October 31, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 3 – Chapter 6: A Bad Cold

 

Hanya satu hari…

Waktu yang sangat sedikit untuk persiapan!

“Beli armor dan senjata. Beli dengan harga kurang dari 1 gold.”

“Beli herbal dan bahan makanan dalam jumlah yang banyak. Tolong jual dengan harga murah.”

Weed membeli item-item ini dengan jumlah yang besar.

Mapan telah meninggalkan partynya dan Weed bisa mengerti alasannya.

“Aku akan berteleport melalui gerbang karena aku harus berburu ditempat yang jauh untuk mengerjakan quest.”

“Selamat, omong-omong, apa aku bisa ikut?”

“Yah, aku harus pergi sendirian…”

“Sayang sekali. Aku ingin pergi bersamamu…”

“Tingkat Kesulitannya adalah B…”

“…Semoga beruntung dan selamat tinggal.”

Mapan terspesialisasi dalam skill perdagangan.

Weed tidak memiliki skill yang diperlukan untuk menjadi seorang Merchant.

Namun, membawa Mapan adalah pilihan yang buruk.

Mapan terlalu lemah untuk mendampingi dia, jadi Weed menuju ke Gereja Freya untuk beristirahat.

Didalam gereja tersebut ada sang High Priest dan sekelompok Paladin.

“Halo. Senang kau telah datang.”

Weed gemetar ketika sang High Priest menyelesaikan kalimatnya.

Seberapa besar kemungkinannya? Kupikir Ossan High Priest adalah orang yang baik hati.

Itu adalah situasi yang menakutkan dan sulit, tanpa sedikitpun kesempatan untuk melarikan diri.

Namun, Weed tidak akan menyerah pada quest tersebut kecuali terjadi kemungkinan terburuk tanpa keuntungan sebagai imbalan.

Namun, hari sebelumnya, sang High Priest telah mengatakan, “Ini adalah sebuah quest yang sangat penting. Aku tidak bisa memprediksi masa depan manusia. Namun, aku tau bahwa masalah ini sangat mendesak. Ini bisa berubah menjadi buruk dalam hitungan hari.”

Weed ingin mengangguk.

Masalah pribadi!

Hal ini sangat buruk!

Tergantung pada keadaan yang terjadi, dia bisa saja tidak akan pernah diijiinkan untuk kembali ke gereja.

Namun, sang High Priest telah menempatkan dia dalam situasi yang bahkan lebih buruk.

“Aku mendirikan Gereja Freya ini di kota ini. Aku percaya bahwa kau adalah sang Pahlawan dari legenda itu dan kau akan menemukan relik itu secepat mungkin.”

“Apa maksud anda?”

“Besok, ketika kau sampai, seorang Priest dari gereja ini akan berada dibawah perintahmu. Jika kau mengembalikan dia dengan aman maka kau akan dihadiahi berdasarkan pada menjadi seberapa kuat dia. Jangan cemas tentang besok dan kami akan menemuimu segera.”

“….”

Segalanya telah diatur jadi dia tidak bisa melarikan diri.

Kota Kebebasan Somren, dengan kebebasan yang hilang! Kota itu sekarang seperti penjara tanpa jeruji.

The Crown of Fargo telah dicuri dari Gereja Freya dan Weed tidak diijinkan untuk mendapatkan bantuan dari player lain. Weed hanya diijinkan untuk menggunakan orang-orang yang telah disediakan oleh sang High Priest.

“Sekarang aku akan memperkenalkan padamu orang yang akan membantumu menyelamatkan para Paladin jika ada yang bisa diselamatkan…”

Sang High Priest membuka pintu dengan kunci kecil. Didalamnya adalah seorang anak laki-laki

Yang mengenakan topi putih dan jubah Priest putih,

“Dia adalah kandidat High Priest berikutnya di gereja kami, Alveron. Terima kasih atas bantuanmu.”

“Sebuah kehormatan bertemu denganmu, Weed.” kata Alveron dengan formal.

Alveron bukanlah seorang player, tetapi seorang NPC.

Weed dan Alveron menuju kedalam gereja. Dipusat dari ibukota Kerajaan, disana ada rune yang rumit yang telah diukir ditanah dan berfungsi sebagai gerbang teleport.

*Kkolkkak!*

*Glek* Weed menelan ludah.

Menggunakan gerbang teleport tersebut akan secara langsung mengirim dia ke Morata. Tetapi dia tidak lupa bahwa provinsi Morata dihuni oleh Klan True Blood Vampire yang terkenal yang sangat kuat dan menakutkan.

Tidak seluruh Benua Versailles penuh dengan para player. Para petualang telah menemukan Benua Utara tetapi orang-orang tidak mendekatinya karena para monster disana terlalu kuat disana.

Dia berdiri disana dan mereka memulai persiapan untuk memulai teleportasi.

“Kita benar-benar harus menyelamatkan para Paladin saudara kita!”

Sang High Priest dan para Priest mengumpulkan sejumlah besar MP untuk mengoperasikan gerbang teleport.

Cahaya keluar dari gerbang tersebut, mengelilingi Alveron dan Weed, dan dengan segera mereka berdua menghilang dari Gereja Freya.

150 tahun yang lalu Kekaisaran Niflheim, yang terletak di benua utara, telah dihancurkan oleh para monster. Saat para bangsawan sibuk melarikan diri, pasukan Templar yang ditempatkan disana diporak-porandakan.

Setelah itu Kekaisaran Niflheim menjadi wilayah yang dipenuhi oleh monster.

Sekarang hanya ada satu aturan yang berjalan disini.

Yang paling kuat yang bertahan hidup, dan yang kuat mengambil semuanya.

“Jadi ini adalah Morata…”

Weed dan Alveron muncul di pintu masuk sebuah gua.

Gerbang teleport Gereja Freya dan gua tersebut saling terhubung.

“Ohh, dinginnya!” Segera setelah Weed tiba dan keluar dari gua, dia merasakan rasa dingin yang parah.

Medan dan iklim di Benua Versailles sangat berbeda bergantung pada lokasinya.

Sayangnya, Morata terletak jauh di utara benua, yang termasuk wilayah dingin.

Di zona ini, sepanjang musim, itu adalah zona es abadi.

“Tak pernah terpikir tempat ini sangat dingin…!!”

Tubuh Weed mulai menggigil lagi dan lagi karena dinginnya.

Tubuhnya mulai menyusut karena angin yang bertiup ke kerahnya.

*Ding*

Peringatan: Kamu telah terkena flu!

Untuk mengatasi rasa dingin, disarankan untuk memakai pakaian yang tebal atau duduk didekat api.

Jika flu berat berlanjut untuk waktu yang lama, maka itu mungkin memperburuk kondisimu.

Badan menjadi lebih kaku dan kemampuan fisik berkurang sebesar 5%.

Kecepatan rasa lapar meningkat sebesar 25%.

*menggigil*

Pesan tersebut mengatakan bahwa flu bisa semakin memburuk.

Tetapi dia tidak bisa tinggal didalam gua, karena dia harus melihat sekeliling dan memantau area tersebut.

Dia pergi ke pegunungan yang tertutup salju.

Melewati kota yang hancur. Kota hilang yang sunyi.

Dipersimpangan kedua dari barisan rumah ketiga adalah kediaman dari kaum bangsawan.

Diatas atap dengan tumpukan salju yang tebal, langit-langit yang runtuh dari bangunan bisa terlihat.

Meskipun interiornya tampak kosong, ada perabotan didalamnya. Sepertinya rumah-rumah

itu tak dihuni selama jangka waktu yang lama tanpa ada yang memelihara bangunannya.

“Ini pasti desa Morata…”

Tatapan Weed melintasi kota menuju struktur bangunan hitam raksasa.

Bangunan itu memiliki pagar besar dan tak ada lampu yang menyala, jendelanya juga tertutup dan burung gagak terbang diatas atap.

Istana Morata.

Istana bata hitam tersebut tertutup salju putih. Sebuah kombinasi aneh yang sedikit memicu inspirasi didalam diri Weed. Burung-burung gagak hitam legam berputar-putar diatas atap istana.

Biasanya, burung akan mudah membeku dan mati, tetapi para gagak ini adalah jenis burung yang lebih tangguh. Gagak-gagak ini telah berubah menjadi vampir, dan karena para gagak telah berubah menjadi vampir, mereka tidak bisa mati dan masih bisa menggerakkan anggota tubuh mereka.

“Sepertinya ini adalah tempat para Vampir True Blood berada. Hal ini tidak akan mudah.”

Weed selesai memantau dan kembali ke gua.

*Ding*

Temperatur telah sedikit meningkat

Gua dengan gerbang teleport sedikit lebih hangat. Beruntungnya bahwa angin dingin tidak bertiup kedalam gua.

“Jadi ini adalah Provinsi Morata.”

Dahulu kala, Paman dari Ratu Natalya, Archduke Morata yang memerintah provinsi tersebut.

Morata dulu pernah terkenal karena kualitas kulit dan kain yang luar biasa dan cukup makmur, tetapi sekarang telah hancur menjadi desa yang terisolasi.

Tak ada manusia yang terlihat dimanapun, itu adalah sebuah kota hantu!

Di ibukota dari Kekaisaran Niflheim, Mordred, semua penduduk telah dibunuh.

Weed secara mental mengatur tujuan questnya.

‘Pertama, menyelamatkan para Paladin. Kedua, menyingkirkan Klan Vampir True Blood dari kota, dan yang ketiga, mencari Crown of Fargo’.

Itulah yang harus dilakukan. Itu adalah rencana yang sederhana dan mudah.

Tetapi Weed frustasi pada realitas tentang hal ini. Dia adalah Legendary Moonlight Sculptor.

Untuk mengharapkan mengerjakan sebuah quest tingkat tinggi semacam itu, dia akan memerlukan class yang luar biasa untuk menutupi selisih 68 level tersebut. Dia menyesali bahwa dia tidak mencari lebih banyak exp sebelum kembali dari kota langit Lavias.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

Weed kembali ke gua untuk menanyai Alveron beberapa pertanyaan. Beruntungnya, si NPC Alveron punya kepercayaan yang kuat pada Weed dan mendengarkan dia.

“Jadi, sebelum aku memulai, aku ingin kau bersantai dan duduk. Aku tidak yakin bahwa aku sudah memperkenalkan diriku dengan benar. Namaku Weed. Aku lebih tua darimu jadi hormati aku. Oke?”

“Ya Weed-nim.”

Weed berbicara sedikit lebih sopan saat dia meminta dengan hati-hati.

Alveron tampak seperti bocah laki-laki yang sangat muda dan seperti peri, jadi dia tidak mau menjadi canggung jika dia terlalu sopan.

‘Seorang bocah….’

Weed ingin mempermudah perburuan monster.

“Misi ini sangat sulit, jadi aku perlu tahu berapa levelmu…”

“320.”

“….”

Kandidat untuk High Priest selanjutnya memiliki level yang sangat tinggi. Weed tidak tau bahwa level seorang NPC bisa setinggi itu. Meski begitu, para Priest tidak punya banyak kemampuan tempur, daerah dimana Weed lebih unggul.

Quest kali ini bukan tentang level tetapi tentang Fame. Dari menyelesaikan quest tersebut, Fame Weed telah naik hingga lebih dari 2.000.

“Levelmu cukup tinggi. Tetapi aku ingin tau bagaimana kau menjalani kehidupanmu. Seberapa banyak Fame milikmu?”

“Mari kita lihat, sekitar 150.002…”

“……”

Weed mencoba untuk tidak terdengar merendahkan diri saat dia berbicara pada NPC.

Namun, karena Alveron tampak seperti anak kecil, dia telah lupa bahwa Alveron adalah kandidat level master untuk posisi High Priest selanjutnya.

“Apakah ada masalah?”

“Tidak ada, beristirahatlah untuk saat ini.”

Seperti seorang anak baik, Alveron pergi dan duduk di pojokan. Duduk dengan jubah putihnya,

posturnya tampak menunjukkan bahwa dia sedang dalam meditasi yang khusyuk.

“Sekarang tugas kecil telah diurus, saatnya untuk memulai.”

Weed meletakkan selimut di lantai.

Dalam kenyataannya, selimut adalah item yang penting untuk perjalanan karena bisa mencegah efek dingin.

‘Aku tidak menyadari bahwa aku perlu menyiapkan pakaian…’ Dia berpikir sambil menggigil.

Kerajaan Rosenheim dan Kota Kebebasan Somren adalah provinsi yang hangat jadi tak ada

perlunya membawa pakaian tambahan. Dia tidak pernah berpikir bahwa masalah sesulit ini akan muncul karena tidak membawa pakaian perjalanan dasar.

Tubuh Weed gemetar saat dia membuka ranselnya dan mengeluarkan perintah untuk mengambil item dari inventorynya.

Dia mengambil senjata dan armor yang seharga 1 gold yang dia kumpulkan di Liberty City.

*Brakk!*

Weed memukul breastplate dengan tinjunya. Dia memukulnya beberapa kali disana-sini

Sampai rusak di beberapa tempat. Item-item itu sangat murah, dengan armor dan daya tahannya yang lemah, jadi breastplate itu rusak dengan cepat.

“Sekarang aku melakukan hal ini…” dia bergumam.

Weed mengeluarkan palu yang dia beli dari toko Blacksmith untuk memperbaiki daya tahan breastplate tersebut. Dengan itu, kekuatan blacksmith dan skill yang terkait meningkat sebesar 10%.

Dia membelinya di Kota Kebebasan Somren.

“Repair.” Dia berkata saat dia memukul pelindung dada tersebut dengan palu.

Memperbaiki daya tahan pelindung dada sangat sulit. Dia memukuli plat baja tersebut beberapa kali sampai area yang rusak telah diperbaiki.

Weed kemudian melanjutkan merusak dan memperbaiki armor tersebut.

Setelah 10 menit, sebuah jendela pesan muncul.

*Ding*

Keahlian skill Repair telah meningkat.

Namun, karena kerusakan yang berulang-ulang

pada armor tersebut, ketahanan dari breastplate

itu terus turun secara permanen sampai…

*Ding*

Peringatan : Hilangnya item!

Item telah menghilang karena kerusakan berulang.

Breastplate yang Weed pegang ditangannya telah rusak dan hancur berkeping-keping.

Memperbaiki perlengkapan yang rusak bisa berkontribusi pada skill dalam beberapa kasus, tetapi jika perlengkapan tersebut dirusakkan berulang kali, maka breastplate yang terbuat dari baja rendah tidak ada gunanya lagi.

Weed melanjutkan merusakkan semua breastplate yang telah dia beli, kemudian berpindah pada greaves dan setelah semuanya rusak, dia mengeluarkan helm.

8 jam kemudian!

Weed bisa mendapatkan 10% keahlian skill Repair.

Dengan harga 100 gold, puing-puing pecahan armor telah menumpuk hingga ke langit-langit.

“Skill Check : Repair”

Repair (Beginer Level: 9 | 89%)

Hanya 11% lagi sampai skill Repair mencapai tahap Intermediate. Lalu ketahanan dari perlengkapan bisa diperbaiki sampai maksimal.

“Achoo!”

Dia telah memperbaiki item-item tanpa beristirahat. Weed bersin. Hidungnya meler dan tak lama kemudian dia juga sakit tenggorokan.

*Ding*

Peringatan : Penyakit Flu mu telah memburuk!

Untuk mengatasi rasa dingin, disarankan untuk memakai pakaian yang tebal atau duduk didekat api. Jika flu yang parah terus berlanjut untuk waktu yang lama, maka itu mungkin memperburuk keadaanmu.

Flu bisa menyebabkan komplikasi yang lain!

Kemampuan badan berkurang 20%.

Efek skill berkurang 30%.

Maksimal HP dan MP berkurang

.”….”

Weed kehilangan kata-katanya.

Dia hanya sedikit flu tetapi sekarang telah memburuk. Ini mungkin karena dia duduk di satu tempat terlalu lama tanpa bergerak.

“Sialan!”

Ada 3 hal tragis yang harus diperhatikan ketika seseorang sendirian.

Kelaparan, dingin dan penyakit!

Berjuang dengan keadaan lapar lebih sulit di iklim dingin karena roti gandum bukanlah makanan hangat.

Dingin telah mempengaruhi skill miliknya karena rasa dingin membuat badannya lebih kaku. Weed sangat depresi bahwa dia terkena flu.

‘Ini tak bisa dipercaya…’ Weed mendesah.

Kehidupan telah begitu sulit sejak dia memulai game ini. Dia mendapatkan profesi yang tidak dia inginkan, dia juga mengalami segala macam masalah seperti rasa dingin ini.

Weed menenangkan dirinya dengan fakta bahwa dia tidak sendirian.

‘Alveron mungkin sama.’

Alveron duduk di pojokan gua, mengenakan jubah putih.

‘Dia mungkin merasa lebih dingin daripada aku karena dia hanya memakai jubahnya…’

Weed merasa sedikit puas, merasa dalam kondisi yang lebih baik daripada orang lain membuat dia dalam suasana hati yang bagus.

Itu mungkin lebih baik bahwa dia tidak tau bahwa jubah Alveron itu punya opsi spesial, mencegah rasa dingin untuk menembus.

****

Lee Hyun keluar dari kapsulnya jadi dia bisa mulai bersih-bersih rumah.

Dia menyapu lantai, mengelap jendela, menggosok wastafel kamar mandi dan mengganti lampu.

Seperti hari ini adalah hari bersih-bersih.

“Harus memastikan bahwa rumah nenek tidak terlalu berantakan.”

Lee Hyun bergumam sambil dia melanjutkan mengepel lantai.

Neneknya memberitahu Hyun saat dia masih di rumah sakit bahwa sepertinya dia punya penyakit.

Artritis degenerative.

Bekerja terlalu berat ketika masih muda bisa menempatkan banyak ketegangan pada sendi. Dokter rumah sakit memberitahu dia untuk tidak khawatir.

“Pengobatan modern bisa memperbaiki kerusakan sendi tingkat ini tanpa ada masalah. Jangan

khawatir tentang hal itu.”

Lee Hyun bersedia membayar biaya pengobatannya. Obat yang mahal dibutuhkan untuk regenerasi sendi.

Namun, penyakit nenek lebih dari apa yang didiagnosis. Karena dia tidak menerima pemeriksaan kesehatan secara teratur, penyakit lain dalam tubuhnya telah bertambah parah, hasil pengujian menyatakan bahwa sel-sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuhnya.

Di jaman modern, tak ada lagi orang yang meninggal karena kanker. Namun, hal itu memerlukan operasi dan beberapa bulan perawatan di rumah sakit.

‘Aku harus terus menabung uang, aku tidak boleh berhenti mencari uang….’

Selain uang dari festival SMA, Royal Road memberi uang dalam jumlah yang cukup banyak.

Seluruh prosesnya lebih cepat daripada yang direncanakan.

Berkat berburu di Lavias dan situs jual beli item Royal Road.

Ketika Lee Hyun selesai membersihkan rumah, adiknya pulang dari sekolah.

“Rumahnya begitu bersih hari ini. Apa kau bersih-bersih?”

“Ayolah, jangan buang-buang waktu. Nenek menunggu kita untuk menjenguk.”

Lee Hyun membawa adiknya ke rumah sakit untuk menjenguk nenek mereka.

“Halo.”

“Nenek, apa kau kesepian?”

Lee Hyun menghabiskan sebagian besar waktunya didalam kapsul game dan adiknya disekolah. Sulit baginya untuk mempekerjakan seorang perawat untuk neneknya karena dia tidak punya uang sebanyak itu.

Dia membersihkan ruangan tersebut dan membuang sampah. Setelah dia selesai, dia duduk

disamping tempat tidur rumah sakit dan memegang tangan neneknya.

“Maafkan aku, sayang. Kamu selalu datang untuk menjenguk aku.”

“…..”

“Kuharap itu tidak berlebihan, tetapi bisakah aku minta sesuatu, sayang?”

“Ya, katakanlah dan mintalah apapun.”

“Mereka bilang tak ada kata terlambat untuk belajar. Aku akan sangat senang jika kamu bisa

menyelesaikan SMA secara normal… maukah kamu mendapatkan GED?”

Dia bisa mengerti apa yang neneknya maksudkan.

Ketika Lee Hyun keluar dari SMA, adiknya menangis. Ketika dia bersikeras bahwa dia berhenti sekolah neneknya tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dilecehkan dan dipermalukan oleh para rentenir di sekolah, pendidikan semacam itu jauh dari kata normal.

Itu adalah sebuah kekecewaan bahwa dia telah gagal untuk mendapatkan pendidikan.

Lee Hyun menjawab. “Baiklah nek, aku akan ambil GED.”

Lee Hyun pulang sendirian sementara adiknya tinggal dirumah sakit. Besok adalah hari libur jadi

Hye Yeon bisa tinggal lebih lama.

Lee Hyun lebih suka untuk tinggal dan menikmati saat-saat bersama. Tetapi dia punya pekerjaan yang harus dilakukan.

‘GED… apa yang aku butuhkan untuk belajar?’

Ketika dia masih sekolah, nilainya tidak terlalu buruk.

‘Buku-buku referensi dan buku teks dari toko buku… tidak, akan lebih baik untuk membeli buku bekas.’

Dia pergi ke toko buku bekas yang dia ingat di kota. Toko tersebut tepat berada disamping dojo ilmu pedang yang dia hadiri di masa lalu.

Dojo ilmu pedang masih tetap disana.

“Yiyahap!”

“Hiat!”

Teriakan bersemangat bisa terdengar.

Lee Hyun tertarik dan menuju ke dojo.

****

“Tampaknya tak ada yang berbakat.”

Ahn Hyundo mengeluh tentang performa murid-muridnya.

“Sejak aku meletakkan pedangku dan mulai mengajar…”

Ahn Hyundo telah mengunci hatinya dalam depresi. Tak peduli apa yang dia lakukan, mereka tidak mengerti jalan ilmu pedang.

‘Pedang… Pedang akan segera menghilang dan tak akan ada lagi orang yang akan berbicara melalui pedang denganku.’

Hati Ahn Hyundo terasa sakit saat dia melihat pedang-pedang di dinding, ketika dia membuka dojo ini dengan semangat. Sudah 10 tahun sejak dia memulai dojo tersebut dimana dia hanya mengajar orang-orang dewasa bukannya anak-anak.

“Master!”

“Ada apa? Apa ada yang begitu penting hingga kau membuat keributan seperti itu?”

“Dia disini!”

“Apakah pria itu…?”

Karena semua orang berbicara sekaligus, dia tidak bisa memahami apa-apa karena itu tak bisa

dimengerti.

Lalu, pada saat itu, Ahn Hyundo memikirkan tentang wajah yang akrab.

‘Pria muda itu, Lee Hyun! Satu-satunya yang ingin kujadikan penerusku!’

Lee Hyun akan dipilih.

Dia tidak pernah mengecewakan Ahn Hyundo sejak saat dia muncul di dojo.

Ahn Hyundo berdiri sambil mendengarkan apa yang terjadi.

“Jadi dia ada disini di dojo?”

“Ya, itu benar.”

“Ayo, mari kita pergi.”

Ahn Hyundo ingin melihat dia lagi. Dia ingin melihat apa orang yang dia pilih sebagai penerusnya mampu!

“Tetapi, ada masalah.”

“Apa itu?”

“Dia meminta untuk bertanding dengan orang-orang.”

“Apa masalahnya jika dia ingin bertanding? Aku tidak tau apa yang jadi masalah karena mereka

seharusnya cukup kuat.”

“Ya, aku menilainya dengan cara yang sama, jadi aku meminta Dog Sun bertanding dengan dia tetapi itu adalah kemenangan sepihak oleh Lee Hyun.”

“Ah ha!”

Latihan tanpa henti.

Para praktisi di dojang telah datang berlatih selama lebih dari 3 tahun. Bahkan dalam waktu yang terbatas seperti itu mereka telah mencapai beberapa tingkat kemahiran.

Jadi para murid adalah lawan yang tangguh.

Dalam pertandingan, para pemula berusaha untuk menghindari cidera parah, tetapi para ahli

menguasai aliran pertarungan.

“Aku tidak percaya bahwa Dog Sun dikalahkan…”

“Ya, itu membutuhkan waktu kurang dari 2 menit.”

“Aku prihatin pada Dog Sun, untuk sesuatu sekecil ini, apa masalahnya?”

Ahn Hyundo menanyai Chung Il Hoon tentang apa yang salah.

“Itu, setelah Dog Sun dikalahkan, Lee Hyun meminta orang lain untuk bertanding juga.”

“Mereka telah mempelajari pedang jauh lebih lama dari Dog Sun kan? Jadi siapa yang dia lawan berikutnya…?”

“Chang Guk.”

“Dia telah mempelajari pedang selama lebih dari 6 tahun. Dia sangat ceroboh untuk melawannya setelah dia lelah dari bertarung dengan Dog Sun.”

“Aku berusaha untuk membuat dia mempertimbangkan lagi tetapi…”

“Jadi dia terluka parah?”

“Tidak. Kali ini dia menang juga.”

“Oh!”

Ahn Hyundo tidak salah menilainya ketika dia melihat Hyun.

‘Dia tidak bisa menyembunyikan semangat bertarungnya. Dia akan menjadi lebih kuat… keinginan akan kekuatan!’

Kualitas itu telah membuat dia menang bertarung melawan Chang Guk.

“Tetapi masalah sebenarnya adalah bahwa Chang Guk hanyalah salah satu dari orang-orang

yang dia lawan.”

“Siapa lagi?”

“Ya, itu, 6 praktisi.”

“Maksudmu dia secara terus-menerus melawan 6 orang.”

“Ayo, kita lihat.”

Para instruktur dan praktisi dojo berkumpul untuk melihat pertandingan tersebut.

“Sungguh stamina yang luar biasa…!”

“Itu adalah orang kesembilan yang telah kalah!”

“Dia menggunakan jumlah kekuatan yang tepat… tak peduli seberapa banyak stamina yang dimiliki

seseorang, hal itu tidaklah mudah melawan 9 orang secara berturut-turut.”

“Jangankan melawan satu per satu. Hanya bertarung melawan praktisi lain saja sudah cukup sulit.”

“Tetapi bagaimana dia bisa menang seperti itu?”

“Kekuatan dan teknik, tampaknya bahwa dia telah menemukan keseimbangan diantara keduanya. Dia mengurangi jumlah pergerakan yang tak diperlukan dari tubuh bagian bawahnya. Meski begitu, dia harus melatih tubuh bawahnya untuk waktu yang lama untuk mencapai kemampuan seperti itu.”

“Tapi bagaimana dia bisa bertarung seperti itu?”

Para praktisi telah melihat latihan Lee Hyun ketika dia datang ke dojo seperti yang dilihat Chung Il

Hoon dan Ahn Hyundo. Ahn Hyundo melihatnya dan mengangguk.

“Aku tau kenapa dia tampak bertarung sungguhan.”

“Kenapa bisa Master?”

“Ketika kau bosan, kau ingin bertarung dengan siapapun yang bisa kau lawan.”

Para praktisi menatap Ahn Hyundo.

“Kalau begitu itu hanya untuk menghilangkan stres, Master?”

“Ketika kau menghadapi lawan, hal itu terasa bagus untuk memegang dan mengayunkan pedang, bukankah begitu?”

“Yah, kurasa begitu…”

“Kadang-kadang aku ingin bebas dan bertarung tanpa alasan. Tetapi kita tidak ingin tahu naluri primitive yang kuat ini. Saat ini, pedang-pedang menggantung di dinding dan karena hal itu, pandangan tentang dirimu sendiri pasti telah berubah. Sekarang hanya sedikit yang memiliki naluri seorang pemburu, semangat bertarung dari hewan buas.”

*Klakk!*

Praktisi yang lain dipaksa berlutut didepan Lee Hyun. Saat Lee Hyun perlahanlahan berjalan

kearahnya dengan pedang kayunya, si praktisi itu menyerah.

“Berhenti, berhenti! Aku kalah.”

Lee Hyun menghentikan pedangnya didepan kening praktisi tersebut.

“Siapa selanjutnya?”

Potensi Lee Hyun sangat mengagumkan. Bajunya basah dengan keringatnya, menunjukkan dadanya yang kuat.

Tetesan keringat mengalir pada pedang kayu dan jatuh ke lantai.

Tetapi dia tidak tampak lelah. Dimatanya, semangat bertarung tampak berkobar-kobar.

Itu adalah mata yang berniat memburu!

Hanya raungan hening seekor serigala mengancam posisi yang lain.

Lebih dari 100 praktisi di dojo tersebut merasa terintimidasi.

“Biarkan aku pergi.”

“Panggil para master!”

Para murid tidak bisa menerima tantangan yang memanas dan Chung Il Hoon hanya menggelengkan kepalanya.

“Apa kalian serius…”

“Master!”

“Jika rumor menyebar bahwa 10 orang kalah, lalu kehormatan dojo akan menurun. Aku akan melawan dia.”

Chung Il Hoon akan bertarung secara langsung. Dia memenangkan medali perak dua kali di

Turnamen Pertarungan Pedang Sedunia, dia adalah seorang ahli.

Para praktisi tidak pernah melihat dia bertarung secara serius dan hanya melihat dia mengajari orang lain bagaimana untuk bertarung.

‘Master akan bertarung’

‘Apa mereka benar-benar akan bertarung?’

Para praktisi menatap Lee Hyun dengan cemas. Dia harus menyerah karena tak ada yang bisa

menebak apa yang akan terjadi jika dia memutuskan untuk bertarung.

Mereka terdiam.

Lee Hyun mengarahkan ujung pedangnya terhadap Chung Il Hoon. Chung Il Hoon juga siap untuk bertarung.

Setelah mereka berdua mengambil pedang mereka, Ahn Hyundo berteriak.

“Berhenti!”

“Tapi master, jika orang ini dibiarkan, maka kebanggaan dojo akan…”

“Aku tau bahwa dia mengalahkan 9 orang atau lebih, tetapi dia berasal dari dojo kita jadi hal itu tidak akan merusak kebanggaan ilmu pedang kita.”

“Aku kira begitu…”

“Dalam kenyataannya, melawan lawan yang kelelahan akan mempermalukan kita.”

Ahn Hyundo berusaha untuk menjaga kedamaian dalam dojo, melawan seorang murid dan melawan seorang instruktur adalah hal yang sepenuhnya berbeda. Chung Il Hoon memutuskan untuk mundur dan berbicara. Tetapi Ahn Hyundo tersenyum sambil berkata.

“Bukankah menurutmu bahwa itu akan lebih adil jika orang tua seperti aku melawan seorang lawan yang kelelahan?”

“Master!”

“Master anda…!”

Seluruh dojo penuh dengan kegirangan.

Meskipun Ahn Hyundo sudah tua, tak seorangpun berpikir dia lemah.

Ahn Hyundo adalah Juara Dunia Pertarungan Pedang selama 4 tahun berturutturut.

Dia bukanlah seseorang yang bisa dikalahkan oleh sembarangan orang bahkan jika dia hanya

memegang tongkat.

Seluruh dojo menjadi tenang saat Ahn Hyundo berjalan ke tengah-tengah dojang.

“Kita akan melihat ilmu pedang milik Master…”

“Kesempatan kecil seperti itu datang sekali seumur hidup?”

Para praktisi di dojo menahan nafas mereka pada konfrontasi diantara kedua petarung. Jika ilmu pedang Ahn Hyundo bisa dilihat, seharusnya itu dengan cara yang lebih mulia. Namun, setiap instruktur bingung pada tindakan Ahn Hyundo.

‘Bahkan jika Master tertarik pada anak itu, tak terpikir bahwa dia akan turun tangan sendiri.’

‘Jika hal ini dibiarkan, maka semua orang akan ingin menantang dia…’

Master adalah kebanggaan dari Republik Korea dalam hal ilmu pedang tetapi dia tidak banyak

berbicara tentang pikirannya.

Lee Hyun telah mengalahkan 9 orang, meskipun mereka adalah para paraktisi. Ada celah yang besar diantara para praktisi dan si penantang. Tetapi perbedaan yang sangat besar ada diantara para praktisi dan murid yang secara langsung diajar oleh Ahn Hyundo.

Tak peduli seberapa banyak praktisi yang dikalahkan Lee Hyun, para istruktur tidak gelisah sedikitpun.

Mereka mengagumi ilmu pedangnya, staminanya yang mengagumkan, dan semangat bertarungnya.

‘Tetapi ada masalah yang lain.’ pikir Chung Il Hoon.

Ahn Hyundo sedang bertarung.

Hal ini sangat tidak biasa.

‘Mungkin dia tidak akan serius?’

Chung Il Hoon menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Ahn Hyundo datang setidaknya seminggu sekali

untuk bertarung dengan dia memakai pedang.

Tak berujung.

Keputusasaan.

Dan kagum.

Ahn Hyundo telah mencapai puncaknya. Hanya mereka yang ada dibawahnya yang bisa melihat itu.

Chung Il Hoon bahkan tak bisa bermimpi untuk mencapai tingkat dimana dia bisa menyentuh kerahnya. Tak mungkin Ahn Hyundo bisa kalah.

‘Tidak mungkin aku bisa berbuat sesuatu. Dia akan melawan murid favoritnya. Semoga beruntung,

Lee Hyun.’

Mata Chung Il Hoon sedingin es saat dia menghela nafas.

Stamina Lee Hyun sudah mencapai batasnya. Kemauannya telah bertahan selama ini, tetapi hal itu segera  akan hancur.

Chung Il Hoon melihat itu sebagai masalahnya.

Dengan staminanya yang hilang saat para praktisi melawan dia sepenuh hati, tak peduli praktisi mana yang dia lawan, tubuh Lee Hyun telah mencapai kondisi yang ekstrim karena melawan 9 orang.

Chung Il Hoon berpikir bahwa kemampuannya yang luar biasa akan segera berakhir.

‘Master tidak perlu berbuat banyak untuk menaklukan seseorang yang sudah hampir kalah.’

Namun, Chung Il Hoon sepenuhnya salah.

Itu adalah sebuah adegan yang mengharukan saat mata mereka bertemu saat Ahn Hyundo berkata pada Lee Hyun.

“Apa kau suka menggunakan pedang kayu? Aku juga punya pedang kayu ditanganku, tetapi tidakkah kau ingin bertarung dengan pedang asli?”

Translator / Creator: alknight