August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part23)

 

 

Lin Lin tertegun karena melihat betapa kedudukan kaki dan gerakan tangan enci-nya itu mirip sedikit dengan ilmu barunya! Hal ini sebenarnya tidak aneh karena sebuah di antara kitab yang dipelajari Sian Eng di dalam goa adalah kitab ilmu silat Beng-kauw peninggalan Tok-siauw-kui yang tentu saja dasarnya sama dengan ilmu yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong. Karena ini ia menjadi gembira dan mainkan pedangnya.

Secara aneh sekali, gerakan mereka seimbang dan setelah mereka menyerang bersama, maka serangan itu merupakan rangkaian yang cocok dan daya serangannya hebat bukan main. It-gan Kai-ong yang sudah terluka parah dalam pertandingannya melawan Suling Emas beberapa hari yang lalu menjadi terkejut sekali. Biar pun dua orang gadis itu sudah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian yang luar biasa, namun andai kata ia tidak terluka parah, agaknya tidaklah mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkannya.

Akan tetapi, apa hendak dikata, ia terluka hebat dan luka itu belum sembuh, maka sekarang ia menghadapi keroyokan ini dengan berat. Beberapa kali ia terhuyung dan pada saat ia menangkis Pedang Besi Kuning dengan tongkat yang ia buat dari dahan pohon, kedua senjata itu saling tempel tak dapat dipisahkan lagi. Inilah saat yang celaka bagi It-gan Kai-ong karena pada detik berikutnya, pukulan tangan kanan Sian Eng dengan hebat menghantam lambungnya.

“Blukkk…!”

It-gan Kai-ong memekik aneh dan mulutnya menyemburkan darah segar, lalu tubuhnya terjengkang ke belakang. Pedang Besi Kuning yang sudah terlepas dari tempelan tongkat, menyambar dan sebuah bacokan membuat pundak kiri It-gan Kai-ong hampir putus. Kakek itu roboh dan pingsan seketika.

“Adikku, pinjamkan pedangmu sebentar!” kata Sian Eng dengan suara bersorak, kemudian ia menerima Pedang Besi Kuning itu dan… sambil tertawa-tawa seperti orang gila Sian Eng lalu menghujani tubuh It-gan Kai-ong dengan bacokan dan tusukan sehingga dalam sekejap mata saja tubuh kakek itu hancur tidak karuan macamnya lagi.

“Sudah, Enci Eng…!” Lin Lin merasa ngeri dan memalingkan mukanya. Ia merasa ngeri dan heran mengapa enci-nya menjadi begitu ganas. “Cukup! Dia sudah mati…!”

Akan tetapi Sian Eng terus membacok-bacok sambil tertawa-tawa sampai tubuh itu tidak merupakan tubuh manusia lagi, melainkan merupakan daging cacahan yang mengerikan. Tiba-tiba ia ber­henti membacok, melempar pedangnya ke atas tanah lalu… gadis ini menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu, sedih sekali.

Lin Lin sejenak terkesima. Kemudian ia mengambil pedangnya, membersihkannya dengan rumput dan menyarungkannya. Setelah itu ia mendekati Sian Eng, berlutut, merangkulnya dan membujuk.

“Sudahlah, Enci Eng. Mengapa kau agaknya begitu membencinya? Mengapa pula kau melarikan diri secara aneh? Ada rahasia apakah yang terjadi padamu? Ceritakanlah kepada adik…,” sampai di sini Lin Lin teringat dan menyambung, “ceritakan kepadaku, apa yang kau susahkan.”

Mendengar ini, Sian Eng menangis makin keras sampai tubuhnya berguncang-guncang sesenggukan ketika ia membenamkan mukanya pada rangkulan Lin Lin. Akhirnya tangisnya mereda dan ia dapat bicara, “Lin Lin, aku menangis saking girang hatiku dapat membunuh anjing ini. Dapat membunuh… gurunya dan sekarang aku akan mencarinya. Sebelum aku dapat membunuhnya, aku tidak mau berhenti!”

Lin Lin belum dapat mengerti. “Membunuh siapa, Enci Eng?” “Siapa lagi kalau bukan murid anjing ini?”
Lin Lin terkejut, terheran. Setahunya murid It-gan Kai-ong adalah Suma Boan. Memang mereka semua membenci Suma Boan, akan tetapi mengapa agaknya enci-nya membenci secara luar biasa?

“Kau maksudkan, Suma Boan?”

Tiba-tiba meledak lagi tangis Sian Eng. “Betul! Anjing biadab itu! Keparat jahanam Suma Boan, kau tunggulah pembalasanku!” Ia berteriak-teriak.

 

Diam-diam Lin Lin girang. Dia sendiri bermaksud mencari adik perempuan Suma Boan yang ia anggap telah merampas kekasihnya. Akan tetapi di samping kegirangannya mendapat teman enci-nya pergi ke kota raja, ia pun merasa heran bukan main.

“Enci Sian Eng, memang Suma Boan itu bukan manusia baik-baik dan sudah sepatutnya kita membencinya. Akan tetapi, kau sebut-sebut tentang pembalasan. Apakah artinya itu?”

Sian Eng merangkul Lin Lin. Pada saat itu ia telah kembali normal. Lin Lin merapikan rambut enci-nya, mengatur dan menyanggulkannya kembali.

“Lin-moi, dia… dia… ah, tadinya aku… aku telah gila. Aku… aku mencintanya….”

“Hemmm…?” Tapi Lin Lin menindas keheranannya, “Apa anehnya dengan itu? Wajar, Enci. Memang hati ini tidak dapat dikuasai kalau sudah menjatuhkan pilihannya.”

“Tapi dia menipuku! Dia mengkhianatiku! Ah… Lin-moi, pilihanku keliru…!”

Sambil menangis Sian Eng lalu menceritakan semua pengalamannya, mulai dia diperalat oleh Suma Boan mencari ilmu warisan Tok-siauw-kui sampai peristiwa di dalam perahu di mana ia dinodai oleh pemuda bangsawan yang berwatak kotor itu.

Berdiri sepasang alis Lin Lin. Ia mempertemukan giginya dengan penuh kegemasan sambil berkata, “Bedebah! Dia patut dibasmi! Mari kubantu kau, Enci Sian Eng. Kita cari dia di kota raja dan kita bunuh anjing itu. Setelah itu, kita langsung pergi ke istana karena aku pun harus membunuh adik perempuan Suma Boan.”

Kini Sian Eng yang memandangnya dengan mata terbelalak heran. Saking kaget dan herannya, Sian Eng lupa akan tangisnya dan dengan mata merah dan pipi masih basah air mata ia menatap wajah adiknya, lalu bertanya, “Suma Ceng? Mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Aku pernah bertemu dengannya. Dia itu biar pun adik dari Suma Boan, namun wataknya baik sekali, berbeda dengan kakaknya. Pula, dia adalah bekas kekasih kakak Kam Bu Song yang sampai sekarang masih mencintanya.”

“Justru itulah sebabnya mengapa aku harus membunuhnya!” “Apa? Karena ia mencinta kakak Bu Song?”
“Karena ia berani mencinta Suling Emas!”

“Eh, Lin-moi. Bagaimana itu? Apa salahnya itu? Mengapa kau marah melihat Suma Ceng mencinta….” “Karena aku mencinta Suling Emas!” ucapan Lin Lin ini terdengar keras.
Sian Eng melongo dan sejenak tak dapat mengeluarkan kata-kata. Kemudian ia memegang lengan adiknya dan mengguncang-guncang, seakan-akan ia hendak membangunkan adiknya dari pada tidur dan mimpi buruk.

“Lin-moi…! Gilakah kau? Suling Emas adalah Kam Bu Song!” “Aku tahu!” jawabnya dingin.
Sian Eng makin bingung. “Kau tahu dan kau bilang mencintanya? Suling Emas atau Kam Bu Song adalah kakakmu…”

“Bukan! Sekali lagi bukan kakakku! Pertalian apakah yang mengikat persaudaraan kami? Dia itu kakak tiriku, memang betul. Kalian seayah lain ibu. Akan tetapi aku? Aku adalah Yalin, Puteri Yalin, Puteri Mahkota Khitan! Dia itu, juga kau, dengan aku adalah orang lain, berlainan darah. Mengapa aku tidak boleh mencinta Suling Emas?”

Hening sejenak. Agaknya Sian Eng terpukul mendengar kenyataan yang benar-benar mengguncangkan hatinya ini. Sama sekali tak pernah disangkanya akan terjadi keruwetan cinta kasih semacam ini. Tadinya ia mengira bahwa dialah orang paling tidak beruntung di dunia ini, yang menjatuhkan hati secara keliru. Kiranya sekarang terjadi pertalian asmara yang lebih aneh pada diri Lin Lin.

 

“Hemmm, begitukah? Kau mencinta Suling Emas. Lalu, mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Dia sudah bersuami orang lain, sudah mempunyai anak, mengapa diganggu lagi? Bagaimana sikap Suling Emas terhadap cintamu?”

Ditanya begini, tiba-tiba Lin Lin menangis! Keadaan menjadi terbalik sama sekali. Sekarang Lin Lin yang menangis dan Sian Eng memeluknya, menghiburnya. Kemudian di antara isak tangisnya Lin Lin menceritakan pengalamannya, betapa secara aneh Suling Emas menolak cintanya dengan alasan sudah tua, alasan yang sama sekali tidak dipercayanya karena ia yakin bahwa kakak angkatnya itu juga mencintanya.

“Tentu karena gara-gara Suma Ceng itulah maka ia tidak membalas cintaku, atau lebih tepat ia memaksa diri memutuskan pertalian asmara denganku. Enci Sian Eng, biar pun kita bukan saudara sedarah, namun semenjak kecil kita berkumpul. Aku akan membantumu membunuh Suma Boan, kemudian kau membantu aku membunuh Suma Ceng. Setelah itu, aku akan pergi ke Khitan untuk merampas kedudukan ratu yang menjadi hakku. Nah, bagaimana? Apakah kau mau ikut denganku? Aku akan tetap menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Biarlah kita yang menderita karena asmara ini bersama-sama menghadapi segala hal, sehidup semati.”

Sian Eng terharu, merangkulnya dan kedua orang gadis itu bertangisan. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu, tempat yang amat menyeramkan karena di situ terdapat onggokan daging, tulang dan darah It- gan Kai-ong yang sudah tidak dapat disebut mayat lagi, dan tak lama setelah kedua orang gadis itu pergi, burung-burung liar beterbangan datang untuk menyantap hidangan yang lezat bagi mereka ini!

********************

Sementara itu, terjadi perubahan besar di kota raja Kerajaan Sung. Kaisar Sung Thai Cu, Kaisar Kerajaan Sung pertama telah menyerahkan tahta kerajaan kepada adiknya sendiri yang berjuluk Kaisar Sung Thai Cung. Kaisar baru ini juga melanjutkan politik pemerintahan kakaknya, namun dibandingkan dengan Sung Thai Cu kaisar kedua ini lebih berhasil. Kaisar Sung Thai Cung berani mempergunakan tangan besi terhadap para pejabat tinggi yang melakukan penyelewengan, tidak mudah dijilat oleh sikap memuji-muji, dan di samping ini, memperkuat pasukan kerajaan dalam persiapan menggempur kerajaan-kerajaan kecil yang sampai saat itu belum juga mau tunduk dan belum mengakui kekuasaan Kerajaan Sung.

Berbeda dengan jaman kerajaan yang sudah-sudah, terutama di jaman Kerajaan Tang yang sering kali terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara di kala tahta kerajaan berpindah tangan, pemindahan kekuasaan dan penggantian kaisar kali ini terjadi dengan aman dan tidak terjadi sesuatu keributan. Hal ini adalah karena kebijaksanaan Kaisar Sung Thai Cu yang dalam hal ini melaksanakan anjuran ibunya, yaitu menyerahkan kekuasaan dan mengangkat adiknya sendiri sebagai penggantinya. Andai kata ia tidak bijaksana dan memaksa untuk mewariskan tahta kerajaan kepada putera-puteranya yang kurang pengalaman, pasti hal ini akan menimbulkan kekeruhan, mendatangkan perebutan kekuasaan dan perang saudara seperti yang sudah-sudah.

Kaisar yang baru, Sung Thai Cung, adalah seorang yang luas pandangan dan bijaksana. Namun tindakannya yang pertama, yaitu membersihkan petugas-petugas negara yang korup dan nyeleweng, sedikit banyak menimbulkan keributan pula dari para pembesar yang melakukan perlawanan. Betapa pun juga, mereka ini semua dapat ditundukkan dan diseret ke dalam penjara, bahkan banyak di antaranya yang diberi hukuman mati. Biar pun peristiwa pembersihan ini melegakan hati rakyat, namun mengubah suasana di kota raja.

Karena terlalu banyak pembesar korup dibunuh, dan juga karena memang hampir semua petugas tadinya menyeleweng, banyak di antara mereka yang melarikan diri sebelum tertangkap. Mereka yang masih berani tinggal di kota raja dengan harapan takkan diketahui dosa-dosa mereka yang lalu, tidak pernah berani keluar rumah, takut ada jari telunjuk menudingnya. Inilah yang membuat kota raja menjadi sunyi. Tidak ada lagi pembesar, lama mau pun baru, yang berani berfoya-foya dan berpelesir seperti yang sudah- sudah.

Keadaan di kota raja ini mempengaruhi pula keadaan kota-kota besar lain, terutama sekali yang berdekatan dengan kota raja, seperti kota An-sui. Kota ini pun menjadi sepi dan banyak pembesarnya melarikan diri atau ditangkap.

Gedung besar Pangeran Suma Kong tetap berdiri megah dan pangeran tua ini tidak mau melarikan diri.

 

Memang ia dahulu terkenal sebagai seorang pangeran yang korup dan banyak makan uang negara. Akan tetapi sudah bertahun-tahun ia tidak memegang tugas lagi karena dipecat dan tidak diperbolehkan bertempat tinggal di kota raja oleh kaisar pertama.

Selain merasa bahwa dia sekarang sudah ‘bersih’, juga dengan adanya Suma Boan yang amat terkenal, tentu saja keluarga bangsawan Suma ini tidak merasa takut. Bahkan Suma Boan mengumpulkan anak buahnya, yaitu para buaya dan tukang pukul yang memiliki kepandaian untuk menjaga gedungnya siang malam. Di luar gedung, di setiap pintu, di atas genteng di sebelah kanan kiri dan belakang, semua terjaga dengan kuat siang malam sehingga gedung Pangeran Suma itu seakan-akan berubah menjadi sebuah benteng.

Setiap hari para penjaga yang bertugas menjaga di pekarangan depan yang luas dari gedung itu melewatkan waktu menganggur dengan latihan-latihan ilmu silat atau olah raga lain yang. Selain untuk berlatih maksudnya juga sebagai ‘pamer kekuatan’ untuk membangun ketabahan sendiri dan untuk mengecilkan hati golongan yang hendak memusuhi Pangeran Suma. Di situ terdapat delapan belas macam senjata dan juga besi-besi dan batu-batu besar yang mereka angkat dan lempar-lemparkan ke atas untuk mendemonstrasikan tenaga mereka. Penjagaan yang amat ketat ini dilakukan siang malam sehingga keluarga itu seakan-akan mempunyai barisan sendiri yang terdiri dari seratus orang lebih yang melakukan penjagaan secara bergiliran.

Pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa belasan orang penjaga di pekarangan depan itu bermain-main di pekarangan, mengangkat besi dan melempar-lempar batu, ada pula yang bermain silat dengan pelbagai senjata. Di antara mereka, yang mempunyai bentuk tubuh kuat dan menjadi ahli gwakang (tenaga luar), sengaja membuka baju untuk memamerkan otot-otot yang besar melingkar-lingkar di tubuh mereka. Kelebatan senjata tajam menyilaukan mata. Para penjaga yang bertugas di atas rumah juga ikut menonton sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa.

Munculnya Sian Eng di depan pintu pekarangan itu sekaligus menghentikan semua kegiatan olah raga. Semua mata mengincar keluar dan senyum lebar menghias semua mulut para penjaga itu, senyum dan pandang mata kurang ajar karena memang pemandangan di pagi hari ini menyedapkan mata. Pakaian Sian Eng yang ringkas membungkus tubuh yang langsing padat, wajah yang cantik jelita dengan hiasan rambut yang hitam halus disanggul ke atas, gerakan yang lemah gemulai, semua ini merupakan daya penarik yang mengagumkan hati semua laki-laki.

Sudah lazim di dunia ini, apa bila melihat seorang wanita cantik, timbul kegembiraan di hati pria. Kalau pria itu hanya sendirian, tentu tidak berani ia mengumbar kekurang-ajarannya dan akan menyimpan kekagumannya dalam pandang mata dan senyum. Kalau pria itu memang berwatak bersih, ia hanya akan menyimpan kekagumannya di dalam hati. Akan tetapi kalau banyak laki-laki yang memang wataknya kasar sedang berkumpul, tentu akan timbul kekurang-ajaran mereka dan mulailah para penjaga ini tertawa-tawa.

“Aduhhhhh… cantiknya…!”

“Wahai… siapakah begitu bahagia memiliki bidadari ini?”

Demikian bermacam-macam teriakan yang terdengar dari mulut mereka, bahkan di antara mereka ada yang mulai pula melempar-lempar batu dan mengangkat-angkat besi berat untuk pamer dan berusaha menarik perhatian gadis cantik ini. Namun Sian Eng tidak pedulikan itu semua, kakinya langsung melangkah masuk dengan tenang.

Melihat gadis itu betul-betul memasuki pekarangan, kegembiraan mereka memuncak dan seorang di antara mereka, komandan jaga, segera melangkah maju bertanya, suaranya digagah-gagahkan, “Nona, kau hendak mencari siapakah? Siapa di antara kita yang hendak kau jumpai? Heee, teman-teman! Adakah di antara kalian yang mengenal Nona ini?” kata-kata ini diteriakkan si komandan jaga dengan nada tidak percaya.

“Aku…!”

“Aku kenalannya!”

“Ah, akulah sahabat baiknya!”

“Heee, jangan mengacau! Dia tentu memilih aku!” teriak pula seorang penjaga yang bertugas di atas genteng.

“Pilihlah aku, Nona. Habis bulan semua gajiku akan kuserahkan padamu seluruhnya!” teriak pula seorang yang tubuhnya tinggi besar.

“Ha-ha, jangan percaya! Tentu sebagian sudah ia selundupkan ke tangan isterinya yang pertama!”

Ramailah suara para penjaga, bahkan banyak di antaranya yang mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan. Akan tetapi Sian Eng tetap tenang tidak mempedulikan mereka, bahkan tersenyum sedikit, senyum yang sebenarnya merupakan senyum sedih. Akan tetapi karena memang ia manis sekali kalau tersenyum, maka senyum ini mendatangkan teriakan-teriakan baru yang lebih riuh. Sian Eng menanti sampai hiruk- pikuk itu reda, baru ia berkata.

“Aku ingin bertemu dengan Suma Boan.”

Semua suara sirap seketika dan semua mata memandang penuh curiga, penuh selidik. Semua penjaga ini mengenal belaka kongcu mereka dan mengenal pula wanita-wanita yang mempunyai hubungan dengan putera pangeran itu. Akan tetapi mereka belum pernah melihat Sian Eng, oleh karena itu mereka menjadi curiga.

“Mengapa mencari Suma-kongcu? Apakah kau kenal dia?” tanya si komandan matanya memandang penuh selidik.

Sian Eng mengangguk, “Aku kenal dia, harap suka panggil dia keluar.”

Seorang penjaga yang bertelanjang dada, yang tubuhnya tegap dan kuat, melangkah maju. “Nona cantik, mengapa mencari Kongcu? Apakah kita ini tidak cukup hebat? Kau tinggal pilih. Lihatlah aku, hemmm, kalau kau menjadi kekasihku, kau akan aman. Lihat betapa kuatnya aku!”

Ia lalu membungkuk, kedua lengannya bergerak mengangkat sebuah batu besar. Otot-otot di tangannya melingkar-lingkar dan menonjol keluar ketika ia melemparkan batu itu ke atas, disambut dan dilemparkan lagi berkali-kali, seakan-akan seorang anak kecil bermain-main dengan sebuah bola karet yang ringan. Akhirnya ia membanting batu seberat seratus kati lebih itu ke atas tanah, ke depan Sian Eng, sambil mengangkat dada dengan penuh kebanggaan.

Sejak tadi sebetulnya hati Sian Eng sudah panas dan marah, akan tetapi ditahan-tahannya. Pikirannya sedang normal maka ia dapat mempergunakan kesabarannya, apa lagi memang kedatangannya ini sudah ia rencanakan bersama Lin Lin. Mereka sudah beberapa malam mengitari gedung akan tetapi tidak melihat jalan aman untuk memasuki gedung. Demikian ketat penjagaan di situ dan mereka berdua maklum bahwa menghadapi Suma Boan saja sudah berat, apa lagi kalau dikeroyok banyak penjaga dan siapa tahu di dalam gedung itu bersembunyi pula orang-orang sakti yang membantu Suma Boan.

Akan tetapi menyaksikan lagak orang-orang ini, Sian Eng hampir tidak kuat menahan kesabaran hatinya. Ia melangkah maju mendekati tempat itu, kaki kirinya bergerak dan… batu besar itu terlempar ke arah penjaga bertelanjang dada yang sedang membusungkan dadanya itu.

“Uhhhhh…!” orang itu berseru kaget.

Terpaksa menerima batu itu, namun ia tidak kuat menahan dan tubuhnya terlempar ke belakang sampai beberapa meter. Untung batu itu segera ia lempar ke samping sehingga tidak menimpa dadanya, namun hantaman tadi cukup membuat ia terengah-engah dan dari mulutnya keluar darah!

Ributlah para penjaga itu. Makin curiga mereka karena ternyata bahwa gadis cantik ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi Sian Eng segera berkata dengan suara ketus. “Aku adalah kenalan baik Suma Boan, apakah kalian masih berani main-main? Tunggu saja kalau Kongcu kalian melihat kekurang­ajaran kalian, aku akan minta dia memenggal kepala kalian seorang demi seorang!”

Kata-kata ini berpengaruh sekali. Mereka segera mundur dengan muka pucat dan komandan jaga segera mengedipkan mata kepada kawan-kawannya, kemudian ia sendiri berkata, “Maaf, karena kami tidak mengenal Nona, maka berani bersikap kasar. Harap Nona tunggu sebentar, saya akan melaporkan kepada Suma-kongcu.”

 

Sian Eng hanya mengangguk, kemudian ia menghampiri penjaga yang masih duduk terengah-engah. “Kau tidak lekas berlutut?!” bentaknya.

Penjaga yang sial ini sudah mendengar juga tadi pengakuan gadis lihai ini sebagai kenalan baik Suma- kongcu, maka dengan menahan rasa sakit dan hati penuh rasa takut akan kemarahan majikannya, ia segera berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala minta ampun. Tiba-tiba mereka semua, para penjaga itu, menjadi ngeri dan merasa seram karena gadis cantik itu tertawa meleking aneh dan terdengar bukan seperti suara ketawa manusia.

“Pergilah!” kaki Sian Eng bergerak dan penjaga itu terlempar beberapa meter jauhnya, bergulingan seperti sebuah bola ditendang. Anehnya, ia merasa dadanya tidak sesak lagi, maka cepat ia meloncat berdiri, mengangguk dengan hormat dan mengundurkan diri!

“Moi-moi…!” Pada saat itu Suma Boan muncul dari pintu samping. Ketika menerima laporan bahwa seorang gadis cantik yang amat lihai datang mencarinya, Suma Boan menjadi curiga dan mengintai dengan jalan memutar dari pintu samping. Akan tetapi begitu melihat bahwa yang datang adalah Sian Eng, hatinya berdebar keras. Tentu saja ia menjadi curiga dan menyangka buruk. Akan tetapi karena Sian Eng hanya datang seorang diri, timbul ketabahan hatinya, dan pula memang ia merasa suka kepada gadis cantik yang ia tahu amat mencintanya ini. Maka dengan hati berdebar dan sikap waspada, pemuda ini lalu muncul dan memanggil dengan suara penuh kasih sayang, wajah berseri, akan tetapi sinar matanya penuh selidik menatap wajah yang cantik jelita dan agak pucat itu.

“Koko…!” Sian Eng juga berseru dengan suara tertahan, seakan-akan ia merasa girang dan terharu, mukanya tiba-tiba menjadi merah seperti orang malu dan jengah. “Aku… aku ingin bicara penting denganmu…!”

Berdebar-debar jantung Suma Boan. Akan tetapi pandang matanya masih penuh selidik, ingin ia menjenguk isi hati gadis itu. Ia tahu bahwa Sian Eng mencintanya, akan tetapi tahu pula bahwa gadis itu bisa mendendam kepadanya dan bisa membenci karena perbuatannya terhadap gadis itu di dalam perahu. Tentu saja ia tidak mencinta dengan setulus dan sejujurnya hati terhadap Sian Eng, melainkan mencintanya karena gadis itu memang cantik jelita. Bagi seorang laki-laki semacam Suma Boan, ia selalu jatuh cinta kepada wanita cantik, berapa pun banyaknya. Cinta yang berdasarkan nafsu birahi, cinta yang berdasarkan ingin menyenangikan diri sendiri. Di samping kecantikan Sian Eng, juga gadis ini telah menemukan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui yang amat ia inginkan.

Namun Suma Boan adalah seorang laki-laki yang sudah banyak pengalamannya, pula ia terkenal cerdik, maka ia masih saja menaruh curiga. Tentu saja ia cukup percaya akan kepandaian sendiri, tahu bahwa Sian Eng seorang diri saja takkan mampu berbuat buruk terhadapnya. Akan tetapi ia sudah membuktikan keadaan aneh gadis ini yang seakan-akan telah menemukan ilmu dan memilikinya secara hebat, sungguh pun belum sempurna benar.

“Koko, aku mau bicara tentang… kitab…”

Seketika wajah Suma Boan berseri. Keinginannya mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui amat besar. Apa lagi pada waktu sekarang setelah keadaan pemerintahan di kota raja terjadi perubahan dan ia merasa betapa kedudukan keluarga ayahnya terancam. Ia ingin sekali mendapatkan kitab-kitab itu dan mewarisi kepandaian yang akan membuat ia menjadi seorang jagoan nomor satu yang ditakuti semua lawan.

“Moi-moi…, aku girang sekali kau datang. Marilah kita bicara di dalam…!” Ia melangkah maju, memegang lengan Sian Eng dan menggandengnya.

Sian Eng menurut saja dan berjalanlah mereka bergandengan tangan menuju ke ruangan dalam, melewati pagar penjaga yang berdiri tegak tanpa berkedip. Suma Boan yang menggandeng dan merapatkan tubuhnya merasa betapa jantung di dalam dada gadis itu berdebar-debar keras. Diam-diam ia merasa bahagia sekali karena mengira bahwa gadis ini terlalu girang bertemu dengannya.

Setelah mereka memasuki ruangan sebelah dalam, Suma Boan segera menarik gadis itu ke dalam sebuah kamar tamu yang indah, tiba-tiba ia memeluk Sian Eng dan menciuminya. Sejenak Sian Eng menurut saja, kemudian perlahan ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pelukan Suma Boan yang makin merasa yakin bahwa gadis ini tidak marah atau benci kepadanya.

 

“Moi-moi, kekasihku yang tercinta,” bisik Suma Boan, masih memegangi kedua tangan gadis itu, “alangkah rinduku kepadamu! Kau datang seperti seorang bidadari dari sorga yang turun ke dunia untuk menghibur hatiku. Moi-moi, aku tidak akan melepaskanmu lagi, jangan kau pergi meninggalkan aku lagi. Mari kita hidup bahagia di rumahku ini!”

“Suma-koko, kau sudah mengenal hatiku. Perkara itu belum waktunya kita bicarakan. Kedatanganku ini membawa urusan yang amat penting. Lepaskan tanganmu dan mari kita bicara baik-baik.” Sian Eng menarik tangannya.

Suma Boan tersenyum dan sengaja menekan jantungnya yang berdebar saking girangnya, karena di depan gadis ini ia harus menyembunyikan perasaannya bahwa ia jauh lebih ‘cinta’ pada kitab-kitab pusaka peninggalan Tok-siauw-kui dari pada diri gadis ini.

“Marilah, Adik Sian Eng, kita duduk di sana.” Ia menarik Sian Eng dan keduanya lalu duduk di atas dipan yang terdapat di kamar itu. Suma Boan tetap tidak melepaskan gadis itu, duduk di sampingnya sambil memeluknya. Sian Eng tidak menolak lagi dan ia berkata perlahan.

“Koko, kau tentu maklum akan perasaan seorang gadis. Saking kaget dan duka hatiku, ketika di dalam perahu dahulu…,” suaranya tersendat dan kedua pipinya menjadi merah sekali, “secara tidak sadar aku menyerangmu dan kemudian melarikan diri. Baru kemudian aku merasa betapa… aku tak dapat hidup terpisah dari padamu, maka… maka aku datang ke sini….”

Girang sekali hati Suma Boan. Ia mengelus-elus rambut kepala gadis itu lalu berkata, “Aku tahu, Moi-moi. Aku… aku lupa daratan waktu itu saking besarnya cintaku kepadamu. Tentang kitab-kitab itu… eh, bukankah kau tadi bilang mau bicara tentang kitab?”

Wajah Sian Eng berseri dan ia tersenyum lebar. “Kitab-kitab? Ah, belum kuceritakan kepadamu bahwa setelah aku pergi dari perahu, aku memasuki lagi goa rahasia dan mengambil semua kitab peninggalan Tok-siauw-kui. Kau tahu kitab-kitab apa yang kudapatkan? Kitab rahasia dari Siauw-lim-pai, kitab ilmu pedang dari Kun-lun, kitab rahasia tentang ilmu kesaktian Beng-kauw, ada pula kitab yang mengajarkan ilmu-ilmu mukjijat tentang melawan maut, malah ada kubaca sepintas lalu judul sebuah kitab yang mengajarkan ilmu menghilang dan terbang!”

Seperti seorang kelaparan mendengar cerita tentang makanan-makanan lezat, Suma Boan menelan ludah. Akan tetapi sebagai seorang yang cerdik ia menahan gelora hatinya ini dan cepat memeluk Sian Eng. “Ah, kekasihku yang baik. Sesungguhnya, soal kitab itu bagiku hanya soal kecil. Yang penting, yang selalu kurindukan, yang selalu kuimpikan, adalah dirimu, Adik Sayang! Akan tetapi aku khawatir sekali karena kau sudah mendapatkan kitab-kitab itu, tentu kau menjadi incaran orang-orang dunia kang-ouw. Akan lebih aman kalau kau tinggal bersamaku di sini, beserta kitab-kitab itu yang boleh kita pelajari bersama. Kita kelak akan menjadi suami isteri yang paling hebat di kolong langit! Di manakah sekarang kitab-kitab itu? Mari kita ambil dan bawa ke sini, Moi-moi.”

Sian Eng tersenyum manis, biar pun hatinya penuh kebencian ketika pemuda yang ia cinta akan tetapi yang menghancurkan cinta kasihnya dengan pengkhianatan itu menciuminya mesra. “Itulah sebabnya aku datang, Koko. Kitab-kitab itu kusembunyikan di tempat rahasia. Akan tetapi aku tidak berani mengambilnya sendiri dan membawanya ke sini. Kau benar, kalau sampai ketahuan orang kang-ouw, tentu mereka akan berusaha merampasnya. Marilah kau ikut denganku ke tempat itu, tidak jauh, kita bersama mengambil kitab-kitab itu dan membawanya ke sini. Akan tetapi… apakah betul kau akan tetap setia kepadaku?” Sian Eng pura-pura memandang penuh curiga.

“Ah, Sian Eng, kekasihku, apakah kau masih tidak percaya kepadaku?” Tiba-tiba pemuda itu berlutut di depan Sian Eng, merangkul kedua kakinya!

Sejenak sepasang mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi. Alangkah inginnya ia menggerakkan tangan, sekali pukul ubun-ubun kepala yang tunduk di depannya itu ia akan dapat membunuh Suma Boan. Akan tetapi ia teringat akan banyaknya penjaga dan ia tentu akan terkurung dan berada dalam bahaya.

“Mari kita pergi sekarang, Koko.”

“Sekarang? Mengapa tergesa-gesa? Pula, berbahaya sekali mengambilnya di waktu siang. Lebih baik malam nanti kita pergi, Adikku.”

 

Karena tahu bahwa kalau ia mendesak, Suma Boan pasti akan menaruh curiga, gadis itu terpaksa menyetujui. Pula, memang lebih baik pergi di waktu malam untuk melaksanakan rencananya yang sudah ia atur dengan Lin Lin ini. Ia harus berani berkorban, demi maksud hatinya membalas dendam. Hatinya perih dan makin sakit, akan tetapi Sian Eng rela menjadi permainan Suma Boan sebelum ia mendapat kesempatan menghancurkan orang yang telah membasmi kebahagiaan hatinya.

Ia terpaksa menuruti kehendak Suma Boan terpaksa ia menyerah dan menahan-nahan kemuakan hatinya ketika Suma Boan membuktikan ‘cinta kasihnya’, yang sesungguhnya bukan lain hanya terdorong nafsu semata-mata. Makin bencilah hati Sian Eng, dan ketika hari terganti malam Suma Boan menggandeng tangannya keluar dari gedung, hampir Sian Eng tak kuat menahan kebenciannya. Baru setelah mereka berjalan di dalam gelap, gadis ini mencucurkan air mata yang cepat-cepat ia usap dengan ujung lengan bajunya.

Suma Boan kini percaya betul kepada Sian Eng. Siang tadi, gadis ini menyerah ikhlas kepadanya, tanda bahwa gadis ini benar-benar datang karena cintanya. Penyerahan gadis inilah menjadi bukti baginya bahwa di balik kedatangan Sian Eng tidak ada rahasia apa-apa. Kalau tadinya ia menaruh curiga dan menyangka akan adanya jebakan, maka dengan penyerahan diri Sian Eng kepadanya, maka kecurigaan itu lenyap sama sekali. Kini ia yakin bahwa Sian Eng benar-benar mencintanya, benar-benar datang hendak menyerahkan diri sambil membawa kitab-kitab yang berharga. Maka dapat dibayangkan betapa bahagia rasa hati putera pangeran ini.

Mereka memasuki hutan yang letaknya di sebelah barat kota An-sui. Hutan yang tidak terlalu luas akan tetapi cukup gelap karena pohon-pohon besar memenuhi hutan itu.

“Baik sekali kau tidak mengajak pengawal, Koko. Urusan ini lebih baik tidak diketahui orang lain.”

“Memang betul, Moi-moi. Kalau saja kau tidak membuktikan cinta kasihmu yang besar siang tadi, tentu aku akan mengajak pengawal-pengawal. Maklumlah, bukan aku kurang percaya kepadamu, akan tetapi perubahan di kota raja membuat musuh-musuhku mencari kesempatan untuk menghancurkan aku. Di manakah goa itu, Adikku?”

“Di sebelah sana, sudah dekat. Mari!” Di dalam gelap itu, dengan ‘mesra’ Sian Eng menggandeng tangan Suma Boan dan diajaknya berlari menuju ke tengah hutan. Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah goa yang depannya tertutup oleh rumput alang-alang. Sian Eng menarik tangan Suma Boan, diajak memasuki goa yang gelap itu sambil menyingkap alang-alang yang tinggi menyembunyikan goa.

“Mari masuk, kusembunyikan di dalam situ.” Mereka lalu memasuki goa yang cukup besar itu dengan jalan berindap-indap.

Suma Boan mulai curiga dan ber­sikap waspada, akan tetapi karena tidak mendengar suara apa-apa, ia ikut dengan Sian Eng melangkah masuk ke dalam goa. Setelah mereka melangkah maju sejauh lima meter, mereka bertemu dengan dinding goa.

“Di mana kitab-kitabnya?” Suma Boan berbisik.

Akan tetapi tiba-tiba Sian Eng merenggutkan tangannya sehingga Suma Boan amat kaget. Goa itu gelap, ia melihat bayangan Sian Eng menjauhkan dirinya.

“Moi-moi… di mana kau? Mana kitabnya…?”

Tiba-tiba matanya silau oleh sinar api yang dibuat orang dari luar dan beberapa detik kemudian, Lin Lin yang membawa obor di tangannya telah meloncat masuk, obor di tangan kiri, pedang bersinar kuning di tangan kanan! Juga Sian Eng menyambar sebuah obor, dinyalakannya dan menaruh obor itu di sudut goa. Keadaan menjadi terang menyeramkan.

Suma Boan berdiri terbelalak. Matanya mencari-cari dan ternyata goa itu kosong sama sekali. Luasnya lima meter persegi. Di depannya kini berdiri dua orang gadis berdampingan dan menutup jalan ke luar. Lin Lin dengan pedang bersinar kuning di tangannya. Sian Eng dengan kedua tangan terbuka, jari tangannya menegang, matanya terbelalak penuh kebencian. Diam-diam Suma Boan merasa ngeri juga, akan tetapi karena ia seorang laki-laki yang tabah dan berilmu tinggi, ia dapat menekan perasaannya dan pura-pura tidak dapat menduga kehendak mereka.

 

“Moi-moi… adikku Sian Eng yang manis, mengapa tiba-tiba adikmu ini muncul? Dan manakah kitab-kitab yang kau janjikan?”

“Suma Boan manusia iblis! Kematian sudah di depan mata, masih pura-pura tidak tahu akan dosa- dosamu?” bentak Sian Eng dengan suara gemetar saking menahan kemarahan yang meluap-luap, kemarahan dan kebencian yang selama ini memenuhi dadanya, yang selalu ditahan-tahan dan ditutupi sikap kasih sayang untuk dapat memancing dan menipu Suma Boan.

“Apa…? Eng-moi… apakah maksudmu? Bukankah kau juga mencintaku seperti aku mencintamu? Bukankah tadi… kau menyerahkan diri sepenuhnya dengan rela dan suka kepadaku?”

“Tutup mulutmu yang kotor!” bentak Sian Eng sambil melangkah maju penuh ancaman. “Ooooohhh, betapa bencinya aku! Makin benci mendengar kata-katamu. Suma Boan manusia berhati binatang, perbuatanmu yang biadab terhadap diriku di dalam perahu telah menodai cinta kasihku, telah merobek-robek hatiku, telah mengubah cintaku menjadi benci yang sebesar-besarnya. Aku ingin mengganyang jantungmu, ingin kuhirup darahmu dan kukeluarkan isi perutmu!”

Suma Boan kaget bukan main, merasa ngeri dan gentar. Mulai menyesallah hatinya mengapa ia terburu- buru menodai gadis ini yang ternyata tadinya benar-benar mencintanya. Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan melihat bahwa yang menentangnya hanya dua orang gadis ini, tentu ia segera dapat mengusir rasa jerinya. Ia tersenyum mengejek dan berkata.

“Hemmm, Sian Eng. Dengan kepandaianmu dan dibantu adikmu, apa kau kira akan mudah saja mengalahkan aku? Kau tahu, tingkat ilmu kepandaianku jauh melebihimu. Juga jauh melebihi kepandaian adikmu. Insyaflah akan hal ini dan kalian ini nona-nona manis, sayang sekali kalau sampai tewas di tanganku. Lebih baik kalian hayo ikut denganku, hidup penuh kesenangan di istanaku sambil memperdalam ilmu silat….”

“Laki-laki ceriwis…!” Lin Lin membentak dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning, menyambar ke arah leher Suma Boan.

Pemuda ini terkejut. Tak disangkanya gerakan Lin Lin demikian cepatnya, maka ia segera mengelak dengan meliukkan tubuh ke bawah sambil mendorong dengan tangannya ke arah siku yang memegang pedang ketika pedang itu lewat di atas kepalanya. Namun Lin Lin yang bersilat dengan ilmu saktinya yang baru, yaitu Cap-sha Sin-kun, segera dapat merubah letak pedangnya yang kini membalik ke bawah, menyambar dengan gerakan pergelangan tangan sehingga tangan Suma Boan yang tadinya hendak mencengkeram siku, kini berbalik disambar mata pedang!

“Aaaiiihhh!” Suma Boan yang sudah menarik lengannya itu kini menjerit sambil melompat ke atas dan berjungkir balik ke belakang karena kembali sinar pedang Lin Lin yang tadi dapat dielakkannya itu sudah berubah menjadi segulungan sinar kuning yang berpusing di sekitar dada dan lehernya! Hanya dengan cara berjungkir balik seperti tadi maka ia selamat.

“Bersiaplah menerima hukuman!” bentak Sian Eng.

Kembali Suma Boan terkejut sekali karena tiba-tiba angin menyambar berputaran dari arah Sian Eng ketika gadis itu menerjangnya dengan pukulan yang gerakan-gerakannya aneh sekali. Suma Boan baru saja terbebas dari ancaman maut pedang Lin Lin, kini ia cepat menggerakkan tubuhnya miring ke kiri sambil mengibaskan tangannya dengan tenaga sinkang sepenuhnya untuk menangkis.

“Wuuuttt! Wuuuttttt!” Angin pukulan kedua pihak yang disertai tenaga sinkang itu saling sambar dan baiknya Suma Boan adalah seorang jagoan yang terlatih, maka biar pun ia merasa tergetar oleh hawa pukulan mukjijat dari Sian Eng, namun tidak membuatnya roboh dan tangkisannya tadi berhasil.

“Singgg…!” Kembali sinar kuning pedang Lin Lin menyambar, disusul pukulan Sian Eng yang tidak kalah mengerikan dari pada sambaran pedang. Kedua orang gadis itu menerjangnya susul-menyusul dan bertubi-tubi dengan kecepatan yang luar biasa dan gerakan yang amat aneh.

“Kalian hendak mengadu nyawa? Boleh!” Akhirnya Suma Boan memekik marah karena ia tidak melihat jalan ke luar lagi.

Betapa pun juga, dalam hal ilmu silat ia lebih banyak pengalaman kalau dibandingkan dengan dua orang

 

gadis ini. Maka cepat ia mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari beberapa orang guru pandai, di antaranya terutama sekali It-gan Kai-ong. Bertahun-tahun putera pangeran ini menjagoi daerah An-sui, bahkan namanya terkenal sampai di kota raja, ditakuti orang dan pengaruhnya besar sekali.

Saking lihainya, ia sampai mendapat julukan Lui-kong-sian atau Dewa Geledek karena pukulan tangannya selalu ampuh dan sekali pukul cukup untuk mengantar nyawa lawan ke akherat. Entah berapa banyaknya lawan yang sudah terbunuh oleh pukulannya. Ketenaran namanya dan kehebatan ilmunya inilah yang membuat Suma Boan menjadi manusia sombong, memandang rendah orang lain, dan ke mana pun ia pergi, ia tidak pernah membawa senjata karena ia menganggap bahwa kedua pukulannya sudah cukup untuk mengalahkan musuh yang bagaimana pun juga.

Di antara banyak macam kepandaiannya menggunakan tangan kosong, yang paling hebat adalah ilmu pukulan yang ia pelajari dari It-gan Kai-ong yaitu yang disebut Ho-tok-ciang (Tangan Racun Api). Kalau dipergunakan pukulan ini hebatnya bukan kepalang karena dapat membuat badan lawan yang terpukul menjadi hangus! Jarang sekali Suma Boan menggunakan ilmu pukulan ini, karena sungguh pun hebat akibatnya kalau mengenai tubuh lawan, juga merugikan diri sendiri. Pengerahan sinkang di tubuhnya yang dibarengi dengan penggunaan racun yang panas seperti api dapat merangsang dirinya sendiri sehingga dapat mendatangkan luka pada kedua lengannya.

Menghadapi pengeroyokan Lin Lin dan Sian Eng yang mempunyai gerakan-gerakan aneh mukjijat itu, mula-mula Suma Boan menggunakan semua ilmu silat yang ada untuk melawan. Namun baru dua puluh jurus lewat saja ujung pedang Lin Lin sudah menggurat pahanya dan pukulan Sian Eng yang ditangkisnya meleset mengenai pundak sehingga membuatnya terhuyung-huyung. Kagetlah Suma Boan dan tahulah ia sekarang bahwa ia berada dalam bahaya. Kiranya dua orang gadis ini bukanlah Lin Lin dan Sian Eng setahun yang lalu, jauh selisihnya. Dua orang gadis ini mainkan ilmu silat yang amat aneh, ganas dan selain itu, tenaga mereka secara ajaib telah menjadi berpuluh kali lebih kuat dari pada dahulu.

“Hiaaattt!” Ketika Sian Eng menerjang lagi, Suma Boan memekik dan meloncat ke kanan sampai mepet dinding goa.

Secepat kilat pemuda ini mengeluarkan racun dari sakunya. Kedua telapak tangannya digosok-gosokkan dengan racun bubuk itu sehingga bubuk itu hancur memasuki telapak tangannya. Ketika ia membuka kedua lengannya, telapak tangan itu kelihatan menyala! Menyala dan mengeluarkan asap seperti arang dibakar. Hawa panas segera memenuhi goa.

“Awas tangannya, Enci!” Lin Lin ber­seru dengan kaget.

Akan tetapi gadis ini tidaklah menjadi gentar sungguh pun lawan menggunakan ilmu yang begitu aneh. Malah khawatir kalau-kalau Sian Eng celaka oleh tangan api itu, Lin Lin sudah menerjang maju lebih dulu, memutar pedangnya dan sekaligus ia menggunakan jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Mengeluarkan Kilat), sebuah di antara tiga belas jurus ilmu saktinya.

Sian Eng juga mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat ke atas dan dari atas ia menyambar turun dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti hendak mencengkeram kepala lawannya.

Di antara kedua orang pengeroyoknya, Sian Englah yang amat dibuat ngeri oleh Suma Boan. Ia maklum bahwa gadis ini menaruh kebencian besar kepadanya, menaruh dendam yang hanya dapat diredakan oleh darah dan nyawa. Oleh karena itu, begitu melihat datangnya serangan mereka yang demikian dahsyatnya, Suma Boan segera mendahului menggempur Sian Eng yang menyambar turun dari atas dengan dorongan kedua tangannya yang mengandung tenaga Ho-tok-ciang.

Melihat ini, Sian Eng nekat. Ia segera mengerahkan tenaga menurut ajaran kitab-kitab yang ia temukan di goa rahasia bawah tanah, lalu memekik tinggi. Belum juga kedua pasang tangan itu bertemu, hawanya sudah menyusup ke tulang sumsum. Sian Eng merasa betapa hawa panas memasuki kedua lengannya, sebaliknya Suma Boan kaget sekali karena serasa kedua lengannya dingin dengan mendadak.

Tiba-tiba mata Suma Boan menjadi silau oleh cahaya kuning. Ia menjerit dan cepat mempergunakan tangan kiri untuk mencengkeram pedang Lin Lin yang menyambar. Kalau tangannya sudah dimasuki tenaga Ho-tok-ciang macam itu, ia tidak takut untuk menangkis atau mencengkeram senjata tajam.

 

Gerakan inilah yang mencelakakan Suma Boan. Andai kata ia menggunakan seluruh tenaganya menyambut Sian Eng, tentu gadis itu akan kalah kuat dan celaka oleh hebatnya hawa pukulan Ho-tok- ciang. Atau andai kata ia menggunakan kedua tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga untuk menyambut pedang Lin Lin, tentu pedang itu akan terampas dan Lin Lin akan menemui bahaya maut. Akan tetapi setelah Suma Boan membagi perhatian dan tenaga, juga membagi kedua tangannya, kini berbalik ia yang kalah kuat.

Terdengar jerit mengerikan ketika mereka bertiga itu dalam detik yang sama saling berbenturan. Siang Eng terhuyung mundur, juga Lin Lin terhuyung mundur, akan tetapi Suma Boan terlempar ke belakang, dan hanya dapat berdiri sambil bersandar dinding goa. Tangan kanannya lumpuh, tangan kirinya luka berdarah dan hilang dua buah jarinya. Sejenak ia tertegun, akan tetapi tiba-tiba rasa sakit dari kedua tangannya tak tertahankan lagi.

Tangan kanannya yang kalah kuat ketika bertemu dengan kedua tangan Sian Eng membuat tenaga beracun Ho-tok-ciang membalik dan kini rasa panas berselubung rasa dingin akibat hawa pukulan Sian Eng memasuki dan menjalar perlahan-lahan dalam lengannya. Bukan main nyerinya, sampai seperti menusuk-nusuk jantung. Ada pun tangan kirinya yang termakan Pedang Besi Kuning juga terasa perih dan gatal. Pedang Besi Kuning adalah pedang pusaka yang tidak beracun, akan tetapi mengandung khasiat anti racun. Karena lengan kiri Suma Boan tadinya penuh hawa beracun, begitu termakan oleh pedang ini, maka hawa yang anti racun itu memerangi racun di tangan itu, maka mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa.

“Aduh… aduh… mati aku… aduh tanganku…!” Suma Boan tidak kuat menahan. Tubuhnya terguling, ia merintih-rintih lalu bergulingan ke sana ke mari seperti cacing kepanasan, mengaduh-aduh dan minta- minta ampun. Pakaiannya robek semua ketika ia bergulingan, mukanya menjadi kotor dan matanya mendelik serta mulutnya berbusa.

“Lin-moi, pinjam pedangmu!”

Lin Lin merasa ngeri dan ragu-ragu untuk memberikan pedangnya. Ia pernah menyaksikan kekejaman hati Sian Eng ketika mereka membunuh It-gan Kai-ong. Akan tetapi mendadak tangan kiri Sian Eng mencengkeram ke arah mukanya dengan ganas. Lin Lin terkejut sekali dan mengelak, akan tetapi pada detik selanjutnya Pedang Besi Kuning sudah terampas dari tangannya. Terpaksa ia hanya dapat berdiri memandang dengan hati ngeri.

“Eng-moi… jangan… ampunkan aku!”

“Ampun? Hi-hi-hik, ampun kau bilang?” Pedang itu berkelebat dan….

“Crok! Crok!” dua kali pedang menyambar dan putuslah kedua lengan Suma Boan sebatas pundak!

“Aduhhh…!” Suma Boan menjerit dan bergulingan. Darah bercucuran keluar dari kedua pundaknya yang buntung. Celaka baginya, pemuda bangsawan ini telah melatih diri sedemikian rupa sehingga daya tahan tubuhnya amat kuat. Lain orang tentu sudah roboh pingsan dan takkan merasakan sakit lagi. Akan tetapi dia tidak pingsan dan dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang ia rasakan.

“Hi-hi-hik! Kau jadi buntung! Hayo coba kulihat apakah kau masih mampu berbuat keji kepada wanita!” Sambil tertawa-tawa menyeramkan kembali Sian Eng menggerakkan pedangnya membacok Suma Boan yang ketakutan itu.

Muka Suma Boan pucat penuh peluh. Ia masih mampu menggulingkan ke sana ke mari untuk membebaskan diri dari pada bacokan pedang. Namun pedang itu membayanginya terus dan akhirnya….

“Crok! Crok!” disusul jeritan panjang dari mulut Suma Boan.

“Aduh… ampun… ampun…!” Biar pun kedua kakinya sudah terbacok putus sebatas paha, tubuh Suma Boan masih mampu bergerak-gerak dan sepasang matanya melotot seakan-akan hendak meloncat ke luar dari dalam rongga matanya.

“Hi-hi-hi-hik! Kau begitu ingin menjadi jago nomor satu di dunia dan untuk itu kau rela menipuku? Nah, setelah kaki tanganmu buntung, apa kau masih ingin menjadi jagoan?”

 

“Eng… moi…, ampun…,” Suma Boan masih dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara serak.

Akan tetapi agaknya sebutan terhadap dirinya ini menambah keganasan Sian Eng karena kembali pedangnya menyambar dan terbukalah perutnya. Tangan kiri Sian Eng menyusul, cepat membetot ke luar jantung yang basah oleh darah sehingga tangan kirinya berlepotan darah. Tubuh Suma Boan berkelojotan sebentar lalu diam terkulai.

Sian Eng tertawa-tawa lagi sambil menjilati darah di tangannya, kemudian ia makan jantung itu. “Hi-hik, kuminum darahmu, kuganyang jantungmu…!”

“Enci Sian Eng…!” Lin Lin menjerit penuh kengerian sambil melompat mendekati, tangannya merampas pedang. “Enci Eng, apakah kau telah menjadi gila? Kau kejam dan liar!”

Jantung itu sudah memasuki perut Sian Eng. Kini ia menunduk, memandang tubuh Suma Boan yang sudah tidak karuan macamnya, kaki tangan buntung, perut robek dan isinya berceceran ke luar. Tiba-tiba Sian Eng menubruk dan menangis sambil memeluk Suma Boan.

“Suma-koko… kenapa kau menyia-nyiakan cintaku…?” Ia menangis menggerung-gerung, membuat Lin Lin berdiri tertegun dengan bulu roma berdiri. Hatinya tidak karuan rasanya. Jelas bahwa enci-nya ini tidak beres lagi otaknya.

“Enci Sian Eng, ingatlah! Dia memang jahat, akan tetapi kita sudah berhasil membunuhnya. Mari kita pergi dari sini!”

Tiba-tiba Sian Eng mengangkat mukanya yang basah air mata, lalu membentak, “Pergi dari sini? Tak tahukah kau bahwa aku tak dapat meninggalkan kekasihku? Dialah satu-satunya pria yang kucinta. Kau pergilah, jangan ganggu kami!”

Lin Lin menggeleng kepalanya. Watak enci-nya sudah amat berubah dan kalau ia menggunakan kekerasan tentu enci-nya akan mengamuk. Ia ngeri memikirkan akibatnya kalau mereka berdua sampai bentrok. Biar pun ia menguasai ilmu silat tinggi, namun enci-nya juga mewarisi ilmu yang biar pun sama halnya dengan dia sendiri, belum masak latihannya, namun harus ia akui bahwa enci-nya memiliki ilmu yang aneh mukjijat. Pertempuran antara mereka akan hebat sekali akibatnya. Maka dengan perasaan ngeri dan apa boleh buat ia meninggalkan tempat itu, cepat lari menuju ke kota raja. Biarlah, kalau enci-nya sudah kumat penyakit gilanya, ia akan pergi sendiri mencari Suma Ceng, wanita yang menjadi kekasih Suling Emas, yang menghalangi pertalian kasih antara dia dan Suling Emas.

Karena Lin Lin melakukan perjalanan cepat sekali maka pada keesokan harinya pada senja hari ia telah tiba di kota raja. Sungguh pun kini kaisar yang memegang tampuk kerajaan sudah diganti, namun keadaan di kota raja tampaknya biasa saja, tidak ada perubahan. Bahkan Lin Lin melihat bahwa di dalam kota tidak tampak berkeliaran anggota-anggota pasukan seperti keadaan dulu.

Hal ini memang satu-satunya perubahan yang diadakan oleh kaisar yang baru, yaitu Sung Thai Cung. Setelah kaisar baru ini menggantikan kedudukan kakaknya, ia memperkuat keadaan pasukannya dan memperkuat penjagaan tapal batas atau wilayah Kerajaan Sung, mengerahkan seluruh bala tentara yang ada untuk menjaga di perbatasan dan mencegah gangguan dari kerajaan tetangga.

Malam hari itu, dengan menggunakan ilmunya Lin Lin berkelebat di atas genteng rumah gedung besar Pangeran Kiang, suami Suma Ceng. Mudah saja bagi Lin Lin mendapatkan rumah Pangeran Kiang karena ketika ia bertanya tentang rumah ipar dari Suma Boan, tidak ada orang di kota raja yang tidak tahu. Seperti juga dahulu, rumah gedung ini masih indah dan mewah. Akan tetapi keadaannya sunyi, padahal waktu itu malam baru saja tiba dan bulan hampir penuh menghias angkasa menciptakan malam indah.

Tiba-tiba Lin Lin yang berada di atas genteng rumah itu mendengar suara anak-anak yang bermain-main sambil tertawa-tawa. Cepat ia melompat ke arah belakang dan ternyata dalam sebuah taman tampak tiga orang anak sedang bermain-main, diasuh oleh dua orang pelayan. Ada pun di dekat kolam ikan duduk seorang wanita cantik yang termenung memandang bayangan bulan di dalam air. Hanya kadang-kadang saja wanita ini menoleh ke arah anak-anak yang bermain-main dengan gembira, akan tetapi segera ia tenggelam pula dalam lamunannya.

Dari atas genteng Lin Lin memperhatikan wanita itu. Lampu taman yang diselubungi kertas berwarna-warni menjatuhkan cahayanya pada wajah yang ayu dan tubuh yang bentuknya ramping, gerak gerik yang halus.

 

Makin panas hati Lin Lin. Kalau benar inilah wanita yang bernama Suma Ceng, pantas jika Suling Emas jatuh cinta. Wanita ini cantik dan memiliki sikap agung seperti biasa dimiliki puteri bangsawan. Tentu saja Suling Emas lebih memilih wanita ini dari pada dia. Dia seorang gadis kang-ouw yang kasar dan liar! Makin dipandang, makin panas hati Lin Lin dan tiba-tiba tubuhnya sudah melayang turun dan langsung ia lari ke depan wanita itu.

Wanita itu memang betul Suma Ceng adanya. Semenjak peristiwa dengan Suling Emas yang menyerang suaminya dan ia membela suaminya mati-matian, sering kali wanita ini duduk melamun. Kadang-kadang ia menyesali perbuatannya, karena sesungguhnya harus ia akui di dalam hati bahwa cintanya terhadap pendekar itu tak pernah lenyap, tak pernah luntur dari hatinya, maka perlawanannya terhadap Suling Emas untuk membela suaminya itu tentu saja menghancurkan hatinya. Ia maklum bahwa perbuatannya itu tentu merupakan tusukan yang menyakitkan hati terhadap bekas kekasihnya.

Akan tetapi pikiran ini segera ia usir dengan kesadaran bahwa sesungguhnya hal itu merupakan jalan terbaik baiknya. Lebih baik membiarkan Suling Emas pergi dan membencinya, tidak akan kembali lagi selamanya agar pendekar itu dapat melupakannya, tidak tersiksa lagi hatinya. Juga dia sendiri dapat menjaga nama baik sebagai seorang isteri yang setia kepada suaminya. Dan yang jelas, semenjak peristiwa itu terjadi, suaminya, Pangeran Kiang bersikap manis dan baik kepadanya.

Ketika Suma Ceng melihat berkelebatnya orang dan secara tiba-tiba melihat seorang gadis berdiri di depannya, ia kaget sekali dan cepat bangkit berdiri. Tadinya ia kaget dan mengira Suling Emas yang datang lagi, akan tetapi setelah melihat bahwa yang datang seorang gadis, ia terheran-heran. Akan tetapi ketabahannya kembali ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis muda yang cantik sekali. Dengan senyum tenang Suma Ceng bertanya.

“Siapakah kau dan apa kehendakmu datang secara begini?”

Lin Lin meraba gagang pedang, sejenak ia menentang pandang mata wanita itu sehingga dua pasang mata yang sama jeli dan sama tajam itu saling tatap penuh selidik. Kemudian Lin Lin bertanya, suaranya lantang.

“Apakah kau yang bernama Suma Ceng?”

Suma Ceng mengerutkan keningnya. Sebagai seorang nyonya yang selalu menjunjung tinggi nama suaminya, segera ia menjawab, “Aku adalah Nyonya Pangeran Kiang dan siapakah kau?”

“Tapi dulu sebelum menikah bernama Suma Ceng?” Lin Lin mendesak lagi.

Terpaksa Suma Ceng mengangguk. “Betul, dahulu aku bernama Suma Ceng, dan kau mau apakah tanya- tanya nama kecil orang lain?”

“Srettt!” Pedang Besi Kuning sudah berada di tangan Lin Lin.

“Mau membunuh engkau!” bentak Lin Lin dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning yang menyambar ke arah leher Suma Ceng. Gerakan ini demikian cepat dan tidak terduga sehingga nyonya muda itu biar pun pandai silat tak sempat untuk menyelamatkan diri lagi, hanya berdiri terkesima dengan mata terbuka lebar. Pedang Besi Kuning menyambar ganas!

“Tranggggg!”

Lin Lin terpental ke belakang, berputar-putar sampai lima kali putaran baru ia dapat menghentikan kakinya ketika pedangnya bertemu dengan sesuatu yang amat hebat tenaganya, membuat pedangnya itu terpental dam membawa pula dirinya berputaran. Ia kaget dan marah sekali, namun tidak gentar karena ia memang sudah siap untuk bertempur mati-matian dalam usahanya membunuh wanita yang dibencinya. Cepat ia meloncat dan membalikkan tubuh, siap dengan pedang di depan dada. Tapi mendadak tubuhnya gemetar, wajahnya pucat dan tangan yang memegang pedang menggigil. Kiranya yang menangkis pedangnya, yang kini berdiri tegak di depan Suma Ceng dengan suling di tangan, yang memandangnya dengan kening berkerut dan mata sayu, adalah… Suling Emas!

“Lin Lin, terlalu sekali engkau… hendak membunuh orang yang tidak bersalah apa-apa?” Suling Emas menegur sambil menggeleng-geleng kepalanya, wajahnya yang tampan itu kelihatan sedih sekali.

 

Teguran ini meledakkan gunung berapi kemarahan yang mendesak di hati Lin Lin. Tiba-tiba saja air matanya keluar bercucuran dan ia menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas. “Kau…! Kau…! Kau yang telah menghinaku… kini membela dia…! Ah, aku benci padamu! Benci…!” Sambil terisak menangis Lin Lin meloncat dan lari pergi secepatnya.

“Lin Lin, tunggu…!” Suling Emas mengejar.

Di taman itu tinggal Suma Ceng yang berdiri terlongong, sedangkan anak-anaknya ketakutan dan dua orang pelayan sibuk menghibur mereka dengan muka pucat karena takut pula.

“Mari kita masuk, dan jangan ceritakan kepada siapa pun juga tentang peristiwa tadi,” akhirnya Suma Ceng berkata, kemudian ketika berada di dalam kamarnya, tak tertahankan lagi nyonya ini menjatuhkari diri di atas pembaringan dan menelungkup sambil menangis.

“Lin Lin, tunggu…!” Suling Emas berteriak dan mempercepat pengejarannya.

Lin Lin seperti orang gila, berlari cepat sekali karena ia mengerahkan ilmu lari berdasarkan tenaga yang ia peroleh dari latihan ilmunya yang baru di bawah petunjuk Empek Gan. Betapa pun juga latihannya yang masih belum masak itu tidak memungkinkan ia dapat melarikan diri dari pada pengejaran Suling Emas. Akhirnya, jauh di luar kota raja ia dapat disusul oleh Suling Emas yang mendahuluinya dan membalik, menghadang di tengah jalan.

“Lin-moi, berhenti sebentar, mari kita bicara baik-baik….”

Dengan air mata membasahi pipinya, Lin Lin melintangkan pedangnya di depan dada dan matanya yang tajam menatap wajah pendekar itu sambil berkata ketus, “Bicara apa lagi? Kau sudah puas menghinaku dua kali! Kau menyusul aku apakah hendak menghina lagi dan melihat aku mampus?” air matanya makin deras bercucuran.

Dengan suara sedih Suling Emas berkata, “Lin Lin… Lin-moi, mengapa kau berkata demikian? Tidak sekali-kali aku berani menghinamu. Ah, Lin Lin, tidak tahukah kau betapa hancur hatiku menghadapi semua ini? Kau agaknya tahu sekarang, bahwa… bahwa aku adalah kakakmu sendiri. Tidak saja aku jauh lebih tua darimu, tapi juga aku… aku adalah kakakmu, Lin Lin. Aku tidak menghina….”

“Cukup!” Lin Lin membentak di antara isak tangisnya, “Katakanlah bahwa kau memandang aku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu, seorang gadis yang rendah! Kau bukan kakakku, ini kau pun tahu jelas. Aku seorang puteri Khitan, aku hanya anak pungut ayahmu, aku bukan she Kam! Kita bukan sedarah daging, bukan seketurunan. Tentang usia… sudahlah, tentu saja kau menganggap aku seorang gadis tak berharga! Kau… kau mencinta Suma Ceng yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Ah, mengapa kau tidak bunuh saja aku?” Kembali Lin Lin menangis.

Suling Emas menarik napas panjang. “Kau betul. Memang aku pernah mencintanya, mencintanya sebelum ia menikah dengan Pangeran Kiang. Namun kami tidak beruntung, dan dia sudah bahagia di samping suaminya, aku… aku sudah melupakan perhubungan kami yang lalu. Karena inilah Lin-moi… karena aku merasa bahwa aku sudah pernah mencinta orang lain, ditambah lagi kenyataan bahwa kau sejak kecil menjadi puteri ayahku, diperkuat dengan kenyataan bahwa aku jauh lebih tua dari padamu, bagaimana pun juga… tak mungkin aku mau merusak hidupmu. Kau masih muda, jelita, dan perkasa, lagi pula kau Puteri Khitan. Di dunia ini banyak pria yang jauh melebihi aku segala-galanya, menantimu….”

“Cukup! Kau hendak menambah luka di hatiku? Kau sengaja menghancurkan hatiku yang sudah sakit ini? Alangkah kejamnya kau! Alangkah bencinya aku kepadamu!” Lin Lin menggerakkan pedangnya dengan ancaman hendak menusukkan senjata ini di dada Suling Emas.

“Bagus begitu… kau tusuklah dada ini! Lebih baik begitu, Lin-moi. Untuk apa aku hidup lebih lama lagi kalau hidupku hanya mendatangkan sengsara bagi banyak orang?” Suling Emas berhenti sejenak, meramkan matanya membayangkan wajah Suma Ceng, juga wajah Tan Lian yang menjadi korban asmara, kemudian ia membuka lagi matanya. “Sudah kupenuhi kewajibanku mewakili ibu menghadapi Thian-te Liok-koai, sudah kupenuhi kewajibanku bertemu dengan adik-adikku seperti pesan ayah. Kau tusuklah dadaku!”

Karena Lin Lin memegang pedangnya dengan gerakan menusuk, maka ketika Suling Emas menubruk ke depan, tak dapat dicegah lagi pedangnya menusuk dada Suling Emas. Lin Lin terkejut dan membuang

 

muka sambil menutupinya dengan tangan kiri. Tangannya yang memegang pedang gemetar sehingga pedang itu menyeleweng, menggores kulit dada kemudian ujung pedang menancap di pundak kanan Suling Emas!

Ketika merasa betapa pedangnya menusuk daging, Lin Lin menjerit kecil dan menarik pedangnya, berdiri terbelalak dengan muka pucat. Suling Emas masih berdiri, mulutnya tersenyum sedih, darah mengucur ke luar membasahi bajunya.

“Mengapa kepalang tanggung, adikku? Tusuklah lagi, yang tepat… ini dadaku, aku rela mati untuk membebaskanmu dari derita….”

Makin besar mata Lin Lin terbelalak, kemudian ia menjerit lagi dan terisak lari meninggalkan tempat itu. Suling Emas terhuyung-huyung kemudian roboh pingsan.

********************

“Berhenti! Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami!” terdengar bentakan keras dan belasan orang berloncatan ke luar dari balik pohon dan segera mereka mengurung Lin Lin yang berdiri tenang. Sekali pandang tahulah Lin Lin bahwa ia dikurung oleh para prajurit Khitan, bahkan di antaranya ada yang ia kenal sebagai perwira-perwira yang pernah ikut rombongan ke Nan-cao menghadiri perayaan Beng-kauw. Dan di belakang belasan orang ini muncul pula rombongan yang merupakan pasukan berjumlah lima puluh orang lebih, lengkap dengan senjata tajam. Sikap mereka rata-rata galak dan tangkas, dan memang suku bangsa Khitan terkenal sebagai orang-orang yang berjiwa gagah perkasa, sudah biasa akan kesulitan hidup yang membuat mereka kuat lahir batin.

Namun menghadapi pengurungan banyak orang itu Lin Lin tidak menjadi gentar. Di dalam hatinya timbul perasaan bahwa mereka ini adalah orang-orangnya, bukan musuh. Maka sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang ia menghardik. “Kalian ini mau apa? Mengapa hendak menawan aku? Tidak tahukah siapa aku? Aku adalah Puteri Yalin, puteri mahkota yang berhak akan mahkota Kerajaan Khitan!”

Sikapnya yang agung dan kata-katanya yang mantap ini meragukan para prajurit. Akan tetapi seorang komandan berkata keras, biar pun kata-katanya tidak kasar. “Kami hanya menerima perintah dari Lo- ciangkun, bahwa apa bila Nona muncul di wilayah ini, kami harus menawan Nona.”

Lin Lin tahu siapa yang dimaksudkan dengan Lo-ciangkun (panglima tua) itu. Ia tersenyum mengejek. “Hemmm, siapa takut iblis Hek-giam-lo? Kalian ini bangsa Khitan yang terkenal gagah perkasa, yang sejak dahulu setia kepada nenek moyangku, menjadi abdi-abdi setia dari kakekku, raja besar Kulukan, mengapa sekarang bersikap pengecut dan tunduk kepada perintah seorang iblis seperti Hek-giam-lo?”

“Kami bukan pengecut!” bantah komandan itu dengan muka merah. “Akan tetapi kami harus tunduk terhadap perintah Lo-ciangkun yang menjadi kepercayaan Sri Baginda. Kalau kami tidak melakukan perintah, tentu kami dihukum mati. Sudah banyak contohnya pembangkang yang dihukum mati secara mengerikan. Oleh karena itu, selain kami takut dihukum, juga kami sayangkan kalau sampai Nona menerima hukuman dari Lo-ciangkun.”

“Hemmm, siapa takut? Kalian tahu betapa kejamnya iblis Hek-giam-lo, kejam dan menjadi tokoh penjahat di dunia yang hanya menodai nama besar Khitan! Apakah dahulu kakekku, raja besar Kulukan sekejam itu? Baru sekarang terjadi kekejaman-kekejaman, setelah paman tiriku Kubakan menjadi raja dan dibantu Hek-giam-lo. Hek-giam-lo adalah pengkhianat. Dahulu juga seorang panglima kakekku, akan tetapi karena berdosa kepada mendiang ibuku, maka mukanya menjadi seperti iblis, dan dia membantu paman tiriku yang tidak berhak akan kedudukan raja. Lihat, kalau aku yang mewarisi mahkota yang menjadi hakku, aku tidak akan berlaku kejam. Kalian sudah menghinaku, hendak menawanku, akan tetapi aku tidak akan membunuh kalian.”

Mau tidak mau komandan itu tersenyum. “Nona, Lo-ciangkun mengandalkan kepandaiannya yang setinggi langit. Nona hendak mengandalkan apa untuk melakukan kekejaman?”

“Eh, kau memandang rendah? Keparat! Lihat baik-baik!”

Dengan kecepatan kilat Lin Lin menggerakkan tubuhnya, melakukan jurus sakti memukul dan menendang ke depan. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan… enam orang Khitan berikut komandan tadi berjungkir- balik dan jatuh tumpang tindih, tanpa mereka ketahui mengapa mereka dapat jatuh bangun seperti itu!

 

“Nah, kau kira aku tidak dapat menyiksa kalian dan membunuh kalian secara kejam kalau kukehendaki? Akan tetapi biar pun kalian keterlaluan, aku tetap memaafkan kalian karena kalian adalah bangsaku dan orang-orangku. Bangunlah!”

Enam orang itu meringis-ringis dan bangun, akan tetapi kesetia-kawanan mereka membuat pasukan itu bergerak dan merapatkan pengepungan. Melihat enam orang kawan mereka dirobohkan Lin Lin, mereka yang tidak mendengar kata-kata Lin Lin tadi kini maju mendesak dan siap untuk mengeroyok gadis itu dalam kepungan itu.

Melihat ini Lin Lin membentak. “Mundur kalian! Benar-benarkah kalian ini akan melupakan darah nenek moyangku dan membantu pengkhianat? Belum cukupkah bukti tadi bahwa aku cukup kuat akan tetapi tidak mau membunuh kalian yang kusayang sebagai rakyatku? Awas, kalau memang kalian ini hanya terdiri dari orang-orang yang hanya tunduk kalau diperlakukan kejam, jangan salahkan aku terpaksa menggunakan kekerasan!”

Akan tetapi orang-orang Khitan itu tidak mengenal takut. Mereka mendesak makin dekat dan sikap mereka mengancam. Tiba-tiba mata mereka menjadi silau oleh sinar kuning terang yang bergulung-gulung ketika Lin Lin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkannya dengan cepat di atas kepalanya.

“Mundur! Kalian tidak melihat ini? Pedang pusaka Besi Kuning, pedang mendiang ibuku Puteri Tayami, siapa berani melawan ini? Hayo maju, siapa maju akan kupenggal kepalanya!”

Semua orang Khitan mengenal belaka pedang ini. Mereka yang masih muda dan belum pernah menyaksikan pedang ini, setidaknya pernah mendengar dongeng bermacam-macam tentang pedang ini yang katanya dahulu adalah pemberian raja dewa kepada nenek moyang Raja Khitan. Mereka serentak mundur dan muka mereka menjadi pucat.

“Kalian tahu, hanya pedang pusaka inilah yang menjadi tanda. Siapa memegangnya dialah yang patut menjadi raja di Khitan. Dahulu pedang ini terlepas dari tangan Kubakan, terampas oleh Kaisar Sung. Raja macam apa dia itu sehingga melepaskan pusaka kerajaan? Dia tidak patut menjadi raja dan dia hanyalah anak dari selir kakek Kulukan. Ibukulah puteri mahkota, dan karena aku anaknya, maka akulah keturunan langsung dari kakek Kulukan, dan aku, Puteri Yalin, yang berhak memakai mahkota Kerajaan Khitan. Hayo, siapa berdiri di pihakku dan siapa berani menentangku?”

Sambil berkata Lin Lin mengacungkan pedangnya ke atas, berdiri tegak dan sikapnya gagah dan agung. Anehnya, biar pun belum banyak ia mempelajari bahasa Khitan ketika ia ditawan Hek-giam-lo, namun kini dia dapat bicara dengan lancar dalam bahasa itu. Memang panggilan darah agaknya yang membuat ia merasa tidak asing dengan suku bangsa dan bahasa Khitan. Apa lagi ia adalah keturunan dari orang-orang yang berdarah Kerajaan Khitan.

Pada saat orang-orang Khitan itu ragu-ragu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini, tiba-tiba di bagian kiri orang-orang itu bergerak minggir, memberi jalan kepada rombongan yang datang. Di antara mereka ada yang berkata dengan suara membayangkan kelegaan hati.

“Bagus, Pek-bin-ciangkun tiba! Hanya dialah yang dapat memberi keputusan, kita ini prajurit biasa yang tunduk perintah!”

Lin Lin cepat menengok dan ia melihat bahwa yang datang betul adalah Panglima Khitan yang terkenal itu, yang dahulu mewakili Kerajaan Khitan ketika datang pada pesta Beng-kauw. Panglima yang berwajah putih ini datang bersama belasan orang perwira pembantunya dan mereka semua memandang ke arah Lin Lin dengan pandang mata penuh selidik dan wajah kereng. Namun Lin Lin tidak menjadi gentar dan ia cepat menghadapi Pek-bin-ciangkun dengan sikap agung dan gagah. Sengaja ia tidak mengucapkan kata- kata seakan-akan sikap seorang puteri yang menerima laporan dari panglimanya!

Pek-bin-ciangkun tentu saja mengenal siapa Lin Lin dan panglima ini sudah pula mendengar tentang asal- usul gadis ini. Maka ia bersikap hormat sungguh pun ia tidak merendahkan diri. Tadi ia sudah menerima laporan lengkap, bahkan ucapan Lin Lin yang terakhir tadi didengarnya pula. Hal ini mengejutkan hatinya. Terang bahwa gadis keturunan langsung dari raja lama ini menuntut haknya dan kalau gadis ini berhasil menghasut, pasti akan terjadi perang saudara!

“Nona, kami sudah mendengar semua laporan dan mendengar pula ucapan Nona yang amat berbahaya.

 

Ketahuilah, Nona. Kami hanya menjalankan tugas kami, taat kepada perintah raja besar kami. Lebih baik Nona menurut saja kami bawa menghadap raja dan percuma membujuk kami yang semenjak dahulu merupakan prajurit-prajurit setia sampai mati terhadap junjungan kami.” Ucapan yang bersemangat dan gagah ini berhasil menggugah semangat para prajurit dan menghilangkan keraguan mereka.

Lin Lin melihat hal ini menjadi gemas. Dengan sinar mata tajam ia menentang wajah Pek-bin-ciangkun dan berkata lantang. “Pek-bin-ciangkun! Melihat usiamu yang sudah lanjut, tentu kau dahulu pernah mengenal ibuku. Tahukah kau siapa mendiang ibuku?”

Sambil menunduk hormat panglima itu menjawab. “Ibunda Nona yang mulia adalah mendiang Puteri Mahkota Tayami yang gagah perkasa.”

“Dan kau tentu tahu pula siapakah kakekku, ayah dari ibuku?”

Kembali panglima itu membungkuk lebih hormat lagi, “Beliau adalah mendiang raja terbesar kami yang amat mulia, yaitu mendiang Kulukan yang besar!”

“Hemmm, agaknya ingatanmu masih baik. Dan kau tahu, rajamu yang sekarang itu, Raja Kubakan, dia itu terhitung apa dengan aku…?”

“Dengan Nona, beliau terhitung paman tiri, karena Sri Baginda adalah putera mendiang Maha Raja Kulukan dari seorang selir.”

“Hemmm, paman tiri, namun masih ada hubungan darah, masih sama-sama keturunan kakek Raja Kulukan, sungguh pun ibuku puteri permaisuri dan dia hanya putera selir. Akan tetapi tahukah kalian semua apa maksud hati paman tiriku itu hendak menangkapku? Aku hendak dipaksanya menjadi isterinya! Bukankah amat gila ini? Tidakkah jelas menunjukkan betapa bejat moral Kubakan yang kini menjadi raja kalian, raja yang tak berhak?”

“Kami tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain, apa lagi urusan pribadi raja kami yang kami junjung tinggi,” bantah Pek-bin-ciangkun sambil mengerutkan keningnya.

“Bagus!” Lin Lin berseru marah sambil melintangkan pedangnya. “Kau juga tidak memandang pedang pusaka ini?”

Pek-bin-ciangkun menghela napas panjang. “Tentu saja kami menaruh hormat kepada pedang pusaka yang sudah banyak berjasa terhadap bangsa kita itu. Akan tetapi, sebagai kepala pasukan pengawal raja kami harus mentaati perintah yang diberikan atasan kami, yaitu yang terhormat Lo-ciangkun. Menyerahlah Nona, kami akan memperlakukanmu dengan hormat dan baik.”

Lin Lin mengedikkan kepalanya, matanya bersinar-sinar marah. “Kalau kalian tunduk dan menjadi kaki tangan Hek-giam-lo si iblis jahanam, biarlah sekarang mengeroyok dan membunuhku. Aku tidak takut!”

“Ah, Nona Muda. Sesungguhnya kami bukan tidak tahu bahwa kau adalah tuan puteri, keturunan langsung dari Yang Mulia Kulukan. Kami merasa sayang dan segan untuk memusuhimu. Akan tetapi apakah daya seorang anak perempuan muda seperti kau ini? Apakah artinya melawan dengan kekerasan? Siapa tidak tahu bahwa Lo-ciangkun memiliki kesaktian yang tak terlawan? Kuharap saja kau dapat menyadari hal ini dan mari ikut kami menghadap raja. Mungkin hubungan darah kekeluargaan akan menyelamatkan dirimu.”

“Aku tidak takut terhadap Hek-giam-lo si iblis! Aku tidak takut kepada si muka buruk Bayisan itu, seorang perwira yang berani menghina mendiang ibuku. Suruh dia datang, biar kami mengadu nyawa di sini!” teriaknya nekat.

“Bayisan…? Apa maksudmu, Nona?” tanya Pek-bin-ciangkun dengan suara kaget.

“Siapa lagi kalau bukan Hek-giam-lo? Dia adalah Bayisan, apakah kalian masih pura-pura tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan yang dahulu adalah perwira kakek Raja Kulukan yang berani menghina ibuku?”

“Aaahhh…!” Jelas sekali kelihatan Pek-bin-ciangkun kaget bukan main, wajahnya yang putih itu mendadak menjadi merah dan matanya terbelalak tak percaya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo