August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 2)

 

 

“Bukankah kau Bu Kek Siansu?” tanya It-gan Kai-ong. Kakek tua renta itu mengangguk sambil tersenyum lebar.

 

“Kebetulan sekali. Dunia kang-ouw mengabarkan bahwa setiap tahun, pada hari pertama musim semi, kau akan muncul di dunia dan membagi-bagi ilmu. Hari ini adalah hari pertama musim semi, ilmu apakah yang dapat kau berikan kepadaku?”

 

Bu Kek Siansu tidak marah mendengar ucapan yang tidak sopan itu, ia hanya tersenyum.

 

“Aku pun menghadap padamu pada permulaan musim semi untuk minta diwarisi ilmu silat yang sakti, Bu Kek Siansu,” kata Siang-mou Sin-ni sambil melangkah maju.

 

“Yang datang menghadap adalah kami bertiga bukan hanya kau berdua,” Hek-giam-lo menyusul dengan suaranya yang dalam.

 

Bu Kek Siansu mengangkat kedua lengannya ke atas sambil tertawa. “Jangan khawatir, aku si tua tidaklah kikir dengan ilmu, hanya aku khawatir ilmu-ilmu yang kukenal tidak akan berjodoh dan cocok dengan pribadi kalian bertiga. Ketahuilah, bahwa ilmu-ilmuku hanya dapat diterima oleh orang yang menjauhkan  diri dari pada rasa dengki, iri, murka, benci dan kejam. Tanpa dapat menjauhkan sifat-sifat ini, ilmu yang kuturunkan bukan hanya tak ada gunanya, malah mungkin akan merugikan tubuh sendiri. Nah, ilmu apakah yang hendak kalian minta?”

 

Tiga orang sakti itu saling pandang. Sifat-sifat yang disebut kakek itu tadi bukanlah sifat yang aneh apa lagi pantang bagi golongan hitam mereka. Malah sifat kejam merupakan ukuran untuk kelihaian seseorang. Makin tinggi tingkatnya, harus makin kejam, karena siapa yang kurang kejam, berarti mempunyai kelemahan dan hal ini amat memalukan! Tentu saja mereka tidak sudi menerima ilmu dengan  ikatan seperti itu.

 

“Bu Kek Siansu, tadi kami mendengar nyanyianmu yang mengharuskan orang membalas benci dengan kasih. Apakah kau termasuk orang yang tidak mempunyai rasa benci?”

 

“Mudah-mudahan Tuhan menguatkan batinku dan membungkus seluruh pikiran dan hatiku dengan sinar kasih-Nya.”

 

“Jadi kau tidak membenci golongan kami? Tidak akan membeda-bedakan dengan golongan lain?” Bu Kek Siansu menggeleng kepala. Tentu saja ia dapat melakukan hal ini dengan mudah.

“Kalau begitu,” kata pula It-gan Kai-ong, “kau jangan pilih kasih. Tadi kau turunkan dua macam ilmu kepada Suling Emas. Nah, kami pun minta kau turunkan ilmu-ilmu itu kepada kami.”

 

“Betul, aku menghendaki dua ilmu itu,” kata Siang-mou Sin-ni.

 

“Ilmu-ilmu apa tadi itu dan apa namanya?” Hek-giam-lo menyambung.

 

“Ha-ha-ha, kalian bertiga memang bermata tajam, tidak percuma menjadi tiga di antara Thian-te Liok-koai! Memang tadi aku menurunkan dua macam ilmu kepada Suling Emas yang disebut Kim-kong Sin-im dan Hong-in Bun-hoat. Akan tetapi entah kalian dapat mengerti kedua ilmu itu dan menyukainya, tergantung kepada kalian sendiri. Bagaimana?”

 

Mereka bertiga tadi sudah merasakan sendiri bagaimana hebatnya kepandaian Suling Emas, padahal tanpa mereka ketahui bahwa sebetulnya yang meruntuhkan pedang-pedang itu adalah Bu Kek Siansu  yang ingin mencegah terjadinya pertempuran berlarut antara orang-orang sakti itu. Maka tentu saja mereka merasa iri hati dan ingin mendapatkan ilmu yang tadi diwarisi oleh Suling Emas.

 

“Tidak perlu banyak cerewet, lekas perlihatkan Kim-kong Sin-im!” kata pula It-gan Kai-ong yang memang selalu bersikap kasar terhadap siapa pun juga. Baginya makin kasar sikapnya makin baik, gagah dan berwibawa!

 

“Kalian juga setuju?” Bu Kek Siansu yang masih tetap tersenyum itu bertanya kepada Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo.

 

 

 

Keduanya meragu sejenak, akan tetapi terpaksa mengangguk karena tidak ada pilihan lain. Seperti juga It- gan Kai-ong, kedua orang sakti ini masih memandang rendah kepada Bu Kek Siansu dan mereka menaruh curiga kalau-kalau kakek tua renta ini akan menipu dan mempermainkan mereka.

 

“Baik… baik, kalian perhatikan dan dengarkan baik-baik. Sesuai dengan namanya, Ilmu Sin-im (Suara Sakti) dipelajari dengan pendengaran.” Kakek itu menurunkan alat musik khim dari punggungnya, duduk bersila di atas tanah, lalu terdengarlah suara khim, dimulai dengan “cring-cring” yang nyaring bening.

 

Mula-mula tiga orang sakti itu memandang penuh perhatian sambil mendengarkan dan mengikuti bunyi khim, akan tetapi tak lama kemudian mereka nampak gelisah sekali. Terutama Siang-mou Sin-ni, sebagai seorang wanita tentu saja paling mudah terpengaruh oleh suara khim itu. Wanita sakti ini mula-mula merasa jantungnya berdebar, kemudian setiap kali suara itu melengking tinggi, ia merasa seakan-akan jantungnya ditarik dan kalau suara itu merendah jantungnya seperti ditindih. Cepat ia  mengerahkan sinkang di dalam tubuhnya dan di lain saat wanita ini sudah duduk bersila dengan mata meram dan muka pucat. Ia masih ber­usaha untuk menyelami bunyi yang makin aneh dan merupakan  penyerangan langsung kepada isi dadanya.

 

Berturut-turut It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo juga terpaksa duduk bersila untuk mengumpulkan tenaga dalam tubuh dan melawan serangan-serangan hebat dari suara khim itu. Sebagai dua orang sakti, mereka pun maklum bahwa suara dari alat musik khim itu mengandung hawa penyerangan yang luar biasa dahsyatnya, oleh karena itu sambil menutup kelemahan diri dengan sinkang mereka pun memperhatikan dan berusaha menangkap inti sari dari pada Kim-kong Sin-im.

 

Baru seperempat jam saja orang itu sudah menderita hebat sekali. Wajah mereka pucat dan saking kerasnya mereka mengerahkan sinkang, kepala mereka sampai mengepulkan uap putih. Namun pelajaran itu masih juga belum dapat mereka tangkap inti sarinya. Atau ada juga yang dapat mereka tangkap, namun hanya menurut perkiraan mereka masing-masing. Ketiganya menyelami isi Kim-kong Sin-im secara berbeda, sesuai dengan watak masing-masing dan kesemuanya itu tentu saja menyeleweng dari pada inti sari yang sebenarnya.

 

Hal ini bukan sekali-kali karena ketiga orang ini masih rendah kepandaiannya. Sama sekali tidak. Dalam tingkat kepandaian ilmu silat, kiranya mereka tidak berselisih jauh dengan Suling Emas. Akan tetapi,  seperti dikatakan oleh Bu Kek Siansu tadi, watak mereka tidak cocok dengan watak ilmu itu, lagi pula ilmu ini tersembunyi di dalam lagu dan seni suara.

 

Suling Emas dapat mewarisi inti sarinya karena orang muda itu menghadapi Kim-kong Sin-im dengan suara sulingnya sehingga seakan-akan ia ‘bertempur’ dengan ilmu ini. Karenanya ia lebih mudah untuk mengenal sifat-sifat menyerang dan bertahan dari Kim-kong Sin-im. Seperti sebuah nyanyian, orang akan lebih mengenal keindahannya kalau ia turut menyanyikannya, yang tentu jauh bedanya dengan kalau hanya mendengar saja.

 

Bu Kek Siansu memang tidak hendak membeda-bedakan. Ia mainkan khim seperti ketika ia bermain di depan Suling Emas tadi. Setelah ia berhenti, tiga orang itu masih duduk bersila dengan kedua mata meram. Bu Kek Siansu hanya tersenyum dan dengan tenang menyimpan kembali alat musik khim itu di atas punggungnya, kemudian ia bangkit berdiri, menanti sambil membaca kitab kecil.

 

Tiga orang sakti itu tidak berani segera bangkit karena suara khim tadi masih terus terngiang di dalam telinga, malah seakan-akan meresap ke dalam otak dan dada. Setelah kurang lebih sepuluh menit, baru mereka membuka mata dan meloncat bangun. Jelas mereka itu kecewa, akan tetapi karena masing- masing merasa bahwa mereka dapat memetik inti sari ilmu aneh tadi, mereka diam saja, hanya memandang kepada Bu Kek Siansu dengan mata marah.

 

Bu Kek Siansu menyimpan kitab kecilnya lalu berkata, “Kim-kong Sin-im sudah kalian dengar. Apakah kalian juga menghendaki supaya aku mainkan Hong-in Bun-hoat seperti yang kulakukan di depan Suling Emas tadi?”

 

“Kakek, kau tadi bersilat di depan Suling Emas, nah, ilmu silat itulah yang harus kau turunkan kepada kami,” kata It-gan Kai-ong.

 

“Kai-ong, itulah tadi yang disebut Hong-in Bun-hoat. Kalau kalian menghendaki, akan kumainkan. Bagaimana dengan kalian, Hek-giam-lo dan Sin-ni?”

 

 

 

Karena tidak tahu harus memilih ilmu silat apa, kedua orang ini hanya mengangguk. Betapa pun juga mereka masih ragu-ragu dan memandang rendah kakek ini. Apakah gunanya Ilmu Kim-kong Sin-im tadi? Masa menghadapi lawan harus bermain musik! Gila! Maka mendengar bahwa Hong-in Bun-hoat yang akan diturunkan kali ini adalah gerakan-gerakan silat seperti yang mereka lihat dari tempat persembunyian mereka tadi ketika kakek ini berhadapan dengan Suling Emas, tentu saja mereka setuju dan agak lega, mengharapkan akan menerima warisan ilmu silat yang tinggi dan sakti.

 

Seperti juga tadi ketika mengajar Suling Emas, Bu Kek Siansu mulai menggerakkan tubuhnya lambat- lambat, kedua lengan dan kakinya bergeser dan membentuk goresan dan lingkaran. Bukan lain yang ia mainkan itu adalah gerakan menurut huruf-huruf pertama sajak dalam kitab Tiong Yong. Seperti diketahui, kitab Tiong Yong mengandung tiga puluh tiga pelajaran, merupakan ilmu batin yang amat tinggi dan luhur.

 

Bu Kek Siansu mulai mencoret-coret huruf-huruf pelajaran pertama ayat pertama yang lengkapnya berbunyi demikian:

 

THIAN BENG CI WI SENG SUT SENG CI WI TO

SIU TO CE WI KAUW

 

Tiga baris huruf yang merupakan ayat pertama dari pelajaran pertama mempunyai arti yang amat dalam. Kalau diterjemahkan secara bebas kira-kira begini:

 

Anugerah Tuhan adalah watak asli Selaras dengan watak asli adalah To

Melaksanakan To adalah pelajaran kebatinan (agama)

 

Jelas bahwa huruf-huruf itu merupakan ayat-ayat suci dalam kitab Tiong Yong, yang mengajar manusia menuju kembali ke watak asli anugerah Tuhan, berarti menuntun manusia kembali mendekati dan mentaati kehendak Tuhan. Tiga orang tokoh sakti seperti It-gan Kai-ong, Siang-mou Sin-ni, dan Hek-giam-lo yang merupakan manusia-manusia yang ingkar terhadap Tuhan mana ada minat untuk mempelajari segala macam kitab yang mengemukakan pelajaran tentang kebajikan?

 

Sebagai orang-orang yang berpengetahuan luas, tentu saja mereka dapat membaca dan dapat mengikuti gerakan-gerakan Bu Kek Siansu. Akan tetapi mereka hanya dapat menangkap kulitnya atau luarnya belaka, tak mampu menyelami isinya. Harus diketahui bahwa ilmu silat sakti Hong-in Bun-hoat ini rahasianya tidak terletak pada macam huruf yang ditulis dengan gerakan saja, melainkan lebih mendalam, yaitu lebih mendekati arti dari pada ayat-ayatnya. Karena itulah Bun-hoat (Ilmu Sastra) ini disebut Hong-in (Angin dan Awan), karena sifatnya seperti ilmu sastra dan begitu dalam rahasianya seperti juga angin yang dapat terasa tak dapat terpegang dan awan yang dapat terlihat tak dapat terpegang pula!

 

Tidak mengherankan apa bila tiga orang itu menjadi kecewa dan bosan melihat kakek itu terus menggerakkan kaki tangan membentuk goresan dan lingkaran huruf-huruf itu. Apa artinya itu semua? Apa gunanya? Mereka menganggap kakek itu main-main dan menipu mereka.

 

Agar jangan dianggap berat sebelah, Bu Kek Siansu bersilat terus dan baru berhenti di bagian yang sama ketika ia bersilat di depan Suling Emas tadi. Ia tersenyum memandang ketiga orang itu yang sebaliknya memandangnya dengan mata marah.

 

“Nah, puaskah kalian?”

 

“Puas apa? Kau main-main dengan kami! Bu Kek Siansu, kalau kau ada kepandaian, jangan kikir, turunkan kepada kami,” kata It-gan Kai-ong dengan suara marah.

 

“Jangan-jangan kakek ini hanya menyombong saja, padahal tidak becus apa-apa. Kai-ong, alangkah akan memalukan kalau orang melihat kita bertiga diingusi kakek tua bangka ini,” kata Siang-mou Sin-ni sambil tersenyum masam.

 

Ada pun Hek-giam-lo hanya mendengus saja, marah dan mengangkat sabitnya. Tiga orang tokoh ini saling pandang. Dalam pertemuan pandang ini ketiganya sudah bermufakat.

 

Tanpa mengeluarkan peringatan lagi, secara tiba-tiba tiga orang sakti itu menerjang maju, menyerang Bu Kek Siansu yang masih tersenyum-senyum sambil menundukkan mukanya. Entah pukulan siapa yang

 

 

 

datang lebih dulu saking cepatnya gerakan mereka. Tongkat It-gan Kai-ong menotok pusar, rambut Siang- mou Sin-ni menghantam sembilan jalan darah di leher, dada, dan pundak, sedangkan sabit di tangan Hek- giam-lo membacok kepala! Semua merupakan serangan-serangan maut, dan semua penyerangan itu dengan tepat mengenai sasaran. Sambil mengeluh panjang Bu Kek Siansu roboh!

 

Serentak tiga orang itu menubruk. Siang-mou Sin-ni berhasil merampas alat musik khim, sedangkan It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo yang berniat merampas kitab kecil yang dibaca kakek itu tadi, masing-masing mendapat separuh bagian karena kitab kecil itu telah terobek menjadi dua bagian ketika mereka saling berebut.

 

Sambil tertawa-tawa mereka memandang tubuh kakek itu dan mata mereka terbelalak, bulu tengkuk mereka meremang. Kakek itu sama sekali tidak kelihatan luka, bahkan kepala yang dihantam sabit tajam  itu pun sama sekali tidak mengeluarkan darah, sama sekali tidak terluka. Namun jelas bahwa kakek itu tidak bernapas lagi, dan ketika It-gan Kai-ong memeriksa denyut nadinya, darahnya juga sudah berhenti, nadinya tidak berdenyut lagi.

 

“Ha-ha-ha, Bu Kek Siansu yang disohorkan orang setengah dewa, kiranya hanya seorang yang lemah,” kata It-gan Kai-ong.

 

“Seorang penipu!” sambung Siang-mou Sin-ni.

 

Hek-giam-lo bergidik, berkali-kali memandang ke arah kepala kakek itu dan ke arah sabitnya. “Aku benci ilmu sihirnya ini, kita buang dia ke jurang saja,” ia menggumam, lalu menggunakan kakinya menendang.

 

Tubuh kakek itu terlempar ke arah jurang dan menggelinding turun, diikuti suara ketawa It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni. Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti dan pada saat itu, mereka bertiga terhuyung-huyung dan hampir roboh. Ada angin dorongan yang luar biasa dahsyatnya datang menyerang mereka dari arah jurang tadi.

 

“Celaka…, rohnya mengamuk…!” It-gan Kai-ong berseru dengan muka pucat dan ia segera melompat jauh dan melarikan diri. Dua orang temannya juga kaget dan ketakutan, cepat kabur meninggalkan puncak Thai- san.

 

Tak lama kemudian, tampak Bu Kek Siansu melayang ke luar dari dalam jurang, berdiri di tempat yang tadi sambil termenung dan menarik napas panjang berkali-kali. “Tuhan menghendaki demikian. Akan geger di dunia persilatan… harapanku ada pada Suling Emas.” Lalu ia berjalan perlahan meninggalkan puncak.

 

********************

 

Pada masa itu keadaan di seluruh negara masih kacau-balau. Hal ini biasa terjadi setiap kali ada peralihan kekuasaan. Wangsa Sung baru setahun berdiri, didirikan oleh Cao Kuang Yin yang tadinya merupakan panglima tertinggi dari pada wangsa kelima. Sebelum itu, Tiongkok dikuasai oleh Lima Wangsa yang memecah-mecah negara sesudah Wangsa Tang roboh (tahun 907), sampai lahirnya Wangsa Sung atas jasa Cao Kuang Yin yang kemudian menjadi kaisar pertama yang berjuluk Sung Thai Cu.

 

Daerah-daerah yang tadinya semasa Kerajaan Tang telah melepaskan diri dan berdiri sendiri, dapat ditundukkan kembali dan dimasukkan ke dalam wilayah Kerajaan Sung. Namun, hal ini bukan berarti bahwa kejayaan seperti di masa gemilangnya Kerajaan Tang sudah kembali, sama sekali bukan. Kerajaan Sung yang baru ini tidak mampu menundukkan kerajaan-kerajaan kecil yang masih tetap berdiri di pelbagai daerah. Yang besar-besar di antaranya adalah daerah timur laut sampai ke Mancuria Selatan berada di dalam kekuasaan suku bangsa Khitan. Di daerah tenggara sepanjang pantai terdapat Kerajaan Wu-yue, dan di daerah Yu-nan ada Kerajaan Nan-cao. Masih banyak lagi daerah lain yang merupakan kerajaan kecil dan tidak mengakui kedaulatan Kerajaan Sung.

 

Tentu saja seringkali terjadi bentrokan-bentrokan kecil, namun tidak sampai meluas. Kerajaan Sung sudah merasa cukup puas dengan daerah dan wilayahnya, dan perlu membangun negara setelah persatuan dapat dibina. Sebaliknya, kerajaan-kerajaan kecil itu pun tidak ingin mencari gara-gara dengan kerajaan baru yang cukup kuat itu.

 

Pada suatu pagi yang cerah, sebuah perahu meluncur perlahan dan tenang mengikuti aliran Sungai Han yang mengalir ke timur, dari daerah Shan-si terus ke timur sampai tiba di Laut Kuning. Air sungai ini agaknya tidak mengenal diskriminasi, tidak seperti manusia. Buktinya ia terus mengalir ke tiga daerah yang

 

dikuasai oleh tiga kerajaan, mengalir tenang dan biasa, tanpa perbedaan!

Sunyi di sepanjang sungai itu. Di atas perahu tampak empat orang penumpang. Seorang di antara mereka

jelas adalah tukang perahu, laki-laki setengah tua yang gemar berceloteh, berkumis panjang berpakaian sederhana dengan tambalan di sana-sini. Kedua lengannya yang memegang dayung tampak kuat berotot yang timbul oleh tugasnya sehari-hari. Kulitnya coklat kehitaman terbakar matahari.

 

Tiga orang yang menumpang perahunya masih muda-muda. Yang pertama adalah seorang pemuda, kurang lebih dua puluh tiga tahun usianya. Tampan dan keren wajahnya, matanya tajam bersungguh- sungguh, mulutnya membayangkan kekerasan hati, dahinya lebar, pakaiannya sederhana tapi bersih, di punggungnya tergantung sebatang pedang.

 

Orang kedua adalah seorang gadis berusia dua puluh tahun, juga berpakaian sederhana ringkas, sebagian rambutnya dikuncir dua di kanan kiri. Gadis ini cukup cantik, sepasang matanya bersorot terang, wajahnya yang berkulit putih itu membayangkan kehalusan budi, bibirnya selalu tersenyum membayangkan keramahan. Juga gadis ini membawa pedang yang dipegang di tangan kiri.

 

Orang ketiga juga seorang gadis, masih remaja, paling banyak tujuh belas tahun usianya. Kalau gadis pertama sama betul waiahnya dengan si pemuda, adalah gadis ini lain sekali. Wajahnya cantik jelita, rambutnya hitam tebal digelung di kedua sisi kepalanya. Ia juga berpedang, tergantung di pinggang kanan.

 

Siapakah mereka ini? Mereka adalah kakak beradik, bukan orang-orang sembarangan, melainkan putera- puteri dari seorang tokoh besar yang amat terkenal di jaman Lima Wangsa. Kam-goanswe (Jenderal Kam) adalah seorang tokoh besar yang terkenal karena berani menentang kekuasaan Li Ko Yung, Gubernur Propinsi Shan-si yang dahulu memberontak terhadap Kaisar Wangsa Tang.

 

Kam-goanswe yang namanya adalah Kam Si Ek, seratus prosen berjiwa pahlawan dan memiliki kesetiaan lahir batin. Karena inilah maka ia dimusuhi oleh Li Ko Yung yang mengangkat diri sendiri menjadi raja kecil. Sama sekali jasa Kam-goanswe dilupakan, padahal ketika daerah ini diserang oleh suku bangsa Khitan, Jenderal Kam inilah yang paling berjasa menyelamatkan daerah Shan-si. Semenjak bentrokan itu, Kam- goanswe melepaskan jabatannya dan mengundurkan diri ke desa Ting-chun, sebuah desa di kaki Gunung Cin-ling-san, di lembah Sungai Han yang bermata air di gunung itu. Ia hidup bertani dengan anak isterinya.

 

Tiga orang muda itu adalah putera-puteri Kam Si Ek. Yang pertama adalah pemuda tampan itu yang bernama Kam Bun Sin. Anak kedua adalah Kam Sian Eng, gadis cantik jelita dan gagah. Ada pun gadis yang termuda, gadis lincah jenaka, bernama Kam Lin, atau biasa disebut Lin Lin. Gadis ini sebetulnya bukanlah puteri Kam Si Ek, melainkan anak pungut.

 

Belasan tahun yang lalu, dalam sebuah peperangan melawan suku bangsa Khitan, Jenderal Kam menemukan seorang anak perempuan berusia dua tiga tahun dalam gendongan seorang wanita yang tewas dalam pertempuran. Wanita Khitan ini mati dengan pedang di tangan, bukan main gagah sikapnya. Jenderal Kam amat kagum menyaksikan ini dan dia lalu membawa pulang anak perempuan itu, mengambilnya sebagai anak sendiri dan memberi nama Kam Lin. Nama ini adalah nama anak itu sendiri, karena ketika ditanya, ia hanya bisa menunjuk dada sendiri sambil menyebut “Lin Lin”.

 

Lin Lin tahu bahwa dia adalah seorang anak angkat, namun ia tidak merasa sebagai anak angkat. Selama hampir lima belas tahun hidup di dalam rumah gedung keluarga Kam, ia diperlakukan sama dengan anak- anak lain. Ayah ibu angkatnya amat cinta kepadanya, demikian pula Bun Sin dan Sian Eng. Oleh karena inilah maka Lin Lin merasa bahwa dia memang seratus prosen anggota keluarga Kam, tidak mau ingat lagi akan asal-usulnya yang oleh ayah angkatnya dikatakan bahwa ayah ibunya sendiri telah tewas menjadi korban perang. Ayah angkatnya tidak tahu siapa ayah bundanya, juga tidak dapat memberi tahu di mana tempat tinggal mereka karena menurut jenderal itu, ia ditemukan di antara para pengungsi!

 

Sebagai seorang jenderal perang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, tentu saja Kam Si Ek menggembleng tiga orang anaknya ini dengan ilmu silat keluarga Kam. Ternyata tiga orang anak itu mempunyai bakat yang baik dan memiliki keistimewaan yang menonjol. Bu Sin maju dalam penggunaan ilmu lweekang (tenaga dalam), Sian Eng mahir bermain pedang, sedangkan Lin Lin mengagumkan sekali keringanan tubuhnya dan karenanya ia amat maju dalam ilmu ginkang.

 

Keluarga Kam hidup tenteram dan bahagia di dusun Ting-chun sampai lebih dari sepuluh tahun lamanya. Mereka hidup sederhana sebagai petani. Kesederhanaan dusun dan pekerjaan di sawah ladang membuat mereka selalu sehat dan gembira.

 

 

 

 

Akan tetapi, seperti sudah menjadi sifat dunia dan segala isinya, tiada sesuatu yang langgeng. Alam dan isinya selalu berubah, demikian pula kehidupan manusia. Selama manusia masih terikat oleh kehidupan, ia akan selalu mengalami perubahan-perubahan seperti samudera yang selalu mengalami pasang surut, selalu bergelombang. Ada kalanya pasang ada kalanya surut, ada kalanya tenang, ada kalanya diamuk taufan. Hanya manusia pandir sajalah yang tidak mau ingat akan hal ini dan menjadi mabuk dan sombong di waktu jaya sebaliknya putus asa dan mata gelap di waktu sengsara.

 

Kalau orang selalu ingat bahwa kalah dan menang, sengsara dan jaya, susah dan senang, semua itu adalah saudara-saudara sepupu yang silih berganti menguasai kehidupan, ia akan selalu bersikap waspada, tidak mabuk oleh kemenangan, tidak putus asa oleh kekalahan, waspada akan tindakan pribadi agar tidak menyeleweng dari pada kebenaran. Ingat selalu bahwasanya TUHAN yang berkuasa mengatur kesemuanya itu, bahwa manusia tiada bedanya dengan titik-titik air di samudera, tak kuasa melepaskan  diri dari pada gelombang kalau belum KELUAR dari dalam samudera.

 

Hari itu menjelang senja. Kam Si Ek bersama tiga orang anaknya tengah berlatih silat di pekarangan belakang rumah yang tertutup pagar tembok. Tingkat kepandaian Bu Sin, Sian Eng, dan Lin Lin sudah cukup tinggi, malah boleh dibilang sudah hampir setingkat dengan ayah mereka sendiri. Mereka bertiga kini sedang mainkan pedang dengan gaya masing-masing, ditonton oleh Kam Si Ek yang berdiri  sambil bertolak pinggang dan mengangguk-angguk puas. Ketika ia melihat betapa tubuh Lin Lin yang berpakaian merah itu berubah menjadi bayangan merah digulung sinar putih dari pedang yang dimainkannya, diam- diam Kam Si Ek kagum.

 

“Hebat bocah ini… kiranya kelak ia yang paling menonjol. Heran benar, apakah orang tuanya dahulu keturunan orang gagah bangsa Khitan?” demikian ia berkata seorang diri.

 

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak yang amat nyaring. Kam Si Ek dan tiga orang anaknya yang mendengar suara ini segera menghentikan permainan silat dan menoleh ke arah suara. Kiranya di atas tembok sebelah kanan telah jongkok seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam. Melihat orang ini, Kam Si Ek terkejut sekali dan wajahnya berubah.

 

“Giam Sui Lok, mau apa kau datang ke sini?”

 

Orang tinggi besar muka hitam itu tertawa lagi, tetap masih berjongkok di atas tembok.  Matanya yang  besar itu melirik ke arah Siang Eng dan Lin Lin dengan pandang mata kurang ajar. “Kam-goanswe…”

 

“Aku bukan jenderal lagi, tak usah kau berpura-pura tak tahu.”

 

“Ha-ha-ha, orang she Kam. Kau juga pura-pura tidak tahu mengapa aku datang ke sini?”

 

Kam Si Ek menoleh ke arah tiga orang anaknya dan wajahnya makin gelisah. “Orang she Giam, aku sedang sibuk melatih anak-anakku. Urusan antara kita orang-orang tua boleh kita bicarakan nanti.”

 

“Kapan?”

 

“Malam nanti kunanti kunjunganmu.”

 

Laki-laki tinggi besar muka hitam itu tertawa bergelak. “Boleh, boleh…, aku tidak khawatir kau akan dapat lari, ha-ha!” tubuhnya berkelebat dan lenyap di balik pagar tembok.

 

“Ayah, siapa dia?” tanya Bu Sin tak enak. “Dia kurang ajar sekali,” cela Sian Eng.

Akan tetapi dengan gerakan seperti seekor burung walet terbang tahu-tahu Lin Lin sudah melayang ke atas pagar tembok dengan pedang terhunus di tangan kanan. Wajah gadis yang cantik jelita itu kini tampak marah.

 

“Lin Lin, kembali kau…!” Kam Si Ek berseru cemas.

 

Lin Lin berdiri di atas tembok, memandang ke sana ke mari, lalu meloncat turun kembali dan berlari mendekati ayahnya. “Heran, ke mana ia sembunyi? Mulutnya kotor sikapnya kasar, orang macam itu

 

 

 

mengapa tidak dihajar saja, Ayah?”

 

Kam Si Ek tersenyum, girang melihat bahwa anak-anaknya mempunyai nyali besar, akan tetapi juga amat khawatir karena ia maklum bahwa tingkat kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian orang-orang sakti di dunia kang-ouw. Sedangkan di dunia ini banyak sekali terdapat orang- orang jahat dan berbahaya, di antaranya adalah Giam Sui Lok yang datang tadi. Ia maklum bahwa antara dia dan Giam Sui Lok harus diakhiri dengan pertempuran mati-matian dan ia tidak ingin kalau anak- anaknya terlibat dalam urusan permusuhan lama ini.

 

“Dia itu bekas teman lama. Ada urusan penting di antara kami yang tak perlu kalian ketahui. Bu Sin, kau ajak kedua orang adikmu pergi ke kuil Kwan-im-bio di puncak Cin-ling-san sekarang juga. Kau sampaikan hormatku kepada Kui Lan Suci (kakak seperguruan Kui Lan), dan katakan bahwa besok dia bersama kalian bertiga kuharapkan sudi turun puncak datang ke sini membawa peti hitam yang kutitipkan kepadanya sepuluh tahun yang lalu.”

 

“Tapi, Ayah, orang tadi…,” Bu Sin yang cerdik membantah, khawatir kalau-kalau orang tadi akan datang membikin ribut. Ingin ia berada di samping ayahnya untuk membantu jika sewaktu-waktu ayahnya terancam bahaya.

 

Kam Si Ek tertawa. “Dia memang ada urusan denganku, tapi ini urusan orang-orang tua, kau tahu apa? Sudahlah cepat berangkat sebelum gelap, dan besok kembali bersama Sukouw (Bibi Guru) kalian.”

 

Biar pun hati mereka tidak rela, namun tiga orang muda itu tidak berani membantah kehendak ayahnya, apa lagi mereka dapat menduga bahwa memang ayahnya sengaja menyuruh mereka malam itu pergi dari rumah. Setelah berpamit kepada ibu mereka, tiga orang muda ini lalu bergegas mendaki puncak gunung Cin-ling-san yang tinggi itu sambil membawa obor yang akan dinyalakan kalau malam tiba dan mereka belum tiba di puncak.

 

Yang dimaksudkan Kwan-im-bio di puncak Cin-ling-san adalah sebuah kelenteng pendeta-pendeta wanita yang memuja Dewi Kwan Im. Pemimpin atau kepala para nikouw (pendeta wanita) di kelenteng itu adalah Kui Lan Nikouw yang terhitung kakak seperguruan Kam Si Ek. Tiga orang kakak beradik itu sudah sering kali bermain-main ke puncak, malah pendeta wanita itu amat sayang kepada mereka dan berkenan pula memberi petunjuk-petunjuk dalam hal ilmu silat.

 

Perjalanan mendaki puncak itu makan waktu tiga jam, padahal tiga orang muda itu sudah mempergunakan ilmu lari cepat. Biar pun cekatan gerakan mereka, perjalanan itu agak lambat juga karena hanya diterangi oleh obor di tangan.

 

Kui Lan Nikouw yang sudah berusia enam puluh tahun lebih. Mukanya masih segar dan gerakan- gerakannya masih gesit. Wanita itu menjadi kaget melihat kedatangan tiga orang murid keponakannya di waktu malam gelap itu.

 

“Eh, apa yang terjadi? Mengapa malam-malam datangnya?” tegurnya, namun hatinya sudah lega melihat wajah tiga orang murid keponakan itu tidak membayangkan sesuatu yang hebat.

 

Setelah mereka berlutut memberi hormat, Bu Sin berkata, “Ayah yang menyuruh teecu (murid) bertiga, Sukouw. Pertama-tama Ayah menyuruh kami menyampaikan hormat. Kedua kalinya, Ayah mohon kepada Sukouw agar sudi bersama kami turun gunung menuju ke pondok kami sambil membawa peti hitam yang sepuluh tahun lalu Ayah titipkan kepada Sukouw.”

 

“Hemmm, hemmm… Ayahmu memang aneh. Urusan begini saja menyuruh kalian malam-malam bersusah payah ke sini. Kenapa tidak siang-siang tadi, atau besok saja kalau sudah terang? Masuklah, kalian tentu lelah dan belum makan, bukan? Untung banyak sayur-sayuran segar, tinggal masak saja. Sian Eng, Lin Lin, kalian bantu Sukouw-mu, hayo ke dapur!” Memang nenek pendeta itu orangnya ramah sekali dan amat disayang oleh tiga orang murid keponakan ini.

 

Akan tetapi nikouw itu tertegun melihat tiga orang keponakannya tinggal diam saja, dan jelas mereka ingin menyatakan sesuatu. Ia mulai merasa tidak enak lagi.

 

“Eh, kalian ini bocah-bocah ada urusan apakah? Kalau ada kepentingan, hayo bilang, jangan ragu-ragu!” “Sukouw, sebetulnya… kami sendiri merasa tidak enak dan hanya karena dipaksa oleh Ayah, maka kami

 

 

 

pergi ke sini, maka teecu bertiga mohon petunjuk dan nasihat Sukouw.” “Ada apa? Hayo lekas bicara.” Makin tak enak hati Kui Lan Nikouw.

Bu Sin lalu menceritakan kepada bibi gurunya tentang kunjungan laki-laki tinggi besar muka hitam yang mencurigakan tadi, menceritakan pula percakapan antara tamu itu dan ayahnya.

 

“Hemmm, laki-laki tinggi besar muka hitam? Kau tahu siapa namanya?”

 

“Ayah menyebut namanya. Giam Sui Lok namanya, Sukouw,” kata Lin Lin. “Orangnya kurang ajar, mukanya buruk, ingin aku bacok hidungnya dengan pedangku!”

 

Biasanya, kelincahan dan kejenakaan Lin Lin menggembirakan hati nikouw itu, akan tetapi kali ini ia tampak termenung. “Giam Sui Lok…? Ah, akhirnya dia datang juga….”

 

“Sukouw kenal dia? Siapakah dia dan mengapa dia datang mencari Ayah dengan sikap begitu kurang ajar?” Bu Sin mendesak.

 

“Berbahaya, tentu terjadi pertumpahan darah… Wah, anak-anak, hayo kita turun puncak sekarang juga. Siapkan obor, biar kuambil peti hitam Ayahmu. Nanti di jalan kuceritakan siapa adanya orang she Giam  itu.”

 

Lega hati tiga orang anak muda itu. Cepat mereka mempersiapkan obor empat buah banyaknya, dan ketika nikouw itu keluar membawa sebuah peti hitam yang panjangnya tiga kaki lebar dan tingginya satu kaki, mereka segera ingin membantu. Akan tetapi nikouw itu tidak memperkenankan mereka.

 

“Jalan turun agak sulit, biar aku yang bawa peti ini dan kalian yang menerangi jalan. Hayo berangkat!”

 

Di tengah perjalanan, nikouw itu tidak bercerita banyak, akan tetapi cukup membuat tiga orang muda itu termenung dan berdebar-debar jantungnya.

 

“Orang she Giam itu memang musuh lama Ayahmu, dan memang Ayahmu betul menyuruh kalian pergi  agar tidak mencampuri urusan itu. Urusan itu adalah urusan pribadi yang hanya dapat diselesaikan antara Ayahmu, orang she Giam itu, dan Ibumu.”

 

“Permusuhan apa, Sukouw?” Bu Sin bertanya penasaran.

 

“Urusan… eh, urusan… percintaan. Sebelum Ibumu menikah dengan Ayahmu, orang she Giam itu adalah… eh, ia dan Ibumu agaknya saling mencinta, lalu datang Ayahmu hingga terjadi persaingan.  Ayahmu menang dan orang she Giam itu pergi dengan hati patah dan penuh dendam. Selama belasan tahun ini entah sudah berapa kali ia datang menantang Ayahmu, akan tetapi ia selalu kalah oleh Ayahmu. Sekarang ia datang lagi, tentu akan terjadi perkelahian mati-matian. Dasar orang-orang lelaki memang aneh dan tolol… eh, mengapa aku bicara begini? Hemmm, urusan ini benar-benar membuat hati dan pikiran pinni (aku) kacau-balau….”

 

Sudah cukup jelas bagi mereka bertiga. Juga cerita itu membuat mereka menjadi malu dan tidak enak, maka mereka membungkam tidak berani bertanya lagi. Bahkan kebencian mereka terhadap orang she Giam itu agak berkurang setelah mereka mendengar bahwa dia itu dahulunya saling mencinta dengan ibu mereka. Bahkan dalam hati kecil Lin Lin timbul rasa kasihan. Perasaan aneh yang belum pernah ia  rasakan terhadap se­orang laki-laki.

 

Karena merasa tegang dan khawatir setelah mendengar keterangan Kui Lan Nikouw, perjalanan dilakukan cepat sekali dan hanya memakan waktu dua jam. Betapa pun juga, tengah malam hampir tiba ketika mereka memasuki pekarangan yang lebar di rumah gedung keluarga Kam. Dapat dibayangkan betapa gelisah hati orang-orang muda itu ketika melihat rumah mereka gelap sama sekali. Setelah meloncat mereka berlari ke arah pintu depan dengan obor di tangan.

 

“Ayah…!” Bu Sin berseru keras dan segera diturut oleh Sian Eng dan Lin Lin yang berteriak-teriak memanggil ayah ibu mereka.

 

“Tenang, anak-anak. Mencurigakan sekali ini, mengapa begini sunyi? Biar aku yang masuk lebih dulu,” kata Kui Lan Nikouw yang selalu berhati-hati dan yang sudah banyak pengalamannya.

 

 

 

 

Nikouw itu sambil memondong peti hitam di tangan kiri dan tangan kanannya siap di depan dada, berjalan masuk ke dalam rumah diterangi dari belakang oleh tiga orang keponakannya. Ruangan depan sunyi dan kosong. Pada saat mereka memasuki ruangan tengah yang lebar, tiga orang anak muda itu menjerit dan lari menubruk ke depan. Ayah mereka menggeletak mandi darah di sudut, tak jauh dari situ menggeletak pula ibu mereka, juga bermandi darah, dan di sudut lain mereka melihat laki-laki tinggi  besar  muka hitam itu rebah terlentang dengan mata mendelik, juga mandi darah!

 

Tiga orang anak muda itu menangis, sebentar memeluk ayah, sebentar menubruk ibu, mengguncang- guncang dan memanggil-manggil. Tiba-tiba Lin Lin bangkit berdiri, matanya menyinarkan api.

 

“Sratt!” pedang sudah ia cabut dan sekali loncat ia sudah mendekati mayat orang she Giam itu.

 

“Kau yang membunuh Ayah Ibu!” pedangnya bergerak menyambar hendak memenggal leher mayat itu.

 

Gerakannya tertahan ketika tekanan pada pundak kanannya membuat tangan yang memegang pedang menjadi lemas. Kiranya bibi gurunya sudah berdiri di belakangnya. Ketika Lin Lin menoleh dan melihat bibi gurunya, ia menangis dan memprotes, “Dia membunuh Ayah Ibu, Sukouw, dia harus kucincang hancur!”

 

“Ssttt, anak bodoh. Simpan pedangmu. Kalau dia membunuh ayah bundamu, bagaimana dia sendiri mati di sini?”

 

“Dia berhasil membunuh Ibu, lalu berhasil membunuh Ayah, akan tetapi tentu Ayah juga dapat melukainya sehingga ia pun mampus!” Lin Lin membantah lagi dengan penasaran.

 

“Tenanglah, dan tengok. Bu Sin, Sian Eng, kalian juga periksa baik-baik. Kumpulkan obor-obor itu ke sini. Nah, lihat. Mereka bertiga tewas dengan luka-luka pada perut dan dada, luka-luka oleh senjata tajam. Dan kalian lihat itu, pedang itu tentu pedang Ayahmu, terpental di sana dan sedikit pun tidak ada tanda darah. Dan orang she Giam itu tentu bersenjata golok, nah, di mana goloknya? Juga terpental dan tidak ada tanda darah. Memang dia ahli golok sejak dulu. Terang bahwa baik pedang Ayahmu mau pun golok dia itu tidak menjadi sebab kematian mereka semua ini. Eh… nanti dulu! Ibumu belum mati… biar kutolong dia….”

 

Nikouw itu lalu meletakkan peti hitam di atas meja dan cepat ia berlutut memeriksa Nyonya Kam. Benar saja dugaannya, nyonya ini biar pun terluka hebat, tetapi masih belum tewas. Setelah ditotok dan diurut beberapa kali oleh jari-jari tangan Kui Lan Nikouw yang ahli, ia mengeluh perlahan.

 

“Siapa membunuhmu? Katakan, pinni Kui Lan Nikouw di sini, kenal aku? Nah, katakan, siapa melakukan semua ini?” kata-kata yang nyaring dari nikouw itu, yang mengandung desakan, membuat hati tiga orang anak muda itu seperti diremas-remas. Desakan yang tak sabar ini cukup jelas bagi mereka bahwa ibu mereka tak dapat ditolong lagi, hanya dapat diharapkan memberi keterangan tentang pembunuhan itu.

 

“Iihhh… takut… takut… setan…!” Nyonya itu berteriak-teriak ketakutan.

 

Bu Sin, Sian Eng, dan Lin Lin yang semenjak kecil digembleng ilmu silat dan sifat-sifat kegagahan, mau tidak mau merasa ngeri dan meremang bulu tengkuk mereka mendengar jerit ibu mereka ini.

 

“Tenang, adikku, pinni berada di sini. Setan apa yang kau takuti?” kembali nikouw itu membujuk dan mendesak.

 

Nyonya itu menangis, terengah-engah, lalu berkata, lirih tapi masih ketakutan, “Setan… dalam peti mati… suaranya… suling… suling maut….”

 

Nikouw itu berdiri. Nyonya yang ketakutan itu sudah tak bergerak lagi. Tiga orang muda itu menubruk dan menangisi ibunya. Kui Lan Nikouw berbisik-bisik, membaca mantera dan doa-doa, mendoakan roh-roh ketiga orang itu. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi dapat menduga bahwa tiga orang itu menjadi korban seorang penjahat yang luar biasa sekali. Mungkin ucapan terakhir dari ibu Bu Sin dan Sian Eng tadi hanyalah kata-kata igauan yang tiada artinya. Akan tetapi bahwa pembunuh itu sakti, tak dapat disangsikan lagi karena tingkat kepandaian Kam Si Ek bukanlah rendah, apa lagi orang she Giam itu juga menjadi korban, terbunuh secara mengerikan.

 

Setelah selesai mengurus pemakaman tiga jenazah itu, Kui Lan Nikouw membuka sampul surat yang ia temukan dalam kamar adik seperguruannya. Sampul surat yang memang ditujukan kepadanya. Ia

 

 

 

membaca isi surat itu, menggeleng-geleng kepala memanggil Bu Sin, Sian Eng, dan Lin Lin berkumpul. Di depan mereka ia baca lagi surat itu dengan suara keras. Surat itu singkat saja, seperti berikut:

 

Kui Lan suci yang mulia.

Surat ini kubuat lebih dulu, menjaga kalau-kalau aku tewas dalam menghadapi Giam Sui Lok. Kau tahu urusanku dengan dia, tak seorang pun boleh mencampuri, dia berhak menuntut seorang di antara kami harus mati untuk membiarkan yang lain hidup di samping Bwee Hwa. Sengaja kusuruh anak-anak pergi menjemput Suci.

 

Kalau aku tewas, kiranya Bwee Hwa tentu akan membunuh diri seperti yang berkali-kali ia nyatakan dalam hubungan kami dengan orang she Giam itu. Kalau terjadi kami berdua tewas, harap Suci atur anak-anak.

 

Peti hitam itu selain berisi harta pusaka yang sengaja kusimpan, juga terdapat sebuah gelang emas dengan huruf Bu Song. Kau tahu, itu adalah gelang emas milik Bu Song. Harta pusaka itu diberikan kepada empat orang anak, bagi rata, jangan bedakan sedikit juga antara Bu Song dan Lin Lin serta yang dua orang. Akan tetapi suruh tiga orang anak itu pergi mencari Bu Song sampai dapat. Aku tidak tahu di mana ia berada, pengetahuanku tentang dia sama dengan pengetahuanmu, Suci, maka kau ceritakan kepada mereka.

 

Kalau aku tewas di tangan Giam Sui Lok, pesan semua anak-anak jangan mencari dan membalas dendam kepadanya. Sudah terlalu banyak orang she Giam itu menderita karena aku.

 

Hormat Sute-mu, KAM SI EK

 

Sambil terisak-isak mendengarkan bunyi surat pesan terakhir dari ayah mereka itu, tiga orang anak ini pun terheran-heran dan banyak hal yang mereka tidak mengerti.

 

“Kalian tentu tidak tahu siapa itu Bu Song. Baiklah pinni ceritakan secara singkat. Dahulu,  sebelum Ayahmu menikah dengan Ibumu setelah menang berebutan dengan Giam Sui Lok, Ayahmu adalah seorang duda yang mempunyai seorang anak laki-laki tunggal diberi nama Bu Song, Kam Bu Song. Pada waktu itu Bu Song sudah berusia sembilan tahun kurang lebih. Ayahmu menjadi duda bukan karena kematian isterinya, melainkan karena perceraian. Ibu Bu Song seorang ahli silat yang kepandaiannya jauh melebihi Ayahmu, sayangnya… hemmm, hal ini terpaksa kuberitahukan, dia itu dahulunya adalah seorang gadis dari golongan hitam. Wataknya keras, dan mungkin karena inilah ia berpisah dari Ayahmu yang lalu menikah lagi dengan Ibumu.”

 

“Dan ke mana perginya… eh, Kakak Bu Song itu, Sukouw? Bukankah dia itu terhitung kakakku, karena dia pun putera Ayah?” tanya Bu Sin, berdebar hatinya mendengar bahwa dia bukanlah anak sulung, melainkan yang kedua dan di sana masih ada kakaknya yang hampir sepuluh tahun lebih tua dari padanya.

 

“Itulah yang selalu mengganggu hati mendiang Ayahmu. Ketika mendengar bahwa Ayahmu akan menikah dengan Ibumu, Bu Song, anak yang keras hati seperti ibunya itu diam-diam minggat pada malam hari dan sampai saat ini tidak diketahui di mana tempat tinggalnya.”

 

Hening sejenak. Tiga orang anak itu merasa terharu. “Apakah Ayah tidak mencarinya, Sukouw?” tanya Sian Eng.

 

“Tentu saja. Malah tujuh tahun kemudian Ayahmu mendengar bahwa puteranya itu berada di kota raja sebagai seorang pelajar yang menempuh ujian. Nama yang dipakainya tetap Bu Song, akan tetapi shenya she Liu, agaknya ia menggunakan she ibunya.”

 

“Liu Bu Song…,” kata Lin Lin, agaknya hendak mengingat-ingat nama itu di hatinya. Entah mengapa, ia merasa ter­tarik dan ada perasaan simpati di hatinya terhadap Liu Bu Song. Mungkin hal ini karena ia teringat akan nasibnya sendiri sebagai seorang anak pungut yang sudah tidak beribu bapak lagi.

 

“Akan tetapi ketika Ayahmu mencarinya ke sana, Bu Song sudah menghilang lagi dan sampai sekarang Ayahmu tidak tahu di mana dia berada. Sekarang, Ayah kalian menghendaki supaya kalian pergi mencarinya. Bagaimana pendirian kalian akan hal ini?”

 

“Sukouw, teecu merasa lebih perlu untuk pergi mencari setan dalam peti mati yang membawa suling itu. Teecu takkan mau pulang sebelum dapat membalas dendam atas kematian Ayah dan Ibu!”

 

 

 

 

“Teecu juga!” kata Sian Eng.

 

“Tentu saja teecu juga,” sambung Lin Lin. “Akan tetapi teecu juga akan cari sampai dapat dia itu… eh, Kakak Bu Song.”

 

Kui Lan Nikouw mengangguk-angguk. “Pinni tidak dapat menyalahkan kalian untuk dendam ini, apa lagi kalian hanya orang-orang muda yang berdarah panas. Akan tetapi janganlah kalian terlalu sembrono dan mengira akan mudah saja mencari orang yang hanya dikenal sebagai setan dalam peti yang membawa suling. Hemmm, apa lagi melihat kepandaian orang itu, andai kata kalian dapat menemukannya, agaknya belum tentu kalian akan dapat menang. Oleh karena itu, pinni perkenankan kalian pergi merantau mencari kakak kalian dan juga sekalian mencari musuh besar itu. Akan tetapi, apa bila kalian sudah bisa bertemu dengan musuh besar itu, kalian tidak boleh bertindak sembrono, lebih baik kalian memberi tahu kepada pinni. Kalau pinni mampu, tentu pinni akan membantu kalian. Andai kata tidak mampu, pinni masih dapat minta bantuan orang-orang pandai yang pinni kenal. Berjanjilah bahwa kalian tidak akan bertindak sembrono, baru pinni memperkenankan kalian pergi.”

 

Tiga orang muda itu berjanji akan mentaati pesan ini. Sebulan kemudian, berangkatlah tiga orang kakak beradik itu dan seperti telah diceritakan di bagian depan, mereka menumpang perahu mengikuti aliran Sungai Han yang mengalir ke timur mendengarkan cerita tukang perahu yang gemar berceloteh.

 

— dunia-kanguw.blogspot.com —

 

Berhari-hari tiga orang muda she Kam itu melakukan perjalanan dengan perahu, menikmati pemandangan yang amat indah di kanan kiri sungai. Tukang perahu bercerita banyak tentang keadaan kota-kota besar dan perubahan-perubahannya semenjak Wangsa Sung berdiri.

 

“Kita sudah dekat dengan kota Wu-han,” tukang perahu itu berkata dan wajahnya sekarang berubah menjadi gelisah. “Seperti telah saya nyatakan ketika Sam-wi (Anda Bertiga) menyewa perahu ini, saya hanya dapat mengantar sampai di Wu-han saja dan selanjutnya untuk menuju ke kota raja, Sam-wi dapat melakukan perjalanan melalui darat.”

 

Mendengar ini, Lin Lin bertepuk tangan dan berjingkrak girang. “Bagus sekali! Aku sudah bosan duduk dan tidur di perahu berhari-hari, kedua kakiku pegal-pegal karena tidak dipakai berjalan. Empek tukang perahu, masih berapa lama lagikah kita sampai di Wu-han?”

 

“Tidak lama lagi, Nona, sore nanti juga sampai. Akan tetapi menyesal sekali, saya tidak akan dapat mengantar sampai ke kota, terpaksa harus berhenti di luar kota.”

 

“Eh, kenapa begitu, Lopek?” Bu Sin menegur. “Bukankah kita sudah janji akan turun di Wu-han dan membayar sewanya kepadamu di sana?”

 

“Maaf, Tuan Muda. Tentu saja saya akan merasa senang sekali mengantar Sam-wi sampai ke kota, akan tetapi saya tidak berani melakukannya.”

 

“Tidak berani? Kenapa?” Sian Eng ikut bicara.

 

“Karena hal itu berarti bahwa uang sewa yang akan saya terima dari Sam-wi, takkan dapat kubawa pulang, paling banyak hanya setengahnya yang akan dapat saya miliki. Wah, jembel-jembel busuk itu benar-benar membuat hidup kami para nelayan tidak tenteram lagi, Nona.”

 

“Apa maksudmu? Siapa itu jembel-jembel busuk? Harap ceritakan kepada kami,” Bu Sin mendesak dengan rasa penasaran.

 

“Mereka merajalela sekarang, Tuan Muda, jembel-jembel busuk itu. Semenjak Kerajaan Sung berdiri, mereka itu kini mempunyai pengaruh yang amat besar. Di mana-mana, terutama di kota-kota besar, pengemis-pengemis itu berkelompok dan bergabung. Mereka menggunakan praktek pemungutan pajak liar. Apa lagi di Wu-han. Saya mendengar bahwa Wu-han merupakan pusat, maka di sana berkeliaran banyak sekali pengemis dan setiap orang harus tunduk terhadap mereka. Para nelayan harus membayar pajak kepada mereka setiap kali mendarat, baik berupa hasil penangkapan ikan mau pun hasil menyewakan perahu.” Tukang perahu itu kelihatan berduka dan penasaran.

 

“Aiiihhh, mana ada aturan begitu?” Lin Lin membanting kaki dengan marah.

“Lopek, apakah yang berwajib tidak melarang mereka melakukan perbuatan sewenang-wenang?” Bu Sin

bertanya penasaran.

 

Tukang perahu menggelengkan kepalanya. “Mereka tidak berdaya. Pengemis-pengemis itu lihai, semua pandai ilmu silat. Selain itu, mereka itu mengaku sebagai bekas-bekas pejuang yang membantu pendirian Kerajaan Sung. Oleh karena itu, Tuan Muda, kalau Sam-wi kasihan kepada saya, harap Sam-wi sudi turun di luar kota saja, karena kalau diteruskan sampai ke Wu-han, tidak urung uang sewa itu akan mereka minta sebagian atau kalau saya sedang sial, mungkin mereka akan merampasnya semua.”

 

Merah wajah Bu Sin dan kedua adiknya. “Tidak, Lopek! Kita terus ke Wu-han dan kami yang tanggung bahwa jembel-jembel busuk yang jahat itu tidak akan mengganggumu!”

 

“Tapi….”

 

“Kalau perlu pedang kami ikut bicara!” Lin Lin berseru sambil meraba gagang pedangnya.

 

Tukang perahu tidak berani membantah lagi. Dengan muka berkerut-merut penuh kekhawatiran tukang perahu melanjutkan perahunya. Benar seperti yang dikatakannya tadi, menjelang sore, perahu sudah tiba di luar tembok kota Wu-han. Di kota Wu-han inilah Sungai Han memuntahkan airnya ke dalam sungai Huang-ho dan di tempat ini merupakan pelabuhan sungai yang ramai. Mendekati tempat ini, tukang perahu pucat mukanya dan tubuhnya gemetar ketakutan.

 

“Celaka, Tuan Muda, lihat di sana, mereka benar-benar sudah siap merampok saya…,” bisik  tukang perahu.

 

Bu Sin dan dua orang adiknya memandang, akan tetapi tidak ada yang aneh di pelabuhan itu. Karena hari telah sore, pelabuhan itu nampak agak sunyi, hanya beberapa orang nelayan yang sibuk, ada yang menambal perahu, ada yang menjemur jala dan menambal layar. Empat orang pengemis duduk di atas tanah bermalas-malasan. Apakah pengemis-pengemis kurus kering itu yang ditakuti tukang perahu? Hampir saja Lin Lin terkekeh memikirkan hal ini, namun tak dapat ia menahan hatinya bertanya.

 

“Lopek, kau maksudkan empat ekor cacing tanah itu yang akan mengganggumu?” “Sssttttt, Nona jangan bicara terlalu keras…,” tukang perahu makin pucat.

“Dan Tuan Muda harap suka memberikan uang sewa sekarang juga kepada saya, jangan di depan mereka itu….”

 

“Tidak, Lopek. Kami malah hendak melihat apa yang mereka akan lakukan terhadapmu. Jangan khawatir, kalau mereka berani merampokmu, kami akan memberi hajaran kepada mereka,” kata Bu Sin.

 

Dengan terpaksa tukang perahu minggirkan perahunya. Empat orang pengemis itu menoleh ke arah perahu. Seorang di antara mereka yang hidungnya bengkok, menguap lalu berkata keras tanpa berdiri dari tempat duduknya di atas tanah.

 

“Heee, tukang perahu, dari manakah kau?”

 

Mengherankan sekali melihat seorang pengemis menegur secara begini dan si tukang perahu menjawab dengan sikap hormat, “Kami datang dari daerah Propinsi Shan-si, dusun La-kee-bun dekat Sungai Han.”

 

Empat orang pengemis itu sekarang berdiri mengulet dan menguap. Si Hidung bengkok melangkah lebar menghampiri, tanpa pedulikan Bu Sin dan dua orang adik perempuannya yang sudah meloncat turun dan berdiri memandang dengan mata tajam. “Ho-ho-ho-ho, perjalanan yang jauh sekali. Tentu biayanya banyak. Berapa kau terima?”

 

“…hanya… hanya dua puluh tail… itu pun belum saya terima…,” jawab si tukang perahu ketakutan.

 

“Goblok benar! Sejauh itu hanya dua puluh tail? Kau ditipu! Atau kau yang bohong? Setidaknya harus lima puluh tail!”

 

 

 

Si tukang perahu makin takut. “Betul, sahabat. Hanya dua puluh tail, akan tetapi Tuan Muda dan kedua Nona ini membagi makan dengan saya dan….”

 

Lin Lin sudah tidak sabar lagi mendengarkan percakapan ini. Ia melangkah maju dan telunjuk kanannya yang runcing menuding muka pengemis itu. “Hih, kau ini pengemis tukang minta-minta ataukah perampok? Ada sangkut-paut apa denganmu tentang urusan kami dengan tukang perahu?”

 

Pengemis itu memandang heran, lalu terbahak. “Ha-ha-ha, Loheng (Kakak), kau lihat anak ayam ini. Nona cantik, kau belum mengenal kami, ya? Kalau kau tahu siapa aku, hemmm, kau akan lari terkencing- kencing!” Empat orang pengemis itu tertawa mendengar ucapan terakhir ini.

 

“Jembel busuk! Siapa sudi mengenal macammu? Aku hanya tahu bahwa kau seorang jembel kotor yang berhidung bengkok. Minggat dari sini kalau kau tidak ingin aku membikin hancur hidungmu yang bengkok dan menjijikkan itu!” Lin Lin membentak dan melangkah maju. Bu Sin dan Sian Eng yang sudah mengenal watak Lin Lin tidak mau mencegah, apa lagi mereka memang mendongkol menyaksikan sikap para pengemis itu. Mereka siap menghadapi pertempuran dan membantu Lin Lin.

 

Pengemis berhidung bengkok marah sekali. Dengan sikap memandang rendah ia mendekati Lin Lin. “Bocah liar, kau perlu dihajar!” Lengannya yang panjang itu diulur maju dengan jari-jari tangan terbuka, agaknya hendak menangkap Lin Lin.

 

Gadis ini tentu saja tidak sudi mem­biarkan pengemis itu menyentuhnya. Tubuhnya berkelebat  cepat sekali, kaki kirinya melayang ke atas dan….

 

“Prakkk!” ujung sepatunya telah mencium muka pengemis itu dengan keras.

 

Si pengemis itu terhuyung ke belakang, mengaduh kesakitan sambil menutupi mukanya. Darah bercucuran keluar dari hidungnya yang kini menjadi makin miring dan bengkok ke kiri! Matanya yang kanan menjadi hitam dan tak dapat dibuka lagi.

 

“Setan cilik, kalian berani mencari perkara dengan kami orang-orang dari Pek-ho-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bangau Putih)?” Tiga orang pengemis yang lain lalu bergerak menerjang Lin Lin.

 

Gadis ini tertawa mengejek dan menghadapi mereka tanpa gentar sedikit pun juga. Bu Sin dan Sian Eng tentu saja tidak mau berpeluk tangan melihat Lin Lin hendak dikeroyok.

 

“Jembel-jembel jahat, jangan kurang ajar!” Sian Eng berseru dan tubuhnya berkelebat menghadapi seorang pengemis.

 

Bu Sin tanpa mengeluarkan suara juga menerjang maju menghadapi pengemis kedua. Ada pun pengemis yang memaki tadi sudah bertanding melawan Lin Lin. Tiga orang muda ini tidak mau mempergunakan pedang ketika melihat bahwa lawan mereka hanyalah orang biasa saja yang mengandalkan ilmu silat pasaran dan hanya pandai main gertak saja. Lin Lin menghadapi lawannya sambil tertawa-tawa, mempermainkannya dengan kelincahan tubuhnya sehingga semua serangan lawan itu hanya mengenal angin kosong belaka.

 

Tempat yang tadinya sunyi itu kini penuh orang karena mereka ingin menonton pertempuran itu. Kejadian yang amat mengherankan mereka, akan tetapi diam-diam mereka mengkhawatirkan keselamatan tiga orang muda itu. Hampir setahun lamanya para pengemis Pek-ho-kai-pang itu merajalela, tak seorang pun berani menentang mereka. Sekarang ada tiga orang muda asing yang datang-datang bertempur melawan pengemis-pengemis itu, tentu saja mereka amat tertarik dan berbondong-bondong datang menonton. Bahkan orang-orang dalam kota Wu-han yang mendengar berita ini bergegas datang untuk menonton. Akan tetapi banyak di antara mereka terlambat karena ketika mereka datang ke pinggir sungai, pertempuran itu sudah selesai.

 

Bu Sin yang wataknya pendiam dan tidak mau main-main, segera dapat merobohkan lawannya dengan sebuah tendangan kilat. Pengemis itu terlempar, bergulingan dan tak dapat tertahan lagi tubuhnya menggelinding ke dalam sungai! Sian Eng juga merobohkan lawannya semenit kemudian. Pukulannya dengan tangan miring yang ‘memasuki’ lambung lawan membuat pengemis lawannya itu roboh menekan- nekan perut dan meringis kesakitan, duduk berjongkok tak tentu geraknya, tapi tidak mampu bangun kembali.

 

 

 

“Stoppp!” Lin Lin membentak dengan mengulur lengannya ke depan, menyetop pengemis yang menjadi lawannya.

 

Pengemis itu kaget, mengira gadis itu benar-benar hanya menyetopnya saja. Ia pun berdiri dengan memasang kuda-kuda dan memandang heran.

 

“Stop dulu sebentar, ya?” Lin Lin melangkah mendekati pengemis bekas lawan cicinya yang kini mendekam di atas tanah itu. Kakinya bergerak dan… tubuh pengemis itu terlempar ke dalam sungai  menyusul kawannya! Setelah melakukan hal ini, Lin Lin menghampiri lawannya kembali yang masih berdiri memasang kuda-kuda, lalu berkata manis, “Nah, sekarang boleh teruskan!”

 

Sikap gadis yang lincah jenaka ini memancing ledakan ketawa dari para penonton. Memang sudah terlalu lama mereka tertekan oleh para pengemis, merasa penasaran dan marah yang ditahan-tahan. Sekarang ada tiga orang muda memberi hajaran, hati mereka lega dan puas. Biar pun biasanya mereka takut terhadap para pengemis Pek-ho-kai-pang, sekarang menyaksikan sikap gadis remaja yang cantik jelita dan jenaka itu, mereka tak dapat menahan kegembiraan mereka.

 

Lawan Lin Lin marah bukan main, sedangkan pengemis hidung bengkok yang menjadi orang pertama mendapatkan hajaran, siang-siang sudah meninggalkan tempat itu sambil mendekap hidungnya yang remuk. Kemarahan lawan Lin Lin membuat Lin Lin makin gembira. Ia tidak peduli betapa pengemis itu sudah mengeluarkan sebatang tongkat dan menyerang dengan tongkat di tangan.

 

“Wah, baunya yang tidak tahan!” Lin Lin menggunakan tangan kiri memijat hidungnya dan kini hanya menghadapi tongkat pengemis itu dengan tangan kanan saja.

 

Memang lincah sekali gerakan Lin Lin. Tongkat itu biar pun diputar dan dipukul-pukulkan bertubi-tubi, tak pernah dapat menyentuh ujung bajunya. Malah beberapa kali, dengan gerakan kilat, gadis ini sudah berhasil memutar ke belakang lawannya dan mengirim tendangan ke arah pantatnya sampai  mengeluarkan suara berkeplok dan debu mengebul dari celana yang kotor itu. Para penonton terkekeh- kekeh geli dan ada yang memegangi perut saking menahan tawa.

 

“Lin-moi, lekas bereskan dia!” Bu Sin mengerutkan kening, membentak adiknya. “Sudah beres, Sin-ko!” jawab Lin Lin.

Dan tanpa pengemis itu dapat mengerti, tahu-tahu tongkatnya sudah terampas di tangan kanan gadis itu dan kini ia terpaksa terhuyung-huyung mundur dan miring ke kanan kiri karena digebuki dengan tongkatnya sendiri. Lin Lin terus menggebuk pundak, mendorong dada dan akhirnya pengemis yang mundur-mundur itu terjengkang masuk ke dalam sungai!

 

Karena takut dipermainkan terus oleh Lin Lin, tiga orang pengemis itu membiarkan tubuh mereka hanyut oleh air sungai dan baru berenang mendarat setelah agak jauh dari tempat itu. Ada pun Bu Sin segera membayar tukang perahu yang ketakutan dan menyuruhnya cepat-cepat pergi dari situ. Tanpa diperintah dua kali, si tukang perahu lalu mendayung perahunya sepanjang pinggir sungai melawan arus yang tidak begitu kuat.

 

Bu Sin maklum bahwa mereka telah membuat ribut di tempat ini, maka ia segera mengajak kedua orang adiknya untuk memasuki kota Wu-han, tidak mempedulikan orang-orang yang tadinya menonton dan kini memandang kepada mereka penuh kekaguman dan kekhawatiran sambil membicarakan peristiwa tadi.

 

Karena malam telah tiba dan mereka merasa lelah sehingga tak mungkin melanjutkan perjalanan di waktu malam, Bu Sin mengajak dua orang adiknya ber­malam pada sebuah rumah penginapan yang berada di sebelah timur pusat kota. Sebuah rumah penginapan yang sederhana, namun cukup bersih. Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah penginapan, mereka tidak pernah melihat adanya pengemis. Lega hati Bu  Sin, karena ia sudah merasa khawatir kalau-kalau urusan itu berkepanjangan dan mereka akan menemui kesulitan dari kawan-kawan empat orang pengemis tadi.

 

“Wah, cerita empek tukang perahu tadi dilebih-lebihkan,” kata Lin Lin. “Katanya di sini berkeliaran banyak pengemis jahat, mana buktinya? Hanya empat ekor cacing tanah tadi yang tiada gunanya sama sekali.”

 

“Eh, Lin-moi, kenapa sih kau agaknya ingin sekali melihat pengemis-pengemis lagi? Mau apa?” tegur Sian Eng setengah menggoda.

 

 

 

 

“Ingin memberi hajaran lagi kalau mereka benar-benar jahat, biar kapok!” jawab Lin Lin.

 

“Lin-moi, jangan sembrono kau. Apakah kau kira setelah melihat empat orang pengemis jahat tadi, kau lalu menganggap bahwa semua pengemis jahat belaka? Yang tidak jahat patut dikasihani, seperti dia itu, bukankah patut dikasihani?” Bu Sin menunjuk ke arah seorang pengemis tua yang duduk kedinginan di bawah pohon yang berada di depan rumah penginapan.

 

Lin Lin dan Sian Eng memandang. Memang patut dikasihani pengemis tua ini. Ia duduk bersila melenggut bersandarkan tongkat bututnya, pakaiannya penuh tambalan, tubuhnya menggigil kedinginan, rambutnya riap-riapan seperti rambut orang gila. Kakek ini sudah tua sekali, kedua matanya meram dan dari pinggir matanya keluar kotoran bertumpuk. Bibirnya agak terbuka dan air liurnya bertetesan keluar. Menjijikkan, namun juga menimbulkan kasihan.

 

Dasar Lin Lin berwatak aneh dan mudah sekali berubah. Gadis ini semenjak kecilnya memang sudah   aneh. Mudah marah, mudah menangis, mudah tertawa. Kalau marah hanya sebentar, kalau menangis pun hanya sebentar, dan sebagian besar waktunya tentu diisi dengan tawa dan berjenaka. Kini  melihat keadaan kakek ini, tiba-tiba saja kemarahannya terhadap para pengemis tadi lenyap. Ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sepotong uang perak dan melemparkannya ke pangkuan kakek itu. Akan tetapi kakek pengemis itu masih saja tidur.

 

Bu Sin dan Sian Eng terkejut, akan tetapi karena mereka sudah tahu akan watak Lin Lin yang memang aneh, mereka tidak berkata apa-apa, hanya di dalam hati mengeluh bahwa kalau Lin Lin bersikap seroyal ini terhadap semua pengemis, sebentar saja mereka akan kehabisan bekal di jalan! Masa memberi sedekah kepada seorang pengemis sampai sepotong uang perak? Namun, karena hal itu telah terjadi, mereka tidak mencegah dan ketiganya segera memasuki rumah penginapan, minta sewa dua buah kamar. Sebuah untuk Lin Lin dan Sian Eng, sebuah lagi untuk Bu Sin.

 

Karena merasa lelah, tiga orang muda itu tidak pergi keluar untuk makan, melainkan menyuruh seorang pelayan rumah penginapan memesan makanan. Selagi mereka makan, terdengar ribut-ribut di luar. Ketiganya keluar dan apa yang terjadi di luar? Ternyata pengemis tua itulah yang menimbulkan keributan.

 

Tadinya orang-orang di dalam ruangan depan rumah penginapan itu, yakni para tamu yang kebetulan duduk di ruangan depan mendengar suara orang berteriak-teriak marah. Seorang pelayan wanita membawa lampu ke luar dari ruangan untuk melihat apa gerangan yang terjadi. Kiranya pengemis tua itulah yang berteriak-teriak, “Nyamuk keparat! Nyamuk gila!”

 

Kakek pengemis itu masih duduk, akan tetapi sekarang tubuhnya yang masih duduk itu terpental-pental ke atas dalam keadaan masih bersila. Debu mengebul di bawahnya ketika tubuhnya itu terbanting-banting, tangan kanannya mengusir nyamuk yang merubungnya, tangan kiri memegangi tongkat. Wanita pelayan  itu kaget sekali. Siapa yang takkan menjadi kaget dan heran melihat orang duduk bersila dapat berloncatan seperti itu? Beberapa orang tamu berlari ke luar dan sebentar saja banyak orang melihat kakek itu.

 

Bu Sin dan dua orang adiknya juga bergegas ke luar, meninggalkan meja makan. Mereka bengong dan terkejut. Itulah pertunjukan ginkang yang hebat. Makin lama tubuh kakek itu meloncat makin tinggi seperti terbang, sedangkan keadaannya masih duduk bersila. Yang lebih hebat lagi, uang perak yang tadinya berada di pangkuan kakek itu sekarang berada di bawahnya, juga uang ini ikut berloncatan di bawah  pantat si kakek jembel!

 

“Nyamuk keparat!” kakek itu masih bersunggut-sunggut, tapi kata-kata sambungannya yang tak dimengerti orang lain itu mengejutkan Bu Sin dan adik-adiknya, “Keparat, uang perak membatalkan niatku membunuh tiga ekor nyamuk!”

 

Setelah berkata demikian, kakek itu melirik ke arah Bu Sin dan adik-adiknya. Sekarang tampak oleh mereka bahwa kakek itu matanya buta sebelah. Kakek itu bangkit berdiri, meludah sekali, lalu berjalan pergi terbongkok-bongkok dibantu tongkatnya.

 

Orang-orang tertawa. “Kakek itu gila, rupanya…”

 

Akan tetapi Bu Sin dan adik-adiknya lebih mengerti. Sama sekali bukan kakek gila, melainkan seorang sakti yang luar biasa. Apa lagi ketika mereka memandang lebih jelas, kiranya uang perak yang tadi masih ditinggalkan di situ dan uang itulah yang tadi diludahi si kakek. Ketika Bu Sin membungkuk untuk melihat

 

lebih jelas, uang itu ternyata telah melesak dan melengkung oleh ludah.

Pucat wajah Bu Sin. “Celaka…!” pikirnya. “Tentu yang dimaksudkan dengan tiga ekor nyamuk tadi adalah

kita bertiga!” Tanpa banyak cakap lagi ia lalu mengajak dua orang adiknya masuk ke dalam kamar, membereskan bekal pakaian dan malam itu juga ia mengajak adik-adiknya meninggalkan kota Wu-han!

 

“Eh, kenapa kau seperti orang ketakutan?” tanya Lin Lin.

 

“Lin-moi, karena perbuatanmu memberi sedekah tadi, nyawa kita sampai detik ini masih selamat,” jawab  Bu Sin sambil mengajak dua orang adiknya berjalan cepat.

 

“Eh, apa maksudmu, Koko?” Sian Eng kaget sekali, juga Lin Lin memandang kakaknya dengan mata terbelalak.

 

“Kalian ini bocah-bocah sembrono sekali. Tidak lihatkah tadi betapa kakek pengemis itu memperlihatkan ilmu ginkang yang amat luar biasa? Dan uang perak itu, diludahi saja menjadi bengkok dan rusak! Tidak salah lagi, dia tentu seorang sakti dan melihat pakaiannya, agaknya dia seorang di antara pimpinan perkumpulan pengemis. Lupakah kalian akan kata-katanya tadi bahwa uang perak membatalkan niatnya membunuh tiga ekor nyamuk? Tentu yang ia maksudkan tiga ekor nyamuk adalah kita bertiga. Agaknya dia tadinya bermaksud membunuh kita bertiga, akan tetapi karena Lin Lin memberinya sepotong uang perak, ia membatalkan niatnya. Sungguh berbahaya!”

 

Lin Lin membanting kaki. “Kakek keparat! Kita menaruh kasihan dan memberi sedekah, dia malah menghina, menyebut kita nyamuk dan memandang rendah sekali. Sin-ko, kenapa kau tadi tidak bilang kepadaku? Sedikitnya aku dapat mencoba kepandaiannya, sampai di mana sih tingginya maka dia begitu sombong?”

 

“Lin-moi, jangan bicara sembarangan. Dia orang sakti!” bentak Bu Sin. “Aku tidak takut!” Lin Lin mengedikkan kepala membusungkan dada.

Bu Sin hendak marah, akan tetapi segera ditekannya perasaannya. Ia tidak bisa marah kepada Lin Lin. Pertama karena memang ia amat sayang kepada adik angkatnya ini, kedua, karena ia merasa tidak enak kalau harus marah kepada adik angkat, khawatir kalau-kalau Lin Lin merasa dibedakan. Memang, biar pun masih muda, Bu Sin mempunyai watak yang baik sekali.

 

“Lin-moi, lain kali kau harus mentaati kata-kata Koko jangan banyak membantah. Kau membikin Sin-ko menjadi bingung dan marah saja!” Sian Eng menegur Lin Lin.

 

Setelah ditegur, barulah Lin Lin insyaf. Sambil tertawa ia menyambar tangan Bu Sin. “Sin-ko, apakah kau marah kepadaku? Apakah aku banyak rewel? Ampunkan saja aku, ya kakak yang baik?”

 

Mau tak mau Bu Sin tertawa juga. “Kau memang nakal.”

 

“Memang aku nakal, tapi tidak galak seperti Enci Sian Eng!” Lin Lin mengerling ke arah cicinya. Kini Sian Eng yang cemberut dan tangannya menyambar hendak mencubit lengan adiknya. Lin Lin meloncat, lari memutari tubuh Bu Sin dan menjerit-jerit, “Sin-ko, tolong… Enci galak mau bunuh aku…!”

 

“Hushhh, gila kau, Lin-moi! Masa bunuh, siapa yang bunuh? Memangnya kau ini seekor semut, gampang saja dibunuh.” Terpaksa Sian Eng menghentikan kejarannya. Tak berdaya ia terhadap adik yang nakal ini.

 

Karena di sepanjang jalan mereka bersendau-gurau, tanpa terasa tiga orang muda ini sudah keluar dari kota Wu-han melalui pintu kota sebelah timur. Malam telah larut dan keadaan amat gelap karena langit hanya diterangi bintang-bintang. Amat sukar melakukan perjalanan di malam gelap, apa lagi kalau orang tidak mengenal jalan. Tiga orang muda itu selamanya belum pernah melewati jalan itu.

 

“Sin-ko, kita tidak tahu mana jurusan ke kota raja, dan aku amat lelah,” Sian Eng mengomel. “Sebaiknya kita menunda perjalanan malam ini dan melanjutkannya esok pagi-pagi.”

 

“Kita sudah keluar dari Wu-han sekarang, boleh saja berhenti. Akan tetapi di mana harus beristirahat? Tidak ada sebuah rumah pun, sejak tadi tidak terlihat api rumah penduduk. Agaknya daerah ini jauh dari dusun.” kata Bu Sin.

 

 

 

 

“He, kalian lihat. Bukankah di sana itu rumah? Tapi gelap amat…!” Lin Lin tiba-tiba berkata.

 

Mereka melihat dan benar saja. Di antara kegelapan malam yang disinari bintang-bintang di langit itu tampak bayangan sebuah bangunan rumah di sebelah kiri. Seperti diberi komando ketiganya menghampiri rumah itu dan setelah mereka berada di pekarangan depan, kiranya itu adalah sebuah kelenteng yang sudah tua dan tidak terpakai lagi.

 

“Kita istirahat di sini melewatkan malam,” kata Bu Sin dengan hati lega. Biar pun hanya sebuah kelenteng tua dan rusak, namun cukup lumayan dan jauh lebih baik dari pada bermalam di tengah jalan, di udara terbuka.

 

Baru saja mereka membersihkan lantai yang berdebu dan duduk, tiba-tiba tampak sinar api dan di depan kelenteng tua itu telah berdiri belasan orang yang memegang obor! Tiga orang muda itu memandang dan terkejutlah mereka ketika melihat bahwa empat belas orang itu berpakaian seperti pengemis!

 

“Kalian mau apa?” bentak Lin Lin yang sudah meloncat berdiri bersama dua orang saudaranya.

 

Seorang kakek pengemis bertubuh pendek gemuk, agaknya pemimpin rombongan itu karena hanya dia seorang yang tidak memegang obor, tersenyum lebar dan berkata, “Sam-wi (Kalian Bertiga) sudah merobohkan empat orang anak buah kami, sekarang pangcu (ketua) kami memanggil Sam-wi menghadap.”

 

Bu Sin tidak heran menghadapi rombongan ini karena memang ia sudah mengkhawatirkan akibat dari  pada sepak terjang mereka di tepi sungai sore tadi. Ia seorang pemuda yang waspada dan hati-hati, akan tetapi mendengar ucapan yang amat memandang rendah itu, ia menjadi mendongkol juga. Biar pun pemimpin mereka seorang pangcu, akan tetapi hanya ketua pengemis saja, bagaimana berani memanggil mereka menghadap seperti sikap pembesar saja?

 

“Lopek (Paman Tua), peristiwa sore tadi adalah karena kesalahan teman-temanmu sendiri yang hendak melakukan perampokan sehingga terpaksa kami orang-orang muda turun tangan. Kami tidak mempunyai urusan dengan perkumpulan kalian, juga tidak mengenal ketua kalian. Kalau dia mempunyai urusan dengan kami, persilakan dia datang ke sini bicara,” jawabnya dengan suara angkuh dan sikap tenang.

 

Kakek pengemis gemuk pendek itu tiba-tiba tertawa. “Ha-ha-ha-ha, baru bisa merobohkan empat orang anak buah kami yang tiada guna saja kalian sudah besar kepala. Ah, kalian seperti anak burung yang baru belajar terbang, tidak mengenal tingginya langit luasnya lautan. Orang muda, pangcu kami memanggil kalian menghadap dengan baik-baik, harap kalian mengerti dan dapat menghargai kesabaran ini. Jangan sampai aku orang tua turun tangan terhadap bocah-bocah nakal, aku malu untuk berbuat demikian.”

 

Seakan meledak rasa dada Lin Lin mendengar ucapan yang amat memandang rendah ini. Ia meloncat maju dan membentak, “Pengemis tua bangka sombong, kau kira kami takut kepadamu? Biar pangcumu datang sendiri, kami tidak akan takut. Kami tidak mau datang, kalian mau apa?”

 

“Ho-ho, benar-benar seperti katak dalam tempurung! Orang-orang muda, apakah kalian datang  dari wilayah Kerajaan Hou-han di Shan-si?”

 

“Memang kami datang dari wilayah Hou-han, dan kami adalah sebangsa ho-han (orang-orang gagah), apakah kalian baru tahu sekarang?” Lin Lin yang pandai bicara itu menjawab, mendahului kakaknya yang masih diam saja.

 

Bu Sin maklum bahwa kalau ia membiarkan terus adiknya ini tampil ke depan dan beraksi keadaan tidak akan menjadi lebih baik, malah akan menjadi lebih kacau lagi! Maka ia cepat maju menghadapi kakek pendek itu.

 

“Lopek, ketahuilah bahwa kami orang-orang muda melakukan perjalanan hanya lewat saja di sini, sama sekali tidak mencari perkara dengan siapa pun juga. Kebetulan saja sore tadi kami bentrok dengan orang- orangmu karena mereka itulah yang mencari perkara. Kami hanya berhenti di sini untuk melewatkan malam, besok kami sudah pergi meninggalkan daerah ini. Harap kau orang tua menghabiskan perkara itu.”

 

“Kalian hendak kemana?”

 

 

 

“Ke Ibukota Kerajaan Sung.”

 

“Bagus! Kalian datang dari wilayah Hou-han hendak ke Ibukota Kerajaan Sung? Orang muda, mari ikut dengan kami menghadapi pangcu kami.”

 

Marah juga Bu Sin. Kakek pengemis ini terlalu memandang rendah. Biar pun di situ ada belasan orang pengemis, apakah dikira mereka bertiga takut?

 

“Kami tidak akan ikut denganmu!” jawabnya sambil mencabut pedang, diturut oleh Sian Eng dan Lin Lin. Tiga orang muda ini seperti tiga ekor harimau memperlihatkan taring, dengan pedang di tangan mereka siap menghadapi pengeroyokan. Sedikit pun mereka tidak merasa takut!

 

“Wah-wah, benar gagah!” kakek itu berkata, lalu memberi isyarat kepada teman-temannya. “Tangkap mereka!”

 

Bu Sin memutar pedangnya, mengancam, “Mundur kalian! Lihat pedang!”

 

Namun kakek itu sudah menerjangnya dengan tongkat, juga beberapa orang pengemis dengan tongkat mereka menyerbu Sian Eng dan Lin Lin yang sudah menyambut mereka dengan pedang. Pertempuran hebat terjadi di bawah sinar obor. Tiga batang pedang orang-orang muda she Kam itu berkelebatan cepat bagaikan sinar halilintar menyambar-nyambar dan dalam beberapa jurus saja tiga orang pengeroyok sudah roboh sambil memekik kesakitan.

 

Pengemis pendek gemuk memberi aba-aba. Bu Sin yang bermata awas melihat betapa para pengemis itu mengeluarkan gendewa dan anak panah! Berbahaya, pikirnya.

 

“Eng-moi, Lin-moi, padamkan obor dengan am-gi (senjata gelap)!” teriaknya dan tangan kirinya sudah merogoh saku, mengeluarkan senjata rahasianya, yaitu piauw (pisau terbang).

 

Tangan kirinya bergerak cepat, dua batang piauw menyambar dan terdengar pekik dua orang pemegang obor. Tangan mereka terhujam piauw dan obor yang mereka pegang jatuh, kemudian padam. Lin Lin dan Sian Eng juga sudah mempergunakan kelihaian mereka dengan senjata rahasia mereka, yaitu jarum-jarum halus. Dalam waktu singkat obor-obor itu runtuh dan padam.

 

Bu Sin mempergunakan kesempatan selagi keadaan gelap ini, memberi isyarat kepada kedua orang adiknya. Mereka maklum bahwa kalau pertempuran dilanjutkan dan mereka dikeroyok dengan anak panah, tentu mereka akan celaka. Maka dengan cepat mereka mempergunakan ginkang mereka, memutar pedang untuk menghalau setiap penghalang dan beberapa menit kemudian mereka sudah pergi dari tempat itu, lari di dalam gelap tanpa mengenal arah. Dua jam lebih mereka melarikan diri ke dalam sebuah hutan dan keadaan makin gelap karena daun-daun pohon yang amat rimbun menutupi langit di atas mereka.

 

“Wah, memalukan benar!” Lin Lin terengah-engah. “Kita lari-lari seperti tiga ekor kelinci dikejar-kejar harimau!” Suaranya jelas menyatakan bahwa ia tak senang melarikan diri ini, merasa sebal dan penasaran.

 

Bu Sin dan Sian Eng juga berhenti, menyusut keringat dengan ujung lengan baju. “Wah, berbahaya benar,” kata Bu Sin. “Lin-moi, kau benar-benar seperti yang dikatakan oleh kakek pengemis tadi, seperti katak dalam tempurung, tak tahu tingginya langit! Kalau kita tadi tidak cepat-cepat memadamkan obor dan mereka menghujankan anak panah, apa kau kira masih akan dapat bernapas saat ini?”

 

“Belum tentu, Sin-ko!” bantah Lin Lin. “Kita masih belum kalah, dan andai kata akhirnya kita mati dikeroyok, sedikitnya pedangku akan dapat membunuh beberapa orang lawan. Sedikitnya ada beberapa nyawa musuh yang akan menjadi pengantar nyawaku, mati pun tidak penasaran. Kalau lari-lari seperti ini, benar- benar baru disebut penasaran besar!”

 

Bu Sin hanya tersenyum. Ia mengenal watak Lin Lin yang nakal dan amat berani itu dan diam-diam ia merasa khawatir kalau-kalau adik angkat ini akan menimbulkan gara-gara kelak. Karena keadaan amat gelap dan mereka tidak dapat mengenal jalan, tiga orang muda itu lalu naik ke atas pohon dan terpaksa bermalam di situ seperti tiga ekor kera kedinginan! Lin Lin tiada hentinya mengomel. Akan tetapi karena mereka amat lelah, mereka dapat tertidur juga di atas pohon dan baru mereka bangun setelah di situ ramai oleh suara burung berkicau menyambut datangnya pagi.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo