August 9, 2017

Cinta Bernoda Darah (Part 1)

 

 

Puncak Gunung Thai-san yang menjulang tinggi di angkasa tertutup awan putih tebal yang bergumpal- gumpal mengelilingi puncak. Hampir selalu puncak Thai-san tertutup awan, kecuali pada musim panas, sekali waktu ada kalanya puncak Thai-san yang meruncing itu tampak dari bawah. Keadaan inilah yang menimbulkan dongeng di kalangan penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, bahwa puncak Thai-san merupakan anak tangga menuju ke sorga! Dan bahwa hanya para dewa dan manusia setengah dewa saja yang dapat mendatangi puncak Thai-san.

 

Dongeng atau kepercayaan tentang hal kedua ini tidaklah terlalu berlebihan kalau diingat bahwa penduduk pegunungan amatlah tebal kepercayaannya akan para dewa yang menguasai seluruh permukaan bumi. Harus diingat pula akan keadaan puncak itu sendiri. Terlalu tinggi, terlalu sukar jalan mendaki puncak, terlalu dingin sehingga manusia biasa tak mungkin akan dapat mendaki puncak. Terlalu banyak bahayanya. Binatang buas, jalan yang amat licin, jurang-jurang yang curam, daerah-daerah yang mengeluarkan gas, dan hawa dingin yang membekukan darah dalam badan.

 

Memang tak mungkin bagi manusia-manusia biasa, namun mungkin saja bagi manusia-manusia luar biasa, yaitu manusia-manusia yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki tubuh terlatih, yang kuat menghadapi semua tekanan, kuat pula mengatasi semua rintangan. Betapa pun juga, puncak Thai-san tetap jarang sekali dikunjungi orang pandai, karena selain perjalanan itu amat berbahaya, juga tanpa keperluan yang amat penting, apakah yang dicari di tempat sunyi itu?

 

Pagi hari itu amat cerah. Awan putih yang berkelompok di sekitar puncak tampak berkilauan seperti perak digosok, matahari membobol benteng halimun lembab, mencairkan segala kebekuan dan menghias ujung- ujung daun dengan mutiara-mutiara air embun berkilauan seperti hiasan anting-anting pada telinga dara jelita. Burung-burung berkicau menyambut hari yang amat indah itu, dan segala yang berada di permukaan bumi seakan bergembira ria. Apakah gerangan yang menyebabkan suasana gembira dan indah ini?

 

Tidak mengherankan. Musim semi tiba, pagi hari itu adalah permulaan dari tahun yang baru. Musim yang tepat sekali untuk memulai segala sesuatu dengan awalan-awalan yang sama sekali baru! Buang yang lama-lama dan yang buruk-buruk, mulai dengan yang baru-baru dan yang indah-indah. Setidaknya, demikianlah harapan dan renungan setiap insan pada setiap tahun baru.

 

Semenjak pagi hari para penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung sudah sibuk berpesta, bergembira ria merayakan hari tahun baru. Pakaian-pakaian simpanan dikeluarkan dari peti pakaian, ‘setahun sekali’ menghias tubuh, yang muda menghormat yang tua, yang muda minta maaf, yang tua memaafkan. Saling memaafkan, gembira tertawa, hilang dengki, lenyap benci. Alangkah indahnya dunia, alangkah nikmatnya hidup.

 

Serombongan orang bergerak cepat mendaki puncak Thai-san, amat cepat gerak-geriknya, amat ringan langkah kakinya. Kalau saja para penduduk tidak sedang bersuka ria dan sempat menyaksikan gerak-gerik lima orang yang bagaikan serombongan kera besar melompat ke sana ke mari, menyelinap di antara batu- batu besar dan pohon-pohon mendaki puncak, tentu akan makin tebal kepercayaan mereka bahwa inilah serombongan dewa atau manusia setengah dewa yang mendaki puncak itu untuk bertahun baru di sana!

 

Rombongan itu adalah para tosu dari Kun-lun-pai, termasuk tokoh-tokoh tingkat dua dan tiga di Kun-lun- pai, maka tidaklah mengherankan apa bila mereka berlima sepandai itu mendaki puncak Thai-san. Tiba- tiba pemimpin rombongan, Ang Kun Tojin mengangkat tangan memberi isyarat dan seketika lima orang itu berhenti, diam tak bergerak seperti patung-patung dewa penghias gunung. Mereka semua telah  mendengar suara yang halus itu.

 

Suara nyanyian yang halus seperti bisikan angin lalu, bercampur dan menyelinap di antara desir angin mempermainkan daun dan dendang anak sungai di dasar jurang. Namun kata-kata­nya jelas dapat tertangkap pendengaran telinga-telinga yang terlatih itu.

 

Segala sesuatu yang menimpa diri pribadi adalah akibat dari pada pikiran sendiri.

 

 

 

Pikiran kotor yang mendorong ucapan dan perbuatan selalu dlikuti sakit dan penderitaan seperti roda kereta mengikuti jejak sapi penariknya.

Pikiran bersih yang mendorong ucapan dan perbuatan selalu diikuti kepuasan dan kebahagiaan seperti bayangan yang tak pernah berpisah dari padanya.

 

Ang Tojin melambaikan tangan dan lima orang tosu itu melanjutkan perjalanan mereka. Di wajah-wajah tua itu timbul semangat baru, timbul harapan dan kegembiraan.

 

“Twa-suheng (Kakak Seperguruan Pertama), apakah itu suara beliau…?” tanya tosu termuda, usianya belum lima puluh tahun, bertahi lalat di ujung hidung.

 

“…ssssttttt…!” Ang Kun Tojin menyuruh adik seperguruan termuda itu diam.

 

Mereka melanjutkan pendakian dan tak seorang pun berani bertanya lagi. Sambil mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang khas Kun-lun-pai, yaitu ilmu lari cepat Teng-peng-touw-sui (Injak Rumput Seperti Air). Langkah kaki mereka dalam berlarian itu pendek-pendek namun cepat dan ginkang mereka begitu hebat sehingga seakan-akan rumput yang terinjak kaki mereka tak sempat rebah saking cepatnya kaki yang bergerak! Sementara itu suara nyanyian terdengar terus, halus lembut menusuk anak telinga.

 

Dia menyiksaku, dia memukulku, dia mengalahkan aku, dia merampokku! Pikiran seperti ini menimbulkan benci tiada habisnya.

Memang pikiran ini berarti melenyapkan kebencian, karena benci takkan hapus oleh benci pula, melainkan musnah oleh kasih!

 

Ang Kun Tojin mengerutkan keningnya. Dia adalah seorang tosu (Pendeta Agama To) yang dalam pengetahuannya tentang Agama To, juga sebagai orang kedua dari Kun-lun-pai dan seorang yang tekun mempelajari filsafat agama, ia mengenal kata-kata dalam nyanyian itu. Itulah pelajaran dari Agama Buddha, merupakan bait-bait pertama dari pada pelajaran dalam kitab Dhammapada. Ia  pernah mendengar bahwa ‘beliau’ adalah seorang yang menganut Agama To, mengapa sekarang menyanyikan pelajaran berupa syair Agama Buddha? Apakah bukan beliau yang bernyanyi itu? Seorang hwesio (pendeta Buddha) yang berada di puncak? Mudah-mudahan begitu karena bagi Ang Kun Tojin, jauh lebih baik dan menimbulkan harapan apa bila beliau itu seorang yang beragama To.

 

Di pertengahan puncak mereka berhenti lagi. Dengan penuh kekaguman mereka memandang ke bawah. Awan putih berombak-ombak seperti lautan susu di bawah kaki mereka. Puncak-puncak gunung lain tersembul ke luar seperti pulau-pulau runcing atau seperti gunung-gunung kecil. Indah bukan main, mendatangkan rasa seakan-akan mereka telah berada di kahyangan, tempat tinggal para dewa dan makhluk halus, bukan tempat manusia, menimbulkan kepercayaan bahwa mereka makin dekat dengan Tuhan. Memang, siapa dapat merasakan ketenangan dan ketenteraman, selalu akan merasa dekat  dengan Tuhan!

 

Perjalanan dilanjutkan mendaki puncak. Tidak sesukar tadi, bahkan bumi yang mereka injak ditilami rumput-rumput hijau segar sehalus beludru. Akan tetapi setiba mereka di puncak yang dikelilingi batu-batu putih berjajar seperti menara, di tanah datar yang halus itu mereka mendapat kenyataan bahwa dua rombongan orang telah berada di situ mendahului mereka!

 

“Ha-ha-ha, kalian terlambat, sehabat-sahabat Kun-lun-pai! Siapa terlambat takkan dapat, bukankah begitu kata peri­bahasa, Ang Kun Toyu?” tegur seorang laki-laki pendek gendut berusia enam puluhan, berpakaian sebagai petani sederhana dengan kepala dilindungi caping lebar. Di belakang si gendut ini berdiri enam orang petani lain, kesemuanya sudah lima puluh lewat usianya, sikap mereka sederhana seperti pakaian mereka, namun jelas tampak kegagahan pada pandang mata mereka.

 

“Siancai… siancai…,” Ang Kun Tojin mengucapkan puja-puja sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada memberi hormat, diikuti oleh empat orang adik seperguruannya. “Tidak dinyana sahabat Kok Bin Cu dari Hoa-san-pai sudah hadir. Selamat Musim Semi, Sicu (Orang Gagah).”

 

“Ha-ha-ha, selamat… selamat, Toyu. Semoga kalian panjang usia, penuh bahagia dan makin subur  makmur dan kokoh kuat.” Si Gendut yang bernama Kok Bin Cu dan menjadi murid kepala Hoa-san-pai itu balas memberi hormat, diturut oleh enam orang adik seperguruannya.

 

“Juga pinto (saya) bersaudara menghaturkan selamat kepada Leng Lo Suhu dan para Suhu dari Bu-tong-

 

 

 

pai,” kata pula Ang Kun Tojin sambil memberi hormat kepada rombongan kedua yang di sebelah kiri.

 

Rombongan ini terdiri dari empat orang hwesio berkepala gundul yang bersikap pendiam dan dingin. Mereka dipimpin oleh seorang hwesio tua, usianya sekitar tujuh puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan kelihatan masih kuat, jubahnya berwarna kuning, tanda bahwa dia adalah seorang hwesio yang sudah mencapai tingkat tinggi. Memang sesungguhnya Leng Lo Hwesio adalah murid kepala dan menjadi orang kedua dari Bu-tong-pai. Selain ilmu silatnya amat tinggi, juga pengetahuannya tentang Agama Buddha amat mendalam.

 

“Omitohud…,” Leng Lo Hwesio cepat membalas penghormatan rombongan Kun-lun-pai ini, diturut oleh tiga orang adik seperguruannya. “Para saudara Toyu dari Kun-lun-pai amat ramah, semoga dilimpahi berkah oleh Sang Buddha….”

 

Murid kepala Hoa-san-pai yang bertubuh pendek gendut itu adalah seorang tua yang gembira sikapnya, suka berkelakar dan ia memandang dunia ini dari sudut yang menggembirakan. Berbeda dengan rombongan-rombongan Kun-lun dan Bu-tong, yang bersikap serius dan pendiam sehingga keadaan di situ menjadi kaku dan dingin. Mungkin hal ini adalah karena kedua golongan ini telah menjadi pendeta sehingga mereka pun harus menyesuaikan sikap sebagaimana layaknya para pendeta, yaitu alim dan suci! Murid-murid Hoa-san-pai adalah penganut Agama To pula, akan tetapi mereka bukanlah tosu, bukan pendeta agama ini, melainkan penganut biasa dan hidup mereka sehari-hari adalah sebagai petani.

 

Melihat keadaan yang kaku dan dingin, Kok Bin Cu tertawa keras dan berkata. “Wah, tiga rombongan wakil partai persilatan terbesar di dunia tanpa sengaja telah berkumpul di sini. Kiranya dengan maksud yang sama pula, yaitu hendak bertemu dan mohon petunjuk dari Siansu (Guru Sakti), bukankah begitu Ang Kun Toyu dan Leng Lo Suhu?”

 

“Pinceng (saya) bersaudara memang hendak menghadap Bu Kek Siansu yang mulia dan mohon belas kasihannya,” jawab murid kepala Bu-tong-pai dengan suara merendah, sebagai seorang hwesio tidak malu-malu untuk minta-minta.

 

“Karena beliau seorang pendeta To, sudah selayaknya kalau kami datang mohon diberi penerangan,” jawab Ang Kun Tojin dengan angkuh.

 

“Belum tentu beliau seorang tosu, tadi pinceng mendengar beliau menyanyikan syair kitab Dhammapada, bukankah itu membuktikan bahwa Bu Kek Siansu adalah seorang pendeta Buddha golongan kami?” bantah Leng Lo Hwesio dengan suaranya yang berat dan lambat.

 

Mendengar ini diam-diam para anak murid Kun-lun-pai menjadi kaget, kagum dan juga khawatir. Nyanyian itu terdengar oleh mereka di lereng, masih amat jauh dari tempat ini, akan tetapi ternyata mereka yang berada di puncak ini juga mendengarnya. Bukan main! Penggunaan tenaga mukjijat khikang yang disalurkan pada suara nyanyian itu benar-benar sudah mencapai tingkat sempurna. Mereka khawatir karena kalau betul-betul Bu Kek Siansu seorang penganut Agama Buddha, tentu saja tipis harapan bagi mereka untuk bersaing dengan para hwesio itu.

 

“Ha-ha-ha, ji-wi Locianpwe (Dua Pendekar Tua) harap jangan salah duga dan menarik Siansu pada golongan masing-masing. Biar pun saya sendiri, seperti juga sahabat semua, selama hidup belum pernah bertemu muka dengan Bu Kek Siansu, namun sudah banyak saya mendengar tentang orang tua sakti itu. Beliau mengakui semua agama, seperti sifat para dewa yang melindungi semua manusia tanpa pilih bulu. Tentu beliau seorang yang amat adil. Dan mengingat bahwa kami datang lebih dulu, yang pertama di tempat ini, sepatutnya kami yang mendapat perhatian lebih dulu. Siapa cepat dia dapat, bukan?”

 

Ang Kun Tojin melangkah maju dan membantah, “Sicu dan saudara-saudara dari Hoa-san bukanlah orang- orang yang mencari kesempurnaan batin, melainkan jasmaniah, hidup sebagai petani-petani yang bahagia. Ilmu silat Hoa-san-pai juga sudah tersohor di kolong langit. Untuk apa pula mohon petunjuk Siansu? Tentu bukan untuk urusan kebatinan. Akan tetapi kalau hendak mohon petunjuk tentang ilmu silat, untuk apakah pula? Pekerjaan petani tidak membutuhkan ilmu silat terlalu tinggi.”

 

“Ucapan Toyu benar,” sambung Leng Lo Hwesio. “Bagi pendeta-pendeta seperti kami dan para tosu Kun- lun, tentu saja amat membutuhkan petunjuk tentang kebatinan dari Siansu. Akan tetapi para Sicu (Orang Gagah) dari Hoa-san tak mungkin hendak minta petunjuk tentang kerohanian. Kalau mereka hendak minta petunjuk tentang ilmu silat, pinceng (saya) kira Siansu juga akan memberi petunjuk jika melihat bahwa ilmu silat Hoa-san-pai masih amat rendah.”

 

 

 

 

Ucapan ini biar pun terdengar membela namun mengandung sindiran yang memandang rendah tingkat Ilmu Silat Hoa-san-pai. Memang hwesio murid kepala Bu-tong-pai ini berwatak keras dan kaku, juga tidak biasa menyembunyikan apa yang dipikirnya.

 

“Leng Lo Suhu benar-benar memandang rendah kami dari Hoa-san-pai!” tiba-tiba orang kelima dari Hoa- san-pai membentak sambil melompat maju. Dia adalah Kok Ceng Cu, seorang yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dengan sepasang mata tajam bersinar-sinar, usianya sekitar tiga puluh tahun.

 

“Sama sekali tidak memandang rendah,” bantah Leng Lo Hwesio. “Hanya pinceng sering kali mendengar bahwa Hoa-san-pai mengutamakan tenaga luar dan penggunaan kaki tangan dalam ilmu silat, tidak begitu mementingkan kekuatan dalam. Padahal Bu Kek Siansu adalah seorang ahli kebatinan dan tentu saja petunjuknya akan berhubungan erat dengan kebatinan, maka tidak akan cocok dengan Sicu sekalian.”

 

“Tidak memandang rendah akan tetapi sama sekali tidak menghargai kepandaian lain orang. Sama saja! Leng Lo Suhu, kami dari Hoa-san-pai memang masih rendah pengetahuan, tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan apa lagi disombongkan. Akan tetapi, saya akan merasa takluk kalau seorang di antara para Lo­suhu dari Bu-tong-pai dapat melebihi apa yang akan saya perlihatkan!”

 

Kok Ceng Cu yang masih berdarah panas dan tidak tahan mendengar partainya dipandang ringan segera melangkah lebar mendekati sebuah batu gunung yang berwarna putih. Batu ini sebesar perut kerbau, beratnya tidak kurang dari lima ratus kati. Seperempat bagian dari batu ini terpendam dalam tanah, kokoh kuat dan untuk mencabutnya ke luar kiranya dibutuhkan sedikitnya tenaga seribu kati.

 

Kok Ceng Cu memasang kuda-kuda di dekat batu, kedua tangannya merangkul dari kanan kiri, lalu dengan sebuah teriakan keras ia mengerahkan tenaga menjebol dan… batu itu terangkat ke atas terus diangkat ke atas kepalanya. Otot-otot kedua lengannya tersembul ke luar, lehernya mendadak menjadi besar, namun wajahnya yang tampan itu tidak berubah, tetap tenang dan tersenyum.

 

Pihak Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai memandang kagum. Sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi mereka maklum bahwa bukanlah hal yang mudah dilakukan untuk mengangkat batu seberat itu hanya dengan mengandalkan tenaga luar. Selain membutuhkan latihan tekun dan lama, juga harus memiliki bakat alam, yaitu tenaga yang besar dan hal ini hanya dapat dimiliki oleh seorang laki-laki yang selama hidup tetap membujang. Melihat keadaan wajah Kok Ceng Cu, terang bahwa jago Hoa-san-pai ini biar pun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, ternyata dia masih bujang, jejaka tulen!

 

“Tenaga gwakang (tenaga luar) Sicu hebat sekali, pinceng kagum!” kata Leng Lo Suhu dengan sejujurnya.

 

Akan tetapi hal ini memanaskan perut Leng Hi Hwesio, murid keempat dari Bu-tong-pai. Biar pun usianya sudah enam puluh tahun, hwesio keempat dari Bu-tong-pai ini wataknya keras dan tidak mau kalah. Ia segera melompat maju mendekati Kok Ceng Cu dan berkata nyaring. “Main-main dengan batu mati ini apa sih anehnya? Sicu, kalau kau sudah lelah dan bosan, boleh operkan batu itu pada pinceng!”

 

Tadinya Kok Ceng Cu merasa bangga akan pujian murid tertua Bu-tong-pai, akan tetapi melihat dan mendengar sikap dan kata-kata hwesio keempat ini, diam-diam ia merasa penasaran juga kaget. Apakah hwesio yang kurus kering ini dapat mempergunakan tenaga seperti dia? Ia berseru keras dan kedua lengannya bergerak ke bawah lalu ke atas, melontarkan batu besar itu kepada Leng Hi Hwesio sambil berseru. “Lo-suhu terimalah!”

 

Batu berat itu meluncur ke arah hwesio Bu-tong-pai, kalau menimpa kepala tentu akan remuk. Namun dengan tenang hwesio ini menggerakkan kedua tangannya, menerima batu itu dengan gerakan indah. Kiranya ia telah menggunakan gerakan Dewa Menyambut Mustika. Begitu kedua telapak tangannya menempel pada batu, ia meminjam tenaga lontaran tadi, dan terus mengayun batu ke bawah, ke atas lagi, dan melontarkannya ke atas, diterima lagi, diayun dan dilontarkan lagi ke atas sampai lima kali. Ketika untuk kelima kalinya batu itu menimpa turun, ia menggunakan gerakan menyabet dengan kedua tangan miring. Batu itu melenceng ke samping, terbanting ke atas tanah sampai amblas hampir setengahnya. Inilah gerak pukulan Pukul Roboh Gunung Hitam, sebuah jurus ilmu Silat Bu-tong-pai yang lihai.

 

Terdengar tepuk tangan memuji dari para tosu Kun-lun-pai.

 

“Siancai, siancai, ilmu pukulan Bu-tong-pai benar-benar hebat!” seru Ang Kun Tojin.

 

 

 

Akan tetapi Pek Sin Tojin, murid kelima Kun-lun-pai yang bertahi lalat pada ujung hidungnya menjadi penasaran melihat betapa dua orang dari rombongan Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai seakan-akan mendemonstrasikan kepandaian. Kalau dari pihak Kun-lun-pai tidak ada yang bergerak, jangan-jangan pihaknya akan dipandang rendah.

 

Ia melangkah maju mendekati batu itu, lalu berkata, “Siancai, batu terbanting keras jangan-jangan banyak cacing yang akan tertimpa remuk.” Kaki kanannya bergerak mencongkel dan… batu itu menggelinding ke luar dari dalam tanah, sampai lima kaki lebih jauhnya. Gerakan ini saja membuktikan betapa lihainya para tosu Kun-lun-pai.

 

Yang paling berangasan di antara semua orang adalah Kok Ceng Cu. Ia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, “Hemmm, semua memamerkan tenaga dalam yang mengandalkan tenaga pinjaman, bukan tenaga asli dari otot dan urat. Biar pun kami dari Hoa-san-pai hanya melatih otot untuk memperkuat tubuh, namun permainan lweekang (tenaga dalam) seperti itu juga bukan hal aneh.” Ia tidak melakukan tantangan, namun kata-katanya ini jelas mengangkat golongan sendiri dan tidak memandang tinggi dua rombongan lain. Juga ia berdiri dengan dada terangkat, kedua kakinya memasang kuda-kuda  dengan sikap seolah-olah ia siap menghadapi siapa saja yang berani melawannya!

 

Tentu saja sikap ini memanaskan hati pihak Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai, apa lagi pihak Bu-tong-pai. Kalau saja Ang Kun Tojin dan Leng Lo Hwesio tidak memberi isyarat dengan pandang mata, tentu ada tosu Kun- lun dan hwesio Bu-tong yang melompat maju untuk menghadapi Kok Ceng Cu.

 

Pada saat itu terdengar suara tertawa nyaring dan merdu. Semua orang menjadi kaget, memandang ke kanan kiri, namun tidak tampak seorang pun manusia. Padahal jelas sekali tadi terdengar suara ketawa seorang wanita, terdengar dekat sekali, bahkan suara pernapasan di antara kekeh tawa itu dapat mereka dengar.

 

“Omitohud!” Leng Lo Hwesio mengeluarkan suara sambil merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada. “Sicu mengeluarkan sikap menantang, membikin marah dewi penjaga gunung!”

 

“Kita datang untuk mohon pelajaran kebatinan kepada Bu Kek Siansu, sedangkan saudara-saudara dari Hoa-san-pai memperlihatkan kekerasan, sungguh lucu sehingga ditertawakan oleh segala makhluk halus,” kata pula Ang Kun Tojin, namun diam-diam ia merasa gelisah karena ia dapat menduga bahwa yang mengeluarkan suara ketawa itu sudah pasti seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Terang bukan Bu Kek Siansu, juga bukan yang bernyanyi tadi, karena suara ketawa ini adalah suara wanita.

 

“Kami orang-orang Hoa-san-pai tidak takut terhadap segala siluman!” Kok Ceng Cu berkata keras sambil melirik ke kanan kiri.

 

“Sute, jangan bicara begitu…,” Kok Bin Cu mencela adik seperguruan yang berangasan itu.

 

Akan tetapi suaranya terhenti ketika tiba-tiba pada saat itu terdengar lagi suara ketawa dan kini tahu-tahu  di depan mereka telah berdiri seorang wanita yang amat cantik. Dia datang begitu saja seperti muncul dari dalam bumi, tidak tampak datangnya, tahu-tahu sudah berdiri di depan Kok Ceng Cu sambil tertawa terkekeh-kekeh, bibirnya yang merah dan lembut itu terbuka, tampak dua deretan gigi yang putih seperti mutiara berbaris.

 

Empat belas orang itu memandang dengan mata terbelalak. Sungguh seorang wanita yang amat cantik, dilihat dari wajahnya yang segar berseri itu agaknya belum dua puluh lima tahun usianya, namun sikap dan gerak-geriknya membayangkan kepribadian yang kuat dan berwibawa, tenang dan tabah, sikap masak seorang tokoh besar.

 

Pakaiannya dari sutera tipis berwarna putih sehingga terbayang baju dalam yang berwarna merah muda. Sepasang kakinya tertutup sepatu kulit mengkilap berwarna hitam. Yang menarik hati dan mengerikan adalah rambutnya. Rambut hitam gemuk, panjang sampai hampir menyentuh tanah di belakangnya, sebagian lagi terurai ke depan dari kanan kiri lehernya. Tubuhnya padat berisi, kulit leher, tangan dan mukanya halus dan putih seperti salju. Wanita yang cantik jelita, bersinar mata bengis, dengan mulut yang tampaknya selalu mengejek dan diselubungi sesuatu yang aneh mengerikan. Begitu ia muncul, tercium  bau harum seperti taman bunga.

 

“Hi-hi-hik, kiranya jejaka tampan yang mengeluarkan tantangan. Wah, untungku hari ini! Orang muda yang penuh tenaga dan hawa murni, kau dari golongan mana?”

 

 

 

 

Kok Ceng Cu biar pun sudah berusia tiga puluh tahun lebih, namun tak pernah berdekatan dengan wanita. Memang ia tidak suka akan wanita dan sudah bersumpah akan tetap membujang seumur hidup. Kini ia menjadi marah sekali menghadapi wanita cantik aneh yang sikapnya sombong, ketawanya terbuka tanpa mengenal sopan dan susila ini. “Wanita tak bersopan! Aku tidak suka bicara denganmu, akan tetapi kalau kau ingin tahu, aku Kok Ceng Cu murid kelima dari Hoa-san-pai. Sudahlah, pergi jangan menambah muak dengan ketawa-ketawa seperti siluman!”

 

“Hi-hi-hik, jejaka murni, nyalinya kuat. Bagus, bagus, kebetulan sekali. Eh, Kok Ceng Cu, kulihat tadi kau mengangkat batu kecil ini, entah apa kau kuat menerima lemparan dariku?”

 

Tanpa menanti jawaban, wanita ini menggerakkan kepalanya dan… rambutnya yang indah dan panjang itu bergerak seperti hidup ke arah batu gunung putih di dekatnya yang tadi dipakai main-main oleh orang- orang sakti itu. Begitu cepat gerakannya dan tahu-tahu batu itu telah terlempar ke arah Kok Ceng Cu. Benar-benar membuat semua orang bengong terlongong. Bagaimana rambut indah panjang itu dapat dipergunakan untuk mengangkat dan melempar batu yang beratnya lima ratus kati lebih?

 

Akan tetapi Kok Ceng Cu tidak sempat berheran. Melihat datangnya batu ke arah kepalanya, ia cepat menggerakkan kedua lengan, menangkap batu itu dan mengerahkan tenaganya, melemparkan batu itu kembali kepada wanita tadi sambil berseru membentak, “Siluman jahat, terimalah kembali!”

 

Lemparan Kok Ceng Cu dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, akan hebat sekali akibatnya kalau wanita itu tertimpa. Agaknya wanita aneh ini tidak mempedulikan datangnya batu, ia hanya mengangkat lengan kiri menangkis. Terdengar suara keras dan batu itu terlempar ke kiri, pecah menjadi dua!

 

Kejadian ini benar-benar membuat semua orang terkejut, dan sekaligus maklumlah mereka bahwa wanita ini ternyata memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Juga Kok Ceng Cu sadar akan hal ini, namun penyesalannya terlambat. Sambil terkikik-kikik ketawa wanita itu kembali menggerakkan kepalanya dan kini rambutnya terurai meluncur ke depan dan di lain saat kedua pergelangan lengan dan leher Kok Ceng Cu sudah terlibat rambut. Betapa pun murid kelima dari Hoa-san-pai ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri, usaha­nya sia-sia seakan-akan seekor lalat yang berusaha melepaskan diri dari sarang laba-laba, meronta-ronta tanpa hasil, malah rambut-rambut itu makin erat mengikat tangan dan mencekik leher.

 

“Hi-hi-hik, berontaklah, makin keras makin baik agar darahmu berjalan lebih kencang!” Sambil terkekeh wanita itu kembali menggerakkan kepalanya.

 

Tubuh Kok Ceng Cu tersentak ke depan, berputar dan tak dapat dicegah lagi mendekati wanita itu. Tiba- tiba wajah wanita cantik itu menjadi beringas, matanya bersinar-sinar, mulutnya terbuka dan… cepat sekali mulutnya mendekati tengkuk leher Kok Ceng Cu lalu menggigitnya, terus menghisap! Kok Ceng Cu mengeluarkan jerit mengerikan, mukanya menjadi pucat kehijauan dan beberapa detik  kemudian nyawanya telah melayang meninggalkan badannya!

 

“Siluman keji…!”

 

Kok Bin Cu dan tiga orang adik seperguruannya bergerak maju menerjang wanita itu. Akan tetapi mereka terhuyung mundur dan tubuh Kok Ceng Cu yang sudah dingin terlempar ke arah mereka, diiringi suara ketawa wanita itu. Melihat keadaan Kok Ceng Cu yang sudah menjadi mayat, Kok Bin Cu cepat menyambar dan memeluk adik termuda ini dengan penuh kesedihan. Ada pun tiga orang adik seperguruannya yang lain berdiri dengan sikap siap, namun ragu-ragu untuk menerjang tanpa perintah Kok Bin Cu. Mereka maklum akan kelihaian wanita siluman ini dan menjadi gentar juga.

 

“Cuh! Cuhhhhh!” terdengar suara orang meludah dan Leng Hi, murid keempat Bu-tong-pai menyumpah- nyumpah karena mukanya terkena ludah kental yang tak diketahui dari mana datangnya.

 

“Ho-ho-hah, Siang-mou Sin-ni jangan berpesta seorang diri!” Suara laki-laki seperti tambur bobrok ini terdengar dan sekaligus tampak orangnya.

 

Seorang berpakaian pengemis, sudah tua dan bongkok, mukanya pucat seperti mayat. Rambutnya  panjang sampai ke pundak, awut-awutan dan riap-riapan kotor. Mata kirinya buta, mata kanannya lebar membelalak. Pakaiannya kotor dan penuh tambalan, hanya sepasang sepatunya masih baru. Ia

 

 

 

memegang sebatang tongkat butut, berdiri di situ dengan punggung agak bongkok.

 

Dilihat sepintas lalu, ia hanya seorang pengemis kotor biasa saja, malah seorang pengemis yang tidak normal, setengah gila. Hal itu tampak pada mukanya yang mengerikan, apa lagi mulutnya yang lebar dan selalu sedikit terbuka, memperlihatkan sebuah gigi besar, gigi yang hanya satu-satunya dalam mulut tua.

 

Kembali ia meludah, “Cuh-cuh-cuh!” ke kanan kiri, menjijikkan sekali.

 

Melihat ini, Leng Li Hwesio marah, “Orang tua jorok (kotor), kaukah yang meludahi pinceng tadi?”

 

“Ho-ho-hah-hah, aku memang suka meludah, biasa meludahi anjing korengan dan kucing kudisan. Lebih suka lagi meludahi keledai gundul, cuh-cuh!” Mukanya menghadap ke bawah dan ia meludah ke bawah.

 

Akan tetapi anehnya, dua kali meludah, dua kali muka Leng Hi Hwesio yang berada di sebelah kanannya dalam jarak tiga meter itu terkena sambaran ludah kental yang sebagian memasuki lubang hidungnya. Entah bagaimana ludah itu bisa terbang menyeleweng dan miring.

 

Kakek pengemis itu berjingkrak kegirangan, bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa. “Ha-ho-hoh! Bagus sekali. Keledai Bu-tong memang baik menjadi tempolong ludah!”

 

“Jahanam hina!” Leng Hi Hwesio mana dapat menahan kesabarannya? Dengan kemarahan meluap-luap ia sudah mencabut pedangnya dan menerjang pengemis itu.

 

“Ho-ho-ha-hah, untung besar hari ini bisa meludahi mampus keledai Bu-tong!”

 

Tiba-tiba terdengar suara keras dan pedang di tangan Leng Hi Hwesio sudah terlempar jauh, menimpa batu gunung dan patah menjadi dua. Kemudian kakek pengemis itu meludah terus dan tiap kali meludah, Leng Hi Hwesio berseru kesakitan. Hujan ludah itu mengenai tubuhnya, akan tetapi tidak hanya membikin kotor seperti tadi, kini terasa seperti pukulan-pukulan keras yang tepat mengenai jalan darah di tubuhnya. Tiap kali kakek itu meludah dan mengenai tubuhnya, ia berteriak mengaduh, kemudian ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan diri. Namun kakek itu terus meludah, bahkan agaknya makin keras karena kini tubuh Leng Hi Hwesio bergulingan seperti seekor cacing terkena abu panas dan dari telinga dan hidungnya keluar darah segar!

 

“Pengemis keji, lepaskan Sute kami!” Leng Lo Hwesio dan dua orang adik seperguruannya  cepat mencabut pedang dan menerjang pengemis itu.

 

Akan tetapi pengemis itu mengangkat tongkatnya, sekaligus tiga batang pedang itu tertangkis dan terpental. Sungguh pun tiga orang hwesio kosen itu tidak sampai melepaskan pedang masing-masing, namun mereka merasakan telapak tangan mereka sakit dan panas. Terkejutlah mereka. Bu-tong-pai terkenal dengan ilmu pedang yang digerakkan dengan tenaga lweekang, kuat bukan main. Akan tetapi sekarang sekali tangkis saja kakek ini dapat membuat pedang mereka terpental. Padahal mereka adalah orang-orang yang menduduki tingkat dua, tiga, dan empat di Bu-tong-pai, yang paling lihai di bawah suhu (guru) mereka!

 

Sementara itu, kakek itu terus meludahi tubuh Leng Hi Hwesio yang kini sudah tak dapat bersambat atau bergerak lagi. Hebatnya, kepala yang gundul itu kini bolong-bolong dan dari situ keluar darah bercampur otak. Hwesio keempat ini sudah tewas!

 

“Mana orang Kun-lun! Mana tosu-tosu bau dari Kun-lun?” tiba-tiba terdengar suara dan kali ini suara itu terdengar dari… bawah!

 

Terlalu hebat peristiwa yang terjadi berturut-turut itu, dan para tosu Kun-lun-pai masih tercengang dan  ngeri menyaksikan kematian seorang anggota rombongan Hoa-san-pai dan seorang hwesio Bu-tong-pai. Sekarang mendengar bentakan dari bawah tanah ini, mereka seketika menjadi pucat dan cepat memandang ke arah suara. Tentu saja pandang mata mereka tertuju ke bawah, karena dari situlah munculnya suara.

 

“Hi-hi-hik, It-gan Kai-ong! Dengar itu, Si Tengkorak Hidup Hek-giam-lo juga datang. Bakal ramai sekarang!” Wanita rambut panjang tadi kini tertawa.

 

Si Pengemis Mata Satu juga tertawa dan meludah ke kanan kiri. “Bagus, dan kebetulan orang-orang Kun-

 

 

 

lun berada di sini. Baik sekali. Hayo, Hek-giam-lo tengkorak busuk, perlihatkan diri, apa kau gentar melihat banyak orang Kun-lun-pai?”

 

Mendengar disebutnya Hek-giam-lo, muka Ang Kun Tojin makin pucat. Ia belum pernah bertemu dengan Hek-giam-lo, akan tetapi ia mengenal nama ini yang oleh gurunya disebut sebagai seorang tokoh hitam yang amat keji dan jahat, malah ada bibit permusuhan dengan Kun-lun-pai, yaitu musuh dari mendiang kakek guru Ang Kun Tojin.

 

Terdengar suara menggereng seperti harimau dari dalam tanah. Tiba-tiba tanah berikut batu berhamburan terbang dan tahu-tahu tanah itu sudah berlobang besar. Dari dalam lubang meluncur cahaya seperti kilat yang terbang ke arah lima orang tosu Kun-lun-pai.

 

Para tosu ini bukanlah orang-orang sembarangan. Tingkat ilmu silat mereka seperti juga orang-orang Hoa- san-pai dan Bu-tong-pai itu, sudah mencapai taraf tinggi sekali. Sekali pandang saja mereka maklum bahwa yang menyambar ini adalah sebuah senjata yang amat tajam dan runcing, yang disusul melesatnya bayangan hitam. Cepat mereka berlima melompat ke belakang, mencabut pedang dan menangkis.

 

“Trang-trang-trang…!” terdengar bunyi nyaring.

 

Bunga api berhamburan disusul melayangnya tiga batang pedang, yaitu tiga batang di antara lima pedang yang bertemu dengan senjata berkilauan itu. Kemudian terdengar jerit mengerikan dan Pek Sin Tojin, tosu yang bertahi lalat pada hidungnya, telah roboh mandi darah. Dari leher sampai ke perutnya terdapat luka goresan yang panjang, luka kulit saja akan tetapi amat mengerikan. Apa lagi kalau mereka melihat lawan mereka yang kini sudah berdiri di depan mereka, benar-benar mendirikan bulu roma.

 

Dia seorang yang tubuhnya sedang saja, malah agak kurus. Seluruh badan terbungkus pakaian serba hitam, kecuali sepasang tangan yang kecil kurus. Mukanya adalah muka tengkorak, tulang putih mengerikan dengan dua lobang mata hitam, kepala tengkorak tertutup topi runcing hitam, kedua kakinya memakai sepatu hitam pula. Di tangannya tampak sebuah senjata sabit yang amat tajam dan runcing, agak melengkung.

 

Senjata sabit itu kini bergerak-gerak ke arah tubuh Pek Sin Tojin, sekali berkelebat tentu kulit tubuh tosu itu teriris robek. Pek Sin Tojin menggeliat-geliat bergulingan, darah memenuhi tubuh dan mukanya, namun sabit itu terus bergerak, makin lama makin cepat. Empat orang tosu Kun-lun-pai menerjang lagi, yang dua orang termasuk Ang Kun Tojin menggunakan pedang, yang dua orang lagi karena pedangnya terlempar, menerjang dengan kepalan. Akan tetapi hebatnya, si tengkorak ini hanya menggerak-gerakkan tangan kirinya dan semua serangan itu tertangkis oleh ujung lengan bajunya. Ada pun sabit di tangan kanannya terus bergerak, mengiris-iris kulit tubuh Pek Sin Tojin sampai cobak-cabik.

 

Kekejaman yang mendirikan bulu roma. Pek Sin Tojin tak dapat mengerang lagi, tubuhnya berkelojotan, lalu diam. Gerakan sabit juga berhenti dan kini sabit itu berkelebatan menghadapi empat orang Kun-lun-pai yang mengeroyoknya.

 

Sementara itu orang-orang Bu-tong-pai sudah bergerak mengeroyok si kakek pengemis yang melayani tiga orang kosen Bu-tong-pai ini sambil meludah-ludah dan memaki-maki. Di lain pihak, empat orang Hoa-san- pai juga mengeroyok si wanita rambut panjang yang melayani mereka sambil terkekeh-kekeh genit.

 

Sungguh pertempuran yang amat seru namun tidak seimbang kekuatannya. Seperti tiga ekor harimau buas dikeroyok serombongan kelinci saja. Sabit di tengan tengkorak hidup itu menyambar seperti halilintar dan sebentar saja dua orang tosu Kun-lun-pai sudah menggeletak dengan tubuh terbacok hampir putus  menjadi dua potong, sedangkan Ang Kun Tojin dan seorang sutenya sudah luka-luka pula.

 

Juga wanita mengerikan yang bernama Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum) telah menewaskan dua orang Hoa-san-pai dengan cambukan-cambukan rambutnya. Wanita ini hanya berdiri tegak, kepalanya digerak-gerakkan dan rambutnya melayang-layang di sekitar tubuhnya, menangkis senjata dan menghantam lawan. Jangan dipandang rendah rambut ini, karena ketika menghantam lawan, rambut halus dan berbau harum itu seakan-akan telah berubah menjadi kawat baja yang amat kuat.

 

It-gan Kai-ong (Raja Pengemis Mata Satu), meludah-ludah dan memaki-maki. Ludahnya membikin buta seorang lawan yang terus kepalanya ditusuk tongkat sehingga mati seketika. Leng Lo Hwesio mengerahkan seluruh ilmu pedang Bu-tong Kiam-hoat, namun sama sekali tak berdaya menghadapi sinar tongkat kakek itu.

 

 

 

 

Mereka semua maklum bahwa kalau dilanjutkan, mereka semua pasti akan tewas. Seperti ada yang memberi komando, Ang Kun Tojin, Kok Bin Cu, dan Leng Lo Hwesio melompat pergi meninggalkan para sutenya yang sudah tewas. Mereka pun menderita luka-luka berat.

 

“Ha-ha-ho-ho! Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, biarkan mereka pergi untuk memberi tahu kepada partai masing-masing!”

 

“Tak usah kau ngoceh, pengemis picak!” Siang-mou Sin-ni mencibirkan bibirnya yang merah sambil mengebut-ngebutkan rambutnya yang panjang dengan cermat. “Kalau aku mau, apa kau­kira tua bangka Hoa-san itu bisa pergi hidup-hidup?”

 

“Ho-ho-hah! Bagaimana, Hek-giam-lo, puas kau hari ini dapat membunuh empat orang tokoh Kun-lun?” Pengemis itu berpaling kepada si Tengkorak.

 

“Aku datang ke Thai-san bukan untuk itu,” Hek-giam-lo si Tengkorak Hidup menjawab pendek.

 

“Hi-hik, untuk apa lagi kalau bukan untuk minta sesuatu dari Bu Kek Siansu? Iihhh, Hek-giam-lo, sejak kapan kau ikut-ikut menjadi pengemis seperti pengemis picak ini?” Siang-mou Sin-ni mengejek. Akan tetapi Hek-giam-lo tidak menjawab, hanya mendengus marah.

 

“Ho-hah, setan cilik, lidahmu benar-benar lemas. Bibirmu halus mengandung madu, tapi ludahmu seperti brotowali dan merica! Kau sendiri datang pada permulaan musim semi, apakah akan memberi selamat panjang umur kepada setan gunung? Ho-ho, kau sendiri juga akan mengemis ilmu, bukan?”

 

“Cih, mulutmu bau busuk, pengemis kotor! Aku mendengar bahwa Bu Kek Siansu akan muncul di dunia. Aku hendak melihat apakah dia dapat menghadapi rambutku, kalau dapat, baru aku mau mengangkatnya sebagai guru, bukan mengemis seperti kau!”

 

“Ha-ha, silat lidah! Menjadi murid dan mengemis ilmu, apa bedanya? Malu-malu kucing segala, cuh!” It-gan Kai-ong meludah ke dekat kakinya dan batu di dekatnya berlubang oleh ludah itu! “Bukan­kah begitu, Hek- giam-lo?”

 

Si Tengkorak hidup tidak menjawab, tidak mengangguk atau menggeleng hanya mengeluarkan suara, “Huhhh!”

 

“Ihhh, menyebalkan si Tengkorak busuk ini. Apa mendadak menjadi bisu? Apakah ingin menyembunyikan suara seperti bertahun-tahun ia menyembunyikan mukanya? Wah, alangkah inginku merenggut lepas kedok tengkorak itu dan melihat apakah dia laki-laki atau wanita, kalau laki-laki tampan atau buruk, muda atau tua!”

 

“Hemmm…,” Tengkorak hidup itu mundur selangkah, mukanya menghadap Siang-mou Sin-ni dan senjata sabitnya yang mengerikan itu diangkat ke atas, agaknya siap bertempur.

 

It-gan Kai-ong berjingkrak-jingkrak tertawa dan bertepuk-tepuk tangan. “Bagus, bagus…! Aku pun mempunyai keinginan yang amat sangat, yaitu melihat kalian bertempur mengadu ilmu. Alangkah akan ramainya, entah siapa yang hanya bernama kosong belaka. Siang-mou Sin-ni ataukah Hek-giam-lo. Hayo, mulailah!”

 

Sejenak Siang-mou Sin-ni ragu-ragu, kepalanya sudah tegang, agaknya ia hendak menggerakkan rambutnya menerjang. Akan tetapi matanya melirik ke arah pengemis tua itu, lalu tiba-tiba ia tertawa terkekeh-kekeh. “Hi-hi-hik, pengemis tua busuk, kau hendak akali kami berdua, ya? Kau mengadu kami, biar keduanya mampus atau payah, baru kau turun tangan dan dapat memonopoli atas ilmu-ilmu dari Bu Kek Siansu. Begitukah? Akal bulus!”

 

“Kalian mau saling gempur atau saling cinta, apa sangkut-pautnya dengan aku? Habis, kau mau apa?” Kakek itu merengut kesal.

 

“Kita bertiga harus menentukan siapa paling unggul, dialah yang berhak menemui Bu Kek Siansu. Yang kalah dinyatakan tidak berharga dan harus minggat.”

 

“Setuju!” jawab It-gan Kai-ong. “Kau bagaimana?” tanyanya kepada Hek-giam-lo. Yang ditanya hanya

 

 

 

mengangguk, tetap berdiri memasang kuda-kuda, sikapnya amat bercuriga dan tidak percaya kepada dua orang di depannya itu.

 

Tiga orang sakti itu berdiri memasang kuda-kuda, saling pandang dengan sinar mata penuh kebencian. Mereka seakan-akan tiga ekor harimau yang siap menanti datangnya terjangan lawan, tegang sampai ke bulu-bulunya, akan tetapi terlalu hati-hati untuk bergerak lebih dahulu karena maklum bahwa lawan  amatlah hebat, siapa terlena dia akan sirna.

 

Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni melengking tinggi dan rambutnya bergerak seperti sinar hitam menyambar ke arah Hek-giam-lo. Hanya satu atau dua detik selisihnya dengan gerakan It-gan Kai-ong  yang menggunakan tongkat menyerang wanita ini, dan gerakan Hek-giam-lo yang menggunakan sabit menerjang It-gan Kai-ong. Sekaligus tiga orang itu telah menyerang dan diserang. Sekaligus pula mereka mendengus nyaring dan mengelak dengan lompatan kilat ke samping. Kini mereka berdiri lagi membentuk segi tiga, memasang kuda-kuda dan tidak bergerak. Suara desingan senjata mereka yang menyambar tadi masih terdengar gemanya, mengaung dari dalam jurang di dekat situ.

 

Amat tegang seluruh urat syaraf ketiga orang itu, mereka sudah bersiap untuk melakukan terjangan atau menghadapi serangan lagi. Akan tetapi tiba-tiba wajah mereka bergerak dan perhatian mereka tertarik oleh bunyi suling yang amat luar biasa. Sesaat bunyi suling itu semerdu kicau burung di waktu pagi hari menyongsong munculnya sang matahari, akan tetapi pada saat lain terdengar seakan-akan halilintar menyambar-nyambar membelah gunung, pada detik ini terdengar gembira seperti suara bidadari tertawa merdu, pada lain detik seperti tangis wanita yang ditinggal mati suaminya.

 

“Tunda dulu urusan kita,” kata It-gan Kai-ong.

 

“Kita lihat siapa yang datang,” sambung Siang-mou Sin-ni mengangguk.

 

Hek-giam-lo hanya mengangguk dan menurunkan sabitnya. Makin lama suara suling terdengar makin nyaring, seolah-olah penyulingnya berjalan perlahan mendekati tempat itu. Tiga orang sakti ini menjadi tegang hatinya, mereka menduga-duga. Nama besar Bu Kek Siansu yang dipuja-puja seluruh tokoh kang- ouw sudah banyak kali mereka dengar, namun selama hidup mereka belum pernah melihat orangnya. Apakah kakek sakti itu yang muncul sekarang sambil meniup suling?

 

Tak lama kemudian muncullah si peniup suling dari balik batu besar, berjalan dengan tenang perlahan menuju ke puncak sambil meniup suling yang dipegang dengan kedua tangannya. Suling itu berkilauan tertimpa matahari dan mudah diduga bahwa benda ini terbuat dari pada emas murni. Peniupnya seorang laki-laki tinggi tegap, tampan dan gagah, berusia antara tiga puluh tahun. Pakaiannya seperti pakaian seorang pelajar, dengan ikat pinggang sutera dan tali penutup kepala melambai panjang. Pakaian orang ini hanya bentuknya saja seperti pakaian pelajar, juga topinya, akan tetapi warna sepatu, pakaian, dan topinya hitam, kecuali ikat pinggang dan pinggiran jubah yang berwarna kuning. Di bagian dada bajunya yang hitam itu tampak lukisan sebuah suling emas di atas dasar bulatan merah muda seperti bulan purnama.

 

“Iihhh… gantengnya…!” Siang-mou Sin-ni memuji, matanya memandang penuh gairah kepada wajah yang tampan itu.

 

“Inikah orangnya yang memakai nama Suling Emas…?” It-gan Kai-ong berkata perlahan seperti pada diri sendiri. Ada pun Hek-giam-lo hanya mengeluarkan suara mendengus marah.

 

Sementara itu laki-laki muda bersuling itu sudah melihat adanya tiga orang aneh di puncak, juga adanya mayat-mayat berserakan di sekitar tempat itu. Suara sulingnya berhenti, benda itu ia selipkan pada ikat pinggang dan kedua kakinya melangkah lebar dan cepat ke tempat itu. Keningnya berkerut, sepasang alis yang tebal hitam itu seakan-akan bersambung menjadi satu.

 

“Keji sekali…!” Ia bersungut-sungut tanpa mempedulikan tiga orang itu.

 

“Kami yang membunuh mereka. Kau mau membela?” ejek It-gan Kai-ong menantang.

 

Pemuda itu tersenyum, menoleh kepada pengemis mata satu dan berkata dengan suara tenang berwibawa, “Kalian membunuh orang, tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, aku tidak peduli, bukan urusanku. Akan tetapi andai kata tadi aku berada di sini, jangan harap kalian mengumbar kekejaman sesuka hati.”

 

 

 

Setelah berkata demikian orang ini lalu menghampiri Hek-giam-lo, memandang sejenak dan berkata. “Kau Hek-giam-lo, bukan? Beri pinjam senjatamu sebentar, aku hendak mengubur mayat-mayat itu.”

 

Hek-giam-lo mendengus dan melangkah mundur, sabitnya ia angkat ke atas kepala, siap menerjang.

 

Orang muda itu tertawa mengejek. “Kau takut aku melarikan senjatamu itu? Ha-ha, aku sering kali mendengar bahwa manusia iblis Hek-giam-lo memiliki kepandaian yang amat tinggi, kiranya ia hanya mengandalkan nyawanya kepada sebatang sabit, maka takut kehilangan senjatanya. Hek-giam-lo, sulingku ini dari emas, jauh lebih berharga dari pada sabitmu, baik harganya mau pun kegunaannya. Kalau kau  takut aku melarikan sabitmu, biar kau bawa dulu sulingku ini.”

 

Sebagai seorang tokoh besar dalam dunia persilatan, mana Hek-giam-lo mau menyerahkan senjatanya? Senjata yang diandalkan sama harganya dengan nyawa. Ia mendengus kembali, menggelengkan muka tengkoraknya.

 

Pemuda tinggi ganteng itu tersenyum lebar, tapi sepasang matanya mengeluarkan sinar tajam. “Terimalah ini!” serunya dan suling di tangan kanannya itu tiba-tiba meluncur seperti halilintar menyambar ke arah leher kiri Hek-giam-lo. Serangan ini cepat bukan main, juga tidak terduga karena gerakan suling itu dilihat dari depan seperti memutar, ujungnya membentuk lingkaran yang tidak dapat diterka ke mana akan mencari sasaran.

 

Tiba-tiba Hek-giam-lo melihat ujung suling sudah hampir menempel ulu hatinya. Namun ia memang lihai sekali. Sambil mengeluarkan suara gerengan seperti setan, tangan kirinya menyambar dari samping menangkap suling itu dan mendorong ke kanan agar meleset dari pada ulu hatinya, bagian  yang berbahaya itu. Alangkah herannya ketika ia merasa betapa suling itu dengan mudah dapat ia renggut, malah agaknya dilepaskan oleh pemiliknya.

 

Ia menduga akan adanya tipuan, akan tetapi terlambat karena pada saat itu datang tenaga yang amat keras merampas sabitnya. Ia masih berusaha mempertahankan dengan tangan kanan, namun tiba-tiba suling di tangan kirinya itu bergerak hendak menusuk dadanya kembali. Terpaksa ia mengalihkan  perhatian dan tenaganya ke tangan kiri yang mencengkeram suling, berusaha merampas suling untuk menyelamatkan diri. Lebih penting menyelamatkan diri dari ancaman suling, baru kemudian berusaha merampas kembali senjatanya.

 

Pemuda itu tertawa sambil melompat mundur, sabit panjang sudah berada di tangannya. “Hek-giam-lo, terima kasih atas kebaikanmu. Hanya sebentar aku pinjam sabitmu, kalau sudah selesai akan kukembalikan.”

 

Setelah berkata demikian, pemuda aneh ini lalu melirik ke kanan kiri beberapa lama, kemudian tiba-tiba ia meloncat ke kiri, sekali loncatan tubuhnya melayang lebih sepuluh meter jauhnya. Kiranya ia memilih tanah yang lunak di balik sebuah batu besar. Sabit di tangannya bergerak dan tampak sinar berkilauan ketika dengan cepatnya ia menggali tanah dengan sabit itu.

 

“Heh, kau tentu si muda sombong yang memakai nama Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas)!” terdengar suara serak si Muka Tengkorak. “Kembalikan senjataku.”

 

Suling Emas tidak menjawab, melainkan menggali terus dengan cepat sekali sehingga sebentar saja di depannya telah tergali sebuah lubang besar. Namun ia masih menggali terus dengan cepat.

 

Sinar hitam yang lembut bergulung meluncur ke arah punggungnya. Sinar hitam ini datang dari Hek-giam- lo yang melepas senjata rahasianya yang disebut Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam). Begitu hebat racun jarum-jarum yang jumlahnya tujuh batang ini sehingga mengeluarkan uap hitam seakan-akan awan yang membungkusnya ketika benda-benda kecil ini meluncur mencari korban.

 

Melihat Hek-giam-lo mempergunakan ilmunya melepas jarum, Siang-mou Sin-ni dan It-gan Kai-ong terkejut. Mereka berdua sudah mengenal baik hebatnya jarum-jarum itu. Sekarang Suling Emas yang ternyata hanya seorang pemuda masih hijau diserang dari belakang dan pemuda itu asyik bekerja menggali tanah, mana dapat ia menyelamatkan diri?

 

Suling Emas menggali dengan gerakan cepat dan aneh. Bukan hanya tangan kanan yang memegang sabit saja yang bergerak, malah semua tubuhnya ikut bergerak. Seorang petani akan mentertawakannya karena cara ia mencangkul tanah menggunakan sabit amatlah lucu, meloncat ke sana ke mari, bergoyang-goyang

 

 

 

dan terhuyung-huyung. Akan tetapi kalau melihat hasil galian di depannya, orang akan bengong terlongong. Sepuluh orang tukang cangkul bekerja sama dengan cangkul yang baik sekali pun belum tentu akan dapat menggali lubang sedemikian besar dalam waktu demikian cepatnya.

 

Sekarang tiga orang sakti itu yang menjadi kagum. Tanpa menoleh Suling Emas masih tetap bekerja dan ketika gulungan awan hitam yang membungkus jarum-jarum beracun itu menghampirinya dan berpencar mengarah tujuh bagian jalan darah terpenting, ia masih saja bergerak-gerak menggali lobang. Namun kini di antara berkelebatnya sinar sabit yang putih, tampak bergulung-gulung sinar kebiruan yang mengeluarkan angin keras. Mendadak awan hitam itu membalik sampai tiga kaki jauhnya, Hek-giam-lo mengeluarkan suara geraman hebat dan awan hitam itu mendesak maju lagi, si Muka Tengkorak berdiri setengah berjongkok, kedua tangannya dilonjorkan ke depan dan ia mengerahkan tenaga sinkang-nya untuk memberi dorongan kepada senjata rahasianya.

 

Suling Emas menunda gerakannya menggali. Ia pun membalik dan kiranya di tangan kirinya terdapat sebuah kipas biru yang terdapat lukisan indah. Ia mengipaskan benda itu ke depan sambil berseru. “Hek- giam-lo, aku terima tantanganmu, akan tetapi tunggulah sebentar sampai selesai pekerjaanku.” Ia mengebutkan lagi kipasnya dan sekali lagi awan hitam yang sudah mendesak maju itu terpental mundur sampai lima kaki jauhnya.

 

Tanpa mempedulikan Hek-giam-lo yang terpaksa menerima kembali jarum-jarumnya itu, Suling Emas berloncatan ke sana ke mari dan tampaklah mayat-mayat yang berserakan itu satu demi satu melayang masuk ke dalam lobang besar yang digalinya tadi. Pemandangan yang amat mengerikan. Mayat-mayat itu seakan-akan hidup kembali dan terbang seperti setan-setan penasaran. Padahal Suling Emas hanya menggunakan ujung sabit untuk mencongkel mayat-mayat itu. Dalam waktu pendek saja sebelas buah mayat itu sudah terbang semua ke dalam lubang. Suling Emas lalu menguruk lubang dengan tanah galian. Begitu cepat ia melakukan pekerjaan ini sehingga waktu untuk menggali dan ‘mengubur’ ini tidak lebih dari pada sepuluh menit saja!

 

“Ho-ho-hah-hah, Suling Emas namanya menyundul langit. Kiranya hanya seorang bocah ingusan yang tak tahan melihat mayat-mayat berserakan. Ha-ha-ha.” It-gan Kai-ong tertawa mengejek.

 

“It-gan Kai-ong, terimalah salamku. Tak kusangka di puncak Thai-san ini akan bertemu dengan seorang raja, sungguh menyenangkan,” jawab Suling Emas.

 

“Tampan sekali! Ganteng… dan jejaka tulen. Hebat! Suling Emas, mari pergi bersama saya…” Suara Siang- mou Sin-ni amat manis dan merdu, senyumnya memikat dan kerling matanya menyambar. Pemuda biasa saja kiranya akan runtuh kalbunya dan bobol pertahanannya kalau menghadapi senyum dan kerling yang memabukkan ini. Memang Siang-mou Sin-ni memiliki kecantikan yang luar biasa, keharuman rambut yang memabukkan, dan ada sesuatu yang mukjijat, hawa kekuatan yang tidak sewajarnya keluar dari tubuhnya.

 

Suling Emas menjadi merah mukanya ketika ia mengangguk dan membungkuk sebagai tanda hormat. “Siang-mou Sin-ni, terima kasih. Kulihat di antara mayat-mayat itu terdapat seorang muda yang sudah kau sedot habis isi tulang belakangnya, apakah kau masih juga belum kenyang?”

 

Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh-kekeh mendengar ejekan ini. Ada pun It-gan Kai-ong lalu menegur, “Kim- siauw (Suling Emas), kau yang masih begini muda, bagaimana berani lancang menyebut nama kami? Bagaimana kau bisa megenal bahwa aku It-gan Kai-ong?”

 

Suling Emas tertawa. “Banyak raja di dunia ini, akan tetapi yang suka memakai pakaian tambalan, hanyalah raja pengemis. Di antara banyak raja pengemis yang terkenal, memang ada beberapa orang di antaranya yang buta kedua matanya, akan tetapi yang picak sebelah hanyalah It-gan Kai-ong.”

 

Siang-mou Sin-ni makin keras kekeh tawanya, bahkan si Muka Tengkorak yang pendiam juga terbatuk- batuk menahan tawa. It-gan Kai-ong mencak-mencak saking marahnya. “Bocah sombong, berani kau mempermainkan aku? Hayo ke sinilah, boleh kita adu kepandaian.”

 

“Nanti dulu, Kai-ong. Biarlah dia mencoba kelihaian rambutku. Kalau dia bisa mengatasi rambutku, tak perlu aku mencium dan menggigitnya, hi-hi-hik!” Siang-mou Sin-ni melangkah maju.

 

Akan tetapi Suling Emas tidak mempedulikan mereka berdua. Langsung ia menghampiri Hek-giam-lo, menyerahkan senjata sabit. “Ini senjatamu, Hek-giam-lo, dan terima kasih.”

 

 

 

Hek-giam-lo mengulur tangan kiri menangkap gagang sabitnya, akan tetapi Suling Emas tidak melepaskannya. Sambil tersenyum pemuda ini mengulur tangan kiri pula ke arah sulingnya yang masih dipegang oleh Hek-giam-lo, kemudian menyambar suling itu. Keduanya kini berdiri berhadapan dengan kedua tangan memegang kedua macam senjata, tidak saling dilepas. Sejenak mereka berpandangan, ragu-ragu berada di pihak Hek-giam-lo, akan tetapi kemudian ia mengendorkan pegangannya pada suling. Suling Emas juga melepaskan sabit dan menarik suling sehingga di lain saat kedua orang itu sudah saling bertukar senjata.

 

Hek-giam-lo yang masih marah dan penasaran sudah mengangkat sabit, siap menyerang. Akan tetapi ia kalah dulu oleh Siang-mou Sin-ni yang sudah melompat ke depan Suling Emas dan sambil terkekeh wanita ini menggerakkan rambutnya yang mengeluarkan bunyi bercuitan seperti seratus cambuk menerjang Suling Emas. Bau yang harum semerbak memabukkan menusuk hidung.

 

Suling Emas cepat mengerahkan sinkang dan melompat ke belakang, sulingnya menyampok ke depan dibarengi kipasnya dikebutkan. Terdengar suara nyaring ketika suling emas itu bertemu dengan gumpalan rambut yang paling tebal, sedangkan kipas yang bergerak kuat itu meniup balik rambut panjang yang tadi menerjang maju seperti hidup.

 

Baik Suling Emas mau pun Siang-mou Sin-ni masing-masing melangkah mundur tiga tindak dan saling pandang dengan kagum. Malah Siang-mou Sin-ni kelihatan kaget. Tak disangkanya bahwa pemuda ganteng ini demikian kuat dan lihai. Kulit kepalanya sampai terasa pedas dan panas karena akar rambutnya terguncang keras. Di lain pihak Suling Emas juga maklum bahwa wanita ini benar-benar luar biasa seperti yang sudah lama ia dengar. Kipas dan sulingnya tergetar hebat dan ia sampai melirik kepada dua senjatanya itu untuk melihat apakah kipas dan suling tidak menjadi rusak.

 

“Siang-mou Sin-ni, jangan kau lancang. Karena dia tadi menghinaku, akulah yang berhak menantangnya. Eh, Suling Emas bocah sombong, beranikah kau menghadapiku?” Hek-giam-lo sudah  melangkah maju lagi, tangan kirinya merogoh saku.

 

Suling Emas melintangkan suling di depan dada dan kipasnya diangkat ke atas kepala. Ia tersenyum tenang. “Aku mendaki puncak Thai-san dengan perasaan aman dan damai, dengan pikiran gembira dan bersih dari pada permusuhan dengan siapa pun juga. Aku tidak menghendaki permusuhan di tempat yang indah dan sejuk ini. Akan tetapi kalau ada yang menantangku, biar pun aku ogah melayani, namun suling dan kipasku harus menjaga nama dan kehormatan.”

 

“Jadi!” Hek-giam-lo berseru keras.

 

Tangan kirinya keluar dan begitu tangan kiri itu bergerak-gerak, tiga belas batang pedang pendek yang seperti disulap keluar dari jubah hitamnya itu telah menancap di atas tanah, membentuk lingkaran. Lingkaran itu terdiri dari sepuluh batang pedang yang berdiri berjajar, di tengah-tengah lingkaran tertancap tiga batang pedang yang bentuknya segi tiga. Sambil menggereng keras tubuh Hek-giam-lo melayang ke tengah lingkaran dan tahu-tahu ia sudah berdiri dengan sebelah kaki menginjak gagang pedang. Pedang itu kecil saja, dapat dibayangkan betapa tinggi ginkang (ilmu meringankan tubuh) harus dibutuhkan untuk dapat berdiri di atas gagangnya. Pedang bergoyang-goyang, namun tubuh Hek-giam-lo tetap tegak tak bergerak, sabitnya diangkat di atas kepala.

 

“Bagus, boleh kulayani kau main-main sebentar Hek-giam-lo!” seru Suling Emas dan seperti seekor burung garuda melayang, tubuhnya yang tinggi tegap itu meloncat ke tengah lingkaran, kaki kanannya menginjak gagang sebuah pedang lain.

 

Hek-giam-lo menyambut kedatangan lawannya dengan suara ketawa aneh menyeramkan, sabitnya bergerak dan menyambar seperti kilat putih, memancung ke arah leher Suling Emas. Namun, lawannya bukanlah orang sembarangan. Sedikit berjongkok saja sabit itu sudah lewat di atas kepala dan sekali menggerakkan kedua tangan, kipas di tangan kiri yang terbuka itu mengebut ke arah muka tengkorak sedangkan suling disodokkan ke arah lambung. Sekaligus Suling Emas telah menyerang hebat dengan gerakan yang kelihatan lambat, namun tidak mengeluarkan suara dan sukar diduga ke mana arah dan sasarannya.

 

“Huhhhhh…!” Hek-giam-lo mendengus pendek, sabitnya terayun membentuk lingkaran di depan lambung menangkis suling, tubuhnya meloncat ke belakang menginjak gagang pedang lain yang merupakan pagar.

 

“Hek-giam-lo, aku tahu ilmu silatmu hebat, setiap gerakan mengarah nyawa. Tapi adu ilmu ini hanya untuk

 

saling kenal, bukan? Siapa turun dari pedang berarti sudah mengalah.”

“Cerewet!” Hek-giam-lo mendengus dan sabitnya menyambar lagi, kini berturut-turut dan bertubi-tubi

menyerang dari segala jurusan, diputar-putar sampai lenyap bentuk sabitnya, berubah menjadi segulung sinar putih menyilaukan mata.

 

Suling Emas terpaksa melayani desakan yang merupakan cakar-cakar maut mengancam nyawa ini. Dengan lincah tubuhnya bergerak cepat, lenyap berubah menjadi bayangan hitam, sulingnya membalas dengan serangan ke arah kaki, kipasnya mengancam kepala dan menyampok sabit. Terpaksa Hek-giam-lo kini yang harus berloncatan mengelilingi patok-patok pedang itu, karena agaknya Suling Emas berusaha keras untuk memaksa ia turun dari patok dengan penyerangan yang selalu ditujukan kepada kakinya yang menginjak gagang pedang.

 

“Tengkorak busuk, serahkan si Ganteng kepadaku!” Siang-mou Sin-ni memekik dan wanita ini pun sudah meloncat ke atas gagang pedang. Dari belakang rambutnya menyambar ke arah leher Suling Emas untuk mencekiknya. Agaknya wanita ini merasa khawatir kalau-kalau jejaka tampan yang hendak dijadikan korbannya itu tewas oleh Hek-giam-lo yang amat lihai.

 

Namun Suling Emas biar pun masih muda, ternyata memiliki kegesitan yang mengagumkan. Begitu rambut Siang-mou Sin-ni menyambar, tubuhnya sudah melayang ke kiri, kipasnya mengebut muka Hek-giam-lo dan sulingnya dari bawah menotok dada Siang-mou Sin-ni.

 

“Ihhhh… kau mau membunuhku?” Wanita itu memekik sambil mengelak cepat. “Kau tidak suka kepadaku? Apa ada wanita yang lebih cantik dari padaku?”

 

“Kalau perlu, apa salahnya membunuhmu? Kau pun menghendaki nyawaku,” jawab Suling Emas sambil menerjang lagi, sekaligus menghadapi dua orang lawan yang sakti itu.

 

“Wah-wah, sungguh memalukan sekali. Thian-te Liok-koai (Enam Setan Dunia) sudah terkenal sebagai enam tokoh tak terkalahkan di dunia. Masa dua di antaranya sekarang tak dapat mengalahkan seorang bocah hijau? Kalau aku tidak turun tangan membasminya, bisa tercemar nama besar Thian-te Liok-koai!” It-gan Kai-ong si Raja Pengemis Mata Satu melompat dan tongkatnya menyambar. Hebat gerakannya dan pedang yang diinjaknya sama sekali tidak bergerak, menandakan bahwa ginkang yang dimilikinya amat tinggi tingkatnya.

 

Suling Emas mengeluh dalam hatinya. Kalau menghadapi mereka di atas tanah yang keras, biar pun tidak berani ia mengharapkan kemenangan, namun ia dapat menjaga diri jauh lebih baik dari pada kalau bertempur dikeroyok tiga di atas patok-patok pedang ini. Ia berusaha mainkan suling dan kipasnya sebaik mungkin, menutup diri dengan pertahanan sekokoh benteng baja, dan mencari kesempatan merobohkan lawannya seorang demi seorang. Namun ia harus akui kehebatan tiga orang tokoh yang selama hidupnya baru kali ini ia lihat. Belum dua puluh jurus ia sudah terdesak hebat.

 

Tiba-tiba terdengar suara keras. Tiga orang sakti itu berjungkir-balik dan berlompatan ke luar dari lingkaran patok. Ternyata semua patok pedang, kecuali yang diinjak oleh Suling Emas, telah roboh malang melintang! Tiga orang sakti itu tadi hanya merasa betapa angin pukulan dahsyat menyambar ke bawah, merobohkan patok-patok pedang tanpa dapat mereka cegah lagi, terpaksa mereka melompat dan berpoksai (bersalto) dan seperti mendengar komando, ketiganya lalu berlari cepat menghilang dari tempat itu.

 

Suling Emas terheran-heran. Ia melompat turun, dengan tangannya ia meraup tiga belas pedang pendek itu, lalu melontarkannya ke arah menghilangnya Hek-giam-lo sambil berseru, “Iblis Hitam, bawa pergi pedang-pedangmu!”

 

Tiga belas batang pedang itu terbang melayang seperti sekelompok burung dan lenyap di balik batu-batu besar yang mengitari puncak. Memang hebat sekali tenaga sambitan Suling Emas ini, dan patutlah kiranya ia menjadi lawan orang-orang sakti seperti tiga tokoh tadi.

 

Terdengar suara orang menarik napas panjang. Suling Emas cepat membalikkan tubuhnya dan bulu tengkuknya berdiri ketika ia melihat seorang kakek tua sudah berdiri di depannya. Ia merasa seram karena tak mungkin ada orang, betapa pun saktinya, dapat mendekatinya tanpa ia mendengarnya sama sekali. Helaan napas saja dapat tertangkap oleh pendengarannya, bagaimanakah gerakan kakek ini sama sekali tidak didengarnya dan tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya? Apakah kakek ini pandai menghilang?

 

Dengan pandang mata penuh selidik ia menatap kakek itu.

Sukar ditaksir usianya karena sudah terlalu tua. Melihat kakek ini mengingatkan orang akan gambar-

gambar para dewa. Rambutnya berwarna dua, tebal dan jarang, panjang sampai ke punggung. Digelung kecil di atas kepala, ujungnya terurai ke pundak dan punggung. Kumis dan jenggotnya juga hitam putih, terurai ke bawah. Sepasang alisnya tebal, dahinya lebar, sepasang mata yang bening dengan sinar mata sayu termenung, mulut yang setengah tertutup cambang itu selalu tersenyum ramah.

 

Jubahnya longgar berwarna kelabu kehitaman, sepatunya dari kain tebal, di bawahnya terbuat dari pada anyaman rumput, lengan bajunya lebar sekali. Pada punggung kakek ini tampak sebuah alat musik khim. Agaknya saking tuanya maka tubuh kakek ini agak bongkok dan kelihatan pendek. Kelihatannya biasa saja, seperti kakek-kakek lain yang sudah amat tua, hanya daun telinganya yang mungkin terlalu besar  bagi orang-orang biasa, mengingatkan orang akan daun telinga pada arca-arca Buddha dan para dewa.

 

Suling Emas cepat menjura dengan sikap hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Maaf, Locianpwe (Kakek Sakti), benarkah dugaan saya bahwa Locianpwe adalah Bu Kek Siansu?”

 

Kakek itu tertawa dan tampaklah keganjilan pada mukanya karena di balik bibirnya itu tampak berderet dua baris gigi yang masih utuh dan rapi. “Tidak salah, anak muda. Semoga dengan tibanya musim semi, Yang Maha Murah akan melimpahkan berkah kepadamu….”

 

Suling Emas terkejut dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut. Ia merasa malu karena ucapan selamat pada Hari Musim Semi itu didahului oleh kakek ini. “Locianpwe, maafkan kelancangan teecu (murid) tadi. Teecu menghaturkan Selamat Musim Semi, semoga Locianpwe selalu sehat, bahagia dan dikurniai usia panjang.”

 

“Ha-ha-ha-ha, anak muda lucu, kau rangkaikan sehat dan usia panjang dengan bahagia. Apa kau kira  kalau sudah sehat itu pasti berusia panjang, dan kalau berusia panjang itu pasti bahagia? Ha-ha-ha!”

 

“Teecu mohon petunjuk, Locianpwe.”

 

“Sulingmu tadi mainkan ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa) dan kipasmu mainkan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Kacau Lautan), apamukah Kim-mo Taisu?”

 

Suling Emas terkejut sekali dan cepat ia mengangguk-anggukkan kepala sampai jidatnya menyentuh bumi. “Kiranya Locianpwe yang tadi menolong teecu dari pengeroyokan tiga manusia iblis, teecu menghaturkan terima kasih. Kim-mo Taisu yang Locianpwe tanyakan adalah mendiang Suhu (Guru), dan beliaulah yang dahulu berpesan kepada teecu agar teecu mencari kesempatan pada tiap hari pertama musim semi untuk menjumpai Locianpwe dan mohon petunjuk.”

 

“Ha-ha-ha, Thian (Tuhan) sungguh adil dan bijak, hari ini memberi hadiah dengan jodoh yang amat baik. Jadi Kim-mo Taisu itu gurumu? Dia sudah mati lebih dulu dari pada aku? Ha-ha, aku berani mengatakan bahwa dia tentu mati dalam tugas sebagai pahlawan. Memang sejak dulu dia mempunyai jiwa patriot.”

 

“Tidak salah dugaan Locianpwe. Suhu tewas ketika terjadi perang terhadap bangsa Khitan di daerah Ho- peh, Suhu roboh oleh pengeroyokan jago-jago Khitan. Teecu hanya terluka, tapi tidak dapat mencegah terjadinya hal itu,” suara Suling Emas melirih, akan tetapi sama sekali tidak terdengar kesedihan. Hatinya sudah terlalu masak dan mengeras untuk dapat dikuasai kesedihan.

 

“Hemmm, belasan tahun ia bersusah payah membantu Cao Kuang Yin dalam usahanya mendirikan Wangsa Sung. Sampai Cao Kuang Yin menjadi Kaisar Sung Tai Cu, gurumu masih terus membantunya dan akhirnya mengorbankan nyawa. Dia seorang patriot tulen, tanpa pamrih, tidak mengejar pangkat, hanya ingin melihat negara kuat dan rakyatnya hidup makmur. Betapa pun juga, segala sesuatu sudah direncanakan dan akan diatur pelaksanaannya oleh Tuhan. Orang muda, siapa namamu?”

 

“Teecu dikenal sebagai Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas), dan teecu tidak menggunakan nama lain lagi.”

 

“Ha-ha, begini muda, sudah menelan kepahitan hidup. Hati-hati, orang muda, kepatahan hatimu dapat mendorongmu menjadi tidak peduli seperti sekarang ini, melupakan yang lewat, dan akhirnya kalau tidak kuat-kuat batinmu, dapat membuat kau menjadi seorang yang kejam. Baiknya belum sejauh itu kau tersesat, buktinya kau masih mau mengubur jenazah-jenazah itu.”

 

 

 

 

“Maaf, Locianpwe. Teecu cukup dapat membedakan mana jahat mana baik, biar pun teecu sengaja meninggalkan hidup yang lewat untuk… untuk….”

 

“Melupakan kepahitan yang mematahkan hatimu?”

 

Suling Emas hanya mengangguk lalu menundukkan muka. “Teecu mohon petunjuk.”

 

“Kau berjuluk Suling Emas, tentu pandai bermain suling. Hayo perdengarkan suara sulingmu, dan kita coba-coba main bersama sulingmu dengan khim yang kumainkan, mencari keserasian.” Kakek itu lalu duduk di atas rumput, menurunkan alat musiknya yang mempunyai tujuh buah kawat itu.

 

Suling Emas girang sekali. Sebagai seorang murid gemblengan dari orang sakti Kim-mo Taisu, tentu saja ia maklum bahwa bermain musik bagi seorang seperti Bu Kek Siansu berarti berlatih atau menguji kepandaian lweekang dan ilmu silat tinggi. Ia segera duduk bersila, mengatur pernapasan, lalu meniup sulingnya.

 

Bu Kek Siansu tersenyum mendengar lengking suling yang tinggi mengalun dan merdu, bersih dan nyaring itu. Jari-jari tangannya lalu mulai menyentuh kawat pada khimnya, terdengar suara cring-cring-cring tinggi rendah.

 

Suling Emas kaget bukan main. Begitu suara kawat khim itu berbunyi, napasnya jadi sesak dan suara sulingnya terdesak hebat sampai menurun rendah sekali. Ia segera meramkan kedua matanya, memusatkan panca indra, mengerahkan seluruh tenaga sinkang di dalam tubuhnya, mengatur pernapasan sepanjang mungkin sampai memenuhi pusarnya, dan semua tenaga yang dikumpulkan ini ia salurkan melalui suara sulingnya yang kini menjadi bening dan tinggi kembali.

 

Akan tetapi permainan khim dari Bu Kek Siansu juga makin hebat. Suara nyaring tinggi rendah dari kawat- kawat itu merupakan jurus-jurus penyerangan yang lebih hebat dari pada tusukan-tusukan pedang pusaka, lebih hebat dari pada gempuran tangan sakti. Kadang-kadang bergelombang datangnya, bertubi-tubi dan makin lama makin kuat seperti ombak samudera.

 

Keadaan Suling Emas amat terdesak. Orang muda ini meniup suling sambil meramkan mata, keningnya berkerut dan uap putih menyelubungi kepalanya, saking hebatnya tenaga sinkang bekerja di tubuhnya. Ia berusaha sedapat mungkin untuk menangkis dan melindungi dirinya dari gelombang yang menghanyutkan, akan tetapi usahanya itu seperti seorang pelajar renang mencoba untuk berenang melawan badai dan taufan mengamuk di lautan.

 

Ia sebentar tenggelam sebentar timbul, sebentar terseret dan terhanyut kemudian dibanting ke atas setinggi gunung, lalu dihempaskan ke bawah seperti dilempar ke neraka. Beberapa kali ia hampir pingsan, namun semangatnya yang pantang mundur membuat kenekatannya bulat dan ia tetap sadar. Dengan tekun ia memperhatikan gaya penyerangan dari suara khim itu, dan terciptalah dalam otaknya inti sari jurus-jurus penyerangan ilmu silat yang amat tinggi dan ajaib.

 

Di samping menuntun dan memberi petunjuk, agaknya Bu Kek Siansu juga hendak menguji kekuatannya. Suara khim itu makin mendesak, menekan, dan pada saat terakhir Suling Emas hampir tak kuat lagi. Kepalanya pening, matanya melihat seribu bintang, tubuhnya menggigil dan peluhnya sebesar kacang kedelai memenuhi jidatnya. Tiba-tiba, berbareng dengan berhentinya sama sekali suara suling yang makin melemah dan makin habis itu, berhenti pula suara khim. Suasana hening bening, sunyi senyap.

 

Suling Emas dengan wajah pucat dan napas terengah merasa seakan-akan batu seberat gunung yang menindih kepalanya diangkat orang. Ia menyalurkan hawa secara normal dan pernapasannya kembali dalam keadaan normal.

 

“Ha-ha-ha, tidak kecewa kau menjadi murid Kim-mo Taisu.”

 

Suling Emas membuka kedua matanya, lalu berlutut. “Banyak terima kasih atas petunjuk Locianpwe yang amat berharga.”

 

“Orang muda, bakatmu memang luar biasa. Pantas saja Kim-mo Taisu mengangkatmu sebagai murid. Manusia hidup mengejar ilmu. Ilmu harus dipergunakan di dunia ini untuk kemajuan hidup, untuk mengabdi kebajikan, dan memberantas kejahatan. Apa artinya mempelajari ilmu kalau tak mampu mempergunakan

 

 

 

sebagaimana mestinya? Apa pula artinya puluhan tahun mempelajari ilmu kalau kesemuanya itu kelak dibawa mati? Karena inilah maka setiap tahun, hari pertama musim semi, aku selalu mencari jodoh untuk menurunkan beberapa ilmu yang berhasil kuciptakan. Siapa dapat bertemu denganku pada hari pertama musim semi, dia pasti akan menerima sesuatu dari ilmu-ilmuku sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing.”

 

Melihat kakek itu berhenti sebentar, Suling Emas yang selalu berwatak jujur tanpa mau menyembunyikan dan dipermainkan perasaan, berkata, “Teecu sudah mendengar akan hal itu, sudah pula teecu dengar betapa banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal keji dan jahat menerima pula warisan ilmu dari Locianpwe. Harap Locianpwe terangkan, mengapa Locianpwe menurunkan ilmu kepada mereka itu?”

 

Kakek itu tertawa lebar, giginya berkilauan tertimpa sinar matahari. “Aku sudah melepaskan diri dari pada ikatan perasaan, tidak mencinta tidak pula membenci, tiada yang baik dan tiada yang buruk bagiku. Betapa pun juga, aku seorang manusia yang masih dikuasai pikiran dan pertimbangan. Mereka yang berjodoh dan bertemu denganku, siapa pun dia, pasti akan menerima warisan ilmu sesuai dengan watak dan bakatnya.”

 

Suling Emas biar pun baru berusia tiga puluh tahun, namun ia seorang kutu buku yang sudah banyak melalap kitab-kitab kuno, maka ia dapat menerima pendirian seorang sakti seperti ini. Ia tidak mau berdebat, dan tidak berani mencela, maka ia lalu bertanya, “Teecu sudah menerima petunjuk dengan suara tadi, bolehkah teecu bertanya, apa nama ilmu itu dan apakah ilmu ini cocok dengan teecu maka Locianpwe mengajarkannya?”

 

“Orang muda, selama aku merantau dan setiap tahun menurunkan ilmu, hanya ada dua ilmu yang tak pernah dapat diterima orang, biar pun setiap kali sudah kucoba untuk menurunkannya. Yang pertama adalah ilmu yang terkandung dalam suara khim tadi, yang kuberi nama Kim-kang Sin-im (Tenaga Emas dari Suara Sakti). Kau tadi dapat melayani aku sampai lima puluh delapan jurus, itu sudah bagus sekali. Berarti kau sudah dapat menangkap inti sarinya, tinggal kau kembangkan saja, tergantung kepada ketekunan dan bakatmu. Yang kedua adalah ilmu yang juga tak pernah dapat dimengerti orang, yaitu Hong-in-bun-hoat (Ilmu Sastra Angin dan Mega)! Kulihat kau cerdik, bakatmu luar biasa dan menilik pakaianmu, kiranya kau tidak asing akan sastra, bukan?”

 

“Teecu masih bodoh, akan tetapi teecu memberanikan diri untuk mencoba menyelami Ilmu Hong-in-bun- hoat itu, Locianpwe.”

 

Bu Kek Siansu terkekeh girang, lalu ia berdiri. Suling Emas tetap duduk bersila dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan tenaga sinkang-nya ia dapat membuka mata tanpa berkedip berjam-jam lamanya.

 

“Lihat dan ingat baik-baik semua huruf ini, orang muda,” terdengar Bu Kek Siansu berkata.

 

Mulailah kakek itu menggerakkan tubuhnya lambat-lambat, kedua lengannya bergerak-gerak ke depan, mencorat-coret ke atas dan ke bawah. Kedua kakinya selalu bergerak, juga geserannya berupa corat-coret membentuk huruf yang disesuaikan dengan coretan bagian atas dengan kedua tangannya.

 

Suling Emas girang sekali bahwa dia dahulu adalah seorang yang amat tekun mempelajari ilmu sastra, sehingga ia hafal akan sepuluh ribu macam huruf. Ia melihat betapa gerakan yang dilakukan oleh kakek itu merupakan coretan-coretan huruf-huruf yang amat indah dan kuat. Lebih mudah baginya untuk mengingat karena ternyata setelah kakek itu melakukan belasan jurus, huruf-huruf itu membentuk sajak-sajak dalam pelajaran Nabi Khong Hu Cu yang ayat pertamanya berbunyi: THIAN BENG CI WI SENG (Anugerah  Tuhan Adalah Watak asli).

 

Tentu saja ia sudah hafal akan ayat-ayat kitab Tiong Yong ini, maka ia tidak perlu lagi untuk mengingat- ingat susunan kalimatnya, hanya perlu mengingat jurus gerakan setiap huruf. Hal ini  menguntungkan Suling Emas karena perhatiannya tidak terpecah, dan setelah menyaksikan beberapa belas huruf ia sudah dapat menyelami inti sarinya sehingga selanjutnya ia dapat menduga bagaimana huruf-huruf lain dibentuk dalam gerakan silat itu. Setelah lewat seratus huruf, biar pun kini Bu Kek Siansu bersilat dengan luar biasa cepatnya, ia sudah dapat mengerti dengan baik bagaimana harus bersilat menurut goresan dalam pembentukan huruf-huruf suci itu.

 

Saking tertarik dan tekunnya, tanpa ia sadari dan sengaja, Suling Emas sudah bangkit dari atas tanah, dan otomatis ia juga bersilat, bukan meniru gerakan Bu Kek Siansu lagi, melainkan ia melanjutkan huruf-huruf yang belum dimainkan, sesuai dengan bunyi sajak dalam ayat-ayat kitab Tiong Yong.

 

 

 

“Cukup, tidak sia-sia kali ini aku berlelah-lelah,” Bu Kek Siansu tertawa gembira. “Dan saat pertemuan ini pun sudah cukup, kau boleh turun dari puncak sekarang juga.”

 

Suling Emas menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih lalu berkata, “Budi Locianpwe terlalu besar terhadap teecu, bagaimana teecu berani memutuskan pertemuan penting ini sedemikian singkat? Teecu mohon petunjuk.”

 

“Ha-ha-ha, tidak ada manusia di dunia ini yang merasa puas dengan keadaannya sendiri. Siapa mengenal kepuasan dalam setiap keadaan, dialah manusia bahagia yang dapat menikmati berkah Tuhan. Orang muda, kiranya dengan kepandaian yang kau miliki ini, kau berada di persimpangan jalan yang dapat membawa kau ke jurang kejahatan, juga dapat membawamu ke alam murni. Hanya tokoh-tokoh terbesar dari golongan hitam dan putih saja yang sejajar dengan tingkat kepandaianmu.”

 

“Maaf akan kebodohan dan kecupatan pengetahuan teecu, Locianpwe. Bolehkah teecu menambah pengetahuan dengan mengenal nama-nama tokoh-tokoh itu?”

 

“Ha-ha, mereka yang selama ini menyembunyikan diri, setelah sekarang Kerajaan Sung berdiri, mereka mulai menampakkan diri, agaknya terpikat akan keadaan baru di dunia ini. Golongan hitam amat banyak tokohnya, akan tetapi kiranya hanya ada enam orang yang terkenal dengan sebutan Thian-te Liok-koai (Enam Setan Dunia). Kau tentu sudah mengenal siapa mereka, bukan?”

 

“Teecu pernah mendengar, akan tetapi belum pernah bertemu muka dengan mereka.”

 

“Ha-ha-ha, yang tiga orang tadi siapakah? Mereka adalah tiga di antara Liok-koai itu. Yang tiga orang lagi adalah Toat-beng Koai-jin (Setan Pencabut Nyawa), Tok-sim Lo-tong (Anak Tua Berhati Racun), dan Cui- beng-kwi (Setan Pengejar Roh). Kau berhati-hatilah terhadap enam orang ini. Mereka amat lihai dan memiliki kepandaian tinggi sekali.”

 

“Terima kasih, Locianpwe, akan teecu ingat benar pesan Locianpwe.”

 

“Ada pun tokoh-tokoh golongan putih juga banyak, akan tetapi mereka itu tidak suka menonjolkan diri, suka bersembunyi, di antaranya mendiang gurumu. Orang-orang seperti Kim-lun Seng-jin (Manusia Suci Roda Emas), dan Gan-lopek (Empek Gan) termasuk orang-orang luar biasa yang sukar dipegang ekornya ditentukan bulunya. Sudahlah, kelak kalau kau mempunyai nasib bertemu dengan mereka, kau akan dapat menilai sendiri. Sekarang pergilah, doaku selalu bersamamu selama kau tidak menyeleweng dari pada kebenaran.”

 

Suling Emas memberi hormat, kemudian pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi. Memang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, sebentar saja seperti seekor garuda terbang, ia sudah menuruni Thai-san. Setelah tiba di kaki gunung, barulah ia menengok, bukan terkenang kepada siapa-siapa melainkan untuk mengagumi puncak Thai-san yang kini tertutup awan putih itu.

 

“Awan putih sudah tinggi, masih ada puncak Thai-san yang melewatinya. Namun dibanding dengan langit, puncak Thai-san masih terlalu rendah,” bibirnya membisikkan sebagian dari pada sajak kuno yang pada saat itu terlintas dalam ingatannya. Kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar sambil termenung mengingat kembali Kim-kong Sin-im dan Hong-in Bun-hoat yang baru saja ia terima dari Bu Kek Siansu.

 

********************

 

Bu Kek Siansu masih berdiri seperti patung memandang ke arah perginya Suling Emas, kemudian ia berbisik kepada diri sendiri, “Manusia akan bertemu dengan penderitaan hidup kalau ia mengharapkan kesenangan hidup. Dia dapat menahan derita hidup dengan tenang tanpa penyesalan, benar-benar seorang muda yang kuat. Kesenangan dikejar, penderitaan didapat, baru mendapatkan kekuatan batin. Mengapa manusia harus mengalami semua ini? Mengapa?”

 

Bu Kek Siansu mengeluarkan sebuah kitab kecil dari saku jubahnya dan membacanya sambil berdiri. Pada saat itu tiga bayangan orang muncul secepat terbang mendaki puncak.

 

Bu Kek Siansu menyimpan kembali kitabnya di saku, mengambil alat musik khim dan menggantungkannya di punggung. Kemudian dipandangnya tiga orang di depannya itu sambil tersenyum ramah.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo