August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 17)

 

 

“Iblis keji…!” Dengan wajah pucat Liu Hwee memaki marah, kemudian ia menyerang lagi dengan sepasang bola bajanya. Ada pun Bu Sin cepat lari dan mencabut pedangnya yang menancap pada sebatang pohon. Kemudian ia menghampiri tempat pertempuran dan membantu Liu Hwee lagi dengan mati-matian.

“Hi-hik, saling mencinta berarti bodoh, boleh mati bersama!”

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan tahu-tahu sepasang bola baja Liu Hwee telah lekat dengan kawat- kawat alat musik yang-khim. Betapa pun Liu Hwee coba membetotnya, namun hasilnya sia-sia saja karena dengan tenaga ‘menyedot’ Siang-mou Sin-ni telah membuat bola-bola itu melibat-libat kawat, kemudian rambutnya bergerak seperti puluhan cambuk ke depan!

Bu Sin berusaha menolong temannya. Pedangnya diputar menahan datangnya rambut-rambut itu dengan maksud membabatnya sambil mengerahkan tenaga sakti. Namun Siang-mou Sin-ni sekarang telah tahu bahwa pemuda ini entah bagaimana caranya telah memiliki tenaga sakti yang hebat, maka ia tidak melawan keras dengan keras karena khawatir kalau-kalau rambutnya akan terbabat putus. Ia menggunakan tenaga lemas, rambutnya bertemu pedang terus membelit, bahkan membelit juga pergelangan tangan Bu Sin.

Pemuda ini berseru keras karena merasa betapa pergelangan tangannya seakan-akan hendak patah. Pedangnya terlepas dari pegangan dan di lain saat ia telah dilucuti, seperti halnya Liu Hwee. Mereka kini berdiri tanpa senjata, menghadapi lawan yang terkekeh dan menggerak-gerakkan kepala sehingga rambutnya menyambar-nyambar mengerikan.

“Hi-hik, kalian saling mencinta, ya? Hi-hik, sehidup semati, senasib sependeritaan!” Siang-mou Sin-ni terus mengejek dengan suaranya yang nyaring diselingi kekehnya yang menyeramkan.

Kini rambut kepalanya menyambar-nyambar, melecut-lecut dan mencambuki dua orang itu. Kasihan sekali Liu Hwee dan Bu Sin. Mereka tak mungkin dapat mengelak dari hujan serangan ini karena rambut kepala yang hitam panjang dan gemuk itu berubah menjadi puluhan batang cambuk yang kuat. Mereka dapat mengerahkan sinkang untuk menjaga diri, namun mereka tak mungkin dapat menjaga pakaian mereka yang mulai robek-robek! Liu Hwee maklum bahwa ia akan terhina kalau sampai pakaiannya robek semua dan membuatnya menjadi telanjang bulat, maka dengan nekat ia berusaha untuk menyambar rambut- rambut itu. Akhirnya ia berhasil mencengkeram segenggam rambut, mengerahkan tenaganya dan menarik sekuatnya.

Siang-mou Sin-ni menjerit karena segenggam rambutnya telah jebol dari kulit kepala. Ia seperti setan sekarang. Rasa nyeri membuatnya marah sekali dan di lain saat kedua tangan Liu Hwee telah dibelit rambut sampai tak dapat bergerak lagi, lalu cambuk-cambuk rambut itu melecut-lecut tubuhnya dari segenap penjuru! Gadis ini hanya dapat meramkan mata agar mata itu tidak terkena hantaman rambut, akan tetapi pakaiannya mulai robek-robek tidak karuan.

Betapa hancur hati Bu Sin menyaksikan gadis yang merampas kasih sayangnya itu mengalami siksaan itu. Namun apa dayanya? Ia sendiri juga tidak terlepas dari pada siksaan cambuk-cambuk rambut yang halus dan harum itu, tetapi yang melecut dengan tajamnya, yang merobek pakaiannya dan sedikit saja ia mengurangi pengerahan sinkang, kulitnya tentu akan robek-robek pula.

“Bocah she Liu, bersiaplah untuk mampus!” tiba-tiba Siang-mou Sin-ni berseru keras.

“Siang-mou Sin-ni, aku tidak takut mampus! Akan tetapi, sekali kau berani mengganggu kami, ayah pasti akan mencarimu dan mencabuti semua urat dari dalam tubuhmu!”

“Hi-hi-hik, siapa takut terhadap Beng-kauwcu? Tua bangka itu boleh saja datang, kubikin mampus sekalian!”

Gugup sekali hati Bu Sin sehingga lecutan rambut itu kini mulai merobek kulitnya karena saking gugup dan bingung melihat gadis yang dicintanya terancam, pengerahan tenaganya mengendur. “Siang-mou Sin-ni, kalau kau berani mengganggu dia, kakakku Suling Emas tentu akan menghancurkan kepalamu!”

Siang-mou Sin-ni mendengus, “Huh, siapa takut Suling Emas? Dia mau apa? Lihat, kubunuh sekarang juga bocah she Liu kekasihmu ini, Suling Emas bisa berbuat apa?” Iblis betina itu mengangkat tangan kirinya, siap menghantam kepala Liu Hwee.
Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit, tubuhnya terangkat ke atas dan sebelum iblis betina ini tahu apa yang
terjadi, tubuhnya sudah tergantung di atas pohon. Kiranya ada orang yang tadi menariknya ke atas dengan cara mencengkeram rambut-rambutnya, dan kini orang telah mengikatkan ujung rambutnya pada batang pohon yang tinggi di atasnya! Ketika ia melirik ke atas dengan heran, ternyata yang melakukan perbuatan ini bukan lain adalah… Suling Emas! Dengan kaget Siang-mou Sin-ni hendak melepaskan diri, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar kuning dan punggungnya telah tertotok ujung suling sehingga ia tidak mampu bergerak lagi!

“Siang-mou Sin-ni, dimana-mana kau hanya membikin onar!” seru Suling Emas dengan suara dingin dan marah ketika ia melirik ke arah Liu Hwee yang kini berlutut di tanah dengan muka merah sambil berusaha menutupi tubuhnya yang setengah telanjang, dan Bu Sin yang juga robek-robek pakaiannya, bahkan mandi darah oleh lecutan-lecutan tadi.

“Twako…!” seru Bu Sin dengan girang sekali.

Suling Emas tidak dapat menjawab karena pada saat itu Siang-mou Sin-ni sudah memaki-makinya. “Suling Emas, kau pengecut hina-dina! Kau menyerangku dengan cara pengecut! Hayo lepaskan aku dan kita bertanding sampai selaksa jurus! Cih, kau laki-laki apa? Pengecut tak tahu malu!”

Akan tetapi Suling Emas tidak melayaninya, bahkan tangannya meraih dan… seketika pakaian luar Siang- mou Sin-ni terlepas dari tubuhnya, membuat iblis betina ini menjadi setengah telanjang karena yang menutupi tubuhnya kini hanyalah pakaian dalam!

“Heee, setan neraka! Mau apa kau dengan pakaianku?” Kemudian suaranya berubah, halus dan ragu- ragu, “Suling Emas… kalau kau… suka kepadaku, kenapa tidak menanti sampai kita berdua saja…? Mau apa kau melepaskan pakaianku!”

“Huh, perempuan hina!” Suling Emas mendengus marah, lalu melompat dari atas pohon, menyerahkan pakaian itu kepada Bu Sin sambil berkata, “Kau berikan ini kepada Bibi Kecil Liu Hwee, kemudian kau bersama dia kembalilah ke Nan-cao.”

Bu Sin menerima pakaian itu lalu menghampiri Liu Hwee. Sebagai seorang laki-laki gagah yang memegang kesopanan, ia membuang muka tidak mau memandang Liu Hwee yang setengah telanjang itu, hanya menyodorkan pakaian sambil berkata, “Hwee-moi, cepat pakailah ini!”

Dengan cepat dan lega hati Liu Hwee lalu menyambar pakaian itu dan sebentar saja ia sudah memakai pakaian Siang-mou Sin-ni yang serba hitam. Untung baginya, bentuk tubuh iblis betina itu ramping dan sama dengan tubuhnya sehingga pakaian itu pas betul.

“Bu Song, kau bunuh saja perempuan jahat itu!” Liu Hwee berkata sambil menghampiri Suling Emas.

“Hi-hik, kau yang pengecut tak tahu malu!” Siang-mou Sin-ni memaki. “Lepaskan aku dan kalian akan kubunuh mampus semua!”

“Bibi Kecil Liu Hwee, harap kau dan Sin-te (Adik Sin) suka cepat kembali ke Nan-cao. Iblis ini biar aku yang menghadapinya. Setelah aku dapat menolong Lin Lin, tentu aku akan kembali ke Nan-cao pula. Eh, Bu Sin, di mana adanya Sian Eng? Kenapa tidak bersamamu?”

Dengan kening berkerut Bu Sin menceritakan pengalamannya di dalam terowongan rahasia, betapa mereka menjadi tawanan Hek-giam-lo, kemudian betapa Siang Eng dibawa lari oleh Suma Boan dan dia sendiri diculik Siang-mou Sin-ni.

“Hemmm, sudahlah. Agaknya kali ini aku takkan bisa mengampunkannya lagi!” kata Suling Emas dengan suara gemas. “Kalian lekas kembali ke Nan-cao dan menanti aku di sana. Terlalu banyak orang jahat memusuhi kita dan tak mungkin dapat membagi diri untuk mengamati kalian. Aku pasti akan dapat mencari Sian Eng, Lin Lin, dan membawa kembali tongkat Beng-kauw.”

“Paman Guru Kauw Bian Cinjin juga sudah keluar pintu untuk membantumu merampas kembali tongkat pusaka,” kata Liu Hwee menerangkan.

 

Suling Emas mengangguk-angguk, “Bagus, tenaga Paman Kauw Bian Cinjin dapat diandalkan. Sekarang kalian lekaslah kembali ke Nan-cao.”

Liu Hwee dan Bu Sin tidak membantah lagi, segera mereka berlari cepat meninggalkan tempat itu. Akan tetapi setelah berlari kurang lebih dua jam lamanya, Liu Hwee berhenti dan berkata.

“Bu Sin Koko, cukup jauh kita berlari. Mari sekarang kita kembali.” Bu Sin memandang heran. “Hwee-moi, apa maksudmu?”
Gadis itu tersenyum dan dunia ini serasa lebih cemerlang dan indah bagi Bu Sin. Semenjak jaman purba sampai jaman sekarang, senyum seorang gadis selalu mendatangkan keajaiban bagi pria yang mencintanya, keajaiban yang indah, seindah bunga mekar tersiram embun di waktu pagi, atau matahari mengintai di ufuk timur mengusir kemuraman subuh. Untuk senyum inilah seorang yang mabuk cinta siap sedia mengorbankan apa saja!

“Koko, betulkah hatimu rela begitu saja kalau kita berdua kembali ke Nan-cao sedangkan tugas sedemikian banyaknya yang harus diurus oleh kakakmu? Kedua orang adikmu terancam bahaya, tongkat pusaka terampas musuh, bagaimana mungkin kita pulang begitu saja tanpa memberi bantuan sedikit pun juga?”

“Cocok dengan isi hatiku, Moi-moi. Aku pun merasa tidak enak sekali kalau harus pergi begitu saja berpeluk tangan, bukanlah sikap seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Akan tetapi Song-twako yang memerintah, bagaimana aku dapat membantah?”

Kembali Liu Hwee tersenyum. “Kakakmu itu memang lihai sekali, agaknya dengan orang seperti dia turun tangan, semua urusan pasti akan beres. Akan tetapi aku sama sekali tidak setuju kalau harus tinggal diam saja. Tadi pun aku hendak membantahnya, akan tetapi tidak baik di depan iblis betina itu kalau kita saling bantah. Karena itu aku tadi diam saja. Sekarang mari kita kembali dan mengambil jalan kita sendiri, mencari kedua orang adikmu. Biarlah kita berlomba dengan Suling Emas!”

Gembira sekali hati Bu Sin, kegembiraan bertumpuk-tumpuk karena tidak saja ia gembira dapat membantu untuk menolong kedua orang adiknya, juga ia senang sekali dapat melakukan perjalanan ini bersama Liu Hwee, dapat sama-sama menempuh bahaya!

“Bagus! Mari kita berangkat, Moi-moi!”

Mereka kini berlari ke arah timur, akan tetapi belum lama mereka berlari kembali Liu Hwee berhenti. “Perempuan tadi, dia… dia agaknya amat mencintamu, Koko!”
“Huh, iblis betina itu!” Bu Sin mendengus, mukanya berubah merah sekali.

“Tapi… tapi dia cantik sekali, Sin-ko, dan di dunia ini, entah berapa banyaknya pria yang tergila-gila dan jatuh hati kepadanya.”

“Uhhh, kecantikan iblis seperti keindahan warna kulit seekor ular beracun. Sudahlah, kita tak perlu bicara tentang dia, aku jijik kalau mengingat dia!” kata Bu Sin.

Liu Hwee tersenyum. “Syukurlah kalau begitu. Aku sudah khawatir sekali. Sin-ko, di dunia ini hanya ada dua orang wanita yang benar-benar hebat dan sukar dapat dilawan oleh laki-laki yang bagaimana gagah pun. Pertama adalah mendiang enci Lu Sian, kedua adalah Coa Kim Bwee atau Siang-mou Sin-ni itulah. Senjata mereka yang paling mengerikan adalah kecantikan mereka.”

“Kurasa terdapat perbedaan besar antara enci-mu yang menjadi ibu kandung Bu Song Twako itu dengan iblis betina Siang-mou Sin-ni. Hwee-moi, mari kita lanjutkan perjalanan dan kalau boleh, aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang riwayat hidup mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang hebat itu.”

Liu Hwee tersenyum lalu menggerakkan kaki, dan mereka berdua kini melanjutkan perjalanan biasa. Liu Hwee mulai menuturkan riwayat mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang luar biasa dan hebat, akan tetapi yang hanya diketahui sebagian saja oleh Liu Hwee (riwayat ini dituturkan dengan jelas dalam cerita SULING EMAS).

 

Sementara itu, setelah kedua orang muda itu pergi, Suling Emas lalu menggunakan sulingnya membebaskan totokannya pada tubuh Siang-mou Sin-ni. Setelah jalan darahnya bebas, dengan mudah saja wanita itu dapat melepaskan diri dari atas cabang pohon di mana rambutnya yang panjang tadi diikatkan oleh Suling Emas.

Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan wanita ini yang sekarang berdiri di depan Suling Emas hanya dengan pakaian dalam yang serba ringkas, pendek, dan terbuat dari pada sutera merah! Kalau saja sepasang matanya tidak menyala-nyala liar, mukanya tidak membayangkan kemarahan yang tak dapat dikendalikannya lagi, agaknya Siang-mou Sin-ni akan kelihatan amat menggairahkan dalam pakaian seperti itu. Masih untung baginya, rambut yang hitam panjang riap-riapan membantu pakaian dalam yang kurang cukup menutupi bagian-bagian tubuhnya itu.

“Keparat…! Jahanam…! Kau… kau… terlalu menghinaku… kau harus mampus…!” Kata-katanya sukar sekali keluar di antara dengus napasnya yang panas, kedua kakinya bergerak maju perlahan-lahan, kedua tangannya berkembang, jari-jari tangannya seperti kuku harimau hendak mencengkeram, ujung rambutnya yang terlalu panjang terseret di atas tanah.

Suling Emas mengerutkan keningnya dan melangkah mundur. “Siang-mou Sin-ni, ingat! Kini belum waktunya kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tunggu nanti tiba saatnya di puncak Thai-san, aku akan mewakili mendiang ibu kandungku. Kita lihat siapa yang lebih kuat.”

“Tidak peduli! Kau harus mampus sekarang juga. Kau terlalu menghinaku!”

“Hemmm, kau sombong. Dengan apa kau hendak membunuhku? Dengan rambutmu? Ataukah dengan alat khim yang kau curi dari Bu Kek Siansu? Ah, tidak akan ada gunanya, Siang-mou Sin-ni. Lebih baik kau bertapa lagi memperdalam ilmumu agar kelak di puncak Thai-san kau dapat melayaniku sedikitnya seratus jurus!”

“Suling Emas, kaulah yang sombong! Kau kira aku tidak memiliki ilmu untuk membunuhmu? Nah, kau terimalah ini!”

Tiba-tiba sekali wanita itu membuka mulutnya dan sinar merah yang panjang kecil bagaikan seekor ular merah menyambar dari dalam mulut itu ke arah Suling Emas. Pendekar ini terkejut juga, tidak mengira bahwa wanita iblis ini memiliki kepandaian seaneh ini yang selamanya belum pernah ia lihat atau dengar. Cepat ia miringkan kepala, tidak berani menyambut benda yang menyambar ke arah mukanya itu.

Benda itu menyambar lewat kepalanya, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba pandang matanya berkunang dan napasnya menjadi sesak. Kiranya benda berupa sinar merah itu adalah darah. Darah hidup! Darah yang mempunyai pengaruh hebat sekali, yang membuatnya tiba-tiba menjadi pening. Sebelum Suling Emas dapat mengusir kepeningannya, tiba-tiba angin bertiup dari depan, alat musik khim sudah menghantam ke arah kepalanya dibarengi suara kekeh tertawa yang seram.

“Aiiihhhhh…!” Suling Emas mengumpulkan semangat, menjatuhkan diri ke kiri sehingga sambaran alat khim itu tidak mengenai dirinya. Akan tetapi pada saat itu, selagi ia masih nanar, tahu-tahu tubuhnya sudah terlibat oleh rambut yang amat kuat, yang melibat kaki tangan dan lehernya bagaikan puluhan ekor ular yang mengeroyoknya!

Suling Emas maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya maut. Cepat ia mengerahkan seluruh sinkang di tubuhnya dan seketika lenyaplah kepeningan kepalanya. Dengan gerakan menggoyang tubuh sambil mengembangkan tangan dan kaki, terdengar Siang-mou Sin-ni memekik penuh kekecewaan melihat calon korbannya dapat terlepas begitu cepatnya. Di lain saat Suling Emas sudah memegang suling dan kipasnya.

“Iblis betina, kiranya kau mempunyai ilmu setan yang jahat. Akan tetapi jangan harap kau dapat mengakali aku lagi. Hayo majulah!”

Dengan sikap tenang penuh wibawa Suling Emas berdiri tegak dengan sepasang senjatanya yang amat terkenal itu di kedua tangan, matanya menatap tajam. Siang-mou Sin-ni ragu-ragu, maklum bahwa ilmunya Tok-hiat-hoat-lek masih belum cukup kuat untuk merobohkan Suling Emas. Tetapi ia merasa gembira sekali karena biar pun ilmunya belum matang betul, namun ia tadi sudah hampir dapat mengalahkan Suling Emas. Andai kata ilmunya sudah matang, tentu tidak semudah itu Suling Emas menyadarkan diri dan tentu sudah mampus di tangannya. Ia tertawa dan sekali berkelebat tubuhnya mencelat jauh pergi dari tempat

 

itu. Suara ketawanya masih terdengar jelas seperti suara kuntilanak, disusul kata-katanya mengejek, “Suling Emas, kau tunggu saja, di puncak Thai-san aku takkan gagal lagi seperti tadi!”

Sejenak Suling Emas termenung. Ia teringat betapa dahsyat ilmu yang dipergunakan Siang-mou Sin-ni tadi. Hampir saja ia menjadi korban. Kalau tadi ia tidak lekas-lekas dapat menguasai dirinya dan melenyapkan kepeningannya, tentu ia sudah menjadi korban. Diam-diam ia bergidik. Ilmu semburan darah segar tadi benar-benar mengerikan dan kelak ia harus berlaku hati-hati sekali apa bila berhadapan dengan iblis betina itu.

********************

Dengan amat tekun dan rajin Lin Lin menghafalkan ilmu yang tertulis pada tiga belas helai kertas tipis yang ia dapatkan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw itu. Memang segala sesuatu sudah menjadi takdir Tuhan. Ketika masih hidup, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan sengaja menciptakan tiga belas jurus ilmu silat sakti ini yang merupakan inti sari dari pada isi tiga buah kitab pusaka Sam-po-cin-keng, bahkan dipilih jurus-jurus yang dapat mengatasi isi kitab itu karena ketika menciptakan ilmu ini, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan memang bermaksud untuk menurunkannya kepada ketua Beng-kauw untuk menghadapi puterinya yang murtad. Dengan demikian, ilmu ini ia tinggalkan untuk Beng-kauw. Akan tetapi, biar pun sudah lama tongkat pusaka yang dijadikan tempat penyimpanan wasiat ini berada di tangan Liu Mo ketua Beng-kauw yang baru, namun belum pernah dapat ditemukan oleh Liu Mo atau tokoh Beng-kauw yang lain. Sekarang, tanpa disengaja sama sekali, Lin Lin dapat menemukan wasiat ini dan mempelajarinya. Bukankah ini jodoh namanya?

Karena ia termasuk seorang anak yang cerdas, Lin Lin segera dapat menghafal wasiat ini di luar kepala, dan ia dapat menduga bahwa ilmu mukjijat ini tak boleh sekali-kali diketahui orang lain. Maka setelah ia hafal benar, yaitu selama lima belas hari di atas perahu, ia segera merobek-robek tiga belas helai kertas tipis itu dan menebarkan sobekan-sobekan kecil ke sungai.

“He, apakah itu?” bentak Hek-giam-lo dan tubuhnya tahu-tahu sudah berada dekat Lin Lin. Betapa pun juga, iblis hitam ini merasa curiga karena selama setengah bulan ini, Lin Lin tak pernah keluar, juga tidak pernah memperdengarkan protes atau memperlihatkan sikap rewel. Kini tiba-tiba gadis itu keluar dan menebarkan potongan-potongan kertas banyak sekali ke sungai.

Akan tetapi ia terlambat mencegah atau memeriksa karena potongan-potongan kertas yang amat kecil- kecil itu sudah melayang-layang ke permukaan sungai, seperti kupu-kupu terbang melayang lalu hinggap di atas air. Hek-giam-lo merasa penasaran, tubuhnya berkelebat dan bagaikan seekor kelelawar besar, tubuhnya melayang ke permukaan air, tangannya menyambar dan dengan gerakan kedua kakinya, tubuh itu membalik kembali ke atas perahu. Beberapa potongan kertas berada di tangannya.

Diam-diam Lin Lin kagum bukan main. Benar-benar sakti Hek-giam-lo ini dan merupakan lawan yang berat sekali. Ia harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono, biar pun sudah memiliki hafalan ilmu mukjijat yang ia dapatkan dari dalam tongkat pusaka Beng-kauw. Dengan sepasang mata bersinar penuh ejekan ia memandang Hek-giam-lo yang sudah melihat potongan-potongan kertas itu.

Lin Lin tadi sudah berlaku hati-hati sekali sehingga kertas yang dirobek-robek itu hanya merupakan potongan sebesar ibu jari. Memang ada satu dua huruf di tiap potongan kertas, akan tetapi apa artinya? Dan untuk dapat mengumpulkan potongan-potongan kertas itu serta memasangnya kembali seperti semula, tak mungkin dapat dilakukan orang!

“Apa ini…?” Hek-giam-lo meneliti potongan-potongan kertas itu, menoleh ke arah Lin Lin dengan perasaan ingin tahu sekali.

“Kenapa kau tidak mau menduga-duga? Coba terka. Hek-giam-lo, kau yang terkenal sebagai seorang di antara Enam Iblis, sakti dan cerdik, masa tidak bisa menduga apa adanya surat yang kurobek-robek menjadi potongan-potongan kecil itu?” Suara Lin Lin mengejek dan mempermainkan karena setelah ia menguasai ilmu itu, timbul kembali kejenakaan dan kelincahannya.

“Tuan Puteri, harap jangan main-main! Hamba telah diberi tugas oleh kaisar untuk menjaga Tuan Puteri dan membawa Paduka sampai ke Khitan dengan selamat. Sebagai calon ratu, Tuan Puteri harus hamba jaga secara teliti dan tidak boleh sama sekali ada rahasia. Surat apakah tadi?”

Lin Lin tersenyum, matanya mengerling penuh ejekan. “Kiranya Hek-giam-lo yang terkenal cerdik itu tidak

 

dapat menduga? Hemmm, kalau kau memang amat ingin mengetahui, bolehlah kuberi tahu. Surat yang kurobek-robek tadi adalah surat dari… kekasihku. Nah, puaskah kau? Jangan kau ingin tahu apa isinya. Rahasia dong!” Lin Lin bersikap nakal dan mempermainkan sehingga diam-diam Hek-giam-lo mendongkol juga.

“Paduka maksudkan surat dari Lie Bok Liong pemuda tolol itu?”

Lin Lin menghela napas panjang dan seketika ia menghampiri pinggir perahu dan pandang matanya mencari-cari ke tepi pantai. Disebutnya nama pemuda itu mengingatkan ia akan penderitaan Bok Liong yang mati-matian membelanya.

“Bukan, bukan dia. Liong-twako adalah seorang yang amat baik, gagah perkasa dan ia amat mencintaku. Akan tetapi bukan dia….” Mulutnya tidak melanjutkan kata-katanya, akan tetapi hatinya berbisik, “Bukan dia orang yang merampas hatiku, bukan dia orang yang kucinta….”

“Kau mencari dia?” kini suara Hek-giam-lo yang penuh ejekan sehingga Lin Lin terkejut sekali. Selama setengah bulan ia bersembunyi di dalam perahu saja. Bagaimana jadinya dengan Bok Liong? Jangan- jangan pemuda yang nekat itu menyerbu lagi dan dibunuh oleh Hek-giam-lo.

“Di mana dia? Kau apakan Lie Bok Liong Twako?” bentaknya dengan mata terbuka lebar. “Paduka cukup cerdik, mengapa tidak menduga sendiri?” Kini Hek-giam-lo yang mengejeknya.
Lin Lin membanting-banting kakinya. “Hek-giam-lo, aku tahu kau seorang iblis yang tidak segan-segan melakukan segala macam kejahatan di dunia ini, akan tetapi aku pun tahu bahwa kau terlalu sombong untuk bersikap pengecut dan membohong terhadap seorang gadis cilik macam aku! Nah, apakah kau telah membunuh Lie Bok Liong?”

Hek-giam-lo menggeleng kepalanya. “Orang macam dia, perlu apa kubunuh? Dia sudah mau mampus dan sekarang tentu sudah mampus kalau saja gurunya, pelukis sinting itu tidak datang dan membawanya pergi.”

Berseri wajah Lin Lin. “Apa kau bilang? Empek Gan datang? Tentu kau telah dipukulnya? Mengapa dia tidak membunuhmu?”

Hek-giam-lo mendengus marah. “Badut tolol itu mana berani? Dia datang membawa pergi muridnya, tergesa-gesa dan ketakutan.”

“Kau bohong, aku tidak percaya!”

Hek-giam-lo hanya mengangkat bahu, lalu membalikkan tubuh meninggalkan Lin Lin ke kepala perahu. Lin Lin menoleh ke sana ke mari, akan tetapi pandang mata para anak buah perahu yang mentertawakannya membuat ia gemas dan dengan marah ia kembali memasuki bilik perahu. Hatinya panas dan ingin ia memberontak dan pergi dari perahu. Akan tetapi ia tidak bodoh. Ilmu baru yang didapatnya belum terlatih masak-masak, pula di atas perahu tidak berani ia sembarangan bergerak. Sekali perahu digulingkan sehingga ia terjatuh ke dalam air, ia takkan dapat melawan pula. Ia harus bersabar dan menanti kesempatan baik.

Dengan makin tekun Lin Lin mulai melatih diri, siang malam ia melatih diri. Bukan main girang hatinya ketika pada setiap gerakan pukulan terasa ada angin pukulan yang antep dan dahsyat menyambar keluar dari tangannya yang terbuka. Dinding bilik perahu sampai berguncang dan hal inilah yang membuat Hek- giam-lo menjadi curiga sekali.

Malam itu, menjelang subuh, mendadak Hek-giam-lo membuka pintu bilik dan menerobos masuk. Baiknya ketika itu Lin Lin sudah melatih jurus yang ke sembilan. Jurus ini dilakukan dengan duduk, merupakan pukulan jarak jauh yang dilakukan sambil duduk. Pukulan kedua tangan itu merupakan gerakan lingkaran sehingga angin pukulannya memutari tubuhnya dapat menghantam lawan yang berada di mana pun juga tanpa mengubah kedudukan tubuh yang duduk. Untuk melatih jurus ini, Lin Lin duduk di atas pembaringannya. Maka ketika tiba-tiba pintu biliknya terbuka, ia tidak menjadi gugup, melainkan menghentikan pukulan-pukulannya dan bersikap seperti orang bersemedhi, sikap yang sudah lajim dilakukan oleh ahli-ahli silat tinggi, apa lagi waktu menjelang subuh adalah waktu terbaik untuk bersemedhi.

 

Melihat ‘tuan puteri’ itu duduk bersemedhi, sama sekali tidak bergerak, Hek-giam-lo tidak berani mengganggu. Akan tetapi getaran-getaran pada dinding bilik sekarang berhenti. Makin curigalah iblis itu. Ia menutup pintu bilik dan melompat ke luar, menyelidik di sekeliling perahu, bahkan ia menyelidiki ke darat. Akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu.

Kecurigaan Hek-giam-lo ini yang mengganggu latihan Lin Lin. Pada keesokan harinya, secara mendadak Hek-giam-lo menghentikan perahu, lalu mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ke utara melalui darat! Hek-giam-lo sudah timbul curiga, tidak hanya pada diri Lin Lin, melainkan curiga kalau-kalau ada orang pandai yang hendak merampas Lin Lin dan tongkat pusaka Beng-kauw dari padanya. Hal ini mungkin saja, apa lagi setelah muncul Gan-lopek yang membawa pergi muridnya dari pantai.

“Aku tidak mau melakukan perjalanan di darat!” Lin Lin membentak marah. “Lebih enak melalui air, tidak lelah dan dapat tidur nyenyak!”

“Tidak bisa, Tuan Puteri. Air sungai ini akan membawa kita ke laut, sedangkan Khitan letaknya bukan di laut. Kita harus mendarat sekarang juga. Jangan khawatir, untuk Paduka hamba akan menyediakan seekor kuda yang baik.”

Tentu saja keberatan yang diajukan oleh Lin Lin ini hanya pura-pura belaka. Sesungguhnya ia ingin melakukan perjalanan dengan perahu agar ia leluasa melatih ilmunya. Dengan perjalanan melalui darat, ia akan kelihatan terus, di bawah pengawasan Hek-giam-lo dan tentu saja tidak akan ada kesempatan untuk berlatih.

Namun Lin Lin cukup cerdik untuk membantah terus karena hal ini tentu akan menimbulkan kecurigaan. Selain itu, biar pun ia kini tak mungkin dapat berlatih lagi, namun terbukalah kesempatan baginya untuk melarikan diri, sungguh pun ia takkan sembrono melakukan hal ini kalau tidak mendapatkan kesempatan yang baik.

Kesempatan ini tak pernah ia dapatkan karena Hek-giam-lo selalu mengawalnya sendiri dengan hati-hati dan teliti sekali. Ia diberi seekor kuda pilihan yang baik sedangkan Hek-giam-lo berjalan cepat di belakangnya. Lin Lin cukup maklum bahwa melarikan kudanya itu akan percuma, tidak saja di situ terdapat banyak kuda-kuda yang cepat, akan tetapi juga orang sakti macam Hek-giam-lo tak mungkin dapat ditinggal lari di atas kuda. Untuk nekat melarikan diri dan melawan, akan sia-sia belaka dan akibatnya hanya membuat perlakuan mereka terhadapnya kurang baik. Kini biar pun ia merupakan seorang setengah tawanan, namun mereka, bahkan Hek-giam-lo sendiri, selalu bersikap menghormat. Ia selalu diberi hidangan yang lezat dan selalu diperhatikan keperluannya.

Beberapa pekan kemudian, pada suatu sore, tibalah mereka di perbatasan yang menjadi wilayah bangsa Khitan. Suku bangsa Khitan adalah bangsa perantauan di sebelah utara, sering kali berpindah wilayah sesuai dengan keadaan dan musim. Mereka terkenal sebagai bangsa yang gagah berani dan pandai menunggang kuda, pandai melakukan perang.

Hek-giam-lo menghentikan rombongannya dan menyuruh orang-orangnya mendirikan kemah di tempat itu, yaitu di sebuah padang rumput yang luas. Ia sendiri lalu menunggang kuda untuk mengabarkan kepada rajanya tentang kedatangan Puteri Yalin! Pada waktu itu, karena tekun mempelajari bahasa bangsanya, sedikit-sedikit Lin Lin sudah pandai berbahasa Khitan. Karena memang ada hubungan darah, maka bahasa ini baginya amat mudah dipelajari. Maka ia mengerti akan perintah Hek-giam-lo dan terbukalah kesempatan baik baginya. Hek-giam-lo pergi meninggaikan rombongan itu!

Akan tetapi pada saat Hek-giam-lo pergi, datanglah serombongan wanita cantik yang ternyata adalah dayang-dayang yang serta-merta melayaninya. Mereka ini terdiri dari selosin orang wanita muda yang cantik, mereka datang membawa makanan asing yang enak, membawa pakaian-pakaian indah dan perhiasan untuk Sang Puteri Yalin, calon permaisuri!

Memang watak Lin Lin nakal dan ingin sekali ia mencoba pakaian itu. Maka ia hanya menurut saja ketika didandani. Akhirnya ia tertawa cekikikan sendiri ketika melihat bayangannya di cermin. Ternyata ia telah menjadi seorang puteri asing yang pakaiannya aneh beraneka warna, bahkan kepalanya ditutup perhiasan terbuat dari pada emas penuh batu permata!

“Pantaskah aku memakai ini?” tanyanya dalam bahasa Khitan kepada para dayang yang tertawa-tawa gembira melihat puteri itu cekikikan di depan cermin.

 

Mereka serentak menjatuhkan diri berlutut dan menghujani Lin Lin dengan pelbagai pujian. Lin Lin merasa bangga sekali. Alangkah senangnya menjadi ratu, pikirnya. Dilayani, dihormati, dan menjadi orang terpenting di antara bangsa yang mempunyai laki-laki gagah dan wanita cantik ini. Akan tetapi ketika ia teringat bahwa ia akan dijadikan permaisuri oleh paman tirinya sendiri yang bernama Kubakan dan kini menjadi Raja Khitan, ia bergidik dan cepat-cepat ia melepaskan pakaian asing itu, mengenakan pakaian sendiri. Ia tidak mempedulikan protes para dayang itu, bahkan lalu meloncat ke luar dari perkemahan dengan maksud hendak lari.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika selosin orang dayang yang muda-muda dan cantik itu tiba-tiba mengejar dan mengurungnya dengan pedang di tangan. Mereka ternyata bukanlah dayang biasa, melainkan gadis-gadis yang terlatih baik dan kini mereka membentuk barisan pedang yang mengurung Lin Lin dengan gerakan yang cekatan dan sigap.

“Harap Tuan Puteri jangan pergi meninggalkan perkemahan ini. Hamba semua telah menerima perintah Sri Baginda untuk menjaga Paduka, Lo-ciangkun (Panglima Tua) tadi memesan bahwa kalau perlu hamba semua harus mempergunakan kekerasan mencegah Paduka pergi,” kata seorang di antara mereka.

“Perempuan rendah! Bukankah aku ini ratumu? Berani kau menghalangi kehendakku?” gertak Lin Lin dengan marah.

“Ampun, Tuan Puteri. Paduka adalah calon ratu dan hamba sekalian tentu saja mentaati semua perintah Paduka. Akan tetapi lebih dulu hamba harus mentaati Sri Baginda, kemudian Lo-ciangkun, baru Paduka.”

“Kalian berani? Hemmm, agaknya sudah bosan hidup. Majulah!” tantang Lin Lin, akan tetapi selosin dayang itu tidak bergerak, hanya tetap mengurung.

“Mana hamba berani menyerang Paduka? Hanya kalau Paduka hendak melarikan diri, terpaksa hamba sekalian harus mencegah.”

“Oh, begitukah? Nah, aku mau pergi, hendak kulihat kalian bisa berbuat apa!” Sambil berkata demikian Lin Lin meloncat ke kiri, menerjang dua orang dayang yang menjaga di situ.

Akan tetapi dengan gerakan cepat sekali mereka menggerakkan pedang, merupakan dinding pedang yang menghalangi perginya. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa dua belas orang dayang ini merupakan tenaga-tenaga yang terlatih baik dan agaknya mereka betul-betul akan menyerangnya kalau ia bersikeras melarikan diri dari tempat itu. Dan pada saat itu sudah datang pula para orang Khitan berlari-lari, jumlah mereka lebih dari dua puluh orang!

Bangkit kemarahan di hati Lin Lin. Sebetulnya ia tidak mempunyai rasa benci kepada orang-orang Khitan karena setelah ia menjadi tawanan Hek-giam-lo beberapa lamanya, ia mendapat kesan yang amat baik terhadap orang-orang Khitan. Mereka adalah orang-orang yang berani, jujur, dan amat setia. Mereka hanya melakukan perintah atasan mereka dan semua tugas mereka jalankan dengan taruhan nyawa.

“He, dengarlah kalian semua!” serunya sambil mencabut pedang dengan tangan kanan sedangkan tongkat Beng-kauw berada di tangan kirinya. “Aku Puteri Yalina amat suka kepada bangsaku, akan tetapi aku benci kepada paman tiriku Kubakan yang menjadi raja lalim dan hendak memperisteri aku, keponakannya sendiri! Aku juga benci kepada Lo-ciangkun Hek-giam-lo yang kejam! Dengarlah, aku bersedia menjadi ratu kalian kalau kedua orang itu sudah tidak ada. Demi arwah ibuku, Puteri Tayami yang gagah perkasa, dan demi arwah kakekku, Raja Kulukan yang bijaksana, aku suka menjadi Ratu Khitan asalkan kedua orang jahat itu sudah tewas! Sekarang terserah kepada kalian, adakah yang masih hendak menangkap aku? Boleh maju!”

Beberapa orang dayang dan beberapa orang penjaga ketika menyaksikan Lin Lin berdiri sambil mengucapkan kata-kata ini penuh wibawa, serta-merta menjatuhkan diri berlutut. Bahkan disebutnya nama-nama mendiang Kulukan dan Tayami membuat beberapa orang dayang menangis.

“Hamba setia kepada Puteri Yalin!” teriakan-teriakan ini terdengar riuh-rendah.

Akan tetapi tidak semua dayang dan tidak semua penjaga berlutut dan menyatakan setianya, bahkan sebagian besar merasa lebih taat kepada Raja Kubakan dan lebih takut kepada Hek-giam-lo. Jumlah mereka yang menentang Lin Lin ini ada dua pertiga bagian dan kini sembilan orang dayang menerjang maju dengan pedang-pedang mereka menyerang Lin Lin!
“Trang-cring-trangggg…!” terdengar jerit kesakitan dan pedang-pedang beterbangan ketika Lin Lin
menggerakkan pedang dan tongkat Beng-kauw, diputar untuk menangkis disertai pengerahan tenaga sinkang.

Tidak hanya pedang sembilan orang dayang itu runtuh beterbangan, juga sebagian ada yang terguling roboh karena hebatnya tenaga tangkisan Lin Lin, sebagian sisanya meloncat mundur dengan muka pucat. Lin Lin sendiri terheran-heran. Bagaimana tangkisannya bisa begitu hebat? Sama sekali ia tidak menduga bahwa semua ini adalah berkat ilmu baru yang didapatkannya, yaitu ilmu dari lembaran-lembaran rahasia di dalam tongkat Beng-kauw.

Namun seperti juga para petugas lain, sembilan orang dayang itu amat setia kepada tugasnya. Biar pun pedang mereka sudah hilang dan mereka semua maklum bahwa tuan puteri yang harus mereka cegah perginya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka. Mereka tidak mundur dan kini dengan tangan kosong mereka menubruk maju dengan maksud menangkap Lin Lin.

Lin Lin tidak tega untuk menggunakan senjata menghadapi mereka, maka ia cepat menyimpan pedangnya yang tadi membuat banyak orang Khitan berlutut karena pedang itu adalah Pedang Besi Kuning yang dahulu menjadi pusaka keramat Kerajaan Khitan, kemudian dengan dorongan tangan kanannya ia menerima serangan para dayang itu.

“Wuuuttttt…!” Dari tangan kanan Lin Lin menyambar angin pukulan dahsyat karena gadis ini sudah menggunakan tenaga dari ilmunya yang baru, yang pernah dilatihnya dalam perahu, dan yang angin pukulannya menggetarkan dinding sehingga pernah membuat Hek-giam-lo menjadi curiga.

Hebat akibatnya. Sembilan orang dayang itu seperti daun-daun kering tertiup angin, mereka terlempar dan menjerit kesakitan. Ketika mereka terbanting roboh, hanya enam orang saja yang mampu merangkak bangun dengan muka pucat dan lemah, sedangkan yang tiga orang lagi, yang paling depan, tak dapat bangun lagi karena mereka telah tewas dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah!

Alangkah kagetnya hati Lin Lin. Ia sampai berdiri melongo dan tercengang, hatinya dipenuhi rasa menyesal dan rasa girang. Ia menyesal karena tanpa ia sengaja ia telah melukai para dayang, bahkan membunuh tiga orang di antara mereka, akan tetapi juga girang karena mendapat kenyataan bahwa ilmu mukjijat yang ia dapat dari dalam tongkat Beng-kauw itu ternyata merupakan ilmu yang ampuh! Hatinya menjadi besar sekali dan ia kini menghadapi para penjaga yang belasan orang banyaknya itu dengan bentakan nyaring.

“Yang berani kurang ajar terhadapku sudah terhukum! Mundur kalian semua, kalau tidak, calon ratumu akan turunkan tangan besi. Aku sayang kepada mereka yang taat, akan tetapi aku harus membasmi mereka yang mencoba menahan kepergianku!”

Sejenak para prajurit Khitan itu tertegun. Mereka terheran-heran melihat betapa gadis yang biar pun tadinya cukup lihai namun masih dapat mereka atasi ini, kini mendadak memiliki ilmu pukulan yang demikian dahsyatnya. Sebagai ahli-ahli silat yang mengerti akan ilmu silat tinggi, belasan orang Khitan itu mengenal ilmu pukulan dahsyat.

Diam-diam mereka menyesal sekali mengapa Hek-giam-lo sudah pergi dari situ. Biar pun mereka dapat mengandalkan tenaga banyak teman, namun dengan ilmu pukulan sakti seperti itu, agaknya sukar mencegah gadis ini melarikan diri. Mereka tidak takut terhadap Lin Lin biar pun gadis itu memiliki ilmu dahsyat, mereka jauh lebih takut dan ngeri kalau sampai gadis ini lenyap, takut akan kemarahan dan hukuman yang akan dijatuh­kan Hek-giam-lo terhadap mereka!

“Tuan Puteri, hamba sekalian harus mencegah kepergian Paduka dengan taruhan nyawa!” teriak seorang penjaga dan mereka lalu maju mengurung Lin Lin, merupakan pagar manusia yang tak dapat dilalui begitu saja tanpa membuka jalan berdarah!

Lin Lin menarik napas panjang. “Kalian keras kepala!”

Setelah berkata demikian Lin Lin kembali mengayun tangan kanannya mengirim pukulan jarak jauh. Kali ini dua orang laki-laki terguling roboh dan beberapa orang lagi terhuyung-huyung. Akan tetapi dari kanan, kiri dan belakang mereka mendesak maju, siap untuk merobohkan Lin Lin atau kalau mungkin menangkapnya. Kembali Lin Lin mengirim pukulan, kini malah tongkat Beng-kauw di tangan kiri ia pergunakan untuk

 

menyapu kaki mereka. Ada beberapa orang lagi roboh, dan dua orang malah patah tulang kaki mereka terbabat tongkat pusaka Beng-kauw.

“Mundur kalian! Hemmm, apakah kalian sudah bosan hidup?” bentak Lin Lin karena mereka demikian nekat sudah menyerbu lagi sehingga ia tidak melihat jalan ke luar. Kembali beberapa orang ia robohkan dan ia sudah menggerakkan kaki meloncat keluar dari kepungan melalui tempat mereka yang sudah roboh ketika tiba-tiba para pengeroyoknya terpelanting dan terdengar suara orang mendengus marah.

Lin Lin berdiri tegak dan memandang kepada Hek-giam-lo yang sudah berdiri di depannya! Berdebar jantung gadis ini, akan tetapi ia sama sekali tidak takut, malah ia menentang pandang mata Hek-giam-lo dengan pandangan menantang.

“Tuan Puteri, Sri Baginda sudah mengirim joli untuk menjemput Paduka, kenapa Paduka membikin ribut di sini? Apa yang Paduka kehendaki?” Kini suara Hek-giam-lo malah lebih hormat dari pada yang sudah- sudah, agaknya hal ini karena mereka sudah dekat dengan Raja Khitan, akan tetapi di dalam suara ini pun terkandung kemarahan tertahan.

“Aku mau pergi dari sini! Aku tidak sudi dijadikan isteri paman tiriku! Tua bangka tak tahu malu dia. Dan kau tidak tahu diri, hendak memaksa aku menjadi isteri seorang kakek. Hemmm, andai kata kakekku masih hidup, atau ibuku, kau tentu akan dihajar, Hek-giam-lo!”

Kembali iblis hitam itu mendengus. “Tangkap dia!” bentaknya kepada para pembantunya.

Karena Hek-giam-lo sudah hadir di situ, orang-orang itu menjadi lega hatinya. Kalau sebelum iblis itu datang Lin Lin sampai terlepas dari tangan mereka, pasti mereka akan mengalami hukuman siksa sampai mati yang amat mengerikan, akan tetapi sekarang Hek-giam-lo berada di situ, berarti iblis itulah yang bertanggung jawab sepenuhnya. Pula, kehadiran iblis ini membesarkan hati mereka, membuat mereka tidak takut akan kelihaian sang puteri. Serentak mereka maju mendesak hendak menangkap Lin Lin.

Lin Lin kembali mengayun tangannya, kini ia tidak hendak menyembunyikan lagi ilmunya. Terdengar Hek- giam-lo mendengus keras dan iblis ini pun menggerakkan tangannya sehingga angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lin Lin, bertemu dengan angin pukulan Lin Lin. Akibatnya, Lin Lin terdorong dan terjengkang ke belakang, akan tetapi Hek-giam-lo juga terhuyung-huyung.

Hal ini membuat Hek-giam-lo kaget setengah mati. Dari mana tiba-tiba gadis itu memiliki sinkang yang sedemikian hebatnya? Ia berseru keras dan melompat maju. Ketika itu Lin Lin juga sudah bangkit kembali dan memutar kedua senjatanya, yaitu Pedang Besi Kuning dan tongkat Beng-kauw.

“Semua mundur, biarkan aku menghadapinya!” Hek-giam-lo membentak ketika tiga orang pembantunya dalam sekejap mata saja roboh oleh kedua senjata Lin Lin.

Kini Hek-giam-lo sendiri yang maju dan berhadapan dengan Lin Lin yang memandangnya penuh ketabahan. Lin Lin sama sekali tidak jeri. Kalau sebelum ia mendapatkan ilmu mukjijat saja ia sama sekali tidak takut, apa lagi sekarang. Ilmu itu membuat ia laksana seekor harimau betina mendapat sayap.

“Hek-giam-lo, kau kira aku takut kepadamu?” katanya dan kini ia menggerakkan kedua senjatanya dengan gerakan ilmu silat yang ia pelajari dari dalam gulungan-gulungan kertas.

Dua sinar berkilauan menyambar, bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi bersuitan. Hek-giam-lo terkejut dan melompat mundur, kedua lengan bajunya bergerak ke depan untuk menangkis.

“Heh, dari mana kau mendapatkan ilmu ini?” bentaknya.

Lin Lin tidak menjawab, hanya tertawa mengejek sambil menerjang maju lagi. Sayang sekali bahwa dia kurang latihan sehingga biar pun kedua senjatanya mengeluarkan hawa pukulan yang berdesir-desir, namun ia belum mampu mengerahkan tenaga sepenuhnya dan gerakan-gerakannya masih kaku. Namun tak dapat disangkal lagi bahwa terjangannya ini dahsyat sekali sehingga diam-diam Hek-giam-lo menjadi kaget dan kagum. Tokoh sakti ini pun mengerti bahwa jika ilmu gadis ini terlatih baik, tentu gadis ini akan merupakan lawan yang berat dan sedikitnya setingkat dengan kepandaiannya!

Hek-giam-lo adalah seorang yang cerdik. Ia dapat menduga bahwa ilmu aneh ini tentu didapatkan oleh Lin Lin selama menjadi tawanan di dalam perahu dan ia teringat akan desir angin pukulan pada tengah malam

 

itu di perahu. Kini ia mengerti bahwa pada waktu itu, tentu Lin Lin yang sedang berlatih. Dari mana gadis ini mendapatkan ilmu itu? Gadis itu tidak bertemu siapa pun juga, tidak pernah meninggalkan perahu. Tongkat itu? Tongkat pusaka Beng-kauw! Tentu di situlah rahasia ilmu itu.

Dengan gembira karena ingin sekali mendapatkan ilmu aneh ini yang pasti akan dapat menambah kelihaiannya, Hek-giam-lo mempergunakan ginkang-nya menyelinap di antara sambaran sinar senjata, lalu mengeluarkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sabit bergagang panjang yang amat tajam.

“Serahkan tongkat pusaka Beng-kauw!” bentaknya sambil menyerang dengan sabitnya.

Gerakannya hebat, tenaganya mukjijat sekali sehingga Lin Lin terpaksa meloncat mundur karena silau menyaksikan kelebatan sinar senjata lawan. Namun ia berhasil menangkis senjata lawan dengan senjatanya sendiri yang membuatnya kembali terhuyung-huyung dan telapak tangannya terasa sakit sekali. Namun hal ini saja sudah membuat Hek-giam-lo terheran-heran. Hanya ahli silat kelas tinggi saja yang mampu mempertahankan terjangannya tadi dengan akibat hanya terhuyung-huyung. Tadinya ia memperhitungkan bahwa sedikitnya gadis itu akan melepaskan sepasang senjatanya!

Karena penasaran, kembali ia menerjang dengan sabitnya. Dalam pertandingan, apa lagi kalau menemui lawan tangguh, Hek-giam-lo lupa segala. Karena Lin Lin dapat menangkis terjangannya tadi membuat ia lupa dan bersemangat sehingga kini ia menerjang dengan serangan maut tanpa mempedulikan apakah gadis calon ratu, calon permaisuri rajanya itu akan mampu menangkisnya.

“Tranggg…!” Lin Lin kembali berhasil menangkis dengan pedangnya, dibantu pula dengan tongkat, namun kini ia terguling.

Alangkah heran hati Hek-giam-lo karena begitu terguling gadis itu sudah meloncat lagi, malah kini membalas dengan serangan-serangan yang tak kalah ganasnya. Ia sampai memekik kaget dan memutar senjatanya untuk menangkis. Ada pun Lin Lin yang bangkit semangatnya karena hawa sinkang-nya kini ternyata mampu bertahan terhadap kekuatan lawan yang tersalur dalam setiap serangannya, kini menerjang dengan tabah dan penuh tenaga.

Namun betapa pun juga, karena ilmu barunya itu baru ia kuasai beberapa bagian saja, sama sekali belum terlatih, mana ia mampu mengimbangi seorang jago kawakan seperti Hek-giam-lo yang menjadi seorang di antara Enam Iblis Dunia? Sebentar saja ia sudah sibuk sekali, hanya mampu menangkis ke sana ke mari tanpa mampu membalas kembali.

Hek-giam-lo mendengus. Setelah sekarang Lin Lin tak dapat menandinginya, ia teringat lagi bahwa gadis ini adalah calon permaisuri raja, maka gerakan senjatanya tidak lagi merupakan ancaman maut, melainkan kini ia berusaha menangkap gadis itu.

“Lepaskan tongkat!” bentaknya, senjatanya menyambar ke arah dada.

Lin Lin kaget sekali karena sambaran itu cepat bukan main. Ia menangkis dengan pedangnya dan… pedangnya menempel pada senjata lawan, lekat tak dapat ditarik kembali. Dengan gemas ia menggunakan tongkatnya mengemplang kepala lawan, namun tangan kiri Hek-giam-lo menyambut tongkat itu, menangkap dan membetot. Lin Lin tak kuasa bertahan dan terpaksa tongkatnya berpindah tangan. Akan tetapi karena Hek-giam-lo membagi tenaga untuk merampas tongkat, gadis itu berhasil mempertahankankan pedangnya.

“Kembalikan tongkat itu!” Lin Lin berseru keras sambil menusukkan pedangnya.

Akan tetapi kini Hek-giam-lo seperti tidak pedulikan dia lagi. Senjata sabitnya ia pergunakan untuk menangkis, sedangkan matanya memeriksa tongkat Beng-kauw, mencari rahasianya. Tiba-tiba ia teringat akan kertas yang dirobek-robek oleh Lin Lin dan disebar di sungai. Ia menggeram keras dan membentak.

“Kertas yang kau robek-robek dahulu itu… surat rahasia apakah itu?” suaranya terdengar penuh kemarahan dan kini ia hanya menyebut Lin Lin dengan ‘kau’ saja.

“Peduli apa kau?” Lin Lin balas membentak sambil menyerang lagi. Akan tetapi sebuah tangkisan membuat ia terhuyung ke belakang. Kini Hek-giam-lo yang mendesak maju.

“Serahkan rahasia tongkat Beng-kauw kepadaku!”

 

“Rahasia apa?” Lin Lin menjawab, kaget. “Rahasia ilmu yang kau pelajari. Cepat!”
“Tidak… tidak ada…!” Lin Lin gugup karena rahasianya diketahui.

“Jangan bohong! Aku perlu sekali ilmu itu, berikan!” Hek-giam-lo mendesak dan menerjang dengan sabitnya. Serangan ini kuat sekali sehingga ketika Lin Lin menangkis, pedangnya terlepas dari pegangan tangannya dan mencelat.

“Ho-ho-ho, Bayisan, aku bisa membiarkan kau merajalela di dunia akan tetapi kalau kau mengganggu puteri dari Tayami, aku yang akan menghalangimu!” Tiba-tiba terdengar suara orang dan Pedang Besi Kuning yang mencelat dari tangan Lin Lin tadi telah disambar dan berada di tangan orang ini. Ketika semua orang memandang, kiranya yang datang adalah seorang laki-laki tua berkepala botak, bertubuh pendek gemuk, kakinya tidak bersepatu, jenggotnya panjang sampai ke dada.

“Kim-lun Seng-jin…!” Lin Lin berseru girang sekali melihat munculnya kakek ini. Kim-lun Seng-jin mengedip- ngedipkan matanya kepada Lin Lin dengan cara yang lucu, kemudian mengangsurkan Pedang Besi Kuning.

“Anak baik, Tuan Puteri Yalina yang mulia, kau terimalah pedang ini. Pedang ini memang hakmu. Lekas kau pergi dari sini, belum saatnya kau kembali kepada bangsamu. Biar aku yang menandingi Bayisan yang dahulu mengganggu ibumu dan sekarang hendak mengganggumu lagi.”

“Kakek yang baik, terima kasih,” kata Lin Lin sambil menerima pedangnya. “Tapi aku tidak mau pergi, aku mau membantumu menghadapi iblis tengkorak ini.”

“Heh-heh-heh, bukan saatnya. Ilmumu tadi memang aneh, mukjijat dan hebat, akan tetapi masih mentah, kurang terlatih. Pergilah!” Sambil berkata demikian, Kim-lun Seng-jin menendang dan… karena tidak menyangka-nyangka, tubuh belakang Lin Lin kena ditendang, membuat tubuh gadis itu terlempar dan melayang jauh!

Anehnya, Lin Lin tidak merasa sakit dan tahulah ia bahwa kakek itu tidak main-main, melainkan melihat bahwa perlu sekali ia segera melarikan diri. Karena tadinya memang ingin membebaskan diri dari tangan orang-orang Khitan, Lin Lin lalu lari secepatnya sambil berseru.

“Kakek botak, terima kasih! Kelak kalau aku menjadi ratu, kau kuangkat menjadi Koksu (Guru Negara)!”

“Heh-he-he! He, Bayisan, tak boleh kau mengejarnya. Akulah lawanmu, tua sama tua, heh-heh!” kata Kim- lun Seng-jin sambil menerjang maju ketika melihat betapa Tengkorak Hitam itu sudah menggerakkan kaki hendak mengejar Lin Lin. Terjangan kakek botak itu hebat sekali karena ia telah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sepasang roda emas yang gemilang dan berputar-putar di tangannya.

Hek-giam-lo mendengus dan meloncat ke kiri menghindarkan diri, lalu berkata nyaring, “Kim-lun Seng-jin, kau orang buangan dari Khitan, pengkhianat dan orang yang tak tahu malu. Raja sendiri sudah tidak mengakui kau, mau apa kau turut campur?”

“Hueh-heh-heh-heh! Bayisan, kita dahulu sama-sama prajurit, sama-sama berjuang untuk membela suku bangsa Khitan yang selamanya menjadi bangsa perantau yang disia-siakan dan tak tentu tempat tinggalnya! Akan tetapi sekarang setelah kau menjadi antek nomor satu dari Kubakan yang berkhianat, kau banyak tingkah dan membuka mulut besar! Siapa tidak tahu bahwa sebetulnya kedudukan raja atas suku bangsa Khitan berada dalam hak keturunan Puteri Tayami? Sekarang Puteri Yalin, keturunan Tayami sudah dapat ditemukan, akan tetapi bukan dia diangkat menjadi ratu, malah akan dikawini oleh paman tirinya sendiri, si Kubakan? Dan kau berani bilang aku seorang pengkhianat? Heh-heh-heh, tidak lucu!”

“Tutup mulutmu! Kau kira aku takut padamu?”

“Bayisan, dahulu pun antara kita sudah sering terjadi perselisihan faham, dan biar pun kau lebih muda, tingkat kepandaian kita seimbang. Sekarang setelah kau menjadi seorang di antara Thian-te Liok-koai, agaknya kepandaianmu sudah banyak maju, sebaliknya aku makin tua dan makin lemah. Akan tetapi, jika kau hendak mengganggu Puteri Yalin, aku mempersiapkan tulangku yang sudah rapuh dan kulit dagingkuyang sudah lembek untuk melawanmu.”
“Tua bangka bosan hidup!” Hek-giam-lo berseru keras dan senjatanya yang menyeramkan itu menyambar,
berubah menjadi sinar hitam yang diselingi sinar kilat seperti halilintar menyambar.

Kim-lun Seng-jin maklum akan kesaktian Hek-giam-lo, maka dia pun tidak banyak cakap lagi, segera menggerakkan kedua tangannya dan sepasang roda emas itu berputar-putar dengan indahnya melindungi seluruh tubuh. Berkali-kali terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata apa bila senjata kedua orang jagoan Khitan ini bertemu.

Orang-orang Khitan yang berada di situ melongo, kagum dan tegang. Mereka semua tahu siapa adanya Kim-lun Seng-jin, seorang tokoh tua bangsa Khitan yang dikabarkan meninggalkan kelompok bangsanya dan merantau, dianggap musuh oleh raja yang sekarang, akan tetapi merupakan seorang tokoh besar di masa lalu. Mereka tidak berani membantu karena membantu Hek-giam-lo tanpa diperintah berarti mencari kematian sendiri karena dianggap menghina Hek-giam-lo. Selain ini, mereka pun berarti mencari mati kalau mencampuri pertandingan itu karena gerakan kedua orang sakti itu terlalu cepat bagi mereka. Sukar bagi mereka untuk dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan pandang mata. Yang tampak oleh mereka hanyalah gulungan sinar hitam menyambar-nyambar di antara dua gulung sinar emas, sedangkan dua orang tokoh itu tidak tampak bayangannya lagi.

Biar pun usianya sudah sangat tua dan kalah tenaga, namun Kim-lun Seng-jin termasuk seorang tokoh sakti yang berkepandaian tinggi. Dahulu sewaktu Hek-giam-lo yang masih bernama Panglima Bayisan masih kecil, Kim-lun Seng-jin sudah menjadi Panglima Khitan yang sukar dicari bandingnya. Bahkan ketika Bayisan sudah menjadi panglima yang jagoan, Kim-lun Seng-jin masih menjadi tokoh di Khitan sampai akhirnya kakek ini pergi dari Khitan karena tidak suka melihat perebutan kekuasaan, sedangkan raja sendiri, ketika itu adalah Raja Kulukan ayah Puteri Tayami (kakek Lin Lin), malah menaruh curiga ketika Kim-lun Seng-jin memberi nasihat. Ketika itu Kim-lun Seng-jin masih bernama Kalisani (baca cerita Suling Emas).

Namun kini kakek itu makin lama makin repot juga menandingi Hek-giam-lo. Hek-giam-lo selama ini memang memperoleh kemajuan hebat, apa lagi belum lama ini ia telah berhasil merampas setengahnya dari kitab simpanan Bu Kek Siansu, yang setengahnya lagi dirampas oleh It-gan Kai-ong. Dengan separuh kitab ini ia telah memperoleh kemajuan yang luar biasa sekali sehingga setelah bertempur selama seratus jurus, mulailah Kim-lun Seng-jin terdesak hebat. Kini sinar senjata sabit berkilat-kilat menyambar dan setiap gerakan merupakan jangkauan maut yang mengerikan.

Namun anehnya, Kim-lun Seng-jin terdengar tertawa-tawa bergelak, seakan-akan ia merasa gembira sekali dengan pertandingan ini. Kakek ini memang selalu merasa khawatir kalau-kalau ia sebagai seorang Khitan, akan tewas di perantauan di tangan jago silat yang banyak terdapat di seluruh penjuru bumi. Akan tetapi sekarang, nasib membawanya kembali ke perbatasan Khitan dan bahkan bertanding dengan seorang tokoh Khitan nomor satu di waktu itu. Lebih-lebih kegembiraannya bahwa ia dapat bertahan sampai seratus jurus lebih, ini saja sudah merupakan kenyataan yang amat menggembirakan hatinya.

“Hueh-heh-heh, Hek-giam-lo. Ternyata namamu kosong melompong! Mana patut bersombong menjadi seorang di antara Enam Iblis Dunia? Ha-hah, menghadapi seorang kakek yang sebelah kakinya sudah masuk lubang kubur macam aku saja, sekian lamanya belum juga dapat mengalahkan!”

“Ciuuuuuttttt!” sabit itu menyambar dengan gerakan seperti halilintar.

Saking marahnya, Hek-giam-lo mempergunakan seluruh tenaga. Kim-lun Seng-jin cepat menangkis dengan roda emas kiri.

“Cringgggg!” Hebat bukan main pertemuan antara kedua senjata ini, tapi Kim-lun Seng-jin yang cerdik membarengi pertemuan senjata ini dengan melontarkan roda emas kanan ke arah lawan.

Karena pembagian tenaga ini, apa lagi memang ia sudah amat lemah dan tenaganya kalah kuat, maka roda emas kiri yang bertemu dengan sabit secara hebat menjadi patah, bahkan tangan kirinya terluka oleh sabit yang sempat menyerempetnya. Akan tetapi di lain pihak, Hek-giam-lo tidak menyangka akan serangan kilat dari roda emas kanan yang dilontarkan, sebab itu ia tak sempat mengelak dan dadanya terpukul.

“Desss…!”

 

Sekiranya bukan Hek-giam-lo yang dihantam lontaran roda emas, tentu sudah pecah dadanya. Akan tetapi Hek-giam-lo sempat mengerahkan sinkang-nya sambil menjerit keras sekali. Roda emas menghantam sebagian dada dan pundak kirinya, terpental kembali dengan keras dan diterima tangan kanan Kim-lun Seng-jin yang juga terluka tangan kirinya, mengucurkan darah dan mukanya pucat. Akan tetapi kakek ini tertawa-tawa gembira sekali.

“Heh-heh-heh, Hek-giam-lo, pecahlah dadamu! Mampuslah, heh-heh-heh!”

Hek-giam-lo muntahkan darah segar, kemudian ia mengeluarkan suara menggereng seperti seekor binatang buas, lalu menubruk maju dengan gerakan senjata sabitnya. Tampak sinar berkelebat. Kim-lun Seng-jin berusaha menangkis.

“Tranggggg!” roda emasnya patah lagi, akan tetapi sabit di tangan Hek-giam-lo juga terlepas dari pegangan.

Namun Hek-giam-lo terus maju dan kedua tangannya seperti dua cepitan baja sudah mencekik leher Kim- lun Seng-jin. Kakek ini tak bergerak lagi, seketika tewas pada saat tangan yang beracun dari Hek-giam-lo menyentuhnya. Akan tetapi iblis buas itu tidak juga mau melepaskan leher lawannya sebelum leher itu patah tulangnya, kemudian ia membanting tubuh itu, menyambar sabitnya dan… pada detik-detik berikutnya tubuh Kim-lun Seng-jin sudah hancur dicabik-cabik sabit! Hanya mukanya yang tidak disentuh sabit. Dari leher ke bawah hancur sampai kelihatan tulangnya. Anehnya, muka itu tetap saja tersenyum seakan-akan mentertawakan kelakuan Hek-giam-lo yang seperti gila saking marahnya.

Hek-giam-lo sendiri terluka, patah tulang pundaknya dan terluka sebelah dalam dadanya, akan tetapi tidak berbahaya. Setelah menelan obat penawar, ia cepat melakukan pengejaran ke arah larinya Lin Lin. Akan tetapi pertandingan melawan kakek Kim-lun Seng-jin tadi memakan waktu cukup lama, sampai seratus jurus lebih, dan tentu saja Lin Lin telah lenyap dari situ, sukar untuk dicari jejaknya. Apa lagi gadis ini cukup cerdik untuk mengambil jalan yang sepi, melalui hutan-hutan dan selalu menghindarkan diri dari pada pertemuan dengan manusia sehingga Hek-giam-lo yang mengejarnya sama sekali tidak mendapatkan keterangan ke mana arah larinya Lin Lin.

Biar pun hari telah terganti malam, Lin Lin tidak pernah menghentikan larinya, terus menyusup-nyusup hutan liar. Untung baginya, malam hari itu sore-sore bulan sudah keluar, biar pun belum bulat penuh, namun cukup untuk menerangi jalan di dalam hutan. Dengan pedang terhunus di tangan, gadis ini terus melanjutkan perjalanannya, mengarah selatan karena ia tahu bahwa dirinya saat itu berada di utara. Andai kata tidak ada bulan muncul, kiranya sukar juga baginya untuk memilih arah.

Lin Lin baru menghentikan larinya setelah lewat tengah malam dan keadaan hutan yang dimasukinya gelap sekali karena daun-daun pohon raksasa menutupi sinar bulan. Ia naik ke atas sebuah pohon raksasa, duduk di atas cabang tersembunyi di balik daun-daun, lalu beristirahat. Enak sekali rasanya duduk beristirahat setelah setengah malam terus berlari dengan hati tegang itu. Kini ia merasa lega, bebas dari tawanan Hek-giam-lo.

Segera ia duduk bersila sambil melatih semedhi menurut pelajaran ilmunya yang baru dan sebentar saja lenyaplah semua rasa lelah, tubuhnya terasa segar dan dalam sekejap mata saja ia sudah berhasil mendiamkan panca inderanya, mengheningkan cipta dan mengumpulkan hawa murni untuk memperkuat tenaga sakti di tubuhnya.

Lin Lin baru menyudahi semedhinya pada keesokan harinya, setelah matahari mulai mengusir embun pagi yang membuat hawa udara amat dingin, apa lagi karena suara kicau burung pagi yang menggembirakan itu tiba-tiba terganggu oleh suara melengking tinggi yang menggetarkan perasaannya. Suara suling! Jantungnya berdebar tegang. Suara melengking macam itu banyak sudah ia dengar keluar dari mulut orang-orang sakti, di antaranya pernah pula Hek-giam-lo mengeluarkan suara seperti itu di kala mengerahkan tenaga saktinya. Jangan-jangan Hek-giam-lo sudah mengejar sampai ke situ!

Tidak takut, pikirnya! Kalau dia datang dan benar-benar dapat menyusulku, aku harus melawannya sampai mati! Akan tetapi kembali ia mendengarkan dengan teliti. Mengapa suara itu berbunyi terus-menerus? Dan lengking itu membentuk lagu. Suling! Debaran darahnya makin kencang dan dengan hati-hati ia meloncat dari cabang ke cabang, dari pohon ke pohon seperti seekor tupai yang gesit, menuju ke arah suara yang ia tahu tentu amat jauh.

 

Memang betul dugaannya. Suara itu sebetulnya datang dari tempat yang cukup jauh dan andai kata tidak kebetulan ia berada di pohon raksasa yang amat tinggi dan tidak dalam waktu pagi yang sunyi dan dingin, agaknya suara itu tidak akan mencapai pendengarannya. Sudah puluhan batang pohon ia loncati, namun belum juga ia sampai di tempat dari mana suara suling itu melayang, akan tetapi makin dekat makin hebatlah getaran suara suling. Lin Lin melompat terus.

“Aaaiiiihhhh…!” tiba-tiba tubuhnya terguling ketika ia meloncat dari sebuah cabang ke cabang lain. Untung ia masih dapat meraih cabang di bawahnya sehingga tubuhnya tergantung, kemudian dengan hati-hati sekali ia merosot turun dan akhirnya dapat juga ia mencapai tanah, berdiri dengan muka pucat dan cepat- cepat ia mengerahkan sinkang di tubuhnya sambil duduk bersila!

Apa yang terjadi? Kiranya setelah makin mendekati tempat itu suara suling mempunyai getaran sedemikian hebatnya sehingga tanpa ia sangka-sangka dan sadari jantungnya tergetar dan tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas sehingga hampir saja ia tadi terjungkal dari atas pohon besar yang amat tinggi. Kalau saja ia tidak cepat dapat menangkap cabang dan terbanting jatuh, akan celakalah dia.

Setelah mengerahkan sinkang yang disalurkan terutama ke isi dada dan ke arah sepasang telinga, barulah Lin Lin pulih kembali keadaannya. Ia bangkit berdiri dan maklumlah ia sekarang bahwa suara suling tadi ditiup dengan pengerahan hawa sakti, semacam ilmu yang luar biasa sekali. Agaknya si peniup suling sedang menghadapi lawan tangguh, maka sulingnya ditiup seperti itu.

Kini Lin Lin menyelinap dari pohon ke pohon, mendekati arah suara suling yang terdengar amat jelas, makin dekat, makin terasalah pengaruh suara suling. Biar pun ia sudah menekan perasaan dan membulatkan kemauan agar jangan memperhatikan, tetap saja ia terseret dan tanpa disadari ia memperhatikan juga. Suara suling itu amat merdu, mengayun sukma, merayu semangat, namun amat menyedihkan karena makin lama diperhatikan, makin mengarah suara orang menangis dengan kesedihan yang luar biasa.

Tiba-tiba Lin Lin merasa betapa tenaganya mulai berkurang, tubuhnya mulai lemas lagi. Cepat-cepat ia menggerakkan kaki tangan dan mengatur napas menurut ajaran ilmunya yang baru dan heran sekali, seketika lenyap pengaruh suara suling yang mukjijat itu. Ia menjadi girang dan mulailah ia melangkah maju dengan gerakan-gerakan ilmu silatnya yang baru.

Akhirnya ketika ia keluar dari gerombolan pohon itu, tampaklah apa yang menimbulkan suara mukjijat ini dan jantungnya berdebar keras. Hampir ia menjerit girang, akan tetapi kembali ia terkejut karena hal ini mengguncangkan jantungnya dan membuat ia hampir roboh. Cepat-cepat ia menguasai perasaannya dan mengerahkan sinkang-nya kembali, berdiri memandang ke depan.

Di sana, hanya beberapa puluh meter di depannya, di sebuah lapangan terbuka di antara pohon-pohon itu, tampak Suling Emas berdiri tegak dengan kedua tangan memegang dan memainkan suling yang ditiupnya. Di sekelilingnya berdiri sedikitnya lima belas orang yang sikapnya mengancam, semua membawa senjata macam-macam, posisi mereka dalam jurus ilmu silat dengan kedua kaki memasang kuda-kuda. Akan tetapi anehnya, mereka itu sama sekali tidak bergerak menyerang Suling Emas, melainkan berdiri seperti patung batu dengan mata memandang terbelalak, seolah-olah terpesona oleh Suling Emas yang bermain suling. Wajah mereka tegang, beberapa orang di antara mereka berhasil bergerak sedikit, akan tetapi tidak berhasil bergerak terus melanjutkan serangan. Yang lainnya sudah persis patung batu, wajahnya pucat dan tubuhnya seperti mati kaku!

Lin Lin tertegun. Setelah sekarang dekat benar, ia pun merasakan pengaruh luar biasa dari suara suling itu yang membuat tubuhnya sebentar lemas sebentar kaku seirama dengan suara suling yang mengalun tinggi rendah! Kembali ia mengerahkan sinkang-nya menurut ilmunya yang baru. Aneh, kini terasa betapa segar dan nikmat tubuhnya, betapa suara itu memasuki telinganya seperti musik dari angkasa, merdu merayu dan amat indahnya. Mungkin hal ini terjadi karena kegembiraan hatinya melihat Suling Emas di tempat itu.

Dengan pandang mata penuh kekaguman Lin Lin melihat betapa pendekar sakti itu dengan tenangnya terus menyuling. Tiba-tiba suara suling berubah ketika mata Suling Emas mengerling dan dapat melihat Lin Lin berdiri di situ. Pandang mata itu menjadi berseri dan bersinar-sinar karena sesungguhnya bukan main girang hati Suling Emas melihat Lin Lin berdiri di tempat itu, padahal disangkanya gadis itu masih tertawan oleh Hek-giam-lo. Hal yang sama sekali tak pernah disangkanya dan yang tentu saja menggirangkan hatinya karena ia sampai tiba di tempat itu bukan lain karena hendak mengejar Hek-giam-lo, menolong Lin Lin dan merampas kembali tongkat pusaka Beng-kauw.

 

Kini Suling Emas dengan masih meniup suling melangkah meninggalkan para pengepungnya yang berubah menjadi patung hidup itu. Inilah pengaruh Ilmu Kim-kong Sin-im (Suara Sakti Sinar Emas) yang ia pelajari dari Bu Kek Siansu, yang belum lama ini ia perdalam latihannya bersama kakek dewa itu. Melihat Lin Lin berdiri tegak dan bengong, Suling Emas mengira bahwa Lin Lin tentu, seperti para pengeroyoknya itu terkena pula pengaruh ilmunya Kim-kong Sin-im, maka ia melepaskan tangan kiri dari sulingnya, menyuling hanya dengan tangan kanan dan tangan kirinya diulur hendak menangkap Lin Lin dan dibawa pergi dari situ.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis itu bergerak dan gadis itu malah yang menangkap tangan kirinya, digandeng mesra sambil berkata. “Kenapa baru sekarang kau muncul? Hampir saja aku celaka lagi oleh si iblis Hek-giam-lo, dan kau enak-enak di sini, mainkan suling untuk orang-orang itu. Mereka siapakah?”

Suling Emas demikian terheran-heran sampai ia menghentikan tiupan sulingnya dan memandang Lin Lin dengan melongo. Para pengeroyoknya adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang ulung, yang berilmu tinggi, setidaknya tentu lebih tinggi dari pada ilmu yang dimiliki Lin Lin. Rata-rata sinkang mereka tentu lebih kuat dari pada Lin Lin. Kalau mereka itu semua terpengaruh oleh suara sulingnya, mengapa Lin Lin enak-enak saja, agaknya sama sekali tidak merasakan pengaruh Kim-kong Sin-im?

Sebelum Suling Emas sempat bertanya, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut. Kiranya belasan orang pengeroyok tadi segera pulih kembali setelah kini suara suling lenyap. Mereka menjadi marah sekali. Tadi mereka seakan-akan dalam keadaan tertotok oleh pengaruh Kim-kong Sin-im, sekarang mereka berteriak- teriak sambil menyerbu dengan senjata di tangan. Mereka ini terdiri dari pada hwesio-hwesio, tosu-tosu, dan orang-orang gagah yang berilmu tinggi, maka serbuan mereka bukanlah hal yang boleh dipendang ringan. Gerakan mereka jelas membayangkan tenaga yang besar dan gerakan kaki mereka amat ringan.

Ketika menengok dan melihat ini, Suling Emas segera menyambar pinggang Lin Lin dengan lengan kirinya, kemudian ia berkelebat dan melompat naik ke atas pohon, berloncatan seperti burung garuda terbang, cepat sekali meninggalkan tempat itu. Hujan senjata rahasia datang dari belakangnya. Namun Suling Emas menggerakkan suling di tangan kanannya ke arah belakang, diputar sedemikian rupa sehingga angin pukulannya meruntuhkan senjata-senjata rahasia yang datang menyambar. Kembali Suling Emas tertegun melihat betapa Lin Lin juga menggerakkan tangan, mendorong dan hawa pukulan yang bercuitan keluar dari tangan gadis yang mendorong itu dan meruntuhkan beberapa anak panah gelap yang menyambar ke arah mereka!

Akan tetapi karena para pengeroyok itu kini sudah mengejar cepat, bahkan di antara mereka ada pula yang mengambil jalan seperti Suling Emas, yaitu dengan cara meloncat ke atas pohon dan bagaikan terbang mengejar dari pohon ke pohon, maka Suling Emas tidak ada waktu lagi untuk bicara dengan Lin Lin. Ia mempererat kempitannya pada pinggang Lin Lin dan mengerahkan semua tenaga dan ginkang-nya melarikan diri. Lin Lin merasa seakan-akan tubuhnya dibawa terbang, akan tetapi yang teringat olehnya sama sekali bukan lain hal kecuali bahwa ia dikempit atau setengah dipondong oleh Suling Emas! Hal inilah yang mendebarkan hatinya dan sambil meramkan mata ia menempelkan mukanya erat-erat pada dada laki-laki itu.

Ilmu kepandaian Suling Emas memang hebat sekali. Biar pun para pengejarnya telah mengerahkan tenaga, semua sia-sia belaka, mereka tertinggal jauh dan sejam kemudian mereka terpaksa menghentikan pengejaran karena telah kehilangan bayangan Suling Emas. Memang ada di antara mereka yang lebih hebat ginkang-nya dari pada yang lain, namun untuk mengejar sendiri saja tentu amat berbahaya.

Suling Emas berhenti berlari setelah merasa yakin bahwa para pengejarnya sudah menghentikan pengejaran mereka. Mereka telah tiba di luar hutan dan matahari telah naik menyinarkan sinar pagi yang hangat. Akan tetapi alangkah herannya ketika Suling Emas melihat bahwa Lin Lin sudah tidur pulas dalam pondongan atau kempitannya! Tadinya ia kaget, mengira bahwa ada sesuatu terjadi pada diri gadis ini, akan tetapi setelah ia tahu betul bahwa gadis ini hanya tidur pulas, mau tak mau Suling Emas tersenyum lebar.

“Bocah nakal, enak-enakan tidur!” katanya, akan tetapi Lin Lin tidak bangun oleh tegurannya ini.

Memang luar biasa sekali. Ketika tadi berada dalam kempitan Suling Emas, Lin Lin merasa dirinya begitu aman, begitu senang, dan begitu lega hatinya sehingga kelelahan tubuhnya kembali menyerang dirinya. Rasa puas dan lega membuat ia mengantuk dan tanpa ia sengaja, ia sudah tidur pulas sambil menyandarkan muka pada dada Suling Emas!

 

Suling Emas meletakkan tubuh gadis yang tidur pulas itu di atas tanah berumput sambil tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. Akan tetapi gerakan ini cukup untuk membangunkan Lin Lin yang membuka mata dan cepat melompat berdiri sambil mengusap-usap kedua matanya dengan punggung tangan. Agaknya hanya sejenak ia nanar oleh tidurnya, karena segera ia celingukan dan bertanya.

“Mana mereka? Mana orang-orang jahat itu?” “Orang jahat? Tidak ada orang jahat di sini.”
Gadis itu memegang tangan Suling Emas, memandang dengan kening berkerut. “Apa kau bilang? Orang- orang yang mengeroyokmu tadi, yang mengejar dan menyerang dengan senjata-senjata rahasia, apakah mereka itu bukan orang-orang jahat?”

Suling Emas menggeleng kepalanya. “Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal gagah perkasa, di antara mereka malah ada pendeta-pendeta dari Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai, dan Go-bi-pai.”

“Apa? Mengapa keledai-keledai itu mengeroyokmu? Dan terang kau tidak akan kalah oleh mereka, mengapa tidak melawan dan menghajar mereka, sebaliknya melarikan diri seperti orang ketakutan?”

“Ah, panjang ceritanya. Akan tetapi, bagaimana kau bisa berada di sini? Bukankah kau bersama-sama Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan?”

“Ah, panjang ceritanya…” Lin Lin mengerling dan cemberut.

Suling Emas memandang, lalu tertawa, maklum bahwa gadis ini membalasnya. Adik angkatnya ini memang benar-benar nakal sekali. “Eh, kau pendendam sekali!”

Lin Lin juga tertawa. “Orang bertanya baik-baik kau bilang panjang ceritanya.” Ia menegur.

Suling Emas menarik napas panjang. “Lin Lin, kau tidak tahu. Amatlah tidak menyenangkan hati untuk bercerita tentang mereka yang hendak mengeroyokku, yang ingin sekali melihat aku mati. Aku tidak bisa bercerita tentang itu, harap kau tidak marah.”

“Hemmm, rahasia, ya? Dan mengapa kau menjadi sedih? Sudahlah, aku hanya main-main.” “Aku sendiri tidak punya rahasia apa-apa, kau boleh dengar semua.”
Gadis itu lalu menceritakan pengalamannya, sejak ia bertemu dengan Hek-giam-lo di Nan-cao, tentang perintahnya merampas tongkat pusaka, tentang dirinya hendak dijadikan Permaisuri Khitan, kemudian betapa ia berhasil melarikan diri karena pertolongan Kim-lun Seng-jin.

Suling Emas mendengarkan dengan terheran-heran, sampai berkali-kali ia menggeleng kepala. Gadis ini benar-benar hebat, luar biasa keberaniannya dan agaknya hanya Lin Lin di antara tiga orang adiknya yang belum tahu bahwa dia adalah Kam Bu Song.

“Jadi kau kah Puteri Mahkota Kerajaan Khitan? Dan kau yang menyuruh Hek-giam-lo merampas tongkat pusaka Beng-kauw? Apa maksudmu untuk merampas tongkat, untuk apa?”

Merah muka Lin Lin mendengar pertanyaan ini. Sejenak ia menundukkan muka, tidak berani menentang pandang mata Suling Emas. Akan tetapi hanya sebentar saja ‘rasa salah’ ini mengganggu hatinya, karena beberapa detik kemudian ia sudah mengangkat muka lagi memandang wajah Suling Emas dengan pandang mata menantang dan bibir tersenyum!

“Memang aku Puteri Mahkota Khitan. Ibuku adalah Puteri Tayami yang gagah perkasa dan kakekku adalah mendiang Sribaginda Kulukan, raja besar Khitan! Namaku sendiri sebetulnya adalah Yalina sampai ibu yang menggendongku tewas di dalam peperangan dan aku dipungut anak oleh ayah angkatku Jenderal Kam Si Ek dan diberi nama Kam Lin.”

“Kalau begitu, seharusnya aku menyebutmu Tuan Puteri,” kata Suling Emas, sungguh-sungguh.

“Aku memang ingin merampas kembali tahta kerajaan bangsaku yang jatuh ke tangan pamanku! Aku ingin

 

memimpin rakyatku menjadi bangsa yang kuat!” Ketika mengucapkan kata-kata ini, Lin Lin berdiri tegak, sikapnya agung, sinar matanya tajam bercahaya, penuh semangat.

Suling Emas mengangguk seperti orang memberi hormat. “Tepat, memang begitulah seharusnya Paduka bersikap sebagai seorang pemimpin yang mencinta bangsanya, Tuan Puteri Yalin.”

Tiba-tiba Lin Lin tertawa dan memegang tangan Suling Emas. “Ihhh, seperti main sandiwara saja! Aku belum menjadi ratu dan takkan bisa selama paman tiriku dan Hek-giam-lo masih berkuasa di Khitan. Aku tidak suka kau perlakukan sebagai ratu, dan panggil aku Lin Lin saja seperti biasa.”

Kembali Suling Emas tersenyum dan ia sendiri merasa aneh dan heran mengapa hatinya selalu menjadi gembira kalau berdekatan dengan gadis ini yang membuat ia mau tak mau menjadi gembira? Ataukah karena wajah Lin Lin ada persamaannya dengan Suma Ceng?

“Agaknya kau tidak suka kepada Hek-giam-lo. Akan tetapi mengapa kau menyuruh dia merampas tongkat pusaka Beng-kauw?”

“Kau tidak tahu. Biar kau berjuluk Suling Emas dan menjadi pendekar sakti, agaknya kau tidaklah terlalu cerdik untuk dapat menyelami apa yang menjadi maksud hatiku.” Ucapan ini langsung keluar dari hati Lin Lin yang selalu berbisik, “aku mencinta kau, mengapa kau tidak tahu?” dan yang tentu saja tak mungkin terucapkan mulut itu. “Ketika aku bertemu dengan Hek-giam-lo, biar pun sikapnya menghormat dan ia menganggap aku junjungannya, akan tetapi aku tahu bahwa diam-diam aku menjadi tawanannya. Karena itulah aku menyuruh dia merampas tongkat Pusaka Beng-kauw.”

“Mengapa?”

“Masih bertanya lagi? Tentu saja biar kau mengejarnya dan kalau kau mengejarnya, berarti kau akan dapat menolongku bebas dari pada tawanannya!”

“Ahhh…!” Diam-diam Suling Emas memuji kecerdikan gadis ini. “Tapi kulihat sekarang kau sudah pandai membebaskan diri sendiri.” Kemudian ia teringat akan sesuatu dan cepat bertanya, “Dan kulihat gerakan- gerakanmu tadi hebat sekali. Dulu kau tidak begitu. Dari mana kau memperoleh kepandaian yang aneh itu? Apakah Hek-giam-lo mengajarmu?”

“Ihhh, orang macam dia mana mau mengajarku? Aku dianggap musuhnya, tahukah kau? Dia… dia buruk sekali!” Lin Lin bergidik, teringat akan muka Hek-giam-lo ketika iblis itu membuka kedok memperlihatkan mukanya. “Tahukah kau mengapa mukanya menjadi seperti setan? Karena dia berani mengganggu ibuku dan ibu menghajarnya dengan bubuk racun pada mukanya! Huh, orang macam dia berani mengganggu ibuku. Tidak dibunuh pun masih untung dia!”

Suling Emas mengerutkan keningnya. Alangkah banyaknya rahasia penghidupan orang-orang tua yang ia tidak sangka-sangka dan tidak ketahui. Seperti halnya ibunya yang tentu mempunyai pengalaman hidup yang luar biasa dan menarik sekali, akan tetapi yang ia tidak tahu sama sekali, agaknya pengalaman hidup orang tua Lin Lin ini pun tidak kalah hebat dan menariknya (dugaan ini memang benar dan semua pengalaman itu menjadi cerita SULING EMAS yang menarik).

“Kalau bukan dari dia, dari mana kau mendapatkan ilmu yang aneh itu?”

Lin Lin tersenyum bangga, akan tetapi juga terheran. Ia memang telah mempelajari ilmu mukjijat dari tongkat pusaka Beng-kauw, akan tetapi seingatnya semenjak bertemu dengan Suling Emas tadi, ia tak pernah mainkan ilmu baru itu. Bagaimana Suling Emas dapat menduganya?

“Nanti dulu, Suling Emas. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku mempunyai gerakan-gerakan hebat. Bagaimana kau bisa tahu padahal aku tak pernah melakukan pertempuran sejak tadi?”

“Kau tadi dapat menahan pengaruh Kim-kong Sin-im dari suara sulingku, kemudian dengan pukulan jarak jauh yang aneh kau meruntuhkan senjata rahasia.”

“Oh, itu?” Diam-diam Lin Lin kagum. Kelihaian Suling Emas dapat diukur dari sini. Sebelum ia memperlihatkan ilmunya, pendekar sakti ini sudah mengetahuinya hanya melihat hal itu saja. Timbul kegembiraannya hendak mencoba ilmu barunya terhadap pendekar yang menggugah kasih sayang dan kekaguman hatinya ini.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo