October 18, 2016

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 2 – Chapter 2: The Statue of Goddess Freya

 

Ketika Weed dan rekan-rekannya pergi lebih dekat ke arah markas lizardman, jumlah monster yang mati meningkat dengan pesat.

“Kita sudah membunuh lebih dari 40 lizardman…”

“Kita masih di perbatasan markas mereka. Berapa banyak lizardman lagi yang kalian pikir berkumpul di dalam sana?”

Irene dan Romuna berkata bergantian. Namun Weed hanya tersenyum.

“Dengar, kalian semua tahu lizardman adalah monster yang hidup berkelompok, kan?”

“Ya, Weed. Kawanan mereka bahkan lebih banyak daripada Orc,” kata Irene.

“Benar. Mereka juga melindungi wilayah mereka sendiri. Bagaimana jika ada seseorang yang ingin merampasnya?” tanya Weed.

“Tentu mereka akan melawan!” kata Surka.

“Benar. Itulah yang membuat lizardmen menakutkan bagi para pemain.”

“Bukankah artinya kita sedang dalam masalah sekarang?”

Weed dan rekan-rekannya berjalan melalui lembah. Mereka kerap beristirahat di tengah jalan untuk mengisi MP, dan tak membuang-buang energi. Kali ini, ia memberi jawaban atas teka-tekinya.

“Bisa dibilang kita berada dalam bahaya dalam situasi normal, tapi kali ini kita bisa mengandalkan Darius.”

Mendengar kata-kata Weed, mereka menyadari darimana kepercayaan dirinya berasal.

“Apa yang kau maksud dengan…– oh, aku mengerti!” kata Surka.

“Darius benar-benar membantu kita!” kata Romuna.

Markas lizardman.

Sekarang mereka seharusnya tengah bertarung dengan ganas melawan pasukan pembebasan yang telah menginvasi wilayah kekuasaan mereka. Dengan kata lain, markas mereka hampir terabaikan, dan hanya dijaga oleh segelintir lizardman warrior.

Pada waktu yang sama, Weed menduga bahwa harta jarahan yang lizardman rampas dari desa-desa terdekat disimpan di sana. Ia memang mendaki Western Valley untuk menyelesaikan quest dari Ghandilva, namun ia memiliki agenda yang tersembunyi.

“Kita akan melawan musuh yang lebih kuat mulai dari sekarang.  Bagaimana kalau kita memancing mereka sekarang?” tanya Weed.

“Oke!” kata Surka.

“Kita harus berhati-hati. Kita tak boleh membiarkan banyak lizardman melawan kita sekaligus,” kata Weed.

Surka menarik lizardman satu persatu dengan lihai. Agility nya yang tinggi membantunya untuk memancing musuh secara terpisah.

“Sini kau, reptil jelek!”

“Kruru!”

“Manusia, kami bunuh kau!”

Lizardman yang marah mengejar Surka. Weed dan Pale dengan cepat mengisi panah ke busur mereka, menarget lizardman, dan menembak mereka.

*Sweesh*

Sementara Weed menembakkan satu panah pada satu waktu, Pale menembakkan beberapa anak panah begitu cepat sampai-sampai tangannya hampir tak kelihatan. Skill level archery mereka membuat perbedaan yang besar, belum lagi efek dari skill lain milik Pale.

Skill archery milik Weed sebenarnya juga berada di atas rata-rata karena ia telah memanah para goblin, namun ia tak mungkin bersaing dengan Pale yang tangannya tak pernah meninggalkan busur. Sedangkan untuk Pale, bahkan sebelum anak panahnya mengenai target, anak panah yang selanjutnya sudah diisi dan diluncurkan juga.

Sejak level 5, ketika ia memilih profesi ranger, ia telah menaikkan skill Chain Shot dan Penetration, yang membuat panahnya bertambah kuat.

Weed menembakkan panah sampai lizardman berada dalam jarak yang sangat dekat. Damagenya memang kecil, namun EXP rate untuk archery miliknya tetap bertambah– tidak, sifatnya tak memperbolehkan dirinya sendiri untuk hanya duduk dan menunggu musuhnya datang.

‘Kenapa aku harus menunggu EXP, eh bukan, musuh untuk datang?’

Weed mencintai pertempuran, ia tak pernah bosan. Ia tak bisa dihentikan sekarang.

“Yatz, yatz, yatz!”

Dari mulutnya, keluar teriakan tanpa henti. Irene dan Romuna terkikik. Mereka pernah menyebutkan hal ini pada Weed, namun ia mengakui ia tak bisa menahannya.

Baginya, itu adalah raungan kemenangan yang hanya keluar ketika ia terlalu bersemangat.

Beruntung, belum pernah ada waktu dimana seekor monster mendengar teriakkannya dan maju untuk melawan party nya, meskipun ia terus-menerus merasa malu dengan kebiasaannya ketika bertarung bersama player lain.

‘Weed biasanya selalu tenang, tapi kadang-kadang ia lepas kendali dan menjadi kekanak-kanakan’ pikir Irene.

Mereka melawan 6 lizardman di pertempuran sengit. Tepat saat pertarungan dimulai, dua lizardman mati oleh pedang Weed, dan tersisa 4 lagi. Ia membiarkan keempat monster itu karena jika ia membunuh mereka semua, Romuna, Pale, dan Surka tak akan mendapat EXP yang berharga.

Yang lebih parah, MP Weed akan cepat habis sedangkan MP Irene masih tersisa banyak, yang akan membuat semua anggota party untuk beristirahat sambil menunggu Weed mengisi ulang MP nya. Mereka akan membuang waktu yang berharga, dan tak bisa mencapai batas waktu quest.

Dua lizardman menyerang Surka, namun dua yang lain menyerang Weed dengan marah untuk membalas kematian rekannya. Pedang Weed sangat butuh perbaikan, daya tahannya hanya tersisa 10.

Mengingat bahwa teknik pedang yang kuat memberikan beban yang belebihan pada senjata yang digunakan, dan juga mengurangi daya tahan senjata, ia telah bertarung dengan keras tanpa istirahat.

“Disarm the iron sword.”

Weed mengembalikan pedangnya ke dalam inventory dan mengepalkan tinjunya. Jurus andalan Surka!

“Yon-han-kwan!”

Pukulan Weed meluncur ke arah musuh tanpa henti. Ia memang memanggil nama skillnya, namun bukan berarti skillnya benar-benar bisa diaktifkan. Ia bahkan tak mempelajarinya, jadi jelas ia tak bisa menggunakannya.

Sebaliknya, ia meniru cara Surka meninju dengan baik, dan menghajar para lizardman. Ingin memukul monster dengan tangannya sendiri, ia belajar seni bela diri selama setahun, untuk momen seperti ini. Tak perlu dikatakan, pukulannya sangat hebat.

Pababababak!

Tangan Weed bergerak dengan kecepatan tinggi. Saat memukuli para lizardman tanpa ampun, skill intermediate handicraftnya menambah 50% damage untuk tinjunya.

“Ugh!”

“Pukulan manusia, sakit!”

Weed mendekati musuhnya, memukul di tiap celah yang ada. Lizardmen mengayunkan pedang mereka untuk membalas. Intinya, para lizardman dan Weed terobsesi untuk membunuh lawan mereka sebelum mereka sendiri terbunuh.

Langkah kaki Weed sangat ringan. Tiap saat tubuhnya bergerak, ia melontarkan tinjunya ke arah lizardman. Pergelangan kaki dan pinggangnya bergerak sesuai keinginannya dan mengumpulkan kekuatan untuk tinjunya, yang ia gunakan untuk memukul dada dan perut lizardman.

“Kugh!”

“Manusia kurang ajar, ia pukul tempat sama terus menerus!” Para lizardmen berteriak kesakitan.

“Weed, terus tekan mereka!”

Irene tengah sibuk menyembuhkan mereka yang ada di garis depan dari belakang. Keahliannya dalam heal diakui oleh semua. Ketika HP rekannya turun dibawah 70%, Healing Hand nya langsung digunakan untuk mereka yang membutuhkan. Bebas resiko dan efektif.

Weed menikmati rasa menghajar musuh dengan tangan sendiri. Ia lebih suka bertempur menggunakan tangan daripada pedang, karena ia bisa merasakannya, dan terasa lebih nyata.

Lizardman dan Weed memang memukul satu sama lain, namun itu tidaklah sama. Wajah lizardman dipenuhi oleh rasa sakit, tapi senyum melayang di wajah Weed. Ia terus memutar tinjunya yang kuat, sambil berteriak gembira.

Sementara itu, Romuna dan Pale sedang sibuk merapal sihir dan menembakkan panah, untuk membunuh dua lizardman yang lain yang mengikuti Surka. Tanpa ada harapan yang bisa diraih, dua lizardman yang sedang melawan Weed tengah dihajar tanpa ampun, namun tetap bertahan hidup.

New Stat: Fighting Spirit

Status Fighting Spirit  kebanyakan didapat oleh prajurit dalam petualangan pertama mereka. Ketika dikembangkan, dapat mengurangi kerusakan fisik yang disebabkan oleh musuh, dan meningkatkan HP player dalam jumlah kecil.

Kau bisa menggunakan bonus status dari naik level pada status fighting spirit, namun kebanyakan memilih untuk membiarkannya berkembang sendiri dengan cara menerima serangan jarak dekat. Setelah status fighting spirit ditambahkan dalam statusnya, gerakan Weed berubah menjadi lebih taktis.

Ia mengecek berapa banyak MP yang dimiliki Irene, dan dengan sengaja membiarkan serangan lizardman mengenainya. Statusnya berkembang bila terkena serangan. Benar-benar kekuatan yang hanya bisa didapat melalui rasa sakit dan penderitaan.

Weed adalah manusia yang dengan senang hati menerima serangan dari lizardman selama masih dalam kapasitas MP Irene. Di Royal Road, kau benar-benar merasa sakit ketika terluka. Weed bahkan menikmati rasa sakitnya.

“Kueeek!”

Salah satu lizardman akhirnya tewas sambil teriak. Weed mendapat sebuah prestasi tersendiri untuk memukuli lizardman sampai mati di pertempuran. 3 lizardman yang lain tengah dikepung oleh Romuna, Pale, dan Surka, lalu dibunuh.

Weed telah membunuh 3 dari mereka sendirian, namun jika tak ada bantuan dari rekan-rekannya, tak akan mudah sekalipun ia menggunakan pedang besinya. Kemenangan membutuhkan kerjasama mereka berlima.

*****

Surka pergi memancing kelompok lizardman di jarak jauh ketika ada dua atau lebih grup lain didekatnya. Kalau bukan karena itu, Pale bakal dengan simpel menembakkan panah ke arah mereka, atau lebih sering, Weed akan menjadi orang pertama yang beraksi.

Weed akan lari tepat ke tengah-tengah lizardman dan mengayunkan pedangnya dengan bebas. Anggota timnya bakal lari dibelakang dan membantunya membunuh para monster. Lalu mereka menang dan pergi. Inilah yang paling disukai Weed tentang rekan-rekannya.

Biasanya mereka ramai dan suka ngobrol di perjalanan, namun soal pertempuran, mereka akan diam dan menjadi serius. Mereka telah dilatih dan dijinakkan oleh Weed. Sejak mereka berburu Fox di depan Serabourg, mereka telah belajar bagaimana cara berburu monster dengan cepat dan ekonomis.

Ketika mereka memasuki markas lizardman setelah membunuh beberapa lizardman guard, mereka menemukan beberapa bangunan yang terbuat dari jerami tersebar di lembah yang diabaikan.

‘Para sandera ada disana’

Pikir Weed. Matanya bersinar. Orang tua anak-anak sedang dipenjarakan di dalam kandang yang terbuat dari anyaman ranting pohon. Weed mengamati situasi untuk sementara waktu. Ada 10 pria dan wanita terkunci dalam kandang kayu, dan ia mendapati 8 lizardman menjaga mereka.

Delapan dari mereka!

Jika Weed menggunakan seluruh MP nya, ia bisa membunuh dua, atau tiga paling banyak, dalam sekejap, namun jika begitu, rekan-rekannya harus mengatasi 5 penjaga lainnya.

Ia yakin bahwa ia dan timnya akan menang pada akhirnya, namun Irene dan Romuna, yang mempunyai HP rendah dan defense yang lemah, bisa saja mati. Mage dan priest bisa saja mati hanya dengan beberapa tebasan liar dari lizardman.

“Kita mending menyelamatkan para sandera dulu. Aku akan memancing para lizardman pergi.”

Surka tahu ini adalah waktunya beraksi, dan bergerak.

“Manusia!”

“Bagaimana dia kesini…”

“Bunuh!”

Ketika Surka mendekati lizardman, 5 dari mereka pergi mengejarnya. Bukannya ikut mengejar Surka, 3 lizardman yang lain bertahan di belakang untuk tetap menjaga para sandera.

‘Mereka tak sebodoh yang aku duga.’

Weed membuat kontak mata dengan Surka yang sedang lari. Mereka mengangguk.

Weed, aku akan berputar-putar ke tempat kita datang tadi, lalu kembali ke sini.
Trima kasih, Surka. Itu sudah cukup

Weed dan Surka mengirim pesan singkat. Memastikan bahwa Surka dan pengejarnya sudah tak terlihat lagi, Weed dan Pale muncul di depan lizardman yang tersisa.

“Manusia lagi!”

“Manusia, datang lagi.”

Ketiga lizardman terkejut.

“Engraving knife technique!”

“Fire arrow!”

“Power shot!”

Para penjaga tewas di hadapan para penyusup hanya dalam waktu beberapa detik. Weed dan Pale membunuh mereka dengan cepat dan membuka pintu dari kandang kayu. Namun para orang tua bertahan di dalam, karena merasa sangat takut. Weed mengerti dengan bagaimana perasaan takut mereka, setelah ditangkap oleh lizardman dan hanya bisa menunggu kematian yang bisa datang kapan saja.

“Kami disini karena permintaan dari Ghandilva, tetua Desa Baran,” kata Weed pada penduduk desa.

“Te… tetua…”

“Ya, ia meminta kami untuk menyelamatkan dan membawa kalian pulang dengan selamat. Apa ada yang terluka disini?”

“Tolong kemari…”

Weed masuk ke dalam kandang kayu dan memberikan pertolongan pertama pada penduduk yang terluka dengan ramuan dan perban. Kedua hal itu cukup untuk menyembuhkan HP mereka dengan banyak.

“Weed, Surka kembali,” kata Pale.

Surka, yang telah pergi menarik lizardman menjauh dari kandang, kembali.

“Tunggu kami di dalam kandang. Siap-siap untuk pergi sekarang. Kalian ingin bertemu dengan anak kalian lagi, kan?”

Kata Weed kepada para penduduk. Kebanyakan bakal menganggap para penduduk sebagai kewajiban, dan faktanya, mereka benar dalam arti tertentu karena tugas party nya adalah untuk menyelamatkan para sandera dari lizardman dan menjamin keselamatan mereka sampai Desa Baran. Namun Weed berpikir lebih jauh.

“EXP yang nikmat!”

Misi yang tengah dijalankan oleh Weed adalah misi penyelamatan. Untuk tiap orang yang ia selamatkan, ia akan mendapatkan EXP ekstra sebagai hadiah ketika quest nya selesai. Ia telah menyerah dengan fame dan EXP dari quest pasukan pembebasan untuk membunuh lizardman, tapi yang satu ini masih bisa dibilang bagus.

Weed dan rekan-rekannya membunuh kelima lizardman yang mengikuti Surka dari belakang. Mereka dengan cepat menyembunyikan para penduduk ke tempat yang aman, dan mencari sandera yang lain, yang pada akhirnya juga ditemukan dan diselamatkan.

Namun, kekecewaan mereka muncul kepada apa yang telah dijarah oleh para lizardman. Orcs dan goblins biasanya mengumpulkan gold dan berlian. Berbalik dengan lizardman yang jarang mengumpulkan barang-barang berharga ketika mereka menyerang suatu peradaban manusia.

Jadi apa yang bisa ditemukan oleh party Weed hanyalah tumpukan perisai, armor, dan senjata yang terbuat dari besi.

*****

Weed dan rekan-rekannya mengambil seluruh persenjataan tanpa menyisakan satu barang pun. Berat maksimal yang bisa dibawa seorang player bergantung pada strength dan vitality nya. Bahkan Irene dan Romuna tampak terseok-seok saat kembali ke desa dengan beban berat di punggung mereka. Tentu saja, bukan hanya party Weed yang membawa persenjataan.

“Kami menyelamatkan kalian.” kata Weed pada para penduduk yang telah ia tolong. Wajah mereka menunjukkan rasa gelisah mendengar kata-katanya.

“Tentunya kami tak akan meminta kompensasi untuk apa yang telah kami lakukan. Apa yang kami inginkan hanyalah sebuah biji yang dijanjikan oleh tetua desa kalian, Ghandilva. Itu karena kami tak menyelamatkan kalian untuk mendapatkan keuntungan atau hadiah.”

Merasa diyakinkan, para penduduk tampak lebih rileks dari sebelumnya. Sambil tersenyum, Weed menambahkan:

“Aku mengerti kalian telah mengalami banyak masalah, namun bisakah kalian membantu kami membawa persenjataan itu sampai di desa?”

“…”

Wajah para penduduk lagi-lagi menunjukkan kegelisahan. Mereka sangat lemah karena nutrisi yang kurang. Satu-satunya hal yang ingin mereka lakukan adalah pulang ke rumah.

“Seperti yang kalian tahu, lembah ini merupakan benteng alami yang tak bisa ditembus, dan aku mendengar bahwa Orc sering muncul disini.”

Mendengar kata ‘Orc’, para penduduk bergetar ketakutan. Mereka hampir saja tewas di tangan lizardman, dan jika Orc adalah bencana yang harus mereka terima berikutnya, mereka tahu tak akan ada harapan lagi kali ini.

“Untuk jaga-jaga, misal Orc menemukan tempat ini – mereka bakal senang karena menemukan persenjataan yang terkumpul disini. Mereka bisa mengambil senjata-senjata ini dan menyerang Desa Baran. Jadi aku pikir persenjataan ini harus dipindahkan dari tempat ini. Maukah kalian menolong kami?”

Dibujuk oleh Weed, para penduduk akhirnya ikut membawa persenjataan berat di punggung mereka dalam perjalanan pulang menuju desa. Sementara itu, lizardman di Desa Baran telah diberantas oleh Darius dan pasukannya.

Desa nya memang hancur, namun penduduk yang diselamatkan menangis bahagia saat mereka kembali. Di depan gerbang utama Desa Baran, Weed kembali berkata pada mereka:

“Terima kasih banyak, temanku. Kami tak akan bisa sampai kemari dengan selamat tanpa bantuan kalian. Aku akan mengambil alih mulai dari sini, jadi kalian bebas untuk kembali ke anak-anak kalian. Mereka sangat menanti kembalinya ayah dan ibu mereka.”

Pada saat Weed menyelesaikan kalimatnya, para penduduk meletakkan persenjataan yang berat dan berpisah, mencari anak-anak mereka. Ghandilva tengah menunggu dengan anak-anak di dekat gerbang.

“Ibu!”

“Ayah!”

“Selen, Marron, aku senang kalian masih hidup.”

Itu adalah reuni yang menyentuh hati antara anak dan orang tua. Ghandilva berjalan ke arah Weed, sambil menghalus jenggot putihnya.

“Kau menyelesaikan questnya, Weed.”

“Ya, pak,” kata Weed merendahkan diri.

“Aku sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan para penduduk desa. Jujur, aku tak mengira bahwa kau akan seberhasil ini… Kau benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat. Tak akan ada yang akan melupakan apa yang telah kau lakukan untuk kami.”

Quest Complete:

The Calamity of Baran Village

 

Keluarga yang terpecah-pecah di Desa Baran telah dipertemukan kembali oleh para pahlawan pemberani yang menginginkan keadilan. Desa mereka memang hancur oleh serangan lizardman, namun tak lama lagi mereka akan membangun ulang desa mereka. Anak-anak merasa lega telah melihat orang tua mereka lagi. Sampai mereka dewasa, para anak-anak akan selalu mengingat jasa para pahlawan pemberani.

 

Fame naik 15 point. (+15 Fame)

You have leveled up!

Quest Reward:

Nameless Seed

Fame dan EXP dibagikan secara rata untuk semua orang di dalam party, namun biji nya secara langsung diberikan pada Weed yang merupakan ketua party.

“Kami penduduk Desa Baran berhutang padamu.”

“Tidak, pak. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. Kami akan selalu melakukan yang terbaik untuk menjaga kedamaian dan kemakmuran Desa Baran.”

Ada banyak faktor yang terlibat dalam menerima quest. NPC bakal meminta siapapun yang menemui mereka jika mereka ingin questnya selesai dengan cepat, namun kebanyakan dari mereka akan menunggu player favorit mereka, jika ada, untuk muncul dan menyelesaikan masalah mereka daripada mempercayai orang yang tak dikenal.

“Darius, kau akan menyesali ini.”

Weed telah mendapatkan kepercayaan tinggi dari Ghandilva sang tetua. Para penduduk yang diselamatkan oleh party Weed juga akan merasa berhutang pada penyelamat mereka, dan itu akan menjadi keuntungan mereka saat belanja dan melakukan hal lain disini.

Jika Darius mengira bahwa ia tak akan dapat banyak hal dari Desa Baran, ia tak akan khawatir. Namun ia harus membayar kesalahannya jika ia berencana memperluas kekuasaannya ke provinsi selatan berdasar statusnya sebagai komandan dari pasukan pembebasan.

Tentunya, rasa kekeluargaan yang halus ini akan menjadi aset yang lebih besar dibanding hadiah material di masa depan. Darius tak akan menolak quest ini dalam kondisi normal, namun ia tengah menjadi komandan dari pasukan pembebasan.

Tentu akan menjadi pilihan sulit baginya untuk mengabaikan misinya untuk memimpin pasukannya mengalahkan lizardman untuk pencapaian yang besar, daripada menyelamatkan beberapa penduduk desa dari markas lizardman.

Untuk alasan tersebut, Weed mengerti Darius, namun juga mengasihaninya pada waktu yang sama. Kesempatan tak sering muncul dengan sendiri. Seperti bencana yang datang entah dari mana, mereka datang dan pergi. Ghandilva tiba-tiba menggenggam tangan Weed.

“Aku ingat aku memiliki permintaan lain untukmu, Weed. Kau adalah orang yang terpercaya. Aku mendengar dari prajurit dalam pasukan pembebasan bahwa kau adalah sculptor. Apa aku salah?”

“Tidak, pak.” kata Weed dengan tenang.

“Kami pernah memiliki patung dewi Freya yang kami sembah di alun-alun desa.”

Freya adalah dewi yang paling banyak disembah di Rosenheim. Ia diketahui menguasai kesuburan dan kecantikan. Ghandilva berkata dengan wajah muram:

“Kami selalu berdoa untuk kedamaian dan kemakmuran pada patung Freya. Namun ia telah hancur dalam suatu bencana pada awal tahun. Sekarang setelah aku lihat kembali bagaimana bencana datang kepada kami, aku curiga bahwa hilangnya patung itu menyebabkan masalah terus datang pada kami.”

“Apa kau mau memperbaiki patung dewi Freya?”

“Ya, Weed, aku ingin kau mengukir patung Freya yang baru. Pada awalnya aku telah meminta orang asing untuk membawa patung pengganti, namun aku tak pernah mendengar kabar dari dia lagi. Ini penting. Maukah kau mengukir sebuah patung dewi Freya?”

The Statue of Goddess Freya

Freya, dewi kecantikan dan kesuburan adalah dewi pelindung Desa Baran. Patung Dewi Freya berdiri tegak di alun-alun, namun telah hancur oleh pohon pinus ketika banjir menumbangkan pohon itu. Sekalipun para lizardman telah dikalahkan, para penduduk tak akan hidup dengan damai sebelum patung Dewi Freya diperbaiki.

Ciptakan patung Dewi Freya di desa dan bawa kembali perdamaian.

Tingkat kesulitan: Quest profesi

Syarat: Hanya tersedia untuk Sculptor.

Itu adalah sebuah quest profesi khusus sculptor. Tingkat kesulitan dan hadiah untuk quest belum ditentukan karena mereka bergantung pada hasil akhir.

Hadiah untuk kebanyakan quest ditentukan dengan aturan yang sama. Kecuali untuk misi seperti pengantar pesan atau kurir barang, hadiahnya berubah-rubah tergantung hasil akhir.

“Tolong tunggu sebentar. Aku harus berkonsultasi dengan rekan-rekanku.”

Ketika Weed berkata begitu, rekan-rekannya, yang telah mendengarkan percakapan mereka, tersenyum lebar dan memberinya selamat.

“Selamat, Weed! Semoga beruntung,” kata Surka.

“Aku pikir kita membuat suatu kesalahan ketika kita mengabaikan quest pasukan pembebasan, namun aku bangga sekarang,” kata Romuna, tersenyum.

“Nona Surka dan Romuna, terima kasih,” kata Weed. “Namun jika aku menerima quest ini, aku tak bisa berburu dengan kalian selama beberapa hari.”

Weed menginginkan persetujuan dari rekan-rekannya, dan Pale pun memberikannya.

“Kami tak apa. Apa yang tersisa dari pasukan pembebasan adalah untuk membersihkan sisa-sisa lizardman. Karena kita sudah bertemu banyak lizardman, aku percaya kami bisa melakukannya sendirian. Sejujurnya, Weed, kau mempunyai level yang jauh lebih tinggi daripada kami, jadi kami benar-benar ingin kau mengambil quest ini.”

Pale mengangkat beban yang ada di pundak Weed. Sebenarnya, rekan-rekannya merasa sedikit gelisah saat berburu dengan seseorang yang levelnya jauh diatas mereka. Saat Weed memiliki peran sebagai ketua party dan damage dealer di kebanyakan pertempuran, mereka merasa hanya menjadi hiasan dalam pertempurannya.

Sebagai rekan yang sebenarnya, semua orang harus setara, dan party nya tak akan bisa bekerja sama dengan baik selama anggota yang lain merasa bahwa dirinya berhutang pada satu orang secara khusus.

“Aku mengerti. Aku akan menerima questnya,” kata Weed, dan berjalan ke arah Ghandilva. “Aku akan menciptakan patung Dewi Freya, pak.”

You have accepted the quest

“Terima kasih, Weed. Tolong bersiap-siap dan dirikan patungnya secepat mungkin,” kata Ghandilva.

Ketika Weed dan rekan-rekannya meninggalkan desa, Becker dan Hosram mendekati mereka bersama anak buahnya.

“Senang bertemu denganmu lagi, komandan,” kata Becker.

“Dimana yang lain?” tanya Weed.

“Mereka sibuk mengejar lizardman yang lari,” kata Hosram.

Weed mengira bahwa prajurit lain yang sedang mengejar lizardman yang lali telah diusir dari desa oleh pasukan yang lain.

“Bagaimana denganmu?” tanya Weed.

“Sir Darius memerintahkan seluruh prajurit tentara Rosenheim untuk tetap di belakang,” kata Becker.

Weed menduga bahwa Darius telah menugaskan tentara Rosenheim untuk mempertahankan desa, jadi ia bisa mendapatkan seluruh pencapaian untuk dirinya sendiri. Hanya tentara Rosenheim yang tersisa di desa untuk menjaganya.

*****

Weed menggiring party nya ke tempat yang tersembunyi. Biji nya ada di genggamannya.

“Oh, omong-omong, tentang hadiah yang kita dapat setelah menyelamatkan penduduk desa, sebenarnya untuk apa biji itu?”

Ketika Surka bertanya, Weed hanya melihat bijinya dan berkata:

“Sejujurnya, aku punya buku yang aneh. Buku ini memiliki suatu cerita tertulis di dalamnya…”

The City of Heaven!

Ketika Weed memberitahu mereka tentang buku yang ia terima dari Volk, bahkan Pale yang biasanya tenang tak bisa menyembunyikan kekagetannya. Semua petualang di Benua Versailles memiliki mimpi.

Sebuah benua fantasi. Sebuah dataran penuh legenda dan misteri. Untuk meninggalkan jejak kaki mereka pada tempat yang belum pernah dijelajahi sebelumnya. Untuk mengeksplorasi dungeon yang belum diketahui dan membuka rahasia yang tersembunyi.

Seseorang yang menemukan batasan baru mendapat banyak kesempatan disamping fame yang besar. Kesempatan untuk tumbuh, dan kesempatan untuk mati.

“Kota Langit- apa kau yakin tempat seperti itu benar-benar ada? Aku pernah mendengar tentang The City Under Earth…” kata Pale.

” The City Under Earth?” tanya Weed.

“Ya, kota itu dikenal sebagai kota rahasia jauh dibawah tanah, yang diciptakan oleh dwarf. Istana mereka terletak disitu.”

“Bisakah player yang memilih ras dwarf di awal-awal pergi ke kota itu?”

“Tak juga. Aku dengar tak semua dwarf bisa masuk ke kota itu. Sangat sedikit orang yang tahu tentang tempat itu. Jika kau pergi kesana, kau bisa mendapatkan skill blacksmith tingkat expert, dan belajar skill pengrajin juga.”

Dwarf.

Mereka adalah gangguan untuk Weed yang memilih profesi sculptor. Agar seorang player manusia bisa mempelajari skill handicraft, mereka harus memilih profesi utama yang berhubungan dengan skill craft. Seorang sculptor dapat mempelajari handicraft skill di tingkatan basic sculpture mastery.

Dalam kasus Weed, ia telah mendapatkannya bahkan sebelum ia memilih profesi, berkat menyelesaikan serial quest unik tentang penerus Zahab. Namun tak semua orang seberuntung dirinya. Ia yakin hampir tak ada orang yang menerima hal yang sama.

Koki dan blacksmith harus meningkatkan skill mereka paling tidak ke tingkatan intermediate untuk belajar handicraft skill. Seorang penjahit dapat mendapatkannya ketika ia menaikkan skill menjahit ke level 8 tingkat basic.

Kecuali kau memilih profesi pengrajin, kau tak bisa mencapai tingkat intermediate untuk seluruh craft skill. Jadi jika kau ingin belajar handicraft skill, skill menjahit adalah salah satu skill wajib.

Tapi dwarf memiliki handicraft skill langsung seusai akun baru telah dibuat. Dengan vitality dan strength yang sangat tinggi secara alami, dwarf bahkan memiliki keahlian tangan yang tinggi!

Weed tak bisa menurunkan kewaspadaannya pada ras itu. Sebaliknya, dwarf memiliki tubuh yang kecil, dan tak terlalu bagus dalam sihir, menunggangi kuda, dan skill combat. Weed ingin mengunjungi Kota Bawah Tanah suatu saat nanti.

“Jika aku punya kesempatan, aku ingin pergi ke sana,” kata Weed.

“Itu tak akan mudah. Aku dengan mereka sangat benci manusia. Hanya pengrajin yang dihormati disana. Kecuali kau mendapatkan pengakuan dari mereka, kau akan ditolak saat ingin memasuki kota,” kata Pale.

Master sculptor seperti Zahab dan Geihar Von Arpen pasti bisa memasuki City Under Earth.

‘Aku punya firasat bahwa pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan misteri seni memahat di bawah sana.’

Mengesampingkan firasatnya, Weed mengeluarkan biji yang belum diidentifikasi yang ia terima dari Ghandilva.

“Oke. Ayo kita cek. Kalau aku salah, kita membuang waktu kita dengan percuma,” kata Weed.

“Aku yakin pilihanmu adalah hal yang benar.”

“Aku punya firasat bagus tentang ini.”

Irene dan Romuna menghibur Weed.

“Identifikasi item ini,” kata Weed.

Dibebani oleh ekspektasi rekan-rekannya, Weed menggunakan skill identifikasi dengan hati-hati.

Seed of Heavenly Tree:

 

Ketahanan: 1/1

Efek: Menuntunmu ke Kota Langit.

Syarat: Kau harus menanamnya di dekat Desa Baran

Setelah Weed membaca jendela deskripsi, ia menutup matanya untuk sesaat, lalu membukanya lagi. Rekan-rekannya tak sabar menunggunya untuk mengabarkan kabar baik.

“Biji ini asli.”

Seketika Weed memberi konfirmasi, anggota party yang lain berteriak kegirangan. Namun, masih ada masalah untuk didiskusikan.

“Aku tak mau terlihat saat menanam biji ini dan menaikinya ke Kota Langit.”

Weed ingin membawa rekan-rekannya ke sana, namun memberi tahu Darius dan anak buahnya, atau bahkan anggota lain dari pasukan pembebasan, tak sedikitpun ada dalam pikirannya.

Egois.

Atau kau bisa memanggilnya egosentris bila kau mau. Tetap saja, adalah Pale, Surka, Irene dan Romuna yang ikut menyelesaikan misi tak resmi bersama Weed dan memiliki hak untuk biji itu.

“Aku setuju denganmu. Jika memang ada Kota Langit, pada akhirnya juga akan diketahui oleh seseorang dan akhirnya tersedia untuk semua orang, namun kita tak perlu menjadi orang yang menyebarkannya.”

Pale setuju dengan sugesti Weed. Itu bukanlah sebuah kasus untuk memonopolisasi informasi. Itu lebih tepatnya bahwa mereka yang mengetahui tentang hal itu berhak untuk menggunakan pengetahuan mereka.

Jika semua orang mengetahui adanya Kota Langit, keuntungan dari penemuan mereka akan menghilang, dan apa yang dilakukan Weed sejauh ini akan menjadi sia-sia.

Hidup dengan moral yang baik dan berbudi luhur adalah hal yang bodoh. Bayangkan bila mereka menyebarkan cerita tentang Kota Langit, siapa yang akan membuka rahasianya sendiri, atau membagi quest mereka untuk orang lain pada orang yang naif?

“Aku juga berpikir begitu. Masih terlalu dini untuk menceritakan hal ini pada orang lain,” kata Irene.

“Ayo pergi kesana sendirian,” kata Surka.

Mereka lalu mencapai persetujuan soal masalah ini. Namun pergi ke Kota Langit harus ditunda untuk saat ini. Weed harus menyelesaikan quest Patung Dewi Freya, dan quest pasukan pembebasan untuk rekan-rekannya masih dalam pengerjaan.

Mereka memutuskan untuk pergi ke Kota Langit setelah mereka semua selesai dengan quest yang ada. Mereka merasa setengah gembira, namun juga setengah khawatir tentang menjelajahi daerah baru. Jika ternyata isinya terlalu sulit bagi mereka, mereka mungkin hanya akan menikmati pemandangan di langit dan kembali sia-sia. Sebuah penjelajahan selalu memiliki kemungkinan seperti itu.

*****

Weed mempersiapkan alasan bagus untuk Darius dan pasukannya, yang dilaporkan telah kembali. Ia takut bahwa mereka akan menanyakan kenapa party nya tak ikut dalam pertempuran. Namun ketika mereka kembali ke Desa Baran, jumlah pasukan ternyata hanya tersisa kurang dari seratus, dan mereka bertengkar satu sama lain dengan hebat.

“Kau bertanggung jawab untuk ini!”

“Kenapa kau mengkambing hitamkan aku?”

“Rencana jelekmu menyenbabkan Collonya mati di pertempuran!”

“Itu tanggung jawabnya sendiri untuk menjaga nyawanya sendiri.”

“Sekarang kau mennyalahkan orang yang udah mati!”

Ketika mengambil alih Desa Baran, dan membersihkan sisa-sisa lizardman, pasukan mengalami kerusakan besar. Kelompok yang terdiri dari orang yang tak mengenal satu sama lain pasti tak mampu menjalankan taktik terorganisir, jadi pada akhirnya mereka kehilangan banyak player yang tak mengerti apa yang terjadi di tengah-tengah pertempuran. Sebagai konsekuensi, tak ada rasa sayang antara Darius dan pasukannya.

“Itu adalah pertempuran, bagian dari perang, yang baru saja kita ikuti,” kata Darius. “Kerusakan yang tak bisa dihindari selalu menjadi bagian dari perang, ya kan? Sudahlah.”

“Sedikit korban? Kau bilang kematian Collonya adalah kerusakan yang tak bisa dihindari? Kau gak peduli tentang itu? Ini semua gara-gara kepemimpinanmu yang cacat!” seorang player yang marah karena temannya mati berteriak.

“Bukankah kalian yang dengan senang hati menerima untuk mematuhi kepemimpinanku yang jelek? Aku capek bertengkar terus seperti ini sekalipun pertempuran pada akhirnya juga kita yang menang.”

“Apa-apaan!”

Pertengkaran antara Darius dan pasukannya menjadi tambah parah. Dengan kerusakan yang sangat berat seperti itu, tak ada yang peduli kalau Weed dan rekan-rekannya pergi ditengah-tengah misi. Weed mengamati Darius dan anak buahnya. Tak ada dari mereka yang terluka, semua tampak sehat.

“Aku yakin mereka mengambil kebanyakan EXP untuk pasukan pembebasan. Mereka memaksa player lain masuk ke dalam jebakan, dan hanya ketika lizardman melemah dan capek, mereka masuk ke dalam pertempuran dan membunuh reptil itu.”

Di pertempuran yang lumayan besar, bagaimana cara bertempur sangat bergantung pada pemimpin pasukan, yang memungkinkan untuk mengubah seluruh hasil dari pertempuran. Weed nantinya mengetahui bahwa lizardman, yang bersembunyi di dalam hutan, telah mengirim beberapa dari mereka untuk memancing para pasukan.

Sebuah hutan adalah tempat dimana mereka bisa bertarung dengan cara yang terbaik. Sebuah pasukan yang besar tak bisa bergerak dengan lancar di dalam hutan dimana posisi bertahan lebih menguntungkan daripada posisi penyerang. Darius dan anak buahnya bertempur dengan lizardman yang bertugas memancing, dan memerintahkan pasukan utama untuk masuk ke hutan lebih dalam lagi.

Ketika mereka bermain dengan lizardman yang bertugas untuk memancing, pasukan utama tengah terjebak dalam situasi hidup dan mati. Ketika pasukan utama pada akhirnya melukai kebanyakan lizardmen, Darius dan anak buahnya, yang baru saja membunuh tukang pancing, tiba-tiba muncul, membunuh mereka semua! Simpelnya, Darius dan anak buahnya mendapatkan hampir semua fame dan EXP.

“Aku sudah berusaha yang terbaik. Aku yang bunuh lizardman paling banyak, dan teman-temanku menyelamatkan kalian. Tunjukkan sedikit rasa hormat,” kata Darius dengan tenang.

“Apa? Kau pikir kami tak tau rencanamu?”

“Bagaimana  bisa dia berbicara seperti itu? Dia tak sepintar apa yang ia kira.”

“Darius itu pemimpin yang gagal.”

Ketika player di Punitive Force mulai menjelek-jelekkan komandan mereka dengan keras, Darius dan anak buahnya akhirnya menunjukkan sifat asli mereka.

“Kalau kau berani, tak usah banyak bicara dan berduellah denganku seperti pria jantan,” kata Darius. “Kau tak akan bisa ikutan Punitive Force jika aku tak menerimamu, bajingan.”

Weed melihat Darius dan player lain di pasukan pembebasan dengan sinis.

‘Bodoh kalian semua.’

Darius telah menyebarkan reputasi buruk tentang dirinya diantara kebanyakan player hanya untuk beberapa fame dan poin pelayanan publik. Ia telah kehilangan ikan yang lebih besar untuk menangkap ikan kecil yang tepat di depan matanya.

Kau harus mengambil ikan yang kecil tanpa membuat suara, dan menangkap ikan yang besar dengan berani. Lalu, kau lihat sekeliling untuk melihat apa ada sesuatu yang lain yang terlewatkan. Itulah cara yang benar. Tetap saja, player lain dalam pasukan pembebasan tak bisa dimaafkan karena kebodohan mereka.

Apa yang mereka lihat dalam Darius sampai-sampai mereka mau mematuhinya tanpa protes? Jika mereka berhenti sesaat untuk mengeluarkan sedikit kecurigaan tentang keinginannya, mereka tak akan bermain dalam genggaman tangannya.

Salah mereka sendiri karena terlalu banyak mempercayai orang asing. Kalau mereka lebih hati-hati, teman mereka pasti masih hidup saat ini.

Translator / Creator: alknight