April 6, 2017

The Legendary Moonlight Sculptor – Volume 15 – Chapter 6: Slave Date

 

Segera setelah Lee Hyun melepaskan kerudung itu, para pelanggan masuk kedalam tenda kedai.

“Ini sudah saatnya untuk memulai pekerjaan, kan?”

“Kedainya dibuka, ya?”

Mereka ditanyai para pelanggan yang sudah menunggu dalam barisan antrian selama 10 menit.

Karena tak ada berita setelah 15 menit, para pelanggan mulai memaksa masuk.

“Whoa!”

“Itu Seo-Seoyoon.”

Seoyoon adalah seorang selebritis yang tak seorangpun Universitas Korea tidak tau.

“Pesananmu, silahkan.”

Para mahasiswi yang bertanggung jawab melayani berjalan kesana-kemari sambil mengenakan gaun.

“Pelanggan, silahkan pesan!”

“Apa kau tidak mau memesan?”

Bahkan setelah ditekan untuk memesan makanan, para pelanggan hanya terpesona oleh Seoyoon dan hanya menatap dia.

Kejutan visual dari kecantikan yang mempesona!

Ketika para mahasiswi membawa menu-menunya pada mereka dan mendesak mereka untuk memesan, mereka sekali lagi terkejut pada apa yang mereka lihat.

“Live Sea Eel, Ikan Bass Liar, Kepiting Rebus, Belut Bakar, Bakmie Seafood Kacang Hitam…. Apa ini menu yang sebenarnya? Dikatakan sup pedas akan ditambahkan ketika Ikan Bass dipesan…”

“Ya. Menu hari ini utamanya berpusat pada seafood. Menu utama berubah setiap hari disepanjang festival. Namun, menu-menu seperti buah pembuka, telur dadar gulung Korea, kimchi bisa dipesan setiap saat.”

“Untuk sekarang, beri kamu 3 hidangan Live Sea Eel.”

“3 hidangan Live Sea Eel disebelah sini!”

Pemanggang dengan cepat dipasang di meja pelanggan. Kemudian, belutnya dimasak bersamaan dengan rempah-rempah.

Setiap kali belut-belut itu menggeliat, mereka bercampur dengan rempah-rempah.

Setelah mereka matang, belut laut yang sempurna dan bernutrisi dimakan potongan demi potongan.

Jika mereka membuat kedai, Lee Hyun ingin menghasilkan keuntungan dan menampilkan kualitas dari makanan.

“Meskipun ini adalah kedai festival, ini tak boleh dikerjakan setengah hati!”

Itu adalah makanan yang dibayar para pelanggan untuk dimakan.

Tak boleh dibuat sembarangan. Itu adalah sebuah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan jika dia mengambil tanggung jawab untuk memastikan rasa dan nutrisinya.

Karena selain Lee Hyun tak ada yang bisa memotong sushi dari ikan bass, dia adalah orang yang paling sibuk.

Dia mengiris semuanya diatas talenan begitu artistik!

Ikan bass yang dihilangkan tulangnya mengedipkan matanya, masih hidup. Itu adalah pemotongan yang sangat terampil sehingga bisa menghindari merusak uraturatnya.

Hari ini, ikan bass, kepiting, dan belut laut dikirim dari pasar yang mana dia sudah kenal dengan pedagangnya. Kesegaran bahan-bahannya terjamin, dan dia bisa mendapatkan barang-barang bagus dengan harga murah.

“Apa kau benar-benar seorang mahasiswa?”

“Ngomong-ngomong, menyarankan pada kami para mahasiswa. Maksudku, memberitahu mereka untuk membeli produk-produk dari pasar.”

Berkat kemurahan hati mereka, dia bisa menggunakan bahan-bahan berkualitas. Tetapi karena itu adalah sebuah kedai sekolah, harganya tak bisa dimahalkan.

Di Royal Road, semua orang bisa menghasilkan uang dengan berburu, jadi tak masalah meskipun kau merampok orang. Namun, meminta para mahasiswa membayar harga yang mahal adalah masalah hati nurani.

Pada akhirnya, dia mengurangi hidangannya secukupnya dan menyesuaikan harganya sehingga tidak terlalu mahal.

Meski demikian, para pelanggan puas.

“Ini dia.”

“Tolong bawakan pesanan mereka di meja 9.”

Seoyoon juga sibuk kesana-kemari membawa pesanan sambil mengenakan gaunnya.

Intensitas dari seorang dewi terpancar, bahkan ketika dia hanya berjalan-jalan saja!

Ada banyak kasus dimana para pelanggan menumpahkan makanan mereka sambil terbengong. Itulah yang sering terjadi saat mereka hanya menatap Seoyoon selama beberapa menit seolah mereka meminum alkohol.

Setiap kali Seoyoon berjalan lewat, dia meninggalkan aroma lemon yang manis.

Dia hanya memakai sedikit lotion untuk makeup. Meski begitu, dia tetaplah cantik meski tanpa makeup, tetapi hari ini, dia secara khusus memakai parfum.

Seoyoon memberikan menu untuk para pelanggan.

“…..”

Dia berdiri diam dan menunggu pesanan mereka.

Dia malu pada tatapan dari para pelanggan di sekelilingnya, tetapi dia menahannya.

“Tolong beri kami hidangan buah pembuka.”

“……”

Seoyoon mengangguk ringan dan berbalik.

Bahkan para pelanggan yang sudah memiliki hidangan pembuka yang cukup banyak di meja mereka, berebut untuk membuat pesanan baru. Itu adalah sifat keserakahan mereka untuk mencoba berbicara dengan Seoyoon.

“Para peelanggan sudah menunggu selama 30 menit.”

“Chef, kapan kepiting rebusnya siap?”

“Sebentar lagi!”

Hanya Lee Hyun yang bekerja mati-matian.

Karena kecepatan memasak para mahasiswa lain begitu lambat, dia harus melakukan pekerjaan 2 kali, bukan, 3 kali lebih banyak.

Di hari pertama festival, dia tak bisa melihat pemandangan kembang api atau nyanyian para mahasiswa, dan bahkan tak bisa meninggalkan kedai sama sekali.

Dihari berikutnya, lebih banyak pelanggan datang lebih awal.

“Tolong bawakan pesanan kami!”

“Kami sudah siap memesan disini!”

Meskipun dapur dan meja-meja itu tetap sibuk, mereka memiliki lebih banyak waktu luang dibandingkan dengan hari pertama.

Memasak sudah diselesaikan sebelumnya, dan banyak hidangan sampingan juga telah dipersiapkan.

Tumpukan kotak alkohol dan tendanya juga diperluas.

Karena fakultas mengirim sekitar 10 orang sebagai bala bantuan untuk mengerjakan pekerjaan seperti mencuci piring dan membersihkan meja, beban kerja telah berkurang.

Lee Hyun merasa pekerjaan tersebut layak dikarenakan kesenangan dari menghasilkan uang.

“Keuntungan hari pertama berjumlah sampai 700.000 won. Bahkan setelah dikurangi biaya penyewaan mangkok dan yang lainnya selama 5 hari, masih tersisa sebanyak ini.”

Bisnis sekarang ini adalah pengalaman untuk masa depan!

Dia sangat mengetahui tentang bagaimana menjamu pelanggan dan memasak dari pekerjaan paruh waktunya, tetapi wirausaha bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah.

“Jika aku tak bisa membuat keberhasilan gila-gilaan dalam situasi spesial seperti ini, aku tak akan bisa mempertimbangkan segala macam karir dalam bisnis selanjutnya!”

Dihari festival ketika orang lain menikmatinya dan bermain, dia mengemban tanggung jawab kedai dengan tekad yang kuat.

Mereka menghasilkan keuntungan yang besar juga di hari kedua, dan, dari hari ketiga, meja dan kursi tak pernah kosong. Bahkan di hari keempat, mustahil bagi Lee Hyun untuk melihat-lihat festival.

Dirinya terlihat sangat menyedihkan karena itulah para seniornya memegang pisau dapur untuk menggantikan dia.

“Lee Hyun, kami akan mengurus tempat ini, jadi kau juga harus pergi bersenang-senang.”

“Tetapi aku telah ditugaskan pada tempat ini.”

“Apa ini Dinasti Silla atau apa, hingga kau menunjukkan pola pikir ‘pantang mundur’ seperti itu? Festival bukanlah medan perang, jadi pergilah bersenang-senang. Anak-anak yang lain bermain seperti mereka telah kehilangan akal sehat mereka, jadi kau juga harus menikmati festivalnya.”

Lee Hyun melepaskan apron dan meluruskan punggungnya.

“Festival… mungkin ada gunanya untuk melihat bisnis macam apa yang dilakukan fakultas lain. Bahkan restoran membutuhkan banyak pengetahuan. Semakin beragam informasi yang kumiliki, semakin bagus.”

“Kalau begitu aku akan pergi sebentar dan kembali.”

“Beristirahatlah hari ini. Sekarang sudah jam 6 malam. Karena kedai hanya dibuka sampai jam 10, kami akan mengerjakan sisanya.”

Untuk menghindari ketegangan energi festival terlalu banyak, kedai tersebut ditutup jam 10.

“Baiklah.”

Lee Hyun memperhatikan kedai tenda itu.

Meja-meja yang penuh pelanggan, dan para mahasiswa yang sangat sibuk menerima pesanan.

Selama 3 hari terakhir, popularitas Seoyoon mencapai puncaknya. Semua pelanggan ingin memesan dari dia. Karena hal itulah, Seoyoon yang bekerja keras telah menerima liburan hari ini dan tidak datang ke kedai.

“Meskipun aku tidak ada, aku yakin itu akan berjalan dengan baik.”

Segera setelah Lee Hyun meninggalkan tenda kedai, dia berbaur dengan kerumunan di festival itu, orang-orang yang datang bersama keluarga mereka, para mahasiswa dari sekolah lain, dan para mahasiswa Universitas Korea yang berdandan dan berkeliaran kesana-kemari.

Kampus yang tenang, sekarang sangat ramai. Itu adalah sebuah tempat dimana kegembiraan masa muda bisa dirasakan!

Seolah-olah menghirup kegembiraan itu, Lee Hyun menarik nafas dalam-dalam.

“Ah, bagus sekali. Udara yang penuh dengan aroma uang!”

Sebuah panggung telah dipasang di taman dimana dia selalu memakan makan siangnya, dan band-band tampil disana.

Banyak tim dari Fakultas Virtual Reality berpartisipasi dalam pertemuan atletik, festival lagu, dan permainan.

Hasilnya adalah bencana!

Mereka tereliminasi dalam babak pendahuluan dalam pertemuan atletik, itu mustahil bagi mereka untuk menyanyikan nada-nada tinggi dalam penampilan mereka untuk festival lagu, dan mereka berkata penontonnya hanya beberapa anak-anak SD yang datang pada permainan.

“Tampaknya para kakak-kakak itu tidak berlatih.”

Seorang anak SD memakai kacamata dengan tatapan tajam bahkan mengatakan sesuatu seperti ini.

“Sungguh berantakan.”

Itu adalah permainan yang bahkan dikritik oleh anak-anak SD!

Itu adalah pemicu pasti yang menyebabkan mengirimkan semua usaha dukungan Fakultas Virtual Reality pada kedai tersebut.

* * *

Tampaknya fakultas-fakultas lain telah melakukan banyak persiapan sebelumnya, karena mereka mengadakan banyak acara.

Fakultas Kedokteran Hewan membawa karakteristik fakultas mereka dan menjual daging sapi.

Didalam Fakultas Kesejahteraan Sosial, para mahasiswa mendorong kursi roda dari orang-orang lumpuh dan jompo saat mereka memandung mereka. Dikatakan bahwa fakultas tersebut mengumpulkan mereka di hotel terdekat atau dirumah mereka sendiri ketika mereka memandikan mereka dan melakukan perbuatan berarti yang memberi orang-orang sebuah hadiah.

Di Fakultas Desain Pakaian, pakaian-pakaian yang mereka buat dijual murah.

Para mahasiswa musik selalu memiliki popularitas yang tinggi. Karena para mahasiswi cantik tampil, ada kerumunan penonton laki-laki dan mereka sukses besar.

Panggung-panggung dipasang disana-sini, dan bahkan acara-acara kecil terus berlanjut.

Bahkan sebuah pasar tradisional yang menjual produk-produk tak terpakai sangat meriah.

Ketika langkah kaki Lee Hyun membawa dia kearah pasar tradisional dibelakang panggung utama, seseorang disampingnya meraih lengannya dan menyeret dia.

“Lihat, tampaknya 1 lagi relawan telah muncul.”

Seorang penyiar tengah menjalankan Slave Dating diatas panggung.

Para kru acara memilih peserta Slave Dating dari penonton, tetapi Lee Hyun didorong menerobos kerumunan itu.

Total 30 mahasiswa laki-laki berpartisipasi dalam Slave Dating!

Penyiar mendekatkan mic’nya dan berteriak.

“Saatnya bagi mereka untuk memamerkan masing-masing kemampuan mereka dalam pertunjukan bakat. Tuan kalian bisa berganti bergantung pada seberapa keren bakat yang kalian tampilkan, jadi para budak, kalian harus melakukan sebaik-baiknya!

Kalau begitu, mari kita mulai dengan peserta nomor 1.”

Lee Hyun menerima nomor 23.

Dia berusaha menolak dan tak mau naik ke panggung, tetapi karena ejekan kerumunan itu, dia mau tak mau harus naik.

“Sebuah pertunjukan bakat yang menjengkelkan, keberuntunganku hari ini sangat buruk.”

Memangnya ada bakat yang bagus dari dia!

Yah, satu-satunya hal yang dia ketahui adalah seni beladiri.

Wajah Lee Hyun menegang lagi dan lagi setiap kali para peserta lain memamerkan nyanyian, tarian, memainkan instrumen musik, pertunjukan sulap, atau lelucon komedi.

Dia ketakutan pada penampilan dingin dimata para penonton!

Dia bukanlah seseorang dengan kepribadian periang, dan dia tak memiliki kemampuan individual, jadi kecemasannya semakin tinggi.

Demam panggung. Karena para mahasiswa dari kampus yang sama sedang menonton, hal itu lebih mengerikan.

“Yah menari saja. Haruskah aku melakukan senam nasional?”

Peserta nomor 6 melakukan senam nasional terlebih dahulu.

“Booooooo!”

“Membosankan! Lempar saja dia kelaut!”

Lee Hyun lega.

“Beruntung aku tidak melakukan senam nasional. Lalu, haruskah aku menyanyikan sebuah lagu? Tampaknya lagu klasik «I will love you until the end» akan bagus.”

Peserta nomor 14 menyanyikan lagu itu duluan.

Aku bahkan tak bisa tertawa~

Aku selalu mengingat tawamu, sehingga aku bahkan tak bisa menagis~

Karena jika aku sedih, kau mungkin terluka~

Meskipun Lee Hyun berpikir peserta itu memiliki kemampuan bernyanyi yang luar biasa, dia tak bisa mendapatkan nilai yang tinggi.

Sekarang masalahnya bukan mendapatkan nilai yang tinggi. Bagaimanapun caranya dia hanya perlu melewati situasi ini.

“Sekarang kita akan melihat pertunjukan bakat peserta nomor 23.”

Tiba-tiba sudah saatnya untuk giliran Lee Hyun. Karena itu adalah sebuah pertunjukan bakat yang singkat, tak ada waktu bagi dia untuk berpikir dengan santai.

“Beri aku pisau….”

“Apa?”

“Aku akan menunjukkan pengupasan apel.”

“Apel. Apa ada apel yang dipersiapkan? Ya, mereka bilang mereka akan segera mempersiapkan apel dan pisau untukmu. Pertunjukan bakat peserta nomor 23 adalah pengupasan apel. Semuanya, silahkan menikmati.”

Kru acara memberi dia sebuah apel masak dan pisau buah!

Lee Hyun mengusap apel tersebut saat dia memutar-mutarnya.

Kemudian, dalam sekejap Sliiiiiiceeeee.

Dalam sekejap pisau itu memotong apel tersebut dan kupasannya jatuh.

Ketika bilah pisau itu menggores, kupasan apel itu jatuh, seolah-olah melepaskan kulitnya. Tak ada sisa kulit yang tertinggal pada apel itu.

“Apa kau sudah mengupasnya?”

“Ya.”

“Kau mengupasnya sangat cepat. Bagaimanapun, kami telah melihat trik yang bagus!”

Penyiar itu memuji dia. Itu karena pemikiran dari melihat sebuah trik baru setelah hanya melihat pertunjukan bakat biasa-biasa saja dari nyanyian dan tarian.

Para penonton juga bertepuk tangan dengan meriah.

“Phew. Sepertinya aku berhasil lolos.”

7 orang lagi melakukan pertunjukan bakat mereka setelah Lee Hyun, dan kemudian saatnya untuk menetapkan harga para budak.

Penyiar membariskan para budak.

“Orang-orang tampan dibelakang! Untuk kalian yang berpikir berpenampilan biasa, silahkan berdiri didepan!”

Sesuai dengan kata-kata penyiar, Lee Hyun berpindah untuk berdiri didepan.

“Mungkin lebih baik untuk terjual terlebih dahulu.”

Tetapi para budak lain maju, memenuhi barisan depan.

Seorang budak hanya bisa dibeli oleh satu orang dari penonton!

Teman-teman yang akan membeli mereka sudah diatur sebelumnya saat seleksi, jadi mereka berdiri didepan.

Orang-orang yang maju sesuai kehendak mereka sendiri hanyalah Lee Hyun dan beberapa orang yang lain.

“Terjual seharga 30.000 won.”

“Terjual seharga 15.000 won.”

“Budak kali ini cukup berharga. 48.000 won! Adapun kata-kata untuk pembeli, hari ini kalian benar-benar bisa mempekerjakan mereka dan gunakan senilai dengan uang kalian!”

Giliran Lee Hyun datang.

Si penyiar menatap Lee Hyun dan mendesah dalam-dalam seolah-olah depresi. Kemudian dia berkata menggunakan mikrofon.

“Jika saja aku memberitahu kalian yang bisa dilakukan budak kali ini…. Tampaknya dia memiliki kekuatan yang bagus. Aku menyerah pada harga. Kita akan memulai dari 10 won.”

Seorang budak seharga 10 won!

Meskipun para budak lain memiliki permulaan pada beberapa ratus atau bahkan ribuan won. Meskipun dia tau itu adalah lelucon, Lee Hyun merasa sedih.

Tetapi bahkan dengan 10 won, tak seorangpun mengangkat tangan mereka.

“Disini. 20 won!”

Seorang wanita paruh baya dengan anak kecil dipunggungnya diantara para penonton pasti merasa kasihan pada dia, karena wanita itu mengangkat tangannya.

Kemudian sebuah tangan dari sisi lain diangkat.

“Aku punya 20 won dan 10 won lagi.”

Ketika dia melihat tempat dimana teriakan itu berasal, itu adalah adiknya, Lee Hye Yeon.

Untuk menyebutkan 30 won dengan emosi seperti itu, semuanya demi keluarga!

Si penyiar berteriak, “Sekatang, sudah sampai 30 won. Apa ada yang melanjutkan dengan 40 won?”

“40 won!”

“55 won!”

“80 won!”

Karena itu murah, lebih banyak orang mulai menyebutkan harga.

“175 won!”

“199 won!”

“390 won!”

“390 won! Jika tak ada lagi yang akan menawar lebih dari 390 won, maka tawaran pemenang akan diberikan pada harga itu. Aku akan menghitung dari sembilan. Sembilan. Delapan… Tujuh…”

Harga yang menyedihkan!

Karena tak seorangpun yang akan menyebutkan harga yang lebih tinggi, si penyiar akan memenangkan tawaran tersebut.

Ketika hitungan mundur sampai pada dua. Seorang gadis mengenakan jean, jaket baseball, dan sebuah topi, mengangkat tangannya.

“2 juta won!”

“2 juta won! Aku mendengar 2 juta won. Apa aku benar-benar mendengar seseorang mengatakan 2 juta won?”

Si penyiar berteriak penuh semangat.

Mata kerumunan itu juga bergerak serempak kearah cewek itu. Mereka berpikir itu pasti lelucon.

Namun, ketika cewek itu melepaskan jaket baseball dan kaca matanya, suara-suara heran bermunculan.

“Itu Jeong Hyo Lynn!”

“Jeong Hyo Lynn datang ke festival sekolah kita!”

Dia, yang bernyanyi diatas panggung dunia dan disebut seorang peri, Jeong Hyo Lynn, telah menyebutkan 2 juta won dalam Slave Dating. Begitulah Lee Hyun dijual pada Jeong Hyo Lynn.

* * *

“Budak, tanganmu!”

“Baik.”

Lee Hyun buru-buru bergandengan tangan dengan Jeong Hyo Lynn.

Mereka begitu dekat hingga dia bisa mencium aroma yang memikat. Mereka bergandengan tangan dan melewati kerumunan itu saat mereka menuju ke lokasi lain.

Ada orang-orang yang terusmenerus berusaha main mata pada Jeong Hyo Lynn, dan perhatian terfokus pada mereka.

Jeong Hyo Lynn tak bisa berhenti tersenyum.

“Hey, kamu akan membawaku berkeliling festival ini, kan?”

“Tetapi aku juga tidak mengetahuinya dengan baik…”

“Tak masalah. Bagian yang menyenangkan adalah mencoba ini dan itu sambil berjalan-jalan bersama-sama. Meskipun aku seorang mahasiswa kampus juga, aku tak bisa sering datang ke kampus. Kamu tau, ini adalah pertama kalinya aku melihat-lihat sebuah festival, meskipun aku sering bernyanyi di sebuah festival.”

“Kenapa kamu tidak pergi bersama orang lain. Karena aku orang yang sibuk…”

“Budak, haruskah aku mengembalikanmu?”

“…..”

Ancaman tegas untuk mengembalikan dia!

Bagi budak, tak ada kebebasan pilihan. Dia tak bisa naik ke panggung lagi atau mengembalikan 2 juta won juga.

“Aku akan membawamu berkeliling festival.”

“Kamu seharusnya mengatakan itu lebih cepat.”

Jeong Hyo Lynn sangat memahami Lee Hyun dan sudah terbiasa pada cara-cara untuk menangangi dia.

“Sebuah ancaman adalah yang paling efektif!”

Jeong Hyo Lynn menempel erat-erat pada lengan Lee Hyun. Lee Hyun bisa merasakan tubuh Jeong Hyo Lynn setiap kali dia berjalan. Tubuhnya yang tak memiliki sedikitpun lemak dan dadanya yang seperti bantal terus menyentuh lengan Lee Hyun.

“Hey, Master. Apa tidak apa-apa melakukan ini, meskipun kamu seorang selebritis?”

“Melakukan apa?”

“Jika kita berkeliling sambil bergandengan tangan, itu akan menciptakan kesalahpahaman.”

“Kesalahpahaman seperti apa?”

“Umumnya, jika kamu melihat seorang cowok dan cewek dan menempel seperti ini….”

Dia mendengar suara orang-orang.

“Jeong Hyo Lynn-ssi, dia benar-benar cantik.”

“Mereka bilang dia mendonasikan 2 juta won pada acara amal Slave Dating.”

Semua kegiatan dari Slave Dating digunakan sebagai donasi amal.

“Lihat saja mereka bergandengan lengan.”

“Shhh! Itu adalah fanservice. Fanservice.”

“Karena itu adalah Jeong Hyo Lynn yang baik hati, dia memperlakukan cowok itu seperti seorang pacar meskipun itu adalah seorang cowok seperti dia.”

“Seorang budak baru yang bahkan tidak terjual telah sepenuhnya meraih sebuah kesempatan emas, jeez.”

Meskipun ada reporter di festival Universitas Korea, mereka melewati para reporter itu dengan mudah.

“Kami berpikir dia tak punya ketertarikan pada festival universitas karena dia memulai debutnya dan melonjak naik dari album pertamanya, tetapi untuk Jeong Hyo Lynn-ssi berada ditempat seperti ini… itu mengejutkan.”

“Peri yang terkenal benar-benar baik hati.”

Dia memancarkan pesona yang besar.

Lee Hyun, yang pergi setelah bekerja di kedai, bukan hanya tidak cocok dengan dia, tetapi amat sangat tidak cocok untuk Jeong Hyo Lynn.

Tidaklah mungkin untuk memikirkan yang lainnya, itu semua karena ada saat-saat ketika dia menolak lamaran dari aktor Hollywood terkenal. Itu adalah Jeong Hyo Lynn, yang sangat bersih dalam hal skandal atau hal-hal yang berhubungan dengan pria.

Itu adalah dia yang hanya menyukai lagu-lagu.

“Setelah bergandengan tangan dengan seorang pria sekali, itu sedikit menyenangkan. Aku bertanya-tanya apakah semua orang bergandengan tangan untuk perasaan semacam ini….”

“Apa?”

“Aku hanya bicara sendiri.”

Lee Hyun mendengar apa yang dia katakan.

“Meskipun ini juga pertama kalinya aku bergandengan tangan dengan seorang gadis….”

Sampai dia melewati usia 22, kontaknya dengan gadis hanyalah dengan adiknya saja.

Kehidupan yang membuat kontak dengan wanita hanyalah di usia dini ketika dia menggendong adiknya dipunggungnya ketika Hye Yeon masih kecil, mengganti popoknya dan memandikan dia!

“Haruskah kita bermain manusia memukul tikus?”

“Aku tidak mau….”

“Hanya 2.000 won.”

“…..”

Dua lembar uang keluar dari saku Lee Hyun.

“Jadi kencan dengan seorang wanita ujung-ujungnya mengeluarkan uang.”

Bagi dia untuk menggunakan 2.000 won, itu seperti ini akan menjadi sebuah hari yang tak akan bisa dia lupakan selama sisa hidupnya.

Itu bahkan mungkin menjadi sesuatu yang bisa muncul kembali di saat-saat kematiannya di usia tua.

Jeong Hyo Lynn mengangkat palu plastik tanpa melepaskan lengan Lee Hyun.

“Ya! Ya!”

Lee Hyun berusaha untuk menunggu dan menonton, tetapi saat dia terus melihat palu plastik Hyo Lynn melesat, dia terfokus dengan sendirinya.

“Sedikit ke kiri.”

“Baiklah.”

“Sekarang mereka akan keluar dari kanan!”

“Aku melihatnya!”

“Dua dari kiri! Dia tidak akan muncul dikanan sekarang. Tangkap dia dengan cepat!”

“Kubilang aku akan melakukannya sendiri!”

Semangat persaingan dari mereka berdua berkobar-kobar.

“Sial, 12 yang lolos.”

“Kamu seharusnya bergerak lebih cepat.”

“Itu karena kamu terus membuat aku berbicara dari samping. Jika kamu tidak membuat aku berbicara, aku tidak akan meleset.”

“Coba lagi.”

“Aku benar-benar akan menangkap mereka semua.”

Meskipun Jeong Hyo Lynn mengayunkan palu plastik itu lebih ganas daripada yang sebelumnya, dia tidak melepaskan lengan Lee Hyun.

Saat dia berusaha melepaskan lengannya karena dia berpikir itu mungkin tidak nyaman, lengan Lee Hyun sedikit mengendur dari lengan Hyo Lynn. Kemudian, Jeong Hyo Lynn merangkul tangan Lee Hyun erat-erat.

Itu adalah sesuatu yang terjadi begitu alami dan intim.

“Che! Ada 3 yang lolos.”

“Kamu melakukannya dengan baik.”

“Apa yang ingin kamu mainkan selanjutnya?”

Pasangan itu menjadi semakin dekat ketika menangkap para tikus!

Mungkin karena Lee Hyun juga merasa nyaman, dia menyarankan, “Mau mendapatkan boneka dengan menembakkan BB pistol?”

“Kedengarannya bagus.”

300 won per tembakan!

Lee Hyun memeriksa harganya dan memilih permainan yang paling murah.

“Mister, tolong isikan masing-masing 10 peluru untuk kami.”

Kali ini, Jeong Hyo Lynn mengeluarkan dompetnya sendiri dan membayar. Itu adalah sebuah tindakan yang sangat mengejutkan Lee Hyun.

“Jadi dia adalah seorang gadis yang baik…”

Jeong Hyo Lynn mengangkat pistolnya dengan satu tangan.

“Aku akan menembak duluan.”

“Oke.”

Peluru yang ditembakkan Jeong Hyo Lynn meleset dari boneka. Bahkan ketika peluru itu mengenai sebuah boneka secara kebetulan, boneka itu tidak jatuh.

Permainan ini memang seperti ini sejak awal.

Ini adalah perang antara si pemilik dan pelanggan yang secara sembarangan menginginkan boneka!

Setelah kegagalan Jeong Hyo Lynn, Lee Hyun tidak menargetkan boneka yang besar.

“Boneka berukuran sedang kira-kira beratnya 780 gram. Itu adalah bobot yang sudah aku rasakan tak terhitung berapa kali setiap kali aku menjahit mata pada boneka-boneka itu. Tak akan mudah untuk menjatuhkannya dengan sebuah BB pistol.”

Meskipun pelurunya mengenai pusat dari boneka itu, kekuatannya tidaklah cukup.

Hanya bisa jatuh dengan cara menembak secara beruntun.

Karena dia membuang 300 won per tembakan, Lee Hyun menargetkan secara hati-hati pada boneka burung dan menjatuhkannya.

“Sukses.”

Lee Hyun berencana untuk memberikan boneka burung itu pada adiknya.

“Sepertinya aku bisa menggunakannya sebagai hadiah ulang tahun tahun ini.”

Tetapi Jeong Hyo Lynn menyambar boneka itu.

“Apa kamu memberikan ini padaku?”

“…….”

Dia tak bisa menolak mata yang berkedip-kedip dan ekspresi cantik yang meminta dia untuk memberikan boneka itu padanya.

“Itu buat kamu.”

“Terimakasih.”

Jeong Hyo Lynn memeluk boneka itu penuh kasih sayang.

Mereka berdua juga menaiki merrygoround dan menonton permainan para mahasiswa.

Diatas atap bangunan utama Universitas Korea mereka memiliki kesempatan untuk melihat pemandangan malam dari kota dan festival.

Bahkan ketika kembang api menghiasi langit, Jeong Hyo Lynn tidak melepaskan tangan Lee Hyun. Dia tidak mengatakan perasaannya pada Lee Hyun, dengan cara inilah dia menyampaikan apa yang dia rasakan.

Lee Hyun berpikir, “Dia pasti benar-benar suka bergandengan tangan.”

* * *

Jeong Hyo Lynn pergi ke panggung kecil di tepi danau.

Itu adalah sebuah panggung yang buruk tak banyak penontonnya. Hanya ada satu piano sebagai intrumen.

“Haruskah kita menyanyikan lagu?”

Jeong Hyo Lynn bertanya setelah duduk di bangku piano tersebut.

Karena mereka masih bergandengan tangan, Lee Hyun juga duduk disampingnya.

“Lagu apa?”

“Terserah… katakan saja lagu apa yang kamu mau. Lagu apa saja tak masalah, tetapi sebuah lagu bahagia akan bagus. Aku merasa sangat bahagia sekarang ini, aku sedang good mood.”

Jeong Hyo Lynn telah berkeliling dunia untuk konser. Dengan suaranya yang indah, dia membuat 60.000 orang menjadi liar di konsernya, dan di beberapa negara sosialis, kerumunan ratusan ribu orang berkumpul di plaza dan sepenuhnya menikmati musik kebebasan.

Meskipun dia mempesona dan bersinar sangat terang ketika dia menyanyikan lagunya, setelah dia meninggalkan panggung, dia tidur sendirian didalam kamar hotelnya yang sepi.

Musik adalah satu-satunya temannya, penenang kekosongan dan kesepiannya. Dia menyanyikan kebahagiaan, tetapi dia sebenarnya sangat kesepian setelah dia bernyanyi.

Dia memiliki perasaan bahwa dia akan bisa bernyanyi dengan bahagia secara tulus jika dia bersama Lee Hyun.

“Maukah kamu menyanyikan <Dialogue of Eyes>?”

Lagu debut Jeong Hyo Lynn adalah <Dialogue of Eyes>.

Itu juga merupakan lagu yang paling disukai adik Lee Hyun.

Lagu itu dirilis ketika Jeong Hyo Lynn masih seorang siswi SMA berusia 16 tahun, lagu ini menjadi sangat terkenal dan dia menjadi seorang bintang.

Meskipun lagu-lagu miliknya yang selanjutnya menerima lebih banyak rasa suka dari publik, ada banyak orang yang tak bisa melupakan <Dialogue of Eyes> yang dinyanyikan seorang wanita muda.

“Aku akan menyanyikannya untukmu. Sebagai gantinya… aku akan bermain piano dengan satu tangan.”

Untuk suatu alasan, aku tak mau melepaskan tanganmu.

Tak ada kata-kata didunia ini.

Kita hanya mengulangi gumaman tak berarti.

Katakan saja apa yang ingin kau katakan.

Karena aku tak bisa mendengar.

Suara jeong Hyo Lynn menyebar seperti magic, indah dan merdu saat suara itu diiringi melodi piano yang sedikit kurang yang dia mainkan dengan satu tangan.

Tak ada gerakan yang diijinkan.

Percakapan tidaklah ada.

Hubungan yang dibuat oleh kilauan mata.

Tunjukkanlah padaku cahaya dari matamu.

Kejujuran

Rasa sakit

Keputusasaan

Kemarahan

Penyesalan

Keinginan

Kedekatan

Cinta

Ekspresikanlah semua perasaan-perasaan ini melalui matamu

Kerumunan orang, ditarik oleh musik itu, berjalan kearah panggung.

Mereka menemukan sebuah tempat untuk duduk dengan tenang untuk menghindari membuat gangguan.

Kemudian mereka mengeluarkan ponsel mereka dan mengirim sms pada teman-teman mereka.

“Jeong Hyo Lynn bernyanyi di panggung konser ditepi danau. Cepat datanglah!”

Apa yang harus kita pilih ketika kita makan.

Katakan padaku jika kau makan dengan baik, dan kemana kita harus pergi menggunakan matamu.

Jika kita saling melihat mata satu sama lain, kita bisa membaca perasaan kita.

Sebuah dunia tanpa kesalahpahaman dan gangguan.

Jadi aku bisa memahamimu, perasaanmu ketika menatap matamu, kita harus berusaha.

Meski begitu, kita tak pernah benar-benar bisa memahami pemikiran masing-masing.

Bahkan jika kau melihat tindakan yang tak bisa kau pahami, aku bisa menerimanya.

Karena aku mungkin juga melakukan hal yang sama.

Menatap cahaya matamu adalah ketidakjelasan yang tak pasti.

Mereka bukanlah kata-kata tanpa perasaan, sinarilah kebahagiaanku.

Jadi aku bisa melihat diriku sendiri didalam matamu.

Meskipun sebentar, jangan alihkan matamu dari wajahku.

Satu hati dalam satu pandangan.

Terangilah hatiku.

Semakin dekat matamu yang bersinar, semakin baik.

Seperti biasa, dia bernyanyi dengan suara yang merdu.

Dia bukanlah seorang siswi SMA lagi, tetapi seorang wanita yang sekarang ini mempelajari cinta yang sebenarnya.

Suara merdu yang tak menyampaikan kesedihan dan kepedihan, tetapi tangisan yang mengajarkan tentang cinta.

Jika kata-kata keras tak bisa membuat hati bergetar

Maka, aku ingin berbicara dengan cahaya dari mataku

Mendengarkan suara dari matamu

Karena itu akan mengerutkan jauh lebih dalam kedalam hatimu

Aku akan bisa menyampaikan apa yang tak bisa disampaikan kata-kata.

Bicaralah dengan matamu

Aku ingin melihat cahaya dimatamu

Jeong Hyo Lynn tidak melihat piano.

Dia menatap Lee Hyun yang duduk tepat disampingnya, saat dia bernyanyi dengan matanya yang berkilauan.

Translator / Creator: alknight