August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 15)

 

Aku tidak ada waktu untuk melayani kalian yang sedang mabuk dendam!” Setelah berkata demikian, Suling Emas memutar sulingnya dan melompat jauh, lalu melarikan diri.

Tentu saja ia tidak mau lari ke hilir karena hal itu tentu akan membawa ia ke tempat adik-adiknya dan kalau hal ini terjadi akan berbahayalah bagi adik-adiknya. Maka ia sengaja mengambil jalan yang sebaliknya. Yaitu ke hulu sungai, berlawanan dengan aliran air. Dengan suara gemuruh orang-orang itu melakukan pengejaran sambil mengacung-acungkan senjata masing-masing.

Suling Emas menjadi makin gelisah. Tentu saja ia bisa melawan mereka, dan dengan ilmu silatnya yang tinggi, agaknya tidak akan mudah bagi mereka untuk menangkapnya. Akan tetapi, menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang berilmu tinggi tentu saja ia akan terpaksa untuk mengeluarkan ilmu kepandaiannya dan hal ini tentu akan mengakibatkan banyak korban jatuh. Hanya dengan jalan merobohkan dan membunuh ia akan dapat membuka jalan darah dan membebaskan diri, dan hal ini justru sama sekali tidak dikehendakinya. Kalau ia melakukan pembunuhan, berarti ia menambah dosa­dosa ibunya! Berpikir demikian, Suling Emas mempercepat larinya.

Akan tetapi para pengejarnya adalah tokoh-tokoh pilihan dari pelbagai partai persilatan besar yang tentu saja pandai mempergunakan ilmu lari cepat sehingga mereka ini dapat terus melakukan pengejaran dan tidak tertinggal terlalu jauh oleh Suling Emas. Malah tiba-tiba pendekar itu mendengar bentakan tepat di belakangnya, bentakan yang amat nyaring dari seorang wanita.

“Kau harus menebus nyawa ayah yang terbunuh oleh ibumu! Lihat pedang!”

Suling Emas kaget sekali, cepat ia menghindar dengan langkah nyerong. Sinar pedang yang putih seperti perak meluncur lewat di atas pundaknya dan alangkah kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik berpakaian serba hijau yang menyerangnya itu. Wanita ini cantik dan berwajah kereng, pakaiannya sederhana dari sutera warna hijau, usianya sekitar tiga puluh tahun. Melihat cara pedang bersinar putih perak itu tadi menusuk, Suling Emas menduga bahwa wanita ini tentulah seorang anak murid pilihan dari seorang ahli pedang dan ahli sinkang yang sakti. Gerakan wanita itu ringan bukan main, seakan-akan pandai terbang, dan gerakan pedangnya pun cepat dan seperti kilat menyambar. Hati Suling Emas terkesiap, cepat ia mencabut kipasnya dan menggunakan kebutan kipas untuk mengebut pedang itu tiap kali sinarnya menyambar.

“Kau siapakah, Nona?”

“Aku Bu-eng-sin-kiam (Pedang Sakti Tanpa Bayangan) Tan Lien dari pantai timur. Mendiang ayahku, Tan Hui, tewas di tangan ibu kandungmu yang jahat setelah ia mengelabui ayah sehingga berhasil mewarisi ginkang dari ayah. Ibumu jahat dan palsu, kau harus menebus dosanya!” bentak wanita itu sambil menyerang lagi.

Suling Emas kaget. Ia ingat akan nama basar Tan Hui, jago pedang di pantai timur. “Ayahmu yang berjuluk Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang)?”

“Betul dan sekarang menanti di akhirat untuk menunggu nyawamu!”

Diam-diam Suling Emas mengeluh. Apa lagi setelah melihat para pengejar yang lain sudah datang dekat. Ia tidak tega merobohkan wanita ini. Nama besar Hui-kiam-eng terkenal sebagai pendekar yang berbudi. Kalau pendekar itu tewas di tangan ibu kandungnya dan sekarang anaknya berusaha membalas, bagaimana ia dapat tega merobohkan Tan Lian ini?

“Ibuku yang berbuat, aku tidak tahu apa-apa,” katanya sambil mengebut pergi pedang yang kembali telah menusuknya dengan cepat. “Agaknya kau haus darah, biarlah kuberi sedikit darahku!” Sambil berkata demikian, ketika pedang lawan membacok, Suling Emas sengaja membiarkan ujung bahunya yang kiri terserempet pedang sehingga baju serta kulit dan sedikit daging bahunya robek. Darahnya mengalir membasahi baju, akan tetapi pada saat itu Tan Lian menjadi lumpuh lengan kanannya karena secara lihai sekali Suling Emas membarengi dengan totokan ujung gagang kipas pada jalan darah di dekat siku.

“Maafkan aku!” setelah berkata demikian, kembali Suling Emas membalikkan tubuh dan lari secepatnya sebelum para pengejarnya datang dekat.

Hanya sebentar saja Tan Lian lumpuh lengannya. Totokan itu agaknya oleh Suling Emas sengaja dilakukan perlahan, hanya untuk membuat gadis itu tak berdaya beberapa menit agar ia dapat melarikan

 

diri. Gadis itu berdiri termenung. Ia maklum bahwa kalau Suling Emas tadi menghendaki, ia sudah roboh binasa, dan maklum pulalah ia bahwa agaknya Suling Emas sengaja tadi membiarkan pundaknya terbacok. Tak terasa lagi mukanya berubah merah dan ia memandang sedikit darah yang berada di mata pedangnya.

“Ayah, cukupkah darah ini…?” bisiknya dan dua butir air mata mengalir turun yang cepat diusapnya. “Dia sudah terluka!”
“Hayo kejar, dia sudah terluka!”

Demikian teriakan para pengejar dan karena tidak ingin orang lain mengetahui keadaannya, Tan Lian terpaksa ikut pula mengejar, seakan-akan terseret oleh gelombang para pengejar itu yang dipanaskan oleh It-gan Kai-ong, Tok-sim Lo-tong dan Toat-beng Koai-jin yang juga sudah ikut mengejar.

Para pengejar itu, didahului oleh It-gan Kai-ong, kini mulai melepas senjata gelap dari belakang. Bagaikan hujan berbagai macam jarum, piauw atau pelor baja berhamburan menyambar ke arah Suling Emas. Mendengar suara angin senjata-senjata rahasia ini, terpakta Suling Emas membalikkan tubuh dan memutar suling, juga mengibaskan kipasnya.

Ia maklum bahwa senjata-senjata rahasia yang dilepaskan oleh orang-orang sakti itu tak boleh dipandang ringan. Di antara senjata-senjata gelap itu yang terdiri dari pada senjata-senjata rahasia kecil, yang paling menyolok adalah ‘senjata rahasia’ yang dipergunakan sepasang saudara liar, yaitu Tok-sim Lo-tong dan Toat-beng Koai-jin kerena mereka ini melontarkan batu-batu besar!

Karena maklum akan bahayanya serangan senjata rahasia yang datang bagaikan hujan dan dilepas oleh orang-orang pandai, Suling Emas tidak berani memandang ringan, tidak berani hanya mengandalkan kelincahan untuk mengelak. Terpaksa ia menghadapi senjata-senjata rahasia itu dengan kelitan, tangkisan suling dan kebutan kipasnya. Akan tetapi untuk melakukan hal ini, berarti ia berhenti berlari dan sebentar saja para pengejarnya sudah dapat menyusul dan kembali ia dihujani serangan.

Masih untung baginya, agaknya para pengejar yang kesemuanya menaruh dendam dan ingin berebut menyerangnya itu membuat penyerangan mereka kacau balau, yang satu malah menjadi penghalang gerakan yang lain. Dengan adanya penyerangan yang kacau-balau ini, Suling Emas masih dapat menyelamatkan dirinya dengan menangkis dan berloncatan, kemudian setelah melihat lowongan, ia melarikan diri lagi. Para musuhnya melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak.

Tidak terlepas dari pandang mata Suling Emas betapa gadis baju hijau puteri Pendekar Pedang Terbang Hui-kiam-eng Tan Hui yang tadi menyerang dan melukai kulit pundaknya, kini hanya menggerak-gerakkan pedang tanpa ikut menyerangnya, hanya memandang dengan sinar mata ragu-ragu dan bingung. Hal ini membuat hatinya lega, sedikitnya ia telah memuaskan hati seorang musuh! Ia amat mengagumi ginkang gadis itu, karena biar pun ilmu pedang gadis baju hijau itu tidak amat berbahaya baginya, namun dengan ginkang seperti itu, pedang di tangan si gadis menjadi ampuh juga, luar biasa cepat gerakannya.

Heran ia memikirkan apakah yang terjadi antara ibu kandungnya dan Pendekar Pedang Terbang itu? Apa pula yang terjadi antara ibunya dengan sekian banyaknya tokoh kang-ouw? Tadi ia mendengar tuduhan- tuduhan yang amat buruk terhadap ibunya. Mengacau markas besar perkumpulan silat yang besar-besar, mencuri kitab pusaka, mempermainkan pria-pria tampan? Benar-benar ia tidak mengerti dan hal-hal yang didengarnya itu membuat hatinya serasa ditusuk-tusuk pedang beracun. Dengan hati perih Suling Emas terus melarikan diri, diam-diam menyesali nasibnya yang amat buruk.

********************

Kita tinggalkan dulu Suling Emas yang dikejar-kejar seperti orang buronan oleh dua puluh orang lebih tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti. Mari kita ikuti perjalanan Bu Sin dan Sian Eng yang oleh Suling Emas disuruh melanjutkan perjalanan lebih dulu menurutkan aliran Sungai Kan-kiang. Sepekan sudah mereka melakukan perjalanan dan selama itu mereka makin menjadi gelisah karena Suling Emas belum juga menyusul mereka.

“Sin-ko, mengapa Bu Song Koko belum juga menyusul? Bagaimana kalau dia celaka? Lebih baik kita kembali menengok….”

 

“Ah, Song-ko seorang sakti, dia akan selamat, Moi-moi!” jawab Bu Sin dengan kening berkerut karena ia sendiri pun merasa gelisah. “Betapa pun juga, dia sudah menyuruh kita berjalan lebih dulu, tak boleh kita tidak mentaati perintahnya.”

“Kalau begitu, kita berhenti saja untuk menunggu kedatangannya!”

“Jangan, Moi-moi, kita harus berjalan terus. Lihat, dari tempat tinggi ini tampak sungai membelok ke kanan, melalui lereng bukit itu. Akan lebih cepat kalau kita memotong jalan melalui puncak bukit di sana. Sebelum malam tiba kurasa kita akan dapat sampai di kaki gunung seberang sana. Kalau sudah sampai di sana, biar nanti aku yang mencari perahu agar tidak melelahkan, sambil menanti Song-twako menyusul.”

Sian Eng tidak berani membantah lagi. Memang dari tempat mereka berdiri, tampak dari tempat tinggi ini sungai Kan-kiang membelok ke kanan dan mengitari puncak bukit. Kalau melakukan perjalanan memotong bukit itu melalui puncaknya, tentu perjalanan menjadi lebih cepat. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian, karena bagi orang biasa, biar pun jarak lebih dekat, akan tetapi mendaki puncak merupakan pekerjaan yang sukar dan memakan waktu lebih lama.

Kakak beradik itu lari mempergunakan ilmu lari cepat, melintas dan mendaki puncak. Matahari telah mulai condong ke arah barat ketika mereka menuruni puncak bukit itu. Tiba-tiba Sian Eng berhenti dan memandang ke bawah, mukanya berubah pucat.

“Sin-ko, itulah tempatnya….”

Bu Sin berhenti, kaget melihat muka adiknya berubah, lalu ia menoleh ke arah yang ditunjuk. “Tempat apa, Eng-moi?”
“Itu… kuburan tua itu… di sanalah tempat aku diculik si iblis Hek-giam-lo dahulu…! Tak salah lagi, aku ingat betul tempatnya juga berada di lereng seperti itu…”

“Hemmm, kalau begitu tempat itu mungkin menjadi sarang iblis Hek-giam-lo. Eng-moi kita ke sana. Bukankah kakak kita hendak mengejar Hek-giam-lo untuk merampas tongkat pusaka Beng-kauw? Kita harus membantunya!”

“Tapi….”

“Eng-moi, takutkah kau?” “Iblis itu lihai sekali, Sin-ko.”
“Aku tahu, akan tetapi kita tidak perlu takut. Selain Song-twako berada di belakang kita, juga kita bukanlah orang-orang tiada guna yang tidak mampu bekerja apa-apa. Kita hanya menyelidiki tempat itu, Adikku. Sungguh mengecewakan kalau kita sebagai anak-anak ayah yang berjiwa gagah perkasa, harus menyerahkan segala tugas berbahaya kepada Song-twako. Apakah kita akan tinggal peluk tangan saja sebagai orang-orang yang tidak mempunyai nyali?”

Bangkit semangat Sian Eng. “Sin-ko, aku lupa bahwa kau telah mewarisi ilmu kesaktian dari kakek sakti seperti yang kau ceritakan itu. Dan aku pun bukan seorang gadis lemah. Kau betul, mari kita ke sana, aku masih ingat betul tempatnya!”

Berlarilah kedua orang kakak beradik itu menuruni puncak dan tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah kuburan kuno yang penuh dengan batu-batu bongpai (pusara) berukir. Setelah mencari-cari beberapa lamanya, akhirnya Sian Eng berhenti di depan sebuah bongpai besar yang terhias beberapa buah arca-arca sebesar manusia, arca-arca dari sastrawan-sastrawan terkenal di masa dahulu.

“Di situlah…,” bisiknya sambil menudingkan telunjuknya yang agak gemetar ke arah lantai depan makam, “Di situ terdapat sebuah pintu batu rahasia yang menembus ke terowongan di bawah tanah pekuburan ini.”

“Dahulu ketika kau dibawa masuk, kau tidak melihat orang lain?” tanya Bu Sin. Adiknya menggelengkan kepala.

“Kalau begitu, mari kita selidiki ke sana. Siapa tahu tongkat pusaka itu disembunyikan di tempat ini. Besar

 

kemungkinan si iblis tidak berada di sini, dan mudah-mudahan saja begitu. Kita bisa mengambil tongkatnya kalau benda keramat itu ia sembunyikan di sini. Aku akan girang sekali kalau dapat membantu Song- twako.”

Sian Eng mengangguk setuju dan mereka menghampiri lantai depan makam. Setelah menyelidiki tempat itu, benar saja mereka melihat ada batu lantai yang merupakan pintu penutup, besarnya kurang lebih satu meter persegi. Ketika mereka mencoba untuk mengungkitnya, ternyata batu itu dapat terbuka dan di bawahnya terdapatlah lobang. Tampak pula anak tangga dari batu. Dengan tabah Bu Sin lalu melangkah masuk, diikuti adiknya. Akan tetapi pemuda ini berhenti dan ragu-ragu setelah berjalan beberapa langkah, karena keadaan terowongan itu gelap bukan main.

“Kenapa berhenti?” tanya Sian Eng.

“Gelap sekali, kita harus membuat obor dulu. Mundur, Moi-moi, kita keluar dulu mencari obor.”

Mereka mundur dan keluar kembali. Bu Sin segera mencari bahan kulit pohon yang dapat terbakar lama, membuat obor, menyalakannya dan kembali mereka memasuki terowongan itu. Bu Sin berjalan di depan, obor di tangan, sedangkan Sian Eng berjalan di belakangnya, mereka tidak dapat berjalan cepat. Tanah yang mereka injak agak basah dan licin, juga makin lama terowongan itu makin rendah, hampir kepala Bu Sin tertumbuk batu karang di atas kalau ia tidak membungkuk.

Setelah bergerak melalui beberapa tikungan, Sian Eng berbisik, “Seingatku dahulu terdapat ruangan yang lebar seperti kamar….”

Mereka maju terus, mata dan hidung terasa pedas oleh asap obor. Terowongan di sebelah depan menyempit dan Bu Sin yang berada di depan sudah mulai berjongkok dan merayap.

“Agak terang di sini…,” katanya, gembira karena benar saja, keadaan mulai terang, tidak segelap tadi. “Entah dari mana datangnya sinar terang ini….”

Akan tetapi Sian Eng tidak menjawab dan gadis itu mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh tidak jelas. Kiranya Sian Eng tahu dari mana datangnya sinar terang itu karena ia merasa seperti ada sesuatu di belakangnya. Ketika ia menengok… hampir Sian Eng menjerit dan pingsan. Demikian kaget dan ngerinya sehingga jeritannya hanya keluar sebagai suara ah-uh-ah-uh saja, mukanya pucat matanya terbelalak memandang Hek-giam-lo yang sudah berdiri di belakang mereka! Hek-giam-lo si iblis muka tengkorak berpakaian hitam, berdiri dengan tangan kanan memegang obor dan tangan kiri memegang senjatanya yang mengerikan. Kiranya obor di tangannya itulah yang membuat terowongan itu menjadi terang!

“Eng-moi kau kenapa…?” Bu Sin bertanya ketika mendengar suara aneh adiknya. Ia menoleh dan alangkah herannya ketika ia melihat wajah adiknya pucat, tubuhnya gemetar dan matanya terbelalak menengok ke belakang. Ia cepat menoleh dan… dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika ia melihat apa yang menyebabkan adiknya takut.

“Hek-giam-lo…!” katanya dan pemuda ini membesarkan suaranya, mengusir rasa takut. “Kalau kau memang menjadi tuan rumah tempat ini, mengapa menyambut kedatangan kami dari belakang?”

Iblis bertopeng tengkorak itu mendengus. “Hemmm, maju terus atau… hemmm, kurobek-robek badan kalian di sini juga!”

Tiba-tiba Sian Eng menggerakkan tangannya dan dua buah batu karang melayang ke arah muka dan dada iblis itu. Kiranya gadis ini sudah dapat menenangkan hatinya dan dengan nekat lalu meraih dua buah batu di dekatnya, kemudian menyambitkannya ketika iblis itu sedang bicara. Hek-giam-lo miringkan kepalanya sehingga batu pertama lewat di pinggir kepala, ada pun batu kedua ia terima begitu saja dengan dadanya.

“Brakkk!” batu itu pecah berantakan.

“Gadis lancang, sekali kau tertolong oleh Suling Emas, jangan harap kali ini akan dapat lolos lagi. Hemmm, bagus, biar kau menjadi umpan pancingan untuk Suling Emas. Ha-ha-ha!”

Ketika melihat iblis itu dengan langkah lebar menghampiri Sian Eng yang berada di belakangnya, Bu Sin segera berkata dengan nada penuh ejekan, “Hek-giam-lo, seorang tokoh besar seperti engkau ini, sungguh tak tahu malu melayani seorang wanita seperti adikku! Kalau memang kau gagah, mari kita mencari tempat
lapang dan kita bertanding secara laki-laki!”
“Heh-heh, orang muda sombong. Majulah terus, di depan ada tempat luas, boleh kau buktikan betapa
kesombonganmu tidak ada isinya!”

Memang bukan maksud Bu Sin untuk menyombong. Ia tadi sengaja mengeluarkan ucapan itu untuk mencegah si iblis mengganggu Sian Eng karena ia maklum bahwa kalau hal ini terjadi, sukarlah baginya untuk melindungi adiknya terhadap iblis yang luar biasa lihainya itu. Dengan begini, setidaknya Sian Eng untuk sementara akan bebas dari pada ancaman dan ia boleh mencari waktu panjang untuk memikirkan akal bagaimana harus melawan iblis ini.

“Marilah, Moi-moi, kau bergeraklah di depanku, sini…”

Sian Eng sudah menjadi putus asa menyaksikan kehebatan si ibils yang menerima sambitannya begitu saja dengan dada, membuat batu itu hancur! Dengan muka pucat ia lalu menyelinap ke depan Bu Sin dan kakak beradik yang sudah tak berdaya ini lari seperti dua ekor tikus masuk jebakan, merangkak maju melalui terowongan yang sempit. Di belakang mereka, tanpa mengeluarkan suara lagi, Hek-giam-lo melangkah dengan gerakan perlahan, lalu merangkak di bagian yang sempit itu di belakang Bu Sin.

Benar saja seperti yang dikatakan Hek-giam-lo, tak lama kemudian terowongan sempit itu berubah menjadi lebar dan beberapa puluh meter kemudian tibalah mereka di sebuah ruangan di bawah tanah yang luas. Selain luas, juga di situ tidak gelap. Agaknya sinar matahari, entah bagaimana, dapat menembus ke tempat itu.

Sejenak timbul akal dalam benak Bu Sin untuk menyerang si iblis secara tiba-tiba dengan membalik dan menggunakan obor sebagai senjata, akan tetapi jiwa satria di hatinya mencegahnya. Serangan seperti itu amat rendah, apa lagi kalau dipikir usaha ini belum tentu akan berhasil terhadap lawan yang sakti ini. Dengan tenang ia lalu mendorong adiknya perlahan, menyuruhnya menjauh ke pinggir, kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapi Hek-giam-lo.

“Nah, Hek-giam-lo,” katanya dengan tenang sambil memadamkan obornya, akan tetapi masih memegangi gagang obor, “Terus terang saja, kami berdua telah lancang memasuki tempatmu ini. Sekarang kau telah berada di sini, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami?”

“Orang-orang muda lancang! Katakan apa maksud kalian datang ke sini?”

“Adikku ini mengenal tanah kuburan di atas dan menceritakan bahwa dia pernah kau culik dan kau bawa ke sini. Karena itu aku merasa tertarik dan hendak menyaksikan dengan mata sendiri tempat rahasia ini.”

“Hanya itu?” Hek-giam-lo mendesak.

“Tentu saja kalau kami melihat tongkat pusaka Beng-kauw di tempat ini, akan kami curi kembali dan kami bawa dan kembalikan kepada Beng-kauw,” jawab Bu Sin sejujurnya.

“Hemmm, tidak ada orang luar yang masuk ke sini dapat kembali hidup-hidup. Kalian berani masuk ke sini, bahkan berani mencoba untuk merampas tongkat Beng-kauw? Hu-huh, tak tahu diri. Biar pun kalian adik- adik tiri Suling Emas, apa dikira aku takut? Huh-huh, hendak kulihat apakah Suling Emas berani masuk ke sini. Ha-ha-ha, kalian merupakan umpan-umpan yang baik. Biar dia datang, hendak kulihat!”

“Sombong! Aku pun tidak takut padamu, iblis busuk! Tak usah kakak kami, aku pun sanggup menghadapimu!” Sambil berkata demikian, Bu Sin menggerakkan bekas obor dan menusukkan benda ini ke arah kedok tengkorak itu.

“Huh, bocah bosan hidup!” Si iblis menggerakkan obornya pula, menangkis dengan gerakan perlahan.

“Dukkk!” gagang obor di tangan Bu Sin hancur dan terlepas dari tangan pemuda itu, sedangkan gagang obor di tangan Hek-giam-lo yang tadinya menangkis itu terus bergerak mengemplang kepala Bu Sin. Gerakan ini biar pun dilakukan dengan perlahan, namun cepat dan tak terduga sama sekali sehingga tahu- tahu kepala pemuda itu sudah kena pukul.

“Prakkk!” kini gagang obor di tangan Hek-giam-lo itu yang menjadi patah-patah ketika beradu dengan kepala Bu Sin. Hek-giam-lo mengeluarkan suara mendengus marah.

 

“Bocah sombong, keras juga kepalamu!” katanya sambil melemparkan sisa gagang obor di tangannya.

Tentu saja iblis itu tidak tahu bahwa Bu Sin telah menerima warisan ilmu kesaktian yang dilatihnya di bawah air terjun yang menimpa kepalanya sehingga bagian kepalanya ini boleh dibilang menjadi sumber dari pada tenaga mukjijat yang dimilikinya akibat latihan aneh itu. Hek-giam-lo tidak tahu bahwa ilmu pemuda ini jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan kepandaiannya, tidak tahu bahwa Bu Sin tidak sempat mengelakkan serangan tadi dan mengira bahwa pemuda itu sengaja menerima pukulan untuk mendemonstrasikan kepandaiannya! Karena mengira bahwa pemuda ini yang ia tahu adalah adik tiri Suling Emas memiliki kesaktian seperti Suling Emas, Hek-giam-lo tidak mau main-main lagi. Senjatanya yang menyeramkan itu sudah ia angkat ke atas kepala!

Tiba-tiba terdengar suara “singgg!” dan Sian Eng sudah mencabut pedangnya, berdiri tegak di depan iblis itu dengan pedang di depan dada, sikapnya gagah, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut. “Iblis sombong, aku pun berani melawan kejahatanmu!”

“Eng-moi, mundur! Dia bukan musuhmu!” kata Bu Sin yang khawatir melihat adiknya menjadi nekat.

“Aku tahu, Koko, akan tetapi dia pun bukan musuhmu. Kalau kita berdua mati melawannya, aku ingin mati lebih dulu dari padamu.”

Diam-diam jantung Bu Sin seperti tertusuk mendengar ini. Ia maklum bahwa adiknya merasa ngeri kalau sampai melihat dia mati terlebih dulu, meninggalkannya seorang diri menghadapi lawan yang demikian sakti dan ganas mengerikan.

“Jangan khawatir, Moi-moi. Kita berdua dapat melawan iblis ini!” katanya dan mencabut pedangnya. “Akan tetapi biarkan aku menghadapinya lebih dulu dan kau keluarlah agar dapat memanggil kalau Song-koko lewat di atas!”

Mendengar ini, Sian Eng menjadi girang dan timbul pula harapannya. Tadinya gadis ini telah putus harapan karena maklum bahwa kakaknya takkan menang menghadapi iblis itu. Satu-satunya orang yang boleh diharapkan dapat menolong mereka hanyalah kakaknya Suling Emas. Dan siapa tahu kalau-kalau Suling Emas sudah benar-benar menyusul dan sampai di atas sana.

“Sin-ko, kau pertahankan dia, biar aku naik menanti Song-koko!” Ia cepat meloncat untuk berlari keluar melalui terowongan itu. Akan tetapi tiba-tiba ia jatuh tergulihg ketika Hek-giam-lo menggerakkan lengan baju ke arahnya sambil mendengus.

“Huh, kau takkan dapat pergi ke mana-mana!”

“Setan, berani kau mengganggu adikku?” Bu Sin sudah memerjang maju dengan pedangnya. Ia mengerahkan tenaga saktinya karena maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang luar biasa lihainya.

“Tranggg!” pedang di tangan Bu Sin terpental dan saking kerasnya Bu Sin memegang pedang, tubuhnya sampai ikut terpental dua meter jauhnya. Telapak tangan kanannya serasa terkupas kulitnya, perih dan panas.

Sian Eng membentak marah sambil menusukkan pedangnya. Akan tetapi sekali tangan kiri Hek-giam-lo bergerak, pedang itu sudah terpukul patah menjadi tiga potong, terpukul oleh ujung lengan baju hitam. Selagi Sian Eng terhuyung-huyung, jari tangan Hek-giam-lo sudah menotoknya, membuat gadis itu roboh terguling tak dapat berkutik lagi.

“Ibils keparat!” bentak lagi Bu Sin yang menerjang dengan nekat.

Ia mengambil keputusan untuk mengadu nyawa sebelum iblis itu dapat mengganggunya atau mengganggu adiknya. Ilmu yang ia warisi dari kakek sakti hanyalah ilmu untuk menghimpun tenaga sakti, akan tetapi ilmu pedangnya sendiri masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan ilmu kepandaian Hek-giam-lo yang terkenal sebagai seorang di antara Enam Iblis Dunia.

Ketika tadi memukul kepala Bu Sin yang mengakibatkan gagang obornya patah, Hek-giam-lo mengira bahwa pemuda itu sakti. Akan tetapi setelah menangkis pedang yang membuat pemuda itu terlempar, Hek- giam-lo tahu bahwa lawannya ini merupakan lawan lunak yang mempunyai tenaga aneh terutama di

 

bagian kepalanya. Hatinya menjadi besar dan ia memandang rendah lagi. Untung bagi Bu Sin dan Sian Eng bahwa si iblis ini tidak menghendaki mereka mati, kalau tidak, sudah pasti keselamatan nyawa mereka tidak akan dapat tertolong lagi.

Menghadapi terjangan Bu Sin kali ini, si iblis tidak menangkis dengan senjatanya yang aneh, melainkan dengan ujung lengan baju kiri seperti ketika ia menghadapi Sian Eng tadi. Ujung lengan baju ini memapaki pedang dan seperti seekor ular hidup ujung lengan itu seketika menggulung dan membelit pedang.

“Aihhhhh!” Bu Sin mengerahkan tenaga sakti sekuatnya dan…. “Brettttt!” putuslah ujung lengan baju hitam itu.
Hek-giam-lo mengeluarkan suara menggereng seperti harimau terluka, senjatanya berkelebat mengancam leher Bu Sin. Pemuda ini cepat mengangkat pedang menangkis.

“Trangggg…!” kali ini Bu Sin tidak kuat mempertahankan lagi, pedangnya terpukul patah dan terlepas dari tangannya!

Melihat sinar hitam berkelebat di depan mukanya, Bu Sin cepat mengerahkan ginkang berdasarkan tenaga sakti untuk mengelak. Bagaikan seekor burung terbang, pemuda ini sudah menyelinap ke kiri menerobos di antara sinar hitam untuk menyelamatkan diri. Walau pun gerakannya itu cepat bukan main, akan tetapi ia masih terlambat.

Memang gerakannya tadi menyelamatkan dadanya dari kehancuran ketika ujung lengan baju Hek-giam-lo menyambar dengan kekuatan yang dahsyat itu, namun ia tidak dapat menghindarkan lagi ujung pangkal lengannya keserempet hawa pukulan dahsyat. Bu Sin merasa betapa lengan kanannya seakan-akan lumpuh dan patah-patah, ia terhuyung-huyung dan pada saat itu Hek-giam-lo sudah menotoknya sehingga Bu Sin roboh dan tak dapat bergerak pula!

“Hu-huh, bocah-bocah sombong! Adik-adik Suling Emas kiranya hanya begini saja! Mana dia Suling Emas? Biar dia datang, kurobohkan sekalian!”

“Hek-giam-lo, kalau kakak kami datang, kau pasti akan dihajar mampus!” teriak Sian Eng marah.

Hek-giam-lo tertawa-tawa, kemudian ia melangkah ke ruangan yang berdampingan dengan ruangan itu. Tak lama ia keluar lagi, tangannya membawa sebuah kitab yang tinggal sepotong.

“Kutinggalkan kalian di sini, kalau tidak ada kakak kalian datang menolong, kalian akan membusuk dan menjadi setan-setan penjaga kuburan di sini. Orang-orang tiada gunanya macam kalian, dibunuh juga percuma. Sampaikan salamku kepada Suling Emas dan kalau memang ia berkepandaian, dia boleh minta kembali tongkat Beng-kauw ke Khitan, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Hek-giam-lo lenyap dari tempat itu.

Bu Sin dan Sian Eng berusaha keras untuk membebaskan totokan. Akan tetapi sia-sia belaka, malah makin hebat mereka berusaha, makin payah keadaan mereka. Totokan yang dilakukan Hek-giam-lo atas diri mereka itu amat aneh, membuat seluruh urat mereka lumpuh dan tiap kali mereka mengerahkan sinkang, tubuh serasa dibakar dan nyeri-nyeri. Terpaksa mereka akhirnya tinggal menanti nasib saja, rebah tak berkutik di atas tanah yang lembab.

Bagaimanakah Hek-giam-lo bisa berada di terowongan rahasia itu? Memang tadinya iblis ini berada dalam perahu bersama orang-orang Khitan dan di dalam perahu itu Lin Lin menjadi tuan terhormat. Akan tetapi ketika perahu itu lewat di daerah ini, Hek-giam-lo menyuruh anak buahnya berhenti dan mendarat. Karena tempat ini memang menjadi sarangnya.

Di pinggir sungai terdapat pula sebuah rumah pondok yang indah dan jauh dari pada tetangga. Inilah tempat peristirahatan Hek-giam-lo dan juga para mata-mata Khitan apa bila melakukan tugasnya dan tiba di tempat ini. Ke rumah inilah Lin Lin dibawa, sedangkan Hek-giam-lo seorang diri pergi ke tanah kuburan kuno untuk mengambil kitabnya, yaitu kitab yang dahulunya ia rampas dari tangan kakek sakti Bu Kek Siansu dan yang akhirnya hanya ia dapatkan ‘setengahnya’ karena yang separoh terampas oleh It-gan Kai- ong.

Memang ia tidak berani membawa-bawa kitab yang ia tahu menjadi incaran It-gan Kai-ong, Suling Emas

 

dan Siang-mou Sin-ni, mungkin juga Bu Kek Siansu sendiri itu. Ketika melawat ke selatan, ia menyimpan kitab pusaka itu di dalam terowongan dan sekarang ia hendak mengambil dan membawanya kembali ke Khitan. Secara kebetulan ia mendapatkan Bu Sin dan Sian Eng memasuki tempat sembunyinya.

Lin Lin merasa jengkel sekali. Biar pun ia selalu diperlakukan dengan hormat, dipanggil tuan puteri, setiap kali mendapat hidangan-hidangan yang lezat dan segala macam kebutuhannya dipenuhi, segala macam perintahnya, kecuali perintah agar ia bebas, ditaati, namun ia maklum bahwa sebenarnya ia menjadi tawanan! Ia merasa tidak berdaya menghadapi Hek-giam-lo yang kosen, juga para anak buah Khitan itu terdiri dari pada orang-orang pilihan.

Oleh karena itu, gadis ini maklum bahwa takkan mungkin ia memberontak atau melarikan diri, hal itu hanya akan membuat ia menderita saja. Pikiran inilah yang membuat ia akhirnya tidak rewel minta dibebaskan lagi. Ia diam saja, malah kini memaksa diri bergembira, akan tetapi diam-diam ia amat mengharapkan munculnya Suling Emas! Ia merasa gemas juga mengapa sampai begitu lama Suling Emas tidak juga muncul menolongnya? Dan di samping ini, ia merasa amat sengsara dan sedih kalau ia mengingat Bok Liong. Kadang-kadang ia masih dapat melihat bayangan pemuda itu di pinggir sungai, pakaiannya kotor, rambutnya kusut dan kelihatannya sengsara. Memang pemuda yang keras hati ini sudah nekat untuk terus mengikuti perahu yang membawa gadis pujaannya.

“Liong-twako, sudahlah jangan mengikuti perahu. Pergilah dan cari Suling Emas, suruh dia membebaskan aku!” dari atas perahu Lin Lin berteriak ke arah bayangan Lie Bok Liong yang bergerak di pinggir sungai. Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang mendengar dan melihat ini hanya tersenyum-senyum saja.

Pemuda itu berseru menjawab. “Aku tidak bisa meninggalkanmu, Lin-moi. Tidak tahu Suling Emas berada di mana. Kalau aku pergi, bagaimana kalau mereka orarg-orang liar itu mengganggumu? Aku akan mengadu nyawa dengan mereka! Jangan khawatir selama aku berada di dekatmu!”

Lin Lin menghela napas diam-diam ia merasa terharu. Akhir-akhir ini mulailah terasa olehnya betapa mulia dan jujur hati pemuda itu, dan betapa besar pembelaan dan pengorbanan pemuda itu untuk dirinya. Mulai terbuka mata Lin Lin bahwa Lie Bok Liong amat mencinta dirinya dan hal ini membuatnya sedih dan terharu. Bukan pemuda ini yang selalu menjadi kenangan, menjadi harapan, menjadi pujaan hatinya. Hati dan perasaan cinta kasih dalam dadanya terampas oleh Suling Emas!

Ia merasa amat khawatir melihat tingkah laku Bok Liong yang begitu nekat hendak melindungi dan membelanya, biar pun pemuda itu sendiri tahu betul bahwa ia tidak berdaya menghadapi Hek-giam-lo dan anak buahnya. Lin Lin merasa khawatir kalau-kalau Bok Liong akan nekat dan akhirnya akan mengorbankan nyawanya, apa lagi ketika ia diturunkan dari perahu dan diajak beristirahat di pondok tepi sungai itu. Dan kekhawatitannya terbukti.

Sore hari itu, ketika Hek-giam-lo sudah pergi meninggalkan pondok, sampailah Lie Bok Liong ke tempat itu. Pemuda ini tertinggal jauh oleh perahu, maka setelah sore baru ia dapat menyusul. Ketika melihat perahu yang diikutinya itu tertambat di pinggir, ia segera menghampiri rumah pondok. Dengan tubuh lemas dan sakit-sakit ia melangkah ke halaman pondok itu, sedikit pun tidak merasa takut. Padahal pemuda ini sebenarnya sedang tidak sehat. Tubuhnya panas dan lemas, karena selama dalam perjalanan mengikuti perahu, ia jarang sekali makan. Pula ia masih menderita luka ketika bertempur dengan Hek-giam-lo di atas perahu beberapa hari yang lalu. Agaknya rasa cinta kasih yang besar membuat ia kuat menahan segala derita.

Ketika melihat pondok itu sunyi saja, Bok Liong melangkah lebar menuju ke ruangan depan. Ia sudah nekat, hendak mencari Lin Lin dan mengajak gadis itu lari, atau membiarkan gadis itu lari sedangkan dia akan menahan orang-orang Khitan kalau mereka akan mengejarnya.

“Lin-moi…!” Ia memanggil dengan suara parau.

Suaranya menjadi parau karena batuk. Kurang tidur membuat ia terserang batuk pula. Memang perahu itu tak pernah berhenti sehingga di waktu malam sekali pun Bok Liong harus terus berjalan kalau ia tidak ingin tertinggal jauh. Selama hampir sepuluh hari lamanya ini Bok Liong terus berjalan siang malam, makan sedapatnya, kadang-kadang hanya daun-daun muda, itu pun dilakukan sambil berjalan terus. Bahkan tidur pun sambil berjalan, kalau itu boleh dikatakan tidur.

“Lin-moi…!” Kembali Bok Liong berteriak, lalu tangannya menggedor pintu depan yang tertutup.

 

Karena tidak juga ada jawaban, Bok Liong melompat ke pintu samping, yaitu pintu yang menuju ke taman di samping pondok. Pintu ini terbuat dari pada kayu dan tidak sekokoh pintu depan. Sambil mengerahkan tenaganya, Bok Liong menendang pintu kecil ini dan robohlah pintu itu! Akan tetapi sebelum ia melompat masuk, dari dalam keluar seorang laki-laki berkumis.

“Jahanam liar! Berani kau datang ke sini?” teriak orang Khitan itu yang segera menerjang ke depan dengan pukulan-pukulan keras.

Bok Liong mengelak sambil melompat ke belakang, akan tetapi karena tubuhnya lemah dan gemetar, ia terhuyung-huyung sampai ke ruangan depan. Lawannya yang kelihatan kuat itu terus mendesaknya dengan pukulan-pukulan keras. Betapa pun juga, tingkat ilmu kependaian Bok Liong jauh lebih tinggi, maka biar pun terhuyung-huyung, Bok Liong selalu dapat mengelak. Setelah peningnya agak berkurang, sekali tangan kanannya menyambar, lawan itu terkena pukulannya pada leher sehingga orang Khitan itu terpelanting.

Akan tetapi dari pintu taman itu bermunculan orang-orang Khitan. Bok Liong cepat mencabut pedangnya, akan tetapi karena enam orang Khitan itu serentak maju menubruknya. Bok Liong yang sudah lemas itu tak dapat bergerak lagi dan di lain saat ia telah ditelikung, kedua lengannya dibelenggu di belakang tubuh dan kedua kakinya pun diikat! Pemuda ini hanya dapat memaki-maki saja dengan suara parau. Seorang Khitan mengambil pedangnya, pedang Goat-kong-kiam yang terjatuh di tanah ketika terjadi pergulatan tadi.

Bok Liong diseret masuk ke ruangan dalam. Tahulah sekarang Bok Liong mengapa Lin Lin tidak muncul. Kiranya gadis pujaannya itu berada di dalam ruangan dalam dan tubuhnya terikat pada sebuah tiang! Memang sebelum pergi meninggalkan pondok, Hek-giam-lo mengikat tubuh Lin Lin pada tiang itu. Ia cukup maklum akan kelihaian gadis ini, sehingga kalau dia tidak berada di situ, amukan gadis ini akan cukup membahayakan, sungguh pun dua puluh orang anak buahnya merupakan pasukan yang cukup tangguh. Iblis itu tidak mengkhawatirkan kedatangan Lie Bok Liong karena iblis sakti ini sudah tahu bahwa pemuda itu sudah hampir kehabisan tenaga.

Melihat Lin Lin diikat pada tiang, Bok Liong makin marah. Dengan sisa tenaganya ia meronta-ronta. Namun ia terlalu lemah untuk dapat mematahkan belenggu yang mengikat kaki tangannya.

“Lepaskan dia! Kalian binatang-binatang liar! Hayo lepaskan Lin-moi. Orang gagah tidak mengganggu wanita! Kalian ini kalau memang laki-laki, jangan ganggu wanita dan boleh siksa atau bunuh aku!”

Lin Lin memandang Bok Liong dan amatlah terharu hatinya. Pemuda itu benar-benar menderita, wajahnya pucat, rambutnya kusut, matanya merah, dan tubuhnya lecet-lecet di sana-sini. Dalam keadaan seperti itu, pemuda ini masih hendak membelanya! Tak terasa lagi dua titik air mata membasahi bulu mata gadis ini.

“Liong-twako, kenapa kau menyusul ke sini?” tegurnya perlahan.

“Lin-moi, bagaimana aku bisa meninggalkan kau yang masih menjadi tawanan?” balas tanya Bok Liong, suaranya penuh perasaan sehingga Lin Lin makin merasa tertusuk jantungnya. Apa lagi ketika ia melihat betapa Bok Liong diikat tiang lain di depannya, kemudian seorang Khitan yang berkumis panjang mencambuknya.

“Tahan! Jangan bunuh dia!” teriak Lin Lin. “Awas, kalau sampai dia dibunuh, setelah kelak aku menjadi permaisuri di Khitan, kalian akan kuberi hukuman berat, akan dikupas kulit kalian!”

Orang Khitan yang berkumis tadi menjura, akan tetapi mulutnya tersenyum ketika ia berkata, “Tuan Puteri, harap Paduka jangan marah. Hamba sekalian hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Hek-lo- ciangkun. Hamba tidak akan membunuhnya, akan tetapi harus memberi hukuman kepadanya.” Setelah berkata demikian, ia memberi aba-aba dalam bahasa Khitan.

Majulah dua orang Khitan tinggi besar yang membawa cambuk. Berdetar-detar dua batang ujung cambuk lemas itu melecut dan bertubi-tubi menghantam punggung, leher, muka dan seluruh tubuh Lie Bok Liong!

“Tar-tar-tar…!” bunyi cambuk nyaring meledak-ledak dan jantung Lin Lin terasa tertusuk-tusuk.

“Boleh siksa aku, bunuhlah aku, keparat-keparat jahanam! Akan tetapi bebaskan Lin-moi!” Biar pun dicambuki dan bajunya robek-robek, kulitnya robek pula sampai sebentar saja badannya berlepotan darah, namun Bok Liong masih memaki-maki dan menuntut supaya Lin Lin dibebaskan. Sedikit pun ia tidak

 

mengeluh, matanya terbelalak dan suaranya nyaring. Akan tetapi tubuhnya lemas karena ia tak dapat bergerak lagi. Mukanya menjadi matang biru, darah mengucur keluar dari hidungnya dan beberapa menit kemudian lehernya menjadi sengkleh dan ia tergantung pada ikatannya. Bok Liong pingsan.

Lin Lin meramkan mata. Tiap kali cambuk melecut, ia merasa seakan-akan tubuhnya yang tercambuk. Air matanya mengalir membasahi pipinya ketika ia mendengar betapa di antara hujan cambuk, Bok Liong selalu masih menuntut pembebasannya. Setelah bunyi cambuk terhenti, barulah ia berani membuka matanya dan dapat dibayangkan betapa hancur dan terharu hatinya melihat Bok Liong dalam keadaan seperti itu. Seluruh pakaiannya compang-camping, kulit tubuhnya penuh jalur-jalur merah dan biru, mukanya sukar dikenal lagi karena bengkak-bengkak dan penuh darah. Dengan kasar orang-orang Khitan itu melepaskan ikatannya, menyeret ke luar pondok dan melemparkannya ke dalam semak-semak belukar!

Lin Lin yang tidak berdaya itu merasa tersiksa hatinya. Semalaman itu ia direbahkan di atas pembaringan dengan kaki tangan terbelenggu. Akan tetapi ia tak dapat tidur karena selalu terkenang kepada Bok Liong. Tentu saja ia tidak melihat betapa pemuda itu benar-benar mengalami derita yang hebat sekali.

Bok Liong siuman tak lama sesudah ia dilempar di dalam semak-semak. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit- sakit dan sukar sekali bangkit karena terasa amat nyeri setiap kali menggerakkan kaki tangan,. Ia memaksa diri untuk bangkit, merangkak ke luar dari dalam semak-semak, berjalan terhuyung-huyung menuju ke sungai dengan maksud untuk mencuci tubuhnya yang penuh darah. Ketika tiba di tepi sungai, ia jatuh tersungkur dan kembali ia pingsan di pinggir sungai. Sampai jauh malam barulah ia sadar, akan tetapi tubuhnya terasa demikian sakitnya sehingga setelah mencuci tubuh, ia tidak dapat berdiri lagi.

Namun Lie Bok Liong adalah seorang pemuda yang keras hati. Ia tidak mengeluh, tidak putus asa. Ia lalu duduk bersila di pinggir sungai, mengatur napas dan mengerahkan tenaga. Menjelang pagi, ia sudah merasa mendingan.

“Liong-twako…!” Ini suara Lin Lin.

Cepat Bok Liong membuka mata, akan tetapi ketika ia memandang, ia merasa kecewa. Ternyata Lin Lin berjalan di depan rombongan orang Khitan, agaknya keluar dari pondok menuju ke perahu, akan tetapi di dekat gadis itu berjalan pula Hek-giam-lo!

“Aku tidak apa-apa, Lin-moi. Kau jagalah dirimu baik-baik!” Ucapan ini tentu saja diterima dengan hati perih oleh Lin Lin yang untuk kesekian kalinya mendapat kenyataan akan cinta kasih yang luar biasa besar dan tulusnya dari pemuda ini. Sambil menahan isak gadis itu menundukkan mukanya dan berjalan terus menuju ke perahu bersama Hek-giam-lo. Dengan tokoh sakti ini di dekatnya, Lin Lin merasa tiada gunanya melawan.

Orang Khitan yang berkumis panjang lewat dekat Bok Liong, lalu melemparkan pedang Goat-kong-kiam ke dekat pemuda itu sambil meludah dan tertawa mengejek!
Bok Liong bukanlah orang yang sudi menerima penghinaan begitu saja tanpa membalas. Melihat pedangnya, secepat kilat ia menyambarnya dan mengerahkan sisa tenaganya, menggunakan pedangnya menerjang orang berkumis itu.

Si kumis kaget sekali, cepat mengelak, namun pedang Bok Liong masih saja mencium pundaknya. Orang Khitan itu terhuyung ke belakang dan Bok Liong cepat menambah serangannya dengan sebuah tusukan kilat. Dada orang Khitan berkumis itu pasti akan tertembus pedang Goat-kong-kiam kalau saja pada saat itu Hek-giam-lo tidak cepat menggerakkan tangan kanannya sambil membalikkan tubuh. Tangan itu masih terpisah satu meter dari Bok Liong, akan tetapi pukulan jarak jauh ini cukup membuat Bok Liong terpental sehingga tusukannya meleset dan si kumis selamat. Kalau saja Bok Liong tidak dalam keadaan selemah itu, kiranya belum tentu pukulan jarak jauh ini akan dapat menggagalkan tusukannya tadi.

Bok Liong benar-benar nekat dan keras hati. Ia terlempar ke kiri dan jatuh, akan tetapi cepat ia meloncat bangun dan kali ini dengan pedangnya ia menyerang Hek-giam-lo! Ia memang terluka dan lemah, namun jurus serangannya adalah jurus serangan ilmu silat tinggi, dan pedangnya adalah pedang pusaka, maka serangan itu tak boleh dipandang ringan. Kalau lawan biasa saja tentu sukar terlepas dari pada bahaya serangan ini.

Akan tetapi sayang bahwa kali ini yang diserangnya adalah Hek-giam-lo. Sambil mendengus panjang, iblis ini menggerakkan senjatanya yang aneh, diputar menyilaukan mata. Terdengar suara nyaring, dan entah bagaimana tahu-tahu tubuh Bok Liong terlempar ke dalam sungai.

 

“Byurrrrr!” air muncrat tinggi-tinggi dan pemuda itu gelagapan, dengan susah payah berusaha berenang ke tepi.

Orang-orang Khitan tertawa bergelak ketika mereka berada di atas perahu dan perahu itu meluncur menurutkan aliran air sungai, meninggalkan Bok Liong yang masih gelagapan dan berenang ke pinggir.

“Lin-moi…! Jangan khawatir, aku akan menyusulmu…!” Suara Bok Liong ini terdengar oleh Lin Lin yang berada di atas perahu, dan makin gemaslah hati Lin Lin kepada Suling Emas, mengapa sampai begitu lama belum juga datang menolongnya sehingga Bok Liong harus mengalami derita yang demikian hebatnya.

Tak tega lagi hatinya, maka ia lari memasuki pondok perahu, membanting diri di atas pembaringan yang disediakan untuknya, lalu menangis. Tiba-tiba ia melihat benda bersinar dan ia segera meraih tongkat itu. Benda bersinar itu adalah ya-beng-cu yang selama ini memang menjadi benda permainannya. Sebetulnya, sebentar saja ia sudah bosan dengan tongkat itu, akan tetapi karena tongkat ini yang agaknya akan membawa ia bertemu kembali dengan Suling Emas, maka ia selalu main-main dengan tongkat itu. Ia merasa yakin bahwa Suling Emas pasti akan mengejar Hek-giam-lo untuk merampas kembali tongkat ini.

Ia meraba-raba tongkat itu. Baru sekarang ia memperhatikan tubuh tongkat, yang ternyata diukir-ukir indah. Tongkat itu sebesar lengannya, makin ke bawah makin kecil dan pada kepalanya terdapat mutiara-mutiara ya-beng-cu itu. Ketika Lin Lin menekan sana-sini, tanpa sengaja ia menekan bagian bawah dan tiba-tiba terdengar bunyi.

“Klikkk!” dan bagian tengah tongkat itu bergerak memanjang! Lin Lin merasa heran sekali.

Ketika diperiksanya bagian ini, ternyata bagian tengah tongkat itu bersambung, akan tetapi sambungannya diatur demikian rupa sehingga takkan dapat diketahui begitu saja. Agaknya tersentuh kunci pembuka sambungan itu maka otomatis sambungannya menjadi memanjang. Lin Lin menarik kedua ujung tongkat dan benar saja, tongkat itu kini menjadi dua potong. Bagian atas sebagai tutupnya dan bagian bawah sebagai wadah yang ternyata berlubang sebelah dalamnya. Dengan amat hati-hati Lin Lin memeriksa, mengetuk-ngetukkan kedua potongan tongkat yang berlubang itu dan keluarlah gulungan-gulungan kertas tipis dari dalamnya.

Dengan hati berdebar-debar Lin Lin memeriksa. Kiranya kertas-kertas bergulung itu ada tiga belas lembar banyaknya, lebarnya sekaki persegi dan penuh dengan tulisan kecil-kecil yang indah. Lin Lin cepat membacanya dan alangkah girang dan tegang hatinya ketika membaca pelajaran ilmu silat aneh yang didahului dengan latihan semedhi yang aneh pula, karena di situ diterangkan bahwa untuk latihan ini orang harus bertelanjang bulat.

Memang semua aliran menganjurkan bahwa di waktu semedhi, orang harus mengenakan pakaian yang longgar, jangan ada yang menekan agar kedudukan tubuh menjadi enak dan jalan darah tidak terganggu, dan memang harus diakui bahwa yang terbaik adalah bertelanjang bulat. Lin Lin berpengharapan bahwa ilmu ini merupakan ilmu mukjijat yang akan dapat menolong dirinya. Akan tetapi pelajaran ini mengharuskan orang bertelanjang bulat dalam latihan ini, sungguh merupakan hal yang aneh dan luar biasa. Akan tetapi, karena hatinya amat ingin dapat membebaskan diri dari tangan Hek-giam-lo, tanpa ragu-ragu lagi ia lalu membuka semua pakaiannya, lalu berjungkir balik dan bersemedhi dalam keadaan aneh ini, kepala di bawah kaki di atas seperti yang dianjurkan di dalam gulungan kertas pertama.

Beberapa menit kemudian ia merasa kepalanya pening, akan tetapi ia memaksa diri, mendesak hawa sinkang ke bagian menurut petunjuk dan… sepuluh menit kemudian kakinya yang berada di atas itu terbanting ke bawah karena gadis ini sudah menjadi pingsan! Kebetulan sekali tubuhnya yang tak berpakaian lagi itu menimpa tongkat dan gulungan kertas sehingga tidak tampak dari luar.

Kalau saja keadaannya tidak seaneh itu, agaknya Lin Lin akan menimbulkan kecurigaan Hek-giam-lo. Dua kali anak buah Hek-giam-lo mengetuk pintu pondok untuk mempersilakan dia keluar makan, dan dua kali itu tidak ada jawaban dari dalam pondok. Akhirnya Hek-giam-lo sendiri mendekati pintu pondok. Dengan perlahan didorongnya pintu dan ia menjenguk ke dalam. Dari dalam kedoknya iblis ini mendengus, lalu menutupkan kembali pintu pondok dari luar, kemudian memesan kepada semua anak buahnya agar jangan mengganggu tuan puteri yang sedang tidur nyenyak.

Betapa pun juga gadis itu akan diperisteri oleh kakaknya, Raja Khitan, maka Hek-giam-lo tidak suka

 

mengganggunya. Apa lagi gadis yang ia anggap liar dan gila itu kini tidur dalam keadaan telanjang bulat, tentu saja tidak boleh dilihat anak buahnya. Seorang gadis yang menjadi calon permaisuri mana boleh dilihat oleh anak buahnya dalam keadaan tak berpakaian? Sama sekali Hek-giam-lo tidak curiga, apa lagi memang hawa pada siang hari itu amat panas.

Lin Lin siuman kembali dan cepat-cepat ia berpakaian. Ia maklum bahwa ilmu yang tertulis di dalam gulungan kertas itu merupakan ilmu mukjijat yang luar biasa. Ia dapat menduga bahwa mempelajari ilmu ini tidak boleh secara serampangan belaka, maka ia mengambil keputusan untuk membacanya dengan teliti dan tidak akan melatihnya sebelum ia mengerti benar inti sarinya. Tentu saja Lin Lin tidak tahu kerena kertas-kertas itu dahulu ditulis oleh pendiri Beng-kauw, yaitu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Telah diceritakan di bagian depan yang menyinggung sedikit akan keadaan ketua Beng-kauw pertama itu dengan puterinya, yaitu mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian. Lu Sian mencuri Sam­po-cin-keng (Kitab Tiga Pusaka) yang menjadi pegangan ketua Beng-kauw itu, dan karenanya semua ilmu kesaktian Pat-jiu Sin- ong boleh dibilang telah diwarisi atau dicuri oleh anak perempuannya sendiri yang murtad. Karena inilah maka diam-diam Pat-jiu Sin-ong lalu menciptakan ilmu pukulan mukjijat yang seluruhnya berjumlah tiga belas macam dan secara rahasia ia tulis dan ia sembunyikan di dalam tongkatnya. Tiga belas macam ilmu gaib ini ia ciptakan dengan susah payah selama tiga belas tahun dan merupakan ilmu yang berat dan dalam.

Inilah sebabnya mengapa begitu melatih semedhi menurut petunjuk ilmu ini seketika Lin Lin menjadi pingsan! Baiknya Lin Lin dapat mengenal ilmu sejati, dan dengan tekun mempelajarinya secara diam-diam. Setelah hafal betul dan tahu bagaimana harus bersikap dalam latihan semedhi yang aneh itu, kini ia hanya berlatih semedhi di waktu malam dan sengaja ia menggelapkan kamar dan menutupi mutiara ya-beng-cu agar tidak mengeluarkan sinar.

Baru berlatih tiga malam saja, ia sudah mendapatkan perubahan hebat dalam dirinya. Hawa sakti yang amat aneh dan amat kuat bergolak di dalam dadanya dan berkali-kali ia mau muntah karena tidak dapat menahannya. Akan tetapi berkat petunjuk dari ilmu rahasia itu yang tekun dibacanya, ia dapat mengatur dan menyalurkan hawa sakti itu sehingga berkumpul di pusar.

Kemudian ia mulai mempelajari jurus-jurus rahasia yang tiga belas buah banyaknya. Tidaklah mudah untuk mempelajari ilmu yang diciptakan selama tiga belas tahun ini apa lagi ilmu tingkat tinggi. Baiknya Lin Lin pernah menerima petunjuk dan gemblengan kakek Kim-lun Seng-jin sehingga sedikit banyak ia telah memiliki dasar untuk ilmu silat tingkat tinggi. Biar pun dengan susah payah dan sukar sekali, namun kecerdikannya membuat ia lambat-laun dapat pula memetik buahnya.

Semenjak mendapatkan kertas gulungan pelajaran rahasia yang kalau sudah baca ia simpan kembali ke dalam tongkat, Lin Lin bersikap tenang dan tidak lagi memaki-maki atau nekat mencari jalan pembebasan. Ia maklum bahwa untuk dapat bebas, ia harus dapat mengalahkan Hek-giam-lo dan untuk mencapai hal ini adalah tidak mudah. Tak mungkin ia dapat mengalahkan orang sakti itu walau pun ia sudah mempelajari ilmu mukjijat yang baru dilatihnya beberapa hari lamanya dan masih mentah. Ia ingin memperdalam ilmu ini, kalau perlu ia akan ikut terus sampai ke Khitan dan akan mencari jalan ke luar agar supaya kehendak Kaisar Khitan atau pamannya itu ditangguhkan. Setelah ilmu itu ia fahami benar-benar, nah, baru ia akan melarikan diri menggunakan ilmu baru ini untuk menghadapi dan menghalau penghalang.

— dunia-kangouw.blogs;pot.com —

Suling Emas terus melarikan diri, dikejar oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang mabuk dendam itu. Pendekar sakti ini menjadi serba bingung. Lari terus dari orang-orang yang berkepandaian tinggi ini merupakan hal yang amat sukar, bahkan tidak mungkin karena mereka itu rata-rata memiliki ginkang dan ilmu lari cepat yang mencapai tingkat tinggi. Berhenti dan melawan, boleh jadi ia akan dapat mengatasi mereka dengan mengandalkan ilmu-ilmunya, terutama ilmu kesaktian yang ia terima dari Bu Kek Siansu.

Akan tetapi kalau ia ingin memperoleh kemenangan dalam pertempuran sehingga ia dapat lolos, jalan satu-satunya hanya merobohkan mereka dan justru hal ini yang tidak ia kehendaki. Mereka itu adalah orang-orang yang dibikin sakit hati oleh mendiang ibunya, yang kini menuntut keadilan dan menuntut balas kepadanya. Kalau ia merobohkan mereka, melukai apa lagi membunuh, hal itu benar-benar tidak patut dan berarti ia menambah dosa-dosa yang agaknya sudah ditumpuk oleh ibunya. Berpikir demikian, makin sedih hatinya dan hampir saja ia menyerah, hampir timbul pikiran untuk menebus dosa-dosa ibunya dengan menyerahkan nyawa di tangan mereka!

 

Akhirnya Suling Emas terpaksa berhenti di sebuah lapangan rumput di lereng bukit. Lari terus tiada gunanya lagi, juga hal ini akan membuat ia makin jauh dari kedua orang adiknya yang sudah melarikan diri ke jurusan timur karena ia sendiri lari ke arah barat. Dengan mengangkat sulingnya tinggi-tinggi ia berseru.

“Tahan, aku hendak bicara!”

Dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah tiba di depannya. Sebagian dari pada mereka terengah- engah karena untuk beberapa lama melakukan pengejaran dengan pengerahan ginkang sepenuhnya.

“Kau mau bicara apa lagi, Suling Emas?” bentak tokoh Siauw-lim-pai Cheng San Hwesio sambil melintangkan tongkat hwesio di depan dadanya. “Kau yang terkenal sebagai seorang pendekar muda yang sakti, ternyata hanyalah seorang pengecut yang berlari-lari menyelamatkan diri. Hemmm….”

“Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya, anak tidak akan jauh bedanya dari ibu kandungnya. Ibunya pengecut, melakukan kejahatan lalu bersembunyi puluhan tahun, mana anaknya tidak pengecut pula?” kata Kok Seng Cu, tokoh Hoa-san-pai sambil menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas. Yang lain-lain ikut pula bicara sehingga ramailah di situ, hiruk-pikuk.

Suling Emas melihat betapa gadis baju hijau yang berada di barisan terdepan, yang tidak terengah-engah tanda bahwa ginkang-nya mencapai tingkat tinggi, tidak berkata apa-apa, malah menundukkan muka dan kadang-kadang saja mengerling ke arahnya dengan sikap bingung dan ragu-ragu.

“Cu-wi Locianpwe (Para Orang Tua Sakti) harap jangan terburu nafsu,” kata Suling Emas setelah menarik napas panjang. “Sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu akan urusan Cu-wi (Kalian) dengan mendiang ibuku. Akan tetapi percayalah, andai kata benar ibu telah melakukan kesalahan-kesalahan, aku sebagai puteranya takkan mengingkarinya dan sanggup untuk mempertanggung-jawabkannya. Akan tetapi, ada dua hal yang harus dipecahkan lebih dulu.”

“Apakah dua hal itu? Hayo bicara yang betul, jangan plintat-plintut!” bentak Hek Bin Hosiang, si hwesio muka hitam tokoh Go-bi-pai yang sudah gatal-gatal tangannya hendak mengemplang kepala putera musuh besarnya ini dengan senjatanya. Ia memang jujur dan galak.

“Pertama,” sambung Suling Emas tanpa menghiraukan sikap galak ini. “Cu-wi begini banyak, yang masing- masing hendak membalas dendam yang ditimpakan kepadaku. Ada yang hendak menawan, ada yang hendak membunuh. Mana mungkin hal ini dapat dilakukan? Kedua, biar pun Cu-wi semua mempunyai cerita masing-masing yang menuduhkan kejahatan-kejahatan kepada mendiang ibuku, bagaimana aku dapat merasa yakin bahwa semua tuduhan itu benar belaka? Bagaimana kalau tuduhan itu hanya fitnah dan tidak benar adanya?”

“Fitnah? Jelas Tok-siauw-kwi adalah iblis betina yang jahat, musuh semua orang gagah di dunia kang-ouw. Kau putera tunggalnya, kau harus menebus dosanya setelah ia mampus, dan kita semua akan saling memperebutkan engkau, baik mati mau pun hidup!” bentak Hek Bin Hosiang sambil menghantam dengan toya baja di tangannya.

Hantaman toya baja ini luar biasa kerasnya karena selain toya baja itu sendiri beratnya lebih dari seratus kati, juga tenaga hwe­sio muka hitam tokoh Go-bi-pai ini melebihi gajah! Terdengar angin bersiutan ketika toya itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar hitam menyambar kepala Suling Emas!

“Syuuuuur!” pita rambut yang panjang berwarna hitam itu berkibaran ketika toya baja menyambar lewat di atas kepala Suling Emas yang sudah merendahkan tubuh mengelak.

Namun toya itu membuat gerakan membelok dan meliuk panjang, lalu datang lagi menyambar dengan lebih kuat lagi. Kini yang diterjang adalah punggung Suling Emas. Pendekar sakti ini cepat menotolkan ujung kaki ke tanah dan tubuhnya mencelat mumbul ke atas, membiarkan toya itu menyambar lewat di bawah kakinya. Sebelum tubuhnya turun, Suling Emas sudah menggerakkan sulingnya ke belakang dan kipasnya ia kebutkan ke kiri karena pada saat itu ia telah diserang dari dua pihak oleh lawan yang lain!

Terdengar bunyi nyaring ketika pedang di tangan Kok Seng Cu tokoh Hoa­san-pai itu tertangkis suling. Kok Seng Cu melompat ke belakang dengan kaget dan kagum. Ia seorang tokoh Hoa-san-pai tingkat dua, lweekang-nya sudah mencapai tingkat tinggi, akan tetapi benturan pedangnya dengan suling itu membuat telapak tangannya panas.

 

Lebih kaget lagi adalah Cheng San Hwesio tokoh Siauw-lim-pai, karena tongkat hwesionya yang ia pukulkan ke arah kepala tiba-tiba menyeleweng ketika dikebut oleh kipas di tangan Suling Emas. Tentu saja hwesio tua ini menjadi penasaran dan juga kaget sekali. Tenaga pukulannya dengan tongkat itu mendekati tiga ratus kati, bagaimana dapat dikebut begitu saja oleh sebuah kipas dan menjadi meleset?

Suling Emas menarik napas panjang, mengumpulkan sinkang dan menggetarkan sulingnya sambil mengebut-ngebutkan kipasnya karena pada saat itu hujan senjata menyerangnya dari segenap penjuru. Terdengar bunyi nyaring dan semua senjata itu dapat ia pentalkan mundur oleh getaran sulingnya, sedangkan yang lain dapat dikebut menceng oleh kipasnya.

Ia kembali mengeluh dalam hatinya. Sedih ia melihat sikap orang-orang kang-ouw yang amat membencinya ini, yang ingin melihat ia roboh, melihat ia mati, memperlakukannya seolah-olah ia seorang penjahat besar yang keji dan patut di­basmi! Mengingat akan hal ini, melihat sinar kebencian berpancaran dari mata mereka, Suling Emas tak dapat menahan kesedihannya, tak dapat lagi ia mengangkat senjata melawan mereka dan setelah memutar sulingnya dengan gerakan memanjang sehingga sinar senjata ampuh ini berubah menjadi pelangi memanjang yang membuat para pengeroyoknya berlompatan mundur, Suling Emas lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri lagi!

“Pengecut, jangan lari! Begitu sajakah nama besar Suling Emas? Kini merasa takut dan lari terbirit-birit?” seru Kok Seng Cu tokoh Hoa-san-pai sambil mengejar, nada suaranya penuh ejekan.

“Ho-ho-ho! Putera tunggal Tok-siauw-kui yang jahat dan keji mana bisa menjadi orang gagah? Tentu licik, curang dan pengecut!” It-gan Kai-ong tertawa sambil mengejar paling depan.

“It-gan Kai-ong! Kalau kau menghendaki bertempur, hayo kita mencari tempat. Jangan kira aku takut padamu, memang aku masih ada perhitungan denganmu yang belum diselesaikan.”

“Ha-ha-ho-ho! Kau menantang sambil berlari! Bilang saja kau takut!”

Memang Suling Emas terus melarikan diri, dikejar oleh banyak orang. Ejekan It-gan Kai-ong memanaskan perutnya, akan tetapi ia cukup maklum bahwa ejekan yang dikeluarkan oleh pengemis tua mata satu itu sekali-kali bukanlah merupakan tantangan si pengemis sakti, melainkan merupakan akal bulus untuk mencegahnya melarikan diri dan memaksanya menghadapi pengeroyokan begitu banyak tokoh kang-ouw.

“Jembel busuk, aku sama sekali tidak takut menghadapi pengeroyokan, aku hanya tidak mau melayani mereka!”

“Ha-ha-ho-ho, akal bulus!” It-gan Kai-ong tertawa, akan tetapi biar pun hatinya mendongkol, Suling Emas melanjutkan larinya. Para pengejarnya juga mengerahkan ginkang dan mulai menghujankan senjata rahasia lagi, didahului oleh It-gan Kai-ong. Suling Emas berhasil menyelamatkan diri dengan memutar suling di belakang tubuhnya dan berloncatan ke depan secara berbelok-belok ke kanan kiri.

Mendadak pendekar sakti itu berseru kaget dan terpaksa menghentikan larinya. Daerah ini belum dikenalnya dan ia sama sekali tidak mengira bahwa tadi ia melarikan diri ke jurusan yang buntu! Kini di depannya terbentang jurang yang amat dalam dan luas, lebarnya lebih dari seratus meter dan dalamnya tak dapat diukur lagi. Ia telah masuk perangkap, di depannya menghalang jurang yang tak mungkin dapat dilampaui, di belakangnya mengejar puluhan orang yang merupakan lawan-lawan berat dan terutama sekali, merupakan lawan yang tak ingin ia hadapi, bukan karena takut melainkan karena enggan.

“Ha-ha-ha, sekarang tamatlah riwayat­mu, Suling Emas!” It-gan Kai-ong melompat maju dan menerjang dengan pukulan dahsyat.

Karena di antara para tokoh kang-ouw itu boleh dibilang It-gan Kai-ong merupakan orang yang tingkat kepandaiannya paling tinggi, maka jembel iblis ini dapat menyerang lebih dulu dari pada orang lain. Serangannya dahsyat sekali, kedua tangannya melontarkan pukulan dengan hawa pukulan jarak jauh sedangkan tangan kanannya menghantamkan tongkatnya ke arah kepala. Sukar untuk dikatakan mana yang lebih berbahaya, karena sesungguhnya pukulan tangan kiri itu, biar pun jaraknya jauh dan tidak akan langsung mengenai kulit lawan, namun bahayanya tidak kalah oleh kemplangan tongkat pada kepala.

Namun Suling Emas cepat menangkis tongkat dengan sulingnya dan mengebut hawa pukulan beracun tangan kiri lawan itu dengan kipasnya, malah kakinya digeser ke depan, kemudian kipas yang tadinya menghembus hawa pukulan lawan terus menyelonong ke depan dan digetarkan sedemikian rupa sehingga

 

kedua ujungnya berturut-turut menotok jalan darah kin-teng-hiat di pundak kiri dan tiong-cu-hiat di leher!

It-gan Kai-ong terkejut sekali. Hampir saja totokan pada pundak itu mengenai sasaran. Ia cepat miringkan tubuh dan totokan kedua ke arah lehernya itu ia papaki dengan air ludah! Sudah terkenal di dunia persilatan bahwa It-gan Kai-ong memiliki ilmu kepandaian meludah yang amat mengerikan. Tubuh yang terkena air ludah yang keluar dari mulutnya akan bolong-bolong dan sekali saja terkena air ludahnya, lawan yang kurang kuat akan tewas! Tentu saja penggunaan air ludah ini cukup kuat untuk menangkis kipas yang menotok leher.

Di lain pihak, Suling Emas tidak sudi membiarkan kipasnya terkena ludah kakek menjijikkan itu, maka terpaksa ia menarik sedikit kipasnya dan mengerahkan tenaganya mengebut. Air ludah itu terkena kebutan kipas membalik dan menyambar muka It-gan Kai-ong sendiri! Akan tetapi kakek ini membuka mulutnya dan menerima kembali air ludahnya dengan mulut.

“Kawan-kawan, hayo tangkap putera iblis keji Tok-siauw-kui ini sebelum ia sempat melarikan diri!” teriak It- gan Kai-ong yang diam-diam merasa gentar juga menghadapi pendekar yang lihai itu.

Memang para tokoh kang-ouw itu sudah tiba pula di situ dan sudah siap menerjang, maka tanpa menanti komando kedua lagi mereka beramai-ramai terjun ke gelanggang pertempuran dan sibuklah Suling Emas menggerakkan sepasang senjatanya untuk menangkis ke sana ke mari. Tentu saja ia banyak melihat lowongan-lowongan yang kalau mau dapat dimasukinya dan merobohkan beberapa orang pengeroyok.

Akan tetapi justru hal ini yang tidak ia kehendaki, maka ia menjadi terdesak hebat dan tidak melihat jalan ke luar lagi. Jalan keluar ke arah kebebasan hanya melalui jalan darah, yaitu dengan merobohkan beberapa orang pengeroyok. Bingunglah hati Suling Emas. Tanpa merobohkan beberapa orang di antara mereka tak mungkin ia bisa lolos kali ini.

Hanya kepada It-gan Kai-ong seorang ia mau balas menyerang karena ia maklum akan kejahatan kakek itu, sedangkan yang lain adalah tokoh-tokoh yang ia dengar namanya sebagai tokoh-tokoh terhormat yang bernama baik. Akan tetapi balasan serangannya kepada It-gan Kai-ong tidak ada artinya lagi karena ia hanya dapat mempergunakan sepersepuluh bagian saja dari pada perhatiannya yang harus ia pergunakan untuk menangkis dan menghindar dari pada serbuan lawan.

Dalam kesibukannya mempertahankan dirinya ini, teringatlah Suling Emas akan segala pengalamannya. Mulai menyesallah hatinya mengapa semenjak dahulu ia membenci ayah kandungnya yang ia sangka menyia-nyiakan ibunya dan kawin lagi. Mengapa selama itu, sampai ayahnya mati, tak pernah ia pulang, tak pernah ia berbakti kepada ayahnya yang ternyata adalah seorang satria sejati. Sedangkan ibunya… ah, kini ia harus menebus dosa-dosa ibunya dan dosanya sendiri yang tidak berbakti kepada ayah kandung!

Hatinya menjadi sedih, perlawanannya mengendur karena semangatnya menurun. Kesedihan hatinya mendorongnya untuk meloncat saja ke dalam jurang di belakangnya, meninggalkan para pengeroyoknya, meninggaikan dunia ini, meninggalkan mereka yang dicintanya. Siapakah orang yang dicintanya di dunia ini? Ada memang, akan tetapi hanya lamunan kosong belaka. Orang yang dicintanya sudah menjadi isteri orang lain!

Akan tetapi jiwa satria di dalam dirinya melarangnya membunuh diri begitu saja. Seorang gagah tidak boleh mati secara konyol, sedikitnya jauh lebih baik mati di ujung senjata lawan dari pada mati menceburkan diri ke dalam jurang begitu saja! Oleh karena ini, semangatnya timbul kembali dan Suling Emas tiba-tiba ingat akan ilmu yang ia dapat dari Bu Kek Siansu. Ilmunya yang sakti, Hong-in-bun-hoat jika ia pergunakan, maka akan berubah menjadi ilmu pedang yang dimainkan dengan senjata sulingnya, dan ia tidak mau menggunakan ilmu ini karena akibatnya tentu akan merobohkan para pengeroyoknya.

Ia teringat akan Ilmu Kim-kong-sin-im (Suara Sakti Sinar Emas) yang lebih menyerupai ilmu musik! Karena sudah tidak ada jalan lain, Suling Emas meloncat jauh ke kiri lalu menyimpan kipasnya dan menempelkan suling pada bibirnya. Terdengarlah suara yang aneh, mengalun tinggi. Para pengeroyoknya sejenak terhenyak kaget dan kesempatan ini dipergunakan oleh Suling Emas untuk duduk bersila, mengerahkan seluruh sinkang-nya dan menutup sulingnya, menyanyikan lagu yang indah dan aneh! Karena menghadapi orang-­orang kang-ouw yang memiliki nama besar sebagai orang-orang gagah perkasa, secara otomatis Suling Emas yang menjadi ahli dalam soal kesusastraan dan nyanyian kuno, segera mainkan lagu MENGABDI TANAH AIR yang bersifat menggugah semangat kebangsaan dan kepatriotan.

Memang nyanyian itu hanyalah sebuah lagu, akan tetapi jangan dikira bahwa suara suling yang nyaring

 

merdu itu adalah suara biasa saja. Suara itu mengandung suara sakti yang disalurkan dengan sinkang sepenuhnya. Mula-mula para pengeroyok itu berdiri melongo dan sejenak menahan gerakan, akan tetapi beberapa detik kemudian, beberapa orang di antara mereka yang kurang kuat sinkang-nya terguling dengan tubuh lemas dan gemetaran. Suara itu mempunyai pengaruh yang luar biasa besarnya, membuat mereka merasa terharu, malu kepada diri sendiri, dan menghapus semangat mereka untuk bertanding melawan bangsa sendiri, malah sekaligus melumpuhkan kaki tangan mereka.

Akan tetapi orang-orang seperti It-­gan Kai-ong, Hek Bin Hosiang, Cheng San Hwesio dan lain-lain yang cukup kuat sinkang-nya, tentu saja tidak gampang menjadi roboh. Betapa pun juga, mereka terpengaruh dan terpaksa mereka harus mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh suara aneh yang mendebarkan jantung mereka itu.

Ada sembilan orang tokoh kang-ouw yang tidak roboh oleh suara suling itu. Yang lain, ada yang roboh terguling dengan lemas, ada yang terpaksa harus bersila dan mengumpulkan tenaga untuk melawan arus hawa sakti yang mempengaruhi mereka, akan tetapi tak seorang pun yang terluka di sebelah dalam oleh suara ini karena memang Suling Emas tidak bermaksud melukai mereka. Hebat memang ilmu ini, dan kiranya di dalam dunia pada masa itu, jarang ada yang memiliki ilmu sehebat ini.

Dahulu ketika masih hidup, Pat-jiu Sin-ong sendiri belum tentu dapat mengeluarkan suara yang merobohkan puluhan orang sekaligus, dan membuat seorang tokoh seperti It­gan Kai-ong sampai harus mengerahkan tenaga dan tidak bergerak selama sepuluh menit! Inilah kehebatan Kim-kong-sin-im yang didapatkan Suling Emas dari kakek dewa Bu Kek Siansu. Padahal ilmu ini belum lama ia dapat dan belum matang betul ia latih.

Setelah berdiam diri tak bergerak selama sepuluh menit, mengumpulkan sinkang untuk melawan pengaruh suara suling yang merampas semangat dan melumpuhkan urat syaraf, perlahan-lahan It-gan Kai-ong dan delapan orang tokoh lain mulai menggerakkan kaki. Selangkah demi selangkah mereka maju, senjata siap di tangan, makin mendekati Suling Emas yang masih terus meniup suling, mencurahkan perhatiannya kepada permainan sulingnya sehingga boleh dibilang ia tidak mengetahui bahwa ada sembilan orang yang tidak terpengaruh oleh Kim-kong-sin-im dan yang kini makin mendekatinya dengan ancaman maut.

Makin dekat dengan Suling Emas, pengaruh Kim-kong-sin-im makin kuat sehingga sembilan orang tokoh itu menjadi tertahan-tahan langkahnya, bahkan tiga orang di antara mereka terpaksa berhenti melangkah setelah berada dekat, tinggal enam langkah lagi dari tempat Suling Emas duduk. Pengaruh Kim-kong-sin- im demikian hebatnya sehingga tiga orang ini merasa tubuh mereka bergoyang dan kedua kaki demikian lemas dan berat tak dapat digerakkan lagi. Terpaksa mereka tinggal berdiri dan mengerahkan sinkang agar tidak terguling roboh.

Enam orang lain, didahului oleh It-gan Kai-ong, masih dapat melangkah maju sungguh pun hanya dengan lambat dan sukar. Akan tetapi, jangankan sampai ada enam orang, baru It-gan Kai-ong seorang saja kalau pada saat itu dapat menyerang Suling Emas, tentu akan berhasil menewaskan pendekar ini karena pada saat itu Suling Emas seakan-akan berada dalam keadaan terbuka, tak terjaga sama sekali.

Enam orang itu tidak melangkah lagi kini, hanya dapat menggeser kaki maju. Sedikit demi sedikit It-gan Kai-ong dengan mata bersinar-sinar maju paling dulu, tongkatnya sudah ia angkat ke atas, siap untuk menghantam kepala musuh lamanya itu. Hatinya sudah merasa girang sekali karena ia akan merasa aman kalau musuh yang paling berat ini tewas. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi, mengikuti suara suling dan suara ini amatlah lembut akan tetapi kedengaran bersemangat sekali. “Wi-bin- wi-kok, hiap-ci-tai-cia (Bekerja untuk rakyat dan negara, itulah paling mulia)!”

It-gan Kai-ong yang sudah mengangkat tongkatnya terkejut sekali. Apa lagi setelah tiba-tiba terdengar suara yang­khim yang nyaring mengiring lagu yang dimainkan oleh Suling Emas, terjadilah hal yang luar biasa. Enam orang itu serta-merta menjatuhkan diri dan duduk bersila, meramkan mata dan mengendalikan semangat mereka yang terbawa melayang-layang oleh lagu yang diciptakan oleh suara suling dan yang-khim. Tak mampu lagi mereka bergerak, apa lagi menyerang, lenyap sama sekali nafsu bertempur.

Juga semua orang yang tadinya berada di bawah pengaruh suara suling, kini dapat menarik napas lega karena gabungan suara suling dan yang-khim ini, biar pun membuat mereka terpesona dan tak dapat bergerak, namun amat enak dan menyenangkan hati dan pikiran, membuat mereka merasa seperti melayang-layang di angkasa dan menciptakan pandangan tentang pahlawan-pahlawan pembela tanah air. Mereka seakan-akan mimpi tentang dongeng akan pahlawan-pahlawan yang paling mereka kagumi!

 

Perlahan-lahan gabungan suara musik itu lenyap. Keadaan menjadi sunyi kembali sungguh pun gema suara ajaib tadi masih terngiang di dalam telinga. Semua orang membuka mata dan meloncat berdiri, seakan-akan baru bangun dari pada tidur nyenyak. Kiranya di dekat Suling Emas yang masih duduk bersila di atas tanah terdapat seorang kakek tua renta yang juga duduk bersila. Seorang kakek yang berpakaian sederhana, berambut panjang sudah putih semua, juga kumis dan jenggotnya sudah putih. Akan tetapi di balik kesederhanaannya ini terpancar cahaya keagungan yang amat berwibawa. Pada punggungnya tersembul ke luar sebuah alat musik yang-khim. Wajahnya yang cerah itu membayangkan keramahan, kesabaran dan pengertian yang mendalam dan luas, yang memaksa orang memperoleh kesan baik dan menghormatnya.

Akan tetapi begitu It-gan Kai-ong mengenal kakek itu, ia berjingkrak marah dan berkata kasar, “Bu Kek Siansu! Kau berat sebelah! Percuma saja kau disebut-sebut manusia dewa yang selalu melepas budi kebaikan kepada siapa pun juga tanpa memilih bulu dan dianggap tokoh yang tak sudi lagi terikat oleh segala urusan duniawi. Akan tetapi apa buktinya sekarang? Kau membantu Suling Emas menghadapi kami semua dengan ilmu sihirmu!”

Semua tokoh yang hadir di situ terkejut bukan main mendengar disebutnya nama Bu Kek Siansu. Nama ini menjadi pujaan semua tokoh kang-ouw, bahkan setiap tahun sekali semua tokoh kang-ouw mengharapkan bertemu dengan kakek manusia dewa ini karena konon kabarnya setiap tahun apa bila bertemu dengan orang, kakek ini berkenan memberikan satu dua macam ilmu kesaktian yang jarang tandingannya di dunia ini. Sekarang secara tiba-tiba kakek itu muncul dan mendengar tuduhan It-gan Kai-ong, semua orang kini memandang kakek itu untuk mendengar jawabannya.

Kakek itu tersenyum ramah, menarik napas panjang, lalu bangkit berdiri dengan gerakan perlahan. Suling Emas juga bangkit berdiri dan tanpa mengeluarkan kata-kata ia berdiri di sebelah kiri kakek itu sambil menundukkan muka dan dengan sikap menghormat.

“It-gan Kai-ong, bersabarlah dan hembuskan semua hawa nafsu yang meracuni hatimu,” kata Bu Kek Siansu, suaranya tetap sabar dan tenang serta ramah. “Aku tidak pilih kasih, tidak pula melepas budi kepada siapa pun juga dan tidak mengikat diri dengan dunia. Aku tidak membantu Suling Emas, melainkan mencegah pembunuhan orang yang tidak berdosa. It-gan Kai-ong, andai kata kau orangnya yang kena fitnah seperti Suling Emas dan akan dibunuh kemudian kebetulan aku lewat dan melihatnya, sudah tentu aku pun akan berusaha mencegah pembunuhan itu.”

“Uuhhh, pemutaran lidah! Tua bangka yang pura-pura suci!” It-gan Kai-ong memaki-maki, akan tetapi yang dimaki malah tersenyum-senyum sehingga akhirnya kakek pengemis itu menjadi jengah sendiri dan menghentikan makiannya, menoleh kepada orang banyak dan berkata, “Kawan-kawan sekalian mendengar omongannya yang busuk itu. Sudah terang Suling Emas putera tunggal Tok-siauw-kui yang telah berbuat banyak kejahatan, sudah jelas Suling Emas yang harus menebus dosa ibu kandungnya. Kakek sinting ini bilang Suling Emas kena fitnah dan tidak berdosa. He, Bu Kek Siansu, tua bangka keparat, apakah kau berani bilang bahwa ibu Suling Emas, si wanita jalang Tok-siauw-kui itu pun tidak berdosa?”

“It-gan Kai-ong, tutup mulutmu yang busuk dan kalau memang kau mencari lawan, boleh lawan aku sampai seribu jurus. Kau mengandalkan kesabaran Siansu lalu melontarkan makian dan hinaan, hemmm, sungguh tak tahu malu!” Suling Emas tiba-tiba berseru marah kepadanya.

“Ho-ho-ha-ha! Kawan-kawan lihatlah baik-baik, tadi dia tunggang-langgang melarikan diri, sekarang setelah ada pembelanya menjadi galak dan sombong! Suling Emas, kau boleh menunggu giliran, sekarang kami berurusan dengan kakek tua bangka mau mampus ini. He, Bu Kek Siansu, kau jawablah!”

Sukarlah mencari orang yang sudah sedemikian teguh jiwanya seperti Bu Kek Siansu. Dimaki dan dihina seperti ini, sama sekali tidak marah, bahkan sedikit pun ia tidak berpura-pura sabar. Di bagian depan dari cerita ini sudah dituturkan betapa ia dicurangi oleh Hek-giam-lo, It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni, yang tidak saja berusaha membunuhnya, akan tetapi juga merampas kitab dan yang-khim, namun sama sekali kakek dewa ini tidak menaruh dendam atau marah. Kini pun, dimaki oleh jembel iblis itu, ia hanya tersenyum, wajahnya tetap cerah, pandang matanya tetap penuh kasih.

“It-gan Kai-ong, aku tidak mau bilang bahwa selama hidupnya, Tok-siauw-kui Liu Lu Sian tak pernah berbuat dosa. Akan tetapi, agaknya lebih baik sering kali kena fitnah dari pada sungguh-sungguh berdosa. Tentu saja aku tidak tahu akan semua urusannya, akan tetapi ada beberapa urusan yang kuketahui benar.

 

Sebagian besar dari pada kalian yang kini menumpahkan dendam kepada Suling Emas, ternyata telah melontarkan fitnah yang tidak disengaja karena mungkin tidak tahu, akan tetapi aku banyak mengetahui urusannya dan sama sekali tidak boleh terlalu disalahkan kepada Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, apa lagi pada puteranya ini.”

Ucapan kakek ini bukan hal aneh karena memang semua orang sudah mendengar belaka akan sepak terjang yang aneh dan luar biasa dari kakek Bu Kek Siansu. Kalau kakek ini mengetahui akan semua urusan di dunia kang-ouw, hal itu tidaklah mengherankan. Semenjak puluhan tahun yang lalu, nama Bu Kek Siansu terkenal mengatasi semua nama-nama besar seperti nama Pat-jiu Sin-ong tokoh Beng-kauw, atau pun Kim-mo Taisu si Manusia Emas yang menggemparkan kolong langit (baca cerita Suling Emas).

Kali ini orang tidak menjadi heran kalau kakek sakti itu tahu pula akan urusan Tok-siauw-kui. Akan tetapi pernyataan Bu Kek Siansu bahwa Tok-siauw-kui tidak berdosa, benar-benar mendatangkan rasa penasaran di hati banyak tokoh yang mendendam kepada wanita itu dan yang kini hendak menumpahkan dendamnya kepada putera Tok-siauw-kui. Karena merasa penasaran, Cheng San Hwesio segera melangkah maju, menjura kepada Bu Kek Siansu dan berkata lantang.

“Omitohud! Benar-benar pinceng (aku) yang sudah tua dan tak lama lagi berada di dunia mendapat berkah besar dengan perjumpaan ini! Telah puluhan tahun mendengar nama besar yang mulia dari Bu Kek Siansu dan pinceng hendak menggunakan kesempatan baik ini untuk mohon petunjuk. Siansu yang dimuliakan, dua puluh tahun lebih yang lalu, seorang janda muda telah membunuh tiga orang suheng-ku dari Siauw- lim-pai, kemudian menculik seorang sute-ku yang kemudian lenyap tak tentu rimbanya. Janda muda yang cantik dan berwatak iblis itu bukan lain adalah Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, puteri dari ketua Beng-kauw. Mohon petunjuk Siansu, apakah dalam urusannya dengan pihak Siauw-lim-pai ini Tok-siauw­kui Liu Lu Sian tidak bersalah?”

Si kakek tua renta mengangguk-angguk, “Saudara-saudara sekalian. Kebetulan sekali Tok-siauw-kui pernah menceritakan semua dosa-dosanya kepadaku dan minta petunjuk pula, oleh karena itu aku banyak tahu akan urusannya.” Ia menarik napas panjang dan mengingat-ingat wanita yang menjadi biang keladi semua keributan ini. “Dan urusannya dengan Siauw-lim-pai juga telah kuketahui. Hwesio yang baik, kalian dari Siauw-lim-pai memang selamanya jujur, keras dan berdisiplin. Kematian tiga orang suheng-mu dalam pertandingan melawan Tok-siauw-kui adalah karena tiga orang suheng-mu kalah pandai. Ada pun yang menjadi sebabnya adalah sute-mu yang sama sekali bukan diculik oleh Tok-siauw-kui, melainkan karena tergila-gila dan memang mengadakan perhubungan gelap dengan Liu Lu Sian sehingga hal itu membuat tiga orang suheng-mu marah-marah dan hendak membunuh sute-mu. Tok-siauw-kui membela kekasihnya dan tiga orang suheng-mu tewas dalam pertempuran. Nah, Cheng San Hwesio, biar pun dalam hal ini Tok­siauw-kui boleh jadi mempunyai kesalahan karena berjinah dengan sute-mu, namun pihak Siauw-lim- pai juga mempunyai kesalahan, yaitu apa yang dilakukan oleh sute-mu. Kiranya tidak patut kalau hendak menimpakan kesalahan ini kepada putera Tok-siauw-kui yang tidak tahu apa-apa dalam urusan itu. Apa lagi kalau diingat bahwa kalian dari Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang menjadi murid Buddha. Ke manakah pelajaran welas asih dan cinta kasih yang menjadi pokok pelajaran agamamu? Cheng San Hwesio, harap kau jangan lupa bahwa BALAS DENDAM adalah buah dari pada BENCI yang menjadi senjata setan untuk menyeret manusia ke lembah kesesatan. Sebaliknya RELA MAAF adalah buah dari pada CINTA KASIH yang akan menjadi obor bagi manusia menuju jalan kebajikan.”

“Omitohud… kata-kata mutiara Siansu bagaikan air sungai gunung yang dingin menyegarkan orang kehausan. Terima kasih, Siansu. Suling Emas, urusan ibu kandungmu sudah selesai oleh kematian Tok- siauw-kui, mulai sekarang Siauw-lim-pai takkan mempersoalkannya lagi. Pinceng sudah bicara!” Hwesio ini memberi hormat kepada Bu Kek Siansu, lalu berlari dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu.

“Omitohud… Bu Kek Siansu telah memuaskan hati Cheng San Hwesio. Siansu yang bijaksana, pinceng harap kau akan dapat memberi penerangan pula kepada pinceng! Dua puluh tahun lebih yang lalu, Tok- siauw-kui mencuri kitab pusaka dari Go-bi-pai. Sekarang Tok-siauw-kui sudah meninggal dunia dan kitab itu masih lenyap dari Go-bi-pai. Kalau sekarang pinceng menuntut kepada putera tunggalnya agar kitab itu dikembalikan, bukankah hal ini sudah adil dan patut?”

“Hwesio yang baik dari Go-bi-pai, sudah sewajarnya yang kehilangan mencari yang mencuri dan mengembalikan. Akan tetapi Tok-siauw-kui sudah meninggal dunia dan sudah sewajibnya kalau kitab itu ditinggalkan kepada Suling Emas, ia harus mengembalikannya kepadamu. Kim-siauw-eng (Suling Emas) apakah kau mendapat peninggalkan sesuatu dari ibumu termasuk kitab Go-bi-pai itu?”

Suling Emas menggeleng kepalanya. “Teecu (murid) tidak menerima peninggalan sesuatu dan tak pernah mendengar tentang kitab pusaka Go-bi-pai.”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo