July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 21)

 

Perbuatan apa pun yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, tidak lah benar jika di belakangnya bersembunyi pamrih apa pun. Sesuatu perbuatan boleh jadi oleh umum dianggap sebagai perbuatan baik, namun apabila perbuatan itu menyembunyikan pamrih, baik yang disadari mau pun tidak, maka perbuatan itu tidak benar. Perbuatan menolong orang lain oleh umum dianggap baik, namun jika hal itu dilakukan dengan pamrih apa pun, itu bukanlah menolong namanya, melainkan hanya memberi pinjam untuk kelak ditagih kembali dalam bentuk pembalasan budi!

Selama yang berbuat itu merasa bahwa dia berbuat baik, merasa bahwa dia menolong, di dalam perasaan ini sudah terkandung pamrih! Jelas tidak benar! Dan selama ada pamrih di balik setiap perbuatan, pasti akan mendatangkan penyesalan, kebanggaan, kekecewaan, dendam, penjilat, penindasan dan lain-lain. Setiap perbuatan barulah benar jika didorong atau didasari oleh CINTA KASIH!

Demikian pula dengan Kaisar. Karena dia merasa bahwa dia telah menolong An Lu Shan, merasa telah berbuat baik kepada jenderal itu maka timbullah penyesalan, kemarahan dan kebencian karena yang pernah ditolongnya itu tidak membalas dengan kebaikan. Pamrih yang tersembunyi di balik pertolongannya dahulu itu adalah menghendaki pembalasan berupa kesetiaan, penghormatan, atau setidaknya menghendaki agar jangan sampai jenderal itu berani melawannya!

Contoh ini tanpa kita sadari terjadi di dalam penghidupan kita sehari-hari. Kita miskin akan cinta kasih sehingga setiap perbuatan kita dicengkeram pamrih. Kalau cinta kasih memenuhi hati kita, maka segala pamrih akan lenyap tanpa bekas. Setiap perbuatan kita adalah wajar dan tentu saja benar karena dasarnya cinta kasih yang melekat pada bibir setiap orang, yang menjadi hampa karena disebut-sebut dan disanjung-sanjung, diberi pengertian lain, dan dipecah-pecah!

Di mana terdapat cemburu, benci, sengsara, marah, dan lain-lain, cinta kasih tidak akan ada. Di mana terdapat si ‘aku’ yang selalu mengejar keuntungan dan kesenangan lahir batin, cinta kasih tidak akan pernah ada. Karena bagi ‘si aku’, cinta kasih berarti kesenangan untuk ‘aku’ lahir batin yang berupa ketenteraman, jaminan, kepuasan, dan kenikmatan. Maka, sekali satu di antara yang dikejar itu luput, berakhirlah cinta kasihnya dan berubah menjadi cemburu, kemarahan dan kebencian!

Dengan penuh kemarahan Kaisar memimpin barisan-barisan yang dapat dikumpulkannya, didampingi oleh seorang jenderal yang setia kepadanya, seorang jenderal yang ahli dalam perang bernama Kok Cu It yang menjadi komandan barisan itu. Barisan ini lalu bergerak dari Ling Pao. Bertemulah dua barisan yang bermusuhan itu di pegunungan dan terjadilah perang yang amat dahsyat di sela Gunung Tung Kuan. Perang yang amat mengerikan dan mati-matian, di mana mayat manusia bertumpuk-tumpuk dan berserakan, darah manusia membanjiri padang rumput.

Dengan gigih Panglima Kok Cu It melakukan perlawanan setelah dia menyuruh pasukan pengawal mengiringkan Kaisar lebih dulu menyelamatkan diri ke kota raja. Namun ahirnya, karena kalah banyak jumlah pasukannya, Tung Kuan jatuh ke tangan pihak An Lu Shan. Pasukan-pasukan yang masih dapat bertahan segera ditarik mundur ke Ling Pao dan membuat pertahanan di tempat ini.

Kaisar telah melanjutkan perjalanan kembali ke Tiang-an di mana dia berkemas-kemas dengan hati penuh kekhawatiran. Tak lama kemudian, Ling Pao juga jatuh dan Panglima Kok Cu It terpaksa membawa sisa pasukannya kembali ke kota raja. Melihat betapa gerakan An Lu Shan amat kuat dan tidak dapat dibendung, panglima ini menganjurkan kepada Kaisar untuk pergi mengungsi ke Secuan. Kaisar mengumpulkan semua pembantunya yang setia dan akhirnya, atas desakan mereka pula, kaisar menerima usul itu.

Berangkatlah rombongan Kaisar ke barat. Yang berada di dalam rombongan itu, selain Kaisar sekeluarga tentu saja termasuk selir Yang Kui Hui, juga perdana Menteri Yang Kok Tiong, kakak dari selir cantik itu beserta semua keluarganya, para Thaikam (Orang Kebiri) yang setia kepada Kaisar, dan beberapa orang punggawa tinggi yang menjadi kaki tangan mereka. Rombongan besar ini dikawal oleh pasukan pengawal istimewa dan berangkatlah rombongan Kaisar pergi mengungsi yang dilakukan di waktu malam agar jangan ada rakyat mengetahuinya.

Pelarian yang dilakukan tergesa-gesa ini pun mencerminkan watak orang-orang bangsawan ini. Selain keluarga mereka, juga mereka membawa harta benda mereka sebanyak mungkin! Tidak ada lagi yang dipikirkan kecuali membawa keluarga dan harta bendanya sehingga mereka lupa bahwa bukan harta benda yang penting untuk dibawa sebagai bekal, melainkan ransum! Mereka melupakan ini dan sibuk membawa harta benda yang mungkin dapat terbawa.

Telah menjadi kelemahan kita manusia dalam penghidupan kita ini bahwa kita selalu melekat kepada benda-benda duniawi. Kita lupa bahwa benda-benda itu memang merupakan perlengkapan hidup dan kita butuhkan, namun hanyalah sekedar menjadi hamba kita, menjadi kebutuhan kita selagi hidup. Akan tetapi kita silau oleh benda-benda mati itu, kita mengejarnya dan mengumpulkannya, bukan lagi karena kebutuhan, melainkan karena ketamakan, karena rakus sehingga kita mengumpulkan sebanyak mungkin. Setelah itu kita menjadi hamba duniawi, kita melekatkan diri dan kita telah merubah batin kita menjadi benda-benda itu!

Maka kita selalu mempertahankan duniawi secara mati-matian. Kita tidak bisa lagi hidup tanpa dia, lahir mau pun batin. Kehilangan harta benda menjadi hal yang amat hebat dan penuh derita. Mencari dan mengumpulkan harta benda menjadi hal yang paling penting di dalam hidup kita, sehingga kalau perlu dalam mengejar duniawi berupa harta benda, kedudukan, kemuliaan dan lain-lain, kita tidak segan-segan untuk sikut-menyikut jegal-menjegal, bunuh-membunuh antara manusia! Maka akan BAHAGIALAH DIA YANG MEMPUNYAI NAMUN TIDAK MEMILIKI, dalam arti kata, mempunyai apa saja di dunia ini karena ada hubungannya, karena ada kebutuhannya, hanya mempunyai lahiriah saja, namun batin sama sekali tidak memiliki, sama sekali tidak terikat atau melekat sehingga punya atau tidak punya bukanlah merupakan soal penting lagi!

Karena ketamakan itulah maka rombongan Kaisar segera mengalami akibatnya setelah rombongan besar itu melarikan diri sampai di pos penjagaan Ma Wei yang terletak di Propinsi Shen-si sebelah barat, rombongan ini kehabisan ransum yang tidak berapa banyak itu. Sisa ransum yang tinggal sedikit itu diperuntukkan bagi Kaisar dan keluarganya serta para bangsawan. Pasukan pengawal yang menderita kelelahan dan kelaparan menjadi gelisah. Tampaklah wajah-wajah yang membayangkan penasaran dan kemarahan, mulai terdengarlah suara-suara tidak puas di antara para anggota pasukan.

Perhentian di Ma Wei ini dipergunakan oleh Yang Kok Tiong untuk mengadakan pertemuan dengan orang- orang Tibet. Yang Kok Tiong berusaha untuk mengadakan kontak dengan Pemerintah Tibet untuk membantu Kaisar dalam menghadapi pemberontakan dan membujuk seorang pendeta Lhama yang berada di antara orang-orang Tibet itu untuk menyampaikan permintaan bantuannya. Hatinya juga gelisah ketika melihat betapa anak buah pasukan pengawal mulai tidak puas. Akan tetapi Kaisar yang sudah merasa lelah dan berduka, tidak tahu akan semua itu dan dia menenggelamkan dirinya yang dirundung kedukaan itu dalam pelukan selirnya yang menghiburnya.

Tidak seorang pun di antara para bangsawan itu tahu, betapa di luar terjadi hal yang luar biasa. Seorang laki-laki muda dan seorang gadis cantik menyelinap di antara penduduk setempat, mendekati tempat mengaso para pasukan pengawal dan dua orang muda ini berbisik-bisik dengan para pasukan. Mereka ini bukan lain adalah Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki!

Seperti telah kita ketahui, Liem Toan Ki, jago muda dari Hoa-san-pai itu adalah mata-mata An Lu Shan dan Bu Swi Nio, murid The Kwat Lin, akhirnya juga menjadi pembantu An Lu Shan karena terbawa oleh Liem Toan Ki yang menjadi tunangannya itu. Kini, selagi memata-matai keadaan Kaisar yang melarikan diri, Bu Swi Nio teringat akan kematian kakaknya, maka diambilnya keputusan untuk membalas dendam kepada Yang Kui Hui yang menyebabkan kematian kakaknya, Bu Swi Liang. Setelah berunding dengan kekasihnya, mereka berdua lalu menyelinap di antara penduduk, mengadakan kontak dengan para komandan pasukan pengawal, mulai menghasut mereka itu.

“Lihat, kita bersusah payah, setengah mati kelelahan dan kelaparan menjaga keselamatan Kaisar, beliau sendiri bahkan bersenang-senang dan tidak mempedulikan kita, mabuk dalam rayuan Yang Kui Hui setan kuntilanak itu!” Bu Swi Nio antara lain menghasut.

“Lihat kakaknya yang menjadi perdana menteri itu. Diam-diam mengadakan perundingan dengan orang- orang Tibet. Dialah bersama adiknya ular cantik itu yang menjadi pengkhianat dan menjual negara. Coba ingat, bukankah An Lu Shan diambil anak oleh Yang Kui Hui? Padahal diam-diam menjadi kekasihnya! Negara telah dijual oleh Yang Kui Hui, diberikan kepada kekasihnya, An Lu Shan. Dan sekarang agaknya Yang Kok Tiong hendak menjual keselamatan Kaisar kepada orang-orang Tibet! Aduhhh, sungguh membuat orang hampir mati penasaran. Kaisar dipermainkan seperti itu, namun tinggal diam karena mabuk oleh kecantikan Yang Kui Hui iblis betina yang keji itu!” demikian Liem Toan Ki menambah minyak dalam api yang mulai dikobarkan oleh Swi Nio.

Memang para anggota pasukan sudah gelisah dan kehilangan ketenangan. Mereka merasa sengsara dan nasib mereka masih belum dapat ditentukan. Mungkin saja mereka semua akan mati konyol jika sampai dapat disusul oleh pasukan-pasukan pemberontak. Mendengar hasutan-hasutan itu, mereka menjadi makin gelisah dan akhirnya terdengarlah teriakan-teriakan yang diam-diam didahului oleh Swi Nio dan Toan Ki. “Gantung pengkhianat!” “Bunuh penjual negara!” “Seret Yang Kok Tiong!” “Yang Kok Tiong pengkhianat, harus dihukum mati!” “Sebelum penjual negara itu mampus, kami tidak mau pergi!”

Teriakan-teriakan ini makin hebat dan kini seluruh pasukan sudah bangkit, mengacung-acungkan kepalan dan senjata ke arah bangunan-bangunan di mana rombongan bangsawan itu berada. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kaisar ketika mendengar teriakan-teriakan itu. Juga yang lain-lain menjadi kaget setengah mati, terutama Yang Kok Tiong sendiri. Dia sedang berunding dengan orang-orang Tibet, ketika tiba-tiba Kaisar bersama pengawal-pengawal pribadi memasuki tempat itu.

Kaisar kelihatan marah. “Siapa mereka ini??” bentaknya sambil menuding ke arah tujuh orang Tibet yang berada di situ.

“Hamba… hamba sedang berunding… minta pertolongan Pemerintah Tibet,” jawab Yang Kok Tiong.

“Tangkap orang-orang Tibet itu! Siapa tahu mereka adalah mata-mata perampok!” Perintah Kaisar ini dituruti oleh para pengawal dan ditangkaplah tujuh orang Tibet itu yang tidak berani melakukan perlawanan.

Sementara itu, teriakan-teriakan di luar menuntut kematian Yang Kok Tiong makin menghebat. Berbondong-bondong datanglah para pembantu Kaisar, berkumpul di tempat Yang Kok Tiong yang duduk dengan muka pucat mendengar tuntutan para pasukan di luar.

Di depan mata semua orang, tanpa malu-malu Yang Kui Hui menubruk dan merangkul leher Kaisar sambil menangis. “Sudilah Paduka menolong kakakku…. harap Paduka menyelamatkan kakakku…,” selir itu menangis.

Didekap dan ditangisi selirnya yang tercinta, kaisar yang tua itu segera menghardik kepada kepala pengawal pribadinya, “Tangkap si pembuat ribut itu!”

Komandan pengawal itu berdiri tegak dan menjawab, “Ampun, Sri Baginda. Akan tetapi yang ribut adalah seluruh pasukan pengawal!”

“Junjungan hamba… tolonglah kakakku… selamatkan dia…!” Yang Kui Hui menangis.

Yang Kok Tiong juga menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kaisar. “Hamba hanya dapat mengharapkan kebijaksanan Paduka dan menaruh nyawa hamba di dalam telapak tangan Paduka…!”

“Seret Yang Kok Tiong si pengkhianat keluar!” terdengar teriakan dari luar.

“Keluarkan jahanam itu, kalau tidak kami menyerbu ke dalam!” suara ini diikuti suara pintu digedor-gedor dari luar.

“Tangkap dia…!!” Kaisar memerintah dan menudingkan telunjuknya ke luar.

Komandan pengawal hendak membuka daun pintu, akan tetapi tiba-tiba dari luar meloncat masuk pengawal yang menjaga di luar, mukanya pucat dan tubuhnya menggigil lalu dia menjatuhkan diri di atas lantai menghadap Kaisar sambil berkata, “Mereka… mereka… akan menyerbu…!”

Oleh kepala pengawal, Kaisar dan rombongannya dikawal naik ke loteng. Kemudian Kaisar keluar dan memandang kepada pasukannya yang memberontak di luar itu. Begitu melihat munculnya Kaisar, para anak buah pasukan berteriak kacau-balau, menuntut agar Yang Kok Tiong diberikan kepada mereka. Kepala pengawal yang melihat gelagat buruk, diam-diam lalu menotok perdana menteri itu dan membawanya turun lagi di luar tahunya Kaisar, kemudian dia membuka pintu dan mendorong perdana menteri itu ke luar.

Banyak tangan yang penuh dendam kebencian menyambut. Tubuh Yang Kok Tiong di seret-seret, hujan pukulan dan makian, penghinaan dan ludah ditujukan kepadanya. Ketika Yang Kui Hui yang mendengar teriakan-teriakan kakaknya itu keluar mendekati Kaisar dan menjenguk ke bawah, dia menjerit dan merangkul Kaisar, lalu menangis. Kaisar sendiri terbelalak memandang betapa perdana menterinya itu, kakak dari selirnya, disiksa oleh pasukan, dipukuli dan dimaki-maki.

“Tolonglah kakakku… tolonglah dia….” Yang Kui Hui merintih dan menangis.

Kaisar lalu berseru ke bawah dengan suara lantang, “Haiii! Semua anggota pasukanku! Tahan…! Jangan lanjutkan perbuatan gila itu!”

“Berhenti…! Kalian iblis-iblis jahat…! Uh-huuuuhhh-huuuu…!!” Yang Kui Hui juga menjerit-jerit dan akhirnya menutupi mukanya, demikian pula Kaisar ketika melihat betapa Yang Kok Tiong sudah rebah dan tidak berkutik lagi, dengan tubuh hancur dan penuh darah.

Tiba-tiba dari dalam rombongan pasukan dan orang-orang dusun yang banyak berkumpul di tempat itu terdengar suara nyaring seorang laki-laki, “Seret iblis betina Yang Kui Hui…! Dialah biang keladinya! Dialah yang menjatuhkan kerajaan dengan menggoda Sri Baginda! Semenjak ada dia, kerajaan menjadi lemah dan dikuasai oleh pengkhianat-pengkhianat!”

Disusul suara wanita, “Bunuh kuntilanak itu! Dia siluman betina! Dia Tiat Ki ke dua…! Dia berjinah dengan An Lu Shan, dia mengumpulkan keluarganya untuk menguasai kerajaan! Dia harus dihukum gantung….!” Suara ini adalah suara Bu Swi Nio yang ingin membalas kematian kakaknya. Dia menyebut-nyebut nama tokoh wanita Tiat Ki, yang dalam dongeng sejarah adalah seekor siluman rase yang menjelma wanita menjadi selir Kaisar dan menyeret kerajaan ke dalam kehancuran pula.

Mendengar teriakan-teriakan menghasut dari Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio ini, pasukan yang haus darah dan yang tidak puas itu lalu berteriak-teriak, menuding-nuding kepada Yang Kui Hui sambil menuntut agar wanita cantik itu digantung!

“Tidak…!! Kalian gila semua! Tidaakkk…!!” Kaisar memeluk tubuh selirnya yang pucat dan hampir pingsan itu, lalu menariknya masuk, diikuti teriakan-teriakan para anak buah pasukan dan rakyat setempat.

Kaisar dengan muka merah karena marahnya merangkul Yang Kui Hui yang menangis terisak-isak itu. Semua anggota rombongan memandang dengan muka pucat, apa lagi mereka mendengar suara ribut-ribut di luar rumah dan kini pintu digedor-gedor lagi. “Gantung Yang Kui Hui….!” “Bunuh siluman itu….!”

“Kalau tidak, rumah ini kami bakar!!”

Tentu saja Kaisar dan yang lain menjadi makin panik. Kaisar menjatuhkan diri di atas kursi, mukanya pucat dan keringat bercucuran membasahinya. Sementara itu Yang Kui Hui berlutut di dekat kursi Kaisar, memeluk kaki Kaisar dan memperlihatkan sikap yang memelas (menimbulkan iba) sekali, tubuhnya gemetar karena suara-suara dari luar yang terdengar, suara menuntut kematiannya itu seperti ujung pedang-pedang yang ditusuk-tusukan ke ulu hatinya….

Gedoran pintu makin keras, teriakan-teriakan makin hebat, sementara Kaisar menanti hasil para komandan pasukan pengawal yang tadi keluar untuk menyabarkan anak buahnya. Penantian yang mencekam dan menegangkan urat syaraf. Tiba-tiba, pekik para komandan pasukan yang keluar dan bicara, suara-suara teriakan dan gedoran pintu terhenti.

Hati Kaisar lega, dia menunduk dan saling pandang dengan kekasihnya. Sepasang mata indah yang tak pernah kehilangan daya pengaruh untuk membuat Kaisar terpesona itu kini berlinang air mata. Akan tetapi hanya sejenak saja hati mereka terhibur dan harapan mereka timbul, karena tiba-tiba terdengar teriakan- teriakan lebih keras lagi disusul gedoran pada pintu dan dinding. Tak lama kemudian kepala pengawal dan para pembantunya masuk dengan muka pucat.

Serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. “Hamba siap menerima hukuman karena hamba sekalian tidak berhasil menundukkan kemarahan mereka,” kata komandan pengawal sambil menunduk.

Kaisar bangkit berdiri dan pada saat itu terdengar suara, “Bunuh siluman Yang Kui Hui! Kalau tidak, mari kita bunuh saja semua!”

“Tidak! Tidaakkk…! Persetan…!!” Kaisar berteriak dan lengan kirinya merangkul leher selirnya, seolah-olah dia hendak melindungi kekasih tercinta itu. “Dar-dar-darrrr…!” pintu digedor dari luar. “Hancurkan saja Raja lalim dan lemah…!”
“Bakar saja rumah ini kalau yang Kui Hui tidak dihukum mati!”

Keadaan sudah amat berbahaya dan menegangkan. Semua bangsawan yang berada di situ sudah menjadi pucat. Pangeran Mahkota segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar.

“Dalam keadaan seperti ini, mengapa Paduka masih kukuh?” Putera Mahkota itu menangis.

Para pembesar yang setia kepada kaisar juga membujuk, bahkan kepala thaikam yang menjadi kepercayaan Kaisar dan yang diam-diam secara pribadi memusuhi Yang Kui Hui, berkata, “Harap Paduka suka mempertimbangkan dengan tenang. Memang menyakitkan hati sekali tuntutan mereka. Namun, mereka tidak dapat dibendung dan kalau ditolak, tentu Paduka akan terancam bahaya, bahkan seluruh keluarga Paduka. Apakah Paduka hendak mengorbankan keselamatan Paduka sendiri dan seluruh keluarga hanya untuk satu orang yang toh tidak akan dapat Paduka selamatkan juga?”

Putera Mahkota menoleh kepada Yang Kui Hui dan berkata, suaranya keras dan penuh tuntutan, “Seorang yang selama puluhan tahun memperoleh kemuliaan dan anugerah kebaikan Kaisar, apakah di waktu terancam lalu melupakan budi yang besarnya melebihi nyawa itu?”

Yang Kui Hui menjadi pucat wajahnya. Dia menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar, memeluk kaki Kaisar sambil menangis dan berkata, “Biarlah hamba membalas segala budi kebaikan Paduka….”

“Tidak…! Tidak… Ohhh, Kui Hui, tidak…! Jangan…!”

Akan tetapi banyak tangan merenggut tubuh selir cantik itu dari pelukan Kaisar, lalu menyerahkannya kepada kepala thaikam. Selir itu diseret oleh kepala thaikam ke atas pagoda dan tak lama kemudian, terdengarlah sorak-sorai para pasukan melihat tubuh selir cantik jelita itu tergantung di pagoda, tergantung lehernya dan berkelojotan sebentar lalu terdiam.

“Hidup kaisar…!!”

“Biang keladi kelemahan telah tewas…!!”

“Kita akan mengawal Kaisar sampai titik darah terakhir!”

Di sebelah dalam, Kaisar yang tadinya menangis itu terbelalak mendengar teriakan yang sama sekali berlainan itu. Dia bingung tidak tahu apa yang terjadi, memandang ke kanan-kiri. “Di mana dia…? Mana Yang Kui Hui…?!”

 

Semua keluarganya menjatuhkan diri berlutut. “Dia… telah mengorbankan nyawa demi keselamatan paduka sekeluarga….”

“Kui Hui…!!” Kaisar berlari naik ke loteng, kemudian roboh pingsan melihat tubuh kekasihnya yang diam tidak bergerak, tergantung di pagoda itu.

Peristiwa ini merupakan peristiwa bersejarah yang kemudian terkenal di seluruh Tiongkok sampai berabad- abad lamanya. Bagi mereka yang ikut merasa berduka dan terharu mendengar cerita tentang pemutusan hubungan cinta yang amat menyedikan ini, menganggap Kaisar itu lemah dan telah melakukan kesalahan besar. Peristiwa ini menjadi terkenal sekali ratusan tahun kemudian, bahkan dijadikan cerita drama yang dipanggungkan dan menjadi bahan karangan cerita yang tak terhitung banyaknya. Lebih terkenal sekali setelah sastrawan Po Cu I menulisnya dengan judul ‘Kesalahan Abadi’.

Dengan lesu dan penuh duka, rombongan Kaisar melanjutkan perjalanan mengungsi ke Secuan. Kematian selir tercinta itu melumpuhkan seluruh gairah hidup Kaisar yang sudah tua itu. Akan tetapi, di tengah perjalanan kembali terjadi peristiwa hebat. Ketika rombongan itu sedang beristirahat dan bermalam di sebuah dusun kecil di daerah yang sepi di perbatasan Secuan, malam itu tiba-tiba heboh karena terjadinya pembunuhan atas diri seorang di antara para pangeran yang ikut mengungsi. Pangeran ini adalah adik Pangeran Mahkota.

Di waktu malam yang amat sunyi itu, dua sosok bayangan berkelebat di atas genteng rumah-rumah yang dijadikan tempat mengaso rombongan Kaisar. Mereka ini bukan lain adalah Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki. Setelah berhasil menghasut anak buah pasukan pengawal sehingga terbunuhnya Yang Kui Hui dan kakaknya, sebagai mata-mata An Lu Shan keduanya diam-diam terus mengikuti dan membayangi rombongan itu, mencari kesempatan baik untuk membunuh Kaisar! Inilah tujuan mereka, karena matinya Kaisar akan merupakan kemenangan besar bagi An Lu Shan.

Akan tetapi, mereka berdua salah masuk! Mereka memasuki kamar pangeran muda yang berada di sebelah kamar Kaisar. Ketika dua batang pedang di tangan mereka bergerak, tubuh di atas pembaringan, di dalam kelambu yang tertusuk pedang dan mengeluarkan pekik maut bukanlah tubuh Kaisar, melainkan tubuh pangeran itu! Barulah kedua orang ini tahu bahwa mereka telah keliru. Cepat mereka meloncat dan keluar dari dalam kamar itu melalui jendela. “Tangkap penjahat!” “Tangkap pembunuh!!”

Dalam sekejap mata saja kedua orang mata-mata itu dikepung oleh belasan orang pengawal dan disergap. Tentu saja Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki membela diri dan membalas dengan serangan-serangan dahsyat. Terjadilah pertandingan keroyokan di ruangan yang cukup terang itu dan makin lama makin banyaklah pengawal yang datang mengeroyok. Menghadapi pengeroyokan banyak sekali pengawal yang berkepandaian tinggi, dua orang itu menjadi repot juga.

Dengan berdiri saling membelakangi, Swi Nio dan Toan Ki saling melindungi. Pedang mereka bergerak cepat menyambar-nyambar ke depan, kanan dan kiri menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan ke arah mereka. Suara nyaring beradunya senjata diselingi teriakan-teriakan para pengeroyok memecah kesunyian malam di dusun itu. Tidak kurang dari delapan orang pengeroyok roboh oleh pedang mereka dan kini para pengawal atas komando perwira atasan mereka mengurung dan mengatur barisan.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Bu Swi Nio untuk menggeser kakinya mundur sampai punggungnya beradu dengan punggung Liem Toan Ki. Kemudian dia berbisik, suaranya mengandung keharuan, “Maaf, Koko. Aku yang membujukmu ke sini sehingga kau juga menghadapi bahaya maut….” “Hushhh…, mati atau hidup kita tetap berdua, Moi-moi….”

“Aku tak takut mati, tapi… aku belum sempat membalas segala kebaikanmu, Koko….” “Tidak ada kebaikan di antara kita. Kita saling mencinta, bukan? Mencinta sampai kita mati bersama!” Ucapan Toan Ki ini membangkitkan semangat di dalam hati Swi Nio. Sambil memegang pedang erat-erat dan tangan kirinya dikepal, dia berkata. “Aku akan merasa bangga denganmu, Koko!”

Percakapan bisik-bisik itu dihentikan karena kini para pengeroyok yang tadi mengurung mereka telah mulai menyerang. Kini pengeroyokan mereka teratur, dan serangan datang bertubi-tubi, berantai karena mereka mengelilingi dua orang ini sampai tiga empat baris. Swi Nio dan Toan Ki kembali harus menggerakkan pedang masing-masing untuk menangkis dan melindungi tubuh mereka. Namun karena datangnya serangan tidak seperti tadi, kadang-kadang bertubi-tubi dan susul-menyusul, mereka berdua menjadi repot sekali.

Tiba-tiba terdengar Swi Nio mengeluh perlahan ketika bahu kirinya terkena hantaman gagang tombak. Biar pun keduanya telah terluka, namun mereka terus mengamuk, pedang mereka menyambar-nyambar dan kembali robohlah empat orang pengeroyok, sungguh pun mereka berdua sendiri juga mengalami luka-luka bacokan. Maklumlah keduanya, bahwa mereka tidak mungkin dapat meloloskan diri menghadapi pengeroyokan demikian banyak pengawal, maka mereka mengamuk untuk dapat membunuh sebanyak mungkin musuh sebelum mereka berdua dirobohkan. Mereka berdua sudah bertekad untuk melawan sampai mati.

Akan tetapi tiba-tiba terjadi perubahan. Para pengurung dan pengeroyok menjadi kacau-balau. Terdengar pula suara meledak-ledak nyaring serta disusul pekik-pekik kesakitan yang diikuti robohnya beberapa orang pengeroyok terkena sambaran sebatang cambuk berduri. Juga ada para pengeroyok yang dilempar- lemparkan sepasang lengan yang amat kuat.

Swi Nio dan Toan Ki terkejut dan girang sekali karena maklum bahwa ada bala bantuan datang. Mereka tadinya menduga bahwa yang datang tentulah teman-teman mereka, para mata-mata yang disebar oleh An Lu Shan. Akan tetapi mereka menjadi terheran-heran dan kagum sekali ketika menyaksikan bahwa yang mendatangkan kekacauan pada pihak para pengeroyok hanyalah dua orang. Seorang adalah pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, yang menggunakan kedua tangannya melempar-lemparkan para pengawal. Seorang lagi ialah dara yang amat cantik jelita dan gagah, dara yang mengamuk dengan sebatang cambuk berduri dan sebatang pedang, gerakannya cepat dan ganas.

Siapakah dua orang yang tidak dikenal oleh Swi Nio dan Toan Ki itu? Mereka adalah Ouw Soan Cu, gadis Pulau Nereka yang lihai itu, dan pemuda tinggi besar Kwee Lun, murid Lam-hai Sengjin yang tinggal di Pulau Kura-kura di Laut Selatan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, mereka berdua saling berjumpa di puncak Awan Merah di Pegunungan Tai-hang-san, yaitu di tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw. Ouw Soan Cu gadis Pulau Neraka itu datang bersama Sin Liong sedangkan Kwee Lun yang menjadi teman seperjalanan dan sahabat Swat Hong datang pula bersama gadis itu.

Tadinya, sebelum pergi bersama Swat Hong untuk mencari The Kwat Lin di Bu-tong-pai, Sin Liong yang merasa kasihan kepada Soan Cu menitipkan gadis itu kepada Tee-tok Siangkoan Houw. Akan tetapi melihat Sin Liong pergi bersama Swat Hong, Soan Cu tidak mau tinggal di tempat itu, lalu dia pun pergi hendak mencari ayahnya. Dan Kwee Lun, yang merasa tertarik kepada gadis cantik jelita dan galak serta jujur itu segera berpamit dan cepat lari mengejar Soan Cu. Di kaki pegunungan Tai-hang-san barulah Kwee Lun mampu menyusul Soan Cu karena gadis itu memperlambat larinya dan berjalan dengan termenung.

Setelah kini mulai melakukan perjalanan seorang diri, barulah Soan Cu merasa bingung sekali. Ketika melakukan perjalanan bersama Sin Liong, dia tidak tahu apa-apa, hanya ikut saja dan seluruh hal diputuskan oleh pemuda itu. Setelah kini sadar bahwa dia berada seorang diri di dunia yang luas ini, dia merasa kesepian dan bingung. Dia tidak mengenal tempat dan tidak tahu harus menuju ke mana untuk mencari ayahnya! Teringat akan semua ini, hatinya menjadi kecil dan gelisah, juga marah. Marah kepada Sin Liong yang meninggalkanya. “Nona Ouw, perlahan dulu….!”

Karena termenung dan hatinya gelisah, Soan Cu sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, maka dia tidak tahu bahwa ada orang membayanginya di belakang. Dia baru terkejut ketika mendengar seruan itu. Cepat dia membalikkan tubuhnya dan memandang. Dia cemberut melihat bahwa yang memanggilnya adalah pemuda tinggi besar yang pernah bertempur dengan dia di Puncak Awan Merah karena pemuda ini memembela Swat Hong dan dia membela Sin Liong. Teringat akan peristiwa itu, tiba- tiba saja dia merasa geli dan menahan ketawanya dengan senyum lebar, lalu menutupi mulutnya.

Melihat gadis itu menahan ketawa, namun jelas sinar mata gadis itu mentertawakannya, Kwee Lun mengerutkan alisnya yang tebal, akan tetapi dia pun tersenyum dan berkata sambil menjura, “Nona Ouw, mengapa engkau menahan ketawa dan menyembunyikan senyum? Menyambut seorang kenalan dengan senyum lebar di bibir merupakan penghormatan paling besar. Senyum adalah seperti matahari pagi, menghidupkan menenteramkan, penuh damai dan bahagia….”

Mendengar ucapan pemuda itu yang diatur seperti orang membaca sajak, Soan Cu tertawa dan dia kagum juga. Terdengar amat indah kata-kata tadi. Akan tetapi timbul pula kenakalannya dan dia menjawab dengan nada mengejek, “Orang She Kwee, aku tertawa bukan menyambutmu, melainkan teringat akan peristiwa yang amat lucu. Engkau datang bersama Han Swat Hong, membelanya mati-matian, akan tetapi sekarang di manakah dia? Engkau ditinggalkan begitu saja! Betapa lucunya! Lucu ataukah menyedihkan?”

Alis tebal itu makin dalam berkerut, akan tetapi kemudian Kwee Lun tersenyum lagi dan mengangguk- angguk. “Memang lucu sekali! Ha-ha-ha-ha, lucu sekali!”

Melihat pemuda itu tidak tersinggung malah tertawa-tawa, Soan Cu menjadi penasaran. “Apa yang lucu?” bentaknya.

“Kau… eh, kita berdua… yang lucu. Mengapa bisa begini kebetulan?”

“Apa yang kebetulan?” Soan Cu makin penasaran karena ejekannya itu kini agaknya malah dibalikkan oleh pemuda itu kepadanya.

“Bukankah kebetulan sekali nasib kita amat serupa? Aku datang bersama Nona Swat Hong dan aku ditinggalkan, sebaliknya engkau pun datang bersama Sin Liong dan engkau ditinggalkan pula. Nasib kita benar serupa, bukankah ini amat lucunya?”

Wajah Soan Cu menjadi merah sekali.

“Srattt!” pedang Coa-kut-kiam yang bersinar-sinar telah berada di tangan kanannya.

Kwee Lun terkejut bukan main, hanya memandang bengong karena sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang dianggapnya jujur dan lincah gembira ini demikian mudah tersinggung! “Eh, Nona Ouw… kau… marah oleh godaanku tadi?”

“Siapa marah? Hayo cabut pedangmu, kita lanjutkan pertempuran kita yang terhenti ketika di Puncak Awan Merah. Aku masih belum kalah olehmu!”

Kwee Lun menarik napas panjang, hatinya lega. Tepat dugaannya, nona ini sama sekali bukan tersinggung oleh godaannya, melainkan karena memiliki watak aneh, ingin melanjutkan pertempuran ketika mereka saling membela sahabat masing-masing di Puncak Awan Merah.

“Wah, berat, Nona. Aku terima kalah. Dalam gebrakan-gebrakan yang pernah kita lakukan itu saja aku sudah tahu bahwa ilmu kepandaianmu jauh lebih tinggi dari-pada aku. Pula kita bukanlah musuh. Terserah kalau Nona hendak menganggap aku musuh, akan tetapi aku Kwee Lun sama sekali tidak menganggap kau sebagai musuhku. Bahkan sebaliknya, di antara kita, mau atau tidak telah terdapat ikatan persahabatan yang amat erat.” “Hemm, jangan kau mencoba untuk membujukku. Persahabatan dari mana? Enak saja kau bicara!” “Eh, apakah kau hendak menyangkal bahwa engkau adalah sahabat baik dari Kwa Sin Liong, Nona?” “Memang, dia adalah sahabat baikku, bukan engkau!”

“Nah, kalau engkau sahabat baik dari Kwa Sin Liong, berarti engkau adalah sahabat baikku pula. Kwa Sin Liong adalah Suheng dari Han Swat Hong, dan Nona itu adalah sahabatku. Sahabat dari si Suheng tentu juga menjadi sahabat baik dari sahabat si Sumoi, bukan?”
“Hemm, kau memang pandai bicara.” Soan Cu menyarungkan kembali pedangnya. “Bilang saja bahwa kau tidak berani melawan aku!”

“Tentu saja tidak berani, karena memang pedangku bukan untuk melawan, melainkan untuk membantumu mencari kembali Ayahmu. Bukankah kau hendak mencari Ayahmu, Nona? Tahukah kau ke mana kau harus mencarinya?”

Ditegur seperti itu, Soan Cu menjadi bingung lagi. Memang tadi dia sedang termenung bingung, tidak tahu harus pergi ke mana. Dengan matanya yang indah terbelalak gadis itu memandang kepada Kwee Lun dan menggelengkan kepalanya, lalu dia berkata, “Apakah kau tahu?”

“Tentu saja aku tidak tahu, Nona. Aku belum mengenal Ayahmu itu. Akan tetapi, sebagai seorang gadis muda, sungguh tidak leluasa bagimu untuk mencari sendiri. Aku dapat membantumu. Dahulu aku sering merantau dengan guruku, dan aku banyak mengenal daerah-daerah, tahu pula dunia kang-ouw sehingga agaknya akan lebih menguntungkan bagimu dan menyenangkan bagiku kalau kita melakukan perjalanan bersama. Tentu saja kalau kau suka….”

Sampai lama Soan Cu menatap wajah pemuda itu. Dia menghela napas, kemudian berkata, “Engkau baik sekali, seperti Sin Liong. Tentu saja engkau tidak dapat kuandalkan seperti dia, kepandaianmu tidak sehebat dia. Akan tetapi engkau juga gagah perkasa, jujur dan itu sudah cukup untuk meyakinkan aku bahwa engkau tentu dapat menjadi seorang sahabat.”

“Ha-ha-ha, terima kasih, ha-ha-ha! Sudah kuduga bahwa engkau adalah seorang gadis yang luar biasa, polos dan tidak berpura-pura, cantik dan gagah perkasa. Ha-ha-ha!” Kwe Lun tertawa dengan bebas.

Soan Cu menjadi sangat terkejut ketika melihat betapa air mata mengalir di kedua pipi pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan ini. “Eh, kau menangis??”

Kwee Lun menghentikan tawanya, mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya sambil menggeleng kepala. “Ini adalah penyakitku, Nona. Aku selalu mengeluarkan air mata kalau tertawa terlalu gembira. Akan tetapi, kalau dilihat kenyataannya, apa sih bedanya antara tawa dan tangis? Apakah bedanya antara senang dan susah, antara nyeri dan nikmat? Kesemuanya adalah dua muka dari satu tangan, tak terpisahkan. Mencari yang satu, pasti akan ketemu dengan yang ke dua.”

“Wah, kau memang seorang manusia aneh, Kwee-toako. Kau gagah perkasa, pemberani, pandai bersajak, pandai filsafat, dan…. cengeng!”

Girang bukan main hatinya mendengar gadis itu menyebutnya toako, tanda bahwa gadis itu benar-benar mau menerima persaudaraan atau persahabatan di antara mereka. “Ouw-siocia… atau engkau lebih senang kusebut adik?”

“Sebut saja namaku Soan Cu.”

“Bagus! Kau hebat! Soan Cu kau percayalah, aku Kwee Lun bukanlah seorang yang berhati palsu. Engkau tidak akan kecewa menaruh kepercayaan kepadaku dan sudi menerima uluran tangan persahabatan dariku. Aku akan berdaya upaya sedapat mungkin untuk mencari Ayahmu itu. Siapakah nama beliau?”

“Ayahku bernama Ouw Sian Kok, tokoh besar dari Pulau Neraka yang sudah belasan tahun meninggalkan Pulau Neraka.”

Tiba-tiba Kwee Lun memandang dengan mata terbelalak dan mukanya berubah agak pucat, bibirnya bergetar ketika dia menegaskan. “Pu… Pulau… Neraka?”

Soan Cu tersenyum. “Apakah kau masih mau menganggap aku sahabat setelah kau tahu aku adalah seorang gadis dari Pulau Neraka?”

“Eh-eh, jangan salah paham, Soan Cu. Aku… hanya terkejut sekali mendengar ada pulau yang namanya seperti itu. Pernah guruku, Lam-hai Sengjin mengatakan bahwa di dalam dongeng yang tersebar di antara kaum kang-ouw, terdapat sebutan dua pulau. Pertama adalah Pulau Es….” “Tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong!”

“Benar, dan aku sudah merasa bahagia bukan main telah bertemu dengan seorang puteri Pulau Es. Dan kedua, menurut Suhu adalah pulau yang tentu tidak pernah ada dan hanya ada dalam dongeng, adalah Pulau Neraka….”

“Bukan dongeng. Akulah gadis Pulau Neraka.” Ouw Soan Cu lalu menceritakan dengan singkat keadaan Pulau Neraka, juga tentang ayahnya yang minggat dari pulau ketika ibunya tewas melahirkan dia. “Ah, kasihan sekali engkau, Soan Cu.” “Ayahku yang patut dikasihani.”
“Tidak! Ayahmu telah melakukan hal yang amat keliru. Perbuatannya lari dari Pulau Neraka itu jelas membayangkan betapa ayahmu hanyalah mengingat akan dirinya sendiri saja.”

“Kwee Lun! Apa yang kau katakan ini? Kau berani menghina nama ayah di depanku?” Soan Cu melotot marah.

“Maaf, Soan Cu. Aku sama sekali tidak menghina siapa pun. Aku hanya bicara berdasarkan kenyataan. Ibumu meninggal dunia ketika melahirkanmu, apakah beliau itu salah? Engkau sendiri yang dilahirkan dan kelahiran itu mengakibatkan kematian ibumu, apakah engkau pun bersalah? Tentu saja tidak! Mendiang ibumu dan engkau sama sekali tidak bersalah dan kematian itu adalah suatu hal yang wajar, yang sudah semestinya dan lumrah karena hidup dan mati adalah hal yang biasa. Akan tetapi ayahmu. Beliau malah lari meninggalkan pulau, meninggalkan anaknya yang baru terlahir! Apakah perbuatan ini harus kubenarkan saja? Kalau aku berbuat demikian, berarti aku bukan membenarkan secara jujur, melainkan menjilat untuk menyenangkan hatimu.”

Lenyap kemarahan Soan Cu. Dia menunduk. “Kau aneh, Kwee-toako, aneh dan terlalu terus terang. Habis, andai kata benar seperti yang kau katakan bahwa Ayah terlalu mementingkan diri sendiri, apakah aku sebagai anaknya tidak boleh mencari Ayahku?”

“Bukan begitu, Soan Cu. Tentu saja engkau harus mencari Ayahmu dan aku akan membantumu sampai kita berhasil menemukan Ayahmu. Mudah-mudahan saja kita akan berhasil karena harus diakui betapa akan sukarnya mencari seorang yang tidak kita ketahui berada di mana. Akan tetapi aku percaya, kalau memang Ayahmu yang telah pergi selama belasan tahun itu berada di daratan, sebagai seorang tokoh besar, tentu ada orang kang-ouw yang mengetahuinya.”

Demikanlah, kedua orang muda ini melakukan perjalanan bersama dan makin eratlah hubungan di antara mereka. Dalam diri masing-masing mereka menemukan sahabat yang cocok kepribadian dan serasi dengan watak masing-masing, terbuka, jujur dan tidak bisa bermanis-manis muka. Soan Cu mulai tertarik sekali kepada pemuda tinggi besar yang tampan, jujur, jenaka dan biar pun kelihatan kasar, namun ternyata pandai bernyanyi dan membaca sajak-sajak indah. Di lain pihak, Kwee Lun juga tertarik sekali oleh pribadi Soan Cu, seorang gadis yang kadang-kadang kelihatan liar dan ganas, tidak pernah menyembunyikan perasaan, namun kadang-kadang begitu lembut dan penuh sifat keibuan.

Makin akrab hubungan mereka, makin terobatilah hati yang tadinya luka oleh asmara. Kwee Lun mulai dapat melupakan Swat Hong yang dikaguminya, sedangkan Soan Cu mulai dapat melupakan Sin Liong. Kwee Lun bersama Soan Cu melakukan penyelidikan sampai jauh ke barat, karena dia mendengar dari seorang tokoh kang-ouw bahwa nama Ouw Sian Kok pernah muncul di barat. Akan tetapi pada waktu mereka melakukan perjalanan ke barat untuk mencari jejak tokoh Pulau Neraka itu, keadaan sudah kacau- balau oleh perang dan arus manusia ke barat amat banyak. Kedua orang muda itu terbawa arus manusia dan mereka pun terlihat seperti dua orang yang sedang mengungsi ke barat.

Ketika mendengar bahwa rombongan Kaisar yang melarikan diri berada di depan, mendengar pula tentang kematian selir terkenal Yang Kui Hui bersama kakaknya yang menjadi perdana menteri, Kwee Lun berkata kepada temannya, “Soan Cu, mari kita melihat keadaan Kaisar. Aku tidak mencampuri urusan perang, akan tetapi siapa tahu, rombongan keluarga bangsawan tertinggi yang melarikan itu akan menarik perhatian orang-orang kang-ouw, termasuk Ayahmu.”

Seperti biasa selama melakukan perjalanan bersama, Soan Cu hanya menyetujui karena dia sendiri tidak tahu apa-apa. Hanya harapan untuk bertemu dengan ayahnya mulai menipis karena sampai saat itu belum juga ada keterangan yang jelas dan meyakinkan tentang diri ayahnya. Malam itu mereka dapat menyusul rombongan Kaisar yang berada dalam keadaan berduka setelah terjadi peristiwa pembunuhan Yang Kui Hui karena Kaisar selalu murung dan berduka sekali.

Dan seperti diceritakan di bagian depan, pada malam itu terjadi lagi peristiwa hebat yang menimpa rombongan Kaisar, ketika Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki diam-diam menyelinap ke dalam tempat penginapan dan hendak membunuh Kaisar akan tetapi salah masuk dan sebaliknya membunuh seorang pangeran muda. Ketika Soan Cu dan Kwee Lun melihat dua orang muda yang dengan gagah perkasa mengamuk dan dikepung ketat oleh para pengawal, telah menderta luka-luka namun masih terus mengamuk hebat, Kwee Lun menjadi kagum.

“Melihat gerakannya, pemuda gagah itu tentu murid Hao-san-pai. Dia adalah orang gagah, pendekar sejati, maka sepatutnya kita menolong mereka.”

Soan Cu mengangguk. “Memang tidak adil sekali dua orang dikeroyok puluhan orang prajurit seperti itu. Gadis itu pun gagah dan cantik. Mari, Toako, kita bantu mereka meloloskan diri.”

Mereka lalu melayang turun dari atas pohon dari mana mereka tadi mengintai. Tak lama kemudian gegerlah para pengeroyok ketika dua orang muda ini menyerbu dari luar kepungan dan merobohkan para pengeroyok dengan amat mudahnya. Kwee Lun tidak mencabut pedangnya, melainkan menggunakan kedua tangannya yang kuat menangkapi dan melempar-lemparkan pengawal yang menghadang di depannya, sedangkan Soan Cu mengamuk dengan cabuk berduri di tangan kiri dan sebatang pedang di tangan kanan. Gerakan dara ini bukan main ganasnya. Cambuknya meledak-ledak dan setiap ledakan disusul robohnya seorang pengeroyok, pedangnya membuat gerakan cepat sehingga tampak sinar bergulung-gulung yang merontokkan semua senjata lawan.

“Harap Ji-wi mundur dan cepat lari, biar kami menahan mereka!” kata Kwee Lun sambil menggerakkan sikunya yang kuat merobohkan seorang pengawal yang menerjangnya dari belakang.

“Terima kasih atas bantuan Ji-wi (Anda Berdua)!” seru Liem Toan Ki dengan girang karena dia khawatir sekali akan keadaan kekasihnya.

Sambil menggerakkan pedang, mereka lalu mundur dan membuka jalan darah, merobohkan mereka yang berani menghadang. Karena kini para pengawal itu dikacaukan oleh Kwee Lun dan Soan Cu, tidak sukar bagi Swi Nio dan Toan Ki untuk meloloskan diri dari kepungan yang sudah terpecah belah itu. Setelah melihat dua orang itu menghilang, Kwee Lun juga mengajak Soan Cu meninggalkan gelanggang pertempuran dan menghilang di dalam gelap, mengejar bayangan dua orang yang mereka tolong itu. Menjelang pagi, Soan Cu dan Kwee Lun melihat dua orang yang ditolongnya tadi sedang menanti mereka di luar sebuah hutan besar.

Melihat dua orang penolong mereka, Swi Nio dan Toan Ki cepat maju dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk. “Banyak terima kasih kami haturkan atas bantuan Ji-wi yang mulia,” kata Toan Ki. “Kalau tidak mendapat bantuan Ji-wi, tentu kami berdua telah tewas di tangan para pengawal Kaisar itu.”

“Ah, di antara kita, bantu membantu merupakan hal yang sudah sewajarnya,” jawab Kwee Lun. “kami sendiri juga mengharapkan bantuan Ji-wi.”

“Bantuan apa? Kami akan bergembira sekali kalau dapat membantu Ji-wi,” seru Liem Toan Ki yang telah merasa berhutang budi.

“Kami berdua sedang mencari seorang tokoh bernama Ouw Sian Kok, tokoh dari Pulau Neraka. Barangkali Ji-wi dapat membantu kami di mana adanya Ouw-lo-cianpwe itu?”

Kaget juga Swi Nio dan Toan Ki mendengar disebutnya Pulau Neraka. Mereka saling pandang dan menggelengkan kepala. “Sayang, kami sendiri belum pernah mendengar nama Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka. Akan tetapi kami akan membantu sekuat tenaga. Di manakah adanya beliau yang terakhir kalinya, dan apakah Ji-wi sudah mendapatkan jejaknya?”

“Itulah sukarnya. Kami tidak tahu beliau berada di mana, maka mengharapkan keterangan dari orang- orang kang-ouw.”

“Kalau begitu, mari Ji-wi ikut dengan kami ke timur. Saya kira, mencari seorang tokoh besar di dunia kang- ouw akan bisa kita dapatkan keterangan selengkapnya di sekitar kota raja. Apa lagi sekarang, setelah perjuangan An Lu Shan Tai-ciangkun berhasil, tentu banyak tokoh kang-ouw muncul di kota raja dan kita dapat bertanya-tanya kepada mereka.”

“Akan tetapi kabarnya di sana terjadi perang, bahkan banyak orang mengungsi ke Secuan.”

Toan Ki tersenyum. “Jangan khawatir, kami berdua adalah orang-orang dalam! Kami berdua bekerja untuk An-tai-ciangkun, maka kami mempunyai banyak kenalan di sana. Sekarang Tiang-an telah diduduki, dan agaknya keadaan tentu telah aman kembali.”

Mereka bercakap-cakap dan terdapatlah kecocokan di antara mereka. Juga Soan Cu menjadi akrab dengan Swi Nio. Gadis Pulau Neraka yang masih hijau ini senang sekali mendengar penuturan Swi Nio yang sudah berpengalaman, sebaliknya Swi Nio juga kagum terhadap dara cantik yang ternyata adalah seorang dari Pulau Neraka yang hanya dikenal dalam dongeng, kagum menyaksikan kehebatan ilmu kepandaian Soan Cu tadi dan juga ngeri menyaksikan senjata-senjata yang ampuh dan ganas itu. Berangkatlah mereka berempat kembali ke timur menuju ke Tiang-an, kota raja pertama yang telah terjatuh ke tangan An Lu Shan.

Setelah berhasil menduduki Lok-yang melalui pertempuran yang seru, An Lu Shan memimpin pasukan intinya menuju ke Tiang-an. Kembali dia harus menghadapi perlawanan gigih di Lembah Tung Kuan, akan tetapi setelah lembah ini didudukinya, pasukan-pasukannya terus menekan dan bergerak menuju ke Tiang- an. Demikianlah, Tiang-an, ibu kota yang megah itu, diserbu dan didudukinya dengan amat mudah, hampir tidak ada perlawanan sama sekali.

Hal ini adalah karena banyak kaki tangan dan mata-matanya yang dipimpin oleh Ouwyang Cin Cu dan The Kwat Lin, telah lebih dulu melakukan kekacauan-kekacauan sehingga melemahkan pertahanan. Apa lagi Kaisar juga telah melarikan diri dan meninggalkan kota raja Tiang-an, hal ini membuat para pasukan penjaga menjadi kehilangan semangat dan sebagian besar di antara mereka menyatakan takluk tanpa melalui peperangan yang lama, ada pula yang melarikan diri menyusul rombongan Kaisar ke barat.

Seperti biasa terjadi di waktu perang, dari jaman dahulu sebelum sejarah tercatat sampai sekarang, akibat- akibat yang mengerikan terjadi dan menimpa diri pihak yang kalah perang. Demikian pula nasib para bangsawan di kota raja yang tidak sempat melarikan diri. Banyak orang dibunuh hanya oleh tudingan jari tangan orang lain yang memfitnahnya, mengatakan bahwa orang itu adalah mata-mata pemerintah. Mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dan anggota-anggota pasukan pemberontak yang menang perang itu berpesta pora mengangkuti harta benda dan wanita dari pihak yang kalah.

Jerit tangis wanita-wanita yang dipaksa dan diperkosa, membumbung tinggi ke angkasa, bercampur baur dengan sorak dan tawa kemenangan. Dan An Lu Shan, seorang yang ahli dalam hal memimpin pasukan, sengaja membiarkan saja hal itu terjadi agar darah yang bergolak di dada para anak buahnya dapat diredakan. Beberapa hari kemudian, setelah anak buahnya sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya mengganggu wanita dan merebutkan harta benda yang ditinggal lari, barulah muncul perintah yang melarang perbuatan seperti itu.

Namun An Lu Shan juga tidak melupakan janji-janjinya kepada para pembantunya yang telah berjasa. Dengan royal dia lalu membagi-bagikan pangkat, gedung bekas tempat tinggal para bangsawan yang melarikan diri atau terbunuh, membagi-bagikan harta benda dan para puteri cantik yang menjadi tawanan. Maka selama beberapa bulan lamanya berpesta poralah para kaki tangan An Lu Shan yang menerima hadiah-hadiah itu. Tentu saja An Lu Shan lebih lagi memperhatikan para pembantu yang tangguh dan yang masih diharapkan bantuan mereka. Kepada mereka ini dia memberi hadiah yang lebih besar lagi.

Dia tidak mengingkari janjinya terhadap para pembantu yang berjasa besar seperti The Kwat Lin, bekas Ratu Pulau Es itu. Maka setelah Tiang-an diduduki, putera The Kwat Lin yang bernama Han Bu Ong lalu diberi anugerah pangkat pangeran! The Kwat Lin sendiri diangkat menjadi seorang panglima pengawal, sedangkan Ouwyang Cin Cu diangkat menjadi koksu (guru penasehat negara). Dapat dibayangkan betapa girangnya hati The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai, puteranya telah menjadi pangeran dan kalau dia pandai mengatur kelak siapa tahu terbuka kesempatan bagi para puteranya untuk menjadi Kaisar! Tidaklah mengherankan apa yang terkandung dalam hati The Kwat Lin sebagai cita-cita ini.

Sudah lazim bagi kita manusia di dunia ini untuk selalu menjadi hamba dari cita-cita kita sendiri. Seluruh kehidupan ini seolah-olah dikuasai dan diatur oleh cita-cita kita masing-masing. Kita tenggelam dalam khayal dan cita-cita, tidak tahu betapa cita-cita amatlah merusak hidup kita. Cita-cita membuat pandang mata kita selalu memandang jauh ke depan penuh harapan untuk mencapai sesuatu yang kita cita-citakan. Pandang mata yang selalu ditujukan ke masa depan yang belum ada, tangan yang dijangkaukan ke depan untuk selalu mengejar apa yang belum kita miliki, membuat kita hidup seperti dalam bayangan.

Kita tidak mungkin dapat menikmati hidup, padahal hidup adalah saat demi saat, sekarang ini, bukan masa depan yang merupakan bayangan khayal, bukan pula masa lalu yang sudah mati. Sekali kita menghambakan diri kepada cita-cita, selama hidup kita akan terbelenggu oleh cita-cita karena tidak ada cita-cita yang dapat terpenuhi sampai selengkapnya, dan kita terseret ke dalam lingkaran setan yang tak berkeputusan. Mendapat satu ingin dua, memperoleh dua mengejar tiga dan selanjutnya, itulah cita-cita!

Semua itu akan kita kejar terus sampai kematian merenggut kehidupan kita, bahkan di ambang kubur sekali pun di waktu mendekati kematian, kita masih terus di cengkeram cita-cita, yaitu cita-cita untuk masa depan sesudah mati! Betapa mungkin kita dapat menikmati hidup ini kalau mata kita selalu memandang masa datang yang belum ada? Sebaliknya, orang yang bebas dari cita-cita, bebas dari masa lalu dan masa depan, dapat menghayati hidup ini saat demi saat!

Demikian pula dengan The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai dengan diangkatnya puteranya menjadi pangeran, akan tetapi sudah habis di situ sajakah cita-citanya? Sama sekali belum! jauh dari-pada cukup atau habis! Bahkan cita-cita barunya yang lebih hebat baru saja dia mulai, yaitu cita-cita melihat puteranya menjadi kaisar! Karena cita-cita ini, maka keadaannya pada saat itu tidak terasa membahagiakan, bahkan terasa amat kurang. Hanya pangeran! Hanya panglima pengawal! Jauh dibandingkan dengan puteranya menjadi kaisar dan dia menjadi ibu suri!

Banyak orang membantah, mengatakan bahwa cita-cita mendatangkan kemajuan, tanpa cita-cita kita tidak akan maju. Apakah cita-cita itu? Apakah kemajuan itu? Cita-cita adalah keinginan akan sesuatu yang belum terdapat oleh kita. Dan keinginan seperti ini merupakan dorongan nafsu yang tak mengenal kenyang, makin dituruti makin lapar dan haus, menghendaki yang lebih. Dan akhirnya akan sukar dibedakan lagi dengan ketamakan, kerakusan yang mendatangkan pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan.

Dan apakah kemajuan itu? Sudah menjadi pendapat umum bahwa kemajuan adalah keduniawian, harta benda, kedudukan, nama besar. Apakah ‘kemajuan’ seperti ini mendatangkan kebahagiaan? Hanya mereka yang telah memiliki nama terkenal saja yang mampu menjawab, dan jawabannya pasti TIDAK! Bahkan sebaliknya, makin banyak kedudukan atau nama besar, makin ketat kita melekat kepada duniawi, makin banyak pula kesengsaraan hidup yang kita derita berupa kekecewaan, pertentangan dan kekhawatiran. Karena yang sudah pasti saja, hanya mereka yang masih memiliki lahir batin yang akan kehilangan! Kehilangan berarti kekecewaan, kedukaan sedangkan sebelum terjadi kehilangan, kita digerogoti kekhawatiran.

Akan tetapi pada waktu itu tidak nampak seorang pun, karena pada waktu itu rakyat penghuni ibu kota sedang dicengkeram ketakutan hebat. Seperti biasa setelah perang berakhir, rakyat yang menjadi sasaran mereka yang memperoleh kemenangan. Para anggota pasukan baru berkeliaran keluar masuk perkampungan, keluar masuk rumah orang seperti rumahnya sendiri, bahkan tidak jarang terjadi mereka memasuki kamar tidur orang seperti memasuki kamar tidur sendiri sambil menyeret nyonya rumah yang masih muda atau anak gadis mereka! Seperti para atasannya yang mengadakan pesta besar-besaran, kaum rendahan juga berpesta dengan gayanya tersendiri. Seperti biasanya pula, penduduk hanya pandai menangis dan mengeluh mengadu kepada Thian sebagai hiburan satu-satunya.

Menjelang tengah malam, pesta masih amat ramai. Ouwyang Cin Cu sebagai seorang yang berkedudukan tinggi sekali sekarang, seorang koksu, datang juga hanya sekedar memberi selamat dan tidak tinggal lama. Akan tetapi para pengawal baru, tentu saja mereka yang berpangkat perwira ke atas, masih berpesta pora karena memang The Kwat Lin ingin mengambil hati para rekannya ini yang kelak dia harapkan bantuan mereka. Bahkan ketika para tamu orang penting sudah meninggalkan tempat pesta dalam keadaan setengah mabuk dan tempat itu mulai sepi, The Kwat Lin masih menahan para pembesar pengawal yang jumlahnya belasan orang itu untuk diajak berunding mengenai tugas mereka yang baru sebagai pengawal- pengawal istana, bahkan mereka merupakan dewan pimpinannya.

Lewat tengah malam, para tamu sudah pulang dan yang tinggal hanyalah empat belas orang pimpinan pengawal yang kini dijamu dan diajak berunding di ruangan dalam, ada pun ruangan luar tempat pesta mulai dibersih-bersihkan oleh sejumlah pelayan yang kelihatan lelah dan mengantuk. Pada saat itulah berkelebat bayangan tiga orang. Para pelayan yang membersihkan tempat bekas pesta itu hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu kelihatan dua orang wanita cantik dan seorang laki-laki gagah sudah berdiri dengan sikap angker!

Tentu saja para pelayan terkejut sekali dan mengira bahwa orang-orang aneh yang bergerak amat cepatnya ini tentulah sahabat majikan mereka yang juga terkenal lihai bukan main. Maka seorang di antara mereka menyambut sambil menjura dan berkata, “Sam-wi yang terhormat agak terlambat karena pesta telah bubar.”

“Kami tidak ingin pesta,” jawab wanita yang setengah tua dengan sikap keren. “Kami ingin berjumpa dengan majikan kalian.”

Melihat sikap yang keren penuh wibawa ini, para pelayan menjadi gentar dan dua orang di antara mereka cepat memasuki ruangan dalam di mana The Kwat Lin sedang mengadakan perundingan dengan rekan- rekannya.

Diam-diam wanita itu, Liu Bwee, memberi isyarat dengan matanya kepada Swat Hong, puterinya. Swat Hong mengangguk dan dengan gerakan yang amat cepat dara ini sudah meloncat dan menyelinap lenyap dari situ, sedangkan ibunya dan Ouw Sian Kok sudah menerjang ke dalam ruangan ketika melihat pelayan tadi pergi melapor. Baru saja dua orang pelayan itu memasuki ruangan dalam dan belum sempat mengeluarkan kata-kata, pintu telah terbuka lebar dan Liu Bwee bersama Ouw Sian Kok telah menerjang ke dalam.

“Heiii! Siapa…?!” bentakan The Kwat Lin terhenti dan wajahnya berubah pucat ketika dia melihat munculnya wanita yang tentu saja amat dikenalnya itu.

Dia menjadi pucat ketakutan karena mengira bahwa bekas suaminya, Han Ti Ong Raja Pulau Es yang amat ditakutinya itu muncul. Akan tetapi ketika melihat bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee itu bukanlah Han Ti Ong, hatinya menjadi lega dan dengan tabah dia meloncat ke depan. Dua kali dia menendang, membuat dua orang pelayannya terlempar ke luar ruangan, kemudian menghadapi Liu Bwee sambil tersenyum mengejek. “Aih, kiranya wanita buangan yang datang mengacau dan mengantarkan nyawa!” bentaknya.

“Perempuan hina yang berhati iblis! Engkau telah menerima budi kebaikan dari suamiku, mengangkatmu dari lembah kehinaan ke tempat mulia, malah membalasnya dengan khianat! Engkau dan anak harammu itu harus mampus di tanganku!”

“Mulut busuk!” The Kwat Lin balas memaki dan sekali tanganya bergerak, tampak sinar merah dari Pedang Ang-bwe-kiam di tangan kanannya, kemudian tanpa menanti lagi, sinar merah itu sudah meluncur ke depan menyerang Liu Bwee.

“Cringgg…!!” bunga api berpijar dan The Kwat Lin mundur dua langkah sambil memandang Ouw Sian Kok yang telah menangkis pedangnya dengan sebatang pedang di tangan, tangkisan yang membuat lengannya tergetar, tanda bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee ini memiliki kepandaian tinggi pula.

“Siapa engkau?!” bentaknya, sementara para rekannya, empat belas orang perwira dan panglima pengawal, telah mencabut senjata masing-masing dan mengurung, menanti saat bantuan mereka diperlukan oleh The Kwat Lin.

Ouw Sian Kok yang mengerti bahwa dia bersama Liu Bwee dan Han Swat Hong telah memasuki goa harimau dan berada dalam ancaman bahaya besar, sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada Swat Hong yang oleh ibunya ditugaskan menyelinap ke dalam istana untuk mencari dan merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es. Hanya dengan jalan demikian saja kiranya pusaka-pusaka itu dapat dirampas kembali. Dia tertawa dan mengelus jenggotnya, sedangkan Liu Bwee siap dan berdiri saling membelakangi punggung dengan Ouw Sian Kok, maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan dan karenanya harus dapat saling melindungi.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo