July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 16)

 

Diam-diam lima orang itu terkejut juga sungguh pun mereka tahu siapa yang dimaksudkan dengan sebutan ratu itu. Benar-benar bekas ketua Bu-tong-pai adalah seorang wanita yang angkuh dan hendak menerima mereka sebagai seorang ratu! Akan tetapi karena mereka berada di sarang yang berbahaya, mereka tidak banyak cakap melainkan mengikuti pasukan itu menuju ke tengah pulau, di mana terdapat bangunan- bangunan yang kuat dan cukup indah. Lima orang utusan An Lu Shan itu diterima oleh The Kwat Lin, Kiam-mo Cai-li Liok Shi, dan Han Bu Ong putra The Kwat Lin, di dalam sebuah ruangan yang luas.

Muka Swi Nio agak pucat dan otomatis dia menyentuh tangan Liem Toan Ki yang membalas dengan genggaman seolah-olah hendak menghibur kegelisahan calon istrinya itu. Tentu saja Swi Nio merasa takut karena dia sudah mengenal watak subo-nya yang keras dan kejam, juga maklum betapa lihainya subo-nya itu. Dia tahu bahwa andai kata subo-nya berniat buruk, mereka berlima tentu akan tewas semua di tempat itu.

“Ibu, itu Swi-suci yang telah minggat datang kembali!” tiba tiba Han Bu Ong berkata sambil menudingkan telunjuknya ke muka Swi Nio.

Swi Nio tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi. Dia maju menjatuhkan diri berlutut sambil berkata, “Subo, teecu harap subo sudi mengampunkan teecu.”

The Kwat Lin memandang tajam sejenak, lalu menghela napas dan menggerakkan tangannya. Dia cukup bermata tajam untuk dapat melihat betapa empat orang laki laki yang datang bersama Swi Nio itu bersikap siap siaga. Kalau dia menurutkan hati panas, lalu turun tangan mengganggu muridnya itu, tentu empat orang utusan An Lu Shan itu akan membela Swi Nio mati-matian. Hal ini sama sekali tidak diharapkannya dan sudah dibicarakannya tadi bersama Kiam-mo Cai-li.

Maka The Kwat Lin menekan perasaannya dan berkata, “Bangkitlah, engkau pergi dan menjadi kepercayaan An-goanswe, tidak terlalu mengecewakan.”

Lega bukan main hati Swi Nio. Dia bangkit berdiri lalu berkata kepada Bu Ong, “Sute engkau baik baik saja, bukan?”

Han Bu Ong yang biar pun masih kecil namun sikapnya sudah seperti orang dewasa itu mencibirkan bibirnya. Ia mendengus seperti orang mengejek, lalu berkata, “Suci, baik sekali engkau, ya? Suheng dibunuh orang, dan ibu sampai lari ke sini, akan tetapi engkau malah minggat dan enak enak saja!”

“Bu Ong, diamlah engkau!” The Kwat Lin berkata, lalu melanjutkan kepada Swi Nio, “Swi Nio, tahukah engkau bahwa kakakmu telah tewas?”

Swi Nio mengangguk. Air matanya yang bercucuran segera diusapnya. “Teecu sudah mendengar akan hal itu, Subo.”

“Kalau begitu kita sama-sama mendendam kepada pemerintah. Kita lupakan saja semua urusan lama, Swi Nio, dan baik sekali kalau kita dapat bekerja sama. Agaknya engkau kini sudah dipercaya menjadi utusan An-goanswe, ya?”

Swi Nio cepat menjawab dan memperkenalkan teman-temannya. “Teecu hanya menjadi pembantu dan penunjuk jalan saja bersama… dia ini….” Swi Nio menunjuk kepada Liem Toan Ki dan mukanya menjadi merah.

“Siapa dia?” The Kwat Lin memandang tajam kepada Liem Toan Ki. Toan Ki cepat maju menjura dengan hormat. “Maafkan, Pangcu….”
“Aku bukan ketua Bu-tong-pai lagi, aku adalah bekas Ratu Pulau Es!” jawab Kwat Lin ketus. “Maaf, saya bernama Liem Toan Ki dan Bu-moi adalah calon istri saya.”
“Ibu, dia ini yang pernah menyerbu Bu-tong-pai dan dialah tentunya yang membawa minggat Suci!” tiba- tiba Bu Ong berkata.

Toan Ki diam-diam memuji kecerdikan anak laki-laki itu dan dia terkejut sekali. “Benar demikian, saya yang dahulu menjadi petugas An-goanswe menyelidiki Bu-tong-pai dan kemudian mengajak pergi Bu-moi yang sekarang menjadi calon istri saya.”

The Kwat Lin mengerutkan alisnya. Laki-laki ini sebenarnya telah menghinanya sebagai bekas ketua Bu- tong-pai dan sebagai guru Swi Nio. Akan tetapi diam-diam dia menerima isyarat mata Kiam-mo Cai-li, maka dia menoleh kepada Swi Nio sambil bertanya, “Benarkah kau menjadi calon isterinya?”

Muka Swi Nio menjadi merah sekali. “Benar, Subo. Kami saling mencinta, akan tetapi teecu dan dia berjanji hanya akan melangsungkan pernikahan setelah dendam saya terbalas, yaitu setelah kerajaan sekarang jatuh dan dikuasai An-goanswe.”

“Hemm, sudahlah. Kalau kau dan calon suamimu ini hanya membantu, siapa yang menjadi utusan An- goanswe menghadap padaku?”

“Mereka inilah,” Swi Nio menunjuk kepada tiga orang teman-temannya. “Dia adalah Pat-jiu Mo-kai, dan Totiang ini adalah Siok Tojin, Lo-enghiong itu adalah Tan Goan Kok. Mereka bertiga yang menjadi utusan An-goanswe.”

The Kwat Lin memandang tajam kepada tiga orang itu seolah-olah hendak menimbang bobot mereka dengan matanya.

Pat-jiu Mo-kai adalah orang tertua di antara ketiga utusan An-goanswe. Selain itu dia juga memiliki kemampuan bicara yang lebih pandai bila dibandingkan dengan Tan Goan Kok yang kasar dan jujur, apa lagi terhadap Siok Tojin yang jarang sekali membuka mulut. Tak heran An Lu Shan menunjuknya sebagai pemimpin rombongan ini sekaligus juga sebagai juru bicara.

Melihat pandangan tajam The Kwat Lin, Pat-jiu Mo-kai segera tertawa. “Ha-ha-ha, kami bertiga pun hanyalah pembantu-pembantu rendahan saja dari An-goanswe, akan tetapi kami menerima kehormatan untuk menjadi utusan beliau menghadap Toanio The Kwat Lin yang namanya terkenal sebagai Ratu Pulau Es dan ketua Bu-tong-pai, juga menghadap Kiam-mo Cai-li yang juga amat terkenal di dunia Kang-ouw sebagai seorang wanita yang amat lihai dan cerdas sekali. Kami merasa amat terhormat dapat menjadi tamu-tamu di Rawa Bangkai ini.”

Kiam-mo Cai-li Liok Si yang memang amat cerdas, kini mendahului Kwat Lin dan berkata, “Tidak tahu apakah kedatangan Cuwi ada hubungannya dengan pesan kami kepada An-goanswe?”

“Dugaan Cai-li benar sekali. Kami berlima adalah utusan An-goanswe untuk menghadap dan bicara dengan Jiwi. An-goanswe telah menerima pesan Jiwi dan sebagai jawaban An-goanswe mengutus kami untuk bicara.”

“Lalu bagaimana keputusan An-goanswe tentang ajakan kami untuk bekerja sama?” The Kwat Lin bertanya.

“An-goanswe merasa amat senang menerima surat Jiwi dan tentu saja An-goanswe menerima dengan kedua tangan terbuka uluran kerja sama Jiwi itu. Sudah lama An-goanswe merasa kagum, terutama sekali melihat siasat gemilang yang berhasil baik sehingga Jiwi sekalian dapat menyelundupkan orang menjadi kepercayaan Yang Kui Hui. Hanya sayang, pada saat terakhir siasat gemilang itu mengalami kegagalan karena orang kepercayaan Jiwi tidak dapat menahan nafsu birahinya. Kami diutus oleh An-goanswe untuk menyampaikan pesan bahwa jika Jiwi suka membantu dari dalam, yaitu berusaha menanam tenaga- tenaga bantuan di dalam kota raja, dan kalau mungkin di dalam istana agar kelak memudahkan penyerbuan ke kota raja apabila saatnya yang tepat tiba, maka An-goanswe akan berterima kasih sekali.”

Mendengar pesan An Lu Shan yang di sampaikan oleh Pat-jiu Mo-kai ini, hati kedua orang wanita itu menjadi girang sekali sungguh pun kegirangan itu tidak terbaca di wajah mereka. “Kami yang tidak mempunyai pasukan besar memang tahu diri dan tentu saja hanya akan membantu dari dalam seperti yang diusulkan An-goanswe. Kami dapat menerima usul itu dan sebaiknya kita rencanakan siasat- siasatnya bersama.” The Kwat Lin berkata.

“Sebelum kita berunding dan mengatur siasat agar dapat kami sampaikan kepada An-goanswe, terlebih dahulu kami harus menyampaikan semua pesan beliau untuk Jiwi. Selain usul itu juga An-goanswe mengatakan bahwa pekerjaan membantu dari dalam itu merupakan pekerjaan yang amat rumit, sulit, dan berbahaya. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi saja yang akan dapat berhasil dan An-goanswe ingin memperoleh keyakinan bahwa para pembantunya tidak akan gagal.”

Mendengar kata-kata kakek berpakaian tambalan itu, merahlah wajah The Kwat Lin dan hatinya menjadi panas. “Hemm, ucapanmu itu berarti bahwa kalian hendak menguji kepandaian kami?”

Sambil tertawa Kiam-mo Cai-li yang melihat kemarahan kawannya itu bangkit berdiri dan meloncat ke tengah ruangan yang luas itu sambil berkata, “Memang sudah seharusnya demikian! An-goanswe adalah seorang Jenderal besar yang cerdik pandai, tentu akan menguji setiap orang sekutu atau pembantunya. Nah, biarlah aku yang lebih dulu memperlihatkan kepandaian. Siapakah di antara Cuwi berlima yang hendak menguji?” dengan lagak memandang rendah Kiam-mo Cai-li berdiri dan memandang ke arah lima orang utusan itu.

Tentu saja Bu Swi Nio tidak berani bergerak, juga Liem Toan Ki yang sudah maklum akan kehebatan ilmu kepandaian wanita Majikan Rawa Bangkai itu, mengerti bahwa dia bukanlah tandingannya.

Melihat wanita yang usianya lima puluh tahun namun masih cantik menarik itu memegang sebatang payung dan berdiri dengan sikap memandang rendah, Siok Tojin yang sejak tadi diam saja sudah bangkit. Ilmu kepandaian tosu ini amat tinggi terutama ilmu pedangnya. Di dalam rombongan itu dia merupakan orang ke dua yang terpandai.

“Biarlah pinto yang akan menguji,” katanya.

Pat-jiu Mo-kai mengangguk. Memang yang akan menjadi tukang menguji kepandaian dua orang wanita itu adalah mereka bertiga. Dia sudah mendengar bahwa kepandaian bekas Ratu Pulau Es itu lebih hebat dari- pada kepandaian Kiam-mo Cai-li, maka memang sebaiknya kalau Siok Tojin yang menghadapi Kiam-mo Cai-li, sedangkan dia nanti yang akan menghadapi The Kwat Lin.

Kiam-mo Cai-li memandang tosu itu penuh perhatian, kemudian sambil tersenyum dia berkata, “Kalau aku hanya mampu menandingi Siok Tojin, agaknya belumlah patut aku menjadi tangan kanan Ratu Pulau Es dan akan menjadi kepercayaan An-goanswe. Akan tetapi hendak kuperlihatkan bahwa aku akan dapat mengalahkan totiang dalam sepuluh jurus. Kalau sampai dalam sepuluh jurus aku tidak mampu mengalahkan Totiang, anggap saja aku tidak becus dan aku akan mengundurkan diri!”

Ucapan ini mengejutkan semua utusan itu. Biar pun mereka sudah lama mendengar nama besar datuk wanita yang merupakan iblis betina ini, namun Siok Tojin bukan orang sembarangan. Ilmu pedangnya amat tangkas, hebat dan kuat. Bagaimana wanita itu berani bersombong mengatakan hendak mengalahkannya dalam sepuluh jurus?

Namun The Kwat Lin tenang-tenang saja. Dengan pandang matanya yang tajam dia dapat menilai orang. Juga Kiam-mo Cai-li bukanlah menyobongkan diri secara ngawur, melainkan dia pun sudah dapat menilai kepandaian tosu itu dari gerakannya, maka dia berani menantang akan mengalahkannya dalam sepuluh jurus.

Siok Tojin mengerutkan alisnya, perutnya terasa panas. Dia tidak pandai bicara, maka dalam kemendongkolannya dia hanya berkata, “Hemm, seekor kerbau diikat hidungnya, manusia diikat mulutnya!”

Ucapan ini mengandung maksud bahwa kalau Kiam-mo Cai-li tidak memenuhi janji yang diucapkan dengan mulut, dia sama dengan seekor kerbau! Setelah berkata demikian, tangan kanannya bergerak dan tampaklah sinar berkilau dari pedang yang telah dicabutnya.

“Tentu saja mulutku dapat dipercaya, Siok Tojin! Aku akan mengalahkanmu dalam waktu sembilan jurus!” Kiam-mo Cai-li berkata sambil mengejek. Tangan kanannya memegang payung yang segera terbuka dan dipakainya, sedangkan tangan kirinya meraba-raba sanggul rambutnya, seperti sedang merapikan padahal diam-diam dia melepas tali rambutnya yang panjang itu.

“Sebagai nyonya rumah rasanya kurang sopan jika aku menyerang tamuku. Silakan dimulai, Totiang,” ujar Kiam-mo Cai-li.

“Singgg…!” Siok Tojin langsung menghunus pedangnya. Tosu ini memang lebih pandai berbicara melalui pedang dibandingkan dengan mulutnya.

Pihak lawan sudah memintanya membuka pertarungan, maka tanpa sungkan lagi tosu ini menerjang ke depan, apa lagi perutnya masih panas akibat dia tadi diremehkan. Melihat iblis wanita yang menjadi lawannya menyandang payung di bahu kanan, langsung pedangnya menusuk lurus ke arah pundak kiri lawan yang lebih terbuka. Dalam pertarungan biasa, dia akan menusukkan pedangnya tepat ke jantung lawan, tetapi karena pertarungan ini hanya untuk menguji kepandaian, maka sengaja dia arahkan pedangnya lebih tinggi sehingga tidak mengancam jiwa lawannya.

Tidak percuma Liok Si bergelar Cai-li (Wanita Pandai). Melihat gerakan pembuka tosu ini dia lantas paham bahwa pihak lawan memang hanya ingin mengujinya, tidak punya maksud mencelakakan. Sebab itu bibirnya mengembangkan senyum manis, dan dalam hati dia pun bertekad untuk tidak menurunkan tangan berat kepada tosu itu. Begitu pedang datang menyambar, Kiam-mo Cai-li cepat menarik kaki kiri sedikit ke belakang, sedangkan kaki kanannya ditekuk sehingga tubuhnya merendah dan menjauh dari pedang Siok Tojin.

Namun gerakan pembuka tadi ternyata hanya pancingan belaka. Begitu tubuh lawan bergerak, segera Siok Tojin menahan pedangnya, lalu membuat gerakan memutar dan membabat lengan kiri lawan. Kiam-mo Cai-li tidak mengelak lagi, secepat kilat tangan kanannya yang memegang payung digerakkan untuk menangkis pedang yang mengancam lengannya. Melihat urat di dahi tosu itu menegang, tanda bahwa dia sedang mengerahkan tenaga penuh, Kiam-mo Cai-li turut menghimpun sinkang dan menangkis dengan sekuatnya.

“Tranggg…!” timbul percikan api akibat benturan payung dan pedang, diikuti langkah mundur keduanya.

Dalam sekali gebrakan, keduanya langsung paham kemampuan lawan masing-masing. Pedang Siok Tojin bergerak lebih dulu, namun payung Kiam-mo Cai-li yang sampai lebih awal di tempat tujuan, padahal jarak yang ditempuh pedang lebih pendek dibandingkan payung. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan majikan Rawa Bangkai itu masih lebih unggul. Selain itu, ketika terjadi benturan tadi Siok Tojin dapat melihat pedangnya sedikit terpental dan merasakan perih di telapak tangannya, sedangkan payung di tangan wanita iblis itu hanya terlihat sedikit tergetar. Mau tidak mau Siok Tojin harus mengakui bahwa sinkang-nya juga lebih asor.

“Hemmm…, baik kecepatan mau pun sinkang-nya lebih unggul, tidak heran lidahnya bisa berucap hingga menjilat langit. Melihat kenyataan ini, sebaiknya aku bertahan saja selama sepuluh jurus, hendak kulihat apa yang bisa dia lakukan terhadap diriku. Lewat sepuluh jurus, jika aku masih berdiri tegak, bukankah dia sendiri yang harus mengaku kalah?” demikian jalan pikiran si tosu dalam mengatur siasat.

Setelah mengambil keputusan demikian, Siok Tojin tidak mau bergerak sembarangan lagi. Dia hanya berdiri tegak dengan kuda-kuda sekokoh batu karang, kedua kaki dipentang dengan lutut sedikit menekuk, pedang menuding diarahkan lurus ke depan, tangan kirinya dipasang melintang di depan dada, sedangkan matanya mengawasi lawan dengan waspada.

Mula-mula Kiam-mo Cai-li tertegun melihat lawannya diam tak bergerak, namun dia segera sadar akan isi benak si tosu. Semenjak sebelum pertarungan dimulai, ketika dia menyatakan akan menundukkan lawannya di bawah sepuluh jurus, wanita cerdik ini sudah memikirkan pula kemungkinan ini.

“Hi-hik…, baru satu jurus Totiang sudah mematung tidak berani maju. Apakah Totiang merasa takut kepada seorang wanita? Bukankah Totiang bermaksud mengujiku? Atau… justru aku yang perlu menguji kepandaian Totiang?” dengan cerdik Kiam-mo Cai-li menyindir tajam sambil tersenyum mengejek.

Walau pun seorang tosu, agaknya Siok Tojin adalah orang yang lebih mengutamakan hati dibandingkan otak. Mendengar sindiran lawan, dia lupa pada siasat yang sudah ditanam dalam pikirannya. “Siapa yang takut?!” bentaknya sambil kembali menerjang.

Kiam-mo Cai-li tahu An-goanswe tidak mungkin mengirim orang lemah untuk menguji dirinya. Bisa melewati rawa maut hingga kakinya menginjak istana kediamannya saja sudah menunjukkan bahwa tosu ini bukan lawan yang mudah dikalahkan begitu saja. Bila Siok Tojin hanya bertahan saja, dia khawatir hingga lewat sepuluh jurus dirinya belum mampu mengalahkan tosu ini. Karena itu dia memang sengaja memancing kemarahan lawan agar mau menyerang, dengan demikian akan timbul lubang-lubang yang dapat diterobos payung, kuku, atau rambutnya yang seperti cambuk.

Segera kedua orang itu saling serang dengan dahsyat. Walau pun Siok Tojin tidak bertahan sama sekali, namun pada kenyataannya dia ada di pihak yang lebih banyak bertahan. Dalam empat gerakan, dia hanya menyerang satu kali, sisa tiga gerakan lainnya berupa tangkisan atau gerakan mengelak untuk mempertahankan diri. Selain dia kalah cepat, niatnya untuk bertahan tidak terhapus hilang dari otaknya.

Tidak demikian dengan Kiam-mo Cai-li. Wanita ini harus menjatuhkan lawan sebelum jurus ke sepuluh dimainkan, karena itu dia langsung mengembangkan jurus-jurus pilihan. Payungnya berkelebat cepat, kadang tertutup lain kali terbuka, sekali menusuk dua kali membabat. Di samping itu tangan kirinya tidak tinggal diam, akan tetapi turut menyerang dengan kuku-kukunya yang beracun.

Setelah lewat empat lima jurus kedudukan Siok Tojin sudah sangat payah. Seluruh ruang geraknya seakan-akan tertutup tanpa jalan lolos, terkepung oleh kelebatan sinar payung dan cengkeraman kuku jari Kiam-mo Cai-li. Hingga suatu saat, pada jurus kelima, tubuh Tosu itu terhuyung setelah pedangnya terpaksa menangkis payung lawan yang menyabet lengan atasnya dengan tenaga penuh.

Tiba-tiba Kiam-mo Cai-li mengeluarkan suara lengking yang membuat telinga semua orang mendengung. Mendadak tangan kiri wanita iblis ini menyerang ulu hati lawan dengan gerakan mencengkeram, mengandalkan kuku jarinya yang panjang dan mengandung racun. Dalam waktu yang bersamaan, payung di tangan kanannya berkelebat secepat kilat membabat pinggang kiri si tosu.

Walau pun dalam keadaan terhuyung, Siok Tojin masih dapat melihat dua serangan sekaligus yang sama berbahaya ini. Cepat tangan kirinya bergerak menangkap pergelangan tangan Kiam-mo Cai-li, sementara pedangnya diayun menangkis payung yang mengarah pada pinggangnya. Kiam-mo Cai-li mendengus, dia biarkan tangan lawan menangkap pergelangan kirinya, namun tanpa mengurangi tenaga, cakar kiri itu tetap mendorong dan mengancam ulu hati Siok Tojin. Di saat itu pula dia kerahkan sinkang pada payungnya sehingga pedang lawan menempel tanpa dapat dilepaskan.

Sekejap itu pula terjadilah adu tenaga antara kedua orang ini, majikan Rawa Bangkai berada pada kedudukan menyerang, sedangkan utusan An Lu Shan berjuang untuk mempertahankan diri. Pada saat itu, hanya sekejap saja, Siok Tojin sempat melihat senyum di bibir Kiam-mo Cai-li tanpa tahu apa maksudnya. Dia baru tersentak keget ketika kepala wanita itu tiba-tiba menghentak ke depan, diikuti oleh serangkum bayangan hitam yang panjang bagaikan ular menyambar ke arahnya.

“Ehhh… celaka…!!” Siok Tojin berseru.

Akan tetapi bagaimana dia dapat menghindarkan diri dari serangan ke tiga ini? Kedua tangannya telah menahan dua ancaman maut dan sama sekali tidak bisa dilepaskan.

“Plak-plak…!!” seperti ular hidup mematuk saja layaknya, ujung rambut panjang itu menotok dua kali, membuat ke dua lengan tangan Siok Tojin seketika lumpuh dan pedangnya telah dirampas oleh ujung rambut yang terayun-ayun dan berputar ke atas, membawa pedang itu berputaran di atas kepala.

“Bagaimana, Totiang?” Kiam-mo Cai-li bertanya.

Sambil menundukkan kepalanya, Siok Tojin berkata lirih, “Pinto mengaku kalah.”

Memang dia tahu akan kekeliruannya sekarang, akan tetapi dia harus mengaku bahwa dia telah dikalahkan dalam lima enam jurus saja! Dia tahu pula bahwa lawan tidak hendak mencelakakannya, kalau tidak, tentu ujung rambut itu dapat melakukan totokan maut yang akan menewaskannya.

Rambut itu membawa pedang meluncur ke bawah dan melempar pedang menancap di depan kaki Siok Tojin, kemudian dua kali rambut menyambar, dan menotok sehingga terbebaslah tosu itu dari totokan. Siok Tojin menghela napas, mengambil pedangnya, menjura lalu tanpa berkata-kata lagi dia melangkah mundur ke tempat teman-temannya.

“Ha-ha-ha, bukan main hebatnya Kiam-mo Cai-li. Pedang payung lihai, kukunya berbahaya, rambutnya hebat, akan tetapi yang lebih hebat lagi adalah kecerdikannya yang memancing kemarahan Siok Tojin! Memang kecerdikan seperti itu amat dibutuhkan dalam tugas bekerja dari dalam yang membutuhkan kecerdikan seperti yang dimiliki Kiam-mo Cai-li. Kionghi (Selamat)! An-goanswe tentu akan girang sekali mendengar laporan kami tentang diri Kiam-mo Cai-li!”

Kiam-mo Cai-li yang sudah duduk kembali, tersenyum girang. “Aihh, Lo-enghiong Pat-jiu Mo-kai terlalu memuji!” katanya dengan bangga dan girang.

“Sekarang untuk melengkapi tugas kami yang diberikan oleh An-goanswe, kuharap The-toanio suka memperlihatkan kepandaian,” kata pula Pat-jiu Mo-kai sambil melangkah maju menyeret tongkat bututnya. “Dan agaknya terpaksa aku sendiri yang harus maju melayani Toanio.”

The Kwat Lin masih tetap duduk dan memandang kakek pengemis itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian dengan suara tenang dia berkata, “Siapa lagi yang diutus oleh An-goanswe untuk menguji kami?”

“Hanya kami bertiga, dan karena Siok Tojin sudah kalah…..”

“Maka tinggal engkau dan Tan-lo-enghiong itu. Nah, kau lihat Tan-lo-enghiong juga telah membawa senjatanya, membawa sebatang toya, maka sebaiknya kalau kalian berdua maju dan mengeroyokku!”

Pat-jiu Mo-kai tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, The-toannio, apakah Toanio juga hendak menggunakan siasat seperti Kiam-mo Cai-li tadi? Ingat, tidaklah mudah untuk memancing kemarahanku!”

The Kwat Lin mengerutkan alisnya, lalu melangkah maju. “Siapa yang menggunakan siasat? Tanpa siasat pun aku masih sanggup menghadapi kalian berdua.”

Tiba-tiba terdengar suara Han Bu Ong, “Ibu, berikan dia kepadaku! Biar aku yang menandingi pengemis tua itu!”

Pat-jiu Mo-kai diam-diam terkejut. Kalau seorang anak belasan tahun berani menghadapinya, tentu ibunya memiliki kepandaian yang hebat sekali.

Akan tetapi The Kwat Lin menoleh kepada puteranya dan berkata, “Bu Ong, kita tidak sedang menghadapi musuh, dan pertandingan ini hanya untuk menguji kepandaian saja. Jangan kau ikut-ikut!”

Han Bu Ong cemberut, lalu berkata, “Apa lagi hanya dikeroyok dua, biar kalian berlima maju semua, ibu akan dapat mengalahkan kalian dengan satu tangan saja!”

Kembali Pat-jiu Mo-kai terkejut. Bocah itu, putera The Kwat Lin, tidak boleh dianggap seperti bocah biasa. Dia tentu telah memiliki kepandaian tinggi pula, maka kata-katanya tidak boleh dianggap kosong belaka. Lenyaplah keraguannya dan dia berkata kepada The Kwat Lin, “Memang sesungguhnya aku sendiri dan Tan Goan Kok merupakan orang-orang yang diutus menguji kepandaian Toanio, apakah kami boleh maju bersama menghadapi kelihaian Toanio?”

Dengan sikap tak acuh The Kwat Lin berkata sambil menggerakkan tangan kirinya, “Majulah, jangan sungkan-sungkan!”

Tan Goan Kok yang berwatak kasar itu melompat ke depan. “Hemm, tentu Nyonya rumah memiliki kelihaian yang luar biasa maka menantang kita maju berdua, Pat-jiu Mo-kai!”

Pat-jiu Mo-kai mengangguk-angguk. “Hati-hatilah, Tan-sicu.”

Mereka berdua lalu memasang kuda-kuda di sebelah kanan-kiri The Kwat Lin. Pat-jiu Mo-kai memegang tongkat butut dengan tangan kanan seperti memegang sebatang pedang. Tongkat itu menuding lurus ke depan dari dadanya, sedangkan tangan kirinya menjaga di depan pusar. Kedua kakinya ditekuk sedikit, agak merapat di depan dan belakang. Tan Goan Kok memegang toyanya dengan kedua tangan. Kuda- kudanya kuat sekali, kokoh seperti batu karang dan toya di kedua tangannya itu sedikit pun tidak bergoyang.

Melihat dua orang itu sudah memasang kuda-kuda, The Kwat Lin lalu mencabut pedangnya, yaitu Ang- bwe-kiam dan melangkah maju sambil berkata, “Nah silakan kalian mulai!”

“Kami adalah tamu-tamu dan kami maju berdua, tidak pantas kalau kami mulai, silakan Toanio mulai,” kata Pat-jiu Mo-kai yang tidak mau membuka serangan karena dia ingin lawan maju menyerang lebih dulu agar dia atau temannya dapat mengacaukan pertahanan lawan dengan serangan mendadak.

The Kwat Lin tersenyum, maklum akan siasat kakek jembel itu. “Nah, sambutlah!” teriaknya.

Pat-jiu Mo-kai kecele kalau hendak melanjutkan siasatnya, karena tiba-tiba pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar yang menyambar ke arah mereka seperti kilat cepatnya sehingga sekali bergerak, pedang itu telah menyerang mereka berdua dalam waktu yang hampir bersamaan! Tentu saja mereka terkejut sekali dan cepat menggerakkan tongkat dan toya untuk menangkis.

“Trang…! Cringggg…!!”

Pat-jiu Mo-kai dan Tan Goan Kok terhuyung ke belakang. Tenaga yang keluar dari Ang-bwe-kiam sungguh dahsyat, membuat telapak tangan mereka terasa panas dan hampir saja senjata mereka terlepas. Terkejutlah kedua orang itu dan The Kwat Lin diam-diam mentertawakan mereka karena dia memang hendak mengukur lebih dulu kekuatan lawan. Karena merasa penasaran, kini ke dua orang itu maju dari kanan-kiri dan mulailah mereka menyerang dengan ganas.

Kwat Lin sudah dapat mengetahui bahwa di antara kedua orang pengeroyoknya, tongkat kakek jembel itulah yang lebih lihai, maka dia selalu mendahulukan tangkisannya terhadap tongkat itu, baru dia menangkis toya yang menyambar. Dia tahu bahwa kakek Tan Goan Kok yang kasar itu hanyalah mengandalkan tenaga gwakang yang besar, namun makin besar tenaga kasar lawan, makin mudah dia menghadapinya karena sedikit getarkan pedang yang dilakukan dengan pengerahan sinkang cukup membuat telapak tangan Tan Goan Kok terpukul sendiri oleh tangannya. Lewat sepuluh jurus, setelah dia yakin akan ukuran tenaga kedua orang lawannya, tiba-tiba The Kwat Lin menyarungkan kembali pedangnya dan menghadapi kedua lawan itu dengan tangan kosong.

Tentu saja dua orang lawannya cepat menahan senjata dan Pat-jiu Mo-kai berseru, “Heiii, The-toanio. Kami belum kalah, mengapa engkau mengakhiri pertandingan?” “Siapa mengakhiri? Lanjutkanlah serangan kalian, aku menyimpan pedang karena takut rusak.” “Huhhh, dengan tangan kosong pun ibu akan mudah mengalahkan kalian!”

Mendengar teriakan bocah itu, dua orang kakek itu lalu maju lagi dan menggerakkan senjata mereka untuk menyerang. Tongkat Pat-jiu Mo-kai melayang dari atas menghantam kepala, sedangkan toya Tan Goan Kok menyambar dari samping menghantam lambung! Mereka terkejut setengah mati melihat lawan itu sama sekali tidak mengelak, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan meloncat sedikit.

“Bukk! Bukkk!!” tongkat itu dengan kerasnya menghantam leher dan toya itu menghantam pangkal paha, akan tetapi tiba-tiba dua orang kakek itu roboh terguling dalam keadaan lemas tertotok!

“Horeeee…!!” Han Bu Ong bersorak melihat betapa dalam segebrakan saja setelah ibunya menyimpan pedang, dua orang pengeroyok itu dapat dirobohkan.

Sementara itu The Kwat Lin cepat membebaskan totokannya sehingga dua orang kakek itu dapat bangkit sambil memungut senjata mereka dan memandang dengan mata terbelalak kagum kepada wanita itu. Hampir mereka tidak dapat percaya bahwa mereka dapat dirobohkan hanya dalam segebrakan saja, namun kenyataannya memang demikian. Mengingat akan siasat lawan ini, mereka bergidik dan kagum sekali.

Ternyata ketika tadi dia menggunakan pedang, The Kwat Lin hanya ingin mengukur sampai di mana kekuatan dua orang lawannya. Setelah yakin benar, dia menyimpan pedang dan sengaja menerima hantaman yang sudah dia ukur akan dapat diterima oleh leher dan pinggulnya. Kemudian pada saat kedua senjata itu tiba di tubuhnya, dia menggunakan kesempatan selagi kedua orang kakek itu terkejut melihat lawan tidak mengelak dan menerima pukulan. Cepat seperti kilat kedua tangan The Kwat Lin bergerak dan berhasil menotok roboh dua orang kakek yang sama sekali tidak menduga bahwa lawan yang terkena hantaman dua kali itu akan menotok mereka!

“Bukan Main!!!” Tan Goan Kok berseru dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu tanding sehebat itu. “Kami mengaku kalah! Kiranya The-toanio memiliki kelihaian yang amat luar biasa dan kami akan melaporkan semua ini kelak kepada An-goanswe,” kata Pat-jiu Mo-kai.

The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li girang sekali setelah dapat menundukkan para utusan itu, maka pesta lalu diadakan untuk menyambut utusan-utusan An Lu Shan. Sambil makan minum mereka lalu merundingkan dan merencanakan siasat untuk bekerja sama.

Dalam kesempatan ini, Pat-jiu Mo-kai mengeluarkan sebuah peti hitam kecil dan menyerahkannya kepada The Kwat Lin sambil berkata, “Harap Toanio suka menerima hadiah tanda persahabatan dari An-goanswe ini.”

The Kwat Lin menyatakan terima kasih, lalu bersama Kiam-mo Cai-li membuka peti yang berisi emas dan perak dalam jumlah yang cukup banyak. The Kwat Lin lalu melepaskan rantai kalungnya dan menyerahkannya kepada Pat-jiu Mo-kai sambil berkata, “Kami tidak mempunyai apa-apa untuk dipersembahkan kepada An-goanswe sebagai tanda persahabatan ini, harap Mo-kai suka menerima dan menyampaikan kepada beliau.”

Pat-jiu Mo-kai menerima kalung itu. Mereka berlima terbelalak kagum melihat mata kalung yang amat besar dan indah penuh batu permata yang amat luar biasa. Biar pun mereka bukanlah ahli, namun pengalaman membuat mereka, terutama tiga orang kakek itu, dapat menduga bahwa harga kalung ini tidak kalah mahalnya dengan peti dan isinya, hadiah dari An Lu Shan tadi!

“Hendaknya di antara pelaporan Cuwi, diberi-tahukan kepada An-goanswe bahwa kami sama sekali tidak membutuhkan harta benda, melainkan hendaknya An-goanswe mengingat bahwa saya adalah bekas Ratu Pulau Es dan puteraku adalah seorang Pangeran. Sedangkan Kiam-mo Cai-li adalah majikan Rawa Bangkai sehingga kelak kalau perjuangan kita berhasil, sudah sepatutnya kalau kami memperoleh kedudukan yang setingkat dengan keadaan dan dengan bantuan kami.”

Mengertilah tiga orang kakek itu bahwa wanita lihai bekas ratu ini ternyata memiliki ambisi untuk kedudukan tinggi bagi puteranya.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Liu Bwee, Ratu Pulau Es yang bernasib sengsara, ibu dari Swat Hong itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Liu Bwee meninggalkan Pulau Es, naik perahu dan mencari atau menyusul puterinya, Han Swat Hong yang lebih dulu meninggalkan Pulau Es menuju ke Pulau Neraka hendak menggantikan hukuman yang dijatuhkan oleh Raja Pulau Es atas diri Liu Bwee.

Sambil menahan tangisnya, wanita yang menderita sengsara karena madunya ini mendayung perahu secepatnya meninggalkan Pulau Es. Akan tetapi, biar pun semenjak kecil berada di Pulau Es, namun dia belum pernah pergi Ke Pulau Neraka. Siapakah orangnya yang berani pergi ke Pulau Neraka, kecuali mereka yang memang dihukum buang ke pulau terkutuk itu? Karena tidak mengenal jalan, Liu Bwee menjadi bingung, apa lagi karena tidak lagi melihat bayangan puterinya.

Dia adalah puteri nelayan Pulau Es, tentu saja dia pandai mengemudikan perahu. Akan tetapi karena tidak tahu di mana letaknya Pulau Neraka, dia menjadi bingung dan meluncurkan perahunya tanpa arah tertentu, asal meninggalkan Pulau Es sejauh-jauhnya saja. Dia ingin menjauhkan diri dari suaminya yang amat tercinta, dan terutama dari The Kwat Lin, madunya yang telah menghancurkan hidupnya.

Setelah sehari semalam berputaran tanpa tujuan dan sama sekali tidak melihat Pulau Neraka atau puterinya, bahkan tidak melihat seorang pun manusia yang dapat dia tanyai di antara gumpalan-gumpalan es yang mengambang di laut dan pulau-pulau kosong yang banyak terdapat di situ, tanpa makan tanpa tidur, akhirnya Liu Bwee terpaksa mendarat di sebuah pulau kosong yang subur. Dia mencari makanan untuk memenuhi tuntutan perutnya yang lapar. Melihat bahwa pulau ini cukup subur dan baik hawanya, dia mengambil keputusan untuk tinggal di pulau itu, betapa selama hidupnya sampai hari akhir. Dia sudah merasa bosan dengan urusan dunia yang hanya mendatangkan kesengsaraan batin belaka.

Mulailah Liu Bwee, wanita cantik yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun dan masih kelihatan muda sekali itu mengasingkan diri dan bertapa di pulau kosong sampai hampir enam bulan lamanya. Dia sudah menemukan ketenteraman batin, melupakan segala urusan duniawi. Namun ada saja sebabnya kalau memang belum jodohnya menjadi pertapa. Pada suatu hari, badai yang amat hebat mengamuk. Badai inilah yang membasmi Pulau Es dan badai ini mengamuk juga di pulau kosong di mana Liu Bwee bertapa itu.

Badai itu hebat bukan main! Biar pun Liu Bwee tadinya sudah bersembunyi di dalam goa, dia diterjang air laut yang naik ke atas pulau. Berkat ketangkasan dan kepandaiannya, Liu Bwee berhasil menyambar ujung ranting pohon ketika tubuhnya diseret oleh harus ombak laut yang amat kuat dan dia berhasil naik ke puncak pohon kecil yang menyelamatkannya. Akan tetapi air terus datang bergelombang dari arah laut dan dia harus berpegang kepada batang pohon itu kuat-kuat setiap kali air menghantamnya dengan kekuatan yang amat dahsyat. Dan hal ini berlangsung berjam-jam.

Betapa pun kuatnya Liu Bwee, dia hanya seorang manusia, maka makin lama makin lemaslah tubuhnya karena dia harus berjuang melawan air laut yang dahsyat itu. Setiap kali ombak datang bergulung, setiap kali pula hampir menenggelamkan pohon itu. Selain dia harus berpegangan kuat-kuat mengerahkan sinkang-nya agar jangan sampai terseret oleh air, juga dia harus menahan napas karena air menghantam seluruh tubuh dan mukanya.

“Celaka…!” pikirnya ketika untuk kesekian puluh kalinya dia berhasil mempertahankan dirinya dari serangan air laut. “Kalau terus begini, aku tidak akan kuat lagi bertahan….”

Liu Bwee melihat ke kanan-kiri. Banyak pohon yang sudah tumbang dan dia merasa ngeri. Kalau pohon di mana dia berlindung ini tumbang, dia tentu akan tewas. Sayang dia tidak dapat pindah ke pohon yang tinggi di sana itu, tentu di sana dia akan aman karena air tidak dapat mencapai pohon itu. Kembali datang serangan air. Liu Bwee memejamkan mata, menahan napas dan berpegangan erat-erat, maklum bahwa yang datang ini adalah ombak yang amat ganas dan kuat.

“Haiii…! Yang di sana itu…! Berpeganglah kuat-kuat! Aku akan berusaha menolongmu!” suara teriakan laki- laki ini datang dari arah pohon tinggi tadi.

Liu Bwee membuka matanya, melihat sinar hitam kecil menyambar dari pohon besar itu. Akan tetapi pada saat itu air pun datang menerjang dengan kekuatan yang amat dahsyat.

“Oughhh…!”

Betapa pun kuat kedua tangan Liu Bwee berpegang pada ranting pohon, namun kekuatan air itu lebih dahsyat lagi. Terdengar batang itu patah dan tubuh Liu Bwee hanyut terseret ombak. Dia sudah putus asa dan menyerahkan jiwa raganya kepada Tuhan. “Matilah aku…,” bisiknya.

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terasa nyeri dan tertahan, kemudian tubuhnya ditarik menuju ke pohon besar! Ketika dia memperhatikan, kiranya tubuhnya telah terlibat sehelai tali hitam yang amat kuat dan teringatlah dia akan sinar hitam yang tadi menyambar kepadanya sebelum air menghantamnya. Dia maklum bahwa ada orang menolongnya, maka bangkit kembali semangatnya untuk melawan maut, untuk mempertahankan hidupnya.

Liu Bwee mulai menggerakkan kaki tangannya, berenang agar tidak sampai tengelam. Dia membiarkan dirinya diseret oleh tali itu ke arah pohon besar yang lebih tinggi itu. Napasnya terengah-engah hampir putus karena tenaganya sudah habis dipergunakan untuk melawan hantaman-hantaman air yang bertubi- tubi tadi. Kalau saja tidak ada tali hitam yang melingkari pinggangnya yang selain menariknya ke arah pohon juga menahannya dari seretan ombak, tentu dia tidak sanggup berenang ke pohon itu. Dia berenang hanya untuk mencegah tubuhnya tenggelam saja. Tahulah dia bahwa nyawanya diselamatkan oleh tali itu dan diam-diam dia berterima kasih sekali kepada orang yang berada di pohon dan yang belum tampak olehnya itu. Dengan seluruh tenaga yang masih bersisah padanya, Liu Bwee berusaha keras agar dia tidak sampai tenggelam. “Pertahankanlah… sebentar lagi…,” terdengar suara laki-laki tadi dari pohon.

Liu Bwee merasa betapa tubuhnya ditarik makin cepat ke arah pohon karena dari arah laut sudah datang
lagi gelombang yang amat dahsyat. Ngeri juga dia menyaksikan gelombang sebesar gunung yang datang bergulung-gulung dari depan seolah-olah seekor naga raksasa yang datang hendak menelannya.

“Cepat… cepatlah!” dia merintih.

Dalam keadaan setengah pingsan dia merasa betapa tubuhnya ditarik atau lebih tepatnya diseret ke arah pohon itu. Akhirnya dia tiba di pohon itu dan sebuah lengan yang kuat menyambarnya. Tubuhnya diangkat ke atas pohon tepat pada saat gelombang itu datang bergulung-gulung. Liu Bwee mengeluh dan tak sadarkan diri!

“Aneh…!” lapat-lapat Liu Bwee mendengar kata-kata ‘aneh’ itu.

Akan tetapi seluruh tubuhnya sakit-sakit, kepalanya pening dan tenaganya habis, maka dia tidak membuka mata dan membiarkan saja ketika merasa betapa ada telapak tangan hangat menyentuh tengkuknya. Dari telapak tangan itu keluar hawa sinkang yang hangat dan membantu peredaran jalan darahnya, memulihkan kembali tenaganya secara perlahan-lahan.

“Aneh sekali…!”

Kini Liu Bwee teringat semua dan mengenal suara itu sebagai suara laki-laki yang menolongnya. Cepat dia membuka matanya dan menggerakkan tubuhnya hendak bangkit duduk. Akan tetapi hampir dia menjerit karena tubuhnya limbung dan kalau laki-laki itu tidak cepat menyambar lengannya, tentu dia sudah jatuh terguling dari atas batang pohon yang besar itu, jatuh ke bawah yang masih direndam air laut yang masih berguncang.

“Ahhh…!” keluh Liu Bwee, lalu mengangkat muka memandang.

Seorang laki-laki, usianya tentu sudah empat puluh tahun lebih, duduk di atas dahan di depannya. Laki-laki itu berwajah gagah sekali. Alisnya tebal, matanya lebar dan air mukanya yang penuh goresan tanda penderitaan batin itu kelihatan matang dan penuh ketulusan hati. Tubuhnya tegap, pakaiannya bersih dan rapi, dan di punggungnya tampak sebatang pedang. Laki-laki itu memandang kepadanya dengan air muka membayangkan keheranan, maka tentu laki-laki ini yang tadi berkali-kali menyerukan kata-kata ‘aneh’ dan tentu laki-laki ini pula yang telah menolongnya karena di dalam pohon itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

“Engkaukah yang menyelamatkan nyawaku tadi? Aku harus menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu,” Liu Bwee berkata sambil memandang wajah yang gagah dan sederhana itu.

Laki-laki itu mengelus jenggot yang hitam panjang, menatap wajah Liu Bwee, lalu berkata, “Harap jangan berkata demikian. Dalam keadaan dunia seolah-olah kiamat ini, alam mengamuk dahsyat tak terlawan oleh tenaga manusia mana pun, sudah sepatutnya kalau di antara manusia saling bantu-membantu. Hemmm… sungguh aneh sekali…!”

“In-kong (Tuan Penolong), mengapa berkali-kali mengatakan aneh?” tanya Liu Bwee.

Orang itu tidak tertawa, hanya mengelus jenggotnya dan menatap wajah Liu Bwee tanpa sungkan- sungkan, seolah-olah dia sedang memandang benda yang aneh dan belum pernah dilihatnya. “Siapa kira di pulau kosong ini, di mana laki-laki pun sukar untuk hidup, terdapat seorang wanita yang masih muda dan cantik jelita.”

Liu Bwee merasa betapa mukanya menjadi panas dan dia tahu bahwa tentu kulit mukanya menjadi merah sekali. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri. “Huh, apa artinya kau bertapa sampai berbulan-bulan kalau sekarang mendengar pujian dari mulut seorang laki-laki kau lantas merasa berdebar dan girang?” demikian dia memaki dalam hatinya.

Untuk menutupi perasaannya, dia pura-pura tidak mendengar dan cepat bertanya, “Bagaimana In-kong bisa tiba di tempat ini? Setahuku, di pulau ini tidak ada orang lain kecuali aku seorang.”

“Memang aku tidak tinggal di pulau ini, Toanio….”

Kembali wajah Liu Bwee menjadi merah mendengar sebutan ‘nyonya besar’ ini. Laki-laki itu terlalu merendahkan diri.

“Aku adalah seorang perantau di antara pulau-pulau kosong di sekitar tempat ini, akan tetapi tidak pernah mendarat di sini karena tidak menyangka bahwa di sini ada orangnya. Sekali mendarat di sini, badai mengamuk dan kebetulan sekali aku melihat engkau berjuang melawan maut di pohon kecil itu.”

“Untung bagiku. engkau seolah-olah diutus oleh Thian untuk datang menolongku.”

“Aku girang berhasil menyelamatkanmu, dan aku kagum sekali. Belum tentu ada satu di antara seribu orang yang akan dapat bertahan melawan hantaman gelombang air laut sehebat itu berkali-kali, dan kau malah masih kuat berenang. Inilah yang mengherankan aku. Seorang wanita muda…..”

“Aku tidak muda lagi, usiaku sudah tiga puluh lima tahun….”

“Itu masih muda namanya, setidaknya bagiku. Seorang wanita muda…,” dan mata laki-laki itu bercahaya penuh tantangan sehingga Liu Bwee tidak membantah lagi, “cantik dan berkepandaian tinggi, bukan orang sembarangan, ini sudah jelas sekali, berada seorang diri di pulau kosong. Siapa tidak akan merasa heran?”

“Aku sedang mencari puteriku yang hilang….”

“Ah…!” laki-laki itu terkejut dan memandang penuh perhatian. “Berapakah usianya dan siapa namanya? Aku akan membantumu mencarinya,” dia bicara dengan suara mengandung keperihatinan dan perasaan iba yang nampak jelas sekali sehingga Liu Bwee merasa makin tertarik dan berterima kasih. Jelas baginya bahwa penolongnya adalah seorang laki-laki yang baik hati, sungguh pun kehadirannya di bagian dunia yang amat terasing ini bukanlah hal yang tidak aneh.

“Dia sudah dewasa, sekitar enam belas tahun, namanya Han Swat Hong….”

“Ahhh?!” kembali laki-laki itu memotong dengan seruan kaget dan matanya terbelalak memandang Liu Bwee. “She Han…? Apa hubungannya dengan Han Ti Ong?”

“Dia anaknya….” Liu Bwee sendiri terkejut karena merasa telah terlanjur bicara, maka dia menahan kata- katanya.

Laki-laki itu terkejut dan jelas terbayang di mukanya betapa jawaban ini sama sekali tidak disangkanya. Matanya memandang Liu Bwee dengan penuh perhatian dan penuh selidik, dan sampai lama dia baru bertanya. “Kalau puterimu itu adalah anak Han Ti Ong berarti bahwa… Paduka adalah Ratu Pulau Es….”

Liu Bwee menarik napas panjang. Dia tidak dapat bersembunyi lagi, dan pula, orang yang telah menyelamatkan nyawanya ini memang berhak untuk mengetahui semuanya. Apa lagi karena memang penderitaan batinnya adalah karena terkumpulanya rasa penasaran di dalam hatinya yang membutuhkan jalan ke luar. Selain ini, sebutan ‘paduka’ amat menyakitkan telinganya. Maka dia kembali menarik napas panjang. “Itu sudah lalu… sekarang aku bukanlah ratu lagi, melainkan seorang buangan…..”

“Apa…?! Seorang permaisuri dibuang dari Pulau Es?”

Liu Bwee lalu menceritakan riwayatnya, menceritakan betapa suaminya, Raja Pulau Es telah mengambil seorang selir bernama The Kwat Lin dan betapa akhirnya karena ulah selir itu, dia difitnah dihukum buang Ke Pulau Neraka!

“Puteriku, Han Swat Hong menjadi marah dan lari minggat dari Pulau Es hendak mewakili aku menerima hukuman buang di Pulau Neraka. Aku mengejarnya, akan tetapi tidak berhasil, bahkan aku tersesat ke pulau ini. Karena merasa putus harapan, aku lalu bertapa di sini sampai enam bulan lamanya. Hari ini semestinya penderitaanku berakhir, akan tetapi agaknya Thian masih hendak memperpanjang hukumanku makanya aku dapat kau selamatkan…,” tak tertahankan lagi, Liu Bwee menutupi mukanya dan menahan tangisnya, akan tetapi tetap saja dia terisak-isak.

“Krekkk! Krekkk!” ranting kayu di depan laki-laki itu telah hancur berkeping-keping karena diremasnya dengan tangan kanan. “Kejam! Jahat sekali! Orang yang merasa dirinya bersih adalah sekotor-kotornya orang! Seperti Han Ti Ong dan semua raja di Pulau Es! Menghukumi orang-orang dan membuang mereka ke Pulau Neraka, hidup di neraka yang amat sengsara. Akan tetapi mereka sendiri, si penghukum itu, melakukan kekejian dan kejahatan bertumpuk-tumpuk dan merasa dirinya benar! Betapa menjemukan! Aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menentang kejahatan dan kepalsuan macam ini!”

Liu Bwee mengangkat mukanya memandang. Kedua pipinya masih basah oleh air matanya. “In-kong, engkau siapakah dan mengapa seolah-olah menaruh permusuhan dengan Pulau Es?”

“Aku bernama Ouw Sian Kok, aku putera tunggal dari ketua di Pulau Neraka.”

“Ohhh…!!” kini giliran Liu Bwee yang menjadi kaget setengah mati karena tidak mengira bahwa penolongnya ternyata adalah musuh besar Pulau Es!

“Harap Paduka jangan khawatir….”

“In-kong, jangan kau menyebutku Paduka. Aku bukanlah seorang permaisuri lagi, melainkan seorang buangan seperti engkau pula. Kau tahu bahwa namaku Liu Bwee, orang biasa anak nelayan, hanya bekas ratu yang sekarang menjadi orang buangan.”

“Hem, baiklah Liu-toanio. Dan aku pun tidak suka disebut In-kong. Aku lebih tua dari-padamu, sebut saja aku Twako. Sebutlah, aku bukanlah musuh langsung dari Pulau Es, karena aku bukan seorang buangan, melainkan keturunan seorang buangan. Akan tetapi aku pun hanya bekas putera Ketua Pulau Neraka karena sudah lima belas tahun lamanya aku meninggalkan Pulau Neraka, tidak pernah menjenguknya lagi dan menjadi perantau di antara pulau-pulau kosong ini….” Tiba-tiba wajah yang gagah itu kelihatan menyuram.

“Eh, kenapakah Ouw-twako? Apa yang terjadi denganmu maka engkau menjadi demikian?” Liu Bwee bertanya, tertarik hatinya.

Ouw Sian Kok menghela napas panjang, agaknya tidak suka menceritakan peristiwa masa lalu yang telah merubah jalan hidupnya sama sekali. “Aku memang sudah tidak senang tinggal di Pulau Neraka. Keadaan pulau itu membuat orang yang tinggal di situ menjadi buas, liar dan kejam karena terpaksa oleh kekejaman di pulau itu. Akan tetapi sebagai putera ketua, aku menekan ketidak senanganku dan terutama karena aku hidup penuh kasih sayang dengan isteriku. Kami mempunyai seorang anak perempuan yang sudah lima belas tahun tidak pernah kulihat. Tuhan menghukum aku. Isteriku yang tercinta itu meninggal dan aku… aku lalu pergi meninggalkan ayah, anakku, dan Pulau Neraka sampai sekarang.” Sehabis bercerita, Ouw Sian Kok menundukkan mukanya dan berkali-kali menghela napas panjang.

Liu Bwee memandang dengan mata penuh belas kasihan, bengong dan tidak dapat berkata-kata. Betapa besar persamaan penderitaan di antara mereka. Dia pun kehilangan suami. Sungguh pun suaminya masih hidup, akan tetapi apa bedanya dengan mati kalau suaminya sudah tidak mencintainya lagi? Dan dia kehilangan anaknya pula, sama benar dengan nasib Ouw Sian Kok yang kehilangan isteri dan anaknya. Hanya bedanya, kalau dia mencari-cari Swat Hong, adalah laki-laki ini sengaja meninggalkan puterinya.

“Kasihan engkau, Ouw-twako,” katanya sambil menyentuh tangan laki-laki yang telah menolongnya itu.

Ouw Sian Kok menghela napas, kemudian tiba-tiba mengangkat mukanya dan tersenyum. “Betapa aneh dan lucunya. Engkau yang bernasib malang ini menaruh kasihan kepada aku! Hemm, isteriku dirampas oleh Tuhan, aku tidak mungkin bisa mendendam. Sebaliknya, suamimu dirampas wanita lain, itu merupakan hal yang lebih menyakitkan hati lagi. Sudahlah, lebih baik kita melupakan semua itu dan yang terpenting kita memperhatikan keadaan kita sendiri, berusaha menghindarkan bahaya. Lihat, badai mulai berhenti dan air yang merendam pulau sudah surut dan kembali ke laut, cuaca sudah terang dan tidak segelap tadi!”

Liu Bwee memandang ke bawah lalu ke kanan-kiri. Benar saja, badai telah berhenti. Seketika lupalah dia akan segala kedukaan dan wajahnya berseri. Dia tidak tahu, betapa Ouw Sin Kok memandangnya dengan penuh kagum melihat wajah cantik dengan air mata yang masih menempel di pipi itu kini tersenyum dan berseri-seri.

“Mari kita turun!” kata Liu Bwee setelah melihat bahwa dengan amat cepatnya air telah meninggalkan pulau, seperti serombongan anak-anak nakal yang pulang ke rumah dipanggil ibunya.

Mereka meloncat turun dan menuju ke tepi pantai di mana Ouw San Kok menaruh perahunya. Girang hatinya bahwa sebelum meninggalkan perahu ketika badai mulai mengamuk, dia telah mengikat perahunya dengan kuat sekali pada batu karang sehingga kini perahunya itu masih berada di situ. Akan tetapi perahu Liu Bwee lenyap tak meninggalkan bekas.

“Liu-toanio, mari kita berangkat.”

“Eh, ke mana?” Liu Bwee memandang penuh keheranan dan mengerutkan alisnya. “Ke Pulau Es.”
“Apa…? Apa maksudmu?” Liu Bwee hampir menjerit. “Aku tidak sudi! Aku tidak mau kembali hanya untuk menerima penghinaan saja.”

“Liu-toanio, seorang wanita seperti Toanio tidak selayaknya hidup sengsara seperti ini. Han Ti Ong telah berlaku sewenang-wenang dan tersesat. Biarlah aku yang akan menegur dan mengingatkan akan kesesatannya itu, Toanio. Aku tidak rela melihat Toanio diperlakukan dengan tidak adil, aku tidak rela melihat Toanio hidup sengsara. Marilah dan jangan khawatir, aku sebagai seorang laki-laki tentu akan lebih mudah menyadarkan suamimu yang sedang tergila-gila kepada wanita lain itu. Akulah yang bertanggung- jawab, dan aku pertaruhkan nyawaku untuk itu.”

Liu Bwee memandang dengan kaget dan terheran-heran, bengong dan seperti terpesona sehingga dia menurut saja ketika diajak naik ke perahu oleh Ouw Sian Kok. Setelah perahu meluncur, barulah dia dapat berkata, “Ouw-twako… mengapa kau melakukan semua ini untukku? Mengapa engkau menolongku, membelaku mati-matian? Mengapa engkau begini baik kepadaku?”

Sambil mendayung perahunya dengan gerakan tangkas dan kuat sekali sehingga perahu itu melucur amat cepatnya di permukaan air laut yang kini amat tenang, setenang-tenangnya seolah-olah raksasa yang habis mengamuk hebat itu kini kelelahan dan kehabisan tenaga, Ouw Sian Kok menjawab tanpa menoleh kepada Liu Bwee, “Engkau begitu sengsara, dan begitu tenang, mengingatkan aku kepada isteriku yang tercinta. Engkau begitu membutuhkan perlindungan, begitu membutuhkan bantuan. Siapa lagi kalau bukan aku yang membantumu, Toanio?”

Liu Bwee memandang laki-laki itu dari samping, tak terasa lagi kedua matanya basah dan beberapa butir air mata turun di sepanjang pipinya. Sejenak dia tidak mampu menjawab. Memang dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya Swat Hong yang sekarang tidak diketahuinya berada di mana. Tidak ada seorang pun yang menemaninya, apa lagi membelanya. Maka kemunculan laki-laki gagah perkasa ini yang memperlihatkan sikap membelanya mati-matian itu menimbulkan sikap keharuan hatinya. Apa lagi mendengar betapa laki-laki itu ketika melihat dia teringat akan isterinya tercinta yang telah meninggal dunia, hatinya menjadi terharu sekali dan dia tidak tega untuk menolak lagi.

Di samping itu, juga ada rasa sungkan dan malu-malu di dalam hati wanita ini karena dia seperti mendapat bisikan hatinya bahwa laki-laki penolongnya ini menaruh hati kepadanya dan rela membelanya dengan taruhan nyawa! Hal ini bukan membuat dia merasa bangga dan girang seperti yang mungkin akan dirasakannya jika dia masih seorang gadis muda, melainkan mendatangkan rasa sungkan dan malu sehingga pelayaran itu dilanjutkan dengan diam-diam karena Liu Bwee merasa sukar sekali untuk membuka mulut.

Beberapa jam berlalu dengan sunyi. Akhirnya Ouw Sian Kok yang merasa tidak tahan berkata, “Toanio, aku mohon maaf sebanyaknya kalau semua ucapanku yang sudah-sudah menyinggung perasaanmu.”

Liu Bwee menggigit bibirnya. Laki-laki yang gagah perkasa dan budiman ini, harus diakuinya memiliki sifat jantan dan rendah hati. “Tidak ada yang harus dimaafkan,” katanya lirih.

“Toanio marah kepadaku?” sejenak kemudian Ouw Sian Kok bertanya lagi, sekali ini dia tidak dapat menahan keinginan hatinya lagi untuk tidak menengok dan menatap wajah wanita itu. Kebetulan sekali pada saat itu Liu Bwee juga memandang kepadanya. Sedetik dua pasang mata itu bertemu bertemu.

Akan tetapi Liu Bwee segera mengalihkan pandang matanya dan menjawab dengan gerakan kepalanya menggeleng.

Jawaban ini cukup bagi Ouw Sian Kok. Dengan wajah berseri dan suara gembira dia berkata, “Aku girang bahwa kau tidak marah kepadaku, Toanio.”

Perahu didayungnya kuat-kuat sehingga meluncur cepat sekali menuju ke tujuan, yaitu Pulau Es. Biar pun tidak pernah mendatangi pulau itu, namun dia sudah tahu di mana letaknya karena sering-kali dalam perantauannya dia memandang pulau itu dari jauh. Kegembiraan besar seperti yang belum pernah dialaminya selama lima belas tahun ini memenuhi hatinya. Kalau saja tidak ada Liu Bwee di situ, kalau saja dia tidak merasa malu, tentu dia akan bernyanyi dengan riang sebagai peluapan rasa gembiaranya.

Dua hari dua malam meeka melakukan pelayaran, kalau lapar mereka makan ikan panggang di atas perahu dan minum air es yang mengambang di atas permukaan laut. Akhirnya tibalah mereka di Pulau Es dan dari jauh saja sudah kelihatan perbedaan pulau itu yang amat mengherankan Liu Bwee.

“Mengapa begitu sunyi? Mengapa begitu bersih licin? Ouw-twako, cepatlah mendarat, kurasa telah terjadi apa-apa di sana,” Liu Bwee berkata dengan jantung berdebar, tidak saja karena melihat pulau di mana dia di besarkan sejak kecil itu, akan tetapi juga tegang hatinya membayangkan pertemuannya dengan suaminya dan dengan selir suaminya.

Setelah perahu menempel di pulau, Liu Bwee meloncat ke darat. Jantungnya berdebar tegang, akan tetapi kini disertai rasa khawatir. Pulau Es berubah bukan main. Mengapa tidak tampak seorang pun? Tak lama kemudian dia berlari diikuti Ouw Sian Kok yang sudah mengikat perahunya. Pria ini pun terheran-heran, mengapa pulau yang terkenal sekali di Pulau Neraka sebagai kerajaan itu kelihatan begini sunyi senyap?

Ketika mendekati sebuah tanjakan dan tampak Istana Pulau Es, Liu Bwee mengeluarkan seruan tertahan dan mukanya menjadi pucat sekali. “Apa… apa yang terjadi…? Dan bangunan-bangunan mereka… mengapa lenyap? Hanya tinggal istana yang kosong dan rusak… ahhh….”

Terhuyung-huyung Liu Bwee berlari mendekati istana, tetapi diikuti oleh Ouw Sian Kok yang merasa khawatir sekali. Seperti seorang mabuk, Liu Bwee berteriak-teriak memanggil orang-orang dan berlari memasuki istana yang sudah kosong itu, diikuti oleh Ouw Sian Kok yang juga merasa heran. Akan tetapi laki-laki ini segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

“Ke mana…? Mereka semua ke mana…?” Liu Bwee berdiri di tengah ruangan istana yang dahulu begitu megah dan kini kosong dan sunyi itu.

Melihat wajah yang pucat dengan mata yang terbelalak liar itu, Ouw Sian Kok cepat meloncat dan memegang lengan Liu Bwee, ditariknya ke luar dari istana. Setelah tiba di luar istana, Ouw Sian Kok berkata, suaranya tegas dan penuh rasa iba, “Liu-toanio, kuatkanlah hatimu. Ingatlah apa yang telah kita alami di pulau kosong itu. Badai itu hebat bukan main, selama hidupku belum pernah mengalami badai sehebat itu. Pulau Es ini tidak begitu jauh, dan melihat hebatnya badai, tidak salah lagi bahwa pulau ini pun dilanda badai.”

Bagaikan kilat cepatnya gerakan Liu Bwee ketika dia membalikkan tubuh memandang pria itu, matanya terbelalak. “Ahhh…! Kau benar…! Badai itu! Pulau Es diamuk badai dan disapu bersih oleh badai. Ya Tuhan…!” Liu Bwee mendekap mukanya dengan kedua tangan, menjatuhkan diri berlutut di atas es dan menangis sesenggukan.

“Aku khawatir sekali, Toanio, bahwa tidak hanya benda-benda yang disapu bersih dari permukaan pulau ini, melainkan juga para penghuninya. Kalau ada penghuninya yang selamat, mustahil mereka meninggalkan pulau. Siapa yang mampu melawan kedahsyatan badai seperti itu?”

“Kau benar… ah… suamiku… aihhh, semua saudaraku di Pulau Es, benarkah kalian tewas semua? Benarkah ini? Ataukah hanya mimpi…?” seperti orang kehilangan ingatan Liu Bwee mendekati istana, meraba-raba tembok istana dan berbisik-bisik.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo