July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 8)

 

Diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam. Andai kata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat! Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya terbasmi habis?

Setelah merasa mencari dengan sia-sia, beberapa hari kemudian Sin Liong mengemukakan pendapat, “Agaknya ibumu tidak berada di antara pulau-pulau ini. Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana.”

“Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, Suheng.” Sin Liong mengerutkan alisnya. “Sumoi, kau…cemburu lagi?” Wajah dara itu menjadi merah. “Aku hanya berkata sewajarnya.”
“Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka,” kata Sin Liong menarik napas panjang.

Keadaan menjadi hening sejenak. Mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.

“Kita ke Pulau Neraka!” tiba-tiba Swat Hong berkata. “Ehhh…??”
“Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biang keladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita. Hampir saja kita dibunuhnya karena Pulau Neraka telah berani menawanku.”

“Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayahmu telah menyerbu ke sana? Menurut cerita anak buah pasukan, kurasa Ayahmu telah menghukum mereka. Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi.”

“Aku harus pergi ke sana!” dara itu berkeras.

Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoi-nya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja.

“Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari ibumu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, Sumoi.”

“Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada….”

“Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar saat kita meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai mengamuk.”

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. “Baiklah, kita lihat saja nanti.”

Mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena di daerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata terjadi di daerah yang amat luas

itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang amat besar. Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

“Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini,” kata Swat Hong.

“Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan coba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja di sini.”

Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es. Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu.

Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depannya ke arah burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas beruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan. Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati.

Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa bagian anggota badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa beruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka. Kini burung-burung nazar yang kelaparan itu hendak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.

Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan. Mereka terbang ketakutan menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju terasa nyeri sekali. Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan beruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah. Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.

“Tenanglah, aku datang untuk menolongmu,” kata Sin Liong sambil maju lebih dekat.

“Aughhh..!” beruang itu mengerang dan kaki depannya yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong.

Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkeram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu.

Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan sapu- tangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi, tentu saja karena tulang yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi telah tercabut.

“Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati,” Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu.

“Hemmm, aku harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu,” katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

“Hai, Suheng, ada apakah?” tiba-tiba terdengar teriakan dari atas.

Sin Liong menoleh dan melihat sumoi-nya turun berlari-lari cepat sekali. Setelah dekat, beruang itu mengerang dan memandang Swat Hong dengan marah.

“Huh, binatang buruk!” Swat Hong memaki.

“Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang ini kuat sekali, aku harus mengobatinya sampai sembuh.”

Swat Hong mengerutkan alisnya. “Perlu apa menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuang- buang waktu saja.”

“Dia tidak buas lagi, Sumoi. Lihat betapa jinaknya. Dia pun makhluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya, Sumoi.”

“Wah, kau lebih mementingkan dia…”

“Hei…! Ada apa engkau…?” Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya.

Diam-diam Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakkan sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba- tiba dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoi-nya dan dia berteriak. “Awas, Sumoi. Mari kita lekas pergi. Dia menghendaki demikian, entah mengapa?”

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoi-nya dan membiarkan dirinya diseret oleh beruang itu. Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es lain yang berdekatan. Baru saja mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es di mana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. “Terima kasih, Kakak Beruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua.”

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. “Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu perahu kita kelihatan dari sini. Untung tidak hilang. Marilah, Suheng.”

“Nanti dulu, Sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang ini.” “Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini…”
“Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!”

“Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan? Marilah, Suheng.”

“Tidak, Sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya.”

Swat Hong menjadi marah. “Agaknya kau lebih sayang beruang betina ini dari-pada aku!” “Sumoi…!”
Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi. Ia berloncatan di atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi dia membatalkan niatnya karena maklum bahwa hal itu percuma saja.

“Ngukkk… nguuukkk….” beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya.

“Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam

bahaya maut oleh lukamu?”

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya. Kalau jaraknya terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya. Di pulau kecil itu dia mulai mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu Pulau Es.

“Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai,” pikirnya.

Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon. Setelah beruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya.

“Heii, Kakak Beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!”

“Nguuuk… nguukk…!” beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti orang menangis!

Sin Liong tersenyum. “Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!”

Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, beruang itu lalu meloncat ke dalam perahu. Kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur ke luar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

“Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!” kata Sin Liong. “Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh.”

Demikianlah Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur. Binatang ini telah jinak benar-benar.

Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat. Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan sesuatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka. Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka?

Ternyata bahwa seperti juga pulau lain, Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini. Banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat tinggi lalu diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai. Perahu itu adalah perahu bajak laut!

Setelah air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka mendarat dikepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce.

Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar, dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu), sedangkan nama aslinya adalah Koan Sek.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andai kata tahu juga, mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh orang-orang Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng. Betapa pun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akan tetapi karena pulau di mana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani.

Setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau. Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andai kata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa, tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada di antara mereka yang akan dapat lolos betapa pun liar, ganas dan lihai mereka itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira. Mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja. Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat!

Terjadilah perang tanding yang seru dan mati-matian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahat-penjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu silat. Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras. Ia memiliki seorang pembantu yang sebetulnya adalah sute-nya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua. Penyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apa lagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali. Untung masih ada beberapa macam obat yang masih dihafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!

“Keparat…!” kakek itu meloncat bangun, akan tetapi terguling kembali.

Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali. “Tenanglah, Kongkong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu.”

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apa lagi bertempur. “Hati-hatilah, Soan Cu…”

Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu. Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari ke luar. Ia melihat anak buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas. Di sebelah sana terlihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit, namun dua orang laki-laki itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu.

Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.

Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hai-liong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah menjadi segulung sinar terang yang menyambar dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu.

“Lepas tulang ikan!” tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sute-nya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan pengeroyokan. Mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar lembut bertubi- tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang.

Dara ini memandang rendah senjata rahasia mereka. Dia adalah seorang dara Pulau Neraka, sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun, maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan begitu dia menggerakkan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

“Aihhh…!” dia berseru nyaring, lebih banyak heran dari-pada khawatir.

Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang dipakainya.

“Sute, tangkap nona manis ini…!” teriak Koan Sek dengan girang.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak mendengar suara itu dekat sekali di belakang. Mereka segera menengok dan… mereka lantas pula terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan. Kiranya yang mengerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus!

Sin Liong yang datang bersama beruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu. Ia merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung beruang. Lengan kirinya memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah pingsan, sedangkan tangan kanan menggerakkan pedang dara itu sambil berseru.

“Kakak Beruang, lawan mereka yang berani mendekat!”

Beruang itu menggereng-gereng. Ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakkan oleh Coa Liok Gu, sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkeram kepala Coa Liok Gu.

Tentu saja orang ini sangat kaget. Cepat ia merendahkan tubuh, membalikkan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan beruang itu kembali menyambarnya, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata beruang itu.

“Cringgg…!!” pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin

dadanya robek oleh cakar beruang setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.

“Siuuut…!!” Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung beruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.

“Cringgg…! Tranggg…!!” dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas serta perih.

Pada saat Koan Sek terbelalak dan terheran, beruang itu sudah membalikkan tubuh sambil kaki depannya yang kanan menampar. Kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan beruang itu sudah menubruknya, bahkan siap mencengkeram ke arah lehernya.

“Kakak Beruang, jangan …!” Sin Liong membentak.

Beruang itu terkejut dan ragu-ragu, sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh ke belakang. Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang beruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biar pun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang. Dia maklum bahwa selain beruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu. “Hentikan pertempuran…!” dia berseru berkali-kali, namun percuma saja. Para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang. Suara itu segera disusul suara berdengung- dengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking itu, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!

Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung beruang. Kini beruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya.

“Uhhh… apa yang terjadi…?” Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya.

Sin Liong agak lega melihat dara itu sudah siuman. “Bagaimana lukamu?” tanyanya.

“Nyeri sekali, panas… eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?” Soan Cu segera turun dari pondongan Sin Liong. “Cepat pergunakan obat penolak ini…”

Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan beruang betina, Soan Cu berkata lagi, “Sin Liong tolong… kau tangkap Si Mata Satu itu… Aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)….”

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan.

Mata Koan Sek terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa. Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong.

Pemuda ini tadi telah melepaskan pedangnya. Melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat. Secepat kilat kedua tangannya lalu menyambar. Sebelum Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu.

Koan Sek menggigil. Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya. Apa lagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis menggerung-gerung karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.

“Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!” Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biar pun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Soan Cu menggeleng kepala. “Tidak mungkin. Mereka digerakkan oleh suara melengking itu.” “Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?”
Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung. “Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kongkong. Augghh…!” dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong.

“Aduh celaka…, binatang-binatang itu….” Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil. Dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyoknya.

“Kalau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang sama,” kata Sin Liong menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak. “Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini.”

Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacam- macam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang juga merupakan sute-nya melolong-lolong dan bergulingan dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaannya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. Pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak?

Maka pemuda ini merasa jantungnya seperti disayat-sayat menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu. Melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!

Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan susah payah. Tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup terbuat dari-pada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggota Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang.

Kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merubah suara tiupan sulingnya. Akhirnya yang tinggal hanya mayat-mayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.

“Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?” Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat.

Sin Liong mengerutkan alisnya. “Tocu, sungguh kejam engkau membunuh mereka seperti itu.”

Kakek itu terbelalak. “Aku? kejam? Dan mereka ini…?” dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. “Dan…hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini pemimpin mereka?” Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat.

“Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada di dalam tangannya!”

“Soan Cu…!” Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu. “Mengapa dia?”

“Terkena senjata beracun,” jawab Sin Liong, kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak. “Hayo kau berikan obat penawar senjata gelapmu!”

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang kenyang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sute-nya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum.

“Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?” tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jeri sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

“Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya,” jawab Sin Liong sambil menuding kepada Ouw Kong Ek. “Sedangkan nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya.”

“Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya yang seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkeraman kalian!”

“Engkau… engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!” Ouw Kong Ek membentak.

“Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman, terutama sekali cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apa lagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha- ha! Biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!”

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya.

Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong berkata, “Ouw-tocu apa yang dikatakannya benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka biarlah kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapa pun juga, nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari-pada kehidupan seorang sesat seperti dia.”

“Ha-ha-ha, itu baru omongan yang tepat!” Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa ‘mendapat angin’ berkata dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Neraka berada di tangannya. Apa lagi yang ditakutinya?

“Iblis keparat! Hayo kau berikan obat untuk cucuku dan kau boleh minggat dari sini!” Ouw Kong Ek membentak.

“Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol,” dia lalu menoleh kepada Sin Liong. “Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?”

Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap

(pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang dia percaya di situ, maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

“Aku bukan penghuni Pulau Neraka, aku adalah seorang dari Pulau Es….”

“Heeehhh…?!” mata Tok-gan-hai-liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahayul belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya?

“Pulau… Pulau… Es…?” dia berkata lirih.

Sin Liong mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting.

“Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat penawarnya jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini.”

“Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?!” Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam.

“Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini.”

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada kakeknya, kemudian berkata, “Ouw- tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya.”

Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakkan kepalanya, memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut. Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering.

“Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Tumbuklah hingga menjadi bubuk dan masak, lalu minumkan airnya, tentu dia akan sembuh.”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan. Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata, “Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini.”

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang.

“Kau tidak mau membiarkan aku pergi?” Koan Sek bertanya penuh khawatir.

“Jangan tergesa-gesa,” jawab Sin Liong. “Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?”

Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan menang. “Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?”

Sin Liong diam saja.

Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya, “Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?”

Sin Liong mengangguk.

“Dan siapa namamu?”

“Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?”

“Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng…”

“Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng….” Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pulau Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan.

“Ngukk… nguukkk…”

Sin Liong menoleh dan tersenyum. “Eh, Enci Beruang. Kau menyusulku?”

Beruang itu menghampiri, dan memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.

“Binatang yang hebat!” Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa, bahkan mempunyai binatang peliharaan seperti itu!

“Kau bilang tadi… tinggal dongeng apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, lupakanlah,” kata Sin Liong sambil mengelus beruang yang sudah bertiarap di depannya. “Orang muda she Kwa… eh, Tai-hiap… kenapa kau mau membebaskan aku?”
Sin Liong mengangkat mukanya memandang. Kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya.

“Mengapa tidak? Engkau pun membebaskan Soan Cu.” Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang berlari-lari.

“Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!”

Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek. “Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini.”

Koan Sek menjawab, “Terima kasih. Satu kali pun sudah cukuplah!” dia mengkirik. “Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?” dia lalu menggerakkan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka.

Ketika Sin Liong bersama beruangnya tiba kembali ke tengah pulau, benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh kongkong-nya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

“Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami,” kata Ouw Kong Ek.

“Kalau engkau tidak segera datang, entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong,” kata Soan Cu dengan mata bersinar-sinar penuh kagum dan terima kasih.

“Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?”

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidak-senangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang.

“Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Sumoi,” kata Sin Liong.

“Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?”

Sin Liong mengangguk. “Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini.”

“Bukan hanya marah-marah!” kata Soan Cu mengepal tinju. “Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek. Biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!”

“Kau juga dipukulnya?” Sin Liong bertanya.

“Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku. Akan tetapi karena melihat kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!”

Sin Liong menarik napas panjang. “Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah.”

“Hei…? Apa maksudmu, Taihiap…?” kakek itu bertanya sambil terbelalak. “Apa yang telah terjadi?” Soan Cu juga bertanya.
“Dilanda badai… habis seluruhnya! Semua penghuninya termasuk Suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali…” Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat mala-petaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan Sumoi- nya terluput dari bencana.

Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo, kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! Kami orang- orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk Tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat. Sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi Tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!” kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis.

“Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?”

Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi bingung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan beruang hitam.

“Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati beruang….” Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja dia tidak menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya.

“Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak datang ke sini?”

Soan Cu menjawab, “Untung saja dia tidak datang, Sin… eh, Taihiap.”

“Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu yang bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?”

“Biarlah, Taihiap,” kata Ouw Kong Ek. “Tidak pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali.”

“Kau katakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?” tanya Sin Liong kepada Soan Cu.

“Andai kata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kongkong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kongkong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoi-mu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik,” jawab Soan Cu.

Sin Liong mengangguk-angguk. Ia merasa lega bahwa sumoi-nya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu di mana sumoi-nya yang pemarah itu kini berada!

“Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa mengacau ke sini?” tanyanya. “Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di tepi pulau.” “Agaknya mereka juga diamuk badai.”
“Mungkin,” jawab Soan Cu bimbang, kemudian ia melanjutkan, “Kami diserang selagi Kongkong sakit. Kongkong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya. Aku keluar menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap.”

“Akan tetapi, akhirnya biar pun sakit Kongkong-mu dapat membunuh semua bajak laut itu,” Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak itu.

“Ugh-ugh…!” kakek itu terbatuk-batuk. “Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatang-binatang Pulau Neraka tidak bersembunyi ketakutan sehabis diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap.”

“Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakan saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?” jawab Sin Liong.

Akan tetapi tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong!

Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali. Cepat ia membangunkan kakek itu dan berkata, “Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? Katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin,” Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, menduga akan menghadapi hal yang sulit.

Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, “Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap.”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya! “Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatang-kara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku ini.”

“Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin… dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini.”

Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata, “Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka

merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja. Jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apa pun juga.”

“Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini. Hanya karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan betapa pun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kongkong akan merasa lebih aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap.”

“Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya.”

“Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam mencari Sumoi-mu itu , aku dapat bertemu dengan ayahku.”

Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kongkong-nya membawa pula bekal berupa pakaian dan sekantung emas simpanan Kongkong-nya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan pulau. Maka setelah perahu meluncur jauh, dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkong-nya bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka yang mengantarnya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air matanya.

“Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk kembali,” kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak sekali memikul kewajiban ini. Biar pun dia tidak terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini. Kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan menjadi lebih pusing lagi!

“Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya merasa hatiku perih meninggalkan tempat yang sejak lahir menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh menyebutnya Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggalkan pulau itu, terasa olehku bahwa di situ adalah sorga.”

Sin Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi. Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting baginya, membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga mau pun neraka itu berada dalam hati manusia itu sendiri!

Betapa pun indahnya suatu tempat, kalau tidak berkenan di hati akan merupakan neraka. Sebaliknya betapa pun buruknya suatu tempat, kalau berkenan di hati akan menjadi sorga! Jadi, baik buruk, senang susah, puas kecewa, semua ini bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri. Keadaan di luar merupakan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang menentukan dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain-lain hal yang saling bertentangan itu.

Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu dengan mata terbuka, memandang segala sesuatu seperti apa adanya, tanpa penilaian, tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentangan-pertentangan itu.

Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus. Ujung depannya yang meruncing membelah air yang tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan Cu sudah melupakan kesedihan hatinya. Kini dara itu memandang ke depan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di dunia ramai, dan sekarang dia sedang menuju kepada kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri!

Pusat perkumpulan Pat-jiu Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Heng-san. Dari luar tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali tinggi orang. Pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa

dibawa oleh para pengemis. Akan tetapi kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheran- heran menyaksikan sebuah rumah gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil yang berdiri megah dan mewah sekali! Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat- jiu Kai-pang di lereng Heng-san!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo