July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 12)

 

Sementara itu para wanita pelacur yang berasal dari keluarga baik-baik dan yang dipaksa menjadi pelacur dengan berbagai ancaman dan siksaan sudah menangis riuh-rendah. Menangis saking girang, terharu, dan juga duka.

“Awas kau, Gu-taihiap. Kalau sampai semua ucapanmu tadi tidak kau laksanakan, kami akan melaporkan bahwa engkau sebagai seorang kepala daerah telah diperalat oleh orang jahat dengan jalan sogokan. Selain itu, kami akan datang kembali khusus untuk menyembelih lehermu!” Swat Hong berbisik dengan nada penuh ancaman.

Pembesar itu mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seekor ayam mematuki gabah. Ketika dia mengangkat muka memandang, ternyata kedua orang itu telah lenyap dan dia hanya berdiri sendiri saja di atas genteng yang begitu tinggi. Tentu saja dia menjadi ngeri sekali. “Bhong-ciangkun… tolong… tolong saya turun…!”

Bhong-ciangkun telah melihat bayangan kedua orang itu berkelebat, maka dia lalu meloncat naik ke atas genteng dan membawa pembesar itu turun. “Bagaimana, apakah hamba harus mengejar mereka?” Bhong- ciangkun berbisik.

“Hushhh…! Bodoh! Masih untung kita….” pembesar itu berbisik kembali, kemudian berkata lantang. “Hayo laksanakan perintahku tadi!”

Demikianlah, peristiwa itu menjadi semacam dongeng sampai bertahun-tahun di kalangan penduduk Leng- sia-bun. Betapa pun mereka mencari, tak pernah lagi ada penduduk kota ini yang melihat kedua orang pendekar itu. Memang Swat Hong dan Kwee Lun telah melarikan diri dari kota itu dan melanjutkan perjalanan mereka dengan hati puas.

“Hebat kau, Hong-moi!” Kwee Lun memuji. “Luar biasa sekali! Kalau tidak ada engkau yang membantuku dengan siasat yang cerdik itu, tentu akan lain jadinya! Aku masih sangsi, apakah aku akan mampu menaklukkan mereka! Tentu akan terjadi banjir darah, dan mungkin aku sendiri akhirnya mati dikeroyok.”

“Ah, sudahlah, Kwee-twako. Kau yang hebat, menggunakan tali merobohkan restoran dan dengan hanya bersenjatakan tambang dapat menghadapi pengeroyokan puluhan orang!”

“Tidak ada artinya dibandingkan dengan sepak terjangmu, Moi-moi. Engkau telah membantuku sehingga tugasku selesai dengan hasil baik. Tak pernah aku akan dapat melupakan ini! Dan sebagai balasannya, aku akan membantumu mencari Ibumu dan Suheng-mu sampai berhasil pula!”

Wajah Swat Hong menjadi suram. Dia menarik napas panjang. “Hemm… Ibu dan Suheng pergi tanpa meninggalkan jejak. Ke mana aku harus mencarinya?”

“Jangan khawatir, Moi-moi. Kalau memang Ibumu dan Suheng-mu mendarat tentu kita akan dapat mencari mereka. Tempat yang paling tepat untuk mencari seseorang adalah kota raja. Memang belum tentu mereka berada di sana, akan tetapi setidaknya kota raja merupakan sumber segala keterangan sehingga kita dapat mendengar-dengar kalau-kalau ada berita dari dunia Kang-ouw tentang mereka.”

Swat Hong menyetujui pendapat ini. Memang dia pun bermaksud mengunjungi kota raja, karena bukankah nenek moyangnya dahulunya juga seorang anggota keluarga raja? Mereka pun melanjutkan perjalanan dari luar kota Leng-sia-bun menuju kota raja.

Makin lama melakukan perjalanan bersama Kwee Lun, setelah lewat sebulan kurang lebih, makin sukalah Swat Hong kepada pemuda itu. Dia makin mengenal Kwee Lun sebagai seorang yang benar-benar jantan, keras hati, teguh dan tidak mempunyai sedikit pun pikiran menyeleweng. Pemuda ini juga suka bergurau, walau pun kasar akan tetapi kekasaran yang bukan bersifat kurang ajar, melainkan karena terbawa oleh kejujurannya yang wajar dan tak pernah mau menyembunyikan sesuatu. Pendeknya, pemuda itu benar- benar seorang laki-laki yang gagah perkasa lahir bathinnya.

Di lain pihak, Kwee Lun juga merasa kagum kepada Swat Hong setelah dia mengenal sifat-sifat temannya ini yang amat cerdik, periang, jenaka namun keras hati dan kadang-kadang tampak keagungan sikapnya sebagai seorang puteri kerajaan! Namun dara itu sama sekali tidak angkuh atau sombong, sungguh pun kini dia harus mengakui bahwa ilmu kepandaiannya sedikitnya kalah dua tingkat dibandingkan dengan dara Pulau Es ini! Oleh karena inilah maka ada keseganan di dalam hatinya. Biar pun dia yang selalu memimpin perjalanan dan menjadi petunjuk jalan, namun dalam segala hal, sampai dalam memilih makanan dan penginapan yang selalu dibayar oleh Kwee Lun, pemuda ini selalu minta pendapat dan keputusan Swat Hong!

Pada suatu hari tibalah kedua orang ini di kaki Pegunungan Tai-hang-san yang amat luas dan memanjang dari selatan ke utara. Tujuan mereka adalah Tiang-an ibu kota Kerajaan Tang. Di dusun ini mereka berhenti untuk makan di sebuah warung nasi sederhana. Mereka memesan nasi, mi, dan arak. Tak lupa Kwee Lun minta air hangat untuk Swat Hong agar nona ini dapat mencuci muka setelah melakukan perjalanan yang panas berdebu. Ketika Swat Hong sedang bercuci muka dengan air hangat, menggosok mukanya dengan air bersih sampai kedua pipinya kemerahan, dia mendengar percakapan menarik dari arah dapur warung itu.

“Bukan main ramainya!” terdengar suara seorang laki-laki, agaknya pekerja di dapur itu.

“Lebih ramai dari-pada kalau melihat dua orang jago silat berkelahi! Bayangkan saja! Harimau mengaum sampai bumi tergetar, lalu menubruk dan mencakar ke arah beruang itu. Akan tetapi si beruang juga tidak kalah lihainya, dia menggereng dan aku yakin engkau sendiri tentu akan terkencing-kencing mendengar gerengan itu! Dia dapat menangkis dengan kaki depannya dan balas menggigit. Mereka saling cakar, saling gigit, mula-mula saling menangkis lalu bergumul! Bukan main!”

“Ahhh, sudahlah. Siapa percaya omonganmu? Paling-paling kau melihat orang mengadu jangkerik dan kau kalah bertaruh lagi! Lebih baik lekas masak air, tehnya hampir habis.”

Swat Hong cepat menghampiri Kwee Lun dan berbisik, “Agaknya di sini ada jejak Suheng-ku!” “Ehhh…? Kwee Lun bertanya heran.
“Ada orang di dapur tadi bercerita tentang pertandingan antara harimau dan beruang. Kalau tidak salah perasaan hatiku, itu beruang kepunyaan suheng.”

“Eh? Suheng-mu memelihara beruang?” Kwee Lun bertanya makin heran lagi.

“Belum kuceritakan kepadamu, Twako. Ketika aku berpisah dari suheng, dia sedang mengobati seekor beruang terluka. Tentu beruang itu menjadi jinak dan sekarang menjadi binatang peliharaannya.”

“Aduh! Suheng-mu tentu hebat sekali, berani mengobati seekor beruang!”

“Sudahlah, Twako. Kalau kelak dapat bertemu, engkau dapat berkenalan dengan Suheng sendiri. Sekarang harap kau suka tanyakan kepada pekerja di dapur tentang beruang yang diceritakannya tadi.”

“Mengapa tidak panggil saja dia ke sini? Hei, Bung pelayan!” Pelayan itu segera menghampiri.
“Tolong kau panggilkan sahabat yang tadi berbicara tentang beruang, dia bekerja di dapur. Cepat!”

Pelayan itu terheran-heran, akan tetapi dia masuk juga ke dalam. Tak lama kemudian dia kembali ke situ bersama seorang laki-laki muda yang kelihatan takut-takut. Laki-laki ini kurus kecil dan memakai pakaian koki, agaknya dialah tukang atau pembantu tukang masak di warung itu. “Saya… saya tidak tahu apa-apa…,” orang itu berkata begitu tiba di dekat meja.

Kwee Lun menggerakkan tangannya tak sabar. “Aahh, mengapa takut? Kami hanya tertarik mendengar cerita beruang bertanding dengan harimau. Di manakah kejadian itu dan bagaimana asal mulanya?” Kwee Lun mengeluarkan sepotong uang dan memberikan kepada orang itu. “Nah, ceritakanlah! Jangan takut- takut, ini hadiahnya.”

Orang itu menerima hadiah. Setelah memandang ke kanan-kiri dia bercerita, “Pagi tadi, sebelum masuk bekerja saya menemani saudara misan saya mengantar segerobak kayu bakar ke atas sana….” dia menuding ke luar warung. “Ke atas mana?”

“Di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Siangkoan Lo-enghiong. Kami berdua mengantarkan kayu bakar dan melihat ribut-ribut di sana. Mendengar gerengan-gerengan dahsyat, saya lalu menyelinap dan mendahului saudara saya untuk mengintai. Ternyata di sana sedang diadakan permainan yang luar biasa, yaitu adu harimau dan beruang! Entah milik siapa beruang itu, akan tetapi harimau itu saya kenal sebagai harimau peliharaan Siangkoan Lo-enghiong yang biasanya di dalam kerangkeng. Bukan main ramainya dan saya takut sekali. Agaknya di tempat Siangkoan Lo-enghiong ada tamu yang membawa beruang….”

“Siapa tamunya? Bagaimana macam orangnya?” Swat Hong mendesak penuh ketegangan hati.

Akan tetapi orang itu menggeleng kepala. “Bagaimana saya bisa tahu? Di atas sana banyak murid-murid Lo-enghiong dan orang-orang seperti kami tidak mempunyai hubungan dengan Puncak Awan Merah. Kami tidak diperbolehkan naik kecuali kalau ada pesanan dari sana, hanya kadang-kadang saja Siocia atau murid Lo-enghiong yang turun ke sini. Melihat pertandingan yang amat dahsyat itu, saya ketakutan dan cepat lari turun lagi….”

Swat Hong mengerutkan alisnya. Mungkinkah suheng-nya ‘kesasar’ sampai di tempat ini?

Tiba-tiba Kwee Lun bertanya, “Yang kau sebut Siangkoan Lo-enghiong itu, apakah dia bernama Siang- koan Houw?”

“Nama lengkapnya mana saya tahu?” orang itu menggeleng kepala, kelihatannya takut-takut. “Julukannya Tee-tok (Racun Bumi), bukan?”
Orang itu makin ketakutan, akan tetapi dia mengangguk. “Pernah saya mendengar muridnya bicara menyebut julukan itu…. harap Ji-wi maafkan, saya masih banyak pekerjaan di dapur.” Dia tidak menanti jawaban tapi langsung kembali ke dapur dengan sikap ketakutan.

“Aihh, kiranya Tee-tok sekarang tinggal di tempat ini!” kata Kwee Lun. “Twako, siapakah Racun Bumi itu?”
“Hemm, seorang yang luar biasa, dapat dikatakan saingan Suhu. Menurut cerita Suhu, sukar dikatakan siapa yang lebih unggul. Dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh dunia kang-ouw yang sudah terkenal sekali. Aku sendiri baru mendengar namanya dari Suhu saja. Menurut Suhu, dia adalah seorang yang gagah perkasa dan jujur. Akan tetapi sayang sekali, hatinya ganas dan kejam terhadap orang yang tak disukainya dan dia amat lihai dan berbahaya sebagai seorang ahli racun yang mengerikan. Karena itu julukannya adalah Racun Bumi. Sungguh tidak dinyana bahwa kita bakal bertemu dengan orang seperti dia!”

“Hemm… kalau begitu engkau sudah merencanakan untuk mengunjungi Puncak Awan Merah, Twako?”

“Tidak begitukah kehendakmu? Agaknya sangat boleh jadi beruang itu milik Suheng-mu, Hong-moi, karena di tempat tinggal seorang seperti Tee-tok, segala apa mungkin saja terjadi. Tentu saja amat mencurigakan dan hatiku tidak akan merasa puas kalau belum menyelidiki ke sana. Kalau ternyata Suheng-mu tidak berada di sana kita turun lagi karena aku tidak mempunyai urusan dengan Tee-tok.”

Swat Hong mengangguk. “Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat. Entah mengapa, betapa pun sedikit kemungkinannya bahwa Suheng berada di sana, akan tetapi hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Kita harus menyelidiki ke sana.”

Setelah membayar harga makanan berangkatlah kedua orang itu ke Puncak Awan Merah, tentu saja diikuti pandang mata penuh keheranan dan kegelisahan oleh pelayan warung yang mereka tanyai di mana adanya puncak itu. Setelah mereka mendekati bukit dan tiba di lereng atas, tampaklah bangunan besar di puncak yang dimaksudkan itu. Mereka tidak mengerti mengapa puncak itu disebut Puncak Awan Merah, padahal ketika mereka tiba di situ di siang hari itu, awannya tidak berwarna merah melainkan biru dan putih seperti biasa.

“Twako, kedatangan kita hanya menyelidiki apakah Suheng berada di sana. Oleh karena itu tidak baik kalau kita datang berterang, bisa menimbulkan kecurigaan orang, padahal kita tidak berniat mencari perkara dengan tokoh kang-ouw itu, bukan? Maka sebaiknya kita berpencar. Kau menyelidiki dengan memutar dari kiri, aku dari kanan, sampai kita saling bertemu. Kalau Suheng tidak ada di sana, dan beruang itu bukan beruangnya, kita segera kembali ke dusun tadi dan bermain saja di sana.”

“Baik, Hong-moi. Dengan cara demikian penyelidikan memang dapat dilakukan lebih leluasa dan lebih cepat.”

Mereka mendaki terus, dan setelah tiba di luar pagar tembok gedung besar di puncak itu mereka berpencar. Swat Hong yang mengambil jalan dari kanan menyelinap di atas pohon-pohon dan batu gunung. Tak lama kemudian dia mendengar suara orang. Cepat dia menghampiri dan mengintai, dan apa yang dilihatnya membuat dia hampir berteriak saking kagetnya!

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika dia melihat suheng-nya, Kwa Sin Liong, terbelenggu kedua pergelangan tangannya dan setengah tergantung pada pohon! Tubuh atas suheng-nya itu telanjang dan hanya celana dan sepatunya saja yang menutupi tubuhnya. Sin Liong kelihatan tenang saja, biar pun dahinya berpeluh. Agaknya pemuda itu memang sengaja membiarkan dirinya terbelenggu. Swat Hong yakin sekali, bahwa apabila dikehendaki oleh suheng-nya itu, apa sukarnya membebaskan diri dari belenggu seperti itu? Tentu ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sini!

Swat Hong menahan kemarahannya yang membuat dia ingin menyerbu, dan dia memandang kepada orang-orang di sana. Dua orang yang berpakaian seragam, memakai topi aneh, menjaga di belakang pohon dan tangan mereka meraba gagang golok. Seorang kakek yang tinggi besar, brewok dan matanya lebar, dengan marah-marah menghampiri Sin Liong, tangan kanannya memegang senjata yang aneh. Bukan senjata, pikir Swat Hong, melainkan tanduk rusa yang agaknya hendak dipakai sebagai senjata. Tanduk rusa seperti itu saja apa artinya bagi suheng-nya? Yang membuat dia terheran-heran adalah melihat suheng-nya berada di tempat itu dan mudah saja dibelenggu dan dihina! Apa yang telah terjadi?

Seperti telah kita ketahui, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang hendak mencari ayahnya. Sebetulnya, mencari ayahnya ini hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja oleh Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka. Puteranya Ouw Sin Kok, ayah kandung Soan Cu, telah menghilang selama belasan tahun, tak pernah kembali dan tidak pula ada kabarnya sehingga menimbulkan dugaan besar bahwa Ouw Sian Kok telah meninggal dunia. Selain itu, andai kata masih hidup, tak seorang pun mengetahui di mana tempat tinggalnya. Soan Cu ditinggal ayah kandungnya sejak bayi, bagaimana mungkin dia dapat mencari ayahnya yang belum pernah dilihatnya dan tak diketahui ke mana perginya itu?

Kalau Ouw Kong Ek menggunakan alasan ini dan mendesak kepada Sin Liong agar membawa dara itu bersama keluar dari Pulau Neraka, adalah karena sebenarnya dia ingin agar cucunya itu dapat berjodoh dengan Sin Liong. Dia sering-kali mengingat akan nasib cucu yang dicintanya itu. Karena jauh dari dunia ramai, akhirnya cucunya itu terpaksa hanya akan berjodoh dengan seorang penghuni Pulau Neraka! Maka munculnya Sin Liong untuk pertama kalinya itu sudah mendatangkan harapan untuk menjodohkan cucunya dengan pemuda itu.

Apa lagi ketika Sin Liong datang untuk kedua kalinya, bahkan pemuda itu telah menolong Soan Cu, dan menolong Pulau Neraka yang diserbu bajak laut. Tentu saja dia tidak dapat memaksa pemuda itu untuk menjadi calon suami cucunya, akan tetapi dengan kesempatan melakukan perantauan bersama, dia harap akan timbul cinta di dalam hati pemuda itu terhadap cucunya yang dia tahu merupakan seorang gadis yang cantik jelita dan berilmu tinggi, juga berwatak baik….

Demikianlah, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Soan Cu dan juga beruang raksasa yang menjadi jinak itu. Dengan sebuah perahu yang disediakan oleh Ouw Kong Ek, berangkatlah mereka meninggalkan Pulau Neraka, berlayar melalui pulau-pulau di daerah itu. Akhirnya, karena tidak berhasil menemukan Swat Hong yang dicari-carinya, juga tidak tampak seorang pun manusia tinggal di daerah lautan berbahaya itu, Sin Liong mengemudikan perahunya menuju ke arah barat, ke daratan besar.

“Besar kemungkinan Sumoi mendarat. Kalau sampai belasan tahun ayahmu tidak pernah pulang dan tidak ada beritanya, juga bukan tidak mungkin Ayahmu tinggal di sana,” katanya kepada Soan Cu. “Mari kita mencari jejak mereka di daratan besar.”

Soan Cu tidak membantah. Demikianlah akhirnya mereka mendarat, hanya beberapa hari lebih dulu dari pendaratan yang dilakukan oleh Swat Hong yang tersesat jalan dan mendarat jauh di selatan sehingga dia bertemu dengan Kwee Lun. Karena dari pantai ke barat banyak melalui daerah yang sunyi, pegunungan dan hutan, maka adanya beruang bersama mereka tidak terlalu mengganggu benar. Pula, binatang itu sudah jinak sekali, bahkan dapat disuruh untuk mencari buah-buahan, pandai pula mencari air di dalam hutan yang lebat.

Pada suatu hari, tibalah mereka di pegunungan Tai-hang-san. Tanpa mereka ketahui, mereka tiba di lereng puncak Awan Merah, daerah kekuasan Tee-tok. Ketika mereka memasuki sebuah hutan besar, tiba-tiba terdengar auman harimau yang amat keras sehingga suara itu menggetarkan hutan. Mendengar auman ini, beruang itu menjadi marah sekali. Sin Liong cepat memegang dan memeluk binatang itu, khawatir kalau- kalau beruang itu akan lari dan berkelahi dengan harimau yang mengaum itu.

“Hai……! Ada harimau! Biar kutangkap dia!” Sian Cu sudah berlari-lari membawa senjatanya yang aneh dan istimewa, yaitu sebatang cambuk berduri yang menjadi senjata kesayangannya di samping pedang. Dia tertawa-tawa gembira sehingga Sin Liong tidak tega untuk melarangnya. Dara itu masih remaja, masih bersifat kanak-kanak dan hanya kadang-kadang saja tampak kedewasaanya.

Sin Liong maklum bahwa gadis yang sejak bayi dibesarkan di tempat seperti Pulau Neraka itu, tentu saja memiliki sifat-sifat liar, akan tetapi dia pun mengenal dasar-dasar baik dari hati Soan Cu. Selain membiarkan gadis itu bergembira, juga dia percaya penuh bahwa ilmu kepandaian Soan Cu sudah tinggi sekali, cukup tinggi untuk melindungi diri sendiri.

Soan Cu berlari cepat sekali, dan ketika berlari ini timbullah kegembiraan yang luar biasa di dalam hatinya. Di depan Sin Liong dia selalu harus menekan perasaannya karena sikap pemuda ini sungguh penuh wibawa dan membuat dia tunduk, takut dan hormat seolah-olah pemuda itu menjadi pengganti kakeknya. Akan tetapi sesunguhnya sejak dia meninggalkan Pulau Neraka, ada perasaan gembira yang disembunyikannya dan baru sekarang dia memperoleh kesempatan untuk melepaskan kegembiraannya yang meluap-luap. Ingin dia bersorak gembira kalau saja tidak takut terdengar oleh Sin Liong! Maka kegembiraannya itu disalurkannya lewat kedua kakinya yang berloncatan dan berlari-lari menuju ke arah suara harimau yang mengaum.

Karena auman harimau itu keras sekali, mudah saja bagi Soan Cu untuk menuju ke tempat itu. Akhirnya dia melihat seekor harimau yang amat besar dan kuat, berbulu indah sekali, loreng-loreng hitam kuning sedang berdiri memandang ke arah seorang laki-laki tua yang berdiri ketakutan. Harimau itu membuka- buka moncongnya, seperti seorang anak kecil yang menggoda kakek itu, menakut-nakutinya, kadang- kadang mengaum. Tiap kali harimau itu mengaum, kedua kaki orang itu menggigil.

Kakek itu mencoba untuk bersembunyi di belakang sebatang pohon sambil berkata dengan suara yang terputus-putus, “Kakak harimau yang baik… saya… saya… A-siong pedagang kayu bakar… hendak mengirim kayu bakar kepada Lo-enghiong…, harap jangan mengganggu saya….”

Harimau itu sebetulnya adalah harimau peliharaan Tee-tok. Biasanya dia dikurung dalam kerangkeng dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja dibiarkan berkeliaran di hutan. Agaknya penjaga harimau pada hari itu terlupa sehingga harimau itu tetap berkeliaran pada waktu A-siong sedang mengirim kayu bakar ke Puncak Awan Merah. A-siong adalah seorang di antara pedagang-pedagang kayu bakar yang suka menjual kayu bakar di tempat itu.

Melihat harimau itu, Soan Cu lalu berseru, “Kucing besar, kau nakal sekali!”

Harimau itu menggereng dan menoleh. Dia menggereng ketika melihat seorang wanita memegang cambuk. Cepat sekali dia sudah membalik dan menubruk, gerakannya sungguh gesit, berlawanan dengan tubuhnya yang besar.

“Celaka…!” A-siong berseru kaget, memeluk batang pohon dan menahan napas, membelalakan matanya.

Akan tetapi tanpa mengelak Soan Cu sudah menggerakkan cambuknya.

“Tar-tar!” ujung cambuk itu menyambar dan membelit kaki depan kanan harimau itu, dan sekali tarik, tubuh harimau yang sedang meloncat itu terbanting ke atas tanah.

Harimau itu menggereng dan kelihatan marah sekali. Kembali dia menubruk, akan tetapi sekali ini, Soan Cu yang sedang gembira meloncat ke kiri. Melihat tubuh harimau itu menyambar lewat, dengan tangan kirinya dia menangkap ekor harimau yang panjang, dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah berada di atas punggung harimau! Sambil tersenyum-senyum dan membuat gerakan seperti orang menunggang kuda, Soan Cu menggerak-gerakkan ujung cambuk menyabeti moncong harimau itu.

Tentu saja harimau itu merasa kesakitan karena ujung cambuk itu berduri. Dengan kemarahan meluap harimau itu berusaha mencakar dan menggigit ujung cambuk yang mungkin dikira seekor ular yang ganas, namun tak pernah berhasil, bahkan bagaikan buntut seekor ular, ujung cambuk itu terus melecuti hidung dan bibirnya sampai berdarah!

“Hayooo… kucing binal! Hayo jalan baik-baik!”

Seperti seorang pemain sirkus yang mahir, Soan Cu menunggangi harimau itu. Tangan kirinya mencengkeram kulit leher, tangan kanannya mempermainkan cambuknya. Sedangkan harimau itu melangkah perlahan-lahan, mengejar ujung cambuk yang digerak-gerakkan.

A-siong yang menonton sambil berusaha menyembunyikan diri di balik batang pohon, terbelalak dan hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Beberapa kali tangan kirinya menggosok kedua matanya dengan ujung lengan baju karena dia mengira bahwa dia sedang dalam mimpi. Akan tetapi tetap saja penglihatan yang luar biasa itu masih tampak oleh kedua matanya.

“Soan Cu, turunlah…!” tiba-tiba terdengar suara teguran.

Mendengar dan mengenal suara Sin Liong, lenyaplah semua kegembiraan yang liar dari gadis itu. Dia masih tersenyum, akan tetapi matanya kehilangan sinar yang berapi-api dan liar tadi. “Liong-koko, dia… dia hendak menerkam orang….” ujarnya. Ucapannya ini bersifat membela diri. Dia ketakutan terhadap pemuda itu karena kedapatan sedang mengganggu harimau.

“Turunlah. Berbahaya sekali permainanmu itu!”

Soan Cu meloncat turun, dan tentu saja harimau yang marah itu cepat mencakar dengan kecepatan luar biasa. Namun dia hanya mencakar tempat kosong karena gerakan Soan Cu lebih cepat lagi. Dara ini telah meloncat ke dekat Sin Liong dan mengejek ke arah harimau dengan meruncingkan mulutnya dan mengeluarkan bunyi, “Hiii….! Hiiiiii…!!”

Sementara itu, beruang yang tadinya sudah dapat ditenangkan oleh Sin Liong dan diajak menyusul Soan Cu, timbul kembali kemarahannya setelah kini melihat harimau itu, bahkan lebih hebat dari-pada tadi. Pada saat Sin Liong lengah karena menegur gadis itu, tiba-tiba beruang itu melompat ke depan dan menggereng sambil memperlihatkan taringnya, memandang harimau dengan mata merah.

Harimau itu agaknya tidak merasa gentar menghadapi tantangan ini, dia pun menggereng dan menubruk. Akan tetapi beruang itu sudah siap. Ketika harimau itu menubruk dengan kedua kaki depan lebih dulu, dia menggerakkan kaki depan kanan yang amat kuat, memukul dari samping dan menangkis kedua kaki depan harimau. Karena tubuh harimau itu berada di udara, tentu saja dia kalah kuat dan tubuhnya terlempar ke bawah. Akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan siap untuk melanjutkan serangannya.

“Hushhh…! Beruang yang baik, jangan berkelahi!” Sin Liong sudah menangkap kaki depan beruangnya dan mengelus kepalanya, menenangkannya. Akan tetapi sekali ini agak sukar karena beruang itu marah sekali, meronta-ronta, apa lagi melihat harimau itu masih menggereng hendak menyerangnya.

“Ihh, kucing licik! Hayo mundur kau!” Soan Cu melangkah maju, menggerakkan cambuknya ke depan untuk menghalau harimau itu.

“Tar-tar-tarr….!!”

Sang harimau merasa jeri menghadapi cambuk Soan Cu, akan tetapi bukan berarti dia takut. Dia masih menggereng-gereng memperlihatkan taringnya, dan matanya merah bersinar-sinar.

“Hayo pergi! Kalau tidak akan kuhajar kau!” Soan Cu membentak.

“Siapa dia berani kurang ajar hendak mengganggu harimau kami?!” tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah banyak orang di tempat itu.

Serombongan orang yang berpakaian seragam telah bergerak mengurung tempat itu. Orang yang berseru tadi adalah seorang kakek tinggi besar yang brewok, pakaiannya ringkas, tubuhnya membayangkan tenaga yang kuat. Matanya lebar membayangkan kekerasan dan kejujuran, akan tetapi tarikan bibirnya membayangkan kekejaman.

Di sampingnya berjalan seorang gadis yang cantik sekali dengan pakaian yang mewah dan indah. Rambutnya ditekuk ke atas dan diikat dengan kain kepala dari sutera merah, dihias dengan bunga emas permata. Pakaian yang indah itu membungkus ketat tubuhnya sehingga membayangkan lekuk lengkung tubuhnya yang padat dan ramping, di pinggang yang kecil ramping itu melibat sehelai sabuk sutera merah. Telinganya terhias anting-anting batu kemala panjang berwarna hijau, menambah kemanisan wajahnya yang bentuknya mendaun sirih itu.

Sin Liong cepat menjura dengan hormat. “Harap Lo-cianpwe sudi memaafkan kami yang secara tidak sengaja memasuki daerah ini,” kata Sin Liong dengan halus sambil memegangi kaki depan beruangnya.

Kakek itu memandang tajam. Jawaban penuh kesopanan dan sepasang mata bersinar halus tanpa rasa takut sedikit pun itu mencengangkan hatinya. “Melanggar daerah ini masih bukan apa-apa, akan tetapi kalian berani mengganggu harimau peliharaanku. Apakah karena mempunyai beruang itu maka kalian menjadi sombong?”

“Kami tidak menggangu, Lo-cianpwe. Hanya karena harimau itu dan beruang kami akan berkelahi maka kami melerai dan mencegahnya.”

“Hemm… dua ekor binatang akan berkelahi, apa anehnya? Hanya kalau manusia sudah mencampurinya, maka manusia itu lebih rendah dari-pada binatang!”

“Eh, tahan tuh mulut!” Soan Cu membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah mulut kakek gagah itu. Dara ini tidak lagi dapat menahan kemarahan hatinya mendengar ucapan yang menghina tadi. “Kami melerai karena yakin bahwa kucing hutan busuk ini tentu akan mampus dirobek-robek oleh beruang kami. Engkau ini orang tua tidak berterima kasih, malah mengucapkan kata-kata menghina!”

Sepasang mata kakek itu besinar-sinar, bukan hanya marah akan tetapi juga kagum. Kakek ini memang orang aneh. Melihat keberanian orang, apa lagi seorang dara muda seperti Soan Cu yang pada saat itu muncul kembali sifat liarnya karena marah, dia kagum bukan main. Kakek ini adalah Siangkoan Houw yang terkenal dengan julukan Tee-tok (Racun Bumi)! Ia seorang gagah yang jujur dan bersikap terbuka, maka perangainya kasar sekali, dan kalau dia sudah marah, kejamnya melebihi harimau peliharaannya.

Tee-tok terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai seorang di antara tokoh-tokoh besar. Dia hidup di Puncak Awan Merah itu dengan tenteram bersama puteri tunggalnya, yaitu gadis cantik yang datang bersamanya dan yang sejak tadi diam saja. Tee-tok Siangkoan Houw sudah duda, dan hanya hidup berdua dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui.

Ada pun orang-orang lain yang berada di situ adalah para murid-muridnya yang juga menjadi anak buahnya, kurang lebih lima belas orang banyaknya. Salah satu di antaranya adalah seorang kakek yang usianya sebaya dengan dia dan rambutnya sudah putih semua. Kakek ini merupakan murid kepala dan telah memiliki kepandaian tinggi pula, namanya Thio Sam dan berjuluk Ang-in Mo-ko (Iblis Awan Merah).

“Bagus sekali!” kakek ini memuji. “Kalau begitu, mari kita adukan kedua binatang itu. Hendak kulihat apakah benar-benar beruangmu dapat mengalahkan harimauku?!”

“Boleh!” Soan Cu menjawab.

“Jangan! Soan Cu, tidak boleh begitu!” Sin Liong berseru, kemudian dia berkata kepada kakek itu, “Harap Lo-cianpwe suka memaafkan kami dan biarlah kami pergi dari sini sekarang juga. Bukan maksud kami untuk mengganggu siapa pun.”

“Kucing belang macam itu saja, biar ada lima akan diganyang oleh beruang kami!” Soan Cu masih marah- marah. “Kakek sombong mengandalkan harimaunya menakut-nakuti orang. Kalau aku tidak cepat datang, agaknya harimau itu sudah makan orang tadi! Dia memang perlu diberi hajaran!”

“Hayo kita adukan mereka!” Tee-tok berteriak-teriak dengan kumis bangkit saking marahnya. “Sebelum kedua binatang peliharaan kita saling diadu, jangan harap kalian akan dapat pergi dari sini!”

“Kami tidak takut!” Soan Cu menjerit lagi.

Mendengar ucapan kakek itu, Sin Liong menyesal bukan main. Kalau dia tidak membolehkan beruang diadu, tentu kakek itu bersama teman-temannya akan menghalangi dia dan Soan Cu pergi dan akibatnya pasti lebih hebat lagi. Maka dia menghela napas dan berkata, “Baiklah, mari kita lepaskan mereka dan melihat apakah mereka memang mau berkelahi. Kuharap saja setelah ini, kami diperbolehkan pergi.”

“Koko, lepaskan beruang kita, biar dia hancur-lumatkan kucing keparat itu.”

“Tar-tar-tarrr…!!” Soan Cu sudah membunyikan cambuknya di udara berkali-kali.

Sin Liong melepaskan beruangnya dan dia menghampiri Soan Cu, memegang lengannya dan berbisik, “Soan Cu, kau tenangkanlah hatimu, jangan marah-marah. Ingat, kita tidak mau melibatkan diri dalam permusuhan dengan siapa pun juga, bukan?”

Dipegang lengannya secara demikian halus oleh Sin Liong, seketika api yang bernyala dalam hati Soan Cu padam seperti tertimpa hujan, semangat dan tubuhnya lemas dan dia menunduk sambil menganggukan kepalanya. Dia seperti seekor harimau liar yang tiba-tiba menjadi jinak!

Sementara itu, setelah keduanya kini dilepas dan tidak ada yang menghalangi, dua ekor binatang itu mengeluarkan suara auman dan gerengan yang dahsyat dan menggetarkan. Mula-mula mereka saling pandang dan masing-masing hendak menggetarkan lawan dengan kekuatan suara, kemudian harimau yang ganas itulah yang mulai menerjang maju!

Dengan berdiri di atas kedua kaki belakangnya, harimau itu menubruk dan menerkam. Akan tetapi dengan gerakannya yang agak lamban dan tenang, namun kuat dan tetap sekali, beruang menangkis terkaman itu. Beruang lalu balas mencengkeram dengan kuku jari kakinya yang biar pun tidak seruncing kuku harimau, namun tidak kalah kuatnya. Segera harimau terguling-guling akibat terkena tamparan beruang yang amat kuat itu!

Sepasang mata Soan Cu bersinar-sinar girang, akan tetapi dara ini tidak berani berkutik di dekat Sin Liong. Ingin hatinya bersorak dan mulutnya mengeluarkan kata-kata mengejek melihat betapa harimau itu terguling-guling, namun dia merasa segan terhadap Sin Liong.

Harimau itu meloncat lagi dan menerkam makin dahsyat. Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat ditengah-tengah suara gerengan yang menggetarkan seluruh bukit. Pada saat itulah koki warung yang menemani sudara misannya mengantar kayu bakar mendapat kesempatan menonton harimau bertanding melawan beruang, akan tetapi karena merasa ngeri dan takut, dia cepat meninggalkan tempat itu dan berlari turun lagi.

Perkelahian yang dahsyat, seru dan mati-matian. Beruang itu sudah menderita banyak luka di tubuhnya akibat cakaran dan gigitan harimau. Akan tetapi akhirnya dia berhasil mencengkeram kepala harimau, menindihnya dan menggigit leher harimau sampai robek, terus luka di leher itu dirobeknya sampai ke perut! Tentu saja harimau itu berkelojotan dan mati tak lama kemudian.

“Heiii…!” Soan Cu berteriak, namun terlambat.

Selarik sinar hitam menyambar ke arah leher beruang. Pada detik itu pula binatang ini mengeluarkan pekik mengerikan, lalu roboh dan tak bergerak lagi, mati di atas bangkai harimau yang tadi menjadi lawannya.

“Kau membunuh beruang kami!” Soan Cu melompat dan menuding dengan marah kepada kakek yang tadi menyerang beruang dengan Hek-tok-ting (Paku Hitam Beracun).

“Dia pun membunuh harimau kami!” Tee-tok menjawab dengan mata mendelik saking marahnya.

“Manusia curang kau!” Soan Cu sudah menerjang maju dan cambuknya mengeluarkan suara meledak- ledak di udara.

“Tar-tar-cring-tranggggg….!!” bunga api berpijar ketika cambuk itu tertangkis oleh sepasang pedang yang bersinar hitam, itulah pedang Ban-tok-siang-kiam (Sepasang Pedang Selaksa Racun) yang ampuh dari Tee-tok.

Akan tetapi bukan main kagetnya Tee-tok ketika tadi pedangnya menangkis cambuk duri. Dia merasakan lengannya tergetar, tanda bahwa dara muda itu memiliki sinkang yang amat kuat.

“Heii, jangan bertempur….!” Sin Liong cepat menegur.

Akan tetapi sekali ini Soan Cu pura-pura tidak menengarnya, apa lagi kakek itu pun sudah marah dan sudah membalas serangannya dengan sepasang pedangnya. Terjadi pertempuran hebat sekali antara gadis itu dan Tee-tok.

Melihat gerakan sepasang pedang itu lihai bukan main dan ada hawa yang kuat menyambar dari lawannya, Soan Cu tidak berani memandang ringan, dan tangan kanannya sudah mencabut pedangnya. Pedang di tangan gadis ini adalah pemberian kakeknya, ketua Pulau Neraka dan seperti juga cambuknya, pedang ini aneh dan ampuh sekali. Bentuk pedang itu juga berduri seperti cambuknya dan namanya pun Coa-kut-kiam (Pedang Tulang Ular), terbuat dari-pada tulang ular beracun yang telah dikeraskan dan diperkuat dalam rendaman tetumbuhan beracun sehingga keras seperti baja.

Sedangkan cambuknya itu pun bukan cambuk biasa karena terbuat dari ekor ikan hiu yang istimewa dan hanya terdapat di pantai Pulau Neraka. Seperti juga pedangnya, cambuk itu pun mengandung bisa yang tidak dapat diobati, kecuali oleh dia sendiri yang selalu membawa obat penolaknya!

Sin Liong sudah mengenal kakek itu ketika muncul tadi, tapi dia memang tadinya tidak mau memperlihatkan bahwa dia telah mengenalnya. Tentu saja dia mengenal kakek yang dahulu pernah pula membujuknya untuk ikut dan menjadi muridnya, ketika para tokoh kang-ouw datang memperebutkan dia di lereng pegunungan Jeng-hoa-san. Kini, melihat betapa Soan Cu sudah bertanding mati-matian melawan kakek itu, dia menjadi khawatir sekali. Cepat dia berkata, “Lo-cianpwe, seorang tokoh besar yang berjuluk Tee-tok dan disegani di seluruh dunia Kang-ouw, benar-benar mengecewakan dan merendahkan nama besarnya kalau sekarang melayani bertanding melawan seorang dara remaja!”

Mendengar ucapan itu, Tee-tok menjadi merah mukannya. Dia menangkis pedang Soan Cu sekuat tenaga sampai pedang itu hampir terlepas dari tangan Soan Cu, lalu melompat mudur dan menghadapi Sin Liong. “Hemm, orang muda! Kau sudah mengenal aku, kalau begitu majulah kau menggantikan gadis itu!”

Sin Liong menjura. “Bukan maksudku dengan kata-kata itu menantangmu, Lo-cianpwe. Saya hanya hendak mengatakan bahwa kami berdua sama sekali bukan datang untuk bertanding.”

“Tapi kalian datang dan mengakibatkan harimau peliharaan kami mati. Kalau kalian tidak datang mengacau, mana biasa harimau kami mati?”

“Dia mampus karena kalah dalam pertandingan yang adil!” Soan Cu membentak, akan tetapi menjadi tenang kembali karena Sin Liong mendekatinya dan minta gadis itu menyimpan pedang dan cambuknya kembali.

“Siangkoan Lo-cianpwe, memang kami akui bahwa harimau peliharaan Lo-cianpwe mati karena beruang kami, akan tetapi Lo-cianpwe telah membalas kematian itu dengan membunuh beruang kami. Bukankah itu artinya sudah lunas?”

“Tidak!” Tee-tok yang masih marah itu membentak. “Biar pun beruangnya sudah mati, akan tetapi pemiliknya belum dihukum!”

Soan Cu tak dapat lagi menahan kemarahannya. “Dihukum apa? Kau hendak membunuh kami?”

“Tak perlu dibunuh! Pelanggaran ke dalam daerah ini sudah merupakan kesalahan, dan matinya harimau tidak cukup ditebus dengan kematian beruang. Pemiliknya harus dihukum rangket seratus kali, baru adil!”

“Keparat!”

“Soan Cu!” Sin Liong berkata dan memegang lengan dara itu sehingga Soan Cu menelan kembali kata- katanya. “Soan Cu, aku mita kepadamu agar kau sekarang juga meninggalkan tempat ini. Biarkan aku yang berurusan dengan Siangkoan Lo-cianpwe. Kau turunlah dan kau tunggu aku di dusun itu. Mengerti?”

Soan Cu mengerutkan alisnya dan matanya memandang ragu. Akan tetapi melihat sinar mata Sin Liong yang tegas dan halus itu, dia tidak dapat menolak dan akhirnya kepalanya mengangguk.

“Berangkatlah, dan tunggu aku di sana.” Sin Liong berkata lagi sambil tersenyum.

Soan Cu membanting kakinya, lalu melotot ke arah Siangkoan Houw. Setelah itu baru dia meloncat pergi, meninggalkan isak tertahan.

Semua orang memandang dengan kagum akan keberanian dara itu, yang sekali meloncat lenyap dari situ. Akan tetapi terutama sekali mereka kagum kepada Sin Liong yang bersikap demikian tenang dan halus, namun memiliki wibawa demikian besarnya sehingga gadis liar seperti itu menjadi demikian jinak dan taat.

Setelah Soan Cu pergi jauh dan tidak tampak lagi bayangannya, Sin Liong lalu menyodorkan kedua lengannya. Sambil tersenyum tenang dia berkata, “Nah, Lo-cianpwe. Tidak ada yang perlu diributkan lagi. Aku sudah mengaku bersalah telah memasuki tempat ini dan menimbulkan keributan. Biarlah aku menerima hukuman rangket seratus kali agar hatimu puas.”

Sikap yang tenang dan halus ini diterima keliru oleh Siangkoan Houw. Matanya terbelalak lebar dan dia menganggap pemuda itu menantangnya, menantang ancaman hukumannya.

“Belenggu kedua lengannya!” bentaknya kepada para muridnya.

Empat orang muridnya menyerbu dan Sin Liong hanya tersenyum saja ketika bajunya dibuka, kedua pergelangan lengannya diikat dengan tali yang diikatkan pula pada cabang pohon sehingga tubuhnya setengah tergantung.

“Ayah…!” tiba-tiba dara cantik jelita yang sejak tadi hanya menonton dan selalu memandang ke arah Sin Liong penuh kagum, berkata kepada Tee-tok, “Apakah tidak berlebihan perbuatan kita ini? Harap Ayah berpikir lagi dengan matang sebelum melakukan suatu kesalahan.”

“Dipikir apa lagi? Kita telah dihina orang. Kalau tidak memperlihatkan kekuatan, bukankah akan menjadi bahan tetawaan orang sedunia?”

Mendengar kata-kata orang tua itu, Siangkoan Hui, gadis itu, menunduk dan melirik ke arah Sin Liong yang telah siap menerima hukuman.

“Terima kasih atas kebaikan hatimu, Nona. Akan tetapi biarlah, aku sudah siap menghadapi hukuman. Dengan begini, habislah segala urusan dan Ayahmu takkan marah lagi.”

“Diam kau!” Tee-tok membentak, kemudian menuding kepada seorang muridnya yang bertubuh tinggi besar. “Ambil cambuk dan rangket dia seratus kali!”

Murid itu berlari pergi dan tak lama kemudian sudah datang kembali membawa sebatang cambuk hitam yang besar dan panjang. Setelah menerima isyarat gurunya, murid tinggi besar ini mengayun cambuknya. Terdengar suara meledak-ledak dan cambuk itu menyambar ke bawah, melecut tubuh atas Sin Liong yang telanjang itu.

“Tar…! Tar…! Tarrr…!”

Semua orang terbelalak memandang penuh heran. Cambuk itu menyambar bertubi-tubi, melecuti tubuh itu, mukanya, lehernya, lengannya, dada, dan punggungnya, namun sama sekali tidak membekas pada kulit halus putih itu! Hanya dahi pemuda itu yang berkeringat, akan tetapi dahi si pemegang cambuk lebih banyak lagi peluhnya! Sampai seratus kali cambuk itu menyambar tubuh Sin Liong dan ujungnya sudah pecah-pecah. Namun jangankan sampai ada darah yang menetes dari kulit tubuh Sin Liong, bahkan tampak merah saja tidak ada, seolah-olah cambuk itu bukan melecut kulit pembungkus daging, melainkan melecut baja saja!

Setelah menghitung sampai seratus kali, Si Algojo itu jatuh terduduk, napasnya terengah-engah dan dia menggosok-gosok telapak tangan kanannya yang terasa panas dan lecet-lecet. Mukanya pucat dan matanya terbelalak penuh keheranan dan kengerian. Semua anak buah atau murid Tee-tok terbelalak dan pucat.

Akan tetapi muka Tee-tok sendiri menjadi merah sekali. Tahulah dia bahwa pemuda itu adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tadi telah menggunakan sinkang-nya sehingga tubuhnya kebal, tentu saja lecutan cambuk itu tidak membekas! Hal ini menambah kemarahan hatinya. Dia merasa dihina dan ditantang. Dengan kemarahan meluap dia menyambar senjata aneh, yaitu tanduk rusa yang kering itu.

Tanduk rusa itu bukanlah sebuah senjata sembarangan. Tee-tok merupakan seorang ahli racun. Dia telah menemukan tanduk rusa ini yang mempunyai daya ampuh untuk melawan kekebalan. Tanduk ini mengandung racun yang tak dapat ditahan oleh kekebalan yang bagaimana kuat pun. Kini dalam kemarahannya dia hendak menghajar pemuda ini dengan tanduk rusa ini!

Pada saat itulah Swat Hong datang dan mengintai dengan mata terbelalak keheranan. Seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah tegang dan dia sudah hampir meloncat ke luar untuk menolong suheng-nya. Namun tiba-tiba dia melihat seorang gadis datang berlari dan berlutut di depan kakek yang memegang senjata tanduk rusa itu. Melihat ini, Swat Hong menahan diri dan terus mengintai.

“Ayah, jangan… jangan pukul dia dengan ini…!”

“Hui-ji (Anak Hui), mundurlah kau! Dia telah menghina kita, memperlihatkan dan memamerkan kekebalannya! Hemm, hendak kulihat sampai di mana kekebalannya kalau dia merasai pukulanku dengan ini!” dia mengamangkan senjata aneh itu.

“Jangan, Ayah! Jangan…! Aku akan melindunginya kalau Ayah memaksa! Ayah bersalah, dia… dia orang gagah yang budiman, luar biasa…. Mengapa Ayah tak bisa melihat orang…?”

Siangkoan Houw menundukkan mukanya. Ia melihat wajah puterinya yang pucat, mata yang sayu dan tampak dua titik air mata di pipi puterinya. Dia terkejut dan terheran-heran, kemudian marah sekali. Puterinya telah jatuh cinta kepada pemuda itu!

“Hemm…” suaranya penuh geram. “Lupakah kau kepada putera Lu-san Lojin…?!”

“Ayahhh…!” Siangkoan Hui berseru dan menangis terisak sambil memeluk kedua kaki ayahnya.

Betapa pun bengisnya, Tee-tok yang hanya mempunyai seorang anak itu, tentu saja merasa tidak tega kepada anaknya. Hatinya mencair ketika dia melihat puterinya menangis sambil memeluk kedua kakinya. Dia menghela napas panjang. Pandang matanya yang ditujukan kepada Sin Liong kini kehilangan kekejaman dan kemarahannya, hanya terheran dan ragu-ragu. Puterinya mencintai pemuda ini?

“Hemm…., seorang pemuda yang amat tampan,” pikirnya.

Harus diakuinya bahwa biar pun pemuda itu kelihatan halus seperti seorang lemah, namun pemuda itu gagah perkasa, penuh ketenangan dan keberanian. Dan kekebalannya itu pun membuktikan bahwa

pemuda ini bukan orang sembarangan. Dia belum melihat putera Lu-san Lojin, entah bagaimana setelah dewasa sekarang. Apakah sebaik pemuda ini?

“Hai, orang muda. Siapakah namamu?”

Sin Liong memandang kepada kakek itu dan menjawab halus, “Nama saya Kwa Sin Liong, Lo-cianpwe.” “Bagaimana engkau bisa mengenal aku?”
“Siapa yang tidak mengenal Lo-cianpwe yang terkenal di dunia kang-ouw? Lo-cianpwe adalah Tee-tok Siangkoan Houw yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, dan saya pernah bertemu dengan Lo-cianpwe….” tiba-tiba Sin Liong berhenti bicara karena baru dia teringat bahwa sebenarnya tidak ada perlunya menyebut-nyebut hal itu.

“Bertemu? Di mana?”

Karena sudah terlanjur bicara, Sin Liong merasa tidak enak untuk membohong lagi. Maka dia berkata, “Di lereng Jeng-hoa-san. Bahkan Lo-cianpwe pernah membujuk saya menjadi murid….”

“Astaga…! Engkaukah ini? Engkaukah anak ajaib? Engkau Sin-tong…?” Tee-tok berseru dan cepat melangkah maju. “Benar, engkaulah Sin-tong! Aihh…. maafkan kami. Di antara kita telah timbul salah pengertian besar!”

Dia cepat meloncat dan merenggut lepas tali yang mengikat kedua lengan Sin Liong, bahkan cepat meneriaki muridnya untuk menyerahkan kembali baju Sin Liong.

Sin Liong tersenyum. “Tidak mengapa, Lo-cianpwe. Memang saya mengaku salah, telah menimbulkan keributan dan mengakibatkan kematian harimaumu.”

“Aihh… hei, matamu tajam sekali, Hui-ji! Engkau benar! Dia anak baik, bukan hanya baik saja. Aduh, betapa dahulu aku mati-matian memperebutkan anak ini! Hui-ji, dia Sin-tong! Betapa girangku dia tiba-tiba muncul di sini!”

Dengan girang Tee-tok menggandeng lengan Sin Liong dan menariknya. “Hayo masuk ke rumah kami, kita bicara!”

“Tapi, Lo-cianpwe. Saya ingin melanjutkan….”

“Nanti dulu, kita bicara! Sejak engkau dibawa oleh… eh, di mana dia sekarang…?” kakek itu menengok kekanan-kiri, seolah-olah merasa ngeri karena dia teringat akan Pangeran Han Ti Ong yang sakti. Siapa tahu pangeran yang luar biasa itu tahu-tahu muncul pula di situ.

“Lo-cianpwe maksudkan Suhu? Saya hanya datang berdua dengan adik Soan Cu.” “Mari kita bicara. Ah, pertemuan ini sungguh menggirangkan hati!”
Melihat sikap kakek itu begitu gembira, Sin Liong tidak tega untuk menolak terus. Urusan telah selesai dengan baik, dan Soan Cu tentu sedang menanti di dusun di kaki bukit. Terlambat sedikit pun tidak mengapa dari-pada memaksa menolak dan menimbulkan kemarahan kakek yang berangasan ini.

Siangkoan Hui memandang kepada Sin Liong dengan sepasang mata bersinar-sinar penuh kekaguman. Ketika ayahnya menggandeng pemuda itu dengan tangan kanan, kemudian tangan kiri ayahnya menggandeng dirinya, dia pun tersenyum dan meronta melepaskan diri karena malu, kemudian berlari-lari kecil meninggalkan mereka.

“Ha-ha-ha! Hui-ji… ha-ha-ha-ha! Engkau benar. Dia ini seorang pemuda pilihan, seorang pemuda hebat!” Dengan penuh kegembiraan Tee-tok menjamu Sin Liong.
“Siapakah Nona yang lihai dan berani itu?”

“Dia adalah Ouw Soan Cu, seorang sahabat baik saya, Lo-cianpwe. Dia sedang mencari ayahnya dan saya membantunya.”

“Mana dia? Karena dia sahabatmu, dia pun sahabat kami. Biar aku menyuruh orang mengundangnya.” “Tidak usah, Lo-cianpwe. Wataknya aneh dan keras, jangan-jangan malah menimbulkan salah paham.”
“Ha-ha-ha, aku suka kepadanya! Sejak pertemuan pertama aku kagum kepada anak itu! Keras, aneh dan berani! Hebat dia! Aihh, Sin-tong….”

“Lo-cianpwe, nama saya Kwa Sin Liong.”

“Tidak apa, aku tetap menyebutmu Sin-tong. Engkau memang anak ajaib, luar biasa sekali. Apakah engkau telah menjadi murid pangeran Han Ti Ong?”

Sin Liong mengangguk dan merasa agak gugup. “Benar, akan tetapi saya dilarang untuk bicara tentang Suhu….”

“Ha-ha-ha, aku tahu. Dia bukan manusia biasa! Aku girang sekali bertemu dengan muridnya, apa lagi muridnya adalah engkau, Sin-tong! Ahhh… kegirangan yang bercampur dengan kekecewaan sebesar gunung!”

Tiba-tiba kakek itu meremas cawan araknya. Cawan arak yang terbuat dari-pada perak itu seperti tanah lihat saja, di dalam kepalannya berubah menjadi perak yang pletat- pletot, lenyap bentuk cawannya.

Sin Liong terkejut, namun tidak berani bertanya.

Kakek itu melempar cawan yang sudah tidak karuan itu ke bawah meja dan berteriak kepada muridnya minta diberi sebuah cawan baru. Kemudian dia berkata, “Siapa tidak kecewa? Anakku hanya seorang, perempuan lagi. Celakanya, dia sudah ditunangkan sejak kecil!” kakek ini memang selalu bicara keras, kasar dan jujur, tak pernah mau menyembunyikan sesuatu!

Sin Liong menjadi makin terheran. “Telah ditunangkan sejak kecil adalah baik sekali, mengapa celaka, Lo- cianpwe?”

“Kalau ditunangkan dengan engkau, tentu saja baik sekali! Akan tetapi bukan denganmu, dengan orang lain yang tak kunjung datang! Dan karena telah ditunangkan itu, mana mungkin aku dapat mengambil engkau sebagai mantuku? Padahal aku tahu, Hui-ji suka padamu, dia jatuh cinta padamu. Ha-ha, anak pintar itu, matanya tajam sekali.”

Tentu saja Sin Liong menjadi terkejut dan malu. Ia menunduk dan tidak berani bicara lagi. “Engkau tentu belum bertunangan, bukan?”
Sin Liong hanya menggeleng kepalanya.

“Kalau begitu, mudah saja ! Engkau menjadi mantuku, menikah saja dengan Hui-ji…”

“Lo-cianpwe, ingatlah bahwa Siocia telah bertunangan. Ada pun aku… aku sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk menikah.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Engkau betul, memang tidak patut kalau diputuskan begitu saja dari satu pihak. Aihhh, Lu-san Lojin. Engkau tua bangka sekali ini benar-benar membuat hatiku kesal! Baru- baru ini aku telah pergi ke sana dan dia bersama puteranya itu, juga bersama seorang puterinya, menurut penuturan penduduk di sekitar Lu-san, telah pergi entah ke mana! Aihh, betapa kesal hatiku….”

“Harap Lo-cianpwe menenangkan pikiran. Mungkin mereka sedang mencari Lo-cianpwe. Kalau sudah jodoh, tentu kelak akan dipertemukan.”

Kembali kakek itu mengangguk-angguk. Memang dia tertarik dan terkejut sekali setelah mendengar bahwa pemuda yang tadinya akan dibunuhnya itu ternyata adalah Sin-tong, yang dahulu dibawa oleh Pangeran Han Ti Ong tokoh Pulau Es. Bukan hanya untuk mencoba menarik pemuda itu menjadi mantunya, akan tetapi juga untuk keperluan lain yang amat penting. Dia masih ragu-ragu untuk membicarakan urusan ini, maka dia menanti kesempatan baik dan hendak menjajaki lebih dulu, di fihak manakah pemuda ini berdiri.

Sementara itu, Siangkoan Hui merasa malu sekali. Dia sudah mengenal baik watak ayahnya yang kasar dan jujur. Tentu kalau dia ikut masuk ke dalam rumah menemui pemuda itu, ayahnya akan bicara yang bukan-bukan tanpa tedeng aling-aling lagi! Dia merasa malu dan… girang bukan main. Tak dapat ia menipu hatinya sendiri. Dia memang telah jatuh cinta kepada pemuda itu!

Pemuda yang amat luar biasa, bukan hanya tampan dan gagah, namun memiliki watak yang amat hebat. Belum pernah dia bertemu dengan pemuda segagah itu, begitu halus, begitu budiman, begitu tabah dan mengalah, akan tetapi juga amat lihai sehingga seratus kali rangketan itu tidak membekas sama sekali di kulit tubuhnya yang putih halus dan padat membayangkan tenaga yang luar biasa! Dia sudah jatuh cinta! Dan ayahnya sudah mengetahui akan hal ini. Tentu ayahnya akan bicara terang-terangan kepada pemuda itu. Akan tetapi, bagaimana dengan tunangannya?

Teringat akan ini, tiba-tiba Siangkoan Hui menjadi lemas. Dia duduk bersandar pohon dan termenung, menanggalkan sabuk sutera merah yang melibat pinggangnya. Kiranya sabuk itu hanya sabuk tambahan dan dapat dipergunakan sebagai sapu-tangan, karena di pinggang itu telah terdapat sabuk lain yang berwarna kuning. Sambil menggigit-gigit ujung sabuk sutera merah, Siangkoan Hui termenung, mukanya sebentar pucat sebentar merah, tanda bahwa hatinya kacau tidak karuan oleh jalan pikirannya.

Dara ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada bayangan yang mengikutinya, bayangan seorang gadis lain yang memandangnya dengan sinar mata berapi-api penuh kemarahan! Gadis ini bukan lain adalah Han Swat Hong! Tadinya Swat Hong mengintai dan hampir saja dia melompat ke luar untuk menolong suheng-nya. Akan tetapi kemunculan Siangkoan Hui yang melarang ayahnya menggunakan tanduk rusa memukul Sin Liong, membuat dia membatalkan niatnya menolong Sin Liong. Apa lagi melihat betapa usaha pertolongan dara cantik puteri kakek berangasan itu berhasil!

Hatinya terasa panas sekali, seperti dibakar dan serta merta dia merasa benci kepada Siangkoan Hui! Kebencian yang membuat dia diam-diam mengikuti dara itu dengan niat untuk membunuhnya! Swat Hong sendiri tidak mengerti mengapa dia selalu marah dan tidak senang kalau melihat ada gadis memperlihatkan sikap baik dan mencinta kepada Sin Liong. Dia sendiri tidak tahu bahwa hatinya diamuk cemburu! Melihat Siangkoan Hui yang dibayanginya itu duduk seorang diri di tempat sunyi itu, menggigit ujung sabuk merah dengan wajah sebentar pucat sebentar merah, melamun dan kadang-kadang tersenyum manis, Swat Hong merasa perutnya seperti dibakar!

“Perempuan tak tahu malu!” bentaknya

Dia sudah melompat ke luar, mencabut pedangnya dan menyilangkan pedang itu di tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri, memasang kuda-kuda dan kembali membentak, “Bersiaplah untuk mampus di tangan Nonamu!”

Siangkoan Hui adalah seorang gadis yang sejak kecil digembleng ilmu silat tinggi oleh ayahnya, maka begitu melihat bayangan berkelebat tadi, dia sudah meloncat bangun. Kini melihat bahwa yang muncul dan datang-datang memakinya itu adalah seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya, dia melongo. “Eh-eh, apakah kau ini orang gila?”

Tentu saja pertanyaan ini membuat Swat Hong menjadi makin marah. Kedua pipinya merah seperti udang direbus dan sepasang matanya yang jeli itu mengeluarkan sinar berapi-api. Sukar dikatakan siapa di antara kedua orang dara itu yang lebih menarik. Keduanya sama muda, sama cantik jelita dan pada saat itu sama marahnya!

“Kau… kau… perempuan rendah! Perempuan macam engkau berani jatuh cinta kepada Suheng-ku?!” Swat Hong memaki.

Siangkoan Hui terkejut sekali, akan tetapi perutnya juga sudah panas dibakar kemarahan mendengar dirinya dimaki-maki orang. “Apa? Kau ini mengaku Sumoi-nya? Sungguh tidak patut! Seekor naga mana bisa mempunyai Sumoi seekor cacing?”

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo