July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 20)

 

Tanpa disadarinya sendiri, Kiam-mo Cai-li menghentikan gerakannya, memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata penuh cahaya kagum. Otomatis hatinya tergerak melihat pemuda yang luar biasa ini, pemuda yang wajahnya mengeluarkan cahaya lembut, sedikit pun tidak membayangkan kekerasan dan yang memiliki sepasang mata yang aneh dan indah.

“Hemmm, bocah kurang ajar! Engkau masih ingat bahwa aku adalah Subo-mu (Ibu Gurumu)!?” bentak The Kwat Lin dengan suaranya menyindir untuk menutupi guncangan hatinya.

“Subo adalah isteri Suhu, mana teecu berani kurang ajar? Kedatangan teecu bersama Sumoi adalah untuk memenuhi pesan Suhu.”

Kembali hati The Kwat Lin terguncang penuh rasa takut dan ngeri, takut kalau-kalau suaminya yang dia tahu amat sakti itu muncul di situ. Akan tetapi mendengar bahwa Sin Liong datang memenuhi pesan suaminya, hatinya lega karena hal itu berarti bahwa suaminya tidak ikut datang!

“Hemm, pesan apakah dari Suhumu?”

Sin Liong yang memang berwatak polos dan tidak suka menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya, berkata lantang, “Subo, Suhu minta agar supaya semua pusaka Pulau Es yang Subo bawa pergi, diserahkan kembali kepada teecu untuk teecu kembalikan ke Pulau Es.”

Mendengar permintaan ini, tanpa menjawab lagi The Kwat Lin lalu menggerakkan pedangnya dan mengirim serangan langsung yang amat dahsyat. Gerakannya memang cekatan sekali. Pedangnya hanya tampak sebagai sinar merah yang meluncur seperti panah api menuju ke arah tubuh Sin Liong. Pemuda ini kembali mencelat ke belakang berjungkir balik dan berdiri dengan tenang.

“Subo harap dengarkan permintaan teecu. Pusaka-pusaka itu tidak boleh di bawa keluar dari Pulau Es. Teecu tidak suka melawan Subo, akan tetapi kalau Subo tidak mengembalikan pusaka-pusaka itu, terpaksa teecu….”

“Heiihhh, mampuslah!” bentak The Kwat Lin dan tubuhnya sudah melayang ke depan dengan cepat seperti seekor burung garuda terbang menyambar, didahului oleh sinar merah pedang Ang-bwe-kiam di tangannya.

Terpaksa Sin Liong mengelak sambil membalas dengan totokan tangan kirinya menuju ke pergelangan tangan yang memegang pedang. Namun bekas ibu gurunya itu dengan cepat telah menarik kembali pedangnya dan melanjutkan serangannya secara bertubi-tubi dengan jurus-jurus pilihan dari Ngo-heng Kiam-sut.

Ilmu pedang yang dimainkan oleh The Kwat Lin ini hebat bukan main karena diperkuat dengan latihan- latihannya di Pulau Es di bawah bimbingan suaminya, Han Ti Ong yang sakti. Juga berkat latihan sinkang- nya di pulau dingin itu, tenaga yang menggerakkan pedang itu pun amat luar biasa sehingga Ang-bwe- kiam menyambar-nyambar dengan hawa dingin yang menyusup tulang lawannya biar pun tubuh belum sampai tercium pedang.

Tubuh Sin Liong lenyap dan yang tampak hanya bayangannya saja berkelebatan di antara dua sinar pedang yang bergulung-gulung mengurung dirinya. Pemuda itu terpaksa mengerahkan seluruh keringanan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana-sini, kemudian mempercepat lagi gerakannya ketika Kiam-mo Cai-li sudah menerjang juga dengan kemarahan meluap karena kejatuhannya tadi dianggapnya amat memalukan. Tiga orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, ketiganya memegang senjata- senjata pusaka ampuh, mengeroyok Sin Liong dengan mati-matian!

Bukan main hebatnya pertandingan mati-matian itu! Sekali ini, baru sekali inilah, Sin Liong benar-benar diuji semua hasil jerih payahnya mempelajari ilmu silat tinggi di Pulau Es. Diuji hasil warisan hampir seluruh ilmu kepandaian Raja Pulau Es Han Ti Ong yang telah dikuasainya secara matang. Dengan tangan kosong saja dia menghadapi serbuan maut yang dilancarkan secara bertubi-tubi oleh tiga orang lawan yang sakti itu.

Dengan tingkat kepandaian Sin Liong yang sudah luar biasa tingginya, sukar lagi diukur sampai di mana tingkatnya, dengan mudah dia dapat mengikuti semua gerakan tiga orang lawannya, dan karena itu dia dapat menghindarkan diri dari semua serangan. Dengan ilmunya mengenal semua dasar gerakan ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab kuno Inti Sari Gerakan Silat, sekali pandang saja dia dapat mengetahui perkembangan gerakan lawan dan bahkan dengan mudah dapat menirunya.

Akan tetapi ada dua hal penting yang membuat dia repot juga menghadapi pengeroyokan tiga orang lihai itu. Pertama, harus diakui bahwa biar pun tingkat ilmu silatnya lebih tinggi dan dia memiliki dasar lebih kuat dan lebih bersih sehingga sinkang-nya kuat sekali, namun dia kalah matang dalam latihan. Usianya masih terlalu muda. Dia belum mengalami banyak pertandingan, apa lagi melawan orang-orang yang ahli, tidak seperti tiga orang pengeroyoknya yang telah mempunyai pengalaman banyak sekali dalam pertandingan silat.

Hal kedua merupakan kenyataan yang paling hebat. Sin Liong memiliki dasar watak yang halus budi dan penuh belas kasihan. Wataknya ini membuat dia tidak tega menjatuhkan pukulan maut, apa lagi membunuh lawannya. Andai kata dia tidak memiliki dasar watak seperti ini, dengan kepandaiannya yang hebat, tentu dia akan mampu membunuh mereka seorang demi seorang. Tadi pun, kalau dia menghendaki, tentu Kiam-mo Cai-li sudah dapat dia robohkan untuk selamanya.

Kini menghadapi tiga orang lawan yang mengeroyoknya dan yang berusaha sungguh-sungguh untuk membunuhnya, Sin Liong menjadi repot juga. Apa lagi dia hanya mengelak, menangkis, dan kadang- kadang membalas serangan dengan gerakan yang diperlambat dan diperlunak karena takut kalau-kalau salah tangan membunuh orang. Dengan demikian, dia lebih banyak diserang dari-pada balas menyerang.

Seratus jurus telah lewat, dan pemuda yang luar biasa ini belum juga dapat dikalahkan oleh para pengeroyoknya. Hal ini membuat mereka bertiga menjadi penasaran, marah dan malu sekali. Biar pun di tempat itu tidak ada orang lain kecuali para anak buah mereka yang kini mulai bermunculan dan mengurung tempat itu, orang-orang katai dan juga para anak buah Rawa Bangkai, namun tiga orang itu tentu saja merasa malu bahwa mereka bertiga maju bersama dengan senjata lengkap sampai seratus jurus tidak mampu membekuk atau menewaskan seorang pemuda yang bertangan kosong!

The Kwat Lin selama ini merasa bahwa dia tidak menemukan tandingan. Biar pun tahu betapa lihainya murid bekas suaminya ini, namun dia telah dibantu oleh dua orang pandai dan belum juga dapat menang, maka dia merasa penasaran sekali. Kiam-mo Cai-li yang selama ini terkenal sebagai datuk kaum sesat yang lihai, selama hidupnya baru sekali ini dia mengeroyok seorang pemuda dengan dua orang teman yang kepandaiannya lebih tinggi dari dia sendiri, maka dia pun penasaran. Terutama sekali Ouwyang Cin Cu. Sebelum ini sukar membayangkan bahwa dia, yang memiliki ilmu-ilmu luar biasa, akan mengeroyok seorang pemuda seperti itu. Hal ini benar-benar menyakitkan hati dan menghancurkan kebanggaan hati mereka akan ilmu kepandaian mereka masing-masing yang sudah terkenal di dunia kang-ouw.

“Pemuda setan, mampuslah!!” Ouwyang Cin Cu berteriak keras.

Pedang birunya untuk ke sekian kalinya menyambar ganas ke arah leher Sin Liong, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut. Pada saat itu, Sin Liong baru saja menyingkirkan pedang di tangan The Kwat Lin yang menyambar kakinya dengan cara menendang pergelangan tangan bekas ibu gurunya itu sehingga The Kwat Lin terpaksa menarik kembali pedangnya dan meloncat ke samping.

“Hiaaattttt!!”

Kiam-mo Cai-li yang sudah memuncak kemarahannya itu pun membarengi serangan Ouwyang Cin Cu dari belakang. Kukunya mencengkeram ke arah punggung Sin Liong, sedangkan pedang payungnya berputar- putar mengancam tengkuk. Dalam detik berbahaya itu Sin Liong maklum akan datangnya ancaman maut dari depan dan belakang. Tiba-tiba dia berteriak, tubuhnya melesat ke atas dan tak dapat dicegah lagi, pedang payung bertemu dengan pedang biru.

“Cringgg…!!”

Pada saat itulah Sin Liong yang mencelat ke atas itu bergerak cepat bukan main. Tubuhnya sudah berjungkir balik, menukik turun dan kedua tangannya menyambar seperti sepasang garuda.

“Plak! Plak!”

Ouwyang Cin Cu dan Kiam-mo Cai-li mengeluh. Kakek itu terhuyung dan memuntahkan darah segar, sedangkan Kiam-mo Cai-li terguling-guling, kemudian meloncat berdiri dengan muka pucat. Baju di pundak ke dua orang sakti ini robek terkena tamparan tangan Sin Liong!

“Orang muda, lihat ini…!!” tiba-tiba Ouwyang Cin Cu berseru aneh sekali.

Pedang birunya diputar-putar sehingga merupakan sinar biru bergulung-gulung di depannya. Sin Liong mengira bahwa kakek itu akan menyerangnya atau akan menggunakan senjata rahasia, maka dia memandang penuh perhatian. Terkejutlah dia ketika sekali memandang, berarti selanjutnya menuruti kata- kata kakek itu. Dia merasa betapa pandang matanya sukar dialihkan lagi dari gulungan sinar biru itu!

“Orang muda, engkau telah lelah, mengasolah… duduklah kau…!” kembali suara kakek itu mendengung dengan aneh dan mendatangkan pengaruh yang ajaib.

Sin Liong menggoyang-goyang kepalanya, berusaha mengusir pengaruh yang memaksanya untuk duduk itu. Seketika dia merasa tubuhnya lelah bukan main. Dia maklum bahwa kakek itu kembali menggunakan ilmu hitamnya. Kesadaran ini mendatangkan kekuatan kepada dirinya. Dia mengerahkan sinkang-nya untuk menolak pengaruh itu sehingga tubuhnya kadang-kadang diserang kelelahan, kemudian lenyap lagi, datang lagi, seolah-olah terjadi ‘pertandingan’ yang tidak tampak. Akan tetapi, karena terlalu mencurahkan perhatiannya kepada kakek yang menyerangnya dengan sihir, dan menggunakan sinkang-nya untuk melawan pengaruh aneh itu, perhatian Sin Liong terhadap dua orang lawan lainnya menjadi berkurang banyak.

Dua orang wanita itu tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Melihat betapa pemuda itu kelihatan bengong dan menghentikan gerakannya, Kiam-mo Cai-li cepat menyerang, akan tetapi dia didahului oleh The Kwat Lin yang sudah menusukkan Ang-bwe-kiam ke arah lambung Sin Liong, disusul oleh tusukan pedang payung dan cengkeraman kuku tangan kiri Kiam-mo Cai-li, kemudian disusul oleh hantaman tangan kiri The Kwat Lin yang mengandung im-kang amat dahsyatnya.

Ketika merasa adanya angin yang menyambar-nyambar menyerangnya, Sin Liong berusaha mengelak. Dengan kedua tangannya yang melakukan gerakan membalik, dia dapat memukul tangan Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin yang memegang pedang. Gerakannya ini hebat bukan main sehingga kedua wanita itu memekik dan pedang mereka terlepas dari pegangan! Akan tetapi kuku jari tangan Kiam-mo Cai-li yang beracun itu berhasil mencengkeram pundak dekat tengkuk Sin Liong dan pada saat yang hampir sama, tangan kiri The Kwat Lin menghantam punggungnya dengan hebat.

“Plakk! Desss…!!” dan tubuh Sin Liong terguling.

Cengkeraman kuku tangan Kiam-mo Cai-li belum tentu akan dapat merobohkan karena secara otomatis hawa sinkang di tubuhnya melindungi tempat yang dicengkeram. Akan tetapi hantaman tangan kiri The Kwat Lin yang mengandung tenaga im-kang yang dingin itu terlalu keras bagi Sin Liong yang pada saat itu sedang mencurahkan tenaga melawan sihir Ouwyang Cin Cu. Dia masih terlindung oleh sinkang-nya yang otomatis, sehingga tidak mengalami luka dalam yang terlalu parah, akan tetapi guncangan yang hebat akibat pukulan itu membuat dia pingsan!

Melihat pemuda yang membuatnya malu dan penasaran itu sudah roboh pingsan, dengan gemasnya ouwyang Cin Cu meloncat dekat, mengangkat tangan kirinya menghantam ke arah ubun-ubun kepala Sin Liong untuk membunuhnya.

“Wuuuttt… plakkk!”

“Ehhh?! Kiam-mo Cai-li, mengapa kau menangkis dan melindunginya?” Ouwyang Cin Cu membentak kaget dan melotot memandang kepada kekasih barunya ini.

Kiam-mo Cai-li tersenyum penuh arti. Matanya yang indah itu memandang dengan lirikan yang memikat. “Sayang sekali kalau dibunuh begitu saja!” katanya sambil mengusap dagu Sin Liong yang masih pingsan. “Dia adalah sin-tong. Kalau aku bisa mendapatkan dia, manfaatnya melebihi seratus orang jejaka lain…”

“Huh, kau memang cabul!” Ouwyang Cin Cu mencela, akan tetapi tidak berani turun tangan lagi.

“Tidak, dia harus dibunuh! Kalau dibiarkan hidup berbahaya sekali, akan tetapi juga jangan sampai ada bekasnya, jangan sampai ada yang tahu bahwa kita yang membunuhnya. Kita lempar dia di sumur ular, juga gadis itu. Mereka berdua harus mati, akan tetapi tidak boleh meninggalkan jejak!”

“Ah, ya… gadis itu…!” Ouwyang Cin Cu yang teringat kepada gadis berpunggung putih mulus itu segera berlari ke dalam goa terowongan untuk mencari Swat Hong. Tentu saja dia tidak akan membunuh gadis itu begitu saja sebelum melakukan kecabulan yang sama seperti yang berada di dalam benak Kiam-mo Cai-li! Akan tetapi tak lama kemudian dia kembali dengan muka berubah. “Dia… dia tidak ada!”

“Apa…?!” The Kwat Lin berseru dengan muka pucat.

“Kalau begitu… lekas kita lemparkan dia ini ke sumur ular, kemudian cari gadis itu sampai dapat…!”

The Kwat Lin sendiri menggotong tubuh Sin Liong yang masih pingsan itu dan beramai mereka menuju ke sebuah sumur di dalam goa terowongan. Sumur ini lebarnya hanya satu setengah meter, namun dalamnya sukar diukur karena amat gelap. Dari atas orang dapat menangkap suara mendesis-desis karena sumur itu penuh dengan ular-ular berbisa. Hawa yang memuakkan dapat tercium dari atas, bau yang harum aneh bercampur amis.

Tanpa ragu-ragu lagi The Kwat Lin melemparkan tubuh yang pingsan itu ke dalam sumur. Mereka semua menanti, ingin mendengar keluhan atau rintihan atau pekik ketakutan dari pemuda yang diberikan kepada ular-ular berbisa itu. Namun tidak terdengar sesuatu dan mereka menganggap bahwa tentu pemuda yang pingsan itu tidak sadar kembali dan terus mati karena dikeroyok ular dalam keadaan pingsan….

“Cepat kerahkan orang untuk mencari gadis itu!” The Kwat Lin berkata.

Sibuklah mereka semua mencari Swat Hong. Namun sampai habis seluruh lorong terowongan itu dijelajahi dan sampai jauh di luar, di sekitar Rawa Bangkai, tetap saja tidak tampak bayangan gadis itu yang seolah- olah lenyap ditelan bumi!

“Heran sekali, tadi ketika ditinggalkan pemuda itu, dia masih pingsan!” kata Ouwyang Cin Cu ketika mereka bertiga kembali berkumpul di dalam goa di depan sumur ular.

“Kenapa kau pucat sekali? Gadis itu tidak terlalu berbahaya kukira. Andai kata dia berhasil melarikan diri, biarkan dia datang. Pemuda itu yang lebih hebat pun dapat kita basmi,” kata Kiam-mo Cai-li ketika melihat betapa The Kwat Lin nampak ketakutan dan mukanya pucat. “Aihhh… kau tidak tahu…! Lenyapnya Swat Hong begitu aneh…, aku takut kalau-kalau….” “Mengapa? Apa yang perlu ditakuti?” Ouwyang Cin Cu juga berkata.

“Kalau ayahnya yang datang, kita pasti celaka. Baru muridnya saja sudah demikian sukar dilawan, apa lagi gurunya…”

“Bekas suamimu?” Kiam-mo Cai-li bertanya.

“Raja Pulau Es?” Ouwyang Cin Cu juga berkata sambil menengok ke kanan-kiri, karena gentar juga mendengar tentang guru pemuda luar biasa tadi.

“Kalau begitu, sebaiknya kita cepat mengunjungi utara dan menghadap An Tai-goanswe,” kata Kiam-mo Cai-li.

“Benar, kalau terlalu lama, tentu aku akan ditegur. Beliau telah menanti-nanti!” kata pula Ouwyang Cin Cu karena kini hatinya gentar sekali seperti halnya Kiam-mo Cai-li.

“Memang sebaiknya kita pergi hari ini juga. Akan tetapi hatiku belum puas kalau belum yakin benar akan kematian Sin Liong. Pemuda itu terlalu berbahaya dan lihai, siapa tahu dia masih belum mati di dalam sana.”

“Aiihhh, siapa dapat hidup di lempar ke dalam sumur yang penuh ular berbisa itu?” Ouwyang Cin Cu berkata sambil bergidik karena dia merasa ngeri juga memikirkan hal itu.

Kiam-mo Cai-li tertawa. “The-lihiap, mengapa khawatir? Aku sebagai pemilik tempat ini mengerti betul bahwa sumur itu merupakan sumur maut. Entah sudah berapa banyak… eh, orang-orang yang aku lempar ke situ dan tidak pernah ada yang dapat hidup kembali. Sumur itu dahulunya memang merupakan sarang ular-ular berbisa, kemudian kutambah lagi dengan ratusan ekor ular berbisa lain. Kurasa jangankan baru pemuda itu, biar dewa sekali pun kalau terjatuh ke dalam sumur itu tentu mampus!”

Memang apa yang diceritakan oleh wanita ini benar. Sudah banyak pria yang dia lempar ke dalam sumur itu, yaitu para pria yang diculiknya dan menjadi korban nafsu birahinya. Setelah dia merasa bosan, para korban itu dilempar ke dalam sumur menjadi mangsa ular-ular berbisa.

“Betapa pun juga, aku masih belum yakin benar, Cai-li.”

“Kalau begitu, kita runtuhkan saja goa ini agar sumur tertutup dan tidak ada jalan keluar lagi baginya walau pun dia benar masih hidup.” Ouwyang Cin Cu memberikan usulnya.

“Memang baik sekali begitu,” kata The Kwat Lin.

Kiam-mo Cai-li setuju dan mengerahkan semua anak buah Rawa Bangkai, juga orang-orang katai untuk meruntuhkan goa itu sehingga sumur ular itu tertutup oleh batu-batu besar dan tidak ada jalan keluar dari tempat yang terpendam batu-batu besar itu. Kemudian bergegas tiga orang ini mengajak anak buah mereka meninggalkan Rawa Bangkai secara diam-diam dan terpencar. Mereka melakukan perjalanan ke utara untuk membantu pergerakan Jenderal An Lu Shan yang sudah mulai mempersiapkan kekuatannya untuk menyerbu kota raja.

Ke manakah perginya Swat Hong? Apakah dia berhasil siuman dan sempat melarikan diri? Tidak mungkin! Andai kata dia siuman dan melihat Sin Liong dikeroyok, dia pasti akan membantu suheng-nya itu, kalau perlu sampai mati bersama. Bukan watak Swat Hong untuk melarikan diri, menyelamatkan dirinya sendiri, apa lagi suheng-nya terancam bahaya. Tidak, ketika pertolongan itu tiba, dara ini masih dalam keadaan pingsan.

Ketika Sin Liong lari mengejar Ouwyang Cin Cu, muncullah seorang kakek tua renta yang bercaping lebar, berdiri memandang Han Swat Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia menghampiri dara itu, membetulkan bajunya yang lepas, lalu memanggul tubuh gadis yang pingsan itu keluar dari dalam goa dengan gerakan yang cepat sekali. Setelah berada di dalam sebuah hutan yang jauh di luar daerah Rawa Bangkai, kakek itu berhenti, menurunkan Swat Hong dan mengurut tengkuk gadis itu beberapa kali.

Swat Hong membuka matanya dan melihat seorang kakek tua renta, akan tetapi hampir dia jatuh lagi karena tubuhnya masih lemah.

“Duduklah dulu, engkau masih pening dan lemah,” suara ini sedemikan halusnya sehingga mengelus hati Swat Hong yang menjadi tenang dan sabar kembali.

Swat Hong duduk, memejamkan mata sebentar mengusir kepeningannya, lalu mengangkat muka memandang kakek yang berdiri di depannya sambil tersenyum itu. “Kau… kau siapakah…?” “Anak baik, apakah benar namamu Han Swat Hong?” Swat Hong terbelalak lalu mengangguk.

“Apakah kau datang dari Pulau Es?”

Kembali Swat Hong terkejut dan terheran, akan tetapi untuk kedua kalinya dia mengangguk. “Kau… kau siapakah…?”

“Hemmm… kalau begitu Ibumu adalah Liu Bwee dan ayahmu Han Ti Ong?”

Swat Hong tak dapat menahan keheranan hatinya. “Bagaimana engkau bisa tahu?”

Kakek itu tersenyum, memperlihatkan mulut yang sudah tak bergigi lagi. “Mengapa tidak tahu kalau Han Ti Ong itu adalah cucuku?”

“Ouhhh…!” Swat Hong terbelalak sebentar, kemudian cepat menjatuhkan diri berlutut. Kiranya dia berhadapan dengan Kongcouw-nya (kakek buyut) yang pernah dia dengar telah meninggalkan Pulau Es sebagai seorang pertapa! Kini mengertilah dia bahwa kakek buyutnya ini telah menolongnya.

“Ha-ha-ha, kebetulan saja aku mendengar pemuda itu memanggil-manggilmu sehingga aku tertarik akan She Han yang diteriakkannya. Melihat engkau berada dalam bahaya, aku segera membawamu ke luar dari goa ke tempat ini.”

“Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan Kongcouw… akan tetapi, di mana Suheng?” “Hemm, pemuda yang lihai itu, dia Suheng-mu?”
“Benar, Kongcouw, dia adalah murid Ayah.”

“Ahh, keadaannya terlalu berbahaya. Kau beristirahatlah di sini, pulihkan tenagamu, aku akan kembali ke sana dan melihat keadaannya.”

Swat Hong mengangguk dan kakek itu berkelebat pergi dari situ. Swat Hong merasa kagum sekali. Kakek buyutnya itu sudah tua sekali, tentu lebih dari seratus tahun usianya, namun gerakannya masih demikian ringan dan cepat. Hatinya merasa lega melihat kakeknya itu pergi untuk menolong Sin Liong, maka dia lalu duduk bersila dan mengatur pernapasannya untuk memulihkan tenaganya.

Samar-samar teringatlah dia akan peristiwa di dalam goa dan mukanya terasa panas sekali. Teringatlah dia betapa dia telah menjadi seperti gila di dalam goa itu, ketika suheng-nya mengobatinya dan mengusir hawa beracun dari tubuhnya. Kalau dia membayangkan peristiwa itu… betapa dia tanpa malu-malu memeluk suheng-nya, menciumnya… ah, dia bisa mati karena malu!

Namun semua itu hanya teringat seperti dalam mimpi saja, bayang-bayang suram dan dia sendiri masih tidak percaya apakah peristiwa itu benar-benar terjadi, ataukah hanya dalam mimpi belaka? Kalau sungguh terjadi betapa malunya! Dan agaknya tidak mungkin dia berani melakukan hal itu, sungguh pun di sudut hatinya memang terdapat suatu kerinduan yang hebat terhadap suheng-nya. Akan tetapi siapa tahu, di dalam goa yang aneh itu. Aihh, kalau benar-benar telah terjadi hal itu , betapa dia dapat bertemu muka dengan suheng-nya?

Karena pikiran dan hatinya tak pernah berhenti bekerja dan melamun, waktu berlalu dengan amat cepatnya sampai tidak terasa oleh Swat Hong bahwa kakek buyutnya telah pergi setengah hari lamanya! Baru dia sadar kembali dan teringat akan kakek ini setelah kakek itu datang kembali ke situ, tahu-tahu sudah duduk di dekatnya, menghapus keringat dari dahi yang berkeriput itu.

“Aihh…!” Kakek itu menarik napas panjang sambil memandang Swat Hong yang sudah membuka mata dan memandang kakek itu dengan penuh pertanyaan.

“Bagaimana, Kongcouw? Mana Suheng?”

Kembali kakek itu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. “Mereka sungguh jahat, Suheng-mu biar lihai tidak dapat melawan kelicikan dan kecurangan mereka. Suheng-mu tertangkap dan… terbunuh….”

Sepasang mata itu terbelalak, mukanya pucat sekali. Samar-samar dari sepasang bibir itu keluar suara seperti menggumam, “Terbunuh? Suheng… terbunuh…?”

“Ya, dilempar ke dalam sumur ular….”

“Aahhh…!” Swat Hong menjadi lemas dan tentu akan roboh kalau tidak di sambar oleh kakek itu. Dara itu pingsan dengan muka pucat sekali.

Kakek itu merebahkannya dan mengerutkan alisnya, merasa kasihan sekali karena dia dapat menyelami perasaan gadis ini, cucu buyutnya yang agaknya mencinta Suheng-nya. Setelah siuman dari pingsannya, Swat Hong menangis dengan sedihnya.

Kakek itu membiarkan dia menangis beberapa lamanya, kemudian berkata dengan suara halus dan penuh pengertian, “Han Swat Hong, aku tidak menyalahkan engkau berduka dan menangis, karena kematian Suheng-mu itu amat menyedihkan. Akan tetapi, kita harus berani membuka mata melihat dan menghadapi kenyataan seperti apa adanya. Suheng-mu tewas, hal ini adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diubah oleh siapa dan oleh apa pun juga. Sudah demikianlah jadinya, tidak akan berubah biar pun kita akan berduka sampai menangis air mata darah sekali pun. Karena itu lihatlah kenyataan ini dan bersikaplah tenang dan tabah.”

Swat Hong menyusut matanya. “Dia… dia adalah satu-satunya orang… setelah aku kehilangan Ibu dan Ayah….” Swat Hong sukar membendung membanjirnya air mata. Akan tetapi perlahan-lahan, mendengarkan nasehat kakek buyutnya, dapat juga dia menekan kedukaannya dan menghentikan tangisnya. “Kongcouw, apakah yang terjadi dengan Suheng? Harap ceritakan dengan sejelasnya.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Aku terlambat. Ketika tiba di sana, tempat itu sudah kosong. The Kwat Lin dan teman-temannya sudah melarikan diri dari Rawa Bangkai. Aku menangkap seorang katai yang masih tinggal di sana dan dari orang inilah aku mendengar betapa Suheng-mu dikeroyok dan akhirnya dapat ditangkap dan dilempar ke dalam sumur ular.”

“Ketika dia dilempar belum mati, apakah dia tidak dapat ditolong?” Swat Hong bertanya penuh harapan.

Kakek itu, yang selama dalam perantauannya setelah meninggalkan Pulau Es, menyebut diri sendiri Han Lojin (Kakek Han), menggeleng kepala. “Goa terowongan itu diruntuhkan oleh Kwat Lin, sumur ular telah tertutup batu-batu besar. Suheng-mu tidak mungkin dapat ditolong lagi karena sumur itu penuh ular berbisa dan Suheng-mu pingsan ketika dilempar ke situ.”

Sepasang mata yang merah karena tangis itu mengeluarkan sinar berapi dan kedua tangan itu dikepal, “Aku harus bunuh mereka! Aku harus balaskan kematian Suheng! Kalau tidak, hidupku tidak ada artinya lagi. Kongcouw, sekarang juga aku akan cari mereka!” Dia sudah bangkit berdiri dan hendak pergi dari situ.

Akan tetapi kakek itu memegang lengannya dan berkata dengan suara penuh wibawa, “Tahan dulu!”

Swat Hong memandang kakek itu dengan alis berkerut. “Mengapa engkau menghalangi niatku membalas dendam?”

“Melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa tanpa pertimbangan lebih dulu adalah perbuatan bodoh dan sikap yang ceroboh. Karena tidak mengukur kekuatan sendiri, Suheng-mu telah membayar dengan nyawanya. Apakah perbuatan bodoh seperti itu hendak kau contoh pula? Aku mendengar keterangan dari si katai itu bahwa mereka itu bersama anak buahnya pergi ke utara, ke Telaga Utara untuk menggabungkan diri dengan pemberontak An Lu Shan. Kalau engkau menyusul ke utara, mana mungkin engkau seorang diri akan menghadapi mereka yang mempunyai pasukan ratusan ribu orang? Apakah kau hanya akan mengantar nyawa dengan sia-sia belaka di sana?”

“Aku tidak takut, Kongcouw!”

Kakek itu tersenyum. “Tentu saja tidak takut, akan tetapi bodoh kalau sampai begitu. Kau ini akan membalaskan kematian Suheng-mu ataukah akan membunuh diri?”

Swat Hong sadar dan terkejut juga karena baru sekarang terbuka matanya bahwa dia hanya menuruti hati duka dan sakit. Dia menunduk dan berkata dengan lirih, “Aku harus membalaskan kematian Suheng, dan juga aku harus merampas kembali semua pusaka Pulau Es yang dilarikan The Kwat Lin untuk memenuhi pesan terakhir Ayahku.”

“Baiklah, akan tetapi engkau tidak mungkin bisa melaksanakan tugas berat itu seorang diri saja. Marilah pergi bersamaku, aku sudah hafal akan keadaan di Telaga Utara dan biarlah aku yang akan menyelidiki di sana nanti.”

Swat Hong tentu merasa girang sekali memperoleh bantuan kakeknya yang berilmu tinggi dan dia tidak membantah. Maka berangkatlah ke dua orang ini ke utara. Setelah tiba di dekat Telaga Utara, Han Lojin mulai menyelidiki sebagai sebagai seorang tukang pancing yang bercaping lebar. Swat Hong dia suruh menanti di dalam kuil tua di dalam hutan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Han Lojin kemudian bertemu dengan cucu mantunya, Liu Bwee, dan Ouw Sian Kok yang dikeroyok oleh orang-orangnya An Lu Shan dan menyelamatkan kedua orang itu. Dia tidak berhasil bertemu dengan The Kwat Lin karena wanita ini, bersama dengan Kiam-mo Cai-li dan juga Ouwyang Cin Cu, telah memperoleh tugas lebih dulu dari An Lu Shan dan telah berangkat ke kota raja untuk menyelundup dan membantu gerakan dari dalam secara rahasia. Oleh karena inilah, maka ketika menyelidiki ke Telaga Utara, Han Lojin tidak pernah mellihat The Kwat Lin dan akhirnya dia malah bertemu dan menyelamatkan cucu mantunya. Demikianlah, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok ikut bersama kakek sakti itu memasuki hutan.

Ketika tiba di kuil, kakek itu berkata kepada Liu Bwee, “Engkau akan bertemu dengan seseorang yang tidak kausangka-sangka, maka bersiaplah engkau menghadapi peristiwa ini.”

Tentu saja Liu Bwee menjadi terheran-heran dan tidak mengerti.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara orang, “Kongcouw, kau sudah pulang?” dan munculah Swat Hong!

Tiba-tiba Swat Hong yang berlari ke luar itu berhenti dan seperti telah berubah menjadi patung. Ibu dan anak itu saling berpandangan, keduanya tidak bergerak seperti terkena pesona.

“Ibuuuu….!!”

“Swat Hong… Hong-ji, anakku…!”

Keduanya berlari ke depan, kedua lengan terbuka, air mata bercucuran di wajah yang berseri penuh kebahagiaan. Keduanya bertemu, saling rangkul dan saling dekap sambil menangis! Pertemuan yang sama sekali tidak pernah mereka sangka-sangka, pertemuan yang mengundang keharuan hati, mendatangkan segala bayangan duka yang dipendam di lubuk hati.

Ouw Sian Kok terbatuk-batuk menahan haru. Teringat dia akan puterinya sendiri, namun diam-diam dia merasa girang bahwa Liu Bwee dapat berjumpa dengan anaknya. Dia saling pandang dengan Han Lojin dan tersenyum sambil mengangguk-angguk, lalu pergi menjauh untuk memberi kesempatan kepada ibu dan anak itu saling bertemu dan bicara. “Ibu…, Ayah… Pulau Es….” Liu Bwee mengangguk dan mengusap rambut puterinya. “Aku sudah tahu….” “…dan Suheng….”

Liu Bwee memandang puterinya dan mengangkat dagu Swat Hong. “Apa maksudmu? Suheng-mu kenapa?”

Melihat ibunya belum tahu, Swat Hong terisak lagi menangis.

“Hong-ji, tenanglah. Mari kita bicara yang baik. Mengapa Suheng-mu? Apa saja yang telah terjadi sejak kita berpisah?”

“Suheng… Suheng telah tewas, Ibu….”

Liu Bwee terkejut bukan main. Ia terbelalak dan memandang pucat kepada puterinya, akan tetapi melihat puterinya menangis penuh duka, dia mendekapnya dan menghibur, “Mati hidup bukanlah urusan kita, Hong-ji. Tenanglah dan ceritakan semua pengalamanmu kepada Ibumu.”

Swat Hong lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak ibunya meninggalkan Pulau Es, menceritakan dengan lengkap namun singkat dan didengarkan oleh ibunya penuh perhatian.

Ketika puterinya itu bercerita tentang Soan Cu, Liu Bwee menengok dan menggapai ke arah Ouw Sian Kok sambil berseru, “Ouw-twako, ke sinilah. Anakku telah bertemu dengan puterimu, Ouw Soan Cu!”

Mendengar seruan ini, Ouw Sian Kok melompat bangun dan lari menghampiri, berkata kepada Swat Hong, “Aihhh, Han-siocia (Nona Han), benarkah kau telah bertemu dengan anakku?” suaranya agak gemetar karena keharuan hatinya mendengar tentang puterinya.

Swat Hong memandang laki-laki setengah tua yang gagah itu, lalu mengangguk. Kiranya ibunya telah bertemu dan bersahabat dengan ayah Soan Cu, pikirnya! Dia telah mendengar akan ayah Soan Cu yang lari meninggalkan Pulau Neraka semenjak isterinya meninggal dunia. Jadi inikah orangnya? Dia lalu melanjutkan penuturannya yang amat menarik hati itu sampai pada peristiwa penyerbuannya bersama suheng-nya ke Rawa Bangkai sehingga suheng-nya tewas dan dia tertolong oleh kakek buyutnya.

Hening sekali setelah Swat Hong mengakhiri ceritera, hanya isak tertahan gadis itu masih terdengar.

“Hemm, sungguh jahat sekali The Kwat Lin itu!” tiba-tiba Ouw Sian Kok berkata sambil mengepal tinjunya. “Han-siocia, aku Ouw Sian Kok bersumpah untuk membantumu menghadapi iblis betina itu!”

Swat Hong mengangkat mukanya memandang. “Terima kasih, Paman Ouw….”

“Akan tetapi, aku harus menemui anakku lebih dulu. Di manakah engkau bertemu dengan dia untuk terakhir kalinya?”

“Dia kami tinggalkan di Puncak Awan Merah di pegunungan Tai-hang-san, di tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Kalau begitu, biar aku menyusul ke sana!” kata Ouw Sian Kok dengan gembira. “Setelah aku bertemu dengan dia, barulah kita beramai mencari iblis betina itu untuk sama-sama menghadapinya dan menghancurkannya! Bagaimana pendapat Lo-cianpwe?” dia berpaling kepada kakek Han yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.

Juga Swat Hong dan Liu Bwee menoleh dan memandang kakek itu, karena betapa pun juga, mereka mengharapkan bantuan kakek ini, juga keputusannya.

Sampai lama Han Lojin diam saja, merenung dan memandang jauh, kemudian menghela napas panjang. “Aihh, tak kusangka akan begini jadinya…! Tadinya, ingin sekali aku melihat kalian berdua melupakan semua hal yang telah lalu, mulai hidup baru dengan aman dan tenteram, menjauhi urusan kekerasan dunia yang hanya mendatangkan dendam dan bunuh-bunuhan antara sesama manusia, sambil mendidik Swat Hong pula. Akan tetapi melihat gejalanya… mengingat pula hancurnya Pulau Es… dan memang sudah seharusnya kalau pusaka-pusaka itu dikembalikan ke tempat asalnya…. Ahhh, aku si tua bangka yang sudah lama mencuci tangan dari urusan duniawi, sekarang terseret pula! Betapa menyedihkan!”

“Lo-cianpwe, kalau kita masih hidup di dunia ramai, betapa mungkin kita menghindarkan diri untuk mencampuri urusan dunia ramai? Yang penting kita selalu berada di pihak yang benar.” Ouw Sian Kok membantah.

Kakek itu menggeleng-geleng kepala. “Engkau belum mengerti, apa sih artinya pihak yang benar? Apa sih artinya kebenaran? Kebenaran yang dapat disebut dengan mulut, bukankah kebenaran adanya! Ahhh, sudahlah, tanpa adanya kesadaran, mana mungkin dapat mengerti? Engkau hendak mencari puterimu, memang sudah sepatutnya dan semestinya sejak dahulu kau lakukan hal itu. Sekarang aku akan menyertai Liu Bwee dan puterinya ini ke kota raja….”

“Ke kota raja?” Ouw Sian Kok berseru heran.

“Ya, karena The Kwat Lin telah menerima tugas dari An Lu Shan untuk menyusun kekuatan di sana menanti saat pemberontakan tiba. Dan kita tidak perlu terseret oleh pemberontakan, melainkan hanya hendak mencari The Kwat Lin dan minta kembali pusaka-pusaka Pulau Es.”

“Dan membunuh mereka untuk membalaskan kematian suheng!” Swat Hong berseru penuh semangat.

Han Lojin tidak menjawab seruan Swat Hong itu, melainkan menoleh kepada Ouw Sian Kok sambil berkata, “Ouw Sian Kok, kalau kau hendak mencari puterimu, pergilah dan kelak kau boleh menyusul kami di kota raja….”

“Tidak, Lo-cianpwe. Setelah saya mendengar bahwa iblis betina itu berada di kota raja, saya juga harus ikut ke kota raja untuk menghadapinya!”

Liu Bwee memandang kepada tokoh Pulau Neraka ini dan kebetulan sekali Ouw Sian Kok juga memandangnya, maka pertemuan dua pasang sinar mata itu sudah cukup bagi mereka untuk mengetahui isi hati masing-masing. Liu Bwee maklum bahwa pria yang gagah itu ingin membantunya karena mengkhawatirkan dirinya, sebaliknya Ouw Sian Kok juga maklum bahwa bekas ratu Pulau Es itu girang sekali mendengar bahwa dia akan membantu. Maka tanpa banyak cakap lagi berangkatlah empat orang ini menuju ke kota raja.

Pada waktu itu suasana di seluruh negeri telah menjadi panas. Kekacauan terjadi di mana-mana. Tersiar berita bahwa pemberontakan An Lu Shan mulai bergerak dari utara. Tersiar pula berita bahwa di tapal batas utara telah di mulai perang saudara antara pasukan pemberontak dan pasukan pemerintah yang tidak kuat membendung datangnya pasukan pemberontak yang seperti air bah membanjir ke selatan. Berita ini sudah cukup untuk membangkitkan semangat golongan sesat untuk bangkit dan mempergunakan kesempatan selagi keadaan negara kacau, rakyat bingung dan pasukan-pasukan ditarik untuk diperbantukan menghadapi pemberontak sehingga keamanan tidak terjamin lagi.

Memang perang telah dimulai. An Lu Shan telah membuka kedoknya dan dengan terang-terangan mulai menggerakkan pasukannya. Pada waktu itu, pasukan pemerintah yang terkuat adalah pasukan penjaga tapal batas utara yang dianggap merupakan bagian atau daerah yang paling penting untuk dijaga dengan kuat, maka otomatis pasukan yang terkuat berada di bawah pimpinan Jenderal ini.

Pada jaman itu, kerajaan Tang dipimpin oleh kaisar Beng Ong yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, seorang kaisar yang sayangnya memiliki kelemahan, yaitu menjadi hamba dari nafsu birahi sehingga dia seperti boneka lilin di dalam tangan halus selir Yang Kui Hui. Pada waktu itu Kerajaan Tang mempunyai dua buah kota raja atau ibu kota. Yang pertama, di mana Kaisar Beng Ong duduk bertahta dan menjadi pusat pemerintahannya, adalah ibu kota Tiang-an. Ada pun ibu kota yang ke dua adalah Lok-yang.

Selain mempunyai bala tentara yang besar jumlahnya dan pasukan-pasukan pilihan, An Lu Shan juga dibantu oleh banyak orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Hal ini adalah karena banyak orang-orang kang-ouw merasa tidak suka kepada Kaisar tua yang berada di bawah telapak kaki selir cantik itu, juga banyak pembesar yang diam-diam merasa dendam kepada Yang Kui Hui karena selir ini dengan mudah begitu saja mempengaruhi Kaisar untuk memecat pembesar-pembesar tinggi dan menggantikan kedudukan mereka dengan kedudukan lebih rendah. Semua ini untuk menarik keluarga-keluarganya agar dapat menduduki tempat-tempat penting!

Gerakan pemberontakan An Lu Shan dimulai dari utara di dekat Peking, terus membanjir ke selatan. Dengan mudahnya dia melumpuhkan semua perlawanan yang dilakukan oleh pasukan-pasukan yang masih setia kepada Kaisar, bahkan pasukan yang takluk segera menyerah dan menjadi pasukan pembantunya. Dengan mudah saja pasukan-pasukan pemberontak menyeberangi Sungai Kuning dan menyerbu Lok-yang, ibu kota ke dua dari kerajaan Tang.

Komandan pasukan yang mempertahankan Lok-yang, ibu kota ke dua dari Kerajaan Tang ini adalah seorang panglima yang setia. Dengan gigih dia memimpin pasukannya mempertahankan Lok-yang mati- matian. Akan tetapi, yang amat melemahkan pertahanan itu adalah gangguan-gangguan dari dalam kota itu sendiri yang dilakukan oleh kaki tangan An Lu Shan. Pada saat Lok-yang diserbu inilah rombongan Han Lojin berada di Lok-yang, ketika mereka berusaha mencari The Kwat Lin yang dikabarkan membantu An Lu Shan dengan mempersiapkan diri di ibu kota itu.

Han Lojin, Ouw Sian Kok, Liu Bwee dan Swat Hong terkurung di dalam kota Lok-yang ketika ibu kota ke dua ini diserbu pemberontak. Mereka menyaksikan sendiri betapa Panglima Coa Cun dengan gagah berani mempertahankan ibu kota ke dua itu dengan pasukannya sehingga tidaklah mudah bagi pasukan pemberontak untuk menguasai kota raja ini. Han Lojin dan rombongan yang memang bermaksud untuk mencari The Kwat Lin, sambil memasang mata ikut hilir mudik bersama para penghuni yang ketakutan.

Ketika terjadi pembakaran di pusat pasar dan serangan-serangan gelap yang ditujukan kepada komandan- komandan pasukan oleh serombongan orang yang gerakannya amat lihai, Han Lojin dan rombongannya cepat mendatangi tempat kekacauan ini. Akhirnya setelah lari ke sana-sini setiap mendengar ada kekacauan yang dilakukan oleh segerombolan mata-mata musuh, sampailah mereka di taman belakang istana pangeran muda yang berkuasa di Lok-yang. Di sinilah mereka melihat gerombolan pengacau itu. Serta merta Han-Lojin, Ouw Sian Kok, Liu Bwee Dan Swat Hong lalu menyerbu dan mencari The Kwat Lin.

Akan tetapi mereka berhadapan dengan belasan orang pengacau yang dipimpin oleh Kiam-mo Cai-li! Gerombolan itu sedang berusaha untuk membakar istana pangeran dengan panah-panah api, dan para pengawal istana itu sudah dibuat tewas malang melintang oleh mereka.

“Dialah Kiam-mo Cai-li, pemiliki istana Rawa Bangkai,” kata Han Lojin sambil menuding ke arah seorang wanita cantik yang pakaiannya mewah.

Tampak Kiam-mo Cai-li sedang memimpin belasan orang pembantunya itu untuk menghujankan anak panah ke arah istana. Sebagian dari istana itu mulai terbakar.

Mendengar bahwa wanita itu adalah seorang di antara pembunuh-pembunuh suheng-nya, Swat Hong sudah tidak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dia meloncat keluar dari tempat sembunyinya dengan pedang di tangan. Serta merta ia menyerang sambil membentak, “Iblis betina Kiam-mo Cai-li, bersiaplah engkau menebus nyawa Suheng Kwa Sin Liong!!”

“Singgg… syuuutttt… aiihhh….!” Kiam-mo Cai-li cepat mengelak dengan meloncat ke belakang. Rambutnya yang panjang seperti hidup saja bergerak menyambar ke arah pergelangan tangan Swat Hong.

Namun dara ini cukup cekatan. Melihat sinar hitam menyambar, dia sudah membalikkan pedangnya membacok sehingga putuslah segumpal rambut, membuat Kiam-mo Cai-li berteriak kaget dan marah. Ketika dia memandang dan melihat bahwa yang muncul ini adalah gadis teman Sin Liong, gadis dari Pulau Es seperti yang di ceritakan oleh The Kwat Lin, dia terkejut bukan main. Apa lagi melihat Han Lojin, Ouw Sian Kok, dan Liu Bwee yang jelas membayangkan kelihaian.

“Panah roboh mereka!” tiba-tiba dia berteriak sambil melompat jauh ke belakang untuk memberi kesempatan kepada dua belas orang pembantunya menyerang empat orang ini.

Dua belas orang itu adalah anak buah Kiam-Mo Cai-li dari Rawa Bangkai yang telah dididik khusus menggunakan anak panah berapi. Ketika mereka mendengar aba-aba ini dan mengenal wajah Swat Hong sebagai gadis yang pernah menyerbu Rawa Bangkai, cepat mereka membidikan anak panah mereka. Tampaklah sinar-sinar berapi menyambar kepada empat orang itu.

“Wir-wir-wir…!!” Mengerikan sekali datangnya anak-anak panah yang ujungnya bernyala itu. Dapat dibayangkan betapa mengerikan kalau anak panah yang bernyala itu mengenai tubuh!

Namun, empat orang itu bukanlah orang-orang sembarangan. Dengan amat mudahnya Han Lojin dan Ouw Sian Kok mengebutkan ujung baju meruntuhkan semua anak panah yang menyambar ke arah mereka. Sedangkan Liu Bwee dan Swat Hong juga sudah meruntuhkan semua anak panah yang menyambar ke arah mereka dengan pedang sehingga anak-anak panah itu patah-patah.

“Iblis betina !” Swat Hong meloncat maju, pedangnya diputar cepat dan dia sudah menerjang Kiam-mo Cai- li dengan dahsyat.

“Tranggg! Trik-trikkk!” pedang payung di tangan Kiam-mo Cai-li sudah menangkis dan kuku-kuku jarinya yang panjang mengeluarkan bunyi berjentrik saat dia mencengkeram ke arah Swat Hong yang dapat dielakkan oleh dara ini.

“Kalian hadapi mereka. Wanita itu lihai dan berbahaya, aku harus menjaga Swat Hong,” kata Han Lojin kepada Ouw Sian Kok dan Liu Bwee.

Liu Bwee mengangguk. Hatinya lega karena dengan bantuan kakek suaminya itu, dia tidak mengkhawatirkan keselamatan puterinya. Maka bersama Ouw Sian Kok dia lalu mengamuk dan celakalah dua belas orang anak buah Rawa Bangkai itu. Mana mungkin mereka dapat melawan dua orang lihai dari Pulau Es dan Pulau Neraka ini? Biar pun mereka semua telah menggunakan pedang dan golok menyerang dan mengeroyok, namun seorang demi seorang roboh dan tidak dapat bangkit kembali.

Ada pun pertandingan antara Swat Hong melawan Kiam-mo Cai-li amat seru dan menegangkan. Biar pun pada dasarnya Swat Hong memiliki ilmu silat tinggi yang lebih murni dan kuat, namun menghadapi seorang datuk kaum sesat seperti Kiam-mo Cai-li yang amat cerdik dan banyak pengalaman, beberapa kali hampir saja dia terkena cakaran kuku panjang beracun itu. Tiga macam senjata Kiam-mo Cai-li amat membingungkan Swat Hong. Dengan gerakan pedang yang cepat, Swat Hong dapat membendung pedang payung dan kuku-kuku jari tangan kiri iblis betina itu, bahkan dia mulai mendesak dengan permainan pedangnya yang cepat dan mengandung tenaga dingin itu.

“Mampuslah!” Swat Hong membentak dan pedangnya menusuk.

“Tranggg…! Brettt…!!” pedang Swat Hong bertemu dengan pedang payung dan berhasil menembus dan merobek kain payung, akan tetapi pedangnya itu tercepit di antara batang-batang payung sehingga kedua pedang bertemu dan saling melekat.

“Hi-hi-hik, kaulah yang mampus!” Kiam-mo Cai-li berseru, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah dada Swat Hong. Kalau sampai kena dicengkeram kuku-kuku beracun itu, dada Swat Hong tentu akan berbahaya sekali.

“Plak!” Swat Hong sudah siap dan tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan dari bawah. Kini terjadilah adu tenaga karena kedua tangan mereka sudah tidak bebas lagi.

Pada saat itu rambut panjang Kiam-mo Cai-li bergerak menyambar ketika dia menggerakkan kepalanya sambil tertawa. Bagaikan ular hidup saja, gumpalan rambut itu menyambar dengan totokan maut! Swat Hong terkejut bukan main, namun hatinya menjadi lega kembali melihat berkelebatnya bayangan kakek buyutnya.

“Plakkk!!” rambut itu disambar oleh tangan Han Lojin.

“Aihhh… lepaskan…!” Kiam-mo Cai-li menjerit karena betapa pun dia berusaha menarik rambutnya, tetap saja tidak dapat terlepas bahkan semakin erat.

“Swat Hong, lepaskan dia, mundurlah!” Han Lojin berseru.

Swat Hong tidak berani membantah, lalu melepaskan pegangan tangannya dan menarik pedangnya melompat mundur.

“Kiam-mo Cai-li, aku hanya ingin bertanya kepadamu!” Han Lojin berkata, suaranya halus.

Melihat kakek ini yang dia tahu amat lihai, Kiam-mo Cai-li yang cerdik lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu, menunduk dan berkata, “Lo-cianpwe, maafkan saya, saya tidak berani melawan Lo- cianpwe yang sakti. Pertanyaan apakah yang hendak Lo-cianpwe (Kakek Gagah Perkasa) ajukan kepada saya?”

Swat Hong mengerutkan alisnya melihat sikap Kiam-mo Cai-li yang begitu ketakutan.

Akan tetapi Han Lojin hanya mengelus jenggotnya. “Hemmm, semua orang pernah melakukan penyelewengan dalam hidupnya. Penyesalan yang disertai kesadaran tinggi mendatangkan pengertian sehingga si penyeleweng akan merasa jijik untuk melanjutkan penyelewengannya. Kiam-mo Cai-li, sayang kalau kepandaian seperti yang kau miliki itu dipergunakan untuk kejahatan. Aku hendak bertanya, di mana adanya The Kwat Lin?”

“The Kwat Lin? Ohh, dia berada di… neraka bersamamu!” Tiba-tiba wanita itu dari bawah menyerang dengan payung dan kuku beracunnya.

“Ceppp… bresss…!”

“Keparat….” Swat Hong menjerit dan pedangnya bergerak secepat kilat sebelum Kiam-mo Cai-li sempat mencabut kembali pedangnya dari dada kakek itu.

“Preppp…! Aihhhh…!!” darah muncrat-muncrat dari lambung Kiam-mo Cai-li dan dada Han Lojin.

Kakek itu masih berdiri tegak sambil tersenyum ketika pedang dicabut ke luar dadanya. Kiam-mo Cai-li mengeluarkan teriakan seperti binatang buas ketika dia menubruk Swat Hong dan menyerangnya, namun Swat Hong sudah mengelak dan dari samping kembali pedangnya menyambar.

“Crokkk!!” tubuh Kiam-mo Cai-li yang sudah terhuyung itu tidak dapat mengelak lagi. Lehernya tertusuk pedang dan dia roboh terguling, berkelojotan dengan mata mendelik memandang ke arah Swat Hong.

“Lo-cianpwe…!” Ouw Sian Kok yang bersama Liu Bwee sudah berhasil merobohkan dua belas orang itu, meloncat dan merangkul kakek itu karena kekek yang masih berdiri tegak itu mendekap dadanya yang bercucuran darah.

Kakek itu menggelengkan kepala, memandang kepada Swat Hong. “Aihhh, kau ganas sekali, Swat Hong…!”

“Kongcouw… dia jahat… patut di bunuh!” Swat Hong berkata, memandang mayat Kiam-mo Cai-li yang kini sudah tidak bergerak lagi itu.

“Hayaaaa… selamanya belum pernah dirobohkan orang, sekali ini terperdaya kelicikan seorang wanita… memang sudah semestinya begini…. kalian…. kurangilah atau lenyapkan sama sekali…. keganasan…. kekerasan, bunuh membunuh ini…. karena siapa menggunakan kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula…. nah, selamat berpisah anak-anak…..”

Tubuh yang bediri tegak itu masih berdiri, akan tetapi kalau tidak dirangkul tentu akan roboh karena pada saat itu juga Han Lojin telah mengembuskan napas terakhir. Memang luar biasa sekali kakek ini. Pedang payung yang ditusukkan secara curang oleh Kiam-mo Cai-li menembus dada dan menembus pula jantungnya, namun dia masih mampu berdiri tegak dan berkata-kata!

Liu Bwee dan Swat Hong berlutut sambil menangis. Akan tetapi Ouw Sian Kok berkata, “Harap kalian bangkit berdiri dan mari kita lekas membawa pergi jenazah Lo-cianpwe ini keluar kota.”

Liu Bwee menyusut air matanya dan menggandeng tangan Swat Hong, menarik gadis itu bangkit berdiri. “Ouw-twako benar, Hong-ji. Kita tidak mempunyai urusan apa-apa lagi di sini, sedangkan keadaan makin kacau. Tugas kita berada di ibu kota pertama, Tiang-an.”

Diingatkan bahwa The Kwat Lin berada di Tiang-an, Swat Hong memandang ibunya.

“Kami tadi telah memaksa mereka bicara, dan seorang di antara mereka itu mengaku di mana adanya The Kwat Lin. Dia berada di Tiang-an, tugasnya sama dengan Kiam-mo Cai-li yaitu mengacau kota raja di waktu pemberontak menyerbu ke sana.”

Swat Hong mengangguk, sekali lagi melirik ke arah mayat Kiam-mo Cai-li. Rasa lega dan puas menyelinap di hatinya mengingat akan kematian suheng-nya yang betapa pun juga kini sudah agak terbalas dengan matinya wanita ini. Dia kemudian mengikuti ibunya pergi dari tempat itu.

Perang, perang, perang! Selama dunia berkembang, agaknya tiada pernah hentinya terjadi perang di antara manusia. Selama sejarah berkembang, terbukti bahwa di setiap jaman manusia melakukan perang, baik dari jaman batu sampai jaman modern! Agaknya betapa pun majunya manusia dari segi lahiriah, sebaliknya dalam segi batiniah manusia bahkan makin mundur! Betapa tidak?

Di jaman dahulu, yang dikatakan perang adalah mereka yang langsung menceburkan diri dalam perang sampyuh, dan mereka ini pula yang menjadi korban, yang membunuh atau dibunuh. Makin lama, perkembangan perang menjadi makin ganas dan makin kejam, makin tidak adil dan makin menjauhi apa yang kita sebut peri-kemanusiaan. Sekarang, di jaman modern, yang langsung memegang senjata banyak selamat karena dia menguasai teknik perang, pandai menjaga diri, pandai bersembunyi. Sebaliknya, rakyat yang tidak tahu apa-apa mati konyol!

Perang, di sudut mana pun terjadinya di dunia ini, dengan kata apa pun diselimutinya, dengan kata-kata indah macam perjuangan, perang suci, perang membela negara, membela agama, membela kehormatan dan lain-lain, tetap saja perang yang berarti bunuh-bunuhan di antara manusia, membunuh hanya untuk melampiaskan dendam dan kembencian sehingga amatlah buasnya, jauh melampaui kebuasan binatang apa pun juga yang hidup di dunia ini. Kita semua bertanggung-jawab untuk ini!

Perang yang terjadi antara bangsa, antara golongan, antara kelompok, meletus karena kita! Perang antara bangsa atau negara hanya menjadi akibat dari kepentingan Si Aku, bangsaku, agamaku, kebenaranku, kehormatanku, kemerdekaanku dan sebagainya yang bersumber kepada aku. Perang antara bangsa hanya bentuk besar dari perang antara tetangga dan perang antara tetangga adalah bentuk besar dari perang antara keluarga atau perorangan dan semua ini bersumber kepada perang di dalam batin kita sendiri.

Batin kita setiap hari penuh dengan nafsu keinginan, iri hati, dendam, benci dan semua bentuk kekerasan dan kekejaman. Kalau semua itu menguasai batin kita semua, menguasai dunia, herankah kita kalau selalu terdapat permusuhan dan perang di dunia ini? Semenjak sejarah tercatat, setiap pihak yang melakukan perang tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang buruk. Sebaliknya malah, bermacam dalih diajukan menjadi semacam kedok di depan wajah perang yang dilakukannya, kedok berupa untuk membela diri, perang untuk keadilan, dan perang untuk perdamaian!

Betapa menggelikan. Perang untuk keadilan! Perang untuk perdamaian! Dengan cara membunuh-bunuhi sesama manusia. Kita selalu terjebak ke dalam perangkap penuh tipu muslihat ini yang berupa kata-kata indah. Pendapat bahwa tujuan menghalalkan cara merupakan penipuan diri sendiri dan berlawanan dengan kenyataan. Mungkinkah untuk mencapai tujuan baik menggunakan cara yang jahat? Yang penting adalah caranya, bukan tujuannya. Tujuan adalah masa depan yang belum ada, hanya merupakan akibat, sebaliknya cara adalah masa kini, saat ini, nyata!

Dengan dalih ‘menumbangkan kekuasaan lalim’ itulah An Lu Shan memimpin ratusan ribu bala tentaranya menyerbu ke selatan. Pada saat seperti itu, An Lu Shan dan semua pengikutnya menganggap bahwa mereka itu ‘berjuang’ dan mereka sama sekali tidak mau melihat bahwa kelak andai kata mereka berhasil dan memegang kekuasaan, ada pula pihak-pihak yang akan mengecapnya ‘kekuasaan lalim’ yang lain dan yang baru pula!

Di lain pihak Kaisar Han Tiong atau Beng Ong yang sudah tua itu bersama para punggawanya yang setia tentu saja melakukan perlawanan yang gigih dengan dalih ‘menghancurkan dan membasmi pemberontak’. Mereka ini lupa bahwa peristiwa pemberontakan itu sesungguhnya timbul karena ulah mereka sendiri.

Kekuatan bala tentara yang dipimpin An Lu Shan memang hebat. Dalam beberapa bulan saja, sekali menyerbu, dia telah menguasai seluruh daerah di sebelah utara Sungai Huangho. Pasukan-pasukannya akhirnya berhasil merobohkan pertahanan Lok-yang dan menduduki ibu kota ke dua itu. Kemudian An Lu Shan kembali mengumpulkan kekuatan pasukannya dan melanjutkan penyerbuannya menuju ke kota raja Tiang-an! Kematian Kiam-mo Cai-li membuat Jenderal ini menyesal, tentu saja penyesalan ini didasari bahwa dia kehilangan seorang pembantu yang boleh diandalkan!

Ketika Kaisar yang sudah tua itu mendengar betapa Lok-yang dalam beberapa hari saja terjatuh ke dalam tangan pemberontak An Lu Shan, mulailah terbuka matanya. Selama ini Kaisar tidak terlalu mengacuhkan urusan pertahanan dan sebagian besar waktunya hanya dihabiskannya di dalam kamar tidur dan di atas ranjang yang lunak hangat dan harum dari selirnya tercinta, Yang Kui Hui.

Bangkitlah semangatnya, semangat mudanya yang kini terlalu lama terpendam itu. Dia berhasil mengobarkan semangat para pasukannya yang dikumpulkannya di Ling Pao di mana Kaisar membentuk benteng pertahanan yang cukup kuat. Bahkan sekali ini dia memimpin sendiri untuk berperang menghadapi An Lu Shan dengan hati penuh kemarahan. Hati siapa tidak akan sakit kalau mengingat betapa dia telah memberi anugerah besar kepada An Lu Shan, bahkan selirnya yang tercinta telah menganggap An Lu Shan sebagai putera angkat. Dan kini jenderal itu memberontak!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo