda.

Semua ini dilakukan oleh Ji Kun dengan mengurangi ketangkasannya sehingga dia tidak kelihatan sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, melainkan sebagai seorang ahli mengatasi kuda-kuda kabur. Setelah dua ekor kuda itu berhenti, dia pura-pura lemas dan ketika melompat turun, dia terhuyung dan hampir jatuh. Sambil mengusap keringatnya dia berkata, “Wah, bahaya sekali…, dua ekor kuda ini malam tadi tentu makan rumput merah dan menjadi binal!”

Panglima dan para perwira sudah tiba di situ dan melihat mereka, Ji Kun cepat menjatuhkan diri berlutut. Dengan pandang mata penuh kecurigaan panglima itu bertanya, “Engkau siapa?”

“Nama hamba Can Ji Kun, pekerjaan hamba sebagai ahli kuda. Dahulu di utara hamba pernah bekerja kepada seorang peternak kuda yang besar, kemudian karena perang hamba lari ke selatan dengan maksud mencari pekerjaan yang sesuai dengan kepandaian hamba. Kebetulan hamba melihat kereta dikaburkan kuda dan mengandalkan keahlian hamba, hamba lupa diri dan menolong. Harap Tai-ciangkun suka memaafkan kelancangan hamba.”

Hilanglah kecurigaan panglima itu dan dia mengangguk-angguk. “Bagus, kami berterima kasih, Ji Kun. Kalau engkau mencari pekerjaan, mulai sekarang kau boleh mengurus kuda dan mengusiri kereta ini. He kau turun!” Bentak Sang Panglima kepada kusir yang masih pucat wajahnya.

Dengan tubuh gemetar kusir itu turun dari atas kereta dan sekali mengulur tangan panglima itu telah merampas cambuk, kemudian mencambuki kusir itu sambil memaki-maki, “Manusia tolol! Goblok! Hampir saja engkau mencelakakan kita semua!”

Cambuk itu menari-nari di atas tubuh kusir yang berlutut dan minta-minta ampun. Pakaiannya robek-robek dan kulit tubuhnya babak-belur dan berdarah. Setelah puas, panglima itu berkata, “Kau harus jalan di belakang kereta, pengadilan akan menjatuhkan hukuman nanti di kota!”

Rombongan itu berangkat lagi dan kini Can Ji Kun duduk di tempat kusir, memegang cambuk dan mengendalikan kuda menarik kereta di mana duduk pula Ok Yan Hwa yang menjadi girang sekali melihat betapa siasat mereka berjalan lancar dan berhasil baik. Tentu saja dua ekor kuda itu tadi kabur ketika diam-diam Yan Hwa menyerangnya dari belakang dengan dua buah duri yang sudah dipersiapkannya sebelumnya, menyambitkan duri-duri itu mengenai pantat kuda yang menjadi kaget dan kesakitan lalu kabur.

Tak lama kemudian rombongan memasuki hutan besar yang ditakuti Sang Komandan. Tiba-tiba komandan ini berteriak, “Awas, di depan ada orang!”

Ji Kun yang berada di depan kereta pertama sudah melihat orang-orang itu, dan dia mengerutkan alisnya. Jelas tampak olehnya bahwa yang menghadang di depan itu tentulah orang-orang kang-ouw. Sikap mereka gagah dan bukanlah kasar seperti sikap perampok. Ada tujuh orang laki-laki yang menghadang di depan, berjajar memenuhi jalan.

Komandan dan para perwira memberi aba-aba menghentikan kereta, kemudian memerintahkan pasukan mengurung kereta-kereta itu, dan dia sendiri bersama sisa pasukan lalu melarikan kuda menghampiri orang-orang yang menghadang itu. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, dengan sebatang golok besar di punggung, berjenggot panjang dan bersikap gagah perkasa, memimpin para penghadang itu, berdiri bertolak pinggang dan sinar matanya tajam menatap Sang Panglima.

Panglima yang duduk dengan angkuhnya di atas kuda itu membentak, “Kalian mau apa menghadang di sini? Minggirlah! Apa tidak melihat bahwa kami pasukan pengawal dari kerajaan? Apakah kalian ini pemberontak-pemberontak atau pengkhianat-pengkhianat yang hendak melawan pasukan kerajaan?”

Laki-laki berjenggot panjang itu mengelus jenggotnya dengan tangan kiri, kemudian menjawab, “Ciangkun, kami adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak berjiwa pengkhianat atau pemberontak. Bahkan sebaliknya, kami adalah patriot-patriot negara yang menjadi pelindung rakyat yang tertindas! Negara dalam keadaan perang. Mengapa para pembesar hanya mementingkan kesenangan diri pribadi dan menambah beban rakyat dengan menculik dan memaksa gadis-gadis orang untuk dijadikan korban kebuasan nafsu pembesar? Kami tidak akan melawan pasukan kerajaan, akan tetapi kami menuntut agar para gadis yang ditawan dalam kereta itu dibebaskan!”

“Hemm, enak saja kau bicara! Para gadis ini adalah calon-calon dayang atau selir pangeran, nasib mereka sudah pasti akan jauh lebih baik dari pada kalau mereka berada di rumah. Mereka akan menjadi orang-orang terhormat dan hidup mewah, bahkan keluarga mereka akan ikut pula menjadi orang terhormat. Kalian bilang bukan pemberontak, akan tetapi hendak menentang kehendak pangeran dan hendak melawan pasukan pemerintah. Pergilah sebelum kami basmi kalian kaum petualang pemberontak!”

“Ciangkun, alasan kuno yang kau kemukakan itu memuakkan! Kau sendiri tahu betapa gadis-gadis itu pergi dengan paksaan. Dengar mereka terisak-isak, menangis. Kalau mereka pergi dengan sukarela, kami pun bukan orang-orang yang lancang mencampuri urusan orang. Akan tetapi karena melihat gadis-gadis itu dipaksa yang berarti penindasan kejam, kami tak mungkin berpeluk tangan saja. Kalau kau tidak mau membebaskan mereka sekarang juga, terpaksa kami menggunakan kekerasan.”

“Si pemberontak keparat! Serbu!” Panglima itu mengeluarkan aba-aba dan para pengawal yang berjalan kaki sudah bersorak sambil maju menyerbu tujuh orang itu.

Mereka ini pun sudah mencabut senjata masing-masing dan terjadilah pertandingan yang seru antara tujuh orang gagah itu melawan tiga puluh orang pasukan pengawal, sedangkan yang lain bertugas menjaga kereta-kereta dengan mengurungnya.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa merasa serba salah. Orang-orang kang-ouw itu ternyata cukup lihai sehingga banyak anak buah pengawal yang roboh, sedangkan panglima dan para perwira juga terdesak. Terutama sekali Si Jenggot Panjang amat lihai mainkan goloknya.

Dua orang murid Mutiara Hitam menjadi bingung. Tentu saja di dalam hati mereka, mereka berpihak kepada tujuh orang itu dan andai kata mereka tidak sedang bertugas, tentu mereka membantu tujuh orang itu dan membasmi pasukan pengawal. Akan tetapi dalam keadaan sekarang, andai kata turun tangan, mereka seharusnya membantu pasukan pengawal dan merobohkan penghalang itu agar mereka dapat cepat masuk kota dan dapat memulai dengan tugas mereka! Karena serba salah, baik Ji Kun mau pun Yan Hwa hanya duduk menonton saja dan dari permainan golok dan pedang para orang gagah itu, mereka dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak-anak murid Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai.

Agaknya pihak pasukan pengawal takkan kuat menghadapi tujuh orang gagah itu kalau pertandingan dilanjutkan seperti itu tanpa campur tangan lain. Selagi Ji Kun dan Yan Hwa saling lirik ketika Ji Kun menyingkap tenda dan menjenguk ke dalam, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah sebuah pasukan kecil terdiri dari selosin prajurit berkuda, dikepalai oleh seorang laki-laki bermuka panjang seperti kuda!

Ketika melihat pertempuran itu, laki-laki bermuka kuda itu yang bukan lain adalah Siangkoan Lee cepat membawa pasukannya menyerbu dan terkejutlah tujuh orang itu karena orang bermuka kuda ini benar-benar hebat sekali kepandaiannya. Dengan sebuah golok melengkung Siangkoan Lee sudah meloncat turun dari atas kudanya dan mengamuk.

Orang gagah berjenggot panjang yang menandinginya dirobohkannya dalam waktu belasan jurus saja. Juga pasukannya ternyata adalah pasukan istimewa yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi. Orang-orang gagah itu melakukan perlawanan mati-matian, namun akhirnya mereka semua roboh dan tewas jadi sasaran hujan senjata para pasukan pengawal! Pertempuran berhenti dan berakhir dengan matinya tujuh orang gagah itu dan belasan orang prajurit pengawal.

Siangkoan Lee segera berkata kepada panglima pengawal yang terluka pundaknya dalam pertempuran tadi. “Atas perintah Goanswe, seluruh siuli supaya langsung dibawa ke istana pangeran dan harap bergerak cepat karena Pangeran sudah tidak sabar menanti. Mengapa sekarang baru tiba di sini?”

“Maaf, Siangkoan-taihiap, kami terpaksa bermalam di luar hutan besar karena kami khawatir akan penyergapan di tengah malam dalam hutan itu.”

“Hemm, disergap di pagi hari pun kau tak mampu melindungi kereta-kereta itu!” kata Si Muka Kuda dengan suara menghina. “Kalian sudah terlambat, hayo cepat berangkat!”

Karena takut kalau murid dan orang kepercayaan Jenderal Suma Kiat yang galak dan lihai itu akan menjadi marah dan menyalahkan mereka, maka para pengawal tidak berani bercerita tentang hilangnya seorang gadis yang diganti gadis lain dan seorang kusir baru yang mereka terima untuk jasanya menolong mereka terlepas dari bencana ketika kereta kabur. Hal ini menguntungkan dua orang murid Mutiara Hitam, karena kalau diketahui Siangkoan Lee, tentu orang yang lihai dan cerdik ini akan menjadi curiga dan menyelidiki mereka.

Demikianlah, tanpa menimbulkan kecurigaan Yan Hwa ditempatkan di dalam istana pangeran bersama para gadis lain. Berkat kepandaiannya mengurangi riasan muka dan membuat mukanya pucat seperti orang berpenyakitan kalau dihadapkan Pangeran, Ok Yan Hwa berhasil membuat Pangeran kehilangan seleranya. Akan tetapi gadis ini amat rajin dan pandai melayani, sehingga Yan Hwa tidak diambil selir melainkan diberi pekerjaan sebagai dayang pelayan. Sedangkan Ji Kun menjadi seorang tukang mengurus kuda. Tentu saja dua orang muda yang lihai ini mendapatkan kesempatan baik untuk melakukan penyelidikan, dan terutama sekali Yan Hwa yang selalu dekat dengan Pangeran dan mengetahui apa bila ada tamu-tamu penting yang datang bertemu dengan Pangeran…..

********************

Maya duduk termenung di dalam pondok di mana dia bersembunyi. Hari telah hampir malam dan dia menanti kedatangan Suma Hoat. Telah empat hari dia berada di tempat persembunyiannya ini dan selama empat hari itu dia mendengar banyak dari Suma Hoat. Dia sendiri pun setiap malam keluar melakukan penyelidikan, namun harus dia akui bahwa tanpa bantuan keterangan-keterangan yang amat penting dari pemuda itu, akan sukarlah baginya menyelidiki keadaan musuh.

Penjagaan amat ketatnya dan kini dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng kota Siang-tan ini benar-benar amatlah kuatnya, jauh berbeda dengan kota Sian-yang. Bahkan dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng itu sedang mendatangkan barisan bantuan dari selatan untuk menghadapi ancaman pasukan-pasukan Mancu yang telah menduduki Sian-yang. Dengan barisan bantuan itu, jumlah pasukan Sung menjadi lebih besar dari pada pasukan Mancu dan Maya berpikir bahwa untuk menyerbu ke Siang-tan, pasukan Mancu harus mendatangkan bala bantuan juga.

Suma Hoat banyak membantunya dan diam-diam dia merasa berterima kasih kepada pemuda itu. Pemuda musuh besarnya karena bukankah pemuda itu putera Suma Kiat? Namun harus dia akui bahwa di dalam hatinya, dia tidak membenci Suma Hoat. Bahkan sebaliknya, dia merasa kagum dan suka kepada pemuda itu yang jelas menaruh hati cinta kepadanya. Hal ini mudah saja dia lihat dari pandang matanya, dari sikap dan gerak-geriknya, dari suara dan dari senyumnya.

Teringat akan hal ini, Maya menarik napas panjang karena terbayanglah wajah satu-satunya orang yang dicintanya, wajah Kam Han Ki. “Aihhh, Suheng. Banyak pria yang jatuh cinta kepadaku, akan tetapi mengapa engkau seorang yang kuharapkan, bahkan mengecewakan hatiku?” Teringat akan suheng-nya, Maya menundukkan mukanya dan perasaan rindu dendam mencekam hatinya, membuatnya menggigit bibir menahan tangis.

Gerakan orang memasuki rumah itu menyadarkannya dan ia cepat meloncat bangun. Bukan Suma Hoat, pikirnya. Pemuda itu memiliki gerakan yang ringan, akan tetapi pendatang ini langkah kakinya berat! Langkah itu terdengar makin berat dan akhirnya terdengar suara orang roboh. Maya cepat meloncat ke ruangan depan dan betapa kagetnya melihat Suma Hoat rebah di lantai dalam keadaan pingsan!

Maya cepat berlutut memeriksa dan segera melihat bahwa pernuda ini telah menderita luka oleh pukulan yang hebat, yang membuat tubuhnya dingin sekali dan dada kanannya membiru. Cepat ia memondong tubuh pemuda itu, membawanya ke dalam kamar tidur dan merebahkannya di atas pembaringan. Sekali renggut robeklah baju yang menutup dada Suma Hoat dan setelah memeriksa sebentar, tahulah Maya bahwa pemuda itu terkena pukulan yang mengandung hawa Im-kang kuat sekali dan tentu nyawanya akan terancam maut kalau tidak cepat ditolong.

Maka dia lalu duduk bersila di atas pembaringan, menempelkan telapak kanannya di dada kanan pemuda itu sambil mengerahkan hawa sinkang dari pusarnya melalui lengan. Untuk melawan luka akibat pukulan Im-kang itu, dia mengobatinya dengan pengerahan Yang-kang. Mula-mula hawa yang hangat memasuki tubuh Suma Hoat, kehangatan yang makin lama menjadi makin panas mengusir hawa dingin yang dideritanya semenjak dia terkena pukulan itu.

Setelah lewat dua jam lebih, barulah wajah Suma Hoat yang pucat menjadi kemerahan dan napasnya menjadi normal kembali. Ketika dia membuka matanya perlahan dan melihat tangan Maya menempel di dadanya, merasakan betapa hawa yang panas memasuki dadanya, mendatangkan rasa hangat mengusir rasa dingin yang hampir merenggut nyawanya tadi, Suma Hoat menjadi terharu sekali. Dia menggerakkan tangan, meraba lengan Maya, membelai lengan itu dan berbisik, “Aku… aku cinta padamu…”

Maya yang sedang rindu kepada suheng-nya, selama mengobati tadi dia mendapatkan kesempatan untuk mengamati wajah pemuda ini dan jantungnya berdebar, menggelora. Wajah pemuda itu tampan sekali membuat hatinya amat tertarik. Di antara pemuda yang pernah menyatakan cinta kasih kepadanya, harus ia akui bahwa Suma Hoat merupakan pria yang paling tampan.

Gejolak darah masa dewasa membuat muka Maya merah sekali. Apa lagi ketika mendengar bisikan Suma Hoat mengaku cinta begitu pemuda itu siuman, membuat jantungnya berdebar keras. Dia menarik kembali tangannya yang tadi dipakai mengobati dada pemuda itu agar belaian pada lengan yang membuat lengannya gemetar itu tidak sampai diketahui Suma Hoat.

“Suma Hoat, apa yang kau lakukan ini?” Maya membentak, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas sekali, bukan hanya karena dia tadi lama mengerahkan tenaga untuk mengobati pemuda itu, melainkan terutama sekali karena debar jantungnya membuat dia merasa aneh dan lemas, seperti dilolosi seluruh urat dari tubuhnya.

“Nona… engkau telah menolong nyawaku, dan karena aku tidak tahan untuk menyimpan perasaan hatiku lebih lama, biarlah sekarang aku mengaku dan aku akan rela andai kata engkau marah dan membunuhku. Nona, semenjak pertama kali aku memandangmu, aku telah jatuh cinta ketpadamu. Aku membantumu karena cinta…”

Maya seperti terkena pesona. Seluruh tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah ketika pemuda itu kembali memegang lengannya yang dahaga akan cinta kasih. Rindu dendamnya yang selalu ditahan-tahannya terhadap suheng-nya membuat hatinya seolah-olah menjadi sebatang tanaman kering. Kini sikap dan bisikan Suma Hoat yang penuh getaran cinta kasih, seolah-olah merupakan embun pagi bagi hatinya, sejuk dan menyenangkan.

“Nona, aku cinta padamu… aku bersumpah, aku mencintamu dengan hati tulus dan murni…”

Maya memejamkan matanya, tubuhnya yang lemas itu menurut saja ketika ditarik dan terdengar rintih perlahan dari dadanya ketika ia merasa betapa tubuhnya dipeluk erat-erat, kemudian napasnya berhenti menjadi sedu-sedan ketika ia merasa betapa mulutnya dicium penuh kemesraan oleh Suma Hoat. Seperti dalam mimpi, kedua lengannya bergerak, membalas rangkulan pemuda itu dan pada saat itu Maya yang rindu akan cinta kasih itu seperti tidak ingat bahwa yang memeluk dan menciuminya bukanlah pemuda yang dicintanya dan dirindukannya, bukanlah Kam Han Ki suheng-nya, melainkan Suma Hoat, putera Suma Kiat musuh besarnya!

Selama ini, hanya kepada tiga orang wanita saja Suma Hoat benar-benar jatuh cinta. Pertama-tama adalah cinta kasihnya kepada Ciok Kim Hwa yang juga merupakan cinta pertamanya. Kedua kalinya adalah ketika dia berjumpa dengan Khu Siauw Bwee, dan ke tiga kalinya adalah kepada Maya inilah. Kecuali tiga orang wanita itu, tidak ada lagi wanita yang benar-benar dicinta secara mendalam, bukan hanya cinta birahi belaka seperti yang telah dia jatuhkan kepada banyak sekali wanita sehingga dia dijuluki Jai-hwa-sian.

Dapat dibayangkan betapa bahagia hati Suma Hoat setelah dapat mendekap dan mencium mulut Maya.

Dia merasa bahagia, mendapatkan pengganti Ciok Kim Hwa, pengganti Khu Siauw Bwee.

“Maya… bidadariku, kekasih pujaan hatiku… bumi dan langit menjadi saksi akan cinta kasihku kepadamu, Maya…”

Maya tersentak kaget. Tadi sebelum mendengar namanya disebut, dia hanyalah seorang gadis dewasa, seorang wanita yang haus akan cinta, yang menderita karena rindu sehingga dia terlena dalam dekapan Suma Hoat, pria tampan yang pandai merayu hati wanita itu. Akan tetapi begitu mendengar namanya disebut, dia sadar! Dia adalah Maya, panglima wanita pemimpin Pasukan Maut. Dia adalah Puteri Maya, puteri dari Raja dan Ratu Khitan yang sedang berjuang membalaskan kematian ayah bunda dan keluarganya! Dia adalah Maya, penghuni Istana Pulau Es, sumoi dari Kam Han Ki!

Sekali meronta, Maya telah merenggutkan tubuhnya dari pangkuan dan dekapan Suma Hoat dan dia sudah meloncat turun dari atas pembaringan. Mukanya berubah pucat, sepasang matanya bersinar-sinar ketika ia memandang Suma Hoat yang menjadi kaget dan khawatir menyaksikan perubahan sikap ini.

“Maya… kekasihku, kenapa…?”

“Suma Hoat! Bagaimana engkau bisa mengenal namaku?” tiba-tiba Maya bertanya, suaranya penuh kecurigaan dan pandang matanya tajam menyelidik.

Sejenak Suma Hoat kagum dan bengong, diam-diam ia harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat gadis secantik Maya sehingga dalam keadaan seperti itu masih saja tampak cantik jelita, kecantikan yang aneh namun pada saat itu menguasai seluruh hatinya.

“Ahhh, kekasih pujaan hatiku, jadi itukah yang mengejutkan hatimu?” Suma Hoat tersenyum lebar. “Tentu saja aku dapat menduga. Pertama karena aku melihat bahwa wajahmu yang cantik seperti bidadari itu bukan wajah seorang gadis Han dan mengingat engkau bekerja untuk orang Mancu, tentulah engkau seorang gadis Mancu pula. Dan ilmu kepandaianmu demikian hebat. Siapa lagikah gadis secantik dan terlihai di Mancu kalau bukan Panglima Wanita Maya? Akan tetapi, kenyataan itu bahkan menggirangkan hatiku, Maya dewiku. Engkau seorang Panglima Mancu, aku seorang putera jenderal. Kita akan menjadi sepasang suami isteri yang cocok dan…”

“Cukup!” tiba-tiba Maya membentak dan melihat pandang mata gadis itu, Suma Hoat baru merasa terkejut sekali karena gadis itu benar-benar telah menjadi marah sekali.

“Maya… ada apakah…? Mengapa engkau marah-marah…?” Suma Hoat turun pula dari pembaringan. Melihat perubahan yang amat menggelisahkan ini, dia yang cerdik cepat menceritakan jasanya untuk menyenangkan hati Maya. “Tidak cukupkah bukti yang kuperlihatkan dalam membantumu? Bukankah engkau sendiri yang tadi mengobati aku yang terluka hebat dan hampir tewas? Maya… aku rela berkorban nyawa untukmu. Untuk memenuhi permintaanmu dan membantumu, aku tadi menyelidiki ke dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong yang sedang mengadakan perundingan dengan Bu-koksu, dan aku mendapatkan sebuah rahasia rencana mereka yang amat penting bagimu!”

 

Suma Hoat memandang wajah Maya dengan hati gelisah karena gadis itu seolah-olah tidak mendengarnya, bahkan kini tampak penyesalan dan kemarahan membayang di wajah yang cantik itu. Maya merasa menyesal sekali, menyesalkan diri sendiri yang telah menjadi lemah dan membiarkan pemuda itu memeluk dan menciuminya. Betapa mungkin hal itu terjadi! Dia masih nanar kalau memikirkan kembali dekapan dan ciuman yang membuat darahnya menggelora tadi!

“Maya, dengarlah,” Suma Hoat menyambung cepat. “Pangeran Ciu dan Koksu berunding dan mengambil keputusan untuk memancing pasukan Mancu meninggalkan Sian-yang menyerbu Siang-tan. Mereka lalu menggunakan saat itu untuk menyerbu dan merampas kembali Sian-yang dan mengurung pasukan antara kedua kota itu. Sial bagiku, dalam persembunyianku itu aku ketahuan oleh seorang panglima pengawal Koksu yang amat lihai dan dalam beberapa gebrakan saja aku telah terpukul. Untung keadaan yang kacau memungkinkan aku melarikan diri dan ke sini… eh, Maya, bukankah sudah terbukti betapa aku rela mengorbankan apa saja untukmu?”

Maya menarik napas panjang. “Terima kasih atas bantuanmu, Suma Hoat. Akan tetapi jangan kau mengira bahwa semua jasamu itu harus kubalas dengan cinta! Engkau telah mengetahui siapa aku. Aku adalah Puteri Maya, juga Panglima Maya, dan aku adalah penghuni Istana Pulau Es! Tak mungkin aku mencinta orang seperti engkau yang seharusnya kubunuh, karena engkau adalah putera Suma Kiat musuh besarku! Untuk bantuanmu itu, aku membalas dengan mengampunimu, tidak membunuhmu. Nah, selamat tinggal!”

“Maya…!” Suma Hoat berteriak, kaget bukan main mendengar bahwa Maya adalah penghuni Istana Pulau Es! Dia mengejar, akan tetapi sekali berkelebat saja Maya telah lenyap dari situ.

“Ahhhh… tidak… tidak mungkin…!” Suma Hoat menjatuhkan diri ke atas pembaringan setelah dia kembali ke kamar itu.

Hatinya seperti diremas, semua harapannya membuyar. Mengapa nasibnya seburuk itu dalam cinta kasih? Setelah gagal memperisteri Ciok Kim Hwa, setelah gagal meraih cinta kasih Khu Siauw Bwee, setelah semua harapannya tercurah kepada Maya dan melihat Maya berada dalam dekapannya malah diciuminya, kini Maya terlepas dan terbang pula dari tangannya! Kembali dia gagal! Tidak ada harapan lagi karena Maya ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es yang tentu saja memiliki kepandaian yang amat luar biasa! Mengapa nasibnya bagitu buruk sehingga dia dipertemukan dengan dua orang dara penghuni Istana Pulau Es? Apakah seperti Siauw Bwee, Maya juga telah mencinta laki-laki lain? Ah, nasib!

Ketika Suma Hoat bangkit lagi, rambutnya awut-awutan karena dijambakinya, wajahnya pucat dan sepasang matanya kembali mengandung sinar yang keji, sinar yang telah lama meninggalkan matanya semenjak dia melukai Ketua Siauw-lim-pai, semenjak dia sadar akan kesesatannya. Hatinya yang berkali-kali mengalami pukulan, kegagalan cinta, membuat perasaannya menjadi kecut dan kambuh kembalilah penyakitnya, penyakit yang membuat dia menjadi Jai-hwa-sian, penyakit yang membuat dia membenci wanita, ingin mempermainkan semua wanita, terutama mempermainkan cinta kasih mereka!

Kalau dia menjadi sakit hati karena cintanya terhadap wanita, dia akan mempermainkan cinta kasih wanita. Mulai detik itu juga, iblis mulai menguasai hati Suma Hoat lagi, seolah-olah Jai-hwa-sian yang beberapa bulan lamanya telah mati itu kini bangkit dan hidup kembali. Dan dengan beringas pemuda itu meloncat ke luar meninggalkan rumah itu, kemudian di malam hari itu, di sebuah rumah besar, terdengarlah rintihan dari seorang gadis yang dipermainkannya, kemudian menjelang pagi terdengar jerit gadis itu yang mengantar nyawanya terbang meninggalkan tubuhnya yang setelah diperkosa lalu dibunuh oleh tangan Jai-hwa-sian…..

********************

Suma Hoat tidak membohong ketika dia bercerita kepada Maya. Memang sore hari itu dia telah menyelidik ke istana Pangeran Ciu Hok Ong. Sayang bahwa ketika dia sudah mendengar sebagian dari percakapan antara Pangeran Ciu dan Koksu negara bersama panglima-panglima tinggi, tiba-tiba dia diserang seorang pengawal berpakaian preman yang amat lihai. Tentu saja Suma Hoat tidak mampu menandingi pengawal itu dan terpaksa melarikan diri dengan membawa luka karena pengawal itu bukan lain adalah Kam Han Ki!

 

Akan tetapi, pada waktu Pangeran Ciu bersama Bu-koksu mengadakan perundingan di pondok taman yang didirikan di atas telaga buatan itu, ada seorang manusia lain yang juga diam-diam mengintai dan mencuri dengar percakapan orang-orang besar ini. Dia bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang bekerja sebagai dayang dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong.

Bedanya, kalau Suma Hoat mengintai dengan bersembunyi di atas wuwungan pondok sehingga dia terlihat dan diserang oleh Kam Han Ki, dara perkasa ini lebih cerdik dan dia bersembunyi di bawah pondok, menyelam ke dalam air, berpegang pada tiang pondok dan hanya menyembulkan kepalanya sambil bersembunyi di balik tiang, mendengar percakapan orang-orang yang duduk di atas papan pondok. Karena keadaan di kolong pondok itu gelap, tentu saja tempat persembunyian Yan Hwa ini lebih aman sehingga Kam Han Ki yang amat lihai itu sendiri pun tidak dapat melihatnya.

Seperti juga Suma Hoat, Yan Hwa dapat menangkap percakapan antara Pangeran Ciu dan Bu-koksu tentang rencana mereka untuk menjebaknya dan menghancurkan pasukan Mancu. Dia menjadi girang sekali. Hari itu adalah hari terakhir dan besok pagi-pagi dia sudah harus meninggalkan tempat ini untuk mengadakan pertemuan dengan kawan-kawannya, maka hasil pengintaiannya itu merupakan rahasia yang penting sekali bagi pasukan Mancu.

Akan tetapi, betapa terkejutnya ketika ia melihat bayangan berkelebat dan seorang laki-laki tampan berdiri di depan Bu-koksu sambil berkata tenang, ”Bu-loheng, aku telah mengusir seorang mata-mata yang tadi mengintai di sini.”

“Eh, mengapa kau usir dan tidak kau tangkap atau bunuh?” Koksu Bu Kok Tai bertanya, tidak puas.

“Dia lihai sekali, Loheng. Akan tetapi dia sudah terluka oleh sebuah pukulanku.”

“Siapakah dia? Apakah kau mengenal dia?”

“Tempatnya gelap, dia bersembunyi di belakang wuwungan, Loheng. Aku hanya melihat dia dalam cuaca remang-remang, dia masih muda dan tampan, akan tetapi aku tidak mengenalnya.”

“Kam-siauwte, engkau telah berjasa. Harap kau suka melakukan penyelidikan ke kota, jangan sampai ada mata-mata musuh dapat menyelundup masuk ke kota Siang-tan ini.”

“Baiklah, Loheng.” Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Ok Yang Hwa masih memeluk tiang di bawah pondok itu, wajahnya pucat dan dia menggigil. Bukan menggigil karena kedinginan yang dapat dilawannya dengan pengerahan sinkang-nya, melainkan menggigil karena ketakutan! Ok Yan Hwa murid Mutiara Hitam, menggigil ketakutan? Memang benar demikian dan hal ini tidaklah aneh karena dara perkasa itu tadi mengenal Si Pemuda yang menghadap Bu-koksu sebagai Kam Han Ki!

Perasaan terheran-heran melihat adik sepupu gurunya itu kini membantu Koksu Negara Sung, bercampur dengan rasa ngeri dan takut karena kalau sampai Kam Han Ki melihatnya, tentu dia celaka. Paman gurunya lebih lihai dari pada Maya, pernah menundukkan dia dan suheng-nya di medan pertempuran, bahkan memperingatkan mereka berdua agar meninggalkan barisan Mancu.

Karena telah mendengar rahasia penting dan hatinya gentar setelah melihat Kam Han Ki, Yan Hwa lalu menyelam, berenang di bawah permukaan air tanpa menimbulkan suara, meninggalkan tempat itu dan langsung dia menghubungi suheng-nya, Can Ji Kun yang menyelundup dan bekerja sebagai tukang kuda. Isyarat suitan yang dikeluarkan Yan Hwa segera mendapat balasan dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik seperguruan, juga sepasang kekasih ini, sudah saling berhadapan di belakang kandang kuda yang gelap.

Ji Kun segera merangkul Yan Hwa dan dia berbisik kaget, “Aihhh… kenapa pakaianmu basah semua?”

“Aku baru saja menyelidiki perundingan di pondok telaga dengan hasil baik,” Yan Hwa balas berbisik.

 

“Engkau tentu kedinginan. Hayo masuk ke kamarku, tanggalkan pakaian basah ini dan kuhangatkan…”

“Hushhh, itu saja yang kau pikirkan, Suheng. Dengarlah, kita harus pergi dari sini, sekarang juga!”

“Kenapa? Kau kelihatan ketakutan, Sumoi.”

”Memang aku takut setengah mati. Kau tahu… Kam-susiok berada di sini, dia menjadi pengawal Bu-koksu!”

Can Ji Kun membelalakkan matanya. “Apa? Kam-susiok? Kau maksudkan dia… Kam Han Ki penghuni Istana Pulau Es?”

Yan Hwa mengangguk dan dengan singkat menceritakan semua pengalamannya ketika dia mengintai tadi. “Karena itulah, kita harus sekarang juga meninggalkan tempat ini. Besok adalah hari yang menentukan bagi kita untuk berkumpul di dalam kuil tua di luar kota. Aku telah mendengar rahasia yang amat penting itu, terutama sekali kehadiran Kam-susiok di sini tentu akan menarik perhatian Maya. Dan kau sendiri tentu sudah mendapatkan banyak keterangan. Selagi gelap begini, akan berkuranglah bahayanya untuk melarikan diri. Mudah-mudahan saja jangan sampai bertemu dengan Kam-susiok!” Yan Hwa bergidik ngeri karena dia takut sekali kepada adik gurunya itu.

“Baiklah kalau begitu, Sumoi. Nih pedangmu, simpanlah!” Yan Hwa menerima pedangnya yang ia titipkan kepada suheng-nya ketika mereka menjalankan siasat menyelundup kota bersama rombongan siuli, “Akan tetapi, engkau harus berganti pakaian lebih dulu. Pakaianmu basah kuyup begini.”

“Tidak ada waktu untuk kembali ke istana. Kalau ada yang melihat pakaianku tentu akan menimbulkan kecurigaan. Sudahlah, basah begini pun tidak apa-apa, Suheng.”

“Bagimu tidak apa-apa, akan tetapi kalau engkau sakit, akulah yang akan kehilangan!” Ji Kun berkata, “Tidak, engkau harus berganti pakaian kering. Biarlah engkau memakai pakaianku saja.”

Yan Hwa tidak membantah lagi. Dengan belaian-belaian mesra, Ji Kun membantunya menanggalkan pakaian basah dan mengenakan pakaian kering yang tentu saja terlalu besar bagi Yan Hwa. Dalam keadaan seperti itu, mereka tiada ubahnya sepasang suami isteri muda yang saling mencinta. Kalau Yan Hwa yang masih ketakutan mengingat kehadiran Kam Han Ki tidak menolaknya, tentu Ji Kun akan melepas rindunya terhadap sumoi-nya atau kekasihnya itu.

Mereka lalu menyelundup keluar dari lingkungan istana, melalui tembok belakang yang tidak jauh dari kandang-kandang kuda di mana Ji Kun bekerja. Dengan kepandaian mereka, kedua orang murid Mutiara Hitam ini berhasli meloncat ke luar tanpa dilihat para peronda dan penjaga. Mereka meloncat dan berlarian di atas genteng rumah-rumah penduduk kota dengan hati-hati sekali dan legalah hati mereka melihat bahwa di atas rumah-rumah itu tidak nampak penjaga-penjaga.

“Kita harus menghubungi Kwa-huciang dan Theng-ciangkun lebih dulu,” kata Ji Kun.

“Kemarin aku telah berhasil menghubungi mereka.”

“Apakah mereka masih menyamar sebagai pengemis?”

“Benar, dan mereka bersembunyi di kolong jembatan Ayam Besi di sebelah utara bersama para pengemis lainnya. Kita harus membantu mereka keluar dari kota. Marilah!”

Akan tetapi ketika mereka melompat ke atas genteng sebuah rumah besar, tiba-tiba muncul empat bayangan orang-orang yang tadinya bersembunyi dengan mendekam di balik wuwungan. Mereka adalah empat orang pengawal yang memegang pedang dan seorang di antaranya membentak, “Berhenti! Siapa kalian berdua?”

Kedua orang murid Mutiara Hitam itu menjawab dengan gerakan pedang yang telah mereka cabut dari sarungnya. Gerakan mereka cepat bukah main dan keduanya seperti berlomba. Tampak sinar kilat berkelebat dan empat orang pengawal itu telah roboh dan tewas seketika. Kakak beradik seperguruan ini masing-masing merobohkan dua orang!

“Tangkap penjahat…!”

Kini muncullah belasan orang pengawal yang berloncatan dari empat penjuru, dan kedua orang muda perkasa itu sudah dikurung. Terjadilah pertempuran seru di atas genteng.

”Cepat, kita harus pergi dari sini!” Ji Kun berkata sambil mengelebatkan pedangnya.

Para pengawal yang datang mengeroyok ini memiliki kepandaian lumayan sehingga terdengarlah bunyi berdencing nyaring ketika Sepasang Pedang Iblis di tangan Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk, mematahkan senjata-senjata lawan yang menghujani mereka dengan serangan dahsyat. Dua orang pengawal roboh lagi, akan tetapi kini tampak banyak sekali pengawal berloncatan.

Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau pasukan pengawal dikerahkan, mereka akan menghadapi bahaya besar dan akan sukar sekali untuk dapat meloloskan diri. Apa lagi kalau mereka teringat kepada Kam Han Ki, mereka merasa ngeri. Maka sambil memutar pedang yang mengeluarkan hawa menyeramkan dan sinar kilat sehingga para pengeroyok menjadi gentar, keduanya meloncat ke depan, berdiri di atas genteng dan dikejar oleh para pengawal.

Terdengar bunyi suitan-suitan dari para pengawal yang memberi tanda bahaya sehingga dari mana-mana muncullah para penjaga yang tadinya melakukan penjagaan sambil bersembunyi. Melihat betapa dari depan, kanan, kiri muncul pula banyak pengawal, Ji Kun dan Yan Hwa lalu meloncat turun. Seperti juga di atas, di bawah sudah terdapat banyak pengawal yang segera menyambut dan mengurung mereka. Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk dan seperti biasa, pedang mereka seolah-olah berubah menjadi naga kilat, sepasang naga yang amat dahsyat dan mereka berlomba membunuhi para musuh yang mengeroyok mereka.

“Sing-sing… crat-crat…! Delapan orang, Suheng!” Yan Hwa berseru ketika tubuhnya mencelat ke atas dan pedangnya menyambar ke bawah, merobohkan dua orang pengeroyok yang hampir putus leher mereka terbabat pedang Li-mo-kiam di tangannya. Ucapannya itu berarti bahwa sudah delapan orang yang dirobohkannya.

Ji Kun menggulingkan tubuhnya, pedangnya membabat ke sekelilingnya. “Wuuuttt, crok-crok…! Sembilan orang Sumoi!” katanya gembira karena dia menang satu orang.

Yan Hwa penasaran dan pedangnya diputar makin hebat. Kedua orang itu kini telah lupa akan bahaya, lupa akan menyelamatkan diri, bahkan lupa bahwa mereka tadi khawatir sekali akan munculnya Kam Han Ki. Mereka telah berubah menjadi dua orang yang haus darah, ingin berlomba berbanyak-banyaknya dalam membunuh musuh!

Tiba-tiba terjadi kekacauan di antara para pengeroyok dan ternyata tiga puluh orang lebih yang berpakaian pengemis mengamuk dan menyerang para pengawal itu. Keadaan menjadi kacau-balau dan tiba-tiba Ji Kun dan Yan Hwa melihat Kwa-huciang dan Theng-ciangkun muncul dekat mereka.

“Cepat, ikut kami…!” bisik Kwa-huciang memberi isyarat dengan tangannya.

Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau mereka menuruti nafsu hati berlomba membunuhi musuh, akhirnya mereka akan terjebak dan sukar sekali meloloskan diri. Mereka segera menyelinap dan mengikuti Kwa-huciang dan Theng-ciangkun yang agaknya memang sudah merencanakan pelarian ini. Menggunakan kekacauan karena para pengemis menyerbu para pengawal, empat orang mata-mata ini berlari dan melalui lorong-lorong gelap, akhirnya mereka itu dapat lolos dari kota dengan jalan merobohkan beberapa orang penjaga tembok kota yang sunyi dan kurang kuat penjagaannya, meloncat ke atas tembok dan menggunakan tali yang sudah disediakan untuk ke luar.

 

Setelah mereka terbebas dari kejaran para pengawal dan penjaga, Ji Kun memuji kawannya dan berkata, “Eh, Kwa-huciang, untung engkau datang, kalau tidak tentu kami akan repot menghadapi kepungan pasukan-pasukan musuh. Bagaimana kalian berdua dapat menggerakkan para pengemis itu?”

“Mereka itu sebagian besar adalah pengemis-pengemis anggota Hek-tung Kai-pang yang bergabung dengan Coa-bengcu. Telah kita ketahui bahwa diam-diam Coa-bengcu menjadi sekutu pemerintah Yucen, maka kami berdua lalu mengaku sebagai mata-mata dari Yucen. Mendengar ini, tentu saja mereka siap membantu kami berdua untuk meloloskan diri dari dalam kota.”

“Hemm, bagus sekali siasatmu, Kwa-huciang. Sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat! Para pengemis itu adalah kaki tangan Yucen, musuh kita juga, dan tentu mereka akan terbasmi oleh para penjaga Sung. Sungguh bagus, ha-ha-ha!” Ji Kun memuji.

Kwa-huciang mengerutkan alisnya dan dia menarik napas panjang. “Yaaah, begitulah perang! Demi kemenangan pihak sendiri, orang tidak segan-segan melakukan segala macam hal yang dalam keadaan biasa akan membuatnya malu sekali karena perbuatan semacam yang kami lakukan adalah keji dan curang. Sudahlah, mari kita cepat menuju ke kuil tua di mana tentu Li-ciangkun telah menanti kita.”

Benar saja dugaan pembantu utama Maya ini. Ketika mereka berempat memasuki kuil tua yang sudah tidak digunakan, di luar kota yang sunyi itu, Maya sudah berada di situ. Wajah Maya yang tadinya agak keruh karena masih teringat akan peristiwa antara dia dengan Suma Hoat, kini menjadi berseri. Girang hatinya bahwa empat orang pembantunya ternyata dapat lolos pula dan berkumpul kembali di tempat itu dalam keadaan selamat.

Empat orang itu segera melaporkan hasil penyelidikan mereka kepada Maya. Kwa-huciang dan Theng-ciangkun, dengan bantuan para pengemis telah berhasil menyelidiki keadaan di kota Siang-tan, bahkan telah berhasil membuat gambar peta keadaan kota itu dan sekitarnya.

Hasil penyelidikan mereka ini amat besar artinya bagi Maya, akan memudahkan mengatur siasat penyerbuan ke kota itu. Setelah memuji hasil mereka, Maya lalu menanyakan hasil penyelidikan kedua orang murid Mutiara Hitam.

“Kami berdua berhasil menyelundup ke dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong,” Yan Hwa berkata dan dengan singkat dia menceritakan pengalamannya bersama Ji Kun ketika mereka berdua menyamar sebagai pengganti siuli dan tukang kuda. Maya kagum bukan main akan kecerdikan kedua orang muda itu, juga merasa geli karena dapat membayangkan betapa lucunya pengalaman mereka itu.

“Dan apa saja yang kalian dapatkan dalam penyelidikan kalian?” tanyanya setelah dia memuji.

“Hasil-hasil lainnya tidak begitu penting, akan tetapi ada dua buah berita yang tentu akan kau anggap hebat sekali,” kata Yan Hwa.

Maya mengerutkan alisnya, hatinya tidak enak. “Lekas katakan, berita apa itu?”

“Pertama, dari perundingan antara Pangeran Ciu, Bu-koksu dan para panglimanya, mereka merencanakan untuk menjebak kita! Mereka akan membiarkan pasukan-pasukan kita meninggalkan Sian-yang menyerbu Siang-tan. Diam-diam mereka akan memotong jalan dan mengurung pasukan kita di antara kedua kota itu dengan pengerahan bala tentara yang jauh lebih besar dari pada pasukan kita.”

Kwa-huciang dan Theng-ciangkun terkejut sekali mendengarkan berita yang amat penting itu. Akan tetapi Maya mengangguk dan menjawab, “Memang berita itu hebat dan amat penting, perlu segera kita hadapi dengan siasat lain, akan tetapi aku telah mendengarnya juga, Yan Hwa. Biar pun dari sumber lain, aku pun telah tahu akan rencana siasat mereka itu. Berita kedua apa lagi?”

“Berita kedua ini lebih hebat lagi. Aku telah melihat… Kam-susiok sebagai pengawal Bu-koksu!”

“Apa…?! Siapa…?” Maya yang tadinya duduk di atas lantai, meloncat bangun dan mukanya berubah pucat.

Yan Hwa maklum bahwa tentu Maya terkejut mendengar bahwa suheng-nya berada di kota itu, bahkan menjadi pengawal Koksu musuh. “Aku melihatnya sendiri, dan untung bahwa aku mengintai dari bawah, di dalam air, karena kalau sampai Kam Han Ki-susiok melihatku, tentu aku akan celaka.”

Maya termenung dan teringat akan keadaan Suma Hoat. Melihat betapa pemuda lihai itu terkena pukulan yang amat hebat, dia percaya bahwa penglihatan Yan Hwa tentu tidak keliru dan yang melukai Suma Hoat tentulah suheng-nya sendiri, Kam Han Ki! Yang membuat dia terheran-heran adalah kenyataan bahwa suheng-nya itu dahulunya jelas membantu pasukan Yucen, sungguh pun bukan sebagai petugas resmi, mengapa sekarang tahu-tahu menjadi pengawal Bu-koksu dari Kerajaan Sung? Apakah yang telah terjadi dengan suheng-nya?

“Kita harus kembali ke Sian-yang sekarang juga!” Tiba-tiba ia berkata, suaranya agak tergetar. Betapa hatinya takkan gelisah kalau mendengar bahwa suheng-nya berada di pihak musuh? Bagaimana kalau Kam Han Ki maju sebagai Panglima Sung? Dapatkah dia berhadapan dengan suheng-nya yang dicintanya itu sebagai musuh?

Lima orang itu berjalan menuju ke depan kuil tua. Akan tetapi baru saja mereka melalui ambang pintu depan yang sudah rusak, tiba-tiba terdengar suara berdesir sambung-menyambung dan belasan batang anak panah dan senjata piauw menyambar ke arah mereka dari depan, kanan dan kiri.

“Mundur!” Maya berkata setelah mereka berhasil mematahkan semua senjata rahasia itu dengan pukulan dan kibasan tangan ke kanan kiri. Mereka meloncat mundur lagi dan Maya berkata perlahan, “Hati-hati, kita terkepung musuh. Jangan bergerak sebelum aku melihat keadaan.”

Biar pun keadaan mereka terkepung dan cuaca di luar masih gelap sehingga mereka terancam bahaya, namun sikap Maya tetap tenang.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar, “Heiiiii! Kalian mata-mata Mancu! Menyerahlah, kalian telah terkepung dan tidak akan dapat lolos lagi!”

Maya sudah menyelinap dan tanpa mengeluarkan suara dia mengintai dari empat penjuru, kemudian dia kembali menghampiri empat orang pembantunya dan berkata, “Banyak sekali pasukan mengepung kita. Kita harus menggunakan cuaca gelap ini untuk menerjang ke luar dan melawan mati-matian. Kalau sudah terang, harapan kita tipis sekali untuk dapat lolos. Kita akan berhadapan dengan perlawanan yang kuat, akan tetapi betapa pun juga, seorang di antara kita harus dapat lolos dan menyampaikan berita-berita penting itu kepada Pangeran. Oleh karena itu, tidak boleh kita gagal semua, maka harus berpencar agar sedikitnya salah seorang di antara kita dapat lolos dan sampai ke Sian-yang. Ji-wi Ciangkun harap menyerbu dari pintu belakang dan aku sendiri akan menyerbu dari pintu depan. Ji Kun, kau menerobos dari jendela kiri, sedangkan Yan Hwa dari jendela kanan. Dengan dipecah menjadi empat bagian, tentu kepungan mereka tidak begitu rapat lagi dan kalau untung kita baik, mudah-mudahan kita semua akan dapat lolos dengan selamat. Mengertikah semua?”

Mereka mengangguk. Memang, di antara mereka berlima, yang dapat dikatakan paling rendah kepandaiannya, sungguh pun sama sekali bukanlah rendah menurut ukuran umum, adalah Theng-ciangkun dan Kwa-huciang. Oleh karena itu, kedua orang ini disuruh menyerbu bersama.

“Sekarang, aku akan menyerbu lebih dulu ke depan. Kalau mereka sudah menyambutku, Ji Kun harus cepat menerjang ke kiri untuk mengacaukan mereka, kemudian Yan Hwa menyusul menyerbu ke kanan, sedangkan Ji-wi Ciangkun menyerbu paling akhir ke belakang.”

Setelah para pembantunya mengangguk tanda mengerti dan setuju, Maya melangkah ke luar dengan sikap tenang. Dia tidak membawa senjata. Kalau dia berpakaian sebagai panglima, tentu saja pinggangnya selalu terhias sebatang pedang panjang. Akan tetapi kalau berpakaian preman, dara ini tidak pernah memegang senjata dan hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa seorang yang telah memiliki tingkat kepandaian seperti dia tidak lagi membutuhkan senjata.

Begitu tubuhnya muncul ke luar, kembali ada belasan anak panah menyambar, namun sekali meraih, beberapa batang anak panah dapat ditangkisnya dan sebagian lagi runtuh terkena sambaran hawa pukulan tangannya yang dikibaskan. Sambil tersenyum mengejek Maya lalu melontarkan anak-anak panah yang dapat ditangkapnya itu ke arah asalnya. Terdengarlah pekik-pekik kesakitan disusul robohnya tubuh orang di dalam gelap ketika senjata-senjata itu makan tuannya sendiri!

“Tangkap mata-mata!”

“Bunuh dia!”

Teriakan-teriakan ini disusul serbuan banyak sekali pasukan yang menyerang Maya dengan macam-macam senjata, seperti hujan datangnya. Namun Maya bersikap tenang, tubuhnya berkelebat ke kiri dan berbareng dengan robohnya dua orang oleh tamparan-tamparannya, tangannya sudah merampas sebatang pedang lawan. Mulailah pendekar wanita yang sakti ini mengamuk, memutar pedang rampasannya dan terdengar suara nyaring berdentang ketika pedangnya menangkis banyak senjata, disusul pukulan-pukulannya dengan tangan kiri dan tendangan-tendangan kedua kakinya yang merobohkan banyak pengeroyok.

Tiba-tiba terjadi kegaduhan di sebelah kiri kuil tua dan tampak sinar kilat menyambar-nyambar. Itulah Can Ji Kun yang sudah menerjang ke luar. Seperti juga Maya, pemuda ini telah disambut oleh pengeroyokan puluhan orang tentara musuh. Keadaan menjadi ramai dan kacau, apa lagi ketika Yan Hwa juga cepat menyusul ke luar di sebelah kanan kuil dan mengamuk dengan Pedang Iblis di tangannya.

Pasukan yang mengurung mereka itu ternyata juga telah dibagi-bagi sehingga tidaklah terjadi kepanikan di pihak mereka seperti diharapkan Maya karena yang mengepung mereka berjumlah seratus enam puluh orang, dan kini dibagi menjadi empat regu, masing-masing dipimpin oleh perwira-perwira pengawal yang berkepandaian tinggi.

Sambutan pasukan yang besar jumlahnya ini mengejutkan Maya. Diam-diam ia merasa khawatir sekali kalau-kalau di antara para pengepung itu terdapat suheng-nya. Akan tetapi dia tidak mempedulikan lagi hal itu dan terus mengamuk sambil berusaha mencari lowongan untuk melarikan diri. Dia maklum dengan penuh penyesalan bahwa dalam keadaan seperti itu, di mana terdapat rahasia besar yang harus disampaikan kepada Pangeran Bharigan di Sian-yang agar pasukan Mancu tidak masuk dalam perangkap yang dipasang oleh pimpinan Sung, dia atau seorang di antara mereka harus dapat lolos dan terpaksa mereka tidak dapat saling menolong. Kalau saja tidak ada hal yang harus disampaikan ke Sian-yang itu, tentu dia akan mengamuk dan akan menolong anak buahnya, kalau perlu tewas bersama semua pembantunya.

Kwa-huciang dan Theng-ciangkun juga mengamuk sekuat mereka. Namun jumlah pengeroyok terlalu banyak, bahkan di antara para perwira pengawal terdapat orang-orang pandai, di antaranya terdapat Siangkoan Lee yang lihai. Biar pun kedua orang perwira pembantu Maya itu mengamuk dan berhasli merobohkan belasan orang pengeroyok, namun akhirnya mereka berdua roboh juga dan tewas di bawah hujan senjata pasukan Sung yang marah melihat betapa teman-teman mereka banyak yang tewas.

Di lain bagian dari pertempuran sebelah itu, Ji Kun mengamuk dengan pedang iblis di tangannya. Dia seperti harimau yang haus darah, pedangnya berubah menjadi sinar kilat menyambar-nyambar yang mematahkan banyak senjata lawan dan merobohkan banyak orang. Sudah ada dua puluh orang roboh dan tewas oleh pedangnya, namun dia sendiri juga terluka di pahanya, keserempet golok. Betapa pun juga, pemuda yang perkasa ini tidak menjadi gentar dan dia mengamuk terus, merasa kecewa bahwa dia terpaksa harus bertanding jauh dari Yan Hwa sehingga dia tidak dapat membuktikan kepada sumoi-nya itu bahwa dia lebih banyak merobohkan lawan dari pada sumoi-nya!

Tiba-tiba para pengeroyok bertambah dan muncullah Siangkoan Lee bersama beberapa orang perwira tinggi yang lihai. Murid Jenderal Suma Kiat ini bersenjatakan sebatang golok melengkung dan dia memimpin pengeroyokan dengan serangan-serangannya yang amat dahsyat. Sekali ini, Ji Kun benar-benar menghadapi pengeroyokan orang-orang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi sukarlah bagi Siangkoan Lee dan kawan-kawannya untuk merobohkan pemuda ini, terutama sekali karena di tangan Ji Kun terdapat Pedang Iblis yang amat ampuh itu.

“Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup dan rampas pedangnya!” Tiba-tiba terdengar seruan dan muncullah Suma Hoat yang langsung mengirim tusukan dengan pedangnya ke arah punggung Ji Kun.

Ji Kun maklum bahwa lawan ini amat lihai, terbukti dari gerakan pedang yang berubah menjadi gulungan sinar putih. Dia memutar tubuh, mengelebatkan pedang Lam-mo-kiam untuk merusak pedang lawan. Namun Suma Hoat yang sudah maklum akan kelihaian pedang itu ketika tadi datang dan menonton, cepat menarik pedangnya dan dia bersuit nyaring. Suitan ini merupakan tanda rahasia bagi seregu pasukan yang sudah ia persiapkan lebih dulu dan dua belas orang anggota pasukan ini serentak melemparkan sebuah jaring ke arah tubuh Ji Kun!

Pemuda ini terkejut sekali. Cuaca pada saat itu masih gelap dan dia tak dapat melihat jelas benda apa yang menyambarnya dari sekelilingnya itu. Tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap, tertutup oleh benda-benda yang lebar itu. Karena tidak tahu senjata apa yang dipergunakan lawan untuk menyerangnya, dia hanya memutar pedangnya.

Teriakan-teriakan mengerikan terdengar ketika pedang Lam-mo-kiam membabat jaring-jaring itu, terus membabat lengan dan tubuh para pemegangnya. Biar pun jaring-jaring itu terbuat dari kawat-kawat baja yang kuat, namun sekali terkena babatan Lam-mo-kiam menjadi putus semua, bahkan pedang mukjizat itu masih terus membabat orang orang yang memegang jaring. Sekali putaran saja lima orang di antara selosin anggota regu ini roboh. Akan tetapi, Ji Kun terkejut sekali karena pedangnya terlibat jaring. Selagi dia berusaha melepaskan jaring-jaring yang melibat pedang dan lengannya, tujuh orang pengeroyoknya melepas pula jaring-jaringnya dengan berbareng!

“Keparat!” Ji Kun berteriak marah. Biar pun tubuhnya sudah tertutup jaring-jaring itu, pedangnya masih mampu merobek jaring dan sekali bacok, tubuh dua orang lawan terbabat buntung di bagian pinggangnya!

“Hebat…!” Suma Hoat berseru lalu menubruk dari belakang, tangannya bergerak dan tiga buah totokan kilat membuat Ji Kun mengeluh dan terguling roboh dalam keadaan pingsan! Suma Hoat cepat merampas pedang yang mukjizat itu, bergidik memandang pedang yang mengeluarkan cahaya kilat, kemudian dia memimpin sisa pasukan untuk mengeroyok Yan Hwa.

Gadis itu pun mengamuk dengan hebat. Pedangnya membuat para pengeroyok menjadi gentar karena pedang-pedang pusaka yang terkenal ampuh di tangan beberapa orang perwira menjadi patah semua ketika bertemu dengan pedang di tangan gadis itu.

Suma Hoat kagum bukan main ketika menyaksikan kehebatan gadis itu, juga menyaksikan kecantikannya di bawah sinar obor yang dipegangi oleh beberapa orang tentara. Semenjak dia terpukul untuk ke tiga kalinya, terpukul hatinya karena penolakan Maya, timbul pula penyakit lamanya dan tadi dia melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya dengan mempermainkan seorang gadis kemudian membunuhnya.

Namun ia masih merasa berduka, menyesal dan kecewa. Ternyata perbuatannya yang keji itu tidak mampu memuaskan hatinya, bahkan menimbulkan penyesalan yang lebih besar lagi. Ketika lewat tengah hari itu dia meninggalkan kamar gadis yang kini telah tewas di atas pembaringannya, dia melihat pasukan yang tergesa-gesa lari ke arah utara. Dia cepat bertanya kepada Siangkoan Lee yang memimpin pasukan itu, dan mendengar bahwa kini di luar kota, di kuil tua, pasukan-pasukan penjaga sedang berusaha menangkap lima orang mata-mata yang lihai.

Suma Hoat terkejut, lalu dia ikut pula berlari ke luar kota di sebelah utara. Dia menyangka bahwa tentu Maya dan kawan-kawannya. Sangkaannya ternyata tepat. Akan tetapi, melihat Maya mengamuk dengan hebat itu, selain dia merasa tidak akan mampu menandingi wanita penghuni Istana Pulau Es itu, juga dia merasa tidak tega untuk mengeroyok Maya yang dicintanya. Diam-diam dia merasa heran sekali kepada diri sendiri. Mengapa dia tidak dapat membenci Maya yang terang-terangan telah menolak cintanya? Mengapa dia tidak pernah pula dapat melupakan Khu Siauw Bwee yang juga tidak dapat membalas cinta kasihnya? Benar-benar dia telah menjadi gila!

 

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo