August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 6)

 

 

itu. Ia menggali tiga buah lubang-lubang yang sempit dan dalam macam sumur kecil, memasukkan tiga orang gadis tawanan itu ke dalam sumur dan mengubur mereka sebatas leher. Seluruh tubuh tiga orang gadis ini tidak tampak, hanya kepala mereka sebatas leher yang keluar dari tanah. Kemudian iblis ini memasang benderanya di atas pohon dekat tempat itu. Dengan adanya tanda ini, tidak ada seorang pun manusia di perkampungan itu berani mencoba menolong gadis-gadis bernasib malang ini. Siapakah berani melawan Tengkorak Hitam yang menjadi tangan kanan raja?

 

Setelah Hek-giam-lo pergi, Sian Eng berpikir. Ia mengenang kata-kata Raja Khitan terhadapnya dan teringatlah ia akan Lin Lin. Adiknya itu bukanlah anak kandung ayah bundanya, melainkan anak angkat. Ayahnya tidak pernah bicara tentang orang tua Lin Lin, akan tetapi adik angkatnya itu wataknya aneh sekali. Ketika ia tadi melihat pengawal-pengawal dan dayang-dayang wanita di dalam gedung Raja Khitan, alangkah besar persamaan Lin Lin dengan para wanita itu. Terutama sekali bulu mata dan hidungnya. Jantungnya berdebar. Jangan-jangan Hek-giam-lo salah ambil, mengira dia adalah Lin Lin. Dan besar kemungkinan Hek-giam-lo menduga bahwa Lin Lin adalah keponakan raja. Betulkah ini?

 

Tangis kedua orang gadis di sebelah depan dan belakangnya mengganggunya dari lamunan. Ia menengok dan perasaan kasihan memenuhi hatinya melihat dua buah kepala yang tidak berdaya dan sedang menangis terisak-isak itu, sama sekali lupa bahwa keadaannya sendiri pun tiada bedanya dengan mereka berdua. Ia tahu bahwa dia dan mereka akan menghadapi kematian yang mengerikan dan penuh sengsara. Dipendam sebatas leher dan dibiarkan sampai mati. Mungkin besok hari menerima penghinaan dari para penyiksanya sebelum mati kelaparan.

 

Tiba-tiba terdengar suara mengaum dari jauh. Dua orang gadis itu makin keras menangis dan Sian Eng sendiri bergidik. Tak salah lagi, itulah suara harimau yang mengaum dari dalam hutan. Bagaimana kalau raja hutan itu datang dan menyerang mereka? Dengan hanya kepalanya di atas tanah, Sian Eng dapat membayangkan betapa harimau itu akan makan kepala mereka seenaknya tanpa mereka dapat membalas atau pun melarikan diri. Siapa di antara mereka bertiga yang lebih dulu akan digerogoti harimau?

 

“Hu-hu-huk, Ayah… Ibu… tolong…!” Gadis yang berada di sebelah belakang Sian Eng menjerit-jerit.

 

“Aku… aku… takut… ya Tuhan cabutlah nyawaku…!” Gadis cantik di sebelah depan Sian Eng mengeluh  dan menangis.

 

Sian Eng mengerutkan keningnya, penuh iba hati. Ia tak menyalahkan dua orang gadis itu. Tentu saja mereka ketakutan. Mereka adalah gadis-gadis biasa yang lemah. Oh, alangkah sengsaranya mati dalam keadaan ketakutan seperti itu.

 

“Enci berdua, tenangkanlah hati kalian. Manusia hidup memang hanya untuk menghadapi kematian yang sewaktu-waktu pasti akan tiba, cepat atau pun lambat. Mengapa takut? Mati adalah biasa, semua manusia akan mati, hanya waktu saja soalnya.”

 

Dua orang gadis itu menengok kepadanya, terheran-heran melihat Sian Eng sama sekali tidak menangis dan sama sekali tidak nampak takut.

 

“Aku… aku tidak takut mati… aku… aku lebih baik mati. Yang kutakuti adalah kengerian ini dan… dan penghinaan… ah, lebih baik aku mati, tapi jangan… jangan mati dimakan harimau…,” kata gadis di depannya terisak-isak.

 

“Sebelum hayat meninggalkan badan, tak boleh berputus asa,” kata pula Sian Eng. “Enci berdua harap tenang saja, kalau belum waktunya kita mati, percayalah, kita takkan mati. Kalau sudah tiba waktunya mati, ah, jangankan sudah setua kita, kanak-kanak pun bisa saja mati.”

 

Hiburan dan kata-kata Sian Eng yang keluar dengan suara penuh ketabahan itu ternyata ada hasilnya juga. Dua orang gadis itu berhenti menangis dan anehnya, auman binatang buas dari dalam hutan tidak terdengar lagi. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sian Eng untuk mengajak dua orang teman ‘senasib sependeritaan’ itu untuk bercakap-cakap.

 

Dari mereka dia memperoleh keterangan bahwa seperti juga dia, dua orang itu diculik oleh tokoh-tokoh Khitan karena disangka sang puteri! Akan tetapi begitu tiba di depan raja, mereka ditelanjangi  dan diperiksa punggung mereka, karena katanya puteri itu mempunyai tanda merah di punggungnya. Tentu saja, seperti juga Sian Eng, mereka tidak memiliki tanda seperti itu karena memang mereka  bukanlah puteri Khitan. Kemudian dengan air mata bercucuran dua orang gadis itu bercerita betapa selama tiga hari

 

mereka menjadi permainan raja yang kejam.

Sian Eng menjadi panas hatinya. Jiwa pendekar dalam hatinya bergolak. Kalau saja ia mendapat

kesempatan, tentu akan dibunuhnya Raja Khitan itu. Ia tidak dapat bicara banyak menghadapi penderitaan dua orang gadis itu. Akan tetapi setidaknya percakapan mereka itu juga merupakan hiburan yang lumayan untuk melewatkan malam yang mengerikan ini. Tentu saja semalam suntuk mereka tak mampu tidur semenit pun juga dan menjelang pagi, karena teringat bahwa para penyiksa itu tentu akan menghabisi nyawa mereka dengan siksaan-siksaan keji, dua orang gadis itu mulai menangis lagi. Sian Eng tidak mampu lagi menghibur mereka. Gadis ini mengambil keputusan bahwa kalau ia diberi kesempatan  satu kali saja terbebas dari kuburan itu, ia akan mengamuk sampai mati!

 

Terdengar derap kaki kuda dari jauh, makin lama makin dekat. Dua orang wanita itu menoleh ke arah Sian Eng dan air mata mereka bercucuran.

 

“Adik Sian Eng, selamat berpisah…,” kata gadis di depan Sian Eng.

 

“Mudah-mudahan kematian segera datang menjemputku…,” kata gadis di belakang Sian Eng, menyambut ucapan gadis di depan.

 

Sian Eng terharu, akan tetapi ia malah memaksa diri tersenyum, “Enci, kalau seorang di antara kita mati, tentu yang dua akan mati pula. Bagaimana bisa bilang selamat berpisah? Kita takkan pernah berpisah kurasa, mati pun akan bersama-sama. Bukankah itu menyenangkan sekali? Kita akan selalu ada teman, biar di alam sana pun.”

 

Derap kaki kuda sudah dekat sekali, datang dari arah belakang mereka. Tiga orang gadis itu  dapat menoleh ke kiri kanan, akan tetapi tentu saja tidak mungkin menengok ke belakang, karena tubuh mereka yang terpendam tanah itu sama sekali tidak dapat digerakkan. Oleh karena itu, biar pun hati mereka ingin sekali, namun mereka tidak dapat memandang dan tidak tahu siapa gerangan penunggang kuda yang datang ini.

 

Tak lama kemudian seekor kuda yang besar dan kuat berlari congklang dan berhenti dekat mereka. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam melompat turun. Dua orang gadis itu hanya mengerling sebentar dan segera menutup mata dan menangis lagi. Pakaian orang ini sama dengan Si Iblis Hitam, mengerikan.

 

Akan tetapi Sian Eng menoleh ke kiri dan memandang dengan mata tajam dan kening berkerut. Darahnya berdenyut-denyut, jantungnya berdebar, membuat ia merasa dadanya sesak sekali. Si Jubah Hitam itu sama sekali bukan Hek-giam-lo, melainkan seorang laki-laki muda yang berwajah gagah sekali, tampan dan memiliki sepasang mata yang sayu di bawah lindungan sepasang alis yang tebal, hitam dan berbentuk panjang gompyok. Seorang laki-laki yang tampan dan tinggi besar.

 

Yang membuat Sian Eng berdebar tidak karuan hatinya adalah jubah hitam itu, mengingatkan ia akan laki- laki yang pernah ia lihat punggungnya yang berjubah hitam dan topinya, topi pelajar yang mempunyai ekor dua buah, yaitu tali hitam yang melambai ke bawah. Dan gambar pada baju di dada itu. Suling Emas! Celaka, pikirnya. Kiranya musuh besar ayah bundanya yang datang ini? Orang yang sudah membunuh ayah bundanya, sudah tentu mempunyai niat yang tidak baik terhadap dirinya.

 

Dan orang itu semenjak melompat turun dari kudanya, terus memandangnya dengan sinar mata yang tajam penuh selidik! Akan tetapi laki-laki itu segera melompat dekat, tangannya mencabut sebuah benda panjang kuning mengkilap. Sebuah suling! Tak salah lagi, dialah Suling Emas,  karena yang dipegangnya itu apa lagi kalau bukan suling terbuat dari pada emas?

 

Dengan gerakan cepat ia mendekati Sian Eng, sinar kuning berkelebat dan sebentar saja tanah di  sekeliling Sian Eng terbongkar. Setelah Sian Eng dapat membebaskan kedua tangannya, ia menekan tanah di pinggirnya dan meronta, terus meloncat ke atas, sama sekali tidak ingat bahwa pakaiannya tidak karuan macamnya karena pakaian itu sudah robek-robek dan hanya ia pakai sekedar menutupi tubuhnya saja. Begitu melompat dan berdiri, baru ia melihat keadaan dirinya, maka cepat-cepat ia menggerakkan kedua lengan menutupi dada!

 

Pemuda itu menyumpah, “Keparat…!”

 

Cepat ia membuka jubahnya yang hitam lebar itu, melemparnya ke arah Sian Eng. Kain jubah itu tepat sekali menimpa Sian Eng dan menyelimutinya dari leher sampai ke kaki! Kini Sian Eng berdiri terlongong,

 

 

 

memandang pemuda itu yang kini tampak lebih gagah dengan pakaian dalam yang ringkas berwarna putih. Akan tetapi laki-laki itu tanpa menoleh lagi sudah mengerjakan sulingnya, membongkar dari  menggali tanah untuk membebaskan dua orang gadis itu. Kembali ia menyumpah karena kedua orang gadis itu malah dimasukkan ke dalam sumur dalam keadaan hampir telanjang bulat.

 

“Benar-benar setan!” ia menyumpah dan dengan gemas ia merenggut kain bendera besar tanda Hek-giam- lo, merobeknya menjadi dua dan menyerahkannya kepada dua orang gadis itu yang merasa berterima kasih sekali dan terus saja mengerobongkan robekan kain hitam itu ke atas tubuh mereka.

 

“Lekas, kalian naik ke atas kuda ini dan cepat pergi. Amat berbahaya di sini.” Ia menoleh kepada Sian Eng, tersenyum sedikit dan berkata, “Nona, kau yang terkuat di antara kalian bertiga, kau di depan dan cepat larikan kuda ini keluar wilayah Khitan.”

 

Semenjak tadi Sian Eng hanya melongo, tidak tahu harus berbuat apa. “Kau… kau… Suling Emas…?” akhirnya dapat juga ia mengucapkan kata-kata.

 

Wajah tampan dan mata sayu itu menjadi agak muram, tapi ia mengangguk. “Bukan waktunya bercakap- cakap, lekas pergi lebih baik,” katanya.

 

Akan tetapi pada saat itu terdengar jerit ngeri dan dua orang gadis itu roboh terguling. Kain hitam yang menyelubungi tubuh mereka terbuka dan… kulit tubuh yang putih bersih itu sekarang berubah menghitam, mata mereka mendelik dan bibir yang tadinya merah segar kini menjadi kering membiru!

 

“Ah, gobloknya aku…!” Suling Emas menarik napas panjang. “Ihhh, mereka kenapa?” Sian Eng berseru, cemas dan ngeri.

Suling Emas menunding ke arah robekan kain hitam tanda Hek-giam-lo. “Kain itu mengandung racun yang jahat. Mereka sudah mati. Agaknya lebih baik begitu. Nah, mari kita pergi.”

 

Sian Eng tak sempat menjawab apa lagi membantah, karena tahu-tahu tangannya telah kena dipegang  dan disendal. Sentakan ini demikian kuat sehingga tak tertahankan olehnya dan tubuhnya melayang ke atas punggung kuda! Pada detik berikutnya, kuda itu telah lari cepat sekali dan Suling Emas telah duduk di belakang Sian Eng.

 

“Tapi… jenazah mereka itu…?” Sian Eng berseru sambil menoleh ke arah mayat dua orang gadis senasib yang menggeletak di atas tanah dan ditinggalkan begitu saja.

 

“Mereka sudah mati, mau diapakan lagi?” jawab Suling Emas tak acuh dan ia mengeluarkan kata-kata asing dari mulutnya kepada kuda itu yang meringkik keras lalu membalap seperti terbang cepatnya.

 

Tidak karuan rasa hati Sian Eng. Memang ia telah terlepas dari pada ancaman bahaya maut di tangan orang-orang Khitan, maut yang amat mengerikan. Akan tetapi ia terlepas dari bahaya yang satu untuk jatuh ke dalam tangan yang lain. Ia kini terjatuh ke dalam tangan Suling Emas! Apakah kehendak  orang aneh ini? Sikapnya mencurigakan, wataknya juga aneh. Ada kalanya tampak baik dan suka menolong, akan tetapi di lain saat bisa berhati keras dan kejam. Jenazah dua orang gadis itu dibiarkan begitu saja!

 

Ingin ia dapat memandang muka Suling Emas, akan tetapi ia duduk di depan dan orang itu duduk di belakang. Sedikitnya ia merasa lega bahwa Suling Emas agaknya bukan laki-laki yang ceriwis. Tidak ada bukti-bukti yang membayangkan watak kotornya terhadap wanita. Sekarang pun biar mereka duduk berdua di atas punggung kuda, namun Suling Emas duduknya agak jauh di belakang sehingga tidak menyentuhnya. Kalau saja tidak tampak kedua tangan orang itu di kanan kirinya memegangi kendali kuda, tentu ia mengira bahwa Suling Emas sudah tidak berada di belakangnya lagi.

 

Ketika ia diculik Hek-giam-lo dan dibawa ke utara, Sian Eng mengalami perjalanan yang amat aneh, dengan Hek-giam-lo sebagai pelayan dan juga pengawasnya yang jarang mengeluarkan suara, dengan maksud yang masih merupakan rahasia baginya. Sekarang dalam perjalanan kembalinya menuju ke selatan bersama Suling Emas, Sian Eng mengalami perjalanan yang aneh pula. Seperti juga Hek-giam-lo, tokoh ini jarang sekali membuka mulut. Biar pun wajah yang tampan itu kelihatan selalu sayu dan muram, namun membayangkan sesuatu yang mengerikan bagi Sian Eng, tidak kalah seramnya oleh muka Hek- giam-lo, muka iblis tengkorak itu. Bagaimana takkan ngeri dan seram kalau melihat orang ini diam saja, tak pernah memandangnya, tak pernah bicara, pendeknya, tidak pernah apa-apa seperti patung hidup!

 

 

 

 

Malam itu Suling Emas terpaksa menghentikan kudanya. Malam amat gelap sehingga tak mungkin melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti di sebuah lereng bukit, di pinggir jalan. Kuda hitam belang putih  itu tidak diikat, dibiarkan terlepas begitu saja. Suling Emas lalu mengumpulkan ranting dan daun kering, membuat api unggun di bawah pohon besar.

 

Kemudian ia mengambil roti kering dan tempat minum dari kantung yang tergantung di punggung kuda, lalu duduk di dekat api unggun. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menoleh ke arah Sian Eng dan sinar matanya saja yang mengajak gadis itu duduk mendekati api. Sian Eng mendekat, lalu duduk di atas rumput kering dekat api unggun. Tanpa berkata sesuatu, Suling Emas memberi roti kering dan tempat minum.

 

Sian Eng menghela napas, akan tetapi menerima roti dan makan roti itu karena perutnya terasa amat  lapar. Sehari suntuk mereka menunggang kuda, tak pernah berhenti sebentar pun juga, tidak makan tidak minum. Sudah lama Sian Eng tidak pernah menunggang kuda dan sekarang, sekali naik kuda sehari penuh. Punggungnya terasa kaku dan seluruh badan sakit-sakit!

 

Mereka makan roti kering dan minum air tawar tanpa bicara. Sesudah makan, Sian Eng melihat betapa Suling Emas hanya duduk termenung memandang api yang bernyala-nyala, duduk tak bergerak dan mata itu bersinar-sinar, hilang kesayuannya. Wajah yang tampan dan aneh itu pun tidak muram lagi, malah agak berseri. Keindahan api itukah yang mendatangkan semua ini? Ataukah karena di dalam nyala api ia melihat atau teringat akan sesuatu? Diam-diam Sian Eng menatap wajah itu dari samping. Wajah yang tampan, dengan guratan-guratan yang membayangkan penderitaan hidup, guratan kematangan jiwa. Tidak terlalu muda lagi biar pun tak mungkin mengatakan bahwa dia itu sudah tua. Sukar menaksir usianya. Akhirnya Sian Eng tak dapat menahan lagi kegelisahannya.

 

“Kau hendak membawaku ke mana?”

 

Suling Emas agaknya terkejut mendengar suara ini. Tadinya ia melamun dan seakan-akan telah lupa bahwa di dekatnya terdapat seorang manusia lain. Suara Sian Eng seperti menyeretnya turun dari dunia lamunan dan ia menoleh sambil gagap bertanya, “Apa…?”

 

Mendongkol juga hati Sian Eng. Orang ini terlalu memandang remeh kepadanya, pikirnya. Dengan ketus ia bertanya. “Dengan maksud apa kau menolongku, dan ke mana kau hendak membawaku pergi?”

 

“Dengan maksud apa?” Agaknya pertanyaan ini membuat Suling Emas kembali melamun sebentar, mengingat-ingat setelah mengulang pertanyaan itu, kemudian ia menjawab, “Tentu saja agar kau bebas dari ancaman bahaya, dan tentu saja membawamu pergi dari daerah yang dikuasai orang-orang Khitan.”

 

Sian Eng tak dapat berkata apa-apa lagi. Memang alangkah bodohnya pertanyaannya tadi. Tentu saja begitulah tujuan Suling Emas menolongnya, tanpa bertanya pun seharusnya ia mengerti. Akan tetapi Suling Emas ini bukan orang biasa, melainkan musuh besarnya! Kembali berdebar jantungnya dan dia memandang wajah yang sudah menoleh dan kembali menatap api unggun.

 

“Kurasa bukan itu maksudmu,” ia berkata dengan suara tegas dan ketus. “Suling Emas, kau telah membunuh ayah bundaku! Sekarang kau pura-pura menolongku, tentu dengan maksud tertentu yang… yang tidak baik!”

 

Suling Emas mengangguk-angguk, tetap memandang api, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri, agaknya ia gembira sekali mendengar ini. “Hemmm… itukah sebabnya mengapa kalian bertiga mencari- cari Suling Emas? Pantas saja kalian menghujankan senjata rahasia kepadaku di hutan itu….”

 

Sian Eng terkejut. Jadi orang ini sudah tahu bahwa dia dan dua orang saudaranya mencari-carinya, malah tahu pula akan penyerangan di dalam hutan itu! Benar-benar orang aneh dan lihai sekali. Akan tetapi ia tidak takut.

 

“Memang betul. Biar pun kau berkepandaian tinggi, karena kau membunuh ayah bunda kami, kami hendak menuntut balas. Malah sekarang juga aku menantangmu untuk bertempur. Kau harus menebus kematian orang tuaku dengan nyawamu, atau aku yang akan mengorbankan nyawa dalam menuntut balas dendam!” Sian Eng meloncat bangun dan memasang kuda-kuda, mengambil keputusan untuk mengadu nyawa dengan musuh besarnya walau pun ia cukup maklum bahwa kepandaiannya sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan tokoh aneh ini.

 

 

 

Suling Emas tetap tidak menoleh, malah menggunakan sebatang ranting untuk mengorek api unggun sehingga nyala api membesar, menerangi wajahnya yang tampan dan yang kini berkerut-kerut di bagian jidatnya itu.

 

“Hemmm, kalian bodoh. Aku tidak membunuh orang tua kalian, tahu pun tidak aku siapa mereka dan siapa kalian bertiga. Mana bisa aku membunuh orang yang tak kuketahui siapa dan di mana tempat tinggalnya?”

 

Sian Eng ragu-ragu dan bimbang. Ketegangan yang sudah memenuhi tubuhnya tadi mengendur, “Tapi… tapi… sebelum meninggal, Ibu bilang… tentang pembunuh itu… menyebut-nyebut tentang suling….”

 

“Jangan bodoh. Duduklah dan ceritakan yang jelas. Kalau aku membunuh orang, siapa pun dia itu, aku takkan menyangkal. Suling Emas tidak biasa menyangkal perbuatannya, tidak biasa bersikap pengecut, berani berbuat harus berani bertanggung jawab.”

 

Biar pun Suling Emas tidak menengok dan masih memandang api, namun terasa oleh Sian Eng bahwa  ucapannya itu ke luar dari lubuk hati. Kemarahannya melunak dan ia lalu duduk lagi dekat api, melirik ke arah orang itu dengan bingung.

 

“Kalau bukan engkau, siapa…?” pertanyaan ini keluar dari bibirnya tanpa ia sadari, seakan-akan suara hatinya yang terdengar melalui bibirnya.

 

“Bukan aku!” jawab Suling Emas pasti. “Kalau kau mau, ceritakanlah tentang pembunuhan itu.”

 

Sian Eng percaya. Andai kata orang ini yang membunuh orang tuanya, kiranya tak perlu menyangkal memang. Kepandaiannya tinggi dan dia sendiri akan dapat berbuat apakah terhadap Suling Emas? Dan hatinya menjadi agak lega. Syukur kalau bukan Suling Emas. Pertama, karena kalau benar dia pembunuhnya, tentu sukar sekali membalas dendam. Kedua, ia sudah ditolongnya terlepas dari pada bahaya maut di tangan orang-orang Khitan. Ketiga, ia ingat sekarang, dan tahu bahwa dia bersama dua orang saudaranya dahulu itu pun dibebaskan dari pada bahaya maut di tangan It-gan Kai-ong oleh Suling Emas. Kalau Suling Emas pembunuh orang tua mereka dan sekaligus penolong mereka, bukankah hal itu akan menimbulkan hal yang amat membingungkan?

 

“Ah, kalau begitu maafkan kami. Kami selalu mengira kaulah musuh besar kami. Ah, kalau begitu benar dugaan Lin-moi….”

 

“Lin-moi? Siapa?”

 

“Adikku…”

 

“Ahhh, begitu? Kalau tidak keberatan, ceritakan tentang pembunuhan itu.”

 

Sian Eng berpikir sejenak. Apa salahnya menceritakan hal itu kepada Suling Emas yang sekarang bukan lagi merupakan musuh, malah menjadi penolong? Siapa tahu dari tokoh ini ia akan dapat mengetahui siapa gerangan pembunuh ayah bundanya.

 

“Kami adalah keluarga Kam, tinggal di dusun Ting-chun di kaki Gunung Cin-ling-san. Ayah kami….” “Jenderal Kam.”

Sian Eng terkejut dan kembali ia menjadi curiga. “Bagaimana kau bisa tahu?”

 

Masih tetap merenung dan memandang api, Suling Emas menjawab tak acuh. “Banyak tokoh kukenal. Jenderal Kam bukanlah orang yang tidak ternama. Teruskanlah.”

 

Sian Eng melanjutkan penuturannya, semenjak munculnya Giam Sui Lok sampai dengan  terbunuhnya Kam Si Ek suami isteri dan juga Giam Sui Lok dalam keadaan mengerikan. Ia menceritakan semuanya, malah urusan kakaknya, Kam Bu Song yang harus mereka cari itu pun ia ceritakan kepada Suling Emas. Panjang ceritanya, memakan waktu seperempat jam untuk menceritakan semua dengan jelas. Dan selama itu, Suling Emas duduk menghadapi api tanpa bergerak. Tak pernah menoleh kepadanya, tak pernah pula memotong ceritanya sehingga kadang-kadang Sian Eng meragu apakah ia didengar orang. Ia merasa seperti bercerita kepada sebatang pohon atau kepada sebuah patung!

 

 

 

“Begitulah, kami bertiga berangkat meninggalkan kampung halaman, pergi menuju ke kota raja untuk mencari musuh besar kami dan juga kakak kami Kam Bu Song. Akan tetapi, belum tercapai maksud kami dan belum selesai tugas kami, musuh belum terdapat, kakak belum bertemu, kami sudah cerai-berai tertimpa malapetaka.”

 

Dengan ringkas Sian Eng menceritakan betapa adiknya, Lin Lin, lenyap di atas gedung keluarga bangsawan Suma di An-sui. Kemudian betapa dia dan kakaknya, Bu Sin, yang mendatangi keluarga Suma untuk bertanya tentang kakak mereka, diserang dan ditangkap oleh Suma Boan.

 

“Tak tahu aku bagaimana akan nasib Sin-ko.” Ia mengakhiri ceritanya dengan suara penuh kegelisahan. “Tak perlu gelisah. Dia selamat.”

“Bagaimana kau tahu?” Sian Eng bertanya, nada suaranya gembira dan lega bukan main. Tadinya ia mengira bahwa kakaknya itu mungkin sekali tewas dalam tangan putera pangeran yang jahat dan lihai itu. “Ah, tentu kau telah menolongnya pula, bukan?”

 

Suling Emas menunduk, lalu berkata perlahan, “Menolong sih tidak, hanya aku melihat dia diikat, luka-luka oleh anak panah Suma Boan. Tak dapat aku membiarkan dia mati begitu, kuambil dia dan sekarang dia sudah bebas dari bahaya. Kalian bertiga sungguh tak tahu diri….”

 

Sian Eng mengerutkan kening. Kalau saja ia tidak ingat bahwa orang ini sudah menolongnya, juga sudah menyelamatkan Bu Sin, tentu ia akan marah sekali. Kata-kata yang tidak hanya mencela, akan tetapi juga sifatnya memandang rendah, bahkan menghina.

 

“Kau sudah menolong kami, patut aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, mengapa kau melakukan semua ini? Mengapa kau menolong kami? Apa pula maksud kata-katamu tadi bahwa kami adalah tiga orang yang tak tahu diri?”

 

Suling Emas bangkit berdiri untuk mengumpulkan ranting di sekitar tempat itu, kemudian ia membanting ranting-ranting kering itu dekat api unggun dan berkata, suaranya seperti orang marah, “Kalian bertiga dengan kepandaian yang tidak berarti begitu berani mati melakukan perantauan untuk mencari musuh besar yang belum diketahui siapa! Sungguh menyia-nyiakan usia muda. Apa yang kalian dapat lakukan kalau bertemu dengan orang-orang jahat? Bagaimana seandainya bertemu dengan orang yang membunuh ayah bundamu?”

 

Sian Eng maklum akan maksud kata-kata Suling Emas, tahu bahwa kepandaian mereka bertiga memang masih jauh jika dibandingkan dengan kepandaian beberapa orang tokoh besar dalam dunia kang-ouw. Akan tetapi tadinya ketika mereka melakukan perantauan, mereka sama sekali tidak mengira akan hal ini, sama sekali tidak pernah mengira bahwa di dunia ini begitu banyaknya orang pandai, orang aneh dan orang jahat. Betapa pun juga, ia tetap tidak menjadi jeri.

 

“Kalau bertemu, biar kepandaiannya setinggi langit, aku akan melawannya dan mengajaknya bertanding mati-matian!” Sian Eng menjawab dengan suara lantang.

 

Suling Emas mendengus. “Huh, mudah saja bicara. Kau anak kecil…”

 

Sian Eng mau marah, tapi tidak dapat. Betapa pun juga ia memang merasa seperti anak kecil di depan pemuda yang aneh ini, yang bersikap begitu alim, pendiam dan serius.

 

“Memang aku anak kecil, biarlah, memang tidak setua engkau,” kata-kata ini untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya.

 

Suling Emas menoleh, agak tersenyum. Dan aneh sekali, mendadak saja kemarahan Sian Eng lenyap dan ia merasa seakan-akan sudah lama mengenal orang ini, sudah sering kali bertemu. Hal yang tidak mungkin. Barangkali bertemu dalam alam mimpi!

 

“Dan kenapa kau menolongku, menolong Sin-ko?”

 

“Siapa menolong siapa? Aku tidak menolong siapa-siapa, hanya melakukan kewajiban sebagai manusia. Kesembronoan kalian bertiga sudah membawa korban. Adikmu yang paling kecil itu hilang. Kau bilang tadi ia meninggalkan surat dan menyatakan bahwa ia dibawa pergi Kim-lun Seng-jin? Untung bertemu dengan

 

 

 

Kim-lun Seng-jin. Kalau yang membawa itu seorang di antara Thian-te Liok-koai (Enam Setan), apakah tidak celaka sekali?”

 

Sian Eng memandang heran. Orang ini tidak mau disebut menolong, sikapnya acuh tak acuh, tidak peduli, akan tetapi kadang-kadang bisa marah-marah. Memang aneh sekali, membuat ia bingung. Ah, kalau saja ada Lin Lin di sini, pikirnya, tentu kau akan tahu rasa. Lin Lin wataknya tidak kalah anehnya, dan adiknya itu pandai sekali bicara, pandai berdebat dan andai kata di situ ada Lin Lin, agaknya keadaannya akan berubah. Suling Emas ini tentu akan menjadi gelagapan dan gagap gugup menghadapi serangan bicara Lin Lin.

 

“Tak perlu kau marah-marah kepadaku,” akhirnya ia berkata. “Kau mau menolong atau tidak, terserah. Juga kau mau memberi tahu kepadaku, kalau kau mengetahuinya, siapa adanya pembunuh ayah bundaku dan di mana pula adanya kakakku Bu Song, terserah.”

 

Suling Emas kembali membuang muka memandang api unggun. Wajahnya yang tadi agak berseri dan tampak sekali ketampanannya, sekarang kembali menjadi suram-muram seperti wajah patung mati. Setelah menarik napas beberapa kali dan menambah ranting pada api, ia berkata. “Siapa yang membunuh ayah bundamu, aku tidak tahu. Terang bukanlah aku. Akan tetapi karena kau dan saudara-saudaramu menuduhku, aku akan berusaha mendapatkan siapa pembunuh itu. Tentang pelajar bernama Bu Song itu, setahuku dia sudah mampus!”

 

Kaget sekali hati Sian Eng mendengar berita terakhir ini, apa lagi Suling Emas kelihatannya tidak senang ketika bicara tentang kakaknya, Bu Song. “Bagaimana kau bisa tahu? Kenalkah kau dengan kakakku Bu Song? Bagaimana matinya? Harap kau suka bercerita kepadaku.”

 

Suling Emas menggeleng kepalanya. “Tidak ada yang dapat diceritakan tentang diri pemuda tolol itu. Kenyataan bahwa dia meninggalkan ayahnya dan tak pernah kembali atau memberi kabar membuktikan bahwa dia tidak berharga untuk dipikirkan lagi. Mengapa kau bersama saudara-saudaramu bersitegang hendak mencarinya?”

 

Sian Eng tidak menjawab dan mendengar bahwa kakak sulung yang sedang dicari-cari itu telah meninggal dunia, tak dapat ditahannya lagi ia menangis terisak-isak.

 

Suling Emas membiarkan ia menangis sampai lama. Baru kemudian terdengar ia berkata. “Sudahlah, ditangisi air mata darah sekali pun tiada gunanya. Lebih baik kau memikirkan keadaan saudara-saudaramu yang masih ada. Kakakmu Bu Sin selamat dan tentu berada di tempat tidak jauh dari kota raja. Besok kita pergi ke sana dan aku akan mengantarmu sampai di kota raja. Kemudian, kalau aku dapat bertemu  dengan orang aneh Kim-lun Seng-jin, akan kupesan agar dia mengembalikan adikmu yang bernama Lin Lin itu. Kemudian kalian bertiga lebih baik pulang ke Ting-chun di kaki Gunung Cin-ling-san. Sekarang kau tidurlah.” Setelah berkata demikian, Suling Emas duduk menjauhi Sian Eng, kembali merenung dekat api unggun.

 

Sian Eng maklum bahwa percuma mengajak bicara orang aneh ini, maka ia pun membaringkan tubuh. Sampai jauh malam masih terdengar beberapa kali ia mengisak. Akan tetapi kelelahan dan kedukaan membuat ia tertidur.

 

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Eng sudah terbangun dan alangkah herannya ketika ia melihat pakaian terletak di dekatnya. Ia cepat bangkit duduk. Suling Emas telah menggosok-gosok tubuh kudanya dan tak jauh dari situ terdapat api unggun. Sian Eng tertegun memandang. Orang aneh yang telah menolongnya itu sedang bersenandung. Entah apa yang dinyanyikannya karena terlalu perlahan untuk dapat ditangkap pendengarannya, akan tetapi Sian Eng mendengar suara yang menggetar penuh perasaan dalam lagu sedih yang disenandungkan itu. Bau hangus membuat ia cepat memandang api unggun dan kiranya di atas api itu terpanggang sepotong besar daging.

 

“Daging hangus…!” Otomatis Sian Eng melompat, menutupkan jubah hitam yang terbuka di bagian dada, lari menghampiri daging itu dan membaliknya.

 

Suara senandung menghilang. “Wah, aku lupa…! Rusakkah dagingnya?” Suling Emas sudah mendekat. “Tidak, hanya hangus sedikit. Pakaian itu… punya siapa?”

“Kau pakailah. Malam tadi kudapatkan dari dusun di sana.”

 

 

 

 

Setelah berkata demikian, Suling Emas meninggalkan Sian Eng, kembali pada kudanya dan melanjutkan menggosok-gosok tubuh kudanya, berdiri membelakangi gadis itu. Sian Eng memandang wajahnya agak merah, dadanya berdegup aneh. Orang yang selama ini disangkanya musuh besar pembunuh ayah bundanya, kiranya seorang penolong dan seorang yang amat baik, orang yang menarik hatinya.

 

Tak mungkin! Sian Eng membantah di dalam hatinya, dia jauh lebih tua dariku, dia orang aneh. Gadis ini mengusir perasaan tertarik di hatinya, bersembunyi di belakang sebatang pohon besar untuk mengganti pakaian. Beberapa menit kemudian ia telah bersalin pakaian. Jubah hitam milik Suling Emas ia lipat baik- baik, kemudian ia menghampiri daging panggang yang sudah masak.

 

“Dagingnya sudah matang!” ia berteriak pada punggung yang lebar itu.

 

Suling Emas membalikkan tubuhnya, memandang dan tersenyum sedikit melihat Sian Eng telah berganti pakaian. Sian Eng yang mengharapkan datangnya ucapan pujian dari mulut Suling Emas kecewa karena orang itu tidak berkata sesuatu.

 

“Ini jubahmu, terima kasih,” Sian Eng mengembalikan lipatan jubah hitam. Suling Emas menerimanya tanpa berkata sesuatu, terus jubah itu dipakainya.

 

“Kita sarapan daging panggang lalu berangkat ke kota raja,” katanya singkat. Sian Eng hanya mengangguk dan keduanya lalu makan daging panggang dan kue kering yang menjadi bekal Suling Emas.

 

Setelah selesai makan, Suling Emas berkata, suaranya serius, “Jangan menyangka yang bukan-bukan. Kau harus membonceng kuda di depanku agar perjalanan dapat dilakukan lebih cepat. Mudah-mudahan sesampainya di kota raja, kau akan dapat bertemu dengan kakakmu Bu Sin. Silakan!”

 

Kalau saja kata-kata itu tidak diucapkan demikian serius dan wajah Suling Emas yang tampan itu kelihatan angker, tentu Sian Eng akan menjadi malu dan mungkin tak sudi ia berboncengan di atas seekor kuda dengan orang ini. Akan tetapi karena ia ingin segera bertemu kembali dengan saudaranya, ia tidak mau membantah. Dengan ringan ia bergerak, tubuhnya meloncat ke atas punggung kuda. Tiba-tiba kuda itu melonjak dan berlari cepat sekali seperti terbang.

 

Sian Eng terkejut. Di mana Suling Emas? Apakah ia dibawa kabur kuda dan Suling Emas tertinggal di belakang? Dalam gugupnya ia menengok dan… hampir saja dia beradu hidung dengan orang yang duduk di belakangnya! Kiranya Suling Emas sudah duduk di belakangnya, agak di belakang sehingga tubuh mereka tidak bersentuhan. Agaknya orang ini demikian ringan gerakannya sehingga ia sama sekali tidak tahu bahwa dia sudah berada di belakangnya tadi.

 

Cepat Sian Eng membalikkan mukanya yang menjadi merah sekali dan diam-diam ia amat kagum akan kehebatan kepandaian orang ini, juga kagum akan kesopanannya. Biar pun ia duduk berboncengan seperti itu, namun ia tidak merasa kikuk karena Suling Emas benar-benar berlaku sopan, duduknya agak jauh di belakang.

 

Memang benar ucapan Suling Emas. Kuda itu luar biasa larinya, cepat seperti terbang dan andai kata mereka melakukan perjalanan tanpa kuda, tentu akan lebih melelahkan, juga lambat. Suling Emas melakukan perjalanan cepat dan terus-menerus, hanya berhenti dua kali sehari. Bahkan kadang-kadang di malam hari mereka melanjutkan perjalanan.

 

Makin lama, Sian Eng makin percaya kepada orang aneh ini. Di dekat Suling Emas, ia merasa aman tenteram, kecurigaannya lenyap sama sekali dan ia memandang orang ini sebagai seorang pendekar  besar yang amat mengagumkan. Yang ia sayangkan, Suling Emas orangnya pendiam, tak pernah mau bicara kalau tidak ditanya. Menjawab pertanyaan pun hanya singkat-singkat seperlunya saja. Hal ini mengecewakan hati Sian Eng karena gadis ini ingin sekali mendengar riwayat hidup orang aneh yang mengagumkan hatinya ini.

 

Ketika memasuki pintu gerbang kota raja pagi hari itu, banyak orang memandang mereka dengan kagum dan heran. Kagum karena melihat kuda besar bagus ditunggangi sepasang orang muda yang elok dan gagah. Agaknya Suling Emas hendak menyembunyikan dirinya karena ia telah menggunakan sehelai sapu tangan untuk menutupi gambar suling di dadanya. Namun telinga Sian Eng masih dapat menangkap beberapa orang di pinggir jalan berbisik, “Dia… Suling Emas…”

 

 

 

Suling Emas menghentikan kudanya di dalam pekarangan lebar sebuah kelenteng, mengajak Sian Eng turun. Di ruangan depan mereka disambut oleh beberapa orang hwesio (pendeta Buddha) yang segera memberi hormat kepada Suling Emas.

 

“Harap para Lo-suhu (Bapak Pendeta) sudi menerima Nona Kam ini sebagai tamu terhormat dan membantunya dalam usahanya menjumpai saudaranya di kota raja.”

 

“Omitohud… tentu saja, Taihiap (Pendekar Besar)! Silakan masuk, Nona, dan… anggaplah di sini sebagai tempat tinggalmu sendiri,” kata hwesio tua itu dengan ramah tamah. “Apakah Taihiap tidak keberatan untuk singgah dulu dan minum teh?”

 

Suling Emas menggelengkan kepalanya. “Terima kasih, Lo-suhu. Saya masih mempunyai banyak urusan.” Kemudian ia menoleh kepada San Eng dan berkata. “Di kelenteng ini, kau berada di tempat yang aman. Dengan bantuan para Lo-suhu di sini, kalau saudaramu berada di kota raja, tentu kau dapat bertemu dengannya. Ingat, kalau kalian bertiga sudah saling bertemu dan berkumpul, satu-satunya hal terbaik bagi kalian adalah kembali ke Ting-chun. Nah, selamat berpisah.” Suling Emas memberi hormat kepada pendeta kepala, lalu meloncat di atas punggung kudanya yang lari cepat meninggalkan tempat itu.

 

Sian Eng berdiri bengong, tak dapat berkata sesuatu. Apa yang dapat ia katakan? Berkumpul dengan orang itu, melakukan perjalanan bersama beberapa hari, telah membuktikan keluhuran budi Suling Emas, kesopanannya, akan tetapi juga keanehannya. Agaknya ada sesuatu yang menekan perasaan orang itu, ada sesuatu yang dideritanya di dalam batin, yang membuatnya tampak pendiam, tidak pedulian, dan wajahnya yang tampan selalu muram seperti matahari yang selalu tertutup mendung di musim hujan. Tiba- tiba ia menoleh kepada pendeta kepala, hwesio yang gendut peramah itu.

 

“Lo-suhu, dia itu… Suling Emas itu… orang macam apakah dia?” pertanyaan yang aneh ini keluar begitu saja dari mulut Sian Eng, langsung sebagai peluapan hatinya. Untung yang diajak bicara adalah seorang hwesio tua, kalau orang lain tentu akan memalukan sekali.

 

Hwesio itu hanya tertawa, kemudian menjawab, “Bukan hanya kau yang mengajukan pertanyaan seperti ini, Nona. Banyak orang, di antaranya pinceng (aku) sendiri! Tapi, siapa dapat menjawab? Kalau pinceng yang menjawab hanya begini, dia itu seorang pendekar besar yang berwatak aneh. Kalau sedang menolong orang, dia bijaksana seperti dewa, kalau menghadapi lawan, dia ganas seperti iblis. Itulah Suling Emas, dan tidak pernah ada orang yang dapat menceritakan siapa dia. Tapi bagi kami, sudah cukup kalau mengetahui bahwa dia itu seorang yang baik, selalu berpihak kepada yang benar biar pun kadang-kadang amat sulit untuk dimengerti. Nona, kami menerima perintahnya, harus kami kerjakan baik-baik. Silakan masuk, Nona, ada sebuah kamar yang bersih untukmu. Tentang saudaramu, nanti kita bicarakan dan tentu para murid di sini siap untuk membantumu mencarinya, kalau betul dia itu berada di dalam kota raja.”

 

Lega hati Sian Eng, sungguh pun keterangan tentang diri Suling Emas itu membuat hatinya makin penasaran dan ingin tahu. Ia memasuki kelenteng dan memang benar, para hwesio melayaninya penuh penghormatan dan kesopanan sehingga Sian Eng tidak ragu-ragu untuk mengajak mereka itu merundingkan tentang kedua saudaranya yang berpisah darinya. Ia memberi gambaran tentang diri Bu Sin dan Lin Lin dan memesan agar para hwesio yang melihat kedua orang ini di kota raja, segera memberi  tahu kepadanya.

 

Para hwesio itu tampak bersemangat sekali membantu Sian Eng, dan gadis ini maklum bahwa semangat ini timbul karena keyakinan bahwa membantu Sian Eng berarti membantu Suling Emas dengan melaksanakan perintahnya! Makin kagumlah hatinya terhadap orang rahasia yang sanggup membikin orang-orang alim seperti hwesio-hwesio ini demikian tunduk dan setia. Tentu saja dia tidak tahu bahwa para hwesio itu, juga banyak sekali orang-orang di kota raja, telah berhutang budi besar kepada Suling Emas.

 

********************

 

Di bagian depan telah kita ketahui bahwa Lin Lin yang ditemani Lie Bok Liong, dengan penuh harapan melakukan perjalanan ke kota raja. Hatinya girang sekali karena ia memang amat ingin bertemu dengan Suling Emas yang disangka menjadi pembunuh dari Jenderal Kam Si Ek dan isterinya. Untung ia mendengar percakapan antara Suma-kongcu dan para tokoh pengemis yang menyatakan bahwa Suling Emas berada di gedung perpustakaan istana. Kita ikuti kembali perjalanan mereka berdua.

 

Mereka telah berhasil melarikan diri dari gedung keluarga Suma di An-sui sebelah barat kota raja dan

 

 

 

melanjutkan perjalanan di malam hari terang bulan. Mereka berjalan seenaknya, bercakap-cakap gembira. Begitu gembira, begitu aman seakan-akan tidak ada bahaya sesuatu yang mengintai.

 

Memang Lin Lin seorang gadis remaja yang gembira dan masih belum berpengalaman, maka ia pun enak saja melakukan perjalanan dan bercakap-cakap bersama Lie Bok Liong. Gadis yang masih hijau ini sama sekali tidak tahu akan bahaya yang mengancam. Ada pun Lie Bok Liong, dia adalah seorang pendekar muda yang sudah kenyang pengalaman, biasanya amat hati-hati, waspada dan berpandangan luas dan jauh, berwatak jujur dan berhati mulia. Akan tetap pada malam hari itu, hatinya rusak, kacau-balau oleh juwita di sampingnya. Sudah dua kali ia menempeleng jidatnya sendiri karena timbul pikiran yang bukan- bukan terhadap Lin Lin.

 

Malam terlalu indah, bulan terlalu terang, dan gadis di sampingnya terlalu cantik jelita. Bok Liong berjalan di samping Lin Lin dengan hati dan perasaan mawut (berantakan), maka ia pun tidak dapat terlalu disalahkan kalau dia sendiri menjadi kurang hati-hati, hilang kewaspadaannya. Di samping Lin Lin, dunia menjadi terlampau indah baginya sehingga sementara itu ia lupa akan bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan dari segenap penjuru.

 

Biar pun Suma Boan atau Suma-kongcu sendiri tidak mengejar karena ia maklum bahwa menghadapi dua orang muda yang lihai itu seorang diri saja ia tidak akan menang, namun sudah tentu saja Suma-kongcu tidak membiarkan penghinaan terjadi di rumahnya begitu saja. Ia diam-diam menitah seorang pengawal untuk menghubungi para ketua kai-pang dan tak lama kemudian, para tokoh perkumpulan pengemis yang kebetulan berada di situ dan dapat dihubungi sudah mengatur rencana penghadangan terhadap Lin Lin  dan Bok Liong. Ada tiga orang pengemis lihai yang kebetulan dapat dihubungi Suma-kongcu dan yang segera membawa teman-temannya melakukan pengejaran.

 

Yang pertama adalah ketua dari perkumpulan pengemis Hui-houw-kai-pang (Harimau Terbang). Hui-houw- pangcu ini sudah tua, usianya kurang lebih enam puluh tahun, rambutnya sudah putih semua dan senjatanya sebatang tongkat baja. Selain lihai sekali ilmu tongkatnya, juga ia amat terkenal dengan senjata rahasia yang ia sebut bulu harimau. Sebetulnya senjata ini adalah jarum-jarum halus yang diberi racun, siapa terkena akan menjadi gatal-gatal yang menjalar ke seluruh tubuh dan berakhir dengan kematian  yang mengerikan.

 

Hui-houw-pangcu pergi melakukan pengejaran bersama barisannya yang paling ia banggakan, yaitu Hui- houw-tin (Barisan Macan Ter­bang). Barisan ini terdiri dari tiga belas orang tokoh pengemis yang berkepandaian tinggi dan yang khusus dilatih untuk membentuk Hui-houw-tin. Besarlah hati Hui-houw- pangcu mengajak barisannya ini. Biar pun ia mendengar dari Suma-kongcu bahwa dua orang muda itu lihai, namun ia yakin bahwa Hui-houw-tin akan dapat mengalahkan mereka dan dapat menawan mereka seperti yang diminta oleh Suma-kongcu.

 

Lewat tengah malam, Lin Lin dan Bok Liong menunda perjalanan karena mereka merasa lelah dan mengantuk. Bok Liong yang sudah beberapa kali melakukan perjalanan lewat daerah ini tahu, bahwa di  luar hutan terdapat sebuah kuil kuno yang kosong dan tidak terpakai lagi. Mereka lalu menuju ke kuil itu dan girang hati Lin Lin dapat mengaso di tempat yang terlindung sehingga hawa tidak terlalu dingin. Bok Liong segera membuat api unggun dan mereka duduk di ruangan depan yang agak bersih setelah keduanya menyapu lantai dengan daun-daun kering.

 

“Kau mengaso dan tidurlah, Lin-moi, biar aku menjaga di sini.”

 

“Mana bisa aku tidur kalau dijaga orang? Twako, jangan kira aku seorang yang mau enak sendiri, tidur pulas membiarkan kau digigiti nyamuk dan mengantuk. Tidak, kalau kau tidak tidur, aku pun tidak mau tidur.”

 

Bok Liong tersenyum lebar, dalam hati amat bersyukur bahwa gadis ini memiliki watak yang demikian baik. Memang, kalau orang sedang bercinta, segala yang dilakukan orang yang dicintanya selalu baik, setiap gerak-gerik menyenangkan. Ia maklum bahwa kalau ia bersitegang, gadis yang keras hati ini tentu betul- betul tidak mau tidur.

 

“Baiklah, aku pun akan tidur di sini, kau tidur di situ. Besok pagi-pagi  kita bangun melanjutkan perjalanan ke kota raja.”

 

“Nah, begitu baru adil namanya,” kata Lin Lin melihat pemuda itu merebahkan diri telentang dekat api unggun. Ia pun lalu merebahkan diri miring, membelakangi api unggun yang menyilaukan mata, berbantal

 

 

 

tangan. Melihat ini Bok Liong lalu melempar bungkusan pakaiannya. “Nih, pakailah untuk bantal, lumayan.”

Lin Lin tidak membantah, memberi hadiah senyum terima kasih lalu meramkan matanya. Bok Liong tentu saja tidak mau tidur, maklum bahwa kalau tertidur keduanya di tempat itu, akan berbahaya sekali. Yang paling berbahaya adalah ular, karena ada beberapa macam ular yang tidak takut akan api. Juga kalau api unggun padam tidak ada yang tahu. Ia tadi merebahkan diri hanya untuk memanaskan hati Lin Lin agar nona itu mau tidur. Karena gadis itu rebah membelakanginya, dengan leluasa ia dapat memandang belakang tubuh Lin Lin dan pikirannya melamun jauh, mata dan bibirnya membayangkan gelora hati yang penuh kasih dan rindu. Inilah yang menjauhkannya dari pada kewaspadaan. Ia tidak tahu bahwa belasan pasang mata sedang mengintai dari tempat gelap!

 

Tiba-tiba, selagi Bok Liong melamun muluk-muluk, tampak sinar-sinar kecil berwarna putih berkelebatan menyambar. Bok Liong, seorang pendekar muda yang terlatih dan sudah banyak makan asam garamnya pengalaman di dunia kang-ouw, terkejut bukan main. Bukan sinar-sinar putih yang menyambar ke arah dirinya yang ia kejutkan, melainkan sinar yang menyambar ke arah diri Lin Lin yang sudah pulas!

 

Tanpa berpikir panjang lagi, semata-mata untuk melindungi diri gadis itu dari pada bahaya maut, ia membuang dirinya ke depan Lin Lin sambil mengebutkan kedua lengan bajunya. Cepat sekali gerakannya sehingga gerakan ini membuat beberapa batang jarum halus yang tadinya menyambar ke  arahnya, terbang lewat dan menancap ke dalam dinding. Ia berhasil pula menyelamatkan Lin Lin, akan tetapi dua batang jarum tak berhasil dikebut runtuh dan langsung menancap pada pangkal lengannya sebelah kiri.

 

“Twako… ada apa…?” Lin Lin melompat bangun dan secepat kilat ia melompat lagi mendahului Bok Liong.

 

Sebagai seorang ahil silat tinggi, begitu sadar dari pada tidurnya Lin Lin sudah berada dalam keadaan siap siaga dan sedetik ia mengira bahwa Bok Liong secara kurang ajar telah mendekatinya. Selagi ia hendak memaki sambil mencabut pedangnya tiba-tiba ia melihat Bok Liong merintih-rintih dan menggaruk-garuk pangkal lengan kirinya. Pada saat itu tampak sinar putih menyambar-nyambar pula. Maklumlah Lin Lin bahwa mereka diserang oleh lawan dengan senjata rahasia, maka cepat ia memutar pedangnya, melompat ke depan Bok Liong dan sinar kuning pedangnya merupakan gulungan yang memukul runtuh sinar-sinar putih bersambaran itu.

 

“Jangan gerak, cabut jarum gosokkan ini!” tiba-tiba terdengar suara dari jauh, hanya gemanya saja yang terdengar, akan tetapi tahu-tahu ada sebuah benda kecil melayang jatuh dekat Bok Liong. Ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan kecil.

 

Bok Liong tadinya merasa gatal-gatal bukan main pada pangkal lengannya sehingga biar pun ia tahu bahwa menggaruknya merupakan pantangan yang berbahaya, namun ia tidak kuat menahan. Mendengar suara itu ia terkejut, akan tetapi juga girang melihat datangnya bungkusan. Apa lagi melihat bahwa Lin Lin tidak terluka, bahkan gadis ini sekarang berdiri melindunginya.

 

Cepat ia merobek bajunya pada lengan tangan, menggunakan penerangan api unggun yang masih bernyala besar untuk mencabut keluar dua batang jarum yang hampir amblas semua ke dalam daging. Bungkusan itu ia buka, ternyata isinya bubuk berwarna kuning. Tanpa ragu-ragu lagi Bok Liong menggosok-gosokkan bubuk kuning ini pada kedua luka kecil di pangkal lengan kiri. Hebat! Seketika  lenyap rasa gatal-gatal. Dengan kemarahan meluap Bok Liong mencabut pedangnya, melompat berdiri di samping Lin Lin dan berseru.

 

“Penjahat berhati binatang berwatak pengecut! Kalau memang ada kepandaian, keluarlah dan mari kita bertempur secara orang gagah!”

 

Terdengar suara ketawa mengejek. “Sudah lama kami berada di sini, buka matamu baik-baik, pemuda sombong!”

 

Bok Liong dan Lin Lin membalikkan tubuh. Kiranya penyerang gelap itu telah berpindah tempat, kini berada di belakang mereka. Meremang bulu tengkuk mereka memikirkan betapa bahayanya keadaan mereka tadi. Kalau penyerang gelap ini menyerang dengan jarum-jarum halus lagi dari belakang, bukankah amat berbahaya?

 

Jarum-jarum itu demikian halusnya sehingga tidak terdengar sambarannya. Hanya berkat sinar api unggun

 

 

 

maka jarum-jarum putih itu kelihatan berkelebat sehingga mereka tadi dapat menyampok runtuh. Kiranya yang berada di situ bukan hanya seorang saja, melainkan empat belas orang yang kesemuanya berpakaian pengemis. Tahulah mereka bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan tiga orang yang dirobohkan Lin Lin di gedung Suma-kongcu.

 

“Hemmm, kiranya kalian adalah ahli-ahli pula dalam senjata rahasia. Aku kagum dan mengaku kalah dalam hal ilmu senjata rahasia. Akan tetapi, kami tantang kalian untuk menghadapi Barisan Macan Terbang (Hui- houw-tin). Kalau tidak berani, lebih baik kalian menyerah untuk kami tawan. Kalau kalian dapat menangkan Hui-houw-tin, barulah aku Hui-houw-pangcu mengaku kalah.”

 

Diam-diam Bok Liong dan Lin Lin terkejut dan heran sekali. Bagaimana pengemis tua ini bicara begitu aneh, menyatakan kagum dan mengaku kalah dalam ilmu senjata rahasia? Padahal mereka itu sama  sekali tidak melepaskan senjata, juga dalam menghadapi penyerangan jarum-jarum tadi, biar pun Bok Liong berhasil menyampok runtuh dan Lin Lin juga berhasil menggunakan pedang menggagalkan penyerangan kedua, namun Bok Liong telah terluka. Hal ini tentu saja sama sekali tak boleh dianggap bahwa mereka berdua telah menang bertanding senjata rahasia!

 

Tentu saja kedua orang ini tidak tahu bahwa di dalam gelap tadi, setelah Lin Lin memutar pedang menyampok runtuh jarum-jarum itu, masih beterbangan lagi jarum-jarum bertubi-tubi dan susul-menyusul dengan cara berpindah-pindah dari pelbagai jurusan, sering kali dari arah belakang kedua orang muda itu. Ini adalah akal Hui-houw-pangcu yang menyerang mereka dari tempat gelap secara berpindah-pindah. Akan tetapi semua jarum-jarum yang menyambar dari tempat tersembunyi itu runtuh semua bertemu dengan benda-benda kecil yang melayang-layang dari segala jurusan dan ternyata bahwa yang meruntuhkan jarum-jarum itu adalah daun-daunan, bunga dan buah-buahan kecil yang secara aneh datang dari jurusan yang berlawanan sehingga Hui-houw-pangcu tentu saja mengira bahwa benda-benda itu dilepas oleh dua orang muda yang diserangnya!

 

Akan tetapi, sudah tentu Bok Liong dan Lin Lin tidak mau menyatakan keheranan ini. Dengan marah mereka lalu melangkah maju menghadapi barisan yang sudah tersusun di depan kuil kuno yang ruangan depannya terbuka itu.

 

Tiga belas orang pengemis dengan tongkat-tongkat baja di tangan telah memasang Barisan Harimau Terbang. Tiga orang sebagai kepala, masing-masing dua orang sebagai sayap kanan kiri, empat orang sebagai empat buah kaki dan dua orang sebagai ekor.

 

Bok Liong dan Lin Lin yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja tidak merasa gentar. “Saling membelakangi menghadapi mereka, mencegah penyerangan gelap dari belakang,” bisik Bok Liong. Lin Lin kagum dan segera menurut nasihat ini karena memang itulah cara terbaik bagi mereka sehingga dalam pengeroyokan mereka dapat mengerahkan seluruh perhatian ke depan tanpa takut penyergapan gelap.

 

Akan tetapi dugaan ini keliru dan terpaksa rencana Bok Liong ini tak mungkin dipertahankan. Kiranya tiga belas orang itu sama sekali tidak mengurung mereka sebagaimana biasanya barisan kalau mengepung lawan yang sedikit jumlahnya. Mereka itu langsung menerjang dari depan dengan teratur seperti gerakan seekor harimau terbang, sehingga ketika mereka menerjang maju hanya Lin Lin yang dihujani serangan sedangkan Bok Liong tidak menghadapi seorang pun lawan.

 

Lin Lin tidak gentar dan cepat memutar Pedang Besi Kuning di tangannya, akan tetapi ia kaget sekali karena senjata tongkat lawan yang terbuat dari baja tulen itu datangnya susul-menyusul dengan teratur, sehingga ia sama sekali tidak sempat melakukan serangan balasan karena repot melayani datangnya bayangan tongkat yang seperti hujan menimpanya dari atas, kanan, kiri dan bawah!

 

Melihat cara penyerangan mereka ini, tentu saja Bok Liong khawatir kalau-kalau Lin Lin celaka di tangan barisan aneh itu. Apa lagi hatinya amat tidak enak kalau barisan itu hanya menerjang Lin Lin dan membiarkan ia menganggur menjadi penjaga punggung Lin Lin belaka. Ia berseru keras dan membalik lalu menerjang, membantu Lin Lin. Akan tetapi ia masih tetap waspada, menjaga agar mereka jangan terlena dan tertipu.

 

Memang Bok Liong sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran. Ia cukup maklum akan kelihaian pedang Lin Lin, juga ia mengerti bahwa gadis ini kalau marah kepada lawan bisa menjadi ganas sekali. Secara langsung mereka berdua tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan para pengemis, maka ia pun menganggap tiada perlunya menurunkan tangan besi kepada mereka.

 

“Lin-moi, kau menahan serangan mereka, biarkan aku yang membalas!”

“Baik!” jawab Lin Lin, kembali kagum karena maklum bahwa hanya cara itulah yang memungkinkan

mereka dapat balas menyerang, yaitu yang seorang bertahan, yang seorang pula menyerang.

 

Segera ia memutar pedangnya menjadi segulung sinar kuning yang berkilauan membungkus dirinya. Di  lain pihak Bok Liong melompat ke belakang Lin Lin, membiarkan semua tongkat menyerang gadis itu, kemudian dari samping ia menerjang. Hasilnya baik sekali, terdengar teriakan kesakitan dan seorang di antara tiga orang yang merupakan bagian kepala, roboh terguling terluka pahanya oleh ujung pedang Bok Liong.

 

Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu sinar putih bersambaran dari belakang. Inilah yang dikhawatirkan Bok Liong. Baiknya pemuda ini sudah waspada sejak tadi. Melihat sinar putih menyambar, cepat ia memutar pedang sambil melompat ke belakang Lin Lin dan runtuhlah semua jarum tersampok sinar pedangnya. Hati Bok Liong menjadi khawatir juga.

 

Berabe juga kalau begini caranya mereka melakukan pengeroyokan. Ia melirik dan melihat betapa pertahanan Lin Lin amat kuat dan kokoh seperti benteng baja. Biar pun gadis itu tidak akan mendapat kesempatan untuk balas menyerang, namun dengan pertahanan macam itu, biar ada dua barisan Hui- houw-tin, kiranya belum tentu akan dapat membobol pertahanannya dalam waktu satu dua jam!

 

“Lin-moi, tahan terus, aku menangkap kepalanya!” bisiknya kembali.

 

Lin Lin sudah percaya betul akan kecerdikan kawannya. “Baik,” jawabnya tanpa ragu-ragu lagi.

 

Bok Liong melompat dengan tiba-tiba, gerakannya cepat sekali. Dengan hanya beberapa lompatan ia sudah tiba di balik gerombolan pohon dari mana jarum-jarum itu tadi menyambar. Dan… apa yang dilihatnya? Ia berdiri bengong memandang Hui-houw-pangcu yang roboh terlentang dengan tubuh kaku, kedua tangan masih menggenggam jarum-jarum beracun! Ternyata pengemis tua ini telah ditotok jalan darahnya yang membuat tubuhnya kaku tak dapat bergerak untuk beberapa jam lamanya. Siapa yang melakukan hal ini? Tak salah lagi, pikir Bok Liong, tentu dia yang tadi telah menolongnya dengan pemberian obat pemunah racun!

 

Akan tetapi ia tidak ada waktu untuk mengherankan soal ini karena di sana Lin Lin masih menghadapi pengeroyokan barisan Hui-houw-tin yang biar pun sudah roboh seorang, masih amat kuat dan cukup berbahaya. Hatinya lega karena dengan robohnya ketua Hui-houw-pang yang suka main jarum beracun ini, ia tidak khawatir lagi akan serangan gelap dari belakang. Cepat ia membalikkan tubuh dan melompat ke tempat pertempuran, serta merta menerjang dari samping. Karena kegembiraan dan kelegaan hati melihat penyerang gelap itu tak berdaya lagi, pemuda ini menyerang penuh semangat dan pedangnya merobohkan dua orang pengeroyok!

 

Akan tetapi, biar pun berkurang tiga orang, ternyata barisan Hui-houw-tin ini malah mengamuk lebih hebat. Inilah keistimewaan Hui-houw-tin, seperti seekor harimau kalau terluka akan lebih hebat sepak terjangnya. Hal ini adalah karena kalau barisan itu masih lengkap tiga belas orang, ruang gerak penyerangan mereka amat sempit dan terbatas. Makin berkurang jumlahnya, makin leluasa mereka bergerak sehingga tampaknya makin buas. Namun malang bagi mereka, kini yang mereka keroyok adalah murid-murid orang sakti yang telah mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi, jauh melebihi tingkat mereka.

 

Setelah kini merasa yakin bahwa dari belakang takkan ada yang menyerang dengan senjata rahasia, dengan enaknya Bok Liong membabati lawan seorang demi seorang secara cepat sehingga tak sampai seperempat jam, para pengeroyok itu tinggal empat orang lagi yang cepat melempar tongkat dan berlutut mohon diampuni! Lin Lin gemas sekali, lengannya bergerak hendak membabat dengan pedangnya, akan tetapi lengannya disentuh Bok Liong.

 

“Sudahlah, Lin-moi. Mereka hanya menjalankan perintah. Kita tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan mereka. Mari kita pergi!”

 

Pengalaman dalam pertempuran ini membuka mata Lin Lin bahwa kawannya adalah seorang  pemuda yang selain lihai ilmu silatnya, juga cerdik dan berpengalaman. Kalau saja ia tadi seorang diri menghadapi para pengemis ini, agaknya ia akan terancam bahaya hebat. Mengingat ini, biar pun hatinya tidak puas karena tidak boleh membunuh para pengeroyoknya, namun ia tidak membantah dan bersama Bok Liong mereka melompat pergi dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Bulan purnama sudah condong ke

 

 

 

barat, akan tetapi sinarnya masih menerangi jagat. Peristiwa tadi mengusir kantuk dan mereka berjalan terus memasuki hutan.

 

Malam telah menjelang fajar ketika bulan yang sudah turun itu tertutup puncak gunung dan sinarnya menjadi suram. Keadaan yang gelap ditambah hawa yang amat dingin memaksa dua orang muda itu kembali berhenti di dalam hutan, memilih tempat terbuka di antara pohon-pohon besar dan mereka berjongkok menghadapi api unggun yang mendatangkan hawa hangat nyaman.

 

“Liok-twako, kau tadi meninggalkan aku untuk menangkap Hui-houw-pangcu, bagaimana hasilnya? Belum kau ceritakan padaku.”

 

Bok Liong menarik napas panjang. Tadi ia memang sengaja tidak bercerita, karena khawatir kalau-kalau gadis yang aneh ini bersikeras hendak mencari penolong itu. Seorang penolong yang tidak mau memperlihatkan diri tak perlu dipaksa muncul, dan biasanya hanya orang-orang sakti yang bersikap seperti itu.

 

“Lin-moi, dalam pertempuran tadi, kita berdua hanya dapat keluar dengan selamat berkat pertolongan seorang sakti.”

 

Lin Lin mengangguk-angguk. “Sudah kuduga, malah tadinya kusangka gurumu yang melempar obat kepadamu, Twako.”

 

“Bukan Suhu, melainkan orang lain, entah siapa. Obat pemunah racunnya amat manjur, dan ilmu kepandaiannya hebat sekali.”

 

“Bagaimana kau bisa tahu, Twako?”

 

“Tak ingatkah kau akan ucapan Hui-houw-pangcu yang mengaku kalah bertanding senjata rahasia dengan kita? Padahal kita sama sekali tidak pernah melepaskan senjata rahasia. Bagaimana dia bisa mengaku kalah bertanding am-gi (senjata gelap)? Tidak bisa lain, tentu penolong kita yang telah menundukkanya, mungkin dengan cara menggempur jarum-jarumnya dengan am-gi lain yang amat lihai. Dan tahukah kau apa yang terjadi ketika aku meninggalkanmu untuk menghajar ketua Hui-houw-pang yang curang itu? Ia telah roboh kaku, siapa lagi kalau bukan penolong kita yang menotoknya. Di kedua tangannya masih  penuh jarum-jarum beracun yang belum sempat ia sambitkan kepada kita.”

 

Benar saja, Lin Lin amat tertarik hatinya. “Siapakah dia Twako? Ah, setelah ia menolong kita, kenapa tadi kau diam saja? Mengapa tidak memanggil-manggil supaya dia muncul? Aku ingin sekali berkenalan dengan dia, Twako, ingin…”

 

“Ingin apa?” Bok Liong sendiri terheran mendengar suaranya yang berbeda dari biasa, dan lebih heran lagi merasa betapa dadanya sesak dan perasaannya tidak senang. Cemburu! Tapi ia tidak sadar akan hal ini.

 

“Ingin mengajak ia bertanding, menguji kepandaiannya!”

 

Jawaban ini membuat Bok Liong melengak heran, akhirnya ia tertawa. Gadis pujaan hatinya ini benar- benar aneh, lucu, manis dan hebat!

 

“Lin-moi, kalau seorang sakti tidak menghendaki dilihat orang, jangan harap akan dapat bertemu dengannya. Terang bahwa dia membantu kita dengan sembunyi, itu hanya berarti bahwa dia tidak mau kita melihatnya, maka jalan terbaik hanya membiarkan dia melanjutkan sikap itu. Memaksa dia muncul sama dengan menentang kehendaknya dan ini bukanlah pernyataan terima kasih yang baik.”

 

Lin Lin tidak suka akan keangkuhan. “Huh, siapa memaksa dia menolong kita? Aku sendiri sih tidak butuh akan pertolongannya. Kalau memang dia merasa diri begitu tinggi dan begitu mulia sehingga menganggap tidak berharga mengadakan pertemuan dengan kita, mengapa dia menolong kita tanpa kita minta? Uh, aku belum percaya apakah benar-benar dia itu seorang sakti, lebih tidak percaya lagi apakah dia bermaksud baik dengan pertolongannya itu.”

 

“Ssstttt… Lin-moi, kenapa kau bilang begitu…?”

 

Lin Lin melompat berdiri. “Biar! Aku tetap tidak percaya bahwa dia bermaksud baik. Kau boleh takut kepadanya, Liong-twako, akan tetapi aku tidak takut. Kalau dia betul orang baik-baik, kenapa main rahasia-

 

 

 

rahasiaan? Siapa sudi main kucing-kucingan dengan orang yang tidak kita kenal? Orang begitu hanya menonjolkan keangkuhan dan kesombongannya, merasa lebih tinggi dari pada orang lain!”

 

Bok Liong kebat-kebit hatinya. Celaka, pikirnya. Gadis ini sudah kumat, dan ia dapat menyelami perasaan gadis ini yang membuatnya mau tak mau hanya makin mengaguminya. Terang bahwa Lin Lin wataknya aneh, tapi polos, tidak takut kepada siapa pun juga, tidak suka akan orang yang plin-plan dan palsu- palsuan. Akan tetapi betapa pun juga, hatinya merasa amat tidak enak terhadap penolongnya. Bagaimana kalau penolong itu mendengar ucapan Lin Lin ini?

 

“Ahhhhhh…!”

 

Bok Liong melompat bangun, memandang ke kanan kiri. “Eh, kau mengapa, Twako?”

“Lin-moi, apakah kau tidak mendengar tadi? Terang ada orang yang menghela napas panjang, dekat sekali….”

 

Lin Lin ikut memandang ke kanan kiri, terheran-heran. “Aku tidak mendengar apa-apa. Ah, Twako, kau jadi seperti anak kecil mendengar dongeng mengerikan sehingga menjadi ketakutan dan di mana-mana kelihatan setan. Hi-hik!”

 

Merah muka Bok Liong, lalu ia duduk kembali. “Lin-moi, belum lama kau terjun di dunia kang-ouw, kau belum tahu banyak tentang orang-orang sakti…”

 

Sebelum Lin Lin sempat menjawab, tiba-tiba terdengar desis keras dan Lin Lin menjerit, “Ular…!” Ia seperti sebagian banyak wanita, merasa jijik dan geli melihat ular, akan tetapi, sebagai seorang pendekar wanita, tentu saja ia tidak takut. Cepat sinar kuning berkelebat dan di lain saat tubuh ular telah buntung menjadi dua potong!

 

Mata Bok Liong terbelalak ketika ia memandang bangkai ular itu. “Wah, celaka, kita agaknya berhenti di daerah ular api! Ular macam ini tidak takut api dan amat beracun. Racunnya panas dan membuat tubuh korbannya hangus seperti dimakan api, maka ia disebut ular api. Eh… awas Lin-moi…!” Bok Liong sudah mencabut pedangnya. Dua kali ia mengelebatkan pedangnya dan dua ekor ular roboh dengan leher putus. Ternyata itu adalah dua ekor ular yang menyambar dari atas ke arah Lin Lin.

 

“Wah… ular api tak mungkin dapat melayang, tentu ada yang melemparkannya…! Lin-moi, awas, agaknya ada musuh menyerang…”

 

“Aku tidak takut! Segala pengecut curang, kalau berani muncul akan kupenggal batang lehernya!” teriak Lin Lin dengan marah sekali karena semalam itu selalu diganggu orang-orang yang tidak mau menyerang atau membantu dengan terang-terangan.

 

Jawaban teriakan Lin Lin ini adalah suara ketawa yang disusul munculnya seorang laki-laki tua berpakaian pengemis. Kaki kiri kakek pengemis ini buntung, sebagai penggantinya ia memegang sebatang tongkat panjang, tongkat yang bengkak-bengkok seperti tubuh ular. Pakaiannya yang penuh tambalan itu serba lorek dan belang-belang seperti kulit ular. Ketika Lin Lin memandang penuh perhatian, baginya muka orang itu pun mirip muka ular!

 

“Hemmm, kiranya Sin-coa-kai (Pengemis Ular Sakti) yang main-main dengan kami!” kata Bok Liong dengan suara mengejek.

 

Ia sudah mendengar tentang pengemis ini yang merupakan kepala atau pimpinan dari serombongan pengemis yang suka mengumpulkan racun ular dan menjualnya pada toko-toko obat. Sebagai ahli menangkap ular berbisa, tentu saja pengemis ini amat lihai, malah julukannya juga Pengemis Ular Sakti! Akan tetapi, ia pun sudah mendengar akan praktek-praktek jahat yang dilakukan pengemis ini dan rombongannya, yaitu menjual racun-racun ular pada penjahat-penjahat untuk maksud-maksud keji. Maka  ia memandang rendah dan mengejek.

 

Pengemis buntung itu tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, orang muda bermata tajam, kiranya mengenal pula Sin-coa-kai! Ha-ha, kalau sudah mengenal nama dan mengetahui kelihaianku, lebih baik menyerah agar kuserahkan kalian kepada Suma-kongcu. Heh, pantas saja Suma-kongcu berusaha keras untuk

 

menangkap kalian, kiranya ada bidadari ini yang begini denok dan can….”

“Swinggggg…!” Pengemis itu berteriak kaget dan menjatuhkan diri bergulingan ke atas tanah ketika tiba-

tiba pedang di tangan Lin Lin menyambar, merupakan sinar kuning yang secepat kilat membabat leher pengemis itu.

 

“Lin-moi, awas belakang…!” Bok Liong memperingatkan, khawatir kalau gadis itu terlalu bernafsu dan marah mengejar si Pengemis Buntung.

 

Betul saja dugaannya, si Buntung itu tidak datang sendiri, melainkan bersama tujuh orang pembantunya. Pada saat itu, dari tempat-tempat gelap melompat bayangan orang dan terdengar suara mendesis-desis dari semua penjuru. Lin Lin kaget dan terpaksa menunda pengejarannya kepada Sin-coa-kai. Sepasang matanya yang tajam itu terbelalak ketika melihat puluhan ekor ular api merayap datang dari depan dan belakang, digiring oleh Sin-coa-kai dan teman-temannya.

 

“Lin-moi, serbu…!” Bok Liong sambil memutar pedangnya dan menerjang maju.

 

Lin Lin mengikuti sepak terjang Bok Liong dan dua orang muda itu dengan gagah menghadapi ular-ular yang telah menjadi nekat karena telah diberi obat perangsang oleh Sin-coa-kai. Dalam beberapa detik saja bangkai ular bergelimpangan diterjang pedang Lin Lin dan Bok Liong.

 

Akan tetapi kini Sin-coa-kai dan teman-temannya mulai menyerang dari lain jurusan, menggunakan tongkat-tongkat ular yang panjang seperti toya. Lin Lin dan Bok Liong tentu saja tidak gentar, melawan dengan hebat. Akan tetapi mereka menjadi sibuk juga karena ular-ular itu kini menjadi makin banyak, merayap-rayap mengerikan.

 

“Lin-moi, ikuti aku, ke atas pohon!” kembali Bok Liong memberi tahu temannya.

 

Sambil memutar pedang untuk menjaga diri dari sambaran tongkat lawan, mereka mengerahkan ginkang dan melayang ke atas pohon. Akan tetapi terdengar suara ketawa Sin-coa-kai disusul teriakan kaget kedua orang muda itu yang cepat-cepat melayang turun kembali karena pohon itu pun penuh dengan ular hijau yaitu ular daun yang biar pun tidak beracun namun cukup menjijikkan dan galak!

 

“Ha-ha-ha-ha, apakah kalian tidak menyerah saja?”

 

“Menyerah kakimu!” bentak Lin Lin sambil menerjang penuh amarah. Terjangannya hebat sekali, biar pun  si Buntung berhasil menghindarkan bahaya dengan jalan menggulingkan diri, namun seorang pembantunya terbabat pedang sehingga putus lengan kirinya!

 

Sin-coa-kai memaki marah, lalu bersuit keras. Hebat akibatnya. Ular-ular itu seperti menjadi gila mendengar suitan ini dan menyerbu lebih ganas dari pada tadi. Kewalahan juga Lin Lin dan Bok Liong menghadapi ular-ular kalap itu, apa lagi tongkat-tongkat para pengemis masih selalu mengancam dan mencari kesempatan baik.

 

Pada saat itu tampak asap tipis dan tercium bau yang pedas. Seketika kedua mata Lin Lin dan Bok Liong mengeluarkan air mata! Inilah semacam asap beracun yang dilepas oleh Sin-coa-kai! Terbuat dari pada daun-daun dicampur racun ular lalu dibakar. Asap dari pada ramuan ini merupakan asap beracun yang akan membuat setiap orang lawan mengeluarkan air mata, semacam ‘gas air mata’ model kuno! Para pengemis sendiri tentu saja sudah memakai obat pemunah sehingga mereka tidak terpengaruh.

 

“Celaka…!” teriak Bok Liong. “Lin-moi, kita membuka jalan darah!”

 

Mereka berusaha sedapat mungkin untuk membuka kedua mata yang terus bercucuran air mata,  pedang di tangan mereka gerakkan otomatis menjaga tubuh. Akan tetapi, teringat akan ular-ular yang menyerang kaki mereka, kedua orang muda itu menjadi bingung, tidak berani melangkah ke luar dari tempat itu.

 

Tiba-tiba terdengar pekik Sin-coa-kai marah, “Heeeiiiii, bedebah! Siapa berani main-main dengan ular- ularku?” Akan tetapi bentakan ini disusul rintihan si Buntung itu. Asap yang memerihkan mata juga tidak menyerang lagi.

 

Lin Lin dan Bok Liong masih terus memutar pedang menjaga diri. Setelah mata mereka tidak pedas lagi dan dapat dibuka, barulah mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan mereka itu amat lucu. Di depan

 

 

 

tidak ada musuh, bangkai ular bertumpuk-tumpuk di sana-sini, dan mereka tadi masih terus bersilat memutar pedang!

 

Muka Bok Liong menjadi merah sekali. “Wah, alangkah tolol kita. Sudah ada orang sakti menolong, ular- ular mati dan semua pengemis diusir pergi, dan kita masih terus main pedang seperti wayang tanpa penonton!”

 

Lin Lin membanting-banting kakinya. “Lagi-lagi penolong tak diundang! Kalau memang sudah menolong, kenapa tidak mau memberi tahu sehingga kita menjadi tontonan yang mentertawakan? Benar-benar dia memandang rendah!”

 

“Eh, Lin-moi. Berkali-kali dia menyelamatkan nyawa kita, kenapa kau malah marah-marah? Mana bisa kita menjadi tontonan kalau di sini tidak ada siapa-siapa yang akan menonton kita? Sebaliknya kita harus berterima kasih kepada pendekar sakti dan menol….”

 

“Siapa bilang tidak ada penonton? Apa kau kira dia itu tidak sedang terkekeh-kekeh mentertawakan kita yang bersilat sendiri melawan angin? Benar-benar kau tolol dan dapat dipermainkan orang, Twako!”

 

Bok Liong tersenyum. Baru berkenalan sebentar saja, sikap gadis ini sudah amat intim, tidak ragu-ragu mengecapnya tolol segala! “Jadi kau tidak berterima kasih kepadanya, Moi-moi?”

 

“Tidak! Aku tidak minta dia tolong, perlu apa berterima kasih?”

 

“Habis, andai kata dia muncul di depanmu, kau mau apa terhadapnya?” “Mau apa? Menebus penghinaan ini di ujung pedang, apa lagi?” “Penghinaan?”

“Dia menolong tanpa diundang, bergerak secara sembunyi, ini berarti mempermainkan kita dan amat memandang rendah, apakah yang begini masih belum patut dikatakan penghinaan?”

 

Tiba-tiba Bok Liong meloncat ke kiri, menyingkap alang-alang sambil berseru, “Harap Locianpwe (Orang Tua Gagah) sudi menjumpai kami…!” Akan tetapi ia kecewa karena di belakang alang-alang itu tidak ada siapa-siapa.

 

“Eh, apa kau masih terus bermain sandiwara setelah bertanding pedang angin tadi, Twako? Siapa yang kau ajak bicara?”

 

Bok Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jelas benar tadi kulihat bayangan orang di sini!  Malah ketika aku melompat sampai di sini, masih kudengar helaan napasnya! Heran benar….”

 

“Sudahlah, Twako. Kau lagi-lagi melihat serta mendengar setan.”

 

“Benar, Lin-moi. Kalau dia tidak mau menemui kita, dicari juga sia-sia. Mari kita lanjutkan perjalanan, siapa tahu Suma-kongcu masih mempunyai banyak kaki tangan yang hanya akan mengganggu kita. Lebih cepat sampai di kota raja lebih baik. Kota raja sudah dekat dan sekarang pagi.”

 

Keduanya lalu berlari meninggalkan tempat itu. Lin Lin bergidik melihat bangkai banyak ular menggeletak  di sana-sini, anehnya, sebagaian besar bangkai-bangkai itu pecah kepalanya. Padahal ia tahu benar bahwa pedangnya dan pedang Bok Liong tak mungkin bisa membikin kepala ular remuk, paling-paling membuntungi leher. Diam-diam ia kagum juga akan kepandaian orang yang telah menolong mereka, akan tetapi hatinya tetap tidak puas. Orang itu sombong, pikirnya.

 

Dugaan Bok Liong memang benar. Yang memenuhi permintaan Suma Boan untuk mencoba menangkap dua orang muda itu ada tiga rombongan. Pertama adalah rombongan Hui-houw-kai-pang, rombongan kedua adalah rombongan Sin-coa-kai-pang. Ada pun ketiga hanya terdiri dari seorang saja. Orang ini adalah seorang tokoh perkumpulan pengemis dari daerah barat yang bemama Hek-i Lo-kai (Pengemis Tua Baju Hitam).

 

Kepandaian ilmu silatnya tidaklah terlalu tinggi biar pun ia cukup lihai dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain, akan tetapi yang membuat ia amat terkenal adalah kelicikan dan kecurangannya. Ia pandai bicara,

 

 

 

pandai bersandiwara dan selain ini ia pun memiliki kepandaian membuat obat peledak yang sukar dapat dilawan oleh seorang ahli silat tinggi sekali pun. Obat peledak itu mengandung racun dan pecahan- pecahan besi berkarat yang amat berbahaya. Semacam granat model kuno! Mengandalkan kecerdikannya, Hek-i Lo-kai ini beroperasi sendirian saja, tidak suka ramai-ramai main keroyokan. Ketika mendengar perintah Suma Boan, ia tergesa-gesa melakukan pengejaran. Karena mendengar bahwa dua orang muda itu lihai dan sedang menuju ke kota raja, ia tidak mau berlaku sembrono seperti dua rombongan yang telah gagal itu, melainkan mendahului pergi ke kota raja dan menanti di luar tembok kota raja.

 

Demikianlah, ketika Lin Lin dan Bok Liong tiba di luar kota raja, hari telah menjelang siang. Di luar pintu gerbang mereka melihat seorang kakek pengemis duduk bersila di atas tanah di dekat jalan raya, matanya yang meram terus itu agaknya buta, kedua tangannya ditelentangkan di depan dada dan mulutnya tiada hentinya minta-minta kepada orang yang lewat di jalan itu. Beberapa potong uang tembaga telah diperolehnya, bertebaran di depannya.

 

Melihat seorang pengemis, Bok Liong curiga. Ia menyentuh tangan Lin Lin dan memberi isyarat dengan matanya. Lin Lin menoleh dan tersenyum. “Twako, kau benar-benar seperti seekor burung yang hampir terkena anak panah, menjadi ketakutan pada bayangan sendiri. Masa setelah gangguan para pengemis  itu, sekarang kalau melihat setiap orang pengemis kau lalu mencurigainya? Hi-hik, lucu! Dia itu benar- benar seorang jembel. Lihat, dia betul-betul minta-minta, wajahnya pucat matanya buta. Eh… lihat… dia sakit, Twako…!”

 

Benar kata-kata Lin Lin itu. Pengemis tua berbaju hitam kotor itu merintih-rintih, memegangi perutnya, mukanya menjadi pucat sekali, matanya yang buta mendelik tampak putihnya saja. “Ahhh… auuuhhhhh… aduh, mati aku…,” keluhnya perlahan, keringat besar-besar memenuhi mukanya.

 

Seorang pedagang tahu yang memikul tahang (keranjang kayu) yang sedang kosong dan sedang menuju pulang ke desanya di luar kota, berhenti di depan pengemis itu, memandang penuh iba. “Lopek, kau kenapakah?”

 

Pengemis itu mengeluh dan meringis kesakitan, nyata amat sukar ia mengeluarkan suara menjawab. “Aduhhh… napasku… sesak… terpukul… kumat lagi… sesak… auuughhh!” Kakek pengemis itu muntahkan darah segar! Si penjual tahu kaget dan makin iba.

 

“Wah, kau sakit berat, Lopek. Ah, bagaimana baiknya?” Beberapa orang yang kebetulan lewat, hanya menengok lalu melanjutkan perjalanan mereka. Siapa mau peduli akan nasib seorang jembel tua? Pedagang tahu itu merasa kasihan karena ia sendiri pun seorang miskin, tentu saja ia dapat merasakan penderitaan jembel ini.

 

Sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi, tentu saja Lin Lin dan Bok Liong maklum apa artinya keadaan kakek itu. Kakek itu menderita luka dalam dan keadaannya amat berbahaya. Lukanya mengeluarkan darah dan tentu akan menutup pernapasannya kalau tidak dihentikan. Cara menghentikannya tentu dengan menotok jalan darah di punggung dan mengurut urat di dada dan leher.

 

Lin Lin adalah seorang gadis remaja yang wataknya polos dan juga aneh. Ia mudah tersinggung, perasaannya halus, mudah marah mudah gembira, mudah kasihan mudah membenci. Dengan langkah lebar ia menghampiri kakek itu, tidak peduli lagi akan pencegahan Bok Liong.

 

“Kakek, kau terluka di dalam, biar kutolong kau…” kata Lin Lin. “Auhhhhh… oohhh… terima kasih….”

Lin Lin segera menghampiri punggung kakek itu, menotoknya dengan dua jari tangannya. Gerakannya gesit sekali dan kedua jarinya amat kuat sehingga sekali menotok saja ia berhasil. Kakek itu meringis kesakitan dan napasnya bertambah sengal-sengal. Lin Lin menjadi gugup, cepat ia mengulur tangan hendak meraba leher dan mengurut dada. Tiba-tiba tangan kakek itu yang tadinya menekan-nekan perutnya, bergerak cepat dan tampak sinar berkilat ketika tangan yang telah mencabut pedang pendek ini menusuk ke arah dada Lin Lin!

 

“Keparat!” Bok Liong yang sudah waspada cepat menerjang maju dan mengirim tendangan, sedangkan Lin Lin yang menjadi kaget sekali namun tak kehilangan akal segera membuang diri ke belakang sambil berjungkir-balik. Tendangan Bok Liong keras sekali, membuat tubuh kakek pengemis itu terpental dan bergulingan sampai sepuluh meter jauhnya, pedang pendeknya terlempar entah ke mana. Akan tetapi

 

 

 

kakek pengemis yang sekarang sudah tidak buta lagi itu, mengeluarkan dua buah benda sebesar kepalan tangan.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo