July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 25)

 

“Sin-tong…!”

“Bocah ajaib…..!!”

Teringatlah mereka semua dan kini memandang Sin Liong dengan mata terbelalak.

“Mau apa kau datang ke sini?” Thian-tok bertanya dengan suara agak berkurang galaknya.

Sin Liong sudah menjura kepada Ketua Hoa-san-pai, kepada Tee-tok dan lain tokoh yang tadi membela Hoa-san-pai, diikuti oleh Swat Hong. Kemudian Swat Hong berkata kepada Toan Ki dan Swi Nio, “Terima kasih kami haturkan kepada Ji-wi (Kalian Berdua) yang ternyata adalah orang-orang gagah yang pantas dipuji dan dikagumi kesetiaan dan kegagahannya. Sekarang saya harap Ji-wi suka mengembalikan pusaka-pusaka itu kepadaku.”

Toan Ki dan Swi Nio menjura dan Toan Ki menjawab, “Harap Lihiap suka menanti sebentar.”

Kemudian pergilah dia bersama Swi Nio ke sebelah dalam, diikuti pandang mata ketua Hoa-sanpai yang menjadi terheran-heran.

“Mau apa kalian dua orang muda datang ke sini?” kembali Thian-tok bertanya.

“Harap Lo-cianpwe ketahui bahwa kami berdua adalah penghuni Pulau Es yang datang untuk mengambil kembali pusaka Pulau Es. Pusaka itu adalah milik Pulau Es dan harus dikembalikan ke sana.”

“Penghuni Pulau Es…??!”

Suara ini bukan hanya keluar dari mulut para tamu, tetapi juga dari pihak Hoa-san-pai dan mereka yang membelanya, kecuali Tee-tok Siangkoan Houw yang sudah tahu akan keadaan pemuda dan pemudi itu. Tak lama kemudian muncullah Toan Ki dan Swi Nio.

Toan Ki membawa bungkusan yang dulu dia terima dari Swat Hong, lalu menyerahkan bungkusan itu kepada Swat Hong sambil menjura dan berkata, “Dengan ini kami mengembalikan pusaka yang Lihiap titipkan kepada kami dengan hati lega!” Memang hatinya lega dan girang sekali dapat terlepas dari tanggung-jawab yang amat berat itu.

Swat Hong membuka dan meneliti pusaka-pusaka itu. Melihat bahwa pusaka itu masih lengkap, dia makin kagum. “Suheng tidak pantas kalau kita tidak membalas budi mereka ini.”

Sin Liong tersenyum, mengangguk, kemudian matanya beralih kepada Thian-tok dan lain tamu yang masih memandang dengan bengong dan kini dari mata mereka itu terpancar ketegangan dan keinginan besar. Setelah pusaka Pulau Es yang terkenal itu tampak di depan mata, mana mungkin mereka mundur begitu saja tanpa usaha untuk mendapatkannya?

Sin Liong kemudian berkata, “Cu-wi Lo-cianpwe jauh-jauh datang ke sini, harap suka memaklumi bahwa pusaka-pusaka ini telah kembali ke pemiliknya dan akan dikembalikan ke Pulau Es. Maka kami berdua mengharap sudilah Cu-wi tidak mengganggu lagi Hoa-san-pai dan suka meninggalkan tempat ini.”

“Kami harus mendapatkan pusaka itu!” “Kami juga!”
“Kami minta bagian!”

Teriakan-teriakan itu terdengar riuh rendah.

Sin Liong lalu berkata lagi dengan halus, “Kami berdua akan berada di sini selama tiga hari, kemudian kami akan meninggalkan Hoa-san-pai. Kalau kita tidak berada di sini, masih belum terlambat bagi kita untuk bicara lagi tentang pusaka. Amatlah tidak baik bagi nama Cu-wi Lo-cianpwe kalau mengganggu Hoa-san- pai yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang hal ini. Nanti kalau kami sudah meninggalkan Hoa-san-pai, boleh kita bicara lagi.”

Melihat sikap orang-orang Hoa-san-pai, dan sekarang sudah jelas bahwa pusaka itu berada di tangan Sin- tong dan dara muda itu, Thian-tok lalu mendengus dan berkata, “Baik, kami menanti di bawah bukit. Kalian berdua tidak akan dapat terbang berlalu.”

Pergilah mereka itu meninggalkan Hoa-san-pai. Akan tetapi semua orang tahu belaka bahwa mereka tentu akan mengurung tempat itu dan tidak akan membiarkan Sin Liong dan Swat Hong lolos dari situ membawa pergi pusaka-pusaka Pulau Es yang amat mereka inginkan itu.

Sin Liong lalu menjura kepada ketua Hoa-san-pai, para tokoh Hoa-san-pai, Toan Ki dan Swi Nio, juga kepada Tee-tok dan mereka yang tadi membela Hoa-san-pai, kemudian berkata, “Terutama kepada Saudara Liem Toan Ki dan Nyonya, sudah sepantasnya kalau kami meninggalkan sedikit ilmu untuk Jiwi pelajari. Dan kepada para Lo-cianpwe, kiranya akan ada manfaatnya kalau saya melayani para Lo-cianpwe main-main sedikit untuk memperluas pengetahuan ilmu silat.”

Semua orang menjadi ragu-ragu karena tidak tahu akan maksud hati pemuda yang aneh itu, akan tetapi Tee-tok Siangkoan Houw sudah tertawa bergelak lalu meloncat ke halaman depan. “Marilah, ingin aku tua bangka ini memperdalam sedikit kepandaianku!”

Sin Liong tersenyum, lalu melangkah perlahan ke pekarangan. “Silakan Siangkoan Lo-cianpwe menggunakan Pek-liu-kun (Ilmu Silat Tangan Geledek)!” katanya tenang. “Harap Lo-cianpwe jangan sungkan dan keluarkanlah jurus-jurus simpanan dari Pek-liu-kun!”

Tee-tok sudah maklum akan kehebatan pemuda ini. Setelah dua tahun tidak jumpa, kini sikap pemuda ini luar biasa sekali, bahkan dengan kata-kata biasa saja pemuda itu sudah mengundurkan semua orang yang tadi sudah bersitegang hendak menggunakan kekerasan. Dia dapat menduga bahwa bukanlah percuma pemuda ini mengajak dia berlatih silat, tentu ada niat-niat tertentu. Karena dia merasa bahwa dia tidak mempunyai maksud jahat dan tadi membela pusaka Pulau Es dengan sungguh hati, dia kini pun tanpa ragu-ragu lagi lalu mengeluarkan gerengan keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Dengan sepenuh tenaga dan perhatiannya, dia menyerang pemuda itu dengan jurus-jurus simpanan dari Ilmu Silat Pek-lui- kun yang dahsyat.

“Haiiittt… eihhh..?!”

Bukan main heran dan kagetnya ketika ia melihat pemuda itu menghadapi dengan gerakan-gerakan yang sama! Tiap jurus yang dimainkannya, dihadapi oleh Sin Liong dengan jurus yang sama pula dan dipakai sebagai serangan balasan namun dengan cara yang sedemikian hebatnya sehingga jurus yang dimainkannya itu tidak ada artinya lagi! Jurus yang dimainkan oleh pemuda itu untuk menghadapinya jauh lebih ampuh, dan sekaligus menutup semua kelemahan yang ada, menambah daya serang yang amat hebat sehingga dalam jurus pertama saja, kalau pemuda itu menghendaki, tentu dia sudah dirobohkan sungguh pun dia sudah hafal benar akan jurusnya sendiri itu!

Bukan main girang hati kakek itu. Dia terus menyerang lagi dengan jurus lain, dan tanpa sisa dia menggunakan delapan belas jurus terampuh dari Pek-lui-kun dan yang kesemuanya selain dapat dihindarkan dengan baik oleh Sin Liong, juga telah dengan sekaligus ‘diperbaiki’ dengan sempurna. Semua gerakan ini dicatat oleh Tee-tok dan setelah dia selesai mainkan delapan belas jurus pilihan itu, dia melangkah mundur dan menjura sangat dalam ke arah Sin Liong.

“Astaga… kepandaian Taihiap seperti dewa saja…. Saya… saya menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk Taihiap…..” katanya agak tergagap.

“Ah, Lo-cianpwe terlalu merendah,” jawab Sin Liong.

Tee-tok lalu menjura ke arah ketua Hoa-san-pai dan yang lain-lain, seketika pamit dan pergi dengan langkah lebar dan wajah termenung karena dia masih terpesona dan mengingat-ingat gerakan-gerakan baru yang menyempurnakan delapan belas jurus pilihannya tadi!

Lam-hai Sengjin bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang tokoh kawakan yang berilmu tinggi. Melihat peristiwa tadi, tahulah dia bahwa pemuda ini memang bukan orang sembarangan dan agaknya telah mewarisi ilmu mukjijat yang kabarnya dimiliki oleh penghuni Pulau Es. Maka dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan dia sudah meloncat maju dengan senjata hudtim dan kipasnya.

“Orang muda yang hebat, kau berilah petunjuk kepadaku!”

“Totiang, muridmu Kwee Lun Toako adalah sahabat baik kami, harap Totiang sudi mengajarnya baik-baik,” jawab Sin Liong dan dia pun segera menghadapi serangan kipas dan hudtim dengan kedua tangannya.

Biar pun dia tidak menggunakan kedua senjata itu, namun kedua tangannya digerakkan seperti kedua senjata itu, dan dia pun mainkan jurus-jurus yang sama, namun gerakannya jauh lebih hebat, bahkan sempurna. Seperti juga tadi, kakek ini memperhatikan dan dia telah menghafal dua puluh jurus campuran ilmu hudtim dan kipas.

“Terima kasih, terima kasih…. Siancai, pengalaman ini takkan kulupakan selamanya.” Dia menjura kepada yang lain lalu berlari pergi.
“Totiang, sampaikan salamku kepada Kwee-toako!” seru Swat Hong, akan tetapi kakek itu hanya mengangguk tanpa menoleh karena dia pun sedang mengingat-ingat semua jurus tadi agar tidak sampai lupa.

Berturut-turut Gin-siauw Siucai juga menerima petunjuk ilmu silat suling perak dan mauwpit-nya, kemudian ketua Hoa-san-pai juga menerima petunjuk ilmu pedang Hoa-san Kiam-sut.

Para tokoh kang-ouw yang mengurung tempat itu di lereng puncak, terheran-heran melihat tiga orang tokoh itu meninggalkan puncak seperti orang yang termenung. Akan tetapi diam-diam mereka menjadi girang karena tiga orang lihai itu tidak membantu atau mengawal muda-mudi Pulau Es yang mereka hadang.

Tiga hari lamanya Sin Liong dan Swat Hong tinggal di Hoa-san, setiap hari menurunkan ilmu-ilmu tinggi kepada Toan Ki dan Swi Nio sehingga kedua orang suami isteri ini kelak akan menjadi tokoh-tokoh kenamaan dan mengangkat nama Hoa-san-pai sebagai partai persilatan yang besar dan lihai. Pada hari ke empatnya, pagi-pagi mereka meninggalkan markas Hoa-san-pai, diantar sampai ke pintu gerbang oleh ketua Hoa-san-pai, Toan Ki, Swi Nio dan para pimpinan Hoa-san-pai.

“Taihiap, Lihiap, pinto khawatir Jiwi akan mengalami gangguan di jalan. Menurut laporan para anak murid pinto, orang-orang kang-ouw itu masih menanti di lereng gunung,” Pek Sim Tojin berkata dengan alis berkerut. “Bagaimana kalau kami mengantar Ji-wi sampai melewati mereka dengan selamat?”

Sin Liong tersenyum. “Terima kasih, Lo-cianpwe. Akan tetapi, menghindari mereka berarti membuat mereka terus merasa penasaran. Sebaliknya malah kalau kami berdua menemui mereka dan membereskan persoalan seketika juga.”

Toan Ki dan Swi Nio yang selama tiga hari menerima petunjuk dari Sin Liong, telah menaruh kepercayaan penuh akan kesaktian pemuda Pulau Es ini, maka mereka tidak merasa khawatir. Mereka maklum bahwa pemuda dan gadis dari Pulau Es itu bukanlah manusia sembarangan, apa lagi pemuda itu memiliki wibawa yang tidak lumrah manusia. Gerak-geriknya demikian penuh kelembutan, penuh belas kasih sehingga tidaklah mungkin dapat terjadi sesuatu yang buruk menimpa seorang manusia seperti ini!

Memang benar seperti yang dilaporkan oleh anak buah Hoa-san-pai bahwa para tokoh kang-ouw itu masih menghadang di lereng puncak, dipelopori oleh Thian-tok. Thian-tok yang tadinya mengandalkan kepandaiannya sendiri, setelah menyaksikan betapa pemuda dan dara Pulau Es itu telah mendapatkan kembali pusaka-pusakanya, diam-diam telah mengajak semua tokoh lain bersekutu dengan janji bahwa kalau pusaka dapat dirampas, dia akan memberi bagian kepada mereka semua. Terutama yang menjadi pembantunya sebagai orang ke dua adalah Thian-he Tee-it Ciang Ham yang tingkat kepandaiannya hanya berselisih atau kalah sedikit saja dibandingkan dengan kepandaian Racun Langit itu.

Maka ketika Sin Liong yang membawa pusaka di punggungnya bersama Swat Hong berjalan perlahan dan tenang melalui tempat itu, segera para tokoh kang-ouw itu muncul dan telah mengurung dua orang muda itu dengan ketat, mempersiapkan senjata masing-masing dengan sikap mengancam.

Sin Liong menggeleng-gelengkan kepala. “Hal itu tidak bisa dilakukan, Cu-wi Lo-cianpwe. Pusaka-pusaka ini adalah milik Pulau Es turun-temurun, mana mungkin sekarang diserahkan kepada orang lain? Setelah kami berdua berhasil menemukannya kembali, kami harus mengembalikannya kepada Pulau Es, tempatnya semula. Maka harap Cu-wi suka memaklumi hal ini dan tidak memaksa kepada kami.”

“Orang muda yang keras kepala! Kalau kami memaksa, bagaimana?”

“Terserah kepada Cu-wi sekalian. Sumoi, harap Sumoi suka pergi dulu ke pinggir, jangan menghalangi para Lo-cianpwe ini.”

Swat Hong mengangguk dan tersenyum, kemudian tubuhnya berkelebat dan terkejutlah semua orang kang-ouw itu ketika melihat gadis itu meloncat seperti terbang saja, melayang melalui kepala mereka dan kini telah berdiri di luar kepungan! Sungguh merupakan bukti kepandaian ginkang (Ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat!

Sin Liong sengaja menyuruh sumoi-nya pergi keluar dari kepungan karena tidak menghendaki sumoi-nya itu naik darah dan turun tangan menggunakan kekerasan terhadap orang-orang kang-ouw ini. Setelah kini melihat sumoi-nya keluar dari kepungan, dia lalu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berkata, “Silakan kepada Cu-wi apa yang hendak Cu-wi lakukan setelah jelas kukatakan bahwa Pusaka Pulau Es tidak akan kuberikan kepada Cu-wi.”

Melihat sikap tenang dan penuh tantangan ini, para tokoh kang-ouw menjadi marah juga. Pemuda itu tidak memegang senjata, berdiri dalam kepungan dan pusaka itu berada di dalam buntalan yang berada di punggungnya. Maka serentak orang-orang kang-ouw yang sudah mengilar dan ingin sekali merampas pusaka itu menerjang maju dan berebut hendak menyerang Sin Liong dan mengulur tangan hendak merampas buntalan. Pemuda itu hanya berdiri tersenyum, berdiri tegak dan menyilangkan kedua lengannya sambil memandang tanpa berkedip mata.

“Ahhh…!”

“Hayaaa….!”

“Aihhhh….!”

Semua orang terhuyung-huyung mundur karena belum juga tangan mereka menyentuh pemuda itu, hati mereka sudah lemas dan luluh menghadapi wajah yang tersenyum itu. Tangan mereka seperti lumpuh dan tenaga mereka seperti lenyap seketika membuat mereka terhuyung dan hampir jatuh saling timpa!

Thian-tok dan Thian-he Tee-it menjadi kaget dan marah sekali melihat keadaan teman-teman mereka itu. Kedua orang berilmu tinggi ini memang membiarkan teman-teman mereka turun tangan lebih dulu untuk menguji kepandaian pemuda yang keadaannya amat mencurigakan karena terlampau tenang itu. Kini melihat betapa teman-temannya mundur tanpa pemuda itu menggerakkan sebuah jari tangan pun, kedua orang itu terkejut, marah dan penasaran. Thian-tok menerjang ke depan dengan senjata Kim-kauw-pang di tangannya, sedangkan Ciang Ham juga sudah meloncat dekat dengan senjata tombak di tangan.

“Orang muda, serahkan pusaka itu!” Thian-tok membentak.

“Sin-tong, jangan sampai terpaksa aku menggunakan tombak pusakaku!” Ciang Ham juga menghardik.

Akan tetapi Sin Liong tetap tidak bergerak, hanya berkata, “Terserah kepada Ji-wi Lo-cianpwe. Ji-wi yang melakukan dan Ji-wi pula yang menanggung akibatnya.”

“Keras kepala!” Thian-tok membentak dan tongkatnya yang panjang sudah menyambar ke arah kepala pemuda itu.

Sin Liong sama sekali tidak mengelak, bahkan berkedip pun tidak ketika melihat tongkat itu menyambar ke arah kepalanya, disusul tombak di tangan Thian-he Tee-it Ciang Ham yang menusuk ke arah lambungnya.

“Desss! Takkkk!!”

“Aihhh……!”

“Heiiii….!”

Thian-tok Bhong Sek Bin dan Thian-he Tee-it Ciang Ham berteriak kaget dan meloncat ke belakang. Tongkat itu tepat mengenai kepala dan tombak itu pun tepat menusuk lambung, namun kedua senjata itu terpental kembali seperti mengenai benda yang amat kuat, bahkan telapak tangan mereka terasa panas! Tentu saja mereka merasa penasaran, biar pun ada rasa ngeri di dalam hati mereka. Pada saat itu, orang- orang kang-ouw lainnya yang melihat betapa dua orang lihai itu sudah menyerang dengan senjata, juga menyerbu ke depan.

Sin Liong tetap diam saja ketika belasan batang senjata yang bermacam-macam itu datang bagaikan hujan menimpa tubuhnya. Semua senjata tepat mengenai sasaran, akan tetapi tidak ada sedikit kulit tubuh pemuda itu yang lecet, kecuali pakaiannya yang robek-robek dan orang-orang itu terpelanting ke sana-sini, bahkan ada yang terpukul oleh senjata mereka sendiri yang membalik. Makin keras orang menyerang, makin keras pula senjata mereka membalik. Bahkan Thian-tok sudah mengelus kepalanya yang benjol terkena kemplangan tongkatnya sendiri, sedangkan paha Ciang Ham berdarah karena tombaknya pun membalik tanpa dapat ditahannya lagi ketika mengenai tubuh Sin Liong untuk yang kedua kalinya.

Ketika mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Sin Liong, mereka melihat pemuda itu masih tersenyum-senyum, masih berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang di depan dada, hanya bedanya, kini pakaiannya robek-robek dan penuh lubang. Thian-tok dan Thian-he Tee-it adalah orang-orang yang terkenal di dunia persilatan sebagai tokoh-tokoh besar yang sudah banyak mengalami pertempuran. Mereka tahu pula bahwa orang yang memiliki sinkang amat kuat dapat menjadi kebal, akan tetapi selama hidup mereka belum pernah menyaksikan kekebalan seperti yang dihadapi mereka sekarang ini. Kekebalan yang agaknya tanpa disertai pengerahan tenaga. Apa lagi melihat cahaya aneh seperti melindungi tubuh pemuda itu, mereka maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan. Tanpa melawan saja pemuda ini telah membuat mereka tidak berdaya, betapa hebatnya kalau pemuda ini mengangkat tangan membalas!

“Maafkan kami…!” Thian-tok berseru lalu melompat dan berlari pergi.

“Sin-tong, maafkan…!” Ciang Ham juga berkata lalu menyeret tombaknya, terpincang-pincang pergi dari situ.

Melihat kedua orang yang diandalkan itu lari, para tokoh lain yang memang sudah merasa ngeri dan jeri tentu saja cepat membalikkan tubuh dan berserabutan lari dari situ meninggalkan Sin Liong yang masih berdiri tegak di tempat itu.

Swat Hong lari menghampiri suheng-nya, lalu memeluk suheng-nya itu. “Suheng…, kau tidak apa-apa…?” tanyanya.

Sin Liong menggeleng kepala dan tersenyum. “Pakaianmu hancur….”
“Pakaian rusak mudah diganti, akhlak yang rusak lebih menyedihkan lagi karena mendatangkan mala- petaka.”

“Suheng, kau….”

“Ada apakah, Sumoi…?”

Swat Hong menggelengkan kepala dan dia melepaskan rangkulannya, melangkah mundur dua tindak dan memandang suheng-nya dengan pandang mata penuh takjub dan juga jeri. “Suheng, kau… kau berbeda dari dulu….”

“Aih, Sumoi, aku tetap Sin Liong suheng-mu yang dahulu.”

“Tidak, tidak…! Kau berbeda sekali. Ilmu apakah yang kau pergunakan tadi? Mendiang Ayahku sekali pun tidak pernah memperlihatkan ilmu mukjijat seperti itu….”

“Apakah keanehannya, Sumoi? Ilmu yang berdasarkan kekerasan tentu hanya mengakibatkan pertentangan dan kerusakan belaka, dan setiap bentuk kekerasan hanya akan mecelakakan diri sendiri.”

“Suheng, ajarilah aku ilmu tadi….”

“Tidak ada yang bisa mengajar, kelak kau akan mengerti sendiri, Sumoi. Marilah kita lanjutkan perjalanan kita.”

Setelah berkata demikian, Sin Liong memegang tangan sumoi-nya dan terdengar jerit tertahan dara itu ketika dia merasa bahwa dia dibawa lari oleh suheng-nya dengan kecepatan seperti terbang saja! Dia sendiri adalah seorang ahli ginkang yang memiliki ilmu berlari cepat cukup luar biasa, akan tetapi apa yang dialaminya sekarang ini benar-benar seperti terbang, atau seperti terbawa oleh angin saja! Makin yakinlah hatinya bahwa suheng-nya telah menjadi seorang yang amat luar biasa kesaktiannya, menjadi seorang manusia dewa!

Gerakan pembalasan yang dilakukan oleh Kaisar Kerajaan Tang yang baru, yaitu kaisar Su Tiong, yang dilakukan dari Secuan, amat hebat. Gerakan pembalasan untuk merampas kembali ibu kota Tiang-an dari tangan pemberontak ini dibantu oleh pasukan yang dapat dikumpulkan di Tiongkok bagian barat, dibantu pula oleh pasukan Turki, bahkan pasukan Arab. Dengan bala tentara yang besar dan kuat, Kaisar Su Tiong melakukan serangan balasan terhadap pemerintah pemberontak yang tidak lagi dipimpin oleh An Lu Shan karena jenderal pemberontak itu telah tewas.

Perang hebat terjadi selama sepuluh tahun, dan di dalam perang ini, para pemberontak dapat dihancurkan dan kota demi kota dapat dirampas kembali sampai akhirnya ibu kota dapat direbut kembali oleh Kaisar Su Tiong. Di dalam perang ini, Han Bu Ong putera The Kwat Lin yang bersama orang-orang kerdil membantu pemerintah pemberontak, tewas pula dalam pertempuran hebat sampai tidak ada satu pun orang kerdil tinggal hidup.

Dalam tahun 766 berakhirlah perang yang mengorbankan banyak harta dan nyawa itu, namun kerajaan Tang telah menderita hebat sekali akibat perang yang mula-mula ditimbulkan oleh pemberontak An Lu Shan itu. Kematian yang diderita rakyat, pembunuhan-pembunuhan biadab yang terjadi di dalam perang selama pemberontakan ini adalah yang terbesar menurut catatan sejarah. Menurut catatan kuno, tidak kurang dari tiga puluh lima juta manusia tewas selama perang yang biadab itu!

Bukan hanya kerugian harta dan nyawa saja, akan tetapi juga setelah perang berakhir, Kerajaan Tang kehilangan banyak kekuasaan atau kedaulatannya! Bantuan-bantuan yang diterima oleh Kaisar di waktu merebut kembali kerajaan, membuat Kaisar terpaksa membagi-bagi daerah kepada para pembantu yang diangkat menjadi gubernur-gubernur yang lambat laun makin besar kekuasaannya dan seolah-olah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat sediri. Di samping itu, pemberontak An Lu Shan membentuk pasukan-pasukan yang ketika pemberontak dihancurkan, melarikan diri ke perbatasan dan menjadi pasukan-pasukan liar yang selalu merupakan gangguan terhadap kekuasaan pemerintah.

Demikianlah, dengan dalih apa pun juga, pemberontakan lahiriah hanya mendatangkan kerusakan dan mala-petaka, karena tidaklah mungkin perdamaian diciptakan oleh perang! Menurut sejarah di seluruh dunia, tidak pernah ada revolusi jasmani mendatangkan perdamaian dan kesejahteraan. Kiranya hanyalah revolusi batin, revolusi yang terjadi di dalam diri setiap orang manusia, yang akan dapat mengubah keadaan yang menyedihkan dari kehidupan manusia di seluruh dunia ini.

Dengan tewasnya Han Bu Hong di dalam perang itu, maka habislah semua tokoh yang keluar dari Pulau Es dan Pulau Neraka. Yang tinggal hanyalah Sin Liong dan Swat Hong berdua saja. Akan tetapi kedua orang ini pun sudah kembali ke Pulau Es dan semenjak peristiwa di Hoa-san-pai itu, tidak ada lagi yang tahu bagaimana keadaan kedua orang itu dan di mana adanya mereka! Yang jelas, Pulau Es masih ada dan kedua orang suheng dan sumoi yang saling mencinta itu pun masih hidup.

Buktinya, beberapa tahun kemudian kadang-kadang mereka itu muncul sebagai manusia-manusia sakti menyelamatkan belasan orang nelayan yang perahunya diserang badai. Di dalam kegelapan selagi badai mengamuk dahsyat itu, ketika perahu-perahu mereka dipermainkan badai dan nyaris terguling, tiba-tiba muncul sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang pria berpakaian putih dan seorang wanita cantik, dan kedua orang ini dengan kesaktian luar biasa menggunakan tali untuk menjerat perahu-perahu itu kemudian menariknya ke luar dari daerah yang diamuk badai!

Apakah mereka itu Sin Liong dan Swat Hong, tidak ada orang yang mengetahuinya karena setiap kali muncul menolong para nelayan dan para penghuni pulau-pulau yang berada di utara, kedua orang itu tidak pernah memperkenalkan nama mereka. Kalau benar mereka itu adalah Sin Liong dan Swat Hong, bagaimanakah jadinya dengan mereka? Apakah suheng dan sumoi yang saling mencinta dan yang telah kembali ke Pulau Es itu langsung menjadi suami isteri? Hal ini pun tidak ada yang tahu, karena agaknya bagi mereka berdua, menjadi suami isteri atau bukan adalah hal yang tidak penting lagi.

Diri mereka telah dipenuhi oleh cinta kasih, bukan cinta kasih yang biasa melekat di bibir manusia pada umumnya, karena cinta kasih seperti itu telah diselewengkan artinya, cinta kasih kita manusia hanya akan mendatangkan kesenangan dan kesusahan belaka dan justeru karena cinta kasih kita itu mendatangkan kesenangan maka dia mendatangkan pula kesusahan karena kesenangan dan kesusahan adalah saudara kembar yang tak mungkin dapat dipisah. Menerima yang satu harus menerima pula yang ke dua, yang mau menikmati kesenangan harus pula mau menderita kesusahan. Tidak! Cinta kasih mereka bukan seperti cinta kasih palsu yang kita punyai!

Pernah ada seorang anak nelayan yang diwaktu malam hari, ketika perahunya diayun-ayun gelombang kecil dan dia sedang menggantikan ayahnya yang tertidur untuk menjaga kail, mendengar nyanyian halus yang dinyanyikan oleh seorang wanita cantik di atas perahu dan yang kelihatan remang-remang di bawah sinar bulan purnama di malam itu. Anak yang cerdas ini masih teringat akan bunyi nyanyian itu seperti berikut:

‘Langit, Bulan dan Lautan kalian mempunyai Cinta Kasih namun tak pernah bicara tentang Cinta Kasih! Kasihanilah manusia yang miskin dan haus akan Cinta Kasih, bertanya-tanya apakah Cinta Kasih itu? Bilamana tidak ada ikatan, tidak ada pamrih dan rasa takut, tidak memiliki atau dimiliki, tidak menuntut dan tidak merasa memberi. Tidak menguasai atau dikuasai, tidak ada cemburu, iri hati tidak ada dendam dan amarah tidak ada benci dan ambisi. Bilamana tidak ada iba diri, tidak mementingkan diri pribadi, bilamana tidak ada Aku barulah ada Cinta Kasih……’

Puluhan tahun, bahkan seratus tahun kemudian di dunia kang-ouw timbul semacam cerita setengah dongeng tentang seorang manusia dewa yang mereka sebut Bu Kek Siansu, seorang laki-laki tua yang sederhana namun yang pribadinya penuh cinta kasih, cinta kasih terhadap siapa pun dan apa pun. Bu Kek Siansu yang dikenal sebagai tokoh Pulau Es dan menurut cerita tradisi dari keturunan tokoh-tokoh seperti Tee-tok Siangkoan Houw, Lam-hai Sengjin dan muridnya, Kwee Lun, Gin-siauw Siucai, tokoh-tokoh Hoa- san-pai, katanya bahwa Bu Kek Siansu itu adalah anak yang dahulu disebut Sin-tong (Anak Ajaib), yaitu pemuda Kwa Sin Liong yang menghilang bersama sumoi-nya, Han Swat Hong, dan yang kabarnya menetap di Pulau Es, tidak pernah lagi terjun ke dunia ramai.

Dan memang seorang manusia seperti Bu Kek Siansu tidak pernah mau menonjolkan diri, selalu bergerak tanpa pamrih, hanya digerakkan oleh cinta kasih. Maka kita pun tidak mungkin dapat mengikuti seorang manusia seperti Bu Kek Siansu, dan hanya kadang-kadang saja dapat melihat muncul di antara orang banyak…..

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo