July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 18)

 

Terkejutlah semua orang mendengar ini. Mereka tidak pernah tahu di mana adanya Pulau Neraka, akan tetapi di dalam dongeng mereka mendengar bahwa Pulau Es dan Pulau Neraka merupakan pulau-pulau tempat tinggal para dewata dan siluman yang memiliki ilmu yang amat luar biasa!

“Kalian tidak tahu dia itu adalah bekas Permaisuri dari Pulau Es! Bebaskan dia!” teriaknya lagi sambil menendang dengan kedua kakinya secara berantai, merobohkan empat orang di antara para pengeroyoknya.

Kembali semua orang terkejut, termasuk An Lu Shan. Pulau Es? Benarkah apa yang dikatakan laki-laki gagah perkasa itu? Ataukah hanya gertak sambal saja agar wanita yang tertawan itu dibebaskan?

Selagi semua orang ragu-ragu, terdengarlah suara ketawa, “Heh-heh-heh, anak-anak nakal, kiranya masih ada yang tinggal di antara penghuni Pulau Es dan Pulau Neraka! Hemmm, hayo kalian berdua ikut saja bersamaku karena bukan di sinilah tempat kalian!” Suara ini halus dan perlahan saja, namun anehnya mengatasi semua suara dan terdengar dengan jelas oleh mereka semua.

Ketika An Lu Shan dan anak buahnya memandang, ternyata yang muncul adalah seorang kakek bercaping lebar yang mereka kenal sebagai kakek nelayan yang suka memancing ikan di telaga. Karena kakek itu bersikap halus dan tidak pernah bicara, maka An Lu Shan hanya menyuruh anak buahnya mengamat- amati saja. Kakek itu sudah berbulan-bulan memancing ikan di telaga dan sama sekali tidak mengganggu, juga sama sekali tidak mencurigakan, maka kini kemunculannya dalam keadaan yang menegangkan itu benar-benar amat mengherankan hati orang.

Ouw Sian Kok yang mendengar ucapan itu menjadi terkejut sekali. Cepat dia memandang. Terlihat olehnya seorang kakek berpakaian sederhana tambal-tambalan, bertopi caping lebar seperti yang biasa digunakan para nelayan, memegang tangkai pancing dari bambu dan dipinggangnya tergantung sebuah kipas bambu. Dia cepat memandang wajah kakek itu dan melihat wajah yang sudah tua akan tetapi dengan sepasang mata yang tajam penuh wibawa. Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang lihai. Otomatis dia mengira bahwa tentu ini merupakan seorang tokoh kang-ouw yang menjadi kaki tanan An Lu Shan pula. Maka lebih baik turun tangan lebih dulu sebelum lawan tangguh ini mendahuluinya, pikir Ouw Sian Kok.

“Sudah tua bangka masih banyak pamrih mencampuri urusan pemberontakan!” bentaknya. Pedangnya mengeluarkan sinar, lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika dia meloncat dan memutar senjata itu menyerang.

Dengan tenang kakek itu menghadapi penyerangan ini, sikapnya seperti seorang tua menghadapi seorang anak yang nakal. Karena menduga bahwa kakek itu tentu amat lihai, maka sekali ini Ouw Sian Kok tidak bersikap tanggung-tanggung, pedangnya meluncur dengan amat cepatnya dan dia membuka serangan. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu memutar pancingnya dan terdengarlah suara bersuitan nyaring sekali.

Ouw Sian Kok bersikap waspada. Ketika tangkai yang terbuat dari bambu panjang itu menyambar ke depan menyambutnya, dia cepat menggerakkan pedangnya yang ampuh dengan mengerahkan tenaga sinkang untuk membabat putus bambu itu. Namun bambu itu seperti hidup bergerak mengikuti sinar pedangnya, berkejaran dengan sinar pedangnya tetapi tidak pernah tersentuh, dan tahu-tahu Ouw Sian Kok merasa betapa tubuhnya terangkat ke atas. Ternyata bahwa ketika kakek itu memutar bambu yang menjadi tangkai pancing, tali pancingnya berputaran sedemikian cepatnya sampai tidak tampak karena tali itu kecil saja. Tahu-tahu mata pancing itu telah mengait punggung baju Ouw Sian Kok sehingga seolah- olah Ouw Sian Kok dijadikan ‘ikan’ yang terkena pancing!

Ouw Sian Kok terkejut dan marah. Dia bergerak hendak membabat tali pancing di atas punggungnya, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya yang tergantung itu berputar cepat sekali. Dia diputar-putar di atas kepala kakek itu sehingga kalau sampai tali itu diputuskan dengan tangannya, tentu tubuhnya akan terlempar dan terbanting keras tanpa dia mampu mencegahnya karena tubuhnya sudah berputaran seperti kitiran di udara.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, kaget dan kagum melihat betapa mudahnya kakek tua itu membuat Ouw Sian Kok yang sakti itu tidak berdaya sama sekali!

Ouw Sian Kok merasa malu dan marah. Dikerahkannya sinkang-nya dan dia telah menggunakan ilmu

memberatkan tubuhnya. Seketika tubuhnya yang masih berputar-putar itu agak menurun dan bambu itu melengkung seolah-olah tidak kuat menahan tubuhnya.

“Tidak buruk…!” kakek itu berseru kagum juga.

Akan tetapi karena dia masih memutar-mutar hasil pancingannya itu dengan amat cepatnya, Ouw Sian Kok tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya melirik ke arah kakek itu dengan pandang mata penuh kemarahan dan kadang-kadang mencoba untuk menggerakkan pedang membacok ke arah tubuh kakek itu.

Tiba-tiba terdengar suara Liu Bwee, “Ouw-toako, jangan melawan…! Lo-cianpwe, mohon Lo-cianpwe sudi mengampuninya…!!”

Mendengar seruan Liu Bwee ini Ouw Sian Kok terkejut. Dia menghentikan usahanya untuk menyerang atau membebaskan diri, lalu berkata, “Harap Lo-cianpwe sudi memaafkan kalau saya bersikap kurang ajar!”

“Heh-heh-heh, ternyata Pulau Neraka belum merusakmu, orang muda!” Tali pancing itu mengendur dan tahu-tahu Ouw Sian kok telah mendapatkan dirinya berada di atas tanah. Dia berdiri tak bergerak, hanya menoleh ke arah Liu Bwee yang kini sudah terbelenggu dan dijaga ketat.

Kakek itu lalu menghadap ke arah An Lu Shan yang berdiri di tempat aman, kemudian berkata halus, “An- goanswe harap suka memenuhi permintaan seorang tua seperti aku agar suka membebaskan wanita itu.”

Sudah kita ketahui bahwa An Lu Shan adalah seorang yang amat cerdik. Melihat keadaan kekek itu, dia pun maklum bahwa orang tua itu amat sakti dan menghadapi seorang kakek seperti itu, lebih baik bersahabat dari-pada memusuhinya. Kalau ingin berhasil dalam mengejar cita-cita, berbaiklah dengan sebanyak mungkin orang pandai, demikian pedoman hatinya. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk membebaskan Liu Bwee.

Tentu saja isyarat ini tidak ada yang berani membantahnya sungguh pun para anak buah dan pembantunya merasa khawatir akan sikap An Lu Shan ini. Di situ terdapat tiga orang lawan tangguh, yang seorang sudah tertawan, mengapa dibebaskan lagi? Bukankah ini merupakan perbuatan bodoh dan berbahaya?

Liu Bwee yang sudah terbebas dari totokan dan belenggu segera menghampiri kakek itu dan menjatuhkan diri berlutut. “Lo-cianpwe…,” katanya dan melanjutkan katanya dengan tangis yang menyedihkan.

Kakek itu mengangguk-angguk. “Sudahlah, sudahlah, aku sudah tahu semua yang menimpa dirimu dan Pulau Es. Sudah semestinya demikian, ditangisi pun tidak akan ada gunanya.”

Liu Bwee tersadar setelah mendengar ucapan ini. Cepat ia menghapus air matanya, lalu berkata kepada Ouw Sian Kok, “Ouw-twako, beliau ini adalah kakek dari suamiku yang telah lama meninggalkan pulau dan mengasingkan diri sebagai seorang pertapa. Baru sekarang aku dapat bertemu dengan beliau….”

Mendengar ini, terkejutlah hati Ouw Sian Kok. Kalau orang tua ini kakek dari Han Ti Ong, berarti kakek ini dahulunya adalah Raja Pulau Es atau setidaknya tentu pangeran! Dan tentu ilmunya sudah amat tinggi, karena dia tadi sudah merasakan kelihaian kakek ini. Hatinya makin tunduk dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu di samping Liu Bwee. “Teecu Ouw Sian Kok mohon maaf sebesarnya kepada Lo-cianpwe,” katanya.

Kakek itu terkekeh, “Heh-heh-heh, kalian ini dua orang muda memang tidak pernah bertobat! Sudah puluhan tahun hidup menghadapi bermacam penderitaan, masih saja tidak mau merubah dan mencari keributan pula di sini. Kalian berdua mempunyai bakat baik sekali untuk mempelajari hidup dan marilah kalian ikut bersamaku! Kalau kalian tidak mau, aku pun tidak akan memaksa, akan tetapi kelak kalian hanya akan menemui kekecewaan dan kesengsaraan belaka. Sebaliknya, kalau kalian suka ikut bersamaku, segala hal mungkin saja terjadi.”

Liu Bwee dan Ouw Sian Kok saling pandang. Biar pun mulut mereka tidak saling bicara, namun hati mereka sudah saling menerima getaran. Mereka tahu bahwa ke mana pun mereka pergi, asal mereka tidak berpisah, mereka akan merasa cukup kuat, berani, tabah dan bahagia! Maka keduanya lalu mengangguk-angguk tanpa bicara lagi.

Kakek itu merasa girang, lalu menoleh ke arah An Lu Shan. “An-goanswe, telah berbulan-bulan aku menyaksikan gerakanmu dan engkau memang pantas menjadi penggempur kelemahan kerajaan. Bukan urusanku untuk mencampuri. Nah, perkenankan kami bertiga pergi dari sini.”

An Lu Shan cepat melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya ke depan dada, “Lo-cianpwe, saya mohon petunjuk Lo-cianpwe mengenai perjuangan kami!” Jenderal ini maklum bahwa membujuk mereka untuk membantunya amatlah sukar, maka sedikitnya dia ingin memperoleh petunjuk dan nasehat dari kakek sakti itu.

Mendengar ini, kakek itu lalu memutar-mutar pancingnya yang mengeluarkan suara bersuitan dan makin lama makin nyaring kemudian terdengar suara itu melengking seperti suling dan berlagu! Barulah terdengar suaranya seperti orang bernyanyi, diiringi suara seperti suling yang timbul dari tali yang diputar cepat itu. “Yang lama akan terguling yang baru menggantikannya, yang baru akan menjadi lama dan ada yang lebih baru pula! Yang tua akan mati diganti yang muda, yang muda akan menjadi tua, mati dan diganti pula! Apakah yang kekal di dunia ini? Yang menyebabkan kematian dan kesengsaraan akan dilanda kematian dan kesengsaraan. Ayah dan anak menyukai kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula!”

Suara melengking dan nyanyian terhenti. Semua orang tercengang dan diam, pikiran bekerja memecahkan arti nyanyian itu. Ketika mereka memandang, tiga orang itu telah pergi dari situ. Barulah para pengawal sadar dan hendak mengejar, akan tetapi An Lu Shan berkata, “Jangan ganggu mereka!”

Para pengawal yang mengikuti dari jauh kemudian melapor kepada An Lu Shan betapa kakek itu menggandeng tangan Ouw Sian Kok dan Liu Bwee melompati jurang yang amat lebar, kemudian lenyap di balik gunung!

An Lu Shan menghela napas panjang, mengingat-ingat dan mencoba memecahkan arti nyanyian itu, menyuruh orangnya menuliskan nyanyian kakek itu. Dia merasa girang ketika orang-orangnya yang terkenal ahli sastra menguraikan nyanyian yang merupakan ramalan baik baginya. Yang lama akan terguling, yang baru akan menggantikannya. Hal ini saja sudah jelas berarti bahwa perjuangannya menggulingkan pemerintahan lama pasti akan berhasil.

Apa lagi bait-bait terakhir yang mengatakan bahwa ayah dan anak menyukai kekerasan akan menjadi korban kekerasan pula. Ditafsirkannya bahwa ayah dan anak tentulah Kaisar dan Putera Mahkota yang tentu akan dibunuhnya kalau dia berhasil merebut tahta kerajaan.

Memang demikianlah semua manusia. Selalu menafsirkan segala sesuatu dengan kepentingan dan keinginan hatinya sendiri seolah-olah segala sesuatu yang tampak di dunia ini khusus diperuntukkan dirinya belaka! Kenyataannya kelak akan terbukti, bahwa biar pun An Lu Shan behasil merampas tahta kerajaan, namun dia tidak dapat lama menikmati hasil pembunuhan besar-besaran dalam perang pemberontakan itu, karena tidak lama kemudian dia dan puteranya berturut-turut dibunuh oleh kaki tangannya sendiri!

Orang memang selalu lupa akan kenyataan hidup bahwa yang baru lambat laun akan menjadi lama juga, yang muda akan menjadi tua pula. Manusia selalu dibuai oleh khayal, selalu dipermainkan oleh pikirannya sendiri yang menjangkau jauh ke masa depan, menjangkau segala sesuatu yang tidak ada atau yang belum dimilikinya.

Manusia tidak mau melihat apa adanya, tidak mau mempedulikan ‘yang begini’ melainkan selalu mengarahkan pandang matanya kepada ‘yang begitu’, yaitu sesuatu yang belum ada, yang menimbulkan keinginan hatinya untuk memperolehnya. Manusia lupa bahwa ‘yang begitu’ tadi, artinya belum diperolehnya, kalau sudah diperoleh dan berada di tangannya akan menjadi ‘yang begini’ pula dan mata akan tidak mempedulikan lagi karena sudah memandang pula kepada ‘yang begitu’, ialah hal lain yang belum dimilikinya.

Betapa akan berada jauh keadaan hidup apabila kita menunjukkan pandang mata kita kepada ‘yang begini’, kepada apa adanya, mempelajari, mengertinya sehingga terjadilah perubahan karena dengan mengerti kebiasaan yang buruk, mengerti dengan sedalam-dalamnya, otomatis kebiasaan itu pun

terhentilah. Dengan mengerti sedalamnya akan keadaan sekarang, saat ini, apa adanya setiap detik, benda apa pun juga, di mana pun juga, mengandung keindahan murni yang tidak dapat diperoleh keinginan. Lenyaplah batas yang memisahkan indah dan buruk, senang dan susah, untung dan rugi, aku dan engkau. Kalau sudah begini, baru kita tahu apa artinya cinta kasih, apa artinya kebenaran, kemurnian, kesucian dan apa artinya sebutan Tuhan yang biasanya hanya menjadi kembang bibir belaka.

Kita tinggalkan dulu Liu Bwee dan Ouw Sian Kok yang ikut pergi bersama kakek nelayan sakti yang bukan lain adalah kakek dari Han Ti Ong, bekas Raja Pulau Es yang telah puluhan tahun lamanya meninggalkan pulau itu dan merantau di tempat-tempat sunyi sebagai pertapa yang mengasingkan diri dari dunia ramai. Sudah terlalu lama kita meninggalkan Sin Liong dan Swat Hong, maka marilah kita mengikuti perjalanan dua orang itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Sin Liong dan Swat Hong saling bertemu kembali di lereng puncak Gunung Awan Merah tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw. Setelah mendengar tentang Bu- tong-pai yang dikuasai oleh The Kwat Lin yang memang sedang mereka cari-cari, Sin Liong bersama Swat Hong lalu meninggalkan lereng Awan Merah, turun gunung dan dengan cepat pergi menuju ke pegunungan Bu-tong-san.

Biar pun kedua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini telah menggunakan ilmu berlari cepat dan hanya mengaso apabila mereka merasa lapar dan terlalu lelah saja, namun karena jaraknya yang amat jauh, kurang lebih sebulan kemudian barulah mereka tiba di lereng Pegunungan Bu-tong-san. Di kaki gunung tadi mereka telah memperoleh petunjuk dari seorang petani di mana letak Bu-tong-pai, yaitu di atas salah satu di antara puncak-puncak pegunungan Bu-tong-san.

“Hati-hatilah, sumoi, kita sudah tiba di daerah Bu-tong-pai,” Sin Liong berkata ketika mereka berhenti sebentar di bawah pohon untuk melepas lelah sambil menghapus keringat dari dahi dan leher.

“Hemm, kita hanya berurusan dengan The Kwat Lin, urusan pribadi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Bu-tong-pai. Kita harus menyatakan ini kepada semua orang Bu-tong-pai, kalau mereka tidak mau mengerti dan hendak membela The Kwat Lin, kita hantam mereka pula!”

Hati Sin Liong merasa khawatir sekali. Memang akibatnya amat berlawanan setelah bertemu dengan sumoi-nya ini. Girang dan juga khawatir. Serba susah. Dia tentu saja girang sekali dapat bertemu dengan sumoi-nya dalam keadaan selamat dan sehat. Akan tetapi di samping rasa girang ini, juga dia kini selalu dilanda kekhawatiran akan sifat Swat Hong.

Andai kata dia sendiri saja yang datang ke Bu-tong-pai, tentu dia akan membujuk agar The Kwat Lin mengembalikan pusaka-pusaka Pulau Es dan dia tidak akan menuntut hal ini. Akan tetapi, setelah pergi bersama Swat Hong, dia tahu bahwa tentu gadis ini akan menimbulkan keributan. Tentu Swat Hong akan memusuhi The Kwat Lin yang dianggapnya menjadi penyebab kesengsaraan ayah-bundanya. Hal ini menaruh dia di tempat yang amat tidak menyenangkan. Membantu Swat Hong memusuhi The Kwat Lin berlawanan dengan batinnya karena dia tidak ingin memusuhi siapa pun juga. Tidak membantu, tentu Swat Hong terancam bahaya dan tentu akan marah dan benci kepadanya!

Mereka sudah mendekati puncak di mana tampak dinding tembok Bu-tong-pai yang tinggi.

“Sumoi, kau serahkan saja kepadaku untuk bicara dengan orang-orang Bu-tong-pai. Kurasa mereka akan suka menerima alasan kita kalau mereka mendengar apa yang telah dilakukan oleh ketua baru mereka.”

Swat Hong mengangguk. “Baiklah, terserah kepadamu, Suheng. Akan tetapi kalau sudah tiba saatnya, kuharap engkau jangan mencegah aku membunuh iblis betina itu!”

Sin Liong tidak menjawab, hanya menghela napas panjang. “Mari kita mendekati pintu gerbang itu. Heran sekali, mengapa sunyi amat? Bukankah kabarnya Bu-tong-pai merupakan perkumpulan yang besar dan mempunyai banyak anak murid?”

Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu gerbang yang tertutup, tiba-tiba saja pintu gerbang yang lebar itu terbuka dari dalam, terpentang lebar-lebar. Tampaklah lima belas orang laki-laki tua, di antaranya

beberapa orang tosu, melangkah keluar dengan sikap tenang namun penuh wibawa dan memandang tajam penuh selidik kepada Sin Liong dan Swat Hong!

Setelah para tokoh Bu-tong-pai itu keluar dan berhadapan dengan mereka, Sin Liong cepat menjura dengan hormat sambil berkata, “Apakah kami berhadapan dengan para Lo-cianpwe dari Bu-tong-pai?”

Dengan pandang mata curiga, belasan orang itu memandang Sin Liong. Tosu tua yang berada paling depan lalu bertepuk tangan dan berteriak, “Kalian keluarlah dan jangan melakukan sesuatu sebelum diperintah!”

Sebagai jawaban kata-kata ini, berlompatanlah delapan belas orang laki-laki gagah perkasa yang tadi bersembunyi di balik pohon-pohon dan rumpun di luar pintu gerbang. Mereka lalu membuat gerakan mengepung dan mereka siap dengan tangan di gagang pedang masing-masing.

Melihat ini timbul kemarahan di hati Swat Hong. “Bukan maling mengapa dikepung? Apakah kalian hendak menantang berkelahi? Aku ingin bertemu dengan ketua Bu-tong-pai. Lekas panggil dia keluar!”

Melihat sikap galak ini, kakek tosu yang agaknya memimpin mereka, berkata, “Siancai… kiranya Nona hendak bertemu dengan ketua Bu-tong-pai? Pinto (saya) ketuanya. Tidak tahu siapakah Nona dan ada keperluan apa hendak bertemu dengan pinto?”

Swat Hong terbelalak. Ia memandang kaget dan heran. “Eh…? Benarkah ini? Kami… kami tidak datang mencari Totiang….”

Para tosu dan semua orang itu saling pandang. Seorang di antara mereka, seorang tosu pula yang tinggi besar bermuka hitam, tidak setua kakek pertama, kemudian bertanya, “Kalau begitu, siapakah yang Nona cari?”

“Kami mencari The Kwat Lin….”

Baru selesai Swat Hong berkata demikian, kakek muka hitam itu sudah berteriak keras dan menubruk maju. Tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Swat Hong sedangkan tangan kanannya menotok ke arah leher.

Swat Hong terkejut dan marah. Serangan kakek itu benar-benar amat ganas, kejam dan berbahaya sekali. Apa lagi ketika terasa olehnya betapa dari kedua tangan yang panjang dan besar itu menyambar hawa pukulan yang menandakan bahwa kakek itu memiliki tenaga yang kuat. “Heiiittt…!!” dia melengking panjang, kedua tangannya bergerak cepat menyambut.

“Dukkkk… plakkk…!!”

Tangan yang mencengkeram ke arah ubun-ubunnya dapat dia tangkis dengan kuat, sedangkan tangan yang menotok lehernya itu dielakkan dengan menundukkan kepala sedikit, kemudian jari tangannya mendahului sehingga dia berhasil menyambut serangan itu dengan totokan kepada pergelangan tangan. Pada detik berikutnya, selagi tosu muka hitam itu menyeringai kesakitan karena tangkisan itu membuat lengannya tergetar dan totokan itu melumpuhkan lengan satunya, kaki Swat Hong sudah bergerak menendang.

“Desss…!!” tubuh tosu muka hitam itu terjengkang dan jatuh terbanting ke atas tanah dengan cukup keras!

Semua orang terkejut, juga tosu tua itu mengerutkan alisnya. Tosu muka hitam itu adalah sute-nya, tingkat kepandaiannya sudah tinggi, bagaimana dapat dirobohkan oleh nona muda itu dalam segebrakan saja? Tak salah lagi, tentu kedua orang ini adalah orang-orang sebangsa The Kwat Lin yang pernah merampas kedudukan ketua Bu-tong-pai, demikian tosu tua yang bukan lain adalah Kui Tek Tojin itu berpikir. Hanya orang-orang sebangsa iblis betina The Kwat Lin saja yang memiliki ilmu kepandaian seperti setan itu.

Melihat tosu muka hitam roboh, para tosu dan tokoh Bu-tong-pai lainnya lalu serentak menyerbu, didahului oleh delapan belas orang murid Kui Tek Tojin yang bukan lain adalah Bu-tong Cap-pwe Eng-hiong itu. Karena mengira bahwa Swat Hong tentulah mempunyai hubungan dengan The Kwat Lin, serta merta mereka maju menyerbu dengan pedang di tangan.

“Hemm, kalian benar-benar mengajak berkelahi? Bagus, majulah semua! Hayo, jangan ada seorang pun yang tinggal. Suruh semua orang Bu-tong-pai maju mengeroyokku kalau kalian membela The Kwat Lin!” Swat Hong mencabut pedangnya dan matanya memancarkan cahaya seperti hendak menyebarkan maut.

Tiba-tiba Sin Liong membentak. “Tahan senjata…!!”

Tubuhnya berkelebat dan berloncatan di antara orang-orang Bu-tong-pai dan segera terdengar seruan- seruan kaget ketika tiba-tiba di mana saja bayangan pemuda itu berkelebat, senjata yang terpegang tangan terlepas dan berjatuhan ke atas tanah tanpa mereka ketahui sebabnya!

Sin Liong sudah berhadapan dengan Kui Tek Tojin, menjura dan berkata, “Harap Totiang berlaku sabar dan maafkan Sumoi. Ketahuilah, kami berdua datang ke Bu-tong-pai ini sama sekali bukan hendak berurusan dengan Bu-ting-pai karena kami tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai. Kami datang untuk mencari The Kwat Lin, untuk urusan pribadi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Bu-tong- pai. Harap Cuwi Totiang dan sekalian orang gagah Bu-tong-pai dapat mengerti ini dan jangan secara membuta membela The Kwat Lin tanpa lebih dulu mengetahui urusannya.”

“Apa…? Membela The Kwat Lin? Bukankah Ji-wi ini sahabat-sahabat wanita iblis itu?”

“Bicara lancang dan ngawur!” Swat Hong membentak. “Aku datang untuk membunuh The Kwat Lin dan kalau kalian hendak membelanya, jelas bahwa kalian bukan manusia baik-baik dan biarlah kubunuh sekalian!”

“Siancai…! Siancai…!” Kui Tek Tojin berseru dan ia tersenyum memperlihatkan mulut yang tidak bergigi lagi. “Maafkan pinto dan semua murid Bu-tong-pai! Karena tidak tahu maka terjadi kesalah-pahaman ini. Semua ini gara-gara wanita iblis yang telah merusak nama baik Bu-tong-pai dan membuat kami selalu menaruh curiga kepada siapa pun. Silakan masuk, Sicu dan Nona. Marilah bicara di dalam!”

Sin Liong dan Swat Hong lalu diiringkan masuk ke dalam bangunan yang menjadi pusat Bu-tong-pai itu dan dipersilakan duduk di ruangan tamu. Setelah menerima suguhan minuman, Kui Tek Tojin bertanya, “Bolehkan pinto mengetahui siapa adanya Ji-wi dan mengapa menanam bibit permusuhan dengan The Kwat Lin? Pinto melihat ilmu kepandaian Ji-wi hebat sekali, mengingatkan pinto kepada kepandaian The Kwat Lin sehingga hal itu menambah lagi kecurigaan kami tadi.”

“Kiranya tidaklah perlu kami memperkenalkan diri,” jawab Sin Liong yang memang ingin menghindarkan diri sejauh mungkin dengan urusan kang-ouw sehingga lebih baik kalau tidak memperkenalkan diri. “Akan tetapi kami berdua mempunyai urusan pribadi dengan The Kwat Lin, dan mendengar bahwa dia telah menjadi ketua Bu-tongpai, maka kami berdua menyusul ke sini.”

Kui Tek Tojin mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia dapat menduga bahwa dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa ini tentu ada hubungannya pula dengan Pulau Es! Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Kui Tek Tojin kemudian menceritakan betapa The Kwat Lin yang merasa bekas murid Bu-tong-pai itu dengan kekerasan merampas kedudukan ketua dan diam-diam mengatur pemberontakan terhadap Kaisar. Karena usahanya menyelundupkan muridnya ke istana gagal, dia menjadi seorang buruan pemerintah.

“Betapa pun lihainya, iblis betina itu tidak berani menghadapi pasukan pemerintah, maka dia lalu melarikan diri bersama para pengikutnya, meninggalkan Bu-tong-pai. Kami mengambil alih Bu-tong-pai kembali dan belum lama ini, hampir saja kami menjadi sasaran penyerbuan pemerintah. Baiknya kami telah dapat menceritakan keadaan kami dan sekarang, mau tidak mau, untuk membuktikan bahwa Bu-tong-pai tidak bersekutu dengan pemberontak, terpaksa kami harus membantu pemerintah. Hari ini pun Bu-tong Cap- pwe Eng-hiong, murid-murid pinto, terpaksa akan berangkat ke utara melakukan tugas penyelidikan terhadap pemberontakan An Lu Shan.”

Mendengar ini, Sin Liong dan Swat Hong merasa kecewa sekali. Jauh-jauh mereka menyusul ke Bu-tong- san, hanya untuk mendengar bahwa The Kwat Lin tidak berada lagi di tempat itu dan sekarang telah menjadi orang buruan pemerintah.

“Aihhh… ke mana kita harus mencarinya?” Swat Hong berkata kesal sambil menoleh kepada Sin Liong.

“Nona, untuk menebus kesalahan kami tadi, baiklah kami beri-tahukan bahwa kalau tidak salah dugaan kami, The Kwat Lin melarikan diri ke tempat kediaman Kiam-mo Cai-li. Kalau Ji-wi mencarinya ke sana, tentu akan setidaknya mendengar lebih jauh tentang wanita itu.”

“Kiam-mo Cai-li? Siapa dia? Dan di mana tempat tinggalnya?” Swat Hong mendesak dan wajahnya berseri karena timbul pengharapan lagi di dalam hatinya.

“Dia adalah seorang datuk kaum sesat, sorang wanita yang tinggi ilmunya dan telah bersekutu dengan The Kwat Lin untuk membantu pemberontak. Kiam-mo Cai-li tinggal di Rawa Bangkai, di kaki pegunungan Lu- liang-san, tidak begitu jauh dari sini.”

“Suheng, tunggu apa lagi? Mari kita cepat pergi ke Lu-liang-san!” Swat Hong dengan penuh semangat sudah bangkit berdiri.

Sin Liong terpaksa juga bangkit berdiri, akan tetapi Ketua Bu-tong-pai itu berkata, “Harap Ji-wi berhati-hati. Rawa Bangkai merupakan daerah yang sangat berbahaya. Selain dua wanita itu amat sakti, juga Kiam-mo Cai-li mempunyai banyak anak buah. Bahkan kaki tangan The Kwat Lin yang tadinya berada di sini sekarang pun ikut pergi bersamanya.”

“Terima kasih atas peringatan Lo-cianpwe,” kata Sin Liong sambil memberi hormat dan karena dia pun merasa amat tidak enak telah mengganggu orang-orang tua di Bu-tong-pai ini, dia cepat mengajak sumoi- nya pergi dari situ. Setelah berpamit, sekali berkelebat saja dua orang muda itu lenyap.

Kui Tek Tojin menghela napas dan mengelus jenggotnya, “Siancai….. dua orang muda yang amat luar biasa. Pinto yakin bahwa mereka tentulah orang-orang dari Pulau Es juga. Gerakan mereka aneh seperti gerakan Kwat Lin, akan tetapi kalau Pulau Es telah membuat Kwat Lin menjadi seperti iblis, dua orang muda itu seperti dewa!” “Suheng, bukankah di lereng puncak yang sana itu tempatnya?”

“Kalau tidak salah memang di sana, Sumoi. Akan tetapi sekali ini kita melakukan pekerjaan yang amat berbahaya, maka kuharap Sumoi suka bersikap tenang dan sabar, tidak tergesa-gesa.”

Swat Hong mengangguk, mengeluarkan sapu-tangan sutera dan menghapus keringat dari leher dan dahinya. Mukanya kemerahan, pipinya seperti buah tomat masak, matanya bersinar-sinar penuh semangat, rambutnya agak kusut dan anak rambut di dahinya basah oleh keringat.

Sin Liong memandang sumoi-nya dan diam-diam dia menaruh hati iba kepada sumoi-nya. Seorang dara muda seperti sumoi-nya sudah harus mengalami hidup merantau dan sengsara seperti ini! Padahal seorang dara muda seperti sumoi-nya itu sepatutnya berada di dalam rumah bersama keluarga, hidup aman tenteram dan penuh kegembiraan, bermain-main di dalam taman bunga yang indah, bersendau- gurau, tertawa, bernyanyi, membaca sajak, atau jari-jari tangan yang kecil meruncing itu menggerakkan alat-alat menyulam. Tidak seperti sekarang ini, setiap saat menghadapi bahaya, selalu bermain dengan pedang dan maut! Dia menarik napas panjang.

Mereka berdua duduk di bawah pohon yang tinggi besar, berteduh di dalam bayangan pohon. Hari itu amat panasnya dan mereka telah melakukan perjalanan jauh sejak pagi tadi seharian itu.

“Suheng…,” sesuatu dalam suara dara itu membuat Sin Liong cepat menengok dan dia melihat wajah yang cantik itu menunduk. Aneh sekali! Ada apa lagi gadis ini bersikap seperti orang malu?

“Ada apakah, Sumoi?” Swat Hong mencabut sebatang rumput, mempermainkannya dengan jari-jari tangannya, kemudian dalam keadaan tidak sadar meremas rumput itu sampai hancur di tangannya. “Suheng, setelah selesai tugas kita memenuhi pesan terakhir Ayah, lalu bagaimana?”

Tersentuh hati Sin Liong. Baru saja dia membayangkan nasib dara itu dan sekarang agaknya Swat Hong juga membayangkan masa depannya. “Kalau kita sudah berhasil memenuhi pesan Suhu, kita akan mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Pulau Es.”

“Hemm, kemudian?’ Swat Hong masih tetap menunduk dan kini dia bahkan telah mencabut lagi sebatang
rumput dan dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil dan rumput itu digigit-gigitnya.

“Kemudian? Aku akan membantumu mencari ibumu sampai dapat, Sumoi. Akan kita jelajahi seluruh pulau- pulau di sekitar Pulau Es, dan kalau tidak berhasil, kita akan mendarat lagi di daratan besar dan mencari sampai ketemu. Sebelum bertemu dengan ibumu, aku tidak akan berhenti mencari.”

Lama tiada kata-kata keluar dari mulut yang menggigit-gigit rumput itu. Akhirnya Swat Hong bertanya juga, “Kalau sudah bertemu dengan ibu?”

“Kalau sudah ketemu?” Sin Liong mengulang pertanyaan itu dengan heran, karena hal itu terasa aneh kalau ditanyakan. “Tentu saja engkau hidup bersama ibumu….”

“Dan kau?”

“Aku? Aku… aku agaknya akan pergi merantau karena tidak ada apa-apa lagi yang mengikatku, tidak ada tugas. Aku bebas seperti burung di udara, terbang ke mana pun angin membawaku.”

Kembali suasana hening, bahkan kini Sin Liong terpengaruh oleh pertanyaan itu dan merenung seolah sudah merasakan betapa nikmatnya bebas terbang di udara tanpa beban tugas sedikit pun.

“Suheng….”

“Hemmm….?”

“Kalau bertemu dengan ibu engkau akan meninggalkan kami?”

“Sudah kukatakan begitu, bukankah kau sudah aman kalau berada di samping Ibumu?”

“Bagaimana kalau… kalau kita gagal mencari ibu? Bagaimana kalau sampai tidak bertemu? Bagaimana pula andai kata Ibu… ibu sudah meninggal?”

Sin Liong terkejut. Hal ini sama sekali tidak pernah terbayangkan. Dihadapkan dengan kemungkinan kenyataan ini dia terkejut dan bingung, sejenak tidak mampu menjawab. Dia berpikir, kemudian menjawab tanpa keraguan sedikit pun juga, “Kalau begitu, tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, Sumoi.” “Kita tinggal di mana?” “Di mana saja sesukamu.” “Kita berkumpul?”

“Ya.”

“Sampai kapan?”

Kembali Sin Liong termangu-mangu dan tak dapat menjawab.

Swat Hong berkata lagi, “Kalau demikian, aku jadi merepotkanmu, Suheng. Aku merampas kebebasan yang kau idam-idamkan tadi.”

“Ah, tidak! Tidak sama sekali! Di dalam kebebasan seorang diri di dunia itu memang terdapat kenikmatan, akan tetapi di dalam melakukan sesuatu untuk orang, terutama untukmu, juga terdapat kenikmatan besar.”

“Engkau menjadi seperti seekor burung yang terikat kakimu dengan kakiku, Suheng.”

“Tidak, tidak begitu! Kita seperti dua ekor burung bebas yang melakukan penerbangan bersama!”

“Untuk selamanya, Suheng?”

Kembali Sin Liong termangu-mangu. “Aihh, tentu saja tidak. Engkau harus menikah, dan aku akan menjadi wakil orang tuamu. Aku yang akan meneliti, memilihkan calon suami, sampai engkau berhasil menjadi isteri seorang laki-laki yang patut menjadi suamimu.”

“Tidak sudi!!” Tiba-tiba Swat Hong bangkit berdiri, menjauh dan membelakangi Sin Liong. Tak terasa lagi rumput di mulutnya sudah dikunyah-kunyah!

Sin Liong terbelalak memandang tubuh belakang sumoi-nya. Dia benar-benar terkejut dan heran sekali mengapa sumoi-nya mendadak marah seperti itu, padahal dia bicara dengan setulus hatinya, menyatakan keinginannya yang baik terhadap sumoi-nya yang akan dibelanya itu. “Sumoi…!” dia memanggil dan gadis itu membalikan tubuh.

Untuk kedua kalinya Sin Liong terbelalak. Sumoi-nya itu, biar pun tidak sesenggukan, tapi telah menangis. Sepasang pipinya basah air mata dan masih ada butiran air mata yang bergerak menurun dari pelupuk matanya.

“Suheng, engkau… engkau kejam…!” dan sekarang Swat Hong menangis betul-betul, sesenggukan dan menjatuhkan dirinya ke atas rumput, menutupi muka dengan kedua tangan, membiarkan air matanya membanjir ke luar dari celah-celah jari tangannya.

Sin Liong mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala. “Kejam…?” Dia seperti hendak bertanya kepada bayangan sendiri, mengapa dia yang akan membela gadis itu bahkan dimaki kejam.

Swat Hong memeras air matanya, menghapus muka dengan sapu-tangan, kemudian mengangkat mukanya memandang. “Suheng, kau memang kejam. Kau mau enakmu sendiri saja! Kau hendak membiarkan aku sengsara, meninggalkan aku kepada orang lain agar kau dapat bebas merantau seorang diri. Padahal engkau pun tahu bahwa aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hanya mempunyai engkau seperti engkau mempunyai aku. Akan tetapi… uh-uh-uh… kau ingin sekali mencampakkan aku agar dapat bebas. Kalau begitu, tinggalkan saja aku sekarang…!”

“Eh-eh, Sumoi…, bagaimana pula ini? Siapa yang akan memberikanmu kepada orang lain? Tentang pernikahan itu…. tentu saja kalau engkau sudah bertemu dengan jodohmu, dengan seorang pria yang kau cinta. Aku berniat baik, sama sekali tidak ada keinginan hatiku untuk meninggalkanmu, sampai engkau berhasil memperoleh pilihan hatimu. Kalau engkau sudah menikah, apa kau kira aku harus menungguimu saja?”

“Tidak! Aku tidak akan menikah kalau hanya agar kau dapat bebas! Aku hanya akan menikah kalau engkau sudah menikah lebih dulu!” Kini Swat Hong bicara penuh semangat, seolah-olah dia merasa penasaran.

Sin Liong membelalakkan matanya memandang. “Eh? Mengapa begitu? Aku… aku selamanya tidak akan menikah, Sumoi!”

Swat Hong menampar tanah. “Tass!!” lalu memandang dengan muka merah kepada suheng-nya, disambung kata-kata nyaring, “Aku pun tidak akan menikah!”

“Wah, mana bisa? Aku seorang pria, Sumoi. Tidak menikah selamanya pun tidak apa-apa, akan tetapi engkau seorang wanita….”

“Apa bedanya? Kalau pria bisa tidak menikah selamanya, apakah wanita tidak bisa? Pendeknya, aku tidak akan menikah sebelum engkau menikah, Suheng!”

Sin Liong menarik napas panjang dan duduk bersandar pohon, tidak menjawab lagi. Gadis ini sedang marah, tidak baik kalau dilayani, pikirnya. Dia yakin bahwa ucapan sumoi-nya itu hanyalah terdorong oleh kemarahan. Kalau kelak sumoi-nya bertemu dengan seorang pemuda yang baik dan mereka saling mencinta, tentu pendirian sumoi-nya tentang pernikahan tidak seperti sekarang. Dia tidak mungkin dapat membayangkan seorang dara seperti sumoi-nya, cantik jelita, keturunan raja, pandai dan sukar dicari keduanya, sampai menjadi perawan tua atau bahkan tidak menikah sama sekali. Ngeri dia memikirkan ini!

Melihat sampai lama suheng-nya hanya duduk termenung, agaknya Swat Hong mulai menyesali sikapnya. Air matanya sudah kering, sisanya dihapus dengan sapu-tangan dan dia pindah duduk dekat suheng-nya. Mereka berhadapan, akan tetapi Sin Liong pura-pura tidak memperhatikan ulah sumoi-nya.

“Suheng….”

“Hemmm…?”

“Kau marah kepadaku?”

Mau tidak mau Sin Liong tersenyum dan memandang wajah itu. Pada saat seperti itu, terasa benar olehnya betapa dia amat sayang kepada Swat Hong, sayang dan kasihan. “Kalau ada seorang yang marah di sini, agaknya engkaulah yang marah, Sumoi, bukan aku.”

“Suheng, katakanlah. Mengapa engkau tidak mau menikah?”

Pertanyaan ini merupakan serangan tiba-tiba yang membuat Sin Liong bingung bagaimana untuk menjawabnya. Dia mengerutkan alisnya, mengosok-gosok dagunya sebelum menjawab, kemudian terpaksa menjawab juga karena sepasang mata bintang yang memandang tajam kepadanya itu sudah menanti jawaban dengan tidak sabar lagi. “Aku tidak ingin menikah karena bagiku, pernikahan merupakan ikatan, sumoi. Aku ingin bebas, bebas lahir batin dan betapa mungkin aku dapat bebas kalau aku menikah, berkeluarga dan mempunyai anak isteri? Bagaimana aku dapat bebas kalau aku memiliki harta benda, kedudukan dan lain ikatan duniawi lagi?”

Swat Hong termangu-mangu, agaknya tertegun mendengar jawaban suheng-nya. Sampai lama dia diam saja, kemudian tiba-tiba bertanya, “Suheng, apakah engkau ingin menjadi pertapa?”

Sin Liong tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Seorang pertapa berarti mengikatkan diri dengan pertapaannya. Tidak, Sumoi. Aku ingin bebas dari segala-galanya.”

“Suheng kita… kita… dahulu dijodohkan oleh Ayah, bukan?”

Sin Liong terkejut. Tak disangkanya bahwa Swat Hong akan menyinggung masalah ini. Dia hanya mengangguk sambil memandang wajah sumoi-nya penuh selidik. Apa lagi yang akan dikemukaan sumoi- nya ini?

“Dahulu kita sudah bicara di perahu itu dan memutuskan bahwa orang hanya dapat mengikat jodoh jika saling mencinta. Suheng…, apakah… apakah engkau tidak mencinta seorang wanita?” Sin Liong cepat menggelengkan kepalanya.

“Aku tahu bahwa Soan Cu mencintamu, Suheng! Apakah engkau tidak mencintanya? Dia cantik jelita dan pandai….”

“Tidak, Sumoi, kalau yang kau maksudkan adalah cinta birahi.”

“Akan tetapi Suheng menolongnya, membela dan melindunginya. Bukankah itu membuktikan bahwa Suheng mencintainya?”

“Memang aku mencintanya seperti aku mencinta orang lain, akan tetapi bukanlah cinta umum yang mendorong untuk menikah, kemudian setelah menikah berusaha memiliki isterinya lahir batin sehingga timbullah siksaan batin dan kesengsaraan, pertentangan, bahkan mungkin cemburu dan kebencian. Tidak, aku tidak mencinta Soan Cu seperti yang kau maksudkan itu.”

“Dan bagaimana dengan Siangkoan Hui? Dia manis sekali dan dia terang-terangan mengaku cintanya kepadamu, Suheng. Apakah engkau tidak ingin mengambilnya sebagai isteri?” “Hemmm, sama sekali tidak. Apa lagi aku mendengar bahwa dia telah bertunangan dengan orang lain.” “Jadi tidak ada wanita yang kau pilih untuk menjadi isterimu, Suheng?” Sin Liong menggelengkan kepala, hatinya tidak enak membicarakan soal ini. “Tidak ada dara yang kau cintai?” Sin Liong menggeleng lagi. “Termasuk aku…?”

Sin Liong terkejut. Sungguh bingung dia memikirkan sumoi-nya ini. Ketika dia mengangkat muka memandang, dia melihat sumoi-nya juga sedang memandangnya dengan sikap aneh. Mata sumoi-nya yang biasanya tajam lebar dan amat indahnya itu kini agak terpejam, seperti mata mengantuk, sinar matanya sayu dan seperti orang mau menangis, bibirnya tersenyum tipis akan tetapi seperti orang menahan rasa nyeri, cuping hidungnya agak kembang kempis dan jelas tampak dadanya naik turun diburu pernapasan.

“Sumoi, kau tahu bahwa aku cinta kepadamu, aku mencintamu seperti seorang Sumoi, seperti seorang adik, seperti seorang sahabat dan aku rela untuk mempertaruhkan nyawa membela dan melindungimu. Aku merasa sebagai pengganti ayah-bundamu. Aku akan merasa berbahagia kalau bisa melihatmu bahagia, Sumoi, karena itu, percayalah bahwa aku tidak akan meninggalkanmu sebelum….”

“Sudahlah… sudahlah…! Mari kita melanjutkan perjalanan, tugas kita masih belum selesai!” Swat Hong sudah meloncat bangun dan berlari cepat mendaki puncak yang menjulang tinggi itu.

“Sumoi, perlahan dulu…! Hati-hatilah…!” Sin Liong melompat dan terpaksa harus mengerahkan ilmunya untuk menyusul sumoi-nya yang lari seperti setan itu.

Karena agaknya Swat Hong berlari secara ngawur saja, asal cepat dan naik ke puncak, untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya, maka mereka tersesat jalan, bukan menuju ke Rawa Bangkai yang berada di lereng timur, melainkan memasuki hutan lebat di lereng barat! Mereka tidak tahu bahwa ada banyak pasang mata mengintai ketika mereka memasuki hutan itu dan tiba-tiba bermunculan banyak orang yang mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring.

Sin Liong dan Swat Hong berdiri tegak memandang ke sekeliling dan Swat Hong membelalakkan matanya saking herannya. Mereka berdua telah dikurung oleh puluhan orang yang tubuhnya katai, pendek sekali. Yang tertinggi di antara mereka hanyalah setinggi dada Swat Hong! Kalau saja tidak melihat muka orang- orang itu, tentu Swat Hong mengira bahwa mereka berdua dikurung oleh serombongan anak nakal. Akan tetapi wajah mereka yang penuh kumis pendek dan penuh keriput itu jelas adalah wajah orang-orang yang sudah dewasa, bahkan wajah laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun!

Karena tubuh mereka yang kerdil itu amat pendek, mereka kelihatan kuat dan kokoh. Wajah mereka keruh dan marah, mengandung kekejaman dan di tangan mereka tampak senjata yang bermacam-macam, senjata yang aneh-aneh tidak lumrah senjata umumnya. Gerakan mereka ketika mengurung dan bergerak mengelilingi Swat Hong juga amat aneh, kadang-kadang tumit mereka diangkat, kadang-kadang mereka bergerak sambil berjongkok sehingga menjadi makin pendek seperti katak, kadang-kadang berloncatan!

“Kalian mau apa? Pergi…!!” Swat Hong membentak dan mengirim tendangan berantai ke arah empat orang katai terdekat.

Akan tetapi betapa herannya ketika melihat empat kali tendangannya yang beruntun itu mengenai angin kosong. Dengan gerakan yang aneh dan cekatan sekali, empat orang kerdil itu telah mampu mengelak, bahkan hampir saja ujung sepatu kiri Swat Hong terbabat sebatang pedang yang bentuknya seperti gergaji!

“Hati-hati, Sumoi. Mereka bukanlah lawan lemah,” Sin Liong berbisik dan pemuda ini sudah menyambar sebatang kayu dahan pohon, mematahkannya dan membuat sebatang alat pemukul sebesar lengan. “Kita hadapi mereka dengan saling melindungi,” kembali Sin Liong berbisik.

Swat Hong adalah seorang dara yang keras hati dan tidak mengenal artinya takut. Akan tetapi melihat hasil tendangannya tadi, dia pun maklum bahwa rombongan orang kerdil ini tidak boleh di buat main-main, maka dia cukup cerdik untuk mentaati bisikan suheng-nya. Mereka lalu berdiri tegak, memasang kuda-kuda dengan punggung saling membelakangi hampir bersentuhan.Swat Hong memegang pedang dengan tangan kanan yang diangkat, sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka, miring di depan dada. Sin Liong pun memasang kuda-kuda yang sama, hanya bedanya, dia memegang alat pemukulnya dengan tangan kiri. Keduanya berdiri diam tak bergerak sama sekali, hanya mata mereka yang melirik ke kanan-kiri mengikuti setiap gerak-gerik para pengurung mereka.

“Harap Cuwi jangan salah paham,” Sin Liong berseru nyaring, “Kami datang bukan untuk memusuhi Cuwi sekalian atau siapa pun juga di tempat ini. Kami datang karena tersesat hendak mencari Rawa Bangkai. Kalau Cuwi dapat memberi tahu di mana adanya Rawa Bangkai, kami akan berterima kasih sekali.”

Akan tetapi, orang-orang kerdil itu tetap saja bergerak maju mengelilingi mereka sambil berjingkrak dan membuat gerakan aneh-aneh. Dua orang muda-mudi itu tetap berdiri tegak, sama sekali tidak bergerak, namun semua urat syaraf di tubuh mereka menegang dalam persiapan.

Salah satu di antara orang kerdil itu bertanya sambil terus mengelilingi mereka berdua, “Mau apa kalian mencari Rawa Bangkai?”

Kini Swat Hong yang sudah hilang sabarnya itu menjawab dengan bentakan, “Orang-orang kerdil menjemukan! Kami mencari seorang yang bernama The Kwat Lin!”

Mata orang-orang itu melotot, namun mereka masih tetap mengelilingi dua orang muda itu. Orang yang memegang sebatang golok besar bercincin empat, agaknya pemimpin mereka, yang mukanya berseri dan kumisnya kecil melintang, bertanya lagi, “Mau apa mencari The Kwat Lin?”

“Mau kubunuh mampus!” jawaban Swat Hong ini seperti merupakan aba-aba saja.

Serentak terdengar mereka memekik aneh dan kedua orang itu terpaksa harus mengerahkan sinkang untuk melindungi jantung karena pekik-pekik aneh itu merupakan penyerangan luar biasa melalui suara yang disertai khikang. Tentu saja dua orang muda yang memiliki kesaktian hebat dari Pulau Es itu tidak dapat begitu mudah dikalahkan hanya dengan pekik-pekik itu.

Melihat betapa dua orang muda itu sama sekali tidak terpengaruh, tiba-tiba si pemegang golok bercincin berteriak. Mulailah tiga puluh enam orang kerdil itu menyerang dengan cara aneh, yaitu mereka menyerang sambil lari, tampaknya sambil lalu saja akan tetapi karena banyak senjata yang menyerang, tentu saja amat berbahaya.

Sin Liong menggerakkan tongkat pendek melindungi diri, sedangkan Swat Hong juga menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya.

“Trang-trang-cringgg…!!” bunyi senjata tajam bertemu.

Terdengar pekik kaget dari beberapa orang kerdil karena senjata mereka yang tertangkis oleh tongkat pendek dan pedang itu membalik, bahkan ada empat orang yang terpaksa melepaskan senjata dari pegangan tangan mereka yang terasa tergetar hebat dan panas itu.

Orang-orang kerdil itu ternyata cerdik sekali. Pertemuan senjata satu kali itu saja cukup membuat mereka maklum bahwa dua orang muda yang mereka keroyok itu memiliki kekuatan sinkang yang hebat, jauh melebihi mereka. Maka mereka lalu mengurung dan menyerang bertubi-tubi, bergantian tanpa mau mengadu senjata lagi. Setiap senjata mereka ditangkis, mereka menarik kembali senjata itu dan sudah ada temannya yang melanjutkan serangan dari arah lain.

“Suheng, biar kubasmi setan-setan pendek ini!” Swat Hong menjadi tidak sabar dengan cara suheng-nya yang hanya bertahan dan melindungi diri saja. Hal itu dianggapnya terlalu mengalah dan terlalu ‘memberi hati’ kepada para pengeroyok yang menjemukan hatinya itu.

Sebelum Sin Liong menjawab, Swat Hong sudah meloncat ke depan mengeluarkan suara melengking yang tinggi dan dahsyat. Pedangnya berkelebatan dan disusul dorongan tangan kiri yang mengandung tenaga Inti Salju, maka terdengarlah pekik berturut-turut dan robohlah lima orang kerdil, yang dua orang terkena sambaran pedang, yang tiga lagi roboh oleh dorongan tangan kiri dan terjangan kaki Swat Hong!

Kacaulah pengeroyokan itu karena dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya hati para orang kerdil ketika dalam segebrakan saja setelah gadis itu membalas, di pihak mereka roboh lima orang! Belum lagi pemuda yang kelihatan lebih lihai itu bergerak menyerang! Kalau begini keadaannya, tentu mereka akan roboh semua. Si kerdil bergolok yang memimpin mereka segera mengeluarkan suitan aneh dan gerombolan itu lalu melarikan diri sambil membawa lima orang teman mereka yang terluka. Si pemegang golok berteriak, “Hai, dua orang muda sombong, kalau memang gagah, ikutlah kami dan lawanlah majikan kami The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li!”

“Suruh mereka keluar menemui kami!” Swat Hong membentak.

“Heh-heh, engkau takut kami jebak, ya? Orang gagah macam apa kamu itu?” si pemegang golok mengejek.

“Keparat, siapa takut?” Swat Hong melompat dan mengejar.

“Sumoi…!” Sin Liong memperingatkan, akan tetapi Swat Hong tentu saja tidak mau peduli karena dia sudah marah sekali, apa lagi mendengar nama The Kwat Lin, dia sudah bersemangat dan ingin segera berhadapan dengan musuh besarnya itu.

Melihat sumoi-nya terus mengejar, terpaksa pula Sin Liong juga meloncat dan berlari cepat mengejar. Orang-orang kerdil itu berlari terus mendekati lereng bukit, keluar dari hutan memasuki daerah yang tandus berbatu-batu. Di tempat itu terdapat banyak goa batu yang besar-besar, dan dari luar tampak menghitam karena di sebelah dalam goa tidak memperoleh matahari sehingga amat gelap. Dari belakang Sin Liong melihat betapa orang-orang kerdil itu bagaikan rombongan semut saja dengan sigapnya berloncatan memasuki goa-goa di sekitar itu, akan tetapi sebagian banyak memasuki sebuah goa terbesar dan yang berada di tengah-tengah di antara semua goa.

“Sumoi, berhenti dulu! Ini bukanlah sebuah rawa!” teriak pula Sin Liong, akan tetapi terlambat karena Swat Hong dengan penuh semangat telah menerjang masuk dan lenyap ke dalam goa besar.

“Ah, Sumoi terlalu bersemangat sehingga sikapnya sembrono dan berbahaya,” Sin Liong mengomel dan terpaksa dia pun cepat mengejar memasuki goa besar itu. Goa itu gelap sekali, gelap dan sunyi. “Sumoi…!!” dia berteriak memanggil, akan tetapi hanya gema suaranya sendiri yang menjawab dari berbagai jurusan!

Sin Liong terkejut dan dapat menduga bahwa goa itu merupakan terowongan yang bercabang-cabang. Dia maju terus dan benar saja dugaannya, goa yang gelap itu merupakan lorong dan akhirnya tiba di depan terowongan yang bersimpang tiga!

“Sumoi…!!” dia berteriak lagi, dan jauh dari depan terdengar jawaban gema suaranya sendiri lima kali berturut-turut!

“Celaka,” pikirnya. “Kita telah terjebak!”

Akan tetapi dia harus dapat menemukan sumoi-nya yang dia khawatirkan terjeblos ke dalam perangkap orang-orang kerdil. Sin Liong tanpa ragu-ragu memilih jalan ke kanan. Setelah kini matanya terbiasa, ternyata terowongan itu tidaklah terlalu gelap benar. Ada sinar matahari yang masuk dan memantul sampai ke dalam terowongan, entah dari mana masuknya sinar itu. Dia berjalan agak cepat ke depan dan terowongan yang dipilihnya itu ternyata berakhir pula dengan simpangan, kini simpang empat!

“Aihhh…!” dia mengeluh lalu mengerahkan khingkangnya berteriak memanggil, “Sumoi…!” gema suaranya mengaung dan membuat panggilannya itu tidak jelas lagi, mirip auman suara harimau marah!

Dia lari memasuki terowongan sebelah kiri setelah meneliti ke bawah. Tidak terlihat bekas tapak sepatu sumoi-nya saking banyaknya tapak kaki di situ, tapak kaki kecil-kecil dari orang-orang kerdil. Terowongan ini panjang sekali, menurut taksirannya tentu tidak kurang dari dua li jauhnya. Hatinya makin risau. Sudah begini lama dan jauh dia mengejar dan mencari Swat Hong, akan tetapi bekas dan jejaknya pun belum ditemukan.

“Sumoi…!!” dia berteriak lagi kuat-kuat ketika lorong itu berakhir di sebuah ruangan bawah tanah atau dalam gunung yang cukup lebar.

Sebagai jawabannya, tiba-tiba terdengar suara berdesingan, dan dari depan, kanan dan kiri menyambar sinar-sinar hitam. Pandang mata yang tajam dari Sin Liong dapat melihat bahwa benda-benda bersinar itu adalah anak panah-anak panah yang dilepas dari tempat rahasia. Cepat dia memutar tongkat pendek yang berubah menjadi segulung sinar yang melindungi seluruh tubuhnya. Sampai beberapa lama dia menangkis dan akhirnya penyerang gelap itu pun berhenti. Di ruang itu kini penuh dengan anak panah hitam yang agaknya beracun. Dia bergidik. Bagaimana nasib sumoi-nya di tempat berbahaya ini?

“Sumoi…!!”

Sambil berteriak dia segera membalikkan tubuhnya karena ruangan itu merupakan jalan buntu, lalu berlari kembali melalui terowongan yang panjangnya ada dua li itu, sampai dia tiba di jalan simpang empat tadi. Kini dia melihat terowongan kedua sambil berteriak-teriak memanggil nama sumoi-nya. “Swat Hong…! Han Swat Hong…!!”

Panggilan ini dia lakukan dengan pengerahan khikang sekuatnya sehingga dinding terowongan itu menjadi tergetar karenanya. Namun tidak ada jawaban melainkan gema suaranya sendiri yang melengking panjang. Sin Liong menjadi panik, matanya terbelalak dan mukanya pucat. Baru sekali ini dia merasa sedemikian gelisahnya dan dia menyesali diri sendiri mengapa dia tadi tidak melarang sumoi-nya memasuki goa-goa rahasia penuh jebakan ini, kalau perlu melarang dengan kekerasan!

Dia berlari terus dengan hati gelisah, akan tetapi dengan penuh kewaspadaan karena dia maklum bahwa tempat itu merupakan tempat rahasia yang amat berbahaya, perpaduan antara kekuasaan alam dan manusia. Tak mungkin tangan manusia membuat goa-goa dan lorong-lorong batu dalam gunung ini, akan tetapi hasil ciptaan alam ini dipergunakan oleh manusia, diperbaiki dan bahkan dipasang jebakan-jebakan yang jahat!

“Haiiitttt!” Sin Liong cepat meloncat ke atas, lalu meluncur kembali ke belakang sambil berjungkir balik dan jatuh berdiri kembali di jalan yang telah dilalui.

Ia terbelalak memandang ke depan. Kiranya secara tiba-tiba sekali, tentu digerakkan oleh alat rahasia yang terinjak olehnya tadi ketika berlari, di depannya telah terbuka lubang yang panjangnya ada tiga meter, terbuka secara tiba-tiba. Kalau dia tadi tidak berhasil meloncat dan lari terus, tentu akan terjeblos ke dalam jurang itu. Terdengar suara mendesis-desis dari dalam lubang yang hitam gelap, akan tetapi desis itu dan bau amis membuat Sin Liong bergidik. Tahulah dia bahwa di dalam lubang itu terdapat banyak ular berbisa! Jebakan yang amat keji!

“Keparat…!” desisnya dengan marah melihat kekejaman manusia kerdil itu yang tidak segan mempergunakan cara yang amat menjijikkan untuk mengalahkan lawan.

Dia melompati lubang itu dan melanjutkan larinya. Ketika dia berjalan satu li lebih, lorong itu pun berhenti di jalan buntu yang merupakan sebuah ruangan besar pula. Bahkan ruangan ini cuacanya cukup terang, entah memperoleh sinar dari mana, agaknya ada lubang-lubang dari mana sinar matahari dapat masuk.

Tiba-tiba, seolah-olah muncul dari dalam dinding batu, tampak seorang kerdil yang luar biasa. Bentuknya pendek tegap seperti orang-orang kerdil yang tadi, akan tetapi wajahnya menandakan bahwa dia sudah tua dan sepasang matanya seperti bintang pagi, tajam bersinar-sinar. Kumis dan jenggotnya panjang, sedangkan bentuk pakaiannya lebih mewah dari yang lain. Kakek kerdil ini memegang sebatang pedang yang bersinar-sinar tanda bahwa pedang itu adalah sebuah benda pusaka yang ampuh.

Selagi Sin Liong memandang penuh perhatian dan maklum bahwa tentu di dinding kiri ini terdapat pintu rahasianya yang tadi terbuka cepat untuk dilewati kakek ini, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah kiri dan kembali secara tiba-tiba muncul seorang kerdil lain yang tubuhnya amat tegap dan besar membayangkan kekuatan. Juga orang kerdil ke dua ini pakaiannya mewah, sikapnya gagah dan mukanya penuh dengan brewok tebal menghitam.

Kedua orang ini dari tubuh atas sampai ke pinggang ukurannya seperti manusia biasa, akan tetapi dari pinggang ke bawah amatlah pendeknya sehingga kelihatan aneh dan lucu. Orang kedua yang brewok dan mukanya membayangkan kekerasan dan kegagahan ini memegang sebatang toya yang lebih panjang dari- pada tubuhnya sendiri. Juga toya ini bersinar-sinar tanda sebatang senjata yang baik.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo