July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 13)

 

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati yang keras seorang dara seperti Swat Hong mendengar ini.
Ingin dia mencaci maki habis-habisan, ingin dia menjerit-jerit, akan tetapi dia tak pandai cekcok dengan suara. Dia hanya mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya sudah menerjang ke arah dada Siangkoan Hui!

“Singgg… Wuuttt…..!”

Siangkoan Hui juga mengeluarkan pekik kemarahan. Tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas dan dari atas sabuk sutera merahnya yang ternyata adalah senjatanya yang ampuh itu menyambar ke bawah dengan serangan balasannya yang tidak kalah berbahaya.

“Plakkk!!” sarung pedang di tangan kiri Swat Hong berhasil menangkis serangan itu.

Swat Hong terkejut juga menyaksikan kelincahan lawan. Tahulah Swat Hong bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan dan memiliki ginkang yang amat hebat, maka dia memutar pedangnya dengan kecepatan kilat. Repotlah Siangkoan Hui menghadapi permainan pedang lawannya yang amat luar biasa itu.

Sebetulnya tingkat kepandaian Siangkoan Hui sudah tinggi, dan pada jaman itu, sukar dicari tandingannya. Sebagai puteri tunggal, Tee-tok telah menurunkan semua ilmu simpanannya dan selain memiliki senjata istimewa berupa sabuk sutera, juga dara ini adalah seorang ahli racun seperti ayahnya. Ayahnya adalah seorang tokoh yang berjuluk Racun Bumi, tentu saja dia mempelajari pula penggunaan racun-racun yang ampuh.

Setelah mendapat kenyataan betapa permainan pedang lawannya benar-benar amat lihai dan berbahaya, tiba-tiba Siangkoan Hui membentak dan dari tangan kirinya menyambar sinar-sinar merah. Swat Hong mengeluarkan suara mendengus dari hidung dan mengejek, sinar pedangnya berkelebatan dan bergulung- gulung sehingga jarum-jarum merah yang dilepas Siangkoan Hui secara lihai itu semua dapat dipukul runtuh.

“Haiittt…!!”

Swat Hong meluncur ke depan. Didahului sinar pedangnya, pedang itu menusuk lalu disambung membabat ke kanan-kiri, sedangkan sarung pedangnya masih bergerak menghantam dari atas. Semua jalan ke luar seolah-olah telah ditutupnya dan tidak memungkinkan lawan untuk mengelak lagi!

“Hiaaaaahhhh!!” Siangkoan Hui memekik nyaring, sabuknya berubah menjadi sebatang benda keras yang diputar-putar melindungi tubuhnya.

Pada saat pedang tertangkis, tiba-tiba dari ujung sabuk merah itu menyambar dua batang paku merah yang meluncur tanpa tersangka-sangka dan dengan cepat sekali meluncur ke arah tenggorokan Swat Hong!

“Aihhh…!!” Swat Hong menjerit.

Tidak ada jalan lain baginya kecuali membuka mulutnya yang kecil dan ‘menangkap’ dua batang paku merah itu dengan gigitan giginya yang kecil-kecil dan putih berderet rapi itu! Siangkoan Hui terkejut dan kagum bukan main. Pada saat itu, Swat Hong telah meniupkan dua batang paku ke arah tubuh lawan. Tentu saja Siangkoan Hui dapat mengelakkan senjata rahasianya sendiri ini dengan mudah.

Akan tetapi kini Swat Hong sudah marah sekali dan pedangnya bergerak untuk membunuh! Jurus-jurus terhebat dari Pulau Es dimainkannya dan tentu saja Siangkoan Hui terdesak hebat. Ujung sabuk Siangkoan Hui sudah robek dicium ujung pedang Swat Hong!

“Sumoi, jangan…!!!” tiba-tiba terdengar seruan.

Sin Liong melompat memasuki lapangan pertandingan, menolak lengan sumoi-nya dengan tangan kiri. “Sumoi…! Syukur kita dapat saling bertemu di sini…!” Sin Liong berseru girang bukan main.

Akan tetapi perut Swat Hong terasa panas saking mendongkolnya. Tadi dia sudah berhasil mendesak lawan dan belasan jurus lagi saja dia tentu akan menang. Siapa tahu suheng-nya muncul dan lawannya itu dapat meloncat ke luar dan kini berdiri di belakang kakek yang menjadi ayahnya!

“Aku harus membunuhnya!” bentaknya dan dia hendak melompat ke arah Siangkoan Hui. “Sumoi, jangan serang orang!”
“Kalau begitu, serang kau saja!” dan gadis itu lalu menyerang Sin Liong kalang kabut dengan pedangnya!

“Eh-eh…! Ohhh…! Sumoi, mengapa kau marah-marah?” Sin Liong terpaksa mengelak dengan berlompatan ke sana-sini karena sambaran pedang di tangan sumoi-nya itu bukan main-main!

“Kenapa kau membelanya? Kenapa?” Swat Hong berkata perlahan dan menyerang terus tanpa mempedulikan seruan suheng-nya.

Pada saat itu tampak dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Kwee Lun dan Soan Cu. Bagaimana dua orang muda ini dapat datang bersama?

Telah kita ketahui bahwa Soan Cu disuruh pergi oleh Sin Liong. Karena gadis ini amat taat kepada Sin Liong, dengan hati berat dia meninggalkan puncak itu hendak turun ke dusun kembali. Dan telah diceritakan pula di bagian depan betapa Kwee Lun melakukan penyelidikan bersama Swat Hong dan mereka berpencar. Kwee Lun mengambil jalan dari kiri.

Kebetulan sekali ketika pemuda ini sedang berindap-indap melakukan penyelidikan, dia melihat seorang gadis cantik berjalan seorang diri keluar dari pagar. Tentu saja dia mengira bahwa gadis itu adalah seorang musuh. Timbul dalam pikirannya untuk menangkap gadis ini dan memaksanya mengaku apa yang telah terjadi di sebelah dalam. Hal ini akan lebih memudahkan penyelidikannya, dari-pada menyelidiki dari luar tak berketentuan. Dengan pikiran ini, Kwe Lun tiba-tiba meloncat ke luar dari tempat sembunyinya dan langsung dia menubruk dan memeluk Soan Cu!

Dapat dibayangkan betapa marahnya dara ini. Ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki keluar dari semak- semak dan dengan gerakan secepat kilat menyergap dan memeluknya, tentu saja dia mengira bahwa ini tentulah anak buah Tee-tok yang hendak menangkapnya atau hendak berkurang ajar.

“Setan keparat jahanam terkutuk!!” bentaknya dan dia mengerahkan tenaganya, meronta dan menggerakkan kaki tangannya, menyepak dan menampar.

“Plak-plak-plak…!”

“Wah-wah… galak benar!” Kwee Lun kewalahan dan terpaksa melepaskan rangkulannya karena tulang kering kakinya kena ditendang, pipinya dicakar dan dagunya ditampar!

Kini mereka berhadapan dan saling pandang. Keduanya kelihatan tertegun karena sama-sama tidak menyangka. Kwee Lun sama sekali tidak menyangka bahwa yang ditangkapnya tadi, dipeluknya karena disangkanya seorang pelayan wanita, kiranya adalah seorang dara remaja yang cantik jelita! Sedangkan Soan Cu yang terkejut melihat seorang pemuda yang begitu tampan gagah perkasa. Sejenak keduanya saling pandang.

Sesaat kemudian timbul kegalakan Soan Cu yang menjadi marah. Dia memang sudah mendongkol disuruh pergi oleh Sin Liong. Hatinya gelisah memikirkan Sin Liong, biar pun dia yakin pemuda itu akan mampu menjaga dirinya. Kini ada orang yang betapa gagahnya pun, namun telah berlaku kurang ajar. “Setan alas! Siapa kau? Tentu kaki tangan Tee-tok, ya? Hendak menangkap aku? Keparat jahanam! Engkau sudah bosan hidup!”

“Tar-tar-tar…!!” cambuk buntut ikan hiu itu sudah meledak-ledak di atas kepala Kwee Lun.

Soan Cu mengira bahwa sekali serang saja kepala pemuda gagah itu tentu akan pecah. Seberapa hebat sih kepandaian anak buah Tee-tok? Akan tetapi betapa herannya ketika dia melihat pemuda tinggi besar itu dapat mengelak dengan amat cepatnya, bahkan telapak tangan pemuda itu berhasil menepuk lengannya yang memegang cambuk.

“Plakkk!”

Pemuda itu terheran. Tamparannya tidak membuat cambuk itu terlepas! “Aihhh… nanti dulu, jangan menyerang begitu. Aku bukan anak buah Tee-tok atau racun mana pun juga!”

Namun Soan Cu sudah merasa penasaran sekali. Kembali dia menyerang dan kini cambuknya berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyambar-nyambar dibarengi suara meledak-ledak. Akan tetapi Kwee Lun tetap dapat mengelak dan meloncat ke sana-sini, bahkan kadang-kadang dia berani menangkis cambuk itu dengan telapak tangannya! Hal ini tentu saja mengagumkan hati Soan Cu. Dia tidak tahu bahwa pemuda itu menggunakan ilmu Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti) yang mengandung sinkang tingkat tinggi yang membuat telapak tangannya menjadi lemas seperti kapas dan karenanya tidak terluka oleh benda keras!

“Nona cantik tapi galak seperti kucing lapar!” Kwee Lun balas memaki ketika melihat nona itu menyerang terus sambil memaki-maki. “Berhentilah dulu dan kita bicara!”

“Iblis raksasa, kau yang kelaparan!” Soan Cu membentak makin marah dan kini dia sudah mencabut pedangnya, pedang Coa-kut-kiam! Dengan kedua senjatanya ini, dia menyerang kalang kabut!

“Wah, runyam! Perempuan galak dan ganas!” Kwee Lun terancam bahaya maut dan dia pun terpaksa lalu mencabut pedangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang kipas gagang perak.

“Tringgg…! Cringgg-tranggg…!” bunga api berpijar.

Keduanya terdorong ke belakang oleh pertemuan senjata yang hebat itu tadi. Kipas bertemu dengan cambuk dan pedang bertemu dengan pedang. Masing-masing menjadi terkejut dan terheran. Tenaga sinkang mereka seimbang!

“Bagus! Mari kita bertanding sampai selaksa jurus!” Soan Cu sudah menerjang lagi. “Tranggg…! Tranggg…!!”
Kembali Kwee Lun menangkis sekuatnya dan mereka terdorong mudur. “Sombongnya! Manusia mana kuat bertanding sampai selaksa jurus? Makan waktu berapa bulan? Tunggu dulu, mengapa kau marah-marah kepadaku seperti orang kebakaran jenggot?”

“Ngaco! Jenggotmu yang kebakaran!”

“Eh, ohhh! Kau bikin aku bingung! Benar, kau tidak berjenggot. Eh, kenapa kau marah-marah begini? Dan kau lihai bukan main! Senjatamu mengerikan!”

“Cerewet!” Soan Cu sudah hendak menerjang lagi, sekarang terdorong oleh rasa penasaran bahwa dia tidak mampu mengalahkan pemuda ini.

“Nanti dulu! Kita bicara dulu, baru kita bertanding selaksa…. eh, seratus jurus saja! Aku salah menduga, kukira kau tadi seorang pelayan di sini!”

“Menghina kamu ya? Orang macam aku ini pelayan? Kalau kau baru pantaslah menjadi jongos! Atau jagal babi!”

“Maafkanlah. Aku tadi melihat dari jauh. Aku sedang menyelidiki…. Wah, celaka! Kau tentu puteri Tee-tok!” Kwee Lun terkejut dan menyesali kebodohannya. Mengapa dia tidak menduganya lebih dulu? Siapa lagi kalau bukan puteri Tee-tok yang begini lihai?

“Aku bukan anak racun bumi, bukan anak racun bau! Aku malah musuhnya!”

“Wah, benarkah? Kalau begitu kita cocok! Aku pun sedang melakukan penyelidikan. Aku mendengar ada beruang diadu dengan harimau. Pemilik beruang itu adalah sahabatku, eh, maksudku, sahabatnya sahabatku!”

Soan Cu menjadi bingung. “Bicaramu seperti orang sinting!”

“Memang betul, sahabatnya, eh, malah Suheng-nya sahabatku. Kau siapa?” “Aku baru saja meninggalkan pemilik beruang itu yang menjadi sahabat baikku.”
Dengan singkat Soan Cu menuturkan betapa Sin Liong mengalah dan malah menyuruh dia pergi dan ingin menerima hukuman!

“Wah, kenapa kau sudah begini besar masih begini tolol?”

“Siapa? Siapa tolol?” Soan Cu melangkah maju dan sepasang senjatanya sudah menggetar di tangannya.

“Siapa lagi kalau bukan engkau? Mengapa kau meninggalkan sahabatmu itu menghadapi hukuman? Kau tidak tahu siapa itu Tee-tok Siangkoan Houw? Dari julukannya saja sudah mudah diketahui. Dia Racun Bumi, kejamnya bukan main. Sahabatmu itu, Suheng sahabatku, pemilik beruang, tentu akan dibunuhnya!” “Apa…?!” Wajah Soan Cu menjadi pucat sekali. “Celaka…!” “Hayo cepat kita kesana, barangkali belum terlambat!”
Demikianlah, kedua orang itu seperti berlomba lari saja, bersicepat lari kembali ke puncak. Dan mereka tiba di tempat yang tepat di mana mereka melihat Swat Hong sedang menyerang kalang kabut kepada Sin Liong yang mengelak ke sana-sini.

 

Ketika itu Kwee Lun melihat sahabatnya menerjang seorang pemuda dengan mati-matian. Dia mendapat kenyataan betapa pemuda itu lihai bukan main, biar pun bertangan kosong namun pedang di tangan Swat Hong sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Dia sudah menggerakkan pedang dan kipasnya, meloncat maju sambil membentak, “Berani kau menghina Hong-moi?”

“Trangg-cringgg…!!”

Kwee Lun terdorong ke belakang dan matanya terbelalak melihat bahwa yang menangkisnya adalah sepasang senjata di tangan… Soan Cu yang mendelik dan memaki, “Kerbau tolol! Berani kau mencampuri urusan Liong-koko?”

Setelah berkata demikian Soan Cu menyerang kalang kabut, dan kembali mereka saling serang dengan serunya! Melihat ini, otomatis Swat Hong menghentikan serangannya dan Sin Liong juga sudah meloncat ke belakang.

“Jangan bertempur! Soan Cu, mundurlah…!” seru Sin Liong.

“Liong-ko, biarkan aku bertempur dengan gajah ini sampai selaksa……. eh, seratus jurus!” “Kwee-koko, mundur! Orang sendiri…!”
“Hehhh…? Orang sendiri…? Dia ini….” Kwee Lun terkejut dan terheran-heran, sebentar memandang kepada Sin Liong, lalu kepada Soan Cu.”Kwee-koko, inilah Suheng-ku yang kucari-cari.” Swat Hong memperkenalkan. “Eh… akan tetapi, mengapa kau menyerangnya…??”

Sin Liong cepat berkata, “Saudara yang gagah, Sumoi-ku ini memang kalau lama tidak bertemu lalu ingin mengajakku berlatih.”

Mendengar ini, merah wajah Swat Hong. Setelah ketahuan oleh semua orang betapa dia marah-marah dan menyerang suheng-nya sendiri, baru dia teringat dan menjadi malu.

Sementara itu, dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya hati Siangkoan Hui ketika itu. Kiranya dara cantik yang amat lihai ini adalah Sumoi dari Kwa Sin Liong, dan melihat sikapnya, dia dapat menduga bahwa dara yang galak ini cemburu kepadanya. Maka dia sudah melangkah maju dan menjura sambil berkata, “Ah, harap maafkan. Kiranya Cici adalah Sumoi dari Kwa-taihiap….”

“Hemmm…. sudahlah!” Swat Hong berkata malu, kemudian memperkenalkan kepada suheng-nya, “Suheng, dia ini adalah Saudara Kwee Lun, murid dari Lam-hai Sengjin.”

“Ha-ha-ha! Kiranya murid majikan Pulau Kura-kura? Selamat datang! Dan Nona adalah Sumoi dari Kwa- taihiap? Aihhh….. sungguh hari ini kami kedatangan banyak tokoh besar!” Kemudian berkata kepada Soan Cu yang masih cemberut. “Baik sekali Nona sudah datang kembali. Mari… mari orang-orang muda yang gagah perkasa, marilah kita duduk dan bicara di dalam.”

Tee-tok Siangkoan Houw lalu mempersilakan mereka semua memasuki gedungnya. Dia menjamu mereka dengan hidangan mewah, dibantu oleh puterinya, Siangkoan Hui yang merasa kagum sekali kepada Swat Hong, akan tetapi juga merasa iri hati dan berduka.

Tidaklah demikian dengan perasaan Soan Cu. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa gadis Pulau Neraka ini amat tertarik kepada Sin Liong yang dianggapnya sebagai seorang pemuda yang luar biasa dan amat mengagumkan hatinya. Akan tetapi, selama dalam perjalanan ini Sin Liong jelas memperlihatkan sikap bahwa pemuda itu sama sekali tidak tertarik kepadanya, juga bahwa sikap baiknya itu lebih mendekati sikap baik seorang kakak terhadap adiknya. Pula, dia melihat bahwa sesungguhnya Swat Hong, sumoi pemuda itu, juga mencintai suheng-nya. Soan Cu maklum bahwa tidaklah mungkin dia membiarkan cintanya terhadap Sin Liong berlarut-larut.

Pertemuannya dengan Kwee Lun telah mengubah seluruh perasaan hatrinya. Pemuda raksasa ini amat hebat, amat menarik dan jelas lebih cocok dengan dia! Kwee Lun merupakan seorang pemuda yang jujur, terus terang, gagah perkasa dan biar pun baru sekali bertemu saja, mereka telah saling serang sampai dua kali! Oleh karena itu, ketika mereka semua makan bersama mengelilingi meja besar, perhatian Soan Cu lebih banyak tertuju kepada pemuda perkasa itu.

Setelah mereka makan minum, berkatalah Tee-tok Siangkoan Houw, suaranya sungguh-sungguh dan kata-katanya ditujukan kepada Sin Liong dan Swat Hong. “Saya tidak tahu dengan jelas apakah Ji-wi mempunyai hubungan dengan Pulau Es. Akan tetapi mengingat bahwa Kwa-taihiap adalah murid dari Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka agaknya apa yang hendak saya bicarakan ini akan menarik perhatian Ji-wi. Dan sesungguhnya saya, atas nama para orang gagah di dunia kang-ouw, saya amat mengharapkan bantuan Sin-tong!”

“Ah, mengapa Lo-cianpwe terlalu sungkan dan merendahkan diri? Harap diceritakan ada urusan apakah yang kiranya dapat kami bantu, dan harap jangan membawa-bawa nama Pulau Es.”

“Justeru karena urusan ini menyangkut Pulau Es.”

“Heiii…? Ada urusan apakah yang menyangkut Pulau Es?” Swat Hong bertanya penuh semangat.

Mendengar ini Tee-tok tersenyum dan memandang. “Sebagai Sumoi dari Sin-tong, tentu Nona juga dari Pulau Es, bukan? Gerakan pedang Nona tadi hebat bukan main….”

“Siapa pun tidak perlu tahu, apakah aku dari Pulau Es atau tidak,” jawab Swat Hong tegas. “Tapi kalau ada urusan Pulau Es, kami ingin mendengar.”

“Lo-cianpwe, harap ceritakan kepada kami dan maafkanlah sikap Sumoi yang selalu tegas dan singkat. Perlu saya beri-tahukan bahwa memang amatlah penting artinya bagi kami kalau ada urusan yang menyangkut Pulau Es.”

Tee-tok menarik napas panjang. “Kalau dibicarakan sungguh membuat orang menjadi penasaran sekali. Ji- wi (Anda Berdua) tentu telah mendengar nama besar Bu-tong-pai, bukan? Nah, semua orang gagah dari dunia kang-ouw bersepakat untuk menentang Bu-tong-pai mati-matian.”

“Haiii…? Mengapakah? Maaf kalau aku mencampuri, akan tetapi sungguh hatiku penasaran sekali mendengar Bu-tong-pai dimusuhi orang kang-ouw. Bukankah anak murid Bu-tong-pai adalah orang-orang gagah yang dihormati oleh dunia kang-ouw? Mengapa sekarang hendak dimusuhi?” Kwee Lun berseru lantang, matanya terbelalak lebar karena penasaran.

“Ha-ha-ha, agaknya gurumu, si tua bangka Lam-hai Sengjin masih belum mendengar berita ini. Dia selalu bertapa di pulaunya sehingga engkau pun belum tahu, orang muda yang gagah, Bu-tong-pai telah beberapa bulan ini dikuasai oleh seorang ketua baru!”

“Soal pengangkatan ketua baru Bu-tong-pai, kurasa adalah urusan dalam Bu-tong-pai sendiri!” kata pula Kwee Lun.

“Memang demikian kalau ketua baru itu orang dalam Bu-tong-pai pula. Akan tetapi ketua baru itu mengaku dirinya sebagai Ratu Pulau Es dan telah melakukan perbuatan sewenang-wenang, melanggar peraturan kang-ouw, mengalahkan banyak tokoh kang-ouw dan kabarnya bahkan bersekutu dengan pemberontak!”

“Ihhh…!” Swat Hong berseru. “Kiranya dia di sana…!”

Ketika Swat Hong berseru tadi, Sin Liong juga ikut berseru kaget.

Mendengar seruan dua orang muda sakti dari Pulau Es itu, Tee-tok cepat memandang penuh selidik. “Ji-wi mengenal wanita itu?”

Sin Liong mengangguk tenang. “Agaknya begitulah. Dan sekarang juga kami berdua minta diri karena kami harus segera berangkat ke Bu-tong-pai.”

“Tapi biarlah kami membantumu, dan kalau perlu kita memberi-tahukan teman-teman di dunia kang-ouw agar….”

“Tidak usah, Lo-cianpwe. Ini adalah urusan antara kami sendiri. Bukankah begitu, Sumoi?”

“Benar! Harus kami berdua saja yang berangkat ke sana. Kwee-koko, terima kasih atas bantuanmu mencari Suheng. Setelah kini aku bertemu Suheng dan kami ada urusan yang amat penting, terpaksa aku akan meninggalkanmu. Kita berpisah sampai di sini, Kwee-koko.”

Kwee Lun mengangguk dan berkata dengan suara lirih setelah menarik napas panjang. “Aku mengerti, Hong-moi.”

“Soan Cu, aku harap engkau suka menanti dulu di sini dan harap Siangkoan Lo-enghiong melimpahkan kebaikan hati dengan menerima Soan Cu di sini untuk beberapa hari sampai saya selesai berurusan dengan Bu-tong-pai.”

“Tentu saja! Dengan senang hati! Biarlah Ouw-siocia tinggal di sini dulu ditemani oleh anakku.”

“Tidak, Liong-koko! Aku… aku… akan pergi saja melanjutkan usahaku mencari Ayah. Kau pergilah menyelesaikan urusanmu dengan Swat Hong…,” kata Soan Cu sambil menekan perasaannya. “Urusan kita memang berlainan. Selamat tinggal, aku pergi lebih dulu!” setelah berkata demikian, Soan Cu lalu bangkit berdiri dan berlari pergi tanpa menoleh lagi.

Kwee Lun juga bangkit berdiri. “Kalau begitu aku pun pamit. Biarlah aku membantu dia kalau dia mau.” Kwee Lun lalu berlari sambil berseru, “Nona…., tunggu dulu…!!”

Namun Soan Cu tidak menengok lagi dan berlari cepat sehingga Kwee Lun terpaksa harus mengerahkan ginkang-nya untuk mengejar. Sebentar saja kedua orang muda yang berkejaran itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Sin Liong dan Swat Hong juga berpamit dan meninggalkan Tee-tok bersama puterinya yang mengantar mereka sampai di pintu depan. Setelah kedua orang itu berjalan pergi dan tidak nampak lagi, terdengar Siangkoan Hui terisak dan menutupi matanya dengan ujung lengan bajunya. Siangkoan Houw menghela napas dan merangkulnya. Dara itu makin berduka, menangis sesenggukan di dada ayahnya.

Tee-tok menepuk-nepuk pundak puterinya dan berkata, “Hemm, tidak patut anak Tee-tok begini lemah hatinya! Aku tahu bahwa kau jatuh cinta kepadanya, Hui-ji. Memang dia seorang pemuda luar biasa! Akan tetapi, aku melihat sesuatu yang aneh pada diri Sin-tong itu. Aku akan merasa heran kalau sampai mendengar dia itu menikah! Dia tidak seperti manusia biasa! Dia dari Pulau Es, demikian pula Sumoi-nya. Mereka itu berbeda dengan kita. Selain itu, engkau adalah tunangan putera Lu-san Lojin Bu Si Kang. Engkau sejak kecil telah dijodohkan dengan Bu Swi Liang. Biarlah aku akan mencari mereka lagi!”

Siangkoan Hui tidak menjawab dan dia menurut saja ketika diajak masuk ke rumah oleh ayahnya yang amat menyayanginya. Sebetulnya sukar dikatakan apakah Siangkoan Hui benar-benar jatuh cinta kepada Sin Liong. Kiranya lebih tepat dikatakan kalau dia tertarik dan suka menyaksikan wajah dan sikap pemuda yang halus budi itu. Untuk dikatakan jatuh cinta, kiranya masih terlalu pagi!

Keadaan di Bu-tong-pai mengalami perubahan hebat semenjak The Kwat Lin menjadi ketua partai persilatan besar itu. Bukan hanya perubahan di luar, yang nampak jelas karena adanya banyak anggota perkumpulan golongan hitam dan sepak terjang mereka yang kasar dan ugal-ugalan, mengandalkan kepandaian untuk menentang siapa saja, akan tetapi juga terjadi perubahan di sebelah dalam yang tidak diketahui oleh orang luar.

Terjadi hal yang membuat Swi Nio sering-kali menangis seorang diri di dalam kamarnya! Peristiwa yang memalukan hati dara itu, yaitu ketika dia melihat betapa kakaknya, Swi Liang, telah menjadi kekasih dari subo mereka sendiri! Tadinya tentu saja hal itu terjadi secara sembunyi-sembunyi, akan tetapi kini dia melihat sendiri betapa subo-nya dan kakaknya itu berjinah secara terang-terangan, tidak bersembunyi lagi. Biar pun pada siang hari di mana banyak mata para anggota Bu-tong-pai menyaksikannya, dengan seenaknya ketua Bu-tong-pai itu memasuki kamar Bu Swi Liang, atau sebaliknya pemuda itu memasuki kamar subo-nya kemudian pintu kamar ditutup dari dalam! Hati Swi Nio memberontak, akan tetapi apa yang dapat dia lakukan kecuali menangis?

Dan memang sungguh menyedihkan sekali kenyataan bahwa seorang pemuda seperti Bu Swi Liang kini terjebak oleh nafsu birahi dan menjadi hamba nafsu birahi, juga menjadi hamba subo-nya sendiri yang membuatnya tergila-gila! Hal ini tidak amat mengherankan, mengingat bahwa Swi Liang adalah seorang pemuda yang masih hijau. Seorang pemuda remaja yang tentu saja tidak kuat menahan godaan dan rayuan seorang wanita yang sudah matang seperti The Kwat Lin pula.

Memang rasa kagum seorang muda terhadap lawan kelaminnya yang lebih tua dengan mudah menyeretnya ke dalam perangkap cinta nafsu. Di lain pihak, peristiwa itu bukanlah dapat diartikan bahwa The Kwat Lin adalah seorang wanita yang gila laki-laki atau gila birahi. Sama sekali tidak. Dia adalah seorang yang normal, dan hanya keadaanlah yang membuat dia menjadi seorang penyeleweng besar.

The Kwat Lin adalah seorang wanita yang belum tua benar, baru tiga puluh tahun usianya, berwajah cantik dan bertubuh sehat. Setelah menjadi janda dan hidupnya menyendiri, wajarlah kalau dia merindukan cinta asmara, merindukan kehangatan rasa sayang seorang pria. Ada pun pria yang sudah dewasa dan yang dekat dengannya adalah Bu Swi Liang, maka tidak pula mengherankan apa bila dia tertarik dan jatuh hati kepada muridnya sendiri ini.

Karena pemuda ini masih hijau, tentu saja dia tidak berani mulai dengan langkah pertama. Maka The Kwat Lin yang menggunakan perasaan kewanitaannya untuk membuka pintu dan menggerakkan kaki dalam langkah pertama. Dialah yang memikat dan merayu sehingga akhirnya Swi Liang jatuh dan mabuk. Sekali saja hubungan jinah dilakukan, maka membuat orang menjadi mencandu. Yang pertama kali segera disusul oleh yang ke dua, ke tiga, kemudian mereka menjadi ketagihan dan seolah-olah tidak dapat lagi hidup tanpa kelanjutan hubungan gelap mereka!

Tentu saja hal ini dapat terjadi karena keadaan hidup Kwat Lin. Andai kata dia masih seorang pendekar

wanita seperti belasan tahun yang lalu, tentu perbuatan ini sampai mati pun tak kan dia lakukan. Akan tetapi kini keadaannya lain. Dia menjadi seorang wanita yang berhati keras oleh sakit hati, kemudian menjadi tak peduli oleh keadaannya sebagai seorang ketua paksaan dari Bu-tong-pai, seorang yang bercita-cita untuk mencarikan kedudukan setingginya bagi puteranya. Kedudukannya memberi dia perasaan lebih dan berkuasa, maka timbul sifat untuk bertindak sewenang-wenang tanpa mempedulikan orang lain lagi.

Akan tetapi, selain hubungan gelap dengan muridnya yang tersayang ini, Kwat Lin juga mulai dengan langkah-langkah ke arah tercapainya cita-citanya. Dia mulai memperkuat Bu-tong-pai dengan mengadakan hubungan dengan para pembesar di kota raja melalui anggota-anggota barunya, yaitu para pembesar yang mempunyai cita-cita yang sama, para pembesar calon pemberontak. Kedudukan Bu-tong-pai makin kuat setelah terjadi peristiwa hebat pada beberapa hari yang lalu….

Pada beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali, anak buah Bu-tong-pai gempar dengan munculnya dua orang laki-laki di pintu gerbang Bu-tong-pai. Tidak ada seorang pun anak buah Bu-tong-pai yang berani sembarangan turun tangan ketika mendengar dan mengenal bahwa dua orang ini adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan.

Ketika seorang di antara mereka, yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kumis dan jenggotnya sudah putih, mengatakan bahwa mereka minta berjumpa dengan ketua Bu-tong-pai yang baru, para anak murid Bu-tong-pai cepat memberi kabar kepada The Kwat Lin yang pada saat itu masih enak-enak pulas dalam pelukan muridnya, sekaligus juga kekasihnya, Bu-swi Liang! Terkejutlah dia ketika pintu kamarnya diketuk dan mendengar laporan seorang murid bahwa di luar pintu gerbang terdapat dua orang tamu, ayah dan anak she Coa dari dusun Koan-teng di kaki Pegunungan Bu-tong-san yang minta bertemu dengan sang ketua!

“Suruh mereka menanti di luar! Aku segera datang!” kata Kwat Lin dengan marah.

Tak lama kemudian, Kwat Lin yang ditemani oleh Swi Liang dan Swi Nio, juga ikut pula Han Bu Ong yang usianya hampir sebelas tahun, keluar dari pintu gerbang menemui dua orang itu. Senyum mengejek menghias bibir ketua Bu-tong-pai yang cantik itu.

Semenjak dia merampas kedudukan ketua dengan paksa, sudah lima kali dia didatangi tokoh-tokoh kang- ouw yang agaknya datang karena permintaan para tosu Bu-tong-pai yang mengundurkan diri. Para tokoh ini merasa penasaran dan membela para tokoh Bu-tong-pai. Dengan mudahnya semua tokoh yang datang berturut-turut itu dirobohkan oleh Kwat Lin, ada yang tewas seketika, ada yang terpaksa pergi membawa luka-luka berat! Dan kini, ayah dan anak yang datang itu merupakan tokoh-tokoh yang datang ke enam kalinya.

Swi Liang dan Swi Nio yang menggandeng tangan Bu Ong segera minggir dan membiarkan subo mereka seorang diri menghadapi dua orang tamu itu. Dengan pakaian yang mewah dan indah, dandanan seperti puteri kerajaan, The Kwat Lin tampak sebagai seorang wanita bangsawan agung yang memiliki wibawa. Dengan sikap angkuh dia melangkah maju menghadapi dua orang itu sambil tersenyum.

Kedua orang itu berpakaian sederhana, namun dari sikap mereka yang tenang jelas tampak kegagahan mereka sebagai pendekar-pendekar penentang kejahatan. Kakek itu biar pun sudah tua, namun masih kelihatan sehat dan kuat. Jenggot dan kumisnya yang putih menambah keangkeran wajahnya. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan dia memandang ketua Bu-tong-pai dengan sinar mata penuh selidik.

Orang ke dua masih muda, paling banyak tiga puluh tahun usianya, bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah. Ada kemiripan pada wajah kakek dan laki-laki ini karena memang mereka itu adalah ayah dan anak yang terkenal sekali namanya sebagai pendekar-pendekar dari dusun Koan-teng yang menjadi sahabat- sahabat baik dari para tosu Bu-tong-pai.

Kakek Coa Hok memiliki ilmu pedang turunan keluarga Coa yang amat lihai, dan ilmu pedang ini sudah diturunkan pula kepada puteranya itu yang bernama Coa Khi. Ketika ayah dan anak ini mendengar akan mala-petaka yang menimpa para pemimpin Bu-tong-pai, yaitu munculnya orang termuda dari Cap-sha Sin- hiap, seorang wanita yang merampas kedudukan ketua, kemudian mendengar betapa banyak sahabat- sahabat kang-ouw yang membela mereka telah roboh di tangan wanita itu, mereka berdua menjadi marah

sekali. Sebagai orang-orang yang biasa menentang kejahatan mereka tidak mempedulikan berita tentang kesaktian wanita itu. Berangkatlah mereka meninggalkan rumah, berbekal pedang, semangat dan kebenaran, naik ke Bu-tong-san menjumpai ketua Bu-tong-pai itu.

The Kwat Lin bukan seorang bodoh. Setiap kali ada tokoh naik ke Bu-tong-san dan hendak menantangnya, dia selalu membujuk mereka untuk berdamai dan bekerja sama. Selama cita-citanya belum tercapai, dia membutuhkan bantuan sebanyak mungkin orang pandai. Maka setiap kali ada orang gagah datang dengan maksud menantangnya dan membela para bekas pimpinan Bu-tong-pai, dia selalu menyambut mereka dengan bujukan manis. Hanya karena bujukannya tidak berhasil dan mereka itu berkeras, terpaksa dia turun tangan menerima tantangan mereka.

Memang demikianlah sifat orang-orang yang mempunyai cita-cita besar, cita-cita yang sesungguhnya hanyalah nafsu keinginan untuk kesenangan diri pribadi. Demi tercapainya cita-cita yang merupakan pamrih bagi diri peribadi ini, orang tidak segan untuk bersikap palsu, membujuk orang sebanyaknya untuk membantunya demi tercapainya cita-cita itu. Orang-orang yang tidak membantu di anggap musuh dan perlu dibasmi agar jangan menjadi penghalang cita-citanya. Sebaliknya, mereka yang mati-matian membantunya, jika cita-cita itu sudah tercapai sebagian besar dilupakannya begitu saja! Atau kalau teringat pun, hanya diberi pahala sekedarnya karena yang dipentingkan bukan orang-orang yang membantunya, melainkan dirinya sendiri!

Begitu berhadapan dengan ayah dan anak itu, The Kwat Lin mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil berkata. “Kiranya Ji-wi Coa-enghiong (Kedua Pendekar she Coa) yang datang. Sudah lama kami mendengar Ji-wi yang terkenal gagah perkasa, maka kami merasa beruntung sekali hari ini dapat bertemu. Apa lagi mendengar bahwa Ji-wi adalah sahabat baik dari Bu-tiong-pai….”

“The Kwat Lin!” kakek Coa membentak dengan telunjuk kiri menuding ke arah muka ketua baru Bu-tongpai itu. “Aku mengenalmu sebagai seorang di antara Cap-sha Sin-hiap yang gagah perkasa, sebagai seorang murid Bu-tong-pai yang selalu menjunjung tinggi nama Bu-tong-pai. Aku telah puluhan tahun bersahabat dengan Bu-tong-pai dan telah mendengar akan namamu. Akan tetapi, mengapa setelah menghilang bertahun-tahun, engkau kembali ke sini dan menjadi seorang murid murtad? Mengapa engkau merampas kedudukan ketua mengandalkan kekerasan dan kepandaian? Aku sebagai seorang sahabat Bu-tong-pai tentu saja tidak mungkin dapat mendiamkan hal penasaran ini tanpa turun tangan!”

Kwat Lin tersenyum manis dan melirik ke arah Coa Khi yang berwajah tampan, akan tetapi Coa Khi mengerutkan alis dan memandang penuh kemarahan.

“Coa-lo-enghiong agaknya kena dibujuk orang! Memang benar saya menjadi ketua Bu-tong-pai, akan tetapi hal itu adalah demi kebaikan Bu-tong-pai, demi cinta saya kepada Bu-tong-pai. Saya ingin menjadikan Bu- tong-pai perkumpulan terbesar dan terkuat di dunia kang-ouw, dan saya ingin menarik semua orang gagah menjadi sahabat yang dapat bekerja sama. Karena itu, saya harap Ji-wi dapat membuka mata melihat kenyataan dan saya persilakan Ji-wi untuk datang sebagai sahabat dan untuk minum arak persahabatan bersama kami.”

“Perempuan murtad! Jangan mengira dapat menyogok kami dengan omongan manis!” kakek itu membentak marah.

Kedua alis yang hitam kecil dan panjang itu bergerak-gerak. Biar pun mulut yang berbibir tipis itu masih tersenyum, namun kata-kata yang keluar mengandung nada dingin, “Habis apa yang kalian akan lakukan?”

“Sing! Singgg!!” ayah dan anak itu telah mencabut pedang.

Kakek Coa lalu berkata, “Hanya ada dua pilihan bagi engkau dan kami. Pertama engkau pergi meninggalkan Bu-tong-pai dan kami akan berterima kasih kepadamu yang mengembalikan Bu-tong-pai kepada para pimpinan Bu-tong-pai, atau kalau engkau berkeras, terpaksa kami ayah dan anak turun tangan menggunakan pedang membela kehormatan sahabat-sahabat dari Bu-tong-pai!”

“Hi-hik! Betapa gagahnya keluarga Coa! Apakah Ilmu Pedang Hok-liong-kiam-sut sehebat sikap mereka, perlu ditonton terlebih dulu!” tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan merdu ini, jelas suara seorang wanita.

Semua orang menengok, juga The Kwat Lin yang menjadi terkejut melihat ada orang datang tanpa diketahuinya. Hal itu saja membuktikan bahwa wanita yang muncul ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Ayah dan anak itu juga menengok dengan kaget, apa lagi mendengar nama ilmu pedang turunan mereka disebut-sebut.

Wanita itu pakaiannya mentereng. Biar pun usianya sudah kurang lebih setengah abad, namun harus diakui bahwa dia adalah seorang wanita cantik. Rambutnya hitam gemuk dan panjang, dibiarkan terurai sampai ke pinggulnya yang menonjol di balik celana yang ketat. Tangan kanannya memanggul sebatang payung hitam dan wanita itu tahu-tahu telah berdiri di situ dengan gaya lemah lembut. Dia seorang wanita yang masih kelihatan cantik dengan tubuh padat, akan tetapi ada sesuatu yang dingin mengerikan keluar dari sikapnya, terutama sekali sepasang matanya yang amat tajam itu karena mata itu terbelalak memandang hampir tak pernah berkejap!

Melihat wanita ini, kakek Coa terkejut bukan main dan otomatis dia berseru keras. “Kiam-mo Cai-li…!!”

Puteranya, Coa Khi juga terkejut. Tentu saja dia sudah pernah mendengar nama ini, nama seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal sebagai seorang iblis betina yang selain kejam dan ganas, juga amat tinggi ilmu kepandaiannya.

Kakek Coa merasa heran sekali mengapa iblis betina yang sudah bertahun-tahun tak pernah muncul di dunia kang-ouw dan kabarnya hanya bertapa di tempat kediamannya, yaitu di Rawa Bangkai di kaki pegunungan Lu-liang-san itu tahu-tahu kini muncul di situ. Dan biasanya, di mana pun iblis itu muncul, tentu akan terjadi mala-petaka hebat!

The Kwat Lin juga sudah mendengar nama itu, yaitu sepuluh tahun yang lalu ketika dia masih menjadi seorang di antara Cap-sha Sin-hiap. Ketika itu, nama Kiam-mo Cai-li (Wanita Cerdik Berpedang Payung) sudah amat terkenal. Akan tetapi dia belum pernah bertemu dengan iblis betina itu dan sekarang dia melirik ke arah wanita itu dengan senyum mengejek. Dengan kepandaiannya seperti sekarang ini, dia tidak perlu takut menghadapi iblis yang mana pun juga!

“Kiam-mo Cai-li, apakah kedatanganmu tanpa diundang ini pun hendak menantang aku sebagai ketua Bu- tong-pai? Kalau memang demikian, jangan kepalang tanggung, majulah kau bersama kedua orang She Coa ini agar lebih cepat aku menghadapi kalian!”

Ucapan yang keluar dengan tenangnya dari mulut ketua Bu-tong-pai itu mengejutkan hati kedua orang ayah dan anak She Coa itu. Berani bukan main wanita ini menantang Kiam-mo Cai-li seperti itu! Menyuruh datuk kaum sesat itu untuk mengeroyok!

Akan tetapi Kiam-mo Cai-li tertawa lebar sehingga tampaklah deretan giginya yang putih dan rapi, “Hi-hi- hik, hebat sekali mulut ketua baru Bu-tong-pai! Pantas kau disebut-sebut di dunia kang-ouw, kiranya memang memilki keberanian yang hebat! Hanya karena mendengar engkau adalah Ratu Pulau Es, maka aku terpaksa meninggalkan tempatku yang aman dan tenteram. Kalau tidak karena nama ini, biar siapa pun yang akan menduduki Bu-tong-pai, aku peduli apa? Sekarang hendak kulihat bagaimana kau menghadapi pewaris-pewaris Ilmu Pedang Hok-liong-kiam-sut yang terkenal ini. Kalau kau memang berharga untuk melawanku, barulah kita nanti bicara lagi!”

The Kwat Lin tersenyum mengejek dan mendenguskan suara dari hidung. “Hemm, kau merasa terlalu tinggi untuk mengeroyok? Baiklah, kalau begitu tunggu saja sampai aku membereskan dua orang ini. Di sini tidak ada bangku, duduklah di sini!”

Setelah berkata demikian, Kwat Lin menghampiri sebatang pohon. Sekali tangan kirinya bergerak menyabet dengan telapak tangan miring, terdengar suara keras dan pohon itu tumbang. Hebatnya, batang pohon itu putus seperti dibabat pedang tajam saja, rata dan halus sehingga sisanya merupakan sebuah bangku!

“Hi-hi-hik, memang hebat sinkang-mu! Terima kasih, aku menanti di sini,” kata Kiam-mo Cai-li Liok Si. Sekali meloncat, tubuhnya sudah melayang ke atas batang pohon yang merupakan bangku bermuka halus itu. Dia duduk bertumpang kaki dan menunjang dagu dengan sebelah tangan, seperti seorang yang akan menikmati suatu tontonan yang menarik.

Ayah dan anak she Coa itu saling pandang. Di dalam pandang mata yang bertemu ini mereka seperti sudah saling bicara, menyatakan bahwa mereka menghadapi lawan yang amat lihai. Akan tetapi, jiwa pendekar kedua orang ini membuat mereka sama sekali tidak merasa gentar. Mereka bukan saja membela sahabat-sahabat mereka Kui Tek Tojin dan para tokoh Bu-tong-pai, akan tetapi juga menuntut balas atas kematian dan kekalahan para tokoh kang-ouw yang datang lebih dulu dari mereka membela Bu-tong-pai.

Selain itu mereka sudah datang sebagai dua orang penuntut kebenaran. Kalau sekarang mereka harus mundur melihat kehebatan lawan, hal ini akan membuat mereka menjadi pengecut. Bagi dua orang pendekar seperti mereka yang namanya sudah terkenal harum selama beberapa keturunan, lebih baik mati sebagai orang gagah dari-pada hidup menjadi pengecut hina!

“Kalau begitu, The Kwat Lin, bersiaplah engkau!” teriak kakek Coa.

Pedang di tangan kanan kakek Coa sudah melintang di depan dada. Gerakan ini diturut oleh Coa Khi, lalu kedua orang itu berdiri berjajar dengan memasang kuda-kuda yang kuat.

Kwat Lin menggerakkan tangan kanannya dan tongkat pusaka ketua Bu-tong-pai yang selalu dipegangnya itu menancap di atas tanah di depannya. Tongkat itu baginya diperlukan untuk menghadapi orang-orang Bu-tong-pai yang menghormati tongkat itu dan menganggapnya sebagai benda keramat lambang kedudukan tertinggi di Bu-tong-pai. Kini menghadapi dua orang luar, sengaja dia tidak mau mempergunakannya, sekaligus untuk memamerkan kepandaiannya. Dia hendak menghadapi dua orang itu dengan tangan kosong!

“Ceppp!” tongkat itu amblas setengahnya ke dalam tanah.

Sekali Kwat Lin menggerakkan ke dua kakinya, tubuhnya mencelat ke depan dua orang gagah She Coa itu. “Mulailah!” katanya.

“Sing-singgg… wut-wut-wut-wutttt…!!” bertubu-tubi kedua pedang itu menyambar dengan kekuatan dan kecepatan dahsyat sehingga tampak sinar-sinar berkilauan dibarengi suara bersiutan ketika kedua pedang membelah udara.

Diam-diam Kwat Lin terkejut dan harus memuji kehebatan dan keindahan gerakan ilmu pedang mereka itu. Namun, tentu saja dengan latihan yang didapatnya dari Pulau Es, gerakannya lebih cepat lagi. Dengan mudah dia dapat mengelak ke sana-sini, menghindarkan diri dari sambaran sinar kedua pedang itu dengan gerakan yang cepat dan indah.

Tiba-tiba Kwat Lin tersenyum manis. Kini dia telah merasa yakin, bahwa betapa pun indah dan lihainya ilmu pedang mereka, namun dia masih memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dalam hal sinkang. Bagaikan seekor kucing mempermainkan dua ekor tikus, dia sengaja selalu mengelak ke sana ke mari memamerkan kegesitan tubuhnya, bukan hanya kepada dua orang itu melainkan terutama sekali kepada wanita yang dianggapnya merupakan calon lawan yang lebih lihai, yaitu Kiam-mo Cai-li yang menonton pertandingan itu.

Mendadak Kwat Lin mengeluarkan seruan tertahan. Ketika matanya melirik, segera dia maklum bahwa ada dua orang bekas anak buah Bu-tong-pai yang mendekati tongkat pusaka itu dan berusaha mencabut tongkat pusaka dari dalam tanah. Peristiwa itu terjadi cepat sekali, tetapi Kwat Lin yang cerdik lebih cepat lagi mengambil kesimpulan bahwa dua orang itu tentulah pengkhianat-pengkhianat yang berpura-pura takluk kepadanya, namun diam-diam mencari kesempatan untuk mencuri tongkat pusaka, tentu dengan maksud mengembalikan tongkat itu kepada Kui Tek Tojin!

Pada saat itu, dua pedang ayah dan anak itu menusuk dari depan dan belakang dengan cepatnya. Gerakan Kwat Lin tentu saja agak terlambat karena perhatian yang terpecah tadi. Maka dia cepat menggulingkan tubuhnya, mengelak dari tusukan pedang di depan, sedangkan tusukan pedang dari belakang yang masih mengancamnya di tangkisnya dengan lengan kiri yang dilindungi gelang-gelang emas.

“Cringgg…!!”

Coa Khi terkejut bukan main ketika lengan yang memegang pedang itu tergetar hebat dan hampir saja

pedangnya terlepas dari pegangan ketika bertemu dengan gelang di pergelangan tangan kiri ketua Bu- tong-pai itu! Ketika dia dan ayahnya memandang, ternyata wanita itu telah lenyap dan tahu-tahu terdengar jerit-jerit mengerikan dari kiri. Ketika mereka memandang, ternyata wanita itu telah merobohkan dua orang laki-laki yang tadi mencoba mencuri tongkat pusaka. Dua orang laki-laki itu roboh dengan kepala pecah disambar jari-jari tangan Kwat Lin yang marah.

Setelah membunuh kedua orang itu, sekali meloncat Kwat Lin sudah kembali menghadapi dua orang lawannya. Kini dialah yang menerjang, menyerang dengan kedua tangan terbuka, cepatnya bukan main sehingga ayah dan anak itu terpaksa mudur sambil melindungi tubuhnya dengan pedang.

Seru dan indah dipandang pertandingan itu. Tubuh Kwat Lin lenyap dan hanya kadang-kadang saja tampak, bergerak-gerak di antara gulungan dua sinar pedang. Dia seolah-olah seorang penari yang amat indah dan lemah gemulai gerakannya, seperti sedang bermain-main dengan gulungan sinar pedang yang dipandang sepintas lalu seperti dua helai selendang yang dimainkan oleh wanita itu.

Tiba-tiba kedua orang ayah dan anak itu mengeluarkan pekik yang menggetarkan bumi. Tampak mereka menerjang secara berbareng dari depan dengan pedang terangkat ke atas dan membacok sambil meloncat. Inilah jurus paling ampuh dari ilmu pedang yang mereka lakukan dengan berbareng, jurus terakhir dari Hok-liong- kiam-sut (Ilmu Pedang Naga). Serangan ini demikian dahsyatnya sehingga tidak memungkinkan lawan yang diserangnya untuk mengelak lagi karena jalan keluar sudah tertutup dan ke mana pun lawan mengelak, ujung pedang tentu akan mengejar terus.

Akan tetapi, sambil tersenyum Kwat Lin tidak menghindarkan diri sama sekali. Ia tidak mengelak, bahkan menubruk ke depan! Tiba-tiba ketika tubuh Coa Khi yang meloncat ke atas itu sudah dekat dan pedang pemuda itu sudah menyambar ke arah kepalanya, dia menjatuhkan diri ke bawah. Dalam kedudukan berjongkok kedua tangannya menyambar ke atas dan depan dengan jari-jari terbuka.

“Hyaaaattt…!!” pekik melengking yang keluar dari mulut Kwat Lin ini dahsyat sekali dan kedua tangan yang mengandung sepenuhnya tenaga Inti Salju yang ampuh itu telah menyambar perut kedua orang laawannya.

“Plak! Plak!” tamparan jari-jari tangan yang mengandung tenaga sinkang mukjijat ini tepat mengenai perut Coa Khi yang sedang melayang di atas dan Coa Hok yang berada di depan.

Ayah dan anak itu mengeluarkan jerit tertahan yang mengerikan. Mereka merasa tubuh mereka dimasuki hawa dingin yang tak tertahankan hebatnya dan robohlah ayah dan anak itu, roboh tanpa dapat berkutik lagi karena mereka telah tewas dengan muka membiru. Darah mereka telah membeku terkena pukulan yang mengandung Swat-im-sinkang yang hebat dari Pulau Es!

“Bagus sekali…!!” Kiam-mo Cai-li Liok Si memuji dan melayang turun dari atas batang pohon, kemudian berdiri berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai itu.

Keduanya sama cantik dan sama mewah pakaiannya. Sejenak mereka saling pandang seperti hendak mengukur kelebihan lawan dengan pandang mata.

“Hebat kepandaianmu, Pangcu (Ketua)! Melihat tingkatmu, engkau pantas menjadi lawanku bertanding. Mari kita coba-coba, siapa diantara kita yang lebih lihai!”

The Kwat Lin mengerutkan alisnya dan bertanya, “Kiam-mo Cai-li, di antara kita tidak pernah ada urusan sesuatu. Apakah engkau menantangku demi membela para tosu Bu-tong-pai yang sudah mengundurkan diri?”

“Hi-hi-hik!” wanita yang sudah hampir nenek-nenek namun masih amat genit itu terkekeh. “Aku membela tosu Bu-tong-Pai? Jangan bicara ngaco! Bagi aku, siapa pun yang akan menjadi ketua Bu-tong-pai, masa bodoh! Akan tetapi hatiku tertarik mendengar bahwa yang mengetuai Bu-tong-pai disebut Ratu Pulau Es. Sekarang melihat engkau benar-benar lihai, makin ingin hatiku menguji kelihaianmu dan bertanya, apakah benar engkau Ratu Pulau Es?”

Kwat Lin mengangguk. “Benar, aku adalah bekas Ratu Pulau Es! Kiam-mo Cai-li, kalau engkau tidak membela tosu-tosu Bu-tong-pai, perlu apa kita bertanding? Ketahuilah, aku sedang membangun Bu-tong-

pai dan aku membutuhkan kerja sama dengan orang-orang pandai, terutama sekali engkau. Apakah seorang dengan kepandaian seperti engkau ini tidak pula mempunyai cita-cita tinggi untuk mencapai matahari dan bulan? Ataukah hanya menanti kematian begitu saja, membusuk di tempat pertapaanmu di Rawa Bangkai?”

“Hi-hi-hik, aku sudah mendengar pula akan usahamu yang bercita-cita luhur! Karena itu pula aku tertarik dan datang ke sini. Akan tetapi sebelum kita bicara tentang kerja sama dan cita-cita, kita harus menentukan dulu siapa di antara kita yang patut memimpin dan siapa pula yang harus taat.”

“Maksudmu?” The Kwat Lin memandang tajam dengan alis berkerut.

“Kita bekerja sama, itu pasti! Dan kalau kita berdua sudah bekerja sama, di tangan kita kaum wanita, tentu segalanya akan berhasil baik! Lihat saja keadaan di istana kerajaan. Seorang selir mampu mengemudikan seluruh kendali pemerintahan! Akan tetapi untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya di antara kita, perlu diketahui sekarang juga.”

“Bagus! Dengan lain kata-kata engkau menantang untuk kita mengadu kepandaian, ya? Kiam-mo Cai-li, engkau seperti seekor katak dalam sumur! Majulah!” Kwat Lin membanting kakinya ke atas tanah dekat pusaka Bu-tong-pai dan…. tongkat yang menancap setengahnya lebih itu mencelat ke atas seperti didorong dari bawah tanah, lalu tongkat itu disambar dan dipegangnya.

Kiam-mo Cai-li menganguk-angguk. “Hebat memang sinkang-mu, Pangcu. Akan tetapi jangan kau salah sangka. Sekali ini aku benar-benar menyadari bahwa usiaku sudah makin tua dan aku perlu memperoleh kedudukan yang akan menjamin masa tuaku sampai mati. Kita hanya mengukur kepandaian, bukan bertanding sebagai musuh, hanya untuk menentukan tingkat siapa yang lebih tinggi di antara kita berdua.”

Mendengar kata-kata ini, berkurang panas hati Kwat Lin dan teringat lagi dia bahwa betapa pun juga, dia membutuhkan tenaga bantuan wanita iblis yang terkenal sebagai datuk kaum sesat ini. Kalau dia dapat menarik wanita ini sebagai pembantu, tentu akan banyak tokoh kaum sesat yang dapat ditariknya untuk membantu tercapainya cita-citanya.

“Baiklah kalau begitu, Kiam-mo Cai-li. Mari kita mulai!”

“Pangcu, awas serangan pedang payungku!” Kiam-mo Cai-li berseru.

Belum selesai ucapannya, tubuh Kiam-mo Cai-li sudah menerjang ke depan, didahului oleh bayangan hitam dari pedang payungnya yang terbuka dan menyembunyikan gerakannya. Ujung payung berbentuk pedang itu menusuk, sedang payung itu sendiri berputar mengaburkan pandangan mata lawan.

Namun dengan tenang saja Kwat Lin menggerakkan tangan kirinya. Dengan telapak tangan terbuka dia mendorong ke depan sehingga hawa pukulan sinkang yang hebat menyambar dan membuat payung itu seperti tertiup angin keras dan menahan daya serang ujung payung yang seperti pedang, kemudian disusul dengan gerakan tongkat pusaka di tangan Kwat Lin yang menyambar dari samping dengan dahsyatnya.

“Plakk…! Cringg-cringgg…!!”

Tongkat itu mula-mula ditangkis dengan kuku tangan Kiam-mo Cai-li yang tadinya hendak mencengkeram dan merampas tongkat. Namun tongkat sudah ditarik kembali dan langsung mengirim hantaman dua kali berturut-turut yang dapat ditangkis kembali, kali ini oleh pedang di ujung payung. Maklum akan kehebatan lawannya, Kiam-mo Cai-li bergerak cepat sekali dan dia sudah mainkan ilmu pedangnya yang luar biasa, yaitu Tiat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Payung Besi).

Kalau saja Kwat Lin belum mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi tingkatnya dari Pulau Es, tentu dia bukanlah lawan Kiam-mo Cai-li yang lihai sekali itu. Akan tetapi, karena The Kwat Lin kini telah menjadi seorang yang berilmu tinggi, maka dia dapat mengimbangi permainan lawannya dan terjadilah pertandingan yang amat seru dan seimbang.

Kiam-mo Cai-li memang luar biasa lihainya. Tidak percuma dia menjadi seorang datuk kaum sesat, seorang tokoh golongan hitam yang ditakuti seperti seorang iblis betina yang kejam dan berilmu tinggi. Tidak hanya ilmu pedangnya yang lain dari-pada yang lain. Permainan pedang dengan gerakan tangan yang terlindung dan tersembunyi oleh payung hitam itu jauh lebih praktis dan berbahaya dari-pada menggunakan perisai.

Di samping ilmu pedangnya, tangan kirinya juga merupakan senjata yang amat berbahaya dengan kuku- kukunya yang panjang dan mengandung racun. Ini semua masih dilengkapi lagi dengan rambutnya yang hitam panjang, karena rambutnya ini seperti ular-ular hidup, dapat dipergunakan untuk menotok, melecut, atau melibat!

Akan tetapi, tidak percuma pula The Kwat Lin pernah menjadi isteri seorang manusia yang disohorkan seperti setengah dewa, yaitu Han Ti Ong yang sukar diukur lagi tingkat kepandaiannya. Tidak percuma selama sepuluh tahun bekas murid Bu-tong-pai ini digembleng di Pulau Es, apa lagi telah mewarisi kitab- kitab pusaka Pulau Es yang telah dilarikannya.

Yang jelas, dalam hal tenaga sinkang, dia masih menang setingkat dibandingkan dengan Kiam-mo Cai-li. Tenaga sinkang-nya adalah hasil latihan di Pulau Es, maka dia telah dapat menyedot tenaga inti salju, yaitu Swat-im Sinkang. Tenaga sinkang ini mengandung hawa dingin, sehingga dapat membekukan darah lawan yang kurang kuat ketika beradu tenaga dalam. Selain menang dalam tenaga sinkang, juga dasar ilmu silatnya lebih sempurna dari-pada dasar ilmu silat Kiam-mo Cai-li yang sesungguhnya merupakan gabungan ilmu silat campur-aduk.

Demikianlah, pertandingan itu berlangsung sampai seratus jurus lebih dengan amat serunya. Kiam-mo Cai- li menang keanehan senjatanya dan menang pengalaman bertanding. Akan tetapi kelebihannya ini menjadi tidak berarti karena dia kalah tenaga sinkang, sehingga setiap serangan dan desakannya dapat dibuyarkan oleh hawa sinkang dari dorongan telapak tangan The Kwat Lin. Akhirnya iblis betina ini harus mengakui keunggulan lawan. Sebagai seorang ahli dia maklum, bahwa kalau dilanjutkan, salah-salah dia akan menjadi korban hawa Swat-im Sinkang yang mukjijat.

Maka dia meloncat ke belakang dan berseru, “Cukup, Pangcu! Kepandaianmu hebat, engkau pantas menjadi Ratu Pulau Es, pantas menjadi ketua Bu-tong-pai dan biarlah aku membantumu dalam kerja sama kita!”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Kwat Lin mendengar ini. Dia lalu menghampiri Kiam-mo Cai-li, menggandeng tangan wanita itu dan memperkenalkan kepada Swi Liang, Swi Nio, dan Han Bu Ong. Kemudian dia mengajak sahabat baru itu memasuki gedungnya, dan sambil menghadapi hidangan lezat kedua orang wanita lihai ini bercakap-cakap dan mengadakan perundingan untuk bekerja sama.

Ternyata mereka cocok sekali dan memang keduanya merindukan kedudukan yang mulia dan terhormat, maka dalam perundingan ini Kiam-mo Cai-li dianggap sebagai pembantu utama dan tangan kanan Kwat Lin. Bahkan Rawa Bangkai yang terletak di kaki pegunungan Lu-liang-san itu dijadikan markas kedua, di mana kelak akan dilakukan semua pertemuan dan perundingan rahasia.

Benar saja seperti yang diharapkan. Setelah Kiam-mo Cai-li menjadi pembantunya, banyaklah kaum sesat yang bergabung dan menyatakan suka bekerja sama. Biar pun tidak resmi, mulai saat itu The Kwat Lin bukan hanya menjadi ketua Bu-tong-pai, akan tetapi juga diakui sebagai datuk kaum sesat nomor satu!

Hubungan rahasia yang diadakan oleh The Kwat Lin dengan para pembesar kota raja menjadi makin luas. Diam-diam persekutuan ini mulai mengatur rencana pemberontakan untuk menggulingkan Kaisar! Dari para pembesar yang mengharapkan bantuan orang-orang kang-ouw inilah Kwat Lin memperoleh bantuan keuangan sehingga Bu-tong-pai menjadi makin kuat, dan wanita lihai ini dapat menarik banyak tenaga bantuan orang pandai dengan mempergunakan uang sebagai pancingan.

Keadaan kerajaan Tang di masa itu memang sedang diancam pergolakan hebat. Saat itu yang duduk berkuasa di singgasana adalah Kaisar Beng Ong, atau yang terkenal juga dengan sebutan Kaisar Hian Tiong. Tak dapat disangkal lagi, di bawah pemerintahan Kaisar Beng ini Kerajaan Tang mengalami perkembangan yang amat pesat sehingga menjadi sebuah kerajaan yang luas sekali wilayahnya. Di jaman pemerintahannya inilah (712-756) di Tiongkok bermunculan sastrawan-sastrawan dan pelukis-pelukis yang menjadi terkenal sekali dalam sejarah, seperti Li Tai-po, Tu Fu, Wang Wei dan lain-lain.

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo