July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 19)

 

Sin Liong yang selalu bersikap sabar dan tidak menghendaki permusuhan, biar pun dilanda kekhawatiran, masih dapat menekan perasaannya dan menjura dengan penuh hormat, “Harap Jiwi-lo-cianpwe sudi memaafkan kalau saya lancang tanpa diundang memasuki daerah kekuasaan Jiwi ini. Akan tetapi saya kehilangan Sumoi di sini dan kalau Jiwi sudi berlaku demikian baik hati untuk mengembalikan Sumoi kepada saya, saya berjanji akan meninggalkan tempat ini bersama Sumoi dan tidak akan berani mengganggu lagi.”

Dua orang kakek itu saling pandang. Mereka kemudian tertawa melihat betapa Sin Liong mengamat-amati dinding yang kini telah tertutup kembali dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa di situ ada pintu rahasianya. Kakek berjenggot yang rambutnya sudah mulai ada ubannya itu berkata, “Orang muda, kalian memusuhi The-lihiap dan bilang tidak ada permusuhan dengan kami? Ha-ha, orang muda, siapakah engkau? Dan siapa pula Sumoi-mu itu?”

“Namaku Kwa Sin Liong dan… sesungguhnya kami tidak mempunyai permusuhan dengan Cuwi di tempat ini.”

“Kalau begitu mengapa mencari The Kwat Lin Lihiap?”

“Kami mempunyai urusan pribadi dengan dia, hanya urusan yang sama sekali tidak menyangkut diri orang lain.”

Kembali dua orang kakek itu tertawa. “Ha-ha-ha, aku Ji Bhong dan semua anak buahku, kami bangsa kerdil memang tidak ada urusan denganmu, akan tetapi sekali kalian memusuhi The-lihiap, berarti kalian adalah musuh kami juga. Menyerahlah, orang muda, kalau kau tidak ingin mengalami keksengsaraan seperti Sumoi-mu.”

Sin Liong terkejut sekali, bukan hanya karena mendengar bahwa mereka ini ternyata adalah kaki tangan The Kwat Lin, terutama sekali mendengar akan sumoi-nya. “Di mana Sumoi? Apa yang kalian lakukan dengan dia?!” bentaknya.

“Ha-ha-ha, menyerahlah dan baru kita bicara!” Ji Bhong, kakek yang menjadi ketua bangsa kerdil itu menjawab.

Tentu saja Sin Liong menjadi gelisah sekali. Dia lalu menerjang maju dengan tongkat pendeknya.

“Sing… siuuut… trang-trang…!!” Dua orang kakek itu sudah menggerakkan pedang dan toya, cepat dan kuat sekali gerakan mereka.

Namun kini kedua orang itu berhadapan dengan Kwa Sin Liong, murid utama Raja Pulau Es yang telah mewarisi ilmu yang hebat-hebat. Dalam keadaan penuh kekhawatiran itu, Sin Liong sudah menggerakkan tongkat pendeknya sedemikian rupa sehingga ketika menangkis, dua orang kakek itu berteriak keras karena merasa betapa ada hawa dingin menyusup ke dalam lengan mereka melalui senjata, membuat lengan mereka seperti hampir membeku! Namun keduanya memang lihai. Cepat mereka memindahkan senjata di tangan kiri dan mengirim serangan bertubi-tubi.

Biar pun berada dalam keadaan gelisah dan marah, Sin Liong masih merasa tidak tega untuk membunuh orang. Maka dia mengeluarkan suara melengking keras, tongkatnya dibuang ke bawah dan dengan dua tangan kosong dia memapaki pedang dan toya yang menyambarnya dari kanan-kiri, lalu dengan berani dia menangkap dua senjata itu dengan kedua tangan kosong!

Dua orang kakek itu terbelalak. Kalau orang menangkap toya dengan tangan kosong hal ini masih biasa saja. Akan tetapi menangkap pedang pusaka dengan tangan telanjang? Benar-benar berani mati karena tangan yang bagaimana kuat pun tentu akan tersayat! Ji Bhong berteriak dan mengerahkan tenaga membetot kembali pedangnya untuk menyayat tangan lawan yang menggenggamnya. Akan tetapi betapa pun ia mengerahkan tenaga, pedang itu tetap tidak bergerak sedikit pun dari genggaman Sin Liong. Demikian pula kakek brewok yang membetot-betot toyanya, percuma saja.

Sin Liong kembali memekik keras, kedua tangannya bergerak sedikit dan… tubuh kedua orang kakek itu terlempar membentur dinding kanan-kiri! Hawa pukulan yang dingin dan kuat sekali keluar melalui kedua senjata itu, lalu menyerang melalui lengan mereka masing-masing dan memukul dada, membuat dada terasa sakit dan napas mereka sesak. Keduanya bersandar di dinding, terengah-engah dan terbelalak memandang pemuda luar biasa itu. Tiba-tiba mereka lenyap melalui pintu kecil yang terbuka secara aneh.

“Kalian hendak lari ke mana?” Sin Liong meloncat dan mengejar ke kiri, namun dinding itu sudah tertutup kembali dan kakek berjenggot panjang dan kakek brewok itu telah lenyap dari dinding kanan-kiri.

Sin Liong menancapkan pedang di atas lantai, lalu menggunakan toya rampasannya menghantami dinding kiri, namun hanya batu permukaan saja yang remuk, sedangkan dinding tebal itu tetap utuh. Akhirnya Sin Liong membuang toyanya, menghapus peluhnya dan mengerutkan alis. Tempat ini amat berbahaya dan sukar dilalui, bagaimana dia akan dapat menolong Swat Hong?

Teringat akan sumoi-nya ini, dia menjadi panik lagi. Andai kata sumoi-nya berada di sampingnya saat itu, tentu pemuda ini tidak menjadi bingung dan akan tetap tenang saja. Akan tetapi membayangkan betapa sumoi-nya terancam bahaya, benar-benar menggelisahkan hatinya. Dia merasa bertanggung-jawab akan keselamatan sumoi-nya, dan dia merasa seolah-olah mendengar suara ayah-bunda dara itu mencelanya, mengapa dia sampai membiarkan dara itu terancam bahaya.

Sin Liong menghampiri dinding kiri, lalu memeriksa, tangannya meraba-raba. Lebih satu jam dia menyelidiki, akhirnya secara tidak sengaja tangannya meraba sebuah di antara puluhan batu menonjol di dinding itu! Cepat dia menyambar pedang rampasannya dan sekali bergerak, tubuhnya sudah menyelinap melalui lubang rahasia itu dan… dia bingung lagi karena kiranya di sebelah sana dinding batu itu pun hanya merupakan sebuah lorong lain lagi! Dan tidak tampak jejak kekek yang menjadi ketua bangsa kerdil tadi.

Kembali dia berjalan dengan ngawur, tidak tahu akan dibawa ke mana oleh lorong yang dilaluinya ini. Entah berapa banyak lorong yang dilaluinya dan kini dia bahkan tidak tahu lagi mana jalan ke luar. Dia pun tidak ingin keluar sebelum dapat menolong Swat Hong! Dan cuaca makin gelap, dia pun teringat bahwa mungkin sekarang di ‘dunia luar’ sudah mulai senja. Bagaimana pun juga, dia tidak akan keluar sebelum menemukan Swat Hong.

Sin Liong berjalan terus, ke mana saja asal bergerak. Dia mulai memperhatikan lorong yang dilaluinya agar jangan melalui sebuah lorong untuk kedua kalinya. Keadaan makin gelap dan akhirnya dia hanya dapat melangkah maju dengan meraba-raba. Tiba-tiba tampak sinar terang di depan, menembus kegelapan yang mengerikan itu. Sin Liong melangkah maju menuju ke sinar terang tadi. Akan tetapi tiba-tiba dia menahan langkahnya. Tidak salah lagi, sinar terang itu tentulah api yang sengaja dibuat orang kerdil untuk memancing dan menjebaknya. Betapa pun juga, dia tidak takut!

Dengan hati-hati dia bergerak lagi melangkah maju menghampiri sinar yang ternyata kini tampak olehnya adalah sebatang obor yang gagangnya tertancap di dinding. Dan anehnya, kakinya yang melangkah hati- hati tidak menemui jebakan apa-apa sampai dia tiba di tempat obor itu. Apa artinya ini? Mengapa mereka memberi sebatang obor itu kepadaku? Sin Liong tidak peduli, lalu mengambil obor itu dan diam-diam berterima kasih sekali karena memang keadaan cuaca yang amat gelap itu membuat dia butuh sekali akan sebatang obor. Kini dia dapat melanjutkan usahanya mencari Swat Hong.

Selagi dia berjalan maju dengan hati-hati, dia mendengar suara mendengung dari belakang. Sin Liong cepat menoleh akan tetapi tidak melihat apa-apa. Sinar obor itu hanya mendatangkan cahaya dalam jarak terbatas sekali dan di sebelah sana kelihatan hitam pekat. Akan tetapi suara itu makin lama makin keras dan akhirnya tampaklah meluncur masuk ke dalam cahaya obor benda-benda hitam kecil yang mengeluarkan suara berdengung-dengung. Lebah! Banyak sekali lebah hitam yang datang berterbangan, seakan berlomba untuk mencapai sinar terang itu. Sinar api obor itulah yang menarik lebah-lebah itu.

Sin Liong sekarang maklum mengapa mereka memberikan sebatang obor. Tentu untuk menarik lebah- lebah itu, dan kalau lebah-lebah itu cukup berharga untuk dipancing mereka, tentu merupakan lebah berbahaya, lebah yang sengatannya mengandung bisa yang mematikan. Dia sudah tahu akan lebah-lebah beracun seperti ini. Sin Liong cepat mengambil sehelai sapu-tangan, menyelipkan pedang di pinggangnya, dan menggunakan sapu-tangan yang diputar-putar untuk mengusir lebah-lebah itu. Namun, tertarik oleh sinar api obor di antara kegelapan yang luar biasa, lebah-lebah itu seperti gila dan sama sekali tidak takut akan usiran menggunakan sapu-tangan ini. Biar pun mereka tidak dapat menyerang Sin Liong karena terhalang sapu-tangan, namun mereka tetap beterbangan di sekeliling Sin Liong, menanti saat baik untuk menyerang!

“Celaka,” pikir Sin Liong.

Tidak mungkin dia harus berdiri di situ semalaman hanya untuk berkelahi melawan lebah-lebah ini. Apa gunanya ada obor kalau hanya mendatangkan kerepotan ini? Sambil tetap melindungi tubuhnya dengan putaran sapu-tangan, Sin Liong menancapkan gagang obor pada celah-celah batu dinding, lalu pergi menjauh. Ternyata lebah-lebah itu tidak lagi mepedulikannya setelah dia tidak memegang obor. Kini binatang-binatang kecil itu beterbangan menyambar ke arah obor.

Sin Liong duduk bersandar dinding, memandang dari jauh. Dilihatnya banyak lebah yang mati karena menyerbu api, makin lama makin banyak. Hatinya tidak tega. Binatang-binatang itu tidak berdosa. Entah mengapa mereka dapat dibikin marah dan menyerbu api seperti gila itu. Dia harus menghentikan bunuh diri massal yang mengerikan itu. Diremasnya batu-batu dari dinding dan ditimpuknya ke arah obor sambil berteriak-teriak, “Aduh…! Aduh, mati aku…!”

Ini adalah siasatnya yang timbul sebelum memadamkan obor. Mereka itu sengaja memberi obor untuk memancing lebah-lebah. Baiklah, dia akan pura-pura menjadi korban sengatan lebah beracun. Kiranya hanya dengan cara ini dia akan dapat memancing orang-orang kerdil itu. Kalau mereka menggunakan siasat memancing dan menjebak, biarlah demi keselamatan Swat Hong dia pun mempergunakan siasat itu!

Semalaman Sin Liong berada di dalam gelap. Tidak ada orang datang mengintai atau menjenguknya. Ketika inilah dia pergunakan untuk beristirahat, biar pun sama sekali dia tidak dapat tidur. Mana mungkin dia tidur kalau hatinya gelisah memikirkan Swat Hong seperti itu? Betapa pun juga, dia dapat melepaskan lelah dan memulihkan tenaga, dan terbayanglah percakapan dengan Swat Hong di dalam hutan.

Dia menghela napas panjang. Biar pun di depan gadis itu dia berpura-pura tidak mengerti, sesungguhnya dia tahu belaka bahwa dara yang tadinya angkuh dan keras hati itu, kini agaknya mulai menyatakan cinta kasihnya kepadanya. Dia dapat menduga pula bahwa cinta kasih di hati gadis itu bersemi karena memperoleh pupuk cemburu, mencemburukan dia dengan Soan Cu dan Siangkoan Hui! Hal ini membuat hatinya terasa seperti ditusuk, perih dan duka. Tentu saja dia tidak mungkin mau menyakit hati Swat Hong dengan menyatakan bahwa dia tidak mencinta gadis itu, tidak mencinta seperti harapan gadis itu. Tidak mungkin dia mau melibatkan diri ke dalam cinta kasih seperti itu, yang telah begitu banyak contohnya hanya mendatangkan kesengsaraan belaka.

Lihat saja kehidupan ayah Swat Hong, Raja Han Ti Ong yang menjadi rusak dan hancur lebur karena Raja yang bijaksana dan perkasa itu takluk kepada cinta kasih birahi seperti itu. Lihat saja penghidupan ayah Soan Cu, yang menjadi gila karena kematian isterinya yang tercinta, juga merupakan cinta memiliki yang hanya akan berakhir dengan kesengsaraan. Masih banyak lagi contoh-contoh.

Cinta kasih yang terdorong oleh birahi dan kesengsaran ini pasti akan disusul dengan keinginan memiliki, menguasai dan mengikat. Pengikatan diri inilah yang akan mencelakakan, yang akan menimbulkan duka karena kehilangan, perpisahan atau kekecewaan karena cemburu dan lain-lain. Pengikatan diri kepada sesuatu memang menimbulkan kenikmatan duniawi, menimbulkan kesenangan lahir yang hanya sementara saja sifatnya, kemudian diakhiri dengan bermacam duka dan kesengsaraan.

Yang paling menimbulkan sesal dalam hati Sin Liong adalah kenyataan bahwa penolakannya terhadap cinta kasih gadis-gadis itu tentu akan mendatangkan kekecewaan kepada mereka. Namun dia pun yakin bahwa kekecewaan itu pun hanya akan sementara saja sifatnya. Kalau mereka, termasuk Swat Hong, sudah tertarik kepada seorang laki-laki lain, kekecewaan itu pun akan lenyap tanpa bekas lagi.

Cuaca tidak segelap tadi, tanda bahwa agaknya malam telah terganti pagi. Untuk melanjukan siasatnya, Sin Liong lalu merebahkan diri di bawah obor yang telah padam, rebah di antara bangkai-bangkai lebah yang hangus. Tak lama kemudian jantungnya berdebar karena telinganya yang menempel lantai mendengar suara-suara gerakan kaki. Ada orang-orang datang menghampirinya!

Tepat seperti yang diharapkannya, muncullah dua orang kakek itu bersama enam orang kerdil lain. Mereka segera menghampiri dan merubungnya, bahkan ada tangan yang menyentuh dada dan pergelangan tangannya. Cepat Sin Liong menggunakan ilmunya, menghentikan detak jantung dan pernapasannya.

“Dia telah mati…!!” terdengar suara di atasnya. Dia tidak melihat siapa yang bicara karena dia rebah miring. “Kita laporkan kepada Lihiap!” terdengar suara kekek berjenggot panjang.
Pada saat itu pula Sin Liong membalikkan tubuhnya. Tangannya menyambar dan dia telah menangkap lengan seorang kerdil, lalu menotoknya roboh. Tujuh orang kerdil yang lain terkejut sekali, berloncatan dan lenyap di balik dinding melalui pintu-pintu rahasia, meninggalkan si kerdil yang telah roboh tertotok. Memang Sin Liong hanya membutuhkan seorang saja.

Sin Liong lalu mengangkat bangun orang itu, membebaskan totokannya dan menghardik, “Hayo tunjukkan aku di mana teman wanitaku itu ditawan!”

Orang kerdil itu menjadi pucat dan menggeleng-geleng kepalanya. “Aku… aku tidak tahu….”

“Bohong! Hayo katakan, aku hanya ingin menolong dan membebaskannya. Kalau kau mengaku terus terang, aku akan membebaskanmu.”

“Aku… aku tidak berani…,” kata orang itu kemudian, suaranya mengandung rasa takut dan dia menoleh ke kanan-kiri seolah-olah takut kata-katanya terdengar oleh dinding di kanan-kirinya.

“Hemm, aku tahu. Kalau kau mengaku, engkau takut dihukum oleh atasanmu. Akan tetapi kau menunjukkan tempat itu karena kupaksa dan mereka tentu tahu akan hal itu.”

“Aku… aku takut… takut disiksa…,” orang itu berkata setengah menangis.

Sin Liong menjadi gemas. Orang yang pengecut ini memaksa dia harus mengeraskan hati. Apa boleh buat, demi keselamatan Swat Hong! Dia lalu menggunakan jarinya memijit tengkuk orang itu, memijit jalan darah sambil berkata, “Kau hanya takut kepada mereka dan tidak takut kepadaku? Nah, kau tunjukan atau kubiarkan kau tersiksa seperti ini selama hidupmu!”

Orang itu menyeringai, makin lama makin lebar. Tubuhnya mengeliat-geliat menahan rasa nyeri yang menyerang tubuhnya. Akan tetapi, rasa nyeri itu tidak dapat ditahannya lagi dan dia roboh terguling, menggeliat dan berkelojotan seperti orang sekarat, mulutnya merintih, “Bebaskan aku… atau bunuh aku saja….”

Sin Liong merasa kasihan sekali, akan tetapi dia mengeraskan hatinya. “Aku tidak akan membunuhmu dan juga tidak akan menyembuhkanmu. Kalau kau tidak mau menunjukkan tempat sahabatku itu, selama hidup kau akan menderita seperti ini!”

“Tolong… aduhhh…. Baik, kutunjukkan tempatnya… tapi… tapi bebaskan dulu aku….”

Girang bukan main rasa hati Sin Liong. Dengan beberapa totokan dia membebaskan orang itu yang segera menggeliat dan memijit-mijit dadanya, kemudian memandang kepada Sin Liong penuh rasa takut dan ngeri.

“Aku akan menunjukkan tempatnya, akan tetapi… kau harus tahu bahwa kalau gadis itu sudah mati, maka bukanlah aku pembunuhnya.”

Tentu saja kata-kata ini membuat Sin Liong terkejut bukan main. Dia tidak mau banyak bicara lagi, melainkan berkata dengan suara terengah, “Lekas… tunjukkan…!” dan dia menyambar pergelangan tangan orang itu agar jangan sampai melarikan diri melalui tempat-tempat rahasia.

Orang kerdil itu mengajak Sin Liong berlari melalui lorong-lorong. Ternyata lorong-lorong itu amat ruwet bangunannya, berbelit-belit dan banyak sekali persimpangannya.

“Pantas saja aku tidak berhasil,” pikir Sin Liong dengan rasa kagum.

Lorong rahasia ini memang amat hebat. Akhirnya setelah melalui jarak yang kurang lebih lima li jauhnya, tibalah mereka di dalam lorong yang tidak rata. Dindingnya lebar sempit, di lantainya banyak terdapat gundukan-gundukan batu pedang, serta dari atas bergantungan pula batu-batu yang runcing. Mereka berada di dalam goa-goa besar yang berbeda sekali dengan goa-goa dari mana Sin Liong dan Swat Hong masuk.

“Di mana tempatnya?” Sin Liong bertanya, suaranya gemetar karena dia merasa tegang sekali.

Benarkah bahwa Swat Hong terancam nyawanya dan mungkin sekali sudah tewas? Hampir dia memekik untuk melampiaskan kekhawatirannya. Tidak! Tidak mungkin! Tidak boleh!

“Di mana dia? Hayo katakan!” dia mengguncang tangan orang kerdil itu.

Tubuh orang itu menggigil. “Dia… di dalam goa sana itu…. Lihat, di sana ada lubang besar, bukan?” “Hayo kita ke sana!”
“Tidak… tidak, aku takut…! Mereka menjebaknya di sana. Tempat itu adalah sarang laba-laba raksasa yang mengerikan. Kurasa dia sudah tewas….”

Sin Liong tidak peduli dan menyeret orang itu menuju ke lubang besar yang berada di sebelah kiri lorong, melalui batu-batu menonjol yang ujungnya seruncing pedang. Setelah tiba di situ, tiba-tiba dia mendengar suara lirih.

“Sumoi…!” Sin Liong berteriak.

“Suheng… aihhh… Suheng…!” terdengar suara tangis. Swat Hong yang menangis.

Masih hidup! Hampir Sin Liong bersorak saking girangnya dan dia mendorong orang kerdil itu sampai terguling-guling lima meter jauhnya. Orang kerdil itu merangkak dan pergi akan tetapi Sin Liong tidak mempedulikannya lagi. Dia sudah memasuki goa dan terus ke dalam, membelok ke kiri, ke arah suara Swat Hong. Tiba-tiba dia terbelalak, otomatis dia memasang kuda-kuda dengan pedang diangkat tinggi- tinggi dan tangan kiri siap di depan dada.

Matanya yang terbelalak memandang tajam kepada seekor laba-laba raksasa sebesar kerbau, dengan sepasang anggota bulat seperti mata melotot kepadanya. Di belakang laba-laba itu tampak sarang laba- laba yang bukan main besarnya. Benang sarang laba-laba itu sebesar jari-jari tangan, nampak kuat sekali dan di tengah-tengah sarang itu, tubuh Swat Hong menempel dengan kedua lengan terpentang, juga kakinya agak terpentang dan bagian tubuh dara itu agaknya melekat kepada sarang itu, tak dapat dilepaskan lagi.

Gadis itu menangis ketika melihatnya dan hanya dapat berkata, “Suheng…, cepat kau bunuh binatang menjijikan itu…!”

Sin Liong mencium bau harum yang aneh dan keras, dan maklumlah dia bahwa tempat itu penuh dengan hawa beracun! Laba-laba ini selain besar sekali juga beracun. Heran dia mengapa Swat Hong masih dapat hidup. Akan tetapi dia tidak mempedulikan atau memusingkan hal itu, yang penting adalah menolong sumoi-nya.

“Tenanglah, Sumoi. Aku segera menolongmu,” katanya dengan suara gemetar saking girang dan terharunya.

Laba-laba itu memandang buas. Begitu melihat Sin Liong, dia merangkak maju dengan cepat sekali dan tiba-tiba, berbarengan dengan gerakan kaki depan dan mulutnya, sinar putih menyambar ke arah Sin Liong. Itulah benang besar yang mengandung daya lekat luar biasa sekali. Sin Liong menggerakkan pedang rampasannya dan tali putih itu terbabat putus. Kemudian dia melangkah maju, mengelak dari sambaran tali ke dua, lalu dari samping dia menggerakkan kaki menendang.

“Desss…!!” Betapa besar pun ukuran tubuh binatang itu, namun dia terlempar setelah terkena tendangan kaki Sin Liong, terbanting pada dinding batu, terhuyung-huyung lalu menghamburkan banyak benang putih ke arah Sin Liong.

Pemuda perkasa ini meloncat untuk mengelak dan ketika dia memandang lagi, ternyata laba-laba itu telah lari menghilang melalui sebuah lubang di celah-celah dinding batu. Cepat Sin Liong menghampiri Swat Hong, berusaha menurunkan tubuh gadis itu, akan tetapi ternyata sukar sekali karena sarang itu mengandung daya lekat yang dapat merobek pakaian Swat Hong. Sin Liong menggerakkan pedangnya karena dia melihat bahwa sarang itu tergantung pada benang-benang pokok terbesar yang malang melintang dan melekat pada tanah dan pada langit-langit guha. Pedangnya menyambar-nyambar dan runtuhlah sarang itu, membawa tubuh Swat Hong terjatuh ke bawah.

Gadis itu telah lemas sekali, dan tentu akan terbanting kalau saja tidak disambar oleh Sin Liong. Pemuda itu membersihkan benang-benang laba-laba itu dan memondong tubuh sumoi-nya yang lemas menjauhi tempat itu. Ketika dia tiba di bagian yang lebar dari lorong itu, dia menurunkan sumoi-nya yang duduk bersandar batu.

“Bagaimana keadaanmu, Sumoi?” tanyanya sambil memeriksa nadi lengan sumoi-nya. Detak jantungnya lemah, mukanya pucat dan tenaganya habis, akan tetapi yang mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa sumoi-nya itu telah keracunan!

“Untung… untung kau datang, Suheng… Kalau tidak… aku sudah hampir tidak kuat….” Gadis itu tiba-tiba merangkul dan menangis dipundak Sin Liong.

Pemuda itu membiarkan saja Swat Hong menangis. Tak lama kemudian dia berkata, “Laba-laba itu beracun, kau terkena hawa beracun. Akan tetapi, berapa lama kau tertawan seperti itu?”

“Sejak malam tadi…. ahhhh, mengerikan sekali, Suheng….”

“Sudahlah, mari aku membantu engkau mengusir hawa beracun yang mengeram di tubuhmu.”

“Nanti dulu aku harus menceritakan dulu kepadamu….” Swat Hong berkata terengah-engah. “Ceritaku akan dapat mengusir kengerian yang masih mencengkeram hatiku, Suheng.”

Sin Liong mengangguk. Menurut hasil penyelidikan tadi, biar pun terserang hawa beracun namun keadaan Swat Hong tidak berbahaya, dan malah ketegangan dan pukulan batin yang dideritanya selama satu malam itu lebih berbahaya. Memang menceritakan kengerian yang mencengkeram merupakan obat mujarab pula, seolah-olah kengerian yang ditahan-tahan itu memperoleh jalan ke luar dan dapat meringankan hati yang tertekan.

“Aku mengejar mereka dan mereka itu lenyap. Aku penasaran dan mencari terus, selalu tampak berkelebatnya bayangan mereka sehingga pengejaranku terarah. Aku sama sekali tidak mengira bahwa mereka memang memancingku ke tempat ini. Ketika aku melihat bahwa cuaca mulai gelap, aku melihat pula sinar api di depan dan terus aku mengejarnya. Kemudian, di antara sinar obor aku melihat beberapa orang kerdil lari memasuki goa ini. Aku cepat mengejar dan melihat bayangan mereka dekat sekali. Kupikir asal dapat menangkap seorang di antara mereka dan memaksanya menjadi petunjuk jalan, tentu beres. Maka melihat bayangan mereka begitu dekat di dalam goa ini, aku menerjang dan melompat maju, bermaksud menangkap seorang di antara mereka.”

Sin Liong mendengarkan penuh perhatian. Diam-diam dia membandingkan pengalaman sumoi-nya dengan pengalamannya sendiri. Ternyata jalan pikiran mereka untuk menawan seorang lawan adalah sama, hanya sayangnya, sumoi-nya tidak tahu bahwa dia sedang dipancing memasuki jebakan yang amat mengerikan.

“Ketika aku meloncat itu, aku tidak tahu bahwa di depanku terdapat sarang laba-laba itu. Tubuhku tertangkap, aku meronta-ronta namun laba-laba itu terus menambah tali-tali mengerikan itu yang mempunyai daya melekat luar biasa. Aku meronta terus sampai kehabisan napas dan melihat laba-laba itu begitu dekat, seolah-olah hendak menjilatku dan hendak menggigit. Aku pingsan entah beberapa kali.”

“Hemm, engkau masih untung dapat terhindar, Sumoi. Sungguh pun aku merasa heran sekali….”

“Dapat kau bayangkan betapa ngeriku, Suheng. Ketika aku siuman, tak jauh dari situ terdapat obor yang mendatangkan cahaya remang-remang amat mengerikan, dan aku terjerat sama sekali tak mampu bergerak, dan laba-laba itu… mendekati aku, lalu mundur kembali, mendekati lagi seperti ragu-ragu…. Ihh, melihat kaki yang berbulu itu, meraba-raba…..” Swat Hong kembali menutupi mukanya dan terisak-isak.

“Memang hebat sekali pengalamanmu, Sumoi. Akan tetapi, yang penting engkau dapat terhindar. Hanya satu hal aku tidak mengerti, mengapa selama itu laba-laba raksasa tadi tidak menggigitmu? Padahal dia amat berbisa.”

“Berkat inilah,” Swat Hong mengeluarkan sebuah batu sebesar kepalanya, batu yang berkilauan mengeluarkan cahaya hijau.

“Ah kiranya engkau membawa bekal Batu Mustika Hijau? Pantas! Tentu saja binatang itu tidak berani menggigitmu, bahkan setiap kali mendekat menjadi ketakutan dan mundur kembali. Untung sekali, Sumoi. Sekarang, marilah kubantu engkau mengusir hawa beracun dari tubuhmu.”

“Baik, Suheng… aku…. ahhhh….” Tiba-tiba napasnya menjadi sesak dan Swat Hong terguling pingsan!

Sin Liong cepat menyambar tubuh sumoi-nya dan memeriksanya. Dia merasa heran sekali karena begitu memeriksa, dia mendapat kenyataan bahwa keadaan sumoi-nya tidak seringan yang diduganya semula. Hal ini adalah karena tadi sumoi-nya meletakkan Batu Mustika Hijau itu di pinggangnya, maka ketika pada pemeriksaan pertama, hawa beracun agak tertolak oleh mustika itu sehingga kelihatannya hanya ringan. Sekarang, setelah batu itu dikeluarkan, daya tolak racun dari batu itu meninggalkan tubuh Swat Hong dan hawa beracun yang amat jahat itu menyerang sepenuhnya membuat Swat Hong roboh pingsan.

Sin Liong tidak ragu-ragu lagi, cepat dia memijat tengkuk dan mengurut kedua urat besar di pundak. Swat Hong mengeluh lirih dan membuka matanya.

“Sumoi, kau ternyata terluka cukup hebat di sebelah dalam tubuhmu oleh hawa beracun itu. Lekas kau buka baju atas, aku harus mengerahkan sinkang, menempelkan tangan di punggungmu, langsung tidak tertutup pakaian,” suara Sin Liong sungguh-sungguh.

Swat Hong juga mengerti akan keadaannya yang berbahaya. Dia merasa penting dan dadanya sesak sekali, maka tanpa membuang waktu lagi dia lalu membuka bajunya, duduk membelakangi Sin Liong dan membiarkan punggungnya terbuka sama sekali. “Aughhh… ahhh, panas sekali… Ah, Suheng, badanku seperti dibakar rasanya….” Swat Hong merintih sambil memegangi bajunya dan mencegah baju itu merosot.

“Tenanglah, Sumoi. Biar kumulai, kau menerima sajalah hawa sinkang dariku.”

Sambil duduk bersila di belakang Swat Hong, Sin Liong lalu menyalurkan tenaga sinkang yang dingin, menempelkan telapak tangan pada pungung yang berkulit putih mulus, halus dan pada saat itu panas sekali. Setelah telapak tangannya menempel, baru Sin Liong tahu betapa hawa beracun itu mendatangkan hawa panas yang makin lama makin hebat. Ahh, dia terlalu semberono, mengira luka sumoi-nya tadi ringan saja sehingga tidak segera mengobati sumoi-nya.

Swat Hong merasa tersiksa, mulutnya terbuka dan dia merintih-rintih. Hawa panas luar biasa yang menyerang dari dalam membuatnya berpeluh, akan tetapi kini terasa olehnya betapa dari telapak tangan di punggungnya itu masuk perlahan-lahan hawa dingin, sedikit demi sedikit. Dia ingin membatu Sin Liong akan tetapi diurungkannya niat itu. Biarlah, dia ingin melihat sampai di mana pemuda itu akan membelanya.

Dia tahu bahwa mengerahkan Swat-im-sinkang untuk mengusir hawa beracun yang panas itu membutuhkan pengerahan tenaga yang kuat, apa lagi harus dilakukan sedikit demi sedikit dengan hati-hati sehingga akan menghabiskan tenaga. Pula, begitu merasa telapak tangan pemuda itu di punggungnya yang telanjang, semacam perasaan aneh memasuki hatinya dan dia ingin agar telapak tangan suheng-nya itu tidak lekas dilepaskan dari pungungnya! Karena itulah dia tidak mau membantu, membiarkan suheng- nya mengerahkan tenaga sendiri untuk mengusir hawa beracun itu.

Sin Liong tidak menaruh curiga, hanya mengira bahwa sumoi-nya terlalu lelah sehingga tidak kuat membantunya. Hal ini malah membuat dia makin bersemangat mengerahkan tenaganya. Mukanya mulai meneteskan keringat dan dia memejamkan matanya, memusatkan seluruh hati dan pikirannya ke dalam usaha pengobatan itu. Dia tidak tahu betapa sumoi-nya tersiksa, bukan hanya tersiksa oleh bentrokan antara tenaga Swat-im-sinkang yang mengusir hawa beracun panas, melainkan juga tersiksa oleh perasaannya sendiri yang tidak karuan. Sin Liong tidak melihat betapa Swat Hong mengepal tangan kirinya, mulutnya terbuka terengah-engah, dan di mukanya tidak hanya peluh yang menetes, melainkan juga air mata!

Juga kedua orang muda ini tidak tahu betapa di tempat itu muncul bayangan seorang kakek yang berdiri tegak memandang mereka sambil mengelus jenggotnya. Kakek ini berpakaian rapi dan sederhana bentuknya, namun yang terbuat dari kain yang mahal. Jenggotnya yang panjang terpelihara rapi, sudah banyak putihnya, dan rambutnya yang putih juga tersisir rapi dan digelung ke atas, diikat dengan pembungkus rambut sutera biru dan ditusuk dengan tusuk konde emas.

Wajah kakek ini biar pun sudah tua namun masih kelihatan tampan dan bersih, ketampanan yang membayangkan kekejaman, apa lagi dari sinar mata dan tarikan mulutnya yang seperti orang mengejek. Kalau tidak melihat mulut dan sinar matanya, kakek ini tentu akan menimbulkan rasa hormat karena dia lebih pantas menjadi seorang pendeta atau pertapa yang agung.

Kakek itu mengelus jenggotnya dan pandang matanya tertuju kepada tubuh belakang Swat Hong yang telanjang. Sinar matanya seperti membelai-belai punggung yang melengkung indah itu, yang berakhir membesar di pinggul yang hanya tertutup sebagian oleh baju yang merosot. Dari samping punggung tampak membayang tonjolan buah dada yang gagal tertutup sama sekali oleh baju yang dipegang oleh tangan Swat Hong. Dalam keadaan tanggung-tanggung ini, telanjang sama sekali bukan dan tertutup rapat juga bukan, keadaan Swat Hong mendatangkan daya tarik yang luar biasa, dan mudah membangkitkan birahi seorang pria yang memang benaknya penuh terisi oleh khayalan-khayalan cabul!

Siapakah kakek yang usianya kurang lebih enam puluh tahun akan tetapi masih begitu tertarik melihat punggung telanjang seorang dara? Dia adalah seorang pertapa yang belum lama turun dari pertapaannya di lereng pegunungan Himalaya. Selama dua puluh tahun dia meninggalkan daratan besar, merantau ke barat dan akhirnya bertapa di lereng Himalaya, bertemu dengan pertapa-pertapa sakti dan mempelajari ilmu.

Dahulunya dia adalah seorang tosu yang ingin memperdalam ilmunya. Akan tetapi setibanya di Himalaya, dia bertemu dengan ahli ilmu hitam sehingga pelajaran Agama To diselewengkan menjadi pelajaran kebatinan yang penuh dengan ilmu sihir yang aneh-aneh. Karena di dalam dirinya memang belum benar- benar bersih, ilmu hitam yang dipelajarinya membuat semua kekotoran di dalam dirinya itu menonjol dan mencari jalan ke luar. Dengan bantuan ilmu sihirnya, pendeta Agama To ini menyeleweng menjadi seorang pertapa atau pendeta palsu yang tidak segan-segan melakukan apa pun demi mencapai kenikmatan dan kesenangan dunia.

Nama pendeta ini adalah Ouwyang Cin Cu, sorang yang memiliki kepandaian silat tinggi, akan tetapi lebih- lebih lagi, memiliki kekuatan sihir yang membuat dia terpakai sekali tenaganya oleh Jenderal An Lu Shan. Berkat ilmu sihir dari Ouwyang Cin Cu inilah, yang merupakan obat ‘guna-guna’, maka An Lu Shan yang kasar itu berhasil memikat hati Yang Kui Hui!

Bertapa atau melakukan segala usaha penekanan terhadap nafsu adalah usaha sia-sia dan palsu belaka, karena tidak mungkin akan berhasil selama di dalam dirinya masih berkecamuk nafsu itu sendiri. Penekanan hanyalah akan menghentikan timbulnya nafsu itu sementara waktu saja, akan tetapi bukanlah berarti bahwa nafsu itu sudah mati. Sewaktu-waktu, jika penekanannya berkurang kuatnya, tentu akan meledaklah nafsu yang ditahan-tahan.

Seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu dapat membakar, karena yang menekan nafsu ini pun sesungguhnya adalah nafsu sendiri dalam lain bentuk atau lain nama yang kita berikan kepadanya. Keinginan tidak mungkin dilenyapkan dengan lain keinginan, karena akan menjadi lingkaran setan yang tiada berkeputusan. Apa artinya bertapa di tempat sunyi, meninggalkan masyarakat agar tidak melihat lagi wanita dan timbul nafsu birahi kalau nafsu birahi itu sendiri masih bercokol di dalam batinnya, kalau dirinya sendiri setiap saat digerogoti oleh nafsu birahi yang masih bercokol di dalam batin itu!

Sebaliknya, biar pun hidup di antara seribu orang wanita cantik, kalau memang tidak ada nafsu birahi, di dalam hatinya sama sekali bersih, pasti tidak akan ada gangguan sesuatu di dalam batin. Jadi yang penting bukanlah mencari pelarian, bukanlah melarikan diri dari segala macam nafsu, dalam hal ini sebagai contoh adalah nafsu birahi, melainkan membebaskan diri dari nafsu birahi.

Kebebasan ini hanya dapat terjadi apabila kita mengerti benar, mengenal benar diri sendiri, mengenal nafsu birahi yang membakar kita, dan tak mungkin kita dapat mengenal tanpa kita mempelajari, mengawasi, mengamati dengan seksama tanpa usaha untuk menundukkannya! Dengan pengamatan ini maka segala akan tampak jelas, segala akan kita kenal dan dari pengamatan akan timbul pengertian, dari pengertian akan muncul suatu tindakan yang berlainan sama sekali dari tindakan palsu atau pelarian.

Demikianlah halnya dengan Ouwyang Cin Cu. Karena puluhan tahun lamanya dia menahan-nahan dan menekan nafsu, setelah kini dia menguasai ilmu yang tinggi, memperoleh jalan mudah untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, dia membiarkan nafsu-nafsunya bersimaharajalela, seolah-olah untuk menebus pertapaannya yang selama puluhan tahun itu! Begitu turun gunung kembali ke timur untuk menikmati seluruh sisa hidupnya dengan segala macam kesenangan yang diinginkan tubuhnya, dia mendengar tentang pemberontakan An Lu Shan.

Memang dia seorang yang cerdik, maka tampaklah olehnya kesempatan terbuka baginya untuk mencari kedudukan tinggi, kemuliaan sebagai seorang penguasa. Dia mengunjungi An Lu Shan dan dengan demonstrasi kepandaiannya, baik silat mau pun sihir, dia diterima dengan tangan terbuka dan diberi kedudukan tinggi, yaitu penasehat urusan dalam dari Jenderal itu! Tentu saja dia tidak dapat menjadi penasehat urusan perang karena dia sama sekali tidak mengerti akan ilmu perang. Mulailah Ouwyang Cin Cu hidup mewah dan terhormat di dalam istana An Lu Shan, segala kehendaknya terlaksana. Kemewahan, kehormatan, dan pelampiasan nafsu birahinya karena disediakan banyak pelayan-pelayan wanita muda yang cantik-cantik untuk kakek ini!

Pada waktu itu, Ouwyang Cin Cu diutus oleh An Lu Shan untuk mengunjungi Rawa Bangkai, karena An Lu Shan yang sudah tahu akan kelihaian dua orang wanita The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li, mempunyai niat untuk menarik kedua wanita itu sebagai pembantu dalam dan pengawalnya. Hal ini menunjukan kecerdikan Jenderal itu. Dia tahu bahwa The Kwat Lin adalah bekas Ratu Pulau Es, maka selain memiliki ilmu silat yang hebat, tentu juga memiliki ambisi-ambisi pribadi terhadap kerajaan yang hendak mereka gulingkan dan rampas. Kalau wanita seperti itu diberi kesempatan memperoleh kekuasaan dengan pasukan yang kuat, kelak tentu akan menjadi penghalang dan saingan belaka.

Berbeda kalau wanita itu ditugaskan mengawalnya, segala gerak-geriknya dapat diawasi selain tenaganya dapat dipergunakan untuk mengawalnya sehingga dia akan merasa lebih aman dan terjamin keselamatannya. Demikianlah, Ouwyang Cin Cu lalu diutusnya mengunjungi Rawa Bangkai setelah lima orang utusan pertama ke Rawa Bangkai yaitu Bi Swi Nio, Liem Toan Ki dan tiga orang kakek lain berhasil dengan baik mengunjungi Rawa Bangkai. Sekali ini, Ouwyang Cin Cu membawa surat pribadinya yang dengan ramah mengundang kedua orang wanita itu untuk mengunjungi istananya untuk mengadakan perundingan.

Kedatangan Ouwyang Cin Cu menimbulkan kegemparan, juga disambut dengan kagum oleh The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li. Ketika lima orang utusan yang terdahulu datang, Kiam-mo Cai-li telah memberikan rahasia jalan menuju ke Rawa Bangkai tanpa menyeberangi rawa, yaitu melalui jalan terowongan di bawah tanah, dari balik gunung yang dijaga oleh orang-orang kerdil yang juga sudah takluk dan menjadi kaki tangannya. Maka kedatangan Ouwyang Cin Cu sekali ini tidaklah sukar, dan Ouwyang Cin Cu dengan kepandaiannya yang tinggi dapat menyelinap melalui terowongan dan menembus ke pulau di tengah rawa.

Betapa kagetnya semua orang ketika melihat seorang kakek datang menunggangi seekor harimau! The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li melompat ke depan, siap untuk menghadapi lawan, akan tetapi Ouwyang Cin Cu yang masih duduk di atas pungung harimau itu tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang masih lengkap.

“Apakah Jiwi yang bernama The-lihiap dan Kiam-mo Cai-li yang terkenal itu?”

“Benar, siapakah Totiang?” tanya The Kwat Lin hati-hati karena sikap tosu ini menunjukan bahwa dia adalah seorang yang berilmu tinggi.

“Ha-ha-ha, benar-benar tidak berlebihan yang pinto dengar. Kalian selain gagah perkasa juga amat cantik. Pinto adalah Ouwyang Cin Cu, utusan pribadi An-goanswe dan inilah surat beliau untuk Jiwi!” Dia menggosok kedua telapak tangannya dan tampaklah asap mengepul tinggi.

Asap itu membentuk bayangan seorang pelayan istana yang cantik, yang berjalan terbongkok-bongkok kepada kedua orang wanita itu dan menyerahkan sebuah sampul surat! Tentu saja The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li bengong terlongong menyaksikan permainan sulap yang hebat ini. The Kwat Lin menerima surat itu sambil mengerahkan sinkang-nya dan… wushhhh, wanita pelayan itu lenyap tanpa bekas!

“Ha-ha-ha, The-lihiap benar hebat!” Ouwyang Cin Cu berseru dan dia meloncat turun dari atas punggung harimau, lalu meniup ke arah harimau itu dan… harimau itu tertiup dan melayang tinggi lalu lenyap di angkasa!

Tentu saja semua ini adalah hasil sihir dari Ouwyang Cin Cu. Harimau dan pelayan wanita itu tentu saja tidak ada sesungguhnya, yang ada hanyalah Ouwyang Cin Cu yang mempergunakan kekuatan sihirnya mempengaruhi dua orang wanita itu sehingga mereka melihat apa yang dikhayalkan oleh Ouwyang Cin Cu! Padahal yang menyerahkan surat adalah pendeta itu sendiri yang datang dengan jalan kaki.

Kiam-mo Cai-li tertawa. “Hi-hik, kiranya utusan An-goanswe adalah seorang tukang sulap!”

Ouwyang Cin Cu memandang wanita itu sambil tersenyum. Mereka saling pandang dan sudah ada kecocokan di antara mereka. Kiam-mo Cai-li dapat melihat bahwa kakek itu, biar pun usianya sudah enam puluh tahun, namun masih tampan gagah dan matanya bersinar-sinar penuh nafsu birahi! Sebaliknya Ouwyang Cin Cu juga dapat mengenali Kiam-mo Cai-li, seorang wanita yang biar pun usianya sudah setengah abad lebih, namun memiliki nafsu yang besar dan awet muda karena terlalu banyak mempermainkan dan menghisap hawa muda dari banyak perjaka!

Ouwyang Cin Cu tersenyum makin lebar dan berkata, “Bukankah Cai-li suka akan ilmu sulap? Kita berdua suka bicara dan bersikap terang-terangan, tanpa menutupi badan sama sekali, bukan?”

Kalau bukan Kiam-mo Cai-li yang terkena sihir itu, tentu dia akan menjerit saking kaget dan ngerinya. Betapa tidak akan ngeri kalau tiba-tiba dia melihat dirinya sendiri dan Ouwyang Cin Cu tidak berpakaian sama sekali, telanjang bulat sama sekali di tengah-tengah orang banyak itu! Akan tetapi, ketika dia melirik dan melihat bahwa The Kwat Lin dan yang lain-lain tidak mengadakan perubahan apa-apa, tahulah dia bahwa yang melihat mereka telanjang bulat itu hanyalah mereka berdua! Dia pun tersenyum dan menjelajahi tubuh telanjang kakek itu dengan pandang mata kagum, seperti yang dilakukan pula oleh Ouwyang Cin Cu kepadanya.

Pertapa cabul itu lalu diterima sebagai tamu terhormat, dijamu oleh The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li. Seperti dapat diduga lebih dulu, di antara Ouwyang Cin Cu dan Kiam-mo Cai-li segera terjadi hubungan gelap yang amat mesra. The Kwat Lin tahu akan hal ini dan diam-diam merasa geli, akan tetapi karena dia pun tahu akan kesukaan Kiam-mo Cai-li yang sering mengeram laki-laki muda di dalam kamarnya, dia pura-pura tidak tahu.

Persiapan lalu dibuat oleh kedua orang wanita itu untuk ikut Ouwyang Cin Cu mengunjungi An Lu Shan. Akan tetapi sebelum mereka berangkat, terjadilah peristiwa kedatangan Sin Liong dan Swat Hong yang dikabarkan oleh orang-orang kerdil kepada mereka. Ketika mendengar dengan jelas dan tahu bahwa yang datang menyerbu adalah Kwa Sin Liong dan Han Swat Hong, muka The Kwat Lin menjadi pucat sekali. Dia tahu bahwa biar pun dia jarang bertemu tandingan di daratan besar setelah dia lari dari Pulau Es, namun menghadapi kedua orang muda itu dia tidak boleh main-main. Apa lagi menghadapi Sin Liong yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian hebat sekali, dapat dikatakan mewarisi seluruh kepandaian bekas suaminya, Han Ti Ong!

“Aihh… mereka datang…??” tak terasa lagi keluar seruan dari mulutnya.

Kiam-mo Cai-li dan Ouwyang Cin Cu yang sedang duduk berhadapan di meja makan bersama The Kwat Lin, memandang dengan kaget dan juga heran. Baru sekarang Cai-li menyaksikan sahabatnya itu kelihatan takut!

“Siapakah mereka, Lin-moi?” Persahabatan antara The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li telah menjadi sedemikian eratnya sehingga mereka saling menyebut moi-moi dan cici.

“Mereka?” Kwat Lin menjawab dan mukanya masih pucat. “Mereka adalah penghuni Pulau Es. Kwa Sin Liong adalah murid utama dari Han Ti Ong, sedangkan Han Swat Hong adalah puterinya!”

“Ahhh….” Kiam-mo Cai-li dapat menduga bahwa tentu kedatangan mereka itu mempunyai niat yang tidak baik.

“Habis, apa yang harus kita lakukan?”

“Kita harus siap menghadapi mereka. Mereka lihai sekali, terutama Sin Liong! Atur jebakan agar mereka terperosok. Kalau sampai mereka berhasil menerobos ke sini, berbahaya sekali!” kata Kwat Lin, masih tetap takut.

“Wah, Ibu. Mengapa bingung? Bukankah di sini terdapat Bibi Cai-li, juga ada Ouwyang Totiang, dan Ibu sendiri di samping puluhan orang anak buah. Biarkan mereka datang dan kita hancurkan mereka!” tiba-tiba Bu Ong berkata dengan gayanya yang jumawa.

Mendengar ini Ouwyang Cin Cu tertawa dan mengelus kepala pemuda tanggung itu. “Engkau hebat sekali, Han-kongcu! Masih sekecil ini sudah memiliki keberanian yang luar biasa. Benar puteramu, The-lihiap. Biarlah para orang kerdil menjebak mereka, kalau jebakan itu tidak berhail, biarlah pinto yang menghadapi mereka. Li-hiap dan Cai-li boleh siap-siap saja menyambut mereka sebagai tawanan atau sebagai mayat.”

Kiam-mo Cai-li segera mengatur sendiri orang-orang kerdil untuk memancing dan menjebak Sin Liong dan Swat Hong, sedangkan Ouwyang Cin Cu mengintai dan membayangi gerakan dua orang muda itu. The Kwat Lin juga sudah siap-siap kalau kedua orang pembantu itu gagal. Demikianlah, setelah Sin Liong berhasil menyelamatkan Swat Hong dan sedang mengobatinya, muncul Ouwyang Cin Cu mengagumi ketelanjangan punggung Swat Hong yang berkulit putih mulus dan halus menggairahkan hatinya itu.

Melihat betapa pemuda itu berhasil mengusir hawa beracun dengan pengerahan sinkang, dia menjadi kagum sekali kepada pemuda itu. Timbullah keinginan yang aneh dalam batin kakek yang penuh kecabulan itu. Birahinya yang tadi bergolak hanya dengan melihat punggung yang putih mulus dari Swat Hong itu kini berubah. Dia dapat melihat bahwa pemuda dan pemudi di dalam goa itu masih murni, maka timbullah keinginannya menyaksikan mereka itu bermain cinta!

Memang demikianlah! Kecabulan bukan hanya keinginan untuk berjinah sendiri dengan orang yang menimbulkan birahinya, melainkan juga dapat berbentuk keinginan untuk menyaksikan orang lain bermain cinta. Hal ini juga timbul karena kekagumannya menyaksikan pemuda itu sanggup mengusir hawa beracun dengan sinkang, tanda bahwa pemuda itu merupakan lawan tangguh. Jika dia berhasil menggunakan sihir dan guna-guna untuk membuat pemuda itu ‘jatuh’ tentu dalam keadaan seperti yang dikehendakinya itu, akan mudah saja menawan dua orang muda yang agaknya ditakuti oleh The Kwat Lin itu.

Bagaikan bayangan setan saja kakek itu menyelinap di balik batu. Tak lama kemudian tampak asap mengepul dari tiga batang hio (dupa) yang menyebarkan bau harum, sedangkan kakek itu sendiri sudah duduk bersila, kedua lengan diluruskan ke depan, ke arah muda-mudi itu dan sepasang matanya terbelalak memandang seperti sepasang mata setan!

Ilmu sihir yang dipergunakan oleh Ouwyang Cin Cu adalah ilmu hitam yang dikuasainya dengan latihan- latihan yang berat dan mengerikan. Di dalam ilmu ini terkandung kekuasaan mukjijat yang hanya dikenal oleh mereka yang memuja setan, iblis dan segala roh jahat yang mereka percaya, ditambah dengan kekuatan dari tenaga sakti (sinkang) dan latihan yang tekun, dicampur dengan bermacam mantra yoga.

Untuk melatih kekuatan matanya, bertahun-tahun Ouwyang Cin Cu bertapa menghadapi dupa membara sampai kekuatan pandang matanya dapat membuat api membara di ujung dupa itu membesar atau mengecil, mengepulkan asap atau tidak menurut kehendak pikiran yang disalurkan melalui pandangan matanya yang tajam itu. Kini, dibantu dengan bau asap dupa yang harum dan aneh, dia mulai menjatuhkan sihirnya. Matanya memandang dengan pengaruh yang amat dahsyat, bibirnya berkemak-kemik membaca mantra.

Mula-mula Swat Hong yang terpengaruh hawa mukjijat itu. Hal ini tidaklah mengherankan karena tentu saja Sin Liong memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan sumoi-nya, juga memang sebelumnya Swat Hong sudah tersiksa oleh perasaannya sendiri, perasaan mesra yang aneh dan sejak tadi menyelinap dan mengaduk hatinya ketika merasa betapa telapak tangan suheng-nya menyentuh punggungnya.

Karena memang sudah timbul perasaan wajar dari seorang gadis yang normal dan sehat, terdorong oleh rasa cintanya kepada suheng-nya itu, maka tidaklah mengherankan ketika diserang oleh kekuatan sihir, Swat Hong mudah sekali terkena. Dia mengeluh dan merintih lirih, tubuhnya gemetar semua, mukanya berubah merah seperti dibakar, napasnya terengah-engah, kedua tangannya mengepal dan dia tidak peduli lagi bajunya yang tadi ditahan dengan tangan di bagian depan dadanya, merosot dan terbuka. Setelah gelisah bergerak ke kanan-kiri, kemudian dia menoleh, memandang kepada suheng-nya yang masih duduk bersila dengan muka menunduk dan mata terpejam.

“Iihhh… aahhh… Suheng…!” Swat Hong mengeluh, lalu membalikkan tubuhnya dan serta merta merangkul leher Sin Liong sambil terengah-engah seperti orang hendak menangis.

Sin Liong membuka matanya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa sumoi-nya dalam keadaan setengah telanjang karena pakaian bagian atasnya terlepas setelah merangkulnya.

“Su… Sumoi!” dia berseru.

Barulah dia merasa betapa kepalanya seketika menjadi pening, pandang matanya menjadi berkunang dan hidungnya mencium bau yang harum dan aneh sekali. Baru sekarang terasa olehnya betapa tubuh sumoi- nya mendekap ketat dan jari-jari tangannya merasakan kulit yang lunak halus dan hangat. Jantungnya berdebar dan pada saat itu, dengan isak tertahan Swat Hong telah memperketat pelukannya dan menciumnya.

“Suheng…!”

Bagaikan dalam mimpi Sin Liong merasa seolah-olah dia terseret oleh arus yang amat dahsyat, yang membuat bibirnya membalas ciuman itu, yang memaksa kedua lengannya merangkul dan mendekap. Namun seketika itu juga timbul hawa panas dari pusat di pusarnya, hawa panas yang naik ke atas dan membuyarkan semua hal yang membuat dia pening dan seperti mabuk itu.

Memang pada dasarnya Sin Liong adalah seorang anak yang ajaib, yang sama sekali tidak pernah dipermainkan oleh lamunan yang bukan-bukan, yang bersih sama sekali, kebersihan yang khas dan wajar, tidak dibuat-buat dan memang pada dasarnya dia memiliki kekuatan batin yang tidak lumrah manusia biasa. Maka begitu dia terserang oleh sihir yang amat mukjijat, biar pun dia sendiri belum tahu bahwa ada orang jahil yang mempermainkannya, namun secara otomatis kebersihan hatinya telah meninggalkan hawa panas menolak kekuasaan asing yang kotor itu.

Mata pemuda itu seperti terbuka begitu hawa panas naik dan membuyarkan pengaruh jahat. Baru tampak olehnya kepulan asap yang harum dan keadaan Swat Hong yang tidak wajar. Seketika tahulah dia bahwa keadaan ini bukan sewajarnya dan pasti dibuat oleh seorang yang jahat. Begitu telinganya menangkap suara gerakan dari kiri, dia cepat menengok dan tampaklah olehnya seorang kakek tua yang duduk bersila dan meluruskan kedua lengannya ke arah mereka. Dari kedua lengan itu, juga dari kedua matanya, menyambar tenaga mukjijat ke arah mereka.

Lengking yang panjang dan nyaring dahsyat serta mengandung getaran tenaga sakti dari dalam pusarnya, keluar dari mulut Sin Liong dan dia sudah meloncat berdiri. Lengkingan yang dahsyat itu menyebar getaran yang sedemikian kuatnya sehingga kekuatan sihir yang dipergunakan Ouwyang Cin Cu buyar sama sekali, bahkan tubuh kekek itu tergetar. Swat Hong juga terbebas dari cengkeraman sihir itu. Dia menjadi pucat sekali, terbelalak, mengeluh perlahan lalu terguling roboh, pingsan!

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Ouwyang Cin Cu ketika dia sedang menikmati hasil ilmu sihirnya, melihat betapa muda-mudi itu sudah mulai terpengaruh, tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan suara melengking sedemikian dahsyatnya sehingga dia merasa betapa jantungnya seperti akan copot! Melihat betapa pengaruh sihirnya buyar, dia segera bangkit berdiri.

“Manusia jahat, apa yang telah kau lakukan?” Sin Liong menegur dan melompat ke depan kakek itu.

Kakek itu mengerahkan tenaga mukjijatnya, disalurkan melalui tangan kanannya yang jari-jari tangannya terbuka dan diselonjorkan ke arah muka Sin Liong. Ia memandang tajam sambil berkata, “Orang muda berlututlah kau di depan Ouwyang Cin Cu…!”

Akan tetapi, untuk kedua kalinya kakek itu mengalami kekagetan. Biasanya, setiap orang lawan akan dapat dibikin tidak berdaya dengan kekuatan sihirnya. Akan tetapi sekali ini pemuda itu hanya memandang kepadanya dengan sinar mata jernih halus dan sama sekali tidak berlutut seperti yang diperintahkannya dengan suara berwibawa itu. Dia memperhebat pencurahan tenaga sihirnya, namun tetap saja pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh.

Tentu saja Sin Liong dapat merasakan serangan tenaga mukjijat ini. Dia merasa betapa ada hawa yang menyerangnya, keluar dari lengan dan pandang mata kekak itu, yang membuatnya tergetar dan seperti ada kekuatan mukjijat memaksanya agar dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Namun dia mengerti bahwa hal itu tidak semestinya dan tidak sewajarnya, maka dia tidak mau mentaati perintah itu, melainkan memandang dengan sinar mata tajam penuh teguran kepada kakek yang dianggapnya jahat itu.

Melihat betapa kekuatan sihirnya sekali ini tidak berhasil, Ouwyang Cin Cu menjadi penasaran sekali. Sihirnya boleh gagal, akan tetapi dia masih memiliki ilmu silat dan kekuatan yang dahsyat. Dara itu cantik menarik. Usahanya menikmati tontonan yang tidak senonoh gagal, maka sebaiknya pemuda ini dibunuh saja dan dara itu ditawan!

“Mampuslah kau!” bentaknya penasaran.

Kini dia tidak menggunakan ilmu sihir lagi, melainkan meloncat dan menerkam kepada Sin Liong seperti seekor serigala. Tangan kirinya mencengkeram ke arah dahi pemuda itu sedangkan sedangkan tangan kanannya dengan jari terbuka membacok ke arah dada kiri lawan.

“Plak! Desss…!” Sin Liong menangkis dengan kedua tangannya dan akibatnya tubuh kakek itu terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung.

Mata kakek itu terbelalak saking kagetnya. Tak disangkanya bahwa pemuda yang sanggup membuyarkan ilmu sihirnya ini juga berhasil menangkis serangan dan membuat tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh! Maklum bahwa dia berhadapan dengan sorang pemuda yang luar biasa, Ouwyang Cin Cu meloncat, membalikkan tubuhnya dan lari!

Teringat dia akan sikap takut yang tampak pada wajah bekas Ratu Pulau Es ketika mendengar akan kedatangan pemuda dan pemudi ini, dan baru sekarang dia tahu mengapa bekas Ratu itu kelihatan takut- takut. Kiranya pemuda ini memang memiliki kesaktian yang amat hebat! Dia perlu mencari bantuan, karena menghadapi seorang diri saja amat berbahaya.

Sin Liong yang ingin menangkap kakek itu dan mencari keterangan tentang The Kwat Lin, segera mengejar sambil berseru, “Orang tua jahat, kau hendak lari ke mana? Tunggu, kau harus menjawab beberapa pertanyaanku!”

Mendengar suara Sin Liong dekat sekali di belakangnya, Ouwyang Cin Cu mempercepat larinya, akan tetapi dengan gerakan yang lebih cepat lagi Sin Liong terus mengejarnya. Setelah keluar dari dalam jalan terowongan itu, di lapangan terbuka yang agak jauh letaknya dari goa di mana Sin Liong meninggalkan Swat Hong tadi, terpaksa Ouwyang Cin Cu tidak dapat melarikan diri lagi karena Sin Liong telah menyusul dekat sekali di belakangnya. “Kakek jahat, berhenti dulu!” Sin Liong membentak. “Haaeeehhhh!!”

Tiba-tiba Ouwyang Cin Cu membalikkan tubuhnya dan begitu membalik, segulung sinar biru menyambar ke arah pusar Sin Liong dan sinar putih menyambar ke antara kedua matanya. Sinar biru itu adalah sebatang pedang tipis yang biasanya dibelitkan di pinggang sebagai sabuk oleh kakek itu, sedangkan sinar putih itu adalah jenggot panjangnya yang ternyata dapat dipergunakan sebagai senjata yang sangat ampuh!

“Hemmm…!!”

Sin Liong yang sudah menduga bahwa kakek yang jahat itu tentu tidak segan-segan bermain curang, sudah menjaga diri. Maka begitu melihat menyambarnya sinar biru dan putih itu, cepat dia sudah mencelat ke atas. Demikian cepat gerakan pemuda ini sehingga Ouwyang Cin Cu melongo, mengira bahwa pemuda itu pandai menghilang! Akan tetapi gerakan angin menyambar di belakangnya membuat dia membalik dan ternyata pemuda itu telah berada di belakangnya. Ternyata ketika mengelak tadi pemuda itu telah mempergunakan ginkang untuk meloncat melalui atas kepalanya. Akan tetapi gerakan pemuda itu sedemikian cepatnya sehingga dia sendiri sampai hampir tidak melihatnya, hanya melihat bayangan berkelebat dan pemuda itu lenyap.

Berdebar jantung kakek itu. Selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan lawan seperti ini! “Hiaaaahhh!!” dia mengusir rasa gentarnya.

Ouwyang Cin Cu mulai mainkan pedangnya dengan gerakan yang amat cepat. Pedang itu berubah menjadi gulungan sinar biru dan mengeluarkan suara bedesing-desing nyaring sekali. Serangan pedang ini masih dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri dengan telapak tangan terbuka, memukulkan hawa sinkang yang amat kuat. Memang Ouwyang Cin Cu bukan orang sembarangan. Pertapa Himalaya ini selain pandai sihir, juga memiliki ilmu silat yang tinggi, tenaga sinkang-nya amat kuat dan pedang yang dipergunakannya adalah sebatang pedang tipis dari baja biru yang amat ampuh. Akan tetapi kali ini dia bertemu dengan batunya!

Tubuh Sin Liong berkelebatan. Ke mana pun pedang dan tangan kiri Ouwyang Cin Cu menyerang, selalu hanya bertemu dengan angin belaka. Dua puluh jurus lebih kakek itu menyerang bertubi-tubi sampai napasnya terengah-engah.

Tiba-tiba Sin Liong berseru, “Lepas pedang!” “Plakk! Desss….!!”
“Aiiihhh…!!” pedang itu terlepas dari tangan Ouwyang Cin Cu dan jatuh ke atas tanah mengeluarkan suara berdenting nyaring.

Ternyata bahwa lengan kanan kakek tua itu kena ditampar oleh jari tangan Sin Liong, mendatangkan rasa nyeri yang amat hebat, bukan hanya nyeri, akan tetapi juga hawa dingin seolah-olah menggigit daging dan urat, membuat tangan kakek itu tidak kuat lagi memegang pedang. Untung bagi Ouwyang Cin Cu, pada saat pedangnya terlepas itu, muncul The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li! Bagaikan dua sosok bayangan setan, dua orang wanita sakti ini sudah menerjang ke depan sambil meloncat dan terdengar suara melengking tinggi dari mulut Kiam-mo Cai-li ketika dia menyerang berbareng dengan The Kwat Lin yang juga menyerang tanpa mengeluarkan suara.

“Heeeiiiittttttttt!!! Wir-wirrr… singgg… singgg!!” pedang payung di tangan Kiam-mo Cai-li sudah bergerak menyambar menyusul lengkingannya, juga dibarengi menyambarnya rambut panjangnya dan kuku tangan kirinya yang sekaligus menerjang dengan serangan yang amat dahsyat!

Namun Sin Liong lebih memperhatikan sinar pedang merah yang menyambarnya tanpa suara itu. Dia tahu bahwa pedang Ang-bwe-kiam di tangan The Kwat Lin yang menyambar tanpa suara itu jauh lebih berbahaya dari-pada semua serangan Kiam-mo Cai-li yang banyak ribut itu.

“Hemmm…!” Sin Liong mendengus. Kaki tangannya bergerak menangkis rambut dan kuku, tubuhnya mencelat menghindari sinar merah pedang The Kwat Lin, dan ujung kakinya yang menendang pergelangan tangan Kiam-mo Cai-li berhasil menangkis tusukan pedang payung.

Pada saat itu, dari belakang, menyambar sinar biru dari pedang Ouwyang Cin Cu yang ternyata telah menyambar pula pedangnya yang tadi terlepas dan kini ikut mengeroyok.

“Ahhh!” Sin Liong berseru, membiarkan pedang lewat dekat sekali dengan lehernya karena dia memang sengaja berlaku lambat. Begitu pedang lewat, jari tangannya menyentil, kuku jari tangannya bertemu batang pedang biru itu.

“Tringgggg… Auuhhh…!” untuk kedua kalinya, pedang biru itu terlepas dari pegangan tangan Ouwyang Cin Cu dan kini melayang jauh dan lenyap kedalam semak-semak!

The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li sudah menerjang lagi, akan tetapi Sin Liong meloncat jauh ke belakang, lalu berkata kepada The Kwat Lin, “Subo, tunggu dulu!” Suaranya halus, akan tetapi penuh wibawa.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo