October 31, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 3 – Chapter 7: Ignorant Beginner

 

“Ini tak masuk akal!” Chung Il Hoon berteriak.

Dia tidak pernah menghentikan keputusan Ahn Hyundo sebelumnya tetapi kali ini dia tidak bisa diam saja.

“Lawannya adalah seorang pemula. Pendekar pedang pemula tak tahu bagaimana untuk menggunakan pedang dengan benar dalam sebuah pertarungan!”

“Argh, Hoon! Aku tidak menanyaimu. Aku berbicara pada lawanku! Kau akan mengganggu duelku!”

Suara Ahn Hyundo menggema didalam dojo.

Sejujurnya, tak seorangpun bisa menghentikan Ahn Hyundo. Jika mereka mencoba, maka mereka akan dihukum dengan parah.

Mereka tidak bisa mengambil resiko itu.

Para instruktur terdiam, menatap Lee Hyun agar menolak usulan tersebut.

‘Akan lebih baik jika kau melarikan diri sekarang daripada dihajar.’

Berkompetisi dengan pedang asli…

Ketika bertarung dengan pedang asli, secara harfiah siapapun, tak peduli seberapa terampil, akan merasa ketakutan.

Namun, Lee Hyun berdiri tegak.

Ahn Hyundo memuji dia.

“Itu bagus. Kau tidak mundur. Sama seperti seorang pria sejati. Sun Hoon, pergi ke ruanganku dan bawakan dua pedang di dinding. Kau tau kan dimana pedang itu berada?”

“Boss…”

Masalahnya telah semakin memburuk. Pedang-pedang baja itu sangat bagus untuk memotong.

Chung Il Hoon merasakan bahwa hasil dari pertarungan akan sangat mengerikan.

****

‘Sebuah pedang…’

Lee Hyun berdiri memegang pedang asli. Dia merasa seolah pikirannya telah jernih dan dia baru saja sadar.

‘Huh, kenapa aku disini?’

Lee Hyun datang dari rumah sakit untuk pergi ke toko buku.

Kemudian dia melihat dojo tersebut. Dia tidak datang kesini untuk bertarung, dia hanya ingin menjernihkan pikirannya dari rasa frustrasi.

Berlatih dan mengeluarkan keringat sangatlah menyegarkan.

Menantang dojo.

Bertarung dengan pedang.

Lee Hyun tidak keberatan.

Pedang kayu vs pedang kayu.

Itu adalah pertandingan yang adil.

Tak ada alasan untuk menolak.

Lawan pertamanya sedikit lemah, karena dia merasa bahwa teknik lawan sedikit lemah. Latihan kekuatan tidaklah diperlukan dalam jalan menjadi lebih kuat.

Seseorang harus menggunakan potensi kekuatan dari otot dengan baik. Hal ini muncul ketika seseorang memanfaatkan pernafasan dan fleksibilitas inti tubuh.

Lawan pertamanya kekurangan dalam area itu.

Penantang yang lain muncul setelah lawan pertama telah kalah. Melawan seorang ahli pedang dengan banyak pengalaman, Lee Hyun mencari titik lemah.

Ilmu pedang yang berorientasi pada pertahanan.

Namun, hal itu tidak sempurna. Pada saat itu juga, dia mampu menemukan kecacatan.

Mempertimbangkan kecepatan pergerakan pedang lawan, Lee Hyun menggunakan perbedaan itu untuk menyerang titik lemah.

‘Ini berkat Royal Road. Aku telah bertarung lebih dari puluhan ribu kali.’

Game virtual reality.

Dalam Royal Road, jika semua orang menjadi master pedang, maka dunia akan penuh dengan orang kuat.

Kebanyakan player biasanya mengandalkan skill dan mekanis game bukannya tubuh mereka sendiri untuk bertarung. Seseorang seperti Lee Hyun yang dengan sungguh-sungguh mempelajari pedang untuk bermain game sangatlah jarang ditemukan.

Jadi dia mengalahkan praktisi kedua.

Tetapi kemudian penantang yang lain muncul.

‘Kenapa kau tidak mau aku menang? Kenapa mereka ingin mengalahkan aku?’

Dia marah. Dia tidak tau bahwa matanya tampak seperti mata serigala yang sedang kelaparan, memprovokasi orang lain.

Tangguh seperti binatang!

Menggunakan semua kekuatannya sampai mereka terpojok.

Dia mencengkeram pedangnya.

‘Keren…’

Lee Hyun menggelengkan kepalanya saat dia mengambil pedang tersebut.

Saat dia mengambil pedang, dia tidak bisa diam. Pada saat itu, rasanya setiap sel dalam tubuhnya bergejolak.

Sampai sekarang, dia merasa seolah-olah dia hanya melihat 20% dari segala sesuatu, sekitar 5 kali lebih kecil dari yang dia lihat sekarang.

Dipagi hari, tubuhnya biasanya sangat sensitif pada segala sesuatu disekitar, dia sedang stres dan dalam suasana hati yang gelisah.

Lee Hyun dengan tenang mengatur nafasnya.

Dia merasa seolah-olah hanya dengan memegang pedang, pikirannya telah jernih.

Ahn Hyundo tidak segera menyerang.

Berkat hal itu, dia bisa beristirahat untuk sejenak.

Momen yang sangat singkat.

Dia mengistirahatkan otot dan pembuluh darahnya. Jantungnya menyebarkan oksigen keseluruh tubuhnya.

Ditangannya, pedang tersebut terasa sangat dingin, tetapi panas didalam dadanya terus meningkat.

‘Jadi ini rasanya memegang pedang asli.’

Dia tampaknya tidak tau kenapa dia ada disini dan dalam situasi ini. Dia datang hanya untuk mencari keringat dan tidak bisa percaya apa yang telah terjadi.

‘Menyerah’

Hal ini tidak layak dilakukan. Tak ada gunanya bertarung tanpa memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan dan dia bisa dengan mudah terluka dengan memegang pedang tersebut.

Dia meminta maaf dan mengaku kalah, meletakkan pedangnya.

Lalu Ahn Hyundo mengamati mata Lee Hyun dan berkata.

“Apa kau takut? Tidakkah kau punya keberanian untuk bertarung? Tidak apa-apa.

Hukum rimba menyatakan bahwa di alam liar, binatang buas memutar ekor dan lari ketika mereka bertemu seseorang yang lebih kuat daripada mereka.”

Lee Hyun marah.

Dia ingin bertarung.

Dalam sekejap, dia mengangkat pedang tajam tersebut dan memegangnya dekat dengan dadanya.

Dia tanpa sengaja memutuskan untuk mengangkat pedang meskipun telah bertarung lebih dari 9 kali.

*Chaeaeaeng*

Pedang itu mengeluarkan suara metalik.

Pedang logam tersebut mengeluarkan suara yang sangat jelas.

Ahn Hyundo juga menerima pedangnya dengan ringan saat dia mundur selangkah.

“Lebih baik letakkan pedang yang tak bisa kau ayunkan. Kau telah mengayunkannya sekali tetapi kau mengayunkannya terlalu keras. Mau mencoba ayunan kedua?”

Bukannya menjawab, Lee Hyun mengayunkan pedang tersebut. Itu adalah 60% dari kecepatan ayunan yang asli tetapi itu adalah serangan yang bagus.

*Janggang*

Mencengkeram pedang tersebut, dia bisa merasakan getaran halus mengalir ke ujung jarinya.

Lee Hyun bisa mendengar suara yang jelas dari pedang ditangannya.

‘Ini adalah pedang yang bagus.’

Dari mendengar pedang itu, dia merasa seolah-olah pedang itu adalah bagian dari tubuhnya. Sampai batas tertentu, dia bisa tahu seberapa tajam pedang itu dan perbedaan kecil yang membuatnya pedang yang bagus.

Ahn Hyundo memblokir serangan Lee Hyun dengan sangat lembut, dan kemudian meningkatkan kecepatan pedangnya untuk menyerang.

Namun, karena khawatir terhadap cidera tubuh, itu memungkinkan bagi Lee Hyun untuk mencegah serangan tersebut.

Jika ada pedang yang melayang kearah tubuh dari depan, maka ada banyak ruang untuk

menghindarinya. Ahn Hyundo menebas pedang Lee Hyun dengan liar.

Pedangnya mengayun dengan cepat. Dia menerkam kearah Lee Hyun seolah-olah dia adalah hewan buas yang siap membunuh.

Pedang Ahn Hyundo menusuk kearah jantung Lee Hyun.

Pedangnya!

‘Aku tidak mau mati!’

Lee Hyun menebas pedang Ahn Hyundo untuk membelokkan jalurnya.

Pertimbangannya terhadap keselamatan lawannya telah menghilang.

Dia berjuang untuk menghindari terkena serangan dengan kehendaknya yang kuat untuk hidup.

Suara angin yang jelas.

Kilatan cahaya akan muncul didekat dada mereka saat pedang besi berbenturan.

Para praktisi hanya bisa bengong karena melihat serangan ganas mereka.

“In..Instruktur! Ini harus dihentikan, bukankah begitu?”

Para praktisi bertanya dengan cemas.

Chung Il Hoon tidak bisa mempercayai situasi yang tengah terjadi ini.

Sangatlah sulit untuk menghentikan Lee Hyun tanpa melukai dia.

Namun, untuk tingkat keahlian Ahn Hyundo, itu adalah hal yang mungkin.

Bagi dia, itu adalah tugas yang mudah untuk memukul pergelangan tangan, gagang pedang, atau melumpuhkan Lee Hyun secara sementara dengan memukul titik fital didahi.

Itu adalah hal yang mudah bagi Ahn Hyundo untuk menempatkan Lee Hyun dalam keadaan seperti itu, tetapi dia tidak punya niat sedikitpun untuk melakukannya.

Dengan gemetar disekujur tubuhnya, dia hanya bisa bertahan.

“Istruktur, pikirkan sesuatu! Pasti kau punya ide tentang apa yang harus dilakukan…?”

“Entahlah. Tetapi kenapa aku begitu khawatir?”

Chung Il Hoon tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pedang digunakan dalam situasi ini. Setelah pedang-pedang itu dikeluarkan, itu akan berbahaya untuk mencoba menghentikan situasinya.

Tetapi segera dia bisa tenang dan menonton. Kedua pedang terus berbenturan.

Kekuatan Lee Hyun telah keluar dengan didorong kehendaknya untuk hidup didepan lawan yang kuat.

Lebih keras, lebih kuat, lebih cepat.

Pemikiran-pemikiran ini perlahan bangkit.

Lee Hyun telah sepenuhnya mengendalikan seluruh tubuhnya sendiri. Hal ini menyebabkan tubuhnya untuk memberontak.

Chung Il Hoon menyaksikan saat Lee Hyun berubah dengan mulai menembus lebih dalam kedalam ilmu pedang.

Praktisi terampil bisa melihatnya dengan mata mereka tetapi bahkan orang lain segera mulai merasakan sesuatu.

“Huh?”

“Itu sedikit berbeda.”

“Apa yang berubah?”

Ahn Hyundo memotong jalur untuk mencegah serangan.

Tebasan pedang diagonal.

Lee Hyun merendahkan tubuhnya pada saat yang sama untuk menghindari tertusuk oleh pedang tersebut, bergerak secara naluri bukannya pikiran. Lee Hyun berjuang melawan keterampilan pertarungan pedang Ahn Hyundo yang luar biasa tanpa ragu-ragu.

‘Kenapa kau bersenang-senang?

Ini adalah saat-saat yang berbahaya…!’ pikir Lee Hyun saat sudut mulutnya melengkung membentuk senyum.

Dia sendiri tak mengetahui kenapa, dia memutuskan untuk fokus pada duel.

Pertarungan pedang. Menantang orang lain untuk bertarung. Pertarungan itu sendiri sudah bagus.

‘Aku terlalu banyak berpikir. Ketika aku berada dalam pertarungan, aku tidak perlu berpikir…’

Ayunan pedang tersebut terasa bagus, ketika Lee Hyun bergerak kearah Ahn Hyundo dia mengayunkan pedangnya. Tubuhnya mulai menunjukkan reaksi yang tak stabil.

Lee Hyun melepaskan pedangnya sepenuhnya kelelahan, dia mengalami nyeri otot yang mengerikan dan kakinya lemas dan dia tak bisa berdiri.

“Minumlah ini. Ini akan sedikit menenangkan tubuhmu.”

Ahn Hyundo memberinya secangkir teh yang memiliki aroma yang tajam.

“Ini enak.”

“Ya. Ini adalah teh ginseng liar dari Gunung Baekdu.”

“Harganya pasti mahal…”

“Tak ada yang lebih berharga daripada tubuh, benarkan?”

“Ya, itu benar.”

Lee Hyun langsung meminum tehnya. Dia meminum teh sebotol setiap hari.

Itu baik untuk tubuh.

“Cepat sekali kau menghabiskannya. Tambah lagi.”

“Terimakasih. Aku haus dan lelah.”

Lee Hyun meminum 5 cangkir teh.

Ahn Hyundo mengambil kesempatan untuk memulai percakapan.

“Ahem, aku penasaran. Ini adalah pertama kalinya kau memegang pedang, kan?”

“Ya.”

“Kau tidak terlalu panik. Namun, untuk kehormatan 9 orang yang kau kalahkan, apa kau mempelajari pedang ditempat lain?”

“Tidak seperti itu. Aku mempelajari pedang…”

Dia menceritakan tentang Royal Road.

Bagaimana dia menguasai pedang sambil berburu monster dan bagaimana dia memukuli orang-orangan sawah.

Lee Hyun tidak percaya pada orang lain dengan mudah. Dia tidak terbuka pada orang lain karena kenangan tentang bagaimana dia menjalani kehidupan sampai sekarang. Namun, dia tampaknya mempercayai Ahn Hyundo.

Selama masa-masa suram, orang-orang berusaha menyembunyikan permasalahan mereka. Ahn Hyundo membantu orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang menjadi percaya dan bergantung pada dia. Seorang pria yang percaya bahwa latihan adalah lebih berharga daripada ribuan kata.

“Aku mengerti. kau pasti telah mengalami perjuangan yang sulit untuk mengembangkan ilmu pedangmu.”

“Namun, berkat hal itu, aku berhasil mempelajari dasar-dasarnya sampai sejauh ini.”

“Jadi kau bilang bahwa disana benar-benar ada monster? Monster hidup yang bergerak yang bisa kau tangkap untuk mendapatkan item dan uang… dan mendapatkan EXP? Apa disana ada naga?”

“Ya, disana ada naga…”

“Untuk saat ini, kau pasti lelah, jadi beristirahatlah. Kuharap bahwa kau bisa datang ke dojo lain kali jadi kita bisa bertanding lagi.”

“Selamat tinggal.”

Lee Hyun menyelesaikan istirahatnya dan kemudian meninggalkan dojo. Kemudian Chung Il Hoon terkejut.

“Master kau tidak mau merekrut dia? Jadi kau telah mengubah pikiranmu tentang membuat dia menjadi penerusmu?”

“Tidak, dia sedang sibuk dengan game nya.”

“Jadi kau akan membiarkan dia pergi begitu saja?”

“Biarkan dia untuk sekarang ini. Kemampuannya akan matang seiring waktu. Aku akan mengawasi dia untuk saat ini dan membimbing dia. Namun, hal ini yang disebut Royal Road…”

Ketika Ahn Hyundo masih muda, pemikiran tentang dunia fantasi telah merajalela. Pemikiran tentang orang-orang modern bepergian ke dimensi lain untuk mendirikan kerajaan fantasi!

Atau bertemu pahlawan dalam legenda. Ceritanya saat dia mengelilingi dunia hanya dengan keberanian dan melatih ilmu pedangnya.

“Disana ada monster… dan Wyvern dan Naga! Jadi bahkan ada Naga juga?”

“Ya? Setidaknya itulah yang telah aku dengar. Meskipun tak seorangpun belum ada berhasil

menangkapnya.”

Chung Il Hoon menjawab dengan sedikit gugup. Dia tampaknya telah menebak apa yang Ahn Hyundo rencanakan.

“Pergi ke dunia fantasi, menjadi seorang pahlawan, mengalahkan para Orc, membunuh naga. Kaisar?

Menjadi Kaisar? …hmmmm!”

Dada Ahn Hyundo mengembang.

Itu adalah tempat terbaik untuk mempelajari pedang. Pertanyaan sebenarnya adalah seberapa bergunanya pedang sebenarnya. Mempelajari pedang tidak menjamin keinginan akan ketenaran dan kekayaan.

“Untuk melawan monster… Monster yang mengancam manusia jadi… Hoon!”

“Ya, Master?”

“Itu membutuhkan kapsul kan?”

“Ya benar.”

“Pesan sekarang juga!”

“Baik Master!”

Chung Il Hoon dengan cepat mengeluarkan teleponnya dan memesan untuk memasang kapsul, yang biasanya akan memakan waktu dua sampai tiga hari. Dia membuat mereka memasangnya dihari yang sama.

Kapsul dipasang seperti yang dia minta.

Namun disana ada 5 kapsul bukannya 1.

“Apa ini?”

Dibawah tatapan tajam Ahn Hyundo, Chung Il Hoon berterus terang.

“Itu adalah tugas dari murid untuk mengikuti sang guru, bukankah begitu?”

“Jadi maksudmu kau dan yang lain akan mengikuti aku ke Royal Road?”

“Ya.”

Para instruktur menjawab dengan berani.

“Bagaimana dengan dojonya?”

“Ini tidak seperti kita akan pergi ke negara asing, dan bukankah ada instruktur bawahan?”

Ahn Hyundo terkikih.

“Jadi itu adalah permainan yang bagus sampai kalian ingin bermain juga huh?”

“Master! Tolong beri kami ijin!” Mereka berkata sambil membungkuk.

“Kalau begitu namaku adalah Geomchi, jadi Il Hoon, namamu adalah Geomchi2.”

“Ya pak….”

“Dan kau adalah Geomchi3. Selanjutnya kau Geomchi4.”

“Ya.”

Di Republik Korea, nama pengguna dari para murid-murid aliran pedang adalah dalam urutan

numerik.

“Keukkeuk.”

“Jadi aku dipanggil Geomchi4…”

Para instruktur lain berusaha untuk menyembunyikan ledakan tawa mereka, tetapi mereka juga tidak bisa menghindari nasib mereka.

“Lalu nama selanjutnya adalah Geomchi5.”

Mereka semua membungkuk kedepan dan berterima kasih pada Master mereka.

Namun, keringat dingin muncul di punggung mereka.

‘Sungguh nama yang kekanak-kanakan…’

‘Aku akan sangat malu untuk mengatakan namaku kemanapun aku pergi!’

Ahn Hyundo memasuki kapsul dan membuat akun dan karakternya. Lalu dia memberitahu murid-muridnya namanya dan bahwa dia memulai di Benteng Serabourg dari Kerajaan Rosenheim.

“Oh, ini mengejutkan.”

Geomchi mengakses dunia tersebut dan berdiri ditempat selama beberapa saat.

“Aku tidak pernah punya perasaan ini sebelumnya.”

Dia bisa merasakan semuanya. Dia bisa melihat dan mendengar orang-orang mengobrol dan tertawa di kota abad pertengahan.

Segala macam pembicaraan bisa didengar.

“Butuh 4 orang lagi di level yang sama.”

“Menjual kapak baja dengan harga murah!”

“Akan pergi ke desa-desa selatan untuk berdagang, mencari Merchant lain yang mau ikut.”

Sniff.

Perut Geomchi menggeram saat aroma makanan lezat mencapai hidungnya.

Dia memutar kepalanya dan melihat seseorang membuat makanan.

“Jual makanan lezat dibuat dengan skill memasak tahap Beginner level 7, Mung Beans yang lezat!”

Geomchi menelan ludah. Dia ingin memakannya tetapi dia tidak punya uang.

Lalu yang lain log in.

Geomchi2, Geomchi3, Geomchi4, Geomchi5!

“Master, jadi kau login pertama.”

“Jadi kau disini!”

“Ya, kau juga disini!”

Dia menikmati mengajari murid-muridnya bagaimana menggunakan pedang, tetapi melihat mereka di Royal Road meninggalkan kesan yang berbeda.

Geomchi4 terkejut ketika dia melihat kedalam sakunya.

“Oh, Master!”

“Ada apa?”

“Aku punya 10 potong roti dan sebuah botol di sakuku!”

“Ya, itu luar biasa. Mari kita coba rasanya roti disini.”

Geomchi2, Geomchi3, dan Geomchi5 mengeluarkan roti dari saku mereka dan menggigitnya.

Roti tersebut sangat hambar dan susah dikunyah, seperti batu.

“Cuih, cuih! Ini tidak bisa dimakan. Apa mereka makan ini ketika mereka pergi berburu?”

“Aku melakukan sedikit penelitian di internet, ada banyak jenis makanan yang berbeda. Makanan tingkat lanjut sangat lezat bahwa itu hampir meleleh dimulutmu. Itu seharusnya sangat enak.”

“Seperti yang diharapkan seseorang yang aku namai Geomchi4! Kau sangat pintar.”

“Hehe, banyak yang bilang begitu.”

Geomchi4 tertawa, senang karena pujian gurunya. Saat di dojo, dia disukai oleh praktisi lain karena agak polos dan suka membantu.

Suasana hati para Geomchi yang login ke Royal Road sangat senang dan riang, mereka sering tersenyum.

“Jadi untuk memakannya, kita hanya harus terus mengunyahnya? Meskipun roti itu keras, rasanya seperti memakan biskuit.”

“Tampaknya itu terbuat dari gandum. Roti gandum?”

Geomchi2 dan Geomchi3 memakan roti mereka dan minum dari botol minum mereka.

“Jadi, ayo mulai?”

“Apa maksudmu? Kita harus pergi ke balai pelatihan.”

“Lee Hyun, bukan, Weed mengatakan bahwa kau tidak bisa pergi keluar selama 4 minggu.”

“Yah, mari kita lihat apakah Training Hall itu bagus atau tidak!”

Kelima Geomchi mencari Training Hall. Ada jumlah orang yang luar biasa yang berkeliaran di Benteng

Serabourg jadi mereka harus bertanya beberapa kali untuk menemukan Training Hall.

Didalam bangunan tersebut sejumlah kecil orang tengah menggunakan skill mereka pada orang-orangan sawah.

“Oh! Jadi begitu cara mereka menggunakannya.”

“Sungguh metode pelatihan yang ketinggalan jaman yang mereka miliki di dojo ini. Tampaknya ini sebuah latihan sistematis untuk meningkatkan stamina.”

“Geomchi2, ini bukan masalah fasilitasnya? Itu tidaklah penting bagi seorang pria yang mengikuti jalur pedang.”

Geomchi2 dan para Geomchi yang lain mulai memukuli orang-orangan sawah dengan pedang kayu.

Mereka juga telah mendengarkan cerita Weed.

“Jadi itu suatu keharusan untuk melakukan ini?”

“Yiyahap!”

*Boom!*

Geomchi2 dan Geomchi4 merasa sedikit nostalgia dari mengayunkan pedang seperti ini lagi.

Terus-menerus memukuli objek tetap seperti metode latihan sepuluh tahun yang lalu, sebuah metode latihan yang telah lama dibuang.

“Argh! Teriak lebih keras!”

“Ya! Satu juta dua puluh satu! Satu juta dua puluh dua!”

Para Geomchi dengan semangat memukuli orang-orangan sawah. Melakukan hal itu memberi rasa nyaman didalam diri mereka. Meskipun para player lain akan berpikir mereka gila, mereka tidak beristirahat.

Pelajari pedang terlebih dulu.

Kemudian pedang bisa digunakan untuk membunuh para monster.

‘Aku akan membunuh para monster di Royal Road dengan pedangku.’ Dengan pemikiran itu, mata mereka semakin dan semakin cerah.

“Ngomong-ngomong, aku mulai merasa lapar.”

“Master, kita punya dua potong roti yang tersisa!”

“Begitukah. Bisakah aku memakannya?”

“Ya pak!”

Geomchi memakan roti yang tersisa. Dua potong roti terakhir sekarang telah habis.

“Aku merasa kenyang berkat roti itu sekarang!”

“Oh, ya! Geomchi4 kau tampak cukup mahir sekarang.”

“Master, ketika kita merasa lapar, tingkat kepuasan akan turun!”

“Geomchi3, kau benar.”

“Tetapi apa yang terjadi ketika tingkat kepuasan terus turun, sekarang kita tidak punya roti lagi?”

” ” ” “….” ” ” “

Keheningan menghinggapi kelompok itu setelah apa yang baru saja dikatakan Geomchi3.

Suasananya menjadi tegang setelah kata-kata itu dikatakan secara sembrono.

Para Geomchi mulai bertanya-tanya.

“Ini adalah situasi yang serius. Apa yang harus kita lakukan?”

“Kupikir aku tahu.”

“Geomchi2, katakan apa idemu.”

“Apa yang akan kita lakukan? Contohnya, ketika kita berburu, kita bisa mengambil item dan menghasilkan uang. Lalu, jika tidak ada yang lebih lezat, kita bisa makan roti gandum.”

“Oh, jadi kita bisa melakukan hal itu…”

Para Geomchi tersenyum, tetapi Geomchi4 menggelengkan kepalanya.

“Kita tidak bisa meninggalkan kota selama 4 minggu jadi tampaknya kita akan kelaparan.”

” ” ” ” “…..” ” ” ” “

Para Geomchi menundukkan kepala mereka. Mereka tidak punya jawaban untuk situasi yang menakutkan ini. Biasanya orang lain dengan pengalaman bermain game lebih banyak akan

mengerjakan quest. Namun, mereka bahkan tidak membayangkan bahwa mereka bisa mengerjakan quest untuk NPC. Satu-satunya solusi mereka adalah berburu, tetapi mereka tidak bisa keluar dari kota.

Kemudian Geomchi memegang pedang kayunya dan berseru.

“Kita akan melanjutkan mengayunkan pedang kita. Konsentrasi saja pada mengayunkan pedang!”

“Ya Master! Kami akan fokus pada pedang!”

“Oh, Master sungguh mengagumkan!”

Geomchi2, Geomchi3, Geomchi4, Geomchi5 bertepuk tangan.

Kemudian mereka berlima melanjutkan memukuli orang-orangan sawah. Meskipun mereka merasa lapar, itu memberi mereka lebih banyak semangat.

“Hohoho…”

Instruktur Training Hall tersenyum hangat.

Sang Instruktur Training Hall sangat senang melihat antusiasme dari para praktisi.

“Hei, maukah kalian makan bersamaku?”

Sang instruktur mengajak mereka untuk makan siang. Namun, Geomchi menelan ludahnya dan menolak ajakan tersebut.

“Tidak! bukankah kita punya harga diri dan kebanggaan kita bahwa kita tidak membutuhkan belas kasih dari seorang NPC? Bukankah itu benar, semuanya?”

“Itu benar! Kita hidup hanya untuk pedang.”

*Kriuk kriuk kriuk* (gemuruh suara perut mereka)

“Sekarang aku melihat orang-orangan sawah ini, mereka terlihat cukup lezat.”

Mereka mulai terdengar konyol. Tingkat kepuasan mereka dipaksa turun karena mereka tidak punya roti gandum lagi.

Kurang dari 3% tingkat kepuasan! Bergerak untuk memukul orang-orangan sawah menjadi sulit karena mereka tak lagi punya stamina.

*Ding*

Peringatan : Kamu telah mati kelaparan!

Kamu tidak bisa log in selama 24 jam.

Karena ini adalah kematian yang sederhana, tak ada item ataupun level yang akan berkurang.

Mati, mereka mati karena kelaparan… seperti anjing.

Itu sulit untuk mati di awal permainan jadi hal itu sangat langka untuk mati dalam 4 minggu pertama.

Para Geomchi yang penuh harga diri telah mati dengan cara seperti itu dan didepan begitu banyak orang, mereka mati dengan sangat memalukan.

Ahn Hyundo, dengan bantuan Chung Il Hoon, mengadakan rapat di dojo.

“Royal Road adalah bentuk dari peradaban yang baru, tetapi kita terlalu acuh tak acuh pada pengaruhnya.”

“Ya, itu benar.”

“Jika lebih banyak praktisi menghabiskan lebih banyak waktu latihan di sebuah tempat dimana mereka bisa melawan monster, maka motivasi mereka akan meningkat dan menginspirasi mereka lebih jauh lagi.”

“Kupikir itu benar. Melawan monster dan membuktikan kemampuan mereka akan menarik keluar perhatian mereka.”

Ahn Hyundo dan Chung Il Hoon juga telah mati dengan kematian yang sama seperti para instruktur yang lain.

“Pertarungan langsung akan menjadi kesempatan yang bagus bagi mereka untuk menyadari kekuatan sejati dari pedang!”

“Kita akan menyuruh para murid untuk mengajukan diri dan mereka akan dengan mudah mendapatkan pencerahan tentang ilmu pedang. Untuk menjelajahi benua tak diketahui hanya dengan pedang mereka, ini adalah sebuah ide yang bagus, Master.”

Namun, satu-satunya perempuan dan sekretaris dari seluruh dojo, keponakan Ahn Hyundo, meletakkan kedua tangannya di pinggangnya dan berkata pada mereka.

“Yang penting itu adalah usahanya! Kau berkata bahwa memiliki musuh adalah sebuah alat yang membantumu berkembang. Itulah yang selalu kau katakan!”

“Argh! Apa lagi kalau begitu? Apa yang telah kami abaikan?”

“….!”

“Jadi, rencana kami adalah untuk membiarkan semua praktisi resmi bergabung, jadi ada berapa banyak orang?”

“500.”

“Dengan memesan 500 kapsul… mereka bisa memberi diskon kan?”

“Mereka akan bisa memasangnya besok, harusnya itu baik-baik saja.”

Chung Il Hoon membalas dengan percaya diri.

Kapsul untuk 500 murid diterima dari Biro Imigrasi dan Pengungsi. Dojo Ahn Hyundo punya reputasi diseluruh Republik Korea. Mereka menerima dana dari Federasi Kendo Dunia dan Asosiasi Atlet.

Mereka menerima uang dalam jumlah yang besar dari para murid dan diantara mereka ada beberapa yang berada dalam Biro Imigrasi dan Pengungsi.

Geomchi4 tersenyum dan bergumam diam-diam.

“Iti artinya bahwa kita akan mendapatkan 5.000 roti gandum lagi!”

“……”

“…..”

“Kukuku!”

 

Translator / Creator: alknight