August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 21)

 

 

“Akan tetapi, kemudian saya mendengar dari It-gan Kai-ong bahwa Tok-siauw-kwi adalah ibu dari Suling Emas. Tentu saja saya ikut bersama tokoh-tokoh kang-ouw lain untuk membalaskan sakit hati itu kepada putera musuh besar saya. Kembali saya kecewa, Locianpwe, karena… karena… saya tidak mampu mengalahkan Suling Emas, malah… malah… ketika saya bersumpah di depan makam ayah untuk membalaskan dendam itu kepada isteri dan anak-anak Suling Emas, saya dipukul roboh oleh adik tirinya dan… dia malah menolong saya….” Gadis itu kembali menangis sedih.

“Hemmm… hemmm… tidak hanya kau kalah oleh Suling Emas, malah hatimu pun roboh oleh asmara. Kau mencinta Suling Emas?”

Seketika berhenti tangis Tan Lian dan ia melonjak kaget, memandang kakek itu dengan muka pucat dan mata terbelalak. Kakek itu tetap tersenyum sabar.

“Bagaimana… bagaimana… Locianpwe bisa tahu…?” Akhirnya Tan Lian bertanya dengan suara gagap.

Senyum kakek itu melebar, “Aku pernah muda, anak baik, dan sudah banyak kusaksikan di dunia ini. Sudah banyak dongeng dan peristiwa terjadi karena cinta. Kalau tidak karena cinta, agaknya tidak akan terjadi urusanmu dengan Suling Emas, tidak akan terjadi permusuhan yang terpendam di hatimu. Ayahmu pun menjadi korban cinta. Karena itu, kau percayalah kepadaku, anak baik. Buang jauh-jauh perasaan itu karena kulihat bahwa kau berbakat untuk menjadi muridku. Tadinya aku tidak ada niat memiliki murid, akan tetapi setelah dua iblis itu mengakaliku dan mencuri banyak pengetahuanku, aku harus menurunkan kepandaianku. Kaulah yang cocok untuk menjadi muridku, tidak saja kau berbakat, akan tetapi kau pun anak sahabatku.”

Tan Lian menjatuhkan diri lagi berlutut di depan kakek itu. “Ohhh, Locianpwe, saya merasa seakan-akan bertemu dengan ayah saya. Locianpwe, tolonglah saya. Saya sudah bersumpah hendak membunuh isteri dan anak-anak Suling Emas, akan tetapi… dia tidak punya isteri dan… dan memang betul saya jatuh cinta kepadanya. Locianpwe, sudilah Locianpwe menolong saya, mewakili orang tua saya yang sudah tiada, harap suka usahakan perjodohan saya dengan Suling Emas. Kalau hal ini tidak terjadi, saya merasa sia-sia hidup di dunia, dendam ayah tak terbalas, hasrat hati hendak memunahkan dendam dengan ikatan jodoh tak tercapai….”

Kakek itu termenung sejenak. “Suling Emas termasuk seorang di antara tokoh-tokoh aneh di dunia ini. Aku khawatir kalau-kalau maksud hatimu akan gagal, Nak. Mengapa tidak kau batalkan saja dan hidup mencapai kebahagiaan penuh damai dari pada kesunyian seperti aku? Aku tanggung bahwa kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna dari pada kebahagiaan duniawi.”

“Cobalah dulu, Locianpwe. Belum tentu dia tidak setuju, agaknya… agaknya dia pun bukan tak suka kepada saya…”

Akhirnya kakek itu mengangguk-angguk dan menghela napas. “Baiklah… baiklah, akan tetapi jangan kau lalu membunuh diri kalau dia menolak. Berjanjilah dulu, tanpa janjimu aku takkan mau menerima permintaanmu.”

“Saya berjanji takkan membunuh diri kalau… dia menolak.” “Dan akan suka menjadi muridku,” sambung kakek itu.
“… dan akan suka menjadi murid Locianpwe….”

“Bagus!” Kakek itu tampak girang, “Nah, kau beristirahatlah, kita menanti sampai dia kembali.”

Akan tetapi pada saat itu di luar pondok terdengar langkah kaki orang. Tergopoh-gopoh Tan Lian berlari ketuar, hatinya sudah tak sabar lagi untuk menyambut kedatangan Suling Emas. Ia harus cepat melihat dengan mata sendiri bahwa pendekar itu kembali dalam keadaan selamat. Ketika ia melangkah ke luar dari pintu pondok, tiba-tiba ia tercengang dan berdiri seperti patung, memandang laki-laki muda yang berdiri di pekarangan rumah itu dengan mata terbelalak. Pemuda itu, yang berpakaian sederhana seperti seorang

 

pelajar, kelihatan lelah sekali, berwajah tampan dan keningnya lebar, juga memandang kepadanya, mata yang sayu kelelahan itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri.

“Lian-moi (Adik Lian)…!” Akhirnya ia berseru dan tersaruk-saruk ia melangkah maju. “Kau…? Kenapa kau datang ke sini?”
“Kenapa? Lian-moi, tentu saja hendak mencarimu, menyusulmu! Lian-moi, hampir gila aku mencarimu, mengikuti jejakmu. Lian-moi, mengapa kau di sini dan dengan siapakah kau….” Orang muda yang bukan lain adalah Thio San itu tiba-tiba berhenti karena melihat munculnya seorang kakek yang bersikap tenang dan bermata tajam muncul di pintu, di belakang tunangannya.

“Thio San! Sudah berapa kali kujelaskan kepadamu bahwa di antara kita sudah tidak ada ikatan dan tidak ada urusan apa-apa lagi. Kenapa kau begini tak tahu malu dan masih berani menyusulku dan mengikutiku selalu? Pergilah!”

“Tapi….”

“Pergilah, sebelum aku habis sabar dan terpaksa bertindak kasar!” “Tapi, Lian-moi, kita bertunangan….”
“Hemmm, kalau tidak ingat akan hubungan itu, sudah dulu-dulu aku mengenyahkanmu dengan kekerasan. Thio San, sejak dua belas tahun yang lalu, di depan engkau dan orang tuamu, bukankah aku sudah menyatakan pembatalan ikatan itu? Bukankah sudah kujelaskan secara terang-terangan apa yang menjadi sebabnya? Thio San, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Nah, cukup, kau pergilah!” Karena hampir tidak kuat menahan air matanya, Tan Lian lalu membalikkan tubuhnya dan lari memasuki pondok.

Pemuda itu berdiri dengan muka pucat, sinar matanya menjadi makin sayu, wajahnya makin muram, tubuhnya bergoyang-goyang seperti sebatang pohon terlanda angin, agaknya ia mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak roboh.

“Orang muda,” Kim-sim Yok-ong berkata, suaranya halus menghibur. “Aku tidak berhak mencampuri urusanmu, akan tetapi biarlah kuperingatkan kau bahwa perjodohan yang dipaksakan oleh sepihak takkan membentuk rumah tangga yang berbahagia. Syarat utama perjodohan adalah kesediaan, kerelaan dan cinta kasih kedua pihak. Karena itu, seorang laki-laki harus dapat menguatkan hati dan rela berkorban perasaan demi mencegah dirinya sendiri terperosok ke dalam neraka rumah tangga yang tidak bahagia.”

Suara orang lain yang memasuki telinganya menyadarkan pemuda itu dari keadaan yang memelas (menimbulkan iba) itu. Ia mengangkat dadanya dan menegakkan kepalanya, memandang tajam kepada kakek itu ketika menjawab.

“Orang tua, aku tidak mengenal siapakah engkau, akan tetapi karena ucapanmu bermaksud baik, aku berterima kasih sekali kepadamu. Namun, kalau aku harus membenarkan pendapatmu itu, lalu ke mana nanti perginya kesetiaan dan kebaktian? Jodoh yang sudah dipilihkan orang tua semenjak kecil, harus diterima dengan rela, itu bakti namanya! Satu kali orang bertunangan, harus ditunggu sampai mati, itu setia namanya! Betapa pun juga, kau betul, orang tua. Dia tidak suka kepadaku dan aku tidak dapat memaksanya. Dia seorang ahli silat yang lihai, hatinya penuh dendam yang belum terbalaskan, hidupnya bagaikan seekor naga yang melayang-layang di angkasa dengan bebas beterbangan di antara awan dan petir! Sedangkan aku… aku….”

“Dan kau seorang muda yang penuh filsafat, yang mabuk akan ujar-ujar kuno, yang hidup menurunkan garis-garis dalam kitab, yang buta akan kenyataan bahwa betapa pun mengecewakannya, manusia yang belum mau melepaskan diri dari kehidupan ramai, berarti belum mungkin terlepas dari pada nafsu-nafsu duniawi! Kau tidak mau mengerti bahwa orang seperti Tan Lian hanya tunduk kepada nafsu yang menguasai hatinya, sebaliknya kau hanya tunduk kepada peraturan tanpa mau menjenguk keadaan orang lain. Orang muda, aku kasihan kepadamu. Kau seorang yang baik, berbakti dan setia, akan tetapi kau lemah! Bukan lemah jasmani saja, juga lemah batinmu karena kau malu akan kenyataan bahwa juga engkau telah dikuasai nafsu yang mendorong cinta nafsumu terhadap Tan Lian, akan tetapi kau tidak berterus terang, malah kau hendak menutupi cintamu dengan dalih setia dan berbakti! Sayang….”

Tiba-tiba dua titik air mata membasahi pipi pemuda itu yang menundukkan mukanya dan berkata, “Orang

 

tua, kau betul. Aku cinta padanya, tapi dia menolakku. Namun, aku akan menanti dengan sabar, seperti yang sudah kulakukan belasan tahun lamanya, karena kulihat dia masih sendiri. Kalau dia sudah bersuamikan orang lain, barulah aku akan mundur. Maafkan aku, orang tua.” Setelah berkata demikian, pemuda itu menjura dan membalikkan tubuh, lalu berjalan dengan langkah-langkah gontai meninggalkan pondok.

Sampai lama Kim-sim Yok-ong berdiri memandang dari depan pintu pondoknya sambil menggoyang- goyang kepala dan menghela napas. “Sampai sekarang, entah sudah berapa juta orang muda menjadi korban penyakit asmara ini. Sungguh memalukan, aku yang berjuluk Yok-ong belum juga dapat menemukan obatnya!” Sambil menggeleng-geleng kepala ia memasuki pondoknya dan melihat Tan Lian menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangan, kakek ini tidak mau bertanya-tanya lagi. Ia maklum bahwa gadis ini tentu merasa menyesal, berduka, dan malu karena urusan pribadinya telah terdengar orang lain.

“Locianpwe…, aku… aku malu sekali. Ah, Locianpwe tentu akan memandang rendah kepadaku… seorang gadis yang sudah ditunangkan sejak kecil akan tetapi berani minta tolong kepada Locianpwe untuk menguruskan perjodohan dengan pria lain…! Kalau Locianpwe merasa bahwa aku terlalu hina dan rendah, biarlah aku pergi dari sini dan tidak berani mengganggumu lagi….”

“Hemmm, aku tahu keadaan hatimu, Nak, dan tidak biasanya aku mencampuri urusan pribadi orang lain. Aku tidak memandang rendah dan aku tetap akan memegang janjiku.” Mendengar ucapan ini, Tan Lian berlutut dan merangkul kaki Yok-ong sambil menangis.

********************

Dengan gerakan yang cepat sekali sehingga dari jauh terlihat bagaikan terbang saja, pendekar sakti Suling Emas lari mendaki puncak Thai-san. Ia sengaja mencari tempat-tempat tinggi, bahkan kadang-kadang ia meloncat naik ke atas pohon untuk melihat keadaan sekitar pegunungan itu dalam usahanya mencari jejak dua orang iblis tua yang telah mengacau pondok Kim-sim Yok-ong. Namun sudah sehari semalam ia mencari, hasilnya sia-sia belaka.

Pada harti kedua, pagi-pagi sekali ia sudah tiba di puncak paling tinggi dan selagi ia meneliti keadaan sekelilingnya, tiba-tiba ia mendengar tetabuhan khim yang nyaring, merdu dan halus. Sejenak kagetlah Suling Emas karena ingatannya melayang-layang, mengira bahwa Bu Kek Siansu berada di tempat ini. Akan tetapi ketika ia memperhatikan, ia segera mengerutkan keningnya. Suara alat musik yang-khim yang ditabuh ini, sungguh pun cukup nyaring dan merdu, namun memiliki gaya yang liar dan iramanya merangsang. Betapa pun juga harus ia akui bahwa tenaga yang keluar dari suara khim ini cukup hebat, menimbulkan rangsang yang mendebarkan jantung dan bagi orang yang kurang kuat tenaga batinnya, tentu akan roboh di bawah pengaruh suara itu.

Kemudian Suling Emas tersenyum dan teringatlah ia akan Siang-mou Sin-ni, seorang di antara Thian-te Liok-koai yang dapat mainkan yang-khim seganas ini. Ia ingat bahwa dahulu wanita iblis ini telah merampas alat musik yang-khim dari tangan Bu Kek Siansu dan agaknya ia telah mempelajari alat musik itu, disesuaikan dengan ilmu untuk menyerang orang, baik melalui suara yang-khim mau pun dengan cara mempergunakan alat musik itu sebagai senjata.

Diam-diam Suling Emas menghitung-hitung dan memang hari itu sudah tiba saatnya perjanjian para anggota Thian-te Liok-koai mengadakan pertemuan untuk mengadu ilmu di puncak Thai-san. Karena suara yang-khim dari Siang-mou Sin-ni itu merupakan panggilan atau tantangan, untuk sementara Suling Emas menunda urusannya mencari dua orang asing dan kini ia mencabut sulingnya, meniup dan melagukannya sambil melangkah lebar ke arah datangnya suara.

Sungguh ajaib suara yang terdengar di hutan-hutan gunung Thai-san pada saat itu. Kalau ada orang mendengar suara ini tentu akan mengira bahwa suara itu bukan sewajarnya, mungkin para iblis hutan sedang berpesta. Suara suling mengalun, bergelombang turun naik mengelus perasaan, menyegarkan akan tetapi juga memabukkan karena memiliki daya seret yang menghanyutkan. Suara ini mengiringi atau diiringi suara berkencringnya yang-khim yang diseling dengan ‘melody’ yang jelas satu-satu dan nyaring, namun bukan main hebatnya suara ini karena setiap bunyi denting dari sehelai kawat yang disentil jari, cukup kuat daya serangnya untuk membuat jantung lawan putus! Perpaduan suara musik yang aneh dan bergema di seluruh hutan, menari-nari di puncak pohon, bahkan menembus dasar jurang yang paling dalam.

 

Pertandingan jarak jauh yang dilakukan dengan ‘suara’ itu benar-benar amat menarik. Kini Suling Emas tidak melangkah lagi, melainkan berhenti dan berdiri tegak. Mukanya agak merah dan dari belakang kepalanya tampak uap putih tipis. Ini menandakan bahwa Siang-mou Sin-ni sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga untuk menghadapi suara yang-khim itu, Suling Emas tak boleh bersikap sembarangan dan harus pula mencurahkan perhatian dan mengerahkan tenaga sinkang.

Akan tetapi, begitu pendekar sakti ini memusatkan tenaganya, suara yang-khim makin menjadi lemah seakan-akan terdesak suara suling yang makin melengking tinggi itu. Anehnya, daun-daun pohon yang masih hijau segar, yang tumbuh di atas kepala dan di dekat Suling Emas meniup sulingnya, tiba-tiba rontok satu demi satu, melayang-layang ke bawah dengan gerakan aneh dan lucu seakan-akan daun-daun itu menari-nari mengikuti bunyi irama suling!

Akhirnya suara yang-khim itu berhenti dan terdengar keluhan, lalu disusul suara Siang-mou Sin-ni dari jauh. Suara itu terdengar lamat-lamat akan tetapi cukup jelas. “Suling Emas, saat mengadu kepandaian adalah malam nanti, kalau bulan sudah muncul. Aku hanya main-main, kenapa kau sungguh-sungguh?”

Suling Emas juga menghentikan tiupan sulingnya dan ia menarik napas panjang lalu tersenyum. Kata-kata itu tak perlu dia menjawabnya. Ia tahu bahwa untuk menghadapi malam pertemuan bulan lima tanggal lima belas, yaitu malam nanti di mana akan diadakan pertandingan untuk menentukan tingkat masing-masing, Siang-mou Sin-ni berusaha untuk ‘mengukur keadaannya’ dengan suara yang-khim tadi. Dan menurut pendapatnya bahwa biar pun ia tidak kalah oleh Siang-mou Sin-ni dalam penggunaan sinkang di dalam suara, namun kemajuan wanita iblis itu tak boleh dipandang ringan begitu saja dan malam nanti akan merupakan lawan yang tangguh.

Setelah Siang-mou Sin-ni pergi, Su­ling Emas teringat kembali akan dua orang kakek yang dicarinya. Ia
lalu melanjutkan usahanya mencari jejak kedua orang itu.

“Dua Locianpwe yang muncul di pondok Kim-sim Yok-ong, silakan keluar, saya mau bicara!” Demikianlah berkali-kali ia berteriak dengan pengerahan khikang-nya sehingga suaranya bergema sampai jauh. Namun hasilnya sia-sia, tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri.

Ia melangkah terus dan tiba di sebuah puncak lain. Di sini ia pun berdiri dan meneriakkan panggilannya seperti tadi. Oleh karena suaranya memang keras, apa lagi dengan pengerahan khikang, suara itu bergema dan burung-burung yang tadinya enak-enak hinggap dan mengaso di atas cabang-cabang pohon, berlindung dari panasnya matahari di antara daun-daun, menjadi kaget dan beterbangan sambil bercuwit- cuwit. Sekelompok burung yang kebetulan berada di pohon dekat Suling Emas berdiri, kaget dan kelepak sayapnya terdengar gaduh. Suling Emas mengangkat muka memandang sambil tertawa.

Akan tetapi suara ketawanya terhenti ketika ia melihat sinar hitam seperti asap menyambar ke atas dan burung-burung yang jumlahnya belasan ekor itu runtuh ke bawah dan berjatuhan di depan kaki Suling Emas. Ketika ia memandang teliti, ternyata burung itu semua telah mati dan kulit mereka berubah menjadi hitam sedangkan bulu-bulunya rontok! Tahulah ia bahwa bukan hanya Siang-mou Sin-ni saja yang sudah hadir di Thai-san, dan agaknya para anggota Thian-te Liok-koai mulai mendemonstrasikan kelihaiannya.

“Hek-giam-lo iblis keji. Tak perlu kau memperlihatkan kekejamanmu di hadapanku, kalau kau mau mulai bertanding, keluarlah!”

Tidak ada jawaban kecuali suara dengus mengejek yang disusul oleh sambaran sinar hitam yang cepat bagaikan kilat gerakannya. Diam-diam Suling Emas kagum dan mengerti bahwa kepandaian Hek-giam-lo dalam hal melepas senjata rahasia Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam) telah maju dan jauh lebih berbahaya dari pada dahulu ketika pertandingan di puncak Thai-san ini (baca jilid pertama).

Karena ini Suling Emas tidak mau memandang rendah. Cepat tangannya sudah mencabut ke luar kipas birunya dan dengan gerakan yang diisi lweekang sepenuhnya ia mengibas ke depan. Runtuhlah jarum- jarum hitam itu, semua lenyap ke dalam tanah. Akan tetapi sinar hitam kedua menyusul, malah lebih besar dan lebih kuat. Ketika Suling Emas mengibaskan kipasnya lagi, sinar itu membalik, tapi hanya kurang lebih dua meter, lalu terdorong maju lagi, mendesak terus, bahkan kini mulai berpencar menjadi tiga bagian yang menerjang tubuh Suling Emas dari atas, tengah, dan bawah!

Suling Emas terkejut karena pada saat itu, di belakang sinar hitam yang sudah pecah menjadi tiga bagian tampak belasan sinar berkilauan menyambar pula ke depan. Itulah barisan hui-to (golok terbang), senjata rahasia dari Hek-giam-lo yang ampuh sekali di samping senjata rahasia jarum-jarum beracunnya. Dengan

 

cara luar biasa sekali, iblis hitam itu dapat menyambitkan tiga belas batang golok kecil (belati) sekaligus dan tiga belas batang pisau terbang itu secara tepat mengancam tiga belas bagian tubuh yang kesemuanya mematikan!

“Hek-giam-lo, terlalu kau!” seru Suling Emas dengan marah.

Tangan kanannya sudah mencabut sulingnya dan bagaikan terbang tubuhnya sudah mencelat ke atas. Ketika sinar-sinar hitam itu mengejar, ia mengibaskan kipasnya dan berbareng ia memutar sulingnya merupakan lingkaran besar di depan tubuhnya. Ketika belasan pisau terbang itu tiba, pisau-pisau itu ‘tertangkap’ oleh lingkaran sinar suling, terus ikut berputar-putar merupakan bundaran sinar berkilauan yang indah sekali.

“Terimalah kembali!” bentak Suling Emas yang sudah turun ke bawah. Sulingnya digerakkan seperti mendorong dan tiga belas batang pisau terbang yang tadinya beterbangan memutar-mutar di depan Suling Emas, kini seperti belasan ekor burung terbang kembali ke sarangnya!

Seperti juga Siang-mou Sin-ni, tahu-tahu terdengar suara Hek-giam-lo dari jauh, “Malam nanti kita bertanding!”

Suling Emas mendongkol sekali, akan tetapi ia tidak mau mengejar karena memang saat yang dijanjikan adalah malam nanti kalau bulan purnama sudah muncul menyinari bumi. Ia berjalan terus mencari dua orang kakek sakti yang aneh dan kejam. Diam-diam ia merasa khawatir juga. Dari peristiwa tadi ia mendapat kenyataan bahwa Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo sudah memperoleh kemajuan pesat dan jauh lebih berbahaya dari pada dahulu. Tentu iblis-iblis yang lain, It-gan Kai-ong dan kakak beradik Toat- beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong juga telah memperdalam ilmu-ilmu mereka. Dia tidak gentar menghadapi mereka, akan tetapi siapa tahu, kalau dua orang kakek asing yang baru muncul mengacau di pondok Kim-sim Yok-ong itu membantu para iblis, sukarlah untuk mencapai kemenangan.

“Aku harus menghadapi dua orang kakek itu lebih dulu sebelum bertanding dengan Thian-te Liok-koai,” pikirnya dan kembali ia melanjutkan usahanya mencari. Hari telah menjelang senja ketika ia makin mendekati puncak di mana pertandingan antara Thian-te Liok-koai akan diadakan.

Makin tinggi orang mendaki gunung, makin dinginlah hawa udara. Suling Emas juga sudah mulai merasa dingin, apa lagi menjelang senja itu, puncak Thai-san diliputi hailmun yang cukup tebal. Ketika ia memasuki sebuah hutan pohon cemara tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan banyak pohon tumbang, malah ia lalu terpaksa berloncatan ke sana ke mari untuk menghindarkan dirinya tertimpa batang-batang pohon yang beterbangan ke arahnya!

Suling Emas cepat menyelinap sambil meloncat ke sana-sini, kemudian tahulah ia bahwa yang ‘main-main’ dengan batang-batang pohon adalah Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong! Agaknya mereka berdua juga melihatnya, karena kini mereka tertawa-tawa dan semua batang pohon dan batu-batu besar yang mereka permainkan itu kini menimpa ke arah Suling Emas! Pendekar ini memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya.

Biar pun ada ‘hujan’ pohon dan batu-batu besar, bagaikan seekor kera ia menyelinap dan mengelak ke sana-sini. Demikian cepat dan ringan gerakannya sehingga bajunya saja tak pernah tergores cabang pohon yang menimpanya bertubi-tubi.

“Dua iblis liar, beginikah cara kalian menandingiku?” Suling Emas membentak dan sudah siap untuk balas menyerang. Akan tetapi sambil tertawa-tawa dua orang iblis itu melarikan diri, dan Suling Emas tidak mau mengejar mereka. Ia melanjutkan perjalanannya, sementara itu cuaca mulai menjadi remang-remang dan hawa udara makin dingin.

Puncak tertinggi sudah tampak menjulang tinggi di depan matanya. Ia sudah mulai putus asa untuk bisa mendapatkan dua orang kakek aneh itu karena ia sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari mereka. Ia harus pergi ke puncak untuk menemui dan menandingi iblis-iblis yang berkumpul, untuk mewakili ibu kandungnya yang dulu ditantang oleh It-gan Kai-ong. Akan tetapi tiba-tiba ketika ia membelok, ia melihat pemandangan aneh sekali di pinggir anak sungai yang mengalir deras dari sumbernya.

Dua orang kakek yang dicari-carinya selama sehari semalam itu ternyata tanpa diduga-duga kini berada di depannya! Si kakek putih duduk bersila di tengah sungai, tenggelam sampai sebatas lehernya. Bukan main! Hawa udara begitu dinginnya menyusup tulang, dan air sungai itu pun dinginnya melebihi salju, akan

 

tetapi kakek ini duduk bersila merendam diri, kelihatannya enak-enak tidur ataukah sedang semedhi dengan tenangnya! Akan tetapi bukan, ia bukan sedang tidur atau bersemedhi karena mulutnya mengomel panjang pendek, “Wah, panasnya, tak enak, sialan benar!” Hawa udara begitu dingin, berendam di air gunung lagi, masih mengeluh kepanasan!

Ada pun kakek merah tidak kalah anehnya. Kakek ini duduk di pinggir sungai, bersila di atas tanah, dikelilingi api unggun yang menyala besar. Jarak antara tubuh kakek itu dengan api yang mengelilinginya kurang dari satu meter, seluruh tubuhnya yang sudah merah itu menjadi makin merah. Di depannya terdapat sebuah periuk terisi air yang digodok di atas api, air yang mendidih. Dapat dibayangkan betapa panasnya dikurung api besar sedekat itu, akan tetapi kakek ini malah menggigil kedinginan dan kedua tangannya berganti-ganti ia masukkan ke dalam periuk penuh air mendidih itu, lalu menyiram-nyiramkan air panas itu ke mukanya. “Waduh dinginnya, tak tertahankan, hu-hu-huuu… dingin…!”

Alangkah sombongnya mereka ini, pikir Suling Emas. Ia maklum bahwa kedua orang kakek ini memang sengaja berdemonstrasi seperti itu untuk memamerkan kepandaian mereka. Memang harus diakui bahwa demonstrasi ini jelas membuktikan kehebatan sinkang mereka yang dapat membuat tubuh menjadi kebal akan rasa panas mau pun dingin. Perbuatan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesaktian, yang tenaga sinkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi. Akan tetapi sungguh suatu cara menyombongkan kepandaian yang amat menggelikan kalau kepandaian seperti ini dibuat pamer, apa lagi terhadap dia!

Karena merasa yakin bahwa dua orang ini sengaja memamerkan kepandaian kepadanya maka terpaksa Suling Emas harus melayani mereka. Ia mendekati kakek putih yang berendam di dalam air sebatas leher itu. “Ah, Locianpwe, memang kau benar, hawanya amat panas, membuat orang ingin mandi terus. Akan tetapi aku tidak ada kesempatan mandi, biar kurendam saja kepalaku!” Setelah berkata demikian, Suling Emas lalu membenamkan kepalanya ke dalam air dan tidak dikeluarkannya dari dalam air sampai lama sekali!

Biar pun perbuatan ini hanya demonstrasi atau main-main, akan tetapi jelas menang setingkat kalau dibandingkan dengan kakek putih yang biar pun tubuhnya terendam air, akan tetapi hanya sebatas leher, kepalanya tidak. Dan merendamkan kepala ke dalam air sedingin itu, apa lagi sampai lama sekali, tentu lebih sukar dari pada merendam tubuh saja.

Ketika mendengar air itu berguncang cepat Suling Emas mengangkat kepalanya. Ia maklum bahwa pukulan dari dalam air dapat membuat air bergelombang dan kepalanya akan terancam bahaya luka di dalam kalau tergencet hawa pukulan melalui gelombang itu. Kiranya kakek putih sudah berdiri dalam air yang tingginya hanya sebatas pahanya, bajunya yang serba putih basah kuyup dan kakek itu memandang dengan mata marah.

Akan tetapi Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan segera menghapus muka dan kepalanya yang basah sambil menghampiri kakek merah yang duduk dikurung api unggun dan main-main air mendidih.

“Kau kedinginan, Locianpwe? Memang hawanya dingin bukan main. Untung kau membuat api unggun!” Sambil berkata demikian Suling Emas menghampiri api dan memasukkan kedua tangannya ke dalam api yang bernyala-nyala, bahkan membiarkan api itu bernyala menjilat leher dan mukanya!

“Bocah sombong! Berani kau memamerkan kepandaian kepada kami?!” Kakek putih membentak marah dari dalam sungai.

“Huah-hah-hah, orang muda, bukankah kau anjing penjaga Kim-sim Yok-ong? Apakah kau menantang kami?”

“Ji-wi Locianpwe, aku hanya mengimbangi cara kalian. Sama sekali bukan bermaksud pamer. Aku bukan penjaga, melainkan sahabat baik Kim-sim Yok-ong yang kalian ganggu dengan cara keji melukai banyak orang.”

“Huah-hah-hah, ada delapan orang yang mampus, kan? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan mereka?” kata lagi kakek merah sambil berdiri di tengah-tengah api unggun.

“Kailan dua orang tua benar-benar terlalu. Ji-wi ini siapakah dan mengapa melakukan pembunuhan keji hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong? Apakah dosanya orang-orang itu dan apa pula kesalahan Yok-ong yang selalu menolong orang tanpa pandang bulu? Tidak ada orang di dunia kang-ouw

 

ini yang tidak menaruh sayang dan hormat kepada Yok-ong yang berhati emas, akan tetapi kalian ini telah mempermainkannya.”

“Heh, bocah lancang! Siapakah kau berani bicara seperti ini kepada kami?” bentak si kakek putih.

“Ha-hah, apa peduliku dengan orang-orang kang-ouw cacing-cacing tiada guna itu?” kata pula kakek merah. “Kau siapakah, bocah lancang?”

“Orang mengenalku dengan sebutan Kim-siauw-eng, Si Suling Emas!”

“Suling Emas, agaknya kau merasa menjadi pendekar muda. Usiamu paling banyak tiga puluh tahun, masih bocah! Mana kau mengenal kami? Yang tua-tua pun belum tentu mengenal kami. Akan tetapi kalau kau mau tahu, aku adalah Lam-kek Sian-ong (Dewa Kutub Selatan) dan dia si putih itu adalah Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub Utara)! Nah, kau sudah mengenal kami sekarang, dan kau harus mampus!” Si kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah api dan… bagaikan bintang-bintang beterbangan, lidah-lidah api itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas!

Suling Emas kaget sekali. Baru ia tahu bahwa demonstrasi yang dilakukan kakek ini tadi hanyalah demonstrasi kecil saja, mungkin dilakukan karena memandang rendah kepadanya. Akan tetapi serangan yang dilakukannya kali ini, benar-benar hebat luar biasa, merupakan ‘pukulan berapi’ yang luar biasa, mengandung sifat panas melebihi api sendiri. Ia maklum bahwa inti tenaga Yang ini amat kuat, ia takkan mampu menandinginya kalau melawan dengan kekerasan, maka cepat Suling Emas menggunakan kipasnya mengebut sambil meloncat ke sana ke mari.

Api menyala-nyala yang menyambar itu merupakan api yang didorong oleh tenaga pukulan jarak jauh. Begitu terkena dikebut, arahnya menyeleweng dan karena kakek itu terus melakukan pukulan sedangkan Suling Emas terus mengibas sambil mengelak, tampaklah pemandangan yang indah. Api-api itu beterbangan, merah menyala dan padam apa bila runtuh menyentuh tanah, seperti kembang api yang dinyalakan orang untuk menyambut datangnya musim semi!

“Serahkan dia padaku!” seru si muka putih dan tiba-tiba dari arah sungai melayang sinar-sinar putih berkeredepan dan setelah dekat, Suling Emas merasa hawa dingin yang menembus kulit menyelinap ke tulang-tulang.

Kagetlah ia dan maklum bahwa juga kakek putih ini benar-benar sakti. Inti tenaga Im yang dimiliki kakek itu sudah sedemikian hebatnya sehingga ia mampu membuat air sungai dikepal menjadi salju atau es dan dilontarkan merupakan peluru-peluru yang mengandung hawa pukulan dingin mematikan! Seperti juga serangan api tadi, kini serangan es yang dingin tak mampu ia menghadapinya dengan perlawanan tenaga, maka ia pun cepat mengelak ke sana ke mari sambil menyelewengkan hujan es itu. Sebentar saja Suling Emas menjadi sibuk sekali, kipasnya mengibas hujan api dari kanan, sulingnya menangkis hujan peluru es dari kiri!

Ada pun kedua orang kakek itu agaknya begitu penasaran sehingga mereka tidak mau menggunakan cara lain untuk menyerang. Berkali-kali terdengar mereka berseru kaget dan kagum. “Aneh, dia dapat bertahan!” disusul seruan-seruan tak percaya, “Masa semua tidak mengenai sasaran?”

Agaknya karena penasaran inilah mereka terus melontarkan pukulan seperti tadi dan Suling Emas terus- menerus menangkis dan meloncat ke sana ke mari menyelamatkan diri tanpa mampu balas menyerang. Namun ginkang-nya memang sudah hebat dan gerakan kaki tangannya sudah sempurna, maka biar pun dihujani api dan es dari kanan kiri, pendekar ini tetap dapat mempertahankan diri. Sementara itu, senja sudah mulai terganti malam dan bulan mulai menampakkan dirinya. Bulan bundar dan penuh, kebetulan tidak ada awan menghalang, halimun pun sudah pergi, maka keadaan menjadi terang benderang.

“Suling Emas…! Mengapa kau tidak muncul? Takutkah engkau?” terdengar teriakan yang bergema, datangnya dari arah puncak.

Suling Emas sibuk sekali. Dua orang kakek ini lihai bukan main, tak mungkin ia dapat meninggalkan mereka. Ia pun tahu akan kelihaian dan kejahatan iblis-iblis yang berada di puncak. Kalau mereka tahu bahwa ada dua orang kakek asing yang amat sakti memusuhinya, tentu mereka akan mempergunakan kesempatan baik ini untuk memukul roboh padanya. Maka ia pun diam saja.

“Huah-hah-hah, agaknya bocah ini banyak musuhnya. Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), biar kita beri

 

kesempatan padanya untuk menghadapi musuhnya, baru nanti kita turun tangan, takkan terlambat.”

“Baiklah, Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah) kita nonton, sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh jaman sekarang!”

Seketika hujan api dan hujan es itu terhenti dan ketika Suling Emas memandang, kedua orang kakek itu sudah lenyap dari tempat itu! Ia menarik napas panjang, menyusut peluhnya dan berkata seorang diri, “Berbahaya…! Mereka benar lihai. Apa maksud kedatangan mereka di dunia ramai? Nama mereka tidak dikenal di dunia kang-ouw, tanda bahwa mereka adalah pertapa-pertapa yang puluhan tahun menyembunyikan diri. Mengapa sekarang tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu Kim-sim Yok-ong?” Suling Emas mengerutkan keningnya dan diam-diam ia ingin melihat gerakan ilmu silat mereka untuk mencoba-coba menerka, dari golongan manakah kakek merah dan kakek putih itu. Tingkat tenaga inti dari Im dan Yang sedemikian tingginya, kiranya hanya dicapai oleh para guru besar dari partai-partai persilatan besar pula, hasil latihan matang selama puluhan tahun.

“Suling Emas! Apakah kau tidak berani muncul?” kembali terdengar seruan suara parau yang menggunakan khikang.

Suling Emas mengenal suara ini, suara It-gan Kai-ong, maka ia lalu mengerahkan khikangnya, berseru keras. “Aku Kim-siauw-eng datang!”

Tubuhnya berkelebat cepat bagaikan terbang menuju ke puncak itu. Bulan purnama bersinar terang, dan Suling Emas memang sudah sering kali mendaki pegunungan ini sehingga ia hafal akan jalannya, maka di bawah penerangan bulan purnama, sebentar saja ia sudah sampai di puncak.

Ternyata mereka sudah hadir lengkap di puncak yang merupakan tanah terbuka ditumbuhi rumput hijau. Lengkap hadir para anggota Thian-te Liok-koai yang kini hanya tinggal lima orang itu. It-gan Kai-ong, Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, Toat-beng Koai-jin, dan adiknya, Tok-sim Lo-tong. Mereka sudah tidak sabar lagi menanti, dan mengomel panjang pendek ketika akhirnya Suling Emas muncul.

“Anggota Thian-te Liok-koai selalu berlomba untuk lebih dulu hadir dalam pertemuan mengadu kepandaian, membuktikan bahwa ia berani. Dia ini main lambat-lambatan, anggota macam apa ini?” Toat- beng Koai-jin mendengus dan marah-marah.

“Memang dia tidak patut menjadi anggota Thian-te Liok-koai! Cuhhh!” It-gan Kai-ong meludah dengan sikap menghina sekali.

“Sudah menjadi pendirian Thian-te Liok-koai bahwa anggota-anggotanya terdiri dari pada orang-orang gagah yang suka melakukan perbuatan berani dan gagah! Akan tetapi dia ini tidak gagah berani, melainkan lemah dan pengecut, buktinya dia selalu memperlihatkan watak lemahnya dengan menolong orang-orang!”

Mendengar ucapan Hek-giam-lo ini semua orang mengangguk-angguk membenarkan. Diam-diam Suling Emas mengeluh di dalam hatinya. Memang, baik dan jahat, gagah dan pengecut, semua hanya sebutan manusia, dan karenanya baik atau pun busuk, gagah atau pun pengecut, sepenuhnya tergantung dari pada orang yang mengatakannya, yaitu berdasarkan pandangannya.

Iblis-iblis berupa manusia ini memang wataknya berlainan dengan manusia biasa, akan tetapi mereka tidak sengaja bersikap demikian, karena memang menurut pendapat mereka, pandangan mereka itu pun benar pula! Dari jaman dahulu sampai kini banyak terdapat orang-orang seperti ini, yang hatinya sudah tertutup dan kotor sehingga pandangannya pun kotor dan nyeleweng tanpa mereka sadari.

Perbuatan ugal-ugalan, mengganggu orang, menindas, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan, mengganggu wanita baik-baik, menonjolkan kekurang-ajaran, semua perbuatan ini mereka anggap sebagai perbuatan gagah berani, atau setidaknya sebagai bukti bahwa mereka ini gagah berani dan mereka bahkan menjadi bangga karena perbuatan-perbuatan itu. Sebaliknya, orang-orang yang menghindari perbuatan-perbuatan semacam ini, yang selalu berusaha mengasihi sesamanya, mengulurkan tangan menolong sesamanya, dianggap sebagai tanda dari watak penakut dan pengecut!

“Hi-hi-hik!” Siang-mou Sin-ni tertawa terkekeh dan memasang muka semanis-manisnya ketika ia mendekati Suling Emas, memandang wajah yang tampan itu, lalu berkata, “Betapa pun juga, kepandaiannya cukup lumayan untuk membuat ia patut menjadi anggota Thian-te Liok-koai. Tentang sifat-sifat gagah berani itu,

 

biarlah kelak aku sendiri yang akan membimbingnya. Aku akan membuat hatinya lebih kuat dari pada hati kalian, aku akan mengajarnya menjadi seorang yang paling gagah dan paling berani di dunia ini!” Kembali iblis betina itu terkekeh dan dari rambutnya tercium semerbak bau wangi. Tentu saja yang dimaksudkan dengan ‘hati kuat’ adalah hati yang kejam dan ganas, sedangkan ‘gagah berani’ adalah suka melakukan perbuatan yang paling jahat dan mengerikan.

Ketika Siang-mou Sin-ni mengulurkan tangan hendak menggandengnya, Suling Emas melangkah mundur sambil mengelak.

“Eh, Suling Emas, mengapa kau mundur? Bukankah tadi kita sudah main-main dan permainan bersama kita menghasilkan perpaduan yang sedap didengar? Percayalah, kalau kau dan aku bersatu, kelak kita akan mempunyai seorang putera yang akan menjadi raja yang menguasai seluruh jagad!”

Suling Emas melangkah maju dan berkata, suaranya keren, “Dengarlah kalian berlima! Aku datang bukan dengan maksud hendak menjadi anggota Thian-te Liok-koai, oleh karena itu tidak perlu kalian menilai diriku apakah aku patut atau tidak menjadi rekan kalian! Aku datang mewakili mendiang ibuku yang ditantang oleh It-gan Kai-ong untuk ikut dalam adu ilmu di antara Thian-te Liok-koai, dan di samping itu, aku hendak minta kembali tongkat pusaka Beng-kauw dari tangan Hek-giam-lo, juga sekalian aku memang mempunyai perhitungan dengan kalian semua. It-gan Kai-ong harus mengembalikan kitab yang dirampasnya dari tangan Locianpwe Bu Kek Siansu, juga Hek-giam-lo, sedangkan Siang-mou Sin-ni harus mengembalikan yang-khim. Ada pun Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong yang kena dibujuk It-gan Kai-ong untuk menjadi kaki tangan Suma Boan, sebaiknya kembali saja ke tempat asal kalian di pulau-pulau kosong!”

“Wah-wah, dia cukup berani! Memaki-maki kita, mengusir kami berdua! Biarkan dia ikut dalam adu kepandaian!” kata Toat-beng Koai-jin. Memang tokoh-tokoh hitam ini paling suka melihat orang yang berani, apa lagi yang kejam, karena watak ini cocok dengan selera mereka.

“Baiklah, kita mulai dan kali ini kita harus bersungguh-sungguh untuk dapat menentukan urutan tingkat dalam Thian-te Liok-koai, siapa yang paling pandai disebut twako (kakak tertua), yang kedua ji-ko (kakak kedua) dan seterusnya. Yang mampus dalam adu ilmu ini takkan dikubur, bangkainya akan menjadi makanan binatang buas dan burung gagak, tulang-tulangnya akan diperebutkan anjing-anjing hutan!” kata It-gan Kai-ong sambil meludah-ludah.

“Bagus, kita mulai!” teriak Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo berbareng.

Lima orang itu serentak meloncat mundur, masing-masing melompat mundur kira-kira dua tombak jauhnya dan kini mereka memasang kuda-kuda, mata mereka melirik-lirik mencari korban. Karena maklum bahwa mereka ini adalah orang-orang sakti yang aneh, Suling Emas juga tidak mau menjadi sasaran di tengah- tengah dan ia pun melompat mundur. Kini enam orang itu merupakan lingkaran yang menghadap ke dalam, menanti saat untuk merobohkan lawan dalam pertandingan campuran itu, di mana tidak ada kawan, semua adalah lawan yang harus dikalahkan, kalau perlu dibunuh!

“Siapa berani menyerangku?” It-gan Kai-ong mengejek.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Tok-sim Lo-tong yang menerjangnya dari samping kiri sambil mengeluarkan senjatanya yang berupa seekor ular hidup. Terjangan ini dibarengi pekik nyaring yang tidak menyerupai pekik manusia lagi, melainkan lebih pantas keluar dan mulut seekor binatang buas atau agaknya begitulah suara iblis.

Memang aneh sekali watak orang-orang ini. Tok-sim Lo-tong bersama kakaknya, Toat-beng Koai-jin tadinya dapat diperalat It-gan Kai-ong dan bekerja sama dengan raja pengemis itu. Akan tetapi dalam pertemuan di puncak Thai-san ini, di mana mereka hendak memperebutkan kedudukan sebagai saudara tua yang paling lihai di antara mereka, lenyaplah segala persahabatan, segala hubungan, satu-satunya nafsu yang menguasai mereka adalah menang sendiri dan menjadi jagoan nomor satu!

Serangan Tok-sim Lo-tong ini hebat sekali, tangan kirinya yang mencengkeram ke depan mengeluarkan sambaran angin pukulan yang mengeluarkan bunyi seperti suara tikus, bercicitan, sedangkan ular yang ia pegang dengan tangan kanan itu meluncur ke depan menggigit dan mengeluarkan racun dari semburan mulutnya!

Jangan dipandang rendah racun ular itu karena binatang yang dijadikan senjata ini adalah ular beracun yang amat berbahaya, yang mempunyai bisa disebut ‘racun api’ karena racun itu dapat membakar hangus

 

apa saja yang disentuhnya. Juga cengkeraman tangan kiri Bocah Tua Hati Racun (Tok-sim Lo-tong) ini mengandung tenaga dalam yang penuh dengan racun dingin, merupakan racun yang berlawanan dengan ular di tangan kanannya, namun tidak kalah hebatnya karena sekali saja pukulan tangan kirinya mengenai sasaran, dapat membikin beku jantung dan darah.

Namun Tok-sim Lo-tong boleh jadi berbahaya bagi lawan manusia biasa, menghadapi It-gan Kai-ong ia menemukan tanding. Dengan suara ketawa terbahak raja pengemis ini menyambut serangan Tok-sim Lo- tong dengan sama dahsyatnya. Kakek mata satu ini mengangkat tongkat bututnya, ditusukkan ke arah mulut ular sedangkan dia sendiri meludah tiga kali berturut-turut yang ditujukan ke arah tiga jalan darah di sepanjang lengan kiri lawan yang menyerangnya. Jadi serangan Tok-sim Lo-tong itu dibalas serangan pula oleh It-gan Kai-ong!

“Uh-uh!” Lo-tong menjerit marah dan tentu saja ia menggerakkan kedua lengannya, yang kanan untuk menghindarkan ularnya dari tusukan maut sedangkan yang kiri untuk menghindari sambaran air ludah yang lebih berbahaya dari pada senjata rahasia beracun. Kemudian ia mendesak lagi dengan memutar ularnya seperti kitiran angin cepatnya, sedangkan tangan kirinya tetap melakukan pukulan sebagai selingan.

“Heh-heh-heh!” It-gan Kai-ong tertawa mengejek dan ia pun memutar tongkatnya mengimbangi lawan dan di lain saat keduanya sudah berhantam dengan seru.

Biar pun tongkat di tangan It-gan Kai-ong itu hanya tongkat butut, namun kalau sudah ia mainkan seperti itu dapat melawan senjata baja yang bagaimana keras dan tajam pun. Sebaliknya, senjata hidup di tangan Tok-sim Lo-tong juga demikian. Kecuali bagian lemah yang terletak di mulut dan mata ular itu, tubuh ular telah dilindungi kulit yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam. Pertandingan antara dua orang tokoh iblis dunia ini hebat sekali. Angin yang berputar-putar seperti angin puyuh membuat pohon-pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang dan daun-daun pohon banyak yang rontok!

Sementara itu, Hek-giam-lo, orang kedua yang sama licik dan curangnya dengan It-gan Kai-ong, segera menggerakkan senjata sabitnya yang mengerikan dan tajam seperti pisau cukur itu. Tanpa peringatan lagi ia menerjang Toat-beng Koai-jin yang berdiri di sebelah kirinya. Mengapa ia memilih lawan Toat-beng Koai- jin? Inilah kecerdikan setan hitam itu. Menurut perhitungannya, dibandingkan dengan Siang-mou Sin-ni, apa lagi dengan Suling Emas, Toat-beng Koai-jin ini adalah lawan yang lebih empuk, maka ia tidak menyia- nyiakan waktu terus saja meniilih Toat-beng Koai-jin sebagai lawannya yang ia yakin akan dapat ia jatuhkan dalam waktu singkat.

Toat-beng Koai-jin si manusia liar bertelanjang baju yang gendut berpunuk seperti kerbau itu menggereng seperti binatang beruang luka, kemudian kedua tangannya mencakar-cakar dengan kuku-kukunya yang panjang runcing. Di lain saat sudah ada tiga buah batu besar dan dua batang pohon menyambar ke arah Hek-giam-lo. Iblis Hitam ini tentu saja dapat mengelak cepat, akan tetapi ketika ia menerjang lagi, si punuk liar itu sudah memegang sebatang pohon besar, dipergunakan sebagai senjata, mengamuk dan menerjang Hek-giam-lo!

Repot juga Hek-giam-lo diterjang dengan senjata pohon yang penuh cabang ranting dan daun-daun itu. Ia membabat dengan sabitnya dan beterbanganlah daun-daun dan ranting pohon itu bagaikan hujan. Sebentar saja pohon di tangan Toat-beng Koai-jin sudah tinggal batangnya saja yang dipergunakan oleh Toat-beng Koai-jin sebagai senjata tongkat besar. Tongkatnya yang sebesar balok bergaris tengah tiga puluh senti itu ia putar-putar di atas kepala sehingga sinar bayangannya menyelimuti seluruh tubuhnya.

Segera kedua orang iblis ini sudah saling terjang dan terlibat dalam pertandingan yang tidak kalah serunya dengan pertandingan antara It-gan Kai-ong dan Tok-sim Lo-tong. Hanya bedanya, pertandingan ini mengakibatkan batu-batu kecil beterbangan ke atas dan tanah menjadi debu bergulung-gulung menyuramkan pandangan mata yang hanya diterangi sinar bulan purnama.

Suling Emas sudah siap siaga ketika ia melihat orang terakhir, Siang-mou Sin-ni melangkah dan menghampirinya dengan langkah seperti harimau lapar, dengan pinggul digoyang-goyang, lenggang dibuat-buat, disertai senyum manis dan sepasang mata berkilat-kilat memantulkan sinar bulan. Deretan gigi putih berkilauan mengintai dari balik bibir mengulum senyum, Suling Emas bersikap makin waspada dan siap, karena ia cukup mengenal iblis betina ini. Makin manis sikapnya, makin berbahayalah iblis ini.

Diam-diam ia harus mengakui kecantikan Siang-mou Sin-ni. Seorang wanita yang sudah masak, yang sukar dicari cacatnya dari rambut yang halus hitam panjang berbau harum itu sampai kepada wajah cantik

 

jelita dan bentuk tubuh yang ramping padat dan sepasang kaki tangan yang kecil menarik. Patut disayangkan seorang wanita yang berdarah bangsawan Kerajaan Hou-han ini tersesat menjadi seorang manusia iblis yang keji.

Kalau Suling Emas teringat akan perbuatan-perbuatan jahat Siang-mou Sin-ni, lenyaplah rasa sayang dan kasihannya. Entah berapa banyak manusia dan kanak-kanak tidak berdosa tewas di tangan iblis wanita ini, dihisap darahnya hidup-hidup untuk dijadikan obat kuat! Mengingat akan kekejaman ini, ia bergidik dan timbul niatnya untuk membasmi wanita iblis ini agar lenyap sebuah ancaman bagi keselamatan manusia.

Akan tetapi wanita itu tidak segera menyerangnya seperti yang disangka oleh Suling Emas, bahkan mendekatinya sambil tersenyum-senyum dan matanya mengerling tajam.

“Suling Emas, biarkan si goblok itu saling gempur sendiri. Kita tidak begitu goblok untuk bunuh-membunuh di malam seindah ini, bukan? Lihat, betapa indahnya bulan, betapa cemerlang dan sejuknya hawa udara. Suling Emas, kita biarkan mereka itu saling gebuk dan saling bunuh, nanti dengan mudah kita bereskan mereka semua anjing-anjing busuk itu. Sekarang mari kita menonton mereka sambil mengobrol di bawah sinar bulan purnama, asyik dan nikmat, kan? Aku merindukan dirimu semenjak pertama kita di sini dahulu. Marilah, sayang!” Sambil berkata demikian, dengan bibir tersenyum dan mata setengah terkatup wanita itu mengembangkan kedua lengannya seperti hendak memeluk Suling Emas.

Suling Emas melangkah mundur, mengibaskan lengan bajunya dengan marah. “Siang-mou Sin-ni, simpanlah bujuk rayumu untuk orang lain. Aku bukanlah laki-laki seperti yang kau kehendaki. Lebih baik kau insyaflah, tebus dosa-dosamu dengan bertapa dan membersihkan batin. Kalau tidak, mungkin aku sendiri yang akan mengantar kau kembali ke alam asalmu!”

Tiba-tiba sepasang mata yang tadi setengah terkatup bersinar mesra itu terbuka lebar dan sinarnya kini penuh kekejian. Mulut itu masih tersenyum, akan tetapi matanya membayangkan kebencian yang memuncak. Kemudian, tiba-tiba wanita itu menjerit dan menubruk maju, didahului rambutnya yang panjang menyambar hendak menangkap Suling Emas. Wanita yang tadinya seperti seorang puteri jatuh cinta, yang gerakannya lemah gemulai dan penuh bujuk rayu itu, kini tiba-tiba berubah menjadi siluman betina yang haus darah!

“Kalau begitu, mampuslah kau!” teriaknya mengikuti serbuannya.

Suling Emas cepat menggerakkan kipasnya mengebut pergi rambut itu dan sulingnya berkelebat menjadi sinar keemasan menotok ke arah leher Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi wanita sakti ini dapat mengelak dan melanjutkan serangannya dengan dahsyat dan penuh kebencian. Kini tangan kirinya memegang sebuah yang-khim sebagai senjata dan bertempurlah mereka berdua dengan seru dan mati-matian.

Tempat yang indah dan romantis, puncak Thai-san yang biasanya sunyi hening dan yang tentu akan menarik perhatian kaum pertapa sebagat tempat suci itu kini menjadi medan pertandingan mati-matian yang mengerikan. Enam orang yang sedang bertempur itu kesemuanya memiliki kesaktian yang tinggi. Angin pukulan mereka membuat daun-daun rontok, semua batu-batu pecah berhamburan dan debu mengebul tinggi. Suara angin pukulan mereka berciutan mengerikan dan dalam jarak belasan meter batang-batang pohon yang terlanda angin pukulan berguncang-guncang seperti didorong oleh tenaga raksasa.

Dasar lima orang manusia iblis itu berwatak aneh dan liar, maka dalam melakukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling unggul, sama sekali tidak dipergunakan aturan sehingga pertempuran itu menjadi kacau-balau dan penuh nafsu membunuh. Dan memang masing-masing memiliki keistimewaan sendiri maka tidaklah mudah bagi yang seorang untuk mengalahkan yang lain.

Betapa pun juga, menghadapi It-gan Kai-ong yang luar biasa dan yang telah memiliki sebagian dari pada kitab rampasan dari Bu Kek Siansu, lambat-laun Tok-sim Lo-tong terdesak hebat. Karena merasa penasaran bahwa Tok-sim Lo-tong selalu dapat menahan serangannya sungguh pun ia sudah mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya It-gan Kai-ong memekik keras dan mulailah ia menggerakkan tongkatnya menurut ilmu barunya yang ia pelajari dari kitab rampasannya yang hanya setengahnya itu. Namun hasilnya sudah hebat sekali. Serangkum angin pukulan berpusing menyerbu ke arah Tok-sim Lo- tong. Iblis ini mengeluarkan seruan kaget, cepat ia memutar pula ularnya.

“Prakkk!” ujung tongkat It-gan Kai-ong tepat sekali menghantam kepala ular sehingga kepala ular itu pecah berantakan.

 

Tok-sim Lo-tong menjerit marah dan ia menyambitkan bangkai ular ke arah lawannya. Namun sekali menangkis, bangkai ular itu terlempar ke samping, ke arah gerombolan pepohonan di sebelah kiri. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh seseorang yang tak dikenal terguling-guling roboh, sebagian dari tubuh ular itu masuk ke dalam dadanya. Demikian hebatnya sambitan itu! Kiranya orang yang terkena sambitan itu adalah seorang tosu yang tadinya menonton sambil bersembunyi.

Pada saat berikutnya terdengar Siang-mou Sin-ni terkekeh genit. Rambutnya menyambar ke kanan dan di saat berikutnya rambutnya telah ‘menangkap’ seorang hwesio yang tak mampu melepaskan diri, biar pun sudah meronta-ronta sekuat tenaga. Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan tubuh hwesio itu terangkat lalu diputar-putar seperti kitiran, dijadikan senjata melawan Suling Emas!

“Iblis keji! Lepaskan dia!” seru Suling Emas yang terpaksa mengelak ke sana-sini karena tidak mau menangkis yang akibatnya tentu menewaskan hwesio penonton yang tak bersalah itu.

Akan tetapi Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh dan terus menerjang makin hebat. Dengan menggunakan ginkang-nya, Suling Emas mendahului meloncat ke atas dan dari atas sulingnya bergerak menghantam rambut yang mengikat hwesio itu, sedangkan tangan kirinya merampas tubuh si hwesio. Hwesio itu dapat terampas dan terlepas, akan tetapi alangkah kaget hati Suling Emas melihat bahwa hwesio itu sudah tewas, lehernya hampir putus oleh jiratan rambut tadi! Ia melemparkan mayat itu ke samping lalu menerjang maju penuh kemarahan. Wanita iblis itu menyambutnya sambil terkekeh mengejek.

Agaknya sudah banyak berkumpul tokoh-tokoh kang-ouw yang cukup tabah untuk menonton pertandingan hebat ini, yang memang sudah tersiar luas di dunia kang-ouw. Celakanya, ketabahan ini harus dibayar mahal sekali sehingga dalam waktu beberapa detik saja, dua orang sudah menjadi korban. Lebih hebat lagi, agaknya hal ini menimbulkan kegembiraan hati orang-orang yang buas dan liar itu, karena terdengar It-gan Kai-ong tertawa-tawa, untuk sementara mengurangi desakannya pada Tok-sim Lo-tong dan ia meludah sejadi-jadinya ke kanan kiri.

Terdengar teriakan-teriakan dan beberapa orang sudah terluka oleh ludah-ludah itu. Sibuklah kini di balik pepohonan itu karena orang-orang yang tadinya menonton mulai jeri, beramai-ramai mengundurkan diri sambil membawa teman-teman yang tewas atau terluka. Akan tetapi tampak sinar terang berkelebat dan dua orang di antara mereka terjungkal tanpa kepala lagi. Kiranya Hek-giam-lo tidak mau ketinggalan dan berpesta dengan senjata sabitnya. Hal ini ditambah dengan hujan batu besar dan pohon-pohon yang dilontarkan oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong!

Setelah para penonton yang tak diundang itu kalang-kabut pergi menjauhi tempat maut itu, pertandingan dilanjutkan, lebih gembira dan lebih dahsyat dari pada tadi. Tok-sim Lo-tong kini sudah meniru kakaknya, menggunakan sebatang pohon untuk menghadapi It-gan Kai-ong. Akan tetapi karena keistimewaannya adalah senjata ular hidup, ia tidaklah begitu cekatan seperti kakaknya. Beberapa belas jurus kemudian, tongkat It-gan Kai-ong yang gerakannya berpusing aneh itu berhasil mengetuk tangannya sehingga sambil berteriak kesakitan Tok-sim Lo-tong terpaksa melepaskan senjatanya sambil bergulingan ke kiri, dikejar It- gan Kai-ong yang tertawa-tawa.

Ketika Tok-sim Lo-tong terguling di dekat Hek-giam-lo, mendadak iblis hitam ini meninggalkan Toat-beng Koai-jin dan mengayun sabitnya membacok ke arah kepala Tok-sim Lo-tong! Iblis gundul kurus kering ini cepat mengelak sambil meloncat berdiri sehingga sabit itu luput makan lehernya dan amblas ke dalam tanah sambil mengeluarkan api ketika terbentur batu-batu yang terbabat seperti agar-agar saja!

Terdengar teriakan keras dan pohon besar di tangan Toat-beng Koai-jin menyambar ke arah Tok-sim Lo- tong yang baru saja terbebas dari maut di tangan Hek-giam-lo. Tok-sim Lo-tong meloncat tinggi menghindari serangan kakaknya sendiri, akan tetapi ia terhuyung-huyung oleh sambaran angin pukulan dengan batang pohon ini. Hebatnya, Siang-mou Sin-ni agaknya melupakan Suling Emas dan kini wanita itu pun menerjang Tok-sim Lo-tong yang sudah terhuyung-huyung, menggunakan rambutnya yang panjang mengirim serangan maut!

Suling Emas berdiri bengong. Lima orang itu memang patut dijuluki iblis. Mereka begitu licik dan curang sehingga dalam pertandingan menentukan kedudukan ini, mereka tidak segan-segan untuk menggunakan serangan-serangan maut mengeroyok Tok-sim Lo-tong yang terdesak hebat. Bahkan Toat-beng Koai-jin, kakak Tok-sim Lo-tong sendiri, ikut pula mengeroyok seakan-akan lupa bahwa yang dikeroyok itu adalah adiknya sendiri! Adakah manusia yang lebih ganas dari pada mereka ini?

 

Namun kepandaian Tok-sim Lo-tong boleh dipuji. Biar pun ia tadi terhuyung-huyung, namun menghadapi serangan Siang-mou Sin-ni, ia masih dapat menggerakkan kedua tangan mengirim pukulan-pukulan dengan sinkang sehingga gumpalan rambut yang menyambar ke arahnya itu dapat tertahan oleh hawa pukulannya, malah kini tangannya membentuk cakar setan untuk mencengkeram rambut itu!

Pada saat itu tampak berkelebatnya sabit Hek-giam-lo yang membabat ke arah tangannya sehingga terpaksa Tok-sim Lo-tong menarik kembali tangannya. Tongkat It-gan Kai-ong menyambutnya dari belakang dan batang pohon di tangan Toat-beng Koai-jin juga sudah menyambar pula dari depan! Tok-sim Lo-tong sibuk mengelak dan menggunakan ilmunya menggelinding seperti bola ke sana ke mari, gesit dan cepat sekali. Namun empat orang pengeroyoknya tidak memberi ampun dan pada saat ia meloncat bangun menghindarkan bacokan Hek-giam-lo, pundaknya keserempet tongkat It-gan Kai-ong. Si gundul kurus kering ini memekik kesakitan dan membalikkan tubuh hendak mengamuk. Namun cabang-cabang pada batang pohon yang menyambarnya telah menyapu kakinya sehingga ia roboh terguling.

“Tranggggg!” Sinar kuning emas menangkis sabit yang membacok kepala Tok-sim Lo-tong dan menangkis pula tongkat It-gan Kai-ong, bahkan kipasnya mengebut rambut-rambut Siang-mou Sin-ni.

Kiranya Suling Emas yang menolong Tok-sim Lo-tong. Pendekar ini tak dapat tinggal diam saja menyaksikan pertandingan yang berat sebelah dan tidak adil. Mana ada aturan mengeroyok orang yang sudah terdesak? Benar-benar mereka itu tidak mengenal watak gagah, tidak mau peduli akan norma- norma yang berlaku pada tokoh-tokoh kang-ouw.

Sungguh pun golongan hitam yang terdiri dari para penjahat, biasanya mereka masih enggan melakukan perbuatan yang memalukan dan bersifat pengecut. Akan tetapi iblis-iblis ini benar-benar tak tahu malu dan terpaksa Suling Emas turun tangan membantu Tok-sim Lo-tong yang dikeroyok oleh empat orang rekan- rekannya para anggota Thian-te Liok-koai, termasuk kakaknya sendiri Toat-beng Koai-jin!

Campur tangan Suling Emas membuat pertandingan menjadi kacau-balau dan secara otomatis mereka itu masing-masing memilih lawan terdekat dan di lain saat It-gan Kai-ong sudah bergebrak melawan Hek- giam-lo, Siang-mou Sin-ni bertanding dengan Toat-beng Koai-jin, sedangkan Tok-sim Lo-tong yang kini sudah menyambar sebatang pohon itu kini menyerang mati-matian kepada Suling Emas yang baru saja membebaskannya dari pada ancaman maut! Semua keadaan yang tidak tahu aturan, tidak mengenal budi, dan liar ganas seenaknya sendiri ini berjalan tanpa kata-kata.

Diam-diam Suling Emas menjadi bingung juga. Ia tidak mau terlalu mendesak Tok-sim Lo-tong karena ia tahu bahwa begitu si gundul kurus kering ini ia desak, tentu yang lain-lain akan turun tangan mengeroyok Tok-sim Lo-tong! Oleh karena inilah maka ia hanya mempertahankan diri sambil memperhatikan jalannya pertandingan antara pasangan-pasangan lain. Juga ia sempat melihat bahwa banyak juga tokoh kang-ouw yang masih bersembunyi menonton, akan tetapi mereka kini tidak berani terlalu mendekati tempat itu, melainkan nonton dalam jarak yang cukup aman.

Mendadak terdengar suara ‘cring-cring-cring’ yang amat nyaring dan menggetarkan jantung. Suling Emas kaget sekali, mengenal suara itu yang ternyata keluar dari alat musik yang-khim di tangan Siang-mou Sin- ni! Betul saja, karena bertanding melawan Siang-mou Sin-ni, Toat-beng Koai-jin yang terserang suara ini tidak kuat melawan pengaruh suara yang mengikat semangat ini, ilmu yang dicuri oleh Siang-mou Sin-ni menggunakan yang-khim milik Bu Kek Siansu.

Kakek berpunuk yang liar itu tiba-tiba menjadi pucat dan terhuyung-huyung ke belakang. Tahu-tahu kedua kakinya sudah terkena sambaran rambut Siang-mou Sin-ni yang menariknya sehingga kakek liar itu terjengkang ke belakang. Seperti tadi ketika Tok-sim Lo-tong terdesak, kini mereka berempat, Hek-giam-lo, It-gan Kai-ong, dan Tok-sim Lo-tong bersama Siang-mou Sin-ni serentak menyerang Toat-beng Koai-jin yang sudah roboh!

“Pengecut, tahan!” seru Suling Emas melompat untuk membantu Toat-beng Koai-jin.

Namun Suling Emas terlambat karena ketika ia tiba di dekat kakek itu, sabit di tangan Hek-giam-lo telah membacok kepala, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong sudah menusuk dada dalam detik hampir berbareng, sedangkan rambut Siang-mou Sin-ni yang terbagi menjadi dua merobek tubuh kakek itu dengan menarik kedua kaki ke kanan kiri disusul oleh hantaman balok pohon oleh Tok-sim Lo-tong. Betapa pun saktinya Toat-beng Koai-jin, tubuhnya seketika menjadi remuk dan terobek-robek, hancur!

“Kejam! Kalian iblis-iblis ganas!” bentak Suling Emas yang segera mengamuk dengan sulingnya. Saking

 

hebatnya gerakan Suling Emas, Tok-sim Lo-tong tak dapat menghindarkan dirinya dan sekali dadanya terkena totokan suling, kakek ini pun roboh dengan nyawa putus, rohnya melayang menyusul kakaknya.

“Heh-heh-heh, Toat-beng Koai-jin menjadi anggota ke enam karena dia mampus lebih dulu. Tok-sim Lo- tong menjadi anggota kelima, setingkat lebih tinggi dari pada kakaknya. Lucu!” kata It-gan Kai-ong tertawa- tawa. Hek-giam-lo hanya mendengus dan Siang-mou Sin-ni cekikikan. Kini tinggal empat orang yang masih hidup dan otomatis mereka berdiri di empat sudut, memasang kuda untuk memperebutkan kemenangan.

“Kalian iblis-iblis ganas, malam ini aku Suling Emas bersumpah hendak membasmi kalian bertiga!” seru Suling Emas. Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak cepat sekali dan dia sekaligus sudah membagi-bagi serangan kepada tiga orang lawannya secara beruntun.

Karena maklum bahwa tiga orang lawannya ini merupakan orang-orang terlihai dari Thian-te Liok-koai, maka dalam serangannya ini Suling Emas mengeluarkan ilmunya berdasarkan Hong-in-bun-hoat yang dahulu ia terima dari Bu Kek Siansu. Tidak saja gerakannya berdasarkan ilmu silat huruf yang hebat ini, juga ia mengerahkan tenaga Kim-kong Sin-im sehingga ketika bergerak sulingnya mengeluarkan bunyi yang dahsyat dan menggetarkan isi dada ketiga orang lawannya.

Hebat sekali gerakan Suling Emas ini. Sulingnya berubah seperti halilintar menyambar, sinarnya menyilaukan mata para lawannya. Apa lagi dibarengi suara melengking tinggi itu, benar-benar mengejutkan lawan yang sambil memekik mereka melompat mundur dengan gerakan mempertahankan diri. Mereka selamat dari penyerangan pertama ini, namun tidak urung mereka merasa gentar juga dan jantung mereka berdebar-debar.

Tiga orang iblis ini adalah orang-orang yang cerdik dan licik. Maklumlah mereka bahwa pendekar muda ini benar-benar tak boleh dibuat main-main, kepandaiannya meningkat hebat semenjak pertemuan terakhir. Oleh karena itu kini pendirian mereka pun berubah. Mereka tidak mau saling serang antara kawan sendiri dan bermaksud menggabungkan tenaga tiga orang untuk menghadapi Suling Emas. Tanpa kata-kata, tiga orang iblis ini sudah bersepakat dalam hal ini, maka otomatis mereka melakukan gerakan menyudut dan mengurung Suling Emas dari sudut segi tiga.

Rambut yang hitam halus dan panjang dari Siang-mou Sin-ni melebar tegak lurus seperti duri landak, penuh tenaga dan siap dipergunakan, sedangkan alat musik khim yang berada di tangan kanannya diangkat ke atas kepala, digerak-gerakkan perlahan untuk mengubah-ubah posisi, mencari kesempatan yang baik. Wanita yang cantik ini sekarang kelihatan mengerikan dan agaknya pantas kalau mulutnya yang menyeringai itu diberi tambahan caling di kanan kiri seperti gambar siluman betina yang haus akan darah manusia.

Hek-giam-lo juga berdiri dengan siap. Kedua kakinya terpentang lebar, kokoh kuat, mukanya yang berkedok tengkorak amat mengerikan karena dari lubang di bagian matanya berjelalatan. Sabit yang tajam berkilau diangkat tinggi ke atas, terkena sinar bulan berkeredepan menyilaukan, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka didorong lurus ke depan, seperti tangan setan hendak mencengkeram korbannya.

Yang paling menjijikkan adalah It-gan Kai-ong. Kakek raja pengemis ini berdiri agak terbongkok dengan kedua kakinya ditekuk rendah bagian lututnya. Tongkat bututnya melintang di depan dada, matanya yang tinggal sebelah itu merah terbelalak tak pernah berkedip, mulutnya agak terbuka dan air liurnya menetes- netes dari ujung kanan.

Suling Emas yang terkurung di tengah-tengah tampak tenang-tenang saja. Lenyap sudah kerut merut kemarahan dari mukanya. Memang pendekar sakti ini sudah berhasil menghalau nafsu marah di hatinya dan inilah syarat utama bagi seorang pendekar silat, yaitu tidak boleh sekali-kali dipengaruhi nafsu perasaan di hatinya. Ia berdiri dengan kuda-kuda biasa, kaki kiri diangkat ke atas dengan lutut ditekuk, kaki kanan berdiri di ujung jari kaki.

Suling di tangan kanannya melintang di depan kening, tangan kiri memegang kipas biru yang bergerak- gerak, tertutup terbuka, perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi. Sepasang matanya tidak memandang ke mana-mana, seakan-akan memandang ujung hidungnya sendiri seperti keadaan seorang dalam semedhi, namun seluruh urat syarafnya telah ‘dipasang’ dan panca inderanya mengikuti gerak-gerik tiga orang lawannya.

Sunyi hening di saat itu. Empat orang itu seperti patung-patung mati, bahkan pernapasan mereka pun tidak terdengar. Jengkerik dan walang yang biasanya ramai berdendang menghias kesunyian puncak, kini

 

berhenti seakan-akan mereka ikut nonton dengan penuh ketegangan dan kecemasan, seperti para tokoh kang-ouw yang sembunyi sambil menonton di sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba empat ‘patung’ itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata biasa, disertai suara-suara mengejutkan.

“Hiaaaaattttt!” sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar cepat sekali, seperti kilat dan hanya tampak cahayanya saja.

“Siuuuttttt!” hanya satu sentimeter saja selisihnya dari leher Suling Emas yang dengan mudah miringkan tubuh membiarkan sabit menyambar di dekatnya.

“Huah-ha-ha-ha… wuuuuttttt!” Tongkat It-gan Kai-ong melakukan serangan tusukan maut dari samping selagi Suling Emas miringkan tubuh, disusul pada detik berikutnya oleh sambaran yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni yang menghantam pusar dengan gerakan kuat-kuat sehingga yang-khim mengeluarkan bunyi berdesing.

Namun dengan amat cekatan, seakan-akan berubah menjadi segulung asap, Suling Emas sudah bergerak menyelinap di antara gulungan sinar senjata lawan dan tak sebuah pun di antara hujan senjata lawan dan tak sebuah pun di antara lembaran rambut Siang-mou Sin-ni yang mengirim serangan susulan dapat menyentuhnya!

Namun Hek-giam-lo sudah menerjang lagi, sabitnya menyambar-nyambar laksana burung hantu dari udara. Sedangkan tongkat It-gan Kai-ong juga bergerak-gerak seperti ular hitam menotok pelbagai jalan darah mematikan, dibantu oleh hantaman-hantaman yang-khim dan sambaran-sambaran rambut yang mengeluarkan suara berciutan. Suling Emas memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya. Ia meloncat, mendekam, memutar tubuh, berjungkir-balik.

Setelah lewat lima menit mereka berempat bergerak-gerak sedemikian cepatnya sehingga bayangan mereka campur aduk menjadi satu, tampak Suling Emas meloncat tinggi sekali dan tahu-tahu sudah berdiri sejauh empat meter di depan tiga orang lawannya. Kembali seperti tadi, mereka berempat tak bergerak, saling pandang penuh rasa benci dan penasaran. Kini Suling Emas tidak terkurung lagi, melainkan menghadapi mereka bertiga yang berada di depannya.

Perlahan-lahan tiga orang itu melangkah maju dan otomatis membentuk barisan segi tiga. Namun Suling Emas tidak mau terkurung lagi. Ia ingin membalas, tidak mau dijadikan umpan serangan mereka tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali. Ia maklum bahwa kecepatan mereka itu amat hebat dan kalau ia sudah terkurung seperti tadi, serangan mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan keadaan demikian itu tentu saja amat berbahaya dan tidak menguntungkan. Ia tersenyum mengejek, lalu berkata.

“Bagus, tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai! Menghadapi aku saja dengan tiga lawan satu, kalian gentar, apa lagi mau menghadapi mendiang Ibuku! Eh, apakah kalian takut? Kalau takut….”

“Sssrrr… srrr… srrrrr…!” “Cuiiiiittttt…!”
“Sing… sing… singgg!”

Suling Emas tentu saja sudah waspada. Malah ini yang ia kehendaki, maka ia tadi sengaja mengejek untuk memanaskan hati mereka. Pancingannya berhasil karena secara beruntun mereka melepas senjata rahasia.

Pertama-tama Siang-mou Sin-ni yang melontarkan jarum-jarum beracun dari arah kiri, sebanyak tujuh belas yang kesemuanya menuju ke jalan-jalan darah utama. Kemudian disusul oleh senjata rahasia It-gan Kai-ong yang menjijikkan namun tak kalah jahatnya, yaitu air ludahnya, menyerang dari arah kanan dan paling akhir Hek-giam-lo telah menggunakan pisau-pisau terbangnya menyerang dari depan langsung dengan kecepatan luar biasa.

Biar pun orang sesakti Suling Emas, andai kata ia lengah, tentu akan sukar melepaskan diri dari ancaman bahaya maut dari tiga penjuru ini. Baiknya ia memang sudah waspada dan sudah menduga lebih dulu, maka begitu tampak sinar melayang dari tiga jurusan, ia telah mendahului mereka, tubuhnya mendadak

 

mumbul ke atas seperti terbang, lebih cepat dari pada sambaran senjata-senjata rahasia itu, dan kini dia melayang di atas senjata-senjata rahasia itu.

Langsung ia menerjang tiga orang lawannya dari atas dengan serangan sulingnya dalam jurus-jurus rahasia dari Hong-in-bun-hoat. Kini giliran tiga orang iblis itulah yang kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada suara mendengung-dengung dan melengking di atas kepala mereka, disusul oleh sinar keemasan yang menyilaukan mata. Mereka sama sekali tidak menduga akan terjangan Suling Emas sehebat itu.

Karena tiga orang iblis itu memang sakti dan berilmu tinggi, biar pun terkejut dan terdesak hebat oleh serangan Suling Emas dari atas yang dahsyatnya bagaikan sambaran halilintar di musim hujan itu, namun mereka bertiga dapat juga menyelamatkan diri. It-gan Kai-ong berhasil menjatuhkan diri ke belakang sambil memutar-mutar tongkatnya melindungi dirinya, sehingga ia berhasil memecahkan sinar bergulung- gulung yang menyambarnya dan hanya pakaiannya saja yang sebagian besar robek oleh sambaran sinar suling lawannya.

Hek-giam-lo juga berhasil melompat ke belakang sambil berteriak nyaring dan menangkis dengan sabitnya. Terdengar suara keras dan ujung senjatanya itu patah, akan tetapi ia selamat tidak terluka. Hanya Siang- mou Sin-ni yang kurang beruntung karena ketika dalam kagetnya ia menggerakkan rambutnya menangkis, rambutnya itu terbabat sinar kuning emas dan putuslah rambutnya yang hitam panjang sehingga tinggal sampai ke pundaknya saja! Wanita ini menjerit ngeri dan menangis.

Akan tetapi tidak hanya sampai di situ Suling Emas menyerang. Kini tubuhnya sudah berada di atas tanah dan tanpa membuang waktu lagi ia melanjutkan serangannya, bertubi-tubi ia menyerang tiga orang lawannya sambil tetap mainkan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat yang amat luar biasa itu.

It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terdesak, mereka maklum akan kelihaian ilmu ini maka mereka main mundur menjauhkan diri. Tidak demikian dengan Siang-mou Sin-ni yang menjadi marah sekali karena rambut yang menjadi kebanggaan dan menjadi senjata ampuhnya itu telah ‘berondol. Dengan nekat wanita ini menyambut serangan Suling Emas dengan kekerasan. Ia mainkan yang-khim di tangannya dan menyambut pukulan dengan pukulan pula.

Betapa pun juga, Siang-mou Sin-ni terpaksa mengakui kehebatan Hong-in-bun-hoat karena belum sampai sepuluh jurus, ia sudah terdesak dan terancam hebat. Dengan gerakan nekat tanpa mempedulikan keselamatan dirinya, Siang-mou Sin-ni menjerit dan menghantamkan yang-khim pada saat suling lawannya bergulung-gulung mengitari dirinya.

Suling Emas kaget sekali, tidak menyangka lawannya akan berlaku nekat mengadu nyawa. Tiada waktu lagi untuk mengelak, maka ia menggerakkan kipasnya yang sudah tertutup untuk menangkis.

“Brakkkkk!” keras sekali suara ini terdengar dan yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni pecah menjadi empat potong, tetapi kipas biru di tangan Suling Emas juga patah menjadi dua.

Detik amat berbahaya itu dipergunakan Suling Emas dengan baiknya karena sulingnya sudah meluncur ke depan dan tiga kali sulingnya berhasil menotok tiga jalan darah yang berbahaya dari Siang-mou Sin-ni.

“Aihhhh…!” Siang-mou Sin-ni menjerit.

Sisa yang-khim yang berada di tangannya ia lemparkan ke bawah, berbareng dengan kipas Suling Emas yang juga dibuang ke bawah. Kemudian tiba-tiba wanita itu tertawa nyaring dan… sinar merah menyambar dari mulutnya ke arah muka Suling Emas.

Pendekar sakti ini kaget sekali, maklum apa artinya sinar merah yang mengeluarkan bau busuk memabukkan itu. Wanita iblis itu telah mempergunakan ilmunya yang terakhir, yaitu Tok-hiat-hoat-lek, ilmu menyemburkan darah beracun yang amat berbahaya. Kipasnya sudah tidak ada padanya, padahal kipas itulah yang paling tepat untuk menghadapi serangan dahsyat mengerikan ini. Terpaksa ia lalu melempar tubuhnya ke belakang.

Namun, biar pun ia tidak terkena semburan darah beracun, hawa beracun dari darah yang mengeluarkan bau busuk melebihi mayat busuk ini telah mempengaruhinya dan mendatangkan pusing pada kepalanya dan pandang matanya berkunang-kunang. Ia cepat mengerahkan sinkang dan setelah tubuhnya terlempar ke belakang, segera ia berjungkir-balik dan melompat jauh ke kanan. Baiknya ia seorang yang hati-hati dan gesit, karena benar seperti yang ia khawatirkan, semburan darah itu tadi mengejarnya. Kalau saja ia tidak
cepat-cepat berjungkir-balik dan melompat, tentu ia akan menjadi korban.
Kini ia melihat wanita iblis itu terhuyung-huyung dan tertawa-tawa. Hal ini membuat Suling Emas diam-
diam mengagumi Siang-mou Sin-ni. Totokannya tiga kali tadi hebat sekali dan kesemuanya mendatangkan maut. Seorang yang bagaimana pandai dan kuatnya tentu akan roboh dan tewas seketika. Akan tetapi Siang-mou Sin-ni masih mampu mengeluarkan ilmunya yang terakhir, mampu tertawa-tawa dan hanya terhuyung-huyung. Hebat! Wanita itu sambil tertawa memuntahkan darah yang beracun, lalu berlari-larian seperti orang gila dan akhirnya terdengar jeritnya melengking ketika tubuhnya terjungkal ke dalam jurang tak jauh dari situ. Agaknya ia seperti gila dan buta oleh luka-lukanya dan lari tanpa melihat lagi sehingga terjungkal memasuki jurang yang ratusan kaki dalamnya.

Tiba-tiba Suling Emas berteriak keras dan tubuhnya melesat ke kanan kiri sambil memutar sulingnya. Secara serentak ia diserang hebat oleh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo. Karena pandang matanya masih berkunang-kunang dan kepalanya masih pening, ia hanya dapat mengelak sambil menjaga diri dengan suling. Agaknya keadaannya ini diketahui pula oleh dua orang manusia iblis itu, yang terus mendesaknya dengan serangan-serangan kilat.

Setelah dua orang iblis ini mengeroyok berdua saja, mereka mendapat kenyataan yang mengagumkan, yaitu bahwa ilmu silat yang mereka mainkan untuk mengeroyok Suling Emas kini menjadi berlipat ganda ampuhnya. Ilmu silat mereka itu saling mengisi kekosongan yang ada dan dimainkan bersama-sama dapat menjadi semacam daya serang yang luar biasa! Insyaflah mereka akan hal ini, karena memang sesungguhnya ilmu silat baru mereka itu adalah bagian-bagian dari pada sebuah ilmu yang kitabnya mereka rampas dari tangan Bu Kek Siansu. It-gan Kai-ong dalam perebutan berhasil mendapatkan kitab bagian depan sedangkan Hek-giam-lo bagian belakang.

Suling Emas juga kaget karena terasa olehnya betapa hebat desakan kedua orang ini. Ia berusaha menghalau hawa beracun yang mendesak di dadanya dan ke otaknya, akan tetapi kedua orang lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya. Terpaksa ia harus mengandalkan sulingnya untuk melindungi tubuh sehingga suling itu berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyelimuti dirinya, tak memungkinkan sabit dan tongkat menyentuhnya. Mereka seakan-akan hanya mengadu tenaga dan keuletan. Akan tetapi berapa lama ia akan dapat bertahan?

Dalam ilmu silat, menyerang lebih menguntungkan dari pada bertahan, kecuali kalau pertahanan itu dapat diubah cepat menjadi penyerangan balasan. Dalam hal ini, Suling Emas sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Hal ini adalah karena ia masih berada dalam pengaruh hawa beracun Tok- hiat-hoat-lek dari Siang-mou Sin-ni tadi, dan kedua karena penggabungan ilmu silat kedua orang iblis itu benar-benar memperlipat ganda kehebatan daya serang mereka.

It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo adalah tokoh-tokoh kawakan yang sudah matang ilmunya, maka tentu saja dalam hal ilmu silat mereka merupakan orang-orang yang banyak pengalaman dan cerdik sekali. Setelah mainkan bagian ilmu rampasan kitab Bu Kek Siansu bersama-sama, segera mereka menarik kesimpulan bahwa apa bila kedua ilmu mereka itu digabungkan, maka akan merupakan ilmu yang hebat sekali.

“Kiri buka, atas tekan!” tiba-tiba It-gan Kai-ong berseru.

Hek-giam-lo mendengus dan berteriak. “Kanan tutup, bawah dorong!”

Kiranya yang diucapkan It-gan Kai-ong adalah merupakan sebagian dari pada ilmu pukulan yang paling hebat, akan tetapi karena ia hanya dapatkan setengahnya, maka selama ini merupakan rahasia baginya dan tak dapat ia pergunakan. Ada pun ucapan Hek-giam-lo sebagai imbangannya adalah lanjutan dari pada jurus itu, maka keduanya segera bergerak.

It-gan Kai-ong lebih dulu lari disambung oleh Hek-giam-lo. Bukan main dahsyatnya terjangan ini, sebuah jurus rahasia yang kini dimainkan secara bersambung oleh dua orang! Begitu otomatis gerakan mereka, ganti-berganti sehingga merupakan serangkaian serangan yang serba sulit dihadapi.

Suling Emas kaget sekali. Hampir saja ia terkena bacokan sabit setelah ia berhasil menghindarkan tusukan maut tongkat It-gan Kai-ong. Akan tetapi begitu sabit itu lewat sedikit di atas pundaknya, secara aneh sekali tongkat kakek raja pengemis sudah menyambar, ujungnya tergetar menjadi lima dan menyerang ke arah lima bagian tubuhnya dari sebelah atas, disambung dengan sambaran sabit bertubi-tubi dari bawah!

Suling Emas sudah berusaha menyelamatkan diri dengan memutar sulingnya, namun karena ia masih

 

pusing dan sulingnya hanya merupakan senjata pendek yang sukar menghadapi senjata-senjata panjang yang menyerang dari atas dan bawah secara aneh dan bertubi-tubi, ketika tubuhnya melompat miring, pundaknya terkena hantaman tongkat It-gan Kai-ong.

“Brukkk!” Hantaman ini keras sekali. Batu karang juga akan hancur terlanda pukulan ini. Suling Emas sudah mengerahkan lweekangnya ke arah pundak, namun tetap saja ia terbanting dan bergulingan di atas tanah!

“Heh-heh-heh!” It-gan Kai-ong tertawa gembira dan mukanya beringas ketika ia mengejar dengan tongkat terangkat, siap memberi tusukan terakhir.

“Mampus kau!” Hek-giam-lo mendengus dan berlomba dengan kakek pengemis itu untuk berusaha mendahuluinya membacokkan sabitnya ke arah tubuh Suling Emas yang bergulingan dan kelihatannya tak berdaya lagi itu. Hampir berbareng, tongkat dan sabit itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang getarannya seakan-akan mencopot jantung It-gan Kai- ong dan Hek-giam-lo. Suara ini adalah suara yang ditiup Suling Emas dalam keadaan bahaya itu. Sejenak Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong tertegun dan gerakan mereka terhenti beberapa detik. Namun beberapa detik ini cukuplah bagi pendekar sakti seperti Suling Emas yang sudah melompat bangun dan menggerakkan sulingnya.

“Trang-trang… duk… duk…!” Tubuh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terlempar dan melayang bagaikan layang-layang putus talinya, sedangkan sabit dan tongkat mereka patah-patah! Kemudian robohlah dua orang iblis sakti itu, mengeluh dan dari mulut mereka muntah darah segar. Mereka telah terluka hebat.

Akan tetapi di lain pihak, Suling Emas berdiri dengan terhuyung-huyung. Ia berusaha mengusir kepeningan kepalanya akibat hawa beracun Siang-mou Sin-ni tadi, karena luka di pundaknya akibat gebukan tongkat It-gan Kai-ong tidaklah amat parah baginya kalau dibandingkan dengan hawa beracun itu.

“Huah-hah-hah, anjing muda boleh juga!”

“Semua sudah roboh, tinggal dia yang harus roboh!” Sambung suara kedua dan muncullah kakek putih dan kakek merah.

Keduanya menggerakkan tangan, kakek merah dari depan Suling Emas sedangkan kakek putih dari belakangnya karena munculnya kedua orang kakek itu berpencar. Suling Emas yang sudah berkurang tenaganya karena pusing, juga karena luka di pundaknya, cepat miringkan tubuh dan mementangkan kedua lengannya, didorong ke arah kanan kiri untuk menghadapi serangan dua orang kakek itu. Ia kaget sekali ketika menerima dorongan tenaga sakti yang berlawanan, dari kanan tenaga kakek merah panas seperti api, sedangkan dari kiri tenaga kakek putih dingin seperti salju!

Inilah hebat, pikirnya. Tak mungkin ia mengerahkan dua macam tenaga untuk menghadapi serangan maut ini, akan tetapi Suling Emas bukanlah seorang sakti yang sudah kenyang akan gemblengan hebat kalau ia menjadi panik atau gentar. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, semua hawa murni ia kerahkan untuk menahan gelombang serangan itu, sepasang matanya meram, dari balik kain kepalanya mengepul uap putih. Gelombang tenaga makin dahsyat dari kanan kiri, tubuh Suling Emas sudah gemetar, hampir tak kuat lagi.

“Orang-orang tak tahu malu, pengecut! Mengeroyok kakakku yang sudah terluka!” Tiba-tiba seorang pemuda meloncat ke depan. Dia ini bukan lain adalah Bu Sin! Pemuda ini mencabut pedangnya. Sesosok bayangan lain berkelebat dan cepat menarik tangannya.

“Bu Sin, jangan…! Tiarap…!” Dengan sentakan keras bayangan yang ternyata adalah seorang nikouw (pendeta wanita Buddha) ini berhasil membuat Bu Sin roboh terguling. Akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan Bu Sin saja karena sekali kakek merah mengibaskan tangan kirinya ke arahnya, nikouw yang bukan lain adalah Kui Lan Nikouw, bibi guru Bu Sin ini, roboh terguling sambil mengeluh.

Pada saat itu, Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong sudah merangkak bangun. Terdengar It-gan Kai-ong terkekeh biar pun napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan darah, sedangkan Hek-giam-lo mendengus aneh, juga napasnya terengah-engah. Kedua orang kakek ini lalu dengan langkah terhuyung- huyung menghampiri Suling Emas yang berdiri dengan kedua lengan terpentang kaku, tangan mereka memegang sisa senjata yang sudah patah lebih setengahnya. Jelas bahwa mereka hendak menurunkan

 

tangan maut terhadap Suling Emas yang sama sekali sudah tidak berdaya itu.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo