August 22, 2017

Istana Pulau Es (Part 11)

 

 

Orang itu mengangguk-angguk. “Engkau benar-benar memiliki keberanian luar biasa, Nona. Nah, dengarlah ceritaku. Seratus tahun lebih yang lalu, nenek moyang tiga empat keturunan dari kaum kaki satu dan lengan satu adalah dua orang saudara seperguruan yang berilmu tinggi. Entah mengapa, kedua saudara seperguruan itu bercekcok sehingga terjadilah pertempuran antara mereka berdua. Pertempuran hebat yang mengakibatkan seorang buntung kaki kanannya dan yang seorang lagi buntung lengan kirinya. Dendam antara kedua orang ini amat hebat. Mereka lalu mengasingkan diri melatih ilmu, juga masing-masing mengambil murid-murid, kemudian mereka berjanji untuk mengadu ilmu setiap tahun, untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Karena makin lama jumlah mereka makin banyak, maka permusuhan itu menjadi berlarut-larut dan setiap tahun tentu diadakan pertandingan mengadu ilmu. Demikianlah, keturunan kedua orang itu melanjutkan permusuhan aneh ini dan terbentuklah kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung yang saling bermusuhan.”

“Akan tetapi, mengapa mereka itu masing-masing dapat mengumpulkan orang-orang kaki buntung dan orang-orang lengan buntung sebanyak itu? Siauw Bwee bertanya heran.

“Bukan dikumpulkan, Nona. Melainkan dibuat, sengaja dibikin buntung!”

Mata Siauw Bwee terbelalak lebar. “Apa? Murid-murid mereka dibuntungi sebelah kaki atau lengannya?”

Orang itu mengangguk. “Begitulah. Syarat pertama menjadi murid kedua kaum ini haruslah dibuntungi kaki atau lengannya.”

“Apakah mereka gila? Mengapa mau saja dibuntungi kaki atau lengan agar bisa menjadi murid mereka?”

“Memang banyak orang gila di dunia ini, Nona. Ilmu kaum kaki buntung dan lengan buntung amat terkenal, maka banyak yang tergila-gila dan rela menjadi seorang berkaki buntung atau berlengan buntung asal diterima menjadi murid mereka. Kaum berkaki buntung tinggal di dalam istana bawah tanah ini sedangkan kaum lengan buntung tinggal di balik gunung, di dalam goa-goa batu karang. Kaum kaki buntung ini diketuai oleh Liong Ki Bok, keturunan ke tiga atau empat dari seorang di antara kedua saudara seperguruan yang bermusuhan itu, tentu saja yang menjadi buntung kakinya dalam pertandingan itu. Ada pun kaum lengan buntung diketuai oleh The Bian Le, seorang kakek yang sama lihainya dengan Liong Ki Bok dan juga keturunan dari tokoh yang seorang lagi. Sampai sekarang mereka tetap bermusuhan dan setiap tahun selalu diadakan pertandingan antara mereka.”

Siauw Bwee mengangguk-angguk, kemudian memandang orang itu. “Dan engkau sendiri, kulihat kaki dan tanganmu lengkap, tidak ada yang buntung. Mengapa engkau sampai bermusuhan dengan kaum kaki buntung dan berada di sini?”

”Aku bernama Cia Cen Thok, dan aku adalah kakak ipar ketua kaum lengan buntung. Isteri The Bian Le adalah adik perempuanku. Karena percaya akan kepandaianku, iparku minta tolong kepadaku untuk menyelidiki dan mempelajari ilmu silat gerak tangan kilat kaum kaki buntung. Karena hanya dengan mengetahui rahasia ilmu silat gerak tangan kilat, maka kaum lengan buntung akan dapat menundukkan musuh keturunan mereka ini.”

“Hemm, apakah kaum lengan buntung kalah lihai oleh kaum kaki buntung?”

Cia Cen Thok menghela napas panjang. “Kalah lihai sih tidak. Engkau harus ingat bahwa nenek moyang mereka adalah saudara seperguruan, maka tentu saja dasar ilmu silat juga sesumber dan kepandaian para keturunan ini pun seimbang. Justeru karena keseimbangan ilmu inilah yang membuat pembunuhan tiada habisnya. Tahun ini pihak yang satu kalah, tahun kemudian pihak yang lain kalah dan begitu seterusnya. Kaum lengan buntung yang hanya mempunyai sebuah lengan telah menciptakan ilmu gerak kaki kilat yang luar biasa. Di lain pihak, kaum kaki buntung, untuk mengimbangi karena kaki mereka hanya sebuah, telah menciptakan ilmu gerak tangan kilat. Ilmu silat tangan mereka yang diperpadukan dengan tongkat, benar-benar amat hebat.”

Siauw Bwee mengangguk-angguk. “Memang hebat gerakan tangan mereka, cepat dan aneh.”

“Itulah sebabnya, tiga tahun yang lalu aku memenuhi permintaan adik iparku, The Bian Le ketua kaum lengan buntung untuk menyelundup ke sini dan mempelajari rahasia gerak tangan kilat pihak musuh. Akan tetapi aku kepergok dan dalam perkelahian mati-matian aku roboh dan dihajar habis-habisan, disangka mati lalu ditaruh di ruangan jenazah ini.”

“Tiga tahun?” Siauw Bwee bergidik.

“Ya, tiga tahun kurang lebih.”

“Akan tetapi engkau telah berhasil kulihat tadi. Engkau telah mempelajari ilmu silat gerak tangan kilat mereka!”

Cia Cen Thok memandang kagum. “Engkau awas sekali, Nona. Akan tetapi, biar pun aku percaya bahwa engkau tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, dan aku pun telah mulai dapat mempelajari rahasia gerak tangan kilat mereka, aku masih sangsi apakah kita berdua akan dapat keluar dari tempat ini dengan selamat. Jumlah mereka banyak, dan di samping Liong Ki Bok yang lihai juga mereka mempunyai jago-jago berkepandaian tinggi, yaitu beberapa orang murid kepala yang kepandaiannya sudah hampir setingkat dengan kepandaian Si Ketua sendiri.”

“Berapakah jumlah mereka?”

“Kalau tidak salah, ada tiga puluh enam orang. Sedangkan pihak kaum lengan satu berjumlah tiga puluh orang.”

“Aku tidak takut! Aku tentu akan dapat membebaskan orang kasar Hui-eng Liem Hok Sun itu.”

“Apamukah dia itu, Nona?”

 

“Hemm… bukan apa-apa. Kenal pun tidak. Akan tetapi aku melihat sifat baik di balik sikapnya yang kasar, juga dia murid Gobi-san yang ilmunya lumayan. Aku percaya bahwa dia pun tentu akan menolong orang yang menjadi tawanan di sini.”

“Aahhh, hatimu terlalu baik, Nona. Aku sendiri tidak percaya bahwa dia itu akan suka mempertaruhkan nyawa untuk menolong orang yang belum dikenalnya seperti yang telah kau lakukan ini.”

Tiba-tiba terdengar gerengan keras, gerengan beruang yang menjaga di luar pintu, disusul suara gedebukan dan tak lama kemudian pintu itu terbuka dari luar dan muncullah orang yang mereka bicarakan, yaitu Hok Sun sendiri yang memegang sebatang pedang di tangannya. Melihat Siauw Bwee, dia segera menyerahkan pedangnya sambil berkata,

“Nona, kau pergunakan pedang ini. Mari kita menerjang ke luar. Kesempatan baik sekali selagi ketuanya dan pembantu-pembantunya tidak berada di dalam!” Tiba-tiba ia menoleh, melihat Cia Cen Thok dan meloncat ke belakang seperti diserang ular. “Dia… eh, dia… siapa ini…?”

“Dia seorang sahabat senasib. Apakah engkau datang sengaja hendak menolongku? Bagaimana kau bisa bebas?”

Liem Hok Sun hilang kagetnya dan ia tertawa, “Aku akali Si Buntung Kaki itu! Ha-ha! Aku pura-pura lemah, ketika mereka memberi makan, aku memberontak dan berhasil merobohkan Si Pengantar Makanan, kemudian aku lari dan mendapatkan pedang ini di jalan. Dari percakapan mereka aku mendengar bahwa mereka telah membunuh seorang dara muda. Aku penasaran, ingin melihat sendiri ke sini dan kiranya engkaulah orang yang mereka bunuh itu, dan masih hidup. Syukurlah. Mari kita cepat menerjang ke luar sebelum terlambat!”

Siauw Bwee tersenyum dan memandang kepada Cia Cen Thok dengan penuh arti. Kakek bekas mayat hidup itu mengangguk-angguk mengerti. “Saudara Liem Hok Sun, engkau seorang gagah sejati!”

“Eh, kau mengenal aku?”

“Aku yang memberitahukan namamu kepadanya,” kata Siauw Bwee.

“Engkau? Engkau Nona penunggang kuda itu. Aku belum pernah memperkenalkan diri…, ohhh, sekarang aku ingat! Aku pernah mengakui namaku ketika kau kusangka pemasang jerat. Hayo, lekaslah kita keluar. Eh, sahabat aneh, apakah engkau pun akan lari ke luar?”

Cia Cen Thok mengangguk. “Keluarlah kalian lebih dulu, aku menyusul belakangan.”

Siauw Bwee dan Liem Hok Sun berlari keluar dan Siauw Bwee melihat beruang itu sudah menggeletak dengan kepala pecah, tentu kena pukulan tangan Si Garuda Terbang. Dia merasa kasihan karena menganggap beruang itu bukan binatang jahat, akan tetapi dalam keadaan seperti itu dia diam saja dan terus berlari ke luar didahului Liem Hok Sun sebagai pembuka jalan.

Ketika mereka sudah tiba di ruangan paling depan, dari kanan kiri meloncat ke luar empat orang berkaki buntung dan mereka ini menyerang Hok Sun dan Siauw Bwee tanpa banyak tanya lagi.

Siauw Bwee menggerakkan kakinya menangkis dan tangan kirinya memukul dengan dorongan penuh tenaga sinkang. Dua orang di antara mereka berteriak dan roboh terjengkang, berusaha merayap bangun kembali. Hok Sun melawan dengan kedua tangan kosong. Ia berhasil menangkap tongkat seorang penyerang, membetot dan mematahkan tongkat itu, kemudian kakinya menendang. Lawannya menangkis dan orang kedua sudah menotokkan tongkatnya ke arah lambung Hok Sun.

“Trakk!” Tongkat itu patah ketika tertangkis pedang Siauw Bwee yang sudah cepat membantu. Kemudian pukulan tangan Hok Sun merobohkan orang yang tongkatnya patah itu.

“Wah, kepandaianmu hebat sekali, Nona!” Ia memuji, kagum dan juga kaget karena tidak menyangka bahwa nona yang disangkanya hanya berkepandaian silat biasa itu ternyata telah merobohkan dua orang pengeroyok dengan cepat, bahkan telah menolongnya!

“Hayo cepat keluar!” Siauw Bwee berkata.

Kini dialah yang mendahului lari ke depan karena ia tahu bahwa kalau mereka berdua dikeroyok di sebelah dalam, keadaan mereka berbahaya sekali. Dengan gerakan ringan dan indah tubuh Siauw Bwee melayang naik dan menerobos ke luar dari lubang kecil yang merupakan ‘pintu kamar’ bangunan setengah bundar di atas tanah itu. Kembali Hok Sun memuji. Gerakan nona itu benar amat ringan dan tahulah dia bahwa nona itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampaui tingkatnya sendiri.

Begitu Siauw Bwee dan Hok Sun tiba di luar, mereka segera dikepung oleh para anak buah kaum kaki buntung yang sudah berjaga di luar dan yang mengejar dari dalam. Tetapi seperti yang diceritakan oleh Cia Cen Thok, biar pun Siauw Bwee dapat menangkan mereka dalam hal sinkang, ginkang, mau pun ilmu silat, namun gerakan tangan mereka benar-benar amat lihai, cepat bagaikan kilat dan tidak tersangka-sangka.

Untuk dapat mengatasi lawan yang seperti ini memang jalan satu-satunya hanya mempelajari dan membuka rahasia ilmu tangan kilat mereka itu. Siauw Bwee tidak ingin melakukan pembunuhan, maka gerakan pedangnya hanya untuk menghalau tongkat-tongkat mereka yang lihai, dan ia hanya berusaha merobohkan mereka dengan dorongan-dorongan tangan dengan tenaga sinkang. Karena inilah maka dia segera dikurung dan didesak hebat.

Ada pun Hok Sun keadaannya lebih terdesak lagi. Beberapa kali terdengar suara bak-bik-buk dan tubuhnya sudah terkena hantaman-hantaman tongkat pada bahu, pinggul dan pahanya. Untung bahwa Si Garuda Terbang ini memiliki tubuh yang kebal sehingga hantaman-hantaman itu tidak sampai meremukkan tulang dan tertahan oleh daging dan urat-uratnya yang kokoh kuat, sungguh pun cukup mendatangkan rasa nyeri membuatnya berkaok-kaok kesakitan.

Untung bagi mereka bahwa pada saat itu, benar seperti keterangan Hok Sun, tidak tampak murid-murid lain yang dianggap sebagai tokoh-tokoh kelas satu. Kalau mereka itu ikut mengeroyok, tak tahulah bagaimana jadinya dengan nasib mereka berdua.

“Saudara Liem, cepat ke sini! Kita melawan dengan saling melindungi!” teriak Siauw Bwee sambil berputaran dan mendekati Si Pemuda Kasar yang sudah berteriak-teriak kesakitan.

Hok Sun bukan seorang bodoh. Dia mengerti apa yang dimaksudkan dara perkasa itu, maka dia pun lalu meloncat dan di lain saat dia telah melakukan perlawanan dengan beradu punggung bersama Siauw Bwee. Dengan cara ini mereka berdua tidak dapat dikurung lagi dan hanya menghadapi lawan dari depan.

“Awas…!” Siauw Bwee berbisik, “aku akan melontarkanmu ke kiri melalui kepala mereka. Engkau harus cepat melarikan diri, biar aku yang menahan mereka…!”

“Ahhh, mana bisa…?” Hok Sun menjawab dengan bantahannya, dan tidak seperti Siauw Bwee yang berbisik, pemuda itu bicara nyaring, “Aku bukan seorang pengecut yang ingin selamat sendiri dan meninggalkan kau sendirian dikepung oleh para….”

Siauw Bwee menjadi gemas dan sambil menangkis tusukan tongkat seorang lawan wanita, ia sengaja menggerakkan pinggul.

“Auhhh…! Apakah pinggulmu dari baja, Nona?” Hok Sun berteriak kesakitan ketika pinggulnya dihantam dari belakang. Ia menggosok-gosok pinggulnya sehingga tidak sempat menghindar ketika ada tongkat memukul kepalanya dari atas. Untung Siauw Bwee melihat atau lebih tepat mendengar gerakan itu, maka ia cepat mendorongkan tangan kirinya ke belakang.

“Aihhh…!” Hok Sun terhuyung, akan tetapi hantaman tongkat itu luput. “Bagaimana sih engkau ini, Nona? Kawan ataukah lawan?”

“Bodoh!” Siauw Bwee berbisik gemas. “Kalau engkau sudah bebas, bagiku apa sih sukarnya melarikan diri? Awas, akan kulontarkan kau. Lekas lari!” Tiba-tiba Hok Sun merasa tubuhnya terbang ke atas ketika Siauw Bwee mencengkeram punggung bajunya dan mendorong dengan tenaga yang hebat bukan main.

Tubuh Hok Sun terlempar melalui atas kepala para pengeroyoknya dan ia terus melompat jauh untuk melarikan diri. Diam-diam ia makin kagum bukan main terhadap Siauw Bwee.

Setelah Si Dogol itu terbebas, Siauw Bwee bernapas lega, memutar pedangnya bagaikan kitiran cepatnya sehingga lenyaplah tubuh dara perkasa ini, yang tampak hanya gulungan sinar pedangnya. Dari dalam gulungan sinar pedang yang menangkis datangnya semua serangan tongkat itu, menyambar keluar tenaga dahsyat dari telapak tangan kirinya yang mengirim dorongan-dorongan. Para pengeroyoknya banyak yang terjengkang, akan tetapi segera meloncat bangun lagi dan mengeroyok makin nekat. Ketika Siauw Bwee memandang ke arah larinya Hok Sun, ia melihat pemuda itu kembali sudah dikepung enam orang kaki buntung! Siauw Bwee gemas sekali.

Tentu Si Dogol itu masih tetap keras kepala dan tidak rela lari meninggalkannya. Kalau begitu terus, Hok Sun bisa celaka, padahal kini jaraknya sudah jauh sehingga tak mungkin lagi dia dapat menolong jika Hok Sun terancam bahaya seperti tadi. Akan tetapi tiba-tiba enam orang pengeroyok Hok Sun itu cerai-berai ketika sesosok bayangan berkelebat dan Cia Cen Thok sudah membantu Hok Sun. Melihat laki-laki bercawat ini, terdengar teriakan-teriakan kaget dan para pengeroyok mereka berdiri terbelalak seperti arca dengan muka pucat.

Siauw Bwee tersenyum geli dan hatinya lega melihat Hok Sun dan Cia Cen Thok sudah berhasil melarikan diri, menggunakan kesempatan selagi para pengeroyok mereka terkejut dan diam tak bergerak. Tentu saja anak buah kaki buntung itu kaget setengah mati melihat dan mengenal orang yang telah tiga tahun menjadi mayat di kamar mayat, kini tahu-tahu telah hidup lagi dan mengamuk!

Ketika melihat Siauw Bwee, mereka tidak begitu kaget dan heran karena mereka segera mengerti bahwa dara perkasa itu sebetulnya belum mati ketika tadi dimasukkan ke kamar jenazah. Akan tetapi berbeda lagi dengan Cia Cen Thok yang sudah tiga tahun menjadi mayat, dan dahulu mereka ikut pula mengeroyok dan membunuh orang ini. Dan pakaian Cia Cen Thok yang hanya berupa cawat itu menambah keseraman.

Setelah melihat dua orang itu jauh dan lenyap bayangannya, Siauw Bwee tertawa nyaring. Pedangnya dilempar ke atas tanah dan tubuhnya mencelat ke atas, berjungkir balik beberapa kali. Selagi semua orang berdongak dan mengikuti gerakan luar biasa itu, tubuh Siauw Bwee telah lari jauh dan dia menyusul ke arah larinya Hok Sun dan Cia Cen Thok. Orang-orang berkaki buntung mengejar cepat, namun mereka itu bukanlah tandingan Siauw Bwee dalam hal ilmu berlari cepat sehingga sebentar saja tubuh dan bayangan Siauw Bwee telah lenyap dari pandang mata mereka.

Tak lama kemudian Siauw Bwee telah dapat mengejar Hok Sun dan Cen Thok. Dia heran melihat dua orang itu berhenti dan kelihatan bingung. “Kenapa kalian berhenti di sini?” Siauw Bwee menegur.

“Wah, celaka, Lihiap!” Kini Hok Sun yang amat kagum akan kelihaian Siauw Bwee tidak segan-segan menyebut lihiap (pendekar wanita), “Semua jalan ke luar sudah dihadang setan-setan buntung itu!”

Siauw Bwee memandang kepada Cen Thok dan bekas mayat hidup ini mengangguk.

“Memang benar, Lihiap. Jalan menuju ke tempat tinggal kaum lengan buntung sudah dihadang semua dan penuh perangkap dan jerat yang dipasang mereka. Satu-satunya jalan hanya melalui rawa, daerah yang dianggap berbahaya dan tidak pernah ada yang berani melalui tempat itu. Aku sendiri sama sekali tidak mengenal daerah itu, Lihiap.” Ucapan terakhir ini seolah-olah minta keputusan dan nasehat Siauw Bwee yang biar pun paling muda namun mereka anggap sebagai orang yang lebih tinggi kedudukan dan tingkatnya dari pada mereka.

“Kalau begitu, kita melalui rawa!” kata Siauw Bwee dengan suara tetap, ”Bagaimana pun juga kita harus dapat keluar dari daerah berbahaya ini!”

“Baik, kalau begitu marilah ikut bersamaku!” Cen Thok berkata dan mendahului lari. Hok Sun dan Siauw Bwee juga meloncat dan lari mengikuti orang bercawat itu. Tak lama kemudian mereka tibalah di daerah yang penuh rawa, daerah luas dan mati.

“Ke mana jalannya?” tanya Siauw Bwee, agak ngeri juga menyaksikan daerah luas dan mati, rawa yang seolah-olah tanpa tepi sehingga amat mengerikan keadaannya.

“Aku sendiri pun tidak tahu, Lihiap. Kita harus mencari jalan, akan tetapi hati-hatilah. Rawa ini kabarnya berbahaya sekali, banyak terdapat bagian-bagian yang pada permukaannya kelihatan rumput dan tanah, akan tetapi di bawahnya adalah lumpur yang menyedot dan ada kalanya air amat dalam.”

Siauw Bwee yang mengandalkan ginkang-nya segera mengambil keputusan, “Biarlah aku mencari jalan. Dengan keringanan tubuh, kiranya aku tidak akan terancam bahaya.”

Tanpa menanti jawaban ia lalu mulai menyeberangi rawa, memilih bagian yang cukup tebal dan kuat. Kalau kakinya salah injak bagian yang tipis, sebelum ia terjeblos ia sudah dapat meloncat lagi. Melihat ini, dua orang itu selain merasa kagum juga ngeri karena kalau kurang tinggi ilmu ginkang-nya, tentu sekali terjeblos akan berarti bahaya maut!

Matahari telah condong ke barat dan mereka masih belum menemukan jalan ke luar dari daerah itu karena jalan penyeberangan rawa yang mereka tempuh membelak-belok harus memilih bagian yang aman.

Tiba-tiba Hok Sun berteriak, “Aihh, apa itu…?”

Dua orang temannya menengok dan berdongak memandang ke atas, arah yang ditunjuk oleh Hok Sun. Tampak awan hitam memenuhi udara, akan tetapi jelas bukan awan yang bergerak terbawa angin karena gerakan awan itu cepat sekali.

“Burung-burung…!” Siauw Bwee berseru ngeri karena belum pernah ia melihat burung-burung terbang berkelompok sebanyak itu sehingga merupakan awan hitam yang bergerak cepat.

“Eh, dia ke sini…!” Cen Thok berseru kaget.

“Mereka meluncur turun…!” Hok Sun berteriak pula.

Benar saja. Sekumpulan burung itu seolah-olah menerima pertanda rahasia dan mereka kini meluncur turun ke arah tiga orang ini dan segera mereka diserang oleh ratusan ekor burung elang!

Tiga orang ini menjadi repot sekali menghadapi penyerangan ribuan ekor burung di tengah rawa yang amat berbahaya itu. Hok Sun menggerak-gerakkan kedua tangannya menangkis dan menghantam burung-burung yang menyerangnya. Juga Cen Thok sibuk membela diri dan membunuhi burung-burung yang tak terhitung banyaknya. Namun mereka ini kewalahan, bingung dan panik, apa lagi setelah kulit-kulit tangan mereka mulai berdarah oleh patukan-patukan burung yang kuat itu. Mereka bertanding melawan keroyokan burung-burung sambil berteriak-teriak.

Tak lama kemudian Siauw Bwee terpisah dari mereka. Dara perkasa ini pun repot menghadapi pengeroyokan binatang-binatang yang kelihatannya marah, haus darah dan buas itu. Sampokan-sampokan kedua tangan dara ini sekaligus membunuhi banyak burung, akan tetapi binatang-binatang itu sungguh ganas. Mati lima datang sepuluh, mati sepuluh datang dua puluh.

Kepanikan menyerang hati Siauw Bwee. Dia merasa jijik dan ngeri sekali karena para pengeroyoknya ini seperti bukan burung-burung biasa, begitu nekat dan agaknya mereka kelaparan semua. Bajunya mulai robek-robek, bahkan pundak dan kedua lengannya mulai berdarah. Serangan datangnya seperti hujan, sukar untuk dihindarkan semua. Dia tidak lagi dapat memperhatikan dua orang temannya dan teriakan-teriakan mereka sudah tidak terdengar lagi karena mereka saling berpisah makin jauh setelah Siauw Bwee mulai berloncatan untuk menghindarkan burung-burung itu.

Dia menggunakan ginkang-nya, meloncat tinggi dan jauh dengan maksud melarikan diri. Akan tetapi burung-burung itu tetap mengejarnya. Sampai jauh Siauw Bwee melawan sambil berloncatan menjauhi dan kemarahannya timbul sehingga ketika dia menggerakkan kedua tangan, makin banyaklah burung-burung itu menjadi bangkai, memenuhi rawa.

Entah berapa jam lamanya Siauw Bwee bertanding melawan burung-burung itu, akan tetapi kini matahari sudah makin doyong ke barat dan sinarnya mulai menyuram. Entah berapa ratus ekor burung telah dibunuhnya. Kepalanya menjadi pening oleh suara burung yang menjerit-jerit sambil menyerang, pandang matanya berkunang oleh bayangan burung-burung yang tiada hentinya menyambar di depan mukanya. Dia mulai lelah, kepalanya pening dan patukan burung mulai banyak mengenai kulit lengannya. Celaka, pikirnya, tidak pernah mengira bahwa dia akan tewas oleh pengeroyokan burung-burung. Betapa memalukan dan menyedihkan. Tewas oleh pengeroyokan burung-burung!

Tiba-tiba di antara suara mencicitnya burung yang memekakkan telinga, terdengar suara manusia! Lirih saja, akan tetapi amatlah jelas seolah-olah ada yang berbisik di dekat telinganya.

“Sungguh keberanian dan kenekatan yang bodoh! Masa manusia kalah cerdik oleh burung? Kalau berlindung ke air bersembunyi di balik alang-alang, bukankah lebih mudah dari pada melawan dengan nekat?”

Siauw Bwee terkejut. Tidak, dia bukan sedang mimpi, juga tidak mendengar suara setan rawa! Dia mendengar suara manusia, seorang manusia yang berilmu tinggi dan yang menolongnya dengan nasehat itu. Suara itu adalah suara yang dikirim dari tempat jauh menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit yang hanya dapat dilakukan dengan pengerahan khikang yang amat kuat! Suheng-nya dapat melakukan hal itu, dan dia pun kalau mau melatih diri, menggabungkan sinkang dengan khikang, tentu akan dapat melakukannya pula.

Suheng-nya! Jantung Siauw Bwee berdebar. Suheng-nyakah orang itu? Ah, tidak mungkin. Suheng-nya selalu bicara dengan halus dan ramah kepadanya, sedangkan suara orang itu sama sekali tidak halus dan ramah, bahkan setengah memakinya bodoh dan kalah cerdik oleh burung! Siapa pun adanya orang itu, jelas bahwa nasehatnya patut diperhatikan.

Maka ia lalu mencari bagian rawa yang penuh alang-alang dan yang airnya agak dalam. Setelah menggerakkan kedua tangannya membunuh burung-burung yang menyerangnya, ia lalu menjatuhkan diri ke dalam air rawa, menyembunyikan tubuhnya ke dalam air di bawah alang-alang sampai ke atas mulut. Hidungnya mencium bau busuk alang-alang yang membusuk, membuatnya muak, akan tetapi ia tahankan. Benar saja, burung-burung itu hanya beterbangan di atas alang-alang, tidak ada lagi yang menyerangnya.

Siauw Bwee merasa lega dan berterima kasih. Akan tetapi burung-burung itu tetap saja beterbangan di atas alang-alang, agaknya menunggu sampai dia muncul kembali dan siap menyerang. Burung sialan, ia memaki. Merendam diri di dalam air lumpur kotor itu sungguh bukan hal yang menyenangkan, apa lagi baunya amat tidak enak dan tubuhnya mulai merasa gatal-gatal.

Dua jam kemudian, setelah matahari makin turun ke barat dan sinarnya sudah hampir tidak ada tenaganya lagi, setelah Siauw Bwee hampir tidak kuat bertahan dan ingin mengamuk lagi, tiba-tiba burung-burung itu terbang pergi meninggalkan Siauw Bwee dan meninggalkan rawa yang banyak bangkai burungnya. Siauw Bwee meloncat dan keluar dari dalam air. Tiba-tiba ia menjerit-jerit dan tubuhnya mengkirik, menggigil dengan jijik dan geli ketika ia melihat bahwa puluhan ekor lintah telah menempel di tubuhnya dan menggigit, menghisap darahnya tanpa ia rasakan tadi!

Dengan bulu tengkuk berdiri dan mengkirik ia sibuk mencabuti dan meremas serta membanting lintah-lintah itu sehingga darah binatang-binatang itu berceceran ke mana-mana. Bukan darah binatang-binatang itu melainkan darahnya yang telah dihisap mereka! Siauw Bwee sampai hampir menelanjangi tubuhnya sendiri karena lintah-lintah itu ada yang menyelinap memasuki baju dan celananya, menggigit dan menghisap darah tanpa memilih tempat.

“Setan! Bedebah! Kurang ajar!” Siauw Bwee memaki-maki dan membunuhi lintah-lintah itu, dan setelah memeriksa semua tubuh dan pakaiannya, barulah ia memakai kembali pakaiannya. Sementara itu,

matahari telah tenggelam. Ketika Siauw Bwee memandang ke sekeliling, dia tidak melihat lagi adanya dua orang temannya tadi, juga tidak dapat menduga ke mana larinya mereka yang tadi ketakutan dikeroyok burung.

Siauw Bwee mulai melangkah lagi melanjutkan usahanya keluar dari tempat itu. Dia tidak lagi dapat mencari kedua orang temannya, maka dia pun kini harus mengingat keadaannya sendiri. Dia harus dapat keluar dari daerah rawa yang amat luas ini. Dia mulai mencari-cari, akan tetapi tetap saja tidak dapat keluar, bahkan beberapa kali ia lewat lagi di tempat di mana dia dikeroyok burung karena di situ terdapat banyak bangkai burung berserakan di atas rawa!

“Tempat celaka! Neraka dunia!” Ia mengomel karena kini malam sudah mulai tiba, cuaca mulai gelap.

Tiba-tiba terdengar suara air berkecipakan. Dia memandang ke depan dan bukan main kagetnya ketika melihat serombongan ular berenang menyeberangi rawa menuju ke arah dia berdiri! Ular-ular yang besar kecil beraneka warna, ada yang putih, hijau, coklat, hitam dan merah! Kembali bulu tengkuk Siauw Bwee berdiri. Teringatlah ia akan ular-ular merah di bawah Istana Pulau Es. Tak jauh dari tempat ia berdiri terdapat sebatang pohon yang sudah tumbang tengahnya, tinggal merupakan tonggak, akan tetapi tingginya masih ada dua meter.

Cepat Siauw Bwee mengayun tubuh meloncat ke atas tonggak itu, berdiri tegak dan memandang ke bawah. Betapa ngeri hatinya ketika ia melihat ular-ular itu mulai berebut, memperebutkan bangkai-bangkai burung. Bangkai-bangkai burung yang terapung di atas air itu mereka serang, moncong-moncong ular dibuka lebar dan bangkai-bangkai dicaploki dan ditelan berikut bulu-bulunya sehingga tak lama kemudian beratus buah bangkai burung itu telah habis, pindah ke dalam perut ular-ular yang kini menggembung.

Pemandangan ini amat mengerikan hati Siauw Bwee sehingga tonggak yang ia injak bergoyang-goyang, tanda bahwa kakinya menggigil terbawa oleh hati yang ngeri. Baiknya dara perkasa ini sudah memiliki ginkang yang luar biasa, kalau tidak, ada bahayanya ia terguling jatuh dan dikeroyok ular saking ngerinya.

Malam telah tiba dan keadaan gelap sekali. Selagi Siauw Bwee kebingungan karena tidak mungkin kini ia berdiri terus semalam suntuk di atas tonggak, juga tidak mungkin dia meloncat turun tanpa mengetahui lebih dulu apakah ular-ular itu tidak berada di situ, tiba-tiba tampak olehnya sinar terang dari jauh.

Dari atas tonggak itu ia dapat menduga bahwa sinar itu adalah obor-obor yang dipegang orang. Karena rawa itu luas dan sinar obor-obor yang bersatu itu cukup terang, maka sebagian sinarnya dapat mencapai tempat Siauw Bwee. Giranglah hati Siauw Bwee ketika melihat bahwa ular-ular yang sudah kekenyangan itu kini merayap pergi, agaknya takut akan sinar obor.

Dengan bantuan sinar yang datang dari obor-obor itu, Siauw Bwee dapat meloncat turun ke tempat yang tidak ada ularnya, kemudian mulailah ia berlari dengan hati-hati menuju ke arah orang-orang yang membawa obor. Tadinya ia mengira bahwa kedua orang temannya yang membawa obor itu, akan tetapi kini tampak olehnya bahwa yang membawa obor adalah tiga orang, jadi jelas bukan dua orang temannya itu. Tiga orang itu membawa enam buah obor, masing-masing dua buah yang disatukan di satu tangan.

Apakah orang-orang berkaki buntung yang masih berusaha mengejar dan mencarinya? Siauw Bwee menggigit bibirnya dengan gemas. Aku telah menderita karena mereka, pikirnya. Dikeroyok burung, hampir dikeroyok ular dan benar-benar telah dikeroyok lintah! Dan merendam tubuhnya di air kotor berbau! Kalau dia bukan bekas penghuni Pulau Es, tentu sekarang telah menderita kedinginan luar biasa pula! Biarlah, mereka hanya bertiga, mungkin pimpinan mereka dan sekali ini aku akan membikin mereka tahu rasa!

Dengan hati gemas dan marah Siauw Bwee mempercepat larinya, berloncatan menghampiri tiga orang yang membawa obor itu dan setelah dekat ia tercengang karena tiga orang itu tidak memakai tongkat dan kini tampak jelaslah bahwa mereka bukan tiga orang berkaki buntung, melainkan tiga orang berlengan buntung sebelah! Kiranya mereka itu adalah tiga orang dari kaum lengan buntung!

Hati Siauw Bwee tertarik sekali dan juga girang. Sekarang ia mendapat kesempatan untuk keluar dari daerah rawa yang berbahaya itu! Diam-diam ia membayangi mereka dan benarlah dugaannya, tiga orang berlengan kiri buntung itu membawanya keluar dari daerah rawa dan memasuki sebuah hutan yang tandus.

 

Karena keadaan gelap dan penerangan obor itu tidaklah cukup menerangi daerah sekitarnya, maka Siauw Bwee tidak tahu jalan apa yang mereka tempuh sehingga dapat keluar dari daerah rawa, akan tetapi ternyata untuk keluar dari daerah rawa itu mereka telah menghabiskan waktu semalam suntuk!

Mereka telah memadamkan obor dan membuangnya karena malam telah terganti pagi ketika tiga orang itu berjalan cepat sekali menuju ke sebuah pondok bambu yang berdiri di tengah hutan tandus. Gerak kaki mereka ketika berlari itu cepat bukan main dan diam-diam Siauw Bwee kagum sekali. Gerakan orang-orang berlengan kiri buntung itu ternyata amat hebat dan dalam hal berlari cepat, jelas bahwa orang-orang berkaki buntung bukanlah lawan mereka ini! Dia sendiri harus mengerahkan ginkang-nya dan berlari cepat-cepat untuk dapat membayangi mereka agar tidak tertinggal.

Ketika tiga orang itu menghampiri pondok, Siauw Bwee menyelinap dan bersembunyi sambil mengintai. Pakaiannya sudah kering kembali, akan tetapi robek-robek di bagian lutut, paha, betis dan lengan kanan kiri. Burung-burung sialan, ia memaki. Bekal pakaiannya masih tertinggal di atas punggung kuda hitamnya yang sekarang entah bagaimana nasibnya.

Siauw Bwee memandang heran ketika melihat seorang laki-laki tua renta dan bertubuh kurus kering duduk di atas bangku bambu depan pondok itu. Laki-laki itu keadaannya amat menyedihkan. Kedua kakinya buntung sebatas paha, lengan kirinya juga buntung seperti tiga orang pendatang itu dan yang tinggal hanyalah lengan kanannya yang kurus dan yang memegang sebatang tongkat seperti milik para anggota kaum kaki buntung. Siauw Bwee memandang heran dan menduga. Termasuk golongan manakah kakek itu?

Lengan kirinya buntung seperti tiga orang pendatang itu, akan tetapi belum tentu dia merupakan anggota kaum lengan buntung karena kakinya juga buntung, tidak hanya kaki kanan, bahkan kedua-duanya! Dan kakek itu duduk tanpa kaki seperti orang sedang bersila. Tangan kanannya memegang tongkat yang melintang di depannya, lengan baju kiri tergantung lepas tanpa isi, kedua matanya terpejam seolah-olah dia tidak tahu akan kedatangan tiga orang itu.

Siauw Bwee mengalihkan pandangnya. Di antara tiga orang lengan buntung ini tidak seorang pun pernah dilihatnya di antara mereka yang dulu pernah dilihatnya ketika lima orang lengan buntung membawa tawanan seorang kaki buntung. Yang seorang adalah seorang nenek yang mukanya masam dan kelihatan galak. Yang kedua adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, lebih muda dari pada Si Nenek, sikapnya gagah dan agaknya dia yang memimpin rombongan tiga orang itu. Orang ke tiga adalah seorang laki-laki bermuka tampan akan tetapi membayangkan kesombongan. Ketiganya kini berdiri di depan kakek tua renta itu, kemudian terdengarlah laki-laki tinggi tegap yang memimpin rombongan itu berkata,

“Twa-supek, kami diperintah oleh Suhu untuk memperingatkan Supek yang terakhir kalinya agar supek suka memberitahukan rahasia gerak tangan kilat kaum kaki buntung!” Biar pun laki-laki itu menyebut twa-supek (uwa guru tertua), namun nada suaranya amat tidak menghormat, bahkan mengandung ancaman dan kekerasan.

Kakek itu membuka matanya dan terkejutlah Siauw Bwee menyaksikan betapa sinar mata kakek tua renta itu mengandung penderitaan seperti mata orang yang sakit berat! Kemudian terdengar kakek itu berkata lirih, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak sudi mencampuri permusuhan terkutuk itu! Pergilah kalian!”

“Twa-supek! Kalau begitu benar keterangan para penyelidik bahwa supek menerima kedatangan orang-orang berkaki buntung, tentu supek telah membuka rahasia ilmu kami!”

“Benar, mereka datang pula ke sini membujuk, akan tetapi aku tidak sudi pula membantu mereka. Seperti juga kaum lengan buntung, kaum kaki buntung adalah anak muridku pula. Betapa aku sudi membantu mereka yang saling bermusuhan sendiri?”

“Twa-supek! Kiranya sampai sekarang, setelah menerima kutukan dari roh para nenek moyang, Twa-supek masih saja mengkhianati sumpah…”

“Sudahlah, tutup mulutmu!” Kakek itu membentak.

 

Orang itu melotot marah. “Orang tua, biar pun engkau terhitung supek sendiri, akan tetapi engkau telah hampir mati, hanya mempunyai sebuah lengan saja. Kalau kami turun tangan, apakah kau sanggup melawan kami?”

Kakek itu menundukkan kepalanya. “Hanya kesesatan itu yang belum kalian lakukan, kalau kalian hendak membunuhku, silakan!”

Siauw Bwee terkejut ketika mendengar suara kakek itu. Teringatlah ia akan suara yang dikirim dengan ilmu Coan-im-jip-bit dan yang telah menolongnya dari serangan burung-burung liar. Kini mendengar ancaman laki-laki lengan buntung, Siauw Bwee tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia menggenjotkan kakinya dan tubuhnya melayang cepat sekali, tahu-tahu telah berdiri di depan laki-laki tinggi tegap yang menyerang kakek itu dengan kata-kata keras tadi.

“Engkau manusia yang tak tahu aturan!” Siauw Bwee tidak memberi kesempatan kepada tiga orang itu untuk pulih kembali dari rasa kaget mereka melihat munculnya seorang dara yang gerakannya seperti burung walet. “Tidak menghormati supek sendiri, dan tidak menghiraukan alasan-alasan yang begitu bijaksana, melainkan bersikap seperti tiga ekor kerbau gila yang hanya bertindak karena dorongan nafsu bermusuhan dan haus darah! Kalian hendak membunuh Locianpwe ini? Hi-hik, bicara sih mudah! Baru melawan aku saja kalian sudah takkan bisa menang, apa lagi melawan Locianpwe ini!”

Tiba-tiba muncul seorang dara jelita yang masih remaja dan datang-datang memaki-makinya membuat laki-laki tinggi tegap bertangan satu itu tercengang dan sejenak tak dapat berkata-kata. Akan tetapi kemudian timbul kemarahannya. Dia tadi hanya mengancam saja dan sama sekali bukan bermaksud menyerang, apa lagi membunuh kakek itu. Karena ancamannya itu kini disaksikan orang luar, tentu saja hal ini amat memalukan dan merendahkan dirinya, maka dia amat marah.

“Bocah siluman dari mana berani mencampuri urusan kami?!” bentaknya.

“Bocah dari mana tak perlu kau tahu. Pendeknya, lekas kau mentaati petintah Locianpwe ini untuk segera angkat kaki dari tempat ini, kalau tidak, jangan sesalkan aku menggunakan kekerasan mengusir kalian bertiga!”

Ucapan ini tekebur sekali dan tentu saja murid kepala kaum lengan buntung itu saking marahnya sampai memandang dengan mata mendelik. “Bocah kurang ajar! Engkau ada hubungan apakah dengan kakek itu?”

“Bukan sanak bukan teman, akan tetapi aku akan melindunginya dari keganasan kalian!”

“Hemm, kulihat engkau masih amat muda, masih bocah. Ingat lebih baik jangan mencampuri urusan kaum lengan buntung kalau kau sayang nyawamu.”

“Tentu saja aku sayang nyawaku, akan tetapi aku siap membelanya dengan nyawaku karena aku yakin nyawaku tidak akan apa-apa kalau hanya melawan orang-orang kejam macam kalian!”

“Keparat!” Laki-laki itu tak dapat menahan kesabarannya lagi dan ia sudah menerjang dengan sambaran lengan baju kirinya ke arah muka Siauw Bwee dan tangan kanannya sudah cepat mengirim susulan dengan tonjokan ke arah leher! Gerakannya ini cepat sekali, namun terlalu lambat bagi Siauw Bwee yang sudah dapat mengelak dengan jalan menarik muka ke belakang, kemudian menggerakkan tangan kiri menangkis tangan kanan yang memukul.

“Plakk!” Tubuh laki-laki itu hampir terjengkang ke belakang sehingga ia mengeluarkan seruan kaget dan heran.

Siauw Bwee tidak peduli dan sudah menerjang maju dengan tamparan kedua tangannya susul-menyusul. Akan tetapi kini dara ini yang merasa kaget karena tubuh laki-laki itu dengan amat indah dan cepatnya sudah bergerak dan semua tamparannya luput! Kiranya laki-laki itu mempunyai gerak langkah yang amat luar biasa dan tiba-tiba saja kaki kiri laki-laki itu menyambar amat dahsyat dan cepatnya!

Siauw Bwee makin terkejut dan hanya dengan loncatan ke samping secara cepat ia dapat menghindar. Namun dengan langkah-langkah yang aneh dan berputar, laki-laki itu telah berada di belakangnya dan lengannya mencengkeram kepala, disusul tendangan lagi yang akan melontarkan tubuh seekor kerbau bunting saking kuatnya!

“Ayaaaa…!” Siauw Bwee berteriak dan tubuhnya mencelat ke atas tinggi sekali, kemudian dari atas, ketika tubuhnya meluncur turun, dia telah menggerakkan kedua tangannya melakukan gerakan mendorong.

Laki-laki itu kagum sekali menyaksikan ginkang yang begitu sempurna, akan tetapi ia juga girang karena kalau tubuh itu turun ia akan dapat menyambut dengan serangan dahsyat. Siapa kira, dari telapak kedua tangan dara itu menyambar hawa yang kuat dan ketika ia berusaha menangkis, hawa dingin yang luar biasa membuat tubuhnya menggigil dan dia terhuyung-huyung.

“Aihhh…!” Laki-laki itu berseru keras dan kini kedua orang saudara seperguruannya sudah menerjang maju mengeroyok Siauw Bwee.

“Bagus, majulah semua kalian orang-orang tak tahu malu!” Siauw Bwee mengejek, akan tetapi segera ia mendapat kenyataan bahwa dikeroyok tiga oleh orang-orang itu benar-benar merupakan lawan amat berat!

Tingkat sinkang dan ginkang mereka tidaklah seberapa hebat, akan tetapi dia dibikin bingung oleh gerak langkah mereka yang amat luar biasa itu. Teringatlah ia akan penuturan Cia Cen Thok bahwa kaum lengan buntung ini telah mencipta semacam ilmu silat yang disebut gerak kaki kilat. Siauw Bwee harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan kini dia terdesak terus. Sungguh pun dengan ilmu silatnya yang tinggi, sinkang-nya yang kuat dan ginkang-nya yang sempurna dia dapat selalu mengelak atau menangkis, namun dia tidak diberi kesempatan membalas sama sekali. Terkejutlah dara perkasa itu karena mendapat kenyataan bahwa kaum lengan buntung ini benar-benar memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki kaum kaki buntung dengan gerak tangan kilat mereka!

Tiba-tiba terdengar kelepak sayap yang riuh-rendah dan tiba-tiba udara di situ menjadi gelap tertutup bayangan dari atas. Tiga orang lengan buntung itu memandang ke atas dan seketika wajah mereka menjadi pucat sekali. Kini kelepak sayap itu ternyata bukanlah sayap melainkan suara cecowetan separti suara kera yang banyak sekali dan dari mulut tiga orang lengan buntung itu terdengar jerit ketakutan.

“Celaka…! Kelelawar siang!”

Siauw Bwee menjadi heran sekali melihat tiga orang itu menjatuhkan diri berlutut dan menutupi kepala mereka dengan tubuh menggigil ketakutan. Dia mendongak dan apa yang dilihatnya membuat ia hampir menjerit. Yang disebut kelelawar siang itu memang sesungguhnya kelelawar, akan tetapi banyaknya bukan main, sama banyaknya dengan burung-burung yang menyerangnya kemarin! Dan yang hebat, kelelawar-kelelawar itu agaknya berbeda dengan kelelawar biasa, tidak takut sinar matahari dan tubuh mereka hitam seperti arang! Biar pun merasa ngeri sekali, akan tetapi Siauw Bwee tidak mau bersikap penakut seperti tiga orang bekas lawan itu, maka ia masih berdiri tegak dan siap melakukan perlawanan.

“Nona, lekas berlutut serendah mungkin. Kelelawar-kelelawar itu tidak akan menyerang lebih tinggi dari satu meter di atas tanah, dan gigitannya seekor saja cukup membuat manusia menjadi gila!”

Mendengar suara lirih di dekat telinganya yang sama dengan suara ketika dia dikeroyok burung, Siauw Bwee terkejut. Pada saat itu beberapa ekor kelelawar sudah menyambar turun mengarah kepalanya! Menjadi gila kalau digigit? Dia makin ngeri dan tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut seperti yang dilakukan tiga orang lengan buntung, hanya dia tidak menutup kepalanya melainkan memandang ke atas penuh perhatian.

Tiba-tiba terdengar bunyi melengking tinggi dan nyaring. Siauw Bwee menoleh dan melihat bahwa suara itu keluar dari mulut Si Kakek Tua, suara yang dikeluarkan dengan pengerahan sinkang yang tinggi. Aneh sekali, ketika terdengar suara melengking tinggi penuh getaran ini, kelelawar-kelelawar itu menjadi kacau-balau terbangnya, menabrak sana sini dan kelihatan panik. Akan tetapi, sebelum suara itu cukup kuat untuk mengusir semua kelelawar, suara itu makin melemah dan Siauw Bwee melihat kakek itu terengah-engah kehabisan tenaga.

 

Siauw Bwee adalah seorang dara yang cerdik. Melihat ini, maklumlah bahwa cara mengeluarkan lengkingan itu adalah cara untuk mengusir binatang-binatang mengerikan itu dan bahwa pada saat itu Si Kakek yang lihai sedang menderita sakit, maka pengerahan sinkang yang kuat membuatnya kehabisan tenaga. Maka dia lalu mengerahkan sinkang dan keluarlah suara melengking tinggi dengan getaran kuat dari dalam dada Siauw Bwee.

Dia hampir menari kegirangan ketika melihat hasil tiruannya. Binatang-binatang itu menjadi makin panik dan kacau, beterbangan membubung setinggi mungkin, agaknya untuk menghindari getaran lengkingan maut itu dan tak lama kemudian mereka sudah terbang tinggi dan jauh, lenyap dari pandangan mata. Barulah Siauw Bwee menghentikan lengkingannya dan ia meloncat berdiri memandang tiga orang lengan buntung yang juga sudah berdiri dengan muka pucat.

“Mau dilanjutkan?” Siauw Bwee menantang berani.

“Kalian bertiga tidak lekas pergi? Melawan Nona ini berarti mencari mati sia-sia!” kata Si Kakek Tua.

Tiga orang itu sudah melihat bukti kelihaian Siauw Bwee. Selain merasa gentar, juga mereka tahu bahwa berkat pertolongan gadis itulah maka mereka lolos dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut, maka tanpa berkata-kata mereka lalu berlari pergi.

Siauw Bwee membalikkan tubuh memandang kakek tua itu. “Locianpwe, kau sedang menderita sakit.”

Kakek itu mengangguk, tersenyum dan lengan tunggalnya melambai. “Ke sinilah, anak baik. Siapa namamu?”

“Nama saya Khu Siauw Bwee, Locianpwe.”

“Ha-ha-ha, jangan menyebut locianpwe. Kepandaianmu lebih hebat dari pada sedikit ilmu yang kumiliki. Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang dara semuda engkau telah memiliki sinkang yang sedemikian hebat. Siapakah gurumu?”

Siauw Bwee sudah mendapat pesan suheng-nya bahwa mereka bertiga tidak boleh menyebut-nyebut nama Bu Kek Siansu, sesuai dengan pesan kakek manusia dewa itu. Maka dia menjawab menyimpang, “Guruku tidak boleh disebut namanya, aku hanya belajar dari suheng-ku yang bernama Kam Han Ki. Locianpwe jangan terlalu memuji dan membuatku menjadi bangga dan sombong.”

Kembali kakek itu tertawa. “Engkau benar-benar masih bocah. Eh, Nona yang baik, engkau selain lihai juga rendah hati, dan hatimu amat baik penuh budi dan welas asih. Engkau belum mengenal aku akan tetapi engkau berani mempertaruhkan nyawa untuk membelaku mati-matian.”

Siauw Bwee tertawa manis dan dia berkata, “Aihhh, Locianpwe membikin aku merasa malu saja. Aku tidaklah sebaik yang Locianpwe katakan. Tentu saja aku membela mati-matian kepada Locianpwe yang telah menolongku kemarin.”

Mata kakek itu terbelalak. “Menolongmu? Apa maksudmu, Nona?”

“Waah, Locianpwe pandai berpura-pura lagi. Siapakah yang kemarin menggunakan ilmu Coan-im-jip-bit menyelamatkan aku dari serangan burung-burung gila? Kalau tidak ada pertolongan Locianpwe, agaknya aku akan mati di tengah rawa!”

“Ah, engkaukah orangnya? Aku tidak mengenal siapa orangnya karena dari jauh. Aku kebetulan berjalan-jalan di dekat rawa dan melihat orang dikeroyok burung elang. Kiranya engkaukah orangnya?”

Hati Siauw Bwee menjadi geli. Orang tidak mempunyai sebuah kaki pun, bagaimana bisa berjalan-jalan? Ingin dia menyaksikan bagaimana orang tak berkaki bisa berjalan.

“Akulah orangnya, Locianpwe. Dan aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu itu,” Siauw Bwee menjura dengan hormat.

Kakek itu tertawa bergelak dan sejenak wajahnya yang muram itu berseri gembira. “Wah, pengakuanmu ini meningkatkan pandanganku terhadap dirimu, Nona. Di samping segala kebaikanmu, engkau jujur dan ingat budi pula! Engkaulah orangnya. Ya, engkaulah orangnya yang akan dapat menolong kedua kaum yang saling bermusuhan sehingga setiap tahun mengorbankan banyak nyawa manusia tidak berdosa. Aku mohon kepadamu, Nona. Sukakah engkau mewakili aku menyelamatkan mereka!”

Siauw Bwee mengerutkan alisnya. Sikap kakek itu benar-benar patut dikasihani. Dalam keadaan seperti itu masih mementingkan keselamatan orang lain, keselamatan kaum buntung kaki dan buntung lengan yang memperlakukannya dengan buruk.

“Apakah maksudmu, Locianpwe? Mereka itu saling bermusuhan dan kedua pihak amat lihai. Bagaimana aku dapat mencampuri dan betapa mungkin aku dapat menolong dua pihak yang saling bermusuhan?”

“Duduklah, Nona, dan dengarkan ceritaku.”

Siauw Bwee memang tertarik sekali akan permusuhan kedua kaum yang cacat itu, yang sebagian sudah ia dengar dari Cia Cen Thok, maka ia lalu duduk di atas dipan bambu di sebelah kakek itu.

“Tahukah engkau mengapa kedua kaum yang bercacat itu saling bermusuhan, Nona?”

Siauw Bwee mengangguk. “Permusuhan mereka ditanam oleh kedua orang saudara seperguruan yang bermusuhan dan dalam pertandingan, seorang kehilangan kaki kanan dan yang seorang lagi kehilangan lengan kiri.”

“Benar, dan aku tadinya adalah seorang di antara kaum lengan buntung itu. Akan tetapi, sejak dahulu aku tidak menyetujui permusuhan antara saudara sendiri, karena kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung sebenarnya adalah saudara-saudara seperguruan. Apa lagi cara mereka menerima murid-murid yang harus dibuntungi kaki atau lengannya seperti kaum mereka, benar-benar merupakan perbuatan yang amat keji. Aku adalah suheng dari The Bian Le dan aku berusaha membujuk sute-ku yang menjadi ketua kaum lengan buntung sekarang untuk berdamai dengan pihak kaki buntung. Pada waktu itu akulah yang menjadi ketua kaum lengan buntung. Usul itu diterima dengan penuh kemarahan dan mereka memberontak. Aku yang menjadi ketua mereka malah mereka anggap pengkhianat sumpah leluhur dan aku dikeroyok, kemudian kaki kananku mereka buntungkan dan aku diusir dengan kata-kata menghina bahwa aku berpihak kepada kaum kaki buntung.”

Kakek itu menundukkan mukanya dan menarik napas panjang, Siauw Bwee mengepal tangannya dan berkata, “Betapa kejamnya!”

Kakek itu menggeleng kepala, “Mereka patut dikasihani, Nona. Aku tidak menyesal karena kakiku dibuntungi sebelah, melainkan menyesal bahwa usahaku itu gagal sama sekali. Aku lalu pergi ke tempat kaum kaki buntung. Biar pun kaki kananku sudah buntung seperti lengan kiriku, aku tidak putus harapan dan berusaha menghubungi Liong Ki Bok, ketua mereka yang sebenarnya kalau diperhitungkan malah sute-ku sendiri pula. Akan tetapi, karena tadinya aku adalah ketua kaum lengan buntung, aku dicurigai dan malah di sana aku dikeroyok dan kaki kiriku dibuntungi pula.”

“Ahhh… Biadab! Jahat benar mereka itu!”

Kembali kakek itu menggeleng kepala. “Mereka, kedua pihak telah dibikin mabok oleh dendam permusuhan. Akulah orangnya yang patut disesalkan karena berusaha mendamaikan mereka. Akan tetapi aku malah tetap penasaran dan aku takkan dapat mati dengan meram kalau belum berhasil mendamaikan mereka.” Kakek itu kelihatan berduka sekali dan diam-diam Siauw Bwee merasa terharu dan kasihan, juga kagum menyaksikan iktikad baik yang tak kunjung padam dari hati kakek yang tubuhnya sudah cacat seperti itu.

“Apa hubungannya semua itu dengan aku, Locianpwe? Kalau engkau sendiri yang tadinya adalah ketua kaum lengan buntung sama sekali tidak dapat mendamaikan mereka bahkan dianggap pengkhianat, bagaimana aku akan dapat mengusahakannya?”

“Dengan jalan lain pasti dapat, Khu-lihiap. Akan tetapi dengarlah dulu ceritaku. Aku terasing di antara mereka kedua pihak. Dengan tekad untuk tetap hidup dan terus berusaha mendamaikan mereka, aku dapat menyeret tubuhku dengan hanya lengan kanan ini sampai ke tempat ini, terpencil dan terasing. Sepuluh tahun lamanya aku berdiam di sini, menggembleng diri dan terutama sekali mempelajari rahasia ilmu-ilmu kedua pihak yang sesungguhnya memang sesumber. Dan ketekunanku selama sepuluh tahun ini berhasil baik, Nona! Aku telah memecahkan kedua ilmu mereka, maksudku aku telah menemukan cara pemecahannya dan cara untuk menundukkan ilmu gerak tangan kilat dari kaum kaki buntung dan ilmu gerak kaki kilat dari kaum lengan buntung. Dengan ilmu ini mereka tentu akan dapat ditundukkan kalau perlu dengan kekerasan!”

Wajah Siauw Bwee berseri, dia ikut merasa gembira akan hasil kakek itu yang akan dapat memenuhi cita-cita hidupnya, yaitu menundukkan dan mendamaikan kedua kaum yang bersaudara akan tetapi permusuhan itu. “Bagus sekali, Locianpwe. Kalau begitu, Locianpwe pergunakan saja ilmu itu untuk menghajar orang-orang keras kepala itu!” serunya.

“Nona, lihatlah keadaanku. Aku hanya mempunyai sebuah lengan dan aku… karena terlalu tekun menggembleng diri dengan ilmu-ilmu itu, aku menderita sakit jantung yang hebat dan takkan terobati lagi. Biar pun semua teori silat mereka sudah berada di telapak tanganku kalau aku hanya mempunyai satu lengan saja, bagaimana mungkin aku dapat menghadapi mereka?”

“Ohhh… Maafkan aku, Locianpwe,” Siauw Bwee berkata dengan muka merah karena dalam kegembiraannya tadi ia sampai lupa bahwa kakek itu tubuhnya tidak lengkap lagi.

“Tidak apa, Nona. Bahkan akulah yang minta maaf kepadamu karena berani minta engkau seorang luar untuk mewakili aku…”

“Maksudmu…?”

“Ilmu kepandaianmu hebat, Nona. Baik Liong Ki Bok mau pun The Bian Le, malah aku sendiri tidak akan dapat menandingimu. Engkau tentu murid seorang yang amat sakti. Akan tetapi, kalau engkau dikeroyok dan menghadapi ilmu silat gerak tangan sakti dan gerak kaki sakti, engkau yang masih kurang pengalaman tentu akan menjadi bingung sehingga keadaanmu akan berbahaya. Akan tetapi kalau engkau kuberi pelajaran rahasia tentang kedua ilmu itu dan pemecahannya, dengan mudah engkau akan dapat mengalahkan mereka. Nona, sudikah engkau memenuhi permintaan seorang tua yang sudah hampir mati dan sudikah engkau membiarkan aku mati dalam keadaan meram dan tenang karena menyaksikan kedua kaum itu telah dapat dipaksa berdamai?” Kakek itu suaranya seperti orang akan menangis dan disambungnya dengan suara parau. “Andai kata aku memiliki dua buah kaki, aku akan berlutut memohon kepadamu, Khu-lihiap!”

Siauw Bwee merasa terharu sekali. Dia memiliki watak yang halus dan perasa, penuh welas asih, bagaimana mungkin ia dapat menolak permintaan itu? “Aihh, Locianpwe harap jangan terlalu sungkan. Aku sudah Locianpwe tolong dari ancaman maut dikeroyok burung-burung liar dan aku belum dapat membalas budi itu. Tentu saja aku akan berusaha untuk memenuhi permintaanmu.”

“Terima kasih, Lihiap! Semoga Tuhan memberkatimu! Dan jangan bicara tentang budi pertolongan dariku, karena aku tahu bahwa tanpa kunasehatkan untuk menyelam juga, burung-burung gila itu mana mungkin dapat menjatuhkan seorang seperti Lihiap? Nah, marilah kita mulai dengan latihan ilmu-ilmu tangan kilat dan kaki kilat, Nona. Waktu untuk pibu (mengadu ilmu) di antara mereka tiga bulan lagi, cukup lama bagimu untuk menguasai kedua ilmu itu dan kelak, dalam pertandingan pibu Nona dapat maju dan mengalahkan mereka. Kalau ketua mereka kalah olehmu, tentu mereka tidak berani membantah dan akan memenuhi permintaan Lihiap untuk berdamai dan bersumpah mengubur semua permusuhan di antara kedua kaum!”

Waktu tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar dan berarti bahwa perjalanan akan tertunda selama tiga bulan. Akan tetapi waktu itu tidak dibuang sia-sia, dan sebagai seorang ahli silat seperti Siauw Bwee, tentu saja akan girang sekali menerima pelajaran dua macam ilmu yang demikian hebat. Apa lagi kalau diingat bahwa dia sedang melakukan tugas yang mulia, yaitu berusaha mendamaikan permusuhan semua saudara sehingga kalau berhasil berarti dia telah menyelamatkan entah berapa banyak nyawa yang setiap tahun pasti ada yang jatuh menjadi korban pibu.

Demikianlah, mulai hari itu, Siauw Bwee menerima petunjuk-petunjuk kakek cacat itu, melatih diri dengan ilmu gerak tangan kilat dan gerak kaki kilat. Karena dasar ilmu silatnya malah lebih tinggi tingkatnya dari pada kedua ilmu itu, dia dapat melatih diri dengan mudah dan hasilnya amat hebat, lebih hebat dari pada kalau kedua ilmu itu dilatih oleh tubuh Si Kakek sendiri andai kata dia tidak bercacat!

********************

Terpaksa kita tinggalkan dulu Siauw Bwee yang setiap hari tekun berlatih kedua macam ilmu silat istimewa itu dan sebaiknya kita mengikuti perjalanan Kam Han Ki, karena hal ini untuk memperlancar jalannya cerita.

Telah kita ketahui betapa Kam Han Ki merana hatinya, seolah-olah kehilangan semangat dan gairah hidup ketika kedua orang sumoi-nya meninggalkan Istana Pulau Es sehingga dia tinggal seorang diri di Pulau Es. Karena tidak dapat menahan kesepian yang menggerogoti hatinya, juga karena khawatir akan keadaan kedua orang sumoi-nya, Han Ki lalu membuat sebuah perahu dan berlayarlah dia meninggalkan Pulau Es dengan maksud hendak mencari kedua orang sumoi-nya, atau setidaknya, seorang di antara mereka.

Setelah mendarat di tepi pantai daratan Tiongkok, pemuda ini menjadi bingung karena dia tidak tahu di sebelah mana kedua orang sumoi-nya mendarat dan ke mana pula mereka pergi. Akan tetapi dia berjalan terus ke barat dan di sepanjang jalan dia berusaha menemukan jejak kedua orang sumoi-nya dengan bertanya-tanya kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan.

Akan tetapi sampai berpekan-pekan ia melakukan perjalanan, belum juga ia mendapatkan jejak kedua orang sumoi-nya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang ditanyainya pernah melihat dua orang gadis itu, sebaliknya, Han Ki mendengar akan keadaan kerajaan baru yang makin luas saja wilayahnya, yaitu Kerajaan Cin yang dibangun oleh bangsa Yucen.

Kini di daerah utara hampir seluruh wilayah Kerajaan Sung telah terjatuh ke tangan Kerajaan Cin. Dan dia mendengar pula tentang pergolakan di Kerajaan Sung, tentang para pembesar yang memberontak dan berdiri sendiri-sendiri menguasai wilayah masing-masing. Mendengar pula akan pergerakan bangsa Mancu di samping bangsa Yucen.

Ketika ia mendengar bahwa dia memasuki daerah yang telah dikuasai bangsa Yucen yang mulai mengangkat pejabat-pejabat daerah sebagai pegawai Kerajaan Cin, teringatlah Han Ki akan kekasihnya, Sung Hong Kwi yang dahulu akan dikawinkan dengan Raja Yucen. Timbul hasrat hatinya untuk mendengar berita tentang kekasihnya itu, dan kalau mungkin… menjumpainya! Masih hidupkah Hong Kwi kekasihnya itu? Apakah kini telah menjadi seorang yang mulia di Kerajaan Cin? Ataukah hanya menjadi selir rendahan saja?

Hatinya terasa perih kalau ia mengingat akan cerita betapa raja-raja yang berkuasa, seperti halnya Kaisar Kerajaan Sung, paling suka mempermainkan wanita dan setiap hari berganti wanita, yang lama dicampakkan begitu saja. Jangan-jangan seperti itu pula nasib Hong Kwi. Kekhawatiran ini mendorong hasratnya untuk menyelidiki keadaan Hong Kwi.

Akhirnya karena dorongan hasrat ingin bertemu bekas kekasihnya tak dapat ditahannya lagi, Han Ki mendatangi kota raja Yucen dan pada suatu malam berhasil menyelundup masuk ke taman Istana Raja Yucen! Dilihatnya bahwa dia telah memasuki harem (keputren, tempat selir-selir raja) dan ketika ia melihat beberapa orang wanita cantik berpakaian indah bersendau-gurau di dekat kolam ikan, ia lalu melompat ke dekat mereka. Wanita-wanita itu terkejut dan menjerit, akan tetapi Han Ki mengangkat tangannya dan berkata halus,

“Harap kalian jangan takut. Aku datang tidak berniat buruk, hanya ingin bertemu dengan Sung Hong Kwi. Adakah dia di sini?”

Ketika melihat bahwa yang muncul seperti setan itu adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, lenyaplah rasa takut wanita-wanita itu dan di antara mereka bahkan ada yang tersenyum-senyum dan melirik-lirik tajam. Mereka adalah wanita-wanita yang selalu dikurung dan hanya kadang-kadang melayani Raja Yucen yang sudah tua, tentu saja jantung mereka berdebar tegang dan aneh ketika berhadapan dengan seorang pemuda tampan dan gagah seperti itu.

Seorang di antara mereka yang paling berani segera berkata, “Engkau sungguh berani mati memasuki tempat ini. Bagaimanakah engkau tidak ditangkap dan dibunuh oleh para pengawal yang menjaga di luar?”

“Hal itu tidak penting. Yang penting, adakah Sung Hong Kwi di sini? Aku ingin berjumpa dengan dia.”

“Siapa itu Sung Hong Kwi? Kami tidak mengenalnya dan tidak pernah mendengar namanya.”

Han Ki mengerutkan kening. Salahkah dugaannya bahwa kekasihnya itu diboyong oleh Raja Yucen? “Lima tahun yang lalu, ada seorang puteri Kerajaan Sung dikawinkan dengan Raja Yucen…”

“Ohhh! Kau maksudkan dia?” Seorang selir yang usianya paling tua, kurang lebih tiga puluh tahun akan tetapi masih amat cantik segera berkata, “Puteri yang rewel itu? Dia tidak menjadi selir sribaginda, akan tetapi diberikan kepada Pangeran Dhanu yang tergila-gila kepadanya. Aihhh, kasihan Pangeran Dhanu yang tampan, rela tidak memelihara selir akan tetapi isterinya itu selalu merongrongnya!”

Han Ki terkejut. “Pangeran Dhanu? Di mana istananya?”

Wanita itu tertawa. “Mana ada waktu beristirahat dengan tenang di istana? Isterinya, Puteri Sung itu terlalu rewel, bahkan kini kabarnya sakit sehingga diajak tetirah ke Hutan Bunga Bwee di tepi sungai.”

“Di mana tempat itu?”

“Ihh, mau apa sih engkau mencari puteri yang sakit-sakitan? Di sini banyak…”

“Lekas katakan!” Han Ki membentak marah ketika mendengar wanita-wanita itu mulai tertawa memikat. “Kalau tidak terpaksa aku akan membunuh kalian!” Ia sengaja mengancam dan berhasillah dia karena wanita-wanita itu menjadi pucat dan ketakutan.

“Di luar kota raja, di sebelah utara, dekat sungai ada hutan penuh bunga bwee dan sudah beberapa hari mereka di sana… aihhh…!” Wanita itu dan teman-temannya menjerit ketika tiba-tiba tubuh Han Ki berkelebat dan pemuda gagah itu sudah lenyap dari depan mereka.

“Setan…! Siluman…!” Mereka berteriak-teriak sambil melarikan diri. Ada yang terkencing-kencing ketakutan dan bahkan ada yang pingsan di tempatnya! Semenjak malam itu sampai beberapa lama pemuda itu menjadi bahan percakapan para selir dengan penuh rasa ngeri dan juga rindu!

Akan tetapi ketika Han Ki tiba di hutan yang dimaksud, ia terkejut menyaksikan bekas-bekas pertempuran dan mendapat kabar bahwa malam tadi tempat itu diserbu oleh gerombolan pasukan Mancu yang memang telah bermusuhan dengan pihak Yucen. Di sana tergeletak banyak mayat-mayat bangsa Mancu dan Yucen, dan ketika dia tiba di situ, pasukan Yucen sedang mengangkuti mayat-mayat itu dan melakukan penjagaan ketat. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi Han Ki berhasil mendekati sampai di luar perkemahan yang ditinggali Pangeran Dhanu dan isterinya. Di luar perkemahan dia dihadang oleh para pengawal.

“Berhenti! Siapa engkau dan ada keperluan apa?” bentak pengawal-pengawal itu. ”Aku hendak berjumpa dengan Pangeran Dhanu. Aku adalah… seorang saudara dari isterinya, hendak menengoknya karena kabarnya ia sedang sakit.”

Para pengawal mengepungnya dengan pandang mata curiga. “Sang Pangeran sedang sibuk, Sang Puteri sakit keras…”

Tiba-tiba Han Ki meloncat ke dalam kemah, gerakannya amat cepat sehingga para pengawal itu sejenak melongo karena kehilangan pemuda itu. Baru mereka tahu bahwa pemuda itu menerobos masuk ketika mendengar pemuda itu menjerit, “Hong-Kwi…!”

Mendengar kekasihnya sakit keras, pemuda itu seperti gila dan nekat menerobos sambil memanggil nama kekasihnya.

“Han Ki Koko…? Ohhh…”

Suara ini cukup bagi Han Ki. Dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat memasuki sebuah kamar di dalam perkemahan besar itu dan dia berdiri pucat dengan mata terbelalak memandang tubuh kekasihnya yang rebah telentang seperti mati di atas pembaringan. Di kepala pembaringan itu duduk seorang laki-laki yang berkumis tipis berpakaian indah dan bersikap gagah namun wajahnya diliputi kedukaan besar. Laki-laki ini meloncat bangun dan tangannya meraba gagang pedangnya. Seorang pelayan wanita mundur-mundur ketakutan memandang Han Ki.

Wajah Hong Kwi pucat sekali, matanya sayu dan rambutnya yang hitam itu terurai lepas, tubuhnya kelihatan lemah. Dia memandang Han Ki, beberapa kali bibirnya bergerak namun tidak ada suara keluar. Air mata seperti butiran-butiran mutiara menetes turun dan akhirnya dia dapat juga bersuara,

“Han Ki Koko… kau datang…? Ahh, Koko… bawalah aku pergi… bawalah…!” Kedua lengannya diangkat lemah, diulurkan ke arah Han Ki, akan tetapi tiba-tiba kedua lengannya terkulai kembali di atas pembaringan. Mukanya yang tadinya menghadap ke Han Ki itu tergolek ke kiri, matanya terpejam, hanya mulutnya yang masih agak terbuka seolah-olah dia belum selesai bicara.

“Hong Kwi…!” Han Ki tidak mengenal suaranya sendiri, suara yang terhenti di kerongkongannya.

“Isteriku…!” Pangeran Dhanu, laki-laki gagah itu menubruk dan menangis. Ia kemudian meloncat bangun, memandang Han Ki dan berkata dengan air mata masih menetes-netes, “Jadi engkaukah Kam Han Ki, laki-laki kejam yang menghancurkan hati isteriku? Engkau datang hanya untuk menyaksikan kematiannya? Betapa kejam engkau!”

Ucapan ini bagaikan petir menyambar karena seolah-olah Han Ki baru tahu bahwa kekasihnya telah meninggal dunia. Dia menubruk ke depan, dipegangnya tangan kanan Hong Kwi, diguncang-guncangnya pundak mayat itu. “Hong Kwi… Hong Kwi…! Ini aku Kam Han Ki! Aku telah datang. Hong Kwi…! Hong Kwi, bukalah matamu, pandanglah aku, bicaralah…!”

Menyaksikan sikap pemuda itu, Pangeran Dhanu agak berkurang kemarahannya dan memandang dengan kening berkerut. Di belakang Han Ki, Si Pelayan menangis sesenggukan dan di luar kamar itu, seorang pengawal berdiri tegak menjaga dalam keadaan siap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, sungguh pun alisnya berkerut menandakan bahwa dia ikut prihatin terharu.

“Hong Kwi… kekasihku… Hong Kwi, aku berdosa padamu! Ah, kekasihku, kau bawalah aku…!” Han Ki yang biasanya tenang itu kini tidak dapat menahan pukulan batin yang amat hebat itu. Dia masih mencinta Hong Kwi, bahkan belum pernah dia berhenti mencintanya. Kini melihat kekasihnya mati setelah bertemu dengannya, dia merasa berdosa dan berduka.

“Hemm, dia sudah mati baru engkau datang dan bicara seperti itu. Kam Han Ki, engkau bukan seorang laki-laki yang patut dipuji!”

Ucapan yang bernada keras ini membuat Han Ki sadar bahwa dia telah berada di tempat orang, bahkan sadar bahwa mayat yang dipeluknya itu adalah mayat isteri orang lain. Dia bangkit, menekan perasaannya, berdiri lemas dan dengan mata merah dan pipi basah, lalu ia memandang Pangeran Dhanu. Sejenak kedua orang laki-laki itu saling berpandangan.

“Engkau tentu Pangeran Dhanu…,” katanya perlahan.

“Benar! Akulah Pangeran Dhanu, laki-laki yang mencintanya dengan seluruh jiwa ragaku, yang selama bertahun-tahun ikut menderita bersamanya, yang berusaha menghiburnya, yang memenuhi segala permintaannya. Akan tetapi, pada saat terakhir, namamulah yang diucapkannya!” Di dalam ucapan pangeran itu terdapat kegetiran yang hebat sehingga diam-diam Han Ki merasa kasihan dan bersalah.

“Pangeran, selama bertahun-tahun aku berpisah darinya, dipisahkan dengan kekerasan, akan tetapi engkau… selama itu berada di sampingnya. Akulah yang lebih menderita dari pada engkau.”

“Aku sudah mendengar akan namamu, dia bercerita tentang dirimu. Akan tetapi kumaafkan dia asal dia dapat membalas dan menerima cintaku. Akan tetapi… dia selalu berduka, teringat kepadamu, selalu sakit-sakitan… kuajak tetirah ke mana-mana untuk menghiburnya, kukorbankan tugas-tugasku. Semalam anjing-anjing Mancu menyerbu perkemahan, biar pun dapat dipukul mundur akan tetapi isteriku menderita kaget yang hebat. Jantungnya lemah… dan… kemudian kau datang… ah, isteriku…!” Pangeran itu mengusap air matanya.

“Pangeran, maafkan aku. Betapa pun juga, engkau yang mencintanya telah menjadi suaminya selama lima tahun. Engkau telah memiliki dia sebagai isteri yang tercinta…”

“Memang aku memiliki tubuhnya akan tetapi tidak memiliki hatinya. Engkau telah merampas hatinya, keparat!”

“Dan orang-orang Mancu telah merampas nyawanya. Aku akan membalas ini!”

“Orang she Kam! Tidak perlu menimpakan kesalahan kepada orang lain. Engkaulah yang telah membunuh isteriku! Engkaulah yang menghancurkan hidupnya, dan engkau pula yang merampas kebahagiaan hidupku! Pengawal, tangkap orang ini!”

Belasan orang pengawal menerjang masuk dengan tombak di tangan. Han Ki berseru, “Hong Kwi, kalau rohmu masih di sini, dengarlah sumpahku. Aku tidak akan menikah dengan wanita lain di dunia ini!” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat ke luar dan robohlah enam orang pengawal yang menghadangnya.

Dia tidak membunuh karena dia maklum betapa hancur hati Pangeran Dhanu, maklum pula bahwa pangeran itu betul-betul mencinta Hong Kwi. Dia hanya marah kepada orang-orang Mancu karena andai kata malam tadi orang-orang Mancu tidak menyerbu sehingga tidak mengagetkan hati Hong Kwi yang jantungnya lemah karena sakit, tentu pertemuannya dengan bekas kekasihnya itu tidak berakhir dengan kematian Hong Kwi!

Biar pun Pangeran Dhanu yang marah, berduka dan sakit hati itu mengerahkan semua sisa pasukannya, namun mereka tidak dapat mencegah Han Ki melarikan diri dan keluar dari hutan itu dengan gerakan cepat seperti menghilang.

Han Ki berlari cepat meninggalkan Kerajaan Yucen. Ingin sekali ia dapat menggabungkan diri dengan barisan Kerajaan Sung, melupakan semua peristiwa yang membuat ia menjadi orang buruan. Ingin ia membela Sung dan menghajar musuh-musuh besarnya. Akan tetapi, tentu dia akan ditangkap begitu muncul di kota raja! Ah, biar pun tanpa pasukan, dia tetap berusaha untuk membalas kematian Hong Kwi kepada bala tentara Mancu! dengan keputusan bulat, Han Ki melanjutkan perjalanannya, hatinya makin merana.

Dia tidak saja kehilangan Maya dan Siauw Bwee, bahkan kini ditinggal mati Hong Kwi yang sampai detik terakhir masih mencintanya! Kenyataan ini makin memberatkan hatinya, dan ia selalu merasa telah berbuat dosa yang amat besar kepada Hong Kwi. Cinta kasih di antara mereka yang terenggut putus, yang disangkanya hanya membuat dia seorang menderita sengsara, kiranya lebih menyiksa lagi bagi Hong Kwi sampai dibawanya mati! Hati Han Ki menjadi kosong dan ia merasa dirinya sudah tua sekali. Padahal pada waktu itu, usia Han Ki baru tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun…..

********************

Maya membuka matanya. Sudah matikah dia? Pertama yang berkelebat dalam pikirannya adalah bahwa dia terseret ke dalam air yang gelap lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. Tentu sudah mati. Akan tetapi mengapa dia berada di atas perahu? Dan ada enam orang prajurit di perahu itu, perahu yang didayung cepat. Tidak! Dia tentu belum mati.

Ataukah perahu ini perahu yang akan menyeberangkannya ke alam baka dan enam orang itu malaikat-malaikat? Tak mungkin. Mana ada malaikat berpakaian seperti prajurit dunia! Keparat, tentu mereka ini yang membuat ia terjatuh ke air dan mereka yang menyeretnya ke dalam air sehingga dia pingsan dan tertawan. Dia menjadi marah dan menggerakkan tangan… akan tetapi kedua tangan dan kedua kakinya tidak dapat digerakkan. Terbelenggu! Ia mengerahkan tenaga, akan tetapi dia lelah sekali sehingga tenaganya masih belum cukup untuk mematahkan belenggu, dan ketika ia memandang, kiranya belenggu itu terbuat dari pada baja yang tebal dan kuat sekali! Maya pura-pura masih pingsan dan tidak bergerak, diam-diam mengumpulkan hawa murni ke lengannya.

Perahu itu kini menempel pada sebuah perahu besar. Dia membuka mata memperhatikan.

“Wah, dia sudah sadar!” kata seorang di antara mereka yang kebetulan menengok dan melihat Maya membuka mata.

Karena sudah ketahuan, Maya tidak berpura-pura lagi. Dengan gerakan tubuhnya, ia berhasil bangun duduk. “Siapa kalian? Mengapa aku kalian tangkap?” Akan tetapi ketika melihat pakaian seragam mereka adalah tentara laut Kerajaan Sung, ia lalu berkata, “Hemm… kalian tentu anjing-anjing Kerajaan Sung!”

“Perempuan liar. Bangunlah dan ikut kami menghadap panglima, atau engkau lebih suka kami seret ke atas perahu?”

Karena belum mendapat kesempatan mematahkan belenggunya, Maya bangkit berdiri dan tiba-tiba kedua kakinya membuat gerakan menendang sambil meloncat. Akibatnya, dua orang prajurit terlempar ke dalam air!

“Wah! Wah! Awas… betina ini liar sekali!” Seru seorang di antara mereka dan kini dari atas perahu besar meloncat turun banyak prajurit.

Tubuh Maya diringkus dan dia dipaksa naik ke atas perahu besar. Dua orang prajurit yang bertubuh kuat memegang ujung rantai yang membelenggu kedua tangannya, dan setengah diseret Maya dibawa memasuki ruangan besar di atas perahu. Biarlah, pikirnya, biar aku dihadapkan panglima mereka. Kalau nanti ada kesempatan, dia akan membasmi anjing-anjing ini!

Dengan dada membusung dan kepala tegak Maya berjalan memasuki ruangan dengan terpincang-pincang karena kedua kakinya dibelenggu. Matanya terbelalak ketika ia melihat dua orang panglima duduk di atas kursi dalam ruangan itu. Ia mengenal mereka! Mereka adalah panglima-panglima perahu besar yang telah ditolongnya! Bahkan panglima muda yang kini sudah bangkit berdiri adalah panglima muda yang ditolongnya dari tangan Si Dampit yang lihai.

Juga panglima besar yang berjenggot itu memandang dengan kaget. “Engkau…? Engkau pendekar wanita penolong kami…!” Ia lalu membentak anak buahnya, “Apakah kalian ini buta dan gila semua? Hayo cepat lepaskan belenggunya!”

“Krek! Krekkk!” Sekali mengerahkan tenaga yang telah berhasil dikumpulkan kembali, Maya telah mematahkan belenggu kaki tangannya! Sambil tersenyum dia melangkah maju. “Ciangkun, selamat berjumpa!”

Panglima besar itu meloncat dari tempat duduknya dan cepat menjura. “Selamat datang, Lihiap!” Dan kepada anak buahnya ia membentak, “Lihat apakah yang telah kalian lakukan, orang-orang tolol! Menawan dan membelenggu penolong kami! Seolah-olah belenggu kalian itu ada artinya bagi Lihiap yang sakti?!” Kemudian ia membentak makin nyaring, “Hayo cepat berlutut, minta ampun kepada Lihiap!”

Enam orang itu, yang dua tertendang tadi sudah ikut naik, cepat menjatuhkan diri dan seperti burung-burung saling sahut mereka berseru, “Mohon maaf kepada Lihiap, karena kami tidak tahu maka….”

Maya menggerakkan tangannya. “Sudahlah! Salahku sendiri yang kurang pandai berenang sehingga mudah kalian bekuk!”

“Lihiap, silakan duduk!” Panglima muda yang brewok cepat menyerahkan kursinya dan ia memandang kagum. Ketika ditolong dari tangan Si Dampit yang lihai, dia tidak dapat melihat jelas wajah penolongnya. Kini ia kagum bukan main melihat bahwa penolongnya hanyalah seorang dara remaja yang masih amat muda lagi cantik jelita seperti bidadari!

“Lekas ambil pakaian bersih dan kering untuk Lihiap! Dan sediakan meja perjamuan!” Panglima besar itu memberi perintah. Sibuklah anak buahnya mempersiapkan barang-barang yang diperintahkan itu.

“Lihiap, silakan berganti pakaian kering dulu. Nanti kita bicara,” Panglima tua itu mempersilakan. Tanpa sungkan-sungkan Maya lalu memasuki kamar di perahu yang ditunjuk dan berganti pakaian. Panglima besar itu berbisik-bisik dengan wajah serius dengan pembantunya, panglima muda brewok.

“Wah, betapa lucunya aku berpakaian seperti ini!” Maya yang sudah selesai berganti pakaian dan keluar dari kamar tertawa memandangi pakaian panglima yang dipakainya.

”Engkau gagah sekali dan patut dalam pakaian itu, Lihiap. Hanya kurang pedangnya. Silakan memakai pedangku.” Panglima tua itu menyambut dan meloloskan sabuk pedangnya kemudian menghampiri Maya dan memakaikan sabuk pedang itu di punggung Maya sehingga dara itu tampak makin gagah perkasa.

Atas ajakan penuh hormat dari kedua orang panglima itu, Maya kini dijamu dan sambil makan minum mereka bercakap-cakap. Atas pertanyaan panglima tua itu, Maya menjawab, “Namaku Maya dan kuharap Ciangkun jangan menanyakan siapa guruku dan dari mana asal-usulku karena hal itu takkan dapat kuterangkan. Seandainya aku tidak melihat sendiri betapa pasukan Ciangkun bertempur melawan pasukan-pasukan Sung, tentu aku tidak akan dapat duduk semeja dengan kalian. Ciangkun siapakah, dan mengapa pula pasukan Ciangkun bertempur melawan Pasukan Sung yang menjadi musuhku?”

Wajah panglima tua itu berseri mendengar bahwa dara perkasa yang menjadi penolongnya ini menganggap Kerajaan Sung sebagai musuhnya. Dia menyuguhkan secawan arak, dan setelah arak yang disuguhkan sebagai penghormatan itu diminum, dia berkata, “Namaku Bu Gi Hoat, dan dia ini adalah pembantuku, Panglima Muda Lai Sek. Tadinya aku adalah seorang panglima besar Kerajaan Sung yang ditugaskan memimpin armada menjaga pantai timur. Kini kami menjadi musuh Kerajaan Sung yang makin menyuram dan penuh kelaliman.”

“Hemm… jadi Ciangkun memberontak terhadap Kerajaan Sung? Mengapa?”

Panglima she Bu itu menarik napas panjang. “Selama beberapa keturunan, nenek moyangku adalah pembesar-pembesar militer yang setia kepada kerajaan. Akan tetapi sekarang ini Kerajaan Sung mengalami kesuraman hebat karena kelemahan Kaisar yang dipengaruhi oleh menteri-menteri dorna, thaikam-thaikam dan panglima-panglima jahat macam Suma-goanswe. Karena itu banyak sekali panglima yang memberontak, pembesar-pembesar daerah yang berdiri sendiri. Aku pun tidak dapat tinggal diam, apa lagi semenjak Menteri Kam yang amat kami hormati itu difitnah dan tewas oleh kekejian Kerajaan Sung. Kami harus membunuh Kaisar dan kaki tangannya yang lalim dan membentuk kerajaan baru yang bebas dari pada penindasan para pembesar korup.”

Maya mengangguk-angguk. Diam-diam ia merasa girang karena kini mendapat kesempatan untuk membasmi musuh-musuhnya, terutama Kerajaan Sung! Apa lagi karena jelas bahwa panglima ini bersetia kawan dengan pek-hu-nya, Menteri Kam. Tanpa ragu-ragu lagi ia berkata, “Kalau begitu, aku siap membantumu, Ciangkun!”

Bukan main girangnya hati panglima itu. Ia mengisi cawan arak dan mengajak Maya minum kemudian berkata, “Sungguh sudah menjadi kehendak Tuhan agaknya bahwa Kerajaan Sung yang buruk itu mesti hancur sehingga hari ini Tuhan sendiri yang mengirim Lihiap untuk membantu kami! Belum juga aku berani mengutarakan maksud hatiku minta bantuanmu, engkau telah menyatakan hendak membantu. Terima kasih, Lihiap, terima kasih!”

“Ah, engkau terlalu sungkan, Ciangkun. Memang aku pun berniat membasmi Kerajaan Sung yang kubenci sehingga kebetulan sekali kerja sama ini. Kalau Bu-ciangkun setuju, berilah aku pasukan yang cukup banyak dan kuat, dan sekarang juga aku akan membawa pasukan itu menyerbu ke kota raja Sung!”

Hampir saja kedua orang panglima perang itu tertawa bergelak mendengar ucapan ini. Betapa dangkalnya pengetahuan dara ini tentang perang. Begitu mudahnya hendak membawa pasukan menyerbu ke kota raja, seolah-olah jalan ke kota raja Sung itu halus lunak tanpa rintangan. Sebelum perjalanan ribuan li ditempuh seper-sepuluhnya sudah akan menghadapi pasukan-pasukan besar musuh yang amat banyak jumlahnya.

Dara ini bicara tentang perang seperti orang membalikkan tangan saja mudahnya! Akan tetapi karena maklum bahwa tentu saja dara semuda ini sama sekali tidak mengerti tentang perang, dan agar jangan menyinggung perasaan, kedua orang panglima itu hanya saling pandang dan menahan kegelian hati mereka.

“Lihiap, serahkan urusan perang kepadaku karena perang melawan Kerajaan Sung tidaklah semudah itu. Mereka masih memiliki bala tentara yang kuat dan besar jumlahnya. Akan tetapi, kau akan kuangkat menjadi panglima muda dan kuserahi pasukan yang hendaknya kau gembleng menjadi pasukan istimewa yang kuat dan percayalah kami hanya mengandalkan kegagahan Lihiap dengan pasukanmu untuk mendobrak pihak musuh di garis depan.”

Maya mengangguk. “Terserah kepadamu, Ciangkun. Bagiku, asal aku mendapat kesempatan membasmi pasukan Sung, cukuplah. Lebih banyak lebih baik.”

“Bagus! Mulai sekarang engkau adalah seorang panglima dan sudah selayaknya kalau engkau sebagai pembantuku yang kupercaya, sebagai pembantu utama di samping Lai-ciangkun, tahu akan kedudukan dan siasat kita.”

Dengan panjang lebar Bu-ciangkun lalu memberi tahu kepada pembantunya yang baru ini bahwa dia telah mengadakan kontak dengan bala tentara Mancu yang besar dan kuat agar bersama-sama mereka dapat menyerang ke selatan. Mendengar ini Maya tidak ambil peduli. Baginya bersekutu dengan Mancu pun tidak menjadi soal asal dia dapat membalas kepada Kerajaan Sung, Yucen dan Mongol!

“Boleh saja bersekutu dengan orang Mancu. Bu-tai-ciangkun. Asal jangan bersekutu dengan orang-orang Mongol dan Yucen saja. Kedua bangsa itu pun masih musuhku!”

Bu-ciangkun tertawa bergelak. Gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa sekali, akan tetapi tidak berpengalaman sama sekali, bahkan masih memiliki sifat kekanak-kanakan dan jujur, “Ha-ha-ha! Jangan khawatir, Li-ciangkun (Panglima Wanita)! Kami tidak mempunyai hubungan dengan bangsa Mongol! Sedangkan bangsa Yucen yang sekarang telah mendirikan Kerajaan Cin juga merupakan musuh kita karena dia merupakan penjajah yang mengancam bangsa dan negara. Di dalam pertempuran yang akan kau hadapi, engkau bahkan akan melawan Bangsa Yucen dan juga pasukan Kerajaan Sung.”

“Bagus!” Maya, girang sekali. “Lekas siapkan pasukan untukku, Tai-ciangkun. Akan kulatih mereka!”

Demikianlah, mulai hari itu Maya mengepalai lima ratus orang pasukan dengan sepuluh orang perwira pembantunya. Dara ini dahulu adalah seorang Puteri Khitan dan dia sudah sering kali melihat, bahkan mengikuti cara ayahnya dan para panglima Khitan melatih tentaranya, maka kini dengan baik sekali ia dapat melatih pasukan di bawah perintahnya. Mereka dia beri pelajaran ilmu berkelahi dengan menurunkan beberapa jurus yang lihai dari ilmu silatnya. Juga para perwira pembantunya ia latih sendiri dengan beberapa jurus ilmu silat sehingga mereka pun menjadi lihai.

Mula-mula Bu-ciangkun terkejut dan terheran-heran, juga girang menyaksikan cara Maya melatih pasukannya. Diam-diam ia lalu menyebar para penyelidik dan tak lama kemudian dia mendengar bahwa puteri Raja Khitan yang bernama Maya tidak ketahuan ke mana perginya semenjak ikut bersama Menteri Kam Liong yang tewas dikeroyok oleh tentara Sung.

Diam-diam ia menjadi girang dan kagum sekali. Tidak salah lagi, melihat bentuk wajahnya, Maya yang kini menjadi panglimanya itulah Puteri Maya, puteri Khitan dari Raja Khitan dan keponakan dari mendiang Menteri Kam Liong! Akan tetapi karena dara itu sudah menyatakan tidak akan menceritakan riwayatnya, ia pun diam-diam saja, bahkan tidak memberitahukan dugaannya itu kepada siapa pun juga.

Setelah selesai menggembleng pasukan di tepi pantai sampai dua bulan lamanya, pada suatu pagi Bu-ciangkun mengumpulkan para panglimanya yang berjumlah lima orang.

“Barisan Mancu yang menjadi sekutu kita berjanji akan menyambut kita di pantai ini untuk bergabung kemudian bergerak ke selatan. Akan tetapi, telah sebulan mereka terlambat dan kurirnya juga belum tampak. Aku khawatir kalau-kalau ada perubahan keadaan, maka sebaiknya seorang di antara kalian harus membawa pasukan untuk menghubungi mereka di perbatasan Mancu. Akan tetapi selain perjalanan itu jauh, melalui daerah-daerah yang kering dan sukar, juga ada bahayanya akan bertemu dengan pasukan-pasukan Mongol, terutama sekali pasukan Kerajaan Cin. Siapakah di antara kalian yang sanggup melakukan tugas berat ini?”

Seperti telah diduganya, dan juga diharapkannya maka dia sengaja menyebutkan bahaya pasukan Mongol dan Yucen. Maya segera berdiri sigap dan menjawab, “Aku sanggup!”

Empat orang panglima yang lain telah mengenal kelihaian panglima wanita itu, maka mereka tidak berani berebut, bahkan Li-ciangkun yang brewok dan dapat menangkap isi hati panglimanya segera berkata, “Memang tugas berat ini paling tepat dilakukan oleh Li-ciangkun dengan pasukan mautnya.”

Bu-ciangkun mengangguk-angguk. “Akan kubuatkan surat untuk pimpinan barisan Mancu yang berada di perbatasan. Li-ciangkun tentu maklum bahwa suratku ini sama harganya dengan nyawa.”

“Baiklah, Tai-ciangkun. Akan kujaga dengan taruhan nyawaku sendiri. Harap jangan khawatir.”

“Selain mengadakan hubungan dengan mereka dan menyerahkan suratku, di sepanjang jalan harap Li-ciangkun mencari tenaga-tenaga dari rakyat yang sekiranya akan dapat memperkuat kedudukan kita dan dapat membantu perjuangan kita.”

“Baik!” jawab Maya yang teringat akan rakyat Khitan.

Kalau dia bisa bertemu dengan rakyat Khitan dan membujuk mereka masuk menjadi prajurit di bawah pimpinannya, betapa akan senang hatinya. Diam-diam timbul keinginan hatinya melihat rakyatnya bangkit di bawah pimpinannya untuk membangun kembali Kerajaan Khitan yang besar dan jaya!

Karena persediaan kuda amat terbatas, pasukan yang dipimpin Maya sebanyak lima ratus orang itu hanya membawa seratus ekor kuda. Maya dan sepuluh orang perwiranya tentu saja mempunyai masing-masing seekor kuda, ada pun seratus ekor kuda itu akan ditunggangi lima ratus orang secara bergilir, lima orang prajurit untuk setiap kuda seekor.

Maka berangkatlah pasukan itu dengan megahnya, dipimpin oleh Panglima Muda Maya yang menunggang kuda putih berada di depan, diapit dua orang pengawal pembawa bendera. Amat gagah dan barisan itu pun bergerak rapi, yang berjalan kaki di depan, seratus orang yang berkuda di belakang. Bu-ciangkun sendiri mengantar berangkatnya pasukan istimewa ini sampai di luar daerah perkemahan.

Dua buah bendera itu berkibar-kibar. Yang sebuah bertuliskan nama pasukan yang diberi oleh Bu-ciangkun sendiri, yaitu ‘Pasukan Maut’. Dan bendera yang sebuah lagi bertuliskan nama panglimanya, yaitu Panglima Wanita Maya!

Perjalanan ke barat dimulai. Oleh gemblengan-gemblengan keras Maya selama dua bulan, tubuh anak buah pasukan kuat-kuat dan semangat mereka juga besar. Mereka semua merasa bangga menjadi prajurit Pasukan Maut, mempunyai seorang panglima yang mereka tahu amat sakti, melebihi kegagahan Bu-tai-ciangkun sendiri, seperti seekor naga betina.

Belasan hari kemudian, pasukan itu telah tiba di daerah kering tandus dan di sana-sini mereka melalui padang pasir yang tidak berapa luas. Ketika mereka tiba di daerah pegunungan yang mulai memperlihatkan kesuburan, tiba-tiba mereka diserbu oleh pasukan Yucen yang berjaga di situ karena daerah itu sebagian telah dikuasai oleh tentara Yucen.

“Basmi anjing-anjing Yucen!” Maya berteriak, suaranya melengking tinggi mengatasi semua kegaduhan dan terdengar oleh semua anak buahnya sehingga mereka bertempur seperti harimau-harimau kelaparan.

Pasukan Yucen yang terdiri dari tiga ratus orang lebih dan mengira bahwa yang mereka serbu adalah pasukan Sung yang dianggap melanggar wilayah menjadi kewalahan. Apa lagi ketika Maya sendiri turun dari kudanya dan mengamuk, pedangnya membabati tentara musuh seperti orang membabat rumput saja, pasukan Yucen menjadi makin gentar saja.

Komandan Yucen mengeluarkan aba-aba untuk mundur, akan tetapi dengan gerakan kilat Maya melompat. Pedangnya memenggal leher seorang perwira musuh dan tangan kirinya mencengkeram leher baju Panglima Yucen itu, terus menariknya dari atas kuda. Panglima itu terkejut dan meronta, heran dan kaget melihat bahwa yang menawannya adalah seorang dara jelita yang masih muda. Akan tetapi keringatnya mengucur deras ketika ia mendengar dara itu mendesis bengis, “Engkau Panglima Yucen keparat. Ingatkah kepada ayahku Raja Talibu dari Khitan?”

Wajah panglima itu pucat dan ia menggeleng-gelengkan kepala, “Aku… aku tidak…!”

Akan tetapi kata-katanya terhenti dan lehernya terbabat putus oleh pedang Maya. Dara perkasa ini melompat ke atas batu besar, membawa kepala Panglima Yucen sambil berseru, “Heii… anjing-anjing Yucen! Lihat kepala siapa ini?”

Suaranya yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang amat nyaringnya dan makin paniklah tentara Yucen mendengar dan melihat kepala pemimpin mereka. Sebaliknya makin bersemangatlah Pasukan Maut itu sehingga mereka mengamuk, membunuhi musuh yang kocar-kacir dan lari berserabutan.

“Hidup Maya Li-ciangkun!” Sorak para prajurit dan mereka mengejar musuh yang melarikan diri.

Hanya setelah ada perintah Maya saja para prajurit berhenti mengejar. Ketika Maya memerintahkan para perwira menghitung, dalam perang pertama ini pasukannya kehilangan dua puluh orang akan tetapi membunuh lebih dari seratus orang musuh. Ini merupakan kemenangan besar dan prajurit yang terluka dirawat baik-baik, sedangkan yang tewas lalu dikubur. Mayat-mayat para prajurit Yucen dibiarkan saja berserakan. Maya lalu memerintahkan pasukannya bergerak maju lagi dan beristirahat serta bermalam di atas bukit, di sebelah hutan.

Biar pun baru saja Maya mendapatkan kemenangan yang gemilang, namun dia tidak menjadi lengah. Teringat ia akan nasehat ayahnya dahulu kepada para panglimanya bahwa saat-saat sehabis mendapat kemenangan adalah saat-saat yang berbahaya. Anak buah menjadi mabuk kemenangan, bangga dan terlalu percaya kepada kekuatan sendiri, dan menimbulkan kelengahan dan biasanya musuh menggunakan kesempatan itu untuk menyerang.

Karena itu dia mengatur penjagaan ketat, penjaga-penjaga yang bersembunyi disebar sampai jauh di lereng bukit itu secara bergilir. Juga ia tidak melupakan para penjaga ini yang dikirimi ransum, bahkan mereka ini menerima pesan Maya pribadi agar tidak lengah dan tetap waspada menjaga kemungkinan musuh menyergap selagi mereka beristirahat.

Perhitungan Maya memang tepat. Benar saja, menjelang tengah malam, datanglah para penjaga lereng utara yang mengabarkan bahwa ia menyaksikan gerakan barisan besar yang datang dari utara. Mereka datang dengan jalan kaki dan memasang obor, bahkan tidak menimbulkan suara berisik, tanda bahwa mereka hendak menyergap tempat istirahat mereka secara mendadak. Berita itu diterima dengan kaget oleh para perwira dan anak buah mereka yang berada di situ. Mereka sudah meloncat bangun menyambar senjata tajam masing-masing.

Maya membentak, “Mengapa kalian? Panik? Lupakah akan nasehatku bahwa kepanikan ini merupakan jalan menuju kekalahan? Dengarkan siasatku!”

Ia menuding kepada empat orang pembantu berturut-turut. “Kalian berempat, cepat membawa pasukan diam-diam meninggalkan puncak dari jurusan selatan, barat dan timur, lalu bersembunyi dan menanti sampai ada tanda keleneng segera mengepung puncak! Dan kelian berempat,” ia menuding kepada empat orang perwira lain. “Dalam jarak tiga ratus meter dari sini, pasanglah tali-tali atas di tanah satu kaki tingginya, hubungkan tali itu dengan keleneng-keleneng kuda yang dipasang di atas pohon. Cepat kalian delapan orang lakukan perintahku ini.”

Delapan orang perwira itu memberi hormat dan berlari ke luar. Maya memandang kepada dua orang perwiranya. Ia tersenyum dengan sepasang matanya berkilat tertimpa sinar api unggun. “Dan kalian berdua kumpulkan pasukan pengawalku ke sini, buat api unggun yang besar, nyalakan semua lampu penerangan, bawa dua guci arak wangi, guci besar itu, dan suruh para pengawal membawa alat tetabuhan dan mainkan musik di sini!”

Perintah itu terdengar aneh sekali sehingga beberapa detik lamanya kedua orang perwira itu memandang pimpinan mereka sambil melongo.

“Cepat!” Maya membentak, dan berulah dua orang itu bergegas pergi melakukan perintah.

Tak lama kemudian tampak api unggun yang besar dan terdengarlah bunyi musik yang-khim, gembreng dan suling memecahkan kesunyian puncak bukit itu, dan bau arak wangi memenuhi udara. Para pengawal yang jumlahnya dua puluh orang itu bermain musik sambil bernyanyi-nyanyi, akan tetapi hati mereka berdebar-debar tegang dan mata mereka melotot ketika melihat Maya menyiram-nyiramkan arak wangi di tempat itu sehingga bau arak itu menyengat hidung!

Pasukan Maut diam-diam telah melakukan gerakan cepat, dan tanpa mengeluarkan suara meninggalkan puncak bukit seperti yang diperintahkan Maya. Ketika mereka mendengar suara musik dan nyanyian, mencium bau arak wangi dari puncak, mereka melongo dan saling pandang. Sudah gilakah pemimpin yang hebat itu?

Pasukan disuruh lari turun puncak, hal ini dapat dimengerti untuk menghindarkan sergapan pihak musuh yang besar jumlahnya. Akan tetapi, pemimpin mereka tinggal di puncak, hanya ditemani oleh dua puluh orang pengawal, dua orang perwira dan prajurit-prajurit yang terluka siang tadi, kini berpesta pora minum arak wangi dan bernyanyi-nyanyi bermain musik! Akan tetapi delapan orang perwira itu, setelah empat orang selesai memimpin pasukan memasang tali dan kelenengan, percaya penuh kepada panglima mereka dan dengan diam-diam mereka siap melakukan gerakan mengurung puncak.

Kalau prajurit Pasukan Maut terheran-heran mendengar bunyi musik nyanyian dan mencium bau arak wangi, sebaliknya para panglima, perwira dan prajurit Yucen menjadi girang sekali. “Bersenang-senanglah, berpestalah karena kemenanganmu siang tadi,” pikir mereka puas, “dan berpestalah untuk kematian kalian karena sebentar lagi kalian akan terbasmi habis,” demikian pikir mereka sambil melakukan gerakan mengurung puncak, merayap dengan hati-hati.

Pasukan mereka terdiri dari lima ratus orang pilihan dan mereka sudah memperhitungkan bahwa lima ratus orang tentara musuh tentu telah berkurang dalam perang tadi, dan selain kelelahan juga mereka itu mabuk kemenangan dan lengah.

Pengurungan mereka telah dekat dengan puncak. Perintah berbisik telah dikeluarkan panglima yang membagi-bagi pasukan kubu-kubu lawan. Dari tempat mereka sudah tampak api unggun besar di depan kemah panglima, tampak bendera panglima musuh berkibar di atas kemah besar dan ketika mereka merayap maju lagi, tampak bayangan orang bermain musik, bernyanyi-nyanyi, bahkan ada yang menari-nari.

Mereka tidak mau menyerang dengan anak panah karena keadaan terlalu gelap, dan itu hanya akan membikin musuh sempat mempersiapkan diri. Mereka hendak menyerbu diam-diam dan tinggal menyembelihi saja musuh yang sedang enak-enak tidur atau yang sudah mabuk arak wangi! Hal ini sudah diperhitungkan Maya ketika dara perkasa ini mengatur siasatnya.

Tiba-tiba para prajurit Yucen yang berjalan di depan mengeluarkan suara perlahan dan disusullah oleh bunyi kelenengan riuh rendah. Kaget dan paniklah para prajurit Yucen karena mengira ada banyak kuda datang menyerang mereka. Dan pada saat itu, semua lampu penerangan di puncak padam, bahkan api unggun juga padam. Selagi para prajurit Yucen bingung dan masih belum tahu mengapa tiba-tiba banyak kelenengan berbunyi dan mengira bahwa musuh menyerang dengan naik kuda, Pasukan Maut sudah mengurung dari bawah dan pada saat itu melengkinglah suara merdu seorang wanita, melengking nyaring seperti datang dari langit.

”Pasukan Maut yang gagah perkasa. Serbu…!!”

Barulah pasukan Yucen itu menjadi panik benar-benar. Suara perintah itu datang dari atas puncak dan mereka dapat menduga bahwa itu tentulah suara panglima wanita yang menurut cerita prajurit Yucen yang melarikan diri memiliki ilmu kepandaian yang mengerikan. Akan tetapi, serbuan itu datangnya bukan dari puncak, melainkan dari bawah, dari belakang mereka!

Terjadilah perang tanding yang jauh lebih hebat mengerikan dari pada tadi, akan tetapi lebih celaka lagi akibatnya bagi tentara Yucen karena mereka berada dalam keadaan panik dan siasat mereka hancur sehingga mereka berada di pihak yang diserang. Keadaan yang sama sekali di luar perhitungan mereka ini, yang membuat keadaan menjadi berbalik secara tiba-tiba, membuat para komandan pasukan itu tidak sempat lagi memikirkan siasat, maka satu-satunya jalan adalah melawan dan mempertahankan diri secara kacau-balau dan mencari selamat sendiri-sendiri!

Di lain pihak, tentara Pasukan Maut yang bergerak secara terpimpin dan teratur, ditambah kegembiraan mereka karena baru sekarang mereka tahu akan kelihaian siasat pimpinan mereka, tumbuh semangatnya dan terjadilah penyembelihan besar-besaran seperti yang semula direncanakan pasukan Yucen, akan tetapi sekarang merekalah yang menjadi domba-dombanya dan pihak musuh yang menjadi jagalnya! Banyak di antara mereka terbunuh, bukan hanya oleh senjata Pasukan Maut, akan tetapi juga yang terjun ke jurang dan tewas dalam usaha mereka menyelamatkan diri, dan hanya ada dua ratus orang saja yang sempat melarikan diri menerobos kepungan musuh dan terus lari sipat-kuping ke bawah bukit!

Pertempuran yang berat sebelah itu berlangsung sampai pagi dan dengan hati penuh kegembiraan Maya mendapat kenyataan bahwa dalam perang kedua kalinya ini pasukannya membasmi hampir tiga ratus orang musuh sedangkan dia hanya kehilangan tiga puluh orang, itu pun tidak semua tewas dan masih ada yang dapat tertolong karena hanya menderita luka-luka saja! Kemenangan yang membesarkan hatinya dan hati anak buahnya itu sekali ini benar-benar dirayakan mereka dengan tertawa-tawa dan bersendau-gurau menceritakan pengalaman masing-masing dalam pertempuran semalam!

Maya membawa pasukannya turun bukit dan beristirahat setengah hari lamanya di padang rumput yang luas sehingga mereka tidak akan dibokong musuh. Kemudian perjalanan ke barat dilanjutkan dengan semangat penuh. Maya tidak selalu menunggang kuda di depan pasukannya, kadang-kadang membiarkan pasukannya lewat sambil dia mengucapkan kata-kata bersemangat dan menyapa anak buahnya sehingga semua anak buahnya merasa bangga dan dekat dengan panglima ini. Banyak di antara mereka yang ketika panglima di atas kuda putihnya itu menjajari mereka, berkata terang-terangan,

“Hidup Maya Li-ciangkun! Kami siap mati membelamu!”

Maya tersenyum mengangguk dan berkata dengan suara merdu, “Aku pun siap mati membela Pasukan Maut! Setiap orang dari Pasukan Maut adalah seperti kaki dan tanganku sendiri!” Tentu saja ucapan panglima wanita remaja yang cantik jelita ini disambut sorak-sorai gembira.

Ketika pasukan pada beberapa hari kemudian melalui padang rumput, tiba-tiba pasukan berhenti. Maya yang sedang berada di belakang membalapkan kudanya menuju ke depan. Kiranya di depan pasukannya menghadang ribuan ekor domba. Ia mengerutkan keningnya dan memerintahkan perwiranya mengurus hal itu. Akan tetapi sampai agak lama pasukan masih belum bergerak maju, maka dia menjadi tidak sabar dan cepat ia menuju ke bagian depan.

 

Seorang perwira melaporkan bahwa para perwira dan pengawal cekcok dengan para penggembala domba, bahkan terjadi perkelahian. Maya terkejut, cepat ia menghampiri dan ketika melihat betapa enam orang perwira roboh dan terluka, dia marah sekali dan cepat meloncat turun dari atas kudanya dan lari ke depan.

Dilihatnya bahwa para perwiranya sedang berkelahi melawan pimpinan penggembala domba. Dia tertarik sekali menyaksikan kelihaian seorang di antara para penggembala itu. Agaknya dia itu pemimpinnya, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi tegap, tangan kanan memegang sebatang pecut kulit hitam, lengan kiri memondong seekor anak domba.

Gerakan penggembala muda ini hebat dan cepat sekali dan pecutnya itu menyambar-nyambar ganas, merobohkan dua orang perwira sekaligus dan yang masih menandinginya adalah Kwa-huciang, seorang di antara perwiranya yang paling lihai. Kwa-huciang bersenjata pedang dan kini terjadilah pertandingan antara kedua orang itu.

Maya menghampiri dan memandang penuh perhatian, diam-diam kagum menyaksikan kegagahan pemuda penggembala muda itu. Setelah bertanding belasan jurus, tiba-tiba penggembala yang melawan Kwa-huciang sambil memondong domba itu berseru keras, pecutnya melibat pedang Kwa-huciang, lalu dibetot hingga perwira itu terlempar. Kakinya menendang lutut Si Perwira yang jatuh terpelanting dan kini penggembala itu menginjakkan kaki kanannya di atas dada Kwa-huciang sambil berkata nyaring,

“Hayo lekas perintahkan pasukanmu mengambil jalan memutar, kalau tidak akan kuinjak hancur dadamu!”

“Eh, galak amat!” Maya berseru sambil melompat maju. “Penggembala berbau domba, kau sombong sekali. Mengapa engkau dan kawan-kawanmu mengamuk dan merobohkan para perwiraku?”

Penggembala domba itu menengok dan kelihatan tercengang lalu menjawab, “Domba kami banyak yang terinjak mati, sebagian lari kocar-kacir ketakutan. Domba-domba kami sedang makan rumput, mengapa pasukan kalian mengganggu? Mengapa tidak mengambil jalan memutar? Lihat, domba kecil ini sampai patah kakinya!” Ia menoleh ke arah domba yang dipondongnya. Kemudian ia memandang lagi kepada Maya sambil bertanya, “Eh, engkau ini prajurit wanita, mau apa?”

Maya tersenyum. “Orang kasar, agaknya engkau lebih pandai bergaul dengan domba dari pada dengan manusia.”

“Tentu saja! Apa sih baiknya manusia? Palsu dan berpura-pura, ganas dan kejam melebihi serigala. Domba-domba adalah makhluk yang lemah, selalu mengalah dan…”

“Dan engkau lupa bahwa kau sendiri juga seorang manusia!” Maya memotong. “Ataukah barang kali engkau ini pun seekor domba yang menyamar manusia?”

Pemuda itu gelagapan, merasa kalah bicara maka ia membentak, “Kau siapa dan mau apa?”

“Aku adalah panglima Pasukan Maut ini!” jawab Maya dengan sikap kereng.

Tiba-tiba penggembala domba yang muda itu melepaskan injakan kakinya sehingga Kwa-huciang mampu bernapas lagi dan Si Penggembala tertawa bergelak sampai tubuhnya berguncang-guncang dan mukanya memandang langit.

“Ha-ha-ha-ha! Panglimanya seorang bocah perempuan belasan tahun yang halus dan cantik! Pasukan macam apa ini? Pantas saja para perwiranya lebih lemah dari pada domba!”

Kwa-huciang marah sekali. Dia sudah bangkit duduk dan kini ia bangun sambil membentak, “Penggembala kurang ajar! Apakah kau sudah bosan hidup berani menghina Li-ciangkun?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo