November 28, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 6 – Chapter 8: Strange Companion

 

Setelah Weed menyelesaikan urusannya di Kerajaan Rosenheim, dia menuju ke Lands of Despair lagi.

Namun kali ini dia menunggangi kuda. Itu adalah kuda jenis biasa dengan harga murah, dikenal karena perawakannya yang pendek, kaki pendek dan berotot dan daya tahan yang bagus.

Orang-orang yang ingin menghasilkan kesan yang bagus biasanya akan memilih seekor kuda berwarna hitam polos atau putih polos. Tetapi Weed sudah pasti bukan salah satu dari mereka, jadi dia memilih seekor kuda sederhana berwarna coklat.

“Oke. Ayo pergi. Ayo, larilah!”

Dengan keras menghentak tanah, kuda itu langsung berlari.

Di area berbatu atau rawa, kuda bukanlah alat transportasi terbaik, tetapi di dataran yang dilewati oleh Weed, kuda tak bisa ditandingi.

“Ya. Itu setimpal dengan uang yang dikeluarkan.”

Dia menikmati perjalanan yang cepat dan nyaman.

Sekarang Weed bisa mengerti kenapa orang lain membeli kuda. Tetapi dia masih tak nyaman karena mengeluarkan uang-uang itu! Jadi dia harus terus-menerus menghibur dirinya sendiri tentang hal itu.

“Investasi yang tepat adalah satu-satunya cara untuk sukses.”

Meskipun dia hanya mengeluarkan 3 gold untuk membeli kuda, dia harus terus-menerus memuji barang miliknya yang baru dibeli agar tidak merasa menyesal. Dia melakukan segala hal untuk menekan sifat serakahnya.

Tetapi apapun alasannya untuk memuji, kuda tersebut benar-benar sebuah investasi yang layak, seolah-olah memungkinkan dia untuk berpergian jauh lebih cepat daripada ketika dia menggunakan skill Quadrupedal Run.

Dalam satu hari dia mencapai perbatasan dan masuk ke Lands of Despair, lalu dia mengubah arah dan mulai bergerak dengan pola yang aneh. Lands of Despair memiliki medan yang bisa dilewati dan visibilitas yang luas di segala arah, tetapi Weed menunggangi kuda tersebut ke tenggara selama satu jam, lalu berbelok tajam dan melaju ke arah timur laut.

Membuat pola zigzag, dia perlahan-lahan mengarah ke timur, kearah benteng Dark Elf, meskipun dia harus menghabiskan waktunya yang berharga dengan berkeliaran tak jelas maksudnya.

Beberapa jam kemudian Weed bertemu dengan sebuah party yang berburu di Lands of Despair.

Oberon dan rekan-rekannya baru saja menyelesaikan pertempuran dan sedang beristirahat. Tentu saja mereka siaga dan menyadari si pengendara kuda yang mendekat.

“Apa yang…”

“Ada seorang solo player yang datang kesini!”

Semua orang di party Oberon berbalik dan menatap Weed dengan terkejut.

Ketika mereka memasuki Lands of Despair, mereka harus melawan para monster hampir tanpa henti.

Jika di Kerajaan Rosenheim mereka bisa pamer bahwa mereka bisa mengalahkan monster apapun, disini lain lagi ceritanya. Mereka merasakan seperti apa pertempuran yang sebenarnya.

Abyss Knight, Lightning Caster, Poison Lord, Dark Dancer, Night Lord! Dan masih banyak lagi monster lain dengan level 350, yang bisa memasang jebakan, melakukan penyergapan, mengeluarkan sihir mematikan dan memanggil pasukan untuk membantu mereka dalam pertempuran.

Dataran ini adalah tantangan yang sebenarnya bagi party mereka, beberapa kali ketika mereka bertemu monster diatas level 400, hanya dengan usaha yang luar biasa yang mencegah perburuan mereka berakhir seketika. Dengan berjalannya waktu mood dalam party tersebut menjadi semakin dan semakin suram.

Jadi itu tak mengherankan bahwa saat Oberon melihat Weed, matanya terbelalak.

“Disini berbahaya. Ini adalah Lands of Despair… Cepatlah berbalik dan pergilah dari sini secepat yang kau bisa! Jika tidak, kami lebih baik mengawalmu kembali.”

Oberon benar-benar seorang pria yang mulia. Dia siap untuk melindungi orang lain bahkan saat dia sendiri diserang. Profesi Warrior sering dipilih oleh orang yang baik, sopan dan terbuka.

Tetapi Weed sangat jauh dari orang seperti itu. Bisa dikatakan bahwa dia adalah kebalikannya.

Weed hanya menunggangi kuda melewati mereka. Dia sepenuhnya mengabaikan para player itu, tetapi tidak untuk item-item yang ditinggalkan mereka, sama seperti pada pertemuan mereka sebelumnya!

Dia bahkan tidak turun dari kudanya untuk mengambil item-item itu, dia hanya membungkuk untuk mengumpulkan item-item itu kedalam kantong pelananya, sambil berpegangan pada kuda hanya dengan kakinya.

Aku pasti mendapatkan semuanya.

Setelah mengambil item-item itu, Weed melanjutkan perjalanannya ke timur.

“Huh? Dia pergi begitu saja?”

“Apa dia tidak menyayangi hidupnya?”

Para player dari party berburu tersebut hanya melihat dia menjauh dengan menunggangi kudanya.

“Semua orang bebas untuk memilih cara mereka sendiri untuk mati.”

“Sungguh, ada orang yang suka melakukan perjalanan kemana-mana sendirian.”

Namun Pluto, Oberon, Haisyns dan beberapa veteran yang lain tidak buru-buru mangambil kesimpulan.

Perilaku Weed bukanlah sikap dari seseorang yang akan mati dalam waktu dekat.

Beberapa pemikiran melintas pada benak Oberon. Dia ingat bagaimana mereka bertemu dengan Soulless Wolf tepat setelah melewati perbatasan, dan bagaimana mereka melihat seorang Orc yang aneh yang mengambil semua item yang ditinggalkan setelah pertempuran.

“Mungkinkah….”

Pluto menatap Oberon.

“Orc itu!”

“Jadi itu adalah seorang player?”

“Jika itu adalah seorang player, lalu…”

Mereka saling mengangguk satu sama lain.

“Player itu yang bisa berubah menjadi seorang Orc… Hanya satu orang yang muncul dalam pikiran.”

Sekarang para player yang lain juga memahami apa yang Oberon maksudkan. Bagaimanapun juga party ini terdiri dari para player berlevel tinggi yang bersemangat tentang Royal Road.

“Hall of Fame!”

“Orc dari video itu!”

“Dia tampak berbeda kali ini, tetapi itu adalah dia! Wajah yang sama-sama mengerikan.”

“Benar. Tak ada Orc di dalam game yang sejelek Orc yang satu ini!”

“Jadi event itu terjadi di Lands of Despair!”

****

Meskipun kali ini Weed melakukan perjalanan dengan menunggangi kuda, suasana hatinya tidak sebagus yang dia harapkan. Dalam perjalanan dia menyadari ada jejak-jejak dari party yang berburu, atau lebih tepatnya item-item yang mereka tinggalkan.

Weed bisa melihat dengan jelas, tetapi tidak bisa mendekati hingga cukup dekat untuk mengambilnya.

Ada monster yang kuat yang tinggal di area-area itu yang akan sulit untuk dihadapi sendirian. Selain itu, party itu datang melalui area-area seperti itu, dimana jumlah monsternya disana adalah yang paling banyak.

Sekilas dataran itu tampak seperti kosong, tetapi itu adalah kesan pertama yang menyesatkan. Setiap jenis monster memiliki wilayahnya sendiri-sendiri, dengan berjalan memasukinya, para player akan diserang oleh monster-monster yang menghuni wilayah tersebut. Wilayah-wilayah ini tersebar di seluruh Lands of Despair, membentuk sebuah labirin yang rumit.

Weed memiliki salinan peta, oleh karena itu dia bisa menghindari area-area yang berbahaya. Namun bahkan dengan peta dan kuda, dia harus mengikuti jalur yang berliku-liku yang mana hal itu sangat memperlambat dia.

Setelah seharian berpacu tanpa henti, kuda itu mulai mengeluarkan busa di sudut mulutnya. Kuda itu kelelahan. Terutama karena Weed membawa patung Orc yang sangat berat didalam salah satu tasnya.

Biasanya pemilik kuda akan merawat tunggangan mereka: mengelus, menghibur, memberi makan wortel, dan tentu saja membiarkan mereka beristirahat ketika mereka lelah.

Namun Weed malah memaksa kudanya untuk terus berlari.

“Ayo, larilah. Kau bisa melakukannya. Bagaimanapun juga kau adalah spesies pelari, tidakkah kau merasa kecewa bahwa kau tidak pernah benar-benar mencapai batasmu?”

Setelah itu dia tiba-tiba mulai memukul punggung kuda itu dengan tempo tertentu. Dan kuda itu mulai berlari sedikit lebih cepat, mengerahkan sedikit tenaganya yang masih tersisa. Namun setelah beberapa saat, kecepatannya mulai menurun lagi.

“Itu sulit, bukan? Bertahanlah sedikit lagi. Ketika kita sampai, kau akan bisa beristirahat sebanyak yang kau mau.”

Si kuda mempercayai kata-kata itu, berhenti memperlambat kecepatan dan mengerahkan lebih banyak usaha untuk berlari.

Suara lembut dan statistik Charisma serta Leadership miliknya membantu dia untuk meyakinkan si kuda malang untuk berlari kedepan dengan harapan segera mencapai tujuan mereka.

Namun, tak peduli seberapa lama kuda itu berlari, tak ada tanda-tanda dari tujuan mereka dan Weed

tidak membiarkan kuda itu melambat.

“Ayo, sedikit lagi.”

Si kuda terus berlari.

“Hampir sampai.”

Si kuda masih mempercayainya.

“Tinggal sedikit lagi.”

Sikap Weed terhadap tunggangannya sangat mengerikan. Dia memeras seluruh tenaga dari kudanya.

Pada akhirnya si kuda tidak bisa menahan perlakuan semacam itu lebih lama lagi, melangkahkan beberapa langkah terakhir dan jatuh ke tanah, benar-benar kelelahan.

Setelah memeriksa si kuda yang terengah-engah dan menyadari bahwa dia tidak akan bisa menungganginya lagi, Weed melepaskan tas-tas miliknya dari kuda itu dan berkata:

“Sekarang kau bebas. Pergilah kemanapun kau mau. Semoga beruntung.”

Dia mengeluarkan patung Orc kecil. Dia tidak punya waktu untuk menunggu kuda itu memulihkan tenaganya, jadi dia beralih ke cara dia bepergian yang semula.

“Sculptural Shapeshifting!”

Perjalanan ke Kerajaan Rosenheim menghabiskan waktu 7 hari. Tetapi sekarang, dia telah melewati sebagian besar dari perjalanannya dengan menunggangi kuda dan menghemat kekuatannya, kali ini akan berkurang setengah waktu yang dibutuhkan.

“Chwiik! Chwiik!”

Si Orc mini menuju ke timur.

Waktu yang dia miliki benar-benar sempit. Terakhir kali dia mengunjungi semua desa-desa pengasingan di pusat Lands of Despair. Sekarang dia harus mengunjungi sebanyak mungkin desa pengasingan yang terpencil.

Jika menghitung perjalanan kembali ke benteng Dark Elf, itu akan membutuhkan sekitar 12 hari.

“Dan aku punya 15 hari sampai peperangan dimulai.”

Setelah menyimpulkan bahwa dia memiliki waktu yang cukup, Weed melanjutkan berlari, tiba-tiba, dia melihat seseorang berdiri di sebuah bukit. Orang tersebut berdiri dengan punggungnya menghadap pada Weed dan menatap sesuatu yang berada di luar jangkauan pandangan Weed.

“Seorang player? Bagaimana bisa… Tidaklah mudah untuk sampai kesini. Itu pasti seorang penduduk desa. Chwiit!”

Desa-desa pengasingan tersebar diseluruh Lands of Despair. Dan meskipun tempat ini penuh dengan monster, mereka memiliki semangat hidup yang tinggi, para penduduk desa pergi berburu dan keluar dari desa untuk urusan yang lain. Itu tidaklah aneh untuk bertemu salah satu dari mereka disini.

“Chwiik, apa ada desa didekat sini?”

Saat dia semakin mendekat, dia melihat lebih banyak detail tentang orang yang berdiri dibukit itu.

Postur yang anggun, rambut sepinggang.

Itu pasti seorang wanita.

Meskipun Weed hanya bisa melihat punggungnya, naluri sebagai seorang Sculptor miliknya memberitahu dirinya bahwa wanita itu pasti sangat cantik. Seorang wanita yang memandang matahari terbenam. Bukan, seorang gadis muda.

Memutuskan bahwa itu bukanlah urusannya, Weed melanjutkan untuk berlari. Gadis itu sudah pasti bisa mendengar dirinya, namun gadis itu tak memberi perhatian pada Weed, jadi dia memutuskan untuk berlari melewati si gadis begitu saja.

Sambil berlari menaiki bukit, Weed menyadari sesuatu di sudut bidang pandangannya. Seekor monster besar seperti banteng berlari kearah yang sama.

“Hunter of Plains!”

Itu adalah salah satu dari beberapa jenis monster yang tidak tinggal di suatu wilayah tertentu. Hunter of Plains berkeliaran di seluruh Lands of Despair, memburu orang-orang atau bahkan kadang-kadang monster.

Penduduk desa mengatakan bahwa mereka adalah warrior sekitar level 320 yang dikutuk oleh mantra kegelapan dan berubah menjadi monster dengan HP yang tinggi dan kemampuan yang tak menyenangkan untuk mengurangi sedikit Vitality milik player dengan setiap serangan.

Fitur yang terakhir membuat mereka sangat sulit untuk dihadapi.

Weed bersiap untuk pertempuran yang sulit.

“Sialan. Aku bahkan belum mempertajam pedang atau memoles armor….”

Dia terfokus pada berlari, jadi dia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk pertempuran. Dan perbedaan diantara bertarung dengan persiapan dan bertarung tanpa persiapan sangatlah besar.

Jika dia bertemu monster di medan datar, dia bisa memutari monster tersebut. Tetapi di tanjakan seperti ini, dia menyadari itu sudah terlambat dan tak mungkin untuk menghindari pertempuran.

Namun si Hunter of Plains tidak menuju kearah Weed, tetapi kearah si gadis yang berdiri di puncak bukit!

Monster itu memburu si gadis.

Bagus. Aku bisa melarikan diri saat mereka bertarung… Oh, tidak, aku tidak bisa lari!

Awalnya Weed lega dan hendak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, namun kemudian dia ingat ciri lain dari monster jenis itu. Hunter of Plain selalu mengejar mangsa mereka hingga akhir.

Setelah monster itu menghabisi si gadis, monster itu akan mengikuti Weed sampai berhasil menangkapnya. Dan hal itu kemungkinan besar akan terjadi ketika Weed kelelahan, yang mana akan membuat bertarung dengan monster itu menjadi lebih sulit lagi.

Jadi hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menghadapi monster itu sekarang juga. Selain itu monster ini memiliki titik lemah tertentu.

Semetara dia sibuk dengan gadis itu, aku akan menyelinap dari belakang dan menikamnya.

Si Hunter of Plain mengarahkan tombaknya pada si gadis.

Weed menguatkan pegangannya pada glaive. Dia mengandalkan pada membuat serangan tunggal yang kuat, yang kemungkinan besar akan berakibat fatal.

Dia pikir dia sudah merencanakan untuk segala kemungkinan. Namun pada saat-saat terakhir, si gadis berputar dengan kecepatan yang luar biasa dan menghunus pedangnya! Bilah tersebut bersinar dan tampak seperti terbagi menjadi 3 pedang yang berbeda, yang mana dengan segera menyerang si Hunter yang hendak menusukkan tombaknya.

Detik berikutnya, si monster telah tewas.

Gadis itu menatap Weed.

Ketika mata mereka bertemu, Weed tertegun.

Weed mengenal dia.

Sangat mengenali dia!

Itu adalah Seoyoon.

“Chwi, chwiik…”

Dia membeku dengan glaive terangkat dalam posisi menyerang. Dari samping, itu tampak seperti seorang Orc jelek akan menyerang seorang gadis yang sendirian.

****

Setelah meninggalkan Kerajaan Rosenheim, Seoyoon pergi untuk melakukan perjalanan panjang yang berakhir di Lands of Despair.

Didalam game, dia adalah seorang Berserker, yang memungkinkan dia untuk menguasai segala macam senjata. Namun kekuatan sejatinya akan muncul ketika bertarung untuk durasi yang lama.

Player dengan profesi itu tidak akan pernah lelah dan sebaliknya, menjadi semakin kuat ketika mereka melihat lawan mereka berdarah.

Seoyoon bertarung seperti sebuah mesin pembunuh, seperti bagaimana mestinya Berserker sejati. Tak peduli siang atau malam, dia tanpa kenal lelah berburu dan membunuh monster satu demi satu, hanya meninggalkan mayat dibelakang.

Kadang-kadang, selama perjalanannya dia terjebak di pusat suatu dungeon dan terbunuh sebagai hasilnya. Bahkan seorang player seperti dirinya, yang bertarung nonstop sejak peluncuran Royal Road, tidak bisa menang melawan musuh dengan jumlah yang sangat banyak.

Tetapi hal itu tidak mengganggu dia. Kehilangan level dan level skill tidaklah penting. Terlebih lagi, dia lebih suka bertarung melawan monster tanpa mengurusi skill-skill miliknya.

Namun dia tidak bisa bermain selama 24 jam setelah kematian, jadi dia berusaha untuk tidak mati, dia berusaha untuk menang dalam semua pertarungan.

Meskipun itu bukanlah poin utamanya. Dia hanya membutuhkan pertempuran untuk mengeluarkan rasa frustasi yang telah terkumpul! Untuk membalas dendam!

Dan monster-monster tak bisa menemukan kilatan belas kasihan pada matanya yang dingin.

Musuh.

Seoyoon menyadari Orc itu, yang mendekati dirinya dengan glaive ditangannya dan menatap lurus pada Orc itu.

Dia tidak santai sedikitpun, karena pertempuran baru bisa dimulai kapan saja. Pedang ditangannya berpaling kearah target yang baru.

****

Seoyoon.

Setelah mengenali dia, Weed membeku ditempat.

Cantik. Dia sudah melihat Seoyoon sebelumnya, tetapi sekarang saat dia bertemu lagi dengannya, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya, kecantikan Seoyoon menusuknya terlalu dalam.

Seorang manusia tak mungkin secantik ini…

Itu tampak seperti wajahnya bersinar. Mata, mulut, hidung, segalanya sangat harmonis, memenuhi wajahnya dengan pesona yang luar biasa.

Setelah melihat Seoyoon begitu dekat, Weed merasakan keputusasaan. Dia menciptakan begitu banyak patung, tetapi tak satupun dari patung-patung itu yang mencerminkan kecantikannya dengan benar.

Jika memungkinkan, dia ingin menatap Seoyoon seperti ini sepanjang hari. Dia tidak akan pernah merasa bosan.

Tetapi sekarang ini bukanlah waktu yang terbaik untuk melakukan hal itu. Dia harus pergi dari sini, sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi.

Jika dia diketahui sebagai player yang telah membuat patung dari dirinya tanpa ijin, dia mungkin akan berakhir seperti Hunter of Plain tadi.

Tak peduli seberapa kuat Weed menganggap dirinya sendiri, Seoyoon memiliki level yang sangat tinggi bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Dan semua item-item yang dia pakai memiliki level diatas 300.

Masalah.

Selain itu, situasinya sangatlah rawan. Orc memegang sebuah glaive menyerang seorang gadis yang sendirian.

Weed menelan ludah. Tentu saja, dia hanya perlu menjelaskan hal itu pada Seoyoon dan membersihkan situasinya.

“Chwi, Chwiik!”

Weed buru-buru dan gelisah, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah suara khas Orc yang tak berguna!

“Chwichik…”

“Chwiiiit!”

Setiap kali dia berusaha untuk mengatakan sesuatu, dia malah meludah kearah Seoyoon!

Dan kemudian dia merasakan suatu aura ganas memancar dari tubuh Seoyoon. Seolah-olah Seoyoon sudah mencingcang Weed dalam pikirannya. Hal itu membuat tubuhnya menjadi kaku dan kakinya gemetar. Sesuatu yang menekan dan mengintimidasi.

Nafas kematian!

Tekanan yang luar biasa itu membuat Weed berpikir bahwa dia akan mati bahkan jika dia menjelaskan situasinya. Tetapi dia setidaknya bisa berusaha. Dia harus memberitahu Seoyoon bahwa dia adalah pria yang pernah berbagi makanan dengan dirinya di rumah instruktur.

Meskipun fakta itu mungkin tidak menghentikan Seoyoon, bahkan mawar yang paling indah juga memiliki duri. Bagaimanapun dia sudah memiliki tanda merah dari seorang PK pada pertemuan pertama mereka.

Dia adalah PK pertama yang Weed temui di Royal Road.

Siapa sangka bahwa di Lands of Despair aku akan bertemu orang yang tak pernah aku harapkan untuk bertemu lagi.

Sejak pertemuan yang mengesankan di meja makan itu, sosok gadis cantik namun dingin itu telah tercetak dalam ingatannya. Setiap kali Weed menciptakan patung baru, dia berusaha memberi ekspresi yang berbeda pada wajah Seoyoon dalam imajinasinya. Dia berusaha untuk memenuhi bidadari yang dingin ini dengan kecantikan yang lebih hidup.

“Chwiik!”

Weed membuka matanya lebar-lebar dan menatap Seoyoon dengan tegas.

Jika lawannya adalah seorang pembunuh, fakta bahwa dirinya adalah seorang player juga, mungkin hanya akan mendorong Seoyoon untuk menyerang. Tetapi hal itu mungkin juga mencegah dia dari menyerang.

Bisakah aku mengalahkan dia?

Bahkan jika dia mengerahkan segala kekuatannya, dia masihlah jauh dibawah Seoyoon dalam segi level dan kualitas equipment. Pada pandangan pertama, menilai dari item-item milik Seoyoon, Weed berada sekitar 70 level dibawahnya.

Beberapa bulan yang lalu BadRay telah mencapai level 370. Sekarang dia pasti sekitar level 390. Meskipun level Seoyoon sedikit lebih rendah, dia masihlah berada diantara player top!

Weed tidak takut pada player dengan level yang lebih tinggi dari pada levelnya, dia menutup perbedaan tersebut dengan skill-skill kerajinan miliknya, statistiknya yang tinggi dan Sculpture Mastery!

Namun bagi dia yang memulai untuk bermain demi mendapatkan uang, musuh terburuknya adalah para PK.

Mereka adalah para bandit.

Sementara player biasa seperti Weed, berpartisipasi dalam quest-quest dan pertempuran yang sulit untuk mendapatkan item, para pembunuh berlatih untuk bertarung melawan player. Dan pada akhirnya mereka membunuh player lain dan mengambil semua item-item korban-korbannya!

Meskipun dia sudah punya pengalaman menghadapi Dwichigi Quartet, yang mana berakhir dengan kemenangannya, kasus saat ini sangatlah berbeda.

Seoyoon akan menjadi seorang lawan yang sulit.

Seoyoon telah melalui pelatihan yang sama di Training Hall seperti yang dia lakukan, jadi dia tidak bisa terlalu mengandalkan pada peningkatan statistik. Dan dia tidak bisa menggunakan keuntungan rahasia miliknya, pengasahan pedang dan pemolesan armor. Selain itu, sebuah profesi petarung seperti Seoyoon, pasti juga memiliki beberapa skill yang tidak dia ketahui.

Weed tidak melihat adanya jalan keluar!

Namun, Weed semakin mempertajam tatapannya. Dia harus menunjukkan bahwa situasi sesungguhnya berkebalikan dengan situasi saat ini! Setidaknya dia memiliki kekuatan yang sama dengan Seoyoon, atau mungkin lebih kuat! Dan kemudian menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri!

Weed sudah mempersiapkan 36 skenario yang berbeda untuk melarikan diri.

Namun, kemudian Seoyoon menurunkan pedangnya begitu saja, berbalik dan melanjutkan perjalanannya.

Weed tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa Weed tahu, bahwa Seoyoon hanya melawan monster yang menyerang dia terlebih dulu! Dimatanya, Seoyoon tidak melihat adanya ancaman, jadi dia tidak melakukan apa-apa pada Weed.

Weed yang kebingungan segera sadar.

Ngomong-ngomong, aku tak punya waktu untuk hal ini.

Dia melanjutkan berlari kearah Pegunungan Yuroki.

Namun Seoyoon juga bergerak. Dan secara mengejutkan, mereka pergi ke arah yang sama. Oleh karena itu beberapa hari kemudian, jalan mereka berseberangan lagi.

Awalnya Weed tidak bisa memahami bagaimana hal itu bisa terjadi. Dia berlari secepat yang dia bisa selama 2 hari nonstop, tetapi Seoyoon sedikit lebih cepat dari dirinya.

Namun kemudian dia menyadari. Dia harus menghindari semua monster dan wilayah-wilayah mereka, sambil mengunjungi desa-desa pengasingan pada saat yang sama.

Tentu saja jalurnya jauh lebih panjang dan lebih sulit. Tak seperti dirinya, Seoyoon berjalan lurus, melawan semua monster yang ada dijalannya.

“Chwi, chwiik!”

Weed merasa hatinya terluka.

Dia mengerahkan segala usahanya untuk berlari, tetapi mereka masih bergerak dengan kecepatan yang setara! Dan Seoyoon terus-menerus memburu monster dan mendapatkan exp serta item.

Ketiga kalinya mereka bertemu di Lembah Yunopu. Sejak saat itu mereka melakukan perjalanan bersama-sama.

Seoyoon tidak mempedulikan si Orc yang mengikuti dirinya, dia hanya terus berjalan.

Lembah Yunopu terletak di bagian utara Lands of Despair. Dua gunung kembar yang menarik para pengembara, seperti sepasang pintu raksasa. Selain lembah diantara kedua gunung itu, satu-satunya jalan untuk sampai ke sisi lain adalah memutari atau mendaki gunung itu yang mana hal itu akan jauh lebih sulit.

“Aku tak punya banyak waktu, Chwiik!”

Weed memutuskan untuk melintasi Lembah Yunopu.

Dia sedikit khawatir tentang mengikuti Seoyoon, jadi dia memutuskan untuk menjaga jarak untuk menghindari bahaya. Atau monster lebih tepatnya.

Area ini dihuni oleh para Yeti raksasa. Mereka memiliki bulu putih yang tebal yang membuat mereka kebal terhadap sihir es. Selain itu mereka memiliki level 340!

Mereka dulunya tinggal di pegunungan, namun diusir oleh monster lain yang lebih kuat, jadi mereka berpindah ke lembah yang kebetulan adalah rute populer bagi para pemburu di Lands of Despair.

“Apa boleh buat! Harus bertarung melawan para Yeti.”

Weed memutuskan untuk melewati lembah itu dan sekarang sedang menonton Seoyoon mendemonstrasikan keterampilan pedang miliknya yang luar biasa saat melawan Yeti.

“Dia kuat…”

Sambil berlari melintasi Lands of Despair, Weed menghindari sebagian besar monster, namun di Lembah Yunopu dia harus menghadapi Yeti. Dia harus bertarung!

Bahkan dengan skill-skill kerajinannya, setiap pertempuran membutuhkan semua skill miliknya. Selama pertempuran HP miliknya jatuh sampai tingkat kritis, tetapi sekarang ini Weed mengalahkan mereka.

Tampak seperti pertempuran itu tidak membutuhkan banyak usaha bagi Seoyoon. Menggunakan teknik miliknya, dengan keanggunan yang luar biasa, Seoyoon membunuh beberapa Yeti sekaligus.

Tentu saja dia memiliki level yang lebih tinggi dan equipment yang lebih bagus daripada Weed, tetapi Weed menyadari sesuatu yang lain. Skill.

Royal Road adalah sebuah game virtual reality. Disini, tak peduli seberapa tinggi level skill dan kemampuan seseorang, hanya dengan menggunakan skill-skill dan kemampuan itu secara efektif, seseorang bisa menyadari potensial penuh dari profesinya.

Hal itu bisa di demonstrasikan pada sebuah duel antara seorang Monk dan seorang pendekar pedang, dua profesi yang paling populer diantara para player. Player yang menggunakan pedang akan berusaha untuk menjaga lawannya pada jarak tertentu selama duel, sementara Monk akan melakukan sebaliknya, berusaha mendekat sedekat mungkin.

Jika skill-skill mereka berada pada tingkat yang sama, hasil dari duel akan bergantung pada taktik, reaksi dan sedikit keberuntungan mereka. Dan dalam hal ini, petarung dengan pengalaman dan keterampilan paling banyak, kemungkinan besar akan menang.

Tentu saja, hal itu tidak terlalu penting dalam perburuan monster, meskipun para pemula yang tidak mau mempelajarinya sama sekali, bisa saja terbunuh bahkan oleh monster terlemah.

Namun, bahkan petarung berpengalaman tidak akan punya sedikitpun kesempatan menang melawan Weed yang menghabiskan sepanjang tahun untuk mempelajari ilmu pedang.

Gerakan yang bagus.

Weed mengagumi keterampilan pedang Seoyoon.

Teknik milik Seoyoon tidak teroganisir seperti teknik miliknya sendiri. Ilmu pedang milik Weed tidak memiliki kelemahan apapun. Dia secara tepat menggunakan semua otot-ototnya, mengkonsentrasikan kekuatannya pada pertahanan atau serangan tiba-tiba.

Kadang-kadang Weed terbawa suasana dan masuk kedalam pertempuran, sepenuhnya melupakan pertahanan. Hanya mengandalkan pada kelincahan dan reaksinya, menunjukkan kemahiran yang luar biasa, dia menghujankan serangan pada musuhnya, mengalahkan mereka cepat atau lambat.

Tetapi Seoyoon bertarung dengan cara yang berbeda. Dia memikirkan tentang pertahanan dan serangan pada saat yang sama. Ketika dia melihat kelemahan, dia menyerang, ketika dalam bahaya, bertahan.

Tentu saja, dia mengembangkan taktik itu melalui banyak pertempuran melawan monster, yang mana manyebabkan keahliannya pada akhirnya mencapai batasnya. Tetapi Weed tetap iri pada dia. Dalam pertempuran Seoyoon tampak seperti dia sedang menari. Kerena kelincahannya, dia bisa melancarkan serangan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang wanita.

Ketika situasinya memungkinkan, Weed melihat tindakan gadis itu dengan perhatian penuh.

Dia benar-benar suka berburu!

Meskipun sepanjang waktu ini dia tidak mengatakan apa-apa dan selalu bertarung dengan ekspresi dingin yang sama. Tampak seperti hal itu mengatakan bahwa monster-monster mengerikan ini bukanlah tandingannya.

Namun Weed melihat sesuatu yang lain.

Jauh didalam wajah cantiknya yang dingin tersembunyi kesedihan. Suatu beban dalam hatinya.

Sejak pertemuan pertama mereka, sambil menciptakan patung, Weed sering berpikir tentang apa sebenarnya yang ada dalam hati Seoyoon. Dia tidak punya banyak pengalaman dalam memahami perasaan orang lain saat itu dan tidak bisa menyadari hal-hal seperti itu.

Sekarang dia bisa memahami perasaan orang lain lebih baik dan bisa menyadari perasaan-perasaan tersembunyi itu.

Kenapa dia begitu sedih?

Weed berusaha untuk memandang dia lebih dekat lagi.

Meskipun dia terpikat oleh rahasia Seoyoon, hanya dengan menatap dia sudah bisa memberi perasaan senang. Weed belum pernah melihat seorang gadis secantik itu sebelumnya, hingga dia tidak bisa mereplika kecantikan itu pada sebuah patung bahkan setelah begitu banyak mencoba.

Sambil menatap dia, Weed menyadari sesuatu yang lain lagi.

Seoyoon tidak pernah mengincar kepala lawan. Meskipun Yeti memiliki tinggi lebih dari 2 meter, sementara gadis itu sekitar 1.67 meter, dengan pedang dia akan bisa menyerang kepalanya.

Weed sudah pasti akan mengincar kepala, karena kepala adalah bagian yang memiliki pertahanan paling rendah dan menyerang kepala kemungkinan besar akan menjadi serangan critical.

Tetapi Seoyoon tidak pernah memukul wajah. Tampak seperti dia bahkan tidak melihat wajah mereka.

Dia hanya menggunakan teknik-teknik yang tersedia untuk membunuh lawannya secepat mungkin.

Dia tidak melihat ekspresi mereka? Mungkin dia takut untuk melihat mereka kesakitan…. Tidak, kemungkinan besar ada alasan yang lain.

Karena Weed mengikuti Seoyoon, dia tidak harus banyak bertarung. Dia akan melawan beberapa musuh yang mencoba menyerang gadis itu dari belakang.

“Chwiik, exp!”

Kulit Yeti adalah item kelas atas dan memiliki harga jual yang tinggi. Selain itu bulu mereka tampak sangat mengesankan dan pakaian yang terbuat dari kulit itu sangat hangat.

“Chwichichichit!”

Jika aku mengambil semuanya, aku bisa melupakan tentang cuaca dingin. Aku akan menjahit pakaian dan bahkan mendapatkan uang tambahan.

Weed tenggelam dalam perburuan dan mengumpulkan kulit Yeti.

“…..”

Seoyoon terus bertarung dan tak mempedulikan rekannya yang tak terduga. Sekarang ketika dia berbalik, dia selalu melihat ada seorang Orc dibelakangnya.

Seoyoon masih tidak mengatakan apa-apa, dan Weed menganggap itu wajar. Dia tidak mendengar Seoyoon berbicara sebelumnya juga. Selain itu, bahkan player biasa tidak akan berbicara padanya sekarang ini karena dia berubah wujud menjadi Karichwi.

Meskipun awalnya Weed sedikit khawatir mengikuti dia, Weed dengan cepat menyadari bahwa Seoyoon tidak akan menyerang dirinya. Hal itu menjadi jelas setelah dia mengamati Seoyoon selama beberapa saat dan melihat bahwa Seoyoon berusaha menghindari bertarung melawan Yeti yang memiliki anak.

Bagaimana bisa dia menjadi seorang pembunuh? Dan dia bahkan tidak harus berjalan-jalan dengan ekspresi yang dingin seperti itu.

Weed sangat penasaran, tetapi karena dia tidak suka orang lain mengusik kehidupan pribadinya, dia berusaha untuk tidak mengusik kehidupan pribadi orang lain. Jadi satu-satunya hal yang tersisa untuk dia adalah berburu dan mengumpulkan item, sambil berjalan melewati Lembah Yunopu. Lembah tersebut tidak memiliki persimpangan atau jalan yang lain, hanya ada satu jalan lurus dan sangat panjang. Dan itu akan membutuhkan 4 hari lagi untuk melintasinya menurut peta.

Setengah hari kemudian Seoyoon berhenti untuk beristirahat. Dia mengeluarkan roti gandum yang dia kumpulkan saat berada di Kerajaan Rosenheim dan mulai mengunyahnya perlahan-lahan.

Weed menghormati Seoyoon karena hal itu.

“Ya, untuk mengurangi pengeluaran, seseorang harus memulainya dari makanan. Jika kau melakukan hal itu, kau bisa mengumpulkan uang yang banyak. Uang adalah kekuatan. Seseorang harus terus menabung, maka dia tidak akan pernah kehabisan.”

Tetapi tak seperti gadis itu, Weed tidak hanya makan roti gandum.

Karena skill memasaknya yang tinggi, dia bisa mengumpulkan bahan-bahan selama berburu dan kemudian dengan sedikit bumbu, memasakan makanan yang lezat dan nyaris gratis. Yang mana tidak hanya memuaskan rasa laparnya, tetapi juga memperkuat statistiknya.

Weed menyalakan api, menusuk daging Yeti pada tongkat kayu dan mulai perlahan-lahan memanggangnya diatas api. Aroma lezat segera menyebar disekitar dia.

“Chwiik!”

Ketika sudah matang, Weed memegang salah satu tongkat tersebut dengan kedua tangannya dan mulai makan. Si Orc kurus itu makan dengan nafsu makan yang besar.

Kepuasanmu meningkat.

• Stamina naik sebesar 40%

• HP naik sebesar 15%

Kamu memakan daging Yeti yang memiliki kekuatan yang besar.

Sebagai hasilnya, Strength milikmu telah naik sedikit selama periode tertentu.

Skill memasak tahap Intermediate!

Beberapa orang menggunakan timing yang tepat dan jumlah bahan-bahan yang pas. Tetapi Weed mencapai segalanya melalui latihan dari memasak makanan dalam jumlah yang banyak untuk party yang dulunya dia komando.

Jadi bahkan hidangan yang paling simpel yang dimasak oleh Weed, rasanya sangat lezat. Selain itu makanannya sedikit meningkatkan statistik.

“…..”

Sambil makan, Weed menatap Seoyoon. Dia berpikir bahwa Seoyoon akan melanjutkan perjalanan setelah makan roti itu dan Weed harus mengejar dia. Bagaimanapun juga di lembah yang penuh dengan Yeti, bahkan rekan yang paling tidak serasi sangatlah penting.

Namun, dia sangat terkejut, gadis itu berdiri hanya berjarak beberapa langkah dari dirinya, menatap Orc itu. Atau lebih tepatnya menatap daging di tangannya. Daging Yeti panggang yang lezat mengeluarkan aroma yang lezat juga!

“Chwiik!”

Weed tertegun selama beberapa saat, namun kemudian dengan cepat menyerahkan tongkat daging panggang yang lain pada Seoyoon. Weed bisa berburu daging dan memotong tongkat lain dari cabang kayu, semua ini tentunya tidak sepadan untuk membahayakan nyawanya.

Sejak saat itu, Seoyoon selalu bergabung dengan Orc kecil itu untuk makan. Dalam perjalanan ini, Weed secara tak terduga benar-benar menjadi koki pribadi Seoyoon.

Meskipun dia tidak berpikir hal ini cukup adil.

Jika aku tidak berbagi makanan, dia mungkin akan memakanku…. Dia adalah seorang pembunuh yang sebenarnya.

Translator / Creator: alknight