July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 7)

 

Ouw Kong Ek makin penasaran. Cepat dia menerjang maju, kedua kakinya bergerak cepat dengan tendangan berantai yang cepat dan kuat sekali. Kedua kaki itu seperti kitiran saja sehingga kelihatannya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak susul-menyusul melakukan tendangan ke arah bagian- bagian berbahaya dari tubuh Sin Liong.

“Siuut-siutt…! Dess!!” Setelah berhasil mengelak ke kanan-kiri, Sin Liong terdesak ke sudut dan terpaksa dia menggunakan kedua lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga inti salju.

Tubuh Ouw Kong Ek menggigil, terasa dingin sekali tubuhnya, rasa dingin yang menjalar melalui kaki yang tertangkis. Dia menggoyang tubuhnya beberapa kali dan rasa dingin sudah terusir. Dia memandang lawannya dengan mata terbelalak lebar. Kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas, lalu menukik kearah Sin Liong.

Sin Liong terkejut sekali. Dia maklum bahwa serangan terakhir ini bukan main hebatnya. Maka dia pun lalu berteriak keras dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut tubuh lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan tubuhnya.

“Plak-plak… bruukkk!!” tubuh Ouw Kong Ek terbanting ke atas lantai, dan hanya setelah dia bergulingan beberapa kali saja dia dapat bangun dengan agak pening.

“Bukan main,” pikirnya.

Dia tadi melakukan serangan dahsyat, serangan maut yang akan sukar disambut oleh lawan yang sakti. Akan tetapi pemuda itu menyambutnya di udara, memapaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu di udara dan akibatnya dia sendiri yang terbanting keras!

“Belum cukupkah, Tocu?” Sin Liong bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa untuk bertempur, hal yang sama sekali tidak disukainya.

“Hmm, aku belum mengaku kalah, orang muda!” Dan kini kakek itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang gerakannya cepat sekali, akan tetapi juga aneh.

Swat Hong yang menonton di pinggir, memandang penuh perhatian dengan alis berkerut. Dia merasa heran sekali. Ilmu silat yang dimainkan oleh kakek itu seperti pernah dilihatnya, seperti bukan gerakan asing, namun mengapa begitu aneh dan sama sekali tidak dikenalnya?

Memang tidak mengherankan hal ini terjadi pada Swat Hong karena ilmu silat yang dimainkan kakek itu memang bersumber pada ilmu silat Pulau Es, hanya sudah diubah banyak sekali menjadi ilmu silat ciptaan nenek moyang Pulau Neraka! Bahkan kini dari kedua telapak tangan kakek itu mengepul uap hitam, dari mulutnya juga menyembur uap hitam yang kadang-kadang menyambar ke arah muka Sin Liong.

Sebagai seorang ahli pengobatan, Sin Liong segera mengenal hawa beracun keluar dari uap hitam itu, maka dia bersikap hati-hati setiap kali ada uap hitam menyambar. Sementara itu, sambil mengelak dan menangkis dia mencurahkan seluruh perhatiannya. Dengan ilmu mukjijat yang didapatnya dari kitab, yaitu mengenal rahasia inti gerakan ilmu silat, dia sudah dapat mencatat dan hafal akan jurus-jurus yang dimainkan oleh lawannya.

“Suheng, balaslah lawanmu! Apa kau takut?” Swat Hong berteriak lagi.

Ouw Kong Ek yang sudah merah mukanya saking penasaran dan malu karena merasa dipandang rendah dan dipermainkan, membentak, “Orang muda, berani engkau memandang rendah kepadaku sehingga tidak mau balas menyerang?”

Sin Liong terkejut bukan main. Sama sekali tidak mengira bahwa sikapnya yang mengalah dan tidak mau balas menyerang itu malah dianggap memandang rendah oleh kakek itu dan dianggap takut oleh Swat Hong! Tadinya dia hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur sendiri. Siapa kira, kakek itu keras kepala dan tidak akan mengaku kalah kalau tidak dirobohkan! Dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Sin Liong. Dia menggigit bibirnya menguatkan hati, karena menyerang orang merupakan

 

hal yang berlawanan dengan hatinya, lalu kaki tangannya bergerak cepat sekali.

Terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut para pembantu Ouw Kong Ek, bahkan belasan jurus kemudian, setelah dengan susah payah Ouw Kong Ek mengelak dan menangkis, kakek ini berseru keras dan tubuhnya terguling.

“Heiiii… dari mana engkau mendapatkan ilmuku ini?” kakek yang sudah terguling karena kedua lututnya tercium ujung sepatu Sin Liong itu meloncat bangun lagi sambil bertanya dengan mata terbelalak dan penuh keheranan.

Selama belasan jurus tadi, dia telah diserang oleh Sin Liong dengan ilmu silatnya sendiri dan pada jurus ke lima belas, dia tidak mampu menghindar sehingga kedua lututnya tertendang, membuat dia terguling dan kalau pemuda itu menghendaki, ketika ia terguling tadi tentu pemuda itu dapat menyusulkan serangan maut yang dapat menewaskannya!

Sin Liong menjura dan melangkah mundur. “Aku hanya meniru-niru dari Tocu sendiri….”

Ouw Kong Ek makin terheran dan sejenak dia melongo, kemudian dia melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu. “Kwa Sin Liong… engkau hebat sekali! Aku mengaku kalah terhadap Kwa- taihiap (Pendekar Besar Kwa)! Aku telah dirobohkan secara mutlak, bahkan dengan jurus-jurus ilmu silatku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang memiliki kesaktian seperti dewa!”

Semua penghuni Pulau Neraka membungkuk dan memberi hormat kepada Sin Liong!

Tentu saja pemuda itu cepat membalas penghormatan mereka dengan memutar-mutar tubuhnya sambil berkata tersipu-sipu, “Aahhh, harap Cuwi (Anda sekalian) jangan berlebihan…”

“Kwa-taihiap, aku Ouw Kong Ek sudah mengaku kalah. Harap Taihiap suka mengajarkan ilmu pengobatan itu agar kami dapat terbebas dari hawa beracun yang banyak terdapat di pulau ini. Setelah aku paham, kami akan mempersilakan Taihiap dan Han-lihiap (Pendekar Wanita Han) meninggalkan pulau ini dengan aman.”

“Baik, Ouw-tocu. Aku akan melakukan penyelidikan tentang racun-racun di pulau ini dan berusaha mencarikan obat penawanya.”

Soan Cu berlari menghampiri Sin Liong dan berkata, “Sin Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadamu,” sambil berkata demikian, Soan Cu memegang kedua tangan Sin Liong dan mengangkat muka memandang wajah Sin Liong penuh kekaguman.

“Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah Kongkong-mu yang sengaja mengalah kepadaku,” kata Sin Liong, dan mukanya menjadi merah.

Dia maklum bahwa Soan Cu seorang dara remaja yang berhati polos dan wajar, maka di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan kekagumannya dan memegang kedua tangannya begitu saja. Akan tetapi hal ini tentu saja menimbulkan anggapan salah, dan dia sudah melihat betapa Swat Hong membuang muka dengan wajah diselubungi kemarahan, bahkan akhirnya dara itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi!

Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka. Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan penyelidikan tentang segala macam racun yang terdapat di pulau itu. Kemudian dia mencarikan obat penawarnya dan menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar, bunga, atau buah yang berkhasiat sebagai penawar racun-racun itu. Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan para pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah tiga bulan, barulah lengkap catatan Sin Liong.

Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa berterima kasih sekali kepada Sin Liong, apa lagi setelah terbukti banyak penghuni yang sembuh dari penderitaan penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu. Dia dianggap sebagai seorang dewa penolong mereka dan diperlakukan dengan sikap penuh hormat.

Setelah ‘terpaksa’ tinggal di Pulau Neraka selama tiga bulan, akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan

bahwa Soan Cu adalah seorang remaja yang benar-benar tulus, jujur dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka terjalin persahabatan yang akrab. Bahkan karena dara Pulau Neraka itu dengan terang- terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa usaha menarik hati Sin Liong menyatakan suka dan cintanya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu dengan hati terharu.

Diam-diam Swat Hong menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suheng-nya itu jauh dari-pada cinta! Suheng-nya belum pernah mengacuhkan tentang hubungan di antara mereka, juga suheng-nya sama sekali tidak kelihatan menaruh hati kepada Soan Cu. Dianggapnya suheng-nya itu terlalu ‘dingin’ dan sudah sering-kali dia sendiri merasa kecewa melihat suheng-nya sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat!

Padahal dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai suheng-nya. Sungguh pun dia merasa suka sekali kepada pemuda itu, namun sebagai seorang dara remaja tentu saja dia merasa tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang ‘dingin’ saja terhadapnya. Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal, tentu saja Swat Hong juga ingin agar semua orang, terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan suka. Bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini, agaknya akan merasa bangga kalau semua orang laki-laki jatuh cinta kepadanya!

Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka pun tibalah. Sin Liong dan Swat Hong diantar oleh semua penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai, di mana telah tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung, dan bekal makanan. Soan Cu mengantar dengan berlinang air mata. Semenjak tadi dara ini menangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong dan Swat Hong.

“Hushhh, apakah kau gila?” demikian kakeknya menjawab. “Kau hendak ikut ke Pulau Es? Tidak tahukah kau bahwa semua penghuni Pulau Neraka dilarang menginjakkan kaki ke Pulau Es? Begitu kau tiba di sana, kau akan dijatuhi hukuman sebagai seorang pelanggar hukum!”

Sin Liong dan Swat Hong juga melarang dengan alasan bahwa Swat Hong sendiri sedang menghadapi mala-petaka, bahkan dia bersama suheng-nya sedang berusaha mencari ibunya. Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah mengerahkan pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka. Tentu saja para penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu mendekat Pulau Es.

Setelah perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Swat Hong pergi jauh, Soan Cu menjatuhkan dirinya menangis. “Kongkong, aku pun mau pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa adanya mereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari ibunya!”

Kongkong-nya hanya menggeleng kepala, menghela napas dan menggandeng cucunya yang tercinta itu kembali ke tengah pulau. Hati orang tua ini khawatir sekali karena dia tahu, bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda oleh cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka. Dia maklum bahwa agaknya takan lama lagi cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan pulau dan kalau hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apa lagi artinya hidup baginya di pulau itu? Puteranya telah lenyap dan satu-satunya orang yang selama ini membuat hidupnya berarti hanyalah Soan Cu.

Ketika perahu mereka mendarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hati yang berdebar. Mereka sudah menjelajahi seluruh pulau di sekitar Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke Pulau Es, dengan harapan mudah-mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es.

“Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau Neraka?” Swat Hong bertanya ketika perahu mereka tadi sudah mendekati Pulau Es.

“Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan betapa pun marahnya, aku percaya bahwa Suhu akan dapat memaafkanmu. Aku percaya akan kebijaksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah….”

“Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang seratus kali lebih kejam dari-pada racun yang paling jahat di pulau Neraka! Dia telah terkena hasutan mulut wanita jahat itu…”

“Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan menyangka yang bukan-bukan. Sudahlah, kekhawatiranmu itu hanyalah permainan pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan membiarkan engkau terancam bencana. Mari kita hadapi apa saja yang menimpa kita berdua.”

“Suheng… betulkah? Betulkah kau akan membela dan melindungi aku?” “Tentu saja, Sumoi.”
“Menghadapi Ayah sekali pun?”

“Menghadapi siapa saja, karena aku yakin bahwa engkau tidak mempunyai kesalahan apa pun.” “Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. Mari kita mendarat.”
Hati Swat Hong makin tegang dan juga terheran-heran ketika dia melihat betapa beberapa orang penghuni Pulau Es yang kebetulan berada di situ segera berlari pergi menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti ketika dia dan suheng-nya memanggil mereka. Makin tidak enak perasaan mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak sumoi-nya untuk menuju ke Istana Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han Ti Ong dan bertanya tentang Liu Bwee.

Tak lama kemudian, keduanya berhenti tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri berlari-lari datang bersama permaisuri dan pembantu-pembantu yang terpercaya. Tadinya Swat Hong merasa girang, wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan girang melihat dia pulang. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah tiba di depan mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah mereka sambil membentak, “Manusia-manusia rendah! Kalian masih berani menginjakkan kaki di Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? Keparat!”

“Ayah…!!”

“Suhu…!!”

“Plak! Plak!!” tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling ketika tangan Raja itu dengan kecepatan kilat telah menampar mereka.

Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong menudingkan telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang menjadi kaget setengah mati dan merangkak bangun itu. “Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah minggat dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu dan mengotorkan nama keluarga Han! Masih berani datang dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!”

“Ayahhh… apa… apa yang terjadi…? Mana Ibuku…?”

“Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun tidak berbeda banyak!” “Ayah…!”
“Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh!”

“Ayah, kalau begitu bunuh saja aku! Aku tidak berdosa…!” Swat Hong yang berlutut itu menangis sesenggukan.

“Bagus! Kau minta mati?”

“Suhu…!” suara Sin Liong ini mengandung wibawa sedemikian hebatnya sehingga Han Ti Ong sendiri sampai terkejut dan menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri puterinya.

Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang luar biasa dan sejenak Ha Ti Ong ragu-ragu. Teringatlah dia akan keadaan dahulu ketika anak ajaib ini menyuruhnya menolong The Kwat Lin, menyuruhnya berhenti untuk menguburkan mayat-mayat. Seperti itu pula kekuatan mukjijat yang keluar

dari sepasang mata itu. Sepasang mata yang sedikit pun tidak membayangkan takut, atau marah, atau kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang mengharukan.

“Suhu, harap suhu bersabar dulu. Sungguh tidak adil sekali menjatuhkan hukuman tanpa memberi-tahu kesalahan orang, sungguh pun Sumoi adalah puteri Suhu sendiri.”

Bangkit kembali marah Han Ti Ong. “Sin Liong, bagus perbuatanmu, ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum apa-apa. Akan tetapi dia pergi lalu kau susul, bersamamu pergi sampai berbulan-bulan, pantaskah itu? Kalian tidak tahu malu dan menodakan nama baik keluarga Kerajaan Han!”

Diam-diam Sin Liong terheran, mengapa Suhu-nya berubah seperti ini? Tentu saja dia tidak tahu betapa para keluarga yang membenci Liu Bwee telah menggunakan kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu Bwee itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui mulut permaisuri!

“Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan. Aku memang pergi dan bertemu dengan Suheng, akan tetapi apakah salahnya dengan itu?”

“Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pemuda dan seorang dara berdua saja sampai hampir setengah tahun lamanya? Mungkinkah tidak akan terjadi apa-apa antara kalian di tempat sunyi dan hanya berdua saja?! Hem… hemmm… siapa percaya tidak akan terjadi apa-apa yang kotor?” ucapan ini keluar dari mulut permaisuri The Kwat Lin yang tersenyum mengejek.

“Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan gelap, kawinkan saja mereka. Mengapa ribut- ribut?” tiba-tiba Bu Ong, putera raja yang baru berusia kurang lebih delapan tahun itu berkata dengan suara nyaring.

“Hussshhh! Tutup mulutmu!” Kwat Lin membentak puteranya yang segera cemberut, tapi memandang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang mata mengejek.

Hampir saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya. Ayah dan ibu tirinya menuduh dia berjinah dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan kemarahan yang meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya, “Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah. Ayah telah dikelabui, Ayah telah mabuk oleh rayuan….”

“Plak! Desss!!” tubuh Swat Hong terlempar dan terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan ayahnya sendiri.

“Suhu, ini tidak adil sama sekali!”

“Plak! Desss!!!” tubuh Sin Liong juga terjungkal.

Akan teapi pemuda ini sudah meloncat bangun kembali. Sedikit pun tidak merasa takut, bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong. “Suhu, andai kata Suhu memukul teecu sampai mati sekali pun, sudah sepatutnya karena teecu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan teecu rela membalasnya dengan nyawa. Akan tetapi, Sumoi adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begitu tega? Di manakah rasa kasih di hati Suhu?”

“Keparat!” Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar saking marahnya. Melihat betapa Sin Liong berani menentangnya untuk membela Swat Hong, makin besar pula kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila dengan muridnya ini. “Kau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku tidak akan peduli apa yang dilakukannya. Justru karena dia anaku dan aku cinta kepada anakku, maka aku perlu menghajarnya!”

“Hemmm, begitukah cinta di hati Suhu? Cinta Suhu siap untuk berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap karena Suhu merasa bahwa puteri Suhu tidak menyenangkan hati Suhu? Itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya mementingkan diri sendiri. Kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain sekali pun akan Suhu perlakukan dengan baik. Akan tetapi kalau hati Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!”

“Plak-plak! Dess…!” kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan kini darah mengucur dari mulut dan hidungnya.

“Suheng…! Ahhh, Ayah… Jangan…!” Swat Hong sudah meloncat ke depan dan menubruk suheng-nya. “Anak durhaka, murid murtad!”
“Dess!” kini Swat Hong yang mengeluh dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang marah itu.

Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat menghajar dan menghukum, kalau berniat membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa lagi. Saking marahnya, biar pun melihat murid dan puterinya sudah beberapa kali dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan hidung mengeluarkan darah serta muka mereka bengkak-bengkak, Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.

“Ongya, harap ampunkan mereka….” Tiba-tiba beberapa orang pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini dan menyabarkan hatinya.

Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata terbelalak dan muka merah sekali. Dia menjadi hampir putus napas saking marahnya. “Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak dibunuh!” katanya.

“Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman dilaksanakan tanpa diadili lebih dulu. Harap Ongya ingat akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang sudah terkenal semenjak ratusan tahun,” kata seorang pembantu yang sudah berusia lanjut.

Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat. Sebetulnya dia sedang berada dalam keadaan duka dan kecewa. Duka mengingat akan istrinya, Liu Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di dalam hatinya karena dia pun mulai meragukan kesalahan istrinya itu. Kecewa karena serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, mengganggu ketenteraman hidupnya di Pulau Es.

“Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh! Kau boleh membela diri, kalau memang masih ada yang akan kau katakan!”

Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong masih dapat membantu Sumoi-nya bangkit duduk. Bahkan tanpa mempedulikan keadaan dirinya sendiri, dia menyusuti peluh, air mata dan darah dari muka sumoi-nya, kemudian menarik sumoi-nya untuk berlutut di depan raja yang sedang marah itu.

“Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu…,” bisiknya.

“Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah Ibu lenyap tak berbekas dan akan dibunuhnya… tentu akan puas hatinya… hu-hi-huuukkk….” Swat Hong menangis terisak-isak.

Melihat keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati Raja Han Ti Ong. “Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! Kami semua menuduh kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu kalian telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau membohong, akan kubunuh kau sekarang juga!”

“Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau teecu tidak membohong sekali pun, teecu menyerahkan nyawa teecu kepada Suhu. Sebetulnya, ketika melihat Sumoi pergi membuang diri ke Pulau Neraka dan melihat Subo juga pergi, teecu merasa kasihan dan berkhawatir sekali. Maka teecu diam-diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka….” Kemudian dengan panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua pengalaman mereka di Pulau Neraka dan mengapa mereka sampai berbulan- bulan berada di pulau itu.

Berkerut Raja Han Ti Ong. Di lubuk hatinya dia percaya kepada muridnya ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membohong dengan sikap seperti yang diperlihatkan muridnya. Tidak, tentu muridnya tidak berbohong. Akan tetapi hatinya masih marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa Pulau Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!

“Swat Hong! Benarkah cerita Sin Liong?!” bentaknya kepada dara yang masih menangis sesenggukan itu. “Apa gunanya Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan Suheng berbohong, boleh bunuh seribu kali juga tidak apa.”
Memang sejak dahulu Swat Hong bersikap manja kepada ayah-bundanya. Pula dia memiliki watak keras,
tidak takut mati, maka dalam keadaan seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!

“Siapkan pasukan tiga puluh orang untuk ikut bersamaku ke Pulau Neraka!” Raja itu memerintah kepada pembantunya dengan suara marah.

Pada hari itu juga dia berangkat bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke Pulau Neraka! Dapat dibayangkan betapa kagetnya para penghuni Pulau Neraka ketika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Raja Han Ti Ong sendiri! Ouw Kong Ek sendiri yang maju dan berusaha melawan, tapi dalam belasan jurus saja telah dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika puteri Raja Pulau Es itu berada di Pulau Neraka. Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam, Ouw Kong Ek menceritakaan keadaan sebenarnya, tepat seperti yang telah didengar oleh Han Ti Ong dari mulut Sin Liong.

Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja membunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebetulnya tidak berdosa. Mulailah dia teringat bahwa kemarahannya itu timbul karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari permaisurinya. Dia menjadi marah sekali dan kemarahannya itu dilampiaskannya di Pulau Neraka. Pulau itu diobrak-abrik, sebagai hukuman telah berani menahan puterinya. Bahkan kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatannya, dihancurkan dan dibakarnya!

Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Han Ti Ong memimpin pasukannya meninggalkan Pulau Neraka, meninggalkan para penghuni yang banyak menderita luka lahir batin itu. Dalam sekejap raja ini telah menanamkan dendam yang makin menghebat di dalam hati para penghuni Pulau Neraka. Sepekan kemudian, barulah rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es.

Wajah raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang lebih hebat dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah dia dan pasukannya berangkat, permaisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es! Dan hingga kini belum pulang. Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia mendapat kenyataan bahwa kitab-kitab pusaka Pulau Es telah lenyap, berikut banyak harta benda berupa emas dan permata yang disimpan di dalam kamarnya! Hampir saja dia roboh pingsan mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat Lin, gadis yang ditolongnya itu, ternyata telah berkhianat!

“Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin Liong, engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja mereka pergi membawa pusaka-pusaka kita?” dalam bingung dan marahnya dia menegur Sin Liong.

“Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo bersama Sute hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani menghalangi Subo? Kami semua tidak ada yang mengira bahwa Subo takkan kembali, dan tidak ada yang tahu bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu.”

Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari memasuki kembali istana setelah tadi dia memeriksa dan melihat kehilangan pusaka Pulau Es. Ketika dia memanggil dua orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini. Wajahnya menjadi suram dan gelap, sepasang mata yang biasanya bersinar dan berpengaruh itu menjadi redup seperti lampu kekurangan minyak. Dan rambut yang tadinya hanya sedikit putihnya, mendadak berubah putih hampir seluruhnya.

Suaranya tidak bersemangat ketika berkata, “Sin Long…, Swat Hong…, kalian ampunkan aku…” “Suhu…!” Sin Liong berlutut dan menundukan muka.
“Ayah… jangan berkata begitu, Ayah…!” Swat Hong meloncat menubruknya.

Ayah dan anak itu saling berangkulan dan Sin Liong makin menundukkan mukanya ketika mendengar Suhu-nya menangis mengguguk seperti anak kecil! Setelah Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium dahi puterinya dan menyuruhnya duduk kembali. Swat Hong menyusuti air matanya dan berlutut di dekat Sin Liong.

“Aku telah berdosa. Sekarang baru aku tahu… aku telah berdosa. Mungkin sekali… tidak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong tidak bersalah apa-apa, hanya terkena fitnah… Aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir saja membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anakku. Orang macam apa aku ini? Dan aku mengaku cinta kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu birahi sehingga mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh… kalian maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau… kau jadilah jodoh Sin Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku….”

“Suhu…!”

“Ayah…!”

“Muridku… anakku…, maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin menebus kesalahanku… Aku ingin melihat kalian menjadi suami istri, kalian anak-anak malang…”

“Suhu, teecu mohon ampun. Teecu.. tidak ada dalam hati teecu untuk memikirkan soal jodoh….” “Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan kami menentukannya sendiri.”
Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian bangkit berdiri. Ia membalikkan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua orang muda yang masih berlutut itu. Semenjak saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah semua pembantunya.

Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni dapat merasakan ini. Semenjak terjadinya peristiwa yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua wajah para penghuni kelihatan muram. Bahkan cuaca juga seolah-olah berubah suram, sering- kali malah menjadi gelap oleh mendung tebal. Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah merupakan tanda rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi.

Peristiwa menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih menyenangkan dari-pada keadaan seperti apa adanya. Kita tidak pernah membuka mata, tidak pernah menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup segala keindahan.

Dengan membandingkan keadaan kita dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada, keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan. Karena kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita mengejar kebutuhan.

Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita kejar-kejar. Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, di depan masih menanti seribu hal lain yang akan menjadi keinginan dan kebutuhan kita selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa! Bukan berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa, sehingga kalau ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya sehingga tampaklah keindahan yang murni!

Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalam diri The Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya nafsu. Dia seolah- olah hidup di alam khayal, di alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang manis menjadi pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan! Dan menang kalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama!

Perahu kecil itu terayun-ayun ke kanan-kiri, seperti menari-nari karena tidak dikuasai oleh layar mau pun dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang tenang. Dua orang yang duduk di perahu itu seperti dua buah arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang.

Dan memang pikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban pertanyaan hati mereka sendiri. Pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis putih mendatar dekat kaki langit. Mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka menggulung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masing-masing, lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang menyedihkan.

“Suheng…,” suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi mereka tidak mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian.

Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi. “Hemmm…?” jawabannya masih ragu-ragu.

“Suheng mengajakku meninggalkan pulau, setelah tiba di sini, mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun saja?”

“Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi….”

“Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi setua batu karang itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi? Suheng, kau tadi bilang bahwa engkau mengajakku ke tengah laut untuk membicarakan urusan kita. Mengapa harus ke sini?”

“Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak ke sini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang mendengar dan melihat. Pula, kuharap di tempat yang sunyi ini, yang membuat kita seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan menemukan ilham…”

Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka. “Wah, Suheng! Kadang-kadang kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?”

“Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi.”

Wajah dara muda jelita itu terheran. Matanya memandang terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan. “Aihh… apa maksudmu, Suheng?”

Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh tangan sumoi-nya. “Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir kali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan merupakan hal gawat bagi seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhu ini, marilah kita bicara tentang cinta!”

“Hemm, bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa,” kata Swat Hong yang tentu saja merasa malu untuk bicara tentang hal yang asing baginya itu.

“Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?”

Dara itu makin merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suheng-nya akan bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dahsyat! Dia mengangkat muka memandang suheng-nya dengan bingung. “Aku… aku… ah, aku tidak tahu…,” dan dia menundukan mukanya.

“Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh. Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat kongkong-nya hendak menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah kau kepadaku?”

Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas menandakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu. Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang dengan suheng-nya, dia menjadi makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan. Kepalanya digeleng- gelengkan dan dia berkata, “Aku tidak tahu… aku tidak tahu…! Kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!”

Dan kini Swat Hong menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!

Sin Liong menarik napas panjang. “Itulah yang membingungkan hatiku selama ini, Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? Ataukah seperti cintanya ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan Suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi.”

Swat Hong memandang heran. “Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta seperti yang kau kemukakan ini, Suheng.”

“Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapa pun, Sumoi. Karena kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir belaka, hanya cinta palsu belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa, tidak pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa dan lain-lain. Apa lagi setelah menjadi suami istri…hemm, betapa mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini.”

Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab. Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya sebagai seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang menyenangkan hatinya, seperti suheng-nya ini. Akan tetapi, setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya itu.

“Aku tidak tahu, Suheng…, aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah….”

Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia memang sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan Suhu-nya yang sudah berlimpah-limpah diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk membalas budi hanya dengan menyenangkan hati Suhu-nya yang sedang berduka itu. Dia harus menerima keputusan Suhu-nya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih dahulu bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang dara itu sama sekali tidak berani mengaku tentang cinta.

“Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan Suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?”

Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik. “Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada Ayah…”

“Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau seperti aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kau katakan, apakah ikatan jodoh ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?”

Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.

“Kalau begitu, andai kata aku menerima, engkau pun akan menerimanya dengan senang hati?” Swat Hong mengangguk!
“Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu. Aku akan menerima permintaannya. Betapa pun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan hatinya. Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku akan merasa senang.” Sin Liong mengambil dayung perahu dan mulai menggerakkan dayung itu.

“Suheng, kau menerima karena kasihan kepada Ayah? Jadi kau… kau tidak cinta kepadaku?”

“Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta. Aku telah banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang mengaku, Sumoi…”

“Ahhh…!!” Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa dan juga kekagetan hebat. Matanya terbelalak memandang ke depan.

Melihat wajah sumoi-nya, Sin Liong cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah membakar dunia. Sin Liong yang sedang terbelalak memandang itu melihat air muncrat tinggi sekali, disusul asap dan api muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es. Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba perahu mereka dilontarkan keatas. Dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang mendahsyat dan menggunung. Suara mengguruh memenuhi telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan.

Sin Liong berteriak, “Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu terguling!”

Keduanya mengerahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan perahu. Namun, kekuatan gelombang air laut yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, biar pun kedua orang muda itu adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekali pun? Perahu mereka menjadi permainan gelombang, dilontarkan tinggi ke atas, disambut dan diseret ke bawah. Seolah-olah ada tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke dasar laut, akan tetapi tiba-tiba diayun lagi ke atas, ditarik ke kanan, didorong ke kiri sehingga kedua orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan setengah pingsan!

Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak. Mereka tidak sempat menggunakan pikiran lagi, yang ada hanya naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu. Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sumoi-nya. Betapapun juga, dia tidak akan melepaskan sumoi-nya!

Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau hebat keganasan air laut baginya, terlampau mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap saat hendak mencengkeram dan menelannya itu! Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar datang dan menelan perahu itu. Mereka gelagapan karena ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka dilambungkan ke atas.

“Brukkk…!” keduanya terpental keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan.

Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat memandang. Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecil-kecil sekali, merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.

“Sumoi, lekas…! Kita naik ke sana…!!”

Sin Liong tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu sumoi-nya merangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu pun agaknya tidak merasakan semua ini. Tersaruk-saruk dia dibantu suheng-nya merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu dengan susah payah. Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan jantung.

Di sekeliling mereka hanya air semata. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit. Batu karang besar, atau lebih tepat disebut pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang- kadang diseling cahaya menyambar dari atas seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala.

“Ouhhh..!” Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh suheng-nya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek.

“Tenanglah… tenanglah, Sumoi….” Sin Liong berbisik dan pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoi- nya yang disuruhnya tenang, melainkan hatinya sendiri juga!

Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam nampak nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali! Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya mereka berada di tempat itu. Siang malam tiada bedanya, yang tampak hanya kegelapan, air, dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar hanyalah gemuruh air, angin menderu, dan kadang-kadang ledakan guntur. Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub dan ngeri!

Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari semalam! Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu. Air mulai tenang dan menurun, akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri setelah kabut terusir pergi. Tampaklah lautan luas terbentang di bawah, dan baru sekarang dua orang muda itu sadar bahwa mereka duduk di puncak batu karang yang amat tinggi!

Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka kecil dari kulitnya yang lecet- lecet, dan betapa haus dan lapar menyiksa leher dan perut!

“Sumoi, badai sudah mereda. Mari kita turun. Aihh, itu perahu kita. Untung tidak pecah,” kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan sumoi-nya menuruni batu karang.

Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap. Sin Liong mengangkat perahu itu, membawanya turun kebawah.

“Mari kita lekas pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan.”

Swat Hong duduk di dalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuh kegelisahan, “Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk demikian hebatnya, Suheng.”

“Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka dari itu, kita harus cepat pulang,” suara Sin Liong bergetar walau wajahnya terlihat tetap tenang.

Dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak, meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca. Sama sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini. Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil di sekitar tempat itu telah diamuk badai sedemikian hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air.

Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh. Kelihatannya masih seperti biasa, sebuah Pulau keputihan memanjang di

kaki langit, berkilaun tertimpa sinar matahari. Hati mereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap istana di Pulau Es, maka legalah hati mereka. Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menempel di Pulau Es.

Keadaannya begitu sunyi. Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun di pantai, bahkan tidak tampak sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es tidak seperti biasanya, kacau-balau tidak karuan dan berubah bentuknya! Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ke tengah pulau. Makin ke tengah, makin pucat wajah mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang habis sama sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak! Seolah- olah semua telah disapu bersih, tersapu bersih dari pulau itu.

“Auhhh…!” Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil.

“Mari kita ke istana, Sumoi!” Sin Liong yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan sumoi- nya dan diajaknya dara itu lari ke dalam istana.

Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin Liong juga kaget bukan main. Mereka seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia! Habis sama sekali, baik perabotan istana mau pun manusia-manusianya! Tidak tertinggal sepotong pun benda atau seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka lari dan berteriak- teriak memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka sendiri!

“Oughhh…!!” Swat Hong tidak mampu menahan himpitan perasaan yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat disambar oleh Sin Liong.

“Sumoi…!” akan tetapi suara ini kandas di kerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan-kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh sumoi-nya yang pingsan itu ke dalam kamar.

Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang terbuka. Kamar itu kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun perabotannya. Terpaksa dia merebahkan tubuh sumoi-nya di atas lantai, dan dia sendiri merebahkan kepala di atas kedua lututnya sambil menangis. Terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya, Pulau Es telah disapu bersih oleh badai! Bersih sama sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong. Tidak ada sepotong pun barang yang tertinggal, kecuali bangunan istana yang memang amat kuat itu.

Setelah siuman, Swat Hong menangis, “Aih, mengapa…? Mengapa…? Ayah, kasihan sekali Ayah…!”

Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya. Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah diamuk badai. Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air. Mereka menemukan beberapa potong pakaian yang tersangkut di batu-batu. Dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu, entah punya siapa, tapi menjadi barang peninggalan yang amat berharga.

Kemudian mereka memeriksa istana. Memang ada beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua habis dan lenyap.

“Suheng, lihat ini…!” tiba-tiba Swat Hong berkata sambil menunjuk ke dinding.

Sin Liong cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang penuh tenaga sinkang untuk menulis di dinding batu itu!

‘Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah menghukum aku dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka. Dan Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Kai-ong’.

Pendek saja ‘surat dinding’ itu, namun cukup jelas isinya. Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada Suhu-nya yang mati meninggalkan dendam itu!

“Suheng lihat ini….”

Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkeram dinding. Mudah saja mereka menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis mereka. Agaknya dalam menghadapi amukan badai, Han Ti Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya dengan mencengkeram dinding. Raja itu sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari-pada kekuatannya menyeret ke luar dari istana dan bahkan dari pulau itu!

“Kasihan sekali Suhu….” Sin Liong menghapus air matanya.

Swat Hong mengepal tinjunya. “Aku akan mencari perempuan iblis itu. Selain merampas kembali pusaka Pulau Es, aku juga akan menghukumnya! Dialah yang mencelakakan Ibuku, yang mencelakakan Ayahku!”

Sin Liong menarik napas panjang. Sudah diduganya ini, tentu akan terjadi balas-membalas, dendam tak kunjung habis!

“Sumoi, Suhu hanya meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka itu….”

“Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis betina itu!” Swat Hong berseru penuh semangat. “Dan Bu Ong… hemm, apa pula artinya ini? Bukan putera ayah?”

“Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu, nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum ditolong ayahmu?”

Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila karena dua belas orang suheng-nya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di antara mayat para suheng-nya.

“Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa Bu Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu- tongpai itu, sehingga anak yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong yang memperkosanya dan membunuh para suheng-nya.”

Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel. “Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu, mengapa dia membalasnya kepada ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga, aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati Ibu dan Ayah.”

Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoi-nya ini percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja. Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu mendamping sumoi-nya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong oleh nafsu dan dendam. Betapa pun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah-bunda, tiada sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang yang patut melindunginya, sebagai suheng-nya. Ataukah sebagai calon suami? Sin Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan. Biarlah hal perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak.

Dia tidak membantah ketika sumoi-nya mengajaknya meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu untuk mencari ibunya, dan kalau masih juga tidak berhasil, untuk pergi ke daratan besar mencari The Kwat Lin. Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es.

Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di bawah laut itu.

Ada pulau yang lenyap sama sekali, dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan

segala keindahannya, dengan makhluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk. Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan Pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo