August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 19)

 

 

Tiba-tiba tangan Suling Emas bergerak dan tahu-tahu mulut Lin Lin sudah didekapnya dengan telapak tangannya. Lin Lin memandang dengan mata terbelalak kaget dan heran, akan tetapi baru ia mengerti ketika Suling Emas menaruh telunjuknya di depan mulut dan memberi isyarat agar gadis itu tidak mengeluarkan suara.

Kini baru Lin Lin melihat bahwa jauh dari depan tampak bayangan manusia berkelebat cepat sekali dan sebentar saja sudah lewat. Sukar dilihat siapa orang itu, hanya jelas tampak pakaiannya, pakaian wanita, juga bentuk tubuhnya ramping. Akan tetapi mukanya tidak tampak karena ketika lari menghadapkan muka ke sebelah sana. Yang mengagumkan adalah kecepatan larinya, seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak tanah.

“Seperti Enci Sian Eng…,” bisik Lin Lin terheran-heran.

Memang bentuk tubuh wanita itu seperti Sian Eng, akan tetapi pakaiannya bukan pakaian seorang ahli silat yang serba ringkas, melainkan pakaian seorang wanita dusun atau petani yang sederhana. Juga wanita itu rambutnya panjang terurai. Sungguh pun tidak sepanjang rambut Siang-mou Sin-ni, namun terurai sampai ke lutut belakang.

“Bukan, mari kita ikuti dia, mencurigakan sekali…!” kata Suling Emas yang sudah melompat dan mengejar.

Lin Lin terpaksa mengejar juga. Dengan sekuat tenaga Lin Lin mengerahkan ginkang dan berusaha lari mengimbangi kecepatan Suling Emas. Akan tetapi kali ini ia tertinggal karena kini Suling Emas betul-betul berlari cepat. Baru ia tahu bahwa kepandaiannya dalam berlari cepat masih kalah sedikitnya dua tingkat oleh pendekar yang dikasihinya itu. Sesungguhnya tidak demikian. Hanya karena belum matang dalam latihan ilmunya yang baru, maka Lin Lin masih kalah jauh. Namun sudah banyak maju kalau dibandingkan dengan sebelum ia mendapatkan ilmu itu.

Tiba-tiba Suling Emas berhenti ketika melihat Lin Lin tertinggal jauh. Ketika gadis itu sudah datang dekat, ia berkata. “Hebat ilmu lari cepat orang itu. Lin-moi, kau pegang tanganku!”

Tak usah menanti diperintah dua kali, Lin Lin menyambar tangan kiri Suling Emas. Kalau boleh ia tak ingin melepas tangan itu untuk selamanya! Akan tetapi tak sempat ia bermimpi muluk karena segera tubuhnya tersentak keras ke depan dan di lain saat ia terpaksa harus mengerahkan ginkang-nya lagi karena Suling Emas sudah membawanya lari seperti terbang cepatnya!

Namun, bayangan wanita di depan itu tetap tak dapat tersusul. Hal ini saja membuktikan betapa ilmu lari cepat wanita di depan itu betul-betul sudah mencapai tingkat yang luar biasa. Lin Lin merasa kagum sekali dan ia pun ingin segera melihat siapa sebenarnya wanita itu.

Wanita di depan itu lari menuju ke timur. Setelah tiba di daerah pegunungan yang tandus dan sunyi, mulailah ia mengurangi kecepatannya dan akhirnya ia hanya berjalan kaki. Suling Emas mengajak Lin Lin terus mengikutinya dari belakang.

“Kenapa tidak susul dia? Aku ingin sekali melihat mukanya, ingin melihat siapa dia,” bisik Lin Lin.

“Sssttt, apa perlunya? Aku merasa curiga. Ilmu larinya bukan main, tentu dia seorang sakti. Aku ingin tahu dia hendak ke mana dan hendak berbuat apa. Serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi lupa lagi…,” kata Suling Emas.

Akan tetapi wanita itu benar-benar kuat sekali. Tak pernah ia berhenti berjalan sampai senja berganti malam! Lin Lin sudah merasa lelah sekali.

“Aku… aku tidak kuat lagi berjalan…” ia mengeluh. “Kakiku serasa hendak copot sambungan tulangnya. Mau apa sih mengikuti orang gila? Suling Emas, aku mogok, tidak kuat lagi…” Lin Lin tiba-tiba menjatuhkan diri duduk di atas tanah.

“Mari kupondong!” Suling Emas yang betul-betul tertarik oleh wanita di depan itu yang luar biasa ilmu lari cepatnya, tanpa ragu-ragu membungkuk dan memondong tubuh Lin Lin.
Gadis ini segera merangkul lehernya dan merebahkan kepala di atas pundaknya dengan hati penuh bahagia dan manja. Suling Emas hanya menghela napas dan melanjutkan perjalanan mengikuti wanita itu. Ia benar-benar merasa kasihan kepada Lin Lin, gadis aneh yang kadang-kadang menyebut ‘kanda’, ada kalanya menyebut ‘Suling Emas’ begitu saja kepadanya. Gadis yang bukan sedarah daging dengannya, lain ayah ibu, gadis berdarah bangsawan, puteri bangsa Khitan yang gagah perkasa.

Malam itu bulan muncul sepenuhnya. Bulan purnama. Lin Lin agaknya sudah lupa akan wanita yang mereka ikuti. Seluruh perasaannya tenggelam ke dalam laut bahagia dan mesra. Dengan bulan purnama di angkasa, suasana menjadi romantis sekali. Tidak salah kiranya orang tua yang mengatakan bahwa sinar bulan purnama mendorong dan merangsang hati muda ke arah kemesraan dan memperkuat pengaruh asmara.

Lin Lin masih merangkul leher Suling Emas, kepalanya rebah miring di atas pundak pendekar itu dan matanya ketap-ketip menatap wajah yang mencuri hatinya itu penuh cinta kasih. Sudah lebih tiga jam Suling Emas memondongnya. Sudah banyak berkurang kelelahan Lin Lin, namun gadis itu tidak sadar akan hal ini. Dirasanya baru sebentar ia dipondong!

“Koko…,” bisiknya di dekat telinga Suling Emas.

“Hemmm…?” Suling Emas menjawab acuh tak acuh karena perhatiannya tertuju ke depan. Wanita itu mendaki sebuah bukit kecil di mana terdapat tanah kuburan yang penuh dengan gundukan-gundukan tanah dan batu nisan!

“… ingin sekali aku selamanya berada di dalam pondonganmu…”

“Huh, kau bukan bayi! Sudah terlalu lama kau kupondong. Turun!” Suling Emas menurunkan Lin Lin dan baiknya sinar bulan berwarna kemerahan sehingga menyembunyikan muka pendekar ini yang menjadi merah sekali.

“Koko….”

“Hushhhhh… lihat itu….” Suling Emas menuding ke depan.

Teringatlah Lin Lin akan wanita yang tadi sudah ia lupakan sama sekali. Di dalam pondongan Suling Emas di malam penuh sinar bulan tadi, ia sudah lupa segala, yang teringat hanya dia dan Suling Emas, dunia ini hanya ada mereka berdua, ada urusan cinta kasih mereka, yang lain-lain tidak ada lagi! Sekarang ia teringat dan cepat memandang. Kagetlah hati Lin Lin ketika mendapat kenyataan bahwa mereka telah berada di daerah kuburan, bahkan Suling Emas dan dia sudah mengintai dari balik sebuah batu nisan, di bawah sebatang pohon kecil.

Dengan lenggang yang menunjukkan bahwa dia seorang yang masih muda dan berperawakan bagus sekali, wanita itu berjalan menghampiri sebuah makam, lalu menjatuhkan diri berlutut memeluk batu nisan sambil menangis tersedu-sedu!

“Ayah…, Ayah yang baik… ampunilah anakmu…,” ratap tangis wanita itu.

Sejenak Lin Lin tercengang, kemudian tak terasa lagi air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya. Teringatlah ia akan dirinya sendiri yang sudah yatim piatu, tiada ayah bunda lagi, bahkan dibandingkan dengan wanita di sana itu, dia lebih sengsara. Setidaknya wanita itu dapat menangisi kuburan ayahnya, sedangkan dia, di mana kuburan ayah bundanya saja tidak tahu!

Timbul rasa simpati dan kasihan kepada wanita yang berlutut dan tersedu-sedu itu, merasa senasib dan ia ingin mendekati dan menghiburnya. Perasaan ini menggerakkan kakinya dan Lin Lin sudah bangkit berdiri hendak melangkah maju. Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas memegang lengannya dan menahannya. Pendekar ini memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut. Lin Lin sadar bahwa mereka sedang mengintai, maka ia membatalkan niatnya dan menghapus air mata dari pipi, lalu mengintai dan mendengarkan.

“Ayah… ampunkan aku, Ayah. Anakmu telah gagal membalaskan dendam untukmu… dia terlalu sakti, bukan lawanku. Banyak tokoh kang-ouw bersamaku mengeroyoknya, tapi tanpa hasil. Ayah… tak mungkin

 

aku dapat membalaskan sakit hatimu, tak mungkin aku dapat mengalahkan dia, pula… ampunkan aku, Ayah… anakmu ini… yang hina dina… tidak akan tega membunuhnya. Mungkin dapat aku memperdalam ilmu untuk mengalahkannya, akan tetapi… aku… aku cinta padanya. Aku mencinta Suling Emas putera musuh besarmu…,” kembali gadis itu tersedu menangis, kemudian tiba-tiba bangkit berdiri mengembangkan kedua lengannya berdongak memandang bulan purnama dan bersumpah.

“Ayah, semoga rohmu mendengarkan sumpahku, disaksikan oleh Dewa Bulan! Biar pun aku tidak akan dapat membunuh Suling Emas, namun aku bersumpah untuk membunuh semua isterinya kalau dia beristeri, dan semua anaknya kalau dia mempunyai anak!”

Sampai pucat wajah Suling Emas ketika ia mengenal suara dan wanita ini yang bukan lain adalah Bu-eng- sin-kiam Tan Lian, puteri tunggal almarhum Hui-kiam-eng Tan Hui yang tewas di tangan ibunya! Bukan main hebatnya sumpah ini sehingga biar pun hati Suling Emas sekuat baja, namun ia menjadi pucat dan gemetar juga karena maklum bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya.

Sementara itu, Lin Lin tadinya juga pucat sekali mendengar ini, akan tetapi timbul kemarahannya mendengar pengakuan wanita itu yang mencinta Suling Emas dan bersumpah untuk membunuh anak dan isteri kekasihnya ini, membuat ia tak kuat menahan lagi. Dengan seruan yang merupakan lengking tinggi, hasil yang tak disadarinya dari pada ilmunya yang baru, ia telah melompat ke depan dan selagi wanita itu membalikkan tubuh dengan kaget dan heran, Lin Lin secara otomatis sudah melancarkan serangan berdasarkan ilmunya yang baru. Kedua kepalan tangannya yang kecil halus saling bertumbukan, namun tepat menghantam tubuh wanita itu secara berbareng.

Wanita itu menjerit dan terpental ke belakang, menabrak batu nisan ayahnya yang menjadi pecah seketika! Lin Lin sendiri berdiri terbelalak keheranan karena tidak mengira bahwa pukulannya akan sehebat ini, apa lagi kalau diingat betapa wanita ini memiliki kesaktian, terbukti dari ilmu larinya yang luar biasa.

“Lin-moi, jangan…!” Suling Emas berseru namun terlambat.

Andai kata Suling Emas tidak demikian terpengaruh oleh sumpah Tan Lian, agaknya pendekar sakti ini tadi masih sempat mencegah. Ia kini berkelebat dan tahu-tahu sudah membungkuk dan berlutut di depan tubuh Tan Lian yang rebah dengan mata meram dan muka pucat, mulut mengalirkan darah. Cepat Suling Emas memeriksa dan ia mengeluarkan seruan kaget. Ia sendiri kaget bukan main melihat akibat dari pada pukulan Lin Lin, karena setelah memeriksa ia mengerti bahwa keadaan Tan Lian parah sekali dan nyawa wanita ini takkan dapat ditolong lagi.

Pukulan itu telah meracuni darah dan meretakkan tulang-tulang! Kiranya tanpa disadarinya sendiri Lin Lin telah mewarisi ilmu pukulan dahsyat dari Pat-jiu Sin-ong yang disebut pukulan Tok-hiat-coh-kut (Racuni Darah Patahkan Tulang)! Suling Emas maklum bahwa pukulan ini mengandung hawa beracun yang hebat dan satu-satunya jalan untuk menolong Tan Lian hanya membawanya secepat mungkin kepada tabib yang sakti, karena tabib-tabib biasa saja takkan mungkin mampu menolongnya.

“Bocah lancang!” bentaknya kepada Lin Lin. “Mengapa memukul orang tak berdosa?” Setelah berkata demikian, Suling Emas menyambar tubuh Tan Lian dan dibawanya lari berkelebat lenyap dari tempat itu.

“Koko… tunggu…!” Lin Lin berseru keras sambil mengejar, akan tetapi Suling Emas tidak menjawab dan sudah tidak tampak lagi.

Lin Lin memanggil-manggil dan mengejar ke sana ke mari, akhirnya ia menjatuhkan diri di pinggir jalan dengan napas terengah-engah dan air mata membasahi pipi.

“Dia marah kepadaku…,” pikirnya. “Mengapa marah? Perempuan itu musuhnya. Ah, aku harus mencarinya, dia harus menjelaskan sikapnya ini kepadaku. Dia akan ke Thai-san, aku pun akan ke sana, biar kunanti dia di sana.” Pikiran ini menguatkan hati Lin Lin dan menghilangkan kebingungannya, kemudian ia pun pergi dari tempat itu.

Perjalanan ke Thai-san merupakan perjalanan yang jauh dan sukar, lagi amat berbahaya pada masa itu. Akan tetapi Lin Lin melakukan perjalanan dengan tekun, sabar, dan penuh keberanian. Apa lagi setelah ia dengan satu kali pukulan mampu merobohkan seorang yang lihai, seperti wanita di kuburan itu, timbul kepercayaan besar pada dirinya sendiri, kepercayaan bahwa ia mampu menghadapi siapa pun juga karena pada dirinya terdapat sebuah ilmu yang ampuh dan sakti.

 

Pikiran ini pula yang membuat Lin Lin makin rajin melatih diri dengan jurus-jurus yang hanya berjumlah tiga belas dari ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw, serta mempelajari pula petunjuk- petunjuk cara menghimpun tenaga sakti. Karena ia sendiri tidak tahu apa namanya ilmu yang terdiri dari pada tiga belas jurus itu, Lin Lin lalu menamakannya Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Sakti).

Berpekan-pekan Lin Lin melakukan perjalanan menuju ke Thai-san, bertanya-tanya kepada para penduduk dusun dan kota yang dilaluinya. Akhirnya pada suatu hari sampailah ia di kaki Gunung Thai-san. Puncak gunung itu menjulang tinggi, tampak agung dan megah. Hati Lin Lin berdebar. Akan berhasilkah ia bertemu dengan Suling Emas di puncak itu? Bagaimana kalau dia tidak berada di sana? Dan wanita yang memusuhi Suling Emas itu, yang roboh karena pukulannya, akan diapakan Suling Emas?

Hatinya tidak enak dan cemburunya makin besar ketika ia teringat betapa wanita itu ternyata masih muda dan cantik jelita. Serasa terbakar isi dadanya kalau ia teringat betapa wanita itu dipondong oleh Suling Emas dan entah untuk berapa lamanya! Dan masih marah hatinya kalau ia mengenangkan bentakan Suling Emas yang marah-marah kepadanya dan memakinya sebagai bocah lancang. Dia lancang? Memukul seorang wanita yang memusuhi Suling Emas tapi juga mengaku cinta, lancangkah itu?

“Ah, Suling Emas, aku cinta kepadamu… demi cintaku maka aku memukul dia yang tidak kukenal.” Ia menghela napas dan duduk di pinggir jalan, menghapus keringatnya dengan sapu tangan. Hari itu ia telah melakukan perjalanan amat jauh dan enak rasanya menyandarkan tubuh pada batang pohon yang tua dan hampir mati, duduk di atas rumput hijau yang empuk dan ditiupi angin sejuk pada sore hari itu.

Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara derap kaki kuda. Jalan mulai sukar di bagian itu, maka penunggang kuda itu pun menahan kudanya dan maju perlahan-lahan melalui tanah yang tidak rata. Penunggangnya seorang laki-laki yang bertubuh tegap, memakai caping lebar seperti caping petani, akan tetapi dari balik pundaknya tampak gagang pedang. Melihat duduknya yang tegak lurus dan tidak bergoyang-goyang biar pun si kuda naik turun, Lin Lin mengerti bahwa penunggang kuda ini seorang yang berkepandaian. Akan tetapi dari jauh ia tidak dapat melihat muka yang tertutup caping itu.

Kuda makin mendekati tempat Lin Lin duduk. Penunggang kuda itu mengangkat muka, dan…. “Liong-twako…!” Lin Lin berseru sambil melompat bangun.
“Lin-moi…!”

Penunggang kuda itu, Lie Bok Liong, melompat dari atas punggung kudanya, lari menghampiri Lin Lin dan serta merta memeluknya dan mendekap kepala gadis itu pada dadanya. Begitu besar kegirangan hati Bok Liong sehingga ia lupa diri seperti itu. Sedetik Lin Lin kaget dan jengah, akan tetapi mengingat akan pengorbanan pemuda ini untuknya ia membiarkan dirinya dipeluk dan mukanya didekap erat-erat pada dada Bok Liong.

“Lin-moi… ah, Lin-moi… alangkah bahagia hatiku melihat kau, Moi-moi. Syukur kepada Tuhan bahwa kau selamat, bisa terbebas dari pada tangan Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang jahat!” seru Bok Liong dengan suara serak dan ketika Lin Lin merenggangkan diri dan memandang, hatinya terharu menyaksikan betapa pipi pemuda itu basah oleh air mata!

Dengan gerakan halus Lin Lin melepaskan diri dari pelukan itu. Ia tidak marah, tidak merasa terhina, bahkan terharu karena ia maklum bahwa pemuda ini benar-benar amat gembira dengan pertemuan ini sehingga berbuat agak melewati batas kesopanan.

“Twako, tenanglah, mari kita bicara yang enak. Aku pun girang sekali melihat kau selamat. Tadinya aku sudah khawatir sekali, mengira kau tentu tewas oleh kenekatanmu melawan Hek-giam-lo dan orang- orangnya.”

Lin Lin menarik tangan pemuda itu, diajak duduk di atas rumput. Sambil berbuat demikian, Lin Lin menoleh ke sana ke mari, khawatir kalau-kalau ada orang melihat dia tadi dipeluk-peluk pemuda ini. Akan tetapi tempat itu amat sunyi, tidak ada orang lain, bahkan tidak tampak makhluk lain kecuali kuda Bok Liong yang kini dengan enaknya makan rumput dengan peluh membasahi tubuh, tanda bahwa kuda itu pun baru saja melakukan perjalanan jauh.

Bok Liong tertawa, menghapus air matanya. “Ah, maafkan aku, saking girangku sampai tak tahan mengeluarkan air mata seperti bocah cengeng,” katanya.

 

“Bukan begitu, Twako. Kau terlalu baik hati. Kau telah berusaha berkali-kali untuk menolongku tanpa menghiraukan keselamatan dirimu. Betapa hancur hatiku ketika melihat kau tersiksa tanpa mampu menolongmu kembali. Akan tetapi, bagaimana kau dapat selamat? Aku mendengar bahwa kau tertolong oleh suhu-mu yang lucu itu.”

“Betul, Lin-moi. Suhu yang telah menolongku. Beliau merawatku sampai sembuh dan aku diminta tinggal bersama Suhu untuk memperdalam ilmu. Dan kau sendiri, yang sudah membuat aku putus asa, yang membuat aku hari ini tergesa-gesa hendak menemui Hek-giam-lo dan mengadu nyawa kalau tidak mau membebaskanmu, bagaimana kau dapat bebas dan tahu-tahu berada di sini?”

“Aku ditolong oleh Kim-lun Seng-jin.” Dengan singkat Lin Lin menceritakan pengalamannya dan tentu saja ia tidak menceritakan penemuannya tentang ilmu di dalam tongkat Beng-kauw, juga ia tidak mau menyebut-nyebut nama Suling Emas.

“Tapi mengapa kau bisa berada di kaki Gunung Thai-san ini, Lin-moi?” Bok Liong meraba tangan Lin Lin terus digenggamnya. “Tempat ini berbahaya sekali! Thian-te Liok-koai yang tinggal lima orang, Hek-giam- lo, Siang-mou Sin-ni, It-gan Kai-ong, Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong, akan bertemu dan mengadu kepandaian di puncak gunung ini. Kalau sampai bertemu dengan seorang di antara mereka, hal itu amat berbahaya karena mereka adalah orang-orang yang sudah bukan manusia lagi, jahat seperti iblis.”

Lin Lin tersenyum dan senyum ini menyambar dan menancap di ulu hati Bok Liong, melebihi runcingnya pedang.

“Twako, justru kedatanganku ini hendak menonton pertandingan mereka. Tentu ramai sekali!”

Bok Liong melongo dan menggaruk-garuk rambutnya dengan sepuluh jari tangannya. “Nonton? Moi-moi, kau terlalu meremehkan mereka! Ketahuilah, kejahatan mereka sudah tersohor di kolong langit. Kadang- kadang mereka menyiksa dan membunuh orang secara begitu saja, secara sembarangan. Dalam gembira bisa saja mereka membunuh orang, apa lagi dalam marah atau duka. Pendeknya, sedikit persoalan saja cukup untuk mereka jadikan alasan menurunkan tangan iblis. Bahkan agaknya mereka berlomba untuk dapat disebut orang yang paling jahat, karena sebutan ini bagi Thian-te Liok-koai merupakan sebutan kehormatan, yaitu orang jahat nomor satu di dunia! Moi-moi, mari kita pergi cepat-cepat dari tempat terkutuk ini!” Kembali Bok Liong memegang tangan gadis itu erat-erat.

Lin Lin kembali merasa tidak enak tangannya dipegang erat oleh pemuda itu, akan tetapi mengingat akan pengorbanan pemuda itu, ia mendiamkannya saja, lalu menjawab, “Liong-twako, kenapa kau sekarang berubah begini penakut? Belum lama ini kau bahkan berani menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orangnya, menyerbu berkali-kali dengan keberanian yang membuat orang sedunia boleh merasa kagum. Kenapa sekarang kau takut? Dan pula, bukankah kau juga datang ke tempat ini? Andai kata tidak berjumpa denganku, kau hendak ke manakah?”

“Ah, Lin-moi, sudah kuceritakan kepadamu tadi. Aku sakit hati kepada Hek-giam-lo, mengira bahwa kau tentu celaka di tangan iblis itu. Oleh karena inilah setelah aku menerima gemblengan dari Suhu, aku sengaja datang ke sini karena teringat akan janji pertemuan para iblis di sini. Aku pasti akan bertemu dengan Hek-giam-lo di puncak dan akan kuajak dia bertempur sampai mati kalau dia tidak bisa mengembalikan kau. Moi-moi, sebelum bertemu denganmu, aku menjadi nekat dan tidak ingin hidup lagi kalau kau tewas di tangan Hek-giam-lo. Akan tetapi setelah kini melihat kau selamat, aku pun ingin hidup, Moi-moi!” Ucapan ini terdengar gemetar penuh perasaan dan mata pemuda itu menatap wajah Lin Lin penuh cinta kasih, membuat Lin Lin terharu dan ia pun membalas pegangan itu dengan mesra.

“Hemmm, kau selalu memikirkan tentang keselamatanku tanpa menghiraukan keselamatanmu sendiri, Twako. Andai kata aku menuruti kehendakmu tidak jadi naik ke puncak untuk nonton pertandingan hebat, lalu kau hendak mengajakku ke mana?”

Tiba-tiba Bok Liong berlutut dan memegangi kedua tangan Lin Lin sambil memandang tajam dan suaranya gemetar, “Lin Lin, Moi-moi… aku… aku akan mengajakmu ke Cin-ling-san, menemui bibi gurumu, aku… aku akan meminangmu untuk menjadi isteriku….”

Bukan main kagetnya hati Lin Lin. Memang, tentu saja ia tahu bahwa pemuda ini mencintanya, akan tetapi mendengar bahwa Bok Liong hendak meminangnya dari tangan bibi gurunya, ia benar-benar menjadi kaget dan wajahnya seketika berubah pucat. Ia menarik kedua tangannya dan bangkit berdiri.

 

“Tidak… tidak… Liong-twako, aku… menganggapmu sebagai kakak sendiri, seorang kakak yang baik. Biarlah kita bersumpah mengangkat saudara… tapi aku tidak… tidak….”

Bok Liong yang masih berlutut memegang kaki kanan Lin Lin, suaranya penuh permohonan, “Lin Lin, dewi pujaan hatiku… aku cinta kepadamu, Lin Lin. Perlukah ini kujelaskan lagi? Aku mencintaimu semenjak pertemuan kita yang pertama, aku rela mati untukmu… sudilah kau menerima cintaku, bukan sebagai adik, melainkan sebagai calon teman hidup selamanya. Aku bersumpah akan membahagiakan hidupmu selamanya Moi-moi….”

Air mata bercucuran dari sepasang mata Lin Lin. Hatinya amat terharu dan ia yakin bahwa andai kata ia menjadi isteri pemuda ini, sudah pasti hidupnya akan terjamin dengan kasih sayang yang suci. Akan tetapi wajah Suling Emas terbayang di depan matanya, membayang di antara air mata dan tak mungkin ia menerima pinangan pemuda lain selama bayangan wajah ini tidak lenyap dari kenangannya. Ia tahu bahwa Lie Bok Liong adalah seorang pendekar muda pilihan, seorang gagah perkasa yang berhati emas, satria sejati. Namun hatinya telah terampas oleh Suling Emas dan ia hanya memiliki sebuah hati untuk diberikan kepada pria idamannya.

“Tidak, Liong-twako…!”

Setelah berkata demikian, Lin Lin menggerakkan kakinya terlepas dari pelukan Bok Liong dan tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan pemuda itu, lari seperti terbang mendaki gunung Thai-san!

Sejenak Lie Bok Liong tercengang, mukanya pucat sekali, pandang matanya sayu mengikuti bayangan gadis pujaannya yang sebentar saja sudah menghilang di balik pepohonan. Ia menghela napas panjang, meramkan kedua matanya, menggigit bibir kemudian bangkit dan berjalan perlahan, mendaki gunung itu pula. Ia merasa hatinya tertusuk, akan tetapi ia tidak putus asa. Lin Lin tidak pernah menyatakan bahwa gadis itu tidak mencintanya, hanya menolak, mungkin karena malu, mungkin karena kaget dan gelisah. Hal ini memang mungkin sekali, sebagai seorang gadis remaja yang mendengar pengakuan cinta dan pinangan dari seorang muda. Ia tidak putus asa dan akan berlaku sabar.

Akan tetapi hatinya khawatir bukan main melihat gadis itu mendaki puncak Thai-san yang ia tahu amat berbahaya pada waktu itu dengan akan hadirnya iblis-iblis itu. Ia harus mengejar, harus menyusul dan siap untuk membela dan melindungi Lin Lin dari pada marabahaya. Gurunya, Gan-lopek, juga telah menyatakan bahwa pada hari-hari pertandingan para iblis di pun­cak Thai-san, gurunya itu akan datang untuk menonton pula. Dan agaknya hanya orang-orang sakti yang memiliki kepandaian seperti gurunya itulah yang akan berani datang untuk menonton pertandingan berbahaya itu. Maka hatinya menjadi besar dan dengan tabah Lie Bok Liong terus mendaki lereng gunung yang amat curam dan sukar dilalui itu.

Baru sekarang teringat olehnya betapa cepatnya tadi ia menyaksikan gerakan Lin Lin ketika lari dari padanya mendaki gunung. Padahal ia tahu bahwa ilmu kepandaian gadis itu hanya sebanding saja dengan tingkatnya, kalau tidak lebih rendah malah. Bagaimana tadi ia melihat Lin Lin berlari seperti terbang mendaki gunung sedangkan dia sendiri merasa betapa sukar dan berbahayanya sehingga ia harus bergerak dengan hati-hati dan lambat!

Ketika Lie Bok Liong tiba di daerah gunung itu yang penuh batu besar, di sebuah lereng di punggung gunung Thai-san, tiba-tiba ia mendengar suara orang terkekeh ketawa. Kagetnya bukan main karena ia tidak melihat bayangan orang, mengapa tahu-tahu ada suara ketawa yang menyeramkan ini? Ia menengok dan memandang ke sana ke mari, namun tidak juga melihat bayangan orangnya.

Bulu tengkuk pemuda ini berdiri. Biar pun ia tidak percaya akan setan yang dapat muncul di siang hari, ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti di tempat itu. Masih untung kalau orang sakti yang baik bagi Bok Liong, akan tetapi suara ketawa itu bukan muncul dan mulut seorang sakti yang baik, melainkan dari mulut seorang iblis sakti yang bukan main kejamnya, yaitu It-gan Kai-ong sendiri!

Kini kakek ini muncul dari balik sebuah batu besar dan mukanya lebih buruk dari pada dulu. Punggungnya makin bongkok, rambutnya yang riap-riapan itu kotor sekali, penuh lumpur dan debu. Mukanya keriputan begitu dalamnya seperti tersayat, matanya yang tinggal sebelah itu melotot sedangkan mata yang buta mengeluarkan air lendir, mulutnya terkekeh dan dari ujung bibirnya mengalir air liur. Tangannya memegang sebatang tongkat butut.

“Heh-heh-ho-hah! Orang muda, pakaianmu seperti seorang kang-ouw, kau membawa-bawa pedang. Apa

 

kebisaanmu?”

Di dalam hatinya Bok Liong mendongkol sekali, akan tetapi maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang iblis sakti yang sama sekali tak boleh dipandang ringan, ia segera menjura dalam-dalam dan menjawab dengan sikap sopan. “Kai-ong (Raja Pengemis) yang mulia, harap maafkan bahwa saya tidak tahu Locianpwe (Orang Tua Gagah) berada di sini sehingga terlambat menyampaikan salam.”

“Hua-hah-hah, kau mengenal aku? Akan tetapi aku tidak mengenal kau.”

“Mana mungkin Locianpwe mengenal saya yang tidak ternama dan bodoh ini? Akan tetapi saya kira Locianpwe sudah mengenal Suhu.”

“Heh-heh, tak perlu kau perkenalkan, aku akan tahu sendiri. Terima ini!” Tiba-tiba tongkat butut di tangan itu bergerak dan tahu-tahu sudah mengancam jalan darah maut di dada kiri Bok Liong dengan totokannya!

“Aaaiiihhhhh!” Bok Liong terkejut sekali, akan tetapi sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, jurus-jurus silatnya sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga gerak otomatisnya berjalan dan ia berhasil mengelak dari totokan ini.

Melihat gerakan itu, terutama sekali bagian tubuh belakang yang megal-megol, It-gan Kai-ong tertawa sambil menarik kembali tongkatnya. “Heh-heh, kau murid si tukang gambar edan Gan-lopek! Mana gurumu? Suruh dia muncul!”

“Maaf, Locianpwe. Saya tidak berani memanggil Suhu kalau beliau tidak berkenan muncul atas kehendak sendiri,” jawaban Bok Liong ini mencerminkan kecerdikannya.

Ia tidak tahu apakah gurunya sudah berada di gunung ini, dan ia pun tidak mau membohong dan menyombong bahwa gurunya akan melindunginya. Akan tetapi jawaban itu membayangkan bahwa gurunya mungkin ada dan mungkin tidak, jadi tidak membohong akan tetapi sekaligus merupakan peringatan bagi It-gan Kai-ong, bahwa Gan-lopek berada di situ maka ia tidak boleh mengganggu murid orang sakti itu!

Akan tetapi It-gan Kai-ong adalah seorang manusia iblis yang sukar digertak. “Heh-heh-heh, kalau begitu gurumu tentu belum datang. Sayang sekali, sebetulnya aku hendak membekuk mampus gurumu itu agar kujadikan bukti bahwa korbanku bukan orang biasa. Akan kagumlah iblis-iblis itu kalau aku berhasil membawa orang she Gan si tukang gambar ke puncak. Menangkapmu tiada gunanya, kau orang tiada guna dan tidak berarti. Tapi kau sudah bertemu denganku di Thai-san, maka kau harus mampus!”

Kaget sekali Bok Liong. Ia bersiap-siap. “Locianpwe, di antara Locianpwe dan saya Lie Bok Liong tidak terdapat pertentangan sesuatu, mengapa Locianpwe hendak membunuhku?” Biar pun ia maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, namun suara pemuda gagah ini sama sekali tidak mengandung rasa takut dan tidak gemetar.

“Huah-ha-ha! Semua iblis yang datang ke sini akan membunuh siapa saja yang dihadapinya, besar kecil tua muda laki perempuan.” Kemudian kakek pengemis yang menyeramkan dan menjijikkan ini membuka mulutnya meludah ke arah Bok Liong. “Cuh-cuh!”

Dua gumpal ludah menyambar bagaikan pelor-pelor baja ke arah muka dan dada Bok Liong. Pemuda ini sudah waspada, cepat ia mengelak dengan loncatan ke kiri sambil mencabut pedangnya. Berkat kegesitan dan kewaspadaannya maka dua gumpal ludah itu tidak mengenai dirinya, melainkan lewat cepat dan amblas masuk ke dalam batu besar di belakangnya!

“Heh-heh-heh, Gan-lopek tidak sia-sia mengajarmu. Boleh juga untuk main-main kau!” Kembali kakek itu meludah, kini ludahnya merupakan semprotan air yang lebar, namun setiap titik air menuju ke arah jalan darah dengan kekuatan yang cukup untuk mematikan lawan.

Bok Liong memutar pedangnya dan terbentuklah gulungan sinar pedang merupakan payung bundar di depan tubuhnya yang menangkis semua percikan air ludah itu. Akan tetapi It-gan Kai-ong kembali menyerang dengan ludah kental yang menyambar seperti peluru-peluru baja. Bok Liong menangkis dengan pedangnya dan alangkah kagetnya ketika ia merasa tangannya tergetar hebat dan hampir lumpuh setiap kali senjatanya itu menangkis gumpalan ludah. Bukan main hebatnya tenaga sinkang yang terkandung dalam serangan ludah-ludah itu.

 

“Heh-heh-heh-hah-hah-hah, menarilah. Cuh-cuh-cuh!” Kakek itu terus menyerang sambil meludah-ludah.

Bok Liong sibuk sekali dan ia mengerahkan sinkang di tubuhnya lalu mainkan pedangnya dengan cepat. Ia tidak berani lagi menangkis ludah dari depan karena kalau terus-menerus mengadu tenaga ia akan celaka. Kini ia menangkis dari samping sehingga ia hanya mengalihkan arah ludah-ludah itu ke samping.

“Biar sampai habis ludahnya, tak mau aku menerima penghinaan ini,” pikir Bok Liong dan menangkis atau mengelak penuh kelincahan. Betapa pun juga, hanya diserang oleh ludah ini saja sudah cukup membuat Bok Liong repot menyelamatkan diri dan tidak mampu balas menyerang!

Namun kelincahan Bok Liong yang selalu dapat menghindarkan serangan ludahnya membuat It-gan Kai- ong marah luar biasa. Ia merasa penasaran juga karena biasanya serangan ludahnya sudah cukup untuk menewaskan lawan yang muda.

“Eh, kau boleh juga. Cukup berharga untuk berkenalan dengan tongkatku!” Tiba-tiba tubuhnya menerjang maju dan tongkat di tangannya bagi pandang mata Bok Liong sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya yang sekaligus menerjang ke arah dirinya.

Pemuda ini terkejut dan berusaha untuk memutar pedang menangkis semua bayangan tongkat itu sambil bergerak mundur dengan loncatan­loncatan lincah. Namun akhirnya ia terpaksa berhenti karena di belakangnya terdapat sebuah jurang yang curam dan menganga lebar, siap mencaploknya!

“Heh-heh-heh, kau hendak lari ke mana sekarang?” It-gan Kai-ong mengejek, terkekeh-kekeh, dan tongkat bututnya mendesak makin dahsyat.

Betapa pun dahsyat dan hebatnya ilmu tongkat It-gan Kai-ong yang digerakkan dengan tenaga saktinya, namun Bok Liong bukanlah seorang pemuda sembarangan. Ia murid terkasih dari Gan-lopek yang sudah menurunkan ilmunya kepada murid ini, bahkan akhir-akhir ini mendapat tambahan gemblengan lebih hebat. Maka menghadapi desakan maut di depan dan ancaman maut di belakang, Bok Liong berlaku nekat dan pedangnya bergerak cepat mengeluarkan suara berdesing. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan, tidak lagi hanya menjaga diri, malah kini ia balas menyerang dengan nekat untuk mengadu nyawa! Pertandingan mati-matian terjadi di pinggir jurang ini.

It-gan Kai-ong tidak lagi terkekeh sekarang. Betapa pun juga, balasan serangan pemuda yang sudah nekat ini tak boleh ia hadapi dengan sembrono kalau ia tidak mau mendapat malu. Kakek ini pun mainkan tongkatnya lebih hebat, mendesak hebat sehingga tiap kali kedua senjata bertemu, Bok Liong merasa lengannya seakan-akan serasa patah.

Namun dengan gigih ia melawan terus. Ketika mendapat lowongan, ia menyambar seperti kilat ke depan, menusukkan pedangnya ke arah perut It-gan Kai-ong. Ia tidak peduli lagi bahwa dalam serangan nekat ini, ia membiarkan dirinya ‘terbuka’ dan tidak terlindung. Pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) di tangannya berubah menjadi cahaya redup kekuningan yang mengandung hawa dingin karena memang ditusukkan dengan pengerahan tenaga Im.

Akan tetapi tiba-tiba pedang itu terhenti gerakannya karena sudah menempel pada tongkat butut di tangan It-gan Kai-ong. Bok Liong kaget dan berusaha menarik kembali pedangnya namun terlambat. Tenaga Im- kang yang terkandung di pedangnya itu ternyata membuat dia celaka karena tenaga ini memungkinkan lawannya yang sakti menempel dan ‘menyedot’ sehingga ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas.

Dalam kenekatannya, Bok Liong tidak mau menyerah mentah-mentah. Ia mengerahkan sisa tenaga yang ada. Tiba-tiba tangan kirinya mengirim pukulan berbareng dengan kedudukan kakinya berubah, melangkah maju. Pukulan ini mengarah dahi lawan yang kalau mengenai tepat akan membahayakan keselamatan nyawa. Akan tetapi karena memang kedudukan Bok Liong sudah kalah dan sudah dikuasai, enak saja It- gan Kai-ong menghadapi pukulan ini. Tangan kirinya menangkis dan sekaligus tongkatnya mendorong, maka terjengkanglah tubuh Bok Liong ke belakang, rebah terlentang.

“Heh-heh-heh, mampuslah kau, murid orang she Gan!” Tongkat itu diangkat dan siap menjatuhkan pukulan maut.

Melihat ini, Bok Liong tidak rela mati di tangan kakek iblis itu. Tubuhnya menggelinding ke belakang dan ia bergulingan cepat sehingga ia terlepas dari pada pukulan tongkat, akan tetapi di lain saat tubuhnya sudah
terjungkal ke dalam jurang yang menganga lebar!
Pada saat itu sebuah bayangan berkelebat datang dan kiranya bayangan ini adalah seorang kakek pendek
yang bukan lain adalah Empek Gan, guru Lie Bok Liong.

“He, pengemis iblis picak! Kau apakan muridku? Mana dia sekarang?”

“Heh-heh-heh, tua bangka she Gan, apa kau hendak menyusul muridmu ke dasar jurang sana?” Dengan tongkatnya It-gan Kai-ong menunding ke arah jurang.

Berubah wajah Empek Gan. Biasanya dia jenaka dan gembira, akan tetapi karena mendengar bahwa muridnya yang ia sayang terjerumus ke dalam jurang, timbullah kemarahannya. “Jembel busuk berhati iblis! Tak tahu malu benar engkau, beraninya hanya terhadap orang muda. Kalau memang laki-laki, akulah lawanmu, tua sama tua!”

“Wah, tutup mulutmu yang busuk. Kau sendiri di Nan-cao telah menghina muridku. Sekarang aku menghajar muridmu, bukankah sudah pantas?”

“Tak perlu banyak bicara, It-gan Kai-ong. Kau telah membunuh muridku, kau harus dapat membunuhku pula, kalau tidak, kaulah yang akan mengganti nyawanya!”

“Majulah, siapa takut kepadamu?”

Kedua orang kakek ini memasang kuda-kuda. Keduanya tidak main-main lagi, maklum bahwa lawan yang dihadapi kini adalah seorang lawan yang amat tangguh. It-gan Kai-ong melintangkan tongkat bututnya di atas kepala, kaki kanannya ditekuk lututnya dan diangkat ke atas, kaki kiri berdiri di ujung jari, tangan kiri disodorkan ke depan dan matanya yang tinggal satu itu memandang lurus ke depan dengan tajamnya. Ada pun Gan-lopek sudah mengeluarkan sepasang senjatanya pula, yaitu senjata yang disebut Hek-pek-mou- pit (Sepasang Pena Bulu Hitam Putih), yang hitam di tangan kanan sedangkan, yang berbulu putih di tangan kiri. Ia berdiri dengan kedua lutut agak ditekuk ke bawah, tubuh belakangnya menonjol dan bergoyang-goyang, kedua lengannya bersilang.

Ada lima menit mereka hanya berdiri berhadapan macam ini, tidak melakukan penyerangan. Seperti dua ekor jago aduan yang saling pandang dan saling taksir kekuatan masing-masing sebelum bergebrak. Kemudian terdengar si raja jembel terkekeh aneh dan tubuhnya sudah menerjang maju didahului tongkat bututnya. Tongkat ini mengandung tenaga dahsyat dan angin pukulannya sampai menggoyangkan daun- daun pohon di sekitar tempat itu.

“Wesssss!” tongkat butut melayang lewat di dekat kepala Gan-lopek.

Pelukis sakti ini mengerjakan senjatanya, melakukan dua kali totokan maut selagi serangan lawan lewat. Akan tetapi dengan gerakan tubuh yang tepat raja pengemis itu pun dapat menghindarkan diri. Karena gerakan keduanya, mereka sekarang bertukar tempat dan kembali mereka berdiri tak bergerak, saling pandang dengan seluruh urat syaraf di tubuh menegang.

Bagi orang yang belum begitu tinggi ilmu silatnya, mungkin ia lebih suka melakukan penyerangan lebih dulu dalam pertempuran, karena ia tentu menganggap bahwa dalam pertempuran, siapa lebih cepat atau lebih dulu menyerang berarti menang kedudukan. Akan tetapi bagi orang-orang sakti seperti Gan-lopek dan It-gan Kai-ong, malah sebaliknya. Yang menyerang lebih dulu sebetulnya malah lebih lemah kedudukannya, karena setiap serangan berarti melemahkan pertahanan sendiri dan kadang-kadang kalau lawan melihat bagiannya yang lemah, terbukalah ‘lubang’ dan hal ini berbahaya.

Inilah sebabnya maka keduanya sekarang sedang menaksir-naksir dan seakan-akan segan untuk mulai menyerang lebih dulu. Akan tetapi karena tadi It-gan Kai­ong sudah menyerang sebagai pembukaan pertandingan, Gan-lopek yang tidak mau dianggap takut, kini membalas dengan penyerangannya. Ia berseru keras dan tubuhnya bergerak ke depan, sepasang mou-pit di tangannya berubah menjadi dua gulung sinar putih hitam yang kecil tapi terang menyambar-nyambar ke depan mengancam tubuh It-gan Kai-ong bagian atas dan bawah.

Biar pun sepasang pena bulu itu menotok bertubi-tubi ke arah tujuh belas jalan darah, It-gan Kai-ong dapat menghindarkan diri dengan gerakan tongkatnya yang menjadi gulungan sinar melingkar­lingkar dan seperti seekor ular yang melindungi seluruh tubuhnya. Kemudian tiba-tiba tongkatnya membalas dengan babatan ke bawah, mengancam kedua kaki Gan-lopek.
Tubuh kakek ini, dengan pantatnya tetap megal-megol seperti ikan emas berenang, tiba-tiba mumbul ke atas sehingga babatan tongkat hanya lewat di bawah kedua kakinya. Dari atas Gan-lopek meluncur turun didahului pena bulu hitam menotok leher, ketika lawan menangkis, pena bulu putih menerjang dan sasarannya kini adalah pusar! Hebat bukan main sepak terjang kakek pelukis ini sehingga It-gan Kai-ong harus menggunakan segala kepandaiannya untuk menghindarkan diri. Gerakan Empek Gan gesit dan aneh, apa lagi dengan gerakan khusus pantatnya yang megal-megol ini membingungkan lawannya.

Namun It-gan Kai-ong adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai. Tentu saja kepandaiannya sudah amat tinggi dan betapa pun lihainya Empek Gan, kiranya tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah dan paling-paling hanya dapat mengimbanginya saja. Begitu rapat dan kuat pertahanan masing-masing sehingga setelah saling serang dan saling keluarkan ilmu-ilmu simpanan selama seratus jurus, belum juga ada yang tampak terdesak.

Memang harus diakui bahwa pihak Empek Gan lebih banyak menyerang, namun serangan-serangannya yang lihai selalu gagal! Di lain pihak, It-gan Kai-ong juga merasa penasaran sekali. Ia telah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya yang pilihan, bahkan telah mengerahkan sinkang-nya yang simpanan, namun tetap tak mampu ia mendesak kakek pelukis itu, apa lagi menjatuhkan! Karena penasaran, ia menjadi marah dan tiba-tiba ia meludah, menggunakan senjatanya yang kotor dan licik ke arah muka Empek Gan.

“Heh, jembel busuk!” Empek Gan memaki, pena bulunya mengebut dan… air itu menyambar balik, kembali ke arah tuannya.

Akan tetapi It-gan Kai-ong memang tidak bermaksud menggunakan ‘ilmu’ meludah ini yang ia tahu takkan ada gunanya terhadap seorang lawan seperti Empek Gan. Ia tadi meludah hanya untuk melampiaskan hatinya yang gemas. Kini ia berteriak nyaring, suaranya melengking tinggi dan tiba-tiba gerakan tongkatnya berubah sama sekali. Angin dari empat penjuru menyambar dan berputar-putar seperti angin puyuh yang menyerang ke arah Gan-lopek.

“Ayaaa…!” Gan-lopek berseru terkejut.

Baru kali ini ia menyaksikan daya serangan sehebat dan seaneh ini. Ia memaksa diri untuk menangkis dan mengerahkan lweekang-nya, namun tetap saja ia ikut terputar oleh daya serang tongkat yang menimbulkan kekuatan seperti angin puyuh ini sehingga tubuhnya berpusing tak tertahankan lagi! Ia tidak tahu bahwa inilah ilmu yang telah dipelajari oleh It-gan Kai-ong dari kitab rampasannya dari tangan Bu Kek Siansu, yaitu kitab yang separuh terampas olehnya sedangkan separuhnya lagi terampas oleh Hek-giam-lo.

Tadinya It-gan Kai-ong tidak ingin mengeluarkan ilmu ini sebelum ia berada di puncak Thai-san dan berhadapan dengan anggota-anggota Thian-te Liok-koai yang lain, hendak menggunakannya sebagai ilmu simpanan untuk senjata terakhir. Akan tetapi karena Gan-lopek merupakan lawan yang ampuh dan ulet bukan main, saking mendongkolnya, It-gan Kai-ong segera mengeluarkannya dan hasilnya bukan main!

Sayang bagi It-gan Kai-ong, ilmu itu hanya sebagian saja ia miliki, sedangkan bagian lain berada di tangan Hek-giam-lo, maka ia seperti kenal kepala tidak kenal buntut, tahu awal tidak tahu akhir. Lawannya sudah ‘tertawan’ oleh daya serangannya, sudah ikut berpusing, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana untuk melanjutkan ilmunya dan merobohkan lawan. Betapa pun juga, dalam keadaan berpusing seperti itu banyak lowongan terdapat dalam kedudukan Gan-lopek. Dengan terkekeh-kekeh beringas It-gan Kai-ong menggerakkan tongkathya untuk memberi pukulan maut kepada lawannya ini. Tongkatnya sudah berkelebat menusuk ke arah lambung!

“Trakkkkk…!” tiba-tiba segulung sinar kuning menyambar dan menangkis tongkat It-gan Kai-ong yang menusuk lambung Gan-lopek, disusul ucapan nyaring. “Gan-lopek, jangan takut, biarkan kutusuk matanya yang sebelah dan kau coret-coret mukanya dengan tinta hitam putih!”

It-gan Kai-ong kaget sekali karena tangkisan pedang itu membuat kakinya tergeser. Tidak hebat tenaga orang yang baru datang ini, akan tetapi gerakannya benar-benar luar biasa sekali. Ia terbelalak heran dan matanya yang tinggal satu itu mengeluarkan sinar berapi ketika ia mengenal bahwa yang datang menolong Gan-lopek ini ternyata hanya seorang gadis remaja yang bukan lain adalah Lin Lin.

Lebih-lebih kaget dan herannya ketika Lin Lin sudah mengerjakan pedangnya, Pedang Besi Kuning menerjang dengan gerakan-gerakan yang luar biasa sekali. Karena tadinya ia memandang rendah,

 

menyangka bahwa gadis ini masih seperti dulu yang tidak seberapa kepandaiannya, It-gan Kai-ong tadinya berlaku lambat. Siapa tahu kesalahan menduga ini hampir mencelakakannya. Tahu-tahu pedang itu dengan gerakan melingkar sudah mendekati tenggorokan dan ketika ia mengelak, tahu-tahu ujung pedang sudah dekat sekali dengan matanya yang tidak buta, merupakan serangan yang luar biasa sekali dan agaknya matanya akan benar-benar ditusuk!

Baiknya It-gan Kai-ong memiliki kepandaian yang amat tinggi. Dalam keadaan berbahaya ini, menangkis atau mengelak sudah tak keburu, ia meludah dan… air ludahnya muncrat ketika bertemu pedang. Kekuatan air ludah ini hebat karena ternyata sudah dapat menahan pedang sehingga ia berhasil menggerakkan tongkatnya menangkis pedang yang datang agak terlambat karena tangkisan air ludah tadi.

“Wah, kotor! Keparat busuk, manusia jorok! Pedangku kena ludahnya! Celaka…!” Lin Lin melompat mundur dan menggosok-gosokkan pedangnya pada batang pohon untuk menghapus air ludah yang menempel di situ!

Ada pun It-gan Kai-ong yang merasa kaget sekali menyaksikan gerakan pedang Lin Lin, maklum bahwa kalau ia dikeroyok, akan berbahaya baginya. Ia seorang sakti, akan tetapi sebagai seorang manusia iblis tentu saja ia tidak segan-segan menggunakan kecurangan dan kelicikan. Melihat bahwa keadaan dirinya berada di pihak lemah, selagi Lin Lin ribut membersihkan pedang, ia cepat menggunakan kesempatan untuk melesat pergi sambil berseru.

“Gan-lopek, kegembiraanku lenyap dengan datangnya gangguan seorang bocah. Lain kali kita lanjutkan!”

“Dia curang, dia licik, main kotor!” Lin Lin memaki-maki, kemudian menoleh kepada Gan-lopek dan berkata, “Gan-lopek, apakah kau juga datang hendak menonton pertandingan para iblis itu?”

Sejenak, seperti juga It-gan Kai-ong tadi, Gan-lopek tertegun, dan tercengang menyaksikan gerakan pedang Lin Lin. Akan tetapi ia segera tertawa. “Ha-ha-ha, si iblis mata satu itu kiranya jeri menghadapi seorang nona!” Lalu kegembiraannya mereda ketika ia teringat akan muridnya.

“Nona yang baik, muridku terjerumus ke dalam jurang. Kau sahabat baiknya, bukan? Mari bantu aku mencarinya, mudah-mudahan dia masih hidup!”

Bukan main kagetnya hati Lin Lin mendengar ini dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu ikut kakek itu menuruni jurang dengan hati-hati melalui jalan memutar yang tidak begitu terjal. Jurang itu amat curam dan betapa pun pandainya seorang manusia biasa yang tidak pandai terbang seperti burung tak mungkin dapat menuruninya tanpa memilih jalan memutar. Oleh karena jalan memutar inilah maka sejam lebih kemudian baru mereka berdua dapat sampai ke dasar jurang dan mulai mencari-cari. Namun tidak ada jejak mau pun bayangan Lie Bok Liong!

Ke manakah pemuda yang tadi terjungkal masuk ke dalam jurang itu? Apakah tubuhnya sudah hancur lebur terbanting dari tempat yang amat tinggi sehingga tidak ada bekasnya lagi? Agaknya akan begitulah kalau tidak terjadi hal yang kebetulan dan aneh, dan yang menyelamatkan nyawanya…..

Ketika tubuhnya terjungkal dan melayang turun dengan kecepatan mengerikan, Bok Liong sudah yakin bahwa ia tentu akan tewas. Namun sebagai seorang yang berjiwa gagah, ia menggigit bibirnya dan menahan diri agar tidak berteriak ketakutan. Bahkan kedua tangannya lalu mencengkeram sana-sini, mencari pegangan. Tentu saja ia tidak dapat mencari apa yang akan dipegang atau disambarnya, karena ia hanya melihat bayangan-bayangan batu terbang ke atas di sampingnya, amat cepat memusingkan kepala. Akhirnya, tubuhnya yang melayang terlampau dekat dengan batu menonjol terbentur pada batu itu. Karena yang terbentur itu adalah pundaknya dan kepalanya juga sedikit menyerempet batu, Bok Liong merasa kepalanya seolah-olah pecah dan seketika pandang matanya dan pikirannya menjadi gelap, ia pingsan tapi masih melayang terus ke bawah.

Ia tidak tahu betapa sebelum tubuhnya menimpa batu-batu di dasar jurang, tiba-tiba berkelebat bayangan yang berseru aneh, lalu bayangan ini melesat ke arah ia akan jatuh, menggerakkan kedua tangannya dan tubuhnya terayun naik lagi. Karena kekuatan luncuran tubuhnya tadi amat keras, kini oleh bayangan itu dibelokkan dan membalik ke atas lagi, maka ada empat lima meter tubuhnya melayang ke atas, lalu turun kembali dan disambut oleh kedua tangan bayangan itu.

Hanya sebentar Bok Liong pingsan. Ketika ia membuka kedua matanya, ia merasa kepala dan lehernya basah semua. Ia gelagapan dan membuka matanya, seketika ingat bahwa ia tadi melayang jatuh. Ketika ia

 

bangun, kiranya ia sudah duduk di atas batu. Dan tak jauh dari situ ia melihat seorang wanita muda berjalan pergi. Melihat tubuhnya tidak hancur, biar pun ada luka-luka sedikit dan pundaknya sakit, Bok Liong menjadi heran dan mengira bahwa dia tentu sudah mati. Inikah neraka? Ia menjadi bingung dan melihat wanita muda itu cepat ia memanggil.

“Heeeiii, Nona, tunggu…!”

Gadis itu menengok sebentar, akan tetapi lalu lari pergi.

“Eh, kau Sian Eng…!” Bok Liong begitu heran sampai ia meloncat berdiri, tidak mempedulikan rasa nyeri di pundaknya dan melompat lari mengejar. Biar pun hanya sekali menoleh, ia mengenal wajah itu, wajah Sian Eng! Akan tetapi dalam sekejap mata saja bayangan gadis itu sudah lenyap dan kecepatan yang luar biasa ini membuat Bok Liong berhenti termangu-mangu.

“Aku tentu sudah mati… dan agaknya Sian Eng juga sudah mati… tentu ini alam baka…,” pikirnya sambil kembali duduk di atas batu.

Akan tetapi sedikit demi sedikit pikirannya menjadi terang kembali. Ia masih dapat merasa, tubuhnya masih lengkap, pikirannya masih utuh dan ia tahu bahwa ia berada di dalam jurang, bahwa It-gan Kai-ong berada di atas jurang sana dan kakek itulah yang membuat ia terguling ke dalam jurang. Entah bagaimana ia tidak terbanting remuk. Agaknya Sian Eng yang telah menolongnya, betapa tidak mungkinnya hal ini terjadi.

Sian Eng cukup ia kenal. Tidak hanya orangnya, malah ia kenal pula kepandaiannya, tidak lebih tinggi dari pada tingkatnya, malah jauh lebih rendah. Bagaimana gadis itu mau menolongnya? Bagaimana caranya? Dan andai kata benar Sian Eng gadis itu tadi, dan Sian Eng menolongnya, mengapa tadi terus pergi dan mengapa ada bayangan yang begitu aneh pada wajah gadis yang biasanya halus peramah itu?

Ketika teringat lagi bahwa It-gan Kai-ong masih di atas dan mungkin sekali kakek itu akan mencari jalan ke bawah dan melihatnya masih hidup, Bok Liong segera menguatkan diri, berdiri dan pergi cepat-cepat dari tempat itu. Untung pundaknya tidak patah tulangnya, hanya luka kulit dan daging di bahu saja.

Inilah sebabnya mengapa Lin Lin dan Gan-lopek tidak dapat menemukan Bok Liong, bekas-bekasnya pun tidak. Hal ini membuat Gan-lopek terheran-heran, akan tetapi Lin Lin segera menjatuhkan diri di atas batu dan menangis tersedu-sedu.

“Eh-eh, mengapa kau menangis?” Gan-lopek bertanya heran.

Lin Lin tidak menjawab, tetapi terus menangis keras dan akhirnya dengan kata-kata bercampur isak ia berkata, “Kasihan… Liong-twako… tentu telah hancur lebur… ah, Liong-twako kau orang yang amat baik… mengapa mengalami nasib begini buruk? Mati pun tidak ada kuburnya… ah, Liong-twako…!” Lin Lin menangis makin keras karena memang gadis ini merasa kasihan dan berduka.

“Hush, bocah tolol, kenapa kau bicara yang bukan-bukan? Siapa bilang Bok Liong sudah mati?”

Seketika terhenti tangis Lin Lin dan ia berdongak memandang wajah kakek itu dengan mata merah. Diam- diam si kakek girang sekali melihat bahwa gadis ini betul-betul menangisi Bok Liong muridnya, tanda bahwa gadis ini betul-betul mencinta muridnya.

Melihat pandang mata Lin Lin penuh pertanyaan seakan-akan heran mendengar kata-katanya tadi, Gan- lopek segera tertawa dan berkata, “Ha-ha-ha, anak baik, tenangkan hatimu dan bergembiralah. Bok Liong belum mati. Kalau tubuhnya terbanting ke dasar ini, biar pun akan hancur berantakan, sedikitnya kita tentu akan menemukan daging atau tulangnya, atau tentu ada tanda-tanda darahnya. Akan tetapi tidak terdapat tanda-tanda itu, hal ini hanya bisa berarti bahwa Bok Liong telah selamat, entah bagaimana cara Tuhan menyelamatkan seorang yang membela kebenaran, akan tetapi percayalah, aku yakin bahwa Bok Liong pasti masih hidup dan selamat di saat itu.”

Bukan main girangnya hati Lin Lin. Kegirangan luar biasa yang tidak dibuat-buat. Seketika ia melompat bangun dan merangkul kakek itu dan… menangis lagi.

“Eh-eh, bagaimana ini? Kenapa kau begini cengeng, hah?” Akan tetapi diam-diam Gan-lopek mengangguk-angguk dan hatinya sudah setuju seratus prosen kalau muridnya berjodoh dengan gadis ini. Ia tahu betul betapa besar cinta kasih Bok Liong terhadap Lin Lin. Hal ini diucapkan sendiri oleh Bok Liong

 

dalam keadaan tidak sadar ketika ia merawat muridnya itu setelah menyelamatkannya dari tangan Hek- giam-lo. Dan sekarang, melihat sikap Lin Lin, agaknya muridnya tidak bertepuk sebelah tangan, cinta kasih muridnya terhadap Lin Lin bukan tiada terbalas.

Tiba-tiba Lin Lin mengundurkan diri dan tertawa. Gan-lopek membelalakkan matanya, tapi kemudian ia pun tertawa, girang bukan main karena ternyata calon ‘mantu murid’ ini memiliki watak yang aneh. Keduanya tertawa-tawa di dasar jurang, seperti dua orang yang sama-sama menonton dagelan (badut) di panggung. Akan tetapi kalau ada orang lain melihat mereka, tentu mengira mereka berdua itu sudah menjadi gila atau mungkin juga mereka disangka iblis-iblis penjaga jurang!

“Eh, nanti dulu. Kenapa kau tertawa?” Akhirnya Gan-lopek berhenti dan bertanya karena merasa betapa suara ketawanya kalah merdu oleh nona itu. Ia seakan-akan merasa seorang penyanyi yang merasa kalah indah suaranya.

Lin Lin akhirnya dapat menghentikan ketawanya pula. Sambil tersenyum dan mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, gadis ini berkata, “Banyak sekali hal yang patut membikin aku tertawa, Kek,” tanpa ragu-ragu ia menyebut kakek kepada Gan-lopek.

“Apa itu? Kukira kau tertawa saking bahagia mendengar Bok Liong belum mati.”

“Itulah yang pertama kali memang. Aku girang sekali bahwa Liong-twako belum mati. Benar sekali dugaanmu, Kek, agaknya memang Liong-twako tertolong secara ajaib dan belum tewas. Hal ini amat menggirangkan hatiku, karena muridmu itu seorang yang amat baik terhadap aku, sehingga kalau ia mati aku akan merasa sedih sekali.”

“Hemmm, lalu hal apa lagi yang membikin kau tertawa selain hal yang kau sebutkan tadi?”

Kembali Lin Lin tertawa dan tak segera menjawab. Ia ketawa geli terpingkal-pingkal sambil menudingkan telunjuknya ke arah Gan-lopek. Kakek ini tercengang keheranan, memandang ke sana ke mari, berputaran berkeliling untuk mencari apa yang menyebabkan Lin Lin tertawa. Agaknya perbuatannya ini makin menggelikan hati Lin Lin yang makin terpingkal-pingkal. Akhirnya kakek itu juga tertawa menandingi Lin Lin.

Gadis ini terkejut dan tentu ia akan segera berhenti tertawa saking kagetnya karena suara ketawa kakek itu kali ini bukanlah suara ketawa wajar, melainkan suara ketawa yang mengandung khikang dan yang membuat ia hampir terjengkang karena suara itu mendebarkan jantungnya dan membuatnya seperti lumpuh. Akan tetapi, gadis nakal ini tidak menghentikan suara ketawanya, bahkan kini pun ia mengerahkan khikang dan sinkang-nya, disalurkan ke dalam suara ketawanya untuk menandingi Gan-lopek.

Maka terjadilah hal aneh dan terdengarlah hal aneh pula. Suara ketawa mereka, yang satu merdu tinggi yang lain rendah parau, terbahak-bahak dan bergema dari dasar jurang membubung naik sampai keluar jurang, suara yang tentu akan dianggap orang yang tak melihat mereka sebagai suara ketawa raja iblis dan kuntilanak sendiri! Lebih aneh lagi melihat keadaan tubuh mereka. Tidak seperti orang bergirang tertawa karena keduanya berdiri tegak, lutut sedikit ditekuk seperti orang memasang kuda-kuda, wajah sama sekali tidak seperti orang kegirangan, melainkan sungguh-sungguh dan seperti orang mengerahkan tenaga ketika sedang buang air dan sukar keluar!

“Stop…! Stop…!” Akhirnya Gan-lopek berseru sambil meloncat ke atas.

Lin Lin hampir terjengkang dan hal ini adalah karena Empek Gan telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk ‘mendorong’ gadis itu dalam ‘pergulatan’ tenaga suara yang kalau dilanjutkan akan berbahaya itu. Setelah berhasil mendorong, ia melompat dan terbebaslah mereka dari pada pertandingan khikang yang hebat itu. Kini Gan-lopek memandang dengan bengong, hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara sehingga kumis dan jenggotnya saja yang bergerak-gerak.

Lin Lin juga mengerahkan hawa murni untuk mengembalikan tenaga, kemudian ia memandang dan berkata, “Kau hebat, Kek!”

Si tua menarik napas panjang, mengelus-elus jenggot dan mengangguk-angguk. “Siapa bilang aku hebat? Tidak, anak baik, aku tua bangka dan tiada gunanya lagi. Akan tetapi engkau… ah, hampir aku tidak percaya bahwa kau memiliki khikang yang begitu hebat. Hampir aku tidak kuat menahannya. Kau anak nakal, apa kau tadi bermaksud membunuh aku si tua bangka, yang biar pun jelek-jelek masih guru Bok

 

Liong?”

Lin Lin kaget. “Ah, mana mungkin aku mencelakakanmu, Kek? Andai kata ada maksud yang buruk itu, tak mungkin aku mampu. Menghadapi seorang sakti seperti kau ini, Kek, aku tiada ubahnya seekor semut melawan gajah!”

“Huh-huh, kadang-kadang si semut berhasil memasuki telinga gajah dan si gajah tua bangka mampus sendiri! Anak baik, aku pernah melihatmu, pernah mendengar dari Bok Liong, akan tetapi kepandaianmu tidak seperti yang kau perlihatkan tadi. Anak nakal, kau memiliki ilmu begini hebat, mengapa berpura-pura bodoh?”

Kini Lin Lin benar-benar merasa heran. Akan tetapi segera ia menjadi girang sekali karena ia dapat menduga bahwa ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat Pusaka Beng-kauw itulah agaknya yang tadi mendatangkan khikang luar biasa yang membuat Empek Gan kaget setengah mati dan keheranan. Akan tetapi, teringat akan nasihat Suling Emas, Lin Lin tidak mau membuka rahasia ini dan ia hanya berkata.

“Kakek Gan, kau orang tua harap jangan mengejek orang muda. Kepandaian apa yang kupunyai? Dari pada mengejek dan membikin panas perut orang muda, lebih baik kau orang tua memberi petunjuk- petunjuk sehingga ilmuku yang mentah akan menjadi matang dan berguna!”

Empek Gan tertawa. “Wah, boleh… boleh… memang aku tahu bahwa kalau ilmumu sudah matang, aku si tua mana mampu menandingimu? Tapi, kau tadi bicara tentang perut panas, tidak demikian dengan perutku. Perutku perih sekali!” Tiba-tiba terdengar ‘ayam berkokok’ dari dalam perut kakek itu sehingga Lin Lin tertawa geli.

“Tunggulah, Kek. Betapa pun juga, aku adalah seorang wanita dan aku tahu bagaimana caranya menyembuhkan perut perih.” Setelah berkata demikian, gadis ini berlari memasuki hutan dan tak lama kemudian ia sudah kembali membawa seekor kelinci yang gemuk sekali.

Di dalam hatinya, Lin Lin girang dan gembira karena ia mendapat jalan untuk menyempurnakan ilmu yang baru ia dapat, yaitu dengan minta petunjuk-petunjuk Empek Gan pada bagian yang sulit. Maklum bahwa kakek ini seorang sakti, maka ia segera menggunakan kecerdikannya untuk ‘mengambil hati’ melalui perut lapar Kakek Gan.

********************

Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Empek Gan, dan mari kita selidiki siapakah gerangan gadis yang telah menolong Bok Liong secara aneh itu? Menurut pandangan Bok Liong, gadis itu mirip benar dengan Sian Eng, akan tetapi tidak mau berhenti ketika ia dipanggil.

Siapakah gadis itu sesungguhnya? Pandang mata Bok Liong yang tajam memang tidak salah. Gadis itu adalah Sian Eng! Akan tetapi kita tahu bahwa ilmu kepandaian Sian Eng tidaklah amat tinggi, dan sebaliknya, cara menolong Bok Liong yang melayang jatuh dari atas jurang itu hanya akan dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kesaktian luar biasa. Untuk mengetahui rahasia ini, mari kita ikuti perjalanan dan pengalaman Sian Eng.

Telah kita ketahui bahwa Sian Eng dapat dibujuk oleh laki-laki yang dikasihinya, Suma Boan, untuk memasuki lorong rahasia di bawah tanah bekas tempat sembunyi Tok-siauw-kui yang belasan tahun lamanya bertapa dan bersembunyi di tempat ini. Dan kemudian betapa Sian Eng terjebak ke dalam ruangan di bawah tanah oleh alat-alat rahasia yang agaknya telah dipasang orang sehingga ia terkurung oleh empat dinding batu tanpa dapat mencari jalan ke luar karena jalan ke luar satu-satunya hanya mendorong batu yang menutup lorong, padahal batu itu beratnya ribuan kati dan ternyata Suma Boan sendiri dari luar ruangan itu tak mampu menggerakkan batu ini!

Di bagian depan cerita ini, kita tinggalkan Sian Eng dalam keadaan roboh dan dikeroyok oleh kelelawar- kelelawar kecil beracun yang menyerangnya dengan gigitan, lalu menyedot darahnya. Setelah roboh dan merasa betapa kelelawar-kelelawar itu menyerbunya, Sian Eng diserang rasa takut dan ngeri yang bercampuran dengan sakit di seluruh tubuhnya. Gigitan binatang-binatang kecil itu mendatangkan rasa panas, gatal dan perih. Ia bergulingan ke sana ke mari, menjerit-jerit seperti orang gila, kemudian di dalam gelombang kengerian dan ketakutan itu timbullah suatu kenekatan yang luar biasa, kemarahan yang secara aneh membuat ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan baru.

 

Sian Eng meloncat bangun, kedua tangannya mencengkeram kelelawar-kelelawar yang masih menempel di tubuhnya, membanting, menginjak, bahkan ia lalu menggigit kepala binatang-binatang kecil itu, meremukkan kepala dan menghisap darahnya. Rasa sakit yang amat hebat membuat gadis ini seperti tidak ingat lagi akan keadaan sekitarnya, yang ada di dalam ingatan hanya membalas, membunuh, mengamuk!

Pergulatan menyeramkan di gelap ini, seandainya terjadi di tempat terang dan kelihatan orang lain tentu akan membuat orang merasa ngeri dan seram. Gadis itu sudah tidak karuan lagi pakaiannya, robek sana- sini, rambutnya terurai awut-awutan. Juga tingkah lakunya seperti orang gila. Ia bergulingan, kadang- kadang meloncat berjingkrak-jingkrak, kadang-kadang tertawa, lalu menangis, semua ini karena penderitaan rasa nyeri yang hebat ditambah rasa takut dan ngeri. Akan tetapi tiada hentinya ia membunuh kelelawar dan bahkan mulai makan dagingnya dan minum darahnya.

Semalam suntuk Sian Eng bergulat. Bangkai kelelawar bertumpuk-tumpuk di ruangan itu dan entah sudah berapa banyak darah yang diminumnya, daging yang ditelannya. Akhirnya malam pun berakhir berganti pagi dengan ditandai seberkas cahaya memasuki ruangan. Cahaya ini membantu Sian Eng mengusir kelelawar-kelelawar. Akan tetapi Sian Eng juga kehabisan tenaga, menggeletak terlentang pingsan di atas bangkai-bangkai kelelawar! Pakaiannya robek-robek, kulitnya penuh bintik-bintik merah dari darah yang keluar dari luka-lukanya.

Sehari penuh Sian Eng menggeletak di atas bangkai-bangkai kelelawar di dalam ruangan di bawah tanah itu, setengah pingsan setengah tidur, atau seperti telah mati. Akan tetapi setelah matahari tenggelam dan ruangan itu menjadi gelap, kelelawar-kelelawar kecil mulai beterbangan kemudian menyerangnya. Sian Eng seperti dibangunkan dan seakan-akan seekor hantu betina atau kuntilanak yang hanya ‘hidup’ di waktu malam, ia bangkit lagi dan seperti malam kemarin, kembali terjadi pertandingan dengan kelelawar- kelelawar kecil yang menyerang dan mengeroyoknya secara ganas sekali.

Kembali Sian Eng menjadi korban gigitan, akan tetapi anehnya gerakan-gerakannya lebih tangkas dan lebih ganas dari pada kemarin. Kini lebih banyak lagi kelelawar yang mati, dan lebih banyak lagi yang darah dan dagingnya memasuki perut Sian Eng! Kembali semalam suntuk terjadi perang kecil yang ganas mengerikan di dalam ruangan gelap, akan tetapi kali ini Sian Eng kelihatannya makin kuat saja sehingga menjelang pagi, binatang-binatang itu mulai gentar dan hanya satu dua ekor yang berani menerjangnya. Namun sekali sambar, Sian Eng menangkapnya, merobeknya menjadi dua dan mengisap darah yang menyembur ke luar. Agaknya rasa darah, sakit hati, dan ditambah lapar dan haus membuat Sian Eng berubah seperti seorang kuntilanak! Anehnya, begitu sinar matahari menerangi ruangan, Sian Eng baru merasa lemas dan letih, lalu terguling dan menggeletak telentang setengah telanjang di atas ‘kasur’ yang terbuat dari bangkai kelelawar yang bertumpuk-tumpuk.

Seperti juga kemarin, sehari penuh Sian Eng tidur setengah pingsan. Luka-luka kecil di kulitnya yang putih kuning dan halus, yang kemarin tampak berbintik-bintik merah, kini mulai menghilang, akan tetapi tubuhnya sebentar terasa panas membara, sebentar kemudian dingin seperti salju!

Memang terjadi sesuatu yang hebat pada diri gadis ini. Kelelawar-kelelawar itu ternyata adalah sebangsa kelelawar yang beracun, yang biasanya sekali menggigit orang tentu meninggalkan racun yang akan cukup merampas nyawa orang itu dalam waktu dua tiga hari. Sedangkan Sian Eng telah menerima gigitan yang bertubi-tubi dari kelelawar-kelelawar itu, gigitan ganas yang disertai kemarahan sehingga racun yang jahat dan berbahaya banyak sekali memasuki tubuh dan meracuni darahnya.

Akan tetapi, secara kebetulan sekali keadaan yang mengerikan itu membuat Sian Eng menggila dan mengganas, membuat ia marah dan makan daging kelelawar serta minum darahnya. Justru inilah yang menjadi obat penawar, obat penawar yang tiada keduanya di dunia ini! Di luar pengetahuan dan kesadarannya sendiri, selain dapat mengisi perut untuk menahan lapar dan haus, Sian Eng telah mengobati dirinya sendiri. Tidak saja mengobati dan menghalau bahaya dari racun gigitan kelelawar- kelelawar, bahkan jauh lebih dari itu, ia telah memasukkan sumber tenaga yang amat hebat, karena racun kelelawar itu mengandung hawa panas yang biasanya akan menghanguskan jantung, mengeringkan darah, sebaliknya, racun penawar yang terdapat dalam daging dan darah kelelawar itu mengandung hawa dingin.

Kini mulailah kedua racun yang bertentangan itu bekerja, bertempur mati-matian di dalam tubuh Sian Eng, membuat gadis ini dalam keadaan tidak sadar, sebentar kepanasan sebentar kedinginan. Kalau Tuhan Yang Maha Kuasa menghendaki seseorang harus masih hidup, tidak akan kekurangan jalan, betapa pun aneh dan tak mungkin tampaknya jalan itu di mata manusia. Demikian pula dengan halnya Sian Eng. Nyawanya tergantung di ujung sehelai rambut. Hanya Tuhan saja yang mampu menolongnya, hanya Tuhan yang memutuskan mati hidupnya.

Dua macam racun yang memasuki tubuhnya, yang satu lewat luka-luka gigitan yang kedua lewat mulut,
adalah racun-racun yang amat berbahaya dan terlalu banyak masuk ke tubuhnya. Kini kedua macam racun yang mempunyai kekuatan bertentangan itu saling bertanding, saling dorong untuk menguasai tubuh Sian Eng yang akan berakhir dengan maut jika satu di antara kedua racun itu kalah! Hawa panas dan dingin saling desak, kuasa-menguasai. Sedikit saja selisih kekuatan kedua hawa ini, akan tamatlah riwayat hidup Kam Sian Eng, gadis yang bernasib malang ini.

Namun, seperti sudah disebutkan tadi, Tuhan belum menghendaki riwayat gadis ini tamat, karenanya secara ajaib sekali, kedua macam racun itu kebetulan memiliki kekuatan seimbang! Mereka saling bercampur dan lenyaplah daya merusak, bahkan sebaliknya, di dalam tubuh Sian Eng, kedua macam racun itu bercampur dan lahirlah semacam daya tenaga mukjijat yang membuat sinkang (hawa sakti) di tubuh gadis ini naik beberapa puluh kali lipat!

Tidaklah mengherankan apa bila saat gadis itu bergerak bangun setelah hari kembali menjadi gelap, yaitu pada malam ketiga, gadis itu merasa tubuhnya ringan dan nyaman sekali, sama sekali tidak ada rasa sakit lagi, yang ada hanya rasa hangat yang menyenangkan. Selain ini lenyap pula rasa takut dan rasa ngeri. Bahkan ia tertawa-tawa ketika mendengar sambaran kelelawar-kelelawar yang untuk ketiga kalinya kini mulai hendak menyerbu musuh yang ulet itu.

Sian Eng merasa betapa sambaran binatang-binatang itu amat lambat dan lemah. Dengan mudahnya ia menyentil dengan kuku-kuku jarinya. Sekali sentil saja remuklah kepala kelelawar yang menyambar ke arahnya. Ketika banyak sekali binatang itu mulai menyerbu, Sian Eng kewalahan juga dan terpaksa membiarkan satu dua ekor menggigit tubuhnya yang setengah telanjang itu.

Akan tetapi terjadilah keanehan. Gadis ini sama sekali tidak merasakan nyeri ketika tergigit, sebaliknya, kelelawar yang menggigitnya itu melepas gigitan, jatuh dan berkelojotan terus mati! Tentu saja hal ini tidak tampak oleh Sian Eng, akan tetapi sejam kemudian, tidak ada seekor pun kelelawar yang menyerangnya lagi. Binatang-binatang itu hanya beterbangan dan bercuit-cuit ketakutan, seakan-akan mereka kini mengakui bahwa manusia yang tiga malam berturut-turut dikeroyoknya itu tak terkalahkan dan patut menjadi ratu mereka.

Sian Eng terbebas dari ancaman maut oleh racun-racun berbahaya itu. Akan tetapi agaknya pengaruh racun-racun itu mempengaruhi juga otaknya. Setidaknya tentu mengubah kesempurnaannya, mengganggu dan membuat Sian Eng menjadi orang aneh. Kadang-kadang ia tertawa sendiri kalau menangkap kelelawar untuk dimakan, kadang-kadang ia menangis karena teringat akan Suma Boan. Malam ketiga itu diisi dengan tawa dan tangis berganti-ganti.

Pada keesokan harinya, Sian Eng dapat bergerak dengan gesit dan pikirannya juga menjadi terang. Teringatlah ia bahwa ia terkurung di situ, terkubur hidup-hidup. Pikiran ini menggerakkan semangatnya dan ia menghampiri batu penutup lubang. Dicobanya tenaganya untuk membongkar batu itu, untuk mondorongnya kembali. Ia merasa betapa dalam tubuhnya bergolak hawa yang amat kuat, yang terasa panas sekali. Ia mengerahkan tenaga, hawa panas meningkat, batu bergoyang, akan tetapi tiba-tiba hawa panas itu berubah menjadi hawa dingin dan… Sian Eng roboh pingsan dan batu itu kembali menutup lubang!

Setelah siuman kembali, Sian Eng mencoba dan berkali-kali ia pingsan hanya karena perubahan hawa di dalam tubuhnya. Akhirnya ia maklum bahwa di dalam tubuhnya terdapat hawa yang aneh, yang kadang- kadang panas, kadang-kadang dingin, akan tetapi yang demikian hebat sehingga ia tidak mampu menguasainya dan kalau ia memaksa terus mengerahkan tenaga yang aneh itu, tentu akhirnya ia akan mati terpukul sendiri. Karena inilah Sian Eng lalu mencari jalan lain. Ia memeriksa seluruh dinding, seinci demi seinci, diperiksanya teliti sekali. Namun hasilnya sia-sia dan sementara itu, karena ia belum dapat menguasai dua macam hawa di tubuhnya, berkali-kali Sian Eng roboh pingsan.

Akan tetapi pada suatu hari, kurang lebih lima hari semenjak ia terkurung di situ, usahanya berhasil. Ia mulai memeriksa lantai. Satu per satu batu-batu lantai ditelitinya dan akhirnya ketika ia mendongkel sebuah batu di sudut kiri, terbongkarlah lubang yang lebarnya ada dua kaki persegi. Mendadak dari dalam lubang itu meluncur keluar seekor ular yang kepalanya putih. Bagaikan kilat menyambar, ular itu menerjang ke atas dan tanpa dapat dielakkan lagi, lengan kiri Sian Eng kena digigit.

Sian Eng menjerit dan mengerahkan tenaga. Karena ia belum menguasai dua macam tenaga di tubuhnya,

 

ia mengerahkan sekenanya saja dan kebetulan pada saat itu hawa dingin di tubuhnya yang lebih kuat, maka seketika pengerahan tenaga ini membuat lengannya yang tergigit ular itu terasa seperti berubah menjadi es! Dan hebatnya, ular itu lalu melepaskan gigitannya, melingkar-lingkar menggeliat-geliat dan tak bergerak lagi, mati! Sian Eng menjadi tertarik sekali. Inikah tempat persembunyian kitab-kitab Tok-siauw- kui?

Tanpa ragu-ragu lagi ia memasuki lubang itu, dan ternyata setelah ia melompat turun, ia berada di sebuah ruangan lain, ruangan atas dan tepat berada di bawah ruangan yang penuh bangkai kelelawar itu. Dan cahaya matahari masuk melalui lubang dua kaki tadi, cukup membuat ruangan itu menjadi terang. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja batu atau lebih tepat sebuah bangku batu yang permukaannya legok (cekung) dan menggambarkan bentuk pantat dan kaki orang yang bersila. Agaknya tempat ini dahulunya dipakai duduk bersila orang yang bertapa di sini. Benar-benar merupakan hal yang luar biasa sekali, bagaimanakah sebuah bangku batu sampai cekung seperti itu hanya karena diduduki orang saja. Hanya bangku itulah yang terdapat di dalam kamar itu, dan tidak ada apa-apa lagi.

Saking besarnya rasa kecewa dan menyesalnya, Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut di depan bangku itu dan menangis. Ia melihat betapa tapak kaki bersila itu kecil mungil, menggambarkan kaki seorang wanita, maka ia merasa yakin bahwa tentu bangku ini menjadi tempat bersila dan bertapa semedhi Tok- siauw-kui Liu Lu Sian, ibu dari Suling Emas. Ia menangis karena teringat akan hubungannya dengan Tok- siauw-kui.

Tok-siauw-kui dahulunya adalah isteri ayahnya, Jenderal Kam Si Ek, yang kemudian pergi meninggalkan suaminya sehingga ayahnya itu menikah lagi dengan ibunya. Agaknya Tok-siauw-kui demikian benci kepada ibunya sehingga kini biar pun sudah meninggal, Tok-siauw-kui masih melampiaskan sakit hatinya dan menghukum anak dari wanita yang merebut suaminya!

“Bibi Liu Lu Sian… mengapa kau begini kejam? Mengapa aku yang kau siksa, padahal aku tidak berdosa kepadamu? Bibi… betapa pun juga aku adalah anak tirimu… kau pernah mencinta ayah kandungku…. Demi mendiang ayahku… harap kau tunjukkan jalan ke luar bagiku, Bibi…!” Ia menangis dan masih berlutut di depan bangku batu itu. Kemudian ia teringat akan ayahnya dan menangis makin sedih.

“Ayah… Ayah, kau tentu sudah berkumpul dengan Bibi Liu Lu Sian… bujuklah dia agar supaya anakmu ini diberi petunjuk keluar dari neraka ini!” sambil menangis Sian Eng membentur-benturkan kepalanya di atas lantai depan bangku.

Tiba-tiba terdengar bunyi perlahan. Ternyata setiap kali Sian Eng membenturkan jidatnya di atas lantai, bangku batu itu bergeser ke kiri, makin lama makin ke kiri sehingga akhirnya tampaklah sebuah lubang di bawah bangku batu itu. Sian Eng terkejut dan memandang dengan heran karena di situ terdapat sehelai kain kuning yang menutupi sesuatu dan ditulisi dengan huruf-huruf besar berbunyi: WASIAT PENINGGALAN LIU LU SIAN.

Jantungnya berdebar keras dan tangannya sudah digerakkan untuk meraih dan membuka kain kuning itu, untuk segera melihat wasiat dari wanita sakti itu. Akan tetapi ia segera ingat bahwa benda-benda di bawah kain kuning itu adalah milik Liu Lu Sian, dan bahwa wasiat wanita ini mustahil ditinggalkan untuk dirinya. Ia tidak berani melanjutkan niatnya. Ia tidak berhak! Akan tetapi selagi ia termenung, ia teringat akan tugasnya, teringat akan kekasihnya, Suma Boan. Timbullah pertentangan dalam batinnya.

Ia adalah keturunan seorang gagah. Ayahnya, Kam Si Ek semenjak muda terkenal sebagai seorang satria utama yang menjunjung tinggi kegagahan dan tidak sudi melakukan sesuatu yang tercela. Semenjak ia masih kecil, ayahnya sudah menjejalinya dengan budi pekerti orang gagah. Akan tetapi di lain pihak, cinta kasihnya terhadap Suma Boan juga terasa berat menekan di hati.

Akhirnya kembali Sian Eng berlutut di depan bangku batu tempat bersemedhi Tok-siauw-kui, membenturkan jidatnya di lantai sambil berkata, “Bibi Liu Lu Sian, mohon perkenan bibi untuk mengambil sebuah dua buah kitab peninggalan demi memenuhi kehendak kekasih. Mohon bibi sudi memberi ampun….” Tiba-tiba Sian Eng menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, dari dalam lubang tadi melayang keluar tiga batang anak panah yang menyambar ke atas.

Anak-anak panah itu lewat di depan mukanya dan peninglah kepala Sian Eng mencium bau yang wangi memabukkan. Terang bahwa anak-anak panah itu mengandung racun yang dahsyat dan andai kata ia tadi melanjutkan niatnya membuka kain kuning, tentu anak-anak panah itu akan tepat mengenai muka dan lehernya. Ia mendongak ke atas dan melihat anak-anak panah itu menancap pada dinding batu,

 

gagangnya bergoyang-goyang.

Sian Eng bergidik ngeri dan ketika ia memandang ke arah lubang tadi, ternyata kain kuningnya telah tersingkap dan di bawahnya hanya terdapat alat-alat rahasia yang tadi menggerakkan tiga anak panah. Kiranya ketika ia membenturkan kepala di lantai depan bangku batu yang kini sudah pindah ke kiri, ada alat rahasia yang menggerakkan anak-anak panah itu sehingga ia selamat. Seorang yang begitu saja membuka kain kuning tadi karena bernafsu memiliki wasiat, betapa pun pandainya, pasti akan menjadi korban anak panah karena anak-anak panah itu menyambar tak terduga-duga dan jaraknya amat dekat.

Sian Eng memandang lebih teliti dan ternyata selain alat-alat yang menggerakkan anak panah, juga di situ terdapat tulisan yang terukir pada dasar lubang. Seperti tulisan di atas kain kuning, tulisan yang terukir pada batu di dasar itu pun besar-besar, dan jelas, berbunyi : YANG TAHU AKAN SOPAN SANTUN PATUT MENJADI MURIDKU. DUDUKLAH BERSEMEDHI DI ATAS BANGKU, HANYA YANG BERJODOH AKAN BERHASIL.

Sian Eng bukan bermaksud hendak menjadi murid Tok-siauw-kui, melainkan bermaksud untuk mencari kitab peninggalan wanita sakti itu, untuk diberikan kepada kekasihnya. Karena bukankah kitab-kitab ini akan menyenangkan Suma Boan dan seperti dijanjikan oleh kekasihnya itu, setelah ia berhasil menemukan kitab-kitab itu mereka akan pergi ke Cin-ling-san untuk merundingkan urusan perjodohan mereka dengan bibi gurunya? Selain itu tadinya ia tidak memiliki keinginan lain.

Akan tetapi setelah kini ia terkurung dan tidak mampu keluar, timbullah keinginannya untuk mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Tok-siauw-kwi, sungguh pun hal ini hanya dimaksudkan untuk membuat ia mampu keluar dari neraka ini. Karena itulah maka tanpa ragu-ragu lagi Sian Eng lalu naik ke atas bangku batu dan duduk bersila.

Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan betapa lekuk-lekuk di atas permukaan batu cocok benar dengan ukuran tubuh belakang dan kakinya, seakan-akan sudah dicetak untuk dirinya. Kemudian ia teringat akan Tok-siauw-kui yang muncul dan menggemparkan perayaan Beng-kauw. Memang ada persesuaian dalam bentuk tubuh wanita sakti itu dengan dirinya. Mulailah Sian Eng mengheningkan cipta, bersiulian (bersemedhi) di atas bangku itu yang ternyata amat enak diduduki.

Akan tetapi sama sekali di luar dugaannya bahwa hal ini akan membawa ia kepada hal-hal baru yang akan mengubahnya menjadi seorang manusia lain! Ia tekun bersiulian seperti yang diajarkan ayahnya, duduk diam tak bergerak sedikit pun juga, mematikan raga. Tanpa ia sadari, ia sudah duduk seperti itu selama setengah hari!

Tiba-tiba terdengar suara keras dan kagetlah Sian Eng karena ia merasa tubuhnya terjatuh ke bawah. Ketika ia membuka matanya, benar saja, bangku batu itu sudah nyeplos ke bawah dan ia sudah berada di dalam ruangan lain, di bawah ruangan yang tadi. Ia segera turun dan melihat betapa di ruangan ini terdapat dipan untuk tidur, terdapat meja dan bangku, sedangkan di atas meja terdapat akar-akar dan buah-buah obat, juga di sana-sini bertumpuk kitab-kitab kuno. Sedangkan di sudut kiri terdapat sebatang pedang yang mengeluarkan sinar merah, pedang telanjang yang menancap pada dinding batu karang sampai setengahnya!

Dengan hati berdebar-debar tidak karuan Sian Eng memperhatikan cara bagaimana ia tadi dapat merosot ke bawah bersama bangku yang didudukinya. Setelah mengadakan pemeriksaan, kiranya bangku tadi dipasangi alat-alat yang halus sekali dan ternyata kehangatan tubuhnya melepaskan minyak-minyak beku dan menggerakkan alat-alat yang bergerak otomatis. Kalau saja tubuh orang yang bersemedhi tidak cocok dengan lekuk-lekuk di permukaan batu tadi, kiranya alat itu takkan dapat berjalan. Terang bahwa Tok- siauw-kui memang menghendaki seorang yang bentuk tubuhnya menyamainya, yang tentu saja seorang wanita, untuk menjadi ahli warisnya! Dan kini kitab-kitab pelajaran yang serba rahasia, yang dicari penuh kerinduan oleh orang-orang di seluruh dunia kang-ouw, terletak di depan Sian Eng, tinggal memilih saja!

Akan tetapi Sian Eng tidak membutuhkan semua ilmu itu! Ia hanya ingin mempelajari ilmu untuk menghimpun tenaga sakti agar ia dapat menggerakkan batu-batu penutup lubang, agar ia dapat keluar dan ia akan membawa sebuah dua buah kitab ilmu untuk diberikan kepada kekasihnya yang berada di luar goa. Karena kitab-kitab itu banyak sekali macamnya, akhirnya ia dapat juga menemukan sebuah kitab yang mengajarkan ilmu Ban-kin-pek-ko-chiu (Ilmu Keraskan Tangan Selaksa Kati) dan I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Cuci Sumsum). Ilmu ini mengajarkan cara bersemedhi dan bernapas, menghimpun tenaga sakti dan menguasainya.

 

Segera Sian Eng bersemedhi dan berlatih menurut petunjuk kitab ini. Sama sekali ia tidak mengira bahwa kalau bagi orang lain harus memakan waktu berbulan-bulan untuk memetik buah latihan ilmu ini, baginya hanya membutuhkan beberapa hari saja oleh karena di dalam tubuhnya sudah terdapat dua macam hawa panas dan dingin yang amat hebat berkat racun dari kelelawar.

Berhari-hari Sian Eng tekun berlatih dan apa bila ia merasa lapar, ia menangkapi kelelawar untuk dimakan dagingnya. Untuk minum tidaklah sukar karena dinding batu-batu karang itu mengandung air, dan di sana- sini terdapat air jernih menetes-netes dari atas. Tentang akar-akar dan buah-buah obat di atas meja, tidak ia perhatikan ketika ia membaca keterangan di sampingnya bahwa obat-obat itu adalah obat untuk pelbagai luka pukulan dan korban racun.

Demikianlah, tidak mengherankan apa bila dua pekan kemudian semenjak ia memasuki goa, Sian Eng sama sekali tidak mendengar teriakan-teriakan Suma Boan yang menyusulnya dan berteriak-teriak dari luar batu penutup lubang. Di waktu itu ia sedang tekun bersemedhi menyempurnakan sinkang yang sudah terasa memenuhi tubuhnya. Dengan girang Sian Eng mendapat kenyataan bahwa tenaga panas dan dingin yang kadang-kadang menguasainya, yang membuatnya berkali-kali pingsan, kini dapat ia kuasai sepenuhnya dengan cara yang diberikan oleh kitab itu.

Sian Eng menghentikan latihannya setelah merasa bahwa ia dapat menguasai tenaga mukjijat itu, dan pada saat itu barulah ia melihat gambaran di dinding, gambaran yang ada tanda-tanda huruf kecil terukir. Ia segera memperhatikan dan bukan main girang hatinya karena gambaran-gambaran itu merupakan tanda- tanda rahasia cara membuka dan menutup pintu-pintu rahasia dan alat-alat rahasia lain yang dipasang di dalam istana di bawah tanah ini. Cepat ia mencari rahasia batu besar yang menutup terowongan dan kiranya rahasianya terletak pada batu itu sendiri. Di ujung kanan atas dari batu itu terdapat bagian yang menonjol dan bagian inilah yang harus dipukul tiga kali ke dalam.

Dengan hati amat girang Sian Eng melompat melalui lubang itu ke bagian atas, kemudian sekali lagi ia menerobos ke bagian paling atas melalui lubang. Ia tidak sadar bahwa gerakannya melompat melalui lubang ini hebat dan ringan sekali, jauh bedanya dengan keadaan dirinya sebelum memasuki tempat ini. Begitu memasuki ruangan paling atas, hidungnya disambut bau yang amat busuk dari bangkai-bangkai kelelawar yang bertumpuk-tumpuk di situ selama beberapa hari. Sian Eng menutupi hidungnya dan dengan menahan napas ia lalu menghampiri batu penutup terowongan. Betul saja, di bagian atas ujung kanan batu itu terdapat bagian yang menonjol. Ia mengepal tangannya dan menghantam tiga kali.

Terdengarlah suara berkerotokan dan… dapat dibayangkan rasa gembira hati gadis itu melihat batu besar itu bergerak dan masuk ke dalam dinding membuka jalan terowongan itu seperti sedia kala! Saking girangnya Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu. Kemudian ia teringat kembali kepada Suma Boan, maka cepat ia melompat dan berlari-lari ke luar melalui terowongan sambil tertawa-tawa gembira. Tadi ketika keluar dari dalam kamar rahasia, ia telah mengambil dua buah kitab kuno yang ia kira tentu akan memuaskan hati kekasihnya, karena kitab-kitab itu adalah kitab ilmu pedang dan ilmu silat. Kini dua buah kitab kuno itu berada di balik baju dalamnya.

Akan tetapi ketika ia tiba di luar goa, di situ sunyi sekali tidak kelihatan bayangan Suma Boan. Pada waktu itu hari telah berganti malam, keadaan di luar goa gelap gulita.

“Suma-koko!” Sian Eng memanggil, menyangka bahwa kekasihnya tentu sedang beristirahat di suatu tempat setelah menanti-nanti dirinya keluar dengan hati kesal. Tentu kekasihnya itu merasa khawatir sekali, mungkin sudah putus asa.

“Suma-koko!” berkali-kali ia memanggil sambil melangkah ke luar, namun tidak ada yang menjawab.

Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan dari jauh. Sian Eng cepat menggerakkan kakinya mengejar. Juga kali ini ia tidak sadar bahwa gerakan kakinya cepat dan ringan bukan main, dan bahwa ia telah berlari cepat sekali! Ini adalah berkat hawa sakti di tubuhnya yang kini mulai dapat ia kuasai setelah ia memiliki Ilmu Ban-kin Pek-ko-chiu. Sama sekali ia tidak tahu bahwa Suma Boan baru saja keluar dari dalam goa, dan bahwa pemuda itu hampir celaka oleh Liu Hwee dan Kauw Bian Cinjin.

Setelah melakukan pengejaran dengan kecepatan mengagumkan, akhirnya ia dapat menyusul dua bayangan yang berkejaran itu. Segera ia mengenal Liu Hwee yang mengejar Suma Boan! Ia tidak mengenal apa sebabnya, maka diam-diam ia hanya mengikuti mereka.

Ketika tiba di luar hutan, Liu Hwee mulai menyerang Suma Boan dengan senjata rahasia jarum perak,

 

kemudian karena pemuda itu terhalang larinya ketika mengelak, gadis puteri ketua Beng-kauw ini cepat menerjangnya dengan senjatanya yang hebat, yaitu sepasang cambuknya yang diganduli dua buah bola baja.

 

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo