October 21, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 2 – Chapter 5: The One Who Does the Worst

 

Weed dan kawan-kawan berhasil mengumpulkan tulang Skeleton knight dari lantai pertama Memphis Hall dengan selamat dan menyelesaikan quest mereka.

Namun, ada kabar buruk juga. Ternyata, Pale, Romuna, dan Irene adalah teman offline yang hidup berdekatan. Faktanya, Surka adalah adik perempuan Romuna. Mereka tak mengatakan hal ini sebelumnya agar Weed tak merasa canggung. Tapi sekarang mereka harus mengatakannya.

“Maaf… orang tua kami…”

“Sepertinya kami tak akan bisa online untuk sementara.”

Mereka sudah sangat kecanduan dengan Royal Road dan bermain terus menerus sampai-sampai membolos sekolah, namun orang tua mereka, yang baru saja pulang dari liburan, akhirnya mengetahui hal ini. Tentunya, mereka semua dihukum.

“Kalian… malah main game, bukannya ngerjain PR?”

“PERGI KE SEKOLAH SEKARANG JUGA!”

Lisensi untuk bermain dalam kapsul yang mahal disita, dan ijin mereka untuk meninggalkan sekolah selama beberapa saat dicabut. Tapi untung mereka telah belajar dari Weed bahwa sukses bergantung pada kemampuan dan keuntungan memanfaatkan situasi yang tak menguntungkan! Mereka cukup mengajak orang tua mereka log in ke dalam Royal Road, dan menyuruh mereka untuk mencoba sendiri.

Seorang player baru tak bisa keluar kastil dalam 4 minggu. Namun, orang tua mereka, sudah cukup puas walau masih terkunci di dalam kastil. Lagi pula, yang mereka rasakan adalah sensasi nyata dari dunia fantasi.

Para orang tua tumbuh dewasa dengan bermain game dan membaca novel fantasi. Namun ketika mereka mendapat pekerjaan dan mulai mengurus anak, mereka tak lagi bisa melakukan hal itu. Namun disini, adalah dimensi yang sangat berbeda. Surga yang telah mereka impi-impikan.

Game ini tampak seperti dunia baru dimana mereka bisa melarikan diri dari pekerjaan dan bisnis mereka tanpa harus pergi ke suatu negara yang jauh.

“Game tak semuanya buruk.”

“Lumayan menyenangkan.”

“Omong-omong, Bu Jungee, aku dengar kau mendapat ‘quest’ di toko senjata?”

“Ya, namun lebih seperti pekerjaan rumah. Aku harus membeli 5 Whetstone untuk toko itu…”

“Apa kau punya cukup uang?”

“Ya. Aku diberi 3 silver untuk membelinya. Sebuah Whetstone memiliki harga 50 copper, jadi aku masih akan punya 50 copper setelah questnya selesai.”

“Bagi-bagi uangnya!”

Para orang tua bersama-sama memulai permainan di Serabourg. Mereka berjalan bersama-sama, melakukan quest, dan berteman dengan NPC.

Seperti itu, 4 minggu di dalam game berlalu, namun di kehidupan nyata baru 1 minggu berlalu. Sekarang para orang tua bebas untuk keluar kota. Ketika Pale dan Surka berkata pada mereka bahwa mereka bisa keluar, para orang tua cuma tertawa.

“Jangan aneh-aneh… bagaimana bisa kita berburu monster?”

“Berburu itu untuk anak muda sepertimu.”

“Kami suka berada di dalam kota dan membantu orang-orang, melakukan pekerjaan rumah untuk uang, dan uangnya bisa kita gunakan untuk membeli makanan yang enak.”

Namun setelah iseng mencoba keluar dari kota, sifat para orang tua berubah drastis. Percakapan berikut terjadi antara Romuna dan orang tuanya.

“Bastard Swords punya damage lebih besar daripada Long Sword… Kenapa begitu?”

“Karena itu adalah pedang dua tangan. Pedangnya besar dan berat, jadi tak bisa diayunkan dengan cepat.”

“Jadi maksudmu daripada beberapa damage kecil, pedangnya bisa mengeluarkan 1 damage besar?”

“Ya.”

“Senjata seperti itu yang aku inginkan… Tapi Bastard Sword harganya melebihi 10 gold di toko…”

“Kau mau aku belikan satu untukmu?”

“Hmm… aku ingatkan sekali ini… Bagaimana kau pikir yang telah kami lalui selagi membesarkanmu? Ketika kamu masih bayi, kami memberimu makanan terbaik dan menyelimutimu dengan pakaian terbaik. Karena kami sangat peduli denganmu, kami benar-benar tak ingin memaksamu untuk membelikan…” (modus)

Situasi yang dialami Pale juga cukup sama. Orang tuanya adalah guru sekolah dan karena itu mereka sangat tegas. Ketika ia masih muda, Pale bahkan tak bisa membuat suara keras saat bernafas ketika dihadapan orang tuanya. Ayahnya, yang dulu adalah polisi militer, memiliki kharisma yang cukup tinggi. Di saat ia pergi keluar kota sesaat, Pale memiliki percakapan berikut dengan orang tuanya saat makan malam:

“Hmm, sepertinya para fox kurang ajar itu sangat kuat.”

“…?”

Pale, yang nama aslinya adalah Oh Dongman, tengah berpikir keras untuk mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh ayahnya.

Ayahnya sekali lagi memberi petunjuk. “Fox kurang ajar. Mereka terlalu kuat.”

Baru saat Oh Dongman mengerti maksudnya.

“Mereka memang susah awalnya. Tentunya kalau ayah tak punya equip.”

“Aku punya beberapa…”

“Ayah tak mencoba untuk melawan fox sendirian kan?”

“Err…”

“Ya jelaslah susah jika melawan fox sendirian. Untuk level ayah yang sekarang ya hampir tak mungkin bisa.”

“J-jadi maksudmu kau bisa mengalahkan mereka? Para fox itu?”

“Tentu.”

Ayah Oh Dongman menggenggam tangan anaknya. “Balaskan dendam ayahmu!”

Dan seperti itulah, para orang tua ikut-ikutan kecanduan bermain Royal Road. Karena para tetangga juga bermain bersama-sama, Royal Road menjadi topik panas saat arisan atau pertemuan keluarga.

Sekarang, bukannya mendiskusikan tentang keuangan atau real estat, para orang tua ngobrol tentang Royal Road. Ternyata, banyak orang seumuran mereka yang juga bermain. Faktanya, mereka merasa telat menemukan kenikmatan bermain Royal Road.

Sudah lama Hyun (Lee Hyun alias Weed) memprediksi bahwa hari seperti ini akan tiba. Di kebanyakan game, harga dari item akan turun setelah beberapa waktu berlalu. Sama dengan mata uang seperti gold atau silver. Tentunya hal ini adalah hal yang wajar karena level para player juga naik. Namun, bila para player tak terbatas pada mereka yang berumur 10 sampai 20 tahun, dan bila para orang dewasa yang sudah berkecukupan ikut kecanduan Royal Road, nilai dari mata uang tak akan turun.

Ketika ada item yang bagus, orang-orang mulai berperang untuk menawar harga. Mereka menganggap membeli senjata, armor, dan aksesoris sama hal nya ketika mereka membeli mobil yang bagus.

Hal ini sebenarnya memberi keuntungan lebih banyak daripada di dunia nyata. Jika seseorang pergi bertempur menggunakan equip yang bagus, tentu mereka akan bisa merasakan bahwa diri mereka benar-benar menjadi kuat dan mendapat kemenangan yang manis.

Ketika waktu berlalu, lebih banyak player berumur tua muncul, membeli item pada harga yang terus bertambah tinggi layaknya membeli mobil balap. Hal seperti inilah yang membuat orang tua mereka tertarik bermain Royal Road.

Karena hal ini, Pale dan anggota party yang lain tak bisa lagi berlatih di Lavias.

“Maaf, tapi kami harus membantu orang tua kami. Paling tidak sampai mereka terbiasa…”

Kata Pale, tak menyembunyikan kekecewaannya. Weed mengerti kenapa mereka harus pergi. Hal itu tak bisa dihindari karena mereka melakukannya untuk orang tua mereka. Namun, Weed masih memiliki sesuatu yang harus ia lakukan, jadi ia tinggal sendirian di Lavias.

“328.200 won dipakai untuk makan bulan ini. Aku dengar harga beras mulai naik. Tapi aku harus tetap menghindari beras yang diimpor…”

Hyun sedang menulis di buku catatan keuangannya.

Ia tak mau membiarkan Hye Yeon atau neneknya makan beras impor dari Amerika, yang mungkin saja tercampur dengan hal yang tak jelas. Semurah apapun itu, Hyun tetap tak bisa mempercayainya.

“Aku sudah menggunakan uang terlalu banyak. Aku harus berhenti menggunakan resep yang kupelajari online. Berikutnya soal pemanas… tapi tak mungkin aku menjualnya karena digunakan oleh nenek.”

Hyun memeriksa seluruh pengeluaran dalam satu bulan. Ia belanja, masak, membersihkan rumah, dan mengatur uang sendiri.

Hanya 90 juta won tersisa dari seluruh kekayaan keluarganya setelah rentenir merampas 3 milyar miliknya. Pada suatu waktu, kemarahannya yang tak bisa ditahan membuatnya tak bisa tidur selama beberapa malam, namun pada akhirnya ia bisa menenangkan diri. Itu semua adalah masa lalu. Ia bahkan merasa lega mengetahui bahwa semua telah berakhir. Ia bakal terus tersiksa jika hutangnya belum dibayarkan.

Mereka memburu Hyun selama 8 tahun, menunggunya untuk dewasa sehingga mereka bisa memaksanya untuk melakukan pekerjaan berbahaya seperti menjual narkoba atau bahkan lebih buruk – membunuh anggota dari grup yang berseteru. Jika Hyun tertangkap, mereka cukup menyogok para polisi dan menjebak Hyun. Begitulah cara mereka menghindari kebanyakan masalah dengan para penegak hokum.

Hyun telah mengalami masa muda yang penuh masalah, sampai-sampai para wartawan dan publik akan menganggapnya wajar baginya untuk melakukan tindakan kriminal.

Seseorang mungkin bahkan tega mengatakan bahwa orang yang hidup seperti Hyun pantas untuk dihukum karena tak ada lagi harapan bagi mereka. Namun orang yang lebih bijak akan lebih mengerti bahaya dan derita yang telah dialami orang-orang ini. Tentunya mereka juga takut masuk penjara? Lagi pula, apa yang akan terjadi pada keluarga mereka bila mereka tertangkap?

Ia hanya punya nenek dan adik perempuan.

Ia ngeri membayangkan para rentenir menunggu Hye Yeon untuk menjadi dewasa. Atau bahkan mungkin saja mereka tak akan menunggu selama itu. Toh, perempuan muda bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Dalam kasus Hyun, seorang pria muda yang menjual narkoba dan membunuh anggota gang lain tentunya akan sangat menarik perhatian.

Kebanyakan orang tak bisa mengerti kenapa seorang pria yang masih muda bertindak sejauh itu, sampai menjual narkoba dan membunuh anggota gang lain. Mungkin mereka dipaksa untuk melakukannya, atau mungkin mereka telah dijebak.

Jika Hyun masuk penjara dengan cara seperti itu, meninggalkan adik perempuannya untuk hidup susah dan penuh derita, ia mungkin akan jadi gila. Membayar lunas hutang miliknya mencegah semua hal itu untuk terjadi.

“90 juta won. Ditambah 9 juta kalau ditambah 5 juta yang didapat dari menjual rumah yang lama, dan 4 juta yang aku simpan untuk jaga-jaga.”

Namun, mereka telah mengeluarkan 50 juta untuk sebuah rumah baru. Mereka mampu membeli rumah dengan harga murah karena tak terlalu banyak yang minat. Sekalipun ia memiliki 49 juta won setelah semua hal itu, ia telah memakai 20 juta selama setahun kemarin. Melihat kebelakang, itu adalah kerugian yang sangat besar. Pada awalnya pun, kapsul untuk bermain Royal Road memiliki harga 10 juta, dan memiliki biaya bulanan sebesar 300.000. Sisanya dipakai untuk biaya hidup dan biaya sekolah Hye Yeon.

“29 juta won… Cukup lah buat sekitar 2 tahun lagi.”

Hyun, yang memakai seragam, merasa putus asa. Sudah saatnya untuk memulai gaya hidup yang lebih hemat.

“Kak, aku pulang!”

Pada saat itu, Hye Yeon membuka pintu dan memasuki ruangan. Terkejut, Hyun dengan cepat menyembunyikan buku catatan keuangan dan buku bank nya di dalam seragam.

“Kau pulang cepat. Rapor mu dibagikan hari ini, kan?”

“Ya, ini.”

“Kemari, biar aku lihat…”

Hyun tak sabar membuka buku rapornya. Ini adalah momen yang penting untuk Hye Yeon, yang saat ini sudah kelas 2 SMA.

“Ranking 3 di kelasmu, dan ranking 14 di seluruh sekolah… Rankingmu naik lumayan banyak dari yang terakhir.”

“Tentu! Adik siapa kau pikir aku ini?”

“Hmm, baiklah deh.”

“Hey, kok sepertinya kakak tak senang?”

Hye Yeon cemberut.

Hyun lalu melihat daftar kampus yang memiliki prospek di bawah buku rapor. Korea University ada di daftar yang paling atas, dengan kemungkinan 98% Hye Yeon bisa diterima. Sampai beberapa waktu yang lalu, Hye Yeon sering berkumpul dengan anak-anak yang mungkin menjadi pengaruh yang buruk, namun Hye Yeon masih memiliki otak yang pintar. Ketika ia kembali menjadi adik perempuan yang baik, nilai sekolahnya naik dengan cepat. Pada akhirnya, sudah hampir pasti bahwa ia akan bisa masuk universitas.

‘Tetap aja…’

Seseorang bisa menghabiskan lebih dari 10 juta hanya untuk seminggu kuliah. Tak hanya membayar untuk biaya kelas, namun juga transportasi, makanan, dan buku, jadi ia bisa mengimbangi kawan-kawannya.

*****

“Hasil tes ini sangat bagus. Penglihatan tidak buruk, dan juga liver beserta ginjalnya sangat sehat.”

“Bagaimana dengan tulang sumsumnya?”

“Bagus. Namun untuk transplantasi tulang sumsum, butuh resipien yang cocok. Tapi aku yakin sebentar lagi akan ada yang mau membelinya. Reaksi dari usus juga sangat baik,  dan aliran darah bebas dari infeksi.”

Hyun mendengarkan seluruh perkataan dokter.

“Kalau begitu tes nya sudah selesai?”

“Ya.”

“Terima kasih. Tolong kirimi aku dokumennya. Aku akan menjual apapun yang bisa membuatku mendapat uang dengan cepat. Tapi tolong tunggu aku selama 1 tahun dan 4 bulan. Jika aku masih membutuhkan uangnya, aku akan mengambil operasi untuk menjual sumsumku.”

“Aku akan mengirim dokumennya nanti.”

Keluar dari rumah sakit, Hyun tak merasa lebih baik mendengar bahwa ia sehat secara fisik.

Menjual organ tubuh.

Ia menemukan rumah sakit ini melalui pasar gelap. 50 juta untuk satu bola mata, 30 juta untuk satu ginjal. Sekalipun liver dan tulang sumsum butuh resipien yang cocok, mereka bisa laku sekitar 20 juta. Ia hanya punya sekitar 1 tahun dan 4 bulan tersisa.

Royal Road akan memberinya uang, ia yakin akan hal itu. Namun, ia juga butuh mempertimbangkan alternatif lain. Jika Hye Yeon membutuhkan lebih banyak uang untuk masuk kuliah, Hyun siap untuk menjual organ tubuhnya.

Royal Road, sebuah game untuk dinikmati.

Namun Hyun tak bisa bersantai-santai. Ia harus memaksa dirinya untuk bekerja lebih keras dan mendapat lebih banyak uang dan menjadi orang terkaya di Royal Road.

‘Lee Hye Yeon, kau harus meneruskan mimpiku yang tak bisa kupenuhi. Aku akan menjamin bahwa kau tak harus mengorbankan diri seperti apa yang harus aku lalui.’

Hyun, memakai pakaian yang lusuh, pulang kerumah sambil bergumam seperti orang kesurupan. Ia tak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya. Kehilangan satu mata tak akan memberi efek yang terlalu besar pada hidupnya, kecuali soal keuangan miliknya.

Ia ingin paling tidak menjamin adik perempuannya untuk tumbuh dengan ceria, jauh dari kekerasan hidup.

Jika seseorang melalui kesulitan yang terlalu banyak, sebuah bayangan akan muncul di wajah mereka. Tentu hal itu tak bisa dihindari karena mereka akan berbeda dari mereka yang tumbuh di lingkungan yang bagus. Pikiran mereka akan sadar, dan memberi jalan pada ketakutan yang akhirnya akan menghapus kepercayaan diri mereka. Karena keserakahan yang ia miliki, Hyun mencoba keras bahkan saat ia masih muda untuk mendapat kepercayaan diri dan kepandaian yang dimiliki oleh anak-anak kaya.

Bahkan jika dirinya sendiri tak bisa makan atau berpakaian dengan pantas, ia akan tetap menjamin adik perempuannya tak akan iri pada orang lain. Tak banyak orang yang akan melakukan hal sejauh ini untuk adik perempuan mereka. Mungkin tak semua kakak seperti ini, namun perasaan Hyun untuk adik perempuannya tak ada tandingannya. Hye Yeon tak ia anggap sebagai adik perempuan semata.

Hayan telah kehilangan orang tua disaat ia masih sangat muda. Sejak saat itu, orang yang mengurus dan merawatnya bukanlah neneknya yang sibuk, namun Hyun sendiri.

*****

Sekarang, tak ada lagi holy magic Irene, atau sihir AOE dan Alarm Romuna. Tinju surka yang tanpa henti tak bisa ditemukan dimana-mana, atau juga serangan cepat jarak jauh Pale. Biarpun begitu, Weed masih memiliki dirinya sendiri.

Berburu dalam party memang bagus, tapi dengan lebih banyak orang biasanya mereka akan beragumen satu sama lain dan menyia-nyiakan waktu. Kasus yang paling parah, levelingnya selesai bahkan sebelum sempat dimulai.

Dibandingkan itu, berburu solo punya keuntungan karena simpel. Tak ada waktu yang terbuang dan terbukti bagus untuk meningkatkan skill level. Lebih baik berburu solo untuk meningkatkan Sword Mastery dan teknik bertempur lainnya.

“Grr, manusia!”

Sebuah Skeleton knight, memancarkan aura pertempuran, mengayunkan pedangnya. Skeleton knight yang memakai armor dengan gerakan yang sangat cepat sudah jelas sangat mengintimidasi, namun gerakan Weed bukanlah hal yang biasa pula. Bergerak dengan mulus, ia menghindari serangan Skeleton Knight selagi ia mengurangi HP musuhnya perlahan-lahan. Sebagai hasilnya, gerakan Skeleton Knight mulai melambat.

“Sculpting Blade!”

Akhirnya, pedang Weed menghancurkan tulang-tulang Skeleton knight. Cahaya yang muncul dari lubang matanya meredup, sebuah tanda yang memastikan kematiannya. Pertarungan di dalam Royal Road sangatlah nyata. Efek spesial untuk sesuatu yang rusak atau dihancurkan benar-benar sempurna.

Seorang solo player memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan status Strength. Status ini menentukan kekuatan dibalik tiap serangan, sama seperti di dunia nyata. Seorang player menggunakan kekuatan itu ketika melawan monster. Damage maksimal tak akan bisa dikeluarkan jika serangan tak menggunakan cukup strength. Contohnya, tinju yang dilemparkan ketika sedang berlari memiliki kekuatan yang jauh lebih rendah daripada tinju yang dilempar pada jarak dekat. Jadi, damage ditentukan dengan bagaimana seseorang bisa mengontrol kekuatannya sendiri. Posisi tubuh, penggunaan otot, jarak, dan ledakan kekuatan.

Royal Road adalah game virtual reality yang mengijinkan player untuk memanfaatkan kelemahan lawan. Player dari Royal Road, seperti prajurit veteran, mengetahui dengan jelas kemampuan mereka sendiri. Tak hanya dari angka-angka di status window mereka, namun dengan benar-benar merasakaan kekuatan mereka sendiri. Ada suatu rasa kenikmatan ketika kau menghancurkan sesuatu! Tentu saja, Weed bukanlah pengecualian dalam hal itu.

Ia mendedikasikan dirinya untuk belajar ilmu pedang selama setahun untuk menguasai akurasi, hindaran dan dasar dari pertempuran. Dari banyak pertempuran saat latihan, membuatnya tak bisa merasa takut akan pertempuran, malahan ia merasa senang bila ia bisa melawan musuh yang kuat.

Pedang menjadi alat dan jalur pilihannya. Pedang adalah alat yang paling baik saat digunakan untuk mempelajari dasar dari pergerakan tubuh dan pertempuran. Tentu, seseorang yang memulai Royal Road tanpa mempelajari ilmu pedang atau seni bela diri masih bisa terbiasa dengan skill pertempuran. Sebenarnya, itulah yang dilakukan oleh kebanyakan player, yang berpikir bahwa hal tersebut hanyalah salah satu dari bagian game yang harus mereka biasakan. Namun perspektif mereka berbeda.

Pohon yang akarnya tertanam lebih dalam akan tumbuh lebih tinggi. Seorang player yang melawan monster tanpa fondasi di ilmu pedang hanya akan bisa tumbuh cacat. Weed telah belajar ilmu pedang selama satu tahun bahkan sebelum ia melawan monster! Dan dengan terus menerus melawan monster yang lebih kuat, keahliannya juga bertambah. Ini adalah alasan kenapa Weed bahkan lebih kuat dari apa yang disugestikan oleh statusnya.

“Hmmm… Dengan ini, Aku sudah punya semua item untuk menyelesaikan quest.”

“Whew… lebih baik aku mengisi ulang MP.” MP milik Weed sudah hampir habis, jadi ia memutuskan untuk istirahat sebentar.

Karena Weed melakukan tugas untuk banyak orang sendirian, ia selalu waspada, tak pernah benar-benar rileks. Ketika ia menunggu MP nya penuh kembali, ia duduk dan mengukir patung dengan entusias. Patung yang tengah ia buat memiliki bentuk burung gagak.

Menciptakan patung untuk pertama kali menaikkan status Art dan Sculpture mastery dalam jumlah banyak. Sejak Weed memutuskan untuk membuat tiap patung secara unik, status Art dan Sculpture mastery nya naik dengan cepat. Tujuannya sekarang adalah untuk membuat patung untuk tiap suku Avian yang ada di Lavias.

Weed kembali ke Lavias dan membagikan patung yang telah ia buat kepada para Avian.

“Patung ini hanya ada satu jenis di seluruh dunia. Aku mengukir seluruh penampilan kalian dengan tanganku sendiri!”

“Terima kasih.”

Tiap Avian menerima sebuah patung yang mirip dengan mereka. Saat mereka menerimanya, mereka berkata, “Aku tak bisa menerima ini dengan cuma-cuma.”

“Berapa banyak uang yang kau inginkan?”

Tiap kali mereka bertanya, Weed memberikan jawaban sama. “Jangan merumitkan hubungan kita dengan uang. Namun aku sangat tertarik dengan Lavias. Bisakah kau menceritakan ku sesuatu tentang kota ini?”

“Mmm… Kalau begitu aku akan memberitahumu tentang Northern Nest…”

“Aku akan memberitahumu tentang kebiasaan para undead di bawah tanah.”

Cerita dari para Avian menjadi sumber informasi yang penting. Sekalipun kebanyakan adalah gosip yang tak berguna, kadang-kadang ada informasi tentang quest dan tempat berburu.

Weed pergi ke burung gagak yang berdiri di depan toko armor.

“Apa ini?”

“Aku membuat patung ini untuk anda.”

“Hoh, terima kasih,” kata burung gagak itu, sambil mengepakkan sayapnya tanda berterima kasih. Lalu ia berkata, layaknya sesuatu lewat secara tiba-tiba dalam pikirannya. “Pernah kah kau pergi ke Dead Warrior’s Cave?”

“Dead Warrior’s Cave?”

“Ya, jika kau keluar dari Memphis Hall dan berjalan ke utara selama 30 menit, kau akan melihat pintu masuknya. Tapi hati-hati, ada Ghoul, Skeleton Mercenary, dan Dullahan disana. Kau tak akan bertahan hidup jika kau masuk tanpa persiapan matang.”

Di Royal Road, level naik lebih cepat ketika melawan monster yang memiliki level lebih tinggi. Skeleton soldier dan mage tak lagi menjadi ancaman bagi Weed, dan ia mulai bosan dengan Skeleton knight yang hanya berputar-putar sendirian.

Weed mengisi tasnya dengan banyak ramuan obat-obatan, makanan, dan air segar. Di benua bawah, Weed hanya butuh barang seperti bumbu dan rempah, karena ia bisa menemukan tumbuhan yang bisa dimakan atau menangkap dan memasak hewan dengan skill memasaknya. Tapi karena Memphis Hall hanya diisi oleh undead, ia harus membawa makanan jadi.

Di jalan menuju toko pangan, ia bertemu Avian yang mirip burung beo. “Oh, pengelana manusia. Silahkan, silahkan!”

“Senang bertemu denganmu,” jawab Weed dengan menghela nafas.

‘Dasar bodoh.’

Weed telah bertemu dengan Avian yang mirip burung beo ini sebelumnya, dan tentunya ia memberikan satu patung sebagai tanda persahabatan. Pada saat itu ia sangat menyukainya. Namun beberapa hari kemudian, Weed mengunjunginya lagi dan ternyata ia sudah lupa semua tentang Weed.

Weed mencoba mengingatkannya tentang patung yang ia berikan, namun Avian itu malah marah dan menyuruh Weed untuk tak berkata yang aneh-aneh. Ia lalu menyebut Weed seorang pencuri dan mengusirnya. Jengkel, Weed mengunjunginya lagi dan ternyata ia malah diterima secara hangat sebagai pembeli. Saat itu Weed menyadari sesuatu tentang Avian.

‘Mereka punya ingatan yang buruk!

Bukankah orang-orang berkata bahwa ikan emas tak bisa mengingat apapun lebih dari 3 detik?

Para Avian ini lebih baik daripada ikan emas, namun fakta menunjukkan bahwa mereka memiliki otak yang kecil seperti burung. Mereka lupa dengan Weed sekalipun ia sudah mengenalkan diri beberapa kali. Karena ini, strategi Weed untuk menjadi teman mereka tak bisa berhasil.

Akhirnya ia harus membeli semua yang ia bisa dari mereka ketika mereka masih bersahabat. “Aku datang untuk membeli kacang, biji wijen, jagung, kenari, ikan, daun bawang, daging babi, kacang tanah, dan bayam.”

“Oh, oke.”

Avian yang mirip burung beo itu mengeluarkan makanan yang dipesan oleh Weed satu demi satu dan memeriksa beberapa item sebelum berkata, “Semuanya 19 gold.”

“Ini. Ah, tapi aku cuma punya 18 gold dan 50 silver. Apa bisa aku memberikan sisanya waktu aku kembali lagi?”

Pedagang Avian itu mengamati Weed cukup lama.

“Kau bukanlah pedagang. Aku tak bisa memberimu diskon karena kau tak memiliki pengalaman dalam pertukaran. Kau adalah petualang yang lumayan terkenal, sekalipun tak terlalu terkenal juga. Tapi kau memiliki bakat seni. Aku tak bisa menolak seseorang yang mungkin akan menjadi artisan terkenal nantinya. Aku percaya kau akan memberikanku 50 silver sisanya nanti.”

Weed pergi dengan apa yang telah ia beli, setelah membayar 40 silver lebih murah.

Makanan yang ia beli bisa menaikkan MP sementara waktu, jadi tentu saja harganya tinggi.

Sekarang pertanyaannya adalah apa bisa Avian yang mirip burung beo itu mengingat untuk menagih hutang 50 silver Weed? Melihat bahwa ia lupa dengan 40 silver yang juga dijanjikan oleh Weed sebelumnya, sepertinya tak mungkin.

Dengan begitu, langkah pertama persiapannya selesai. Berikutnya, ia harus meningkatkan keahlian bertempurnya.

“Stat window!”

Status Window

Nama: Weed Type: Neutral
Level: 109 Class: Legendary Moonlight Sculptor
Title: None Fame: 365
HP: 5260 MP: 1521
STR: 335+20 AGI: 305+20
VIT: 89+20 WIS: 16+20
INT: 24+20 Fighting Spirit: 143+20
Stamina: 174+20 Endurance: 55+20
AR: 84+100 Leadership: 74+20
Luck: 5+20 ATK: 231
DEF: 76
Magic Resistance: None+ 20 points ditambah ke semua status
+ 80 tambahan untuk Art.
+ 30% tambahan status di malam hari.
+ Bisa menggunakan equip yang berhubungan dengan profesi.
+ Mampu belajar craft skill sampai tingkat master. Craft skills adalah opsional. Skill lanjutan tersedia.
+ Mengurangi konsumsi MP Sculpting Blade berdasar level dari Sculpture Mastery.
+ Dapat belajar skill rahasia berdasar level Sculpture Mastery.
+ Fame bertambah ketika menciptakan karya dengan nilai seni.

Level Weed sudah diatas 100. Ketika Weed dan party nya menemukan Memphis Hall dan menerima dobel EXP, mereka memfokuskan seluruh waktu mereka untuk berburu.

Mereka mengurangi waktu tidur mereka selama 2 jam, dan bahkan tetap login ketika mereka tidur. Dengan cara seperti itu, Weed menaikkan levelnya ke 95. Berburu solo, ia menaikkannya lagi menjadi 109.

Statusnya naik dengan pesat karena level yang ia dapat. Sekarang MP yang ia miliki cukup tinggi hingga bisa menggunakan gerakan ke 4 Imperial Formless Sword Technique, Sword Dance; sekalipun cuma sekali.

Satu-satunya bagian yang tak memuaskan adalah tak ada kenaikan dalam Leadership. Skill ini tak hanya naik karena memberi perintah pada NPC, namun juga ketika seseorang menjadi ketua party. Namun, sejak ia berburu sendirian, tak mungkin skill Leadershipnya naik. Beberapa skill lain juga meningkat sedikit.

Cooking: Level 8 (45%)
Sculpting: Level 9 (99%)
Repair: Level 7 (25%)
Intermediate Handcraft: Level 2 (6%)
Swordsmanship: Level 8 (88%)
Archery: Level 5 (98%)
Sculpting Blade: Level 7 (49%)
Imperial Formless Sword: Comprehension (5%)
First Aid: Level 7 (11%)
Item Identification: Level 5 (14%)

Sculpting hampir mencapai tingkat intermediate. Untuk Sculpting Blade, konsumsi MP nya berkurang dengan banyak setelah mencapai level 7.

Weed menggunakan Sword Kaiser beberapa kali untuk berburu solo, namun lebih efektif menggunakan Sculpting Blade, karena kemampuannya untuk menebas sesuatu yang tak terlihat. Ini sangat penting karena ketika bertarung dengan Undead, kadang-kadang mereka memisahkan jiwa mereka dari tubuhnya. Karena itu, teknik pedang ini sejenis dengan holy magic dalam kemampuannya menghancurkan para undead.

“Lumayan.”

Weed tersenyum selagi ia pergi menuju market untuk membeli penawar racun, obat-obatan, dan perban.

Matanya tampak sedih saat memikirkan bahwa ia harus mengeluarkan uang lagi. Sejujurnya, ia tak pernah membeli item sebelumnya. Ia membuat makanannya sendiri, dan bahkan kadang-kadang menjualnya.

Patung yang diukir dari barang murahan bisa dijual 1 atau 2 gold. Tentunya, itu bukanlah jumlah yang kecil.

Ketika ia bersama Pale dan yang lain, ia selalu berkata bahwa ia hanya memiliki 30 gold, bahkan setelah mengambil bagian dari berburu. Namun keuntungannya dari menjual patung dan makanan sebenarnya 200 gold! Ia telah mendapat 650 gold dari berburu, menjual barang, dan mengoleksi hadiah quest.

Namun untuk berada dalam posisi dimana ia harus mengeluarkan uang adalah derita yang lebih besar daripada tak memiliki uang. Pundak Weed tampak lesu dan wajahnya seperti orang yang mau mati, tiap saat ia masuk ke sebuah toko.

Apalagi ketika membayar, ia seperti orang sekarat. Jadi, tak ada yang bisa mengerti kenapa hatinya selalu tampak tersiksa, atau kenapa ia selalu kekurangan beberapa silver saat membeli.

Translator / Creator: alknight