November 21, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 6 – Chapter 2: Lavias, City in the Sky

 

Di salah satu dari banyak dungeon tersembunyi, seorang gadis muncul. Dia mendapat dirinya didalam sebuah dungeon gelap, dan melihat ke sekeliling dengan bingung. Namun, segera dia sadar.

“Cahaya! Cepatlah menyala.”

Cahaya yang dipanggil dengan cepat menerangi kegelapan, merapal sihir tersebut agar bisa berjalan kesekeliling.

Dia awalnya ingin menjadi seorang Wizard, tetapi juga ingin memegang pedang. Meskipun senjatanya adalah jenis pedang pendek, itu memiliki serangan menusuk yang kuat. Dia membawa busur di pundaknya, dan dia memiliki penampilan seperti seorang Priestess. Dimana dia tidak bisa menggunakan serangan fisik, dia menggunakan mantra dan buff. Profesinya benar-benar ahli dalam banyak bidang.

Identitas gadis itu adalah seorang Shaman.

Da’in! Dia menderita penyakit yang serius dan harus menjalani operasi. Sekarang dia telah kembali.

“Tidak ada yang berubah.”

Mata Da’in berkilauan.

Seolah sudah takdir, saatnya sudah tiba untuk bergerak maju dengan kepalanya dijunjung tinggi-tinggi.

“Nona, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Orang yang mengatakan kata-kata itu adalah seorang Dullahan.

Itu akan sangat menakutkan, tapi bagi Da’in, itu adalah pemandangan yang familiar.

“Kalau begitu katakanlah!”

“Aku sedang mencari kepala, kepalaku. Jika kau melihatnya, tunjukkan padaku dimana kepala itu.”

Mahluk mengerikan itu tengah memegang kepala yang sedang dia cari!

Da’in memutuskan untuk memberi jawaban pada dia.

“Kalau begitu tutuplah mulutmu.”

“Apa kau bilang?”

Da’in tiba-tiba mengepalkan kedua tinjunya dan tanpa henti memukuli kepala si Dullahan.

“Aku menyerah!”

Dimasa lalu, dia benci berburu undead. Setelah berhasil menjalani operasi, Dullahan hanyalah monster.

Meskipun memukul dengan tinju bukanlah satu-satunya skill yang dipelajari, skill memanahnya juga sangat luar biasa.

Dia juga bisa menggunakan berbagai buff, dan dia mempelajari kutukan dan sihir serangan.

Bahkan ilmu pedangnya berlevel tinggi!

Satu hal yang sulit bagi Da’in, adalah bahwa profesinya tidak menghasilkan kekuatan sebanyak profesi aslinya, karena Da’in adalah seorang Shaman. Profesi yang memiliki kemampuan merata dalam semua bidang, tetapi tidak bisa mengkhususkan diri, meskipun tampak sangat efektif dalam pertempuran.

Yah, penyebab dari kondisi pikirannya saat ini juga harus dipertimbangkan. Awal dari segala bermula dari tempat ini, dengan karakter bernama Weed. Da’in mulai memukul dan menendang, dan diikuti dengan menusuk. Dia dengan gembira menggunakannya untuk menghajar si Dullahan.

“Kepalaku, kepalaku! Kepalaku sakit sekali.”

“Rasanya sedikit stress untuk dirawat di rumah sakit… tolong mengertilah. Itu tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Blood Curse!”

Namun Blood Curse yang dia gunakan memiliki atribut kegelapan.

Si monster, Dullahan, dikutuk dengan kutukan kegelapan!

Dia dihajar habis-habisan dan kemudian HPnya dipulihkan bahkan jumlahnya lebih banyak daripada sebelumnya.

Kombo yang benar-benar menakutkan.

Bukannya membunuh Dullahan, buff itu menyelamatkan si Dullahan dan kemudian menghajar dia lagi,

itu benar-benar berlawanan. Setelah menghajar Dullahan itu cukup lama, Da’in menghabisinya dengan panah.

Melatih skill-skillnya setelah sekian lama!

Memukul atau menusuk, memanah dan sihir, semuanya masih sama.

Dullahan yang malang menjadi target semua skill ini.

“Aku masih tidak terlalu berkarat dengan skill-skillku.”

Da’in tersenyum riang.

Ketika dia bermain Royal Road dimasa lalu, dia hanya mempedulikan tentang meningkatkan skill miliknya daripada level. Memberi Buff pada monster, menghajarnya, dan kemudian mengulanginya lagi.

Level skill-skill miliknya meningkat secara tidak normal.

“Senang bisa melihat para Dullahan, dan para Skeleton itu!”

Da’in berjalan sendirian, menelusuri dungeon undead itu. Namun tubuhnya bergerak seperti memiliki kehendak sendiri. Kembali ke Royal Road setelah waktu yang lama, dia menikmati suasananya, seolah-olah mabuk karena menghirup udaranya.

Dia sangat merindukan ini saat dia berbaring dirumah sakit.

Hanya ingin menghirup sekali saja, dia sangat menginginkannya seolah-olah menginginkan makanan.

Betapa indahnya dunia ini, hanya orang sakit yang bisa memahami kalimat ini. Namun, dimanapun monster tertangkap pandangannya, dia akan langsung menghajar mereka tanpa ampun. Skeleton warrior, Skeleton knight.

Tepat sebelum operasi, dia datang ke dungeon ini. Itu adalah operasi beresiko tinggi. Ada banyak kasus dimana pasien meninggal ditengah-tengah operasi. Orang-orang khawatir bahwa Jika hanya ada tulang yang tersisa setelah kematian, itu akan terlihat seperti skeleton.

Dia berkeliling dungeon undead hanya untuk melihat para Skeleton!

Dalam ingatannya, area ini hanyalah tempat yang tandus, tetapi sekarang telah berbeda.

Tempat ini dulu dihiasi dengan stalaktit abu-abu dan hitam, berserakan atau menggantung secara alami didalam gua. Tetapi sekarang ada banyak patung diukir disegala tempat.

Kamu telah melihat Nameless Sculpture of Lavias.

Patung-patung indah yang tak memiliki nama ini telah diciptakan! Patung-patung ini menyimpan kenangan berharga dari seseorang telah menjadi tempat perlindungan dan petunjuk didalam dungeon yang berbahaya ini. Patung-patung misterius ini diciptakan oleh seorang Sculptor misterius.

Efek:

• Aura tenang di sekitar patung ini akan meningkatkan HP dan MP player sebesar 25%

• Meningkatkan kecepatan sebesar 10%

• Serangan para monster akan berkurang sebesar 5%

Efek-efek ini tidak bisa ditumpuk dengan efek patung lain.

“Patung?”

Da’in sedang dalam mood yang buruk karena patung-patung itu tidak sesuai dengan ingatannya tentang tempat ini.

“Kenapa semuanya seperti ini?”

Ketika dia hendak berbalik, penampilan patung-patung itu tiba-tiba terasa familiar.

Satu alis sedikit naik dengan ekspresi galak pada wajah pria itu!

Dan si wanita sangat mirip Da’in.

“Tidak mungkin…”

Da’in menatap pria itu. Tak diragukan lagi, itu adalah pria yang dia temui sesaat sebelum operasi.

Di Royal Road, orang yang bisa mengukir namanya dalam-dalam didalam hati Da’in disaat-saat terakhir.

Pada saat itu, Da’in dan orang ini membuat party yang fantastis. Kemampuan yang bermacam-macam dari Shaman, dikombinasikan dengan kekuatan Weed menyapu bersih dungeon undead.

“Oh Weed.”

Air mata mengalir tak terkendali di wajah Da’in.

“Hiks. Aku berjanji untuk tidak akan pernah menangis lagi, tapi….”

Sebelum menjalani operasi itu, dia membayangkannya ratusan kali.

Dia akan mencari kehidupan baru, dengan senang hati karena hidup.

Dia tidak akan pernah menangis.

Tetapi sekarang meneteskan air mata ini, apa yang dia rasakan tak bisa diungkapkan lewat kata-kata.

Saat dia pergi untuk menjalani operasi, dia berpikir bahwa tak seorangpun akan mengingat dirinya.

Hanya akan menjadi eksistensi yang sepenuhnya terlupakan, dia bahkan tidak tahu apakah ada orang yang akan memikirkan dirinya.

Namun, ada satu orang yang memberi dia semua ini sebagai kenangan untuk dia.

Ada seorang pria yang mengukir penampilannya kedalam patung. Dia bisa merasakan detak jantungnya. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat, tangannya sedikit gemetar. Seluruh tubuh Da’in penuh dengan emosi, dan kemudian dia melihat ada coretan-coretan yang tertulis dibawah patung. Tulisan tangan yang begitu jelek, seperti ditulis oleh anak kecil.

Geomchi. Hukum para orang bodoh!

Geomchi2. Pria dimanapun harus bekerja keras.

Geomchi3 pernah kesini.

Geomchi4. Aku melayani master, itu membawa kebanggaan dalam hidupku.

Geomchi5. Harus mendapatkan kekasih. Kami hanya masih umur 30’an.

…..

Geomchi16. Aku lapar. Seseorang beri aku roti gandum.

…..

Geomchi31. Aku mati kelaparan kemarin.

Geomchi32. Monster-monster sialan ini; tidak menjatuhkan makanan.

…..

Geomchi359. Dicari pacar. Tak ada syarat khusus yang diperlukan. Hanya saja kau bersedia untuk belajar bagaimana caranya memasak.

…..

Geomchi505. Halo, senang bertemu denganmu. Geomohbaekohchiipnida adalah namaku. Juga dikenal sebagai si manis yang paling muda, Hajiyo. Hahahaha

Da’in berjalan mengelilingi seluruh dungeon undead, dan kemudian dia membeku.

Sudah lama sejak pertarungannya dengan Dullahan yang menenteng kepalanya, dia mencari patung-patung tanpa nama milik Weed. Dimana Da’in dan Weed makan bersama, dia juga menemukan dua patung dari diri mereka beristirahat disana.

“Menakjubkan. Patung-patung ini….”

Mata Da’in lembab karena air mata. Itu mungkin sepele, tetapi itu sudah cukup untuk membuat hatinya terasa perih karena semua emosi. Dia melihat banyak patung seperti ini. Perlahan-lahan dia terus berjalan mengelilingi dungeon dengan riang.

“Khu khu khu. Manusia hidup tidak diijinkan berada di tempat ini.”

“Di tempat ini, kau akan membaringkan tubuhmu. Tempat ini akan menjadi tempat peristirahatanmu yang terakhir.”

“Serahkan nyawamu. Aku akan menuntunmu istirahat yang abadi.”

3 Skeleton!

Kadang-kadang, monster-monster yang berkeliaran di area tersebut mendatangi Da’in dan dihajar dengan sadis. Ini benar-benar tak bisa diterima. Dia menghancurkan tulang-tulang mereka dalam kemarahan karena melakukan kejahatan menghancurkan suasana hati. Mereka hanya melakukan hal ini untuk mempertahankan wilayah mereka, sementara Da’in seenaknya berjalan-jalan disekitar mereka!

Patung-patung ini dibuat dengan keinginan untuk tidak membiarkan para monster mendekati patung-patung ini, tetapi entah kenapa, Da’in terus menerus diganggu oleh para monster. Yang bisa dia lakukan adalah membiarkan skill-skill miliknya mengamuk saat dia menghabisi para monster ini.

Karakteristik dari Shaman bisa terlihat saat dia menyerang dan mengalahkan monster-monster ini.

Dia keluar dari dungeon tersebut dalam 2 hari.

****

“Jadi ini adalah kota langit?”

“Ya. Tempat ini belum lama ini ditemukan oleh beberapa petualang. Masalahnya adalah bahwa hanya orang-orang yang berjasa pada desa Baran yang bisa kesini.”

Di Lavias, ada sangat banyak petualang. Da’in tidak pernah berkeliling tanpa Weed, sementara itu, banyak player yang menemukan Lavias dan berpetualang sendiri-sendiri.

Langit diatas kota.

Pemandangan awan-awan yang melintas bersama dengan aliran angin memberi perasaan yang bagus, membuat tempat itu sebuah pemandangan yang nyaman. Para player berlevel rendah datang kesini dengan mempertaruhkan hidup mereka hanya untuk melihat pemandangan itu.

Lavias menjadi terkenal, dan bahkan bangsawan kerajaan secara resmi mengumumkan ketertarikan mereka untuk berkunjung. Para bangsawan Kerajaan Rosenheim, dan para bangsawan dari Kerajaan Brent cukup sering berkunjung. Quest untuk mengawal mereka untuk sampai kesana dengan aman berhadiah sangat besar.

“Ada banyak orang disini.”

Da’in perlahan-lahan berjalan didalam kota.

Kemudian berbagai jenis ras burung menyambut dia.

“Caw, caw. Ini adalah yang pertama kalinya aku melihatmu. Apa kau baru di kota ini?”

Orang yang berbicara adalah Tom Ball, tetua Lavias yang baru.

Disamping dia ada banyak berbagai jenis burung. Si gagak mengepakkan sayapnya.

“Manusia, apa kau kuat? Kau tampak cukup terkenal, aku ingin meminta bantuanmu. Diatas sini di Lavias, kami terus resah karena para undead.”

“Apa kau tahu bagaimana caranya mengumpulkan tanaman herbal? Jika kau tidak tahu, aku akan mengajarimu tentang tanaman herbal obat, bisakah kau memberiku 200 gold? Ada sebuah tanaman herbal yang aku cari di gua diarah utara. Jika kau mencoba mencabutnya, kau akan merusaknya, jadi kau harus hati-hati.”

Mereka adalah prospek.

Dia bertemu dengan berbagai macan jenis burung, tetapi mereka semua tidak bisa mengingat dia.

Bahkan jika mereka memiliki kepala keluarga baru, mereka adalah pelupa yang parah. Meskipun Da’in pernah membantu si gagak hitam, dia telah dilupakan.

Saat Da’in berjalan-jalan dengan santai, dia tiba-tiba merindukan Weed.

Dia pasti berada di suatu tempat berpetualang. Levelnya pasti sudah jauh lebih tinggi, kan?

Da’in ingin bertemu dia.

Dia ingin berbagi kebahagiaannya bersama Weed karena masih hidup!

Namun, tidak ada cara untuk menghubungi Weed. Sebelum dia pergi untuk menjalani operasi, dia secara sengaja menghapus semua daftar temannya. Jika dia kembali, tak mungkin Weed akan menyadari fakta tersebut. Dia sangat menyesal karena menolak ajakan pertemanan Weed.

Ribuan orang memiliki nama yang sama akan muncul jika kau tidak mendaftarkan pertemanan saat kontak langsung. Jadi itu artinya tak ada cara untuk tetap berhubungan.

Yah, tak masalah, jika kami ditakdirkan bertemu lagi, maka itu akan terjadi. Meskipun jika kita bertemu, akankah itu menjadi sebuah pertemuan yang menyedihkan?

Perbedaan levelnya pasti telah sangat jauh, dan mereka mungkin tak memiliki kesempatan untuk saling bertemu. Namun, ini bukanlah masalah yang besar. Dengan level skill miliknya yang tinggi dibandingkan level karakternya, dia bisa dengan mudah menutupi kekurangannya.

Aku sekarang bebas untuk menjadi diriku sendiri. Aku tidak perlu khawatir tentang mati. Aku punya banyak waktu.

Da’in kemudian berdiri sendirian menonton saat beberapa wanita mendekati dia.

“Aku punya sebuah masalah, aku ingin meminta bantuanmu. Maukah kau mengambil resiko ini?

Namaku Geurati, penyihir wind spirit.”

Da’in dengan senang hati mengangguk.

Petualangan!

Perburuan!

Dia ingin terus maju dan menjadi lebih kuat.

Benua Versailles, Lavias, tempat apapun yang penting ada monsternya.

****

Level dari para Geomchi tidak bisa naik dengan cepat. Alasannya adalah karena pembangunan dari piramid.

“Kkeungcha!”

“Geomchi304, sedikit lagi. Mari kita tunjukkan kekuatan kita pada mereka.”

“Ya, pak. Sampai titik darah penghabisan!”

Kerja keras dari mendorong batu-batu piramid dipercayakan kepada mereka.

Selena, seorang gadis cantik dari toko bunga di pinggiran kota datang dan membuat sebuah permintaan.

“Sebenarnya, rumahku hampir runtuh sekarang dan membutuhkan banyak perbaikan, bisakah kamu membantu aku?”

*Ding*

Selena’s House

Di serabourg, ada sebuah rumah bobrok yang membutuhkan perbaikan. Jika kamu bisa membangun ulang rumah Selena, kamu bisa menjadi temannya.

Tingkat kesulitan: D

Hadiah:

Pertemanan dengan Selena.

Persyaratan:

Tingkat Fame tertentu.

Harus memiliki pengalaman dalam pembangunan.

Awalnya, ini bukanlah sebuah quest biasa. Hadiahnya hanya pertemanan dengan Selena!

Ketika kau mulai bermain Royal Road, kau tidak bisa meninggalkan benteng selama 4 minggu pertama.

Kau harus menguasai bagaimana caranya bermain, dan sampai batas tertentu, kau harus mengambil dan memilih quest dengan hadiah yang sesuai. Entah itu uang yang banyak, exp, atau item!

Sebuah permintaan yang mengharuskan menggerakkan tubuhmu dalam banyak cara, meski demikian, quest yang berhubungan dengan konstruksi tidaklah sesulit itu.

Namun, saat para Geomchi mendengarkan Selena, mereka langsung berbondong-bondong menerimanya.

“Tolong, tolong ijinkan aku!”

“Perintahkan aku layaknya aku adalah budakmu!”

“Rumah? Aku akan membangun sebuah istana untukmu!”

Kecantikan Selena menyebabkan mereka berebut menerima quest tersebut. Sudah terlambat bagi Geomchi2 dan Geomchi3. Mereka memikul berbagai peralatan untuk membangun rumah.

Para guru ataupun praktisi, perjuangan mati-matian untuk mendapatkan cinta sama besarnya.

Dalam kenyataannya, sebanyak 500 pekerja dikerahkan untuk membangun rumah untuk si gadis dari toko bunga. Orang yang cukup untuk membangun sebuah rumah dalam satu atau dua hari.

Para Geomchi sudah akrab dengan pembangunan piramid itu! Mereka telah mengerjakan berbagai hal, sebuah toko bunga seharusnya sangatlah mudah.

Namun, pembangunan dari rumah Selena yang dikerjakan oleh para Geomchi berjalan dengan sangat lambat.

“Ini, silahkan minum.”

“Hahaha! Terima kasih.”

“Baik sekali, hal semacam ini….”

Setiap kali Selena mengatakan atau melakukan sesuatu, para Geomchi menggila hanya untuk melihat atau berbicara dengan dia. Saat Selena tidak ada, mereka dengan sengaja memperlambat pekerjaan mereka sampai dia muncul lagi. Mereka hanya berpura-pura bekerja keras.

Sudah sekitar 10 hari mereka membangun toko bunga itu. Bahkan saat mendekati selesai, mereka menemukan lebih banyak cara untuk menghindari pekerjaan.

Geomchi20 tenggelam dalam ekspresi sedih yang mendalam.

Geomchi3 mendekati dia.

“Ada apa?”

“Oh, master Geomchi3! Sejujurnya.. toko ini hampir selesai, kita tidak akan sering bertemu Selena lagi, kan?”

“Yah, itu rasanya pasti tidak enak, kan?”

“Ya, aku tahu. Selena bukanlah manusia sebenarnya… tapi aku suka dia. Dia sangat baik dan memiliki senyum yang cantik juga. Dia tidak banyak meminta. Kuharap pembangunan ini bisa berlangsung setidaknya satu minggu lagi.”

Geomchi20 enggan mengucapkan selamat tinggal pada Selena.

Kemudian, asisten Master Geomchi3 tertawa terbahak-bahak.

“Bodoh! Inilah yang harus kita lakukan.”

Geomchi3 dengan ganas mengayunkan pedangnya dan melemparkannya ke dinding toko bunga tersebut dan menghancurkannya.

Kemudian mereka bertepuk tangan saat para Geomchi berkumpul mendekat.

“Itulah master kami.”

“Inilah yang terbaik!”

“Itu adalah ide yang mengagumkan!”

Mereka mendengar gema dari hancurnya toko bunga yang para Geomchi bekerja keras untuk membangunnya. Namun, dihadapan Selena, toko yang hampir selesai telah sepenuhnya hancur. Toko bunga kecil yang bagus yang dibangun para Geomchi, mereka menangis dengan sedih.

“Boohoo.”

“Selena tidak bisa tinggal ditempat seperti ini lagi.”

“Saat aku masih muda, 12 orang menghajarku dan tak setetespun air mata yang menetes, tetapi ini.”

Tapi ini bukanlah akhirnya.

Setelah toko bunga Selena, di provinsi Serabourg, sejak saat itu banyak permintaan yang dibuat untuk membangun beberapa rumah dan toko.

Kriteria para Geomchi untuk memilih perkerjaan ini sangatlah sederhana. Yang diperlukan hanyalah gadis cantik atau tubuh yang seksi.

“Hadiah tidak diperlukan, kawanku!”

“Aku akan bekerja sampai aku pingsan hanya untuk melihat senyumnya.”

“Hijuk, dia tersenyum padaku!”

Di tempat pembangunan, para Geomchi bekerja keras dalam menumpuk batu bata. Hanya untuk melihat para gadis, mereka bekerja keras untuk membangun sebuah rumah, sebuah niat yang mulia. Di Benteng Serabourg banyak pekerja dengan kulit gelap yang melepaskan kaos mereka bisa dilihat.

Dari membangun piramid, itu sulit untuk menghitung banyaknya jumlah batu yang digunakan.

*Ding*

Karena melakukan tindakan yang sama berulang-ulang, skill Arsitek “Bricklaying” dan “Landscaping” telah didapatkan

Bricklaying level 1 (0%):

Batu bata bisa ditumpuk dengan rapi untuk membangun rumah.

Dengan skill ini, tak peduli seberapa banyak batu bata yang ditumpuk, hasilnya akan rapi.

Landscaping Shovellevel 1 (0%):

Tanah bisa digali dengan cepat.

Skill arsitek!

Itu adalah profesi yang cukup sulit untuk dikategorikan, bahkan sebagai sebuah profesi kerajinan, itu adalah sebuah profesi yang belum dirilis sejauh ini.

Keterampilan Weed yang tinggi tampak dengan jelas ketika dia memasak, sedangkan para Geomchi bekerja melalui pembangunan, usaha mereka yang ekstrim membuat mereka mempelajari skill arsitek.

Bricklaying dan Landscaping, tetapi selain itu, mereka juga mendapatkan peningkatan yang besar pada statistik Strength. Untuk meningkatkan skill arsitek tersebut, para Geomchi harus menyelesaikan permintaan dengan menggali tanah dan menumpuk batu bata.

Sebagai hasilnya, dalam 3 bulan para Geomchi bisa mengenal semua gadis cantik dari Kerajaan Rosenheim dan sekitarnya. Sejak saat itu, banyak orang mengenali para Geomchi yang berjalan di jalanan.

“Halo kakak nomor 110!”

“Terima kasih banyak karena telah membangunkan rumah untuk kami, kakak Geomchi110!”

Orang-orang yang mengunjungi rumah-rumah baru itu tidak bisa percaya.

Hanya para Geomchi yang bisa melakukan pekerjaan seperti itu!

Setelah beberapa bulan, para Geomchi menjadi sangat populer karena dengan semangat membangun rumah-rumah untuk penduduk-penduduk yang cantik dari Kerajaan Rosenheim.

Mulai saat itu, banyak bangsawan mendatangi mereka.

“Aku mendengar ketenaranmu. Bisa dikatakan bahwa kau sangat terkenal dalam bidang ini. Aku ingin membangun sebuah kediaman. Ini bukan sebuah rumah sederhana, tetapi sesuatu yang jauh lebih megah, aku akan membayar dengan mahal jika kau menerimanya.”

Bangunlah sebuah kediaman bangsawan untuk Baron Arias.

Didekat ibukota Kerajaan Rosenheim, Baron Arias memiliki sebuah kota yang cukup besar. Karena besarnya pasar dan perdagangan, dia mendapatkan banyak uang dan sekarang bisa membangun kediaman yang sesuai.

“Aku menolak.”

Quest telah ditolak.

Selama beberapa waktu, para Geomchi menolak quest bahkan tanpa menoleh pada si peminta.

“Kau kira kami ini apa, budakmu?”

“Terlalu banyak pekerjaan tambahan yang harus dilakukan!”

“Tak peduli seberapa banyak kau mau memberi imbalan, aku tidak tertarik.”

Para Geomchi melirik saat Baron Arias yang gemuk melotot pada mereka dengan ekspresi meremehkan. Namun, ketika mereka dimintai oleh wanita cantik dari kota tersebut, tanpa berpikir mereka mengangguk.

“Tak masalah, aku terima!”

“Aku akan berusaha semampuku untuk membantu membangun rumah untukmu.”

Para Geomchi bekerja sangat keras. Mereka bahkan melatih skill mereka, dan mereka menghabiskan waktu luang mereka dengan berburu dan mendatangi dungeon. Kemudian semua Geomchi melampaui level 220.

“Status Window!”

Character Name: Geomchi505. Preference: None
Level: 220 Profession: Martial artist
Title: None Fame: 1632
HP: 27060 Mana: 4402
Strength: 850 Agility: 455
Health: 230 Wisdom: 65
Intelligence: 40 Fighting Spirit: 130
Vitality: 120 Endurance: 180
Charm: 20 Charisma: 60
Leadership: 30 Luck: 5
Faith: 10 Attack: 1340
Defense: 195
Magic Resistance:
Fire: 20% Water: 20%
Earth: 20% Black magic: 20%

Kemudian seorang penantang tanpa nama datang kehadapan Geomchi.

Seorang pengembara yang mengenakan light armor dan memakai sebuah jubah!

Geomchi merasa tertarik. Kemudian si pengembara berkata:

“Sedikit demi sedikit kau menyempurnakan seni bela dirimu. Kau dan rekan-rekanmu, aku telah mendengar tentang reputasimu. Kau hidup untuk melayani wanita? Aku telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk mempertajam seni bela diriku.”

Si pengembara tampaknya memiliki profesi yang sama dengan para Geomchi. Seorang Martial Artist.

Kemudian si pengembara berbicara lagi.

“Apa kau mengerti apa itu artinya menjadi lebih kuat? Geom, itu tidak cukup hanya dengan mengasah kemampuanmu. Jelajahilah dunia yang luas disekitarmu, kembalilah dan kalahkan aku. Lalu aku akan memandumu pada kekuatan sejati.”

*Ding*

Jadilah seorang Warrior

Dunia ini dipenuhi dengan para monster untuk diburu, kamu harus menemukan mereka. Para gadis dan wanita muda menyukai para pria pemberani, yang ada di benua ini. Dikatakan bahwa jika kamu bepergian ke seluruh benua Versailles dan kembali lagi, kamu bisa dilahirkan kembali sebagai seorang True Martial Artist.

Tingkat Kesulitan:

Quest profesi lanjutan tingkat tinggi.

Hadiah:

Memungkinkan untuk mendapatkan lebih banyak skill.

Persyaratan:

Quest terbatas pada profesi Martial Artist.

Tidak boleh memiliki reputasi buruk.

Setelah si pengembara pergi, Geomchi sampai Geomchi505 berkumpul dalam formasi. Waktunya telah tiba dan Geomchi harus membuat keputusan.

“Baiklah semuanya. Sejauh ini kita selalu bersama-sama di Royal Road sebagai sebuah kelompok terpadu.”

“…..”

Ekspresi para Geomchi benar-benar serius!

Tanpa menginjinkan gangguan apapun, mereka mendengarkan kata-kata Master mereka.

“Ketika kita bersatu, kita menakutkan. Cukup menakutkan bahwa kita selalu dihindari. Kita sangat kuat bahkan jika sendirian.”

Ketika Geomchi berburu di sebuah dungeon, mayoritas player mengejek dia dan pergi.

Untuk memonopoli para monster, dan memandangi player perempuan yang cantik! Untuk bisa memakan makanan tanpa membuatnya gosong ketika dimasak, dan makan makanan yang lezat tanpa harus saling berebut! Tak peduli seberapa ramai tempat itu, bahkan ketika dia bisa menemukan sebuah tempat berburu yang terpencil.

“Sekarang sudah saatnya bagi kita untuk menjelajahi luasnya dunia. Masing-masing dari kita harus pergi dengan jalan yang terpisah ke seluruh benua, mengalahkan para monster kuat. Dalam waktu 6 bulan, mari kita bertemu lagi di Kerajaan Rosenheim.”

“Dimengerti. Master!”

“Sampai jumpa lagi.”

“Jaga kesehatan. Master!”

Para Geomchi mengatakan salam perpisahan masing-masing dan berjalan terpisah.

Ransel kecil yang hanya berisi roti gandum adalah perbekalan mereka. Dalam kenyataannya, mereka tak memiliki apa-apa lagi.

Para Geomchi menyebar ke seluruh benua! Meskipun perpisahan dari guru dan murid membuat sedih, para murid pergi dengan kepala diangkat tinggi-tinggi, dan wajah mereka penuh dengan ekspresi gembira.

Akhirnya, saatnya makan dengan sepuas hati.

Aku akan mati kelaparan dengan serius.

Sekarang waktunya berburu kelinci dan memanggangnya.

Untuk menjadi Trust Warrior (prajurit sejati), para Geomchi berpisah dan berangkat dari Kerajaan Rosenheim.

****

Sebuah kejadian yang biasa dari Universitas Korea Selatan!

Gamer profesional biasanya memiliki harapan yang kecil untuk pendaftaran mereka untuk diterima.

Tetapi jika pendaftarannya benar-benar diterima, masalah mereka hanya menjadi lebih besar.

“Kakak, sejujurnya aku punya sesuatu untuk dikatakan padamu….”

Lee Hye Yeon berada dalam konflik saat dia memegang surat penerimaan. Hari ini adalah hari interview di Universitas Korea. Namun, Lee Hyun harus menghadiri interview di kampus.

“Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, aku harus melakukannya…”

Setelah menderita cukup lama, Lee Hye Yeon akhirnya mengatakan semuanya.

Benar-benar menantang!

Hye Yeon menatap Lee Hyun saat dia membuka pintu dengan keras.

“Kakak, ada sesuatu yang harus aku katakan. Kamu harus pergi ke Universitas Korea untuk interview.”

Ketika Hye Yeon berbicara, Lee Hyun sedang melihat halaman Hall of Fame.

“Interview? Interview apa?”

“Maksudku interview untuk penerimaan di Universitas.”

“Apa? Benarkah?”

Lee Hyun melompat terkejut.

Secara tiba-tiba, sebuah interview di Universitas Nasional Korea Selatan!

Lee Hye Yeon menundukkan kepalanya dan berkata dengan merajuk.

“Sebenarnya… Aku sebenarnya menyerahkan formulir pendaftaran. Itu mengharuskan kakak datang ke kampus pada waktu yang ditentukan… Ada banyak orang yang berusaha untuk masuk sekarang ini.”

Lee Hyun telah mendengar terlalu sering tentang pendaftaran universitas ini. Sering kali ada lebih banyak pendaftar daripada tempat yang tersedia.

Lee Hyun dengan gugup bertanya.

“Jadi apa yang kamu lakukan?”

“Aku mengirim sebuah formulir pendaftarannya. Kakak begitu sibuk hingga aku melakukannya tanpa ijinmu. Aku minta maaf, kakak.”

Saat Hye Yeon meminta maaf, Lee Hyun sangat marah, tetapi dia masih bisa mentoleransinya. Dia tidak bisa memarahi Hye Yeon karena bertindak sendirian. Meski begitu, dia merebut surat itu dari tangan Lee Hye Yeon.

“Dokumen ini dan interview, itu artinya lulus, kan?”

“Iya. Dokumen ini pada dasarnya berarti bahwa telah lulus, tetapi tidak berarti itu adalah penerimaan tanpa syarat, tetapi, setidaknya begitulah artinya…”

“Bagus!”

Lee Hyun tersenyum riang.

Semua kerja kerja kerasnya sejauh ini, dia merasa beban telah terangkat dari dia. Dia sangat senang.

Dia salah pengertian pada kata-kata Lee Hye Yeon.

Dari semua universitas di Korea Selatan, dia tidak bisa membayangkan tentang pergi ke sebuah interview penerimaan. Setelah putus dari SMA, dia baru saja mengambil GED. Dia bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia akan kuliah sejak awal.

Tentu saja kebenarannya adalah, Universitas Korea Selatan telah menerima Lee Hye Yeon dengan beasiswa.

“Itu bagus. Jadi kapan interviewnya?”

Untuk beberapa alasan, Lee Hye Yeon menjadi sedikit gelisah. Itu berbeda dari tanggapan yang telah dia duga.

“Ya, tetapi kakak mungkin akan marah…”

Lee Hye Yeon ragu-ragu saat dia berbicara.

“Hari ini.”

“Huh?”

“Kakak harus pergi untuk interview. Hanya ada 3 jam yang tersisa.”

“Apa kamu serius?”

Semangat Lee Hyun berkobar-kobar.

Sebuah interview di universitas adiknya, tepat pada saat itu dia mematikan komputernya dan berdiri.

“Kalau begitu mari bersiap. Aku akan melakukannya.”

****

Departemen virtual reality dari Universitas Korea Selatan.

Lee Hyun sampai di Universitas Korea Selatan dengan naik taksi. Hal itu tidak mungkin terjadi di hari biasa.

Ah, kakak, dia pasti sangat tertarik pada virtual reality.

Rincian dari ketertarikannya pada lanjutan pembelajarannya adalah sesuatu yang Hyun tidak pernah katakan pada Hye Yeon.

Mungkin virtual Reality bisa berguna, karena itu sangat familiar bagi kakak.

Lee Hyun benar-benar merasa gembira saat dia menunggu giliran interview.

“Tak apa-apa. Semuanya akan berjalan dengan baik.”

Kata adiknya saat dia memegang erat-erat tangannya. Pada saat ini, Lee Hyun menyadari ada perubahan yang aneh pada adiknya.

Ini adalah kesalah pahaman, tak ada waktu untuk penjelasan yang sebenarnya.

Kakak, masalah ini harus ditunda dulu.

Lee Hye Yeon tiba-tiba terdiam. Roda telah berputar. Waktunya telah tiba, dan pada poin ini, tak ada kesempatan untuk pulang. Tiba-tiba, keringat dingin muncul di dahi Lee Hye Yeon. Terus berharap bahwa dia bisa menjelaskan hal ini di kemudian hari.

“Apa kamu baik-baik saja?”

“Ya kak, aku baik-baik saja.”

“Kamu berkeringat banyak.”

“Kurasa karena gugup.”

“Katakan padaku jika kamu sakit.”

Mendengar kebohongan tentang berkeringat karena tegang, Lee Hyun benar-benar khawatir. Mata Lee Hye Yeon yang cerdik bersinar.

Ah! Ini dia.

Hanya 3 menit yang tersisa sampai waktunya interview, Lee Hye Yeon memegang perutnya dengan kedua tangannya.

“Kakak.”

“Apa, ada apa?”

“Aku sakit perut. Aku harus pergi ke kamar kecil. Mungkin karena yang aku makan pagi ini.”

“Itu…”

Ini bukanlah waktunya.

Pada saat yang penting seperti ini untuk adiknya, Lee Hyun ingin menghentikan dia.

“Tidak bisakah kamu menahannya?”

“Aw, akan lebih baik untuk tidak menunjukkan sesuatu yang tidak sopan selama interview.”

“Yah, jika demikian… maka kembalilah dengan cepat.”

“Ya, kak.”

“Jangan terlambat untuk interviewnya.”

“Aku akan segera kembali.”

Lee Hye Yeon diam-diam menyelinap dengan berpura-pura pergi ke toilet. Sudah jelas, Lee Hyun menunggu adiknya dengan cemas. Dia bangkit dari kursi dan mulai mondar-mandir di koridor sambil melihat jam.

1 menit, 2 menit…

Terus memikirkan waktu, dia benar-benar ingin menghentikannya, meskipun hal seperti itu mustahil. Ini bisa merusak masa depan Hye Yeon… Dari semua hal, sakit perut, aku yang bertanggung jawab. Sesuatu pasti telah salah dengan nasi yang aku sajikan tadi pagi.

Jarinya gemetaran karena tegang. Lee Hye Yeon tidak muncul dari kamar kecil dalam 3 menit mendekati interview dengan para profesor. Asisten perempuan mendekat dan berkata:

“Orang yang datang untuk interview? Profesor telah menunggu.”

“Aku minta maaf, adikku belum kembali, apa bisa menunggu beberapa menit lagi?”

Ditolak karena datang terlambat pada interview pastinya adalah yang terburuk.

Saat Lee Hyun berbicara pada dia, bertatap muka, kesan yang dia buat membuat jantung si asisten dosen gemetar.

Mata yang kuat!

Jika si asisten tidak menunggu, dia merasa bahwa pria itu bisa mengobrak-abrik seluruh tempat ini.

“Oh, aku mengerti. Aku akan menyampaikannya pada profesor.”

Setelah menjawab, si asisten dosen merasa bingung.

Adik apa yang kau tunggu? Selain orang yang akan diinterview, orang lain tidak diijinkan masuk….

Setelah 10 menit berlalu, Lee Hye Yeon masih belum muncul. Pada saat itu Hye Yeon menemui si asisten dosen secara sembunyi-sembunyi.

“Aku punya permintaan padamu. Katakan pada kakakku bahwa kau bertemu aku di kamar kecil dan karena sakit perut aku tidak bisa kembali tepat waktu. Bisakah kau memberitahu dia untuk menggantikanku di interview?”

“Ya?”

“Kumohon, katakan itu pada dia. Buat kakakku mau diinterview.”

Asisten dosen itu berpikir bahwa kedua bersaudara ini benar-benar aneh.

Menunggu adiknya sebelum dia di interview, si asisten tidak memahami Lee Hyun, kemudian adiknya, meminta aku untuk memberitahu kakaknya untuk menggantikan dia, ini benar-benar aneh.

Ngomong-ngomong, para profesor tengah menunggu di ruangan interview.

“Maukah kau memberitahu dia?”

“Ya, aku mengerti.”

Si asisten mendatangi Lee Hyun dan berbicara.

“Untuk sekarang ini, masuklah ke ruangan interview terlebih dulu.”

“Adikku belum kembali….”

“Aku bertemu dengan adikmu di toilet, dan dia bilang bahwa dia kemungkinan besar tidak bisa tepat waktu dan dia ingin kau bertemu dengan para profesor. Mereka tidak bisa menunda lagi, atau itu akan dibatalkan.”

“Hal ini tidak boleh terjadi. Aku akan masuk.”

Si asisten dosen bahasa Inggris sama sekali tidak paham, tetapi interviewnya masih diijinkan.

“Ikuti aku.”

Pada akhirnya Lee Hyun pergi sendiran ke pertemuan, tanpa adiknya.

****

Kelima profesor sedang melihat dokumen.

Kurasa itu pasti pendaftaran milik adikku.

Kenyataannya pendaftaran itu sebenarnya adalah milik Lee Hyun.

Saat profesor membaca pendaftaran itu, dia menanyakan sebuah pertanyaan sebelum Lee Hyun bisa berbicara.

“Apa motif yang kau miliki untuk memilih sekolah ini?”

“Menurutku ini adalah sekolah yang terkenal yang akan memberikan masa depan yang menjanjikan.”

“Apa menurutmu bahwa sekolah-sekolah lain tidak memberikan prospek yang bagus?”

Profesor yang lain menanyai dia. Lee Hyun memberi jawaban yang sederhana.

“Tidak sama sekali, namun, aku mendengar bahwa sekolah ini memiliki fasilitas dan fakultas yang terbaik.”

“Aku mengerti.”

Profesor menganggukkan kepala mereka pada jawaban pasaran itu.

Tak perlu keras-keras, tetapi tidak buruk.

Menitik beratkan hal-hal dasar.

Sikap yang bersungguh-sungguh dalam interview. Meskipun dia terlambat…

Lee Hyun melanjutkan tanpa pikir panjang.

“Faktanya, adikku adalah seorang anak yang benar-benar baik.”

“Hmm?”

“Ketika adikku masih kecil, orang tuaku meninggal.”

Lee Hyun mulai berbicara panjang lebar tentang sejarah keluarganya. Demi kepentingan interview Lee Hye Yeon, tentu saja dia harus menceritakan kisah adiknya sebanyak mungkin. Fakta bahwa pilihan untuk masuk Universitas Korea ini bukanlah untuk adiknya melainkan untuk Lee Hyun sendiri, sepenuhnya tidak dia ketahui.

Universitas Korea! Aku pasti tidak akan gagal. Aku akan memastikan tentang masa depan adikku disini.

Jadi untuk mengulur waktu sampai adiknya datang ke pertemuan, dia menceritakan tentang kisah mereka yang menderita dari kecil. Dia menceritakan pada para profesor tentang bagaimana kehidupan keluarganya dan bagaimana dia serta adiknya tumbuh dengan cara seperti itu. Namun, untuk membicarakan tentang adiknya, dia tidak bisa melakukannya tanpa menceritakan kisahnya sendiri.

Tertekan karena ancaman dari para rentenir. Bagaimana dia berjuang untuk melindungi keluarganya, mendapatkan uang di SPBU dan pekerjaan yang lainnya yang seharusnya tidak dilakukan. Para profesor mendengarkan Lee Hyun dengan tenang. Interview tersebut jauh lebih lama dan lebih berbeda daripada biasanya. Format interview biasanya para profesor menanyakan pertanyaan dan kandidatnya yang menjawab. Tetapi sekarang Lee Hyun berbicara tentang bagaimana dia menjalani kehidupannya, saat para profesor mendengarkannya.

“…Dan sekarang, aku telah melalui proses persiapan selama setahun agar bisa memahami cara kerja Royal Road. Dalam kasus game lain yang keluar, sangat bervariasi dalam ketertarikan. Tetapi dengan virtual reality Royal Road, itu sangat berbeda dari intinya. Bernafas, bergerak, sikap dan tindakan yang menghasilkan banyak ingatan. Aku melihat bahwa game seperti itu setidaknya akan bertahan 10 tahun. Aku memang belum mengumpulkan cukup uang untuk biaya kuliah adikku, tetapi aku tidak akan terlambat dalam membayar.”

Pada poin ini, para profesor menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan pemahaman Lee Hyun tentang situasinya.

Kesalahpahaman yang konyol, dia berpikir interview ini adalah untuk adiknya dan bukan untuk dirinya.

Namun para profesor tidak membicarakan tentang hal itu, sebaliknya, mereka menanyakan sebuah pertanyaan yang luar biasa.

“Lalu bagaimana dengan virtual reality? Ini mungkin pertanyaan yang kekanak-kanakan, namun, bagaimana caramu memisahkan virtual reality dan realitas?”

Jawaban Lee Hyun sangat sederhana.

“Mencoba memisahkan realitas dan virtual reality adalah hal yang sia-sia.”

“Oh, benarkah? Katakan pada kami kenapa kau berpikir demikian.”

Bagi para profesor, paling bagus jawaban yang diterima adalah dunia realitas dan virtual adalah hal yang terpisah, atau jawaban lain yang mereka perkirakan adalah bahwa virtual reality yang sempurna adalah hasil dari mimpi. Jawaban Lee Hyun yang unik sangat menarik.

“Berdiri disini sekarang atau didalam Royal Road, keduanya adalah sama.”

“Virtual reality dan kehidupan nyata adalah sama, apa maksudmu?”

“Contohnya. Hidup penuh semangat, bekerja dan menciptakan sesuatu dan mencapai sesuatu yang akan menguntungkan aku. Adapun untuk virtual reality, bukankah sama saja dengan kehidupan nyata. Anda bisa mendapatkan pengetahuan, bisa mendapatkan uang. Bagiku, dimanapun, itu tidak berbeda bagiku.”

“Aku mengerti dengan baik. Murid Hye Yeon ini, tampaknya sekarang kami sudah cukup mengetahui tentang sifatnya. Kami akan mengabarimu segera setelah hasilnya keluar.”

“Terima kasih.”

Lee Hyun pergi dan setelahnya para profesor mengadakan rapat dadakan.

“Keinginan hidup yang kuat.”

“Tak terpikir masih ada keluarga yang tidak biasa seperti itu di jaman ini, benar-benar mengherankan.”

“Dengan kemajuan virtual reality, arti dari keluarga semakin memudar, dan dia memiliki mentalitas yang hebat.”

“Pengetahuan yang luas tentang sisi virtual reality.”

“Bermacam-macam pengalaman hidup, itu akan sangat banyak membantu.”

Para profesor bercakap-cakap sangat lama, tak seorangpun dari mereka yang melihat secara negative pada Lee Hyun.

“Lalu kita semua setuju.”

Para profesor memberi stempel lulus pada aplikasi milik Lee Hyun.

“Phew, akhirnya selesai juga.”

Lee Hyun berhasil melewati interview tersebut. Kalau dipikir-pikir, dia tidak yakin jawaban macam apa yang muncul.

“Yah, itulah yang bisa aku lakukan…”

Lee Hyun menemukan adiknya.

Adik kecilnya keluar dari kamar mandi dan duduk di bangku saat dia mengeluarkan desahan lega.

Adiknya sedang berdoa. Saat Lee Hyun mendekat, Hye Yeon mendongak.

“Bagaimana, interviewnya?”

“Huh? Itu…”

Lee Hyun tidak tahu bagaimana untuk menghibur adiknya. Sakit disaat yang penting seperti itu.

“Dengan caraku, aku berusaha untuk menjelaskan… Sekarang untuk membuatmu diterima, aku berusaha menceritakan situasi kita saat interview.”

“Situasi apa.”

“Orang yang bersangkutan harus hadir dalam interview. Aku tidak pandai dalam mengekspresikan diriku sendiri dan aku tidak tahu bagaimana hasilnya.”

Lee Hye Yeon kebingungan.

Dia berpikir kakaknya akan marah pada kenyataan bahwa dia telah ditipu, tetapi dia lebih menyesalkan tentang interview.

Tak mungkin bahwa kamu masih tidak tahu? Bagaimana mungkin?

Lee Hye Yeon memutuskan untuk mengikuti arus situasinya saat ini.

“Tak apa-apa kakak. Yakinlah bahwa itu akan berjalan dengan baik, dan tak ada lagi yang bisa dilakukan terhadap interview itu.”

“Ya, kamu benar. Itu sudah berlalu. Aku bodoh karena memikirkannya.”

Saat berjalan pulang, saat mereka melewati gerbang universitas iru, Lee Hye Yeon berhenti sebentar.

“Ada apa?”

“Ada yang ketinggalan! Tunggu disini sebentar, kakak.”

“Oke.”

Lee Hye Yeon kembali ke sekolahan itu untuk menemui asisten dosen. Dia mengubah alamat pengiriman surat pemberitahuan ke rumah sakit dimana neneknya dirawat.

sumber : http://sekkinokyou.id/

Translator / Creator: alknight