August 22, 2017

Istana Pulau Es (Part 2)

 

 

Angin yang kuat menyambar ke arah tumpukan mayat dan… sebagian mayat yang bertumpuk di atas terlempar seperti daun-daun kering tertiup angin. Tampaklah kini seorang anak perempuan yang merintih tadi bangun dan berusaha melepaskan diri dari himpitan mayat-mayat. Anak ini adalah Maya yang tadi pingsan kemudian tubuhnya tertindih banyak mayat!

“Aihh! Anak siapa ini?” Wanita itu meloncat maju mendahului Si Laki-laki, gerakannya cepat sekali seperti terbang dan sekali sambar ia telah mencengkeram punggung baju Maya dengan tangan kiri dan mengangkat tubuh Maya ke atas sambil dipandangnya penuh perhatian. Lagak wanita itu seperti seorang wanita sedang memeriksa seekor kepiting yang hendak dibelinya di pasar!

“Haiii! Kesinikan anak itu! Dia milikku karena akulah yang menemukannya, aku yang pertama membongkar tumpukan mayat yang menimbunnya!” Laki-laki itu berseru sambil melangkah maju.

“Tidak!” Wanita itu memondong Maya dan meloncat menjauhi. “Aku yang lebih dulu mengambilnya. Anak ini hebat…!” ia mengelus pipi, memeriksa mata, rambut dan mulut Maya. “Anak hebat… Ah, manis, siapakah namamu?” tanyanya dalam bahasa Han.

Biar pun dia seorang puteri Khitan, namun sejak kecil Maya diajar bahasa Han di samping bahasa Khitan. Maka Maya lalu menjawab, “Namaku Maya. Kalian siapakah?” Anak ini lupa akan kesengsaraannya karena heran menyaksikan dua orang aneh yang tadi bicara dalam bahasa yang tak dimengertinya, juga yang mempunyai wajah asing, hidung panjang dan pakaian yang aneh pula.

“Maya? Bagus sekali! Nama yang bagus sekali!” Wanita itu berseru girang dan menciumi kedua pipi Maya.

Anak itu mencium bau kembang yang aneh, wangi namun memuakkan baginya, akan tetapi dia tidak melawan dan membiarkan mukanya dihujani ciuman oleh wanita itu.

“Kau cocok denganku! Hebat! Engkau tentu suka menjadi kekasihku, bukan? Maya, engkau tentu anak Khitan!” Wanita itu kini menggunakan bahasa Khitan dan Maya menjawab dalam bahasa itu juga, suaranya berubah girang. “Benar, aku adalah Puteri Maya, puteri… Raja dan Ratu Khitan!”

“Apa…?!” Laki-laki itu meloncat maju. “Puteri Khitan? Hayo, Dewi, berikan padaku anak itu. Aku yang berhak! Dia berdarah raja, dan tampaknya dia memang memiliki darah murni. Berikan!”

“Tidak!” Wanita itu memondong Maya dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya mengepal tinju, mukanya merah menentang dan matanya bersinar-sinar marah kepada laki-laki berkulit hitam itu. “Mahendra! Belum puaskan engkau dengan darah beberapa orang anak yang telah kau hisap habis? Engkau penghisap darah anak yang tiada puasnya! Tidak, anak ini adalah milikku. Engkau tidak boleh mengganggu Maya! Dia punyaku dan kalau engkau memaksa aku akan membunuhmu.”

Laki-laki yang disebut Mahendra itu tertawa bergelak sehingga ngeri hati Maya melihatnya. Muka yang hitam itu kelihatan lebih hitam lagi setelah tertawa dan nampak deretan gigi yang putih mengkilap!

“Ha-ha-ha-ha! Nila Dewi, engkau mengancamku berkali-kali seolah-olah aku ini hanya seekor semut yang mudah mati diinjak! Aku memang haus akan darah anak perempuan, akan tetapi hal itu hanyalah karena aku belum menemukan anak yang darahnya cocok untuk menyempurnakan ilmuku. Kalau aku sudah mendapatkan darah seorang anak seperti Maya ini, tentu aku selanjutnya takkan butuh darah lagi. Berikanlah, sayang. Malam nanti terang bulan, kita dapat berkasih-kasihan. Kalau ada aku di sini, masa engkau butuh belaian seorang bocah seperti itu lagi? Ha-ha-ha!”

“Mahendra, aku tidak main-main. Maya ini milikku dan habis perkara!”. Nila Dewi mulai mencium-cium dan mencucup-cucup kulit leher dan pipinya. Gilakah perempuan ini? pikir Maya.

“Ha-ha-ha, kalau begitu, sebaiknya kita bertanya kepada Maya agar dia yang memilih.” Mahendra memandang Maya dan berkata dalam bahasa Khitan, “Eh, Maya anak manis, dengarlah. Kalau engkau memilih aku, terus terang saja aku akan mengambil darahmu untuk obat, akan kuisap habis dan engkau akan mati seketika tanpa merasa terlalu nyeri. Sebaiknya kalau engkau memilih Nila Dewi, dia akan menjadikan engkau kekasihnya untuk menuruti nafsu birahinya yang selalu berkobar tak pernah padam. Engkau akan dibelai, diperas dan perlahan-lahan engkau pun akan mati! Memilih aku berarti mati seketika tanpa banyak menderita, memilih dia berarti akan mati sekerat demi sekerat dan banyak menderita!”

“Phuaahhh, bohong!” Nila Dewi menjerit marah. “Memilih dia berarti mati seperti seekor ayam disembelih, sedangkan memilih aku, hemmm… akan mengalami kenikmatan dunia. Andai kata mati, mati dalam kenikmatan, bukankah itu bahagia sekali? Kau memilih aku, ya Maya? Memilih aku, anak manis?” Nila Dewi mendekatkan mukanya dan mencium bibir Maya, mengecupnya lama-lama sampai tersedak-sedak kehabisan napas baru dilepaskan.

Kini Maya menjadi takut sekali, hatinya dicengkeram rasa ngeri yang hebat. Kiranya dia terjatuh kedalam tangan dua orang asing yang entah gila entah memang berwatak seperti iblis! Kalau tahu begini, jauh lebih baik dia pingsan di bawah tumpukan mayat-mayat itu!

“Hayo pilih, pilih siapa engkau. Maya?” Laki-laki berkulit hitam itu mendesak dan melangkah maju.

Maya memandang mereka bergantian dengan mata terbelalak. Bagaimana dia bisa memilih? Keduanya sama menyeramkan dan memilih yang mana pun berarti dia akan mati! Kematian di tangan laki-laki itu sudah pasti, darahnya akan disedot habis. Dia bergidik ngeri. Akan tetapi biar pun dia tidak dapat membayangkan bagaimana akan mati di tangan wanita itu, namun ia sudah membayangkan kengerian yang membuat ia bergidik dan menggigil. Dia dijadikan kekasih! Apa artinya ini?

Kedua orang itu memang bukan manusia-manusia, lumrah. Keduanya adalah saudara seperguruan, murid-murid seorang sakti di Pegunungan Himalaya. Keduanya memiliki ilmu kepandaian luar biasa dan tinggi, akan tetapi mempunyai keahlian yang khusus, yaitu membuat pedang yang ampuh. Guru mereka, pertapa di Himalaya itu memang seorang ahli membuat senjata ampuh, di samping memiliki kesaktian yang tinggi. Ketika mereka, kakak beradik seperguruan ini mulai tergoda nafsu birahi di tempat sunyi itu dan melakukan pelanggaran hubungan kelamin, gurunya marah-marah dan mengusir mereka. Mahendra dan Nila Dewi melarikan diri ke tempat asal mereka, yaitu di India Utara.

Akan tetapi di tempat ini pun mereka terkenal sebagai manusia-manusia iblis yang tidak segan melakukan pembunuhan dan perbuatan-perbuatan keji, menculik anak-anak sehingga akhirnya mereka dimusuhi pemerintah dan kembali melarikan diri. Sekali ini mereka lari ke Nepal dan di negara ini mereka berdua, berkat kepandaian mereka yang tinggi, diangkat menjadi empu-empu pembuat pusaka kerajaan. Di tempat ini mereka dapat bertahan sampai puluhan tahun karena Raja Nepal selalu menyediakan segala kebutuhan mereka, anak-anak kecil untuk dihisap darahnya oleh Mahendra, anak-anak dan dara-dara jelita untuk dijadikan kekasih Nila Dewi yang mempunyai kesukaan aneh sekali, yaitu suka bermain cinta dengan wanita muda cantik!

Sampai berusia empat puluh tahun lebih, kedua orang saudara seperguruan ini masih menjadi kekasih, kadang-kadang bermain-main cinta dengan mesra, akan tetapi kadang-kadang bercekcok sebagai dua orang musuh besar, bahkan tidak jarang mereka bertanding mati-matian!

Akan tetapi selalu Mahendra yang mengalah karena diam-diam Mahendra benar-benar jatuh cinta kepada adik seperguruannya ini. Karena cintanya yang besar maka dia pun tidak mengganggu kesukaan kekasihnya yang membagi cintanya dengan anak-anak perempuan cantik.

Kehidupan di Nepal membosankan dua orang manusia iblis ini. Apa lagi ketika mendengar bahwa di timur terjadi pergolakan perang antar suku. Mereka lalu meninggalkan Nepal untuk menonton keramaian. Di mana terjadi perang, di sana akan banyak ditemukan korban-korban mereka!

“Memilih siapa, anak manis?” Nila Dewi bertanya, suaranya halus lemah-lembut dan penuh kasih sayang sehingga sejenak Maya terpengaruh, membuat dia hampir merangkul wanita itu.

Akan tetapi Maya teringat dan mulailah anak yang memiliki keberanian luar biasa dan yang sudah berhasil mendinginkan hatinya yang tegang itu memutar otaknya. Kalau memilih Mahendra, berarti terus mati dan tidak ada kesempatan menyelamatkan diri. Dia harus hidup. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan dalam hidupnya! Kalau dia memilih Nila Dewi, berarti akan ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.

”Aku memilih Nila Dewi!” katanya lantang.

Nila Dewi girang sekali. Sambil memondong Maya dia menari-nari berputaran. Maya merasa heran dan juga kagum karena tarian Nila Dewi sungguh indah. Tubuhnya dapat bergerak-gerak lemah-gemulai, pinggangnya meliak-liuk seperti tubuh ular dan sepasang gelang pada kakinya saling beradu menimbulkan irama seperti musik yang mengiringi tariannya!

“Anak manis! Anak baik! Kekasihku… aihh, engkau memilih aku, hi-hik!” Nila Dewi menunduk, kembali mencium mulut Maya, tangan kiri memondong, sedangkan jari-jari tangan kanannya menggerayangi Maya.

Maya terkejut sekali dan merasa betapa semua bulu di tubuhnya bangun berdiri penuh kengerian. Sungguh pun wanita ini tidak menjijikkan seperti Bhutan, akan tetapi perbedaannya hanyalah karena Nila Dewi wanita, namun belaian-belaiannya sungguh mengerikan hatinya, memuakkan dan menimbulkan jijik dan takut.

Tiba-tiba Mahendra melompat cepat dan Maya merasa betapa belaian dan ciuman Nila Dewi berhenti, tubuh wanita itu menjadi lemas kemudian roboh bersama dia!

“Mahendra, engkau pengecut curang…!” Nila Dewi mengeluh, berusaha untuk bangkit akan tetapi roboh lagi.

Mahendra tertawa-tawa, memeluk Nila Dewi dan memberi ciuman yang membuat Maya yang melihatnya membuang muka. Ketika ia memandang lagi, ternyata Nila Dewi telah duduk bersila dekat pohon, kedua lengan ditelikung ke belakang dan diikat kuat-kuat. Tahulah ia bahwa tadi selagi Nila Dewi mencium dan membelainya penuh nafsu birahi yang menghilangkan kewaspadaannya, Mahendra telah menyerangnya dan menotok wanita itu hingga roboh terkulai lemas dan tidak dapat melawan lagi!

Timbul rasa takutnya dan ia hendak lari. Akan tetapi, sekali sambar saja Mahendra sudah menangkapnya, kemudian menggunakan sebuah tali panjang mengikat kedua kaki dan tangannya, bahkan tali pengikat kaki yang panjang itu lalu dipergunakan oleh Mahendra untuk menggantung tubuh Maya di cabang pohon. Tali itu diikatkan pada cabang pohon sehingga tubuh Maya tergantung menjungkir dengan kepala di bawah dan kedua tangannya terikat ke belakang punggung!

“Mahendra!” Nila Dewi yang duduk bersila di bawah pohon itu berteriak. “Kalau engkau membunuh Maya, aku bersumpah untuk membunuhmu!”

Mahendra tertawa, mengeluarkan sebuah mangkok tanah dan sebatang pisau belati yang tajam sekali dari balik baju yang melibat tubuhnya. Laki-laki hitam itu lalu berkata, “Nila Dewi, engkau tahu bahwa aku tidak akan membunuhnya, betapa pun ingin aku menyedot habis darahnya melalui leher dengan jalan menggigit urat lehernya dan menyedot sampai tubuhnya kering. Betapa ingin aku membelah kepalanya dan makan otak serta sumsumnya untuk menambah tenaga. Akan tetapi aku ingat akan kebutuhanmu. Tidak, aku tidak akan membunuhnya, maka kukeluarkan pisau dan mangkok ini. Aku hanya akan mengambil darahnya semangkok untuk kuminum, dia tidak akan mati dan engkau masih akan dapat menikmatinya. Boleh bukan?”

“Keparat kau! Iblis kau! Awas kalau sampai dia cacat!” Nila Dewi mencaci-maki.

”Tenanglah, kekasihku. Aku akan mengerjakannya dengan hati-hati sekali agar dia tidak cacat. Aku hanya menginginkan semangkok darah dan… sedikit sumsumnya. Kalau kukerat sedikit punggungnya, kukeluarkan sumsum dari tulang punggung dan kutadah darahnya, kemudian lukanya kuobati, dia tidak akan cacat, heh-heh!”

“Jahanam sialan engkau!” Nila Dewi memaki gemas, akan tetapi hatinya lega juga karena ia tahu bahwa Mahendra tidak akan membunuh Maya.

 

Dapat dibayangkan betapa ngerinya hati Maya mendengar percakapan yang dilakukan dalam bahasa Khitan itu. Ia meronta-ronta seperti seekor kelinci, namun tak dapat melepaskan kedua tangannya.

“Heh-heh. merontalah kuat-kuat, Anak manis, agar darahmu lebih cepat alirannya dan lebih hangat!” Mahendra melangkah mendekati Maya dengan sikap seorang yang hendak menyembelih!

Maya sudah memejamkan kedua matanya, maklum bahwa menjerit-jerit dan meronta-ronta tiada gunanya lagi. Siapa yang akan dapat menolongnya di dalam hutan ini? Tadi ia sudah menyaksikan kehebatan kedua orang manusia iblis itu, bahkan dia tadi bengong dan diam-diam kagum sekali melihat betapa laki-laki hitam itu memondong dia dan mengempit tubuh Nila Dewi lalu berlari terbang meninggalkan dusun memasuki hutan itu. Biarlah aku mati, keluhnya dalam hati karena tidak melihat harapan lagi.

“Siluman jahat, apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tahu-tahu berkelebat bayangan putih dan tak jauh dari situ berdiri seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti seorang sastrawan. Gerakannya demikian ringan sehingga ia muncul seperti setan! Seruannya itu disusul menyambarnya dua buah benda, yang sebuah menyambar ke arah kening Mahendra di antara kedua mata, yang sebuah lagi menyambar tali yang menggantung tubuh Maya.

“Argghhh…!” Mahendra menggereng, marah dan cepat ia melempar tubuh ke belakang.

Tali yang menggantung Maya putus disambar benda yang ternyata hanyalah sebuah batu kerikil, dan tubuhnya jatuh ke bawah. Anak yang sudah pandai ilmu silat ini tentu saja dapat menyelamatkan diri dengan cara berjungkir balik dan menjatuhkan diri dengan bahu lebih dulu, kemudian bergulingan. Kedua tangan dan kakinya masih terikat dan ia meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan kaki tangannya.

Sementara itu, Mahendra menyerang pendatang itu dengan pisau di tangan kanan dan mangkok tanah di tangan kiri. Gerakan-gerakan Mahendra ketika menyerang amat aneh dan cepat, juga mendatangkan angin keras yang menandakan bahwa tenaga dalam orang ini hebat sekali. Namun berkali-kali Mahendra mengeluarkan seruan kaget karena laki-laki itu dapat menandinginya dengan baik sekali, bahkan membalas dengan serangan pukulan ujung lengan baju yang mendatangkan hawa panas, tanda sinkang yang amat kuat!

Siapa pria setengah tua yang perkasa dan sanggup menandingi iblis dari Nepal itu? Dia bukan lain adalah Menteri Kam Liong. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Menteri Kam Liong pergi seorang diri menyelidiki keadaan di Khitan. Dapat dibayangkan betapa duka hatinya ketika mendapat berita bahwa Khitan telah hancur, dan bahwa kini Khitan telah diduduki oleh bangsa Yucen yang berhasil menghalau bangsa Mongol. Betapa adik tirinya, Raja Talibu dan isterinya telah gugur dalam perang dan bahwa puteri mereka lenyap, melarikan diri, kabarnya menuju ke Gobi-san mencari kakek dan neneknya.

Kalau saja waktunya tidak terbatas dan dia tidak terikat kewajiban pekerjaannya, tentu dia akan menyusul ke Gobi-san mengunjungi ayahnya, pendekar sakti Suling Emas. Akan tetapi Gobi-san terlalu jauh dan dia harus segera kembali ke selatan berhubung dengan gawatnya keadaan sebagai akibat pergolakan di utara ini. Maka dengan hati tertekan kedukaan, Menteri Kam Liong melakukan perjalanan pulang ke selatan.

Kebetulan sekali di dalam hutan itu ia melihat Mahendra yang hendak menyembelih seorang anak perempuan secara kejam sekali. Kam Liong tidak mengenal Maya karena memang anak Raja Khitan itu tidak pernah dilihatnya. Disangkanya bahwa anak itu tentulah anak pelarian para pengungsi yang dusunnya dilanda perang.

Diam-diam Kam Liong terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa laki-laki hitam itu lihai bukan main. Terpaksa ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan barulah ia dapat mendesak lawannya. Pertandingan antara mereka berjalan seru dan cepat sekali. Karena Mahendra berkali-kali mundur dan berloncatan menjauh, makin lama dua orang yang bertanding ini makin menjahui tempat di mana Maya berusaha melepaskan ikatan kaki tangannya.

“Maya kekasihku, jangan pergi. Aku akan melindungimu,” Nila Dewi berkata lembut sambil berusaha pula membebaskan ikatan kedua tangannya.

 

Akan tetapi totokan tadi masih membuat tubuhnya lemas dan jalan darahnya tidak lancar, maka diam-diam ia memaki Mahendra dan kemudian memejamkan mata untuk memulihkan jalan darahnya. Kalau jalan darahnya sudah pulih, sekali renggut saja tali pengikat tangannya tentu akan putus. Maya agaknya mengerti pula akan hal ini, maka ia pun meronta-ronta dan berusaha mendahului nenek itu untuk melepaskan diri dan lari.

Kalau di sebelah sana tampak berkelebatnya dua bayangan orang bertanding dengan seru, di sini terjadi pula perlombaan yang tidak kalah menegangkan, yaitu Maya berlomba melawan Nila Dewi untuk lebih dulu membebaskan diri dari ikatan. Maya mengerti bahwa kalau dia kalah dalam perlombaan ini, lenyaplah satu-satunya harapan dan kesempatan untuk melarikan. Karena Mahendra yang sakti itu sedang bertanding dengan orang gagah yang menolongnya, maka tentu Nila Dewi akan membawanya lari!

Untung bagi Maya bahwa Mahendra yang tentu saja memandang rendah padanya dan memastikan bahwa anak ini tidak mungkin terlepas dari tangannya tadi tidak mengikat terlalu kuat, berbeda dengan ikatan pada kedua lengan Nila Dewi. Kini Maya dengan mata terbelalak memandang ke arah Nila Dewi yang masih menghimpun tenaga untuk memulihkan jalan darah, berusaha keras untuk melepaskan ikatan kedua kakinya. Akhirnya Maya berhasil melepaskan kakinya dari ikatan. Ia meloncat bangun dan dengan kedua tangan masih terikat di belakang ia melarikan diri.

“Robohlah…!” tiba-tiba terdengar suara Nila Dewi yang nyaring, dan bagaikan didorong tenaga mukjizat Maya terguling roboh!

Maya cepat menengok dan melihat Nila Dewi sudah melompat berdiri. Kiranya wanita ini tadi telah menggunakan sinkang untuk menendangnya dari jarak jauh, akan tetapi penggunaan sinkang ini melenyapkan tenaga yang sudah mulai terkumpul, ia menjadi lemas kembali dan roboh bersandar batang pohon. Melihat ini, Maya tidak mempedulikan tubuhnya yang babak-belur, terus meloncat bangun dan lari lagi sekuatnya dengan kedua tangan masih terikat!

“Berhenti… ahhhh, kekasihku, tega engkau meninggalkan aku…?” Nila Dewi berkata, akan tetapi tanpa menengok Maya terus lari secepatnya.

Sementara itu, pertandingan antara Kam Liong dan Mahendra masih berjalan seru. Berkali-kali pisau belati dan mangkok tanah menyambar, namun selalu Kam Liong dapat mengelak atau menangkis dengan kepretan ujung lengan bajunya. Tiba-tiba Mahendra berseru marah sekali dan menyambitkan mangkok tanah pada Kam Liong. Pendekar ini memukul kearah mangkok dengan jari tangan kiri terbuka.

“Brakkk!” mangkok itu pecah berkeping-keping.

“Mampuslah!” Mahendra berseru dan segulung sinar kuning yang lemas menyambar ke arah kepala Kam Liong.

Pendekar ini terkejut melihat betapa lawannya telah melepaskan kain yang melilit tubuh atasnya dan menggunakan kain kuning itu untuk menyerangnya dengan gerakan seperti seorang nelayan melempar jaring ikan! Cepat ia mengelak, namun kain itu digerakkan secara lihai sehingga kembali telah melayang untuk ‘menjaringnya’! Kam Liong terkejut. Kiranya lawannya ini benar-benar lihai sekali menggunakan kedua tangannya. Tampak sinar kuning emas berkelebat disusul sinar putih, dan dia telah memegang suling emas dan kipasnya.

“Suling Emas…!” Mahendra terkejut, meloncat ke belakang dan… melarikan diri seperti orang ketakutan melihat setan.

Kam Liong tidak mengejar, sejenak memandang suling di tangannya dan menarik napas panjang penuh kagum. Nama ayahnya, pendekar sakti Suling Emas, agaknya sedemikian hebatnya sehingga orang hitam aneh tadi pun mengenal senjata itu dan lari ketakutan! Ia cepat meloncat ke tempat di mana anak tadi digantung dan tidak melihat lagi bocah itu, kecuali wanita India yang masih duduk bersandar pohon dan menghimpun kekuatan dalam. Ia merasa lega. Kiranya bocah tadi cukup cerdik dan agaknya berhasil melarikan diri sewaktu penculiknya bertanding melawannya.

 

Dia tidak mengenal dua orang India itu, tidak mempunyai permusuhan dengan mereka. Niatnya hanya menolong anak perempuan itu. Setelah anak perempuan itu berhasil menyelamatkan diri, dia pun tidak mau mengganggu wanita India yang sedang menghimpun tenaga. Kam Liong menyimpan kedua senjatanya dan berlari pergi meninggalkan tempat itu, melanjutkan perjalanannya pulang ke kota raja di selatan.

Di dalam perjalanan pulang ini, selain berduka atas hancurnya Kerajaan Khitan dan tewasnya adik tirinya Raja Talibu, Kam Liong prihatin menyaksikan perkembangan bangsa Yucen yang makin kuat, juga merasa gelisah memikirkan hal yang selama ini selalu menjadi duri dalam daging baginya. Perjalanannya ke utara telah menghasilkan pendengaran-pendengaran yang makin menggelisahkan hatinya, yaitu tentang desas-desus bahwa di antara para pembesar yang membujuk-bujuk Kaisar untuk memusuhi Khitan, termasuk pula saudara misannya yang bernama Suma Kiat.

Suma Kiat adalah putera tunggal mendiang bibinya, yaitu Kam Sian Eng, adik tiri ayahnya Suling Emas. Namun semenjak mudanya, Suma Kiat memiliki watak yang jahat dan palsu (baca cerita MUTIARA HITAM) sehingga ia sering kali bentrok, bahkan terasing dari keluarga keturunan Suling Emas yang terdiri dari para pendekar perkasa yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, mengingat bahwa Suma Kiat masih saudara misannya, Kam Liong yang berwatak budiman merasa kasihan dan berkat usahanya, akhirnya Suma Kiat dapat diterima oleh Kaisar dan menjabat pangkat panglima dalam pasukan pertahanan pemerintah.

Memang Suma Kiat bukan seorang sembarangan, melainkan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, mewarisi ilmu-ilmu mendiang ibunya yang dahulu tergolong seorang di antara datuk-datuk persilatan yang disegani. Setelah memiliki kedudukan sebagai panglima, Suma Kiat yang memang berdarah keturunan keluarga Pangeran Suma, menjadi seorang bangsawan terhormat dan disegani pula, hidup mulia dan bahagia dalam gedungnya di kota raja.

Selama dia memangku jabatannya, ia bekerja dengan baik dan hal ini sebagian besar adalah karena Suma Kiat merasa takut dan segan terhadap kakak misannya, Menteri Kam Liong yang selain memiliki kedudukan lebih tinggi dari padanya, juga memiliki ilmu kepandaian lebih lihai pula. Kini Suma Kiat telah menjadi seorang setengah tua dan hidup sebagai seorang bangsawan dalam gedungnya yang indah. Ia telah menikah dengan seorang wanita bangsawan yang cantik dan mempunyai seorang putera. Puteranya ini bernama Suma Hoat, tampan seperti Ibunya, wataknya juga halus dan lemah-lembut seperti Ibunya.

Karena semenjak kecil oleh Ibunya ia dijejali pelajaran sastra dan filsafat, diingatkan bahwa dia adalah keluarga dari pendekar besar Suling Emas, maka sifat-sifat pendekar tertanam di jiwa anak ini. Dia digembleng ilmu silat oleh ayahnya sendiri dan karena bakatnya, dia dapat mewarisi ilmu silat tinggi dari ayahnya. Namun ada satu sifat dari nenek moyangnya, yaitu keluarga Suma, yang agaknya menurun dan mengalir dalam darahnya, yaitu dia dikuasai nafsu birahi dan berwatak mata keranjang!

Selain puteranya sendiri, Suma Kiat juga mempunyai seorang murid lain yang sebetulnya adalah pelayan keluarganya, seorang pemuda yang sebaya dengan puteranya, bernama Siangkoan Lee. Anak ini mukanya buruk seperti muka kuda, pendiam dan rajin. Biar pun bakatnya tidak sebaik Suma Hoat dalam ilmu silat dan sastra namun berkat kerajinannya, dia pun memperoleh kemajuan pesat, terutama sekali dalam ilmu silat karena Siangkoan Lee ini diam-diam mempunyai cita-cita tinggi dan selalu mengumpulkan ilmu-ilmu silat tinggi untuk dipelajarinya. Berkat kerajinan dan keuletannya, akhirnya ia pun diberi pekerjaan di kantor menjadi seorang ‘bangsawan’ kecil, tidak lagi menjadi seorang pelayan.

Banyak hal terjadi sebagai akibat perbuatan keluarga Suma ini yang memaksa Menteri Kam Liong turun tangan dan membuatnya gelisah, dan beberapa hal di antaranya terjadi beberapa tahun yang lalu ketika Suma Hoat dan Siangkoan Lee dua orang murid Suma itu, baru berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Pada suatu hari, Suma Hoat diantar oleh Siangkoan Lee pergi berburu ke hutan. Berburu binatang merupakan sebuah di antara kesukaan pemuda bangsawan ini, di samping kesukaannya mengujungi tempat-tempat hiburan untuk mendengar wanita-wanita cantik bernyanyi dan menari, kemudian memilih yang tercantik di antara mereka untuk diajak bersenang-senang.

 

Dengan menunggang kudanya yang berbulu putih dan tinggi besar, Suma Hoat kelihatan tampan dan gagah perkasa. Pakaiannya serba indah, terbuat dari pada sutera halus, rambutnya yang hitam panjang itu dihias dengan hiasan berupa seekor naga emas bertabur batu kemala, gagang pedangnya yang terbuat dari emas menghias punggungnya, wajahnya yang berkulit putih berseri-seri dengan sepasang mata lebar dan lincah pandangnya, bibirnya selalu tersenyum. Banyak wanita akan terguncang hatinya apa bila melihat pemuda bangsawan yang tampan ini membalapkan kuda putihnya. Didampingi pemuda Siangkoan Lee yang buruk rupa, Suma Hoat kelihatan lebih tampan lagi.

Para wanita cantik di rumah-rumah hiburan yang semua mengenal baik Suma-kongcu (Tuan Muda Suma) ini, berkumpul di jendela loteng dan melambai-lambaikan sapu tangan sutera yang harum, melontarkan senyum memikat. Namun Suma Hoat hanya membalas senyuman mereka dan tidak berhenti karena memang sekali ini tidak ingin menghibur hati dengan wanita-wanita cantik itu, melainkan hendak pergi berburu binatang buas di hutan. Pula, ia sudah mulai bosan dengan wanita-wanita cantik yang akan menghibur pria mana pun juga asal orang itu beruang, bosan dengan cinta yang diobral mereka, cinta kasih yang dijual.

Dua orang pemuda itu membalapkan kuda mereka keluar dari kota raja dan memasuki dusun-dusun menuju ke hutan yang besar. Di sebuah dusun mereka mendengar keluh kesah rakyat tentang gangguan seekor harimau besar yang sudah banyak mencuri kambing dan kerbau penduduk, bahkan telah membunuh dua orang anak kecil. Mendengar ini bangkit semangat Suma Hoat untuk membunuh harimau itu.

“Kita harus dapat menangkapnya dan membunuhnya, kalau belum berhasil aku tidak mau pulang!” demikian Suma Hoat berkata kepada Siangkoan Lee, bekas pelayannya juga yang menjadi sutenya.

“Asal saja dia berani keluar dari tempat sembunyiannya, Kongcu,” jawab Siangkoan Lee yang masih menyebut ‘kongcu’ kepada suheng-nya itu, mengingat akan kedudukan mereka.

Demikianlah, kedua orang muda itu menjelajah hutan-hutan yang dikabarkan menjadi sarang sang harimau. Telah sepekan lamanya mereka mengintai, menunggu dan mencari, namun hasilnya sia-sia belaka, harimau besar yang dicari-carinya tidak tampak. Suma Hoat menjadi penasaran sekali. Dia sampai lupa akan niatnya semula, yaitu berburu binatang. Banyak sudah selama sepekan ini dia melihat binatang-binatang hutan, namun semua itu dibiarkannya saja lewat tanpa diusik karena kini seluruh perhatiannya dicurahkan untuk mencari harimau yang telah mengganas di dusun-dusun sekeliling daerah pegunungan itu.

Berkali-kali Siangkoan Lee membujuk kongcunya untuk pulang saja, akan tetapi dengan alis berkerut, Suma Hoat yang berkemauan keras ini malah membentaknya. “Sudah kukatakan bahwa sebelum berhasil membunuh harimau laknat itu, aku tidak mau pulang. Jangankan baru sepekan, biar selama hidupku di sini aku tetap harus mencarinya sampai dapat!”

Siangkoan Lee yang meninggalkan pekerjaan khawatir kalau-kalau dimarahi majikannya, tetapi ia tidak berani membantah lagi. Siang malam mereka mencari, bahkan kalau malam mereka pun mengintai. Jika sudah lelah sekali mereka baru tidur di bawah pohon sambil membuat api unggun. Suma Hoat benar-benar mempunyai kemauan yang keras sekali dan pantang mundur sebelum niatnya terpenuhi.

Pada pagi hari yang ke sembilan, dua orang pemuda itu memasuki hutan yang paling ujung, hutan yang tidak berapa besar akan tetapi yang belum mereka datangi, berada di lereng dekat kaki bukit. Mereka berjalan kaki menuntun kuda masing-masing sambil memandang tajam mencari-cari kalau-kalau ada gerakan binatang yang mereka cari-cari.

Tiba-tiba mereka mendengar lapat-lapat suara jerit seorang wanita di kaki bukit. Suma Hoat menoleh kepada Siangkoan koan Lee. “Adakah engkau mendengar suara di sana?”

“Siangkoan Lee mengangguk. “Seperti jerit seorang wanita.”

“Benar! Kita menunggu apa lagi? Jangan-jangan harimau itu menyerang wanita!” Cepat sekali Suma Hoat sudah melompat ke atas kudanya dan membalap, diikuti oleh Siangkoan Lee.

 

Setelah menuruni lereng, mereka tiba di jalan umum yang datang dari timur dan dari atas sudah tampak oleh mereka sebuah kereta terguling di pinggir jalan. Beberapa orang laki-laki yang berpakaian pelayan dan pengawal malang-melintang di sekitar tempat itu. Jauh dari kereta itu tampak serombongan orang sedang mengangkuti barang-barang dan di antara mereka terdapat seorang laki-laki tinggi besar yang menunggang kuda dan memangku seorang wanita yang meronta-ronta, dan agaknya wanita itulah yang tadi mengeluarkan jeritan.

“Bukan harimau yang menyerangnya, Kongcu,” kata Siangkoan Lee.

“Memang bukan, akan tetapi lebih jahat dari pada harimau. Mereka perampok keparat yang bosan hidup! Kau basmi anak buahnya, aku akan menolong wanita itu!”

Dua orang muda itu membedal kuda mereka dan sebentar saja mereka sudah tiba di tempat itu. Siangkoan Lee sudah meloncat turun dari kuda dan membentak.

“Kalian perampok-perampok hina. Tahan dulu!”

Para anak buah perampok yang sedang tertawa-tawa mengangkuti beberapa peti berisi barang-barang berharga seperti perhiasan-perhiasan dan sutera gulungan berkayu-kayu menjadi marah ketika melihat Siangkoan Lee, seorang pemuda yang masih hijau dan kelihatannya tidak menakutkan itu. Jumlah mereka ada sembilan orang, tentu saja mereka tidak takut.

Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dan kelihatan kuat terbukti dari bawaannya, yaitu sebuah peti yang berat sekali, melangkah maju dan melotot kepada Siangkoan Lee, kemudian membentak, “Eh, bocah bermuka buruk! Kau mau apa?”

“Jawab dulu, apakah engkau ini telah melakukan perampokan dan membunuh para pengawal dan pelayan itu?”

“Ha-ha-ha! Benar sekali! Tidak hanya pengawal dan pelayan, juga tuan besar nyonya besar telah menjadi mayat di dalam kereta! Hanya puterinya, heh-heh, cantik dan menggairahkan, menjadi bagian tai-ong kami! Kau mau bagian? Jangan main-main! Para pengawal yang kuat itu semua mampus oleh kami. Nih, terima bagianmu!” Tiba-tiba Si Tinggi Kurus itu melontarkan peti yang berat ke arah Siangkoan Lee.

Peti yang beratnya lebih dari seratus kati itu melayang ke arah Siangkoan Lee dan para anggota gerombolan itu tertawa-tawa, yakin bahwa pemuda kerempeng itu tentu akan roboh tertimpa peti dan gepeng tubuhnya. Akan tetapi suara ketawa mereka terhenti dan mereka melongo ketika melihat Siangkoan Lee menerima sambaran peti itu hanya dengan telapak tangannya dan Si Pemuda kurus itu melontar-lontarkan peti itu ke atas seperti seorang anak kecil mempermainkan sebuah bola karet. Tangan itu kemudian mendorong maju hingga peti melayang ke arah pelemparnya, Si Tinggi Kurus dengan kekuatan dahsyat.

“Ahhh…!” Perampok tinggi kurus itu terkejut, menggunakan kedua tangan untuk menerima peti, akan tetapi tak tertahan olehnya dan dialah yang roboh terjengkang, kepalanya pecah tertimpa peti yang berat!

Para perampok yang tinggal delapan orang itu menjadi marah sekali. Mereka menurunkan bawaan masing-masing, mencabut senjata lalu menerjang Siangkoan Lee seperti serombongan serigala mengamuk. Pemuda kurus ini pun membentak keras dan mencabut sebatang golok melengkung yang amat tajam, memutar golok menghadapi pengeroyokan delapan orang itu tanpa merasa gentar sedikit pun.

Ternyata olehnya bahwa para perampok itu bukanlah orang-orang biasa, melainkan penjahat-penjahat kawakan yang pandai ilmu silat dan bertenaga besar. Namun Siangkoan Lee mainkan goloknya dengan hebat, dan sebagai murid yang tekun dari Suma Kiat yang berilmu tinggi, tentu saja gerakannya selain cepat juga mengandung tenaga sinkang yang kuat.

Sementara itu, Suma Hoat membalapkan kudanya melewati para anak buah perampok yang ia serahkan kepada sutenya, terus mengejar kepala perampok yang melarikan wanita itu. Karena kepala rampok itu menjalankan kudanya perlahan sambil tertawa-tawa dan tangannya menggerayangi tubuh wanita rampasannya, sambil mencium dan kelihatan makin gembira karena wanita itu meronta-ronta, sebentar saja kuda Suma Hoat telah menyusulnya.

“Berhenti kamu keparat hina!” bentak Suma Hoat dan sekali meloncat tubuhnya sudah berdiri menghadang di depan kuda yang ditunggangi kepala perampok tinggi besar itu.

Kepala perampok yang tubuhnya seperti raksasa itu membelalakkan matanya yang lebar. Kumis dan jenggotnya yang tebal bergerak-gerak, mukanya menjadi merah dan dia menjadi marah sekali.

“Heh, siapa engkau bocah yang bosan hidup?” bentaknya sambil melompat turun dan masih memondong wanita yang kini berhenti meronta dan memandang kepada Suma Hoat dengan mata terbelalak seperti seekor kelinci ketakutan, namun dari sinar matanya timbul harapan yang tadinya sudah patah.

“Serrr…!” Jantung Suma Hoat seperti berhenti berdetik tertikam sinar mata itu.

Tak disangkanya dia akan melihat seorang dara yang seperti itu. Cantik jelita, manis dan berwajah seperti bidadari! Mengingat betapa tangan kasar dan kotor kepala perampok itu tadi menggerayangi tubuh Si Jelita, apa lagi mengingat betapa wajah menyeramkan penuh cambang bauk itu tadi mencium muka yang begitu halus, bibir yang begitu merah segar, kemarahannya meluap dan darahnya seperti mendidih.

“Binatang rendah!” ia memaki sambil menunjuk ke arah muka kepala perampok itu. “Engkau tidak mengenal Suma-kongcu, putera Panglima Suma Kiat? Engkau telah merampok, membunuh orang dan menculik gadis terhormat. Sekarang tibalah saatnya engkau mampus di tangan Suma Hoat!”

“Heh-heh-heh! Aku Si Tangan Besi Ciu Ok mana kenal segala macam bangsawan tukang korup? Kalau engkau sudah bosan hidup, marilah!” Perampok itu melepaskan tubuh dara itu setelah menotok punggungnya membuat dara itu lemas dan rebah miring di atas rumput. “Kau tunggulah sebentar, calon biniku, heh-heh! Lihat dan nikmati baik-baik betapa kakandamu membunuh tikus bermuka halus ini!”

Akan tetapi Suma Hoat sudah menerjangnya dengan hebat. Kepala perampok itu menangkis, mengandalkan kekuatan tangannya. Dia dijuluki Tiat-ciang (Si Tangan Besi) karena kedua tangannya amat kuat dan keras seperti besi, hasil latihan ilmu Tiat-ciang-kang yang latihannya menggunakan bubuk besi panas. Akan tetapi begitu ia menangkis, ia terpekik kaget karena lengannya terasa sakit dan ia terhuyung ke belakang. Kudanya kaget, meringkik dan lari.

“Kepala perampok laknat, kematianmu sudah di depan mata!” Suma Hoat yang marah sekali itu sudah menerjang lagi dengan pukulan-pukulan mautnya.

Si Kepala Perampok adalah seorang ahli silat, akan tetapi dalam hal ilmu silat dia tidak dapat dibandingkan dengan Suma Hoat yang memiliki ilmu silat tinggi. Ilmu silat yang dimiliki kepala perampok ini adalah ilmu silat kasar dan dia selama ini hanya mengandalkan kedua tangannya yang kuat. Namun, bertemu dengan pemuda itu, seolah-olah kedua tangannya bertemu dengan baja yang lebih keras lagi! Setelah tiga kali menangkis dan tiga kali terhuyung dengan lengan terasa nyeri dan panas, kepala perampok itu memekik keras dan mencabut ke luar senjatanya berupa sehelai rantai baja yang ujungnya dipasangi bola baja berduri. Cepat ia mengayun senjatanya menerjang lawan.

“Wuuut-wuut-wuuttt…!” Angin menyambar keras ketika bola berduri itu menyambar dan rantainya terputar-putar.

Namun dengan mudah Suma Hoat mengelak dan pemuda ini enggan mencabut pedangnya setelah menyaksikan gerakan lawan yang hanya memiliki ilmu silat kasar itu. Dia menghadapi lawan yang bersenjata rantai dengan kedua tangan kosong, mengelak ke kanan kiri dengan lincahnya menanti kesempatan baik.

Dara cantik yang tertotok dan rebah miring dapat menyaksikan pertandingan itu dan dari mulutnya yang kecil terdengar jerit-jerit tertahan kalau melihat senjata yang dahsyat itu menyambar, mengancam wajah yang halus tampan Si Pemuda penolongnya. Biar pun dara itu tidak pandai ilmu silat, akan tetapi dia merasa heran mengapa pemuda tampan itu tidak mau mencabut pedangnya yang tergantung di punggung!

“Inkong (Tuan Penolong)…, pergunakan pedangmu…!” Akhirnya ia tak dapat menahan kekhawatiran hatinya lagi melihat betapa kepala pemuda itu nyaris dihantam bola berduri, begitu dekat bola itu menyambar lewat di atas telinga kiri Suma Hoat. Aneh sekali, dara itu sudah lupa akan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, sebaliknya khawatir kalau-kalau pemuda itu kena pukul dan pecah kepalanya.

Mendengar suara itu, Suma Hoat tersenyum gembira. Aku harus memperlihatkan kelihaianku, pikirnya gembira seperti lazimnya seorang pemuda ingin berlagak memamerkan kepandaiannya di depan seorang dara yang menarik hatinya. Cepat ia merubah gerakannya, sekarang tubuhnya berkelebat cepat sekali sehinga Si Kepala Rampok berkali-kali berteriak kaget karena tubuh lawan seperti lenyap. Tiba-tiba Suma Hoat mendapat kesempatan baik. Ketika bola berduri menyambar ia menggunakan tangannya dari samping menangkap bola itu dan sekuat tenaga ia melontarkan bola ke arah muka penyerangnya.

“Prokkk! Adduuuuhhh…!” Tubuh kepala perampok itu terjengkang dan roboh telentang dengan muka berubah menjadi onggokan daging yang remuk dan nyawanya melayang tak lama kemudian.

Dara jelita itu memejamkan mata penuh kengerian, kemudian ia menangis terisak-isak. Suma Hoat cepat berlutut dan sekali totok ia membebaskan tubuh dara itu dari pengaruh totokan Si Kepala Rampok. “Tenanglah, Nona. Bahaya telah lewat. Si Keparat laknat sudah tewas.”

Dara itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Suma Hoat, “Inkong telah menyelamatkan nyawa saya, akan tetapi… hu-hu-huuukkkk… ayah bundaku telah terbunuh… di dalam kereta…!”

Suma Hoat terkejut dan marah sekali. “Mari kita lihat, temanku sedang membasmi kawanan perampok, perlu bantuanku!” Ia lalu menyambar pinggang dara itu, dibawa meloncat ke atas punggung kudanya yang tidak lari karena kuda itu sudah terlatih baik, kemudian membalapkan kudanya ke arah pertempuran yang masih berlangsung dekat kereta.

Ternyata bahwa Siangkoan Lee dengan mudah telah merobohkan tiga orang pengeroyok dengan goloknya dan kini yang lima orang masih mengeroyoknya mati-matian. Melihat ini Suma Hoat sambil memeluk pinggang dara itu dengan lengan kiri, mencabut pedang dengan tangan kanan, kudanya menyerbu, pedangnya berkelebat dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan dan empat orang perampok roboh dan tewas. Siangkoan Lee berhasil merobohkan perampok terakhir dan Suma Hoat setelah menyimpan pedangnya lalu menurunkan tubuh dara itu. Sambil terisak-isak dara itu berlari ke arah kereta yang rebah miring, membuka pintunya dan menjerit-jerit memanggil ayah bundanya.

Suma Hoat meloncat dekat kereta. Cepat ia mengeluarkan tubuh seorang setengah tua yang terluka dadanya. Orang itu masih hidup dan cepat pemuda ini mengeluarkan obat luka yang merah warnanya, mengobati luka itu dan membalutnya. Ayah dara itu masih hidup biar pun terluka parah, akan tetapi ibunya telah tewas karena tusukan pedang yang menembus jantungnya!

“Terima kasih… Kongcu… saya Ciok Khun menghaturkan terima kasih kepadamu…”

“Paman hendak pergi ke manakah?” Suma Hoat bertanya, hatinya seperti ditusuk-tusuk karena kasihan melihat dara itu menjerit-jerit memeluki mayat ibunya.

Dengan suara tersendat-sendat laki-laki itu bercerita. Dia tinggal di dusun Kwi-bun-an, tak jauh dari kota raja. Mereka, suami isteri itu, hendak mengantarkan anak dara mereka yang bernama Ciok Kim Hwa, yang hendak dljodohkan dengan putera bangsawan Thio di kota raja. Karena itulah maka mereka berkereta membawa barang-barang berharga, dikawal oleh pasukan bangsawan Thio yang menjemput mereka dan yang terbunuh semua oleh para perampok.

“Siangkoan Lee, kau cepat antarkan Paman Ciok dan barang-barang serta jenazah ini ke kota raja. Biar aku yang mengawal Ciok-siocia,” kata Suma Hoat.

 

Siangkoan Lee mengangguk, maklum bahwa keadaan orang yang terluka perlu perawatan dengan cepat dan bahwa kalau Si Nona ikut dalam kereta, tentu nona itu akan berduka sekali menyaksikan jenazah ibunya. Maka ia lalu mengumpulkan barang-barang yang berceceran, di masukkan barang-barang itu ke dalam kereta, kemudian ia mengikat kudanya di depan dua ekor kuda penarik kereta dan membalapkan kereta ke kota raja.

“Mari, Nona. Kau akan kukawal ke kota raja dan jangan khawatir, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku.”

Ucapan ini membuat wajah Si Dara Jelita menjadi merah, akan tetapi kedukaannya terlalu besar sehingga mengurangi rasa kegembiraan aneh yang menyelinap di rongga dadanya ketika ia duduk atas panggung kuda, di depan pemuda tampan yang telah menolongnya itu.

Selama hidupnya, baru pertama kali itu Suma Hoat mengalami hal yang aneh dalam hatinya. Jantungnya berdebar luar biasa sekali. Rasa girang yang amat besar menyelimuti hatinya, dan di balik rasa girang ini terselip rasa sakit di hatinya karena dara ini hendak dikawinkan dengan orang lain! Kekecewaan yang amat keras dan aneh. Mengapa dia menjadi begini? Tak dapat disangkal bahwa dia selalu tertarik oleh wajah cantik jelita, akan tetapi selamanya dia tidak pernah menginginkan wanita yang menjadi milik orang lain!

“Eh, Suma Hoat, kau ini mengapakah?” Berulang-ulang ia bertanya kepada dirinya sendiri. Tak terasa lagi ia menjalankan kudanya perlahan karena dia tidak ingin cepat tiba di kota raja, tidak ingin dirampas kenikmatan dan kebahagiaan hatinya duduk berdua di atas kuda bersama dara yang bernama Ciok Kim Hwa ini!

Kereta yang dibalapkan Siangkoan Lee sudah jauh sekali dan sudah tidak tampak, juga tidak terdengar derap kaki kuda dan roda kereta. Suma Hoat tak dapat menahan getaran hatinya dan ia bertanya halus, “Nona…” Ia meragu dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Dara itu menanti sebentar. Karena lama pemuda itu tidak melanjutkan, dia menoleh dan berkata, “Ada apakah, Inkong?”

Suma Hoat memejamkan mata karena tidak kuat menyaksikan wajah yang begitu dekat dengannya, mencium bau harum yang keluar dari rambut dan muka dara itu.

“Kenapa, Inkong?” tanya Kim Hwa yang terheran-heran melihat pemuda itu memejamkan mata.

“Jadi… Nona akan… menikah dengan pemuda keluarga Thio…?”

Wajah itu tiba-tiba menjadi merah sekali dan cepat dipalingkan tidak berani menentang pandang mata Suma Hoat. Sampai lama nona itu tidak menjawab dan Suma Hoat merasa betapa tubuh di depannya itu gemetar. Akhirnya terdengar nona itu menjawab lirih.

“Bu… bukan pemuda, melainkan seorang duda tua, adik dari Thio-taijin…!”

Suma Hoat mengangkat alisnya dan membelalakkan matanya. “Seorang duda tua?”

Dara itu mengangguk dan menarik napas panjang.

“Kenapa engkau mau, Nona?”

Kim Hwa mengangkat muka memandang. “Bagaimana saya dapat menolak kehendak orang tua, Inkong? Yang melamar adalah Thio-taijin, untuk adiknya yang sudah mempunyai belasan orang anak dan yang telah mempunyai banyak selir pula. Bagaimana saya dapat menolak…?” Kalimat terakhir itu mengandung isak dan Kim Hwa menundukkan muka, kelihatan berduka sekali.

“Ah, kasihan engkau, Nona. Seorang dara semuda Nona, cantik jelita, dipaksa menikah dengan seorang bandot tua!” Suma Hoat merasa penasaran sekali dan mendengar ucapan Suma Hoat, Kim Hwa terisak-isak menangis sesenggukan.

Suma Hoat merasa makin kasihan. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak yang bergoyang-goyang itu dan berkata, “Jangan menangis, Nona, dan jangan berputus asa. Seperti telah kukatakan tadi, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku. Kalau engkau tidak suka menikah dengan duda tua keluarga Thio itu, kau tolak saja dan aku yang akan melindungimu!”

Ucapan penuh semangat ini membuat Kim Hwa menjadi terharu dan berterima kasih sekali sehingga tangisnya makin mengguguk. Ketika Suma Hoat menghiburnya dengan mengelus rambut kepalanya yang hitam panjang dan halus, Kim Hwa tersedu dan merebahkan kepalanya di atas dada Suma Hoat! Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, tanpa kata-kata namun keduanya yakin apa yang terjadi dengan perasaan hati masing-masing.

Kuda yang mereka tunggangi berjalan perlahan seenaknya, agaknya tidak mau mengganggu majikannya yang sedang dilanda asmara. Jari-jari tangan Suma Hoat yang mengelus-elus rambut itu seolah-olah mengeluarkan getaran yang membuat Kim Hwa memejamkan mata dengan sepasang pipinya yang menjadi kemerahan.

Tiba-tiba kuda putih yang tadinya melangkah perlahan dan tenang, menghentikan langkahnya, hidungnya kembang-kempis, kemudian mengeluarkan suara meringkik keras dan keempat kakinya menggaruk-garuk tanah.

“Eh, Pek-ma (Kuda Putih), ada apakah?” Suma Hoat yang sedang diterbangkan ke angkasa kemesraan itu terkejut, melepaskan belaian tangannya pada rambut Kim Hwa dan cepat menyambar kendali untuk menguasai kudanya.

Sebagai jawaban, tiba-tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan hutan itu, gerengan seekor harimau yang berada di dalam gerombolan semak dan yang kini keluar sambil memandang ke arah kuda.

“Celaka, Inkong…!” Kim Hwa menjerit penuh kengerian dan kedua lengannya otomatis merangkul pinggang pemuda itu, tubuhnya gemetar.

“Tenanglah, Nona. Aku memang sedang mencari-cari harimau itu. Mari kita turun dan kau tunggu saja di sini sampai aku selesai membunuh pengganggu dusun-dusun ini.”

Tanpa menanti jawaban, Suma Hoat sudah memondong tubuh Kim Hwa turun dari atas punggung kuda putih yang juga berdiri menggigil ketakutan. Ia menurunkan Kim Hwa yang berdiri dengan muka pucat di dekat kuda. Mata gadis ini terbelalak memandang ke arah harimau yang besarnya luar biasa dan kepada penolongnya yang kini melangkah maju menghampiri harimau dengan senyum tenang di wajahnya yang tampan!

Suma Hoat memandang harimau yang dihampirinya itu penuh kagum. Pantas saja penduduk dusun tidak berdaya menghadapi pengganggu ini. Kiranya seekor harimau yang luar biasa besarnya, sebesar anak lembu, dengan matanya yang liar tajam dan sikapnya yang angkuh dan memandang rendah seperti sikap seorang raja besar!

“Inkong…, pedangmu… gunakan pedangmu…!” Terdengar suara Kim Hwa gemetar penuh kekhawatiran. Dara ini melihat betapa penolongnya itu sudah dekat sekali dengan hari mau akan tetapi masih saja bertangan kosong. Hanya orang gila saja yang melawan harimau sebesar itu dengan tangan kosong, pikirnya. Karena kekhawatirannya, maka ia memaksa diri memperingatkan.

Mendengar ini Suma Hoat menoleh dan tersenyum. “Kim Hwa-moi, jangan khawatir. Dia ini bagiku hanyalah seekor kucing…”

“Awas… ah, Inkong…!” Kim Hwa menjerit.

Akan tetapi tanpa diperingatkan juga, telinga Suma Hoat yang terlatih sudah mendengar gerakan harimau itu dan dengan mudah saja ia menggerakkan tubuh ke kiri mengelak dari tubrukan dahsyat itu. Akan tetapi harimau itu benar-benar berbeda dengan harimau-harimau biasa yang pernah ditangkap dan dibunuh Suma Hoat dengan tangan kosong. Begitu tubrukannya luput dan kakinya menyentuh tanah, tubuh harimau itu sudah membalik dengan cepat sekali, kedua kaki depan mencakar dari kanan kiri dan kaki belakangnya menggenjot tanah sehingga tubuhnya kembali sudah menerkam ke arah Suma Hoat!

“Inkong…!” Suara jerit Kim Hwa mengandung isak.

Suma Hoat terkejut dan kagum menyaksikan ketangkasan dan kecepatan harimau yang amat besar itu.

Timbul rasa sayangnya dan ia hendak mengambil kulit binatang besar ini tanpa cacat.

Ketika tubuh yang menubruknya itu melayang ke arahnya, ia cepat menyusup ke bawah perut harimau sehingga kembali tubrukan itu luput dan sebelum harimau dapat membalik, Suma Hoat telah menangkap ekornya yang panjang, mengerahkan tenaga dan… tubuh harimau itu terangkat dan diputar-putar di atas kepalanya! Harimau meronta-ronta dan menggereng-gereng berusaha mencakar atau menggigit tangan kuat yang memegangi ekornya. Penglihatan itu mengerikan dan menegangkan sekali.

“Inkonggg…!” kembali Kim Hwa menjerit dan menutupi muka dengan kedua tangan, tidak tahan melihat perkelahian itu karena ia tidak mau melihat tubuh penolongnya dicakar atau digigit sampai pecah-pecah kulitnya dan berlumuran darahnya! Hal itu tentu akan terjadi karena penolongnya itu terlampau berani, tidak mau menggunakan pedang membunuh binatang yang demikian besar dan kuatnya!

Suma Hoat melepaskan ekor yang dipegangnya. Tubuh harimau terlempar ke atas dan terbanting jatuh ke atas tanah. Biasanya, harimau yang terbanting seperti ini tentu akan pingsan dan menjadi lemah, maka Suma Hoat tersenyum-senyum menghampiri Kim Hwa dan berkata, “Jangan khawatir, dia…”

“Inkonggggg…!” Kim Hwa menjerit dan mukanya menjadi pucat sekali karena harimau yang terbanting itu tiba-tiba sudah meloncat dan menerkam ke punggung Suma Hoat!

Saat itu perhatian Suma Hoat sedang tertuju kepada Kim Hwa, maka gerakannya mengelak agak terlambat dan kaki depan kiri harimau itu masih menampar pundaknya sehingga tubuhnya terpelanting! Harimau itu menggereng marah dan menubruk tubuh lawan yang sudah jatuh itu.

“Inkonggggg…!” Jeritan Kim Hwa sekali ini lemah sekali dan ia sudah terkulai, lemas dan roboh pingsan di atas tanah!

Suma Hoat dapat melihat keadaan dara yang membuatnya tergila-gila itu, maka timbul kemarahannya. Ketika harimau menerkamnya ia menyambut dengan sebuah tendangan yang mengenai perut harimau sehingga binatang itu terpental ke samping. Sebelum harimau itu sempat menyerangnya kembali, Suma Hoat sudah melompat ke atas punggungnya! Harimau itu marah, meloncat-loncat, bergulingan, akan tetapi Suma Hoat tetap di atas punggungnya, kemudian jari tangannya bergerak ke depan.

”Crapp!” Harimau mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan darah bercucuran dari kedua matanya yang sudah berlubang!

Suma Hoat melompat turun ketika harimau yang menjadi buta matanya itu menerjang ke depan secara ngawur. Binatang itu menjadi seperti gila saking nyeri dan bingungnya, mukanya dicakarinya sendiri, menggereng-gereng, kemudian meloncat ke depan sekuat tenaga.

“Desssss!” Kepala harimau itu menubruk batu besar, pecah seketika dan tubuhnya berkelojotan dalam sekarat.

Suma Hoat tidak mempedulikan lagi bangkai harimau itu dan cepat ia lari menghampiri tubuh Kim Hwa yang menggeletak pingsan di atas tanah.

“Kim Hwa…!” Ia memanggil dan mengguncang-guncang pundak dara itu, namun Kim Hwa tidak menjawab dan tubuhnya lemas.

Ketika Suma Hoat meraba dahinya, ternyata dahi itu panas! Tahulah dia bahwa kegelisahan dan ketakutan membuat dara itu pingsan dan ada bahaya dia akan terserang demam. Cepat ia pergi meninggalkan gadis yang pingsan itu untuk mencari air. Dalam keadaan seperti itu, air dingin amat penting untuk membasmi panas di kepala dan dahinya.

Ia harus pergi agak jauh juga untuk mencari air di sebuah anak sungai. Selagi ia bingung karena tidak membawa tempat air, kemudian melepas jubahnya dan mencelupkan jubah ke dalam air dingin, tiba-tiba terdengar kudanya meringkik keras disusul jerit Kim Hwa!

”Hwa-moi…!” Suma Hoat berteriak, menyelipkan jubah basah dipunggungnya lalu ia melompat dan berlari cepat ke tempat gadis itu ditinggalkan. Betapa kagetnya ketika ia melihat kuda putihnya sudah lari dan Kim Hwa sudah berdiri dan terbelalak ketakutan memandang ke arah seekor harimau besar yang berdiri dekat sekali di depan dara itu!

Suma Hoat kaget dan heran, ketika mengerling ke arah bangkai harimau yang masih berada di tempat tadi, tahulah dia bahwa harimau besar kedua ini adalah harimau betina. Kiranya ada dua ekor harimau, sepasang binatang buas yang amat besar yang telah mengganggu dusun.

Tiba-tiba gadis itu menjerit dan hendak lari, akan tetapi harimau menerkam ke depan dan dara itu roboh telentang.

“Hwa-moi…!” Dengan beberapa kali loncatan saja Suma Hoat sudah tiba di situ, disambarnya ekor harimau dan direnggutnya binatang itu terlepas dari tubuh Kim Hwa.

“Breeeettt!” Baju Kim Hwa terbawa oleh cakar harimau dan tampak sedikit darah di dada yang putih mulus itu. Suma Hoat yang merasa khawatir dan marah sekali mencabut pedang dan tampak sinar berkelebat disusul muncratnya darah dari leher harimau yang hampir putus terbabat pedang!

“Kim Hwa…!” Suma Hoat cepat berlutut di dekat Kim Hwa. Dara itu merintih dan membuka matanya. Ketika melihat bahwa yang mencuci luka kecil di dadanya dengan jubah basah adalah pemuda penolongnya, ia mengeluarkan jerit tertahan dan menangis.

“Diamlah, Moi-moi, diamlah manis… syukur bahwa engkau hanya terluka kecil saja, tergores cakar harimau laknat…!” Suma Hoat telah menaruh obat bubuk ke atas luka kecil itu. Darah telah berhenti dan kini, seperti tak disadarinya, jari tangannya mengelus kulit di seputar luka. Matanya tak pernah berkedip memandang wajah itu, dada yang terbuka itu, leher itu dan ia terpesona.

Kim Hwa tadinya memejamkan matanya, kemudian kesadarannya kembali dan mulailah dia merasa betapa dadanya tak tertutup lagi, betapa tangan yang hangat menggetar-getar itu mengelus-elus dan membelainya. Ia membuka matanya perlahan, melihat wajah yang tampan, mata yang penuh kemesraan itu memandangnya, dada yang bidang itu pun tak berbaju karena bajunya tadi dipakai mencuci lukanya. Perasaan aneh dan mesra memenuhi rongga dada Kim Hwa. Seperti disentakkan ia menangkap tangan yang mengelus dadanya, membawanya ke depan hidung dan mulut, menciumi tangan pemuda yang telah dua kali menyelamatkan nyawanya.

“Moi-moi…!” Suma Hoat tak dapat menahan getaran hatinya dan ia menjatuhkan mukanya ke atas dada itu.

“Koko…!” Kim Hwa terisak, memeluk kepala itu, lalu perlahan menarik kepala itu sehingga dekat. Dengan sinar mata yang mengeluarkan seluruh perasaan hati mereka, dengan napas terengah yang saling meniup muka mereka, kemudian dua muka yang sama eloknya itu saling mendekat, dua pasang lengan saling rangkul, saling mendekap.

“Moi-moi…!”

“Koko…!”

Mereka terisak, berciuman seperti tak sadar lagi. Akhirnya Suma Hoat tersentak kaget. Belum pernah ia merasai seperti ini. Dia sudah biasa bermain cinta dengan wanita cantik, akan tetapi mereka itu wanita-wanita yang menjual cinta! Dan dia hanya menurutkan dorongan nafsu belaka. Sekarang jauh sekali bedanya! Di samping nafsu yang bergolak dan menindih membakar seluruh urat syaraf di tubuhnya, terdapat perasaan lain. Dia tidak ingin menyusahkan Kim Hwa, dia tidak ingin mengganggu dara ini, dia menaruh kasihan dan kesayangan yang luar biasa. Dia rela mati untuk kebahagiaan dara ini! Sungguh bedanya seperti bumi dengan langit dibandingkan dengan wanita-wanita yang biasa dicintanya.

Belaian jari tangan wanita ini pada pipinya, tengkuknya, dadanya, balasan ciumannya begitu lembut dan mesra dan ia merasakan cinta kasih yang murni di balik kemesraan ini, membuat ia terharu sekali dan ketika ia mengangkat muka memandang wajah yang cantik itu, kedua mata Suma Hoat menjadi basah. Juga ia melihat Kim Hwa menitikkan air mata yang berlinangan seperti butiran-butiran mutiara, namun mulut yang merah dan panas itu tersenyum, malu-malu dan mesra. Dua pasang mata berpandangan, bertanya-tanya dan saling menjawab. Namun, Suma Hoat masih tidak berani meyakinkan hatinya, maka ia berbisik lirih dekat telinga Kim Hwa.

“Moi-moi… bolehkah…? Benarkah ini…? Ahhh, betapa ingin hatiku untuk memilikimu, menjadikan engkau milikku, lahir batin, hati dan tubuhmu… akan tetapi… engkau seorang gadis terhormat… bahkan calon isteri orang lain… ahh, Moi-moi, katakanlah, betapa besar pun cintaku, betapa besar pun hasrat hatiku memilikimu sehingga kalau tidak terpenuhi aku akan mati merana, namun aku rela mati dari pada memaksamu, dari pada menyusahkanmu… Moi-moi, jawablah, bolehkah aku…?” Suara Suma Hoat mengandung isak, bercampur rintihan hatinya dan dua titik air mata membasahi pipinya.

Kim Hwa tersenyum, senyum penuh pengertian yang hanya dimiliki seorang wanita yang mencinta, senyum yang hanya dimiliki seorang ibu terhadap anaknya, walau pun air matanya sendiri menetes-netes. Dara itu kemudian mengangkat kedua tangannya, mengusap dua titik air mata dari pipi Suma Hoat, kemudian kedua lengan itu merangkul leher, mulutnya berbisik lirih sekali.

“Suma-koko…, aku… aku rela menyerahkan jiwa ragaku kepadamu… biarlah aku menikmati kebahagiaan sehari ini bersama orang yang kucinta sepenuh hatiku… sebelum aku memasuki neraka bersama laki-laki pilihan orang tuaku… Koko… cintailah aku… aku menyerah, serela-relanya… demi Tuhan…!”

“Moi-moi…!” Suma Hoat memeluk dan mendekap, kemesraan hatinya meluap.

“Koko…!” Kim Hwa terengah menjerit dan merintih, rintih kebahagiaan yang selama hidupnya takkan terlupa oleh Suma Hoat.

Dengan penuh kemesraan, dengan nafsu yang terkendalikan oleh cinta murni, dengan pandang mata penuh kagum dan hormat, dengan landasan hati ingin saling membahagiakan orang yang dicintanya, dua orang muda itu berlangen asmara, berenang di lautan cinta yang memabokkan, dibuai dan dipermainkan gelombang-gelombang getaran hati dan perasaan.

Sehari semalam mereka lupa diri, yang teringat hanyalah orang yang dicintanya, yang tak pernah terpisah sekejap mata pun, saling mencurahkan perasaan kasih sayang semesra mungkin. Dalam keadaan seperti itu, bagi mereka berdua yang ada hanyalah cinta kasih di antara mereka. Kalau sudah saling mencinta, kalau dunia ini terasa kosong dan yang ada hanya mereka berdua, kalau bagi mereka tidak ada urusan lain di dunia ini kecuali peluapan asmara, apa lagikah yang dapat mereka ingat?

Sungguh patut dikasihani kedua orang muda ini. Semenjak kecil, Suma Hoat melihat betapa ayahnya mengumpulkan wanita-wanita cantik, betapa ayahnya selalu mengejar kesenangan dengan selir-selirnya yang muda-muda dan cantik-cantik. Sering kali bahkan dia tanpa sengaja menyaksikan ayahnya bermesra-mesraan dengan beberapa orang selir di dalam taman atau di dalam kamar. Sifat ayahnya yang gila bercinta dengan selir-selir muda ini tanpa disadari membentuk watak di dalam jiwanya, watak seorang pria yang haus akan cinta.

Sebagai putera bangsawan yang tampan dan kaya, banyaklah wanita yang menggodanya dan semenjak berusia enam belas tahun, Suma Hoat sudah mencari-cari dan mengejar-ngejar cinta. Namun apa yang didapatnya di dalam tubuh dan hati wanita-wanita cantik yang penuh gairah menyusup ke dalam pelukannya? Cinta palsu belaka! Cinta harta dan cinta nafsu. Wanita-wanita itu sudah tidak mengenal cinta murni lagi, cinta yang membuat seseorang tak ingin lagi berpisah, ingin hidup bersama selamanya, menempuh hidup berdua, suka sama dinikmati, duka sama diderita!

 

Kini, bertemu dengan Kim Hwa, dia menemukan cinta kasih yang murni, maka tidaklah mengherankan apa bila dia terpesona dan lupa diri, lupa segala! Yang teringat hanyalah bahwa dara yang menyerahkan jiwa raga demikian ikhlas dan mesra adalah wanita yahg harus disayangnya, dihormatinya, dibelanya sampai mati!

Ada pun Kim Hwa adalah seorang dara yang selama hidupnya belum pernah mengenal cinta, belum pernah berdekatan dengan pria kecuali dengan ayahnya. Namun sebagai seorang dara terpelajar, dia maklum apa artinya dijodohkan dengan seorang duda tua yang kaya raya. Dia seolah-olah dijual seperti seekor kucing atau anjing saja, sebuah benda yang mahal. Dia maklum bahwa dia akan berkorban perasaan selama hidupnya, hal yang membuat ia berduka dan putus asa. Kalau tidak demi bakti kepada ayah bundanya, ingin dia membunuh diri saja dari pada setiap saat menderita batin, harus menurut dan tunduk dirinya dijadikan benda permainan seorang pria yang sama sekali tidak dicintanya.

Kini bertemu dengan Suma Hoat yang menolong keselamatan nyawanya, yang begitu jumpa telah merebut hatinya, telah menimbulkan cinta kasihnya, kemudian terdorong oleh keadaan yang membangkitkan dorongan dan rangsangan nafsu birahi, menggolakkan darah muda, tidaklah mengherankan apa bila ia menyerahkan diri bulat-bulat, penuh kerelaan dan kemesraan yang timbul dari keputus-asaan akan dikawinkan laki-laki tua yang tak dicintanya!

Memang patut dikasihani mereka ini. Di dalam amukan badai asmara yang memiliki kekuatan tak tertandingi di seluruh alam ini, keduanya lupa sama sekali bahwa kehidupan manusia sudah tidak bebas lagi sehingga mengakibatkan cinta kasih pun tidak bebas lagi! Manusia telah menciptakan hukum-hukum sehingga kehidupan manusia seolah-olah terselimuti oleh segala macam hukum. Belenggu besar mengikat kaki tangan kehidupan manusia berbentuk kebudayaan, kesusilaan dan lain-lain. Siapa melanggarnya tentu akan terbentur dengan hukum ini dan akan menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan.

Manusia tidak dapat bergerak bebas menurutkan perasaan hatinya, harus lebih dulu melihat ke depan, apakah pelaksanaan perasaan hatinya itu tidak akan bersilang dan melanggar hukum! Demikian pula dengan cinta! Perjalanan cinta penuh liku-liku, penuh rintangan yang berupa hukum, kesusilaan, kebudayaan, agama dan tradisi. Manusia di jaman sekarang tidak bisa hidup menurutkan cinta dan pelaksanaannya tanpa mempedulikan semua itu. Akan terbentur dan… gagal! Dalam segala hal, juga dalam cinta, manusia harus mempergunakan perhitungan, bukan memperhitungkan untung rugi, melainkan memperhitungkan baik buruknya, terutama menjenguk masa depan.

Karena itu sekali lagi, patut dikasihani Suma Hoat dan Kim Hwa yang membukakan pikiran dan hati, terjun dan berenang berdua ke dalam lautan cinta asmara yang memabukkan sehingga sehari semalam kedua manusia ini tidak pernah meninggalkan tanah bertilam rumput itu, di mana tiada puas-puasnya mereka saling mencurahkan perasaan cinta mereka. Baru keesokan harinya mereka berdua menunggang kuda putih, melanjutkan perjalanan ke kota raja. Kuda dijalankan perlahan, dibiarkan berjalan sendiri tanpa kendali.

Kim Hwa duduk dipangku oleh Suma Hoat. Mereka masih mabuk dan nanar, masih setengah terbius oleh kemesraan. Kim Hwa menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya dan Suma Hoat melingkarkan lengan kirinya di leher Si Jelita, tangan kanannya membelai-belai rambut, mengusap leher dan pipi.

“Koko…” terdengar Kim Hwa berkata lirih, suaranya mengandung kemanjaan yang amat manis terdengar oleh telinga mereka.

“Hemmm…?” Jawaban ini mengandung kemanjaan penuh dengan perasaan ingin menyayang dan disayang.

Memang cinta kasih murni menimbulkan hasrat yang tak kunjung padam, hasrat ingin memiliki dan dimiliki, ingin menyayang dan disayang, ingin memberikan seluruh hati dan tubuh di samping ingin meminta seluruhnya! Menimbulkan hasrat ingin bersatu, ingin menjadi satu badan dan hati, satu nasib, satu kehidupan, satu perasaan!

“Suma-koko, aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku.”

 

Suma Hoat mencium mulut yang mengucapkan kata-kata mesra itu, lalu tersenyum. “Aku pun cinta padamu, Hwa-moi. Entah sudah berapa ratus kali ucapan ini keluar dari mulutmu yang manis, namun tak pernah aku merasa bosan, bahkan setiap kali kau berkata demikian, makin besarlah kebahagiaan hatiku.”

Hening sejenak, keduanya menikmati kehangatan pelukan.

“Koko, aku… aku takut…” Dalam kata-kata itu terkandung kegelisahan besar dan tubuhnya agak menggigil.

“Jangan takut, Moi-moi, ada aku di sampingmu, takut apakah?” Suma Hoat memperkuat pelukannya.

“Kalau sudah sampai di kota raja, aku… ah, tentu akan dikawinkan…”

“Tidak! Sudah kukatakan bahwa aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku! Aku akan minta bantuan ayahku yang berpengaruh untuk meminangmu dan untuk menundukkan keluarga Thio. Jangan khawatir, engkau tentu akan menjadi isteriku, sayang, isteriku tercinta!”

Kim Hwa merangkul dan kini dialah yang mencium bibir pemuda itu. “Koko, aku telah menjadi isterimu dan akan menjadi isterimu salamanya, apa pun yang terjadi, di dunia mau pun di akhirat! Lebih baik aku mati dari pada pria lain menjamah tubuhku yang telah menjadi milikmu.”

Hati Suma Hoat menjadi gembira sekali dan ia ingin cepat-cepat sampai ke kota raja agar urusannya ini dapat segera diselesaikan, agar dia dapat segera menjadi suami isteri dengan Kim Hwa dan takkan terpisah lagi selamanya. Maka dibalapkanlah kudanya, menuju ke kota raja!

Ketika akhirnya Suma Hoat menurunkan Kim Hwa di depan gedung keluarga Thio dan disambut oleh bangsawan itu dan Ciok Khun yang sudah agak sembuh, hati mereka ini merasa tidak senang. Akan tetapi, keluarga Thio tentu saja tidak berani menegur putera Suma-ciangkun sedangkan Ciok Khun yang telah ditolong, juga tidak berani berkata apa-apa sungguh pun hati ayah ini tidak enak karena puterinya menyusul demikian terlambat. Apa saja yang terjadi selama sehari semalam itu dengan puterinya? Setelah menyerahkan Kim Hwa, Suma Hoat lalu membedalkan kudanya pulang ke rumah orang tuanya.

”Taijin, mohon Paduka sudi menolong hamba…!” Bangsawan Thio setengah menangis ketika menghadap Menteri Kam Liong, kemudian melaporkan tentang peristiwa yang menimpa keluarganya dan yang mengancam pencemaran nama keluarganya. Adiknya yang sudah duda akan menikah dengan puteri keluarga Ciok, akan tetapi ketika keluarga itu berangkat ke kota raja, di tengah jalan diganggu perampok dan ditolong oleh Suma-kongcu.

“Sekarang tiba-tiba Suma-ciangkun mengajukan pinangan kepada Ciok Khun, meminang puterinya untuk Suma-kongcu! Padahal dara itu telah menjadi calon isteri adik hamba, Taijin. Kalau sampai dibatalkan, bagaimana pendapat orang akan nama baik keluarga hamba?”

Menteri Kam Liong mengerutkan alisnya. Dia cukup mengenal adik misannya, Suma Kiat atau Suma-ciangkun yang banyak mengumpulkan selir-selir muda yang cantik dengan cara apa pun, kalau perlu dengan kekerasan. Dia pun sudah mendengar akan watak Suma Hoat, putera tunggal adik misannya itu yang terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang dan sudah biasa berkeliaran ke rumah-rumah pelacuran. Kini, menghadapi peristiwa ini tentu saja ia menjadi marah dan menganggap bahwa keluarga Suma tidak patut hendak merampas calon isteri orang lain!

“Hemmm, sungguh tidak benar perbuatan itu! Jangan khawatir, sekarang juga aku akan menulis surat kepada Suma-ciangkun agar suka menarik kembali pinangannya dan minta maaf kepada Ciok Khun!”

Bangsawan Thio tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. “Terima kasih atas bantuan Taijin, akan tetapi… uhhh…”

“Apa lagi?” Menteri Kam Liong membentak karena hatinya kesal mendengar urusan yang tidak menyenangkan hatinya itu.

“Mengenai pinangan itu, kalau Taijin mencampuri, tentu beres dan hamba bersyukur sekali. Akan tetapi, sungguh hamba sekeluarga bingung menghadapi Suma-kongcu…”

 

“Dia kenapa?” Menteri Kam Liong mengerutkan alisnya.

“Dia… setiap malam… mengunjungi Ciok Kim Hwa di kamarnya… hamba sekeluarga mana berani mengganggunya?”

“Apa…?!” Menteri itu menggebrak meja dan bangkit berdiri. “Bocah kurang ajar! Biar aku sendiri yang akan menghadapinya setelah surat kukirim dan pinangan ditarik kembali. Kalau dia masih berani mengganggu, aku sendiri yang akan menghajarnya. Pergilah!”

Bangsawan Thio mengundurkan diri dengan ketakutan melihat menteri itu marah-marah. Menteri Kam Liong lalu menulis surat setelah menenggak araknya untuk mengusir perasaan marah di hatinya. Berulang kali ia menarik napas, teringat akan nenek moyang keluarga Suma yang tidak patut.

Ketika menerima surat dari kakak misannya, Panglima Suma Kiat mengepal-ngepal tinju dengan hati bingung. Dia ditangisi Suma Hoat, dipaksa meminang Ciok Kim Hwa dan hal itu telah dilakukannya. Siapa kira kini Menteri Kam Liong turut campur dan tentu saja dia tidak berani membantah. Segera dikirimnya utusan kepada keluarga Ciok yang tinggal mondok di gedung keluarga bangsawan Thio, membatalkan pinangan. Berita ini diterima dengan penuh kegembiraan oleh Ciok Khun dan keluarga Thio, akan tetapi diterima dengan ratap tangis oleh Kim Hwa di dalam kamarnya yang mengunci pintu dan tidak mau makan, hanya menangis saja dalam kamar tertutup.

Ketika Suma Hoat pulang, dia disambut oleh maki-makian ayahnya yang marah-marah dan menganggap puteranya itu membikin malu saja. Mula-mula Suma Hoat menjadi heran dan bingung, akan tetapi ketika mendengar bahwa ayahnya terpaksa membatalkan pinangan terhadap Kim Hwa karena teguran Menteri Kam Liong, pemuda ini hampir pingsan dan lari ke kamarnya, menangis, dan meninju-ninju kasur. Wajahnya menjadi pucat sekali dan hatinya hancur.

“Aku akan lari bersamanya!” Ia berkata seorang diri, matanya menjadi merah dan liar. “Malam ini aku mengajak dia lari minggat! Itulah jalan satu-satunya!”

Malam itu gelap sekali. Hujan turun rintik-rintik sejak sore, membuat hawa menjadi dingin, cuaca gelap dan keadaan sunyi senyap. Di ruangan dalam gedung bangsawan Thio, Menteri Kam Liong dijamu penuh kehormatan oleh bangsawan Thio, adiknya calon pengantin, duda yang usianya sudah lima puluh tahun, dan ditemani pula oleh Ciok Khun. Menteri Kam Liong diundang selain untuk dijamu dan sebagai tanda terima kasih keluarga itu, juga Menteri ini memenuhi janjinya untuk mencegah Suma Hoat mengganggu Ciok Kim Hwa di kamarnya.

Para penjaga sudah disiapkan bersembunyi di sekeliling kamar Kim Hwa, bertugas mengintai kalau-kalau Suma-kongcu datang di kamar itu seperti biasa. Datang seperti setan karena pemuda ini datang melalui genteng dan bergerak cepat seperti burung saja. Mereka hanya bertugas mengintai, karena untuk menangkap tentu saja mereka tidak berani. Untuk tugas itu mereka mengharapkan bantuan Menteri Kam Liong yang selain tinggi ilmunya, juga tinggi kedudukannya dan masih pek-hu (uwa) dari pemuda bangsawan yang lihai itu.

Sesosok bayangan berkelebat dan para penjaga cepat lari memberi laporan kepada mereka yang masih makan minum di ruangan dalam. Mendengar laporan ini merah wajah Kam Liong dan bergegas mereka semua lari menuju ke kamar dara itu. Bangsawan Thio bersama adiknya di depan, disusul Ciok Khun dan paling belakang adalah Menteri Kam Liong yang bersikap tenang sungguh pun hatinya panas, malu dan marah. Betapa pun juga, Suma Hoat adalah keponakannya dan perbuatan itu berarti mencemarkan nama baiknya pula.

Bayangan itu memang Suma Hoat yang bergegas memasuki kamar kekasihnya melalui genteng. Sambil membongkar genteng ia membayangkan betapa kali ini kekasihnya tentu tidak menyambut dengan ciuman dan pelukan gembira seperti biasa, dan mungkin akan menyambutnya dengan tangisan. Akan tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk membawa lari kekasihnya, menghiburnya dan membahagiakannya.

 

Setelah berhubungan cinta dengan Kim Hwa, ia tidak suka menoleh ke arah wanita lain, seolah-olah ia muak terhadap wanita lain. Ia sudah menemukan cintanya! Jangan khawatir, kekasihku, kita akan hidup bahagia, ia berbisik, sambil menutupkan kembali genteng agar jangan kemasukan air hujan, kemudian membuka langit-langit dan meloncat turun dengan ringan sekali ke dalam kamar. Ia menduga bahwa Kim Hwa tentu menelungkup di ranjang sambil menangis.

Setelah kedua kakinya menginjak lantai, ia menghampiri pembaringan, membuka kelambu dan…

pembaringan itu kosong! Matanya mencari-cari dan seperti ada sesuatu yang mendorongnya, ia membalikkan tubuh ke kanan dan… ia tersentak kaget, napasnya terhenti seketika, kedua kakinya menggigil, matanya terbelalak memandang kearah tubuh yang tergantung di sudut, tubuh yang tak bergerak-gerak, tubuh Kim Hwa yang lehernya terikat ikat pinggang dan tergantung pada tiang melintang. Sebuah bangku roboh terguling di bawah kakinya.

Suma Hoat memaksa kakinya melangkah, kakinya menggigil, wajahnya pucat, bibirnya gemetar, bergerak-gerak namun tak mengeluarkan suara, kedua lengannya diulur ke depan, siap memeluk, hatinya menjerit. “Kekasihku, marilah… kenapa kau tidak menyambut aku…?” Akan tetapi tubuh itu masih tergantung tak bergerak dan ia terhuyung ke depan, pandang matanya gelap, mengharapkan semua ini hanya mimpi, digigitnya bibirnya sendiri sampai robek berdarah, namun tetap saja tubuh kekasihnya itu tergantung, tak bergerak.

“Kim Hwa…!” Jeritnya meledak dari dasar hatinya dan pemuda itu terguling roboh, pingsan di bawah kaki mayat Kim Hwa yang masih tergantung!

Pintu kamar ditendang roboh oleh Menteri Kam Liong yang berlari-lari mendengar jerit dari kamar itu. Mereka semua masuk dan berdiri terbelalak memandang berganti-ganti ke arah mayat Kim Hwa yang tergantung lehernya dan tubuh Suma Hoat yang rebah pingsan.

“Kim Hwa anakku…!” Ciok Khun berseru akan tetapi ia ditahan oleh bangsawan Thio ketika hendak menubruk maju karena khawatir menyaksikan kehadiran Suma Hoat.

“Suma Hoat…!” Kam Liong berseru memanggil keponakannya dengan suara berat.

Suma Hoat bergerak perlahan, mengeluh lalu berdongak. “Kim Hwa…!” Ia menjerit lagi, meloncat bangun dan sekali renggut putuslah ikat pinggang yang mengikat leher dan memutuskan nyawa gadis itu. Dipondongnya tubuh itu, lalu dipangkunya, diciumnya muka itu didekap kepalanya.

”Kim Hwa…” Kekasihku… Isteriku… kau… kau… aduh, Kim Hwa… mengapa kau membunuh diri…?” Suma Hoat menangis, mengguguk di atas dada mayat kekasihnya.

Kemudian ia mengangkat muka, memandang wajah kekasihnya yang matanya terpejam seperti orang tidur. Lalu ia memondong tubuh itu, perlahan dibawanya tubuh itu ke atas ranjang, direbahkannya hati-hati, lalu diselimutinya dan ia berkata lirih, “Kekasihku, engkau tentu lelah, ya? Engkau mengantuk? Tidurlah manis, tidurlah nyenyak. Biar aku menjagamu….”

Kemudian matanya terbelalak, seolah-olah ia baru tahu bahwa kekasihnya yang disangkanya tidur itu tak bernapas lagi dan ia menggerak-gerakkan bibir tanpa ada suara yang keluar! Kemudian ia mengeluh dan merintih, seperti anak kecil kebingungan, diguncang-guncangnya pundak Kim Hwa, dan terdengar keluhannya, “Kim Hwa, engkau… engkau mati…? Ah, mana bisa… engkau… aduuhhh… engkau benar-benar mati? Kim Hwa…!” Untuk kedua kalinya tubuhnya terguling roboh pingsan sambil mendekap tubuh dara itu yang masih hangat namun yang sudah tak bernyawa lagi.

Sepasang mata Kam Liong menjadi basah. Ia mengangguk-angguk dan berkurang banyaklah kemarahannya terhadap Suma Hoat. Jadi begitukah, pikirnya. Ternyata ada jalinan cinta kasih yang demikian mendalam antara mereka. Ketika ia melirik, ia melihat wajah Ciok Khun pucat sekali dan air mata mengalir turun ke atas kedua pipinya. Juga bangsawan Thio dan adiknya termangu-mangu, terharu menyaksikan kelakuan Suma Hoat. Kam Liong merasa tidak enak hatinya, dan ia melangkah mundur, tak tahu harus berbuat apa.

 

Suma Hoat siuman kembali, lalu menangis mengguguk, dan menciumi bibir itu, merintih-rintih dan memohon supaya kekasihnya suka bicara, suka membuka mata, diciumnya mata dan bibir itu sampai akhirnya ia yakin bahwa bibir itu tidak membalas ciumannya, mata itu tidak lagi memandang mesra melainkan terus terpejam.

“Kim Hwa, engkau mati! Engkau membunuh diri… tidak! Engkau dibunuh!” Tiba-tiba Suma Hoat membalikkan tubuh dan memandang kepada tiga orang itu dengan mata liar. Agaknya baru sekarang ia melihat kehadiran Bangsawan Thio dan adiknya, dan ayah Kim Hwa. Kemarahannya meluap.

“Kim Hwa, engkau dibunuh! Mereka inilah yang membunuhmu! Aku akan membalas kematianmu, Kim Hwa kekasihku. Aku akan membalas dendam!” Tiba-tiba ia menerjang maju, kedua tangannya bergerak memukul dengan pukulan maut yang amat kuat ke arah Bangsawan Thio adiknya.

“Bressss!” Tubuh Suma Hoat terlempar ke belakang dan roboh terguling. Pukulan kedua tangannya tertangkis oleh dengan Menteri Kam Liong yang kini melangkah maju dengan pandang mata bengis.

Suma Hoat terkejut bukan main, cepat menggulingkan tubuhnya di lantai meloncat bangun, siap menerjang lawan yang tangguh itu! Akan tetapi ketika ia melihat bahwa lawannya itu adalah Menteri Kam Liong, seketika lemas kedua kakinya. Ia memandang pek-hu-nya, air matanya bercucuran dan lututnya menjadi lemas sehingga ia jatuh berlutut, mulutnya berkata serak, “Pek-hu, harap bunuh saja saya yang celaka ini…”

Menteri Kam Liong melangkah maju, tangannya mencengkeram pundak Suma Hoat dan sekali menarik, tubuh Suma Hoat sudah berdiri lagi. “Laki-laki macam apa engkau ini? Beginikah sikap seorang gagah perkasa? Lemah melebihi wanita! Cengeng dan sesat!”

Suma Hoat masih menangis, menengok ke arah pembaringan dan tangisnya makin mengguguk. “Pek-hu…” Ia terengah-engah,”…lebih baik saya mati… saya… mencinta Kim hwa… mengapa Pek-hu melarang? Mengapa semua orang melarang? Aku dan dia sudah saling mencintai, Tuhan pun tidak melarangnya! Mengapa kalian mengganggu kami…? Huhu-huuukkkk!” Suma Hoat menangis seperti anak kecil, menunduk di depan uwanya.

Kam Liong mengeraskan hatinya dan menggerakkan tangan kiri menampar.

“Plakk!” pipi kanan Suma Hoat ditamparnya sehingga pemuda itu terkejut sekali, membelalakkan mata penuh penasaran.

Lega hati Kam Liong karena memang itulah yang dikehendakinya, agar bangkit kembali semangat pemuda ini. “Dengar kau, Suma Hoat! Seorang laki-laki sejati lebih mementingkan kebenaran dari pada nyawa dan apa pun juga di dunia ini! Apa artinya cinta kalau melanggar kebenaran? Bencana yang menimpa ini adalah gara-gara kelemahan hatimu! Bukan mereka yang menyebabkan kematian nona ini, melainkan engkaulah! Engkau yang membunuhnya dengan perbuatanmu. Mengerti?”

Pemuda itu terbelalak memandang pek-hu-nya, penuh penasaran. “Akan tetapi, Pek-hu! Dia mencintaiku…, kami saling mencinta dan bersumpah untuk….”

“Diam! Tidak mungkin cinta tumbuh tanpa tanggapan kedua pihak! Tak mungkin tunas cinta dapat bersemi tanpa pupuk pihak lawan! Engkau sudah tahu bahwa dia telah menjadi tunangan orang lain, namun engkau yang lemah ini telah menanggapi cintanya! Kalau engkau tidak melayaninya, aku yakin bahwa dia tidak akan mencintamu! Perbuatanmu itu merupakan pelanggaran besar, mencemarkan nama keluarga kita! Dan yang lebih dari itu, engkaulah yang menyebabkan kematian nona ini yang sudah terlanjur mencintaimu! Dan engkau masih hendak menyalahkan orang lain yang tidak berdosa? Hemm, biarlah peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagimu agar tidak terlalu menurutkan nafsu, pandai mengekang nafsu dan menyalurkannya melalui kebenaran, tidak membuta dan sesat! Pergilah sebelum urusan ini tersiar luas. Pergilah!”

 

Bentakan terakhir ini mengandung ancaman hebat dan Suma Hoat mengeluh, kemudian dengan lemas ia meloncat ke luar melalui langit-langit dan genteng. Semua orang di dalam kamar itu masih tertegun menyaksikan peristiwa itu dan terdengarlah suara Suma Hoat di atas genteng. Suara yang mengandung isak, suara yang parau bercampur suara rintikan hujan.

“Perempuan… Aku benci… Cinta perempuan palsu semua! Yang murni hanya Kim Hwa, akan tetapi dia pun meninggalkan aku! Aihhh, benci aku…! Benci aku…! Benci… !” Suara itu makin menjauh.

Kam Liong menghela napas panjang, hatinya penuh kekhawatiran kalau mengenangkan keadaan Suma Hoat. Diam-diam ia merasa heran mengapa seorang pemuda yang ia tahu berwatak mata keranjang dan suka mengobral cinta di antara pelacur-pelacur tinggi, sekarang dapat jatuh cinta seperti itu terhadap seorang gadis!

Melihat keluarga itu berduka dan berkabung, Menteri Kam Liong pun berpamit. Di sepanjang jalan ia menyesali nasib keluarganya.

Setibanya di rumah, Suma Hoat jatuh sakit. Dia diserang demam tinggi, setiap hari mengigau dan menyebut-nyebut nama Kim Hwa, kadang-kadang memaki-maki semua perempuan yang disebutnya tidak setia, bercinta palsu dan lain-lain. Sampai sebulan lebih Suma Hoat jatuh sakit, tidak sadar akan keadaan sekelilingnya. Ayahnya, Panglima Suma Kiat yang amat menyayang putera tunggalnya tentu saja menjadi bingung dan mengundang semua tabib yang ahli untuk mengobati puteranya.

Pada suatu malam, Suma Hoat sadar dari tidurnya. Dia sudah mulai sembuh dan mulai sadar. Tanpa membuka matanya ia mengenang semua peristiwa yang menimpanya, terkenang kembali kepada Kim Hwa. Dia mengeluh panjang dan berkata lirih, “Semua perempuan palsu cintanya, yang murni pun tidak setia, malah meninggal pergi!”

Tiba-tiba terdengar suara halus di dekat pembaringan. “Tidak semua perempuan palsu cintanya, Suma Hoat. Betapa mudahnya mencinta seorang pemuda seperti engkau. Aku pun… kalau diberi kesempatan…!” Jari tangan yang halus menyentuh dahinya dengan mesra, dan sapu tangan yang harum dipergunakan oleh jari-jari itu mengusap peluh di dadanya.

Suma Hoat membuka mata, terbelalak menandang wajah seorang wanita yang amat cantik, wanita yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, akan tetapi yang luar biasa cantiknya! Cantik melebihi Kim Hwa! Muka yang halus itu kemerahan, matanya bergerak-gerak lincah penuh pengertian, mulutnya seolah-olah selalu menantang cium!

Wanita yang matang, menggairahkan, dan gerak-geriknya menunjukkan seorang ahli silat! Wanita cantik jelita yang tidak dikenalnya, namun yang jelas kini merayunya dengan sikap dan kata-katanya, terutama sekali dengan sinar matanya yang penuh nafsu, yang seolah-olah hendak menelanjanginya!

“Kau… siapakah…?” Suma Hoat bertanya, diam-diam kagum melihat wajah itu.

“Aku? Namaku Bu Ci Goat, aku… baru setengah bulan di sini. Aku selir ayahmu yang paling baru.”

“Oohhh…!” Tanpa disadari seruan ini mengandung kekecewaan.

“Mengapa? Tidak girangkah engkau mempunyai seorang ibu muda baru seperti aku?” Bu Ci Goat mendekatkan mukanya hingga hampir menyentuh hidung Suma Hoat yang mencium bau harun sekali.

Jantung Suma Hoat berdebar dan ia menegur. “Kalau engkau selir Ayah, mengapa di sini? Mau apa?”

Wanita itu tersenyum dan memegang tangan Suma Hoat. “Engkau sakit, dan sudah sepatutnya aku menengok dan menjaga. Aku pun seorang ahli mengobati penyakit, dan melihat penyakitmu, mudah saja obatnya!”

“Apa?”

“Ini…!” Berkata demikian, wanita itu menarik tangan Suma Hoat dan merapatkan tangan pemuda itu ke dadanya, sehingga terasalah oleh pemuda itu gumpalan daging yang hangat.

 

“Ahh… jangan…!” Suma Hoat menarik tangannya akan tetapi terkejut karena ternyata tangan yang memegangnya itu amat kuat! Tahulah dia bahwa biar pun belum tentu wanita ini memiliki kepandaian silat tinggi, namun yang jelas memiliki tenaga yang kuat!

“Mengapa tidak? Engkau menderita pukulan batin akibat sakit asmara, dan penyakit rindu obatnya hanya satu! Dan aku… percayalah, cintaku tidak palsu, Suma Hoat. Boleh kau buktikan sendiri!” Setelah berkata demikian, wanita itu lalu merangkul leher Suma Hoat, menciumi dan membelainya.

Jari-jari tangannya yang ahli dan cekatan itu telah membukai pakaian Suma Hoat, juga pakaiannya sendiri seperti telah terbuka sendiri sehingga tampak bagian tubuhnya yang menggairahkan. Karena kesadarannya belum pulih benar, tanpa diketahuinya bagaimana mula-mulanya, Suma Hoat mendapatkan dirinya dipeluk dan ditindih oleh Bu Ci Goat yang menyerangnya dengan hebat, serangan ciuman dan belaian yang benar-benar membangkitkan semangat pemuda itu!

Ketika itu Suma Hoat mulai terangsang dan lupa diri. Ia seolah-olah menemukan pegangan baru setelah dirinya hanyut dalam kegagalan cinta, setelah merasa betapa wanita ini benar-benar menggairahkan, berbeda dengan para pelacur, bahkan hampir menandingi kemesraan Kim Hwa. Tiba-tiba daun pintu terbuka dan muncullah Suma Kiat, ayahnya!

“Bocah setan! Mengganggu selir ayahmu sendiri? Benar-benar kurang ajar, tak tahu malu! Engkau benar-benar mencemarkan nama baik keluarga Suma. Pergi! Hayo minggat dari sini! Engkau tidak patut menjadi puteraku!”

Wajah Suma Hoat menjadi pucat sekali dan ia meloncat turun dari pembaringan, membereskan pakaiannya yang ‘dilucuti’ oleh Bu Ci Goat tadi.

Bu Ci Goat dengan tersenyum-senyum juga membereskan pakaiannya kemudian menghampiri suaminya, memegang lengan Suma Kiat dengan sikap manja, mengelus pipi Suma Kiat sambil berkata, suaranya merayu, “Mengapa kau marah-marah? Aku hanya berusaha untuk mengobati sakitnya, dia menderita sakit rindu yang hebat…”

Wajah Suma Kiat yang tadinya marah dan kemerahan dengan matanya yang beringas itu menjadi lunak ketika ia menunduk dan memandang wajah selirnya yang termuda, selir baru yang amat dikasihinya. Ia lalu berkata, “Maksudmu baik Ci Goat, akan tetapi tidak tepat. Kau tahu betapa aku amat mencintaimu, dan aku tidak suka melihat cintamu kepadaku terbagi, biar pun dengan puteraku!”

Menyaksikan semua ini, kemarahan Suma Hoat tak dapat tertahan lagi. Ia lalu berkata nyaring, “Baik! Aku pergi! Aku muak melihat semua ini! Muak hidup di neraka ini!” Pemuda itu lalu melompat ke luar dari kamarnya dan pergi. Semenjak saat itu, Suma Hoat tidak pernah kembali ke rumah ayahnya!

Dan mulai saat itu pula, di dunia kang-ouw muncul seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan, dengan kepandaiannya yang hebat, dengan keberaniannya yang mendirikan bulu roma para penjahat. Akan tetapi di samping sepak terjangnya yang hebat, pendekar muda ini memiliki kebiasaan yang keji sekali yaitu dia selalu mengganggu wanita!

Dia sering kali terdapat dalam kamar-kamar wanita cantik, isteri orang-orang, gadis remaja, siapa saja asal dia wanita cantik dan sukar didapat. Dan hebatnya, sebagian besar wanita-wanita itu tidak menolak kedatangan penjahat pemetik bunga yang tampan, gagah dan memiliki kepandaian merayu wanita secara istimewa sekali ini!

Dialah Suma Hoat yang menganggap bahwa wanita tidak dapat dipercaya, bahwa wanita hanya lebih pantas dijadikan benda permainan belaka, bahwa wanita hanyalah sekedar alat pemuas nafsunya! Kebenciannya terhadap wanita yang dimulai dengan kepatahan hatinya karena kematian Kim Hwa, disusul sikap Bu Ci Goat dan ayahnya, membentuk watak yang seperti iblis terhadap wanita dalam dirinya! Seorang pendekar pembela kaum tertindas menentang kejahatan, namun juga seorang pemerkosa nomor satu di dunia sehingga beberapa tahun kemudian, terkenallah nama penjahat pemetik bunga (pemerkosa) Jai-hwa-sian atau Dewa Pemerkosa!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo