December 29, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 9 – Chapter 7: Moonlight Grandmaster Piece

 

“Akhirnya, waktunya untuk mulai memahat.”

Material untuk memahat adalah batu besar didalam gua.

Setelah Sculpture Mastery miliknya meningkat sedikit, material normal tidak banyak meningkatkan Fame dan statistik.

Meskipun dia bisa menggunakan es, ada batasannya, dan es tidak terlalu bagus untuk mengungkapkan rincian, jadi dia memilih untuk memahat batu.

Weed berdiri, menatap batu tersebut.

“Apa yang harus aku buat?”

Dimasa lalu, dia tidak memiliki keraguan.

Api!

Api!

Atau sesuatu yang hangat.

Itu selalu yang paling efektif untuk membuat sesuatu yang sederhana dan langsung.

Itu lebih mudah pada pemikiran ketika tidak mempertimbangkan menambahkan manfaat yang diinginkan dari hasil akhir dan hanya fokus pada memahat. Tetapi saat pengalamannya terbangun, pandangan untuk membuat patung menjadi berbeda.

“Sebuah patung tidaklah ada dengan sendirinya. Itu lebih penting untuk mempertimbangkan situasinya.”

Bahkan jika dia mengukir sebuah api unggun, hal itu hanya akan memberi faktor kehangatan yang kecil.

Memahat tidaklah sesederhana itu.

Memahat dibuat untuk mencerminkan gairah asli dan jiwa seni! Weed menyadari skill miliknya tidaklah setara dengan seorang master seniman.

Namun setidaknya dia sekarang mengetahui elemen yang paling penting dalam membuat sebuah patung.

“Patung sama seperti barang mati jika tidak mengandung emosi.”

Dia memahat untuk neneknya sekali dalam kehidupan nyata, didepan neneknya yang telah menua bersama dirinya untuk sepanjang hidupnya.

Tentu saja, kemampuan memahatnya menyedihkan.

Bahkan jika dia memahat ratusan atau ribuan kali di virtual reality, hal itu berbeda dalam kehidupan nyata.

Mempertimbangkan bagaimana dia bereksperimen dengan memahat, dimana sentuhan kecil dari ujung jarinya membuat perbedaan yang besar pada patung itu sendiri, itu adalah hal yang sangat beresiko.

Patung yang dia selesaikan memiliki banyak kecacatan.

Ketika dilihat dengan cermat, patung itu memiliki banyak tempat yang tidak diselesaikan dengan benar dan ada goresan-goresan karena dia memasukkan terlalu banyak kekuatan ketika memahat.

Kecacatan kritis bagi patung!

Tetap saja, patung itu menggerakkan hati orang-orang.

Karena patung tersebut memiliki jiwa neneknya yang tersimpan didalamnya.

Bagi seseorang yang tidak tahu, mereka hanya akan berpikir itu sebagai sebuah patung dari seorang nenek.

Tetapi bagi seorang wanita tua yang telah melalui berbagai kesulitan disepanjang hidupnya, patung itu akan terasa berbeda.

Wajah yang menjadi begitu familiar sampai pada poin bahwa patung itu hampir menjadi hidup.

Saat dia menyelesaikan patung tersebut, wajah yang memiliki jejak kehidupan mencair dan memberi ekspresi berbagai perasaan.

Bahkan jika itu adalah sebuah patung dari seniman terkenal, patung itu tidak akan menggerakkan orang-orang jika hanya dibuat dengan keahlian dan tanpa tujuan.

Dalam memahat, waktu dan jiwa harus dimasukkan kedalamnya.

Oleh karena itu, hal itu sangat kritis untuk menyesuaikan patung dengan situasinya.

“Sudah pasti, aku tak bisa mengabaikan pengaturan. Aku harus memasukkan sebanyak mungkin jiwaku kedalamnya. Aku membutuhkan sebuah patung yang secara jujur mengekspresikan situasiku saat ini.”

Kemudian Weed memikirkan sebuah ide.

Seorang pria dan wanita tinggal di wilayah utara yang dingin.

Pasangan yang menderita karena dingin yang ekstrim. Alam sangat kejam. Badai es datang setiap hari dan para serigala kelaparan melolong.

Auuuuuuuuuu!

“Kesini.”

Si pria memiliki tugas untuk melindungi si wanita.

Setelah melalui banyak kesulitan, mereka menemukan gua yang aman dan berlindung didalamnya,  jauh dari para serigala yang ganas. Namun, meskipun mereka berhasil lolos dari bahaya musuh, rasa lapar dan dingin tetap mengikuti mereka.

Si wanita dengan kecantikan tiada tara dan kebaikan yang sangat besar, satu-satunya dari jenisnya diseluruh dunia, mengatakan pada si pria.

“Aku kedinginan.”

Si pria tak bisa berbuat apa-apa selain menatap dia dengan mata sedih.

Karena si pria tak berguna, dia tak bisa melindungi wanita yang dia cintai. Hidup mereka berada diambang kematian.

Jika saja aku bisa mengorbankan hidupku untuk menyelamatkan wanita ini!

Si pria pasti akan melakukannya jika itu untuk menyelamatkan hidup si wanita. Tetapi kenyataannya adalah hal itu tidak akan mengubah situasinya, dan si wanita mengetahuinya. Si wanita tak menyalahkan si pria.

“Tetap saja, terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena tetap bersamaku sampai akhir. Dan aku mencintaimu.”

Bagi si pria yang memiliki hati yang lembut dan baik, kata-kata si wanita adalah hadiah yang terbaik.

Si pria memeluk si wanita.

“Aku juga mencintaimu.”

Tak peduli seberapa dingin langit dan bumi, hal itu tak bisa membekukan hati pasangan ini. Mereka bisa merasakan sedikit kehangatan saat mereka saling berpelukan.

“Ya, konsep semacam ini adalah yang terbaik.”

Weed mengeluarkan pisau pahatnya dan mendekati batu itu.

*Sasak!*

Serbuk batu jatuh.

Memangkas tepi dari batu tersebut, dia perlahan-lahan memberi bentuk. Menekankan perasaan dari pasangan tersebut yang saling menghawatirkan dan mempedulikan satu sama lain, dia memahat.

Tentu saja, ceritanya memiliki fakta yang berbeda dari situasi yang sebenarnya.

Memang benar bahwa Weed dan Seoyoon datang ke wilayah utara, tetapi mereka tak pernah berpisah dan hanya berduaan. Alveron ada disana, serta ada para Wyvern dan Bingryong.

“Bisakah kau bertarung dengan baik! Dasar makhluk-makhluk lemah dan tak berguna!”

Weed melecehkan Bingryong dan para Wyvern, dan bahkan memaksa Alveron si Priest untuk bekerja.

Tetapi dia menyembunyikan kebenaran-kebenaran itu.

Dan, kebenarannya tidak berakhir hanya dengan itu. Si wanita tak berdaya yang membangkitkan naluri untuk melindungi dan si wanita Seoyoon, masing-masing sangat jauh berbeda!

Prajurit wanita yang kuat yang bisa membunuh monster apapun, Seoyoon.

Setidaknya penampilan dari para serigala kelaparan memang benar, tetapi alasan kenapa mereka berteriak adalah berbeda.

Mereka menangis, memohon belas kasihan, hanya karena makanan lezat mereka terbunuh segera setelah mereka terlihat.

Bahkan ketika mereka datang ke tempat seperti ini, Weed bisa beradaptasi bukannya mati kelaparan.

“Yah, seni membutuhkan beberapa pengabaian dari realitas dari waktu ke waktu.”

Bahkan jika itu adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan sebuah negara dari bahaya, dia pasti akan pergi ke toilet juga.

Seseorang bisa mengukir tentang bagaimana dia memimpin perang ke kemenangan, tetapi seseorang tak bisa benar-benar menggambar atau mengukir adegan semacam itu.

Kapanpun Weed menggerakkan pisau pahat tersebut, serpihan batu meluncur jatuh.

Bentuk dasarnya muncul.

Kemudian, Seoyoon log in dan pagipun datang.

Entah itu malam atau siang, pertempuran terjadi secara berkala, jadi Seoyoon log in ketika akan ada perburuan.

Saat matahari terbit dan cahaya cerah tersaring masuk dari luar gua, suhunya naik sedikit.

“Kalau begitu, ayo pergi berburu.”

Bersama para Wyvern, Weed menuju ke Valley of Death. Berburu ketika matahari terbit, mengukir ketika matahari terbenam. Seperti itulah, patung tersebut mulai terbentuk setelah beberapa hari.

Seorang pria dan wanita saling berpelukan dengan ekspresi bahwa mereka hendak menangis dalam kesedihan yang tak bisa dijelaskan.

Tetapi Weed merasa itu tidak sempurna.

“Tak cukup dengan hanya saling berpelukan.”

Meskipun pasangan tersebut begitu dekat satu sama lain, tak banyak perasaan yang keluar dari adegannya.

Mereka hanya pasangan yang memiliki kesedihan dan rasa sakit yang besar. Weed dengan hati-hati memikirkan apa yang hilang.

“Apa yang akan aku rasakan jika aku adalah pria itu?” dia menanyai dirinya sendiri.

Dia akan putus asa dan merasa tak berdaya.

Menatap pada kekasih yang perlahan-lahan sekarat, berusaha untuk menghangatkan dia, si pria akan merasa sangat sedih.

Fakta bahwa dia sendiri tak bisa menahannya lagi, dan bahwa dia harus mengucapkan selamat tinggal kepada kekasihnya, hatinya akan penuh dengan kesedihan.

Perpisahan dan kematian.

Dia kehilangan anggota keluarga sebelumnya, dia tahu seberapa besar kesedihan yang dibawanya.

Weed memutuskan.

“Ini adalah produk gagal.”

Meskipun dia bekerja sangat keras selama beberapa hari, dia dengan tegas mengabaikannya. Ketika mengetahui bahwa itu akan menjadi sebuah kegagalan, dia tak bisa melanjutkan untuk membuatnya.

Weed mulai mengukir batu yang berbeda.

Kali ini, pasangan yang sedang saling berpelukan satu sama lain lagi.

Seolah-olah dia sedang berusaha untuk membuang-buang waktunya, tak ada banyak perbedaan dari yang satunya.

Bahkan jika dia membuat patung yang mirip, skill memahat milik Weed tidaklah semenyedihkan sebelumnya, jadi itu akan meningkatkan sedikit penguasaannya.

Perbedaannya terletak pada si pria dan wanita tersenyum sekarang. Senyuman penuh cinta yang bisa mereka tunjukkan kepada masing-masing.

“Jika kau hendak meninggalkan dunia ini, kau harus tersenyum. Itulah hal terakhir yang bisa kau tunjukkan kepada orang yang kau cintai.”

Orang tua Weed meninggal ketika dia masih kecil.

Dia melihat orang tuanya untuk yang terakhir kalinya ketika mereka akan masuk ke ruang operasi di rumah sakit.

Pada saat itu, Weed berteriak dan menangis. Dia menangis karena hal itu sangat memilukan. Tetapi, tak seorangpun tahu seberapa besar dia menyesalinya setelah itu.

“Aku seharusnya tersenyum. Aku seharusnya menunjukkan pada mereka senyum terbaik.”

Dia seharusnya tersenyum. Menunjukkan bahwa tidak apa-apa,  dan bahwa dia akan hidup bahagia dengan adik dan neneknya. Tak mampu melakukan hal itu selalu tersisa sebagai salah satu dari penyesalannya.

“Ya, senyum adalah yang terbaik.”

Weed membuat patung-patung itu memiliki senyum paling bahagia terhadap satu sama lain. Sebuah senyum dengan cinta dan kepercayaan yang berlimpah. Tetap saja, itu memiliki suasana yang sedih dan tak menyenangkan.

Dengan kedua tangan mereka, mereka saling memeluk satu sama lain sebisa mungkin, untuk berbagi sedikit dari kehangatan diantara mereka, dan agar tak pernah terpisah dari satu sama lain.

Silahkan beri nama Patung ini.

Weed berkata saat dia menggarahkan pisau pahat tersebut.

“Warm Lovers.”

Dia memutuskan nama yang sederhana karena mereka saling berpelukan di sebuah tempat yang dingin. Tetapi ternyata menjadi sebuah nama yang bagus, secara misterius sesuai dengan suasana patung tersebut.

Apa kamu yakin untuk menamakan patung ini Warm Lovers?

“Ya.”

Dalam kenyataannya, dia memiliki suatu rasa bersalah saat dia menamai patung tersebut. Karena wajah dari si pria dan wanita itu.

Dia tidak menyadarinya awalnya, tetapi pria itu sangat mirip dengan dirinya.

Karena dia menjadi emosional dan mengukir saat dia berpikir tentang penyesalannya, dia secara tak sadar mengukir wajahnya sendiri.

Karena dia melalui begitu banyak kerja keras, dia tak bisa tersenyum polos.

Itu bukanlah senyum busuk, tetapi sebuah senyum cerah dan bisa diandalkan yang hanya dia tunjukkan kepada keluarganya. Jika saja hanya si pria yang mirip Weed, tak akan ada masalah.

Tetapi masalahnya adalah wajah si wanita sangat mirip dengan Seoyoon, sehingga seolah-olah dia mengambil wajah Seoyoon dan menempatkannya disana.

Kecantikan Seoyoon adalah sesuatu yang tidak akan berlebihan untuk mengatakan kecantikannya adalah mutlak. Sampai pada poin dimana selera atau preferensi seseorang tak berarti lagi, Seoyoon sangat cantik.

Setelah mengukir Seoyoon beberapa kali, sampai pada poin dimana Weed akan bisa mengukir dia dengan mata tertutup, dia secara alami mengukir Seoyoon.

“Sungguh merepotkan.”

Itu akan merepotkan untuk menangani setelahnya, tetapi Weed memutuskan untuk membiarkannya untuk saat ini.

Tak peduli apa, Weed menyukai patung yang telah selesai itu.

Itu tak seperti dia bisa merubah patung yang sudah selesai ini.

Karena wajah si wanita atau lebih tepatnya wajah Seoyoon menghadap kearah dinding gua, itu tak akan mudah untuk melihatnya kecuali seseorang secara sengaja mengerahkan upaya untuk melihatnya.

*Ding*

Magnum Piece

Kamu telah menyelesaikan Warm Lovers!

Kehangatan kekasih dari tempat dimana nafas bahkan akan membeku. Karya yang mengekspresikan cinta menggairahkan dari kekasih yang bahkan kematian tak bisa memisahkannya. Karena keekspresifan yang mengesankan, karya tersebut layak untuk ditampilkan bahkan di museum pribadi milik raja atau didalam sebuah istana. Karya hebat ini akan memiliki nilai yang lebih besar seiring berlalunya waktu. Sculptor yang kreatif dan artistik tinggi telah mempelajari dan memulihkan skill yang terlupakan, Moonlight Sculpting. Karya ini akan meninggalkan namanya dalam sejarah memahat dari benua.

Nilai artistik:

Karya luar biasa Sculptor Weed.

2.600

Efek spesial:

Mereka yang melihat Warm Lovers akan mendapatkan

• Peningkatan 20% dalam tingkat regenerasi HP dan MP selama sehari

• Resitensi dingin meningkat 40%

• Maksimum HP meningkat 25%

• Semua statistik meningkat 20 poin

• Patung ini mengeluarkan udara panas yang akan membuat seseorang terbakar ketika menyentuh patung ini

• Exp party meningkat 6%

• Ketika pasangan kekasih saling berpelukan didepan patung ini, mereka bisa menerima blessing dari Warm Lover

• Tak bisa ditumpuk dengan efek patung lain

Jumlah Magnum Piece yang telah dibuat :1

Sculpture Mastery naik ke level 2 tahap Advanced

Pemahatan menjadi semakin detail dan halus

• Keterampilan skill mastery meningkat

• Sculpture Understanding naik 1 level

• Fame naik 450 poin (+450 FAME)

• Art naik 30 poin (+30 ART)

• Charm naik 7 poin (+7 CHARM)

• Warm Lover tercatat dalam sejarah memahat

• Ketika Sculptor berbakat melihat patung ini, itu akan membantu mereka meningkatkan skill memahat mereka

• Karena menciptakan sebuah patung Moonlight Magnum, semua statistik mendapatkan tambahan peningkatan 4 poin (+4 ALL STATS)

Seperti biasa, Seoyoon log in ketika malam hampir berakhir.

Kecuali ada piring-piring yang harus dibersihkan setelah makan atau kulit yang harus di sortir yang menumpuk dari perburuan, dia log in tepat waktu.

Dia tidak log in sesering ini dimasa lalu.

Tetapi setelah datang bersama Weed ke wilayah Utara, dia tak pernah terlambat.

Sebuah tempat dimana udara yang dingin mengalir masuk. Tetapi hari ini, udara hangat datang dari dalam gua.

“…….?”

Setelah melihat sekeliling, Seoyoon menemukan sebuah patung yang tak ada sebelumnya.

Ada seorang pria berpakaian ringan.

Ada seorang wanita yang mengenakan pakaian berlengan pendek, tak sesuai dengan iklim disini.

“Sungguh patung yang bagus.”

Dari tempat Seoyoon berdiri, dia bisa melihat punggung dari si wanita dan wajah si pria. Wajah pria itu sangat mirip dengan Weed.

“Bagaimana bisa dia tersenyum seperti itu?”

Seoyoon memiringkan kepalanya.

Meskipun patung itu memiliki pakaian yang tipis, mereka memiliki senyum yang menghangatkan hati.

Udara hangat tersebut berasal dari patung tersebut.

“………”

Seoyoon terus menatap patung tersebut.

“Sungguh sebuah patung yang dibuat dengan baik.”

Ekspresi dan detailnya membuatnya sulit untuk dipercaya patung itu terbuat dari batu. Patung tersebut memancarkan cahaya lembut sangatlah indah.

Meskipun wajah mereka tersenyum, mereka berusaha keras untuk saling berpelukan sedikit lebih lama dalam kondisi yang keras semacam itu.

Itu adalah sebuah patung yang memenuhi hati dengan kasih sayang.

“Hanya seseorang dengan hati yang hangat yang akan bisa membuat patung semacam ini.”

Dengan mata lembut, Seoyoon menatap Weed yang tidur didekat patung itu.

Dia adalah seseorang yang memiliki berbagai bakat. Dia memasak dengan baik dan bisa bertahan hidup dengan baik. Seseorang yang pelit yang berusaha sangat keras untuk mendapatkan lebih banyak uang bahkan recehan sekalipun.

Tetap saja, dia memiliki satu hal yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Hati yang hangat. Seoyoon berpikir Weed adalah orang yang baik.

Kemudian Weed tiba-tiba bangun dari tidurnya.

“Kurasa aku tertidur setelah bekerja begitu keras. Dia belum kesini kan? Gasp!”

Ketika dia mendongak dan menemukan Seoyoon, wajahnya menjadi sangat pucat, seolah-olah dia telah melihat hantu.

Dia juga gemetar.

“K-Kapan kamu….”

Ketakutan Weed tidak berhenti.

Jika Seoyoon melihat wajah pada patung itu, dia tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah! Tetapi Seoyoon berdiri disana tanpa ekspresi. Dia berpikir Weed adalah orang yang hebat, tetapi dia tidak menunjukkan perasaannya.

“Aku tak bisa dicintai oleh siapapun.”

Seoyoon selalu merasakan sakit dalam hatinya.

Selama bertahun-tahun, dia hidup tanpa berbicara kepada siapapun.

Dia ingin berbicara, berbincang-bincang.

Tetapi rasa takut selalu datang terlebih dulu. Rasa takut tentang tak mengetahui kapan dia akan terluka dan rasa takut bahwa dia tidak akan pernah dicintai.

Dia terbiasa untuk tidak mengekspresikan emosinya. Jika dia menyembunyikan dirinya dari semua orang, rasa sakit tersebut akan berkurang. Tetap saja, dia menghabiskan waktu yang cukup banyak bersama Weed.

Festival kota Morata yang menyenangkan.

Saat-saat di dalam gua.

Setidaknya Seoyoon tidak merasa tidak nyaman berada disekitar Weed. Tetap saja, dia tidak mengekspresikan dirinya sendiri.

Dia harus lebih menyembunyikan dirinya karena Weed adalah satu dari sedikit orang yang dia kenal.

“Phew, dia belum melihatnya.”

Melihat reaksi Seoyoon, Weed hanya bisa menebak Seoyoon belum melihat wajah perempuan itu.

“Jadi,” dia berkata dengan buru-buru.

“Ayo berburu!”

Karena Seoyoon tak punya alasan untuk menolak, mereka berjalan keluar gua.

Sebelum keluar, Seoyoon berbalik.

Dia ingin melihat patung itu dengan matanya sekali lagi. Wajah dari Weed memeluk si wanita, tersenyum begitu cerah.

Translator / Creator: alknight