August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 5)

 

 

“Tar-tar-tar-tar!” dari depan dan belakang dua batang cambuk itu mengeluarkan bunyi dan menyambar- nyambar di atas kepala Lin Lin. Namun seujung rambut pun gadis ini tidak menjadi gentar. Malah kemarahannya memuncak.

 

“Hemmm, monyet-monyet gundul tak tahu diri. Hajaran tadi masih belum cukup bagi kalian, ya? Manusia- manusia berwatak kotor macam kalian kalau tidak dibasmi, hanya akan mengotorkan dunia dan mengganggu wanita saja!” Setelah berkata demikian Lin Lin menggerakkan tangan kanan dan….

 

“Srattt!” tampak sinar kuning menyilaukan mata karena Pedang Besi Kuning sudah berada di tangannya. “Bagus, kau berani melawan? Rasakan cambukan ini!”

Cambuk dari depan menyambar, disusul cambuk dari belakang dan di lain saat tubuh Lin Lin sudah terkurung dua batang cambuk yang menyambar-nyambar bagaikan dua ekor ular hidup. Kiranya dua orang hwesio muda itu tidak terlalu menyombong. Permainan cambuk mereka memang hebat, cepat dan kuat sekali.

 

Namun kali ini mereka bertemu dengan Lin Lin yang baru saja mewarisi Ilmu Khong-in-ban-kin, ilmu yang membuat ia dapat mengerahkan ginkang yang hebat sehingga tubuhnya berubah ringan dan cepat laksana gerakan seekor burung walet. Betapa pun cepatnya dua batang cambuk itu melecut dan menyambar,  tubuh Lin Lin lebih cepat lagi bergerak, berkelebat di antara sambaran cambuk diselimuti gulungan sinar kuning dari pedangnya.

 

Memang hebat sekali Lin Lin setelah ia mewarisi ilmu dari Kim-lun Seng-jin. Apa lagi di tangannya sekarang ada sebatang pedang pusaka terbuat dari pada besi aji yang amat ampuh. Dengan sinar yang menyilaukan mata pedangnya berkelebat dan… dua orang hwesio muda itu berteriak kesakitan ketika cambuk-cambuk di tangan mereka itu putus semua berikut ujung lengan baju dan sebagian dari kulit dan daging lengan mereka, semua terbabat oleh sinar pedang yang menyilaukan dan berhawa dingin itu! Tentu saja mereka terkejut dan ketakutan, lalu melarikan diri sambil memegangi kepala seakan-akan merasa khawatir kalau-kalau kepala mereka pun akan terbabat putus!

 

“Bagus sekali. Benar-benar kiam-hoat (ilmu pedang) yang amat indah dan lihai!”

 

Lin Lin cepat menengok. Kiranya tak jauh dari tempat pertempuran itu tampak seorang laki-laki muda  duduk di atas punggung kudanya. Pemuda ini berusia dua puluh tahun lebih, bermuka bundar dengan jidat lebar. Sepasang matanya lebar dan menyinarkan kejujuran, alisnya tebal, hidungnya agak pesek, mulutnya membayangkan keramahan.

 

Biar pun bukan wajah yang dapat disebut tampan, namun ia tidak buruk rupa, bahkan wajahya yang sederhana ini menyenangkan hati orang. Pakaiannya pun sederhana dan bersih, rambutnya digelung ke atas dan dibungkus sutera berkembang. Gagang sebuah pedang yang tampak menandakan bahwa ia pun seorang yang tidak asing akan senjata tajam. Juga bentuk tubuhnya yang kekar membayangkan tenaga besar.

 

Lin Lin masih marah. Sehabis bertemu dengan dua orang hwesio muda yang bermulut kotor dan lancang tadi, ia mempunyai prasangka buruk terhadap pemuda ini. Kalau laki-laki yang sudah menjadi hwesio- hwesio saja seperti tadi kurang ajarnya, apa lagi yang masih muda seperti ini! Dengan muka merah dan mulut cemberut ia membalikkan tubuh menghadapi pemuda itu, lalu menghardik. “Memang kiam-hoatku indah dan lihai, juga pedangku ini cukup tajam untuk memenggal leher setiap orang laki-laki ceriwis dan kurang ajar! Kau mau apa ikut campur?”

 

Ada semenit pemuda itu melongo. Matanya yang lebar itu makin melebar ketika ia memandang Lin Lin. Pada matanya terbayang kekaguman luar biasa dan sesungguhnya. Ia memang kagum sekali setelah dara ini sekarang menghadapinya. Wajah Lin Lin seakan-akan menyihirnya, membuat jantungnya jungkir balik dan kepalanya puyeng, matanya berkunang-kunang. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang dara seperti ini, dan belum pernah ia mengalami guncangan seperti ini pula menghadapi seorang gadis.

 

Lin Lin makin tidak sabar. Agaknya laki-laki ini kurang ajar pula, duduk di atas punggung kuda dan memandangnya tanpa berkata apa-apa, memandangnya tanpa berkedip. Ia membanting kaki dan memaki, “Apa kau kira aku ini barang tontonan maka matamu melotot terus memandangku?”

 

 

 

Pemuda itu tersenyum. “Bukan barang tontonan, Nona, akan tetapi tidak ada tontonan yang lebih indah, lebih mempesona, lebih….”

 

“Kau lebih kurang ajar lagi!” bentak Lin Lin dan tubuhnya sudah melesat ke depan sambil mengirim serangan dengan pedangnya.

 

“Uiiihhhhh, ganas…!” pemuda itu cepat sekali membuang diri dari atas punggung kuda, berjumpalitan beberapa kali dan ketika kedua kakinya sudah berdiri di atas tanah, ternyata ia telah mencabut pedangnya yang berkilauan seperti perak. “Baiklah, Nona. Kalau kau ingin mencoba kepandaian, mari kulayani. Agaknya kau murid orang pandai dan patut menjadi lawanku bertanding pedang.” Ia melambaikan tangan kiri menantang.

 

Gerakan pemuda tadi amat mengagumkan hati Lin Lin. Gadis ini pun maklum bahwa lawannya kali ini bukanlah seorang sembarangan, bukan macam dua orang hwesio tadi. Akan tetapi ia tidak takut! Dan perasaannya ini ia keluarkan melalui bibirnya yang merah, “Biar ada sepuluh orang macam engkau, aku tidak gentar!”

 

“Ha-ha-ha, ada satu saja orang macam aku sudah terlalu repot bagimu, apa lagi ada sepuluh orang!” pemuda itu berkelakar, akan tetapi ia harus cepat-cepat menggerakkan pedangnya menangkis karena gadis itu sudah menerjangnya dengan gerakan seperti seekor burung walet.

 

“Trang-trang-tranggggg…!” tiga kali pedang mereka saling beradu, menimbulkan bunga api yang muncrat ke sana-sini.

 

Keduanya cepat menarik pedang masing-masing dan lega hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa pedang mereka tidak rusak oleh pertemuan keras lawan keras tadi. Masing-masing kagum dan juga kaget. Apa lagi Lin Lin. Tadi ia sudah mengerahkan tenaga Khong-in-ban-kin, dan ia maklum bahwa tenaga yang terdapat dalam ilmu ini luar biasa besarnya. Tadi ia gunakan sedikit saja untuk menghadapi dua orang hwesio, sekali babat saja cambuk-cambuk itu putus semua. Sekarang ia pergunakan tenaga ilmu ini dalam mengadu pedang, sedangkan di tangannya adalah pedang pusaka pula, mengapa pedang lawannya tidak menjadi rusak dan tidak terpental?

 

Ini hanya menjadi bukti bahwa pemuda pesek ini selain memiliki pedang yang ampuh juga memiliki kepandaian tinggi, dapat melawan terjangan tenaga Khong-in-ban-kin. Apakah kakek gundul pelontos Kim- lun Seng-jin yang membohonginya dan membual tentang kelihaian Khong-in-ban-kin? Kakek itu bilang bahwa jarang ada lawan yang akan dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan tenaga dalamnya kalau  ia mengerahkan Khong-in-ban-kin. Akan tetapi sekarang, baru saja bertemu dengan seorang pemuda pesek, ilmunya itu seakan-akan tiada artinya lagi.

 

Di lain pihak, si Pemuda juga kaget dan tercengang di samping kekagumannya yang menjadi-jadi. Tadinya ia mengira bahwa dara lincah itu hanya memiliki gerakan yang amat cepat dan ilmu pedang yang tinggi saja, maka dengan mudah dapat mengalahkan dua orang hwe­sio kurang ajar tadi. Siapa kira dalam pertemuan pedang tadi ia mendapat kenyataan bahwa dalam hal tenaga gadis itu tidak usah mengaku kalah terhadapnya, juga pedang di tangannya itu adalah pedang ampuh yang dapat menahan pusakanya sendiri. Padahal pusakanya ini adalah pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) yang jarang bandingannya, pedang pusaka pemberian suhu-nya.

 

“Wah karena pedangmu ampuh kau jadi sombong, ya? Awas lehermu!” Lin Lin membentak dan segera gadis ini mainkan Khong-in-liu-san untuk menerjang lawannya. Hebat terjangannya ini, pedangnya berubah menjadi sinar kuning bergulung-gulung, makin lama makin tebal merupakan segunduk awan bergerak perlahan mengurung diri pemuda itu dari segala jurusan.

 

Pemuda itu mengeluarkan seruan tertahan. Benar-benar tak disangkanya gadis ini sedemikian lihainya. Ia pun lalu bersilat dengan pedangnya, ilmu silat yang aneh, gerakan-gerakannya lucu dengan tubuh megal- megol seperti seorang pelawak beraksi di atas panggung wayang. Hampir saja Lin Lin tak dapat menahan ketawanya menyaksikan gerakan aneh dan lucu ini. Akan tetapi ia pun terheran-heran karena ke mana pun juga pedangnya menyambar, selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh pemuda yang gerak-geriknya aneh ini. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah, hanya mempertahankan diri dari pada serangan-serangannya yang dahsyat, tidak berusaha membalas sungguh-sungguh. Memang pemuda itu tidak ingin merobohkan Lin Lin, kekagumannya terhadap gadis itu membuat ia mengalah dan hanya ingin menguji kepandaian orang.

 

“Hebat…, hebat… kiam-hoat yang luar biasa!” berkali-kali pemuda itu memuji.

Akan tetapi, makin dipuji makin marahlah Lin Lin karena pujian itu ia anggap sebagai ejekan. Mana bisa

ilmu pedangnya dipuji kalau sama sekali tidak mampu mendesak lawan? “Balaslah! Seranglah! Kau kira aku takut? Kalau kau bisa mengalahkan aku, baru kau laki-laki sejati!” Ia menantang. Ia berbesar hati karena ia memiliki ilmu Khong-in-ban-kin dan dengan ilmu ini ia dapat menggunakan ginkang yang sempurna sehingga ia tidak khawatir akan termakan pedang lawan.

 

Seperempat jam sudah mereka bertanding. Kuda tunggangan pemuda itu menjadi gelisah, berkali-kali meringkik ketakutan. Pemuda itu gemas juga. Gadis ini amat menarik hatinya, dan ia tidak tega untuk merobohkan atau mengalahkannya. Akan tetapi kalau tidak ‘diberi rasa’, tentu tidak tahu  akan kelihaiannya, demikian ia pikir. Bangkit harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

 

“Baiklah, Nona, lihat pedangku!” Ia memutar pedangnya cepat sekali dan mengerahkan tenaga untuk mendesak dan menindih gulungan sinar pedang lawan.

 

Memang hebat pemuda ini. Amat kuat tenaga desakan hawa dan sinar pedangnya, mengejutkan hati Lin Lin. Namun cepat gadis ini menggunakan Khong-in-ban-kin. Tubuhnya bergerak begitu cepat seakan-akan serupa sebuah bayangan, dengan lincahnya ia menyelinap di antara sinar pedang. Sungguh pun harus ia akui bahwa semua serangannya sekarang gagal dan buyar, tidak ada kesempatan lagi, namun ia tetap dapat mempertahankan diri dari pada desakan lawan. Makin keras pemuda itu menekan, makin lincah gerakan Lin Lin sehingga pemuda itu selain kaget juga heran dan bingung. Tahulah ia sekarang bahwa dara lincah ini adalah murid seorang sakti, karena hanya beberapa orang saja di dunia kang-ouw, boleh dihitung dengan jari jumlahnya, yang akan dapat menghindarkan diri dari tekanan pedangnya seperti ini.

 

Pada saat itu, terdengar bentakan keras, “Susiok (Paman Guru), inilah iblis betina liar itu!” “Hemmm, hemmm, agaknya mengandalkan kecantikannya. Lihat pinceng menangkapnya!”

“Mari kita berlomba, Sute, aku pun timbul kegembiraan hendak menangkap gadis liar ini!” sambung suara kedua.

 

“Hee, Sicu (Orang Gagah), harap mundur. Biarkan pinceng berdua main-main dengan budak ini!”

 

Biar pun masih saling gempur, pemuda itu dan Lin Lin kini otomatis mengendurkan gerakan dan melirik. Kiranya yang datang adalah dua orang hwesio muda yang tadi, yang berdiri agak jauh. Akan tetapi kini mereka datang bersama dua orang hwesio setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan keduanya memegang sebatang tongkat hwesio yang panjang dan terbuat dari pada baja. Kedua orang hwesio ini sombong sekali lagaknya dan agaknya mereka memandang rendah kepada pemuda itu dan Lin Lin.

 

Tanpa memberi kesempatan lagi, dua orang hwesio setengah tua itu menerjang maju dari kanan kiri mengeroyok Lin Lin! Benar-benar tak tahu malu, pikir Lin Lin. Suaranya saja hendak berlomba untuk menangkapnya, kiranya mereka itu hanya ingin mengeroyok mengandalkan senjata yang panjang dan berat. Mana ada orang yang hendak ‘menangkap’ menggunakan tongkat yang begitu panjang dan berat?

 

Akan tetapi ketika ia mengayun pedang dengan putaran lebar, sekaligus menangkis dua batang tongkat itu, terdengar suara keras, bunga api berpijar dan Lin Lin merasa betapa telapak tangannya tergetar. Ia kaget dan diam-diam ia mengeluh. Kiranya di samping kesombongan mereka, dua orang hwesio ini memiliki tenaga lweekang yang hebat! Cepat ia menggerakkan tubuh dan dengan mengandalkan kelincahannya, kini ia menghadapi dua orang pengeroyoknya, lupa bahwa lawan lamanya, pemuda itu, kini berdiri menonton dan tidak menyerangnya lagi.

 

“Tahan senjata! Melihat gerakan, Ji-wi Suhu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim. Betulkah?”

 

Dua orang hwesio setengah tua itu melompat mundur, menahan tongkat mereka lalu memandang pemuda itu. Lin Lin tidak peduli, akan tetapi ia pun tidak sudi menyerang orang yang menarik senjatanya, maka dengan pedang melintang di depan dada, ia hanya memandang, sikapnya gagah.

 

“Kami memang betul hwesio-hwesio Siauw-lim. Kau siapakah, Sicu, dan apa yang hendak kau katakan kepada kami?”

 

Pemuda itu mengerutkan keningnya. “Siauw-lim-pai adalah partai persilatan yang selalu menjunjung

 

 

 

kebenaran dan keadilan, yang selalu bersih dan terkenal sebagai pusat orang-orang beribadat  yang berilmu tinggi. Akan tetapi mengapa Ji-wi Suhu datang-datang menyerang seorang wanita?”

 

“Gadis liar ini menghina murid-murid keponakan kami!”

 

“Hemmm, pemutar-balikan fakta yang menjijikkan! Adalah dua orang hwesio itulah yang kurang ajar, mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan terhadap wanita terhormat. Dari pada menyerang orang yang tidak berdosa, Ji-wi Suhu justru akan membersihkan nama partai kalau sekarang juga memberi hukuman kepada murid-murid sendiri.”

 

“Orang muda, kau siapakah berani bicara lancang memberi kuliah kepada kami?”

 

Pemuda itu tersenyum. “Aku she Lie bernama Bok Liong, orang biasa saja. Akan tetapi aku mengenal baik Cheng Han Lo-suhu, dan pedangku Goat-kong-kiam ini selalu menghendaki kebenaran dibela oleh orang- orang gagah.”

 

Cheng Han Hwesio adalah ketua Siauw-lim-pai, maka mendengar disebutnya nama ini, kedua orang hwesio itu menjadi kaget sekali. Mereka khawatir kalau-kalau pemuda ini akan mengadu. Memang akhir- akhir ini banyak sekali anak buah para hwesio yang tersesat, mabuk oleh kesenangan duniawi dan mempergunakan kesempatan selagi negara kacau dan ketua dari pusat tidak sempat melakukan pengawasan, mereka mengumbar nafsu jahatnya.

 

Keadaan memalukan dan buruk ini terutama sekali ditimbulkan oleh para penjahat dan pelarian yang menyembunyikan diri dengan jalan mencukur rambutnya dan memakai jubah pendeta, tinggal bersembunyi di kelenteng-kelenteng. Merekalah yang menjadi ‘guru’ dan menyeret para hwesio muda yang belum teguh batinnya dan masih lemah imannya ke jalan sesat. Dua orang hwesio ini hanya merupakan kepala dari sebuah kelenteng kecil, sudah terlalu lama berkecimpung di dalam keduniaan, maka hanya pada lahirnya saja seperti pendeta, namun batinnya sudah menjadi penjahat-penjahat hamba nafsu buruk.

 

“Keparat, kau benar-benar kurang ajar! Kau kira kami takut padamu? Sute, kau hajar dia ini, biar pinceng menangkap Nona liar. Kalau tidak diberi hajaran, tidak akan kapok orang-orang muda kepala batu ini!”

 

Dua orang hwesio Siauw-lim-pai itu terlalu memandang rendah orang muda. Mereka mengandalkan kepandaian yang tinggi dan senjata tongkat yang berat, pula, memang ilmu tongkat atau ilmu toya dari Siauw-lim-pai amat terkenal kuat. Namun pemuda itu adalah murid orang sakti, juga Lin Lin telah menerima gemblengan dari seorang sakti yang tingkatnya sejajar dengan ketua Siauw-lim-pai pusat sendiri! Maka kalau mau dibuat perbandingan, tingkat dua orang hwesio itu masih jauh di bawah.

 

“Aku tidak ingin kau bantu!” seru Lin Lin sambil menggerakkan pedang menghadapi serangan seorang hwesio.

 

“Siapa membantumu, Nona? Aku pun diserang oleh hwesio palsu ini!” jawab pemuda yang bernama Lie Bok Liong itu sambil menggerakkan pedang pula menandingi lawannya.

 

Pertempuran seru terjadi, terpecah menjadi dua. “Nona, adu ilmu antara kita boleh ditentukan sekarang. Siapa yang lebih dulu mengalahkan lawan, dia yang lebih unggul antara kita!” pemuda itu berseru.

 

“Baik, seorang laki-laki tidak melanggar janjinya!” seru Lin Lin girang.

 

Gadis ini sebentar saja dapat melihat kelemahan lawan dan ia yakin akan dapat merobohkannya dalam waktu cepat, maka usul pemuda itu diterimanya dengan girang. Melihat tongkat itu menyodok ke arah dadanya, Lin Lin sengaja berlaku lambat, membiarkan lawan lengah dan kegirangan. Beberapa senti meter sebelum ujung tongkat mengenai dadanya, tiba-tiba ia miringkan tubuhnya, menggunakan jurus Pek-wan- hian-ko (Lutung Putih Berikan Buah) dari ilmu silat ayahnya, tangan kirinya menangkis dengan jari-jari terbuka, dan pedangnya bergerak cepat ke depan. Inilah gerakan susulan dari Khong-in-liu-san yang tidak terduga dan amat cepat datangnya. Hwesio lawannya itu menjerit kesakitan, tongkatnya terlepas dan pangkal lengannya terobek pedang sampai kelihatan tulangnya.

 

Sambil tersenyum manis tapi penuh ejekan, Lin Lin membalikkan tubuh memandang ke arah pemuda pesek itu, siap untuk mengejek dan berbangga akan kemenangannya. Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berubah merah sekali. Apa yang dilihatnya? Pemuda itu ternyata sudah lebih dulu merobohkan lawannya, hwesio lawan pemuda itu sudah rebah dengan pundak berdarah!

 

 

 

 

Akan tetapi pemuda itu berkata, “Nona, kita berhasil dalam waktu yang sama. Hayo kita berlomba merobohkan dua orang hwesio ceriwis itu!”

 

Lin Lin melihat betapa hwesio muda yang dua orang tadi telah melarikan diri tunggang-langgang melihat betapa kedua orang paman guru mereka telah roboh! Karena dua orang hwesio muda itu yang menjadi biang keladi pertempuran, dan dua orang hwesio itu yang sebenarnya amat kurang ajar, Lin Lin menjadi marah sekali dan tubuhnya berkelebat melakukan pengejaran. Ia melihat sesosok bayangan dengan cepat juga berkelebat di sampingnya.

 

Tahu bahwa pemuda pesek itu tidak mau kalah, Lin Lin mengerahkan ginkang-nya dan di lain saat  ia  sudah tiba di belakang dua orang hwesio itu. Pedangnya menyambar dan dua orang hwesio itu menjerit, roboh terguling. Dua orang hwesio muda itu terluka pahanya. Karena menganggap bahwa dua orang hwesio itu jahat sekali, Lin Lin kembali menggerakkan pedang hendak membunuh mereka.

 

“Tranggg!” bunga api berpijar ketika pedangnya bertemu dengan pedang di tangan Lie Bok Liong. “Nona, harap jangan bunuh mereka. Mereka adalah hwesio-hwesio Siauw-lim!”

“Hwesio Siauw-lim atau hwesio-hwesio langit, siapa takut? Mereka ini jahat, kalau hwesio-hwesio tua Siauw-lim-pai membela mereka, berarti mereka pun jahat!”

 

“Omitohud… kasar akan tetapi harus diakui kebenarannya…,” terdengar seruan suara halus dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang hwesio tua yang putih semua jenggotnya, akan tetapi mukanya masih segar kemerahan seperti seorang muda. Hwesio ini berjubah kuning, memegang sebuah tongkat pendeta dan sinar matanya berpengaruh penuh wibawa. Melihat hwesio ini, Lie Bok Liong segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

 

“Cheng Hie Lo-suhu! Kebetulan sekali Lo-suhu datang. Kami dua orang muda telah berselisih faham dengan beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai, harap Lo-suhu memberi kebijaksanaan.”

 

Hwesio tua itu tertawa perlahan. “Lie-sicu tak perlu bersikap sungkan. Pinceng (aku) yang tua sudah melihat dan mendengar semua. Memang sudah pinceng dengar kenakalan empat orang anak murid ini, akan tetapi baru sekarang pinceng melihat buktinya.” Kemudian ia mengalihkan pandang mata kepada Lin Lin dan berkata, “Nona, kepandaianmu hebat bagi seorang semuda Nona. Memang pantas sekali Pedang Besi Kuning berada di tanganmu! Dua orang anak murid Siauw-lim-pai yang durhaka ini telah melakukan kesalahan kepadamu, harap Nona sudi memberi maaf, biar pinceng nanti yang akan menghukum mereka.”

 

Lin Lin kaget bukan main. Hwesio tua ini dapat mengetahui segalanya, bahkan tahu pula tentang pedangnya, pedang curian dari gudang istana. Tentu seorang yang berilmu tinggi, pikirnya. Ia memang marah kepada dua orang hwesio yang kurang ajar itu, akan tetapi sekarang hatinya puas karena sudah  ada pentolan Siauw-lim-pai yang mengurus dan hendak menghukum.

 

“Terserah kepada Lo-suhu. Aku percaya Lo-suhu akan benar-benar memberi hukuman berat, kalau tidak,

berarti Lo­suhu membantu orang jahat!”

 

Muka hwesio tua itu berubah agak pucat, akan tetapi ia hanya tertawa dan menjura. Lie Bok Liong lalu mengajak Lin Lin pergi, “Marilah, setelah ada Cheng Hie Lo-suhu, tentu mereka akan mendapat bagian mereka. Cheng Hie Lo-suhu terkenal sebagai pengawal tindak-tanduk dan sepak terjang para anak mu­rid Siauw-lim-pai dan dunia kang-ouw mengenal belaka kebijaksanaan dan keadilannya. Lo-suhu, perkenankan kami pergi.”

 

Cheng Hie Hwesio menggerakkan tangannya, mengangguk-angguk. “Pergilah… pergilah dengan hati-hati, orang-orang muda. Doa restu dan berkahku mengiringi kalian berdua…”

 

Lin Lin tercengang, hendak marah kepada pemuda pesek itu. Enak saja, pikirnya, ajak-ajak seakan-akan dia itu memang teman seperjalanan. Kenal pun tidak! Akan tetapi melihat sikap hwesio yang amat halus dan baik itu, tak enak hatinya menimbulkan ribut di depannya. Ia pun mengangguk dan berjalan pergi bersama Lie Bok Liong yang menuntun kudanya.

 

Sampai lama mereka jalan berendeng, diam saja tidak berkata-kata, juga saling lirik saja tidak. Seakan- akan mereka saling tidak ingat lagi bahwa di sebelah mereka berjalan seorang lain. Tentu saja tidak

 

 

 

demikian hal yang sebetulnya. Bok Liong sekaligus terbetot semangatnya oleh gadis lincah ini, dan ia berjalan sambil merenung, terheran-heran atas perubahan di dalam hatinya sendiri. Mengapa  ia merasakan hal yang aneh ini, hal yang selama ia hidup belum pernah ia rasakan? Ada pun Lin Lin, ia sedang mengumpul-ngumpulkan kata-kata untuk menyerang pemuda pesek lancang ini nanti setelah mereka jauh dari hwesio tua tadi.

 

Setelah mereka keluar dari dalam hutan dan berada di jalan yang sunyi sekali, tiba-tiba Lin Lin berhenti dan berkata ketus, “Nah, sekarang tidak ada siapa-siapa yang akan menghalangi kita membuat perhitungan!”

 

Pemuda itu seakan-akan baru sadar dari alam mimpi. Ia menengok dan memandang dengan kaget. “Perhitungan? Perhitungan apa, Nona?”

 

“Perhitungan apa? Pura-pura tanya lagi. Kau tadi mengajak adu cepat berlomba merobohkan dua orang hwesio ceriwis. Siapa yang menang? Aku! Lalu hwesio tua Siauw-lim-pai tadi memuji-muji dan minta maaf. Memuji siapa dan minta maaf kepada siapa? Aku! Tapi kau memerintah aku ikut denganmu! Sombong!”

 

Bok Liong cepat menjura, sikapnya sungguh-sungguh. “Nona, harap kau tidak main-main lagi. Maafkanlah kalau sikap dan kata-kataku pernah menyinggungmu. Aku Lie Bok Liong adalah seorang laki-laki sejati, dan kulihat sepak terjangmu membuktikan bahwa kau seorang pendekar wanita yang mengagumkan. Oleh karena itu terimalah hormatku, Nona, dan sampai mati aku tidak nanti berani mengangkat senjata terhadapmu lagi. Aku mengaku kalah dan menyerah.”

 

Watak Lin Lin memang aneh. Dalam segala hal ia selalu tidak mau kalah. Kalau orang bersikap keras terhadapnya, ia tidak mau kalah keras, kalau orang galak, ia akan lebih galak lagi. Kini Bok Liong bersikap merendah dan mengalah dengan suara sungguh-sungguh dan wajah serius, ia pun tidak mau kalah!

 

“Nah, kau sih yang sombong tadinya. Padahal aku juga tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan orang seperti kau ini. Aku tahu kau bukan orang jahat, tapi kalau aku tidak bersikap keras, orang takkan mengetahui kelihaianku. Nah, kau pun kuminta maklum saja kalau tadi aku bersikap kaku. Betapa pun juga, kau telah membantuku menghadapi hwesio-hwesio kotor tadi.”

 

Jantung Bok Liong berdebar-debar. Alangkah girangnya melihat bahwa nona yang lincah galak ini kiranya dapat juga bicara dengan baik. Ia menahan senyumnya dan berkata lagi. “Nona, terima kasih atas pengertianmu. Kita menjadi sahabat, hal yang amat kuinginkan semenjak aku melihat kau menghajar hwesio-hwesio ceriwis di hutan itu. Sekali lagi, namaku Lie Bok Liong, biar pun bukan seorang tokoh besar di dunia kang-ouw, akan tetapi aku mengenal hampir semua tokoh kang-ouw, kecuali tokoh-tokoh besar yang masih muda seperti kau. Bolehkah aku mengetahui nama dan julukanmu? Terus terang saja, aku yang banyak mengenal ilmu silat, tahu akan dasar-dasar gerakan ilmu silat dari Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai dan banyak partai persilatan lain lagi, tapi sama sekali buta akan ilmu silatmu yang luar biasa tadi, Nona.”

 

Lin Lin merasa diayun-ayun di atas awan saking bangga dan girangnya mendengar kata-kata pujian yang keluar sejujurnya dari mulut pemuda itu. Setelah ia pandang-pandang, pemuda berhidung pesek ini wajahnya menarik dan menyenangkan hati juga, sikapnya jujur dan sopan tapi tidak bermuka-muka atau menjilat, sikap sewajarnya dari seorang yang memasang isi hati pada wajahnya.

 

Timbul rasa suka di hatinya disertai kepercayaan besar. Apa lagi tadi ia mendengar bahwa Bok Liong ini mengenal hampir semua tokoh kang-ouw. Siapa tahu pemuda ini bisa memberitahu kepadanya tentang Suling Emas, atau mungkin juga tentang kakaknya, Bu Song. Wajahnya seketika berseri, matanya bersinar-sinar, bibirnya yang manis itu tersenyum sehingga pemuda itu merasa betapa tiba-tiba kedua lutut kakinya lemas dan gemetar!

 

Memang hebat daya pengaruh asmara yang mulai menggerogoti jantung seorang pemuda. Hanya si pemuda yang bersangkutan sendiri yang dapat merasakannya. Kalau seorang pemuda sedang bercinta, terutama sekali kalau mulai jatuh cinta, segala sesuatu pada diri dara yang dicintainya tampak hebat luar biasa. Kerling mata yang tajam melebihi pedang pusaka langsung menusuk dada menembus punggung! Senyum sepasang bibir merah membasah bagaikan seribu manis dari madu yang memabukkan dan membuat kepalanya pening tujuh keliling dengan mata berkunang-kunang! Kilauan gigi putih berderet rapi yang hanya tampak sekilas di balik sepasang bibir segar, lebih ampuh dari pada sinar petir yang langsung menyambar kepala memasuki tubuh menyelusup ke seluruh tulang sum­sum! Tidaklah terlalu mengherankan apa­bila Bok Lieng berdiri dengan kedua lutut gemetar ketika ia menghadapi wajah Lin Lin yang berseri-seri itu.

 

 

 

 

“Kau kira aku seorang yang buta?” demikian Lin Lin mulai kata-katanya yang kini terdengar manis, hilang sama sekali ketusnya. “Aku pun sekali bertemu saja tahu bahwa kau bukan orang jahat, akan tetapi aku harus yakin dulu. Twako… ya, lebih baik kusebut kau Twako (Kakak), karena kau tentu lebih tua dari pada Sin-ko (Kakak Sin). Eh, berapa sih usiamu?”

 

Mau tak mau Bok Liong tersenyum. Setelah gadis ini bersikap jenaka seperti ini, ia merasa betapa sinar matahari menjadi lebih terang dari pada tadi. “Usiaku hampir dua puluh dua tahun.”

 

“Nah, betul dugaanku. Sin-ko baru dua puluh tahun, aku sendiri baru tujuh belas. Sampai di mana aku tadi? Oya, tentang nama. Namaku Lin Lin, she… Kam.”

 

“Kam Lin Lin… indah benar namamu, Nona.”

 

“Wah, kalau kau masih menyebut nona-nonaan segala, aku pun akan menyebutmu dengan tuan-tuanan. Bagaimana pendapatmu, Tuan Besar?”

 

Bok Liong tertawa bergelak, kemudian terheran. Seingatnya baru kali inilah ia dapat tertawa sampai begitu keras sampai basah kedua matanya. Benar-benar mengherankan. Apa yang terjadi dengan dirinya?

 

“Habis, aku harus menyebut bagaimana? Ah, kau betul. Kau menyebutku Twako, kalau begitu kau adikku, Moi-moi.”

 

“Nah, begitu baru enak bicara. Terhadap seorang tuan mana aku sudi mengobrol begini? Lain lagi kalau terhadap seorang kakak….”

 

“Maksudmu, terhadap seorang sahabat baik seperti kakak sendiri,” potong Bok Liong.

 

“Sama saja, apa bedanya? Twako, kulihat tadi ilmu silatmu juga hebat sekali. Siapakah gurumu?”

 

Kalau orang lain yang menanyakan hal ini, tentu Bok Liong takkan mau menerangkannya. Selama ia berkecimpung di dunia kang-ouw, hanya beberapa orang tokoh besar saja yang tahu murid siapa pemuda lihai ini. Akan tetapi terhadap Lin Lin yang sekaligus sudah merobohkan jantung menawan hatinya, ia tidak berani berbohong, apa lagi tidak menjawab. Ia takut kalau-kalau gadis yang sekarang sudah ‘jinak’ dan  baik kepadanya ini akan mengamuk lagi dan memusuhinya. Tidak ada malapetaka baginya di saat itu yang akan lebih besar dan hebat dari pada dimusuhi Lin Lin.

 

“Nona… eh, Lin-moi (Adik Lin). Guruku terkenal dengan namanya yang sederhana sekali, malah sesungguhnya, orang lain termasuk aku sendiri tak pernah mengenal namanya karena ia hanya memperkenalkan she (nama keturunan) yaitu she Gan. Karena inilah maka di dunia kang-ouw ia dikenal sebagai Gan-lopek (Empek Tua Gan)!”

 

Senyum di bibir Lin Lin melebar. “Gan-lopek? Hi-hik! Badut tak pernah mandi yang pantatnya besar, kumis dan jenggotnya dijadikan sarang semut, paling takut melihat cacing dan ular? Hi-hi-hik, geli hatiku kalau mengenangkan dia!” Lin Lin menutupi mulut dengan tangan kiri untuk menyembunyikan tawanya.

 

Bok Liong membelalakkan kedua matanya yang lebar, “Apa? Kau pernah melihat Suhu?”

 

Lin Lin menggeleng kepala, menahan kekehnya. Agak lama baru dia dapat bicara. “Aku hanya mendengar ceritanya dari kakek gundul pacul. Wah, kakek dan aku tertawa-tawa sampai perutku menjadi keras dan kakek jatuh terguling dari atas cabang pohon,” kembali Lin Lin tertawa terkekeh-kekeh.

 

Diam-diam Bok Liong menjadi tak senang hatinya karena merasa betapa suhu-nya, orang yang ia anggap paling hebat di dunia ini, menjadi buah tertawaan, sungguh pun ia cukup mengenal suhu-nya sebagai  orang yang luar biasa anehnya dan kadang-kadang membuat lelucon yang luar biasa.

 

“Hemmm, kau pernah mendengar cerita tentang Suhu? Dan kakek gundul pacul yang menceritakan itu, apakah dia jatuh dari cabang pohon terus mati?”

 

Tiba-tiba suara ketawa Lin Lin terhenti. “Dia? Mati jatuh dari cabang? Ah, Twako, kau benar-benar tidak mengenal dia. Dialah yang menurunkan ilmu Serba Kosong kepadaku. Dia orang sakti seperti dewa, mana bisa mati jatuh dari cabang?”

 

 

 

 

Bok Liong benar-benar tidak mengerti. Luar biasa sekali dara ini, pikirnya. Kalau kakek gundul pacul itu mengajar ilmu, berarti kakek itu guru si nona. Akan tetapi kenapa nona ini menyebutnya gundul pacul, sebutan yang seakan-akan mengejek dan memandang rendah?

 

“Ah, kalau begitu beliau seorang sakti? Siapakah beliau itu, atau kau juga tidak tahu namanya?”

 

“Tentu saja aku tahu. Dia disebut Kim-lun Seng-jin… eh, kenapa kau, Liong-twako (Kakak Liong)?” Lin Lin heran melihat pemuda itu meloncat seperti dipagut ular dan matanya menjadi amat bundar dan lebar.

 

“Kim-lun Seng-jin? Beliau itu gurumukah?” tanya Bok Liong.

 

Kembali Lin Lin menggeleng kepala. “Bukan! Bukan guruku. Dia sahabat baikku.”

 

Makin heranlah Bok Liong. Masa kakek sakti yang amat terkenal di dunia ini, yang tingkatnya sekelas dengan gurunya, menjadi sahabat baik gadis ini?

 

“Tapi kau bilang tadi bahwa kau menerima ilmu darinya. Kan itu berarti bahwa dia gurumu.”

 

“Bukan! Hanya kenalan biasa saja. Tapi ilmunya Serba Kosong memang boleh juga.” Lin Lin bersikap seakan-akan hal itu merupakan hal yang ‘bukan apa-apa’ baginya, sikap ini sengaja ia ‘pasang’ karena melihat betapa Bok Liong terheran-heran dan agaknya amat menjunjung tinggi Kim-lun Seng-jin!

 

“Serba kosong! Aneh sekali nama ilmu itu. Tapi, Lin-moi, aku percaya bahwa ilmu yang diturunkan oleh Kim-lun Seng-jin tentulah hebat bukan main. Ah, maafkan kalau tadi aku bersikap kurang hormat. Siapa mengira bahwa kau adalah mur… eh, sahabat baik Kim-lun Seng-jin Locianpwe (Orang Tua Gagah)? Pantas saja beliau bisa bercerita tentang Suhu-ku.”

 

Senang sekali hati Lin Lin, kebanggaannya bukan main sehingga ia mengangkat dadanya yang sudah membusung. Karena senangnya, ia ingin memberi sekedar hiburan kepada Bok Liong dengan kata-kata manis. “Tapi kakek berkata bahwa biar pun Gan-lopek itu orangnya lucu dan merupakan seorang badut besar, namun kepandaiannya hebat. Maka sekarang, melihat kepandaianmu, aku percaya akan kesaktiannya.”

 

Sekarang Bok Liong teringat akan matanya menatap ke arah pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin. Tadi ia amat terkejut ketika mendengar ucapan Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning. Ia mendengar pula tentang lenyapnya pedang pusaka itu dari gudang pusaka istana, dan ia tadi masih terheran-heran bagaimana pedang itu bisa terjatuh ke tangan Lin Lin.

 

Betapa pun pandainya Lin Lin, kiranya bukanlah hal yang mudah untuk dapat memasuki istana dan mencuri sebuah pedang pusaka. Akan tetapi sekarang terbukalah rahasia itu. Kalau gadis itu pergi  bersama seorang sakti seperti Kim-lun Seng-jin, soal memasuki istana dan mencuri pedang pusaka bukanlah merupakan hal yang aneh lagi. Akan tetapi, ia mulai mengenal watak Lin Lin dan karenanya ia tidak mau bertanya-tanya akan hal pedang itu, takut kalau-kalau Lin Lin akan menjadi curiga dan marah kepadanya. Sebaliknya ia lalu bertanya.

 

“Lin-moi, setelah kita menjadi sahabat dan kenalan sekarang, bolehkah aku mengetahui apa yang kau kehendaki sehingga kau seorang diri sampai berada di tempat ini? Hendak pergi ke manakah kau?”

 

Ini memang merupakan pertanyaan yang dinanti-nanti Lin Lin. Gadis ini sudah mengambil keputusan untuk minta bantuan Bok Liong. Kakek gundul Kim-lun Seng-jin biar pun telah mewariskan ilmu dan mengajaknya ke kota raja, malah ke dalam istana dan mencuri pedang, namun tidak berhasil menolong dia mendapatkan musuh besarnya, juga kakak angkatnya.

 

Setelah mendengar tentang sangkaan Kim-lun Seng-jin mengenal asal-usulnya dengan bangsa Khitan, makin besar keinginan hatinya untuk bertemu dengan Bu Song, karena dialah satu-satunya orang yang boleh diharapkan akan dapat menceritakan asal-usulnya, karena ketika ia diambil anak oleh Jenderal Kam, tentu Bu Song sudah besar dan dapat mengingat semua peristiwa di waktu itu.

 

“Liong-twako, sebelum aku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, lebih dulu kau jawablah. Apakah kau akan suka membantuku?”

 

 

 

“Tentu saja! Dengan segala senang hati aku akan membantumu. Apakah yang dapat kulakukan untukmu, Moi-moi?”

 

“Tanpa syarat?”

 

“Eh… tanpa syarat bagaimana? Tentu saja, aku harus mendengar dulu apa urusanmu itu dan apa yang harus kulakukan.”

 

Bibir manis itu cemberut, tapi bagi Bok Liong malah tampak makin manis.

 

“Kalau begitu, tak usah kau membantuku. Ucapanmu itu menyatakan bahwa tidak sepenuh hatimu kau berniat membantuku. Kalau sepenuh hati suka membantu, tentu tidak akan bertanya-tanya lagi, apa saja urusannya, tetap akan suka membantu.”

 

Merah muka Bok Liong mendengar celaan ini, dan diam-diam ia harus akui bahwa ucapan gadis ini, biar pun terdengar seperti mencari menang sendiri, namun ada benarnya juga. “Baiklah, aku akan membantumu. Akan tetapi, Moi-moi, kau tentu tahu bahwa biar pun untuk kau sendiri, terpaksa aku tidak mau melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebenaran. Ringkasnya, aku tidak mau membantu pihak yang melakukan kejahatan….”

 

Bok Liong terpaksa menghentikan kata-katanya karena seketika Lin Lin menjadi marah sekali. Gadis ini berdiri tegak, mengedikkan kepala, kedua tangan di pinggang, pandang matanya keras. “Sudahlah, kita tidak jadi bersahabat. Aku tidak sudi bersahabat dengan orang yang tidak percaya kepadaku sedangkan aku amat percaya kepadamu!” Tubuhnya membalik dan berkelebat pergi.

 

Bukan main kagetnya hati Bok Liong. Ia pun cepat mengerahkan ginkang-nya untuk mengejar, “Nanti dulu, Non… eh, Moi-moi. Tunggu…! Mari kita bicara…!”

 

Akan tetapi Lin Lin tidak mempedulikannya, terus lari kencang. Karena ia mempergunakan ginkang dari Khong-in-ban-kin, tentu saja larinya cepat sekali, mengalahkan kuda betina yang kabur dikejar kuda jantan. Dan Bok Liong sampai berkeringat karena harus mengerahkan seluruh tenaga mengejar.

 

“Lin-moi… tunggu dulu…! Aku percaya padamu…!”

 

Lin Lin mendengar derap kaki kuda. Kiranya Bok Liong yang melihat betapa gerakan Lin Lin amat gesit dan cepat kembali ke tempat tadi, meloncat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda tunggangnya itu, melakukan pengejaran. Tapi ilmu lari cepat yang dipergunakan Lin Lin benar-benar luar biasa sekali. Kalau gadis itu sudah matang dalam melatih Khong-in-ban-kin, kiranya pemuda itu biar pun berkuda takkan mampu menyusulnya. Sekarang pun sukar sekali Bok Liong dapat menyusul.

 

Setelah berkejaran hampir dua jam dan mereka tiba di luar kota Pao-teng sebelah selatan kota raja, barulah Lin Lin tersusul. Hal ini pun hanya karena gadis itu kehabisan napas, terpaksa ia berhenti dengan napas memburu. Sepasang pipinya menjadi merah seperti buah tomat karena darahnya bergerak cepat setelah berlari selama itu.

 

Bok Liong cepat-cepat melompat turun dari atas kudanya dan menghadapi Lin Lin yang berdiri cemberut. Bok Liong kembali mengangkat kedua tangan memberi hormat dan suaranya benar-benar penuh bujuk rayu, “Adikku yang baik, Moi-moi yang baik budi, maafkanlah aku yang tolol. Aku sungguh tidak mengerti mangapa kau marah-marah kepadaku. Kalau kau suka menjelaskan, biarlah aku akan membunuh diri kalau memang aku berbuat dosa terhadapmu.”

 

Di dalam hatinya Lin Lin tertawa geli dan mengira pemuda itu membadut. Akan tetapi karena ia masih mendongkol, ia menjawab ketus, “Kau sudah tidak percaya kepadaku, mengapa masih memperlihatkan sikap bersahabat?”

 

“Siapa bilang aku tidak percaya, Lin-moi? Aku percaya seribu prosen kepadamu. Percaya mati-matian dan bulat-bulat!” Bok Liong sengaja bersikap jenaka dan benar saja, dara yang memang pada dasarnya berwatak jenaka gembira itu sebentar saja sudah hilang marahnya.

 

“Kau bilang percaya hanya di mulut tapi di hati kau menyangka aku akan melakukan hal-hal jahat dan akan menyeretmu ke dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kebenaran. Bagus, ya? Lain di mulut lain di hati, berani sumpah tak berani mati!”

 

 

 

 

Kini tiba giliran Bok Liong yang tertawa geli di dalam hatinya. Entah dari mana dara ini memungut kata-kata sindiran yang merupakan istilah dalam panggung sandiwara itu untuk mengukur watak laki-laki.

 

“Wah, benar aku telah bersalah, Lin-moi, akan tetapi sungguh mati bukan maksudku untuk tidak percaya kepadamu.”

 

“Nah, sekarang bunuh dirilah. Aku ingin sekali lihat!” kata Lin Lin sambil duduk di atas tanah, dibawah pohon. Peluhnya yang membasahi jidat dan leher diusapnya dengan sapu tangan sutera.

 

“Bunuh diri…? Apa maksudmu…?”

 

“Eh, pakai tanya lagi! Kan kau sendiri yang tadi berjanji hendak bunuh diri kalau berdosa kepadaku. Nah, kau bunuh dirilah. Atau memang kau pun termasuk golongan yang berani sumpah tak berani mati?”

 

“Waduh-waduh, masa kesalahan begitu saja dianggap dosa besar yang harus ditebus dengan nyawa? Lin- moi, harap jangan main-main. Biarlah, aku mengaku salah dan tidak akan banyak tanya lagi. Aku akan membantumu tanpa syarat dan tanpa tanya-tanya lagi. Sekarang katakan, apa yang dapat kulakukan untuk membantumu? Apakah kesukaranmu?” kata Bok Liong sambil duduk pula di atas tanah, berhadapan dengan Lin Lin. Kudanya yang juga tampak lelah itu beristirahat sambil makan rumput gemuk hijau di pinggir jalan, ekornya dikebut-kebutkan ke kanan kiri mengusir lalat, kelihatan girang dan lega kuda itu setelah tadi berlomba lari.

 

Kini wajah Lin Lin tampak sungguh-sungguh. Memang ia tadi mendongkol, akan tetapi tidak mendalam dan puaslah ia sudah dapat balas menggoda Bok Liong. Kini dengan suara serius ia berkata. “Liong-twako, sebetulnya pikiranku amat bingung. Aku mencari musuh besar tidak bertemu, mencari kakak angkatku juga tidak berhasil, malah-malah Kakak Bu Sin dan Enci Sian Eng pun sampai sekarang tidak bertemu kembali denganku, entah lenyap ke mana mereka itu!”

 

Tahulah sekarang Bok Liong bahwa gadis ini adalah seorang dara remaja yang hilang dalam arti kata terpisah dari dua orang kakaknya. Ia tidak memotong, melainkan menanti gadis itu melanjutkan penuturannya.

 

“Kami bertiga pergi meninggalkan dusun kami di kaki Gunung Cin-ling-san dengan niat mencari musuh besar kami, juga mencari kakak angkatku yang semenjak kami lahir tak pernah kami temui. Celakanya, kami bercerai-berai dan aku mencari sendiri, dibantu oleh kakek gundul Kim-lun Seng-jin. Namun hasilnya sia-sia belaka. Kakek gundul itu ternyata tidak becus membantuku, tak dapat membawaku kepada kakak angkatku, juga tidak tahu di mana adanya musuh besarku. Nah, sekarang aku minta bantuanmu, Liong- twako, bantulah aku mencari mereka itu.”

 

Bok Liong tertawa. Hatinya lega bukan main. “Ah, Lin-moi, kau ini memang suka bikin orang bingung.  Kalau tadi-tadi kau bilang hanya bantuan seperti ini saja, tentu aku seribu kali setuju. Akan kubantu engkau, Moi-moi. Akan tetapi, tentu saja aku harus tahu lebih dulu siapakah gerangan mereka yang kau cari. Siapakah musuh besarmu itu?”

 

“Aku sendiri juga tidak tahu, akan tetapi menurut dugaan kami, dia adalah si Suling Emas.”

 

Tiba-tiba Bok Liong meloncat sampai satu meter lebih. Mukanya berubah dan ia memandang kepada Lin Lin dengan bengong. Lin Lin juga meloncat dan membanting kakinya.

 

“Nah-nah-nah, kau kumat lagi! Apakah semua laki-laki memang pengecut sehingga begitu mendengar nama Suling Emas lantas menjadi ketakutan macam ini? Kau dan kakek gundul sama saja. Menjemukan benar!”

 

“Wah, kau yang kumat, bukan aku,” demikian suara hati Bok Liong. Akan tetapi mulutnya segera berkata, “Jangan salah sangka, Lin-moi. Aku tidak takut, hanya terheran-heran. Kau agaknya tidak tahu orang macam apa dia itu maka begitu mudah kau menuduh dia sebagai musuh besarmu. Lin-moi, Suling Emas adalah seorang pendekar sakti yang dipandang tinggi oleh para tokoh bersih di dunia kang-ouw. Masa dia membunuh ayah bundamu?”

 

Lin Lin cemberut. “Biar dipandang tinggi oleh semua orang di dunia atau dipandang tinggi oleh para dewa sekali pun, aku tidak takut! Ihhh, semua orang takut kepada Suling Emas. Sampai bagaimana sih

 

 

 

kepandaiannya? Ingin aku bertemu dengan dia dan mengajak dia duel (adu ilmu) sampai selaksa jurus!”

 

Bok Liong meraba-raba bawah hidungnya yang tidak berkumis untuk menahan tawa. “Baiklah, Lin-moi. Aku akan membantumu dan kurasa kalau diusahakan benar, bukan tidak mungkin aku akan dapat memperjumpakan kau dengan Suling Emas.”

 

Wajah yang cemberut itu seketika berseri dan kembali Bok Liong merasa dadanya tergetar. Sekarang demikian hebat ia terpengaruh sehingga jantung di dalam rongga dadanya berloncatan ke atas kemudian jatuh kembali di tempatnya dalam keadaan terbalik! Mulutnya sampai ternganga ketika ia memandang wajah Lin Lin, sinar matanya sayu penuh keharuan. Baru kali ini ia menyaksikan sesuatu yang demikian indahnya sampai mengharukan.

 

Akan tetapi Lin Lin mana memperhatikan hal ini? Ia sudah terlampau girang. Cepat ia menyambar tangan Bok Liong, di guncang-guncangnya. “Betul, Liong-twako? Kau bisa mencari dia? Ah, kakek gundul itu saja tidak becus. Di mana adanya Suling Emas, Liong-ko? Jauh atau dekat? Hayo kita segera pergi ke sana, ingin kupaksa dia mengaku tentang pembunuhan itu!”

 

Kembali Bok Liong tersenyum. Kini ia berani tersenyum dan ini memudahkan ia menahan tawanya mendengar kata-kata dan melihat sikap yang lucu ini. Benar-benar seorang dara lincah jenaka yang seperti seekor burung baru belajar terbang, tidak tahu tingginya gunung lebarnya lautan!

 

“Tidak begitu mudah, Lin-moi. Orang macam dia itu tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi aku akan bertanya-tanya kepada tokoh kang-ouw. Aku mempunyai banyak kenalan di dunia kang- ouw, dan dari mereka kurasa akhirnya kita akan dapat berjumpa dengan Suling Emas. Sekarang soal kedua, tentang kakakmu itu. Siapa dia dan bagaimana mungkin seorang kakak tidak pernah bertemu dengan adik-adiknya selamanya?”

 

“Kakak angkatku itu bernama Kam Bu Song, akan tetapi ketika ia mengikuti ujian di kota raja empat belas tahun yang lalu, ia memakai she Liu. Apakah kau bisa mencari keterangan tentang dia?”

 

“Kam… Liu Bu Song? Tak pernah aku mendengar nama ini, akan tetapi kalau empat belas tahun yang lalu dia di kota raja, tentu saja aku tidak ingat lagi. Tentu aku masih kanak-kanak waktu itu. Akan tetapi aku dapat mencari keterangan di kota raja tentang dia. Sekarang, kau hendak mencari yang mana lebih dulu? Kalau mencari kakakmu lebih dulu, kita kembali ke kota raja. Kalau mencari Suling Emas, tidak  perlu kita ke kota raja.”

 

Lin Lin termenung. Kedua orang itu sama pentingnya. Akan tetapi pertemuan dengan Kim-lun Seng-jin dan cerita tentang ‘Puteri Khitan’ amat menarik hatinya dan membuat ia ingin sekali segera mendengar pemecahan rahasia ini. Pula, kalau ia mencari Bu Song di kota raja, ada keuntungannya, yaitu sambil menanti datangnya Bu Sin dan Sian Eng. Mereka berdua itu pasti akan datang ke kota raja pula.

 

“Biar kita ke kota raja mencari Kakak Bu Song lebih dulu,” akhirnya ia berkata. “Sekalian menanti munculnya Sin-ko dan Enci Sian Eng. Liong-twako, kau baik sekali. Perlu kau kuperkenalkan dengan Sin- ko dan terutama dengan Eng-cici. Wah, dia itu gagah perkasa, ilmu pedangnya hebat dan dia cantik sekali, Twako!” Setelah berkata demikian ia tertawa-tawa gembira.

 

Merah muka Bok Liong. “Hush, kau bicara apa ini? Kenapa kau bilang kepadaku tentang Cici-mu? Apa perlunya?”

 

“Ihhh, kalau aku memuji kecantikan Enci-ku di depanmu, apa sih salahnya?” Ia tertawa-tawa lagi dan matanya menggoda.

 

Bok Liong tersenyum masam, hatinya mengeluh. “Engkaulah yang cantik, tidak ada wanita kedua di dalam dunia ini yang dapat menggerakkan hatiku seperti engkau,” demikian suara hatinya.

 

“Baiklah, kita kembali ke kota raja. Akan tetapi sarung pedangmu itu harus diganti. Biar nanti kucarikan gantinya.”

 

“Sarung pedang? Mengapa?” Lin Lin meraba pedangnya.

 

“Moi-moi, tadi aku mendengar dari kata-kata Cheng Hie Hwesio tentang Pedang Besi Kuning yang hilang dari istana dan berada di tanganmu. Lebih baik sarungnya yang istimewa itu diganti, sehingga tidak akan

 

 

 

dikenal orang.”

 

Lin Lin tersenyum. “Memang inilah pedang itu, kakek gundul dan aku yang mengambilnya. Wah, kalau kau ikut tentu senang sekali, Liong-twako. Kami berdua menyikat habis semua masakan di dalam dapur istana. Wah, enak-enak, pendeknya, selama hidup belum pernah kau merasakannya. Sampai sakit perutku, terlalu kenyang dan perut kakek itu menjadi busung. Dan kami… kami menyamar seperti kucing…” Lin Lin terkekeh gembira, menutupi mulutnya dan dengan suara terputus-putus diseling tawa ia menceritakan pengalamannya di istana.

 

Bok Liong kagum bukan main. Kagum akan kehebatan Kim-lun Seng-jin, juga kagum akan manisnya mulut yang bergerak-gerak bicara itu. Kemudian mereka berdua memasuki kota Pao-teng dan di sebuah toko senjata, Bok Liong membeli sebuah sarung pedang untuk pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin. Kini pedang itu, tanpa ronce-ronce dan dengan sarung lain, tiada bedanya dengan pedang biasa, maka tentu tidak akan ada yang tahu bahwa itulah Pedang Besi Kuning, pedang pusaka rampasan dari bangsa Khitan yang lenyap dari dalam gudang pusaka istana.

 

Di kota Pao-teng, Bok Liong mengajak Lin Lin memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar dan bersih. Hari menjelang senja dan perut mereka telah lapar. Tanpa sungkan-sungkan Lin Lin menyetujui dan seorang pelayan segera menyambut mereka dengan hormat, apa­lagi ketika melihat pedang yang tergantung di punggung Bok Liong dan di punggung Lin Lin.

 

Bok Liong bertanya, “Kau hendak makan apa, Moi-moi?”

 

“Apa sajalah. Setelah makan eh… anu… semua itu, kiranya tidak ada makanan yang cukup enak bagiku.” Ia mengernyitkan hidung. Bok Liong maklum bahwa yang dimaksudkan Lin Lin tentu masakan-masakan di dapur istana itu. Pelayan yang menanti pesanan mereka tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nona yang cantik jelita dan gagah perkasa ini.

 

Bok Liong memesan arak wangi, nasi putih, bakmi, bakso dan beberapa macam sayur-mayur  lagi. Pesanan itu dilayani dengan cepat sehingga beberapa menit kemudian mereka telah mulai makan minum. Kelahapan Bok Liong dan perutnya yang sudah amat lapar itu membuat Lin Lin dapat makan dengan enak juga, malah tidak kalah enaknya dengan masakan-masakan dapur istana ketika ia sudah kekenyangan. Bukanlah masakannya yang menjadi syarat mutlak untuk kelezatan, melainkan perut lapar. Perut lapar menyedapkan setiap makanan yang paling sederhana seakali pun!

 

Suara orang bercakap-cakap riuh­rendah memasuki restoran itu tidak menarik perhatian Lin Lin dan Bok Liong yang sedang enak makan, juga ketika beberapa orang tamu memesan masakan dengan suara parau, mereka tidak menengok dan terus makan. Akan tetapi karena tiga orang laki-laki yang baru datang itu duduknya di meja yang berhadapan dengan Lin Lin, mau tak mau Lin Lin dapat melihat mereka. Mendadak gadis ini meletakkan sumpit dan mangkoknya, kemudian ia bangkit dari tempat duduk dengan mata berapi. Bok Liong melihat keadaan gadis ini sambil menghirup kuah dari mangkok, menoleh lalu mengerutkan keningnya. Kiranya yang bercakap-cakap dan duduk mengelilingi meja itu adalah tiga orang laki-laki yang pakaiannya ditambal-tambal, pakaian pengemis jembel!

 

“Sssttttt, Lin-moi, tenang dan duduklah. Tak baik membuat ribut di restoran orang, bikin kacau dan rusak barang orang saja,” bisiknya.

 

Lin Lin sadar, menekan perasaannya dan duduk kembali. Seorang pelayan yang sedang bersiap untuk mengambilkan pesanan tiga orang pengemis itu memandang penuh kekhawatiran dan curiga kepada Lin Lin. Akan tetapi ketika melihat gadis ini duduk kembali, ia cepat-cepat pergi ke dapur. Tidak mengherankan apa bila Lin Lin kaget dan marah melihat tiga orang laki-laki itu, karena mereka ini adalah tiga orang di antara para pengemis yang malam-malam mengeroyok dia dan dua orang saudaranya.

 

Sebaliknya tiga orang pengemis itu agaknya tidak mengenal Lin Lin, dan hal ini pun tidak aneh. Mereka baru satu kali saja melihat Lin Lin, ini pun di waktu malam dan dalam pertempuran. Apa lagi ketika itu Lin Lin ditemani oleh Bu Sin dan Sian Eng, sedangkan sekarang hanya berdua dengan Bok Liong.

 

“Mereka adalah pengemis-pengemis yang dulu ikut mengeroyok kami,” bisik Lin Lin.

 

Bok Liong mengangguk-angguk. Gadis itu sudah bercerita tentang perselisihannya dengan para pengemis yang dipimpin oleh si Raja Pengemis It-gan Kai-ong.

 

 

 

“Mereka itu tokoh-tokoh Hui-houw-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Harimau Terbang) dan agaknya mereka datang sebagai tamu. Wilayah mereka bukanlah di Pao-teng sini. Lin-moi, mari kita ke luar.” Bok Liong memanggil pelayan, membayar dan mengajak Lin Lin keluar dari restoran.

 

“Lin-moi, malam ini kita sebaiknya bermalam di sini. Pengemis-pengemis itu mencurigakan. Pengemis- pengemis Hui-houw-kai-pang merupakan orang-orang kepercayaan It-gan Kai-ong, mereka itu bekerja untuk Kerajaan Wu-yue. Kalau datang ke dekat kota raja tentu ada maksud-maksud tertentu, sebagai mata­mata. Aku akan membayangi mereka.”

 

“Liong-ko, kenapa kau akan lakukan hal ini? Apa hubunganmu dengan urusan itu?”

 

Bok Liong memandang dengan sinar mata penuh perasaan ketika ia berkata. “Lin-moi, seorang warga negara harus setia kepada negaranya. Demikian pula aku, harus setia kepada Kerajaan Sung. Kalau aku melihat persekutuan yang membahayakan negara dan aku diamkan saja bukankah itu berarti bahwa aku menjadi seorang pengkhianat? Tidak Moi-moi, takkan kudiamkan saja kalau orang-orang Hui-houw-kai- pang ini mempunyai niat melakukan sesuatu yang membahayakan negara.”

 

Kagum hati Lin Lin. Sebagai anak angkat Jenderal Kam, seorang patriot sejati yang rela mengorbankan diri dan kebahagiaan demi negara, tentu saja ia tahu akan hal ini, dan ia dapat menghormati sikap ini.

 

Malam hari itu Bok Liong dan Lin Lin membayangi tiga orang pengemis yang memasuki sebuah rumah gedung kecil di sebelah timur kota Pao-teng. Rumah ini jauh dari tetangga, pekarangannya lebar dan kelihatannya sunyi. Sebuah rumah kuno yang modelnya seperti rumah pesanggrahan bangsawan yang hanya ditinggali sewaktu-waktu saja. Bagi para penduduk Pao-teng, rumah gedung mungil ini terkenal dengan sebutan ‘Gedung Merah’ karena memang cat rumah itu serba merah.

 

Orang-orang hanya tahu bahwa rumah itu milik seorang bangsawan muda dari An-sui yang kadang-kadang saja datang ke rumah ini, di mana ia mempunyai beberapa orang wanita penghibur yang menjadi selir- selirnya. Kalau bangsawan muda itu datang, barulah tampak kesibukan di gedung merah ini. Tukang- tukang masak pandai dipanggil, rombongan penghibur, penari dan penyanyi, diundang dan sering kali diadakan pesta oleh bangsawan itu bersama selir-selirnya, kadang-kadang ditemani beberapa orang tamu.

 

Bangsawan muda itu bukan lain adalah Suma Boan, putera Pangeran Suma Kong. Memang dia seorang pemuda penghambur nafsu dan uang. Sebetulnya hanya kelihatannya saja Suma Boan merupakan seorang kongcu hidung belang yang menghabiskan waktunya dengan pelesir dan bersenang-senang. Padahal sebetulnya dia seorang muda yang penuh cita-cita. Tidak sia-sia ia menjadi murid orang sakti It- gan Kai-ong, karena tidak saja ia memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun juga memiliki cita-cita setinggi langit.

 

Sudah banyak tokoh-tokoh kang-ouw ia hubungi, dan ia menghimpun tenaga untuk sewaktu-waktu bergerak melaksanakan tujuan dan cita-citanya, yaitu menggulingkan kedudukan kaisar dan mengangkat diri sendiri menjadi penggantinya! Tentu saja cita-citanya ini masih merupakan rahasia dalam hatinya dan kiranya hanya gurunya dan pembantu-pembantunya yang paling setia saja yang tahu. Orang lain hanya menganggap bahwa Suma Boan adalah seorang bangsawan, putera pangeran, masih sanak dengan kaisar, kaya raya dan royal di samping memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

 

Maka dari itu Bok Liong menjadi heran sekali ketika ia mengintai dari atas genteng gedung merah bersama Lin Lin, ia melihat bahwa tiga orang pengemis itu mengadakan pertemuan dengan Suma Boan. Hal ini sama sekali tak pernah diduganya. Suma Boan putera pangeran yang tinggai di An-sui itu berada di sini? Benar-benar di luar dugaannya yang sejak dahulu berkelana. Bok Liong mengenal siapa adanya Suma Boan, murid It-gan Kai-ong yang lihai.

 

Akan tetapi ia sama sekali tidak tahu akan rahasia putera pangeran ini. Ia tidak menjadi heran karena Suma Boan berhubungan dengan pengemis, karena guru pemuda bangsawan itu adalah raja pengemis sendiri! Akan tetapi yang membuat ia terheran-heran adalah munculnya pemuda bangsawan itu di gedung merah, karena tadinya ia mengira bahwa tiga orang pengemis itu hendak mengadakan persekutuan atau pertemuan rahasia dengan musuh-musuh Kerajaan Sung. Maka ia kecewa dan memberi isyarat kepada Lin Lin untuk pergi dari situ.

 

Akan tetapi, sebaliknya wajah Lin Lin menegang ketika ia mengenal Suma Boan. Ia malah memberi isyarat kepada Bok Liong untuk mendengarkan percakapan mereka di bawah, lalu mendekatkan mulut pada telinga Bok Liong sambil berbisik. “Di rumah dia itulah aku berpisah dengan kedua kakakku.”

 

 

 

 

Mendengar ini hati Bok Liong tertarik dan ia segera mendekam dan mendengarkan percakapan empat orang itu.

 

Terdengar Suma Boan bertanya. “Mana Suhu? Kenapa tidak datang dan bagaimana hasilnya dengan surat yang dirampas Hek-giam-lo?”

 

“Kai-ong-ya tidak berhasil merampas kembali, tapi memberi tahu bahwa surat itu agaknya sudah terampas kembali oleh Siang-mou Sin-ni dari tangan Hek-giam-lo. Sekarang Ong-ya berkenan pergi sendiri menyelidik ke Yu-nan.”

 

“Apa? Suhu mendatangi wilayah Nan-cao?”

 

“Betul, Kongcu. Pada pertengahan bulan depan, tepat pada bulan purnama, di sana diadakan pesta menyambut hari raya kaum Agama Beng-kauw, sekalian memperingati hari wafat ke seribu dari Kauw-cu (Ketua Agama) yang telah meninggal dunia. Dalam kesempatan ini tentu saja Kai-ong-ya dapat menghadiri karena para tokoh hitam dan putih semua diterima dengan tangan terbuka oleh Beng-kauw.”

 

“Bagus!” Suma Boan kelihatan girang sekali. “Hanya sayang sekali, kalau Suhu memberi tahu, tentu aku akan ikut ke sana, untuk melihat dan menambah pengalaman.”

 

“Kai-ong-ya berpesan agar Kongcu suka menanti kedatangan Tok-sim Lo-tong yang sudah berjanji akan datang mengunjungi dan sudah siap memberi bantuan untuk menghadapi Suling Emas.”

 

“Hemmm, si keparat itu apakah sudah dapat diketahui Suhu di mana tempatnya kalau ia datang ke kota raja?”

 

“Menurut Kai-ong-ya, sering kali ia berada di dalam gedung perpustakaan istana.”

 

“Heeeee! Apa itu?” Tubuh Suma Boan berkelebat, diikuti tiga orang pengemis itu yang sudah melompat ke luar dan langsung melayang ke atas genteng.

 

Kiranya tadi ketika mendengar percakapan di bawah, Bok Liong dan Lin Lin menjadi tertarik sekali. Apa lagi ketika nama Suling Emas disebut-sebut, Lin Lin menjadi begitu bernafsu sehingga ia bergerak untuk membuat lubang lebih besar. Karena kurang hati-hati dan hatinya tegang, gerakannya mengeluarkan bunyi dan terdengar oleh telinga Suma Boan yang tajam.

 

“Keparat, berani kalian main-main di depan Lui-kong-sian?!” bentak Suma Boan sambil menerjang maju. Lui-kong-sian atau Dewa Geledek adalah julukannya.

 

Bok Liong maklum akan lihainya lawan, maka cepat ia memasang kuda-kuda dan menangkis. Dua lengan yang sama kuatnya bertemu dan akibatnya, keduanya terpental melayang dan tentu akan roboh terguling di atas genteng kalau tidak cepat-cepat mereka meloncat turun.

 

Lin Lin yang tahu bahaya juga mendahului meloncat turun sambil mencabut pedangnya. Baru saja kakinya menginjak tanah, tiga orang pengemis itu sudah menerjangnya dengan tongkat, gerakan mereka cepat dan kuat. Namun Lin Lin sudah memutar pedangnya, tampak sinar kuning bergulung-gulung dari pedang itu menyambut datangnya tiga bayangan tongkat.

 

Ada pun Suma Boan ketika tertangkis oleh lengan Bok Liong, terkejut bukan main dan ia menjadi penasaran. “Siapakah kau? Apa perlunya kau malam-malam datang seperti pencuri?” bentaknya ketika ia sudah berhadapan dengan lawannya di atas tanah. Sayang, keadaan agak gelap sehingga ia tidak dapat mengenal siapa pemuda yang lihai di depannya ini.

 

“Suma-kongcu, suruh orang-orangmu mundur, dan kami akan segera pergi, tidak akan mengganggumu lagi,” kata Bok Liong sambil memandang ke arah pertempuran. Akan tetapi ia tidak khawatir akan keselamatan Lin Lin karena tiga orang pengemis itu telah terdesak hebat oleh sinar pedang kuning yang bergulung-gulung dahsyat.

 

“Enak saja bicara, berani kau datang untuk memerintahku? Ke neraka kau!” Suma Boan cepat menerjang dengan pukulan-pukulan maut.

 

 

 

Keistimewaan pemuda bangsawan ini adalah ilmu pukulan tangan kosong. Tenaganya kuat dan ia memiliki banyak tipu muslihat, juga memiliki beberapa pukulan yang mengandung tenaga beracun. Namun kali ini ia menghadapi lawan yang tangguh, murid seorang sakti pula, maka semua pukulannya dapat dihalau oleh Bok Liong. Karena dia seorang pendekar yang gagah dan memang suka mengadu ilmu, apa lagi sudah lama mendengar akan nama besar Lui-kong-sian Suma Boan, Bok Liong juga tidak mau mencabut pedangnya dan melayani lawannya dengan tangan kosong pula. Keduanya sama kuat, sama cepat dan masing-masing mewarisi ilmu-ilmu silat yang tinggi.

 

Keadaan Lin Lin dan para pengeroyoknya tidak seramai dua orang jago muda ini. Dalam sekejap mata saja, pedangnya telah merobohkan dua orang pengeroyok dan pengemis yang ketiga lari ketakutan menjauhkan diri! Diam-diam Lin Lin menjadi girang dan juga bangga. Ia pernah dikeroyok orang-orang seperti ini ketika bersama Bu Sin dan Sian Eng dahulu, dan mereka bertiga amat repot menghadapi pengeroyokan banyak pengemis. Akan tetapi sekarang, biar pun yang mengeroyoknya hanya bertiga, namun dengan pedang curian itu dan dengan ilmu warisan Kim-lun Seng-jin, terasa betapa lemahnya tiga orang pengeroyoknya dan betapa mudah ia merobohkan mereka! Lin Lin menoleh dan melihat Bok Liong masih bertanding hebat dengan pemuda jangkung yang sombong itu.

 

“Liong-twako, jangan takut, pedangku akan mencabut nyawanya!” seru Lin Lin dan cepat ia menerjang.

 

Sinar kuning berkelebat dan Suma Boan mengeluh sambil membuang diri ke kiri lalu berjungkir balik. Pucat wajahnya karena hampir saja ia menjadi korban sinar pedang yang mengandung hawa dingin seperti es. Ia tadi terlalu memandang rendah. Kiranya selain pemuda lawannya itu hebat, juga gadis itu amat lihai dan ganas ilmu pedangnya.

 

Lin Lin hendak menerjang lagi, akan tetapi tangannya disambar Bok Liong, lalu ditarik dan pemuda itu berkata, “Moi-moi, mari kita pergi, jangan bikin kacau rumah orang!”

 

Lin Lin baru teringat bahwa sebetulnya bukan menjadi kehendak mereka bertempur dengan orang-orang itu. Tadi ia terpaksa merobohkan lawan karena ia dikeroyok. Sekarang, apa perlunya bertanding terus? Ia tidak bermusuhan dengan pemuda bangsawan itu. Malah pemuda itu telah berjasa dalam menyebut- nyebut Suling Emas tadi. Ia tahu sekarang ke mana harus mencari Suling Emas, musuh besarnya. Ke kota raja. Di dalam gedung perpustakaan istana! Hatinya girang mengingat akan hal ini dan ia cepat meloncat pergi bersama Bok Liong, menghilang ke dalam gelap.

 

Suma Boan tidak mengejar. Pemuda bangsawan ini cukup cerdik dan hati-hati. Dua orang itu lihai, dan belum ia kenal siapa mereka. Tiga orangnya telah roboh, mengapa ia harus mengejar tanpa bantuan yang kuat?

 

Setelah berlari jauh meninggaikan kota Pao-teng, Bok Liong dan Lin Lin berhenti untuk mengatur napas. “Wah, untung kebetulan It-gan Kai-ong tidak berada di sana bersama Suma-kongcu. Kalau ada, bisa berbahaya tadi. Sama sekali tidak kuduga bahwa gedung merah itu milik Suma Boan,” kata Bok Liong.

 

“Aku tidak takut! Biar ada jembel tua bangka setengah buta itu aku tidak takut dan akan melawannya mati- matian!” seru Lin Lin dengan suara gagah.

 

“Kau memang hebat, Lin-moi. Memang tenaga kita digabung menjadi satu, belum tentu si tua dapat berbuat sekehendak hatinya. Tapi Suma Boan itu pun tak boleh dipandang ringan. Dia lihai….” Bok Liong menggeleng-geleng kepala.

 

Ia maklum bahwa kata-katanya ini hanya untuk mencegah agar Lin Lin tidak menjadi marah. Padahal ia tahu benar bahwa mereka berdua bukanlah lawan It-gan Kai-ong. Melawan Suma Boan saja kepandaiannya baru seimbang. Pemuda bangsawan itu harus ia akui amat hebat ilmu pukulannya. Tadi pun ia sudah kewalahan dan hampir mencabut pedangnya kalau saja Lin Lin tak segera maju membantunya.

 

“Liong-ko, sekarang kita harus kembali ke kota raja. Suling Emas berada di sana, di dalam gedung perpustakaan istana. Wah, kali ini dia tidak akan dapat terlepas dari tanganku!”

 

Bok Liong mengangguk-angguk. “Memang kurasa kali ini kita akan dapat bertemu dengannya. Akan tetapi sebelumnya, kuminta kepadamu, Lin-moi. Jangan kau terburu nafsu dan lancang menyerangnya kalau kita bertemu dengannya. Aku yang akan bicara dengannya, dan aku dapat mengajukan pertanyaan yang akan memaksanya mengaku apakah dia membunuh orang tua angkatmu ataukah tidak. Tak boleh sembrono

 

dan lancang terhadap seorang seperti dia.”

“Aku tidak takut!”

 

“Memang kau tidak takut, Moi-moi, akan tetapi bagaimana kalau penyeranganmu itu salah alamat? Bagaimana kalau ternyata dia itu tidak berdosa? Bukankah kau menyerang orang yang tidak bersalah kepadamu dan kalau terjadi demikian maka berarti kaulah yang bersalah kepadanya.”

 

“Baiklah, baiklah. Aku akan menutup mulut dan mau menyerahkan urusan kepadamu. Asal aku segera bertemu dengannya dan mendapat kepastian, baru aku puas, Twako.”

 

Bok Liong tersenyum. Ia khawatir kalau-kalau sahabat barunya ini marah dan mengambul. “Marilah, Moi- moi. Kau suka melakukan perjalanan malam begini?”

 

“Biar malam tapi udara terang, lihat bulan tersenyum di atas tuh!”

 

Akan tetapi Bok Liong tidak memandang bulan, melainkan memandang wajah yang tengadah, wajah yang baginya lebih indah dari pada bulan sendiri!

 

“Kau tidak lelah dan ngantuk nanti?”

 

Lin Lin menggeleng kepala. Maka berangkatlah dua orang muda itu, berjalan kaki di bawah sinar bulan, berendeng mereka berjalan. Bagi Lin Lin, hal ini adalah biasa saja dan tidak mendatangkan perasaan apa- apa. Ia merasa seperti berjalan di samping Bu Sin. Terhadap Bok Liong ia mempunyai perasaan persaudaraan yang tebal dan menganggap pemuda ini seperti kakaknya sendiri.

 

Tentu saja tidak demikian apa yang berkecamuk di dalam rongga dada Bok Liong. Suasana romantis ini mendorong-dorong hasratnya, menekan-nekan hatinya dan membakar darahnya, membuat ia ingin sekali menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin menyatakan cinta kasihnya yang berkobar-kobar menghanguskan jiwanya. Ingin ia memegang jari-jari tangan yang kecil halus itu. Ingin ia mendekap kepala dengan wajah cantik dan rambut hitam halus harum itu ke dadanya, ingin membisikkan sumpah cinta, ingin ia… ingin….

 

“Plakkk!”

 

“Eh, ada apa, Twako?” Lin Lin berhenti dan menoleh ke samping, memandang heran kepada pemuda yang baru saja menempeleng kepalanya sendiri itu.

 

Bok Liong sadar, kaget dan gugup. “Oh… eh… tidak ada apa-apa, ada nyamuk tadi menggigit pelipisku,” jawabnya. Untung bayang-bayang pohon menyembunyikan sinar bulan dari mukanya yang menjadi merah sekali.

 

“Kau bikin kaget orang saja. Masa menepuk nyamuk di pelipis sendiri begitu kerasnya?” Lin Lin mengomel karena tadi ia dikagetkan dari lamunannya.

 

Sambil berjalan ia pun melamun, teringat akan cerita Kim-lun Seng-jin akan keadaan dirinya. Betulkah ia seorang Puteri Khitan? Ia seorang puteri, keturunan langsung dari Raja Khitan? Inilah yang ia lamunkan dan ia seperti melihat dirinya dengan pakaian puteri yang indah sekali, berada di dalam gedung istana seperti yang pernah ia lihat bersama Kim-lun Seng-jin, disembah-sembah ribuan orang! Apa lagi kalau ia yang menjadi ratu dari bangsa Khitan, ia akan… akan apakah dia? Inilah yang baru ia pikir-pikir dan rencanakan dalam alam lamunannya ketika tiba-tiba Bok Liong menempeleng kepala sendiri dan mengagetkannya serta menariknya turun dari angkasa ke alam sadar.

 

“Sayang tidak ada kuda. Kalau kudaku masih ada, kau dapat naik kuda dan tidak terlalu lelah, Lin-moi.” “Kenapa kau jual kudamu kalau begitu?”

Bok Liong menghela napas. “Perlu dijual… perlu sekali… saku sudah kosong, apa daya?”

 

Lin Lin menggerakkan tangan, sejenak menyentuh lengan pemuda itu. “Aku tahu. Kau terpaksa menjualnya untuk membelikan sarung pedangku ini dan untuk makan dan sewa kamar, untuk biaya-biaya perjalanan, bukan? Liong-ko, kau orang baik.”

 

 

 

 

Hati Bok Liong berdenyut-denyut girang, akan tetapi ia pura-pura mendengus. “Ah, yang begitu saja, mana patut diomongkan? Pula, dua orang melakukan perjalanan hanya dengan seekor kuda, canggung sekali. Kita berdua sudah sejak kecil berlatih ilmu lari cepat, untuk apa? Kalau kita mau, kita tidak akan kalah oleh larinya seekor kuda.” Mereka tertawa dan melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap.

 

********************

 

Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Lie Bok Liong yang melakukan perjalanan malam menuju ke kota raja karena Lin Lin sudah tidak sabar lagi menanti untuk segera dapat bertemu dengan orang yang dianggap musuh besarnya, yaitu Suling Emas. Mari sekarang kita menengok keadaan Sian Eng, gadis yang mengalami hal yang amat menyeramkan hatinya itu.

 

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sian Eng tadinya berhasil melarikan diri dari tempat rahasia di bawah kuburan yang menjadi tempat tinggai Hek-giam-lo, yaitu pada saat Hek-giam-lo bertempur melawan Siang-mou Sin-ni yang datang menyerbu untuk minta dikembalikannya surat rahasia. Akan tetapi malang baginya. Di dalam sebuah hutan, selagi ia merasa lega dan mengira telah terlepas dari pada cengkeraman iblis itu, tiba-tiba si iblis itu sendiri muncul di depannya. Hek-giam-lo telah berada di situ, seakan-akan telah lebih dulu datang dan sengaja menanti kedatangannya.

 

Ia berusaha menyerang, namun apa dayanya terhadap Hek-giam-lo yang sakti? Di lain detik ia sudah pingsan dan dipondong Hek-giam-lo, kemudian dibawa lari secepat terbang! Kali ini si kedok iblis itu  berlaku amat teliti, tak pernah memberi kesempatan sedikit pun juga kepadanya untuk dapat melepaskan diri dari pengawasannya. Hek-giam-lo bersikap amat menghormat kepadanya, menyebutnya tuan puteri, akan tetapi di samping sikap menghormat ini terbayang sifat memaksa yang tak dapat dibantah lagi. Memaksa agar Sian Eng ikut dengannya dan mentaati segala permintaannya.

 

Akhirnya gadis ini maklum bahwa tak mungkin ia mampu membebaskan diri lagi, maka ia juga tidak lagi mencoba. Selama iblis ini tidak mengganggunya dan memperlakukannya dengan sikap menghormat dan baik-baik, ia pun menurut saja dan hendak melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dan ke mana ia akan dibawa.

 

“Hek-giam-lo, sudah berkali-kali kunyatakan bahwa aku bukanlah puteri raja seperti yang kau sebut-sebut. Aku she Kam, namaku Sian Eng. Kau salah lihat, karena itu harap jangan ganggu aku, biarkanlah aku pergi.” Berkali-kali gadis itu mencoba dengan bujukannya ketika mereka berjalan melalui sebuah bukit yang sunyi.

 

Hek-giam-lo memang pendiam dan ia tak banyak bicara selama dalam perjalanan, sungguh pun ia amat memperhatikan keperluan Sian Eng dan tak pernah terlambat untuk mencarikan makanan dengan pelayanan penuh hormat. Permintaan berkali-kali dari Sian Eng hanya dijawabnya singkat, “Paduka puteri raja kami memang sejak kecil diambil anak oleh Jenderal Kam.” Hanya demikian jawabnya dan selanjutnya ia tidak mau bicara lagi.

 

Melalui perjalanan yang amat cepat, kadang-kadang Hek-giam-lo memondong dan membawanya lari seperti terbang setelah minta maaf lebih dulu, mereka menuju ke arah timur laut dan pada suatu hari tibalah mereka di daerah yang jauh dari kota, daerah penuh hutan yang amat liar. Kemudian, di tengah- tengah daerah ini, tibalah mereka di sebuah rumah perkampungan dengan rumah-rumah yang kelihatan baru. Inilah perkampungan baru yang dijadikan pusat suku bangsa Khitan, terletak dalam sebuah hutan liar dikelilingi hutan-hutan kecil di antara gunung-gunung di perbatasan Mancuria!

 

Dapat dibayangkan betapa heran dan berdebar hati Sian Eng ketika Hek-giam-lo berteriak-teriak dalam bahasa yang ia tidak mengerti, lebih heran lagi ketika melihat para penyambut menjatuhkan diri berlutut di sepanjang jalan yang mereka lalui.

 

“Tengoklah, Tuan Puteri, rakyat kita memberi hormat kepada Paduka,” kata Hek-giam-lo, nada suaranya gembira.

 

Sian Eng melihat orang-orang kasar yang bertubuh tegap dan kuat, wanita-wanita cantik tapi sederhana, juga terdapat sifat-sifat gagah pada para wanita yang berlutut di pinggir jalan itu.

 

“Kita sekarang ke mana, Hek-giam-lo?”

 

“Mari menghadap Sri Baginda, Paman Paduka.”

“Pamanku?” Sian Eng tidak mendapat jawaban, terpaksa ia berjalan mengikuti Hek-giam-lo yang menuju

ke sebuah rumah besar di tengah-tengah perkampungan itu.

 

Di depan rumah besar ini terdapat banyak penjaga, laki-laki berpakaian perang yang kelihatan gagah dan kuat, dengan tombak di tangan dan golok besar di pinggang. Mereka berbaris rapi dan memberi hormat dengan tegak ketika Hek-giam-lo dan Sian Eng lewat. Juga di dalam rumah, di sepanjang lorong, berbaris pasukan pengawal. Kiranya dalam rumah besar itu yang dari luar kelihatan sederhana, sebelah dalamnya amat mewah. Bendera-bendera kecil berkibar di mana-mana, bermacam-macam warnanya. Ketika mereka sampai di ruangan sebelah dalam, pasukan pengawal berganti, kini pasukan wanita yang cantik-cantik dan gagah serta bersinar mata tajam! Namun baik pasukan laki-laki mau pun wanita, semua kelihatannya amat takut dan menghormat Hek-giam-lo.

 

Melalui pelaporan seorang penjaga yang seperti raksasa wanita, besar dan bengis, mereka diperkenankan memasuki ruangan besar di mana telah menanti seorang laki-laki tampan berpakaian indah, duduk di atas sebuah kursi atau singgasana terbuat dari pada gading. Laki-laki ini usianya kurang lebih empat puluh tahun, berwajah tampan bermata tajam.

 

Hek-giam-lo yang menuntun Sian Eng masuk, berkata singkat, “Tuan Puteri, harap memberi hormat kepada Sri Baginda, Paman Paduka.” Ia sendiri lalu menjatuhkan diri berlutut dan terdengar suaranya nyaring.

 

“Hamba datang menghadap. Dengan berkah Sri Baginda hamba berhasil mendapatkan Tuan Puteri yang sekarang ikut menghadap Sri Baginda.”

 

Laki-laki itu ternyata adalah Raja suku bangsa Khitan yang bernama Kubukan. Ia memandang wajah Sian Eng penuh perhatian. Sian Eng yang tidak sudi berlutut mengira bahwa raja yang tampan ini tentu akan marah karena ia tidak mau memberi hormat, akan tetapi kiranya tidak demikian. Raja itu memandang dengan sinar mata kurang ajar, kemudian tertawa bergelak dan berkata kepadanya dalam bahasa Han yang cukup lancar.

 

“Nona, marilah mendekat, biarkan aku memeriksa cermat apakah kau benar keponakanku ataukah palsu.”

 

Sian Eng melangkah maju sampai berada dekat dengan raja itu sambil berkata, “Hek-giam-lo tahu bahwa aku bukan keponakanmu. Sudah kuberitahukan berkali-kali tapi ia nekat saja membawaku ke sini. Siapa pun adanya kau, harap kau suka berlaku murah dan bebaskan aku.”

 

Raja itu memandang lagi penuh perhatian, kemudian tertawa sekali lagi. Dari mulutnya berhamburan bau arak yang keras. “Ha-ha-ha, semua orang mengaku keponakanku, ha-ha. Alangkah inginku dapat memeluk keponakanku, dapat meraba lehernya yang halus. Untung kau bukan keponakanku, Nona, kau cukup  cantik jelita. Ha-ha, untung…!” Sian Eng terkejut sekali dan ia sudah merasa ngeri ketika kedua tangan raja yang berbulu lengannya itu bergerak hendak merabanya.

 

Akan tetapi pada saat itu Hek-giam-lo berkata dalam bahasa Khitan yang tak dimengerti Siang Eng, “Sri Baginda, kali ini tidak bisa salah lagi. Dia itu adalah anak Jenderal Kam. Sayang Jenderal Kam sendiri sudah mampus ketika hamba sampai di sana. Hamba mendengar bahwa anak-anaknya pergi ke kota raja, maka hamba menyelidiki dan berhasil menangkap anak perempuannya ini. Tak salah lagi, dia adalah puteri mendiang Tuan Puteri Tayami.”

 

“Hek-giam-lo, apa yang menyebabkan kau yakin benar bahwa dia ini betul-betul keponakanku? Sudah ada dua orang gadis yang dibawa datang dan perwira-perwira yang membawanya bersumpah bahwa mereka adalah keponakanku. Tapi ternyata bukan. Kau boleh lihat mereka. Biar pun mereka berdua itu jauh lebih cocok menjadi keponakan yang kucari-cari dari pada gadis ini, toh mereka itu bukan keponakanku!”

 

Raja memberi tanda dengan tepukan tangan dan tak lama kemudian dua orang gadis digiring masuk. Dua orang gadis yang cantik jelita akan tetapi wajah mereka pucat dan di kedua pipi yang halus tampak bekas air mata. Mereka ini berdiri di depan raja dan menundukkan muka.

 

“Ha-ha-ha, mereka ini keponakanku? Akan tetapi biar pun bukan, kedatangan mereka sedikit banyak menyenangkan hatiku, biar pun hanya untuk beberapa malam. Hek-giam-lo, gadis yang kau bawa ini bukanlah puteri Kakak Tayami.”

 

 

 

 

“Tapi Sri Baginda….”

 

“Kau mau bukti? Dengar, ketika masih bayi, pernah kulihat keponakanku itu. Pada punggungnya terdapat sebuah tanda merah. Coba kita periksa bersama!” Ia memberi isyarat dan tiba-tiba Hek-giam-lo menggerakkan tangannya. Tahu-tahu ia telah memegang senjatanya yang hebat, yaitu sabit bengkok yang amat tajam itu.

 

Sinar berkilauan menyambar-nyambar, Sian Eng menjerit ngeri karena merasa betapa tubuhnya dikurung sinar berkilauan. Kemudian, hampir ia roboh pingsan ketika mendapat kenyataan bahwa pakaiannya telah terbang ke kanan kiri disambar sinar itu dan beberapa detik kemudian ia telah menjadi telanjang bulat!

 

Dapat dibayangkan betapa malu dan marahnya Sian Eng. Ingin ia berlaku nekat dan menerjang mengadu nyawa, akan tetapi rasa malu karena keadaannya yang telanjang itu membuat ia kehilangan tenaga, malah ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan setengah bertiarap di atas lantai untuk menyembunyikan tubuhnya. Tentu saja dengan berbuat demikian, punggungnya tampak jelas dan raja bersama Hek-giam-lo melihat jelas kulit punggung yang putih bersih tiada cacad sedikit pun!

 

“Ha-ha-ha-ha, kau lihat, Hek-giam-lo? Dia bukan keponakanku, sayang seribu kali sayang. Tapi lumayan juga, dia cantik manis!”

 

“Ampun, Sri Baginda. Hamba telah berlaku ceroboh.” terdengar Hek-giam-lo berkata, suaranya gemetar penuh sesal.

 

“Tidak apa, kau carilah lagi. Gadis ini pasti akan menyenangkan hatiku. Eh, Nona, kau berdirilah.”

 

Sian Eng terkejut sekali ketika merasa betapa pundaknya diraba orang yang hendak menariknya berdiri. Ia mengangkat muka memandang dan kiranya raja itulah yang sudah turun dari singgasana untuk membangunkannya, matanya bersinar-sinar penuh nafsu. Saking ngeri, malu, dan marahnya, Sian Eng tidak ingat apa-apa lagi. Bagaikan seekor harimau betina, ia melompat dan menerkam ke depan, memukul dengan kedua tangannya ke arah dada dan perut raja itu!

 

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terpental ke samping, roboh menumbuk dinding. Raja itu sendiri pucat mukanya dan terhuyung ke belakang sampai tiga langkah. Hampir saja ia celaka kalau tidak ada Hek-giam- lo yang cepat menolongnya tadi. Marahnya bukan main. Lenyap keinginannya untuk mempermainkan Sian Eng, terganti rasa benci yang meluap-luap.

 

“Hek-giam-lo, kuserahkan dia kepadamu. Hukum dia, juga dua orang puteri palsu ini. Muak aku kepada mereka. Kubur mereka hidup-hidup, jadikan tontonan, biar rakyatku melihat dan berkesempatan menghina mereka yang menyebalkan hati rajanya!” Setelah berkata demikian, raja itu mendengus marah, lalu pergi memasuki kamarnya, diiringi oleh dayang-dayang cantik jelita dan muda-muda.

 

Sian Eng sudah bangun kembali dan cepat menyambar pakaiannya yang robek menjadi beberapa potong. Sedapat-dapat ia membungkus tubuhnya dengan pakaian itu dan untung bahwa pakaiannya terbuat dari pada kain yang lebar dan panjang sehingga biar pun robek-robek namun masih cukup untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.

 

Akan tetapi Hek-giam-lo tak memberi kesempatan lagi kepadanya. Dengan pekik mengerikan, iblis ini bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap Sian Eng dan dua orang gadis pucat itu, membawa mereka bertiga seperti orang membawa tiga ekor ayam saja, kemudian melangkah lebar ke luar dari gedung itu.

 

Malam itu terang bulan, namun di luar perkampungan itu, di pinggir hutan, keadaan amat menyeramkan. Apa lagi kalau orang melihat ke arah kiri, di mana terdapat tempat terbuka dan sinar bulan menyorot langsung tidak terhalang ke atas tanah. Orang itu pasti akan bergidik melihat apa yang tampak di sana.

 

Tiga buah kepala orang berada di atas tanah. Kepala tiga orang wanita yang masih hidup! Yang dua buah adalah kepala dua orang wanita cantik bermuka pucat dan terdengar mereka ini menangis terisak-isak dengan air mata bercucuran. Akan tetapi, kepala yang berada di kiri, kepala Sian Eng, biar pun tampak agak pucat juga, namun sama sekali tidak menangis, malah sepasang matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

 

Memang hebat dan mengerikan sepak terjang Hek-giam-lo, si manusia iblis yang mentaati perintah rajanya

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo