October 20, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 2 – Chapter 4: City of Heaven, Lavias

 

Dr. Cha Eunhee dari Pusat Rehabilitasi Sosial adalah psikologis yang terkenal dalam dunia medis, yang mematenkan sebuah novel tentang metode terapi untuk perawatan penyakit psikologikal.

Jadwal kerjanya yang padat biasanya tak memberikan waktu untuk beristirahat. Ia terus-terusan mendapat rentetan kunjungan dari para pasien yang harus ia rawat dan menulis artikel jurnal dalam lingkaran yang tiada henti setiap hari.

“Bosan. Bosan. Bosaaaaaaan….”

Itu adalah komplainnya setiap hari. Tapi sekalipun ia memiliki keinginan untuk berhenti, ia merasa tak bisa mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja.

Karena itu, sekarang ia berada di tengah-tengah sesi konseling dengan seorang wanita yang lumayan tua.

“Aku sungguh menyesal atas apa yang dialami putri anda,” kata Dr. Cha, sambil menghapus air mata yang hampir menetes.

“Aku tahu, sudah lebih dari 5 tahun…” kata sang wanita dengan sedih menjawab pertanyaan Dr. Cha.

“Namun sejak anak itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya, aku tak bisa berkonsentrasi pada apapun.”

“Sudah waktunya agar anda melepaskan pikiran anda dari keadaan putri anda dan mulai mencari tujuan pribadi anda dalam hidup ini.”

“Sebenarnya dokter…” Si wanita berkata, sambil menggenggam erat tangan Dr. Cha.

“… Aku percaya bahwa ia sedang terjebak di suatu tempat… Seoyoon…”

*****

Heavenly Tree yang ditumpangi Weed dan kawan-kawan terus naik ke atas langit secara acak, namun tak lama pohon itu mulai tumbuh menuju satu arah yang spesifik.

Weed dan rekan-rekannya memegang erat pada pohon tersebut. Hentakan angin yang terus menerus membuat mereka babak belur, dan tanah dibawah sudah sangat jauh jaraknya. Hanya dalam beberapa detik, Desa Baran sudah tak dapat terlihat.

Mereka menembus awan-awan dan sampai pada apa yang tampaknya sebuah pulau yang cukup besar. Sebuah pulau yang melayang di langit! Menaiki pohon yang tumbuh dari Seed of Heavenly Tree, Weed dan rekan-rekan melewati daerah yang penuh dengan kabut.

“Ini City of Heaven!” Seluruh anggota party berteriak, menikmati pemandangan di sekitar mereka.

Tampak labirin yang terbuat dari banyak bangunan muncul dihadapan mereka. Di tengah-tengah labirin yang panjang itu berdiri sebuah menara yang sangat besar dengan banyak burung bertengger di atasnya. Di belakang menara besar itu, tampak pegunungan dan lapangan yang luas.

“Oh! Pohonnya mulai layu!”

Teriak Irene setelah ia melihat ke bawah pohon. Batang dari Heavenly Tree menjadi layu dan pecah tepat di hadapan mereka. Pecahan-pecahannya menghilang di antara awan-awan, memisahkan pulau yang melayang ini dengan tanah yang jauh di bawah.

“Satu-satunya jalan kita untuk pulang sudah hancur. Apa yang harus kita lakukan?”

Surka tampak cemas. Di sisi lain, rekan-rekannya yang lain tampak tak terlalu menghiraukan hal itu.

“Petualangan kita mulai dari sini. Karena pohonnya hilang, kita pikirkan nanti saja waktu kita sudah mau kembali.”

“Tapi, Pale…”

Surka sudah hampir menangis, rindu akan tanah daratan. Weed berusaha untuk menghiburnya:

“Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.”

Namun Surka tak yakin dengan kata-kata Weed, yang lalu ia lanjutkan:

“Well, kalau memang tak ada jalan lain kita bisa lompat kan?”

“T-tapi…”

“Hmm, kau pasti akan mati, tapi toh pada akhirnya kita sampai di tanah.”

Muka Surka menjadi pucat pasi. Sejujurnya, ia sudah lama takut akan ketinggian. Ketika Heavenly Tree tumbuh, ia memegang pohonnya dengan sangat kuat, takut akan jatuh sampai mati.

Mungkin ia tak akan ikut petualangan ini, jika tau bahwa ia harus pergi jauh ke atas. Dan party pun berlanjut, sambil menghibur Surka selama di perjalanan.

*****

City of Heaven adalah rumah untuk sebuah spesies yang unik.

“Mereka seperti burung…”

Berdiri di atas dua kaki, dengan mata bundar kecil, paruh tajam, sayap lebar, dan pipi yang bulat, mereka tampak seperti burung pipit. Burung yang sudah tua tampak memiliki janggut berwarna putih di sekitar paruh mereka.

“Kyaa! Imut sekali!”

Surka berteriak, kecintaannya pada burung mengalahkan rasa takutnya pada ketinggian. Ia tak lagi gemetaran karena takut, namun karena bersemangat. Seekor burung tua berjalan mendekati grup, menghiraukan perhatian Surka.

“Halo pengembara, selamat datang di Lavias.”

Seluruh anggota party melirik ke arah Weed. Berdasar pengalaman mereka, Weed adalah yang paling cocok untuk menjadi pemimpin.

Apalagi, sudah jelas bagi seluruh anggota bahwa seluruh tindakan Weed telah dikalkulasi, karena ia adalah orang yang bahkan mau menjilat NPC agar ia bisa mendapat apa yang dia mau.

“Terima kasih. Kami telah melalui perjalanan yang panjang dari sebuah daratan yang jauh sebelum menginjakkan kaki di tempat yang indah ini. Namun melihat pemandangan yang seperti ini, kecapekan kami telah hilang tanpa ada yang tersisa. Apakah tempat ini Lavias?”

“Benar! Kota kami adalah rumah dari Avian yang mulia dan terhormat. Hanya disini kau bisa melihat matahari yang sangat cerah, dan udaranya sangat segar!”

Burung berjenggot putih itu membanggakan kotanya sambil mengepakkan sayap. Bahkan bulu-bulunya tampak senang oleh pujian yang ia terima.

“Udara disini memang benar yang paling segar, dan cahaya mataharinya benar-benar menakjubkan. Awan-awan juga tampak seperti gambaran yang sangat indah. Tapi apakah potensi khusus yang ada di Lavias?”

Weed mengambil kesempatan untuk mengetahui bidang yang unggul di Lavias. Jika ada item yang hanya bisa ditemukan di Lavias, ia akan mendapat banyak uang dengan membeli barang itu secara borongan dan menjualnya kembali di kerajaan Rosenheim.

“Kita tak terlalu dekat sampai kau bisa menanyakan pertanyaan yang kurang sopan seperti itu. Kau harus mengenal ku lebih baik dahulu. Tentu akan membantu jika kau mau memberiku sesuatu yang lezat. Faktanya, aku sangat mengharapkannya.”

Burung berjenggot itu mengibaskan sayapnya dan pergi meninggalkan mereka. Weed mencoba untuk mengejarnya, namun dengan cepat menyerah dan kembali ke party nya.

“Oke, ayo berpencar untuk menjelajahi kota mulai sekarang.”

Jika kelima orang menjelajahi kota bersama-sama, tentunya akan menghabiskan terlalu banyak waktu. Jadi, mereka memutuskan untuk berpencar agar bisa menjelajah lebih luas.

“Kota ini tampak aman karena tak ada zona bahaya.”

“Tetap saja, Lavias sepertinya kota yang cukup luas untuk dijelajahi sendiri. Kita kumpul lagi disini dalam 2 jam.”

“Jika kau menemukan quest yang bagus saat penjelajahan, kembalilah dulu, dan bagi questnya dengan anggota party yang lain. Kita akan memutuskan bersama-sama quest mana yang terbaik. Untuk sekarang, ayo mulai berpencar.”

“Oke, siap.”

Dan mereka pun berpisah untuk menjelajahi kota. Mulanya, Weed memilih untuk pergi ke tengah-tengah kota untuk melihat apa ada toko disana. Para pedagang tampak seperti bebek yang bergoyang-goyang di jalanan, menjajakan dagangan mereka pada pejalan kaki.

Sesuai namanya, penduduk dari kota Avian memiliki ciri-ciri yang sama dengan burung dan sekalipun memiliki tubuh yang gemuk dan kaki yang kekar seperti normalnya, kepala mereka berbeda-beda dari satu sama lain, ada yang berkepala burung hantu, dan ada juga yang seperti elang.

‘Tak kuduga ada kota seperti ini, benar-benar menakjubkan.’

Membuka restoran ayam disini benar-benar akan menjadi langkah yang salah, karena penduduk lokal bisa menganggap hal itu sebagai kanibalisme. Tak seperti kota manusia, tak ada kereta kuda disini karena para burung sudah cukup besar untuk membawa kuda.

Jika jalan tertutup, mereka cukup mengepakkan sayap dan terbang melewatinya. Dari seluruh tatapan yang ia dapat, ia merasa seperti monyet di kebun binatang saat berjalan diantara para avian. Weed memasuki toko senjata.

“Selamat pagi.”

“Pengembaran manusia! Apakah ada yang kau butuhkan?”

“Ada banyak hal yang aku butuhkan. Namun, aku tak terlalu mengerti dengan item yang di pamerkan. Aku ingin melihatnya lebih dekat.”

“Silahkan.”

Weed memeriksa beberapa item.

Baravo’s Steel Beak

Daya tahan: 90/90
Damage: 23

Efek:
Kemampuan untuk mendapat makanan yang memiliki bonus.
Ukuran panjang membuatnya mudah untuk meraih ulat yang terpendam.

Harga: 100 gold

Weed menghela nafas dan mengalihkan perhatiannya pada item lain.

Silver Pitchfork of Saigon

Daya tahan: 30/30
Damage: 17~19

Memiliki daya tahan rendah karena terbuat dari perak.
Bagus digunakan untuk memenggal kepala undead saat terbang rendah.

Harga: 70 gold

Feathers of the Goddess

Daya tahan: 15/15

Efek: Enchantment

Bulu yang sangat indah dan berkilau dapat menghentikan serangan musuh ketika digunakan. Sangat ringan sampai kau tak bisa merasakannya. Membuatmu bisa melancar dengan hebat, dan dijamin tak akan gagal.

Syarat: Untuk wanita!

Harga: 45 gold

Barang-barang berkisar dari garpu rumput dan teleskop sampai senjata aneh yang berbentuk seperti kerucut lancip di ujungnya. Senjata-senjata ini sepertinya dikhususkan untuk para Avian.

“Apa kau punya senjata yang cocok untuk manusia?” Weed menanyai penjaga toko, yang mirip seperti luak.

“Tentu aku punya! Tunggu sebentar. Karena pembeli manusia sangat langka, aku menaruhnya di dalam gudang.”

Selagi Weed menunggu, ia mendapat tatapan tajam dari luar toko.

Satu demi satu, Avian yang lewat berhenti untuk melihat Weed layaknya sedang melihat monyet di kebun binatang.

“Aku dengar orang ini adalah manusia.”

“Aneh sekali. Pasti sulit untuk makan dengan paruh datar seperti itu.”

“Lihat itu. Tak ada bulu juga. Ia pasti kedinginan saat musim dingin tiba, kasihan sekali.”

Tak ada burung yang normal yang menyukai rasa dingin. Menurut mereka, Weed tampak bisa dengan mudah mati kedinginan.

Seekor Avian di Rosenheim, atau kota lain di benua di bawah, tentu juga akan menarik perhatian orang-orang. Namun di Lavias, kota Avian, Weed yang manusia lah yang menjadi tontonan.

“Ini item yang kau minta.”

Pemilik toko mengeluarkan beberapa armor, perisai, dua palu dan 5 pedang yang berbeda. Weed menganggap perisai tak berguna, jadi ia langsung melihat-lihat pedang dan armor. Toh, dia hanya punya 70 gold dari menjual item-item yang ia dapat dari lizardman.

Clay Sword

Daya tahan: 54/54

Damage: 23~25

Sebuah pedang yang diimbuhi roh es. Memberikan 2~5 bonus damage pada target yang menggunakan armor dan mengurangi kecepatan gerak mereka.

Syarat: Level 60. STR 200.

Efek: Tambahan 2~5 Damage elemen es.

Harga: 188 gold.

Sword of the Dusk Wraith

Daya tahan: 200/200

Damage: 14

Karya dari Dwarf Theodore. Ditempa dari baja yang didapat dari Forest of Death. Menurunkan HP, memiliki kesempatan kecil untuk memberikan damage x3 pada serangan kritikal.

Syarat: Level 70. STR 250.

Efek: Kesempatan langka untuk mengeluarkan serangan mematikan.

Harga: 160 gold.

Weed berhenti melihat-lihat dan menggelengkan kepalanya.

Harganya benar-benar mahal sekalipun tak terlalu mengejutkan baginya, toh ini adalah kota Avian. tak perlu diragukan lagi, Clay Sword dan Sword of the Dusk Wraith adalah barang yang langka, namun mereka hanya akan laku setengah harga di Serabourg.

“Aku tak punya cukup uang sekarang, jadi aku tak akan membeli sesuatu.”

“Kalau begitu, silahkan datang kembali, tapi aku tak menjamin kalau item ini akan laku sebelum kau datang lagi, jadi lebih baik carilah uang secepat mungkin,” kata pemilik toko yang mirip luak, dan terdengar kecewa.

Party Weed adalah satu-satunya manusia disini, dan kebanyakan, melakukan bisnis adalah fokus utamanya.

Weed meninggalkan toko dan berjalan ke arah timur secara perlahan-lahan.

Di luar lingkaran kota terbentang lapangan luas yang hampa dimana-mana.

“Chirp Chirp!”

“Cheep!”

“Tweet tweet!”

Anak-anak Avian yang imut bernyanyi, bertengger di atas gantungan pakaian. Diantara mereka, anak ayam yang berwarna kuning tampak paling imut.

“Hiya?” Weed menyapa mereka, ingin melihat lebih dekat. Namun mereka hanya terkikik dan tak memberi respons lain.

“Selamat pagi.” Weed menyapa seluruh Avian yang ia temui.

Salah satu dari Avian yang melihat Weed di depan toko senjata, bertanya dengan semangat,

“Kau seorang pengembara yang belum pernah kulihat sebelumnya. Apa kau adalah bagian dari orang-orang kuat dari daratan di bawah?”

“Aku belum cukup kuat sekarang. Sekalipun aku cinta kedamaian dan mengagumi keindahan langit, aku juga menghormati seni militer. Karena kekuatan dibutuhkan untuk menjamin keamanan.”

“Aku juga berpikir sama. Kebetulan aku mempunya permintaan yang mungkin bisa kau penuhi. Sebenarnya, Lavias tak sedamai apa yang terlihat. Tempat ini adalah dataran kuno dimana kejahatan yang besar bersarang di bawah tanah, mengumpulkan kekuatan mereka untuk menghancurkan kami. Maukah kau menolongku?”

 Ting!

The Undead of Lavias

Undead yang mengintai di kedalaman City of Heaven, Lavias. Penduduk avian tak bisa tidur dengan tenang karena suara ratapan para undead. Jika kau kembali setelah membunuh paling tidak 30 Skeleton Soldier di Underground Passage, sesuatu yang baik mungkin bisa terjadi.

Tingkat kesulitan: D

Hadiah: Tak diketahui

Syarat Quest: Kegagalan akan mengurangi kedekatan dengan burung gagak.

Weed dan party nya tak mengira bahwa City of Heaven ternyata adalah sebuah kota biasa yang belum pernah ditemukan sebelumnya, dan hanya berharap untuk membeli atau mendapat item unik yang tak bisa ditemukan di Serabourg.

Mereka memperkirakan bahwa quest terbaik yang bisa mereka dapat adalah quest yang berhubungan dengan kerajaan Rosenheim.

Ternyata, ada juga tempat berburu di Kota Langit. Belum lagi, itu adalah tempat berburu undead yang langka. Skeleton Soldier diketahui memiliki level 80an.

Weed berpikir selama sesaat, dan menggelengkan kepalanya.

“Aku mengerti bahwa mengalahkan para undead adalah tugasku, namun aku disini bersama rekan-rekanku. Aku akan kembali setelah aku berbicara dengan mereka.”

Weed melanjutkan tur nya di sekitar dan berbicara pada tiap Avian yang ia temui.

Untuk beberapa dari mereka, adalah pertama kalinya mereka melihat pengembara manusia, jadi mereka membuat beberapa permintaan. Kebanyakan dari mereka berhubungan dengan undead.

Melalui banyak percakapan, Weed mengumpulkan informasi tentang underground di Lavias dan jalan menuju kesana. Namun, tempat itu benar-benar seperti medan pertempuran. Kebanyakan penghuninya adalah skeleton, dan juga Death Knight, Demonic Warden, Dullahan, Lich, Specter, dan Shade.

Dullahan adalah undead yang kuat secara rata, yang membawa kepala mereka sendiri. Tak hanya memiliki level 140, mereka juga kuat dan memiliki kemampuan tempur yang tinggi, membuat mereka sangat sulit untuk dikalahkan.

Lich menguasai black magic dan karena intelligence mereka yang tinggi, mereka diketahui sering lari ketika merasa dirinya dalam bahaya.

Tak perlu dikatakan, Death Knight adalah pembawa kematian. Mereka menunggangi kuda seperti Ringwraith dalam film Lord of the Rings. Mereka adalah mimpi buruk! Soal level, mereka memiliki level sekitar 200an.

Tahu bahwa undead sekuat itu ada di dungeon, jantung Weed berdegup kencang.

‘Ah, EXP yang kucinta.’

Ketika berjalan-jalan di kota, Weed menemukan sebuah papan pengumuman besar. Dengan huruf yang besar, tertulis “Beginner Class Training”. Weed memasukinya layaknya didorong oleh sebuah kekuatan yang gaib.

“Selamat datang. Oh, kau adalah manusia,” sapa instruktur, yang tampak seperti ayam jago. Rambutnya, yang tampak seperti jengger ayam, tampak mencolok.

“Aku tengah datang kemari dan mampir untuk memberi salam. Aku telah menyelesaikan Beginner Class Training di kerajaan Rosenheim.”

Seluruh instruktur di Training Hall menganggap tinggi mereka yang menghormati seni militer dan membenci kejahatan. Menyelesaikan latihan juga memberikan beberapa reputasi. Weed memasuki Training Hall dengan tujuan untuk membuat pendekatan secara instan dengan instruktur dan mendapat beberapa informasi yang berguna. Namun reaksi yang ia dapat jauh dari perkiraannya.

“Mmph?” Instruktur avian menahan tertawa. Matanya menunjukkan rasa geli sekalipun paruhnya tetap tak bergerak.

“Tak mungkin kau menyelesaikan Beginner Class Training. Kau tak tampak seperti itu.”

“Hah? Tapi aku menyelesaikan Beginner Class Training di Serabourg.”

“Mereka cuma punya Basic Training Hall disana.”

Mata Weed menyala penuh keingintahuan.

‘Basic Training Hall! Jadi tempat ini adalah tingkat selanjutnya!’

“Bisakah aku mencoba Beginner Training sekali?”

“Bisa. Mereka yang menyelesaikan Basic Training memiliki hak untuknya. Namun, yang ada disini berbeda dari Basic Training Hall yang kau ketahui. Ada kemungkinan bahaya yang besar, jadi jangan memaksa dirimu.”

“Aku ingin mencobanya.”

“Mencoba? Maksudmu latihannya?”

“Itu yang aku katakan.”

“Semangatmu benar-benar kukagumi. Oke, ikuti aku.”

Weed mengikuti instruktur seperti yang dikatakan.

Ia membawa Weed ke sebuah bangunan di belakang training hall. Tampak sebuah pintu masuk yang hitam kelam, suram, di jalan yang sangat gelap.

“Apa yang harus kau lakukan hanyalah masuk ke jalan ini dan keluar dengan selamat di pintu keluar di ujung sana. Simpel kan? Namun, skill combat tak akan bisa digunakan. Dan sedikit saran, jangan nyalakan api, itu akan membuat latihan ini terlalu mudah, nah, sangat sangat mudah.”

“Mengerti,” Weed merespons singkat. Dengan langkah panjang, ia masuk ke dalam jalan itu.

Mulanya, tak ada yang diragukan Weed. Namun, setelah ia berjalan lebih dalam, ia mulai kehilangan keyakinan.

Ia mulai menggunakan tangan dan kakinya untuk merasakan jalan yang ada di depannya. Ia tak tahu apa yang bisa muncul dari jalan yang sangat gelap ini. Dan tiba-tiba…

*PYIING!*

Weed secara refleks menundukkan kepalanya sambil menghindari beberapa tebasan. Saat beberapa rambutnya terpotong, ia menyadari bahwa ketenangan yang ia rasakan telah berakhir.

‘Sebuah serangan? Bagus,’ tubuhnya langsung bergerak setelah ia menyadari hal ini.

Weed mengeluarkan pedangnya dan menusukkannya ke depan. Sekalipun ia tak bisa melihat, ia bisa merasakan sesuatu mendekat.

*CLANG!*

Pedang besi miliknya tampak terkena sesuatu yang terbuat dari logam. Dilihat dari benturannya, serangannya tak tampak seperti di blok atau ditangkis oleh perisai. Badan musuh terasa sekeras batu.

‘Dari kanan!’ Weed merasakan sebuah serangan dari udara yang terpotong. Sekarang ia yakin bahwa yang berikutnya juga akan datang dari arah kanan. Karena ia tak bisa melihat, ia tak punya pilihan kecuali untuk bergantung pada indra yang lain. Weed percaya pada insting miliknya.

Pada waktu itu pedang Weed bergerak layaknya mempunyai pemikiran sendiri. Pedang itu dengan lancar diayunkan untuk menahan serangan yang datang dari kegelapan. Seseorang yang tak punya pengalaman dengan pedang di dunia nyata tak akan pernah bisa melakukan hal ini.

’10, atau lebih!’ pikir Weed.

Serangan yang terus-terusan membuatnya tak bisa membalas.

“Yatz!” Weed berteriak sambil lompat ke atas. Ketika ia berguling di tanah, ia memegang erat pedangnya, mengincar pergelangan kaki musuh. Beberapa percikan muncul ketika pedangnya menggores sesuatu yang terbuat dari besi. Pada saat itu, area di sekitar terlihat dengan jelas sesaat.

Ada beberapa lusin Barbarian yang diselimuti oleh baja. Mereka menggunakan pedang, tongkat, palu, kapak, godam, stik, dan gada.

Rasa takut merayap dalam perut Weed ketika rasa semangatnya padam layaknya lilin yang ditiup angin. Namun serangan dari Barbarian belum berhenti.

Ia mampu menangkis beberapa serangan, namun dalam tempat yang tak mempunyai penerangan sedikitpun, tak mungkin baginya untuk mengatasi semua serangan sekaligus. Sebuah pukulan mendarat di punggungnya, dan menjatuhkan Weed ke tanah. Para Barbarian langsung menyerangnya dari segala arah.

*****

“Kau gagal.” Mendengar suara instruktur, Weed perlahan-lahan bangkit. Seluruh tubuhnya terasa sakit.

‘Tempat apa ini?’

Ia melihat sekeliling dan ia sadar bahwa ia telah kembali di pintu masuk Training Hall. Sang instruktur pasti telah membawanya kembali kesini. HP nya berkurang banyak. Ia telah diserang begitu banyak sampai HP nya tersisa kurang dari 30; bahkan tepukan kecil bisa membunuhnya. Untungnya, ia tak berdarah, jadi HP nya tak lagi berkurang.

“Ini yang terjadi bila mereka yang tak punya cukup kemampuan menantang tempat ini. Aku menyelamatkanmu kali ini, tapi jika kau mencobanya lagi, kau akan mati.”

Weed menggelengkan kepalanya untuk menenangkan diri dan bertanya,

“Apa aku harus menaikkan levelku dulu agar bisa berhasil?”

“Bukan itu. The Infinite Steel Men menyesuaikan kekuatan mereka dengan level penantang.”

“Jadi artinya kemampuanku yang sebenarnya belum cukup kuat.”

“Begitulah.”

“Berapa lama sejak aku masuk?”

“Sekitar 4 jam.”

“Rekan-rekanku pasti tengah menungguku. Aku pasti akan kembali lagi nanti.” Weed meninggalkan Training Hall dan melanjutkan pergi ke tempat berkumpul yang telah disepakati.

*****

Weed berlari dengan cepat! Di tujuannya, ia melihat anggota party yang lain, wajah mereka dipenuhi kesenangan.

“Maaf aku terlambat…”

“Weed!” teriak Surka, dengan cepat lari ke arahnya. “Kami menemukan quest yang bagus!”

“Kita menunggumu untuk kembali, Weed, jadi kita bisa memutuskan agar kita mengambilnya atau tidak.”

Ketika Weed tak ada, seluruh anggota party dengan giat menjelajahi Lavias untuk mengumpulkan informasi.

Pertama, bagaimana cara kembali ke daratan dibawah. The Feathers of Lightness, dijual di grocery, akan mengurangi kecepatan jatuh suatu objek. Menggunakan bulu itu untuk terjun dari lavias mungkin akan menyenangkan untuk Weed, namun bagi Surka yang takut akan ketinggian, akan menjadi pengalaman yang sangat menakutkan.

Yang kedua adalah berita yang sedikit mengecewakan karena party Weed bukanlah yang pertama yang menemukan Lavias. Mereka telah mengira-ngira tentang hal itu karena fame mereka tak naik ketika pertama kali menginjakkan kaki di Lavias.

Selanjutnya adalah quest.

Irene menemukan quest untuk membunuh 20 Skeleton Knight. Hadiahnya adalah sebuah cincin yang menambah regenerasi MP sebanyak 10%.

Skeleton knight tentunya, adalah monster yang susah dilawan dengan level sekitar 100an. Namun anggota party merasa tergoda oleh hadiahnya. Lagi pula, cincin yang menambah regenerasi MP adalah item yang sangat langka. Harga jualnya di kota-kota besar di benua Versailles tak bisa dinilai!

“Dimana tempatnya?” tanya Weed, yang juga tertarik dengan hadiahnya.

Seperti itu, mereka menerima quest untuk membunuh Skeleton Knight.

DUNGEON: Kau adalah player pertama yang menemukan Memphis Hall

Hadiah: Fame +100.

Setiap hari selama satu minggu, dobel EXP dan dobel item drop rate. Item yang paling langka akan muncul dari monster pertama dari tiap jenis monster. Membunuh monster berikutnya akan menjatuhkan item secara normal.

Huruf-huruf yang melayang di jendela pesan saat Weed dan kawan-kawan memasuki dungeon. Mereka langsung terpaku di tempat.

“Ini…”

“Kita adalah pengunjung pertama!” Surka dan Romuna berteriak kegirangan.

Pale juga memiliki senyum yang sangat besar di wajahnya. Tempat berburu yang memberikan dobel EXP sangat layak untuk dimasuki, tak peduli sebahaya apapun isinya. Sungguh sayang untuk meninggalkan dungeon ini dan kehilangan seluruh potensi EXP yang bisa didapat.

‘Orang lain mungkin saja datang lebih dulu ke Lavias, namun mereka tak datang ke tempat berburu ini. Nah, mungkin mereka tak mampu menemukannya. Sebaiknya jangan menaruh harapan terlalu tinggi.’

Weed mencoba sangat keras untuk menjaga sikapnya, namun kesenangannya tak bisa ditahan.

“Untuk sekarang, ayo lihat-lihat dulu. Tujuan utama kita adalah untuk mengalahkan Skeleton knight, namun karena kita harus tahu apa kita memang bisa mengalahkannya, kita lebih baik membunuh apapun yang kita temui dulu. Irene.”

“Ya!”

“Tolong support kami, terlebih dengan blessing mu.”

“Ya, dan sejak tempat ini dipenuhi oleh undead, aku juga akan menyerang menggunakan Blessingku.”

Blessing dan Holy Magic milik priest sangat fatal terhadap undead. Blessing mampu menambah 1.5x damage pada musuh yang berbeda, dan memberikan damage yang lebih besar bila musuhnya adalah undead.

“Ayo berangkat.”

Semua anggota party mendapat seluruh buff yang tersedia, meningkatkan strength dan vitality mereka. Buff bertahan dikhususkan pada Weed dan Surka. Lalu mereka mulai bergerak.

“Manu…sia? Ada…m-manusia… hidup.” 4 sampai 5 skeleton berkumpul di jalur bawah tanah.

Grup kecil itu terdiri dari 2 Skeleton mage, 1 Skeleton Soldier dan 1 Skeleton Archer.

“Ma…nusia.” Mata Skeleton yang berlubang tampak menyala. Aura pembunuh terpancar saat mereka maju ke arah party, tulang-tulang mereka berderak ketika merega bergerak.

“Siap-siap untuk bertempur.”

*CLANG*

Weed yang pertama kali maju, menahan pedang Skeleton Soldier. Bukannya menghentikan laju pedang musuh, Weed dengan lancar menangkis serangan lawan kesamping dan menyerang balik.

Itu bukanlah skill dalam game. Weed secara alami mengeksekusi seni pedang dengan menggunakan gerakan tubuhnya.

“Triple!”

*POP* *SNAP* CRACK*

Ia mengeluarkan 3 serangan berturut-turut. Secara alami, Triple adalah skill yang sangat sulit untuk diikuti oleh mata. Jurusnya menusuk ke depan, lalu menebas secara diagonal, dan ketika pedangnya ditarik kembali, memanfaatkan momentum gerakan tubuh untuk menebas sekali lagi dalam serangan berlanjut! Penguasaan skill ini memberikan potensi untuk menambah tambahan serangan, namun begitu, tetap saja skill itu masih dipanggil Triple karena namanya diambil dari 3 serangan pertama.

Di tengah-tengah pertempuran sengit, Weed mengeksekusi skillnya tanpa berteriak ‘Triple’.

Bahkan satu detik bisa menentukan hidup dan mati. Apalagi kalau seseorang bisa memanfaatkan momen itu untuk menyerang kelemahan musuh.

Jika ketiga serangan pertama di blok, ada sebuah kesempatan untuk memunculkan tebasan keempat. Bila serangan keempat ini juga bisa ditahan, ada kesempatan yang sangat kecil pula untuk mengeluarkan tebasan kellima.

“Triple” awalnya dimaksudkan sebagai 3 tebasan cepat, yang memanfaatkan kelemahan musuh untuk menghantarkan serangan yang berhasil. Bersama itu, Weed bisa mengarahkan pedangnya dengan menggunakan kemampuan aslinya untuk menciptakan celah di pertahanan lawan. Tak mengejutkan bahwa tulang Skeleton Soldier hancur setelah menerima serangan pedang Weed.

Hanya seseorang seperti Weed yang mampu berpikir untuk menggunakan metode yang sangat kuat dan keji untuk membunuh musuhnya.

Pada saat itu, Skeleton Mage di belakang mulai merapal sihir dan menarget Weed. Namun, sihir Romuna lebih dahulu dilepaskan.

“Kau milikku!”

Pale fokus pada Skeleton Archer yang sendirian. Keduanya menembakkan panah tanpa henti ke arah satu sama lain.

“Makan ini! Blessed Arrow!” Pale menembakkan anak panah yang mengeluarkan cahaya menyilaukan.

Undead membenci cahaya, dan terutama skeleton seperti ini, lemah terhadapnya. Namun undead yang memiliki level lebih tinggi bisa berjalan di siang hari tanpa ada masalah.

Panah Pale menancapkan diri ke tulang Skeleton dan bersinar dengan terang.

Sementara itu, Surka menghantarkan pukulan pada Skeleton Mage dari jarak dekat dengan Romuna yang mendukungnya. Karena ini adalah pertama kalinya mereka melawan musuh yang kuat, mereka bertarung dengan sangat serius.

“Mati….”

Tulang dari Skeleton Soldier berderak keras ketika ia melompat ke udara dan mengeksekusi serangan yang kuat selagi turun kembali ke tanah. Sekalipun pedangnya penuh dengan retakan, kekuatan dari serangannya terlalu besar dan tak bisa diremehkan.

‘Meski begitu, gerakan mereka sangat mudah dibaca.’

Weed menggunakan skill.

“Backstab!”

Saat pedang skeleton mencapai target, hanya bayangan Weed saja yang tersisa. Weed, yang sudah berada di belakang musuh, menebas leher Skeleton.

Critical Hit!

Membutuhkan timing yang tepat yang bahkan 1/1000 detik akan berpengaruh pada kesuksesan serangan kritikal.

Sengaja mencobanya memiliki resiko, jadi bila berhasil, akan sangat memuaskan.

Menerima damage dari Triple dan Backstab, tulang-tulang skeleton hancur dan menjadi debu.

“Weed, kemari!” teriak Surka, suaranya terdengar kelelahan.

Melawan 2 Skeleton Mage terlalu susah untuknya, dan lama kelamaan ia mulai terpojok.

Sebagai monk, ia memiliki agility tinggi jadi gerakannya harusnya lumayan cepat. Namun pada saat ini, kasusnya bukan seperti itu.

STR berkurang
Speed berkurang

Keduanya dihasilkan oleh luka poison dan curse yang membuat Surka terus-terusan berdarah. Tersiksa oleh kutukan Skeleton Mage, Surka dikerubungi oleh asap hitam. Kutukannya lebih kuat dan lebih cepat daripada sihir pemulih Irene.

“…..”

Weed dengan cepat lari untuk menyelamatkannya.

“Sculpting Blade!”

Tiap kali Weed memiliki cukup MP untuk menggunakan Sculpting Blade, satu Skeleton Mage dengan HP yang rendah mati dalam sekejap. Mereka mati lebih cepat dari yang diperkirakan karena Romuna telah membombardir mereka dengan sihir sampai MP miliknya habis. Skeleton Archer yang tersisa dengan cepat dibunuh oleh serangan gabungan Pale dan Romuna, yang telah mengisi ulang MP nya.

“Wow! Kita menang!” Surka berteriak kegirangan segera setelah pertempuran berakhir.

“Bahkan level kita naik,” kata Pale sambil tersenyum lebar.

Level 80 Skeleton, yang memiliki 15 level lebih tinggi dari mereka, ditambah dengan dobel EXp, memberikan jumlah EXP yang sangat banyak pada party. Mereka sudah hampir naik level hanya dari membunuh satu grup monster.

Setelah menggunakan seluruh MP mereka untuk menghilangkan kutukan, Romuna dan Irene duduk untuk mengisi MP mereka melalui meditasi.

Meditasi menggandakan kecepatan regenerasi MP. Sayangnya, itu adalah skill yang hanya bisa dipelajari oleh Mage dan Priest, artinya Weed tak bisa mempelajarinya.

“Yuk kita lihat item apa yang kita dapat.”

Biasanya mereka akan mengambil apapun yang mereka mau, namun kali ini, hanya satu pertempuran rasanya seperti berjalan di atas es yang tipis. Jadi seluruh anggota party berkumpul untuk melihat item yang dijatuhkan oleh skeleton.

Worn Bloodstained Gloves

Daya tahan: 7/40

Defense: 6

Sebuah item yang dipenuhi oleh kebencian dan keinginan mereka yang mati
Sepertinya lebih baik dihindari sekalipun memperkuat sang pengguna.

Syarat: Level 50. Strength 100.

Efek: Meningkatkan Strength 20. Meningkatkan Attack 10%. Menurunkan HP 200.

Boots of the Cold Ones

Daya tahan: 9/50

Defense: 5

Sepatu yang dibuat untuk melawan pelukan dari tanah
Karena dibuat dari kulit water buffalo, akan memberikan rasa nyaman bagi penggunanya.

Syarat: Level 60.

Efek: Meningkatkan resistansi magic es 15%.

Item seperti ini lumayan bagus. Mereka bisa dijual ke pedagang, namun menggunakannya akan lebih baik. Sarung tangannya mungkin menurunkan HP, namun defense yang diberikan membuatnya cukup layak untuk digunakan.

Saat itu, sebagai bagian dari efek untuk menemukan dungeon, item drop rate sedang di dobel dan item-item yang terbaik bahkan belum diidentifikasi. Jadi Weed dan partynya berjalan mendekat sebuah pedang yang dijatuhkan oleh Skeleton Soldier.

Clay Sword

Daya tahan: 54/54

Damage: 23~25

Sebuah pedang yang diimbuhi roh es. Memberikan 2~5 bonus damage pada target yang menggunakan armor dan mengurangi kecepatan gerak mereka.

Syarat: Level 60. STR 200.

Efek: Tambahan 2~5 Damage elemen es.

Senyum lebar muncul di wajah Weed.

‘Jackpot!’

Sebuah pedang yang dijual dengan harga lebih dari 100 gold di toko juga bisa diperoleh sebagai item drop. Tentu saja, dibandingkan Clay Sword yang dijual di toko, item ini memiliki daya tahan yang jauh lebih rendah. Sebagai tambahan, daya tahan maksimal dari pedangnya akan turun sedikit demi sedikit jika pedangnya retak dan tak diperbaiki.

“Ini…”

Pale melihat item itu untuk beberapa saat.

Ia merasa keserakahan merayap dalam dirinya. Toh ia juga manusia, jadi kenapa ia harus menolaknya? Namun, Weed berjalan perlahan ke tengah-tengah grup. Apa yang ia gunakan hanyalah pakaian simpel yang terbuat dari kulit yang dikeraskan. Tak ada armor maupun sepatu. Weed berbicara ke arah Pale.

“Serangan si bajingan itu benar-benar kuat. Kalo ada dua dari mereka, sepertinya kita akan dapat masalah.”

“……”

Pale menahan air matanya sambil meminggir, membiarkan Weed untuk mengambil ketiga item itu. Jika Weed, tanker mereka, tak memiliki equip yang bagus, lalu siapa yang akan menggantikannya?

“Item-item seperti ini harusnya menjadi milik Pale…” kata Weed tampak kecewa.

“……”

“Namun, karena aku harus melawan mereka secara langsung, mungkin aku harus menggunakan equip yang lebih bagus. tapi tenang, item selanjutnya pasti akan diberikan pada Surka dan Pale.” Ini adalah contok klasik dari ‘menularkan penyakit lalu menawarkan obatnya’.

Weed akan menjadi orang yang paling beruntung dari item-item, jadi bisa dibilang ini adalah pilihan grup. Weed akhirnya bisa terbebas dari Hard Iron Sword yang ia dapat dari instruktur Training Hall. tiba-tiba, sebuah suara muncul.

“Manusia… prajurit undead yang tercinta…”

Sebuah Skeleton Knight muncul tanpa peringatan.

Semua orang membuat kesalahan, namun kali ini bisa dibilang fatal. Sampai sekarang, musuh di tempat berburu yang mereka jelajahi kebanyakan bertahan di tempat yang telah ditentukan. Disisi lain, Skeleton Knight, bisa jalan-jalan semaunya. Tanpa mengetahui tentang hal ini, Weed dan kawan-kawan beristirahat tanpa khawatir ketika ia tiba-tiba muncul.

Skeleton Knight, dengan mata yang menyala dan mengerikan, menggunakan armor untuk menutupi tulang-tulangnya, adalah undead dengan level diatas 100. Makhluk kuat ini sekarang tengah menyerang party Weed.

“Kyaa!”

Skeleton Knight mengayunkan pedangnya dengan jarak yang lebar, dan mengenai pinggang Surka. Untungnya, ia tak mati, namun HP nya turun lebih dari 35%.

“Lari!”

Weed melompat diantara Surka dan Skeleton knight, memegang Clay Sword yang baru saja ia ambil. Pikirannya yang cepat sangat berguna dalam situasi seperti ini.

Sebuah monster dengan level diatas 100!

Kaki Weed mulai bergetar. Tapi bukan karena ia takut dengan musuhnya karena ia menganggap semua dengan batas perbedaan level 30 bisa ia atasi. Yang ia pedulikan adalah Clay Sword miliknya yang memiliki daya tahan rendah. Kalau-kalau senjata nya rusak di tengah pertempuran… Sayangnya, tak ada yang bisa mengganti senjata mereka jika ada musuh tepat dihadapan mereka.

‘Tolong, ya Tuhan…’

“Hati-hati, Weed!”

“Romuna, Irene, sadarlah! Skeleton Knight muncul!”

Anggota party segera bersiap-siap untuk bertempur. Namun, persiapan mereka memberikan cukup waktu bagi Skeleton Knight untuk menyerang duluan: Tabrakan kuat yang diikuti dengan serangan lain! Untuk pertama kalinya, Weed merasa bahwa pedang rapuhnya sangat dibutuhkan.

‘Aku tak boleh kehilangan pedang ini!’

Sudah terlambat untuk melarikan diri, namun Weed percaya pada gerakan dan pertahanannya. Daripada menahan serangan, ia mencoba menghindar. Luka kecil tak bisa dihindari, namun ia merasa bahwa daging pantas dikorbankan untuk tulang… “tulang” yang dimaksud tentu adalah pedang miliknya.

‘Tunggu, apa aku sudah memperbaiki sarung tangan dan sepatu nya?’

Sial!

Daya tahan dari sarung tangan dan sepatu miliknya hampir habis.

Senjata seperti Clay Sword tak akan kehilangan banyak daya tahan kecuali digunakan untuk menyerang, namun equipment lain, seperti sarung tangan dan sepatu, akan kehilangan daya tahan jika penggunanya terkena serangan. Daya tahan adalah atribut yang aneh; ketika mendekati maksimal, akan berkurang perlahan-lahan, namun ketika rendah, sebuah serangan dapat dengan mudah menghancurkan itemnya.

‘Kenapa harus sekarang…’

Weed dengan cepat berguling di tanah.

Clank!

Pedang Skeleton Knight diayunkan kebawah, hampir mengenainya.

Keahlian seperti itu sering muncul di dalam novel bela diri. Gerakan untuk menghindari serangan dengan cara memutar badan dan berguling di tanah. Bagaimana dengan harga diri? Hal yang seperti itu tak ada gunanya dalam situasi seperti ini.

Membayangkan sarung tangan, sepatu, dan pedang barunya hancur lebih menyakitkan bagi Weed. Selagi Weed menahan musuh, rekan-rekannya telah menyelesaikan persiapan tempur mereka: Pale menembakkan panah, dan Irene merapal Divine Protection dan Blessing. Romuna merapal spell terkuatnya tanpa ragu-ragu.

“Fire Field!”

Untuk mengenai Skeleton Knight yang bergerak dengan cepat, ia menggunakan sihir AoE.

VOOOOSH!

Api mulai menyebar di tempat Skeleton Knight berdiri. Weed dan Surka harus bergerak cepat untuk menghindari apinya. Di waktu yang singkat, Weed melepas Clay Sword, sepatu, dan sarung tangan dan menggunakan Hard Iron Sword. Ia ingin menggunakan skill repair pada mereka, namun situasi yang ada hanya memperbolehkannya melepas mereka.

“Aku yakin ia tak akan mati semudah ini,” kata Romuna dengan yakin. Fire Field terus-terusan memberikan damage besar pada musuh dengan jumlah banyak. Disamping jurus pedang Weed, sumber kekuatan terbesar dalam party adalah sihir api Romuna.

Diantara semua skill yang meningkatkan kekuatan dan efek sihir api, Fire Mastery hanya memiliki peringkat ke delapan. Tetap saja, tak ada yan percaya bahwa ini cukup untuk membunuh monster dengan level diatas 100 seperti Skeleton Knight.

Tak lama apinya mulai padam, menunjukkan Skeleton Knight yang masih berdiri di tempat asalnya. Pedangnya menyala merah, dan api membara di lubang mata dan tulang-tulangnya, membuatnya seperti Skeleton Knight yang terbakar. Sekalipun ia sudah menerima cukup banyak damage, skeleton itu masih hidup.

“Manusia… kalian..”

Skeleton knight lari ke depan untuk menyerang. Weed berhadapan langsung dengan makhluk ini, kali ini dengan yakin. Ia tak memiliki hal untuk ditakuti lagi karena sekarang ia menggunakan Hard Iron Sword.

“Sculpting Blade!”

Pedang Weed menari dengan elegan sambil menebas Skeleton Knight. Sihir Romuna, tinju Surka, dan panah Pale juga terus-terusan menyerang target mereka.

“Grrr….”

Skeleton Knight masih kuat, dan pertarungan mulai menuju arah yang berbahaya. MP Weed belum pulih sejak pertempuran terakhir; ia tak bisa menggunakan bahkan satu pun jurus pedang. Sejauh ini, Weed menghindari serangan Skeleton knight hanya dengan mengandalkan gerakannya yang lincah, namun belum bisa memberikan damage besar. Rekan-rekannya yang lain mengalami situasi yang sama. Setelah menghabiskan seluruh MP mereka, sekarang hanya cukup untuk bertahan. Dalam hitungan menit, situasi menjadi lebih buruk.

“Aku kehabisan MP. Aku tak bisa heal lagi… Maaf.” perkataan Irene membuat semua orang putus asa. Sekalipun Weed dan Surka masih bisa bertempur, sekali mereka mati, yang lain juga pasti akan mengikuti.

‘Kalau begitu…’ Weed memutuskan untuk menggunakan skill terkuat yang ia miliki.

“Sword Kaiser!”

Sword Kaiser adalah gerakan final dari Imperial Formless Sword Techniques. Namun, namanya hanyalah julukan yang diciptakan Weed. Ia harus menunggu untuk melihat apakah skill ini cukup kuat untuk benar-benar berhak menerima gelar “Kaisar Pedang”.

*Nnnng…*

Garis-garis cahaya biru tipis mulai muncul dari Hard Iron Sword dan menyelimuti tubuh Weed. Weed dengan cepat menarik perhatian Skeleton knight, namun, fokusnya ada pada Hard Iron Sword, yang tampaknya menjadi cukup besar sampai bisa menyentuh langit-langit.

*Shoom!*

Pedangnya memadatkan udara di sekitar dan mengumpulkan kekuatan ledakan. Weed bersiap-siap untuk menusuk, sekalipun kebanyakan skill Weed biasanya berhubungan dengan menebas. Tusukan, di sisi lain, memiliki kekuatan yang lebih besar, namun memiliki masalah sendiri. Jika tusukannya tak mengenai target, ada resiko besar untuk diserang balik oleh musuh.

Namun,tebasan lebih berdasar pada berat pedangnya, sedikit perubahan keseimbangan antara pinggang, pergelangan tangan, dan langkah kaki pengguna pedang. Weed tahu bagaimana caranya menggunakan perubahan keseimbangannya untuk menghindari serangan lawan, dan juga menyerang balik dengan menggabungkan serangan dan pertahanan.

Inilah mengapa Weed mampu melawan monster yang lebih kuat, sekalipun memiliki HP dan defense yang lebih rendah dibandingkan player lain. Kalau bukan karena strategi ini, bahkan pertarungan melawan Skeleton Soldier akan menjadi sangat susah.

Sekalipun hanya satu atau dua langkah tersisa, Weed bisa merasakan seluruh HP dan MP nya tersedot dari tubuhnya dan mengalir pada pucuk pedangnya. Rahang Skeleton knight terjatuh melihat kekuatan Weed.

‘Selesai’

Sedikit tampilan dari kekuatan skill miliknya cukup untuk membuat Weed merasa puas. Namun, bahkan sebelum serangannya mengenai Skeleton knight, Weed merasakan shok dari benturan.

*Boom!*

Debu dan kotoran terbang kemana-mana bersamaan dengan suara keras ledakan.

Tak lama, debu-debu mulai menghilang dan menunjukkan Weed yang berdiri babak belur.

‘Bagaimana ini bisa…’

Sword Kaiser adalah skill mengerikan yang mengkonsumsi 2000 MP. Jika kau tak memiliki cukup MP, sisanya akan diambil dari HP. Mengeksekusi skill itu meninggalkan Weed hanya dengan 50 Hp.

“Di-dimana dia?”

Weed mulai lari menuju Skeleton knight.

Skeleton knight!

Pedang besi miliknya ditancapkan pada perut Skeleton knight. Retakan menyebar dari tempat yang ditancap oleh pedang sampai akhirnya seluruh tubuh skeleton hancur berkeping-keping.

“Kita bekerja sangat keras untuk mengalahkan monster ini…”

Surka menundukkan kepalanya, kecapekan. Mereka mengalami begitu banyak penderitaan untuk mengalahkan Skeleton knight, namun si bajingan ini hanya menjatuhkan satu Iron Ore, beberapa silver, dan sebuah tulang. Sekalipun anggota party ini sudah sering membahayakan nyawa mereka sendiri, namun kali ini benar-benar merupakan yang tersulit. Dan juga karena mereka bertempur dalam kondisi buruk.

Seperti Weed, semuanya bertarung sampai kehabisan MP. Mulai dari sekarang, Romuna selalu merapal sihir pelacak ketika melawan skeleton, untuk memeriksa apa ada Skeleton Knight yang datang. Ketika mereka berada dalam kondisi bagus, mereka akan melawannya. Kalau tidak,mereka akan lari.

Di dungeon atau gua yang lain, mereka mungkin merasa tertantang untuk bertarung dalam kondisi yang tak menguntungkan karena berebut dengan party lain. Namun beruntung, Weed dan party nya adalah satu-satunya party yang ada di dungeon ini.

Namun, hal ini berarti bahaya, karena terlalu banyak monster dan terlalu sedikit player!

Situasi seperti inilah yang paling disukai Weed.

Pada saat mereka memasuki dungeon, abiliti unik milik Moonlight Sculptor telah diaktifasi. Di bawah cahaya matahari, skill milik Weed tak bisa mencapai kekuatan maksimal. Namun di malam hari, atau di dalam dungeon, kekuatan sebenarnya dari profesi miliknya muncul, menambah kekuatannya sebanyak 30%.

Sebagai tambahan, Weed telah mengetahui pola serangan Skeleton Knight dengan menggunakan bakat tempur miliknya. Bajingan itu tak lagi menjadi ancaman untuk Weed karena ia tahu dengan pasti kapan ia harus menghindar. Cukup dengan pengetahuan ini, ia bisa mengurangi damage yang diterima hingga setengah. Pale dan Surka memiliki support dari Romuna, dan juga Blessing dari Irene, yang artinya, Skeleton Knight yang sendirian tak bisa apa-apa kecuali menyerahkan tulang-tulang mereka dan menghilang.

“Hahaha.”

Weed meringis saat ia melihat skeleton berjalan. Ia tak bisa menahan senyumnya karena yang ia lihat adalah potensi EXP dan item!

“Kekeke.”

“Hehe.”

“Hahaha.”

Seluruh anggota party mulai tertawa.

Untuk berpikir bahwa melihat skeleton yang berjalan bisa membuat mereka sangat bahagia, sungguh aneh! Pedang yang dibawa oleh Skeleton Soldier, sekalipun bukan semuanya Clay Sword, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari pada Iron Sword. Cukup memperbaikinya lalu menjualnya untuk mendapat uang secara instan. Tempat ini adalah tempat berburu yang sangat fantastis karena dropnya termasuk perisai, sarung tangan, dan bahkan kadang-kadang pelindung dada. Dan karena drop itemnya tengah digandakan, tak mengejutkan bahwa inventory Weed penuh dengan cepat. Skeleton knight yang sendirian, sekalipun memiliki level yang tinggi, bukan lagi menjadi masalah bagi Weed dan kawan-kawan. Namun, Death Knight, yang kadang-kadang muncul, adalah masalah terbesar mereka.

“Ma…nusi..a.. Bau.. Manusi..a… dari.. sini…”

Death Knight, diselimuti armor gelap keabu-abuan, menunggangi kuda. Weed dan kawan-kawan yang baru saja membunuh para skeleton dan mengambil item mereka, bersembunyi di balik batu dengan gugup.

Tak peduli apa yang mereka lakukan, tak mungkin mereka bisa mengalahkan Death Knight, yang diketahui memiliki level diatas 200. Perbedaan level yang terlalu besar membuat serangan mereka dianggap meleset sekalipun aslinya mengenai target.

Di Royal Road, tak hanya player, namun juga NPC, dapat bertambah kuat. Death Knight yang telah mencapai tingkat dua memiliki skill yang mematikan.

Death knight ini, yang dipanggil Royan, memiliki kekuatan kegelapan yang muncul dari helm nya. Death knight adalah monster yang memiliki nama, jadi tiap-tiap death knight memiliki nama sendiri.

“Bau…manu..sia..Oh…aku..tak punya… hidung…”

Death Knight Royan melihat sekeliling sesaat, lalu pergi ke area berbeda. Bahkan setelah Death Knight pergi, suara kuda nya masih bisa didengar selama beberapa waktu.

“Whew.”

“Sudah pergi.”

Weed dan kawan-kawan menghela nafas. Tak ada yang bisa membuat mereka sangat takut kecuali death knight yang kadang-kadang muncul.

Translator / Creator: alknight