July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 14)

 

Namun disayangkan bahwa kebijaksanaan Beng Ong dalam mengemudikan roda pemerintahan ini mengalami godaan hebat yang meruntuhkan segala-galanya. Seperti sering-kali telah terjadi, di jaman apa pun dan di negara mana pun juga, Beng Ong yang hatinya teguh menghadapi godaan segala macam keduniawian, ternyata lumpuh ketika menghadapi seorang wanita! Sudah banyak dibuktikan oleh sejarah, betapa pria-pria yang hebat, pandai, gagah perkasa dan kuat hatinya, menjadi luluh dan tak berdaya begitu bertemu dengan seorang wanita yang berkenan di hatinya.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 745. Ketika itu Raja Beng Ong sudah berusia enam puluh tahun lebih, sebenarnya sudah tua dan sudah kakek-kakek. Namun seperti telah terbukti dari jaman dahulu sampai sekarang, laki-laki betapa pun tuanya, ketika menghadapi wanita akan menjadi seperti seorang kanak- kanak yang hijau dan lemah.

Salah seorang di antara begitu banyak pangeran, yaitu putera Kaisar yang terlahir dari banyak selirnya, adalah Pangeran Su. Pangeran ini mempunyai seorang isteri yang amat cantik jelita, bahkan menurut kabar angin, wanita ini cantiknya melebihi bidadari kahyangan. Wanita ini bernama Yang Kui Hui, yang memang memiliki kecantikan yang amat luar biasa sehingga terkenal di seluruh penjuru dunia.

Ketika Kaisar Beng Ong dalam suatu kesempatan bertemu dan melihat Yang Kui Hui, seketika hati Kaisar tua itu tergila-gila. Ratusan orang selir cantik dan pelayan-pelayan muda yang masih perawan tidak lagi menarik hatinya. Setiap saat yang tampak di depan matanya hanyalah bayangan wajah Yang Kui Hui yang cantik jelita. Akhirnya Kaisar tidak dapat lagi menahan nafsu hatinya. Dengan kekerasan dia memaksa puteranya sendiri, Pangeran Su, untuk menceraikan isterinya dan mengawinkan pangeran ini dengan seorang wanita lain. Ada pun Yang Kui Hui, tentu saja, segera dimasukan ke dalam istana, di dalam kumpulan harem (rombongan selir) di istana.

Setelah Yang Kui Hui pada malam pertama melayani Kaisar Beng Ong, bekas ayah mertuanya, sejak saat itulah terjadi lembar baru dalam sejarah Kerajaan Tang. Kaisar Beng Ong yang tadinya giat mengurus pemerintahan, memperhatikan segala urusan pemerintahan sampai ke soal yang sekecil-kecilnya, kini mulai tidak acuh dan menyerahkan semua urusan ke tangan para Thaikam (Orang Kebiri Kepercayaan Raja) dan para pembesar yang berwenang. Dia sendiri dari pagi sampai jauh malam tak pernah meninggalkan tempat tidur di mana Yang Kui Hui menghiburnya dengan penuh kemesraan.

Dalam beberapa bulan saja, selir yang tercinta ini berhasil menguasai hati Kaisar seluruhnya sehingga apa pun yang dilakukan oleh Yang Kui Hui selalu benar, dan apa pun yang diminta oleh selir ini, tidak ada yang ditolak oleh Kaisar tua yang sudah dimabuk cinta itu. Yang Kui Hui bukanlah seorang wanita bodoh. Sama sekali bukan. Tentu saja hatinya menaruh dendam kepada kaisar Beng Ong karena dia dipisahkan dari suaminya yang tercinta. Sudah pasti sekali dalam melayani semua nafsu birahi Kaisar tua itu, ada tersembunyi niat yang lain lagi, bukan semata-mata karena dia membalas cinta kasih Kaisar yang sudah tua itu. Dia tidak menyia-nyikan kesempatan amat baik itu.

Setelah membuat Kaisar tergila-gila dan seolah-olah bertekuk lutut di depan kakinya yang kecil mungil, mulailah Yang Kui Hui memetik hasil pengorbanan diri dan hatinya. Dia menggunakan pengaruhnya terhadap Kaisar, menarik keluarganya menduduki tempat-tempat penting dalam pemerintahan! Bahkan kakaknya yang bernama Yang Kok Tiong diangkat menjadi menteri pertama dari Kerajaan Tang setelah menteri yang lama dicopot secara menyedihkan oleh Kaisar, tentu saja atas bujukan Yang Kui Hui! Dan masih banyak lagi anggota keluarga selir yang cantik jelilta ini memperoleh kedudukan yang tinggi sekali yang sebelumnya tak pernah termimpikan oleh mereka.

Pada jaman itulah muncul seorang yang akan menjadi terkenal sekali dalam sejarah Tiongkok. Orang ini bukan lain adalah An Lu Shan, seorang yang tadinya dari keturunan tak berarti. An Lu Shan dilahirkan di Mancuria Selatan, di luar Tembok Besar, yaitu di Liao-tung. Orang tuanya berdarah Turki dari suku bangsa Khitan, keturunan keluarga yang bersahaja dan terbelakang. Ketika An Lu Shan menjadi seorang pemuda remaja, sebagai seorang budak belian, dia dijual kepada seorang perwira Kerajaan Tang yang bertugas di utara, di Tembok Besar. Mulai saat itulah bintangnya menjadi terang.

Sebagai kacung seorang perwira, dia ikut pula ke medan perang. Ternyata bocah ini membuktikan dirinya sebagai seorang yang gagah berani dan cerdik sekali, memiliki keahlian dalam pertempuran sehingga beberapa kali dia membuat jasa pada pasukan yang dipimpin oleh majikannya. Maka diangkatlah dia menjadi prajurit dan dalam waktu singkat saja dia membuat jasa-jasa besar sehingga dia diangkat terus, lalu dinaikkan menjadi perwira. Beberapa tahun kemudian, setelah dia memenangkan beberapa

peperangan melawan musuh dari luar sehingga berjasa besar bagi Kerajaan Tang, dia akhirnya diangkat menjadi jenderal!

Mulailah jenderal An Lu Shan ini mendekati Kaisar. Setelah pangkatnya setinggi itu, tentu saja terbuka kemungkinan baginya untuk berhadapan dengan Kaisar yang waktu itu sedang tergila-gila kepada Yang Kui Hui yang telah memperoleh kedudukan tinggi. An Lu Shan memang seorang yang amat cerdik. Menyaksikan pengaruh dan kekuasaan selir yang cantik jelita itu terhadap Kaisar, dia melihat kesempatan baik sekali untuk mengangkat diri sendiri ke tempat yang lebih tinggi. Dengan sikapnya yang lucu dan ugal- ugalan, pembawaan watak liarnya, dia berhasil menyenangkan hati Kaisar dan memancing kegembiraan Yang Kui Hui sendiri.

Selir yang setiap hari harus melayani seorang pria yang sudah tua dan sudah lemah, tentu saja bangkit gairahnya melihat jenderal yang tegap, gembira dan kasar liar itu! Terjadilah ‘main mata’ antara kedua insan ini. Akhirnya, dengan bujukan dan rayuannya, Yang Kui Hui memuji-muji kesetiaan dan jasa-jasa An Lu Shan sehingga Kaisar menjadi semakin suka kepada jenderal ini. Bahkan Yang Kui Hui dengan akalnya yang licik telah mengangkat An Lu Shan sebagai ‘putera angkatnya’.

Hal ini tidak dijadikan keberatan oleh Kaisar. Bahkan Kaisar memuji selirnya sebagai seorang selir yang cerdik, selir yang mencinta dan yang setia. Perbuatan Yang Kui Hui itu dianggapnya sebagai taktik untuk menyenangkan hati seorang pahlawan sehingga dengan demikian memperkuat kedudukan Kaisar. Kaisar Beng Ong yang terkenal pandai dan bijaksana itu ternyata menjadi lemah tak berdaya, sama lemahnya dengan seuntai rambut lemas hitam dari Yang Kui Hui yang setiap saat dapat dipermainkan oleh jari-jari tangan halus dari selir yang cantik jelita itu.

Tentu saja setiap sukses dari seseorang, baik didapatkan dengan jalan apa pun juga, akan melahirkan iri hati kepada orang-orang lain. Biar pun tidak ada yang berani secara terang-terangan menentang selir cantik yang amat dikasihi Kaisar tua itu, namun diam-diam banyak anggota keluarga kerajaan yang merasa iri hati dan membenci Yang Kui Hui, terutama sekali para selir lainnya yang kini seolah-olah diabaikan oleh Kaisar yang setiap malam selalu dibuai dalam pelukan Yang Kui Hui.

Pada suatu malam Kaisar beristirahat di dalam kamarnya sendiri. Betapa pun dia tergila-gila kepada Yang Kui Hui, namun karena dia sudah tua sekali, tenaganya tidak mengijinkan dia setiap malam mengunjungi selirnya yang masih muda, penuh nafsu dan panas itu. Malam itu merupakan malam istirahatnya dan dia tidak mendekati selirnya yang tercinta. Tubuhnya terasa lelah setelah sore tadi dia berpesta makan minum dan menikmati tari-tarian yang disuguhkan untuk kehormatan jenderal An Lu Shan yang datang berkunjung ke istana. Setelah mengijinkan jenderal perkasa itu mengundurkan diri ke kamar tamu yang disediakan, Kaisar yang merasa lelah itu berbisik kepada selirnya tercinta bahwa malam itu dia ingin beristirahat karena merasa lelah, kemudian langsung menuju ke kamarnya sendiri.

Menjelang tengah malam, Kaisar terbangun dan ternyata yang mengganggu tidurnya adalah seorang selir muda belia yang cantik seperti selir-selir lain. Selir ini bernama Yauw Cui, masih berdarah bangsawan dan termasuk selir termuda sebelum Kaisar mengambil Yang Kui Hui yang merupakan selir terakhir.

“Hemmm, apa maksudmu datang mengganggu?” Kaisar berkata tanpa marah karena dia pun pernah mencinta selir yang cantik ini, bahkan tangannya lalu diulur untuk membelai dagu yang berkulit putih halus itu.

“Hamba mohon Sri Baginda mengampunkan hamba,” selir itu berkata dengan suara agak gemetar. “Sebetulnya hamba tidak berani mengganggu Paduka yang sedang beristirahat, akan tetapi….”

Kaisar yang tua itu tersenyum dan salah menyangka. Dikiranya selir muda ini merindukan curahan kasihnya karena sudah lama dia tidak mengunjungi kamar selirnya ini dan tidak pula memerintahkan selirnya itu datang melayaninya. “Aihh, manis, naiklah ke sini dan kau pijiti punggungku…,” katanya sebagai uluran tangan. Karena membayangkan hasrat selirnya ini, sudah bangkit pula birahinya.

Yauw Cui tidak berani membantah. Segera ia bangkit dari lantai di mana dia berlutut, dan jari-jari tangannya yang halus mulai menari-nari di atas punggung tua yang pegal-pegal itu. Akan tetapi selir ini berkata lagi, “Rasa penasaran memaksa hamba memberanikan diri mengunjungi Paduka. Hamba tidak ingin melihat Paduka yang hamba junjung tinggi ditipu dan dihina orang!”

Tangan Kaisar yang mulai membelai tubuh selirnya itu tiba-tiba terhenti. Dengan pandang mata penuh selidik Kaisar Beng Ong bertanya, “Apa maksudmu? Siapa yang berani menipu dan menghinaku?”

Yauw Cui menangis, dan dengan suara terisak-isak dia berkata, “Hamba… secara tidak sengaja… mendengar… An-goanswe (jenderal An) berada di dalam kamar… Yang Kui Hui….”

Seketika Kaisar bangkit duduk dengan mata terbelalak. Dengan alis berkerut dia memandang selirnya yang masih menangis itu. Hatinya tidak percaya sama sekali karena memang sudah sering-kali Yang Kui Hui difitnah orang lain yang merasa iri hati. “Hemmm, jangan bicara sembarangan saja karena terdorong iri hati.”

“Tidak… hamba rela untuk dihukum mati, rela diapakan saja kalau hamba membohong…. Tidak berani hamba menjatuhkan fitnah…. Hamba hanya merasa penasaran melihat Paduka dihina, maka hamba memberanikan diri melapor….”

“Pengawal…!!” Kaisar berseru sambil mendorong selirnya turun dari pembaringan.

Pintu terbuka dan enam orang pengawal pribadi meloncat masuk. Mereka langsung berlutut setelah melihat bahwa Kaisar tidak dalam bahaya.

Kaisar menyambar jubah luarnya. “Antar kami ke kamar Yang Kui Hui,” kata Kaisar singkat sambil memberi isyarat dengan matanya agar Yauw Cui ikut pula bersamanya.

Pada saat Yauw Cui melapor kepada Kaisar, kamar Yang Kui Hui sudah gelap remang-remang, dan pada saat itu memang selir yang cantik jelita ini sedang bersama An Lu Shan. Mereka seperti mabuk nafsu birahi. Tentu saja segala pertahanan di hati Yang Kui Hui runtuh menghadapi jenderal yang tegap dan gagah perkasa ini, yang masih memiliki sifat-sifat liar dan kasar dari tempat asalnya. Selama tujuh tahun Yang Kui Hui menekan kekecewaan hatinya melayani seorang kakek-kakek lemah. Kini bertemu dengan An Lu Shan dan berkesempatan menikmati rayuan laki-laki yang jantan dan jauh lebih muda dari Kaisar ini, tentu saja dia terbuai dan lupa segalanya.

Tiba-tiba sesosok bayangan menyelinap ke dalam kamar itu dan berbisik di luar kelambu pembaringan. Bisikan itu merubah suasana di dalam kamar itu. Yang Kui Hui dan An Lu Shan dalam waktu beberapa menit saja telah memakai pakaian yang rapi, duduk menghadapi meja yang diterangi dengan beberapa batang lilin, dan di atas meja terdapat gambar peta daerah utara. Di ujung-ujung kamar itu terdapat pengawal dan pelayan berdiri seperti patung, hanya memandang saja ketika An Lu Shan dengan suara lantang sedang menjelaskan tentang situasi dan keadaan pertahanan di perbatasan utara.

Demikianlah, ketika Kaisar yang diiringi Yauw Cui dan para pengawal memasuki kamar itu dengan sikap kasar, dia melihat selirnya yang tercinta itu memang benar duduk berdua dengan An Lu Shan, akan tetapi bukanlah berjinah seperti yang dilaporkan Yauw Cui, melainkan sedang bicara urusan pertahanan!

“Hamba sedang mempelajari keadaan kekuatan pertahanan kita di utara dari An Lu Shan,” antara lain Yang Kui Hui membela diri ketika Kaisar menyatakan kecurigaannya. “Paduka terlalu mempercayai mulut seorang wanita yang cemburu dan iri hati setengah mati kepada hamba.”

Karena semua pengawal dan pelayan yang berada di kamar itu merupakan saksi yang kuat bahwa selir tercinta itu tidak bermain gila dengan putera angkatnya, tentu saja Kaisar menjadi marah kepada Yauw Cui.

Selir muda ini mengerti bahwa dia berbalik kena fitnah oleh madunya yang lihai itu, maka maklum bahwa tidak ada lagi harapan baginya. Dia menudingkan telunjuknya kepada Yang Kui Hui sambil berteriak nyaring, “Kau wanita Iblis! Karena engkaulah kerajaan ini akan hancur!” dan sebelum para pengawal yang diperintah oleh Kaisar yang marah-marah itu sempat menangkapnya, Yauw Cui lari membenturkan kepalanya di dinding kamar itu sehingga kepalanya pecah dan dia tewas di saat itu juga!

Tentu saja pada hari berikutnya, ada seorang pelayan yang menerima hadiah banyak sekali dari Yang Kui Hui, yaitu pelayan yang membisikinya semalam sehingga menyelamatkannya. Semenjak peristiwa itu, kepercayaan Kaisar terhadap Yang Kui Hui dan An Lu Shan makin besar. Tentu saja kesempatan baik ini tidak dibiarkan lewat percuma oleh Yang Kui Hui dan An Lu Shan yang mengadakan hubungan gelap sepuas hati mereka.

Karena pengaruh Yang Kui Hui di depan Kaisar, maka An Lu Shan memperoleh kehormatan yang besar, bahkan diangkat menjadi gubernur di Propinsi Liao Tung. Dengan demikian, An Lu Shan menguasai pasukan-pasukan terbaik dari kerajaan dan menjaga di propinsi yang merupakan perbatasan timur. Kehormatan ke dua diterimanya tak lama kemudian, tentu saja atas desakan dan bujukan Yang Kui Hui, yaitu ketika dia dianugrahi gelar Pangeran Tingkat Dua. Kehormatan yang besar sekali karena biasanya, gelar ini hanya diberikan kepada keluarga kerajaan yang berdarah bangsawan!

Memang An Lu Shan seorang yang berasal dari suku bangsa terbelakang, namun dia diberkahi dengan kecerdikan luar biasa. Melihat betapa kaisar bertekuk lutut di depan kedua kaki yang mungil dari selir kaisar Yang Kui Hui, dia mengeluarkan semua kepandaian untuk mengambil hati selir ini. Ternyata semua muslihatnya berhasil baik sehingga dia memperoleh kedudukan yang tinggi sekali. Akan tetapi tentu saja banyak pula orang merasa iri hati dan tidak suka kepada An Lu Shan. Di antara mereka ini adalah kakak kandung Yang Kui Hui sendiri, yaitu Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Pertama.

Dengan kedudukannya yang tinggi, Yang Kok Tiong lalu melakukan penyelidikan. Saat dia memperoleh berita bahwa An Lu Shan mempersiapkan pemberontakan, segera dia berunding dengan Putera Mahkota dan melapor kepada Kaisar. Kaisar tidak percaya dan menganggap pelaporan ini omong kosong belaka. Tetapi atas desakan para pangeran, akhirnya Kaisar memanggil An Lu Shan.

Jenderal ini memang benar telah mempersiapkan suatu pemberontakan, namun belum dijalankan karena merasa keadaannya belum cukup kuat. Dia menghadap Kaisar dan dengan air mata bercucuran. Dia memprotes, menyatakan kesetiaanya terhadap Kaisar dan dalam hal ini kembali pengaruh Yang Kui Hui membantunya. Selir ini pun mencela Kaisar yang mudah saja dipermainkan orang yang merasa iri hati, bahkan Yang Kui Hui mengambil contoh selir Yauw Cui yang iri hati kepadanya.

“Hendaknya Paduka ingat bahwa An Lu Shan adalah seorang pahlawan kerajaan yang jasanya sudah amat besar. Tidak mungkin dia memberontak, dan andai kata dia benar mempunyai niat memberontak tentu dia tidak akan datang memenuhi panggilan Paduka! Kedatangannya ini sudah merupakan bukti akan kebersihan dan kesetiaannya! Kabar tentang niat pemberontakan itu tentu ditiup-tiupkan oleh mereka yang merasa iri hati kepadanya.”

Seperti biasa, hati Kaisar luluh dan lenyaplah semua kecurigaan dan keraguannya, dia malah menjamu An Lu Shan. Malam itu pula, dengan amat pandainya An Lu Shan ‘membalas budi’ Yang Kui Hui, dengan sepenuh hatinya, di dalam kamar selir Kaisar itu, aman karena terjaga oleh orang-orang kepercayaan mereka. Demikianlah, pada saat cerita ini terjadi, An Lu Shan sudah kembali ke utara dengan penuh kebesaran dan kebanggaan, dan diam-diam dia makin mempercepat persiapannya untuk memberontak!

Dan demikian pula dengan keadaan kerajaan Tang pada waktu itu. Kelemahan Kaisar yang jatuh di bawah telapak kaki halus dari Yang Kui Hui, menimbulkan ketidak-puasan pada banyak pembesar sehingga di sana-sini timbul niat untuk memberontak. Keadaan yang lemah dari kerajaan Tang inilah dipergunakan oleh The Kwat Lin untuk mulai dengan petualangannya, untuk memenuhi cita-citanya mencarikan kedudukan tinggi untuk puteranya!

 

Pada suatu hari, datanglah seorang utusan dari kota raja mendaki Pegunungan Bu-tong-san, menghadap ketua Bu-tong-pai. Melihat bahwa utusan ini adalah utusan dari Pangeran Tang Sin Ong dari kota raja, Kwat Lin cepat menerimanya di kamar rahasia. Setelah utusan itu menyampaikan tugasnya dia cepat pergi lagi meninggalkan Bu-tong-pai dan terjadilah kesibukan di Bu-tong-pai.

Pangeran Tang Sin Ong adalah seorang pangeran di kota raja yang mempersiapkan pemberontakan pula. Saingan besar dari An Lu Shan ini merupakan pangeran yang dihubungi oleh Kwat Lin. Baru saja dia mengirim berita tentang hari dan tempat di mana Yang Kui Hui akan ikut dengan Kaisar yang hendak berburu binatang dalam hutan, sebuah di antara kesenangan Kaisar. Saat inilah yang dinanti-nanti oleh The Kwat Lin dan Pangeran Tang Sin Ong untuk menjalankan siasat yang telah lama mereka rencanakan.

Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Kaisar bersama Yang Kui Hui bersenang-senang di dalam hutan di kaki pegunungan Fu-niu-san, tidak jauh dari kota raja. Seperti biasa, di waktu mengadakan perburuan

tempat itu dijaga oleh para pengawal. Ada pula pasukan yang tugasnya hanya mencari dan menggiring binatang hutan agar binatang-binatang yang ketakutan itu berlarian menuju ke dekat tempat Kaisar dan Permaisurinya menanti sehingga dengan mudah Kaisar dapat melepaskan anak panah ke arah binatang- binatang itu. Sekali ini, selain beberapa orang pembesar penting, Kaisar juga ditemani oleh Pangeran Tang Sin Ong….

Seperti biasa Kaisar dan selirnya yang tercinta menanti di dalam pondok yang memang tersedia di situ, di tengah-tengah hutan. Para pembesar dan Pangeran Tang Sin Ong menanti di luar pondok sambil bercakap-cakap. Mereka menanti sampai datangnya binatang-binatang yang akan digiring oleh pasukan yang sudah menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat di depan. Para pengawal menjaga di sekeliling tempat itu, terdiri dari pengawal Kaisar dan pengawal Pangeran Tang Sin Ong karena pangeran ini mempunyai pasukan pengawal sendiri.

Mereka tidak usah lama menanti. Segera terdengar sorak-sorai dari jauh, makin lama makin mendekat. Itulah suara pasukan yang bertugas menggiring binatang hutan menuju ke tempat penyembelihan itu, di mana para pembesar telah menanti dengan gendewa bersama dengan anak panahnya siap di tangan.

Mendengar suara ini, kaisar sudah keluar dari pondok sambil tersenyum-senyum gembira membawa sebatang gendewa. Seorang thaikam yang menjadi kepercayan dan pelayannya mengikuti Kaisar sambil membawa tempat anak panah. Tak lama kemudian, mulailah bermunculan binatang-binatang hutan yang panik ketakutan karena dikejar-kejar dan digiring oleh pasukan di belakang mereka yang bersorak-sorai itu. Dan mulailah Kaisar bersama Pangeran Tang Sin Ong dan para pembesar lainnya menghujankan anak panah mereka ke arah binatang-binatang itu.

Tidak ada seorang pun melihat ketika dari rombongan pengawal Pangeran Tang Sin Ong, tiba-tiba seorang pengawal menyelinap ke dalam semak-semak. Orang ini lalu menanggalkan pakaian dan menyelinap memasuki pondok Kaisar dari samping, meloncat masuk dari jendela yang terbuka. Dengan kecepatan kilat, laki-laki setengah tua ini menyergap Yang Kui Hui yang sedang berdiri menonton di ambang pintu depan. Terdengar selir cantik itu menjerit, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas ketika dia tertotok. Pada saat semua orang menoleh karena mendengar jeritan itu, Yang kui Hui telah dipondong dan dibawa lari oleh laki-laki itu.

“Penculik…!”

“Penjahat…!”

“Jangan lepas anak panah, bisa salah sasaran…!!” tiba-tiba Pangeran Tang Sin Ong berseru keras.

Mendengar ini, Kaisar yang sudah pucat mukanya cepat berseru, “Benar! Jangan lepas anak panah. Kejar dan tangkap! Selamatkan dia…!”

Semua orang, pengawal, pembesar, pangeran Tang Sin Ong, bahkan Kaisar sediri, segera mengejar penculik yang memiliki gerakan yang amat gesit itu. Dengan beberapa loncatan saja penculik itu telah lari jauh sekali.

“Cepat kejar… tolong dia…. Ahhh, Kui Hui…!!” kaisar berteriak dengan muka pucat.

Tiba-tiba tampak dua sosok bayangan orang berkelebat menghadang penculik itu. Dari jauh kelihatan jelas bahwa dua orang itu adalah wanita-wanita cantik yang gerakannya cepat luar biasa. Wanita yang lebih tua sudah menerjang maju dan dengan serangan mendadak berhasil memukul roboh penculik dan merampas Yang Kui Hui, disusul kemudian wanita ke dua yang muda dan cantik menggerakkan pedangnya menusuk. Terdengar jerit melengking yang nyaring sekali ketika pedang itu menembus dada penculik itu yang berkelojotan, terbelalak dan menudingkan telunjuknya kepada wanita pertama seolah-olah hendak berkata sesuatu, akan tetapi sebuah tendangan yang mengenai kepalanya membuat penculik itu tak dapat bergerak lagi dan tewas seketika!

Kaisar dan rombongannya sudah tiba di situ. Dengan tepukan perlahan wanita perkasa yang lebih tua itu membebaskan totokan Yang Kui Hui. Selir ini mengeluh dan menangis sambil menubruk Kaisar yang memeluknya. Kaisar memandang kepada dua orang wanita cantik yang sudah berlutut di depan kakinya dengan perasaan bersyukur dan berterima kasih.

“Untung sekali kalian berdua yang gagah perkasa datang menolong!” kata kaisar dengan penuh rasa syukur, suaranya masih gemetar karena ketegangan hebat yang baru saja dialaminya. “Siapakah kalian?”

“Hamba adalah Ketua Bu-tong-pai bernama The Kwat Lin,” berkata wanita cantik itu, lalu menuding kepada dara muda yang cantik jelita dan tinggi semampai di sebelahnya. “Dan ini adalah Bu Liang Cu murid hamba.”

“Ahhh, kiranya ketua Bu-tong-pai yang terkenal!” kata Kaisar sambil tersenyum lebar. “Pantas saja demikian lihai! Kalian telah berjasa, telah menyelamatkan kekasih kami dan membunuh penculik jahat. Kalian pantas diberi hadiah besar.”

Yang Kui Hui sudah menghentikan tangisnya, dan kini dia pun memandang kedua orang wanita itu dengan mata berseri. “Kalian datanglah ke istana, aku akan memberi hadiah kepada kalian.”

The Kwat Lin menyembah dengan hormat. “Hamba berdua hanya melakukan tugas hamba sebagai rakyat yang setia kepada junjungannya. Hamba berdua tidak mengharapkan balas jasa, hanya apabila Paduka sudi menerima, biarlah murid hamba ini bekerja sebagai pengawal pribadi Paduka. Sekarang banyak orang jahat, tanpa pengawalan yang kuat tentu membahayakan Paduka.”

Girang bukan main hati Yang Kui Hui. “Baik sekali! Siapa namamu tadi?” tanyanya kepada gadis cantik yang menunduk sejak tadi.

Gadis itu kini mengangkat mukanya, dan dengan sepasang mata yang bersinar-sinar dia menjawab, “Nama hamba Bu Liang Cu.”

Saking girangnya, Yang Kui Hui mencabut tusuk konde dari emas berhiaskan permata dan menghadiahkan benda itu kepada The Kwat Lin, dan dia menerima pula gadis murid Bu-tong-pai itu sebagai pengawal pribadinya. Mulai saat ini gadis yang bernama Bu Liang Cu itu ikut bersama rombongan Kaisar, selalu mengawal di belakang Yang Kui Hui, kembali ke istana.

Ada pun The Kwat Lin segera kembali ke Bu-tong-san dengan hati girang karena siasatnya berjalan dengan baik sekali, sungguh pun untuk itu dia terpaksa harus mengorbankan nyawa seorang anggotanya. Penculik itu bukan lain adalah seorang anggotanya sendiri, seorang bekas penjahat yang memiliki ginkang tinggi. Penculik itu hanya diperintah untuk melarikan Yang Kui Hui dengan janji akan dibantunya kalau sampai mengalami bahaya. Akan tetapi, penculik itu baru tahu bahwa dia dikhianati oleh ketuanya sendiri setelah dia roboh dengan pedang menembus dadanya. Baru ia tahu bahwa dia dikorbankan untuk suatu siasat licik dari The Kwat Lin, namun pengetahuan ini tiada gunanya karena dia keburu mati sebelum dapat mengeluarkan suara.

Siapakah gadis cantik yang kini menjadi pengawal Yang Kui Hui? Tadinya, untuk tugas ini The Kwat Lin menunjuk muridnya, Bu Swi Nio. Akan tetapi betapa marahnya ketua Bu-tong-pai ini ketika dia menghadapi penolakan muridnya!

“Teecu tidak berani, Subo. Perintahlah teecu untuk melakukan hal lainnya. Biar disuruh membasmi penjahat yang bagaimana pun, biar harus mempertaruhkan nyawa, teecu tidak akan mundur dan pasti akan memenuhi perintah Subo! Akan tetapi ini… ah, teecu tidak mau terlibat dalam… pemberontakan…,” jawab Swi Nio sambil berlutut dan menundukkan mukanya.

Hampir saja Kwat Lin menampar kepala muridnya itu saking marah dan kecewanya. Dan pada saat itu, Swi Liang yang melihat adiknya terancam bahaya kemarahan subo-nya, cepat maju dan berkata, “Subo, kalau Moi-moi tidak berani, biarlah teecu yang melakukannya.”

“Kau seorang pria… mana mungkin…?”

“Teecu bisa saja menyamar sebagai seorang gadis. Dahulu di waktu kecil sering-kali teecu mengenakan pakaian Moi-moi dan bermain-main seperti seorang anak perempuan.”

Mendengar ini Kwat Lin termenung. Betapa pun juga dia lebih percaya kepada muridnya sekaligus kekasihnya ini. Selama ini Swi Nio selalu memperlihatkan sikap dingin dan kadang-kadang menentang.

Berbeda dengan Swi Liang yang selalu menuruti kehendaknya, bahkan pemuda itu mau pula melayani nafsu birahinya! Pekerjaan yang direncanakan ini amat berbahaya kalau sampai bocor, maka sebaiknya kalau dilakukan oleh orang yang paling dipercayainya. Memaksa Swi Nio amat berbahaya karena siapa tahu kalau-kalau murid perempuan ini akan mengkhianatinya kelak.

“Hemm, kita coba saja!” katanya.

Setelah melihat Swi Liang berpakaian wanita dan bergaya, Kwat Lin menjadi girang sekali. Agaknya murid itu memang mempunyai bakat bermain sandiwara, maka ketika berpakaian wanita dan beraksi, dia sendiri hampir pangling dan mengira bahwa Swi Liang adalah Sawi Nio! Demikianlah rencana siasat itu dijalankan dengan baik. Swi Liang yang menyamar sebagai seorang gadis cantik bernama Bu Liang Cu berhasil menyusup ke dalam istana sebagai pengawal pribadi dari Yang Kui Hui!

Memang itulah tujuan pokok dari siasat Kwat Lin, yaitu memikat hati Yang Kui Hui. Pemikatan dengan cara menolong selir itu dari bahaya telah berjalan cukup baik, akan tetapi akan lebih berhasil lagi kalau muridnya itu berhasil menjatuhkan hati selir itu dengan ketampanannya! Kalau sampai berhasil Swi Liang menjadi kekasih Yang Kui Hui, akan mudah saja melakukan gerakan pemberontakan dari dalam! Inilah sebabnya maka dia setuju muridnya itu menyamar sebagai wanita. Dia rela memberikan kekasihnya ini kepada Yang Kui Hui demi tercapainya cita-citanya.

Berbeda dengan kakaknya yang telah mabuk bujukan gurunya, Swi Nio makin lama merasa makin tidak enak tinggal di Bu-tong-san. Dia sama sekali tidak senang dan hatinya menentang menyaksikan semua perbuatan subo-nya. Tadinya memang dia rela menjadi murid subo-nya karena wanita sakti itu yang menolong dia dan kakaknya, juga yang telah membunuh Pat-jiu Kai-ong, musuh besar yang telah membunuh ayah mereka.

Akan tetapi semenjak menyaksikan betapa subo-nya itu menguasai Bu-tong-pai dengan kekerasan, melihat subo-nya melawan susiok sendiri dan bahkan membuat para tokoh Bu-tong-pai mengundurkan diri dari Bu-tong-pai, hatinya sudah merasa tidak senang. Apa lagi melihat masuknya anggota-anggota baru Bu-tong-pai yang terdiri dari orang-orang kasar yang dia ketahui adalah bekas-bekas penjahat, dia merasa penasaran.

Semua itu masih ditambah lagi kenyataan yang membuatnya merasa malu dan hina, yaitu melihat kakaknya menjadi kekasih subo-nya. Sering-kali secara diam-diam Swi Nio menasehati kakaknya, bahkan menganjurkan kakaknya untuk bersama dia melarikan diri saja dari Bu-tong-pai, namun semua itu tidak diacuhkan oleh Swi Liang. Swi Nio menderita batin seorang diri, sering-kali menangis di dalam kamarnya.

Melihat munculnya Kiam-mo Cai-li, hatinya menjadi makin gelisah. Dia dahulu sudah mendengar dari mendiang ayahnya bahwa Kiam-mo Cai-li adalah seorang datuk kaum sesat yang amat kejam. Namun kenyataannya, subo-nya menjadi sekutu iblis itu, bahkan diakui sebagai pemimpin!

Pagi hari itu, setelah merasa kehilangan kakaknya yang pergi tanpa pamit bersama subo-nya, dan kemudian melihat subo-nya pulang sendiri tanpa kakaknya, Swi Nio tak dapat menahan kegelisahan hatinya lagi. Dia memberanikan diri memasuki kamar subo-nya di mana subo-nya sedang bercakap-cakap dengan Kiam-mo Cai-li yang kebetulan datang ke Bu-tong-san.

“Subo, teecu (murid) tidak melihat adanya Liang-koko yang tadinya pergi bersama Subo selama beberapa hari lamanya. Ke manakah dia, Subo? Apakah yang terjadi dengan kakakku itu?” tanyanya dengan wajah agak pucat karena beberapa malam dia kurang tidur memikirkan kakaknya.

The Kwat Lin mengerutkan alisnya. Hatinya memang sudah tidak senang pada muridnya ini, apa lagi ketika Swi Nio terang-terangan berani menolak perintahnya sehingga tugas itu digantikan oleh Swi Liang. Biar pun pemuda itu berhasil baik, betapa pun juga The Kwat Lin merasa kehilangan, apa lagi di waktu malam yang sunyi dan dingin!

“Kau tidak perlu tahu!” jawabnya membentak.

“Tapi… Subo, dia adalah kakak teecu…,” Swi Nio membantah.

“Hemm, dia bertugas di kota raja. Sudah, pergilah dan jangan kau mengganggu kami yang sedang bicara!”

Swi Nio bangkit berdiri dari atas lantai dan memandang gurunya dengan mata terbelalak dan muka pucat. “Jadi… dia… dia telah menyelundup ke dalam istana…?”

The Kwat Lin bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke muka Swi Nio sambil membentak marah. “Gara-gara engkaulah! Apa kau kira kalau tidak terpaksa aku suka membiarkan dia melakukan tugas berbahaya itu? Mestinya engkau yang bertugas, akan tetapi engkau telah menolak. Dia seorang murid yang amat baik, tidak seperti engkau yang tak mengenal budi!”

Swi Nio membalikkan tubuhnya, menutupi muka dan menangis sambil mengeluh, “Liang-koko… ah, Koko…!”

Setelah dara itu berlari pergi, Kwat Lin lalu duduk kembali. Dengan wajah keruh dia mengomel, “Murid yang murtad! Sungguh menjengkelkan saja dia itu!”

Kiam-mo-Cai-li tersenyum. “Mengapa pusing-pusing menghadapi seorang gadis seperti itu? Kalau dibiarkan saja, tentu dia akan terus merongrongmu dan boleh jadi kelak akan membahayakan perjuangan kita. Dia harus ditundukkan!”

“Hemm, maksudmu menggunakan kekerasan?”

“Ah, aku mengenal gadis seperti itu. Wataknya keras dan kalau digunakan kekerasan, sampai mati pun dia tidak akan tunduk. Kalau sampai dia mati, amat tidak baik bagi kakaknya yang kita butuhkan tenaganya. Dia harus dilawan dengan cara halus.”

“Bagaimana maksudmu? Membujuknya?”

Kiam-mo Cai-li menggelengkan kepalanya. “Dibujuk pun takkan berhasil. Akan tetapi sekali dia telah jadi isteri orang, tentu dia akan menurut segala kehendak suaminya.”

“Ihhh! Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Dengan siapa?”

“Kita harus cerdik, kita harus memakai siasat sekali tepuk memperoleh dua ekor lalat atau menggunakan pedang yang bermata dua. Di satu fihak, kita harus menyenangkan hati Pangeran Tang Sin Ong yang aku tahu memiliki watak mata keranjang. Dia tentu akan berterima kasih sekali kepadamu kalau kau rela memberikan muridmu yang cantik manis itu kepadanya, menjadi seorang selirnya yang tercinta dan dapat diandalkan. Ke dua, kalau muridmu itu sudah menjadi selir Pangeran Tang Sin Ong, tentu dia akan tidak banyak membantah lagi!”

The Kwat Lin mengangguk-angguk. Diam-diam dia memuji kecerdikan temannya ini. “Siasatmu memang baik sekali, Cai-li! Akan tetapi… biar pun sudah pasti sekali Pangeran akan menerima penawaran ini dengan kedua tangan terbuka, kukira belum tentu Swi Nio akan mau dijadikan selir pangeran itu. Kalau dia menolak, lalu bagaimana?”

Kiam-mo Cai-li tertawa. “Hi-hi-hik, tidak usah khawatir, Pangcu. Aku yang tanggung-jawab dia tentu tidak akan menolak….” dia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga The Kwat Lin berbisik-bisik.

Kwat Lin mengangguk-angguk. ” Hemm, kalau dia merupakan seorang murid yang baik dan taat, tentu aku tidak tega. Akan tetapi… demi suksesnya perjuangan kita, agar dia tidak menjadi penghalang malah kelak mungkin dapat membantu, biarlah… kita atur secepatnya agar Pangeran dapat berkunjung ke sini.”

“Tentu mudah saja dan tidak akan menimbulkan kecurigaan. Bukankah peristiwa di hutan itu membuat nama Bu-tong-pai terangkat tinggi dalam pandangan kerajaan? Kalau seorang Pangeran berkunjung ke sini, menemui penolong selir Yang Kui Hui, hal itu sudah semestinya! Hi-hi-hik.”

“Kau memang cerdik sekali, Cai-li!” The Kwat Lin memuji dan kedua orang wanita berkepandaian tinggi itu sambil tersenyum-senyum minum arak wangi yang berada di dalam cawan-cawan perak mereka.

Beberapa hari kemudian, sesuai dengan siasat mereka itu, datanglah rombongan tamu agung dari kota raja. Pangeran Tang Sin Ong! Inilah hasil pertama dari siasat The Kwat Lin menolong Yang Kui Hui.

Sebelum peristiwa itu, hubungannya dengan pangeran itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, itu pun berupa pertemuan rahasia yang diadakan hanya melalui kurir (utusan). Akan tetapi sekarang, setelah siasat di hutan itu sekaligus mengangkat nama Bu-tong-pai, Pangeran Tang Sin Ong berani datang secara berterang, bahkan sebelum berangkat pangeran itu menerima titipan bingkisan hadiah yang dikirim oleh Yang Kui Hui sendiri melalui pangeran itu.

Tentu saja keadaan di Bu-tong-san seperti dalam pesta. Semua anak buah Bu-tong-pai mengenakan pakaian baru dan rombongan tamu agung itu disambut dengan meriah seperti sambutan terhadap seorang pengantin. Dengan penuh kehormatan para tamu agung dijamu di ruangan yang lebar dari Bu-tong-pai, dan pesta pora diadakan di ruangan yang biasa dipergunakan sebagai Lian-bu-thia (ruang belajar silat). Sambutan resmi dilakukan dan pangeran menyerahkan bingkisan dari Yang Kui Hui serta menyerahkan pula bingkisan dari dirinya sendiri kepada ketua Bu-tong-pai.

Malam harinya, sebagai penghormatan khusus, Pangeran Tang Sin Ong seorang diri dijamu oleh The Kwat Lin di ruangan dalam. Kali ini sang ketua hanya ditemani oleh Kiam-mo Cai-li dan Bu Swi Nio! Sebenarnya dara ini hadir karena setengah dipaksa oleh subo-nya untuk menemaninya menjamu pangeran itu. Biar pun di dalam hatinya Bu Swi Nio tidak setuju, namun dia tidak berani membantah. Pula, di dalam hatinya dia ingin sekali mendengar percakapan mereka yang tentu akan menyangkut pula keadaan kakaknya di kota raja.

Ketika pengeran ini dipersilakan duduk menghadapi meja yang sudah penuh hidangan, The Kwat Lin memperkenalkan Kiam-mo Cai-li Liok Si sebagai pemilik istana Rawa Bangkai. Setelah itu baru dia memperkenalkan Bu Swi Nio pula sebagai muridnya yang terkasih.

Pangeran itu memandang Kiam-mo Cai-li dan Bu Swi Nio, lalu tertawa gembira dan berkata, “Sungguh beruntung sekali Pangcu mendapatkan seorang pembantu seperti Liok Toanio ini yang saya yakin tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan muridmu ini… aaihh… penerangan ini menjadi makin bercahaya, suasana menjadi makin gembira dan segar, hidangan menjadi bertambah lezat. Sungguh saya merasa berbahagia sekali bahwa Nona Bu suka menemani saya makan minum, untuk ini saya harus menghaturkan arak penghormatan sebanyak tiga cawan!”

Pangeran itu tentu saja tadinya sudah diberi-tahu oleh Kwat Lin bahwa ketua ini hendak menghadiahkan muridnya kepadanya. Maka begitu melihat Swi Nio yang masih amat muda dan cantik jelita itu, hati Sang Pangeran sudah jatuh dan gairahnya sudah bernyala-nyala.

Wajah Swi Nio menjadi merah padam. Dia merasa malu sekali menyaksikan sikap dan mendengar kata- kata yang penuh pujian ini. Dia tidak biasa berhadapan dengan pria seperti ini. Hatinya berdebar tegang dan khawatir, akan tetapi untuk menolak, tentu saja dia tidak berani. Sambil menunduk dan membisikan kata-kata terima kasih dia menerima tiga cawan arak berturut-turut. Biar pun dia tidak biasa minum banyak arak, akan tetapi terpaksa tiga cawan arak itu diminumnya tanpa banyak membantah.

Melihat ini The Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li tertawa girang. Dari seberang meja, The Kwat Lin mengedipkan sebelah matanya kepada Tang Sin Ong. Sang Pangeran mengerti akan isyarat ini, maka dia lalu melepas seuntai kalung emas bertaburan permata yang tergantung di lehernya, bangkit berdiri dan mengulurkan kedua tangan yang memegang kalung itu kepada Swi Nio.

“Nona Bu, kalung ini sama sekali tidak dapat mengimbangi kecantikan Nona, akan tetapi karena pada saat ini yang ada pada saya hanya kalung ini, maka sudilah Nona menerimanya sebagai tanda penghormatan saya kepada seorang Nona secantik dewi!” kata Pangeran itu.

Bu Swi Nio terkejut sekali dan cepat dia menoleh kepada subo-nya. Menurutkan kata hatinya, ingin dia menolak keras dan mencela sikap pangeran yang terlalu berani itu.

Akan tetapi dia melihat subo-nya mengangguk dan berkata, “Swi Nio, Pangeran telah bermurah hati kepadamu, mengapa tidak lekas menerima dan menghaturkan terima kasih?”

Bu Swi Nio merasa terdesak. Dengan suara gemetar dia berkata, “Hamba… hamba… tidak berani menerimanya….”

“Swi Nio…!” The Kwat Lin menegur.

“Bu Swi Nio, mengapa kau menolak kemurahan hati Pangeran?” Kiam-mo Cai-li juga ikut menegur.

Pangeran Tang Sin Ong tertawa. “Ahh, tentu saja Nona Bu merasa malu-malu, tidak seperti gadis-gadis yang haus akan harta benda. Hal ini malah menonjolkan kecemerlangan watak seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa! Nona, biarlah aku mengalungkan hadiah ini di lehermu.”

Berkata demikian, Sang Pangeran lalu bangkit berdiri dan mengalungkan kalung emas itu melingkari leher Swi Nio yang menundukan kepalanya. Karena tak dapat menolak lagi maka kalung yang lebar itu dalam sekejap sudah mengalungi lehernya.

Dengan muka sebentar pucat sebentar merah Swi Nio menjura, “Banyak terima kasih hamba haturkan…”

“Aahhh, jangan sungkan-sungkan,” Pangeran itu tertawa, kedua orang wanita sakti itu pun tertawa. Secara bergantian mereka kemudian menyuguhkan arak kepada Sang Pangeran dan juga Bu Swi Nio.

“Muridku, karena pangeran telah bermurah hati kepadamu, tidak saja menyuguhkan arak tetapi juga menghadiahkan kalung, mengapa kau tidak bersikap sebagai seorang muridku yang tahu aturan dan mengenal budi? Hayo cepat suguhkan tiga cawan kepada Pangeran sebagai penghormatanmu!”

Muka Swi Nio menjadi merah. Dia tidak membantah kebenaran ucapan ini, maka secara terpaksa dia bangkit berdiri, dipandang oleh pangeran yang tersenyum-senyum dan mengelus jenggotnya. Swi Nio menghampiri pangeran dan menuangkan arak ke cawan Sang Pangeran dari guci emas.

“Silakan Paduka minum arak sebagai tanda kehormatan hamba, Pangeran,” kata Swi Nio dengan malu- malu.

“Ha-ha-ha, terima kasih, Nona. Akan tetapi, aku tidak mau minum kalau tidak kau temani. Hayo untukmu juga secawan!”

Kembali Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li ikut membujuk dan terpaksa akhirnya Swi Nio kembali minum tiga cawan arak bersama Sang Pangeran. Karena tidak biasa minum arak, kini diloloh banyak arak yang diam- diam telah dicampuri bubuk putih yang dilepas secara lihai oleh Kiam-mo Cai-li ke dalan cawan gadis itu, akhirnya Swi Nio menjadi mabuk. Dia mulai tersenyum dengan lepas, memperlihatkan deretan gigi yang putih, dan mulai berani mengangkat muka memandang pangeran yang pandai bicara itu.

“Ha-ha-ha, setelah ditemani makan minum oleh Nona Bu, aku lupa semua wanita di istanaku! Hemm, bagaimana aku dapat berpisah lagi darimu, Nona?” kata Pangeran itu.

Mendengar ini Swi Nio mengerutkan alisnya, akan tetapi karena kepalanya sudah pening dan pandang matanya sudah berkunang, hanya sebentar saja dia merasa betapa kata-kata itu tidak pada tempatnya dan dia hanya tersenyum!

“Bu Swi Nio, muridku yang baik. Pangeran telah berkenan mencintaimu! Kau akan diambilnya sebagai selir yang tercinta. Cepat kau berlutut dan haturkan terima kasih, muridku.”

Sepasang mata dara itu terbelalak. “Tidak…! Ah, tidak…!”

Terdengar suara pangeran, “Nona, kau cantik sekali… kau gagah perkasa, aku cinta padamu dan marilah kau ikut bersamaku ke kota ke kota raja. Kau akan menjadi selirku yang paling tercinta, menjadi pengawal pribadiku….”

“Tidak…! Ahhh, tidak mau… oughh….!”

Swi Nio yang tadinya bangkit berdiri serentak itu tiba-tiba terhuyung. Dia kembali menjatuhkan diri di atas bangku karena melihat betapa kamar itu berputar-putar dan dirinya merasa seperti terayun-ayun. Karena tidak tahan lagi, Swi Nio merebahkan kepalanya di atas kedua lengan yang berada di atas meja, hanya menggoyang kepalanya tanda menolak. Terdengar olehnya lapat-lapat suara gurunya.

“Jangan bodoh, Swi Nio. Engkau akan menjadi seorang nyonya Pangeran yang terhormat, dan di kota raja kau dapat bekerja sama dengan kakakmu….”

“Aku tidak mau… ah, tidak mau….” Swi Nio membuka matanya dan melihat wajah yang dekat sekali
dengan mukanya. Wajah Sang Pangeran Tang Sin Ong, wajah seorang laki-laki yang cukup tampan gagah, akan tetapi sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya. Dia merasa ngeri, takut dan akhirnya dia tidak ingat apa-apa lagi. Obat bubuk yang dicampurkan di araknya oleh Kiam-mo Cai-li telah bekerja dengan baik, dia tertidur dan tidak merasa apa-apa lagi.

Swi Nio mengeluh dan mengerang. Dia mimpi. Seolah-olah dia berada di dalam sebuah perahu berdua saja bersama Pangeran Tang Sin Ong. Lalu perahu itu diserang badai, terguling dan dia meronta-ronta hendak melawan gulungan ombak yang menggelutnya. Namun dia merasa tubuhnya lemas, dia terseret, tenggelam, gelagapan dan seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, kepalanya pening. Sebentar dia timbul, lalu tenggelam lagi, dan lapat-lapat dia mendengar suara Pangeran Tang Sin Ong yang menyatakan cinta kasihnya.

Jauh lewat tengah malam Swi Nio mengeluh dan merintih perlahan, lalu membuka matanya. Mimpi itu teringat lagi olehnya, membuat dia bergidik ngeri. “Untung hanya mimpi,” pikirnya.

Ketika membuka mata, dia mendapatkan dirinya telah rebah di atas pembaringannya sendiri di dalam kamarnya. “Oughhh…!” kepalanya masih pening sekali.

Dia bangkit duduk dan hampir dia menjerit kaget ketika melihat bahwa dia tidak berpakaian sama sekali! Dia teringat bahwa dia menemani subo-nya, Kiam-mo Cai-li, dan Pangeran Tang Sin Ong makan minum. Teringat betapa dia terlalu banyak minum dan mabuk. Mengapa dia tahu-tahu berda di pembaringannya tanpa pakaian? Dia memeriksa keadaan tubuhnya, melihat kalung yang masih bergantung di lehernya, dan tiba-tiba tahulah dia akan semua yang telah terjadi atas dirinya!

“Keparat…!” dia bangkit akan tetapi terguling lagi. Selain kepalanya pening sekali, tubuhnya juga panas dan lemas seolah-olah kehabisan tenaga. Dia tidak tahu bahwa itulah pengaruh obat bubuk, racun yang diminumnya bersama arak, yang membuat dia pulas sehingga tidak dapat melawan ketika Pangeran Tang Sin Ong membawanya ke dalam kamar dan menggagahinya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar. Swi Nio menahan napas, mengambil keputusan untuk mengerahkan seluruh tenaganya membunuh Pangeran itu. Dia sudah maklum bahwa dirinya diperkosa Pangeran itu.

“Selamat, muridku. Engkau telah menjadi isteri Pangeran! Besok Pangeran Tang Sin Ong akan menjemputmu secara resmi dan membawamu ke kota raja sebagai selirnya terkasih….”

“Tidak sudi! Aku harus membunuhnya!” Swi Nio meloncat turun tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang bulat, kedua tangannya dikepal.

“Plak!” Swi Nio terlempar dan terbanting di atas pembaringannya lagi ketika kena tamparan tangan gurunya.

“Swi Nio, apa yang kau ucapkan itu? Engkau suka sendiri melayani Pangeran, engkau menerima kalungnya, engkau tersenyum-senyum kepadanya. Setelah engkau dan dia bersenang-senang di dalam kamar ini, semestinya aku mengutukmu. Akan tetapi aku sayang kepadamu, aku tidak marah malah bersyukur bahwa engkau akan menjadi isteri muda seorang pangeran. Dan sekarang kau hendak memberontak? Hendak membikin malu Gurumu? Kau mau membunuh kekasihmu sendiri? Bocah setan tak kenal budi! Kalau tidak aku rubah pendirianmu, aku sendiri yang akan membunuhmu! Pikirkan ini baik- baik. Engkau sudah bukan perawan lagi, engkau milik Pangeran Tang Sin Ong!” The Kwat Lin meninggalkan kamar itu dan membanting keras-keras daun pintu kamar.

Swi Nio menutupi mukanya dan menangis mengguguk, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan terisak-isak dan jari-jari tangan gemetar dia mengenakan pakaiannya yang bertumpuk di sudut pembaringan. Kepalanya masih pening dan tenaganya habis. Tak mungkin dalam keadaan seperti itu dia melarikan diri. Tentu akan mudah tertangkap kembali oleh gurunya. Melawan pun tidak mampu, apa lagi dia benar-benar merasa seperti tidak bertenaga lagi. Apa lagi hendak membunuh pangeran itu yang selalu terkawal kuat!

“Ya Tuhan…!” dia menangis sesenggukan lagi. “Ayah… Koko…, apa yang harus aku lakukan…?”

Dia sudah ternoda. Mau atau tidak, dia harus menjadi selir Pangeran itu. Dia tidak sudi! Lebih baik mati! Mati!! Ya, matilah jalan satu-satunya, demikian pikiran yang ruwet itu mengambil keputusan. Dirabanya ikat pinggangnya. Tidak, dia seorang gadis gagah perkasa, tidak semestinya mati menggantung diri seperti wanita-wanita lemah. Dihampirinya pedangnya yang tergantung di dinding. Biar pun tangannya gemetar dan tidak bertenaga dipaksanya tangan itu mencabut pedangnya, lalu sambil memejamkan matanya, dia mengayun pedang itu ke lehernya.

“Plakkk!!” lengan kanannya dipegang orang dan pedang itu dirampasnya.

Tadinya dia mengira bahwa subo-nya yang mencegahnya membunuh diri, maka dia terisak dan membalik. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa yang mencegahnya membunuh diri itu adalah seorang laki-laki muda, paling banyak tiga puluh tahun usianya. Laki-laki ini tersenyum, wajahnya cukup tampan dan membayangkan kegagahan.

“Membunuh diri bukan perbuatan seorang gagah,” bisik laki-laki itu. “Kalau sudah mati, mana mungkin dapat menghilangkan penasaran? Kalau masih hidup, selalu terbuka harapan untuk membalas dendam!”

Ucapan ini menyadarkan Swi Nio. “Siapa kau…?”

“Sssttt…,” bisik pula laki-laki itu. “Aku seorang mata-mata yang dikirim oleh Jenderal An Lu Shan. Nona, dari-pada engkau membunuh diri, mari kubantu kau keluar dari tempat ini dan kau ikut bersamaku. Dengan bekerja untuk An-goanswe, kelak kau berkesempatan untuk membalas kepada semua orang yang telah mendatangkan mala-petaka ini kepadamu.”

Seperti kilat masuknya pikiran ini ke dalam kepala Swi Nio. Mengapa tidak? Mati bukan merupakan jalan yang memecahkan persoalan! Dia harus membalas kepada Pangeran itu! Dan kini, dia dapat menduga bahwa dia tentu pingsan karena pengaruh obat dari Kiam-mo Cai-li. Dia tahu bahwa wanita itu adalah seorang ahli tentang racun. Kini dia mengerti semua. Dia sengaja dikorbankan oleh gurunya dan oleh wanita iblis itu, seperti seekor domba yang sengaja dikorbankan menjadi mangsa serigala, Si Pangeran itu! Dendamnya bertumpuk, kini terbuka jalan baginya, perlu apa mengambil jalan pendek membunuh diri?

“Baik, mari ikut aku…,” bisiknya.

Dengan berindap-indap Swi Nio mengajak laki-laki itu melalui jalan rahasia. Akhirnya, menjelang pagi mereka berdua berhasil keluar dari tembok pagar Bu-tong-pai.

“Haiii…!!” tiba-tiba terdengar bentakan.

Lima orang anggota Bu-tong-pai muncul dari tempat penjagaan tersembunyi. Akan tetapi mereka terheran- heran ketika melihat Swi Nio, memandang kepada gadis itu lalu kepada orang asing yang keluar dari jalan rahasia bersama murid utama ketua mereka. Malam itu memang banyak datang tamu dari kota raja yang ikut dalam rombongan Pangeran, maka mereka mengira bahwa tentu orang ini adalah anggota rombongan pula. Akan tetapi sepagi itu, masih gelap, apakah yang akan dilakukan tamu ini bersama Swi Nio keluar dari Bu-tong-pai dengan diam-diam?

Tiba-tiba terdengar teriakan berturut-turut dan lima orang itu roboh dan tewas seketika. Mereka hanya mampu satu kali saja mengeluarkan teriakan karena tenggorokan mereka hampir putus disambar jari-jari yang amat kuat dari mata-mata itu yang bergerak dengan cepat luar biasa menyerang mereka. Melihat kelihaian orang itu, Swi Nio tercengang. Dia makin kagum, kiranya mata-mata ini bukan orang biasa. Andai kata pelarian mereka ketahuan pun, orang ini akan menjadi lawan tangguh, sungguh pun tentu saja dia sangsi apakah orang ini akan mampu lolos kalau Kiam-mo Cai-li dan subo-nya turun tangan.

“Mari cepat…!” orang laki-laki itu berkata.

Melihat keadaan Swi Nio yang masih lemas, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menyambar tubuh gadis itu, dipanggulnya dan berlarilah dia dengan amat cepatnya meninggalkan tempat yang berbahaya baginya itu….

Gadis bernama Liang Cu yang sebenarnya adalah penyamaran Bu Swi Liang kini bekerja di dalam istana sebagai pengawal pribadi Yang Kui Hui. Dia bertugas memikat hati selir Kaisar yang cantik jelita ini. Dapat dibayangkan betapa tersiksa hati pemuda itu menyaksikan semua yang terjadi di dalam kamar Yang Kui Hui, melihat selir yang cantik jelita itu beristirahat, mandi, berganti pakaian dan lain-lain di depan matanya begitu saja karena dia dianggap wanita pula! Betapa tersiksa hati orang muda ini hidup di antara wanita- wanita cantik, yaitu para pelayan Yang Kui Hui.

Di istana bagian puteri ini tidak ada prianya. Walau pun terlihat sebagai pria, namun para thaikam yang bertugas di situ sesunguhnya tidak lagi dapat disebut sebagai pria. Swi Liang adalah seorang pemuda yang sedang berkobar nafsunya karena di Bu-tong-san dia diseret ke dalam kekuasaan nafsu birahi oleh subo-nya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang baru gila birahi, kini berada ditengah-tengah para wanita cantik itu, tentu saja dia tidak kuat bertahan terlalu lama.

Dia belum berani melakukan tugasnya untuk memikat Yang Kui Hui karena kesempatannya belum tiba. Dia tidak berani bersikap kasar dan membuka rahasia penyamarannya begitu saja. Sekali gagal, dia tentu akan mati konyol. Akan tetapi untuk menunda lebih lama lagi menguasai nafsunya, dia tidak sanggup! Akan tetapi, Swi Liang menahan gelora hatinya sedapat mungkin. Dia harus bersabar menanti kesempatan baik. Tugasnya amat penting bagi perjuangan subo-nya, sama sekali tidak boleh gagal karena taruhannya adalah nyawanya.

Pada suatu senja belasan hari kemudian, Swi Liang diperbolehkan mengaso karena malam itu kaisar akan mengunjungi selirnya yang tercinta. Tempat itu penuh dengan pengawal-pengawal pribadi Kaisar sendiri. Swi Liang lalu mengundurkan diri ke dalam kamarnya, sebuah kamar yang amat indah dan berdekatan dengan kamar para pelayan utama atau pelayan pribadi selir Kaisar itu.

Selagi duduk melamun sendiri di dalam kamarnya, mencari akal bagaimana untuk memulai tugasnya merayu dan memikat hati Yang Kui Hui, tanpa sengaja dia membayangkan keadaan selir itu sehingga jantungnya berdebar penuh nafsu dan gairah. Selir itu memang cantik luar biasa, dan ketika mandi atau bertukar pakaian, dia dapat menyaksikan seluruh bagian tubuh yang padat dan amat menggairahkan itu. Pernah dia membantu pelayan menyelimutkan kain setelah selir itu mandi. Jari-jari tangannya menyentuh kulit yang halus, lunak, dan hangat, dan tercium pula olehnya bau semerbak harum dari tubuh selir itu. Keharuman yang khas dan alangkah jauh bedanya antara kecantikan dan tubuh indah selir itu dibandingkan dengan subo-nya!

“Enci Liang Cu! kenapa melamun saja?” seorang gadis cantik berbaju hijau menegurnya sambil tertawa- tawa, di belakangnya masuk pula seorang gadis cantik berbaju merah. Mereka itu adalah dua orang pelayan pribadi Yang Kui Hui, dua orang gadis cantik jelita yang genit-genit.

“Ah, Enci Liang Cu orangnya pendiam amat sih, tidak mau bersenda-gurau dengan kami.”

Swi Liang tersenyum menekan jantungnya yang berdebar-debar dan menahan matanya agar jangan terlalu melotot melahap kecantikan dua orang gadis itu. “Ahh, aku lelah dan sedang beristirahat. Jarang ada kesempatan beristirahat seperti ini…,” kata Swi Liang.

“Mari temani kami main thioki (kartu) di kamarku, Enci Liang Cu!” kata Si Baju Hijau.

“Ya, marilah, Enci Liang Cu. Tidak enak hanya bermain berdua. Marilah, sambil kita berkenalan lebih erat lagi. Kenapa sih? Bukankah kita ini rekan-rekan yang berkerja di sini?” kata Si Baju Merah sambil menarik tangan Swi Liang.

Tak dapat lagi Swi Liang menolak karena hal ini akan mendatangkan kecurigaan. Apa lagi memang dia sudah rindu sekali akan sentuhan tangan wanita cantik setelah belasan hari berpisah dari subo-nya. Kedua orang gadis itu tertawa-tawa, menggandeng kedua tangan Swi Liang dan membawanya kedalam kamar Si Baju Hijau yang berbau harum. Sebuah meja bundar rendah telah dipersiapkan di tengah kamar, di dekat pembaringan. Di sekeliling meja itu terdapat tikar yang ditilami kasur dan bantal. Selain kartu untuk main, juga di atas meja terdapat seguci arak wangi dan cawan-cawan kecil, juga beberapa macam kue kering.

“Duduklah, Enci Liang Cu. Mari kita main-main. Eh, kau bermalam saja di sini malam ini, ya?” Si Baju Hijau berkata sambil merangkul.

“Dan tubuhmu begini tegap dan kelihatan kuat, Enci Liang Cu,” kata Si Baju Merah memegang-megang lengan pemuda itu. “Aihhh, tangan Enci Liang Cu kuat dan kasar!” kata Si Baju Merah sambil mengelus telapak tangan pemuda itu.

Swi Liang menarik tangannya. “Aahh, aku sejak kecil berlatih silat. Tentu saja aku seorang gadis yang kasar, mana bisa dibandingkan dengan kalian yang halus mungil?”

“Hi-hik, kau terlalu memuji, Enci!” kata Si Baju Merah sambil mencubit paha Swi Liang.

“Kalau engkau menjadi seorang laki-laki, tentu tampan dan gagah, Enci Liang Cu!” kata Si Baju Hilau.

Dapat dibayangkan betapa tubuh Swi Liang terasa panas dingin menghadapi godaan-godaan ini. Cepat- cepat dia mengajak mereka bermain kartu, karena kalau godaan mereka itu dilanjutkan, tentu dia takkan kuat lagi bertahan! Sudah timbul keinginan keras di hatinya untuk merangkul dan mendekap mereka, menciumi bibir yang merah dan lincah itu!

“Eh, untuk apa arak ini?” katanya setelah Si Baju Merah menuangkan secawan arak yang berbau wangi.

“Hi-hik, bermain thioki tanpa taruhan tidak menyenangkan. Siapa kalah harus menebus kekalahannya dengan minum secawan arak wangi!” kata Si Baju Hijau.

Mereka mulai bermain thioki sambil bercakap-cakap dan bersendau gurau, atau lebih tepat lagi, kedua orang gadis itu yang bercakap-cakap dan bersendau gurau sedangkan Swi Liang hanya mendengarkan dan kadang-kadang tersenyum saja. Karena dia tidak ingin dilolohi arak sehingga rahasianya dapat terbuka, maka Swi Liang bermain sungguh-sungguh sehingga dia jarang kalah dan yang kebagian minum arak adalah kedua orang gadis itulah! Mereka bermain terus sampai menjelang tengah malam dan akhirnya arak dalam guci kecil itu habis!

“Ahhh, hawanya panas sekali…!” kata Si Baju Hijau.

“Bukan panas, hanya engkau terlalu banyak minum, maka terasa panas,” kata Swi Liang.

“Hemm, mungkin… aihhh, gerahnya,” Si Baju Hijau membuka kancing bajunya dan mengebut-ngebut dengan kipas.

Swi Liang menelan ludah. Matanya memandang ke arah dada yang hanya tertutup pakaian dalam yang tipis sehingga membayangkan tonjolan-tonjolan yang memikat hati. Karena pandang matanya selalu tertarik ke arah dada Si Baju Hijau, maka permainan Swi Liang menjadi kalut dan sekali ini dia kalah. Akan tetapi arak telah habis!

“Wah, Enci Liang Cu jarang kalah, ketika sekarang kalah araknya justru terlanjur habis. Mana dia bisa menebus kekalahannya?” kata Si Baju Merah cemberut.

“Hi-hik, kalau arak habis dia harus membayar dengan ciuman!” kata Si Baju Hijau.

“Hi-hi-hik, benar! Dia harus didenda dengan ciuman dan mulai sekarang, taruhannya dirubah. Karena arak habis, siapa kalah harus membayar dengan ciuman!” kata Si Baju Merah.

Kedua orang gadis itu dari kanan-kiri lalu menyerbu dan mencium pipi Swi Liang dengan hidung mereka. Swi Liang memejamkan kedua matanya!

“Eh… eh…, kalian ini bagaimana? Ihh… malu, kan…?” katanya gelagapan.

“Enci Liang Cu, mengapa kau begitu kejam? Kita bertahun-tahun dikurung di tempat ini dan hanya dapat menyaksikan orang lain bermain cinta. Bertemu dengan pria pun merupakan hal yang tak mungkin bagi kita. Apa salahnya di antara kita saling menghibur dan saling mencumbu? Sekedar menghilangkan rindu…,” kata Si Baju Merah.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo