November 17, 2016

Horizon, Bright Moon, Sabre – Chapter 01: The Man at the Horizon

 

Chapter 1 – The Man at the Horizon

Matahari telah terbenam di sebelah barat.

Fu Hongxue berdiri sendiri di bawah matahari yang sedang terbenam.Bagaimanapun juga dia adalah satu-satunya orang yang tersisa di dunia.

Di sana begitu dingin dan tandus; bahkan matahari tebenam pun telah berubah warnanya karena begitu kesepian, berganti menjadi putih kelabu yang terlihat begitu menyedihkan dan kesepian.

Diapun merasakan hal yang sama.

Tangannya menggenggam sebuah pedang; tangannya begitu pucat dengan sebuah  pedang hitam pekat!

Tangannya yang pucat putih pucat dan warna hitam pekat seperti yang sudah dekat dengan kematian! Kematian karena kehampaan dan kesendirian!

Matanya begitu  kesepian dan kosong; bahkan dapat terlihat kematian di dalamnya!

Dapatkah kematian hadir saja di depan matanya?

Dia berjalan.Berjalan sangat pelan, tanpa pernah berhenti. Bahkan jika kematian menunggunya di depan, dia tidak akan pernah berhenti.

Cara berjalannya sangat aneh dan unik; kaki kiri akan melangkah dengan cepat, sedangkan kaki kanan akan mengikutinya secara perlahan. Dia berjalan dengan sangat sulit.Namun, dia telah berjalan tak terhitung jauhnya, membuat banyak sekali perjalanan; dan dia berjalan sepanjang jalan sendiri, langkah demi langkah.

Kapankah dia dapat berhenti berjalan sendiri?Bahkan kapankah dia dapat berhenti berjalan?

Dia tidak tahu. Faktanya, dia tidak pernah memikirkan itu!

Sekarang dia telah tiba di sini, apa yang ada di sana? Apakah kematian benar-benar berada di depan? Pastinya! Di matanya telah terlihat kematian, tangannya juga telah mencengkram kematian; sebenarnya pedangnyalah yang melambangkan kematian!

Itu adalah pedang dengan pegangan berwarna hitam dan sebuah sarung hitam.

Pedangnya mungkin melambangkan kematian, tetapi pedangnya merupakan seluruh hidupnya!

Langit semakin gelap, tetapi dia tetap mencoba mencapai kota kecil yang berada di kejauhan.

Dia tahu bahwa itu adalah desa phoenix, yang merupakan salah satu dari desa yang berpopulasi banyak di area tersebut.Tentu saja dia tahu, karena di sanalah tempat dia mencari kematiannya.

Sedikit yang dia ketahui tentang desa phoenix yaitu desa tersebut telah mati.

…..

Jalanan yang dia tempuh tidak terlalu panjang atau lebar, tetapi di sana masih terdapat beberapa toko, warung, dan rumah di sepanjang jalan.

Ini adalah desa yang tidak diperhatikan di dunia, dan setiap desa tetaplah sama; jalan- jalan dipenuhi dengan toko-toko , warung dan rumah- rumah; dan warung-warung di sini telah berantakan dengan barang-barang di depannya. Di rumah- rumah dulu tinggal orang orang yang ramah. Bagaimanapun juga, desa phoenix berbeda dari desa lain. Meskipun toko-toko, warung, dan rumah- rumah masih ada sampai sekarang, teteapi tidak ada orang disekitar.

Tidak ada, satu pun tidak ada.

Di sana terlihat ada pintu- pintu dan jendela- jendela pada kedua sisi jalan. Beberapa dari mereka tertutup, tetapi semua telah rusak, hancur.Debu yang sangat tebal menutupi jalanan, di dalam dan di luar rumah dan toko-toko.Atap-atap dan tiang dipenuhi oleh sarang laba-laba.Seekor kucing hitam berjalan perlahan dan kemudian berlari, tetapi kucing tersebut sudah kehilangan kewaspadaan dan kecepatannya.Kucing itu terlihat terengah-engah dan lemas selama menyebrangi jalan; dia bahkan tidak terlihat seperti kucing lagi.

Bukankah ini adalah fakta mengenai kelaparan dapat mengubah segalanya?

Mungkinkah bisa saja kucing tersebut merupakan satu- satunya yang selamat di desa kecil ini?

Hati Fu Hongxue berubah menjadi dingin, bahkan lebih dingin dari pedangnya di tangan.

Sekarang dia sedang beridiri di jalan tersebut, dan melihat semua dengan matanya sendiri. Tetapi dia tidak dapat memercayainya, tidak berani memercayainya, dan tidak akan percaya.

Bencana apa yang menimpa tempat ini?

Bagaimana terjadinya?

Di sudut jalanan, terdapat sebuah papan tulisan tua yang berdecit karena angin yang meniup. Dia masih dapat mengenali kata-kata yang ada dengan semua debu di sana “ kedai keluarga Chen, tempat minum terbaik di desa”

Ini sebenarnya merupakan papan tulisan yang terlihat bagus di sekitar sana, tetapi sekarang rusak, seperti gigi orang tua.

Tetapi kondisi dari kedai  tersebut lebih parah dari papan tulisannya.

Fu Hongxue berdiri terdiam, melihat dan menunggu.Seperti ada angin kematian yang berhembus, dia berjalan ke kedai tersebut dan mendorong pintu tersebut.Dia seperti berjalan ke dalam kuburan yang telah digali.

Dia sudah pernah berada di sini sebelumnya!

Meskipun anggurnya tidak enak, terasa tidak seperti anggur, setidaknya itu bukan cuka.Dan tempat tersebut tidak terlihat berbeda jauh dari kuburan.

Tepatnya setahun yang lalu, tempat ini merupakan tempat yang ramai. Para wisatawan yang lewat akan tertarik dengan papan tulisan diluar, dan berhenti untuk minum di sini.

Sekali anggur memasuki perut orang yang lapar, orang- orang menjadi cerewet, oleh karena itu kedai tersebut sangat berisik.Kedai yang berisik menarik bagi orang-orang.

Kedai tersebut tidaklah terlalu kecil, tetapi selalu ramai dikunjungi.Pemilik dari kedai sangatlah ramah, dan selalu tersenyum.

Tetapi senyumnya telah menghilang, meja yang biasa bersih berubah menjadi meja yang penuh dengan debu; lantai telah dikotori oleh pecahan botol anggur, dan aroma anggur telah berubah menjadi bau busuk yang akan membuat ingin muntah.

Tertawa yang keras, orang berbincang, bunyi anggur yang disediakan; bunyi ember dan pisau, dan minyak mendidih di wajan; semua suara itu telah hilang .hanya suara jendela yang berderit karena ada angin yang meniup; dan mereka mengingatkan pada suara sayap kelelawar di penjara.

Langit menjadi semakin gelap; hampir gelap total.

Fu Hongxue berjalan dengan pelan dan duduk dengan perlahan, dengan punggunggnya bertumpu pada pintu.

Di sanalah tempat dia duduk saat dia datang setahun yang lalu.Tetapi sekarang tempatnya seperti kuburan; tidak ada lagi tempat bagi orang yang hidup untuk berbincang.

Mengapa dia tetap memilih unutk duduk?Apakah dia masih mengenang mengenai masa lalunya?Atau dia sedang menunggu?

Jika dia sedang mengenang masa lalu, apa yang sedang dia kenang?

Jika dia sedang menunggu, siapa atau apa yang sedang dia tunggu?

Apakah kematian?Apakah ini benar kematian?

…..

Kegelapan malam akhirnya menutup seluruh tempat.
Tidak ada lampu, lilin, ataupun api; hanya kegelapan.

Dia benci kegelapan.Bagaimanapun juga, kegelapan adalah hal yang tidak dapat dihindarkan.

Sekarang kegelapan telah tiba, bagaimana dengan kematian? Dia duduk di sana tanpa bergerak sedikitpun, tangannya tetap menggenggam pedangnya. Mungkin kau tetap dapat melihat tangannya yang pucat, tetapi tidak dengan pedangnya, karena telah menyatu dengan kegelapan.

Apakah pedangnya tidak dapat dihindarkan seperti kematian?

Malam itu sangat sunyi seperti kematian.Tiba tiba angin membawa alunan melodi musik instrumental.

Dibawah keadaan yang menekan, ini seperti suara yang berasal dari surga.

Matanya yang kosong membuat ekspresi yang aneh setelah mendengar suara ini. – banyak kata yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan ekspresinya, tetapi kegembiraan bukanlah salah satunya

Musik itu semakin mengeras,.Antara suara musik yang semakin keras, bunyi derit dari kereta kuda juga terdengar.

Siapa orang lain selain Fu Hongxue yang dapat ke tempat yang ditinggalkan Tuhan?

Mata Fu Hongxue secara perlahan kembali menjadi dingin, tetapi tangannya semakin erat memegang pedangnya.

Mungkinkah dia tahu siapa yang datang?

Mungkinkah itu orang yang dia tunggu?

Mungkinkah orang ini yang akan membunuhnya?

Jenis musik apa yang sebenarnya ada di surga? Tidak ada yang pernah mendengarnya!

Tetapi jika ada musik yang dapat meluluhkan sebuah hati dan bahkan jiwa, musik ini akan mendekati seperti musik surga yang dapat didengar di bumi. Musik yang sedang  Fu Hongxue dengar dapat dianggap dalam musik surga.

Tetapi Fu Hongxue tidak luluh.

Dia duduk di sana mendengarkan lagu itu, tetapi tetap tenang dan diam. Tiba – tiba 8 orang berbaju hitam dengan ikat pinggang berbahan sutra berjalan ke dalam kedai dengan cepat. Mereka semua membawa keranjang bambu; keranjang tersebut membawa barang yang aneh, termasuk lap kain dan sapu.

Tidak ada dari mereka yang berhenti untuk melihat Fu Hongxue bahkan sekilas saja.Di dalam kedai, mereka mulai membersihkan kedai yang berantakan tersebut.Mereka semua bekerja dengan cepat.

Mereka tidak hanya bekerja dengan cepat, tetapi juga sangat efisien.

Kedai yang bobrok itu secara ajaib telah berubah sangat cepat.

Setiap sudut dan celah dibersihkan ssampai tidak ada satuupun yang tersisa. Wallpaper diletakan  kembali dan manik-manik ditaruh di depan pintu. Semua meja telah diletakkan kain, dan bahkan ada red carpet di lantai.Hanya tempat dimana Fu Hongxue duduk tidak tersentuh.

Setelah kedelapan orang tadi selesai, mereka berdiri menanti seseorang di depan pintu kedai tersebut. Kemudian datang 4 orang wanita yang berpakaian berwarna warni datang ke dalam kedai, membawa keranjang bambu. Mereka meletakkan bunga yang masih segar, makanan dan anggur di meja

Barisan pemain string ensemble masuk dan memainkan musik yang indah.

Sebuah bunyi drum dapat terdengar di dalam musik tersebut. sekarang tengah malam. Dari jendela, dapat terlihat sebuah sosok yang berpakaian putih, memegang drum penjaga.Dia terlihat seperti roh yang berdiri sendiri di kegelapan.

Dari manakah penjaga itu datang?

Apakah dia yang menandakan seseorang akan datangnya kematian?

Siapa yang akan dia tandai sekarang?

Setelah suara drum dari penjaga tersebut selesai, sebuah lagu dimulai:

“The read to the horizon,
A path of no return,
Man broke his soul at the horizon,
But the soul was broken before reaching the horizon,….”

Lagu tersebut belumlah berakhir.Tetapi nampak Yan Nanfei yang mabuk telah datang menuju ke dalam kedai tersebut.

 

Translator / Creator: alknight