July 31, 2017

Bu Kek Sian Su (Part 10)

 

“Keparat, mampuslah!” tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Han Bu Ong terpelanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu kuat sinkang-nya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan khikang yang amat kuat ini, sudah pasti akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh. Lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan Ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat.

The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah mati! Dan memang usahanya ini berhasil.

Keringat dingin membasahi muka Pat-jiu Kai-ong dan tahulah kakek ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, mengerahkan sinkang, lalu tiba-tiba dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoatsut ini. Dia sudah mendengar dari suaminya akan ilmu mukjijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang rendah. Bahkan dia amat terkejut ketika menyaksikan cahaya merah menyambar ke luar, merasakan getaran mukjijat dan mencium bau amis darah yang memuakkan. Cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur ke luar dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

“Dess!” benturan dua tenaga mukjijat bertemu dan tubuh kedua orang itu tergetar hebat!

Kiranya tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam benturan tenaga ini Pat- jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan mereka.

Tiba-tiba ujung lengan baju kiri The Kwat Lin menyambar ke arah ubun-ubun kepala kakek itu yang menjadi terkejut sekali dan menangkis dengan tongkatnya. Ujung lengan baju melibat dan tangan The Kwat Lin menyambar ke depan dari dalam lengan baju itu untuk menangkap tongkat. Pat-jiu Kai-ong cepat menghantamkan tangan kirinya lagi dengan tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sekuatnya, mengarah kepala lawan. Namun hal ini sudah diperhitungkan oleh wanita itu yang cepat sekali menarik tongkat yang dicengkeramnya untuk menangkis.

“Krekkkk!” tongkat Raja Pengemis itu hancur terkena pukulannya sendiri.

Selagi dia terkejut bukan main, tahu-tahu ujung lengan baju kanan wanita itu sudah menyambar ke arah matanya! Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata, melainkan menyeleweng ke bawah dan menotok lehernya.

“Auggghh…!” Kalau orang lain terkena totokan yang tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh dan tewas. Akan tetapi tubuh Pat-jiu Kai-ong sudah kebal, maka totokan yang kuat itu hanya membuat ia terhuyung ke belakang.

Melihat ini The Kwat Lin tertawa terkekeh. Kembali kedua tangannya bergerak dengan cepat sekali dan biar pun Raja Pengemis itu sudah berusaha mati-matian membela diri, namun karena totokan pertama membuat pandangan matanya berkunang sehingga gerakannya menjadi kurang cepat. Dua kali totokan lagi dan sebuah tamparan dengan tiga jari tangan yang tepat mengenai punggungnya membuat dia roboh pingsan!

Ketika dia siuman. Pat-jiu Kai-ong mendapatkan dirinya sudah rebah terlentang di atas lantai dan tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Selain tertotok jalan darah yang membuatnya menjadi lumpuh, juga urat gagu di lehernya telah ditotok. Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan nyawanya berada di tangan lawan. Dia pun maklum bahwa wanita ini tidak akan mungkin mengampuni kesalahannya. Maka dia hanya memejamkan mata menanti datangnya kematian.

“Bret-bret-brettt…!”

“Hi-hi-hik! Lihatlah, Bu Ong. Lihat binatang ini!”

Pat-jiu Kai-ong memaki dalam hatinya. Apa maunya perempuan ini? Seluruh pakaiannya direnggut lepas semua sehingga dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat sama sekali! Karena ingin tahu, bukan karena jeri sebab seorang datuk macam Pat-jiu Kai-ong juga tidak mengenal takut, dia menggerakkan pelupuk mata dan mengintai dari balik bulu matanya. Dia melihat anak laki-laki itu turun dari kursinya, memandanginya dan tertawa.

“Heh-heh, ibu,dia lucu sekali! Lucu dan amat buruk… eh, menjijikkan!”

The Kwat Lin tertawa-tawa. Sekali ujung lengan bajunya bergerak menyambar ke arah leher Pat-jiu Kai- ong, kakek ini terbebas dari totokan urat gagunya dan dapat mengeluarkan suara.

“Perempuan hina, mau bunuh lekas bunuh! Aku tidak takut mati!” teriaknya marah.

“Hi-hik, enak saja! Ingatkah kau betapa aku dahulu pun minta-minta mati kepadamu? Tidak, engkau harus mengalami siksaan, mati sekerat demi sekerat! Bu Ong, dia inilah yang membunuh dua belas orang Supek-mu secara kejam. Maukah kau membalaskan sakit hati dan kematian para Supek-mu?”

“Tentu saja! Akan kubunuh anjing tua ini!” Bu Ong sudah melangkah maju dan anak ini memandang dengan muka bengis.

“Nanti dulu, Bu Ong. Terlampau enak baginya kalau dibunuh begitu saja. Tidak, untuk setiap orang dari Suheng-ku, dia harus menderita satu macam siksaan. Jari tangannya. Hi-hik, jari-jari tangannya berjumlah sepuluh, itu untuk sepuluh orang Suheng! Dan dua buah daun telinganya itu untuk kedua Suheng yang lain.”

The Kwat Lin mencabut pedangnya, menyerahkan kepada puteranya sambil tertawa-tawa, kemudian dia mengerahkan khikang-nya, ‘mengirim suara’ dengan ilmunya yang tinggi ini sehingga suaranya hanya terdengar oleh Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi sama sekali tidak terdengar oleh anaknya.

“Pat-jiu Kai-ong, tahukah kau siapa bocah ini? Dia ini adalah puteramu! Keturunanmu! Hasil kotor dari perkosaanmu atas diriku. Nah, sekarang kau lihatlah anakmu, darah dagingmu sendiri yang akan menyiksa dirimu!”

Sepasang mata Pat-jiu Kai-ong terbelalak lebar, mukanya pucat sekali. Puluhan tahun dia ingin sekali memperoleh keturunan, terutama seorang putera, akan tetapi Biar pun dia sudah berganti-ganti selir sampai ratusan kali, tetap saja para selir itu tidak pernah memperoleh keturunannya. Sekarang secara tidak sengaja dia telah memperoleh seorang putera! Dan puteranya itu dengan pedang di tangan menghampirinya, siap untuk menyiksanya!

Tadi dia terheran melihat betapa bekas anggota Cap-sha Sin-hiap, murid Bu-tong-pai yang terkenal gagah itu menjadi begitu keji, mengajar putera sendiri melakukan kekejaman. Kiranya wanita itu memang sengaja hendak menyiksanya dengan menggunakan tangan keturunannya sendiri! Kiranya wanita itu juga membenci anak itu seperti juga membencinya, maka sengaja membiarkan anak itu menyiksa dan membunuh ayah sendiri!

“Anak… jangan… dengarkanlah….”

“Pratttt…!” Pat-jiu Kai-ong tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang tadinya hendak mmperingatkan anak laki-laki itu karena urat gagunya di leher telah ditotok oleh lengan baju The Kwat Lin.

Bekas Ratu Pulau Es itu terkekeh menyeringai. “Pat-jiu Kai-ong, begini pengecutkah engkau? Haiii… di mana kegagahanmu sebagai seorang datuk? Lihatlah baik-baik dan nikmatilah siksaan anak ini! Bu Ong, pergunakan pedang itu. Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk Twa-supek dan Ji-supek-mu!”

“Baik, Ibu!” Bu Ong lalu melangkah maju.

Ternyata anak itu sudah pandai menggunakan pedang. Dua kali pedang itu berkelebat, buntunglah kedua daun telinga Pat-jiu Kai-ong ! Dapat dibayangkan betapa nyeri, perih dan pedih rasa badan dan hati kakek itu. Air matanya meloncat ke luar membasahi pipinya!

“Ha-ha, Ibu! Lihat, dia menangis!” anak itu bersorak dan mengambil dua buah daun telinga itu. “He-he, seperti telinga babi!”

Memang Pat-jiu Kai-ong menangis! Akan tetapi bukan menangis karena rasa nyeri dan pedih karena kedua daun telinganya buntung, melainkan nyeri di hati yang lebih hebat lagi melihat betapa anaknya sendiri yang sejak puluhan tahun yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang melihat penderitaannya! Dia tidak takut mati, tidak takut sakit, akan tetapi melihat betapa dia menghadapi siksaan dan kematian di tangan anaknya sendiri, benar-benar merupakan tekanan batin yang hampir tak kuat dia menanggungnya.

“Teruskan, Bu Ong. Masih ada sepuluh orang Supek-mu yang belum dibalaskan sakit hatinya. Jari-jari tangannya yang sepuluh itu! Perlahan-lahan saja, satu demi satu buntungkan!”

Mulailah penyiksaan yang amat mengerikan itu dilakukan oleh Bu-ong. Anak ini seolah-olah telah menjadi gila. Dengan tertawa-tawa dia membuntungi semua jari tangan kakek itu satu demi satu dan setiap buntung sebuah jari, dia bersorak kegirangan.

Memang sejak dapat mengerti omongan, anak ini dijejali dendam oleh ibunya, dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong. Diceritakan betapa Pat-jiu Kai-ong telah membunuh dua belas orang suheng-nya dan betapa Raja Pengemis itu menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu. Maka kini anak itu sama sekali tidak menaruh rasa kasihan, bahkan hatinya puas sekali dapat menyiksa kakek itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Pat-jiu Kai-ong. Namun dia tidak menyesali nasibnya. Dia maklum bahwa dirinya pun telah melakukan perbuatan sewenang-wenang atas diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak. Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran, yaitu melihat betapa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Dia menangis melihat darah dagingnya sendiri itu, yang baru berusia sepuluh tahun, telah menjadi seorang iblis cilik yang demikian kejam!

Kini The Kwat Lin membebaskan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh. Begitu kaki tangannya dapat bergerak, Pat-jiu Kai-ong meloncat dan menerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua tangan yang sudah tak berjari lagi itu, yang berlumuran darah. Niat hatinya untuk membunuh saja anaknya itu agar kelak tidak dijadikan iblis cilik oleh ibu yang membencinya. Akan tetapi sebuah tendangan dari samping yang dilakukan oleh The Kwat Lin membuat dia terguling lagi. Rasa nyeri pada kedua ujung tangannya membuat kakek itu menggeliat-geliat.

“Mundurlah, Bu-ong. Lihat sekarang Ibumu yang akan turun tangan. Aku akan membalas sendiri perbuatannya kepadaku dahulu!”

The Kwat Lin menghampiri musuhnya dengan pedang di tangan. “Pat-jiu Kai-ong, ingatlah engkau akan peristiwa dahulu itu? Bayangkanlah, hi-hik. Bayangkanlah betapa nikmatnya bagimu dan betapa tersiksa dan sengsaranya bagiku. Sekarang aku yang menikmati dan kau yang menderita. Sudah adil bukan? Nah, terimalah ini… ini… ini…!”

Bertubi-tubi pedang di tangan The Kwat Lin bergerak. Tubuh kakek itu bergulingan, berkelojotan karena rasa nyeri yang amat hebat ketika ujung pedang itu membabat ke seluruh tubuhnya, dengan tepat sekali

membabat ujung semua jari kakinya, hidungnya, dagunya. Babatan itu hanya mengenai ujung sedikit, tidak membahayakan keselamatan nyawa, namun menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Seluruh tubuh kakek itu kini berlepotan darah, mukanya dipenuhi oleh kerut-merut menahan nyeri.

“Hi-hik, bagaimana? Masih kurang? Nah, rasakanlah ini!”

Kembali pedang itu digerakkan, kini menusuk-nusuk dan seluruh tubuhnya ditusuki ujung pedang bertubi- tubi. Ujung pedang hanya menusuk dua senti saja sehingga menembus kulit daging, akan tetapi tidak membunuh. Darah keluar makin banyak lagi, rasa nyeri makin menghebat sehingga tubuh kakek itu berkelojotan seperti dalam keadaan sekarat.

“Ini yang terakhir!” The Kwat Lin berkata.

Ujung pedangnya membabat ke bawah pusar. Wanita itu tertawa bergelak, tertawa puas. Wajahnya yang cantik itu pucat sekali dan dia tertawa sambil berdongak ke atas. “Suheng sekalian, terutama Twa-suheng, lihatlah musuhmu. Sudah puaskah kalian?!” Dan dia terisak, lalu menghampiri tubuh yang berkelojotan itu. “Akan tetapi aku belum puas! Kau harus tidur dalam keadaan tersiksa di antara mayat-mayat yang membusuk, selama tiga hari tiga malam!”

The Kwat Lin menengok kepada anaknya dan berkata, “Bu Ong, kau tunggu di sini sebentar!”

Tubuh The Kwat Lin berkelebat meninggalkan ruangan itu. Dengan cepat dia telah datang kembali sambil menyeret mayat-mayat para pengawal, selir dan pelayan sampai ruangan itu penuh dengan mayat-mayat yang dia lemparkan ke sekeliling tubuh Pat-jiu Kai-ong yang mandi darah.

“Nah, nikmatilah sekaratmu selama tiga hari!”

The Kwat Lin lalu menggandeng tangan anaknya dan mengajak pergi meninggalkan gedung itu. Ketika mereka berdua tiba di dalam hutan di depan gedung, Swi Liang dan Swi Nio menyambut mereka dengan mata penuh harapan.

“Mana Ayah, Subo?” Swi Liang bertanya. “Bagaimana dengan dia?” Swi Nio juga bertanya. “Ayah kalian telah tewas….”
Dua orang muda itu mengeluh dan menangis. Swi Liang mengepal tinjunya dan berkata, “Si jahanam Pat- jiu Kai-ong! Aku harus membalas kematian Ayah!”

“Subo, bantulah kami…,” kata pula Swi Nio. “Kami harus menuntut balas!”

“Heh-heh, Suheng dan Suci, tenangkanlah hati kalian. Pat-jiu Kai-ong telah di balas dan sekarang sedang sekarat di antara tumpukan mayat, he-he-heh! Wah, aku mendapat bagian pesta tadi. Akulah yang membuntungi kedua telinganya dan sepuluh jari tangannya. Menyenangkan sekali!”

Swi Liang dan Swi Nio terbelalak memandang ‘sute’ ini. Ucapan anak itu benar-benar membuat mereka merasa seram. Memang, mendengar kematian ayah mereka yang tanpa keraguan lagi mereka yakin tentu dilakukan oleh Pat-jiu Kai-ong, mereka pun merasa sakit hati dan ingin membalas dendam. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh sute mereka menurut pengakuan anak itu, sungguh luar biasa sekali. Membuntungi kedua daun telinga dan sepuluh jari tangannya, dan perbuatan itu dianggap menyenangkan sekali dan berpesta, benar-benar membuat mereka bergidik!

“Musuhmu sedang menanti saat kematian, harap kalian tenang dan tidak memikirkannya lagi. Ayahmu telah tewas, dan kalian akan kuajak bersamaku sebagai muridku. Akulah pengganti ayah kalian.”

Swi Liang dan Swi Nio menjatuhkan diri dan berlutut di depan subo mereka sambil bercucuran air mata. “Terima kasih Subo…,” kata mereka di antara tangis mereka.

“Perkenankan kami mengubur jenazah Ayah,” kata pula Swi Liang.

“Tidak perlu. Kita menanti di sini sampai tiga hari, setelah itu aku akan membakar gedung itu.”

Biar pun merasa heran dan kasihan kepada mayat ayah mereka, kedua orang yang sudah merasa ditolong dan dibalaskan sakit hati itu tidak membantah. Mereka tentu saja tidak tahu betapa mayat ayah mereka itu ikut pula dilempar oleh The Kwat Lin di dekat tubuh Pat-jiu Kai-ong untuk ikut menyiksa musuh besar ini!

Memang Pat-jiu Kai-ong tersiksa hebat bukan main. Ketika tadi anaknya membuntungi jari-jari tangannya, dia melihat muka anaknya itu berubah-ubah menjadi muka banyak anak laki-laki yang menjadi korbannya. Puluhan, bahkan ratusan anak laki-laki yang menjadi korbannya itu seolah-olah mengeroyoknya, memaki dan mengejeknya. Kini, setelah tubuhnya mandi darah dan rasa nyeri merasuk sampai menusuk-nusuk tulang, dia ditinggalkan di antara mayat-mayat itu. Celaka baginya, tubuhnya yang terlatih memiliki daya tahan yang amat kuat sehingga dia tidak menjadi pingsan oleh rasa nyeri itu. Kalau saja dia dapat pingsan atau mati sekalian, tentu dia tidak akan menderita sehebat itu.

Mayat-mayat itu mulai mengeluarkan bau yang memuakkan pada hari ke dua. Bau darah yang mengering dan membusuk, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya, masih diganggu lagi oleh bayangan anak-anak yang dahulu menjadi korbannya, membuat Pat-jiu Kai-ong menangis di dalam hatinya. Ia amat menyesali perbuatannya yang mengakibatkan dia mati dalam keadaan tersiksa seperti itu.

Tiga hari kemudian, The Kwat Lin muncul dan perempuan ini tertawa bergelak melihat musuh besarnya masih belum mati. Senang sekali hatinya. Dahulu, dia diperkosa dan dipermainkan di antara mayat-mayat suheng-nya selama tiga hari tiga malam, dan kini dia dapat membalas secara memuaskan sekali.

“Hi-hik, kau sudah puas sekarang?” ejeknya. “Nah, mampuslah kau. Pat-jiu Kai-ong!”

Pedangnya berkelebatan dan seluruh bagian tubuh di bawah pusar kakek itu dicincang hancur oleh pedang di tangan The Kwat Lin. Setelah merasa puas melihat mayat musuh besarnya, barulah dia membuat api dan membakar gedung itu, lalu berlari ke luar.

Dengan air mata bercucuran, Swi Liang dan Swi Nio memandang nyala api yang membakar gedung, maklum bahwa mayat ayah mereka ikut terbakar.

“Ayahmu telah sempurna,” kata The Kwat Lin. “Tak perlu menangis lagi, hayo kalian ikut bersamaku. Kalau kalian rajin mempelajari ilmu, kelak kalian tidak akan mengalami penghinaan orang lagi.”

Dengan hati berat namun karena tidak ada orang lain yang mereka pandang setelah ayah mereka meninggal, dua orang muda itu terpaksa mengikuti The Kwat Lin bersama Han Bu Ong pergi meninggalkan Heng-san.

Bu-tong-pai adalah sebuah perkumpulan silat yang besar, merupakan sebuah di antara ‘partai-partai’ persilatan yang terkenal. Akan tetapi pada saat ini Bu-tong-pai sedang berkabung. Di markas perkumpulan itu yang letaknya di lereng pegunungan Bu-tong-san, dari pintu gerbang sampai rumah-rumah para tokoh dan murid kepala, tampak kibaran kain-kain putih menghias pintu, tanda bahwa Bu-tong-pai sedang berkabung. Siapakah yang meninggal dunia? Bukan lain adalah ketua Bu-tong-pai yang sudah berusia lanjut, yaitu Kiu Bhok Sianjin yang meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun.

Baru saja upacara penguburan selesai dilakukan oleh para anak murid Bu-tong-pai. Para tamu telah meninggalkan pegunungan Bu-tong-san, akan tetapi semua anak murid Bu-tong-pai masih berkumpul di sekitar kuburan baru itu. Suasana penuh perkabungan dan masih tampak beberapa orang murid yang mengusap air mata. Kui Bhok Sianjin terkenal sebagai seorang ketua dan guru yang baik dan yang dicintai oleh para anak murid Bu-tong-pai.

“Suhu…!” seruan ini membuat semua orang menengok.

Tampaklah seorang wanita cantik berlari mendatangi, diikuti oleh sepasang muda-mudi remaja dan seorang anak laki-laki. Wanita itu tidak menoleh ke kanan-kiri, melainkan langsung berlari menghampiri kuburan baru itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan batu nisan sambil menangis.

“Ahh, bukankah dia Sumoi The Kwat Lin…?” seorang murid Kui Bhok Sianjin yang usianya lima puluhan berseru.

Semua orang memandang dan kini mereka pun mengenal wanita yang berpakaian indah seperti seorang nyonya bangsawan itu. The Kwat Lin! Tentu saja mereka semua kini teringat. Bukankah The Kwat Lin merupakan seorang anak murid Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai orang termuda dari Cap-sha Sin- hiap yang sudah bertahun-tahun lenyap tanpa meninggalkan jejak?

“Benar, dia orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap!” terdengar seruan-seruan setelah mereka mengenal wanita cantik itu.

Mendengar suara-suara itu, wanita ini lalu bangkit berdiri, menyusuti air matanya, kemudian memandang kepada mereka sambil berkata, “Benar, aku adalah The Kwat Lin, orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap. Masih baik kalian mengenalku! Sekarang Suhu telah meninggal dunia, siapakah yang akan menggantikannya sebagai ketua Bu-tong-pai?”

Para tokoh Bu-tong-pai terkejut menyaksikan sikap angkuh ini. Di antara mereka, terdapat delapan orang yang terhitung suheng-suheng dari The Kwat Lin, dan orang tertua di antara mereka adalah seorang kakek berpakaian seperti pendeta tosu. Sejak tadi kakek tosu ini mengerutkan alisnya setelah mendengar bahwa wanita itu adalah orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap, maka kini mendengar pertanyaan Kwat Lin, dia melangkah maju.

“Sian-cai…, tak pernah pinto sangka bahwa anggota termuda dari Cap-sha Sin-hiap akan muncul hari ini. Berarti engkau adalah murid termuda dari mendiang Suheng, dan kalau engkau ingin mengetahui, pinto yang dipilih oleh anak murid Bu-tong-pai, juga telah ditunjuk oleh mendiang Suheng menjadi ketua di Bu- tong-pai,” ujar kakek yang berpakaian tosu ini.

Kwat Lin mengangkat mukanya memandang. Tosu itu bertubuh kecil sedang. Biar pun mukanya penuh keriput, namun matanya bersinar terang. Jenggotnya yang terpelihara baik dan mengitari mulutnya itu masih hitam semua, demikian pula rambutnya yang diikat dan diberi tusuk konde dari perak. Pakaiannya sederhana saja, pakaian seorang pendeta To yang longgar.

“Siapakah Totiang?”

“Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu kalau seorang murid keponakan tidak mengenal susiok-nya sendiri. Ketahuilah bahwa pinto adalah Kui Tek Tojin, satu-satunya saudara seperguruan dari mendiang Kui Bhok Sianjin yang masih hidup.”

Kwat Lin sudah pernah mendengar nama susioknya (paman gurunya) ini, seorang tosu perantau, sute termuda dan satu-satunya yang masih hidup dari mendiang Suhu-nya. Dia mencibirkan bibirnya yang merah dengan gaya mengejek, kemudian berkata dengan suara lantang, “Ah, kiranya Susiok Kui Tek Tojin yang menggantikan Suhu menjadi ketua Bu-tong-pai? Sungguh keputusan yang sama sekali tidak tepat! Aku tidak setuju sama sekali kalau Susiok yang menjadi ketua!”

Tosu itu membelalakkan matanya dan memandang kaget, heran dan penasaran. Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, seorang tosu lain yang bernama Souw Cin Cu, murid tertua dari Kui Bhok Sianjin, melangkah maju dan berkata, “Sumoi, apa yang kau katakan ini? Betapa beraninya engkau mengatakan demikian! Keputusan ini tidak saja sesuai dengan petunjuk Suhu, juga telah menjadi keputusan kami semua. Pula, Susiok merupakan satu-satunya saudara seperguruan mendiang Suhu, sehingga kedudukannya paling tinggi dan usianya paling tua di antara kita. Siapa lagi kalau bukan beliau yang menggantikan Suhu menjadi ketua kita?”

“Siancai, kedatangan yang mendadak dan tak tersangka-sangka, juga pendapat yang mengejutkan. Betapa pun juga, sebagai murid mendiang Suheng, dia berhak berbicara untuk kepentingan dan kebaikan Bu-tong-pai. The Kwat Lin, bukankah demikian namamu tadi? Kalau menurut pendapatmu, siapa gerangan yang patut dijadikan ketua Bu-tong-pai menggantikan Suheng yang telah tidak ada?”

“Harap maafkan aku, Susiok. Bukan sekali-kali aku memandang rendah kepada Susiok, akan tetapi penolakanku itu berdasarkan perhitungan yang matang,” Kwat Lin berkata kepada calon ketua Bu-tong-pai tu.

Tentu saja semua orang yang mendengar dan melihat sikap tidak menghormat dari wanita itu menjadi terkejut dan heran. Kwat Lin melihat perubahan wajah orang-orang itu, namun dia tidak mempedulikan, seakan-akan semuanya dalam keadaan wajar saja.

The Kwat Lin berkata lagi, “Pertama-tama sejak dahulu Susiok selalu merantau, tidak pernah mempedulikan keadaan Bu-tong-pai, apa lagi Susiok adalah seorang tosu sehingga kalau Susiok yang menjadi ketua Bu-tong-pai, ada bahayanya Bu-tong-pai akan berubah menjadi perkumpulan Agama To! Berbeda sekali dengan pendirian mendiang Suhu yang bebas sehingga murid suhu pun terdiri dari bermacam-macam golongan. Selain itu, selama ini Bu-tong-pai makin kehilangan sinarnya, menjadi bahan ejekan dan bahan penghinaan orang lain.”

“Ahhhh…!” terdengar suara memprotes dari sana-sini.

Souw Cin Cu kembali berkata penasaran, “Sumoi, aku benar-benar merasa heran mendengar kata-katamu dan melihat sikapmu. Sepuluh tahun engkau dan para suheng-mu menghilang dan kini engkau muncul seperti seorang yang lain. Seperti langit dengan bumi bedanya antara engkau dahulu dan engkau sekarang! Sumoi, kau mengatakan bahwa Bu-tong-pai menjadi lemah dan menjadi bahan ejekan dan penghinaan orang lain. Apa artinya ini?”

“Souw Cin Cu Suheng, selama bertahun-tahun ini Cap-sha Sin-hiap telah lenyap, tahukah engkau apa yang terjadi dengan mereka?”

“Kami telah berusaha menyelidiki namun tidak dapat menemukan kalian.”

“Hemm, itulah tandanya bahwa Bu-tong-pai amat lemah, sehingga semua Suheng-ku, tokoh-tokoh Cap- sha Sin-hiap, dibunuh orang tanpa diketahui oleh Bu-tong-pai!”

Semua orang terkejut sekali mendengar bahwa dua belas orang dari Cap-sha Sin-hiap telah dibunuh orang!

“Siapa yang membunuh mereka?” Souw Cin Cu bertanya dengan suara marah sekali. Hati siapa yang takkan menjadi panas dan marah mendengar bahwa dua belas orang saudara seperguruannya dibunuh orang!

“Hemm, terlambat sudah! Dua belas orang Suheng dibunuh oleh Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang di Heng-san.”

“Ohhh…!” kini Kui Tek Tojin berseru kaget. “Pat-jiu Kai-ong…? Mengapa…?”

Kwat Lin tersenyum mengejek. “Ahhh, tentu Susiok pernah mendengar nama besarnya dan menjadi gentar, bukan? Memang dialah datuk sesat yang terkenal itu, yang telah membunuh dua belas orang Suheng-ku, dan peristiwa itu berlalu begitu saja! Tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai mengalami penghinaan, dan Bu-tong-pai sendiri diam saja. Jangankan berusaha membalas dendam, bahkan tahu pun tidak akan peristiwa itu! Ini tandanya bahwa Bu-tong-pai lemah! Kini Bu-tong-pai hendak diketuai oleh Susiok, apakah akan dijadikan markas kaum pendeta Tosu dan menjadi makin lemah lagi? Aku sendirilah yang harus turun tangan membunuh musuh-musuh besar kami, membunuh Pat-jiu Kai-ong dan membasmi Pat-jiu Kai-pang di Heng-san. Melihat kelemahan Bu-tong-pai, aku tidak setuju kalau mendiang Suhu digantikan kedudukannya oleh Susiok Kui Tek To-jin, harus diganti oleh orang yang memiliki kepandaian tinggi dan dapat memajukan dan memperkuat Bu-tong-pai, barulah tepat!” Kwat Lin bicara penuh semangat, mukanya yang cantik dan berkulit halus itu kemerahan, sepasang matanya bersinar-sinar dan dengan tajamnya menyapu wajah semua anak murid Bu-tong-pai yang hadir di situ.

Pandang mata bekas orang termuda Cap-sha Sin-hiap ini membuat banyak anak murid Bu-tong-pai merasa gentar. Mereka hanya menunduk untuk menghindarkan pandang mata Kwat Lin. Akan tetapi, delapan orang suheng dari Kwat Lin memandang dengan marah dan penasaran. Ada pun Kui Tek Tojin hanya tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk, matanya memandang wajah wanita itu penuh selidik.

“The Kwat Lin, omonganmu penuh semangat terhadap kedudukan Bu-tong-pai. Andai kata benar semua kata-katamu itu, habis siapakah yang kau pandang tepat untuk menjadi ketua Bu-tong-pai?” Kui Tek Tojin berkata lagi dengan sikap tenang.

“Untuk waktu ini, kiranya tidak ada orang lain lagi dari Bu-tong-pai kecuali aku sendiri!”

Kini benar-benar terkejut dan terheran-heranlah semua anak murid Bu-tong-pai yang berada di situ. Begitu beraninya wanita ini. Biar pun tak dapat disangkal lagi bahwa The Kwat Lin merupakan murid utama pula dari mendiang Kui Bhok Sianjin dan orang termuda Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi pada waktu itu dia bukanlah orang yang memiliki tingkat tertinggi di Bu-tong-pai. Sama sekali bukan! Di atas dia masih ada delapan orang suheng-nya, murid-murid Kui Bhok Sianjin yang lebih tua, dan lebih lagi di situ masih ada Kui Tek Tojin yang tentu saja memiliki tingkat jauh lebih tinggi karena tosu ini adalah paman gurunya!

“Murid murtad!!” tiba-tiba Souw Cin Cu membentak garang dan meloncat maju, diikuti pula oleh sute-sute- nya. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka The Kwat Lin. “The Kwat Lin, engkau sungguh tidak patut menjadi murid Bu-tong-pai! Kiranya engkau menghilang sepuluh tahun hanya untuk pulang sebagai iblis wanita yang murtad terhadap perguruanya sendiri. Dan kami berkewajiban untuk menghajar seorang murid murtad!”

Sambil berkata demikian, Souw Cin Cu menerjang ke depan dengan dahsyat. Souw Cin Cu merupakan murid pertama atau paling tua dari Kui Bhok Sianjin. Sungguh pun tidak dapat dikatakan bahwa dia memiliki tingkat ilmu silat paling tinggi, akan tetapi setidaknya tingkatnya sejajar dengan orang-orang tertua dari Cap-sha Sin-hiap dan sebenarnya masih lebih tinggi setingkat jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian The Kwat Lin ketika masih menjadi orang termuda Cap-sha Sin-hiap dahulu.

Akan tetapi, Kwat Lin sekarang sama sekali tidak bisa disamakan dengan Kwat Lin sepuluh tahun yang lalu. Dia telah mewarisi ilmu silat tinggi dan mukjijat dari Pulau Es. Tingkatnya sudah tinggi sekali! Dengan tenang saja dia memandang ketika suheng-nya itu menerjangnya. Apa lagi karena dia mengenal benar jurus yang dipergunakan oleh suheng-nya, jurus dari ilmu silat Ngo-heng-kun.

Ketika tangan kiri Souw Cin Cu mencengkeram ke arah lehernya dan tangan kanan tosu itu menampar pelipis, dia diam saja seolah-olah dia hendak menerima dua serangan ini tanpa melawan. Akan tetapi setelah hawa sambaran pukulan itu sudah terasa olehnya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dari bawah ke atas.

“Plak-plak-plak!!” kedua lengan Souw Cin Cu telah terpental, bahkan tubuh tosu ini terpelanting ketika tangan Kwat Lin yang tadi sekaligus menangkis kedua lengan itu melanjutkan gerakannya dengan tamparan pada pundaknya. Tamparan yang perlahan saja, akan tetapi sudah cukup murid pertama mendiang Kui Bhok Sianjin terpelanting!

Diam-diam Kui Tek Tojin terkejut. Ia heran menyaksikan gerakan tangan wanita itu, gerakan yang amat cepat dan aneh, gerakan yang sama sekali tidak dikenalnya dan tentu saja bukan jurus ilmu silat Bu-tong- pai! Akan tetapi tujuh orang sute dari Souw Cin Cu sudah menjadi marah dan tanpa dikomando lagi mereka menerjang maju.

Akan tetapi The Kwat Lin tertawa, tubuhnya bergerak sedemikian cepatnya dan berturut-turut tujuh orang ini pun terguling roboh di dekat Suow Cin Cu! Mereka sendiri tidak tahu bagaimana mereka dirobohkan, akan tetapi tahu-tahu terpelanting dan bagian yang tertampar tangan Kwat Lin, biar pun tidak sampai patah tulang, akan tetapi amat nyeri. Padahal tamparan itu perlahan saja. Bagaimana andai kata wanita itu menampar dengan pengerahan tenaga sekuatnya? Sukar dibayangkan akibatnya.

Betapa pun juga, delapan orang murid utama dari Bu-tong-pai ini tentu saja tidak sudi menyerah begitu mudah. Mereka sudah meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing!

“Ibu, mengapa tidak dibunuh saja tikus-tikus menjemukan ini?” tiba-tiba Bu Ong berteriak.

Anak ini sudah bertolak pinggang dan memandang marah kepada para pengeroyok ibunya. Kalau saja tangannya tidak dipegang erat-erat oleh Swi Liang dan Swi Nio, suheng dan suci-nya, tentu dia sudah menerjang maju membantu ibunya. Akan tetapi memang sebelumnya, Swi Liang dan Swi Nio sudah dipesan oleh subo mereka untuk menjaga Bu Ong, dan terutama sekali mencegah bocah ini mencampuri urusannya dengan orang-orang Bu-tong-pai.

Kwat Lin tersenyum mengejek melihat delapan orang suheng-nya itu mengeluarkan senjata. “Hemmm,
apakah kalian ini sudah buta? Apakah para suheng tidak melihat bahwa tingkat kepandaianku jauh melebihi kalian, dan bahkan andai kata Suhu masih hidup, beliau sendiri tidak akan mampu menandingi aku.”

“Keparat…!”

Souw Cin Cu dan tujuh orang sute-nya menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba Kui Tek Tojin berseru, “Tahan senjata! Mundur kalian!”

Mendengar teriakan ini, delapan orang ini serentak mundur mentaati perintah calon ketua mereka.

Kui Tek Tojin melangkah maju menghampiri wanita yang tersenyum-senyum itu. “Siancai… kiranya engkau telah memiliki kepandaian tinggi maka berani menentang Bu-tong-pai! The Kwat Lin, selama ini engkau telah mempelajari ilmu silat dari luar Bu-tong-pai, tidak tahu dari perguruan manakah?”

“Memang benar dugaanmu, Susiok, akan tetapi tidak perlu aku menceritakan kepada siapa pun juga.” “Hei, tosu bau! Ibu adalah Ratu dari Pulau Es, tahukah engkau?”
“Bu Ong…!” Kwat Lin membentak puteranya, akan tetapi anak itu sudah terlanjur bicara.

Bukan main kagetnya Kui Tek Tojin dan para anak murid Bu-tong-pai mendengar ini. Pulau Es hanya disebut-sebut dalam dongeng saja, dan memang nama besar tokoh Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es amat terkenal di dunia kang-ouw. Timbul keraguan di dalam hati Kui Tek Tojin, akan tetapi karena wanita di hadapannya itu juga merupakan anak murid Bu-tong-pai, maka dia menekan perasaannya dan berkata, “The Kwat Lin, kalau engkau masih mengaku sebagai murid Bu-tong-pai, betapa pun tinggi ilmu kepandaianmu, engkau harus tunduk kepada pimpinan Bu-tong-pai. Sebaliknya, kalau engkau sudah mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tidak lagi merasa sebagai orang Bu-tong-pai, engkau tidak berhak mencampuri urusan dalam dari Bu-tong-pai.”

Kwat Lin tersenyum mengejek. “Susiok, tidak perlu kupungkiri lagi bahwa aku telah mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tingkat kepandaianku menjadi jauh lebih tinggi dari-pada semua tokoh Bu-tong-pai. Akan tetapi aku bukan saja masih mengaku orang Bu-tong-pai, bahkan ingin memimpin Bu-tongpai menjadi perkumpulan terkuat di dunia. Akan kuperbaiki dan kupertinggi mutu ilmu silat Bu-tong-pai agar tidak ada lagi golongan lain yang berani memandang rendah Bu-tong-pai, apa lagi menghina anak murid Bu-tong-pai seperti yang terjadi kepada Cap-sha Sin-hiap sepuluh tahun yang lalu.”

“Hemm, kalau begitu, pinto sebagai calon ketua Bu-tong-pai, terpaksa melarang dan menentang kehendakmu, The Kwat Lin.”

“Dengan cara bagaimana kau hendak menentangku, Susiok?”

“Dengan mempertaruhkan nyawaku. Kehormatan Bu-tong-pai lebih penting dari-pada nyawa seorang ketuanya. Majulah dan mari kita putuskan persoalan ini dengan kepandaian kita.”

The Kwat Lin tersenyum. “Susiok, betapa mudahnya bagiku membunuhmu, membunuh para suheng dan membunuh semua orang yang menentangku. Akan tetapi, aku bahkan ingin menolong kalian, ingin mengangkat nama Bu-tong-pai, maka biarlah aku hanya akan mengalahkan Susiok tanpa membunuhmu.”

Ucapan ini malah merupakan penghinaan yang luar biasa sekali. Mengalahkan lawan tanpa membunuhnya merupakan hal yang amat sukar dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari lawannya! Merah muka tosu tua itu. Dia dipandang rendah oleh murid keponakannya sendiri! Bukan hanya itu saja. Dia sebagai orang tertua dari Bu-tong-pai, sebagai calon ketua Bu-tong-pai, dihina oleh seorang anggota muda Bu-tong-pai! Oleh karena itu, tosu tua ini mengambil keputusan untuk mengadu nyawa dengan wanita yang kini dipandangnya bukan sebagai anggota Bu-tong- pai lagi, melainkan sebagai seorang musuh yang hendak mengacau Bu-tong-pai.

“The Kwat Lin sebagai seorang ketua Bu-tong-pai, pinto menyediakan nyawa untuk mempertahankan kehormatan Bu-tong-pai terhadap siapa pun juga, dan saat ini pinto akan mempertahankannya terhadap engkau! Majulah!” sambil berkata demikian tosu tua berjenggot lebat ini meloncat ke depan, tongkatnya di tangan kanan dan ujung lengan bajunya melambai panjang.

Kwat Lin mengenal tongkat itu. Tongkat kayu cendana yang harum dan menghitam saking tuanya, tongkat yang menjadi tongkat pusaka para ketua Bu-tong-pai sejak dahulu. Dia maklum pula bahwa tongkat itu hanya sebagai lambang kedudukan ketua belaka, namun dalam hal ilmu silat bersenjata, ujung lengan baju kakek itu jauh lebih barbahaya dari-pada tongkatnya.

Dia dapat menduga bahwa tentu kakek ini sudah memiliki tingkat tertinggi dari Bu-tong-pai, dan telah memiliki sinkang yang amat kuat sehingga kedua ujung lengan bajunya dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh yang dapat menghadapi senjata apa pun juga dari lawan, dapat dibikin kaku keras seperti besi dan lemas seperti ujung cambuk yang dapat melakukan totokan-totokan maut keseluruh jalan darah di tubuh lawan!

Karena itu, dia tidak berani memandang rendah. Cepat dia mengeluarkan pekik melengking, dan tubuhnya sudah bergerak maju, tangan kananya melakukan pukulan dorongan dengan telapak tangan sambil mengerahkan tenaga sinkang Swat-im Sin-jiu. Hawa yang amat dingin menghembus ke depan menyerang kakek itu. Swat-im Sin-jiu adalah tenaga dalam inti salju yang dilatihnya di Pulau Es, kekuatannya dahsyat bukan main karena hawa yang menyambar ini mengandung tenaga sakti yang mendatangkan rasa dingin.

“Siancai…!!” Tosu itu berseru kaget.

Kui Tek Tojin merasa betapa hawa yang menyambar dari depan amat dinginnya, membuat tangannya ketika mendorong kembali terasa membeku. Maka dia lalu menggerakan tongkat di tangan kanannya, mengambil keuntungan dari ukuran tongkat yang panjang, menghantam ke arah kepala wanita itu dari samping.

“Wuuttt… plakkk!”

Dengan berani sekali Swat Lin menggunakan tangan kiri yang dibuka untuk memapaki sambaran tongkat dari samping, terus mencengkeram tongkat itu dan mengerahkan sinkang, menyalurkannya lewat getaran tongkat. Kembali tosu itu berseru kaget ketika merasa betapa lengan kanannya yang memegang tongkat terasa dingin dan lumpuh! Kesempatan baik ini, dalam satu detik pada saat lawan masih terkejut dan belum sempat mengerahkan sinkang, dipergunakan oleh Kwat Lin dengan jalan menarik ke bawah, bergulingan ke depan dan menghantam ke arah lawan dengan tangan kanannya, kini sambil mengerahkan tenaga sinkang yang berhawa panas!

“Ouhhh…!” Kui Tek Tojin berteriak.

Cepat dia meloncat ke belakang, tapi tentu saja tongkatnya dapat dirampas. Dia tadi sudah mengerahkan sinkang melawan getaran melalui tongkat dengan niat merampasnya kembali, akan tetapi pukulan lawannya dari bawah yang ditangkis dengan tangan kanan ternyata luar biasa kuat dan panasnya. Kui Tek Tojin terkejut karena perubahan sinkang yang berlawanan itu tidak disangka-sangkanya. Maka untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia meloncat ke belakang dan mengorbankan tongkatnya.

Kwat Lin sudah melompat ke belakang pula. Ia memegang tongkat itu dengan kedua tangan di atas kepala sambil tertawa dan berkata, “Hi-hik, tongkat pusaka telah berada di tanganku, berarti akulah ketua Bu-tong- pai!”

“Kembalikan tongkat!” Kui Tek Tojin berteriak marah.

Kedua lengan Kui Tek Tojin bergerak ketika tubuhnya menerjang maju. Dengan amat cepatnya kedua ujung lengan bajunya bergerak seperti kilat menyambar-nyambar dan dalam segebrakan itu, Kwat Lin telah dihujani sembilan kali totokan yang amat berbahaya! Sukarlah membebaskan diri dari ancaman totokan yang hebat ini dan andai kata Kwat Lin bukan seorang pewaris ilmu-ilmu dari Pulau Es, tidak mungkin dia dapat menghindarkan diri lagi.

Kwat Lin menggunakan ginkang-nya berloncatan menghindar. Akan tetapi sebuah totokan yang meleset

masih mengenai pergelangan tangannya, membuat tongkat pusaka itu terlepas dari peganganya! Kwat Lin menjerit marah, pedangnya sudah dicabutnya, yaitu pedang Ang-bwe-kiam. Tampak sinar merah berkeredepan dan menyambar-nyambar secara dahsyat.

“Bret-brettt…!!”

Kui Tek Tojin berteriak kaget. Ia meloncat mundur dan ternyata bahwa ujung lengan bajunya telah terbabat buntung oleh pedang di tangan Kwat Lin. Sekarang wanita itu telah mengambil lagi tongkat pusaka yang tadi terpaksa dilepaskan oleh tangannya yang tertotok.

“Susiok! Dan kalian para Suheng semua! Kalau kalian mendesak, terpaksa aku akan mematahkan tongkat pusaka ini, kemudian membunuh kalian dan merampas Bu-tong-pai dengan kekerasan!” Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi. “Aku hanya menuntut hak seorang murid Bu-tong-pai yang memiliki tingkat tinggi dan memegang tongkat wasiat itu. Hak menjadi ketua dengan niat untuk mempertinggi tingkat Bu-tong- pai!”

Delapan orang suheng itu masih penasaran dan mereka hendak menyerbu ke depan, akan tetapi Kui Tek Tojin mengangkat tangan ke atas dan berkata, “Mundurlah kalian! Dia benar, kita tidak boleh melawan pemegang tongkat pusaka!” Kemudian dia berkata kepada Kwat Lin, “Baiklah. Melihat tongkat pusaka di tanganmu, kami tidak akan melawan. Akan tetapi, betapa pun juga kami tidak dapat menerima engkau menjadi ketua kami. Kami harap engkau tidak memaksa anak murid Bu-tong-pai yang tidak mau tunduk kepadamu dan ingin meninggalkan tempat ini.”

Kwat Lin tersenyum. Memang bukan kehendaknya untuk memusuhi anak murid Bu-tong-pai. Dia tidak membenci Bu-tong-pai, melainkan hendak mencarikan kemuliaan bagi puteranya dengan perantaraan sebuah perkumpulan besar dan dia akan mengusahakan agar Bu-tong-pai menjadi sebuah perkumpulan yang paling kuat dan paling besar.

“Terserah kepadamu, Susiok.” Dia lalu memandang ke sekeliling, kepada para anak murid Bu-tong-pai. “Haiii, semua anggota dan murid Bu-tong-pai, dengarlah baik-baik! Betapa pun juga aku adalah murid Bu- tong-pai sejak kecil, dan di dalam sepak terjang Cap-sha Sin-hiap, kalian juga sudah tahu betapa aku dan para Suheng telah menjunjung tinggi nama Bu-tong-pai. Aku ingin menyebarkan ilmuku kepada kalian semua agar kalian menjadi orang-orang yang lihai dan Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang paling kuat di dunia ini. Terserah kepada kalian, apakah hendak bersetia kepada nama Bu-tong-pai dan menjadi murid-muridku, ataukah hendak bersetia kepada tosu Kui Tek Tojin dan delapan orang Suheng-ku ini yang hendak membelakangi Bu-tong-pai!”

Berisiklah keadaan di situ setelah Kwat Lin mengeluarkan kata-kata ini. Para anak murid Bu-tong-pai saling bicara sendiri, saling berbantahan. Akhirnya hanya ada dua puluh orang termasuk Kui Tek Tojin yang meninggalkan tempat itu, menuruni bukit dan memasuki sebuah hutan di kaki bukit. Tempat ini dipilih oleh Kui Tek Tojin untuk menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu sambil menanti perkembangan selanjutnya. Sisanya semua suka mengangkat Kwat Lin menjadi ketua mereka setelah mereka tadi menyaksikan betapa lihainya Kwat Lin dan mereka semua ingin memperoleh bagian pelajaran ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, mulai hari itu The Kwat Lin menjadi ketua yang baru dari Bu-tong-pai yang dipimpinnya dengan gaya dan bentuk yang baru pula. Dengan harta benda berupa emas permata yang amat mahal yang didapatkan dan dilarikannya dari Pulau Es, dia membangun markas Bu-tong-pai menjadi bangunan yang megah, mewah dan kuat. Karena hatinya ingin lekas-lekas melihat Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang kuat dan banyak anggotanya, dia pun menerima anggota-anggota baru.

Anggota baru diterima dari golongan apa pun juga. Syaratnya hanya satu, bahwa mereka itu haruslah memiliki kepandaian sampai pada tingkat tertentu, dan bersumpah setia sampai mati kepada Bu-tongpai. Karena mendengar bahwa ketua Bu-tong-pai yang baru adalah seorang wanita cantik yang memiliki kesaktian hebat, juga amat kaya raya, maka banyaklah orang-orang berdatangan dan masuk menjadi anggota Bu-tong-pai. Mereka terdiri dari orang-orang kang-ouw dan golongan kaum sesat yang tadinya hidup sebagai perampok dan bajak-bajak yang tidak tertentu penghasilannya!

Mulai pulalah The Kwat Lin mengatur dan merencanakan cita-citanya untuk puteranya. Dengan kerja sama antara dia dan para anggota baru yang berpengalaman, mulailah dia diam-diam mengadakan kontak dan

mencari kesempatan untuk menghubungi para pembesar tinggi yang merupakan kekuatan rahasia untuk memberontak terhadap kaisar.

Inilah cita-cita The Kwat Lin! Dia pernah menjadi ratu, menjadi istri seorang raja, biar pun hanya raja kecil yang menguasai Kerajaan Pulau Es. Karena itu dia menganggap bahwa puteranya, Han Bu Ong, adalah seorang pangeran! Seorang pangeran haruslah bercita-cita menjadi raja. Bukan raja kecil yang hanya menguasai sebuah pulau, melainkan raja besar! Dan satu-satunya jalan untuk dapat mencapai ini, hanyalah menggulingkan kaisar sehingga kelak ada kesempatan bagi puteranya untuk menjadi kaisar!

Tentu saja untuk memberontak sendiri dengan mengandalkan kekuatan Bu-tong-pai merupakan hal yang tak masuk di akal dan hanya merupakan usaha bunuh diri. Maka dia mencari kesempatan mengadakan kontak dengan para pembesar tinggi yang berambisi seperti dia sehingga mungkin bagi mereka untuk menggunakan bala tentara yang dapat dikuasai untuk mencapai cita-cita mereka itu.

Memang sesungguhnyalah bahwa kemuliaan duniawi atau alam benda merupakan keadaan yang amat berbahaya. Tak dapat disangkal pula bahwa hidup memang memerlukan kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan amat baiklah kalau orang dapat menggunakan keduniawian itu pada tempat sebenarnya. Akan tetapi, akan celakalah dan hanya akan menimbulkan mala-petaka bagi diri sendiri dan bagi orang lain kalau manusia sudah dikuasai oleh duniawi yang merupakan harta benda, kedudukan, nama besar, kepandaian dan lain-lain sebagainya.

Alam kebendaan ini mempunyai sifat seperti arak. Diminum dengan kesadaran dan pengertian akan menjadi obat, tapi di lain saat dalam keadaan lalai akan menjadi minuman yang memabukkan. Dan sekali orang mabuk oleh duniawi, akan timbullah perbuatan sombong, sewenang-wenang, dan lupa segala. Yang ada hanyalah keinginan memenuhi segala kehendaknya dengan cara apa pun juga tanpa mengharamkan segala cara.

Demikian pula terjadi dengan The Kwat Lin. Dahulu, belasan tahun yang lalu, The Kwat Lin merupakan seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, penentang kejahatan yang gigih sehingga namanya bersama dua belas orang suheng-nya sebagai Cap-sha Sin-hiap amatlah terkenal. Akan tetapi setelah mala-petaka menimpa Cap-sha Sin-hiap, dendam menaburkan bibit yang merubah seluruh pandangan hidupnya. Setelah dia berhasil membalas dendam secara keji dan kejam sekali, bibit itu masih berkembang biak dan merubah sifat, dari dendam kepada pengejaran kemuliaan yang tanpa batas.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Han Swat Hong, puteri dari Raja Han Ti Ong. Sebaiknya kita mengikuti pengalamannya agar tidak tertinggal terlampau jauh. Seperti kita ketahui, Swat Hong yang berwatak keras itu marah-marah ketika melihat betapa Sin Liong menolong seekor beruang dan tidak mempedulikan dia. Dianggapnya Sin Liong sengaja mencari-cari alasan untuk menghambat perjalanan. Padahal dia ingin sekali segera mencari dan menemukan ibunya yang tidak ia ketahui ke mana perginya dan bagaimana nasibnya setelah badai yang amat dahsyat mengamuk di sekitar lautan itu.

Akan tetapi tentu saja dia hendak meninggalkan Sin Liong di pulau kosong itu bukan dengan hati yang sesungguhnya, melainkan hanya untuk sekedar menunjukkan kemarahan hatinya saja. Karena itu setelah perahunya jauh meninggalkan pulau itu, sehingga pulau di mana Sin Liong mengobati beruang itu tidak nampak lagi, dara itu memutar lagi perahunya dan hendak kembali kepada Sin Liong. Sudah dibayangkannya betapa Sin Liong yang selalu sabar dan selalu mengalah kepadanya itu akan minta maaf dan menyatakan penyesalan hatinya, dan dia yang akan memaafkannya! Saat-saat seperti itu mendatangkan keharuan, kebanggaan dan kemenangan di dalam hatinya.

Betapa bingung dan kagetnya ketika kemudian dia mendapat kenyataan bahwa dia tersesat jalan dan tidak tahu lagi di mana dia meninggalkan Sin Liong tadi! Demikian banyaknya pulau yang sama bentuknya di lautan itu, banyak sekali bongkahan es yang datang dan pergi seperti hidup saja! Setelah berputar putar tanpa hasil dan yakin bahwa dia berada makin jauh dari tempat dimana Sin Liong berada, setelah berteriak-teriak memanggil dengan pengerahan khikang tanpa ada jawabannya, akhirnya dia memutar perahu ke luar dari daerah penuh pulau kecil yang membingungkan itu.

Biarlah, dia akan pergi saja melanjutkan perjalanan seorang diri mencari ibunya. Dia merasa yakin bahwa suheng-nya itu tentu akan dapat menyelamatkan diri. Suheng-nya memiliki ilmu kepandaian yg amat tinggi.

Swat Hong tidak tahu bahwa perahunya menuju ke selatan, bukan menuju ke daerah Pulau Es lagi. Namun karena maksudnya untuk mencari ibunya, dara ini seolah-olah berlayar tanpa tujuan dan membiarkan saja ke mana perahu yang terdorong angin itu membawanya.

Pada suatu hari, tampak olehnya garis hitam di sebelah kanan. Garis itu masih jauh sekali, akan tetapi dengan girang dia dapat mengenal bahwa garis hitam yang amat panjang membujur dari kanan ke kiri itu adalah sebuah daratan yang agaknya tiada bertepi.

“Aha! Itulah daratan besar,” pikirnya dengan girang.

Dia segera membelokan perahunya menuju ke garis hitam itu. Ketika perahunya sudah tiba di dekat pantai yang sunyi, dia melihat ada sebuah perahu lain yang meluncur cepat dari sebelah kirinya. Perahu itu kecil, dan di dalamnya ada seorang laki-laki muda yang kelihatannya gagah dan tampan. Pemuda itu pun memandang kepadanya sehingga dua pasang mata saling pandang sejenak. Akan tetapi Swat Hong membuang muka dan tidak mempedulikan orang yang tidak dikenalnya itu, terus saja mendayung perahunya ke tepi.

Begitu perahunya mendekati daratan, dia lalu meloncat ke daratan, tidak menghiraukan perahunya lagi. Memang dia tidak berpikir untuk kembali ke tempat itu dan berperahu lagi. Untuk apa berlayar? Pulau Es sudah kosong. Dia akan mencari ibunya di daratan besar, karena kalau ibunya berada di suatu pulau, agaknya tentu tidak akan dapat terlepas dari amukan badai yang dahsyat itu. Kalau ibu berada di daratan besar, dan ini mungkin saja terjadi, barulah ada harapan bahwa ibunya masih hidup dan dapat bertemu lagi dengannya. Andai kata tidak, dia pun akan merantau di daratan besar, tidak kembali ke laut.

Dia tahu bahwa demikian pula agaknya pendapat suheng-nya. Sebelum berpisah mereka sudah membicarakan hal ini berkali-kali. Nenek moyangnya yang selama ini menjadi raja di Pulau Es juga berasal dari daratan besar! Setelah kini Kerajaan Pulau Es terbasmi badai dan tidak ada lagi, sepatutnya kalau dia sebagai ahli waris satu-satunya kembali pula ke daratan besar!

“Heiii… Nona! Tunggu…!!”

Swat Hong mengerutkan alisnya dan berhenti melangkahkan kakinya. Ia membalik dan melihat betapa pemuda yang berada di dalam perahu tadi sudah menambatkan perahunya dan juga perahu yang ditinggalkannya tadi di pantai. Kini pemuda itu berlari mengejarnya.

“Mau apa engkau mengejar dan memanggil aku?” Swat Hong bertanya, matanya memandang penuh selidik.

Pemuda itu usianya tentu hanya lebih tua dua tiga tahun darinya, seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah. Perawakannya tinggi besar, matanya menyorotkan kejujuran dan membayangkan kekerasan dan keberanian. Kedua lengan yang tampak tersembul ke luar dari lengan baju pendek itu kekar berotot, membayangkan tenaga yang hebat. Bajunya yang terbuat dari kain tipis membayangkan dada yang bidang, terhias sedikit rambut, berotot dan kuat sekali. Melihat bahan pakaiannya dapat di duga bahwa pemuda ini seorang yang beruang. Namun melihat dari keadaan tubuhnya dan kaki tangannya, agaknya dia biasa dengan pekerjaan berat.

“Kalau bukan seorang petani, tentu seorang nelayan,” pikir Swat Hong, kagum juga memandang tubuh yang kokoh kuat itu.

Pemuda itu tersenyum. Senyumnya lebar memperlihatkan deretan gigi yang kokoh kuat pula, senyum terbuka seorang yang berwatak jujur dan bersahaja. Akan tetapi sikapnya ketika mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, membuktikan bahwa dia pernah ‘makan sekolahan’ alias terpelajar, terbukti pula dari kata-katanya yang biar pun ringkas dan singkat akan tetapi tetap sopan.

“Maafkanlah aku. Nona meninggalkan perahu begitu saja, aku merasa sayang dan membantu meminggirkannya. Melihat gerakan Nona ketika meloncat, jelas bahwa Nona berkepandaian tinggi. Aku ingin sekali belajar kenal,” ujarnya.

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya sedang tidak senang, karena selain kegagalannya mencari ibu, juga perpisahanya dengan Sin Liong setidaknya mendatangkan rasa gelisah di hatinya. Kini ada pemuda yang amat lancang ingin ‘belajar kenal’, sungguh menggemaskan.

“Aku tidak membutuhkan perahu itu lagi, dan aku tidak peduli apakah kau meminggirkannya atau hendak
memilikinya, aku tidak minta bantuanmu. Tentang belajar kenal biasanya hanya pedang, kepalan tangan dan tendangan kaki saja yang mau belajar kenal dengan orang asing yang lancang!”

Sepasang mata lebar itu terbelalak seolah-olah memandang sesuatu yang amat aneh, namun membayangkan kekaguman yang luar biasa. Dan memang, di luar dugaan Swat Hong sendiri, sikap dan kata-katanya tadi mendatangkan rasa kagum yang amat besar di dalam hati pemuda ini. Watak pemuda ini memang mengagumi sikap orang yang terbuka, jujur, kasar dan tanpa pura-pura, seperti sikap Swat Hong yang baru saja diperlihatkan.

“Ha-ha-ha-ha!” pemuda itu tertawa bergelak dan kedua matanya menjadi basah oleh air mata. Ini pun ciri khasnya. Kalau dia tertawa, air matanya keluar seperti orang menangis. Dengan punggung tangannya yang besar dan berotot dia menghapus air matanya.

“Nona hebat sekali! Ha-ha-ha, aku Kwee Lun selama hidupku baru sekarang ini bertemu dengan seorang Nona yang begini hebat! Diantara seribu orang gadis, belum tentu ada satu! Nona, kalau sudi, perkenalkanlah aku Kwee Lun. Biar pun jelek dan kasar, bukanlah tidak terkenal. Ayahku adalah seorang pelaut biasa dan sudah meninggal, demikian pula Ibuku. Aku anak pelaut akan tetapi sejak kecil aku sudah ikut kepada guruku. Guruku inilah yang terkenal. Guruku adalah Lam-hai Sengjin, pertapa yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kami berdua tinggal di Pulau Kura-kura di Laut Selatan.”

Melihat sikap terbuka ini, geli juga hati Swat Hong. Kini dia melihat jelas bahwa pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar. Kasar memang, akan tetapi kekasaran yang memang menjadi wataknya yang terbuka. Orang macam ini baik dijadikan sahabat, pikirnya. Akan tetapi harus dibuktikan dulu apakah pemuda ini pantas menjadi sahabatnya, sungguh pun menurut pengakuannya dia murid seorang pertapa yang namanya terkenal di dunia kang-ouw!

Swat Hong tersenyum. “Aihh, engkau lebih pantas menjadi seorang penjual jamu! Setelah engkau memperkenalkan semua nenek moyangmu kepadaku, dengan maksud apakah engkau seorang pria minta berkenalan dengan seorang wanita?”

Kwee Lun mengerutkan alisnya yang sangat lebat seperti dua buah sikat ditaruh melintang di dahinya itu. Dia lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Memang, sebelum aku berangkat merantau, suhu berpesan dengan sungguh bahwa aku tidak boleh mendekati wanita cantik yang katanya amat berbahaya melebihi ular berbisa! Akan tetapi, biar pun Nona cantik sukar dicari cacatnya, namun kepandaian Nona tinggi dan sikap Nona jujur menyenangkan. Aku ingin bersahabat, karena sekarang ini baru pertama kali aku merantau seorang diri. Aku membutuhkan seorang sahabat yang pandai seperti Nona untuk memberi petunjuk kepadaku. Untuk budi Nona ini, tentu aku akan berusaha menyenangkan hatimu.”

Swat Hong makin terheran. Dia tidak tahu apakah pemuda ini pintar atau bodoh. Sikapnya terbuka, kata- katanya teratur, akan tetapi ada bayangan ketololan. “Hemm, kau bisa apa sih? Bagaimana engkau bisa menyenangkan hatiku?” dia menyelidik.

“Aku? Wah, aku bodoh, akan tetapi kalau ada orang-orang kurang ajar kepadamu, tanpa Nona turun tangan sendiri, aku sanggup menghajar mereka!” dia melonjorkan kedua lengannya yang kekar berotot itu. “Dan jangan Nona sangsi lagi, biar ada lima puluh orang, aku masih sanggup menghadapi mereka, kalau perlu dibantu dengan senjataku kipas dan pedang. Kalau Nona senang sajak, aku banyak mengenal sajak kuno yang indah dan di waktu Nona kesepian, aku dapat menghibur Nona dengan nyanyian! Aku suka sekali bernyanyi.”

Hampir saja Swat Hong tertawa geli. Orang yang kekar seperti seekor singa buas ini membaca sajak, bernyanyi dan senjatanya kipas? Benar-benar seorang pemuda yang aneh, akan tetapi tentu saja dia belum mau percaya begitu saja. Sambil memandang tajam dia berkata, “Hemm, kau bicara tentang pedang dan kipas sebagai senjata, akan tetapi aku tidak melihat engkau membawa senjata apa-apa.”

“Ahh, tunggu dulu, Nona. Aku memang sengaja meninggalkannya di perahu!”

Setelah berkata demikian, Kwee Lun membalikkan tubuhnya dan berlari cepat sekali ke perahunya. Ketika

dia sudah kembali ke depan Swat Hong, benar saja dia telah membawa sebatang pedang yang sarungnya terukir indah dan sebuah kipas bergagang perak yang diselipkan di ikat pinggangnya!

Translator / Creator: Asmaraman S. Kho Ping Hoo