July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 22)

 

“Ha-ha-ha! Engkau tanya siapa aku? Aku pun seorang buangan! Namaku Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka!”

Mendengar ini The Kwat Lin diam-diam merasa terkejut dan heran juga. Dia sudah mendengar dari bekas suaminya, Raja Pulau Es, bahwa para buangan di Pulau Neraka bukanlah orang-orang sembarangan, bahkan banyak di antara mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, juga merasa aman berada di antara para pengawal dan lebih lagi dia kini berada di dalam istananya di kota raja, dia memandang rendah. “Huh, kiranya adalah buangan rendah dan hina dari Pulau Neraka.”

Ouw Sian Kok yang ingin mengulur waktu kembali tertawa untuk mengalihkan perhatian The Kwat Lin. “Ha- ha-ha! Biar pun kami para penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang buangan, namun kiranya sukar dicari seorang pun di antara kami yang memiliki watak rendah untuk mengkhianati orang yang telah menolong dan melimpahkan kebaikan kepada kami seperti yang dilakukan olehmu, The Kwat Lin!”

“Manusia hina! Mampuslah!!” “Sing-sing-singggg…!!”
Ouw Sian Kok maklum akan kelihaian wanita ini. Maka cepat ia mengelak, menangkis dan balas menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya. Dia keluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Terjadilah duel yang amat hebat di antara kedua orang berilmu tinggi ini. Melihat betapa Ouw Sian Kok yang memang seperti direncanakan harus menghadapi The Kwat Lin sementara dapat mengimbangi lawan, Liu Bwee cepat memutar pedangnya dan menghadapi pengeroyokan belasan orang pengawal itu. Pedangnya bergerak dahsyat sekali, dan dalam sepuluh jurus saja dia telah merobohkan dua orang pengawal. Yang lain tetap mengepungnya karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani membantu The Kwat Lin, melihat betapa bayangan wanita itu dan bayangan lawannya lenyap menjadi satu digulung oleh sinar pedang mereka.

Mulai cemas rasa hati The Kwat Lin ketika mendapatkan kenyataan bahwa Ouw Sian Kok merupakan lawan yang berat dan seimbang dengannya. Sedangkan para rekannya itu biar pun berjumlah banyak, ternyata tidak mampu mengimbangi amukan Liu Bwee sehingga berturut-turut roboh pula beberapa orang di antara mereka!

“Cari bantuan dari benteng!” terpaksa The Kwat Lin berteriak keras.

Mendengar ini, seorang di antara para pengawal itu segera lari keluar untuk minta bala bantuan. Melihat gelagat yang berbahaya ini, Ouw Sian Kok menjadi khawatir juga. Mengapa Swat Hong belum juga kembali?

“Lekas robohkan mereka dan bantu aku mengalahkan dia ini!” katanya kepada Liu Bwee ketika melihat betapa Liu Bwee tidak begitu sukar untuk mendesak para pengeroyoknya.

Liu Bwee maklum pula akan kelihaian The Kwat Lin. Tahulah dia bahwa betapa pun lihainya Ouw Sian Kok, menghadapi wanita itu masih amat sukar untuk mencapai kemenangan. Maka dia memutar pedangnya makin cepat, merobohkan lagi tiga orang. Pada saat itu berkelebat bayangan yang gesit dan tampaklah Swat Hong yang membawa sebatang pedang dan di punggungnya tampak sebuah buntalan kain sutera merah.

“Ibu, aku berhasil…!” teriak Swat Hong sambil menerjang maju merobohkan dua orang pengeroyok ibunya.

Melihat ini The Kwat Lin menjadi marah sekali. Maklumlah dia bahwa dia kena diakali. Dia dapat menduga apa isi buntalan sutera merah itu, sutera merah yang amat dikenalnya. Pusaka-pusaka Pulau Es telah berada di tangan Swat Hong!

“Bedebah! Kembalikan pusaka-pusaka itu!” bentaknya dan tubuhnya secara tiba-tiba sekali mencelat ke arah Swat Hong, pedangnya menusuk tenggorokan tangan kirinya meraih ke arah punggung.

“Tranggg…!” Liu Bwee terhuyung dan hampir roboh setelah menangkis pedang The Kwat Lin. Seorang pengawal menubruknya, akan tetapi pengawal itu terlempar dengan dada pecah karena ditendang oleh Liu Bwee.

Sedangkan Swat Hong sudah dapat menangkis pedang The Kwat Lin yang kembali menyerangnya. Ouw Sian Kok sudah meloncat pula dan menerjang The Kwat Lin sehingga kembali mereka bertanding dengan hebat. “Hong-ji, kau selamatkan dulu pusaka-pusaka itu!” tiba-tiba Liu Bwee berteriak kepada puterinya. “Kita akan cepat menyusul pergi!” kata pula Ouw Sian Kok kepada Swat Hong.

Swat Hong melihat bahwa jumlah pengawal hanya tinggal lima orang dan mereka bukanlah lawan berat bagi ibunya, sedangkan Ouw Sian Kok juga dapat menahan Kwat Lin. Sebab itu dia mengangguk, dan sekali berkelebat dia meloncat ke luar.

“Tahan dia….! Jangan larikan pusaka Pulau Es…!” Kwat Lin berteriak marah, akan tetapi dia tidak dapat mengejar karena sinar pedang Ouw Sian Kok menghalanginya dengan serangan-serangan dahsyat.

Terpaksa The Kwat Lin mengerahkan tenaganya untuk mendesak Ouw Sian Kok dan dalam kemarahan yang amat hebat ini tenaganya bertambah sehingga Ouw Sian Kok berseru kaget dan mundur karena pundak kirinya berdarah, terluka sedikit kena diserempet sinar pedang kemerahan.

Ketika Swat Hong berlari cepat sekali ke luar, dia terkejut setengah mati melihat sepasukan pengawal berbondong datang memasuki istana itu dari pintu luar, bersenjata lengkap, dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu! Bingunglah dia. Pusaka memang harus diselamatkan, akan tetapi betapa mungkin dia meninggalkan ibunya yang terancam bahaya maut?

Selagi dia meragu dan mengintai dari tempat bersembunyi, tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan empat orang. Dia menjadi girang sekali ketika mengenal dua orang di antara mereka adalah Kwee Lun dan Soan Cu. Cepat dia meloncat ke luar, berseru lirih, “Kwee-toako! Soan Cu…!!”

Soan Cu dan Kwee Lun terkejut dan berhenti, juga Swi Nio dan Liem Toan Ki yang datang bersama mereka. Ketika melihat bahwa orang yang muncul dari balik pohon di luar istana itu adalah Swat Hong, Kwee Lun menjadi girang sekali, akan tetapi Soan Cu cemberut. Bagaimana hatinya dapat merasa girang bertemu dengan dara yang menimbulkan iri di hatinya dahulu itu?

Akan tetapi Swat Hong yang girang sekali tentu saja tidak dapat melihat wajah cemberut di tempat yang remang-remang itu, maka cepat dia berkata, “Soan Cu, Ayahmu berada di dalam bersama ibuku, sedang dikepung para pengawal.”

Seketika pucat wajah Soan Cu dan dia memandang bengong, sampai lama baru dapat berkata gagap, “A… Ayah… ku…?”

“Benar! Kita harus membantunya,” kata lagi Swat Hong.

“Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari kita membantu orang tua kalian!” Kwee Lun berkata.

“Nanti dulu… siapakah dua orang ini?” Swat Hong bertanya sambil menuding kepada Swi Nio dan Liem Toan Ki.

“Namaku Bu Swi Nio, Adik Han Swat Hong. Aku sudah mendengar namamu dari kedua saudara ini dan aku merasa kagum sekali. Ketahuilah bahwa aku dahulu adalah murid The Kwat Lin, akan tetapi sekarang aku hendak mencari dan membunuhnya.” Swi Nio berkata penuh semangat. “Dan aku tadinya mata-mata Jenderal An Lu Shan, akan tetapi aku berjuang bukan untuk mencari pangkat, melainkan untuk membalas dendam. Sekarang aku hendak membantu dia… eh, tunanganku ini untuk menghadapi The Kwat Lin.”

Tiba-tiba Swat Hong bergerak maju, kedua tangannya bergerak cepat sekali, yang kanan menyerang ke arah leher Liem Toan Ki, sedangkan yang kiri menotok ke arah dada Swi Nio.

“Eiihhh….”

“Haiiiittt…..!”

Toan Ki dan Swi Nio yang terkejut sekali cepat mengelak, namun tetap saja mereka terhuyung dan hampir jatuh terdorong sambaran kedua tangan Swat Hong.

“Eh-eh… apa yang kau lakukan itu?” Kwee Lun dan Soan Cu menegur heran dan juga marah.

“Aku hanya menguji mereka. Maafkan aku, Enci Swi Nio dan Liem-toako. Melihat tingkat kepandaian kalian, lebih baik kalian tidak ikut masuk. Musuh amat kuat, dan ada tugas yang lebih penting lagi bagi kalian, kalau benar kalian suka membantu kami dari Pulau Es.”

Swi Nio dan Toan Ki yang tadinya terkejut dan marah, menjadi lega bahwa kiranya gadis yang amat lihai itu hanya menguji mereka. Biar pun ucapan itu merendahkan tingkat kepandaian mereka, namun harus mereka akui bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan Kwee Lun dan Soan Cu, apa lagi Swat Hong ini.

“Kami berdua siap membantu!” Toan Ki berkata, hampir berbareng dengan Swi Nio.

Karena mengkhawatirkan keadaan ibunya, tanpa ragu-ragu lagi Swat Hong melepaskan ikatan buntalan dari punggungnya, menyerahkannya kepada Toan Ki. Dia lebih percaya kepada Toan Ki dari-pada kepada Swi Nio, hal ini karena tadi dia mendengar bahwa Swi Nio adalah bekas murid The Kwat Lin!

“Inilah pusaka kami dari Pulau Es yang seharusnya kuselamatkan. Akan tetapi karena Ibuku dan Ayah Soan Cu terkurung di dalam, aku harus membantu mereka dan kuharap kalian suka menyelamatkan pusaka-pusaka ini jauh dari kota raja. Kelak kita dapat saling bertemu di Puncak Awan Merah di tempat kediaman Tee-tok Siangkoan Houw, di pegunungan Tai-hang-san. Nah, kalian pergilah cepat!”

Liem Toan Ki menerima bungkusan itu dengan hati kaget bukan main, juga Swi Nio terkejut dan cepat dia menyambar tangan kekasihnya. “Mari kita segera pergi!” Kedua orang muda itu menyelinap lenyap di dalam kegelapan malam. “Hayo kita bantu Ibu dan Ayahmu!” kata Swat Hong kepada Soan Cu.

Soan Cu mengangguk karena merasa lehernya seperti dicekik oleh sedu-sedan yang naik dari dalam dadanya. Ayahnya! Dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dia lihat itu. Bertemu dalam keadaan terancam bahaya maut! Tampak tiga bayangan berkelebat ketika Soan Cu, Swat Hong, dan Kwee Lun menyerbu ke dalam istana itu.

Ketika mereka tiba di dalam, ternyata Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah dikepung ketat dan kini pertempuran telah berpindah ke ruang luar yang lebih lega. Agaknya, agar dapat melakukan perlawanan dengan leluasa dan mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah pindah keluar dari ruangan dalam yang sempit. Kini dengan saling membelakangi, kedua orang itu mengamuk dengan hebat, dikepung ketat oleh para pengawal istana, sedangkan The Kwat Lin dan Ouwyang Cin Cu menonton di pinggir.

Ketika Swat Hong dan dua orang kawannya masuk, mereka melihat Kwat Lin berlari pergi ke dalam istananya. Swat Hong maklum bahwa wanita itu tentulah hendak memeriksa simpanan pusakanya. Maka dia lalu menyentuh tangan Soan Cu yang dengan mata merah hampir menangis sedang bengong memandang kepada laki-laki setengah tua yang mengamuk dengan gagahnya itu. Soan Cu sadar dan menengok.

“Kita kejar dia! Dialah yang paling jahat dan berbahaya!”

Soan Cu mengangguk dan kedua orang gadis berkelebat pergi mengejar Kwat Lin. Kwee Lun sendiri lalu berteriak keras dan meloncat ke depan, meyerbu para pengeroyok. Sepak terjang pemuda tinggi besar ini memang hebat, tenaganya yang amat kuat itu membuat dia sekali turun tangan merobohkan empat orang pengeroyok. Tentu saja kepungan menjadi buyar dan kacau. Dan ketika mereka membalik untuk mengeroyok Kwee Lun, pemuda yang lihai ini lalu merubah tenaga dahsyat tadi dengan pukulan-pukulan Bian-sin-kun, pukulan kapas yang kelihatannya lemah dan lunak, namun setiap kali menyentuh tubuh para pengeroyok tentu membuat dia terguling.

“Jiwi-lo-cianpwe, saya adalah Kwee Lun, sahabat baik dari Nona Swat Hong dan Nona Soan Cu! Mereka sedang mengejar Si Iblis Betina!” teriak Kwee Lun dengan suara nyaring.

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok terkejut dan girang sekali, terutama Ouw Sian Kok yang mendengar bahwa puterinya juga datang! Akan tetapi malang baginya. Karena dia terlampau girang hendak melihat wajah puterinya, dia menoleh ke sana ke mari mencari-cari.

“Ouw-toako, awas…!!” tiba-tiba Liu Bwee berteriak dan wanita ini berusaha untuk menangkis sinar biru dari pedang Ouwyang Cin Cu.

“Tranggg…aih….!!” Liu Bwee terlambat dan bergulingan untuk menyelamatkan diri, sedangkan Ouw Sian Kok terjungkal karena tamparan tangan kiri Ouwyang Cin Cu mengenai punggungnya.

“Plakk! Aughhhh….!” Ouw Sian Kok muntahkan darah segar dari mulutnya.

“Curang…!!” Kwee Lun membentak dan kipas di tangan kiri serta pedang di tangan kanannya menyambar ganas. Namun dia terlalu lunak bagi Ouwyang Cin Cu. Hanya dengan sekali tangkis, kipas itu robek dan pedangnya hampir terpental.

“Haiiiitttt….!!” Ouw Sian Kok yang marah sekali menerjang maju dengan tangan terbuka.

Melihat serangan ganas ini Ouwyang Cin Cu terkejut dan cepat dia meloncat mundur. Sebelum dia didesak oleh tiga orang lawan itu, para pengawal sudah mengepung lagi. Kini mereka bertiga dikeroyok dan dihujani senjata oleh puluhan orang pengawal.

“Twako… kau… terluka…?” sambil mengamuk dengan pedangnya, Liu Bwee bertanya.

“Tidak apa… mati pun aku rela… pusaka telah diselamatkan….” kata Ouw Sian Kok. “Tapi… tapi anakku…,” dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena harus menghadapi pengeroyokan banyak pengawal.

Sementara itu di dalam istana juga terjadi pertempuran yang mati-matian dan hebat sekali. The Kwat Lin yang melihat datangnya bala bantuan yang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu, setelah melihat bahwa dua orang pengacau itu terkepung ketat, lalu teringat akan pusaka yang tadi dibawa Swat Hong. Dia teringat pula akan puteranya yang sudah tidur di kamarnya, maka cepat dia meninggalkan tempat pertempuran untuk memeriksa pusaka dan puteranya.

Dilihatnya Bu Ong masih tidur nyenyak dan terjaga, maka dia cepat lari ke dalam kamarnya sendiri. Seperti telah diduganya, para penjaga sebanyak lima orang yang berada di kamarnya tewas semua dan keadaan kamarnya rusak dan kacau. Sekali saja melihat ke arah peti hitam yang terbuka di depan tempat tidurnya, tahulah dia bahwa semua pusaka telah dirampas oleh Swat Hong, seperti yang dikhawatirkannya.

“Mencari apa, wanita iblis? Pusaka Pulau Es telah aman!”

The Kwat Lin cepat menengok. Dia melihat Swat Hong telah berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis lain yang tak dikenalnya. Kemarahan seperti api membakar dadanya melihat dara ini. Sambil mengeluarkan jerit melengking nyaring, dia lalu menerjang dan menggerakkan pedang merahnya.

“Cring-trang…!!” pedang Swat Hong disusul pedang Coa-kut-kiam di tangan Soan Cu menangkis dan kedua orang dara itu meloncat ke belakang, ke tempat yang lebih lega.

Dengan kemarahan meluap-luap The Kwat Lin meloncat ke luar dan melanjutkan serangannya. Akan tetapi setelah bergerak belasan jurus, wanita ini terkejut dan merasa menyesal mengapa dia menuruti kemarahan hatinya.

The Kwat Lin sadar bahwa dia berada dalam bahaya! Kiranya selain Swat Hong yang telah memiliki kepandaian hebat juga gadis yang gerakan-gerakannya liar dan ganas itu amat berbahaya, apa lagi cambuk ekor ikan Phi yang meledak-ledak dahsyat. Sebentar saja dia tertekan dan terdesak. Beberapa kali dia berusaha untuk meloloskan diri, akan tetapi sambil mengejek Swat Hong selalu menutup jalan keluar dan dia terus digulung oleh sinar dua orang gadis lihai itu.

The Kwat Lin menjadi nekat. Sambil menggigit bibirnya dia menyerang dahsyat kepada Swat Hong, mencurahkan daya serangannya kepada anak tiri yang dibencinya ini. Menghadapi terjangan dahsyat yang bertubi-tubi itu, Swat Hong mundur-mundur juga. Akan tetapi kesempatan baik ini dipergunakan oleh Soan Cu untuk menyerang dari belakang. Cambuk ekor ikan Phi meledak dua kali mengancam ubun-ubun kepala The Kwat Lin. Ketika wanita ini mengelak ke samping sambil melanjutkan serangan pedangnya kepada Swat Hong, Soan Cu menusukkan pedangnya mengarah lambung Kwat Lin.

“Singgg… crat… aihhhhh!!”

Kwat Lin terkejut sekali. Biar pun dia telah mengelak, tetap saja pedang Coa-kut-kiam (Pedang Tulang Ular) itu melukai lambungnya, merobek kulit dan mendatangkan rasa nyeri, panas dan perih sekali. Akan tetapi wanita yang lihai ini sudah membalik sambil juga membalikkan pedangnya menyambar leher Soan Cu. Hal ini tidak disangka-sangka oleh gadis Pulau Neraka ini.

“Awas Soan Cu…!!” Swat Hong berseru dan pedangnya menyambar, yang diarah adalah lengan kanan Kwat Lin karena hanya dengan jalan itulah dia dapat menolong Soan Cu.

“Brettt… crok… aughhhh….!!”

Soan Cu terhuyung, pundaknya berlumuran darah karena terluka parah, sedangkan Kwat Lin cepat memindahkan pedang ke tangan kirinya karena lengan kanannya juga terluka parah, terbacok di bagian bahu hampir putus! Dengan kemarahan meluap-luap dia menubruk Swat Hong, namun gadis Pulau Es ini mengelak ke kiri sambil mengangkat kaki menendang lutut.

“Dukkk! Aduh…!”

Kwat Lin terbelalak ketika tahu-tahu pedang Coa-kut-kiam telah bersarang di perutnya! Kiranya ketika tadi Swat Hong menendangnya Soan Cu yang terluka dengan kemarahan meluap menubruk, maka begitu wanita itu terguling, pedangnya cepat menyambar dan menusuk perut Kwat Lin. “Bedebah kau…!” tiba-tiba pedang di tangan Kwat Lin meluncur. “Soan Cu, awas…!!” Swat Hong berteriak kaget.

Namun terlambat! Pedang yang dilempar dari jarak dekat dan tak terduga-duga itu dilakukan dengan dorongan tenaga terakhir, tak dapat dielakkan dengan baik oleh Soan Cu dan menancap di bawah pundak sampai dalam!

“Soan Cu!” Swat Hong melompat dan pedangnya membabat. Kwat Lin memekik dan lehernya hampir putus!

Dengan cepat Swat Hong memeluk tubuh Soan Cu yang tersenyum! “Pergilah… Aku… aku tak berguna lagi…!” katanya.

“Omong kosong!” Swat Hong menghardik, mencabut pedang Ang-bwe-kiam dari pundak Soan Cu. Soan Cu menjerit dan pingsan. Dengan gemas Swat Hong melempar pedang itu, lalu memondong tubuh Soan Cu yang dibawanya ke luar.

Betapa kagetnya ketika ia tiba di ruangan luar. Pertempuran yang masih berlangsung hebat itu ternyata membuat pihak ibunya terdesak. Bahkan ibunya kelihatan terluka di beberapa tempat, juga ayah Soan Cu yang mengamuk dengan gagah telah berlumuran darah seluruh tubuhnya. Kwee Lun juga masih mengamuk. Hanya pemuda inilah yang belum terluka karena Ouwyang Cin Cu menujukan serangan-serangannya kepada Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, karena menganggap ringan kepada Kwee Lun. “Ibu…!!”
Dengan kemarahan meluap-luap Swat Hong meloncat, melampaui para pengepung dan menurunkan tubuh Soan Cu ke atas lantai. Lalu gadis ini mengamuk dengan pedangnya, merobohkan beberapa orang pengawal. Gerakannya demikian hebat sehigga para pengepung terkejut dan gentar, kemudian bergerak mundur.

“Ibu….!”

“Ayahhhh….!”

Ouw Sian Kok menghentikan amukannya dan menjatuhkan diri berlutut. Tadi dia mengira bahwa puterinya telah tewas, maka panggilan itu menggetarkan jantungnya dan membuat dia lemas. “Kau… kau Soan Cu…?”

“Ayahhhhh…. Hu-hu-hu-huuuu….!!” Soan Cu menangis dalam rangkulan ayahnya yang juga bercucuran air mata. Baru pertama kali Ouw Sian Kok dapat mencucurkan air mata.

“Wutttt… tranggg…!!” dua batang golok terpental oleh tangkisan Ouw Sian Kok tanpa menoleh karena dia sedang mendekat dan menciumi dahi puterinya.

“Ayah, aku puas… dapat bertemu denganmu….!”

“Soan Cu… aihhh, anakku, kau ampunkan dosa ayahmu….” Ouw Sian Kok berkata dengan suara terisak.

“Trang-trang….. dessss!!” dua orang pengawal yang berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang.

“Ah, jangan kau keluarkan tenaga….” kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu memburu.

“Ayah… aku… aku tidak kuat lagi… kau larilah, ayah….”

“Soan Cu…! Soan Cuuuu….!!”

Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembuskan napas dengan bibir tersenyum di dalam dekapnya. Laki-laki gagah perkasa itu masih terus meraung-raung. Ketika dia telah membaringkan tubuh puterinya ke atas lantai, dengan air mata bercucuran kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut di antara pengeroyoknya! Hujan senjata tidak dirasakannya lagi. Pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai ke gagang, bahkan sampai ke lengannya!

Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kehilangan darah juga makin lemas gerakannya, kalau tidak ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu. Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Koksu ini hanya setengah hati saja bertempur, sering-kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang mengeroyok. Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepada The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya. Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin permusuhan dengan orang-orang lihai, apa lagi keluarga dari Pulau Es!

“Swat Hong, cepat kau pergi….!” “Tidak, Ibu!”
“Kalau tidak, kau akan mati…!”

“Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!”

 

“Hushh, anak bodoh. Kalau begitu siapa yang akan mengembalikan pusaka? Kau ingat pesan Ayahmu.” “Tapi, Ibu….”
“Kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak akan dapat mati dengan mata meram.” “Ibu….!”
“Lihatlah, dia… dia pun akan mati…. Ibu ada seorang teman yang baik…. Ibu dan dia…. Ahh, kami senang mati bersama… kau jangan ikut-ikut….!”

Mendengarkan ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya itu. Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki perkasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayahnya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain!

“Ibu……”

“Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!”

Sambil bercucuran air mata Swat Hong mengamuk, memutar pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk.

“Toako, hayo kita pergi!!”

“Eh? Ibumu? Soan Cu? Ayahnya….?”

“Ayolah….!!”

“Baik, baik…!”

Dengan membuka jalan darah, mereka berdua akhirnya berhasil meloncat ke luar.

“Jangan kejar mereka! Kepung saja yang berada di dalam!” terdengar Ouwyang Cin Cu berseru.

Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah kehabisan tenaga, juga terlalu banyak mengeluarkan darah. Akhirnya mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu.

Ouwyang Cin Cu menghela napas panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah tewas ini adalah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng! Wanita cantik setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpinan! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan. Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa di lubuk hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan kedudukannya sendiri.

Ouwyang Cin Cu yang telah menjadi Koksu membuat laporan tentang kematian The Kwat Lin kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan. Bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang. “Hemm, sayang sekali, dia merupakan tenaga yang berguna.” Kemudian sambil mengelus jenggotnya dia berkata, “Kalau begitu bagaimana dengan puteranya?”

“Menurut pendapat hamba, puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan bahaya.”

An Lu Shan mengangguk-angguk. “Habis bagaimana pendapatmu?”

Koksu yang merupakan penasehat utama itu mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata,

“Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerah sekitarnya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak akan senang hatinya.”

“Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan.”

Demikianlah, setelah penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu diberi-tahu bahwa dia oleh Kaisar ‘diangkat’ menjadi ‘raja muda’ yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah dibangun sebuah gedung mewah lengkap dengan semua pelayan dan perabot. Di tempat ini, Han Bu Ong hidup cukup mewah.

Akan tetapi anak ini memang mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Biar pun dia dicukupi hidupnya, diam-diam dia mengerti bahwa dia sengaja setengah ‘dibuang’ oleh Kaisar dan Ouwyang Cin Cu setelah ibunya tewas. Maka dia mencatat di dalam hatinya bahwa selain Swat Hong dan Kwee Lun yang menjadi musuh besarnya, juga Ouwyang Cin Cu sebetulnya bukanlah seorang sahabat yang setia dari ibunya.

Anak kecil ini dengan rajin lalu melatih dirinya dengan ilmu-ilmu peninggalan ibunya yang masih ada padanya. Dia harus menggembleng dirinya dan kelak, selain dia harus membalas kepada musuh- musuhnya, juga dia akan berusaha untuk merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es yang dicuri oleh Swat Hong. Dia merasa bahwa dia berhak memiliki pusaka itu karena bukankah dia putera Raja Pulau Es? Dari ibunya dia dahulu mendengar bahwa siapa yang mewarisi pusaka Pulau Es dan melatih semua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab itu, tentu akan menjadi jago nomor satu di dunia….

Para pembaca yang mengikuti pengalaman Kwa Sin Liong tentu menjadi penasaran kalau pemuda sakti itu sampai tewas dalam keadaan yang demikian mengerikan! Tidak, dia tidak mati! Memang nyaris dia tewas dimakan ratusan ekor ular berbisa yang menjadi penghuni sumur itu. Akan tetapi kalau orang belum tiba saatnya untuk mati, ada saja penolongnya yang bisa dianggap tidak masuk akal, kebetulan atau luar biasa. Dalam halnya Sin Liong tidak ada yang tidak masuk akal atau luar biasa.

Memang tubuhnya yang pingsan itu terlempar ke dalam sumur di mana terdapat ratusan ekor ular berbisa dari segala jenis, akan tetapi tidak ada seekor pun ular yang berani menggigitnya. Jangankan menggigit, mendekati pun mereka itu tidak berani, bahkan begitu tubuh pemuda itu terjatuh, ular-ular itu cepat menyingkir ketakutan. Hal ini adalah karena tanpa sengaja di saku baju Sin Liong terdapat batu mustika hijau dari Pulau Es!

Seperti kita ketahui, batu mustika hijau ini adalah milik Han Swat Hong yang telah menyelamatkan nyawa gadis ini pula ketika terserang racun. Ketika Sin Liong mengobati sumoi-nya itu, dia menyimpan batu mustika ini di dalam saku bajunya sehingga ketika dia terlempar ke dalam sumur, batu mustika itu ikut terbawa olehnya dan menjadi penyelamatnya karena tidak ada ular yang berani mendekatinya.

Sebetulnya pemuda ini menderita luka yang amat parah dan berakibat mematikan bagi orang lain. Namun pemuda ini pada dasarnya memiliki tubuh yang sempurna, bersih darahnya dan kuat tulang dan urat- uratnya. Apa lagi sejak kecil dia menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Han Ti Ong sehingga dia memilki tubuh yang amat kuat dan tahan derita.

Dua hari dua malam dia rebah pingsan di dasar sumur yang lembab, tanpa diusik oleh ular-ular itu yang hanya memandang dari jauh seolah-olah dia merupakan makhluk yang menakutkan. Pada hari ke tiga, nampak tanda hidup pada tubuh yang tadinya tak bergerak-gerak seperti mati itu dengan suara keluhan panjang, kemudian tubuh itu bergerak dan bangkit duduk dengan susah payah.

Sejenak Sin Liong merasa nanar dan bingung melihat bahwa dirinya berada di tempat yang amat gelap. Begitu gelapnya sehingga dengan terkejut dia menyangka bahwa matanya telah menjadi buta. Akan tetapi ketika dia menoleh, tampaklah sedikit cahaya di belakangnya, dan mengertilah dia dengan hati lega bahwa dia tidak buta, melainkan berada di tempat yang amat gelap. Dia tidak tahu bahwa dia dilempar ke sumur dan sumur itu kini telah tertutup oleh batu-batu besar dari atas ketika guha terowongan itu sengaja diruntuhkan oleh Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin.

Melihat cahaya terang di belakangnya, Sin Liong menggerakkan tubuhnya hendak menyelidiki. Akan tetapi dia mengeluh, karena begitu bergerak dadanya terasa nyeri bukan main! Dia teringat akan pertempuran itu dan mulai mengerti bahwa tentu dia telah tertawan dan berada dalam tempat tahanan rahasia yang amat gelap. Maka dia segera duduk bersila mengatur pernapasan di tempat lembab dan pengap itu, menyalurkan tenaga dan hawa sakti di dalam tubuhnya. Memang dia memiliki sinkang yang amat kuat berkat latihan di Pulau Es, maka tak lama kemudian dia telah mengobati luka di dalam tubuhnya dan menyelamatkan rasa nyeri-nyeri di tubuhnya.

Begitu dia menghentikan latihannya, terasa betapa perutnya lapar sekali. Dia tidak tahu bahwa sudah dua hari dua malam perutnya sama sekali tidak diisi apa-apa. Sin Liong bangkit berdiri dengan hati-hati. Tangannya meraih ke atas… kosong. Dia mencoba meloncat dengan kedua tangannya di atas kepala. Tetap saja di sebelah atasnya kosong, tanda bahwa tempat tahanan itu tinggi bukan main! Seperti sumur! Betapa pun dalamnya sumur itu tentu dia akan meloncat ke luar, pikirnya. Dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, kemudian dengan ilmu ginkang-nya yang istimewa, dia melompat lagi ke atas, kedua tangannya tetap menjaga di atas kepala.

“Plakkk!” tubuhnya melayang lagi ke bawah.

Kedua tangannya bertemu dengan batu besar yang amat berat dan menutup lubang sumur itu! Beberapa kali Sin Liong menggunakan kepandaiannya untuk keluar dari dalam sumur, dan setiap kali meloncat, dia menggunakan sinkang di kedua tangannya untuk mendorong batu. Akan tetapi usahanya ini selalu gagal. Tentu saja tidak mungkin bagi seorang manusia, betapa kuat pun dia, untuk meloncat sambil mendorong tumpukan batu-batu besar yang menutup mulut sumur itu, batu-batu sebesar rumah dan yang sebongkah saja beratnya ada yang seribu kati! Akhirnya Sin Liong pun maklum bahwa usahanya meloloskan diri melalui atas tidak mungkin baginya. Maka dia mulai meraba-raba di sekelilingnya.

Sumur itu tidak berapa lebar, paling banyak bergaris tengah tiga meter. Ketika dia mendengar suara mendesis-desis dan mencium bau amis, tahulah dia bahwa di tempat itu terdapat banyak ular berbisa. Kemudian tampak olehnya melalui cahaya redup tadi bahwa di bagian bawah terdapat sebuah lubang dan agaknya dari tempat itulah ular-ular keluar dari sumur. Begitu dia mendekati lubang ini, tampak olehnya di dalam cahaya remang-remang itu seekor ular berkelebat menjauhkan diri. Dia merasa heran mengapa binatang-binatang itu tidak mengganggunya ketika dia pingsan dan kini kelihatan takut kalau didekatinya.

Dia teringat, meraba saku bajunya dan tersenyum mengeluarkan batu hijau yang mengeluarkan sinar di dalam gelap itu. Inilah penolongku, pikirnya. Hatinya menjadi makin tenang. Dengan adanya batu mustika hijau ini, tidak perlu takut menghadapi binatang berbisa apa pun. Akan tetapi melihat batu mustika itu, teringatlah dia kepada Swat Hong dan dia merasa khawatir juga. Musuh demikian lihai, dia sendiri kena ditangkap dan agaknya dilempar ke sumur ini. Bagaimana nasib Swat Hong? Dia harus cepat keluar dari tempat ini untuk menolong Swat Hong. Kekhawatirannya terhadap sumoi-nya itu membuat dia makin bersemangat mencari jalan keluar.

Lubang dari mana ular-ular itu keluar dari sumur terlalu sempit untuk dapat diterobos, maka Sin Liong lalu menggunakan kedua tangannya untuk membongkar batu di lubang itu, memperlebar lubang dengan jalan memukul pecah batu-batu di sekelilingnya. Tidak mudah pekerjaan ini, karena selain tubuhnya masih lemah, juga batu-batu di tempat itu amat keras dan hanya dapat digempurnya sedikit demi sedikit. Namun akhirnya dapat juga dia memperlebar lubang itu sehingga dia dapat merangkak melalui lubang sambil terus menggempur lubang di depan yang merupakan terowongan panjang.

Melihat betapa makin lama cahayanya dari seberang terowongan kecil itu makin terang, hati Sin Ling membesar. Jelas bahwa di seberang itu terdapat tempat terbuka dari mana sinar matahari dapat masuk, pikirnya. Akan tetapi pekerjaan menerobos terowongan kecil yang merupakan liang ular dengan hanya menggunakan kedua tangan kosong, memakan waktu lama juga. Saking hausnya, dia menengadah untuk menerima titik-titk air yang jatuh dari atas, yaitu dari dinding sumur yang mengeluarkan air. Biar pun memakan waktu lama, dapat juga dia mengobati dahaga dengan minum secara demikian.

Namun perutnya yang lapar terpaksa harus berpuasa lagi sampai tiga hari, karena setelah tiga hari, barulah dia berhasil merangkak keluar dari terowongan itu dan tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, akan tetapi juga merupakan tempat tertutup! Bedanya, kalau sumur pertama merupakan tempat sempit dan gelap, maka ruangan kedua ini luas sekali. Garis tengahnya tidak kurang dari sepuluh meter, merupakan sebuah ruang dalam tanah yang aneh. Di sebelah atas, jauh dan tinggi sekali, tertutup oleh tanah atau batu dan ada celah-celah yang merupakan retakan batu-batu dari mana sinar matahari dapat menerobos masuk.

Sin Liong menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan dalam tanah ini dan harapannya kandas sama sekali. Kalau sumur pertama itu merupakan tempat tahanan yang sukar diterobos adalah tempat ini lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Ular-ular yang banyak sekali dan saling berbelit-belit kelihatan ketakutan, ada yang merayap naik, ada pula yang menerobos terowongan yang sudah melebar itu untuk kembali ke dalam sumur pertama!

Sin Liong termenung. Dari kamar tahanan kecil dia pindah ke kamar tahanan besar! Hanya lebih lebar dan memperoleh penerangan sinar matahari yang tidak seberapa, itulah bedanya! Akan tetapi dia tidak menjadi putus harapan. Dihadapinya kenyataan ini dengan tabah dan dilenyapkannya kekhawatiran di dalam hatinya tentang diri sumoi-nya dengan keyakinan bahwa apa pun yang akan terjadi, terjadilah tanpa dipengaruhi segala kekhawatiran yang tiada gunanya! Dia sendiri menghadapi bencana, menghadapi ancaman maut dan inilah yang terutama harus dihadapi dan diatasi lebih dulu.

Dia mulai memeriksa kalau-kalau ada jalan ke luar dari tempat itu, namun sama sekali tidak ada jalan ke luar. Akan tetapi dia menemukan benda-benda yang sementara dapat menolongnya dari ancaman kelaparan, yaitu jamur yang agaknya bertumbuhan dengan subur di tempat itu karena memperoleh sinar matahari. Perutnya lapar sekali dan pengetahuannya tentang tetumbuhan meyakinkan hatinya. Maka mulailah dia memilih jamur-jamur yang tak mengandung racun, lalu mulai dia makan jamur. Dalam keadaan lapar bukan main, ternyata jamur-jamur mentah itu terasa enak juga! Soal minum dia tidak usah khawatir karena di beberapa tempat pada dinding batu itu terdapat air yang menetes. Ditampungnya tetesan air itu dengan kedua tangannya, lalu diminumnya. Luar biasa segarnya air yang disaring oleh tanah dan batu itu.

Setelah yakin benar bahwa tidak ada jalan ke luar dari tempat itu, Sin Liong menerima kenyataan ini dan dia giat berlatih ilmu. Di dalam kesunyian yang amat hebat itu perasaan dan pikiran Sin Liong menjadi luar biasa tajamnya. Semua ilmu yang pernah dipelajari dan dibacanya dahulu dan sukar dimengerti olehnya karena kitab-kitab kuno Pulau Es memang amat sukar diartikan, kini menjadi jelas dan dapat dia selami intinya. Oleh karena inilah maka di luar dari kesadarannya sendiri, ilmu kesaktiannya bertambah dengan hebat dan cepatnya.

Juga di tempat ini dia mulai mengenal diri sendiri, mengenal arti hidup yang sesungguhnya. Tanpa disadarinya sendiri, dari dalam pribadinya timbul kekuatan mukjijat, kekuatan yang dimiliki oleh setiap orang manusia namun yang selalu terpendam dan tetap tersembunyi sampai saat terakhir dari hidup manusia yang selalu dipermainkan oleh nafsu yang disebut aku. Tanpa terasa oleh Sin Liong sendiri yang selama hidup di dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak pernah memikirkan atau mengenal waktu, pemuda luar biasa ini telah berada di tempat itu selama dua tahun!

Dia mengerti bahwa tanpa bantuan dari luar, tidak mungkin dia meloloskan diri dari tempat itu, maka sudah sejak lama dia tidak lagi berusaha untuk keluar dari situ. Selama itu yang menjadi teman-temannya hanyalah ular-ular berbisa! Ternyata oleh pemuda itu bahwa binatang berbisa seperti ular pun mengenal siapa lawan siapa kawan. Karena selama itu dia tidak pernah mengganggu mereka, ular-ular itu pun jinak dan sama sekali tidak pernah menyerangnya, biar pun dia menjauhkan batu mustika hijau dari tubuhnya. Binatang-binatang ini hanya menyerang untuk menjaga diri saja dari bahaya yang datang mengancam diri mereka.

Juga tanpa disadari sendiri oleh Sin Liong, tubuhnya yang setiap hari hanya dihidupkan oleh sari jamur yang bermacam-macam itu, pertumbuhannya sama sekali berlainan dengan manusia biasa. Makanan amat mempengaruhi tubuh dan sari jamur yang dimakannya selama dua tahun itu mendatangkan kepekaan luar biasa, dan kepekaan tubuh ini pun mempengaruhi pula pertumbuhan batinnya. Dia menjadi seorang manusia luar biasa, tidak menderita apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, karena di dalam keadaan apa pun juga, menghadapi keadaan apa adanya, sewajarnya, sebagaimana adanya yang dianggap sudah semestinya demikian, tidak ada lagi apa yang disebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak ada lagi yang disebut senang atau susah, tidak ada lagi puas atau kecewa.

Dalam keadaan seperti itu, tubuh sehat dan batin tenang, yang ada hanyalah rasa suka ria yang sukar dilukiskan karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesukaan atau kegembiraan yang dapat dicari. Suatu nikmat yang bukan datang dari gairah nafsu atau kesenangan, nikmat hidup yang datang tanpa dicari, yang terasa hanya setelah batin bebas dari segala ikatan, seperti batin Sin Liong di waktu itu.

Pada suatu hari, di sebelah atas dari tempat rahasia ini, terjadilah kesibukan besar. Puluhan orang katai yang tubuhnya pendek akan tetapi besarnya seperti manusia biasa, bertubuh kuat dan bertenaga besar, dipimpin oleh seorang pemuda tanggung sedang membongkari reruntuhan batu-batu di dalam terowongan bawah tanah itu. Pemuda tanggung yang berpakaian mewah itu bukan lain adalah Bu Ong, yang kini telah mengumpulkan sisa orang-orang kerdil bekas taklukan di Rawa Bangkai dan menjadi pimpinan mereka.

Han Bu Hong kini telah menjadi seorang pemuda tanggung yang lihai dan tidak ada seorang pun di antara tokoh-tokoh orang kerdil mampu melawannya. Agaknya, untuk menjadikan mimpi ibunya sebagai kenyataan, dia telah mengangkat diri sendiri menjadi ketua atau lebih tepat lagi menjadi ‘raja’ dari orang- orang katai ini. Gedung di Rawa Bangkai hanya menjadi tempat tinggal umum, akan tetapi diam-diam dia mendirikan ‘kerajaan kecil’ di bawah tanah. Bahkan dia telah membangun sebuah ruang seperti istana di bawah tanah, lengkap dengan kursi kebesaran yang dihiasai dengan sebuah tengkorak di samping hiasan mahal seperti permadani, lukisan dan tulisan indah. Sering-kali dia secara sembunyi mengadakan pertemuan dan rapat rahasia dengan para tokoh orang katai yang menjadi pembantunya, dan pemuda tanggung ini diam-diam merencanakan pekerjaan besar untuk melanjutkan cita-cita ibunya.

Demikianlah, karena dia ingin menggunakan terowongan bawah tanah itu sebagai markas partai orang kerdil, dan juga karena dia ingin mencari kalau-kalau ada harta atau pusaka peninggalan Rawa Bangkai di terowongan itu, dia lalu mengerahkan para anak buahnya untuk membersihkan bagian terowongan yang dahulu diruntuhkan oleh ibunya dan oleh Kiam-mo Cai-li.

“Akan tetapi, Siauw-pangcu (Ketua Cilik),” seorang pembantu membantah sebelum pembongkaran dilakukan. “Tempat ini dahulu sengaja diruntuhkan oleh Ibu Pangcu untuk menutupi sumur ular di mana tubuh musuh Ibu Pangcu dilempar. Karena musuh itu lihai bukan main, maka Ibu Pangcu bersama Kiam- mo Cai-li dan Ouwyang Cin Cu memutuskan untuk menutup saja tempat ini agar pemuda sakti itu tidak mampu hidup kembali.”

Han Bu Ong tertawa. “Ha-ha, mana mungkin Kwa Sin Liong dapat hidup kembali? Dia sudah di lempar di sumur ular, andai kata dia tidak mati oleh ular-ular itu, tentu selama dua tahun dikubur hidup-hidup di sumur itu dia kini sudah menjadi setan tengkorak, tinggal rangkanya saja. Mengapa khawatir? Hayo bongkar! Kalau tidak dibongkar, terowongan ini tertutup sampai di sini, padahal kita amat membutuhkan sebagai jalan rahasia yang amat penting bagi perkumpulan kita.”

Karena alasan yang dikemukakan ketua cilik ini memang tepat, maka beramai-ramai para manusia katai itu segera bekerja keras, membongkari batu-batu yang besar-besar dan berat itu, menggunakan alat pendongkel dan lain-lain. Hiruk-pikuk suara di dalam terowongan itu, dan pekerjaan yang berat itu biar pun dilakukan oleh hampir lima puluh orang, tetap saja memakan waktu yang cukup lama. Memang sesungguhnyalah bahwa merusak itu mudah membangun itu sukar, mengotori itu mudah membersihkannya tidak semudah itu.

Setelah bekerja keras selama sepekan, barulah batu besar terakhir yang menutupi sumur dapat disingkirkan. Han Bu Ong dan para anak buahnya seperti berlomba lari menghampiri sumur dan melongok ke dalam sumur yang amat gelap itu. Pada saat itu, terdengar suara angin menyambar dari bawah dan berkelebatlah bayangan orang yang melayang dari bawah. Han Bu Ong dan semua orang terkejut.

Ketika mereka menoleh dan memandang bayangan orang yang tadi meloncat melewati kepala mereka, mereka melihat seorang laki-laki muda berdiri di situ sambil tersenyum. Seorang pemuda yang berwajah tampan, yang memiliki sepasang mata yang lembut pandangannya namun bersinar cahayanya, pemuda yang pakaiannya lapuk dan compang camping. Tidak ada orang kerdil yang mengenal pemuda ini karena memang keadaannya jauh berbeda dengan tahun yang lalu.

Akan tetapi Han Bu Ong dengan suara gemetar membentakkan perintah, “Serbu! Bunuh dia…!!”

Orang-orang katai yang tadinya bengong terheran-heran dan ketakutan karena menduga keras bahwa tentu hanyalah siluman saja yang keluar dari sumur tertutup itu, ketika mendengar bentakan ini menjadi sadar. Kini mereka pun ingat bahwa tentu ini pemuda yang dua tahun yang lalu dilempar ke dalam sumur. Mereka bergidik ngeri dan gentar mendapat kenyataan bahwa orang yang dua tahun lalu dilempar ke sumur ular yang tertutup kini ternyata masih hidup. Namun karena maklum bahwa ini adalah musuh mereka dengan teriakan-teriakan ganas mereka menyerang orang itu.

Memang benar dugaan Han Bu Ong. Orang ini bukan lain adalah Kwa Sin Liong. Ketika Sin Liong akhirnya dari bawah mendengar suara hirup pikuk di sebelah atas, kemudian melihat cahaya turun melalui terowongan kecil jalan ular, dia menyeberangi terowongan dan tiba di dasar sumur pertama. Akhirnya dia melihat betapa atap sumur yang tadinya tertutup batu besar itu terbuka dan melayanglah dia ke luar. Karena selama dua tahun dia tidak bertemu orang, begitu melihat Bu Ong dan orang-orang kerdil, dia tersenyum girang.

Akan tetapi orang-orang kerdil itu dengan bermacam senjata telah menyerangnya. Sin Liong hanya mengerahkan sinkang-nya membiarkan belasan senjata tajam menimpa tubuhnya. Terdengarlah teriakan- teriakan kaget karena semua senjata, baik yang tajam mau pun yang tumpul, begitu mengenai tubuh pemuda itu, membalik seperti mengenai gumpalan karet yang amat kuat.

“Adik Bu Ong… bukankah engkau sute (Adik Seperguruan)…?” Sin Liong berkata halus sambil memandang kepada Han Bu Ong.

“Iblis! Siluman! Bunuh dia…!!” Bu Ong berteriak-teriak dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Biar pun hati mereka gentar sekali, namun orang katai itu kembali menyerbu dan hujan senjata menyambar tubuh Sin Liong. Kembali senjata-senjata itu mental, bahkan ada yang terlepas dari pegangan tangan pemiliknya. Sin Liong menarik napas panjang, menunduk dan memandang pakaiannya yang menjadi makin compang-camping akibat terkena bacokan senjata-senajata itu, kemudian sekali bergerak tubuhnya berkelebat melewati kepala para pengeroyoknya yang bertubuh pendek dan lenyap.

Gegerlah para orang katai. Akan tetapi Han Bu Ong menyabarkan dan menenangkan hati mereka. Dia merasa yakin bahwa betapa pun lihainya Sin Liong, pemuda itu agaknya tidak akan mengganggunya. Maka dia melanjutkan rencananya dan melakukan perundingan dengan para anak buahnya. Seperti juga ibunya dahulu, pemuda tanggung ini sudah mulai dengan usahanya untuk mencari kedudukan dengan menghubungi seorang ‘pangeran’ baru yang juga merasa tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya setelah perjuangan mereka berhasil.

Pangeran ini dahulunya adalah seorang pemberontak rakyat petani yang bergabung dengan An Lu Shan, bernama Shi Su Beng yang kini dianugerahi pangkat ‘pangeran’ oleh An Lu Shan. Shi Su Beng bermaksud untuk merebut tahta kerajaan dari An Lu Shan, dan apabila terjadi kegagalan, maka terowongan bawah tanah milik Han Bu Ong itulah yang akan dijadikan tempat persembunyian. Setelah selesai mempersiapkan segala-galanya dan tempat itu ditinjau sendiri oleh Pangeran Shi Su Beng, Han Bu Hong lalu pergi ke kota raja bersama sekutunya itu untuk mulai melaksanakan siasat yang sudah mereka rencanakan lebih dahulu.

Memang selama dua tahun itu terjadi dua hal yang banyak tercatat dalam sejarah. Kemenangan An Lu Shan ternyata tidak mendatangkan kemakmuran atau keamanan, bahkan sebaliknya. Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan dan menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya itu kini menyusun kekuatan di barat untuk menyerbu dan merampas kembali kota raja. Selain itu, di dalam istana pemerintah baru sendiri terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan!

Semua ini terjadi karena memang sesungguhnya para pemimpin pemberontak yang dahulu memberontak terhadap pemerintah dengan dalih ‘demi rakyat’ atau demi keadilan, demi kebenaran, demi negara dan lain istilah muluk-muluk lagi itu sesungguhnya hanyalah ‘berjuang’ demi dirinya sendiri saja! Semua istilah itu tak lain tak bukan hanyalah untuk dijadikan ‘modal’ perjuangannya untuk mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri. Hal ini sudah terlalu sering terjadi di dunia, berulang-ulang, namun sampai sekarang rakyat di seluruh dunia tetap bodoh, mau saja di peralat dan dicatut namanya oleh orang-orang yang berambisi untuk diri pribadi. Betapa banyaknya bukti akan kepalsuan ini dapat dilihat dalam sejarah di negara mana pun di dunia ini. Sekelompok orang berambisi untuk keuntungan mereka sendiri, dengan siasat cerdik menggunakan nama rakyat untuk mencapai tujuan mereka, kalau perlu mereka mengorbankan rakyat.

Rakyat sudah cukup puas memperoleh gelar ‘pahlawan’ kalau sampai tewas dalam perjuangan yang sebenarnya adalah penyalah-gunaan demi keuntungan kelompok yang mempergunakan mereka itu. Inilah sebabnya ketika perjuangan telah berhasil, jika para kelompok pimpinan yang berambisi sudah memperoleh apa yang mereka kejar-kejar, maka rakyat pun dilupakan sudah! Bukan sengaja dilupakan,

melainkan karena mereka yang sudah berhasil merampas kedudukan itu pun harus menghadapi lawan atau saingan yang juga ingin merebut kedudukan itu. Rakyat adalah orang yang berada dibawah, dan yang terinjak memang selalu yang berada di bawah. Yang berada di atas tidak akan terinjak, akan tetapi mereka itu saling berebutan di antara mereka sendiri, memperebutkan kedudukan yang lebih enak dan empuk dari- pada kedudukan yang telah dimilikinya.

Demikianlah pula dengan An Lu Shan dan teman-temannya yang telah berhasil dalam ‘perjuangan’ mereka merampas kedudukan tahta kerajaan. Teman-teman yang tadinya berjuang bahu-membahu, menjadi kawan senasib sependeritaan, yaitu di waktu mereka memberontak, kini setelah memperoleh apa yang mereka cita-citakan, berbalik mencurigai, saling iri!

Memang belum ada yang secara berterang berani menentang An Lu Shan, bekas panglima yang masih amat kuat kedudukannya, didukung oleh pasukan-pasukan inti dan tampaknya semua pembantunya sudah menyetujui sebulatnya kalau An Lu Shan menjadi Kaisar. Akan tetapi diam-diam, banyak pula yang mempersoalkan pembagian pangkat dan kedudukan. Tentu saja yang merasa tidak puas adalah mereka yang memperoleh pangkat agak kecil, sedangkan yang menerima pangkat besar merasa curiga dan hati- hati menghadapi bekas teman yang memperoleh pangkat yang lebih kecil. Terjadi dan berlangsunglah konflik sembunyi di antara mereka.

Ke manakah perginya Swat Hong dan Kwee Lun? Di bagian depan telah diceritakan betapa dua orang muda ini berhasil menyelamatkan diri, lari ke luar dari istana The Kwat Lin dan terus keluar dari kota raja Tiang-an. Mereka berlari dengan cepat mempergunakan kegelapan malam, berhasil keluar dari benteng tembok kota raja karena para penjaga yang berada dalam suasana pesta kemenangan itu tidak melakukan penjagaan yang terlampau ketat.

Setelah terang tanah dan mereka tiba di dalam sebuah hutan jauh dari tembok kota raja barulah keduanya berhenti dalam keadaan terengah-engah.

Swat Hong menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar. Wajahnya pucat, muka dan lehernya penuh keringat yang di usapnya dengan ujung lengan bajunya. Pandang matanya merenung jauh sekali, dan dia diam saja, sama sekali tidak berkata-kata, sama sekali tidak bergerak, seperti dalam keadaan setengah sadar.

Kwee Lun juga menghapus peluhnya dan dia pun duduk diam, memandang kepada Swat Hong. Beberapa kali dia menggerakkan bibir hendak bicara namun ditahannya lagi. Pemuda yang biasanya bergembira ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Dia sendiri merasa kehilangan dan amat berduka dengan kematian Soan Cu, gadis yang kini dia tahu adalah wanita yang amat dicintainya.

Akan tetapi, melihat keadaan Swat Hong yang terpaksa harus meninggalkan ibu kandungnya menghadapi kematian, dia melupakan kedukaan hatinya sendiri dan merasa amat iba kepada Swat Hong. Melihat betapa Swat Hong seperti orang kehilangan ingatan, Kwee Lun merasa khawatir sekali. Kalau dibiarkan saja, gadis ini bisa jatuh sakit, kalau hanya sakit badannya masih mending, akan tetapi kalau terserang batinnya lebih berbahaya lagi.

Akhirnya Kwee Lun memberanikan diri berkata lirih dan halus, “Mati hidup adalah berada di tangan Thian, kita manusia tak dapat menguasainya, Nona.”

Mendengar kata-kata ini, Swat Hong menengok dan memandang. Akan tetapi pandang matanya tetap kosong, seolah-olah kata-kata itu tidak dimengertinya dan dari mulutnya hanya terdengar suara meragu, “Hemm…?” Suara ini gemetar dan pandang mata itu menusuk perasaan Kwee Lun.

Maka pemuda ini lalu memberanikan diri melangkah lebih jauh lagi dengan kata-kata yang lebih membuka kenyataan, “Ibumu gugur sebagai seorang yang gagah perkasa.”

Sepasang mata yang kehilangan sinar itu terbelalak, seolah-olah baru sadar. Bibir yang gemetar itu bergerak, mula-mula lirih makin lama makin keras, “Ibu….? Ibu…., Ibu…!” Swat Hong menangis tersedu- sedu dan memanggil-manggil ibunya.

“Tenanglah, Nona. Tenanglah….” Kwee Lun menghibur dan berlutut di depan gadis itu, akan tetapi suaranya sendiri parau dan agak tersedu.

“Ibu…! Mengapa aku meninggalkan ibu mati sendiri…? Ibu…! Hu-hu-huuuuuuuk, Ibuuuuuuuu….!”

Memang menangis merupakan obat terbaik bagi batin gadis itu, pikir Kwee Lun penuh keharuan. Akan tetapi saat melihat Swat Hong menjambak-jambak rambut sendiri, dia merasa khawatir. “Ingatlah, Nona. Ingatlah pesan Ibumu… tentang pusaka Pulau Es….”

Swat Hong mengangkat muka dan melihat wajah pemuda itu juga basah air mata, dia menubruk. “Toako… ahhh, Toako…!” dan menangislah dia tersedu-sedu di dada pemuda itu yang dianggapnya merupakan satu-satunya sahabat di dunia yang baginya kosong ini.

Kwee Lun memejamkan mata dan membiarkan gadis itu menangis terisak-isak.

Dengan sesenggukan Swat Hong berkata, “Ibu tewas… di depan mataku… dan aku tidak dapat menolongnya… hu-hu-huuuuuhhhh…… dan Ayah pun sudah tiada, Suheng juga… hu-huuuuuhhh apa gunanya aku hidup lagi? Apa gunanya aku mencari pusaka dan mengembalikan ke Pulau Es?”

Seperti seorang yang mendadak menjadi kalap Swat Hong merenggutkan dirinya dari dada Kwee Lun, lalu melompat bangun mengepal tinju. “Katakan, Kwee-toako, apa gunanya semua ini? Ayah ibuku sudah meninggal, dan Suheng… satu-satunya orang yang kucinta… dia pun tidak ada lagi…! Katakan, apa perlunya aku hidup lebih lama?”

Kwee Lun teringat akan kematian Soan Cu yang menghancurkan perasaannya. Akan tetapi dia menekan kedukaannya dan berkata, suaranya nyaring bersemangat, “Adik Hong, tidak semestinya seorang perkasa seperti engkau mengeluarkan kata-kata bernada putus asa seperti itu! Engkau adalah puteri dari Pulau Es! Kedukaan apa pun yang menimpa dirimu, harus kau atasi dengan gagah perkasa! Aku dapat memahami pesan mendiang Ibumu yang mulia dan gagah perkasa itu. Kalau pusaka keluargamu dari Pulau Es terjatuh ke tangan orang lain, bukankah itu amat sayang, berbahaya dan juga merendahkan? Pusaka itu telah diselamatkan oleh Nona Bu Swi Nio dan Saudara Liem Toan Ki. Sebaiknya kalau kita segera menyusul mereka dan aku akan membantumu mencari Pusaka Pulau Es.”

Ucapan penuh semangat itu benar-benar menyadarkan Swat Hong, menarik gadis itu dari lembah kedukaan yang hampir mematahkan semangatnya. Dia menahan isak, menarik napas panjang dan menghapus air matanya, lalu memandang kepada pemuda itu, memegang tangan Kwee Lun. “Kwee-toako, terima kasih atas peringatanmu. Hampir aku lupa akan tugasku. Memang benar, sudah berani hidup harus berani menghadapi apa pun yang menimpa kita. Engkau sungguh baik sekali, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku….”

Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. “Benar… aku mencinta Soan Cu… aku mencintanya….”

“Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Akan tetapi, kau masih mempuyai gurumu, sedangkan aku hanya seorang diri… Ah, sudahlah. Aku akan pergi, Toako. Semoga engkau akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Engkau baik sekali dan terima kasih.” Swat Hong berkelebat dan meloncat pergi.

“Nanti dulu! Hong-moi… biarlah aku membantumu….”

“Tidak usah, Kwee-toako. Aku akan menyusul mereka ke Puncak Awan Merah, kemudian aku akan kembali ke Pulau Es… untuk… untuk selamanya. Selamat tinggal!” Swat Hong meloncat dengan cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Kwee Lun yang menjadi lemas.

Pemuda ini menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah dan baru sekarang dia tidak dapat menahan bertitiknya air matanya. Baru sekarang terasa olehnya betapa dia kehilangan Soan Cu, betapa dunia terasa amat hampa dan sunyi. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan teringatlah dia kepada gurunya, Lam- hai Sengjin yang seperti orang tuanya sendiri.

Dia harus kembali ke Pulau Kura-kura di Lam-hai! Terbayang olehnya betapa suhu-nya itu akan terheran-heran mendengar semua pengalamannya dengan keluarga Pulau Es! Dengan perasaan yang kosong dan sunyi, ingatan akan gurunya ini merupakan setitik harapan kegembiraan hidupnya dan perlahan-lahan Kwee Lun meninggalkan hutan itu untuk kembali kepada gurunya yang sudah amat lama ditinggalkannya.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo