July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 9)

 

Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua. Sungguh pun pakaiannya selalu butut, sebutut tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya kalau hari sudah menjadi gelap saja maka berubahlah Raja Pengemis ini. Pakaiannya diganti dengan pakaian tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit.

Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis kelaparan yang berkeliaran di sekitar rumah gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang selirnya yang muda-muda, cantik dan genit. Pat-jiu Kai-ong tinggal di dalam istananya yang mewah, akan tetapi dikelilingi pagar bambu yang tinggi sehingga tidak tampak dari luar. Ia tinggal bersama lima orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawalnya.

Selosin orang ini tentu saja merupakan tokoh-tokoh dalam Pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga murid-murid tingkat satu dari Raja Pengemis itu. Para pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan-kiri istana ketua mereka. Ada pun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota.

Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggota itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar dan sebagian dari-pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah yang membuat Raja Pengemis ini menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali.

Selosin orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran! Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib. Pada waktu itu dia ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang- hoat-sut (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sin-tong, tentu dalam waktu satu tahun saja ilmunya akan sempurna.

Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang bocah!

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis.

“Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?” Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut.

Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu. Terutama sekali setelah mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang ‘sahabat lama’.

Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong

memandang tajam. Dia kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik. Pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau empat belas tahun. Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andai kata dia tidak menahan perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha-ha-ha!”

Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning. Kepalanya yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula.

Kakek itu tertawa lagi. “Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lu-san ini?”

“Ahhhh…!” Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. “Kiranya sahabat Bu yang datang? Maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpai. Jadi ini kedua anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani. Kalau tidak salah, bahkan anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!”

Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah merah. “Harap Pangcu sudi memaafkan saya.”

“Aih-aih…! Ini tentu orang tua Lu-san ini yang mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!”

“Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?” kakek itu berkata.

“Wah, jangan berkelakar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. Marilah masuk, kita bicara di dalam.” Pat-jiu Kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul. “Lekas beri-tahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puterinya!”

Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu Kai-ong menggandeng tangan kakek itu. Sambil tertawa-tawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.

Sambil memandang ke kanan-kiri mengagumi keindahan ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, “Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tinggal di sebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!”

Sejak tadi Pat-jiu Kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu.

“Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan menerima kehormatan kedatangan seorang tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini elok.”

Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak, lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san. Di sana dia bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera-puterinya.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat. Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal ini terjadi

karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat- ciang Hoat-sut.

Hatinya amat penasaran karena dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dalam melatih diri dengan ilmu hitam itu. Dia terlampau terburu-buru, dan akibatnya hawa mukjijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki pegunungan Lu-san. Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali.

Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima tahun. Sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan Raja Pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san. Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh.

Selama satu bulan berada di Lu-san, Raja Pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biar pun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu.

Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang, Lu- san Lojin terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa Raja Pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu.

“Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi,” setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya. “Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan kalian yang jauh- jauh datang mengunjungi aku.”

“Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kami pun hanya kebetulan saja lewat di kaki pegunungan Heng-san, maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati pegunungan Heng-san mencarimu.”

“Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?”

Lu-san Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya, lalu memandang puterinya seolah- olah minta ijinnya. Swi Liang menganggukkan kepalanya kepada ayahnya, kemudian menunduk. Pemuda ini menganggap bahwa Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka tidak ada salahnya kalau Raja Pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu Raja Pengemis itu justru dapat membantunya.

“Kami baru saja datang dari Lok-yang. Setelah melakukan perjalanan sejauh itu ternyata sia-sia belaka usaha kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari Racun Bumi itu, Lu-san Lojin?”

“Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan semenjak kecil. Antara Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lok-yang, akan tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya ke sana, ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia.”

“Ha-ha-ha, Itu salahmu sendiri! Mengapa mengikat perjanjian dengan seorang iblis seperti Tee-tok?”

“Pat-jiu Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu kami mengharap

bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah, agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Baik, baik… jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya. Kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa-gesa pulang.”

Lu-san Lojin menggeleng kepala. “Sudah terlalu lama kami meninggalkan pondok. Kami hanya dapat bermalam untuk satu malam saja, besok pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan.”

“Semalaman cukuplah, biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas hatiku.”

Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar istana Raja Pengemis itu. Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat dan kelihatan takut.

“Ada apa? Mau apa kalian mengganggu kami?” Kai-ong membentak marah dan menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja sehingga meja itu tergetar.

“Pangcu… ampunkan kami berdua… terpaksa kami mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua.”

“Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan!”

Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar istana. Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja Pengemis itu memang suka sekali memelihara ayam jago dan kadang-kadang mengadunya.

Pagi hari itu seperti biasa, seorang pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan memuji- mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik. Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian ternyata adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisannya.

“Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan….”

“Cukup!” Raja Pengemis itu marah sekali mendengar jagonya dibunuh orang. “Kalian tolol semua! Mana kain yang ada tulisan itu?!”

Kepala pengawal yang mukanya penuh brewok itu menyerahkan sehelai kain putih kepada ketuanya dengan kedua tangan gemetar. Kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda darah, darah ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain itu sejenak menjadi bingung, dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca. Dia buta huruf! Dengan jengkel dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san Lojin.

“Harap kau bacakan ini untukku!” katanya.

Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya terbelalak. “Wah… apa artinya ini?”

“Lojin! Bagaimana bunyinya?” Pat-jiu Kai-ong bertanya, suaranya membentak.

Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu. “Malam ini, semua makhluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia akan kubasmi habis! Ratu Pulau Es.”

“Ratu Pulau Es…?” Pat-jiu Kai-ong tertawa. “Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti ini? Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat bagaimana macamnya!”

“Kai-ong, harap jangan main-main. Biar pun hanya seperti dalam dongeng, nama Pulau Es amat terkenal. Katanya penghuninya memiliki kepandaian seperti dewa, apa lagi dahulu yang terkenal dengan sebutan

Pangeran Han Ti Ong….”

“Ha-ha-ha, siapa peduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal! Apakah kalian tahu akan isi surat?”

Dua orang pengawal itu mengangguk. “Sudah Pangcu.” “Apa kalian takut?”
“Ti… tidak, Pangcu, Hanya… hanya amat aneh itu…”

“Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang melakukan penjagaan yang ketat, terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan dia, ha-ha-ha!”

“Kai-ong harap hati-hati….” kata Lu-san Lojin setelah para pengawal itu keluar dari ruangan itu.

“Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apa lagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna, aku takut apa?”

Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau. Dengan hati berat dia bersama dua orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat tengah hari. Kemudian mereka dipersilakan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilakan makan minum lagi.

Sekali ini mereka benar-benar takjub melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian, pakaian malam yang indah dan mewah! Mengingat betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan kini seperti seorang raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampir tertawa, seperti melihat seorang badut pemain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh lebih lengkap dari-pada siang tadi!

“Ha-ha, ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!” kata tuan rumah itu mempersilakan tamu- tamunya.

Setelah hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali, Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak dan perutnya yang gendut. Matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati.

“Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak mengganggu. Ada pun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah, biarlah mereka berdua besenang- senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!”

“Kai-ong!” Lu-san Lojin membentak. “Apa… maksud kata-katamu ini?”

Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar. “Apa maksudnya? Swi Liang begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar, sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan… hemmm, aku ingin sekali bersenang-senang dengan mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak.”

“Kai-ong, apa kau gila?!” Lu-san Lojin hampir tak dapat percaya akan pendengarannya sendiri.

“Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Heh-heh, tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, juga puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak baik, marilah kalian layani pamanmu….”

“Keparat!” Lu-san Lojin melompat ke depan. Dua orang anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan. “Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?”

“Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul, tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja seperti puterimu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih, darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani datang!”

“Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang busuk!” Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya.

Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sebagai bekas murid Hoa-san-pai yang sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaannya sendiri, hasil renungannya di waktu bertapa, maka dapat dibayangkan tingginya kemampuan Lu-san Lojin. Kepalan tangannya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi, dia tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai.

Sambil tertawa Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dua kali. Kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tangannya sehingga dari kedudukan menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu! Dua orang anaknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan pedang mereka. Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu, sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya ke arah leher.

“Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!” kata kakek itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang.

Akan tetapi setelah kedua pedang itu menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar dan…. dua batang pedang itu telah dicengkeramnya dengan telapak tangan! Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakkan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak tangan Pat-jiu Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah dicengkeram jepitan baja yang amat kuat.

“Manusia tak kenal budi!” “Wirrrr… tar-tar!”
Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat sinar kuning menyambar. Ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini menggunakan sabuk itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan kehaliannya. Sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkang-nya.

“Krekk-krekkk!” dua batang pedang itu patah-patah dalam cengkeraman Pat-jiu Kai-ong. Sambil melompat mundur menghindarkan sambaran ujung sabuk, Raja Pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah Lu-san Lojin.

“Trang-tranggg!” dua batang ujung pedang itu terlempar ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk (ikat pinggang).

Kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan. Mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka.

Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara ribut-ribut.

Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong berkata, “Tangkap dua orang muda ini. Akan tetapi awas, jangan lukai mereka!”

Empat orang pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio. Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga. Akan tetapi biar pun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong. Ketika dua orang di antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok roboh dan lumpuh.

“Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik… kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku… ha- ha-ha!” Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil menyambar tongkatnya.

Setelah bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan lebih leluasa. Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong pergi dari ruang itu. Dia mengejar dan menggerakkan ikat pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding. Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini memang hebat.

“Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang engkau mencelakakan kami bertiga?” Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib puterinya.

“Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat buruk!”

“Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si pembunuh ayam!”

“Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?” Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas.

“Plak-plakk!” ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat.

“Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh yang datang. Lepaskan kedua anakku dan aku berjanji akan membantumu menghadapi musuh gelap itu.”

“Wah, berat kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengar baik-baik. Aku tergila-gila melihat anak- anakmu. Pinjamkan mereka kepadaku untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian.”

“Iblis busuk!” Lu-san Lojin marah sekali.

Dengan nekat dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan Raja Pengemis ini. Dia maklum bahwa betapa pun juga hati yang kotor dari Raja Pengemis itu tidak mudah dibujuk. Satu-satunya jalan untuk menolong anak-anaknya ialah melawan mati-matian.

“Plakkk!” tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat, keduanya saling betot untuk merampas senjata.

Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk menggerakkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan. Lu- san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti tangan berlumuran darah itu. Dia belum pernah mengenal ilmu Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk mengelak dia harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan melawan Pat-jiu Kai-ong, apa lagi tanpa senjata, maka dengan nekat dia lalu menggerakkan tangan pula menyambut pukulan itu.

“Dessss…! Aduhhh…!!” dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik. Kakek ini pingsan dan menderita luka dalam yang amat parah!
“Lempar dia di kamar tahanan!” Pat-jiu Kai-ong berkata sambil tertawa.

Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawa-tawa dia memasuki kamarnya. Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong yang lebar dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya. Lima orang selirnya menjaga di situ.

Ketika Pat-jiu Kai-ong masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio memandang dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata. Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang.

“Manis, jangan menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan musuh gelap yang mengancam,” kata Raja Pengemis.

Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang. “Temani mereka, jaga baik-baik jangan sampai ada yang lolos. Kalau ada apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal. Mengerti?”

Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi.

Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang.

Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya. Akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya. Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunyai banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi. Andai kata tidak sekali pun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?

Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua belas orang pengawalnya pasti menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak.

“Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng!” dengusnya.

Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakuti. Andai kata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan. Tadi pun ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin, padahal ia hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja. Dia tidak takut!

“Aku tidak takut!” serunya kuat-kuat. “Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!”

Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayan- pelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam pendengarannya. Biar pun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.

Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan yang sudah mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong. Mereka agak terhibur dengan adanya Swi Liang,

pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol.

Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong. Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula. Dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!

“Apa yang terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang terjadi?”

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka bercerita dengan suara gagap, “Ada… ada… setan…., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan… dan mereka berdua… tahu-tahu telah lenyap…”

“Tolol!!” Pat-jiu Kai-ong berkelebat ke luar melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejak dua orang tawanan yang lenyap itu.

“Kalian tidak melihat orang masuk?” bentaknya kepada para pengawal. “Tidak ada, Pangcu.”
“Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?”

Kagetlah para pengawal itu. Pat-jiu Kai-ong dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar- benar mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas lantai!

“Cepat lakukan penjagaan seperti tadi. Tutup semua jalan masuk! Bagi-bagi tenaga!” Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau. Harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu.

Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan teliti, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya, dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, akhirnya Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung berdebar.

Malam telah makin larut. Musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang tawanan itu secara aneh. Biar pun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemuda-pemudi itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh! Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya.

Siapakah Ratu Pulau Es? Jangankan dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu. Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil memenangkan perebutan atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermain-main dengan dia?

Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?

“Ha-ha-ha!” dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar.

Mengapa dia takut? Andai kata Kiam-mo Cai-li sendiri yang datang, dia pun tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia kang-ouw yang lebih mengerikan dari-pada Kiam-mo Cai-li?

“Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!”

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!

“Ha-ha-ha!” Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah.

“Kok!” suara ayam kesakitan ini memutus keruyuk ayamnya setengah jalan! Suara ini disusul dengan suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun selalu berhenti setengah jalan.

“Kok…!” berkali-kali terdengar ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya! “Keparat…!!”
Pat-jiu Kai-ong yang mukanya merah saking marahnya itu sudah meloncat ke luar dan langsung lari ke kandang. Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang. Di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.

“Jahanam…!” Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.

“Ngeoonggg…!” suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting.

Si Putih, satu-satunya kucing peliharaan di gedung itu berkelebat melompat sambil menggereng, seolah- olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

“Bukkk!” ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!

“Jahanam…!” Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya.

Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke atas genting, membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusia pun. Keadaan sunyi. Sunyi sekali, bahkan terlampau sunyi seolah-olah gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan!

“Hung-hung! Huk-huk-huk…!!” kini giliran tiga ekor anjing peliharaan gedung itu riuh menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung. Suara ini mengejutkan mereka, apa lagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan suara….

“Kaing…! nguik… nguikkk… nguikkkkk!” dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi sebelum terdengar gonggongan njing-anjing itu. “Bedebah…!” Raja Pengemis memaki.
Pat-jiu Kai-ong segera melompat dari atas genting. Saking cepatnya, dia tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu dan sebentar saja sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing. Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat! Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat, “Malam ini, semua makhluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!”

Semua binatang peliharaannya, ayam, kucing, dan anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar. “Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung…!”

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas. Mata mereka melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya. Mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak!

“Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua…!”

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama. Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si Brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan, persis seperti yang lain.

Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas. Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul-menyusul begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Biar pun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama, dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat. Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan marah sehingga timbul kembali keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jeri.

Pat-jiu Kai-ong lantas berteriak memaki, “Jahanan pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!”

Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan dan menyeramkan. Dalam kegelapan dan kesunyian malam itu seolah-olah tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa!

Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari semua golongan. Akan tetapi malam ini dia, Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal, memiliki anggota ratusan orang banyaknya, seorang di antara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah seorang wanita! Apa lagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!

“Hem, pengecut benar dia,” katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan

separuh dari nyali mereka. “Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!”

Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kai-ong melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai. Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata mereka. Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang. Mereka berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon!

“Celaka!” pikirnya. “Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon yang tumbuh di depan gedung.”

Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal itu menggerakkan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan! Entah bagaimana caranya, karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas. Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari ketakutan!

“Hik-hik-hik!” Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!

“Keparat, jangan lari kau!” Pat-jiu Kai-ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar, akan tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu!

Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan-kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya tiga orang pengawalnya. Mereka telah tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan. Tombak golok dan pedang itu menembus punggung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati!

Sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tapi tepat mengenai tiga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh itu. Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam gedung! Betapa tololnya dia! Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas semua. Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh orang-orang di dalam gedung.

Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki gedung. Benar saja, terdengar pekikan susul-menyusul dan begitu melewati pintu depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sana-sini. Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati semua. Pada dahi mereka juga ada bekas tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!

Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia. Lu-san Lo-jin! Pat-jiu Kai-ong mendadak teringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan. Ketika tiba di sana dia hanya melihat bahwa kakek itu pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda tapak tiga jari tangan, serta semua lubang di muka kakek itu mengalirkan darah hitam! Kini dia benar-benar bingung. Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang disangkanya semula!

Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu- san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki ruangan itu, dia tertegun! Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu penerangan. Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu, banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu. Dan di atas kursinya yang tadi ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita! Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik.

Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah. Anak itu pun tampan dan bersih serta mewah pakaiannya.

Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya? Tak mungkin agaknya. Wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali.

“Ibu, dia inikah orangnya?” tiba-tiba anak kecil itu bertanya, suaranya nyaring memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.

“Benar, dialah si bedebah Pat-jiu Kai-ong,” wanita itu berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

“Kalau begitu, mengapa Ibu tidak lekas membunuhnya?”

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan tetapi juga makin dingin menyeramkan. Wanita cantik itu kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan. “Kau lihat sajalah Ibumu menundukkan si jembel busuk ini.”

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping, dan ketika melangkah maju tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

“Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?”

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga Raja Pengemis ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita itu.

“Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua makhluk hidup di dalam gedungmu. Semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus membunuhmu perlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku.”

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan keras itu menjadi berdebar juga. Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jeri dan dia membentak, “Perempuan sombong! Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?”

“Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku baik-baik dan kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?”

Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong. Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih- rintih dan memohon pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam. “Kau… kau… Cap-sha Sin- hiap…?” tanyanya ragu-ragu.

“Benar. Aku adalah anggota paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua belas orang Suheng-ku telah kau bunuh. Ingatkah kau sekarang?”

Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita muda itu, yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap, perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut?

“Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis? Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari itu? Ha-ha-ha, betapa mesranya!”

“Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku. Aku akan membuat kau menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!”

“Perempuan sombong, mampuslah!” Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang dengan tongkatnya.

Dia melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukkan tongkatnya yang tentu akan menembus dada

wanita itu kalau tidak cepat wanita itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis. “Trakk!” tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong.
Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan. Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti! Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri di bawah petunjuk suaminya yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu mukjijat Hiat- ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin. Karena itu, biar pun memiliki sebatang pedang yang menempel di punggungnya, The Kwat Lin tidak menggunakan senjata, melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi tongkat karena memang kedua ujung lengan baju ini merupakan sepasang senjata yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka untuk meninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah bertahun-tahun dia cita-citakan. Dia menjadi istri Han Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga lainya. Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan dan jauh dari dunia ramai itu?

Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es sewaktu suaminya tidak ada, tentu saja sambil membawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Berbulan-bulan setelah menyelidiki akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san. Dia kemudian mengajak puteranya, dan setelah menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki keadaan istana Raja Pengemis itu. Hatinya amat tertarik saat melihat Swi Liang dan Swi Nio, maka dia menculik mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.

“Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku,” dia berkata tanpa banyak cerita lagi. “Tinggal kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. Karena sekarang belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?”

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka. “Harap subo sudi menolong Ayah kami…,” kata Swi Liang.

“Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti.”

The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puteranya. Setelah itu mulailah dia turun tangan membunuh semua binatang peliharaan di gedung Raja Pengemis itu, lalu membunuh semua pengawal, pelayan, dan para selir. Lu-san Lojin juga dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua makhluk hidup di dalam gedung itu, apa lagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik hatinya. Setelah makhluk hidup yang tersisa tinggal Pat-jiu Kai-ong, dia lalu keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya menanti di hutan. Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Han Bu Ong, anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip. Dia sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu. Melihat kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa gembira!

Hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia mainkan tongkatnya namun tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung lengan baju lawannya, bahkan lawannya terkekeh-kekeh

mengejeknya. Walau pun sang lawan hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo