July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 6)

 

Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan dari antara ruji jendela dan memegang lengan dara itu. “Nanti dulu, Soan Cu.”

“Ada apa lagi?” gadis itu membalikkan tubuh dan mereka saling berpegangan tangan.

Hal ini dilakukan oleh Sin Liong karena dia merasa terharu juga oleh pertolongan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. “Soan Cu, tahukah engkau apa yang akan terjadi padamu kalau sampai Kongkong- mu mengetahui akan perbuatanmu ini?”

“Menolong engkau? Ah, paling-paling dia akan membunuhku!”

“Hemm, begitu ringan kau memandang akibat itu? Soan Cu, mengapa kau melakukan ini untukku? Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan nyawa?”

“Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari-pada semua orang yang kulihat di pulau ini. Aku suka padamu dan aku tidak ingin mendengar apa lagi melihat engkau mati. Sudahlah, hati-hati menjaga dirimu, Sin Liong!” Gadis itu meloncat lalu berlari ke luar.

Sin Liong berdiri temenung sejenak, kemudian kembali ke tengah kamar tahanan dan duduk bersila menenangkan hatinya. Andai kata tidak ada Soan Cu yang datang memberikan obat penawar dan pengusir binatang berbisa, dia pun tidak akan gentar dan belum tentu akan celaka oleh binatang-binatang itu, sungguh pun dia sendiri belum mau membayangkan apa yang akan dilakukannya kalau serangan itu tiba. Apa lagi sekarang ada obat bubuk itu.

Dia teringat betapa penghuni Pulau Neraka dapat menjelajahi hutan yang penuh binatang berbisa dengan enaknya karena tubuh mereka sudah memakai obat penawar. Agaknya inilah obat penawar itu. Dia membuka bungkusan dan melihat obat bubuk berwarna kuning muda yang tidak akan kentara kalau dioleskan di kulit tubuhnya. Sin Liong bersila dan mengatur pernapasan, melakukan siulian (samadhi) lagi. Pendengarannya menjadi amat terang dan tajam sehingga dia dapat menangkap suara mendesis dan suara yang dikenalnya sebagai suara lebah yang datang dari jauh, makin lama makin mendekat.

Tahulah dia bahwa apa yang diceritakan oleh Soan Cu memang tidak bohong. Sekali ini agaknya anak itu tidak membohong! Maka dia lalu membuka bungkusan, menggosok kulit tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan obat itu. Mukanya sampai ke leher, tangan dan kakinya, digosoknya sampai rata. Kemudian sambil membawa bungkusan yang terisi sisa obat itu, dia menanti. Tak lama kemudian, suara itu menjadi makin dekat dan tiba-tiba saja munculah mereka!

Diam-diam Sin Liong bergidik juga. Tentu dia akan melompat kalau saja dia tidak mempunyai obat penolak itu. Dari bawah pintu, puluhan ekor ular kecil dan kelabang besar, kalajengking yang besarnya sebesar ibu jari, merayap dengan cepat memasuki kamar, berlomba dengan lebah-lebah putih yang beterbangan masuk melalui jendela. Sin Liong cepat menyebarkan bubuk obat ke sekeliling di atas lantai, dan menaburkan sebagian ke atas, ke arah lebah-lebah yang berterbangan.

Dia tersenyum kagum melihat akibatnya. Semua binatang berbisa itu, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, tiba-tiba serentak membalik saling terjang dan saling timpa, lari cerai-berai meninggalkan kamar. Lebah-lebah putih juga terbang dengan kacau, menabrak dinding dan banyak yang jatuh mati, yang sempat terbang ke luar jendela saling tabrak seperti mabuk, dan sebentar saja suara binatang-binatang itu sudah menjauh.

Akan tetapi mendadak Sin Liong meloncat berdiri ketika medengar suara lain yang membuat jantungnya berdebar, yaitu suara seorang wanita memaki-maki, “Iblis kalian semua! Manusia-manusia gila! Kalau tidak dapat membasmi kalian, jangan sebut aku Han Swat Hong!”

Sin Liong meloncat ke arah jendela. Kedua tangannya bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji jedela jebol semua. Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari ke luar melalui lorong. Setibanya

di luar, tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. Dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah, sedangkan belasan orang lain mengurung gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sumoi-nya memang galak dan pemberani. Bukan main gagahnya. Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata.

“Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!” Sin Liong sudah meloncat ke depan.

“Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut keluar?” Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong dengan mata mendelik.

“Ehh? Sumoi…? Aku hanya ingin menolongmu.”

“Siapa membutuhkan pertolonganmu? Kembalilah ke kamar tahananmu itu dengan… dengan…” Akan tetapi Swat Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang Pulau Neraka telah mengeroyoknya.

“Wuttt… siuuttt!” tubuh Swat Hong sudah menyambar ke sana-sini.

Selain mengelak dari serbuan banyak senjata itu, Swat Hong juga mengirim serangan-serangan balasan dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang didorong oleh perasaan marah itu. Dia memang marah, bukan marah kepada orang-orang Pulau Neraka, melainkan marah kepada… Sin Liong!

Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak tadi Swat Hong tiba di tempat itu. Ia menggunakan kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para penjaga dan dia telah dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dan Soan Cu. Hatinya menjadi panas! Dia sendiri tidak tahu akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak senang mendengar betapa suheng-nya bercakap- cakap dengan ramah bersama seorang gadis! Karena itu niatnya untuk menolong suheng-nya menjadi buyar. Dia hanya menonton saja ketika suheng-nya diserbu binatang berbisa dan akhirnya dapat menolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu.

Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi hukuman buang melarikan diri dari Pulau Es, dara ini segera berlayar menggunakan sebuah perahu Pulau Es. Tujuannya memang hendak membuang diri ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini dilakukannya sebagai protes kepada ayahnya. Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat buangan itu, dan pula karena sudah jauh meninggalkan Pulau Es, dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan Pulau Neraka yang kabarnya amat berbahaya itu. Akibatnya dia tersesat jalan dan mendarat di pulau-pulau kosong sekitar Pulau Neraka.

Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang menggunung. Dia merasa heran sekali melihat suheng-nya dan merasa khawatir kalau-kalau suheng-nya itu mengejarnya atas suruhan raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es. Maka diam-diam ia lalu mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat suheng-nya mendarat di Pulau Neraka. Dengan menggunakan kepandaiannya, Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau Neraka. Dia tidak khawatir akan serangan binatang-binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu mustika hijau yang dia dapat dahulu dari ayahnya.

Di bagian tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika hijau. Batu ini amat sukar didapat, dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya. Batu mustika hijau ini mengandung khasiat yang mukjijat terhadap ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa. Maka, dengan batu mustika di tangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka tanpa mendapat gangguan sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.

Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar. Maka dia menanti sampai larut malam dan menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud menolong suheng-nya. Akan tetapi tanpa disengaja dia dapat mendengarkan percakapan antara suheng-nya dengan Soan Cu. Inilah yang membuat hatinya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikeroyok, dia menolak keras bantuan Sin Liong!

 

Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap sumoi-nya dan memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh oleh gerakan kaki tangan Swat Hong yang marah itu, padahal dara itu belum mencabut pedangnya. Dapat dibayangkan betapa akan hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan senjata!

“Sumoi, tahan…!” dia meloncat maju. “Singgg…! Mundur kau!”
Sin Liong terkejut melihat sumoi-nya mencabut pedang!

Pada saat itu terdengar pula bentakan keras, “Siapakah gadis cilik itu berani mengacau di sini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau mampu lolos dari tempat tahanan?”

Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka! Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong, sebaliknya, dara itu pun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka dia memandang rendah dan membentak.

“Siapa kau?! Kalau sudah bosan hidup, majulah!” dengan gerakan gagah dara itu melintangkan pedangnya di depan dada.

Sin Liong cepat melangkah maju. Dia tahu betapa lihainya kakek ini. Maka untuk mencegah pertempuran, dia cepat berkata, “Tocu, jangan salah sangka. Dia adalah sumoi-ku, dia adalah puteri Suhu, Raja dari Pulau Es!”

Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung melangkah mundur dengan mata terbelalak. Betapa pun juga, nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain dibenci, juga amat ditakuti oleh mereka. Tentu saja sebagai puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci dan juga ditakuti. Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir mereka. Hati mereka gentar.

Tidak demikian dengan Ouw Kong Ek. Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, jadi dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!” perintahnya kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.

“Tahan dulu!” Sin Liong sudah mengangkat tangan kanannya ke atas.

Semua orang, termasuk Ouw Kong Ek sendiri, memandang pemuda ini. Betapa pun juga mereka maklum bahwa pemuda ini lihai sekali. Buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk membunuhnya di dalam kamar tahanan telah gagal, bahkan binatang-binatang itu lari cerai-berai dan kini pemuda itu sudah lolos dari dalam penjara.

“Ouw-tocu, seperti sudah kuceritakan kepadamu, biar pun sumoi adalah puteri Raja Han Ti Ong, akan tetapi ia menentang ayahnya dan mewakili ibunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau Neraka….”

“Ha-ha-ha, apa pun yang kau katakan, dia tetap adalah puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami dapat percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap mereka!”

“Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji? Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke pulau ini hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi telah tiba di sini, maka harap Tocu bersikap bijaksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini.”

“Hai, kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk membasmi iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?!”

“Sumoi!” Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka, “Tocu, jangan dengarkan dia. Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat sehingga mengeluarkan kata-kata kacau-balau tidak karuan.”

 

Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik dan berkata lantang, “Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?”

“Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak karuan, memang agaknya kau telah gila!”

“Kau yang gila! Kau yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi iblis-iblis ini, apa hubungannya dengan kau?”

Sin Liong benar-benar menjadi bingung. Biasanya Swat Hong bersikap manis kepadanya dan biar pun dia tahu bahwa dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap sekeras itu kepadanya.

Tiba-tiba muncul Soan Cu yang berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang. “Kongkong, apa yang dikatakan Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita, Kongkong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku.”

Kakek itu terkejut. “Bahaya maut? Apa maksudmu?”

“Sin Liong ternyata memiliki ilmu pengobatan yang lihai sekali. Begitu melihat aku, dia mengatakan bahwa aku terserang hawa beracun dari sebelah dalam dan jika tidak diobati dengan tepat, dalam waktu kurang dari setahun aku tentu akan mati.”

“Hahh…?!” Kakek itu dan semua pembantunya terbelalak kaget memandang dara itu yang bersikap sungguh-sungguh.

“Dan dia memang benar. Dia mengatakan bahwa setiap tengah malam aku tentu merasa pening dan di bagian punggung seperti ditusuk-tusuk jarum, kalau pagi kedua kaki pegal-pegal dan sehabis makan tentu merasa mual hendak muntah. Semua yang dikatakanya itu ternyata tepat sekali, Kongkong.”

Berubah wajah kakek itu. Soan Cu adalah seorang yang amat disayangnya, bahkan disayang oleh pembantunya karena dara inilah yang akan mewarisi seluruh ilmu kepandaiannya dan yang akan menggantikannya menjadi Ketua Pulau Neraka. Tentu saja mendengar bahwa usia Soan Cu hanya tinggal setahun, dia terkejut bukan main dan cepat memandang kepada Sin Liong.

Sin Liong sendiri bengong dan terheran-heran. Akan tetapi ketika dia memandang Soan Cu ketika kakek itu membalik dan menghadapinya, dia melihat dara itu secara lucu telah mengejapkan mata kirinya, maka mengertilah dia bahwa dara itu kembali membohong! Membohong dengan cerdik bukan main dalam usahanya untuk menolongnya!

“Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun? Benarkah?!”

Melihat sikap Sin Liong meragu karena sukar bagi pemuda itu untuk membohong, maka Soan Cu cepat berkata lagi, “Kongkong, dia mengatakan bahwa dia dapat memberikan obatnya, akan tetapi dia hanya mau memberi obat kalau dia dan sumoi-nya dibebaskan dari sini. Terserah kepada Kongkong berat aku atau berat mereka itu.”

Swat Hong sudah hampir membuka mulutnya memaki dara itu yang dia tahu telah berbohong. Dia sendiri mendengar percakapan mereka dan dara itu sama sekali tidak sakit, bahkan telah memberi obat penolak binatang beracun kepada Sin Liong, dan menyatakan betapa dara tak tahu malu itu amat suka dan kagum kepada Sin Liong, maka datang menolongnya. Sekarang dara itu mengatakan hal yang bukan-bukan!

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan terakhir dari Soan Cu, tahulah dia bahwa dara itu kini membohong untuk menolong Sin Liong dan dia terbebas dari Pulau Neraka! Kenyataan ini membuat dia bungkam kembali. Betapa baiknya dara itu dan betapa akan buruknya dia kalau dia membongkar rahasia gadis itu. Tentu Sin Liong akan makin kagum kepada Soan Cu dan makin benci kepadanya. Pikiran inilah yang membuat dia membungkam dan tidak melanjutkan niatnya untuk membantah Soan Cu.

Hati kakek itu makin bingung. Lenyaplah semua nafsunya untuk menawan Sin Liong dan Swat Hong. Dia memandang Sin Liong dan bertanya, “Orang muda, benarkah engkau dapat menyelamatkan cucuku?”

 

Kini Sin Liong yang menjadi bingung. Pemuda ini sama sekali tidak pernah membohong dan hatinya tidak akan dapat membohong, namun dia tahu bahwa kalau dia menyangkal kata-kata Soan Cu, sama saja mencelakakan gadis yang berniat baik kepadanya itu. Maka dia lalu menjawab dengan suara ragu-ragu dan perlahan, “Aku dapat memberi obat pembersih darah dan penguat tulang kepadanya, Tocu.”

“Dan kau menjamin bahwa cucuku tentu akan sembuh dan terhindar dari ancaman maut hawa beracun di tubuhnya itu?” kakek itu mendesak.

“Kongkong, mengapa tidak percaya kepadanya? Lekas minta obatnya dan engkau yang harus menjamin bahwa dia dan sumoi-nya tidak akan diganggu,” kata Soan Cu.

Kakek berkepala besar itu meraba-raba jenggotnya. “Hemmm,harus ada buktinya dulu. Kwa Sin Liong, mulai saat ini engkau dan sumoi-mu puteri Han Ti Ong harus tinggal di pulau ini sebagai tamu sambil menanti hasil pengobatanmu kepada cucuku. Kalau kau gagal mengobatinya, hemmm, aku tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalau cucuku sembuh, barulah kita bicara lagi.”

Sin Liong mengerutkan alisnya hendak membantah peraturan yang berat sebelah ini, akan tetapi dia melihat Soan Cu mengedipkan mata kirinya. Maka dia menarik napas panjang dan mengangguk, lalu berkata, “Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bentuk daun yang harus dicari.”

Sin Liong lalu melukiskan beberapa macam daun yang mudah dicari dan yang mempunyai khasiat biasa saja, yaitu sekedar penambah kekuatan tubuh. Ouw Kong Ek lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mencari daun-daun yang dilukis itu di pulau sebelah Pulau Neraka di mana terdapat banyak tetumbuhan. Ada pun Sin Liong dan Swat Hong lalu diperlakukan sebagai tamu terhormat, bahkan disediakan dua kamar yang bersih untuk mereka, dilayani baik-baik dan tentu saja di samping pelayanan ini, para pelayan yang terdiri dari pembantu-pembantu ketua, bertugas pula sebagai penjaga!

“Kuperingatkan kepada kalian agar menanti sampai cucuku sembuh. Lari pun tidak akan ada gunanya bagi kalian karena perahu-perahu kalian telah kami simpan dan di sekeliling Pulau Neraka tidak akan ada perahu sebuah pun. Tanpa perahu, bagaimana kalian akan dapat meninggalkan pulau ini?” demikinan pesan Ouw Kong Ek sebelum dia meninggalkan dua orang itu sehingga Swat Hong menjadi mendongkol sekali dan hampir saja dia memaki-maki ketua itu kalau tidak ditahan oleh Sin Liong yang memegang lengannya.

Setelah ketua itu meninggalkan mereka berdua di dalam pondok di mana mereka tinggal untuk sementara, Sin Liong menegur sumoi-nya, “Sumoi, mengapa kau bersikap seperti itu?”

“Suheng, aku tidak menyangka sama sekali akan menyaksikan engkau yang terkenal alim kini bermain gila dengan gadis puteri ketua Pulau Neraka. Huhh!”

Sin Liong mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada sumoi-nya. Hatinya bertanya, mengapa sumoi-nya memperhatikan soal begitu, padahal sama sekali tidak ada sangkut paut dengan sumoi-nya?

“Sumoi, engkau tahu betul bahwa Nona Ouw Soan Cu melakukan hal itu demi menolong kita. Siapakah yang main-main dengan dia?”

“Hemm, apa kau kira aku tidak tahu betapa dia suka kepadamu dan sengaja mendatangi kamar tahananmu untuk merayumu?”

“Sumoi! Jadi sudah selama ini kau berada di sini? Dan kau diam saja? Sumoi, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Kalau kau sudah tahu akan kunjungannya itu, tentu kau tahu juga bahwa dia datang untuk memberi obat penolak binatang-binatang berbisa. Sumoi, kita semestinya berterima kasih kepadanya. Dia bermaksud baik, bahkan tidak segan-segan membohong kepada Kongkong-nya demi keselamatan kita.”

“Ya, ya, memang dia baik sekali dan cantik sekali. Siapa yang tidak tahu?”

“Sumoi…, harap jangan marah. Dia adalah seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya meninggal ketika melahirkan dia, ayahnya pergi entah ke mana dan sampai kini belum kembali…”

“Memang, dia seorang gadis bernasib buruk yang patut dikasihani, tidak seperti aku…” dan Swat Hong lalu menelungkupkan muka di atas meja dan menangis!

Sin Liong terkejut. Beberapa kali ia hendak memegang lengan sumoi-nya akan tetapi ditahannya tangannya. “Aihh… Sumoi, engkau pun bernasib buruk, dan aku merasa kasihan sekali kepadamu. Karena aku merasa kasihan, maka aku menyusulmu. Sumoi, diamlah, jangan menangis. Apakah Sumoi telah bertemu dengan Ibumu?”

Swat Hong seketika berhenti menangis, mengangkat mukanya yang basah air mata dan memandang kepada Sin Liong. Pemuda itu merasa kasihan sekali, lalu mengeluarkan sapu-tangannya dan mengapus air mata yang membasahi muka gadis itu.

“Suheng…apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan dia? Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah mewakilinya?” mendengar tentang ibunya, seketika lupalah Swat Hong akan kemarahan dan kedukaan hatinya sendiri.

“Ibumu juga telah pergi meninggalkan Pulau Es…,” dengan singkat Sin Liong lalu menceritakan apa yang terjadi setelah gadis itu lari pergi dari Pulau Es, betapa ibunya juga pergi, tidak mau disuruh tinggal di Pulau Es setelah puterinya membuang diri ke Pulau Neraka. “Sumoi, ketika aku tidak melihatmu di sini, tadinya aku mengharapkan karena engkau sudah bertemu dengan ibumu. Jadi engkau belum bertemu dengan ibumu?”

Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala, wajahnya kelihatan muram mendengar akan kepergian ibunya.

“Ah, kalau begitu ke manakah perginya ibumu?” Sin Liong termenung dan diam-diam dia pun merasa prihatin sekali akan nasib wanita itu.

Tiba-tiba Swat Hong berdiri dan mengepal tinju, mukanya agak pucat ketika dia berkata, “Aku mau pergi dari sini sekarang juga! Aku harus mencari ibu sampai ketemu, dan aku tidak akan kembali ke Pulau Es! Aku tidak akan sudi menggantikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukankah ibu sudah meninggalkan Pulau Es sehingga percuma saja aku mewakilinya?”

“Nanti dulu, Sumoi. Kau tidak bisa pergi begitu saja, tentu mereka akan menghalangimu!” “Aku tidak takut! Yang menghalangi aku akan kubunuh!”
“Sabarlah, Sumoi. Perlu apa kita mencari permusuhan dengan mereka yang berjumlah banyak? Bukan soal takut atau tidak takut, akan tetapi mereka adalah manusia-manusia yang bernasib buruk sekali, dipaksa tinggal di tempat seperti neraka ini. Bahkan mereka boleh dibilang senasib dengan ibumu dan denganmu sendiri. Selain itu ke manakah kita harus mencari ibumu? Kalau kita berbaik dengan mereka, bukankah kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan tenaga banyak orang kukira akan lebih mudah mencari ibumu yang tidak jelas ke mana perginya itu.”

Swat Hong dapat dibujuk dan akhirnya dia duduk di atas bangku sambil mengerutkan alisnya dengan wajah muram. Betapa pun juga, setelah dia sadar bahwa cemburunya terhadap suheng-nya dan Soan Cu tidak berdasar, kini terasalah olehnya betapa hatinya sesungguhnya merasa lega dan senang karena dapat bertemu dan berkumpul dengan suheng-nya, apa lagi di tempat yang berbahaya ini.

Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum ‘obat’ yang terbuat dari daun-daun seperti yang dilukiskan oleh Sin Liong. Setiap hari kakeknya bertanya dan dia menjawab bahwa penyakit yang dideritanya, rasa nyeri seperti yang dinyatakan Sin Liong itu berangsur-angsur sembuh! Girang bukan main hati kakek itu, akan tetapi hati Swat Hong yang mendongkol melihat betapa Soan Cu seolah-olah mengulur waktu ‘penyembuhannya’!

Pada hari ke tujuh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu mendatangi pondok tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong. Dua orang muda dari Pulau Es ini memang sudah menunggu di depan pondok dengan hati tidak sabar, menanti berita kesembuhan total Soan Cu. Maka mereka menyambut ketua Pulau Neraka dan cucunya itu dengan penuh harapan karena melihat betapa wajah kedua orang pendatang itu berseri.

 

Setelah tiba di depan mereka, Soan Cu segera berkata, “Sin Liong, Kakek merasa berterima kasih sekali kepadamu dan menyetujui kau melanjutkan pengobatan dengan menggunakan sinkang!”

“Apa…?!”

Akan tetapi kata-kata Sin Liong yang bingung dan tidak mengerti itu segera diputus oleh Soan Cu, “Bukankah dulu kau katakan, setelah beberapa hari minum obat penawar racun, kau akan melenyapkan sama sekali hawa beracun itu dengan menggunakan sinkang menyedot ke luar hawa itu dari punggungku?”

Ouw Kong Ek tertawa. “Orang muda she Kwa. Kalau bukan engkau yang sudah kupercaya penuh, tentu aku tidak mengijinkan pengobatan ini. Akan tetapi aku sudah percaya kepadamu, maka silakan. Mudah- mudahan saja dalam waktu singkat cucuku akan sembuh sama sekali.” Setelah berkata demikian, kakek itu membungkuk ke arah Sin Liong dan Swat Hong, lalu meninggalkan cucunya.

“Soan Cu, apa maksudmu?” Sin Liong segera berbisik menegur.

“Huh, tentu ingin berduaan denganmu di dalam kamar, apa lagi?” Swat Hong mengejek.

“Hushhh, harap kalian jangan ribut-ribut,” bisik Soan Cu. “Mari kita masuk ke kamar dan bicara.” dia menggandeng tangan Sin Liong dan diajaknya masuk.

Melihat Swat Hong cemberut, Sin Liong berkata, “Sumoi, marilah.” “Aku tidak sudi menggangu kalian!”
“Aih Enci Hong, mengapa begitu? Yang hendak kubicarakan adalah kepentingan kalian berdua. Marilah,” kata Soan Cu.

Agaknya memang dara Pulau Neraka ini tidak pernah mengerti apa yang diejekkan oleh Swat Hong. Agaknya cara hidup di Pulau Neraka membuat dia kurang mengerti akan tata susila sehingga tak pernah merasa melanggar sesuatu biar pun dia memasuki kamar berdua dengan seorang pemuda. Sambil bersungut-sunggut menyembunyikan rasa malunya bahwa dia telah menduga yang bukan-bukan, Swat Hong ikut masuk.

“Aku memang berpura-pura, mengulur panjang waktu penyembuhan. Semua ini karena aku mendengar bahwa Kongkong dan para pembantunya tidak ingin membebaskan kalian setelah aku sembuh.”

“Keparat! Kongkong-mu memang bukan manusia baik-baik! pantas menjadi ketua di Pulau Neraka! Aku akan menemuinya!”

“Hushhh, Sumoi. Bersabarlah, dan mari kita dengar kata-kata Soan Cu.”

Dengan muka muram Swat Hong duduk lagi dan memandang wajah Soan Cu. Wajah yang manis sekali, pikirnya, manis dan polos. Pantaslah kalau andai kata Sin Liong jatuh cinta kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hatinya merasa berdebar penuh khawatir.

“Kongkong telah berjaga-jaga dan mempersiapkan anak buahnya, menjaga kalau-kalau kalian melarikan diri. Berbahaya sekali.”

“Habis bagaimana baiknya, Soan Cu?”

“Ada jalan,” kata dara yang lincah dan cerdik itu. “Menurut pendengaranku ketika Kongkong merundingkan di kamar rahasia bersama para pembantunya yang paling dipercaya, Kongkong tidak berniat buruk kepada kalian. Setelah kau dapat menyembuhkan aku, maka Kongkong membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak menahanmu agar kau dapat mengobati setiap penghuni yang terserang penyakit. Ada pun Enci Hong ditahan di sini sebagai sandera, untuk menahan kekuasaan Pulau Es.”

“Keparat…!”

“Jangan marah, Enci Hong. Kurasa kita harus menghadapi Kongkong yang berwatak kasar dengan sikap dan akal halus. Kalau aku sudah sembuh, yaitu kalau kunyatakan bahwa aku sudah sembuh sama sekali, sedikit banyak Kongkong tentu akan berterima kasih. Kemudian Liong-ko…heh, Sin Liong mengajarkan Kongkong mengenal daun obat-obatan dengan janji akan membebaskan kalian. Kurasa Kongkong akan mau menerimanya karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang ilmu pengobatan itu. Dengan demikian, kalau kalian meninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap sebagai sahabat dan penolong. Bagaimana?”

“Kurasa baik juga akal ini,” kata Sin Liong.

“Hemm, terserahlah. Akan tetapi jangan ada akal bulus di balik semua ini!” Swat Hong mengancam.

Soan Cu menarik napas panjang. “Enci Hong, harap jangan mencurigai aku. Aku sudah menyesal sekali menjadi seorang yang terlahir di tempat ini. Aku ingin melanjutkan cita-cita Ayah-bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha agar penghuni Pulau Neraka tidak menjadi orang liar yang tidak mengenal prikemanusiaan,” setelah berkata demikian, Soan Cu pergi meninggalkan pondok itu dengan muka tunduk.

“Seorang anak yang baik…,” Sin Liong memuji sambil memandang tubuh dara itu yang melangkah pergi meninggalkan pondok.

“Maksudmu, seorang dara yang cantik dan berbudi!”

Tanpa menoleh Sin Liong mengangguk. “Memang, dia cantik dan berbudi.” “Huh! Sudah kusangka demikian!”
Sin Liong menoleh kaget dan memandang wajah sumoi-nya. “Sumoi, apa maksudmu?”

Swat Hong membuang muka. “Hemm, tidak apa-apa. Begitulah!” lalu dia lari memasuki kamarnya, membanting daun pintu keras-keras.

Sin Liong menggeleng kepalanya. Makin tidak mengerti dia akan sikap wanita pada umumnya, dan saat itu sikap Swat Hong khususnya. Juga sikap Soan Cu yang amat aneh, kalau mengingat bahwa dia adalah cucu ketua Pulau Neraka yang berwatak aneh dan kejam.

Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu. Setelah dara itu mengaku sembuh sama sekali dan Sin Liong bersama Swat Hong menghadap ketua untuk minta pembebasan, Ouw Kong Ek malah menggelengkan kepalanya.

“Kwa Sin Liong, kami berterima kasih sekali atas penyembuhan penyakit cucuku, dan untuk jasamu itu, kami tidak akan menggangu kalian, bahkan menganggap kalian sebagai orang-orang berjasa. Akan tetapi, terpaksa kami tidak dapat membebaskan kalian karena kami amat membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Maka, harap kalian suka mengerti akan kebutuhan kami ini. Tinggallah di sini dan menjadi orang-orang terhormat, menjadi pembantuku yang paling baik,” kata Ouw Kong Ek.

“Tocu, aku mengerti akan kebutuhan Tocu dan para penghuni Pulau Neraka. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau menyuruh kami tinggal di sini selamanya, apa lagi amat tidak adil bagi Sumoi. Betapa pun juga, karena aku mengerti akan kebutuhan kalian semua, biarlah sekarang diatur begini saja. Aku akan sementara waktu tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan kepada Tocu, akan tetapi kuminta agar Sumoi sekarang juga dibebaskan, diberi sebuah perahu agar Sumoi dapat pergi lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka. Ada pun aku sendiri, kalau Tocu sudah mengenal semua daun dan bahan pengobatan, baru aku akan pergi dari sini. Bagaimana?”

Ketua Pulau Neraka itu mengerutkan alisnya, lalu melirik kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan menundukan kepala saja.

“Hemmm, boleh juga sumoi-mu pergi. Biar pun dia puteri Han Ti Ong, akan tetapi mengingat akan jasamu, biarlah dia kami bebaskan. Akan tetapi kau… ah, aku sangat mengharapkan agar engkau menjadi… keluarga kami, orang muda,” kembali dia mengerling ke arah Soan Cu dan gadis itu makin menundukan

mukanya yang menjadi merah sekali.

“Benar sekali, dia amat cocok menjadi jodoh Nona Ouw!” beberapa orang pembantu berkata sambil tertawa-tawa, sikap mereka bebas terbuka.

“Aku tidak mau pergi!” tiba-tiba Swat Hong berkata lantang. “Kalau Suheng tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu selesai. Dan kalau… kalau ada pengantin di sini, kalau Suheng diambil mantu, aku pun harus menjadi saksinya!” ucapan itu sebetulnya dikeluarkan dengan gejolak kemarahan dan kepanasan hati Swat Hong, akan tetapi para pembantu Ouw Kong Ek menyambutnya dengan suara ketawa.

Tentu saja Sin Liong kaget sekali mendengar ucapan sumoi-nya itu. Ada kesempatan yang amat baik terbuka bagi Swat Hong untuk membebaskan diri dari pulau berbahaya itu, dan kesempatan itu dibuang begitu saja oleh Swat Hong! Dia telah mengenal watak Swat Hong. Sekali bilang tidak mau, dipaksa sampai mati pun tidak akan mau tunduk! Maka dia menjadi bingung sekali.

“Tocu, karena Sumoi tidak mau pergi sendiri lebih dulu, maka biarlah perjanjian kita diubah. Aku akan memberi pelajaran ilmu pengobatan kepada Tocu. Setelah Tocu mengenal bahan obat untuk melindungi penghuni pulau ini, aku dan Sumoi boleh pergi dengan bebas. Bagaimana?” berkata Sin Liong.

Ketua Pulau Neraka itu mengelus-elus dagunya dengan alis berkerut. Berkali-kali dia melirik ke arah cucunya. Dia adalah seorang yang sudah tua. Biar pun tidak pernah terjun ke dunia ramai, namun dia tahu bahwa cucunya jatuh hati kepada pemuda yang hebat ini. Dan dia tidak melihat seorang pemuda lain di Pulau Neraka yang kiranya patut menjadi suami cucunya! Tentu saja hatinya tidak rela kalau pemuda itu pergi meninggalkan pulau, karena dia tahu bahwa hal itu tentu akan mengecewakan hati cucunya. Maka dia hanya menggeleng-geleng kepala, tanpa dapat menjawab.

Melihat keraguan ketuanya, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih melaju maju. Orang ini kepalanya gundul botak akan tetapi mukanya penuh brewok, tubuhnya kurus kecil dan di lehernya ada seekor ular merah melingkar. Dia adalah pembantu utama dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai ilmu kepandaiannya dan bernama Lo Thong. Berbeda dengan Majikan Pulau Neraka yang merupakan keturunan orang buangan, maka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari Pulau Es.

Tiga puluh tahun yang lalu dia dibuang dari Pulau Es karena sebagai seorang pemuda dia banyak melakukan kejahatan. Setelah berada di Pulau Neraka dia memperdalam ilmu-ilmunya dan menjadi orang ke dua yang terkuat setelah Ouw Kong Ek, yaitu sesudah putera Ouw Kong Ek yang bernama Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu menjadi gila dan meninggalkan pulau. Maka dia diangkat sebagai pembantu utama oleh Ouw Kong Ek.

“Twako (Kakak),” Lo Thong berkata. Tidak seperti lain penghuni Pulau Neraka yang menyebut ketua mereka Tocu (majikan pulau), dia menyebutnya kakak. “Mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang anak-anak ini? Betapa pun juga, mereka berada di pulau ini dan seharusnya mereka tunduk kepada semua perintah Twako yang menjadi hukum di sini. Kalau mereka hendak mengambil keputusan sendiri, boleh saja akan tetapi mereka harus lebih dulu dapat mengalahkan kita!” kata Lo Thong.

Ouw Kong Ek memandang pembantunya dengan muka berseri, seolah-olah dia terlepas dari keadaan yang ruwet. “Kalau begitu, bagaimana baiknya, Lo-tee?”

“Menurut saya, lebih baik diadakan pertandingan antara pemuda She Kwa ini dan Twako. Kalau dalam pertandingan itu dia kalah, maka dia dan Sumoi-nya harus selamanya tinggal di sini dan menjadi penghuni pulau ini seperti kita semua.”

“He, Botak! Enak saja kau bicara! Siapa bilang Suheng-ku kalah oleh ketua kalian? Habis, kalau kemudian ketua kalian yang kalah, bagaimana?” Swat Hong berteriak nyaring.

“Twako kalah? Ha-ha, mana mungkin?” Lo Thong menjawab. “Akan tetapi kalau Twako kalah, biarlah pemuda She Kwa ini mengajarkan ilmu pengobatan sampai Twako pandai, baru kalian berdua boleh pergi meninggalkan pulau ini dengan bebas.”

“Usul yang bagus sekali!” Ouw Kong Ek berseru gembira. “Kwa Sin Liong, aku mendengar bahwa di dunia

ramai, di daratan sana, orang-orang gagah menggunakan kepandaian untuk memutuskan sebuah perkara yang ruwet. Aku percaya bahwa engkau tentu seorang gagah pula. Maka biarlah kita membereskan urusan ini dengan mengukur kepandaian masing-masing seperti yang diusulkan oleh pembantuku Lo Thong.”

Sin Liong menggeleng kepalanya. “Tocu, aku tidak suka menggunakan ilmu yang kupelajari untuk kekerasan. Mengapa Tocu hendak menggunakan cara kekerasan untuk menahan kami berdua selamanya di pulau ini? Aku sudah bersedia mengajarkan ilmu pengobatan, maka sudah sepatutnya kalau Tocu membalasnya dengan membebaskan kami.”

“Tidak kita harus saling mengukur kepandaian dulu!” ketua itu berkeras.

Tiba-tiba Swat Hong melompat ke tengah lapangan dan membusungkan dada menegakkan kepalanya. “Hayolah! Kalau Suheng tidak mau, biarlah aku yang melayanimu! Siapa sih takut kepada orang Pulau Neraka? Aku yang memasuki pertandingan itu, dan kalau kalah, boleh kalian berbuat apa saja sesuka kalian!”

“Sumoi…!!” Sin Liong menegur.

“Suheng, aku tidak takut!” Swat Hong membantah.

Ouw Kong Ek mengerutkan alisnya. “Soan Cu, kau layani bocah liar yang sombong ini!” katanya.

“Baik Kongkong.” Soan Cu bangkit berdiri dan melangkah maju, akan tetapi segera berhenti ketika mendengar suara Sin Liong.

“Soan Cu harap jangan bertanding. Di antara kita tidak ada permusuhan, bukan?”

Soan Cu meragu, memandang kepada Kongkong-nya, kemudian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia kembali duduk di tempatnya yang tadi.

“Soan Cu…,” kakeknya menegur.

“Kongkong, aku tidak mau bertanding. Mereka bukan musuhku.”

Mata kakek itu terbelalak, akan tetapi dia tidak marah bahkan lalu tertawa bergelak. “Kau… kau lebih taat kepadanya? Ha-ha-ha-ha!”

Dia tertawa karena sikap cucunya itu jelas membuktikan betapa cucunya benar-benar telah jatuh cinta kepada Sin Liong! Sampai-sampai berani membangkang terhadap perintahnya hanya karena Sin Liong menghendaki demikian.

Makin panaslah hati Swat Hong. Tadinya dia sudah siap-siap untuk menjatuhkan cucu ketua Pulau Neraka itu, selain agar menang pertandingan juga hendak memperlihatkan kepada Suheng-nya bahwa dia lebih pandai dari-pada Soan Cu. Akan tetapi, ternyata Suheng-nya melarang Soan Cu dan dan putri Pulau Neraka itu begitu taat!

“Ouw Kong Ek, kalau cucumu tidak berani maju, biarlah kau sendiri yang maju! Hayo tandingilah aku, puteri Raja Pulau Es!” dia menantang-nantang dengan suara penuh kemarahan.

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya dan bingung sekali bagaimana harus mencegah sumoi-nya. Kembali kakek itu menjadi marah. Tantangan yang keluar dari mulut Swat Hong membuat mukanya merah dan telinganya panas. Akan tetapi betapa memalukan kalau dia harus menandingi seorang bocah perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya sendiri!

“Twako, perkenankanlah saya menghajar bocah bermulut lancang ini” Lo Thong berkata.

Ouw Kong Ek mengangguk, akan tetapi masih ingat dan memesan, “Akan tetapi cukup beri hajaran saja, jangan sampai dia terbunuh.”

“Baik saya mengerti, Twako,” Lo Thong menjawab, lalu sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan Swat Hong.

Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam-diam Sin Liong khawatir sekali. Akan tetapi dia pun tidak dapat mencegahnya karena maklum, kalau dia melarang Sumoi-nya tentu akan menjadi makin nekat saja. Maka dia hanya bangkit berdiri dan memandang dengan jantung berdebar tegang.

Swat Hong memandang kakek botak yang berdiri di depannya, lalu berkata dengan suara mengejek, “Apakah pertandingan ini akan memutuskan perjanjian tadi, bahwa kalau aku menang kami berdua boleh pergi dari sini?”

“Tidak,” jawab Lo Thong. “Pertandingan ini hanya mengenai dirimu, kalau kau menang kau boleh pergi, kalau kau kalah, kau harus tinggal di sini selamanya dan menjadi muridku.”

“Setan alas! Siapa takut padamu?!” Swat Hong yang sudah kena dibakar hatinya itu membentak. “Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang juga!” Sin Liong berteriak.
“Tidak, Suheng. Aku merasa kurang terhormat kalau pergi begitu saja. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang-orang Pulau Neraka. Kalau aku pergi berarti aku pergi mengandalkan kepandaian aku sendiri, bukan karena kebaikan hati mereka. Hayo, kakek botak, boleh kau keluarkan segala ilmumu!”

“Bocah sombong, sambutlah ini!” Lo Thong merasa panas juga perutnya melihat sikap dara remaja yang memandang rendah kepadanya itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa dara ini tentu memiliki kepandaian tinggi sebagai puteri Raja Pulau Es, maka sekali menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya, mengeluarkan jurus yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

“Wuuuttt… sirrr…! Desss!”

Mula-mula Lo Thong menggerakkan tubuhnya rendah ke bawah, seolah-olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak menangkap kaki Swat Hong. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya meninggi, tangan kanannya meluncur dan mencengkeram ke arah pinggang dara itu.

Namun Swat Hong yang usianya belum lima belas tahun itu telah mewarisi inti kepandaian dari ilmu-ilmu kesaktian Pulau Es. Dengan tenang dia melihat bahwa bukan tangan kiri lawan yang berbahaya melainkan tangan kanannya. Maka dia cepat menarik kaki kiri dan menangkis dengan sabetan tangan miring dari samping yang mengenai lengan lawan.

Lo Thong mencelat ke belakang dan inilah kehebatan ginkang-nya. Gerakannya bukanlah langkah kaki, melainkan loncatan yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini dengan amat cepatnya dan sama sekali tidak terduga oleh lawan.

“Sumoi, awasilah gerakannya. Ginkang-nya lihai!” Sin Liong berseru.

Diam-diam Lo Thong mendongkol juga. Ternyata pemuda itu lihai sekali, baru segebrakan saja sudah mengenal di mana letak keampuhannya. Maka dia lalu menggereng dan menubruk maju, menghujani Swat Hong dengan serangan bertubi-tubi.

Swat Hong diam-diam terkejut juga. Ternyata bahwa pembantu utama dari ketua Pulau Neraka ini hebat bukan main. Setiap gerakan tangannya mendatangkan angin keras menyambar dan kecepatannya membuat dia pening karena harus menggerakkan kekuatan matanya untuk mengikuti terus gerakan lawan. Namun tentu saja dia tidak menjadi gentar. Sejak kecil dara remaja ini tidak pernah mengenal artinya takut, dan dia pun mengeluarkan kepandaiannya untuk membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Semua mata memandang pertandingan itu dengan penuh perhatian. Diam-diam Soan Cu merasa kagum sekali kepada Swat Hong dan dia harus mengaku dalam hatinya bahwa andai kata tadi dia yang maju, dia akan kalah menghadapi kelihaian dara Pulau Es itu, maka dia merasa makin bersyukur kepada Sin Liong yang tadi mencegahnya maju melawan Swat Hong. Apakah pemuda itu sudah tahu bahwa dia akan kalah kalau melawan Swat Hong? Soan Cu melirik ke arah Sin Liong dan melihat betapa wajah pemuda yang tampan itu diliputi kekhawatiran, maka dia kembali menyaksikan pertandingan yang hebat itu.

Tubuh mereka berdua yang bertanding itu sudah tidak dapat kelihatan jelas, yang tampak hanya dua bayangan berkelebatan ke kanan-kiri dengan cepat sekali. Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong memang hebat sekali, akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan puteri Raja Han Ti Ong dari Pulau Es! Biar pun masih kalah sedikit namun Swat Hong dapat mengimbangi kecepatan lawan, bahkan dapat mendesak dengan ilmu silatnya yang luar biasa dan tenaga sinkang-nya yang berdasarkan hawa murni dari im-kang yang dingin.

Ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong adalah ilmu silat tangan kosong Jit-cap-ji-seng (Tujuh Puluh Dua Bintang) yang mempunyai tujuh puluh dua jurus-jurus ampuh. Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong terlahir, tentu Lo Thong mengenal ilmu ini, bahkan ilmu silatnya sediri pun bersumber pada ilmu silat Pulau Es. Akan tetapi setelah dua puluh tahun lebih berada di Pulau Neraka dan mempelajari ilmu- ilmu dari Pulau Neraka, maka ilmu silatnya menjadi campur aduk dan tentu saja kalah murni oleh ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong. Pula Lo Thong dahulu belum mempelajari Jit-cap-ji-seng sampai habis, hal yang jarang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga raja.

Mulailah Lo Thong terdesak oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Swat Hong. Ingin sekali Lo Thong menggunakan senjatanya, yaitu ular hidup yang melingkar di lehernya, namun dia takut akan pesan ketuanya tadi. Kalau dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan tergigit mati tentu dia akan mendapat marah besar. Maka dia lalu berteriak keras dan mengerahkan seluruh ilmunya meringankan tubuh.

“Aihhh…!” Swat Hong terkejut ketika melihat betapa tubuh lawan dapat bergerak lebih cepat lagi. Dalam serangkaian serangan yang tak terduga saking cepatnya, hampir saja pundaknya kena dicengkeram.

Swat Hong berseru sambil meloncat keatas tinggi sekali, kemudian bagaikan seekor burung walet tubuhnya sudah membalik di udara, menukik kebawah dan dia sudah melancarkan serangan dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Memasuki Laut), jurus terakhir yang paling ampuh dan yang dulu dilatihnya dengan ibu dan ayahnya sehingga dia mahir sekali mainkan jurus ini. Hebat bukan main daya serang jurus ini karena selagi tubuh meluncur turun dengan menukik kebawah, kedua tangannya sudah bergerak mencengkeram kearah ubun-ubun kepala lawan yang botak itu!

“Hayaaa…!” kini Lo Thong yang kaget ketika merasa ada hawa dingin menyentuh ubun-ubun kepalanya dari atas.

Maklum bahwa serangan itu merupakan ancaman maut bagi dirinya, dia tidak berani lengah. Cepat dia membuang diri kebelakang sehingga dia terjengkang, kemudian menggunakan ginkang-nya untuk berguling di atas lantai. Dengan gerakan ini, biar pun pakaiannya kotor terkena debu, namun dia selamat dan dapat menghindarkan diri dari serangan jurus Kak-seng-jip-hai tadi. Akan tetapi betapa terkejutnya melihat dara itu sudah meloncat ke depan dan baru saja dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah menghantamnya dengan kedua tangan didorongkan ke depan.

“Haiiittt!!” Swat Hong berseru nyaring dan mengerahkan tenaga sinkang-nya.

“Sumoi, jangan…!” Sin Liong berteriak kaget ketika melihat betapa sumoi-nya itu menggunakan tenaga Swat-im-sin-ciang (Tenaga Pukulan Inti Salju) yang merupakan sinkang paling ampuh dari Pulau Es!

Untuk melatih diri agar bisa menguasai tenaga im-kang yang amat kuat ini, orang harus bersamadhi di atas salju tanpa pakaian, dan melewati malam-malam yang dinginnya menyusup tulang! Dan sebagai puteri Raja Han Ti Ong, tentu saja Swat Hong telah menguasai sinkang itu yang kini dipergunakan untuk menyerang selagi lawan terdesak.

“Ciaattt…!!” Lo Thong juga berteriak keras dan cepat dia menolak hawa serangan itu dengan dorongan kedua tangannya.

Dua tenaga sinkang bertemu tanpa kedua pasang telapak tangan itu bersentuhan dan akibatnya, Lo Thong terhuyung ke belakang dan dari ujung bibirnya mengucur darah! Sambil menggereng keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke depan menerkam, akan tetapi Swat Hong yang sudah siap menyambutnya dengan sebuah tendangan dari samping yang tepat mengenai pantat Lo Thong dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke arah tempat duduk Ouw Kong Ek!

 

Ketua Pulau Neraka ini marah sekali. Tangannya bergerak menyambut tubuh itu dan tahu-tahu tubuh Lo Thong sudah melayang lagi ke arah Swat Hong. Akan tetapi ternyata bahwa ketika menyambut tadi, Ouw Kong Ek yang lihai telah menotok dua jalan darah di pungung pembantunya yang seketika merasa dadanya lega kembali. Begitu dia dilontarkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah menyerang dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan hendak mencengkeram tubuh gadis itu.

Swat Hong terkejut sekali, tidak menyangka bahwa tubuh lawan akan secepat itu melayang kembali ke arahnya. Maka dia berteriak dan maklum akan bahaya yang mengancam karena dia tidak sempat mengelak lagi!

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin Liong telah berada di dekat sumoi-nya. Dengan tangan kiri dia menarik tubuh sumoi-nya dan dengan tangan kanan dia menyampok ke atas. Kedua tangan Lo Thong tertangkis, bahkan tubuh orang botak ini terdorong miring dan cepat dia meloncat ke atas lantai dengan mata terbelalak heran dan kagum akan kehebatan tenaga pemuda itu. Maklum bahwa dia tak mampu menang, dia lalu mengundurkan diri di dekat ketuanya dengan muka penuh keringat.

“Bagus! Puteri Han Ti Ong lumayan juga kepandaiannya, boleh coba-coba dengan aku sendiri!” Ouw Kong Ek turun dari kursinya dan melangkah ke tengah lapangan.

“Baik, majulah! Aku tidak takut menghadapimu!” Swat Hong menantang.

“Sumoi, mundurlah! Biar aku menghadapi Ouw Tocu,” Sin Liong mencegah sumoi-nya. “Tidak, aku akan menghadapi sendiri!”
Sin Liong melangkah menghampiri Ouw Kong Ek dan berkata, “Ouw-tocu, benarkah Tocu menantang sumoi-ku ini? Harap Tocu suka melihat baik-baik. Sumoi-ku adalah seorang anak perempuan yang usianya sebaya dengan cucumu, sehingga kalau Tocu menantangnya sama artinya dengan Tocu menantang seorang cucu! Kalau Tocu tidak malu bertanding dengan seorang anak perempuan yang sepatutnya menjadi cucumu, silakan. Kalau Tocu cukup gagah, biarlah aku menerima tantanganmu tadi, mari kita bertanding mengukur kepandaian. Kalau aku kalah, terserah kepada Tocu. Kalau aku menang, setelah aku mengajarkan ilmu pengobatan, Tocu akan membiarkan kami berdua pergi dari pulau ini dengan aman. Bagaimana?”

“Aku tidak takut! Suheng, biar aku melawan dia, aku tidak takut!” Swat Hong berteriak-teriak.

Ouw Kong Ek memandang kepada dara muda dan mukanya berubah merah. Memang tidak keliru omongan Sin Liong tadi. Bocah itu masih amat muda, masih kanak-kanak sebaya Soan Cu. Seorang anak- anak dan perempuan lagi! Tentu saja akan amat merendahkan dirinya kalau sampai dia menantang seorang anak perempuan kecil!

“Baiklah, mari kita mengadu kepandaian, Kwa Sin Liong,” katanya.

Sin Liong menoleh kepada sumoi-nya. “Nah, kau dengar. Yang ditantang adalah aku, bukan kau, Sumoi. Mundurlah.”

Swat Hong membanting-banting kaki, terpaksa dia mundur. Akan tetapi lebih dulu dia berkata kepada Ouw Kong Ek, “Aku selalu masih siap untuk melayani jago Pulau Neraka yang mana pun juga.”

Ouw Kong Ek dan Sin Liong sudah saling berhadapan. Keduanya saling pandang tanpa bergerak, seolah- olah hendak mengukur dan menilai keadaan lawan dengan pandangan matanya. Melihat sikap pemuda yang amat tenang itu, juga pancaran sinar matanya lembut dan bebas dari rasa takut mau pun kebencian dan kemarahan, hati Ouw Kong Ek menjadi makin suka. Melihat sikap pemuda ini, sukar untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong, Raja Pulau Es yang sakti. Kelihatannya hanya seperti seorang pemuda yang lemah, pantasnya seorang sastrawan yang biasanya hanya membaca sajak dan menulis huruf indah atau meniup suling.

“Orang muda, mulailah!” Ouw Kong Ek berkata. Ia ragu-ragu untuk menggunakan kepandaiannya menyerang orang yang kelihatannya lemah ini.

“Ouw-tocu, bukan aku yang menghendaki adu kepandaian ini, maka biarlah aku hanya menjaga diri saja.”

Jawaban yang keluar dengan suara lembut dan sejujurnya itu setidaknya memanaskan hati Ouw Kong Ek karena kedengarannya seolah-olah pemuda itu memandang rendah kepadanya. Pemuda ini sama sekali tidak gentar menghadapinya, hal itu sama saja memandang rendah!

“Kwa Sin Liong, sambutlah seranganku!” bentaknya dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, gerakannya perlahan saja namun didahului sambaran angin pukulan dari kedua telapak tangannya.

“Wuuttt… wuuttt!!” hawa pukulan yang dahsyat dua kali menyambar ke arah leher dan pusar Sin Liong ketika kakek itu menggerakkan kedua tangannya memukul.

Dengan tubuh ringan sekali Sin Liong menggeser kaki dan berhasil mengelak sampai berturut-turut enam kali. Ternyata bahwa pukulan kakek itu begitu luput dari sasaran terus dilanjutkan dengan serangan berikutnya tanpa berhenti sedikit pun, sehingga enam kali berturut-turut kedua tangannya menyambar dahsyat dari segala jurusan! Barulah Sin Liong dapat membebaskan diri dari kepungan kedua tangan itu ketika dia meloncat jauh ke belakang, dan siap lagi menghadapi serangan berikutnya.

“Bagus!” Ouw Kong Ek berseru kagum melihat betapa pemuda itu dengan enak saja sudah berasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dinamakan Jurus Pukulan Badai Mengamuk. Kemudian dia menerjang lagi.

Kini dia tidak bergerak lambat lagi, melainkan cepat sekali. Kaki tangannya bergerak dengan cepatnya, gerakan yang aneh namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat berbahaya. Kembali Sin Liong menyambut serangan-serangannya itu dengan tenang dan hati-hati, mengelak ke sana-sini dan hanya kalau terpaksa dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis atau menyampok. Perlahan saja pemuda itu menangkis, namun selalu tangkisannya yang membawa hawa pukulan Im-kang itu berhasil menghalau tangan lawan!

Sampai tiga puluh jurus lebih Sin Liong selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas serangan lawan! Tentu saja hal ini membuat Ouw Kong Ek kagum sekali. Pemuda ini sudah diserangnya dengan hebat, didesaknya sampai keadaannya berbahaya, namun tetap tidak mau membalas.

“Eh, Suheng, kau tidak membalas, apa kau merasa phai-seng-gi (sungkan) kepada orang yang hendak memunggut mantu kepadamu?” Swat Hong berteriak-teriak penuh penasaran ketika melihat suheng-nya bertempur seperti orang mengalah saja.

Merah muka Sin Liong. Memang dia tidak mau membalas karena dia selamanya belum pernah memukul orang! Dia memang mempelajari silat yang tinggi sekali tingkatannya. Dari kitab-kitab lama yang rahasia dan tak pernah dibaca orang di dalam perpustakaan Pulau Es, dia menemukan ilmu-ilmu mukjijat, di antaranya ilmu mengenal inti gerakan semua ilmu silat. Akan tetapi dia merasa sungkan dan ngeri kalau harus memukul orang lain, apa lagi kepada kakek yang sama sekali tidak ada permusuhan apa-apa dengannya itu.

Kini mendengar ejekan Swat Hong, dia merasa tidak enak dan hatinya terguncang. Guncangan ini memperlambat gerakan tangannya, maka ketika dia menangkis sebuah pukulan, tangkisannya meleset dan pukulan tangan kiri Ouw Kong Ek menyerempet pundaknya. Tubuhnya tergetar hebat dan dia terhuyung ke belakang.

Ouw Kong Ek yang merasa penasaran sekali kini maklum bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, mungkin dia akan kalah! Maka melihat hasil pukulannya yang membuat Sin Liong terhuyung dia cepat mendesak maju. Dia harus mengalahkan pemuda ini karena dia ingin sekali pemuda ini menjadi penghuni Pulau Neraka, dan kalau mungkin menjadi suami Soan Cu. Dan untuk itu, dia harus lebih dulu merobohkannya. Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin Liong terhuyung ke belakang itu.

“Wuuut-plak-plak! Wuuut-plak-plak!!”

Pukulan-pukulan tangan Ouw Kong Ek hebat sekali. Setiap kali Sin Liong yang masih terhuyung itu mengelak, pukulan itu berubah menjadi cengkeraman yang amat lihai namun selalu tangan Sin Liong masih dapat menyampoknya! Bahkan pemuda itu berseru keras, tubuhnya melayang keatas, berjungkir balik dua kali dan sudah turun lagi ke atas lantai dengan tubuh tegak dan sudah siap lagi!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo