October 24, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 2 – Chapter 6: The Meaning Behind Royal Road

 

Weed sekarang sudah mengetahui dengan pasti struktur lantai pertama Memphis Hall seperti rumahnya sendiri. Ia tahu dengan jelas dimana Death Knight yang berbahaya patroli, dan tempat terbaik untuk berburu Skeleton Knight.

Sebagai solo player tanpa party, apa yang paling ditakuti oleh Weed adalah serangan mendadak ketika HP dan MP miliknya masih rendah. Karena itu, Weed mempersiapkan beberapa tempat persembunyian dimana ia menyimpan banyak herbs dan bandage.

Ia menemukan beberapa tempat aman untuk istirahat dan tempat dimana ia bisa dengan efektif menarget musuhnya. Perban dan obat-obatan memang gampang didapat, namun pengetahuan tentang tempat persembunyian tak ternilai harganya. Ia memilih tempat-tempat itu setelah beberapa kali percobaan dan kegagalan. Namun selanjutnya, tanpa ada penyesalan, ia meninggalkan tempat-tempat itu.

“Disini rupanya.” Setelah pergi ke daerah utara, Weed selesai mengeksplorasi seluruh daerah.

 Kau menyelesaikan peta Memphis Hall B1 untuk pertama kali.
Fame meningkat sebanyak 20 (+20 Fame)

Ketika Weed pertama kali datang ke City of Heaven, ia membeli sebuah peta. Nantinya, tempat-tempat yang ia lalui akan ditambahkan pada peta ini. Peta dari Memphis Hall sekarang menjadi item yang bisa dijual dengan harga lumayan pada toko atau player lain. Tak mungkin ia akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat uang dengan mudah.

Weed meninggalkan Memphis Hall dan pergi menuju Cave of Dead Warrior’s. Tempat itu tak terlalu sulit untuk diemukan. Disaat ia menuruni goa, ia mendengar suara seram.

‘Apa ini?’ Ia bisa merasakan getaran kecil dan suara geraman yang pelan dari sesuatu yang berbahaya. Kegelapan memenuhi penglihatannya dan suara itu makin keras.

‘Aku punya firasat buruk tentang ini.’

Weed berjalan dengan hati-hati sembari tangan kanannya memegang pedang, berjaga-jaga jika sesuatu muncul dari bayangan.

‘Jadi aku bukan yang pertama menemukan dungeon ini. Aku pikir orang-orang yang pertama kali menemukan Lavias juga menemukan dungeon ini.’

Dalam jarak yang tak terlalu jauh, Weed menemukan undead yang menutupi jalan.

“Manusia! Apa kau seorang knight?”

Makhluk itu adalah knight yang besar dan penuh otot, dengan tubuh yang lebih besar daripada Skeleton knight atau lizardman. Ia memiliki pundak yang lebar dan lengan yang tampak berbahaya, namun diatas lehernya, kosong. Sebaliknya, kepala yang seharusnya ada di atas leher ditenteng oleh tangan kirinya. Makhluk itu adalah monster paling unik diantara para undead – seorang knight yang membawa kepalanya sendiri. Kepala itulah yang mengeluarkan suara.

‘Dullahan, huh.’ Weed mengenali musuhnya – undead dengan level 140an!

“Aku bukan knight.” jawab Weed.

“Lalu apa kau ini?”

“Aku seorang sculptor.”

“Scul-sculptor?”

Kekecewaan mendalam tampak diwajah Dullahan. Dullahan sangat suka meningkatkan keahlian mereka melalui pertarungan. Mereka adalah tipe knight yang sangat kuat bila dibandingkan dengan Skeleton knight.

“Kau seorang sculptor? Sungguh mengecewakan,” Dullahan itu mengeluh.

Weed sudah terbiasa dianggap remeh karena profesinya. Seorang sculptor pasti tampak sangat menyedihkan sampai-sampai undead pun kecewa!

Pencipta Royal Road adalah Unicorn Corporations. Ada banyak kontroversi ketika mereka membuka game ini untuk umum. Royal Road adalah game virtual reality yang pertama. Realitas yang 100% didasarkan dunia fantasi. Namun kenapa game ini dinamakan Royal Road? Toh ada banyak nama yang bisa dipilih. Sekalipun Royal Road mendapat perhatian dari seluruh dunia, nama nya sedikit mengecewakan. Royal Road bukanlah nama yang terlalu enak didengar.

Namun ada alasan kenapa Unicorn Corporation memilih nama Royal Road. Tak ada seorang pun di bumi yang bisa menguasai dan memerintah seluruh benua dan lautan. Game ini adalah jalur menuju kekaisaran terbesar. Kerajaan yang bahkan tak bisa diraih oleh Genghis Khan, Napoleon, atau Iskandar (Alexander) Agung. Game ini menciptakan jalur untuk orang-orang yang memimpikan hal itu.

Itu adalah sebuah harapan untuk sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya dalam sejarah manusia; seorang Emperor yang menguasai seluruh Continent. Game ini mengajarkan orang-orang untuk bermimpi, untuk menjadi apapun yang mereka inginkan, dan harapan ini akan mendorong mereka pada tujuan mereka. Inilah arti sebenarnya dibalik “Royal Road”.

Orang pertama yang menguasai seluruh Continent akan diberikan hadiah uang: 10% dari penjualan Unicorn Corporation selama sebulan. Itu adalah jumlah yang sangat besar. Di Korea saja, jutaan orang bermain game ini. Secara global, bila Jepang, Amerika, dan Eropa juga dihitung; hitungan player mencapai lebih dari 100 juta. Royal Road membutuhkan biaya USD $300 sebulan. Sangat susah untuk menghitung uang sebanyak itu. 10% dari totalnya akan membuat seseorang kaya secara instan.

Itulah kenapa kebanyakan dari player di Royal Road memilih profesi yang berhubungan dengan bertarung. Kebanyakan player memilih dari Swordman sampai Knight, melihat bahwa profesi yang berhubungan dengan pertempuran adalah jalur yang paling cepat untuk menjadi Emperor. Blacksmith dan profesi perdagangan lain dianggap remeh. Tak perlu lagi menyebut Artist, Chef, dan Sculptor yang bahkan dianggap tak bisa bersaing dalam profesi perdagangan. Itu adalah takdir mereka untuk diremehkan dan diabaikan.

‘Seperti hidupku sendiri,’ pikir Weed.

Tanpa banyak omong, Weed mengeluarkan Clay Sword miliknya. Aura biru es terpancar darinya. Clay Sword memiliki kemampuan spesial untuk mengurangi kecepatan lawan bila terkena serangan langsung.

“uurrrg!” Dullahan menyerang, mengayunkan kapaknya dengan cepat. Weed mengangkat Clay Sword miliknya, dan menangkis serangan.

*Slam!*

 Daya tahan Clay Sword berkurang.

Pesan itu muncul ditemani dengan getaran dari benturan yang membuat tangan Weed bergetar. Ia baru saja selesai memperbaiki pedang itu, namun dengan satu serangan saja cukup untuk mengurangi daya tahannya. Sepertinya keunggulan Dullahan adalah kekuatan serangannya yang besar.

“Aku tak bisa kalah. Sculpting Blade!” Weed menyerang tanpa henti.

Keduanya saling tukar serangan dengan cepat. Weed, menyerang dengan niat untuk membunuh, mengincar daerah vital lawan. Pertarungan harus selesai dengan secepat mungkin. Hanya itulah cara untuk menurunkan resiko munculnya bantuan musuh.

Untuk Weed, yang berburu sendirian, munculnya Dullahan atau monster lain berarti masalah besar. Weed bisa mengukir patung sebagai pekerjaan sampingan ketika beristirahat. Artinya bahwa ia harus mengurangi waktu bertempur sebanyak mungkin yang ia bisa.

*Bash!* Dullahan menggunakan skill dengan mengayunkan kapaknya, mendorong Weed kebelakang dengan jarak yang cukup besar.

“Devil’s Strike!” Dullahan berteriak, memulai serangan lanjutan.

Kapaknya, yang ia lempar ke udara, berputar dengan keras ke arah Weed. Sekalipun Weed menunduk untuk menghindari serangannya, HP nya berkurang 300 karena tekanan angin yang muncul.

Jika ia menggunakan Seven Celestial Footsteps, ia bisa saja menghindar dengan sempurna, namun ia memilih untuk terkena serangan.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan level pertahanannya sambil meningkatkan Endurance juga.

Sekarang adalah giliran Weed.

“Triple!” Serangan pertama meleset, dan yang kedua, dengan kekuatan yang lebih besar datang dari arah sebaliknya. Si musuh berhasil menghindari kedua serangan, membuat Weed mengeksekusi tebasan kuat dari bawah ke atas.

Saat itu, kapak yang dilempar telah kembali pada pemliknya, dan Dullahan menusukkannya kedepan untuk menahan serangan ketiga Weed. Dengan cepat, pedang Weed menyerang dalam bentuk salib di dada Dullahan, membuatnya menjadi 5 serangan beruntun. Triple telah berevolusi karena penguasaan skill milik Weed juga naik.

Dullahan mampu menahan tiga serangan pertama, namun dua lanjutannya menurunkan HP nya lebih dari 20%. Ia menjadi marah dan mencoba mendorong mundur Weed dengan berulang kali menggunakan skill Bash. Tapi sekarang Weed sudah mengetahui timing skill miliknya, dan dengan lancar menebas pinggang Dullahan.

“Belum mati juga kau? Sculpting Blade!” Cahaya putih menyelimuti pedang Weed.

Lalu datang serangan tanpa ampun!

HP Dullahan berkurang dengan cepat dengan tiap serangan yang diterima.

Ia mencoba menyerang, namun Weed mampu menghindari semua serangan.

Weed bisa menebak skill Dullahan dengan melihat langkah kakinya, lalu menghindar dengan menggerakkan bagian atas tubuhnya. Dullahan bukanlah musuh yang susah untuknya. Jarak level memang besar, namun karena profesi dan latihannya, Weed memiliki status yang lebih tinggi daripada Dullahan. Status Endurance milik Weed memiliki level yang sama dengan milik Dullahan. Karena itu, ia tak berada dalam posisi yang merugikan. Level 80 Skeleton mage sebenarnya lebih mengganggu.

Mage sangat merepotkan untuk dilawan karena mereka bisa mengeluarkan kutukan tanpa henti. Ketika ada Irene si priest, kutukannya dengan mudah bisa dihilangkan, namun sekarang Weed hanya bisa menghilangkan kutukan dengan potion setelah pertarungan selesai. Tiap Curse Dispelling Potion berharga 3 silver. Hal itu kadang-kadang mengambil keuntungan dari berburu, jadi Weed paling membenci Skeleton Mage.

“Uwwagggh…” Beberapa saat kemudian Dullahan pun mati.

“Wew… lebih mudah dari yang aku kira. Tapi satu dari mereka bisa mengurangi 40% HP ku, akan jadi bahaya kalau dua dari mereka menyerangku bersama-sama.”

Weed pergi menuju pojokan yang tersembunyi untuk menaikkan level sculptingnya setelah mengambil greaves yang dijatuhkan Dullahan.

“Baiklah, akan ku coba mengukir Dullahan.”

Sculpture mastery Weed tak naik banyak bila ia membuat patung yang pernah ia buat sebelumnya. Tapi, membuat patung untuk pertama kali akan meningkatkan Handicraft dan Art dengan pesat.

Weed mengeluarkan Zahab’s Engraving Knife dan sebuah potongan kayu dan mulai mengukir bentuk dari Dullahan yang barusan ia lihat. Ia sudah sangat terbiasa dengan mengukir sampai-sampai bila ia memikirkan sesuatu, ia bisa mengukirnya.

‘Akan sempurna kalau level Scupting ku naik ke tingkat intermediate…’ pikir Weed.

Level sculptingnya sekarang hanya butuh 1% untuk naik level. Ia juga membuat 5 patung Avian, jadi ia pikir naik level adalah hal yang memungkinkan.

‘Plis, semoga naik intermediate!’

Weed berharap saat ia menyelesaikan kepala Dullahan.

Patung Dullahan akhirnya selesai: Sebuah knight dengan tubuh yang berotot, mata yang mengintimidasi, dan pedang yang besar.

Ting!

Sculpting Skill mencapai level 10, Intermediate.

Anda sekarang bisa mengukir menggunakan bahan spesial dari metal dan batu permata (mutiara,berlian,rubi,dll.)

Untuk profesi anda, Moonlight Sculptor, skill dan status mendapat efek:

– Efek dari Sculpting Blade meningkat 50%

– Efek baru ditambahkan untuk Sculpting Blade.

– Konsumsi MP untuk Sculpting Blade dikurangi setengah.

– Semua status bertambah 10.

– Fame bertambah 20.

– Status Art bertambah 20.

– Mendapat skill baru: Sculpture Destruction.

Weed merasa sangat bahagia. Kata-kata tak bisa mendeskripsikan perasaan Weed saat ini.

Kesedihan dan kesendirian yang harus ia rasakan ketika ia belajar sculpting!

Penghinaan dan cemooh yang harus ia derita karena profesinya sebagai Sculptor! Weed merasa seluruh kemarahannya menghilang.

Akhirnya, ia mencapai tingkat Intermediate Sculpting.

Profesi sculptor, yang pada awalnya sangat ingin ia tinggalkan, rasanya seperti profesi yang ditakdirkan untuknya.

Skill Sculpting Blade terbukti memiliki efisiensi yang paling besar sampai sekarang! Tiap saat Weed menggunakan Sculpting Blade, skill sculpting nya juga naik karena skillnya berhubungan dengan sculpting, dan skill ini juga mengalami peningkatan setelah skill Sculpting naik ke tingkat Intermediate.

“Hmm, efek tambahan? Informasi. Skill. Sculpting Blade!”

 Sculpting Blade Level 7 (50%): Jurus pedang milik Zahab, diwariskan untuk mereka yang ditakdirkan untuk mengukir hal yang tak terlihat atau tak berwujud.

Bertahan melawan sihir yang memiliki level lebih rendah dari Sculpting Blade. Ketika sihir diserap, pengguna skill hanya  mengeluarkan 50% dari MP Konsumsi asli.

Konsumsi MP: 25 MP per detik.

Weed hanya bisa tertawa. Untuk knight, mage adalah lawan yang paling susah. Serangan sihir dari jarak jauh sangat susah untuk dihindari. Namun sekarang Sculpting Blade mampu menghisap sihir lawan. Bahkan bila musuh hanya menggunakan separuh dari MP mereka, masih saja 100x lebih baik daripada kena sihir.

“Karena konsumsi MP untuk Sculpting Blade dikurangi, mungkin aku bisa menggunakannya ketika mengeksekusi Triple atau Backstab.”

Sculpting Blade lebih kearah buff daripada skill serang. Menggabungkan Sculpting Blade dengan Imperial Formless Sword Technique akan menghabiskan banyak jumlah MP, namun Weed percaya bahwa hasilnya tak akan bisa ditandingi. Lagian, selalu ada Sculpture Destruction.

“Informasi: Sculpture Destruction!”

 Sculpture Destruction: Skill Sculptor

Kemarahan yang diperoleh dari menghancurkan patung buatan sendiri dikonversi menjadi strength selama satu hari. Status  Art akan menjadi status yang berhubungan dengan pertempuran selama beberapa waktu. Peringatan: Fame akan  berkurang dan poin berikut akan dikurangi dari status Art.

Penghancuran patung biasa: Status art x2 dan dikonversi ke STR. Status Art -1, Fame -20.

Penghancuran fine piece: Status art x4 dan dikonversi ke STR. Status Art -5, Fame -100.

Penghancuran grand piece: Status art x6 dan dikonversi ke STR. Status Art -10, Fame -200.

Penghancuran master piece: Status art x20 dan dikonversi ke STR. Status Art -30, Fame -1000.

Jumlah status Art yang dikonversi ke Strength bergantung pada kualitas patung yang dihancurkan.

Menghancurkan patung biasa akan mengkonversi dua kali status Art kedalam strength atau agility selama satu hari, sedangkan menghancurkan fine atau great piece akan mengkonversi 4 atau 6 kali status Art.

Skill ini sering digunakan oleh sculptor dengan strength rendah. Sculptor yang hanya mengukir patung dalam game akan memiliki status Art tinggi, namun akan susah bagi mereka untuk berburu karena status bertempur mereka. Skill ini mengijinkan sculptor untuk mengubah status Art mereka ke dalam status lain, namun masalahnya ada pada Fame dan status Art yang harus dikurangi saat menggunakan skill ini.

Status Art sangat susah untuk dinaikkan, artinya skill ini harus digunakan dengan hati-hati. Ada penalti besar untuk menghancurkan sebuah patung sampai-sampai terasa sangat susah dan meresahkan untuk menggunakan skill ini.

Dengan kata lain, skill ini adalah pedang bermata dua. Weed memutuskan untuk menyimpannya dan tak menggunakannya bila ia bisa. Kekuatan sementara bukanlah kekuatan yang sesungguhnya. Bahkan tanpa Sculpting Destruction, Weed sudah menjadi kuat setelah Sculpting skill nya mencapai tingkat intermediate. Semua status miliknya naik 10 poin dan kekuatan Sculpting Blade juga digandakan.

Weed bukanlah satu-satunya yang menikmati keuntungan ini. Semua skill craft seperti cooking, tailoring, smithing, fishing, dan farming juga mendapat keuntungan seperti bonus status, skill, atau fame ketika level mereka naik. Ketika skill mencapai level tingkat intermediate, semua status mendapat tambahan 5 poin; ketika skill mencapai tingkat expert, semua status mendapat tambahan 10 poin.

Belum ada yang tahu berapa poin yang didapat jika skill mencapai level 10 tingkat expert. Semua kenaikan kecakapan skill tergantung dari player. Dalam kasus Weed, ia mendapat 10 poin status; dua kali jumlah yang didapat dari player normal, karena profesi miliknya yang rahasia – Moonlight Sculptor – dan berkat questnya yang berhubungan dengan Zahab, Sculpting Blade juga naik dengan lumayan…

Tak ada yang pernah menguasai salah satu dari craft skill karena jalur itu terlalu sulit. Butuh waktu dan usaha yang banyak bagi Weed hanya untuk mencapai tingkat intermediate. Akan lebih susah untuk naik dari tingkat intermediate ke tingkat expert. Namun, pada waktu itu, Weed dengan tegas memutuskan bahwa ia akan menjadi expert dalam semua craft skill.

Rasa estetika keindahan dan gairah membara untuk seni tak ada hubungannya dengan Weed, namun ia memiliki bakat yang tak dimiliki orang lain: bakat untuk bekerja keras.

Cave of Dead Warrior adalah tempat berburu dimana Dullahan dan Skeleton Mercenary dengan level 120an, dan Ghoul sekitar level 110an sering muncul. Ghoul memiliki level yang lebih rendah, namun mereka selalu muncul dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 Ghoul, dan banyak juga jenis Ghoul. Ghoul yang diupgrade atau memiliki nama kadang-kadang memiliki level lebih dari 130.

Dullahan dan Skeleton mercenary mempunyai ilmu pedang yang bagus, jadi bertarung melawan mereka cukup seru. Tapi ghoul cuma menyerang dengan simpel, percaya pada defense mereka yang kuat.

Weed sudah mempelajari bagaimana cara untuk menyerang sambil menghindari serangan mereka.

“Bagus. Tempat ini sempurna.”

Weed memilih Cave of Dead Warrior’s sebagai tempat berburunya yang baru. Monster yang memiliki nama, entah itu Dullahan, Skeleton mercenary, atau Ghoul, memang lebih berbahaya, namun bertarung dengan mereka memberikan keuntungan yang besar.

Hal itu sempurna untuk Weed, yang kebanyakan bertarung dengan tinju atau pedang.

Kadang-kadang muncul Skeleton mage, tapi sihir mereka tak lagi efektif. Bertahan dengan Sculpting Blade mampu menghapus sihir mereka; kadang-kadang sihir mereka memantul balik, membuat skeleton mage berada dalam situasi yang sulit.

Tampaknya persentase reflek sihir tergantung dari level Sculpting Blade. Weed harus meningkatkan sculpting untuk menaikkan kemungkinannya. Sekarang menaikkan level sculptingnya sama pentingnya seperti mendapat EXP dan menaikkan level.

Tapi, Weed masih memiliki satu musuh yang ia takuti: Death Knight. Monster yang memiliki level lebih dari 200 ini lebih sering muncul di Cave of Dead Warrior’s. Mereka selalu berputar-putar, dan tak pernah berhenti di satu area tertentu. Weed harus menahan nafasnya dan bergerak lebih hati-hati untuk sembunyi dari mereka. Death Knight memiliki penglihatan yang buruk, jadi Weed dapat rileks ketika ia sembunyi di pojokan. Ia bahkan sampai menggali tanah dan sembunyi di dalamnya setiap Death Knight datang mendekat.

“Sejak kapan aku jadi seperti ini…”

Ketika ia bermain Continent of Magic, semua monster sangat lemah dibanding karakter level tertinggi miliknya, namun sekarang ia harus sembunyi dari Death Knight.

Meskipun demikian, Weed merasa sedikit puas. Dengan regenerasi MP yang tinggi dan penguasaanya dalam First Aid, waktu istirahatnya berkurang banyak.

Berkat ini, Weed bisa menaikkan level lebih cepat. Ditambah item yang didapat disini jauh lebih baik dibandingkan lantai pertama. Jadi memang kenapa kalau Weed harus melakukan hal-hal konyol, toh ia sudah sampai sejauh ini, jadi pergi lebih jauh tak akan merugikan.

“Dullahan adalah monster terbaik untuk berburu. Tapi apa tak ada monster yang lebih kuat? Lebih bagus lagi jika ada monster yang lebih lemah daripada Death Knight namun cukup kuat untuk memberi EXP yang lumayan banyak…”

Weed berjalan dengan hati-hati sambil membuat tempat persembunyian di area-area penting. Ia tak butuh orang lain untuk mengajarinya hal ini, ia hanya butuh beradaptasi dan bertahan seperti seekor kecoak.

Setelah melalui banyak Ghoul dan Skeleton mercenary, Weed sampai pada goa yang luas dimana sungai bawah tanah mengalir.

Bunga-bunga dan bahkan beberapa tanaman herbal mekar dimana-mana. Sudah waktunya istirahat setelah ia bertarung tanpa henti melawan Skeleton Mercenary. Weed mengisi botol air miliknya dan hampir duduk ketika ia melihat sebuah bayangan. Setelah memeriksanya, ia melihat seorang gadis tidur di tengah-tengah dungeon, tanpa ada seorangpun disekitarnya.

“Siapa kau?” Gadis itu bertanya. Weed, yang tengah menunggunya untuk bangun, terkejut.

“Aku Weed. Ba.. Bagaimana denganmu?”

Kata-katanya gugup, tak seperti Weed yang biasanya. Weed tak pernah membayangkan bahwa akan ada orang lain disini.

Dan pandangan di matanya saat ia bangun… benar-benar cocok dengan tipe gadis yang ia sukai.

“Namaku adalah Da’in,” jawab gadis itu, sambil tersenyum.

Hyun telah bertemu banyak gadis sebelumnya. Tentu, ia pernah satu kelas dengan perempuan, namun ia tak pernah menghabiskan waktunya dengan seorang gadis secara personal. Bukannya karena ia tak populer. Ada beberapa perempuan yang mendekati Hyun, berkata bahwa kekurangan dan aura menyedihkan yang ia punya adalah hal yang menarik. Ia merasa bahwa mereka itu bodoh.

“Kau pikir ini keren? Coba kau jadi miskin dan rasakan bagaimana kemiskinan itu, kau akan berubah pikiran.”

Ia juga tak pernah berkencan dengan perempuan. Makan bersama, atau bahkan hanya meminum kopi membutuhkan uang. Hyun berpikir bahwa sampel makanan dari toko dan makanan yang dimasak di rumah jauh lebih ekonomis. Apa yang benar-benar tak bisa ia pikirkan adalah kenapa mengencani seorang perempuan harus berhubungan dengan mengeluarkan uang dengan jumlah yang banyak tiap saat ada suatu perayaan.

Ditambah, ketika orang lain pergi melihat film di bioskop, Weed menaiki tiang telepon terdekat untuk melihatnya. Satu-satunya waktu ia melihat TV adalah ketika ia melihat punya orang lain. Tentu, ia akan mengambil TV yang telah dibuang oleh orang lain, namun ia tak melihatnya karena akan membuat tagihan listrik membengkak. Ia hanya pernah melihatnya di tengah malam ketika tagihan listrik lebih murah. Hyun yang pelit, dan sekarang Weed, tak memiliki pengalaman dengan perempuan.

Da’in. Nama itu terukir dalam pikiran Weed. Semua pria memiliki wanita yang diidamkan. Weed bukanlah pengecualian.

Wanita yang ia idamkan memiliki rambut panjang alami, wajah yang muda dan tampak pintar, dan juga senyuman yang menarik. Tapi semua itu bukan apa-apa kecuali deskripsi belaka.

Jika ada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, maka ialah wanita idamannya. Weed sedikit memiliki rasa suka kepada Da’in. Hanya itu.

‘Aku tak percaya siapapun.’

Ia juga tak sepenuhnya mempercayai Pale atau Surka sekalipun mereka sering bersama. Manusia bisa berubah.

Mereka mungkin tampak bersahabat saat ini, namun ia tak yakin mereka mau menerima peluru bilamana satu ditargetkan padanya.

‘Beri sebanyak yang bisa kau dapat, tak kurang dan tak lebih.’ itu adalah filosopi Weed. Ia tak bisa mempercayai siapapun kecuali keluarganya.

Pandangan Weed menajam.

“Da’in. Bagaimana kau bisa datang kemari?”

Hanya Avian yang hidup di City of Heaven. Tak ada manusia yang bisa mendaki kemari dan melihat pakaiannya, ia adalah seorang petualang.

“Disini? Aku sudah disini selama 3 bulan mungkin?”

Tiga bulan. Sebuah gambaran muncul di pikiran Weed.

“Hmm, apa kau salah satu dari petualang yang menemukan City of Heaven?”

“Ya, aku adalah bagian dari grup itu, tapi aku tak mau bicara tentang hal itu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku satu-satunya yang tersisa disini.”

“Oh begitu.”

Da’in menguap dengan sopan dan merenggangkan tubuhnya.

“Aku level 134 dan seorang Shaman.”

Levelnya lebih rendah dari yang diperkirakan oleh Weed. Ia menduka bahwa levelnya paling tidak 170 karena ia sendirian di dalam Cave of Dead Warrior’s. Weed dengan level 109 juga hal yang tak normal. Seorang player biasa tak akan berani kemari.

“Apa yang kau maksud?”

“Maksudku kalau kau sendirian, ayo bikin party. Kenapa, kau tak mau?”

“Nggak, kedengarannya bagus.”

Weed menerimanya, bukan hanya karena Da’in tampak seperti wanita idamannya, atau karena ia mempercayainya.

Weed, yang selalu curiga, tak bisa mempercayai seorang gadis yang baru saja ia temui hanya karena ia mengajaknya berlatih dalam party. Tapi Weed suka mendekati dan mengamati musuhnya.

Gadis ini mencurigakan. Lagipula, Weed menyimpan banyak item di beberapa tempat persembunyian dalam dungeon, jadi ia tak bisa meninggalkan Da’in sendirian.

Shaman bisa menggunakan white magic untuk merapal buff yang meningkatkan strength, agility, dan speed, dan black magic untuk mengurangi status lawan. Mereka bisa menggunakan sihir menyerang dan penyembuhan, menghilangkan racun dan juga kutukan. Mereka juga bisa menggunakan sword dan mace, yang artinya mereka memiliki keahlian bertempur jarak dekat.

Intinya, mereka adalah jack of all trade! Namun, profesi shaman kurang populer karena hanya memiliki sedikit skill dalam setiap aspek, dan juga tak ada yang terlalu spesial. Kemampuan heal mereka lebih lemah dari cleric, dan curse yang mereka keluarkan lebih lemah dari black mage. Kemampuan melee mereka bisa dibandingkan dengan archer yang menggunakan pedang, bukannya panah.

HP rendah, vitality rendah, dan sihir yang lebih lemah dari mage. Status tak bisa ditingkatkan hanya dalam satu area, namun juga harus didistribusikan secara merata, jadi profesi ini tak dapat berbuat banyak. Weed tak terlalu berharap pada Da’in. Ia hanya berharap bahwa Da’in tak akan membuatnya repot! Mungkin ia bisa saja meninggalkan Da’in segera setelah mengambil item yang ia simpan di tempat persembunyian.

“Grr!”

5 Skeleton mercenary muncul tiba-tiba dan Weed pun menjadi tegang. Selama ini ia belum pernah melawan lebih dari 3 Skeleton mercenary bersamaan.

Tak peduli sebagus apapun keahlian bertempur Weed, tetap susah untuk melawan 5 sekaligus.

Dengan punggungnya terbuka, bahkan satu atau dua serangan bisa mematikan, dan ia tak bisa menggunakan first aid sampai pertarungan selesai, jadi pertarungan ini akan berbahaya.

Pada saat itu, Da’in mengangkat tangan kanannya dan merapal suatu mantra.

“Cahaya keberanian dari masa lalu; berikan pahlawan ini kekuatan untuk melawan musuhnya! Power up!”

Tubuh Weed mengeluarkan cahaya terang dan strength miliknya naik hampir sebanyak 100. Da’in lalu mengangkat kedua tangannya, layaknya menunggu sebuah pelukan.

“Angin yang berlalu. Kalahkan musuh dengan hati yang ringan. Cahaya akan menjadi langkahmu. Up, spirit, Wolf!”

Agility dan Speed milik Weed naik dengan pesat. Ia hanya mengambil satu langkah ke arah musuh dan ia merasa bahwa ia sedang berlari.

“Kau, ditakdirkan untuk membawa kematian, darah dan kehancuran, medan perang ini akan menjadi rumahmu! Bloodlust!”

Bermacam-macam buff Shaman milik Da’in meningkatkan status Weed, sekarang ia bisa dengan mudah melawan 5 Skeleton mercenary. Namun pada saat itu, Da’in memberi kutukan pada Skeleton mercenary: Kecepatan dan kekuatan mereka berkurang, mereka tak lagi bisa menyembuhkan luka mereka dan kehilangan semangat untuk bertarung.

‘Tak mungkin sihir shaman bisa sekuat ini!’

Weed tak mengerti situasi yang sedang ia alami. Setelah dengan mudah membunuh 5 Skeleton mercenary, ia bahkan tak berhenti untuk mengambil item yang di drop sebelum berbalik dan bertanya pada Da’in.

“Sihirmu tak bisa dipercaya untuk player dengan level 134. Bagaimana itu mungkin? Jika aku tak mengerti alasannya, kita tak bisa berada dalam party yang sama.”

Ia mengambil resiko untuk melukai perasaannya, namun Da’in menjawab dengan senyum gembira.

“Itu karena hobiku.”

“Hobi?”

“Ya, tolong jangan pikir aku gila. Aku tak suka membunuh monster, aku cuma…” ia berkata malu-malu.

“Aku menggunakan kutukan, holy magic, dan kadang-kadang serangan jarak jauh pada monster. Setelah HP mereka berkurang banyak, aku menggunakan Healing Hand pada mereka…”

“Hah? Pada monster?”

“Ya, aku bermain seperti itu.”

“……”

Apa yang dikatakan Da’in sangatlah mengejutkan. Ia memiliki level 134 tapi sihirnya sangat kuat. Jadi Da’in bermain-main dengan mengutuk, menyerang, lalu menyembuhkan para Skeleton mercenary, Dullahan, dan Ghoul dalam dungeon…

Translator / Creator: alknight