July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 15)

 

Permainan dilanjutkan dan makin lama Swi Liang makin terseret oleh gelora nafsu birahinya sendiri. Ketika dia menang dan harus mencium, dia tidak mencium seperti biasa dengan hidung ke pipi, melainkan mencium mulut dua orang gadis itu dengan mulutnya! Dua orang gadis itu mengeluh dan balas mencium sehingga tanpa diperintah lagi permainan kartu itu bubar dan dilanjutkan dengan permainan saling mencumbu, saling peluk dan saling cium antara tiga orang itu!

“Aihh, Enci Liang Cu… kau hebat sekali…,” keluh Si Baju Hijau.

“Enci Liang Cu… kalau saja engkau seorang pria…,” bisik Si Baju Merah.

“Kalian senang?” Swi Liang berkata, sedikit terengah-engah. “Matikanlah lampunya, barangkali di dalam gelap aku akan dapat pian-hoa (bermain rupa) menjadi pria, siapa tahu?”

Sambil terkekeh genit, Si Baju Hijau meniup pandam lampu di meja dan mereka bertiga pindah ke pembaringan, melanjutkan permainan yang mengasyikkan hati mereka itu. Mereka merasa semakin bebas setelah keadaan di dalam kamar itu menjadi gelap, mereka dapat mencurahkan seluruh nafsu mereka tanpa malu-malu lagi. Tak lama kemudian terdengar jerit tertahan, disusul teriakan-teriakan yang lebih menyerupai bisikan kaget bercampur girang.

“Eh… kau…?”

“Hemm, diamlah sayang…,” terdengar suara Swi Liang.

Selanjutnya kamar itu sunyi, tidak terdengar suara keras lagi sehingga kalau didengar dari luar kamar, seolah-olah tiga orang ‘gadis’ itu sedang tidur pulas. Padahal tentu saja keadaannya jauh dari-pada itu, bahkan sebaliknya.

Menjelang pagi terdengar suara Si Baju Hijau, suara yang berbisik dan agak serak karena semalam tidak tidur rupanya, “Engkau… setiap malam harus menemani kami… ya, koko yang baik?”

“Harus, kalau tidak… hemm, kami akan melaporkan bahwa kau adalah seorang pria sejati…,” bisik pula Si Baju Merah dengan nada manja mengancam.

Sunyi mengikuti kata-kata bisikan itu, kemudian terdengar jerit tertahan dan tak lama kemudian, tampak Swi Liang dalam pakaian seperti Liang Cu meloncat ke luar dari dalam kamar itu memondong tubuh dua orang pelayan itu yang sudah menjadi mayat! Dengan tergesa-gesa Swi Liang membawa dua mayat itu ke kebun, menggali lubang, mengubur dengan cepat sekali, kemudian kembali ke kamarnya dengan badan penuh keringat dan muka pucat. Akan tetapi hatinya lega.

Diam-diam dia menyesali perbuatannya sendiri. Mengapa dia begitu lemah sehingga tidak dapat menahan diri terjatuh ke dalam rayuan dua orang gadis cantik itu? Dia terpaksa membunuh mereka, sungguh pun hal itu dilakukannya dengan perasaan penuh penyesalan. Tugasnya lebih penting dan kalau sampai gagal, dia akan tewas, akan mati konyol. Dengan membuka rahasianya kepada dua orang gadis itu, keadaannya tentu saja terancam hebat. Belum apa-apa dua orang gadis itu telah ‘memerasnya’ untuk setiap malam melayani mereka dengan ancaman akan dibuka rahasianya! Tentu saja dia terpaksa harus membunuh mereka demi keselamatan dirinya sendiri.

Lenyapnya dua orang pelayan itu hanya menimbulkan sedikit keributan di istana bagian puteri. Betapa pun juga, mereka itu hanyalah dua orang pelayan. Akhirnya Yang Kui Hui hanya memerintahkan para pengawal untuk melakukan pengejaran karena dikira bahwa mereka itu tentu melarikan diri, dan kalau sampai dapat ditangkap agar supaya dijatuhi hukuman berat.

Mengertilah kini Swi Liang bahwa dia harus cepat-cepat turun tangan kalau tidak mau terjadi gangguan lain lagi. Mulailah dia mendekati Yang Kui Hui. Setiap kali ada kesempatan, dia membantu para pelayan yang memandikan selir jelita itu, menggosok punggungnya, mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaiannya. Bahkan pada suatu malam, ketika Yang Kui Hui merebahkan diri seorang diri dengan mata merem melek seperti seekor kucing malas, ia mendekatinya, berlutut dan menggunakan tangannya untuk memijit-mijit kaki selir itu dengan perlahan, meniru perbuatan pelayan yang suka memijit tubuh selir itu. Jantungnya berdebar keras sekali. Nafsu hatinya ditekannya keras sekali. Dia merasa betapa api birahi

telah membakar dadanya dan api itu menyala dari ujung jari tangannya yang bersentuhan dengan kulit kaki yang halus lunak dan hangat.

“Ehhmmm…,” Yang Kui Hui menggeliat seperti seekor kucing dan membuka sedikit matanya untuk melihat siapa yang memijit kakinya. Matanya terbuka agak lebar dan tersenyum. “Aihhh, kiranya engkau, Liang Cu? Engkau pandai pula memijit? Ahhh, tanganmu kuat sekali. Nah, kau lanjutkanlah, tubuhku memang sedang pegal-pegal…..”

Selir itu sudah memejamkan matanya, kembali rebah terlentang di depan Swi Liang. Pemuda itu melanjutkan pekerjaannya memijit betis mengendurkan urat yang kaku dan pandang matanya melahap wajah yang menengadah itu. Betapa cantik jelitanya, demikian rangsangan hatinya. Rambut yang hitam agak mengeriting itu terurai di atas bantal, anak rambutnya melingkar-lingkar menghias dahi dan pelipis sampai ke bawah telinga. Dahi yang melengkung halus sekali seperti lilin diraut, berkulit putih bersih itu nampak makin putih terhias anak rambut yang menghitam. Sepasang alis yang hitam sekali, melengkung seperti dilukis, melindungi mata yang terpejam sehingga tampak bulu mata yang panjang. Bayangan bulu mata menggelapkan pipi sebelah atas, menyembunyikan warna kemerahan yang menyegarkan. Hidung yang mancung, dengan dua cuping hidung yang tipis, agak bergerak terdorong napas yang keluar masuk. Di bawah hidung itu, sepasang bibir yang kemerahan dan agak basah, kelihatan menebal sebelah bawahnya karena selir itu tersenyum. Sebuah lesung pipit menghias di ujung mulut sebelah kiri. Manis dan cantik jelita! Kemudian leher itu, dan dada itu, pinggang itu…!

Swi Liang menelan ludahnya berkali-kali dan jari-jari tangannya yang memijit kaki itu agak menggigil. Agaknya Yang Kui Hui dapat merasakan tangan yang menggigil ini, maka dia membuka sedikit matanya.

“Ada apakah Liang Cu? Tanganmu gemetar…,” tanyanya.

“Ahhh… tidak apa-apa, hanya… Paduka demikian cantik jelita… hamba sampai merasa terharu memandangi Paduka…..”

“Aihhh…., hi-hik, kau aneh, Liang Cu. Coba kau tutup dan kunci pintu kamar itu, dan beri-tahukan kepada penjaga di luar bahwa aku tidak ingin diganggu malam ini, hendak beristirahat. Oya, suruh penghubung laporkan kepada Sri Baginda agar tidak datang ke kamarku. Setelah itu, kau temani aku di sini, pijati tubuhku sampai aku tidur.”

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan dan gairah, Swi Liang mentaati perintah itu. Setelah itu dia menutup dan memalang daun pintu sehingga mereka hanya berdua saja di dalam kamar yang mewah dan harum itu. Swi Liang segera berlutut lagi di depan pembaringan dan melanjutkan pekerjaannya memijit betis yang berdaging gempal, lunak, halus dan hangat itu.

“Nanti dulu, Liang Cu. Coba kau bantu aku membuka pakaian luarku. Setelah pintu ditutup, kamar ini menjadi agak panas…,” kata Yang Kui Hui sambil bangkit duduk di atas pembaringannya yang bertilam sutera merah berkembang.

Swi Liang tidak mampu menjawab karena merasa lehernya seperti tercekik. Dengan jari-jari tangan gemetar dia membantu puteri itu membuka pakaian luarnya. Kini Yang Kui Hui hanya memakai pakaian dalam yang amat tipis dan tembus pandang sehingga terbayanglah lekuk lengkung tubuh yang amat menggairahkan. Begitu pakaian luarnya dibuka, Swi Liang memejamkan mata sebentar sambil menarik napas panjang. Tercium olehnya bau harum yang memabukan, keharuman yang membuat selir Kaisar itu terkenal sekali di samping kecantikannya yang sukar dicari bandingannya.

“Hi-hik… mengapa kau seperti patung dan memejamkan matamu, Liang Cu?” suara terkekeh halus dan teguran itu menyadarkan Swi Liang yang segera membuka matanya.

“Ampunkan hamba… hamba… silau, seolah-olah melihat bidadari turun dari langit….”

Selir Kaisar itu tertawa senang. “Aihh, kata-katamu seperti seorang laki-laki saja! Hayo pijiti aku lagi dan jangan bersikap seperti orang gila!”

Swi Liang segera melakukan perintah ini dengan penuh gairah. Jari-jari tangannya kembali memijit betis dan paha, makin ke atas makin tersiksalah hatinya apa lagi mendengar puteri itu terkekeh kegelian.

“Hi-hi-hik, kau begitu kuat, jari tanganmu juga tegang dan kuat seperti tangan laki-laki membelai…!”

Yang Kui Hui membalikkan tubuhnya dan kini rebah terlentang. Karena pakaian dalam yang tipis itu tersingkap, Swi Liang hampir tidak kuat menahan lagi. Cahaya kemerahan dari lampu merah di dalam kamar membuat tubuh yang membayang di balik pakaian tipis itu seolah-olah telanjang bulat di depannya!

“Nah kau pijiti pahaku, pegal-pegal rasanya. Akan tetapi jangan kuat-kuat, perlahan saja, Liang Cu.”

Dapat dibayangkan betapa tersiksa hati seorang pemuda yang sudah menjadi lemah karena dikuasai nafsu birahi seperti Swi Liang menghadapi Yang Kui Hui yang tanpa disengaja telah menimbulkan godaan dan tantangan yang demikian menggairahkan hati pria. Namun tentu saja Swi Liang tidak berani bertindak sembrono. Sambil menguatkan hatinya dan menundukkan mukanya yang menjadi merah, menyembunyikan dadanya yang bergelombang dengan menunduk dan menahan nafsunya yang memburu, dia memijit paha yang gempal itu.

Jari-jari tangannya seolah-olah bertemu langsung dengan kulit paha karena hanya tertutup sutera tipis. Setiap sentuhan jarinya seolah-olah mendatangkan aliran hawa panas yang menjalar naik ke dada dan kepala melalui lengannya. Makin lama dia makin gelisah, tubuhnya panas dingin dan sama sekali dia tidak berani memandang wajah puteri itu karena takut kalau-kalau Sang Puteri marah.

Betapa pun nafsu birahi telah menyundul sampai ke ubun-ubunnya, namun Swi Liang tidaklah demikian nekat untuk berani bertindak kurang ajar, tidak berani melakukan langkah pertama dan hanya menanti uluran tangan Sang Puteri. Dia sangat maklum, bahwa sekali keliru bertindak tebusannya adalah nyawanya di samping kegagalan tugasnya.

“Kau memang aneh, Liang Cu. Benar kata-kata beberapa orang pelayan yang selama ini tidak kau perhatikan. Sekarang baru aku melihat sendiri. Kau seorang gadis yang aneh. Apakah seorang gadis kalau sudah mempelajari ilmu silat tinggi lalu berubah sifatnya, menjadi kejantan-jantanan? Kau patut menjadi seorang laki-laki. Suaramu agak berat, gerak-gerikmu kaku, tanganmu kuat dan kasar, dan pandang matamu… hemmm…, engkau seolah-olah hendak menelanku bulat-bulat setiap kali kau melihatku! Hi-hik, aku sampai merasa sungkan dan malu!”

Swi Liang terkejut sekali. Sambil membungkuk rendah dia berkata dan berusaha sedapatnya untuk meninggikan nada suaranya, “Harap Paduka ampunkan semua kekurangan hamba.”

“Ah, tidak apa-apa, Liang Cu. Engkau sudah berjasa besar, dan… hemm… keadaanmu yang kejantan- jantanan itu bukanlah hal yang tidak menyenangkan. Sayang sekali, kau seorang wanita dan sifat kejantananmu hanya karena kau seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian silat tinggi. Kalau engkau seorang pria sejati, hi-hik, betapa lucunya… tentu akan lebih menyenangkan hatiku….”

Seketika terhenti jari-jari tangan yang tadi menari-nari dan memijiti paha kenyal itu. Jantung Swi Liang seperti berhenti berdetak mendengar ucapan Sang Puteri, kemudian berdebar-debar dengan kerasnya sehingga suara detak jantungnya memasuki kedua telinganya dengan amat nyaring.

Kesempatan baik telah terbuka! Selir jelita ini telah membuka rahasia hatinya! Begitu menantang, seperti setangkai bunga yang tinggal memetik saja, tinggal mengulur tangan dan akan terpenuhilah kedua cita- citanya, yaitu menikmati tubuh yang telah membuat tergila-gila ini dan sekaligus menyempurnakan tugasnya memikat hati Yang Kui Hui demi suksesnya siasat yang sedang dilakukan oleh subo-nya!

Tiba-tiba Swi Liang berlutut dan menempelkan dahinya di lantai dekat pembaringan. “Hamba… hamba rela mengorbankan nyawa demi Paduka, dan hamba siap sedia melakukan apa saja untuk menyenangkan hati Paduka. Akan hamba lakukan dengan taruhan nyawa dan hamba siap menanti perintah Paduka….”

“Hi-hik, Liang Cu. Engkau memang aneh. Betapa pun juga, mana mungkin engkau menjadi laki-laki sejati?”

“Kalau Paduka kehendaki, pasti dapat terjadi. Perintah Paduka merupakan keputusan bagi hamba, seperti perintah dari langit.”

Yang Kui Hui menjadi terheran-heran. Dia bangkit duduk, membiarkan pakaian dalamnya tersingkap lebar,

tidak hanya pada pahanya, akan tetapi juga pada pundaknya sehingga setengah dadanya tampak jelas, putih halus membusung. “Apa….,apa maksudmu, Liang Cu?”

“Hamba telah mempelajari ilmu kesaktian dari Subo, sehingga kalau Paduka menghendaki, hamba dapat pian-hoa (mengubah diri) menjadi seorang pria sejati.”

“Ehhh…?!” mata yang bening indah itu terbelalak. Mulut yang kecil itu ternganga sehingga bibir merah membasah itu membentuk lingkaran memperlihatkan lidah yang meruncing merah, dan rongga mulut yang lebih merah lagi terhias deretan gigi seperti mutiara.

Sinar mata Yang Kui Hui menjelajahi tubuh pembantunya yang berlutut itu, akhirnya dia dapat berkata, “Benarkah itu? Sungguh aneh dan luar biasa! Coba kau buktikan omonganmu, Liang Cu. Coba kau pian- hoa menjadi seorang pria!”

Swi Liang menekan jantungnya yang berdebar tegang, mengangkat mukanya dan berkata, “Hamba… hamba… mana berani kurang ajar…?”

“Lakukanlah, ini merupakan perintah! Berdirilah dan pian-hoalah!” Yang Kui Hui berkata penuh nafsu karena dia ingin sekali menyaksikan apakah benar gadis ini dapat pian-hoa menjadi pria, hal yang hanya pernah didengar dalam dongeng kuno saja.

“Kalau Paduka memerintahkan, hamba tidak berani membantah.” Swi Liang lalu bangkit berdiri dan membungkuk. “Maafkan hamba….”

Dia lalu melepas gelung rambutnya, menggosok bedak dan yanci dari mukanya, kemudian dengan wajah merah berseri dia berkata, “Hamba telah berubah menjadi seorang pria,” suaranya kini besar, suara seorang laki-laki tulen!

Yang Kui Hui memandang terbelalak. “Aihhh, mana aku bisa percaya? Hanya suaramu yang berubah. Mukamu tanpa bedak dan yanci memang seperti muka pria, akan tetapi mana buktinya bahwa kau pria?”

Swi Liang mengerutkan alisnya. “Paduka ingin bukti? Baiklah, maafkan kelancangan hamba!” Dia lalu merenggut pakaiannya, baju di bagian atas sehingga tanggal kancing-kancingnya dan terbukalah dadanya. Sebuah dada yang tegap dan bidang, tidak berbuah, dada seorang laki-laki tulen!

Wajah Yang Kui Hui berseri-seri, mulutnya tersenyum lebar ketika dia memandang dada yang bidang, tegap dan berkulit putih bersih itu. “Memang tidak salah lagi, tubuhmu bagian atas memang tubuh seorang pria. Akan tetapi aku belum puas, Liang Cu. Buka semua pakaianmu!”

Perintah ini sama sekali tidak disangka-sangka oleh Swi Liang. Biar pun sudah lama dia menghendaki terjadinya hal yang hanya dalam mimpi ini, namun sebagai seorang laki-laki, dia merasa jengah dan malu juga menerima perintah agar dia bertelanjang bulat seperti itu! Akan tetapi gairah yang meluap-luap dan kegembiraannya mengusir semua rasa malu. Dengan jari tangan gemetar Swi Liang menanggalkan semua sisa pakaiannya sehingga tak lama kemudian dia telah berdiri membuktikan bahwa dirinya adalah seorang pria sejati di depan selir jelita itu.

“Ahhh… Liang Cu…, ke sinilah kau! Sungguh hebat… tak kusangka sama sekali. Rebahlah kau di sini, di sisiku, manis!”

Tanpa diperitah kedua kalinya, karena memang itulah yang diinginkannya selama ini, Swi Liang lalu naik ke pembaringan dan merebahkan dirinya di sisi selir cantik itu. Yang Kui Hui terkekeh genit, lalu menyambutnya dengan peluk cium ganas, menerkamnya seperti seekor harimau kelaparan, atau seperti seekor ular yang memagutnya dan membelit-belitnya.

Manusia, baik laki-laki atau wanita, kaya atau miskin, dari golongan ningrat maupun jembel terlantar, sekali dikuasai nafsu birahi akan menjadi lupa diri dan lupa segala. Pada saat seperti itu, lenyaplah duka, lenyap pula takut, hilang segala pertimbangan dan akal, yang ada hanyalah tindakan sebagai akibat dorongan nafsu birahi yang minta dilampiaskan.

Hebatnya, makin dipenuhi dorongan nafsu, makin berkobarlah birahi, seperti nyala api, makin dibiarkan makin membesar dan takkan padam sebelum habis bahan bakarnya! Hanya manusia yang selalu sadar akan keadaan dirinya, akan gerak-gerik dirinya lahir mau pun batin, yang takkan kehilangan kewaspadaan dan kebijaksanaan, yang takkan dapat dicengkeram oleh nafsu dalam bentuk apa pun.

Hal ini bukan berarti bahwa manusia bijaksana menolak nikmat hidup yang didatangkan oleh gairah nafsu, sama sekali tidak. Bahkan hanya manusia sadar sajalah yang benar-benar akan dapat menikmati hidup karena baginya nafsu kesenangan hanyalah pelengkap hidup, bukan hal yang mutlak dan tidak harus dikejar-kejarnya. Dialah orang yang menguasai nafsu, bukan nafsu yang menguasai dia. Menguasai nafsu dengan kewaspadaan dan mengenal akan keadaan diri sendiri seperti apa adanya, lahir mau pun batinnya, bukan menguasai nafsu dengan cara pengekangan dan penyiksaan diri. Dengan cara pengamatan yang sewajarnya, penuh kesadaran, pengamatan terhadap nafsu dan gerak-geriknya, tanpa celaan tanpa pujian, maka nafsu akan kehilangan kekuasaannya sendiri terhadap diri pribadi.

Sebaliknya, menggunakan kemauan untuk menekan dan mengekang nafsu tidak akan ada gunanya. Boleh jadi nafsu akan dapat dibendung pada saat itu, namun sewaktu-waktu nafsu yang masih menguasai diri itu dapat meluap. Bagaikan api dalam sekam, sewaktu-waktu akan dapat menyala lagi, demikianlah kalau orang menguasai nafsu dengan pengekangan yang berarti menguasainya dengan kekerasan.

Dengan pengamatan waspada, nafsu yang seperti api itu akan padam dengan sendirinya. Namun dengan pengekangan, api itu hanya membara dan tidak tampak, akan tetapi sewaktu-waktu dapat menyala lagi, karena yang mengekang nafsu adalah nafsu juga. Mengekang berarti menggunakan kekerasan menuruti keinginan!

Menjelang pagi, Yang Kui Hui yang kekenyangan melampiaskan nafsu birahinya, terlena di pembaringan. Wajahnya yang agak pucat menoleh kepada Swi Liang yang tidur pulas di sampingnya, lalu wanita cantik itu tersenyum. Jari-jari tangannya yang halus itu bergerak membelai dada telanjang dari pemuda itu, lalu ditariknya kembali tangannya dan dia menghela napas panjang. Setelah kekenyangan, barulah dia dapat berpikir dan barulah selir Kaisar ini sadar betapa bodohnya dia membiarkan dirinya terseret oleh nafsu birahi.

Pemuda ini tentu seorang pria sejati yang menyamar sebagai wanita. Hal ini sudah jelas! Dan di balik penyamaran ini tentulah ada suatu rahasia! Kesadaran ini mengejutkan hatinya dan menimbulkan kekhawatirannya. Dia adalah selir yang cerdik sekali. Yang Kui Hui bangkit duduk. Dengan perlahan-lahan dia mengenakan pakaiannya, agar jangan membangunkan pemuda itu. Matanya tak pernah berpindah dari wajah Swi Liang. Sambil memakai pakaiannya, dia mengenangkan semua yang mereka lakukan semalam ketika mereka bermain cinta tanpa mengenal puas sampai akhirnya tertidur kelelahan.

Betapa pun juga, pemuda itu terlalu halus. Bagi wanita macam Yang Kui Hui yang sudah banyak pengalaman bermain cinta dengan pria, kejantanan Swi Liang kurang memuaskan hatinya. Betapa jauhnya dibandingkan dengan An Lu Shan! An Lu Shan barulah boleh disebut seorang laik-laki sejati! Dengan kekudukannya yang tinggi dan pengaruhnya yang besar, dengan tubuhnya yang tinggi besar, tenaganya yang seperti singa, dengan permainan cintanya yang liar kasar dan wajar, menonjolkan kejantanan yang amat hebat!

Sedangkan pemuda ini terlalu halus, masih hijau dan kurang pengalaman, dan yang lebih berbahaya lagi, pemuda ini tentulah seorang mata-mata musuh! Yang Kui Hui bergidik ngeri. Betapa bodohnya dia, mudah terbujuk dan terseret oleh nafsunya sendiri dan terkena rayuan seorang mata-mata. Untung mata-mata ini belum bertindak terlalu jauh. Bagaimana kalau semalam dia dibunuhnya?

Yang Kui Hui bergidik dan bergegas turun dari pembaringan, dengan hati-hati dia mengambil pedang bersarung indah yang diletakan oleh Swi Liang di atas tumpukan pakaiannya, kemudian selir Kaisar itu berindap-indap menuju ke pintu kamar, membuka pintu dan keluar setelah menutupkan kembali daun pintu perlahan-lahan. Tak lama kemudian dia telah berbisik-bisik dengan beberapa orang pengawal pribadinya, kemudian memasuki kamar lain setelah merasa yakin bahwa para pengawalnya yang kini telah berkumpul itu akan melaksanakan perintahnya dengan baik.

Swi Liang terbagun dari tidur nyenyak, menggeliat dan tersenyum penuh bahagia ketika dia teringat akan keadaan dirinya. Dirabanya kasur di mana dia rebah dan hidungnya kembang kempis, masih penuh oleh keharuman tubuh Yang Kui Hui. Baru saja terbangun dari tidur, teringat akan wanita cantik itu, berkobar lagi nafsunya, lenyap semua kelelahan tubuhnya. Dia membalik ke kanan, lengan kirinya dan kaki kirinya

merangkul memeluk. Dia membuka matanya ketika tangan dan kakinya bertemu dengan kasur yang kosong, lalu bangkit duduk, menoleh ke kanan-kiri, mencari-cari. Yang Kui Hui telah pergi dari kamar itu!

Swi Liang merasa heran dan juga terkejut, kemudian timbul kekhawatiran di dalam hatinya. “Ke manakah perginya wanita itu sepagi ini?” pikirnya.

Karena khawatir kalau-kalau ada pelayan memasuki kamar dan memergoki keadaannya, bergegas dia menyambar dan cepat mengenakan pakaiannya, pakaian wanita penyamarannya. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri meja rias Yang Kui Hui, menggunakan bedak dan yanci untuk memulas mukanya yang semalam telah menjadi muka pria aslinya sedangkan sisa-sisa bedak di mukanya telah terhapus sama sekali oleh ciuman-ciuman Yang Kui Hui. Kemudian dia mencari pedangnya dan betapa heran dan terkejut hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa pedangnya tidak berada di dalam kamar itu!

Akan tetapi dia segera tersenyum menenangkan hatinya sendiri. Tentu Yang Kui Hui sengaja hendak main- main dengan dia! Tak mungkin wanita itu melakukan hal yang bukan-bukan dan merugikannya setelah apa yang mereka nikmati bersama semalam! Tentu Yang Kui Hui sudah bertekuk lutut dan mencintanya setelah dia membuktikan kejantanannya semalam, pikir Swi Liang dengan bangga. Dengan hati ringan dia lalu melangkah ke pintu, membuka daun pintu hendak mencari kekasihnya itu.

Sunyi di luar kamar itu, padahal biasanya penuh dengan pengawal. Kemudian muncul seorang pelayan wanita yang bertugas membersihkan kamar Yang Kui Hui setiap pagi. Melihat pelayan ini, Swi Liang dengan suara biasa lalu menanyakan di mana adanya majikan mereka yang cantik itu.

“Beliau tadi memerintahkan bahwa kalau Liang-lihiap sudah bangun agar Lihiap suka pergi menyusul ke dalam pondok di taman. Beliau menanti di sana.”

Mendengar kata-kata ini, Swi Liang bergegas pergi ke taman, hatinya girang sekali. Tak salah dugaannya. Yang Kui Hui telah bertekuk lutut di depan kakinya! Selir yang angkuh dan cantik itu telah jatuh cinta kepadanya sehingga kini selir itu ingin melanjutkan permainan cinta mereka di dalam pondok taman, tentu agar jangan sampai menimbulkan kecurigaan para pelayan lain!

“Ha-ha-ha, kau cerdik sekali, manis,” kata hatinya penuh kegembiraan, “untuk kecerdikanmu itu akan kuberi upah ciuman hangat!”

Sambil tersenyum-senyum Swi Liang melangkah lebar ke dalam taman yang indah dan luas itu. Dia membayangkan segala kemesraan yang akan dialaminya sebentar lagi di dalam pondok taman. Taman itu sunyi karena hari masih amat pagi. Memang biasanya pun taman itu hanya dikunjungi para puteri istana setelah matahari naik tinggi sehingga mereka dapat menghirup hawa segar di situ. Bahkan tidak tampak seorang pun juru taman yang biasanya sepagi itu tentu telah membersihkan taman.

Ketika melewati tempat di mana dia malam-malam beberapa hari yang lalu mengubur mayat dua orang pelayan wanita, Swi Liang menggerakkan pundaknya untuk menenteramkan hatinya yang agak terguncang. Salah kalian sendiri, pikirnya. Dan untuk menekan perasaannya, dia telah menginjak kuburan yang tidak kentara dan tak dikenal orang lain kecuali dia itu.

Dia kini sudah berdiri di depan pintu pondok, lalu mengetuk pintu pondok sambil berkata dengan suara biasa, suara pria, halus dan penuh rayuan, “Dewiku yang cantik jelita, bidadari dari sorga. Manis, bukalah pintu, aku sudah amat rindu kepadamu…!”

Daun pintu pondok merah itu terbuka dari dalam dan… Swi Liang meloncat ke belakang sambil menahan seruan kagetnya ketika dia melihat bahwa dari dalam pondok itu keluar dua puluh orang lebih pengawal yang memegang senjata di tangan! “Menyerahlah engkau, Liang Cu. Kami mendapat perintah untuk menangkapmu!” komandan pengawal berkata keren.

Seketika pucat muka Swi Liang dan otomatis tangan kanannya meraba pinggang, hanya untuk diingatkan bahwa pedangnya telah lenyap dari dalam kamar tadi! “Apa… apa… dosaku..?” dia bertanya gagap. Saking bingungnya dia lupa menyembunyikan suara laki-laki yang keluar dari mulutnya.

Dua puluh lebih pengawal itu tertawa dan sang komandan membentak, “Lekas berlutut dan menyerah!”

Swi Liang maklum bahwa rahasianya tentu telah terbuka. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang telah membuka rahasianya. Sampai saat itu dia sama sekali tidak menyangka bahwa Yang Kui Hui yang telah mengkhianatinya. Akan tetapi dia tahu bahwa kalau dia tertangkap, tentu dia akan celaka.

“Mampuslah!” bentaknya sambil menerjang ke depan.

Swi Liang menghantam komandan dengan kepalan tangan kanan sedangkan kepalan tangan kiri menghantam pengawal ke dua yang berdiri di dekatnya. Komandan itu memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, maka dia dapat menangkis biar pun dia menjadi terhuyung-huyung. Akan tetapi pengawal yang terkena hantaman tangan kiri Swi Liang mengeluarkan teriakan keras dan roboh terguling, muntah- muntah darah karena pukulan yang mengenai dadanya tadi amat kuat.

Segera Swi Liang dikeroyok oleh dua puluh orang lebih. Para pengawal itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Karena mereka semua bersenjata, repot jugalah Swi Liang yang harus membela diri dengan tangan kosong!

“Jangan bunuh dia! Kita harus menangkapnya hidup-hidup!” beberapa kali komandan berteriak.

Swi Liang mengamuk sekuatnya. Namun setelah tubuhnya terkena beberapa kali bacokan dan tusukan, akhirnya dia terguling dan teringkus. Dalam keadaan luka-luka dan setengah pingsan dia diseret ke dalam kamar tahanan. Sementara itu, Yang Kui Hui segera mengadu kepada Kaisar bahwa pelayan wanita yang dahulu menolongnya itu ternyata adalah seorang pemuda dan mungkin mata-mata musuh yang sengaja menyelundup.

Mendengar ini, Kaisar memerintahkan agar Swi Liang disiksa dan dipaksa untuk mengakui keadaannya. Pada hari itu juga, di dalam kamar tahanan yang dirahasiakan, Swi Liang dikompres untuk mengaku.

Ada beberapa macam semangat yang mendorong seseorang menjadi prajurit. Semangat patriotik sebagai pengabdian kepada negara dan bangsa, semangat mencari kedudukan dan kemuliaan, dan semangat yang timbul dari keadaan lain pula. Di antara semua itu, hanya prajurit yang didorong semangat mengabdi kepada negara dan bangsa sajalah yang akan berani mempertaruhkan nyawa dengan rela, karena dia merasa yakin bahwa apa yang diperjuangkan dalam hidupnya itu benar! Kebenaran seseorang yang tentu saja mengharapkan sesuatu, misalnya nama sebagai seorang pahlawan atau ‘tempat baik’ di alam baka! Betapapun juga, lepas dari-pada tepat tidaknya kebenaran semacam itu, harus diakui bahwa hanya prajurit yang bersemangat demikian sajalah yang akan menghadapi kematian dan siksaan dengan berani dan gagah.

Tidaklah demikian dengan Swi Liang. Dia melakukan tugasnya karena dorongan subo-nya yang juga menjadi kekasihnya, karena keinginannya untuk kelak memperoleh kedudukan tinggi jika cita-cita subo-nya terlaksana. Kalau putera subo-nya sampai bisa menjadi kaisar seperti yang dicita-citakan subo-nya, dia tentu setidaknya akan menjadi seorang menteri! Karena semangat seperti ini yang mendorongnya berjuang, maka begitu gagal patahlah semangatnya.

Begitu dia disiksa, keluarlah pengakuan dari mulut Swi Liang bahwa dia adalah kaki tangan subo-nya, The Kwat Lin Ratu Pulau Es yang kini menjadi ketua Bu-tong-pai dan yang bersekutu dengan Pangeran Tang Sin Ong, dan tugasnya adalah memikat hati Yang Kui Hui agar selir itu kelak mau membantu pemberontakan mereka. Pengakuan ini tentu saja menimbulkan geger. Pangeran Tang Sin Ong ditangkap dan beberapa hari kemudian, Swi Liang dan Pangeran Tang Sin Ong dijatuhi hukuman penggal kepala di tempat umum agar menjadi peringatan bagi siapa saja yang hendak memberontak.

Kaisar lalu mengirim pasukan untuk menangkap ketua Bu-tong-pai yang memberontak. Habislah riwayat hidup Bu Swi Liang, putera Lu-san Lojin Bu Si Kang yang gagah perkasa itu. Memang patut disayangkan karena sebenarnya dahulu Bu Swi Liang adalah seorang pemuda yang baik dan gagah perkasa, yang dididik oleh ayahnya sejak kecil agar menjadi seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan. Memang keadaan sekeliling amat mempengaruhi jalan hidup seseorang. Tapi hal ini tidaklah berarti bahwa sekeliling yang bersalah sehingga menyeret seseorang ke jalan sesat seperti halnya Bu Swi Liang. Sebetulnya, yang bersalah adalah dirinya sendiri!

Orang yang mengenal diri sendiri akan selalu dalam keadaan waspada dan sadar sehingga berada di dalam lingkungan apa pun juga dia akan selalu mengamati tingkah laku sendiri lahir batin setiap saat, tak

mungkin terseret atau ternoda. Seperti emas murni atau bunga teratai, biar berada di lumpur akan tetapi tetap bersih! Sebaliknya, orang yang tidak mau mengamati dirinya sendiri setiap saat, akan mudah lupa diri karena terlalu menonjolkan ‘akunya’. Si Aku ini memang selalu ingin menang sendiri, ingin enak dan senang sendiri, sehingga untuk memenuhi segala keinginannya itu, diri terseret dan mudah terjeblos ke dalam jurang penuh dengan ular-ular berbisa bernama iri, dendam, benci, sombong, duka, dan lain-lain yang kesemuanya berakhir dengan kesengsaraan.

Hari itu di Bu-tong-san telah tiba pasukan yang kuat dan dipimpin seorang perwira tinggi yang membawa perintah penangkapan dari Kaisar sendiri. Namun mereka terlambat. The Kwat Lin, ketua Bu-tong-pai yang baru dan hendak ditangkap itu telah melarikan diri bersama anak buah yang setia kepadanya.

Tentu saja hal ini tidaklah mengherankan. Sebelum Swi Liang membuka rahasia pemberontakannya, The Kwat Lin telah lebih dulu mendengar bahwa muridnya telah gagal dan ditangkap. Dia merasa kecewa sekali, akan tetapi dia juga maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Kalau sampai pasukan pemerintah menyerang Bu-tong-pai, tentu saja dia tidak mungkin dapat melawan pasukan yang besar itu. Maka diam-diam dia lalu meloloskan diri dari Bu-tong-san. Bersama anak buahnya yang setia dia lalu melarikan diri ke Rawa Bangkai yang menjadi markas ke dua dari komplotan ini.

Seperti di ketahui, Kiam-mo Cai-li Liok Si yang menjadi datuk kaum sesat itu telah ditaklukkannya sehingga menjadi sekutunya. Tempat tinggal datuk wanita ini, Rawa Bangkai di kaki pengunungan Lu-liang-san, kemudian menjadi markas ke dua. Ketika menghadapi bahaya penangkapan dari kota raja, tentu saja Kwat Lin lalu melarikan diri ke tempat yang merupakan daerah rahasia dan berbahaya itu.

Pelarian dari Bu-tong-pai ini diterima dengan baik oleh Kiam-mo Cai-li Liok Si yang memperoleh kesempatan untuk menonjolkan jasanya. Segera Rawa Bangkai dijaga dengan kuat sekali dan Liok Si menghibur The Kwat Lin atas kegagalan muridnya.

“Aku hanya merasa kecewa sekali mengenangkan murid-muridku,” kata The Kwat Lin dengan suara gemas. “Swi Nio telah mengkhianatiku, lari dengan seorang mata-mata musuh entah dari mana dan pengharapanku tadinya tinggal kepada Swi Liang. Dia sampai terbuka rahasianya dan tertangkap, hal itu katakanlah sebagai suatu kegagalan yang menyedihkan. Akan tetapi mengapa dia membocorkan rahasia Pangeran Tang Sin Ong sehingga Pangeran itu pun dihukum mati? Dengan matinya Pangeran Tang Sin Ong habislah harapan kita!” The Kwat Lin menghela napas panjang dan mengepal tinjunya dengan hati gemas.

“Aihhh, seorang yang memiliki ilmu kepandaian seperti Pangcu, mengapa mudah sekali putus asa?” Liok Si mencela.

“Hem, Cai-li, jangan kau menyebutku Pangcu lagi. Aku bukan lagi ketua Bu-tong-pai setelah kini menjadi pelarian pemerintah. Dan aku tidak membutuhkan perkumpulan itu. Siapa yang tidak akan putus asa? Cita- cita kita kandas setengah jalan. Betapa pun tinggi kepandaian kita, menghadapi pasukan pemerintah yang puluhan laksa banyaknya, kita dapat berbuat apa?”

Kiam-mo Cai-li tersenyum. Dia maklum bahwa wanita yang amat lihai ini memiliki cita-cita yang besar sekali. “The-pangcu… eh, Lihiap, seorang dengan kepandaian seperti engkau tentu dapat mencari kedudukan dengan mudah sekali.”

“Hemm, mana mungkin? Pemerintah telah menganggapku sebagai pemberontak dan aku akan selalu menjadi pelarian dan buruan pemerintah. Pula, aku adalah seorang bekas ratu. Oleh karena itu cita-citaku hanya satu, ialah aku akan berusaha sekuat tenaga agar puteraku memperoleh kedudukan yang sepadan dengan darah keturunannya.”

Kiam-mo Cai-li mengangguk-angguk. “Memang sepatutnya… sudah sepatutnya…, dan aku bersedia membantumu asal kelak kau tidak akan melupakan bantuanku.”

The Kwat Lin memegang tangan datuk wanita itu dan memandang tajam. “Kiam-mo Cai-li, kita bukan anak- anak kecil lagi. Kita sama-sama wanita dan kita saling mengetahui isi hati masing-masing. Engkau sudah banyak menolongku, masihkah engkau menyangsikan bahwa aku menganggapmu sebagai tangan dan kaki sendiri dan kita akan senasib sependeritaan, bahkan sehidup-semati?”

Kiam-mo Cai-li tersenyum dan mengangguk. “Aku tahu bahwa engkau adalah seorang wanita yang selain berilmu tinggi, juga berkemauan keras dan bercita-cita tinggi, The-lihiap. Kita tidak perlu putus asa dengan kegagalan muridmu. Masih ada jalan lain yang kurasa akan lebih menguntungkan kita.”

“Bagaimana?”

“Bersekutu dengan An Lu Shan!”

The Kwat Lin memandang wajah Kiam-mo Cai-li dengan alis berkerut. Majikan Rawa Bangkai itu tersenyum dan diam-diam The Kwat Lin harus memuji bahwa wanita yang usianya sudah lima puluh tahun itu kalau tersenyum kelihatan masih muda dan masih cantik.

Kata-kata Kiam-mo Cai-li mengejutkan hatinya dan sekaligus menimbulkan kecurigaannya. Sudah terang bahwa mereka menjadi saingan An Lu Shan, bagaimana sekarang dapat bersekutu dengan Panglima itu? Bahkan yang menyalakan api pemberontakan dalam dada Pangeran Tang Sin Ong adalah karena merasa iri hati kepada An Lu Shan yang disuka oleh Kaisar dan selalu dibela oleh Yang Kui Hui. Dan sekarang, sekutunya ini mengusulkan untuk bersekutu dengan An Lu Shan!

“Cai-li, apa maksudmu?” tanyanya. Suaranya membentak dan matanya memandang tajam menyelidik.

“Aih, The-lihiap, aku tahu mengapa engkau terkejut. Akan tetapi bukankah para cerdik pandai jaman dahulu pernah berkata bahwa orang cerdik harus pandai memilih kawan? Demi tercapainya cita-cita, kalau perlu kawan menjadi lawan dan lawan berbalik menjadi kawan!”

Berseri wajah The Kwat Lin dan dia memandang kagum. “Kau benar, Cai-li. Kau benar dan cerdik sekali! Akan tetapi, mungkinkah dia mau?”

“Jangan khawatir. Aku sudah lama mengenal baik panglima kasar itu. Di balik semua langkahnya menjilat Kaisar dan Yang Kui Hui, dia bercita-cita merebut kekuasaan Kaisar. Dan pada waktu ini dia amat membutuhkan bantuan orang-orang pandai, tentu saja dia akan menerima kita dengan tangan terbuka.”

The Kwat Lin berdebar-debar dan menggosok-gosok pipinya yang berkulit halus itu dengan tangannya. Tampaknya wanita ini ragu-ragu. “Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengadakan hubungan?”

“Aku akan menyuruh anak buahku. Harap kau suka tulis surat untuk disampaikan kepada An Lu Shan. Sebaiknya begini isinya….”

Wanita cerdik Kiam-mo Cai-li berunding dengan The Kwat Lin, mengulurkan tangan kepada An Lu Shan mengajak bersekutu melalui sehelai surat yang ditulis oleh tangan halus The Kwat Lin. Dalam hal menggunakan siasat, kiranya wanita lebih cerdik dari-pada pria, dan hal ini dibuktikan oleh The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li Liok Si.

Sebulan kemudian tampak lima orang muncul di tepi rawa yang sunyi itu. Mereka ini terdiri dari empat orang pria dan seorang wanita, kesemuanya kelihatan gagah perkasa dan tangkas.

Rawa ini amat luas, sunyi dan terkenal berbahaya sekali. Kelihatannya tidak berbahaya, hanya merupakan genangan air yang amat luas seperti telaga besar, namun air itu tertutup oleh rumput dan bermacam tetumbuhan kecil sehingga kadang-kadang tidak nampak airnya. Bahkan seolah-olah tertutup oleh lapisan tanah tipis dan inilah yang berbahaya sekali. Manusia mau pun binatang yang berani mendekati rawa dan salah injak, mengira bahwa tanah berumput itu keras, akan terperosok ke dalam air berlumpur yang mempunyai daya penyedot sehingga sekali kaki terbenam, akan disedot ke bawah dan sukar ditarik ke atas lagi.

Air berlumpur itu dalam sekali. Karena amat lembek, maka seolah-olah menyedot kaki, padahal kaki orang atau binatang itu yang terus tenggelam secara perlahan-lahan. Lumpur di rawa ini memang mempunyai daya lekat sehingga kaki seolah-olah disedot dan ditahan, sukar untuk ditarik kembali ke atas. Selain bahaya yang merupakan perangkap-perangkap maut dari alam ini, juga di situ terdapat banyak ular dan binatang berbisa lain yang bersembunyi di antara rumput-rumput dan tetumbuhan lain. Karena sering-kali terdapat bangkai-bangkai binatang-binatang yang terperosok ke dalam perangkap alam sekitar rawa, juga bahkan kadang-kadang tampak mayat mausia-manusia yang sampai membusuk dimakan lumpur, maka terkenallah rawa itu dengan sebutan Rawa Bangkai!

Jauh dari rawa, tampak di tengah-tengah rawa itu sebuah pulau dan di situ terdapat bangunan-bangunan
yang tampak dari jauh. Namun tidak ada orang dari luar rawa yang berani mencoba untuk mendekati pulau ini. Selain jalan menuju ke situ harus menyeberangi rawa maut itu, juga telah terkenal bahwa bangunan- bangunan itu adalah sarang dari iblis betina yang ditakuti semua orang, yaitu Kiam-mo Cai-li.

Karena Kiam-mo-Cai-li yang cerdik itu melarang para anak buahnya untuk mengganggu rakyat di sekitar tempat itu, maka tidak akan ada alasan bagi alat pemerintah untuk memusuhinya, pula pembesar setempat merasa ngeri untuk menentang iblis betina itu. Dengan demikian, datuk kaum sesat ini hidup aman dan tenteram di kaki pegunungan Lu-liang-san itu, dan tempat ini menjadi tempat pesembunyian yang baik sekali bagi The Kwat Lin dan anak buahnya.

Kita kembali kepada lima orang yang pada hari itu berada di tepi rawa. Tiga orang di antara mereka laki- laki tua berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun. Seorang lagi adalah laki-laki berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan gagah dan bertubuh tegap, sedangkan wanita itu masih muda, seorang gadis berusia paling banyak enam belas tahun, tubuhnya langsing dan wajahnya manis namun sepasang matanya mengandung sinar keras.

Wanita itu bukan lain adalah Bu Swi Nio dan laki-laki muda tampan gagah itu adalah penolongnya ketika dia hendak membunuh diri setelah malam itu dia diperkosa oleh Pangeran Tang Sin Ong! Bagaimana dia sekarang bersama laki-laki dan tiga orang kakek dapat berada di tepi Rawa Bangkai?

Malam itu, setelah diperkosa oleh Pangeran Tang Sin Ong dalam keadaan mabuk dan tidak sadar, Swi Nio hendak membunuh diri dengan pedang. Akan tetapi dia dicegah oleh laki-laki yang ternyata adalah seorang mata-mata dari An Lu Shan. Dia dapat diingatkan oleh laki-laki itu bahwa membunuh diri bukanlah jalan terbaik untuk membalas sakit hati. Maka Swi Nio lalu ikut dengan orang itu dan menjadi petunjuk jalan sehingga mata-mata itu berhasil menyelamatkan diri bersama Swi Nio, keluar dari tembok Bu-tong-pai.

Kedua orang ini tanpa bicara melarikan diri terus dengan cepatnya sampai matahari naik tinggi. Ketika tiba di kaki pegunungan Bu-tong-san, barulah mereka berhenti mengaso di dalam sebuah hutan lebat. Begitu duduk di bawah pohon melepaskan lelah, Swi Nio teringat akan nasib yang menimpa dirinya, maka serta merta dia menangis mengguguk.

Laki-laki itu memandang ke arahnya dan menghela napas panjang, mengepal tinju dan hanya mendiamkannya saja karena pengalamannya membuat dia mengerti bahwa dalam keadaan berduka seperti itu, tidak ada obat yang lebih baik bagi gadis itu kecuali tangis dan air mata yang bercucuran. Setelah agak mereda tangis Swi Nio, dia berkata, “Nona, seperti aku katakan pagi tadi, tidak perlulah hal yang telah terjadi dan yang telah lalu ditangisi dan disedihkan. Yang penting, kita melihat ke depan. Jalan hidup masih lebar dan terbentang luas di depan kita. Mengubur diri dengan kedukaan saja tidak ada artinya dan pula hanya akan melemahkan semangat kita yang perlu kita pupuk untuk dapat membalas kepada orang-orang yang telah merusak hidup kita.”

Kata-kata yang dikeluarkan dengan suara gagah ini membuat Swi Nio mengangkat mukanya yang pucat dan basah. Mereka berdua saling pandang sejenak, keduanya baru melihat nyata akan wajah masing- masing. Wajah pria itu menimbulkan kepercayaan di hati Swi Nio sedangkan wajah gadis itu membuat jantung laki-laki itu berdebar dan tertarik.

“Kau siapakah?” akhirnya Swi Nio bertanya.

“Sudah kukatakan kepadamu, aku adalah seorang mata-mata, seorang kepercayaan Jenderal An Lu Shan. Namaku Liem Toan Kie. Dalam penyelidikanku di Bu-tong-pai, aku telah mengenal namamu, Nona. Engkau adalah Nona Bu Swi Nio, bersama kakakmu Bu Swi Liang engkau adalah murid dari Ketua Bu- tong-pai yang baru. Aku pun telah mengetahui akan nasibmu semalam….”

“Ahhh…! Si Jahanam Tang Sin Ong…!” Engkau benar! Aku tidak perlu berputus asa, aku tidak perlu mengubur diri dalam kedukaan, aku harus berusaha untuk membalas semua penghinaan ini. Akan kubunuh Si Jahanam Tang Sin Ong!” gadis itu mengepal kedua tangannya dengan penuh kemarahan.

“Nah, itu baru gagah dan bersemangat! Akan tetapi, tidak semudah itu membunuh seorang Pangeran, apa lagi dia sahabat baik gurumu yang amat lihai. Jalan satu-satunya, marilah ikut aku, mengabdi kepada Jenderal An Lu Shan. Hanya itulah jalannya sehingga kelak engkau akan dapat membalas dendam.”

“Kau… kau seorang prajurit bawahan Jenderal itu?”

Toan Ki menggelengkan kepalanya. “Bukan, aku bukan prajurit. Aku orang luar yang telah menggabungkan diri dengan An-goanswe dan mendapatkan kepercayaannya untuk menyelidiki Bu-tong-pai. Aku disuruh menyelidiki rencana apa yang diadakan oleh Pangeran Tang Sin Ong dan Bu-tong-pai. An-goanswe adalah seorang yang amat cerdik. Dia biarkan pemberontakan lain agar kedudukan Kaisar makin lemah, namun dia harus tahu segala gerak-gerik musuh, baik gerak-gerik Kaisar mau pun pemberontak lain. Sekarang aku tahu bahwa rencana mereka adalah melemahkan Kaisar melalui Yang Kui Hui, dan sekarang aku akan kembali dan melaporkan hasil penyelidikanku kepada An-goanswe. Kau ikutlah, akan kuperkenalkan dan engkau tentu akan diterima, karena engkau memiliki kepandaian yang lumayan di samping dendammu kepada Tang Sin Ong.”

“Aku… aku tidak suka menjadi pemberontak.”

“Hemm, apakah kau kira aku suka menjadi pemberontak, Nona? Tidak! Aku membantu An Lu Shan bukan karena aku suka menjadi pemberontak, melainkan karena aku pun sakit hati terhadap pemerintah.”

“Eh?” Swi Nio tertarik dan memandang wajah yang gagah itu. “Mengapa?”

“Hampir sama nasib kita, Nona, hanya berbeda jalannya saja. Ketahuilah, dahulu aku adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang tentu saja tak mau mencampuri urusan politik dan pemberontakan, bahkan condong untuk setia kepada pemerintah. Akan tetapi pada suatu hari terjadilah hal yang amat hebat… yang merubah seluruh jalan hidupku….”

Swi Nio teringat akan nasibnya sendiri. Dia mendekat lalu berkata, “Liem-twako, kau ceritakanlah!” Sejenak mereka berpandangan, lalu Toan Ki menceritakan riwayatnya secara singkat.

Dia tinggal di kota Ma-kiu-bun, sebuah kota yang cukup ramai di tepi sungai Huangho. Hidupnya tenang dan bahagia dengan isterinya yang baru dinikahinya selama tiga bulan. Dengan membuka toko obat dan mengajar ilmu silat, dia hidup lumayan. Namun isterinya merasa kecewa karena setelah tiga bulan menikah, belum juga ada tanda-tanda mengandung. Maka Toan Ki mengijinkan isterinya untuk bersembahyang ke kelenteng untuk minta berkah agar isterinya dapat memperoleh keturunan secepatnya.

Akan tetapi mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Menjelang senja, setelah pergi sejak pagi, barulah isterinya pulang dan turun dari joli dalam keadaan payah, mukanya pucat dan basah air mata. Sambil menangis sesenggukan isterinya lari ke dalam rumah, menjatuhkan diri dan berlutut di depan kakinya sambil menceritakan bahwa ketika tadi bersembahyang di kelenteng, kebetulan di kelenteng itu terdapat putera bangsawan Lui yang bermain catur dengan para hwesio. Melihat dia, putera bangsawan menyeretnya ke dalam kamar di kelenteng dan memperkosanya!

Setelah mengucapkan pengakuan yang hebat itu, isterinya lari ke dalam kamar sambil menangis sesenggukan. Hati Toan Ki terasa tidak enak. Tadi dia termangu-mangu seperti patung saking marah dan dukanya mendengar penuturan isterinya sehingga dia agak lalai membiarkan isterinya lari. Cepat dia mengejar, dan melihat pintu kamar isterinya dipalang dari dalam, ia lalu menendang pecah daun pintu! Dia berdiri pucat dan terbelalak. Apa yang dilihatnya?

“Isteriku telah rebah mandi darah di lantai! Pedangku ia pergunakan untuk membunuh diri, menusuk dadanya hampir tembus!” dia mengakhiri ceritanya sambil menutupkan kedua tangan di depan mukanya.

“Ohhh…!!” Swi Nio menjadi pucat sekali. Dia menyentuh lengan Toan Ki dengan penuh perasaan terharu. “Putera bangsawan dan hwesio-hwesio keparat itu harus dihukum! Dan aku akan membantumu, Liem- twako!”

Toan Ki menurunkan tangannya, memegang tangan Swi Nio dengan erat. Mereka saling berpegangan dan saling menggenggam tangan. “Kita senasib, Nona. Karenanya ada kecocokan di antara kita dan karenanya aku menolongmu pagi tadi. Akan tetapi, bicara soal bantu-membantu, akulah yang akan membantumu kelak kalau saatnya tiba untuk membalaskan sakit hatimu. Sedangkan sakit hatiku sendiri sudah kubalas impas dan lunas. Pemuda bangsawan keparat itu telah kubunuh bersama semua hwesio kelenteng itu! Karena itu aku menjadi buronan dan aku terpaksa lari kepada Jenderal An Lu Shan yang segera menerimaku karena dia membutuhkan bantuan kepandaianku.”

“Ahhh, engkau baik sekali, Twako. Dan engkau bernasib buruk sekali seperti aku. Aku merasa beruntung dapat bertemu dan dapat bersahabat denganmu. Baiklah, aku akan ikut bersamamu menghadap Jenderal An Lu Shan.”

Demikianlah, Swi Nio ikut bersama Toan Ki. Benar saja seperti dikatakan laki-laki gagah itu, dia diterima dengan baik di dalam rombongan orang-orang gagah, bukan prajurit yang menjadi pembantu-pembantu An Lu Shan.

Persahabatan Bu Swi Nio dengan Liem Toan Ki menjadi makin akrab dan bahkan tumbuh benih-benih cinta kasih di antara kedua orang yang sama nasibnya ini, Liem Toan Ki kehilangan isterinya yang dikawininya baru tiga bulan lamanya, sedangkan Swi Nio kehilangan keperawanannya karena diperkosa oleh seorang pangeran. Akhirnya keduanya bersepakat untuk mengikat perjodohan, namun Swi Nio mengatakan bahwa dia baru mau melangsungkan pernikahan secara resmi apabila sakit hatinya telah terbalas semua! Maka kedua orang ini hidup sebagai dua orang tunangan yang saling mencinta, apa lagi karena perjodohan mereka itu direstui oleh An Lu Shan yang pandai mengambil hati orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat dibutuhkan bantuannya.

Pada suatu hari An Lu Shan memanggil Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio bersama tiga orang tokoh lain yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi di antara para pembantu An Lu Shan.

Yang seorang bernama Tan Goan Kok, seorang kakek tinggi besar yang yang terkenal di utara sebagai seorang ahli gwakang yang hebat. Kabarnya Tan Goan Kok ini biar pun usianya sudah lima puluh tahun lebih, tapi dapat menggunakan kekuatan otot tubuhnya untuk mengangkat seekor kerbau bunting. Di samping tenaganya yang besar, juga dia memiliki ilmu silat toya yang sukar dicari bandingannya.

Kakek kedua adalah Pat-jiu Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Delapan), seorang kakek yang berusia enam puluh tahun. Pakaiannya penuh tambalan biar pun bersih dan baru dan selalu memegang sebatang tongkat butut. Semua orang bahkan termasuk An Lu Shan sendiri menyebutnya Pangcu (Ketua), padahal kakek jembel ini hanyalah seorang ketua yang tidak mempunyai anak buah! Pat-jiu Mo-kai tidak memimpin suatu perkumpulan pengemis, namun nama besarnya sedemikian terkenal sehingga setiap orang pengemis di mana pun juga akan selalu menyebutnya Pangcu! Sampai ketua para perkumpulan pengemis juga menyebutnya Pangcu! Ilmu tongkatnya amat tinggi dan kabarnya belum pernah kakek ini dikalahkan lawan selama dalam perantauannya sampai akhirnya dia dapat dibujuk membantu An Lu Shan.

Orang ke tiga berusia lima puluh tahun lebih dan berpakaian tosu. Dia memang seorang penganut Agama To, seorang kakek perantau yang disebut Siok Tojin. Berbeda dengan kedua orang kakek pertama, Siok Tojin orangnya pendiam, tidak terkenal, namun ilmu pedangnya amat hebat sehingga ketika dia diuji, ilmu pedangnya itu bahkan mampu menandingi tongkat Pat-jiu Mo-kai!

Setelah Liem Toan Ki, Bu Swi Nio, dan tiga orang kakek itu menghadap An Lu Shan yang memanggilnya, Jenderal pemberontak ini lalu menceritakan akan surat dari The Kwat Lin, bekas ketua Bu-tong-pai yang mengajak kerjasama dalam menentang Kaisar.

“Aku sengaja mengutus Ngo-wi (kalian berlima) untuk menjajaki hati wanita berilmu tinggi ini, apakah benar-benar dia hendak bersekutu? Bu Swi Nio adalah muridnya, maka aku mengutusnya untuk mengukur hati gurunya. Kalau dia benar-benar hendak bersekutu, tentu dia tidak akan marah kepada muridnya yang telah melarikan diri dan menjadi pembantuku. Kau menemani dan menjaga tunanganmu, Toan Ki. Dan Pangcu bersama dua orang Lo-enghiong hendaknya menguji kepandaian mereka yang hendak bersekutu, di samping melindungi mereka berdua ini kalau-kalau terancam bahaya.”

Demikianlah maka pada pagi hari itu, lima orang kaki tangan An Lu Shan ini telah berada di tepi Rawa Bangkai. Mereka memandang ke arah pulau di tengah-tengah rawa yang tampak dari tempat itu dalam jarak yang cukup jauh, kemudian memandang permukaan rawa dengan wajah membayangkan kengerian. Sudah banyak mereka mendengar akan bahayanya melintasi rawa itu.

“Saya hanya baru satu kali mengunjungi tempat ini bersama Subo,” terdengar Swi Nio menerangkan ketika dia ditanya oleh teman-temannya. “Ketika itu kami mengikuti Kiam-mo Cai-li yang membawa kami berlompatan dari tempat ini ke pulau itu. Setiap lompatannya membawanya ke tanah keras dan aman. Akan tetapi tentu saja aku tidak bisa mengingat lagi karena dia melompat-lompat ke kanan kiri, kadang- kadang membalik lagi.”

“Hemmm, tentu merupakan jalan rahasia yang sukar diketahui orang luar,” kata Pat-jiu Mo-kai sambil meraba-raba dagunya yang berjenggot panjang.

“Menurut Kiam-mo Cai-li, katanya meleset sedikit saja merupakan bahaya maut karena di sepanjang jalan penuh dengan jebakan alam. Kadang-kadang dia membawa kami meloncat ke bagian yang ada airnya, sampai saya merasa ngeri, akan tetapi ternyata bagian itu airnya hanya semata kaki. Sedangkan tanah yang kelihatan kering di dekatnya, menurut keterangannya, bahkan merupakan tempat berbahaya sekali. Ketika pulang ke Bu-tong-san, Subo sendiri mengatakan bahwa dia tidak akan berani lancang menempuh jalan ini sendirian saja karena dia pun tidak dapat mengingat kembali jalan berliku-liku itu.”

“Bagaimana kalau kita menggunakan tali yang panjang? Biar kau tidak hafal jalan itu, setidaknya kau pernah melaluinya dan dapat kau mencarinya, Moi-moi. Kita berempat mengikuti dari belakang, menggunakan tali yang ditalikan di pinggangmu sehingga andai kata kau salah jalan dan masuk perangkap, kita dapat menolongmu dengan menarik tali itu,” kata Liem Toan Ki kepada kekasihnya.

“Begitu pun boleh. Aku akan coba mengingat-ingat, akan tetapi harus kau sendiri yang memegang ujung tali, Koko, karena aku ngeri!”

“Ah, aku tidak setuju! Usul itu tidak tepat, Liem Sicu!” tiba-tiba Tan Goan Kok berkata dengan suaranya yang parau dan nyaring.

“Akan tetapi aku tidak takut, Tan-lo-enghiong!” Swi Nio membantah. “Pula, kalau Liem-koko yang memegang ujung talinya, aku tidak takut apa-apa lagi. Andai kata aku terjeblos, tentu akan dapat cepat ditariknya naik lagi.”

“Bukan tidak setuju karena takut, melainkan karena kalau hal itu diketahui mereka, tentu akan menjadi bahan ejekan. Perlu apa kita harus mencari-cari jalan rahasia yang disembunyikan orang? Kita harus mencari jalan masuk yang lebih gagah, tidak mencuri-curi seperti segerombolan maling.”

Bu Swi Nio mengerti dan membenarkan pendapat ini. Mereka berlima lalu duduk di tepi rawa sambil mengerutkan alis, mencari akal bagaimana mereka akan dapat mengunjungi pulau di tengah rawa itu sebagai tamu-tamu yang datang secara gagah. Karena kalau usul Liem Toan Ki dan Swi Nio tadi dilanjutkan, dan sampai terjadi Swi Nio terjebak ke dalam perangkap alam, tentu hal ini akan membuat mereka memandang rendah saja. Akan tetapi, betapa pun banyak pengalaman mereka dan betapa pun tinggi ilmu kepandaian mereka, belum pernah mereka menghadapi kesukaran seperti sekarang ini.

Siok Tojin yang sejak tadi tidak ikut bicara, akhirnya mengeluarkan suara mengomel, kemudian berkata, “Dapat! Aku teringat akan orang-orang Mongol yang menggunakan akal mencari ikan di rawa-rawa seperti ini!”

Empat orang kawannya memandang ke arah tosu ini dengan wajah gembira dan penuh harapan. “Lekas katakan, Totiang, bagaimanakah akal itu?” Tan Goan Kok bertanya.

“Mereka menggunakan bambu-bambu sebagai perahu.”

“Ahh, mana mungkin? Menggunakan perahu menyeberangi rawa ini? Tentu akan mogok di tengah jalan kalau bertemu dengan air yang tertutup tanah dan rumput,” bantah Pat-jiu Mo-kai sambil memandang ke rawa dengan alis berkerut.

“Kita jangan meniru mereka yang membuat rakit dari bambu. Kita masing-masing menggunakan sebatang bambu saja, ujungnya dibikin runcing,” kata Siok Tojin singkat, akan tetapi maksudnya sudah dapat ditangkap oleh teman-temannya.

“Bagus sekali! Tentu kita berhasil! Dengan bambu runcing, kita dapat meluncur melalui apa saja!” Tan Goan Kok berteriak girang.

“Hemm, kusangka tidak semudah itu. Kita harus hati-hati, benar-benar mengerahkan ginkang dan sinkang. Kalau sampai tergelincir tentu kita celaka dan akan makin berbahaya bila kemudian tertawan pula. Betapa pun juga, akal itu baik sekali. Mari kita mencari bambu dan membuat dayung,” kata Pat-jiu Mo-kai yang bersama Siok Tojin dianggap orang tertua dan tertinggi ilmunya.

Tak lama kemudian, tampaklah lima orang itu meluncur di atas Rawa Bangkai yang terkenal sukar dilalui orang itu. Dilihat dari jauh, seolah-olah lima orang itu terbang meluncur di atas air rawa! Akan tetapi kalau orang melihat dari dekat barulah tampak bahwa kaki mereka menginjak sebatang bambu besar yang kedua ujungnya telah diperuncing dan mereka menggunakan dayung kayu untuk mendorong bambu yang mereka injak itu meluncur ke tengah.

Orang yang tidak memiliki ginkang dan sinkang jangan mencoba-coba untuk menyebrang menggunakan cara seperti ini. Bambu sebatang yang diinjak kaki itu tentu saja amat berbahaya, selain licin juga dapat berputar sehingga kaki dapat terpeleset. Namun, dengan kekuatan sinkang, telapak kaki mereka seolah- olah melekat pada batang bambu sehingga tidak dapat berputar lagi, dan dengan ginkang mereka dapat memperingan tubuh mereka sehingga bambu yang mereka injak itu meluncur cepat ke tengah rawa.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Yang paling rendah tingkatannya di antara mereka adalah Bu Swi Nio, padahal wanita ini sudah amat lihai karena semenjak kecil dia telah digembleng pula oleh wanita sakti The Kwat Lin, ratu dari Pulau Es! Diam-diam, dari berbagai tempat persembunyian, banyak pasang mata mengintai dan memandang dengan kagum ketika lima orang itu meluncur datang ke arah pulau di tengah Rawa Bangkai. Melihat lima orang itu menggunakan sebatang bambu yang diinjak, melihat mereka itu menggunakan kepandaian membunuh ular dan binatang berbisa lain yang menghadang di tengah perjalanan itu, orang-orang Rawa Bangkai menjadi kagum dan segera melaporkan kepada Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin akan kedatangan lima orang itu.

Kedua orang wanita sakti ini segera berunding sambil menanti kedatangan mereka. Melihat bahwa Bu Swi Nio berada di antara mereka, The Kwat Lin menjadi marah sekali.

“Keparat,” desisnya marah. “Murid itu mengantarkan nyawanya ke sini!”

“Ahhh, The-lihiap, mengapa marah? Harap diingat bahwa dia bukanlah muridmu yang dahulu, melainkan seorang pembantu An Lu Shan yang dipercaya. Karena itu, untuk memulai dengan hubungan persekutuan, amatlah tidak baik memusuhi utusan An Lu Shan,” kata Kiam-mo Cai-li.

The Kwat Lin tercengang dan teringat akan cita-citanya. Memang benar, urusan pribadi harus di kesampingkan kalau dia ingin agar cita-citanya yang amat tinggi untuk putranya itu akan dapat terlaksana. Maka dia lalu mengajak Kiam-mo Cai-li berunding bagaimana cara untuk menghadapi lima orang itu, utusan-utusan An Lu Shan di mana termasuk bekas muridnya itu. Kiam-mo Cai-li yang amat cerdik lalu memberi nasehat-nasehat sehingga keduanya dapat mengatur siasat.

Biar pun penyeberangan itu amat sukar dan mereka berlima harus membunuh banyak ular berbisa, saling bantu-membantu ketika batang bambu mereka itu menemui banyak halangan, akhirnya lima orang itu berhasil juga melompat ke atas pulau di mana telah berdiri serombongan orang yang ditugaskan menyambut mereka. Melihat dua puluh lebih orang yang berdiri seperti pasukan menyambut mereka, Pat- jiu Mo-kai segera tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, sungguh bagus sekali penyambutan Rawa Bangkai terhadap utusan dari An Goan-swe!” kata Pat-jiu Mo-kai.

Seorang di antara anggota pasukan itu, yang berjenggot panjang dan bermata sipit, melangkah maju dan memberi hormat. “Selamat datang di Rawa Bangkai! Karena kami tidak tahu bahwa Cuwi yang terhormat datang berkunjung, maka kami tidak mengadakan penyambutan di luar rawa. Akan tetapi Cuwi telah memperlihatkan kegagahan yang membuat kami tunduk dan kagum. Sekarang, silakan Cuwi semua ikut dengan kami menghadap Hong-houw (Ratu).”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo